Recent Posts Widget

Diary Seorang Remaja 2

http://cerita-porno.blogspot.com/2015/07/diary-seorang-remaja-2.html


Batang kejantanan Tato nampak memenuhi liang kewanitaan Ani. Bibir vaginanya seolah ikut keluar masuk tiap kali Tato melesakkan dan menarik penisnya dari liang vagina Ani. Sekitar lima menit kemudian Tato mengeluarkan seluruh spermanya didalam liang kemaluan gadis ini. Air mata Ani nampak sudah habis dan mengering karena sedari awal dia sudah menangis. Dengan sesenggukan dia terduduk lemas dilantai meraba vaginanya yang sudah dijarah dua pria bergiliran. Cairan putih lengket keluar dari dalam liang kemaluan gadis ini dan mengalir membasahi lantai beserta dengan beberapa bercak darah, sepertinya dia mengalami pendarahan.
Sekarang si Kingkong mengubah posisinya. Kedua kaki Ani di angkatnya tinggi-tinggi berhadapan dengannya dengan posisi tubuh bersandar pada dada pria ini. Dibukanya paha sang gadis dan dengan cepat dia menghunjamkan penisnya yang menegang sedari tadi kedalam liang senggama Ani yang masih meneteskan sperma si Tato dengan posisi berdiri.
Sekarang si Kingkong menyetubuhi Ani dengan berjalan mengelilingi ruangan sambil membopong tubuh mungil Ani. Kedua temannya hanya tertawa terbahak bahak melihat perlakuan temannya itu kepada Ani. Beberapa kali si Kingkong menghentikan langkahnya dan memperlihatkan vagina Ani yang sedang diaduk-aduk oleh penisnya dihadapan Budi, pacarnya. Tato dan Item tambah tertawa lagi melihat tingkah Budi yang memalingkan wajahnya namun sesekali melirik kearah vagina pacarnya yang sedang dijarah pria lain.
Setelah lebih dari 15 menit akhirnya si Kingkong mengejang dan memuntahkan sperma dari batang penisnya kedalam vagina Ani yang sudah mulai memar akibat perlakuan ketiga pria ini. Puas dengan ini semua akhirnya ketiga pria ini bergegas pergi setelah mengambil beberapa barang berharga seperti handphone dan kamera dari tangan kedua orang ini setelah menggeledah tas-tas mahasiswa lain tapi tak menemukan apapun. Aku dan Lena juga langsung kabur dari situ.
Nampaknya kejadian ini dirahasiakan oleh Budi dan Ani karena aku tak melihat adanya kegaduhan atau polisi mendatangi villa mereka di hari-hari berikutnya. Mungkin mereka malu kalau sampai kejadian ini tersebar keluar mengingat universitas mereka cukup terkenal sehingga sudah pasti kedua orang itu akan dikeluarkan jika terbukti bermesum ria karena mencemarkan nama kampus mereka.

Fact:
Ketiga pemerkosa itu kemungkinan besar adalah pekerja bangunan dan bukan penduduk lokal karena disekitar tempat itu ada dua villa dan satu rumah sedang direnovasi. Sampai sekarang aku tidak penah melihat kedua sejoli itu lagi bahkan ketika aku mengunjungi kampus mereka karena kebetulan teman SMU ku ada yang kuliah disana. Mungkin mereka sudah pindah atau …..(whatever lah).

Chapter 19
Sex Data: Zara


Kisah ini berlangsung sekitar satu setengah bulan setelah Zara, mantan kekasih Jo yang dulu teman kost ku aku tiduri. Kami bertemu secara tidak sengaja disebuah mall yang cukup besar di kawasan Malioboro street (street? Plz dech)….OK jalan Malioboro.
Pertemuan itu dilanjukan dengan makan siang berdua karena kedua teman belanja Zara mohon diri, sepertinya mereka mahfum benar kalau Zara dan aku sedang ingin berdua. Sembari menyantap paket hemat di McD kami bercerita mengenai kehidupan maing-masing selama satu setengah bulan terakhir ini.
Zara menceritakan kalau setelah dia tidur denganku, Jo mengamuk tak karuan di kostnya sehingga membuat Zara malu karena semua temannya menjadi tahu kalau Zara tidur dengan pria lain bukan Jo walaupun mereka tidak tahu duduk persoalan yang sebenarnya sehingga Zara yang sebelumnya dikenal alim menjadi mendapatkan predikat baru dikostnya yaitu sebagai cewek yang bisa ditiduri.
Setelah putus dengan Jo akibat insiden tersebut, Zara sekarang lebih sering berkumpul dengan teman-temannya dan belum memperoleh pengganti Jo walaupun ada beberapa cowok yang mulai mendekatinya, sebagian karena memang suka sejak lama tetapi sebagian karena berharap bisa meniduri gadis cantik ini.
Aku hanya dapat memberinya saran untuk berhati-hati dalam mencari cowok karena dalam hati aku juga sadar kalau aku bersalah terhadapnya namun tidak bisa melakukan apapun karena aku sudah berpacaran dengan Anyssa yang tentunya tak bakalan mau aku putuskan begitu saja.
“Hahahah….lucu juga mendengar hal itu dari mas Adi.” Katanya padaku sembari meminum Coke-nya. Aku hanya nyengir saja karena sindiran itu memang pantas diberikan padaku, “Iya…iya. Kalau aku belum pacaran pasti kamu sudah aku pacarin Za.” Kataku menghiburnya.
“Sapa juga yang nolak dapat cewek secantik kamu. Kayak dapat durian runtuh.” Sahutku lagi dan langsung ditukas oleh Zara, “Sakit dong dapat durian runtuh. Kena kepala benjol..hehehe…” candanya. Sepertinya kekhawatiranku tidak begitu pas karena pada kenyataannya Zara dapat bercanda bebas denganku dan sudah dapat menerima hal terjadi pada dirinya.
Semua obrolan itu yang sebelumnya hanya ringan mendadak menjadi sangat berat ketika sebuah kalimat keluar dari mulut Zara, “Kalau aku mau yang kaya dulu lagi, mas Adi mau nggak?” tanyanya padaku. Tentu saja yang dia maksud adalah bercinta denganku.
Aku hanya bisa bengong saja mendengar kata-kata itu keluar dari bibir seksi gadis cantik ini. “Tentu saja aku mau. Gila aja kalau nolak cewek secantik kamu.” Sahutku mengatasi kegugupan.
Zara setuju untuk check in disebuah hotel melati yang biasa digunakan pasangan muda untuk quicky atau sex after lunch. Setelah mendapat kamar kami bergegas masuk. Seperti tak ada hari esok lagi kau segera melucuti seluruh pakaian Zara. Payudara ukuran 34A miliknya terasa menjadi semakin besar saja bagiku. Sementara dia juga tak kalah agresif mencopoti seluruh pakaianku hingga kami berdua bugil total.
Nampaknya aku tak dapat menutupi nafsuku yang sudah menusuk-nusuk. Zara dengan jelas dapat melihat batang kejantananku udah tegang ereksi penuh. Sesaat dia terbelalak bahwa ukuran penisku ternyata sangat besar dan penis inilah yang telah memerawani dirinya. Ada sebersit keraguan dimatanya dan aku bisa dengan jelas melihat itu.
“Jangan khawatir say. Sakitnya kalau pas kamu diperawanin aja kok. Sekarang udah ga bakalan sakit, aku juga bakalan pelan-pelan biar kamu menikmatinya.” Ucapku padanya sembari membelai rambutnya yang sekarang sudah dicat warna biru dan oranye. Sebuah kecupan manis hinggap dibibirnya dan tanpa menunggu aba-aba lagi, Zara langsung menyambut ciuman itu dengan pagutan bibirnya yang seksi dan kamipun berciuman dengan mesranya.
Zara mulai rebah ditempat tidur dan tanpa pikir panjang lagi aku langsung menindihnya melihat vaginanya sudah basah kuyup akibat ciuman mesranya tadi maka aku langsung mempersiapkan penetrasiku. Sembari menggesek-gesekkan penisku yang ternyata masih susah menembus vagina sempit miliknya, aku membombardir bibir, leher, payudara dan putingnya dengan ciuman dan jilatan.
“Akhh…mas Adi…aku ngerasa terbakar mas…akhhh..” Desah Zara saat payudaranya beserta putingnya aku pilin, remas dan hisap dengan sesekali lidahku menyapu pelan ujung putingnya dengan gerakan melingkar. Mata Zara kontan saja menjadi sayup karena menahan gejolak nafsu yang terpendam selama ini. Tanpa dia sadari kedua tangannya merangkul pantatku dan seolah mendoong pantatku masuk semakin mendekat dengannya dan itu jelas membuat batang penisku yang ready didepan bibir vagina gadis ini menjadi menusuk masuk kedalam liang vaginanya. Sedikit demi sedikit namun pasti, bibir vagina Zara terbelah terbuka saat dilewati kepala penisku. Hingga separuh tenggelam didalamnya.
“Akhhh…mas Adi…ohhh…udah masuk mas? Vaginaku panas mas…akhhh..” Zara meracau lagi tak karuan kali ini tubuhnya menggelinjang hebat lalu menegang sembari tangan dan kakinya merangkul erat tubuhku. Luar biasa, pikirku. Zara telah mencapai orgasmenya hanya dengan cara seperti ini. Ternyata klitoris gadis ini super sensitif hingga mudah terangsang saat bergesekan dengan penisku ini.
Aku merasakan adanya cairan hangat membasahi kepala penisku yang sebagian sudah tenggelam didalam liang kemalaun gadis ini. “Dah keluar yah say?” Kataku sambil meneruskan penetrasiku dan akhirnya kepala penisku berhasil mendobrak masuk sementara pangkalnya masih tertinggal diluar karena otot vagina Zara kembali menegang, sepertinya dia masih merasakan sisa sensasi orgasme pertamanya tadi. “Aku masukin lebih dalam ya say?”
Zara hanya mengangguk pelan menjawab pertanyaanku barusan. Dan dalam beberapa hentakan cepat akhirnya seluruh batang kemaluanku berhasil masuk secara sempurna kedalam liang senggama gadis ini. “Akhh…mas…akhhh…” Desah Zara ketika liang kemaluannya kembali dijarah batang kejantananku untuk kedua kalinya. Bedanya kali ini dia sudah mulai bisa menikmati. “Sudah masuk?” tanyanya sembari meremas-remas pantatku.
Aku tersenyum kepadanya, “Sudah sayang. Bagaimana rasanya?” ucapku sembari meremas-remas payudaranya yang seksi itu. Putting susunya sudah mengeras dan membesar dari ukuran normalnya dan buah dadanya yang putih itu sudah mulai memerah karena terangsang dan bukan hanya buah dadanya saja melainkan perut, leher, muka dan hampir seluruh bagian tubuhnya.
“Enak. Nggak seperti yang pertama, sakit. Terasa penuh mas.” Lanjutnya lagi sembari menggoyangkan pantatnya perlahan. Aku tahu benar mau dari gadis ini dan akan segera aku penuhi. “Sekarang kamu akan kubuat menjadi wanita dewasa Za.” Kataku sembari mulai memaju mundurkan penisku yang sudah terbenam seluruhnya didalam vagina gadis ini.
Sembari mengangkat kedua tungkai kakinya dan menumpangkannya dikedua pundakku, aku menindih tubuhnya lebih erat lagi sehingga buah dadanya dapat bersentuhan denganku begitu juga dengan putingnya bergesekan dengan milikku. Zara tambah menggelinjang tak karuan mendapatkan perlakuan semacam ini. Entah berapa kali dia mendesah tak karuan sembari menyebut namaku berulang-ulang.
Lima menit sudah kira-kira aku mengerjainya dengan posisi seperti ini sehingga sekarang vaginanya sudah mulai terbiasa dengan sodokan dengan gaya ini. Aku lalu memindahkan tungkai kaki kanannya agar bertumpu di pundak kananku sehingga kedua kaki tersebut sekarang berada dipundak kananku. Dengan demikian maka bibir vagina Zara menjadi menyempit karena kedua kakinya otomatis menjadi lebih mengatup dibandingkan yang tadi dan itu membuat vaginanya menjadi semakin seret saja. Kenikmatan yang lebih aku dapatkan darinya. “Memekmu benar-benar nikmat Za. Sempit dan peret.” Kataku padanya dan muka Zara bertambah merah karena malu mendengar kata-kataku. “Kamu suka ma kontolku nggak? Mau di entotin lebih keras?” tanyaku padanya lagi setelah aku kerjai dia dengan posisi ini selama lima menitan dan sengaja aku menggunakan kata-kata jorok untuk melihat reaksinya.
Zara memerah mukanya dan tangannya membelai wajah dan dadaku, “Zara suka dientotin ma mas Adi. Suka ma kontolnya mas Adi juga.” Sahutnya sembari memalingkan pandangannya kearah vaginanya yang sedang aku jarah habis-habisan. Aku tahu dalam hati dia malu berkata jorok semacam itu namun dia sudah tak peduli lagi karena nafsunya sudah setinggi langit.
“Boleh dong aku entotin kamu lebih keras.” Aku mulai memancingnya dengan tetap memberikan stimuli ke kedua buah dadanya. Zara membuka mulutnya dan mendesah lagi, “Akhh…terus mas…akhhh…boleh diapain juga…akhhh…” Zara nampaknya sudah tak peduli lagi dengan imagenya selama ini dan berubah menjadi binal sebinal-binalnya.
“Boleh diapain sayang? Apanya yang diterusin sayang…?” Godaku kepada Zara. Gadis ini mencengkeram sprei tempat tidur itu hingga acak-acakan dan kusut. “Entotin Zara mas. Entotin Zara sampai mas Adi puas…akhh…achhh….ochhh…masukin kontolnya mas Adi kedalam memeknya Zara mas…terus…keras juga ga..akhhh….apa..akkhh…apa…” Sahut Zara terbata-bata menahan sensasi kenikmatan ketika sodokan penisku menyentuh rahimnya dan dipercepat pompaannya.
Kali ini aku menggunakan gaya doggy style dimana Zara dalam posisi merangkak dan vaginanya aku hajar dari belakang. Sembari memilin-milin puting susunya dari belakang dan meremas payudaranya aku mempercepat sodokanku dan semakin lama semakin brutal saja. Aku menunggu protes dari Zara namun tak kunjung keluar malahan sepertinya dia menikmatinya bahkan sempat mencapai orgasme dengan posisi ini. “Mas. Zara keluar…entotin lagi mas…” Serunya kepadaku.
Beberapa detik setelah orgasme Zara selesai langsng tubuhnya aku balik dengan posisi terlentang menyamping dengan kaki kiri terangkat dan ditumpangkan dibahuku. Tentu saja penisku tetap bersangkar didalam liang vaginanya ketika dia aku balik posisi. Dengan posisi ini aku menyodokkan penisku denan posisi kaki menyilang seperti gunting. Dengan mencengkeram paha atas kaki kirinya aku lalu melesakkan penisku dengan sedalam-dalamnya sehingga kembali menyentuh dinding rahimnya.
“Akhhh…mas Adi…akhh…sakit…” Nampaknya vagina Zara belum dapat menerima sodokan penis dalam posisi ini namun aku tetap tak memberinya ampun lagipula nanti dia juga bakalan menikmatinya cepat atau lambat.
Aku menciumi bibirnya dan meremas payudaranya yang sudah berbasuh keringat. Batang kejantananku terasa berkedut dan serasa ada yang akan keluar dari dalam penisku. Aku memberikan Zara ciuman dalam-dalam sambil meremas kedua payudara gadis ini. Sementara Zara hanya terpejam sembari membalas ciuman bibirku. Lalu disertai dengan sebuah sodokan keras dan dalam, aku mendiamkan batang kejantananku didalam lubang kemaluan gadis ini dan menyemprotkan spermaku didalam dinding rahimnya.
Aku diamkan penisku didalam vagina gadis ini sembari terus menciumi bibirnya dan memainkan putingnya. Penis yang mulai mengecil itu aku tarik keluar bersamaan dengan mengalirnya cairan putih kental dari bibir vagina gadis ini membasahi sprei tempat tidur juga bercampur dengan darah segar. Ternyata masih ada sisa selaput dara yang belum robek waktu dia kehilangan keperawanannya denganku tempo hari.
“Kamu benar-benar hebat Za. Sekarang kamu sudah menjadi wanita dewasa.” Kataku sambil membelai rambutnya. Sementara Zara hanya berbaring disamping dengan kepala bersandar diatas dadaku. “Zara senang sekali hari ini mas. Mas Adi mau khan ngelakuin ini lagi ama Zara?” tanyanya padaku sambil tangannya memainkan batang kemaluanku yang sudah menegang lagi.
“Tentu Zara. Tapi kasih aku yang satu itu dulu dong.” Kataku sambil mendorong lembut kepalanya kearah penisku yang sudah ereksi. Zara tahu benar apa mauku dan mulutnya membuka lalu memasukkan batang kemaluanku yang sudah tegang lagi dan masih belepotan sperma plus percikan darah itu kedalam mulutnya. Oral seks dari Zara memang luar biasa, ditambah dengan permainan tangannya yang sudah ahli dan lidahnya tiap kali menyapu ujung penisku membuatku menjadi panas dingin. Hanya membutuhkan waktu kurang dari sepuluh menit bagiku untuk mengeluarkan sperma kloter keduaku. Cairan putih kental itu menyembur didalam mulut Zara dan langsung ditelannya cepat-cepat. Lalu dengan telaten dia bersihkan batang kemaluanku yang sudah mulai melemas dengan jilatan dan hisapan sehingga bersih dari sperma dan berkilat karena ludahnya.
Usai dengan permainan ini aku berkata kepada Zara kalau kapanpun dia mau bercinta denganku, aku akan selalu menunggunya dan siap untuk melayaninya. Saat aku akan keluar dari kamar hotel bersamanya, Zara sempat menyelipkan tangannya masuk kedalam celana panjangku dan menyentuh penisku sehingga kembali tegang lalu dengan tertawa kecil dia berlari meninggalkanku kedalam sebuah taksi dan berlalu. “Sialan! Udah mau pulang pake acara bikin konak lagi.” Kataku dalam hati melihat tingkah laku Zara. Chapter 20
Adik Kekasihku


Lina, yah itulah nama dari adik dari kekasihku Ani. Dia masih SMU kelas tiga. Parasnya cantik, bahkan lebih cantik daripada kakaknya. Tubuh setinggi 163 senti dengan kulit putih bersih dan wajah kemerahan membuatnya seperti keturunan Indo. Cantik dan aku yakin dia punya banyak penggemar. Sifatnya yang manja terutama padaku seringkali membuat diriku gemas dibuatnya, dan tentu saja terbersit sifat nakal di pikiranku kepadanya.
Saat pacarku sedang mengerjakan skripsinya dan melakukan penelitian di luar kota, Lina datang ke kost ku dan meminta ku untuk menemaninya ketempat temannya di luar kota. Setelah pulang entah ini keberuntungan atau kesialan, bus yang kami tumpangi mogok dan akhirnya kami harus cari penginapan karena tidak ada angkutan yang lewat semalam itu. Pergilah kami kesebuah hotel melati terdekat dan berhubung kamar tinggal satu yang kosong, terpaksa kami menginap sekamar.
Selang beberapa menit dia mandi. Aku hanya bisa menebak-nebak seperti apa tubuhnya waktu mandi. Dan lagi entah keberuntungan atau kesialan, pintu kamar mandi ternyata kuncinya rusak sehingga walapun terkunci masih dapat dibuka dari luar. Singkat kata aku melihat pemandangan yang nan indah itu.
Aku segera mencopot seluruh pakaianku dan hanya bersarung handuk. Aku masuk kekamar mandi. Sontak Lina terkejut,”Mas, aku lagi mandi nich…….Ahhh”serunya setengah teriak dan kulihat perasaan malu dan risih terbersit di wajahnya.
Tapi aku tak berkata apa-apa lagi dan segera kucium bibir mungilnya dengan lembut. Siapa sangka dia tidak mengelak bahkan setelah beberapa pagutan dia nampak menikmatinya dan membalas pagutanku.
Kutanggalkan handukku dan segera tanganku bergerilya kearah bukit kembarnya. Sementara dia setengah terkejut melihat senjataku sudah tegak mengacung siap tempur. Tanpa babibu lagi segera ku bopong dia ketempat tidur tanpa mengeringkan badan dulu. “Basah, basah deh….daripada ntar dia kagak mau lagi.”pikirku. Foreplay tadi segera kulanjutkan di ranjang. Kuciumi seluruh bagian tubuhnya tanpa sisa termasuk vaginanya yang sudah mulai ditumbuhi bulu-bulu halus itu. Benar-benar aku ketiban durian runtuh, bagaimana tidak idola SMU telah terkapar tak berdaya di tanganku.
“Mas,…jangan nanti mbak Ani tahu bisa gawat, dia bisa marah.”rintihnya tapi tak kugubris. “Santai saja, toh dia mau tahu darimana coba? Asal kita diam semua selesai.” Dan benar saja setelah itu aku langsung memenangkan pertarungan ranjang ini. Lina tak lagi melawan bahkan terlihat pasrah.
Kulihat airmatanya sempat turun ketika aku membimbing penisku kebibir vaginanya yang sudah basah air dan ludahku itu. Dengan sedikit dorongan aku sudah dapat menembus bibir dalamnya. “Ahhh….stop mas! Sakit…!” serunya tapi sekali lagi aku menggeleng dan semakin kuperbesar tekanan dorong penisku. “Achhhhh……..Erghh….ahhhhhhhhhhhhhhhhh!” akhirnya berhasil juga aku menembus selaput daranya dan mulai kugerakkan batang kejantananku maju mundur sehingga nampak kenikmatan terbersit diwajah Lina sekalipun disitu juga tersirat rasa sakit.
“Enak..khan?”kataku kepadanya. Dia tak menjawab dan memalingkan muka karena malu. Melihat tingkahnya yang malu-malu itu membuatku semakin beringas dan menggenjotnya semakin cepat. Lina sempat mengeluarkan rintihan-rintihan pertanda sakit namun hanya sebentar, setelah itu rintihan rasa nikmatlah yang berkuasa.
“Erhhh….ahhh…..ahhh……ah…….ohhh………ahhhhh…..”de sahny a seiring semakin cepatnya aku menyodok vaginanya. “Mas…..ja…..jangan…bilang……erhhh…mbak Ani……ohhhh…ahhh..”katanya terputus-putus. Aku hanya tersenyum dan dalam hatiku, aku bersorak sorai karena akhirnya baik kakak maupun adik berhasil aku gagahi semuanya.
Tak sampai 15 menit kemudian aku merasakan lahar kenikmatanku akan segera meletus. Mungkin karena aku sudah lama menahan nafsuku kepada gadis ini dan lagi dia juga cukup cantik, sangat cantik malah jika dibandingkan dengan kakaknya. “Lin, aku keluar nich.”seruku sambil mencabut penisku dan aku kocokkan di atas payudaranya yang putih itu dan akhirnya tumpahlah semua spermaku diatas dadanya. Payudara putih berputing pink itu akhirnya tertutup dengan cairan putih kental. “Ohhhh…..nikmat sekali Lin, memekmu lebih sempit dari Ani. Lebih puas..”ungkapku tapi tak dijawab olehnya karena dia hanya terdiam sambil berlinang air mata. Aku sadar sebenarnya tadi saat dia memenuhi nafsuku dia tidak sedang sadar karena terdorong libido saja, karena cumbuanku. Tapi semua sudah terjadi dan aku yakin nantipun dia juga akan ngentot dengan orang lain, sehingga sekarang atau nantipun tak ada bedanya.

Seminggu sudah lamanya sejak aku dan Lina bercinta habis-habisan. Di suatu sore, Lina datang ke kostku dengan membawa bungkusan sesuatu. Ternyata itu adalah beberapa buku novel yang pernah dia pinjam dariku dan karena sudah selesai dibaca semua maka dia berniat mengembalikannya.
Raut mukanya menampakkan rasa malu saat matanya bentrok dengan mataku. Setelah berbasa-basi beberapa menit aku mulai sadar kalau dia ternyata sekarang sudah menginginkan hal itu lagi. Hal yang pernah kami lakukan di sebuah kamar hotel melati dulu. Sekalipun dia tidak secara blak-blakan menceritakannya tetapi dari sorot matanya aku paham betul keinginannya.
Tak perlu menunggu aba-aba lagi aku segera mendekapnya. “Mas Adi…”ucapnya pelan. Ucapan pelannya itu sangat seksi bagiku dan membuatku semakin horny dibuatnya. Langsung kukecup bibirnya yang mungil itu. “Lin, kamu mau lakuin itu lagi? Aku janji akan buat kamu senang dech.”kataku kepadanya. Dia tidak menjawab hanya bergumam sendiri.
Sambil mencumbu bibir dan lehernya, aku melucuti seluruh pakaiannya dan juga pakaianku sendiri hingga kami berdua tinggal menggunakan celana dalam. Kuremas buah dadanya dengan lembut dan kupilin-pilin puting payudaranya yang berwana pink itu sehingga mengeras. “Achhh…mas…….ohhh…..ahhhh…”desahnya pelan. Desahan itu bagaikan bahan bakar bagi nafsuku yang semakin berkobar. Segera kukulum puting susu nya dan akhirnya tanganku juga melucuti cd nya dan juga cd ku.
“Lin…..kamu seksi sekali. Aku jadi bayangin kalau kamu dan kakakmu bersama ngelayanin aku…heheheh.”kataku. Lagi-lagi dia tidak menjawab.
“Ohhhh…..”rintihnya makin keras saja saat aku mulai memainkan lidahku dalam liang vaginanya. Tak perlu berlama-lama akhirnya dia mencapai orgasme pertamanya. Dengan pelan tapi pasti aku mulai membimbing batang kemaluanku kearah bibir liang senggama milik Lina. Dengan bertahap aku mulai melakukan penetrasi kearah vaginanya sesekali diiringi dengan desahan yang keluar dari mulut Lina. “Ehmm……erghhhh…..ohhh……..achhhhh……………..ohhhhh …….ah hhh..”desahnya mewarnai penetrasiku. Blessshh…akhirnya masuk seluruh penisku kedalam vaginanya. Sambil terus mencium bibirnya dan kedua tanganku memainkan payudaranya, kugenjot batang kemaluanku pelan-pelan dan semakin lama semakin cepat.
Entah sensasi apa saja yang keluar dari tubuh gadis berusia 18 tahun ini. Benar-benar membuatku lupa diri dengan kemolekan tubuhnya. Aku yakin di kelasnya atau di sekolahnya, banyak laki-laki yang membayangkan bisa menikmati kemolekan tubuh dara cantik ini tapi yah mereka cuman dapat berharap dan membayangkan sementara aku malah mendapatkannya.
Sesekali Lina menggeleng-gelengkan kepalanya pertanda dia sedang menikmati dan lupa diri. Selama limabelas menit aku mengerjai adik kekasihku itu dengan menindihnya dari atas. Setelah puas dengan gaya itu, aku segera membalik tubuhnya hingga tengkurap dan kubuat posisinya jadi merangkak. Dengan cepat aku sodok kemaluannya dari belakang dengan doggy style.
“Achhh…mas…..”rintihnya, mungkin dia belum terbiasa dengan penis apalagi sebesar dan sepanjang punyaku, vaginanya belum dapat menerima. “Ehhh….enak yah Lin dientotin ma mas Adi? Kamu belum pernah ngentot sama cowok lain khan?”kataku setengah berbisik ditelinganya. Sambil mendesah dan setengah menengadah dia membalas,” Blum mas, tapi ….aku bener-bener pengin bercinta sama mas…”akunya lirih. Ternyata sebenarnya selama ini dia juga menaruh rasa suka terhadapku.
Dengan semakin cepat aku mengerjai dara cantik ini, payudaranya semakin berguncang hebat. Buah dada berukuran 34A itu semakin lama semakin besar saja atau hanya feeling ku aja.
Berbagai gaya aku lakoni sore itu mulai dari man on top, women on top, doggy style, mercenary sampai gaya mercenary menyamping semuanya aku praktekkan dengan Lina. Tak kurang dari 3 kali dia mengalami orgasme hebat sebelum akhirnya aku mencabut batang kejantananku dari memeknya dan segera kukocokkan ke atas wajahnya dan keluarlah seluruh spermaku. Cairan putih kental itu menyembur kemana-mana bahkan membasahi rambutnya dan lehernya. “Kamu puas Lin?”tanyaku padanya. “Puas mas, mas sendiri gimana?”baliknya. Aku hanya mengangguk dan mencium bibirnya. Mengejutkanku ketika dia beranjak membersihkan muka dan rambutnya dengan tissue kemudian dengan cepat dia memegang kemaluanku yang mulai mengecil. “Ini yah yang membuat Lina nggak perawan lagi……hihhhh.”katanya sambil mengocok dengan cepat penisku begitu menegang lagi dia berhenti. “Ihhh…..masih bisa berdiri…”candanya dan diluar dugaan dia membuka mulutnya dan melakukan oral seks dengan batang kejantananku. Walaupun belum mahir tapi benar-benar sensasi luar biasa. Terus terang aku tidak dapat menyembunyikan kepuasan dalam diriku begitu melihat penisku sekarang tenggelam dalam permainan mulut seorang anak SMU nan cantik. Dan benar saja, tidak butuh waktu lama sebelum ejakulasi keduaku terjadi. Aku menumpahkan semua sisa spermaku ke dalam mulut dara ini. Sore itu benar-benar salah satu sore terindah dalam hidupku. Chapter 21
Dosenku Sayang Dosenku Malang


Pada semester keempat aku memperoleh kelas yang diajar oleh dosen baru. Sebut saja namanya Vira, dosen fakultasku yang baru saja lulus tahun 2001 dan sekarang menjadi dosen kontrak di universitasku. Dia mengajar mata kuliah yang lumayan susah karena dipenuhi dengan teori plus banyaknya hitungan dengan segudang rumus.
Vira, gadis dengan tinggi 168 sentimeter dan berat kira-kira 50 kilogram ini benar-benar membuat banyak mata terpikat. Wajahnya cantik, kulitnya putih mulus bersinar dan rambutnya benar-benar aduhai panjang hitam lurus. Mungkin diantara semua keindahan tubuhnya, rambutnyalah yang menjadi idolaku.
Setiap kali dia mengajar selalu menggunakan pakaian rapi tapi dengan belahan dada yang agak kebawah sehingga dibeberapa kesempatan ada saja mahasiswa yang cari-cari alasan untuk bertanya mengenai mata kuliah yang diajarkannya sementara mata mereka melongok kesisi lain yang tak perlu kusebutkan panjang lebarpun aku yakin kalian sudah tahu semuanya.
Sore itu setelah kelas selesai, tepatnya pada hari Jumat sore sekitar jam 6an. Aku bergegas menuruni anak tangga gedung fakultasku karena aku berada di tingkat 4 dan liftnya berjubel penuh sesak jadi terpaksa lari-lari turun deh. Bulan ini benar-benar sial pikirku, mana mobilku sekarang disita oleh orang tua dan motor rusak akibat kecelakaan tiga minggu lalu sehingga aku harus jalan kaki pulang ke kost. Untung saja kostku dekat dari kampus sekitar 300 meteran.
Saat aku sampai di tangga lantai 2, aku mendengar suara orang mengaduh pelan dan aku mendekat untuk lebih tahu jelasnya. Ternyata suara tersebut berasal dari sebuah bibir mungil milik Bu Vira, dosenku.
“Wah, ada apa bu? Kok bukunya berserakan?” kataku sambil membantunya berdiri dan memunguti buku-bukunya yang terjatuh di lantai.
“Aku tadi terpeleset dari anak tangga, gara-gara sepatu sialan ini hak nya patah pula.”
“Ohhh, yang penting ibu tidak terluka khan.” kataku sambil tersenyum. Aku sekilas melihat raut wajahnya menahan rasa sakit dan aku melihatnya menjadi sangat seksi, sensualitas dosen ini bukan pada pahanya yang dibalut rok mini ataupun dada nya yang agak menonjol keluar tetapi pada wajahnya.
“Kamu ini, gini-gini aku masih muda. Panggil aja mbak, panggilan ibu membuatku merasa tua.” Keluhnya kepadaku dan aku hanya bisa mengamini saja. Dengan cekatan dia merapikan pakaiannya yang sedikit tersingkap tadi dan buku-bukunya. “Kamu sendirian?” tanyanya padaku memecah kesunyian.
Aku hanya tersenyum kecil,”Iya mbak, habis teman-teman yang lain saya tidak begitu kenal dan yang saya kenal malah belum ambil mata kuliah ini.” Memang aku termasuk anak yang bisa dibilang pandai setidaknya itu kata teman-temanku, aku sendiri lebih suka menganggap diriku beruntung karena selalu dapat nilai bagus saat ujian dan tes sekalipun jarang belajar. Rahasianya, carilah tempat duduk yang pas untuk mencontek, plus carilah teman yang bisa diandalkan waktu kuliah. Tentu saja yang pandai.
Dosen cantik itu tersenyum dari situ aku dapat melihat sebersit tatapan kagum tersembunyi. “Aku dengar kamu cukup pandai yah. Sampai-sampai Pak Roni minta kamu jadi asistennya.” tanyanya padaku
“Ah, biasa aja kok mbak. Saya cuman beruntung aja kok.” aku tersenyum dan mengakui dalam hati bahwa aku memang beruntung.
Keluar dari gedung aku dapat memastikan kalau udara benar-benar basah. Gerimis berubah menjadi hujan deras. Sialan, gerutuku. Kenapa hujan pas aku lagi ga bawa mobil. Entah berapa kali aku menyumpah dalam hati sampai semua sumpah serapahku itu terputus oleh alunan nada indah yang keluar dari mulut dosen cantik di sebelahku itu.
“Wah hujan nih, kamu bawa kendaraan pribadi?” katanya penuh selidik dan segera aku jawab dengan gelengan kepala. “Kalau begitu ikut mobilku aja yuk.” Aku melihat dia cukup cekatan memasuki mobilnya yang hanya diparkir 20 meter dari pintu utama gedung.
Singkatnya aku mampir kerumah dosen ini. Disana aku menunggu di sebuah ruang keluarga mengingat ada televisinya. “Ibu tinggal sendiri?” tanyaku dan dijawab dengan lirikan tak setuju dan aku benahi kata-kataku lagi, “Maksudnya mbak gitu.” aku tersenyum minta maaf.
Ternyata dia memang tinggal sendiri, pembantunya pergi karena anaknya menikah dan dia cuti untuk satu minggu terhitung kemarin sementara orang tuanya tinggal di kota lain. Dan saat aku tanya soal pacar dia jawab pacarnya sedang pergi entah kemana karena sudah satu bulan tidak memberi kabar.
Hujan semakin deras dan sore berubah menjadi malam. Sebenarnya dia ingin mengantarku sampai rumah tapi aku berbohong dengan mengatakan kalau rumahku diluar kota. Sebenarnya itu tidak bohong mengingat aku kost disini.
Jam 7 sudah dan saat aku akan beranjak dari sofa aku mendengar suara benda jatuh. Apalagi sekarang yang jatuh, pikirku. Aku menduga dosen ini seorang yang ceroboh. Aku lalu bergegas mendekat tapi tiba-tiba aku bertabrakan dengan sesuatu yang ternyata ibu dosen cantik yang sedang menuju kearahku.
“Aduh, ibu eh mbak nggak apa-apa? Tadi suara apaan sih?” tanyaku gagap, tapi semua pikiranku buyar tanpa konsentrasi setelah melihat gadis ini hanya mengenakan kimono, ternyata dia habis mandi dan parahnya dia tak menggunakan pakaian apapun dibalik kimononya itu. Dengan jelas aku melihat gundukan rambut halus dan sebuah benda tak asing lagi dihadapanku yaitu vagina dari dosen ini. Kimononya tersingkap cukup lebar sehingga aku tidak perlu mencari celah mengintip lagi.
“Ah, jangan lihat!” serunya padaku, namun terlambat dia sadari bahwa aku sudah lama menatap benda rahasianya itu.
“Mbak, mbak abis mandi yah? Harum.” kataku sambil mendekatinya dengan merangkak karena dia juga belum bangun dari jatuhnya yang kebetulan terlentang.
“Eh Di, mau apa? Jangan macam-macam lho.” katanya lirih tapi segera terputus saat aku sudah berada diatas tubuhnya menindihnya dengan tubuhku dan kedua tangannya aku pegangi.
Langsung kucium bibir mungilnya. “Di! Kamu sudah gila yah.” serunya sambil melepaskan diri dari mulutku yang mulai nakal dan sudah mulai menciumi lehernya.
“Ah, mbak ini. Aku dah lihat semuanya kok masih ditutupi segala.” sahutku enteng dan dengan sigap aku tarik ikatan kimononya hingga lepas dan terpampanglah keindahan tubuh seorang Virna. Payudaranya benar-benar menyihirku.
Segera setelah itu aku mencumbunya habis-habisan sehingga perlawanannya semakin sia-sia. Hingga akhirnya dia berkata,” Di, jangan disini!” suaranya nampak letih namun ditemboki oleh desahan nafsu yang menggelora terlebih saat liang kemaluannya aku permainkan dengan lidahku. Entah berapa kali dia menggeliat menggelinjang menahan kenikmatan tersebut.
Aku segera menggendong Virna keatas tempat tidurnya yang tak jauh dari tempat kami bercumbu tadi. Aku lepaskan seluruh pakaianku dan tampaklah senjata kebanggaanku mengacung keras. Virna tertegun melihatnya dan memberanikan diri untuk mengentuhnya saat aku mencumbunya lagi. Sentuhan tangan dosen cantik itu pada batang kejantananku benar-benar membuatku semakin bernafsu saja.
Kulihat liang senggamanya sudah mengeluarkan cairan cinta yang cukup banyak. Segera kuarahkan lidahku untuk menelusuri liang senggama tersebut. Kutemukan klitorisnya dan kumainkan dengan ujung lidahku. “Oh, ah…ahhh!” entah sudah berapa kali lenguhannya terlontar dari mulut dara cantik ini. Semakin liar gerakan lidahku semakin liar juga reaksi Virna dosenku ini. Kepalanya bergeleng kekanan dan kekiri menahan sensasi luar biasa ini sementara tangannya mencengkeram rambutku, untungnya tidak terlalu keras.
Sepuluh menit sudah aku mempermainkan vaginanya dengan lidahku dan akhirnya gadis inipun mencapai klimaksnya dan mengejang tubuhnya sebelum terkulai lemas. “Ahhh, Di…” dia tak sanggup berkata-kata lagi saat orgasme pertamanya keluar.
Aku paham betul situasinya, “Mbak, habis ini masih ada lagi lho. Hari ini mbak bakal aku buat puas.” kataku dalam senyuman. Dan segera pula aku menciumi bibirnya lagi dan juga payudaranya yang indah itu. Belum juga lima menit aku mencumbunya lagi, Virna sudah nampak lebih horny lagi sekarang. Sekarang dia lebih berani dalam bereaksi, mungkin karena setelah orgasmenya dia menjadi berpikir untuk menikmati seks ini denganku.
“Penismu gede banget yah.” Virna lalu memegang penisku dan mengulumnya tanpa ragu. Dikocok penisku dalam mulutnya sembari menggunakan tangan juga.
“Mbak Virna kok jago ngemutnya?” tanyaku pura-pura peduli. Dia hanya tersenyum dan setelah peristiwa ini baru dia mengatakan kalau dia pernah melakukan hubungan intim seperti ini dengan kekasihnya yang menghilang dulu.
Setelah kurang lebih sepuluh menit dia bermain dengan penisku, dicabutlah batang kejantananku itu dan Virna mulai mengangkangi batang kejantananku itu dan dengan posisi woman on top vaginanya mulai menekan penisku hingga masuk sedalam-dalamnya kedalam liang senggamanya. “Ahhh, uh, achhh. Di kontolmu kegedean nih.” Virna mulai meracau tidak karuan ketika menerima penisku. Baru setelah beberapa kali mencoba akhirnya batang kejantananku dapat juga masuk kedalam kemaluannya.
“Mbak, enak nih memek mbak. Sempit banget.” kataku saat dia mulai bergoyang. Goyangan Virna semakin lama semakin liar saja. Batang kemaluanku benar-benar mendapat rangsangan luar biasa. Saat penisku didalam vaginanya dihentak-hentakkan dengan cepat, kami berdua berciuman dengan dasyatnya sementara tanganku tetap bergerilya menservis buah dadanya yang menggelantung kebawah. Seksi sekali Virna saat itu. Seluruh lenguhan dan desahan nikmatnya yang tak jarang berupa teriakan, semuanya keluar.
Setelah puas dengan gaya tersebut, aku lalu membalik tubuhnya menjadi doggy style. Saat itu Virna benar-benar sudah mengalami orgasme keduanya. Berbagai gaya aku coba dengan dosen cantik ini hingga setelah satu jam lebih kami bercinta, akhirnya aku menggunakan gaya mercenary sebagai penutup.
“Mbak, aku dah mau keluar nih. Keluarin mana?” tanyaku sambil mencumbunya. Virna hanya mengatakan terserah, entah karena dia bersungguh-sungguh tak peduli atau karena situasi yang membuat dia tak dapat berpikir jernih lagi.
Selang satu menit kemudian, penisku akhirnya memuntahkan sperma yang cukup banyak dan kental kedalam riang rahimnya. Virna hanya terpejam menerima semprotan hangat cairan sperma tersebut dalam liang kemaluannya. “Ach, ahhh…ahh.” seruku yang tak dapat lagi menahan rasa puas karena telah berhasil menyenggamai seorang dosen cantik.
Selesai dengan aktivitas kami, aku berbaring disampingnya. “Gimana mbak? Dibandingkan dengan mantan pacar mbak, mana yang lebih memuaskan?” kataku padanya sambil tetap mempermainkan kedua buah dadanya.
Virna hanya tersenyum dengan kepuasan dengan sebersit rasa malu, “Kamu yang lebih memuaskan Di, punyamu lebih besar jauh lebih besar dari penis mantanku.” Akhirnya Virna mengatakan hubungannya dengan kekasihnya tersebut dan mengatakan kalau kekasihnyalah yang telah membuat Virna kehilangan keperawanan. Setelah beberapa bulan berhasil bercinta dengan Virna akhirnya lelaki itu lari dari tanggung jawab. Virna hanya meneteskan airmatanya dan bersandar di dadaku. Malam itu sampai pagi harinya, setidaknya kami sudah bercinta sebanyak 4 kali.
Virna mengatakan, kalau kapanpun dia membutuhkan belaian kasih sayangku ataupun butuh pemuasan aku harus ada disampingnya. Tentu saja dia mengatakannya sambil bercanda dan sambil mencium bibirku. Mulai hari itu, Virna sudah menjadi bagian dari petualangan seks ku terutama didalam kampus. Chapter 22
Sex Data: Lina


Sekitar 4 hari setelah aku bercinta dengan Lena pada saat acara out bond dari kampus, aku kembali bertemu dengan Lina saat dia kostku. Bagi yang sudah lupa, Lina adalah adik kekasihku yang pernah aku tiduri juga.
Dia datang sembari membawa kue yang dia buat sendiri dari rumah. Dia berkata kepada orang tuanya untuk mengunjungi kakaknya selagi dia libur Ujian Akhir. Dia berencana untuk menginap di kostku. Karena untuk tiga hari kedepan kostku sepi dan tinggal aku bersama dengan dua orang temanku (anak-anak baru yang aku belum begitu kenal) maka aku ijinkan saja dia menginap tapi hanya maksimal dua hari dan dia menyetujuinya dengan gembira.
“Kamu tujuannya nginep disini buat dapat jatah tiap saat khan? Ngaku hayo…!” Godaku padanya dan dia tertawa kecil, “Alah! Mas Adi juga suka khan ngentotin aku. Ngaku juga hayo!” balasnya padaku. Aku agak kaget setelah mendengar Lina sudah terbiasa mengeluarkan kata-kata kotor didepanku yang dulu dia tabukan.
Singkatnya, malam itu Lina datang ketempatku dan menginap dikamar kostku. Ada seorang teman kost ku yang tahu namun karena membawa cewek menginap itu sudah hal yang biasa maka dia tidak mempedulikannya lagi. Sekitar jam 9 malam ketika sehabis makan malam, aku dan Lina menonton DVD yang kami sewa waktu makan diluar tadi. Berupa film action namun tetap saja ada bumbu-bumbu seksnya. Dan begitu hal tersebut keluar maka event yang kutunggu tiba juga. Lina nampak begitu menikmati adegan hot pemain film itu sedangkan aku dari belakang tiba-tiba memeluknya erat sembari kedua tanganku meremas-remas payudaranya. Lehernyapun tak luput dari ciumanku begitu pula dengan bibirnya kala dia menengok kebelakang.
“Hayo, sekarang sapa yang minta jatah?” Godanya padaku sambil tersenyum manis. Senyumannya benar-benar seksi membuatku bergairah tinggi sekali. Gadis ini seolah menggodaku dengan goyangan pinggang dan perutnya yang meliuk-liuk ketika aku rangkul. Cara itu berhasil membuatku menjadi semakin bernafsu saja untuk mengerjai gadis ini.
“Aduh mas Adi ini. Gak sabaran yah?” Kata Lina sambil menepiskan tanganku ketika meremas buah dadanya dari belakang. “Sabar dulu dong mas. Film nya kan belum selesai.” Protesnya kepadaku. Walau aku sudah rangsang dia habis-habisan tapi dia tetap kukuh dengan pendiriannya yaitu ingin menyelesaikan menonton film yang kami putar sekarang.
“Huh, kamu ini emang pinter bikin orang belingsatan Lin.” Kataku padanya sambil bersungut-sungut. Lina tertawa melihat kelakuanku itu, seperti anak kucing yang jatah makanannya direbut. Menanti penuh harap.
Lina lalu berbalik menghadap kearahku, “Memang sapa juga yang mulai. Kan mas Adi belingsatan gara-gara otaknya ngeres molo khan.” Sahutnya mengena di hatiku. “Hehehe…ngeres juga setelah liat kamu Lin.” Sahutku sambil mencium bibirnya.
Kali ini dia membalas ciumanku dan bisa ditebak kalau dalam hitungan menit kami sudah bergumul di kasur tanpa pakaian sehelaipun. “Akhh…mas Adi ganas amat hari ini…” Desah Lina disela-sela cumbuan bibirku ke payudaranya yang putingnya sudah mengeras mengacung kedepan. Setiap jilatanku di putingnya membuat gadis belia ini menggelinjang tak karuan. Belum lagi pusarnya yang menggairahkan tak luput dari jilatan lidahku sementara kedua buah dadanya aku remas bergantian. Semakin turun jilatanku hingga akhirnya mengarah ke liang kewanitaaannya yang sudah mulai basah.
“Jangan mas! Kotor disitu.” Protes Lina namun tak aku hiraukan. “Memekmu wangi kok Lin, bersih pula. Sering kamu bersihkan pastinya.” Sahutku sambil memainkan lidahku di klitoris gadis belia ini. “Akhh…akhhh…Aku bersihkan buat mas Adi, supaya mas Adi betah sama aku…akhh…” Ternyata Lina benar-benar menyukaiku sehingga begitu memperhatikan pendapatku tentang dirinya.
Tubuh seksi dara cantik ini menggeliat, menggelinjang tak karuan tiap kali aku menggesekkan ujung lidahku di ujung klitorisnya. Desahan-desahan kenikamatan memenuhi ruangan dimana aku bersamanya sedang menanjaki puncak kenikmatan. Hanya berselang sepuluh menit kemudian, aku mengarahkan batang kejantananku kearah bibir vagina Lina yang memerah itu. Dalam beberapa kali tusukan saja akhirnya seluruh batang kejantananku berhasil menembus masuk sempurna kedalam liang kewanitaan Lina.
Aku menggoyang-goyangkan batang kemaluanku didalam liang senggamanya untuk memperluas ruang gerak penisku. Hal ini nampaknya membuat Lina menjadi setengah kesetanan. Sembari mengigit bibir bawahnya dia menggoyangkan pantatnya lebih ganas daripada goyanganku. Desahanpun keluar bertubi-tubi dari mulutnya membuat suasana saat itu menjadi semakin panas dan menggairahkan. Jemari lentik tangannya mencengkeram erat bahuku yang saat itu menindih tubuhnya hingga beberapa kali seolah mencakar kulitku sehingga memerah.
Melihat goyangan Lina semakin hot saja, aku mengubah gerakanku menjadi maju mundur dengan intensitas yang cepat sehingga membuat kedua kemaluan kami bergerak dalam dua fase gerakan sekalihus, maju mundur dengan memutar. Mungkin karena gerakan baru inilah, Lina menjadi sangat bernafsu daripada biasanya. Diapun mencapai orgasme dalam sepuluh menit kedepan walaupun kami tidak berganti gaya dan hanya menggunakan gaya mercenary.
Puas dengan goyangannya dan tusukan penisku, Lina lalu mengeluarkan penisku dari sangkar madu miliknya. Terang saja aku protes berat karena aku belum mencapai orgasme. Namun setelah Lina membuka mulutnya dan mengulum habis-habisan penisku yang sudah belepotan cairan kewanitaan plus cairan orgasme miliknya, aku menjadi terdiam dan menikmati. Ternyata dia sudah lebih baik dalam hal tehnik mengoral, yang nantinya dia memberitahuku kalau selama ini dia berlatih dengan menggunakan mentimun. Luar biasa, itulah yang aku rasakan ketika ujung penisku dijilatinya saat seluruh penisku masih berada didalam mulutnya. Serasa tersetrum rasanya. Belum lagi ulah kedua tangannya yang mempermainkan kedua buah pelirku. Rasanya ingin meledakkan nafsuku dimulutnya. Dan benar saja, dalam beberapa menit aku langsung berejakulasi didalam mulutnya. “Lin, aku keluar…akhhhh…” Desahku diiringi cairan putih kental nan hangat keluar dari penisku dan menyemprot, membasahi rongga mulutnya yang seksi itu. Lina lalu menjilati seluruh cairan spermaku hingga bersih dari batang kemaluanku dan menelannya. “Wow, kamu ternyata ada kemajuan. Luar biasa kamu Lin.” Kataku padanya sambil membelai lembut rambutnya yang sudah basah oleh keringat.
Lina hanya tersenyum dan menyahut, “Ini juga demi mas Adi. Khan mas Adi selama ini dah baik sama Lina. Sekarang giliran Lina yang baik ma mas Adi. Dibandingkan Mbak Anyssa, mana yang lebih baik servisnya?” Tanya Lina kepadaku. Aku tersenyum dan menjawab, “Tentu saja kamu Lin.” Lalu dia pun tersenyum kecil sepertinya senang dengan jawabanku yang memang sudah dia nantikan dari tadi. Lalu kami melepaskan hari itu dengan tidur berangkulan tanpa menghiraukan lanjutan film yang kami tonton barusan, setidaknya sekitar 3 sampai 4 jam kami tidur dalam keheningan berselimutkan kepuasan. Chapter 23
Sex Data: Joane


Namanya Joane, dia adalah kekasih dari Anthony, temanku waktu kuliah. Seorang bule yang berasal dari Swedia. Wajahnya cantik, tinggi dan berkulit putih dengan rambut bewarna coklat agak pirang hingga melebihi bahu panjangnya. Diluar itu, Joane adalah cewek yang smart dan ramah. Setiap kali Anthony mengajaknya dalam pertemuan dengan teman-temannya yang lain selalu membuahkan iri didalam diri teman-temannya karena kecantikan dan kemolekan dari Joane. Tentu saja Anthony menikmati kecemburuan teman-temannya itu yang nyatanya hanya bisa bermimpi untuk mendapatkan gadis seperti Joane. Anthony adalah anak seorang konglomerat yang mempunyai beberapa cottage dan resort di Bali, Jakarta maupun di pulau-pulau lain di beberapa daerah di Indonesia bagian timur. Belum lagi tampangnya yang super model (cakep) membuat banyak cewek tergila-gila padanya. Pergaulannya luas dan dia juga dapat fasih berbahasa 3 bahasa asing yang membuatnya disegani oleh teman-temannya. Pasalnya banyak anak orang kaya tapi tolol, tapi hal itu tidak berlaku bagi Anthony, tapi bagiku yang paling aku sukai dari anak ini adalah tidak pernah tanggung-tanggung saat menolong temannya. Jadi wajar saja gadis seperti Joane jatuh hati terhadap pemuda yang perfect seperti ini.
Ketika aku sedang tidur-tiduran di kamar kost Anthony sembari menghabiskan bahan bacaanku yang terakhir berupa komik silat yang kebetulan dikoleksi oleh Anthony, tiba-tiba ada telepon masuk ke handphone ku. “Halo, sapa yah?” sahutku karena nomernya tidak terlihat (nomor pribadi).
“Ini gua dul. Eh gua titip kamar dulu agak lamaan yah. Soalnya mobil gua ternyata harus nunggu lama buat dapat giliran.” Suara Anthony terdengar dari ujung jauh. Dia sebenarnya sedang melakukan check up untuk mobil miliknya setelah mendengar suara-suara aneh saat digunakannya untuk jalan-jalan bersama kekasihnya kemarin.
“Set dah, jangan lama-lama yah. Gua juga butuh makan neh.” Sahutku sembari meletakkan bacaan terakhir yang selesai aku baca. “Loe buka aja kulkas. Disana ada makanan and minuman. Loe abisin aja semua.” Sahutnya enteng lalu menutup teleponnya.
Memang kamar Anthony benar-benar super mewah. Bukan hanya televisi, PC ataupun AC, tapi juga ada dvd player, speaker Altec terbaru satu set, perangkat sambungan internet plus dengan kulkas kecil diujung ruangan yang penuh dengan berbagai makanan (biasanya).
Aku buka juga akhirnya karena aku sudah agak lapar. “Sialan, cuman ada es krim doang sama coklat Toblerone.” Umpatku dalam hati. Mengingat aku tidak menyukai coklat, yah tinggal es krim yang bisa kuembat.
Bingung tak ada kerjaan, akhirnya aku membuka PC milik Anthony sembari browsing di internet untuk melihat-lihat apakah ada yang menarik. Sesaat mataku tertegun pada sebuah icon yang berbentuk imut di salah satu folder di PC Anthony. Jarang-jarang Anthony menyimpan sesuatu yang girlie seperti ini. Lalu aku putuskan untuk melihatnya dan saat terbuka, terlihat sebuah kumpulan username dan password untuk salah satu situs. Lalu aku buka saja situs itu dan menggunakan account milik Anthony, ternyata situs ini menawarkan share harddisk yang memperbolehkan seseorang menjadi member dan menyimpan file-file dalam ukuran besar kedalam wilayah share situs tersebut. Ternyata Anthony menyimpan beberapa dokumen disana. Tetapi yang paling mencolok adalah sebuah dokumen yang besarnya diatas 400 MB. Terang saja aku kaget karena yang lain hanya sebesar rata-rata 1 MB atau 2 MB saja.
Setelah aku membukanya, betapa terkejutnya aku bahwa ternyata file tersebut adalah berbentuk film dalam format kompresan yang setelah dibuka berupa kumpulan beberapa potong film. Tetapi yang mengejutkan adalah film tersebut dibintangi oleh Anthony dengan kekasihnya sendiri, dan aku tak akan terkejut jika film tersebut adalah film normal tetapi ini adalah adegan mesra antara keduanya.
Dalam salah satu potongan film aku dapat melihat bagaimana Anthony berciuman dengan Joane sementara Joane yang saat itu hanya memakai kaus dan celana dalam diremas-remas dan ditelusuri tubuhnya oleh Anthony. Bahkan ada yang lebih panas lagi yaitu adegan dimana mereka bercinta.
Salah satu adegan itu dilakukan di sebuah kamar hotel yang cukup mewah, dugaanku pribadi itu adalah hotel di Bali karena hotel mewah di Jogja tidak ada yang bertema natural.
Adegan itu dimulai ketika Anthony menyalakan handycam nya miliknya dan mendekati Joane yang masih tiduran diranjang. Mereka berciuman dengan posisi Joane dibawah sementara Anthony diatas. Bukan hanya dengan ciuman, tetapi tangan Anthony sudah meraba-raba payudara Joane yang masih terbalut kaus warna biru muda. Sementara itu tangan Joane selain membelai rambut kekasihnya itu, juga merogoh kedalam celana pendek Anthony.
Dipelorotkannya celana pendek itu sehingga keluar sebuah benda yang tak asing lagi, batang kejantanan milik Anthony. Joane sepertinya sudah mahfum benar dengan benda tersebut dan tidak terlihat canggung lagi.
Dengan lembut Joane mengocok batang kemaluan milik Anthony hingga cairan pelumas mulai keluar membasahi batang kejantanan tersebut. Jemari lentik Joane terlihat sangat piawai untuk hal yang satu ini. Anthony yang sudah mulai tak dapat menahan diri langsung saja membuka kaus biru milik Joane yang ternyata tidak memakai bra tersebut dan segera terlihat pemandangan yang sangat hot, payudara Joane yang putih mulus dan ukurannya cukup besar itu. Dengan putingnya yang bewarna kemerahan tersebut, lelaki manapun juga akan ngiler dibuatnya. Mulut Anthony langsung melahap buah dada pacarnya itu dengan rakusnya, sembari dijilatinya bagian puting Joane hingga keluar suara desahan dari mulut Joane yang cantik itu.
Belum puas dengan itu, Anthony langsung membuka celana dalam Joane yang kala itu menggunakan semacam G-string walaupun bentuknya sedikit mirip underwear biasa namun kecil. Sedetik kemudian muncullah pemandangan indah, vagina Joane yang ditutupi bulu kemaluan yang halus dan tipis tercukur rapi walapun tidak begitu jelas karena fokus kamera.
Anthony yang waktu itu segera melepaskan celana pendeknya langsung menindih Joane lagi. Kali ini batang kemaluannya langsung diarahkan kebibir vagina Joane sembari berbisik-bisik ketelinga Joane sesekali sambil menciumi leher kekasihnya itu. Tak puas dengan itu saja, payudara Joane-pun tidak lepas dari jarahan tangan dan bibirnya. Entah berapa lumatan dan jilatan yang sudah dia lakukan kepada payudara kekasihnya itu sehingga buah dada Joane memerah dah basah oleh cairan liur Anthony.
“Arghh…akhh..” Desah gadis ini saat bibir kemaluannya digesek-gesek oleh batang kejantanan milik Anthony yang sudah mengeras itu. Setelah posisi kamera dirubah oleh Anthony baru aku bisa melihat jelas vagina milik Joane dan memanglah indah bentuknya. Tercukur rapi dan bibir vaginanya bewarna merah muda nampak sangat basah karena rangsangan sebelumnya dari sang pacar.
Entah karena sakit atau nikmat, Joane berteriak dan medesah keras ketika batang penis milik Anthony menyeruak masuk dengan cepat melewati bibir vaginanya dan langsung menghantam dinding rahim gadis ini. “Akhh…ohhh..akhh..God..ohh…babe..” Racaunya tak karuan ketika Anthony mulai menggenjot tubuhnya dengan cepat. Sepertinya walaupun cewek ini cewek bule namun butuh waktu juga untuk menyesuaikan goyangan penis Anthony yang nota bene adalah orang Indonesia yang menurut penelitian ukuran batang kemaluannya harusnya lebih kecil dari cowok bule.
Hanya lima menit Anthony menyetubuhi Joane dengan posisi menindihinya, lalu dia membalik tubuh kekasihnya dan dengan gaya doggy style dia langsung memompanya lagi tanpa ampun. Persetubuhan kali ini nampak lebih brutal dari sebelumnya. Pungung Joane dibuatnya merendah sehingga payudara gadis ini menyentuh kasur sementara pantatnya tetap terangkat untuk dikerjai. Sesekali Anthony melepaskan sodokannya dan dengan cepat dia memasukkannya lagi kedalam liang kewanitaan Joane yang selalu diiringi dengan erangan dari gadis itu, entah karena sakit atau nikmat yang tiada tara.
Dengan gaya ini aku bisa melihat dengan jelas tiap kali Joane disodok kemaluannya oleh Anthony maka payudaranya yang sudah menyentuk bagian atas kasur itu berguncang keras. Kedua tangan Joane mencengkeram erat bantal dan seprei tempat tidur itu. Sesekali erangan keras keluar dari mulut dara cantik ini ketika vaginanya dihajar dengan keras oleh batang kejantanan Anthony.
Puas dengan gaya doggy style, sekarang Anthony membalikkan tubuh Joane sehingga dia diposisikan menungging namun dalam kondisi terlentang. Kedua pahanya diangkat keatas sehingga tubuh Joane melengkung, sampai payudaranya bergelayut menempel mulutnya sendiri. Lalu dari arah samping, Anthony melesakkan penisnya dari arah atas sehingga Joane dikerjai dalam posisi vagina menghadap keatas. Aku tidak habis pikir, gaya apa yang dilakukan Anthony kepada kekasihnya namun aku tak peduli ketika pandanganku teralih pada sodokan-sodokan keras Anthony yang brutal kedalam liang kemaluan Joane. Terlihat bibir kemaluan Joane sudah semakin terbuka lebar akibat posisinya sekarang dan sodokan brutal Anthony. Sembari menahan kedua tungkai kaki Joane agar tidak jatuh, Anthony mempercepat pompaannya sehingga dalam hitungan beberapa menit saja dia sudah ejakulasi. Anthony mengejang hebat dan membenamkan penisnya dalam-dalam diliang senggama Joane. Saat dia mencabutnya dan Joane kembali terlentang dalam posisi normal baru terlihat cairan putih kental mengalir dari dalam liang kemaluan gadis cantik ini. Setelah menghadiahi ciuman manis dibibir, Anthony lalu mematikan handy cam miliknya.
Pada awalnya menyesal aku tidak membawa flash disk sehingga tidak dapat mengcopy adegan mesra ini, namun dasar lagi untung, akhirnya aku menemukan CD blank dan langsung saja aku copy semua file-file mesum Anthony kedalam beberapa CD tersebut. Berharap dapat aku gunakan sebagai fantasy, apalagi karena aku telah melihat kemolekan tubuh kekasih Anthony yang bule itu, Joane. Chapter 24
Balada Asisten Dosen


Namanya Ayu Endah Estianti, biasa dipanggil Ayu atau Hesti. Perawakannya tinggi semampai walaupun agak kurus tetapi dia selalu enerjik dalam tiap kesempatan. Sifatnya yang periang dan enerjik inilah yang disukai oleh banyak orang sehingga pada usianya yang ke 22, dia sudah mendapatkan pekerjaan sebagai asisten dosen di sebuah universitas tempatku kuliah. Dia juga hampir selesai mengerjakan skripsinya sehingga bisa dipastikan kalau beberapa bulan lagi dia akan segera lulus dari fakultas tempatnya belajar.
Gadis putih ini berambut sebahu dan sangat modis ditiap kali penampilannya dimuka umum. Wajar kalau dikalangan asisten dosen bahkan dikalangan mahasiswa senior dia disebut icon fesyen terkini, terlebih difakultas tempat dia mengajar.
Berasal dari keluarga yang sanagt mampu karena ayahnya sendiri adalah salah satu pegawai senior di Pertamina dan kekasihnya adalah seorang pengusaha mebel asal Jepara, sebut saja namanya Roy. Sekilas kehidupannya yang serba sempurna membuat orang iri, dan terlihat begitu perfect dalam segalanya.
Namun tak ada yang namanya kehidupan sempurna. Semua yang terlihat indah itu tiba-tiba saja hancur pada suatu malam ketika aku secara tak sengaja menemukan sebuah kepingan kaset kecil disebuah toilet disebuah rumah makan di kota Salatiga. Malam itu aku bersama dengan beberapa orang teman mengunjungi salah satu teman kami yang kebetulan sedang menjalani pemeriksaan di kantor polisi karena dia ikut ditangkap saat berkunjung ke kost temannya yang kebetulan kuliah di salah satu universitas di kampus tersebut. Malang nasibnya karena berada ditempat yang salah dan diwaktu yang salah, karena pada waktu dia berkunjung ternyata di kost temannya itu ada beberapa orang yang sedang pesta narkoba sehingga dia ikut tertangkap saat penggerebekan, walaupun akhirnya nanti terbukti kalau dia tidak ikut menggunakannya dan waktu itu hanya berkunjung saja (setelah sempat meringkuk sehari di sel).
Pulang dari membesuk teman di kantor polisi kami segera pulang tapi sebelumnya mencari tempat untuk makan. Karena tidak mengetahui lokasi makan yang sesuai maka mau tak mau kami masuk juga ke rumah makan francise terkenal di kota itu. Selesai makan, sekitar jam setengah sembilan malam kami bergegas pergi dengan beriringan menggunakan sepeda motor. Sesaat sebelum pergi aku dan seorang teman pergi ke toilet untuk membasuh muka agar tidak mengantuk namun saat aku akan membasuh muka tiba-tiba pandangan mataku tertuju kepada sebuah benda kecil bewarna hitam yang tergeletak begitu saja diatas washtafel.
Aku pungut benda tersebut dan ternyata adalah sebuah kaset kecil, mulanya aku tak tahu kaset itu namun setelah diberitahu temanku aku jadi tahu sekarang kalau kaset tersebut adalah kaset video yang digunakan untuk handy cam tipe lama. Akhirnya aku menuju ke tempat parkir dengan membawa kaset misterius ini yang dalam hati aku bertanya-tanya apa yang ada didalam kaset ini, mungkin suatu hal yang menarik tapi bisa juga hanyalah kaset kosong atau rekaman tak menarik lainnya. Lantas apa hubungannya antara penemuan kaset ini dengan kehancuran kehidupan sempurna dari Ayu Endah Estianti? Kalian akan segera tahu setelah ini.
Malam berikutnya setelah aku kembali dari kampus aku teringat kalau aku mempunyai kaset miesterius yang belum terbuka yang masih berada di saku jaketku. Aku nyalakan micro projector yang aku pinjam dari Anthony, temanku. Kebetulan dalam micro projector tersebut terdapat 3 format alat perekam yang bisa masuk kedalamnya yaitu kaset kecil, CD/DVD ataupun HDD.
Sesaat yang terlihat hanyalah obrolan biasa antara ketiga pria yang salah satunya baru aku ketahui nantinya adalah kekasih dari Ayu Endah Estianti. Sepertinya pembicaraan ini berada disebuah hotel, yang sekilas aku lihat dari inisial yang tertulis di daftar menu diatas mini bar yang sempat ter spot oleh kamera adalah inisial dari sebuah hotel termewah dikota Solo.
Sekitar 10 menit pembicaraan begitu membosankan lalu tiba-tiba kamera mati dan semuanya gelap. Sedetik kemudian kamera kembali menyala kali ini dengan pemandangan yang lain lagi, yaitu pemandangan seorang perempuan muda yang sudah mabuk sempoyongan yang berusaha direbahkan oleh dua orang pria disampingnya. Sekilas aku tak percaya tetapi setelah aku pause dan kuperbesar gambarnya baru aku sadar kalau cewek tersebut adalah Ayu.
Ayu terlihat begitu mabuk hingga racauannya tak karuan, tapi paling banyak adalah makian yang keluar dari mulutnya yang ditujukan kepada kedua pria yang merebahkannya itu.
“Lepasin! Lepasin sialan kalian!” bentak Ayu ketika salah seorang dari mereka sudah berani meraba payudara Ayu yang masih terbungkus blazer warna biru itu. Teriakan itu nampaknya bukannya membuat kedua pria ini sadar malah mereka semakin menjadi dengan mempreteli seluruh baju dan blazer Ayu hingga sekarang terpampanglah payudara Ayu yang masih tertutup bra warna putih itu.
“Udah deh, mending kamu diam aja. Pacar kamu udah terlalu banyak hutang kepada kita-kita gara-gara ekspor mebelnya batal. Kita jadi tekor puluhan juta tahu buat batalin LC nya. Ini semua gara-gara pacarmu yang ga becus ngurus perusahaannya, sampe bahan baku kurang. Dasar geblek.” Serunya sambil menciumi bibir Ayu yang kini sudah tidak seliar tadi perlawanannya, mungkin karena sudah kehabisan tenaga atau bisa juga karena dia sudah mabuk berat.
“Roy udah pasrah dari pada dia masuk bui mendingan kamu yang dikorbankan…hahahaha…” salah seorang lagi dari mereka menimpali. “Anggap saja ini adalah pembayaran hutangnya kepada kami berdua.” Lalu dengan kasar dia menarik lepas rok span warna biru dari paha Ayu hingga lepas. Kini Ayu tinggal menggunakan underwear dan bra saja.
“Itu bukan salah aku. Kenapa aku yang dibeginikan? Stop…udahhh…! Kalau nggak berhenti aku bakalan teriak. Lepasss…!” bentak Ayu dengan sisa-sisa kekuatannya.
“Silakan saja kalau mau teriak. Kamar ini kedap suara dan terletak dibagian paling luar dari bangunan hotel. Kamu pikir kami nggak persiapkan semua ini hah? Teriak aja sampe puas dijamin kagak ada yang bisa denger teriakan kamu. Say cheese…” balas pria itu sambil memfoto tubuh seksi Ayu yang tinggal menggunakan dalaman.
“Tolong…! Tolonggg…!” teriak Ayu namun sepertinya kamar itu memang kedap suara sampai-sampai Ayu lemas sendiri karena kebanyakan teriak. Satu tamparan mendarat di pipi Ayu hingga meninggalkan luka sayatan kecil, karena sang penampar memakai cincin stempel di jarinya.
Jeritan berhenti berganti tangis, ketika salah satu dari mereka yang berambut agak panjang dan dikucir membetot bra dan celana dalam Ayu hingga robek dan nyaris putus. Ayu terpekik tertahan karena dalam detik berikutnya mulutnya sudah tersumbat oleh mulut salah seorangnya lagi yang berambut ala Tao Ming She. Kedua orang ini sepertinya pengusaha ekspor impor yang cukup besar dan patner bisnis dari Roy, kekasih Ayu. Ayu memang seorang gadis pribumi namun kekasihnya adalah seorang WNI keturunan sama seperti kedua pria yang menggumulinya kali ini. Ayu sendiri nampak setia kepada Roy karena disetiap penampilan mereka dimuka umum, selalu mesra. Malang bagi Ayu karena Roy ternyata hanya menganggapnya obyek belaka dan tak sega-segan mengorbankannya demi sesuatu yang menurutnya lebih berharga dari pada kekasihnya sendiri yaitu uang.
“Akh..jangan…akhhh…” Desah Ayu diantara rontaannya yang sudah melemah. Cowok berkucir itu ternyata sedang menjilati bibir vagina Ayu yang sekarang sudah mulai basah karena rangsangan tiada henti, sementara pria yang satunya lagi Teo (begitu temannya memanggilnya) langsung menstimuli payudara dan puting dari Ayu. Kontan saja Ayu yang berusaha melawanpun lama-lama juga terangsang hebat karena walaupun hatinya menolak tapi tubuhnya menginginkannya juga dan putingnya pun ikut mengeras mengacung seolah meminta lebih pada pemerkosanya. Teo sepertinya senang melihat sikap Ayu yang malu-malu mau itu lalu lidahnyapun mulai menelusuri buah dada Ayu dan tak lupa putingnyapun dia jilati lembut hingga sekarang bukan erangan yang keluar dari mulut Ayu namun lebih mirip desahan kenikmatan. Sedotan-demi sedotanpun dilakukan kedua pria ini, satu di payudara dan satunya divagina.
“Akhhh….” Jerit Ayu ketika memperoleh orgasmenya yang pertama. Kedua pria ini tersenyum puas lalu tertawa-tawa mengejek Ayu. “Ternyata doyan yah…heheheh” Ejek si kucir kepada Ayu. Wajah Ayu memerah karena malu akan dirinya yang tak dapat menyembunyikan rasa yang dia nikmati baru saja.
Si kucir lalu melepaskan seluruh bajunya dan mulai menindih Ayu. Terlihat batang kemaluannya yang bewarna putih kemerahan sudah menegang dan sudah keluar dari sarangnya, karena penisnya memang tidak di khitan. Digesek-gesekkan batang kejantanan itu di bibir vagina Ayu yang sudah memerah dan basah karena cairan cintanya. “Jangan perkosa saya…jangan…” rintih Ayu lemah sembari kakinya sesekali menendang lemah namun hal itu tidak menyurutkan niatan si kucir untuk menyetubuhinya.
“Ayu, kamu benar-benar cantik sayang. Sekarang aku bakalan jadi orang pertama yang ngentotin kamu. Akhh…Ayu…” Si kucir lalu melesakkan batang kemaluannya kedalam liang kewanitaan Ayu melewati bibir kemaluannya. Terlihat jelas dari kamera yang sekarang dibawa oleh Teo dan diarahkan ke proses penetrasi pertama itu, bibir vagina Ayu nampak terbelah saat batang penis si kucir menembusinya dan lipatan bibir kemaluannya sebagian ikut melesak kedalam seiring dengan melesaknya batang kemaluan dari sang pria.
“Akhhh…sakit…akhhh…ampun..sudah…okhhh.” Desah Ayu sambil mengejang dan tangannya mencengkeram erat sprei sementara pahanya berusaha ditarik untuk menghindari tusukan lebih dalam lagi dari si kucir. Namun tenaga si kucir nampaknya lebih besar dan apa daya bagi Ayu, dia tinggal pasrah saja ketika vaginanya ditembus oleh penis milik seorang pria yang bukan siapa-siapanya. Dalam setarikan nafas saja si kucir sudah berhasil melesakkan separuh dari batang kemaluannya kedalam liang kenikmatan milik Ayu.
Ayu mengejang karena rasa sakit yang dia derita, tubuhnya mengejang hebat dan mulutnya mulai mengeluarkan teriakan. Nampaknya si kucir sudah berhasil menembus selaput dara gadis ini. Sedetik kemudian si kucir menyodokkan penisnya lebih dalam dengan kecepatan tinggi dan sekali lagi Ayu menjerit kesakitan. Air mata mulai meleleh dipipinya. Sementara itu senyuman nampak dari bibir si kucir. Lalu pria ini melanjutkannya dengan sodokan-sodokan ringan tanpa berhenti untuk memberikan Ayu kesempatan untuk mengambil nafas lebih dulu.
Kocokan penis didalam liang vagina Ayu semakin lama semakin cepat saja. Ayu sudah tidak punya lagi kekuatan untuk melawan sehingga hanya pasrah ketika tubuhnya terguncang-guncang dengan keras menerima sodokan-sodokan dari pria yang menindihnya sekarang. Sesekali Ayu menjerit kecil ketika si kucir mencabut penisnya dan melesakkannya lagi dengan kecepatan tinggi sehingga terkadang klitoris Ayu ikut tergesek hebat. Tiap kali batang kemaluan itu keluar masuk dari liang kewanitaan Ayu, nampak cairan bening agak putih keluar bersamaan dengan darah keperawanan dari lobang kemaluan dara ini.
“Wah, enak bener nih memek cewek satu ini. Peret abis choi.” Ucap si kucir kepada temannya yang sekarang sedang membawa kamera merekam kejadian ini. Temannya hanya membalas dengan tawa. Ayu nampak terhina namun dia tidak bisa melakukan apapun lagi karena tubuhnya sudah terljur ternoda dan didalam hatinya dia tahu kalau dia juga menikmatinya walaupun tidak sepenuhnya, itu terbukti dari orgasme pertamanya tadi.
Selang lima menit kemudian, si kucir lalu mengangkat paha atas Ayu hingga tungkai kakinya dapat disandarkan diatas bahunya lalu masih dengan menindihnya, si kucir mempercepat sodokannya dan kali ini lebih brutal. Terlihat bibir kemaluan gadis ini sudah mulai keluar gelambirnya sehingga mencuat melebihi bibir luar vagina Ayu, hal ini biasanya terjadi pada gadis yang sudah sering bercinta atau sudah pernah bercinta dengan brutal. Ayu mengaduh pelan dan akhirnya menjerit ketika si kucir melakukan satu sodokan brutal kearah rahimnya dan menghentikan pompaannya ketika penisnya masih didalam vagina sang dara. Sesaat kemudian dia mengejang hebat sembari menciumi bibir Ayu dalam-dalam dia melenguh keras.
Walaupun Ayu belum pernah bercinta sebelumnya tetapi dia sadar apa yang sedang terjadi. “Jangan dikeluarkan didalam…aku sedang subur..jangannn…” Jerit Ayu histeris ketika si kucir berejakulasi didalam liang kemaluannya. Terlambat sudah, Ayu hanya bisa menangis lagi.
Teo meletakkan kameranya dan diletakkan di meja tetapi diposisikan tetap menghadap tempat tidur dengan posisi yang pas untuk mengambil keseluruhan gambar persetubuhan ini. Si kucir mencabut batang kemaluannya dan seketika cairan sperma keluar mengalir dari dalam vagina gadis ini.
Teo berbaring terlentang sementara Ayu diseret oleh si kucir untuk menduduki pinggang Teo yang sudah bugil itu. Batang kemaluannya sudah menengang sedari tadi diarahkan vertikal sehingga terlihat jelas ketika Ayu membuka selangkangannya menduduki batang kejantanan tersebut. Penis itu perlahan membelah vagina Ayu yang sudah basah dan hanya beberapa detik saja sebelum seluruhnya tertelan oleh liang kewanitaan Ayu. “Akhh…enak bener nih. Peret bener.” Kata si Teo yang lalu mulai menggoyangkan pinggangnya menyodok vagina Ayu dengan penisnya dari arah bawah. Si kucirpun tak tinggal diam, dia lalu mendorong-dorong tubuh Ayu maju mundur dan memerintahkannya untuk menservis Teo dari atas. Ayu yang sudah pasrah hanya bisa menuruti permintaan tersebut.
Sekarang Ayu terlihat seksi melakukan gerakan erotis menyetubuhi sang pria, Ayu terlihat seperti sedang menggilas batang kemaluan Teo tanpa ampun dengan selangkangannya. Sesekali Teo mengangkat pantat Ayu dan langsung menariknya kebawah lagi dengan cepat sehingga tusukan batang kemaluannya semakin dalam saja hingga menyentuh dinding rahim sang gadis cantik ini.
“Aku ikutan lagi yah? Kayaknya enak nih.” Seru si kucir, semula Teo menolak namun setelah diberi kode akhirnya dia tersenyum seolah tahu apa yang akan temannya perbuat pada dara ini. Denagn menggunakan kondom berpelumas, si kucir mengarahkan batang kemaluannya yang sudah menegang lagi keliang anus Ayu.
“Jangan disitu! Sakit….janga….akhhh!” Jerit Ayu ketika batang kemaluan itu melesak dengan kasar kedalam liang anus Ayu. Entah untuk yang keberapa kalinya Ayu kembali menangis. Kali ini baik vagina maupun liang anusnya diperawani bersamaan sehingga membuat dia tak kuat menahan sakit yang sangat. Darah mengalir dari liang anusnya yang sempit itu.
Si kucir dan Teo sepertinya sudah bersepakat, bersamaan mereka melakukan sodokan yang seirama sehingga tiap kali penis kedua orang ini melesak penuh kedalam vagina atau liang anus Ayu, kedua penis ini seolah bergesekan dan pembatas antara kedua lubang milik Ayu menjadi semakin kecil terdesak oleh kedua batang kemaluan pria ini.
“Akhh…sakit…akhh…udah..” Ayu menjerit lagi ketika si kucir memompanya dengan lebih brutal sementara kedua tangannya bergantian dengan mulut Teo mempermainkan kedua payudara Ayu.
“Kita keluar barengan aja.” Seru si kucir dan Teo mengiyakan. Sekitar sepuluh menit kemudian, Ayu yang ditindih oleh si kucir dan berada ditengah tumpukan tubuh kedua pria ini seakan mau pingsan. Teo mempercepat sodokannya begitu juga dengan si kucir, lalu nyaris bersamaan mereka mencabutnya engan kasar lalu melentangkan tubuh Ayu sambil mengocok penis mereka berdua.
Bersamaan penis kedua orang ini diarahkan keatas wajah Ayu dan dalam hitungan detik penis Teo menyemburkan cairan maninya menyiram ke wajah Ayu yang sebagian sempat memasuki mulut Ayu yang sedikit terbuka sementara si kucir menyambungnya dengan semprotan kedua yang membasahi bibir dan leher dara cantik ini. Wajah Ayu yang cantik itu sekarang bermandikan peluh dan belepotan sperma kental yang merata di hampir seluruh wajahnya.
Sepertinya rekaman ini digunakan untuk mengancam Ayu agar tidak cerita kepada siapapun mengenai hal ini. Well, aku tidak tahu tentang kedua pria ini namun yang jelas aku tahu mengenai Ayu, rahasia gelap gadis cantik ini sudah ditanganku. Berikutnya tinggal tunggu langkah berikutnya dariku. Chapter 25
Arine, the youngster one


Namanya Arine Susilowati, dia adalah pacar dari temannya temanku (ribet yah…). Orangnya pendiam dan nampaknya sedikit introvert, atau banyak malah. Cowoknya kerja di sebuah toko penjualan ikan hias sementara Arine sendiri menjadi penjaga wartel sekaligus warnet yang memang satu ruko. Aku mengenal sepasang sejoli ini dari seorang temanku, sebut saja namanya Yani (bukan nama asli). Cerita berikut ini merupakan cerita tentang kisah temanku yang bernama Yani tersebut dan ditulis berdasarkan kisah aslinya (setidaknya menurut versi Yani). Oh iya, bagi yang belum tahu, Yani itu nama cowok bukan cewek. So the story begin at here…
Arine dan kekasihnya yang bernama Sigit sudah lama menjadi teman dari Yani, temanku ini. Sebenarnya karena Sigit dan Yani merupakan patner bisnis kecil-kecilan dibidang onderdil sepeda motor. Singkat cerita ketiganya semakin akrab satu sama lain sehingga sudah hal yang biasa jika Yani suatu saat main ketempat Arine dan juga sebaliknya.
Sore itu sekitar jam 5. Arine kembali dari tempat kerjanya karena kebetulan hari itu dia masuk shift pagi sehingga bisa pulang sorean. Sesampainya di teras rumahnya, dia melihat ada seorang pria sedang duduk-duduk dikursi tamu rumahnya yang saat itu sedang terkunci karena kebetulan orang tuanya sedang pergi keluar kota.
“Hai Arine. Lama amat. Aku udah nungguin kamu dari tadi lho.” Sapa pria tersebut yang umurnya kira-kira 35 tahunan. Arine sendiri masih berumur 23 tahun sehingga agak aneh terlihatnya bersanding dengan pria ini sebagai temannya.
“Hah, kamu kok disini? Nanti kalau orang tuaku tahu gimana?” seru Arine sambil melempar tas jinjingnya keatas kursi kosong. Dengan marah dia menarik lengan pria itu dan menyuruhnya menjauhi rumahnya. “Sana pergi! Aku khan sudah bilang kalau aku nggak mau lagi ketemu kamu.” Seru Arine sambil mendorong sang pria agar menjauh.
Pria ini tertawa mendengar perlakuan Arine kepada dirinya dan dengan tenang dia membetulkan kemejanya yang kucel dan amburadul gara-gara tarikan kasar Arine. “Santai aja sayang. Ortu kamu khan lagi pergi keluar kota. Lagipula aku kemari juga karena kangen sama kamu. Masak kamu tidak kasihan sama aku sih…heheheh…” Gelak pria ini sembari kembali mendekat dan kali ini dia berani mencekal kedua bahu Arine.
“Lepas! Kalau tidak aku bakalan teriak!” Gadis ini mulai ancang-ancang untuk berteriak namun sebelum suara keluar dari mulutnya, tiba-tiba sebilah pisau terhunus tepat di lehernya. Sang pelaku sepertinya berada dibelakang Arine sejak tadi.
Keringat dingin mengucur dari wajah Arine, “Mau apa kamu…?” dengan memaksakan dirinya untuk tenang dia mulai berani berbicara. “Kalau kamu teriak, leher kamu bakalan putus. Kamu ikutin saja kemauan kami.” Bentak suara dari belakang Arine.
Akhirnya Arine digiring kesebuah mobil Kijang LGX yang langsung tancap gas ketika sang gadis malang tersebut sudah berada didalamnya. Dari kejauhan sepasang mata memperhatikan kejadian ini tanpa berkedip. Yang kemudian bergegas menyusul dan membuntuti mobil tersebut.
Sekitar setengah jam kemudian, tiba juga mereka di sebuah rumah besar yang terletak diluar kota. Arine dipaksa masuk rumah tersebut dan karena didekat rumah tersebut adalah perkebunan dan rumah terdekat berada dalam radius 100 meteran maka tak satupun saksi mata yang mengetahui penculikan Arine ini…kecuali sepasang mata yang sedang mengintip dari balik rimbunnya pohon cemara diujung persimpangan jalan.
Arine terhempas oleh dorongan dari pria yang tadi menodongnya. Gadis ini terdorong kearah kursi sofa yang sudah agak usang. “Apa mau kalian sebenarnya? Apa salahku?” seru Arine kepada pria itu.
Pria yang berkemeja rapi tadi, sebut saja namanya Ahmad. Ahmad tersenyum simpul melihat perilaku Arine yang sudak mulai panik dan ketakutan. “Kamu nggak punya salah? Yang benar saja…kamu khan sudah bikin aku malu dimuka umum kemarin.” Bentak Ahmad sambil mencengkeram dagu Arine dengan kasar lalu mendorong lagi gadis ini hingga nyaris jatuh dari sofa.
“Gara-gara kamu aku jadi malu didepan teman-temanku. Selama ini aku terkenal sebagai Don Juan yang selalu dapatkan semua cewek yang aku inginkan. Kamu baru aku ajak kencan sebentar saja sudah main tampar. Masih bilang kalau tidak punya salah?” seru pria ini sembari membuka sebuah botol wiskey merk Jack Daniels.
Arine seperti tak percaya dengan ucapan pria itu barusan, “Apa? Kamu sendiri pegang-pegang pantatku, emangnya aku ini cewek murahan apa?” balas Arine tak kalah berang dan kali ini dia berusaha kabur namun kakinya terjegal oleh pemuda berpisau, sebut saja namanya Cahyo.
“Jangan coba-coba kabur perek!” bentak Cahyo kepada Arine dan langusng mendorongnya dengan keras kearah sofa lagi. sepatu hak tinggi Arine sampai patah dibuatnya. “Sekali lagi kamu berani coba-coba kabur, aku gorok lehermu.” Ancam Cahyo sambil mempermainkan pisau miliknya.
“Arine…Arine. Aku sudah tahu siapa sejatinya kamu kok. Jadi tidak perlu sampai sok suci didepanku. Aku tahu tentang dirimu dan rahasia gelapmu.” Kata Ahmad dengan tenang. Dia menyodorkan segelas kecil wiskey namun di tepis tangan mulus Arine hingga nyaris tumpah semuanya. Pria ini hanya tersenyum saja tak berusaha membalas.
“Aku nggak tahu apa maksudmu. Sekarang lepaskan aku atau aku laporkan kepolisi.” Seru Arine lalu berdiri menantang. Ahmad malah tertawa melihat tingkah gadis ini lalu dia meletakkan gelas wiskeynya dan berkata, “Silakan saja kalau kamu mau lapor. Jangan lupa kalau aku tahu bahwa kamu pemakai narkoba, bukan hanya itu saja. Aku juga tahu kalau kamu itu penari striptease di pub XXX. Jadi kalau kamu mau lapor polisi dengan semua rahasia kelammu itu….yah silakan saja. Jangan lupa kalau aku ini adalah asisten Kepala Kejaksaan, dan sekedar informasi saja kalau pengguna narkoba golongan 2 sepertimu minimal bisa kena ganjaran 4 hingga 6 tahun penjara. Tentu kamu juga tidak bakalan mau khan kalau sampai tertangkap. Apalagi di kota ini penjara khusus narkoba untuk wanita tidak ada sehingga kamu bakal dijebloskan ke penjara umum wanita, bercampur dengan pembunuh dan penjahat brutal lainnya. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya…hahahaha…silakan saja jika mau lapor…hahaha.” Dengan penuh percaya diri akhirnya Ahmad berhasil membungkap perlawanan Arine.
Gadis ini langsung lemas ketika mengetahui bahwa hidupnya sudah diujung tanduk. “Apa yang kalian mau sebenarnya? Kalau uang, aku bisa usahakan asalkan tidak banyak.” Sekarang Arine mulai melunakkan intonasi bicaranya.
Ahmad tertawa lagi, “Uang? Aku mana butuh uang darimu sayang. Yang aku butuhkan adalah balasan karena kamu telah berani menamparku didepan kolegaku.” Balas Ahmad kali ini dia meraih kedua tangan Arine dan matanya mulai memandangi seluruh bagian tubuh dara cantik ini. “Pacarmu benar-benar beruntung punya cewek semanis kamu, sudah gitu putih pula…benar-benar gadis yang menggairahkan.” Ucap Ahmad sembari matanya terus memelototi bagian-bagian tubuh Arine.
Serasa mendapatkan bayangan mengenai apa yang bakalan terjadi nanti, Arine langsung terduduk lemas tak berdaya dan tak henti-hetinya keringat dingin keluar dari tubuhnya. “Tolong jangan apa-apakan aku. Aku bakalan mau nurut apa aja yang jadi mau kamu tapi jangan sakiti aku…tolong…” pinta Arine yang sudah mulai melemahkan suaranya dan terdengar gemetaran menahan rasa takut.
Cahyo tertawa congkak dibelakangnya, “Nurut tapi kok gak mau diapa –apain? Ya mana mungkin sayang…hahahaha…” serunya lagi dan Arine seperti tersambar petir disiang bolong mendengar ucapan itu. Belum sempat dia berdiri berontak, tiba-tiba kedua lengannya sudah dicekal dan dia langsung ditangkap oleh kedua pria ini dan ditelentangkan diatas sebuah kasur bekas yang masih tebal yang berada diatas ubin tua tersebut.
Dengan kondisi tangan terikat pada sebuah kaki lemari nan besar dan berat membuat Arine tak lagi bisa berbuat apa-apa. Sementara kedua kakinya ditindih oleh Ahmad. Rontaan dan jeritan Arine tak membuahkan hasil, yang ada malah Cahyo berulang kali menampar pipinya hingga memerah panas.
“Sekarang kita lihat apa sehabis ini kamu bakalan bisa berontak lagi kepadaku…hehehe…” Ahmad lalu mencengkeram celana jeansnya dan memelorotkannya kebawah kaki Arine hingga sekarang paha mulus gadis ini terpampang dengan jelas dimata kedua pria asing ini. Arine semakin memberontak tapi sekali lagi tamparan mendera wajahnya dan membuatnya menangis sesenggukan sembari memohon ampun kepada kedua pria bejat ini. Arine seolah-olah sudah kehilangan jiwanya ketika tangan kasar Ahmad membetot celana dalamnya sementara baju dan bra yang dia pakai dirobek oleh Cahyo dengan brutal. Sekarang tinggallah Arine dengan ketelanjangannya ditonton oleh Ahmad dan Cahyo yang tak henti-hentinya menelan ludah menahan libido mereka yang sudah memuncak.
Kedua pria ini lalu mencopot seluruh pakaiannya hingga sekarang ketiga insan manusia ini benar-benar polos tanpa busana. Diangkatnya kedua tungkai kaki Arine dan disandarkan keatas bahunya lalu dengan semangat 45 Ahmad mengarahkan batang kemaluannya yang sudah tegang sedari tadi itu kearah bibir vagina Arine. Arine menjerit namun tak ada gunanya ketika ujung kemaluan Ahmad sudah berhasil melewati labia mayora miliknya. “Sekarang aku bakalan mengetahui rasanya jadi pacarmu. Dapat service dari gadis secantik kamu khan sudah merupakan hal yang luar biasa…hahaha..beruntung banget pacarmu itu ya…” Ahmad menyindir Arine sembari melakukan penetrasi kedalam liang kemaluan gadis ini. dalam satu sentakan keras tepat setelah pria ini selesai berucap, batang kemaluan Ahmad berhasil menerobos bibir vagina Arine hingga seluruh penisnya terbenam didalamnya. Arine menjerit keras karena terang saja vaginanya masih kurang basah untuk dimasuki penis seorang pria.
“Ugh, seret sekali oi. Walau udah nggak perawan tapi masih asoy nih.” Ucap Ahmad kepada temannya Cahyo yang hanya meringis melihat kelakuan sobatnya itu.
“Ampun…akhh…ahhh…” Erang Arine diantara rasa sakitnya ketika liang kewanitaannya dijarat oleh batang kejantanan yang berukuran besar itu tanpa foreplay terlebih dahulu. Walaupun sudah tidak perawan, tetapi vagina gadis ini masihlah terlalu sempit untuk menerima penis sebesar milik Ahmad ini. Tiap kali batang kemaluan Ahmad menyodok vagina Arine, terlihat bibir vagina sang dara ini juga ikut melesak kedalam karena kurangnya cairan pelumas dibibirnya dan saat batang kemaluan Ahmad ditarik keluar, maka bibir vagina yang tadi melesak kedalam menjadi monyong keluar. Bahkan gelambir di labia minora-pun ikut keluar. Untuk Ahmad hal itu seperti disurga karena seperti bercinta dengan perawan tetapi bagi Arine yang kondisi vaginanya sudah mulai rusak karena pompaan kasar Ahmad, bagaikan dineraka.
Sembari meremas payudara gadis cantik ini, bibir Ahmad kembali menyelami kenikmatan leher dara ini dan sesekali menciumi paksa bibir Arine yang kini sudah tidak melawan karena lemas kehabisan tenaga. Selang sepuluh menit kemudian, diangkatlah kedua kaki Arine lebih tinggi dan ditekuk hingga kini lutut Arine dapat menyentuh payudaranya sendiri sementara dari atas, hunjaman-hunjaman penuh nafsu dilakukan oleh Ahmad dan mengobrak-abrik liang kewanitaan gadis ini tanpa sisa. Arine hanya bisa pasrah ketika vaginanya diperlakukan sebrutal itu oleh Ahmad. Beberapa saat kemudian Ahmad mempercepat pompaannya dan dalam hitungan detik, dia mencabut penisnya lalu menyodorkannya keatas bibir Arine dan berejakulasi disana. Arine mencoba berpaling namun terlambat karena cairan putih kental itu telah terlajur membasahi bibir dan wajahnya. “Luar biasa enaknya. Ngentotin kamu memang bersensasi tersendiri Rin. Yo, sekarang kamu mau ikutan ngentotin dia nggak?” seru Ahmad kepada rekannya yang sedari tadi mematung itu.
“Iyalah. Masa udah bugil gini masih ditanya mau cicipin atau nggak.” Balas Cahyo sambil tertawa. Pria ini mengambil posisi diantara kedua paha Arine. “Wah, bibir memeknya nih cewek udah beda dari yang tadi. Pasti gara-gara kontolmu tuh bikin rusak nih onderdil.” Canda Cahyo yang lalu melesakkan batang kemaluannya kedalam liang senggama Arine, kali ini tidak diiringi dengan erangan sang dara karena Arine sudah lemas dan nyaris pingsan.
Cahyo juga tak kalah brutal dari Ahmad. Bahkan dengan posisi Arine tengkurap sekalipun masih dilakukan sodokan dengan sangat keras dan cepat. Tak jarang batang kemaluan Cahyo menyeruduk dinding rahim gadis ini sehingga Arine hanya bisa menjerit kecil dalam ketakberdayaannya. Selang beberapa menit kemudian, Cahyo mengejang. Kedua tangannya mencengkeram erat payudara Arine yang menggelantung saat dia dalam posisi merangkak. Gadis ini menjerit menahan sakit pada payudaranya, Arine juga panik saat merasakan bahwa didalam liang vaginanya terdapat penis yang sedang mengejang dan menyemprotkan sperma dalam jumlah yang sangat banyak. Apalagi ini adalah masa suburnya. “Crottt….crottt…crootttt…” Semburan air mani itu akhirnya memenuhi dinding vagina Arine dan saat Cahyo mencabut penisnya, ada beberapa yang mengalir keluar lewat bibir vagina Arine yang kini sudah agak rusak itu. Membasahi sprei kumal beserta bercak darah. Mungkin akibat dari dinding rahim yang terluka karena gesekan keras atau mungkin karena sebab lain.
“Sekarang, kamu sudah aku maafkan telah menamparku tempo hari. Nah kalau gini kan udah impas sayang. Hehehe…” Ahmad tertawa lalu pergi kembali kemobilnya beserta Cahyo yang sudah berpakaian lagi, meninggalkan Arine dalam ketelanjangannya…kali ini sendiri.
Sepasang mata yang dari tadi memperhatikan perilaku ketiga orang ini akhirnya keluar dari persembunyiannya. Pemilik mata misterius itu adalah Yani, temanku yang juga teman dari pacar Arine. Pemuda ini akhirnya membawa Arine pergi dari tempat itu dan berjanji untuk tidak menceritakan peristiwa itu kepada pacarnya ataupun teman-teman Arine. Sayangnya karena Arine tidak mengenalku dan aku bukan pacarnya, maka saat Yani menceritakan semua hal ini kepadaku bukanlah suatu pelanggaran janji. Nah sekarang inilah cerita hasil dari petualanganmun temanku, kataku dalam akhir surat yang aku sertakan cerita ini yang aku kirim kepada Yani yang sekarang berada di Papua.

Fact:

Didalam kisah ini memang tidak diikut sertakan nama kotanya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan karena pelakunya merupakan pejabat negara. Ahmad sekarang sudah dimutasi kedaerah diluar jawa sementara Cahyo sekarang menjadi aktivis disebuah ormas pemuda yang dibekingi oleh sebuah partai besar. Arine sendiri sekarang sudah bekerja di sebuah perusahaan di Batam dan sudah putus dari pacarnya karena sudah menemukan pria lain yang lebih mapan pekerjaannya dan menikahinya sebulan setelah putus dari Sigit (poor one, I feel sorry for you dude).
Seluruh cerita mengenai Arine adalah bersumber dari Yani dan secara tak langsung credit terhadap cerita chapter ini saya tujukan kepada my friend, Yani. Chapter 26
Private Party = Sex Party ?


Tentu para teman-teman pembaca disini sudah banyak yang mengetahui mengenai private party dan seluk beluk didalamnya. Ada berbagai tema yang diusung mulai dari Social Gathering (bersifat lebih terbuka, welcome terhadap anggota baru atau calon anggota), Community Private Party (khusus bagi para member, biasanya untuk organisasi atau klub tertentu), Coz Play Party (pesta dengan menggunakan atribut pakaian bermacam-macam, biasanya meniru tokoh-tokoh terkenal, seperti pesta kostum saat Haloween), dan masih banyak lagi jenisnya.
Tapi tahukah kalian kalau sebenarnya ada jenis private party yang agak melenceng dari arti sesungguhnya, dimana diikut sertakannya kegiatan seks didalamnya, atau lebih tepat disebut Sex Party daripada Private Party. Tapi tentu saja tak akan ada yang setuju kalau istilah tersebut digunakan blak-blakan dimuka umum karena harus diakui kalau hampir seluruh peserta pesta tersebut masih malu-malu kucing mengakui kalau sebenarnya mereka doyan seks bahkan pecandu hal tersebut, tapi setelah berada dalam pesta bukan lagi malu-malu kucing tapi sudah mau-mau ****** (hehehe).
Well, cerita ini berlangsung saat aku sedang menjalani pengerjaan skripsiku. Sebuah tugas akhir mengenai masalah promosi dibidang retail yang akhirnya nanti menjadi salah satu pedoman bagi sebuah perusahaan retail ternama di Indonesia. Hal itu pula yang membuatku langsung diangkat menjadi bagian promosi dan R&D mereka begitu aku lulus kuliah.
“Di! Bangun oiii !” Seru Anthony sambil menepuk pundakku keras. Lamunanku langsung buyar akibat ulang setan cabul satu ini. “Siang-siang gini ngelamun ditaman kampus? Loe kesambet setan mana coi? Tumben-tumbenan nongkrong disini.” Serunya lagi.
“Eh loe sibuk kagak besok malam? Gua ada pesta nih…sebenarnya bukan gua she yang punya tapi sepupu gua dari Belanda mau datang and dia ngundang temen-temen deket gua buat ikutan gabung. Lah karena gua deketnya sama loe, ya udah loe aja yang gua ajak. Ok boss?” Anthony benar-benar tidak bisa menunggu aku ngomong balik. Aku hanya mengangguk lemah, jujur saja aku sedang tidak bersemangat ngobrol dengan siapapun hari itu karena skripsiku mengalami kebuntuan dalam presentasi data karena sangat susah menyamakan analogiku dengan para dosen pengujiku. Anthony menyambar kentang goreng dari tas nya (anak ini memang suka memasukkan segala sesuatu kedalam tas ranselnya tanpa peduli tasnya kotor atau makanannya yang kotor, well…that’s my buddy is.)
“Loe harus datang boss, soalnya nanti bakalan ada cewek-cewek yang disewa sama saudara gua. Striptease gitu, plus yang lainnya…hehehe.” Kata-kata Anthony barusan membuatku nyaris tersedak walapun bukan aku yang sedang makan fried fries. Belum sempat aku ngomong balik, Anthony kembali buka mulut, “Dhea datang juga lho. Gua dah tau persoalan loe ma Dhea. Dia cerita katanya loe yang bikin dia jadi wanita sejati sekarang..hahahahahah. Gua lupa bilang kalau Dhea itu masih saudara jauh dari gua boss, neneknya dengan kakek gua kakak beradik jadi terang gua tahu tentang dia luar dalam…hehehe. Udahan dulu yah, gua mau nyari Joane dikafe.” Anthony lalu pergi sembari meninggalkan sejuta rasa kaget dikepalaku.
“Dhea masih saudaraan dengan Anthony? Runyam deh semuanya.” Umpatku dalam hati sambil mengambil french fries yang ditinggalkan oleh Anthony di bangku taman. Sedetik kemudian aku muntahkan french fries itu setelah mengetahui rasanya sangat asin. “Bocah gila, bisa-bisanya makan kentang goreng beginian.” Umpatku lagi sembari melempar bungkus kentang goreng itu. Sialnya bungkus kentang goreng yang sudah berupa bola kertas itu mengenai kaki dosen pembimbing skripsiku yang sedang lewat dan lengkap sudah kesialanku. Bukan hanya diceramahi mengenai pentingnya menjaga kebersihan, aku juga di ceramahi mengenai skripsiku yang sampai sekarang datanya tidak memiliki presentasi yang jelas sehingga mustahil untuk dibawa kedosen penguji. Arghhh, memang bukan hariku.
Hari berikutnya dimalam hari sekitar jam 7 malam aku datang ke lokasi yang diberitahukan kepadaku kemarin siang oleh Anthony dan benar saja disana sudah berjajar 3 buah mobil diarea parkirnya. Anthony mengatakan kalau guest house yang satu ini sudah biasa digunakan sebagai private party dan dijamin aman walaupun mau teriak-teriak sekeras apapun karena dindingnya yang tebal dan tingginya sekitar 3-4 meter membuat orang luar tidak mengetahui suasana didalam rumah. Dilengkapi dengan sebuah kolam renang dan bangunan dua lantai yang cukup besar mempunyai 7 kamar yang berukuran sekitar 4x5 meter ditambah dengan ruang tamu dan ruang santai yang dilengkapi televisi kabel. Benar-benar guest house yang mewah untuk ukuranku tapi bagi Anthony yang orang tuanya mempunyai kekayaan yang tidak normal maka mudah saja bagi dia untuk menyewa guest house ini walaupun harganya very expensive.
Baru saja aku membuka pintu, langsung saja dikagetkan dengan teriakan dari seseorang yang kukenal, Dhea. Yups, Dhea sudah berada ditempat ini lebih dulu dan memang Anthony bukan tukang kibul karena menilik dari kedekatannya dengan Dhea kala itu bias kusimpulkan mereka memang sudah lama kenal, sebagai saudara.
“Well, my man. Akhirnya sampai juga loe disini. Awalnya tadi kupikir loe nyasar lagi, maklum loe khan paling parah soal ngapalin jalan hehehe…” Anthony berkelakar sambil mengajakku masuk lalu Dhea mendekat dan menyalami aku dan tentu saja peluk cium. “Sudah-sudah. Ntar lagi aja kalo mau mesra-mesraan. Sini gua kenalin dengan sepupu gua yang baru saja dari luar negeri. Eh salah, dia emang bule jadi luar negerinya ya Indonesia ini hehehe…Mickey, come here dude!” seru Anthony sambil meambaikan tangannya kepada seorang bule yang berada dibelakang ruangan.
Bule itu mendekat dan langsung menyalamiku. “Hai, apa kabar. Saya Michael van Bouver saudara dari Anthony. Nice to meet ye.” Sapa bule satu ini dengan bahasa campur aduk yang masih susah memilahkan antara bahasa Inggris dengan Belanda. “Came met Ike.” Katanya lagi sambil memegang pundakku seolah ingin menunjukkan sesuatu. Ternyata dia hanya memperkenalkanku kepada ketiga temannya. Robin, Viola dan Andrew. Robin adalah teman Mickey (sapaan untuk Michael) yang sudah berteman dengannya selama 3 tahun. Viola adalah kekasih Mickey dan mereka sudah pacaran kurang lebih selama 1,5 tahun. Sementara Andrew adalah orang Indonesia yang menjadi partner bisnis Mickey yang selama ini berbisnis dibidang mebel dan barang antik sementara Andrew adalah pemasoknya yang kebetulan tinggal di Jepara.
Sekitar sepuluh menit kemudian tamu yang ditunggu-tunggu datang juga. Ada 4 gadis cantik yang turun dari mobil Kijang dan masuk keruangan. Semula mereka menggunakan pakaian ala stewardess tapi tanpa emblem. Anthony mengatakan kalau mereka adalah high-class call girl yang sudah dipesan sejak empat hari yang lalu oleh Anthony dan saudaranya untuk berstriptease ria.
Di ruangan tengah yang agak luas, telah disusun sedemikian rupa jajaran sofa besar dan kecil ukuran triple maupun single yang dibuat menghadap kearah bagian ruangan yang kosong. Musik dinyalakan dengan irama dari CD yang dibawa oleh para call girl tadi. Musik mulai mengalun pelan dan lebih mirip musik romantis daripada untuk striptease namun seiring dengan perjalanan waktu, maka musik itu semakin berubah tempo dan ritmenya. Semakin cepat, kencang dan menderu. Gerakan-gerakan para stripper inipun bukan lagi gelakan gemulai namun sudah menjadi gerakan liar dan meliuk-liuk seolah-olah memancing gairah para penonton yang ada ditempat itu. Aku duduk disebuah sofa yang cukup besar sementara disebelah kananku terdapat Dhea yang sedang terlena oleh tarian gadis-gadis seksi ini dan disebelah kanannya lagi terdapat Andrew. Sepertinya gerakan para striper yang kini tinggal menggunakan bra dan celana dalam hitam yang bermodel seperti cat woman itu sudah membuat Andrew tak tahan. Beberapa kali dia berusaha menyentuh tubuh molek gadis-gadis itu saat mereka melintas dekat dari batang hidungnya namun ditolak secara halus oleh mereka karena memang belum sesinya.
Merasa dirinya sudah diambang penantian, seiring dengan para stripper itu membuka bra mereka sehingga menunjukkan payudara yang indah kepada kami semua, Andrew menyusupkan jarinya kedalam kaus tank top Dhea dan memberanikan diri menjamah buah dada gadis cantik ini. Dhea seolah tidak sadar atau pura-pura tidak sadar dan cuek saja karena aku yang berada disampingnya saja dapat melihat dengan jelas tangan Andrew yang menyelip diantara lipatan bajunya. Lima menit kemudian jemari nakal Andrew bukan hanya menerobos tank top Dhea tapi juga sudah menyusup kedalam bra miliknya sehingga sekarang tangan tak tau diri itu sudah merasakan kelembutan buah dada Dhea yang mulus itu. Dipilin-pilinnya putting dari Dhea sehingga mengeras dan tak puas hanya dengan satu tangan, sekarang dia sudah mulai berani menggerayangi menggunakan dua tangannya sehingga dalam sekali tarik saja tank top dan bra Dhea terkuak keatas dan terlihatlah diantara cahaya lampu yang suram, kedua tangan Andrew sudah mencaplok payudara Dhea dan meremas-remasnya sehingga sekarang Dhea sudah tidak dapat cuek lagi seperti tadi. Desahan demi desahan keluar dari mulutnya dan kali ini bersaing dengan suara house music yang keluar dari player milik Anthony. Sekilas kemudian aku membelokkan pandanganku ketempat lain dan ternyata keempat gadis itu sudah tidak menari striptease lagi. Entah sejak kapan, mereka sudah mengerubuti Anthony, Mickey dan Robin. Mickey langsung membawa satu gadis tercantik (menurutnya) untuk dibawa kekamar dimana dia ingin agar gadis stripper itu melayaninya bersama dengan Viola kekasihnya. Sementara Robin juga menjauh menuju keruangan lantai dua bersama seorang stripper dan Anthony menggondol stripper yang sudah dia incar sejak datang tadi menuju ke pinggir kolam renang dan bercinta disana.
Dhea sendiri sudah merasa tidak kuat lalu berpaling kearahku dan menciumiku. Sementara bibir kami berpagutan dengan mesra, kedua buah dadanya sedang dikerjai oleh Andrew yang nampaknya sudah kesetanan setelah melihat pertunjukan barusan dan sekarang dia sudah berani untuk menciumi dan mengulum buah dada gadis mungil ini bersama dengan putingnya.
Selang lima menitan setelah ketiga pasangan yang lain pergi, Dhea dilucuti dan sekarang gadis mungil ini sudah benar-benar bugil total. Sementara aku dan Andrew tinggal menggunakan celana dalam saja. “Akhhh…mas Adi.” Desah Dhea ketika vaginanya terasa dimasuki barang asing yang ternyata adalah dua jemari seorang pria dan pria tersebut bukan diriku melainkan Andrew.
Berulang kali Dhea mendesah dan menyebut namaku diantara ciuman panas kami dan sepertinya itu membuat Andrew sedikit cemburu mengingat pria yang sedang menggarap payudara dan vagina Dhea adalah dirinya dan bukan aku. Lalu dicopotnya celana dalam miliknya dan terlihat sekarang batang kemaluan pria ini yang sudah menegang dengan ujung yang basah karena rangsangan sedari tadi.
“Nah sekarang aku mau kamu rasain kontolku nih.” Seru Andrew sembari menyodorkan penisnya kearah Dhea dan disambut dengan tangan Dhea yang lalu mengocoknya pelan-pelan. “Akhh…Dhea kamu memang luar biasa. Sudah cantik eh masih jago ngocoknya.” Kata Andrew lagi namun tidak dijawab oleh Dhea karena dia sibuk berciuman denganku dan sekarang tangannya sudah membetot celana dalamku sehingga sekarang penisku ikut keluar terpampang dihadapan gadis mungil ini.
“Mas Adi kontolnya tambah gede aja. Digedein di mak erot yah pasti…hehe.” Canda Dhea diantara desahannya. Memang baru-baru ini aku sendiri heran kenapa batang kejantananku terasa lebih besar, semula kukira bengkak karena benturan atau sengatan lebah namun ternyata permanen. Aku sih senang-senang saja tapi gara-gara ini sekarang Lina (adik kekasihku) menjadi sering kesakitan tiap kali aku ajak bercinta dan sudah dua kali menolak karena takut sakit. Andrew-pun dibuat terpana melihatnya. Dia sepertinya membandingkan milikku dengan milikknya yang jauh lebih kecil dariku. Mungkin sekitar 12 cm.
Dhea yang semula masih imut ternyata sekarang sudah berani mer threesome ria dengan dua pria yang bukan kekasihnya sama sekali. Terlebih lagi sepertinya gadis ini menyukainya. “Akh…akhh…lagi Dre! Jari kamu gesekin di klitorisku please…!” desah Dhea ketika Andrew dengan dua jarinya sudah mengobok-obok vagina miliknya.
“Aku sodok sekarang pake kontolku yah sayang.” Pinta Andrew namun sesaat sebelum Andrew menyodokkan penisnya kearah bibir kemaluan gadis cantik ini, Dhea melemparkan sebuah plastik kecil yang ternyata sebuah kondom kearah Andrew. “Nih pakai ini. Aku pengin yang ada geriginya..hihihi…” canda dara cantik ini lalu mengecup batang kejantananku yang sekarang berada didalam genggaman tangannya.
Semula Andrew protes tapi daripada nanti Dhea tidak mau melayaninya, terpaksa dia menurut menggunakan kondom bergerigi tersebut. Dengan posisi telentang disofa besar, kedua paha Dhea dibuka oleh Andrew dan terlihat jelas bibir kemaluan gadis ini yang sudah basah kuyup sehingga ada beberapa cairan yang menetes keluar dan membasahi sofa warna coklat tersebut. Batang kejantanan Andrw yang bewarna putih kecoklatan itu segera menerobos kearah bibir kemaluan Dhea yang bewarna merah muda dan dihiasi dengan bulu kemaluan yang lembut dan jarang. Terlihat jelas olehku ketika batang penis pria tersebut membelah bibir vagina Dhea sehingga bibir luarnya ikut menyeruak kedalam. Vaginanya memang masih sempit benar, bahkan untuk ukuran penis Andrew masih memerlukan waktu untuk penetrasi padahal jelan dia sudah tidak perawan lagi sekarang.
“Akhh…Dre goyang yah…agak cepat donk say.” Pinta Dhea dengan manjanya sementara Andrew langsung mempercepat irama sodokan penisnya kedalam vagina gadis cantik ini. “Memekmu benar-benar peret sekali saying. Nikmat, kontolku serasa dipijit didalamnya. Ohhh…Dhea..aakhh..” Andrew dibuat merem melek dengan servise vagina dari Dhea sementara gadis ini dengan perlahan mengikuti gerakan pompaan batang kemaluan tersebut dengan diselingi goyangan putar sehingga membuat Andrew kebit-kebit merasakan kenikmatan tiada tara pada batang kemaluannya. Tangannya yang mencengkeram lutut Dhea menjadi semakin tegang saja sementara tangan satunya dengan liarnya bergerilya di kedua buah dada Dhea yang putih bersih itu. Payudara gadis ini memerah karena sedari tadi sudah diremas, dikulum bahkan diobok-obok dengan putaran dan cengkeraman kuat dari tangan Andrew maupun tanganku. “Akhhh…Dre jangan keras-keras ngeremesnya! Sakit toketku.” Seru Dhea protes ketika Andrew memeprcepat sodokan penisnya sembari mengecengkeram dan meremas buah dada Dhea dengan kasar.
“Sori Dhea. Soalnya toket kamu benar-benar menggemaskan sih. Kaya orangnya aja nih hehe…” seloroh pemuda ini sembari kembali memasukkan penisnya yang sempat keluar karena desakan paha Dhea.
Sementara kedua tangan Dhea nampak sibuk mempermainkan batang kejantananku yang sudah mulai berair karena rangsangannya bercampur dengan air ludah dari gadis cantik ini saat dia melakukan oral seks. “Wah sekarang sudah pinter nyepongnya. Gimana kontolku sekarang? Masih kurang gede?” kataku sembari mencubit payudaranya. Dhea mengerang protes lalu menyahut, “Segini aja udah nggak normal gimana kalau digedein lagi, bisa-bisa ntar aku kesakitan tiap kali masukin kontolnya mas Adi ke memekku.” Lalu kembali dia membuka mulutnya dan memasukkan batang penisku kedalamnya sembari melakukan gerakan menyedot dan mengocok dengan kedua tangannya. Walaupun hanya separuh batang kejantananku yang bisa masuk kedalam mulutnya namun itupun sudah luar biasa menyenangkan dan kenikmatannya melebihi saat aku di oral oleh kekasihku sendiri, Anyssa.
“Dhea…akhhh…aku keluar saying…akhhh…” seru Andrew dan meracau heboh seolah sebuah gunung berapi sedang meletus. Padahal hanyalah gunung kecil yang memuntahkan lahar kenikmatan bewarna putih yang baru saja keluar membasahi kondom transparan bening itu. “Sayangku Dhea…memekmu benar-benar nikmat sayang….akhhh..” ucap Andrew sambil mengeluarkan penisnya dari dalam vagina Dhea yang sudah memerah itu dan mencopot kondom bergerigi itu dari penisnya lalu mengoleskan ujung penis yang masih berlumuran cairan sperma tersebut keperut Dhea.
“Cepat amat keluarnya Dre?” kata Dhea dengan enteng, manun dia tidak tahu bahwa bagi pria hal tersebut seperti disambar geledek saja karena menunjukkan ketidak mampuan dalam berhubungan intim dan memuaskan pasangan. Memang baru sekitar 7 menit mereka bercinta dan itupun sudah termasuk dengan foreplaynya, sementara dari proses coitus-nya hanya sekitar 3 menitan (menurut penelitian Man’s Health Magazine, cowok terlemah dalam bercinta di Asia Timur adalah dari Jepang dan nomor dua adalah dari RRC/Hongkong termasuk didalamnya Taiwan. Mereka rata-rata berejakulasi setelah bercinta selama 4 menit 23 detik). Jadi aku berpikir kalau saja editor majalah tersebut hadir disini mungkin Andrew termasuk dalam kategori yang baru.
Pemuda itu terlihat lelah setelah menumpahkan seluruh cairan kepuasannya tersebut kepada Dhea walaupun raut muka jengkel terlihat diwajahnya ketika mendengar penuturan Dhea yang tanpa ditutup-tutupi langsung menyerang kelemahannya tersebut.
“Sekarang giliranku yah Dhea. Kamu mau pake kondom atau nggak?’ tanyaku meminta pendapatnya karena siapa tahu dia sedang subur walaupun sebenarnya aku tidak suka bercinta dengan kondom. Gadis cantik ini hanya menggeleng menandakan aku boleh mengerjainya tanpa pengaman. Tentu saja Andrew protes mengenai hal ini namun tidak digubris oleh gadis mungil nan cantik yang sekarang sudah tergolek didepanku.
Ku buka lagi pahanya dan perlahan aku mulai memasukkan batang penisku yang sudah berair itu menerobos menyeruak bibir kewanitaannya dan langsung menuju liang senggama gais ini. “Akhh…pelan-pelan yah mas. Sakit nih…akh…mas Adi..” desah Dhea yang seperti kesakitan, membuatku teringat tiga hari lalu Lina pernah mengeluh juga ketika batang kejantananku mencoba melakukan penetrasi kedalam vaginanya dan akhirnya gagal karena dia tidak tahan rasa sakitnya. Itu adalh kali kedua aku dan Lina gagal bercinta gara-gara penisku yang secara tiba-tiba membesar tanpa kuketahui sebabnya dan kalau aku ukur panjangnya naik sekitar 3 cm dari ukuran semula.
“Sekarang gimana rasanya sayang? Masih sakit?” tanyaku kepada gadis cantik ini dan dia hanya menggeleng pelan. Walaupun aku yakin kalau sebenarnya dia kesakitan namun beusaha untuk tidak mengecewakanku yang sudah berhasil menancapkan seluruh penisku kedalam vagina miliknya itu. “Aku mulai goyangannya yah.” Kataku dan mulailah aku melakukan sodokan-sosokan ringan agar liang kewanitaan gadis ini mulai terbiasa dengan ukuran penisku yang baru. Sesekali dia meringis menahan sakit namun setelah beberapa saat kemudian hanya desahan kenikmatanlah yang keluar dari mulut mungilnya itu. “Aku cepatin yah sayang?” kataku pada gadis cantik ini dan dia hanya menjawab dengan anggukan pelan.
Seiring dengan semakin cepatnya sodokanku, Dhea menjadi semakin lepas kntrol. Belum pernah aku melihat Dhea seperti ini, kelihatan menikmati permainan seks kami berdua. Wajah cantiknya bercampur dengan raut muka mesum yang membuatnya terlihat sangat seksi. Dhea menggeleng-gelengkan kepalanya kekiri dan kekanan seperti orang yang sedang triping karena narkoba, tetapi gadis ini menjadi fly karena kemaluannya sedang dihajar habis-habisan olehku. “Akhhh…mas Adi…lagi mas…entotin Dhea lagi…akhhh…” dara cantik ini mulai meracau tak karuan dan belum selesai dia mendesah aku sudah membalikkan tubuhnya.
Sekarang gadis ini sudah dalam posisi merangkak dan rencananya aku akan melakukan doggy style position kepadanya. Sembari merendahkan bagian punggungnya, aku perlahan mengarahkan batang kemaluanku kearah bibir vagina Dhea yang pantatnya sudah menungging kearah atas karena punggungnya aku buat lebih rendah dari pinggulnya. Hasilnya bibir vagina tersebut seolah terbuka sebelum penisku menyentuhnya, itu karena deskan dari berat tubuh yang tidak seimbang tumpuannya,
Dhea menjerit pelan ketika bibir vaginanya yang sudah bewarna merah itu tersibak oleh batang kejantananku yang berukuran diatas normal ini. Seiring dengan penetrasiku, bibir luar vaginanya ikut melesak masuk lalu dalam beberapa sodokan, erangan gadis ini berubah menjadi desahan lagi. “Mas Adi pinter yah…akhhh…tau cara…akhh…supa..ya..nggak…sakit…akhh…” ucap Dhea disela-sela desahannya. Belum lagi dia bisa bersantai, langsung dikejutkan dengan sebuah sodokan keras yang mampu menyentuh dinding dalam rahimnya sehingga sekali ini membuat tubuh mungil gadis ini tersentak keras. Kepalanya menengadah menahan sakit dan sensasi rasa nikmat karena selama ini belum pernah dia merasakan penis pria yang sampai menerobos liang kemaluannya hingga kedalaman tersebut. Waktu aku memerawaninya juga tidak sampai sedalam ini karena takut kalau dia pendarahan lagi pula penisku waktu itu belumlah sebesar ini.
Sekitar sepuluh menit aku mengerjai gadis cantik ini lalu Dhea meminta untuk bertukar posisi menjadi women in top yang ternyata salah satu posisi favoritnya setelah doggy style. Dengan penis sebesar milikku maka otomatis Dhea ekstra hati-hati ketika mengangkangi pahaku dan memasukkan penisku secara vertical kedalam liang kewanitaannya secara perlahan. “Blesshhh…” setelah batang kejantananku itu berhasil berada didalamnya sepenuhnya maka gadis ini mulai menggoyangkan pantatnya maju mundur dan kadang berputar secara bergantian dan selang-seling hal ini biasanya hanya bisa dilakukan oleh cewek yang sudah berpengalaman dalam hubungan seks namun Dhea sepertinya cepat belajar, mungkin dia diajari oleh Ratna dan teman-temannya yang super mesum itu.
Dengan posisi dibawah tentu saja aku tidak bisa hanya diam melihat penisku digilas habis oleh vagina gadis cantik ini. Inisiatif aku mengangkat tubuhnya dengan pahaku lalu memompa liang kewanitaannya dari bawah. Susah namun sensasi yang dirasakan Dhea benar-benar luar biasa, itu bisa kulihat dari raut wajahnya yang bersemangat lebih ketika aku melakukan sodokan-sodokan itu walaupun tidak cepat.
“Wah…wah…asyik nih ya semua…” suara seorang pria dari belakang kami berdua. Ternyata adalah Michael yang sedang mengambil air minum setelah selesai bercinta dengan kedua gadis cantik barusan. Walaupun bahasa Inggrisnya kacau namun orang ini sanggup berbahasa Indonesia dengan lumayan baik karena dia adalah keturunan silang dari Indonesia-Belanda. “Wah aku ikutan yah…soalnya melihat kalian bercinta membuat aku menjadi horny again.” Katanya lalu memelorotkan celana boxernya dan memasang sebuah kondom berpelumas ke batang kejantanannya yang ternyata berukuran besar, sesuai denan dugaanku. Ukurannya sama dengan batang penisku yang sedang membesar ini. Semula aku akan protes karena aku belum selesai tapi begitu tahu apa yang dia maksud aku langsung membatalkan niatanku barusan.
Digesek-gesekkannya penis berkondom itu kebagian luar lubang anus Dhea dan tanpa menunggu ijin dari empunya, bule ini langsung saja meneroboskan penisnya yang besar itu kedalam lubang anus gadis ini dan bisa ditebak kalau Dhea kesakitan. “Akhhh…sakitttt….aduh…jangan disitu…! Sakit hentikan please…Mickey stop thattt…!” jerit Dhea namun tidak digubris oleh bule yang sudah dikuasai hawa nafsu tersebut dan bersamaan dengan pompaan penisku di liang vagina Dhea, bule tersebut memompa anus Dhea dengan tak kalah bersemangatnya dengan diriku. Sekarang baik vagina maupun anus Dhea sudah dijarah bersamaan oleh penis pria dan sesekali kami melakukan sodokan bersamaan dan mempercepat laju pompaan kami sehingga Dhea menjadi kalang kabut dibuatnya.
Sekalipun ini bukan pertama kalinya dia disodomi namun tetap saja kedua lubang miliknya tersebut masih belum siap untuk dimasuki bersamaan, apalagi dengan penis yang jauh lebih besar dari yang biasa dia lihat.
“Akhh…nikmat sekali ass hole gadis ini, benar-benar kualitas unggulan…hahaha…” gelak si bule sembari meremas-remas payuara Dhea yang cukup besar itu. Buah dadanya yang menggantung bebas nampak bergelayutan tiap kali kami melakukan sodokan keras kekedua lubang miliknya itu. Sesekali desahan keluar dari mulutnya, sepertinya Dhea sudah dapat menikmati threesome ini walaupun masih terasa sakit dan perih di liang anusnya mengingat penis milik Mickey memang sangat besar jika dibandingkan dengan milik Andrew, setidaknya ukurannya dua kali lipat.
Sekitar 10-15 menit kemudian Mickey merasakan kalau dia akan mengalami orgasmenya lagi, lalu dia mengeluarkan batang kejantanannya dari dalam lubang anus Dhea dan mencopot kondom dari penisnya tersebut lalu kembali dia memasukkan batang kemaluannya itu kedalam lubang anus Dhea dan memompa dengan lebih cepat lagi dari sebelumnya. Melihat gelagat itu aku langsung ikut mempercepat pompaanku kedalam liang vagina gadis ini. Dhea terlihat sudah lemas karena kecapaian setelah dikerjai tiga penis secara silih berganti.
“Dhea aku keluar akhhh…akkhhh..” seruku sambil menyemprotkan seluruh cairan sperma yang sudah kutahan sejak beberapa menit tadi sehingga membasahi seluruh rongga liang senggamanya. Dhea hanya bisa menerima semprotan sperma itu dengan memejamkan mata karena dia sudah mencapai orgasmenya juga, kali ini yang kedua karena sebelum Mickey datang dia sudah orgasme ketika kami bercinta dengan posisi doggy style.
“Oh..girl..you sooooo cuteee…akhhh…yess…!” suara parau Mickey keluar beriringan dengan cairan spermanya yang ditumpahkan diliang anus gadis mungil ini. Bersamaan kami berdua mencabut penis kami dari kedua lubang pribadi Dhea sehingga dara cantik ini merasakan sensasi aneh, tiba-tiba saja tubuh bawahnya yang sebelumnya penuh, tiba-tiba terasa kosong karena isinya menghilang.
Beberapa detik kemudian terlihat dari bibir vagina Dhea mengalir cairan putih kental membasahi rambut kemaluannya dan menetes keatas sofa. Begitu juga dengan lubang anusnya yang mengeluarkan sedikit cairan sperma kental dari dalamnya keluar dan membasahi selangkangan gadis ini mengalir menuruni pahanya yang putih mulus. Tubuh molek Dhea sekarang terlentang lemah, seluruh tenaganya habis digunakan untuk melayani tiga pria bergantian bahkan dua diantaranya berpenis besar dan mengerjainya secara bersamaan.
Anthony yang kembali dari kolam renang melihat kondisi sepupunya hanya tertawa kecil. Mungkin dihatinya dia melihat Dhea seperti tuan putri yang dikelilingi tiga pria telanjang yang siap memuaskan dirinya.
“Mas Adi nakal. Masa Dhea dikerjai dua langsung depan belakang.” Rajuk Dhea dengan manja sembari bersandar dipangkuanku. Aku tersenyum lalu membelai rambutnya dengan mesra. Sementara itu Mickey kembali keruangan untuk melanjutkan ronde berikutnya dengan kedua cewek cantik dikamarnya. Baru aku beristirahat sebentar tiba-tiba penisku serasa ada yang menyentuh dan mengocoknya. Aku terkejut begitu melihat yang melakukan itu bukan hanya Dhea melainkan juga salah satu stripper yang sedari tadi diam saja melihat permainan kami bersama Dhea. Stripper ini bernama Micha (menurut pengakuannya) berbody seksi dan tinggi sementara kulitnya putih dan wajahnya lumayan cantik. Menurut pengakuannya dia berasal dari Manado dan campuran darah Manado dengan Sunda.
Singkat cerita kedua gadis ini mengocok dan mengoral penisku bergantian, terutama Micha yang seolah ingin merasakan kenikmatan saat vaginanya dihajar batang kejantanan sebesar milikku ini. Mau tidak mau babak kedua bagiku mulai beberapa menit setelah itu. Sekarang giliranku yang dikeroyok oleh dua gadis cantik ini. Sembari penisku memompa vagina Micha, Dhea berada dibelakangku dan menciumi diriku sesekali Micha melakukan oral seks kepada Dhea ketika aku sedang menyodoki liang kemaluannya, walaupun Dhea tidak mau membalas mengoral Micha (mungkin karena belum ernah dan merasa jijik karena sesama wanita).
Malam itu kami bercinta selama kurang lebih 1,5 jam dan baik Dhea maupun Micha telah setidaknya mencapai orgasme dua kali karena variasi permainan kami. Spermaku berceceran membasahi vagina kedua gadis ini juga di payudara mereka dan juga wajah mereka ketika pada saat terakhir aku meminta mereka untuk melakukan oral bersamaan ke penisku dan hasilnya spermaku menyembur kewajah Dhea dan Micha ketika aku berejakulasi. 3 kali orgasme sudah cukup bagiku untuk menyudahi permainan ini. Paginya aku menemukan Anthony dan Andrew sedang bugil sebuah kamar tidur dilantai dua sementara diantara mereka terdapat seorang stripper, dugaanku pasti stripper itu digarap habis-habisan oleh kedua pemuda ini. Sementara Mickey nampak masih tidur bersama Viola dan salah satu stripper dengan berbugil ria, setidaknya saat aku pergi bersama Dhea, mereka masih tidur. Iseng-iseng aku mengambil gambar mereka semua dengan kamera handphone ketika mereka masih tidur.
Hasil dari pesta malam itu, aku bukan hanya bisa bercinta dengan dua gadis saja tetapi juga mendapatkan nomor HP dari Micha si stripper yang ternyata jatuh cinta dengan permainan panasku. Bahkan dia mengatakan akan memberikan servis gratis asalkan aku mau bercinta semalam suntuk dengannya seperti tadi malam. “Gampang, nanti hubungi aku kalau kamu sedang butuh….see you…” jawabku sambil lalu masuk kedalam taksi bersama Dhea. Chapter 27
Lunatic Bule


Dua minggu sudah Mickey, saudara dari Anthony dan Dhea berada di Indonesia. Setelah private party yang aku juga ikuti itu berlangsung, si bule gila itu sudah bolak balik Jakarta-Jogja untuk mengurus bisnisnya. Suatu malam ketika aku bersama dengan Anyssa kekasihku sedang berada disebuah kafe untuk merayakan selesainya Praktek Kerja Lapangan-ku, kami yang duduk di pojok ruangan tiba-tiba dikejutkan oleh sebuah sapaan tepat dari belakang tempat dudukku. “Hai Adi! Apa kabar Adi.” Dan ternyata setelah aku menoleh kebelakang yang menyapaku adalah seorang bule yang sudah aku hapal mukanya, yaitu Mickey saudara dari Anthony.
“Hai Mick. How are you?” balasku dan setelah melihat dia mengerutkan dahi aku jadi sadar kalau bahasa Inggris Mickey sangat terbatas, maklum orang Belanda. Dia tersenyum setelah sejenak berpikir mencerna kata-kataku barusan dan membalasnya, “Baik, terima kasih.”
Kami kemudian bercakap-cakap sejenak dan terputus ketika kekasih Mick, Viola datang dan duduk didepannya. Sepertinya tempat ini menjadi pilihan mereka berdua untuk hang out. Maklum saja karena kafe ini memang sering dikunjungi oleh bule karena lokasinya berdekatan dengan hotel-hotel internasional tempat dimana para wisatawan asing sering menginap. Dalam percakapan kami seringkali aku tidak sadar dan menatap kearah kaus yang dipakai oleh Viola yang berbelahan dada rendah itu. Terlihat buah dadanya sangat besar seukuran 38A mungkin. Bule perempuan ini memang bertubuh proporsional karena dengan badan sesintal itu dan payudara sebesar itu diimbangi dengan tinggi badan sekitar 175 cm jadi wajarlah kalau Mickey tertarik kepadanya. Sepertinya Mickey menyadari bahwa Viola sering aku perhatikan buah dadanya sehingga pada suatu waktu dia bercanda dengan menghalangi pandanganku dengan gelas wine sembari tertawa. Kedua gadis itu tak ada yang sadar apa yang membuat Mick tertawa tetapi aku sadar betul dan sempat malu dibuatnya.
“Well…have a nice night dude. Aku pergi dulu. Omong-omong besok datanglah ke spa di hotelku sekitar jam 4 sore. Aku ada sesuatu yang mau kuberikan kepadamu. Sebuah gift dari Holland…after all kamu adalah teman dari kedua sepupuku. Came OK…” katanya saat akan meninggalkan kafe bersama Viola. Aku hanya menjawabnya dengan senyuman ringan.
Besoknya di jam yang telah ditentukan, aku pergi kesebuah hotel tempat Mickey menginap dan memasuki ruangan spa di hotel tersebut. Sepertinya Mickey sudah berada didalam dan sudah hampir selesai. “Well dude. Kamu mau spa? Came on. Aku masih memiliki dua kupon spa gratis dari hotel.” Tawarnya tapi aku menggeleng karena jujur saja aku tidak begitu familiar dengan spa apalagi jam 6 sore nanti aku mempunyai janji dengan Virna, dosen pengawasku untuk Praktek Kerja Lapangan. Memang Michael ini suka sekali dengan spa selama di Indonesia. Menurutnya disini pemijatnya lebih pandai daripada dengan di negeri asalnya ditambah lagi aroma therapy nya juga jarang dijumpai di Belanda. Yang jelas disini spa harganya hanya sepersepuluh jika dibandingkan dengan harga spa di Belanda.
Setelah menunggu sekitar 5 menit, Mickey akhirnya selesai dan mengajakku ke kamarnya. Kamar nomer 215, setelah kubuka ternyata sebuah suite yang cukup mewah dengan satu tempat tidur besar dengan bathtub dan Jacuzzi didalamnya. Luar biasa dan aku yakin ini salah satu kamar termahal yang dimiliki hotel ini. “Here you go. Ini buat kamu. Jacket buatan Giordanno Buffe, asli dari Paris. Hope you like it buddy.” Katanya sambil menyerahkan jaket kulit tersebut kepadaku. Ini benar-benar hari mujurku, aku pernah melihat jaket ini ditawarkan di E-bay dengan harga lebih dari 1200 Euro (silahkan kalikan sendiri dengan kurs Euro saat ini).
Setelah berterima kasih dan chatting basa-basi akhirnya Mickey memulai pembicaraan yang serius. Raut mukanya berubah dari yang sebelumnya penuh canda tawa menjadi terdiam, hening walaupun tetap rileks. “Well, ada yang ingin aku katakan kepadamu tapi aku tidak tahu apakah kamu bersedia atau tidak.” Katanya penuh misteri.
“Katakan saja. Kalau aku bisa akan aku usahakan.” Dalam hati aku juga penasaran dengan apa yang ingin dia katakan kepadaku.
“Well, kamu sudah lihat khan kekasihku, Viola? Menurutmu dia cantik tidak? Umurnya baru 26 tahun lho.” Kata Mickey kepadaku dan terang saja itu membuat diriku agak kaget juga walaupun akhirnya keluar juga pengakuan dari mulutku kalau dia cantik dan seksi. Mendengarkan pengakuanku sepertinya Mickey senang dan dia tersenyum lalu mendekatiku. “Jangan marah dahulu ya. Aku punya angan-angan nih gimana kalau kita mengadakan pesta seks lagi seperti dulu.” Kali ini aku bisa melihat sinar matanya seperti berbinar-binar bak lentera yang kelebihan minyak.
“Aku sih mau-mau saja. Aku akan hubungi Micha, aku sudah dapat nomor teleponnya kok. Don’t worry my friend.” Sahutku tetapi Mickey memotongnya.
“Ne…ne…ne. That’s not what Ike means. Thou are wrong idea my friend (memang bahasa Inggrisnya kacau balau, ini sudah seotentik mungkin dengan perkataan aslinya). Yang Ike mau katakan adalah kita swing party saja. Aku membawa kekasihku begitu juga dengan kamu. Tidak ada call girl-nya dude.” Sahutnya memperjelas maksudnya dan itu membuatku tersentak juga. Ternyata bule gila ini juga punya usulan yang sama gilanya juga. “Tetapi jangan mengatakannya ke Anthony karena dia bakalan marah kalau diajak ikut karena kekasihnya terlalu dia lindungi. Nanti tidak asyik lagi. Bagaimana menurutmu?” Mickey agak was-was juga menanti jawaban dariku mungkin dia takut kalau aku sampai marah dan membuatnya menjadi serba salah mengingat kami baru saja kenal.
“Memangnya siapa saja yang mau ikut? Apa hanya kita berdua?” tanyaku penuh selidik kepada Mickey. Dia mengangguk. “Untuk sementara baru kita berdua karena Robin tidak membawa pacarnya ke Indonesia. Perempuan itu masih takut dengan berita mengenai bom-bom dikawasan Asia. Dia pikir kalau di Indonesia itu seperti Vietnam, penuh dengan ranjau dimana-mana. Tapi rencananya nanti aku akan membawa salah seorang kolegaku yang kebetulan akan kesini bersama dengan istrinya untuk bersenang-senang dan join dengan kita. Tapi dia warga negara Jepang, semoga saja kamu tidak keberatan.” Mickey melanjutkan dan menunggu jawabanku.
Aku berpikir bahwa selama ini Anyssa juga sudah tidur bukan hanya denganku tapi denan banyak pria baik dalam acara swing patner maupun saat dia selingkuh dibelakangku dengan dua orang pria sebelum akhirnya ketahuan olehku. Membayangkan Anyssa bakal dikerjai seorang Bule membuatku jadi sedikit merinding juga mengingat batang kemaluan bule tersebut sangat besar. Panjangnya saja aku perkirakan 23-25 cm. Tapi setelah membayangkan Viola aku jadi bernafsu juga. Akhirnya aku menyanggupi tawaran dari si bule tersebut. Mickey nampak sangat senang dan hari yang dijadwalkan adalah besok malam karena besok adalah hari Sabtu sehingga Anyssa tidak ada kelas kuliah sama sekali dan dia pasti mau dengan tawaran ini jika aku yang menyuruhnya karena dia masih terikat dengan rasa takutnya kalau-kalau aku memutuskannya, mungkin dia lebih takut kalau aku menyebarkan foto-foto dan rekaman mesra dirinya denganku atau dengan orang lain walaupun aku tidak pernah mengancam dirinya dengan hal tersebut.
Hari berikutnya pada malam hari sekitar jam 7 malam aku datang kekamar Mickey yang sudah ditata sedemikian rupa dengan tambahan extra bed yang ditaruh dibagian bawah dekat dengan sofa dan mini bar. Malam sebelumnya Anyssa sempat protes saat mendengar acara ini namun segera terdiam ketika dia sadar posisinya berada di tempat yang lemah.
Aku melihat Viola mengenakan baju tidur terusan warna biru tua tanpa lengan dan rambut pirangnya terlihat terurai sebahu. Benar-benar sangat cantik dan seksi. Apalagi ketika pahanya yang tidak tertutup gaun tidur tersebut tersingkap ketika dia berjalan dan duduk, membuatku menjadi panas dingin. “Silahkan duduk semuanya. Well, perkenalkan ini Viola. Kalian pernah bertemu dengannya di kafe.” Mickey mencoba mencairkan suasana. “Oh iya, kalian mau minum apa? Aku sudah memesan champagne dan bourbon with gin, kalau kalian mau. Atau lebih suka black label?” tawarnya kepada kami.
Sembari menenggak champagne kami berempat terlibat percakapan yang cukup seru, ternyata Mickey adalah seorang ice cracker (sebutan bagi orang yang pandai memecah kebuntuan dalam pembicaraan, istilah yang sering dipakai di Amerika). Ditambah lagi dengan Viola yang ternyata mahir berbahasa Inggris sehingga percakapanpun bisa saling menimpali satu sama lain.
Sekitar satu jam kami berempat mengobrol sembari minum champagne yang akhirnya habis beserta sebotol black label. Aku dapat melihat baik Viola maupun Anyssa sudah tipsy dan dalam tiap candaan Mickey sudah berani merangkul Anyssa yang sudah melepaskan jaket dan tinggal mengenakan kaus tanpa lengan itu. Mickey lalu memposisikan duduknya berada didekat Anyssa sementara aku diberinya kode untuk mendekati Viola yang sudah mulai bicara ngaco dalam bahasa Belanda (jangan suruh aku menterjemahkannya yach…^_^).
“Kamu benar-benar gadis yang cantik Anyssa. Pesona gadis Indonesia berada ditubuhmu dan wajahmu. Awesome.” Kata Mickey sembari merangkul bahu Anyssa lebih erat dan kali ini salah satu tangannya sudah berani mengusap-usap paha Anyssa yang saat itu mengenakan jeans. Anyssa yang sudah tipsy karena banyak minum itu tidak menghiraukan tangan nakal Mickey yang sekarang sudah menyusup kedalam kausnya dan menyibakkan kaus yang dipakainya bersama dengan bra yang dia pakai. Kontan saja payudara Anyssa yang putih mulus itu mencuat keluar dari sarangnya. Mickey tertegun sejenak lalu dengan lembut tangannya meraba payudara Anyssa dan meremasnya pelan-pelan. Saat Anyssa sudah setengah sadar dan mengarahkan tangannya untuk mencergah tangan Mickey, mulut Mickey langsung menciumi leher kekasihku itu dari bawah hingga bagian telinga. Sepertinya bule satu ini tahu benar kelemahan wanita. Dan tak berselang lama, Mickey lalu melumat bibir mungil Anyssa yang sudah tidak memberikan perlawanan sama sekali bahkan terkesan menikmati ciuman dan remasan tangan Mickey pada kedua payudaranya. Tubuh gadis itu limbung dan jatuh keatas extra bed yang ditaruh diatas lantai.
Belum sempat aku berpikir lebih lanjut, tiba-tiba Viola mendekatiku dan menciumiku habis-habisan. Bule cewek ini benar-benar sudah bernafsu sepertinya. Leher, telinga dan bibirku dilumat habis oleh Viola yang ternyata mahir dalam hal ciuman mulut. Sembari berciuman dan saling memagut satu sama lain, aku melucuti pakaianku sementara Viona juga demikian. Buah dadanya yang besar itu terlihat jelas sekarang dan dapat kusentuh dengan tanganku. Viola mendesah-desah tiap kaii jemari kedua tanganku meremas payudaranya dan bibirku melumat putingnya dengan sedotan dan jilatan. Payudara Viola yang putih mulus itu sekarang sudah bebercak merah akibat sedotanku dan hisapanku yang kencang pada payudara tersebut. Belum lagi tubuh molek dara cantik ini membuatku menjadi semakin mabuk kepayang. Bulu kemaluannya yang lembut menutupi vaginanya yang sudah basah akibat rangsangan dank arena dia sudah tipsy sedari tadi. Saat kami sedang berpagutan tiba-tiba ada sebuah tangan yang mencengkeram penisku yang sudah tegang itu dan mengocoknya dengan cepat. Ternyata Viola telah tak tahan setelah 10 menitan dia foreplay denganku di tempat tidur yang besar itu. Lalu dengan sedikit memaksa dia mengarahkan batang kejantananku tersebut kearah liang vagina miliknya. Aku tahu benar kalau bule perempuan ini sudah tidak tahan lagi dengan rangsanganku dan ingin segera dieksekusi.
“Pleaseee…hit me now!” pintanya memelas dengan wajah yang sudah merah padam penuh dengan nafsu membara. Lalu dengan posisi women in top dia memasukkan batang kejantananku kedalam lubang kemaluannya yang sudah merah dan basah itu. Lalu dengan posisi vertical, Viola mulai menekan dan melesakkan batang kejantananku kedalam liang senggama miliknya. Dengan ukuran batang kemaluanku yang lumayan besar ini ditambah dengan kejadian aneh yang membuat batang kemaluanku bertambah besar hingga sekarang tinggal berselisih sedikit dengan ukuran batang kemaluan Mickey membuat vagina Viola agak susah juga dimasuki, namun karena gadis ini sudah biasa dengan penis besar dari dulu maka tak makan waktu lama untuknya memasukkan seluruh penisku kedalam vagina miliknya. Dengan semangat gadis ini menggoyangkan pinggulnya untuk mencapai kepuasan atas diriku.
Sesekali pinggulnya dihentak-hentakkan secara vertical sehingga beberapa kali batang kemaluanku nyaris keluar dari sangkar hangatnya itu. “Oh yes…you are so great baby. I never found any Asian penis like yours. Its bigger than when I have one night in Bali.” Racau Viola sembari terus memompa penisku dengan himpitan vagina miliknya. Payudara gadis ini berguncang-guncang saat aku meremasnya. Viola begitu liar, pantas saja sebelum aku pergi kemarin Mickey mengatakan untuk bersiap-siap minum Viagra karena Viola tidak mudah dipuaskan.
“Viola my baby. You’re so great too babe.” Balasku sembari melakukan gerakan aktif menusuk keatas dengan cepat sehingga membuat batang kemaluanku menyentuh dinding rahimnya. Gadis cantik ini berteriak dan meciumku bibirku dalam-dalam.
“Damn. You are fuckin’ good honey. Hit me more like before.” Ucapnya meminta lebih dan aku sanggupi dengan melakukan tusukan seperti barusan yang kembali berulang dan berulang hingga Viola mengejang dan otot vaginanya mencengkeram penisku dalam-dalam. Seiring dengan ciuman bibirnya aku tahu kalau gadis ini sedang mengalami orgasmenya. 10 menit setelah penetrasi dan hanya dengan satu gaya. Sepertinya perkataan Mickey tentang Viola tidak mudah dipuaskan adalah salah karena sekarang dia sudah mengalami orgasmenya yang pertama.
Sementara itu Mickey masih belum bercinta dengan Anyssa dan dia hanya menstimuli bibir, payudara dan bagian sensitive Anyssa yang lain. Sepertinya Mickey sedang berusaha mengatahui G Spot dari Anyssa. Mereka terduduk di sofa besar dan sedari tadi menonton persenggamaanku dengan Viola sembari melakukan foreplay. Sekarang tangan Anyssa sudah berani mengocok batang kemaluan Mickey yang besar dan sudah tegak menantang itu dengan panasnya sementara Mickey sendiri duduk dibelakang Anyssa dan memangku diperutnya sehingga kini batas jarak antara batang penis Mickey dengan bibir vagina Anyssa begitu dekat bahkan sesekali Mickey menggesek-gesekkan batang kemaluannya kearah bibir vagina kekasihku itu.
Mendapat perlakuan seperti itu dari Mickey kontan saja wajah Anyssa memerah menahan gejolak nafsunya yang sudah tak tertahan lagi, sesekali keluar desahan sensual dari bibir mungilnya itu. “Akhh…akhh…” desahnya ketika klitorisnya bersentuhan dengan batang kemaluan Mickey yang besar itu ketika pria bule ini menggesek-gesekkan penisnya di bibir vagina Anyssa. Belum lagi dengan remasan tangan Mickey di kedua payudara Anyssa yang menurutku sudah bertambah besar ukurannya dibandingkan dari pertama kali aku melihat buah dadanya itu.
Masih di sofa dengan posisi memangku Anyssa dari belakang, Mickey sekarang sudah mulai menusuk-nusukkan batang kejantanannya kearah bibir luar vagina Anyssa. Sepertinya tadi dia bersama pacarku itu sengaja menonton acara persetubuhanku dengan Viola dan sekarang mereka ingin memberikan pertunjukan tandingan. “Akhh..sakit…” jerit Anyssa ketika batang kemaluan Mickey menyeruak masuk kedalam bibir vaginanya dan dalam hitungan detik saja kepala kemaluan Mickey sudah terbenam seluruhnya di liang senggama pacarku itu.
Kedua tangan Mickey menarik kedua paha Anyssa sehingga mengangkang lebih lebar disbanding tadi dan kembali memberikan sebuah tusukan dahsyat kearah bibir kemaluan kekasihku itu. “Aku masukkan penisku ya Anyssa. Tahan dulu sebentar yah.” Kata Mickey sembari meneruskan penetrasinya walaupun Anyssa menjerit-jerit pelan menahan rasa sakit. Lalu entah karena kerasukan setan apa, Mickey yang tadinya lembut tiba-tiba beringas dan mendorong pinggul Anyssa kebawah sehingga memaksa bibir vaginanya membuka lebih lebar dan menyodokkan batang kejantanannya dengan keras kearah atas menembus labia minora kekasihku dan sekarang ssparuh dari batang kemaluan pria bule ini sudah menancap kuat di liang kemaluan kekasihku itu.
“Akhhh…sakittt!” seru Anyssa tapi sekarang Mickey sudah memelankan sodokan penetrasinya. Terlihat air mata meleleh dari kedua pelupuk mata Anyssa yang bening itu. Dia sepertinya menahan rasa sakit yang cukup hebat ketika Mickey memaksa bibir kemaluannya membuka lebar menerima sodokan batang penis sang bule yang berukuran raksasa (untuk ukuran Indonesia) itu.
Tubuh kecil Anyssa tiba-tiba terangkat keatas dan Mickey-pun berdiri sembari mengangkat seluruh tubuh Anyssa yang masih dalam posisi mengangkang dari belakang dan merebahkan tubuhnya di kasur besar yang berada diatas. Diposisikannya Anyssa tepat disamping tubuhku sementara itu dengan posisi berubah menjadi doggy style tanpa mencopot penetrasinya, Mickey kembali meneruskan proses penetrasinya yang sudah setengah jalan itu. Aku dapat melihat jelas vagina Anyssa yang bibir kemaluannya separuh melesak masuk bersamaan dengan masuknya penis raksasa Mickey kedalam liang kemaluannya. Saat aku sedang terlena melihat pemandangan erotis disampingku itu, tiba-tiba penisku terasa hangat dan basah. Ternyata Viola sudah memperoleh kembali tenaganya yang sempat hilang lima menit yang lalu akibat orgasmenya yang pertama. Dengan dibantu kedua tangannya yang mulus itu dia melakuka oral seks kepada batang kemaluanku dan dengan rakus dia mengulum penisku sembari memaju mundurkannya perlahan sementara kedua tangannya mempermainkan buah pelirku. Permainan lidahnya di ujung kemaluanku membuatku semakin turn on saja. Gadis bule ini benar-benar tahu cara melakukan oral seks.
“You are so great Adi. I want to be fucked by you more and more. I like your dick, its so strong and hard, harder than dick of my people…” racaunya Viola sembari bercampur dengan bunyi kecipak air liurnya yang bercampur dengan cairan kejantananku yang dilumatnya dengan bibir seksinya itu. Wajah cantiknya itu menjadi semakin seksi saja kulihat saat dia menjilati batang kemaluanku dan menghisapnya sembari mengocoknya didalam mulutnya, wajahnya mirip dengan bintang film Moira Kelly dari Eropa hanya saja dengan potongan rambut model Lindsay Lohan.
“Arghh…” seru suara gadis disampingku. Ternyata Anyssa menjerit tertahan ketika batang kemaluan Mickey berhasil menjebol seluruh pertahanan kemaluannya. Sekarang seluruh penis Mickey sudah tertanam didalam liang senggama kekasihku itu. Aku tak habis pikir dengan apa yang dirasakan oleh Anyssa mengingat jelas-jelas batang kejantanan Mickey lebih panjang dibandingkan dengan milikku, setidaknya selisih 3-4 cm dari milikku yang sedang membengkak secara misterius ini. Mata Anyssa membelalak dan dia menggigit bibir bawahnya ketika Mickey mulai menggenjotnya pelan-pelan.
Batang bule raksasa itu secara rutin dan pelan-pelan bergerak maju mundur pelan-pelan melolosi bibir vagina Anyssa yang sudah merah padam karena gesekan tak henti-henti barusan. Walaupun sudah sangat basah tetapi tetap saja menerima penis seukuran raksasa itu membuat bibir vagina Anyssa seolah robek. Dengan tetap menggunakan posisi doggy style, tiap kali Mickey menarik batang kemaluannya dari liang kewanitaan Anyssa, gelambir di bagian dalam labia minora Anyssa ikut keluar sebagian dan setiap kali Mickey mendorong maju batang kemaluannya, gelambir itu ikut masuk melesak bersamaan dengan gesekan batang kemaluan bule tersebut.
Desahan demi desahan keluar dari mulut Anyssa sementara itu aku memposisikan Viola dengan posisi doggy style bersebelahan dengan Anyssa. Dalam hitungan detik aku sudah kembali menjarah liang kemaluan gadis bule ini untuk menuntut hak diriku untuk dipuaskan yang tadi belum terlaksana. Sembari meremas-remas payudara besar Viola yang menggelantung bebas kebawah, aku mempercepat intensitas sodokanku keliang kemaluannya. “Ohh…shitt…do me baby…do me more…!” racau cewek bule ini sembari mencium paksa bibir Anyssa yang sedari tadi wajahnya tertunduk.
Ciuman tersebut sepertinya menggugah gairah birahi Mickey yang masih terpendam dan sekarang si bule ini menyodok vagina Anyssa dengan lebih brutal dari sebelumnya dan sudah berani mengeluarkan kata-kata teaser (godaan) kepada kekasihku itu. “Kamu suka sayang? Vagina kamu benar-benar sempit. Rasanya seperti memperkosa dirimu yang mungil ini, menyenangkan. Shit akhh… benar-benar nikmat.” Seru Mickey sembari meremas-remas payudara Anyssa hingga memerah keduanya.
Seolah berlomba denganku yang sedang memompa kemaluan Viola, Mickey mempercepat gerakan sodokannya sembari kadang menoleh kearahku dan tersenyum, entah apa maksudnya. Sesekali dia keluarkan batang kemaluannya dari liang kemaluan kekasihku sehingga aku dapat melihat bibir vagina Anyssa yang sudah membentuk lubang menganga peninggalan penetrasi penis raksasa Mickey. Klitorisnya pun membesar dari sebelumnya dan cairan kewanitaannya membeludak sehingga membasahi sprei dan spring bed. Lalu dengan gerakan gesit Mickey kembali menusukkan batang penisnya untuk masuk lagi kedalam liang kemaluan kekasihku itu sembari melenguh kencang, begitu berulang-ulang setidaknya hingga sepuluhan kali. Hal ini sepertinya membuat Anyssa lepas kontrol dan mencapai orgasmenya yang pertama ditengah rasa sakit yang tadi dideritanya akibat penetrasi Mickey.
Sementara itu aku juga merasakan kalau Viola mengalami orgasme lagi padahal baru aku pompa dia selama 10 menit. Tapi sekarang aku tahu kalau Viola bukan kuat dalam hal menahan orgasme tetapi dia mampu memperoleh orgasme beruntun secara berulang-ulang (multy orgasm). Pantas saja Mickey mengatakan kalau gadis ini tidak mudah puas. Bahkan setelah orgasmenya yang kedua, Viola tidak membutuhkan istirahat dan berbalik telentang sembari kembali tangannya menancapkan penisku di bibir vaginanya yang sudah menganga tersebut.
“Wow…you are really a slut in bed. Hahaha…”godaku kepada Viola dan diapun hanya tersenyum nakal lalu memelukku dari bawah sehingga sekarang kami melakukan gaya mercenary.
“Every women is a slut baby. You just need to find out when they at bed.” Balas dara bule ini lalu mencium bibirku dalam-dalam yang kubalas dengan tusukan keras batang kejantananku kedalam liang kewanitaan miliknya. “Damn. You are a naughty boy…hahaha…” candanya ketika tahu kalau liang kemaluannya kembali aku kerjai dengan keras. “Be careful, because my lover will take a revenge for me…see your girl friend, it will teared out by him.” Lanjut Viola sembari ujung matanya menunjuk kearah Mickey yang semakin brutal mengerjai Anyssa yang sekarang dalam posisi telentang dan ditindih tubuh besar Mickey.
Melihat kekasihnya aku kerjai dengan brutal, Mickey membalasnya dengan brutal pula. Anyssa yang bertubuh mungil itu tersentak-sentak oleh sodokan-sodokan penis raksasa Mickey namun tak berdaya untuk memposisikan dirinya agar rasa sakitnya berkurang karena tubuh mungilnya itu sedang ditindih oleh tubuh besar bule gila ini. “Damn…you are so good girl. So sluty and horny.” Lalu setelah selesai berbicara, Mickey kembali memompa vagina Anyssa sembari dengan bantuan kedua bahunya, Mickey mengangkat kedua tungkai kaki Anyssa.
Sepuluh menit dengan posisi mercenary ditambah dengan melihat pemandangan erotis disampingku membuatku tidak dapat menahan diri lagi dan akhirnya keluar juga spermaku membasahi liang kemaluan gadis bule cantik ini. Viola memelukku erat-erat sepertinya enggan melepasku pergi. Dengan kakinya yang mengapit pinggangku dara cantik ini menikmati orgasmenya yang ketiga dengan tubuhnya yang menggelinjang hebat lalu sepuluh detik kemudian dia terkulai lemas.
Sementara itu Anyssa sepertinya belum dapat beristirahat karena walaupun dia sudah dua kali orgasme tetapi Mickey belum mencapai klimaksnya. Bahkan sesekali dia mencuri cium Viola yang terkulai dalam pelukanku sementara batang kemaluannya tetap memompa vagina Anyssa. Selang beberapa saat, dengan kedua tangannya yang besar, Mickey mengangkat tubuh Anyssa sehingga berposisi setengah duduk walaupun tubuh atas nya masih condong kebawah lalu dengan berjongkok bertumpu dengan salah satu lututnya, Mickey mengangkat tubuh mungil Anyssa dan menyetubuhi kekasihku dalam posisi itu. Mau tak mau kedua tangan Anyssa mengapit leher Mickey agar kepalanya tidak mendongak berlebihan kearah bawah.
Peluh sudah membasahi tubuh Anyssa sementara Mickey belum ada tanda-tand akan mengakhiri persetubuhannya dengan pacarku itu. Sembari menyaksikan tontonan live show panas ini, Viola kembali bangkit tetapi tidak beranjak kearahku melainkan mengarah ke Mickey dan Anyssa. Dia lalu telentang dengan kepala tepat dibawah pompaan penis Mickey ke vagina Anyssa dengan tubuh berada dibelakang kekasihku. Lalu dengan panasnya Viola menjilati batang kemaluan Mickey yang saat itu masih menyodok-nyodok liang kewanitaan Anyssa dengan brutal. Sesekali gadis bule ini mengulum buah pelir Mickey yang membuat pertahanan pria tersebut semakin rapuh. Apalagi kedua tangan Viola ikut-ikutan beraksi mempermainkan payudara Anyssa yang terguncang-guncang ketika dipompa oleh Mickey. “Wow… sure you are so tough Anyssa. You can hold your stamina until now. I was beaten by you sweetie.” Ucap Viola sembari terus mengerjai payudara dan klitoris Anyssa dari belakang sementara bibirnya tetap menstimuli buah zakar Mickey.
“Shit…I’m cuming, damn this good. Akhhh…” seru Mickey sembari menyemburkan seluruh cairan spermanya didalam liang kemaluan kekasihku, Anyssa. Sementara Anyssa sendiri juga mencapai orgasmenya yang ketiga gara-gara stimuli yang dilakukan oleh Viola. Tubuhnya menggeliat hebat dan beberapa saat kemudian lemas memeluk tubuh Mickey yang masih memangkunya dengan penis masih menancap di liang kemaluannya. Viola beranjak dari situ dan menggoda Mickey, “Wow. You have a big shot this time honey.” Candanya ketika melihat cairan sperma yang dikeluarkan oleh Mickey sangat banyak sehingga saat batang kemaluannya dicabut dari liang kewanitaan pacarku dari dalam liang vagina Anyssa mengalir keluar cairan putih kental yang sangat banyak bercampur dengan cairan orgasme milik Anyssa. Bibir vagina pacarku terlihat sembab merah gelap akibat benturan dan gesekan keras batang penis Mickey.
Anyssa lalu berbaring disebelahku dan memelukku erat. “Sayang. Kamu puas?” tanyanya kepadaku. Aku hanya mengangguk dan bertanya hal yang serupa kepadanya dan dia menjawab sembari menunjuk kearah penis Mickey yang masih separuh tegang. “Lumayan. Tapi sakit jadi susah menikmatinya. Lagian terakhir-terakhir tadi dia kasar. Sampai sekarang vaginaku masih sakit dan perih.” Rajuknya sembari mencium bibirku dengan hangat. Lalu kami berdua tertidur.

Sekitar jam dua malam aku dikejutkan oleh desahan-desahan seksi dari kamar mandi. Saat aku mencari Anyssa, ternyata dia sudah menghilang dari sampingku sementara itu Viola sendiri masih tertidur pulas disampingku menggantikan Anyssa dengan posisi tangannya memegangi kemaluanku yang basah lagi. Penasaran dengan kejadian di kamar mandi maka aku beranjak dan menuju kearah kamar mandi dengan telanjang bulat.

Lunatic Bule, part 2




Aku terhenyak melihat Mickey sedang membopong Anyssa dari depan di bawah shower yang menyala pelan sementara kedua tangan dan kaki Anyssa mengapit tubuh Mickey yang besar itu. Pandanganku lalu tertuju kepada batang kemaluan Mickey yang sudah bersarang didalam vagina kekasihku dan memompanya dengan penuh nafsu. Hal ini membuatku menjadi kembali horny. Batang kemaluanku kembali berdiri tegak melihat pemandangan tersebut.
Mickey sadar akan kehadiranku dan tersenyum sembari memberi kode agar masuk ke kamar mandi. Lalu dia mencabut batang kemaluannya dari liang senggama pacarku dan duduk di toilet duduk di kamar mandi tersebut semabari menarik tubuh Anyssa dari belakang. Kali ini tubuh Anyssa membelakanginya dan terduduk dipangkuannya. Tiba-tiba saja aku sadar tentang apa yang akan bule ini lakukan kepada Anyssa. “Now the next hole.” Serunya kepada Anyssa dan mendudukkan pantat Anyssa sehingga sekarang lubang anusnya tepat diatas ujung senjata Mickey yang masih tegang dan berkondom itu.
“Akhh…” jerit Anyssa. “Jangan disitu, sakittt…!” protesnya lagi tetapi tidak digubris oleh bule gila ini. Mickey malah mengoleskan lubricant (gel) ke kondom yang dia pakai sehingga licin. Lalu kembali dia menarik Anyssa yang mencoba meronta untuk menduduki penisnya. Dan dalam beberapa percobaan, batang kejantanan bule tersebut akhirnya berhasil masuk kedalam liang anus Anyssa walaupun hanya bagian kepala penisnya saja.
“Pacar kamu sudah orgasme lagi tadi sekali. Hahaha…maaf tidak membangunkan kamu, soalnya aku gemas dengan tubuh mungilnya yang seksi.” Kata Mickey sebelum akhirnya dia menarik dengan keras pinggang Anyssa sehingga sekarang batang kejantanan Mickey tenggelam seluruhnya kedalam liang kewanitaan gadis mungil kekasihku itu. “Ohh…awesome. Pacar kamu memang luar biasa.” Seru bule ini sembari memompa anus Anyssa dari bawah.
“Akhh…akhhh…sudah…sakit…akhhh….pelan…pelan…” Ucap Anyssa diantara desahannya. Tangan Mickey mempermainkan klitoris dan payudara Anyssa yang sudah mengacung kedepan putingnya itu. Leher Anyssa-pun tidak luput dari ciuman bibir Mickey. Mendengar protes Anyssa itu, Mickey memelankan sodokannya dan sekarang lebih bervariasi karena diselingi gerakan memutar sementara dari mulutnya keluar ucapan-ucapan menggoda Anyssa yang membuat kekasihku itu malu, risih tetapi juga membuatnya semakin bernafsu saja. Buktinya tak lama kemudian dia menyambut bibir Mickey yang menjelajahi tubuhnya dengan kecupan hangat.
“Ayo…”ucap Mickey kepadaku sembari membuka lebar paha Anyssa sehingga sekarang bibir vagina Anyssa terbuka lebar. Tanpa menunggu aba-aba lagi aku melesakkan batang kemaluanku menembus bibir vagina Anyssa. Anyssa mendesah pelan ketika merasakan bibir vaginanya kembali terkuak oleh penis pria.
“Kamu cantik sekali sayang. Seksi sekali.” Seruku kepada Anyssa yang kemudian menjawabnya dengan kecupan sayang kebibirku. Sekarang Anyssa merasakan ditubuhnya bercokol dua buah penis pria yang sedang mencari kenikmatan dengan membombardir kedua lubang-nya dengan penuh gairah. Sesekali buah pelirku bersentuhan dengan buah pelir Mickey yang besar berbulu itu karena dinding pemisah antara kedua lubang milik Anyssa seolah tergencet sehingga seolah menjadi semakin tipis saja. Belum lagi jika kami berdua memompanya dengan irama yang sama saat menarik dan mendorong kejantanan kami di liang vagina dan anus miliknya.
Diiringi dengan siraman shower air hangat aku dan Mickey berlomba memuaskan nafsu kami diatas tubuh mungil Anyssa yang beberapa saat lalu mengalami orgasmenya yang kedua. “Akhh….shit. I’m cummin’ damn it…akhh..” seru Mickey setelah memompa anus Anyssa selama kurang lebih 15 menit. Sementara itu aku sendiri mempercepat sodokan batang kejantananku dan selang beberapa menit kemudian, aku menyemprotkan seluruh cairan spermaku kedalam liang vagina Anyssa membasahi rongga rahim miliknya. Mickey menggelinjang hebat, ternyata dia mengalami klimaks lagi selang 3 menit setelah ejakulasinya barusan.
Dicabutnya kondom dari batang kemaluannya yang besar itu. Terlihat cairan sperma milik Mickey mengalir keluar dari kondomnya ketika dia memperlihatkan plastik pengaman itu kepada Anyssa sembari tersnyum, “Kamu benar-benar luar biasa.” Pujinya kepada kekasihku lalu membuang kondom tersebut kelantai dan kembali ke tempat tidur setelah membersihkan penisnya. Sementara aku sekarang terduduk di pinggiran bath tub besar merasakan sisa-sisa kenikmatan yang kuperoleh.
Anyssa mendekatiku dan menciumi bibirku. “Kamu benar-benar hebat malam ini. Aku kasih kamu sesuatu yang nggak aku kasih ke Mickey.” Katanya sembari berjongkok lalu dengan liar dia mengoral batang penisku yang masih belepotan sperma. Dengan telaten dia membersihkan sperma dari batang kejantananku.
“Memangnya kamu nggak melakukan oral dengan dirinya?” kataku penasaran dan dia hanya menggeleng lalu kembali menjilati penisku yang masih tegak tersebut.
“Ada banyak alasan mengapa aku nggak mau. Diantaranya karena terlalu besar, berbulu terlalu lebat dan khan dia orang asing. Aku masih jijik dibuatnya. Hehehe…” canda kekasihku ini sembari kembali membersihkan spermaku dengan mulutnya.
Paginya ketika Mickey pamit pagi-pagi sekali untuk mengurus dokumen ekspor, aku, Anyssa dan Viola kembali melakukan permainan panas seusai sarapan di restaurant hotel.
Viola dan Anyssa berebut saling mengoral batang kemaluanku yang kemudian dilanjutkan dengan persetubuhan. Dengan tubuh Viola dalam posisi merangkak, aku merangsekkan batang kejantananku kedalam liang senggamanya sekali lagi. Dalam posisi doggy style ini aku memuaskan nafsu liarku dengan memompa vagina Viola dengan brutal. Karena Mickey tidak ada disini sehingga tidak mungkin membalasnya kepada Anyssa, aku leluasa mengerjai bule perempuan ini sehingga dia kewalahan melayani sodokan-sodokan penisku yang membabi buta. Sementara itu Anyssa dengan menggunakan sabuk dildo bergerigi yang sudah diberi kondom berpelumas mengangkang dibagian depan atasku lalu menyodokkan dildo besar tersebut ke anus Viola.
“Akhh…what you doing? Don’t…” serunya ketika sadar apa yang akan dilakukan oleh Anyssa. Tetapi Anyssa berkeras dan menjawab, “Your lovers do me this way last night. Now this is the return hahaha… C’mon its not as hurt as you think.” Tambahnya lagi sebelum akhirnya dildo berkondom itu melesak masuk seluruhnya kedalam liang anus Viola. “But Mickey never does that with me. Akhh that’s hurt me ..soooo…much…arghh…” jerit Viola namun tertahan dengan desahan nafsunya karena disaat yang sama vaginanya juga sedang kukerjai habis-habisan.
Lima belas menit dengan posisi itu sebelum akhirnya kami berganti posisi. Aku telentang dan menempatkan Viola menghadapku dari atas sementara dari belakang Viola, Anyssa sudah siap dengan dildo besar nya.
Viola yang terjepit ditengah-tengah tidak dapat berbuat apa-apa selain pasrah ketika kedua lubangnya dieksekusi oleh penisku dan dildo besar yang menempel pada sabuk yang dipakai Anyssa. Sesekali aku menukarkan posisiku denan dildo besar itu dengan mengenakan kondom terlebih dahulu untuk memperlancar penetrasi. Bergantian batang kejantananku menembusi liang vagina dan anus Viola tanpa ampun. Entah berapa kali gadis ini orgasme karena satu jam kemudian dia nampak lemas dan tak lagi mampu mendesah.
Tubuh Viola ambruk ketubuhku yang terlentang dibawahnya. Aku merasakan payudara besarnya sekarang sudah menempel di dadaku. Tak selang lama kemudian aku merasa akan mencapai ejakulasiku. Aku copot kondom yang kupakai dan kuarahkan batang kejantananku kearah bibir seksi Viola dan muncratlah spermaku membasahi bibir dan wajahnya. Sementara Anyssa mencopot sabuk dildonya sambil cengar-cengir kegirangan karena berhasil membalas perlakuan Mickey kepada kekasihnya sekarang. Aku merengut sabuk dildo itu dari tangannya dan melihat ukuran dildo hitam itu. Ternyata ukurannya lebih besar dari pada dildo yang dipakai Anyssa untuk mengerjai Lina, adiknya tempo hari.
“Hmmm…nakal kamu yah. Pantas saja Viola kesakitan tadi. Ini sih ukurannya lebih besar daripada penisku yang sudah membengkak ini. Dapat dari mana?” tanyaku kepada pacarku itu.
“Punyanya Kurnia waktu kami bercinta di Villa. Bukannya kamu tahu?” balasnya. Aku jadi teringat kalau waktu itu ada sebuah dildo besar yang tergeletak disamping kasur tempat Anyssa dan Kurnia bercinta. Membuatku kembali kemasa lalu saja nih, pikirku dalam hati. Sebelum aku menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri lagi, Anyssa memelukku dari belakang, “Jangan tinggalin aku yah. Aku sudah terlanjur basah sekarang. Aku janji nggak akan selingkuh lagi.” Kata Anyssa pelan saat aku mencoba berpaling kearahnya.
Setelah mandi aku dan Anyssa keluar dari kamar hotel, sementara itu Viola masih lemas tertidur. Aku melihat wajahnya bermandikan sperma sementara dari liang anusnya mengalir darah segar walaupun sedikit. Sepertinya ada bagian yang luka akibat dari sodomi yang dilakukan Anyssa kepada Viola dengan dildo tadi.
“Ah sebodo amat. Toh yang mulai duluan juga si Mickey.” Kataku kepada Anyssa sembari menutup pintu kamar 215 itu.Chapter 28
Lina yang Beranjak Dewasa


Hari ini merupakan hari kelulusan bagi para siswa SMU se-Jawa Tengah. Hal ini juga berlaku bagi Lina, adik Anyssa kekasihku. Dara cantik ini akhirnya memutuskan untuk kuliah di Jogja dengan alasan bahwa kakaknya berada di Jogja sehingga dia mempunyai teman.selama masih dalam tahap penyesuaian dengan lingkungan barunya.
Lina telah diterima di sebuah universitas terkenal di Jogja yang terkenal dengan jurusan Farmasi-nya sebelum dia lulus karena memang prestasi sekolahnya sangat bagus dengan ranking 1 tiap semester di kelasnya apalagi SMU tempat dimana di bersekolah adalah favorit bagi para orang tua karena telah banyak menuai lulusan berbakat dan berkualitas di kota S. bahkan sudah 8x mengirimkan kandidat untuk olimpiade matematika dan fisika tingkat nasional dan intenasional walaupun Lina bukan salah satu diantaranya. Belum lagi dengan hasil tes masuk universitas yang menyatakan bahwa pointnya jauh diatas batas minimum.
Well, enough about that. Cerita ini bermula dengan background dari seorang Lina yang notabene merupakan idola di sekolahnya. Banyak pria yang naksir kepadanya tetapi dasar gadis jahil, Lina hanya memanfaatkan pemuda-pemuda tersebut untuk kemudian ditinggalkan ketika dia sudah tidak mempunyai ketertarikan dengan pemuda tersebut atau sudah tidak membutuhkannya lagi. Contohnya saja adalah pemuda bernama Hendra yang menyukainya sejak hari pertama dia masuk sekolah. Mereka bahkan pernah pacaran waktu Lina berada di kelas dua tetapi putus begitu Lina naik ke kelas tiga SMU. Terang saja Hendra shock berat karena dia sudah berusaha mempertahankan Lina dengan segala daya dan upaya. Hendra yang anak dari seorang pejabat di PT. Pertamina sudah sering memanjakan Lina dengan segala macam gift yang diberikannya tiap hari. Sebut saja coklat yang hampir tiap hari diberikannya kepada Lina, itupun belum termasuk makanan-makanan lainnya yang selalu ada untuk diberikan kepada pujaan hatinya itu. Walaupun sebenarnya dia tidak tahu kalau barang-barang tersebut seringnya dibagikan Lina kepada teman-teman cewek karibnya. Hal ini membuat Lina mendapatkan loyalitas dari teman-temannya karena selalu memberikan jajanan enak kepada mereka hampir tiap hari.
Tak cukup dengan makanan, Hendra juga membombardir Lina dengan gift lain yang cukup mahal seperti sepatu, kaus, jaket, jam tangan, tas ransel, tas jinjing, puluhan boneka yang selalu baru tiap minggunya dan belum lagi cincin dan kalung dengan leontin opal yang menjadi salah satu hadiah termahal yang pernah dia berikan kepada siapapun bahkan jika dibandingkan dengan pemberiannya kepada orang tuanya sekalipun. Tapi semua itu akhirnya hancur juga ketika Lina memutuskan untuk tidak memperpanjang hubungan cinta mereka lagi karena ada isu bahwa Hendra sudah dijodohkan oleh orang tuanya dengan salah satu kerabat jauhnya sendiri.
Malam itu di pesta perpisahan para pelajar SMU yang berada di bangsal sekolah, terlihat Lina bercakap-cakap dengan dua orang teman wanitanya. Sembari menenggak segelas Fanta merah ditangan, Lina terlihat sangat elegan dengan gaun warna pink tanpa lengan. Dengan potongan leher agak rendah dia bisa memamerkan kalung opal favoritnya yang tentu saja pemberian dari Hendra. Tanpa dia sadari dari kejauhan ada sepasang mata memperhatikannya dengan bermacam-macam emosi didalamnya. Cinta, benci, marah, malu, rindu dan berbagai macam emosi lainnya bercampur di benak dan jiwa orang ini. “Hai ngapain bengong. Hen, ayo kesini! Aku mau perkenalkan pacarku yang baru.” Sapa seseorang memecahkan lamunan sang pemilik sepasang mata tersebut.
“Hai Lina.” Sapa Hendra ketika bertemu dengan orang yang dituju. Kecut juga hatinya setelah tahu kalau temannya sekarang sudah menjadi kekasih Lina.
Pemuda yang bernama Soni tersebut lalu menepuk pundak Hendra, “Sori bos, aku nggak bilang sama kamu kalau aku sudah pdkt dengan Lina sebulan yang lalu. Lagipula khan kamu sudah putus lama jadi sebagai teman kurasa sudah tidak apa-apa donk ndeketin dia.” Soni kembali berucap namun kali ini belum sampai dia melanjutkan kata-katanya, sebuah bogem mentah sudah mendarat diwajahnya.
“Terus apa maumu nunjukin ini ke aku hah? Masih bilang kalo teman pula. Cuih!” umpat Hendra. Untungnya Lina cepat mencegat Soni ketika ingin membalas pukulan Hendra sementara Hendra sendiri sudah ditarik oleh kedua sohib karibnya untuk menjauh.
“Dasar anak cengeng. Mentang-mentang kaya aja langsung belagu. Salah sendiri kalau dia kalah saingan denganku. Dasar!” seru Soni kepada Hendra yang sudah menjauh dibalik kerumunan. Sesaat kemudian sebuah tamparan hinggap di wajahnya.
“Kamu ini nggak tau malu. Sejak kapan kita pacaran? Bikin aku malu aja. Baru juga dekat seminggu ini sudah omong besar kemana-mana.” Bentak Lina sembari ngeloyor pergi bersama kedua temannya yang ikut-ikutan mencibir pemuda ini.
“Lin tunggu! Aku mau kasih penjelasan!” seru Soni tapi tak digubris oleh Lina dan kedua temannya yang berlalu dibalik pintu bangsal utama menuju gang yang menghubungkan ruangan-ruangan kelas 3 dengan bangsal dan auditorium.
Satu jam kemudian acara pindah ke ruangan auditorium dimana para group band sudah tiba baik dari dalam sekolah maupun dari universitas yang ada di kota S. Suasana sangat meriah dan masing-masing murid mencari pasangannya masing-masing. Sementara itu Lina dalam kesendirian karena kedua temannya ikut bergabung dibarisan paling depan untuk ikut berjingkrak-jingkrak bersama alunan musik Rock yang diusung band universitas yang personelnya rata-rata berwajah ancur.
Entah apa yang mendorong Lina untuk meninggalkan tempat itu karena beberapa menit kemudian dalam lamunannya dia sudah berada di lorong lantai dua sekolahnya tempat dimana murid-murid kelas tiga belajar di pagi dan siang hari. Sekarang nampak berantakan karena ada pembaharuan kursi dan meja dari pihak sekolah. 5 buah ruangan untuk anak kelas tiga nampak kosong dan sepi walaupun ada cahaya lampu temaram di ujung gang dekat anak tangga. Lina kembali membayangkan masa-masa indah waktu mereka masih SMU. Ditempat ini dia menghabiskan hampir seluruh satu tahun hidupnya.
Mata Lina menoleh kesamping ketika dia mendengar ada bunyi kecil di sebuah ruangan. Entah keberanian dari mana yang membuat setan cilik ini berani masuk kedalam ruangan yang padam lampunya itu. Nafasnya semakin berat dan ketika dia akan berpaling keluar ruangan, tiba-tiba ada sepasang tangan yang mendekapnya dari belakang. Tangan yang cukup kekar yang kemudian merangsek kearah depan sehingga membuat tubuh mungil Lina ikut terdorong kearah depan.
Seorang pria dengan nafas yang menderu. “Siapa kamu? Lepasin aku! Kalau nggak aku bakalan teriak nih.” Ancam Lina sembari berusaha melepaskan diri dari cengkraman pria ini. Namun apa daya karena mulutnya langsung dibungkam oleh sebuah tangan yang kemudian menyeretnya menuju kearah jajaran meja belajar yang tersusun berkelompok tanpa kursi. Lalu mendorongnya hingga Lina terjerembab dengan tubuh separuh diatas meja belajar tersebut.
Belum sempat dia berteriak, pria misterius tadi melilit mulutnya dengan menggunakan taplak meja guru sehingga mulutnya tidak dapat bersuara lagi bahkan untuk bernafas saja susah. Tak hanya itu, sekarang kedua tangannya telah direntangkan dengan paksa dan diikat dengan bagian atas kaki meja menggunakan tali plastik yang sebelumnya digunakan di bangsal sebagai pengikat snack selama masih dalam plastik besar dan juga sebagai rumbai-rumbai hiasan untuk pintu dan jendela bangsal.
Dengan mulut tersumbat dan kedua tangan terentang terikat pada kaki meja membuat keringat dingin bercucuran keluar dari dara cantik ini. Lina seolah mendapatkan bayangan tentang apa yang bakal dia alami setelah ini. Terlebih setelah pria misterius ini membuka paksa kedua pahanya dan ditumpangkan keatas meja belajar. Sontak gaun pink yang dia pakai bagian bawahnya tersibak dan terlihat jelas celana dalam yang membalut selangkangan dara cantik ini. Bukan hanya itu saja melainkan paha mulusnya sekarang terpampang sudah dihadapan pria misterius ini.
Lina berusaha berkata-kata tetapi yang keluar dari mulutnya hanyalah suara tak jelas karena sumpalan di mulutnya. Lina berusaha berontak namun gagal karena cekalan pria ini jauh lebih kuat dari pada otot kakinya. Seperti yang dia duga sebelumnya, tangan jahil pria misterius itu merengut celana dalamnya dan melemparnya jauh membentur papan tulis.
Pria itu mengarahkan pandangannya kearah selangkangan Lina yang berbulu jarang itu. Sepertinya dia telah melihat barang yang dia sukai berada disana. Bibir vagina Lina dengan ujung klitorisnya yang menyembul keluar sedikit itu membuat sang pria misterius ini nafasnya semakin memburu. Jemari liarnya sudah menelusuri paha putih mulus Lina dengan bernafsunya dengan tak henti-hentinya meremas-remas kedua paha mulus Lina tersebut dan berakhir dengan sentuhan jemarinya di bibir vagina dara cantik ini.
Lina berusaha menjerit namun lagi-lagi hanya suara aneh yang keluar dari mulut yang tersumbat kain itu. Sementara itu sang pria misterius semakin beringas saja mengarahkan jemari tangannya kebibir vagina Lina menyentuh klitoris, labia minora dan bahkan dilesakkan dua jari tangannya kedalam liang kewanitaan Lina yang sekarang sudah mulai basah itu.
Sementara itu gaun pink yang dipakai oleh Lina sudah disibakkan keatas oleh pria misterius itu hingga sebatas leher dan sebagian dari gaun itu menutupi wajah Lina. Dia hanya bisa merasakan ketika payudaranya sudah diremas-remas dan disedot-sedot oleh mulut pria misterus ini tanpa ampun tanpa dia bisa melihatnya. Lina merasakan ketika puting susunya dijilati lidah pria tersebut dan jemarinya yang lain menstimuli puting susunya yang lain dengan bernafsu dan memilin-milinnya.
Sekitar lima menit sang pria ini menjilati hampir seluruh tubuh Lina, mulai dari payudara, paha, tangan, perut, pinggang, pusar dan merembet kea rah vagina Lina yang sudah mulai basah karena rangsangan pria tersebut. Dengan rakus dia menjilati dan menyedot-nyedot bibir vagina gadis cantik ini sehingga timbul suara yang sensual. Klitoris gadis cantik inipun juga tidak lepas dari jilatan pria misterius dan disusul dengan sodokan lidahnya kearah liang kemaluan Lina yang membuat gadis cantik ini semakin menggelinjang menahan rasa nikmat yang ditimbulkan oleh jilatan pemuda ini. Jika mulutnya tidak tersumpal kain, mungkin Lina sudah mendesah-desah tak karuan.
Saat Lina tengah merasakan rentetan kenikmatan, tiba-tiba dia merasakan adanya benda asing yang menerobos bibir kemaluannya dan melesak masuk. Ternyata batang kejantanan pria misterius itu sudah menyeruak masuk kedalam lubang kewanitaannya. Air mata menetes dari pelupuk mata dara cantik ini setelah dia tahu kalau dirinya tengah diperkosa oleh orang tak dikenal.
Dengan sedikit kesulitan, akhirnya batang kemaluan tersebut berhasil masuk dan langsung mengobrak-abrik seluruh jerohan dalam vagina Lina. Dengan perkasanya pemuda tersebut memompa tubuh Lina yang tak berdaya telentang diatas meja belajar SMU. Sembari ditemani nafasnya yang mendengus memburu tak karuan, pria misterius ini mempercepat sodokan-sodokan penisnya seolah ingin menghajar habis kemaluan Lina yang sedang menangis itu. Pria ini lalu membuka gaun Lina yang menutupi wajahnya dan Lina tersentak ketika dalam remang-remang dalam jarak dekat dia melihat wajah pria itu yang tak lain adalah Hendra, mantan pacarnya yang dia putuskan waktu dia masih kelas 2 di SMU ini.
“Lin. Akhh…kamu cantik sekali Lina. Akhh….jangan khawatir aku nggak akan cerita kepada siapapun.” Ucapnya sembari terus memompa tubuh Lina tanpa ampun. Payudara Lina sekarang juga tak luput dari remasan dan hisapan bibir mesum Hendra yang sudah dikuasai oleh hawa nafsu tersebut sementara pinggulnya masih dimaju mundurkan untuk melesakkan penisnya berulang kali melewati bibir kecil vagina Lina yang sudah merah basah itu.
“Lina sayangku. I love you Lin…akhhh…” seru Hendra sembari mengejang tubuhnya. Lina paham betul kalau ini tandanya dia telah mencapai klimaksnya. Didorongnya tubuh Hendra dengan kedua kakinya yang masih bebas dan saat batang kejantanan Hendra keluar dari vaginanya itulah saat dimana pemuda ini berejakulasi. Cairan putih kental memancar mengarah kearah Lina yang terkulai tak berdaya. Sperma Hendra jatuh dan membasahi meja tulis dan sebagian terciprat ketubuh Lina. Perut, pusar dan bahkan beberapa bagian di buah dadanya tak luput dari semburan sperma pria ini.
Namun Lina sedikit tenang karena setidaknya Hendra tidak berejakulasi didalam rahimnya yang saat ini sedang subur. Walau bagaimanapun Lina tidak ingin punya janin dari pemuda bau kencur ini.
“Maaf Lin. Tapi aku ingin sebelum aku berpisah denganmu, aku bisa melepaskan keperjakaanku denganmu. Terima kasih yah. Lagipula aku tidak ingin bermusuhan denganmu karena aku masih cinta kamu.” Pemuda ini ngomong panjang lebar sebelum akhirnya melepaskan ikatan Lina dan meninggalkannya dalam kesendirian.
Bau sperma yang khas semerbak dari tubuh Lina yang waktu itu sudah mengenakan gaunnya lagi. Dengan taplak (celemek) meja dia menyeka bagian tubuhnya yang terciprat oleh sperma Hendra dan melemparnya kelarah meja guru. Sementara itu celana dalamnya yang sudah kotor terkena debu dia buang kearah jajaran bangku-bangku yang tersusun vertical di pojok ruangan. Lalu dengan langkah gontai dia keluar dari kelas dan menuju auditorium. Dalam benaknya dia sadar betul kalau mulai saat itu dia bukan hanya pernah bercinta denganku saja melainkan juga dengan Hendra, mantan kekasihnya.
Selama dalam acara musik, Hendra yang berdiri sendirian di ujung auditorium sering menatao Lina tajam dan tersenyum seolah ingin menunjukkan kemenangannya. Seolah ingin mengatakan kalau akhirnya dia berkuasa atas tubuh dara cantik ini.
Darah Lina seolah menggelegak seperti ada luapan amarah yang akan dia keluarkan dari dalam batinnya. Walaupun selama ini dia menyukai seks, tetapi hanya sebatas denganku saja dan itupun karena dia menyukaiku dan berhubungan intim atas dasar suka sama suka. Terang saja hal barusan membuatnya emosi. Saat amarahnya masih menggelegak hebat, datanglah seseorang pemuda culun bernama Indra menghampirinya. Pemuda berpotongan rambut ala 70-an itu datang menyalami Lina atas keberhasilannya meraih ranking satu di kelasnya.
Indra sebenarnya sudah lama naksir berat dengan Lina tapi apa daya karena wajah dan bodynya tidak mendukung dalam perebutan hati dara cantik ini. Walaupun wajahnya bisa dibilang agak manis tetapi potongan rambutnya membuatnya menjadi seperti tertinggal 20-30 tahun dari jaman sekarang. Belum lagi sifatnya yang super pemalu membuatnya berada di rantai makanan paling bawah di sekolahnya (yah seperti di sekolah kalian semua lah).
Sejenak kemudian muncul ide Lina untuk membalas hinaan Hendra kepadanya. Pemuda culun tersebut mendapatkan sebuah berkah tak terhingga malam itu. Lina menggandeng tangannya atau lebih tepatnya menyeretnya keluar dari auditorium dan menuju kearah kelas tiga yang berada di lantai dua gedung kelas utama. Lalu dengan paksa dia mendorong Indra kearah dalam ruangan tempat dia dinodai oleh Hendra barusan. Lalu dengan paksa pula dia mencium bibir Indra dan kedua tangannya sigap melucuti seluruh pakaian Indra sampai pemuda ini telanjang bulat.
Seolah tak percaya, Indra berusaha mengembalikan kesadarannya yang sebenarnya tidak kemana-mana sedari tadi. Dia masih tak percaya kalau sekarang ini di sedang ciumi oleh Lina dengan tubuh telanjang. Belum puas ia berciuman dengan Lina, tiba-tiba gadis itu melepaskan diri dari pelukan pemuda ini dan Lina meraih penis Indra yang berukuran kecil itu lalu mengocoknya dengan cepat seolah tak sabar menunggu penis tersebut siap.
“Lina…akhhh…” dalam sekejab saja batang penis Indra yang tidak seberapa itu sudah menegang. Mulut Indra mulai menyosor kearah bibir Lina dan mereka berciuman dengan mesranya. Lidah muda mudi ini saling bertautan diantara bibir mereka yang berciuman dengan penuh gairah.
Beberapa saat kemudian Lina mengarahkan tangan Indra kedalam gaun pesta yang dikenakannya dan menyentuhkannya dengan bibir vagina Lina yang sudah basah itu. Indra kaget bukan kepalang mengetahui Lina tidak mengenakan celana dalam dan dia tambah terangsang berat ketika Lina mengangkat kaki kanannya dan menyibakkan gaun pink nya keatas sehingga sekarang vagina Lina terpampang jelas didepan mata Indra.
Indra terbelalak kagum seolah tidak percaya akan hal yang sedang menimpanya sekarang. Namun dasar lelaki, nalurinya bekerja dengan baik, dengan perlahan dan sedikit takut-takut dia mengarahkan batang kemaluannya itu kearah bibir vagina Lina dan dalam beberapa percobaan seluruh penisnya telah amblas kedalam vagina Lina yang sedang mengangkang itu.
Babak berikutnya adalah saat dimana Lina memeluk tubuh Indra sementara kaki kanannya masih bertumpu pada bangku untuk guru pengajar dikelas itu. Sementara itu Indra masih dengan sibuk mengerjai vagina Lina dengan kemaluannya yang berukuran agak kecil itu. Sembari mengeluarkan suara-suara desahan yang bercampur dengan deru nafas, Indra mempercepat sodokannya sembari salah satu tangannya meremas-remas payudara Lina sementara tangan yang lain menyibakkan gaun Lina dan meremas pantatnya dengan gemas.
Dengan sebuah ciuman hangat cukup membuat gairah Indra tak terbendung lagi. Apalagi sekarang tangan nakal Lina sudah menjelajahi buah zakar Indra yang sudah membesar itu dan mempermainkannya. Beberapa menit kemudian, Indra mengejang merasa spermanya akan keluar.
“Tahan sebentar!” teriak Lina memperingatkan Indra. Lalu dara cantik ini melepaskan pelukannya dan mencabut penis Indra yang masih bercokol dikemaluannya lalu mengocoknya dengan cepat.
“Lin…akhhh…” nampak Indra berejakulasi ditangan Lina dan semprotan spermanya memancar membasahi dinding dan meja guru. Setelah beberapa saat kemudian saat Indra berhasil menguasai dirinya lagi dia mendekat ke Lina yang membetulkan gaunnya yang tadi acak-acakkan. “Terima kasih yah Lina. Akhirnya kamu mau memandangku. Aku suka kamu Lin.” Ucapnya kepada dara cantik ini namun sayang semuanya tidak digubris oleh Lina dan gadis ini hanya melenggang keluar dari ruangan tanpa sepatah kata apapun.
Saat dia akan menuruni tangga dia bertemu dengan Hendra dan meliriknya lalu berlalu sembari berbisik. “Aku tahu kamu tadi mengintip. Aku memang sengaja agar kamu tahu kalau kamu tidak bisa menguasaiku dan menyakitiku.” Ucap gadis ini pelan lalu berlalu dibalik tembok sekolah. Hendra sekarang sadar kalau sedari tadi dia sudah termakan jebakan Lina yang sengaja mempertontonkan persetubuhannya dengan Indra, temannya yang culun itu.
Walaupun seolah tegar tetapi akhirnya Lina menangis juga ketika dia menceritakan hal ini kepadaku. Saat melihat aku marah dan berniat memberikan Hendra pelajaran Lina mencegahku dan memelukku. “Sudahlah mas. Toh aku juga masih ada sedikit rasa suka sama dia. Sekarang aku tidak punya hutang apapun sama dia. Lagipula ternyata ada enaknya juga yah bercinta dengan orang asing walaupun aku dikuasai amarah waktu itu tetapi sensasinya tetap ada.” Lalu dara cantik ini tersenyum kecil sembari mencubitku mesra.
“Kamu mau sensasi lebih sayang?” kataku kepada Lina. Dia bertanya mengenai maksud ucapanku tetapi aku hanya menjawab setengah-setengah. “Ntar juga tahu. Tapi kalau kamu suka variasi, yang ini mungkin akan jadi hal baru bagi kamu.” Lanjutku sembari mencium bibirnya dan mengakhirinya dengan persetubuhan malam itu, dua malam setelah Lina melewati pesta perpisahannya di SMU. Chapter 29
Orgy Party


Dua hari kemudian setelah Lina menceritakan seluruh kisah pahitnya kepadaku, Mickey menelponku lewat handphone-ku. Dia mengajak untuk bertemu denganku dan ingin memperkenalkan seseorang kepadaku.
“Hai. Temanku, perkenalkan ini adalah Ryuji dan ini istrinya Yuki. Mereka pasangan baru. Baru 1 bulan menikah dan sekarang mereka dalam perjalanan bulan madu mereka. Aku kenal mereka sejak Ryuji berada di Belanda untuk kuliah di sana. Mereka lebih pandai berbahasa Inggris dibanding diriku hahaha…” jelas Mickey yang kemudian memperkenalkanku kepada pasangan suami istri ini.
Setelah ngomong basa-basi akhirnya Mickey mengungkapkan maksud hatinya juga. “Like you’ve heard from them my friend. Temanku Ryuji selama bulan madunya ini ingin melakukan swinger. Dia tertarik setelah aku memberitahu kalau aku memperoleh teman disini, penduduk asli tempat ini.” Kata Mickey kepadaku.
Jujur saja aku kaget. Karena ini pertama kalinya aku bertemu dengan Ryuji. “Why you want to do that thing? You have beautiful wife and you’ve married only about 1 month ago. Are you not?” tanyaku curiga.
Ryuji langsung menepisnya, dia mengatakan kalau dia sudah lama berpacaran dengan Yuki dan dia ingin variasi dalam percintaannya. Karena selama dia berada di Belanda, dia pernah selingkuh sebanyak 2 kali dengan wanita Belanda teman satu kampusnya sementara di Jepang, Yuki selalu setia menunggunya. Bagi yang belum tahu, Ryuji dan Yuki merupakan pasangan suami istri warga Jepang. Selama itu pula Yuki memendam rasa dendam kepada Ryuji dan sampai menikah-pun tidak dapat melupakan pengkhianatan Ryuji kepadanya. Untuk menyamakan kedudukan, maka di masa bulan madu ini, Ryuji mengijinkan Yuki untuk berselingkuh didepannya. Yuki semula menolak karena alasan itu bukan sesuatu yang benar tetapi setelah dirayu oleh Ryuji dan untuk menghilangkan ganjalan dihatinya karena pernah dikhianati maka Yuki setuju dengan syarat harus penduduk asli dan bukan gigolo karena dia tidak ingin tertular penyakit kelamin. Itu-pun juga harus adil dengan kata lain adalah pria tersebut harus mempunyai pasangan juga untuk melayani Ryuji.
Ujung-ujungnya adalah Mickey yang kebetulan ada disini memintaku untuk ikut serta dalam pesta swinger ini. Alasan utamanya karena dia (Mickey) cocok denganku dan dia tidak begitu bernafsu dengan wanita Jepang. Walaupun sebenarnya Yuki ini bisa dibilang cantik. Wajahnya mirip dengan Noriko Sakai, artis dari Jepang hanya saja lebih tinggi dan rambutnya lebih panjang.
“Emangnya mau main disini?” tanyaku kepada Mickey. Mickey menggelengkan kepalanya dan mengatakan kalau permainan panas ini akan dilakukan di Bali, tempat yang akan digunakan pasangan suami istri ini berbulan madu selama 5 hari. “Hah? Gila aja. Aku sedang tidak ada uang Mick…” protesku.
“Well, ye just name it now hahaha…. Don’t worry Ike friend, because Anthony father already give Ike 1 big villa at his resort. I bet you already been there before. Ike want ye to borrow your lover OK.” Kata Mickey yang kembali terdistorsi bahasa Inggrisnya bercampur lebur dengan bahasa Belanda-nya. Memang Mickey jauh lebih ahli menggunakan bahasa Indonesia daripada bahasa Inggris.
“OK kalau begitu. Akan kuusahakan membawa Anyssa bersamaku. Malah mungkin aku akan membawa satu tambahan cewek lagi. Hehehe…adiknya.” Kataku lagi.
Mickey terkejut campur senang. “Wow, you such a slut my brother. Hahahaha…just bring it on.” Katanya bersemangat. Lalu sebelum aku pergi dari café itu, Mickey sempat membisikiku, “Dhea juga akan datang temanku. Pasti kau suka khan?” katanya sambil tersenyum penuh arti. Ternyata bule gila ini sudah mempersiapkan semuanya.
Anyssa kekasihku pertama-tama tidak setuju mengingat dia sebenarnya tidak menyukai dengan perilaku swinger yang telah kami lakukan beberapa kali ini. Dia tambah terkejut lagi setelah tahu kalau adiknya juga akan ikut serta. Dia ngotot tidak memperbolehkannnya tetapi setelah aku bujuk rayu akhirnya dia luluh juga. Lagipula selama ini dia kalah angin didepanku, karena selama ini dia tahu kalau aku masih mengingat perihal perselingkuhannya dengan dua orang pria dibelakangku. Namun dia masih tidak sadar juga bahwa aku juga berselingkuh berulang kali dibelakangnya, tetapi dia hanya tahu kalau hal tersebut tak lebih hanya untuk membalas perlakuannya kepadaku padahal sejatinya tidaklah demikian.
“Tapi bagaimana dengan tempat menginap disana? Aku tidak punya cukup uang untuk ke Bali. Disana khan semua mahal.” Katanya lagi. Namun dia langsung diam setelah aku katakana kalau aku mempunyai uang yang cukup untuk membawa kami bertiga kesana dan lagipula setelah sampai di Bali, semua akomodasi di tanggung oleh Mickey.
Akhirnya sampai juga kami di Bali. Pasutri dari Jepang itu menyambut kedatangan kami dengan sangat senang. “Welcome my friend. Please suite yourself. Come in guy’s.” ajak Ryuji kepada semua yang datang. Lalu dia memperkenalkan istrinya kepada Anyssa dan kepada Lina. Sementara itu aku dan Mickey memasukkan barang-barang kami ke dalam rumah cottage yang lumayan luas itu.
“Hmmm. Jadi disini nanti malam kita berpesta.” Gumamku namun terdengar oleh telinga kelelawar milik Mickey.
“Hahaha. Sudah tidak sabar? Don’t be worry Ike friend. Nanti juga kamu akan senang juga. Wanna eaten first or wanna wandelen more?” kata Mickey sambil merapikan baju-bajunya kedalam almari pakaian yang luar biasa besar sampai-sampai tubuh kami berduapun dapat muat didalamnya. Sejujurnya aku agak pusing juga tiap kali mendengar Mickey berbicara, bagaimana tidak karena dia selalu mencampur bahasa Inggris-nya dengan bahasa Belanda membuatku semakin susah mencernanya.
“Let’s wandelen met Ike!” ajaknya kepadaku yang dalam bahasa Inggris-nya seharusnya berbunyi, “Lets take a walk with me.” Jika dibiarkan lama-lama maka bule gila satu ini bisa membuat sebuah bahasa baru.
Kami berdua menyusuri sebuah deretan ruko yang dibangun dekat cottage dan Mickey akhirnya berhenti disebuah apotek. Setelah itu dia membawa sebuah tas kecil yang didalamnya bisa ditebak. “You buy a condoms? That’s many? Oh man…” kataku tak percaya setelah memperlihatkan sekardus kondom berbagai merek dan jenis. Kalau prkiraanku tidak salah maka terdapat kurang lebih 90 buah kondom didalam tas plastik tersebut. “Are you want to use it all? Or just want to be your collection?” kataku lagi dan dia hanya terkekeh.
“Let see…we have 3 day’s in this place so why we not using it as our happy holiday…you know what Ike mean right.” Katanya lagi dan aku jelas tahu apa yang dimaksudnya dengan happy holiday. Happy holiday ala Mickey.
Malamnya kami berpesta dengan pasangan pasutri tersebut. Mickey membuka champagne yang dia beli dari coffee shop di cottage ini. Dua buah champagne langsung habis dalam tempo kurang dari dua jam. Sembari diselingi sebuah musik lembut akhirnya kami semua terlena akan keromantisan malam itu.
Mickey lalu menuju ke depan televisi dan menyalakan dvd player. Bisa ditebak apa yang akan dia mainkan disana. Sebuah film blue yang dimainkan oleh sekumpulan wanita Jepang dengan pria dari kawasan Amerika Latin mereka menyebutnya Latino. Sekitar 8 wanita Jepang dan 2 wanita dari kawasan Eropa melawan 7 pria Latino, 4 pria Jepang dan 2 pria Afrika.
“Wow. That’s what I call orgy my friend.” Seru Mickey senang. Dvd porno itu memang sudah aku persiapkan sejak masih dirumah. Mickey sendiri langsung ambil posisi didepan televisi setelah bersamaku menyingkirkan sofa yang membuat tempat itu menjadi sempit. Lalu kamipun menggelar kasur dari springbed sebanyak 4 buah dan disusun menjadi bujur sangkar. Sekarang Cineplex lesehan telah dibuka dan kamipun sambil terus menenggak minuman yang tersisa hanyut dalam suasana romantis plus horny itu.
Sudah setengah jam kami menyaksikan adegan mesum di dvd tersebut dank u sendiri sudah merasakan hawa dingin menerpa tubuhku sementara itu bagian dalam tubuhku terasa hangat atau bahkan panas membara.
Saat aku menoleh kesamping, terlihat Mickey sedang mencumbu Viola dengan ciuman-ciuman dibagian leher dan wilayah dadanya. Saat itu memang Viola hanya memakai bikini saja karena dia habis berenang dipantai sorenya dan tidak mengenakan pakaian lagi sampai acara pesta. Sementara itu Yuki mengenakan kimono tipis yang dia bawa dari Jepang yang menurut pengakuannya kimono itu adalah hadiah dari ibu mertuanya saat perkawinan mereka. Lina yang duduk di sebelah kiriku mengenakan kaus tank top mini yang memperlihatkan pusarnya yang indah dan celana super pendek yang ketat sementara Anyssa yang duduk disebelah kananku mengenakan pakaian one piece daster warna pink yang aku yakin kalau dia tidak mengenakan bra seperti biasanya.
Hal tersebut aku buktikan setelah tanganku menyusup dibalik dasternya dan dapat merasakan bagaimana tanganku menyentuh payudaranya yang ternyata sudah mengeras dibagian putingnya tersebut. “Akhh…Adi…kamu nakal….Okhh..” desahnya terus ketika tangan kananku mulai meremas-remas payudaranya bergantian. Gadis ini lalu mengarahkan mulutnya untuk mencium bibirku dan akhirnya kamipun berpagutan dengan mesranya.
Melihat tingkah kakaknya terhadapku, Lina tak mau kalah. Sekarang dia mengarahkan kedua tangannya untuk merangsangku. Dipelorotkannya celana pendekku dan saat batang kemaluanku menyembul keluar, dia mengocoknya dengan menggunakan dua tangan. Terang saja aku menjadi terangsang berat dibuatnya, apalagi terkadang jemari Anyssa ikut-ikutan membelai-belai buah zakarku. Melihat kemaluanku sudah berdiri tegak, Lina menundukkan kepalanya dan membuka mulutnya yang selanjutnya dia memasukkan batang kejantananku itu kedalam mulutnya yang mungil. Dengan hisapan dan pompaan mulutnya akhirnya pertahananku jebol juga. Aku tak sadar mendesah-desah apalagi ketika lidah Anyssa dan Lina bergantian menyapu ujung kemaluanku. “Akhh….aku keluar.” Seruku kepada mereka dan seketika itu juga batang kejantananku berkedut keras lalu menyemburkan cairan putih kental yang membasahi bibir dan tangan kedua gadis cantik ini. Anyssa dengan lahap menjilati sisa sperma yang masih menempel di batang kemaluanku itu sampai bersih.
Aku tergeletak lemas ketika aku melihat Ryuji sudah melepas seluruh pakaiannya hingga telanjang bulat. Batang penisnya sepanjang 13 cm.bewarna putih dan mengacung kedepan. Untuk ukuran orang Jepang, 13 cm itu sudah termasuk besar atau setidaknya lumayan.
Mickey masih asyik mencumbu Viola saat dia melirik kearah tubuh Anyssa yang sudah memamerkan payudaranya itu. Tubuh Viola menggeliat-geliat keenakan ketika jemari Mickey meremas-remas payudaranya yang besar itu dari balik bikininya yang sur tipis itu. “Akhh…Mickey…you so naughty boy…akhhh…gimme more.” Lanjutnya sambil mencopot seluruh bagian bikini yang masih menempel di tubuhnya. Lalu gadis bule ini menarik keluar batang kemaluan Mickey dari dalam celana pendeknya dan terlihat penis Mickey sudah mengeras dan sedikit berair, dia sudah terangsang.
Viola lalu mengocok batang kemaluan kekasihnya itu hingga terlihat kepala penis Mickey terkadang menyembul diantara kulit kelaminnya hingga seperti kuncup bunga karena memang penis Mickey tidak di sunat, bahkan mereka tidak mengenal kata itu disana (Belanda). Batang kemaluannya langsung bewarna merah ketika darah beserta nafsunya terpompa akibat kocokan tangan Viola.
Mulut Viola berpagutan hebat dengan bibir Mickey dan seperti biasanya lidahnya memberikan sensasi ciuman yang super dahsyat. Harus kuakui itu karena aku sendiri pernah merasakan dahsyatnya ciuman Viola.
Sementara itu Lina sepertinya sudah tidak dapat membendung nafsunya lagi. Dia menghampiri tubuh terlentangku dan membuka seluruh pakaiannya hingga benar-benar bugil dan diarahkannya tanganku kearah payudaranya yang seksi itu. Dengan diiringi remasan tanganku, dia mendesah dan melenguh keenakan sembari menggesek-gesekkan bibir vaginanya di batang kemaluanku yang sudah mengeras itu. Aku sampai dapat merasakan tonjolan klitorisnya yang menggesek kulit penisku itu.
Tiba-tiba aku merasakan batang kemaluanku seperti didesak oleh sesuatu yang lembut dan berbulu. Ternyata Lina telah mengambil posisi mengangkangi tubuhku yang terlentang ini dan mendorong bibir vaginanya hingga terbelah oleh kejantananku yang sedang berdiri tegak itu. Perlahan-lahan namun pasti, penisku yang masih membengkak dengan panjang setidaknya 20 cm itu melesak masuk kedalam vagina Lina yang merekah merah ini. “Akhhh…mas Adi. Kontolnya mas Adi kok masih segede ini sih? Bengkaknya nggak ilang-ilang. Aughhh…akhhh..” desahnya sambil protes atas besarnya ukuran penisku ini walupun sebenarnya aku senang-senang saja karena dengan ukuran sebesar ini aku jamin perempuan manapun juga bisa kubuat tak berdaya.
“Ihhh…masih bertahan yah ukurannya. Sakit Lin?” tanya Anyssa ketika melihat bibir vagina adiknya mulai di masuki oleh batang kejantananku itu. Saat baru setengah jalan aku melakukan penetrasi kedalam liang kemaluan Lina, tiba-tiba dari belakang Anyssa dirangkul oleh Ryuji. Sepertinya pria yang berusia kurang lebih hanya 2 tahun diatasku itu sudah tak tahan lagi melihat aksiku bersama Lina. Dari belakang diremasnya kedua buah dada Anyssa yang ranum itu hingga keujung putingnya. Kontan saja Anyssa menjadi lebih bergairah lagi mendapatkan rangsangan itu. Dadanya berdegup kencang karena selama ini dia tidak pernah membayangkan akan bercinta dengan pria dari negara asing lagi selain dengan Mickey. “Akhh…Ryuji…slow down!” ucapnya lirih ketika ciuman Ryuji datang bertubi-tubi di leher pacarku ini disertai dengan remasan tangannya pada buah dada Anyssa yang masih mengenakan daster tipisnya.
“Your breast really great miss. Anyssa, you really turn me on.” Kata Ryuji memuji sambil terus memburu Anyssa dengan ciuman dan remasan tangannya. Tak cukup hanya dengan itu, sekarang tangannya sudah melucuti celana dalam Anyssa yang juga bewarna pink itu. Sekarang bibir vagina Anyssa sudah terpampang jelas diluar. Bibir vaginanya yang dihiasi dengan bulu kemaluan yang sedikit lebat itu telah basah. Dia tak tahan menahan rangsanganku tadi yang kini ditambah oleh Ryuji.
Nafas Ryuji semakin memburu di tengkuk Anyssa dan itu sepertinya membuat gadis cantik tersebut risih lalu memajukan tengkuknya. Namun Ryuji tidak menyerah begitu saja. Dengan nafsu memburu dia melemparkan celana dalam Anyssa lalu dari belakang dia mencium bibir Anyssa tadi dengan penuh nafsu. Dia sepertinya tak peduli bahwa tadi gadis cantik itu telah menelan spermaku atau mungkin tidak ingat lagi.
Ani yang sekarang dalam posisi merangkak dibuat Ryuji tak bisa berkutik lagi. Dengan posisi doggy style, Ryuji menyorongkan batang kemaluannya kearah bibir vagina Anyssa. Cairan yang berasal dari dalam liang kemaluan Ani bercampur dengan cairan cinta dari ujung penis Ryuji sepertinya telah cukup untuk membantu penetrasinya, apalagi batang kemaluan Ryuji berukuran dibawahku yang seharusnya lebih mudah masuk mengingat hampir tiap hari aku menyetubuhi Anyssa. Namun bibir vagina Anyssa ini memang special karena walaupun sudah dijarah oleh batang kemaluan pria yang besar sekalipun tetapi tetap tidak berubah longgar dan masih tetap rapat walaupun tidak serapat waktu dia masih perawan. Dan sepertinya Lina, adiknya juga menuruni keistimewaan kakaknya itu.
“Agh, what a wonderful pussy you have here. So tight and so wet. Hang on, I will start now.” Kata Ryuji yang kemudian menusukkan batang kemaluannya lebih dalam lagi kedalam vagina Anyssa. Kekasihku mendesah pelan dan jemarinya mencengkeram sprei kasur dengan kuat. “Akhh…so tight. So good. Wonderful pussy.” Desah Ryuji mengawali pompaan penisnya didalam vagina Anyssa.
Lina yang sudah berhasil membenamkan seluruh batang kemaluanku didalam liang senggamanya itu menengok kearah kakaknya. “Mas Adi. Liat tuh mbak Ani! Tampangnya mesum banget di entotin ma cowok Jepang hehehe…nafsuin yah?” goda Lina melihat kakaknya digenjot oleh Ryuji dalam posisi merangkak itu. Lina lalu mulai menaik turunkan pahanya dengan salah satu tangannya mempermainkan buah pelirku sementara tangan yang lain menyeimbangkan diri dengan memegang perutku. Perlahan namun pasti, aku mulai dapat merasakan kenikmatan yang luar biasa. Pertama kali memang seperti tercekik oleh vagina sempit Lina namun lama kelamaan akhirnya vagina tersebut bisa menyesuaikan keadaan dan memberikan ruang lebih untuk batang kejantananku.
Sementara itu, Ryuji kemudian memasang kondom pada penisnya yang kemudian kembali menjebol pertahanan Anyssa. Memang sudah menjadi kesepakatan kami untuk menggunakan kondom kepada Ryuji karena permintaan istrinya sendiri yang takut nanti kalau-kalau Ryuji tak sengaja menghamili salah satu perempuan lawan mainnya, karena urusannya bakalan runyam apalagi mereka belum mempunya anak satupun. Mungkin semacam tradisi di beberapa daerah di Jepang.
“Awww…that’s hurt honey.” Seru Viola ketika batang kemaluan Mickey menghajar kemaluannya dengan sedikit brutal. Aku dapat melihat Viola yang dengan posisi merangkak seperti Ani di pompa tanpa henti bagian belakangnya sehingga sedikit demi sedikit dia merangkak maju untuk mengurangi daya dorong dari rudal Mickey. “Slow down baby. Are you want to break my pussy or what?” protes pacarnya kepada Mickey. Tapi bule gila ini tidak begitu menggubris sampai saat Viola mencabut paksa batang kemaluan pacarnya itu dari dalam kemaluannya dan kemudian meremasnya keras-keras hingga Mickey menjerit. “See…now you know what I feel. Be gentle or I will leave you to join with those guys.” Kata Viola mengingatkan.
“Fine. Im sorry OK. I will be gentle now.” Kata Mickey yang kemudian kembali melesakkan batang kemaluannya kedalam vagina bule perempuan tersebut. “Okhh..honey spin your pussy! It’s so crazy…I love it much. Damn it, your pussy really damn hot. Come on, swing like a bitch…akhh yeah…oh yeah…” desah Mickey sambil meracau tak karuan. Seperti menunggangi kuda binal, Mickey tak henti-hentinya menyodokkan batang kejantanannya yang besar itu. Terkadang panis Mickey terlepas dari cengkeraman vagina Viola karena terlalu bersemangat.
“Akhh…bitch…..I wore you ups and down…akhh..yeahh…” seru bule gila itu lagi yang kemudian mencabut batang kejantanannya dan menyemburkan spermanya keatas punggung Viola yang putih mulus itu. Sperma bule ini sangat banyak juga mengingat sebelumnya dia telah meminum obat khusus yang dia bawa dari negaranya. Fungsinya adalah untuk meningkatkan produksi sperma dan kualitasnya. Dia mengatakan kalau ingin performanya kuat dia harus menggunakannya karena sejak kecil dia sudah kecanduan alkohol dan itu sepertinya mempengaruhi kemampuannya dalam bercinta. Bahkan dengan kondisinya yang sekarang walaupun dia meminum champagne type Don Perignon 3 botol juga tidak bakalan mabuk karena sudah kebal terhadap alkohol.
Sementara itu Lina masih sibuk menggoyangkan pinggulnya di atas tubuhku. Kemaluanku seperti sedang diblender oleh vagina gadis cantik ini. Adik pacarku ini memang sangat ahli dalam menservis penisku walaupun selama ini dia termasuk jarang bercinta dibandingkan dengan kakaknya yang nyaris setiap hari aku tiduri.
“Ohh..mas Adi. Aku keluar nih….akhhh…” jerit Lina yang berusaha menahan kerasnya suara jeritannya itu. Semakin dia dekat dengan orgasmenya, pinggulnya semakin dipercepat gerakan naik turunnya. Sehingga terkadang aku dapat melihat klitorisnya tergesek-gesek hingga menyembul keluar dari labia mayora miliknya. Lapisan dalam bibir vaginanya-pun terkadang ikut keluar karena terlampau kuat menjepit batang kemaluanku yang ektra besar itu. “Mas Adi…akh…akhhhh…” desahnya sambil memelukku erat dan memperlambat gerakan pompaannya yang lalu berhenti sama sekali. Aku merasakan dinding dalam vaginanya mengencang dan berkedut-kedut. Sepertinya perempuan cantik ini sudah mengalami orgasmenya yang pertama.
Merasa belum terpuaskan, aku membalik tubuhnya hingga terlentang. Sekarang kutahan kedua tungkai kakinya dibahuku lalu kembali aku pompa vaginanya yang sudah basah kuyup itu dengan cepat. Lina masih lemas dan hanya bisa mendesah-desah pelan. “Memekmu memang lain Lin. Sangat sempit walaupun sudah dijejali penis besar juga. Kamu suka sayang?” tanyanku menggodanya sambil sesekali aku meremas payudaranya yang indah itu.
“Iya mas. Aku senang. Senang sekali…akhhh..” sahutnya sambil terus menahan libidonya yang kembali naik kepuncak.
“Senang diapain sayang? Apanya yang enak?” godaku lagi sambil mempermainkan klitorisnya dengan jemariku. Jelas Lina menjadi lebih kalang kabut dibuatnya. Tanpa dapat menahan haw nafsunya lagi, Lina kembali dalam posisi siap tempur untuk disetubuhi. Tubuhnya mulai menggeliat-geliat sensual dan puting payudaranya juga mulai mengeras dan mengacung kedepan.
“Senang dientotin mas Adi. Memekku jadi enak mas…akhhh..mas…” desah Lina yang sekarang sudah mulai terbiasa berkata jorok itu. Sementara itu Anyssa melirik kearah adiknya dan ada sedikit raut aneh diwajahnya. Mungkin dia kaget karena melihat perkembangan adiknya yang sepertinya sudah hampir meninggalkan dirinya dalam hal seks.
“Aku cepatin yah sodokanku? Tahan sebentar yah sayang.” Kataku mesra kepada Lina sambil mencium bibirnya mesra. Kami berciuman begitu dahsyat hingga membuat gairahku semakin terpompa dibuatnya. Batang kemaluanku berkedut kencang dan sepertinya akan menembakkan sperma lagi untuk yang kedua kalinya. “Akhh…aku mau keluar nih sayang.” Kataku sambil mempercepat goyanganku.
“Keluarin didalam saja mas. Aku ingin ngerasain spermanya mas Adi. Aku pengin kontolnya mas Adi nggak lepas dari memekku. Akhhh…masss…” Lina kembali mencapai orgasmenya setelah terangsang oleh kata-katanya sendiri dan tentu saja karena rangsangan dari batang kemaluan dan tangan nakalku. Tubuhnya membusung seperti orang kram lalu kembali melemas beberapa saat kemudian.
Sesuai dengan permintaan Lina, aku menyemburkan seluruh spermaku didalam vaginanya yang putih mulus itu. Tanpa segera mencabutnya, aku kembali menyodok-nyodokkan batang kemaluanku itu didalam vaginanya yang ternyata masih memberikan respon berupa remasan lembut pada penisku. “Lina, kamu benar-benar hebat. Sudah main 2 kali tetap bisa siap tempur lagi hehehe…memekmu memang lain Lin.” Pujiku yang membuat gadis cantik ini malu, mukanya bersemu merah. Aku sangat senang tiap kali melihat dia malu karena terlihat innocent dengan wajahnya yang bersemu merah itu. Seperti masih anak-anak saja.
“Akhh…man. That’s so crazy. Akhhh…” racau Ryuji sambil memeluk tubuh Anyssa dari belakang hingga sekarang posisi Anyssa berubah dari merangkak menjadi setengah duduk. Buah dadanya berguncang keras tiap kali kemaluannya dihajar oleh penis Ryuji. Tak lama kemudian Ryuji tumbang dan mencabut batang kemaluannya. Dicopotnya kondom rasa buah tersebut dan diperlihatkan kepada Yuki. “My turn is over. Now yours. So we can be even.” Katanya kepada Yuki istrinya.
Anyssa mendekati penis Ryuji dan kemudian mengoralnya sambil melirik kearahku. Sepertinya pacarku ini sengaja ingin membuatku cemburu saja. Selama ini dia tidak pernah berinisiatif untuk mengoral cowok manapun selain diriku. Sambil dikocoknya batang kemaluan Ryuji, dia menjilati habis sperma Ryuji yang masih menempel itu sambil kadang mempermainkan lidahnya diatas ujung kemaluan pria Jepang itu. Ryuji tersenyum senang dan membelai rambut Anyssa dengan mesra lalu menyodok-nyodokkan senjatanya itu kedalam mulut Ani. Batang kemaluan Ryuji kembali mengeras dan siap untuk pertunjukan yang kedua. Sementara itu Mickey mendekati mereka berdua dengan batang kemaluan mengacung perkasa seolah ingin pamer kekuatan kepada penis Ryuji yang lebih kecil itu.
“Now. You are mine.” Kataku kepada Yuki yang masih mengenakan kimononya itu. Walaupun sebenarnya Yuki adalah gadis baik-baik tetapi melihat pemandangan tadi mau tak mau memancing nafsunya. Gadis Jepang ini tak melawan ketika ciumanku mendarat dibibirnya. Gadis anggun yang berambut hitam lurus sepinggang ini bahkan tidak berusaha melawan saat aku memeluk tubuh langsingnya yang seksi itu sembari membuka kimononya hingga seluruh lekuk tubuhnya yang indah, putih nan mulus itu menjadi ‘open air’ sekarang. Gadis cantik ini tetap pasif seolah tidak tahu akan berbicara apa atau melakukan apa. Kembali aku mencium bibirnya kali ini dengan lebih mesra dan lembut tanpa mengumbar nafsu untuk menguji seperti apakah reaksinya nanti. Diluar dugaanku, dia balas ciumanku dengan sama mesranya seolah-olah menganggapku adalah kekasihnya. Kami berpagutan dengan mesra seperti saat dia berciuman dengan suaminya. Chapter 30
Orgy Party, lanjutan




“You have a nice body Yuki. Can I call you Yuki?” tanyaku kepadanya karena tentunya aku tak mau memanggilnya dengan sebutan Mrs. Ryuji Akihara yang membuat seperti formal saja.
“Anata no shoyu wa surui desu. Okii…(“punyamu bentuknya melengkung, besar…”; -bahasa Jepang,red)” kata Yuki kepadaku malu-malu setelah melihat penisku yang jauh lebih besar dari milik suaminya. Lalu perlahan dia menyentuh batang kejantananku itu yang sudah setengah tiang sambil mengocoknya dengan penuh perasaan.
“Arigatou gonzaimasu. Anata wa kirei…bu.” Sahutku sambil memperhatikan lekuk tubuhnya yang seksi itu. Yuki sepertinya malu mendengar pujianku mengenai kecantikan wajahnya dan keseksian tubuhnya itu.
“Anata wa watashi no hadaka ni naru…hazubeki.” Ucapnya sambil menutup payudaranya yang berukuran 34C itu dengan kedua tangannya. Dia protes ketika melihat mataku jelalatan penuh nafsu ditambah dengan rasa malunya karena tidak pernah bugil didepan pria lain selain suaminya yang sekarang ini. Gadis pemalu tapi aku juga normal kalau bernafsu dibuatnya, bagaimana tidak karena seumur hidup aku belum pernah melihat secara langsung buah dada seorang perempuan Jepang asli, apalagi menyentuhnya seperti sekarang.
“Odorokasu. Anata wa yashin o idaku no koshiraeru. Anata de kosetsu suru wa watashi no koun desu.” Pujiku lagi kali ini lebih ke arah yang lebih seronok. Aku mengatakan tubuhnya sempurna dan menggairahkan, lanjutku aku mengatakan bahwa sebuah keberuntungan bagiku untuk bercinta dengan gadis secantik dirinya. Yuki termakan rayuanku dan mulai membuka lipatan tangannya hingga sekarang buah dadanya terbuka lagi untuk umum untuk yang kedua kalinya.
“You can speak Japanesse well.” Pujinya padaku dan aku hanya tersenyum. Dalam hati aku bersyukur bahwa dia tidak mengajakku ngomong panjang lebar karena bisa dipastikan aku bakal mati kutu dibuatnya. Maklum bahasa Jepangku termasuk amburadul karena selama ini hanya belajar lewat internet saja.
“Thanks, but honestly I’m not that good. I can’t speak as fluently as yours.” Kataku lagi dan kamipun berciuman dengan mesra. Kali ini ciumannya jauh lebih mesra dari yang sebelumnya. Aku melihat ada setitik rasa lain dimatanya yang menatapku dalam-dalam ketika bibirnya menyentuh bibirku. Dalam hitungan detik kami saling melumat satu sama lagi dan sekali lagi tanganku ikut berkarya.
Entah sudah berapa lama kami bergumul karena pada menit-menit berikutnya kami sudah saling meraba. Yuki sudah berani mengocok batang kemaluanku yang sudah mengeras penuh itu dengan penuh nafsu. Nafasnya sudah mulai memburu dan rasa malunya sudah perlahan sirna digantikan oleh gairah yang meluap hebat.
“Akhh…oishii.” Desahnya ketika aku mulai menciumi puting susunya dan memilin-milinnya hingga mengeras. Bibir kemaluannya juga tak lepas dari kenakalan jemari tanganku. Sesekali aku membuka bibir kemaluannya dengan menggunakan dua jari sementara itu dengan jari yang lain aku menggesekkannya ke tonjolan klitoris miliknya hingga membuat Yuki semakin menggelinjang. Dalam posisi bersimpuh, Yuki nyaris tak dapat menahan sensasi rangsanganku lagi sehingga dia nyaris terjatuh kebelakang jika tidak karena pegangan satu tanganku yang melingkar di punggungnya.
“Oishii desu ka?” tanyaku kepadanya sambil terus menstimuli payudara dan bibir vaginanya hingga basah. Lalu aku arahkan ciumanku perlahan sembari diselingi dengan jilatan lidahku yang memutar-mutar seperti angin puting beliung. Dari leher turun ke arah buah dadanya yang ranum itu yang kemudian turun ke arah pusarnya yang menurutku sangat seksi ditambah dengan model perut yang berotot diagonal di sampingnya yang mengarah ke selangkangan, biasanya perempuan dengan perut tipe ini dapat menggerakkan pinggulnya dengan ahli dan banyak variasi. Ciuman terakhir mendara di bibir kemaluannya.
Tubuhnya sekarang berposisi setengah duduk dengan kaki mengangkang sementara itu kedua tangannya masih berpegangan dengan kasur untuk menahan beban tubuhnya yang condong kebelakang.
“Akhh..Adi…oishii…” desah Yuki ketika bibirku mulai semakin liar mengerjai liang kemaluannya itu. Klitorisnya aku hujani dengan jilatan dan gesekan pada jemari tanganku sementara itu bibir vaginanya juga aku jelajahi dengan jilatan lidahku yang mengelilingi gerbang sucinya itu. Puting susunya semakin mengeras dan payudaranya seolah bergetar hebat saat aku menusukkan lidahku itu menembus relung vagina miliknya. Yuki mendesah hebat dan menegangkan tubuhnya. Perempuan Jepang ini telah mencapai orgasmenya. Saat aku mengalihkan wajahku dari vaginanya, aku melihat semburan cairan keluar dari bibir vaginanya walaupun hanya sedikit. Ternyata Yuki termasuk tipe perempuan langka yang juga bisa mengeluarkan cairan (ejakulasi) pada saat mencapai orgasme. Tentu saja cairan kepuasannya tidak seperti sperma yang putih kental tetapi bening dan beraroma lebih khas dibandingkan dengan cairan kewanitaannya saat dia sedang terangsang.
Yuki lemas terkulai diatas kasur sekarang. Dia sedang menikmati saat-saat dia sedang mengalami orgasmenya. Dia masih mendesah perlahan ketika aku mulai menggesek-gesekkan batang kejantananku ke bibir vaginanya yang sudah bewarna merah merekah itu. Lalu perlahan tapi pasti, aku mendorong batang penisku itu masuk ke vagina Yuki dan sepertinya perempuan ini mengalami sakit yang luar biasa karena dari wajahnya aku dapat menebak kalau dia menahannya. Bibir bawahnya digigit sementara tangannya menahan dadaku seolah ingin menolak sedangkan tangan yang lain mencengkeram sprei kasur hingga kusut. “Itai…!” jeritnya ketika separuh batang kejantananku berhasil menembus vaginanya yang sangat sempit ini.
“Sumimasen Yuki-chan. I will be more gentle.” Kataku sambil terus mendesakkan penisku, perlahan tapi tetap dengan kekuatan penuh. Yuki semakin mengerang kesakitan lalu aku berinisiatif untuk mengangkat tungkai kakinya dan aku sandarkan di atas bahuku sementara itu aku dalam posisi menindih tubuhnya dari atas menghunjam denan sekuat tenaga kearah bawah. Batang kemaluanku yang besar itu langsung menyeruak paksa dengan arah vertikal membobol vagina Yuki yang sedang menjepitnya di bawah. Yuki berteriak cukup keras namun kusumpal dengan menggunakan ciumanku sementara karena posisi yang aku ambil ini lutut perempuan Jepang ini sekarang bersentuhan dengan payudaranya sendiri, dia lebih mirip diperkosa dari pada ditiduri secara suka rela.
Aku merasakan adanya cairan hangat keluar dari kemaluan gadis Jepang ini dan saat aku meraba kemaluannya aku menemukan bercak darah, Yuki mengalami pendarahan walaupun sedikit.
Aku menghentikan batang kemaluanku yang sekarang sudah masuk seluruhnya kedalam vaginanya itu. Aku menikmati tiap denyut vagina Yuki yang seolah memijat batang kejantananku yang saat ini sedang bercokol didalam kemaluannya.
Aku lalu melihat kearah Anyssa dan Lina. Sekarang kedua gadis itu sedang menjadi bulan-bulanan Ryuji dan Mickey. Lina dengan posisi merangkak sedang menerima pompaan penis Ryuji sementara bibirnya mengoral penis Mickey walaupun kesulitan dalam memasukkan batang besar milik bule itu kedalam mulut mungilnya. Sementara itu Anyssa sedang sibut berciuman dengan Mickey sambil menerima kocokan Mickey pada vaginanya yang sudah bertambah basah itu. Tahu kalau aku perhatikan, Anyssa tersenyum padaku kemudian melirik kearah adiknya seolah ingin mengatakan ‘Lina sekarang sudah menjadi bahan untuk digilir.’ Kepadaku. Mungkin dalam hati Anyssa cemburu melihat aku menggagahi adiknya dan bahkan memberikan perhatian lebih pada adiknya dibandingkan pada dirinya. Namun dia pendam karena dia tahu dia telah salah berselingkuh dibelakangku dan tidak mengetahui rahasiaku mengenai kehidupan seks-ku yang sebenarnya.
Aku kembali melihat kearah tubuh Yuki yang sedang lemas ini, semakin lemas dibanding saat dia mencapai orgasmenya barusan. Perlahan aku menggoyangkan batang kemaluanku di dalam liang senggamanya untuk memperlebar ruang gerakku didalam liang kemaluannya itu. Dengan gerakan memutar membuat pinggul gadis Jepang ini ikut bergerak seirama dengan gerakan penisku. Dia sepertinya berusaha menikmatinya walaupun aku tahu rasa sakit itu masih terasa di selangkangannya.
Dengan posisi lebih rileks sekarang aku memajukan kakinya hingga tidak berhimpitan dengan payudaranya lagi lalu aku mulai dengan gerakan menyodok kedalam kemaluan gadis cantik ini. Rambutnya yang terurai membuat tubuhnya terkesan semakin seksi saja. Dan hal tersebut membuatku semakin lupa diri. Aku mempercepat sodokanku yang sekarang berubah menjadi sedikit brutal.
“Akhh..akhh…akhhh…” desah Yuki ketika sodokan batang penisku menjarah vaginanya dengan cepat dan penuh tenaga. Tubuhnya berguncang hebat dan payudaranya-pun menjadi seperti terombang-ambing karena berguncang. Tanganku lalu kembali meremas sepasang bukit indah Yuki yang puting susunya kembali mengeras. Perempuan Jepang ini ternyata mudah terangsang dengan sentuhan pada payudaranya.
Ambil menggigiti puting susunya perlahan dan meremas lembut buah dadanya, aku mempercepat lagi intensitas pompaan penisku kedalam vaginanya dan terang saja itu membuat Yuki semakin merem melek dibuatnya. Dia tidak lagi menghiraukan rasa sakit diselangkangannya dan jika tadi desahan dan rintihannya berupa rasa sakit sekarang berubah menjadi rasa nikmat. Suaranya yang kecil dan lembut itu mengingatkanku pada suara seorng penyanyi Jepang yang terkenal, Rikki.
“Akhh…more…” desahnya saat aku mencabut batang kemaluanku dan menggesek-gesekkan di bibir luar vaginanya yang terkadang menyentuh klitorisnya yang sudah mengencang itu. Yuki seperti tak rela batang kejantananku lepas dari cengkraman lubang kewanitaannya. Lalu meraih batang kejantananku itu dan mengarahkannya kearah vagina miliknya yang sudah sangat basah itu. Aku melihat bahwa bibir vaginanya sekarang berubah bentuk, mungkin akibat penetrasi paksaku itu dan pompaanku pada kemaluannya tersebut. Sekarang bibir vagina Yuki membuka dengan mirip bentuk huruf O dan gelambirnya juga mulai keluar dari labia minora miliknya sehingga terkesan seperti vagina dari perempuan panggilan yang sering disetubuhi oleh pria yang berpenis besar.
“Semoga saja Ryuji tidak marah kalau vagina istrinya kubuat jadi rusak seperti ini.” Batinku dalam hati. Lalu kembali aku menusukkan batang kemaluanku kedalam liang vagina Yuki untuk yang kedua kalinya tapi kali ini lebih mudah daripada yang pertama. Yuki kembali mendesah dan meracau tak karuan ketika pompaan penisku mendera kemaluannya.
Dengan batang kejantanan masih terbenam didalam vaginanya, aku membali posisi gadis Jepang nan cantik ini untuk merangkak dan aku menggagahinya dengan posisi doggy style.
“I like you Adi. Do me more please!” pintanya ketika aku memperlambat gerakan tusukanku. Sejenak aku terpana kemulusan tubuh perempuan ini. Dengan rambut panjang hitam sepinggang terurai bebas menutupi tubuhnya yang telanjang dan bermandikan keringat ini terlihat sangat cocok dengan kulit putih mulusnya yang ditambah dena bodynya yang seksi abis.
“Akhh..!” jeritnya ketika aku memberikan sebuah sodokan tunggal di vaginanya sehingga membuat tubuh perempuan cantik ini tersentak. Namun aku tak mendengar nada protes dari mulutnya dan kembali aku menggoyangkan kemaluanku didalam lubang surga ini.
Aku sempat menoleh kearah Lina dan Anyssa. Lina yang dalam posisi merangkak sedang bersiap-siap dengan penetrasi yang akan dilakukan oleh Mickey. Seumur hidupnya dia belum pernah merasakan batang kejantanan sebesar milik Mickey. Sementara itu Ryuji dan Anyssa bercinta habis-habisan dan posisi doggy style juga. Ani merangkak disamping Lina yang sudah terlihat lemas itu.
“Akhh…its hurt.” Seru Lina ketika batang kejantanan bule itu mulai melesak masuk kedalam vaginanya yang sempit. “Pelan Mickey…akhh…penismu besar sekali.” Seru Lina lagi.
Mickey tersenyum, “Vagina kamu benar-benar sempit Lina. Penisku sampai seperti dicengkeram kuat saja.” Goda Mickey yang kemudian melesakan sisa penisnya kedalam kemaluan Lina. Seandainya Lina tadi belum bercinta denganku mungkin dia akan merasakan kesakitan yang luar biasa dengan ukuran penis Mickey yang super besar itu tapi berhubung dia sudah bercinta denganku ditambah lagi sudah bersimbah spermaku didalam vaginanya maka penetrasi Mickey menjadi lebih mudah dari yang seharusnya.
Lina mendongak keatas ketika batang kejantanan Mickey menyeruak masuk seluruhnya kedalam vagina miliknya yang notabene masih sempit sempurna itu. Walau berusaha bergerak tapi Lina tidak dapat leluasa karena kedua tangannya ditarik kebelakang oleh Mickey dan dipegangi hingga tubuh Lina hanya bertumpu pada kedua lututnya saja. Dan sambil menarik kedua lengan Lina, Mickey memberikan sodokan terkuatnya. “Blesshhh.” Amblas seluruh kejantanan Mickey didalam lubang kemaluan Lina yang imut itu.
Rambut pendek gadis cantik itu kemudian menjadi bulan-bulanan tangan Mickey yang kemudian meremasnya dan menariknya walaupun perlahan lalu menyodok vagina Lina lagi berulang-ulang dengan penis raksasanya. “Akhh…akhhh…perlahan…akhh..Mick..ey..” erang Lina tak tahan dengan perlakuan Mickey yang sedikit brutal itu. Namun dalam hati dia juga menikmatinya berhubung dia juga pernah bercinta dengan gaya brutal denganku hingga keesokan harinya dia tidak masuk sekolah karena selangkangannya sakit.
“Wow. You’re hot babe…nice pussy.” Goda Mickey lagi. Sekarang baik Mickey dan Ryuji seolah saling bersaing dalam menggenjot kedua gadis favoritku itu. Mickey memompa Lina sementara Ryuji dengan asyiknya memompa vagina Anyssa kekasihku. Tak jarang keduanya saling meremas payudara pasangan lainnya atau mencium bibir pasangan lainnya.
Aku mencabut batang kemaluanku yang sudah mulai berkedut ini. “I think I will cum soon…akhhh…” desahku yang lalu ditanggapi oleh Yuki dengan mencekal penisku yang kemudian diarahkan lagi kedalam vaginanya dalam posisi masih merangkak.
“I want you cumming inside me.” Katanya sambil menyorongkan bibir vaginanya kearah penisku yang masih tegang. Lalu aku cobloskan lagi batang kemaluanku itu kedalam vaginanya kali ini dengan cepat tanpa peduli rasa sakit yang mungkin diderita Yuki. “Akhhh…yes…do me more…akhh..” Yuki sepertinya tidak merasakan rasa sakitnya lagi dan berubah menjadi liar. Lalu dalam menit berikutnya aku mempercepat gerakan pompaanku dan memeluk Yuki dari belakang sambil meremas payudaranya yang menggantung bebas itu dengan mesra lalu menusukkan sebuah tusukan tunggal namun dalam. “I’m cumming too..” kata Yuki setelah tahu aku mencapai orgasmeku.
“Jrettt…jrettt…jrettt…” entah berapa kali batang penisku menyemburkan sperma di dalam vagina Yuki hingga bercampur dengan cairan hasil orgasme perempuan Jepang ini. Penisku terasa hangat dan seperti dicengkeram erat oleh vagina Yuki. Walaupun sudah mengeluarkan cairan kepuasannya tetapi tetap saja orgasmenya lebih lama dibandingkan dengan milikku, memang itulah kelebihan wanita.
Yuki lalu ambruk dalam posisi masih tengkurap sementara itu aku masih menindihnya dari belakang namun langsung bangkit karena takut perempuan cantik ini sesak nafas nantinya jika kutindih. Lalu kucabut penisku dari dalam vaginanya dan saat kucabut aku dapat melihat lelehan cairan spermaku membasahi selangkangan gadis cantik ini. Yuki terkulai lemas dalam posisi yang menggairahkan. Seandainya dia masih memiliki tenaga, pasti sudah aku pompa lagi vaginanya namun aku urungkan niatku setelah melihatnya terlihat lemas.
“Akhh…what the hell…” erangku ketika aku merasakan penisku menjadi hangat kembali. Ternyata Viola yang tadi sempat lemas datang kepadaku dan mengoral kemaluanku yang kembali berdiri ini.
“It’s not hell…it’s heaven.” Katanya sambil melanjutkan oral seksnya pada penisku. “I like your dick, its different with my lover. Its so tight and looks strong even not as big as my fiance have.” Katanya lagi sambil terus mengocok penisku dengan mulutnya. Lidahnya menyapu seluruh bagian kemaluanku bahkan sesekali menghisap dan menjilati buah zakarku yang menggantung dan masih mengeras itu.
“Come…hit me with your cock! I want you now inside me.” Sambil menggesek-gesekkan batang penisku di bibir vaginanya. Aku didorongnya hingga terlentang sementara itu dia menindih penisku dengan vaginanya dan dalam beberapa kali percobaan saja maka seluruh batang kemaluanku sudah amblas didalam vagina Viola. Dia melakukan gaya women on top. Berbeda dengan Yuki yang masih malu-malu. Viola ini tanpa malu-malu lagi memompa penisku secara vertikal dan kadang menggoyangnya dengan gerakan memutar sambil mengeluarkan kata-kata godaan yang dapat dimasukkan dalam ktegori kata-kata jorok. “You like my pussy, boy? How about this?” serunya ketika melesakkan penisku dan menggoyangnya kearah depan sehingga aku dapat melihat klitorisnya ikut keluar masuk bersama dengan penisku yang bergerak seperti piston itu.
“You like a slut. I like that.” Kataku mengimbangi omongan kotornya. Dan Viola hanya tersenyum sambil terus menggoda penisku dengan gerakan erotis vaginanya dan bahkan dia sengaja mengeraskan otot perut dan vaginanya sehingga penisku seperti diremas-remas didalam vagina cewek bule ini. “How can you do that?” tanyaku heran.
“A slut ussualy do this. You like it don’t you? Don’t worry because I still have more to share with you. But if only you treat me like a bitch.” Katanya sambil tersenyum nakal dan mengulangi gerakannya tadi yang membuatku tak tahan membendung gejolak nafsuku lagi. Setiap aku akan berejakulasi, Viola mencengkeram penisku dengan otot vaginanya sehingga aku urung mencapai ejakulasiku tetapi anehnya walaupun tidak berejakulasi aku dapat merasakan kepuasan yang kudapat dari orgasme. “Like I’ve said before that I have another surprise for you. You like it? Hahaha…” gelaknya sambil kembali memompa penisku. Dan saat aku tanya bagaimana dia melakukannya dia hanya menjawab, “Later! I will teach you later. Perhaps you can teach it back to you girlfriend or for her sister that already become bitch like me. Hahaha…” katanya lagi sambil tertawa dan sekali lagi dia menahan ejakulasiku. Walaupun orgasme sebanyak tiga kali dengan Viola namun karena tidak berejakulasi maka batang kemaluanku tetap perkasa dan masih dapat memuaskan cewek bule ini selama ronde-ronde berikutnya.
“Akhh…ahhh..” aku melihat Lina dan Anyssa mengerang bersahut-sahutan. Ternyata sekarang mereka dalam posisi terlentang dan pasangan sudah berganti. Lina sekarang sedang menerima sodokan penis Ryuji sementara Anyssa sedang dipompa oleh Mickey. Tak lama kemudian kedua pria ini mencapai orgasmenya. Ryuji mencabut batang kemaluannya dari dalam kemaluan Lina dan mengocoknya diatas tubuh dara cantik ini setelah melepas kondomnya yang lalu menyemburkan seluruh stok spermanya diatas perut dan dada Lina. Sementara itu Mickey menyemprotkan cairan spermanya didalam vagina Anyssa.
“Akhh…you are such a bitches. Vagina kamu benar-benar nikmat. Aku ingin bercinta denganmu lagi Anyssa, berulang-ulang sampai tiga hari kedepan.” Kata Mickey sambil mencabut batang kemaluannya dari dalam vagina Anyssa. Dan sedetik kemudian air mani Mickey keluar mengalir dari dalam vagina Anyssa dan membasahi bibir vaginanya yang sekarang sudah memerah itu. Lalu Mickey ambruk disamping Anyssa dan memeluknya erat sementara Ryuji mengoles-oleskan penisnya yang masih belepotan sperma ke bibir Lina yang kemudian dijilati oleh gadis cantik ini walaupun sebelumnya masih canggung karena selama ini hanya merasakan penisku saja. Lalu mereka berdua berciuman dan tidur berpelukan. Sekilas dua gadis ini melirikku beberapa kali ketika aku diambang kepuasan ditindih tubuh Viola yang kemudian berejakulasi di mulutnya. Seluruh spermaku tertelan oleh cewek bule ini. Anyssa melirik kearahku sambil senyum simpul lalu mengocok penis Mickey perlahan saat empunya sedang lemas setelah mencapai orgasmenya. Sementara itu Lina melihatku dengan tatapan cemburu. Dia membalasnya dengan mengoral batang kemaluan Ryuji sambil terus menatapku. Aku tahu arti tatapannya itu dan hanya tertawa dalam hati karena nantinya dia juga akan terbiasa lagipula selama ini dia juga sudah pernah bercinta dengan pria lain selain diriku.
Malam itu kami tertidur bersama. Mickey tidur dengan memeluk Anyssa sementara Lina dipeluk Ryuji dari belakang. Aku? Aku berada ditengah kedua gadi cantik non Indonesia yang memelukku berbarengan. Viola dan Yuki memelukku dari samping sambil sesekali mereka mengocok batang kejantananku yang sebenarnya masih mengeras. Aku tertidur dengan terbayang payudara Yuki dan Viola yang menempel di kedua lenganku yang mereka apit.
Malam itu selesai dengan pesta orgy pertama kami. Tak sadar sudah 3 jam kami ber-orgy ria. Entah apakah malam itu ada orang lain yang mendengar deahan, erangan dan jeritan nikmat dari para gadis di cottage ini. Chapter 31
Orgy Party, Menyewa Kolam Renang?




Esok harinya.Mickey membangunkanku. “Hei Adi. Wake up my man! Ike punya sesuatu untuk diketahui kamu.” Aku masih ingat benar kata-katanya yang satu ini, tata bahasa super ngawur. Dengan bercelana pendek dan tanpa baju dia mengajakku untuk keluar dari pondok cinta ini dan menuju kedaerah lain yang masih berada di cottage tersebut.
“See? How about that?” tanyanya padaku yang masih setengah sadar ini. Aku menggaruk-garuk rambutku yang masih acak-acakkan. Sepintas ada dua orang cewek bule yang melintas, sepertinya masih remaja atau istilahnya ABG (Anak Baru Gede lho bukan Angkatan Babe Gue) yang melintas disamping kami.
“That?” tanyaku sambil melirik kearah kedua cewek bule yang lumayan cantik itu. Memang mereka sedang mengenakan bikini saja waktu itu dan lekuk tubuhnya aduhai juga seperti bintang iklan di iklan alat olah raga di televisi. “That’s nice…beautiful…” kataku terbengong dan nampaknya kedua cewek bule itu menyadari kalau aku melirik mereka dan berbisik satu dengan lainnya lalu tertawa kecil sambil melirikku.
Mickey geleng-geleng lalu mengarahkan kepalaku kearah depan. “Not that’s. But that’s.” katanya lagi sambil menunjuk kearah sebuah pondok yang sedikit lebih besar dari pondok yang kami gunakan untuk menginap. “Ayah Anthony, my uncle. Dia bilang kita boleh pindah ketempat ini karena penghuninya sudah pindah kemarin pagi. How about that?” tanyanya meminta pendapatku.
“Well. That’s OK with me but, is there something wrong with our old place or this new place has something that interesting for you?” tanyaku kepada Mickey dan dia hanya tertawa pendek. Lalu dia mengajakku masuk kedalam pondok kecil itu. Berbeda dengan pondok lainnya yang tidak dibatasi dengan pagar, pondok satu ini dibatasi dengan pagar hidup berupa tanaman tinggi dan beberapa tanaman merambat. Begitu masuk kedalam pondok aku merasakan adanya suasana lain. Tempat santainya lebih luas dan dilengkapi dengan mini bar yang tidak ada di pondok kami sebelumnya. Saat aku membuka pintu belakang yang berbentuk pintu geser ala Jepang ini aku langsung terkesima. Sekarang aku tahu mengapa pndok ini diberi pagar tanaman melingkarinya karena dibagian belakang pondok ini terdapat kolam renang pribadi yang hanya diperuntukkan bagi pengguna pondok. Luasnya sekitar 10x10 meter. Belum lagi dengan dibagian pinggir kolam terdapat jajaran tempat untuk bersantai dengan bangku kolam renang yang bisa dilipat plus dengan mini gazebo. Semuanya sempurna untuk menjalani malam bersama-sama dan pesta.
“What the….” Aku tak sanggup berkata-kata lagi dan Mickey mengajakku ke lantai dua pondok ini. Karena ruangan santai diperlebar maka salah satu kamar dari tiga kamar yang ada di pindahkan di lantai atas. Berbeda dengan pondok lama kami yang hanya satu lantai, maka pondok yang satu ini mempunyai 2 lantai yang lantai duanya berisi satu kamar tidur dan beranda untuk bersantai yang menghadap kekolam renang. That’s perfect.
“Anthony’s fathers have given me a permit to use this place. Because he want me to have the best experience at his resort. Nah, sekarang tinggal kita berikan tahu kepada mereka mengenai perpindahan ini.” Sekali lagi tata bahasa hancurnya menghiasi ucapan bule satu ini. Tetapi tetap saja aku kagum dengan pondok satu ini, seperti menyewa satu vila kecil saja namun dengan suasana asri dan fasilitas ala hotel.
“Awww…keren bangettt…” jerit Lina dan Anyssa nyaris bersamaan ketika kami membawa barang bawaan kami ke pondok ini. Yuki dan Ryuji juga terlihat senang. Lalu Mickey mengajak kami semua untuk ke coffee shop yang pastinya diikuti dengan kegiatan belanja dan jalan-jalan. Viola mendesak agar Mickey mengajaknya bepergian untuk mencari cindera mata dan ingin ke pantai lagi. Walaupun sebenarnya tujuan ke Bali adalah untuk seks tetapi tidak lantas kami hanya melakukan aktifitas itu saja, karena pagi hari dan siang hari di Bali terlalu indah untuk dilewatkan.
Akhirnya Viola pergi ke pantai bersama Lina dan Anyssa karena Mickey ternyata diundang oleh om-nya yang merupakan ayah dari saudaranya Anthony untuk menemaninya keliling meliat kawasan wisata lain yang dia kelola. Kabarnya dia masih mempunyai 2 hotel di Bali dan beberapa toko cindera mata, belum lagi usaha lainnya yang tidak berhubungan dengan pariwisata. Seolah ingin memamerkan keberhasilannya kepada saudara-saudaranya di Belanda sana. Ryuji dan Yuki melewatkan waktu mereka di pantai dan berencana untuk pergi berwisata air (aku sendiri tidak tahu dimana temapatnya).
Semuanya pergi, hanya tinggal aku sendiri. Salahku juga yang terlalu susah dibangunkan ketika kembali tidur setelah memindahkan barang ke pondok baru ini. “Ugh…apaan sih ini?” gerutuku sambil menggerakkan badan malasku itu. Aku menyambar ponselku yang terus-terusan berbunyi. Terdapat 3 sms masuk dan semuanya dari Anyssa. Dia mengatakan kalau bakalan pulang sedikit malam karena diajak Viola untuk mencari cindera mata khas Bali. “Ugh…terserahlah.” Aku tidak membalasnya dan meraih handuk yang sedari tadi aku gunakan sebagai selimut lalu beranjak ke kamar mandi dan membersihkan diri dengan shower.
“Mau pesan apa pak?” tanya seorang waitress kepadaku. Cewek ramah yang wajahnya lumayan cantik. Keturunan chinesse kalau dilihat dari matanya. Aku baru melihat sekali ini ada waitress yang bukan orang Bali asli karena setahuku kebijakan di cottage ini, terutama di coffee shop adalah pekerjanya adalah orang asli Bali sehingga dapat memberikan kesan kepada turis tentang kehidupan di Bali secara mendalam. Setidaknya itu alasan ayah Anthony, pemiliknya.
“Capuccino with Shrivel Chocolate, shaken and use Chip.” Sahut seseorang dari belakangku. Suara yang sepertinya kukenal betul namun sudah lama tak kudengar.
“Ranti. Kok kamu ada disini?” tanyaku ketika aku menemukan bahwa suara tadi pemiliknya adalah Ranti. Perempuan cantik ini dulu pernah menyerahkan keperawanannya kepadaku di cottage ini. Masih tetap cantik dan menggoda hanya saja sekarang dandanannya lebih berani.
Aku jadi teringat akan kebodohan perkataanku barusan. “Oh sorry. Aku lupa kalau kamu supervisor disini. Hehehe…maaf ya.” Kataku slengehan didepannya. Ranti memandangku sekilas lalu memesan secangkir minuman untuk dirinya sendiri. “Black Berry Shake.” Katanya lalu waitress itu pergi. Ranti kembali memandangku, “Hmmm, aku sekarang sudah menjadi manager di coffee shop ini juga merangkap sebagai supervisor dibagian tea house.” Katanya kepadaku.
Aku terkejut juga, “Hah. Sudah jadi manager dalam usia yang semuda ini? Luar biasa benar kamu ini.” Ranti hanya tersenyum kemudian memainkan jemari tangannya yang lentik itu.
“Kamu sendiri yang tidak pernah menghubungiku selama 6 bulan terakhir ini. Kalau bukan karena jaket kebanggaanmu itu aku tidak akan mengenalimu.” Kata Ranti dan itu cukup membuatku seperti disambar geledek. Ternyata selama ini dia masih menaruh harapannya kepadaku, harapan untuk bertemu lagi denganku. Sedetik kemudian terlintas rasa bersalahku kepadanya karena pernah menjadi pria yang merengut kesucian gadis cantik ini. Namun segera kubuang pikiran itu jauh-jauh.
“Maaf yah Ran. Aku sendiri sebenarnya ingin menghubungimu tetapi aku tidak ingin lebih menyakitimu lagi karena hubungan kita dimulai dari sesuatu yang salah. Kamu terlalu sempurna bagiku.” Kataku dan biasanya dengan kata-kata separuh gombal seperti ini dapat membuat cewek yang menjadi lawan bicaraku terbang tinggi hatinya seolah memiliki sayap.
Ranti terdiam dan menatapku tajam lagi. “Kamu ini seperti Plato saja. Pandai berfilsafat, tetapi kalau lihat cewek jadi seperti Pluto, matanya jereng hahaha…” candanya. Ranti sepertinya sudah menganalisa perkataanku itu dengan cepat dan segera tahu maksud aku berbicara seperti itu dan pertama kali dalam hidupku aku gagal menggunakan trik rayuan yang satu ini. Ranti terlalu pandai untuk ditipu dengan gaya ini karena cara berpikirnya terlalu rasional bahkan bagi seseorang manager sekalipun.
“Adi. Setelah ini kamu punya acara?” tanyanya kepadaku. Dan aku menggeleng pelan sambil menerima cangkir minumanku dari tangan waitress. “Aku ingin ajak kamu kesuatu tempat. Kebetulan di tempat ini ada arena bola sodok (pool). Kamu bisa khan bermain bilyard?” tanyanya kepadaku. Waitress yang tadi memberikan minumanku memandangi kami terus mungkin dalam hatinya dia berpikir keras, bagaimana bisa managernya yang cantik itu mengajak kencan seorang pria yang nggak jelas macam aku ini atau mungkin berpikir sesuatu perbandingan yang lebih buruk lagi. Intinya aku dibuat seperti kartu mati didepan mereka.
“OK kita kesana.” Kataku kepada Ranti. Kemudian setelah kami menghabiskan minuman kami, aku dan Ranti menuju ke arena bola sodok (bilyard, pool atau apalah kalian biasa menamainya).
“Hah! Di ruangan tertutup?” tanyaku heran. Ternyata arena ketangkasan ini terdapat dua jenis, jenis pertama adalah dimana meja-meja bilyard di tata di satu ruangan besar dan dipakai bersama sementara jenis kedua adalah bagi yang ingin privasi, terdapat satu meja di ruangan khusus tertutup. Ruangan tertutup atau meja private ini hanya terdapat 5 buah di cottage ini. Aku dan Ranti berada di salah satunya.
“C’mon. Kamu nggak takut khan?” tantangnya kepadaku. “Kita buat taruhan! Mau? Tapi kamu yang tentuin.” Katanya lagi sambil menata bolanya.
“Well, aku sih mau-mau saja. Gimana kalau taruhannya siapa yang kalah harus membuka selembar bajunya? Pasti kamu nggak berani heheheh.” Kataku yang sebenarnya bercanda ini. Lagipula aku sendiri mana mungkin bisa menang kecuali kalau permainan Ranti lebih buruk dari permainan burukku ini. Diluar dugaan gadis cantik ini malah menyetujuinya dan memintaku bersiap karena dia berkoar akan menelanjangiku tanpa ampun.
Sepuluh menit kemudian, kami berdua akhirnya berhasil memasukkan bola yang terakhir. Butuh waktu yang cukup lama bagi aku maupun Ranti untuk berhasil membidik sasaran kami dengan benar. Ternyata Ranti sama amatirnya denganku. Dengan sedikit kemujuran saja aku sudah berhasil mengalahksnnya dalam set pertama di permainan 9 bola ini.
Ranti lalu kembali menata bola dan bersiap melakukan break shot. Kali ini Ranti sudah melepas baju lengan panjangnya. Aku beruntung sebelumnya dia sudah menanggalkan blazer-nya sehingga sekarang aku sudah dapat memperoleh pemandangan payudaranya yang indah tetapi tentu saja masih bertutupkan bra warna pink. “Wow payudaramu luar biasa. Tambah seksi saja kamu ini Ran.” Kataku sembari mendekatinya dari belakang dan sesaat kemudian aku meremas payudara putihnya itu yang masih berbalut bra.
“Adi…akhhh. Jangan begitu! Nanti aku nggak bisa konsentrasi. Akhhh…” desah Ranti sambil tangan kirinya memegangi tanganku yang sudah mulai berani menyusup kedalam bra tipis yang dia pakai.
“Justru itulah tujuannya. Lagipula rejeki masa’ disia-siakan. Hehehe.” Balasku sambil tergelak. Sekarang kedua tanganku sudah berani meremas lebih liar lagi kepada payudara Ranti. Dara cantik ini mendesah-desah ketika puting susunya aku pilin dengan kedua jemari tanganku. Ranti nyaris tak dapat lagi menahan libidonya ketika setelah payudaranya mulai memerah, secara tak sadar gadis cantik ini membuka kedua pahanya sehingga seperti posisi mengangkang sekarang.
Tanganku mulai meraba-raba paha mulus Ranti yang masih tertutup rok span warna gelap itu. Kuusap perlahan kemudian menuju kedaerah bagian atas yaitu selangkangannya. “Ughhh…Adi…” rintih Ranti ketika jemariku dengan nakalnya mulai membelai selangkangan dara cantik ini. Mulutnya mendesah perlahan ketika jemariku dengan lembut membelah bibir vaginanya yang masih bertutupkan celana dalam warna pink itu.
Celana dalam Ranti dalam sekejap telah basah seiring dengan semakin liarnya permainanku di bibir vaginanya. Salah satu tanganku sekarang merembet kebagian atas tubuhnya dan menyelipkan tanganku dibalik bra ketatnya. Sejurus kemudian aku berhasil menyentuh puting susunya yang ternyata sudah mengeras. Jemari tangan kananku meremas payudaranya bergantian dan memilin putingnya sementara itu tangan kiriku menggesek klitoris dan bibir vagina Ranti sehingga membuat gadis cantik ini semakin lemas tak kuasa menahan rangsangan jemari tanganku. Apalagi setelah celana dalamnya sudah lepas dari pahanya yang mulus itu. Dalam waktu dua menitan saja, sekarang dara cantik ini sudah tinggal mengenakan rok pendek span dan bra yang sudah nyaris lepas tergantung di lengan tangannya. Buah dada Ranti yang ranum itu terguncang-guncang ketika gadis ini menggelinjang keenakan dengan stimuli kedua tanganku di vagina dan payudaranya.
“Akhhh…” Ranti tersentak ketika merasakan bahwa bibir vaginanya di belah oleh sesuatu yang bukan jari tangan lagi, sesuatu yang jauh lebih besar yaitu batang penisku yang sudah sedari tadi tidak tahan melihat tubuh mulus Ranti. Dara ini terpekik tertahan ketika rasa sakit melanda vaginanya. Memang batang kemaluanku yang sekarang ini lebih besar dari pada saat aku memerawani dara cantik ini. Salah satu tangan Ranti berusaha mencegah tekanan batang kejantananku atas liang kemaluannya yang masih sempit.
“Ranti…aku masukin yah? Akhhh…” erangku sambil menyodokkan batang kejantananku kedalan lubang senggama Ranti yang telah basah. Entah karena syaraf otot vaginanya yang terlalu tegang ataukah karena memang ukuran penisku yang baru ini terlalu besar untuknya, saat aku melakukan sodokan penetrasi terasa sangat sulit sekali. Namun akhirnya dengan sedikit sentakan akhirnya separuh batang kemaluanku sudah berhasil masuk ke liang surga cewek cantik ini. Ranti menjerit tertahan dan secara reflek tangannya yang memegang tongkat bilyard menyodok kearah bola cue dan tak sengaja melakukan break shot. “Wow. Di saat seperti ini saja kamu masih bias melakukan break shot yang bagus Ran.” Kataku pada cewek cantik ini. Belum sempat Ranti menjawab perkataanku, dia kembali mengejang ketika aku kembali menusukkan batang kemaluanku yang sebelumnya sudah separuh masuk hingga masuk seluruhnya dengan beberapa kali sodokan paksa.
Terlihat bibir luar vagina Ranti ikut amblas masuk seiring dengan penetrasi penisku yang besar itu, dan Ranti seolah semakin berusaha rileks setelah seluruh batang kejantananku akhirnya berhasil masuk secara sempurna. Nafasnya naik turun berusaha mengendalikan dirinya kembali. Aku mendiamkan batang kemaluanku bersarang di dalam vagina gadis cantik ini untuk memberikan waktu kepadamya untuk mengumpulkan kekuatannya lagi dan agar vaginanya terbiasa dengan batang kemaluanku ini. Alasan lainnya adalah karena pijatan otot-otot vagina Ranti memang luar biasa sehingga mampu membuat batang kemaluanku ini nyaris menyemburkan spermanya jika saja tidak kutahan.
Setelah Ranti sudah berhasil menguasai dirinya kembali, dengan kedua tangannya bersandar diatas meja bilyard, aku menggasak vaginanya dengan pompaan penisku. Gelambir vaginanya sudah mulai mencuat keluar, menjadi ciri bahwa sang empunya sudah pernah berhubungan intim dengan pria. Seiring waktu yang berjalan, aku semakin mempercepat sodokan penisku dan semakin berani mengeksplorasi gaya tusukanku.
Ranti kembali mengerang ketika dengan tiba-tiba dari arah belakang aku menyodokkan penisku dengan cepat sehingga menyentuh rahimnya. “Akhhh…sakit…pelan…akhhh.” Desahnya disela-sela pompaanku. Cairan kewanitaannya semakin banyak yang keluar dan meluber keluar sehingga membasahi karpet diruangan itu dengan tetesannya.
Lalu aku memperlambat pompaanku terhadap vagina dara cantik ini dan kesempatan itu dipergunakan Ranti untuk mengambil nafas panjang. Kuraba payudara cantiknya dari arah belakang dan dengan penuh nafsu aku meremas kedua buah dadanya yang besar dan putih mulus itu sehingga kembali Ranti melenguh merasakan kenikmatan. Beberapa detik kemudian dengan pompaan lambatku, Ranti menegangkan kedua pahanya dan tangannya seolah ingin mencakar meja bilyard itu. Kepalanya menunduk dan tubuhnya menggelinjang hebat, Ranti mencapai orgasmenya saat itu.
Aku dapat merasakan cairan hangat membasahi batang kemaluanku seiring dengan remasan kuat dinding-dinding vaginanya terhadap penisku yang masih bercokol didalamnya itu. Begitu aku merasakan remasan dinding-dinding vaginanya sudah mengendur dan orgasmenya sudah hampir selesai, dengan sekuat tenaga aku menusukkan batang kejantananku lagi kearah kemaluan perempuan ini. Ranti menjerit pelan, “Akhhh….Adi…pelan…” protesnya namun tak aku gubris lagi. Aku malah mempercepat sodokan-sodokan batang kemaluanku di vaginanya yang masih sempit ini.
“Ran, kamu benar-benar punya memek yang aduhai. Penisku serasa dipijat-pijat dari tadi.” Pujiku sambil tetap memompa batang kontolku didalam liang kewanitaannya sembari kedua tanganku tak henti-hentinya meremas payudara ranum milik dara ini dan menggerayangi seluruh lekuk tubuhnya. Ranti sekarang sudah mulai dapat menikmati pompaanku yang berirama cepat ini. Klitorisnya terkadang ikut masuk melesak kedalam tiap kali batang kejantananku melolosi bibir vaginanya.
Desahan kami berdua bersahutan memenuhi ruangan kecil itu. Untungnya ruangan tersebut kedap suara sehingga desahan kami tidak sampai terdengar keluar. Rambut Ranti sudah mulai acak-acakan sementara keringat membasahi tubuhnya yang seksi itu.
Lima menit kemudian aku merasakan batang kejantananku sudah berkedut kencang dan seolah ingin menyemburkan lahar kenikmatannya. Aku percepat sodokanku lalu di sodokan terakhir aku menghunjamkan penisku sedalam-dalamnya di liang vagina Ranti lalu menyemprotkan spermaku didalam lubang vagina dara cantik itu berulang-ulang. Ranti ambruk ke meja bilyard dengan setengah tubuh terjuntai kebawah sementara dari belakang aku masih mendekap gadis cantik ini dan masih menancapkan penisku didalam vaginanya.
“Kamu seperti kesetanan Di. Dulu kamu nggak seliar ini. Dulu juga penismu tidak sebesar sekarang.” Ranti berkata sambil memandangku sayu. Aku bias melihat raut muka penuh kepuasan didalamnya. Gadis cantik ini lalu menarik lepas batang kemaluanku dengan perlahan yang masih bercokol didalam vaginanya dan sesaat kemudian cairan putih kental mengalir dari bibir vagina dara manis ini yang sekarang sudah berbentuk lubang menganga seperti huruf O dan gelambirnya juga sudah separuh keluar, mungkin karena besarnya penis yang telah menjajah liang vaginanya barusan.
Ranti berjongkok dihadapanku lalu dia memasukkan batang kemaluanku yang masih belepotan sperma dan cairan kewanitaannya itu kedalam mulutnya lalu mengoralnya perlahan. Walaupun belum mahir tapi aku bisa di buat merem melek oleh emutan dan jilatan lidah dara ini. “Ternyata kita sama-sama kesetanan yah Ran.” Ucapku sambil tersenyum. Sepuluh menit kemudian aku kembali berejakulasi tetapi kali ini didalam mulut Ranti dan terciprat di wajah cantiknya itu.
Setelah puas dengan olah syahwat didalam ruangan itu kami berdua keluar walaupun sudah merapikan diri namun tetap saja tidak dapat menunjukkan kesan kalau kami sudah mencapai kepuasan barusan. Saat kami berpisah di luar coffee shop, aku menerima sms dari Dhea yang mengatakan kalau dia tidak bisa ikut ke Bali karena dia harus menjaga ibunya yang sakit flu.
Akhirnya aku kembali juga ke pondok tempatku menginap. Hari sudah sore dan aku melihat kalau sudah ada sandal dan sepatu di luar pintu berarti sudah ada yang kembali dari acara jalan-jalannya. Ketika aku membuka pintu yang menuju ke kolam renang aku terkejut karena ternyata semua sudah tiba disana dan sedang asyik berenang.
Lina mendatangiku dengan bikini yang baru saja dia dapatkan dari Viola. Bikini warna biru muda yang sangat tipis dan seksi dengan pengait hanya berupa tali. “Dari mana aja hoyoo…? Semua sedang nungguin mas Adi nih. Kita pesta BBQ disini sambil menunggu matahari tenggelam.” Kata Lina kepadaku yang kemudian mengapit tanganku menuju ke kolam renang. Payudaranya yang kenyal terasa di lenganku dan sesekali aku sodokkan ringan ke arah buah dadanya yang ranum itu. Lina melirikku sambil tersenyum, “Sudah pengin ya?” godanya sambil membuka bagian atas bikini yang ia kenakan sehingga sekarang kedua payudara montok Lina tak terlindung apa-apa lagi. Semua melihat kearah Lina termasuk Anyssa, kakaknya. Dara cantik ini menganggap seolah tak ada yang terjadi dan dengan santainya dia menceburkan dirinya kedalam kolam renang dengan hanya mengenakan celana dalam bikini.
Aku lalu membuka pakaianku dan hanya dengan mengenakan celana boxer aku terjun ke kolam renang menemani Lina. Gadis itu sedang berbincang dengan Yuki yang juga sedang berada didalam air ketika aku diam-diam mendekatinya dari belakang. Aku kemudian merangkulnya dari belakang dan meremas-remas payudara ranum miliknya ini. Lina kaget namun segera menguasai dirinya kembali dan mulai dapat menikmati remasan tanganku di buah dadanya itu.
“Ugh, dasar cowok mesum. Liat toket nganggur aja nggak bisa.” Ejeknya padaku dan sekarang Lina memposisikan dirinya berhadapan denganku lalu kami berciuman dengan panasnya. Kedua tanganku masih menjelajahi bukit kembarnya sambil sesekali meremas pantat putih mulusnya yang padat. Tangan gadis remaja ini menuju kearah celana boxer yang kupakai. Lalu disusupkannya tangannya itu kedalam celanaku dan menemukan batang penisku dengan jemari tangannya yang lentik. “Ih! Kontolnya mas Adi kok udah berdiri gini. Pasti penginnya dah dari tadi ya…” canda Lina kepadaku yang kemudian memelorotkan celana yang kupakai hingga lepas dan mengocok batang kejantananku dengan penuh perasaan.
“Wow. Your sister sure know how to handle a guy.” Kata Viola kepada Anyssa yang waktu itu duduk santai di kursi kolam renang. Anyssa hanya tersenyum kecil menanggapi perkataan Viola.
Beberapa saat kemudian, Mickey datang mendekati Anyssa yang sedang duduk santai lalu menawarkan minuman cocktail kepadanya. “Hey, kenapa kamu tidak join dengan adik kamu?” tanya Mickey pada pacarku itu. Anyssa hanya menjawab kalau dirinya sedang malas bercinta lalu menenggak minuman pemberian Mickey.
Sementara itu, aku dan Lina sudah stand by dengan posisi setengah berpelukan. Kedua tangan Lina mengait pada leherku sementara kedua tungkai kakinya melingkar dan berpegang erat pada pinggang dan punggungku. Lina lalu nenciumiku lagi sementara aku dengan bantuan tangan kiriku memposisikan batang kejantananku untuk menyusup dibalik celana bikini Lina yang super tipis dan mini itu.
Begitu ujung penisku sudah sedikit masuk kebagian bibir dalam vagina cewek cantik ini, aku lalu mendorong penisku menyeruak masuk. “Akhhh…mas Adi. Masukin terus mas…!” desah dara cantik ini dengan suara seksinya. Dalam beberapa sodokan akhirnya aku berhasil membenamkan seluruh batang kemaluanku didalam vagina adik pacarku ini.
“Wah rasanya lain kalau di dalam air Lin. Sensasinya lain, memekmu jadi lebih legit dibuatnya hehehe…” candaku. Lalu kumulai pompaanku pada vagina dara ini dan rasanya sangatah nikmat karena sensasi pijatan otot vagina Lina semakin terasa didalam air. Belum lagi tekanan air membuat adegan persetubuhan kami menjadi seperti slow motion saja. “Akhhh…ngentotan didalam air memang nikmat.” Desahku sambil merubah gaya tusukan penisku menjadi memutar di liang senggama Lina. Klitoris dara cantik ini kembali keluar masuk bibir vagina karena gesekan dengan batang kemaluanku yang besar.
Lina sekarang semakin memelukku erat dan menciumiku lebih liar dari sebelumnya. “Akhh…kontolnya mas Adi kegedean nih. Memekku jadi susah muatinnya….akhhh…” erang cewek cantik ini sambil sekarang berusaha untuk mengangkat dan menghunjamkan sendiri pinggulnya kearah penisku yang masih tegang di vaginanya. “Entotin Lina lagi mas! Entotin Lina sampai mas Adi puas.” Desah adik kekasihku ini yang kemudian kubalas dengan mempercepat sodokan penisku didalam vaginanya.
Lima menit kemudian, aku mengejang dan memeluk Lina erat-erat sambil melesakkan penisku sedalam-dalamnya di lubang vagina cewek cantik ini. Lina terpekik, “Mas Adi….keluarin didalam saja mas…akhhh…aku ingin memekku disiram sperma mas Adi.” Pinta Lina yang sudah tahu kalau aku akan mencapai orgasmeku. Dalam beberapa tusukan, akhirnya aku memuntahkan cairan cintaku didalam lubang vagina Lina.
“Kamu benar-benar hebat Lin. Memekmu membuatku lupa diri. Sempit dan pijatannya hebat.” Pujiku sambil menciumnya. Saat Lina beranjak dari kolam renang, aku melihat ada beberapa cairan spermaku yang keluar dari vagina dara cantik ini dan bercampur dengan air kolam renang. Untungnya kolam renang ini mempunyai water sirculation yang sangat baik lengkap dengan penyaring kotoran sehingga air kolam tetap bersih.
Lina melenggang dengan hanya mengenakan celana bikininya lalu menyambar handuk dari kursi santai didekat Mickey duduk. Gadis itu tersenyum nakal kepada Mickey yang lalu dibalas Mickey dengan usapan lembut di buah dada Lina yang masih basah itu. Cewek itupun lalu berlalu dan masuk kedalam pondok. Anyssa yang melihat tingkah adiknya hanya terdiam, mungkin dalam hatinya ada rasa cemburu juga mengingat aku adalah kekasihnya.
Aku lalu duduk di kursi santai kolam renang. Aku melihat kearah Yuki yang masih terkesima melihat permainanku tadi bersama Lina. Cewek Jepang inipun mendekatiku yang sedang telanjang dengan batang kejantanan setengah lemas. “Sumimasen.” Kata Yuki yang lalu menyentuh batang kemaluanku dengan tangannya yang lembut. Aku pura-pura tidak terkejut dan menikmati saja ketika tangan Yuki mengocok batang kemaluanku dengan lembut dan diluar dugaan karena detik berikutnya, Yuki membuka mulutnya dan memasukkan batang kemaluanku kedalam mulutnya yang mungil itu. Ryuji seperti akan protes tetapi takut merusak perjanjian kami sebelumnya tentang peraturan tidak boleh protes atas apa yang dilakukan pasangannya.
Buah dada Yuki yang menggelayut dibalut oleh bra bikini yang tipis membuat tanganku tak kuasa untuk tidak menjamahnya. Gadis Jepang ini membalas remasan tanganku dengan mencopot bra miliknya. Sekarang payudara Yuki yang putih mulus itu terbentang bebas. Putingnya yang bewarna coklat muda kemerahan itu sudah mengacung mengeras sedari tadi. Yuki seolah tak peduli dengan kondisi sekitar dan menikmati remasan tanganku di buah dadanya bahkan sesekali dia melenguh menahan nikmat dengan cukup keras tanpa malu. Walaupun Yuki belum mahir betul melakukan oral seks tetapi dia telah berhasil membuatku kewalahan. Dalam 15 menit berikutnya batang kemaluanku kembali menyemburkan cairan spermanya tapi kali ini didalam rongga mulut Yuki dan hebatnya lagi langsun ditelan oleh istri Ryuji itu. Lalu gadis Jepang itu mencium bibirku, “Arigatou. Kimochi desu.” Lalu menyusul Lina kedalam pondok tanpa penutup payudaranya.
Entah mengapa kalau barusan tadi sepertinya Yuki melakukannya karena motif lain dan bukan karena benar-benar horny. Mickey tertawa melihat kejadian tadi, “Damn. Your cock really something dude.” Sambil menyeruput minumannya sampai habis. Sepertinya Mickey juga telah horny. “Well. Sudah jam lima lebih tiga puluh menit. Bagaimana kalau kita dinner dulu? Ike sudah memesan makanan dan sebentar lagi juga datang.” Kata Mickey dan semua setuju. Chapter 32
Orgy Party, Japan Adult Game


Makan malam kala itu benar-benar jauh lebih nikmat dibandingkan BBQ yang kami lakukan sore tadi mengingat BBQ tadi gagal total akibat banyak sosis yang gosong waktu dibakar karena nyala api yang tidak bisa dikecilkan karena alat pengukur besar api rusak, salah satu minus side dari cottage ini. Menu makan malam kali ini adalah lobster dengan kerang dan salad. Benar-benar makan malam yang hebat, ditambah lagi dengan beberapa botol Brandy impor dari USA.
“Nah sekarang aku perkenalkan mainan baru yang baru kubeli waktu aku mengunjungi Jepang.” Kata Mickey yang kemudian masuk kekamarnya dan membawa sebuah kardus sebesar kardus TV berukuran 26 inci tetapi lebih ringan dan tidak begitu tinggi. “Lets make our party become more interisting with this.” Katanya lagi sambil membuka isi dari kotak itu.
Ternyata isi kardus itu adalah semacam permainan roulette yang digabungkan dengan permainan kartu dimana tiap orang memilih kartu pemain yang masih tertutup dan berperan sebagai pemain 1, pemain 2 dan seterusnya ditambah dengan kartu berisikan hukuman bagi yang kalah. Dapat kutebak kalau kartu hukumannya berkisar tentang seks. Pertama-tama aturannya adalah semua player tidak boleh mengenakan baju sehelaipun. Karena pada dasarnya kami semua sudah pernah bercinta satu sama lain maka peraturan tersebut tidak sulit.
Akhirnya kami bertujuh bugil total dan duduk melingkari papan permainan di ruang santai. Terkadang aku bingung juga untuk apa ada alat-alat aneh yang menjdi pelengkap permainan, tapi setelah aku perhatikan ternyata aku pernah melihat alat-alat itu di vcd porno milikku terutama di vcd porno Jepang.
“My first. Im the first player. Let see…just rolling this roulette isn’t?” kata Viola lalu memutar roulettenya. “Wohoo…I got that.” Seru perempuan bule itu ketika berhasil menghentikan jarum roulette di kotak ‘king’ dimana pemain yang memperoleh kotak ‘king’ diperbolehkan menyuruh salah satu player yang kalah untuk mengambil kartu hukuman.
“Now I want you to choose your punishment card.” Katanya sambil menunjuk kearah Lina. Mau tak mau adik pacarku itu harus memilih kartu hukumannya. “Huhuhu…now…now.” Gelak Mickey ketika melihat kartu Lina. Dara cantik itu harus menahan dildo kecil berbentuk telur (biasa dinamai ‘the egg’ atau ‘egg’ di Jepang) di vaginanya sampai 2 hukuman lainn menimpanya. Egg tersebut bervibrator layaknya dildo listrik dan kecepatan getarnya di set ke maksimum oleh Viola.
“Ekhh…ekhhh…geli….akhhh…” desah Lina berusaha untuk duduk kembali di karpet busa dengan vibrator bersarang di dalam vaginanya. Kami semua tertawa kecuali Yuki yang sepertinya masih sedikit risih dengan permainan ini.
Giliran berikutnya adalah Anyssa dan lewat dengan aman karena dia hanya disuruh memperlihatkan bagian dalam vaginanya untuk dilihat atau di potret. Vagina putihnya terbentang jelas setelah kedua pahanys membuka juga bibir vaginanya.
Selanjutnya adalah Ryuji yang memperoleh kotak ‘idle’ dari roulette dan tandanya dia tidak boleh memutar roulette di ronde berikutnya tetapi langsung membuka kartu hukuman. Permainan ini memang aneh tetapi dengan lawan main cewek-cewek cantik yang bugil membuat suasana menjadi menyenangkan sekali. “Fuck!” umpat Mickey ketika memperoleh kotak hukuman. “Let see what I’ve got.” Katanya sambil membuka kartu. Ternyata hukumannya adalah mengoral kemaluan lawan jenisnya dan yang dia pilih adalah Anyssa, pacarku. Dengan posisi duduk bersandar dengan kedua lengan yang menyangga tubuhnya kearah belakang dan kaki membuka lebar, Anyssa mempersilahkan Mickey untuk menjilati vaginanya yang mash kering itu.
Mickey sih senang saja mendapatkan hukuman yang satu ini karena menurutku dia memang sudah mengincar Anyssa sejak awal mereka bertemu. “Akhhh…lidahmu besar sekali Mick. Ya…disitu…jilat di bagian itu….akhhh…terus…!” desah Ani ketika lidah panjang Mickey mengobrak-abrik liang kemaluan pacarku itu. Ani mendesis tak karuan menahan rasa geli campur nikmat dari jilatan Mickey. “Akhhh…terus Mick…” desahnya lagi sambil menggoyang-goyangkan pantatnya. Aku heran juga dengan perubahan sikap Anyssa yang dulu tidak pernah se-agresif ini saat ada aku.
Walaupun tidak sampai orgasme tetapi cukup membuat Ani lemas mendapat perlakuan itu. Permainan terus berlanjut dan hukuman demi hukuman bermunculan. Sudah lima ronde sekarang dan aku melihat Lina lemas terkulai dengan dua buah dildo menancap di vaginanya. Dildo tanpa getar yang berukuran small itu menancap di liang kemaluannya yang sudan belepotan cairan sperma dan pelumas. Tadi Lina sempat dikerjai saat masih mengenakan dua dildo itu dengan hukuman di pompa bersama dengan dildonya. Sementara itu aku-lah yang bertugas menjadi eksekutornya. Dengan penis besarku walaupun dibantu dengan pelumas namun susah juga mengingat vagina Lina termasuk vagina yang elastis namun sempit. Apalagi ditambah dengan dua dildo tersebut membuat penetrasiku semakin susah saja dibuatnya. Lina berulang kali akan teriak tapi mulutnya di bungkam oleh Viola dan Ani. Dengan posisi terlentang, dia hanya bisa pasrah ketika vaginanya yang sempit itu harus dihajar dengan kondisi yang cukup menyakitkan. Untungnya setelah beberapa menit aku memompanya, vagina dara cantik ini sudah mulai dapat menyesuaikan walaupun hal tersebut membuat bibir vaginanya menjadi berubah bentuk setelah aku genjot habis-habisan dengan penisku bersama dildoku. Dalam sepuluh menit aku telah menyemprotkan stok spermaku didalam rahim gadis cantik ini. Lina hanya bisa lemas tanpa punya tenaga untuk berkata apa-apa lagi dan merasakan cairan hangat milikku meluber di vaginanya lalu meleleh keluar lewat rongga bibir vaginanya.
Viola juga tidak begitu beruntung mengingat dia harus mengoral vagina sesama cewek dalam hal ini yang kena adalah Yuki sementara itu vagina Viola dijejali bermacam vibrator kecil hingga dia orgasme berulang-ulang. Tidak cukup hanya dengan itu saja, lubang anus Viola juga harus disodomi oleh Ryuji disaat yang sama. Entah penderitaan atau kenikmatan seperti apa yang dirasakan Viola kala itu. Yang jelas setelah semuanya usai vagina Viola memerah dan belepotan cairan cintanya sendiri sementara anusnya basah oleh sperma Ryuji. Viola sendiri lemas terkulai seperti Lina.
Yuki? Gadis cantik dari Jepang ini hanya terduduk lemas di kursi makan ketika dia diharuskan menerima pompaan penis di vagina maupun anusnya dalam posisi duduk. Mickey memangku tubuh Yuki yang menghadap dirinya sambil menusukkan batang kejantanan bulenya itu kedalam vagina Yuki sementara anusnya aku sodomi dengan bantuan kondom berpelumas agar lancar. Yuki merintih tiap kali vagina maupun anusnya dipompa bersamaan. Dara Jepang ini berulang kali orgasme dalam 15 menit permainan panas kami. Mickey menyemprotkan spermanya kedalam liang vagina Yuki sementara itu aku berejakulasi di pantat gadis cantik ini dan beberapa cairan cintaku membasahi rambut panjangnya yang terurai. Untungnya aku telah minum suplemen yang dibawa Mickey sehingga aku dapat mempertahankan staminaku walaupun sudah berejakulasi berulang kali dalam waktu dekat karena walaupun aku termasuk tahan berhubungan intim sampai berjam-jam tetapi tetap saja jika dalam waktu satu jam berejakulasi sampai 5 kali tetap merupakan hal yang melelahkan apalagi sebelumnya aku sudah bercinta dengan Ranti dan Lina.
Sementara itu adegan yang paling terkini adalah Anyssa, pacarku yang sedang jongkok menduduki dildo vibrator berukuran besar yang menusuk vaginanya dengan gerakan otomatis naik turun dan berputar dengan getaran. Sementara itu kedua tangannya sibuk menservis ketiga penis milikku, Ryuji dan Mickey dengan bergantian mengocok dengan kedua tangannya dan mulutnya. Bergantian penis kami bertiga di oral oleh Ani dengan bibir sensualnya dan permainan lidahnya yang wahid. Sesekali dia mencoba mengoral dua penis bersamaan walaupun hanya dapat memasukkan sedikit ujung kepala penis itu.
“Wow…your girlfriend is hot and expert felatio (sebutan kerennya untuk oral seks). My dick wanna blow now.” Racau Ryuji ketika batang kejantanannya keluar masuk mulut pacarku dengan ujung kemaluannya yang sudah berair itu terkadang dijilati oleh Ani.
“Hahaha…you right my friend. She really know how to handle a man cocks. Really amazing…” puji Mickey sambil mengarahkan bibir Anyssa untuk menservis penisnya. Sekarang baik Ryuji maupun Mickey berlomba memperoleh jilatan dan kuluman mulut pacarku. “Akhhh…damn hot babe…” seru Mickey lalu berejakulasi di wajah Anyssa yang kemudian disusul oleh Ryuji yang berejakulasi di buah dada Ani yang menggantung kencang itu.
“Akhhh…Anyssa….” Seruku sambil menyemprotkan spermaku didalam rongga mulutnya yang lalu dia telan. “Akhh. Kontolku bener-bener udah gak kuat sekarang say.” Kataku sambil mengurut penisku yang masih tegang.
“Asalkan kamu senang, aku juga senang kok. Lagipula sekarang sudah bisa menikmati permainan ini. Kalo kontolmu lemes jangan sering main ma adikku, emangnya memekku saja belum cukup sampai perlu vagina adikku.” Rajuk Anyssa lalu mencopot dildo dari vaginanya. Ternyata dia juga sudah mencapai klimaks.
Aku terkekeh lalu duduk di sebelahnya. “Habis aku gemas ma adikmu. Mumpung dia belum punya pacar. Ntar kalo udah punya pacar kan, memeknya bakalan dibagi sama pacarnya.” Candaku sambil memberikan tissue basah pada pacarku itu.
Anyssa menatapku tajam, “Oh jadi gitu. Tapi karena di cottage ini kita boleh gila-gilaan, maka aku juga akan sama gilanya dengan kamu. Aku sebenarnya sayang denganmu tetapi kamu udah bikin aku gila seks seperti ini. Gimana kalau tidak bisa berhenti nantinya? Lagipula kamu khan milikku bukan adikku. Kalo mau ngentotan sama cewek lain silakan tetapi jangan dengan adikku. Aku cemburu nih.” Baru kali ini aku mendengar pengakuan dari Anyssa. Memang dirumah, Lina selalu diperlakukan secara istimewa oleh seluruh anggota keluarganya sementara Anyssa tidak. Mungkin hal itu yang mendasari keirian hati pacarku itu.
“Lah khan gak boleh protes. Itukan aturannya..bebas. heheeheee…” balasku sambil menggodanya. Aku sempat melihat raut muka kejengkelan diwajah dara cantik ini.
“Huh…OK kalo gitu. Aku juga bakal sama gilanya…gak boleh protes lho. Khan ada aturannya….” Balas Ani sambil menuju ke kamar mandi. Aku penasaran juga dengan apa yang akan dia gunakan untuk memanasiku.
Malam itu kami tertidur karena kecapaian walaupun tidak dipungkiri kalau kami memperoleh kepuasan masing-masing di permainan seks itu. Sekitar jam sepuluh malam aku tertidur dengan berselimutkan tubuh dua dara cantik, Lina dan Anyssa. Chapter 33
Orgy Party, Tambah Kacau




Sekitar jam tiga malam aku terbangun. Aku merasa haus dan lapar lalu aku menuju ke arah dapur untuk mengambil makanan snack dari almari. Saat kripik kentang yang kumakan nyaris habis, aku baru ingat kalau tadi Ani tidak ada di tempat tidurku. Aku penasaran dan berjalan mencari dimana gerangan Anyssa berada setelah aku menghabiskan minumanku.
Aku telusuri kamar dan ruangan di pondok itu dan saat aku berada di depan pintu kamar mandi aku mendengar suara shower menyala. Aku pikir Ani mungkin mandi karena dengan shower hangat membuatnya tidak kedinginan mandi di jam segini.
Saat aku perlahan membuka pintu kamar mandi, betapa terkejutnya aku ternyata Anyssa tidak sendirian disana. Dibawah siraman shower, aku melihat dua tubuh berlainan jenis saling bergumul. Anyssa menghadap kearah shower dengan posisi tubuh membungkuk sementara itu dari belakang Mickey menghunjamkan dan memompa batang kejantanannya didalam vagina pacarku.
Anyssa menengok kearahku sedikit terkejut tetapi lalu dia berkata, “Katanya bebas khan…” ucapnya sambil kembali menikmati pompaan penis Mickey di liang kewanitaannya. “Akhh…shit…terus Mick…penis kamu besar sekali…akhhh….harder please…” sekarang Anyssa malah membuat racauan dan desahan seksi saat tahu aku melihatnya. Seperti disengaja untuk memancingku.
“As your wish sweetie.” Kata Mickey yang kemudia mempercepat pompaan penisnya di liang kewanitaan Ani. “Akhhh…damn you are so good. Vaginamu benar-benar luar biasa. Adi my friend, kamu benar-benar beruntung bisa make love dengan Anyssa tiap hari….akhhh…” Mickey seolah kesetanan saat menghajar pacarku dari belakang, dia juga meremas payudara Anyssa yang basah oleh air shower itu dan terlihat menggantung seksi.
“Akhhh…ehhmmfff…jangan khawatir Mickey, selama di Bali aku akan memberikanmu kepuasan terus menerus.” Balas pacarku manja yang kemudian mereka berciuman mesra. “Akhh…terusss...more…give me more…!” racau Anyssa sambil menyambut remasan tangan Mickey di buah dadanya yang montok itu dengan tangannya, bahkan seolah meminta Mickey untuk meremas lebih mesra lagi. Aku tahu bahwa ini adalah acara pembalasan Anyssa padaku karena lebih mengutamakan adiknya dibandingkan dirinya. Ada rasa cemburu melanda hatiku ketika aku melihat tubuh mungil mulus Anyssa di kerjai oleh tubuh besar bule itu. Tetapi jujur saja aku juga terangsang dengan kejadian ini dan berharap bisa lebih hot lagi dari yang sekarang. Apakah aku ini benar-benar gila seks, kelainan ataukah aku ini benar-benar mencintai pacarku itu. Jika aku mencintainya, mengapa aku menikmati ketika tubuh Anyssa digarap oleh Mickey dan diam saja, bahkan terangsang hebat ketika Mickey mencabut batang penisnya yang ekstra besar itu dari liang vagina pacarku dan berejakulasi di wajah pacarku yang cantik itu?
Aku berlalu tapi bukan dengan amarah ataupun nafsu menggebu tetapi dengan tandanya besar di otakku mengenai Anyssa dan diriku. Aku berlalu ketika Anyssa sibuk membersihkan sperma di wajahnya dan di penis Mickey dengan kuluman bibirnya yang membuat Mickey kembali mendesah-desah keenakan. Entah apalagi yang terjadi setelah itu, mungkin Mickey orgasme lagi di wajah Ani, atau mungkin di mulutnya, vagina, anus atau di dadanya….aku tak begitu peduli lagi. Kembali kekamar dan menemukan Lina tidur bugil dengan selimut tersingkap, lalu kubuka lebar paha dara cantik itu dan aku setubuhi dia saat dia masih lelap tertidur dan hanya sesekali bereaksi ketika aku memompa vaginanya dengan tonggak kemaluanku sebelum akhinya spermaku membasahi rahimnya lagi entah untuk yang keberapa kali.
Keesokan harinya sekitar jam 7 pagi aku terbangun oleh sinar matahari yang menembus sela-sela ventilasi kecil yang ada dikamarku yang kebetulan memantul di dinding membiaskan sinar ke wajahku. Aku beranjak dari tempat tidurku sementara itu Lina sepertinya masih tertidur pulas, maklum saja karena disaat normalpun dia jarang bangun pagi, apalagi setelah bercinta habis-habisan tadi malam.
“Morning Adi. How your sleep?” tanya Viola padaku ketika aku masuk ke dapur untuk mengambil air minum. Yuki juga ada disitu, sepertinya mereka sedang mengobrol tadi. Viola masih mengenakan celana dalam tanpa bra yang ia kenakan semalam. Payudaranya yang besar itu menggelayut indah apalgi saat dia membungkuk.
“I have a good night. By the way how about you girls?” tanyaku sambil meminum air putih di gelasku.
Viola menuangkan orange juice dan menawariku tetapi kutolak, “I have nice sleep but I found my boyfriend sneaking to the bathroom and fuck your girlfriend in that place. But I think you already know that. Now they are going to the market with Ryuji.” Kata bule cantik ini padaku.
Aku hanya tersenyum kecil, “You’re right, I know all about that thing last night. By the way, how about you Yuki? Are you OK with Ryuji, I bet that he will not let you go from the bed.” Tanyaku sambil melirik kearah Yuki yang masih mengenakan kimononya tanpa bra dan hanya mengenakan celana dalam. Aku tahu karena aku melihat jelas separuh payudara putihnya tersingkap tiap kali dia menjukurkan tangannya kesamping.
Yuki tersenyum, “No. Ryuji didn’t touch me at all. He so cold last night, perhaps he had no power left to make love with me after our party.” Sahut gadis Jepang ini dengan raut muka sedikit kecewa.
Yuki kemudian mencuci gelas tempat minumnya dan saat dia nembelakangiku, aku melihat payudaranya terlihat jelas dari balik kimononya yang kulihat via cermin didepannya. Melihat pemandangan itupun aku menjadi horny dibuatnya. Lalu aku dekap Yuki dari belakang dan tanganku langsung menyusup kebalik kimono yang ia kenakan. Yuki terperanjat dan berusaha protes tetapi tak kuhiraukan. Kedua tanganku sekarang sudah menggenggam payudaranya dengan erat dan mulai mempermainkan sepasang buah dadanya.
“I will give you this for present because your husband did not touch you last night. Just relax and enjoy it honey.” Kataku sambil meremas payudara montoknya itu dengan mesra dan Yuki-pun hanya mendesah menikmatinya. Saat aku menyentuh celana dalam gadis ini aku dapat merasakan kalau dia sudah terangsang hebat. Vaginanya sedah basah dan bertambah basah lagi ketika aku menyusupkan jemari tanganku dan mengorek-ngorek isi vaginanya beserta kelentitnya yang aku gesek ringan dengan jemariku. Akhirnya Yuki tak kuat juga dan mengarahkan tangannya kebelakang mengarah ke celanaku lalu memelorotkan celana pendekku dan mencenkeram batang kejantananku dengan salah satu tangannya.
“Please no more…” pintanya memelas tetapi aku tahu kalau dia menginginkan lebih walaupun mulutnya menolak. Aku pelorotkan celana dalamnya dan aku lepaskan. Sekarang vagina putih Yuki terlihat dengan jelas beserta bulu-bulu kemaluannya yang lembut. Sekarang aku mula menggesek-gesekkan batang kejantananku kebibir vagina cewek Jepang ini. “Akhhh…erkhhh…” Yuki mulai dikuasai oleh nafsunya sendiri. Desahannya sekarang bertambah keras dan pinggulnya bahkan sudah didorong-dorongkan kearahku. Dengan demikian otomatis bibir vaginanya juga tertusuk-tusuk oleh kepala penisku yang memang sudah tegang ini.
“You want it isn’t? Just let it flow Yuki.” Kata Viola ketika melihat tingkah Yuki yang tidak dapat menahan rangsanganku lagi ini. Kali ini Yuki sudah pasrah tak tahan lagi menerima perlakuan dariku. Kedua pahanya mengangkang dan mencondongkan tubuhnya kebawah.
Kugesek-gesekkan kepala penisku di bibir vaginanya yang sudah merekah itu. Yuki menggelinjang keenakan dan nafasnya semakin memburu. Dengan sedikit tenaga tambahan, aku melesakkan batang kejantananku itu melewati bibir vagina Yuki dan melesak masuk hingga seluruh bagian kepala kemaluanku amblas didalamnya. “Akhhh…Adi…” desahnya sambil menggigit kecil bibir bawahnya. Sodokan berikutnya membuat klitoris Yuki ikut melesak masuk beserta gelambirnya.
Dengan posisi merunduk Yuki aku garap habis-habisan dari belakang. Suara benturan antara dua alat kelamin kami terdengar begitu jelas. Aku bisa merasakan batang torpedoku sedang dipijat lembut oleh otot-otot vagina Yuki yang kuat itu, rasanya seperti disedot-sedot. Rambut hitam panjang Yuki yang lurus itu menutupi wajah cantiknya bahkan beberapa menutupi punggungnya yang putih mulus ini. Kimononya sudah terlempar dan sekarang Viola-pun dapat melihat tubuh mulus Yuki nan putih itu vaginanya sedang aku pompa dengan penuh nafsu. Batang kemaluanku terlihat sangat penuh di liang kemaluan dara cantik ini, bahkan gelambir pada bibir dalam vagina miliknya semakin lebar yang keluar. Kemaluan Yuki yang sebelum bercinta denganku itu masih indah dan mulus sekarang telah sedikit menghitam mungkin karena memar dan gesekan yang di akibatkan oleh penis yang sangat besar. Bibir vaginanyapun sekarang tidak menutup sempurna seperti dulu lagi tetapi sudah bercelah walaupun tidak dalam kondisi terangsang dan gelambirnya terlihat jelas. Dari situ sudah terlihat kalau batang kemaluanku telah merusak liang kewanitaan Yuki yang cantik ini, sesuatu yang Ryuji suaminya tidak dapat lakukan dengan batang penis yang sedang-sedang saja itu.
Sekitar 15 menit aku memompa Yuki dengan posisi ini dan selama itu pula vagina sempit gadis Jepang ini terhunjam oleh kemaluan besarku dan setidaknya sudah mencapai orgasmenya 2 kali. Buah dada Yuki yang menggantung bebas itu sudah memerah karena remasan tanganku sementara puting susunya juga sudah mengacung sedari tadi. “Yuki…you are so hot…I wanna cum…” ucapku sambil mempercepat sodokan penisku.
Yuki memelankan desahannya dan menjawab, “Yes…just cum inside of me. I want your sperm all over my pussy…do it baby…akhhh…” sambil mendesah Yuki ikut menggerakkan pinggulnya mengikuti irama pompaanku. Beberapa detik kemudian aku melakukan satu hunjaman keras ke vaginanya dan menyemprotkan seluruh air maniku didalam liang kemaluan dara cantik ini. “Akhhh…Adi…its warm…akhhh…yesss…” racau Yuki yang lalu tubuh atasnya ambruk ke atas tempat cucian sementara bagian bawah tubuhnya masih menjuntai kebawah lemas setelah aku genjot selama 15 menit lebih. Akupun jatuh diatas punggungnya sambil tetap memeluknya dengan batang kejantanan masih menancap di vaginanya.
“Wow…that’s really hot.” Kata Viola yang kemudian mengambil foto kami berdua termasuk saat spermaku mulai mengalir dari dalam liang kemaluan Yuki. “Damn. I should tape it with handycam. So we can see that’s all.” Kata Viola lagi jengkel karena tidak menemukan handycamnya.
Sekitar 1 jam setelah aku selesai bercinta dengan Yuki, Anyssa dan yang lain telah kembali dari berbelanja. “What have you bought?” tanya Viola sambil menunjuk ke bungkusan-bungkusan yang dibawa Mickey dan Ryuji. Mickey mengeluarkan isinya yang ternyata adalah makanan kecil/snack dan beberapa jenis minuman kaleng, terutama bir. Memang bule satu ini tidak bisa lepas dari kecanduannya terhadap alkohol. Sementara itu Ryuji membelikan kami semua pakaian khas Bali terutama sarungnya.
“Hei, look at this! Mickey give me this.” Kata Anyssa sambil memamerkan sebuah daster warna merah tua yang transparan satu set dengan celana dalam tipis yang juga warna merah tanpa bra. Sangat seksi menurutku. Mickey juga membelikan Lina satu set daster tidur dan celana dalam motif yang sama tetapi dengan warna putih. Viola merajuk Mickey dan pria itu hanya tertawa dan mengeluarkan dua bungkusan lainnya yang berisi lingerie untuk Viola dan Yuki. Viola girang tetapi Yuki agak murung, mungkin dia berharap kalau Ryuji akan memberinya sesuatu tetapi malah Mickey.
Setelah ngobrol sebentar dan makan kami bersiap-siap untuk pergi ke danau kintamani. Karena jaraknya agak jauh maka kami diharapkan membawa pakaian ganti jika nanti ingin bermain air. Guide dan sekaligus sopir kami akan tiba sekitar setengah jam lagi sementara itu kami asyik dengan kegiatan kami sendiri sambil menunggu. Di pinggir kolam renang, Mickey mendekatiku sambil membawa sebuah handycam miliknya.
“Hey my friend. Aku mau memperlihatkan sesuatu. Heheheh…” kekehnya sambil memperlihatkan rekaman dari handycamnya padaku. “We tape it when we going this morning.” Katanya lagi sambil memberikanku handycam-nya.
Pertama-tama aku hanya melihat pemandangan di perjalanan dari dalam mobil yang bergerak. Memang mini van yang kami sewa selama tiga hari ini di bawa oleh Mickey saat pergi pagi ini. Lima menit kemudian pemandangan berganti. Di layar kecil tersebut terpampang sepasang payudara dan aku tahu benar kalau payudara itu milik pacarku Anyssa. Kemudian kamera bergeser keatas dan merekam wajah Anyssa yang malu-malu tapi mau. Kemudian wajahnya itu berubah menjadi mesum. Dibukanya mulutnya kecil terus lidahnya dikeluarkan dan dimainkannya dengan menjilati bibirnya sendiri dengan sangat seksi.
Semenit kemudian kamera tersebut merekam wajah Anyssa yang mendekati Ryuji yang berada di belakang stir mobil yang berjalan pelan. Berikutnya adalah adegan dimana bibir Anyssa terlihat saling melumat dengan bibir Ryuji. Lalu Ani pindah kebelakang tetapi tetap dengan berciuman dengan Ryuji. Bangku di jok terdepan untuk penumpang yang terletak di sebelah kursi sopir direbahkan oleh kekasihku ini dan dia dengan leluasa dapat rebah dari arah baris belakang. Kepalanya lalu menuju kearah paha Ryuji dan tangannyapun membua resleuting celana Ryuji dan bisa ditebak selanjutnya apa yang terjadi. Begitu batang kemaluan Ryuji mencuat keluar, Anyssa langsung membuka bibirnya dan mengulum batang kejantanan pria Jepang itu tanpa malu-malu lagi. Digerakkannya bibir mungilnya itu naik turun mengulum penis suami Yuki itu sementara Ryuji mendesah keras menahan kenikmatan sepongan pacarku. Terkadang lidah Anyssa bermain di ujung tonggak terpedo milik Ryuji sehingga tanpa sadar Ryuji menggunakan salah satu tangannya untuk mendorong kepala Anyssa agar lebih dalam mengulum kemaluannya tersebut.
Terkadang tangan Ryuji dan Mickey meremas payudara Anyssa yang setengah menggantung kebawah itu dengan gemasnya. Tubuh Anyssa bagian atas sekarang sudah telanjang dan tinggal mengenakan celana pendek saja. Sekitar 4 atau 5 menit Anyssa mengoral Ryuji, tiba-tiba gambar di kamera mulai bergerak-gerak dan berakhir dengan kamera yang disangkut dan diikatkan di safety belt.
Handy cam itu menyorot suasana bagian baris belakang dari van ini yang bangkunya sudah dilipat sedemikian rupa sehingga terlihat cukup luas dan datar. Disitu pula terlihat tubuh Anyssa terguncang-guncang dalam posisi merangkak dengan kepala menghadap ke bagian depan van. Yang terlihat dikamera hanyalah wajah Anyssa kekasihku itu dan separuh payudaranya yang sedang diremas-remas dari belakang oleh Mickey.
Saat Anyssa beralih berpindah posisi merangkak menghadap kebagian belakang baru terlihat aktivitas yang sesungguhnya. Tubuh Anyssa yang merangkak itu sedang dipompa oleh Mickey dengan posisi doggy style. Aku melihat jelas bagaimana tonggak kejantanan Mickey memompa liang vagina pacarku dengan beringas. Batang torpedo milik bule itu berulang kali menghunjam dan keluar melibas bibir vagina Anyssa yang sudah memerah. Cairan kewanitaannya bercampur dengan cairan pelumas dari penis Mickey.
Aku dapat mendengar dengan jelas erangan Mickey yang disambut dengan desahan Anyssa saat mereka berdua bercinta. Buah pelir Mickey terlihat jelas membentur-bentur bibir vagina Anyssa yang basah itu. Kedua tangan Anyssa lalu bersandar pada pintu bagasi mobil dan buah dadanya menempel pada kaca pintu itu karena sodokan Mickey yang mendorong tubuhnya terus maju. Dalam situasi kecepatan mobil yang rendah ini ada kemungkinan kalau dari luar orang dapat menyaksikan buah dada Anyssa yang menempel erat dikaca atau bahkan dapat melihat tubuh bugilnya yang sedang dikerjai oleh batang besar seorang bule.
Puas dengan posisi doggy style, Mickey membalikkan tubuh pacarku itu menjadi terlentang. Sekarang dia merekam detik-detik dimana tonggak kejantanannya itu menerobos dan menyodok liang kemaluan Anyssa. Sekali lagi bibir kemaluan Anyssa terbelah karena tusukan batang perkasa milik Mickey. Berulsng kali Mickey melakukan putaran dengan penisnya yang kemudian menyodok vagina Anyssa dengan kencang sehingga membuat seolah-olah vagina pacarku sedang memblender batang kejantanan bule ini. Mickey dengan rakusnya juga menciumi bibir Anyssa dan juga kedua putingnya. Bagai gayung bersambut, Anyssa-pun membalas ciuman Mickey dengan tak kalah ganasnya. Sementara bibir mereka saling berpagutan, batang kejantanan Mickey terus tanpa hentinya mengguncang dan mengaduk-aduk seluruh ruang di lubang kewanitaan Anyssa kekasihku itu. Anyssa mengerang sambil mencakar pelan punggung Mickey dan menegang setelah menggelinjang hebat. Pacarku itu telah mencapai orgasmenya yang entah keberapa. Tak selang beberapa lama kemudian, Mickey juga menggelinjang dan memeluk erat tubuh pacarku yang sudah bugil itu. Pria ini menumpahkan cairan ejakulasinya didalam liang kemaluan pacarku. Mereka berpelukan cukup lama dan saat Mickey mencabut batang kemaluannya dari vagina Ani, aku melihat cairan putih kental mengalir keluar dari bibir kemaluan Anyssa. Mereka berdua lalu berciuman sebelum mengambil kembali handy cam-nya.
“Pacar ye benar-benar luar biasa. Binal sekali dan kuat dalam bercinta. Bagaimana jika nanti di danau kita bertukar pasangan saja?” kata Mickey sambil mengusap batang kemaluannya dari balik celananya.
Aku tersenyum rigan dan menyetujuinya. Dalam hati aku panas juga melihat kebinalan pacarku tetapi entah kenapa aku juga menikmatinya. Apakah aku ini sudah sebegitu terobsesinya pada seks atau memang ada kelainan dalam diriku. Setidaknya masih lama bagiku untuk dapat tahu itu.
Tak lama kemudian sopir kami datang dan kamipun beranjak pergi ke danau Kintamani untuk berwisata. Chapter 34
Orgy Party: Antara Cinta dan Dendam


Dalam wisata kali ini kami diperlihatkan keindahan danau yang jernih dengan pemandangan alam yang elok. Deretan bangunan kuno yang sebagian sudah menjadi puing menghiasi salah satu sisi danau tersebut. Sayang sekali sudah rusak tetapi kami masih dapat melihat keindahan beberapa bagian yang masih utuh, seperti candi kecil-kecil.
Saat sedang asyik berkeliling bersama Yuki dan Viola, tiba-tiba kami melihat seorang pria bule sedang asyik berciuman dengan seorang gadis pribumi. Dugaanku gadis itu adalah pelacur kelas atas jika dilihat dari dandanan dan wajahnya dan memang benar dugaanku ketika aku bertanya kepada tukang perahu yang kami sewa. Mereka tidak memperhatikan kehadiran kami bertiga dan asyik bercumbu dengan bersandar pada bangunan candi kecil. Aku kaget juga ketika si bule itu menurunkan resleuting celananya dan mengeluarkan batang kemaluannya dari dalam celana pendek yang ia kenakan. Lalu lengan besarnya itu mengangkat salah satu paha sang gadis yang ternyata sudah tidak bercelana dalam. Rok mini cewek cantik itu disingkapnya keatas sampai-sampai aku saja dapat melihat bulu halus kemaluannya yang tercukur rapi.
Bule itu lalu melesakkan batang torpedonya yang bewarna putih kemerahan itu masuk ke vagina sang gadis. Pelacur itu lalu kembali berciuman lagi dengan bule sinting tersebut. Entah sudah berapa kali kedua insan berlainan jenis itu saling mencumbu dan seolah berlomba menuju kenikmatan mereka masing-masing.
Aku menjadi sedikit gerah juga melihat tingkah laku bule dan pelacur barusan. Akhirnya aku pergi dan mencari lokasi lain untuk berfoto bersama dengan Yuki dan Viola. Sekitar jam 7 malam kami kembali dari jalan-jalan dan berdasar kesepakatan bersama kami hang out sebentar di salah satu night club di sekitar Legian. Kebanyakan yang berada disana adalah turis asing. Entah magnet apa yang membuat kami bertujuh betah, tapi yang jelas kami masih berada didalam night club itu saat jam menunjukkan pukul 9 malam. “Gila nih cewek-cewek. Nggak ngantuk apa yah?” pikirku dalam hati.
Saat aku mengambilkan minuman untuk Viola yang kebetulan memesan sesuatu yang lain daripada yang lain yaitu Bloody Marry (minuman bewarna merah dan terdapat kesan pedas) yang hanya dia seorang yang doyan minuman itu. Lampu tiba-tiba dibuat lebih temaram walaupun sebelumnya juga sudah temaram. Pesta lanjutan dimulai yaitu dengan munculnya 3 cewek bartender yang sebelumnya berada dibelakang meja bar sekarang naik keatas meja bar dan mulai melakukan gerakan erotis dan beberapa saat kemudian mereka melepaskan baju satu persatu hingga tinggal mengenakan celana dalam sehingga aku dapat melihat jelas lekuk tubuh mereka termasuk buah dadanya yang menggantung walaupun tidak begitu besar. “That’s nasty. Hahaha…” seru Mickey dari belakangku. Ternyata para tamu juga tidak mau kalah gila. Mereka melucuti pakaian pasangan mereka hingga tinggal mengenakan pakaian dalam saja. Ketiga cewek bartender itupun tidak lekas berhenti tetapi malah mengeluarkan provokasi yang menantang para pria dan wanita di ruangan itu untuk melepaskan pakaian mereka jika mereka memang berani. Banyak dari para tamu night club itu menyanggupi tantangan terseut karena kebanyakan dari mereka memang sudah setengah mabuk atau minimal tipsy.
Saat aku kembali ke meja tempat grupku sedang duduk-duduk, aku melihat Mickey sudah tinggal mengenakan celana dalamnya yang berupa boxer sementara Ryuji hanya berani melepaskan kaus lengan panjangnya. Lalu aku mengalihkan pandanganku kearah Viola yang sudah tinggal mengenakan celana dalam warna merahnya, gadis satu ini memang tidak mau kalah soal nekat-nekatan.
Yuki masih berusaha menahan diri tetapi akhirnya dia harus menyerah karena desakan dari Ryuji dan Viola yang melucuti pakaiannya secara paksa sehingga kini dia tinggal mengenakan pakaian dalam set warna kuning tua. Sementara itu Mickey melucuti pakaian dalam Anyssa hingga sekarang pacarku itu tinggal bercelana dalam. Kala itu dia mengenakan celana dalam warna oranye dengan gambar boneka Teddy Bear di bagian depannya. Aku tidak melihat Lina anehnya. Aku mencoba mencari tetapi tetap tidak ketemu karena temaramnya lampu diskotik ini.
Musik semakin tambah ramai dan begitu juga dengan tarian 3 bartender cantik itu. Mereka bahkan berani bugil total dan sesekali mengangkangi wajah pria-pria yang duduk tepat di depan meja bartender memperlihatkan vagina mereka dengan sejelas-jelasnya kepada mereka. “That really nasty. I should know this place from the beginning….damn it.” Seru Mickey kepadaku dan aku bertanya padanya dari mana dia dapat informasi tempat ini. Dia tersenyum sambil menuangkan minuman dari botol ke gelasku, “From my uncle, Anthony’s father. I bet he oftenly going to this place dude.” Kami lalu tertawa bersama.
Babak selanjutnya dimulai dimana muncul beberapa penari erotis yang membantu tugas bartender yang striptease didepan dengan cara mengelilingi ruangan sambil melucuti pakaian mereka satu demi satu walaupun sebenarnya saat mereka muncul tadi hanya mengenakan bikini tipis saja, tapi itupun bisa dianggap pakaian khan?
Setidaknya ada 8 cewek yang mengintari ruangan itu sambil terkadang menari erotis didepan pria yang kebetulan mereka lewati. Tak tanggung-tanggung, mereka langsung merangkul dan menciumi leher pria itu sambil mengarahkan tangan mereka ke buah dada mereka tanpa malu dan risih lagi. Wajah cantik para perempuan itu seolah menyihir para laki-laki dari kesadarannya dan dalam hitungan menit saja sudah banyak pria di ruangan itu yang tidak tahan dengan nuansa night club malam itu. Bagi yang membawa pasangan langsung mencumbu pasangannya ditempat entah saat turun di dance floor maupun saat di sofa, mula-mula hanya ciuman tetapi lama-lama merembet ke remasan dan bahkan ada beberapa perempuan bule dan local yang melakukan handjob dan blowjob kepada pasangan mereka tanpa malu-malu lagi walaupun dilihat banyak orang. Namun seperti yang melihatpun juga tidak ambil pusing dan malah ada beberapa yang ikut-ikutan. Mickey adalah salah satu dari kelompok yang ikut-ikutan. Dia merayu Anyssa dan berusaha menciuminya. Walaupun Anyssa berusaha menolak tetapi karena ulah tangan Mickey yang meremasi seluruh bagian tubuhnya membuat dia menjadi tidak kuasa menahan libidonya sendiri. Tubuhnya limbung dan terduduk di sofa besar tempat kami bersantai dan karena dia sendiri memang sudah tidak ber-bra maka dengan mudahnya sepasang payudara ranum miliknya menjadi sasaran tangan Mickey ditambah lagi bibirnya yang langsung nyosor tanpa permisi lagi. Pertahanan Anyssa telah hancur total. Sementara itu Ryuji malah ber-asyik masyuk dengan Viola. Entah sejak kapan Ryuji yang duduk didekat Anyssa malah sudah memperoleh seks oral dari Viola, blowjob yang sangat panas dan hebat. Viola yang waktu itu sudah telanjang bulatpun membiarkan bibir vaginanya diobok-obok jemari tangan Ryuji bahkan ada seorang pengunjung yang sepertinya sudah agak mabuk ikut-ikutan meremasi payudara Viola dan sepertinya Mickey tidak ambil pusing soal itu, melihat buah dada pacarnya disentuh pria lain yang tak dikenal.
Yuki melihatku yang sedang celingukan kesana kemari sepertinya tahu kalau aku sedang mencari Lina yang menghilang entah kemana. Lalu dia menawarkan diri untuk mencarinya, lalu diapun pergi. Sesaat kemudian Lina kembali, dia ternyata barusan dari luar diskotik untuk menelepon orang tuanya untuk menghindari kecurigaan mereka.
“Kamu lihat Yuki? Dia tadi nyariin kamu lho Lin.” Tanyaku padanya sambil melihat kearah Yuki tadi pergi. Lina menggeleng lalu tatapannya mengarah ke Viola lalu kearah kakaknya, Anyssa. Aku menoleh dan melihat pemandangan mengejutkan. Pacarku saat itu sedang disetubuhi Mickey di sofa besar. Tubuh mungil Anyssa ditindihnya diatas sofa sementara batang kemaluan bule gila ini melesak masuk tanpa henti kedalam vagina Anyssa padahal saat itu banyak orang didekat mereka tetapi sepertinya mereka cuek-cuek saja mungkin karena lampu temaram dan semua sibuk dengan pasangannya sendiri-sendiri. Aku sendiri heran mengapa Anyssa sepertinya tidak melakukan perlawanan sama sekali setelah ditindih Mickey padahal dulunya dia seorang yang pemalu tetapi sekarang dia malah berani bercinta dengan seorang bule didepan banyak orang. Lina lalu memandangku dan langsung mencumi bibirku. Aku tahu apa yang dia rasakan, rasa bahwa dia mencintaiku dari dulu tetapi harus menerima kenyataan kalau dirinya kalah bersaing dengan sang kakak dalam memperebutkan cintaku. Lina yang waktu itu masih mengenakan pakaian lengkap langsung membuka kaus tank top-nya dan dilemparnya kearah sofa lalu dia melucuti celana dalamnya dan dilemparnya kewajah Mickey yang lalu disambar bule gila itu untuk diciumi, benar-benar gila pikirku.
Lina lalu menyingkapkan rok mininya dan di pelorotkannya celana pantaiku bersama dengan celana dalamku sehingga sekarang terlihat batang kemaluanku yang sudah tegak berdiri dengan kokohnya. Beberapa orang didekatku sempat melirik dan tersenyum bahkan ada seorang cewek cina (entah keturunan atau asli) yang kelepasan berkata “Wow!” mungkin tang dia maksud adalah ukurannya yang besar.
Aku tahu benar apa mau gadis cantik ini. “Lina…kamu nggak malu Lin?” tanyaku memperjelas situasi disana.
Lina menggeleng lalu berkata,”Kalau mbak Ani aja bias kenapa aku nggak? Biar kita tunjukin kalau bukan cumin dia yang bisa ngentotan.” Katanya padaku sambil mengarahkan batang kemaluanku kebibir vaginanya. Perlahan namun pasti aku berhasil menyibakkan himpitan daging berkumis itu dengan torpedo milikku. Lina sempat merintih sebentar lalu dalam posisi berdiri dengan bersandar pada dinding, aku mulai menggenjot vagina dari adik pacarku ini. “Mas….akhhh…lebih keras massshhh…” desah perempuan cantik ini. Aku jawab tantangannya dengan sodokan yang lebih liar lagi. Di kondisi normal mungkin dia akan merintih kesakitan tetapi saat itu entah apa yang mendorongnya untuk menjadi lebih horny dari biasanya.
Aku melirik kearah cewek cina yang tadi sempat keceplosan ngomong, sepertinya dia sedang dicumbu pasangannya yang seorang bule dengan posisi berdiri namun tidak sampai coitus (bercinta) melainkan hanya sampai adegan saling mencium dan meremas.
Anyssa sendiri sudah melayang-layang kelangit ketujuh. Aku sempat melihatnya mengejang hebat tadi yang tandanya dia telah mencapai orgasmenya yang pertama. Namun Mickey masih dengan perkasanya menusuk dan membombardir vagina pacarku itu tanpa ampun sehingga sekarang aku dapat melihat tubuh Anyssa terguncang-guncang akibat sodokan penis Mickey yang besar itu. Jika musik di club ini tidak keras mungkin bakalan terdengar desahan dan jeritan pacarku yang saat itu sedang dikerjai oleh Mickey di sofa.
Aku kembali melihat ke Lina yang wajahnya sudha memerah tipsy bercampur horny. Gadis ini menyingkap bra miliknya sehingga sekarang aku dapat menikmati sepasang buah dada mulus nan putih milik adik pacarku ini. Lina merem melek tiap kali aku mempermainkan ujung putingnya dengan jemariu maupun dengan lidahku. Sesekali aku hisap sehingga puting susunya menjadi semakin tegan dan merah, ditambah dengan irama sodokan penisku yang memompa memeknya tanpa henti membuat gadis remaja ini terbang rasanya. Tak sampai 5 menit, Lina sudah mencapai orgasmenya. Dipeluknya tubuhku erat-erat lalu aku merasakan otot-otot vaginanya mencengkeram erat batang kejantananku sehingga nyaris membuatku mencapai klimaks tapi untunglah bisa kutahan. Lina lalu ambruk keatas sofa dan terduduk lemas disana menikmati sisa-sisa orgasme yang barusaja dia alami.
Aku memalingkan wajahku kearah Viola yang sekarang berada dalam posisi doggy style. Dia sedang mengulum penis Ryuji dengan lahapnya sementara itu dari belakang vaginanya sedang dijajah oleh penis bule yang tak dikenal. Batang kemaluan bule itu tidak begitu besar untuk ukuran bule karena dibandingkan dengan milikku jelas masih panjang milikku hanya saja diameternya saja mungkin saja sehingga terkesan menekan dinding samping pada vagina Viola yang kala itu juga harus melayani remasan tangan Ryuji di buah dadanya yang menggantung dan berguncang dengan seksinya tiap kali bule tak dikenal itu melesakkan batang kemaluannya dengan keras kedalam vagina gadis cantik ini.
Sementara itu Anyssa masih dalam posisi ditindih Mickey yang masih saja memompa lubang kemaluannya dengan tusukan-tusukan yang keras sehingga terkadang bibir luar dari kemaluan Anyssa ikut melesak masuk karena kecepatan sodokan penis Mickey terlalu cepat dan ukurannya terlalu besar dibandingkan dengan penis yang biasa hinggap di vaginanya. Lalu dari samping kanannya muncul seorang bule juga yang usianya sedikit lebih tua dari Mickey (jika dilihat dari potongan wajahnya) mencium Anyssa dengan tiba-tiba. Herannya lagi pacarku itu seolah-olah tidak peduli bahkan ketika bule misterius itu meremas-remas payudaranya dan mencumbu lehernya. Mickey malah kelihatan senang dengan variasi tersebut.
“You like it honey?” goda Mickey sambil menyodok dengan keras vagina pacarku itu.
Anyssa dibuatnya gelagapan lalu dia membalas godaannya, “Yeah. Do me more baby! Thrust me more with your dick.” Desahnya lalu disambut dengan senyuman Mickey yang kemudian mencabut penisnya dari dalam vagina pacarku lalu diarahkannya penisnya itu ke vagina Lina yang sedang menganggur. Aku mencoba mencegah tetapi Mickey sudah terlanjur main tancap saja tanpa permisi. Lina terkejut merasakan kemaluannya kembali disusupi oleh batang kejantanan pria yang lebih besar lagi. Mickey lalu menciumi Lina sambil menindihnya sehingga Lina-pun tidak dapat banyak memberontak ketika kembali vaginanya dipompa oleh penis seorang pria yang kali ini adalah bule dengan nafsu dan penis sama besarnya.
Anyssa yang sempat kaget dengan pindahnya penis Mickey ke vagina adiknya berusaha berdiri dari posisi telentangnya di sofa namun kembali tubuhnya didorong kebelakang sehingga dia kembali ambruk di sofa. Bule misterius yang tadi sempat menciuminya sekarang sudah mengeluarkan batang kemaluannya dari balik celana pantai miliknya dan langsung mengarahkannya ke bibir kemaluan pacarku itu. Vagina Anyssa yang barusaja menerima sodokan penis Mickey yang besar sekarang membuka berbentuk huruf ‘O’. Penis bule misterius ini panjang tetapi diameternya tidak sebesar milikku maupun Mickey tetapi dengan bentuk yang bengkok kebawah membuat penis itu sepertinya akan memberikan sensasi tersendiri bagi Anyssa.
Anyssa mendesah agak keras ketika bibir lubang kewanitaannya dimasuki secara paksa oleh penis sang bule tersebut. Kekasihku itu menggigit bibir bawahnya saat bule itu mulai memompa liang vaginanya. Diluar dugaan, ternyata permainan bule itu lebih lembut dari Mickey. Perlawanan Anyssa kembali kandas ketika merasakan kenikmatan yang dia dapatkan dari bule tersebut. Bahkan beberapa kali dia mengarahkan tangan bule itu ke buah dadanya dan meminta cium kepada bule tersebut.
Panas juga hatiku dibuatnya tapi mau bagaimana lagi karena hal ini sudah menjadi komitmen kami kalau di dalam acara jalan-jalan kami di Bali ini tidak boleh cemburu pada pasangannya, apapun yang terjadi. Aku memutuskan untuk mencari Yuki yang kebetulan belum memiliki pasangan untuk bercinta. Aku lalu beranjak dari tempat itu dan lima menit kemudian aku berhasil menemukan Yuki di salah ruangan semi tertutup yang berada di ujung gang kecil di diskotik itu yang berisi ruangan-ruangan kecil dengan tutup gordin tranparan warna ungu muda.
Aku melihat Yuki sudah tidak mengenakan pakaian sehelaipun dan rambutnya terlihat acak-acakkan. Seorang pria berkulit hitam, aku rasa dia orang dari Nigeria, sedang menggenjot lubang kewanitaannya dari belakang dengan posisi setengah doggy style hanya saja Yuki masih dalam posisi setengah berdiri dengan dua tangannya bersandar pada pria berkulit hitam lainnya yang berdiri tepat dimukanya yang sedang menikmati blow job dari bibir Yuki yang mungil itu. Bahkan tak jarang pria negro itu mendorongkan kepala Yuki agar penis hitamnya yang besar berurat itu dapat ditelan separuhnya kedalam mulut Yuki, terkadang lebih mirip menjambak rambut perempuan Jepang ini.
Buah dada Yuki yang putih mulus itupun tak lepas dari sasaran pria negro yang sekarang ini sedang menunggangi tubuh putihnya itu. Payudara gadis cantik ini diremas dengan penuh nafsu oleh negro tersebut dari belakang sembari terus memompa penisnya yang hitam legam itu di liang vagina merah muda milik Yuki.
“Damn! I like this bitch, she know how to be fuck.” Ejek negro yang sedang menyodok memeknya itu. Lalu dijawab dengan tawa oleh negro satunya lagi sambil menikmati oral seks yang diberikan Yuki kepadanya.
“Okh, her lips so tender and yet so hot. Bitch…suck it harder!” seru negro itu lalu mempercepat goyangan penisnya didalam rongga mulut Yuki. Nyaris saja Yuki tersedak dan muntah tapi apa daya tubuhnya tidak dalam posisi yang menguntungkan untuk memberontak.
Tak lama kemudian negro tersebut memuntahkan cairan spermanya di dalam vagina Yuki lalu negro yang satunya lagi mengambil alih posisi temannya untuk menjarah vagina Yuki. “Look at this cunt! Really whore isn’t? She cum a lot…hahaha…” ejek negro yang memperoleh giliran kedua itu. Lalu tanpa piker panjang lagi dia melesakkan batang kejantanannya yang besar dan panjang itu kedalam liang senggama Yuki yang sempat merintih ketika merasakan bibir vaginanya kembali terbelah oleh batang-batang jahanam milik negro-negro mesum itu. Aku ingin menghentikan aksi dua negro sial itu tetapi setelah kupikir-pikir tidak ada untungnya juga karena Yuki toh bukan siapa-siapaku dan sudah menjadi istri Ryuki, so what the hell lah.
Aku kembali menuju ke meja yang kami pesan dan menemukan kalau Mickey sudah selesai meniduri Lina. Lina yang masih dalam posisi mengangkang memperlihatkan vaginanya yang sudah terbuka berbentuk ‘O’ seperti milik kakaknya dan memerah. Cairan putih kental terlihat keluar dari bibir vagina Lina mengalir keluar dan membasahi lantai diskotik. Sementara itu Anyssa sendiri sudah mengenakan celana dalam dan bra-nya kembali sambil mencari pakaiannya yang lain. Dia sempat melihatku dan sedikit panic sambil berusaha menjelaskan tetapi aku tahu benar kalau sekarang didalam liang kewanitaannya telah terdapat sisa-sisa ejakulasi bule misterius tadi. Sementara itu Viola menghilang entah kemana bersama dengan Ryuji.
Aku menahan libidoku cukup lama setelah melihat adegan-adegan mesum barusan, apalagi Lina belum memuaskanku tadi. Aku lalu keluar dari diskotik dan menuju ke tempat parkir untuk menyegarkan pikiran. Saat aku sedang mencari mobil sewaan kami kembali lagi aku bertemu dengan cewek cina yang tadi berada didalam bersama pasangannya yang bule.
“Mencari apaan?” sapanya padaku. Ternyata dia orang Indonesia saja dan hanya keturunan, bukan dari RRC asli. Aku lalu berbincang dengannya. Namanya Rika dan dia cukup enak diajak bicara. Dia seorang lady escort ternyata dan juga seorang mahasiswi semester akhir di sebuah universitas ternama di Bali. Ternyata bule yang membawanya malah mabuk dan tertidur didalam mobilnya saat itu sementara sang gadis tidak dapat menyetir.
Hawa dingin malam itu membuat obrolan kami lama-lama menjadi semakin menjurus ke hal-hal yang mesum. Belum lagi pakaiannya yang berbelahan leher rendah membuatku sering melirik ke belahan payudaranya yang besar dan putih mulus. Alhasil akhirnya karena sama-sama tak tahan menahan libido lagi dia lalu memberanikan diri bertanya, “Boleh nggak lihat punya kamu yang tadi? Penasaran soalnya. Punya orang pribumi kok lebih gede dari punya pacarku yang bule ini.” Tanyanya malu-malu.
“Kalau aku kasih lihat, aku dapat apa sebagai balasannya?” godaku padanya. Perempuan itupun bersedia memperlihatkan vaginanya padaku. Akupun setuju dengan barter itu.
Lalu aku pelorotkan celana pantaiku dan batang kemaluanku segera mengacung dengan gagahnya didepan perempuan keturunan ini. Rika setengah terbelalak juga dan tangannya lalu menyentuh batang kejantananku dengan lembut seolah mengagumi ukuran dan bentuknya. “Udah besar, kencang lagi. Biasanya yang kelewat besar khan jadinya agak loyo tapi ini udah besar ehhh masih kencang banget.” Kata Rika sambil mengocok batang kemaluanku. “Hehehe…enak nggak?” godanya.
“Giliranmu donk! Gua juga pengen lihat pussy kamu.” Kataku sambil mencoba menyobak rok mininya tapi ditepis dengan tangan mulusnya itu.
“Sabar dikit deh! Kayak orang dikejer maling aja kamu ini.” Balasnya sambil memelorotkan celana dalamnya yang ternyata mirip G-string daripada celana dalam cewek. Kecil dan tipis. Lalu disibakkannya rok mini jeansnya sambil duduk di bagian bagasi mobil (mobilnya sejenis dengan kijang dengan bagasi luas dibelakang sehingga dapat untuk duduk-duduk dipinggirnya) dan di bentangkannya kedua kaki jenjangnya sehingga aku dapat melihat paha putih mulus milik dara cantik ini yang akhirnya aku dapat melihat bibir vaginanya yang bewarna putih kemerahan bersih dari bulu. “Pacarku gak suka pubic jadi kubuang aja.” Katanya saat aku mengelus-elus bibir kemaluannya juga klitorisnya.
Tanpa sadar kami berciuman dan tanganku masih bersarang di vaginanya yang kali ini lebih berani lagi. Jemariku sudah berani menusuk dan mengobok-obok bagian dalam liang kewanitaan Rika dan sepertinya Rika juga tak keberatan dengan hal tersebut. Rika bahkan telah berani mengocok batang kemaluanku dengan lebih cepat dari yang tadi dan jemarinya yang lentik mempermainkan ujung penisku sehingga membuatku semakin horny dibuatnya.
Teringat kembali kejadian didalam night club tadi membuatku semakin lupa diri, aku kembali membuka pahanya dan mengarahkan batang kemaluanku ke bibir vagina gadis cantik ini. “Jangan kasar-kasar yah! Memekku belum pernah merasakan penis yang segede punyamu.” Katanya padaku sambil membantuku mengarahkan batang kejantananku kedalam laing vaginanya.
“Jangan khawatir, nggak sakit kok. Lagipula memekmu khan udah basah non.” Ujarku sambil melesakkan batang kejantananku perlahan kedalam liang kenikmatan milik Rika. Agak sulit memang tetapi benar-benar perjuangan yang layak untuk mendapatkan gadis secantik dan seseksi Rika.
“Akhhh….kontolmu tuh gede banget yah. Sakit…akhhh…” rintih Rika memprotes penetrasiku namun aku acuhkan dan aku terus melesakkan penisku hingga seluruhnya masuk kedalam rongga kewanitaan dara cantik ini. Akhirnya dengan posisi Rika duduk di bagasi mobil, aku memompa vaginanya dengan posisi aku berdiri di bagian luar mobil.
Aku angkat kedua tungkai kakinya dan aku sandarkan di kedua pundakku sementara itu kedua tangan Rika menyangga tubuhnya dari belakang. “Akhhh…Adi kamu hebat. Akhhh…” desahnya ketika aku mulai menggenjot vaginanya yang sudah basah cairan cinta itu.
“Memangnya sudah berapa cowok yang ngentotin kamu?” godaku sambil meremas payudaranya yang sudah menyembul dari tank top yang dia kenakan.
Rika memejamkan matanya menikmati tiap sodokan penisku di liang senggamanya, “6 orang tapi kamu yang paling besar kontolnya…akhhh.” Katanya lalu membuka mata dan tersenyum padaku dengan nakal.
Entah berapa menit kami bercinta, yang aku tahu saat kami sedang asyik bercinta ada sepasang bule muda yang melintas dan tertawa melihat tingkah kami berdua dan sang pria berkata, “Bravo my friend.” Entah apa maksudnya berkata seperti itu. Walaupun dengan satu gaya saja tetapi aku sudah berhasil menggiring Rika ke orgasmenya sebanyak dua kali sebelum akhirnya aku menyemburkan sperma hangatku didalam rahimnya.
“Sorry about that. Aku gak tahan lagi jadi keluar didalam.” Aku meminta maaf kepada Rika tetapi Rika ternyata tidak marah. Ternyata dia menggunakan alat kontrasepsi berupa suntik sehingga dia tidak takut hamil lagi walaupun hari ini adalah masa suburnya.
“Thanks for everything. Kalau nggak ada kamu pastinya malamku bakalan jadi malam kelabu.” Ujarku padanya sambil mencium bibirnya yang merah merekah itu.
“Your welcome Adi. Kalau nggak ada kamu aku juga bakalan manyun semalaman apalagi setelah acara live show di dalam. Pacarku malah live show sendirian di alam mimpi.” Sahut Rika lalu kami berdua tertawa. Pacar Rika sepertinya mulai sadar dari mabuknya walaupun dia belum sadar kalau selama dia tertidur didalam mobil, pacarnya yang cantik ini sedang kusetubuhi.
Aku lalu pergi dari tempat itu dan menuju kearah diskotik lagi tetapi aku melihat Mickey dan yang lain sedang keluar dari tempat itu. Lalu kami bersama kembali ke cottage. Mickey setengah teler jadi aku yang mengemudikan mobilnya walaupun dengan pelan-pelan. Duduk didepan, disampingku adalah Yuki sementara yang lain sudah pulas tertidur didalam mobil yang berjalan.
Yuki yang masih tipsy membuka celanaku dan melakukan blow job saat aku menyetir. Sedikit mengganggu memang tetapi kenikmatan ini enggan aku buang jadi kunikmati saja sambil berharap mobilku tidak menabrak sesuatu karena aku terlampau terbuai oleh mulut dan lidah Yuki. Chapter 35
the Good Bye


Paginya merupakan hari terakhir bagi kami untuk bersama-sama di cottage ini. Yuki dan Ryuji masih ingin di Bali untuk 3 hari mendatang sementara Mickey sudah terburu-buru pulang karena masalah kantornya yang dijadwalkan melakukan tender bersama dengan perusahaan lain.
Singkatnya aku bersama dengan Lina dan Anyssa kembali pulang ke Jogja sementara itu Mickey dan Viola kembali ke Belanda. Kami berpisah dengan Ryuji dan Yuki di bandara Ngurah Rai.
Hari-hari berikutnya aku lalui dengan kenangan yang cukup banyak membombardir pikiranku. Aku memikirkan Anyssa yang sudah mulai banyak berubah, dia menjadi semakin liar saja bahkan saat di diskotik di Bali pada hari terakhir dia bercinta dengan orang yang tidak dia kenal dimuka umum pula, jelas itu tidak seperti Anyssa yang dulu pernah kukenal. Lina juga sudah mulai berubah sedikit demi sedikit dia sudah meniru sifat kakaknya yang easy going terhadap ajakan pria. Dia juga sudah tidak begitu mengidolakan diriku seperti sebelumnya, mungkin karena pengaruh percintaannya dengan orang lain membuat kadar cintanya padaku sedikit luntur. Itu semua terlihat jelas dimataku.
Pada suatu malam aku sendirian berkeliling kota Solo yang kebetulan berada di dekat kota Jogja. Kota yang cukup besar walaupun tidak sebesar Jogja. Melepaskan suntuk, sekitar jam 7 malam aku berputar-putar di kota itu menggunakan mobil Karimun yang baru saja kubeli hasil dari kerja sambilanku di sebuah MLM yang cukup terkenal. Begitu sampai di perempatan lampu merah di jalan Adi Sucipto aku berhenti karena kebetulan lampu merah menyala. Mobilku berada di urutan nomor tiga dari mobil terdepan. Tatapan mataku yang sebelumnya menerawang entah kemana tiba-tiba terfokus pada sebuah mobil Kijang LGX yang berada bagian depan namun dibarisan samping kanan dari barisan mobilku. Aku melihat seorang gadis yang sepertinya aku kenal dan begitu familiar bagiku. Duduk di bagian depan mobil itu. Untuk meyakinkan diriku, aku nekat membuntutinya karena waktu itu lampu keburu hijau sebelum aku sempat memastikan pandanganku.
Akhirnya mobil itu berhenti di pinggiran stadion sepak bola didekat traffic light yang tadi. Di pinggiran stadion itu ternyata terdapat banyak sekali kafe-kafe tenda yang disambangi oleh banyak kawula muda kota tersebut. Aku pinggirkan mobilku dan sengaja aku tidak keluar dari mobil dan dari dalam mobil aku melihat jelas kalau memang aku mengenal perempuan itu atau lebih tepatnya aku pacar dari perempuan itu. Gadis itu adalah Anyssa pacarku sendiri yang sedang bersama dengan seorang pria asing, pemuda yang berumur setidaknya 30 tahunan. Tinggi dan sedikit berisi dan yang sepertinya anak orang yang cukup berpunya jika dilihat dari caranya berpakaian dan bertingkah laku dimuka umum.
Mereka bercakap-cakap sembari menikmati makanan yang mereka pesan melewati hari Sabtu malam yang dingin ini karena kebetulan akhir-akhir ini sering turun hujan mendadak (menurut para ahli/pakar cuaca sih pengaruh global warming).
Aku telepon handphone milik Anyssa menunggu reaksi dari perempuan ini. Setelah lama baru akhirnya dia mengangkat handphone-nya, begitu mengetahui nomor HP ku tertera di layar HP miliknya akhirnya dia memutuskan untuk menolak panggilan. Jelas sudah apa yang terjadi didepan mataku ini, Anyssa sudah berani berselingkuh dibelakangku. Entah sudah berapa lama tapi yang jelas ini bukan yang pertama kalinya dia keluar dengan pria ini karena melihat kedekatan mereka aku prediksikan kalau mereka sudah cukup lama juga berkenalan.
Anyssa bersenda gurau dengan pria itu sembari sesekali mencubit lengan sang pemuda itu. Pria itupun juga sesekali memegang dan meremas tangan Anyssa dan sesekali juga dia membelai rambut pacarku itu, mesra sekali. Seperti ditonjok jantungku berdegup kencang, marah dan cemburu bercampur dengan rasa ingin tahu. Aku ingin tahu sejauh mana mereka berhubungan, untuk itu pula aku tidak melabrak pria itu.
Setelah lama menunggu akhirnya selesai juga mereka berkencan di kafe tenda itu dan entah mau kemana lagi mereka melanjutkan kencan mereka. Aku melihat jam sudah menunjuk pukul 9 malam lebih 10 menit, jelas nyaris tidak mungkin mereka kembali ke Jogja jam segini. Akhirnya sampai juga aku di sebuah hotel dikawasan selatan kota ini. Hotel yang biasa dikunjungi para marketing perusahaan-perusahaan retail untuk menginap karena harganya terjangkau. “Mobilnya dan dandanannya mewah kok cuman ke hotel kelas melati begini.” pikirku sambil memarkirkan mobilku ditempat yang agak jauh dari parkir mobil miliknya.
Sepertinya keberuntunganku sudah benar-benar nyaris habis karena aku tidak berhasil mendapatkan kamar di samping kamar orang-orang ini tetapi hanya mendapatkan kamar di lantai dua tepat diatas kamar kedua insan ini. Seluruh kamar yang lain sudah ditempati dan di booking lebih dulu, betapa sialnya aku jadi tidak dapat mengawasi mereka berdua dari jarak dekat.
Aku buka jendela bagian belakang kamar yang kutempati, jendela yang cukup besar dengan tanpa beranda, padahal jendela ini nyaris seukuran dengan pintu kamar. Aku julurkan leherku kebawah, aku melihat cahaya lampu dari kamar dibawahku sambil menebak-nebak apa yang sedang dilakukan oleh kedua orang itu didalam kamar.
Aku berpikir seandainya saja disini ada kamera mini berkabel seperti yang dulu kugunakan untuk Amanda mungkin akan sangat berguna. Aku terus mencari-cari kesempatan untuk mendapatkan kesempatan melongok apa yang ada didalam kamar tersebut. Bagian belakang hotel ini berupa tembok tinggi yang terdiri dari dua lapssan tembok. Lapisan terluar berupa tembok dari pemilik bangunan dibelakang hotel sementara itu tembok kedua adalah tembok bagian dalam yang jauh lebih pendek yang setinggi kira-kira 2 meter milik dari pihak hotel dan antara dua tembok itu terdapat sela-sela tanah yang digunakan sebagai got selebar sekitar setengah meter, dulu mungkin sebuah got yang besar tapi kemungkinan pihak hotel merampas tanah negara itu untuk diklaim sebagai miliknya, ini sudah banyak terjadi di Indonesia.
Saat sedang melamun aku melihat seorang pemuda yang sepertinya karyawan hotel sedang memanjat tembok belakang hotel dan melongok kearah kamar. Aku terkejut dan memperhatikan sepertinya orang ini sedang asyik memperhatikan kamar disamping kamar yang dipesan pacarku dengan kekasih gelapnya itu. Aku pun turun dan menyambangi pria tersebut. Pemuda yang berusia sekitar 20an tahun ini tergagap saat aku menanyainya sedang apa gerangan.
Setelah aku meyakinkan dirinya kalau aku tidak akan mengadu atau melakukan tindakan offensive padanya baru dia tenang dan bercerita kalau dikamar yang sedang dia intip itu sedang ada pesta seks. Dua orang marketing sepatu dari kota lain sedang menginap dan memesan dua pramuria didalam kamar itu. Aku setengah tidak percaya kalau dapat melihat dari atas tembok setinggi dua meteran itu namun setelah kupraktekkan ternyata memang bisa walaupun harus dalam posisi berdiri.
“Disini sih udah biasa mas beginian. Marketing dari perusahaan finance motor biasanya yang kesini atau dari marketing rokok bersama supervisor mereka. Kalau kemari yah nyuruh saya atau teman saya untuk memesankan cewek untuk di tiduri mereka.” Jelas karyawan hotel itu dengan gamblang. Saat aku tanya apakah dia tidak takut ketahuan oleh mereka yang didalam dia hanya menjawab santai, “Nggak bakalan mas, soalnya lampu-lampu dibagian belakang hotel sudah saya copot semua terus kalau dari dalam nggak bakalan kelihatan soalnya gelap. Kalau melihat supaya nggak jatuh yah begini ini mas.” Katanya sambil bersandar ditembok bagian luar yang jauh lebih tinggi yang kebetulan terdapat tonjolan-tonjolan ventilasi kaca yang buram yang tidak dapat dibuka milik bangunan dibelakang hotel ini yang kemungkinan ruangan yang karyawan ini gunakan untuk bersandar adalah kamar mandi karena ciri dari ventilasi ini.
Aku sekarang dapat menyaksikan dengan jelas bagaimana bergumulan dua pasang muda mudi itu dalam memadu kasih untuk mencapai kepuasan birahi mereka masing-masing. Aku lalu teringat kalau disebelah kanan kamar ini terdapat kamar yang dihuni pacarku. Aku lalu berpindah kesamping, “Kalo kamar ini bisa juga dilihat khan?” tanyaku padanya dengan berbisik walaupun sebenarnya juga tidak perlu karena deru motor dan mobil yang lalu lalang dari jalan raya terdengar jelas sampai disini.
Pemuda tanggung itu mengangguk dan berbalas bisikan, “Cuman pemainnya cuman satu pasang jadi kurang seru mas, hehehe…” candanya. “Kalau disana malah lebih enak mas soalnya ada tambahan tembok yang dulunya digunakan untuk penambat antena TV tapi berhubung sekarang sudah pake parabola jadinya udah nggak dipakai tapi tembok semennya masih tuh, lebih tinggi sedikit dan lebih lebar malah dari tembok kecil ini.” Jelasnya lagi dan memang benar ada sebuah tembok semen selebar satu meter kali satu meter dengan ketinggian lebih sedikit dari tembok pagar hotel.
Aku beranjak kesana dan benarlah kalau aku bisa melihat dengan cukup jelas suasana di dalam kamar. Tapi betapa terkejutnya aku setelah melihat apa yang kedua orang itu lakukan didalam kamar tersebut. Mereka saling berciuman, saling berpagutan satu dengan yang lain. Aku lalu meloncat kebawah dan bergegas mengambil handycam-ku yang sejatinya aku tenteng kemana-mana untuk merekam kegiatan jalan-jalanku, maklum aku memang punya hoby unik merekam tiap kali aku jalan-jalan malam.
Dengan mode zoom 4x aku dapat dengan jelas melihat wajah kekasihku sedang diciumi oleh pemuda asing ini. Bahkan sekarang aku melihat mereka sudah melepas pakaiannya, sekarang pemuda itu sudah tinggal mengenakan celana dalam saja sementara Anyssa tinggal mengenakan bra yang sudah amburadul karena didesak oleh remasan-remasan liar tangan pemuda sial ini sementara itu celana dalamnya entah sudah minggat kemana karena aku sudah melihat bagian bawahnya sudah telanjang bulat. Walaupun aku tidak dapat mendengar suara mereka berdua tapi aku jelas yakin saat ini kamar itu pasti sudah dipenuhi oleh desahan-desahan penuh nafsu dari dua orang ini.
Pemuda asing itu kemudian membaringkan kekasihku diranjang dan Ani seolah menurut tanpa perlawanan. Dengan rileks, Ani terlentang dengan hanya mengenakan bra warna merahnya yang sudah lepas tali pengaitnya hingga dengan mudah pemuda tersebut dapat melucutinya. Buah dada Anyssa langsung seolah meloncat bebas dari kungkungan bra yang dia pakai. Pemuda ini tidak membuang waktu lagi, dengan penuh nafsu dia melumat kedua payudara Anyssa dengan sesekali mempermainkan putingnya dengan lidah jahanamnya. Air liur pemuda ini membasahi kedua buah dada pacarku ini yang putih mulus nan montok.
Setelah beberapa saat dia mencumbu payudara pacarku, pemuda itu lalu kembali mencium Anyssa dengan lembut. Walaupun begitu tetapi dia tidak begitu saja melepaskan payudara Ani, dengan kedua tangannya dia meremas-remas gunung kembar kebanggaan pacarku itu hingga dia menggelinjang keenakan. Pemuda itu lalu berusaha mencopot celana dalamnya dibantu dengan tangan kekasihku itu. Betapa liarnya Anyssa kala itu, dengan penuh nafsu dia membantu sang pemuda itu memerosotkan celana dalamnya dan begitu sudah seluruhnya lepas dia lalu mengarahkan salah satu tangannya mengocok dan mempermainkan batang kemaluan pria ini dengan lihainya hingga tak butuh waktu lama untuk sang pria ini mencapai titik rangsangnya dan mengeluarkan cairan spermanya diatas perut mulus pacarku itu.
Anyssa tersenyum lalu sepertinya mereka saling menggoda jika dilihat dari cara mereka bersikap. Lalu setelah mengelap sperma itu dengan tissue, pemuda itu lalu kembali menindih pacarku kali ini dengan lebih liar tetapi belum selesai aku terkejut dengan keliaran pemuda asing ini aku lebih terkejut lagi setelah melihat Ani malah membalikkan tubuh sang pemuda itu dengan sekuat tenaga hingga sekarang dirinyalah yang menindih sang pria.
Dia lalu mengarahkan bibirnya kearah batang kemaluan pemuda asing itu. Sembari dikocoknya, Anyssa memberikan servis mulutnya yang terbaik, aku saja yang biasa dia layani bisa dibuatnya kalang kabut kalau dia sudah melakukan oral seks apalagi sekarang lawan mainnya yang belum biasa bermain dengan mulut Anyssa. Pemuda itu merem melek dibuatnya, sesekali tubuhnya mengejang menahan sensasi tiap kali lidah Anyssa menyapu ujung penisnya dengan lembut yang kemudian dilanjutkan dengan kuluman maju mundur dengan mulutnya sementara jemari tangannya tidak segan-segan mempermainkan buah zakar sang pria.
Setelah beberapa menit kemudian Anyssa melepaskan kulumannya dan tersenyum pada sang pemuda. Pemuda itupun membalas senyuman itu dengan remasan pada kedua payudara Anyssa yang menggantung bebas itu. Anyssa lalu mengarahkan vaginanya kearah batang kemaluan pemuda itu yang ternyata sudah kembali tegang tegak mengacung. Sepertinya kuluman Ani sudah berhasil membangunkan kembali batang kejantanan pria ini.
Dalam beberapa kali kesempatan akhirnya Ani berhasil membenamkan seluruh batang kemaluan pria itu kedalam liang vaginanya. Lalu setelah posisinya mantap dia langsung menggoyangkan pinggangnya menggilas kemaluan pria itu sekaligus memblendernya didalam kemaluannya yang sempit itu. Sang pemuda seperti tak kalah kesetanannya dengan Anyssa, dia lalu merangkul tubuh Anyssa sehingga sekarang terlihat pinggul Anyssa naik turun memompa batang kemaluan sang pria dengan cepat dan penuh nafsu. Entah berapa lama mereka bertahan dengan posisi tersebut, berikutnya Anyssa direbahkan kembali sementara didalam kemaluannya masih bercokol batang kejantanan sang pria yang terus memompanya saat berganti posisi. Sekarang pemuda itu kembali menarik tubuh Anyssa sehingga sekarang mereka berhadapan dengan posisi duduk sementara kaki sang pria bersila, kaki Ani bersimpuh separuh berlutut hingga mudah baginya untuk menaik turunkan pinggulnya memompa penis kekasih gelapnya.
Sesaat kemudian Anyssa menyandarkan tubuhnya kepada sang pemuda asing itu sehingga sekarang pompaannya berubah menjadi gilasan vagina sementara itu kedua payudaranya menempel erat dengan dada sang pria yang sedikit berbulu itu. Anyssa sepertinya sudah mencapai orgasmenya hingga tidak kuat lagi melakukan pompaan.
Pasangannya lalu mengambil alih kendali dan membalik tubuh Anyssa menjadi posisi doggy style. Lalu dengan buasnya dia memompa vagina pacarku itu dari belakang tanpa ampun. Aku merasakan rasa cemburu yang jauh lebih besar dari pada saat kekasihku selingkuh dengan Kurnia atau dengan kekasih teman kostnya tempo dulu. Rasa cemburu yang membara tiap kali aku melihat pria itu menusukkan penis kebanggaannya kedalam liang vagina kekasihku. Lebih-lebih lagi tiap kali Anyssa merasakan kenikmatan itu dan menikmatinya sepenuh hati. Namun tak kupungkiri kalau aku juga menikmatinya dan mau tak mau menjadi ikutan horny juga dibuatnya.
Selang beberapa menit kemudian pemuda asing itupun memuntahkan cairan kepuasannya didalam liang kewanitaan Anyssa hingga beberapa ada yang menetes keluar taktala pemuda itu mencabut batang kejantanannya dari liang vagina Anyssa.
Anyssa ambruk tengkurap dengan lemas, berbeda dari biasanya dia sudah terpuaskan dengan sekali orgasme saja, atau mungkin sensasi orgasmenya lain jika dia bercinta dengan pria yang baru. Sementara itu pemuda itu berbaring disamping Anyssa dan mereka kemudian berangkulan dan saling mencium sambil sesekali Anyssa mengurut batang kemaluan pria itu yang sudah setengah tiang.
Selama kurang lebih 40an menit mereka bercinta dengan panasnya didalam kamar hotel itu dan sebagian besar sudah aku abadikan dengan handycam ini. Saat aku akan beranjak dari tempatku berdiri tiba-tiba aku dikagetkan oleh kemunculan pemuda hotel tadi yang sekarang sudah berada di sampingku. Ternyata dia juga menyaksikan dan menikmati tontonan ini bahkan salah satu tangannya merogoh saku celana panjangnya dan bisa kupastikan dia sedang mengocok kemaluannya tadi.
“Wah ternyata yang disini lebih hot yah mas. Yang disamping udah kelar, saya telat soalnya lagipula dua-duanya ejakulasi dini…huh payah banget…mendingan maen sama saya…” gerutunya sambil menyaksikan happy endingnya permainan ranjang pacarku dengan kekasih gelapnya itu.
“Emangnya kamu pernah maen sama cewek berapa kali?” tanyaku asal dan kemudian turun dari tembok.
Pemuda ini mengikutiku, “Belum pernah sih…heheheh.” Jawabnya sambil nyengir ala kuda. Dari pemuda ini aku jadi tahu kalau malam ini ada beberapa kamar yang pelanggan hotel ini dan sering menyewa pelacur kelas SPG tapi belum datang. “Biasanya sih udah datang mas. Mungkin sebentar lagi kali. Tungguin aja ntar juga datang. Maennya siapa tahu lebih asyik dari yang laennya hehehe…” candanya sambil ngeloyor pergi.
Boleh juga pikirku mendengar penuturan pemuda hotel ini. Lalu aku bergegas menyusulnya tapi sebelum itu aku mempersiapkan diri untuk pengintaian malam ini, makan yang banyak plus minum minuman penambah tenaga untuk melek malam. Last Chapter - Part 1
Tanpa Judul

Beberapa hari berikutnya setelah aku memergoki percintaan Anyssa dengan pria asing itu aku bertemu dengan Anyssa di sebuah kafe dekat dengan kampus tempat kami kuliah.
“Hei. Tumben pakai baju warna biru. Biasanya khan sukanya yang merah atau hitam.” Kataku padanya ketika dia duduk dikursi didepanku. Aku tahu benar kalau Anyssa tidak mempunyai pakaian warna biru karena dia tidak begitu suka warna itu.
“Ah nggak. Sekali-kali pengin coba yang lain aja. Bosan itu-itu terus.” Katanya dengan santai. Sementara itu waitress mendatangi kami dan memberikan daftar minuman yang bisa dipesan. Anyssa memesan latte sementara aku memesan black coffee. “Black Coffee? Tumben. Biasanya khan kamu nggak suka yang pahit gitu.” Kata Anyssa sambil melirik kearah waitress yang cukup cantik. Lalu dia berdehem memperingatkanku yang asyik melirik kearah belahan payudara waitress yang sedikit terbuka itu.
Aku tersenyum melihat reaksi Ani. “Hehehe…tau aja. Lagipula aku juga pengen sekali-kali merasakan yang lain kok.” Kataku meniru apa yang diucapkan Ani sebelumnya dan dijawab dengan melengosnya Anyssa dari tatapanku. Aku kembali tertawa kecil.
“Hmm, ada apa sih kok tiba-tiba pengen ketemuan disini?” tanya Anyssa penuh selidik.
“Nothing special. Cuman pengen ngobrol ma kamu aja. Boleh khan?” kataku sambil memainkan tissue dihadapanku.
Anyssa merengut paksa tissue itu dan membuangnya. “Uh, nyebelin deh. Udah tahu paling benci kalau kamu mainin tissue gitu. Oh iya, kemaren ada telepon loh nanyain kamu. Katanya dari Ayu, trus aku bilang aja kalau HP kamu ketinggalan ditempatku selama seminggu dan belum diambil. Nih HP kamu! Ntar kalau ada yang telepon lagi daripada ntar aku salah omong. Eh, Ayu itu siapa sih? Kok aku nggak pernah tahu kamu punya teman cewek yang namanya Ayu?” tanya Anyssa lagi.
“Ada aja. Dia bukan teman kok dia itu dosen. Lagi pula dia telpon aku karena ada masalah yang harus didiskusikan bukannya ngajakin nge-date hahahah…” gelak ku sambil menerima HP dari uluran tangan Ani. “By the way, makasih buat handphonenya udah ngembalikan langsung. Ntar aku bakalan ingat-ingat deh supaya nggak pelupa kaya sekarang hehehe…”
Ani kembali terdiam dan kini melirik kearah jam. “Huh masih jam segini.” Keluhnya.
“Emang kamu mau kemana sih? Kok kelihatannya pengen banget pergi?” tanyaku sambil kembali memperhatikan belahan dada waitress yang datang dan menyuguhkan minuman pesanan kami.
“Nggak kok. Cuman ada teman yang ngajak pergi. Tapi nggak tahu nih jadi apa nggak. Tapi masih 2 jam lagi kok janjiannya.” Kata Ani yang kemudian meminum latte-nya.
“Oh kirain mau ke Solo lagi.” Candaku padanya. Ani terkejut namun dengan cepat dia menutupi keterkejutannya itu. Dalam hati aku mengakui kehebatannya dalam menutupi kebohongannya.
“Kapan juga aku ke Solo. Eh, kamu nggak ada kelas hari ini?” Anyssa mencoba mengalihkan pembicaraan. Kembali dia meminum latte-nya untuk mengurangi kegugupan yang sedang melandanya sekarang ini.
“Nggak juga kok. Tadi pagi khan aku udah kuliah. Untuk hari ini kebetulan kelas kosong. Khan dosen X sedang pergi keluar negeri untuk melanjutkan study S3-nya sementara itu dosen pengganti masih belum datang karena masih mengikuti seminar di Jakarta.” Sahutku. Aku menatap menerawang kearah langit diluar kafe melewati jendela kaca kafe itu.
“Huh melamun lagi. Nggak baik tahu.” Ucap Ani sambil menghabiskan latte-nya. Lalu dia memanggil waitress untuk memesan lemon tea.
“Hufff. Aku jadi ingat kalau kita sudah lama kuliah ya. Udah bukan junior lagi yang bisa senang-senang. Semester depan mungkin aku sudah ujian skripsi namun sampai sekarang aku masih bertingkah seperti mahasiswa baru saja. Senang-senang terus setiap saat.” Kataku sambil menerawang namun sepertinya Anyssa tidak memperhatikan ucapanku karena diwaktu yang sama HP-nya menyala dan ada telepon masuk. Buru-buru dia mohon diri untuk ke kamar kecil, yang sebenarnya dia hanya ingin menerima telepon. Aku memandangnya yang berlalu sambil tersenyum kecil.
Satu jam kemudian kami berpisah dipintu kafe. Anyssa mengatakan kalau dia akan pergi ke perpustakaan sebentar sementara itu aku sendiri mengatakan kalau aku akan balik ke kost. Tentu saja aku bohong karena sebenarnya aku curiga terhadap Ani dan ingin mengikutinya.
Sekitar sepuluh menitan kemudian dia menghubungi seseorang lewat handphonenya. Ya, aku membuntutinya. Sekarang ini dia sudah berada didepan sebuah mini market didekat kampus dan sepertinya menunggu sesuatu atau seseorang. Tepat seperti dugaanku, lima menit kemudian datanglah seorang pria berpakaian rapi dengan mengendarai sebuah mobil kijang LGX warna biru. Anyssa lalu masuk kedalam mobil itu.
Beruntung aku menggunakan motor sehingga mudah bagiku untuk membuntuti mereka apalagi aku mengenakan helm full face sehingga tidak mungkin Anyssa mengenaliku, ditambah aku menggunakan sepeda motor temanku.
Sesampainya di lampu merah mobil itu berhenti dan aku memposisikan diriku dibelakang mobil mereka. Betapa terkesiapnya diriku. Aku melihat Anyssa dan pria itu berciuman dengan mesranya tanpa peduli sekitarnya. Aku yakin kalau bukan hanya diriku yang memperhatikan tingkah kedua orang itu tetapi juga pengendara didekat mereka juga pastilah ada yang menyadari hal tersebut.
Lelah juga selama berjam-jam berputar-putar mengikuti kemana mereka pergi sampai sekitar jam 6 sore. Anyssa dan pria itu meluncur kesebuah vila di daerah pegunungan disekitar kota Jogja. Setelah bingung beberapa saat aku akhirnya berhasil menemukan tempat untuk memata-matai mereka. Kebetulan didekat vila itu terdapat vila-vila kosong dan warung-warung sederhana yang kebetulan juga tidak dihuni. Sempat aku di hardik oleh seorang satpam penunggu villa itu. Lalu dengan alasan ingin menyewa vila akhirnya satpam itu mau mempersilakan aku masuk. Vila yang aku sewa ini berada disebelah vila tempat Anyssa dan kekasih gelapnya menginap. Dengan letak yang lebih tinggi karena kebetulan lokasi kemiringan tanah membuat vila yang kusewa ini menjadi sekitar 3 meter lebih tinggi posisinya daripada vila Anyssa. Aku menelepon teman-temanku yang bisa dihubungi dan mengatakan kalau aku menyewa vila dan menawarkan bagi mereka yang ingin berduaan atau sekedar main-main untuk datang. Padahal yang ku inginkan hanyalah agar mereka menemaniku karena harga sewa vila itu lumayan mahal untuk kocek seorang mahasiswa sepertiku. Untungnya ada 5 orang temanku yang menanggapi ajakan itu, setidaknya uang sewa bisa dibagi berenam.
Jam 8 malam mereka datang dengan menggunakan sebuah motor dan sebuah mobil panther. “Well, tumben-tumbenan lu ngajakin kita-kita hehehe…pas bener nih bos. Kita juga lagi suntuk semua nih. Kemaren abis pada ujian semesteran.” Kata Agus teman kuliahku yang kala itu membawa kekasihnya Rena dengan menggunakan motor.
Sementara itu rombongan yang menggunakan mobil adalah Joni beserta pacarnya yang baru saja jadian, namanya Aster. Sementara itu bersama mereka ikut pula 3 orang lainnya yaitu Mecca yang merupakan kenalanku, mahasiswi dari sebuah perguruan tinggi swasta ternama di Jogja yang terkenal akan fak Hukum-nya. Sementara yang dua lagi aku tidak mengenalnya, ternyata mereka adalah teman dari Joni yang berasal dari fakultas lain.
“Perkenalkan nih Di, temanku yang itu namanya Reza dan itu Erna.” Joni memperkenalkan kedua temannya sambil terus-terusan memeluk cium kekasih barunya. Gila aja, pikirku. Baru jadian tapi sudah bisa peluk cium seperti itu.
Ternyata Joni sampai sekarang masih belum bisa melupakan Ranti sang manager di resort di pulau Bali itu. Setelah beberapa saat kami bercakap-cakap akhirnya aku tahu kalau Joni itu memilih Aster karena selain wajahnya lumayan manis juga seksi, tapi yang lebih penting lagi Joni sudah mendapatkan bocoran kalau ceweknya itu sudah sering bercinta dengan para pacarnya terdahulu dan juga setelah dia putus masih sering minta jatah, mungkin sudah terlanjur ketagihan kata teman-temannya. Aku sih tahu saja kalau Joni nggak peduli dengan semua hal itu karena yang didalam pikirannya hanyalah gimana cara meniduri pacarnya itu. Dan ternyata dia sudah bisa langsung naik ranjang dihari pertama dia berpacaran dengan Aster. Kalau diperhatikan Aster ini cukup menarik juga walaupun tidak secantik Dhea ataupun Lina, adik pacarku itu. Tubuhnya kecil, mungkin tingginya hanya sekitar 155 cm saja sementara badannya juga tidak terlalu gemuk walaupun pipinya sedikit tembem. Rambutnya sekitar 10 cm dibawah bahu dengan warna hitam bersemu oranye. Ya, dia termasuk korban mode. Dia melalukan hi-lite kepada rambutnya yang lurus itu, walaupun aku juga yakin rambut lurusnya itu hasil rebonding.
“Eh Di, ada telepon tuh masuk.” Kata Mecca sambil memberikan hp milikku yang kuletakkan diatas meja. Aku melihat dilayar hp ternyata Anthony yang meneleponku. Aku berpura-pura tidak peduli dan mematikan handphone-ku itu. Aku memang tidak sedang tertarik untuk menerima telepon dari pria manapun saat ini mengingat aku sedang kesal dengan perselingkuhan Anyssa. “Lho kok nggak dijawab?” tanya Mecca sambil membuka satu sachet kopi instant.
“Ah nggak kok. Lagi nggak pengin aja.” Jawabku sekenanya. Sekilas aku melihat wajah Mecca. Aduhai cantik juga gadis ini. Aku jarang melihat rambutnya yang tergerai indah itu karena setiap kali aku main ke kampusnya dia selalu menggunakan busana tertutup dengan kerudung dikepalanya. Rambutnya yang bergelombang aku taksir panjangnya mencapai pusarnya sendiri. Hitam lebat dan bersih, mengingatkanku pada model sampo di televisi.
“Mec, kamu punya gula nggak? Gak ada gula nih. Tadi lupa bawa maklum terburu-buru.” Tanyaku membuka percakapan. Mecca lalu menyodorkan sebuah kotak kecil berisi blok gula padat.
“Pakai ini aja. Rendah kalori.” Katanya sambil tersenyum manis. Senyumannya bisa membuat hati pria manapun berdesir kegirangan. Setelah aku perhatikan ternyata hidungnya sekarang sudah ditindik. Terang aku kaget melihat perubahan drastis didalam dirinya. “Cuman buat variasi aja kok. Tuh Joni yang ngajarin pertama. Katanya aku lebih cantik kalau ditindik di hidung, terus aku pikir kenapa tidak.” Mecca memberi argument. Walau sebenarnya aku tidak ambil pusing dengan semua alasan tersebut.
“Huf, udah jam 9 malam ya. Nggak kerasa udah malam juga.” Ujar Mecca dan menyadarkanku kalau aku masih punya misi yang belum selesai. Aku bergegas ketembok samping dari villa tersebut dan memanjatnya. Tembok itu hanya setinggi setengah meter mungkin karena daerah tetangganya yang berada dibawah sehingga pemilik villa ini merasa tidak perlu meninggikan temboknya atau bisa juga karena saling percaya, ah tapi itu bukan urusanku.
Aku memasang mini cam yang kupinjam dari Anthony sebuah di bagian sisi luar tembok yang masuk kedalam pekarangan villa tempat Ani menginap dan memposisikan tepat menghadap ventilasi diatas jendela kamar mereka. Satu lagi aku posisikan menghadap ventilasi kamar mandi. Yang terakhir ini memang agak sulit karena aku harus melilitkan pengait untuk memasang kamera itu persis didepan ventilasi kamar mandi yang nyaris membuatku jatuh kebawah. Untungnya villa itu hanya mempunyai dua kamar saja sehingga aku dengan cepat mengetahui di kamar mana Anyssa menginap.
Sekitar jam setengah sepuluh semua selesai dan aku sudah memposisikan laptopku sebagai alat perekam. Well, semua sudah sesuai dengan rencana. Saat aku selesai menseting peralatan spy-ku didalam kamar, Mecca datang. “Di, anak-anak pada ngumpul tuh. Katanya mau bikin permainan seru banget. Ikutan yuk.” Ajaknya sambil tersenyum manis. Aku mengiyakan lalu bergegas keluar kamar.
Kemudian begitu sampai diruang tengah aku melihat Joni, Mecca, Aster, Reza dan Erna. “Lho Agus dan pacarnya kemana?” tanyaku pada Joni.
Joni yang terlihat sibuk menyiapkan gelas dan botol minuman menyahut asal, “Paling lagi ngentotan dikamar. Tadi aja si Erna dari jendela mergokin mereka sedang bercumbu walaupun masih pakai kutang tuh cewek. Iya khan Er?” tanyanya pada Erna dan hanya dijawab dengan tawa kecil anak-anak disitu.
“Nah gua mau kasih permainan nih buat meramaikan suasana. Gua tahu kalau cuman ngobrol kalian juga bosen, soalnya hampir tiap hari kita hang-out bareng-bareng. Ini ada kartu dan gua mau ngajak kalian main kartu dengan taruhan. Gimana? Biar seru gitu.” Ajak Joni sambil mempersiapkan kartunya.
“Hah? Taruhan? Sorry bro, gua kagak ikutan. Malas kalau pakai taruhan segala. Kantong udah bolong nih.” Tolak Reza dan Erna juga ikut-ikutan menolak dengan alasan yang sangat ekplisit, karena takut dosa (lah terus ngapain berdua malam mingguan di villa?)
Joni tertawa menenangkan semua yang protes, “Tenang-tenang! Taruhannya bukan duit kok tapi ini nih.” Joni mengeluarkan 5 botol minuman Vodca black label. Aku tahu benar itu adalah pemberian Anthony minggu kemarin. Joni dan aku mendapatkan masing-masing 10 buah karena Anthony takut kalau nanti barang kegemarannya itu ditemukan oleh sang ayah saat inspeksi rutin yang harusnya sudah berlangsung kemarin itu. Anthony memang bengal tapi kalau dengan orang tua dia bisa sejinak anak anjink. “Siapa yang kalah harus minum ini satu gelas kecil. Gimana?” Joni tidak mau menyerah.
Erna semula tidak mau karena dia tidak pernah minum minuman beralkohol walaupun berkadar rendah sekalipun. Namun karena bujuk rayu dari Joni dan aku tentu saja akhirnya kami semua sepakat untuk melakukannya.
Joni mengedipkan matanya padaku. Aku jadi sadar kalau dia ingin mengulang kesuksesan permainan kartu panas yang pernah kami lakukan bersama Anthony dan beberapa kenalan cewek kami setahun lalu. Dimana kami akhirnya berhasil memaksa mereka berganti taruhan dengan menggunakan tubuh mereka.
“Nah, kamu kalah nih. Ayo minum!” kata Reza ketika Joni kalah untuk babak pertama. Dia terang saja mengalah karena itu memang sudah menjadi strategi kami berdua dari dulu. “Mari kita buat Joni nggak bisa bernafas karena kebanyakan minum vodka hahahaha…” gelak Reza.
Sekitar setengah jam kemudian mulai posisi kekalahan dapat dilihat dengan jelas. Reza, Erna dan Mecca sudah menjadi pemain yang langganan kalah. Erna terpaksa harus menenggak minuman itu sebanyak 11 kali, dia yang paling sering kalah. Sekitar jam setengah sebelas malam suasana menjadi semakin panas. Posisi kami sudah tidak dapat bermain dengan baik. Reza sudah mulai meracau tidak karuan dan sesekali nekat mencium Erna sementara Mecca masih berusaha terjaga walaupun dia sering salah buang kartu. Aster malah sudah berani membuka kancing bajunya hingga sekarang kami semua dapat melihat bra-nya yang bewarna kuning itu membungkus payudara indahnya yang putih.
“Gila kamu As, berani amat! Disini banyak cowok.” Kata Erna berusaha menyadarkan Aster. Tetapi suasana disana memang sudah panas dan Aster sendiri seolah tidak peduli dengan semua itu.
“Berhubung kalian udah pada mabuk semua. Maka lebih baik kita ganti taruhannya gimana?” kata Joni sambil melirik kearahku.
“Emangnya mau dibuat gimana?” tanya Reza penasaran. Lalu Joni menyingkirkan botol vodka disitu dan mengambil kartu setumpuk dari dalam tasnya.
“Nih kartu gua dapat dari teman gua (maksudnya Anthony). Dia dapat dari bonus saat beli majalah dewasa dari internet. Didalamnya ada 40 kartu dan semua kartunya mempunyai perintah yang berbeda. Aturannya adalah siapapun yang memegang nilai tertinggi dalam tiap babak mendapatkan kehormatan untuk menjadikan pemain yang nilainya paling sedikit (terendah atau kalah) menjadi budaknya untuk kurun waktu 1 menit. Dan pihak yang kalah tidak boleh menolak atau protes. Perintah yang ada didalam kartu inilah yang harus dia lakukan. Gimana?” kata Joni berapi-api. “Tapi kalau kalian takut sih nggak apa-apa.” Ujar Joni memancing lagi. Dia tahu kalau Reza paling tidak suka keberaniannya diragukan.
“Siapa bilang gua takut. Ayo kita pakai cara itu.” Kata Reza dengan lantang. Umpan yang ditabur Joni termakan sudah oleh Reza.
Babak pertama selesai dengan kekalahan di Aster. Sementara pemegang nilai tertinggi adalah Erna. Kartu berbunyi “bukalah pakaian atasmu dan biarkan pemenang merasakan indahnya dadamu.”
Reza terkesiap. “Gila nih. Mana Aster mau.” Tapi sebelum selesai Reza berbicara, Aster sudah mulai menanggalkan baju lengan pendeknya dan melepaskan kaitan bra-nya. Lalu dengan santai dia melepaskan bra tersebut dari tubuhnya. Sekarang kami dapat melihat kedua buah dada Aster tanpa ada yang menutupi. Putih mulus dengan puting warna cokelat muda. Kira-kira ukuran buah dadanya sekitar 34C.
Lalu dengan perlahan Aster mendekatkan tubuhnya ke Erna. Lalu dia meraih kedua tangan Erna untuk meremas payudaranya. Pemandangan yang sangat panas dan membuat gairahku bergejolak. Erna terang saja kalang kabut dan bingung tetapi dia tak melawan dan hanya mengikuti arus yang ada.
“OK selesai. Waktu hukuman hanya satu menit.” Kata Joni menyudahi pemandangan itu. Aku pikir setelah selesai maka Aster akan memakai kembali bra dan bajunya tetapi ternyata aku salah. Aster membiarkan buah dadanya bebas terpampang dimuka umum.
“Tunggu sebentar Jon. Lah kalau hukumannya nanti antara cowok gimana coba? Apa nggak jijay?” aku penasaran dan langsung saja bertanya karena aku memang tidak tahu apa saja isi didalam tumpukan kartu itu.
“Jangan khawatir gitulah pren. Udah gua persiapkan semua kok. Lagian didalam kartu ada warna-warna berbeda untuk tiap jenis perintah kok. Misalnya cewek ke cowok maka warnanya biru, kalau cowok ke cowok maka warnanya hitam, lalu cewek ke cewek macam yang barusan tadi warnanya pink. Dan jangan khawatir karena hukuman jika pemenang dan budak (sebutan bagi pihak yang kalah) nggak ada yang jijik kok. Paling disuruh nyanyi atau semacamnya.” Jelas Joni dan memupus rasa raguku. Akupun lega dibuatnya.
“Huh. Nggak adil dong. Masa kalau cewek harus beradegan lesbi?” protes Mecca.
“Namanya juga bonus dari majalah dewasa untuk pria non. Kalau majalah dewasa untuk wanita mungkin baru ada…itupun kalau ada majalahnya…hehehe.” Canda Joni.
Babak kedua selesai dengan kekalahan dipihak Joni dan kemenangan dipihak Mecca. “Rasain lu. Sekarang apa yah hukumannya…” Mecca meraih tumpukan kartu dan mengambil kartu teratas. Kartu itu berbunyi “mansturbasilah didepan pemenang.”
Reza, Erna dan tentu saja Mecca kaget setengah mati. Walaupun mereka sudah teler tetapi akal jernih mereka masih sedikit tersisa. “Gila banget! Masak ada yang seperti ini. Wah seru nih.” Kata Reza sambil melihat Joni. Dia sendiri tidak yakin Joni bakalan melakukan seperti yang diperintahkan di kartu. “Ayo Jon! Kamu takut yah?” ejek Reza.
Joni dengan santai menanggapinya dengan memelorotkan celananya. Mencuatlah batang penisnya yang sudah tegang sedari tadi itu. “Siapa takut. Nih kalau mau lihat.” Joni lalu mulai beronani ria didepan Mecca. Wajah Mecca merah padam menahan malu dan risih namun hanya pada awalnya. Walaupun dia pura-pura mengalihkan pandangan tapi rasa penasarannya akhirnya muncul juga. Dia mulai diam-diam melirik kearah penis Joni yang sudah berair itu.
“Halah. Dari pada lirik-lirik mendingan langsung pelototin aja Mec. Lagian nggak ada yang melarang kok.” Candaku pada Mecca. Dia malah tambah malu karena tingkahnya ketahuan.
“OK satu menit sudah lewat. Sekarang babak berikutnya.” Kata Aster mengomandoi. Sepertinya keberanian dan kenekatan Joni sudah membuat yang lain semakin bersemangat dan penasaran saja.
Babak ketiga merupakan babak yang sial bagi Mecca. Mecca kalah dan tebak saja siapa yang jadi pemenangnya. Tak lain dan tak bukan adalah Reza. Reza senang bukan main dan dia pasti berharap kalau hukumannya bakalan lebih hot dari yang lain. Kartu dibuka oleh Mecca dengan perasaan yang was-was, dan begitu dia melihat tulisan dalam kartu tersebut mendadak dia bengong. Kartu itu berbunyi “budak harus memansturbasi sang pemenang/raja dan selama permainan berlangsung jika sang budak kalah lagi maka dia harus menanggalkan seluruh pakaiannya hingga permainan usai.” Ini merupakan salah satu hukuman level berat di dalam kartu tersebut.
“Hah? Nggak mau ah. Masa aku disuruh gituin Reza.” Kata Mecca berusaha menolak hukuman namun apalah daya karena hampir semua peserta permainan itu mendesaknya agar tidak berhenti ditengah jalan.
Akhirnya dengan sangat terpaksa Mecca menjulurkan tangannya batang penis milik Reza yang sedari tadi sudah tegang. Memang begitu isi kartu itu terbaca, Reza langsung membuka celananya tanpa ragu. Sepertinya dia sudah tidak sabar lagi, itu terbukti dari cara dia menarik tangan Mecca yang masih ragu untuk menjamah barang kejantanannya itu.
Perlahan-lahan Mecca lalu mengocok penis Reza yang sudah tegang itu. Reza sendiri hanya mendesah-desah keenakan tanpa peduli bahwa disampingnya, Erna sedang terbakar api cemburu. Melihat penis pacarnya sedang dipermainkan tangan lentik Mecca, Erna berusaha memalingkan wajahnya tetapi karena rasa penasaran juga hal tersebut urung dia lakukan.
“OK, satu menit sudah lewat.” Kata Joni dan disusul dengan protes dari Reza yang belum puas diservis oleh Mecca. “Maaf pren, tetapi sesuai aturan lu dah dapat apa yang jadi hak lu.” Sanggah Joni lalu mengocok kartu kembali.
Babak keempat, inilah saat keberuntunganku. Aku menjadi pemenang sementara Mecca kembali kalah. Sesuai dengan hukuman terdahulu bahwa begitu Mecca kalah lagi dia harus mencopot seluruh pakaiannya tanpa terkecuali. Setelah melalui bujuk rayu dan sedikit tekanan akhirnya Mecca bersedia mencopot seluruh pakaiannya. Mungkin dia berpikir kalau dia sudah kepalang basah ketika dia melihat dan menyentuh juga memansturbasikan penis Reza barusan.
Sekarang kami dapat melihat buah dada Mecca yang selama ini belum pernah dilihat siapapun. 34C, ukuran yang sama dengan milik Aster tetapi dengan bentuk yang berbeda. Buah dada Mecca ini mancung berbeda dengan milik Aster yang cenderung bulat. Dengan puting warna cokelat muda benar-benar menggairahkan. Dibagian perut Mecca terdapat bekas jahitan ternyata dia dulu menderita usus buntu dan harus dioperasi sehingga sampai sekarang bekas operasinya tidak dapat hilang walaupun hanya sebuah jahitan tipis. Saat Mecca membuka celanadalam warna putihnya itu adalah saat yang mendebarkan. Setelah lolos semua baru kami bisa melihat bulu-bulu halus di vagina Mecca yang mengagetkan itu. Mengagetkan karena ternyata vagina Mecca berwarna coklat muda juga dan terawat, sangat terawat malah karena selain halus dan bewarna cerah juga bersih dan baunya harum.
“Sudah ah jangan dilihatin terus! Risih nih.” Mecca protes dan disambut gelak canda teman-teman yang lain.
Sekitar sepuluh babak sudah kami lewati ketika kami melakoni babak dimana hukumannya adalah berupa permainan cinta. Bukan hanya Mecca yang mendapat hukuman bugil tetapi juga Aster, Erna dan Joni. Semula Reza protes karena Erna dipaksa bugil tetapi karena peraturan dan tekanan dari yang lain maka Reza-pun tidak dapat berbuat apa-apa lagipula anehnya Erna seolah menanggapi dingin protes pacarnya itu.
“OK sekarang kartu berikutnya cepat baca!” kata Joni tidak sabaran. Kali ini budaknya adalah Erna sementara sang pemenang atau rajanya adalah aku. Kartu dibuka dan dibaca oleh Erna “Lakukanlah adegan bercinta dengan pemenang tetapi tanpa melakukan coitus.”
Sontak hal itu membuat Reza protes keras. “Enak aja sih. Gua nggak bisa menerima hukuman ini. Enakan di Adi lah. Erna khan pacar gua.” Seru Reza protes.
Joni angkat bicara, “Heh Reza. Tadi lu orang nggak protes ketika lu dapat hadjob dari Mecca, terus lu tadi juga pernah dapat ijin buat ngeyot puting pacar gua khan. Lalu ngapain sekarang sewot. Yang adillah kalau mau main tuh jangan pengen yang enaknya doang.” Balas Joni. Memang tadi dibabak sebelumnya Reza pernah mendapatkan kesempatan buat mempermainkan payudara korbannya yang waktu itu adalah Aster.
Erna sendiri yang sedari tadi tidak banyak bicara mulai membuka mulutnya dan dia mengucapkan sesuatu yang membuat kami kaget. “Za, kamu tadi khan dapat enaknya dari Mecca sama Aster. Emangnya kamu pernah peduli gimana perasaanku? Sekarang biar adil aku juga bakalan memperlihatkan kekamu kalau aku juga bisa melakukan apa yang kamu lakukan.” Erna lalu mendekatiku dan memelorotkan celanaku.
Semua yang ada disitu kaget kecuali Joni. Mereka bengong begitu melihat penisku yang ukurannya terang jauh diatas ukuran Reza, bahkan Joni juga kalah besar dan panjang. “Gede banget sih.” Celetuk Mecca tanpa sadar.
Aku terlentang dan membiarkan Erna melakukan hukumannya. Gadis berwajah bulat dan bertubuh rada sintal itu mendekatiku yang sedang dalam posisi terlentang. Lalu dia mengangkangi penisku yang sudah tegang. Lalu perlahan dia memberdirikan batang kejantananku itu dengan salah satu tangannya sementara tangannya yang lain menyangga kebelakang.
Diarahkannya batang kejantananku itu kebibir kemaluannya yang rimbun oleh rambut pubis itu. Lalu dengan perlahan dia menggesek-gesekkan ujung penisku ke bibir vaginanya yang sudah mulai basah. Diawalnya memang semua berjalan normal tetapi begitu setengah jalan, Erna mulai mendesah-desah tak karuan. Terang saja Reza mencak-mencak dibuatnya tetapi sepertinya gadis berambut ikal sebahu ini tidak peduli sama sekali dan malah menggoda Reza dengan sesekali melirik nakal ke Reza dan memperbesar volume desahannya. Entah apa yang mendorongku untuk menanggapi desahan tersebut, aku jadi ikut-ikutan mendesah bersahut-sahutan dengan Erna sementara kedua tanganku mencengkeram pantat sekal gadis ini.
Setelah satu menit berlangsung kami berhenti. Namun aku merasakan bahwa Erna sebenarnya belum cukup dengan itu. Raut wajahnya mengatakan kalau dia ingin lebih.
Suasana mendadak berubah ketika Reza mengatakan kalau dia sudah mengantuk. Walaupun aku yakin sebenarnya dia hanya cemburu melihat tingkah pacarnya barusan. Akhirnya dengan berat hati Joni mengiyakan dan membiarkan Reza dan Erna pergi kekamar mereka sementara kami berempat menghentikan permainan dan melanjutkannya dengan ngobrol santai diruang tengah itu.
Tiba-tiba Mecca mendekatiku lalu mencium bibirku. “Di, lakuin kaya pas sama Erna dong.” Pintanya padaku. Aku terkesiap kaget, ternyata Mecca sudah horny gara-gara melihat permainanku dengan Erna barusan.
Aku bingung harus menjawab apa. Aku menoleh ke Joni tetapi dia malah asyik bercumbu dengan pacarnya, Aster. Aku melihat Aster sedang melakukan blowjob terhadap penis Joni sementara Joni sendiri asyik mempermainkan buah dada Aster.
Ah aku tidak peduli lagi, pikirku dalam hati. Aku lalu terlentang dan menarik tubuh Mecca untuk menindihku. Dengan posisi yang sama dengan Erna tadi, Mecca mengarahkan bibir vaginanya ke ujung penisku yang sudah diberdirikan dengan salah satu tangannya.
Mata Mecca membelalak dan dia menggigit bibir bawahnya ketika ujung penisku akhirnya menyentuh bibir kemaluannya. Mecca lalu mulai mengesek-gesekkan vaginanya keujung kemaluanku itu yang sudah berair.
“Di, ternyata rasanya enak juga yah.” Katanya sambil mendesah tak karuan. Joni sempat berpaling kearahku dan tersenyum entah apa maksudnya. Namun semenit kemudian dia dan Aster sudah bergumul dengan mesranya. Dengan gaya mercenary, Joni menggauli Aster. Aku dapat melihat walaupun tidak begitu jelas, bagaimana penis besar Joni memporak porandakan pertahanan vagina Aster. Mecca yang ikut melihatnya malah tambah horny saja dan tanpa sadar dia sedikit demi sedikit sudah memasukkan batang kejantananku kedalam bibir kemaluannya.
“Adi. Akhhh…punyamu kok masuk?” Mecca kaget namun tetap saja tidak menghentikan aktivitas goyangannya itu.
“Khan kamu sendiri yang dari tadi menggesekkan kedalam. Jadi ya masuk deh.” Jawabku santai lalu aku mencengkeram pinggang Mecca erat-erat. “Dari pada setengah-setengah mending sekalian aja Mec.” Kataku padanya lalu aku menarik turun pahanya sehingga tekanan terhadap penisku semakin bertambah. Diiringi dengan jeritan Mecca yang tertahan akhirnya penisku berhasil merobek pertahanan liang suci milik Mecca.
Walaupun baru separuh dari panjang penisku yang berhasil tertelan oleh vaginanya tetapi penolakan otot vaginanya semakin terasa saja. Sepertinya Mecca ini sudah pernah berhubungan intim dengan pria lain hanya saja mungkin vaginanya belum siap menerima penis yang seukuran dengan milikku ini.
Aku peluk tubuhnya yang telungkup di atas tubuhku. Aku tahu dia menahan sakit sehingga aku memperbanyak intensitas foreplayku untuk merangsangnya lebih lagi. Setelah aku menciumi bibir dan memainkan dadanya yang montok itu akhirnya berhasil juga meningkatkan gairahnya ketingkatan yang lebih tinggi lagi. Cairan vaginanya sudah mulai meluber keluar. Cairan pelumas itu sepertinya memberitahuku kalau Mecca sudah siap untuk tahap selanjutnya.
“Pelan Di! Sakit…” rintihnya sambil memandang sayu kearahku. Aku menarik lagi pinggangnya untuk turun sehingga vaginanya dapat menelan seluruh batang penisku. Perlu usaha ekstra untuk ini namun akhirnya aku berhasil juga.
Penisku seluruhnya berhasil ditelan oleh vagina Mecca. Aku merasakan adanya cairan hangat meleleh keluar dari bibir vagina gadis cantik ini. Setelah aku raba dan aku lihat tanganku ternyata itu adalah darah. “Kamu masih perawan Mec?” tanyaku padanya namun dia menjawab dengan gelengan. Lalu kenapa ada darah, pikirku. Apakah karena lecet di vaginanya karena diterobos paksa oleh barang tumpul sebesar ini aku juga tidak tahu.
Setelah memberi waktu Mecca untuk mengatur nafas, aku mulai menggoyang-goyangkan pinggangku naik turun. Sehingga walaupun posisi bercinta kami woman on top tetapi tetap saja aku yang bekerja keras melakukan pompaan ke kemaluan gadis ini.
“Akhh…akhh…Adi…punyamu terlalu besar…akhh…” desah Mecca meracau tak karuan ketika aku mempercepat sodokan penisku. Kedua payudaranya yang mancung itupun berguncang-guncang keras tiap kali aku melakukan sodokan kedalam vaginanya.
Mecca sepertinya tak peduli lagi kalau tubuhnya menjadi tontonan dari Joni dan pacarnya. Dia sibuk menikmati perjalanan seksualnya bersamaku. Sesekali dia berhenti mendesah dan merintih lalu menciumi bibirku dengan ganasnya. Entah berapa kali sudah kami saling melumat satu sama lain. Rambutnya yang panjang dan bewarna hitam itu berseka keringat yang keluar dari tubuh seksinya. Sesekali dia menyibakkan rambut panjangnya tiap kali rambut itu menutupi wajahku dan wajahnya. Sepertinya dia ingin kami saling bertatapan saat bercinta.
Entah sudah berapa menit berlalu tetapi kami masih dalam posisi yang sama. Mecca lalu mencengkeram bahuku dan mempercepat goyangannya lalu berhenti sambil mengejang beberapa kali. Aku merasakan rasa sakit dibahuku ternyata Mecca mencengkeramku terlampau kuat hingga kuku jemarinya melukai kulitku. Aku dapat merasakan cairan hangat kembali meluber untuk kesekian kalinya dari dalam bibir kewanitaan gadis cantik ini. Mecca tersenyum dan ambruk diatas tubuhku. “Adi, maaf yah.” Ucapnya padaku. Entah untuk apa dia meminta maaf karena aku tidak merasa dirugikan kecuali untuk cengkeraman berdarah barusan.
Entah kenapa aku ini, tetapi setelah melihat kemolekan tubuh Mecca yang dilanda orgasmenya dan telungkup diatasku, tiba-tiba spontan aku kembali menggoyangkan penisku yang masih bercokol didalam vaginanya. Dalam waktu singkat aku mencapai klimaks-ku. Dari dalam batang kejantananku menyembur cairan putih kental nan hangat membanjiri vagina Mecca. Mecca kaget dan menatapku lalu tersenyum. “Aku nggak lagi subur kok sayang.” Ucapnya mesra lalu mencium bibirku lembut dan tertidur.
Joni sendiri aku lihat sudah menghilang bersama Aster entah kemana. Karena aku sibuk bercinta sehingga aku tidak sempat memperhatikan kemana pemuda itu pergi. Aku biarkan Mecca dengan ketelanjangannya tidur sebentar diatas karpet ruang tengah ini. Untuk sejenak aku dapat melupakan Anyssa. Sekitar 30an menit kemudian Mecca terbangun dan bergegas mengenakan pakaiannya kembali. Dia terbangun oleh suara ribut-ribut diluar. Dia bertanya padaku ada apa gerangan tetapi aku sendiri malas mencari tahu karena sudah larut malam dan mengajaknya masuk kamar. Kami tidur sekamar dengan Joni dan Aster. Last Chapter - Part 2
Truly Good Bye (Beneran Gut Bai)


Hari berikutnya tepat hari Minggu, aku memutar ulang hasil rekamanku kemarin malam di vila. Tiga kamera sudah aku pasang di sudut strategis seharusnya aku mendapatkan pemandangan yang pas dan berkualitas pikirku dalam hati.
Menit-menit pertama tidak ada yang menarik hanya memperlihatkan Anyssa dan kekasih gelapnya itu berangkulan sambil melihat vcd yang aku tidak tahu temanya apa, mungkin juga vcd porno. Sesekali mereka saling berciuman mesra dan meremas satu sama lain. Tak perlu aku jelaskanlah sang pria meremas bagian mana dari milik kekasihku itu karena aku yakin kalian sudah dapat menebak sendiri.
Sekitar sepuluh menit kemudian baru terlihat aktifitas serunya. Sang pria tersebut membuka celananya hingga dia setengah bugil lalu mengarahkan kepala Anyssa kearah batang kemaluannya yang setengah berdiri sambil berusaha membuka baby doll yang dipakai pacarku itu. Bagian atas baju tidurnya terang saja langsung dengan mudahnya tersingkap dan terlepas diikuti dengan bra miliknya yang bewarna pink itu.
Mulut Anyssa dengan sedikit ragu-ragu mulai mendekati ujung penis pacar gelapnya itu. Karena dorongan begitu kuat dari tangan sang pria akhirnya membuka juga bibir Anyssa dan mulai memasukkan batang kemaluan pacar gelapnya itu kedalam mulutnya lalu mengoral-nya dengan bantuan salah satu tangannya. Sementara tangan yang lain berpegangan pada tubuh sang pria yang saat itu sibuk meremasi kedua buah dada Ani yang menggelantung indah itu.
Pemandangan syur ini berlangsung sekitar 5 menitan diatas sebuah sofa tua yang berada di ruang santai vila yang mereka sewa. Sesekali Ani melepaskan kulumannya sambil mengocok penis sang pria dengan cepat. Pria tersebut mendesah-desah dibuatnya. Walaupun aku tidak dapat memperoleh suara mereka tetapi bisa dipastikan kalau pria tersebut sekarang ini sudah bagaikan naik ke khayangan mengingat kemampuan Anyssa dalam melakukan oral seks tidak diragukan lagi kehebatannya.
Lalu entah kenapa mereka berhenti beraktifitas mesum lagi. Keduanya lalu menuju kearah sebuah ruangan. Mereka masuk kedalam kamar tidur. Sekarang seperti diburu waktu keduanya secepatnya menanggalkan baju mereka semua hingga keduanya sekarang telanjang bulat.
Pria tersebut tanpa lama-lama lagi langsung menerkam tubuh bugil Anyssa dan menindihnya diatas kasur. Sementara mulutnya sibuk menciumi bibir Anyssa, kedua tangannya mengarahkan batang penisnya yang sudah tegang itu menuju kebibir vagina Anyssa.
Dalam hitungan detik batang kejantanan pacar gelap Ani itu sudah melesak kedalam vaginanya. Tetap dalam posisi semula dimana tubuh pacarku yang mungil itu tertindih tubuh pria yang lebih besar dari tubuhnya. Sementara pinggul pria tersebut masih bergoyang maju mundur dengan irama yang tak tentu mengobrak-abrik pertahanan kewanitaan kekasihku itu.
Anyssa sepertinya menikmati benar permainan pria itu karena walaupun setelah sepuluh menit kemudian dia mencapai orgasmenya, dia tetap tidak melepaskan dirinya dari tindihan pria asing itu.
Entah apa yang mereka obrolkan sambil bercinta waktu itu, yang jelas tampak raut muka Anyssa begitu cerah dan bergembira sesekali tertawa ringan. Padahal saat itu tubuhnya sedang ditindih oleh pria yang bukan pacarnya sementara itu vaginanya sedang dijarah habis habisan oleh penis pria itu.
Beberapa saat kemudian sang pria mencabut penisnya sambil mengocoknya dengan cepat diatas payudara Anyssa lalu tanpa menunggu waktu lama keluarlah sudah sperma kental miliknya yang membasahi seluruh bagian dada kekasihku itu.
Setelah menumpahkan seluruh hasratnya diatas tubuh kekasihku, pria itu lalu ambruk disebelah tubuh Anyssa. Keduanya berpegangan tangan sambil telentang telanjang. Sesekali dalam obrolan mereka aku melihat Anyssa tertawa kecil lagi. Sepertinya dia menikmati obrolan dengan lelaki sialan ini.
Sambil sesekali mengocok penis pria tersebut, Anyssa kembali hanyut dalam percakapannya dengan pacar gelapnya itu. Sepertinya kocokan lembut tangan Anyssa telah membuat hasrat pria tersebut kembali naik. Kembali dia menindih tubuh pacarku dan sekarang dia mengarahkan penisnya kearah vagina Anyssa.
Kembali persetubuhan itu berlangsung. Sudah berulang kali sodokan dan remasan diterima oleh Anyssa tapi nampaknya dia masih kuat menghadapinya, bahkan menikmatinya dengan sangat. Sepertinya daya tahan Anyssa dalam berhubungan seks sudah jauh meningkat karena sudah sering ikut serta dalam pesta seks saat bersamaku. Selain sudah menikmati seks bersama Mickey, Sammy, Yusak, Ando dan Ryuji, entah dengan siapa lagi dia sudah mengalami ritual kenikmatan ini. Berkat itu pulalah sekarang dia semakin hebat dalam bercinta dan semakin berpengalaman. Aku sendiri kadang sampai lupa bagaimana sosok Anyssa yang dulu terkenal alim yang sekarang sudah berubah menjadi penggila seks.sama sepertiku.
Saat aku tenggelam dalam lamunan liarku, pandanganku kembali tertuju pada layar monitor. Aku melihat Anyssa dan pacar gelapnya kelimpungan. Mereka seperti kebingungan entah karena apa. Dengan secepatnya mereka mengenakan pakaian mereka dan merapikan tubuh mereka lagi. Lalu mereka membuka pintu ruang depan vila. Aku tidak tahu siapa yang datang tetapi begitu orang yang datang tersebut memasuki ruangan betapa terkejutnya diriku. Terdapat tiga orang pria masuk dengan paksa dan mendorong jatuh sang pria pacar gelap Anyssa tadi. Anyssa kaget bukan main. Ternyata yang datang adalah kedua kakaknya. Salah satu dari ketiga orang tamu tak diundang itu adalah kakak kandungnya yang bekerja disebuah pabrik sepatu di Jawa Barat sementara itu yang satunya lagi adalah kakak sepupunya yang bekerja sebagai polisi disebuah kota di Jawa Tengah, sementara yang lainnya adalah orang yang tak kukenal tapi sepertinya sudah sangat akrab dengan kedua kakak Anyssa.
Aku kemudian melihat adegan dimana Anyssa mendapatkan tamparan keras dari kakak kandungnya sementara itu sang pria pacar gelapnya menjadi bulan-bulanan dari ketiga orang pria tersebut apalagi setelah mereka melihat bra milik Anyssa masih tergeletak bebas di atas sofa ruang santai vila itu. Tambahlah amarah mereka.
Beberapa saat kemudian handphone-ku berbunyi. Ternyata telepon dari rumah Anyssa. Segala macam pikiran mampir dibenakku. Lalu aku angkat sambil berusaha menenangkan diriku. Ternyata telepon dari ibu Anyssa yang memintaku untuk datang kerumah mereka diluar kota. Walaupun aku mempunyai perasaan buruk mengenai ini tapi aku tampaknya tak punya pilihan lain selain menyanggupinya.
“Eh Adit sudah datang. Ayo masuk Dit, ada yang ingin tante bicarakan dengan kamu.” Kata ibu Anyssa yang bernama tante Ana itu kepadaku. Walaupun sudah berumur tetapi tante Ana masih menyisakan kecantikan masa mudanya dulu. Badannya masih langsing dan terawat tidak seperti ibu-ibu pada umumnya. Dirumah ini aku memang sering dipanggil dengan sapaan Adit, oleh keluarga Anyssa dan akupun juga sudah cukup dekat dengan keluarganya.
Saat aku memasuki ruangan, suasana berubah menjadi gelap dan suram. Bagaimana tidak, karena aku melihat Anyssa diruangan tamu itu sedang duduk dikelilingi oleh kakak dan sepupunya bersama seluruh anggota keluarganya. Aku mulai bisa menebak kemana arah percakapan ini nanti. Ternyata benar sudah, mereka sedang menyidang Anyssa karena kesalahan yang dia lakukan dua hari yang lalu di vila. Entah berapa kali keluarga Anyssa meminta maaf padaku karena lalai menjaga putri mereka sehingga melakukan perbuatan seperti ini. Aku sudah berusaha untuk membela Anyssa sebisaku dihadapan dewan sidang keluarga itu namun sia-sia. Karena sepertinya mereka sudah menjatuhkan dakwaan berat kepada Anyssa.
Bagi yang belum tahu, sebenarnya orang tua Anyssa sudah berharap banyak padaku saat mengetahui kalau aku berpacaran dengan putri mereka. Memang aku berhasil meraih hati keluarga Anyssa sebelum aku memacarinya. Dimata orang tua Anyssa aku merupakan calon mantu yang bisa dibanggakan karena menurut mereka aku sudah mandiri walaupun masih kuliah dan sudah berhasil dalam menempuh studiku dengan nilai yang sangatlah baik. Walaupun mereka tidak mengetahui sisi gelapku seperti apa.
Sekitar dua jam yang panjang kami berusaha untuk menguraikan simpul permasalah diruang tamu tersebut. Sepertinya pembelaanku terhadap Anyssa sedikit banyak sudah mengurangi tekanan mereka kepada pacarku itu. Sementara Anyssa hanya bisa sesenggukan, dia sudah berhenti menangis mungkin air matanya sudah kering. Dia sadar dia sudah berselingkuh dihadapanku sementara itu keluarganya mengetahuinya pula. Ibaratnya bagi Anyssa sekarang sudah tidak ada lagi bumi untuk dipijak.
“Sekarang nak Adit mau seperti apa kelanjutannya kami hanya bisa menerima. Misalnya nak Adit nggak bisa menerima Anyssa lagi juga kami maklumi hal itu karena kami tahu bagi nak Adit hal semacam ini sudah kelewat batas dan menyakitkan sekali hati nak Adit.” Kata ayah Anyssa sembari sekali lagi mempersilakan aku untuk minum.
Aku berusaha menenangkan pikiranku sehingga nanti tidak salah ngomong, “Sebaiknya kami menjalaninya sebagai sahabat dulu om. Maaf kalau membuat om dan tante sekalian kecewa tetapi saya belum bisa menerima Anyssa lagi. Biarlah waktu yang berjalan nanti yang memutuskan apakah dengan pertemanan kami nantinya kami kembali dapat menjadi sepasang kekasih lagi. Mohon semuanya memahami permasalahan saya ini karena saya juga belum dapat melupakan perselingkuhan Anyssa…maaf.” Ucapku sambil meletakkan gelas teh itu.
Kata-kataku seperti berhasil memecahkan kebuntuan. Sepertinya mereka hanya menunggu keputusan dariku. Sementara itu dari mata Anyssa aku melihat sorot penyesalan bercampur dengan rasa sedih dibalik air matanya. Namun apa mau dikata karena dia sendiri juga sadar kalau pengkhianatannya sudah terungkap dengan gamblang disini. Saat aku akan pergi dari rumah itu dia sempat membisikkan beberapa kata padaku, “Maafin aku ya…” sambil tertunduk sedih. Sebenarnya aku juga masih menyimpan rasa sayang padanya namun apa mau dikata keadaan sudah melibatkan pihak ketiga dan keluarganya maka sebaiknya untuk sementara aku mengamankan diriku dan diri Anyssa terlebih dahulu sambil memikirkan jalan baiknya nanti setelah waktu berjalan dan membuat keluarga Anyssa dapat melupakan tingkah anaknya tersebut.
Sepertinya untuk sementara ini aku bakalan menjadi jomblo-jomblo bahagia. Semoga saja nanti setelah aku mempunyai kekuatan untuk menulis diary-ku yang lain aku telah berpasangan dengan gadis yang aku sukai.

The End / Fin/ Tamat
Diary Seorang Remaja 2, Pada: Rabu, Juli 29, 2015
Copyright © 2015 CERITA DEWASA Design by bokep - All Rights Reserved