-Jakarta, 13 Oktober 2014, 14:00-
"Honey! Sayang! Ayo dong! Daddy sudah menunggu di mobil, pesawat kita jam 5 sore loh. Artinya kita cuma punya waktu satu jam untuk sampai ke bandara," seorang ibu berteriak dari luar pintu sambil melirik jam tangannya yang menunjukan pukul 14:00.
"Sebentar mommy, aku lagi mengucapkan salam perpisahan sama Jessica," teriak seorang anak perempuan dari dalam rumah. Sang ibu menggeleng kecil kemudian berjalan ke arah mobil dan mengetuk kaca belakang.
"Angel, bujuk adikmu untuk bergegas. Kita tidak punya banyak waktu," wanita paruh baya memerintahkan anak perempuannya. Seorang gadis muda bernama Angel keluar dari dalam mobil, dengan sedikit bersungut-sungut, ia berlari kecil memasuki rumah dan mencari adiknya.
"Mia, ayo pergi, mommy dan daddy sudah menunggu kita," setelah Angel mendapati adiknya, Mia, di kamarnya yang terletak di lantai 2.
"Sebentar kakak, aku lagi mengucapakan salam perpisahan kepada Jessica," Mia berkata sambil menatap ranjangnya yang kosong. Angel menggeleng kecil melihat tingkah adiknya.
"Mia sayang, Jessica itu cuma teman imajinermu," Angel berlutu di samping Mia dan membelai rambutnya.
"Jessica bukan imajinasiku kakak, dia benar-benar ada," balas Mia sambil menunjuk ke suatu titik kosong di atas ranjang. Angel tersenyum kecil sambil menatap ke arah itu.
"Ya sudah, kau boleh ajak Jessica untuk ikut pindah bersama kita," kata Angel sambil bangkit dan berjalan meninggalkan kamar.
"Benarkah? Asik! Ayo Je, kamu boleh ikut," Mia tertawa senang dan berlari kecil menyusul kakaknya. Tak lama kemudian, mobil yang membawa keluarga kecil itu pun melaju meninggalkan rumah mereka, mencoba membelah padatnya lalu lintas ibukota.
"Mom, mengapa kita harus pindah semua? Tidak bisakah aku tinggal? Sekolahku tinggal satu tahun lagi," Angel bertanya kepada ibunya yang duduk di kursi depan, mencoba mengubah pikiran sang ibu.
"Tidak bisa sayang, aku dan ayahmu tidak ingin meninggalkanmu sendiri di Indonesia, tidak aman untuk gadis secantik dirimu. Lagipula, ayah akan bekerja cukup lama di Kanada, jadi kami pikir lebih baik bila kita semua pindah ke sana," sang Ibu menjelaskan sambil menatap lembut Angel.
"Dan kau akan mendapatkan pacar yang lebih tampan daripada Anton, hehehe," sang Ayah ikut menimpali.
Angel membuang mukanya, menatap jalanan kota Jakarta untuk terkahir kalinya, mungkin masih lama ia bisa kembali menginjakan kaki di negara kelahirannya ini. Ingatan Angel meluncur kembali ke satu minggu yang lalu, saat bapak Markus, ayahnya, mengumumkan sebuah kabar gembira untuk mereka. Ia mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan sebagai chemical engineer di sebuah perusahaan terkemuka di Kanada. Dan dalam satu minggu, mereka menyiapkan segala sesuatunya untuk kepindahan mereka.
"Kakak pasti memikirkan kak Anton ya?" Mia bertanya kepada Angel dengan muka polos. Angel pun tersenyum sejenak dan menatap adiknya. Ingatannya kembali memutar kejadian 3 hari yang lalu, saat ia mengucapkan salam perpisahan kepada Anton, lelaki yang telah menjadi pacarnya selama 2 tahun.
--------------
-Jakarta, 10 Oktober 2014, 19:00-
"Sayang, kamu harus ikut ke Kanada?" seorang pemuda tampan duduk di atas ranjang dan menatap gadis cantik yang baru keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalutkan handuk.
"Iya, daddy aku mendapatkan pekerjaan di Kanada, dan sepertinya akan lama berada di sana, jadi mau tidak mau, kami sekeluarga ikut pindah ke sana," gadis cantik itu pun kemudian duduk di samping sang pemuda dan membelai lembut wajahnya, "maafin aku ya, ton. Angel tidak bisa memenuhi janji kita."
"Siapa yang bilang kamu tidak bisa memenuhi janji itu? Aku akan menunggu sampai kamu pulang nanti. Ya sudah kamu tidak usah bersedih, aku akan selalu setia sama kamu. Sudah sana pakai bajumu, nanti masuk angin loh, hehehe," jawab sang pemuda yang bernama Anton sambil mengecup singkat dahi Angel.
Angel kemudian bangkit dan berdiri di depan Anton sambil berkata," kamu yakin, mau aku pakai baju?"
"Angel, kita kan pacaran harus saling menjaga, sudah sana pakai baju, aku tidak mau kalau kamu sampai sakit," Anton menasihati pacarnya sambil tersenyum simpul.
Angel pun mengecup bibir Anton sebelum menjatuhkan handuknya dan berjalan santai ke arah lemari pakaian. Pantatnya yang bulat menggoda bergoyang ringan ke kanan dan ke kiri, membuat penis Anton perlahan menegang. Angel pun membuka pintu lemari dan membungkuk, memilih pakaian dalam yang akan ia kenakan. Posisi Angel tampak sangat menantang, terlihat jelas oleh Anton vaginanya yang ditumbuhi sedikit bulu halus.
"Sayang, aku pakai celana dalam yang mana? Yang ini atau ini?" Angel bertanya sambil mengangkat G-String berwarna merah dan hijau. Payudara dan vagina Angel tampak sangat menggoda, tak tertutup oleh sedikit pun benang di hadapan sang kekasih.
Anton menggaruk kepalanya melihat tingkah pacarnya tersebut sebelum menjawab, "sekalian saja tidak usah pakai apa-apa."
Angel tersenyum kecil mendengar jawaban Anton. Kemudian ia pun melemparkan kedua celana dalamnya dan berjalan ke ranjang kemudian merebahkan diri di sana, "ya sudah kalau mau kamu seperti itu."
Anton ikut berbaring di sebelah Angel dan menatap mati gadis itu dalam-dalam. Dengan penuh perasaan ia berkata, "Angel, kamu tidak perlu seperti ini untuk membuktikan rasa cinta kamu. Aku sayang kamu bukan karena wajah cantik kamu, bukan karena tubuh seksi kamu. Tapi aku sayang kamu karena kamu adalah kamu."
Air mata Angel pun mengalir tanpa ia bisa tahan. Malam ini, Angel telah menyiapkan hati dan tubuhnya sebagai hadiah perpisahan untuk sang kekasih. Ia berencana memberikan hartanya yang paling berharga. Namun ia tak menyangka, Anton dengan begitu dewasa menolaknya.
"Maafin aku! Huhuhu! Aku sayang sama kamu! Aku ga mau ke Kanada! Aku mau selalu di samping kamu!" Angel memeluk erat Anton sambil menangis. Ia tak rela untuk pergi meninggalkan Indonesia, meninggalkan lelaki yang telah mendampinginya selama dua tahun terakhir.
"Ini memang jalannya sayang. Yang harus terjadi, biarlah terjadi. Yang penting kita sama-sama jaga hati kita. Aku akan selalu tunggu kamu di sini," jemari Anton menyusuri lekuk wajah Angel yang tampak cantik walaupun berurai air mata.
Anton pun mengecup lembut bibir Angel, menatap lembut wajah sang kekasih. Entah siapa yang memulai, mereka mulai berpagutan mesra. Tangan Anton perlahan membelai seluruh lekuk tubuh Angel, dari rambut, pipi, leher, dan berhenti di payudaranya.
"Kamu sih, aku jadi ga tahan nih," Anton berbisik mesra. Angel hanya menatap dalam-dalam wajah sang kekasih, sebelum kembali melumat bibirnya. Jemari Anton meremas lembut payudara Angel, membuat badan Angel bergerak dalam gelisah.
"Sayang, kok enak banget ya?" Angel mendesah pelan sambil menggeliat. Matanya sayu, napsu telah memenuhi gadis cantik yang baru pertama membiarkan tubuhnya dijamah oleh lelaki.
"Kamu yakin mau kasih harta kamu yang paling berharga buat aku?" tanya Anton sambil menggerakan tubuhnya sehingga ia berada di atas Angel.
"Yakin, aku akan tunjukin ke kamu kalau aku benar-benar sayang sama kamu," Angel mengangguk pasti sambil tersenyum dan mengankat kaos yang dikenakan Anton.
"Malam ini, aku milikmu sepenuhnya," lanjut Angel.
--------------
-Soekarno-Hatta International Airport, 13 Oktober 2014, 15:00-
"Ih, kakak kok nangis? Kita sudah sampai loh," Mia menegur Angel yang meneteskan air mata mengingat perpisahannya dengan Anton. Kedua orang tuanya berpandangan dan tersenyum kecut. Sebenarnya mereka juga merasa bersalah telah membuat keputusan ini, namun ini memang yang terbaik untuk keluarga mereka.
"Kakak cuma sedih aja meninggalkan teman-teman kakak," jawab Angel sebelum melangkah keluar dari mobil dan menghapus air matanya.
Mereka pun kemudian menurunkan barang bawaan mereka dan meletakkannya di atas trolley yang tersedia di bandara. Setelah mengucapkan salam perpisahan kepada saudara yang mengantar, mereka pun bergegas menuju check-in counter dan melaporkan kehadiran mereka.
"Je, bandaranya luas banget!" Mia berkata kepada udara kosong di sebelah kanannya.
"Jessica bilang apa sayang?" tanya sang ibunda kepada Mia sambil berjongkok dan merapikan rambut Mia.
"Jessica senang, Mom. Ia bilang terima kasih sudah boleh diajak ikut pindah," celoteh Mia dengan riang sambil memandangi bangunan bandara yang cukup besar. Setelah melalui proses check-in dan imigrasi yang cukup panjang, keluarga kecil itu pun masuk ke ruang tunggu bandara.
"Selamat sore! Kepada seluruh penumpang pesawat Semprot Airlines, dengan nomor penerbangan SM 543 tujuan Manilla, Filipina dan Ottawa, Kanada, silakan memasuki pesawat melalui pintu nomor D3. Terima kasih.
Good afternoon ladies and gentlemen! To all passanger Semprot Airways, with flight number SM 543 service to Manilla, Filipina and Ottawa, Kanada, please boarding the aircraft through gate number D3. Thank you."
Angel dan keluarganya pun segera beranjak dari tempat duduknya dan memasuki pesawat. Pesawat yang mereka gunakan kali ini adalah pesawat Boeing 777-300 dengan kapasitas penumpang kurang lebih 300 orang. Setelah mendapatkan arahan oleh pramugari mengenai letak tempat duduk mereka, mereka pun segera duduk dan meletakan barang bawaan mereka di bagasi atas. Angel dan Mia duduk bersebelahan di dekat jendela, sedangkan kedua orang tua mereka berada 4 baris di belakang.
Tiga puluh menit kemudian, hampir seluruh kursi pesawat terisi oleh penumpang yang akan berpergian ke Filipina maupun Kanada. Dikarenakan jarak yang cukup jauh, pesawat yang ditumpangi oleh Angel dan keluarganya akan singgah terlebih dahulu di Manilla. Para penumpang pesawat tersebut terdiri dari berbagai macam warga negara, sebagian besar warga filipina yang habis berlibur di Indonesia.
"Selamat pagi bapak dan ibu yang terhormat, nama saya Kania Ayu, pimpinan awak kabin anda. Atas nama Semprot Airways, Capt. Robert Simorangkir dan seluruh awak pesawat yang bertugas mengucapkan selamat datang dalam pesawat Boeing 777 seri 300 dengan nomor penerbangan SM 543 menuju Ottawa melalui Manilla. Penerbangan ke Manilla akan ditempuh dalam waktu 3 jam dan 57 menit.
Sesuai dengan Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil, kami akan memperagakan cara penggunaan alat-alat keselamatan penerbangan beserta prosedurnya. Silakan mengenakan sabuk pengaman, menegakkan sandaran kursi, dan melipat meja pada tempatnya. Kami mohon untuk menempatkan bagasi kabin anda di bawah kursi atau di tempat bagasi di atas.
Penggunaan telepon seluler, radio AM/FM, peralatan radio kontrol, perangkat penerimaan gelombang, dan mainan kontrol jarak jauh tidak diperkenankan selama berada di dalam pesawat. Terima kasih dan selamat menikmati penerbangan ini.
Good morning ladies and gantlement, my name Kania Ayu, your cabin crew supervisor. On behalf of Semprot Airways, Capt. Robert Simorangkir and all the crew members welcome you aboard Boeing 777-300 series with flight number SM 543 service to Ottawa via Manilla. The flight to Manilla will take about three hour and fifty seven minutes.
In accordance with Civil Aviation Safety Regulation, we will demonstrate the use of safety equipment and procedure of this aircraft. Please fasten your seatbelt, adjust your seatback into upright position and lock your table securely. Please stow your carry on baggage neatly under your seat or in overhead luggage bin.
All cellular telephone, trancievers, AM/FM radio, radio devices and remote control toys, sre to remain off during in the aircraft. Thank you and we wish you a pleasent flight."
Setelah menyampaikan ucapan selamat datang, tak lama kemudian pintu pesawat pun di tutup dan mulai proses starting engine. Para penumpang tampak asik dengan kegiatannya masing-masing, ada yang membaca koran, ada yang berbincang satu sama lain. Tak seorang pun memperhatikan Mia, yang sedang berbicara sendiri dengan raut khawatir, kecuali Angel.
"Mia, kamu kenapa?" Angel berbisik pelan sambil membelai rambut sang adik. Mia hanya menggeleng kecil tanpa menoleh, ia terus bergumam pelan. Raut wajahnya menunjukan kalau gadis kecil itu tampak sangat khawatir dan tidak percaya akan sesuatu.
"Kak, kita naik pesawat yang lain yu," akhirnya Mia berkata pelan kepada Angel dengan peluh yang mulai mengalir dari dahinya. Sementara itu, setelah menyelesaikan proses starting engine, pesawat pun mulai berjalan perlahan menuju landasan pacu.
"Memangnya ada apa?" bisik Angel kembali. Mia terlihat sangat ketakutan.
"Jessica bilang, ada yang ga suka sama Jessica. Ada yang jahat sama Jessica," air mata Mia perlahan mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Flight Attendant, take off position!" terdengar suara dari cockpit pesawat. Tak lama kemudian mesin pesawat pun mulai menderu kencang pertanda pesawat akan segera lepas landas.
"Kak, Mia mau turun, Mia ga mau terbang, Jessica ketakutan."
-Semprot 543, Bussiness Class Deck, 13 October 2014, 17:18-
"Tenang saja Mia, tidak ada apa-apa," Angel mencoba untuk menenangkan Mia yang terisak sejak pesawat mulai take off tadi. Angel sangat khawatir akan sikap adiknya. Jarang sekali Mia ketakutan sampai menangis seperti ini.
"Ada yang bisa saya bantu?" seorang pramugari menghampiri mereka dan tersenyum ramah, mencoba menawarkan bantuan setelah melihat Mia menangis sedari tadi,
"Tidak apa-apa, kak. Adik saya takut terbang, ini yang pertama kali buat dia," Angel menjelaskan sambil membelai lembut rambut Mia.
"Tidak apa-apa adik. Nanti kakak kasih boneka ya," pramugari tersebut mencoba menenangkan Mia. Mia hanya bisa mengangguk kecil sambil tetap terisak.
----------------
-Semprot 543, Cockpit Room, 13 October 2014, 17:37-
"Good evening, Jakarta. Semprot 543 reaching and mantaining level 410," seorang gadis berkata melalui microphone di dalam cockpit.
"Maintain 410 proceed to TAVIP," lanjutnya lagi mengulangi perintah yang ia dapat dari menara kontrol.
"CDU direct to TAVIP and execute," suara berat pria terdengar memberikan perintah. Gadis itu pun melakukan perintah tersebut pada komputer kecil di depannya.
"Ini penerbangan pertama kamu ke Kanada ya, lent?" tanya suara berat itu kembali kepada gadis cantik yang duduk di sebelah kanannya.
Sang gadis mengangguk kecil sambil tersenyum, "iya capt! Aku kan baru release minggu kemarin. Training juga dapat rute Jepang sama Amsterdam terus, baru kali ini dapat rute lewat Pasifik, hehehe. By the way, happy birthday ya, capt."
Gadis cantik itu bernama Valentina Margaretha, seorang First Officer di Semprot Air yang baru saja menyelesaikan pendidikan kualifikasi pesawat Boeing 777. Umurnya baru 24 tahun, namun karena otaknya yang cukup pintar, ia mendapatkan promosi untuk menerbangi pesawat besar seperti ini. Yang duduk di sebelah kiri adalah Capt. Robert Simorangkir, seorang captain muda yang cukup tampan, yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke 38 .
"Makasi,lent. Oh iya, nanti kita switch di Filipina saja ya. Enak juga tugas duluan, jadi bisa tidur nanti malam, hehehe. Biar Capt. Rony sama mas Bayu saja yang bergadang semalam suntuk," Capt. Robert berkata sembari mengecek instrumen pesawat.
"Siap capt. Enak juga ya terbang pesawat besar seperti ini. Kerjaannya dikit, jaraknya jauh, sekali terbang berempat juga, jadi bisa istirahat, hehehe," balas Valent sambil tertawa.
"Yoi, eh gue ke toilet dulu ya, lent. Your control, LNAV VNAV, heading to TAVIP, level 410 ya," Capt. Robert berkata seraya membuka seat beltnya dan bangkit dari kursinya. Valent yang sedang minum memberikan kode berupa jempol tangan, menandakan ia mengerti dan mengijinkan rekannya untuk meninggalkan ruangan cockpit.
"Ratih, titip cockpit ya," perintah capt. Robert saat ia keluar dari ruangan cockpit dan melihat seorang pramugari yang bertugas di bagian depan. Pramugari yang bernama Ratih tersebut mengangguk singkat dan masuk ke cockpit. Sudah menjadi peraturan yang umum untuk seorang Flight attendant menemani pilot yang bertugas apabila salah seorang dari antara mereka meninggalkan stationnya. Hal ini bertujuan untuk menjaga seandainya terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan terhadap pilot yang berada di dalam cockpit.
---------------
-Semprot 543, Forward Lavatory, 13 October 2014, 17:40-
"Capt, ikut!" tampak sebuah tangan mungil menahan pintu toilet saat capt. Robert akan menutupnya. Seorang pramugari dengan lincah membuka pintu toilet dan menyusup masuk ke dalamnya kemudian menguncinya tanpa suara.
"Mau ngapain kamu, Ajeng? Nanti ketahuan yang lain bagaimana?" Capt. Robert terdengar galak memarahi kelakuan sang pramugari tersebut. Ajeng hanya bisa tersenyum kemudian mencium bibir sang captain. Ruang toilet pesawat Boeing 777 memang luas, terlebih di bagian depan yang diperuntukan untuk penumpang bisnis, kira-kira cukup untuk menampung sampai 3 orang di dalam toilet.
"Hhmmmpphh, aman capt. Lagi pada sibuk jalan ke belakang dan penumpang bisnis juga sepi kok. Kalau mau quickie bisa kok," lanjutnya sambil tersenyum nakal. Perlahan tangannya mengelus celana sang captain dari luar dan menciumi lehernya.
Capt. Robert tersenyum mendengar perkataan Ajeng. Ia pun meremas lembut payudara yang cukup menonjol di balik seragam yang berwarna biru laut tersebut. Sementara tangan Ajeng sibuk mengocok penis capt. Robert yang telah berhasil dikeluarkannya dari dalam celana.
"Tangan kamu makin kreatif aja deh, jeng," kekeh sang captain sambil membuka kancing seragam Ajeng. Ajeng tersenyum manja melihat kelakuan lelaki yang berbeda umur hampir 10 tahun dengan dirinya itu.
"Tangan captain juga nakal, lihat nih baju aku sudah berantakan," Ajeng mengerling sambil tersenyum. Mereka pun mulai berciuman penuh gairah, tangan capt. Robert dengan penuh napsu meremas payudara Ajeng yang terpampang jelas.
"Uuggh, enak capt, remas yang kencang," Ajeng mendesah pelan, menjaga agar suaranya tidak terdengar keluar toilet.
"Jeng, ayo buruan, nanti Valent curiga aku terlalu lama di sini," capt. Robert berbisik sambil terus mencumbui leher sang pramugari bertubuh sintal. Ajeng hanya mengangguk singkat, sementara tangannya berkutat di bawah sana, membuka rok panjangnya dan melepaskan celana dalamnya.
Setelah lepas penutup bagian bawah, Ajeng membalik tubuhnya dan berpegangan pada westafel. Capt. Robert membantu merenggangkan kaki Ajeng, ia pun mulai mengarahkan penisnya ke vagina Ajeng yang terpampang jelas.
"Ditusuk ya, Jeng," bisik sang captain sambil menggesek-gesekan penisnya. Ajeng mengangguk singkat dan mengangkat pantatnya sedikit lebih tinggi, agar memudahkan proses penetrasi yang akan dilakukan.
"Hmmpph!"
Tok! Tok! Tok!
Terdengar suara ketukan dari balik pintu toilet.
"Jangan berisik, Jeng, nanti terdengar," capt. Robert mengingatkan Ajeng sambil mulai menggoyangkan pinggangnya. Ajeng menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan agar tak ada suara yang lolos dari mulut mungilnya.
Tok! Tok! Tok!
Capt. Robert balas mengetuk pintu, menandakan bahwa ia ada di dalam sana.
"Capt! Baik-baik saja kan di dalam? Valent tanya kenapa lama sekali," teriak suara lelaki dari luar sana. Capt. Robert menghentikan goyangannya sementara, memberinya waktu sejenak untuk menarik napas sebelum balas menjawab.
"Saya sakit perut mas Dimas, sebentar lagi selesai kok," balas capt. Robert menjawab pertanyaan tersebut.
"Oke capt!"
Capt. Robert dan Ajeng menarik napas lega, posisi mereka yang masih melakukan doggy style membuat mereka saling bertatapan melalui cermin di westafel. Peluh tampak bercucuran dari dahi mereka, entah karena permainan singkat mereka yang belum tuntas, atau karena gangguan kecil yang hampir mencoreng reputasi mereka bila tertangkap basah.
"Bagaimana, Jeng? Masih mau lanjut atau bagaimana?" bisik capt. Robert sambil meremas lembut payudara Ajeng. Badan Ajeng pun menegang, mendapatkan rangsangan yang tidak diduganya.
"Buat apa nanya kalau tangannya sudah iseng duluan? Lagian sih, katanya mau quickie, kok goyangnya pelan banget?" bisik Ajeng sambil mencubit paha lelaki yang sedang menancapkan penisnya tersebut.
Capt. Robert hanya tersenyum, ia pun memegang paha Ajeng dan mulai mengambil ancang-ancang seraya berbisik, "tahan ya, jangan sampai suara kamu terdengar."
-------------
-Semprot 543, Bussiness Class Deck, 17:43-
"Ini bonekanya," seorang pramugari menyerahkan boneka kecil berbentuk kera kepada Mia. Angel mengucapkan terima kasih kepada pramugari yang memaki name tag bertuliskan Ajeng tersebut.
"Mia, kamu ga apa-apa sekarang?" Angel bertanya kepada adiknya yang dari awal penerbangan hanya menunduk saja. Mia mengangguk lemah dalam diam, ia pun merebahkan kepalanya ke dalam pelukan sang kakak.
"Jessica di mana sekarang?" tanya Angel kembali dengan lembut seraya membelai pipi sang adik. Kali ini Mia menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan kakaknya tersebut. Angel menarik napas panjang melihat kelakuan adiknya.
Memang dari kecil, Mia punya kebiasaan aneh berbicara dengan sosok yang tak nampak. Menurut psikolog yang sempat ditemui oleh kedua orang tuanya. Perilaku Mia yang memiliki teman imajiner merupakan hal yang wajar terlebih bila ia tidak memiliki teman bermain yang sebaya, namun perilaku tersebut akan menghilang saat sang anak beranjak dewasa.
Dalam hatinya, Angel merasa bersalah kepada Mia. Terpaut umur yang cukup jauh, sempat membuat kesal dirinya atas kelahiran Mia. Angel sempat merasa kehadiran Mia akan mengganggu posisinya sebagai anak kesayangan orang tuanya. Hal itu menyebabkan ia seringkali mengabaikan Mia dan mengacuhkannya, membuat Mia menjadi seperti sekarang.
Angel mengecup dahi Mia seraya berkata, "maafin kakak ya sayang. Kakak janji akan jadi teman kamu."
Mia menoleh kakaknya dan menatapnya heran, kemudian ia pun tersenyum. "Kakak janji ya akan temani Mia main? Nanti kita main bertiga sama Jessica di rumah baru," jawab Mia. Angel pun mengangguk, ia senang Mia sudah mau berbicara, tampaknya ketakutannya tadi hanya semata-mata ketakutan mengahadapi penerbangan pertamanya.
"Jessica di mana sekarang?" Angel kembali menanyakan pertanyaan yang belum di jawab oleh Mia tadi. Namun pertanyaan Angel tersebut kembali membuat raut wajah Mia menjadi berubah. Tampak tertekan dan takut. Ia pun menunduk sebelum membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Angel.
"Je-jesicca ga diterima sama penghuni pesawat ini. Se-sekarang dia ada di luar jendela di belakang kakak, lagi ketuk-ketuk jendela minta masuk."
---------------
-Semprot 543, Forward Lavatory, 17:55-
"Terus capt, aku mau keluar bentar lagi. Hmmpphh," desah Ajeng sambil memegang erat bibir westafel. Capt. Robert semakin bersemangat memompakan penisnya di dalam vagina Ajeng.
"Jeng, a-aku keluar, aaaggghhhh," lenguh sang captain dengan nada tertahan. Kedua insan berlainan jenis itu terengah-engah, tampak raut muka lelah namun juga puas hasil dari persetubuhan singkat yang menegangkan itu. Ajeng pun melepaskan penis capt. Robert dari dalam vaginanya sebelum berbalik menghadap sang pria yang telah memberikannya kepuasan batin.
"Makasih ya capt," bisiknya seraya bergerak ke belakang sang captain dan memeluknya dari belakang, kedua tangannya kembali menggerayangi tubuh kekar lelaki yang merupakan pimpinan penerbangan kali ini, beranjak dari perut menuju dada dan berakhir di kedua sisi pundak sang lelaki yang tampak tegang sebelum kembali naik, membelai pipi capt. Robert.
Capt. Robert mengecup tangan Ajeng yang membelai pipinya sebagai jawaban dan tersenyum sambil menoleh melihat wajah cantik gadis yang menjadi tempatnya menuntaskan napsu selama beberapa minggu terkahir.
"Capt, aku punya kejutan loh," bisik Ajeng manja sambil terus membelai kedua pipi capt. Robert.
"Kejutan apalagi sayang? Jangan lama-lama di sini loh, nanti kita ketahuan."
"Ga lama kok, capt. Kejutannya, coba captain lihat ke arah cermin," Ajeng menjawab seraya mengecup lembut bibir capt. Robert.
Capt. Robert membalas kecupan singkat Ajeng sebelum menatap ke arah cermin. Namun, apa yang dilihatnya di dalam cermin membuat mulutnya ternganga. Tampak sesosok gadis berwajah pucat dengan darah mengalir dari bola matanya berdiri di belakangnya. Kedua tangannya yang berwarna kebiruan memegang erat pipi capt. Robert.
"Se-se-se."
Kreeek!
Terdengar suara leher patah diikuti tubuh capt. Robert jatuh ke lantai toilet tanpa suara.
------------
-Semprot 543, Cockpit Room, 18:01-
"Lama banget, capt? Makan apa sampai sakit perut gitu? Sampai pucat banget loh mukanya. Mau gantian sama capt. Rony aja?" tanya Valent begitu capt. Robert kembali ke cockpit dengan wajah pucat.
Capt. Robert menggeleng singkat dan kembali duduk serta mengencangkan seat beltnya. Valent pun hanya mengangkat bahunya melihat reaksi captainnya yang tampak mengacuhkan perhatiannya.
------------
-Semprot 543, Bussiness Class Deck, 18:03-
"Kakak, aku mau ke toilet," Mia berbisik pelan kepada Angel.
"Mau ditemani?" tanya Angel sambil melepaskan pelukannya kepada Mia. Mia mengangguk singkat. Angel pun melepaskan seat belt miliknya dan juga mia, kemudian menggandeng tangan Mia dan berjalan ke depan.
"Maaf kak, adik saya ingin ke toilet," Angel berkata sopan kepada seorang pramugara yang sedang berdiri di dekat pintu toilet. Pramugara tersebut tersenyum dan menunjuk ke arah pintu toilet. Mia pun melepaskan tangan Angel dan berlari kecil membuka pintu toilet.
"Kyaaaaa!"
"Mia! Ada apa?" tanya Angel sembari berlari menghampiri Mia segera begitu mendengarnya berteriak histeris saat membuka pintu toilet. Angel pun terdiam melihat pemandangan di dalam toilet. Tubuh seorang pilot dengan leher yang telah berputar 180 derajat terduduk kaku di atas kloset. Angel segera memeluk Mia, mengalihkan pandangannya dari hal yang begitu mengerikan tersebut. Pramugara yang tadi menunjukan letak toilet dan seorang pramugari yang berdiri di dekat situ pun segera menghampiri Angel dan Mia.
"Ca-captain Robert?" pramugari yang bernama Ratih tersebut menutup mulutnya dengan tangan, tidak percaya akan apa yang baru saja dilihat oleh matanya. Dimas pun segera menutup pintu toilet dan memeluk erat Ratih, berusaha menenangkannya. Sebuah pertanyaan meluncur keluar dari mulutnya tanpa biasa ia cegah, "terus yang tadi keluar dari toilet dan masuk cockpit siapa dong?"
-Semprot 543, Forward Galley, 18:14-
"Ratih, coba hubungi ruang cockpit! Dimas, cari tahu apakah ada dokter di antara para penumpang!" perintah Kania, sang pemimpin awak kabin pada penerbangan kali ini. Ia pun kemudian menghadap Angel dan Mia yang sekarang sedang duduk di jump seat, tempat duduk para flight attendant.
"Jangan panik, kami sedang berusaha menghubungi ruang kemudi dan mencoba menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Untuk sekarang, saya mohon anda tidak mengatakan apa-apa tentang hal ini kepada para penumpang untuk mencegah terjadinya kepanikan," Kania berkata kepada Angel sambil tersenyum dan membelai lembut rambut Mia.
"Kau lihat posisi kepalanya? Apa yang membuatnya menjadi seperti itu? Dan bagaimana mungkin kau memintaku untuk tidak panik? Dan bagaimana kau bisa tenang dalam situasi seperti ini?" Angel berkata dengan nada marah sambil memeluk erat Mia yang menangis terisak dalam pelukannya.
"Saya mohon maaf yang sangat dalam atas kejadian tersebut. Saya juga sama panik dan takutnya dengan anda sekarang tapi menunjukannya malah hanya akan memperpanjang masalah," Kania kembali menjelaskan sambil menggenggam tangan Angel, "untuk sementara, silakan kembali ke tempat duduk anda, dan saya yakin anda akan membantu kami dengan tidak membesar-besarkan masalah ini," lanjutnya sambil berdiri dan mempersilahkan Angel dan Mia untuk kembali ke tempat duduknya. Angel pun mengangguk pelan dan berjalan kembali ke tempat duduknya dengan gemetar sambil terus memeluk erat Mia.
"Ada apa Angel?" tanya sang ayah begitu Angel kembali ke tempat duduknya. Beberapa penumpang yang kebetulan duduk di kursi bisnis memandang Angel dengan penasaran. Tampaknya suara teriakan Mia cukup kencang sehingga terdengar oleh sebagian penumpang.
"Ga apa-apa kok, dad," jawab Angel sambil mencoba tersenyum, "Mia tadi lihat kecoak di kamar mandi."
Pak Markus mengangguk kecil dan membelai kepala Mia yang berada dalam pelukan kakaknya, kemudian kembali ke tempat duduknya. Angel pun kemudian menuntun Mia untuk duduk di kursi dekat jendela, kemudian ia pun duduk di tempat awal Mia dan tampak tenggelam dalam pikirannya.
"Kak, Mia takut, di sini banyak yang jahat," isak Mia sambil menggenggam erat tangan Angel.
"Maksud kamu apa?"
"Di-di belakang kakak, ada kakek-kakek yang lagi jongkok sambil lihatin kakak," Mia berkata sambil memejamkan matanya dan memeluk Angel. Bulu kuduk Angel pun berdiri mendengar perkataan Angel. Ia pun mengambil napas panjang sejenak, mengumpulkan keberaniannya, kemudian menengok ke belakang.
"Mia jangan bercanda ah!" Angel berkata sedikit keras kepada adiknya tersebut setelah tak mendapati seorang pun di belakangnya.
"A-aku ga bercanda."
--------------
-Semprot 543, Cockpit Room, 18:30
"Capt, ada apa? Kalau ga enak badan atau ada apa-apa tukar dengan Capt. Rony dulu saja," Valent berkata kepada Capt. Robert dengan raut muka khawatir. Capt. Robert hanya menggeleng singkat tanpa menoleh kepada Valent, membuat kopilot cantik tersebut merasakan ada yang aneh dengan captainnya.
--------------
-Semprot 543, Cabin Room, 18:35-
"Selamat malam bapak dan ibu semua. Sebentar lagi akan kami sajikan makan malam..."
Ziiiing!
Terdengar suara feedback di speaker pesawat, kemudian diikuti senandung riang seorang anak perempuan.
"Twinkle twingkle little star, how I wonder what you are. Hihihi, ready or not, here I come."
Jleeeb! Seluruh lampu kabin mati seketika.
"Su-suara siapa itu?"
"Barusan apaan?"
"Tenang pak! Sebentar lagi listrik menyala."
Kepanikan menyeruak seketika di dalam pesawat. Pengumuman makan malam tiba-tiba terpotong oleh suara anak kecil yang bernyanyi dengan tidak wajar. Belum lagi ditambah kondisi pesawat yang gelap gulita?
"Kak, Mia takut, di samping kakak yang berbicara itu, ada anak kecil yang gangguin," Mia berbisik pelan. Angel meneguk ludah mendengar perkataan adiknya tersebut. Ia mulai menyadari ada yang tidak beres dengan penerbangan yang ditumpanginya ini. Ia juga sadar bahwa adiknya memiliki kemampuan yang tidak dimiliki orang-orang pada umumnya.
"Mia, lalu kita harus bagaimana?" tanya Angel sama pelannya dengan Mia. Mia menggeleng kecil menanggapi pertanyaan Angel tersebut. Tak lama kemudian, lampu di cabin pun kembali menyala. Terlihat wajah ketakutan di antara para penumpang. Mereka semua sadar, bahwa suara nyanyian anak kecil tersebut bukanlah kesalahan teknis belaka.
Jeleeegaaaar!
Tiba-tiba pesawat bergoncang hebat tanpa peringatan. Petir menyambar-nyambar bersahutan di kedua sisi pesawat, membuat keadaan semakin mencekam. Tak lama kemudian, air hujan pun mengguyur pesawat dengan sangat lebatnya. Bunyi kencang yang disebabkan tabrakan air dan es dengan badan pesawat membuat beberapa penumpang menggumamkan doa.
Ting!
"Flight Attendant, return to your seat and fasten your seatbelt immediately!" Para pramugari dan pramugara segera kembali ke tempat duduk begitu mendengar perintah dari ruang kemudi.
"Dek, duduk dulu ya! Ke toiletnya nanti!" seorang pramugari berteriak. Para penumpang yang duduk di kabin bagian depan pun menoleh ke sumber suara. Terlihat seorang anak perempuan berjalan pelan dan tenang ke arah depan sambil menunduk. Pramugari yang berteriak tadi pun melepaskan sabuk pengamannya dan berjalan ke arah sang anak perempuan. Goncangan pesawat yang cukup kuat membuat ia harus berpegangan ke sandaran kursi agar dapat menjaga keseimbangannya.
"Duduk dulu ya, sayang. Nanti kamu terluka kalau jalan di tengah cuaca seperti ini," kata sang pramugari sambil membungkuk di hadapan anak tersebut.
Angel merasakan Mia menggenggam jemarinya erat. Mia berbisik pelan, "kak, itu anak kecil yang nyanyi tadi." Jantung Angel seakan berhenti mendengar apa yang dikatakan Mia.
Tiba-tiba, suasana di dalam pesawat menjadi hening. Tak terdengar lagi suara badai dan hujan di luar sana.
"Hihihihi," anak perempuan itu tiba-tiba tertawa memecah keheningan, "makasih ya kakak sudah perhatian sama aku. Sekarang, aku mau ajak kakak main." Anak itu menengadahkan mukanya, memperlihatkan wajahnya yang putih pucat dengan darah mengalir dari dahinya. Pramugari tersebut membuka mulutnya mencoba berteriak, namun sebelum sempat ia bersuara, badannya terpental ke belakang.
"Ratiiiih!" pramugara bernama Dimas berteriak melihat rekannya terpental begitu saja. Tubuh Ratih terkulai lemas setelah membentur pintu yang menghubungkan ruang kemudi dengan ruang kabin.
"Hihihihi! hahahaha!" anak itu tertawa senang, membuat para penumpang menjerit histeris.
Jeleeegaaar!
Pesawat kembali bergoncang keras, membuat para penumpang semakin ketakutan. Lampu di dalam pesawat berkedip sekali, tampaknya petir menyambar salah satu bagian pesawat, membuat sistem kelistrikan yang ada sedikit terganggu.
"Anak tadi hilang! Setaaaan!" seorang penumpang yang duduk di dekat kejadian tadi berteriak histeris. Sosok mahkluk yang meniru wujud anak perempuan tersebut menghilang begitu saja. Terdengar suara doa memohon perlindungan semakin keras diucapkan, terlebih di kabin bagian depan, yang baru saja menyaksikan suatu kejadian yang berada di luar nalar pikiran.
--------------
-Semprot 543, Cockpit Room, 18:45-
"Capt, saya hubungi cabin dulu ya, barusan pintu kita seperti ada yang gedor," Valent meminta ijin untuk menghubungi ruang kabin, namun capt. Robert masih menatap lurus ke depan, tidak mempedulikan Valent sedikitpun. Hal ini membuat Valent sedikit ketakutan, tanpa ia sadari, bulu kuduknya pun merinding.
Ting Tong!
"Mbak Kania, dengan Valent. Barusan bunyi suara apa ya di pintu cockpit? Oh, ga ada apa-apa," Valent tampak berbincang dengan seorang pramugari menggunakan service interphone, "oh iya, bisa tolong bangunkan capt. Rony ga? Sepertinya capt. Robert sakit, dia ga fokus. Terima kasih ya," lanjutnya dengan suara pelan.
-------------
-Semprot 543, Bussiness Class Deck, 18:45-
"Twinkle twingkle little star, how I wonder what you are. Like a diamond in the sky."
"Di-dimas. Di service interphone malah ada suara anak itu nyanyi lagi, aku ga bisa menghubungi mbak Valent di ruang kemudi," Kania berkata panik kepada Dimas, yang sedang merawat Ratih yang pingsan.
"Ah, serius lo?" Dimas berkata tak percaya dan menyambar gagang telepon tersebut. Kania pun memberikan tempat kepad Diman, dan ganti membungkuk di lantai untuk menjaga Ratih. Raut muka dimas langsung berubah begitu ia menempelkan telinganya. Ia menatap Kania dengan muka ketakutan dan berkata lirih, "Kan-kania, barusan dia bilang mau main gantung-gantungan."
"Di-di-di," Kania berkata terbata-bata sambil menunjuk ke arah belakang Dimas. Keringat mengalir dari dahi Dimas. Ia tidak perlu Kania, untuk mengetahui apa yang ada di belakangnya. Tiba-tiba, tangan Dimas bergerak memutari lehernya, membuat kabel gagang telepon membelit batang leher sang pramugara. Tubuhnya pun terangkat, membentur atap pesawat.
"Dimaaaas!" Kania berteriak histeris. Ia mengumpulkan seluruh keberaniannya dan berusaha menarik turun Dimas. Namun sesuatu membuat tubuhnya terpental ke belakang. Dimas menendang ke segala arah, berusaha untuk melepaskan lilitan kabel di lehernya. Kania hanya bisa menangis melihatnya menggelepar tak berdaya, kehabisan napas.
"Hihihi, makasih ya sudah mau main sama aku," kekeh sebuah suara di telinga Dimas. Tak lama kemudian, rontaan Dimas pun berkurang, sampai akhirnya benar-benar tak bergerak dan ia pun jatuh ke lantai.
"Kyaaaaaaaaa!" seorang ibu menjerit sekuat tenaga saat ia melihat Dimas terjatuh tak bernyawa.
------------
-Semprot 543, Economy Class Deck, 18:48-
"Ada apa sih di depan? Hujan gini aja teriak-teriak," seorang pemuda berkata kepada gadis cantik yang duduk di sebelahnya. Ia menatap heran para flight attendant yang tampak mondar-mandir dengan muka sangat cemas dan ketakutan.
"Bukan karena hujan kali, Bim. Lo ga denger emang tadi ada suara anak kecil nyanyi di speaker? Horor banget kan," gadis cantik di sebelahnya mencoba memberikan penjelasan kepada pemuda yang bernama Bimo tersebut.
"Ya elah, palingan juga ada anak kecil iseng yang ambil tuh microphone. Hari gini masih aja lo percaya setan, Kenny cantik" Bimo berkata dengan nada meremehkan. Namun, tiba-tiba raut mukanya berubah, menunjukan ekspresi ketakutan.
"Ken, di di belakang lo," Bimo berkata pelan.
"Bim, ga lucu!" Kenny membentak sang pemuda. Tangan bimo perlahan naik, menunjuk sesuatu di belakang badan Kenny. Badan Kenny pun menjadi kaku karena adrenalinnya meningkat.
"Bim," ucapnya lagi dengan nada mengancam. Tubuh Bimo bergetar hebat, membuat peluh menetes dari dahi Kenny. Ia pun menarik napas panjang, kemudian membalikan badannya.
"Hahahaha, kena deh!" Bimo tertawa puas, berhasil mengerjai teman wanitanya itu, "makanya jadi manusia jangan penakut. Sama setan aja takut, cemen lo!" lanjutnya lagi sambil tersenyum lebar.
"Dasar breng" kata-kata Kenny terhenti saat ia menatap Bimo, atau lebih tepatnya menatap sesuatu di balik punggung Bimo.
"Bim," Kenny berkata lirih, penuh kehati-hatian.
"Apa? Mau ngerjain balik? Ga kreatif lo!"
"Bim," nada suara Kenny meninggi.
"Apa sih?" Bimo berkata seraya menengok ke belakang.
"Aaaarrrgggghhhh!" Bimo melihat seorang anak kecil perempuan dengan muka penuh darah. Belum sempat Bimo bereaksi, anak kecil tersebut menerjang Bimo dan menggigit leher pemuda tersebut.
"Kyaaaaaaa!" Kenny berteriak, membuat anak kecil itu menatap Kenny sambil menyeringai. Ia pun mengambil ancang-ancang dan melompat ke arah Kenny. Kenny mengangkat tangannya untuk melindungi diri, namun tak ada yang terjadi. Saat ia membuka mata, ia melihat Bimo menggelepar tak beraturan, darah memuncrat deras dari lehernya.
-Semprot 543, Bussiness Class Deck, 19:00-
"Kak, Jessica! Jessica kak!" Mia berseru sambil menunjuk-nunjuk kaca di samping tempat duduknya. Angel terkejut memandang kaca tersebut. Ia melihat 2 buah gambar telapak tangan tercetak jelas di tengah derasnya hujan yang masih mengiringi penerbangan ini. Gambar telapak tangan itu perlahan menghilang, digantikan oleh huruf yang perlahan tercipta, seakan ada seseorang yang menulis di balik kaca tersebut.
"216?" Angel membaca tulisan tersebut sebelum kembali tersapu oleh air hujan. Dia pun memandang Mia dengan heran, mencoba mencari jawaban dari adik perempuannya. Mia menggeleng kecil membalas tatapan Angel, ia sama tidak tahunya maksud dari pesan yang diberikan oleh Jessica tersebut.
-------------
-Semprot 543, Cockpit Rest Area, 18:52-
"Cuacanya buruk banget ya, bay?" seorang lelaki tua berseragam pilot yang mengenakan bar 4 pada pundaknya tersebut berkata pelan sambil memjamkan matanya. Di sebelahnya, duduk seorang pemuda yang asik memainkan laptopnya. Mereka berdua adalah pilot yang bertugas pada penerbangan ini dan akan bertukar tugas dengan capt. Robert dan Valent di Filipina nanti.
"Iya nih, capt. Oh iya, capt. Rony bukannya lagi cuti ya?" tanya pilot muda yang bernama Bayu itu tanpa mengalihkan pandangan matanya dari layar laptop.
"Iya, tapi disuruh terbang nih, soalnya ada yang sakit mendadak kemarin. Tapi tidak masalah lah, bay. Habis pulang dari Kanada nanti, saya lanjut cuti lagi kok, hehehe," capt. Rony menjelaskan perihal kehadirannya pada tugas terbang kali ini. Ia memandangi ruangan tempatnya berada sebelum kembali berkata, "ruang istirahatnya sempit ya, bay. Gelap juga lagi."
Di pesawat Boeing 777 memang didesain untuk memilik ruang beristirahat bagi awak kokpit. Ruangan tersebut terletak di bagian atas sebelah belakang ruang kemudi. Walaupun cukup nyaman untuk beristirahat, namun ruang di pesawat milik Semprot Air ini tidak terlalu luas.
"Iya, capt. Tapi lumayanlah bisa buat tidur. Saya tidur dulu ya capt," Bayu berkata seraya merapikan laptop miliknya dan berbaring tidur. Capt. Rony mengangguk singkat. Ia kemudian membuka tasnya dan mencari sesuatu di dalam sana. Tak lama kemudian, ia mengeluarkan sebuah buku dan mulai membacanya untuk menghilangkan kebosanan.
-------------
-Semprot 543, Economy Class Deck, 19:04-
"Huhuhuhu, Bimo," Kenny menangis di dalam pelukan seorang pramugari. Kekacauan terjadi di kabin bagian belakang. Para penumpang yang duduk di dekat Bimo berusaha mencari kejelasan atas apa yang terjadi. Mereka tampak berdiri dengan muka geram dan memarahi seorang pramugari.
"Mbak! Ini pesawat ada setannya! Saya mau turun sekarang juga!"
"Iya mbak! Tadi ada suara seram di radio! Sekarang ada yang mati digigit setan!"
"Tenang bapak-bapak dan ibu-ibu semua. Kami sudah mencoba menghubungi pilotnya dan menceritakan apa yang terjadi," pramugari tersebut berusaha menenangkan para penumpang.
Jeleeeegaaaaar!!
Petir kembali menyambar. Pesawat pun mengalami guncangan yang cukup keras. Terdengar suara tangis bayi saling bersahutan, membuat keadaan di dalam penerbangan ini semakin mencekam.
-------------
-Makasar Control Room, 19:10-
"Semprot 543, this is Ujung Control. Confirm you are heading 030 avoiding weather? Your position is 200 miles left of track! We've been calling you many times! And your heading is not to Manila," seorang petugas menara kontrol bertanya kepada penerbangan Semprot 543 dengan panik.
"Pak, tidak ada jawaban dari semprot 543 sejak 30 menit yang lalu, dan sekarang posisi pesawat mereka meleset 200 miles dari rute yang ditentukan," jelas petugas itu kembali kepada seseorang yang berdiri di belakangnya.
"Pantau terus, coba minta bantuan untuk merelay pesan kepada pesawat yang kebetulan berada di sekitar situ. Dan hubungi Tim SAR."
------------
-Semprot 543, Cockpit Rest Area, 19:15-
Tuk! Tuk!
Sebuah suara ketukan terdengar dari saluran udara di samping tempat tidur capt. Rony. Saluran udara yang tidak cukup besar untuk dimasuki manusia. Sebagai seorang penerbang senior yang telah memiliki banyak jam terbang, suara yang tidak pada umumnya langsung membuatnya bersiaga.
Tuk! Tuk! Tuk!
"Bay, bay, denger ga suara itu?" capt. Rony bertanya kepada Bayu, namun tak mendapatkan jawaban. Ia menoleh kepada Bayu dan mendapati co-pilotnya tersebut tidur dengan lelapnya.
Tuk! Tuk! Tuk! Tuk!
Suara ketukan kembali terdengar dan kali ini bertambah banyak. Pikiran capt. Rony langsung bekerja, ia mulai mencari tahu penyebab munculnya bunyi tersebut pada saluran udara. Ia takut terjadi kebocoran pada sistem tekanan udara di kabin yang akan membahayakan penerbangan ini. Capt. Rony pun memutuskan untuk memberitahukan masalah ini kepada pilot yang sedang bertugas. Ia pun beranjak dari tempat tidurnya.
Tuk! Tuk! Tuk!
Tuk! Tuk!
Tuk! Tuk! Tuk!
Ketukan itu kembali muncul, kali ini berirama, seakan-akan memanggil capt. Rony. Penerbang tua itu terdiam, ia merasakan sesuatu yang janggal di dalam saluran udara tersebut.
Tuk!
Capt. Rony mengetuk sekali.
Tuk!
Terdengar balasan dari dalam sana.
Tuk! Tuk! Tuk!
Kali ini capt. Rony mengetuk tiga kali.
Tuk! Tuk! Tuk!
Jantung capt. Rony seakan berhenti berdetak. Bunyi ketukan itu membalas ketukan capt. Rony dengan jumlah yang sama. Setelah berpikir beberapa saat, capt. Rony memutuskan untuk mengintip ke dalam saluran udara tersebut melalui lubang kecil yang terdapat di sana.
Ia pun menarik napas sejenak, menghapus keringat yang bermunculan di dahinya, kemudian mendekatkan matanya ke dalam lubang itu. Tetapi karena gelapnya saluran udara tersebut, ia tidak dapat melihat apapun di dalam sana kecuali warna hitam yang pekat. Capt. Rony pun menarik napas lega, namun belum sempat ia menarik mukanya, tiba-tiba, sebuah bola mata berdarah memandangnya tajam dari dalam saluran.
------------
-Semprot 543, Bussiness Class Deck, 19:26-
"Mia, setannya lagi ada di dekat sini ga?" Angel berbisik kepada Mia. Mia pun memperhatikan sekelilingnya dengan hati-hati, kemudian ia pun menggeleng kecil. Angel mengangguk singkat kepada Mia sebelum berkata, "kamu tunggu di sini ya, kakak mau ke depan dulu, mau berbicara sama kakak pramugari."
Angel pun keluar dari tempat duduknya dan berjalan ke arah depan. Ia memperhatikan para penumpang sudah tidak memiliki semangat lagi. Mereka saling berangkulan dengan dan berusaha menguatkan satu sama lain. Di depan, Angel melihat dua buah tubuh tergeletak di atas lantai, ditutupi koran agar tidak membuat takut orang yang melihatnya
"Ma-maaf kak, boleh saya bertanya?" Angel berkata sembari mengalihkan pandangannya dari kedua mayat tersebut kepada seorang pramugari yang berada di dekat situ.
"Iya, ada apa?" jawab Kania yang tampak sedang merawat Ratih yang masih tak sadarkan diri akibat benturan tadi. Angel melihat ke pintu kokpit, tampak seorang pramugara yang baru ia lihat sedang berusaha mengetuk pintu dan menghubungi pilot yang sedang bertugas.
"Kami tidak bisa menghubungi ruang kemudi, bahkan kode rahasia untuk membuka pintu ini pun tidak berfungsi. Entah bagaimana nasib mbak Valent di dalam sana, yang jelas captain yang asli sudah terbaring kaku di sini," Kania menjelaskan panjang lebar begitu ia melihat raut penasaran Angel.
Angel mengangguk singkat, kemudian ia pun berkata, "kakak tahu arti nomor 216?"
"216?" Kania bertanya heran, mencoba mencari arti makna 216 yang diucapkan Angel.
"Iya kak, 216," jawab Angel. Kania menggeleng. Ia tidak dapat memikirkan makna 216 yang ditanyakan Angel kepadanya.
"Memangnya, ada apa dengan 216? Apakah itu ada hubungannya dengan kejadian yang kita alami ini?" tanya Kania kembali. Angel hanya mengangkat bahu sebagai jawaban dari pertanyaan Kania, karena ia pun tidak mengetahui makna dari angka-angka tersebut.
-----------
-Semprot 543, Cockpit Rest Area, 19:26-
"Capt. Rony, mas Bayu! Ada emergency!" teriak seorang pramugari sambil menaiki tangga menuju ruang istirahat untuk penerbang tersebut. Suasana ruangan yang gelap membuat langkah pramugari itu terhenti di bibir ruangan.
"Capt. Rony, mas Bayu?" ia memanggil dengan suara pelan. Kejadian aneh yang ia alami di penerbangan ini membuatnya menjadi mudah takut, terlebih tak ada suara balasan dari dua orang penerbang yang harusnya berada di sini. Ia pun menunduk, memasukan tangannya ke dalam kantungnya dan mengambil sebuah senter kecil.
"Hmmm."
Sebuah suara gumaman yang berat membuatnya panik dan menjatuhkan senter yang akan diambilnya.
"Capt. Rony, mas Bayu," ia kembali memanggil dengan suara yang semakin lirih.
Ctak!
Cahaya senter menyinari wajah pramugari itu, membuatnya terpaksa menyipitkan matanya menghadapi sorotan cahaya yang cukup terang tersebut. Kurang lebih 30 detik tidak ada suara apapun kecuali desahan napas sang pramugari. Jantung pramugari cantik itu pun berdetak semakin cepat. Kakinya tiba-tiba menjadi kaku, membuatnya tidak mampu bergerak. Demikian juga dengan lidahnya yang menjadi kelu, untuk berteriak pun ia tidak mampu.
"Hmmm."
Suara gumaman itu kembali terdengar.
"Hmmm, Dhea? Ada apa?" tanya suara berat itu. Pramugari yang bernama Dhea itu bergetar hebat di tempatnya berdiri, air mata mengalir perlahan dari kedua bola matanya.
"Eng-engga mas Bayu, sa-saya kira," Dhea menjawab sambil menahan isak tangisnya. Ia merasa sangat lega ternyata suara berat itu adalah suara Bayu yang sepertinya baru bangun dari tidurnya.
"Kamu kira apa? Setan? Hehehe," Bayu berkata sambil tertawa. Raut muka Dhea langsung berubah drastis mendengar Bayu mengatakan kata setan. Ketakutan kembali menguasai dirinya.
"Ada apa, Dhe?" Bayu kembali mengulangi pertanyaannya begitu ia melihat Dhea tidak memberikan reaksi terhadap candaannya.
"Senternya mas," Dhea meminta Bayu untuk mengarahkan senternya ke tempat lain, "ke bawah mas, ada emergency," lanjut Dhea setelah Bayu memindahkan arah senternya, sehingga Dhea dapat melihat keadaan ruangan tersebut.
"Emergency apa, Dhe?" tanya Bayu heran sambil merapikan seragamnya.
"Ayo mas cepat, di bawah saja ceritanya. Itu capt. Rony kenapa diam saja?" tanya Dhea kembali setelah melihat sosok capt. Rony duduk diam membelakangi mereka, dengan muka menempel ke sebuah saluran udara.
"Capt," Bayu memanggil sang captain yang masih diam tak bergerak sedikitpun.
"Capt!" kali ini Bayu memanggil agak keras sambil sedikit mengguncang badan capt. Rony, namun tetap tak mendapatkan jawaban dari lelaki tua tersebut.
"Capt!" Bayu membalik tubuh capt. Rony dan mendapati pemandangan mengerikan. Bola mata sebelah kanannya hilang entah ke mana, menyisakan selongsong kosong di dalam sana. Ekpresi ketakutan masih tergurat jelas di wajah tua penerbang yang cukup senior tersebut.
"Aaaaaaaaaaaaah!" Dhea berteriak histeris menyaksikan pemandangan tersebut. Ia pun kehilangan keseimbangan, dan terjatuh.
-Semprot 543, Bussiness Class Deck, 19:29-
"Jadi apa yang sebenarnya terjadi?" Bayu bertanya kepada Kania yang sedang merawat Dhea.
Kania pun menyeritakan semua kejadian yang terjadi di penerbangan ini, mulai dari kematian capt. Robert, Dimas, dan salah seorang penumpang ekonomi sampai ruang kemudi yang tidak bisa dihubungi.
"Jadi sampai sekarang Valent tidak bisa dihubungi?" Bayu bertanya sambil mengangguk kecil mendengarkan penjelasan Kania. Ia menyadari bahwa kondisi penerbangan sudah sama sekali tidak aman, terlebih Valent yang berada di ruang kemudi sama sekali tidak bisa dihubungi.
"Kania, nyalakan ELT yang ada di pesawat secara manual, paling tidak kita harus berusaha memberitahukan kepada menara kontrol kalau saat ini kita berada di situasi darurat," perintah Bayu segera setelah menganalisa situasi dan memikirkan jalan keluar terbaik.
Kania mengangguk singkat dan segera menghubungi flight attendant yang bertugas di bagian belakang untuk melakukan apa yang diperintahkan Bayu karena ELT tersebut terletak di belakang.
"Dan maaf, siapa anda?" Bayu bertanya kepada Angel yang dari tadi hanya mematung mendengar percakapan mereka dengan sedikit ketus. Angel bergerak tidak nyaman mendapat pertanyaan seperti itu, seakan Bayu tidak suka akan kehadirannya di sana.
"Adiknya yang menemukan jasad capt. Robert, mas," Angel menjelaskan kepada Bayu.
"Oh, maaf, pasti pengalaman yang mengerikan untuk adik anda. Untuk sementara saya sarankan anda untuk kembali duduk," pinta Bayu dengan nada yang lebih ramah dan senyuman tulus.
Angel mengangguk singkat dan berbalik. Namun, belum sampai 3 langkah, ia menghentikan langkahnya dan kembali menghadap Bayu yang melihatnya kebingungan.
"Maaf kak, kakak tahu arti 216?" Angel kembali bertanya tentang nomor itu.
Bayu tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya. Angel pun mengangguk pelan dan kembali berjalan ke tempat duduknya. Sesampainya di depan tempak duduknya, Angel terpaku. Ia tidak mendapati Mia di sana. Angel pun segera berjalan ke tempat kedua orang tuanya berada.
"Mom, Dad kalian melihat Mia?" Angel bertanya dengan panik. Kedua orangtua Angel pun menggeleng dan bertanya ada apa dengan Mia. Angel menjelaskan bahwa tadi ia ke depan dan berbicara dengan pramugari, namun saat kembali ke tempat duduknya, ia tidak dapat menemukan Mia. Setelah mendengar cerita Angel, mereka bertiga pun memutuskan untuk mencari Mia dan berpisah. Kedua orangtuanya menuju ke kabin ekonomi, sementara Angel kembali ke depan.
"Maaf, kak," Angel berkata panik kepada Kania, "adik saya hilang."
"Hilang?" Bayu bertanya tak percaya. Kania mengangguk panik, ia pun menceritakan tentang adiknya Mia dan kemampuannya untuk melihat makhluk yang tidak bisa dilihat oleh manusia pada umumnya serta alasan mengapa ia menanyakan tentang angka 216.
Bayu tiba-tiba membelalakan matanya terkejut, ia pun berkata dengan perlahan, seolah sesuatu terpikirkan oleh dirinya, "dua satu enam? Mungkin maksudnya dua satu enam, bukan dua ratus enam belas."
"Kenapa mas?" tanya Kania keheranan melihat reaksi Bayu. Tubuh Bayu tampak bergetar, ia mengelap keringat yang muncul di dahinya sebelum mencoba untuk mejelaskan apa arti angka itu.
"216, kamu inget ga Kania? Nomor penerbangan yang mengalami kecelakaan tahun lalu saat akan mendarat di Pontianak," Bayu menjelaskan sambil menatap Kania tajam. Kania tampak berpikir sebentar, sebelum akhirnya paham apa yang dibicarakan Bayu.
"Ada apa, kak?" tanya Angel takut-takut.
"Penerbangan semprot 216, Jakarta-Pontianak. Terjadi kecelakaan saat akan mendarat di Pontianak, saat itu hujan sangat deras. Semua penumpang selamat, kecuali 3 orang, seorang bapak dan ibu serta 1 orang anak perempuan. Dan anehnya nama mereka tidak tertera dalam manifest penumpang. Hanya ada tubuh tak bernyawa tanpa identitas sama sekali," Bayu menjelaskan kepada Angel. Kania hanya bisa memandang lantai sambil menggigit jari.
"Ja-jadi mereka menghantui penerbangan kita sekarang?" Angel membuat kesimpulan.
Jleeeb! Lampu kabin tiba-tiba mati kembali.
"Hihihihi," terdengar suara tawa anak kecil. Semua penumpang menjerit ketakutan, terdengar teriakan sumpah serapah serta doa menjadi satu. Tak lama kemudian lampu menyala. Mia tampak terbaring di tengah lantai.
"Miaa!" Angel berteriak sambil berlari menghampiri adiknya tersebut. Mia membuka matanya, ia terlihat sangat lemas tak bertenaga. "Kak, mereka bilang kita semua akan mati."
Angel memeluk erat adiknya dan berbisik, "kita ga akan mati, Mia." Mata Angel pun menjadi kabur setelah berkata demikian, ia merasakan paru-parunya menjadi sangat sakit.
Bruk!
Angel menoleh ke arah suara dan melihat Kania terjatuh ke atas lantai, disusul oleh Bayu. Angel menyapukan pandangannya ke sekililing pesawat dan ia melihat semua orang yang berada di sana terdiam lemas tak bertenaga. Angel mengerjapkan matanya tak percaya, ia melihat 3 orang sedang tersenyum ke arahnya di ujung sana. 3 orang dengan muka pucat dan penuh darah.
"Mi-a," kata Angel pelan sebelum ia pun kehilangan kesadarannya.
--------------
-Semprot 543, Cockpit Room, 19:10-
"Capt! Apa-apaan sih?" Valent berteriak saat capt. Robert meremas dadanya. Valent mencoba untuk melepaskan diri, namun tubuhnya tertahan oleh seat belt dan shoulder harness yang entah kenapa tidak bisa ia lepaskan.
"Aaaaggghh," teriak penerbang cantik tersebut saat capt. Robert menarik seragam yang ia kenakan dengan kasar, membuat kancingnya berjatuhan ke lantai.
"Caaapt!" Valent kembali berteriak, mencoba menyadarkan lelaki yang seharusnya menjadi panutan bagi dirinya.
"Hihihihihi," suara tawa wanita yang melengking tinggi keluar dari mulut capt. Robert, membuat bulu kuduk Valent merinding seketika. Jantungnya seakan berhenti, ia menyadari orang yang sedang mencoba memperkosanya ini bukanlah capt. Robert yang biasa ia kenal.
"Si-siapa kamu?" Valent bertanya dengan nada marah, air mata perlahan keluar mengalir dari sudut matanya.
Capt. Robert tidak menghiraukan pertanyaan Valent tersebut. Ia menarik lepas bra yang dikenakan Valent, membuat payudara gadis cantik itu terekspos jelas. Dengan sekali jentikan jari, seat belt dan shoulder harness yang sedari tadi terkunci tiba-tiba terlepas begitu saja. Capt. Robert kemudian menarik tubuh Valent dengan mudahnya dan menjatuhkannya di atas lantai cokpit bagian belakang, membuat penerbang perempuan itu kesakitan.
Capt. Robert kemudian menduduki paha Valent dan meremas payudara yang cukup besar untuk seukuran gadis seusianya tersebut. Valent berusaha memukul tubuh capt. Robert, namun lagi-lagi hanya dengan sebuah jentikan jari, tangan Valent terangkat ke atas, menempel pada lantai pesawat tanpa mampu ia lepaskan seakan ada sesuatu yang menahannya.
"Si-siapa kamu? A-apa yang kamu mau? Lepaskan aku!" Valent berusaha berkomunikasi dengan capt. Robert, memintanya untuk melepaskan dirinya. Capt. Robert kembali tertawa, masih dengan tawa wanita yang melengking tinggi. Tanpa menjawab prtanyaan Valent, capt. Robert melepaskan celananya, menunjukan penisnya yang besar menggantung di depan mata Valent.
Valent menggeleng kuat saat capt. Robert bergerak maju mendekat ke mukanya. Kemudian tanpa bisa ia cegah, mulutnya terbuka di luar kemauannya. Penis capt. Robert pun memasuki rongga mulutnya dengan perlahan. Air mata Valent mengalir deras. Untuk pertama kalinya ia melihat penis seorang pria, dan penis tersebut langsung memenuhi rongga mulutnya yang mungil.
Valent pun merasakan tangan capt. Robert memegang kepalanya dan menggerakannya maju mundur. Sebenarnya Valent ingin sekali menggigit putus penis pria tersebut, namun ia tidak dapat menggerakan mulutnya sama sekali, membuatnya hanya bisa menangis pasrah.
"Hmmppphhh," Valent mendesah tertahan ketika ia kembali merasakan rangsangan di payudaranya. Payudara kanannya diremas dengan sangat kasar, namun hal tersebut malah membuat libido dalam tubuhnya meningkat. Capt. Robert pun menarik penisnya dari mulut Valent. Ia kemudian menurunkan celana berwarna biru yang Valent kenakan. Sekarang Valent terbaring tak berdaya, hanya berlapiskan celana dalam tipis berwarna merah muda transparan, menyebabkan bulu-bulu kemaluannya terlihat.
"Uwaaaaaah!" Valent berteriak kesakitan saat jemari tangan Capt. Robert menusuk kemaluannya dengan kasar. Sambil menyeringai seram, capt. Robert pun kemudian menarik celana dalam Valent sampai putus, membuat perempuan muda itu menjerit kesakitan.
"Ja-jangan," Valent memohon dengan takut saat ia melihat penis berurat tersebut sudah mengarah di pintu lubang vaginanya.
"Aaaaaaaaaaaaaah!" terdengar suara teriakan Valent menggema di seisi ruangan cockpit saat penis itu mulai memasuki lubang kemaluannya. Matanya terpejam, untuk pertama kalinya ia merasakan sakit yang luar biasa yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Penis capt. Robert yang besar dan panjang itu memasuki liang vagina Valent dengan lancar, tanpa menemui halangan apapun. Sementara itu darah mulai mengalir dari vagina Valent, menandakan selaput dara yang gadis cantik itu jaga terenggut sudah oleh lelaki yang tidak ia harapkan, atau lebih tepatnya makhluk yang tidak ia harapkan.
Capt. Robert pun mulai menggoyangkan pinggulnya dengan cepat, membuat mata Valent membelalak. Ia bahkan tidak sempat membiasakan vaginanya menerima benda asing yang cukup besar tersebut. Valent hanya bisa menggigit keras bibirnya hingga berdarah, mencoba menahan rasa sakit yang amat tersebut. Kepalanya tergolek pelan, pasrah terhadap nasibnya.
Namun, tiba-tiba, mata Valent terpaku pada sebuah panel di sebelah atas. Sebuah panel yang menunjukan sistem tekanan di pesawat, perlahan naik dari angka 5000 kaki. Valent seakan mendapat kekuatan baru, ia sadar, saat angka tersebut melebihi angka 10.000 kaki, artinya tidak ada lagi oksigen yang tersisa di dalam pesawat, dan ia serta seluruh penumpang akan meninggal dalam waktu kurang dari 10 menit.
Valent pun meronta keras, sementara capt. Robert hanya tertawa sambil melirik ke arah panel tersebut. Seakan tidak mempedulikan rontaan Valent, ia terus memompa penisnya dalam tubuh gadis cantik tersebut. Valent hanya bisa menjerit dan meronta tanpa hasil. Ia kembali melirik panel tersebut dengan putus asa.
8.000 kaki!
10.000 kaki!
13.000 kaki!
Angka pengukur tekanan dalam kabin tersebut terus naik. Rontaan Valent pun menjadi pelan secara teratur, seiring dengan berkurangnya kadar oksigen di dalam paru-parunya. Pandangannya pun menjadi kabur, kemudian semuanya menjadi gelap.
---------------
-Semprot 295, Bussiness Class Deck, 05:19-
"Kak, mengapa kita ada di sini sekarang?" Mia bertanya sambil memandang Angel dengan raut muka heran. Angel memandang adiknya sambil tersenyum sambil memperhatikan kesibukan yang terjadi di atas pesawat itu. Para penumpang tampak sedang memasuki pesawat. Para flight attendant pun tampak sibuk membantu dan mengarahkan para penumpang.
"Ngel, dihitung ya penumpangnya, semuanya ada 160, total 168 sama kita plus cockpit," terdengar seorang pramugari memberikan perintah kepada pramugari lain.
"Hihihi, namanya sama seperti kakak tuh," Mia berkata sambil tersenyum kepada Angel sambil memandangi pramugari yang memiliki nama seperti kakaknya tersebut bergerak tergesa-gesa ke bagian belakang kabin.
Pesawat pun bergerak perlahan, sementara Angel masih berdiri menatap seisi pesawat dengan serius, seolah mencari sesuatu. Mia hanya bisa memandang kakaknya sambil merenggut. Kesal merasa diacuhkan, Mia pun duduk di antara pramugari yang sedang bersiap untuk lepas landas.
"Kenapa lo, ci?" tanya seorang pramugari kepada temannya yang memiliki name tag bertuliskan Alicia di dadanya. Pramugari bernama Alicia itu menjawab dengan terbata-bata. Mia hanya tersenyum karena ia mengetahui bahwa Alicia sedang berpikiran tidak senonoh.
"Mia!" Angel memanggil tiba-tiba, membuat Mia segera berdiri dari tempat duduknya.
"Lihat di sana, mereka ada di sini," Angel kembali berkata sambil menunjuk ke arah belakang pesawat, kepada beberapa sosok transparan yang menyeringai seram kepada dirinya dan Mia.
"Kita harus mencegah mereka menghantui pesawat ini," lanjut Angel mantap.
Mia pun meneguk ludah, sebelum kemudian mengangguk singkat.
"Flight Attendant, take off position!"
The End
"Honey! Sayang! Ayo dong! Daddy sudah menunggu di mobil, pesawat kita jam 5 sore loh. Artinya kita cuma punya waktu satu jam untuk sampai ke bandara," seorang ibu berteriak dari luar pintu sambil melirik jam tangannya yang menunjukan pukul 14:00.
"Sebentar mommy, aku lagi mengucapkan salam perpisahan sama Jessica," teriak seorang anak perempuan dari dalam rumah. Sang ibu menggeleng kecil kemudian berjalan ke arah mobil dan mengetuk kaca belakang.
"Angel, bujuk adikmu untuk bergegas. Kita tidak punya banyak waktu," wanita paruh baya memerintahkan anak perempuannya. Seorang gadis muda bernama Angel keluar dari dalam mobil, dengan sedikit bersungut-sungut, ia berlari kecil memasuki rumah dan mencari adiknya.
"Mia, ayo pergi, mommy dan daddy sudah menunggu kita," setelah Angel mendapati adiknya, Mia, di kamarnya yang terletak di lantai 2.
"Sebentar kakak, aku lagi mengucapakan salam perpisahan kepada Jessica," Mia berkata sambil menatap ranjangnya yang kosong. Angel menggeleng kecil melihat tingkah adiknya.
"Mia sayang, Jessica itu cuma teman imajinermu," Angel berlutu di samping Mia dan membelai rambutnya.
"Jessica bukan imajinasiku kakak, dia benar-benar ada," balas Mia sambil menunjuk ke suatu titik kosong di atas ranjang. Angel tersenyum kecil sambil menatap ke arah itu.
"Ya sudah, kau boleh ajak Jessica untuk ikut pindah bersama kita," kata Angel sambil bangkit dan berjalan meninggalkan kamar.
"Benarkah? Asik! Ayo Je, kamu boleh ikut," Mia tertawa senang dan berlari kecil menyusul kakaknya. Tak lama kemudian, mobil yang membawa keluarga kecil itu pun melaju meninggalkan rumah mereka, mencoba membelah padatnya lalu lintas ibukota.
"Mom, mengapa kita harus pindah semua? Tidak bisakah aku tinggal? Sekolahku tinggal satu tahun lagi," Angel bertanya kepada ibunya yang duduk di kursi depan, mencoba mengubah pikiran sang ibu.
"Tidak bisa sayang, aku dan ayahmu tidak ingin meninggalkanmu sendiri di Indonesia, tidak aman untuk gadis secantik dirimu. Lagipula, ayah akan bekerja cukup lama di Kanada, jadi kami pikir lebih baik bila kita semua pindah ke sana," sang Ibu menjelaskan sambil menatap lembut Angel.
"Dan kau akan mendapatkan pacar yang lebih tampan daripada Anton, hehehe," sang Ayah ikut menimpali.
Angel membuang mukanya, menatap jalanan kota Jakarta untuk terkahir kalinya, mungkin masih lama ia bisa kembali menginjakan kaki di negara kelahirannya ini. Ingatan Angel meluncur kembali ke satu minggu yang lalu, saat bapak Markus, ayahnya, mengumumkan sebuah kabar gembira untuk mereka. Ia mendapat pekerjaan yang cukup menjanjikan sebagai chemical engineer di sebuah perusahaan terkemuka di Kanada. Dan dalam satu minggu, mereka menyiapkan segala sesuatunya untuk kepindahan mereka.
"Kakak pasti memikirkan kak Anton ya?" Mia bertanya kepada Angel dengan muka polos. Angel pun tersenyum sejenak dan menatap adiknya. Ingatannya kembali memutar kejadian 3 hari yang lalu, saat ia mengucapkan salam perpisahan kepada Anton, lelaki yang telah menjadi pacarnya selama 2 tahun.
--------------
-Jakarta, 10 Oktober 2014, 19:00-
"Sayang, kamu harus ikut ke Kanada?" seorang pemuda tampan duduk di atas ranjang dan menatap gadis cantik yang baru keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalutkan handuk.
"Iya, daddy aku mendapatkan pekerjaan di Kanada, dan sepertinya akan lama berada di sana, jadi mau tidak mau, kami sekeluarga ikut pindah ke sana," gadis cantik itu pun kemudian duduk di samping sang pemuda dan membelai lembut wajahnya, "maafin aku ya, ton. Angel tidak bisa memenuhi janji kita."
"Siapa yang bilang kamu tidak bisa memenuhi janji itu? Aku akan menunggu sampai kamu pulang nanti. Ya sudah kamu tidak usah bersedih, aku akan selalu setia sama kamu. Sudah sana pakai bajumu, nanti masuk angin loh, hehehe," jawab sang pemuda yang bernama Anton sambil mengecup singkat dahi Angel.
Angel kemudian bangkit dan berdiri di depan Anton sambil berkata," kamu yakin, mau aku pakai baju?"
"Angel, kita kan pacaran harus saling menjaga, sudah sana pakai baju, aku tidak mau kalau kamu sampai sakit," Anton menasihati pacarnya sambil tersenyum simpul.
Angel pun mengecup bibir Anton sebelum menjatuhkan handuknya dan berjalan santai ke arah lemari pakaian. Pantatnya yang bulat menggoda bergoyang ringan ke kanan dan ke kiri, membuat penis Anton perlahan menegang. Angel pun membuka pintu lemari dan membungkuk, memilih pakaian dalam yang akan ia kenakan. Posisi Angel tampak sangat menantang, terlihat jelas oleh Anton vaginanya yang ditumbuhi sedikit bulu halus.
"Sayang, aku pakai celana dalam yang mana? Yang ini atau ini?" Angel bertanya sambil mengangkat G-String berwarna merah dan hijau. Payudara dan vagina Angel tampak sangat menggoda, tak tertutup oleh sedikit pun benang di hadapan sang kekasih.
Anton menggaruk kepalanya melihat tingkah pacarnya tersebut sebelum menjawab, "sekalian saja tidak usah pakai apa-apa."
Angel tersenyum kecil mendengar jawaban Anton. Kemudian ia pun melemparkan kedua celana dalamnya dan berjalan ke ranjang kemudian merebahkan diri di sana, "ya sudah kalau mau kamu seperti itu."
Anton ikut berbaring di sebelah Angel dan menatap mati gadis itu dalam-dalam. Dengan penuh perasaan ia berkata, "Angel, kamu tidak perlu seperti ini untuk membuktikan rasa cinta kamu. Aku sayang kamu bukan karena wajah cantik kamu, bukan karena tubuh seksi kamu. Tapi aku sayang kamu karena kamu adalah kamu."
Air mata Angel pun mengalir tanpa ia bisa tahan. Malam ini, Angel telah menyiapkan hati dan tubuhnya sebagai hadiah perpisahan untuk sang kekasih. Ia berencana memberikan hartanya yang paling berharga. Namun ia tak menyangka, Anton dengan begitu dewasa menolaknya.
"Maafin aku! Huhuhu! Aku sayang sama kamu! Aku ga mau ke Kanada! Aku mau selalu di samping kamu!" Angel memeluk erat Anton sambil menangis. Ia tak rela untuk pergi meninggalkan Indonesia, meninggalkan lelaki yang telah mendampinginya selama dua tahun terakhir.
"Ini memang jalannya sayang. Yang harus terjadi, biarlah terjadi. Yang penting kita sama-sama jaga hati kita. Aku akan selalu tunggu kamu di sini," jemari Anton menyusuri lekuk wajah Angel yang tampak cantik walaupun berurai air mata.
Anton pun mengecup lembut bibir Angel, menatap lembut wajah sang kekasih. Entah siapa yang memulai, mereka mulai berpagutan mesra. Tangan Anton perlahan membelai seluruh lekuk tubuh Angel, dari rambut, pipi, leher, dan berhenti di payudaranya.
"Kamu sih, aku jadi ga tahan nih," Anton berbisik mesra. Angel hanya menatap dalam-dalam wajah sang kekasih, sebelum kembali melumat bibirnya. Jemari Anton meremas lembut payudara Angel, membuat badan Angel bergerak dalam gelisah.
"Sayang, kok enak banget ya?" Angel mendesah pelan sambil menggeliat. Matanya sayu, napsu telah memenuhi gadis cantik yang baru pertama membiarkan tubuhnya dijamah oleh lelaki.
"Kamu yakin mau kasih harta kamu yang paling berharga buat aku?" tanya Anton sambil menggerakan tubuhnya sehingga ia berada di atas Angel.
"Yakin, aku akan tunjukin ke kamu kalau aku benar-benar sayang sama kamu," Angel mengangguk pasti sambil tersenyum dan mengankat kaos yang dikenakan Anton.
"Malam ini, aku milikmu sepenuhnya," lanjut Angel.
--------------
-Soekarno-Hatta International Airport, 13 Oktober 2014, 15:00-
"Ih, kakak kok nangis? Kita sudah sampai loh," Mia menegur Angel yang meneteskan air mata mengingat perpisahannya dengan Anton. Kedua orang tuanya berpandangan dan tersenyum kecut. Sebenarnya mereka juga merasa bersalah telah membuat keputusan ini, namun ini memang yang terbaik untuk keluarga mereka.
"Kakak cuma sedih aja meninggalkan teman-teman kakak," jawab Angel sebelum melangkah keluar dari mobil dan menghapus air matanya.
Mereka pun kemudian menurunkan barang bawaan mereka dan meletakkannya di atas trolley yang tersedia di bandara. Setelah mengucapkan salam perpisahan kepada saudara yang mengantar, mereka pun bergegas menuju check-in counter dan melaporkan kehadiran mereka.
"Je, bandaranya luas banget!" Mia berkata kepada udara kosong di sebelah kanannya.
"Jessica bilang apa sayang?" tanya sang ibunda kepada Mia sambil berjongkok dan merapikan rambut Mia.
"Jessica senang, Mom. Ia bilang terima kasih sudah boleh diajak ikut pindah," celoteh Mia dengan riang sambil memandangi bangunan bandara yang cukup besar. Setelah melalui proses check-in dan imigrasi yang cukup panjang, keluarga kecil itu pun masuk ke ruang tunggu bandara.
"Selamat sore! Kepada seluruh penumpang pesawat Semprot Airlines, dengan nomor penerbangan SM 543 tujuan Manilla, Filipina dan Ottawa, Kanada, silakan memasuki pesawat melalui pintu nomor D3. Terima kasih.
Good afternoon ladies and gentlemen! To all passanger Semprot Airways, with flight number SM 543 service to Manilla, Filipina and Ottawa, Kanada, please boarding the aircraft through gate number D3. Thank you."
Angel dan keluarganya pun segera beranjak dari tempat duduknya dan memasuki pesawat. Pesawat yang mereka gunakan kali ini adalah pesawat Boeing 777-300 dengan kapasitas penumpang kurang lebih 300 orang. Setelah mendapatkan arahan oleh pramugari mengenai letak tempat duduk mereka, mereka pun segera duduk dan meletakan barang bawaan mereka di bagasi atas. Angel dan Mia duduk bersebelahan di dekat jendela, sedangkan kedua orang tua mereka berada 4 baris di belakang.
Tiga puluh menit kemudian, hampir seluruh kursi pesawat terisi oleh penumpang yang akan berpergian ke Filipina maupun Kanada. Dikarenakan jarak yang cukup jauh, pesawat yang ditumpangi oleh Angel dan keluarganya akan singgah terlebih dahulu di Manilla. Para penumpang pesawat tersebut terdiri dari berbagai macam warga negara, sebagian besar warga filipina yang habis berlibur di Indonesia.
"Selamat pagi bapak dan ibu yang terhormat, nama saya Kania Ayu, pimpinan awak kabin anda. Atas nama Semprot Airways, Capt. Robert Simorangkir dan seluruh awak pesawat yang bertugas mengucapkan selamat datang dalam pesawat Boeing 777 seri 300 dengan nomor penerbangan SM 543 menuju Ottawa melalui Manilla. Penerbangan ke Manilla akan ditempuh dalam waktu 3 jam dan 57 menit.
Sesuai dengan Peraturan Keselamatan Penerbangan Sipil, kami akan memperagakan cara penggunaan alat-alat keselamatan penerbangan beserta prosedurnya. Silakan mengenakan sabuk pengaman, menegakkan sandaran kursi, dan melipat meja pada tempatnya. Kami mohon untuk menempatkan bagasi kabin anda di bawah kursi atau di tempat bagasi di atas.
Penggunaan telepon seluler, radio AM/FM, peralatan radio kontrol, perangkat penerimaan gelombang, dan mainan kontrol jarak jauh tidak diperkenankan selama berada di dalam pesawat. Terima kasih dan selamat menikmati penerbangan ini.
Good morning ladies and gantlement, my name Kania Ayu, your cabin crew supervisor. On behalf of Semprot Airways, Capt. Robert Simorangkir and all the crew members welcome you aboard Boeing 777-300 series with flight number SM 543 service to Ottawa via Manilla. The flight to Manilla will take about three hour and fifty seven minutes.
In accordance with Civil Aviation Safety Regulation, we will demonstrate the use of safety equipment and procedure of this aircraft. Please fasten your seatbelt, adjust your seatback into upright position and lock your table securely. Please stow your carry on baggage neatly under your seat or in overhead luggage bin.
All cellular telephone, trancievers, AM/FM radio, radio devices and remote control toys, sre to remain off during in the aircraft. Thank you and we wish you a pleasent flight."
Setelah menyampaikan ucapan selamat datang, tak lama kemudian pintu pesawat pun di tutup dan mulai proses starting engine. Para penumpang tampak asik dengan kegiatannya masing-masing, ada yang membaca koran, ada yang berbincang satu sama lain. Tak seorang pun memperhatikan Mia, yang sedang berbicara sendiri dengan raut khawatir, kecuali Angel.
"Mia, kamu kenapa?" Angel berbisik pelan sambil membelai rambut sang adik. Mia hanya menggeleng kecil tanpa menoleh, ia terus bergumam pelan. Raut wajahnya menunjukan kalau gadis kecil itu tampak sangat khawatir dan tidak percaya akan sesuatu.
"Kak, kita naik pesawat yang lain yu," akhirnya Mia berkata pelan kepada Angel dengan peluh yang mulai mengalir dari dahinya. Sementara itu, setelah menyelesaikan proses starting engine, pesawat pun mulai berjalan perlahan menuju landasan pacu.
"Memangnya ada apa?" bisik Angel kembali. Mia terlihat sangat ketakutan.
"Jessica bilang, ada yang ga suka sama Jessica. Ada yang jahat sama Jessica," air mata Mia perlahan mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Flight Attendant, take off position!" terdengar suara dari cockpit pesawat. Tak lama kemudian mesin pesawat pun mulai menderu kencang pertanda pesawat akan segera lepas landas.
"Kak, Mia mau turun, Mia ga mau terbang, Jessica ketakutan."
-Semprot 543, Bussiness Class Deck, 13 October 2014, 17:18-
"Tenang saja Mia, tidak ada apa-apa," Angel mencoba untuk menenangkan Mia yang terisak sejak pesawat mulai take off tadi. Angel sangat khawatir akan sikap adiknya. Jarang sekali Mia ketakutan sampai menangis seperti ini.
"Ada yang bisa saya bantu?" seorang pramugari menghampiri mereka dan tersenyum ramah, mencoba menawarkan bantuan setelah melihat Mia menangis sedari tadi,
"Tidak apa-apa, kak. Adik saya takut terbang, ini yang pertama kali buat dia," Angel menjelaskan sambil membelai lembut rambut Mia.
"Tidak apa-apa adik. Nanti kakak kasih boneka ya," pramugari tersebut mencoba menenangkan Mia. Mia hanya bisa mengangguk kecil sambil tetap terisak.
----------------
-Semprot 543, Cockpit Room, 13 October 2014, 17:37-
"Good evening, Jakarta. Semprot 543 reaching and mantaining level 410," seorang gadis berkata melalui microphone di dalam cockpit.
"Maintain 410 proceed to TAVIP," lanjutnya lagi mengulangi perintah yang ia dapat dari menara kontrol.
"CDU direct to TAVIP and execute," suara berat pria terdengar memberikan perintah. Gadis itu pun melakukan perintah tersebut pada komputer kecil di depannya.
"Ini penerbangan pertama kamu ke Kanada ya, lent?" tanya suara berat itu kembali kepada gadis cantik yang duduk di sebelah kanannya.
Sang gadis mengangguk kecil sambil tersenyum, "iya capt! Aku kan baru release minggu kemarin. Training juga dapat rute Jepang sama Amsterdam terus, baru kali ini dapat rute lewat Pasifik, hehehe. By the way, happy birthday ya, capt."
Gadis cantik itu bernama Valentina Margaretha, seorang First Officer di Semprot Air yang baru saja menyelesaikan pendidikan kualifikasi pesawat Boeing 777. Umurnya baru 24 tahun, namun karena otaknya yang cukup pintar, ia mendapatkan promosi untuk menerbangi pesawat besar seperti ini. Yang duduk di sebelah kiri adalah Capt. Robert Simorangkir, seorang captain muda yang cukup tampan, yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke 38 .
"Makasi,lent. Oh iya, nanti kita switch di Filipina saja ya. Enak juga tugas duluan, jadi bisa tidur nanti malam, hehehe. Biar Capt. Rony sama mas Bayu saja yang bergadang semalam suntuk," Capt. Robert berkata sembari mengecek instrumen pesawat.
"Siap capt. Enak juga ya terbang pesawat besar seperti ini. Kerjaannya dikit, jaraknya jauh, sekali terbang berempat juga, jadi bisa istirahat, hehehe," balas Valent sambil tertawa.
"Yoi, eh gue ke toilet dulu ya, lent. Your control, LNAV VNAV, heading to TAVIP, level 410 ya," Capt. Robert berkata seraya membuka seat beltnya dan bangkit dari kursinya. Valent yang sedang minum memberikan kode berupa jempol tangan, menandakan ia mengerti dan mengijinkan rekannya untuk meninggalkan ruangan cockpit.
"Ratih, titip cockpit ya," perintah capt. Robert saat ia keluar dari ruangan cockpit dan melihat seorang pramugari yang bertugas di bagian depan. Pramugari yang bernama Ratih tersebut mengangguk singkat dan masuk ke cockpit. Sudah menjadi peraturan yang umum untuk seorang Flight attendant menemani pilot yang bertugas apabila salah seorang dari antara mereka meninggalkan stationnya. Hal ini bertujuan untuk menjaga seandainya terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan terhadap pilot yang berada di dalam cockpit.
---------------
-Semprot 543, Forward Lavatory, 13 October 2014, 17:40-
"Capt, ikut!" tampak sebuah tangan mungil menahan pintu toilet saat capt. Robert akan menutupnya. Seorang pramugari dengan lincah membuka pintu toilet dan menyusup masuk ke dalamnya kemudian menguncinya tanpa suara.
"Mau ngapain kamu, Ajeng? Nanti ketahuan yang lain bagaimana?" Capt. Robert terdengar galak memarahi kelakuan sang pramugari tersebut. Ajeng hanya bisa tersenyum kemudian mencium bibir sang captain. Ruang toilet pesawat Boeing 777 memang luas, terlebih di bagian depan yang diperuntukan untuk penumpang bisnis, kira-kira cukup untuk menampung sampai 3 orang di dalam toilet.
"Hhmmmpphh, aman capt. Lagi pada sibuk jalan ke belakang dan penumpang bisnis juga sepi kok. Kalau mau quickie bisa kok," lanjutnya sambil tersenyum nakal. Perlahan tangannya mengelus celana sang captain dari luar dan menciumi lehernya.
Capt. Robert tersenyum mendengar perkataan Ajeng. Ia pun meremas lembut payudara yang cukup menonjol di balik seragam yang berwarna biru laut tersebut. Sementara tangan Ajeng sibuk mengocok penis capt. Robert yang telah berhasil dikeluarkannya dari dalam celana.
"Tangan kamu makin kreatif aja deh, jeng," kekeh sang captain sambil membuka kancing seragam Ajeng. Ajeng tersenyum manja melihat kelakuan lelaki yang berbeda umur hampir 10 tahun dengan dirinya itu.
"Tangan captain juga nakal, lihat nih baju aku sudah berantakan," Ajeng mengerling sambil tersenyum. Mereka pun mulai berciuman penuh gairah, tangan capt. Robert dengan penuh napsu meremas payudara Ajeng yang terpampang jelas.
"Uuggh, enak capt, remas yang kencang," Ajeng mendesah pelan, menjaga agar suaranya tidak terdengar keluar toilet.
"Jeng, ayo buruan, nanti Valent curiga aku terlalu lama di sini," capt. Robert berbisik sambil terus mencumbui leher sang pramugari bertubuh sintal. Ajeng hanya mengangguk singkat, sementara tangannya berkutat di bawah sana, membuka rok panjangnya dan melepaskan celana dalamnya.
Setelah lepas penutup bagian bawah, Ajeng membalik tubuhnya dan berpegangan pada westafel. Capt. Robert membantu merenggangkan kaki Ajeng, ia pun mulai mengarahkan penisnya ke vagina Ajeng yang terpampang jelas.
"Ditusuk ya, Jeng," bisik sang captain sambil menggesek-gesekan penisnya. Ajeng mengangguk singkat dan mengangkat pantatnya sedikit lebih tinggi, agar memudahkan proses penetrasi yang akan dilakukan.
"Hmmpph!"
Tok! Tok! Tok!
Terdengar suara ketukan dari balik pintu toilet.
"Jangan berisik, Jeng, nanti terdengar," capt. Robert mengingatkan Ajeng sambil mulai menggoyangkan pinggangnya. Ajeng menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan agar tak ada suara yang lolos dari mulut mungilnya.
Tok! Tok! Tok!
Capt. Robert balas mengetuk pintu, menandakan bahwa ia ada di dalam sana.
"Capt! Baik-baik saja kan di dalam? Valent tanya kenapa lama sekali," teriak suara lelaki dari luar sana. Capt. Robert menghentikan goyangannya sementara, memberinya waktu sejenak untuk menarik napas sebelum balas menjawab.
"Saya sakit perut mas Dimas, sebentar lagi selesai kok," balas capt. Robert menjawab pertanyaan tersebut.
"Oke capt!"
Capt. Robert dan Ajeng menarik napas lega, posisi mereka yang masih melakukan doggy style membuat mereka saling bertatapan melalui cermin di westafel. Peluh tampak bercucuran dari dahi mereka, entah karena permainan singkat mereka yang belum tuntas, atau karena gangguan kecil yang hampir mencoreng reputasi mereka bila tertangkap basah.
"Bagaimana, Jeng? Masih mau lanjut atau bagaimana?" bisik capt. Robert sambil meremas lembut payudara Ajeng. Badan Ajeng pun menegang, mendapatkan rangsangan yang tidak diduganya.
"Buat apa nanya kalau tangannya sudah iseng duluan? Lagian sih, katanya mau quickie, kok goyangnya pelan banget?" bisik Ajeng sambil mencubit paha lelaki yang sedang menancapkan penisnya tersebut.
Capt. Robert hanya tersenyum, ia pun memegang paha Ajeng dan mulai mengambil ancang-ancang seraya berbisik, "tahan ya, jangan sampai suara kamu terdengar."
-------------
-Semprot 543, Bussiness Class Deck, 17:43-
"Ini bonekanya," seorang pramugari menyerahkan boneka kecil berbentuk kera kepada Mia. Angel mengucapkan terima kasih kepada pramugari yang memaki name tag bertuliskan Ajeng tersebut.
"Mia, kamu ga apa-apa sekarang?" Angel bertanya kepada adiknya yang dari awal penerbangan hanya menunduk saja. Mia mengangguk lemah dalam diam, ia pun merebahkan kepalanya ke dalam pelukan sang kakak.
"Jessica di mana sekarang?" tanya Angel kembali dengan lembut seraya membelai pipi sang adik. Kali ini Mia menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan kakaknya tersebut. Angel menarik napas panjang melihat kelakuan adiknya.
Memang dari kecil, Mia punya kebiasaan aneh berbicara dengan sosok yang tak nampak. Menurut psikolog yang sempat ditemui oleh kedua orang tuanya. Perilaku Mia yang memiliki teman imajiner merupakan hal yang wajar terlebih bila ia tidak memiliki teman bermain yang sebaya, namun perilaku tersebut akan menghilang saat sang anak beranjak dewasa.
Dalam hatinya, Angel merasa bersalah kepada Mia. Terpaut umur yang cukup jauh, sempat membuat kesal dirinya atas kelahiran Mia. Angel sempat merasa kehadiran Mia akan mengganggu posisinya sebagai anak kesayangan orang tuanya. Hal itu menyebabkan ia seringkali mengabaikan Mia dan mengacuhkannya, membuat Mia menjadi seperti sekarang.
Angel mengecup dahi Mia seraya berkata, "maafin kakak ya sayang. Kakak janji akan jadi teman kamu."
Mia menoleh kakaknya dan menatapnya heran, kemudian ia pun tersenyum. "Kakak janji ya akan temani Mia main? Nanti kita main bertiga sama Jessica di rumah baru," jawab Mia. Angel pun mengangguk, ia senang Mia sudah mau berbicara, tampaknya ketakutannya tadi hanya semata-mata ketakutan mengahadapi penerbangan pertamanya.
"Jessica di mana sekarang?" Angel kembali menanyakan pertanyaan yang belum di jawab oleh Mia tadi. Namun pertanyaan Angel tersebut kembali membuat raut wajah Mia menjadi berubah. Tampak tertekan dan takut. Ia pun menunduk sebelum membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Angel.
"Je-jesicca ga diterima sama penghuni pesawat ini. Se-sekarang dia ada di luar jendela di belakang kakak, lagi ketuk-ketuk jendela minta masuk."
---------------
-Semprot 543, Forward Lavatory, 17:55-
"Terus capt, aku mau keluar bentar lagi. Hmmpphh," desah Ajeng sambil memegang erat bibir westafel. Capt. Robert semakin bersemangat memompakan penisnya di dalam vagina Ajeng.
"Jeng, a-aku keluar, aaaggghhhh," lenguh sang captain dengan nada tertahan. Kedua insan berlainan jenis itu terengah-engah, tampak raut muka lelah namun juga puas hasil dari persetubuhan singkat yang menegangkan itu. Ajeng pun melepaskan penis capt. Robert dari dalam vaginanya sebelum berbalik menghadap sang pria yang telah memberikannya kepuasan batin.
"Makasih ya capt," bisiknya seraya bergerak ke belakang sang captain dan memeluknya dari belakang, kedua tangannya kembali menggerayangi tubuh kekar lelaki yang merupakan pimpinan penerbangan kali ini, beranjak dari perut menuju dada dan berakhir di kedua sisi pundak sang lelaki yang tampak tegang sebelum kembali naik, membelai pipi capt. Robert.
Capt. Robert mengecup tangan Ajeng yang membelai pipinya sebagai jawaban dan tersenyum sambil menoleh melihat wajah cantik gadis yang menjadi tempatnya menuntaskan napsu selama beberapa minggu terkahir.
"Capt, aku punya kejutan loh," bisik Ajeng manja sambil terus membelai kedua pipi capt. Robert.
"Kejutan apalagi sayang? Jangan lama-lama di sini loh, nanti kita ketahuan."
"Ga lama kok, capt. Kejutannya, coba captain lihat ke arah cermin," Ajeng menjawab seraya mengecup lembut bibir capt. Robert.
Capt. Robert membalas kecupan singkat Ajeng sebelum menatap ke arah cermin. Namun, apa yang dilihatnya di dalam cermin membuat mulutnya ternganga. Tampak sesosok gadis berwajah pucat dengan darah mengalir dari bola matanya berdiri di belakangnya. Kedua tangannya yang berwarna kebiruan memegang erat pipi capt. Robert.
"Se-se-se."
Kreeek!
Terdengar suara leher patah diikuti tubuh capt. Robert jatuh ke lantai toilet tanpa suara.
------------
-Semprot 543, Cockpit Room, 18:01-
"Lama banget, capt? Makan apa sampai sakit perut gitu? Sampai pucat banget loh mukanya. Mau gantian sama capt. Rony aja?" tanya Valent begitu capt. Robert kembali ke cockpit dengan wajah pucat.
Capt. Robert menggeleng singkat dan kembali duduk serta mengencangkan seat beltnya. Valent pun hanya mengangkat bahunya melihat reaksi captainnya yang tampak mengacuhkan perhatiannya.
------------
-Semprot 543, Bussiness Class Deck, 18:03-
"Kakak, aku mau ke toilet," Mia berbisik pelan kepada Angel.
"Mau ditemani?" tanya Angel sambil melepaskan pelukannya kepada Mia. Mia mengangguk singkat. Angel pun melepaskan seat belt miliknya dan juga mia, kemudian menggandeng tangan Mia dan berjalan ke depan.
"Maaf kak, adik saya ingin ke toilet," Angel berkata sopan kepada seorang pramugara yang sedang berdiri di dekat pintu toilet. Pramugara tersebut tersenyum dan menunjuk ke arah pintu toilet. Mia pun melepaskan tangan Angel dan berlari kecil membuka pintu toilet.
"Kyaaaaa!"
"Mia! Ada apa?" tanya Angel sembari berlari menghampiri Mia segera begitu mendengarnya berteriak histeris saat membuka pintu toilet. Angel pun terdiam melihat pemandangan di dalam toilet. Tubuh seorang pilot dengan leher yang telah berputar 180 derajat terduduk kaku di atas kloset. Angel segera memeluk Mia, mengalihkan pandangannya dari hal yang begitu mengerikan tersebut. Pramugara yang tadi menunjukan letak toilet dan seorang pramugari yang berdiri di dekat situ pun segera menghampiri Angel dan Mia.
"Ca-captain Robert?" pramugari yang bernama Ratih tersebut menutup mulutnya dengan tangan, tidak percaya akan apa yang baru saja dilihat oleh matanya. Dimas pun segera menutup pintu toilet dan memeluk erat Ratih, berusaha menenangkannya. Sebuah pertanyaan meluncur keluar dari mulutnya tanpa biasa ia cegah, "terus yang tadi keluar dari toilet dan masuk cockpit siapa dong?"
-Semprot 543, Forward Galley, 18:14-
"Ratih, coba hubungi ruang cockpit! Dimas, cari tahu apakah ada dokter di antara para penumpang!" perintah Kania, sang pemimpin awak kabin pada penerbangan kali ini. Ia pun kemudian menghadap Angel dan Mia yang sekarang sedang duduk di jump seat, tempat duduk para flight attendant.
"Jangan panik, kami sedang berusaha menghubungi ruang kemudi dan mencoba menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Untuk sekarang, saya mohon anda tidak mengatakan apa-apa tentang hal ini kepada para penumpang untuk mencegah terjadinya kepanikan," Kania berkata kepada Angel sambil tersenyum dan membelai lembut rambut Mia.
"Kau lihat posisi kepalanya? Apa yang membuatnya menjadi seperti itu? Dan bagaimana mungkin kau memintaku untuk tidak panik? Dan bagaimana kau bisa tenang dalam situasi seperti ini?" Angel berkata dengan nada marah sambil memeluk erat Mia yang menangis terisak dalam pelukannya.
"Saya mohon maaf yang sangat dalam atas kejadian tersebut. Saya juga sama panik dan takutnya dengan anda sekarang tapi menunjukannya malah hanya akan memperpanjang masalah," Kania kembali menjelaskan sambil menggenggam tangan Angel, "untuk sementara, silakan kembali ke tempat duduk anda, dan saya yakin anda akan membantu kami dengan tidak membesar-besarkan masalah ini," lanjutnya sambil berdiri dan mempersilahkan Angel dan Mia untuk kembali ke tempat duduknya. Angel pun mengangguk pelan dan berjalan kembali ke tempat duduknya dengan gemetar sambil terus memeluk erat Mia.
"Ada apa Angel?" tanya sang ayah begitu Angel kembali ke tempat duduknya. Beberapa penumpang yang kebetulan duduk di kursi bisnis memandang Angel dengan penasaran. Tampaknya suara teriakan Mia cukup kencang sehingga terdengar oleh sebagian penumpang.
"Ga apa-apa kok, dad," jawab Angel sambil mencoba tersenyum, "Mia tadi lihat kecoak di kamar mandi."
Pak Markus mengangguk kecil dan membelai kepala Mia yang berada dalam pelukan kakaknya, kemudian kembali ke tempat duduknya. Angel pun kemudian menuntun Mia untuk duduk di kursi dekat jendela, kemudian ia pun duduk di tempat awal Mia dan tampak tenggelam dalam pikirannya.
"Kak, Mia takut, di sini banyak yang jahat," isak Mia sambil menggenggam erat tangan Angel.
"Maksud kamu apa?"
"Di-di belakang kakak, ada kakek-kakek yang lagi jongkok sambil lihatin kakak," Mia berkata sambil memejamkan matanya dan memeluk Angel. Bulu kuduk Angel pun berdiri mendengar perkataan Angel. Ia pun mengambil napas panjang sejenak, mengumpulkan keberaniannya, kemudian menengok ke belakang.
"Mia jangan bercanda ah!" Angel berkata sedikit keras kepada adiknya tersebut setelah tak mendapati seorang pun di belakangnya.
"A-aku ga bercanda."
--------------
-Semprot 543, Cockpit Room, 18:30
"Capt, ada apa? Kalau ga enak badan atau ada apa-apa tukar dengan Capt. Rony dulu saja," Valent berkata kepada Capt. Robert dengan raut muka khawatir. Capt. Robert hanya menggeleng singkat tanpa menoleh kepada Valent, membuat kopilot cantik tersebut merasakan ada yang aneh dengan captainnya.
--------------
-Semprot 543, Cabin Room, 18:35-
"Selamat malam bapak dan ibu semua. Sebentar lagi akan kami sajikan makan malam..."
Ziiiing!
Terdengar suara feedback di speaker pesawat, kemudian diikuti senandung riang seorang anak perempuan.
"Twinkle twingkle little star, how I wonder what you are. Hihihi, ready or not, here I come."
Jleeeb! Seluruh lampu kabin mati seketika.
"Su-suara siapa itu?"
"Barusan apaan?"
"Tenang pak! Sebentar lagi listrik menyala."
Kepanikan menyeruak seketika di dalam pesawat. Pengumuman makan malam tiba-tiba terpotong oleh suara anak kecil yang bernyanyi dengan tidak wajar. Belum lagi ditambah kondisi pesawat yang gelap gulita?
"Kak, Mia takut, di samping kakak yang berbicara itu, ada anak kecil yang gangguin," Mia berbisik pelan. Angel meneguk ludah mendengar perkataan adiknya tersebut. Ia mulai menyadari ada yang tidak beres dengan penerbangan yang ditumpanginya ini. Ia juga sadar bahwa adiknya memiliki kemampuan yang tidak dimiliki orang-orang pada umumnya.
"Mia, lalu kita harus bagaimana?" tanya Angel sama pelannya dengan Mia. Mia menggeleng kecil menanggapi pertanyaan Angel tersebut. Tak lama kemudian, lampu di cabin pun kembali menyala. Terlihat wajah ketakutan di antara para penumpang. Mereka semua sadar, bahwa suara nyanyian anak kecil tersebut bukanlah kesalahan teknis belaka.
Jeleeegaaaar!
Tiba-tiba pesawat bergoncang hebat tanpa peringatan. Petir menyambar-nyambar bersahutan di kedua sisi pesawat, membuat keadaan semakin mencekam. Tak lama kemudian, air hujan pun mengguyur pesawat dengan sangat lebatnya. Bunyi kencang yang disebabkan tabrakan air dan es dengan badan pesawat membuat beberapa penumpang menggumamkan doa.
Ting!
"Flight Attendant, return to your seat and fasten your seatbelt immediately!" Para pramugari dan pramugara segera kembali ke tempat duduk begitu mendengar perintah dari ruang kemudi.
"Dek, duduk dulu ya! Ke toiletnya nanti!" seorang pramugari berteriak. Para penumpang yang duduk di kabin bagian depan pun menoleh ke sumber suara. Terlihat seorang anak perempuan berjalan pelan dan tenang ke arah depan sambil menunduk. Pramugari yang berteriak tadi pun melepaskan sabuk pengamannya dan berjalan ke arah sang anak perempuan. Goncangan pesawat yang cukup kuat membuat ia harus berpegangan ke sandaran kursi agar dapat menjaga keseimbangannya.
"Duduk dulu ya, sayang. Nanti kamu terluka kalau jalan di tengah cuaca seperti ini," kata sang pramugari sambil membungkuk di hadapan anak tersebut.
Angel merasakan Mia menggenggam jemarinya erat. Mia berbisik pelan, "kak, itu anak kecil yang nyanyi tadi." Jantung Angel seakan berhenti mendengar apa yang dikatakan Mia.
Tiba-tiba, suasana di dalam pesawat menjadi hening. Tak terdengar lagi suara badai dan hujan di luar sana.
"Hihihihi," anak perempuan itu tiba-tiba tertawa memecah keheningan, "makasih ya kakak sudah perhatian sama aku. Sekarang, aku mau ajak kakak main." Anak itu menengadahkan mukanya, memperlihatkan wajahnya yang putih pucat dengan darah mengalir dari dahinya. Pramugari tersebut membuka mulutnya mencoba berteriak, namun sebelum sempat ia bersuara, badannya terpental ke belakang.
"Ratiiiih!" pramugara bernama Dimas berteriak melihat rekannya terpental begitu saja. Tubuh Ratih terkulai lemas setelah membentur pintu yang menghubungkan ruang kemudi dengan ruang kabin.
"Hihihihi! hahahaha!" anak itu tertawa senang, membuat para penumpang menjerit histeris.
Jeleeegaaar!
Pesawat kembali bergoncang keras, membuat para penumpang semakin ketakutan. Lampu di dalam pesawat berkedip sekali, tampaknya petir menyambar salah satu bagian pesawat, membuat sistem kelistrikan yang ada sedikit terganggu.
"Anak tadi hilang! Setaaaan!" seorang penumpang yang duduk di dekat kejadian tadi berteriak histeris. Sosok mahkluk yang meniru wujud anak perempuan tersebut menghilang begitu saja. Terdengar suara doa memohon perlindungan semakin keras diucapkan, terlebih di kabin bagian depan, yang baru saja menyaksikan suatu kejadian yang berada di luar nalar pikiran.
--------------
-Semprot 543, Cockpit Room, 18:45-
"Capt, saya hubungi cabin dulu ya, barusan pintu kita seperti ada yang gedor," Valent meminta ijin untuk menghubungi ruang kabin, namun capt. Robert masih menatap lurus ke depan, tidak mempedulikan Valent sedikitpun. Hal ini membuat Valent sedikit ketakutan, tanpa ia sadari, bulu kuduknya pun merinding.
Ting Tong!
"Mbak Kania, dengan Valent. Barusan bunyi suara apa ya di pintu cockpit? Oh, ga ada apa-apa," Valent tampak berbincang dengan seorang pramugari menggunakan service interphone, "oh iya, bisa tolong bangunkan capt. Rony ga? Sepertinya capt. Robert sakit, dia ga fokus. Terima kasih ya," lanjutnya dengan suara pelan.
-------------
-Semprot 543, Bussiness Class Deck, 18:45-
"Twinkle twingkle little star, how I wonder what you are. Like a diamond in the sky."
"Di-dimas. Di service interphone malah ada suara anak itu nyanyi lagi, aku ga bisa menghubungi mbak Valent di ruang kemudi," Kania berkata panik kepada Dimas, yang sedang merawat Ratih yang pingsan.
"Ah, serius lo?" Dimas berkata tak percaya dan menyambar gagang telepon tersebut. Kania pun memberikan tempat kepad Diman, dan ganti membungkuk di lantai untuk menjaga Ratih. Raut muka dimas langsung berubah begitu ia menempelkan telinganya. Ia menatap Kania dengan muka ketakutan dan berkata lirih, "Kan-kania, barusan dia bilang mau main gantung-gantungan."
"Di-di-di," Kania berkata terbata-bata sambil menunjuk ke arah belakang Dimas. Keringat mengalir dari dahi Dimas. Ia tidak perlu Kania, untuk mengetahui apa yang ada di belakangnya. Tiba-tiba, tangan Dimas bergerak memutari lehernya, membuat kabel gagang telepon membelit batang leher sang pramugara. Tubuhnya pun terangkat, membentur atap pesawat.
"Dimaaaas!" Kania berteriak histeris. Ia mengumpulkan seluruh keberaniannya dan berusaha menarik turun Dimas. Namun sesuatu membuat tubuhnya terpental ke belakang. Dimas menendang ke segala arah, berusaha untuk melepaskan lilitan kabel di lehernya. Kania hanya bisa menangis melihatnya menggelepar tak berdaya, kehabisan napas.
"Hihihi, makasih ya sudah mau main sama aku," kekeh sebuah suara di telinga Dimas. Tak lama kemudian, rontaan Dimas pun berkurang, sampai akhirnya benar-benar tak bergerak dan ia pun jatuh ke lantai.
"Kyaaaaaaaaa!" seorang ibu menjerit sekuat tenaga saat ia melihat Dimas terjatuh tak bernyawa.
------------
-Semprot 543, Economy Class Deck, 18:48-
"Ada apa sih di depan? Hujan gini aja teriak-teriak," seorang pemuda berkata kepada gadis cantik yang duduk di sebelahnya. Ia menatap heran para flight attendant yang tampak mondar-mandir dengan muka sangat cemas dan ketakutan.
"Bukan karena hujan kali, Bim. Lo ga denger emang tadi ada suara anak kecil nyanyi di speaker? Horor banget kan," gadis cantik di sebelahnya mencoba memberikan penjelasan kepada pemuda yang bernama Bimo tersebut.
"Ya elah, palingan juga ada anak kecil iseng yang ambil tuh microphone. Hari gini masih aja lo percaya setan, Kenny cantik" Bimo berkata dengan nada meremehkan. Namun, tiba-tiba raut mukanya berubah, menunjukan ekspresi ketakutan.
"Ken, di di belakang lo," Bimo berkata pelan.
"Bim, ga lucu!" Kenny membentak sang pemuda. Tangan bimo perlahan naik, menunjuk sesuatu di belakang badan Kenny. Badan Kenny pun menjadi kaku karena adrenalinnya meningkat.
"Bim," ucapnya lagi dengan nada mengancam. Tubuh Bimo bergetar hebat, membuat peluh menetes dari dahi Kenny. Ia pun menarik napas panjang, kemudian membalikan badannya.
"Hahahaha, kena deh!" Bimo tertawa puas, berhasil mengerjai teman wanitanya itu, "makanya jadi manusia jangan penakut. Sama setan aja takut, cemen lo!" lanjutnya lagi sambil tersenyum lebar.
"Dasar breng" kata-kata Kenny terhenti saat ia menatap Bimo, atau lebih tepatnya menatap sesuatu di balik punggung Bimo.
"Bim," Kenny berkata lirih, penuh kehati-hatian.
"Apa? Mau ngerjain balik? Ga kreatif lo!"
"Bim," nada suara Kenny meninggi.
"Apa sih?" Bimo berkata seraya menengok ke belakang.
"Aaaarrrgggghhhh!" Bimo melihat seorang anak kecil perempuan dengan muka penuh darah. Belum sempat Bimo bereaksi, anak kecil tersebut menerjang Bimo dan menggigit leher pemuda tersebut.
"Kyaaaaaaa!" Kenny berteriak, membuat anak kecil itu menatap Kenny sambil menyeringai. Ia pun mengambil ancang-ancang dan melompat ke arah Kenny. Kenny mengangkat tangannya untuk melindungi diri, namun tak ada yang terjadi. Saat ia membuka mata, ia melihat Bimo menggelepar tak beraturan, darah memuncrat deras dari lehernya.
-Semprot 543, Bussiness Class Deck, 19:00-
"Kak, Jessica! Jessica kak!" Mia berseru sambil menunjuk-nunjuk kaca di samping tempat duduknya. Angel terkejut memandang kaca tersebut. Ia melihat 2 buah gambar telapak tangan tercetak jelas di tengah derasnya hujan yang masih mengiringi penerbangan ini. Gambar telapak tangan itu perlahan menghilang, digantikan oleh huruf yang perlahan tercipta, seakan ada seseorang yang menulis di balik kaca tersebut.
"216?" Angel membaca tulisan tersebut sebelum kembali tersapu oleh air hujan. Dia pun memandang Mia dengan heran, mencoba mencari jawaban dari adik perempuannya. Mia menggeleng kecil membalas tatapan Angel, ia sama tidak tahunya maksud dari pesan yang diberikan oleh Jessica tersebut.
-------------
-Semprot 543, Cockpit Rest Area, 18:52-
"Cuacanya buruk banget ya, bay?" seorang lelaki tua berseragam pilot yang mengenakan bar 4 pada pundaknya tersebut berkata pelan sambil memjamkan matanya. Di sebelahnya, duduk seorang pemuda yang asik memainkan laptopnya. Mereka berdua adalah pilot yang bertugas pada penerbangan ini dan akan bertukar tugas dengan capt. Robert dan Valent di Filipina nanti.
"Iya nih, capt. Oh iya, capt. Rony bukannya lagi cuti ya?" tanya pilot muda yang bernama Bayu itu tanpa mengalihkan pandangan matanya dari layar laptop.
"Iya, tapi disuruh terbang nih, soalnya ada yang sakit mendadak kemarin. Tapi tidak masalah lah, bay. Habis pulang dari Kanada nanti, saya lanjut cuti lagi kok, hehehe," capt. Rony menjelaskan perihal kehadirannya pada tugas terbang kali ini. Ia memandangi ruangan tempatnya berada sebelum kembali berkata, "ruang istirahatnya sempit ya, bay. Gelap juga lagi."
Di pesawat Boeing 777 memang didesain untuk memilik ruang beristirahat bagi awak kokpit. Ruangan tersebut terletak di bagian atas sebelah belakang ruang kemudi. Walaupun cukup nyaman untuk beristirahat, namun ruang di pesawat milik Semprot Air ini tidak terlalu luas.
"Iya, capt. Tapi lumayanlah bisa buat tidur. Saya tidur dulu ya capt," Bayu berkata seraya merapikan laptop miliknya dan berbaring tidur. Capt. Rony mengangguk singkat. Ia kemudian membuka tasnya dan mencari sesuatu di dalam sana. Tak lama kemudian, ia mengeluarkan sebuah buku dan mulai membacanya untuk menghilangkan kebosanan.
-------------
-Semprot 543, Economy Class Deck, 19:04-
"Huhuhuhu, Bimo," Kenny menangis di dalam pelukan seorang pramugari. Kekacauan terjadi di kabin bagian belakang. Para penumpang yang duduk di dekat Bimo berusaha mencari kejelasan atas apa yang terjadi. Mereka tampak berdiri dengan muka geram dan memarahi seorang pramugari.
"Mbak! Ini pesawat ada setannya! Saya mau turun sekarang juga!"
"Iya mbak! Tadi ada suara seram di radio! Sekarang ada yang mati digigit setan!"
"Tenang bapak-bapak dan ibu-ibu semua. Kami sudah mencoba menghubungi pilotnya dan menceritakan apa yang terjadi," pramugari tersebut berusaha menenangkan para penumpang.
Jeleeeegaaaaar!!
Petir kembali menyambar. Pesawat pun mengalami guncangan yang cukup keras. Terdengar suara tangis bayi saling bersahutan, membuat keadaan di dalam penerbangan ini semakin mencekam.
-------------
-Makasar Control Room, 19:10-
"Semprot 543, this is Ujung Control. Confirm you are heading 030 avoiding weather? Your position is 200 miles left of track! We've been calling you many times! And your heading is not to Manila," seorang petugas menara kontrol bertanya kepada penerbangan Semprot 543 dengan panik.
"Pak, tidak ada jawaban dari semprot 543 sejak 30 menit yang lalu, dan sekarang posisi pesawat mereka meleset 200 miles dari rute yang ditentukan," jelas petugas itu kembali kepada seseorang yang berdiri di belakangnya.
"Pantau terus, coba minta bantuan untuk merelay pesan kepada pesawat yang kebetulan berada di sekitar situ. Dan hubungi Tim SAR."
------------
-Semprot 543, Cockpit Rest Area, 19:15-
Tuk! Tuk!
Sebuah suara ketukan terdengar dari saluran udara di samping tempat tidur capt. Rony. Saluran udara yang tidak cukup besar untuk dimasuki manusia. Sebagai seorang penerbang senior yang telah memiliki banyak jam terbang, suara yang tidak pada umumnya langsung membuatnya bersiaga.
Tuk! Tuk! Tuk!
"Bay, bay, denger ga suara itu?" capt. Rony bertanya kepada Bayu, namun tak mendapatkan jawaban. Ia menoleh kepada Bayu dan mendapati co-pilotnya tersebut tidur dengan lelapnya.
Tuk! Tuk! Tuk! Tuk!
Suara ketukan kembali terdengar dan kali ini bertambah banyak. Pikiran capt. Rony langsung bekerja, ia mulai mencari tahu penyebab munculnya bunyi tersebut pada saluran udara. Ia takut terjadi kebocoran pada sistem tekanan udara di kabin yang akan membahayakan penerbangan ini. Capt. Rony pun memutuskan untuk memberitahukan masalah ini kepada pilot yang sedang bertugas. Ia pun beranjak dari tempat tidurnya.
Tuk! Tuk! Tuk!
Tuk! Tuk!
Tuk! Tuk! Tuk!
Ketukan itu kembali muncul, kali ini berirama, seakan-akan memanggil capt. Rony. Penerbang tua itu terdiam, ia merasakan sesuatu yang janggal di dalam saluran udara tersebut.
Tuk!
Capt. Rony mengetuk sekali.
Tuk!
Terdengar balasan dari dalam sana.
Tuk! Tuk! Tuk!
Kali ini capt. Rony mengetuk tiga kali.
Tuk! Tuk! Tuk!
Jantung capt. Rony seakan berhenti berdetak. Bunyi ketukan itu membalas ketukan capt. Rony dengan jumlah yang sama. Setelah berpikir beberapa saat, capt. Rony memutuskan untuk mengintip ke dalam saluran udara tersebut melalui lubang kecil yang terdapat di sana.
Ia pun menarik napas sejenak, menghapus keringat yang bermunculan di dahinya, kemudian mendekatkan matanya ke dalam lubang itu. Tetapi karena gelapnya saluran udara tersebut, ia tidak dapat melihat apapun di dalam sana kecuali warna hitam yang pekat. Capt. Rony pun menarik napas lega, namun belum sempat ia menarik mukanya, tiba-tiba, sebuah bola mata berdarah memandangnya tajam dari dalam saluran.
------------
-Semprot 543, Bussiness Class Deck, 19:26-
"Mia, setannya lagi ada di dekat sini ga?" Angel berbisik kepada Mia. Mia pun memperhatikan sekelilingnya dengan hati-hati, kemudian ia pun menggeleng kecil. Angel mengangguk singkat kepada Mia sebelum berkata, "kamu tunggu di sini ya, kakak mau ke depan dulu, mau berbicara sama kakak pramugari."
Angel pun keluar dari tempat duduknya dan berjalan ke arah depan. Ia memperhatikan para penumpang sudah tidak memiliki semangat lagi. Mereka saling berangkulan dengan dan berusaha menguatkan satu sama lain. Di depan, Angel melihat dua buah tubuh tergeletak di atas lantai, ditutupi koran agar tidak membuat takut orang yang melihatnya
"Ma-maaf kak, boleh saya bertanya?" Angel berkata sembari mengalihkan pandangannya dari kedua mayat tersebut kepada seorang pramugari yang berada di dekat situ.
"Iya, ada apa?" jawab Kania yang tampak sedang merawat Ratih yang masih tak sadarkan diri akibat benturan tadi. Angel melihat ke pintu kokpit, tampak seorang pramugara yang baru ia lihat sedang berusaha mengetuk pintu dan menghubungi pilot yang sedang bertugas.
"Kami tidak bisa menghubungi ruang kemudi, bahkan kode rahasia untuk membuka pintu ini pun tidak berfungsi. Entah bagaimana nasib mbak Valent di dalam sana, yang jelas captain yang asli sudah terbaring kaku di sini," Kania menjelaskan panjang lebar begitu ia melihat raut penasaran Angel.
Angel mengangguk singkat, kemudian ia pun berkata, "kakak tahu arti nomor 216?"
"216?" Kania bertanya heran, mencoba mencari arti makna 216 yang diucapkan Angel.
"Iya kak, 216," jawab Angel. Kania menggeleng. Ia tidak dapat memikirkan makna 216 yang ditanyakan Angel kepadanya.
"Memangnya, ada apa dengan 216? Apakah itu ada hubungannya dengan kejadian yang kita alami ini?" tanya Kania kembali. Angel hanya mengangkat bahu sebagai jawaban dari pertanyaan Kania, karena ia pun tidak mengetahui makna dari angka-angka tersebut.
-----------
-Semprot 543, Cockpit Rest Area, 19:26-
"Capt. Rony, mas Bayu! Ada emergency!" teriak seorang pramugari sambil menaiki tangga menuju ruang istirahat untuk penerbang tersebut. Suasana ruangan yang gelap membuat langkah pramugari itu terhenti di bibir ruangan.
"Capt. Rony, mas Bayu?" ia memanggil dengan suara pelan. Kejadian aneh yang ia alami di penerbangan ini membuatnya menjadi mudah takut, terlebih tak ada suara balasan dari dua orang penerbang yang harusnya berada di sini. Ia pun menunduk, memasukan tangannya ke dalam kantungnya dan mengambil sebuah senter kecil.
"Hmmm."
Sebuah suara gumaman yang berat membuatnya panik dan menjatuhkan senter yang akan diambilnya.
"Capt. Rony, mas Bayu," ia kembali memanggil dengan suara yang semakin lirih.
Ctak!
Cahaya senter menyinari wajah pramugari itu, membuatnya terpaksa menyipitkan matanya menghadapi sorotan cahaya yang cukup terang tersebut. Kurang lebih 30 detik tidak ada suara apapun kecuali desahan napas sang pramugari. Jantung pramugari cantik itu pun berdetak semakin cepat. Kakinya tiba-tiba menjadi kaku, membuatnya tidak mampu bergerak. Demikian juga dengan lidahnya yang menjadi kelu, untuk berteriak pun ia tidak mampu.
"Hmmm."
Suara gumaman itu kembali terdengar.
"Hmmm, Dhea? Ada apa?" tanya suara berat itu. Pramugari yang bernama Dhea itu bergetar hebat di tempatnya berdiri, air mata mengalir perlahan dari kedua bola matanya.
"Eng-engga mas Bayu, sa-saya kira," Dhea menjawab sambil menahan isak tangisnya. Ia merasa sangat lega ternyata suara berat itu adalah suara Bayu yang sepertinya baru bangun dari tidurnya.
"Kamu kira apa? Setan? Hehehe," Bayu berkata sambil tertawa. Raut muka Dhea langsung berubah drastis mendengar Bayu mengatakan kata setan. Ketakutan kembali menguasai dirinya.
"Ada apa, Dhe?" Bayu kembali mengulangi pertanyaannya begitu ia melihat Dhea tidak memberikan reaksi terhadap candaannya.
"Senternya mas," Dhea meminta Bayu untuk mengarahkan senternya ke tempat lain, "ke bawah mas, ada emergency," lanjut Dhea setelah Bayu memindahkan arah senternya, sehingga Dhea dapat melihat keadaan ruangan tersebut.
"Emergency apa, Dhe?" tanya Bayu heran sambil merapikan seragamnya.
"Ayo mas cepat, di bawah saja ceritanya. Itu capt. Rony kenapa diam saja?" tanya Dhea kembali setelah melihat sosok capt. Rony duduk diam membelakangi mereka, dengan muka menempel ke sebuah saluran udara.
"Capt," Bayu memanggil sang captain yang masih diam tak bergerak sedikitpun.
"Capt!" kali ini Bayu memanggil agak keras sambil sedikit mengguncang badan capt. Rony, namun tetap tak mendapatkan jawaban dari lelaki tua tersebut.
"Capt!" Bayu membalik tubuh capt. Rony dan mendapati pemandangan mengerikan. Bola mata sebelah kanannya hilang entah ke mana, menyisakan selongsong kosong di dalam sana. Ekpresi ketakutan masih tergurat jelas di wajah tua penerbang yang cukup senior tersebut.
"Aaaaaaaaaaaaah!" Dhea berteriak histeris menyaksikan pemandangan tersebut. Ia pun kehilangan keseimbangan, dan terjatuh.
-Semprot 543, Bussiness Class Deck, 19:29-
"Jadi apa yang sebenarnya terjadi?" Bayu bertanya kepada Kania yang sedang merawat Dhea.
Kania pun menyeritakan semua kejadian yang terjadi di penerbangan ini, mulai dari kematian capt. Robert, Dimas, dan salah seorang penumpang ekonomi sampai ruang kemudi yang tidak bisa dihubungi.
"Jadi sampai sekarang Valent tidak bisa dihubungi?" Bayu bertanya sambil mengangguk kecil mendengarkan penjelasan Kania. Ia menyadari bahwa kondisi penerbangan sudah sama sekali tidak aman, terlebih Valent yang berada di ruang kemudi sama sekali tidak bisa dihubungi.
"Kania, nyalakan ELT yang ada di pesawat secara manual, paling tidak kita harus berusaha memberitahukan kepada menara kontrol kalau saat ini kita berada di situasi darurat," perintah Bayu segera setelah menganalisa situasi dan memikirkan jalan keluar terbaik.
Kania mengangguk singkat dan segera menghubungi flight attendant yang bertugas di bagian belakang untuk melakukan apa yang diperintahkan Bayu karena ELT tersebut terletak di belakang.
"Dan maaf, siapa anda?" Bayu bertanya kepada Angel yang dari tadi hanya mematung mendengar percakapan mereka dengan sedikit ketus. Angel bergerak tidak nyaman mendapat pertanyaan seperti itu, seakan Bayu tidak suka akan kehadirannya di sana.
"Adiknya yang menemukan jasad capt. Robert, mas," Angel menjelaskan kepada Bayu.
"Oh, maaf, pasti pengalaman yang mengerikan untuk adik anda. Untuk sementara saya sarankan anda untuk kembali duduk," pinta Bayu dengan nada yang lebih ramah dan senyuman tulus.
Angel mengangguk singkat dan berbalik. Namun, belum sampai 3 langkah, ia menghentikan langkahnya dan kembali menghadap Bayu yang melihatnya kebingungan.
"Maaf kak, kakak tahu arti 216?" Angel kembali bertanya tentang nomor itu.
Bayu tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya. Angel pun mengangguk pelan dan kembali berjalan ke tempat duduknya. Sesampainya di depan tempak duduknya, Angel terpaku. Ia tidak mendapati Mia di sana. Angel pun segera berjalan ke tempat kedua orang tuanya berada.
"Mom, Dad kalian melihat Mia?" Angel bertanya dengan panik. Kedua orangtua Angel pun menggeleng dan bertanya ada apa dengan Mia. Angel menjelaskan bahwa tadi ia ke depan dan berbicara dengan pramugari, namun saat kembali ke tempat duduknya, ia tidak dapat menemukan Mia. Setelah mendengar cerita Angel, mereka bertiga pun memutuskan untuk mencari Mia dan berpisah. Kedua orangtuanya menuju ke kabin ekonomi, sementara Angel kembali ke depan.
"Maaf, kak," Angel berkata panik kepada Kania, "adik saya hilang."
"Hilang?" Bayu bertanya tak percaya. Kania mengangguk panik, ia pun menceritakan tentang adiknya Mia dan kemampuannya untuk melihat makhluk yang tidak bisa dilihat oleh manusia pada umumnya serta alasan mengapa ia menanyakan tentang angka 216.
Bayu tiba-tiba membelalakan matanya terkejut, ia pun berkata dengan perlahan, seolah sesuatu terpikirkan oleh dirinya, "dua satu enam? Mungkin maksudnya dua satu enam, bukan dua ratus enam belas."
"Kenapa mas?" tanya Kania keheranan melihat reaksi Bayu. Tubuh Bayu tampak bergetar, ia mengelap keringat yang muncul di dahinya sebelum mencoba untuk mejelaskan apa arti angka itu.
"216, kamu inget ga Kania? Nomor penerbangan yang mengalami kecelakaan tahun lalu saat akan mendarat di Pontianak," Bayu menjelaskan sambil menatap Kania tajam. Kania tampak berpikir sebentar, sebelum akhirnya paham apa yang dibicarakan Bayu.
"Ada apa, kak?" tanya Angel takut-takut.
"Penerbangan semprot 216, Jakarta-Pontianak. Terjadi kecelakaan saat akan mendarat di Pontianak, saat itu hujan sangat deras. Semua penumpang selamat, kecuali 3 orang, seorang bapak dan ibu serta 1 orang anak perempuan. Dan anehnya nama mereka tidak tertera dalam manifest penumpang. Hanya ada tubuh tak bernyawa tanpa identitas sama sekali," Bayu menjelaskan kepada Angel. Kania hanya bisa memandang lantai sambil menggigit jari.
"Ja-jadi mereka menghantui penerbangan kita sekarang?" Angel membuat kesimpulan.
Jleeeb! Lampu kabin tiba-tiba mati kembali.
"Hihihihi," terdengar suara tawa anak kecil. Semua penumpang menjerit ketakutan, terdengar teriakan sumpah serapah serta doa menjadi satu. Tak lama kemudian lampu menyala. Mia tampak terbaring di tengah lantai.
"Miaa!" Angel berteriak sambil berlari menghampiri adiknya tersebut. Mia membuka matanya, ia terlihat sangat lemas tak bertenaga. "Kak, mereka bilang kita semua akan mati."
Angel memeluk erat adiknya dan berbisik, "kita ga akan mati, Mia." Mata Angel pun menjadi kabur setelah berkata demikian, ia merasakan paru-parunya menjadi sangat sakit.
Bruk!
Angel menoleh ke arah suara dan melihat Kania terjatuh ke atas lantai, disusul oleh Bayu. Angel menyapukan pandangannya ke sekililing pesawat dan ia melihat semua orang yang berada di sana terdiam lemas tak bertenaga. Angel mengerjapkan matanya tak percaya, ia melihat 3 orang sedang tersenyum ke arahnya di ujung sana. 3 orang dengan muka pucat dan penuh darah.
"Mi-a," kata Angel pelan sebelum ia pun kehilangan kesadarannya.
--------------
-Semprot 543, Cockpit Room, 19:10-
"Capt! Apa-apaan sih?" Valent berteriak saat capt. Robert meremas dadanya. Valent mencoba untuk melepaskan diri, namun tubuhnya tertahan oleh seat belt dan shoulder harness yang entah kenapa tidak bisa ia lepaskan.
"Aaaaggghh," teriak penerbang cantik tersebut saat capt. Robert menarik seragam yang ia kenakan dengan kasar, membuat kancingnya berjatuhan ke lantai.
"Caaapt!" Valent kembali berteriak, mencoba menyadarkan lelaki yang seharusnya menjadi panutan bagi dirinya.
"Hihihihihi," suara tawa wanita yang melengking tinggi keluar dari mulut capt. Robert, membuat bulu kuduk Valent merinding seketika. Jantungnya seakan berhenti, ia menyadari orang yang sedang mencoba memperkosanya ini bukanlah capt. Robert yang biasa ia kenal.
"Si-siapa kamu?" Valent bertanya dengan nada marah, air mata perlahan keluar mengalir dari sudut matanya.
Capt. Robert tidak menghiraukan pertanyaan Valent tersebut. Ia menarik lepas bra yang dikenakan Valent, membuat payudara gadis cantik itu terekspos jelas. Dengan sekali jentikan jari, seat belt dan shoulder harness yang sedari tadi terkunci tiba-tiba terlepas begitu saja. Capt. Robert kemudian menarik tubuh Valent dengan mudahnya dan menjatuhkannya di atas lantai cokpit bagian belakang, membuat penerbang perempuan itu kesakitan.
Capt. Robert kemudian menduduki paha Valent dan meremas payudara yang cukup besar untuk seukuran gadis seusianya tersebut. Valent berusaha memukul tubuh capt. Robert, namun lagi-lagi hanya dengan sebuah jentikan jari, tangan Valent terangkat ke atas, menempel pada lantai pesawat tanpa mampu ia lepaskan seakan ada sesuatu yang menahannya.
"Si-siapa kamu? A-apa yang kamu mau? Lepaskan aku!" Valent berusaha berkomunikasi dengan capt. Robert, memintanya untuk melepaskan dirinya. Capt. Robert kembali tertawa, masih dengan tawa wanita yang melengking tinggi. Tanpa menjawab prtanyaan Valent, capt. Robert melepaskan celananya, menunjukan penisnya yang besar menggantung di depan mata Valent.
Valent menggeleng kuat saat capt. Robert bergerak maju mendekat ke mukanya. Kemudian tanpa bisa ia cegah, mulutnya terbuka di luar kemauannya. Penis capt. Robert pun memasuki rongga mulutnya dengan perlahan. Air mata Valent mengalir deras. Untuk pertama kalinya ia melihat penis seorang pria, dan penis tersebut langsung memenuhi rongga mulutnya yang mungil.
Valent pun merasakan tangan capt. Robert memegang kepalanya dan menggerakannya maju mundur. Sebenarnya Valent ingin sekali menggigit putus penis pria tersebut, namun ia tidak dapat menggerakan mulutnya sama sekali, membuatnya hanya bisa menangis pasrah.
"Hmmppphhh," Valent mendesah tertahan ketika ia kembali merasakan rangsangan di payudaranya. Payudara kanannya diremas dengan sangat kasar, namun hal tersebut malah membuat libido dalam tubuhnya meningkat. Capt. Robert pun menarik penisnya dari mulut Valent. Ia kemudian menurunkan celana berwarna biru yang Valent kenakan. Sekarang Valent terbaring tak berdaya, hanya berlapiskan celana dalam tipis berwarna merah muda transparan, menyebabkan bulu-bulu kemaluannya terlihat.
"Uwaaaaaah!" Valent berteriak kesakitan saat jemari tangan Capt. Robert menusuk kemaluannya dengan kasar. Sambil menyeringai seram, capt. Robert pun kemudian menarik celana dalam Valent sampai putus, membuat perempuan muda itu menjerit kesakitan.
"Ja-jangan," Valent memohon dengan takut saat ia melihat penis berurat tersebut sudah mengarah di pintu lubang vaginanya.
"Aaaaaaaaaaaaaah!" terdengar suara teriakan Valent menggema di seisi ruangan cockpit saat penis itu mulai memasuki lubang kemaluannya. Matanya terpejam, untuk pertama kalinya ia merasakan sakit yang luar biasa yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Penis capt. Robert yang besar dan panjang itu memasuki liang vagina Valent dengan lancar, tanpa menemui halangan apapun. Sementara itu darah mulai mengalir dari vagina Valent, menandakan selaput dara yang gadis cantik itu jaga terenggut sudah oleh lelaki yang tidak ia harapkan, atau lebih tepatnya makhluk yang tidak ia harapkan.
Capt. Robert pun mulai menggoyangkan pinggulnya dengan cepat, membuat mata Valent membelalak. Ia bahkan tidak sempat membiasakan vaginanya menerima benda asing yang cukup besar tersebut. Valent hanya bisa menggigit keras bibirnya hingga berdarah, mencoba menahan rasa sakit yang amat tersebut. Kepalanya tergolek pelan, pasrah terhadap nasibnya.
Namun, tiba-tiba, mata Valent terpaku pada sebuah panel di sebelah atas. Sebuah panel yang menunjukan sistem tekanan di pesawat, perlahan naik dari angka 5000 kaki. Valent seakan mendapat kekuatan baru, ia sadar, saat angka tersebut melebihi angka 10.000 kaki, artinya tidak ada lagi oksigen yang tersisa di dalam pesawat, dan ia serta seluruh penumpang akan meninggal dalam waktu kurang dari 10 menit.
Valent pun meronta keras, sementara capt. Robert hanya tertawa sambil melirik ke arah panel tersebut. Seakan tidak mempedulikan rontaan Valent, ia terus memompa penisnya dalam tubuh gadis cantik tersebut. Valent hanya bisa menjerit dan meronta tanpa hasil. Ia kembali melirik panel tersebut dengan putus asa.
8.000 kaki!
10.000 kaki!
13.000 kaki!
Angka pengukur tekanan dalam kabin tersebut terus naik. Rontaan Valent pun menjadi pelan secara teratur, seiring dengan berkurangnya kadar oksigen di dalam paru-parunya. Pandangannya pun menjadi kabur, kemudian semuanya menjadi gelap.
---------------
-Semprot 295, Bussiness Class Deck, 05:19-
"Kak, mengapa kita ada di sini sekarang?" Mia bertanya sambil memandang Angel dengan raut muka heran. Angel memandang adiknya sambil tersenyum sambil memperhatikan kesibukan yang terjadi di atas pesawat itu. Para penumpang tampak sedang memasuki pesawat. Para flight attendant pun tampak sibuk membantu dan mengarahkan para penumpang.
"Ngel, dihitung ya penumpangnya, semuanya ada 160, total 168 sama kita plus cockpit," terdengar seorang pramugari memberikan perintah kepada pramugari lain.
"Hihihi, namanya sama seperti kakak tuh," Mia berkata sambil tersenyum kepada Angel sambil memandangi pramugari yang memiliki nama seperti kakaknya tersebut bergerak tergesa-gesa ke bagian belakang kabin.
Pesawat pun bergerak perlahan, sementara Angel masih berdiri menatap seisi pesawat dengan serius, seolah mencari sesuatu. Mia hanya bisa memandang kakaknya sambil merenggut. Kesal merasa diacuhkan, Mia pun duduk di antara pramugari yang sedang bersiap untuk lepas landas.
"Kenapa lo, ci?" tanya seorang pramugari kepada temannya yang memiliki name tag bertuliskan Alicia di dadanya. Pramugari bernama Alicia itu menjawab dengan terbata-bata. Mia hanya tersenyum karena ia mengetahui bahwa Alicia sedang berpikiran tidak senonoh.
"Mia!" Angel memanggil tiba-tiba, membuat Mia segera berdiri dari tempat duduknya.
"Lihat di sana, mereka ada di sini," Angel kembali berkata sambil menunjuk ke arah belakang pesawat, kepada beberapa sosok transparan yang menyeringai seram kepada dirinya dan Mia.
"Kita harus mencegah mereka menghantui pesawat ini," lanjut Angel mantap.
Mia pun meneguk ludah, sebelum kemudian mengangguk singkat.
"Flight Attendant, take off position!"
The End
