Recent Posts Widget

XXX STORY : ALFI

https://cerita-porno.blogspot.com/2012/07/xxx-story-alfi.html

ALFI THE SERIES ( FULL )

========================================
Alfi, si Loper Koran dan Sandra, pacarku
========================================

Sudah lima tahun aku pacaran dengan Sandra. Kami kuliah di perguruan tinggi yang sama. Enam bulan kuliah kami berdua bakal selesai.Lalu tahun depan berencana menikah. Sandra pacarku adalah seorang gadis yang cantik, pandai, populer di kampus. Body bak model dengan tinggi 174 cm, 32-28-32, dengan rambut hitam panjangnya yang indah seperti model-model iklan shampo. Nilai plus lain baginya adalah ia masih perawan, ya…selama ini kami memang hanya bercinta sebatas peting. Aku memiliki fantasi seks, sejak kecil aku ingin bersetubuh oleh seorang gadis dewasa, namun hal itu tak pernah jadi kenyataan. Hingga akhirnya muncul pikiran gila ini. Aku berpikir untuk meminta Sandra membantuku mewujudkan mimpi itu. Aku mengatakan keinginanku pada Sandra. Awalnya ia menolak mendengar permintaan aneh dariku. Bahkan ia sempat marah karena heran bagaimana aku rela dirinya ditiduri oleh orang lain apalagi sampai menyerahkan kegadisannya pada seorang bocah ingusan seperti Alfi.

“Please manis…aku benar-benar memimpikannya sejak kanak-kanak. Dan aku akan tetap mencintaimu setelah itu terjadi.”

“Tapi itu benar-benar gila Dit!”

“Memang itu ide gila sayang…tapi kepada siapa lagi aku hrs minta tolong?”

Begitulah, setelah setiap hari kubujuk dan kuyakinkan bahwa aku tak akan meninggalkannya, akhirnya ia bersedia melakukannya. Pilihanku jatuh pada Alfi, seorang pengantar koran langgananku yang baru berusia 15 tahun. Dari segi fisik, Alfi tak bisa dibilang tampan, penampilannya lusuh, kulitnya gelap karena sering terjemur matahari, tubuhnya pun krempeng. Ibunya seorang pelacur di lokalisasi X. Sejak usia 7 tahun Alfi sudah merasakan hubungan seks dengan beberapa pelacur yang tinggal di sana termasuk ibunya sendiri. Penis anak itu menjadi besar, jauh lebih besar dibanding anak lain seusianya, bahkan menyamai milik orang dewasa, warnanya hitam legam, panjangnya 15 cm diameter 3,5 cm, kepala penis merah pekat panjang 3,5 cm diameter 4 belum disunat kulit kulupnya meruncing menutupi glans penisnya. Jembut pun baru muncul beberapa helai. Aku sangat bernafsu membayangkan anak itu bercinta dengan Sandraku yang cantik.



Setelah direncanakan matang-matang, hari itu pun tiba. Aku menyewa sebuah cottage dengan satu kamar tidur di pinggir laut yang sepi, satu ranjang besar bersprey putih, dan satu set sofa empuk di ruang tengah. Setelah makan malam Alfi segera masuk dan menunggu di kamar. Sandra meminta waktu bicara denganku di ruang tengah. Aku tahu ia masih ragu dan nervous untuk melakukan hal itu

“Sayang, apa kau benar-benar ingin aku melakukannya dengan anak itu? kau pasti tahu resikonya setelah ini aku bukanlah gadis suci lagi”

“Tentu manis sejak awal aku tidak mempermasalahkannya”

“Apakah kau tetap mencintai dan tidak akan meninggalkanku setelah ini terjadi?”

“Tentu manis, ku mohon demi aku ….”

“Baiklah”

Sandra masuk ke kamar, tapi pintu kamar dibiarkannya terbuka lebar. Semua lampu cottage kami padamkan agar tak ada orang mengintip dari luar. Meski demikian cahaya bulan cukup menerangi pandanganku. Sesaat sebelum lampu padam, aku sempat melihat Alfi, ia sudah telanjang bulat di atas kasur. Akupun melepas pakaianku hingga telanjang lalu rebah di atas sofa menunggu. Kudengar mereka bicara tak jelas. Kemudian kudengar desah Sandra, agaknya mereka sudah mulai. Aku bangkit perlahan merayap menuju kamar hingga di dalam. Pada jarak 3 meter jarak pandangku cukup jelas, aku duduk bersandar pada dinding tanpa terlihat oleh mereka berdua. Tanganku mulai ngocok penisku. Kulihat Alfi sedang menetek pada Sandra. Ternyata selama ini aku salah

Alfi yang benar caranya menetek. Wajar saja gurunya para lonte pro. Ngemut persis bayi, tidak hanya putting dihisap, mulutnya dibuka lebar-lebar lalu sebanyak mungkin payudara Sandra ia lahap membuatnya merintih dan menggelinjang. Kurasa ia mengakui

Alfi lebih pandai dari aku. ‘Plok!!’ puting itu terlepas dari mulut Alfi, ujungnya memerah, indah dan mengacung tegak, aerolanya pun ikut mengembung bagai bukit di puncak payudaranya. Kemudian Alfi menggarap payudara Sandra yang satunya. Menit demi menit berlalu, aku terus menonton hingga akhirnya Alfi naik ke atas tubuh Sandra

kembali menetek pada payudara Sandra seperti tadi

“Kak, Alfi ngentot kakak sekarang ya?”

“pelan-pelan ya, Fi, Kakak masih perawan kakak takut…punya kamu besar banget”

“Alfi janji nanti Alfi ngentotnya pelan-pelan”

Alfi memegang penisnya dan diarahkannya tepat dibelahan basah tersebut. Ujung kulupnya dengan mudah menyelip di celah vagina Sandra. Alfi menekan penisnya

“Engg!!” kulihat Sandra menggigit bibir bawahnya, entah merasa sakit atau nikmat



‘Jleb!!’ bibir vagina Sandra pun membelah dan penis hitam Alfi mendesak masuk. Kepala penisnya sudah tak nampak menancap kaku dalam mulut vagina Sandra

“Tahaan dulu Fi, sakittt!” Sandra mendorong perut Alfi mencegahnya maju lagi

Alfi menurut, ia diam, sepertinya ujung kulup penisnya sudah menyentuh selaput dara Sandra. Setengah menit berlalu, nampak Sandra sudah tenang

“Ih, gede banget!”

Bibir vagina Sandra melingkar ketat pada leher penis Alfi

“Enggghhh!!” Sandra kembali merintih, tapi kali ini bukan karena sakit

“Udah ngga sakit kan Kak?” bisik Alfi

“He eh” angguk Sandra sambil mendesah lirih

Pinggul Alfi mulai bergerak mundur maju mengocok lembut vagina pacarku itu. Ia lalu mundur sedikit namun tak sampai penisnya lepas tercabut lalu kembali melesak masuk lagi sedalam tadi. Memang tak banyak gerakan yang dibuat Alfi, namun itu cukup untuk membuat Sandra menggelinjang nikmat. Pompaan kecil itu berlangsung sejenak hingga tiba-tiba ‘Plop!!’ kepala penis Alfi terlepas dari jepitan mulut vagina Sandra. Alfi memang sengaja melakukannya. Kepala penis anak itu basah bekilat berlumuran lendir licin.

“Fiii kenapa dicabut? Kakak tadi sudah enak ngga sakit lagi kok!” protes Sandra, sepertinya ia sudah bisa menikmati

Alfi kembali menekan masuk kepala penisnya, , ‘Clep!!’ sedalam tadi. Sandra mencengram pinggul anak itu, seolah kuatir Alfi mencabutnya lagi

Ouuggghh!

“Enak kakkk?”

“Iyaaa..eenakk sekalii, Fihh”

“Kakak suka sama punya ku?”

“He e…”

“Besar ya kak..?”

“Iya besar bangettt!”



Kembali Alfi mengenyot payudara Sandra. Kini Sandra sudah tak berkutik lagi, ia terlentang pasrah menikmati dirinya dicabuli oleh Alfi kecil, dada dan selangkangannya tersengat kenikmatan, erangannya pun terdengar meninggi. Sedetik kemudian

“Ouuughhhh!! Fiiiiii!!!! Enakkk!!” Sandra terpekik nikmat

Ia mencapai orgasmenya,Alfi, si loper koran itulah yang membuatnya orgasme. Meski penis hanya tertancap sedikit, anak belasan tahun yang jembut saja baru tumbuh satu dua helai itu telah membuat seorang gadis perawan cantik dewasa bertubuh sintal dan indah itu menggelepar dalam sengatan kenikmatan. Vagina Sandra berdenyut-denyut keras

mengempot dan menghisap penis Alfi untuk masuk semakin dalam memprovokasi penis anak itu untuk berejakulasi. Namun Alfi berusaha keras bertahan, nampaknya ia berhasil mengendalikan dorongan itu. Perlahan orgasmenya reda, Alfi masih di posisi semula mengangangkangi tubuh pacarku dengan kepala penis tertancap dalam vaginanya. Sandra membelai rambut anak itu

“Kemari Fii!!” Sandra membuka bibirnya melumat bibir anak itu

Mereka berciuman penuh gairah, Alfi berhasil mendapatkan cinta gadisku. Tubuh Sandra memang jauh lebih tinggi dari Alfi kecil sehigga gadis itu harus sedikit melengkungkan tubuhnya untuk dapat berciuman dengan anak itu. Kulihat pinggul Alfi bergerak-gerak lembut mengocok perlahan agar tautan bibir mereka tak terlepas



Kenikmatan kembali mendera Sandra. Alfi melepas ciuman mereka

“Kenapa?”

“Kakak ..Allfi …  udah mauuu…” ujarnya terbata-bata dengan tubuhnya gemetar, wajahnya pucat sekali

“Engg… Alfi …kepingin muncrat?” tanya Sandra

“Iyaa… punya kakak sempit sekali… Alfi ngga tahan lagiii…”

“Fii, kamu cabut dulu burungnya, nanti muncratin di seprey…ya”

“Engga mau…enakan di dalem punya kakak aja…”

“Jangan Fi nanti kakak hamil anak kamu”

“Kakak ngga usah kuatir, kata dr Lila mani Alfi belum ada benihnya, masih kosong jadi kakak ngga mungkin hamil”

“Eng…dr Lila bilang begitu?”

“Iya kak, lagian enakan muncrat bareng kak,”

“Boleh ya, kak? Alfii udah ngga tahannnn…ughhh” pinta Alfi sambil terus menggenjot

Aku tahu Sandra masih ragu, namun ia tak lagi mencegah Alfi untuk berejakulasi di dalam vaginanya. Mungkin juga ia kasihan mendengar rengekan anak itu. Alfi melahap putting susu Sandra, menghisapnya kuat-kuat seolah ada air susunya. Pantatnya bergerak mengocok naik turun, awalnya pelan sekali lalu semakin cepat

“Alfiii!!! Sayanggggg kakakkk keluuu…aarrr lagiii!!!!”

“kak Sandraaa sekarang kakk!! Alfiiii jugaaa  muncraattt”

Alfi memeluk pinggang Sandra, penisnya ia benamkan seluruhnya dalam-dalam sejauh mungkin penisnya dapat masuk. Seketika itu juga…cretttt, crettttt, cretttt, ia berejakulasi melepas benih-benih kejantanannya di dalam rahim Sandra.

“Fiiiiii!!! Sakiitttttt!!!” Sandra terpekik antara kenikmatan dan sensasi rasa sakit ketika untuk kedua kalinya penis Alfi memberinya orgasme.

Kali ini lebih dasyat dari yang pertama, penis anak 15 tahun itu menerobos masuk ke liang vaginanya dan merobek selaput daranya



Penis Alfi kini tertanam seluruhnya, aku hanya melihat testis kecilnya menempel di selangkangan Sandra. Belum kulihat lelehan sperma maupun darah keperawanan Sandra. Semuanya masih terkumpul di dalam vaginanya tersumbat oleh ketatnya tautan kemaluan mereka, mungkin juga disebabkan kentalnya sperma Alfi. Alfi telah menyetubuhi gadisku, pacarku yang cantik, calon istriku, sekaligus merengut kegadisannya dan memberinya orgasme pada coitus pertama yang tak mampu dilakukan kebanyakan pria dewasa manapun membuat Sandra rela menerima anak itu berjakulasi dalam vaginanya

tanpa kondom atau pencegah kehamilan lain sama sekali dengan resiko dapat terjadi kehamilan akibat siraman benih Alfi pada rahimnya. Satu menit sudah berlalu sejak orgasme bareng tadi. Keduanya masih enggan berpisah dan masih menikmati sisa kenikmatan dasyat tadi. Kaki Sandra menyilang menekan pinggul Alfi, tampaknya ia belum rela anak mencabut batang kemaluannya. Perlahan aku mendekat ke kasur, kuhidupkan lampu kap di samping Sandra. Keduanya baru melepaskan ciuman saat melihatku. Alfi membenamkan wajahnya di leher jenjang Sandra. Kini semuanya dapat kulihat dengan jelas. Pemandangan yang membuat gairahku melonjak naik. Sandra yang bertubuh tinggi sintal dan berkulit putih dalam keadaan menyatu dengan Alfi yang bertubuh kecil krempeng dan berkulit hitam. Bercak-bercak noda merah di seprey membuatku yakin kalau keperawanan Sandra telah berhasil dirobek total oleh penis anak itu. Lalu…aku mengintip bagian intim mereka yang belum terpisahkan sejak tadi. Labia luar Sandra terbuka lebar menampung diameter penis Alfi yg besar. Disela-selanya ada lelehan sperma anak itu bercampur darah yang mulai mengalir keluar. Sampai saat ini batang penis Alfi tetap dalam kuluman vagina Sandra sementara ujung kulupnya mengeram di dasar liang cinta itu. Pipi Sandra bersemu merah tersirat kepuasan, mungkin ia merasa malu padaku

“Dit, kamu ngga pa pa, kan? kini aku sudah ….”

Aku mengecup keningnya yang basah oleh keringat

“sayang … sayang, tadi itu begitu sempurna” aku berusaha menenangkan dirinya, “kamu telah membuat mimpiku menjadi kenyataan, terima kasih manis.”



“masih sakit ya, San?”

“Iya tadi ngilu sekali .. tapi sekarang dah ngga lagi…”

Kulihat masih ada sekitar satu sentian batang penis Alfi yang tak masuk ke vagina Sandra

sepertinya ujung sudah mentok

“Kak Didit, apa Alfi boleh entot kak Sandra sekali lagi?”

“Tentu, Fi…Kak Sandra adalah milik kamu selama kita di sini. Kamu boleh melakukannya sesering kamu mau”

“Uhhh…Dit, titit si Alfi kurasakan membesar dan mengeras lagi punyaku terasa penuh” kata Sandra

Aku ingat perkataan dr Lila tempo hari, anak seusia Alfi memiliki libido sangat besar, mereka sangat cepat pulih setelah berejakulasi dan penisnya kembali mengeras sehingga mereka selalu dapat melakukan persetubuhan berulang-ulang tanpa henti sepanjang malam. Sebab lain selain cantik yang Sandra masih perawan dan Alfi belum pernah dapat perawan sebelumnya. Liang vagina Sandra yang sempit juga sungguh tak terlukiskan nikmatnya, tentu hal itu membuat Alfi ingin mengulanginya lagi…lagi dan lagi.

“Fi, kalau kak Sandra mu ngga tahan dan minta berhenti, kamu mau ya?”

“Iya, kak, Alfi juga mau kak Sandra kapok entotan sama Alfi “

“Sstt kak, waktu entotan tadi Alfi buat kak Sandra muncrat dua kali, dia juga bilang suka sama titit Alfi, katanya besar enak” Alfi nampak bangga, ternyata ia tak mengetahui jika aku menyaksikan persetubuhan mereka dalam suasana gelap tadi.

“Oh ya, kata Mbak Sriti kamu emang hebat Fi”

Aku pernah dengar komentar salah satu pelacur lokalisasi X yang adalah teman sekamar ibu Alfi, masih muda dan cantik. Alfi paling sering ngentot dengan gadis itu ketimbang pelacur lain, bahkan Sriti lah yang pertama kali mengenalkan seks pada Alfi. Wajah Sandra bersemu kemerahan membuatnya semakin cantik mungkin ia malu kami ngomong soal itu di depannya. Menit- menit berlalu persetubuhan kembali terjadi.

Alfi kembali memompa penis yang masih kukuh berdiri tegak ke dalam vagina kekasihku

dan Sandra melingkarkan kakinya mengunci pinggul anak itu.



Alfi mengocok bagai bintang porno profesional menghajar pacarku. Dia terus memompa dan memompa dengan ganasnya. Gadisku dibuatnya merintih tak karuan, matanya memutih. Kali ini batang penis Alfi dapat Sandra rasakan seluruhnya, vaginanya mencengram kuat daging nikmat itu. Tak menunggu lama buat Sandra kembali orgasme.

Orgasme berikutnya susul menyusul sangat cepat, kenikmatan demi kenikmatan hanya berkelang detik.Selangkangannya disengat kenikmatan yang tiada putus-putus dan semakin lama semakin menggila. Aku takjub melihat kenyataan Alfi membuat Sandra orgasme berkali kali. Luar biasa stamina jantan kecil ini pikirku, sudah dua kali penisnyai  memuncratkan sperma sejak yang pertama, namun anak itu terus menerus mengocokan kemaluannya tanpa henti bagai sebuah mesin seks. Akhirnya kali ini keduanya terpekik bareng, mereka memperoleh orgasme pada saat yang bersamaan. Tak terasa dua setengah jam sudah persetubuhan ini berlangsung, tak terhitung sudah berapa orgasme yang mereka peroleh. Sandra mengeluh vaginanya ngilu, Alfi menghentikan pompaannya,

kelihatan ia masih ingin mengulanginya. Perlahan ia mencabut penisnya hingga terlepas. Penis Alfi basah bersimbah lendir spermanya sendiri. Kupandangi benda perkasa

yang telah mengaduk aduk kewanitaan Sandra itu. Sungguh beruntung ia berkesempatan memerawani pacarku yang cantik itu. Penis besar itu meninggalkan lobang merah mengaga pada vagina Sandra. Dari situ cairan putih kental mulai mengalir tumpah membasahi sprey. Aku berbisik meminta giliranku, Sandra menganguk lemah mengiyakannya.

“Parlahan ya sayang.. punyaku masih ngilu” pintanya

Aku pun menindih Sandra dan memasukan penisku, merasakan untuk pertama kali vaginanya, vagina gadis yang kelak menjadi istriku. Sandra yang masih dalam kondisi mengangkang menyambut hujamanku. ‘SLep!!’ duh…seretnya meski sudah diaduk-aduk oleh penis Alfi, nikmatnya bukan kepalang. Karena sejak awal disuguhi persetubuhan mereka, aku sudah dalam tegangan tinggi dan konak, akibatnya aku gagal mengontrol diri..



“Sayang ..jangan muncratin di dalam nanti aku hamilll”

Hitungan detik…aku masih sempat mencabut penisku dan…

“Sandra sayangggg!!!   aaaaakkkk!!!”

Spermaku pun berlomba bermuncratan di atas perut Sandra tanpa tertahankan.

Crooottttt….   Croottt ..crottt

Aku pun terkulai di samping Sandra, aku tak seberuntung Alfi yang bisa berejakulasi di dalam kuluman nikmat vagina Sandra. Bahkan sampai berkali-kali. Demikian malam itu kami tertidur lelap bertiga. Saat pagi harinya saat aku terjaga, baik Sandra maupun Alfi sudah tidak terlihat di kamar ini. Kupikir mereka sudah terbangun lebih dahulu. Aku beranjak bangun menuju ruang tengah. Di sanalah aku melihat mereka, entah sejak kapan mereka sudah bersetubuh. Sandra terlentang di atas sofa sementara Alfi dalam posisi menindihnya. Kedua putting payudara Sandra tegak berdiri, ada sisa air liur membasah di situ. Selangkan Alfi bertumpu dengan milik Sandra, tak kulihat kocokan ganas seperti semalam, hanya ayunan lembut dan itupun hanya sekali-sekali, terkadang gerakan itu berhenti sama sekali. Mereka berdua saling memandang mata dalam-dalam seolah sepasang kekasih kasmaran, mungkin ingin lebih menikmati penyatuan alat kelamin mereka

“oughh!!! Fiii…!!” aku tahu Sandra orgasme

Sungguh luar biasa tanpa banyak gerakan dilakukan Alfi kembali menaklukan kekasihku, entah untuk yang keberapa kali nya pagi ini. Mereka berciuman, saling melumat mesra. Aku tak ingin mereka tahu keberadaanku di situ agar tak mengganggu, bukankah hal ini yang menjadi fantasiku selama bertahun-tahun?

“Kakkkk!!!”

“Kenapa Fii…enak?”

“Ya..enak sekaliii..kak,”

“Kak..

“Iya..”

“Alfi cinta sama kak Sandra…kak Sandra  cantik sexy … “

“Tapi kalo ngentot sama mbak Sriti  Alfi lebih kuat.”

“Emang kenapa kalo sama kak Sandra?”

“Lobang Kak Sandra kecil sempit terus jadi kalo nyedot titit Alfi rasanya enak bangeeeet!”

“Ih, kecil-kecil udah pintar ngegombal!

“Kalau gitu kamu mau ngga…. nikah sama kakak?”

“Mauu kak…”

“Kepingin ngga ..ngebuntingin kakak?”

“Ouughh!!! penggenn kakkkk!!!”



Sampai disitu Alfi tak mampu lagi membendung dorongan orgasmenya. Spermanya memancar deras keluar ‘crettttt……crotttt….crettt!’ Tubuh kecil itu mendekap pinggang Sandra menekan dalam-dalam penisnya. Untuk kesekian kali menyuntikan benihnya ke rahim Sandra. Selang beberapa menit. Alfi meminta agar merubah posisi senggamanya menjadi women on top. Namun Sandra menolak, ia lebih menikmati bila liang kewanitaannya ditikam oleh penis Alfi dari atas. Alasannya ia merasakan sensasi lebih dikuasai dan tak ketidakberdayaan saat Alfi mencabulinya. Demikianlah, selama tiga hari aku menyaksikan mereka mereguk kenikmatan tanpa henti. Sepanjang hari persetubuhan berlangsung hingga malam terakhir kami di sana. Berkali kali ia menghantarkan Sandra ke puncak kepusaan sebagai wanita dewasa diatas peraduan mereka berdua. Di kamar itu hanya aku yang menjadi saksi persebadanan dua insan berbeda jenis dan usia tersebut. Menjelang pagi akhirnya mereka menyudahi persetubuhan itu dan tertidur dengan saling berpelukan dan keringat yang membasahi tubuh keduanya. Paginya Setelah check out, Alfi kami antar pulang ke pool bis. Ketika berpisah dengan gigolo kecil itu, mereka sempat saling melumat bibir. Sesaat sebelum Alfi turun dari mobilku dalam perjalanan pulang ke rumah, Sandra lebih banyak diam. Mungkin ia sulit melupakan pertualangan bersama Alfi. Sejak saat itu kami tak pernah lagi bertemu dengan Alfi, iapun tak pernah lagi mengantar koran ke rumahku. Kudengar ia ikut ibunya pindah ke kota H. Sandra sering merengek memintaku mencari Alfi. Aku tahu ia ketagihan ngentot sejak malam itu

Meski demikian ia tak pernah memintaku melakukan hubungan seks dengannya. Nampaknya Sandra hanya menginginkan persetubuhan dengan Alfi. Aku cukup maklum dan tak pernah memaksanya melakukan itu, Alfi memang seorang pejantan sejati. Sebelas bulan berikutnya kami menikah. Malam pengantin aku memberinya surprise

Setelah resepsi aku ajak dia keluar dari kamar pengantin yang telah disediakan oleh panitia. Dengan mata tertutup selembar kain ia ku ajak ke sebuah tempat. Ketika kain penutup dibuka..

“Alfiii?! Kamu…”

Sandra menghambur ke arah kasur di mana Alfi menunggu dengan tubuh bugil dan

penis telah mengacung tegak. Mereka melumat satu sama lain melepas kerinduan

akan kenikmatan.



“Kakak kangen sama kamu!” kata Sandra setelah ciuman mereka terpisah

“Alfi juga kangen sekali sama kak Sandra”

“Kamu jangan pergi lagi Fi, kakak sangat membutuhkanmu”

“tenang saja kak.. kemarin kak Didit bilang Alfi bakal tinggal serumah dengan kakak berdua”

“Benarkah?”

Sandra menoleh padaku, aku tersenyum dan mengangguk

“kakak, ada yang mau Alfi kasih tahu ke kakak”

“Apa Fii?”

Sandra menoleh ke arah ke kemaluan Anak itu yang tegak

“Fiii.. punyamu tambah besaarrr.”

Gila! Memang saat kuperhatikan titit Alfi sudah tambah panjang dan besar dengan jembut bergerombol pada pangkal batangnya. Kupikir benda itu akan terus tumbuh hingga bebarapa tahun ke depan.

“Kak Sandra, Dr lila bilang benih Alfi sudah subur dan kak Didit sudah bilang ke Alfi…katanya Alfi boleh membuat kak Sandra Hamil duluan. Kak Sandra maukan Alfi setubuhi sampe hamil?” Alfi bertanya sambil menoleh kepadaku seakan memintaku menepati janjiku omonganku kemarin.

Aku berhasil menemukannya minggu lalu di kota H. Atas izin ibunya, aku mengadopsi Alfi. Semua ini aku lakukan demi kebahagian Sandra dan demi kelanjutan fantasiku tentu saja.

“Oh.. Alfii kakak bahagia kamu miliki” dekap Sandra

“Kak Sandra, Alfi mau ngentot kakak sekarang. Alfi sudah tidak pernah lagi ngentot sejak berpisah dengan kak Sandra dulu, Alfiii mau sekarang kakkk” rengek Alfi

“Ohh.. Alfi ..puasin dirimu sayang, sejak malam ini aku adalah milikmu, habiskan benih kejantananmu di rahim kakak”

Demikianlah malam pertama pengantin kami akhirnya berlansung indah dan sejak saat itu kami menjadi keluarga yang bahagia. Alfi selalu menyetubuhi Sandra tanpa pengaman jenis apapun, ia bebas berejakulasi dalam liang senggama istriku. Sedangkan aku diwajibkan pakai kondom atau melakukan coitus intruptus.Meski demikian Sandra tak kunjung hamil, namun kamipun tak pernah memusingkan hal itu, yang penting hubungan aneh ini berjalan lancar. Aku yakin akan hal itu.
#############################################

========================
Perkenalanku dengan Alfi
========================

Pertama-tama perkenankan aku memperkenalkan diri, namaku Dian, 24 tahun. Aku kini hampir setahun bekerja di sebuah biro iklan tak lama setelah lulus kuliah. Dilihat secara fisik aku terbilang cantik, setidaknya begitulah yang dikatakan orang-orang. Tubuhku 169 cm dengan kulit putih mulus dan membentuk lekukan indah. Rambutku hitam panjang sedada dan mata yang bulat. Oke kukira cukup perkenalan diriku, kalau kebanyakan ntar dibilang narsis lagi hehehe. Kisah ini terjadi ketika seorang sahabatku, Sandra, akan berangkat keluar kota menyusul suaminya ke kota G tempo hari, ia telah memintaku sekali-kali untuk menengok keadaan rumahnya selama ia tidak di rumah. Rumah mereka hanya ditinggali seorang anak asuh mereka, Alfi yang usianya baru akan beranjak 17 tahun. Ia bertubuh kurus dan berkulit hitam, mereka baru sekitar satu tahunan mengadopsinya. Tak banyak yang kutahu mengenai anak itu. Setahun belakangan semenjak Sandra menikah aku jarang mampir ke rumah mereka hanya sempat kadang telepon-teleponan dengannya. Sandra juga mempergunakan jasa pembantu bik Nah, orangnya sudah tua namun hari ini ia minta izin untuk pulang mudik selama satu minggu. Kebetulan hari sudah agak malam saat aku mampir, Alfi yang membukakan aku pintu, kulihat ia senang sekali melihatku datang.

“Fii, Bik Nah udah berangkat ya?” tanyaku

“Iya kak, tadi pagi-pagi sekali…Kak, Kakak nginap di sini,kan?”

“Ngga Fii, kakak hanya sebentar. Habis nengok Kak Sandra kakak langsung pulang”

“Nginep aja kak, temani Alfi. Soalnya Alfi takut tinggal sendirian di rumah”

Aku menimbang permintaan Alfi, mungkin ada baiknya aku nginap di sini. Walau bagaimanapun Alfi masih anak-anak berbahaya baginya tinggal sendirian saat ini.

“Baik, kakak nginap malam ini”

“nah gitu, sekarang Alfi buatin kakak minum dulu ya”

Alfi menghilang ke dapur, tak lama ia kembali dengan segelas air jeruk hangat. Tak menunggu lama kuhabiskan sebab aku memang haus dan penat.

“kakak tidur di kamar kak Sandra saja ya. Air hangat juga ada di kamar mandi”

Aku tersenyum geli mendengar ucapan anak itu, tentunya Sandra mendidik ia agar bisa mandiri dan bertanggung jawab.

“makasih Fii, kakak mau mandi dan mungkin langsung tidur. Kamu sudah periksa semua kunci pintu keluar kan?”

“Sudah semua Kak”



Semua lampu pada semua ruangan segera dimatikan Alfi. Aku segera membuang kepenatanku dengan mandi air hangat di bawah siraman shower. Selesai mandi rasa haus masih mengangguku hingga aku bergegas ke dapur untuk mengambil minum. Tanpa menghidupkan lampu aku mampu melihat arah menuju ke dapur. Saat melewati kamar di lantai bawah, aku tercekat…kudengar suara nafas yang agak memburu dan desah tertahan…dan semakin jelas ketika aku mendekat, kulihat pintu kamar tidak tertutup rapat dan ada sedikit celah yang memungkinkan aku bisa melihat isi kamar dari pantulan cermin yang terletak berserangan dengan letak pintu, dan kini aku yang terhenyak. Dari pantulan cermin kulihat Alfi, telentang di atas ranjang telanjang dan tangannya sedang menggenggam kemaluannya, bergerak teratur naik turun, tentu saja aku tahu kalau anak itu sedang bermasturbasi. Aku pernah membaca suatu artikel bahwah  Remaja seusia Alfi sedang memasuki masa puber. Mereka mulai tertarik dan menyukai lawan jenisnya.  Remaja seusia itu sedang berkembang organ reproduktif. Angan-angan dan fantasi seks membawa mereka untuk melakukan masturbasi. Namun yang membuatku terpana adalah ukuran kemaluan anak itu…, sangat besar dan panjang…bahkan terlalu besar untuk ukuran anak seusianya. Aku pernah melihat kemaluan pria dewasa pada sebuah situs X di internet, kubandingkan dengan milik Alfi ternyata ukurannya nyaris sama besarnya! Sekilas terlihat kalau genggaman tangan anak itu sama sekali tak menutupi kepala kemaluannya yang tampak merah dan belum disunat. Alfi masih mendesah perlahan dan tiba tiba ia mempercepat gerakan tangannya lalau tubuhnya mengejang dan dari lubang pipis kepala kemaluannya keluar dengan semprotan yang cukup keras melambung keudara dan cairan itu mendarat didadanya, beberapa kali kepala kemaluan itu Nampak menyemprotkan cairan dan akhirnya dengan lesu tangan pemuda berusia 16 tahun itu mengendur dan menggapai tissue di meja sisi ranjang. Suatu perasaan ‘menggelitik’ mulai menerpaku turun ke ke bawah ke antara kedua kakiku…aku tahu kalau kemaluanku mulai melembab menyaksikan pemandangan itu. Aku baru menyadari kalau celana dalamku ternyata sangat basah. Aku yang sempat terpana segera sadar dan cepat cepat menuju ke kamarku, kalau saja sampai terlihat, aku… menonton ia bermasturbasi wah



Malam itu aku tertidur cepat, rasanya kepalaku begitu berat dan ngantuk. Tidak biasanya aku seperti ini, terkadang aku masih betah berjam-jam di depan TV saat pulang kerja.

Begitu ngantuknya aku hingga lupa mengunci pintu kamarku. Kasur Sandra yang empuk mempercepat perjalananku ke alam mimpi. Lama setelah terlelap sampai aku dihinggapi sebuah mimpi. Aku merasakan sesuatu terjadi pada diriku, diawali muncul rasa geli yang aneh pada selangkanganku. semakin lama yang kurasakan geli itu berangsur menjadi rasa nikmat yang dasyat yang belum pernah kurasakan selama ini. Kini rasa nikmat itu semakin tak tertahankan menjalar ke sekujur tubuhku. Sampai akhirnya aku terjaga mulanya bingung rasa nikmat tadi masih terasa bahkan lebih menyengat, sesaat aku sadar. tapi belum sempat aku bereaksi, aku menjerit kaget, ketika tahu-tahu, Aku mendapati Alfi berada di antara sela-sela kedua paha putih mulusku. Wajahnya terbenam berada tepat di hadapan selangkanganku. Tanpa harus melepas terlebih dahulu cukup dengan jarinya Alfi menyingkap kesamping celana dalam yang tipisku. ia begitu asyik melumat kewanitaanku. lidahnya menjilati setiap jengkal daging kemaluanku yang mulai basah bagai seekor induk kucing memandikan anaknya

“Fiiiii..apa yang sudah kamu lakukan pada kak Dian…ouhhhh?”

Anak itu tak menghiraukan pertanyaanku ia tetap asyik dengan kelakuan cabulnya.

Percuma saja aku berusaha untuk merapatkan pahaku, percuma aku mencoba mendorong kepalanya dan terlambat, bibir mulutnya telah menguasai bibir daging kemaluanku secara total, yang kurasakan kini sensasi gatal nikmat yang menggila

Ouuggggggh!!!

Ada yang tak kumengerti aku Aku tak kuasa menolak keinginan Alfi dan membiarkan diriku ia jamahi. Mataku terpejam tak sanggup menahan malu, selama ini belum pernah ada laki laki yang berani menjamahku karena aku sangat galak menjaganya, tapi kali ini aku tak berdaya menolak seorang bocah dibawah umur berusaha mencabuliku. Tubuhku mengelinjang gelinjang menahan birahi karena cumbuan Alfi kini berpindah ke dadaku, secara bergantian Alfi menghisap hisap kedua puting susuku yang kenyal itu bagaikan bayi yang kehausan.



“oohh… oohhhh… ooohhhhhh”suara rintihanku tak dapat lagi kutahan. anak ini benar benar pintar merangsangku.

Kemaluanku mulai terasa basah dibuatnya. Perlahan kurasakan Alfi celana dalamku diplorotkannya kebawah, tak lama menyusul lepas sehingga tubuhku yang indah sudah tak tertutup selembar benangpun. Aku mengeluh pasrah ketika Alfi mendorongku hingga rebah terlentang diatas kasur. Aku berusaha merapatkan kedua kakiku agar kepala Alfi menjauh dari celah intimku. Namun semuanya percuma. Alfi berhasil membenamkan wajahnya pada selangkanganku, lidahnya menemukan apa yang ia cari dan inginkan

dengan penuh ketelatenan dia melahap dan menghisap hisap vaginaku yang sudah basah itu, lidahnya dengan liar menjilati dinding vagina dan klitorisku. Rasa geli dan sengatan birahi membuatku semakin tak mampu menahan laju gairah Alfi. Aku terpekik pekik kecil dibuatnya, anak ini benar benar sudah sangat berpengalaman. Perlakuannya sungguh membuat diriku serasa terbang, tubuhku menggelinjang-gelinjang geli diiringi erangan nikmat. Sampai akhirnya kurasakan otot vaginaku mengejang dahsyat,

“ouuughhhh!!!!…Fiiiiiiiiii” pekikku tak kuasa menahan rasa geli dan nikmat yang ditimbulkan jilatan-jilatan lidahnya.

Inikah yang disebut orgasme? Begitu dasyat kenikmatan yang kurasakan. Dan aku memperoleh orgasme pertamaku dari seorang anak kecil di bawah umur yang sedang mencabuliku. Saat itu kurasakan seluruh tubuhku menggeletar, pandanganku nanar, serasa jiwaku melayang tinggi, ragaku serasa terendam ke dalam samudera kenikmatan ragawi yang tak bertepi. Kesadaranku seperti hilang, yang kulihat hanya warna putih yang berpendar di mataku lalu menjadi kabur. Entah berapa lama aku tak sadar. Lalu perlahan-lahan bisa kurasakan kesadaranku telah hampir sepenuhnya pulih. Kurasakan lidah itu masih saja bekerja menjilati dan menjalari seluruh relung vaginaku. Tanpa sadar pula aku malah membuka keduabelah kakiku seolah-olah berharap Alfi menjilat dan menghisap isi vaginaku yang membanjir.



“Sluurrpp… sluurpp.. sshhrrpp..” bunyi yang timbul ketika Alfi menghisap habis tiap tetes cairan cintaku tanpa sisa.

Sesaat setelah itu seperti terlambat kusadari bahwa Alfi telah mengambil posisi menindihku, pinggulnya tepat di atas pinggulku yang terbuka, dan tubuhnya di antara kedua kakiku yang masih terpentang lebar.

“Alfi… kamu mau apaaa?..”

“Kak Dian, Alfi ngentot kakak sekarang..”bisik Alfi ke telingaku..Aku terbelalak, dan juga memandangnya dengan tidak suka. Tahulah aku, anak ini hendak menyetubuhiku, sekaligus merenggut kegadisanku

Kehormatanku sebagai wanita yang sesungguhnya hanya lagi tersisa …Keperawananku.

Dan Aku semakin yakin Alfi sangat menginginkan ini. Aku masih ingin memberikan keperawananku ini pada calon suamiku kelak. Aku merasa amat teledor senja tadi, harusnya aku berusaha sebisa mungkin untuk tidak terlarut oleh rangsangannya, Namun kini semua sudah terlanjur terjadi. Aku semakin tak punya pertimbangan lagi. dan amat rapuh sebagai seorang wanita. Mengingat kebodohanku dan mudahnya aku rapuh saat ini membuatku meneteskan air mata. Aku makin terdesak saat kurasakan daging kelaki-lakiannya telah menempel pada kewanitaanku. Sedangkan saat itu tubuhku masih terasa lunglai dan lemas, dan benar-benar tak mampu menghindar lagi. bahkan kedua kakiku yang telanjang begitu lemas ketika ia membukanya lebar-lebar dan menekuk lututku, sehingga bisa kurasakan saat itu kalau kelopakku kewanitaanku langsung bergesekan dengan penisnya tanpa penghalang sedikitpun. Aku hanya mampu menunggu dengan perasaan was-was dan perasaan berdosa yang perlahan menyeruak di antara kesadaranku. Aku sempat menahan nafas .Aku tahu aku akan kesakitan sebab ini adalah yang pertama bagiku.Dari cerita2 temanku disaat saat melakukan coitus pertama kalinya akan merasakan kesakitan. Apalagi, kulihat kemaluan Alfi demikian panjang dan besar. Lalu kurasakan dengan perlahan Alfi mulai mendorong pinggulnya ke arahku berusaha memasuki pintu kemaluan sehingga bisa kurasakan kelopakku tertekan ke dalam..



Namun plett …kepala kemaluannya terpeleset jauh, aku lega tusukan pertamanya luput, kucoba mengeser pinggulku ketika ia mulai mendorong lagi. Dan Alfi mencoba lagi, plett..yang kedua kali… juga meleset.

“Uhhh…punya kakak sempit sekalii!!!” Ujar Alfi penasaran bercampur napsu berahi yang makin memuncak.

Aduhhh ibuu… aku seperti terselamatkan ketika ia tak kunjung bisa menembusku. Aku masih berdebar debar dan menahan nafas, dibukanya kedua kakiku makin lebar, bahkan kali ini jemarinya membuka kedua bibir vaginaku dan membantu mengarahkan penisnya tepat pada kewanitaanku. Alfi mendorong pinggulnya lagi ke arahku sehingga bisa kurasakan ujung penisnya mulai menyelusup seakan membelah kelopak kewanitaanku.

Aku merasa takut… takut sekali. Dan nampaknya kali ini ia akan berhasil memasukiku dan menodaiku!! Akhirnya aku hanya bisa pasrah sambil memejamkan mata menunggu detik-detik ketika penisnya menerobos vaginaku

“Auuw ..Akhh… auuww..! ” Aku memekik kesakitan sambil meronta ketika batang penis Alfi mulai memasuki lubang kewanitaanku.

Keringatku bercucuran membasahi tubuhku yang telanjang bulat, keperawananku yang selama ini kujaga mulai ditembus oleh Alfi tanpa sanggup kucegah lagi. Aku meronta ronta kesakitan… Alfi yang sudah berpengalaman tak ingin tusukanya luput karena rontaanku segera ia memeluk pinggangku, lalu dengan cepat, ditekan pantatnya kembali kedepan sehingga separuh batang kelakiannya pun amblas masuk ke dalam vaginaku.

“Aakkhhh… !” Aku memekik kesakitan bersamaan dengan jebolnya keperawananku. Hancur sudah kehormatanku di tangan anak kecil itu. Sesaat aku masih meronta ronta pelan, namun karena pegangan kedua tangan Alfi di pantatku sangat kuat hingga rontaanku tiada arti. Batang penis terus menerobos masuk mengkoyak koyak sisa sisa Perawanku. Tangisanku mulai terdengar lirih diantara desah napas Alfi yang penuh birahi.Tubuhku yang putih mulus kini tak berdaya dibawah himpitan tubun Alfi yang kecil .Sesaat Alfi mendiamkan seluruh batang penisnya terbenam membelah vaginaku sampai menyentuh rahimku, perutku terasa mulas dibuatnya.



Alfi sambil mulai menggoyang pantatnya maju mundur perlahan. Penis Alfi kurasakan terlalu besar menusuk vaginaku yang masih sempit, setiap gesekan penis Alfi menimbulkan rasa nyeri yang membuatku merintih rintih. Semakin lama batang penis Alfi semakin lancar keluar masuk menggesek vaginaku karena cairan licin vaginaku mulai keluar secara alamiah, rasa sakit dikemaluanku semakin berkurang, rintihanku perlahan mulai hilang berganti dengan suara napas yang berirama dan terengah engah. Bocah nakal ini ternyata memang pintar membangkitkan nafsuku. hisapan hisapan lidahnya pada putingku menyebabkan benda itu makin mengeras saja. Bagaimanapun juga aku adalah manusia normal yang juga punya napsu birahi, sadar atau tidak aku mulai terbawa nikmat oleh permainannya, tak ada guna menolak. lebih baik kunikmati saja persetubuhan ini.

“Ooooh… , oooouugh… , aahhmm… , ssstthh!” .erangan panjang keluar dari mulutku yang mungil.

Akhirnya aku biarkan diriku terbuai dan larut dalam goyangan birahi Alfi. Aku memejamkan mata berusaha menikmati perasaan itu, aku masih sulit percaya  membayangkan yang sedang mencumbui tubuhku ini adalah seorang ABG berumur 16 tahun. Penisnya kini mulai meluncur mulus sampai menyentuh rahimku. Aku mengerang setiap kali dia menyodokkan penisnya. Gesekan demi gesekan, sodokan demi sodokan sungguh membuatku terbuai dan semakin menikmati persetubuhan ini, aku tidak perduli lagi orang ini sesungguhnya adalah anak kecil yang sudah merenggut kehormatanku. Darah perawanku kurasakan mulai mengalir keluar membasahi seprai dibawah pantatku. Rasa sakitku kini mulai hilang. Sambil bergoyang menyetubuhiku bibirnya tidak henti-hentinya melumat bibir dan pentil susuku, tangannyapun rajin menjamahi tiap lekuk tubuhku sehingga membuatku menggeliat geliat kenikmatan. Rintihan panjang akhirnya keluar lagi dari mulutku ketika mulai mencapai klimaks, sekujur tubuhku mengejang beberapa detik sebelum melemas kembali. Keringat bercucuran membasahi tubuhku yang polos itu sehingga kulitku yang putih bersih kelihatan mengkilat membuat Alfi semakin bernapsu menggumuliku. Birahi Alfi semakin menggila melihat tubuhku yang begitu cantik dan mulus itu tergeletak pasrah tak berdaya di hadapannya dengan kedua paha yang halus mulus terkangkang dan bibir kemaluanku yang mungil itu menjepit dengan ketat batang penisnya yang cukup besar itu. Sungguh ironi memang, gadis muda secantik aku terpaksa mendapatkan kenikmatan seperti ini bukan dengan kekasihku, akan tetapi dengan anak kecil yang sedang mencabuliku.



“Ouughh..oohhh… ooohhhh… “Aku merintih halus ketika kurasakan batang penis Alfi besar masih bersarang di vaginaku sementara ujungnya menyentuh rahimku.

Rintihanku semakin keras saat anak itu mulai melumati buah dadaku sehingga menimbulkan perasaan geli yang amat sangat setiap kali lidahnya memyapu nyapu puting susuku . Kepalaku tertengadah lemas ke atas, pasrah dengan mata setengah terkatup menahan kenikmatan yang melanda tubuhku sehingga dengan leluasanya mulut Alfi bisa melumati bibirku yang agak basah terbuka itu. Setelah beberapa saat puas menikmati bibirku yang lembut dia mulai menggerakkan tubuhku naik turun.

“Ouuhhh… kak!!! Jepitan vagina kakak enak sekaliii… “suara Alfi sayup sayup kudengar ditelingaku.Aku tak memperdulikannya lagi, saat ini tubuhku tengah terguncang guncang hebat oleh goyangan pinggul Alfi yang semakin cepat. Terkadang bocah ini melakukan gerakan memutar sehingga vaginaku terasa seperti diaduk-aduk. Aku dipaksa terus mempercepat goyanganku karena merasa sudah mau keluar, makin lama gerakannya makin liar dan eranganku pun makin tidak karuan menahan nikmat yang luar biasa itu. Dan ketika orgasme kedua itu sampai, aku menjerit histeris sambil mempererat pelukanku. pinggulku terangkat sedikit aku lakukan itu tanpa sadar karena takut kontol Alfi terlepas dari cengkeraman vaginaku ternyata nikmat sekali sensasi ini. Benar-benar dahsyat yang kuperoleh walaupun bukan dari pria dewasa. Walau pun masih kecil tapi Alfi masih mampu menaklukan gadis dewasa sepertiku. Kali ini dia membalikkan badanku hingga posisi tubuhku menungging lalu mengarahkan kemaluannya di antara kedua belah pahaku dari belakang. Dengan sekali sentak Alfi menarik pinggulku ke arahnya, sehingga kepala penis tersebut membelah dan terjepit dengan kuat oleh bibir-bibir kemaluanku. “Oooooouh… ouuuhhgh!” untuk kesekian kalinya penis laki-laki tersebut menerobos masuk ke dalam liang vaginaku dan Alfi terus menekan pantatnya sehingga perutnya yang kurus itu menempel ketat pada pantat mulusku. Selanjutnya dengan ganasnya Alfi memainkan pinggulnya maju mundur dengan cepat sambil mulutnya mendesis-desis keenakan merasakan penisnya terjepit dan tergesek-gesek di dalam lubang vaginaku yang masih rapat itu. Inilah pengalaman pertamaku dijamah oleh laki laki yang sudah sangat berpengalaman dalam bersetubuh, Walaupun berusaha bertahan aku ahirnya kewalahan juga menghadapi Alfi yang ganas dan kuat itu. Bocah cabul itu benar-benar luar biasa tenaganya.



Sudah hampir satu jam ia menggoyang dan menyetubuhiku tetapi tenaganya tetap prima. Tangannya terus bergerilya merambahi lekuk-lekuk tubuhku. Harus kuakui sungguh hebat anak lelaki seumur dia dapat bertahan begitu lama dan membuatku orgasme berkali-kali, mungkin karena sebelumnya dia sudah biasa, aah… entahlah.. aku tidak perduli hal itu, yang penting aku sudah ia bikin merasakan kenikmatan ragawi walau harus merelahkan kegadisanku. Aku pasrah saja ketika tubuhku kembali di terlentangkan Alfi diatas kasur dan digumulinya lagi dengan penuh birahi. Rasanya tak ada lagi bagian tubuhku yang terlewatkan dari jamahannya. Alfi terus melakukan gerakan maju mundur beberapa kali, yang awalnya perlahan, lalu semakin cepat dan beberapa menit kemudian

Ougggggh…Kakkkk Diannnn!!!” Alfi terpekik nikmat sambil memuncratkan spermanya di dalam rahimku.

Ada rasa hangat didalam rahimku saat ia muncrat itu. Gerakannya semakin melemah lalu ambruk di dadaku. Kemaluannya sudah kembali keukuran semula dan terlepas dari kelaminku, aku lalu mendorongnya ke sampingku. Ia pun rebah di sana. Kini aku berusaha bangun dari rebahan. Aku merasakan rasa sakit dan nyeri di selangkanganku.Benar yang dikatakan temanku bahwa jika telah diperawani untuk pertama kali, akan susah berjalan, aku hanya bisa duduk. Rasa nyeri mendera liang kelaminku. Saat itu aku melihat lelehan darah segar di pahaku, juga di sprey yang kusut itu.Kesedihan amat mendera sanubariku yang paling dalam.Aku menyesalinya kenapa aku menyerahkan diri pada lelaki lain dan bukan pada suamiku kelak.Aku juga menyesali ketidak mampuan diriku menahan rangsangan-rangsangan yang diberikan Alfi padaku.Aku sungguh merasa bersalah, ini bukanlah semata mata kesalahan Alfi. Aku juga andil menyebabkan dia mengambil apa yang bukan haknya. Dalam kesedihanku setelah berhasil di renggutnya kehormatanku oleh Alfi. Aku hanya duduk terdiam di sandaran ranjangku. Dimataku masih ada jejak jejak tangis. Tubuh telanjangku aku tutup dengan selimut tebal. Selain kesadaranku sudah pulih ditambah hawa dingin yang masih terasa.



Aku lihat di sampingku tergolek tubuh hitamnya. Alfi yang baru saja merenggut kehormatanku. Ia terlihat sangat nyenyak, juga di wajahnya tersirat kepuasan. Di dalam hatiku aku serasa ingin marah dan mengusirnya yang masih tidur di ranjangku.Aku pandangi wajah bocahnya. Mulai dari kepalanya, hingga perutnya yang hitam juga benda panjang yang baru saja mengaduk aduk kewanitaanku. Dia masih terlelap dan saat itu tubuhnya hanya tidak tertutup apapun juga.Aku heran dia tidak merasakan dingin, sedangkan aku hampir saja menggigil. Aku berusaha untuk tidur, namun rasa nyeri dan agak linu di kemaluanku membuatku susah untuk memicingkan mata. Di saat aku berusaha untuk memicingkan mata Alfi terbangun. Ia lalu membelai bahuku dan menghembuskan nafasnya yang hangat.Aku sadar ia sepertinya ingin merangsangku kembali. Namun perbuatannya itu aku biarkan saja tanpa menggubrisnya. Ia semakin meningkatkan rabaanya di bahu dan payudaraku. Aku merinding saat itu, dan berusaha menghalangi dia mencium tengkukku. Usahaku tidak berhasil, malah dia yang semakin berusaha membalikan wajahku untuk berbalik ke arah wajahnya.Dalam keadaan itu akupun terpaksa menghadap wajahnya. Lalu ia raih daguku dan ops…bibirku langsung disergap dengan ciuman. Tangannya tak tinggal diam, meremas dan membelai buah dadaku. Aku semakin merintih menahan rasa geli dan hangatnya belaian tangan kecilnya. Lalu tangan kirinya turun ke bawah, kearah liang kewanitaanku. Membelai belai klitorisku lalu dengan jarinya tengahnya ia merogoh bagian dalam liang kewanitaanku yang kini sudah tidak perawan lagi. Aku semakin tak kuasa menahan setiap gerakan jarinya. Aku sudah mulai terbakar birahi lagi. Mukaku kembali memerah dan keringat ku kembali timbul, karena aku merasakan tubuhku tidak dingin, kini sudah panas karena birahi. Alfi beranjak bangun sambil menyingkirkan selimut yang menutupi kami saat itu.Kini tubuhku dan Alfi sudah sama terbuka. Ia berusaha membuka kedua pahaku kembali dan memposisikan tubuhnya tepat diantara pahaku.Aku tahu ia kembali ingin menghabiskan malam itu denganku dengan melakukan hubungan badan kembali. Dan sepertinya iapun tahu jika aku sudah siap untuk disenggamainya lagi.



Aku kini sudah merasakan tidak ada lagi yang akan aku pertahankan dan semua sudah terlanjur basah. Kini aku cenderung menurut apa yang akan ia lakukan. Malah kini aku membantunya dengan membuka kedua pahaku lebih lebar untuk di masukinya. Kini kami sudah berhadap-hadapan, siap untuk melakukan keintiman. Bertahap dan penuh kehati-hatian Alfi mulai mengarahkan kemaluannya ke dalam vaginaku. Aku kini merasakan sensasinya amat dalam. Kini aku sudah tidak terpaksa lagi. Awalnya hanya kepala kemaluannya yang menyentuh bibir liang senggamanku, lalu berangsur semuanya.Aku kini merasakan sentuhan kemaluan Alfi masuk ke dalam liang vagina hingga menyentuh rahimku. Meski rasa perih dan nyilu masih terasa, namun aku sudah tidak memperdulikannya. Alfi bergerak maju mundur mengocok dengan teratur. Kini Ia tak tergesa-gesa seperti saat ia pertama kali menjebol kegadisanku. Kali ini begitu penuh perasaan dan kelembutan. Ketika ia terus memandangi mataku, aku jadi malu sehingga kupejamkan mataku ini. Lalu gerakannya kembali berangsur cepat dan cepat. Aku merasakan ada sesuatu yang akan meledak di dalam kewanitaanku. Aku berusaha menahan rasa itu hingga tanpa bisa aku halangi, kini malah tubuhku serasa mengejang dan otot-otot diseluruh persendianku mengeras.

“Arggggg!!!…Fiiii” pekikku nikmat

Aku mendapatkan orgasmeku,namun Alfi masih saja tetap masih dalam gerakan memompa semakin cepat. Tangannya tak tinggal diam sambil meremas kedua payudaraku. Aku semakin tak bisa mengendalikan diri lagi. Aku raih bahunya, dan aku jepitkan kedua kakiku di pinggangnya. Hingga beberapa menit kemudian tubuh Alfi langsung mengejang dan gerakannya pinggulnya seakan mendorong kemaluannya ke dalam rahimku. Ia seakan ingin memasukan kemaluannya lebih dalam lagi. Tanpa bisa aku cegah lagi, ia pun menumpahkan air spermanya dalam rahimku. Ia lalu memelukku amat erat, seakan tak mau terpisah dari tubuhku. Keadaan kami masih dalam posisi berdempetan dengan tubuhku di bawah tindihan tubuh kurusnya tanpa melepas ikatan kelamin kami. Dengan tubuh masih basah oleh keringat dan lendir sisa sisa persenggamaan, Aku pun akhirnya tertidur bersama Alfi sambil berpelukan di ranjangku.



Paginya aku terbangun dan sudah tidak melihat Alfi lagi di sampingku. Aku berusaha bangkit dari ranjang, baru saja akan menginjakkan kaki di lantai, oh…aku kembali merasakan nyilu di kemaluanku. Dengan tertatih aku berjalan keluar kamar menuju ke kamar mandi dan membersihkan tubuhku dari sisa sisa persebadanan kemarin. Semua lendir dan jejak jejak yang menempel di tubuhku aku bersihkan dengan sabun. Kemudian aku masuk kamar untuk mengambil pakaian. Kulihat Alfi sudah berada di dalam kamarku. Ia tampak baru saja mengganti kain sprey yang sudah kotor dan ternoda darah kehormatanku. Ia kemudian membawa sprey itu ke luar kamar dan merendamnya. Tidak lama kemudian ia masuk lagi ke dalam kamarku. Aku kaget dan agak kesal padanya yang seenaknya masuk kamarku dan mengecup bahuku. Ia diam dan malah memandang mataku dalam-dalam.

“kak Dian marah sama Alfi?”

“Engga.. kakak cuma sedih karena …”

“…keperawanan kakak Alfi pecahin tadi malam, ya kak..?” sambungnya

“Maafin Alfi ya kak… Alfi tidak tahan lagi sudah satu bulan Alfi ngga ngentot…begitu liat kak Dian Alfi jadi nafsu banget.”

“ka.. kamu sudahh sering melakukan ini ,fii?”

Alfi mengangguk. Sudah kuduga anak ini pasti sudah sering sekali melakukan hal ini. Hanya saja aku heran bagaimana mungkin ia leluasa berbuat itu dalam pengawasan Sandra. Sungguh teledor sahabatku itu, tanpa sepengetahuannya mungkin saja Alfi begituan dengan pembantu sebelah atau perempuan apalah, sehingga dalam usia masih dibawah umur Alfi sudah terlanjur mangenal seks bebas, pikirku.

 ”Kalau boleh kakak tahu sama siapa kamu sering melakukan itu, Fi?” Alfi nanpak terlihat ragu-ragu ketika kutanya hal itu



“Kamu sudah mengambil semua milik kakak tapi memberi tahu hal itu kamu tidak mau”

“Tapi kakak jangan bilang siapa-siapa ya..”

“Ok Kakak janji”

“Betul ya kak, Alfi takut orang lain tau, Alfi bisa celaka”ujarnya memelas.

“Bukankah sejak tadi malam kakak sudah jadi istri kamu, seorang istri khan harus menjaga rahasia suaminya ,ayo fii bilang sama kakak” rayuku sungguh aku penasaran siapa perempuan yang selama ini telah tidur dengan pejantan kecil ini.

“Alfi akan kasih tahu kakak siapa dia? …gadis itu ..Kak Sandra”

Aku kaget bukan kepalang, seakan tak percaya apa yang ku dengar dari pengakuan Alfi

“Apaaa??…Sa..Sandraaa? Kamu tidak sedang main-mainkan fii”

“Ngga kak, Alfi jujur sma kakak sebab Alfi sayang kak Dian”

“se..sejakk kapaannn Fiii?” aku tergagap

Lalu Alfi menceritakan suatu kisah yang sungguh luar biasa buat kudengar. Tak pernah terbayangkan olehku sahabatku Sandra juga telah menyerahkan kegadisannya untuk direngut Alfi yang kala itu belum genap berusia 16 th. Lebih gilanya lagi hal itu atas permintaan sang calon suaminya, Didit, dan selama satu tahun ini mereka melakukannya nyaris hampir setiap hari, malam-malam Sandra diisi dengan persetubuhan panas dengan sang Alfi si ABG ingusan ini. Didit sendiri lebih puas hanya bermasturbasi di sofa menonton persetubuhan istrinya dengan anak itu. Aku mendengarkan sambil melongo dengan takjub dan napsu birahiku naik menjalar keseluruh tubuhku sepanjang Alfi bercerita,

 ”Kakakpun kini sudah tenoda oleh ulahmu tadi malam, kamu tidak akan meninggalkan kakak kan, Fii”

“Tentu kak, Alfi cinta kak Dian, Alfi sayang kak Dian..Alfi juga mau jadi suami kak Dian kalo Alfi sudah cukup umur menikah”

“hi hi.. kecil-kecil pintar ngegombal kamu, Fii. Lantas bagaimana dengan Sandra?” godaku

“mulai sekarang Alfi akan membagi waktu buat kak Dian dan kak Sandra, Alfi sanggup kak”



Alfi menunjukan tekatnya padaku, sambil kembali mencium bibirku, aku bahkan kini membalas ciumannya dengan liar.

“kak..Boleh Alfi malakukannya lagi sama kak Dian?” bisiknya

Entah terpengaruh oleh cerita Alfi barusan atau memang aku sangat ingin Alfi melakukannya sehingga aku diam saja saat Alfi membaringkan tubuhku di ranjang. Ia lalu menciumi rambutku yang masih basah karena keramas. Iapun sedang berusaha untuk melepaskan handuk ku. Aku seakan tak berdaya, menolaknya. Dan akhirnya di pagi hari itu, kami kembali mengayuh kebersamaan ragawi bersama.Aku beberapa kali mengalami orgasme. Tubuhku seakan semakin mampu membalas perlakuannya. Kini tak ada lagi rasa sakit di kewanitaanku saat bersebadan. Aku pun sudah tak malu malu lagi memegang alat kelaminnya yang masih kokoh itu. Selama tiga hari aku tak ngantor, kubuat saja alasan sakit. Selama tiga hari itu pula aku dikekapi Alfi. Aku rela dijadikan budak nafsunya. Celana dalamku tak pernah sempat terpasang lagi. Sepanjang hari kerja kami hanyalah bersenggama, bersenggama dan bersenggama saja. Untunglah makanan selalu tersedia di lemari es Sandra sehingga aku tidak perlu keluar rumah. Tak kami sadari saat Sandra pulang. Ketika itu kami berdua sedang mengarungi puncak ombak lautan birahi, tentu saja ia memiliki kunci untuk masuk ke dalam rumahnya sendiri. Persetubuhan kami mendadak terhenti, aku terkejut melihat Sandra sudah berdiri di muka pintu kamar .Entah sudah berapa lama ia berdiri di situ melihat perbuatan kami. Bukan main malu sekali rasanya tertangkap basah dalam keadaan seperti itu. Dekapan kami terlepas dan aku mencoba meraih selimut untuk menutup tubuhku yang telanjang.  Sementara Alfi berdiri ketakutan.. kasihan anak itu hanya tertunduk tak berani menatap wajah Sandra.



“Fii sinii!!” Alfi mendekat dengan takut-takut dipanggil temanku itu

Sungguh diluar dugaan Sandra malah memagut bibir Alfi dan Alfi yang terkejut karena senang membalas menciumnya dengan liar dan akhirnya mereka saling melumat.

“Fii..kakak kangen” ujar Sandra manja

“Alfi juga kak, jangan tinggalkan Alfi lama-lama lagi ya kak”

“iya kakak janji Fii”

“Kakak ingin kamu intimi tapi sekarang kamu mandi dulu sepertinya kamu ngga mandi berhari-hari.. ya, mentang-mentang nemu perawan cantik”

Alfi nyengir lalu menghilang ke arah belakang. Kini tinggal aku berdua dengan Sandra

“Sannnd…kamu sudah pulang?” aku berusaha menyapanya meski rikuh.

Aku bertambah salah tingkah saat tiba-tiba Sandra tersenyum-senyum nakal.

“hi..hii..hiii.. Dian sayang, akhirnya kamu ketemu batunya sama Alfi”

“Maaf ya Sand… aku tak bermaksud merebut Alfi darimu…aku..”

“ngga pa pa kok aku rela berbagi sama kamu..aku sengaja pulang lebih awal karena takut Alfi direbut perempuan lain karena tak kuat menahan nafsunya. Untung Alfi menemukan kamu manis.”

“Bener kamu ngga marah Sand?”

Senyum merekah Sandra membuatku yakin akan perkataannya.

“Malah aku harus minta maaf telah mengganggu kemesraan kalian Aku suka kamu melakukannya sama Alfi ketimbang kau digituin sama cowok2 keren tapi ngga mampu ngasih kepuasan sama kamu”

“Sand..apakah aku bakalan hamil?, Alfi tak pernah sekalipun memakai kondom atau kontrasepsi  ketika berhubungan badan denganku.”

“maybe yes..maybe no..hi..hi.hi”

“Sannnd…”

“jangan kuatir Dian sayang… selama satu tahun kami tak pernah sekalipun menggunakan pengaman saat senggama namun aku tak kunjung hamil meski aku dan Alfi sangat menginginkannya dan kalau pun kamu hamil anakmu nanti biarlah aku yang mengurus”

Ujar Sandra membelai rambutku.

“Sand..”

“ya?”

“ironis sekali, dulu sewaktu smu juga saat kuliah sudah berapa cowok kita campakkan tapi kini kita berdua malah jatuh di kaki seorang anak ABG di bawah umur macam Alfi”

“Alfi memang berbeda dari anak lain seusianya. Bahkan, kalau boleh aku jujur, hanya dengan Alfi-lah, aku mendapatkan kepuasan yang sejati meski cintaku hanya buat suamiku”



Sejak saat itu, hubungan antara aku dengan Alfi tak terpisahkan lagi. Hari-hari kami diisi oleh persetubuhan-persetubuhan yang amat panas. Alfi berlaku bagai seorang suaminya yang baik, mampu mengiliri aku dan Sandra, bahkan terkadang kami lah dibuatnya kewalahan melayani libidonya yang besar. Sandra memintaku untuk tinggal bersama serumah dengan mereka dulu. Sebuah kamar baru mereka buatkan untukku, bahkan  Sandra juga tidak menghalangi apalagi melarang aku untuk berhubungan seks dengan suaminya Didiet.
#############################################

==============================
Alfi Kecilku yang Menghamiliku
==============================

Sebelum memulai kisahku, aku ingin memperkenalkan diriku dulu, namaku Nadine, umur 25 tahun, bagian marketing di sebuah perusahaan asing di Indonesia. Tubuhku termasuk tinggi, 172 cm, ditunjang dengan bentuk tubuh yang pas hasil dari menjaga tubuh secara rutin dengan senam. Rambutku panjang sedada agak bergelombang, biasa kuikat bila sedang bekerja. Hari itu aku pulang agak cepat karena ada beberapa klien yang mengubah jadwal appointmentnya, meminta pak supir untuk langsung menuju rumah sahabatku Sandra. Sesampainya di sana aku turun di depan pagar dan kupikir supirku suruh pulang siapa tahu ibuku ada keperluan dan pastinya aku tidak bakalan bisa pulang cepat. Sekian lama tak berjumpa pasti Sandra akan menahanku lama di sini. Semenjak suaminya tugas di kota G, Sandra kerap mengundang kami, hanya aku dan Dian sahabat karibnya untuk sering dimintanya ke rumahnya bahkan menginap. Dian, kutahu telah sering menginap di sini. Sedangkan aku baru kedua kali ini mendapat kesempatan datang disebabkan jauhnya tempat tinggal kami. Kerap tetangga Sandra yang rata-rata masih muda seumuran datang berkunjung ke rumahnya pada akhir minggu. Ada beberapa kawan Sandra yang kukenal yaitu Tina dan Tamara. Mereka mempunyai hobi bergosip terkadang omongan mereka menjurus ke hal-hal urusan kamar tidur kalau sudah begitu ramailah suasana. Keduanya yang kuketahui bernasib sama dengan Sandra sering ditinggal suani ke luar kota bahkan sampai berbulan-bulan. Pada satu hari saat aku pertama kali datang tanpa sengaja aku mendengar ocehan mereka saat melintas ruang tamu tempat mereka ngobrol

“Sand, apa kamu ngga kesepian tanpa suami.” (Sand yang dimaksudkan itu adalah Sandra)

“Kadang-kadang sunyi juga tapi aku sentiasa sibukan diri dengan pekerjaan. jadinya  bisa lupa jauh dari suami,” aku mendengar jawaban Sandra.

“Kalau kesepian kamu boleh ikut kami. Kami berdua sering mengadakan acara kecil secara rahasia di rumah Tamara. Kamu bisa ikut kalau mau.”ujar Tina



“Acara apaan sih?”

“itu tu, ketemu dan  kenalan dengan pejantan muda.” aku terdengar suara salah satu dan disambut tertawa cekikikan yang lain.

“Paling besar usia 16-17 an tahun loh, boleh pilih, ada Melayu, Cina, India.” ujar Tamara ngoceh tanpa malu-malu lagi.

“Betul kata Tamara. aku suka si Kikan, orangnya kurus tinggi dan barangnya besar dan panjang, bikin gua ketagihan” sahut Tina

“Kalau gua sih sukanya si Aliong, bocah Cina itu putih kulitnya dan kepala burungnya yang merah walau ukuran barangnya belum setanding dengan milik Kikan.”

“Ahh.. edan kalian berdua,” kata Sandra.

“Ngga papa dibilang edan Sand, ketimbang gua harus nahanin napsu, bisa-bisa benar-benar jadi edan“

Aku dengar riuh tertawa mereka semua bila membicarakan lelaki-lelaki muda. Aku pikir lelaki-lelaki ini pasti lelaki bayaran. Kata orang, gigolo atau brondong. Aku pernah dengar-dengar tentang aktivitas para istri kesepian yang menggunakan jasa gigolo untuk melampiaskan hasrat seks mereka.

“Sand, lu boleh cobain Aliong atau Kikan, atau juga Ipung anak India satu itu memang paling hebat. Menjerit melolong gua dibuatnya hari itu. Nikmat ngga ketolongan, gila banget deh”

“Mereka itu kan tidak disunat, apa kalian ngga jijik dan geli?” aku dengar suara Sandra bertanya. berminat jugakah Sandra, aku bertanya dalam hati.

“Kamu belum coba aja, Sand. Malah yang tak bersunat itulah yang membuat aku ketagihan.”

Aku naik ke atas karena tak kuasa mendengar cerita-cerita seks para istri kesepian itu. Biarkanlah Sandra ngalur ngidul dengan kawan-kawannya itu. Tak mungkin aku yang lajang ikut-ikutan nimbrung obrolan bersama mereka yang sudah menikah. Kesunyiaan Sandra akan terisi dengan kedatangan kawan-kawannya, dan biarkanlah mereka dengan cerita orang dewasa. Lebih baik aku menunggu mereka pulang. Siangnya aku diperkenalkan Sandra dengan Alfi, anak asuh mereka yang tadinya adalah loper koran yang sering mengantar koran ke rumah Didit. Alfi baru pulang dari sekolah. Anak itu baru berusia 16 tahunan. Aku cepat akrab dengan Alfi dan menyukainya karena tingkah lakunya yang sopan dan ramah. Sandra memang memberi kami berdua serep kunci rumahnya, ia ingin kami leluasa memakai sekaligus mengawasi rumahnya saat ia berangkat menyusul suaminya di kota G. Aku masuk ke dalam rumah dengan kunci tersebut aku ingin memberinya kejutan seperti saat-saat kami masih kuliah dulu.



Suasana rumah terasa sepi, aku melirik jam tanganku, pantas…baru pukul setengah sebelas lewat sekarang ini, masih agak pagi. Aku lalu menuju ke tingkat atas. Saat tiba di depan kamar Sandra aku terdengar suara orang bercakap mesra. Melalui pintu kamar yang sedikit terbuka sehingga aku dapat mengintip dari celah pintu ke dalam kamar Sandra. Bukan main kagetnya aku melihat pemandangan di sana. Aku melihat Sandra tidak sendirian melainkan bersama seorang pria yang tak lain adalah Alfi. Dan yang membuat aku benar-benar terperanjat bila melihat Sandra yang hanya berpakaian baju tidur tipis transparan sedang membuka kancing resleting celana Alfi. Anak itu sudah tidak berbaju. Sandra duduk di pinggir ranjang sementara anak itu berdiri di hadapannya. Apa yang sedang mereka lakukan. Apakah Sandra telah berselingkuh sepeninggal suaminya keluar kota seperti yang dilakukan oleh kedua tetangganya Tina dan Tamara? Dan yang lebih membuatku tak habis berpikir Sandra melakukannya dengan Alfi yang merupakan anak asuh mereka yang masih anak ABG. Apa yang membuat hal ini terjadi padahal usia perkawinan mereka belum genap satu tahun. Selama ini sudah tak ada rahasia diantara kami bertiga. Apabila salah satu dari kami mempunyai problem yang lain membantu mencarikan solusinya. Apakah untuk hal yang satu ini ia malu mengatakannya padaku karena menyangkut masalah tempat tidur dengan sang suami? Entahlah, yang jelas apa yang terpampang di depan mataku saat ini sungguh membuat nafasku sesak. Suatu perasaan ‘menggelitik’ mulai menerpaku…turun ke ke bawah ke antara kedua kaki ku…aku tahu kalau kemaluanku mulai melembab menyaksikan pemandangan itu. aku baru menyadari kalau celana dalamku ternyata sangat basah. Kulihat tanpa disuruh Alfi menarik lepas celana dalamnya sendiri. Sekarang ia berdiri telanjang bulat di hadapan Sandra. Sejak masih sekolah dulu memang aku sudah biasa melihat Sandra telanjang jika bersama aku dan Dian begitupun sebaliknya ketika sehabis olahraga sepulang sekolah kami bertiga selalu mandi di bareng di rumah Dian atau rumahku. Dan menjadi kebiasaan kami mandi telanjang beramai-ramai. namun kali ini cukup aneh bagiku menyaksikan seorang anak laki-laki  berbugil di hadapan sahabatku Sandra.



Nampak Sandra tersenyum melihat benda pada selangkangan anak itu …batang kemaluan Alfi! Gila…. ia memegangnya! Benda itu berwarna gelap hitam menegang keras. Kepala kemaluannya berwarna merah gelap masih ditutupi kulit kulup. Sandra nampak begitu suka melihat kemaluan Alfi yang besar dan panjang itu. Batang Alfi yang berkepala bulat besar itu terhangguk-hangguk. Kepala pelirnya yang hitam memang besar luar biasa mirip sebuah tomat berukuran sedang. Sekarang penis itu hanya beberapa inci di hadapan muka Sandra. Sandra tersenyum melihat penis Alfi yang terhangguk-hangguk di hadapannya. Ia memegang batang besar itu dan mengurutnya lembut. Kepalanya mulai kelihatan bila Sandra menolak kulit kulup ke pangkal. Kepala bulat itu licin berkilat terkena cahaya lampu. Sandra menempelkan batang hidungnya yang putih dan mancung ke kepala penis yang licin itu. Ia kemudian menarik nafas dalam-dalam menghirup bau kepala pelir Alfi. Alfi hanya tersenyum melihat Sandra menikmati aroma kepala pelirnya. Tangan kiri Sandra memegang dan mengocok pelan batang pelir Alfi. Kepala penisnya yang berwarna merah itu hanya sepertiga saja kelihatan. Aku jadi teringat obrolan  Sandra dan kawan-kawannya tempo hari kala itu ia mengatakan kalau ia merasa dia jijik dan geli dengan alat kelamin pria yang tak bersunat. Tapi sekarang dia sendiri malah membelai mesra dan sedang menghidup aroma kepala pelir yang tak bersunat. Bahkan menciuminya dengan penuh gairah. Sandra mengurut kemaluan Alfi dengan perlahan-lahan. Alfi tersenyum puas melihat Sandra mengurut kemaluannya. Tangan lembut Sandra bermain-main dengan kulit kulup. Didorong dan ditarik hingga kepala merah gelap itu terbuka dan tertutup. Lama juga Sandra bermain sorong tarik kulit kulup Alfi. Aku lihat kemaluan besar dan berkepala tomat itu makin tegang. Bagiku bentuk zakar Alfi amat hoboh, tapi Sandra melihatnya dengan penuh gairah dan bernafsu. Aku cukup banyak tahu soal anatomi alat repreduksi laki-laki dari situs-situs porno di internet saat aku iseng mengaksesnya dengan teman di kantor.



Dari dulu lagi aku rasa geli melihat batang pelir yang tak berkhitan. Kulit kulup yang menutupi kepala pelir sama sekali tidak cantik. Tapi agaknya pandangan setiap wanita berbeda. Wajah Sandra yang bersinar penuh gairah membuktikannya. Dengan nafsu yang membara dia medorong dan menarik kulup di kepala pelir. Kulit lebihan di kepala licin diremas-remas penuh nafsu. Ternyata selera Sandra sama saja dengan selera Tina dan Tammi yang menyukai zakar tak bersunat. Aku lihat Sandra tidak hanya  memberi perhatian kepada batang zakar Alfi. Biji testis yang berwarna hitam itu ikut diremas-remasnya. Penis epal yang licin dan lembab itu dicium penuh gairah oleh Sandra. Aku dapat melihat Sandra meresapi dalam-dalam aroma kepala zakar Alfi. Lama sekali Sandra mencium kepala licin dan bongkok seperti pisang tanduk itu. Telur Alfi yang berkedut dan berbulu keriting itupun dicium Sandra penuh rakus. Badan dan paha Sandra bergetar dan berombak. Terangkat-angkat badannya menikmati aroma zakar Alfi. Seterusnya Sandra menghisap-hisap kepala kemaluan Alfi dengan penuh nafsu. Terlihat lidah Sandra bermain-main di sekitar kepala zakar Alfi. Lidah Sandra yang kasar dan basah itu menari-nari di kepala licin. Kepala tomat itu menjadi sasaran belaian mulut Sandra. Bibir Sandra yang merah basah itu mencucup penuh mesra kepala hitam kemerahan milik Alfi. Kembung kedua pipi Sandra bila kepala tomat itu menhujam ke dalam mulut Sandra. sekali sekala Sandra menjilat dan mengulum batang dan bijinya. Selepas puas menghisap kepala merah milik anak asuhnya itu, Sandra berdiri. Alfi membuka satu persatu kancing baju tidur yang dipakai Sandra hingga baju itu terlepas jatuh ke lantai lalu menarik ke bawah celana dalam Sandra. Kini tiada sehelai benangpun menutupi tubuh keduanya. Sandra sememangnya tidak memakai bra hingga nampak jelas gunung kembarnya dan bukit kemaluannya yang berbulu hitam yang dipangkas rapi. Kulitnya yang putih halus masih terawat dan kemaluannya yang dirawat rapi memang cantik. Sandra berdiri tegak. Dadanya membusung, pinggangnya ramping dan pinggulnya lebar memang sempurna sebagai seorang wanita. Buah dadanya yang lumayan besar itu bulat tegang dan dengan putingnya warna merah kecoklatan mengacung tegak.



Alfi yang sedang berdiri memeluk Sandra. Pipi Sandra diciumnya dan bibirnya yang merah basah dikulumnya. Lidah Alfi yang merah menari-nari di bibir Sandra yang menggairahkan. Lidah merah itu kemudian menjulur ke dalam mulut Sandra. Sandra mengisap lidah Alfi penuh gairah. Alfi merangkul leher Sandra dan mulutnya benar-benar beradu dengan mulut Sandra. Air liur mereka saling bertukar. Sandra menelan liur Alfi sementara Alfi menelan liur Sandra penuh selera. Puas saling berkucupan, Alfi mengalihkan perhatiannya ke gunung kembar Sandra. Alfi melumat puting Sandra dan mengisapinya bagai seorang bayi kehausan. Sesekali puting sebesar chery berwarna pink itu dihisap dan digigit-gigit manja. Sandra hanya mampu mengerang. Ulah anak itu membuat badannya bergetar dan mengelinjang nikmat.

“Fiii,Gelii… kakak tidaak tahaaaan,” terdengar suara Sandra mendesah lirih.

Sandra merebahkan badannya yang sintal itu di tengah tengah kasur tidur telentang menunggu tindakan anak itu. Gunung kembar yang membusung dengan kedua puting yang tegak mengacung, sementara kedua pahanya dibuka lebar. Bulu bulu halus yang terjaga rapi menghiasi bukit kemaluan yang membengkak sungguh pemandangan yang mampu menaikan napsu pria yang memandangnya. Kulihat kepala anak itu mengambil tempat di antara paha putih Sandra. Wajahnya hanya beberapa senti dari kemaluan Sandra yang akan menjadi sasaran selanjutnya. Alfi mengusap lembut selangkangan Sandra. Jari-jarinya bermain-main di bibir vagina Sandra yang kelihatan merekah merah. Bibir kemaluan Sandra masih merapat dengan bibir dalam warna merah muda. Dengan jari tangannya Alfi berusaha mencari daging kecil yang berada di penjuru atas gua kenikmatan Sandra. Setelah ditemukannya lalu ia membenamkan mukanya ke selangkangan Sandra dan daging kecil itu dijilati dengan rakusnya.

Ouuggghh…..Fiii!!!!!!….

Slepp..slepp..cleppp…Sandra menggerang dan menggelinjang



Terlihat belahan vagina Sandra licin mengkilap di bawah sinar lampu karena cairannya mengalir deras dari kemaluannya tanpa terbendung seiring nikmat yang dirasakannya. membanjiri permukaan vaginanya itu seluruhnya menjadi sasaran mulut Alfi. Bunyi sumbang terdengar saat ia menyeruput setiap tetes cairan yang keluar tanpa sisa.

Kakiku gemetar melihat bagaimana kelakuan ABG itu terhadap sahabatku. Sebagai wanita nomal pemandangan ini telah mematik api gairah dari dalam diriku, tanpa dapat kucegah cairan keluar dari dalam selangkanganku terasa merembes membasahi celana dalamku. Dalam kamar berhawa dingin itu aku lihat manik-manik peluh di badan Sandra. Nafsu dan gairah telah membakar tubuh Sandra. Ia hanya mampu melempar kepalanya kiri kanan sambil tangannya menarik narik sprey menahan gejolak kenikmatan yang dirasainya bila lidah Alfi melingkari kelentitnya. Hingga akhirnya ia tak lagi mampu menahan kenikmatan tersebut meledak seiring pekiknya

“Fiii!!!!!!!….kakak keluarrrrrr…ouughhhhhhh!!!!!”

Sandra mengangkat pinggulnya sambil menekan kepala Alfi kuat-kuat ke selangkangannya. Baru kali ini aku melihat seorang wanita mengalami orgasme. Dampaknya yang kuat telah ikut membawa letupan-letupan kecil yang nikmat pada kemaluanku. Mendadak vaginaku berkontraksi

“Oh..uh..uhhh” aku merintih lirih

Nikmatnya bukan kepalang hingga nyaris aku mengeluarkan rintihan lebih keras. Ketika hal itu terjadi pada diriku. Kakiku tak kuat menopang tubuhku untuk berdiri aku jatuh terduduk meresapi denyutan demi denyutan pada bagian kewanitanku. Sungguh tak kumengerti kenikmatan itu datang hanya dengan menonton adengan mereka berdua tanpa melakukan keintiman. Sandra kelihatan lemah dan tubuhnya menjadi tiada daya sama sekali, namun kapala Alfi masih terjepit di antara kedua pahanya yang putih dan masih terus merangsangnya dengan remasan dan belaian di seluruh daerah sensitifnya. Mulut dan lidahnya melakukan hisapan dan jilatan liar pada kemaluan Sandra. Sementara tangannya juga meremas gundukan daging kenyal yang dibaluti kulit halus dan kencang puting kembar payudara Sandra tegak mengacung ke atas.


Sandra

Sandra

Aku rasa tenaga Sandra telah pulih semula. Matanya memberi isyarat agar Alfi menyetubuhinya. Alfi naik menindih tubuhnya, namun ia tidak segera ke sasarannya. Kedua payudara Sandra kembali dijilati dan dihisapinya mesra. Sandra hanya mengerang menahan nikmat. Sandra meronta-ronta kegelian bila puting susunya terus dihisap oleh Alfi. Terlihat cairan nikmat yang hangat makin banyak mengalir keluar membasahi bibir-bibir lembut dan paha Sandra.

“Oughhhh….Kakak sudah tak tahan, setubuhi kakak sekarang Fi!”

Tubuh Alfi makin rapat ke Sandra. Sekarang kedua paha Sandra terkangkang lebar memberi akses seluasnya hingga posisi kemaluannya terbuka siap dimasuki kemaluan anak itu. Mataku tak lepas menatap kejadian saat itu, napasku seakan tercekat di kerongkonganku. Meski aku pernah menonton film biru namun yang akan kusaksikan kali ini adalah sebuah persetubuhan secara nyata, apalagi ini bukan hanya sekedar persetubuhan normal namun ini adalah sebuah persetubuhan antara seorang wanita dewasa dengan seorang anak laki-laki di bawah umur. Kulihat Alfi memegang batang penisnya yang mengacung tegak dan mengarahkan kepala berkulupnya ke celah vagina Sandra. Diusapkannya ujung berkulup itu ke permukaan bibir vagina Sandra baru kemudian ditekannya kuat. Aku pun penasaran melihat pemandangan yang menakjubkan itu, muatkah seluruh batang kemaluan Alfi masuk ke dalam vagina Sandra yang kecil dan mungil itu? Aku dapat melihat kepala kulup tersebut mulai membelah dan menyelam ke dalam lubang vagina Sandra. Perlahan, terus melesak masuk sampai akhirnya lenyap dan terbenam seluruhnya di dalam liang rahim Sandra, saat itu tubuh Sandra benar-benar telah menyatu dengan tubuh anak itu.

“Ougghh!!!….Fiiii!!!…enak bangetttt!!!” Sandra mengerang keenakan seiring terbenamnya daging hitam berkulup Alfi ke dalam liang cintanya.



Gila!!! masuk semua pikirku, sungguh beruntung bangsat kecil ini… betapa tubuh sempurna Sandra kini sudah di nikmatinya secara utuh dan hal itu ia peroleh tanpa paksaan. Hal tabu itu betul-betul terpampang di hadapanku. Sandra sahabatku yang cantik saat ini merintih dalam tindihan seorang ABG. Awalnya aku tak menyangka anak seusia Alfi mampu menyetubuhi seorang gadis dewasa dugaanku selama ini ternyata meleset . Alfi  begitu penuh cinta dan gairah untuk sebuah persetubuhan. Kini ia menggerakkan penisnya maju mundur sementara mulutnya terus melumat puting susu Sandra dan menghisapinya secara bergantian. Kedua paha Sandra yang putih mulus itu menjepit pinggangnya Sandra tersenyum kepada Alfi seolah-olah memuji kejantanan Alfi. Kurang lebih 10 minit Alfi bergerak maju mundur hingga Sandra kembali menjerit tertahan.

Arggggggg!!!..Fiiiiiiii!!! Kkaakaakkkkk..kaluuu..arrrrrr!!!

aku rasa Sandra telah mengalami orgasme lagi. Orgasme yang begitu kuat sampai-sampai ia harus mencengram seprey sedemikian kerasnya hingga nyaris robek tertarik. Alfi masih rajin mengocok dengan kuat. penisnyanya dengan cepat kelihatan keluar masuk lubang vagina Sandra. Hingga satu saat kelihatan badan Alfi menggigil dan pahanya bergetar.

“Ka..kak manisss…Alfi dapetttt..kakk.sekaranggg…Oughhhh!!” kulihat anak itu mengenjan sambil menekan dalam-dalam kemaluannya hingga bongkahan pantatnya terlihat kempot

Aku kembali kaget ketika itu Alfi tidak mencabut penisnya saat berejakulasi. ia melepaskan air maninya di dalam kemaluan Sandra! Sa..sa…Sandra membiarkan anak itu berejakulasi di dalam liang senggamanya. Apakah ia tidak takut benih anak itu membuahinya atau Sandra sedang tidak dalam keadaan subur. Jika tidak alangkah cerobohnya sahabatku ini. Setidaknya ia bisa memerintahkan anak itu memakai kondom! Aku dapat melihat mata Sandra yang tadinya terpejam tiba-tiba terbeliak menerima pancutan kuat dan hangat menerpa pangkal rahimnya.

“Ohhh..Alfi sayang….. kamu.. dapettt..”



Berkali-kali Alfi memancutkan benihnya memenuhi cekungan liang senggama Sandra. Ia membiarkan zakarnya tertancap dalam kemaluan Sandra beberapa saat ketika meresapi sisa orgasme hingga tuntas. Sesaat kemudian Alfi menarik lepas batang penis yang berselimut berlendir dan kelihatan kulit kulupnya mengecut. Seketika itu juga kulihat dengan jelas cairan putih dan kental yang tentunya benih anak itu mengalir keluar dari bibir vagina Sandra.

“Begitu banyak…Sandra..Sandra.. bagaimana jika kamu hamil?” kataku dalam hati saking menghayatinya adegan itu

Aku lihat daging itu Alfi masih sangat keras. Kepala bulatnya bersinar dengan limpahan spermanya yang masih keluar.

“Oouuuuuhh.. Fii masukin lagiiiii, sayang!!” rengek Sandra mengemis agar Alfi menghujam dirinya lagi. Aku ingat saat bercanda dengan Tamara dan Tina tempo hari. Sandra mengatakan kalau dia geli dengan pelir tak disunat. Namun Sekarang ia malah ingin segera pelir berkulup Alfi mengaduk-aduk lubang kemaluannya. Tiada sedikitpun adengan persetubuhan tersebut yang terlewat olehku. Cairan lendirku sendiri semakin banyak yang keluar. Terasa celana dalamku telah basah di bagian kemaluanku. Aku begitu terangsang melihat adegan mereka barusan.

“Kak, Alfi ngentot kakak lagi.”

Sandra hanya tersenyum seperti memberi izin Alfi melakukan pencabulan terhadap dirinya. Sandra tak henti-henti memandang daging kenikmatan Alfi yang sedang menuju ke arah kemaluannya yang sudah dibanjiri oleh lendir pelincin yang banyak. Dan .. tiba-tiba kepala Sandra terangkat sedikit diikuti oleh punggungnya juga terangkat.

“Auu.. aahh.. mmmmmm.” aku mendengar jeritan dan erangan dari mulutnya ketika kepala bulat licin itu memasuki kembali separuh ke dalam lubang kemaluannya. Bibir vagina Sandra seperti ikut masuk ke dalam bila kepala besar itu mulai menyelam. Kontras sekali warna pelir Alfi dengan warna vagina Sandra. Batang bulat hitam berurat terbenam dalam lubang merah di celah paha Sandra yang putih mulus.



Mata Sandra terbeliak menerima batang hitam tak bersunat yang berbentuk helm itu. Secara terus menerus mengaduk aduk bagian dalam kewanitaannya. Kemaluan Sandra mengepit kuat batang Alfi. Sandra sedang sepuas-puasnya menikmati batang Alfi yang panjang dan besar itu, ia menjerit penuh nikmat tiap kali Alfi menarik dan menolak batangnya keluar masuk. Beberapa menit kemudian aku lihat Sandra sekali lagi sedang dilanda kenikmatan.

“Fiii kamu besar bagettttt.ouuhhhhg” Sandra seperti meracau, meminta dengan suara erangan nikmat.

“Fiiii tahannn di dalemmm… kakak… keluarrr…Oughhhhh!!!!…mmmmmmmgggh,”

Alfi menekan penisnya sedalam ia mampu dan menahannya disitu bersamaan dengan tubuh sintal Sandra mengejang dan sampai pada puncak kenikmatan untuk kali yang kesekian. Kali ini kenikmatan itu berlangsung lama sekali. Mungkin Sandra benar-benar puas bila batang kemaluan anak asuhnya yang besar dan panjang itu penuh memadati seluruh dinding lubang kemaluannya. Persetubuhan itu berjalan lagi. Aku dapat melihat dengan jelas batang hitam keluar masuk dalam vagina Sandra yang berwarna merah muda. Kontras sekali kulit Alfi yang gelap dengan kulit Sandra yang putih. Batang hitam tersebut terlihat berlendiran dan di selaputi buih putih. Tedengar bunyi aneh bila Alfi melajukan tikamannya. Bulu-bulu dipangkal kemaluan Alfi mengusap-usap bibir kemaluan Sandra yang lembut. Pinggul Sandra terlonjak-lonjak mengikuti irama entotan Alfi dan kepalanya terlempar kiri kanan kerena sengatan kenikmatan. Paha Sandra bergetar dan kakinya menendang-nendang udara. Pahanya yang mulus itu mangepit rapat pinggang Alfi. Berkali kali Alfi menghantarkan Sandra ke puncak kepuasan sebagai wanita dewasa di atas ranjang Sandra dan suaminya. Selain diriku hanya cahaya temaram lampu dan deritan ranjang yang menjadi saksi pergumulan dua insan yang tak lama lagi akan mencapai klimaksnya. Di dalam kebisuan malam yang dingin dan tenang itu, hanya terdengar erangan Sandra dan lenguhan Alfi yang masih berpacu dalam birahi.



Selepas setengah jam aku lihat Alfi makin melajukan hentakannya. Selama setengah jam jugalah Sandra menjerit dan mengerang penuh nikmat. Kepala penis kepunyaan Alfi membuat Sandra menjerit histeris. Jeritan nikmat ini menyebabkan Alfi makin bergairah. Dayungan Alfi makin laju hingga badan Sandra bergoyang-goyang. Hingga akhirnya Alfi merapatkan badannya ke badan Sandra dan ditekan paling kuat dan terdengar Alfi mengerang kuat.

“Aakkkhhh… Kakkkkkk enakkkkk!!”

Dari caranya aku rasa Alfi sedang memancutkan maninya ke dalam rahim Sandra. Rahim yang merupakan hak suaminya, Didit. Mata Sandra terbeliak menerima semburan mani panas kepunyaan Alfi. Pantat Alfi menekan habis daging penisnya sedalam mungkin ke celah paling dalam vagina Sandra dan saat itu juga sekali lagi Sandra menjerit sungguh kuat.

“Oughh…Fiiii kakakkk juga kuluarrrr!!!!! Oghh…”

Aku kagum pada batang pelir Alfi yang berbentuk pelik tersebut. Benda itu mampu memberikan kenikmatan ragawi bagi Sandra hingga berulang – ulang kali. Sandra memeluk erat tubuh kecil Alfi seperti tidak ingin melepaskannya. Sepertinya Sandra ingin batang berkepala tomat tersebut terendam selama-lamanya dalam lubang vaginanya. Sandra mau batang Alfi melekat dalam kemaluannya macam pelir anjing melekat dalam vagina anjing betina bila kawin. Sandra seperti ingin memerah habis hingga ke titik mani Alfi yang terakhir. Gerakan Sandra kemudiannya mengendur telentang lemah dibawah dekapan tubuh Alfi sambil  tersenyum puas kepada Alfi. Tiada lagi gerakan dan suara erangan Sandra. Alfi memeluk erat tubuh Sandra. Sandra mencium pipi Alfi dengan mesra dan penuh kasih sayang. Sandra mengulum bibir tebal Alfi yang hitam itu. Kemaluan Alfi masih terendam dalam kemaluan Sandra. Alfi membiarkan saja senjatanya terendam dalam terowong nikmat Sandra. Selepas beberapa menit bila tak lagi benihnya yang keluar, Alfi menarik perlahan kemaluannya dari lubang kemaluan Sandra. Batang yang masih berlendir itu terjuntai separuh keras. Lubang vagina Sandra masih ternganga selepas Alfi mencabut keluar daging kemaluannya. Cairan putih pekat terlihat meleleh keluar dari lubang vagina Sandra membasahi sprey.





Di depan mataku sendiri aku menyaksikan seluruh perselingkuhan sahabat baikku dengan seorang bocah ABG. Memang aku benar-benar tidak menyangka Sandra telah tega menghianati Didit dengan menyerahkan tubuh dan kehormatannya sebagai isteri pada Alfi. Apakah kejantan Alfi yang telah membuat sahabatku itu rela digaulinya. Tak dapat kupungkiri Alfi meski masih di bawah umur telah membuktikan daging penis berkulup berkepala tomat digilai oleh perempuan dewasa yang tak lain adalah ibu angkatnya  sendiri Sandra. Aku menjinjit kembali menuju ke tingkat bawah. Aku putuskan untuk pulang agar mereka berdua tetap tak menyadari kedatanganku. Biarlah besok aku kembali lagi ke sini. Aku tak ingin Sandra tahu jika aku mengetahui perselingkuhannya dengan Alfi. Hati-hati aku keluar melalui pintu depan dan kembali menguncinya dan pergi mengunakan taxi. Dalam beberapa minit saja aku telah sampai di rumah tubuhku terkulai lemas Ketegangan masih cukup terasa setelah cairanku membasahi hampir seluruh celana dalamku. Aku masuk ke kamar dan tidur keletihan.



***************************

Dua hari kemudian



Aku kembali ke rumah Sandra kali ini aku tidak lagi menyelinap masuk ke dalam rumahnya secara diam-diam. Tak lama setelah kupencet bel Sandra muncul dari balik pintu menyambutku dengan kecupan hangat di pipiku.

“Nad..sayang!!!kemana saja sih kok ngga pernah kesini nengokin aku,..?” cecarnya manja. Memang di antara kami bertiga Sandra yang paling manja.

Sandra menarikku ruang keluarga lalu kami berdua duduk di sofa

“Sorry ya Sand aku sibuk sekali akhir-akhir ini, lagian aku takut nganggu rumah tangga kamu sama Didit”

“uhhh..kamu ngga tahu aku kesepian banget soalnya Didit kerap berangkat dalam waktu yang panjang”

“Bukannya Dian sering kemari, bahkan katanya di telpon dia sering kamu minta nginep nemenin kamu”

“itu dia, sebenarnya dian sudah tinggal bersamaku di sini, cuma tiga hari yang lalu ia harus berangkat ke Singapore selama tiga minggu karena ada pekerjaan kantornya, jadinya aku sendirian di rumah”

“maksudmu aku mau kamu tahan di sini selama Dian ngga ada?”

“emang iya sih tapi apa kamu tega biarin aku sendirian? Dan emang kamu ngga kangen sama aku?”

“Iya..iya tuan putri”

“Cup! Trims ya nad kamu sama Dian memang sahabatku yg paling kusayang” ujarnya kesenangan sambil mengecup pipiku.

Sejak dulu aku memang tak bisa menolak permintaan sahabatku yang satu ini. Selalu saja aku berhasil ia paksa menuruti kemanjaan-kemanjaannya. Kami bertiga begitu menyayangi satu dengan yang lain.



“Sand…pakaianmu awut-awutan gitu? Kamu baru bangun jam segini? dasar putri malas” Sandra saat itu mengenakan  gaun tidur pajang mirip kimono, mungkin karena ia banyak bergerak talinya terlepas dan jatuh ke lantai hingga gaun tidur itu tersingkap ke samping.

Sandra segera merapikan bajunya meski kejadian itu terlihat wajar dan berlangsung cepat namun aku sempat melihat bagian-bagian tubuh Sandra yang terbuka tadi. Terlihat bercak-bercak merah gigitan di seputar payudaranya yang putih bersih. Deg..hatiku kembali di jalari perasaan aneh seperti beberapa hari yang lalu. Apakah mereka baru saja melakukan hal itu lagi pikirku.

“Ada apa Nad? Kok bengong gitu?” Sandra memperhatikan kebengonganku.

Sejenak alam pikiranku masih dipengaruhi kejadian tsb hingga aku tak segera menjawab Sandra.

“ohh.. uhh..tidak a.pa apa” aku tergagap

Kebodohanku barusan  itu mengundang tanya tentu saja Sandra dapat melihat kejanggalan dari sikapku barusan . Seperti halnya diriku mengerti akan dirinya begitupun sebaliknya. Pergaulan yang demikian erat dan mendalam sudah barang tentu sulit untuk menyembunyikan rahasia diantara kami. Senyum Sandra membuatku makin salah tingkah. Hingga ia membuka kembali percakapan.

“Sini ada yang ingin aku beritahukan kekamu, Nad”

Ia menatap mataku sambil menghela napas dalam-dalam. Wajahnya tersirat kepasrahan.

“Ada apa Sand, nampaknya serius sekali?”

“Nad sayang sebenarnya sudah lama aku mempertimbangkan untuk mengatakan hal ini kapadamu, hanya saja tadinya aku masih ragu takut kalau kamu malah tidak suka dan membenciku”

Deg..hatiku berdebar apakah Sandra bermaksud membuka aib perselingkuhannya padaku.



“aku tahu hari itu kamu datang ke sini dan melihat apa yang aku lakukan dengan si Alfi”

“a..aa..pa kamu tahu Sand?” aku terkejut bagaimana mungkin ia mengetahui jika kehadiranku kala itu. Seingatku aku tak membuat mereka terganggu.

“Iya Sand, maaf saat itu aku tak sengaja memergoki kalian”

“Ngga pa pa, aku pikir suatu saat cepat atau lambat kamu akan tahu juga. Aku sempat mendengar suara langkahmu saat menaiki tangga, mungkin kamu lupa tangga rumahku terbuat dari kayu”

“Jadi kamu sengaja membiarkan aku menyaksikan semua. Kenapa kamu tak cegah aku saat itu? Apa kamu ngga kuatir aku mengatakannya pada Didit?”

“Aku percaya kamu tak akan melakukan hal itu apa lagi terhadap aku. Aku tahu kamu menyayangi aku seperti halnya diriku terhadap dirimu.”

“Tentu saja Sand kamu tahu itu”

“Untuk itulah aku ingin mengatakan semuanya sekarang kepadamu”

Sandra lalu menceritakan suatu kisah yang sungguh luar biasa buat kudengar. Tak pernah terbayangkan olehku sahabatku Sandra telah menyerahkan kegadisannya untuk direngut Alfi yang kala itu belum genap berusia 17 tahun. Lebih gilanya lagi hal itu dilakukan atas permintaan sang calon suaminya, Didit.  Bahkan hal itu berlangsung di hadapannya!

Jadi meleset dugaanku selama ini, Sandra ternyata tidaklah menghianati cinta Didit. Malahan Alfi merupakan penentu utuhnya rumah tangga mereka. Sebab Didit kerap harus meninggalkan Sandra  demi kariernya. Dengan adanya Alfi memungkinan Sandra tidak berpikir berselingkuh dengan pria lain. Anak itu sungguh perkasa Sandra tidak harus kehilangan akan nafkah batin dari Didit. Malam-malam Sandra selalu diisi dengan persetubuhan panas dengan sang Alfi kecil. Kondisi ini mereka lakukan nyaris hampir setiap hari sejak mereka menikah. Sedangkan Didit ketimbang bersetubuh langsung dengan Sandra istrinya, ternyata ia mencapai kepuasan lebih dasyat hanya bermasturbasi di sofa menonton persetubuhan istrinya dengan anak itu.



Aku mendengarkan sambil melongo dengan takjub dan sulit dipercaya apabila aku tak mendengarkan langsung dari mulut Sandra. Birahiku menjalar naik keseluruh tubuhku sepanjang mendengarkan ceritanya

“bener-benar tak pernah kusangka apa yang terjadi pada rumah tanggamu Sand. Anak itu bahkan yang merengut kegadisanmu bukan Didit, sungguh aneh Sand jika suamimu tidak sampai cemburu” ujarku masih termagu-magu

“Bukan hanya aku saja yang sudah ia perawani”

“Emang ada gadis lain? Ten..tentunya kamu tidak bermaksud mengatakan ….” aku tak dapat menyelesaikan kalimatku. Tidak mungkin… mustahil…. Dian!

“iya si Dian, Nadine sayang, malah Dian sendiri yang mau suka rela diperawani Alfi.”

Ternyata penis berkulup itu sudah menambah satu korban lagi dan lagi-lagi korbannya juga sahabat baikku. Begitu banyak kejadian yang tak ku duga selama ini Dian aku tahu sekali sifatnya ia yang paling sering mencampakan pria, jika ada cowo yang berani menyentuhnya walau itu hanya merangkul pasti akan didepaknya jadi jangan harap bisa berhasil mendapatkan cintanya. Ia mengenal hubungan seks untuk pertama kali dari Alfi  . Awalnya hanya melihat anak itu masturbasi malah keterusan. Sejak Alfi berhasil merengut keperawanan Sandra dan Dian, keduanya menjadi begitu tergila-gila bahkan ketagihan berhubungan seks dengan Alfi. Anak itupun demikian, ia tak pernah seharipun melewati hari-harinya tanpa ngentot kedua sahabatku yang cantik itu. Semakin lama hubungan batin yang aneh diantara mereka bertiga semakin kuat dan tak terpisahkan lagi.

“Alfi itu begitu jantan meski ia masih di bawah umur, kemampuannya di atas ranjang melebihi pria dewasa sekalipun.” ujar Sandra memuji anak itu

Aku hanya termagu mendengar cerita Sandra. Ini bukanlah hanya angan-angan seorang istri yang kesepian namun hal ini sebuah realita yang sudah terjadi meski terdengar sangat aneh.



“Apa kalian tidak takut atau jangan-jangan sudah pernah hamil,”

“aku malah berharap Alfi bisa membuahi rahimku begitu juga dengan Dian, namun sampai saat ini tak satupun dari kami berdua berhasil ia buahi. Sebetulnya aneh juga padahal kami sudah berhubungan ratusan kali selama enam bulan ini dan kami tak pernah mempergunakan kondom atau pengaman lainnya”

Geli juga aku membayangkan kehamilan mereka diperoleh dari seorang ABG kurus seperti Alfi. Kupikir benih anak seusia Alfi belumlah matang betul untuk membuat kehamilan pada seorang wanita dewasa. Kalaupun itu terjadi itu merupakan satu kebetulan.

“Nad..”

Suara Sandra memecah keheningan barusan

“Ya..”

“Alfi bilang ia menginginkan kamu Nad”

Aku kaget sekali mendengar ucapan Sandra

“maksuddd..mu ….anak itu mempunyai…. hasrat padaku?”

Sandra mengangguk

“Kupikir kamu juga menginginkan anak itu gituin kamu kan?”

“Ng…gak lah”

“ngaku saja ..aku yakin kamu mau kan?”

“Ngaco akh”

“Lihat ni kalau kau tak percaya,” Sandra menyerahkan satu benda kepadaku.

Aku meneliti benda yang diserahkan Alfi. Itu celana dalam wanita. Aku terkejut begitu mengenali celana dalam satin lembut warna krem itu adalah milikku.

“Itu milikku Sand”

“kutemukan di bawah bantalnya pagi ini”

“Untuk apa anak itu menyimpan celana dalam kotorku?”

“Biasanya ia bermasturbasi sambil membayangkan sedang bersetubuh dengan pemilik celana dalam tersebut.” jelas Sandra lagi



Aku agak jengah mendengar penuturan Sandra yang demikian vulgar.

“Tapi aku tetap ngga mau begituan sama anak bau kencur gitu Sand,” akal sehatku masih berusaha bertahan meski desakan didalam dadaku menggelora ditambah lagi bagian kewanitaanku berdenyut-denyut simultan tak kumengerti.

“Terserah kamu kalau tak mau. Tapi kalaupun kamu melakukannya kamu tak akan menyesal lo.” tambah Sandra sambil tersenyum menggodaku, sepertinya ia tahu kegelisahanku,

“Sand…”

“Mmm?”

“Engg…”ada sesuatu pada kerongkongan yang megganjal suaraku

“Kenapa Nad?”

“Ah..ngga jadi”

“Loh.. kamu malu mengatakan padaku. Hmmm..Aku tahu kamu sebenarnya juga kepingin digituin sama dia, khan?”

“Sudah…sini ikut aku, kamu ngga boleh nolak sekarang” Sandra dengan cepat mengalahkan reaksiku sadari mengamit lenganku dan menarikku menuju kamarnya. Aku tahu apa maksud sahabatku itu.

“Aaargg Sandraaaa kamu mau apaa?”

“Aku mau kamu dikawinin si Alfi sekarang..”

“Sannnd….Argg..akuu  ngga mauuu!”

Mulutku mengatakan tidak mau namun langkahku tetap mengikuti tarikan Sandra menuju ke kamarnya. Benar saja dugaanku di dalam kamar Sandra nampak Alfi tanpa busana sedang duduk di kasur. Meski sepertinya ia terkejut namun di wajahnya terpancar kegirangan. Mungkin ia tadinya berharap Sandra masuk untuk kembali bercinta dengannya namun tak diduganya ia malah mendapatkan bonus.

“kak Sandra…..?”

“Fi ..kakak mau pergi ke mall sebentar. Kakak ingin kamu nerusin yang kita lakuin tadi pagi tapi kali ini kamu sama kak Nadine”



“Sanddd.. kamu udah gilaaa… masa aku haruss..” aku protes, spontan rasa maluku muncul

Perkataanku tak sempat selasai karena Sandra menyergap bibirku dengan ciuman panas. Aku tak sempat menghindar, ciuman itu demikian bernafsu. Lidah Sandra menerobos rongga mulutku dan menari-nari disana. Aku serasa melayang ke awan di buatnya. Belum pernah Sandra dan aku melakukan ini juga terhadap Dian. Dua menit kami bercumbu dengan panas hingga akhirnya Sandra melepaskan ciumannya. Sandra tahu aku sudah menyerah pasrah

“Kamu maukan manis?” ia kembali meminta kesediaanku secara suka rela.

“Sandd… aku masih perawan”

“Biar Alfi membuatmu tidak perawan lagi” ujarnya sambil membelai rambutku.

Aku tak dapat berkata-kata lagi sepertinya aku memang harus menuruti apa kata hatiku sendiri. Memang aku sudah terlalu terangsang akibat menonton langsung ataupun mendengarkan cerita tentang hubungan mereka. Hasrat liar dalam diriku memang menginginkannya, hanya saja tadinya aku ragu untuk melakukannya dengan anak sekecil itu. Kini keraguan itu sirna, yang tertinggal hanyalah gejolak birahi yang menggebu untuk disalurkan. Tak ada waktu untuk mencari-cari pria lain yang macho ataupun tampan, saat ini hanya ada Alfi yang sudah siap menggauli aku di ranjang Sandra. Ia mendorong tubuhku ke sofa perlahan kancing blusku di lepasinya satu demi satu hingga nampak bra yang kupakai lau rokkupun dilucutinya hingga hanya tersisa celana dalamku, lalu jemarinya memberi kode ke Alfi untuk mendekat. Anak itu melompat dari kasur ternyata Sandra sengaja tidak melepas penutup terakhir diriku ia ingin Alfi sendiri yang membuka hadiah utamanya

“Nad..aku tinggal kalian berdua ya biar kali pertama ini bisa kalian nikmati berdua saja tanpa gangguan orang lain.”

Sandra pergi setelah membuka jalan bagi aku sahabatnya untuk merasakan pula apa yang pernah ia dan Dian rasakan dulu.



Sepeninggal Sandra, Alfi mulai agresif menggauliku. Meski belum dewasa namun Alfi sangat berpengalaman ia seolah tahu apa yang aku butuhkan. Tanpa bicara ia mulai membelai belai pipiku yang halus dan memberikan hawa nafasnya ke tengkukku. Rasa geli dan hangat mulai menjalariku. Aku semakin membiarkannya melakukan itu dan suatu kesempatan dengan keberaniannya ia pun mencium bibirku. Aku terkejut dan melepaskan kulumannya pada bibirku. Kulumannya terlepas, namun anehnya aku tidak berusaha menjauh dari pelukannya. Aku kemudian melengoskan wajahku ke arah lain padahal aku melakukan itu semua adalah untuk menghindarkan kesan aku amat butuh saat itu. Tampak Alfi bukanlah bocah laki laki kemaren sore yang bisa aku bikin semaunya. Tanpa di suruh dia lalu meraih wajahku dan kembali mengulum bibirku beberapa saat.

“Sudah ahhh Fii, aku gak bisa bernafas nih” kataku berusaha melepaskan kulumannya.

Namun apalah dayaku untuk menahan setiap tindakannya. Dia lalu melepaskan kulumannya dari bibirku, namun sebelah tangannya sudah memasuki blus piyamaku. Dengan perlahan dan pasti jari-jarinya memasuki belahan dadaku dan berhenti di puting susuku. Rasa geli, juga nafsu mulai melandaku. Aku tak kuat diperlakukan begitu olehnya. Tanganku berusaha menahan gerakan jari-jarinya yang sudah berada di dalam bhku saat itu, bagaimanapun aku merasa malu. Dengan sebisaku aku berusaha menahan setiap gerakan jari-jarinya di permukaan puting susuku. sekuat aku menahannya sekuat itu pula ia berusaha memilinnya sehingga usahaku menahannya semakin melemah karena deraan nafsu yang sudah mulai mempengaruhi setiap sendi tubuhku. Diperlakukan seperti itu, aku semakin terjerat oleh percikan birahi yang di kobarkan Alfi. Perlahan dan pasti ia berhasil melepas atasan piyama tidurku dan kini hanya tinggal bh yang hanya menutupi sebagian kecil di dadaku. Aku semakin terjebak ke jurang gairah yang mulai menampakkan wujudnya. Aku pun kini seolah ikut menerima perlakuannya saat itu. Rasa hangat yang di pancarkan jari jari Alfi di permukaan kulitku sanggup membuatku merelakan dia melepas pengait bh yang aku kenakan saat itu.



Bibir anak itu mulai merayap dan menggigit kecil puting susuku secara perlahan dan mampu membuatku seolah melayang. Kulit dadaku seakan rela menerima semua perlakuannya saat itu. Berulang ulang ia ekspos kedua bukit dadaku dengan intensitas yang meninggi. Aku serasa di perlakukan utuh sebagai wanita. Dengan kedua tanganku aku raih kepala Alfi, seakan tak rela ia menyudahi tindakannya itu. Saat ini aku tak peduli lagi siapa Alfi dan apa statusnya, yang penting saat ini bagiku bagaimana dahagaku terpuaskan. Merasa aku sudah menerima semua perlakuannya, Alfi membisikkan sesuatu padaku.

“Kak…Nadin, di kasur kakak aja kita gituan ya? Alfi pengen perawani di tempat tidur seperti kak Sandra sama kak Dian”

Anak ini secara terang-terangan menyatakan hasratnya. Ia seakan yakin aku akan mau melakukan hubungan yang lebih lagi denganku malam itu. Aku juga sadar Alfi, hal ini akan terjadi juga tanpa dapat kuhindari lagi. Saat ia meminta pindah ke kamarku, aku terbayang sedikit tentang kejadian yang akan terjadi. Apalagi status ku yang masih gadis. Masih ada harapan bagiku untuk membatalkan keinginan Alfi saat itu. Akupun bangun dari rebahan di sofa berjalan ke arah kasur Sandra dan duduk di atas ranjang. Alfi saat itu menutup pintu kamar dan menguncinya. Ia lalu duduk di sampingku, diraihnya tanganku dan dibawanya ke bibirnya dan diciuminya. Melihat tingkahnya itu, aku seakan terenyuh akan sikapnya yang terlihat sabar. Aku yakin tanpa dapat kucegah pasti malam ini ia akan melakukan hal yang belum pernah aku lakukan dan ia bakal mengambil sesuatu yang berharga yang seharusnya kupersembahkan bagi pria yang bakal menjadi suamiku kelak. Aku tahu ini amat bertentangan dengan norma agama dan adat ketimuran yang kuanut, apalagi aku termasuk wanita dari keluarga yang amat menjunjung tinggi tata krama, namun saat ini seakan hilang semua. Perbuatan dan penyelewengan Sandra seakan menjerat diriku untuk melakukan perbuatan itu, meski saat itu aku menyadari tidaklah benar tindakanku saat ini. Anak itu tentu saja tak pernah menyadari perbuatannya saat itu menyalahi hukum dan amat tercela, hanya saja ia tak ingin memaksaku melakukan hal itu.



Dengan suara lirih seolah menahan sesuatu dia masih sempat bertanya padaku.

“Kakak mau..Alfi entot kan?” sambil menatap bola mataku dalam dalam.

Aku pun memandangnya dengan tatapan yang sayu seolah mengiyakan  keinginannya, namun hanya beberapa saat.Aku kembali menundukkan mukaku ada rasa malu jika aku memintanya melakukan itu. Alfi adalah anak laki laki yang terlanjur cepat mengalami kedewasaan, ia sudah amat banyak pengalaman seolah tahu apa yang harus ia perbuat. Sikap diamku saat itu seakan persetujuan untuk perbuatannya selanjutnya. Sambil meraih kedua tanganku lalu tubuhku dibawanya ke pelukannya. Kini tubuh kami amat dekat, meski saat itu kami masih mengenakan pakaian. Namun karena aku tak memakai bra saat itu, seolah mampu membuatnya semakin bernafsu padaku. Ketika aku dalam pelukannya, aku merasakan ada rasa damai dan hangat yang sudah lama tidak aku rasakan lagi. Ada rasa nyaman dalam pelukan tubuh Alfi yang kurus itu, meski aku akui ada juga takut dan sedikit keraguan aku rasakan saat itu. Namun hasrat dan gairah seolah mampu mengalahkan semua rasa yang ada dalam diriku itu. Aku semakin tenggelam dalam sosok tubuh Alfi. Masih dalam pelukan ketat Alfi, akupun kembali terpaksa menerima kuluman panasnya di bibirku. Rasa geli karena lidahnya yang menjelajah dalam rongga mulutku mampu membuatku terlena dan susah untuk bernafas. Dipancing seperti itu, aku mau tidak mau membalas kuluman Alfi, hingga membuat lidah kami seakan saling berkait dan ludah kami bercampur satu sama lainnya. Dengan lincah tangan Alfipun melepas kancing atasan piyamaku hingga terlepas ke lantai. Jari-jarinya itu pun memilin dan memutar putingku hingga aku semakin terlonjak nafsuku. Puas memainkan lidahnya di bibirku mulutnya turun melata di kulit dadaku.

“Kak, tetek kakak lebih gede dari punya kak Sandra, Alfi suka banget, mmhh!” celotehnya sambil melumat payudaraku gemas, ya di banding Sandra atau Dian, payudaraku memang yang paling besar, 34B.

Kembali aku merasakan geli yang amat sangat diperlakukan begitu. Aku hanya bisa meraih kepalanya yang saat itu berada di belahan dadaku. Kalung yang kukenakan seolah mengganggu aktifitas mulutnya di dadaku. Dengan tangan kirinya ia singkirkan kalungku kearah tengkukku lalu kembali ia menyedot bukit dadaku bergantian kiri kanan.



Berbagai rasa kembali menderaku. Aku masih meraih kepalanya seakan tak ingin cepat berlalu.aku merasakan rasa basah di organ vitalku saat itu. Selama beberapa menit Alfi menggigit gigit dadaku dengan lembut dan meninggalkan tanda kemerahan di dadaku yang putih. Aku hanya mampu memicingkan mataku dan menuruti perbuatan bocah itu. Tiba tiba ia menghentikan aktifitasnya pada dadaku. Aku pun membuka mataku ingin tahu apa yang menyebabkan ia menghentikan perbuatannya itu. Ternyata anak itu menaiki tubuhku menempatkan tubuhnya di antara ke dua pahaku, kupikir sudah saatnya ia akan melakukan eksekusi. Aku memang pernah melihat kemaluan Alfi yang aneh itu saat ia dan Sandra bersenggama tempo hari. Namun baru kali ini kulihat kedahsyatannya dari dekat. Inilah benda yang telah merengut kegadisan kedua sahabatku sekaligus memberikan kenikmatan hingga keduanya ketagihan akan seks. Dan sebentar lagi adalah giliranku, daging itu sudah sedemikian tegang siap untuk melaksanakan tugasnya, yaitu memerawaniku. Batangnya panjang dan  besar. Rasanya mungkin lebih enam inci panjangnya yang tentunya akan membuatku bakal kesakitan untuk pertama kali. Yang menjadi fokus perhatianku ialah kepala zakar Alfi karena yang tidak disunat itu. Aneh bila melihat penis anak seusia Alfi yang tak disunat. Apalagi daging kepalanya tidak muncul keluar daripada kulit kulup sungguhpun dalam keadaan tegang. Hanya sepertiga saja kepala zakarnya yang berwarna merah kelihatan bila dalam keadaan keras. Bila dia menarik kulit kulup kepala pelirnya berkilat hitam kemerahan macam yang seperti tomat itu terpacak di ujung batangnya. Kulit kulupnya seperti mencekik di bagian belakang leher takoknya. Kulit kulup yang ditarik itu berkedut-kedut macam simpul melingkari batang zakar. Bentuk kepalanya yang heboh dan aneh digilai Sandra dan Dian. Pertama kepala pelir Alfi sungguh terlalu besar. Kepala yang lebih besar itu berbanding batangnya kelihatan aneh. Kini benda itu mengacung tegak diarahkan Alfi tepat di mulut kewanitaanku.

“akh Fi…perih….akh..pelan-pelannn!!!” erang ku saat kepala penis Alfi mendesak pelan ke dalam liang vagina ku.

Anak ini sungguh tidak sabaran. Ia main eksekusi saja. Aku menahan perutnya dengan kedua telapak tanganku hingga gerakannya terhenti.



Mungkin takut aku akan mengurungkan persetubuhan kami, ia kini berlaku lebih sabar . Alfi menahan laju penisnya sejenaknya lalu dengan pelan dan lembut ia coba lagi masukan benda itu ke dalam vaginaku. Rasa perih makin menjadi dan terasa sakit meski penisnya terus maju pelan.

“Fi….akh…” pekikku, Alfi menahan lagi, mendiamkan otot vagina aku merekah dan relax supaya ngga tegang. aku memejamkan mata sambil tanganku meremas sprey menahan perih. Beberapa saat kemudian ia mulai memajukan lagi pantatnya dan mendorong penisnya lagi makin dalam dan rupanya vagina aku mulai terbiasa. Perih yang tadi aku rasakan berkurang

“Fi…sakit….” erangku tertahan.

Alfi berhenti lagi, rupaya belum setengah dari penis Alfi yang masuk, setelah diam sebentar Alfi mulai masuk lagi, kali ini perih dan sakit semakin berkurang. Ia lalu mencium bibirku memenangkanku, kubalas ciumannya dengan lembut. Begitulah ia melakukan tarik ulur hingga akhirnya ujung penisnya menumbuk dan tertahan sesuatu dalam liang senggamaku, aku tahu itu selaput daraku, lambang kesucianku sebagai seorang gadis perawan yang akan segera hilang.

“Kak Nadin.. Alfi tak kuat lagiii..” erangnya sembari memeluk pinggangku erat

Dengan sekali dorongan kuat Alfi menekan habis sisa batang kemaluannya hingga akhirnya masuk penuh ke dalam vaginaku. Aku tersentak dan sedikit menjerit merasakan ada sesuatu yang robek

“Aduhhh!!Fiiii…sakiiiit!!” aku menjerit lirih.

Nafasku tak teratur merasakan vaginaku penuh oleh batang penis Alfi. Aku tahu aku kehilangan keperawananku namun saat itu kemaluan Alfi kurasakan berdenyut-denyut lalu cretttt….creettt..creettttt! beriring setiap denyutnya sesuatu memancar deras menghantam dasar liang vaginaku.



Sungguh aneh, kegadisanku telah direngut oleh seorang ABG yang masih di bawah umur, bahkan aku tak berusaha mencegahnya. Setelah ejakulasi tadi batang penis anak ini tak kunjung mengecil, benda itu terus-terusan berdenyut dan kaku. Alfi mendiamkan beberapa saat, perih masih aku rasakan, namun perlahan rasa gatal nikmat mulai muncul dan seperti tahu akan itu Alfi mulai menggoyang dan memaju-mundurkan penisnya.

Vaginaku yang basah melicinkan gerakan masuk-keluar penisnya di vaginaku. Aku mulai merasa nikmat dengan perlakuan Alfi. aku buka mata dan melihat Alfi tersenyum. Alfi mengecup bibirku lalu bilang

“Kakak sayang vaginanya sempit banget…..kakak ngerasa kan?”

“iya Fi….” sahut ku pelan

”udah ga sakit kan kak?” tanya Alfi, aku mengangguk.

Vaginaku semakin basah oleh lendir cintaku. Pantat Alfi maju-mundur dan gerakannya penisnya meluncur lancar dalam kekesatan liang vaginaku. Aku yang mulai meregang kegelian dan nikmat semakin menikmati persetubuhan pertamaku. Bibirku mulai dan merintih keenakan, desahan-desahan mulai keluar dari mulutku. Alfilah yang kini semakin intens bergerak memberinya kenikmatan mengocok penisnya di dalam vaginaku. Ia tetap telaten meski aku mulai terbiasa, kurasakan penuh di dalam vaginaku. Gatal dan nikmat, lebih nikmat dibanding saat Alfi menjilat vaginaku tadi. Ia mencium bibir sambil meremas dadaku, kami mulai liar, goyangan Alfi mulai bisa kuimbangi. Kadang ia menggoyang keras, namun kembali lembut payudaraku bergoyang seirama dengan goyangannya.

Alfi mulai mengoceh “Kak….eeuukkk…uuh…nikmat…banget vagina……nya….eekk!”

“Fi….kakak juga….akh….oh….eeemmm…..penis……akh….aohk….” ocehku keenakan.

Bocah ini memang amat pintar mengatur tempo persenggamaan. Hujamannya amat penuh dengan ketelatenan dan pengalaman. Kuakui Alfi memang perkasa meskipun masih di bawah umur.



Pejantan kecil ini melebihi kemampuan laki laki dewasa dalam hal bersetubuh. Betapa aku sudah pernah menyaksikan ia membuat Sandra sahabatku menggelepar takluk dalam pelukannya. Dan kini aku merasakan sendiri bagaimana perkasanya anak ini dalam menaklukan perempuan di atas ranjang. Namun rasa nikmat menyengat memutus pikiranku saat itu. Hingga kenikmatan itu tak tertahankan lagi menghantarkanku kepada orgasme.

”Fi…Fi…akh….kakak…akh…ooo…eemmppppp…mau…kelu…keluar…Fi…akh!!” aku merasakan ada cairan yang menyembur deras dari dalam vaginaku.

Orgasme itu terasa begitu kuat seakan menarik lepas jiwa dari ragaku aku mendekap tubuh Alfi dengan keras sambil menutupkan mataku rapat. Aku menggigit bibir bawahku merasakan kenikmatan saat itu. Alfi tahu aku orgasme dan ia sendiri dapat merasakan cengkraman bagian kewanitaanku pada penisnya. Alfi menjerit keras dan panjang saat mencapai orgasme.

“kakkk!!..enakkk!!!!”

Anak itu membalas dekapanku sambil menghujamkan kemaluannya sedalam mungkin ke liang rahimku sambil melepaskan spermanya di dalamnya.

Crettttt!!!!…creettttt!!!! Crettttt….Crutttttt!! pancutan demi pancutan deras dan hangat menerjang bagian terdalam kemaluanku. Alfi bisa kembali orgasme setelah hampir beberapa menit menggauliku. Tiada rasa ngilu lagi. malah kurasakan amat nyaman berada di dekapan Alfi. Tubuh kecil Alfi masih berada di atas tubuhku tanpa melepaskan kemaluannya. Alfipun mencumbuku dengan mesra sambil tangannya mengelus-elus seluruh tubuhku yang halus bahu, dada, dan leherku yang jenjang yang basah oleh keringat dikecupinya dengan mesra. Tubuhku tergolek tak berdaya sesaat, mataku yang terpejam dengan penuh cinta, seraya memberikan kecupan hangat. Dibiarkannya aku menikmati sisa-sisa kenikmatan orgasme yang hebat. Juga memberi kesempatan menurunnya nafsu yang kurasakan.

“Kak Nadin maafin Alfi ya kak”

“Ngga pa pa Fi..kakak juga sudah bisa menikmati tadi.”

Aku merasakan kepuasan bersebadan dengan Alfi meski harus kehilangan kesucianku. Aku memandang wajahnya dari bawah dengan pandangkan sendu .kami sama-nama sudah letih dan kehabisan tenaga. Seiring waktu kemaluan Alfi kembali ke ukuran semula dan terlepas dari jepitan liangku. Saat itu barulah Alfi rebah tertidur sambil mendekap tubuhku. Kepalanya terkulai di dadaku



*************************

Sudah seminggu Alfi menjadi ‘suami’ku dan jujur saja aku sangat menikmati kehidupan seksku selama seminggu ini. Alfi benar-benar pemuda yang sangat perkasa, kehebatannya memuaskanku di atas ranjang membuatku betul-betul ketagihan merasakan nikmatnya sodokkan penisnya yang besar dan panjang. Ia membuatnya tergila-gila dan aku mau melakukan apa saja yang ia inginkan. Jika nafsu birahi sedang memuncak, aku tak segan-segan memintanya menyetubuhiku. Aku sudah tak perduli lagi kalau Alfi adalah anak bau kencur atau bukan. Selama seminggu ini liang vaginaku selalu disiramnya dengan sperma segar. Dan entah berapa kali aku menahan jeritan karena kenikmatan luar biasa yang ia berikan. Walaupun semalam-malaman sudah puas menjilat, menghisap, dan mencium sepasang payudaraku. Alfi selalu meremasnya lagi jika ingin berangkat sekolah saat pagi hari, katanya sich buat menambah semangat. Aku tak mau melarang karena aku juga menikmati semua perbuatannya itu, walau akibatnya aku harus merapikan bajuku lagi. Hari demi hari aku selalu melakukan itu hingga aku jarang pulang ke rumah. Mamaku tidak pernah mempermasalahkannya, sebab ia tahu aku tinggal bersama kedua sahabatku. Dua bulan berselang tamu bulananku tak kunjung datang, Sandra dan Dian membawaku ke dokter Lila, darinya ternyata aku dinyatakan positif hamil. Hal ini disambut gembira Sandra, betapa tidak, ia dan Didit, suaminya sudah berusaha agar bisa hamil oleh Alfi namun ternyata akulah yang duluan hamil walau paling terakhir ditiduri Alfi. Kini kami bersama tengah menanti kelahiran bayiku dan Alfi.
######################################

===============================
Alfi dan Bu Gurunya yang Cantik
===============================

Rok Niken terangkat sedikit di atas lutut ketika dia menyilangkan kakinya yang panjang semampai membentuk betis yang indah. Bu Niken, guru Bahasa Indonesia itu sibuk menerangkan pelajaran di depan kelas namun pikiran Alfi tak sedikitpun menyimak pelajaran. Matanya mengikuti kemanapun tubuh semampai itu bergerak. Alfi tidak punya otak yang pandai, modalnya hanyalah sperma yang terus berproduksi. Namun Alfi tidak juga dapat disalahkan, Niken memang luar biasa menarik, apa-apa yang dimilikinya sanggup membuat lelaki manapun bertekuk lutut. Ia memang primadona di sekolah itu. Tidak hanya murid laki-laki tapi para guru pun tak dapat melepas pandangannya saat melihat wanita itu. Niken berkulit putih, berwajah cantik dengan rambut hitam terurai sedada dan berumur 25 tahun. Seorang sarjana sasra lulusan dari perguruan tinggi terkemuka. Lajang yang dua bulan lagi dipersunting seorang pengusaha muda kaya. Satu jam pelajaran terasa singkat bagi Alfi.

“Uuuu… sudah bel” gerutunya

Beruntung bagi Alfi ia duduk di persis depan meja guru. Posisinya paling dekat. Matanya sesekali menatap tonjolan indah pada dada Niken. Meski menghayalkan tubuh indah sang ibu guru namun ia harus tetap berhati-hati mencuri pandang agar Niken tak curiga. Tapi penisnya terasa nyeri akibat mendesak celana seragam sempitnya. Itu memang celana pendek yang sesuai bagi anak seusia Alfi tapi tidak untuk anak itu. Benda itu tumbuh sedemikian besar setelah bertahun-tahun di pakai ngentot. Alfi juga ingat bagaimana telatennya Sriti dulu mengocok penisnya mempergunakan ramuan campuran air teh basi dan beberapa jamu-jamuan.

“Untuk apa campuran ini kak?” tanya anak itu bingung, ia sungguh tak menyukai aroma yang hinggap di hidungnya.

“Biar punya kamu tambah gede dan kamu bakal menaklukan banyak wanita kelak Fii” ujar Sriti saat itu.

Setiap pagi barangnya digodok dengan ramuan itu, Bertahun-tahun kemudian baru terlihat manfaatnya. Penisnya tidak hanya bertambah besar dan panjang, namun efek ramuan itu juga membuat otot-otot tetap kaku setelah berejakulasi.



“Uh sakit” keluhnya

Anak itu kesal, napsunya yang memuncak tak dapat ia salurkan sementara Sandra sedang ke kota G bersama suaminya Didiet. Nadine sudah dua hari ini terserang flu demam dan Dian sedang halangan. Masih terngiang ucapan Nadine pagi tadi sebelum ia berangkat ke sekolah

“maaf ya Fi, kakak belum bisa ngasih kamu pagi ini, tubuh kakak masih lemas.” ujar Nadine berusaha memberi pengertian.

“kalau kamu mau biar kakak oral, mau?” ujar Dian nampak iba

“Ngga usah kak, biar Alfi tahan”

Kedua wanita itu tersenyum geli melihat Alfi pergi ke sekolah dengan muka cemberut.

Alfi memang memiliki libido tidak normal dan nyaris tak terkendalikan, spermanya terlalu cepat berproduksi hingga testisnya bagai tak dapat menampungnya. Sandra dan kedua sahabatnya nyaris kewalahan meski Alfi mengiliri mereka bertiga setiap malamnya. Ketika pelajaran usai, Alfi seperti enggan untuk cepat pulang ke rumah. Ia tahu ke dua bidadarinya belum bisa ia jamah. Ia duduk satu persatu para siswa pergi meninggalkan sekolah semakin lama semakin sepi hingga akhirnya tinggal ia sendiri duduk sambil merenungi perjalanan hidupnya yang beruntung. Tiba-tiba matanya tertumbuk pada sosok makhluk cantik yang selama ini di pujanya. Niken baru keluar dari kantor, sepertinya ia baru selesai mengkoreksi ulangan kelas Alfi tadi dan akan pulang. Saat melangkah pada sebuah anak tangga, wanita itu tiba-tiba terhuyung jatuh. Alfi secara reflek memburu ke sana untuk membantu. Niken terpleset dan pergelangan kakinya terkilir hingga ia tak mampu berdiri

“Aduhh..duhh..” erangnya saat sakit menjalar pada bagian yang terkilir tadi.

“Bu mari Alfi bantu” ujar anak itu iba melihat gurunya yang cantik itu merintih kesakitan.

Beruntung ia belum jauh dari kantor. Alfi membantu wanita itu bangkit dan menuntunnya perlahan duduk di bangku.

“ibu tunggu disini Alfi cari air hangat buat kompres”

Belum sempat Niken mencegahnya Anak itu sudah lenyap ke balik pintu. Dua menit kemudia ia kembali dengan sebaskom air hangat dan balsam. Alfi lalu meletakan baskom berisi air hangat di lantai.

“bu masukan kaki ibu ke air nanti Alfi urut yang terkilir tadi”

Sebenarnya Niken agak jengah diperlakukan seperti itu. Namun ia menghargai usaha Alfi yang sudah bersusah payah mengobatinya. Lagian kakinya memang terasa sakit sekali.



“pelan-pelan ya Fi…” ujarnya lirih

Alfi mengurut lembut pergelangan kaki Niken. Tangannya gemetar saat bersentuhan dengan kulit halus wanita itu. Sekilas ia melirik lutut hingga ke ujung jari yang dekat sekali dengan wajahnya. Semuanya terlihat begitu indah bahkan tercium bau harum berasal dari tubuh wanita itu.

“untung tidak parah, sepertinya ibu cuma terkilir tidak sampai retak atau patah”

Pijatan Alfi membuatnya agak nyaman dan perlahan rasa sakitnya mulai reda.

“Gimana ulangan yang ibu kasih tadi, kamu bisakan?” tanya wanita itu memecah kekakuan

Anak itu hanya menggeleng

“Soalnya susah banget bu. Alfi tadi cuma bisa jawab sedikit-sedikit”

“Loh.. kamu ngga belajar semalam ya?”

“Belajar kok bu, tapi kata temen-temen yang lain soal ulangan tadi memang susah sekali”

“Uh Cape ibu ngajarin kalian, kalau begini terus ibu mau berhenti ngajar saja!”

“kalau gitu Ibu jadi foto model atau bintang film saja, ibu kan cantik”

“Idihh.. kamu kok ngomong ngelantur, kamu tahu bicaramu terdengaran ngegombal”

“Tapi Alfi bicara apa adanya, ibu memang cantik.”

“masa?”

“semua orang di sekolah juga tahu ibu cantik”

“begitu ya?”

“Betul bu, bahkan banyak pak guru yang suka sama ibu”

“Aduh.. kamu ternyata juga pintar bikin gossip. Awas loh nanti pada heboh dan ibu disalahkan!”

“abisnya ibu Niken cantik banget!”

“udah ah kamu tambah ngelantur…emmm sepertinya sakit kaki ibu sudah banyak berkurang Fii” ujar Niken sambil mengerak-gerakan pergelangan kakinya.

Niken bangkit dan mencoba untuk berjalan dan tak ia rasakan sakit itu lagi



“makasih ya Fii, pijatanmu manjur sekali”

Alfi tersenyum malu. Pujian Niken merupakan sesuatu yang luar biasa baginya

“he..he ,Iya bu Alfi juga senang sudah nolongin ibu”

 “eng… Buu!”

“Ya, ada apa Fi?”

“Engg…Besok boleh kan Alfi  ngebantu ngebawain buku-buku ibu?”

Niken tersenyum geli, secara naluriah ia tahu anak ini tertarik padanya seperti yang lain. Namun ia pikir itu adalah hal yang wajar dikerenakan pada anak usia Alfi sudah mulai tertarik dengan lawan jenisnya.

“Begitu ya… hi hi ..baiklah, sekarang ibu pulang dulu, sampai ketemu besok Alfi” Niken melambaikan tangan sambil tersenyum.

“Uhhh manisssnya”, angan Alfi melambung jauh

Alfi gembira karena hari ini ia berhasil lebih dekat dengan Niken. Pulang dari sekolah, setelah selesai mandi dan hendak berpakaian, ia menoleh ke arah tempat tidur di mana nampak Dian dan Nadine menunggu sambil tersenyum manis padanya. Keduanya dalam keadaan polos tanpa sehelai benang yang melekat pada tubuh.

“Fi..Kakak sudah selesai ‘itu’ nya dan kak Nadine juga udah baikan sore ini ” ujar Dian

“Kamu ingin siapa dulu yang menjadi istri kamu malam ini, kak Dian apa kak Nadine?”

“Dua-duanya aja… kali ini Alfi mau ngentot bertiga sama kakak berdua”

“Kok pulangnya telat, kemana aja Fii? Kamu ngga keluyuran kan?” tanya Nadine

“Alfi ikut eskul di sekolah sampai sore” jawab anak itu sekenanya

Alfi menyusul naik ke ranjang. Dian menjadi sasaran pertamanya. Vagina wanita itu masih dalam keadaan kering langsung di jebolnya. Sehingga ia terpekik

“Aduhhh Fiii!! pelan-pelan dong sayanggg..ughhh”

Lima belas kocokan cepat Alfi menghantarkan keduanya ke puncak kenikmatan. Stok sperma selama dua hari segera ia setorkan ke rahim Dian seakan ingin ia buang tanpa sisa.

“oww.. Kakakkkkk!!! Enakkkkkk!” jeritnya

“Sisain buat kakak dong Fii” ujar Nadine ketika dilihatnya pinggul Alfi berkali-kali mengenjang

Sesudah berejakulasi sekali Alfi baru bisa mengontrol dirinya. Dian baru dicumbuinya mesra. Alfi menggarap tubuh cantik Dian setengah jam lalu Nadine mendapat giliran disetubuhi kuda jantan kecil itu. Begitu secara bergiliran mereka mereguk nikmat hingga tiba waktu makan malam. Lalu setelah itu mereka lanjutkan lagi hingga larut malam.


Alfi

Alfi

*******************

Sejak kejadian tempo hari hubungan Alfi dan Niken semakin akrab. Anak itu pandai mengambil hati gurunya yang cantik itu. Tak hanya membawakan buku-buku saja, terkadang Alfi rela terlambat pulang menemani Niken menyelesaikan urusannya di sekolah. Namun sejauh ini Alfi selalu berlaku sopan. ia tak terpikir untuk berani berbuat macam-macam terhadap Niken. Niken begitu anggun bak putri dalam cerita novel yang harus diperjuangkan untuk mendapatkannya. Menjelang pernikahannya yang tak lama lagi. Masih  hal yang mengganggu pikiran Niken selama ini. Soal Perjodohannya dengan Doni telah diatur oleh kedua keluarga mereka sejak mereka kecil. Doni adalah seorang pemuda tampan, terpelajar dan memiliki masa depan yang baik. Para sahabatnya mengatakan kalau Niken beruntung mendapat suami yang sepadan seperti Doni. Niken menerima perjodohan itu. Namun kenyataan itu tak seindah apa yang tampak.

Doni ternyata adalah seorang playboy. Tak hanya sering ‘jajan’ ia juga menjalin hubungan khusus dengan beberapa wanita cantik karyawan di perusahaannya, bahkan setelah mereka resmi tunangan sekalipun Donie tak kunjung merubah kebiasaan buruknya. Niken bukannya tidak tahu akan hal itu. Ia bahkan pernah tidak sengaja memergoki Doni sedang berjalan berdua dengan seorang wanita. Kasihan Niken, kondisi ibunya yang mengindap penyakit jantung membuatnya ia tak mempunyai pilihan lain kecuali meneruskan perjodohan itu. Ia tak ingin mengecewakan harapan keluarganya terutama sang ibunda. Wanita itu hanya pasrah menerima nasibnya Selama berpacaran, memang Ia dan Doni tidak pernah sekalipun melakukan kemesraan secara fisik. Niken selalu menjaga diri dan menolak jika Doni mulai terlihat ingin menjamahnya, ia hanya akan memberikan segalanya pada Doni setelah mereka resmi menikah kelak. Selama ini ia hanya berusaha menyibukan diri pada pekejaan mengajar di sekolah Alfi. Adanya Alfi paling tidak dapat menghibur hatinya. Tawa dan canda anak mampu membuatnya tertawa serta melupakan masalah tersebut sejenak. Suatu hari setelah bel pulang berbunyi, seperti biasa Alfi pergi ke kantor untuk menengok siapa tahu Niken masih di sana. Dan ternyata harapannya benar. Wanita itu terlihat sibuk di mejanya.



“belum pulang bu?”

“Oh Alfi, belum . mungkin setengah jam lagi. masih ada ulangan temanmu yang harus ibu koreksi”

“Alfi temani ya bu?”

“Apa orang tuamu ngga marah karena kamu sering pulang terlambat karena terus menerus nemani ibu?”

“Ahh..ngga kok bu, yang penting Alfi kan ngga keluyuran ke mana-mana”

Niken tersenyum, ada perasaan nyaman setiap kali anak itu menemaninya.

“Sebentar lagi ibu selesai, kita makan sama-sama ya” Niken selalu mempersiapkan bekal dari rumah apabila ia terpaksa harus lembur seperti siang ini. Seperti hari sebelumnya ia selalu berbagi makanan siangnya dengan Alfi, ia kuatir anak itu malah masuk angin karena menemaninya.

“Alfi cuci tangan dulu ya bu, ni Alfi titip Hp ke ibu”

Alfi pergi ke arah kamar mandi

“ZZZZZ!!!!” belum lama Alfi pergi, HP tersebut bergetar lembut.

“Uhh..sebuah sms masuk” mungkin dari orang tua Alfi yang menghubungi pikir Niken.

Niken melirik benda di atas mejanya dan … Sejenak ia terpaku menatap baris-baris kalimat pada layar kecil tersebut. Berulang-ulang ia membacanya seakan tak percaya

Sebuah pesan muncul

“jam 15:00, Fii temui kakak di Mal hbs tu kita, ke tpt pertama kali kamu perawani kakak. Love Sandra”

Siapakah si Sandra ini? Tidak mungkin ini sms nyasar, wanita itu menyebut nama Alfi pada pesannya tadi. Niken cepat-cepat mengalihkan pandangannya saat didengarnya suara sepatu Alfi mendekat ke arah kantor. Ia berpura-pura sibuk dengan tugasnya meski pikirannya begitu penasaran.



Saat makan diam-diam Niken melirik wajah muridnya itu. Dipandanginya wajah ABG itu, seperti tak ada perbedaan antara anak ini dengan temannya yang lain, masih begitu polos. Apa mungkin anak bau kencur seperti itu telah berbuat yang tidak-tidak? Anak ini masih kelas satu smp paling-paling juga usianya baru 12 tahunan . Entahlah semuanya masih tidak jelas.

“Haruskah aku tanyakan langsung ke Alfi? Sebaiknya jangan sebab aku yakin ia tak akan mau menjelaskannya. Sebaiknya aku ikuti saja kemana ia pergi nanti.” itu yang tersirat di pikiran Niken.

Selesai makan Alfi baru menyadari ada pesan pada HP-nya. Niken melihat perubahan pada wajah Alfi yang nampak sumeringah. Alfi sama sekali tak menduga jika Niken sudah mengetahui pesan rahasia tersebut.

“Bu Alfi ikut ibu ya kalau ibu ngga keberatan, nanti Alfi turun di perempatan Mal GG”

“Loh.. ngga langsung pulang? Kamu hendak kemana?” Niken pura-pura

“Alfi mau nemui ibu asuh Alfi, kak Sandra. Ia baru pulang dari kota G. nanti kami ketemuan di Mal”

“A..a..pa.. ja..diii” Niken terkejut bukan main, hampir saja kelepasan begitu terkejutnya mendengar kenyataan bahwa wanita yang bernama Sandra tersebut ternyata adalah ibu asuhnya anak itu.

“Kenapa bu? Ngga pa pa kalau ibu buru-buru, nanti Alfi bisa pergi sendiri naik angkot”

Alfi mengira Niken tak bisa mengantarkannya ke mal. Niken segera menguasai diri, ia tak mau rencananya gagal. Untung Alfi tak curiga akan ketololannya tadi.

“eh..uh..bukaann begituu Fii, eng nanti ibu antar kamu ke sana, sekarang kita beresin dulu bekas kita makan barusan ya”

Tak berapa lama mereka meluncur ke arah mal GG. Niken sengaja mengantar Alfi hingga di pintu depan Mal.

“ma kasih ya bu” ujar anak itu sebelum menutup pintu mobil.

“sampai ketemu besok di sekolah Fii”



Niken memarkir mobilnya tak jauh dari tempat tersebut. Dengan sabar Ia menunggu … dan menunggu. Hingga akhirnya setelah satu jam ia melihat  Alfi keluar bersama seorang wanita dewasa seusia dengannya.

“Hm.. cantik sekalii, wanita itukah yang bernama Sandra?” gumam Niken

Mereka masuk kesebuah taxi lalu meninggalkan mal. Niken tak membuang waktu. Ia ikuti taxi  tersebut . Wanita  itu sengaja menjaga jarak mobilnya dengan taxi yang membawa Alfi. Arus kendaraan yang agak macet cukup membantu Niken untuk tidak kehilangan jejak. Perjalanan itu membawa mereka ke luar dari kota. Setelah lebih dari satu jam, Niken melihat Taxi itu berhenti di sebuah resort pantai. Nampak Alfi dan wanita yang diduga Niken adalah Sandra tersebut turun dari taxi lalu mereka berjalan kaki menelusuri pantai tersebut. Niken tak ingin Alfi mengenali mobilnya. Keadaan hari yang mulai gelap memudahkannya untuk tak dikenali. Niken melihat jam, ternyata sudah pukul 18:00. Suasana pantai yang sepi, hanya terdengar suara deburan ombak dan binatang malam yang mulai keluar. Pandangannya menangkap bayangan beberapa pasangan yang sedang asik berpelukan memadu kasih di antara pepohonan nyiur di sepanjang pantai itu. Ia sempat ragu untuk meneruskan pengintaian ini, namun ia ingin semuanya menjadi jelas apa yang terjadi pada anak itu. Maka ia terus mengikuti keduanya dari jauh. Mereka memasuki wilayah lain dari pantai itu. Ada banyak bagunan tersebar . Bangunan mirip rumah kecil berornamen khas dan sebagian besar terbuat dari bahan kayu.  antara satu bangunan dengan yang lainnya berjarak berjauhan. Niken tahu itu yang disebut Cottage. Setelah berjalan cukup jauh dari tempat mobilnya akhirnya Niken melihat keduanya memasuki salah satu Cottage yang agak jauh terpencil agak tepisah dengan cottage lainnya. Malam itu bulan tak muncul. Menunggu hingga keadaan semakin gelap lalu perlahan ia mendekat. Seberkas sinar nampak muncul dari sebuah ruangan. Cahayanya membias pada jendela kaca bertirai indah. Ada celah di antara kain tirai yang tersingkap memungkinkan ia untuk melihat ke dalam. Wanita itu nyaris terpekik menyaksikan apa yang terjadi di dalam sana. Alfi dalam keadaan telanjang bulat sedang menindih wanita cantik yang bersamanya tadi. Tubuh Sandra masih memakai lingerie hitam dan keduanya sedang menyatu dalam gairah.

Anakkk itu… ia bersetubuhh dengan ibu asuhnya… Meski ia dari awal sudah menduga-duga tetap saja ia sulit mempercayai penglihatannya.



Mendadak kedua lutut wanita itu menjadi lemas. Jantungnya berdetak keras sementara napasnya ikut memburu. Ia teringat isi sms di handphone Alfi, ia sungguh tak habis berpikir bagaimana wanita cantik seperti Sandra mau disetubuhi bahkan diperawani anak ingusan yang mempunyai bentuk fisik dan tampang jauh dari harapan para wanita itu. Adegan itu berlangsung cukup lama, semuanya kini sudah jelas bagi Niken. Entah mengapa ia belum mau pergi meninggalkan tempat itu malah terus terpaku di situ. Dari posisinya mengintip nampak jelas Kemaluan Alfi yang besar dan hitam sedang keluar masuk secara cepat di dalam vagina Sandra. Nikenpun terkejut setelah ia melihat ukuran kemaluan Alfi saat benda itu sempat tercabut keluar dari jepitan vagina Sandra.

Arkk… Gila…..besarnya…jika tak melihat sendiri rasanya sulit mempercayai anak seusia itu memiliki kemaluan seukuran itu. Benda itu terlihat seperti seekor ulat besar. Begitu besarnya sampai-sampai vagina Sandra terlihat menganga lebar. Vagina Sandra bagai ikut tertarik keluar saat anak itu menarik penisnya demikian pula sebaliknya bibir vaginanya ikut terdorong masuk saat penis Alfi mendesak masuk.

“Apakah ukuran kejantanan Alfi yang membuat Sandra tergila-gila?” pikir Niken

Beberapa saat kemudian sayup-sayup ia mendengar pekikan kedua insan berlainan jenis yang sedang diamuk nafsu birahi itu.

“Kak sandraa….Alfi keluarrrrr!!!”

“Fiii kakakkk juga ouhhhh”

Entah jijik atau bukan ia tak tahu namun di dapatinya celana dalamnya basah oleh cairan yang keluar deras dari kewanitaannya. Ada perasaan kecewa yang menghimpitnya. Ia bener-benar shock, Alfi murid yang dikenalnya selama ini ternyata tak berbeda dengan pria kebanyakan yang memandang wanita hanyalah sebagai ojek seks belaka. Bahkan ibu asuhnya sendiri ia zinahi. Niken langsung teringat akan perbuatan Doni yang selama ini selalu ‘bermain’ di belakangnya. Ketika segalanya berhenti dan keadaan kembali hening

Ia lalu berusaha bangkit dan segera meninggalkan tempat itu.



***************************



Hari-hari berikutnya telah terjadi perubahan sikap pada Niken. Niken selalu menghindari pertemuan dengan Alfi, Wanita itu selalu pulang lebih awal tak pernah lagi bisa ia temui setelah usai jam sekolah. Awalnya Alfi mengganggap Niken hanya sedang sibuk dengan tugasnya namun setelah berjalan lebih satu minggu Alfi menduga memang sedah ada yang berubah. Yang membuat hati Alfi menjadi sedih, gurunya itu bahkan tak pernah lagi ia melemparkan senyumnya pada Alfi. Untuk menanyakan langsung ia tak mempunyai cukup keberanian, terkadang ia menghayal saat-saat  kebersamaan mereka. Suatu hari ia sengaja keluar saat jam pelajaran berlangsung. Dicarinya guru cantiknya itu. Beruntung baginya Niken sedang berada di ruang guru sendirian. Matanya celingukan melihat situasi yang memang sepi tak ada orang lain di ruangan itu. Lalu meski agak takut-takut Ia putuskan juga untuk menemuinya.

“Bu..”

Niken mengangkat wajahnya saat melihat Alfi ia kembali pada kertas dan penanya

“Ya ada apa?” Alfi tak pernah mendengar Niken berbicara setegas ini, ada perasaan takut menjalari hatinya.

“Apa salah Alfi bu, kenapa ibu tidak mau Alfi temani lagi”

Niken diam tak menjawab. Alfi lemas sepertinya ia menduga apa yang menjadi penyebab perubahan sikap Niken.

“ibu …sudah tahu hubungan Alfi sama Kak Sandra?”

“Aku melihat apa yang kalian lakukan di tempat itu! Aku sungguh tak menyangka kalau dirimu mampu melakukan hal yang tabu tersebut!”

“Tapi kenapa bu? Kak Sandra dan Alfi melakukan itu karena saling suka”

“Tapi kamu belum cukup umur!” suara Niken meninggi “dan jika sampai ketahuan suami Sandra pastilah rumah tangganya akan hancur dan apa kamu pernah berpikir bagaimana perasaan suaminya!”

“Baiklah mumpung ngga ada orang biar Alfi ceritain semuanya agar ibu ngga bingung”



Alfi memutuskan untuk menceritakan segalanya, tak ada yang ia tutupi. Ia percaya dan yakin Niken bukanlah type wanita yang mau membeberkan aib orang lain. Niken tercengang mendengar penuturannya. Ia tak menduga ABGl di hadapannya ini sudah banyak mengalami peristiwa dasyat dalam hidupnya. Ada keibaan timbul dalam hatinya. Sungguh Alfi tak juga dapat disalahkan dalam hal ini.

“Ibu sudah tahu semua tentang Alfi kan” ujar Alfi setelah selasai bertutur.

Niken masih bingung harus berkata apa, rasanya sulit dicerna akal sehat bagaimana mungkin seorang suami membiarkan calon istrinya yang cantik diperawani anak seusia Alfi. Bahkan tidak hanya Sandra masih ada dua orang wanita yang sampai sekarang bergaul intim dengan Alfi

“Ada lagi yang perlu ibu ketahui”

“Apa itu Fi?”

“Sebenarnya Alfi… cinta pada bu Niken dan Alfi ingin…intimi ibu ”

“Ohh!! A..paa!!” Niken tersentak atas pengakuan jujur anak itu, ia tak menyangka kalau selama ini Alfi kecil memendam hasrat untuk melakukan hal-hal yang tabu pada dirinya.

“Plaakkk!!!!” sebuah tamparan keras mendarat di wajah Alfi. Niken baru tersadar saat dilihatnya hidung Alfi mengeluarkan darah segar.

“Ohh..Ma..afkan ibu Fii, Ibu tidak bermaksud..”

Alfi menepiskan tangan Niken yang hendak menggapainya. Wanita itu menjadi serba salah.

“Baiklah jika ibu tak sudi lagi melihat Alfi”

Alfi berlari pergi meninggalkan Niken

“Fii tunggu! biar ibu obati dulu hidungmu…”

Alfi terus berlari tanpa menoleh lagi ke belakang. Hatinya hancur karena gagal mendapatkan hati wanita pujaannya itu.



**************************



Sudah tiga hari Alfi tak ke sekolah. Guru wali kelas Alfi memberitahu hal itu pada Niken

“Tak ada berita, mungkin bu Niken tahu keadaan Alfi sebab saya lihat dia akrab dengan bu Niken”

“Emm Saya juga tidak tahu. mungkin ia sedang sakit bu”

“Ya.. baiklah kalau begitu”

Setelah seminggu Alfi tak juga kunjung masuk.  Niken jadi betul-betul prihatin dan merasa bersalah. Ia menduga pasti penyebab keabsenan Alfi adalah akibat perlakuan kasarnya saat itu. Sungguh ia pun sudah keterlaluan.  Jika dipikir-pikir memang tak ada seorangpun yang dirugikan oleh perbuatan Alfi. Wanita itu  merasakan ada yang sesuatu hilang. Tiada lagi tawa canda Alfi yang selalu menemaninya saat ia memerlukan teman berbagi. Akhirnya Niken mencoba mendatangi rumah Sandra. Ternyata wanita itu sudah berangkat lagi ke kota G. Saat itu hanya bik Nah yang ada.

“Alfi belum pulang non udah seminggu yang lalu dia pamit sama non Dian dan Nadine, katanya ada kemping dadakan dari sekolah” ujar bik Nah menjelaskan.

“kemping bik?”

“iya non emangnya ada apa non?”

“Oh ngga ada apa apa bik. Oh ya apa dia pernah telpon-telpon kemari”

“Wah selama bibik disini dia ndak pernah telpon selebihnya ndak tahu ya non soalnya bibik cuma kerja dari jam 9 sampai 12 menunggu sampai non Dian dan non Nadine pada pulang”

Niken tercenung, rasanya ia tak harus memberitahu kedua wanita Alfi tersebut. Ia akan berusaha mencarinya dulu.

“Yah sudah bik saya permisi dulu”

Tak tahu harus kemana Niken kembali ke sekolah. Namun ia belum menginformasikan keadaan Alfi ke pihak sekolah. Ia masih ingin berusaha mencari tahu keberadaan anak itu.

Seusai bel sekolah. Ia mulai melaksanakan rencananya. Niken adalah wanita yang cerdas,

Ia tahu dimana bisa menemukan Alfi, dipacunya mobilnya menuju ke sebuah tempat yang ia yakini bisa menemukan anak itu.



Hari menjelang sore ketika ia sampai di Cottage xxxxx, tempat yang menyimpan sejarah indah bagi si Alfi. Ternyata benar dugaannya. Si resepsionis menjelaskan bahwa memang ada seorang anak sedang menginap sendirian. Kebetulan tempat itu masih disewa selama satu tahun oleh orang tua anak itu. Niken mengaku sebagai tante Alfi agar orang itu mau memberinya kunci serep. Setelah memperoleh apa yang dibutuhkannya, Niken bergegas menuju tempat itu. Niken berhasil masuk, namun lampu cottage semua dalam keadaan mati, dengan hati-hati ia melangkah kuatir tersandung sesuatu dalam kegelapan kamar itu

“Fii …apakah kamu di sana?..” Niken mencoba menyapa anak itu.

Ia berusaha mencari stop kontak lampu namun terdengar suara anak itu

“bu jangan hidupkan lampunya, Alfi mohon..”.

Niken mengurungkan niatnya dan bukan main gembiranya Niken mendengar suara Alfi karena usahanya tidaklah sia-sia. Tadinya ia takut sekali anak itu sudah berbuat nekat

“Fii! Di mana kamu?”

Setelah beberapa detik matanya mulai terbiasa melihat dalam gelap. Barulah ia dapat menangkap bayangan anak itu. Alfi nampak sedang duduk di pinggir tempat tidur di dalam kamar besar. Tubuhnya tertutup oleh selimut tebal, seperti orang kedinginan. Dan memang kondisi kamar itu sangatlah dingin mungkin karena AC-nya dihidupkan selama berhari-hari. Niken mendekat, lalu ia duduk di kasur namun agak berjauhan dari Alfi

“Fii .. sukurlah ibu bisa menemukan kamu, ibu seharian mencari kamu..kenapa kamu tidak pulang-pulang dan tidak ke sekolah?”

“Kenapa ibu mencari Alfi?”

Niken merasa serba salah,

“ibu mau minta maaf atas kejadian tempo hari Fi, ibu khilap” ujar wanita itu lirih,

namun Alfi diam tak berkomentar.

“I..bu ingin mengajak kamu pulang, ibu ingin kamu kembali menjalani hari-hari kamu seperti sebelumnya”

“aiii…..” terdengar Alfi menghelah napas “Alfi ngga mau bu..”



“Loh kenapa apa mau membuat orang tuamu kuatir atau kamu masih marah sama ibu?”

“Alfi ngga pernah marah sama ibu malah Alfi kesal sama keadaan Alfi sendiri, seharusnya Alfi ngga ikut tinggal dengan kak Sandra menjalani hidup normal ditengah-tengah masyarakat, biarlah Alfi besar di tempat Alfi dulu dimana orang-orang tidak pernah mempermasalahkan hal tabu dan tidak tabu, Alfi malu terutama sama ibu…”

“Tidak Fii kamu jangan kembali ke tempat itu lagi, kamu juga ngga usah malu ibu sadar kamu tidak salah, ibu juga minta maaf sebab ibu telah lancang mencampuri kehidupan pribadimu”

“Pulang sama ibu ya Fi”

Niken berusaha mencairkan kekerasan hati anak itu, namun Alfi bersikukuh tidak mau diajak pulang. Tiba-tiba terdengar langkah menuju ke arah pintu kamar diiringi suara tawa cekikikan. Dua orang wanita cantik berbusana minim tahu-tahu menerobos masuk. Seorang berambut berwarna merah sedangkan temannya hijau. Niken dibuat terperanjat oleh kedatangan dua tamu tak diundang tersebut.

“Hi  jantan, gimana pestanya malam ini jadi ngga? Hi..hi..hi” salah seorang menyapa Alfi dengan gaya nakal tanpa menghiraukan Niken di situ.

“s..siapaa kalian masuk tanpa permisi?!” Niken terkejut melihat penampilan mereka yang tidak senonoh.

“Wow. wow… rupanya sudah ada yang lebih dulu memacu kuda tunggangan kita” ujar si rambut hijau

“ngga papa kan kita kan bisa main berempat” ujar temannya menimpali.

Niken sudah dapat menduga-duga siapa adanya kedua perempuan itu. Sehingga timbul kemarahannya

“Pergi kalian atau aku panggil satpam buat ngusir kalian!!!” bentaknya

“Loh loh di ajak enak kok malah marah-marah, ….ya udah kalau ngga mau”

“Yuk  kita pergi cari kuda jantan lain saja”

“ya cari yang ngga bawa pengasuh” Ujar si rambut merah  bernada mengejek sambil ngelonyor pergi diikuti oleh temannya.

“Awas kalian!!” kata Niken geram bukan main



Setelah kedua perempuan itu berlalu Ia bergegas mengunci pintu depan agar kejadian barusan tidak terulang lagi. Niken menatap Alfi kesal kedua tangan wanita itu berkacak di pinggang. Niken adalah wanita berperangai halus sungguh mengherankan jika emosinya begitu gampang meledak. Ada perasaan yang aneh muncul dengan sendirinya, Ia tidak suka melihat kedua perempuan tadi menyapa Alfi, mungkinkah ia dibakar api cemburu… tidak mungkin…mungkin ia hanya prihatin terhadap perjalanan nasib anak itu, begitu banyak pertanyaan yang timbul dalam benaknya namun Niken masih tak menemukan jawaban. Tanpa Niken sadari rasa simpatinya terhadap Alfi selama ini berubah menjadi kasih sayang. Secara visual Alfi tidak memiliki daya tarik fisik bagi kaum perempuan, wajah tidak bisa dikatakan tampan, tubuh kurus kering, kulit hitam, pakaian selalu lusuh namun di balik itu bola mata yang yang bening masih begitu polos penuh kejujuran. Ia mau mengakui semua perbuatannya. Sedangkan Alfi meski ia masih di bawah umur ia begitu menunjukan perhatian serta kejujuran nya pada Niken. Bahkan terkadang ia seolah ingin melindunginya. Caranya yang polos saat ia menunjukan kasih sayangnya pada Niken. Hal-hal seperti itu tak Niken temukan pada sosok Donie tunangannya. Kembali pada keadaan di kamar cottage, wajah Niken cemberut menunggu jawaban penjelasan Alfi.

“Alfi ngga pernah mengundang mereka bu, mungkin tamu lain yang salah masuk kamar soalnya Alfi lihat keduanya lagi teler” ujar anak itu.

“Betul kamu ngga pernah boking cewek selama kamu di sini?”

Alfi mengangguk

“Alfi sudah janji sama kak Sandra, kak Dian dan kak Nadin, Alfi ngga bakalan ‘jajan’, Alfi ngga mau tertular penyakit” ujarnya polos

Niken lega ia yakin Alfi tidak berbohong padanya.

“Ya sudah Fii, baiknya kita pulang sekarang..”  ujar Niken.

Ia harus bergegas membawa Alfi pulang agar tak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Mengingat mereka hanya berdua dan berada jauh dari orang lain. Siapa tahu ada orang jahat mengincar mereka.



“ibu ngga usah takut . Di sini aman kok yang tadi itu cuma kebetulan dan mereka bukan orang jahat”

“Tapi kita ngapain lama-lama di sini Fi? Ayo dong ikut ibu”

“satu minggu Alfi menunggu dan berharap ibu akan datang menemui Alfi, ternyata harapan itu sudah menjadi kenyataan, kini Alfi tak mau berpisah lagi dari ibu….Alfi sayang…..cinta sama ibu dan Alfi belum mau pulang sebelum……”

“Sebelum aapa Fii?…”

Sebelum Alfi  .. intimi ibu sama seperti Alfi mengintimi kak Sandra dulu di ranjang ini ”ujarnya sambil menatap mata Niken dalam-dalam.

Alfi mengungkapkan seluruh isi hatinya. Ia tak kuatir Niken  akan menamparnya lagi seperti tempo hari.

Deg… Anak ini…rupanya masih tak mau menyerah untuk mendapatkanku pikir Niken. Niken kaget mendengar pengakuan Alfi yang blak-blakan. Bahkan di saat-saat seperti ini anak itu masih sempat-sempatnya merayu. Tak cukupkah kehadiran Sandra dan wanita lain bagi anak itu?. bahkan Ia masih menginginkan dirinya. Ada perasaan aneh menjalarinya ketika teringat persetubuhan Alfi dan Sandra tempo hari. Dan kembali celana dalamnya membasah.

 “Ng..ga bolehh Fi, iibu masih.. suci. Lagian ibu sudah resmi bertunangan. Ibu sudah berjanji padanya untuk memberikan milik ibu kepadanya, itupun setelah kami resmi menikah, kamu mau mengerti posisi ibu kan?” ujar Niken setengah berbisik.

Ia berusaha menghindar meski ada bagian dari dirinya yang memberontak pada keimanan dan akal sehatnya. Kegelisahannya tentu saja terbaca oleh insting Alfi.

“Kalau begitu boleh kan Alfi minta yang lainnya  bu?”

“y..yangg lainnn A..paa?”

“Semuanya kecuali ‘satu itu’ boleh kan Bu?”

Belum sempat Niken menjawab, Anak itu menekan tombol lampu kap di sampingnya sehingga menerangi kamar itu. Dan saat itu Alfi membuang selimut yang menutupi tubuhnya ke lantai.

“Ohhh!!!” Niken terkejut melihat kondisi Alfi yang ternyata sudah tak dilekati sehelai benangpun.

Semua lekuk tubuh telanjangnya jelas terlihat tersorot oleh sinar lampu. Ternyata Alfi sudah bugil sejak pertama ia datang tadi. Hanya saja ia menutupinya dengan selimut ditambah dengan kondisi kamar yang begitu gelap membuat Niken tak menyadarinya.

Niken segera memalingkan wajahnyanya, tiba-tiba ia merasa jengah melihat tubuh Alfi yang telanjang. Meski Alfi masih tergolong ABG namun apa-apa yang dimilikinya sudah tumbuh sempurna. Sekejap Niken masih sempat melihat kejantanan anak itu yang besar dan hitam.



Secara fisik ia terlihat tak berbeda dengan anak lain seusianya, namun tidak demikian pada bagian vitalnya. Benda itu membesar dua kali lipat ukuran normal. Bertahun-tahun dalam pengaruh lingkungan yang buruk telah membuat ia terpaksa menjadi lelaki dewasa secara instant. Pada tubuh kecilnya itu tersimpan energi untuk menaklukan para wanita di atas ranjang. Tak terhitung berapa pelacur ia tiduri sejak umur 7 tahun hingga saat ini, bahkan saat ini ia  tidur dan tinggal satu atap dengan tiga orang wanita yang cantik bak bidadari Sandra, Dian dan Nadine. Semua wanita yang pernah bercinta dengannya berhasil di buatnya tergila-gila akan kejantanannya. Belum hilang rasa terkejutnya tahu-tahu anak itu sudah begitu dekat di hadapannya.

“Ibu cantik sekali..” ucap anak itu singkat.

“fii kamuu…ngga bolehhh…” hanya itu yang terucap

Alfi mengamati wajah cantik di hadapannya. Niken hanya diam saat Alfi menyentuh pipinya dengan jari-jemarinya. Namun ketika jemari itu bergerak menyentuh telinganya tubuhnya menggigil.

“Ahh Fiii…” Niken mendesah pelan ada perasaan yang aneh merayapi dirinya.

Kemudian Alfi menyentuh bibirnya. Tiba-tiba anak itu mencubit sedikit bagian tengah bibirnya. Saat Niken terkejut, Alfi menarik tubuhnya kedalam pelukan, sesaat kemudian bibirnya telah penuhi dengan ciuman dari anak itu. Niken berusaha menolak tubuh Alfi namun bibir anak itu melekat dengan bibirnya seakan sebuah magnet. tak ada celah yang memungkinkan udara keluar dari mulut keduanya. Lumatan bibir Alfi membawanya pada kenikmatan berciuman yang sempurna. Percuma saja mati matian ia menahan gairahnya yang menggelegak. Gairah itu kini menjalari tubuhnya dengan cepat mengatifkan seluruh syaraf-syaraf kewanitaannya. sementara insting telah mengambil alih kendali pikiran dan  mengalahkan akal sehat dan imannya. Pertahanan Niken akhirnya runtuh. Wanita memejamkan matanya menikmati itu semua, bibirnya terbuka perlahan menerima lidah Alfi yang mulai menyusup dan menjelajahi rongga mulutnya, jiwanya semakin melayang saat lidah miliknya bertemu dengan lidah Alfi dan saling membelit satu sama lain.

tak ada yang bisa  ia lakukan selain merintih mesra. Entah kenapa ia malah mau meladeni perbuatan Alfi padanya. Awalnya ia hanya pasif menerima perlakuan Alfi namun lama kelamaan gairahnya naik dan ia mulai membalas setiap hisapan anak itu.



Saat Niken sudah mulai tergoda untuk melanjutkan pada kemesraan yang lebih dalam,

selanjutnya Alfi membiarkan wanita itu mengambil alih kendali ketika gairah wanita itu mulai terpancing naik. Terkadang ia malah menggoda Niken dengan melakukan gerakan lidah rotasi atau memutar. Tekadang gerakkan lidahnya ke kiri, ke kanan, ke atas dan bawah. Sehingga Niken penasaran mengejar lidahnya. Nafas keduanya memburu. Dua menit ciuman panas itu baru terlepas napas Niken terengah-engah. Namun bibir Alfi menjelajah pada sasaran lain. Lidahnya menyapu cuping telinga wanita itu. Sesekali ia lakukan gigitan-gigitan kecil membuat Niken terpekik geli.

“Fii..kamu anak nakal!!” Wajah wanita itu merona merah. Ia tak menyangka ia meladeni ciuman Alfi barusan

Niken sadar anak itu sudah sedemikian ahli dalam soal bercumbu. Ia jadi teringat adengan Sandra dan Alfi malam itu lalu juga kisah perjalanan asmara Alfi. Semuanya membangunkan gairah wanita dewasa itu. Ini pertama kali baginya melakukan hubungan yang demikian intim dengan lawan jenisnya. Ciuman Alfi telah  kembali ke bibirnya. Pada ciuman kedua ini Niken langsung membalas pagutan Alfi seakan ia betah berlama-lama seperti itu. Ia mulailah perlahan menuju bagian tubuh sensitif lainnya. Leher jenjang Niken dikecupi. Lalu perlahan makin turun hingga pada belahan dada putih wanita itu. Niken makin melayang, antara sadar dan tidak sadar ia membiarkan Alfi melepas satu persatu kancing bajunya. Saat itu ia memakai baju terusan, dengan mudah baju itu meluncur jatuh kelantai saat semua kancingnya terlepas. Kini nampak payudara Niken yang masih terbungkus indah oleh sebuah bra berenda-renda hitam. Warna yang kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih. Namun anak itu tak mau benda itu menghalangi hasratnya, ia tahu segera melepas pengaitnya. Alfi menggigil saat ke dua daging kembar itu menyembul dari balik pembungkusnya. Kedua benda itu mengantung indah dan sempurna, kedua puting susunya bersemu kemerahan. Alfi tak mengira betapa keberuntunganya ia malam ini. Milik Niken yang selalu diidamkan setiap pria di sekolahnya kini terpampang di hadapannya. Payudara Niken belum terjamah oleh siapapun kecuali dirinya.



Niken sendiri sudah terperangkap dalam hasrat birahinya sendiri, ia tak hanya tak kuasa menolak perlakuan Alfi. Malah kini cenderung memberi peluang anak itu bertindak lebih jauh. Ia menikmati  setiap jamahan Alfi pada  tubuhnya. Matanya terpejam hanya rasa malu yang masih tersisa, selama ini belum pernah ada laki laki yang berani menjamahnya termasuk Doni tunangannya. Mereka berdua telah berkomitmen untuk tidak melakukan kemesraan dalam bentuk apapun hingga mereka menikah. Namun saat ini yang terjadi adalah ia  tak berdaya menolak seorang bocah dibawah umur tengah berusaha mencumbuinya. Perlahan cumbuan Alfi  berpindah ke dadanya yang kenyal, Alfi membuka mulutnya lebar-lebar, lalu perlahan dibenamkannya ke salah satu puting susu wanita itu lalu menghisapnya kuat. Alfi biasa mengemut dalam waktu yang lama bagai seorang bayi kehausan. Setelah puas menyusu, lidahnya menjilat ke seluruh permukaan bukit kembar itu seolah menjilat ice-cream. Kedua puting susu itu dihajar secara bergantian hingga mengacung tegak kedua-duanya.

“Oohh… oohhhh… ooohhhhhh Fiiii geliiiiiii” suara rintihan Niken tak lagi tertahan. Tubuhnya mengelinjang gelinjang karena nikmat akibat perbuatan nakal bocah itu.

Putingnya yang di’perawani’ Alfi menjadi sangat sensitif, anak ini benar-benar berpengalaman melakukannya. Alfi baru mendapatkan sebagian impiannya, ia selalu tak pernah gagal mendapatkan sisanya apabila sudah di tahap ini. Alfi kembali menetek sejak usia tujuh tahun pada banyak wanita, ia sudah tahu benar bagaimana menyenangkan seorang wanita melalui benda itu. Niken tak berbeda dengan ketiga ‘istri semu-nya’. Begitu menyukai putingnya dikerjai lama-lama. Alfi ingin meninggalkan kesan yang mendalam bagi wanita itu. Niken tak menyadari tubuhnya kini sudah terbaring diatas kasur, dadanya terlihat naik turun mengiringi nafasnya yang mulai tak beraturan. Sejak tadi celana wanita itu sudah terasa sangat basah oleh cairan bening yang terus menerus mengalir keluar dari kemaluannya. Sambil terus menyusu tangan Alfi mulai mengelus-elus permukaan perut Niken yang rata. Jemarinya bermain disekitar pusar wanita itu. lambat laun bergerak menjelajah  semakin ke bawah meraba bagian dalam paha.

perlahan menelusup ke pangkal paha, dan mulai mengelus gundukan bukit kemaluan Niken yang masih tertutup celana dalam renda-renda hitam. Lalu jemarinya menemukan gundukan itu sudah basah dengan sebuah garis membelah tercetak pada permukaan kain itu



Tangan Alfi meremas lembut gundukan itu dan menggunakan jari tengahnya mengusap belahan tipis tersebut, perlahan ke atas dan kebawah. Niken menggigil rangsangan yang tiada henti silih berganti. Hingga akhirnya jemari alfi bergerak ke samping. Jemari Niken berusaha mempertahankan penutup tubuhnya yang terakhir ketika ia rasakan Alfi perlahan berusaha  menariknya ke bawah.

“Ohhh!! Fiii.. jangannn yang ituuu … …” ujar wanita itu lirih

Alfi melepaskan cumbuannya pada dada Niken, berangsur kecupan-kecupannya turun semakin ke bawah. Lalu ia sampai pada tempat yang paling diinginkannya. Percuma saja ia berusaha merapatkan kedua kakinya. Kepala Alfi sudah terlebih dulu masuk di antaranya. Alfi berhasil membenamkan wajahnya pada selangkangannya. Walau masih tertutup oleh celana dalam, lidahnya menjilati seluruh permukaan kain lembut itu.  Gundukan itu semakin basah oleh air liur Alfi  terutama pada belahannya. Jemarinya tak kuasa lagi mempertahankan celana dalamnya ketika untuk kedua kalinya Alfi menariknya.

benda itu akhirnya menyusul lepas sehingga kini tubuhnya yang indah sudah tak tertutup selembar benangpun. Meski sudah sering menggauli wanita cantik, Alfi tetap saja terpana oleh kemolekan tubuh Niken, gurunya yang cantik yang selama ini selalu ia dambakan termasuk setiap lelaki di sekolahnya. Alfi menyimpan perasaan yang berbeda terhadap Niken. Cinta telah berangsur tumbuh dalam hati bocah cilik ini lebih dari dalam dari cintanya pada wanita-wanita lain yang pernah ia kencani sebelumnya.

“B..buuu…ibuuu..cantikkk sekalii….” Bisiknya lirih namun terdengar oleh Niken

“Fiii..kamu liat apaaa?…..aaa”

Dengan ke dua telapak tangannya Niken secara spontan menutup selangkangannya karena malu. Wajah anak itu hanya beberapa mili dari miliknya yang paling pribadi. Alfi mengecupi kedua paha berkulit halus terawat pelan-pelan hingga ke sekitar selangkangan termasuk jemari lentik Niken. Tak ada bagian tubuh wanita itu yang tidak indah, semuanya sempurna. Lama Alfi bermain di situ, perlahan jemarinya membuka dengan sendirinya. Niken hanya terlentang pasrah. Semuanya sudah terlanjur sulit untuk dihentikan lagi. Kini tak ada penghalang lagi bagi mulut dan lidah Alfi untuk mengeksplorasi bagian paling intim milik gurunya yang cantik itu. Harum khas bagian itu menggelitik seluruh syaraf kejantannya.



“Ohhh…” desah Niken saat Alfi mengecup lembut belahan bibir kewanitaannya.

Alfi mengecup lagi.. dua kali…tiga kali..lidahnya disapukan dari dari bawah hingga ke atas. Crass..crasss..cairan memancar meleleh keluar dari belahan cantik itu. Dengan penuh ketelatenan dia melahap dan menghisap tiap mili vagina Niken yang sudah basah itu, lidahnya dengan liar menjilati dinding vagina dan sesekali sapuannya menyentuh klitoris. Bocah itu mengerahkan seluruh kepandaian yang ia punyai, ia ingin memberikan yang terbaik bagi pujaan hatinya itu. Alfi tahu klitoris adalah bagian genitalia wanita yang paling sensitif, melebihi vagina. Berkat pengalaman lidahnya segera menemukan letak benda mungil tersebut. Jilatan lidahnya segera ia pusatkan ke situ, ia memulai menjilat dengan lembut. Secara perlahan-lahan sekali, lalu gerakan lidahnya  dipercepat dan tekanannya makin kuat. Kelincahan lidahnya bergerak memberikan sensasi luar biasa bagi Niken. Sesekali Alfi menggunakan bibirnya untuk menghisap benda mungil itu  seakan-akan ia berciuman dengan vagina Niken. dan secara bersamaan lidahnya menggelitik klitorisnya yang berada di tengah dengan gerakan lidah. Perlahan, kuluman dan jilatan pada benda mungil nan cantik itu membuatnya mengeras bak sebuah kacang. Niken terpekik pekik-pekik kecil dibuatnya. Rasa geli dan sengatan birahi membuat Niken semakin tak mampu menahan laju gairah Alfi. Kedua paha mulusnya mengepit kepala Alfi. Anak ini benar benar sudah sangat berpengalaman. Perlakuannya sungguh membuat Niken serasa terbang, tubuhnya menggelinjang-gelinjang geli diiringi erangan nikmat. Sampai akhirnya sebuah orgasme  datang menyapanya untuk pertama kali dalam kehidupan wanita itu.

“Auuuwwwwwww!!!!…Fiiiiiiiiii!!!!!!!!” Wanita cantik itu terpekik tak kuasa menahan rasa geli dan nikmat

Otot-otot vaginanya mengejang dahsyat, berkontraksi kuat dan berirama, cairan cintanya memancar lebih banyak lagi hingga tumpah di sprey putih.

“Inikah yang disebut orgasme? Begitu dasyat kenikmatan yang kurasakan. Tapi aku memperoleh orgasme pertamaku dari jilatan-jilatan lidah seorang anak kecil di bawah umur …muridku sendiri” pikir Niken.



Niken rasakan sekujur tubuhnya menggigil. Kesadaran wanita itu sejenak hilang, pandangannya nanar, serasa jiwanya melayang tinggi, raganya serasa terendam ke dalam samudera kenikmatan ragawi yang tak bertepi. Secercah cahaya putih yang berpendar di matanya lalu menjadi kabur. Entah berapa lama ia tak sadar. Lalu perlahan-lahan bisa ia rasakan kesadarannya berangsur pulih. Masih ia rasakan lidah anak itu menyapu  dan menjalari seluruh relung vaginanya, menghisap habis tiap tetes cairan cintanya tanpa sisa. Sesaat kemudian Niken baru menyadari bahwa Alfi telah mengambil posisi menindihnya, dan tubuh anak itu di antara kedua kakinya. Kedua paha putihnya masih terpentang lebar telah memberi jalan bagi Alfi.

“Alfi… kamu mau apaaa?..”

“Ibu pernah petting ngga?” bisik Alfi

Niken menggeleng, ia sungguh tak mengenal istilah tersebut meski ia seorang guru bahasa Indonesia.

“Kita cobain yuk”

Niken terkejut saat Alfi mengarahkan penisnya ke arah vaginanya.

“Fii..jangan….ibu ngga mauu”

“ngga pa pa… Alfi cuma mau masukin kepalanya aja trus Alfi cabut lagi” Alfi mengosokan ujung penis ke atas dan kebawah pada bibir vagina Niken

“ja..ngannn Fiiiii ..ohhhhh”

Alfi dalam posisi yang tepat sehingga Niken tak kuasa mencegahnya.

Leppp!!! Ujung kulup Alfi yang mbdol besar itu lenyap juga membelah dan masuk ke belahan liang cinta Niken.

“Auuhhh..sakiittt!!” wanita itu terpekik oleh rasa nyeri yang menjalar saat ‘liang kewanitaan’nya dikunjungi penis Alfi

Niken segera mendorong perut anak itu hingga titit Alfi melenjit keluar lagi, ia silangkan kedua pahanya untuk menutup jalan Alfi. Ada perasaan takut akan kehilangan kewanitaannya. Niken menatap selangkangan anak itu. Benda dahsyat itu teranguk-angguk. Ujungnya bulat mirip cendawan dan  basah berlumuran lendir.

“Uh..pantas agak nyeri pikirnya. Ternyata besar sekalii…. Nyaris melebihi bola pingpong.”

Ia heran, Bagaimana mungkin anak ini mempunyai kemaluan sedemikian besar. Meski demikian Niken tak memungkiri  penyatuan yang hanya berlangsung satu setengah detik tadi sempat menimbulkan nikmat yang luar biasa.



“ngga sakit lagi kan bu? Alfi masukin lagi ya bu seperti tadi?”

“ngga mau ah”

“kenapaa buuu?”

“punya kamu besar banget. Nanti perawan ibu robek!”

“Buuu..tadi itu enak sekalii…Alfi boleh dong minta lagiii..” ujar Alfi memelas ia takut Niken mengakhiri permainan ini

“Alfi janji ngga sampe mecahin selaput dara ibuu, boleh ya buu..?

Niken jatuh iba melihat anak itu merengek-rengek, meski ia ragu dan takut untuk melangkah lebih jauh akhirnya ia putuskan memberi jalan Alfi memasukinya.

“Betul..ya Fiiii jangan sampai kena selaput ibu”

“He e , Alfi janji ngga dalem-dalem”

Alfi membuka kedua paha mulus wanita itu, lalu ujung penisnya kembali membelah garis tipis kewanitaan Niken. Leppp!!! kepala penis berkulup itu masuk untuk kedua kalinya

 “Aduhhh……Fiiiii”

Niken mengeliat saat benda itu kembali bersarang di kewanitaannya, nyeri menyapanya namun diiringi geli dan nikmatnya bukan kepalang. Setelah masuk Alfi menahannya lebih lama dari tadi. Pinggul Alfi mulai bergerak mundur maju mengocok lembut vagina wanita itu. Ia  tarik mundur sedikit namun tak sampai penisnya lepas tercabut lalu kembali melesak masuk lagi sedalam tadi. Memang tak banyak gerakan yang dibuat Alfi, namun itu cukup untuk membuat Niken menggelinjang nikmat. Pompaan kecil itu berlangsung lima menit hingga Alfi menjerit tertahan.

“Buuu Nikennn sayangggg!! Alfi sampeee…. Arrgggg!!!”

Alfi berupaya menahan laju spermanya keluar. Namun sia-sia, semakin ia tahan, gatal dan nikmat itu semakin tak tertahankan. Saat cairan itu menjalar perlahan dan tertahan pada lubang kencingnya. Mata Alfi mendelik hingga tinggal bagian putihnya. Niken bingung harus berbuat apa saat menatap ekpresi wajah Alfi yang bagai kesakitan.

Tapi ia tahu anak itu sedang merasakan nikmat luar biasa

“ohh..Fiiii… jangan di..cabutt..keluarinnn di dalam punya ibuu…” bisik wanita itu tersengal-sengal karena nafsupun mengukung dirinya.

Alfi betul-betul tak menyangka Niken membiarkannya untuk berejakulasi di dalam vaginanya.



Ucapan Niken berdampak besar bagi bocah itu. Gairah dan gejolak seksual semakin lepas kendali. Perasaan sayangnya yang menggebu terhadap Niken membuatnya mengalami kegagalan kali ini. Biasanya ia masih bisa mengulur-ulur waktu. Namun kali ini ia sudah tak mampu menahannya lagi. Saat itu juga Alfi memekik kuat sambil melepas orgasmenya

“Yaarrrggggghhh…”

Crettt..crettt..crotttt!!

 “Ouhh..Fii..Fiii..Fiii” desah Niken lirih ketika benih cinta Alfi memancar dari lubang kencingnya menyirami relung-relung kewanitaannya.

Dirasakannya penis anak itu berdenyut-denyut keras masih memancarkan cairan kental dan hangat dalam kewanitaannya. Begitu dasyat kenikmatan diterima Alfi. Niken adalah wanita pertama yang mampu membuatnya berejakulasi lebih dulu. Vagina wanita itu seakan betul-betul tercipta untuk menaklukan keperkasaannya. Alfi ambruk di dada Niken. Setengah menit Alfi berusaha menarik nafas sementara wanita itu membelai-belai rambutnya.

“Ma kasih Bu.. Alfi jadi tambah sayang sama ibu” bisiknya Alfi masih penasaran

“Dasar anak nakal, pintar ngombal”

“Cuma ibu yang bisa bikin Alfi muncrat duluan…”

“Betulkah?”

“He e… Alfi kalah sama ibu, punya ibu enak sekali..”.

Niken tersenyum ada rasa bangga dalam hatinya dapat menaklukan jantan kecil ini.

ia berharap Alfi cukup puas tanpa harus merengut keperawanannya. Niken perlahan mendorong perut Alfi. Air mani Alfi  meleleh tumpah di sprey. Namun wanita itu terkejut saat mendapati kenyataan, begitu cepat penis anak ini menegang lagi. Seharusnya seorang lelaki butuh istirahat untuk memulihkan tenaga kembali telah membuang spermanya begitu banyak. Tetapi tidak bagi Alfi

“Ohh Fii.. itumuu ..be..besar…lagii”



Alfi memberi waktu buat Niken itu mengamati barang miliknya yang berangsur membesar kaku. Bagi Niken benda itu terlihat aneh kepalanya jauh lebih besar dari batangnya. Benda yang tadi sempat masuk ke dalam miliknya. Alfi tak mau berlama-lama ia takut gairah Niken menurun bahkan hilang. ia gosokan penisnya ke atas dan ke bawah belahan vagina gurunya menyentuh klitoris lalu lalu perlahan bulatan kepala  masuk hingga membentur selaput dara Niken.

“uhh.. dia masuk lagiii” gumamnya lirih.

Kali ini Alfi tak ingin kalah lagi. meski Niken memiliki jepitan mulut vagina sangat istimewa nikmat. Namun Alfi sesudah orgasme satu kali penisnya sudah jauh lebih tahan.

“ougggggh…Fiiiiii”

Alfi mengocok dengan cepat. Niken terbuai dan larut dalam goyangan birahi Alfi.

Matanya  terpejam menikmati persetubuhan ini. Ia masih sulit percaya  membayangkan yang sedang dicumbui oleh seorang ABG berumur 16 tahun. Penis anak itu meluncur mulus sampai menyentuh selaput daranya. Niken mengerang setiap kali Alfi menyodokkan penisnya. sesekali penis Alfi terlepas. Alfi mulai percaya diri,

“Oughhh Fiiii.” desah wanita itu.

Alfi tahu gesekan dan sodokannya akan berhasil membawa wanitanya menuju ke puncak kenikmatan. Semakin cepat..cepat..dan..

“Arrrrgggg……….Fiiiiiiiiiiiii !!!!!!!” Wanita itu menjerit mendapatkan orgasmenya.

Tiba-tiba vagina Niken mencengkram hebat penisnya jauh lebih keras dari sebelumnya.

Alfi terpekik tertahan tak menduga vagina wanita itu menjadi begitu nikmat. Alfi tahu satu dua kocokan lagi ia pasti sudah muncrat lagi. Namun ia berusaha bertahan sedikit lagi. Dalam hitungan detik setelah ia yakin Niken telah mendapatkan kenikmatannya

bocah itu kembali melepas benih cintanya di sertai pekik kenikmatan.

“ohhh buuuu.. Alfi keluarrr laagiii!!!!!!”

Alfi memeluk gurunya itu dengan erat. Membenamkan kepala kecilnya pada dada Niken yang empuk.

“Buuu Alfi sayang ibu…”bisiknya.

“Ibu juga sayang kamu fi…”

“benarkah?” Alfi mengangkat wajahnya untuk memandang wajah Niken seolah tak percaya dengan ucapan ibu gurunya yang cantik itu.



Niken tersenyum dan mengangguk. Di tekannya kepala Alfi kembali ke belahan dadanya.

Dan dibelainya. Ia tak tahu tiba-tiba ia merasakan benih-benih kasih sayang timbul dan menguat terhadap Alfi. Apakah perasaan ini yang muncul pada Wanita-wanita Alfi sebelumnya? Sehingga mereka rela menyerahkan milik mereka yang paling berharga…keperawan. Napas Alfi masih agak tersengal-sengal. Menaklukan wanita yang satu ini sungguh telah menguras tenaganya. Penisnya perlahan kembali keukuran semula dan terlepas dari vagina Niken. Mereka berdua akhirnya jatuh tertidur. Entah berapa lama Niken tertidur, saat ia terbangun Alfi masih dalam posisi menindih tubuhnya. Alfi sudah duluan terjaga dan kini sedang menetek padanya.

“Ahh.. ia ereksi lagi” desah Niken sambil menarik napas panjang

Ia merasakan benda itu kembali ‘bangun’ di atas bukit kewanitaanya padahal baru satu jam yang lalu ia dan Alfi bergumul. Kini anak itu menginginkannya lagi Niken tak tahu ia harus kuatir atau senang. Petting barusan nyaris merusak selaput daranya. Karena penis Alfi menerobos terlalu dalam. Beberapa jam ini ia cukup kelabakan menangani napsu anak ini yang tak kunjung reda. Dua kali ejakulasi tak cukup bagi Alfi, anak itu telah mengenalkannya pada dunia yang tadinya dianggapnya tabu mulai dari nikmatnya saling melumat bibir hingga petting. Niken merasa ia harus berusaha menghindari Alfi, ia takut makin terhanyut oleh permainan anak itu hingga akhirnya harus menyerahkan miliknya yang paling berharga. namun selalu seperti sebelumnya, ia tak bisa. Ia tak sanggup menolak. Naluri kewanitaannya juga menginginkan belaian-belaian dari bocah itu.

Kenikmatan itu begitu memabukkan, membuatnya ketagihan

Ughh…penis anak itu kembali menancap menyumbat jalan di mana bayi-bayi Niken akan lahir kelak. Gatal nikmat menjalar cepat menyengat selangkangannya akibat ujung sengat Alfi yang masih berkulup penuh.

“Bu….”

“Egg?”

“boleh ya bu, kali ini … Alfi masukan semua titit Alfi kepunya ibu?”

Niken telah menduga sejak awal kalau akhirnya anak ini akan meminta hal itu juga.

“Jangan fii …, Alfi kan sudah janji . tidak akan melakukan lebih dari hanya sebatas petting..”

Dengan akal sehatnya Niken masih berusaha mengendalikan hasrat pada dirinya yang juga menggelora. Niken bukan tidak tahu resiko permainan apinya dengan Alfi .



Hanya tinggal satu langkah lagi ia dan Alfi akan melakukan apa yang hanya boleh ia lakukan dengan Donie sebagai suaminya yang sah kelak. Apabila ini terjadi ia tak bisa mundur lagi ke belakang menjelang pernikahan dengan tunangannya dua bulan lagi.

Bagaimana jadinya kalau Donie mempermasalahkan keperawanannya di malam pertama mereka nantinya. Tidak semua laki-laki seperti Didit yang mau menerima wanita yang sudah tidak suci lagi sebagai istrinya

“Alfi ngga mau ingkar janji sama ibu, tapi…kalau ibu ijinkan meski hanya sekali ini saja Alfi ingin menjadi laki-laki pertama yang ngentot sama ibu, dibunuh sama pak Donie pun Alfi rela demi cinta Alfi sama ibu”

Niken nyaris tertawa mendengar celoteh dan rayuan anak itu. Rengekan seorang bocah polos. Mekipun dalam hatinya ia mengakui kejantanan Alfi. Namun ada beberapa hal yang membuat dirinya tidak dapat mengabulkan keinginan Alfi. Baginya Petting sudah merupakan tahap terakhir yang dapat ia berikan untuk anak itu. Alfi merasa kecewa ia tahu ia tak mungkin memaksa Niken. Ia maklum Niken pasti tidak mau menyerahkan keperawanannya. Namun Ia sudah bersukur Niken mau meladeninya hingga pada tahap ini. Alfi masih menindih tubuh sintal guru cantiknya itu  Ia terus menerus memberikan rangsangan terhadap tubuh Niken, mulutnya menghisap kuat  puting sebelah kiri payudara putih Niken karena  ia tahu yang kirilah yang paling sensitif. Sementara kepala penisnya tetap bergerak keluar masuk dalam kelopak vagina wanita itu, ini adalah posisi paling di sukai Sandra dan kedua temannya, demikian pula dengan Niken. Ia merasakan kenikmatan ganda. Hanya Alfi yang bisa melakukan persetubuhan sambil menetek berbarengan secara sempurna. Karena usianya masih di bawah umur sehingga tubuhnya yang jauh lebih pendek dari wanita dewasa bertubuh setinggi Niken. Hal itu memungkinkan ia mendapat posisi yang ideal. Hampir satu jam lamanya ia melakukannya. Entah kenapa Alfi tak kunjung ejakulasi padahal Niken sudah empat kali memperoleh orgasme. Semakin lama vaginanya semakin sensitif terhadap rangsangan. Bahkan orgasme yang terakhir barusan nyaris membuat air kecingnya ikut memancar keluar bersama cairan cintanya. Rasanya ia tak mampu terus menerus melawan kemesraan yang diberikan Alfi padanya



 “fiii……masuk..kan…semuaaa, ibuuu tak tahann lagiii ohhhh…” akhirnya Niken berbisik demikian ke telinga Alfi

Alfi bukan main terkejut namun gembira mendengar penyerahan terakhir wanitanya itu, sungguh ia tak menyangka akhirnya gurunya mengijinkannya melakukan  penetrasi penuh ke liang senggamanya yang masih perawan.

“ughhh buuu.… Alfi entot ibu sekarang ya?” ujar bocah itu lirih

“Iya fii..iya.. milikii ibuu sayangg!!!! Ohhh!!” rintih wanita itu. Tak ada rasa malu yang tersisa

Niken sudah tak peduli lagi terhadap statusnya sebagai seorang pendidik atau sebagai calon istri Donie ….bahkan… pada kehormatannya yang bakal terengut. Birahinya sudah sampai pada titik puncak Kini ia hanya butuh penuntasan dari sang murid yang sedang menggumulinya. Tak membuang waktu Alfi mendekap tubuh sintal sang ibu guru yang cantik itu. Mulutnya menyergap kembali putting sebelah kiri Niken. Melumatnya untuk meningkatkan rasa nikmat bagi wanitanya sebelum penyatuan itu terlaksana. Petting yang mereka lakukan sejak tadi sebenarnya sudah nyaris merobek selaput dara wanita itu.

Hingga tak terlalu sukar bagi penis Alfi melakukan penetrasi total. Alfi menurunkan pinggulnya dan dengan satu hentakan lembut kewanitaan Niken merengang dan terkoyak

“Awww.. Fiiiii….Sakiiiiiiiit!!!” pekik Niken lirih perih saat selaput daranya robek, jemarinya mencengram pinggul Alfi.

Penis bocah itu terus mendesak masuk perlahan menjamahi semua keindahan yang sudah sekian lama didambakannya di dalam sana hingga akhirnya berhenti setelah ujungnya yang berkulup menyentuh dasar liang cinta itu. Untuk kesekian kalinya bocah ini berhasil merengut keperawanan seorang wanita dewasa yang juga cantik dan menggiurkan tak kalah dari wanita-wanita sebelumnya. Darah keperawanan wanita itu meleleh membasahi serey putih di bawahnya. Penantian Alfi selama ini telah menjadi kenyataan, kini sang ibu guru yang cantik sudah menyerah secara utuh dalam dekapan eratnya.



Kulit Niken yang halus lembut bersentuhan tanpa penghalang dan batas apapun dengan tubuh kasar Alfi. Kemaluan mereka bertaut erat menyatu dengan sempurna seakan penis Alfi memang tercipta bagi vagina Niken begitupun sebaliknya. Alfi merasakan nikmat dalam liang perawan ketat yang itu berdenyut melumat seluruh batang penisnya

“Ougghhh..Fiii…pelann pelannn…”

Niken mulai merasakan sengatan nikmat melanda selangkangannya meski sakit masih ia rasakan. Tak ingin wanitanya mengeluh, Alfi mengocok lembut daging kejantanannya.

Ditariknya  sedikit sejauh satu senti menghujam lagi perlahan hingga menyentuh dasar rahim lalu dua detik ditahannya di sana. Berulang-ulang ia ulangi gerakan itu

“Ouhh…uuu..Fiii”

Niken mengangkat pinggulnya bila titit Alfi ditarik keluar, begitupun bila penis Alfi menekan masuk, ia mengikuti arah gerakannya. Vaginanya begitu penuh sesak oleh daging cinta hitam milik Alfi. Gatal dan nikmat makin tak tertahankan. Ketika orgasmenya datang Niken pun terpekik

“Fiiiiiiiiii!!!!!!!!……Oughhhhh……”

Wanita itu mempererat dekapannya. Kedua kakinya melingkar dipinggul Alfi dan menekannya. Ini orgasme Niken yang pertama hasil persetubuhan secara penuh dengan Alfi. Bola mata Niken lenyap hanya tinggal putihnya. Cairan cintanya memancar deras, sungguh tak terkira nikmatnya, jauh lebih nikmat dari sebelumnya, bahkan berjuta kali jauh lebih nikmat dari petting barusan. Alfi tahu apa yang harus ia lakukan saat itu,

Ia berusaha menambah sensasi kenikmatan orgasme bagi Niken. Sambil bertahan ketika vagina Niken berkontaksi melumat penisnya, ditekannya benda itu sedalam dan selama mungkin pada kemaluan wanita itu. Lalu dikerahkannya kekuatan otot  kemaluannya untuk membuat denyutan-denyutan berirama dan keras, nampaknya ia berhasil. Vagina Niken masih terus menghisap penisnya hingga satu menit.

“Buuu….Nikennn…enaakkkkkk!!”Alfipun terpekik dalam sensasi nikmat.

Alfi menggigil menahan nikmat namun ia tak mau berakhir secepat itu. Spermanya seakan ingin meledakan di ujung penisnya namun masih dapat ia pertahankan sekuat tenaga.



Alfi tetap mengocok penisnya kali ini secara cepat. Niken terkejut gerakan Alfi kali ini membuatnya begitu cepat melambung

“Ohh.. Alfiiii… kamu kuat sekaliiiii”

Nampaknya sesi kali ini tidak berlangsung lama, baik Alfi maupun Niken tak mampu lagi bertahan.

“Bu Niken sayaaang…Alfiii sudah mau keluaarrr!!”

Niken mengeratkan jepitan kakinya pada pinggul Alfi mencegah anak itu untuk mencabut penisnya. Segera hanya hitungan detik, orgasme dasyat melanda keduanya. Seketika itu juga Alfi menekan tititnya secara penuh dan membentur mulut rahim Niken

“arrrggghhhhh…Fiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii” jerit Niken

Vagina indah Niken berkontraksi hebat melumat tiap senti daging penis Alfi, menghisapnya dengan segenap cinta dan kepasrahan. Alfi pun mendekap erat pujaannya.

“Ouggghhhhh..Buuuuu!!!!!!..Alfi keluarrrrrr!!!!” pekiknya merasakan kenikmatan yang datang jauh lebih dasyat dari pada sebelumnya.

Nampaknya kali ini Alfi tak mampu bertahan lagi. Pertahannya runtuh oleh nikmatnya lumatan dasyat vagina Niken sungguh membuat kejantannya tak berdaya. Penis anak itu berdenyut denyut kencang, air mani yang tersimpan dalam testisnya selama hampir satu jam ini tak tertahankan meletup dari ujung kepundannya dan memancar deras  pada tiap denyutannya. Denyutan yang menghentak berulang-ulang jauh lebih dering dan keras dari biasanya, Alfi seakan-akan ingin mengosongkan seluruh isi testisnya ke dalam rahim pujaan hatinya itu. Orgasme dasyat itu berlangsung sekitar satu setengah menit namun bagi Niken dan Alfi bagaikan satu abad lamanya. Setelah orgasme Niken mereda dan kesadaran kembali pulih, ia berusaha mengatur napasnya. Penis Alfi pun masih menancap ketat.

“Uhh..Fiii…cabut duluu sayanggg” pinta Niken lirih ketika ia rasakan kewanitaanya agak ngilu.



Alfi mencabut perlahan meski ia masih ingin berlama-lama di dalam situ.

“Plokk…” saat benda itu terlepas sebagian sperma Alfi tumpah ke seprey. Niken memperhatikan bercak-bercak darah yang bercampur lendir putih menempel pada penis Alfi. Secara naluriah ia tahu kewanitaannya pasti telah robek direngut oleh bocah itu.

Di kamar dan di tempat tidur ini dulu Sandra menyerahkan kesuciannya pada Alfi dan kini iapun mengalami hal yang sama. Anak itu telah mengambil apa yang menjadi hak Donie calon suaminya. Alfi mengecup pipi Niken, anak itu tak dapat menyembunyikan kebahagianya, apa yang diidamkannya menjadi kenyataan sudah.

“Ma kasih ya bu, sudah ngebolehin Alfi begituan sama ibu. Alfi sayang banget sama ibu…Alfi cinta ibu….”

“Kamu bocah nakal… kamu tahu kamu telah menodai ibu gurumu sendiri”

“Alfi ngga peduli , Alfi mencintai ibu walau Ibu telah menikahi pak Donie nantinya”

“Setelah apa yang engkau lakukan apakah kamu masih memanggilku ibu?”

“biarlah Alfi tetap memanggil ibu”

“Bu..tadi Alfi muncratnya banyak, punya ibu enak sekali”

Sesaat Niken merasakan batang kemaluan Alfi kembali mengeras pada mulut vaginanya

“Anak nakal … kamu belum puas juga”

“Alfi pingin lagi bu.. alfi pingin ngentot ibu lagi”

Niken merasakan kasih sayang tak terbatas tercurah dari bocah itu. Tenaga Alfi bagai tak ada habisnya. Entah ia tak tahu apakah ia telah jatuh cinta pada anak itu atau tidak. Alfi telah mempersembahkan keindahan ragawi padanya dan membuat dirinya merasa nyaman dalam dekapan gurunya yang cantik.



********************************



Selama dua hari Alfi dan Niken tidak datang ke sekolah, persetubuhan terjadi berulang-ulang. Niken yang lembut dan sopan kini sudah ketagihan akan seks, ia tak peduli akan statusnya seorang guru bagi Alfi. Yang jelas baginya justru Alfi adalah guru yang mahir baginya dalam urusan ranjang. Ia bahkan tak menolak Alfi memintanya melakukan oral.

Tak ada rasa jijik mengemuti penis bocah itu dengan mulutnya. Bahkan ia sangat menikmati dan menyukainya. Hingga pada esok sorenya  ketika mereka baru menyelesaikan persetubuhan selama 3 jam. Saat jeda istirahat itu itu Alfi masih dalam keadaan memeluk dan menindih tubuh cantik wanitanya sambil sesekali mencucupi putting-putting payudaranya. Tiba-tiba Alfi bertanya

“Bu.. Ibu maukan punya bayi dari Alfi?”

“A..paa..Fiii?” Niken terkejut atas pertanyaan Alfi yang aneh.

“ibu kan sudah dapet benihnya Alfi, pastikan nanti Alfi punya bayi dari ibu”

“Ngga mungkin fii, ibu kan akan menjadi istrinya pak Doni dua bulan lagi”

“iya deh Alfi ngalah sama pak Doni…”

Meski pembicaran singkat itu tak dianggap serius bagi Alfi namun Niken seakan baru tersadar akan apa yang telah terjadi. Niken tercenung mendengar ucapan Alfi barusan. Selama dua hari ini Ia dan Alfi melakukan hubungan suami istri dan ia telah membiarkan Alfi berejakulasi berkali-kali di dalam vaginanya. Kegundahan melanda hatinya. Bagaimana jika terjadi kehamilan? Bagaimana kelanjutan hubungannya dengan Donie?

Mungkinkah Donie masih mau menerimanya dalam keadaan ternoda oleh anak ini? Rasanya tidak mungkin. Meski Donie tukang jajan namun ia tetap menginginkan istrinya masih perawan.

“Bu.. ibu melamun?” lamunannya buyar saat Alfi memanggil namanya.

“I..iyaaa”

“Ibu takut hamil, ya?”

Niken tak menyangka anak ini dapat mengetahui isi hatinya yang gundah. Meskipun demikian ia belum cukup umur untuk mencerna persoalan orang dewasa.



Niken menghela napas lalu mengangguk lemah

“Ibu juga takut soal perawan ibu kan?”Tanya Alfi lagi

“Iya, Kok kamu tahu Fii?”

“Kak Dian juga seperti ibu dulu, sudah gituan sama Alfi lantas wajahnya sedih”

“Ohh begitu ya”

“Gimana kita cari dokter aja kak, biar kakak disembuhin perawannya”

Mendengar ucapan Alfi Niken bangkit dan duduk, lalu ditatapnya bola matanya polos anak itu. Niken jadi teringat akan sahabat karibnya semasa smu dulu Lila yang kini telah menjadi seorang dokter spesialis kandungan. Tak ingin berlarut-larut dalam kebimbangan, ia memutuskan untuk menemui dan meminta bantuan dr.Lila sahabatnya itu.

“kamu anak pintar fii, besok kamu harus temani ibu ke Dokter ya?”

“He e…Alfi temani ibu besok …tapi sekarang Alfi mau itu lagi sama ibu” kata anak itu

“Kamu tidak bosan melakukan itu sama ibu?”

“Alfi ngga bosen… biar Alfi jadi suami selingkuhan ibu nantinya”

“Hi..hii..hiii, kamu memang anak nakalll” ujar Niken geli.

Alfi merebahkan tubuh Niken kembali ke kasur. Niken menurut saat Alfi kembali mengumulinya. Tubuh sintal indah itu kembali menyatu dengan tubuh kecil dan kurus bocah itu. Seakan tiada bosan-bosannya mereka melakukan hal itu berulang-ulang. Pantat Alfi bergerak naik turun dengan cepat, penisnya yang  besar sudah berjam-jam bahkan berhari-hari memadati liang senggama Niken. Biarlah urusan itu diselesaikan besok, Malam ini adalah urusan dewa dan dewi cinta pikir Niken dalam hati.



*************************



Keesokan sorenya Niken dengan mobilnya ia berangkat ke tempat praktek dr.Lila sahabatnya. Alfi dia ajak, kalau ditinggal di rumah ia kuatir mendadak Donie muncul memergoki Alfi di kamar tidur tanpa busana. Mereka sampai namun belum ada seorangpun di sana. Mereka duduk di sebuah ruang tunggu yang bersih dan nyaman namun agak tersembunyi.

“Fiii…jangan…nanti ada yang liat, ouhhh” Niken mendesah saat tangan nakal Alfi meremas dadanya lembut.

Tubuh wanita itu sudah demikian sensitif terhadap setiap sentuhan Alfi. Tubuhnya menggeliat. Niken sudah kuatir saat Kepala Alfi sudah mengarah ke dadanya. Namun tiba-tiba terdengar suara sepatu melangkah ke arah mereka dan Alfi segera menghentikan kenakalannya.

“Nien… kamu udah lama nunggu aku?” Lila memanggil nama sahabat karibnya dengan nama panggilan.

Mereka berpelukan hangat.

“Loh Alfi..kamu ngapain disini” ujar dr.Lila

“Kalian sudah saling kenal La?”

“Umm..ya ibu nya Alfi adalah pasienku juga” ujar dr.Lila tergagap berusaha menyembunyikan sesuatu.

“Alfi muridku di SMA tempatku mengajar La. Ia sengaja kuminta menemaniku untuk menemuimu”

“Oh begitu mana Donie Nien? Bukan dia yang mengantar kamu?”

“Donie masih sibuk menyelesaikan pekerjaannya sebelum cuti”

“O ya aku hampir lupa kalian kan akan menikah dua minggu lagi, ayo masuk mumpung pasienku yang lain belum datang”

“Fii.. kamu tunggu di sini ya, ibu masuk dulu”



Lila memeriksa Niken khususnya pada wilayah kewanitaannya. Sesekali ia tersenyum melihat beberapa bekas merah pada dada Niken. Lila sudah sering melihat hal seperti itu pada pasiennya. Pasiennya tidak terbatas pada istri-istri orang berkantong tebal namun juga hampir seluruh pelacur pada lokalisasi X tempat ibunya Alfi bekerja dulu.

Dua puluh menitan Lila memeriksa Niken. Setelah selesai….

“Bagaimana La?” tanya Niken saat itu jantungnya berdetak lebih cepat menunggu jawaban Lila.

Dr.Lila tersenyum-senyum sambil membaca catatan hasil pemeriksaannya.

“Kurasa  ngga ada yang perlu dikuatirkan . secara lahiriah kamu sehat Nien dan siap menjalankan pernikahan. Donie tentu sangat berbahagia mempunyai calon istri bertubuh cantik dan sehat sepertimu”

“Hanya itu La?” ujar Niken kurang puas, ia sepertinya tahu ada hal lain yang belum disampaikan Lila kepadanya.

“Baiklah. Sesuai dengan profesiku aku memang dapat mengetahui kondisimu sekarang namun ada hal-hal yang sebenarnya tidak perlu kusampaikan disini mungkin menyangkut hal yang sangat pribadi bagimu”

“La aku ke sini justru ingin tahu darimu tentang kondisiku saat ini?”

“Oke manis, kamu dengar baik-baik ya. Kusimpulkan dalam beberapa hari belakangan ini kamu telah melakukan hubungan seks, bekas-bekasnya terlihat jelas pada dinding vagina yang lecet-lecet dan memar di mulut rahimmu. Bahkan selaput daramu baru robek berarti ini yang pertama. Akhirnya kalian lakukan juga sebelum hari itu datang ya kan? Hanya saja kunilai kalian sudah keterlaluan melakukannya. Aku sarankan beberapa hari ini kalian ‘puasa’ dulu. Beri waktu dirimu recovery. Bagaimana apakah nona puas dengan penjelasanku?”

Deg..Niken tak menjawab, hatinya sungguh gundah mendengar penjelasan dari dr.Lila.



“La, apakah kamu yakin…betul-betul sudah robek?”

“Maksudmu selaput daramu?”

Niken mengangguk

“Ya. Biasanya hubungan intim pertama hanya menyobek satu atau dua sisi selaput dara,

Namun  Ini malah robek di tujuh tempat. Kupikir luar biasa juga Donie”

Niken menjadi pucat pasi, kekhawatiran nampak membias jelas pada wajah Niken.

Hal itu terbaca Lila

“Loh kenapa, Tapi bukankah tak ada masalah robek sekarang atau nanti kan? Toh  Donie juga yang melakukan.”

“Itu…masalahnya La…”

Lila baru mengerti mengapa sejak datang tak terlihat senyum sedikitpun dari wajah sohibnya ini.

“Maksudmu kamu melakukannya bukan dengan Donie, nien? Loh lantas siapa yang ….?”

Belum selesai pertanyaan dr.Lila, tiba-tiba…

“Udah selesai buuu..?” Alfi masuk tanpa mengetuk pintu dan langsung duduk di samping Niken.

“Alfi tunggu diluar ya. Ibu masih ingin bicara dengan bu dokter”

Alfi berdiri sebelum menghilang ke balik pintu ia sempat mengecup lembut pipi Niken.

Niken agak jengah, matanya melirik ke arah Lila yang masih bengong.

“Lelaki ituu….” dr.Lila tak ingin menyelesaikan kata-katanya. Ia takut salah omong.

Suasana jadi hening sejenak. Niken berusaha menguasai perasaannya. Sambil menghela napas panjang ia berkata

“Dugaanmu benar La. si Alfi orangnya”

Kembali hening, Lila membuka pembicaraan.

“jika aku boleh tahu apakah anak itu  menggunakan pengaman seperti kondom saat kalian melakukannya?”

“Ti..ti..dak, masa bisa hamil? Alfi kan masih anak-anak… la”

“Dalam beberapa kasus beberapa anak spermanya lebih cepat mencapai kesuburan, bahkan di Amerika seorang anak laki-laki berumur 9 tahun kedapatan menghamili teman sepermainannya. Apa kamu dalam masa subur, Nien?”



“y..ya”

“berapa kali ia ber-ejakulasi internal padamu?”

“A..aku tak tahu pasti …mungkin… lebih.. 20 sampai 30 kali-an”

Lila menggeleng-gelengkan kepala, dalam hatinya ia sudah tahu dan mengenal lama anak itu. Lila juga yang memeriksa kesuburan Alfi setahun yang lalu. Saat itu ibunya meminta Lila mengadakan test pada Alfi setelah ada seorang pelacur di lokalisasi X yang sempat dicurigai hamil oleh ulah anak itu.

“apakah aku sudah hamil La?” ujar niken panic

“Belum bisa dipastikan apakan benih Alfi membuahi dirimu karena baru berjalan dua hari yang lalu, kita tunggu hingga masa kamu datang bulan nanti, namun kehamilan mungkin saja terjadi bila pada masa suburmu sperma Alfi bertemu dengan sel telurmu. setetes cairan bening atau cairan pre-cum pun sudah mengandung sperma dalam jumlah kecil dan perlu kamu ketahui ada jutaan sperma dalam satu sendok kecil saja ….. apalagi Alfi sampai  ejakulasi berkali-kali.”

 “Ohh..Laa..tolong aku harus bagaimana sekarang?” ujar Niken  panik, sudut matanya mulai berair.

Lila berusaha mencairkan suasana yang tegang dan membuat Niken tenang, ia sungguh tak ingin perbuatannya menjadi aib yang memalukan bagi keluarganya.

“Oke.. nampaknya kamu sungguh butuh bantuanku”

Lila diam sejenak nampaknya ia sedang memikirkan sesuatu.

“Baiklah, kita hanya perlu lakukan operasi kecil pada selaput daramu. kemungkin hanya akan memakan waktu kurang lebih 1 jam.” jelas Lila

“Ma..maksudmu aku bisaa…utuh lagi?”

“Tidak begitu, aku hanya perlu menarik sisa yang ditinggalkan Alfi lalu menjahitnya. Aku usahakan agar saat robek di malam pengantinmu masih mengeluarkan darah.”

“Lan..tas bagaimana dengan kehamilanku?”

“Kupikir kamu belum tentu hamil, seperti kataku tadi kita harus menunggu datang bulanmu. toh baru dua bulan lagi kamu akan menikah dengan Donie. Aku pikir kita masih punya banyak waktu dan bisa mengatur hal itu nantinya.”



Tangis Niken meledak setelah mendengar penjelasan Lila, perasaannya lega. Tadi ia sudah benar-benar ketakutan akan akibat dari perbuatannya dan Alfi sekaligus ia pun sungguh tak ingin mengecewakan Donie meskipun lelaki itu brengsek. Lila memeluk sahabatnya itu. Beberapa saat setelah Niken tenang, Dr.Lila berbicara agak serius

“Ok sekarang dengarkan aku. Melihat kondisi selaput daramu yang robek total aku mungkin hanya dapat melakukan operasi satu kali. Untuk itu aku mau kerja samamu. Setelah operasi ini kamu tak dapat lagi berhubungan intim dengan Alfi hingga malam pernikahanmu.”

Niken merenung. Ia sadar ini sungguh tak adil bagi Alfi, namun ia sudah tak punya pilihan lagi. Ia tak ingin pernikahannya dengan Donie gagal.

“Jika demikian aku minta waktu beberapa hari..soalnya aku tak mau Alfi …kecewa”

Lila tersenyum.

“Baiklah aku mengerti. Aku akan menunggu kesiapan dirimu untuk melakukan operasi tersebut.”

“Ma kasih ya La, kamu telah memberiku solusi dari masalahku”

“Tak masalah Nien, aku kan sahabat terbaikmu sejak dulu”

“La..satu lagi pintaku”

“Apa itu?”

“Hanya kamu yang tahu tentang hubunganku dengan Alfi,”

“Tak usah kuatir akan hal itu manis, aku akan menjaganya..hi hi.”

Niken memeluk dan mencium pipi Lila sebelum pergi.



***********************



Saat di dalam mobil Niken perlahan menyampaikan semua penjelasan dr.Lila tadi. Alfi menunduk sedih

“Fii kamu ngga usah sedih, Ibu akan tetap menemui kamu setelah ibu resmi menjadi istri pak Doni” ujar Niken. “Yang penting sekarang kita masih punya waktu satu minggu sebelum ibu di ‘perbaiki’ dr.Lila”

“Benar ya bu..”ujar anak itu matanya berbinar-binar gembira.

Niken mengangguk. Lega rasanya semua permasalahannya sudah teratasi kini. Sesampai di rumah. Niken sudah tahu apa yang bakal terjadi selanjutnya. Ya.. ia tak dapat menolak Alfi menuntunnya ke kamar dan melucuti semua kain yang melekat ditubuh mereka berdua. Alfi begitu tergesa-gesa saat memasukan penisnya.

“Ssstt..perlahan sayang..ibu tak akan kemana-kemana kok…” bisik wanita itu.

Wanita itu mengerti jika saat ini Alfi takut sekali kehilangan dirinya, mengingat beberapa hari lagi mereka akan segera berpisah. Tak ada penyesalan dalam hatinya segalanya kini telah ia serahkan bagi Alfi termasuk hatinya. Dua menit berselang wanita itu sudah dalam genjotan ganas bocah lalu memekik nikmat ketika orgasme melanda dirinya berulang-ulang. Mereka melakukannya berulang-ulang hingga tengah malam. Beruntung bagi mereka tadi Doni sempat menelpon bahwa ia harus berangkat ke luar kota.



*****************************

Dua bulan kemudian, pagi hari setelah malam resepsi pernikahan.



Di dalam kamar pengantin, lagu ‘malaikat juga tau’ sedang mengalun lembut. Donie terbaring dalam kepuasan, sesekali mengecup kening pengantinnya yang cantik yang tertidur bak seorang putri.

“terima kasih manis kamu telah mempersembahkan yang terbaik padaku”

tak sia-sia semalam ia berjuang satu jam-an untuk menembus selaput dara Niken. Pekik kesakitan istrinya semalam dan noda darah di sprey sungguh membuatnya bangga. Meski ia hanya mampu bertahan kurang dari satu menitan di dalam kuluman vagina istrinya tanpa sekalipun memberi orgasme. Saat syair lagu telah sampai pada….’malaikat juga tau siapa yang jadi juaranya…’ Sementara itu Niken dalam tidurnya tersenyum dan berbisik lirih “Al..fiii…….”
###############################################

======================
Threesome Bersama Alfi
======================

Udara pagi masih berkabut tipis, jam di dinding menunjuk ke angka 6. Alfi sudah siap berangkat ke sekolahnya bersamaan dengan Dian akan berangkat kerja.

 “Ayo fii nanti kita telat!” ujar Dian sembari menstarter mobilnya.

“Sebentar kak!!”

Alfi memagut bibir Sandra sebelum keluar dari pintu depan.

“Emppp…. sudah ahh nanti kamu terlambat” ujar Sandra seraya merapikan kerah baju Alfi yang belum rapi.

Alfi berlari menuju mobil ia masih sempat melambaikan tangan sesaat sebelum mobil yang membawa mereka lenyap dari pandangan Sandra. Pagi itu terlihat Sandra sendirian di rumah sedang menuju ke ruang cuci sambil membawa segelas kopi panas, Ia mulai merendam  seprey kotor berlumuran sperma kering Alfi, sesekali ia menyeruput kopinya untuk menghilangkan rasa kantuk masih membayangi kepalanya. Persetubuhan semalam sungguh menyisahkan keletihan. Alfi.. anak itu menyetubuhi dirinya mulai sejak sore hingga larut malam seperti biasanya. Setiap malamnya selalu Alfi minta persetubuhan.

Untung saja di sini ada Dian, rasanya ia tak akan sanggup meladeni nafsu bocah itu apabila sendirian. Namun terkadang Sandra juga merasa kasihan pada sahabatnya itu. Dian yang masih capek saat pulang bekerja dari kantor tak banyak waktu untuk beristirahat, baik Ia maupun Dian tak dapat pernah dapat menolak apabila Alfi memintanya bercinta malam itu. akibatnya Dian terkantuk-kantuk di kantor keesokan harinya. Terkadang Alfi menginginkan persetubuhan bertiga, meski ia lebih menyukai menggarap mereka berdua satu persatu pada setiap malamnya secara bergiliran. Seminggu yang lalu mereka masih bertiga dengan Nadine menerima jatah ‘digiliri’ oleh Alfi. Namun saat ini kehamilan Nadine  memasuki masa 7 bulan, Sandra dan Didiet tak lagi mengijinkan Alfi mendatanginya.


Sandra

Sandra

Memang Alfi bagai memiliki energi yang besar dan tak pernah lelah. Sandra dan kedua sahabatnya benar-benar dibuat bertekuk lutut oleh kejantannya. Sebenarnya Alfi senang bersetubuh dengan Nadine dalam kondisi payudara gadis itu semakin kencang. Ia sungguh tak sabar menanti kedua puting tersebut mengeluarkan air susu. Dihisapnya puting Nadine kuat-kuat sampai gadis itu terpekik-pekik kegelian.

“percuma saja sayang….kamu harus menunggu sampai putrimu lahir dulu setelah itu baru kamu bisa meminumnya sebanyak mungkin yang kamu mau” terang Niken.

Alfi merasa bangga benihnya tetanam dan tumbuh dalam perut Nadine. Ia memang adalah bapak biologis dari bayi yang dikandung Nadine. Namun Alfi tetaplah anak bau kencur yang belum cukup umur untuk bertanggung jawab sebagai seorang bapak. Suami Sandra, Didiet telah menikahi Nadine dengan maksud menghindari permasalahan yang bakal timbul akibat kehamilan itu. Untuk sementara Nadine tinggal bersama ibunya. Tak seorangpun mengetahui kejadian sesungguhnya kecuali mereka berempat, termasuk ibu Nadine. Ia percaya bayi tersebut adalah dari hasil hubungan putrinya dan Didiet.

Awal kejadiannya bermula saat Sandra datang mengunjunginya beberapa bulan yang lalu. Ia begitu terkejut saat Sandra mengatakan ingin meminang putrinya untuk Didiet.

Sandra merupakan sahabat Nadine sejak kecil. Bahkan Ia dan ibu Sandra merupakan sahabat baik sejak lama. Sandra mengarang cerita yang membuat ibu Nadine percaya. Ia menjelaskan keadaan dirinya yang tak mungkin mendapat kehamilan di sebabkan oleh suatu kelainan genetic. Lebih lanjut ia mengatakan saat ini rumah tangganya di ambang perceraian karena Didit menginginkan seorang anak darinya.



“Nadine sudah setuju akan hal ini, bu. kami hanya tinggal meminta doa restu dari ibu”

“Tapi Nak Sandra..apa sudah tidak ada jalan keluar yang lain, apa kamu mau dimadu oleh sahabatmu sendiri” ujar ibu Nadine saat itu. Ia menganggap anak jaman sekarang suka berlaku yang aneh-aneh.

“Ketimbang  Didiet harus menikah dengan gadis lain, aku lebih rela berbagi dengan sahabat ku sendiri. Bu, tolong saya menyelamatkan perkawinan ini, buu…” mohon Sandra sambil bersimpuh di kakinya.

“Aiihhh…..” wanita tua itu menghela napas lalu berkata lagi.

“Apa kamu dan suamimu sudah memikirkan matang-matang hal ini”

“Sudah, bu”

“Baiklah ibu ijinkan Nadine menikahi suamimu namun ibu mau bertemu dulu dengan Nadine dan juga…… suami egoismu itu dulu! Ibu mau jewer kupingnya dulu.. masa ia tega menelantarkan wanita semolek kamu hanya karena demi keturunan!!”  ujar ibu Nadine sewot.

Sandra tersenyum geli dalam hati , biar Didiet yang menanggung resikonya. Bukankah ini adalah buntut dari fantasi anehnya tempo hari. Ia juga gembira usahanya telah berhasil untuk menyakinkan ibunya Nadine hari ini. Beberapa minggu kemudian pernikahan tersebut berlangsung secara sederhana dan hanya dihadiri beberapa keluarga dekat saja.



———————-



TingtonG!!!!

Suara bel berbunyi nyaring. Sandra melepas celemeknya lalu berjalan menuju ke arah ruang tamu untuk melihat siapa yang datang. Saat daun pintu dibuka sebuah wajah cantik bertubuh tinggi semampai menebarkan senyum ramah ke arahnya.

“Selamat pagi, bu Sandra ya?”

Sandra heran bagaimana wanita ini mengenal namanya, seingatnya ia belum pernah mengenal wanita ini.

“Selamat pagi, ya benar saya Sandra, ibu siapa?”

“Saya Niken, gurunya Alfi bu”

Sandra ia tertegun sejenak saat menyambut uluran tangan tamunya. ternyata inilah gadis yang sempat membuat Alfi sampai jatuh sakit beberapa bulan yang lalu. Anak itu sempat menderita demam tinggi selama satu minggu, Dian mengatakan Alfi habis pergi kemping selama dua minggu dan tahu-tahu pulang dalam keadaan demam tinggi. Saat tidur terkadang terdengar bibirnya mengigau menyebut-nyebut nama Niken berulang-ulang.

Setelah demamnya redapun Alfi lebih banyak diam dalam kesedihan bahkan sempat tidak mau makan. Anak itu baru mau bicara setelah dibujuk-bujuk Sandra dan Dian. Kedua wanita itu terkejut  mendengar penuturan Alfi, mereka sebenarnya agak kuatir jika Alfi sampai melakukan aktifitas seksual dengan perempuan lain selain mereka bertiga dengan Nadine. Alasannya mereka takut semua rahasia dalam rumah ini tersiar keluar. Kini wanita itu sudah berdiri dihadapannya. Pantas saja Alfi sampai tergila-gila setengah mati, ternyata wanita ini memang luar biasa cantik!

“Ohh!!..” Sandra baru menyadari ke bengongannya. “maaf saya lupa mempersilakan anda masuk…mari silakan bu” Sandra mengajak tamunya duduk.



“Sebentar ya …”

“Ngga usah repot-repot bu..”

“Oo..ngga pa pa, engg baiknya jangan panggil saya ibu, cukup Sandra saja, biar kedengaran akrab”

“Ohh..baiklah, kalau begitu panggil saja saya Niken atau Nien”

Tak lama kemudian Sandra kembali sambil membawa segelas teh hangat.

“Silakan diminum”

“Alfi sering membicarakan kamu….Nien” ujar Sandra membuka pembicaraan.

Sambil mengamati gadis dihadapannya. Ia belum mengenal Niken, memang selama ini Alfi telah banyak menggambarkan sifat-sifat gadis ini.

“Benarkah? Bagaimana dengan sekolahnya, apa dia masih sering bolos?”

“kadang-kadang sih, namun sampai saat ini nilai raportnya masih cukup baik, Cuma beberapa bulan belakangan ia jadi agak pendiam”

“Ohh..demikiankah?” Timbul  perasaan bersalah pada hatinya, ia menduga pastilah ia yang menyebabkan anak itu jadi demikian.

Sejak menikah dengan Donie, sudah hampir enam bulan ia tak pernah bertemu lagi dengan Alfi. Dan Ia masih ingat kala itu Alfi menangis menghadapi perpisahan dengannya. Satu bulan sebelum resepsi pernikahan berlangsung Niken telah mengajukan pengunduran dirinya sebagai pengajar di sekolah tempat ia mengajar. Alasannya karena Donie menginginkan istrinya tetap di rumah saja.

“Apakah Alfi pernah mengatakan mengenai hubungan kami padamu?” ujar Niken agak ragu saat menanyakan hal tersebut pada Sandra. Bukan disebabkan perasaan takut namun semata-mata karena malu. Ia sedikit banyak sudah tahu sifat Sandra dari Alfi tempo hari. Alfi pun begitu memuja gadis cantik ini bak seorang dewi. Meski agak ceplas-ceplos Sandra adalah gadis yang hangat penuh kasih sayang.



“Ya…Alfi sudah menceritakan semuanya” jawab Sandra tersenyum geli melihat sikap Niken yang kikuk

Wajah Niken bersemu merah karena malu.

“A..a.ku jadi tidak enak padamu Sand..”

Lalu tanpa diduga air mata Niken mengalir dan Gadis itu mulai terisak-isak. Sandra sungguh terkejut. Ia raih bahu gadis itu lalu memeluknya. Perlahan ia membelai rambut nya Lama tangisnya baru reda. Keakraban menjalar pada keduanya,

“Ngga usah kuatir Nien.. rahasiamu adalah rahasiaku juga..kamu maukan menjadi sahabatku”

Niken mengangguk kecil. Ia begitu terharu atas penerimaan Sandra padanya

“Makasih Sand..”

Setelah berbicara banyak, Sandra dapat menilai ternyata pendapat Alfi selama ini tidak salah kalau Niken adalah seorang gadis yang lembut dan baik hati. Tak ada kesombongan dari nada bicaranya, bahkan tak pernah sekalipun sejak tadi Sandra mendengar ia membicarakan ataupun menjelekan-jelekan orang lain. Bagai dua orang sahabat lama mereka mencurahkan perasan hatinya satu sama lain. keakraban di antara keduanya semakin lama semakin menguat. Sandra sangat menghargai kepercayaan yang Niken berikan, Gadis itu mau berbagi hati dengannya. Perlahan gadis itu menceritakan banyak tentang dirinya, rumah tangganya yang hambar, dan lain-lain. Saat Niken menunjukan foto dirinya bersama sang suami pada Sandra, ia cukup terperanjat melihatnya.

“Di..akah suamiimu..?”

“Ya.. apa kau mengenalnya?

“Suamimu ternyata adalah teman suamiku Didiet sejak lama, meski mereka bukanlah teman akrab. Aku pernah satu kali bertemu dengannya saat menemani suamiku bertugas di kota G tempo hari. Tak kukira ternyata ia adalah suamimu”



Sandra banyak tahu tentang kebiasaan Donie dari Didiet suaminya. Donie gemar bergonta ganti pasangan, terkadang pasangannya hari ini berbeda dengan yang ‘dibawanya’ besok. Padahal Didiet mengatakan bahwa Donie akan menikah dua bulan kemudian. Namun Donie yang saat itu ke kota G bersama seorang gadis muda. Sandra tahu perempuan itu  cuma ‘mainannya’ Donie. Sandra sungguh tak menyukai lelaki seperti Donie. Jika di bandingkan dengan suaminya Didiet , Donie bukan apa-apa.

Didiet memang ‘sakit’ namun ia merupakan suami yang setia dan hangat terhadap istri.

Hubungan seksnya dengan Dian dan Nadine pun atas sepengetahuan dan ijin dari Sandra terlebih dahulu. Sandra sangat menyayangkan jika gadis istimewa seperti Niken menjadi istri pria macam Donie. Namun hatinya senang pada kenyataannya Alfi-lah pria pertama yang telah ‘menjebol keperawanan’ Niken. Lebih lanjut Niken menuturkan kehidupan kamar tidurnya yang hambar.  Meski suka bergonta ganti cewe, ternyata Donie bukanlah seorang suami yang mampu memberikan kepuasan nafkah batin bagi istrinya. Diranjang ia adalah seorang pecundang sejati. Sejak awal menikah ia tak pernah sekalipun memberikan orgasme pada Niken. Malam pertama mereka lalui hanya meninggalkan kesakitan bagi Niken saat selaput daranya robek. Tidak lebih dari itu. Ia lebih sering kalah sebelum bertempur. Paling-paling hanya sempat memasuki istrinya setengah menit ia sudah jebol. Kalaupun ia menebar pesona kesana kemari kepada setiap wanita cantik, itu cuma untuk menutupi kekurangannya sebagai lelaki agar orang melihat dirinya seakan lelaki normal. Ketidakmampuan memuaskan istrinya yang cantik sangat membanting harga diri Donie sebagai lelaki sehingga ia semakin larut dengan prilaku buruknya. Dengan berbagai alasan ia selalu meninggalkan istrinya sendirian di rumah.



Penderitaan Niken bertambah saat sang bunda meninggal dunia satu bulan yang lalu. Ia makin tak ada tempat mengadu dan bagai orang yang kehilangan pegangan dalam menghadapi hidupnya. Namun nasehat ibunya seakan selalu menari-nari di telinganya , bahwa seorang istri yang baik haruslah senantiasa menjalankan kewajibannya melayani suami, meski apapun yang sedang terjadi. Sandra menangkap penderitaan dari wajah Niken. Sungguh ia merasa sangat iba pada nasib gadis itu. Ia bersukur hidupnya lebih beruntung dibandingkan dengan nasib Niken. Setidaknya ia mendapatkan kedua-duanya suami yang setia dan kehangatan badani dari Alfi.

“Aku harap kamu jangan pulang dulu, bukankah tadi kamu bilang  jika suamimu sedang ke kota G?”

“Betul Sand emang kenapa?”

“Tidakkah kamu ingin menunggu Alfi pulang dari sekolah? Atau..kangen pada kehangatannya?”

Niken tersipu malu mendengar bahasa Sandra yang begitu vulgar baginya. Sejak kecil ia diajari bertutur bahasa yang halus, hingga akhirnya ia menjadi seorang pendidik.

“Se…baiknya ja..ngan Sand”

“Nga pa pa Niken manis aku tak cemburu Kok. Perlu kamu ketahui satu bulan ini aku dan Dian hampir semaput meladeni ‘kenakalannya’ di tempat tidur , lagian Alfi pasti kecewa jika kamu tak mau menemuinya.” ujar Sandra sambil menggenggam telapak tangan Niken. Ia ingin Niken dapat merasakan ketulusan hatinya.

“Ta..pi..Sand”

“Ngga ada tapi-tapian kamu sudah terlalu lama ‘puasa’. Aku tak ingin lagi melihat kesedihan pada wajah cantik ini”

Niken tahu Sandra berniat tulus membantunya. Tentu saja ia mendambakan perjumpaan dengan Alfi. Kebersamaannya dengan Alfi dulu telah meninggalkan kenangan indah dan selalu membekas dihatinya. Begitu sulit untuk dilupakan sampai terkadang ia sering mendapatkan mimpi erotis dalam tidur-tidurnya.



“Sandd… makasihh.. kamu baik sekali padaku” ujar gadis itu lirih.

Sandra memeluk erat sahabat barunya itu sebelum tangisnya meledak lagi seperti tadi sambil berbisik.

“Nien.. aku turut prihatin dengan keadaanmu biarkan aku dan suamiku membantumu mendapatkan lagi kebersamaanmu dengan Alfi ….  ”

Seakan mendapat pencerahan dan dadanya terasa longgar terlepas dari sebagian bebannya selama ini . Niken terlihat ceria bercanda ditemani Sandra Terkadang terdengar tawa mereka berderai memenuhi ruangan. Hingga berjam-jam tak terasa. Hari sudah menunjukan pukul satu siang. Sandra bangkit dari duduknya sambil menarik tangan Niken

“Nien ikut aku ke kamar sebentar, ada yang ingin aku perlihatkan padamu”

Niken menurut meski ia masih diliputi tanda tanya. Saat Sandra membuka daun pintu sebuah lemari pakaian Niken dapat melihat di dalamnya ada banyak pakaian dalam dan sejenisnya di situ. Sandra mengambil sebuah Lingerie atau sejenis pakaian dalam yang seksi berenda-renda berwarna hitam.

“Nien coba kamu pakai ini, Alfi paling suka dengan warnanya karena kontras dengan warna kulit kita”

“Sand aku.. tak pernah…”

“Pakai saja Nien, Aku ingin Alfi melihat bidadarinya dalam kecantikan yang sempurna”

Niken agak jengah gaya liar Sandra yang sangat bertolak belakang dengan dirinya. namun di dalam hatinya ia membenarkan ucapkan Sandra. Sungguh iapun ingin terlihat menyenangkan Alfi. Lingerie itu diraihnya lalu dihadapan Sandra ia menganti pakaiannya.



“Ck..ck.ck..tubuhmu sempurna sekali Nien, pantas saja si Alfi klepak-klepek ”

“Aku jadi malu kamu puji terus, kulihat tubuh kita berdua tak berbeda Sand buktinya saat bersamaku ia sering muji-muji kamu dan kedua temanmu, katanya kak Sandra bohai-lah, kak Dian punya body gitar-lah dan bahkan ia paling suka payudaranya Nadine bagai melon kembar katanya.”

“Hi..hi..hi  iya ya dia emang suka muji kami seperti itu, kalau aku ngga salah ia sering menyebutmu….”

“bu guru molek” ujar mereka berdua nyaris berbarengan.

Mereka berdua lantas tertawa cekikikan.

“Eng.. Nien apakah Alfi mempunyai pacar di sekolahnya saat kamu masih mengajar di sana?”

“Setahuku tidak ada Sand. Kenapa kau tanyakan hal itu?”.

“Aku hanya cuma kuatir bila ia sampai pacaran dengan gadis seusianya, kupikir belum tentu gadis seusia itu mampu menerima kejantannya yang ngga ‘normal’ itu bisa-bisa kewanitaan mereka cidera oleh Alfi, kita sebagai wanita dewasa saja kelabakan meladeninya bukankah sudah kau rasakan sendiri”.

“Iya juga sih namun sepertinya Alfi tidak tertarik dengan gadis-gadis seusianya walau di sekolah banyak siswi yang cantik. Bahkan  ia pernah mengatakan kalau ia cuma suka dengan wanita yang tubuhnya sudah tumbuh sempurna seperti kita..”jelas Niken

“Syukurlah jika demikian”

Tingtong!! Bel kembali berbunyi

“Itu pasti Alfi Nien, biar aku saja yang menyambutnya sebaiknya kamu tunggu ia disini biarkan ia mendapat kejutan”


Niken

Niken

Niken bergegas merapikan diri. Ia berdiri menunggu di depan kasur. Bagian atas lingerie itu bagai hanya tergantung pada ujung payudara indahnya. Sedangkan bagian bawahnya melayang menghiasi kedua batang pahanya yang putih mulus. Sandrapun memberinya sebuah celana dalam berwarna senada yaitu hitam berenda yang terlihat mengintip mengoda dari balik lingerie-nya. Jantungnya berdetak keras menantikan pertemuan yang mendebarkan ini. Sementara itu Sandra membukakan pintu. Alfi langsung memeluk dan membekap bibirnya dengan ciuman.

“Emmpp…”

Anak ini selalu begitu… Ini juga merupakan daya tarik seksual dari Alfi. Ia selalu hangat dan penuh gairah di setiap situasi kepada setiap gadisnya namun tentu saja hal ini tak berlaku jika ada orang lain yang melihat. Sandra begitu menyukai kemesraan yang ditunjukan Alfi itu.

“Ihh..baunya!..sana mandi dulu yang bersih. Kakak tunggu kamu di kamar tidur kakak kalau kamu udah wangi, kakak punya kejutan besar buat kamu” ujar Sandra begitu ciuman itu terlepas.

“Asiikkk… kejutan apa ya kak?”

“Ada aja deh, pokoknya kamu pasti suka”

Meski diliputi rasa penasaran namun tanpa menunda-nunda lagi Alfi bergegas membersihkan diri. Ia  tahu para wanita begitu sensitive terhadap kebersihan tubuh pasangannya. Bau yang tidak enak dapat menurunkan gairah mereka dan dapat menggangu kemesraan yang sedang berlangsung. Seluruh tubuh termasuk batang penisnya ia sabuni terutama pada bagian kulit kulupnya dan juga pada setiap lipatan yang ada. Pernah satu kali dr.Lila menawarkan pada Sandra agar bagian kulup itu di buang saja atau disunat. Namun ke tiga gadis itu menolak. Mereka justru menyukai bagian itu yang katanya paling seksi dari penis Alfi



Setelah yakin tubuhnya bersih, Alfi mengeringkan diri. Lalu tanpa mengenakan pakaian terlebih dahulu ia bergegas menuju ke kamar Sandra. Penisnya sudah tegang dan kaku itu berayun-ayun saat ia berlari kecil. tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu Ia menerobos masuk.

“Kakk Sandraaa..Alfi suddahh… siaaa……”

Tiba-tiba saja Alfi tak bisa menyelesaikan kalimatnya, suaranya seakan-akan tercekat tersangkut pada kerongkongan. Pandangannya menatap kaku kedepan dengan mulut melongo. Lalu ia mengucek kedua matanya seakan tak percaya dengan apa yang ia dilihatnya saat itu. Ternyata ia memang tidak sedang menghayal atau bermimpi, di hadapannya kini telah berdiri seseorang yang selama ini sudah sangat ia rindukan…. Niken dengan segala kencantikan dan kesempurnaan ragawi seorang wanita..

“Alfiii… apa kabar sayangg” sapa gadis itu.

Alfi tak lagi mampu menjawab . Ia segera berlari menubruk dan menangkap tubuh gadis itu dalam pelukan. Tak ada yang bisa mencegahnya kali ini. Bibirnya segera menemukan bibir Niken dan memagutnya dalam sebuah ciuman panjang dan panas. Mereka tak peduli pada nafas mereka yang hendak bersikulasi. Keduanya saling mengecup, mengisap dalam gairah tinggi menumpahkan segala kerinduan dan kasih sayang terhadap orang dipelukannya.

“emmppp…emmppp..” hanya bunyi itu yang terdengar di antara tautan bibir ketat mereka.

Jemari Alfi menemukan buah pantat montok bekas gurunya itu, diremasnya lembut sambil ditekan kearah tubuhnya. Ciuman itu berlangsung bermenit-menit. Tak ada tanda-tanda keduanya akan segera mengakhiri ciuman tersebut. Semakin lama ciuman itu berubah semakin lembut. Sementara air mata meleleh pada pipi Niken. Hingga akhirnya bibir mereka terpisah sejenak. Mata keduanya saling menatap.



“buu Niken…buu…buu ja..nga pernah tinggalin Alfi lagi ya buu …” ujar Alfi memohon dengan wajah memelas

“Ssttt…sudah ngga usah bicara lagi,  perasaanmu sama dengan ibu….” Niken menempelkan telunjuknya ke bibir Alfi

“benar ya buu”

“Ya fii… ibu janji ngga akan ninggalin kamu lagi karena Ibupun tak bisa hidup tanpa kamu”

“kalau begitu Alfi bolehkan jadi…suami ibu? Alfi mau menikahi ibuu”

Niken tersenyum geli. Menikah? anak ini ia serius saat mengatakan itu. Alfi rupanya ingin memiliki dirinya secara utuh dalam hubungan yang sacral. Padahal tanpa menikahpun ia telah menyerahkan hati dan tubuhnya secara utuh kepada Alfi.

“Hi hi kamu harus sabar menunggu beberapa tahun lagi hingga usiamu cukup untuk itu sayang, lagian sekarang ibu masih terikat oleh tali pernikahan dengan pak Donie”

“Alfi ngga perduli,  Alfi maunya jadi suami ibu sekarang bolehkan bu?”

Sekilas Niken melihat garis kecemasan di wajah Alfi. Ia tak tega kekasihnya itu kehilangan harapan untuk memilikinya. Alfi sudah cukup menderita kehilangan dirinya dan Niken tak mau menambah kesedihan anak itu.

“iya sayang….. sejak sekarang kamu boleh menganggapku istrimu, besok-besok kita cari orang yang bisa menikahkan kita”

Alfi girang bukan main ia merasa yakin kali ini Niken tak akan meninggalkannya lagi.

“Alfi kangen sekalii bu, ibu jangan pulang dulu , ibu menginap saja di kamar Alfi, Alfi mau entot ibu sampai besok pagi ya?”

“Hi hi iya deh aku siap kamu apa-apain tapi kamu maukan sekarang panggil aku dengan sebutan Kak Niken saja bukan ibu, aku tak ingin terlihat jauh lebih tua di bandingkan ke tiga gadismu yang lain”



Dalam hati Niken gembira bukan main, ia tak dapat melupakan sentuhan-sentuhan Alfi yang jantan dulu yang memberinya jutaan kenikmatan ragawi. Saat ini Niken benar-benar dalam kondisi haus akan belaian dan ini akibat ketidakmampuan Donie sebagai laki-laki. 

“iya kak .. kakak Niken manis”

Kegembiraan hatinya tak mampu lagi ia ungkapkan lewat kata-kata. kerinduannya kini telah  menyatu dengan gairahnya. Tanpa menghiraukan keberadaan Sandra di sana, ciuman panas itu terjadi lagi. Semuanya terjadi di hadapan Sandra. Ia tersenyum-senyum menyaksikan adegan tersebut. Ia sangat mengerti perasaan mereka saat ini. Ia teringat hal ini pernah dialaminya pada saat malam pengantinnya dulu. Perlahan ia keluar dari kamar dan menutup pintu. Tanpa melepas ciumannya perlahan tubuh Niken bergerak mundur terdorong ke arah kasur. Tubuh sintal itu kini terlentang dan menggeliat pasrah dalam tindihan tubuh telanjang bocah 16 tahun. Kejadian di dalam kamar cottage xx tempo hari sepertinya bakal terulang kembali. Namun kali ini berlangsung di atas ranjang empuk Sandra. Meski sama-sama dalam kondisi tegangan tinggi dan kerinduan yang teramat dalam, namun Alfi tak ingin tergesa-gesa melakukan penetrasi ke vagina Niken. Ia ingin memberikan kepuasan total agar Niken tak akan meninggalkan dirinya lagi. Ia sadar ini akan menjadi suatu sore yang panjang bagi mereka berdua. Alfi melepas dulu ciumannya. Matanya menatap Niken. Niken terlihat sangat cantik terbaring di sana dengan bibir yang merekah dan rambut yang tergerai di atas bantal. Buah dadanya dapat terlihat dari balik lingerienya yang tipis, menjulang seperti dua gunung kembar. Sungguh ia adalah bidadari yang sangat molek. Mungkin hanya kak Sandranya yang mampu menandinginya. Jemari Alfi masuk menyusup ke balik Lingerie indah itu dan meraih payudara Niken yang ranum dan putih mulus kemudian mengeluarkannya dari pembungkusnya. Puting susunya yang kemerahan mulai mengeras karena diakibatkan oleh pergerakan tangan Alfi.



Kecupan Alfi  beralih ke leher jenjang Niken perlahan turun hingga sampai di belahan dada gadis itu  lalu lidahnya mulai menjilati setiap jengkal permukaan kulit kedua bukit putih kembar di hadapannya. Ia mengetahui dan selalu ingat dimana saja titik kenikmatan setiap pasangan wanitanya. Niken paling menyukai bagian yang ini dimana saat Alfi mulai  menyusu bagai seorang bayi pada payudara kirinya. Mulanya bibirnya menghisap dengan lembut sambil sesekali memutar-mutar lidahnya lalu semakin kuat seakan ingin menelan puting susu itu.

“Errggggggg…Fiii…” gadis itu merintih-rintih

Namun sensasi ia rasakan kali ini sungguh berbeda dengan dulu. Rasa geli dan nikmat yang dengan cepat diikuti oleh sebuah perasaan menyenangkan yang hebat, lalu menjalar ke setiap syaraf pada seluruh tubuh lalu menyebar hingga ke pinggul bagian bawah.

Tak disangka-sangka, vaginanya yang belum diberi rangsangan sama sekali telah berkontraksi sendiri. Niken mengalami sebuah orgasme padahal vaginanya masih dalam keadaan kosong dan belum memiliki sesuatu untuk dijepit.

“Auwwwww……fiiiiiiiiiiii!!!!” pekiknya tertahan sambil menekan erat kepala Alfi pada payudaranya

Alfi berhasil meletupkan kenikmatan yang selama ini tak mampu diberikan oleh suaminya. Celana mungil yang diberikan Sandra terbuat dari bahan yang sangat lentur. Selama ini Alfi selalu menyetubuhi Sandra tanpa membuka celana dalam tersebut terlebih dahulu. Ia hanya cukup menyingkap sedikit bagian tengahnya sehingga tititnya dapat melakukan penetrasi. Begitupun kali ini. Sesekali ujung tititnya yang berkulup masuk sedikitt dan mencolek belahan yang sudah mulai basah itu. dan membuat  vagina Niken bereaksi berkedut-kedut  mencucup benda tersebut. Beberapa kali gadis itu mencoba mengangkat pinggulnya namun percuma saja Alfi selalu menarik kejantannya menjauh.



“oughh..Fiii.. …masukin itumu dong sayanggg…..” rengek Niken. Ia sungguh sudah tak sabar agar Alfi menuntaskannya. ia sudah terlalu lama menanti kejantanan Alfi untuk mengadul-aduk kewanitaannya dan sekaligus berinya kenikmatan seperti dulu.

“Kakk.. kakak ngga takut kan kali ini Alfi buntingin?”

“Ohhh..Alfiii….lakukan sayangggg…Kakak mau uu hamilll anak kamuuuu …”

lalu Alfi menggenggam penis besarnya yang sudah menegang penuh dan diarahkan pada vagina Niken. Ia terlebih dahulu menyapu kepala penisnya ke atas dan bawah di sepanjang bibir cantik itu sebelum melakukan penetrasi. Setelah  terlihat cairan yang merembes semakin banyak keluar dari celah vagina Niken, barulah ia menekan batang kemaluannya masuk.

“terima titit Alfi sekarangg. Kakk.”  Mereka saling berpandangan sejenak sesaat sebelum penyatuan itu terjadi dan

Srtttt  …..Lepp…bibir vagina Niken terbelah dan kepala penis Alfi mulai menghilang ke balik bibir vagina itu. Labia dalamnya mencengkram dengan ketat sehingga mencegah kepala penis itu masuk lebih dalam.

“Ouhhhh…Fiiiiii..pelaann-pelannn sayanggg” rintihnya begitu merasakan nikmat bercampur sedikit rasa perih pada selangkangannya. Napasnya sampai  tersengal-sengal Ia tak menyangka titit Alfi tumbuh lebih besar dari tempo hari. Benda benar-benar itu sudah tumbuh dengan sempurna pada tubuh kecil Alfi. Bahkan jauh lebih besar dari milik suaminya.

“Sakitt..ya..kak? kok punyaa..kakakk..tambahh sempittt!! tambahh… enakk..Ouuhhh”

“Uhh.. punyaaa kamuu yangg tambahh ..b..esarrr …Fiii”

Untunglah Alfi bersikap sabar saat melakukan penetrasi pada vagina Niken walau kondisinya yang sudah sangat terangsang. Alfi menduga pastilah Donie mempunyai penis yang kecil sehingga vagina Niken  ia rasakan masih sangat  rapat seperti dulu.



Niken membuka pahanya lebih lebar untuk memberi ruang bagi Alfi memasuki dirinya.

ketika otot-otot vaginanya mulai rileks, Alfi mulai lagi menekan lagi dan srttttt…batang penisnya yang hitam besar itu melesak lagi sedikit dan seperti awal tadi, Niken tersentak sambil menjerit

“Awwww…Fiiiiiiii…Saakkiiiittt” ia merasakan vaginanya dipaksa merenggang sampai batas maksimal.

Alfi mulai mengocok penisnya selembut  mungkin sehingga membuat bibir vagina Niken perlahan-lahan lebih meregang sedikit demi sedikit menyesuaikan diri dengan ukuran penisnya. Kemaluan anak bagai membongkar liang senggamanya dan menimbulkan rasa sakit dan linu diiringi nikmat yang luar biasa. Perlahan tapi pasti sebagian besar dari batang hitam itu masuk ke dalam tubuhnya dan tiap hentakan dia menerobos semakin dalam…semakin dalam…dan  Leppp…hingga akhirnya terbenam seluruhnya tanpa sisa bersatu kembali dengan liang cinta yang pernah diperawaninya dulu.

“Oghhhh…Fiiiii….”

Niken menggeliat dan merintih sambil melingkarkan kedua kakinya ke pantat Alfi lalu menekankan tubuh anak itu agar penisnya tetap dalam posisi terbenam dalam vaginanya. Daging itu mampu menjamah tempat yang tak mampu dijangkau oleh penis Donie. Ujungnya yang masih berkulup itu menekan mulut rahim. Sementara tetisnya membentur pantat putih Niken. Mata Niken terpejam menikmati sensasi nikmat yang semakin lama semakin menyengat. Dan tak menunggu lama vaginanya kembali berkedut keras dan Niken kembali Orgasme!

“Argggg….. Alllfiiiiiihhhhhhhhh!!!…”

Beruntung Alfi sudah berpengalaman bersetubuh dengan banyak wanita dan sudah berkali-kali orgasme tadi malam jika tidak mana mungkin ia dapat bertahan selama ini dalam lumatan istimewa vagina Niken



“Fii…kakak cinta sama kamuu” bisik Niken setelah orgasmenya mereda.

kebahagian terpancar dari wajahnya yang cantik. Pipinya merona merah

Apa yang ia dambakan sebagai seorang istri, kepuasan sejati dalam persetubuhan, kini sudah dituntaskan bukan dari suaminya melainkan dari Alfi, bekas muridnya yang pertama kali telah mengenalkannya dengan dunia seks, sekaligus merengut kegadisannya, dan membuatnya ketagihan disetubuhi anak itu.

“Ohh.. Benarkah kak? Kakak sayang dan cinta sama Alfi” seakan tak percaya mendengar langsung Niken mengucapkan kata ‘cinta’ kepadanya. Ditatapnya kedua bola mata gadis itu seakan mencari-cari  kebenaran di situ.

“ya Fii, Kakak cinta padamu” ujar Niken sambil membelai kepalanya. Iapun tak mengerti perasaan sayangnya kepada Alfi yang semakin lama semakin menguat bahkan ia merasa tak dapat hidup tanpa bocah keling ini. Yang ia butuhkan adalah  perhatian dan kasih sayang yang berlimpah selama ini Alfi tunjukan padanya, bukan napsu sesaat , ketampanan dan materi yang ada pada diri Donie suaminya.

“Alfi sejak dulu cinta kakak” ujarnya kembali menenggelamkan kepalanya dalam pelukan . Kala sebelum menikah Niken belum sepenuhnya memberikan hatinya padanya mungkin hanya sebatas dorongan napsu dan rasa kasihan saja namun kini anak itu bangga dirinya yang buruk hitam itu bisa mendapatkan cinta gadis semolek Niken secara utuh.

“Entot kakak lagi fiii…” pinta Niken

“He e Kak” ujar Alfi bersemangat.

Jika dulu setiap kali ingin mengulangi persenggamaan Alfi-lah yang selalu memohon padanya. Namun kini Niken sudah tak malu untuk memintanya terlebih dahulu. Adegan persetubuhan seorang bocah ABG dengan wanita dewasa penuh gairah tinggi itu berlangsung lagi.



Penyatuan dua insan berbeda jenis dan usia. berbeda pula status sosial, bahkan begitu tak sepadan untuk disandingkan. Niken yang cantik bertubuh indah menggelepar dan merintih dalam genjotan seorang bocah kurus kering berkulit hitam kesat. Alfi mengocok mengayunkan pinggulnya dengan cepat dan dalam diringi desah dan rintihan keduanya. Tak ada yang terlewat oleh adukan penis besar Alfi. Daging hitam itu menekan, clitoris, G-spot, mulut rahim dan seluruh gumpalan-gumpalan daging dalam vagina gadis itu sehingga menimbulkan perasaan geli nikmat bagi Niken secara total. Kejantanan Alfi yang sejak kecil sudah terlatih ngentot serta di godog oleh ramuan ajaib Sriti tumbuh dengan ukuran besar dan panjang dan memiliki struktur yang kokoh perkasa. jangankan gadis biasa seperti Niken seorang bintang porno sekalipun mampu bocah itu taklukan. Menit-menit berlalu. Peluh mengucur dari tubuh keduanya. Udara kamar yang dingin tak mampu menghalau panas gelora yang memancar dari himpitan keduanya. Niken sudah merasa sebuah dorongan dasyat hendak pecah. Kukunya menancap pada bongkahan pantat alfi yang hitam legam.

“Awww..owww..fiih..ffiiihh..”

Orgasme gadis itu pecah tak tertahankan …..dan kali ini tak hanya berlangsung sekali… dua kali…tiga..dan terjadi terus susul menyusul bagai sebuah mata rantai!

“Aooooooooo…Fiiiiiiii……..eenaaakkk ….bangett!!!” jika sudah sampai pada tahap ini Niken bibir mengeracau tak karuan. Tubuh sintal itu mengelinjang dan mengelepar bagai seekor ayam yang disembelih. tubuh kecil Alfi-pun ikut terlonjak-lonjak namun tetap melekat erat bagai seekor lintah yang menggarap mangsanya. dekapannya yang kuat tak membuat tubuhnya merenggang sedikitpun dari tubuh cantik Niken.



Dulu setiap kali Alfi melakukan persenggamaan dalam waktu yang lama. Vagina Niken menjadi semakin sensitif menerima setiap gesekan dengan penis Alfi. Hal itu membuatnya orgasme datang  tak henti-hentinya menyapa sepanjang persetubuhan seakan orgasme yang satu menjadi pemicu datangnya orgasme berikutnya. Bahkan beberapa kali orgasme itu mampu membuat Niken terkencing-kecing bagaikan sedang berejakulasi. Sebuah fenomena yang tak Niken mengerti, namun itulah yang membuatnya sungguh tergila-gila dengan penis bocah itu dan kini hal itu  tersebut kembali dialaminya. Alfi memang seorang pejantan sejati, namun sepertinya ia sudah tak lagi mampu bertahan. Selama sepuluh menit vagina Niken melumat penisnya tanpa henti dan ia  sudah memberikan orgasme tak berujung pada gadis itu. Ia merasa ini adalah saat yang tepat baginya melepaskan ejakulasinya. Spermanya sudah terasa mengalir perlahan disepanjang saluran kencingnya. Tak mungkin untuk ia tahan lebih lama lagi. Kepalanya menyusup ke relung leher Niken seraya berbisik

“Kaaak…. Alfiii…muncratt … kakaaak..”

“kamuuuu udah mauu sekarangg sayangggg?”

“Iyaaaa  kakkkk sekarangggg  oughhh”

“Ohh..keluarinnn…semuaaa sayangg…..isii rahimmmkuu  samaa benihhh..muuu” Niken merasakan daging kejantan bocah itu mengembang mengempis  bertanda akan segera berejakulasi.

Pelukan Alfi mendekap sambil menekan penisnya sedalam mungkin ia dapat masuk hingga menyentuh dasar liang senggama Niken.

“Aargggggg…. Fiiiiiiiiiiiiiiii….…” Niken terpekik saat orgasme yang paling kuat datang menyergapnya, jemarinya  mencengram dan menekan bongkahan pantat bulat bocah itu.



Pinggul gadis itu berayun terangkat membuat liang senggamanya menelan habis batang titit Alfi tanpa sisa. Semua otot-otot kewanitaannya berkontraksi berirama dengan sangat cepat dan kuat diikuti di bagian panggul dan rahim. Lalu diakhiri dengan cengkraman kuat pada penis Alfi. Kocokan  Alfi mendadak macet total, penisnya bagai tercekik dan terkunci. Bahkan gumpalan sperma kental yang terdorong dari testis nya sulit memancar hingga menyesaki saluran dalam tititnya. Kejadian yang berlangsung hanya beberapa detik itu membuat Alfi ia bagai melayang ke surga. rasa geli plus nikmatnya sungguh menyengat tak tertahankan. Kontan saja Alfi terpekik keras sementara kedua matanya  mendelik dan hanya terlihat bagian putihnya saja.

“Aaaaoooooo…..enaaakkkkkkkkkkkkk!!!!!!!!”

setelah vagina Niken kembali berkedut-kedut barulah titit Alfi agak lega memuncratkan sperma. Cairan itu melesat bagai peluru begitu terlepas sumbatannya.

Creettt…cretttt…cretttt…Begitu banyak jumlah cairan  yang  ia muntahkan sehingga vagina dan rahim Niken bagai tak mampu menampung semuanya. Sebagian tumpah dan mengotori seprey kasur Sandra. penantian mereka selama ini akhirnya telah tertuntaskan. Sandra sempat terkaget mendengar jeritan anak. Untung saja rumahnya yang berhalaman luas berada cukup jauh dari bagunan milik tetangga.

“Gilaa.. diapain aja si Alfi sama Niken sampai meraung begitu? kena batunya juga rupanya si bandel kecil itu”gumam Sandra sambil tersenyum geli.

Rasa penasaran membuat ia berkeinginan mengintip keadaan di dalam kamarnya. Tak ingin mengganggu Ia mendorong sedikit daun pintu. di hadapannya ia menyaksikan  tubuh Alfi dalam keadaan melekat menyatu dan memeluk erat dengan tubuh sintal Niken masih dalam belitan orgasme bareng yang dasyat. Sesekali itu pinggul bocah itu menghentak- hentak sambil terus menerus memompakan benihnya ke rahim gadis itu seakan-akan ia ingin mengosongkan seluruh isi testisnya.



Uhhh ..Niken masih tetap orgasme dalam kondisi itu. Sandra tercengang ternyata ada wanita lain yang mengalami hal tersebut selain dirinya. Selama kejantanan Alfi tetap mengeram kaku dalam vaginanya maka wanita itu akan terus memperoleh kenikmatan bersambung-sambung tanpa henti. Daging hitam besar itu tetap kukuh meski sudah berejakulasi. Dan seperti biasa beberapakali orgasme belum mampu membuat birahi Alfi mereda. Mulanya Sandra tak ingin mengganggu keduanya yang sedang asyik masyuk namun gairahnya yang naik memerintahkan lain. vaginanya berkedut-kedut seakan minta jatah kenikmatan. Perlahan satu persatu pakaiannya jatuh ke lantai hingga tubuhnya bugil total. Sandra perlahan mendekat kearah tautan kemaluan keduanya. Perlahan lidahnya menjulur dan menyapu lelehan campuran cairan cinta kedua insan itu.

“Ohh..Sandddd..apa yang kamu lakukannn..ohghh” Niken sempat terkejut melihat Sandra sudah berada di sana. Ia tak menduga Sandra mau menjilati miliknya, rasa geli dan nikmat menambah panjang sesi orgasme Niken akibat sapuan lidah Sandra pada bibir vaginanya yang masih merekah lebar oleh penis Alfi. Sandra menghentikan jilatannya ketika ia melihat orgasme Niken sudah mereda. Lalu berbaring menyamping menghadap tubuh Niken. Sementara kepala Alfi-pun sudah terkulai

“Maaf ya Nien telah mengganggu kalian abis aku terangsang banget liat kalian bereng tadi” ujarnya sambil menyeka sisa tetesan sperma Alfi disekitar bibirnya.

“Kamu juga suka begituan dengan sesama cewek Sand? Kulihat kamu ngga jijik jilatin punyaku tadi.”

“Aku cuma mau melakukannya dengan gadis tertentu saja, seperti Dian, Nadine,…. dan juga kamu”

“Makasih ya Sand, kamu mau menerima aku jadi bagian hidup kalian.”

“Kurasa kamu pantas bahagia, Nien”



Ketika tatapan kedua beradu

“Boleh Nien?.” bisik Sandra menurunkan wajahnya

“He e” Niken mengangguk matanya terpejam menanti bibir Sandra menyentuh bibirnya.

“Emppp..mpppp”

Keduanya saling memagut, mengecup dengan panas dan menghisap lidah. Ini pertama kali dalam hidup Niken melakukan ciuman dengan sesama wanita. Sebelumnya Niken tak pernah tertarik dengan berhubungan dengan sesama jenis namun entah mengapa ia kini malah meladeni permainan Sandra dan bahkan menikmatinya.

“Kamu memang terlalu mengairahkan untuk ukuran seorang guru, Nien” puji Sandra ketika ciuman mereka terlepas.

“Kamupun terlalu mengiurkan untuk menjadi seorang ibu asuh Kan? Hi hi hi”

Mereka tertawa lepas. Tak ada lagi beban berat di hatinya selama ini. Bagi Niken berada di tempat yang tepat diantara orang-orang yang menyayanginya telah mampu memberinya rasa aman dan kedamaian. Tekadnya sudah bulat. ia tak ingin kebahagiaannya terengut oleh aturan dan adat yang ada. Bahkan ia sudah tak peduli lagi dengan nasib perkawinannya dengan Donie ke depan. Kini Ia sudah mengerti membedakan antara kebahagian sejati dan yang semu.

 “Kak Sandra terima kasih ya kejutannya.” Ucap Alfi

“Masa cuma bilang terima kasih doang?”

Alfi nyengir lalu menatap Niken

“Kakk boleh Alfi ngentot sama kak Sandra dulu?” ujarnya meminta ijin pada Niken.

Setelah Niken mengangguk barulah ia mencabut lepas penis perkasanya dari vagina Niken. Plop! Penis itu sempat meninggalkan lobang menganga, namun dengan cepat mengatup lagi bagai sebuah bibir tipis. Sebagian cairan kental pun mengalir keluar dan sebagian lagi tetap tertinggal di rahim Niken.



“Eng..tapi jangan lama-lama ya Fii punya kakak masih ngilu bekas kamu kerjai tadi malam” mohon Sandra. Ia tahu sekali bila kontol Alfi sudah memasukinya pastilah butuh waktu lama untuk mengakhiri persetubuhan itu.

“Kamu cari gara-gara sich Sand” ujar Niken tersenyum geli.

Alfi kini mulai bergerak mengangkangi Sandra, kepala kemaluan Alfi yang membengkak itu menempel dan digesek-gesekan ke  bibir vagina Sandra. Nafas Sandra tertahan-tahan merasakan tekanan birahinya.

“Fii perlahan ya ..”

Lalu tanpa ba bi bu kontol hitam yang masih basah oleh lendir Alfi dan Niken itu di sodokan membelah bibir vagina Sandra. kedua tangan Alfi berpegang pada pinggul Sandra sambil menusukkan kemaluannya kuat-kuat  bawah. Blesss!! penis Alfi berhasil memasuki kemaluan Sandra secara sempurna.

“Ougghhhh…Fiii.. enakkkk bangettt”  erang Sandra ketika vagina sudah penuh sesak oleh kemaluan Alfi, Kedua tangan Sandra berpegangan kuat-kuat pada leher Alfi sementara kedua kakinya menjepit pinggang Alfi kuat-kuat. Sandra memutar pinggulnya yang padat sesekali menghentakan-hentak secara kuat dan liar.

“Aooooo….Kakkkkkk Sandraaa  enakkk!!” pekiknya. Tititnya bagai dihisap , dicengkram, dikulum bahkan saat Sandra menghentak seakan vagina gadis itu hendak mencabut putus miliknya. Rasa geli menjalar cepat terutama pada bagian kepala penis yang dipenuhi syaraf kenikmatan. Alfi tak membiarkan dirinya ditaklukan secepat itu, ia segera bergerak mengentot. Kemaluannya yang hitam besar mulai maju-mundur dengan cepat, tusukannya selalu dalam dan kuat. Liang vagina Sandra bagai tertarik keluar saat Alfi menarik penisnya, begitupun saat ia menekan bibir vagina Sandra seakan ikut terdorong masuk kedalam.



Wow…Niken jadi teringat pertama kali saat ia mengintip persetubuhan Sandra dan Alfi tempo hari. Kala itu pandangannya tak begitu leluasa. Tak disangka-sangka kini ia menyaksikan adegan itu lagi dari jarak demikian dekat. Ia takjub akan ukuran kejantanan Alfi yang besar dan panjang,  juga pada staminanya padahal baru saja bocah itu mengintiminya selama lebih satu jam tanpa henti dan kini ia sudah nangring diatas tubuh gadis lain. Wajar saja Sandra dan para sahabatnya kewalahan, gairah anak ini memang tak kujung reda.

“Oughhhhhhhh….. kakaaak keluaaar….Fiii.” Sandra  menjerit penuh dengan kenikmatan.

ia merasakan orgasme yang luar biasa. Punggungnya melengkung dan cairan kenikmatannya membanjiri titit Alfi yang perkasa. Sandra terus mengejang sambil terus mengeluarkan cairan kenikmatan . Kukunya tambah kuat menancap pada pantat Alfi yang bulat.

“Fii udahan dulu ya punya kakak ngilu”

“Dikit lagi ya kak, mani alfi sudah mau muncrat”

Sandra tak bicara lagi, ia tahu tak mungkin membujuk pejantan kecil ini untuk berhenti mengumulinya. Ia menarik kepala Alfi kearah payudaranya.

“Ernggggg…geliiiii” erang Sandra ketika salah satu puting payudaranya sudah dalam kuluman bibir Alfi. Setelah mengalami orgasme, tentu saja tubuhnya dalam keadaan bertambah sensitive terhadap sentuhan. Rasa geli lebih dominan ketimbang rasa nikmat.

Oh… Sandra orgasme lagi! Ia merasakan kembali kenikmatan itu datang. kocokan yang kuat dan cepat pada liang vaginanya mempercepat orgasmenya datang lagi. Tubuhnya melenting dan bibirnya merintih rintih. Diikuti dengan kontraksi pada semua otot-otot kewanitaannya yang berkedut-kedut keras dan berirama sekaligus menghisap setiap inci benda hitam besar yang mengaduknya sejak tadi.



“Oughhhhhh….Kakkkk”  kedua biji mata Alfi mendelik.

Lumatan vagina kedua wanita itu satu sama lain memang agak berbeda. Namun tetap saja jangan dikatakan nikmatnya. Itu membuatnya betah terus menerus menyetubuhi mereka. Lubang pipis Alfi memuntahkan cairan panas ke dalam rahim Sandra. Benih cinta yang tak ada habis-habisnya walau sudah dikuras berulangkali oleh dekapan dua vagina wanita cantik. Ketika dilihatnya Alfi tak lagi berejakulasi, Niken mendorong perut Alfi agar merenggang dari tubuh Sandra, batang titit Alfi terlepas dari balutan vagina Sandra. ia tahu Sandra tak kuat lagi melanjutkan persetubuhan. Plop! Dilihatnya kemaluan bocah itu masih berdiri kukuh, tak ada tanda-tanda anak ini mau mengakhiri persetubuhan ini. Alfi selalu kembali terangsang apabila melihat tubuh-tubuh indah polos Sandra dan Niken. Kedua tubuh yang ia perawani dulu yang memang sangat aduhai. Niken memasukan penis yang berlumuran cairan cinta Sandra dan sperma Alfi itu ke dalam mulutnya

Menjilati setiap tetes campuran penuh protein itu tanpa sisa. Setelah penis Alfi bersih, kepala gadis itu menyelusup ke antara paha Sandra. Terlihat kelopak kewanitaannya masih menganga dan didalamnya penuh dengan lendir bening. Meski baru pertama kali ia melakukan prilaku para kaum lesbian itu namun tak ada rasa jengah atau jijik pada diri Niken. Bau yang keluar dari situ malahan merangsang dirinya. Dijilatinya kemaluan Sandra dengan lembut, sambil meminum cairan yang tertinggal didalamnya. Alfi memang keterlaluan semalaman ia sudah menghajar benda cantik ini lebih dari enam jam lalu ditambah setengah jam-an siang ini. Bagaimanapun nikmatnya persetubuhan itu tetap saja menciderai Sandra.

“Ouhhh Niennn..” rintihnya.

Kelembutan Niken mendatangkan rasa nyaman sekaligus nikmat bagi Sandra. Hingga akhirnya orgasme Sandra memaksa seluruh sperma Alfi terdorong keluar bersama miliknya. Niken dengan sigap menghisapinya sampai  habis. Dasar bandelnya Alfi  penisnya yang masih agak tegang itu ia selipkan kembali ke dalam vagina Sandra. Dan dibiarkannya mengeram di situ



Alfi menyusupkan kepalanya dicekungan leher Sandra. Sementara tangannya mengelus-elus lembut dada Niken. Betapa membahagiakan berada di antara pelukan dua bidadari yang sangat dipujanya ini. Sayang kak Dian belum pulang dan kak Nadine dalam kondisi hamil. Ingin rasanya saat ini ia bersetubuh dengan ke empat gadis itu secara bersamaan.

“Fii” Sandra berbisik

“Iya kak?”

“Kamu lebih cinta aku atau kak Nikenmu Fii?” goda Sandra

“Kkakaakk.. …Alfi sayang dan cintaa sama kakakk berduaaa”

“Kalau kusuruh memilih salah satu, kamu akan memilih siapa?”

“Ahhh kakk.. jangannn nanya begituuu”

ujar Alfi mempererat dekapannya pada tubuh sintal Sandra. Ia kuatir Sandra cemburu terhadap kecantikan Niken. Dan memutuskan meninggalkannya

“Sand.. udahan bercandanya nanti dia stress” bisik Niken iba melihat wajah Alfi sudah memerah mau menangis.

“iya ..ya , kakak cuma bercanda kok, kakak tetap mencintai kamu Fii walau kamu punya banyak kekasih nantinya”

“Kak sandraaa, Alfi ngga mungkin ninggalin kakak, kakak cinta pertama Alfi, kakak Perawan pertama Alfi, Alfi cinta setengah mati sama kakak”.

“Idihhh gombalnyaa bikin aku klepek-klepek Nienn” ujar Sandra. Niken tersenyum geli

Ia tahu meski kedengaran gombal perkataan Alfi merupakan cerminan ketulusan cintanya pada Sandra dan dirinya.

“Fiii terlentang sayang, kakak mau di atas”  bisik Niken. Kali ini.ia menginginkan persetubuhan dengan posisi di atas tubuh Alfi.

Alfi melepaskan tindihannya dari tubuh Sandra. Lalu terlentang di antara keduanya dengan batang kemaluan berdiri bagai sebuah tonggak. Niken naik ke atas tubuh kecil anak itu. Perlahan vagina indahnya melahap hingga habis daging cinta Alfi yang hitam legam.



Clkteppp…sekejap penis besar Alfi menyatu sempurna dengan vaginanya, dalam posisi duduk dengan kaki terlipat kebelakang lalu Niken mengayun pinggulnya ke depan dan ke belakang. Kedua payudaranya  yang indah berayun-ayun mengikuti goyangan tubuhnya. Alfi hanya dapat menatap keindahan tubuh Niken sambil Jemarinya meremas pinggul bulat wanita itu. Tak banyak yang bisa ia lakukan dalam posisi ini. Ia membiarkan Niken mendominasi persetubuhan.

“Uhhhhh  Kakaak …punya kakkakk enakk bangettt…kakak cantikkk…kakakkk molekkk” Alfi mulai meracau karena keenakan.

“Hmm.. masih saja ngegombal ya, dasar laki-laki, rasakan inii…” kata  Niken sambil mempercepat ayunan pinggulnya  dan otot-otot vaginanya mencengram kontol Alfi lebih kencang dari sebelumnya yang membuat Alfi kian melambung keenakan.

“Ouuuuuuuggghh.. Kakakkkkk…Sayangggggg!!!!” lolong Alfi nikmat seakan jiwanya ikut terbetot..

Niken tahu rasa-rasanya Alfi tak akan menunggu waktu lama untuk berejakulasi. nikmat itu menggila dan tak dapat  anak itu  tahan lagi. Dan…creetttt…creett..crettt

“Kakaaaakkk…Allfiiii muncrattt!!!!! Ougghhh!!!”

Jemari Alfi mencengkram pinggul Niken kuat-kuat. Bersamaan dengan pekik nikmat, penisnya berkejat-kejat lalu lubang pipisnya melepaskan memuntahkan seluruh sisa spermanya kedalam rahim Niken. Meski tak satu tetes manipun  yang keluar lagi namun penisnya masih menghentak-hentak kuat dan vagina Nikenpun seakan tak pernah mengendur mencengram batangnya. Niken paling suka memandangi ekspesi wajah Alfi kala bocah itu mendapat orgasme darinya.



“Wow Nien… kamu hebat bisa menaklukan dia hi..hi” ujar Sandra yang sejak tadi tak lepas menatap persetubuhan mereka. Baik ia maupun Dian dan Nadine juga memiliki posisi favorite dan kebiasaan sendiri-sendiri. Sejak diperawani Alfi dulu Sandra lebih suka posisi ‘missionary’  di mana Alfi menindih tubuhnya, menghajarnya dengan hujaman kuat. Dian memilih ‘doggie style’ alasannya pada posisi itu Ia merasa G-spotnya tertumbuk secara maksimal oleh titit Alfi.  Sedangkan Nadine ada kecenderungan menyukai persetubuhan di luar kamar tidur. Tempat yang paling di sukai Nadine adalah kolam renang di rumah Sandra. Alfi melepas dekapannya lalu memutar kembali posisi tubuhnya kembali menindih tubuh Niken.

“Tungguuu duluu! Fii” seru Sandra saat Alfi mulai membentangkan kedua paha Niken dan segera akan kembali melakukan penetrasi.

“Kenapaaa kak?” ujarnya heran karena Sandra tiba-tiba mencegahnya.

“Kita istirahat dulu sebentar ya, setelah makan siang kita lanjutin lagi, apa kamu ngga kasihan sama kak Nikenmu?” jelas Sandra. Alfi mendongak melihat ke arah jam dinding. Uhh..ternyata sudah pukul 2.30 siang, pantas perutnya berbunyi-bunyi tanpa ia sadari.

“Iya ya kak, hi hi biar Alfi yang beliin keluar ya” ujarnya bergegas berpakaian dan menghilang dari balik pintu.

Sepeninggal Alfi keduanya memanfaatkan waktu buat beristirahat sambil memulihkan tenaga karena mereka yakin setelah makan Alfi akan menggarap tubuh mereka lagi.

“Nien, apakah kamu bahagia kan sekarang?” Tanya Sandra diantara napasnya yang masih belum teratur.

“He e Sand, aku bahagia …hanya saja…”

“Aku tahu kamu bingung memikirkan soal kelanjutan rumah tanggamu dengan Donie kan?”

“Iya itu Sand. Haruskah aku minta cerai saja pada Donie?”


Alfi

Alfi

“Hmmm… aku rasa biar Donie yang memilih”

“Mak..sudmu bagaimanaa Sand?”

“Cerai dari Donie adalah pilihan terakhir. Biarkanlah ia tahu hubunganmu dengan Alfi dan selanjutnya terserah ia mau menerima keadaanmu atau dia harus merelakanmu pergi”

“Jangaaan… Sand, a..ku takut hal ini akan menimbulkan masalah besar”

“Ngga usah kuatir manis, Aku tak akan gegabah, baiknya kamu nonton saja, biar aku dan suamiku yang mengatur hal itu. Yang penting sekarang kamu sudah mendapatkan kembali kebersamaanmu dengan Alfi.”

“Aku harus mempunyai alasan untuk itu Sand sebab Donie tak mengijinkan aku sering-sering keluar rumah”

“Sementara ini kamu bisa bikin alasan memberi les private bagi Alfi, Donie pasti tak dapat menolak bila Didit dan aku yang minta kamu ke sini. dan bila suamimu sedang ke  kota G si Alfi dapat menginap di rumahmu”

Meski masih belum mengerti betul akan rencana Sandra namun Niken menyetujuinya. Selama ini ia sudah cukup bersabar menanti datangnya kebahagian dalam rumah tangganya. Apalagi ibundanya kini sudah tiada jadi tak ada yang dikuatirkannya lagi. Awalnya ia hanya bisa pasrah dan tak tahu lagi harus berbuat apa namun Niken berpikir inilah saatnya bagi ia mengapai kebahagian bagi dirinya .

“Sand..”

“Ya?”

“Tadi Alfi meminangku”

“Hi hi kamu serius menanggapinya?”

“Menurutmu bagaimana?”

“Kurasa Alfi hanya sedikit trauma karena harus berpisah denganmu tempo hari. Lantas apa jawabanmu?”

“Aku tak ingin ia kecewa kukatakan aku bersedia ia nikahi. Sebenarnya yang jadi permasalahan aku kuatir setelah itu ia tak mengijinkan aku pulang atau bertemu dengan suamiku sehingga akan menggangu kelancaran rencanamu”

“Hi hi kamu ngga usah kuatir Nien. Nanti semuanya akan kita atasi bersama-sama. Saat ini aku ingin melihat kamu berbahagia dulu”

“Baiklah…makasih kamu mau bersusah payah demi aku, Sand” ujar Niken dengan senyum mulai mengembang pada bibirnya.



“Nah begitu dong..Yuk kita mandi bareng sambil nunggu Alfi pulang dari resto”

terdengar Bunyi air yang memancar dari Shower.

Tuk..tuk..seseorang mengetuk kaca dinding shower. Sandra menggeser pintu, di sana telah berdiri Dian dengan senyum manis.

“Hi” sapanya

“Eh Dian, kok sudah pulang? Oh ya ini Niken gurunya Alfi” ujar Sandra sambil mematikan keran air

“Panggil Nien saja” ujar Niken.

Dian menyambut uluran tangan Niken, lalu menariknya mendekat. tanpa takut bajunya basah. Lalu Dian mencium kedua pipinya. Ciuman itu beralih ke bibir Niken. mulanya Niken terperangah mendapat sebuan mendadak itu, namun sejurus kemudian ia sudah membalas lumatan bibir Dian. Cks..cks…ciuman singkat namun hot itu terhenti ketika Dian melepas lumatannya

“Nien..aku berharap kamu mau menjadi bagian dari keluarga kami” ujar Dian tulus

“Terima kasih yah kalian semua mau menerima kehadiranku” Niken terharu atas penerimaan ke dua wanita ini.

“E..e  kok  sedih-sedihan lagi, sekarang waktunya gembira dong” ujar Sandra

“Ck.. ck.. kamu ternyata memang sangat molek seperti kata Alfi”

“Ah.. kamu juga suka memuji seperti Sandra, Kalian berdua-pun mirip bidadari”

“iya ya emang kita semua cantik dan molek Hi hi . Sand sepertinya beberapa hari ini kita bisa beristirahat, biar Niken dulu yang menemani si Alfi”.

“Iya biarin mereka berbulan madu tanpa ada yang mengganggu” ujar Sandra menimpali  membuat pipi Niken memerah  malu.

“eh .. aku boleh gabung mandi sama kalian kan?”

“Ayolah..toh pakaianmu juga sudah basah gitu hi hi”

Selanjutnya hanya terdengar tawa canda ketiga gadis cantik itu diantara bunyi percikan air shower.
########################################

========================
Hukuman Manis Buat Donie
========================

Di tempat praktek Dr.Lila

 “Baiklah demi Niken sahabatku aku mau membantu kalian namun sebaiknya kita menemui seseorang yang tepat pada spesialisasi di bidang itu” ujar Dr.Lila saat sore itu Sandra dan Dian datang menemuinya di ruang praktek.

“Siapa orang itu La?” tanya Sandra tadinya ia berpikir Lila sendiri yang akan membantu. Ia baru teringat kalau Lila merupakan Ahli spesialis Penyakit Kandungan dan alat kelamin bukan seorang ahli Seksiologi.

“Mantan dosenku dulu. Ia seorang ahli Terapi Penyakit dan Kelainan Seksual. Namanya Dr. Hung atau orang sering menyebutnya Dr. H”

“Seperti dr.Naek atau Boyke?”

“Ya tapi ia tidak popular seperti mereka meski  lebih senior. Seharusnya ia bisa saja mendapat gelar Profesor jika ia mau”

“Kalau begitu sebaiknya langsung saja kita temui Apakah ia praktek di sini juga.”

“Sayangnya tidak. Setahuku ia tak lagi membuka praktek. Ia lebih banyak melakukan penelitian terhadap hal-hal yang berhubungan dengan masalah seksual  lalu mengirimkan hasilnya pada forum-forum kesehatan internasional.” jelas Lila. Lalu dokter cantik itu mengambil handphone-nya lalu berbicara dengan seseorang. Hanya singkat.

“Beruntung dia ada di rumahnya. Dan dia berkenan menerima kita sekarang” ujarnya setelah menutup percakapan di telepon.

Lila memutuskan menutup kliniknya lebih awal. Setelah meninggalkan pesan pada perawatnya ia lalu ikut dengan Sandra dan Dian menuju ke kediaman dr.H.

“Hati-hati bila berbicara dengannya. Dia orangnya gampang sekali marah apalagi menyangkut hasil risetnya” ujar Lila memperingatkan Sandra dan Dian saat mereka memasuki halaman sebuah rumah.

                                      

Sesosok wajah kusut mirip Einsten muncul mempersilakan mereka masuk. Secara singkat Lila menerangkan maksud dan tujuan mereka datang ke situ tentu saja ada hal-hal pribadi yang tak dikatakannya.

“Huh! temanmu itukah yang suaminya bermasalah” tanyanya sambil menoleh ke arah Sandra.

“Bu..kan doc tapi teman kami yang lain”

“Sekarang akan kujelaskan dulu mengenai penyakit suami temanmu itu.  Ejakulasi dini adalah salah satu keluhan wanita terhadap pria selain impotensi. Pada intinya seorang pria  gagal mengendalikan dan mengontrol ejakulasi saat  kegiatan seksual baru saja berlangsung. Walaupun kebanyakan wanita merahasiakannya tetapi tidak sedikit rumah tangga yang berantakan karena masalah seksual pria yang satu ini. Sebenarnya aku baru menemukan sebuah metode penyembuhan khusus bagi penyakit Ejakulasi Dini namun aku belum memiliki nama untuk ini.  Pada dasarnya aku hanya mencangkokkan beberapa teori seperti teknik ‘stop-start’ yang sudah umum dipakai dan kemudian menambahkan beberapa teknik baru. Sepanjang suami temanmu itu tidak menderita diabetis akut atau kolestrol tinggi tentu saja masih ada harapan sembuh. Mungkin juga hanya psikologis-nya yang harus di obati. Itu bisa dilakukan bersamaan dengan dengan metode dariku.” jelasnya panjang lebar.

“Apakah metode itu sudah teruji manjur Doc?” Tanya Sandra

“Untuk apa kalian datang kemari jika tak mau percaya pada omonganku Ha! Kalian cuma akan membuang-buang waktuku saja!” ujar dr.H sewot.

“Eng..maaf pak, bukannya tak percaya tapi kami baru kali kami mendengar teknik tersebut.” Ujar Lila mencoba mencairkan suasana.

Sandra menggeser berdirinya ke belakang Lila.

“Galak betul! Pantas tidak buka praktek. Pastilah tidak ada seorangpun pasien yang mau berkonsultasi dengannya” pikir Sandra.



“Tentu saja kalian tak pernah mendengarnya karena memang belum kupublikasikan!”

“Loh Jadi belum pernah ada yang mencobanya?” ujar Sandra lagi

Lila mencubit pinggang Sandra takut si eksentrik ini tersinggung lagi. Dan benar saja

Ia melihat wajah si ‘Einsten’ sudah merah padam.

“Sekali lagi temanmu itu bertanya demikian akan kuusir kalian semua dari sini!” ucapnya dengan suara berat.

“Maafkan atas kelancangannya Dok. Tapi please, teman kami sangat membutuhkan pertolongan. Mungkin dengan penemuan  ‘spektakuler’ anda suaminya bisa disembuhkan. Kami berharap ia menjadi orang pertama yang mendapat kehormatan merasakan kesembuhan dari metode itu” Ujar Lila, Ia sengaja menambahkan kata ‘spektakuler’ untuk mengambil hati mantan dosennya yang pemarah itu.

Pria tua itu terlihat menarik napas dalam-dalam sebelum kemudian menghembuskannya. Lalu ia terlihat mengambil sesuatu dari dalam sebuah lemari besi. Tak lama kemudian ia kembali dengan memegang sebuah piringan CD.

“Ok baiklah …ini kuberikan sebuah rekaman yang memuat semua teori dari metode itu. Lila kamu bisa mempelajarinya bersama teman-temanmu. Namun jangan terkejut di dalamnya juga ada rekaman persetubuhan sepasang orang yang mau kujadikan sample untuk mengujinya . Oleh karenanya kalian harus berhati-hati jangan sampai video ini tersebar luas, aku tak ingin ‘masterpiace’ku ini di salah gunakan. Kalian mengerti?”

“Ya dok. Dan terima kasih banyak atas bantuannya” Ujar Lila sambil menerima rekaman tersebut yang sudah dalam bentuk sebuah CD. Ia tahu orang ini sebetulnya agak keberatan menyerahkan hasil karyanya pada mereka.

“Dok, Apakah masih perlu obat-obat, jika ada mengapa kami tidak sekalian diberi  resepnya?” ujar Dian ikut-ikutan nimbrung.



“Hah?! Kalian ini memang tak tahu diri! Sudah dikasih hati sekarang minta ampela? TIDAK ADA OBAT-OBATAN!!! Lebih baik sekarang minggat kalian semua dari sini!!!”teriaknya.

“Ba..ikk dok, kalau begitu kami permisi sekarang” ujar Lila sambil menarik tangan kedua sahabatnya kabur dari situ..

Sesampai di rumah Sandra. Mereka segera melihat isi dari CD yang mereka peroleh tadi.

Lila memperhatikan dengan seksama saat pada layar monitor muncul wajah dr.H melakukan presentasi. Banyak kalimat dan istilah-istilah yang tak di mengerti oleh Sandra dan Dian. Dian tertawa geli pas menonton adengan persetubuhan dua orang yang ‘kelinci percobaan’ test tersebut.

“Sttt… jangan berisik….biar dapat  Lila menyimak semuanya”bisik Sandra.

“Hi..hi aku cuma merasa geli melihat muka si lelakinya persis orang bego gitu pas lagi keenakan”

“Ah..Kau  … inikan bukan BF…Dasar!”

“Ok, kupikir ini tak sulit. Hanya saja kita butuh seseorang buat melakukan ini semua” Ujar Lila ketika semuanya selesai.

“Eng…Ada!“ ujar Sandra sambil menoleh ke arah Dian.

“Loh..kok aku?”

“Ya siapa lagi manis…cuma kamu yang paling mungkin melakukannya soalnya Nadine sedang hamil besar sedangkan aku tak akan di perbolehkan oleh suamiku”

“Ok deh…aku mau, demi Niken dan Alfi”ujar Dian





Satu minggu kemudian, di rumah Donie dan Niken



Sebuah mobil sedan telah terparkir di depan garasi saat kendaraan Donie baru memasuki perkarangan rumah. Donie baru kembali dari kota G dengan keletihan fisik begitu mendera. Bukan karena pekerjaan namun kehidupan malam yang ia jalani selama inilah yang menjadi penyebabnya. Di dalam hatinya ia membatin. Ia tahu Niken pasti mencapnya sebagai lelaki yang tidak setia atau tukang selingkuh meski tak pernah sekalipun ia ucapkan. Perkawinan mereka yang baru seumur jagung sudah terasa sangat hambar. Dari luar orang akan menganggap ini adalah pasangan muda yang ideal dan banyak di idam-idamkan orang. Sepasang suami istri yang serasi baik dari prestasi maupun fisik Yang wanita cantik sedangkan yang pria tampan dan gagah. Memiliki materi yang berlimpah. Yang menjadi gara-gara tak lain karena masalah ejakulasi dini yang dideritanya. Kebiasaannya bergonta-ganti pasangan dan mengumbar pesona kesana kemari hanyalah untuk menutupi kelemahannya itu. Hasilnya ia bukan  saja ia tak menemukan solusi dari masalahnya malahan kondisi fisiknya semakin lama semakin melemah. Dan akibatnya ia justru semakin tak mampu melaksanakan tugasnya sebagai suami di atas tempat tidur dengan baik. Ia nyaris frustasi. Buat ke dokter ia harus berpikir dua kali. Bisa-bisa ia bakal terlihat oleh seseorang yang mengenal dirinya saat sedang mengantri. Dan itu yang tak ia inginkan orang sampai tahu mengenai penyakitnya. Entah sampai kapan ia dan Niken dapat mempertahankan rumah tangga mereka dalam kondisi seperti ini. Permasalahan ini ibarat bara api dalam sekam yang perlahan tapi pasti menggiring perkawinan mereka ke pintu perceraian. Saat melintasi ruang tamu ia melihat ternyata istrinya sedang menerima tamu. Tiga orang wanita tergolong sangat cantik salah satunya nampak sedang berbadan dua. Bersama mereka nampak pula seorang anak laki-laki remaja berkulit hitam. Niken bergegas menyambut ketika dilihatnya sang suami muncul.



“Oh mas Donie sudah pulang” ujar Niken mengambil alih sebagian barang bawaan dari tangan suaminya.

“Mas Donie kita ada kedatangan tamu. mari kuperkenalkan”

“Eng sebentar Nien…rasa-rasanya kami sudah pernah bertemu sebelumnya…Eng…Sandra kan?” terkanya setelah berusaha mencoba memutar memorinya.

“Betul mas saya Sandra istri Didiet teman anda, Wah .. luar biasa mas Donie masih ingat sama saya padahal kita hanya pernah ketemu satu kali dulu itu” ujar Sandra membenarkan.

“Wah ternyata kalian saling mengenal ya…eng lantas ini Dian..Niken dan Alfi” ujar Niken memperkenalkan mereka satu persatu pada Donie

Donie mengangguk sopan kepada mereka sambil melebarkan senyum memperlihatkan deretan gigi putih bak bintang iklan pasta gigi. Namun matanya terpaku saat melihat wanita yang mengenakan baby doll berwarna putih bernama Dian. Wanita ini tak hanya cantik namun memiliki daya tarik seksual yang luar biasa. Senyumnyapun begitu mengoda.

“Oya kemana Didiet kok ngga ikut?” mencoba mengalihkan perhatian agar tak menimbulkan kecurigaan bagi yang lain.

“Eng mas Didiet kurang enak badan tetapi dia titip salam buat mas Donie” jawab Sandra.

Donie dan Didiet memang sudah saling mengenal selama dua tahun ini. Kebetulan perusahaan mereka sama-sama menjadi rekanan dari sebuah perusahaan asing besar yang sedang menagani pekerjaan besar di kota G. Perusahaan Didiet bergerak di bidang  supplier material sedangkan perusahaan milik Donie sebagai kontraktor. Untung bidang yang mereka tangani berbeda jadi tak ada persaingan di antara perusahaan mereka.



“Mas, Sandra datang kemari ingin memintaku memberikan les privat kepada putra asuh mereka Alfi” jelas Niken. Pandangan Donie meneliti ke Alfi yang berdiri di samping Sandra.

Tidak salahkah? Anak bertubuh kurus kering berkulit hitam kesat dan bertampang pas-pasan ini adalah anak asuh si Didiet, Apakah tidak ada anak lain yang lebih ‘bersih’ atau sepadan untuk dijadikan anak asuh mereka? pikir Donie dalam hati. Tapi Akhhh…itu urusan mereka. Ia berpikir mungkin si Didiet punya pertimbangan lain.

“Oh tidak masalah aku tidak keberatan , Didiet-kan temanku dan lagian Niken juga tidak ada kegiatan di rumah jadi..silakan saja”

“Terima kasih banyak, mas”

“Silakan lanjutkan pembicarannya maaf saya tinggal dahulu”

“ya..terima kasih sekali lagi atas ijinnya mas”

Donie masih sempat kembali melirik ke arah Dian sebelum meninggalkan ruang tersebut.

Beruntung saat itu Dian-pun sedang mengerling ke arahnya sambil melebarkan senyum penuh arti.

“Uhh cantiknya” gumam Donie.

Di dalam kamar Donie menghempaskan punggungnya di kasur. Matanya terpejam mencoba untuk melupakan sejenak persoalan rumah tangga yang membelit pikirannya. Menit-menit berlalu, sia-sia ia berusaha tidur. Pikirannya tetap menerawang hingga Niken masuk ke kamar.

“Mereka sudah pulang?”

“Ya mas”

Niken melepas kaus kaki suaminya lalu mengambil piama dan handuk bersih dari lemari.



“Mas mandi saja dulu biar lebih nyaman istirahatnya”

“Nanti saja Nien, aku masih letih sekali”

“Kupijat bahunya ya mas?”

Donie membalikan tubuhnya sehingga Niken leluasa meraih bahunya. Pijatan Niken tak sekeras pijatan tukang pijat tapi Donie merasa Jemari lembut istrinya memberikan rasa nyaman. Tak ada yang salah pada Niken. Ia cantik, penurut dan penuh perhatian. Tapi entah Donie malah semakin tersiksa atas perlakuan baik istrinya. Ia tak dapat membalas kemesraan istrinya.

“Mas kangen ngga padaku?”ujar Niken manja.

“Eng..ya” singkat sekali jawaban Donie, tak ada ekpresi sedikitpun pada kalimat yang diucapkannya.

“Mas aku kangen. Kita…begi..tu..an yuk?” mohon Niken agak menghiba. Jemari lembutnya meraba lembut dada suaminya yang bidang.

Hal ini yang ditakuti Donie. Ia merasa lebih baik menghindar ketimbang memilih melakukannya namun GAGAL!

“Sorry Nien lain kali saja aku masih capek” ujarnya sambil menepiskan tangan Niken.

Sambil memutar tubuhnya ke arah dinding.

Niken menghela napas. Lalu ia merebahkan tubuhnya di samping Donie dengan kekecewaan





Dua Minggu kemudian, Jam 12.15



Di lantai dasar sebuah gedung perkantoran. Di sebuah kafe. Saat itu jam istirahat beberapa karyawan kantoran terlihat sedang makan siang disana. Nampak pula Dian sedang duduk menempati sebuah meja dengan dua buah kursi.

“Maaf membuatmu menunggu agak lama, tadi jalan menuju kemari macet” ujar Donie datang tergesa-gesa dan menarik kursi di seberang duduk Dian lalu duduk.

“Ngga pa pa kok mas. Aku tadi sudah pesankan makanan buatmu”

“Oh..makasih”

Sambil menikmati santap siang mereka bercakap-cakap. Nyata sekali keakraban diantara mereka berdua. Sesekali terdengar tawa Dian  setiap Donie melontarkan kata-kata gombalnya. Tentu saja ini bukanlah kali pertama mereka bertemu seperti ini. Keintiman mereka sudah berjalan selama dua minggu sejak pertemuan di rumah Donie tempo hari. Tak biasa bagi Donie mengencani seorang wanita dalam waktu selama ini. Biasanya hubungan itu hanya berjalan paling lama satu minggu. Ada yang membuat ia benar-benar penasaran terhadap Dian. Faktanya sampai saat ini ia belum juga berhasil meniduri wanita cantik itu. Paling-paling Dian hanya mengijinkannya mencium atau sebatas meremas dada itupun mereka lakukan masih dalam keadaan berpakaian utuh terpakai. Sungguh tak lebih dari itu. Dian  mengatakan pada Donie bahwa ia baru akan memberikan semuanya bila Donie bisa bertahan lebih dari satu minggu bersamanya

“Manis bukankah hari ini genap dua minggu sudah kita bersama?” ujar Donie di tengah santap siang.

“Betul, memangnya ada apa Mas?”

“Aku mau menagih janjimu tempo hari”

“Kok mas masih ingat? Bukankah selama dua minggu ini kita selalu bermesraan”

“Betul tapi kamu belum memberi aku yang satu itu jadi mana mungkin aku lupa”

“Hi hi kacian deh. Lantas setelah ini mas mau mengajak aku kemana?”

“Ehmm…kamu pinginnya kemana say? ke villa di atas perkebunan yang sunyi tapi romantis? Atau… di pinggir pantai berpasir putih sambil mendengar deburan ombak?”

“Engga mau ah”

“Lantas kamu pinginnya di mana say?”

“Aku… maunya di… rumah mas di atas tempat tidur nya mas Donie dan Niken. “


Dian

Dian

“Aaa..paaa?!! kamu pasti sedang bercanda kan manis?” ujar Donie terperanjat mendengar permintaan aneh Dian.

“Aku serius mas. Aku pingin kita melakukannya di sana”

“Ng..ga mungkinn! Bilang saja sejak awal bila kamu cuma mau main-main denganku”

“Aduh begitu  aja marah.. siapa bilang aku berniat mempermainkan mas. Aku juga sangat menginginkannya kok.  Apakah karena hal ini lantas mas ingin mengurungkan rencana kita sore ini”

“Bukan begitu. Tetapi kenapa harus di sana sich?. Apa tidak ada tempat lain? Kau pasti tahu meski istriku tidak di rumah setiap saat ia bisa saja pulang dan memergoki kita”

“Ngga tahu aku mendadak kepingin saja. Rasanya gimana ya bercinta dalam situasi seperti itu.  Apa mas ngga mengginginkan aku?”

“Huh! Baiklah.. tapi aku akan cari tahu dulu kapan istriku pergi. Setahuku satu jam lagi ia akan memberikan Les kapada si Alfi di rumah Sandra.”

Donie menghubungi Niken melalui Handphone-nya. Tak lama kemudian terdengar suara Niken diseberang

“Mas jam dua ini aku pergi ke rumah Sandra dan kemungkinan pulangnya agak kemalaman karena setelah selesai mengajar Alfi, Sandra mengajakku menemaninya Shopping, mas ada titip sesuatu?”

“Ngga ada Nien, selamat belanja ya bye”

“Bye” Niken menutup pembicaraan.

Sempurna! Pikir Donie

“Bagaimana mas?”

“Kamu dapat apa yang kamu inginkan dan sekarang kamu tidak bisa menghidari dariku lagi Ha ha”

“Hi hi aku ngga bakal lari kok” 

Tak lama kemudian setelah selesai bersantap. Mereka beranjak meninggalkan tempat itu.

Menuju ke rumah Donie untuk melepas kegairahan yang terpendam selama dua minggu ini.



—-

Jam 14.20 Di rumah Donie dan Niken



Dian terpesona saat memperhatikan suasana di dalam kamar tidur Niken dan Donie. Sebuah kamar tidur yang nyaman didominasi warnah putih. Ada sebuah ranjang besar terbuat dari besi berukir dengan empat buah pilar tinggi yang indah. Di atasnya terbentang sebuah kasur empuk tertutup seprey putih bersih. Ada sebuah sofa besar berwarna juga putih dan berjok empuk terletak di samping dan menghadap ke arah tempat tidur. Sebuah kamar tidur yang indah namun sama sekali tak pernah menjadi tempat yang indah bagi percintaan Niken dan Donie, nampak pula sebuah ‘connecting door’. yang terhubung dengan kamar lain di sebelahnya. Niken telah mempersiapkan kamar tersebut bagi bayinya kelak.

“Aduhh! lupa lagi” ujar Donie sambil menepuk kepalanya sendiri saat baru saja menutup pintu kamar.

“Loh ada apa mas”

“Kondom! Kita lupa membelinya. Persediaanku habis”

“Hi hi ngga usah kuatir, Mas boleh menodaiku sepuasnya tanpa kondom sebab saat ini aku sedang tidak dalam masa suburku”

“Yeahhh!!” Donie tergesa-gesa membuka pakaiannya.hingga hanya tertinggal celana dalamnya saja.

“Sisakan yang itu dan aku mau mas naik dulu ke atas tempat tidur” bisik Dian nakal

Donie tak menyangka jika ia akan meniduri wanita lain di atas ranjangnya sendiri. Tiba-tiba Dian mengeluarkan dua utas tali dari dalam tasnya. Lalu ia mengikat masing-masing pergelangan tangan Donie pada tiang tempat tidur yang terbuat dari besi itu.

“Mas rileks saja dulu”



Sejak tadi Dian selalu meminta hal yang aneh-aneh. Padahal biasanya Donie main tembak langsung terhadap para wanita yang ia kencani. Tak ada foreplay. Berejakulasi cepat di dalam vagina. Syukur-syukur kalau bisa ereksi lagi bisa buat ronde ke 2 tetapi itu jarang sekali terjadi.Lalu setelah itu langsung bubaran seraya .meninggalkan kekesalan pada setiap pasangannya. Tapi kali ini ia mau saja mengikuti kemauan Dian. Ia cuma penasaran ingin tahu lebih lanjut permainan apa yang bakal dilakukan oleh Dian. Donie tahu Dian menginginkan ia dalam keadaan tak berdaya dan penuh dalam kekuasaannya. Donie sudah sering membaca atau menonton film biru mengenai hal tersebut. Ia tak menyangka bakalan bertemu dengan wanita yang terobsesi mendominasi pasangan prianya.

“Dasar wanita pikirannya macam-macam. Mau inilah itulah padahal tetap saja ujung-ujungnya di entot!” pikir Donie.

Setelah yakin Donie terikat sempurna. Dian kemudian menari-nari di hadapan Donie  dengan lemah gemulai sambil melepas satu persatu pakaiannya. Mulai dari jas kerja yang paling duluan jatuh ke lantai. Kemudian menyusul rok dan blous yang dikenakannya. Sehingga kini nampak Dian hanya mengenakan bra dan celana dalam berwarna putih berenda-renda. Dian mencoba meraih pengait bra yang berada di punggungnya. Sengaja ia berlama-lama seolah kesulitan membukanya membiarkan gairah Donie semakin naik.

Napas Donie mendengus-dengus. Entah mengapa ia selalu deg-degkan melihat yang ‘baru’ padahal milik istrinya jauh lebih bagus dibanding dengan kebanyakan wanita yang pernah dikencaninya selama ini. Dan ketika benda itu terlepas. Dua buah gumpalan daging berwarna putih yang cantik menggantung. Pada kedua ujungnya di hiasi puting mungil berwarna merah muda. Ada kemiripan pada bentuk putting susu Dian dan Niken. Kedua wanita itu memiliki aeorola yang mengembung bagai sebuah bukit kecil. Dan biasanya bagian itu akan ikut mengencang bersama putingnya pada saat pemiliknya terangsang.



“Woahh.. can..tikkknyaa Okhh” Desah Donie terkagum-kagum. Penisnya belum apa-apa sudah mengeluarkan cairan mazi yang banyak membasahi celana dalamnya sehingga bagai membentuk sebuah pulau pada permukaannya.

Dian tersenyum melihat ia berhasil membawa donie menikmati permainannya. Kini ia melangkah ke tahap selanjutnya. Kali ini ia naik ke atas ranjang. Perlahan ia menarik lepas celana dalam Donie sehingga isinya yang berukuran ‘standar’ itu terbebas. ‘Lumayan’ pikir Dian.bentuk dan ukuran kelihatan tak berbeda dengan milik Didiet. Dian berdiri di atas tubuh Donie sambil kembali meliuk-liuk menari dengan erotis. Tak berlebihan bila Alfi dan Didiet mengibaratkannya tubuhnya bagai sebuah gitar spanyol. Ukuran dada pinggang dan pinggul sangat ideal yang dapat membakar hangus jantung setiap lelaki yang menatapnya. Jemari Dian menyusup ke sisi-sisi samping celana dalamnya. Lalu perlahan-lahan penutup terakhir tubuhnya itu ia tarik ke bawah melewati ke dua batang pahanya yang putih bersih diiringi pandangan melotot Donie hingga akhirnya benda itu jatuh di pergelangan kaki Dian. Dan kini Donie dapat menatap segala keindahan di hadapannya itu tanpa halangan apapun sambil menelan ludah. Nampak kini sebuah bukit kecil di hiasi bulu-bulu halus yang lebat namun terawat. Bagian tengahnya membelah bagai sebuah bibir yang mengatup rapat. Belahan yang merupakan tiket menuju ke sebuah surga impian bagi kaum lelaki. Penis Donie yang sudah menegang penuh itu makin banyak mengeluarkan mani hingga membasahi seluruh glans penisnya.

“Siapakah lelaki beruntung yang pertama kali menyentuhnya manis?”

“Hi hi ..Nanti juga mas bakalan kukasih tahu, Yang penting aku mempunyai banyak sekali kejutan buat mas Donie hari ini. Sekarang aku ingin mas tutup sejenak mata sejenak dan jangan di buka sebelum aku minta”

Donie menurut. Ia menutup matanya dan menunggu apa lagi kejutan yang bakal muncul selanjutnya . Ia berharap Dian langsung memasukan penisnya yang sudah gatal itu ke dalam vaginanya yang indah.



“Buka sekarang mas” terdengar Dian memberi aba-aba .

Donie membuka kedua matanya. Dan iapun langsung terbelalak. Ia memang di buat terkejut luar biasa namun kali ini tak seperti yang ia harapkannya karena saat itu Ia melihat Niken, istrinya, telah berdiri di samping tempat tidurnya.

“Nienn?!..Bu..kankah kamuu …Haihhh!!” ucap Donie tergagap dan tak mampu menyelesaikan perkataannya.

“Aku sengaja mengganti jadwalku mas, lalu aku menunggumu di kamar sebelah agar bisa memergokimu”

“Ka..lian telah merencanakan ini kan?” ujarnya menoleh ke arah Dian.

Ada perasaan malu dan kesal karena kali ini ia benar-benar tertangkap basah. Tidak hanya itu ia bahkan masuk ke dalam perangkap yang khusus disediakan baginya di dalam rumahnya sendiri. Kenapa ia begitu ceroboh tak terlebih dahulu memeriksa seluruh ruangan sebelumnya. Sungguh ia merasa hal ini akan menjadi awal dari sebuah prahara besar bagi rumah tangganya.

“Ya mas. Kami memang telah mengatur hal ini namun mas jangan berprasangka buruk dulu”

“A..pa maksudmu melakukan hal ini”

“Banyak sekali  yang ingin kusampaikan padamu mas, tetapi itu nanti saja, sekarang kuminta mas Donie nikmati saja dulu apa yang bakal terjadi sebentar lagi dan selanjutnya kita lihat apakah setelah ini mas Donie masih tetap mencintaiku atau malahan membenci aku.”

Donie tak mengerti maksud dari kata-kata terakhir pada perkataan Niken barusan dan ia benar-benar heran melihat sikap Niken yang diluar dugaannya. Tadinya ia berpikir Niken akan marah besar di bakar oleh kecemburuan ketika menemukan ia bersama-sama dengan wanita lain dalam keadaan bugil seperti ini.



Ia bertambah bingung ketika tiba-tiba Niken menarik tali kimononya dan benda itu terlepas dan terjatuh ke lantai. Ternyata ia sudah dalam keadaan polos tanpa mengenakan pakaian dalam lagi. Perlahan ia mendekat ke arah suaminya yang masih terbengong bingung. Lalu Niken perlahan maju mendekat ke arahnya

“Nien..Nien..a..ku tak inginn…”

Belum sempat ia menyelasaikan kalimatnya, mulut Niken sudah menangkap batang penisnya dan menghisapnya kuat-kuat.

“Arrgggg….ka..lian kaum wanita benar-benar a..neh” ujarnya sambil merintih-rintih kesenangan

“Apakah mas tidak suka?” goda Dian lalu mengambil alih penis Donie dari Niken kemudian ganti menghisapnya.

“Sukaa..Arggghhh” rintih Donie. Tak menyangka ke dua wanita cantik itu mengulum kelaki-lakiannya secara bergantian. Donie lega meski masih bingung. Alih-alih dapat masalah ia malah mendapat kejutan menyenangkan. Benar seperti yang Niken katakan kalau Donie cepat sekali mengalami ejakulasi saat melakukan keintiman. Belum satu menit penisnya dalam lumatan mulut Dian dan Niken, ia sudah memperlihatkan tanda-tanda akan berejakulasi. Memang selama ini Donie tak pernah bisa bertahan lebih dari satu menitan setelah penisnya menerima rangsangan. Oleh karenanya ia selalu buru-buru melakukan penetrasi pada liang senggama pasangan nya. Ia merasa lebih baik muncrat saat penis sudah di dalam vagina ketimbang membuangnya di mulut. Sungguh sangat disayangkan jika saja ia mampu bersetubuh  secara normal pastilah ia akan bisa merasakan yang lebih nikmat dari yang pernah ia rasakan selama ini. Padahal menurut Alfi lumatan vagina Niken adalah yang paling enak di antara sekian banyak wanita yang pernah disetubuhinya terutama saat Niken sedang mengalami orgasmenya. Dan sampai dengan saat ini Donie tak pernah bisa sampai pada tahap itu.



Saat ini terlihat Donie sudah tak mampu lagi melawan hasratnya untuk berejakulasi. Spermanya berdesakan segera untuk muncrat keluar. Tiba-tiba Dian melakukan sesuatu. Jemarinya memencet keras-keras bagian tertentu pada leher penis Donie. Gerakan sederhana itu hanya ia lakukan beberapa detik namun hasilnya sungguh luar biasa bagi Donie. Ejakulasinya yang nyaris tak terbendung tadi sontak hilang begitu saja. Donie terperangah keheranan. Ia merasa takjub wanita cantik ini mampu menggagalkan ejakulasinya tadi.

“Apa… yang barusan kau lakukan padaku?” tanya Donie.

“Aku hanya membuat mas Donie menunda ejakulasi. Dengan begitu berarti mas Donie memberi kesempatan kepada kami sebagai pasangan mas buat meraih orgasme terlebih dahulu. Lagian kan mas Donie belum merasakan jepitan Vaginaku. Apakah mas mau berhenti sekarang?” jelas Dian memberi penjelasan pada Donie
“Eee…Ti..dakkk jangannn” Donie tak menyangka wanita seperti Dian tahu banyak mengenai hal tersebut “

Kuluman ke dua wanita itu terhenti sejenak ketika sesosok tubuh hitam legam muncul dari kamar sebelah. Donie terperanjat ketika ia melihat Alfi sudah dalam keadaan telanjang bulat. Ia lebih kaget lagi melihat benda pada selangkangan anak itu yang sudah dalam keadaan kaku. Benda yang mengerikan. Kepalanya masih terbungkus kulip kulup itu membulat. sebesar sebuah tomat. Pada ujungnya yang berwarna merah terlihat sedikit mengintip. Batangnya kokoh berurat di dominasi warna hitam pekat. Meski tak tahu persis namun Donie memperkirakan panjang benda itu paling tidak 20 sentimeter-an. Namun yang jelas jauh lebih panjang dan besar dari miliknya yang cuma 15 senti.

“Ma..u apa dia ke mari?”

“Jangan dulu banyak tanya mas, sekarang nikmati saja dulu semuanya” ujar Niken sambil kembali melakukan oral terhadap penis suaminya.

Alfi lalu duduk di sofa putih yang hanya berjarak dua meter dari ranjang mereka.

Donie tercekat saat Dian mendekat ke arah anak itu. Lalu mereka berciuman dengan panas.



Akhh!! Dian! si cantik itu mau menerahkan bibirnya kepada bocah hitam jelek itu. Bahkan ia mebuka mulutnya membiarkan lidah Alfi masuk berputar-putar. Sesekali Alfi melepas ciumannya lalu beralih ke payudara indah Dian. Kemudian Ia menghisapinya laksana seorang orok haus. Ternyata anak itu tak hanya mampu meladeni permainan bibir Dian tetapi juga sangat lihai dalam menetek. Donie melihat Dian lirih ketika nikmat mulai menyapa raganya akibat sentuhan Alfi.

“Setan!” umpat Donie kesal karena anak itu telah mendahuluinya.

Susah payah ia menunggu selama dua minggu untuk menjamah tubuh indah itu tetapi Dian malah memberikannya pada si setan kecil itu. Lepas berciuman Dian merebahkan tubuhnya di sofa itu. Kaki kirinya menjuntai ke lantai sementara yang satunya ia gantungkan di sandaran sofa. Dalam kondisi seperti itu selangkangannya terbuka lebar. Kepala Alfi menyusup di antara ke dua paha putih Dian. Alfi mengawalinya dengan mengecup lembut kedua batang paha putih Dian. Lalu kecupannya beralih ke sekitar belahan vagina dan akhirnya tepat di sasaran utamanya. Sampai di bagian tersebut lidahnya mulai beraksi. Lidahnya dengan perlahan menyapu dari bawah hingga atas belahan cantik di hadapannya itu. Tak ada bagian yang lolos dari jilatan lidahnya termasuk klitoris Dian yang pusat kesenangan bagi setiap wanita. Alfi lalu menghajarnya dengan hisapan kuat di bagian itu.

“Fiiii….oughhhhhhh” pekik Dian ketika  hisapan Alfi terhubung dengan syaraf-syaraf kenikmatannya. Tubuh sintalnya melenting dan mengelinjang hebat. Pinggulnya ia angkat seakan berharap Alfi menghisap klitorisnya lebih kuat lagi.

Donie tercengang melihat bagaimana pandainya bocah itu mempergunakan lidahnya.

Awalnya ia sedikit merasa ilfeel melihat keberadaan Alfi di sana apalagi anak itu saat menyentuh tubuh Dian. Namun berbarengan dengan kenikmatan akibat hisapan istrinya muncul pula perasaan aneh merayapi hatinya. Seakan-akan ia bisa menikmati kejadian di hadapannya itu. Apalagi mendengar suara rintihan-rintihan Dian yang menyayat. Iapun merasakan penisnya berereksi semakin keras.



Niken tersenyum, ia tahu hasrat Donie sedikit demi sedikit mulai terseret menuju ke arah yang ia inginkan.

“Ughh..sayangg akuu sudahhh…” tiba-tiba Donie merintih sambil mengelinjang.

Niken segera menghentikan hisapannya. Seperti yang tadi Dian lakukan, iapun memencet bagian bawah leher penis Donie. Ia lakukan beberapa detik hingga Donie kembali tenang.

“Uhh..sayanggg….kau juga bi..sa.?”

Donie sudah berpikir Niken akan segera melakukan persetubuhan dengannya.

“Belum saatnya mas..ini baru permulaan” jawab Niken sambil tersenyum nakal. Ia melepaskan genggaman jarinya pada penis suaminya lalu berdiri bersamaan dengan Dian yang juga berdiri meninggalkan si Alfi.

Jantung Donie berdetak keras dan tak beraturan saat ia melihat Niken melangkah ke arah sofa dimana Alfi berada.

“Nien!…Nien!…ka..mu…mau apa dengan diaa?” jerit Donie berusaha mencegah  istrinya yang mulai terlentang menempati posisi Dian tadi.

Dian tak ingin Donie terpancing emosinya segera memasukan penis lelaki itu ke dalam mulutnya dan melakukan hisapan-hisapan kuat yang liar.

Slepp..clep..clep..clep

“Arggggggg….eggggg” Donie mengeram nikmat, lagi-lagi penisnya disengat oleh kenikmatan. Kepalanya terlempar ke bantal.

Di antara kenikmatan menggila itu bola mata Donie berotasi mencari tahu apa yang terjadi pada istrinya, ia dapat melihat Alfi sedang melakukan hal yang sama seperti pada Dian tadi. Kepala anak itu dalam posisi terbenam ketat di selangkangan Niken.

“Egg…Nieeenn…Nieeenn ohh” rintih Donie memanggil-manggil nama istrinya.

“Tenang mas… Alfi hanya membuat agar istrimu siap untuk sebuah persetubuhan”

bisik Dian berusaha menenangkan Donie.



Huh!.. beruntung sekali bangsat kecil itu. walau cuma dengan lidah Donie seakan tak rela kemolekan Niken di nikmati pria lain. Percikan api cemburu membakar hatinya. Tak ubahnya Dian tadi, Nikenpun merintih-rintih dan tubuhnya menggelinjang liar akibat perlakuaan Alfi pada organ tubuhnya yang paling intim. Alfi terlihat begitu telaten dan tak tergesah-gesa. Dulu di awal  perkawinannya Donie masih sering melakukan cunnilingus terhadap Niken. Seiring waktu ia tak pernah melakukannya lagi. Alfi seakan ingin menunjukan padanya bagaimana cara melakukan hal itu dengan cara yang benar. Tak hanya sekedar menjilat alat kelamin istrinya seperti yang pernah ia lakukan tetapi lebih dari itu. Alfi juga menunjukan rasa cinta dan penghargaannya pada benda itu dengan berlama-lama betah di sana. Bukankah benda ini adalah bagian yang paling diidamkan dan diinginkan seorang pria. Bukankah awal kehidupan juga berasa dari dalam benda ini dan harus melaluinya terlebih dahulu dengan belitan kenikmatan.

“Oghhh..Ba..gaimana seorang bocah seusia itu tahu dan menjadi begitu pandai mengauli wanita?” ujar Donie terbata-bata oleh  kenikmatan yang ia rasakan sambil tetap menatap kegiatan di atas sofa.

Dian tersenyum mendengar pertanyaan Donie. Itu merupakan tanda kalau Donie perlahan sudah dapat menikmati perlakuan Alfi terhadap Niken.

“Sejak berusia tujuh tahun dia sudah sering melakukannya pada banyak wanita” ujar Dian sambil mengocok-ngocok penis Donie menggantikan kuluman mulutnya sementara buat meladeni omongan Donie.

“Gi..laaa…pan.tas.. kontolnya jadi begitu besarrr dan panjang”

“Mas dia juga orang yang kumaksud” bisik Dian sengaja mencoba membakar gairah Donie lebih kuat lagi.

“A..paa?”

“Bukankah tadi mas bertanya siapa laki-laki yang pertama mengambil kegadisanku khan?”

“Alfii?!Ti..dak mungkin! A..nak kecil ituuu?”



“Percayalah mas, tapi tak hanya aku….Sandra dan Nadine juga”

“Ougggghhhhh!!!. Bu..kankah ia adalah anak asuhhh Sandra dan Didiet sendiri?

..ba…gai..manaa dengan Didiet?”

“Mas Didiet yang meminta Alfi memerawani Sandra kemudian giliran aku dan Nadine”

“Ka..liannn  semuaa diperawani olehnyaaaa.. Arggggughhhhh…” Donie mengerang.

Ini adalah kisah nyata paling edan dan aneh namun juga paling merangsang yang pernah ia dengar. Terus menerus mendapat rangsangan hebat tak hanya pada raganya namun juga pada jiwanya yang tak henti-hentinya dibakar oleh panasnya simulasi yang diciptakan oleh Dian dan Niken untuknya. Gairahnya menggelora liar.. akibatnya Donie terpancing untuk kembali berejakulasi. Dian segera mencengkram penis Donie sedikit lebih kuat dari tadi. Karena ia tahu kali ini dorongan Donie untuk berejakulasi lebih kuat dari sebelumnya. Sepuluh detik kemudian Dian mengendorkan jemarinya dan Donie untuk kesekian kalinya terbebas dari rasa nikmatnya. Dian mengecek waktu. Hmm.. sudah lewat lima belas menit. Ia menemukan fakta kalau Donie mulai terbiasa dengan sentuhan jari dan hisapan mulutnya. Berarti Doniepun bisa melakukan kegiatan seksual pada tahap yang lebih jauh. Berhasil meredakan ejakulasi Donie. Dian segera mengambil posisi ‘woman on the top’ di atas tubuh Donie. Ini yang Donie tunggu-tunggu sejak tadi. Ia girang melihat Dian sudah dalam keadaan akan melakukan permainan puncak. Ia tak menduga kalau ia seberuntung ini karena bisa mendapatkan tubuh Dian atas ijin dan kerelaan dari istrinya.

“Anggap saja saat ini mas menerima ‘Door prize’ sambil menunggu kado utamanya”.

ujar Dian.

Penis Donie yang berdiri tegak bersentuhan dengan vaginanya. Kondisi vagina Dian yang licin membuat tak menemui kesulitan penis Donie masuk hingga ke pangkal.

“Oughhhhhhh……” Donie meleguh.



Dian mendiamkan batang kemaluan Donie di dalam vaginanya tanpa melakukan gerakan apapun. Ia mencoba menstimulasi agar penis Donie mampu bertahan terhadap rasa nikmat yang ditimbulkan oleh jepitan dinding vaginanya yang sempit. Satu menit berhasil Donie lalui tanpa ada rasa ingin ejakulasi. Beberapa saat kemudian Dianpun mulai mengerakan pinggulnya ke depan dan ke belakang secara pelan. Doniepun bisa merasakan nikmatnya persetubuhan dalam waktu yang lebih lama dari biasanya.

Satu menit berikutnya Donie kembali bisa melewatinya. Meski kali ini Donie belum terdorong untuk orgasme. Dian mencabut kontol itu sejenak untuk melakukan pijatannya sekaligus memberi waktu buat benda itu lebih rileks. Karena sebentar lagi ada suatu kejadian yang dasyat yang bakalan terjadi. Selanjutnya Dian mencoba ayunan yang lebih cepat diiringi dengan  cengkraman kuat  pada penis Donie.

“Oughhhh….enakkk bangett…..” rintih Donie, matanya terbeliak akibat terjangan kenikmatan lumatan vagina Dian pada daging kemaluannya.

Namun di saat dirinya sedang dilanda kenikmatan dasyat seperti itu tiba-tiba wajah Dian mendekat seraya membisikan sesuatu ketelinganya.

“Mas tampaknya istrimu sudah ‘siap’”

Donie melirik ke arah sofa. Pandangannya menangkap ada suatu keganjilan terjadi di sana dimana istrinya sedang bersama dengan Alfi. Kala itu Alfi tak lagi mengoral Niken. Ia melihat saat itu Alfi telah mengeser posisi tubuhnya menyampingi tubuh Niken yang masih tetap terlentang di sofa. Tangannya mengangkat salah satu paha Niken yang putih sehingga ujung kemaluannya tak terhalang dan mengarah belahan vagina istrinya yang telah basah itu. Deg…..jantung Donie seakan berhenti berdetak menyaksikan itu. Tadinya ia menduga Niken akan menggantikan posisi Dian di atas perutnya setelah dibuat ‘basah’ terlebih dahulu oleh Alfi. Ternyata dugaannya meleset! Ia baru menyadari jika Niken memang sudah siap untuk sebuah persetubuhan namun bukan dengan dirinya tetapi justru dengan Alfi si anak jelek berkulit hitam legam itu.



Kini Istrinya yang cantik yang kulitnya putih bercahaya itu terlentang pasrah dalam keadaan terangsang berat dan siap menanti hujaman kontol berukuran monster milik bocah itu pada liang senggamanya yang cantik dan rapat itu. Kontan saja Donie menjadi panik. Tak mungkin ia membiarkan begitu saja istrinya yang ia cintai disetubuhi oleh orang lain. Namun apa daya ia sungguh tak mampu mencegah hal itu karena selain kedua tangannya terikat dengan erat di tiang ranjang saat ini iapun dalam kondisi terkunci di bawah genjotan tubuh Dian.

“Please… sayang… jangan….lakukan ituuu dengannya” pintanya memelas pada Niken di sela-sela kenikmatan yang menderanya.

Donie tak mampu melakukan lebih dari itu. Pada saat yang bersamaan Dian telah sengaja menggunakan kekuatan otot-otot kewanitaannya secara maksimal menganti kepanikan Donie dengan sebuah kenikmatan tiada taranya. Kenikmatan yang menjalar dari seluruh permukaan penisnya ke seluruh syaraf yang ada daerah selangkangannya sehingga mengganggu konsentrasinya buat mencegah perbuatan Niken. Sepertinya Niken memang ingin Donie akan menonton Alfi menyetubuhi sekaligus merengut kehormatannya sebagai seorang istri di hadapan suaminya sendiri, ia juga sengaja mengambil posisi tersebut agar mata Donie dapat melihat dengan jelas bila penis anak itu memasuki vaginanya.

“Relakan mas… istri juga berhak merasakan indahnya perselingkuhan seperti yang mas Donie lakukan selama ini” ucap Dian yang semakin membuat ia terpukul. Inikah hukuman buat dirinya atas segala yang pernah ia lakukan pada istrinya?

Donie akhirnya hanya pasrah melihat ujung penis Alfi yang berkulup itu mulai membelah vagina istri yang cantik. Perlahan namun pasti benda hitam besar itu tenggelam sedikit demi sedikit. Ia seakan tak percaya pada penglihatannya sendiri ketika vagina Niken yang sempit itu mampu menelan habis seluruh alat kelamin Alfi.



Ia melirik ke wajah istrinya. Nampak dahi Niken berkrenyit sementara matanya menutup erat seakan menahan sakit yang luar biasa.

“Ohh..Nieen….Nieenn…..” ujarnya cemas.
“Ssttttt..istrimu ngga apa-apa mas….dia sedang merasakan sengatan nikmat dari titit si Alfi”

Pandangannya beralih ke Alfi. Anak jelek itu pastilah keenakan sekali. Terlihat dari wajahnya yang berubah bagai orang idiot.

“Aooo..kakakkk kk” rintih bocah itu.

Anak itu mulai mengeluar masukan daging kejantannya. Luar biasa besar benda itu.

Vagina Niken dipaksa membuka sedemikian lebar buat menerima kehadirannya.

Sampai-sampai bagian dalam vagina Niken ikut tertarik keluar saat bocah itu menarik kemaluannya. Begitupun saat ia menekan bibir vagina Nikenpun seakan ikut terdorong masuk. Cairan licin bercampur dengan buih-buih putih terdorong keluar di antara tautan kemaluan mereka diakibatkan oleh  gerakan kontol anak itu. Donie yakin itu adalah cairan milik Niken. Akhh… Niken tampak begitu terangsangnya, puting payudaranyapun telah mengeras bersama aerolanya. Tapp …Alfi tiba-tiba menangkap putting indah itu dengan mulutnya dan menghisapnya kuat-kuat hingga pipinya terkempot-kempot. Hal itu menambah kesenangan bagi Niken. Donie dapat melihat Niken begitu menikmati persetubuhan itu. Kini tak ada lagi yang tersisa dari tubuh istrinya. Semua sudah dijamahi oleh Alfi.

“Ougghhhh…Fiiiiiiii!!!!!” pekik Niken mengejutkan Donie.

Ohh…. Niken mengalami orgasme. Alfi anak jelek itu telah membuat istrinya yang cantik mengelepar dalam kenikmatan. Donie melihat kekejangan pada betis hingga ke jemari kaki Niken yang menekuk dan bertaut.



Donie tercengang menatap wajah istrinya yang  terlihat menjadi begitu cantik dengan pipi  merah merona. Tentu saja Ia belum pernah melihat itu terjadi pada istrinya. Begitu mendebarkan. Sampai-sampai Donie lupa kalau saat itu yang sedang menyetubuhi  istrinya adalah orang lain. Selama peristiwa dasyat itu berlangsung Dian menghentikan genjotannya sejenak dan sengaja dulu tak melakukan gerakan apapun. Ia kuatir kalau Donie tak dapat mengontrol ejakulasi. Dianpun dapat merasakan penis Donie berkejat-kejat keras di dalam vaginanya. Alfi memindahkan posisi  paha Niken yang berada di hadapannya menjadi di samping tanpa melepas tautan kemaluannya dan Niken. Kali ini tubuh kecil dan kurus itu sudah dalam posisi menindih tubuh sintal Niken. Tangan kecil itu menyusup kebelakang punggung sementara jemarinya mencengkram bongkahan padat pantat Niken sambil meremasnya. Sedangkan Niken mendekap leher Alfi dengan kedua tangannya sedangkan kaki indahnya yang panjang melingkar pada pinggul anak itu lalu menekan ke arahnya. Kini tubuh keduanya telah melekat erat dengan sempurna. Lalu selanjutnya Donie hanya melihat kempat kempot daging pantat hitam anak itu saat berayun menghujam-hujam dengan lembut namun bertenaga. Saat bocah itu menghujam Nikenpun mengangkat pinggulnya. Alfi tak buru-buru menariknya ia menahan kemaluannya tetap di dalam selama dua tiga detik sebelum pantatnya kembali terangkat. Donie memandang persetubuhan istrinya dan Alfi tanpa berkedip. Ia tak tahu apakah ini sebuah anugrah atau kah sebuah musibah ataukah kedua-duanya. Di mana Niken telah memberinya  kesempatan oleh untuk meniduri Dian namun di saat yang sama ia harus merelakan istrinya yang cantik itu disetubuhi Alfi. Donie juga tak tahu apakah setelah ini ia masih tetap mencintai dan menginginkan Niken sebagai istrinya setelah melihat semua ini. Ia seakan nampak begitu menikmati mendengar pekikan-pekikan nikmat Niken. Menit demi menit berlalu hingga tak terasa persetubuhan panas antara Niken dan Alfi telah sampai pada puncaknya. Pantat alfi kini bergerak jauh lebih cepat dari tadi. Semakin cepat dan semakin cepat siap untuk melakukan penuntasan secara bersamaan.



“Aoooooo….ennnaakkkkkk!” jerit Alfi bersamaan dengan pekik Niken

“AllFiiii sayangggggggg….Oughhhhhh!!!!”

Kocokan Alfi terhenti .Ia mengakhirinya dengan sebuah hujaman terdalam. Sesekali Pantat itu terlihat terhentak-hentak.

Donie tahu anak itu sedang berejakulasi

Ohhh… Anak itu tak mencabutnya ….Dia justru memuncratkan semuanya di dalam vagina Niken!

Semua yang terpampang di hadapannya benar-benar membuat gairahnya semakin menggelora liar.

“Lihat istrimu mas….lihat gelinjangnya….dengar pekik nikmatnya …ia mendapat kesenangan tertinggi saat ..Alfi menyuntikan benih-benih cintanya ke dalam rahimnya”

Bisik Dian sambil kembali membetot kuat penis Donie dengan otot-otot vaginanya,

“Arrggggggggg!!!……”Donie terpekik nikmat.

Saat itu juga Dian dengan cepat melepaskan pelukannya dan mencabut lepas penis Donie dari miliknya lalu melompat ke sisi Donie.

Ia tahu jika ia terus membiarkan penis Donie tetap berada dalam vaginanya. Maka sudah dapat dipastikan pria itu pasti memperoleh ejakulasinya. Hal itu yang tak diinginkannya.

Donie masih dalam keadaan ‘trace’ nyaris tak dapat membendung ejakulasinya.

Dian bergerak cepat, ia segera melakukan teknik ‘stop-start’ lagi dengan memencet bagian tertentu pada penis pria itu. Beberapa tetesan bening sempat memancar sehingga Dian harus memencetnya lebih keras. Tak kehabisan akal dengan tangan kirinya ia melakukan tamparan pada kepala penis Donie. Donie sempat terkejut karena sakit sehingga gairahnya sedikit mereda. Beruntung tetesan itu akhirnya berhenti.

“Huh.. nyaris saja gagal” pikir Dian lega.

Selanjutnya Ia merasa harus lebih sigap dalam memperaktekan metode ‘maut’ yang berasal dari dr.H itu.



Kali ini Dian tak mau membuang waktu. Semua ini haruslah cepat segera diakhiri

Ia pun memberi kode kepada Niken dengan jentikan jarinya. Pada saat itu Donie sempat melihat Niken sedang mengoral batang penis Alfi untuk membersihkan sperma yang blepotan pada benda tersebut. Niken meninggalkan Alfi dan perlahan melangkah ke arah tempat tidur. Donie memperhatikan cairan putih kental yang mengalir keluar dari vagina Niken yang meleleh pada paha putih bersih istrinya dan sebagian lainya menetes-netes membasahi karpet itu sperma si Alfi.Donie sempat bingung bagaimana cairan yang begitu banyak bisa terproduksi pada testis anak itu.

“Mas saatnya menerima ‘kado utamanya’” bisik Dian.

Ia beringsut di sisi Donie.sambil memberi ruang bagi Niken menggantikan posisi dirinya. Donie hanya pasrah ketika jemari lentik Dian membimbing penisnya ke arah belahan cinta milik istrinya yang masih becek berlumuran sperma Alfi.  Dian sempat memencet

leher batang penis Donie beberapa detik sebelum akhirnya benda itu lenyap dilumat oleh vagina Niken.

“Heeeggghhhh!!!”Donie menggeram nikmat.

Meski dalam keadaan tegangan tinggi disebabkan persetubuhan dengan si Alfi tadi. Niken hanya bergerak pelan dan lembut. Iapun berusaha menahan desahannya karena tak ingin Donie menjadi terlalu terangsang sehingga terprovokasi berejakulasi. Kali ini ia merasakan hal yang sangat berbeda dari yang sudah-sudah. Kejantanan suaminya terasa lebih kukuh dan mampu memadati vaginanya meski ujungnya tak mampu menjangkau mulut rahimnya seperti yang dilakukan oleh penis Alfi. Meski posisi tubuhnya di bawah Donie mengambil inisiatif melakukan pompaan. Niken girang bukan main. Setidaknya ini adalah bukti dari kemanjuran dari pengobatan dr.H yang semakin menunjukan tingkat keberhasilannya. Biarlah suaminya itu menikmatinya dulu sedikit kesembuhannya.

 “A..ku rasaaa akuuu hampirrr keluarr ..uuhhh” rintih Donie saat kembali merasakan dorongan ke arah klimaks di bawah ayunan tubuh Niken. Ini tidak seperti yang sudah-sudah, kali ini ia mampu bertahan cukup lama dalam lumatan vagina istrinya. Setidaknya ia bisa merasakan persetubuhan yang sebenarnya meski cuma kira-kira 5 menitan  .



Dian cepat-cepat menahan laju pantat Donie yang sedang bergerak memompa itu, lalu penis pria itu dikeluarkannya dari vagina Niken. Kembali ia memencet bagian tertentu pada kejantanan Donie beberapa detik sampai rasa ingin berorgasme tersebut kembali surut. Setelah itu barulah penis Donie kembali dibenamkannya ke dalam vagina Niken yang berkembang-kempis. Begitulah setiap kali Donie merasa akan berejakulasi. Dian secara telaten membantunya meredakan kenikmatan itu. Hal itu dilakukannya berulang-ulang hingga akhirnya Dian merasa yakin saat ini Donie sudah cukup mampu mengendalikan dan mengontrol ejakulasinya sendiri dalam waktu yang lebih panjang. Sepuluh menit sudah Niken dalam posisi di atas. Perlahan Dian melepas tali-tali yang mengikat tangan dan kaki Donie. Sebab tanpa Donie ketahui Alfi sudah bergegas pergi dari sana. Dan tampaknya Donie-pun sepertinya sudah tak perduli lagi dengan keberadaan anak itu karena di dalam kepalanya hanyalah menginginkan penuntasan akhir dari kenikmatan yang di rasakannya saat ini. Setelah suaminya terbebas dari ikatan. Niken mencabut tautan kemaluan mereka dan turun dari atas tubuh Donie seraya berbisik

“Mas tindih Niken sekarang…setubuhi aku seperti Alfi tadi”

Donie segera dengan cepat menindih tubuh istrinya. Tangan kanannya menyusup ke belakang kepala Niken sementara tangan kirinya mendekap pinggang ramping istrinya itu. Meski ia tahu bibir Niken tadi dipergunakan untuk mengoral penis Alfi namun Donie menyergapnya dengan ciuman panas membara. Bekas Alfi ada di mana-mana di seluruh tubuh istrinya tapi itu semua membuatnya makin mengelora. Sleeeeppppp…tanpa di bimbing lagi penis Donie telah menemukan jalannya sendiri ke sarang. Sarang yang indah yang lalu mencengkramnya dengan jutaan kenikmatan.

 “Oughhhhh….Masss!” Niken merintih nikmat Meski penis Donie tak sebesar dan sepanjang milik Alfi. Namun rasa kasih sayangnya pada Donie membuatnya sangat menikmati saat dicampuri oleh suaminya itu.


Niken

Niken

Setelah organ cinta mereka berdua menyatu erat, kedua kaki indah Niken menyilang dan menjepit pinggang suaminya. Sementara jemari lembutnya mencengkram punggung Donie.

“Ayun kuat-kuat mas…biarkan istrimu merasakan betapa keras dan kakunya milikmu” masih terdengar bisikan lembut Dian memompa semangatnya. Ctap…..ctap…..ctappp, bagai seorang murid yang baik ia mencoba memperaktekan semua yang telah Alfi perlihatkan padanya tadi. Donie mengayun pantatnya perlahan saat mengangkat namun cepat dan dalam saat menghujam. Saat sedang bercinta, sebagian besar kekuatan daya dorong lelaki berasal dari otot pantat dan pinggulnya. Ayunan yang kuat dan dalam menimbulkan kesenangan tinggi pada pasangan saat berhubungan intim Dan itu baru disadari oleh Donie sekarang.

“Masss… perkasaa ….sekaliii ougghhh” kembali terdengar rintihan Niken.

Ini adalah kali pertamanya penis Donie mampu menggiringnya pada kenikmatan.

Donie pun tercengang seakan tak percaya dengan pencapaiannya saat ini. Istrinya merintih nikmat dalam permainannya dan ia tahu Niken sedang tidak berpura-pura.

Pujian Niken barusan bagikan tenaga sebutir viagra baginya. Seiring waktu kepercayaan dirinya mulai tumbuh.  Rintihan dan desahan nikmat dari istrinya membuat Donie makin bersemangat dan percaya diri. Dian tersenyum menyaksikan upayanya telah membuahkan hasil. Seiring dengan kembalinya kepercayaan diri pada diri Donie maka saat itu pula vitalitasnya berfungsi dengan baik. Ctap..ctapp..ctap..ctap, bunyi benturan kemaluan mereka terdengar menambah panasnya hubungan intim itu. Tak terasa persetubuhan itu sudah berlangsung selama lima belas menit.

“Uhh…rasa geli itu datanggg lagiii” bisiknya lirih sambil berharap Dian membantunya seperti tadi. Rasanya ia tak ingin cepat-cepat meninggalkan momen-momen indah bersama istrinya seperti sekarang ini. Namun kali ini gadis itu tak melakukan hal itu seperti sebelumnya. Ia cuma menggeleng. “Lepaskan mas…jangan ditahan lagii….nikmati lumatan vagina istrimu yang enak itu”

Donie baru sadar jika Ia sudah melakukan persetubuhan dalam waktu yang lama dan sekarang Dian menginginkan ia lepaskan orgasme berbarengan dengan Niken.



Tak ada yang menghalagi orgasme datang kali ini. Jemari tangannya menyusup ke bawah pantat Niken. Sambil meremas ia menekan bongkahan daging lembut itu ke atas lalu  mengocok penisnya dengan cepat bagai sebuah mesin persis seperti yang tadi si Alfi lakukan. Saat itu ia rasakan pelukan Niken mendekap. Ia pun balas mendekap tubuh Niken sambil mengerahkan seluruh sisa tenaganya mengayunkan pinggulnya semakin cepat…semakin cepat lagi …dan

“Massss Donieee…. Nikennn keluarrr!!” pekik Niken melepaskan orgasmenya sambil menggigit bahu suaminya.

Donie sungguh terkejut, ia merasakan hal yang luar biasa. Vagina Niken tiba-tiba mencengkram erat seluruh organ kelaki-lakiannya. Jiwanya bagai ikut tersedot lepas dari raganya. Ini belum pernah ia rasakan sebelumnya! Tak pernah ia bayangkan organ kewanitaan istrinya bisa menjadi senikmat itu. Dan saat itu juga aliran sperma pada saluran didalam penisnya melaju dengan cepat menerobos hingga keluar melalui lubang kencingnya tanpa bisa dibendung lagi.

 “Aaaaoooooo…sayangggg enaaakkkkk!!!” ia melolong ketika air maninya bermuncratan

Crasssss…cressssss..crattttttttt…..crettttttt…creeetttt….

Enam …..tujuh…de..la…pan… entah berapa kali. Donie sudah kehilang hitungan Penisnya masih terus tersentak-sentak dengan keras. Semburan kencang dan deras melemparkan setiap gumpalan-gumpalan benihnya menghantam dinding rahim Niken. Bukan main nikmatnya! Ini adalah ejakulasi ternikmat bagi Donie. Biji mata Donie sampai mendelik ketika nikmat itu demikian dasyat melanda seluruh syaraf-syaraf pada tubuhnya. Ini adalah sesi persetubuhan terpanjang  plus orgasme ternikmat yang pernah dialami Donie. Jika selama ini di mata setiap wanita yang dikencaninya ia identik dengan sebutan yang melecehkan harga dirinya sebagai lelaki seperti ‘The Prematurer’ karenakan ia gampang sekali muncrat namun kali ini ia mampu melakukannya hampir satu jam-an. Benar-benar sebuah lompatan besar yang berhasil diraihnya. Akhirnya setelah segalanya mereda Donie ambruk di atas tubuh Niken. Kenikmatan itu bagaikan biusan morfin yang melambungkan jiwa dan pikiran meninggalkan alam kesadarannya. Senyum bangga tersungging bibirnya menghiasi tidurnya.





Jam 24.00



Lama Donie terlelap. Ketika ia terjaga. Ia dapati dirinya masih terlentang telanjang di ranjang, Kesadarannya berangsur-angsur pulih. Ia teringat semua kejadian barusan. Persetubuhan yang sangat melelahkan.

“Nien?” panggilnya. Tak ada jawaban. Suasana kamar begitu hening. Pandangannya menyapu seluruh sudut kamar. Ia hanya menemukan sisa-sisa ‘pertempuran’ tadi sore. Lalu matanya tertumbuk pada secarik kertas di sebelahnya. Diraihnya kertas yang ternyata sebuah surat bertulistangan Niken. Dibacanya baris demi baris kalimat di sana.



    Mas Donie suami yang kusayangi,

                Saat engkau membaca surat ini mungkin aku telah pergi jauh dari kota ini.

    Meski aku amat mencintaimu namun  demikian Aku terpaksa harus meninggalkanmu mas.  aku juga merasa malu jika harus bertemu dirimu lagi.

    

    Aku memutuskan untuk mengatakan apa yang terjadi padamu . Mas Donie seperti halnya Dian sebenarnya aku telah menyerahkan kegadisanku pada Alfi. Hal itu terjadi sebelum kita menikah. Aku telah melakukan kebohongan padamu dengan mempersembahkan selaput dara palsu  di malam pertama kita.

    

    Aku tak bisa berpisah lagi dari Alfi karena kini sebuah janin  yang bukan milikmu telah tumbuh di dalam rahimku.

    

    Carilah wanita lain Mas dan lupakakanlah aku. Aku bukanlah seorang istri yang memiliki kesetiaan pada suami, Aku telah menghianati dirimu. Aku terlalu kotor dan tidak pantas untuk lagi  menerima cintamu apalagi tetap bersanding sebagai istrimu.

    Maafkan aku karena telah melukai hatimu.

    

    Niken.



Dengan agak tergesa-gesa ia memakai celananya. Lalu ia bangkit dan memeriksa setiap ruang. Meski sudah mencari ke seluruh sudut rumah sambil berkali-kali Donie memanggil Niken namun tak ia temukan sosok maupun sahutan dari istrinya. Tak cuma Niken bahkan Dian dan si Alfi-pun tak terlihat lagi batang hidungnya. Memang tak ada orang lain selain dirinya di sana. Istrinya benar-benar telah pergi meninggalkannya sendiri. Niken lebih memilih Alfi ketimbang dirinya. Sungguh menyakitkan pembalasan dari Niken atas ketidaksetiaanya selama ini. Sekarang ia balik merasakan bagaimana sakitnya hati bila dikhianati.



Donie terhenyak. Matanya berkerjab-kejab. Lalu Ia mengusap tetesan bening yang hampir bergulir dari matanya. Ia menghempaskan tubuhnya kembali di sofa. Jemari tangannya mengepal meremas-remas rambutnya kuat-kuat. Ingin rasanya ia berteriak sekeras-kerasnya untuk melampiaskan rasa sesak di dadanya. Ada getir menusuk hatinya tak kala mengetahui Niken telah hamil. Alfi… bocah itu telah mengambil semuanya. Tak hanya membuat Niken takluk oleh kejantannya tapi juga yang merengut keperawanan Niken. Kini ia juga telah meninggalkan benihnya di dalam rahim istrinya. Sungguh ironis seorang playboy tampan, mapan dan kaya seperti dirinya akhirnya harus mengakui keunggulan seorang bocah ABG ceking, hitam dan bertampang pas-pasan seperti Alfi dalam merebut hati Niken. Baru ia tersadar kalau Niken sama sekali tak membutuhkan semua yang ada pada dirinya. Justru apa yang sebenarnya dibutuhkan Niken ada semua pada diri anak itu, tetapi semuanya sudah terlambat untuk ia sadari. Ya… ia telah kalah! Dan telak sekali! Bagaimanakah ia harus kemudian bersikap sekarang. Apakah ia akan langsung memutuskan untuk menceraikan Niken? Ia pun sungguh tak tahu harus berbuat apa. Berjam-jam ia tercenung terpuruk dalam kepedihan dan kesedihan. Hingga akhirnya kepalanya terkulai dan Donie kembali tertidur. Jam menunjukan pukul 5.00 pagi saat ia terjaga untuk kedua kalinya. Rasa haus mendera memaksanya bangkit. Nyaris satu botol air dingin dihabiskannya. Lalu ia kembali membaca surat Niken. Diulang-ulangnya sampai beberapa kali seakan mencari makna dibalik kata-kata di situ. Donie melihat tinta yang agak luntur pada tulisan Niken. Niken…ia menulis surat itu sambil menangis.

Aneh sekali….apakah Niken sebenarnya tak benar-benar berniat meninggalkannya?.

Kemungkinan juga ia pergi karena tak ingin ada hal-hal yang tak diinginkan terjadi.

Seakan Niken justru berharap Donie sendiri yang harus mengambil keputusan.

“Baiklah Nien jika ini memang maumu!” gumamnya Donie

Donie merasa ia harus segera menuntaskan permasalahan ini. Tapi walau bagaimanapun ia harus berpikir rasional bukan dengan perasaannya agar ia mampu menarik hikmah dari kejadian-kejadian dalam rumah tangganya dan tidak sampai salah dalam mengambil keputusan. Kali ini ia harus mengambil keputusan yang sangat penting dalam hidupnya. Bukankah selama ini ia sangat dikagumi oleh koleganya akan keputusan-keputusan yang di buatnya dalam situasi seganting apapun.



Donie menarik nafas dalam-dalam. Ia merasa ada baiknya ia mengintropeksi dirinya sendiri dahulu sebelum menilai perbuatan Niken. Sungguh kejadian ini bermula dari tingkah lakunya sendiri.Betapa selama ini ia tak pernah mau melihat penderitaan pada diri Niken. Ia seharusnya memahami bagaimana sakitnya perasaan Niken mengetahui suaminya yang tak henti-hentinya berselingkuh baik saat sebelum maupun sesudah mereka menikah. Bukankah Niken telah berusaha menjadi seorang istri yang baik buatnya selama perkawinan mereka. Bahkan sudah beberapa bulan ini ia tak lagi mendatangi istrinya di tempat tidur. Wajar sekali jika Niken sampai akhirnya tergoda untuk mencari kepuasan dari pria lain. Soal kesucian, Donie rasanya ia sendiri bukanlah seorang yang suci. Entah berapa banyak perempuan yang telah bercinta dengannya sebelum ia menikah dengan Niken. Bahkan beberapa hari sebelum malam resepsi-pun ia juga masih sempat ‘main’ dgn sekretarisnya di sebuah hotel. Meski Niken mengetahui semua hal tersebut namun ia tetap mau menerimanya sebagai suami.

“Haihhh…” ia menghela napas. Timbul rasa penyesalan yang begitu dalam.

Tiba-tiba saja ia teringat bagaimana panasnya persetubuhan mereka tadi sore. Entah mengapa memikirkan peristiwa tersebut gairahnya malah kembali naik. Berangsur-angsur kekesalannya lenyap tertindih oleh gairah yang meluap-luap. Iapun teringat bagaimana nikmatnya mendapatkan ejakulasi yang kuat dengan kuantitas sperma yang begitu banyak. Ia sendiri terkejut dengan volume sperma yang ia hasilkan ketika ejakulasi tadi. Ejakulasi layaknya seorang bintang porno! Tak pernah ia merasa ‘sehidup’ tadi. Betapapun gairahnya bagai dipompa dan dipacu secara tidak langsung oleh persetubuhan Niken dan Alfi. Yang paling istimewa adalah ia tadi bahkan telah mampu memberikan sebuah orgasme pada Niken untuk pertama kalinya meski harus melalui rangkaian proses yang ‘rumit’terlebih dahulu. Bukankah ini adalah impian nya selama ini untuk menjadi seorang suami yang mempu memberikan kepuasan bagi istrinya di atas ranjang.



Donie mendadak merasakan sakit pada bagian selangkangannya. Ternyata penisnya perlahan telah mengalami ereksi semakin lama semakin keras sedemikian kerasnya hingga mendesak  celana jeansnya. Sungguh aneh? Bukankah saat ini seharusnya ia masih dalam kondisi marah dan kesal karena telah dikhianati? Donie segera membuka lepas celana jeansnya kembali di saat ia rasakan sakit disebabkan ereksinya yang terhalang oleh benda itu. Dan benar saja begitu terbebas kontolnya melompat dalam keadaan tegak mengacung bagai tonggak. Wow..keras sekali?! Donie seakan tak percaya dengan anugrah yang diterimanya saat ini. Ingin rasanya ia mengulangi peristiwa tadi saat ini hanya saja ia tak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba ia bergegas merapikan pakaiannya. Lalu  meraih kunci mobilnya.

“Aku berharap aku tak terlambat!”

Donie memacu mobilnya bagai kesetanan. Udara pagi yang dingin berangsur-angsur hangat disiram oleh sinar mentari. Ketika mobilnya memasuki sebuah komplek perumahan ia tak juga mengurangi kecepatannya. Ia bahkan tak perduli beberapa orang jogging melontarkan sumpah serapah ke arahnya. Nyaris saja ia menghantam sebuah tiang lampu jalan saat membelok masuk ke halaman rumah Didiet. Kebetulan pintu gerbang rumah itu masih terbuka lebar karena Didit baru saja akan mencuci kendaraannya pagi itu. Didiet yang saat itu berada di halaman merasa was-was melihat koleganya itu muncul dalam kondisi kusut. Alamak bakalan runyam urusannya pikir Didit dalam hati. Ia kuatir Donie tak terkendali dan berbuat nekat. Iapun tahu Donie adalah pemegang sabuk karate dan 2.

“Don  apa..”

“Di mana Niken Diet?” tanya Donie memotong ucapan Didiet

“Masuk dulu kita..”

“MANA ISTRIKU!!!!”bentak Donie membahana. Didiet sampai terlonjak karena kaget.

“Sabar Don ia ada di sini” ujar Didiet sambil memberi kode dengan jarinya pada Donie agar tak bicara keras-keras karena beberapa orang tetangga yang lewat menengok ke arah mereka.



“Bagus kalau begitu, tetapi sebelum aku menemuinya aku akan menyelesaikan urusanku dulu dengan… DIA!” ujar Donie sambil menunjuk ke arah Alfi.

Saat itu Alfi baru keluar dari samping rumah sambil memegang selang air. Tentu saja anak itu tergagap dan ketakutan  dan berniat untuk kabur dari situ. Namun gerakan Donie lebih cepat. Kerah baju Alfi tahu-tahu sudah dalam cengkramannya. Sejurus Didiet bergerak untuk mencegah namun ia jatuh terduduk di rumput setelah sebuah dupakan menghantam perutnya.

“Jangaaaan Donnn! Jangan sakiti anak itu! Aku yang bertanggung jawab atas semua yang terjadi!” seru Didiet berusaha berdiri sambil mendekap perutnya yang masih sakit.

“Siapa bilang  aku mau menganiaya bangsat kecil ini… aku datang justru mau menyatakan terima kasih kok” ujar Donie tersenyum. Tiba-tiba Ia melepaskan pegangannya pada Alfi yang sangat mengundang keheranan Didiet maupun Alfi

“Loh??…kipikir…tadi kau…” ujar Didiet bingung atas sikap aneh Donie barusan.

“Tenang saja Diet, aku cuma minta waktu berbicara sebagai dua orang lelaki dengan Alfi, bolehkan?” ujar Donie dengan nada suara lunak.

“Eng..ya… silakanlah..”ujar Didiet  agak lega melihat sikap Donie. Bagaimanapun ia cukup mengenal koleganya ini. Ia yakin Donie tak akan berbuat macam-macam. Pada dasarnya Donie bukanlah orang yang brangasan ataupun ringan tangan.

“Fi maaf ya sudah membuatmu cemas tadi, aku hanya bercanda. Aku mau mengucapkan rasa terima kasih kepadamu” ujar Donie

Alfi masih terbengong seakan tak percaya akan ucapan pemuda dihadapannya. Tadinya ia sudah pasrah menerima sebuah hantaman dari Donie.

“tet..rima kasih?”

“Ya Fii, terima kasih karena kamu akhirnya aku sadar betapa berartinya Niken buatku. Dan aku juga berterimakasih karena secara kebetulan aku juga telah berhasil menemukan jalan bagi kesembuhan bagi ketidakmampuanku selama ini”.

“Akh itu… Alfi juga minta maaf kak karena sudah….”

“Jangan kau risaukan hal itu, Aku ingin kamu tetap menjadi bagian hidup Niken. Dan mulai sekarang maukah kau menganggap diriku sama seperti Didiet sebagai keluargamu. Fi?”


Alfi

Alfi

Alfi melihat kesungguhan dari pemuda di hadapannya. Ia menoleh ke arah Didiet.

Didiet tersenyum dan mengangguk.

“Iya kak Donie Alfi mau dan Alfi berterimakasih kakak mau menerima Alfi” ujar Alfi gembira, ia tak menyangka betapa beruntung jalan hidupnya.

“Diet, aku minta kerelaanmu dan Sandra  karena Alfi akan kuajak tinggal dirumahku selama 3 hari pada setiap minggunya, bolehkan?” ujar Donie

“Ah…Itu bisa kita rundingkan Don… tak ada masalah” jawab Didiet.

“Ok Fi ..sekarang kita berjabat tangan sebagai tanda dimulainya sebuah ikatan kekeluargaan ini”

Alfi menyambut uluran tangan Donie dan menjabatnya meski ia tak mengerti betul akan makna hal tersebut. Hanya saja ia lega bahkan girang akan sikap dan keputusan Donie. Berarti kini ia mempunyai dua pasang orang tua asuh sekarang. Dan ini juga berarti hubungannya dengan Niken tak ada yang menghalangi lagi.

“Kalau sudah ayo kita ke dalam” ajak Didiet setelah suasana mencair.

“Masih sakitkah?” Tanya Donie sambil membantu sahabatnya itu berdiri dari rumput.

“Jelas!” gerutu Didiet.

“Salahmu sendiri kenapa ikut campur ha ha ha”

“Kau gila! Kupikir kau tadi serius mau meghabisi Alfi”

“Ga pa pa sesekali bercanda kan?. Anggap saja itu sebagai upah bagimu ha ha”

“Don, sebaiknya kau segera temui istrimu di atas. Sejak pergi dari rumahmu ia tak henti-hentinya menangis. Istriku dan yang lain sudah kehabisan akal membujuknya”

“Ha…be..narkah?”

“Ya….walau bagaimanapun ia sangat mencintaimu sepenuh hati sama seperti Sandra mencintaiku”

“Aku benar-benar merasa bersalah selama ini…aku menyesal sekali Diet” Donie  tertunduk



“Hei  Sudahlah! ayo datangi dia segera!” ujar Didiet menyemangati.

“Ya  aku menemui dia sekarang. Eh… ngomong-ngomong aku juga berterima kasih padamu atas semua kegilaan yang kau ciptakan ini” ujar Donie sambil menoleh lagi ke arah Didit.

“He he jangan berterima kasih padaku. Itu sepenuhnya adalah ide istriku”

Donie bergegas menuju kea rah pintu rumah. Di sana berpapasan dengan Dian dan Sandra yang baru keluar karena mendengar kegaduhan tadi. Donie sempat mengecup lembut bibir Dian.

“Maukah kamu tetap menjadi bagian dari kesembuhanku, dara manis?” dari nada bicaranya Donie tak lagi merasa malu jika orang mengetahui kekurangannya.

“Itu tergantung dengan istri mas, saya menurut saja”jawab Dian tersenyum. Ia juga tak menyangka kalau ia berhasil melaksanakan tugasnya.

Saat berpaling ke Sandra, Donie mengangukan kepala memberi hormat sambil berkata.

“Terima kasih anda adalah seorang wanita berhati mulia, anda telah mau bersusah payah menyelamatkan perkawinan kami “ Dari awal kemunculannya dulu Donie sudah menduga wanita cantik di hadapannya itu sangat istimewa.

“Ah..mas Donie terlalu berlebihan,  saya cuma ingin melihat semuanya berakhir indah mas”

“Don! Yang satu itu jangan di ganggu ! itu property pribadi!” ujar Didiet dari jauh.

“Iya. iya tolong sejak sekarang dibuatkan aturan yang jelas! Mana yang boleh mana yang tidak, Ok?”

“OK setujuuuu!” jawab Didiet lagi.

“Dasar lelaki! Gilanya cuma beda tipis!”ujar Sandra dan Dian geli



Donie perlahan membuka pintu kamar atas. Ia tak ingin Niken terkejut ataupun takut padanya. Di dalam ia begitu terenyuh saat melihat kedua mata Niken yang bengkak karena menangis semalam-malaman.

“Mas Donie…”desisnya pelan ketika ia menoleh ke arah pintu dilihatnya sang suami telah berdiri disitu.Ia masih ragu-ragu untuk mengatakan kata-kata meski wajah Donie memancarkan kelembutan.

“Mengapa kau lari dari sisiku kekasih?”

“Ma..afkan aku mas Donie…aku tak pantas buat mas, aku istri yang ternoda…bahkan aku telah ham..”

Belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya Donie menariknya dalam sebuah dekapan hangat. Niken merasakan kenyamanan. Dan sebuah kecupan lembut mendarat di kening Niken.

“Stttt.. dimataku kamu tetap bidadariku. Justru aku yang minta maaf karena lebih dulu tak setia dan tak mampu membahagiakan dirimu. Kembalilah padaku manis. Aku berjanji padamu tidak akan mengulangi perilaku burukku di masa lampau. Bahkan aku menginginkan si Alfi ikut tinggal bersama kita bukankah ia harus ikut merawat ‘bayi kita’”

Niken terperangah bagai tak percaya dengan apa yang di dengarnya. ‘bayi kita’ Donie mengucapkan itu walau ia tahu persis bayi yang dikandungnya bukan hasil perbuatannya melainkan benih si Alfi.

“Be..narkah mas Donie masih mau menerima aku ?“

Donie menatap mata istrinya dalam-dalam.

“Tatap mataku manis, apakah aku berbohong? Aku mencintaimu. Aku tak ingin kehilangan dirimu. Aku mohon jangan tinggalkan aku sendiri dalam ketidak berdayaan dan kesedihan sayang,”



Niken  mampu melihat kesenduan dan kejujuran yang tak pernah selama ini terpancar dari wajah suaminya. Iapun merasa iba melihat rona hitam menghiasi pelupuk mata Donie. Sebagai istri Niken merasa bersalah seharusnya ia ikut membantu memecahkan persoalan Donie. Dibelainya wajah tampan itu. Betapapun ia pun sudah belajar menyayangi suaminya selama ini. Lalu ia tak dapat menolak ketika Donie  menyumbat bibirnya dengan sebuah ciuman. Sebuah ciuman yang sangat berbeda. Bukanlah ciuman yang didasari napsu semata namun juga sebuah ciuman yang mengalirkan cinta dan kasih sayang. Dua tetes air bening bergulir dari kelopak mata Niken. Iapun membalas lumatan bibir Donie seakan melepaskan segala kerinduannya dalam dekapan dada bidang itu. Lama ciuman itu baru terlepas.

“Aku telanjur mencintaimu mas, aku akan mengabdikan hidupku buat mas Donie””

“Terima kasih manis, Aku juga dan akan selalu mencintaimu meski ada Alfi diantara kita”

“Mas betul.. ti..dakk cemburuu bila melihat a.ku sedang bersama ..Alfi…?”

“Sejujurnya pada awalnya aku agak illfeel…namun berangsur-angsur aku sadar jika aku justru tak ‘bisa’ berhasil tanpa anak itu..Nien. A..ku benar-benar merasakan bergairah’ ketika kulihat ia mengaulimu saat itu.Bukankah kau sudah melihat buktinya saat itu aku mampu mempertahankan ereksi dan ejakulasiku jauh lebih lama dari biasanya” ujar Donie tergagap agak malu-malu mengungkapkan isi hatinya.

“Tapikan itu juga karena ketelatenan ‘tangan’nya si Dian kan?”

“Itu betul juga tetapi tetap saja baru kali itu aku benar-benar dalam kondisi begitu ‘High’” ujar Donie dengan suara bergetar-getar.

“Idihhh ngomong itu kok sampai tergagap begitu..hi..hi” Niken tersenyum geli mendengar pengakuan jujur suaminya itu. Jujur. Ya hal itu yang tak pernah Donie lakukan kepadanya selama ini.



“Iyaa kok aku jadinya kepingin itu sekarang .. ..a..ku panggil si Alfi kemari ya say?”

“Loh masa sekarang Mas? Kita kan tamu di rumah orang apa tidak sebaiknya nanti di rumah kita saja” ujar  Niken agak jengah tak menyangka Donie menjadi tak terkontrol seperti itu.

“Kalau begitu tunggu sebentar biar aku minta izin ke Didiet dan Sandra. Kurasa mereka mau mengerti kok.”

“Tapi tetap saja aku malu sama mereka,”

“Aduhh.. sayaaang..mau yaa? a..akuu ngga sabar lagii melihat kontol besar si Alfi mengaduk kewanitaanmu yang indah ituuu ….Pleaseee maniss…”

Niken mengangguk mengiyakan. Mengapa ia harus menunda datangnya kebahagiaan yang sudah lama ia tunggu-tunggu selama ini.

“Baiklah  kalau itu maunya mas, Ajak juga Dian sekalian kemari ”

“Yessss!!!” ujar Donie girang sambil menirukan gerakan Jim Carrey. Lalu Ia melesat berlari keluar kamar.

Sepeninggal suaminya Niken tersenyum-senyum sendiri.Hatinya sungguh berbunga-bunga. Entah mengapa jantungnya begitu deg-degkan menghadapi ini semua. Padahal di malam pertamanya dulu-pun ia tak merasakan seperti yang dialaminya sekarang ini. Seperti ini kah rasanya  kebahagiaan itu? Ohhh.. begitu nyaman terasa mengalir dan menghangati tubuhnya. Oh Ibu..akhirnya aku berhasil mendapatkannya. Di pagi yang cerah itu Niken sudah tak tahu lagi berapa orgasme ia dan suaminya peroleh. Pekik-pekik kenikmatan membahana tiap menitnya silih berganti.



—-

Di kolam renang halaman belakang



Didiet terlentang di kasur besar yang mengambang di atas air sambil mengelus rambut ke dua wanita cantik yang memeluknya dari kedua sisi tubuhnya. Penisnya mengacung tegak dalam remasan jemari lembut Nadine yang baru saja datang. Sementara Sandra tersenyum puas akan hasil dari upayanya.

“Upayamu berhasil say. Kamu memang istri yang membanggakan bagiku”

“Hmm ya, Aku senang  karena semua berjalan sesuai dengan rencanaku. padahal pada awalnya aku ragu bisa mempersatukan mereka, kupikir Donie akan lebih memilih bercerai ketimbang menerima keadaan Niken. Ternyata ..dia juga ‘sakit’ seperti kamu” ujar Sandra.

“Iya betul! bahkan akan terus bertambah lagi orang yang jadi korban tertular penyakitnya” ujar Nadine mengencangkan remasannya.

“Oowww … asiiiikk!!!  Penyakit yang asiiiik!! Ha ha ha!!” Didiet tergelak.

 TAMAT
########################################

=================================
Alfi dan Lila, Si Dokter Cantik 1
=================================

“Tak ada yang perlu engkau kuatirkan, janinmu dalam keadaan sehat” ujar Lila pada Niken.

“Ada baiknya memasuki trismester pertama ini kalian jangan terlalu banyak berhubungan intim dulu agar tak membahayakan janin di dalam kandunganmu ”tambahnya lagi.

Bagi Lila, pasangan Niken dan Donnie adalah merupakan pasangan yang aneh, seperti halnya  Didiet dan Sandra. Mereka semua menjalani kehidupan kamar tidurnya dengan cara yang aneh. Mungkin orang lain menganggap prilaku mereka ‘menyimpang’  ‘abnormal’ atau ‘sakit’. Bahkan Lila juga mengetahui bahwa bayi yang dikandung Niken bukanlah berasal dari Donnie dan siapa bapak biologis sesungguhnya meski terlihat keduanya sangat berbahagia. Namun Lila tetap bersikap profesional dengan menjaga kerahasiaan masalah pasiennya apalagi Niken merupakan sahabat akrabnya sejak SMU dulu.

“La, kapan kamu menyusul aku?” Tanya Niken disaat Lila sedang memeriksa perutnya yang mulai membuncit

“Eng..a.pa?”

“Ah engkau ini.. tentu saja maksudku menikah!”

“me.nikaah?”

“Iya menikah…dan punya anak”

“a..ku..belum memikirkannya Nien”

Lila merasa aneh karena baru pagi tadi ibunya menelpon dirinya juga menanyakan hal sama padanya.

 “Kok bengong La?”

“Eh..a…ya” Lila baru tersadar saat Niken menegurnya.

“Kamu melamun memikirkan omonganku tadi ya?”

“He e…tadi ibu memintaku pulang ke kota H beberapa hari. Aku tahu ia pasti ingin membicarakan masalah yang kau katakan barusan”

“Bukankah itu merupakan sebuah niat yang baik kan? Lantas kenapa kamu terlihat murung La? Apakah kau masih juga memikirkan kegagalan hubunganmu dengan Erik dulu?”



Lila menghela napas, tatapannya menerawang ke arah jendela. Kejadian di masa-masa SMU sepuluh tahun yang lalu seolah kembali muncul membayang di kepalanya bagaikan adegan-adegan slide. Erik pemuda tampan, anak seorang pejabat tinggi kota H yang saat itu menjadi tambatan hati Lila. Cinta Lila bersemi layaknya gadis remaja lainnya.

Hingga pada suatu hari Lila tak sengaja memeregoki Erik sedang bercumbu mesra dengan seorang gadis lain di dalam ruang UKS. Gadis itu tak lain adalah Elena juga merupakan seorang gadis yang popular di sekolahnya. Jika dibandingkan dengan Lila jelas Elena unggul dari segi penampilan fisik. Elena seorang anak yang modis dan menonjolkan keindahan tubuhnya buat menarik perhatian kaum lelaki. Dengan rok mininya ia selalu membuat jakun para siswa lelaki naik turun karena berulang-ulang meneguk air liur. Sedangkan Lila lebih mengandalkan kecerdasan otaknya di sekolah.  Sebenarnya Lila lebih cantik dan memiliki bentuk fisik yang lebih baik dari pada Elena namun ia bukanlah type gadis pesolek. Ia adalah  seorang kutu buku yang betah bergelut di laboratorium biologi dan perpustakaan selama berjam-jam, rambut kepang dan kaca mata tebalnya itu menutupi semua kecantikannya. Kepergok berselingkuh bukannya meminta maaf, Erik malah meninggalkan Lila dan lebih memilih Elena yang ‘panas membara’ itu sebagai pacarnya. Betapa hancurnya hati Lila saat itu. Kekecewaan dalam cinta pertamanya terasa begitu menyiksanya. Satu-satunya sahabatnya yang ia percayai sebagai tempat mencurahkan isi hatinya hanyalah Niken. Sejak peristiwa tersebut Lila-pun tak pernah lagi menerima cinta pria lain di hatinya. Ia telah memutuskan telah menutup pintu hatinya rapat-rapat bagi setiap cinta yang datang.

“Entahlah Nien… hatiku masih terasa sakit bila teringat lagi akan peristiwa itu”

“Selama ini kamu terus sibuk meniti kariermu dan kejadian itu sudah lama berlalu. Tak ada salahnya jika sekarang kau berusaha membuka hatimu lagi bagi seorang lelaki, La”

“Aiihhh…Kita lihat saja nanti…yang jelas aku harus memiliki jawaban yang tepat saat bertemu ibu besok”

“O ya La, Kebetulan Alfi juga berada di kota H sejak seminggu yang lalu. Kasihan dia, Ibunya baru meninggal dunia. Mungkin kamu bisa mengajaknya pulang bersamamu ke sini bila urusanmu telah selesai”. Ujar Niken



“Ngga masalah Nien, aku akan menghubunginya setibaku di sana”



**************************

Kota H,



Wanita tua itu terlihat begitu bahagia saat melihat kedatangan putri sulungnya itu. Lila memang seorang putri yang sangat membanggakan buatnya. Cantik, cerdas dan penuh tanggung jawab terhadap keluarga. Namun yang menjadi kekhawatiran ibu Lila karena sampai dengan saat ini tak terlihat tanda-tanda anak gadisnya itu akan menikah meski usianya merambat ke kepala tiga bahkan setelah adiknya Lidya menyelesaikan kuliahnya dan sudah memperoleh pekerjaan sekalipun. Jangankan memikirkan untuk menikah pacarpun ia tak punya. Lila bukanlah seorang gadis yang tak laku-laku. Penampilan fisik yang indah sempurna serta karier yang baik menjadikan Lila sebagai figure seorang  istri yang sangat diidamkan oleh banyak pria. Sayangnya kegagalan percintaannya dengan Erik menjadikan hatinya dingin bagaikan gunung es. Ketika hendak masuk ke dalam rumah seorang dara yang tak kalah cantik dengannya setengah berlari menyongsongnya. Lidya adiknya memeluk seraya mencium pipinya.

“Cup…Kakak lama sekali tak pulang kami berdua sudah kangen” ujar Lidya.

“Aku sibuk sekali akhir-akhir ini. Setiap kali berencana buat weekend kemari selalu tertunda karena ada saja pasien yang  harus dibantu melahirkan. Bagaimana pekerjaanmu?” tanya Lila kemudian.

“Baik kak. Aku menyukainya.” Lidya bekerja di sebuah Bank di kota ini.

“Syukurlah kalau begitu. Mana ibu?”

“Tuh baru keluar, sejak kemarin ia gelisah memikirkan kakak”

Lila menoleh ke arah pintu di mana seorang wanita tua menatap kedatangannya dengan senyum mengembang. Lila mencium tangan ibunya dan juga pipinya yang sudah berkeriput.

“Istirahatlah dulu nak. Lidya sudah membersihkan kamarmu” ucapnya.



Memang sebenarnya Lila sangat membutuhkan istirahat bukan hanya karena ia baru menyetir sendiri kendaraannya selama tiga jam nonstop dari kota S ke kota H, namun juga istirahat dari kesibukannya sebagai seorang dokter. Tiga bulan belakangan ini dirinya nyaris tak punya waktu buat dirinya sendiri. Paginya ia sudah harus praktek di dua klinik berbeda hingga hampir larut malam di setiap harinya. Paling-paling ia punya waktu istirahat di sela-sela jam makan siangnya. Belum lagi jika harus menolong pasien yang mau melahirkan yang sudah barang tentu tak punya jadwal tetap. Semua itu begitu menguras tenaga dan pikirannya. Ia berharap kesejukan dan ketenangan kota kelahirannya ini paling tidak bisa memberinya suasana yang fresh selama beberapa hari sebelum kembali bergelut dengan pekerjaan rutinnya.

“La , ibu mungkin telah mengganggu aktivitasmu, namun ada yang harus ibu bicarakan denganmu dan tidak bisa melalui telepon.” ujar ibu Lila saat mereka duduk berdua di beranda rumah sambil minum teh menjelang sore.

“Ngga papa kok bu, di klinik ada seorang dokter lain yang biasa menggantikanku.” ujar Lila sambil menghirup tehnya.

“La “ sang bunga nampaknya langsung menuju ke pokok pembicaraan

“Ya bu, ” Lila meletakan cangkir tehnya. Lila merasa ia mulai masuk ke bagian yang tidak ia sukai selama ini namun ia tak ingin terlihat gusar dan gelisah di depan ibunya.

“Barangkali kau sudah maklum apa yang ingin ibu bicarakan padamu? Ibu hanya ingin menanyakan tentang hubunganmu dengan Robert”

Robert adalah seorang dokter muda seperti halnya Lila ia juga memiliki karier yang cukup cemerlang. Dua bulan yang lalu ibu Lila berniat menjodohkan Lila dengan pemuda  yang merupakan putra temannya itu.

“Kami memutuskan untuk ber..teman bu”

“Hanya sekedar teman nak? Kenapa? Ada yang salah dengannya? Ibu lihat ia seorang pemuda sopan, sukses dan bahkan…sangat tampan” tanya ibunya. Ia  bingung type pria macam apa  yang mampu menggetarkan hati putrinya ini. Berkali-kali ia berusaha menjodohkan Lila pada seorang pemuda. Namun ada saja alasan Lila untuk menghindar dan menolak.



“Entahlah…Lila hanya tak merasa tertarik padanya” jawab Lila sekenanya.

“Haihhhh….ibu sudah tak tahu harus berbuat apa agar kau cepat bertemu jodohmu nak” ujar ibu Lila sambil menghela napas.

“Bu, bukannya Lila tak memikirkan hal tersebut namun Lila masih ingin sendiri dan fokus pada pekerjaan dan karier dulu saat ini.. Lila mau cari uang yang banyak buat membahagiakan ibu”

Memang semenjak ayahnya meninggal beberapa tahun yang lalu. Ibu Lila terpaksa membating tulang dengan menerima upah jahitan demi menghidupi dirinya dan  kedua putrinya saat itu. Terutama Lila yang tengah kuliah di Fakultas Kedokteran sangat membutuhkan biaya yang tidak sedikit.  Setelah berhasil menamatkan kuliahnya dengan waktu yang cepat dan dengan nilai yang sangat baik. Lila sempat membuka praktek lalu melanjutkan program spesialisnya. Dan Sekarang setelah menyelesaikannya Lila-pun mengambil alih tugas ibunya sebagai tulang punggung keluarga. Beberapa bulan menjadi dokter pengganti bagi seorang dokter yang lebih senior pun di jalaninya. Perlahan semakin banyak pasien yang merasa cocok berobat padanya. Hingga akhirnya ia diminta oleh klinik tempatnya bekerja menjadi dokter utama di sana menggantikan seniornya yang memasuki usia pensiun.

“Sayangku …selama ini Ibu sudah cukup bahagia melihat kalian anak-anak ibu tumbuh dewasa dan berhasil dalam hidupnya namun rasanya kebahagian ibu belumlah lengkap ibu sudah semakin tua, sebelum ibu pergi ibu mau melihatmu menemukan seorang suami yang baik dan memberi ibu seorang cucu yang lucu. sekian lama ibu menanti namun hal tersebut tak kunjung datang. Sebenarnya apa lagi yang kamu tunggu, nak?.Bukankah saat ini kamu sudah memiliki semuanya, materi berlimpah,.karier yang baik…”

“Lila hanya belum menemukan lelaki yang cocok bu”

“Apakah ini karena…Erik” tanya ibunya. Lila diam tak menjawab pertanyaan yang satu itu.

“Ibu mengerti perasaanmu nak. Namun tidak semua pria itu berkelakuan buruk, contohnya ayahmu. Ia seorang suami dan ayah yang baik, pengertian dan penuh kasih sayang terhadap keluarga. Tak baik berlarut-larut membiarkan satu kegagalan menghalangi hidup dan kebahagianmu. Ada banyak pangeran tampan dan baik hati di luar sana yang menantimu” ujar ibunya.



Lila tahu banyak sekali kebenaran di dalam kata-kata sang bunda barusan. Selama ini jauh di dasar jiwanya ia selalu dilanda kegelisahan yang ia sendiri tak tahu penyebabnya. Tabiatnya yang keras kepala dan ingin mempertahankan prinsip hidupnya bukannya mendatangkan ketenangan bagi hatinya. Tak dapat dipungkiri jika jiwanya yang gersang itu sebetulnya sangat membutuhkan hangatnya cinta dari lawan jenisnya. Namun di sisi lain ia kapok buat dikhianati.

“Mungkin Lila akan pikirkan hal itu nanti bu, namun untuk Lila harus menunda dulu hal itu mumpung karierku sedang baik saat ini. aku kuatir setelah menikah belum tentu suamiku mengijinkan aku bekerja bu” jawabnya masih bersikukuh mempertahankan prinsipnya.

“Tapi nak kau tak mungkin terus-terusan melajang tetap saja pada akhirnya kita harus mengikuti kodrat kita sebagai wanita… menikah… .melahir anak”

“Bagaimana dengan Lidya bu, aku tak keberatan bila Lidya telah bertemu jodohnya lebih dulu dari aku bu” Lila sudah kehabisan kata untuk menghindari kejaran ibunya.

Wanita tua itu akhirnya terhenyak lemah. Ia sadar sulit sekali membujuk Lila buat menikah.

“Nak…Lidya adikmu tak mungkin melakukan hal itu nak, ia sangat menghargaimu sebagai yang lebih tua.”

Lila membisu.

“Baiklah … ibu tak ingin memaksakan kehendak ibu padamu …” ujar ibu Lila dengan suara bergetar sementara mata tuanya itu mulai meneteskan air mata.

Lila kaget.  Ia tak menyangka pembicaraan mereka kali ini telah membuat ibunya sedemikian kecewanya. Ia buru-buru memegang jemari tua ibu dan menciumnya. Tapi tangis penuh kesedihan ibunya sudah tak terbendung lagi.

“Bu..ibuu.”

“mungkin… sudah menjadi suratan buat ibu bila bakal melihat putri-putri ibu tak menikah sampai tiba waktunya ibu harus pergi” ujarnya lagi diantara isaknya.

“Buuu jangan berkata begituu…Lilaa tak bermaksud menyusahkan ibuu…Lila akann menuruti mauu ibu asalkan ibu tak sedih lagi ya bu” bujuknya sambil meletakkan kepalanya di pangkuan sang bunda. Air matanya pun meleleh tumpah. Ia begitu menyayangi ibunya. Ia takut sekali bila membuat ibunya sedih apalagi sampai menangis karenanya.

Wanita tuapun itu membelai rambutnya lembut.





Sementara itu di sebuah rumah kontrakan.


Sriti

Sriti

Pagi itu Alfi terlihat sedang dalam mengumuli seorang wanita cantik. Pantat bulatnya berayun cepat penuh dengan gairah membara. Wanita itu tak lain adalah Sriti, seorang mantan PSK tercantik dari lokalisasi X teman sekamar dan sejawat ibunya Alfi dulu. Tubuhnya yang sintal ditambah wajah yang manis menjadikannya rebutan para pelanggan tempat tersebut selama beberapa tahun. Meski kulit tubuh gadis itu tak seputih kulit Sandra maupun Niken namun wanita itu terlihat sangat ayu dengan kulit kuning langsat. Sejak berada di kota H, Alfi seakan menemukan lagi cinta pertamanya. Ia merengek-rengek minta persetubuhan pada wanita yang bertahun-tahun ia rindukan ini. Walau pada awalnya sempat menolak namun akhirnya Sriti mau menuruti keinginan anak itu. Sriti juga tak dapat mengingkari jika ia sebenarnya rindu akan belaian seorang lelaki. Sekian lama Ia memang  tak pernah lagi merasakan sebuah persetubuhan semenjak ia meninggalkan dunia hitam dua tahun yang lalu. Tak tanggung-tanggung hari ini ia mendapatkan penis Alfi yang sudah tumbuh sedemikian besarnya. Belum pernah ia melayani pelanggan yang memiliki alat vital sebesar milik anak ini. Mulanya Sriti agak kaget melihat pertumbuhan kemaluan Alfi yang sangat pesat tersebut. Pastilah sangat menyakitkan buat Sandra dan yang lain saat mereka di perawani oleh anak ini dulu pikir Sriti. Ia sungguh tak menyangka akibat  perbuatannya dulu itu telah menjadikan  Alfi seorang kuda jantan kecil. Clek..clek…clek..clek.. suara itu mencul akibat kocokan-kocokan Alfi pada vagina Sriti.

“Ouhhh…Fiiiiiii” rintih Sriti.

Ia tak tahu entah sampai kapan Alfi akan menyetubuhinya. Meski sudah tiga jam-an melakukan itu namun bocah itu tak kunjung merasa puas. Alfi berusaha keras bertahan agar tak berejakulasi di vagina wanita yang dulu mengenalkannya pada seks buat pertama kali dan sekaligus merengut keperjakaannya itu. Ia tak ingin membuat Sriti hamil. Ia sadar bila ia hanya akan menambah kesusahan bagi kehidupan Sriti. Lima menit berselang Alfi merasakan penisnya diremas kuat-kuat oleh otot-otot kemaluan gadisnya itu. Ia tahu Sriti telah kembali memperoleh orgasmenya. Entah ia tak mengitung berapa kali Sriti mengalaminya. Yang jelas ia harus bertahan dalam hisapan dahsyat itu setidaknya setengah menitan bila tak ingin kebobolan.



“Sayanggggg….kakak dapettt lagiiii!” pekik Sriti lirih.

Ploppp! Akhirnya penis Alfi terlepas dari vagina Sriti tanpa berejakulasi.

“Kurang enak ya Fi? Memek kakak ngga seenak punya kak Sandra-mu ya?” tanyanya merajuk melihat Alfi belum juga berejakulasi.

“Siapa bilang. Punya kakak legit banget, peret dan ngisep kuat kok”

“Tuh buktinya kamu ngga keluar-keluar”

“Kakak sayang, Alfi ngga mau kakak hamil. Biar Alfi muncrat di mulut kakak saja”

Sriti mengambil posisi berbaring menyamping sehingga penis Alfi menghadap ke wajahnya.

“Ihhh…Besar banget sih!…” gumam Sriti gemas pada benda berkulup itu.

“Ohh..kakaaakkk” desah Alfi setelah dalam sekejap seluruh batang kemaluannya sudah lenyap dilumat oleh mulut kekasihnya itu. Sriti menghisap, mencucup, dan melakukan semua gerakan yang ia ketahui semasa ia menjadi pelacur dulu.Hanya dalam hitungan detik Alfi pasti bakal muncrat dibuatnya. Dan benar saja…

“Arckkkkk…. Ka.kaaakkkk!!!” pekik Alfi, bola matanya terbalik ke atas, penisnya berdenyut-denyut keras dan dari ujung lubang pipisnya melejit lendir-lendir kental menghantam kerongkongan Sriti. Sriti menelan semuanya tanpa sisa hingga pada tetes terakhir.

“Apa? mau Lagi?” Tanya Sriti pada Alfi ketika anak itu sudah akan menindihnya lagi.

“He e kak lagi”

“Sudahan dulu ah, punya kakak nyeri. Lagian bukankah hari ini kamu ada janji buat ketemu dengan dokter Lila?”

“Iya kak tapi jam sebelasan kan masih lama. Alfi  masih pingiiiin bangettt..”ujar Alfi sambil menunci posisi pinggul Sriti yang montok.

Sriti berusaha mengerakan pinggulnya namun tetap gagal menghindari agar hujaman Alfi. Penis besar anak itu seakan bermata dan tak pernah meleset menemukan sasarannya dan kembali bersarang di dalam bekapan vaginanya yang legit.

“Ouhhh….Fiiii….Dasar kamu ngga ada puas-puasnya”



********************************

Siang harinya Alfi janjian bertemu dengan Lila di sebuah mal. Alfi nyaris tak mengenali Lila jika tak disapa duluan oleh gadis itu. Alfi terperangah tak menyangka Lila sedemikian cantiknya bila sedang tak memakai atribut dokternya. Tak ada kaca mata tebal yang selalu nangkring di hidungnya, Rambutnya tergerai indah, dan bentuk tubuh gadis itupun begitu indah terbalut oleh sebuah gaun hitam ketat yang menonjolkan semua sisi kefemininnya. Selama ini Alfi hanya bertemu dengan Lila di ruang praktek.

“Fi, aku berencana pulang ke kota S beberapa hari lagi. Niken berpesan padaku buat mengajakmu pulang bersama.. Mereka ingin kamu ada di sana saat Nadine melahirkan minggu-minggu depan. Kuharap masa berkabungmupun sudah selesai”

“Iya kak…Alfi nurut apa kata mereka, Lagian Alfi juga sudah satu minggu tak sekolah”

“Di mana kamu tinggal Fi?”

“Alfi numpang menginap di rumah kontrakannya kak Sriti”

“O..Sriti juga tinggal di kota ini?”  Lila teringat pada mantan primadona lokalisasi X di kota S temannya ibu Alfi.

“Iya kak, Sejak dua tahun lalu ibu bersama dengan Kak Sriti memutuskan untuk  pindah ke sini buat memulai kehidupan baru yang lebih bersih. Ibu dan Kak Sriti bekerja di sebuah motel namun hanya sebagai receptionist mereka tak mau lagi melakukan pekerjaan mereka dulu. Kasihan ibu ia tak mempunyai keahlian apapun sehingga hanya mampu bekerja seperti itu. Dan yang paling Alfi sesali karena ibu sudah pergi sebelum Alfi jadi orang dan bisa memberikan apa-apa baginya”

Lila melihat Alfi begitu tegar menghadapi musibah yang menimpanya. Anak ini telah tumbuh menjadi pribadi yang tegar dan mandiri seiring kedewasaannya. Lila sangat menghargai orang-orang yang melawan kesulitan hidup ini dengan kerja keras, mereka yang membangun hidup dalam kepahitan nasif seperti halnya Alfi beserta ibunya dan juga Sriti. Betapapun ini juga mengingatkan ia akan perjuangan ibunya sendiri dalam menghidupi ia dan adiknya.



“Kakak turut prihatin atas musibah yang menimpa dirimu Fi, yang penting sekarang kamu harus rajin belajar dan bertekat untuk menjadi orang yang berhasil kelak”

“Makasih ya kak”

“Fi, kamu pasti belum makan siang kan?”

“Eng..Iya kak”

“Bagus kalau begitu kita makan di resto itu ya?”

“Eng.. terima kasih kak tapi biar Alfi makan di rumah saja”

“Loh..kenapa Fi, aku masih pingin ngobrol sama kamu sambil makan siang bersama”

“baiklah jika demikian”

Saat makan siang bersama, Alfi  dengan sabar meladeni Lila ngobrol. Perbedaan umur dan tingkat intelejensi yang jauh tak membuat pembicaraan mereka jadi tidak nyambung karena Alfi berbicara apa adanya. Anak itu begitu polos, jujur dan apa adanya juga dalam menuturkan kisah hidupnya. Tapi omonganya tak pernah menyerempet ke hal-hal yang tabu.. Lila-pun dengan perhatian mendengarkannya. Terkadang secara tidak sengaja cerita Alfi berakhir dengan kelucuan-kelucuan dan membuat Lila tertawa geli. Entah kapan terakhir ia makan siang atau malam bersama seorang lelaki. Mungkin lima atau enam bulan yang lalu. Iapun tak ingat pasti. Kala itu ia sempat makan malam bersama seorang lelaki. Acara makan malam yang kaku itu berakhir begitu saja tanpa ada kelanjutannya. Hal sama selalu terjadi pada setiap pria lain yang di sodorkan ibunya sebagai calon suaminya. Bahkan Robert pemuda terakhir itu hanya sempat datang bertamu dua kali tanpa di suguhi Lila air minum. Entah apakah karena sang dewa asmara yang sudah putus asa menarik busur buat membidikan panah asmara ke hati Lila ataukah memang karena memang hati gadis itu sangat keras dan dingin bagaikan sebuah bukit es. Yang jelas satu persatu para lelaki yang coba mendekatinya mundur dengan sendirinya karena gagal mencairkan kebekuan di hati Lila. Namun tidak dengan makan siang kali ini. Bersama Alfi, Lila merasakan kenyamanan dan  kegembiraan. Paling tidak ia bisa melupakan sejenak kegundahan hatinya terhadap permintaan sang bunda padanya kemarin sore. Obrolannya dengan Alfi seakan mampu melepaskan sedikit beban hatinya selama ini.



“Sudah lama kamu tak datang ke klinik Fi, sebaiknya kamu rajin memeriksakan kesehatanmu” ujar Lila.

“Ke..napa Alfi harus sering diperiksa kak. Alfi kan tidak sakit?” ujar Alfi kecut jika harus datang ke sana.

Dari dulu Alfi memang takut sekali dengan jarum suntik, apalagi setiap kali bertemu Lila selalu memberinya suntikan.Selain itu ia juga tetap merasa malu bila terpaksa harus menunjukan batang kemaluannya buat diperiksa oleh Lila, walaupun benda miliknya itu sering di pegang-pegang dan diemut oleh banyak wanita.

“Bukankah tadi kamu mengatakan jika selama tiga hari dalam tiap minggunya kamu tinggal bersama Kak Niken-mu, lalu empat hari sisanya bersama Kak Sandramu kan?”

“I..ya kak”

“Nah. mengingat aktivitas seksu..eng…. itu yang sangat sering itu, paling tidak setiap bulan kamu harus memeriksakan diri”

“Ya kak tapi… bolehkan jika sekarang kita ngga ngomongin soal itu kak?”

 “Hi..hi..memangnya  kamu takut ya Fi?” Tanya Lila.

“Iyalah, habismya kakak selalu nyuntik kalau ketemu, kan sakit!”

Lila tertawa geli mendengar ketakutan Alfi. Lila sudah mengenal Alfi sejak dua tahun yang lalu. Meski secara fisik Alfi terlihat tak berbeda dengan  anak lain seusianya namun anak ini telah banyak mengalami peristiwa yang dasyat dalam hidupnya. Hubungan mereka sebagai dokter dan pasien membuat Lila mengikuti pertumbuhan Alfi menuju kedewasaannya. Selama ini Lila tak pernah menerima pasien pria. Itu hanya karena mendiang ibu Alfi adalah salah satu pasiennya. Terkadang wanita malang itu terpaksa mengajak serta Alfi buat di periksa kesehatan terutama bagian alat kelaminnya. Ibunya tak dapat menjaga pergaulan Alfi di dalam lingkungan kotor seperti di lokalisasi X sehingga telah ikut menyeret putra satu-satunya ke dalam jurang kenistaan di usia yang masih sangat muda. Ketika Alfi diadopsi oleh pasangan Sandra dan Diditpun, Lila-pun dapat mengetahui semua kejanggalan yang terjadi dalam hubungan suami istri itu meski mereka tak pernah secara langsung mengatakannya padanya. Hingga akhirnya Niken sahabat terbaiknya pun ikut masuk dalam kehidupan Alfi.



Bagi Alfi sendiri, Lila merupakan figure yang patut dikagumi. Betapa tidak selama ini Alfi hanya mengenal para wanita di lokalisasi X yang hanya menjadi alat pemuas nafsu bagi kaum lelaki saja. Setelah bertemu Lila, barulah ia tahu ternyata ada juga wanita yang demikian pandai dan hebat melebihi kemampuan kebanyakan  kaum lelaki. Ia merasa sangat segan terhadap wanita satu ini. Lila tak seperti wanita lain kebanyakan yang ia kenal. Gadis itu sangat tegas dan sangat….dingin. Tapi hari ini Alfi melihat sisi yang berbeda pada Lila. Entah mengapa hatinya bergetar aneh seperti saat ia bertemu dengan Niken dulu. Meski demikian Alfi tak ingin berpikiran macam-macam terhadap Lila.

“Lila! Kamu? “ sapa seseorang tiba-tiba di tengah-tengah kegembiraan itu

“E..rik?” desis Lila ketika mengenali siapa yang menyapanya itu. Lila masih bengong dari duduknya.

Entah mengapa ada rasa perih di hatinya memandang pemuda itu. Apalagi saat itu Erik datang bersama seorang wanita dengan dandanan mencolok. Blouse ketat, rok mini, dan make up menor ala artis sinetron. Erik tak menyangka ia bakal bertemu lagi dengan  Lila, gadis yang pernah ia sakiti hatinya dahulu. ia bahkan terperangah melihat penampilan Lila sekarang. Tak pernah terbayangkan olehnya gadis itu menjadi sangat mengoda.. Paras yang sangat cantik dan mempunyai postur tubuh yang indah ukuran 34-27-34 ditunjang  tinggi tubuh yang 170 sentimeter membuatnya lebih nampak bagai seorang model ketimbang dokter. Berkali-kali ia meneguk ludah sambil mengamati tubuh Lila. Lila bukannya senang berjumpa dengan pemuda itu. Ia bertambah muak melihat sikap buaya Erik. Erik yang baru menyadari kebodohannya segera buru-buru memperbaiki sikapnya.

“Ehh…lama tak bertemu, Apa kabarmu La?”

“Baik, bagaimana denganmu Rik?”

“Juga baik, Lalu angin  apa yang membawamu kembali ke kota ini?”

“Aku hanya mampir sebentar menengok ibu dan Lidya”

“Kau pasti sangat sibuk sekali ya, kudengar dari teman-teman kita dulu kau telah menjadi seorang dokter ahli kandungan yang terkenal di kota S. O ya siapa ini? kacungmu kah?” ujar Erik dengan nada agak mengejek.



Lila bertambah tidak senang melihat tingkah laku Erik yang seakan memandang rendah orang lain.

“Hmm.. kenalkan ini Alfi sahabatku, dia orangnya sangat baik padaku tak seperti kebanyakan lelaki yang kukenal selama ini” sindir Lila

“Kau masih seperti dulu La, tak berubah” ujar Erik. Ia tahu Lila tak begitu senang bertemu dengannya.

“Kamu juga masih seperti dulu, terutama seleramu” ujar Lila. Sambil melirik ke arah wanita di samping Erik.

“Oya ini Monica, Mon kenalkan ini Lila mantanku dulu” ujar Erik semakin tak mengenal sopan santun.

Wajah Lila merah padam. Ingin rasanya ia menanggapi perkataan Erik dengan pedas namun ia cepat-cepat mengendalikan perasaannya. Sungguh rugi meladeni orang semacam Erik. Lebih baik ia lekas pergi dari situ karena pembicaraan mereka  menjadi semakin tidak sehat.

“Kupikir kalian perlu meja, kebetulan kami sudah selesai, silakan dipakai saja”

“Kenapa buru-buru kita bisa ngobrol bareng di sini” ujar Erik terkejut ketika Lila beranjak meninggalkan tempat itu diiringi si Alfi. Nampaknya dia agak menyesal juga dengan ulahnya tadi.

“Mungkin kapan-kapan Rik soalnya kami ada urusan lain, sampai ketemu” ujar Lila berlalu dari sana tanpa menoleh kebelakang lagi. Alfi terkejut saat Lila mengamit tangannya agar berjalan lebih cepat meninggalkan tempat itu

“Siapa pemuda tadi kak?” tanyanya setelah mereka jauh

“Teman kakak sewaktu si SMU dulu” Jawab Lila.

“Ganteng ya kak”

“Buat apa punya tampang tampan tapi tak punya kesetiaan” ujar Lila ketus.

“Iya juga sih”Alfi buru-buru tak meneruskan bicara mengenai topic tersebut  lagi sadar ia jika Lila tak senang mengupasnya lebih lanjut. Dalam hatinya ia dapat menduga pasti ada telah terjadi sesuatu pada hubungan mereka dulu.

“Kak, kita beli es krim di sana yok, kali ini biar Alfi yang traktir” ujarnya berusaha mencairkan suasana hati Lila.

Sepertinya usahanya berhasil. Nampak sunggingan senyum di bibir indah Lila.



***************************

Sore harinya, Lila dikejutkan oleh kedatangan Erik di rumahnya. Saat itu ibunya yang menyambut pemuda itu. Ibu Lila menganggap putusnya jalinan asmara antara putrinya dan Erik merupakan hal yang biasa dikalangan remaja. Oleh karenanya ia tetap menyambut baik kedatangan pemuda itu. Mereka sempat berbincang berdua sebelum ibu Lila masuk ke kamar putrinya. Di dalam kamar Lila terlihat sedang menatap kaca meja rias dengan malas, tak ada lipstick dan polesan bedak buat tamunya yang satu ini.

“Anak perempuan kok tidak dandan padahal kedatangan tamu istimewa”

Lila tetap diam, namun ibunya tahu kegundahan hati putrinya itu.

“Suka atau tidak suka kamu tetap harus menemuinya, tak sopan membiarkan seorang tamu lama-lama  menunggu nak.” kata ibunya lembut

Lila mengangguk lalu keluar dari kamarnya.

“Eng..saya sebenarnya mau mengajak Lila makan malam bu” Erik berusaha berlaku bagai seorang gentleman di hadapan ibu Lila.

“Oh..bagi ibu tak masalah,  semua itu terserah pada Lila, nak”

Sebetulnya Lila enggan meladeni Erik apalagi sampai menjalin hubungan kasih kembali dengan pemuda itu setelah apa yang pernah Erik lakukan di masa pacaran mereka dulu.

Tapi ia tak ingin terlihat berlaku kasar di hadapan ibunya. Apalagi setelah pembicaraan mereka berdua kemarin. Ia akhirnya setuju untuk pergi makan malam bersama Erik hanya buat menyenangkan hati ibunya saja.



*******************************



Sore itu pula nampak Alfi ditemani Sriti jalan-jalan di Mal. Sriti membiarkan Alfi menggandeng tangannya layaknya sepasang kekasih. Ia tak merasa malu pada pengunjung lain. Lusanya Alfi berencana pulang dulu ke kota S jadi sisa hari itu mereka manfaatkan buat bergembira bersama menikmati hingar bingarnya kota H.

“Fii, bukankah itu dr Lila?” Tanya Sriti. Alfi melihat  ke arah  yang ditunjuk oleh Sriti. Memang betul nampak Lila sedang duduk di sebuah cafe sambil menikmati makan malamnya bersama Erik.

“Ya betul kak, ayo kita kesana” ajak Alfi. Namun sebelum ia melangkah Sriti mencegahnya.

“Jangan Fi..sebaiknya kita tak mengganggu mereka”

“Kenapa kak? Kakak malu ketemu kak Lila ya? Ayolah …siapa tahu kita malah ditraktir makan malam oleh mereka”

“Bukan karena masalah itu…”

“Lantas kenapa kak?”

“Lelaki yang bersamanya itu…dia…”

“O itu kak Erik mantan pacarnya kak Lila sewaktu di SMU dulu, orangnya baik kok, sepertinya mereka mau kembali pacaran. Emang ada apa dengannya kak?”

“Dia itu…sering datang ‘ngamar’ di motel tempat kakak bekerja”

“HAaa… kakak yakinn?” ujar Alfi terkejut.

“Fi, Kamu tidak mengenal Erik,  dia itu adalah seorang buaya perempuan, Ia hanya ingin memuaskan napsu semata lalu pergi begitu saja  setelah mendapatkan apa yang ia mau, tak jarang ia berlaku kasar pada wanita yang ia kencani dan mereka di tinggal begitu saja si kamar motel setelah ia kerjai, tidak hanya itu ia bahkan pernah mencoba memaksaku melayaninya”

Alfi termagu setelah mendengar keterangan Sriti barusan. Apakah Lila tak tahu akan semua itu. Namun ia pikir hal itu sangat wajar. Sekian lama  Lila meninggalkan kota H ini sehingga ia tak tahu banyak tentang mantannya itu.

“Sungguh tak disangka ternyata kak Erik seperti itu, kalau begitu Alfi harus segera memperingatkan kak Lila”

“Memang seharusnya demikian namun kita tak bisa begitu saja mengatakannya. bisa-bisa Lila malah marah pada kita, Sebaiknya kau awasi saja sambil menunggu waktu yang tepat buat menjelaskannya”

“Alfi ngga rela wanita sebaik dan  secantik kak Lila jatuh ke tangan lelaki seperti itu kak”

“Hi hi bisa saja bicaramu Fi, emang kamu pinginnya kalau dr. Lila buatmu ya?”

“Akh  kakak, mana berani Alfi macam-macam sama kak Lila. Dia kan orang yang sangat terpelajar kak”

“Loh apa bedanya Lila dengan Sandra dan yang lain, Mereka sama-sama wanita dari keluarga baik-baik, berpendidikan bahkan bersuami, tapi tetap saja mau kamu gituin”

“Dia beda kak. Entahlah yang jelas Alfi sangat segan padanya”

“Ya sudah, baiknya kita segera pergi ke tempat lain biar tidak terlihat oleh mereka” ajak Sriti.

Alfi yakin Lila pasti mampu menjaga diri. Gadis itu tak bakal tergoda oleh rayuan gombal lelaki semacam Erik.



***************************



Sementara itu di dalam café, terlihat Lila dan Erik duduk di sebuah meja di sudut ruangan. Sambil menunggu pesanannya datang, Erik berusaha membuka percakapan. Ia mulai bercerita kesana kemari mengenai bisnisnya yang sukses, perjalannannya ke segala belahan dunia, tentang mobilnya, sampai soal binatang peliharaannya. Lila yang lebih banyak diam  hanya menanggapi omongan Erik dengan dingin. Setelah kehabisan bahan omongan yang semuanya berbau narsis, akhirnya ia mulai terlihat ngegombal.

“Sebetulnya aku mau minta maaf atas semua perkataanku siang tadi La”

“Tak mengapa, aku tak pernah memasukannya di dalam hati”

“Syukurlah jika demikian. Tak hanya itu aku juga ingin meminta maaf atas rusaknya hubungan kita dulu, aku memang bersalah, a..ku ingin kita kembali seperti dulu lagi”

“Apa?..Maaf? Kau baru bisa mengatakan maaf setelah sepuluh tahun aku terpuruk oleh penghianatanmu? Kau benar-benar tak berperasaan Rik!. Jika kamu bermaksud agar hubungan kita kembali seperti dulu, maka jawabanku adalah Tidak!”

“Tapi La paling tidak beri aku kesempatan sekali ini saja, aku ingin membuktikan jika aku serius untuk membina hidup bersama denganmu…aku masih menc..”

Belum selesai ia menggombal Lila telah memotong kalimatnya.

“Maaf Rik! Sekali lagi aku tegaskan bahwa aku tak tertarik membina hubungan asmara denganmu dan aku tak ingin membicarakan soal ini lagi, kita memang tak berjodoh Titik!”

Erik menatap Lila tajam, ia merasa terhina telah ditolak mentah-mentah oleh gadis itu. Pikiran kejinya muncul. Ia tak mungkin melepaskan makluk molek ini begitu saja. Bagaimanapun caranya ia harus mendapatkan Lila. Mungkin mustahil mendapatkan cintanya namun tidak sukar buat mendapatkan tubuhnya.

Erik akhirnya mendapatkan kesempatannya saat Lila pergi ke kamar kecil. Dari saku celananya ia mengeluarkan botol kecil berisi cairan putih bening. Lalu ia tuangkan sedikit ke dalam minuman Lila. Ini adalah obat perangsang dosis tinggi. kemudian ia menambahkan juga bubuk putih yang tak lain adalah obat tidur. Kedua obat tersebut dengan cepat bercampur dengan minuman Lila. Cara ini yang sering Erik lakukan buat menjerat para korbannya apabila perempuan tersebut menolak di ajaknya tidur.

“Ayolah kita makan dulu lalu kuantar kamu pulang” ujarnya berusaha berlaku wajar saat Lila kembali ke kursinya.

Saat dalam perjalanan pulang, Lila mendadak merasakan kepalanya begitu berat. Gadis itu memijit-mijit kepalanya. Namun semakin lama pandangannya semakin kabur hingga akhirnya kepalanya terkulai di sandaran kursi mobil Erik.

“Kau akan tahu akibatnya bila berani menolak keinginanku La” ujar Erik tersenyum menyeringai



*****************************

Motel XX



Nampak Sriti duduk di meja Receptionist, Ia sedang menjalani Sift malam. Alfi baru saja pulang ke rumah kontrakannya setelah mengantarnya kemari. Terdengar deru kendaraan memasuki area parkir. Sriti terkejut melihat siapa tamu yang datang itu. Hatinya jadi was-was ketika mengenali pemilik kendaraan tersebut. Orang itu turun dan menuju ke arahnya.

“Ada kamar kosong, Say?” tanya Erik sambil mengedipkan mata genit.

“A..da mas,…eng…di nomor …dua belas”

Erik lalu kebali ke dalam kendaraan. Benar saja dugaannya Ia melihat Erik keluar dari mobil sambil memapah seorang wanita yang tak lain adalah Lila.

Melihat kondisi Lila yang dipapah berjalan, Sriti yakin Lila dalam keadaan setengah sadar. Erik pasti sudah membiusnya terlebih dahulu seperti korban-korban kebinatangannya  sebelum ini.

Ini gawat aku harus menghubungi Alfi segera, pikir Sriti.

“Fi!..kamu ada dimana saat ini?” tanyanya melalui telepon ke handphone-nya Alfi

“Alfi masih di jalan pulang menuju ke rumah kakak. Ada apa kak kok bicaranya grasa-grusu begitu”

“Kamu harus secepatnya kembali lagi kemari Fi!”

“A..da apa sebenarnya kak?”

“Kak Lila-mu Fi! Dia dibawa si Erik kemari dalam keadaan tak sadar”

“Apaaa?! Aduh gawat kak. Tapi  Alfi butuh waktu beberapa menit buat sampai di sana”

“Ya lekas!..kakak akan berusaha mengulur-ulur waktu hingga kamu tiba di sini”

Alfi tak membuang-buang tempo, ia tak melihat ada ojek atau kendaraan umum lain yang sedang melintas di sekitar situ. Maka ia memutuskan untuk berlari menuju ke motel XX. Jarak yang hanya tinggal dua kilometer itu bukanlah suatu masalah bagi dirinya. Sementara itu di motel XX, Di saat Erik masih berusaha memapah Lila dari tempat parkir ke kamar yang di tawarkannya padanya tadi. Sriti dengan tergesah-gesah menuju ke sebuah kamar lain yang kosong sambil membawa gelas kopinya. Lalu cepat-cepat  ia menumpahkan semua isi gelas itu ke atas kasur. Lalu setelah itu  ia berlari menghampiri Erik yang sudah sampai di depan pintu kamar nomor dua belas.



“Engg…mas Erik…maaf saya tadi salah, ternyata kamar nomor dua belas sudah ada yang ngisi, sebaiknya mas pakai kamar nomor tiga puluh saja”

“Haa? Gimana sih!?! Lain kali yang teliti dong! kan capek dibikin mondar-mandir seperti ini!” ujar Erik kesal.

“I..yaa..mas sekali lagi saya minta maaf. A..nu..baiknya biar saya yang bantuin nolonginnya teman mas” ujar Sriti berusaha mengambil alih memapah.tubuh Lila.

Jarak kamar nomor dua belas  lumayan jauh dari nomor tiga puluh. Sriti berharap usahanya mengulur-ulur waktu berhasil hingga Alfi tiba di sana.

“Ayo yang cepetan!”

“I..ya mas…maaf  soalnya temen mas badannya lebih gede dari saya..hosh..hosh” ujar Sriti terengah-engah.

Lalu mereka menuju ke dalam kamar. Saat lampu kamar di hidupkan,

“Loh kok kasurnya masih kotor begini! Wah ini sudah keterlaluan! Managemen tempat ini benar-benar sudah bobrok masa tamu langganan seperti gue di kasih kamar bekas ngentot gini! Kalau begini mendingan gue pindah ke motel lain saja dan jangan harap gue  bakalan mau lagi datang kemari!” ancam Erik. Wajahnya merah padam karena marah dan kesal.

“Aduhhh sekali lagi maaf mas Erik dan jangan pergi dulu …sebentar akan saya ganti sepreynya ya. Ini semua gara-gara si cleaning servicenya pada mudik, Jadinya saya yang kerjai semua” Sriti meletakkan tubuh Lila di sofa, lalu mengambil seprey baru yang bersih dari kantor meninggalkan Erik yang masih menggerutu.

Lima menit kemudian Sriti kembali lalu dengan sigap mengganti seprey tempat tidur tersebut.

“Sudah selesai mas”

“Ini buat kamu…tapi ingat lain hari aku minta ganti rugi waktuku yang terbuang dengan tubuhmu” ujar Erik sambil menyelipkan uang pecahan limapuluh ribuan ke dada Sriti sambil meremas bukit kembar itu.



Sriti kesal atas perlakuan Erik yang tak sopan kepadanya namun ia terpaksa berpura-pura senang sambil tersenyum nakal.

“Selamat malam mas” ujarnya lalu menutup pintu kamar dari luar.

Nampak Alfi tengah berlari ke arahnya. Sriti memberi isyarat kepada anak itu agar tak berisik, lalu mereka berdua menuju ke gudang yang tak jauh dari kamar itu.

“Host….host…host..ba..gai..mana kak? Di..mana.. kak ..Lila?” ujar Alfi terengah-engah. Karena napasnya nyaris putus karena berlari tanpa henti.

“Kau datang tepat pada waktunya, dia ada di kamar bersama Erik. Nah sebelum kita bertindak sekarang kau dengarkan dulu rencana kakak”

Sementara Sriti menjelaskan rencananya pada Alfi. Di dalam kamar nampak Erik tersenyum-senyum menjijikan bagaikan seekor hyena yang siap merencah-rencah  korbannya. Selama ini Erik tak pernah gagal memperdaya korban-korbannya apalagi hingga pada tahap ini. Ia menuangkan air putih dari teko yang di sediakan oleh pihak motel ke dalam sebuah gelas lalu ia mengeluarkan botol kecil berisi cairan obat perangsang yang telah dipakainya sedikit di café tadi. Sisa cairan di dalam botol itu ia tuangkan semua ke dalam gelas. Erik benar-benar memperhitungkan waktu. Ia berniat menggarap tubuh Lila habis-habisan malam ini. Untuk itu ia mempersiapkan obat perangsang tambahan yang akan di berikannya pada Lila ditengah-tengah persetubuhan nanti agar Lila benar-benar takluk padanya hingga pagi hari. Tubuh Lila dipindahkannya dari sofa ke atas kasur. Lalu perlahan ia membuka reutsleting dibagian belakang gadis itu. Lila hanya mampu mengeliat-geliat. Ia sungguh tak berdaya. Obat tidur dari Erik hanya menyisahkan sepuluh persen kesadarannya. Berhasil menarik resleting gaun Lila hingga ujung. Erik terbelalak memandangi keindahan di hadapannya saat itu. Kedua payudara gadis itu seakan mau tumpah dari BH-nya karena begitu montoknya. Jemari Erik gemetaran saat melepas kaitan bra tersebut dari balik tubuh Lila. Bra itu-pun berhasil ia rengut lepas. Dan nampaklah ke dua buah daging putih bersih itu dengan putingnya yang berwarna merah muda. Benda indah ini dahulu yang sempat ia sia-siakan. Dan kini ia beruntung mendapatkannya kembali sebelum ada seorangpun yang menyentuhnya.



Namun baru saja jemarinya hendak menggapai ke dua benda itu, tiba-tiba pesawat telepon di samping tempat tidur berdering.

Riiingggg!!!!

“Haess!! Apa lagi sih!” meski kesal namun ia tetap mengangkat telepon tersebut.“Ya ada apa!”bentaknya. Terdengar suara Sriti di seberang telepon agak gugup.

“A..nu  maaf mengganggu mas…soalnya penting sekali”

“Cepat katakan saja  ada apa!”

“Eng…menurut informasi sebentar lagi ada tim aparat bakal datang melakukan razia kemari mas”

“Apaaa!…”

“Betul mas.. katanya sekitar lima menitan mereka bakal tiba di sini, sudah dulu ya mas saya mau ngasih tahu tamu yang lainnya” ujar Sriti memutus pembicaraan.

“SIALLL!!!…Keparatttt !!!” pekik Erik berang, Mengapa ia begitu sial hari ini. Dengan susah payah ia menjebak Lila sejak tadi sore dan ia hanya tinggal menyetubuhinya saja tapi semuanya menjadi kacau balau. Erik tak mau mengambil resiko berlama-lama. Secepat mungkin ia harus kabur dari tempat itu sebelum aparat datang . Untung saja ia belum melepas pakaiannya. Rasanya ia tak punya waktu buat membawa serta Lila bersamanya. Akhirnya ia putuskan untuk meninggalkan gadis itu begitu saja.Lalu bergegas lari keluar dari kamar. Sriti dan Alfi memandangi mobil Erik yang berlalu dari motel dengan meninggalkan kepulan debu.

“Berhasil Fi! Kamu panggil dulu Taxi di depan sementara aku akan merapikan dr Lila terlebih dahulu”.

Sriti dengan sigap memasang kembali gaun Lila yang terbuka sebagian. Namun ia tak sempat memakaikan bra Lila hanya gaunnya yang ia rapikan.

“Kak, taxinya sudah datang, loh ada apa dengan kak Lila?” Alfi melihat kondisi Lila dalam keadaan setengah sadar dalam pegangan Sriti.

“Ia tadi pasti dicekokin obat tidur sama Erik, sebaiknya kasih dulu dia minum air putih biar dia agak segaran sedikit”ujar Sriti.

Alfi melihat sebuah gelas sudah terisi penuh air di atas meja. Kebetulan pikirnya. Namun ia tak sadar kalau itu adalah air yang sudah di campuri oleh Erik dengan obat perangsang.

Alfi lalu meminumkan isi gelas itu ke Lila. Lila-pun meminumnya hingga habis setengah gelas.

“Ayo cepat kau bawa dia kabur dari sini aku kuatir Erik kembali lagi ke mari, kamu bawa kak Lila-mu pulang dan ini uang buat bayar taxinya”

“Sebentar kak, Alfi haus sekali karena tadi harus berlari kemari” Lalu Alfi meminum sisa air di gelas tadi sampai habis tandas.

Kemudian mereka memapah tubuh Lila ke dalam Taxi. Lalu pergi meninggalkan motel tersebut.



*********************************

Sesampainya di rumah Lila, Alfi dengan susah payah memapah Lila  hingga sampai di teras rumah. Jelas tidak mudah membantu orang yang memang lebih tinggi dan lebih berat dari dirinya itu sendirian. Tubuh Lila sementara di baringkannya di atas kursi lalu ia menuju ke arah pintu utama. Berulang-ulang ia mengetuk pintu namun tak ada seorangpun yang datang membukakannya. Hingga sepuluh menit berlalu tetap tak ada yang keluar. Tanpa bermaksud lancang ia  lalu memutuskan membuka tas Lila. Satu persatu isinya ia keluarkan dari dalam tas, Dompet, kosmetik, Alfi juga melihat segerombolan anak kunci yang di ikat menjadi satu. Hingga akhirnya ia menemukan apa yang ia cari yaitu  HP gadis itu. ia berharap siapa tahu ia bisa menelpon seseorang buat dimintai bantuan. Namun ia melihat sebuah pesan pendek pada Hp tersebut.

“La kamu tinggal sendiri dulu di rumah, malam ini ibu dan Lidya menginap selama dua hari di tempat bu De mu yang sedang sakit”

Alfi baru mengerti bahwa ia harus berusaha masuk ke dalam rumah dengan menggunakan kunci milik Lila. Lama juga ia mencocok-cocokan tiap anak kunci ke lubang pintu depan. Hingga akhirnya ia berhasil. Lalu ia kembali membantu Lila berdiri dan memapahnya masuk ke dalam rumah hingga di sebuah kamar tidur. ia baringkan tubuh Lila di atas kasur. Setelah itu ia bergegas kembali ke arah depan buat mengunci pagar dan pintu ruang tamu. Setelah semuanya beres ia justru bingung harus mengerjakan apa lagi. Yang jelas Ia tak mungkin meninggalkan Lila sendirian dalam keadaan tak sadarkan diri seperti ini. Ia justru kuatir jika Erik tiba-tiba datang kemari dan pasti membuat keadaannya kembali menjadi runyam seperti tadi. Alfipun akhirnya memutuskan untuk tetap di sana menunggu  sampai  Lila bangun. Rasa letih membuat ia menyandarkan dirinya di kaki tempat tidur di samping tubuh Lila. Berkali-kali ia menoleh ke arah Lila yang terbaring di sebelahnya. Wajah gadis itu  terlihat begitu cantik dan menawan. Lekuk-lekuk tubuh yang sintal itu menonjolkan segala sisi kewanitaannya yang dapat mengguncang iman setiap pria yang menatapnya.

Alfi merasakan ada perasaan aneh bergejolak sejak di dalam taxi tadi. Entah kenapa birahinya tiba-tiba naik begitu cepat apalagi ketika tadi ia memapah dan bersentuhan dengan tubuh gadis itu. padahal selama ini ia tak pernah berani berpikir untuk berbuat macam-macam terhadap Lila.


Alfi

Alfi

Aarggg.. Alfi binggung ada apa dengan dirinya? Mengapa gairahnya mendadak menjadi beberapa kali lipat lebih tinggi dari biasanya? Sebesar-besarnya hasratnya untuk berhubungan intim tak pernah membuat dirinya sampai tak terkendali seperti sekarang ini. Di saat kegelisahan tengah melanda hatinya, tiba-tiba sebuah tangan halus merangkul lehernya dari belakang. Ternyata Lila dalam tidurnya juga sedang merasakan kegelisahan dan secara tak sengaja meraih leher Alfi. Alfi menoleh perlahan. Wajah Lila begitu dekat dengan wajahnya hingga hangat napas Lila dapat ia rasakan di pipinya. Bibir Gadis itu begitu merekah nampak terbuka sedikit seakan-akan  meminta untuk di kecup.

Harum tubuh dan kehalusan kulit Lila membuat dadanya semakin berdebar-debar kencang dan peluhpun mengucur deras keluar dari pori-porinya seiring napasnya yang memburu. Dan semakin lama hasrat itu semakin menyesakan dadanya.

“Tidakk! Aku tak boleh melakukan hal itu! Aku tak ada bedanya dengan Erik jika sampai menodai kak Lila!” Jerit Alfi dalam hati.

Dulu ia telah menodai Dian dalam situasi nyaris sama dengan saat ini. Dimana saat itu Dian sedang terlelap dan ia sendiri dalam kondisi terangsang hebat. Ia bertekat tak akan pernah mengulangi kesalahan itu lagi. Namun obat perangsang dosis tinggi milik Erik yang tak sengaja terminum olehnya itu sudah terlanjur bereaksi dan menjalar dengan cepat keseluruh syaraf-syaraf  kelaki-lakiannya. Jelas sia-sia saja ia berusaha melawan rasa itu. Tahu-tahu  ia menemukan fakta kalau tititnya sudah dalam keadaan mengejang kaku. Alfi jelas tak kuasa mengendalikan dirinya lagi. Wajahnya perlahan semakin mendekat ke wajah Lila hingga bibirnya bersentuhan dengan bibir lembut gadis itu. Lalu ia pun melumatnya. Bak tersengat oleh aliran listrik tegangan tinggi Lila membuka matanya. Pada saat itu tubuhnya tengah dipenuhi oleh gairah tinggi akibat pengaruh dari obat perangsang berdosis tinggi telah membuat nalurinya mengambil alih seluruh kesadarannya. Sesaat kemudian matanya terkatup lagi. Menit demi menit lumatan bibir mereka seakan tak pernah terlepas lagi. Lila membuka mulutnya lebih lebar membiarkan lidah Alfi masuk menjelajahi rongga mulutnya. Mulanya ia hanya merintih-rintih membiarkan lidah Alfi menari-nari kesana kemari namun tak membutuhkan waktu lama buat ia bisa memahami seni bercumbu itu dan akhirnya iapun mulai mampu  membalas lumatan bibir dan permainan panas lidah Alfi sehingga menjadikan ciuman itu menjadi sangat bergairah dan menyenangkan. Entah bagaimana ia bisa begitu pandai berciuman padahal ia belum pernah sekalipun melakukan hal itu sebelumnya. Meski dengan napas tersengal-sengal keduanya tetap saling melumat satu sama lain.



Lengan Lila merangkul dan mendekap tubuh Alfi semakin erat. Gadis itu seakan tak mau melepaskan lagi pelukannya. Sambil melakukan ciuman dan cumbuan pada Lila. Jemari tangan Alfi juga tak tinggal diam, meraba dan menjelajah ke sana kemari ke seluruh bagian sensitive tubuh Lila. Ini pertama kalinya bagi Lila membiarkan tubuhnya dijamah oleh seorang lelaki. Dulu semasa pacaran, Erik masih terlalu hijau dan tak pernah berani melakukannya. Alam kesadaraannya yang tersisa sedikit itu telah dikuasai secara penuh oleh gairah aneh yang menjalar ke setiap syaraf-syaraf di seluruh tubuhnya. Pengaruh obat perangsang itu menjadikan tubuhnya begitu sensitive terhadap setiap sentuhan Alfi.

“Fiiihh……Ohhh” Lila merintih lemah ketika jemari Alfi mengapai dan berusaha menarik reustleting gaunnya.

Ingin rasanya ia mengatakan kata ‘jangan’ namun tak mampu ia ucapkan. Ia sadar apa yang hendak anak itu lakukan pada dirinya saat itu namun demikian ia tak mampu menolak semua perlakuan dari Alfi untuk menggaulinya. Obat perangsang Erik yang memang mempunyai daya rangsang sangat tinggi itu benar-benar telah menguasai akal dan pikiran sehatnya. Bahkan kepandaian dan kekerasan hatinyapun selama ini telah sirna entah kemana untuk saat ini. Tinggalah yang tersisa hanyalah nalurinya sebagai makhluk hidup yang dipenuhi oleh napsu birahi dan gairah buat bercinta. Lalu perlahan-lahan gaunnya tertanggal dari tubuhnya hingga hanya tersisa satu carik kain yang masih melekat di tubuh Lila, yaitu sebuah celana dalam berenda-renda berwarna putih. Benda itu ketat membukus gundukan bukit kecil pada selangkangannya dengan bulu-bulu hitam yang membayang di situ. Dulu Alfi sempat penasaran membayangkan bagaimana bentuk tubuh Lila bila tak ditutupi oleh pakaian putih dokternya. Dan kini ia dapat dengan jelas melihat segala keindahan milik gadis itu. Sungguh tak pernah ia sadari selama ini jika wanita yang sering kali ia temui saat mengantar para wanita-wanitanya ternyata semolek ini. Meski Alfi telah sering melihat berupa-rupa tubuh indah dari para wanitanya, namun hatinya tetap bergetar menatap tubuh seorang gadis dewasa yang telah mengembang dengan sempurna di hadapannya itu. Kulitnya begitu putih bersih terawat dan tak nampak ada noda sedikitpun. Perut yang ramping serta pinggul yang bulat merupakan idaman setiap lelaki tak terkecuali dirinya. Dan yang paling mengagumkan adalah dua buah payudara Lila yang montok namun kencang dan indah dihiasi oleh puting berwarna merah muda di bagian puncaknya.



Setiap pria pasti tahu secara naluri bagaimana bermain dengan bagian tubuh yang ini tapi tidak banyak yang tahu bagaimana semestinya memperlakukan payudara seorang perempuan. Tidak demikian halnya dengan Alfi, ia begitu mengerti jika payudara adalah bagian yang sangat peka terhadap rangsangan dan tahu bagaimana menyenangkan setiap pasangan wanitanya lewat benda ini. Setiap wanita yang tidur dengannya memiliki bentuk tubuh dan payudara berbeda tapi mereka semua paling suka bila Alfi mengakhiri permainan di bagian itu dengan menyusu bagai seorang bayi pada payudara kirinya. Alfi mulai membelai-belai payudara indah itu Lalu melakukan gerakan melingkar dengan tangan di payudara dengan lembut dari bagian ujung payudara hingga dasar payudara. Kemudian kembali dari lingkaran besar hingga mengecil terus ke arah puting tanpa menyentuh putingnya. Ia sengaja tak menyentuh bagian itu untuk meningkatkan rasa penasaran dan nafsu Lila, lalu dengan keseluruhan jemarinya Alfi yang meraup bukit kembar itu. Dan Kemudian meremas-remasnya secara lembut.

“Oughhhhh….engggggg…”Lila mendesah dan merintih sementara tubuhnya meliuk-liuk dan mengelinjang keenakan hingga seprey di bawah tindihan tubuhnya menjadi kusut tak karuan. Pada saat itu Lila sudah tidak bisa lagi menahan remasan dan kenakalan jemari Alfi.

Alfi melihat puting payudara Lila berdiri, lalu menghentikan remasannya ia tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya…dan.

Hap…. bibirnya  menangkap putting susu sebelah kanan Lila lalu mengisapnya lembut.

“Argggg…Fiiiiiiiih” Lila terpekik tersengat oleh kenikmatan yang baru pertama kali ini ia rasakan. Matanya sempat terbeliak sebelum kembali terkatup. Garis-garis di keningnya berkrenyit  menahan rasa  nikmat itu.

Puas mengulum putting susu sebelah kanan bibir Alfi lalu berpindah ke putting sebelah kiri. Mulanya bibirnya menghisap dengan lembut sambil sesekali memutar-mutar lidahnya lalu semakin kuat seakan ingin memerah keluar air susu dari benda itu. Lalu semakin lama semakin kuat sehingga putting payudara Lila semakin keras mengacung.



“Eeenggggggg……” gadis itu terus merintih-rintih.

Ia semakin terbakar  oleh gairahnya yang meledak-ladak Dan ketika Alfi tak lagi melepaskan hisapannya pada puting payudara kirinya. Kedua tangan Lila menekan wajah anak itu hingga makin terbenam di bungkahan lembut dadanya dan berharap Alfi tak segera menyudahinya. Alfi tergesah-gesah melepas satu persatu pakaiannya hingga dirinya benar-benar bugil. Tititnya yang sangat besar dan panjang itu sudah dalam keadaan ereksi. Benda itu terlihat begitu mencolok karena ukurannya tak seimbang dengan tubuh kerempeng Alfi. Tanpa banyak kesulitan dengan ke dua tangannya Alfi perlahan menurunkan celana dalam Lila yang sudah sangat basah hingga benar-benar terlepas dari pergelangan kaki. Alfi melepaskan hisapannya pada puting payudara Lila dan menggeser posisi tubuhnya ke arah bawah sambil membuka lebar kedua paha Lila. Lila terkejut dan berusaha merapatkan kedua pahanya yang mulus. Namun terlambat  Alfi telah lebih dulu menyusupkan kepalanya masuk diantar kedua kaki jenjang dan mulusnya itu hingga wajah anak itu berada tepat di depan vaginanya. Di hadapannya hanya beberapa sentimeter dari wajahnya kini sudah terbentang sebuah taman surgawi dunia. Sosok indah vagina seorang gadis cantik. Bukit  kemaluan yang penuh ditumbuhi oleh bulu-bulu halus yang menyebar hingga ke bawah bagian pusarnya. Bau harum yang terhirup oleh penciumannya yang menandakan jika Lila  selalu merawat dan menjaga kebersihan organ kewanitaannya itu. Liangnya nampak telah membasah oleh cairan bening yang merembes keluar karena gairah pemiliknya yang sudah tak terbendung. Alfi menjulurkan lidahnya dan perlahan mendekat pada belahan vagina Lila. Dan ketika ujung lidahnya yang runcing bersentuhan dengan benda cantik itu, Lila kembali tersentak.

“Oghhhhhh…. …”rintihnya dikala ia merasakan rasa nikmat yang begitu menyengat mengiringi rasa geli dan gatal pada organ intimnya.

Sebuah kenikmatan yang baru pertama kali ini ia alami dan membuatnya hanya mampu merintih-rintih. ia merasa sudah tak lagi mampu menahan desakan birahinya sendiri ketika lidah Alfi tak hanya menjilati bagian permukaan saja namun menyelinap masuk ke dalam vaginanya.



Jemari-jemarinya meraih seprey dan meremasnya seiring nikmat yang di rasakannya melanda organ intimnya.  Semua yang terjadi ini adalah pengalaman yang pertama bagi Lila. Tak ada seorang lelakipun yang pernah melakukan hal itu padanya karena selama ini ia selalu berhasil menjaga dirinya dari jamahan setiap lelaki.

Clek..clek…clekk..clek, tiba-tiba Alfi menghentikan jilatannya sejenak. Ketika Ia memandangi belahan cantik di hadapannya itu timbul rasa penasarannya, ia ingin tahu apakah Lila masih perawan atau tidak. Lalu dengan jemarinya ia bibir membuka bibir vagina Lila sehingga Ia dapat melihat sebuah selaput tipis yang menutupi bagian dalam vagina gadis itu.  Benda yang sangat di agungkan oleh seorang wanita sebagai lambang kesuciannya itu ternyata masih utuh memagari liang vagina Lila.

“Uhh ternyata kak.Lila memang masih perawan ting ting”, ujar Alfi dalam hati.

Baru kali ini ia melihat bagaimana sesungguhnya bentuk dan posisi keperawanan seorang gadis. Hanya sekitar tiga atau empat senti dari permukaan bibir kemaluannya. Setelah puas terhadap apa yang ingin ia ketahui. Alfi  kembali melakukan jilatan pada kewanitaan Lila. Gerakan lidahnya kali ini semakin jauh menjelajah ke dalam sehingga liang sempit itupun bereaksi berkedut-kedut seakan menghisap lidahnya. Hingga akhirnya lidahnya berhasil menemukan klitoris Lila. Lalu ia menghisap benda mungil yang sangat sensitif dan dipenuhi dengan ujung-ujung syaraf kenikmatan itu dengan penuh kelembutan. Cairan bening semakin banyak memancar dari dalam vagina Lila sehingga mulut Alfi belepotan.. Nampaknya Lila telah  sampai dipuncak kegairahannya. Sebagai seorang gadis suci yang belum pernah merasakan kenikmatan dalam berhubungan intim, jelas ia tak mampu berlama-lama dirangsang sedemikian rupa. Kenikmatan itu sudah tak lagi tertahankan. Diiringi lengking pekikan, Lila pun akhirnya mencapai orgasme untuk yang pertama kalinya seumur hidupnya.



“Aarggghhhhhhhhhhh !!!!!!”  saat itu terjadi Lila mengangkat tinggi-tinggi pinggulnya seakan ia ingin lidah Alfi terbenam ke dalam liang senggamanya jauh lebih dalam lagi. Seluruh organ tubuhnya mengalami kekejangan terutama pada organ intimnya. Nikmat itu meletup-letup  diiringi dengan keluarnya cairan bening secara alami dari dalam liang senggamanya. Selama ini ia hanya tahu kata orgasme itu secara teoritis dari buku buku kesehatan yang ia baca selama di bangku kuliah dulu. Kini ia telah merasakan sendiri orgasme yang sesungguhnya. Ia terkesima mendapati rasa nikmat itu sangat luar biasa dan sungguh tak terlukiskan. Setelah lewat satu menitan pinggul Lila kembali terhempas ke kasur. Tampak napas Lila masih tersengal-sengal. Sekujur tubuhnyapun telah basah oleh keringat. Kedua matanya terpejam meresapi sisa-sisa  kenikmatan yang baru saja melandanya. Sebuah pertanyaan melintas di benaknya, akan ia membiarkan anak ini melakukan hal yang lebih jauh lagi dari ini? meski merasa hal itu sungguh tabu dan tidak bermoral, tetapi daya tarik buat melakukan asmara terlarang itu begitu menggoda dan tak terbantahkan. Tanpa disadari tubuhnya mengharapkan Alfi terus menjamahnya untuk membawanya pada sebuah titik akhir puncak kenikmatan. Hanya satu langkah lagi buat Alfi menuntaskan permainan cinta ini. Wajahnya meninggalkan vagina Lila dalam keadaan basah. Lalu tubuhnya naik ke atas tubuh sintal gadis itu dan menindihnya. Lila sudah terbaring pasrah dengan kedua pahanya yang membuka lebar memperlihatkan vaginanya yang memerah dan sedikit terangkat pertanda rangsangan yang ia rasakan sudah memuncak. Ini merupakan tanda bagi Alfi harus segera “memasuki” nya. Namun Alfi tak kunjung melakukan penetrasi. Titit besarnya hanya ia letakan di atas permukaan vagina Lila. Sejenak ia masih diliputi kebimbangan bahkan terpikir untuk mengurungkan niatnya meniduri Lila. Tetapi belaian lembut tangan Lila pada dadanya menepis segala keraguannya itu. ia sungguh tak mampu melawan hasrat dan gairahnya. Tak ada hal lain di dunia ini yang ia lebih diinginkan dari persetubuhan ini. Ia pun merasakan jika Lila juga sangat menginginkan hal ini terjadi. Alfi berpikir ia mungkin bisa ia bercinta tanpa harus merusak kegadisan Lila dengan hanya memasukan kepala tititnya saja ke dalam liang senggama Lila layaknya melakukan petting bersama Niken dulu.



Lalu ia genggam batang penisnya yang sudah menegang penuh dan diarahkan tepat di bibir vagina Lila. Ia terlebih dahulu menyapu kepala penisnya ke atas dan bawah di sepanjang bibir cantik itu. Setelah  terlihat cairan yang merembes semakin banyak keluar dari celah vagina Lila, barulah ia menekan batang kemaluannya masuk.

Srtttt  …..Lepp…bibir vagina Lila terbelah dan kepala penis Alfi mulai menghilang ke balik bibir vagina itu.

“Aawwwwwww fiiiii….saa..kittt” rintih Lila kesakitan. Jemari nya turun dari dada ke perut Alfi berusaha mencegah anak itu memasukinya lebih jauh.

“Kak..oh… Ugghh..”vagina gadis ini rapat sekali batin Alfi.

Kulit kulup yang membungkus ujung penisnya tertarik kebelakang dan membuat kepala bulat penisnya bersentuhan langsung dengan kelembutan vagina gadis itu  Sehingga menimbulkan rasa nikmat yang lebih kuat ketimbang saat bagian itu tertutup kulup. Ia memang harus bersikap sabar untuk melakukan penetrasi lebih dalam ke vagina Lila walau kondisinya yang sudah sangat terangsang dan menginginkan tititnya di balut secara penuh oleh daging cinta gadis itu. Beberapa saat kemudian ketika otot-otot vaginanya mulai rileks. Lila merasakan kenikmatan sedikit demi sedikit perlahan muncul dan menindih rasa sakit tadi. Menyadari akan hal itu, Alfipun mulai lagi menekan tititnya agar masuk lebih dalam. Ia lakukan hal itu dengan selembut mungkin agar tak  terlalu menyakiti gadisnya itu.  Lila pun tak tinggal diam, secara naluriah ia membuka pahanya lebih lebar untuk memberi ruang bagi Alfi memasuki dirinya. Ia merasakan nikmat yang perlahan menjalar di mulut vaginanya Kenikmatan yang begitu mempersona. Srttttt…batang penisnya yang hitam besar itu melesak lagi sedikit dan kali ini ujung penis Alfi membentur sebuah dinding tipis dan menahan laju kepala penisnya untuk masuk lebih dalam. Alfi tahu ia telah sampai pada dinding kesucian Lila.

“Ougghhhhh…k..kkkaak…” desis Alfi merasakan tititnya dicengram kuat oleh  otot-otot vagina Lila. Nikmatnya jangan ditanya. Kuluman vagina sempit si cantik itu membuat ia harus berjuang keras menahan rasa ingin berejakulasi.



Perlahan ia menarik tititnya lalu didorongnya lagi masuk sedalam tadi. Saat melakukan itu, Ia berusaha agar tautan kemaluan mereka yang cuma sedikit itu tak sampai terlepas. Nyaris tak ada ruang buatnya melakukan gerakan ngentot secara nyaman. Alfi hanya berhasil membuat beberapa kali gerakan mundur dan maju itupun tak berjalan dengan lancar karena mulut vagina Lila masih terlalu sempit. Bahkan kocokan itu sempat terhenti  ketika tititnya tiba-tiba terlepas dari vagina Lila. Lepp…penis Alfi kembali menancap.

“Oughhhh….Fiiihh” rintihan nikmat Lila-pun  kembali terdengar.

Meskipun percintaan itu berlangsung demikian, namun  itu sudah cukup menyenangkan bagi Lila. Kedua kaki jenjangnya melingkar pada pinggul Alfi dan menekan pantat anak itu ke arah tubuhnya. Sambil mengayunkan pinggulnya, Alfi membenamkan kembali bibirnya ke bibir Lila melanjutkan ciuman mereka tadi. Lilapun membuka mulutnya lebar-lebar lalu membalas setiap hisapan bibir Alfi. Tapi Alfi telah keliru jika berpikir ia mampu melakukan peting dalam hingga persetubuhan itu berakhir. Kondisi dirinya yang tengah dipengaruhi obat perangsang sungguh sangat berbeda saat di kala ia dan Niken dulu pertama kali bercinta. Lambat laun bocah itu semakin tak terkendali. Kocokannyapun semakin cepat dan tak teratur sehingga lebih sering penisnya terlepas ketimbang di dalam vagina Lila. Hal itu semakin membuatnya tak sabaran dan tak terkendali. Keadaan itu diperburuk pula oleh perlakuan dari Lila yang merespon setiap sentuhan Alfi dengan tak kalah panasnya karena ia justru meminum obat perangsang dalam dosis yang jauh lebih banyak dari Alfi. Gadis itu mengoyang pinggulnya di saat penis Alfi terdorong masuk lalu menghentakannya ke arah yang berlawanan saat Alfi menarik penisnya. Nikmat yang ditimbulkannya sungguh sangat memabukan Alfi.

“Awww..kakkk enakkk ” Alfi terpekik tertahan. Ia tak menduga Lila merespon setiap gerakannya secara dasyat.

Alfi kini telah sampai pada batas kemampuannya buat bertahan. Nalurinya mengatakan ia harus menjebol keperawanan gadis itu sekarang. Ia tak tahan lagi buat merasakan kuluman vagina Lila secara utuh pada tititnya bukannya lagi peting yang menyebalkan seperti ini. Ia bisa gila bila tak ngentot saat ini juga.



“Kak Lila maafkann Alfii” bisiknya lirih sambil menghujamkan tititnya kuat-kuat. Sekali sentak seluruh batang penisnya yang gemuk itu masuk menerobos ke dalam vagina Lila dan  akhirnya terbenam seluruhnya hingga ujungnya menyentuh mulut rahim gadis itu.

“Aaawwww!!… …Saakkiiiittt !!…sakittt” Lila tersentak sambil menjerit kesakitan saat merasakan selaput daranya dipaksa merenggang sampai batas maksimal hingga akhirnya terkoyak disertai rasa sakit dan linu amat sangat.

Darah pun terlihat meleleh keluar dari belahan vaginanya membasahi seprey putih di bawah pantatnya. Rasa sakit membuat vagina Lila secara spontan mencengram kemaluan Alfi yang baru masuk itu.

“Oughhhh….sempiiiit bangeeet” desah Alfi sambil menggigit bibirnya sendiri. Nikmatnya sungguh tak terkira. Semua syaraf-syaraf yang berada di kepala penisnya merasakan gatal geli tak tertahankan sehingga ia tak dapat mengendalikan desakan kuat buat berejakulasi. Kedua tangannya menyusup ke belakang punggung Lila dan memeluk pinggang gadis itu erat-erat. Sementara pantatnya bergerak naik turun beberapa kali mengocok kontol besarnya dengan cepat dan kuat ke liang perawan itu. Alfi benar-benar sudah tak terkendali. Saat itu ia sudah tak perduli pada Lila yang sangat kesakitan akibat ulahnya. Jelas vagina gadis itu masih sedemikian sempitnya buat ia hajar seperti itu.

“Awwwww…ee..nakkkkk” Alfi terpekik ketika kontolnya berdenyut-denyut keras memuncratkan air maninya keluar menghantam deras rahim Lila.

Crooottt…Croottt..crottt…Crroootttttt! Sebagian besar cairan kental yang syarat dengan benih-benih subur itu meluncur masuk ke rahim Lila. Sebuah rahim seorang wanita dewasa yang sehat, subur dan siap buat dibuahi oleh benih-benih cinta Alfi. Lima belas pancutan dasyat diiringi nikmat tiada taranya akhirnya mampu sedikit meredakan amukan birahi Alfi. Ia baru tersadar akan kekasarannya barusan ketika melihat Lila  terisak-isak karena kesakitan. Batang kemaluannya memang kebesaran buat dijejalkan penuh sekaligus ke liang perawan yang sempit itu.



Bingung harus melalukan apa buat mengurangi sakit gadisnya ini Alfi lalu mengecupi jentik-jentik keringat di kening gadis itu. Ia lakukan  dengan penuh kelembutan. Kecupannya  beralih ke mata basah gadis itu hingga ke cuping telinga yang menimbuklan rasa geli bagi Lila, Lalu pindah  ke seputar leher hingga akhirnya kembali menyusu pada payudara kiri Lila.Lila-pun merasa agak nyaman oleh perlakuan mesrah anak itu. Rasa sakitnya berangsur-angsur berkurang dan menjelma menjadi rasa nikmat yang aneh. Setelah beberapa menit Alfi memesrai Lila tanpa melakukan gerakan kocokan sedikitpun, barulah ia mengerakan penisnya selembut  mungkin berusaha agar organ cinta Lila perlahan-lahan lebih meregang sedikit demi sedikit menyesuaikan diri dengan ukuran penisnya yang besar itu. Kini tubuh kecil dan kurus Alfi sudah dalam keadaan melekat erat dengan sempurna dengan tubuh sintal Lila. Tangan bocah itu menyusup kebelakang punggung sementara jemarinya meremas bongkahan padat pantat Lila. Sedangkan Lila mendekap leher Alfi dengan kedua tangannya sedangkan kaki indahnya yang panjang melingkar pada pinggul anak itu lalu menekan ke arahnya. Bibir mereka-pun bertaut saling mengecup menghisap silih berganti menambah panasnya hubungan intim itu. butir-butir keringat bercucuran membasahi tubuh keduanya. Bahkan terlihat Alfi tak lagi ragu menghentakan penisnya yang besar itu dengan cepat. Semakin lama semakin cepat.

“Awwww!!…Fiiii” rintih Lila yang masih tetap merasakan kesakitan pada selangkangannya.

Namun sedikit demi sedikit perih itu semakin lenyap tertindih oleh rasa kenikmatan yang semakin menjadi-jadi. Napasnya sampai  tersengal-sengal Ia tak menyangka jika nikmatnya yang ditimbulkan oleh titit besar Alfi akan sedasyat itu. Semua syaraf-syaraf lembut di dalam vaginanya merespon daging asing yang memasukinya itu dengan cengraman yang kuat. Sepuluh menit kemudian Alfi merasakan pelukan Lila semakin mendekap dan pinggul nya bergerak dengan liar. Ia tahu gadis itu bakal mendapat kembali orgasmenya. Lalu ia semakin mempercepat ayunan pinggulnya dan menghujamkan tititnya sedalam mungkin ia dapat masuk.



Ctap!!..ctapp!!..ctap!!..ctap!!, terdengar bunyi benturan kemaluan mereka

“Fiiiiiiii…. oughhhhhhhhh!!!!!!!…Fiiiiiii!!!” Lila tak dapat menahan pekiknya ketika orgasme itu meletup dari tubuhnya.

Semua otot-otot kewanitaannya berkontraksi berirama dengan sangat cepat dan kuat diikuti  bagian panggul dan rahim. Lalu diakhiri dengan rasa kenikmatan yang dasyat. Ini adalah orgasme kedua yang dialami Lila. Namun jauh berlipat kali lebih nikmat dari yang pertama tadi . Tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Pantas saja orang selalu ingin melakukannya lagi dan….. lagi pikir Lila. Pada saat yang sama Alfipun sudah tak dapat menahan ejakulasinya. Liang perawan itu tiba-tiba melumat seluruh organ kelaki-lakiannya dan mendatangkan rasa nikmat yang luar biasa hingga saat itu juga aliran sperma pada saluran didalam penisnya melaju dengan cepat menerobos hingga keluar melalui lubang kencingnya tanpa bisa dibendung lagi.

Creeett…crooot..croooot…..croooot…

“Aaaaoooooo…kakkk enaaakkkkk!!!”Alfi melolong ketika air maninya bermuncratan untuk kedua kalinya.

Daging kejantannya mengembang mengempis dan menghentak- hentak sambil terus menerus menyemburkan spermanya di dalam vagina gadis itu seakan-akan ia ingin mengosongkan seluruh isi testisnya. Orgasme yang begitu kuat membuyarkan kesadaran Lila untuk beberapa saat. Ia bagai melayang tanpa batas di atas gumpalan awan dan memberikannya  rasa yang nyaman dalam pelukan erat Alfi. Meski sama-sama baru saja mengalami orgasme baik Alfi maupun Lila tetap saling mendekap satu sama lain. Pengaruh dasyat obat perangsang itu tak juga kunjung pudar mengukung keduanya. Alfi semakin liar mengumuli gadis itu seakan tak ingin menyudahi kenikmatan itu. Begitupun Lila yang baru kali itu merasakan nikmatnya persetubuhan Kenikmatan itu begitu memabukan bagai candu membuatnya  rela terus menerus dicabuli oleh anak itu.

Persetubuhan itu berlangsung lagi bagai tiada akhir hingga jam tiga dini hari. Keduanya baru berhenti setelah mengalami orgasme demi orgasme dan titit perkasa Alfi-pun tak dapat lagi memancarkan air mani. Akhirnya keduanya jatuh terlelap dalam keletihan dan kepuasan. Di malam sunyi dan dingin itu, di atas tempat tidurnya sendiri, Lila telah kehilangan kesuciannya.



********************************

Kesokan harinya



Menjelang tengah hari, Lila baru menggeliat bangun dari tidur lelapnya. Namun alangkah  kagetnya ia mendapati sosok tubuh lelaki yang tak lain adalah Alfi sedang terlentang di sebelahnya di atas tempat tidurnya tanpa mengunakan busana sama sekali. Ia bertambah panic saat melihat tubuhnya sendiripun dalam keadaan telanjang bulat seperti halnya anak itu. Gadis itu berusaha menutupi ketelanjangannya itu dengan selimut dan mencoba bangkit dari tempat tidur namun keletihan masih mendera semua otot dan persendian nya sehingga ia tak mampu buat berdiri. Ketika kesadarannya berangsur-angsur pulih dan Ia-pun dapat mengingat-ingat semua kejadian semalam. Ia yakin apa yang menimpa dirinya bukanlah sebuah mimpi. Rasa sakit pada selangkangannya juga sangatlah nyata. Dan noda darah di atas seprey juga menjadi bukti bahwa hal itu benar-benar telah terjadi dan Ia kini memang telah ternoda!

“Ohh tidak ….mengapa hal ini terjadi menimpa diriku? Huu..huu.hu” tangisnya meledak tak terbendung lagi.

Apa yang dipertahankannya selama ini telah terengut  paksa oleh seorang bocah lelaki yang belum cukup umur itu. Tak hanya itu Alfi bahkan berejakulasi berkali-kali di dalam vaginanya tanpa pengaman. Membuatnya bakal menghadapi situasi yang sama dengan Niken tempo hari. Alfi yang juga baru terjaga  menemukan kondisinya dalam keadaan telanjang bulat bersama Lila di atas ranjang gadis itu. Ingatan serta kesadarannya berangsur pulih sehingga ia dapat mengingat dengan jelas kejadian semalam.

“K..kakk?” ucap Alfi bingung melihat Lila menangis.

Tiba-tiba Lila mengangkat wajahnya dan menoleh ke arahnya dengan tatapan penuh kebencian pada matanya yang basah oleh air mata.

“Kkkau!! Sungguh tega melakukan perbuatan nista itu pada diriku!” ujar Lila  bercampur dengan  isak tangisnya.

“Kakakkk..maa..afkan Alfi…Alfi tak sengajaa..” ujar Alfi lirih bingung akan sikap Lila bukankah tadi malam Lila cenderung  membiarkan ia melakukan hal itu bahkan gadis itu sangat menikmati persetubuhan itu tetapi mengapa pagi ini ia terlihat begitu marah.



“Anak Jahanamm!! Kau masih berdalih setelah apa yang kau lakukan padaku. Ka..liann lelaki semuanya sama sajaa!.hu.hu.huu..” ujar Lila dengan suara meninggi lalu mendekap wajahnya dengan kedua telapak tangannya menumpahkan seluruh tangisnya di situ.

Alfi agak ketakutan melihat reaksi keras jelas-jelas Lila yang tak menerima perbuatannya itu. Ia berusaha mendekat untuk meredakan tangis gadis itu.

Jemarinya menyentuh dan mengelus-elus lengan Lila yang berkulit halus. Srrrttt..Lila merasakan dorongan aliran aneh seperti yang ia rasakan tadi malam kembali merasukinya melalui sentuhan bocah itu. Namun akal sehatnya lebih unggul dan memenangkan pertarungan kali ini.

“Jangan mendekat!!!Pergiii!!!! Pergiii!!!!” pekik Lila histeris sambil melemparkan barang-barang yang berada di dekatnya seperti jam weaker dan gantungan kunci ke arah Alfi. Alfi belingsatan namun ia tak berusaha menghindar ataupun melindungi wajahnya. Beberapa benda keras sempat mampir ke wajahnya namun Ia rela menerima kemarahan Lila saat itu padanya. Dengan rasa sedih anak itu memunguti pakaiannya yang tercecer di lantai. Ia masih sempat menoleh ke arah Lila saat berada di depan pintu.

“Kakk…Alfi sungguh menyesal hal ini terjadi..” ucapnya lirih diliputi perasaan sesal yang mendalam. Hatinya begitu gundah sehingga tak tahu harus berkata apa lagi.

“Pergiiiiiiiii!!!!!.huu…huu” pekik Lila dalam tangisnya yang sungguh mengundang keibaan.

Alfi tahu Lila tak akan menghiraukan semua penjelasannya. Setelah berpakaian, perlahan ia pergi meninggalkan rumah Lila.

==================================
Alfi dan Lila, Si Dokter Cantik 2
==================================

Meskipun Alfi tak menginginkan hal tersebut malam itu terjadi padanya dan dokter Lila namun kejadian seperti ini tak pernah terjadi sebelumnya pada setiap gadis yang pernah ia tiduri. Bukannya Lila menjadi suka dan ketagihan akibat di tiduri malahan gadis itu membenci dan mendampratnya habis-habisan. Atas saran dari Sriti, Alfi menelpon Niken dan menceritakan apa yang telah terjadi. Hari itu juga Niken dan Sandra dengan ditemani oleh masing-masing suami mereka datang ke kota H. Mereka berempat berencana mendatangi rumah Lila namun sebelumnya mereka menjemput Alfi dan Sriti terlebih dahulu. Sepanjang perjalanan ke rumah Lila, Sriti memberikan penjelasan atas apa yang terjadi malam itu. ia sendiri tak menyangka jika semuanya akan berakhir kacau seperti ini, padahal awalnya ia dan Alfi bermaksud baik ingin menyelamatkan Lila dari Erik.

“Aduuuh Fi.. apa yang selama ini aku khawatirkan terjadi juga. Seharusnya kamu tak terlalu lama berjauhan dari kami karena aku tahu kamu akan kesulitan mengendalikan hasratmu. Kini aku benar-benar binggung harus bagaimana saat ini.” ungkap Sandra serius pada Alfi.

“Al..fi ngaku salah kak dan Alfi juga …sangat menyesal kak” jelas Alfi dengan wajah tertunduk penuh penyesalan.

“Se..benarnya selama di sini saya dan Alfi selalu ‘itu’ kok mbak Sandra. Bahkan setiap malam Alfi saya ‘kasih’. Karenanya saya ngga kuatir melepas Alfi sendirian bersama dokter Lila tadi malam itu” ujar Sriti menjelaskan tanpa bermaksud menyalahkan Alfi.

“Sudahlah, semua sudah terlanjur terjadi. Yang terpenting sekarang kita harus menghibur Lila agar hatinya tak hancur oleh kejadian itu” hibur Niken mencoba menenangkan keadaan. Lalu ia berpaling kepada  suaminya ”Mas Don kok diam saja? Ikut ngomong dong.”

“Fii, coba kamu ceritakan sekali lagi kejadian di dalam kamar motel waktu itu, mungkin ada yang terlewat saat kalian menceritakannya tadi” Ujar Donnie.

Alfi pun menceritakan kembali kejadian pas di dalam kamar motel secara rinci malam itu.



“Betulkah hanya seperti itu Fi?” Tanya Donnie lagi.

“Begitulah  kak, yang jelas saat tiba di rumah kak Lila semalam, Alfi merasakan debar jantung Alfi begitu kuat, lalu keinginan buat ngegituin kak Lila juga begitu kuat hingga akhirnya Alfi benar-benar lepas kendali. Dan semuanya…. terjadi” ucapnya dengan perasaan bersalah.

“Hmm..Aku curiga kemungkinan besar pastilah air dalam gelas yang diminum oleh Lila dan kamu itu telah di bubuhi Erik dengan cairan perangsang yang sengaja disiapkan si Erik buat Lila” gumam Donnie setelah mendengar kronologi kejadian itu.

“Kupikir kamu keliru Don. Menurutku Lila pasti telah dicekoki sejak di café” ujar Didiet menimpali.

“Itu betul Dit, tapi si Erik juga sudah menyiapkan amunisi tambahan yaitu air di dalam gelas itu agar saat ditengah pertempuran Lila bisa semakin lama terbius. Coba kau pikir betul-betul buat apa ia menyiapkan air minum tanpa meminumnya langsung jika ia saat itu memang sedang dalam keadaan haus” ujar Donnie yang terlihat begitu yakin melontarkan argumennya.

“Betul juga apa katamu Don” gumam Didiet. Mau tak mau ia harus mengakui kebenaran teori Donnie itu.

“Aneh! Kok mas bisa tahu sampai sedetil itu? pasti berdasarkan pengalamankan?” tanya Niken sambil memandang suaminya dengan mata menyipit.

“Eh..a..nu. bukann Nien, itukan cuma dugaanku saja kok.  he he” jawab Donnie cengar-cengir.

“Dasar lelaki, pintar ngeless!” ujar Niken mencubit pinggang Donnie kuat-kuat.

“Adohhh…ampun say…Kan tadi kamu yang minta pendapatku…aduhh duh” rintih Donnie kesakitan sambil berupaya menghindari serangan bertubi-tubi dari istrinya.



“Tunggu!….  Saya pikir ada benarnya perkataan mas Donnie barusan soalnya…. pas pagi harinya saya menemukan sebuah botol kecil di dalam tong sampah di kamar itu yang setahu saya itu memang bekas obat perangsang” ujar Sriti yang sejak tadi menyimak dengan serius pembicaraan Donnie dan Didiet tadi.

“Tuh kan apa kataku…aduhhhh!” Donnie menimpali sambil belingsatan karena jemari lembut istrinya tetap melekat kuat bagai capitan seekor kepiting di kulit pinggangnya.

“Jika benar demikian kejadiannya, Alfi tak dapat dipersalahkan dalam hal ini” ujar Didiet menimpali.

Tak terasa waktu telah membawa perjalanan mereka sampai di depan rumah Lila.

“Biar kalian para wanita saja yang turun, kami sebaiknya menunggu di mobil saja”ujar Didiet.

“Mengapa Alfi tidak boleh ikut turun kak? Alfi ingin sekali lagi minta maaf sama kak Lila” Tanya Alfi dengan wajah memelas.

“Jangan sekarang Fi, Lila pasti sedang tak ingin melihat kamu. Biarkan mereka yang berbicara padanya.” Jelas Donnie. Alfipun mengangguk menandakan ia mengerti tentang situasi saat itu.

Beruntung saat itu Lidya dan ibu Lila masih menginap di rumah budenya Lila sehingga kejadian semalam belum sempat mereka ketahui. Lalu Niken bersama dengan Sandra dan Sriti menuju ke rumah Lila. Ternyata Lila sendiri yang membukakan pintu bagi mereka bertiga. Lebih dari satu jam-an mereka di sana. Lalu terlihat hanya Sandra yang keluar menghampiri kendaraan.



“Ayo kita pergi dulu membeli makanan buat makan siang. Biar Niken dan Sriti menemani Lila dulu.” Ujar Sandra memasuki mobil.

“Bagaimana kondisi Lila Say?” Tanya Didiet.

“Saat ini ia masih sangat sedih atas apa yang menimpa dirinya tadi malam. Meski ia terlihat sangat tegar dan tak lagi hysteria hanya sesekali ia menangis. Lebih lanjut ia juga menduga dengan pasti kejadian semalam persis sama seperti yang Donnie utarakan tadi. Namun demikian ia tak ingin melanjutkan urusan ini ke jalur hukum karena menyangkut Alfi dan tentunya kita semua” jelas Sandra.

“Haihhh…kasihan Lila, tak kusangka kegilaanku berujung menjadi malapetaka buat orang lain” keluh Didiet.

“Tak perlu kita menyalahkan diri sendiri. Semua ini kan gara-gara pria yang bernama Erik itu. Aku ingin sekali melihat tampang lelaki bajingan itu lalu menghajarnya habis-habisan” ujar Donnie jadi geram. Sebab ia tahu Niken sangat menyayangi sahabatnya yang satu ini. Apalagi ia juga sudah mendengar dari istrinya mengenai kehidupan Lila yang telah banyak mengalami penderitaan sejak remaja.

“Ya …kita berharap kejadian ini tak sampai menghancurkan hidup Lila” ujar Sandra



*************************

Tiga hari sudah sejak kejadian tersebut



Selama itu Niken dan Sandra rutin menemani Lila hingga ibu dan adik Lila pulang. Namun Lila meminta kedua temannya tak menyinggung masalah tersebut di hadapan mereka agar tak menimbulkan permasalahan baru baginya.

Niken merasa menyesal atas apa yang terjadi pada sahabatnya itu. Tak banyak yang bisa ia katakan.Tetapi Ia lega melihat Lila bisa menerima musibah yang menimpa dirinya dan mau meneruskan hidupnya. Lila memang sudah terbentuk menjadi sebuah pribadi mandiri yang keras sejak remaja.

“Fi, besok kita pulang ke kota S. Bukankah kamu juga sudah terlalu lama meninggalkan sekolahmu? ” Ujar Donnie saat mereka makan malam disebuah rumah makan.

“Ya Kak…tapi…ijinkan malam ini Alfi menemui kak Lila buat meminta maaf padanya, Hati Alfi merasa tidak tenang sebelum kak Lila mau memaafkan kesalahan Alfi” pinta Alfi pada Niken.

“Haihhh….Baiklah Fi. Kakak tak tahu ini merupakan  waktu yang tepat atau bukan buatmu menemui Lila walau kulihat tadi sore suasana hatinya agak membaik dan ia mulai bisa tersenyum. Hanya saja pesan kakak padamu apabila ia ternyata tak ingin menemuimu sebaiknya kau langsung pergi jangan membuatnya kembali marah atau sedih”ujar Niken lagi.

“Baiklah kak. Biar Alfi pergi sekarang ke sana mempergunakan kendaraan umum sendirian agar tak mengganggu acara kakak semua malam ini” ujarnya.

“Ya, jangan kemalaman pulang Fi dan jangan lupa berkemas buat pulang besok” ujar Didiet.

Alfi lalu mencarter sebuah ojek. Sepanjang perjalanan dalam hati ia berharap Lila mau menerima permintaanan maafnya meski apapun resiko yang akan diterimanya nanti.

Saat memasuki jalan ke rumah Lila, tiba-tiba sebuah mobil Jeep meluncur dengan kecepatan tinggi melintasinya dan nyaris saja ojek yang ditumpanginya terperosok kedalam saluran air pembuangan.



Alfi terkejut ketika sempat mengenali orang di dalam kendaraan itu.

“E..rik!” gumamnya, apalagi yang ia perbuat. Tiba-tiba ia teringat akan Lila. Alfi bergegas masuk kepekarangan rumah. Hatinya tercekat  saat ia sampai di pintu depan. Ia  menemukan Hp dan isi tas Lila berserakan di lantai teras. Alfi berlari ke dalam sambil berteriak memanggil nama gadis itu. Hatinya semakin kuatir karena tak ada jawaban. Dengan sigap Alfi memutar nomor Niken dari Hp tersebut.

“Kak Niken gawat kak! Sepertinya kak Lila diculik sama Erik!” ujarnya saat Niken mengangkat panggilannya.

“Apaaa! Ohh…La” isak tangis Niken terdengar dari seberang HP. Tak lama kemudian terdengar suara Donnie mengambil alih pembicaraan. Ternyata mereka berempat masih bersama-sama.

“Kau yakin akan hal itu Fi?!”

“Alfi ngga mungkin salah kak! Sebaiknya Alfi akan berusaha mengikuti mereka mumpung jam segini jalanan masih macet sehingga masih memungkinkan buat mengejar mereka”

“Jangan Fii! Itu sangat berbahaya!” cegah Donnie.

“Tapi kita harus tahu kemana kak Lila mereka bawa kak! Alfi akan kejar mereka dan Alfi akan terus menghubungi kakak melalui HP ini”

“Baiklah Fi. Tapi kau jangan bertindak sendiri, segera kabari kami apabila nanti kau berhasil mengikuti mereka dan tunggu  sampai kami datang!” Donnie tak lagi mencegah anak itu karena ia tahu Alfi telah mengambil keputusan yang paling tepat.

“Bang! Ayo ikuti mobil yang tadi itu, mereka telah menculik kakakku” ujar Alfi setelah mengakhiri pembicaraan dengan Donnie.



Si abang ojek langsung tancap gas. Beruntung jalur ke arah jalan raya utama dari rumah Lila hanya ada satu dan harus melalui dua buah persimpangan besar yang memiliki durasi lampu merah panjang. Sehingga ia yakin ia dapat menyusul mereka. Pada simpangan pertama ia tak lagi melihat kendaraan yang dicarinya. Harapannya hanya tinggal satu ia bisa menemukan kendaraan tersebut di persimpangan kedua karena lampu merah di sana juga tergolong lama yaitu 6 menit. Benar saja ia melihat mobil Erik masih dalam posisi antrian.

“Yes! Berhasil” pikirnya

Ketika lampu beralih ke lampu hijau kedaraan satu persatu bergerak. Dan mereka dengan hati-hati membuntuti kemanapun mobil itu pergi. Setelah sepuluh menitan, Alfi melihat mobil Erik melambat dan masuk ke sebuah komplek pergudangan tua yang tak terpakai lagi. Alfi menyuruh ojek untuk berhenti pada jarak yang cukup jauh diluar pintu masuk. Ia lalu mengontak Donnie dan menjelaskan dimana lokasi tersebut.

“Ok, kakak tahu di mana itu. Kami akan segera ke sana. Ingat Fi jangan bertindak sendiri!” pesan Donnie lagi.

“Bang ini uang ojeknya dan ini tambahan karena saya ingin abang menolong saya” ujar Alfi ke pada abang ojek yang sejak tadi ikut-ikutan tegang mengikuti pristiwa itu.

“Waduhh…. saya takut jika harus menghadapi mereka den, soalnya siapa tahu mereka bawa senjata, sebaiknya kita lapor polisi saja dulu” saran abang ojek itu.

“Iya emang maunya saya seperti itu! Abang saya minta hubungi polisi di pos terdekat sementara saya menguntit mereka ke dalam sana”

“Hah..Jangan nekat den. Aden bisa celaka jika menghadapi mereka sendirian!”

“Aduhhh ..ni abang cerewet banget! Maka dari itu cepetan berangkat supaya saya tidak harus menghadapi mereka sendirian. Sebisanya saya akan tunggu abang kembali bersama polisi”

“I..i..ya Den, abang pergi sekarang, hati-hati jangan sampai ketahuan ya!” ujar si abang sambil terburu-buru menstater motornya lalu kembali tancap gas.



**************************

Alfi lalu masuk ke dalam kawasan tersebut. Suasana begitu gelap karena  tak ada satupun lampu yang menyala. Pergudangan ini memang sudah lama tidak di pergunakan lagi. Alfi dengan sabar dan hati-hati mencari keberadaan mobil Erik. Setelah berjalan agak jauh akhirnya ia melihat kendaraan tersebut di parkir di depan sebuah rumah kecil. Alfi  berjalan mengendap-endap. Ia bukan tak tahu resiko perbuatannya itu, yang jelas ia bakalan celaka apabila mereka mendadak memergokinya. Kemungkinan apa yang di katakana pak ojek tadi benar adanya bahwa Erik tidak sendirian dan bersenjata. Keadaan sekeliling komplek yang gelap sangat membantunya mendekat ke rumah tersebut. Nampak cahaya cukup terang berasal dari beberapa batang lilin dari dalam rumah. Alfi mengintip dari jendela samping melihat ke dalam rumah. Ternyata benar dugaannya ia melihat Lila terlentang di atas sebuah sofa reot dalam keadaan tangan terikat dan mulutnya tertutup oleh plester. Erik rupanya memang tidak sendirian, ia bersama dengan dua orang lainnya. Alfi dapat menebak kedua orang tersebut pastilah begundalnya pemuda itu. Sepertinya Erik  merasa penasaran karena kegagalannya tempo hari, lalu menyusun rencana lain buat mendapatkan tubuh gadis itu. Sejak sore hari ia bersama dua orang begundalnya mengawasi rumah Lila dari kejauhan. Kebetulan saat itu Lidya sedang pergi mengantar ibu Lila. Lalu dengan cepat mereka menyergap Lila yang kala itu baru keluar dari rumah berniat dan hendak pergi.

“Bos boleh dong kami berdua dapat giliran setelah bos selesai nanti? He he” ujar salah satu begundal Erik yang bertubuh tambun bernama Parno nyengir.

“Aeesss!! Enak saja! Pergi sana jaga di pintu depan! bikin gue ilfeel saja Huh!” hardiknya  “Dan kamu Min awasi pagar depan!”

“Siap.. boss” ujar Paimin, sepertinya si kurus ini lebih berdedikasi ketimbang temannya yang bertubuh tambun. Ia lalu keluar dari rumah buat melaksanakan perintah Erik.



Sedangkan si Parno ngeloyor lesu keluar dari kamar menuju ke pintu depan. Ia kecewa padahal sejak tadi ia benar-benar berharap bisa ikut mencicipi tubuh indah gadis itu meski hanya sisa dari Erik. Dari tempatnya berdiri ia masih berusaha agar dapat  mengintip ke arah kamar tadi. Dasar nafsunya sudah naik ke ubun-ubun, setelah meletakan stick softballnya si Parno membuka reutsleting dan menurunkan celana jeansnya sebatas lutut, dalam keadaan berdiri ia mulai mengocok penisnya.

“He he.. kali ini kau tak dapat lolos lagi La. Tak perlu kau tangisi nikmati saja apa yang sebentar lagi bakal terjadi!” ujar Erik terkekeh-kekeh sambil mulai mencopot kancing kemejanya satu persatu.

Lila berusaha meronta dalam ketidak berdayaannya itu. Jeritannya terhalang oleh plester yang membekap erat mulutnya. Air mata gadis itu berderai membasahi pipi meratapi nasib malangnya. Melihat kondisi saat itu, Alfi jadi bingung harus berbuat apa. Ia masih ingat akan pesan Donnie tadi  bahwa ia tidak boleh gegabah dan bertindak sendiri. Namun keadaan sudah sedemikian gentingnya. Jika ia tak bertindak sekarang sudah jelas semuanya menjadi terlambat. Akhirnya ia terpaksa memutuskan untuk menolong Lila tanpa menunggu bantuan datang. Rasa bersalah dan sayangnya pada Lila mendorongnya untuk melakukan sebuah yang tindakan nekat. Sambil berusaha menekan  rasa takutnya perlahan ia mengendap ke arah Parno yang sedang asik meloco. Parno yang saat itu sedang focus menatap paha Lila yang putih bersih itu dari kejauhan sungguh tak menyadari kehadiran Alfi di dekatnya. Alfi merasa ini merupakan sebuah kesempatan yang baik baginya. Perlahan ia mengatur kuda-kudanya, dan…Bukk!! Sekuat tenaga kepalan tangannya ia hantamkan tepat mengenai dua buah ‘telur pusaka’ milik Parno dari belakang. Tak percuma Donnie melatihnya memukuli genting hingga pecah saat belajar karate setiap sore.



“Adoowwwwhhhhhh …peee…cahhhhhhh!!!!”

Parno kontan  terpekik menyayat ketika merasakan nyeri yang luar biasa. Tubuh tambun itu jatuh terduduk sambil memegangi alat vitalnya. Begitu dasyat nyeri itu membuat rohnya seakan pergi meninggalkan raganya. Perutnya yang buncit sampai mengalami kram. Alfi tak mau menyia-nyiakan momen baik itu, sekali lagi ia mempraktekan sebuah jurus dari Donnie itu kali ini yang menjadi sasarannya adalah tengkuk Parno. Buukk!! Pukulan itu tak dapat Parno hindari sekaligus langsung mengirim pria tambun itu berkelana ke alam mimpi. Alfi tak menyangka ia dengan mudah dapat melumpuhkan monster itu meski tangannya terasa sangat nyeri. Paimin yang berada di dekat pagar terkejut mendengar suara jeritan rekannya. Tubuh kurus ceking itu berlari memburu ke arah dalam rumah tanpa perhitungan. Alfi yang bersembunyi di balik pintu tiba-tiba muncul dan menghantam tulang kering kaki si krempeng dengan menggunakan stick milik Parno. Bletakkk!!! Tak ayal  Paimin jatuh terguling. Sialnya lagi wajahnya mendarat terlebih dahulu dan gigi tonggosnya menghantam sebuah meja kayu.  Belum ia sadar betul apa yang menimpa dirinya Alfi sudah menghadiahinya sebuah pentungan tepat  ditengkuknya dan Paimin-pun menyusul rekan seperjuangannya tak sadarkan diri. Namun keberuntungan Alfi tak berlangsung lama. Ia lupa memperhitungkan keberadaan Erik. Tiba-tiba Ia merasakan angin pukulan menerpa kepalanya dari arah belakang. Alfi berusaha berkelit tapi sayang reaksinya terlambat dan ‘Daakk!!’ Sebuah tendangan Erik berhasil mengenainya dan membuat tubuhnya terlempar ke arah kamar di mana Lila terbaring dan dalam keadaan terikat. Beruntung tendangan itu sempat membentur bahunya terlebih dahulu sehingga luput mengenai kepalanya. Sambil sempoyongan dan menahan rasa nyeri pada bahunya Alfi berusaha bangkit ke arah Lila. Cepat-cepat ia menarik lepas plester yang menutup mulut Lila. Namun Erik tak membiarkan ia bertindak lebih jauh.



“Kau lagi! Entah bagaimana kau bisa sampai kemari tapi aku tak perduli. Yang jelas kau memang patut di hajar” ujar Erik berang.

Kebenciannya meluap-luap ketika melihat anak jelek yang telah dua kali ini mengganggu rencananya menggagahi Lila. Dari seorang security motel XX Ia sudah mengetahui kalau ia telah dikerjai oleh Sriti dan Alfi saat malam itu. Sepertinya tak ada pilihan lain bagi Alfi ia harus melumpuhkan Erik terlebih dahulu agar dapat melepas Lila.

“Fii lekas larii dari sini..kau tak mungkin bisa menghadapinya sendiri!” pekik Lila memperingatkan.

“Ngga kak..Alfi harus menolong kakak dulu lalu kita sama-sama keluar dari sini”

“Tidak! kau harus lari fii.. ia tak akan segan-segan berbuat keji padamu”

“Alfi ngga mau…Alfi sudah berbuat dosa pada kakak.. Alfi rela jika harus mati demi menolong kakak”

“Fiii!!! Kamu jangan bodoh…tolong…turuti omongan kakak…” ujar Lila terisak-isak, ia tak menduga anak ini begitu nekat mempertaruhkan jiwa demi dirinya.

Alfi tak lagi mengubris permohonan Lila. Otaknya sedang berpikir keras mencari cara bagaimana memperdaya pemuda dihadapannya. Namun ia tak mempunyai banyak waktu karena Erik perlahan mendekat ke arahnya.

Wuss!! sebuah tendangan Erik datang mengarah ke tubuhnya. Alfi masih bisa menghindar. Tetapi tendangan ke dua datang terlalu cepat dan berhasil menggedor dadanya. Lalu yang ke tiga benar-benar tak tertahankan menghantam pelipisnya dengan keras. Alfi terpelanting hingga kepalanya membentur dinding dengan keras diiringi pekik ngeri Lila. Alfi tersandar di dinding dan secara perlahan kepalanya jatuh terkulai di lantai. Kepalanya terasa begitu sakit. Lalu ia merasakan kaki kokoh Erik telah menginjak telapak tangannya. Dan kaki satunya menginjak wajah nya. Agaknya Alfi sungguh tak berdaya ia hanya mampu  meringis kesakitan. Dari hidungnya mengucur deras darah kental.



“Kk..kaak..Li..lllaa..maafinn Al..fiiii …” ujarnya lirih sekali.. Matanya nanar menatap sayu ke arah Lila sebelum akhirnya semua pandangannya menjadi gelap.

“Ohh…Fiii.. …bangunnn….Fiii…” pinta  Lila sambil terisak-isak melihat wajah Alfi yang bersimbah darah Ia benar-benar tak menyangka Alfi nekat mengantarkan nyawa demi dirinya. Bahkan anak itu masih sempat-sempatnya mengucapkan permohonan maaf sebelum tak sadarkan diri tadi.

“Biar kubikin mampus sekalian” ujar Erik, nampaknya ia belum puas menganiaya anak itu.

“Aakhhh Rikkk!! Kumohon jangaannn sakiti anakk ituu lagii.”pekik Lila. Tangisnya tak tertahankan. Namun pekiknya tak dapat menghentikan aksi biadab Erik. Pemuda itu benar-benar telah mata gelap. Ia meraih stik softball milik Parno yang ada di dekatnya. Perlahan benda itu ia angkat tinggi-tinggi untuk dihantamkannya ke tubuh kecil Alfi yang telah tak berdaya itu.

“Rikkkk!!!jangaannnn!!!!AKkkkk!!”

Namun pada saat genting tersebut, Tiba-tiba sebuah hantaman kuat menerpa tangan Erik dan membelokan arah pukulannya dari tubuh Alfi. Tak hanya itu stick softball itupun terlepas dari pegangannya. Erik terkejut ketika melihat tiga orang yang baru datang itu.

“Sii..apaa..ka.liaan?!” ujarnya tergagap.

“Bajingan  pengecut!! Beraninya cuma sama anak-anak main keroyok lagi” hardik penyerangnya tadi yang tak lain adalah Donnie yang baru datang bersama Didiet dan Niken.

Aduh siapa lagi ini? keluh Erik gundah. Keadaan ini sangat tak menguntungkan bagi dirinya. ia menduga sebentar lagi rumah ini bakalan ramai dan polisi pasti datang. Namun tak ada jalan untuk kabur karena Donnie sudah menghadang di depan pintu sementara Didiet memegang pistol. Tak ada pilihan lain Ia harus menyingkirkan para pengacau ini dan secepatnya kabur dari situ.



“Kau pikir bisa menakuti aku dengan senjata mainan itu?” Ujar Erik yang mengetahui benda di tangan Didiet bukanlah senjata api sungguhan namun hanyalah sebuah AirSoftShotGun, senjata yang kerap di pakai oleh para hobbies real shotgamer.

“O ya?”

DHUarrr!! Sebutir peluru melesat dari laras pistol yang dipegang Didiet menghantam daun pintu yang tak jauh dari  Erik berdiri. Erik terperanga melihat sebuah lubang kecil selebar batang pensil menganga pada permukan pintu yang terbuat dari plywood itu. Benda itu tak bisa dianggap mainan karena ternyata memiliki FPS sangat tinggi. Ledakannyapun membuat kaget mereka semua yang ada di sana.

“Bagaimana? Apakah kau ingin mencicipi bagaimana rasa nikmatnya pada kulitmu? Ada satu magazine penuh peluru ‘mainan’ yang bisa kuberikan sebagai tanda mata di wajah dan di tubuhmu secara cuma-cuma” ujar Didit denga tatapan mata dingin.

“Ka..uuu…jangan pakai senjata kalau beranii!” ujar Erik ciut. Yang jelas ia tak ingin Didiet menjadikannya sebagai sasaran bidik pistolnya.

“Kami bukan pengecut tukang perkosa perempuan dan dan penganiaya anak-anak seperti dirimu!Dit, kau lindungi yang lain . Bangsat ini adalah bagianku” sergah Donnie.

“Ok.. kuberi waktu sejenak buat kalian bersenang-senang” ujar Didiet mundur memberi ruang bagi Donnie dan Erik.

“Kalian akan menyesal karena menghalang-halangiku!” ujar Erik kesal.

Apalagi melihat Niken yang telah berhasil melepaskan ikatan Lila Rencananya yang sudah ia susun dengan rapi kini benar-benar telah hancur berantakan. Alih-alih bisa menikmati tubuh sintal Lila malahan kini ia dihadapkan oleh masalah besar yang menantinya. Tiba-tiba Erik mengirim sebuah tendangan diiringi teriakan membahana. Namun Donnie telah siap sejak tadi. Hanya sepersekian detik sebelum tendangan dasyat itu menyentuhnya dengan kecepatan mengagumkan Donnie melengos ke kiri sehingga ujung sepatu Erik menerpa angin hanya satu inci dari wajahnya.



Serangan itu tak berhenti di situ. Begitu kaki kanan Erik menyentuh lantai kaki kirinya berputar menampar balik bagai gerakan seekor naga mengibaskan ekornya. Terlihat sekali kalau Erik bukanlah seorang yang buta akan ilmu bela diri. Ia sempat mengenal Taekwondo saat SMU dan pernah mewakili sekolahnya pada waktu itu. Donnie mengantisifasi setiap serangan Erik dengan tenang. sambil menjatuhkan diri kaki kanannya menyapu kaki kanan Erik. Tak ayal lagi tubuh Erik yang belum dalam keseimbangan penuh terjerembab jatuh mencium lantai.

“Cuma itu sajakah yang kau andalkan?” ejek Donnie.

Ia sengaja belum membalas serangan Erik. Ia sepertinya ingin menjajaki sejauh mana kemampuan berkelahi lawannya.Wajah Erik merah padam. Ia tak menduga orang yang di hadapinya itu ternyata cukup ‘berisi’ bahkan mampu mementahkan salah satu serangan terbaiknya dengan mudah. Kembali ia berteriak sambil  melompat  memberikan dua buah tendangan secara bergantian bagaikan gerakan mata gunting. Namun serangan itu kembali gagal menyentuh tubuh Donnie.  Ketika tubuhnya masih melayang di udara lalu kakinya menjejak dinding dan melontarkan dirinya sambil berputar memberi tendangan susulan ke arah Donnie. Ini serangan yang sulit untuk dihindari.Tapi Donnie bukanlah Alfi yang dengan mudah Erik jatuhkan, yang di hadapinya kali ini adalah seorang instructor dan atlet karate tingkat asia yang sangat disegani oleh lawan-lawannya di arena. Kali ini Donnie tak hanya diam menerima serangan Erik, Donnie mengayunkan kakinya bagai sebuah mata belencong  menghadang laju tendangan Erik yang mengarah ke arah mukanya. Terdengar suara benturan tulang kaki mereka beradu dengan keras. Erik terjajar mundur. Dahinya berkerenyit menahan nyeri pada pergelangan kakinya akibat benturan tadi. Saat itu pula sebelum ia dapat berdiri dengan mantap sebuah bogem mentah telah mendarat telak wajahnya. Bukkk!!! Erik terjengkang  untuk ke dua kalinya. Namun kali ini dengan pergelangan kaki nyeri dan wajah biru lebam akibat pukulan Donnie barusan. Beruntung bagi Erik, saat memukul tadi Donnie hanya menggunakan setengah tenaganya. Jika tidak pastilah wajahnya bakal remuk. Mata Erik memerah dan berair karena  menahan sakit luar biasa.



Merasa tak bakalan menang melawan Donnie, Erik meraih stick softball yang tadi dipakainya buat menghabisi Alfi.

“Sebaiknya kau buang senjatamu Ric atau aku terpaksa menembakmu!” Seru Didit.

“Jangan turut campur Dit  Sebaiknya kau awasi saja ke dua temannya yang baru sadar itu.  Menyerah terlalu enak baginya setelah semua yang dilakukannya pada Alfi dan Lila. aku ingin menghajarnya sampai puas dulu”

“Oke hati-hatilah Don sebab  ia bersenjata, Dan kalian berdua jangan mencoba berbuat macam-macam jika tak ingin kutembak!” hardik Didiet kepada Paimin dan Parno.

“A..ampunnn pak…jangan ditembakkk” ujar Paimin sambil menangis. Mulutnya masih berlumuran darah karena gigi depan bagian atasnya nyaris patah semua oleh ulah Alfi tadi.

“I..yaaa…paakkk..kasihani saya … kami cumaa di suruh sama bapak Erik” ujar Parno menimpali. Didiet nyaris tertawa melihat celana keduanya telah basah oleh air kencing.

“Dasar bajingan. duitnya saja mau, Awas kalian nanti!!” ujar Erik geram masih sempat mengancam kedua mantan begundalnya itu.

“Ha ha ha lucu bajingan kok teriak bajingan! Ayo berkelahilah seperti seorang lelaki jantan, bajingan!” Ejek Donnie.

“Aku akan membuat otakmu berceceran di lantai dengan ini..Hiatt!!!”

Erik yang merasa terjepit lantas menyerang Donnie bagai seekor singa terluka. Ia mengayunkan stick Softball-nya secara membabi buta. Sebuah kaca jendela ruangan tengah hancur berhamburan ketika serangannya luput mengenai tubuh Donnie

“Donn !! cepat selesaikan ini, kita harus segera menolong si Alfi!!!” teriak Didit.

Saat itu Donnie juga mendengar suara isak tangis Niken dan Lila karena Alfi tetap tak kunjung sadarkan diri. Bahkan wajahnya semakin pucat pasih. Dan betapa terkejutnya Donnie  melihat darah yang mengalir dari telinga Alfi.



Saat itu sebuah pukulan stik softball telah datang ke arahnya, Donnie menjadi geram bukan main melihat kebandelan Erik apalagi saat teringat kondisi Alfi saat itu. Sambil berteriak keras Ia memotong arah serangan tersebut.  Kali ini sebuah pukulan lurus yang teramat. kejam yang tak pernah ia lakukan bahkan di larang di komite beladiri manapun menghantam bahu Erik dengan keras. Krakkk!! Terdengar bunyi berderak menandakan ada tulang yang patah dan stick yang di pegang Erikpun terlempar jauh.

“Argggg!!!!! Banggggsatttttt!!!! Arrrgg!!” Erik melolong  kesakitan memegangi bahunya yang nyeri bukan kepalang sambil bergulingan di lantai.

Pukulan Donnie bagai sebuah palu godam yang dapat mematahkan papan setebal dua senti  sekalipun. Kemungkinan tulang bahunya patah atau ensel bahunya yang terlepas.

Pukulan terakhir Donnie tadi sudah mengakhiri perlawanan Erik. Saat itu Sandra muncul bersama beberapa orang dari sekitar tempat kejadian tersebut. Erik yang masih kesakitan beserta kedua begundalnya menjadi pelampiasan kekasalan mereka. pukulan demi pukulan beserta tendangan-pun melayang menghujani tubuh ke tiga pria apes itu..

Beruntung polisi segera datang bersama si abang ojek dan segera meredakan amarah orang-orang tersebut. Masih terdengar raung kesakitan Erik ketika polisi menyeretnya keluar bersama dengan kedua rekannya.

“Kita harus cepat-cepat ke rumah sakit sekarang. Don kamu yang nyetir !” ujar Didit cemas sambil membopong tubuh Alfi.



************************

Sesampai di ruang gawat darurat. Alfi segera mendapat penanganan oleh pihak rumah sakit. Beberapa dokter dan perawat terlihat begitu sibuk memakaikan beberapa alat bantu padanya. Sementara Didiet bersama yang lain hanya bisa melihat dari sebuah kaca kecil. Sriti juga sudah terlihat berada di sana. Lila tak henti-hentinya terisak, sebagai seorang dokter ia paham betul akan kondisi anak itu.

“Maaf saya perlu berbicara dengan keluarga anak itu” ujar seorang dokter senior yang baru selesai memeriksa Alfi.

“Saya adalah ayah angkatnya. Bagaimana kondisinya dok?” ujar Didit mewakili para sahabatnya. Mereka berlima tak sabar menunggu penjelasan dari dokter mengenai kondisi Alfi.

“Ia mengalami gegar otak serius, harus segera di operasi untuk mengeluarkan gumpalan darah di kepalanya agar jiwanya tertolong”

“Lakukanlah Dok, saya mengijinkan anda buat melakukan tindakan tersebut” ujar Didiet mantap. Memang sejak kematian ibunya Alfi, maka segala hal yang menyangkut diri Alfi sepenuhnya menjadi tanggung jawab Didiet.

“Baiklah, sebentar lagi ada pihak administrasi rumah sakit yang akan meminta anda menandatangani surat persetujuannya”

Setelah urusan administrasi selesai maka Alfi-pun segera dipindahkan ke dalam ruang operasi. Didit dan Donnie terlihat gelisah mondar-mandir di sepanjang lorong. Sementara Niken dan Sandra masih berusaha menghibur Lila. Gadis itu begitu pucat sampai harus dibantu oleh seorang perawat.

“Ibu terlihat kurang sehat sebaiknya istirahat saja dulu di ruang perawat” ujar perawat itu menawarkan. Benar adanya, saat ini sebenarnya kondisi fisik maupun mental Lila memang dalam keadaan drop akibat penculikan dirinya dari rumah hingga menyaksikan penyiksaan Erik terhadap Alfi. Setelah dibujuk-bujuk Sandra akhirnya Lila baru mau menuruti saran perawat tadi. Sandra dan Sriti membimbing Lila menuju ruang yang di sediakan bagi mereka.



“Nien sebaiknya kau juga beristirahat ingat akan kandunganmu, biar aku dan Didiet yang menunggu di sini” bisik Donnie.

“Baik mas”

Tiga jam berlalu mereka tetap menunggu dengan harap-harap cemas. Hingga akhirnya lampu di atas pintu kamar operasi padam menandakan operasi telah selesai. Didiet diikuti yang lain memburu ke arah dokter yang baru keluar dari kamar operasi.

“Kami telah berhasil mengeluarkan gumpalan darah beku di kepalanya. Meski demikian masa kritis anak itu belumlah benar-benar berlalu. Ia harus dirawat secara intensif dan diawasi oleh pihak rumah sakit di dalam ruangan ICU. Dan untuk sementara waktu dia belum boleh di bezug” demikian dokter tersebut memberikan penjelasan kepada mereka.

Untuk sementara waktu mereka bisa bernapas sedikit lega. Alfi mengalami koma selama tiga hari. Selama itu ke empat wanita itu secara  bergantian menjenguknya. Namun setelah melewati hari ke tujuh Alfi tak kunjung sadar juga, kekuatiran Lila kembali muncul. Kesehatan anak itu semakin hari perlahan tapi pasti semakin memburuk. Sebagai ahli medis Lila mengenali dan membaca tanda-tanda tersebut dari layar kecil di samping ranjang Alfi serta catatan medis dari perawat di sana. Lila merasakan ada sesuatu yang lain. Meski anak itu yang telah menggagahi dan merengut miliknya yang paling berharga tetapi entah mengapa ia justru merasa takut sekali hal yang lebih buruk menimpa diri anak itu. Pada suatu siang. Ia datang ke rumah sakit. Ia belum melihat Niken dan yang lain di sana. Lalu Ia menghampiri sebuah counter bagi perawat yang bertugas di bagian itu. Setelah memberitahukan bahwa ia adalah seorang dokter akhirnya perawat tersebut memberinya izin untuk dapat masuk ke kamar Alfi. Perlahan ia mendekat ke ranjang dimana anak itu terbaring tak berdaya. Hatinya begitu terenyuh dan air matanya mulai meleleh di pipinya melihat keadaan anak itu. Memar dan lebam akibat penganiayan Erik masih terlihat di sekujur wajahnya serta nampak beberapa selang terhubung dengan tubuhnya dari berbagai arah. Dengan agak berbisik bibirnya mulai berkata.



“Fi…Kakak harap kamu dapat mendengar ucapan kakak. Kakak hanya ingin kamu tahu bahwa  kakak sudah memaafkanmu. kakak sadar dan tak ingin menyalahkanmu atas semua perbuatan yang disebabkan Erik. Kamu…kamu …tak harus membayar sedemikian mahal untuk menebus kesalahan itu….bangunlah Fii…demi..kakak” ia berbisik di antara isak nya.

Setelah lewat lima menit ia kembali keluar. Kala itu Niken baru saja datang ke sana melihat mata Lila yang merah dan basah.

“La…., kamu baik-baik saja kan” tanya Niken

Lila mengangguk. Ia tak ingin Niken dan yang lain tahu dan kuatir akan perkembangan kesehatan Alfi. Tapi dadanya begitu sesak.

“Aku telah bersalah Nien…aku terlalu memojokannya saat itu…sehingga akhirnya  ia nekat mempertaruhkan nyawanya demi aku …huu..huu” tangis Lilapun pecah. Niken langsung memeluk sahabatnya itu. lalu menepuk–nepuk punggungnya untuk memberikan rasa nyaman bagi Lila.

“Sttt…sudah La…sudah…jangan terus-terusan sedih begini, tak baik buat kesehatanmu, aku yakin Alfi melakukan itu karena ia sangat menyayangimu”

“Tapi Nienn….aku takut ia…ia..”

“Dengarkan aku La…perasaan kami semua saat ini juga sama sepertimu… sedih dan takut …tapi kita hanya dapat berdoa agar Alfi segera sadar dan kembali sehat. Dan aku yakin ia akan bangun dan berkumpul bersama kita lagi. Kuharap engkau juga tak berlarut-larut menyalahkan dirimu.”

Lila mengangguk Lalu Niken menyeka pipi Lila dari sisa air mata.   

“Kita pulang yo” ajak Niken setelah satu jam mereka di sana.

“Kamu pulang saja duluan Nien, aku masih kepingin di sini..” Ingin rasanya ia tetap di sana hingga Alfi sadar.

“Ahh Ayolahh maniss…” Niken menarik paksa tangan Lila. Akhirnya Lila mau juga diajak Niken pulang bersama.



************************

Pagi harinya ia terbangun ketika mendengar dering Hpnya.

“Ada apa Nien?” tanyanya lesu karena  rasa kantuk masih membayangi kepalanya akibat semalam ia baru mampu memejamkan matanya pada pukul tiga dini hari.

“Laa!..Alfii La!..” ujar Niken. Lila bergegas bangkit dari kasur karena kaget mendengar suara Niken seperti tergesa-gesa ingin mengatakan sesuatu padanya.

“Ada apa dengan Alfi Nien!” Tanya Lila panik. Tak terasa air matanya kembali meleleh. Inilah yang sangat ia takutkan. Semua yang di kuatirkannya terjadi di saat ia tak berada di sana

“Ia…bangunn La! Alfi sudah sadar!”

“Ohh…Nien …syukurlahh…huu..huu”

Pembicaraan mereka terhenti beberapa saat, Niken membiarkan Lila melepaskan beban di dadanya dalam tangisan lega.

“Udah belum nangisnya cantik?” godanya pada Lila.

“Sudah… tapi aku benci sama kamu Nien” ujar Lila dengan nada merajuk.

“Loh kok jadi marah sama aku?”

“Iya habisnya kamu ngomongnya diputus-putus begitu  seharusnya sejak awal kamu bilang Alfi sudah sadar sebab tadinya aku sempat kuatir dan mengira kalau terjadi ada apa-apa pada dia. Kamu pasti sengaja mengoda aku kan?”

“Hi hi Iya..iya aku ngaku salah ..aku minta maaf…kamu tunggu saja di rumah sebentar lagi akan kujemput. Kita pergi ke rumah sakit sama-sama”



*************************

Tak lama kemudian mereka telah sampai di rumah sakit. Di sana nampak Sandra, Donnie dan juga Sriti sudah menunggu di depan pintu kamar ICU. Lalu terlihat Didiet  baru keluar dari dalam kamar dengan mempergunakan pakaian steril. Sepertinya hanya Didiet seorang yang baru boleh di izinkan masuk dan bertemu Alfi.

“Bagaimana keadaannya?” Tanya Sandra pada suaminya.

“Syukurlah ia dalam kondisi baik dan sempat sadar selama lima belas menitan. Ia bahkan bisa berkata-kata sedikit dengan berbisik sebelum akhirnya kembali tertidur” jelas Didiet.

“Haihh….Ia seharusnya belum boleh dulu banyak berpikir dan berbicara” keluh Lila

“Yah…aku juga heran pada kondisi seperti itu ia tadi justru menanyakan keadaan dirimu. Dan setelah aku katakan bahwa kamu juga selamat malam itu tanpa kurang suatu apapun barulah ia nampak tenang dan kemudian terlelap lagi” jelas Didiet menambahkan.

Lila terenyuh mendengar penuturan Didiet, betapa anak itu masih mengkuatirkan keselamatan dirinya dalam keadaan seperti itu. Hari itu Lila bertekat belum akan pulang ke rumah  sebelum ia menjumpai berhasil Alfi dalam keadaan sadar. Ia menunggu di temani oleh Niken dan Sriti hingga sore harinya. Dan saat jam menunjukan pukul lima sore Alfi kembali terjaga. Niken memberi kesempatan bagi Lila terlebih dahulu masuk. Hati Lila merasa lega melihat seyum anak itu mengembang dari balik masker oksigennya saat melihat ia datang. Tapi Lila menjadi agak kikuk. Ia tak ingin memperlihatkan bagaimana gejolak perasaannya saat itu baik pada Alfi maupun Niken. Ia berusaha bersikap tenang dan dingin seperti biasanya meski hatinya gembira bukan main saat itu.



Demikianlah setelah berjalan satu minggu karena kondisi Alfi berangsur-angsur membaik. Dan kini Alfipun sudah boleh dipindahkan dari ruang ICU dan menempati sebuah kamar rawat inap. Dan di dalam kamar VIP tersebut Alfi baru bebas menerima kunjungan. Hari itu terlihat mereka semua hadir di situ.

“Fi, besok kami terpaksa harus pulang dulu ke kota S karena banyak sekali pekerjaan yang tertinggal dan harus di selesaikan” ujar Didiet.

“Ngga pa pa Kak. Alfi mengerti”

“Oya Fi ada kabar gembira buatmu, kak Nadine-mu telah melahirkan dengan selamat. bayinya perempuan,  gemuk, sehat, cantik dan berkulit putih bersih persis ibunya” jelas Niken.

“Selamat ya ‘PAPA’ Alfi” ujar Sriti disambut tawa yang lainnya.

“Oya ada salam sayang juga dari kak Dian-mu, katanya ia kangen sekali padamu” ujar Niken.

“Doakan Alfi supaya cepat sembuh ya kak”

“Ya, kau istirahat saja sampai pulih tak usah memikirkan untuk buru-buru pulang, kami akan bergantian datang ke kota ini buat menjengukmu” ujar Didiet menambahkan.

“baik kak, ngga usah kuatir kan di sini ada kak Sriti”



*********************

Selama satu  bulan lamanya Alfi di rawat di rumah sakit. Namun sejak Niken dan yang lain pulang, tak terlihat sekali-pun  Lila datang menjenguknya. Sudah dua minggu Ia hanya ditemani oleh Sriti. Ternyata Lila juga pulang ke kota S menyusul yang lain. Alfi merasa sedih ia yakin Lila pasti masih membenci dirinya dan tak akan pernah mau memaafkan dirinya atas kejadian tempo hari. Hingga pada suatu malam, menjelang pukul 9, Saat itu Alfi tertidur lelap setelah menyelesaikan sesi makan obat terakhirnya untuk hari ini. Terlihat seseorang memasuki kamarnya. Orang itu tak lain adalah Lila. Ia baru sampai dari kota S dan langsung menuju kemari tanpa pulang ke rumah ibunya terlebih dahulu. Ia berdiri di samping tempat tidur dan memandangi wajah anak itu. Dua minggu ia pergi menyibukan diri dengan praktek di Kliniknya untuk melupakan semua yang terjadi selama di kota H , termasuk melupakan anak ini. Namun yang terjadi malah sebaliknya semakin Ia berusaha menghapus kenangannya bersama Alfi semakin kuat pula kenginan dirinya untuk dekat dengan anak itu. Lila juga binggung entah apa yang terjadi pada dirinya. Ada sesuatu yang mampu mengganggu seluruh prinsip hidup yang telah ia jalani selama sepuluh tahun ini. Dimanakah keteguhannya selama ini yang tak sekalipun tergoyahkan oleh keberadaan seorang lelaki dalam bentuk apapun sejak penghianatan Erik dulu? Ia bukanlah type seorang gadis yang gampang tergiur oleh betapa hebatnya seorang lelaki dan berapa pun besarnya daya pikatnya. Bahkan kebanyak pria yang datang tersebut tergolong gagah, tampan dan mapan sangat jauh bila harus dibandingkan dengan Alfi.yang berbadan kurus hitam dan berwajah pas-pasan itu. Ia harus mengakui bahwa awalnya sebelum mengetahui bahwa Alfi tak sengaja terjerat dalam nafsunya akibat obat perangsang Erik, ia merasakan kebencian demikian meluap-luap karena Alfi menggagahinya malam itu. Namun seiring waktu rasa benci itu berganti menjadi rasa rindu yang mendalam.semakin ia mengingat kejadian malam itu semakin ia merasakan bagaimana dirinya berubah seperti segumpal bara panas kala dalam balutan dekapan tubuh anak itu.



Memang sejak hari itu, secara bertahap Lila merasakan hasrat seksualitasnya menggelora tak terkendali. Di malam-malam kesendiriannya ia kerap mendapati dirinya mengalami bermimpi erotis bahkan pada siang hari pikiran penuh gairah nafsu terus-menerus berputar dalam benaknya. Jelas ia telah jatuh hati pada anak ini, jatuh hati pada kepolosan dan pengorbanannya, terpesona pada kejantannya. Hal inilah membuat ia mengambil keputusan untuk kembali menemui anak itu malam ini. Saat pikiran dan perasaannya masih berkecamuk dan bercampur aduk tiba-tiba..

“Kak……Li..la..” gumam Alfi lirih. Lila terkejut anak ini membisikan namanya di dalam tidurnya. Bukan Sandra, Dian, Nadine atau Niken. Namun dirinya.

Terlihat anak itu menggeliat lalu perlahan membuka matanya. Alfi sempat terkejut ketika matanya menangkap sosok dihadapannya. Alfi mengucek matanya ternyata memang benar itu adalah Lila. Sungguh bahagia ia dapat kembali melihat wajah cantik gadis itu. 

“Kak..Lila?” ucapnya lirih dan berusaha untuk duduk.

“Iya Fii…ini aku”

“Kak Lila…kapan datang?” sapanya

“Baru saja Fi”

Kekakuan masih terasa, namun Lila tak ingin berlama-lama dalam keragu-raguan. Bukankah sejak berencana datang kemari ia sudah memutuskan untuk dapat memperoleh kejelasan dan jawaban dari permasalahan antara ia dan Alfi.

“Hmm… Fii”

“Iya kak?”

“Ada yang ingin kakak bicarakan denganmu”

“Alfi tahu kakak pasti ingin membicarakan tentang kejadian tempo hari” ujar Alfi menduga-duga setelah melihat perubahan pada wajah Lila yang nampak serius.

“Ya Fii.  Kakak ingin memberi tahumu bahwa kakak telah hamil karena perbuatanmu dulu itu … oleh sebab itu…. kakak ingin meminta tanggung jawabmu Fi” ujar Lila.



Alfi terkejut mendengar ucapan Lila itu. Hatinya menjadi kecut teringat akan omongan Niken tempo hari.Namun hatinya sudah bertekat untuk menerima apapun keputusan dari Lila asalkan gadis itu tak lagi membenci dirinya.

“Alfi sudah tahu mengenai kehamilan kakak dari kak Niken. Alfi siap dan rela kakak apa-apain…Alfi ..juga rela jikaa harus kakak operasi menjadi… cewek” ujar Alfi bergetar ketakutan saat mengucapkan itu.

Lila jadi tertawa geli mendengar ucapan Alfi barusan, ia sudah mengira pastilah Niken yang telah mengarang omongan seperti itu buat menakut-nakuti anak itu. Lila mendekatkan tubuhnya ke Alfi. Harum tubuh wanita itu tercium oleh hidungnya. Alfi terkejut saat tahu-tahu wajah Lila sudah begitu dekat dengan wajahnya. Lalu bibir lembut gadis itu mengecup lembut pipinya.

“Kak?…” Alfi masih belum percaya jika Lila melakukan hal itu. Bukankah seharusnya Lila sangat membenci dirinya karena telah menodainya tempo hari.

“Apa kau masih bingung dan tak mengerti juga?”

“Apakah kakak tidak akan..mengoperasi Alfi?”

“Dasar anak bodoh….bagaimana mungkin aku mau memiliki seorang suami berkelamin perempuan”

Suami?…jadi Lila menuntutnya untuk dinikahi.

Alfi tercenung sambil menatap perut Lila, tempat dimana di dalamnya salah satu benih nya sedang tumbuh. Ia sadar situasi dan kondisi Lila tak dapat di samakan dengan Sandra dan wanita nya yang lain. Lila memang tak punya suami ataupun kekasih. Sedangkan Didit maupun Donnie sudah tak mungkin untuk menambah seorang istri lagi. Berarti ia sendiri yang harus menikahi Lila. Betapa beruntung hidupnya. Entah kenapa saat membayangkan ia bakal hidup bersama dengan Lila tiba-tiba saja kemaluannya berereksi dengan hebat setelah selama satu bulan ini tertidur.



“Ada apa Fi, ka..mu diam saja? A..pakah…kamu merasa keberatan menikahi kakak?  Ji..ka demikian kakak tak ingin memaksamu… ..biarlah kakak yang akan membesarkan bayi kita sendirian” ujar Lila dengan nada suara mulai bergetar, Ia sadar sulit bagi anak seusia Alfi memikirkan harus melaksanakan tanggung jawabnya sebagai seorang suami meski Lila tak menuntut untuk diberikan nafkah secara materi.

“Ti..dakkk…bukannn begitu kakk, Alfi bersedia kok menjadi suami kakak, Lagian siapa tak ingin punya istri cantik dan pandai seperti kakak” ungkap Alfi cepat-cepat. Ia kuatir gadisnya itu terlanjur sedih dan kabur dari situ.

“Benarkah? Kau bersedia menikahi kakak?Dan apakah kau tak merasa aku terlalu tua untukmu?” Tanya Lila lagi.

“Kakak manis. Alfi sayang dan cinta kakak. Alfi bakal temani kakak hingga akhir hayat Alfi”ujar Alfi sambil meraih jemari Lila dan menggenggamnya agar gadis itu yakin akan keputusannya.

“Lantass kenapa dong tadi  kakak lihat kamu sempat diam dan nampak gelisah?” ujar Lila masih binggung. Tapi Ia sungguh gembira Alfi telah bersedia buat bertanggung jawab meski ia sendiri masih bingung bagaimana melangsungkan proses pernikahan itu di karenakan Alfi belum lagi berusia tujuh belas tahun.

“Ooo tadi itu Alfi..cuma …kuatir”

“Kuatir apa?”

“Ah..tidak apa-apa kak, kita ngomongin yang lain saja tapi yang jelas Alfi bahagia sekali bakal menikahi kakak, Eng..ya ngomong-ngomong kapan kak Niken dan yang lain berencana datang ke kota H kak?” ujar Alfi berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Hmm….Kamu bikin aku penasaran…ayo katakan dulu padaku apa yang kau kuatirkan sehingga bersikap seperti tadi?” ujar Lila duduk di bibir ranjang.

Percuma Alfi berusaha mengalihkan pembicaraan, Lila tetap mendesaknya buat berterus terang.



“Alfi tadi kuatirr kalau terus-terusan berdekatan dengan kakak … Alfi tak bisa mengendalikan diri lagi seperti tempo hari. Alfi kan sudah pernah sekali berbuat dosa terhadap kakak sehingga menimbulkan masalah besar, Alfi tak ingin mengulangi kesalahan itu lagi”” ujar Alfi sambil menunduk tanpa berani memandang ke arah Lila.

Tangan Lila menarikkan selimut yang menutupi dari bagian pinggang ke bawah Alfi. Alfi berusaha mencegahnya namun ia kalah cepat dari Lila. Lila tersenyum melihat ketegangan dari balik celana piyama anak itu. Lalu ia kembali mengulangi kecupannya tapi kali ini di bibir anak itu hingga Alfi terpancing untuk membalasnya. Meski demikian Alfi takut untuk bertindak kurang ajar ia hanya mengecup lembut dan buru-buru melepaskannya sebelum ia menjadi tak terkendali.

“Bagaimana jika aku yang memintamu… melakukan dosa itu lagi padaku?” tanya Lila saat ciuman mereka terlepas.

Kalimat terakhir Lila telah membuat Alfi mengangkat wajahnya dan menatap mata Lila. Ada sinar kerinduan terpancar di sana. Mata indah itu mengatakan kesungguhan sehingga segalanya menjadi jelas dan Alfi jadi tahu apa yang harus ia lakukan sekarang ini. Ia tak lagi ragu-ragu untuk menangkap tubuh mahkluk cantik di hadapannya itu ke dalam pelukankannya.

“Oh.. Kakk…kak…Alfii cinta kakak” bisiknya

“Nikahi kakak ya Fi… miliki kakak….kakak juga sayang padamu…cinta padamu..” Rengek Lila balas memeluk erat tubuh kecil bocah itu. Entah bagaimana caranya cinta dan kasih sayangnya terhadap Alfi bisa tumbuh begitu subur dan kuat padahal anak ini masih belum cukup umur dan tak bisa juga di katakan tampan. Bagaikan bumi dan langit perbedaannya. Kisah kasihnya lebih mirip sebuah cerita dongeng anak-anak ‘beauty and the beast’ ketimbang kisah cinta  ‘Romeo and Juliet’. Namun rasa ini tak terungkapkan indahnya. Hatinya begitu berbunga-bunga bagai perasaan seorang gadis ABG yang tengah dilanda cinta pertamanya. Lila seakan telah menemukan apa sebenarnya penawar bagi kegelisahannya selama ini.



Perlahan tubuh Lila rebah ke kasur sementara kepalanya telah jatuh ke dalam gumpalan  bantal Alfi. Sedangkan posisi tubuh Alfi berada di atas tubuhnya. Mata keduanya kembali saling menatap. Mereka tahu di hati mereka saling memendam kerinduan meski baru terpisah beberapa minggu saja. 

“Kakak..cantik sekali” bisik Alfi terpukau. Seakan ada magnet yang kuat yang membuat wajahnya turun perlahan mendekat ke arah wajah Lila.

Emp…hanya itu yang terdengar. Rintihan Lila tak sempat keluar karena bibirnya sudah dipenuhi oleh hisapan bibir Alfi. Tubuh Lila gemetaran bagai orang terserang malaria. Tak ada pengaruh obat perangsang kali ini namun Lila merasa kali ini lebih mendebarkan ketimbang tempo hari. Pecintaan kali ini ia lakukan secara sadar dan karena iapun menginginkannya. Tak ada yang  menghalangi keinginan keduanya buat bersatu  sehingga ranjang kecil rumah sakit itu tak terasa sempit bagi mereka berdua. Untunglah tadi Lila telah mengunci pintu kamar terlebih dahulu saat masuk tadi. Lila heran Alfi menghentikan kecupannya. Anak itu merenggang menjauh dari tubuhnya sementara matanya menatap ke arah dada Lila. sejenak Lila mengerti keinginan anak itu. Dengan wajah  merona merah karena malu, Lila melepas sendiri kancing-kancing bajunya satu persatu. Ia tak menyangka ia mau melakukan itu semua itu di hadapan anak itu.

“pelan..pelan  Fi, ingat kepalamu belum boleh terlalu bayak bergerak” Lila mengingatkan anak itu.

Benar saja begitu semua kancing bajunya terbuka. Ciuman Alfi kembali menghangati bibirnya. Lila dapat merasakan jemari anak itu berusaha membuka pengait branya. Dan sepertinya ia sudah berhasil melakukannya. Kecupan Alfi  beralih ke leher jenjang Lila perlahan turun hingga sampai di belahan dada gadis itu  lalu lidahnya mulai menjilati setiap jengkal permukaan kulit kedua bukit putih kembar di hadapannya.

“Fiii…geliii..ouhhhhh” pekik Lila lirih ketika mulut Alfi menyergap salah satu putting payudaranya dan mengisapinya kuat-kuat.



Lila tak berani menekan kepala Alfi yang masih terbalut perban. Ia hanya meninggikan dadanya agar mulut Alfi makin terbenam di situ. Anak ini… ia pandai sekali menyenangkan diriku Pikir Lila. Ia seakan tahu di mana saja titik-titik rangsangan pada tubuh lawan jenisnya.

“Cks…..ckss……cksss” Alfi mengisapi ke dua putting Lila secara bergantian. Benda itu semakin memerah dan mengacung tegak. Puas menetek, Alfi melepas putting Lila

“Kakak Alfi ingin itu….” bisik Alfi. Penisnya sudah sangat tegang sejak tadi dan menagih untuk di lumat oleh sebuah liang vagina.

“Lakukanlah Fiii…kakak milik kamu sejak malam ini”

Alfi membuka kancing piamanya sedangkan celananya ia turunkan sebatas lutut. Ia sengaja tak telanjang bulat Ia kuatir setiap saat suster bisa saja masuk ke kamar dan memergoki mereka. Begitupun dengan Lila, Alfi hanya menarik lepas celana dalamnya dan menyembunyikannya di bawah bantal. Beruntung Lila memakai baju terusan yang longgar sehingga mudah bagi Alfi mengekplorasi tubuhnya.

Lila bisa merasakan kehangatan penis anak itu menekan perutnya. Jemarinya meraih ke bawah buat menyentuhnya kemudian menggenggamnya namun dia tidak dapat melingkarkan jari-jarinya secara penuh di pada benda itu. Lila merasa aneh, dulu-dulu ia tak pernah merasakan gairah meletup-letup seperti sekarang ini saat menatap dan menyentuh benda itu di ruang prakteknya. Benda  yang pernah memberikan rasa linu dan sakit namun juga sejuta kenikmatan pada vaginanya.

“Fii…” bisiknya lirih

“Kenapa kak?”

“ng..ga..punya kamu besar sekali ternyata”

“Kakak suka atau takut sakit?”

“Dua-duanya”

“Alfi janji bakalan pelan-pelan waktu masukinnya ke punya kakak nanti” Alfi membiarkan jemari lentik Lila mempermaikan daging miliknya itu.



“Fii..”

“Iya kakak sayang?”

“Ma..sukin sekarang…”rengeknya manja kerena menginginkan Alfi menuntaskan kerinduannya meski dengan agak malu-malu saat mengatakan itu.

“Pingin pakai lidah apa pakai titit,kak?”goda Alfi

“A..aaa Alfi gitu” rajuk Lila bertambah malu didesak mengatakan pilihannya itu sambil memukul-mukul manja dada Alfi.

“Bilang dulu…kakak sayang maunya dimasukin lidah apa titit Alfi?”

“Eng..ti..tit” ujarnya dengan pipi bersemu dadu.

Lila tahu ini pasti akan sedikit menyakitkan baginya, meski ia sudah tak perawan lagi karena  ia baru sekali melakukan persetubuhan dan kemaluan Alfi memang sangat besar dan panjang. Tapi saat ini ia sangat ingin merasakan kembali kenikmatan yang dasyat itu lagi lebih dari apapun di dunia ini. Dengan jemari tangannya, Lila membimbing penis anak itu yang berdenyut-denyut ke celah  basah vaginanya. Lalu secara naluriah Alfi menekan kemaluannya sehingga kepala titit berkulup besar itu meluncur masuk sedikit di antara bibir basah itu.

“Uhhhhh!!…sa..kitttt.”

Lila tersentak melengkungkan punggungnya untuk menahan penetrasi Alfi. Awal penyatuan itu  telah menciptakan sedikit rasa sakit sehingga Alfi pun menunda dulu tekanannya. Ia menjatuhkan bibirnya kembali menyusu pada putting payudara gadis itu sementara tangannya membelai lembut payudara satunya. Sedikit demi sedikit ia memberikan dirinya untuk dimasuki anak laki-laki hitam ini. Mendorong kemaluannya menerobos lipatan vulvanya. Ia merasakan kehangatan yang lezat ketika penis besar itu menyusup lebih jauh dan lebih ke dalam menembusi nya,

“Oughhh…Fiiiii…” desahnya nikmat setelah titit Alfi berhasil masuk semuanya ke liang senggamanya. Ia merasakan kenikmatan itu makin menyengat mana kala rahimnya terdesak oleh ujung kulup kemaluan Alfi.



“Masih sakit kak?” bisik Alfi. Lila menggeleng . Sambil melakukan penetrasi Alfi menatap wajah kekasihnya itu sehingga ia dapat melihat ekspresi Lila.  Mata Lila terpejam rapat di antara kerenyitan dahinya sementara giginya menggigit bibir bawahnya. Ia tahu gadisnya itu tak lagi merasakan sakit namun justru sedang dilanda kenikmatan.

“Ka..kak sayanggg…semua punya Alfi sudah di dalam punya kakak sekarang”

“Be..narkahh?” Lila baru yakin setelah melirik ke arah bukit kemaluannya yang bertumpu dengan bukit kemaluan Alfi.

Setelah organ cinta mereka berdua menyatu erat, kedua kaki indah Lila menyilang dan menjepit pinggang calon suaminya. Sementara jemari lembutnya mencengkram punggung Alfi. Kini tubuh kecil Alfi terjepit di antara montoknya ke dua paha wanita dewasa yang mengapitnya erat siap buat melakukan gerakan persetubuhan. Alfi mulai memaju mundurkan pantatnya. Ia sadar ini baru persetubuhan kali kedua buat Lila dan ia tak ingin Lilapun kesakitan akibat kocokan-kocokan yang cepat. Begitu ketatnya kemaluan mereka bertaut. Entah vagina Lila yang terlalu sempit atau memang ukuran penis Alfi yang tak normal. Bibir vagina Lila ikut tertarik keluar di saat penis Alfi di cabut. Begitupun saat daging hitam itu bergerak menusuk seakan bibir vagina Lila-pun ikut terdorong masuk. Kulit kulup Alfi tertarik keluar sehingga glans penisnya menyentuh dasar vagina Lila yang lembut. Namun Alfi merasa persetubuhan dalam tempo yang lambat seperti ini akan membuat dirinya berejakulasi dengan cepat. Vagina Lila dengan leluasa ‘menyiksa’nya dengan lumatan-lumatan kenikmatan. satu bulan tak bersetubuh sama sekali menjadikan tititnya terlalu sensitive.

“Ouhhhhh…kakakk” desah Alfi.

Lila dapat melihat wajah Alfi yang berubah pucat.

“Fiii…kamu tidak apa-apa kan?” tanyanya ditengah-tengah kenikmatan itu. Ia kuatir jika gerakan-gerakan yang mereka buat menimbulkan rasa sakit bagi kepala anak itu.

“ga pa…pa kak…Alfi..justru lagiii e..nakkk”jawabnya terbata-bata. Lila-pun merasa lega.



Sebagai seorang dokter ahli kandungan sedikit banyak ia tahu dan pernah membaca bagaimana cara mempergunakan otot-otot kewanitaan di saat berlangsung persenggamaan. Lila ingin mempersembahkan sebuah kenikmatan terindah bagi Alfi. Ia ingin meninggalkan kesan yang mendalam bagi anak itu. Ia ingin anak itu mencintainya dan tak pernah meninggalkannya. Lalu ia mencoba memperaktekan semua yang ia ketahui  pada persetubuhan mereka saat itu. Otot vaginanya ia kencangkan seolah sedang menahan laju air kencingnya pada saat pipis. Ia lakukan berulang-ulang. Akibatnya sungguh luar biasa. Alfi merasakan kuluman liang senggama gadis itu menjadi demikian tak terkira nikmatnya. Kedua biji matanya sampai terbalik ke atas. Sebenarnya Lila tak butuh melakukan gerakan itu karena vaginanya masih sangat sempit itu cukup untuk membuat Alfi bertekuk lutut.

“Ka..kaakkk manisss…Alfi bakal muncratt  duluannnn….Alfiii nggaa tahann lagiiiiii..Oughhhh” rintih Alfi sambil mendekap erat tubuh Lila. Pantatnya mengocok-ngocok beberapa kali sebelum akhirnya….

“Tumpahkan sayang…tumpahkan semua benihmu di dalam punya kakakkkk” bisik Lila sambil berdebar-debar menanti terulangnya saat-saat pembuahan dirinya oleh Alfi.

Alfi mencoba untuk menahan laju spermanya untuk terakhir kali namun kenikmatan itu sudah mungkin ia tahan lagi. Stok sperma yang terpendam selama hampir satu bulan itu dipompa naik dari testisnya dengan cepat mengalir menyentuh setiap syaraf-syaraf kenikmatan yang ada di alat kelaminnya. Kurang dari satu detik cairan-cairan kental itu akhirnya berhamburan memancar dari ujung kulupnya tanpa tertahankan lagi.

“Aoooooo…kakkkakkkk!!!!” Alfi terpekik sambil menghujamkan titit sedalam mungkin ke vagina Lila.

Crutttttt…..cruuuutttt…crootttttttt…..crotttt…Lila tersentak kaget. Titit besar anak itu mengembang kempis secara cepat di dalam cengkraman  dinding vaginanya. Lalu ia merasakan hentakan-hentak deras  ejakulasi Alfi membentur mulut rahimnya.



“Ohhhhh ….Alfiii kamu dapet sayang” Lila dengan pasrah menerima suntikan demi suntikan benih kekasih kecilnya itu.

Ia menunggu dengan sabar Alfi menyelesaikan ejakulasinya hingga tuntas sambil mempererat dekapannya. Lila sangat menikmati indahnya momen itu meski orgasmenya belum ia peroleh. Menit-menit berlalu, setelah orgasmenya reda, Alfi mengangkat wajahnya dari cekungan leher Lila  lalu mengecup kening gadis itu.

“Kamu kalah sayang!” ujar Lila.

“Iya…Alfi kalah sama kakak….memek kakak enak banget..bikin Alfi ngga tahan… sekarang giliran Alfi bikin kakak muncrat” ujar Alfi

“A..pa barusan kamu bilang?” Tanya Lila hatinya tergelitik mendengar kata ‘memek’ yang diucapkan Alfi. Menit-menit sebelumnya Alfi menyebut ‘titit’ buat kemaluannya sendiri dan bukan penis. Inikah bahasa persetubuhan? Terdengar begitu vulgar dan menggairahkan.

“eng… me..mek kakak enak. Ada apa kak?” Tanya Alfi.

“Ngga papa, bi…lang sekali lagi sayang “pinta Lila. Meski bingung Alfi menuruti permintaan kekasihnya itu.

“Memek kakak enak banget, memek kakak legit, memek kakak bisa ngisepin titit Alfi” bisik anak itu di dekat telinga Lila.

“Seperti inikahhh?” tanya Lila sambil mempergunakan otot-otot vaginanya seperti sebelumnya.

“Ohhh..kakaaaakkk”desahan Alfi keenakan. Ia lalu membekap bibir Lila lagi dengan ciuman. Kini Lila baru mengerti sekarang mengapa bocah ini begitu digilai oleh Sandra dan wanita lain yang pernah merasakan hubungan sex dengan Alfi. Titit bocah itu tak mengecil sedikitpun setelah berejakulasi secara dasyat tadi.

Setelah liang senggama Lila licin oleh spermanya. Kini Alfi dapat leluasa melakukan kocokan agak cepat.



“E..nak kak?”

“He..ehh…” jawab Lila. Kocokan Alfi kali ini cepat sekali membuatnya melambung.

“Besar ya kak?”

“He.ehhh be..saarrr…Fiiii”

“Kakak suka sama punyaku ya?”

“Iyahh Fiiii…kakakkk sukaa”

Alfi menyusupkan kedua telapak tangannya kebawah pantat montok Lila dan meremasnya. Sementara pantatnya semakin cepat berayun. Ia menggunakan semua kekuatan otot-otot pinggul dan pantatnya buat menaklukan dokter cantik itu. Penisnya yang besar seakan membongkar liang vagina sempit Lila.

“Fiiiii…All.fiiiii” rintih Lila memanggil-manggil nama Alfi diantara kecipak suara kemaluan mereka yang beradu akibat genjotan anak itu.

“Kakak sayang  sudah mau muncrat ya?” Alfi merasa Lila tak akan lama lagi bakal mencapai orgasmenya karena Organ kewanitaan Lila semakin kencang mencengram batang tititnya.

“Ohh…sayangggg punyamu besarrr….punyamuu enakkkk” Bibir Lila meracau tak terkendali. Kepalanya terlempar ke kiri dan ke kanan.

Denyut-denyut nadi ke duanya semakin cepat seiring semakin cepatnya kocokan titit Alfi ke liang senggama Lila. Lila-pun akhirnya telah sampai di puncak kenikmatan itu. Kuku-kuku Lila kuat dengan menancap pada pantat Alfi yang bulat sekujur tubuhnya bergetar hebat merasakan kenikmatan yang ditunggu-tunggunya seperti yang pernah ia alami saat malam ia di gagahi Alfi dulu itu telah datang menyapanya.

“Ouhhh….Fiiiiiiihh  eemfffffff!!!” sebelum pekiknya sempat terlontar buru-buru Alfi menyumbat bibirnya dengan ciuman agar tak membuat heboh rumah sakit.

Memang untuk  urusan ranjang, wanita memang mungkin kurang agresif menyerang. Tapi, untuk urusan orgasme, wanita tetap jadi juaranya!



Semua otot-otot kewanitaan Lila berkontraksi berirama dengan sangat cepat dan kuat diikuti di bagian panggul dan rahim. dan diakhiri dengan hisapan kuat pada titit Alfi

lebih kencang dari sebelumnya yang membuat Alfi ikut melambung keenakan. Lila terus mengejang sementara vaginanya berdenyut-denyut terus mengeluarkan cairan kenikmatan .

“Aooooo….Kakkkkkk Lilaaa  enakkk !!!!” Alfi berusaha menahan jeritannya karena sengatan nikmat yang seakan ikut membetot jiwanya bersamaan dengan cengkraman otot-otot vagina Lila yang dasyat pada penisnya. Bahkan saat Lila menghentak seakan vagina gadis itu hendak mencabut putus miliknya. Kedua biji mata Alfi mendelik menahan rasa geli yang menjalar cepat terutama pada bagian kepala penis yang dipenuhi syaraf kenikmatan. Rasa-rasanya ia tak akan menunggu waktu lama untuk kembali berejakulasi. Nikmat itu demikian menggila dan tak dapat  ia  lawan. Sehingga…..

Creetttt…Creett..Crettt

“Kakaaaakkk…Allfiiii muncrattt!!!!! Emmfffffff!!!” Kali ini Lila yang menangkap bibir anak itu dengan ciuman panjang.

Kedua tangan Alfi memeluk pinggang ramping Lila kuat-kuat. Bersamaan dengan penisnya berkejat-kejat keras lalu memuntahkan seluruh sisa spermanya kedalam rahim Lila. Cairan itu melesat bagai peluru dari lubang pipisnya dalam volume yang sangat  banyak. sehingga vagina Lila bagai tak mampu menampungnya semua. Sebagian besar keluar tumpah dan mengotori seprey di kasur. Bahkan setelah menyemburkan banyak mani namun titit Alfi masih terus menghentak-hentak kuat  seakan–akan cairan kental itu tiada habis-habisnya apalagi vagina Lila-pun seakan tak pernah mengendurkan hisapannya pada batang titit Alfi. Semua itu telah menambah panjang sesi orgasme yang mereka alami.

“Uhhh…sayanggg…benihmu banyak sekaliii”desah Lila kala kenikmatan itu mereda. Ia sempat heran mendapati begitu banyaknya jumlah cairan  yang dihasilkan oleh biji pelir anak itu.



************************

Malam semakin larut dan jam telah menunjukkan pukul dua dini hari. Sprey kasur Alfi telah kusut tak menentu oleh persetubuhan panas yang tiada henti itu.

“Sudah dulu ya sayang, kakak takut nanti luka di kepalamu berdarah lagi karena terlalu banyak bergerak. Besok-besok kita terusin ya?” bujuk Lila meski Ia tahu banyak dari Niken jika Alfi tak akan berhenti menyetubuhi wanitanya sebelum keduanya berkali-kali mengalami orgasme bahkan hal tersebut dapat berlangsung sampai menjelang pagi tiba. Kalau saja mereka tak sedang di rumah sakit ingin rasanya Lila membiarkan titit besar anak itu mengeram di dalam vaginanya hingga pagi hari.

“Ngga mau…Alfi mau entot kakak sampai pagi .”

“Sayang kamu harus ingat kita sedang di rumah sakit. Nanti ada yang melihat atau mendengar jeritan kita. Kita kan bisa melakukan sepuasnya di rumah kakak saat kamu pulang dari sini”

“Satu kali lagi saja kak…boleh ya?” rengek Alfi.

“Hmm…baiklah tapi hanya satu kali lagi saja” ujar Lila tak dapat lagi menolak meski hatinya was-was takut mendadak ada suster yang memergoki mereka dalam keadaan demikian.

Kali ini orgasme Lila datang lebih cepat dari yang pertama tadi. Seluruh syaraf-syaraf kewanitaannya menjadi sangat sensitive terhadap setiap sentuhan Alfi. Baru di genjot Alfi dua menit ia mengalami orgasme, lalu yang ketiga dan seterusnyapun susul menyusul  tanpa henti. Lila tahu ia telah mengalami multiorgasme. Hal yang didambakan setiap wanita yang pernah merasakan hubungan intim. Ia merasa sungguh takjub pada kejantanan Alfi. Padahal anak itu sudah berkali-kali pula berejakulasi namun tititnya tak pernah menjadi ciut. Hal itu semakin membuat Lila tergila-gila pada bocah itu.



“Anak bandel katanya cuma sekali saja…dasar!” ujar Lila di sela-sela napasnya yang belum teratur. Setelah orgasmenya mereda jemarinya mendorong perut Alfi menjauh dari tubuhnya. Alfi dengan berat hati mencabut lepas tititnya pelan-pelan dari kuluman vagina Lila. Sperma berhamburan keluar dari vagina Lila mengalir membasahi seprey.

“Sudah sayang. Besok lagi ya” bisik Lila  berusaha menahan hasratnya sendiri yang masih terus mengukunginya karena Alfi masih saja mencucup puting kirinya di saat gadis itu berusaha mengancingkan bajunya.

“Plokk!” pagutan Alfi akhirnya terlepas dari putting merah itu sehingga Lila dapat mengancingkan seluruh gaunnya.

Setelah membenahi pakaiannya Lila lalu pindah ke sofa. Namun mata mereka masih selalu beradu pandangan dari jauh dan tak kunjung merasa ngantuk. Tiba-tiba perlahan Alfi bangkit dan turun dari ranjang dan berjalan menuju ke sofa dimana Lila terbaring. Lila tersenyum geli. Ia merasa dirinyapun tak berbeda dengan anak itu yang tak ingin detik-detik malam ini berlalu sia-sia tanpa persetubuhan. Di atas Sofa itu ia kembali merasakan daging cinta Alfi memadati vaginanya dan memperoleh beberapa kali orgasme yang kuat sementara Alfi satu kali lagi sebelum akhirnya anak itu betul-betul tak menjamahnya lagi dan kembali ke atas ranjangnya sendiri malam itu. Lila tertidur lelap dengan senyum tersungging di bibirnya. Rasanya kenyataan yang ia alami barusan jauh lebih indah dari segala impiannya pernah ada selama ini.



*************************

Beberapa hari kemudian Alfi sudah diijinkan pulang oleh pihak rumah sakit. Dengan merengek Lila memaksa Alfi untuk tidak pulang ke rumah Sriti namun tinggal di rumahnya. Ibu Lila tentu saja tak keberatan Lila merawat anak itu di rumahnya. Wanita tua itu mengetahui jika Alfi terluka karena menolong Lila pada peristiwa penculikan yang menimpa Lila kecuali bagian kejadian saat Lila dicabuli oleh Alfi. Apalagi Alfi merupakan anak asuh Niken teman Lila sejak dulu. Alfi diperbolehkan menempati kamar tamu depan.

“Meski kamu sudah tak dirawat di rumah sakit namun dokter mengatakan kamu harus tetap beristirahat selama beberapa minggu hingga kamu benar-benar pulih Fi” ujar Niken yang saat itu datang menyelesaikan administrasi perawatan Alfi dengan pihak rumah sakit. Niken senang dengan situasi yang berakhir membaik terutama menyangkut hubungan Lila dan Alfi.

“Kakak juga minta maaf tak dapat terus merawat kamu Fi karena kakak di minta Kak Nadine-mu ikut tinggal bersama mereka di kota S buat merawat bayimu” ujar Sriti ikut lega. Iapun dipekerjakan oleh Didiet di dalam perusahaannya.

“Iya kak, sampaikan salam sayang Alfi buat kak Nadine dan juga buat kakak-kakak yang lain, Alfi kangen sama mereka”

“Kamu pasti cepat sembuh Fi sebab ada seorang dokter cantik yang merawatmu di sini” Niken mengerling ke arah Lila membuat gadis itu jadi tersipu malu. Jelas Lila tak dapat menyembunyikan keintimannya bersama Alfi dari Niken.

Sepulang Alfi dari rumah sakit percintaan panas tersebut berlanjut di rumah Lila. Lila menginginkan Alfi untuk menghabiskan setiap malam di tempat tidur dan bercinta dengannya sesering mungkin yang ia ingin.



Kedua insan berlainan jenis itu benar-benar sedang di amuk asmara dan birahi. Terkadang mereka melakukannya di kamar Lila lain waktu di kamar Alfi. Bahkan saat Lidya ada di rumah  di siang haripun mereka mencuri-curi kesempatan untuk bersama. Celana dalam Lila-pun tak pernah sempat terpasang semenjak Alfi tinggal di rumahnya. Lila sadar ia bisa mengundang rasa ingin tahu ibunya dan Lidya yang tidur di kamar sebelah. Oleh sebab itu Ia selalu berusaha menahan jeritannya dengan menggigit bahu anak itu ketika orgasme datang melandanya. Lumayan menyakitkan bagi Alfi tapi ia sungguh bangga berhasil membuat kekasihnya itu memperoleh orgasme demi orgasme yang begitu kuat. Kini si cantik Lila benar-benar telah takluk oleh keperkasaan Alfi. Otaknya yang cerdas dan hatinya yang dingin itu telah luluh lantak oleh kejantanan anak itu. Ia tak mampu menahan terjangan hasrat dan gairah yang meletup-letup yang ditebarkan Alfi padanya. Tak ada kata bahkan teori kedokteran yang tepat buat mengungkapkan keindahan badani itu. Apa dan bagaimana indahnya rasa orgasme itu. Hanya dengan melakukannya, hanya dengan membiarkan Alfi menyentuhnya, dan hanya setiap sentuhan anak itu yang dapat menjabarkannya secara nyata. Alfi telah mampu menuntaskan rasa rindunya sebagai wanita yang telah lama mendambakan datangnya curahan kasih sayang dan belaian dari lawan jenisnya.





***********************

Enam minggu kemudian



“Hoekkk…hoekkk” Lila tak dapat menahan rasa mual yang mendorongannya untuk muntah. Ini memasuki bulan ke tiga sejak pertama kali ia di gauli oleh Alfi. Lila memang tak pernah melakukan test terhadap dirinya namun secara naluriah ia tahu sejak awal bahwa dirinya sedang Hamil! Selama ini ia berusaha menyembunyikan kehamilannya dari Lidya dan ibunya. Namun beberapa hari ini rasa mualnya semakin menjadi-jadi.

“Kau tidak apa-apa nak?” tanya ibunya kuatir sambil bergegas membantunya.

“Ngga apa-apa buuu, Lila hanya masuk angin….Hoekk…hoekkk!” ujarnya kembali menaruh kepalanya di washtafel.  Ibunya dengan telaten membantu mengurut tengkuknya. Itu biasa orang lakukan untuk mengurangi rasa mual sambil memoleskan minyak angin di dekat hidung putrinya. Setelah rasa mual Lila agak mereda, wanita tua itu dengan hati-hati membimbing putri cantiknya itu duduk di sofa bersamanya.

“Mari duduk bersamaku di sini sayang…ada yang ingin ibu tanyakan padamu”

“Iya bu?”

“Sudah berapa bulankah usia kehamilanmu nak?” ibunya bertanya dengan suara yang lembut

“i..bu…sudahh  ta..hu?” ujar Lila tercekat.

“Sayang…meski ibu bukan seorang dokter kandungan sepertimu namun engkau tak mungkin mengelabuhi mata tuaku ini, mungkin engkau lupa kalau aku adalah seorang ibu yang pernah melahirkan dua orang putri?”  ujar sang bunda. Lila betul-betul tak menyangka jika ibunya bakal mengetahui apa yang terjadi pada dirinya secepat itu.

“masuk ti..ga bulann bu” ujar Lila lirih sambil menunduk..

“Apakah…Alfi telah tahu jika dirimu sudah hamil olehnya?” Tanyanya lagi. Pertanyaan kedua itu membuat Lila lebih terkejut, Ibunya bahkan juga dapat menerka secara pasti jika si Alfi adalah ayah dari janin di dalam perutnya itu.

“Me..ngapaa ibu berpikir kalau anak itu yang..?”

“Ibu memperhatikan dari caramu meladeninya selama ini seperti saat membawakan makan dan minum baginya, menyuapinya, dan caramu berbicara dengannya, jelas itu bukan sekedar hanya sekedar hubungan antara seorang dokter dan pasien atau apapun hubungan biasa lainnya, itu jelas adalah hubungan yang didasari oleh kasih sayang dari seorang wanita terhadap lawan jenisnya. Nah.. kau belum menjawab pertanyaan ibu tadi”.



Jelas sulit bagi Lila buat menyembunyikan semua itu dari ibunya.  Mata bijak wanita tua itu telah dapat membaca semua yang terjadi pada putri cantiknya ini. Lila-pun mengangguk mengiyakan.

“Ma..afkan Lila bu….Lila mungkin telah sangat mengecewakan ibu”

Setelah mengatakan itu air matanyapun tumpah tak tertahankan. Ia bingung harus berkata apa lagi kepada ibunya. Hatinya jadi diliputi kekuatiran jika ibunya tak menyukai hubungannya dengan Alfi . Tetapi sang bunda segera meraih kepalanya dalam dekapan  erat. Lalu belaian lembut jemari tua itu memberikan rasa nyaman pada Lila.

“Tak perlu takut nak…ibu tak perduli ia seperti apa, yang terpenting ia sungguh-sungguh mencintaimu sepenuh hatinya begitupun sebaliknya. Ibu belum pernah melihat dirimu begitu bahagia sebelum bertemu dengannya. Ibu juga bahagia untukmu Nak” Ujar ibunya lembut 

“I..bu juga tidak…malu punya menantu semuda itu? ia bahkan belum delapan belas saat ini”

“Tentu saja tidak, tahukah kamu usia ayah dan ibumu tak lebih tua dari anak itu saat kami menikah dulu, namun perbedaannya saat itu kami memutuskan untuk menunda memiliki anak sampai beberapa tahun ke depan”

Tangis Lila semakin jadi. Sungguh diluar dugaannya ternyata ibunya justru merestui hubungannya dengan Alfi. Entah mengapa ia menjadi begitu kolokan saat ini. Yang jelas ia merasakan lega bercampur bahagia.

“Sudahlah manis…ibu ingin kamu menjaga cucu ibu baik-baik, untuk itu kamu jangan terlalu memporsir dirimu dengan pekerjaan saat di kota S nanti”

Lila mengangguk Rasanya ia bahagia sekali melihat mata tua ibunya yang berbinar-binar dan bibirnya yang mengembang senyum penuh kebahagiaan pada wajahnya yang berkeriput itu.



**************************

Pagi itu, di atas kasur empuk dan hangat di dalam kamar tidur Lila, Lila menggeliat, terjaga dari tidur nyenyaknya. Penis hitam Alfi masih mengeram di dalam dekapan vagina rapat miliknya sejak semalam. Benda yang tak pernah benar-benar menjadi lembik setelah berejakulasi. Tak sampai satu jam benda itu selalu kembali mengeras dan kembali memadati liang senggama sempitnya. lalu kembali aktif keluar masuk tanpa henti. Bercak-bercak merah bekas cupangan Alfi tersebar di leher jenjang putih gadis itu hingga ke sekeliling payudaranya. Pada kedua bahu Alfipun nampak memar bekas gigitan Lila. Persetubuhan panas itu sudah berlangsung sejak semalam, namun tubuh sintal dokter cantik itu tak pernah lepas dari tindihan tubuh kecil Alfi. Betapa ia telah membiarkan anak itu mendominasi dirinya, menguasai dirinya secara penuh, membuatnya terpekik-pekik sepanjang malam saat dilanda orgasme tak berujung. Alfi masih tertidur lelap dalam dekapannya saat terdengar sebuah dering halus berasal dari  Hpnya . Ternyata berasal dari Niken. Lila tersenyum dan mendekatkan HP tersebut ke telinganya

“Selamat pagi putri cantik” sapa Niken dari seberang sana.

“Stttt… jangan keras-keras Nien, si Alfi masih tertidur” bisiknya. Ia tak ingin anak itu terganggu.

“Apakah sang pangeran masih di dekatmu?”

“Dia …bahkan masih di ‘dalam’ diriku saat ini”

“Woww… aku jadi cemburu nih hi hi. Eh ngomong-ngomong La apakah selama ini ibu dan adikmu tidak curiga terhadap kalian?”

“Tidak bagi Lidya namun ibu sudah tahu semuanya”

“Aduhh gawat! Lan..tas bagaimana…tanggapan beliau La?”

“Ngga ada yang perlu di kuatirkan, Ia mengerti kondisiku saat ini. Ia malah mendesak aku menikah segera dengan Alfi”

“Menikah La? Ia menyuruhmu menikahi anak itu? Tetapi Alfi kan baru mau tujuh belas tahun ini. Bagaimana bisa?”



“Aku juga binggung tapi akupun ingin dia…… nikahi”

“Wah gayung bersambut  nih…”

“Iya  Nien seperti halnya dirimu, aku tak ingin berpisah darinya lagi, aku tak perduli orang mau bilang apa tentang hubungan kami, yang penting aku bisa selalu bersamanya. Hanya saja aku masih harus minta ijin dari Sandra dan yang lain termasuk engkau Nien karena hal itu pasti akan membuat jatah kalian terganggu”

“Hmm…kau tak usah kuatir La, aku rasa Sandra dan yang lain pasti akan mengerti dan tak keberatan akan hal itu. Kaupun berhak atas diri Alfi karena ia juga yang merengut kesucianmu sekaligus memberikan janinnya di perutmu. Nampaknya Alfi memang jodohmu La, bukankah kaulah yang lebih dulu pertama kali bertemu dengannya ketimbang kami, tetapi kau yang terakhir menerima cintanya.”

“Makasih Nien atas dukunganmu. O ya Nien aku juga harus mengatakan padamu jika sementara waktu aku tak dapat meladeni kalian di tempat praktek karena aku harus merawat si Alfi dulu hingga ia sehat betul ”

“Ngga pa pa La, dokter penggantimu juga cocok buatku kok. Benar-benar tak disangka jika kita bakal melahirkan bayi-bayi dari lelaki yang sama hi hi”

“Oookhh…..Nienn…” tiba-tiba Lila memekik lirih.

“Laa ada apaa? kamu baik-baik saja kan?”

“I..yaaa..A..ku  hanyaa merasakan ia membesar lagi dalam tubuhku…” ujar Lila bergetar. Saat sengatan nikmat kembali menyentuh setiap syaraf-syaraf kewanitaannya.

“Kakakkk… sudah bangun duluan ya” ujar Alfi mengeliat dari tidurnya.

Secara naluri mulutnya menangkap puting payudara Lila yang terdekat dengan bibirnya.

Selanjutnya Lila tak dapat lagi meneruskan atau bahkan hanya sekedar buat menutup percakapannya dengan Niken ketika bibirnya sudah terlalu sibuk meladeni lumatan-lumatan panas bibir Alfi. Apalagi disaat yang sama pantat bulat Alfi telah bergerak naik turun menggenjotnya lembut. Hp-nya terlepas dari pegangannya dan meluncur jatuh ke karpet.

“La…laa…” masih terdengar suara Niken memanggilnya di seberang sana namun tanpa mampu ia jawab lagi.

=================================
Alfi dan Lila, Si Dokter Cantik 3
=================================

Pagi itu Lila terlihat sedang asyik mengemut penis hitam Alfi. Gadis itu tampak begitu menikmati hal itu, dengan mata terpejam jemari lentiknya mencengram bagian pangkal batang sementara mulutnya dipenuhi sepertiga bagian batang termasuk ujungnya yang berkulup. Tak ada kocokan sedikitpun, Lila hanya menghisap kuat sambil mempermainkan lidahnya di sekitar leher penis bocah itu. Rasa manis dan gurih muncul dari mazi Alfi yang selalu keluar setiap saat dari lubang pipisnya tanpa henti

Bila ia bosan mencucup ujung kulupnya yang runcing sesekali ia tarik kulit penutup tersebut ke belakang hingga glans-nya yang bulat bagai sebuah tomat itu nampak sudah memerah. Lalu kembali mengemutnya.

Clek..cek…clek..cek..

“Ouhhh…ka..kakkk” rintih Alfi. Ia tak tahu entah sampai kapan Lila akan mengoralnya. Meski sudah lima belas menitan melakukan itu namun gadis itu tak kunjung merasa puas. Alfi berusaha keras bertahan agar tak berejakulasi di mulut Lila.

Plokk! Ketika akhirnya  penis Alfi terlepas dari bibir Lila.

“Besar banget sih!…” gumamnya sambil meremas gemas benda yang pernah merobek selaput daranya itu.

Lila mengambil posisi berbaring menyamping sehingga tubuh Alfi menghadap ke punggungnya. Lila ingin Alfi memeluknya dari belakang sambil melakukan penetrasi. Sulit bagi seseorang pria melakukan posisi percintaan seperti ini disebabkan pantat sang wanita akan mengganjal tubuhnya sehingga  penisnya tak dapat masuk secara maksimal ke dalam vagina wanitanya. Apalagi bagi pria yang memiliki panjang kemaluan standar-standar saja, bisa-bisa penisnya selalu terlepas saat melakukan gerakan persetubuhan. Namun tidak bagi Alfi. Meski ujung penisnya tak sampai menggapai mulut rahim Lila namun benda itu mampu menancap dengan sempurna dalam posisi itu.

“Oughhhhhhh…sayanggggg” desah Lila ketika kejantanan Alfi telah menyatu dengan kewanitaannya. Jemari Alfi meraih kedua payudara Lila dan meremasnya lembut sambil mengayunkan pinggulnya mundur maju.

Alfi dapat bertahan lama dalam posisi itu karena ia tak terlalu merasa nyaman. Penisnya tertekuk terlalu ekstrim. Kemungkinan penisnya bakalan jadi melengkung bila terlalu sering bersetubuh dengan gaya ini. Tapi Lila begitu menyukainya karena penis Alfi membentur G-spot secara tepat. Bagi Lila ini adalah posisi favoritnya selain posisi doggy.

“ka..kakk sayang…renggangin sedikit dong pahanya, nanti Alfi keburu kalah lagi” desah Alfi. Ia kelabakan menerima jepitan yang terlalu ketat itu. Vagina Lila yang memang masih sangat rapat dan sempit itu semakin sempit akibat kedua pahanya mengatup demikian.

“Se..gini?” ujar Lila sambil melakukan permintaan Alfi barusan.

“He.e” ujar Alfi mulai leluasa mengocok vagina kekasihnya itu.

Lima menit berselang Alfi merasakan penisnya diremas kuat-kuat oleh otot-otot kemaluan gadisnya itu. Ia tahu Lila telah memperoleh orgasmenya. Alfi harus bertahan dalam hisapan dasyat itu setidaknya setengah menitan bila tak ingin kebobolan.

“Sayanggggg….kakak dapettt!” pekik Lila lirih.

“Sekarang giliranmu kekasih” ujar Lila sambil terletang. Ia tersenyum melihat wajah Alfi sudah sedemikian pucatnya. Biasanya seorang wanita tak ingin teman prianya terlalu cepat berejakulasi karena takut percintaan mereka bakal terhenti setelah itu. Namun tidak demikian dengan Lila, ia tahu Alfi mampu berejakulasi berulang kali tanpa membuat penisnya menjadi lembik. Para wanita paling suka akan sensasi di saat penis seorang pria berkedat-kedut  memuncratkan sperma di dalam vaginanya demikian halnya dengan Lila.

“Ohh..kakaaakkk” desah Alfi setelah dalam sekejap seluruh batang kemaluannya sudah lenyap dilumat oleh vagina indah kekasihnya itu. Hanya dalam hitungan detik ia pasti bakal runtuh oleh kemolekan Lila.

“Mun.cratttin sayanggg” pinta Lila tak sabar. Otot-otot kewanitaannya mengunci setiap gerakan penis Alfi.

“Arckkkkk…. Ka.kaaakkkk!!!” pekik Alfi. Penisnya berdenyut keras dan dari ujung lubang pipisnya melejit lendir-lendir kental menghantam dasar vagina Lila. Mata Alfi terpejam menikmati setiap denyut kenikmatan tersebut hingga selesai.

Alfi menemui kenyataan bahwa Lila mampu mengimbangi hasratnya yang menggebu-gebu di tempat tidur. Gadis ini ternyata mempunyai hasrat seks yang besar bahkan jauh melebihi gadis-gadisnya yang lain. Menjelang jam tiga pagi-pun Lila masih membelitkan kedua kakinya dipinggul Alfi. Sudah lebih satu bulan ini sejak hubungan keduanya mendapat restu dari ibu Lila.mereka bersetubuh tanpa mengenal waktu. Pagi siang malam. Ibu Lila bukanlah orang yang kolot meski ia berasal dari generasi yang mempertahankan kekolotan norma dan adat. Ia maklum putri sulungnya itu baru mengecap keindahan menjadi makluk yang berpasangan. Wanita tua itu tak pernah mengganggu kemesraan keduanya ataupun merasa keberatan terhadap jadwal keseharian Lila yang berantakan. Mereka berdua hanya terlihat keluar dari kamar jam sepuluh pagi buat makan siang dan jam tiga dini hari buat makan malam. Selebihnya mereka habiskan bersama di kamar tidur Lila. Namun hubungan asmara keduanya bukan sama sekali tak memiliki rintangan. Lidya, adik Lila, sampai saat ini ia benar-benar tak mengerti mengapa kakak perempuannya yang selama ini sangat ia banggakan itu sampai melakukan prilaku yang sangat sulit diterima oleh akal sehatnya. Betapa tidak, sang kakak yang tak hanya demikian cantik dan berotak cemerlang bahkan memiliki karier yang sukses itu menjatuhkan pilihan hatinya pada si Alfi bocah bertampang pas-pasan yang berkulit hitam legam yang belum lagi genap berusia tujuh belas tahun. Bahkan Lidya-pun sudah mengetahui dari ibunya jika saat ini Lila sudah hamil tiga bulan mengandung benih anak itu. Jangankan memikirkan anak itu menyetubuhi kakaknya, membayangkan ia telanjang saja Lidya sudah mau muntah rasanya.

“Bu! Mengapa ibu sepertinya membiarkan hal ini terjadi pada keluarga kita? Tidakkah pernahkah ibu berpikir bagaimana jika hal ini diketahui oleh orang lain terutama keluarga kita?” tanya Lidya gusar.

“Jangan bicara terlalu keras dan kasar begitu nak, tak enak jika terdengar oleh mereka” ujar ibunya mencoba menenangkan putri bungsunya itu.

“Huh! Biar saja mereka tahu!”ujarnya bertambah kesal melihat ibunya masih saja membela sang kakak yang jelas-jelas sangat mengecewakan hatinya.

“Tak baik berkata kasar demikian apalagi sampai menyakiti hati orang lain nak. Kita bisa bicarakan masalah ini baik-baik. Ayo lebih baik kita bicara di beranda biar tak terdengar oleh mereka” ajak ibunya lembut. Dengan wajah masam Lidya mendahului ke teras lalu menghempaskan dirinya di kursi.

“Lidya ingin ibu bertindak demi kehormatan keluarga kita”

“Sayang tak ada yang salah dengan hubungan mereka. Mereka saling mencintai mengapa ibu harus menghalangi mereka? Apalagi saat ini di dalam rahim kakakmu sudah tumbuh calon cucu ibu yang juga merupakan keponakanmu. Ibu justru bahagia kakakmu akhirnya mau membuka hatinya bagi cinta yang datang“

“Tapi Bu…Lidya malu punya bakal ipar seperti itu. Bukankah ada banyak pria tampan yang pernah kemari selama ini buat melamar kak Lila, lantas mengapa harus memilih anak itu?”

“Sayangku, tahukah kamu bahwa rasa yang dinamakan cinta itu memang aneh dan ajaib nak. Ia terkadang muncul tanpa mengenal perbedaan ras, status social, agama, bahkan umur sekalipun. Jika ia telah menghinggapi hati seorang pria atau wanita maka tak akan ada yang bisa menghalanginya. Dan itu yang terjadi pada kakakmu Lila saat ini.”

“Ahhh walau bagaimanapun Lidya tak sudi punya ipar seperti itu!”

“Apa kamu lebih suka melihat kakakmu hidup merana sendiri tanpa cinta hingga akhir hayatnya?”

Pertanyaan terakhir sang bunda membuat Lidya tak mampu menjawab. Jelas ia tak ingin hal itu terjadi pada Lila. Namun buat menerima kenyataan bahwa ayah dari calon kemenakannya adalah si Alfi tetap sulit ia terima. Untungnya Lila dan Alfi berangkat ke kota S siang itu. Lila sempat menangkap ketidak sukaan Lidya selama beberapa hari terakhir sejak Lidya mengetahui tentang hubungannya dengan Alfi. Namun ia maklum akan sikap Lidya tersebut dan tak mau berlama-lama di kota H agar tak semakin meruncingkan masalah.

****************************

Sesampai mereka di kota S, baik Lila maupun Alfi kembali melakukan rutinitas kegiatan mereka masing-masing. Lila kembali praktek di tempatnya bekerja sedangkan Alfi mulai masuk sekolah setelah beberapa bulan sempat absent. Kemesraan mereka berlanjut di kota ini. Namun setelah beberapa lama bersama Lila tak pernah lagi menyinggung rencananya buat menikah. Hati kecil dan akal sehat  Lila mengatakan jika anak seusia Alfi belum mempunyai kesiapan mental buat melakukan perkawinan. Hal itu tentunya akan membawa dampak yang  besar bagi perkembangan jiwanya. Ia justru kuatir lama-lama Alfi akan mulai terasa terkukung oleh aturan sebuah rumah tangga dan akhirnya bukan tak mungkin membawa dampak kejiwaan seperti stress. Untuk sementara waktu Lila memutuskan membiarkan hubungan tanpa status itu terus berlanjut begitu saja dulu sampai ia merasa Alfi akan siap buat itu. Lila mendapat jatah didatangi Alfi setiap hari jumat dan sabtu. Ia harus rela berbagi dengan yang lain. Kebetulan ia tak praktek hari itu sehingga ia puas mereguk kenikmatan setelah Alfi pulang dari sekolah. Meski sudah memiliki jadwal tetap namun seperti layaknya pasangan pengantin baru baik Lila maupun Alfi sangat membutuhakan frekwensi hubungan intim yang tinggi. Mereka terkadang mencuri-curi waktu bersama di luar jatah mereka. Hal itu sering sekali mereka lakukan walau hanya satu jam-an di saat-saat Lila pulang praktek sore.

“Fi kamu ngga usah jemput kakak, karena hari ini kakak ada rapat rutin bersama pihak menagemen klinik sekaligus acara perkenalan bagi seorang dokter baru” ujar Lila melalui ponsel-nya pada suatu hari.

“Iya kak, Alfi minta izin pulang sekolah mampir dulu ke toko buku dulu”

“he e tapi setelah itu jangan keluyuran kemana-mana ya Fi, kakak tunggu kamu di rumah pukul tiga”

“Iya kak daag” ujar Alfi menutup pembicaraan.

Saat Lila sedang menunggu Riri, perawatnya untuk merapikan ruang prakteknya. Tiba-tiba terdengar suara riuh para perawat di luar, meski hanya sejenak namun cukup mengundang rasa ingin tahu Lila. Tak lama barulah kemudian nampak Riri muncul.

“Apa yang terjadi diluar? Kenapa para perawat berteriak-teriak histeris begitu?”Tanya Lila

“Itu…dok..dokter yang baru itu…eng..anu”

“Kenapa?” Tanya Lila melirik ke arah perawatnya yang ganjen itu.

“Loh bu dokter belum tahu toh kalau dokter yang baru itu cowok dan orangnya cakep sekali mirip sama Vic Zhow.”

“Siapa itu Vic Zhow?”

“itu loh bintang dorama Taiwan, masa bu dokter juga ngga tahu? Aduhhhh…dengkul saya sampai gemetaran menatap senyumannya bu”

Lila menghela napas sambil mengeleng-gelengkan kepala melihat keliaran para suster di sana.

“Ri, Ingat kalian sedang bekerja di sebuah klinik kesehatan yang melayani masyarakat umum. Ulah kalian barusan bisa merusak reputasi klinik kita dan kalau sampai hal ini terdengar oleh pihak managemen kalian bisa dapat masalah” ujar Lila memperingatkan suster Riri.

“Iya dok, maaf” ujar Riri mesem-mesem mendengar teguran Lila sambil buru-buru membereskan peralatan medis Lila.

Sesampai ia di ruang meeting, ternyata yang lain sudah pada hadir termasuk bu Helen pemilik klinik itu. Wanita tua namun anggun itu semeringgah melihat kedatangan Lila.

“Ahh…ini dia Lila, dokter kebanggaan kami, La perkenalkan ini..” ujar Bu Helen sambil menarik tangan seorang pemuda ke arah Lila

“Robert?” ujar Lila lebih dulu sebelum bu Helen menyelesaikan kata-katanya. Ia agak kaget bertemu dengan Robert. Ternyata pemuda ini dokter baru yang membuat heboh para perawat tadi.

“Hi, La, apa kabar?” ujar pemuda tampan itu sopan sambil menjulurkan tangan kepada gadis yang dulu pernah menolak cintanya mentah-mentah.

“Uh..Baik, bagaimana denganmu?” jawab Lila menjabat tangan Robert. Namun ia menghindari pandangan pemuda itu. Ia sedikit tak enak karena ia pernah berlaku ‘kasar’ saat pemuda ini dikenalkan oleh ibunya beberapa bulan yang lalu.

“Baik La” jawab Robert.

Sejenak mereka berdua tak tahu harus berkata apa-apa.Untunglah di sana ada bu Helen.

“Wah..kalian sudang saling mengenal rupanya. Baiklah meski begitu, namun aku harus tetap mengenalkan Robert pada yang lain” ujar  Bu Helen.

Ternyata Robert adalah keponakan  bu Helen. Bu Helen sendiri adalah seorang pengusaha wanita yang mempunyai naluri bisnis yang tajam. klinik ini ia bangun bersama suaminya sejak tiga puluh tahun yang lalu itu. Dan sekarang klinik kecil tersebut telah menjadi sebuah klinik besar dan terkenal yang memiliki kreabilitas yang baik di mata masyarakat serta banyak merekrut dokter-dokter terbaik di kota ini.

Namun sayangnya Helen tak memiliki calon penerus lain kecuali anak dari adiknya ini hal itu juga yang membuat Helen sempat menunda buat meningkatkan status kliniknya menjadi sebuah rumah sakit. Hanya Robert satu-satunya lelaki yang tersisa pada keluarga mereka. Helen dan adiknya sempat kuatir jika Robert tak mau kembali ke tanah air setelah menyelesaikan study-nya di Canada dan tinggal selamanya di tanah air. Apalagi dulu pemuda itu sempat menjalin hubungan yang serius dengan seorang gadis asing teman satu collage-nya di sana. Namun kekuatiran mereka tak terbukti. Meski Ia terlahir sebagai blasteran karena ayahnya warga negara Canada namun akhirnya ia lebih memilih untuk tinggal bersama ibunya di sini.

Robert adalah seorang dokter lulusan terbaik di universitasnya  bahkan program spesialisnya ia tamatkan dengan cepat pula. Prestasi medisnyapun sangat baik meski baru berjalan beberapa tahun namun sudah menarik banyak minat para pemilik klinik maupun rumah sakit besar buat merekrutnya. Tak salah jika Riri mengibaratkan ketampanannya seperti Vic Zhow. Percampuran darah Chinese ibunya dengan wajah dan fostur bule ayahnya  menjadikannya memiliki wajah oreantal yang rupawan dan fostur tubuh ideal sehigga ia digilai oleh banyak gadis. Ia sempat dikenalkan dengan Lila karena ibunya merupakan teman lama ibu Lila. Namun penjajakan yang ia lakukan tak berjalan mulus karena sifat Lila yang sangat kaku dan tertutup tempo hari. Bahkan dua kali mampir  ke rumah Lila ia tak di suguhi Lila air minum layaknya melayani seorang tamu. Meski Lila tak membalas perhatiannya dan memperlakukannya dengan buruk, Robert tak merasa sakit hati terhadap Lila bahkan ia tetap mencari peluang buat mendekati gadis itu. Ia menduga pasti ada sesuatu yang menyebabkan Lila bersikap demikian yang tak hanya kepada dirinya melainkan ke seluruh pemuda yang mencoba mendekatinya. Robert mengagumi Lila. Gadis ini berbeda dengan gadis lain yang pernah ia kenal. Kecantikan Lila membuat hatinya tertambat erat dan sulit untuk dilupakan. Ia lalu banyak mencari tahu tentang diri gadis itu termasuk hal-hal yang berhubungan dengan gadis itu. Sungguh kebetulan Lila bekerja di klinik milik tantenya sendiri yaitu bu Helen. Sehingga ia mempunyai jalan buat berdekatan dengan gadis pujaannya itu. Memang sudah sejak lama tantenya berharap Robert mengantikannya buat menjalankan roda bisnis milik keluarganya itu. Helen sendiri sempat terkejut namun bahagia saat satu-satunya harapan keluarga mereka itu secara mendadak mau bekerja di Kliniknya. padahal sebelum ini ia dan ibu Robert sudah kehabisan akal membujuknya dikarenakan jiwa muda Robert yang masih menggelora dan ingin bebas bertualang ke tempat-tempat eksotis di seluruh pelosok negeri ini. Tentu saja Helen tak tahu jika hal itu terjadi karena adanya Lila di tempat tersebut.

*************************

Alfi duduk di kursi tunggu sambil memegang kantung belanjaannya. Ia sempat membeli tiga bungkus nasi soto sebelum ia ke klinik tadi. Pasien terakhir Lila sudah masuk sejak tadi dan kemungkinan tak lama lagi Lila bakalan selesai menanganinya. Sebenarnya malam ini bukan jadwal baginya ‘mendatangi’ Lila. Sehubungan Sandra dan Didiet berangkat ke kota G maka Lila mendapatkan jatah lebih pada minggu ini. Suasana klinik semakin sepi. Satu persatu para dokter dan perawat pulang hingga hanya tersisa ruangan Lila yang masih aktif melayani pasien. Alfi terperangah saat melihat sesosok tubuh gagah yang berjalan menuruni anak tangga dan melintasi di mana ia duduk. Wuihh..Tampan sekali pikir Alfi. Andai saja ia punya penampilan fisik seperti orang itu. Baru kali ini ia melihat sesosok figure lelaki yang membuatnya sangat terkagum-kagum. Orang itu menghentikan langkahnya di depan pintu ruang praktek Lila. Lalu menoleh ke arahnya sambil tersenyum.

“Hai..kamu pasti Alfi kan?” sapa pemuda itu.

“Loh kok kakak bisa mengenal namaku?” Tanya Alfi heran

“O..aku tahu itu dari suster Riri. Oya kenalkan namaku…Robert atau panggil saja Robbie” ujar Robert menjulurkan tangan.

Tentu saja Alfi cukup tahu siapa Robert.sebelumnya. Alfi menyambut dan hendak menjabatnya. Namun ia terkejut saat dengan sigap Robert merubah cara menjabatnya dengan cara yang tak biasa. Robert menyodorkan tangannya yang terkepal sehingga Alfi juga harus melakukan hal yang sama dan mengadu kepalannya dengan Robert. Lalu diikuti gerakan-gerakan lain. Alfi pernah melihat cara bersalaman gaul ala anak-anak kulit hitam seperti ini di film-film.

“He he rupanya kamu juga tahu banyak cara ini Fi” ujar Robert tertawa. Lalu duduk di samping Alfi.

“Iya kak, Alfi sering lihat di televisi”

“Eh..Fi apa kak Lila-mu masih meladeni pasien?” ujar Robert menyengol perut Alfi dengan sikunya.

“Itu yang terakhir kak” jawab Alfi. Secara naluriah ia menduga Robert pasti ada hati terhadap Lila. Namun anehnya tak terbesit rasa cemburu sedikit pun pada hati Alfi mengetahui hal tersebut. Hanya saja ia pesimis Lila akan mau menanggapi perhatian pemuda itu.

“Eh apa itu yang kau bawa?”

“Uh..cuma nasi soto kak, kupikir kak Lila belum makan malam jadi Alfi bawakan untuknya”

“Kelihatannya enak sekali”ujar pemuda itu seakan berselera sekali.

“Apakah kakak mau kebetulan Alfi bawa lebih”

“Apabila kau tak keberatan Fi, soalnya aku juga belum makan malam”

“Tentu saja. Silakan kakak ambil satu” ujar Alfi menyodorkan satu buah bungkusan soto lengkap bersama nasi kepada Robert.

“Terima kasih Fi, ha ha, berarti malam ini aku bisa tidur tanpa perut kroncongan”

“Loh apakah kakak tidak ada yang memasakan di rumah?” Tanya Alfi heran karena menilai Robert terlalu sembarangan buat ukuran seorang dokter dengan membiarkan perut terlambat buat di isi. Apalagi sampai-sampai sering tidur dengan perut kosong.

“Itu dia masalahnya Fi. Kakak tinggal sendirian di sebuah Apartement. Sehubungan aku selalu pulang jam segini jadi aku agak sungkan makan sendirian di luar. Yah..begitulah nasib seorang bujangan yang ngga laku-laku ha ha”

“Ah masa iya ngga laku-laku kak, kakak kan sangat gagah dan tampan”

“Haihh Fi andai saja kak Lila-mu berpendapat demikian…..” ujar Robert wajahnya terlihat berubah agak murung.

“Eng..kakak suka sama kak Lila?” tanya Alfi tanpa ragu-ragu. Entah mengapa Alfi terasa cepat sekali akrab dengan pemuda ini padahal ia baru saja mengenalnya. Sikapnya yang begitu santun dan gaul cepat mengundang rasa simpatik Alfi padanya. Bahkan ia terlihat tak risih meladeninya ngobrol mengingat perbedaan tak hanya usia namun tingkat pemikiran di antara mereka yang begitu mencolok. Tidak seperti Erik yang langsung memandang rendah dirinya saat pertama kali bertemu dengannya dulu.

“Siapa sih yang tak tertarik padanya Fi? Lila itu kan cantik dan pandai”

“Lantas mengapa kakak tak segera mendekatinya?”

“Fi .. Lila itu ibarat sekuntum bunga indah yang tumbuh di atas sebuah gunung terjal dan penuh dengan rintangan. Buat mendapatkannya perlu usaha dan niat yang sangat keras. Aku tak tahu apakah aku mampu mengatasi rintangan itu”

Alfi merasa Robert merupakan sosok sangat sepadan buat bersanding dengan Lila ketimbang dirinya sendiri. Ia sadar ajakan Lila buat menikah hanya akan menambah penderitaan bagi Lila saja. Tentu saja Lila akan mendapatkan cemoohan dari banyak orang di sekitar mereka. Bahkan bukannya tak mungkin kariernya juga ikut hancur perlahan. Dan Alfi tak ingin hal itu terjadi pada Lila. Hanya saja ia menyayangkan dirinya telah terlanjur menodai Lila dan membuatnya hamil. Entah apakah ada seorang pria yang masih mau menerima keadaan Lila seperti apa adanya.

“Loh kok melamun Fi?”

“Eh a uh tidak apa-apa kak”

“Oya Fi kakak pulang lebih dulu, sampaikan salam buat kak Lila ya”

“Loh ngga ketemu kak Lila dulu kak?”

“Ha ha…ngga deh! entar dia bosan karena melihat tampangku seharian. Terima kasih sekali lagi buat soto-nya Fi” ujar pemuda itu berlalu sambil melambaikan tangan.

***********************

Tak berapa lama kemudian Alfi melihat pasien terakhir Lila sudah pergi meninggalkan ruang praktek. Ia pun lalu masuk ke dalam dimana nampak Lila dibantu Riri sedang membereskan semua peralatan kerjanya. Lila kaget bercampur senang melihat kekasihnya itu datang. Hampir saja ia beraksi berlebihan namun untung saja ia segera teringat jika di situ ada Riri.

“Hi Fi, tumben jemput hari kamis?” sapa Riri padanya. Dulu Riri sering melihat  anak ini ikut bersama Sandra atau Niken datang kesana. Namun ia hanya tahu hubungan Alfi dengan wanita-wanita cantik itu sebagai anak asuh mereka. Bahkan akhir-akhir ini ia sering melihat Alfi menjemput dan menemani Lila pulang  seusai praktek malam.

“Iya kak. Ini Alfi bawakan soto buat makan malam kakak berdua”

“Wah kebetulan saya dan bu dokter belum sempat makan karena sibuk melayani pasien sejak sore”

“Ri jatahku ngga usah di buka, biar saya makannya di rumah saja sekalian”

“Iya nih bu saya juga makannya di rumah saja soalnya teman saya sudah menunggu sejak tadi”

“teman apa pacar?”

“hi hi pacar bu”

“Ya sudah. jika tak ada lagi pekerjaan kamu boleh pulang duluan.” ujar Lila pada Riri.

“Ya bu”

Setelah menyelesaikan tugasnya akhirnya Riri-pun pamit pulang pada mereka berdua. Alfi di tugasi Lila buat mengunci pintu depan klinik karena hanya tinggal mereka berdua di sana dan biasanya mereka terakhir keluar lewat pintu belakang. Lalu ia kembali ke dalam ruang praktek Lila.

“Fi sudah kamu kunci pintu depannya?”

“Sudah kak, baiknya kakak makan saja dulu biar ngga sakit”

“Aku ngga mau makan soto. aku maunya itumu” ujar gadis itu genit menunjuk ke arah selangkangan Alfi.

“Sekarang? Di sini?” Tanya Alfi bengong. Lila mengangguk. Lila terlihat tak sabaran padahal baru tiga hari yang lalu mereka bersama.

“He e kakak mau kamu entot sampai pagi tapi sebelum pulang kakak pingin banget minum itu”pinta Lila manja.

“Baik  kak”

“Naik sini” ujar Lila menepuk kasur yang seding dipakainya memeriksa pasien.

Alfi membuka reutleting dan menurunkan celananya hingga lutut lalu duduk dipinggir ranjang.

Lila menarik kursi dan duduk dihadapan selangkangan Alfi. Tanpa harus membuka celana dalam anak itu terlebih dahulu, cukup dengan mengeluarkan penis Alfi dari samping sehingga ia dapat mengeksploitasi benda berkulup berukuran raksasa itu.

“Hei kamu yang sudah buat aku hamil sebentar lagi kasih cairan cintamu padaku “ ujar Lila berkata-kata pada penis anak itu seakan benda itu dapat di ajak berbicara. Alfi tersenyum geli melihat tingkah laku Lila yang selalu gemas pada daging di dalam genggamannya itu.

Clek..clep…clep..clep…tanpa membuang waktu ia menghisap benda yang sangat ia rindukan selama berhari-hari itu. Alfi membelai rambut gadisnya membiarkan Lila menikmati ‘makan malamnya’. Tak butuh waktu lama buat penis Alfi memancarkan cairan-cairan kental berprotein tinggi itu ke dalam mulut Lila.

“Uhhhhh….kakk…” rintih Alfi dalam kenikmatan. Tak setetespun benih cintanya yang tertumpah semuanya ditelan oleh Lila dengan lahap..

Keduanya begitu larut dalam gairah sehingga lupa akan situasi dan kondisi dan tak memperhatikan kehadiran seseorang yang sejak tadi mengintip dari balik pintu.

Tiba-tiba terdengar suara pintu berderit. Lila agak kaget dan baru menyadari kalau ternyata ia tadi lupa mengunci pintu ruang prakteknya. Lalu ia bergegas melepas penis Alfi dan segera berlari ke arah pintu tersebut. Uhh… Tak ada seorangpun di luar sana, hanya terlihat lorong kosong. Untung saja tak ada orang lain lagi selain mereka berdua di klinik itu. Mungkin pintu tadi berderit karena tertiup oleh angin bukan di sebabkan oleh seseorang yang mendadak menyelonong masuk pikir Lila. Hanya Lila yang di serahi kunci Klinik ini selain Robert dan bu Helen. Itu karena Lila selalu paling akhir selesai praktek. Bahkan satpampun tak dapat masuk ke dalam. Mereka hanya berjaga di bagian depan luar Klinik.

“Fi kita terusin di rumah aja ya?”

“Iya kak, Alfi juga kuatir kalau-kalau ada orang yang memergoki kita” kata Alfi sambil merapikan celananya. Lila segera mengunci ruangannya dan keluar bersama Alfi melalui pintu depan sekaligus menguncinya dari luar.

****************************

Hari senin terjadi kehebohan baru di klinik tempat Lila praktek. Saat baru tiba sore itu buat praktek ia menjadi binggung melihat sikap orang-orang di sana yang bertingkah tak seperti hari-hari sebelumnya. Pak Satpam bertindak menjadi lebih hormat dan tergesa-gesa membantu membukakan pintu baginya. Beberapa perawat berbisik-bisik melihat ia datang. Secara naluri Lila tahu dirinya yang menjadi bahan pembicaraan mereka.

Bahkan Riri-pun selalu tersenyum-senyum selama di ruang praktek.

“Ri..”

“Iya bu ada apa?”

“Apakah ada yang aneh pada penampilanku diriku hari ini? mengapa semua orang di klinik bertingkah aneh saat melihatku? termasuk kamu”

“A..nuu…ngga ada apa-apa kok bu”

“Kamu jangan bohong padaku Ri. Katakan saja padaku ada apa sebenarnya”

“Eng..Itu bu…kami semua di sini hanya kaget ketika mengetahui kalau ibuu…”ujar Riri terlihat ragu-ragu meneruskan perkataannya.

“Ya?”

“Akan menikah dengan pak Robert dalam waktu dekat”

“A…pa?! Ri si..apaa yang bilang begitu?!” ujar Lila kaget.

“Maaf bu. O..rang-orang bagian administrasi yang bilang. Me..rekaa katanya tahu dari pak Robert sendiri” ujar Riri kuatir melihat perubahan pada wajah Lila yang terlihat gusar.

Apa-apaan ini. Brengsek betul si Robert berani-beraninya bikin gossip murahan mentang-mentang ia keponakan bu Helen pemilik tempat ini ujar Lila dalam hati. Lila bergegas keluar dari ruangan prakteknya lalu naik ke lantai dua menuju ke ruang Direksi. Ia tambah kesal saat melintas beberapa staf di sana mengangguk memberi hormat kepadanya.

Bruak!! Lila mendorong pintu ruangan Robert dan melihat Robert saat itu sedang sibuk dengan setumpuk kertas.

“La? duduk dulu ya, aku minta waktu satu menit buat menyelesaikan ini”

“Tak usah banyak basa-basi!. Sebaiknya kau jelaskan secara jelas dan singkat karena aku tak ada waktu berlama-lama meladenimu. Aku kemari hanya ingin menanyakan maksudmu telah menyebarkan isyu bahwa kita akan segera menikah!”

“Sabar La. sebaiknya kau duduk dulu. Aku akan menjelaskan semuanya padamu”

Ujar Robert setelah mengambil napas ia lalu melanjutkan kalimatnya dengan hati-hati.

“La, ….Aku sudah mengetahui hubunganmu dengan anak itu. bahkan perihal kehamilanmu”

“Hu..bungann  a..paa? Kau jangan berpikiran gila!” ujar Lila kaget sambil berusaha menyembunyikan kegugupannya. Ia sungguh tak mengetahui pasti apa maksud perkataan Robert barusan. Ia berharap Robert hanya menduga-duga dan berniat mempergunakan kalimat pancingan terhadapnya.

“La hari itu….secara tak sengaja aku telah melihat kalian…,  Apabila handphone ku tak tertinggal di ruang kerjaku mungkin aku tak sampai mengetahui hal tersebut dan beruntungnya hanya aku yang di serahi kunci belakang klinik ini sehingga tak ada kemungkinan orang lain yang memergoki kalian”

Wajah Lila memerah bak kepiting rebus. Sungguh tak terkira malunya. Entah bagaimana caranya rasanya ia ingin dirinya lenyap ditelan bumi saat itu juga. Tak di sangka pemuda yang pernah ia tolak mentah-mentah itu justru menyaksikan kecabulan yang ia lakukan dengan Alfi. Sungguh ia menyesal mengapa ia begitu ceroboh dan tak dapat mengendalikan hawa napsunya malam itu.

Pastilah Robert menganggapnya seorang wanita tak bermoral, munafik, cabul, hyperseks, pedophile, dan istilah buruk sejenis lainnya.

“Lantas apa maumu sekarang setelah kau sudah mengetahui semuanya? Sebagai calon pewaris perusahaan ini apakah kau kuatir nama baik Klinik ini bakal tercemar? Jika itu yang kau takutkan, baiklah! Hari ini juga aku akan mengajukan surat pengunduran diriku” ujar Lila ketus.

“Sabar dulu La, Aku tak menginginkan kau berhenti. Klinik ini sangat membutuhkan dirimu. Bukankah kariermu juga menjadi sangat baik selama berada di klinik ini. Lantas mengapa kita harus memutuskan hubungan kerja yang sudah terjalin baik selama ini?”

“Kau belum menjawab pertanyaanku. Apa maumu sebenarnya Bert!”

“Aku ingin kau menikah denganku La”

“Apakah kau tak mengerti juga jika aku tak tertarik padamu apalagi sampai menikah”

“Sampai kapan kau akan merahasiakan kehamilanmu itu. Cepat atau lambat semua orang akan dapat melihat perutmu yang semakin membuncit tanpa dapat ditutupi oleh bajumu lagi. Menikah denganku adalah solusi yang tepat bagimu” ujar Robert.

Aneh! Pikir Lila mengapa Robert tetap menginginkan dirinya  padahal ia tahu tentang hubungannya dengan Alfi dan juga mengenai kehamilannya.

“Jangan kau pikir dengan demikian kau bisa memaksaku menjadi milikmu sehingga kau dapat melampiasan nafsu-terpendammu padaku. Aku lebih baik mati!”

“La…Lila .mengapa setiap kalimatku kau tanggapi dengan prasangka buruk? Aku tak pernah memaksamu. Aku justru ingin membantu mencarikan solusi bagi masalahmu. Maafkan jika aku telah membuatmu merasa tidak nyaman selama ini. Aku hanya ingin menunjukkan perhatianku padamu. Hanya itu La.”

Lila baru sadar jika ia memang tak melihat Robert berusaha memojokannya ataupun terlihat melecehkannya sejak tadi. Bahkan perkataan pemuda itu benar semuanya. Memang justru ia sendiri yang bertindak terlalu berlebihan.

tak pernah memberi kesempatan buat Robert

“Ta..pii aku tetap tak mau menjadi istrimu” ujar Lila dengan suara tak lagi meninggi.

“Apakah kau memiliki solusi lain La?”

Lila diam. Ia tercenung memikirkan omongan Robert. Ia sadar kariernya sudah di ambang  kehancuran bila orang-orang mengetahui ia hamil tanpa suami. Namun sebagai seorang wanita yang dikenal keras hati memiliki prinsip hidup tentu saja ia tak dapat menerima kenyataan ada orang lain yang mengetahui rahasia pribadinya. Apalagi ini bukan perkara biasa. Ini menyangkut moral dan kreadibilitas dirinya.

“Sebaiknya kau pikirkan saja urusanmu sendiri. Aku tak butuh bantuanmu!” ujar Lila dengan suara kembali meninggi. Lalu ia membalikan tubuhnya  dan berjalan ke arah pintu.

“La, tunggu !Pikirkan dulu saranku barusan!” ujar Robert berusaha mencegah Lila pergi namun sia-sia saja tanpa menoleh lagi gadis itu meninggalkan dirinya sendirian di ruangan itu.

Robert sengaja tak berusaha menyusul Lila karena ia maklum akan perasaan gadis itu saat ini. Benar saja, keesokan harinya Robert mendapati sepucuk surat pengunduran diri dari Lila di atas meja Helen. Beruntung saat itu bibinya belum tiba di kantor maka Robert dengan segera memusnakan surat tersebut.

*******************

Sejak dua hari Lila tak lagi datang ke Klinik. Ia memutuskan menghentikan semua kegiatannya sebagai dokter untuk menenangkan dulu pikiran dan perasaannya. Saat duduk diberanda rumah. Seorang tukang pos datang mengantar sebuah Amplop berukuran sedang yang ternyata berasal dari Robert dan ditujukan pada dirinya. Lila membuka amplop tersebut. Ternyata isinya adalah sebuah kepingan CD dan sepucuk surat. Lila mengambil surat lalu membaca tulisan disana.

“La hanya padamu kupercayakan rahasia hidupku. Setelah kau melihat isi CD yang kukirimkan padamu ini kumohon simpanlah dengan hati-hati agar tak jatuh ketangan orang lain, terimakasih, Robbie”

Lila tak mengerti apa maksud Robert mengirim CD tersebut padanya namun hatinya penasaran ingin melihat isinya. Bukankah di surat Robert menyebut-nyebut soal ‘rahasia’. Lila bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke dalam kamarnya sambil menghidupkan laptopnya. Lalu ia memasukan kepingan CD tersebut kedalam CD-Rom. Lalu muncul sebuah nama File video pada layar berjudul “Special day with Bianca (18-6-2005).AVI. Empat tahun yang lalu, ternyata sebuah rekaman video ‘jadul’. Jemari Lila menyentuh tombol enter pada keyboard. Lalu layar computer menampilkan Windowmediaplayer dengan layar hitam. Tak lama kemudian barulah ada sebuah adegan sebuah tempat tidur pada kamar namun tak terlihat seorangpun di sana. Lila mengira video ini di ambil pada sebuah kamar hotel atau penginapan sejenis itu. Setelah beberapa menit terdengar suara cekikikan tawa seorang wanita. Lalu adegan selanjutnya sudah dapat ditebak oleh Lila. Kini di layar telah nampak seorang wanita berwajah cantik khas asia bersama seorang lelaki. Meski sedikit berbeda dengan penampilannya sekarang karena terlihat agak lebih muda usianya namun Lila dapat mengenali siapa lelaki tersebut yang tak lain adalah …Robert! Robert menjulurkan tangannya ke arah kamera yang terletak tak jauh di samping tempat tidur. Sepertinya ia ingin mendapatkan engle yang tepat agar semua adegan di atas ranjang itu betul-betul terekam dengan sempurna.

Kemudian mereka berciuman dengan hot pada posisi si wanita tersebut dalam tindihan tubuh Robert. Robert begitu agresif meremas-remas dada gadisnya itu. Gila! apa sebetulnya mau si Robert ini. Apa dia mau membuatku cemburu melihat percintaannya dengan gadis lain? Huh tak usahnya! Pikir Lila. Lila sudah berniat akan mematikan komputernya. Namun ada yang membuatnya penasaran. Ia ingin melihat apa yang diandalkan oleh pemuda itu sampai-sampai begitu pede-nya mempertontonkan kemesraannya. Adegan demi adegan mengalir perlahan. Mungkin agak membosankan bagi Lila menonton setiap tahab Foreplay yang dilakukan Robert terhadap gadisnya itu. Apalagi ia tak dapat menangkap pembicaraan mereka disebabkan kualitas audio rekaman yang buruk. Lila menilai Robert tak se’lihai’ Alfi dan kalah dalam banyak hal. Terutama saat pemuda itu mulai mengeluarkan  ‘senjata’-nya.

“Hmm lumayanlah!” bisiknya geli sendiri memandang batang kemaluan milik Robert. Ia menaksir paling banter panjangnya hanya delapan belas senti-an. Meski Robert memiliki darah bule namun miliknya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan milik Alfi.

Teringat akan Alfi entah kenapa belahan vaginanya segera membasah dengan sendirinya.

“Fii dimana kamu, kok belum pulang-pulang sih?” gumamnya sambil melirik ke arah jam.

Lima menit berlalu. Anehnya Robert tak juga kunjung melakukan penetrasi terhadap kekasihnya itu. Lila heran buat apa pemuda itu berlama-lama melakukan pemanasan padahal gadis itu terlihat sudah siap buat dimasuki. Tiba-tiba saja Lila terperanjat menyaksikan adegan yang terjadi selanjutnya. Pada layar terlihat Robert beranjak dari kasur meninggalkan gadis itu dalam keadaan ‘trace’. Lalu… nampak muncul seseorang berkulit gelap entah dari mana datangnya yang tanpa ba-bi-bu langsung mengambil posisi diantara kedua paha gadis itu. Lila dapat melihat orang tersebut adalah seorang anak kecil berperawakan mirip dengan Alfi. Bertubuh kecil kurus berkulit hitam legam dan memiliki sesuatu yang menggantung besar dan panjang pada selangkangannya.

“Ohhh A..paa..yang terja..dii?” ujar Lila hampir-hampir tak percaya dengan apa yang ia saksikan itu.

Jantungnya berdetak kencang dan naluri keintimannya melonjak cepat. Terlihat kamera yang tadinya dalam posisi diam sejak tadi, kini nampak bergerak karena seseorang telah memegangnya. Perlahan kamera itu mendekat ke arah gadis dan bocah tersebut. Ternyata Robert bertindak sebagai juru kamera dan berniat mengambil gambar adegan secara close-up. Kini Lila dapat melihat adegan yang luar biasa di situ. Penis hitam anak itu di gosok-gosokan dari atas dan ke bawah pada permukaan vagina si gadis yang sudah sangat basah. Lalu ujung penis itu membelah bibir vagina gadis itu dan perlahan masuk hingga terbenam seluruhnya. Kini hanya tersisa biji testisnya menutupi engle kamera. Lalu yang terjadi selanjutnya membuat jantung Lila semakin cepat berdetak. Pantat anak itu mengocok cepat bagai sebuah mesin menghajar vagina gadis itu. Lila-pun kini dapat mendengar suara si gadis dengan lebih jelas, jeritan kenikmatannya membaur dengan ucapan-ucapan dalam bahasa yang asing dan tak di mengerti oleh Lila.

Bukan Jepang ataupun China. Entahlah Lila tak tahu. Beberapa kali kamera berpindah-pindah tempat. Terkadang yang di sorot adalah bagian atas dimana terlihat ekspresi wajah sang gadis yang sedang ‘trace’ dalam kenikmatan. Sesekali ia saling melumat bibir dengan si pejantan muda itu. Lalu kamera kembali pindah dan mengambil posisi di antara kedua pasang kaki kedua insan yang sedang memacu kenikmatan dengan gairah tinggi tersebut. Lila memandang setiap adegan demi adegan di layar monitor tanpa berkedip. Dengan penuh kegelisahan melanda sanubari kewanitaannya. Jemari tangan kanannya meninggalkan mouse dan naik perlahan ke arah payudara kirinya lalu secara naluriah mulai meremas lembut miliknya yang selalu menjadi tempat menyusu bagi si Alfi selama ini. Sementara tangan kirinyapun bergerak turun ke arah bagian kewanitaannya dan jemarinya mulai membelai-belai bagian yang masih tertutup oleh celana pendeknya itu.

Lima belas menit kembali berlalu. Terlihat kocokan penis anak itu semakin cepat diiringi oleh pekikak-pekikan silih berganti dari keduanya lalu diakhiri sebuah hujaman jauh kedalam vagina gadis itu. Beberapa kali anak itu mengulangi hujaman jauh itu sebelum akhirnya semua gerakannya betul-betul berhenti. Lila menduga keduanya telah memperoleh orgasme secara berbarengan. Dan…gadis itu… membiarkan bocah itu berejakulasi secara internal di dalam vaginanya. Karena kemudian nampak begitu banyak lendir bercampur dengan buih-buih putih meluber keluar di antara tautan kemaluan mereka. Lama posisi diam itu bertahan hingga akhirnya penis anak itu perlahan di cabut keluar. Adegan selanjutnya terlihat salah satu tangan Robert menjulur lalu dengan jemarinya ia membuka belahan basah itu sehingga menampakan genangan sperma kental bocah tadi di dalam vagina gadisnya. Lalu kamera bergerak ke atas menyorot wajah bocah tadi yang terlihat puas sambil cengengesan. Lalu beralih ke arah penisnya yang berlumuran lendir dan telah meruncing karena kulit kulupnya menguncup menutupi semua glansnya. Terakhir Robert mensyut wajah  gadisnya yang sedang terpejam meresapi sisa-sisa kenikmatan dari persetubuhan yang baru berakhir itu. Barulah Lila dapat memperhatikan secara jelas wajah gadis itu yang memang sangat cantik

“Bianca…คุณสำเร็จความใคร่?”Terdengar suara Robert memanggil namanya berulang-ulang kemudian berbicara dalam bahasa yang tak juga dimengerti Lila.

Terlihat gadis yang dipanggil Bianca itu mengangguk lemah sambil tersenyum.

“กระดอใหญ่” bisiknya di sela-sela napasnya yang masih memburu.

Hingga akhirnya adegan tersebut berakhir. Lila masih terpana di depan layar monitor. Ia benar-benar tak menyangka Robert ternyata mempunyai pengalaman liar seperti yang baru saja ia saksikan barusan. Dan Lila merasakann celana pendeknya sudah demikian basahnya oleh rembesan cairan dari dalam bagian kewanitaannya.

“Kak Lilaaa…..Alfi pulangg!” tiba-tiba terdengar suara Alfi yang baru pulang. Lila bergegas mematikan komputernya.

“Fihhh..ohhh… kok kamu baru pulang sayangg?” Ujar Lila dengan suara terdengar sengau karena nafsu birahi  sedang memuncak menguasai dirinya akibat menonton adegan dalam video tadi.

“Iya tadi Alfi diminta beres-beres di perpustakaan dulu sama Pak guru. Alfi mandi dulu ya kak” ujar Alfi yang baru pulang dari sekolah langsung mandi buat membersihkan badan. Ketika ia keluar dari kamar mandi ia sudah ditunggu oleh Lila  di atas tempat tidur dalam keadaan polos.

“Fi  kakak mau sekarang sayang” pinta Lila tak sabar. Gairahnya sudah tak tertahankan lagi dan butuh penuntasan dari kekasih kecilnya ini.

“Kakak sudah basah sekali?” ujar Alfi heran memperhatikan bibir vagina Lila yang blepotan cairan bening.

“Engg..Alfiiii” rengek Lila makin tak sabaran karena Alfi tak segera menghujamkan daging cintanya yang gemuk itu ke dalam vaginanya.

Clepp….

“Ouhggggg…sayangggg”pekik Lila begitu penis Alfi menyesaki seluruh liang senggamanya hingga ujungnya yang  kulup itu mendesak dasar vaginanya.

Lila langsung mencengram bongkahan pantatnya dengan kesepuluh kukunya dan isyarat tersebut dapat dimengerti oleh Alfi. Lalu Ia menghentakan kemaluannya dengan kuat dan cepat. Cukup dua menit bagi Alfi untuk membuat Lila mencapai orgasme yang sangat kuat. Tubuh sintal cantik itu melengkung  mendekap erat tubuh kecil Alfi yang berkulit hitam kesat. Vaginanya berkontraksi kuat meremas setiap mili penis Alfi yang mendekam di dalamnya. Fase kenikmatan itu berlangsung hingga beberapa detik.

“Kakak? semangat sekali?” ujar Alfi masih agak binggung melihat gairah Lila yang begitu meledak-ledak dan cenderung liar sore ini.

“Fi…. lagiiii” rengek gadis itu. Dan Alfipun kembali menggumulinya untuk memberinya kepuasan tanpa henti hingga hari menjelang malam.

************************

Di sebuah taman kota yang dipenuhi oleh tanaman asri tak jauh dari klinik tempat Lila bekerja. Nampak Lila sedang duduk di sebuah bangku sambil sesekali melirik ke arah arlojinya. Saat ini angka pada arlojinya menunjukan tepat pukul dua belas waktunya  istirahat bagi para pekerja kantoran. Perlahan taman itu mulai di datangi oleh beberapa karyawan dari kantor di sekitar taman itu buat makan siang bagi yang membawa bekal sendiri sambil melepas ketegangan akibat pekerjaan mereka. Memang taman itu sengaja di bangun secara patungan oleh beberapa perusahaan di sana sebagai tempat repressing bagi karyawan mereka. Sekian  lama menunggu Lila melihat Robert berjalan menuju ke arahnya.

“Terima kasih telah mau menemuiku La” ujar Robert lalu duduk pada ujung yang lain dari bangku panjang yang di duduki Lila.

“Ini… Kukembalikan lagi padamu” ujar Lila menyodorkan CD kepada Robert. Pemuda itu dengan agak sungkan menerimanya.

“Seharusnya benda ini kau simpan agar kau punya bukti yang lebih kuat bila aku berani berbuat macam-macam padamu.”

“Tidak perlu. Aku sudah bisa percaya jika kau tidak punya maksud buruk kepadaku”

“Terima kasih telah mempercayaiku, La”

“Apakah kau berharap aku akan merubah pendirianku setelah mengetahui hal tentang dirimu?”

“Bagiku itu soal kedua apakah kau akan menerima cintaku atau tidak. Paling tidak kita bisa mengenal lebih jauh pribadi masing-masing sehingga aku masih mempunyai harapan oleh karena hal tersebut.”

Lila teringat sikapnya dulu yang sangat keterlaluan pada pemuda ini.

“Mengapa kau tak menikahi gadis yang ada di dalam CD itu saja?, kulihat ia begitu cantik dan setidaknya kalian sudah saling mengenal satu sama lain”

“Kejadian di dalam CD Itu terjadi saat aku mengambil study lanjutan-ku di Canada. Nama gadis itu Bianca, seorang gadis blasteran Thailand dan Italy. Kami berkenalan di Collage tempat aku menyelesaikan spesialistku.Hubungan cinta kami sudah berjalan selama tiga tahun sebelum akhirnya kami memutuskan bertunangan dan merencanakan untuk menikah setelah aku di wisuda. Sejak lama Bianca memang meyukai petualangan cinta dengan beberapa pria kasar termasuk dengan anak-anak  dan aku-pun tak pernah keberatan dengan perilakunya itu. Aku justru sangat terobsesi oleh hal itu. Untuk memenuhi hasrat seks-nya yang menggebu-gebu kami sering bertualang ke sana-kemari. Hingga pada suatu ketika di saat liburan, petualangan kami membawa kami ke Thailand tempat ibunya berasal. Tak sulit bagi kami menemukan seorang gigolo seusia Alfi di sana. Para Pimp atau germo di sana harus selalu siap yang menyediakan kebutuhan para turis-turis asing yang aneh-aneh. Mulai dari yang penyuka seks anak bahkan dengan seekor binatang terlatih sekalipun. Bahkan di beberapa tempat ada yang menawarkan paket keintiman selama satu bulan hingga tak jarang para pria asing harus pulang ke negaranya dengan istri dalam keadaan bunting. Bianca mempunyai seorang kekasih kecil bernama Amnuay, ia yang kau saksikan di dalam video itu. Amnuay adalah anak seorang nelayan miskin di pesisir Phang Nga.” ujar Robert panjang lebar menceritakan kisah cintanya.
Bianca

Bianca

“Lantas apa yang terjadi pada hubungan kalian?”

Robert terlihat menghela napas dalam sebelum menjawab pertanyaan Lila.

“Satu bulan menjelang pernikahan kami,… sebuah kecelakan mobil merenggut nyawanya. Bersamanya ikut Amnuay yang juga ikut tewas dalam kejadian tragis tersebut. Kala itu Bianca hendak menjemput aku di Bandara Internasional. Yang rencananya kami akan bersenang-senang bertiga di sebuah pantai di Phuket.”

“A..kuu turut berduka Robb” ujar Lila.

“Tiga tahun lebih aku dilanda rasa sepi dan kesedihan. Jelas sulit bagiku menemukan pengganti Bianca. Mungkin orang lain akan jijik melihat perbuatan kami itu, namun tidak bagimu La. Entah mengapa sejak awal berkenalan denganmu aku seakan melihat diri Bianca pada dirimu. Dan bertambah yakin jika naluriku memang tak salah pilih setelah mengetahui hubunganmu dengan Alfi”

“Tapi aku bukan Bianca Bert. Aku dan Alfi saling mencintai dan tak mungkin lagi berpisah. Bahkan akupun sedang hamil saat ini ”

“Aku tak keberatan berada di atara cintamu dan Alfi seperti halnya saat aku berada diantara cinta Bianca dan Amnuay, La. Dan perlu kau ketahui saat meninggal Bianca sedang hamil dua bulan dan aku yakin sekali itu adalah anak si Amnuay  sebab hanya pemuda itu yang Bianca ijinkan menidurinya tanpa mempergunakan kondom. Meski demikian aku tak pernah mempermasalahkan janin di rahim Bianca  berasal dariku atau Amnuay ”

“Entahlah Bert, aku tak dapat memberimu jawaban sekarang. Namun aku ingin kau tak kecewa bila saatnya nanti jawabanku tetap sama.”

“Tak mengapa La, Aku siap menerima kemungkinan terburuk sekalipun. Paling tidak saat ini aku bisa menjadi sahabat kalian berdua. Aihhh….Seandaianya saja …”

“A..pa?.”

“Ya Seandainya pada waktu itu akulah yang berusaha menolongmu dari kekejian Erik bukan Alfi” ujar Robert berandai-andai

“K..kau juga tahu akan kejadian itu?”

“Kejadian tersebut cukup menghebohkan buat  ukuran sebuah kota kecil seperti kota H. Dan aku kebetulan membaca artikelnya dari  surat kabar saat aku mengunjungi ibuku di sana” jelas Robert.

“Oh  begitu…” gumam Lila singkat. Ia merasa sudah sangat jarang berdialog sedemikian panjang dengan seorang pria. Apalagi yang mereka bicarakan bukanlah sebuah topic yang berhubungan dengan pekerjaan.

Ada perasaan nyaman saat berbicara dengan pemuda yang satu ini. Lilapun lega karena pemuda itu mau menjaga rahasianya bersama Alfi. Sungguh di luar dugaannya ternyata Robert adalah sosok yang sangat tegar dan berbudi. Muncul kekaguman Lila pada pemuda ini.

“Oya La, sebaiknya besok kau masuk bekerja seperti biasa agar tak menimbulkan pertanyaan bagi staf lain di sana. Aku berjanji akan memulihkan nama baikmu akibat omonganku di sana. Lalu kita pikirkan cara lain buat mengatasi masalah kehamilanmu” ujar Robert tulus. Lila tahu itu. Secara naluriah ia dapat menangkap ketulusan dari ucapan Robert. Sungguh berbeda sekali sifat pemuda ini dibandingkan dengan Erik pikir Lila.

“Baiklah” ujar gadis itu setelah yakin atas niat baik dari Robert padanya.

“Eng ngomong-ngomong kita makan siang saja dulu”ujar Robert setelah permasalahan di antara mereka sudah beres.

“Hei….kau?”

“Aduhhh….La  jangan curiga duluu….masa kau tak mendengar bunyi keroncongan dari perutku sejak tadi, terserah mau ikut atau tidak yang jelas aku pinjam uangmu dulu karena dompetku tertinggal di klinik hanya buat beli semangkuk bakso di seberang jalan sana …ayo cepat cacing-cacing di perutku sudah tak sabaran” ujar Robert menjulurkan tangan agar Lila segera mengeluarkan uang dari dompetnya.

“Kau tidak takut sakit perut makan sembarangan seperti itu?” tanya Lila sambil menyodorkan pecahan uang lima puluh ribuan keada Robert

“Ketimbang aku pingsan karena kelaparan dan dituduh mau merayu anak gadis orang”

“Bi…ar kita makan saja di resto saja. Kurasa aku juga sudah lapar” ujar Lila agak terbata-bata menarik kembali uang yang disodorkannya barusan dan urung memberikannya pada Robert

“Nah, begitu dong! Aku mau padang-an yang di pojok itu La”

Robert agak berlari ke arah ujung jalan sambil tertawa girang sehingga Lila terpaksa mengayunkan langkahnya agak cepat agar dapat menyusul pemuda itu.

“Bert…jangan  terlalu cepat”

******************

Satu minggu berjalan. Hubungan Lila dan Robert semakin membaik dan akrab. Meski demikian Lila tak pernah memberi kesempatan pada pemuda itu buat melakukan pendekatan lebih dari sekedar teman. Tapi Alfi melihat perubahan besar pada diri Lila. Lila terlihat sering tersenyum-senyum sendiri sambil berulang-ulang membaca sms dari Robert bila sedang di rumah.

“Kak apakah kakak suka pada kak Robert?” Tanya Alfi pada Lila pada suatu hari.

“Eng kok kamu nanya gitu sih Fi”

“Kakak belum jawab lagi”

“Idihh amit-amit ngga la ya” ujar Lila namun wajahnya bersemu merah saat mengatakan itu.”Emang aku terlihat suka padanya Fi?”

“Iya kak buktinya kakak suka banget baca sms kak Robert. Bahkan sampai bermenit-menit diplototin padahal itukan sms yang kemarin-kemarin kan?”

Wajah Lila bertambah merah karena malu karena tebakan Alfi mengena.

“Ngga ah. Kakak cuma sayang sama kamu”

“Kakak ngga bisa bohong kalau kakak suka sama kak Robert”

“Kamu cemburu ya Fi?”ujar Lila berusaha mengalihkan topic pembicaraan.

“Ngga kok kak. Alfi malah senang bila kak Lila bisa menikah sama kak Robert. Dia itu sangat baik dan pantas menerima cinta kakak”

“Kamu mengatakan itu bukan karena kamu mau ingkar janji kan Fi?”

“Ngga kak Sampai kapanpun Alfi siap bertanggung jawab. Tapi Alfi juga siap mengalah demi kebahagian kakak bila telah datang pasangan yang sepadan buat kakak”

“Kamu bisa saja Fi. Kakak cuma ingin kamu yang jadi suami kakak. Kakak tak ingin berspekulasi menerima cinta Robert. Belum tentu ia sepenuhnya menyukaiku apalagi ia sudah tahu semua latar belakang kakak”

Alfi menghela napas. Percuma saat ini membujuk Lila. Ia harus memikirkan jalan lain buat membahagiakan Lila.

****************************

Malam itu di rumah Didiet diadakan pesta kecil menyambut kehamilan Sandra. Pasangan tersebut demikian gembiranya. Banyak tamu yang hadir yang rata-rata adalah teman-teman sekantor Didiet dan Sandra. Karena ruangan dalam rumah tidak cukup buat menampung semua tamu maka Didiet sengaja memasang beberapa meja di halaman depan dan belakang rumah mereka. Nampak hadir pula Niken dan Donnie di sana. Sementara terlihat Nadine sedang menyusui bayinya. Sementara si Alfi asyik ngobrol dengan Dian di depan televise. Lila baru datang sendirian dan langsung di sambut oleh Sandra.

“Sand, selamat ya” ujar Lila memberi kecupan di pipi Sandra.

“Ma kasih La. sudah datang”

“Apakah aku terlambat Sand” ujarnya

“Tidak juga La. kami baru mau mulai kok, ayo masuk bergabung dengan yang lain”

“Maaf seharusnya aku meminta izinmu terlebih dahulu, Aku tadi mengajak serta seorang teman datang kemari”

“O tentu aku tak keberatan La. Tapi mana dia?”

“kami memang tak datang bersama namun janjian bertemu disini”

“jika demikian aku ingin menyiapkan tempat satu orang lagi di meja makan buat wanita temanmu itu”

“Eng Sand, temanku itu seorang  ..lelaki”

“Wah ini baru berita baik, nampaknya si Alfi punya saingan nih”

“Tidak seperti yang kau pikirkan Sand, hubunganku dan Robert tak lebih dari sekedar hanya teman baik”

“Robert? Nama pria yang beruntung itu? Hati-hati dengan perkataan kita sendiri La. Terkadang banyak hal luar biasa dan tak terduga terjadi di luar perkiraan kita sebelumnya”

Lila tercenung mendengar ucapan Sandra tersebut. Memang banyak peristiwa yang  terjadi menghampiri hidupnya selama ini. Siapa sangka ia bakal kepincut pada sosok seperti Alfi. Padahal jika dipikir-pikir betul dengan akal sehat rasa-rasanya tak mungkin seorang wanita cantik berpendidikan dan berkarir baik sepertinya menyerahkan tubuhnya bulat-bulat dan takluk dalam kehangatan ragawi pada bocah ABG seperti Alfi.

Sandra lalu kembali ke dalam dapur membantu Niken mempersiapkan jamuan makan malam. Sementara Didiet terlihat sibuk membawa buah-buahan yang barusan ia beli dari supermarket.

“La ada hal yang ingin kutanyakan padamu” ujar Donnie tiba-tiba menghampirinya.

“Ya Don ada apa?”

“Eng begini sudah satu minggu ini Niken selalu uring-uringan. Aku binggung semua yang kulakukan selalu salah. Seperti pakai parfum salah! Ngga pakai parfum dia bilang bau! Apakah ini ada kaitannya dengan kehamilannya yang sudah memasuki masa-masa melahirkan?” ujar Donnie binggung.

“Oo. Itu akibat keseimbang hormonnya terganggu sehingga mempengaruhi psikologisnya. Bisa saja ia merasa kuatir jika setelah bayinya lahir perhatianmu menjadi berkurang padanya. Kau tak usah terlalu kuatir akan hal itu. Berikan saja lebih banyak waktu dan perhatian padanya agar ia merasa lebih nyaman dan katakan bahwa kau ada selalu di sisinya sampai kapanpun” jelas Lila tersenyum geli karena ia merasa iapun akan mengalami fase seperti itu nantinya.

“Yah ..ya.. aku memang terlalu sibuk selama dua minggu belakangan ini akibat menumpuknya pekerjaan di kantor”

“Ada persoalan lain yang ingin kau tanyakan? Mumpung Niken sedang sibuk di dalam”

“Tidak ada La,. Terima kasih atas penjelasan dan saranmu”

“Jangan sungkan-sungkan buat bertanya padaku Don. Bagiku Niken tak hanya merupakan sahabat baikku ia juga sudah seperti saudara kandung bagiku”

“Ya aku tahu itu. Eh.. sepertinya Niken butuh bantuanmu La” ujar Donnie menunjuk ke arah istrinya.

Tanpa mereka berdua sadari Robert memperhatikan pembicaraan mereka yang akrab itu. Pemuda itu baru saja datang namun tak ingin mengganggu pembicaraan mereka. Untuk sementara ia berdiri menunggu hingga mereka selesai. Tapi Lila kebetulan tak melihat kehadirannya dan malah masuk ke arah dalam rumah. Robert-pun jadi celingukan sendiri karena tak ada yang ia kenal di acara itu selain Alfi dan Lila. Hingga seseorang menepuk punggungnya. Iapun menoleh.

“Eh ternyata kamu Fi”

“Kenapa berdiri saja di luar kak, ayo masuk”

“Sebentar Fi, aku mau Tanya siapa pemuda yang bersama Lila itu”

“O itu  kak Donnie dia ..calon suaminya kak Lila” ujar Alfi cepat dan enteng mengucapkan itu.

“Hah?! calon su..ami Lila Fi? Ka..muu sedang bercanda kan Fi”ujar Robert terlonjak kaget.

“Tidak kak, Alfi mengatakan hal yang sebenarnya. Lamarannya sudah diterima oleh ibu kak Lila tadi siang dan bahkan sebentar lagi akan diumumkan sekalian di acara ini”

Robert lemas mendengar penuturan Alfi barusan. Ia percaya pada penuturan anak itu. Mengapa Lila tak pernah memberi tahunya mengenai hal ini?. Pantas saja Lila tak pernah membalas perhatiannya ternyata ia telah menemukan tambatan hatinya. Seorang pemuda tampan dan gagah. Sia-sia saja penantiannya selama ini. Hatinya terasa begitu perih menghimpit dadanya.

“Fi… kakak sebaiknya pulang saja” ujarnya lirih. Buat apa ia berlama-lama di situ. ia justru kuatir malah akan merusak acara orang lain. Jelas ia tak mungkin sanggup melihat Lila bersanding dengan orang lain di hadapannya. Dadanya begitu sesak oleh kesedihan yang sama seperti saat ia kehilangan Bianca dulu. Dua kali terpuruk oleh cinta membuat Robert benar-benar terpukul.

“Loh ngga tunggu sampai acaranya selesai kak atau paling tidak memberi selamat pada kak Lila?” ujar Alfi tak berperasaan.

“Sampaikan saja salam dan permintaan maafku pada Lila Fi.” ucapnya nyaris tak terdengar.

Mana mungkin ia mengucapkan kalimat itu langsung pada Lila. Ia tak setegar itu. Perlahan ia melangkah gontai menjauh dari kerumunan orang. Lalu menuju ke arah mobil yang diparkir agak jauh. Alfi sebenarnya tak tega menghancurkan hati Robert namun sepertinya ia memiliki sebuah rencana dengan mengatakan itu. Setelah Robert pergi, nampak Lila keluar melongok ke kanan dan ke kiri ke arah kerumunan para tamu di halaman depan.

“Fi apakah kamu lihat Robert datang kemari?”

“Ia kak tapi cuma sebentar dan langsung ia pulang”

“Loh kenapa?”

“Ngga tahu. Barangkali saja ada sesuatu yang tertinggal?” ujar Alfi sambil mengangkat bahunya.

Duh… ngapain dia pergi sebelum menemui aku pikir Lila sebal. Padahal ia berharap sekali Robert bisa ia perkenalkan dengan para sahabatnya di sini. Alfi melihat wajah Lila yang cemberut. Tapi Ia tahu Lila tak mungkin menelpon Robert karena gengsinya yang terlalu tinggi.

***************************

Sudah satu minggu sejak malam itu Robert tak pernah terlihat muncul di Klinik. Bahkan tak pernah lagi ia menelpon Lila. Bahkan mengirim sms-pun tidak. Padahal biasanya setiap hari ia rajin menelponnya walau hanya sekedar buat mengatakan hal-hal yang sepele. Apakah Robert sakit? pikir Lila. Entah kenapa ia malah memikirkan pemuda itu. Ia justru rindu akan ‘gangguan-gangguan’ yang kerap Robert buat selama ini. Namun egonya terlalu tinggi buat menelpon balik atau menanyakan ke perawat di situ. Tapi semakin ia berusaha tak memikirkan pemuda itu ia semakin sering melihat bayangan Robert melintas di dalam pikirannya. Lila tak tahu apakah ia sebenarnya telah jatuh hati pada Robert meski ia berusaha menyangkalnya. Perasaan ini sungguh berbeda dengan perasaannya terhadap Alfi. Ia sebenarnya tak yakin perasaannya terhadap Alfi adalah cinta sejati wanita terhadap seorang pria. Alfi muncul ditengah-tengah kekecewaannya selama bertahun-tahun terhadap penghianatan Erik. Hingga tanpa sengaja suatu pristiwa menyeret ia dan Alfi dalam pertualangan seks yang membara tanpa akhir. Memang Alfi-lah yang pertama membuatnya merasa membutuhkan kehadiran seorang lelaki bagi dirinya. Namun berjalan waktu ia sadar cinta tak sesederhana itu. Cinta tak hanya melulu seks walau pada kenyataannya seks dapat membuat cinta berantakan seperti halnya yang hampir terjadi pada sahabatnya Niken dan suaminya Donnie. Ia tak dapat mencegah cintanya terhadap Robert mengalir ke dalam sanubarinya. Dan kini setelah pemuda itu tak menghubunginya maka timbul rasa kehilangannya. Apakah Robert sudah bosan mengejar-ngejar dirinya atau jangan-jangan pemuda itu sudah menemukan wanita lain dan mulai melupakannya. Entah mengapa tiba-tiba saja pertanyaan itu muncul di dalam hatinya dan ia merasa setitik kecemburuan melanda hatinya ketika  membayangkan Robert bersama dengan wanita lain. Kini rasa rindu tadi membaur dengan rasa kekuatiran. Lila benar-benar gelisah hari itu. Konsentrasinya menangani pasien menjadi  terganggu oleh hal ini. Akhirnya ia tak dapat menahan hasratnya buat mencari tahu keberadaan pemuda itu. Lila berpikir sebaiknya ia menanyakan hal tersebut langsung pada bu Helen ketimbang pada staf di sana. Awalnya ia ragu untuk mengetuk pintu ruangan bu Helen.

“Ma..suukk hk..hk” suara wanita itu terdengar begitu sengau.

Lila masuk ke dalam namun heran melihat ke dua mata Bu Helen yang basah oleh air mata.

“Apa yang terjadi bu?”

“Robbie nak…ia berangkat ke Somalia. Tanpa sepengetahuan aku dan ibunya ia mengajukan diri ke badan kesehatan PBB buat mengikuti misi kemanusiaan Hu huuu”jelas wanita tua itu dengan tersedu-sedu.

Somalia?…bukankah ini daerah yang masih dipenuhi oleh konflik antar etnis yang tak selesai-selesai hingga sekarang? Mengapa Robert mau mendatangi Negara yang memiliki pemerintahan kacau seperti ini? bagaimana dengan jaminan keselamatannya saat berada di pelosok-pelosok pedalaman benua Africa itu? Mengapa Robert sengaja membuang dirinya ke arena pembantaian manusi dimana anak-anak kecil dengan bebas memanggul senjata api di Negara itu.

“Anak itu sepertinya sudah lelah dan putus asa dalam mengejar cintamu yang tak kunjung ia dapatkan.Tak ada yang bisa mencegah ia pergi. Hatiku benar-benar sedih…mengapa ini harus terjadi pada satu-satunya lelaki keturunan keluarga kami”

“Di..mana Robbie sekarang bu?”

“Terlambat buat mencegahnya La, kupikir setengah jam lagi pesawatnya sudah take off hu hu hu”

Lila bergegas keluar dari ruangan. Beberapa perawat di sana terbengong melihat dokter cantik itu begitu tergesa-gesa sekali berlari menuruni anak tangga. Saat di depan Klinik ia melihat Alfi yang baru datang menjemputnya.

“Fi ikut kakak sekarang” ujarnya menarik tangan Alfi ke arah di mana mobilnya sedang parkir.

“Kemana kita kak? Kok terburu-buru sekali?”

“Ke bandara Fi. Kita harus menyusul Robert sebelum pesawatnya berangkat”

Sesampai di tempat parkiran, Lila menjadi kesal bukan main ternyata ia tak mungkin dapat mempergunakan mobilnya karena ada beberapa mobil lain yang sedang parkir dan menghalangi. 

“Aduhhhhh….bagaimana ini?”ujar Lila kasar bercampur panik

“Pakai taxi saja kak” ujar Alfi.

“Ya betul Fi” mereka berlari ke pinggir jalan raya dan menghentikan sebuah taxi kosong yang sedang lewat.

“Pak cepat ya! ke bandara” ujarnya pada si sopir taxi.

Sepanjang perjalanan menuju bandara Lila hanya diam dan tak berkata-kata. sementara air mata meleleh dari pelupuk matanya. Berkali-kali ia melihat ke jam tangannya dengan penuh kegelisahan. Hal tersebut tak luput dari penglihatan Alfi. Namun herannya bocah itu malah tersenyum-senyum sendiri. Taxi yang membawa mereka meluncur dengan cepat hingga tak terasa dalam waktu dua puluh lima menit merekapun sampai di tempat tujuan. Sesampai di Bandara Lila langsung berlari ke arah dalam bagian keberangkatan namun ia di cegah oleh petugas karena tak dapat menunjukan tiket atau boarding pas.

“Paaak tolong izinkan saya masuk, saya mohoon” ujarnya memelas

“Siapa yang ibu cari? Kemana tujuannya?”

“Su..ami saya pak. Dia mau ke Afrika”

“Waduhh…telat ibu. Lima menit yang lalu para penumpang sudah naik ke pesawat”

Lemaslah Lila mendengar penjelasan petugas itu. Apakah hal ini memang sudah nasibnya selalu gagal menggapai cintanya Lila tak tahu. Namun hatinya begitu perih oleh kesedihan. Kesedihan kali ini bahkan lebih menyakitkan ketimbang saat ia ditinggalkan oleh Erik dulu.

“Tunggu dulu…Apakah bapak itu yang sedang ibu cari? Penumpang yang satu itu belum naik ke pesawat karena tidak memiliki boarding pass, yang katanya tercecer di toilet” ujar petugas tersebut menambahkan.

Benar saja Lila melihat Robert bersama-sama beberapa orang petugas kebersihan bandara sedang mondar-mandir di sekitar WC bandara. Jantung Lila berdetak kencang. Tapi ia menoleh terlebih dahulu ke arah Alfi.

“Susul dia cepat kak, Alfi rela mengalah demi kebahagiaan kakak” ujar Alfi tersenyum.

Lila berlari ke arah kerumunan orang-orang tersebut. Tak ada dapat mencegahnya lagi. ia telah yakin dengan keputusannya saat ini.

“Bert!!..”pekiknya

Robert menoleh ke belakang. Meski  terkejut, wajahnya yang kuyu berubah cerah di saat mendapati pujaan hatinya datang menyongsong dan  langsung memeluknya erat sekali.

“La…Kamu?” pemuda itu nampak kebinggungan  bercampur bahagia.

“Kau mau mati konyol?! Kau jahaaat!! Kenapa kau meninggalkanku?! kupikir kau sungguh-sungguh mencintaikuuu..ternyata kau sama saja dengan pria lain huuu huu” Lila tak dapat membendung tangis dan kekesalannya sambil memukul-mukul dada bidang pemuda itu. ia sadari rasa cinta tumbuh di hatinya sedemikian besar terhadap pemuda ini sehingga dapat mengalahkan rasa malu-nya, gengsi-nya yang tinggi, ego-nya yang besar dan semua hal-hal yang menghabat curahan cintanya.

“La? a..ku tak mengerti? bukankah kau lebih memilih Donnie sebagai calon suamimu?”

“Si…apa yang mengatakan itu? Donnie kan suami sahabatku Niken. Tu..nggu dulu!” Tangis Lila berhenti. Otaknya yang cerdas baru merasakan ada sesuatu yang tidak beres di sini. Lila menoleh ke kanan dan kiri mencari-cari Alfi. Tapi sepertinya anak itu sudah kabur dari sana entah kemana. Ia yakin sekali kalau semua ini pasti adalah ulah anak itu.

“Ja..di semua itu tidak benar?” tanya Robert yang semakin bingung.

“Orang-orang mengatakan kau adalah lulusan terbaik dari universitasmu tetapi ternyata kau begitu bodohnya sampai dikibuli oleh seorang anak-anak. Seharusnya kau mengecek kebenarannya padaku saat itu juga”

“A..ku  memang bodoh La. Aku terlanjur shok dan down ketika mendengar hal tersebut.”

“Bert jangan pergi. A..ku bersedia menjadi istrimu”

Bola mata Robert membesar mendengar sendiri permintaan tersebut meluncur dari bibir wanita pujaannya itu.

“La apakah saat ini aku tengah tak bermimpi? Be..narkah kau mau menerima aku?”

“Aku cinta padamu Bert” ujar gadis itu tanpa ragu-ragu mengucapkan cinta terlebih dahulu pada seorang pria.

“Ohhh La ..Lila sayang. Aaa..ku tak tahu harus bagaimana mengungkapkan rasa bahagia ini” Robert begitu gembiranya seakan tak percaya dengan kenyataan tersebut.

“Kau… tak terlihat seperti pria yang berpengalaman menyenangkan wanita seperti di dalam rekaman videomu” ujar Lila menatap bola mata lekat-lekat pemuda pilihan hatinya itu.

Kali ini Robert tak ragu lagi buat menerkam tubuh Lila dan mendaratkan ciumannya pada bibir gadis itu. Ciuman penuh kerinduan dan kasih sayang sehingga Lila sulit bernapas. Meski demikian Lila membalas ciuman itu. Ia tak peduli mata para pengunjung bandara tertuju kepada mereka berdua. Begitupun Lila ia benar-benar yakin Robert adalah cinta sejati bagi dirinya.

“La, aku akan datang kepada ibumu buat melamar dirimu hari ini juga. Lalu kita ke ibu-ku setelahnya” Ujar Robert mantab setelah ciuman mereka terlepas.

“Oh Bert benarkah? Tapi … Ibu sudah tahu kalau aku hamil oleh perbuatan Alfi. Entah apa katanya nanti”

“Serahkan semuanya padaku, kau jangan banyak bicara saat di depan beliau”

Mereka berjalan sambil berangkulan mesra, keduanya bagai tak ingin berjauhan lagi barang sekejapun. Hingga akhirnya mereka tiba di tempat antrian taxi . Di sana si Alfi terlihat sedang asyik melahap sepotong donat dengan wajah  belepotan coklat.

“Hai ..kak mau donat? tadi Alfi beli selusin buat kita bawa pulang” ujarnya tanpa rasa bersalah.

“Kau benar-benar keterlaluan Fi! Hampir saja aku mati konyol di sebuah negeri antah belantah itu. Apakah kau tak berpikir akan akibat yang bakal kau timbulkan?” ujar Robert tersenyum kecut. Akal sehatnya menyadari kalau sebenarnya  Somalia memang tempat yang sangat mengerikan.

“He he..Sebenarnya Alfi juga tak menyangka kakak akan separah itu mau berkumpul sama cewek-cewek Afrika. Tapi kan ngga jadi kak. Lagian kan kakak bisa saja pulang lagi saat tiba di Singapore. Kalau tidak seperti ini caranya bagaimana mungkin kakak berdua bersatu”

“Ternyata otakmu encer juga Fi, tapi kau tak cemburu kan aku jadi suami kak Lila-mu?”

“Kekasih Alfi kan banyak kenapa harus cemburu? He he”

“Makasih ya Fi, kamu sudah mau berkorban demi kebahagiaanku” ujar Lila yang masih mengglayut manja di dalam pelukan Robert.

“He he iya kak. Alfi juga bahagia sekali melihat kakak mendapatkan jodoh yang sepadan”ujar alfi tulus.

Dari bandara mereka langsung berangkat menuju kota H buat menemui ibu Lila. Wanita tua itu sempat kaget bercampur bahagia mendengar Robert akan menikahi Lila.

“Tapi mengenai kandungan Lila nak Robert”

“Maafkan saya  bu. Saya memang sudah membuat susah ibu dan keluarga selama ini. Saya sadar seharusnya memang sejak beberapa bulan yang lalu saya bertanggung jawab agar Lila tak bertambah menderita”

“Loh jadi itu anakk..?”

“Iya bu kehamilan Lila adalah akibat perbuatan saya. Bukan Alfi seperti yang ibu duga selama ini.”

“Tet..tapi mereka sering…?” Ibu Lila masih ragu dengan penjelasan Robert. Meskipun ia tak pernah melihat secara langsung Lila dan Alfi melakukan kemesraan. Namun ia tahu Alfi sering berlama-lama dalam satu kamar dengan Lila saat di kota H tempo hari.

“Lila dan Alfi sengaja berpura-pura menjalin kemesraan hanya karena Lila takut ia mempunyai bayi tanpa ayah”

“Ahhh…kalian anak-anak muda jaman sekarang memang selalu membuat binggung orang tua saja!” ujar ibu Lila lega mengetahui ternyata Lila putrinya memiliki pergaulan yang normal dan akhirnya Lila memenuhi harapannya menikahi putra sahabatnya itu. Kalimat terakhir Robert itu ternyata mampu meyakinkan ibu Lila.

“Ibumu harus segera diberi tahu berita bahagia ini nak sehingga penikahan kalian segera dapat dilangsungkan”tambahnya lagi.

“iya bu” ujar Robert sambil memandang wajah calon istrinya yang terus tersenyum dalam kebahagiaan

***************************

Tak menunda-nunda lagi dan hanya dalam waktu dua minggu Lila sudah resmi menyandang predikat sebagai nyonya Robert. Robert menawarkan pesta resepsi yang mewah namun Lila menolaknya dan memilih sebuah pesta sederhana yang diadakan dirumah ibunya dengan mengundang beberapa kerabat dekat dan tamu tertentu saja. Lila beralasan tak ingin perutnya yang mulai membuncit terlihat oleh  tamu yang hadir bila mengunakan gaun pesta yang mewah. Lila tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya. Bibirnya selalu tersungging senyum dan tawa disepanjang acara berlangsung. Orang-oramg yang hadir begitu kagum akan kecantikan terpancar sempurna dari wajahnya. Lengkap sudah semua kebahagiaan yang ia  tunggu selama ini. Begitupun dengan kegelisahannya selama ini membayangi hatinya telah sirna oleh hadirnya seorang suami yang sesempurna Robert. Sang bunda, ibu mertuanya beserta Helen terlihat begitu bangga dan bahagia akan pernikahan itu. Begitupun dengan Niken sang sahabat tercintanya dan yang lainpun ikut merasa berbahagia buat Lila. Malam pertama yang ditunggu-tunggu itu-pun akhirnya tiba. Percintaan itu berlangsung dengan sangat panas. Robert sempat kewalahan menghadapi gairah istri cantiknya itu yang tak kunjung usai. Ledakan gairah berbaur dengan kasih dan cinta menjadikan sepuluh kali orgasme tak juga meredakan Lila. Sampai-sampai Robert harus menyusupkan Alfi ke kamar pengantin mereka  buat memuaskan Lila. Anak itu awalnya menolak karena tak mau menjadi pengganggu bagi pasangan berbahagia itu lagi namun karena Robert memohon-mohon terpaksa ia menurutinya. Lila sempat merasakan sakitnya percintaan di malam pertama saat Robert ‘memerawani’ anusnya. Dan di malam itu pula Lila untuk pertama kalinya ia juga merasakan keindahan  dalam himpitan dua tubuh pria yang dicintainya secara berbeda itu.

**********************

Satu minggu kemudian



Di sebuah kamar Cottage ‘BB’ pantai Khao Lak

Propinsi Phang Nga sekitar 87 km dari Phuket, Thailand.

Pukul lima sore waktu setempat.
Villa tempat menginap Lila & Robert di Thailand

Villa tempat menginap Lila & Robert di Thailand

Saat itu Robert sedang terlentang di sebuah sofa empuk tanpa busana alias telanjang bulat sementara jemarinya mencengram penisnya yang sudah sangat tegang. Nampak kepala penisnya basah mengkilap oleh lendir mazi yang memancar tiada henti  dari ujung lubang kencingnya menandakan ia sedang terangsang hebat.. Sudah satu jam-an ia menghajar penisnya tanpa henti dengan kocokan-kocokan dan dalam kurun waktu tersebut beberapa kali ia berhenti sejenak buat meredakan hasratnya buat berejakulasi. Napas pemuda itu begitu memburu dan wajahnya pucat karena menahan desakan buat berejakulasi. Permukaan penisnya sudah berwarna merah tua ke unguan akibat dipenuhi oleh kumpulan pembuluh darah yang menegang. Rasa gatal nikmat menjalar ke seluruh bagian alat vitalnya. Robert masih menunggu  momen yang tepat buat ia berejakulasi. Adegan demi adegan yang  mendebarkan masih terus menerus terhidang di hadapannya. Di atas ranjang berseprey putih bersih, nampak Lila, wanita cantik yang baru ia nikahi beberapa hari yang lalu, terlentang dalam keadaan telanjang, merintih kenikmatan, dan segera mengalami orgasmenya, di dalam dekapan dua orang pemuda tanggung berkulit gelap berusia sekitar lima belasan, yang memasukan penis berukuran panjang lima belas senti milik mereka secara bersamaan ke dalam liang senggama Lila. Bhichai si anak nelayan asal Phang Nga itu mendekap Lila dari belakang, ia memiliki ukuran penis sedikit lebih panjang dari temannya itu. sementara Parnchand mendekap pinggang Lila dari depan sambil merintih–rintih keenakan. Kedua pemuda ini baru satu jam yang lalu melepas keperjakaan mereka pada Lila sehingga wajar saja keduanya begitu liar dan ketagihan terus-terusan menyetubuhi Lila. Parnchand, pemuda itu bahkan tak pernah lagi menarik lepas penisnya dari liang senggama gadis itu sehingga terjadilah kejadian seperti saat ini. Bhincai yang memang mendapat giliran pertama hampir menangis karena temannya itu tak memberinya kesempatan ke dua buat memasukan penisnya lagi lalu nekat mendesakan penisnya ke liang yang sama.

Robert puas meski harus merogoh koceknya agak dalam buat mendapatkan pemuda sesuai dengan keinginannya. Kedua pemuda itu benar-benar tak berpengalaman dan masih perjaka ting-ting meski demikian harga belinya jauh lebih mahal ketimbang seorang gigolo pro yaitu sebesar 8000 Baht atau sekitar tiga juta rupiah. Saat tiba di hotel siang tadi, kamar mereka di datangi seorang pelayan wanita yang khusus mengurus kebutuhan syahwat para tamu mereka. Wanita itu menyodorkan sebuah foto album berisikan foto para gigolo yang mereka bina secara professional . Semuanya memiliki sertifikat bebas menderita HIV. Awalnya Lila jengah dan tak menyangka Robert memberinya kejutan besar seperti ini. Pantas saja Robert berani mengajaknya berangkat berdua saja tanpa Alfi ikut serta. Rupanya ia sudah merencanakan ini buatnya. Robert memang ingin bulan madu nya bersama Lila dapat memberikan kesan yang mendalam dan tak terlupakan bagi Lila. Tapi mengingat kandungannya sudah memasuki usia empat bulan Lila agak takut-takut  melakukan itu.

“Ibu bisa melakukan cara doggie atau gaya lain dimana kekasih pilihan ibu berada di belakang” wanita itu berkata dalam bahasa ingris memberikan sarannya.

“ba..gaimana inii?”Tanya Lila dengan perasan bercampur aduk antara rasa kuatir, malu dan kepingin.

“Semua terserah kamu manis, kamu mau pilih yang mana?”

Lila membolak balik halaman album sambil menggigit bibirnya.Foto berukuran besar menampilkan pemuda remaja  yang rata-rata berusia remaja seusia Alfi dalam terlihat kondisi telanjang bulat dengan penis mengacung. Ada beberapa yang memiliki kemaluan hampir menyamai milik Alfi. Lila tergelitik dan menatap lama foto dua orang pemuda yang berlebelkan tulisan ‘virgin’ di bawah fotonya.

“kamu mau dia say?”

“Enga ahh” ujar Lila malu-malu.

“Nona, saya pilih anak ini” ujar Robert pada wanita itu. “Dan…..temannya yang ini” Robert menunjuk lagi seorang pemuda lainnya.

“Robbieee?” Lila kaget melihat Robert memberinya supraise lain.

“Ngga pa pa sayang, mereka berdua toh masih perjaka. Mereka belum tentu mampu memuaskan bila sendirian.Besok-besok aku mau kamu cobain ‘Charan’ anak yang penisnya paling gede di foto itu”

Kembali ke pada keadaan dimana Lila sedang digumuli ke dua perjaka itu. Lila sendiri dalam keadaan melayang ke langit ke tujuh. Baru kali ini vaginanya terasa sedemikian penuh karena harus di desaki oleh dua buah penis sekaligus.

“Robbieeeee……Ouggggghhhh” pekik Lila sambil mendekap tubuh Parnchand yang berada dihadapannya erat-erat. Orgasme besar melanda dirinya. semua otot-otot panggul dan sekitarnya berkontaksi hingga kebagian dalam liang senggamanya.

“Aoooooooo… โปรดปราน!!!!!”

Kedua pemuda itu menjerit bareng ketika cicin-cincin yang terdapat di sepanjang liang senggama wanita cantik dipelukan mereka itu mencengkram dan menghisap penis mereka bagai sebuah kompresor. kenikmatan menyengat pada seluruh syaraf-syaraf yang tersebar pada batang-batang penis mereka. Dan ketika aliran sperma menjalar di sepanjang saluran kencing mereka tak ada kemampuan bagi mereka berdua buat menahannya. Beberapa detik kemudian penis Parnchand lebih dahulu memuncratkan cairan kenikmatannya lalu di susul oleh Bhichai. Pancutan demi pancutan sperma susul menyusul memancar dari lubang pipis kedua pemuda itu. Begitu melimpah, kental, dan lengket. Parnchand ambruk. Rasa-rasanya ia tak mungkin punya stock sperma buat di semprotkan lagi. Ia memang paling sering muncrat ketimbang temannya. Bhincai mendorong tubuh Parnchand ke samping menjauh dari tubuh Lila. Namun ketika Bhincai hendak menindihnya Lila malah bangkit dari tempat tidur lalu berjalan menuju kamar mandi. Lila tak menghiraukan keinginan anak itu buat menyetubuhinya. Nyaris tiga jam-an dalam antrian dan kukungan kedua pejantan muda itu membuat tubuhnya begitu penat dan terasa lengket. Lila ingin membersihkan diri terlebih dahulu agar merasa lebih nyaman.

“Kau belum mau mengeluarkannya?” tanya Lila sambil tersenyum nakal ketika melintasi suaminya yang belum rela membuang spermanya meski penisnya sudah terlihat membiru keunguan.

“Aku baru akan menumpahkannya di akhir petualangan malam ini sayang”

Tanpa Lila ketahui Bhincai-pun menyusulnya masuk ke dalam kamar mandi. Ia berdiri di samping kotak shower di mana Lila sedang asyik mandi di bawah pancuran air shower. Gadis itu terkejut melihat keberadaan anak itu. Anak yang satu ini belum puas pikir Lila. Ia seperti pingin sekali segera bersetubuh lagi itu terlihat dari wajahnya yang kampungan itu.

“Come here…” ujar Lila segaja mempergunakan bahasa ingris berharap anak itu mengerti maksudnya sambil menarik tangan anak itu ke bawah siraman air shower. Bhincai langsung merapatkan tubuhnya ke tubuh gadis itu. Ia tak dapat menahan diri melihat keindahan payudara Lila yang mengantung bagai buah melon kembar  dihadapannya. Bagai seekor kalong yang menemukan buah yang matang di pohon ia  meyergap dan menghisap daging mungil berwarna merah muda itu dengan kuat. Tubuh tinggi semampai Lila lebih jangkung sepuluh sentian darinya sehingga Bhincai kesulitan buat menjejalkan penisnya ke dalam belahan vagina Lila. Lila membiarkan anak itu ‘berusaha’ sendiri buat menemukan jalan masuk ke dalam tubuhnya. Tiga..empat lima kali ia mencoba mencobloskan ujung penisnya yang bulat itu bahkan dengan menjinjitkan kakinya namun hasilnya tak juga memuaskan. Sesekali ia berhasil masuk namun kembali dengan cepat penisnya terlepas lagi karena goyangan tubuh Lila.

Lila tersenyum geli mendengar gerutu kesal yang tak dimengertinya dari anak itu. Puas ia mengoda hasrat anak itu. Sambil  bersandar pada dinding di belakangnya ia menekuk lututnya sehingga bagian pinggulnya perlahan merendah ke ukuran yang ideal buat  bocah thai itu mempenetrasinya.

Cleeppp!!!

“Ohhhhh… Bhincaiiii” pekik Lila Lirih. Ketika penis anak itu berhasil bersarang dengan sempurna di dalam vaginanya. Bhincai mengocok dengan cepat meskipun ia tak begitu merasa nyaman dengan posisi ini karena dengkulnya sedikit gemetaran. Lila mengimbangi gerakan anak itu dengan memutar pinggulnya bagai goyangan yang sering di pertunjukan oleh salah seorang artis ibukota. Ternyata ada juga faedahnya gerakan tersebut bila dipergunakan ditempat yang semestinya pikir Lila.  Alhasil Bhincai-pun menjadi melolong-lolong keenakan. Ctap!..ctap!…ctap Bhincai menghentakkan pinggulnya lebih cepat lagi. Sesuatu yang nikmat dan sejak tadi ia tunggu kembali mendesak untuk keluar dari ujung kemaluannya. Lila menarik lepas mulut Bhincai dari putting payudaranya lalu mengantinya dengan ciuman yang panas. Mata Bhincai yang terpejam sontak terbelalak ketika Lila mengunakan seluruh kekuatan otot-otot kemaluannya. Kenikmatan itu sudah sampai pada puncaknya dan tak dapat ia tahan lagi.Tangan anak itu mendekap pinggang Lila erat. Bhincai melakukan hujaman terakhir disertai dengan semburannya air kenikmatan dari alat kelaminnya. Crott…crutttt..cruttttt, Meski ejalulasinya telah tuntas namunBhincai masih memeluk Lila dalam keadaan berdiri. Tautan kemaluan mereka sudah  terlepas ketika Lila tak lagi bertopang pada lututnya. Sambil membersihkan diri Lila juga membasuh penis anak itu. menyabuninya sehingga perlahan benda yang sempat mengecil itu kembali berdiri dengan kaku dalam remasan jemarinya. Lila sering melakukan itu pada Alfi bila mereka mandi bersama dan setelah itu biasanya mereka pindah ke kamar tidur dan melanjutkan persetubuhan di atas tempat tidur. Sepertinya Lila ingin melakukan hal yang sama pada Bhincai. Ia tahu  Bhincai sudah siap buat memberinya sebuah orgasme yang kuat di atas ranjang.

“Maaf.. bolehkah aku masuk sayang?” terdengar suara Robert yang ikut masuk kedalam kamar mandi.

“Sayanggg?…kamu mengintip kami? Dan Oh…. kamuu sudahh…” tanya Lila setelah melihat melihat batang penis suaminya yang sudah belepotan dengan sperma. Ini kali kedua Robert mengintip dirinya sedang bercinta setelah kejadian bersama si Alfi di klinik tempo hari.

“Oh.. La..kamu memang istri yang aku idam-idamkan. Maafkan aku telah lancang mengintip kalian ” ujar Ribert mengecup kening istrinya dengan penuh kelembutan.

Ternyata Robert memang telah lama mengintip persetubuhan lanjutan yang panas antara istrinya dan Bhincai sejak tadi. Hingga akhirnya berejakulasi di balik pintu kamar mandi. Robert lalu nampak berbicara pada Bhincai dalam bahasa Thai. Robert sempat mempelajari dan menggunakan sedikit-sedikit bahasa itu sejak bergaul dengan Bianca dulu.

“Ada apa sayang?” tanya Lila  melihat perubahan pada wajah anak itu yang terlihat agak kecewa.

“La, sepertinya mereka sudah harus berkemas karena ini sudah waktunya mereka pulang”

Jam sepuluh malam waktu bagi ke dua pemuda itu dijemput kembali oleh orang yang mengantar mereka sore tadi untuk di antar pulang ke rumah mereka masing-masing.

Robert menjelaskan jika jasa mereka tak dapat di nikmati hingga pagi harinya meski ia mampu untuk membayarnya. Ini sudah perjanjian antara si germo dengan orang tua mereka. Anak-anak lelaki remaja di sana harus berada di rumah buat membantu ibu mereka memilah-milah ikan hasil tangkapan ayah mereka keesokan paginya.

“Tapi punya Bhincai masih kaku dan sepertinya ia masih pingin lagi juga” rengek Lila

“Kita harus mentaati perjanjian dengan keluarga mereka. Lagian otot-otot Penis muda mereka sudah kelamaan tegang La, jika kau paksakan mereka bakal kesakitan” bujuk Robert pada istrinya yang masih dipenuhi gairah bercinta itu.

Meski agak kecewa Lila harus melepas ke duanya pulang. Lila menolak ketika Robert mencoba menawarkan jasa seorang pria lain yang lebih dewasa. Ia tak ingin mengambil resiko keguguran. Bukankah masih ada hari esok dan Toh masih ada Robert suami tercintanya yang akan mengaulinya malam ini pikirnya.

****************************

Pukul 01.00 malam waktu setempat

Malam semakin larut Lila tak juga mampu memejamkan mata. Gairahnya masih menggelora belum tertuntaskan oleh kejantanan Robert. Belum apa-apa ia jadi rindu  pulang. Ia rindu akan kejantanan Alfi. Hanya anak itu yang mampu memuaskannya.

Perlahan ia bangkit dari tempat tidur. Lila pergi ke teras buat menikmati pemandangan malam yang diterangi bulan. Tiba-tiba pandangannya menangkap sosok seseorang yang sedang duduk di atas pasir tak jauh dari kamarnya. Meski secara samar-samar Lila  dapat mengenali orang tersebut.

“Bhincai?” bisik Lila. Gadis itu memakai kimononya lalu turun ke lantai bawah. Ia sengaja tak membangunkan Robert yang sedang tertidur pulas di tempat tidur. Lalu berjalan menuju ke arah pantai.

Benar saja orang itu memang Bhincai adanya. Namun ia terlihat seperti takut-takut saat melihat Lila. Ia baru berani mendekat setelah Lila memberi isarat dengan tangannya. Meski agak ragu-ragu ia akhirnya datang menghampiri Lila

 “Kamu kembali lagi?”Tanya Lila padanya meski ia tak yakin anak itu mengerti apa yang ia ucapkan..

Tiba-tiba anak itu meraih tangannya dan menariknya menuju ke rerimbunan semak.

Lila tahu apa yang anak itu inginkan. Ia dapat melihat celana usang anak itu menonjol menandakan ia sedang berereksi dengan kerasnya. Anak ini nekat berjalan kaki menempuh jarak lima kilometer hanya buat kembali menemuinya malam ini buat melakukan persetubuhan dengannya. Lila menduga Bhincai tak dapat jatah yang cukup saat bersetubuh dengannya sore tadi. Ia tahu Bhincai pasti ketagihan setengah mati pada pesona liang vaginanya. Karena tak ingin mengecewakan harapan anak itu dan ia sendiri memang sedang menanti seorang penjantan buat menuntaskan gairahnya yang masih membara maka Lila menurut ketika anak itu merebahkan dirinya di atas tanah berpasir lembut.. Ini bukan lagi sewa menyewa. Kali ini baik Lila maupun Bhincai akan memperoleh manfaat yang besar dari hubungan yang gratis ini!

Dengan sekali singkap kimono Lila terbuka sehingga tubuh indah itu terlihat bercahaya di sirami oleh sinar rembulan begitupun dengan Bhincai yang tergesa-gesa melepas kaus dan celana usangnya dan melemparkannya jauh-jauh. Lila tahu pemuda ini sangat tidak berpengalaman. Ia tidak seperti Alfi. Namun Lila justru menikmati keluguan pemuda ini. Tak ada Foreplay. Bhincai langsung membenamkan penisnya ke dalam liang cinta yang telah merengut keperjakaannya tadi sore itu. Benda itu menancap sempurna namun masih terlalu jauh untuk dapat menggapai dasar vagina Lila. Bagian itu hanya dapat di sentuh oleh ujung kulup si Alfi. Bhincai terpekik tertahan ketika Lila menggunakan kembali otot-otot kewanitaannya buat mencengkram penisnya. Penis muda itu terhisap kencang  seakan vagina itu bergerak menelannya bulat-bulat. Nikmatnya bukan kepalang. Sensasi  ini yang membuatnya ketagihan sehingga ia ingin selalu terus mengulang-ulang merasakan persetubuhan dengan wanita ini. Lila membiarkan anak itu mengumulinya dengan liar. Pantat kecil bulat itu berayun-ayun ketika ia mengeluar masukkan penisnya dengan cepat seperti sebuah piston. Satu menit berjalan anak itu mendekap Lila erat. Penis mudanya berdenyut hebat dalam sedotan liang senggama Lila lalu memuntahkan sperma kental. Crott…crott..crott..crot…Bola mata  Bhincai mendelik begitu ia berejakulasi. Tubuh ramping anak itu terhentak hentakan dalam dekapan tubuh sintal Lila hingga orgasmenya tuntas. Terbayar sudah usaha kerasnya berletih-letih berjalan kaki dari dusunnya hingga kemari buat mendapatkan kenikmatan dari Lila malam ini. Ia senang sekali sebab kali ini tak ada si serakah Parnchand yang bakal mengganggunya. Ia dengan tenang dan bebas dapat menikmati tubuh si cantik ini sepuasmya.Wow….Bhincai….ia masih terus memompa Lila meski baru saja berejakulasi. Penisnya masih berdiri kukuh. Anak itu memiliki gairah dan daya tahan yang lebih kuat ketimbang temannya si Parnchand. Bhincai-pun cepat mengerti apa yang di inginkan Lila ketika gadis itu menarik kepalanya menuju ke arah bagian payudara. Mulutnya segera menerkam putting susu berwarna merah dihadapannya lalu menghisapinya secara bergantian dengan liar.

Setelah sekali berejakulasi tadi, Bhincai terlihat bisa bertahan lebih lama. Hal tersebut akhirnya mampu membuat Lila mulai merasakan kenikmatannya. Semakin lama  kenikmatan itu semakin menyengat. Penis ramping anak itu ternyata cukup mampu mendatangkan rasa nikmat baginya. Dan Lagi-lagi! Bhincai terpekik lirih. Penisnya kembali tersentak dan kali ini berbarengan dengan datangnya orgasme Lila.

“Oggghhhh… Bhincaiiiiiiiii” pekik Lila tertahan.

Orgasmenya datang bagai gelombang air pasang yang menyapu kesadarannya. Ini sebuah orgasme yang begitu kuat meski dihasilkan oleh sebuah penis yang tak begitu besar. Sensasi keliaran di alam terbuka seperti ini menjadikan persetubuhan ini begitu mendebarkan yang mampu mendorong sebuah orgasme menjadi lebih kuat dan nikmat. Bhincai baru mereda setelah tiga kali mendapat orgasme yang kuat. Tampaknya stock sperma yang terproduksi sejak ia mengalami puber telah habis tanpa sisa berpindah ke dalam vagina Lila. Sementara Lila memperoleh satu kali lagi orgasme seperti sebelumnya. Gadis itu sangat puas karena hasratnya sudah terpenuhi oleh kehadiran anak itu. Bhincai terlihat meringis karena  merasakan sedikit nyeri mendera testisnya. Ternyata benar apa yang Robert katakan sebelumnya. Lila baru paham anak yang baru kehilangan keperjakaan itu seharusnya tak boleh berejakulasi sedemikian sering pada persetubuhan perdananya. Otot-otot selangkangannya jelas belum terbiasa terus menerus dalam ketegangan. Keduanya masih berbaring berpelukan di atas pasir sejenak meredakan napas mereka yang tersengal-sengal.

“Kamu bakal menjadi penjantan sejati, kelak” bisik Lila sambil mengelus kepala anak itu

Lima menit kemudian Bhincai mencabut lepas batang kemaluan yang mulai menguncup kecil. Air maninya mengalir keluar dari vagina Lila dan tumpah di pasir.  Lalu ia mengecup ke dua pipi Lila seakan-akan mengucapkan pamit sekaligus rasa terima kasihnya pada wanita yang telah mengenalkannya dengan dunia kedewasaan itu. Lalu dengan agak terpincang-pincang karena kedua dengkulnya gemetaran, ia bangkit dan memunguti pakaiannya yang tercecer. Lila masih dapat melihat lambaian tangan pemuda itu kepadanya sebelum akhirnya ia lenyap dari pandangannya di tengah kegelapan malam.

Lila tersenyum-senyum sendiri  merasakan pengalaman yang luar biasa selama di negeri gajah putih ini. Ia kembali ke kamar. Kimononya jatuh ke lantai. Setelah membersihkan diri dari butiran pasir dan sperma Bhincai di kamar mandi, Lalu ia naik ke atas tempat tidur dan kembali menyusupkan kepalanya di dada bidang sang suami tampannya. Tanpa sengaja jemari tangannya menyentuh perut Robert dan menemukan begitu banyak lendir yang lengket di situ. Dari baunya Lila sadar itu adalah cairan sperma yang masih baru di muncratkan dan ia yakin itu bukan milik Bhincai karena ia sudah membasuhnya hingga bersih dari tubuhnya. Ditengah keheranannya  tiba-tiba….“Cup” sebuah kecupan lembut mendarat di keningnya. Oh…Apakah… suaminya yang gemar mengintip ini tahu apa yang baru saja terjadi? Jika demikian pastinya sperma ini adalah milik….. Akh…Lila tak perduli lagi. Ia kembali menutup matanya dengan sunggingan senyum penuh kebahagiaan.

Tamat
###################################################

===============================
Cinta Sang Bidadari Buat Alfi 1
===============================

Mentari pagi menerobos lembut kaca jendela ke dalam rumah. Di pagi cerah penuh simfoni terlihat Sandra sedang duduk termagu-magu di ruang keluarga. Meski belum mandi dan berias namun wajahnya yang bulat telur tetap saja terlihat cantik. Hidungnya meliuk dari dahi ke bawah dan meruncing di bagian ujung membentuk sudut yang manis dengan bibirnya yang sensual. Ia memang memiliki semua anugrah yang di idamkan kaum wanita. Kulitnya yang halus berwarna putih menambah keelokan tubuh sintalnya. Sayang tak ada senyum dan keceriaan menghiasi wajahnya saat itu. Wajahnya yang cantik itu justru menggurat sebuah kesedihan. Nampak Didiet sang suami baru saja keluar dari kamar dengan menyandang sebuah koper kecil. Pagi ini ia harus berangkat ke kota G. Ia menoleh di mana sang istri tercinta duduk menatap sesuatu di kejauhan padahal sesungguhnya dia tak melihat apapun di sana.

“Say, aku sudah siap.”

“Sarapan saja dulu biar aku temani” ajak Sandra bangkit dari kursi.

Mereka pergi menuju ke ruang makan. Di atas meja  sudah tersaji nasi goreng kegemaran Didiet. Sandra tak banyak bicara sejak semalam. Mereka duduk berseberangan meja.

“Tidak ikut sarapan Say?” tanya Didiet saat melihat Sandra hanya dengannya tanpa membalik piring makan.

“Biar nanti saja. Aku belum merasa lapar”

Didiet tak mau banyak bertanya lagi. Ia tahu suasana hati istrinya saat itu sedang tidak bagus. Sesungguhnya ia tak tega meninggalkan cintanya itu sendirian dalam keadaan demikian. Namun Sandra bersikeras tak ingin ikut dengannya kali ini. Kesedihan Sandra bukannya tanpa sebab. Semua itu dimulai sekitar satu bulan yang lalu ketika itu ia melakukan test kehamilan dengan mempergunakan alat test yang banyak dijual di pasaran. Hasilnya menyatakan bahwa ia telah ‘positif’ hamil. Entah apakah karena barang tersebut diproduksi secara masal sehingga tidak akurat hasilnya. Ataukah dikarenakan ia terlalu gembira dengan hasil instant tersebut hingga tak lagi melakukan test yang lebih akurat di klinik Lila. Yang jelas setelah satu bulan berjalan, dan baru tadi malam setelah mereka memeriksakan diri pada Lila, di sanalah mereka baru mengetahui  bila hasil yang di perlihatkan alat tersebut ternyata salah. Memang belum terjadi kehamilan pada dirinya hingga saat ini. Kenyataan itu tak hanya sangat mengecewakan hati Sandra  namun juga meninggalkan kesan tidak mengenakkan bagi ia dan Didiet karena mereka sudah terlanjur mengadakan acara penyambutan atas kehamilan tersebut dengan mengundang teman-teman dan kerabat dekat mereka.

“Dit…Apa kata mereka jika mengetahui bahwa aku sebenarnya belum hamil?” Tanya Sandra saat Didit selesai menyantap sarapan. Didiet maklum jika istrinya itu masih diliputi perasan gusar dan sedih.

“Sudahlah manis, tak perlu lagi kau risaukan hal itu. Kukira mereka semua bisa mengerti akan kondisi kita” kata Didit berusaha menghibur istrinya.

“Mengapa hal ini terjadi padaku Dit? Di saat wanita lain dengan mudahnya hamil sedangkan aku yang memiliki dua pria sekaligus dalam hidupku malah tak kunjung  hamil ” keluh Sandra.

Didiet menghela napas sungguh ia tak bisa berbuat banyak. Padahal sejak diketahui Sandra sulit hamil, dia-pun tak pernah lagi mempergunakan alat kontrasepsi saat berhubungan intim dengan istrinya sebagaimana halnya Alfi.

“Bukankah Lila pernah mengatakan jika dirimu bukannya tak mungkin hamil namun hanya perlu waktu” Ujarnya saat  teringat penjelasan Lila saat Sandra melakukan pemeriksaan medis secara lengkap kira-kira satu tahun yang lalu.Hasil pemeriksaan ketika itu sangat mengejutkan mereka berdua. Diketahui ternyata Sandra memiliki rahim yang terbalik atau terlipat ke belakang dalam bahasa medisnya di sebut uterus retrofleksi. Pada umumnya letak rahim seorang wanita menghadap ke depan atau disebut antofleksi. Hal itu kemungkinan terjadi karena adanya perlengketan rahim dengan organ rektum yang dapat disebabkan oleh adanya riwayat infeksi pada organ kandungan. Tapi menurut Lila mereka tak perlu kuatir karena hal itu tak membuat Sandra tak dapat hamil namun hanya agak lambat saja.  Lebih lanjut Lila menyarankan agar mereka melakukan hubungan intim dalam posisi tengkurap atau lazim disebut knee-chest position, hal itu diharapkan dapat membuat posisi rahim kembali ke posisi yang normal. Lalu setelah persanggamaan usai di bawah  panggul Sandra harus diganjal dengan bantal dan kedua kaki di angkat atau disandarkan pada dinding. Ia harus tetap diam dalam posisi itu selama kurang lebih 15 menit-an. Tujuannya selain agar sperma tidak tumpah keluar dan memberinya  kesempatan agar dapat masuk ke saluran telur atau tuba fallopi dalam jumlah yang cukup banyak untuk selanjutnya membuahi sel telur atau ovum  disana. Tentu saja ada cara lain apabila upaya tadi tetap tak membuahkan hasil yaitu dengan jalan operasi untuk mengembalikan posisi rahim sekaligus melakukan terapi terhadap penyebabnya. Demikian penjelasan dari Lila kala itu.

“Tapi sampai kapan kita harus menunggu, Dit? Sudah hampir dua tahun kita menikah dan selama satu tahun ini semua saran Lila sudah kita lakukan  termasuk mencoba posisi bersanggama seperti yang  ia anjurkan pada kita.namun hasilnya tetap saja nihil. Atau haruskah aku menempuh jalan terakhir …operasi?”

“Sayang.. sayang.. aku tak ingin membiarkan dirimu menempuh resiko terlalu besar demi sebuah kehamilan. Sepertinya kita dituntut untuk bersabar sedikit lebih lama lagi. Asalkan kita tak berputus asa, aku percaya dan yakin jika suatu hari nanti seorang bayi mungil dan lucu pasti datang buat kita. Kau dengar aku manis” Bisik Didiet memeluk hangat tubuh si cantik itu dan mengecup lembut bibir dan keningnya.

“Ya Dit, Maafkan aku bila sudah ikut membebani pikiranmu”. Sandra sadar ia tak sendirian menghadapi masalah ini. Bukankah ada Didiet di sisinya. Memang Ia sangat membutuhkan dorongan secara moril dari suaminya itu. Namun demikian tak seharusnya ia terlalu berlarut-larut dalam keresahan seperti sekarang ini. Bukan tak mungkin  keluhan-keluhannya justru membuat suaminya ikut-ikutan tenggelam dalam keresahan sehingga mengganggu pekerjaannya. Tentu saja Sandra tak menginginkan hal itu terjadi.

“Sttt…sudahlah.” Didiet melirik ke arah arlojinya.

“Sudah tiba waktunya aku harus pergi. Apakah kamu yakin tak ingin menemaniku manis?” ujarnya

Sandra menggeleng lemah.

“Akhir-akhir ini aku merasa kondisi fisikku tak begitu baik Dit. Itu mungkin disebabkan kerena selama satu tahun ini aku selalu bolak balik menemanimu ke kota G. Bukankah Lila juga mengatakan jika salah satu penyebab sulitnya terjadi pembuahan dikarenakan factor keletihan. Karena itu aku memutuskan untuk tidak pergi bersamamu dulu kali ini”

“Baiklah. Mungkin benar kau butuh istirahat. Baik-baiklah di rumah. Ajak bik Iyah menemanimu selama aku pergi. Apabila nantinya kamu mulai bosan di rumah, susul aku manis”

Sandra masih membalas lambaian suaminya sebelum kendaraannya lenyap dari pandangan..

***********************

Bik Iyah adalah seorang pembantu yang telah bekerja selama lebih dua puluh tahun pada orang tua Sandra. Bik Iyah juga adalah pengasuh Sandra di saat masih kecil. Selama ini ia sering dimintai Sandra buat menemaninya apabila ia ditinggal ke luar kota oleh Didiet seperti sekarang ini. Wanita tua adalah seorang yang sangat setia dan tak banyak bicara. Ia bahkan tahu mengenai ‘rahasia” kehidupan rumah tangga Sandra dan Didiet. Meski demikian ia tak pernah mengatakan hal itu pada siapapun. Sebenarnya Sandra memiliki seorang pembantu sendiri bernama bik Nah. Namun agar rahasia di dalam rumah ini tetap aman sengaja Bik Nah bertukar posisi dengan Bik Iyah. Matahari sudah agak meninggi saat bik Iyah muncul. Tapi ia tak datang sendirian. Bersamanya ikut pula seorang pemuda tanggung.

“Siapa dia bik?”

“Ini Paijo keponakan saya Non. Dia baru datang kemarin dari kampung.” Jelas bik Iyah. Meskipun sang nona majikannya itu sudah dua tahun menikah namun ia masih saja memanggil dengan sebutan non.

Bik Iyah menjelaskan bahwa ibu  Paijo  adalah adik kandungnya. Usia Paijo baru menginjak 16 tahun. Kurang lebih enam tahun yang lalu telah terjadi sebuah bencana besar di desa mereka yang terletak di sebuah lembah bukit.. Ketika itu hujan turun dengan lebatnya selama dua hari dua malam. Lereng bukit yang gundul oleh penebangan liar tak mampu menahan terjangan air yang ditumpahkan dari langit. Ribuan kubik tanah tergerus turun dengan cepat menuju lembah di mana desa Paijo berada. lalu  dalam hitungan detik menerjang puluhan rumah penduduk. Tak hanya harta benda yang menjadi korban, bencana itu juga merengut jiwa puluhan penduduk desa itu termasuk kedua orang tua Paijo.. Di usianya yang belum genap 10 tahun Paijo telah menjadi yatim piatu. Tak ada sanak familinya yang tersisa tinggal hanyalah Bik Iyah sang Bu de.

Karena semua kerabat dekat mereka ikut menjadi korban maka sejak itu pula  Bik iyah terpaksa harus mengambil alih tanggung jawab sebagai orang tua bagi Paijo termasuk membiayai hidup dan sekolahnya. Lalu Paijo dititipkan bik Iyah pada seorang duda  tua budiman yang mau menampung Paijo di rumahnya. Dengan demikian ia dapat terus bersekolah dan tak harus ikut bu de-nya bekerja di kota.

Sandra memperhatikan penampilan pemuda itu dari kepala sampai ujung kaki. Tak ada yang istimewa. Seperti kebanyakan anak kampung lainnya. Kulitnya hitam kesat hangus terbakar sinar matahari. Bahkan lebih hitam dari si Alfi. Sebuah kemeja putih usang yang tak bisa dikatakan putih lagi membalut tubuh kurus ceking itu. Ada hal yang menggelitik bagi Sandra saat ia melihat gaya rambut pemuda itu dalam potongan menyamping dan awut-awutan.Bagian depan sepertinya sengaja di biarkan tumbuh panjang hingga menutupi mata kirinya. Kerap kali tangannya harus menyibakan bagian itu  atau dengan mengayunkan kepalanya kesamping agar tak mengganggu pandangannya. Sebuah tali hitam yang tipis melilit ketat pada leher anak ini membuat ia semakin terlihat norak dan kampungan. Namun dibalik itu semua terlihat kepolosan dimata anak itu. Terkesan seperti seorang anak desa yang belum teracuni oleh kebiasaan dan cara pergaulan anak-anak muda di kota.

“Saya minta ijin dari non karena saya mengajak dia bersama saya.  Paijo ini belum bisa apa-apa jadi saya terpaksa mengajaknya kemanapun saya kerja dengan begitu ia bisa belajar melakukan pekerjaan-pekerjan rumah tangga”ujar Bik Iyah.

“Tidak apa-apa bik. Saya tak keberatan kok. Biarkan ia  menginap bersama bibik  sekalian bisa membantu bibik selama di sini”

“Makasih non. Nah  Jo bilang terima kasih sama Bu Sandra”

“Terima kasih bu” ucap anak itu

“Mumpung masih pagi bibik pergi belanja ke pasar dulu.”

Setelah bik Iyah pergi. Sandra terlihat sibuk memasukan satu persatu cucian  ke dalam mesin cuci. Meski selama ini ada bik Iyah dan Bik Nah yang membantunya. Ia tetap melakukan sendiri beberapa pekerjaan-pekerjan rumah. Sandra sangat menyadari tanggung jawabnya sebagai seorang istri. Apalagi dalam suasana hati yang kurang menyenangkan seperti sekarang ini. ia lebih baik memiliki cukup kegiatan agar tak terus larut dalam kegelisahan.

“Bu, biar saya saja yang mengerjakannya” tiba-tiba terdengar suara seseorang menyapanya.

“Oh..kamu Jo. Kamu pernah dan bisa mencuci dengan mesin cuci Jo?” ternyata suara tadi  memang benar suara Paijo. Anak itu menawarkan diri untuk membantu. Ternyata Paijo cukup tahu dirisetelah ia sudah diberi tumpangan tinggal di sini.

“Belum bu. tolong ajari saya biar selanjutnya saya bisa sendiri”

Ternyata Paijo dengan cepat memahami semua petunjuk yang diberikan Sandra.

“Kenapa ke kota Jo? Bukannya kamu seharusnya masih sekolah” Tanya Sandra membuka percakapan. Sedari tadi anak itu lebih banyak diam dan cuma bicara seperlunya saja. Sandra berusaha menghilangkan kecanggungan itu.

“Cari kerja bu”

“Mengapa harus capek-capek kerja bukankah masih ada Bik Iyah yang membiayaimu.”

“Tak mengapa bu, saya juga tak mau terus-terusan membebani bu De buat membiayai sekolah dan hidup saya di kampung. Lagian saya kerja biar bisa ngasih nafkah buat istri saya bu”

“Ha…istri? Kamu sudah beristri Jo?” ujar Sandra terperanjat mendengar kasus kawin muda seperti ini ternyata masih saja terjadi dijaman millennium seperti sekarang ini.

Sungguh keterlaluan pikir Sandra karena masih ada saja orang tua yang tak mengerti akan pentingnya sebuah pendidikan bahkan membiarkan anak-anak mereka kawin di usia muda demi hal-hal yang berbau mitos dan kekolotan. seperti masih saja percaya pada pepatah banyak anak berarti banyak rejeki-nya.

“Bik iyah mengijinkan kamu menikah?”

“Tidak bu. Itu semuanya memang salah saya. Itu karena saya tidak menuruti omongan bu de ” Sandra melihat kegugupan pada Paijo saat mengatakan itu. Seakan ada sesuatu yang sengaja hendak ia tutup.

“Hmm…Lantas dimana istrimu sekarang?”

“Masih di kampung bersama ibu mertua saya”

“Loh kok ditinggal? kan bisa ikut kerja juga”

“Soalnya dia sedang hamil bu. Kasihan kalau dia harus ikut saya ke sana kemari sedangkan di sana ada keluarganya yang ngurus”

“Apaa Hamil?! Istrimu sudah HAMIL?” Sandra kembali tersentak kaget mendengar pengakuan Paijo tersebut. mendadak hatinya terasa perih. Ia jadi teringat lagi akan persoalannya. Apalagi mendapati kenyataanan bahwa begitu gampangnya seorang gadis hamil.

“Bu..? bu Sandra”

Sandra tersadar dari lamunannya saat mendengar namanya dipanggil berulang-ulang oleh Paijo.

“Ibu tidak apa-apa?” Tanya Paijo heran melihat majikan barunya itu mendadak diam dalam waktu yang cukup lama.

“Eh..u.ya. Pasti kamu berhenti sekolah karena Surti hamil kan?” tebak Sandra. Sedikit demi sedikit ia mulai faham urut kejadian dan apa penyebab Paijo harus datang ke kota S ini. Ia telah salah menilai tadi. Ternyata anak ini tak sepolos yang ia duga. Tentu saja ia lupa pada masa sekarang ini di mana arus informasi sudah semakin baik malah justru cenderung lebih banyak membawa dampak negative ketimbang baiknya sehingga mempunyai peran besar atas bergesernya nilai-nilai moral kehidupan bagi generasi muda kini. Seperti tayangan sinetron yang kerap mengekspos prilaku kehidupan remaja kota justru banyak ditiru oleh  penonton remaja seperti Paijo.

“I..ya bu” jawab Paijo dengan kepala menunduk. Ia merasa malu karena aib yang telah diperbuatnya di kampung akhirnya di ketahui juga oleh majikan barunya itu dalam tempo yang singkat.

Surti nama gadis itu. Ia  sebenarnya teman sekolahnya Paijo. Surti kedapatan hamil empat bulan. Dan itu perbuatan Paijo. Setidaknya demikian yang diakui gadis itu pada orang tuanya. Paijo-pun tak menyangkal saat dimintai pertanggungjawaban. Ia memang pernah menyetubuhi gadis itu. Singkat cerita agar tak menjadi aib mereka segera dinikahkan. Namun si perempuan tetap tinggal bersama orang tuanya karena mereka dianggap masih terlalu muda dan belum mampu hidup berumah tangga secara mandiri. Sementara Paijo sendiri karena tak lama lagi akan  menjadi seorang bapak ia harus belajar bekerja buat menafkahi anak istrinya kelak Begitulah sepenggal-demi sepenggal kisah hidup yang dituturkan Paijo pada Sandra.

“Kamu tidak usah malu Jo. Meski usiamu masih terlalu muda buat berumah tangga namun  kamu harus memikul tanggung jawabmu sebagai seorang suami dan calon bapak dari janin yang dikandung Surti dengan bekerja secara giat dan bersungguh-sungguh” ujar Sandra menasehati.

“Ya bu. Terima kasih”ucap Paijo lirih. Ia merasa beruntung mendapat seorang majikan yang baik dan perhatian seperti Sandra.

***********************

Jam menunjukan sudah pukul lima sore. Terlihat Paijo sedang mengayunkan strikaan. Lembar demi lembar pakaian ia gosok hingga hampir satu keranjang penuh. Semuanya ia strika dengan rapi. Bu de-nya berpesan agar ia lebih baik melakukan pekerjaannya satu kali dalam waktu yang lama ketimbang terburu-buru namun hasilnya mengecewakan. Hari ini ia telah mengambil alih hampir semua pekerjaan berat bu de-nya di rumah  kecuali memasak. Setidaknya bik Iyah merasa sangat terbantu sekali dengan hadirnya keponakannya itu. Ia pun gembira melihat Paijo melaksanakan tugas yang diberikan padanya dengan giat tanpa mengeluh sedikitpun. Bahkan sejak pagi hari anak itu hanya berhenti sejenak buat makan siang lalu bergegas kembali pada pekerjaannya. Paijo terus mengayunkan strikaan. Semakin lama  tumpukan pakaian yang belum di strika semakin sedikit. Ia senang karena sang bu de memberinya ijin buat pergi jalan-jalan seusai pekerjaan ini. Jemarinya sesekali mengusap peluh yang menjentik di keningnya.

Tiba-tiba ia tertegun sejenak. jantungnya berdegup kencang ketika tangannya mengambil sepotong pakaian berikut yang hendak distrika. Paijo meletakkan strikaan  pada tatakan. Lalu secara perlahan ia mengangkat dan  pentangkan benda di dalam pegangannya itu untuk memandangnya lebih jelas lagi.

“Whoaah..” suara penuh ketabjuban itu keluar secara spontan dari mulutnya yang menganga saat sadar jenis pakaian apa yang sedang ia ambil saat itu.

Benda berwarna krem dan berenda-renda  indah itu tak lain adalah celana dalam milik Sandra. Betapa indahnya! gumam Paijo dalam hati. Belum pernah ia melihat pakaian dalam seindah ini. Hampir seluruh permukaannya tertutup oleh renda-renda hingga menyisakan sedikit saja bagian tertutup di bagian tengah bawah. Tentu saja Paijo tahu bagian mana yang bakal ditutupi itu. Dalam hati ia tertawa. Buat apa orang memakai benda ini jika sebenarnya hampir tak ada bagian yang bisa ditutupi.

Ia menoleh ke dalam keranjang. Iapun menemukan beberapa potong lagi barang sejenis. Lalu ia mengambil sebuah lagi. Ternyata benda yang satu ini adalah pasangan benda pertama tadi. Sebuah bra yang memiliki warna dan motif senada dengan celana dalam tadi. Tiap tonjolan itu berukuran cukup besar dan mampu menampung sebuah jeruk bali paling besar sekalipun.

Lama ia memandanginya seakan ada getaran aneh menembus kalbunya Terbayang  sosok Sandra yang baru kenal pagi tadi. Sungguh! baru pertama kali hatinya begitu takjub akan seorang wanita. Sandra memang wanita muda yang memiliki raga yang sempurna. Wajah cantiknya terlihat begitu ideal dipadu dengan tubuh indah dan sintal. Jantung Paijo  berdebar semakin tak karuan ketika membayangkan Sandra yang  bertubuh tinggi semampai itu terbungkus oleh dua potong pakaian dalam berenda di dalam pegangannya itu. Mendadak ia merasakan ketidaknyamanan pada selangkangannya. Ternyata  kemaluannya membesar secara cepat dan mendesak celana usang dan sempit miliknya. Namun beberapa saat kemudian kesadarannya muncul kembali. Buru-buru ia turunkan kedua tangannya yang sedang memegang pakaian dalam Sandra sambil celingukan ke kiri dan ke kanan. Untung saja saat itu tak ada seorangpun yang memperhatikan perbuatan bodohnya barusan. Ia sadar ia bakal membuat susah dirinya dan bu de-nya apabila bu Sandra mempregokinya saat itu. Rasa takut dan cemas telah mengalahkan napsu-nya yang tadi sempat naik. Bagaikan bara api yang sempat menyala lalu tersiram oleh air es. Selanjutnya ia berusaha keras membuang jauh-jauh semua pikiran negative yang menempel di benaknya dan kembali fokus menyelesaikan pekerjaannya. Lima belas menit kemudian semua pakaian di keranjang telah terstrika rapi. Sesuai dengan pesan bu denya setelah itu ia harus membawa pakaian-pakaian tersebut masuk ke dalam rumah. Ketika ia sampai di depan kamar Sandra. Tiba-tiba saja ia mengurungkan niatnya buat mengetuk pintu. Pintu kamar itu terbuka separuh sehingga membuatnya dapat  melihat ke arah dalam. Paijo terdiam di tempat tanpa kuasa membuang pandangannya ke arah lain. Saat itu ia melihat majikan barunya Sandra sedang duduk bibir tempat tidur dengan satu buah kakinya terjuntai ke bawah sedangkan yang satunya ia letakan di atas ranjang. Wanita cantik itu hanya memakai pakaian tipis dan pendek. Begitu pendeknya sehingga kakinya yang indah dan panjang terbuka  hingga ke pangkal pahanya. Jemarinya tengah membalurkan cream ke setiap jengkal kulit pada kakinya yang kencang dan tak ada lemak sedikitpun. Tangan Paijo gemetar memegang bakul strikaannya saat memperhatikan betapa kulit wanita itu begitu putih dan membuat tampilan kaki berkilau menggoda saat terkena pantulan sinar mentari sore yang menerobos dari celah-celah kain tirai.

Baru kali ini ia percaya akan  sebuah ungkapan tentang keindahan betis seorang wanita yang diumpamakan sebuah padi membunting itu. Penisnya menggeliat di dalam kesesakkan dan keterbatasan ruang. Bereaksi alamiah dan tak ada kekuatan apapun yang mampu menghalanginya untuk membesar dengan cepat. Naluri kejantanannya yang dengan susah payah ia redam tadi tergiring kembali pada gelora yang kini tak terkendali.

Paijo meletakkan keranjang pakaian itu di luar kamar dekat pintu. Lalu bergegas pergi dari situ sebelum Sandra menyadari kehadirannya. Ia berlari menuju kamarnya. Mengunci pintu dari dalam. Dan dengan tergesah-gesah membuka celana nya. Lalu mengeluarkan miliknya telah berair dan didera rasa gatal. Tak lama kemudian ia sudah merintih-rintih oleh kenikmatan bermasturbasi dalam tuntunan imajinasinya. Melepaskan rasa geli yang menyengat penisnya dengan hentakan-hentakan ejakulasi. Lalu membawanya tertidur dalam keletihan dan kelegaan. Paijo baru terjaga ketika bu denya mengetuk pintu kamarnya.

“Jo bangun!”

“Ada apa bu de?” tanya paijo setelah membuka pintu kamar. Ia masih mengucek-ngucek matanya.

“Hari sudah mampir gelap. Kamu lekas mandi. Setelah itu kamu bantu bu de menyiapkan makan malam” ujar bik Iyah. Paijo melihat ke arah jam dinding ternyata sudah pukul enam lewat sepuluh.

“Baik bu de” jawab Paijo. Tertidur sejenak barusan cukup dapat memulihkan tenaganya serta rasa gelisahnya terhadap Sandra.

Kala usai makan malam Sandra sempat melintas ke dalam dapur di mana Paijo saat itu sedang mencuci piring. Detak jantung Paijo kembali berpacu ketika mencuri pandang ke arah nyonya majikannya itu. Wajar saja wanita cantik ini begitu percaya diri selalu menggunakan baju terusan yang pendek jenis baby doll karena ia memang memiliki dua batang kakinya yang panjang dan sangat indah mempersona.
Paijo

Paijo

***********************

Pukul delapan. Sandra sedang melewati malam itu dengan membaca sebuah majalah di atas tempat tidurnya. Lembar demi lembar ia baca hingga akhirnya ia meletakkan majalahnya tersebut setelah merasa tak ada lagi artikel yang menarik untuk dibacanya. Pandangannya menatap ke arah langit-langit kamar. Pikirannya menerawang jauh. Malam ini terasa begitu sepi dan membosankan. Ia merasa sedikit menyesal mengapa menolak tawaran Didiet untuk ikut ke kota G. Beberapa bulan belakangan Alfi mulai jarang menginap. Itu terjadi sejak semakin banyaknya wanita yang masuk ke dalam kehidupannya. Sandra-pun akhirnya harus rela berbagi waktu dengan mereka. Meski sebenarnya ia sendiri tak bakal mampu meladeni napsu Alfi yang tak pernah ada mati-nya itu. Namun ketika anak itu semakin jarang mendatanginya ia justru semakin kesepian dan merindukan belaiannya. Terutama di saat-saat di tinggal sendiri oleh suaminya seperti sekarang ini. Malam belum terlalu larut namun Ia tak melihat bik Iyah maupun Paijo sejak tadi. Ia tahu kebiasaan perempuan tua itu yang selalu tidur lebih awal setelah pekerjaannya selesai. Namun si Paijo apakah juga sudah tertidur juga? Biasanya orang desa yang merantau ke kota seperti mereka selalu menghabiskan waktu buat menonton acara televise hingga larut malam. Mungkin saja Paijo  kelelahan akibat sehari-harian sejak pagi hingga sore membantu bik Iyah mengerjakan sebagian besar pekerjaan di rumah ini. Ia berniat meminta bik Iyah menemaninya. Biasanya iapun bisa minta wanita tua itu untuk memijit tubuhnya. Sebenarnya ia tak berniat membangunkan pembantunya itu namun Ia sangat tak menyukai  kesendirian seperti sekarang ini.

Sandra keluar dari kamar dan berjalan menuju ke arah belakang rumahnya. Bagian tersebut terpisah dari bagian utama rumah yang terdiri dari dapur, laundry, kamar pembantu 2 buah, satu buah kamar mandi. Dan kamar Bik Iyah terletak paling ujung setelah kamar Paijo. Saat melintasi kamar Paijo langkahnya terhenti. Sandra mendengar suara-suara aneh kedengarannya mirip seseorang yang merintih-rintih dan sepertinya ia mengenali itu adalah suara si Paijo. Tak hanya itu ia juga mendengar suara berderit.

Kreyot…kreyot..kreyot…

Apa yang terjadi pada anak itu? pikir Sandra. Apakah ia menginggau? Pintu kamar anak ini juga tak tertutup rapat. Ada sebuah celah meski sedikit sekali namun cukup memungkinkan bagi Sandra untuk dapat melihat ke dalam kamar itu.

Alangkah terkejutnya Sandra melihat ke arah dalam kamar yang sempit itu. Nampak si Paijo sedang tidur terlentang di atas ranjang dalam keadaan bugil sementara tangan kanannya mencengkeram erat batang kemaluannya yang sedang berdiri tegak. Anak itu  sedang bermasturbasi. Ternyata suara aneh yang terdengarnya dari luar tadi adalah suara drit ranjang kayu yang bergoyang yang diakibatkan gerakan anak itu saat mengocok kemaluannya yang berdiri tegak di tengah gerombolan jembutnya yang lebat dan kusut. Sandra dapat melihat semua dengan jelas dari tempat ia mengintip. Kepala dan batang kemaluan Paijo hingga ke kelima jemarinya sudah basah dan licin karena berlumuran air mani yang meleleh keluar dari lubang pipisnya. Penis anak itu berukuran standar-standar saja. Namun Sandra tetap terpana menatapnya. Ujungnya yang bulat kemerahan membuka dan menutup akibat kulit kulupnya ikut tertarik dan terdorong mengikuti arah kocokan. Sesekali terlihat jemarinya melakukan gerakan mengosok bagian glans yang sangat sensitive tersebut. Kasihan Paijo mungkin ia merindukan Surti pikir Sandra. Sandra tahu libido anak remaja seusia itu memang sedang tinggi-tingginya. Mana mungkin ia dapat menahan hasrat seksualnya. Terpisah jauh dari istri-nya itu tentunya merupakan hal yang sangat menyiksa bagi Paijo. Mulut Paijo terus mengeluarkan rintihan-rintihan kenikmatan. Sepertinya dia tak hanya merintih tapi juga berkata-kata sendiri. Sandra tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang Paijo ucapkan. Satu menitan Paijo menghajar kemaluannya. Cengkramannya semakin ketat. Akhirnya ia  telah sampai pada tahab yang ia inginkan dari kegiatan bermasturbasinya. Dan…

“Buuu..Sandraaa!….Oghhh!…” Paijo terpekik tertahan beberapa detik menjelang ejakulasinya.

Alangkah terkejutnya Sandra saat mendengar itu. Ia pasti tak salah dengar. Namanyalah yang terlontar dari bibir Paijo saat berejakulasi. Ternyata dugaannya meleset. Paijo tak sedang membayangkan istrinya melainkan justru sedang menghayalkan dirinya.

Crottttt..crooottt…crooottt…Sandra nyaris terpekik saat melihat gumpalan demi gumpalan putih dan kental susul menyusul melenjit dari ujung penis pemuda itu bahkan gumpalan pertama terlontar tinggi nyaris satu meter dari lubang tempat asalnya bagaikan  bak peluru terlepas dari laras pistol. Begitu tinggi-nya gairah anak itu hingga orgasmenya berlangsung dengan sangat kuat.

Paijo terus menghajar batang penisnya dengan kocokan-kocokan liar hingga tetes terakhir pejuh-nya keluar. Mungkin ada sepuluh gumpalan air mani yang telah terbuang begitu saja dari testis anak kampung itu. Gumpalan-gumpalan yang kemungkinan besar  begitu subur dan berisi benih calon-calon bayi yang gemuk dan montok. Justru apa yang ia cari kini tersia-sia berceceran diatas tubuh Paijo, di seprey bahkan di penjuru sudut kamar sempit itu. Sungguh sayang pikir Sandra. Dengan langkah gontai Ia perlahan meninggalkan area tersebut dan kembali ke kamarnya dengan membawa kegelisahan. Di atas ranjangnya ia berbaring lesu. Peristiwa tadi benar-benar memancing ketegangan dan membangkitkan gairahnya. Semua erotisme yang terjadi tadi terus menerus berputar-putar di benaknya seakan tak mau meninggalkan pikirannya.. Ia menduga pastilah si  Paijo sejak awal telah  beronani sambil membayangkan dirinya. Mau tak mau ia harus mengakui jika ia begitu terangsang melihat pemuda itu bermasturbasi. Apalagi teringat anak itu menghayalkan dirinya Sandra-pun merasakan cairan cintanya memancar keluar tanpa dapat ia cegah sehingga celana dalamnya menjadi sangat  basah.

“Ohh..Fiii…” desahnya. Sungguh sial kenapa gairahnya mengelora di saat-saat sekarang padahal jadwal Alfi mendatanginya barulah besok malam. Memang sejak hadirnya Niken dan Lila di dalam mata rantai kehidupan rumah tangganya yang aneh ini, praktis membuat Alfi menjadi jarang mampir ke rumah. Dalam satu minggu Sandra hanya mendapat jatah sebanyak dua hari. Itupun terkadang harus berbagi dengan Nadine yang terkadang tinggal satu rumah dengannya. Ditambah lagi beberapa bulan belakangan Alfi sering kali tak datang memenuhi jadwalnya membuat Sandra semakin terabaikan. Ketika ia justru merasa sangat membutuhkan belaian pemuda itu ada saja alasan dari Alfi. Ikut acara kemping-lah, eskul-lah, dan lain-lain alasan.  Sandrapun cukup maklum dan menyadari jika Alfi juga punya kehidupan sebagai mana orang lain. Alfi sudah semakin dewasa. Ia bukan anak kecil lagi seperti saat ia datang pertama kali. Bulan ini ia berulang tahun yang  ke tujuh belas. Jelas ia butuh berinteraksi dengan bermacam-macam sosial link masyarakat demi perkembangan kepribadiannya. Bukannya hanya menjadi tempat penyalur birahi bagi ia dan wanita-wanita di sekelilingnya semata. Setelah lewat pukul satu barulah Sandra tertidur.

**********************

Keesokan harinya sebuah kabar bahagia datang dari rumah sakit bersalin. Niken telah melahirkan dengan selamat. Meski dalam keadaan hamil Lila tetap ikut membantu persalinan sahabat baiknya itu. Kini Alfi mendapatkan seorang putri lagi. Wajah mungil itu tak mirip  sedikitpun dengan dirinya. Mata, hidung, bibir, hingga warna kulit tak ada terkecuali semua mirip Niken. Fini nama depannya adalah singkatan dari nama Alfi si bapak biologisnya dan Niken sang bunda. Donnie justru yang memilihkan nama itu. Tentu saja hanya orang-orang tertentu saja yang tahu soal asal-usul nama itu.

“Mana Sandra, Fi?” Tanya Niken saat tak melihat Sandra di antara mereka yang hadir.

“Eng.. katanya ia ingin melihat si Jabang bayi terlebih dahulu, kak”

Sementara itu di depan ruang bayi terlihat Sandra sedang berdiri memandang ke arah deretan kotak tempat tidur bayi dari balik kaca dengan tatapan mata sendu. Makluk-makluk mungil dan lucu itu terlihat ada yang menangis karena lapar ada pula yang sedang tertidur pulas. Tapi semua tingkah mereka sungguh mengemaskan hatinya. Bilakah ia dapat merasakan anugrah itu tumbuh di dalam perutnya lalu ia lahirkan dan merasakan kebahagiaan saat menyusuinya. Tiba-tiba ia merasa kepalanya mendadak pusing dan dunia seakan berputar. Tangannya  mencoba berpegangan pada sesuatu. Namun sebelum itu terjadi pandangannya sudah menjadi gelap. Untung saja ada seorang perawat di sekitar situ. Perawat itu melihat gelagat kurang bagus langsung menangkap tubuh tubuh cantik yang hampir jatuh itu.

“Duduk saja dulu, Ibu mungkin terlalu letih” ujar perawat Tak lama kemudian terlihat Nadine dan Dian menyusul. Mereka terkejut melihat Sandra dipapah oleh seorang perawat.

“Sand kamu baik-baik sajakan?” Tanya Nadine mengambil alih sahabatnya itu dari si perawat. Lalu mengajaknya duduk di kursi.

“Tidak apa-apa kok. Mungkin aku cuma kurang tidur saja”

“Syukurlah kalau begitu. Sebaiknya kamu duduk saja dulu sampai badanmu lebih enakan” ujar Dian sambil menyodorkan segelas air mineral kepadanya.

“Oya aku mau melihat bayinya Niken”ujar Dian

Dian dan Nadine tak menangkap kegelisahan pada wajah sahabatnya itu. Mereka berdua tertawa gembira di depan kaca. Sandra pergi ke kamar Niken di saat yang lain masih di ruang bayi. Di sana tinggal Alfi seorang yang menemani Niken.

“Selamat ya Nien. Kamu pun seperti Nadine. Lengkap sudah kebahagianmu kini” ucap Sandra.

“Sabar ya Sand, aku yakin kamu-pun bakal mendapatkan buah cintamu” Niken yang mempunyai perasaan yang peka dapat membaca kesedihan pada wajah dan perkataan Sandra.

“Makasih ya Nien. Aku akan sabar menanti”

“Fi, kamu juga harus berusaha terus biar kak Sandramu bisa ngasih adik ke Fini ya”

Ujar Niken pada Alfi.

“Iya kak”

“Oya kak Alfi minta maaf karena belum bisa mampir nanti sore karena ada kegiatan pecinta alam” kata Alfi pada Sandra.

“Aduhh Fi… masa tidak jadi lagi? Padahal minggu lalu kan juga ga jadi. ” ujar Sandra kecewa. Padahal ia sangat mengharapkan kehadiran Alfi untuk menghabiskan malam ini bersamanya.

“Iya kak. Sebenarnya Alfi akhir-akhir ini sibuk melakukan latihan mendaki. Kak Wayan intruktur kami mengatakan pertengahan bulan depan bertepatan liburan kenaikan kelas akan ada kegiatan pergi mendaki lereng gunung XX bagi para junior tim dan itu hanya dilakukan satu tahun sekali.”

“Apa? Mendaki? Kamu boleh ikut sebatas latihan namun kakak engga ngasih kamu ijin buat  mendaki”

“Wahh kak padahal Alfi pingin banget pergi.”

“Pokoknya tidak boleh!”

“Fi dengarkan kata kak Sandra-mu. Sebab kakak juga ga setuju soal yang satu itu” timpal Niken.

“Yah… baiklah. Tak apalah Alfi tidak ikut asalkan kakak berdua senang”

“Nah begitu. Kamu ingat pesan kak Didiet kan Fi? Kamu boleh ikut kegiatan apapun sepanjang itu tak membahayakan dirimu Lagian apakah tidak ada klub lain yang punya kegiatan lebih aman ketimbang klub itu Fi?” ujar Sandra

“Bagaimana lagi kak. Alfi suka banget gabung sama mereka-mereka itu. Kebayang kerennya gitu”

“Ya sudah, tapi minggu depan kamu tidak boleh ingkar lagi”

“Iya kakak sayang” ujar Alfi memagut bibir bidadarinya itu.

“Udah ah nanti ada orang lain yang melihat kalian” ujar Niken mengingatkan mereka.

************************

Satu minggu kemudian,

Pada suatu malam

Di dalam kegelapan kamar, Sandra berbaring di atas ranjangnya dalam kegelisahan. Beberapa malam terasa sangat menyiksa tanpa kehadiran suaminya maupun Alfi. Sejak sore ia belum juga dapat memejamkan mata. Ia masih memikirkan bayi-bayi lucu di rumah sakit tempo hari. Entah mengapa lama-lama lamunannya malah beralih membayangkan Paijo. Memang sejak kejadian malam itu. ia jadi sering memperhatikan pemuda itu.. Sandra tahu anak itupun amat sering mencuri-curi memperhatikan dirinya saat sedang mengerjakan pekerjaannya sehari-hari di rumah. Entah mengapa ia malah suka diperhatikan oleh anak itu. Semakin lama memikirkan Paijo, pikirannya semakin jauh melayang dan Aneh  kini alam pikirannya malah menuju ke dalam kamar Paijo. Dan Sandra seakan tahu persis apa yang sedang terjadi di dalam sana saat ini. Seperti malam sebelumnya anak itu pasti sedang menggelinjang dan merintih dalam kenikmatan sambil membayangkan sesuatu yang erotis yang ada berhubungan dengan dirinya. Lalu membuang benihnya dengan percuma  hingga berceceran kemana-mana. Dan itu ia lakukan kesia-siaan tersebut secara berulang-ulang. Tiba-tiba ia mendengar suara derit halus pintu kamarnya terbuka. Seseorang melangkah masuk ke dalam kamarnya.Dadanya berdetak keras. Meski kondisi kamar agak gelap ia dapat mengenali sesosok bayangan tersebut. Orang itu bukan bik Iyah. Setelah menutup kembali pintu orang itu maju perlahan menuju ke arah dirinya. Lalu berhenti ketika jarak langkahnya tinggal satu dua meter lagi dari tempat tidurnya. Ia hanya berdiri mematung. Kelihatannya ia ragu-ragu untuk terus maju. Sandra berpura-pura tidur namun matanya tetap terbuka sedikit. Dari jarak yang cukup dekat itu dapat melihat dengan jelas. Tak salah, sosok itu memang Paijo adanya. Sandrapun dapat melihat kalau pemuda itu keadaan bertelanjang dada dan hanya memakai celana pendek. Setengah jam yang lalu Paijo beronani di atas ranjang kayunya. Namun tak kunjung bisa ia tuntaskan. Ia sengaja menunda-nunda orgasmenya. Seakan ia berharap ada sesuatu yang lebih nikmat mencengkram penisnya ketimbang jemari-jemari tangannya. Ia sendiri tak tahu dari mana datangnya keberanian melangkahkan kakinya ke arah kamar sang majikan. Tadinya ia hanya coba-coba memutar knop pintu. Yang ternyata tak terkunci. Yakin orang tersebut adalah Paijo namun Sandra ia tetap diam dan tetap berpura-pura tidur. Ia menunggu apa yang akan dilakukan anak itu selanjutnya.

Sekitar lima menit Paijo hanya berdiri diam di pada posisinya. Terlihat sekali jika anak itu masih dipenuhi keraguan. Ia lalu membalikan badan dan kembali ke arah pintu seolah hendak meninggalkan kamar. Namun sepertinya dorongan napsu birahi nya telah memuncak dan terlalu sulit buat dilawan. Ia kembali berjalan ke arah kasur di mana seorang wanita cantik yang sering menjadi model masturbasinya selama ini sedang terbaring. Sandra merasakan tempat tidurnya bergerak karena ada tubuh yang menekannya. Anak ini sudah nekat pikir Sandra. Ia berani naik ke ranjang dari arah punggung Sandra. Sandra merasa ia harus bertindak sekarang. Saat itu tangan Paijo tak sengaja menyentuh sesuatu di atas kasur. Matanya yang mulai dapat beradaptasi dalam suasana gelapnya kamar mencoba melihat apa yang terpegang olehnya itu. Meski samara-samar tapi ia dapat menduga itu adalah sepotong celana dalam seperti yang sering ia strika. Mengapa benda itu tergeletak begitu saja di samping pemiliknya. Oh…apakah bu Sandra tidur dalam keadaan tak mengenakan ini? duga Paijo. ia baru menyadari benda itu begitu lembab. Sesuatu yang secara alami telah membuatnya basah. Sesuatu yang selalu dibungkus oleh celana itu yang telah membuatnya basah. Perlahan ia mendekatkan benda itu ke wajahnya. Lalu mengirup aroma yang menyebar dari situ. Ahkk aroma itu langsung membangkitkan gairah kejantananya. Daging pejal di dalam celana usangnya secara naluri menegang. Berdiri bagai sebuah tonggak. Saat ia masih terhanyut oleh biusan aroma surgawi itu, tiba-tiba

“Clik!” seketika suasana kamar yang semula remang-remang gelap menjadi agak terang oleh sinar lampu. Ternyata Sandra memencet knop lampu di samping tempat tidurnya. Paijo tersentak kaget. Ia bergegas mundur menjauh lalu turun dari tempat tidur dengan ketakutan. Begitu takutnya sehingga kedua lututnya gemetaran dan membuatnya tak mampu buat kabur dari situ. Di lantai ia hanya berlutut seraya berupaya menutupi bagian depan celananya yang menonjol dengan kedua telapak tangannya. Jelas ia tak ingin Sandra melihat bagian tersebut.

“Apa yang hendak kamu lakukan padaku Jo? Kamu ingin memperkosa aku?” Tanya Sandra dengan suara datar.

“Ampunnn buu…sayaa ..sayaa…” Ia pun tak mampu menyelesaikan ucapannya. Wajahnya tertunduk. Tak ada keberanian buat menatap wajah sang majikan. Tentunya tak ada yang perlu dijelaskan lagi. Pastinya Sandra sudah tahu apa maksud dan tujuannya mengendap-endap kemari malam-malam dan naik ke atas ranjangnya. Mana mungkin ada orang yang percaya bahwa ia tak berniat melakukan kecabulan. Meski ia bersumpah sekalipun. Yang jelas ia merasa nasibnya tak lama lagi bakal segera berakhir. Diantara rasa takutnya melintas pula bayangan wajah sang bu de yang sedang melotot kepadanya dengan bola mata nyaris melompat dari tempatnya.

“Mengapa kamu melakukan ini bukankah kamu sangat mencintai istrimu  Jo?” Tanya Sandra lagi.

“Iya buu. Sa..ya sangat mencintainya ta..pii sayaa tidak tahan melihat ibu” ucap Paijo lirih.

Sandra tahu anak itu jujur mengatakan itu. Ia-pun paham sekali bahwa yang ada dihadapannya saat ini adalah seorang anak lelaki yang telah memasuki masa pubernya. Seperti halnya Alfi, Paijo tadinya juga merupakan seorang anak yang belum cukup umur yang karena sebuah keadaan membuatnya terpaksa berkenalan dengan dunia kedewasaan yang seharusnya belum saatnya ia masuki. Seorang anak lelaki yang sudah pernah mengecap nikmatnya persetubuhan. Kini sedang berada di puncak birahinya dan  telah lama menanti tubuh seorang wanita untuk melampiasan segala dendam rindunya pada nikmatnya lumatan sebuah liang senggama pada batang penisnya. Tinggal di dalam satu rumah dengan seorang wanita yang sangat molek justru tak membuat pemuda macam Paijo merasa nyaman. Awal-awal mungkin masturbasi adalah solusi yang tepat. Namun dari hari ke hari dalam godaan yang terus menerus semakin membuat hasrat kejantanannya semakin tak terbendung. Entah dari mana datangnya tiba-tiba saja terbesit sebuah ide gila di kepalanya. Mengapa ia tak memberikan dirinya buat disetubuhi anak kampung itu, siapa tahu dia bisa membuatnya hamil? Bukankah pemuda ini telah membuktikan jika ia menyimpan benih-benih jantan yang dapat berpotensi membuat seorang wanita hamil. Mumpung Didiet dan Alfi sedang tak ada di sini.

Tidak! Sekejap kemudian akal sehatnya kembali menyadarkannya jika ia tak boleh melakukan itu. Benar ia menginginkan sebuah kehamilan. Namun untuk membiarkan Paijo bercinta dengannya sama sekali bukan ide yang benar. Itu sama saja dengan berselingkuh. Meski Didiet suka melihat ia bercinta dengan anak seusia Alfi bukan berarti  ia setuju melihat istrinya dihamili Paijo. Alfi masuk dalam kehidupannya karena Didiet yang menghendaki dan itu juga atas persetujuan dari dirinya sendiri. Tentu saja tak bisa disamakan dengan  situasi saat ini.  Mungkin saja ia hanya butuh benih anak itu. Tentu perlu sebuah cara agar sperma Paijo yang subur itu bisa membuahinya tanpa perlu harus bersetubuh dengan anak itu. Tapi bagaimana caranya? Sandra belum memperoleh jawaban. Meski hatinya sedang diliputi kegundahan tapi ia ingin Paijo melakukan ‘sesuatu’ pada dirinya dan membuatnya hamil.

“Baiklah Jo, aku akan memaafkan semua ini asalkan kamu menuruti semua ucapanku”

“Saya bersedia melakukan apa saja bu, asalkan saya tak dilaporkan sama bu de”  Paijo cepat-cepat menyetujui ucapan Sandra tersebut.

Tadinya ia sudah berpikir jika Sandra akan memanggil bu denya untuk kemudian bersama-sama mengadilinya lalu setelah itu nasibnya akan segera berakhir dengan kebinasaan. Sebab sejak kecil ia hapal betul dengan kebiasaan bu denya itu. Bik Iyah memang terkenal sangat tegas dan ringan tangan bila menindak lanjuti setiap kebandelan keponakannya itu.

“Jo naik kemari”

“Hah..?” Paijo melongo seakan tak percaya akan ucapan Sandra tersebut.

“Ayo..” itu kalimat ajakan yang kedua kalinya. Meski dilanda kebingungan namun Paijo tak ingin Sandra berubah pikiran.

Dengan cepat ia kembali naik ke atas kasur yang empuk itu. Bagi Paijo wajah Sandra yang tersiram cahaya lampu kecil itu tetap saja terlihat begitu cantik meski tanpa polesan make up. Paijo dulu berpikir jika ia sudah sangat beruntung bisa memperistri Surti karena dianggapnya gadis dari desanya itu merupakan wanita paling cantik. Tapi jika dibandingkan dengan wanita yang berdiri dihadapannya ini Surti bukan apa-apa lagi. Wanita ini seolah jelmaan atau mungkin saja benar-benar seorang bidadari dari kayangan.

“Ehm..Jo..”

“Iya bu”

“Kamu sering.. masturbasi kan?”

“Apa mantu..basi?”

“Dasar terbelakang! Udik!” pikir Sandra

“Ngocok maksudku” ujar Sandra terpaksa mengucapkan kata yang lebih umum bagi kalangan orang seperti Paijo.

“Iya.. kok ibu tahu?” Paijo tersipu malu. Aneh mengapa wanita ini menanyakannya? Pikir Paijo. Tentu saja ia tak tahu kalau sebenarnya Sandra pernah melihatnya melakukan hal itu beberapa hari yang lalu.

“Aku hanya mengira-ngira saja, biasanya anak seumurmu senang melakukan itu. Lantas siapakah perempuan yang kamu bayangkan kalau sedang melakukan itu?” tanya Sandra lagi. Padahal sebenarnya ia sudah tahu jawaban dari pertanyaannya itu namun ia ingin mendengar langsung pengakuan yang jujur dari Paijo.

“Eng..S..surti bu”

“Benarkah hanya istrimu saja? Siapa lagi?’

Tak ada jawaban lagi dari Paijo.

“Kau pasti pernah juga membayangkan aku, betul kan Jo?”

Paijo tertunduk diam. Mengangguk tidak menggelengpun tidak. Ia semakin tak berani menatap wajah Sandra. Bagaimana pula Sandra dapat menebak hasrat yang terpendam di dalam hatinya itu?.

“Benarkan Jo?”kejar Sandra

Kali ini Paijo mengangguk.

“Dengar Jo. Bagaimana jika malam ini aku akan memberimu kesempatan buat melihat sedikit bagian tubuhku. Tapi hanya boleh kamu lihat. Tidak lebih! Bahkan kamupun aku ijinkan mengocok di sini, di hadapanku. Kamu mau Jo?”

“Hahh! ” untuk kali sekian Paijo dibuat terbengong. Apakah Sandra sengaja mengolok-olok dirinya. Ini bukannya tawaran biasa. Ini tak menyusahkan sama sekali bahkan sangat menyenangkan.

“Kenapa? Kamu tidak mau?”

“Bukan begitu bu..saya hanya heran kenapa ibu…”

“Kamu tak usah banyak tanya Jo. Atau sebaiknya aku urungkan saja bila kamu cerewet seperti itu!” ujar Sandra dengan sedikit penekanan pada kata-katanya.

“Jangan bu! Saya mau! Saya mauu! ”jawab Paijo cepat kali ini.

“Baiklah. Sekarang dengarkan aku. Silakan kamu lakukan itu sambil berbaring. Tapi ingat di saat kamu hampir muncrat , kamu harus segera bangun dan menumpahkan air manimu di telapak tanganku. Kamu mengerti Jo?”, Sebenarnya Paijo merasa aneh apa untungnya bagi Sandra meminta dirinya beronani dihadapannya. Lalu menampung spermanya di telapak tangan. Kenapa tidak mengajaknya bersetubuh saja sekalian? Tapi ia tak berani bertanya-tanya lagi kuatir akan ancaman Sandra barusan. Jika ia pikir-pikir ia sudah cukup beruntung tidak jadi dihukum dan malahan mendapat tawaran mengiurkan seperti itu.  Sebaiknya ia tak boleh melewatkan kesempatan yang telah datang padanya itu begitu saja.

“Baik bu. Apa saja kata ibu saya bakal nurut saja” ujar Paijo. Setelah mendengar kesanggupan Paijo itu lalu perlahan Sandra mengangkat babydollnya sampai ke bagian pinggang sehingga kewanitaannya yang sudah tak lagi dilindungi oleh celana dalam itu   nampak jelas. Lalu ia berbaring menyamping menghadap ke arah Paijo. Salah satu kakinya bergerak-gerak terangkat dan melipat bagai melakukan sebuah gerakan tari balet.

Duhh..Edannn! Mulut Paijo menganga lebar saat hatinya meneriakkan itu. Atraksi Sandra itu nyaris membuatnya berhenti bernapas. Matanya terbelalak takjub menikmati pemandangan yang tersaji dihadapannya saat itu. Sungguh mendebarkan memandang tubuh molek setengah telanjang yang menggeliat-geliat dihadapannya itu. Terutama bagian yang tertutup rapat oleh bulu-bulu hitam yang halus. Meski suasana kamar tak begitu terang oleh cahaya lampu baca namun itu sudah cukup bagi mata Paijo.

“Kamu mundur Jo. Jangan terlalu dekat denganku” perintah Sandra.

Paijo menurut. Ia mundur agak jauh dari posisi tubuh Sandra. Lalu berbaring terlentang.

“Jo kamu lupa membuka celanamu ….”ujar Sandra mengingatkan. Ia menduga Paijo masih terkesima.

Paijo baru menyadari kebodohannya. Dengan cepat ia membuka celana sempit dan usang itu. lalu melemparnya ke lantai.

Wow..dia sudah kukuh sekali! Pikir Sandra saat melihat kemaluan anak itu. Tak membuang waktu lagi Paijo-pun segera melacap. Tak ada gerakan lambat. Ia langsung tancap gas. Sandra memandang semua itu dengan hati bergetar. Menonton perbuatan lawan jenisnya melakukan erotisme bukanlah tak menimbulkan dampak baginya. Walau bagaimanapun ia adalah seorang wanita yang normal. Vaginanyapun membasah. 

Tapi Paijo tak dapat mengendalikan hasratnya. Ia terlalu syok oleh semua rangkaian  erotismenya yang sejak tadi menggodanya. Terutama bila memandang vagina Sandra yang indah itu. Daya tahannya jebol hanya dalam tempo satu menitan.

“Oghhh!! Buuu sayaa dapett!!!”

Crettt!! Creettt!! Crettt…Sandra terkejut tak menyangka jika Paijo akan berejakulasi secepat itu. Cepat-cepat ia bangkit sambil menadahkan kedua telapak tangannya ke dekat kemaluan anak itu. Namun hal itu terjadi tak sesuai dengan harapannya. Sperma Paijo berebutan memancar secara tak terkendali ke berbagai arah. Bahkan semburan pertama justru menyemprot ke wajah Sandra. Sandra terpaksa memalingkan wajahnya agar tak tersemprot dua kali. Tapi hal itu justru telah membuatnya tak bisa focus saat menadahi gumpalan-gumpalan sperma Paijo. Sementara itu Paijo terus menghajar penisnya hingga ejakulasinya berakhir. Setelah penis Paijo benar-benar sudah berhenti memancarkan cairannya. Sandra memandang hasil yang sudah ia peroleh. Hanya sedikit sekali sperma Paijo yang benar-benar tertampung oleh telapak tangannya. Ada yang mengenai di lengannya. Ada juga yang nyelonong ke paha. Sebagian besar justru berceceran di seprey. Itupun ia bingung bagaimana cara  memanfaatkan benih-benih tersebut. Dengan apa ia akan menjejalkan cairan kental itu ke dalam vaginanya. Tentunya sulit sekali bagi sperma ini untuk mampu mencapai  rahimnya. Jelas cara ini tak akan berhasil. Akibatnya Sandra menjadi serba salah. namun kepalanya masih dipenuhi oleh banyak pertimbangan buat melangkah ke sebuah hubungan yang lebih intim dengan Paijo.

“Buu..saya boleh saya lihat itu lebih dekat lagi?” Tanya Paijo memberanikan diri mendekatkan kepalanya ke arah selangkangan Sandra. Namun Sandra dengan cepat merapatkan kedua kakinya.

“Tidak boleh! Jangan mendekat lagi. kamu kan bisa melihatnya dari tempatmu sekarang”

“Buka sedikit saja bu.” Mohonnya dengan memelas sambil mencoba untuk merentangkan dengan ke dua batang paha Sandra namun sia-sia saja tenaganya tak cukup besar buat membongkar pertahanan wanita itu.. Karena gagal, Ia kembali duduk di atas kedua lututnya.

“Bukankah tadi sudah aku katakan kamu cuma boleh lihat!”

“Iya bu, tapi tadi itu terlalu jauh jadinya kurang jelas”

“Apanya yang kurang jelas? Aku rasa sama saja dengan milik istrimu”

“Beda kok bu Punya Surti item semua kalau punya ibu kan putih bersih”

“Begitu?” Sandra cukup tergelitik karena bangga. Memang selama ini baik Alfi maupun suaminya Didiet memang tergila-gila akan kewanitaannya. Kini anak bau kencur seperti Paijo-pun ikut-ikutan memuji.

“Buu..bolehh ya?” Paijo merengek lagi. Anak inipun mirip Alfi suka merengek. Dan ia sangat menyukai rengekan-rengekan manja  seperti itu. Hanya saja ia tak ingin berbuat intim terlalu jauh dengan Paijo karena ia belum mengenal betul diri anak ini.

“Ya sudah! kamu boleh lihat sebentar. Tapi janji jangan di pegang-pegang” karena kasihan Sandra membuka tangkuban kedua pahanya agak lebar. Paijo segera beringsut menyelinap ke antara kedua kaki Sandra. Kini wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari selangkangan Sandra.

“Wahh…cantiknyaa” ucapnya terperangah. Paijo sendiri tak pernah berpikir tadinya jika begitu banyak perbedaan yang ia temukan antara apa yang dimiliki oleh Surti dengan Sandra. Warnanya saja merah muda, cantik sekali!  Sungguh berbeda dengan milik istrinya yang hitam merata. Dari aromanya saja sudah sangat menggoda. Wangi yang merebak dari vagina Sandra mengundang dirinya buat semakin mendekat lagi ke sana.

“Sudah puas lihatnya Jo?” Tanya Sandra. Ia sudah berniat menghentikan ini semua karena ia anggap tak ada manfaatnya. Paijo tak menjawab ia justru semakin mendekatkan wajahnya. Lalu secara naluriah ia membuka mulutnya lebar lantas tanpa di duga-duga oleh Sandra, mulut anak itu menyergap kewanitaannya dan lansung melakukan sedotan–sedotan kuat disertai perasan gemas benda di hadapannya itu.

“Oghh…Jooooo…kamuuu ngga boleehh….ouhhhh” pekik Sandra. ia tersentak kaget dan tak sempat mencegah Paijo melakukan itu.

Sudah terlambat dan sulit bagi Sandra untuk menolak kemesraan itu. Bahkan kini kedua tangan Paijo masing-masing memeluk batang paha Sandra sehingga kemaluan Sandra semakin melekat erat dengan mulutnya.

Rasa nikmat itu dengan cepat menyengat bagian kewanitaannya dan menjalar ke seluruh syaraf-syaraf pada tubuhnya. Tak hanya mencucup saja kini lidah Paijo juga ikut menjelajah kesana kemari jilatannya. Lidahnya juga menemukan sebuah sebuah daging bulat kecil yang menghiasai bagian atas kewanitaan Sandra. Bentuknya bagaikan sebuah batu mutiara kecil didalam cangkrang kerang. Paijo tahu banyak dari teman-temannya dikampung jika daging mungil ini adalah anak kunci untuk membuka gerbang persetubuhan. Bilamana benda yang disebut itil tersebut sudah dibuat mengacung keras dan lobangnya sudah basah berarti si pemiliknya sudah siap untuk disetubuhi. Benda yang berisikan penuh syaraf-syaraf kenikmatan itu dengan cepat membulat keras dilanda sapuan-sapuan lidah Paijo. Tubuh Sandra menggelinjang liar berayun ke kiri dan ke kanan terstimulasi oleh gerakan lidah Paijo. Bibirnya hanya dapat merintih karena perlakuan Paijo padanya. Hingga pada suatu ketika jemari Sandra meraih kepala Paijo dan menekannya kuat  sambil mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi membuat wajah Paijo makin terbenam di bagian kewanitaannya.

“Aghhhh….jooooooooo!!” pekik Sandra

Paijo tahu sekali jika saat itu Sandra sedang ‘dapet’ istilah mereka dikampung. Meski sulit bernapas akibat terjepit di dalam keindahan itu namun Paijo berusaha terus melakukan jilatan-jilatan. Kejadian itu berangsung satu menitan sampai akhirnya cengkraman jemari Sandra mengendur dan pinggulnya terhempas kembali di kasur menandakan kalau fase kenikmatan baginya tersebut sudah berakhir. Paijo akhirnya baru bisa bernapas lega. Bagi Paijo ini sungguh hal yang sangat membanggakan sebab ini  buat pertama kali-nya ia mencoba melakukan oral seks dan langsung bisa bikin puas seorang wanita.

Menjadi suatu kebanggaan di antara sesama anak lelaki di kampung yang sudah pernah ngeseks apabila bisa bikin perempuannya puas. Paijo sendiri merasa heran ia dari mana ia dapat kemampuan mencumbu kemaluan wanita padahal ia belum pernah melakukan itu sebelumnya. Jelas mana ia mau melakukan hal itu pada istrinya. Jangankan buat menjilat mendekatkan wajah ke arah situ saja ia sudah mau muntah karena aromanya yang tak sedap. Lima menitan Paijo melahap vagina Sandra bagai sebuah es krim lezat. Entah sampai kapan pemuda itu terus menghisap vaginanya. Yang jelas bagi Sandra ia semakin tak dapat mengendalikan gairah birahinya setelah mengalami dua kali orgasme akibat ulah Paijo. Kerinduannya akan kemesraan dengan Alfi malah tertuntaskan oleh hadirnya Paijo. Sandra mulai melanggar garis pembatas yang ia buat sendiri. Ia sungguh tak dapat menahan hasrat hatinya buat bercinta. Sungguh fatal telah membiarkan Paijo merangsangnya dan membuat gairahnya naik tak terkendali. Sehingga membuatnya berani mengambil keputusan akhir dengan membiarkan Paijo membuahinya kali ini dengan cara yang sempurna yaitu melalui sebuah ….Persetubuhan!

“Kamu memang anak kampung yang tidak tahu diri! Apa yang telah kamu lakukan barusan? Kamu telah mengingkari janji kita di awal tadi” suara Sandra terdengar serak saat mengucapkan itu karena sedang terbakar oleh gairah.

“Maafkan saya buu” ucap Paijo. Ia merasa tadi ia benar-benar tak dapat mengendalikan dirinya.

“Sejak awal kamu pasti ingin memasukan punyamu ke sini kan?” ujar Sandra menunjuk ke arah selangkangannya. Paijo mengangguk malu. Buat apa dia ngeles. Jelas saja Sandra pasti tahu apa tujuannya datang ke kamar ini.

“Jika kamu berjanji kamu akan mengatakan hal ini pada orang lain aku akan membiarkanmu melakukannya terhadapku” ujar Sandra dengan suara bergetar.

“Bee..narrkah?” ucap Paijo terkejut  Ia menatap wajah Sandra lekat-lekat seakan tak percaya akan penawaran yang menggiurkan itu. Bayangkan seorang wanita yang luar biasa cantik dan bertubuh indah telah dengan rela ia setubuhi hanya dengan sebuah persyaratan semudah itu.

“Kamu belum menjawab pertanyaanku Jo?”

“Ii..yaa saya janjii bu”jawab Paijo kali ini cepat. Ia tak ingin Sandra berubah pikiran dan mencabut penawarannya barusan karena ia lelet menjawab.

“Baiklah. Lakukanlah”

Mendapat ijin penuh dari Sandra justru pemuda itu kini malah diliputi keraguan. Paijo malah menjadi gelisah. Pikirannya berkecamuk. Padahal tadi ia begitu nekat hingga mencapai ke tahab ini. Seakan ia baru sadar jika yang diperbuatnya ini akan dapat menimbulkan masalah besar. Dan Sandra dapat menangkap kegelisahan itu.

“Sini..” bisik Sandra lirih sambil menarik leher Paijo lalu memberi pemuda itu sebuah French Kiss agar anak itu lebih tenang dan percaya diri.

Ciuman yang aneh dan sangat nikmat bagi Paijo. Ia baru tahu jika berciuman itu bukan hanya sekedar bertemunya bibir pria dengan bibir wanita. Lidah Sandra menjorok masuk ke dalam rongga mulutnya lalu berputar mengulung lidahnya.

“Kamu masih ragu?”

“Ohh..buuu saya suka sama ibuu!” ujar Paijo mendekap tubuh Sandra menandakan ia sudah tak merasakan beban apa-apa lagi.

“Buka dulu semuanya Jo” bisik Sandra memberi perintah kepada Paijo. Ia ingin buat melakukan persetubuhan secara total. Paijo merenggangkan tubuhnya kembali. Sandra merasakan ini adalah saat-saat yang sungguh mendebarkan membiarkan seorang pria asing melucuti satu persatu penutup tubuhnya. Babydoll yang dikenakan Sandra adalah yang paling awal melayang.

Ia memejamkan matanya saat jemari gemetaran anak itu mencoba melepas kaitan branya. Entah tak mengerti atau karena gugup bra Sandra tak kunjung juga terlepas. Sandra tersenyum geli melihat kegagalan Paijo tersebut. Lalu ia turun tangan membantu hingga akhirnya tubuhnya benar-benar tak terhalang apa-apa lagi sperti halnya Paijo …telanjang bulat. Kini Paijo dapat melihat dengan kelas segala keindahan yang wanita itu miliki.

Paijo tak mau bertele-tele. Ia langsung merangkak ke atas tubuh Sandra sambil memegang senjatanya dengan tangan kanan.

“Sayaa.. masukinnya sekarangg ya Bu….” Ujarnya begitu lirih.

Paijo tak perlu menunggu jawaban dari Sandra lagi. Lendir yang membasahi  vagina wanita itu sudah merupakan isyarat baginya bahwa wanita di bawah tubuhnya itu telah menerima apapun yang akan ia lakukan padanya.. Tak ada lagi gerakan-gerakan menghindar ataupun upaya buat menghalang-halanginya melakukan penetrasi kali ini. Jantung Paijo berdetak semakin keras saat Sandra membuka pahanya lebar-lebar seakan Wanita itu seakan benar-benar telah memberinya jalan dan izin secara penuh baginya untuk melakukan penuntasan dari percumbuan ini. Dengan berbekal sedikit pengalamannya ngentot dengan Surti selama ini di kampung, Kali ini Paijo mencoba memberi rangsangan akhir sebelum dengan mengulek-ulek bibir luar dan klitoris Sandra dengan kepala penisnya yang bulat besar. Belahan cantik itu semakin basah dan sedikit terbuka menandakan ia sudah siap buat dimasuki oleh sebuah penis. Paijo perlahan mendorong patatnya dan bless….Penis kampungnya itu maju perlahan dan membelah bibir vagina Sandra

“Ohh…Jooo…” rintih Sandra. Ia menahan napas ketika penis anak itu berhasil menerobos masuk sedikit demi sedikit ke dalam keindahan vagina terawat miliknya. Entah mengapa ia seakan menjadi grogi meladeni Paijo. Padahal penis yang masuk itu berukuran biasa-biasa saja. Sebuah sensasi yang sama saat ia akan diperawani Alfi dulu.

Sensasi sebuah perselingkuhan terasa sangat mendebarkan sehingga membuat persetubuhan ini menjadi begitu nikmat terutama di saat daging hitam anak itu pertama kali menyentuh dan merentanglan bibir vaginanya hingga akhirnya masuk seluruhnya tanpa sisa. Ini adalah batang kemaluan dari pria ketiga yang berhasil masuk ke dalam tubuhnya setelah milik Alfi dan suaminya Didiet. Jelas kepala penis Paijo tetap tak mampu menjamah dasar vaginanya. Benda itu tak sebesar dan sepanjang milik Alfi. Masih perlu lima sentimeter lagi untuk bisa sampai di kedalaman itu.  Meskipun demikian ada sesuatu yang menggelitik dan menimbulkan rasa gatal bercampur nikmat di dalam sana. Tubuh Paijo bergetar hebat setelah seluruh bagian penisnya amblas ke dalam milik wanita cantik dalam tindihan tubuhnya ini. Bola mata pemuda itu terbeliak ke atas oleh sensasi kenikmatan yang sungguh berbeda dari yang pernah ia peroleh saat bersetubuh dengan istrinya.

Surti yang memang jauh lebih muda dari Sandra seharusnya memiliki vaginanya enak karena masih sangat sempit. Namun kenyataannya vagina wanita cantik ini …sungguh tak terkatakan nikmatnya…mungkin puluhan kali atau bahkan ratusan kali jauh lebih enak ketimbang tempik istri kecil-nya di kampung itu.  Liang milik Sandra  yang dipenuhi oleh otot-otot lembut itu seakan dapat menjepit penisnya jauh lebih ketat dari milik Surti. Paijo mulai mencoba mengocok. Pantatnya ia gerakan naik turun. namun baru dua tiga kali ia kembali berhenti. Ia merasa belum apa-apa air mani-nya seakan sudah berkumpul di ujung lubang kencingnya. Kenikmatan itu sungguh tak tertahankan olehnya. Ia merasakan  vagina Sandra bagai menyedot seluruh batang penisnya. Bahkan semakin  ia kocok vagina Sandra semakin kuat menghisap bagaikan sebuah tabung vacuum. Paijo tak dapat lagi bergerak. Penisnya ia biarkan mengeram di dalam balutan vagina Sandra dengan harapan ia mampu meredakan hasratnya.

Duhh…biungg..enaknya..jerit Paijo dalam hati.

Ia diamkan seperti itu rasa ingin muncrat itu bukannya mereda malahan makin menjadi-jadi. Rasa-rasanya ia tak mungkin lagi dapat bertahan lebih lama lagi. Dari ekspresi wajah Paijo, Sandra mengetahui jika ia sedang berjuang melawan desakan buat berejakulasi.

“Kamuu sudah hampirr keluar kan Jo?”

“Iyaa..buuuu. maaff..rasanyaa saa..ya ti…dakkk tahan lagiiii”

“Tunggu sebentar! jangan dimuncratkan dulu”

Sandra mendorong tubuh Paijo sehingga penis anak itu terlepas dari vaginanya. Meskipun heran namun Paijo tak dapat mencegah Sandra melakukan hal itu.

Lalu Sandra cepat-cepat membalikan tubuhnya posisi mirip seperti orang bersujud tapi dengan posisi dada menempel ke kasur.

“Masukin lagi punyamu Jooo”

“Dari be..lakangg?” jadi mirip anjing kawin? pikir Paijo

“Iyaa cepatt!”

Dasar udik! tahunya cuma gaya konvensional saja gerutu Sandra dalam hati.

Paijo tak ingin membuang waktu dengan berlama-lama di luar vagina Sandra. Apalagi Sandra sendiri sudah memintanya.

CLeppp! Penisnya kembali bersarang dalam vagina Sandra dari posisi yang berbeda. Ternyata Paijo masih punya sisa sedikit ketahanan sehingga mampu menghajar Sandra dari belakang. Sandra sendiri tak terlalu perduli persetubuhan ini baru berjalan kurang dari dua menit. justru inilah saat-saat yang ia tunggu. Baginya yang penting Ia ingin Paijo sesegera mungkin menyuntikan benih-benih seorang bayi ke dalam rahimnya secepatnya. Bagi Paijo sendiri tak ada hal lain yang diinginkannya di dunia saat ini kecuali muncrat. Ia seakan mendapat anugrah tertinggi dalam kehidupannya. Tapi ia tak ingin menjadi seorang pecundang di medan pertempuran tanpa perlawanan sama sekali. Laksana seorang jendral perang yang berada di dalam keadaan terjepit Ia harus mengambil keputusan akhir bertarung dengan jantan berharap gugur bersama musuhnya. Tiba-tiba Paijo mendekap pinggang Sandra erat sambil mengocok penisnya dengan sangat cepat dan liar. Tapi ia hanya mampu membuat sepuluh kocokan hingga rasa gatal nikmat yang ia rasakan sudah sampai pada batas yang bisa ia tahan.

“Ohhh…Buuuuu…buuu…sayaa hampirr muncrattt!!!” pekik Paijo memberi peringatan pada Sandra. Seakan ia kuatir Sandra masih ada permintaan lain lagi sebelum ia melepaskan ejakulasinya.

“Ohh  Jooo   tekannn dalem-dalemmm sekaranggg!” Pinta Sandra

“Ammpuunnnn…enakkkkkknyaa!!” itu pekik terakhir dari Paijo sedetik sebelum ia melepas orgasmenya. Lalu melakukan  sebuah tusukan akhir yang jauh dan dalam.

Tubuh Paijo mengejang diiringi dengan hentakan yang kuat.  Lalu pancutan demi pancutan sperma melejit dari ujung penisnya menghantam permukaan rahim Sandra.

Creettttt….Creeeettttttt….creeettttttttt…Sandra terkejut begitu dasyat orgasme yang dialami Paijo saat itu. Kepala penis anak itu berdenyut dan tersentak-sentak seakan meletup di dalam himpitan liang vaginanya. Dalam setiap lima detik Sandra dapat merasakan denyutan penis Paijo diringi dengan semprotan sperma dari lubang pipisnya.

“Okhhhhh…Joookkk….Argggghhhh!!” pekik Sandra sambil mencengkram kain seprey.

Tak dinyana serangan akhir Paijo yang cepat dan singkat barusan malah memancing dirinya juga mengalami orgasme yang juga sangat kuat. Suara rintihannya membaur dengan erangan Paijo. Tubuh keduanya bertaut melekat dalam hentakan-hentak puncak kenikmatan bersama. Rasanya orgasme itu berlangsung demikian kuat dan lama.

Paijo ambruk di atas punggung Sandra. Kesadaran anak itu lenyap beberapa saat. Penisnya masih menyisakan rasa gatal. Pantatnya masih menghentak sesekali seakan masih ada sisa-sisa sperma yang harus ia keluarkan dari testisnya yang bulat hitam itu.

Sandra membiarkan Paijo menindihnya menunggu  anak itu menuntaskan sisa orgasmenya. Sungguh tak disangka anak desa bau kencur itu ternyata mampu membuat dirinya mengalami orgasme. Ia merasakan sedikit keanehan pada persetubuhan singkat barusan. Seakan penis ramping anak itu menjadi begitu nikmat dalam setiap kocokannya. Tiga menit sudah berlalu. Setelah fase orgasme itu berlalu. Paijo juga  sudah menuntaskan ejakulasinya. Sandra mengangkat tubuhnya sehingga tubuh Paijo terdorong dan terlentang ke sampingnya. Sedangkan ia sendiri buru-buru terlentang sambil melipat kedua lututnya ke arah dadanya. Ia berusaha membuat sperma Paijo yang masih tertampung di dalam vaginanya tidak segera tumpah ke seprey sesuai dengan ajuran Lila. Sambil mempertahankan posisi tubuhnya seperti itu. Pikirannya berkelana. Di kala hasrat dan gairahnya mereda kini terbit rasa penyesalan dalam hatinya. Mengapa ia larut dalam kegelisahan sehingga  akhirnya semua ini terjadi. Meski Didiet suaminya memiliki prilaku ‘sakit’. tapi Sandra tak ingin menodai perkawinannya dengan bermain dibelakang seperti ini. Muncul pula rasa kesalnya terhadap Alfi yang mengabaikannya selama beberapa minggu belakangan. Seandainya saja Alfi tetap rutin memesrainya tentunya ia tak gampang terseret oleh buaian api birahinya. Tapi sekarang semua-nya telah menjadi bubur. Ia sangat berharap perbuatannya dengan Paijo malam ini dapat membuahkan kehamilan sehingga perselingkuhan ini merupakan yang pertama sekaligus yang terakhir baginya.

“Ibu sedang apa?” Tanya Paijo heran melihat Sandra masih mempertahankan posisi tubuhnya seperti itu.

“Jo kamu mau tahu kenapa aku rela kamu tiduri?” Sandra malah balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan Paijo barusan .

“Karena Ibu suka sama saya kan?” tebak Paijo.

Sandra nyaris tertawa mendengar jawaban Paijo itu. Anak itu sepertinya mulai Pede.

“Kamu salah Jo, bukan karena itu. Kamu itu orangnya jelek!” jawab Sandra

“Loh…lantas kenapa ibu mau begituan sama saya?” tanya Paijo bingung. Ia tak menyangka jawaban Sandra demikian lugas.

“Aku melakukan ini bukannya suka padamu atau pun dengan permainan seks-mu. Aku hanya memberimu kesempatan untuk membuatku hamil.”

“Ha..mill? ibu mau dihamili oleh saya?”

“Iya kenapa?”

“Suami ibu.. mandul ya?”

“Sembarangan saja bicara! Itu bukan urusanmu!” ucap Sandra ketus.

Bukan main! pikir Paijo. Pengakuan Sandra sungguh membuat  perasaannya melambung bangga. Ibarat karet yang mengembang direndam minyak. Bayangkan ada seorang wanita yang sangat cantik meminta padanya buat buntingi! Barangkali orang gila sekalipun tak bakal menolak rezeki seperti ini. Masa bodoh Sandra mencintainya atau tidak, yang penting ia tetap saja bisa bersetubuh dengannya sepuas-puasnya

“Kalau begitu ibu tenang saja ibu pasti hamil kok” ujarnya anak itu dengan rasa percaya diri yang makin tinggi.

Ia semakin yakin bahwa suami Sandra memang adalah lelaki mandul sehingga Sandra melakukan perselingkuhan dengannya untuk mendapatkan kehamilan. Setelah lima belas menit berlalu. Tanpa permisi dulu lagi Paijo merayap naik ke atas tubuh Sandra buat menambah porsinya.

“Hei Kamu mau apa Jo?”

“Saya mau lagi bu. Lagian katanya ibu mau saya hamili.”

“Tidak ! itu tadi sudah cukup. Lepaskan aku dan kembali ke kamarmu sekarang!”

“Satu kali saja lagi bu…saya pingin nyembur pas saya di atas ibu” rayu Paijo. Ia bukannya turun dari atas tubuh Sandra  malah mendekap pinggangnya erat-erat.

“Tidak bisa! Kamu pikir kamu bisa seenaknya terhadapku. Ingat aku adalah majikanmu”

“Tapi ibu suka  kan saya selingkuhi?”

“Jangan kelewatan kamu Jo! Saya tidak suka kamu ngomong seperti itu!” anak ini mulai berani ngomong menyerempet-nyerempet  kurang ajar.

“Biarin yang penting saya mau lagi” Ujar Paijo. Lalu anak itu tanpa di duga duga memagut puting susu kiri Sandra. Bagian sensitif itu sejak awal memang belum diberikan sentuhan oleh Paijo sama sekali. Paijo sebenarnya tak tahu benda mungil di dalam kuluman bibirnya itu adalah salah satu kelemahan Sandra.

“Argggg..lepass..kann.. aku tidak.. mauu!!!” rintih Sandra yang masih berusaha mengendalikan gairahnya sendiri sambil mendorong tubuh Paijo.

Ibarat pepatah kepalang basah kenapa tak mandi saja sekalian pikir Paijo. Paijo jadi nekat. Ia harus berhasil mendapatkan apa keinginannya. Pelukannya pada pinggang Sandra tak menjadi kendur. Sehingga terjadilah pergulatan kecil di situ. Sebetulnya tenaga Paijo tak terlalu besar. Namun justru Sandra yang seakan tak bersungguh-sungguh buat melepaskan diri. Rontaannya yang lemah bahkan lebih tepat dikatakan gelinjangan itu sama sekali tak menyulitkan sehingga dalam waktu relative singkat  memudahkan Paijo menguasai tubuhnya. Akhirnya Paijo mendapatkan posisi yang tepat untuk melakukan penetrasi. Penisnya sudah berada tepat di depan belahan bibir vagina Sandra yang masih basah oleh air maninya. Secepatnya Paijo mendorong pantatnya. Dan …blesss…Penisnya kembali berhasil terbenam di dalam liang senggama Sandra. Setelah miliknya masuk sesegera itu pula Paijo mengocok. Permainan berlangsung tak sesingkat tadi sehingga Sandra-pun dapat menikmati permainan klasik dari Paijo. Sesungguhnya Sandra-pun penyuka missionary style. Ia hanya melakukan perubahan hanya karena anjuran dari Lyla. Bercinta dengan posisi itu seakan membuat dirinya tak berdaya dalam kekuasaan penuh dari pria yang menindihnya. Sandra menyukai itu. Sebagaimana ketika Alfi pertamakali mengambil kegadisannya dulu.

“Oww!!.. aduhhhh gelii!!!!” pekik Sandra merasakan sebuah sensasi baru. Aneh rasa gatal itu datang kembali bersamaan dengan setiap tusukan Paijo. Kali ini benar-benar kentara sekali. Mungkin disebabkan durasi persetubuhan kali ini lebih lama dari yang pertama tadi.

“Argggg…Joooo..akuu dapettt!!” Pekik Sandra mengenjan karena tak mampu lagi bertahan terhadap sesuatu yang menggelitik liang senggamanya.

Kedua tangan dan kaki Sandra membelit tubuh Paijo dalam dekapan ketat. Seakan ia ingin melepaskan kenikmatan itu dengan meremas penis Paijo beserta tubuh kerempengnya sekaligus. Orgasme yang terjadi pada Sandra saat itu tak lagi berhenti. Bagai gelombang ombak yang datang susul menyusul menghantam pantai.

“Aoooo…buuuuuu…ohhgg!!!” Paijo juga ikut melolong sejadi-jadinya ketika ejakulasinya meletup dari ujung penisnya.

Crottt…crottt.. crottttt…alangkah nikmatnya muncrat dalam balutan tubuh indah itu. Ini sungguh kenikmatan yang sempurna. Ini bahkan berlipat kali lebih nikmat dari orgasme yang pertama. Bahkan multiorgasme yang berlangsung pada Sandra seakan mencekik penis Paijo dalam kenikmatan abadi. Sepuluh menit berlalu. Suasana kamar kembali hening hanya terdengar suara desahan napas yang masih memburu. Sandra mendorong tubuh Paijo kesamping agar dadanya sedikit lebih lega saat menarik napas. Setan! Kena lagi aku.Umpat Sandra dalam hati Lagi-lagi ia tidak berdaya mencegah terulangnya kemesraan dengan Paijo barusan.

“Pindahlah ke kamarmu sekarang Jo” ucap Sandra sambil memejamkan mata. Ia berusaha keras menghentikan keliaran ini meski rasa nikmat itu masih berkeliaran di sekitar pinggul dan bagian kewanitaannya.

“Saya tidurnya di sini saja bu. Biar kalau malam bisa nambah lagi” balas Paijo masih terengah-engah. Peluh membutir bak biji jagung bermunculan di sekujur tubuhnya. Meski letih mendera tubuhnya. Ia seakan tak ingin sekejap saja melewatkan malam ini tanpa persetubuhan dengan sang majikan yang cantik itu. Tak ada rasa buat bosan mengulanginya. Wanita yang satu ini benar-benar membuatnya tergila-gila dan ketagihan.

“Tidak bisa kamu harus pergi sekarang. Aku tidak ingin pagi-pagi bik Iyah memergoki kita.”

Mendengar Sandra menyebut nama orang yang sangat ia takuti itu Paijo menurut. Ia juga menilai kalau perkataan Sandra benar adanya. Ia belum mau berurusan dengan bu denya yang galak itu. Lagian ia juga sudah sangat ngantuk dan capek. Biarlah besok saja ia mengulangi permainan ini. Setelah Paijo berlalu dari kamarnya meninggalkan dirinya terlentang dalam cucuran peluh. Sandra mendengar sebuah bunyi halus yang berasal dari ponselnya. Ia mencoba meraihnya. Ternyata hanyalah sebuah pesan singkat dari Didiet.

“Apakah kamu sudah tertidur Say? Ataukah saat ini kamu sedang membayangkan dan  merindukanku?”

Sandra terpaku lama menatap layar ponselnya. Merenungi apa yang barusan ia lakukan bersama Paijo di saat-saat suaminya sedang merindukan dirinya seperti sekarang ini? Ia memutuskan untuk tidak menjawab sms tersebut karena ia tahu itu cuma ekspresi kagen Didiet semata. Meski kegelisahan di dalam hatinya belum dapat hilang, Sandrapun dapat tertidur pulas malam itu karena keletihan.

***********************

Keesokan paginya, dari dalam dapur Paijo dengan gelisah melirik ke arah ruang cuci. Seakan ada yang ia tunggu sejak tadi. Tak lama kemudian raut wajahnya berubah semeringah ketika melihat Sandra masuk ke dalam ruangan cuci sambil membawa pakaian kotornya. Paijo mengendap-endap menyusul masuk kedalam ruangan kecil itu.

“Bu…nanti malam kita…he e lagi ya?” bisik Paijo pelan sambil memberi kode dengan menyelipkan ibu jarinya diantara jari tengah dan telunjuknya ke arah Sandra.

Sandra agak kesal melihat kekurang ajaran Paijo. Namun ia diam saja tak ingin menanggapinya. Sejak bangun tidur tadi pagi ia sudah membuat komitmen dengan dirinya sendiri untuk tidak akan mengulangi perselingkuhan itu. Sesungguhnya jauh di dalam lubuk hatinya ia menyukai persetubuhan dengan Paijo semalam. Tapi sisi lain dirinya yang lebih di dominasi oleh akal sehat menganggap kejadian tadi malam tak seharusnya terjadi. Jika saja saat itu ia tak terbawa emosi dan tak terbuai dalam erotisme yang ditebar Paijo. Ia merasa telah bertindak terlalu gegabah tanpa memikirkan akibat yang lebih komplek. Bisa saja Paijo menjadi masalah besar dalam keutuhan rumah tangganya. Bukan mustahil orang lain akan mengendus segala rahasia dalam kehidupannya selama ini.

“Bu..boleh ya?” Paijo secara gencar mengumbar rayuan.

Merasa tak nyaman berduaan dengan Paijo dalam satu ruangan. Lalu Sandra pergi ke dapur karena di situ ada bik Iyah yang sedang memasak. Paijo mengikutinya sampai ke pintu dapur. Tapi anak itu tak berani lagi mendekat. Namun dengan mimic wajahnya ia masih mencoba memberi isyarat ke pada Sandra. Dari dekat pintu ia menanti Sandra memberinya isyarat balasan. Namun hal itu tak kunjung ia peroleh. Bahkan setelah itu Sandra selalu menghindari berdua dengannya dalam satu ruangan. Hingga pada sore hari. Ia akhirnya berhasil mendapatkan kesempatan baik saat Sandra datang kembali ke ruang cuci sendirian. Paijo sudah tak dapat lagi membendung hasratnya dan Ia sudah nekat untuk melakukan apapun demi dapat merasakan tubuh Sandra kembali. Setan benar-benar sudah menguasai akal sehatnya padahal ia tahu bu De-nya saat itu berada di dapur yang letaknya tak jauh dari situ. Dengan tiba-tiba ia menyergap pinggang Sandra dari belakang.

“Arggg…Apa-apaan kamu Jo..Lepaskann!” pekik Sandra karena terkejut akan serangan mendadak tersebut.

“Buu saya tidak tahann…Saya pingin gituan lagi sama ibu”

“Tidakk!..lepaskan akuu!“ bentak Sandra seraya berusaha melepas diri dari dekapan anak itu..

Namun bukannya menurut Paijo malah lebih erat memeluk pinggangnya. Paijo merasa ia pernah berhasil membuat Sandra mau mengulangi persetubuhan dengannya dengan sedikit pemaksaan seperti malam kemarin. Keberaniannya muncul karena ia merasa Sandra tak mencegah apapun yang ia lakukan tadi malam. Ia berpikir Sandra cuma pura-pura menolak sehingga iapun tak takut buat mengulangi hal itu. Ia mendorong tubuh Sandra sehingga wanita itu terdesak ke sudut ruangan sempit itu. Salah satu tangannya bergerak dengan bebas mengerayangi dan meremas dada Sandra sementara yang satunya lagi bergerak cepat  ke arah bawah dan berusaha masuk ke dalam pakaian Sandra. Sandra belingsatan sambil menepis tangan dengan kesal berusaha mencegah aksi tak senonoh Paijo  padanya. Namun sepertinya anak itu sudah benar-benar tak terkendali dan semakin berani. Hingga pada sebuah kesempatan Sandra berhasil membalikan badannya lalu mendorong tubuh Paijo buat menjauh darinya. Paijo tak berhenti begitu saja ia maju dan bersiap memeluk wanita cantik itu lagi. Namun sebelum niatnya terlaksana,

Plakk!!! Plakkk!! tiba-tiba Paijo merasakan sebuah tamparan keras menerpa wajahnya. Tak hanya satu kali bahkan dua kali.

“Jangan kurang ajar kamu Jo! Kamu pikir kamu bisa berbuat seenaknya” bentak Sandra.

Paijo tercekat undur dan takut. Ia tak menyangka Sandra bereaksi seperti itu.

Bik iyah yang baru selesai mencuci piring bergegas datang setelah sempat mendengar teriakan Sandra. Ia begitu terkejutnya melihat pakaian sang nyonya majikan mudanya itu berantakan. Dada Sandra yang membusung sempat terkeluar dari balik babydollnya.

“Aduhh.. Apa yang terjadi non?”

“Tidakkk ada apa-apa Bik”jawab Sandra berusaha menutupi karena ia tak ingin Bik Iyah malah tahu kejadian barusan ada hubungannya dengan perbuatan ia dan Paijo semalam.

Tapi bik Iyah dapat gampang dibohongi begitu saja. Ia cukup mengerti apa yang berlaku barusan di situ. Ia yakin itu kusutnya pakaian sang nona tersayangnya itu akibat ulah sang keponakan. Pandangannya beralih kepada Paijo. Paijo undur beberapa langkah dengan wajah pucat pasi bagaikan mayat. Mata bulat bu denya yang membesar itu terlihat sangat mengerikan dan Paijo tahu apa artinya itu buat dirinya…sebuah kesengsaran!

“Kamu! Kamu memang anak tidak tahu diuntung!. Belum jera kamu bikin masalah di kampung dulu?! Sekarang kamu malah berani mengganggu majikan sendiri” ujar bik Iyah geram. Ia langsung mengambil sapu yang tersandar dekat pintu. Tanpa ba bi bu lagi  langsung ia ayunkan ke tubuh keponakannya yang kurang ajar itu.

“Kamu rasakan inii anak setannn!” teriak Bik Iyah

BAkk!! bukkk!! Bletak!!!

“Ampunnnn  buu deee…ampunn bu de tobatttt” jerit Paijo kesakitan ketika pukulan demi pukulan mendera tubuhnya.

Percuma saja Paijo memohon ampun. Bu denya benar-benar telah kalap sambil terus mengayunkan gagang sapu itu dengan membabi buta tanpa belas kasihan. Sandra jadi tak tega juga melihat pukulan-pukulan dari bik Iyah itu bertubi-tubi menghantami tubuh Paijo. Apalagi anak itu tak mau kabur ataupun melawan. Ia hanya bisa menjerit kesakitan sambil meringkuk melipat tubuhnya di sudut ruangan.

“Sudahlah Bik Hentikan nanti dia celaka” ujar Sandra berusaha memegangi lengan bik Iyah yang sibuk menghamburkan jurus ‘tongkat pemukul anjing’.  Mau tak mau bik Iyah berhenti karena takut ayunannya akan mengenai majikannya itu.

“Biar saja non! Dia memang patut dikasih pelajaran supaya tahu rasa!”

“Ampunnn Bu de! Saya tidak lagi-lagi…hu hu”

“Dasar anak setan! Bisanya bikin susah orang tua saja! Jangan minta ampun padaku! Cepat bilang minta maaf sama non Sandra sekarang!” Bik Iyah yang masih belum puas menghajar Paijo lantas  menjewer telinga keponakannya itu kuat-kuat sehingga pemuda itu kembali menjerit kesakitan.

“Ampun bu Sandra saya tidak akan mengulanginya lagi..Aduhhh”

“Sudahlah Bik jangan diapa-apakan lagi. Saya sudah memaafkan dia” ujar Sandra lagi. Kali ini bik Iyah menurut. Untuk sementara waktu Paijo bisa bernapas lega.

“Beruntung sekali kamu ya!? Hoss…hos..Sekarang  hoss..masuk ke kamarmu hoss..dan kemasi semua pakaianmu!” Perintah bik Iyah sambil berusaha mengatur napasnya yang memburu.

“B..aikk bu de”

“Saya urus anak edan itu dulu, Non” ujar Bik Iyah

“Tapi jangan dipukuli lagi bik. Saya mohon” pinta Sandra

Bik Iyah mengangguk sebelum  meninggalkan Sandra. Lalu menyusul Paijo ke dalam kamar. Di dalam kamar bik Iyah masih terus memarahi Paijo. Meski Sandra telah memberikan maaf buat Paijo. Tapi ia tak ingin melepas Paijo begitu saja.

“Apa-apan kamu Jok! Seharusnya kamu tahu diri wong kita sudah untung di suruh tinggal di sini. Baiknya kamu pulang saja ke desa besok sebelum tuan dan Alfi mengetahui hal itu” ujar bik Iyah kesal.

“Maafin saya bu de, saya ngaku salah. Saya nurut apa saja kata Bu de” ujar Paijo lirih. Ia tetap melaksanakan perintah sang bu de walau sebenarnya ia masih merasa kesakitan. Satu persatu pakaiannya ia lipat dan masukkan ke dalam sebuah tas usang yang ikut bersamanya sewaktu datang kemari tempo hari.

Bik Iyah lalu keluar menemui Sandra. Dan menjelaskan keputusannya untuk memulangkan Paijo besok pagi.

“Aduhh Non, bibik jadi benar-benar menyesal telah mengajak Paijo ikut kemari. Bibik tidak menyangka kalau dia itu ternyata menaruh hati sama non Sandra”

“Tidak apa-apa bik. Sebaiknya masalah barusan jangan diungkit-ungkit lagi”

“Tapi non belum sempat di apa-apain sama keponakan bibik kan?”

“Sebenarnya ini salah saya juga bik. Semalam Paijo saya ijinkan tidur di kamar dalam sama saya”

“Aduhhh!!! walahh nonnn kok jadi begituu. aduhh gustii kenapa dibiarinn nanti non Sandra bisa Hamill. Kurang ajar benerrr si Paijoo!! ” jerit bik Iyah terperanjat bercampur geram. Ia mengerti sekali apa yang telah terjadi dimana seorang wanita bersama-sama dengan lelaki berdua di dalam sebuah kamar tidur. Ia sudah hendak kembali ke kamar Paijo buat menghajar keponakannya itu namun segera di cegah oleh Sandra.

“Tenang bik. Kejadian tadi malam itu memang adalah kemauan saya karena saya pingin dia hamili Bik”

“Aaaaa…Edaann….edaannnnn…aduhh gustii bagaimanaa inii. Bagaimana bila den Didiet sama den Alfi tahu ini semua?” ucap bik Iyah panik.

“Bibik tidak usah kuatir. Asal tak ada yang bilang mereka tak bakalan tahu soal itu”

“Bibik terpaksa memulangkan Paijo besok non. Bibik tak ingin kejadian tadi malam dan tadi terulang kembali. Biar si Paijo tetap tinggal di kampung bersama istrinya ketimbang membuat masalah di sini”

Sandra hanya diam tak memberikan tanggapan atas keputusan Bik Iyah tersebut.

*************************

Malamnya Paijo berbaring dalam kesedihan. Tak hanya menderita karena badannya sakit-sakit akibat menanggung amukan sang bu de tadi siang namun juga karena harus berpisah dengan Sandra besok. Ia benar-benar sudah kesengsem berat pada majikannya yang cantik itu. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh derit pintu kamarnya yang dibuka. Cepat-cepat ia memejamkan matanya berpura-pura tidur karena mengira yang datang itu adalah bu denya. Tapi penciumannya mengendus sesuatu.  Itu harum yang sama dengan yang ia rasakan tadi malam. Paijo sontak kembali membuka matanya. Dan benar saja di depan pintu telah berdiri sesosok tubuh semampai yang sangat ia dambakan.

“B.bu..Sandra..” ujar Paijo seakan tak percaya wanita cantik itu mau mendatangi kamarnya. Namun wanita itu hanya berdiri diam di dekat pintu. Tanpa ragu Paijo segera bangkit. Sandra-pun menurut ketika ia bimbing  buat duduk di bibir ranjang.

“Jo.. kamu… jangan pulang dulu ke kampung” ucapnya terbata-bata.

Paijo tak menjawab hanya secara perlahan wajahnya mendekat ke wajah Sandra. Sandra memejamkan matanya menanti bibir tebal Paijo memagut bibirnya. Lalu tenggelam dalam sebuah lautan kecupan yang mendidih. Ternyata Paijo mampu mempraktekan ciuman yang telah diajarkannya kemarin malam. Kedua telapak tangan Sandra meremas seprey ranjang Paijo. Ia sungguh tak tahu lagi bagaimana menghindari perselingkuhan ini. Keinginannya buat hamil dan bayangan seorang bayi lucu dan mungil telah membutakan segalanya.

“I..Ijinkan saya menolong ibu…Sa..ya janji akan buat ibu hamil seperti Surti” Paijo seakan sudah tahu apa yang menjadi kegelisahan Sandra.

Sungguh kebetulan bagi Paijo. Kata-kata yang keluar barusan dari mulutnya itu bagaikan obat penyejuk yang sangat mujarab bagi suasana hati Sandra saat itu. Di dalam kamar yang sesak oleh aroma tubuh Paijo dan obat nyamuk bakar itu Sandra kembali menyerahkan tubuh moleknya bulat-bulat pada pemuda tak berkelas seperti Paijo. Lalu menggelepar dalam kegelisahan dan gairah. Berbeda dengan perjumpaan pertama. Kali ini ia melakukannya secara total dan tanpa banyak pertimbangan. Entah berapa puluh kali anak itu merintih berulang-ulang mengucapkan “Bu enak, Bu enak”, yang jelas ia-pun merasakan sengatan nikmat dari sentuhan kemaluan Paijo yang tak terlalu besar itu.

Seperti pada pertubuhan pertama. Awalnya Paijo cuma bisa bertahan dua menit-an. Ia tak dapat mengontrol dirinya. Dendam rindu selama beberapa jam ini secepatnya ingin ia tuntaskan. Spermanya muncrat tak tertahankan dalam pecintaan panas dan singkat.

Setelah hampir satu harian menahan hasratnya terhadap wanita molek ini. ia akhirnya berhasil menuntaskannya. Bahkan rasa sakit di sekujur tubuhnya akibat pentungan bu denya tadi siang sudah tak ia rasakan lagi. Semuanya seakan telah lenyap ditelan rasa nikmat. Beruntungnya ia dengan segera bisa ber-ereksi lagi setelah beristirahat sepuluh menitan.  Barulah setelah itu ia tak hanya mampu membuat Sandra berorgasme bareng dengannya bahkan ia-pun berhasil membuat Sandra mengalami multiorgasme sebagaimana yang mampu Alfi lakukan. Setelah gelombang gairah itu surut. Sandra terbaring dengan kedua kaki tersandar di dinding seperti biasa melakukan ritual ‘pembuahan’.

Cplak!..plok! Bunyi itu terdengar berulang-ulang ketika Paijo mencipoki puting susu Sandra. Anak ini…masih besar sekali gairahnya. Padahal yang tadi itu adalah sebuah persetubuhan yang melelahkan.  Seakan tak ada bosan-bosannya melakukan itu.

“Puas nyusunya?” tanya Sandra

“Belum bu..susu ibu manis sekali”

“Manis? Hi hi punyaku kan belum ada susunya”

“Putingnya manis”

“Bu Sandra”

“Ya?”

“Eng..jika ibu hamil berarti dia itu anak saya juga kan bu?”

“Iya” Pake tanya lagi. Dasar bego, Pikir Sandra

Lima belas menit berlalu. Paijo kembali menindihnya setelah memberi cukup waktu bagi Sandra beristirahat dan melakukan upaya ‘pembenihan’. Lalu mereka kembali bersetubuh seakan tak ada lagi hari esok. Malam itu Sandra tidur di kamar pengap tersebut dalam tindihan tubuh Paijo. Keesokan harinya saat keluar dari kamar Paijo, Sandra berpapasan dengan Bik Iyah. Wanita tua itu hanya terbengong dan tak dapat berbuat apa-apa melihat situasi itu.

“Bik saya minta Paijo tetap di sini dulu ya”ujar Sandra sambil tersenyum lalu pergi menuju ke arah ruangan dalam rumah tanpa menunggu jawaban dari Bik Iyah lagi.

“I..iya non……”jawab bik Iyah lirih.

Sejak hari itu Sandra secara rutin melakukan aktifitas seksual dengan Paijo. Setiap malam acara setor benih itu berlangsung. Sandra tak lagi berusaha menghindari Paijo. Bik Iyah-pun tak dapat berbuat apa-apa karena itu semua atas kehendak dari Sandra sendiri. Simbiose mutualisme antara dua insan yang saling membutuhkan itu terus berlangsung tanpa ada yang menghalangi lagi. Undangan tak resmi bagi Paijo ke dalam kamar Sandra diisyaratkan dengan pintu kamar-nya yang tak pernah lagi dalam keadaan terkunci. Lalu mereka bercinta dengan panas seakan tak ada lagi hari esok. Bila si Paijo mendapatkan tempat penyaluran bagi nafsu birahinya maka sementara itu Sandra sendiri memperoleh asupan benih dari Paijo. Namun demikian bukannya secara seksual Sandra tak ikut menikmati perlakuan Paijo tersebut. Ia bahkan mulai suka dan ketagihan oleh gelitikan aneh yang ditimbulkan oleh penis anak itu. Semakin hari daya tahan Paijo-pun semakin baik. Itu sangat mengherankan. Jika awalnya ia cuma mampu bersetubuh paling banyak dua kali saja  tiap malamnya. Tapi kini penisnya mampu berdiri tegak sedikit lebih lama. Setidaknya ia bisa memberikan kepuasan bagi Sandra. Sebuah pertanda buruk buat Alfi karena kini Sandra mulai menggantungkan kebutuhan seksualnya pada Paijo. Tapi sulit bagi Sandra menyembunyikan semua itu dari kedua sahabatnya, Dian dan Nadine. Mereka akhirnya mengetahui juga hal itu. Ketika pada suatu pagi Dian dan Nadine datang dan ia belum bangun karena bercinta dengan Paijo tanpa henti dari sore hingga malam harinya. Seperti biasanya Dian menyelonong masuk ke dalam kamar Sandra tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Aroma bekas-bekas persetubuhan masih kentara terendus membaur dalam udara dingin AC. Suasana kamar yang gelap hanya menampakan bayangan tubuh Sandra yang masih tertidur dalam tindihan tubuh ramping. Dian melangkah ke arah jendela lalu ia menyingkap bagian tengah kain horden dan menariknya ke arah sisi yang berlawanan.

“Aww!!…” gadis itu terpekik kaget melihat sosok wajah yang tadinya disangkanya  adalah Alfi itu ternyata orang lain yang tak ia kenal.

“Ada apa, An?” tanya Nadine menyusul masuk ke dalam kamar setelah mendengar jeritan Dian tadi.

Sandra dan Paijo-pun terjaga dari tidur-nya.

“Oahmmm…kalian rupanya” Sandra berusaha membuang dulu sisa rasa kantuknya.

“Ohh…Sand, Apa yang telah terjadi di sini?” tanya Nadine ikut-ikutan kaget seperti Dian.

Ekspresi wajah Sandra tak terlihat berubah. Meski kedua sahabat karibnya itu memandangnya sambil menunggu penjelasan darinya dengan tak sabar. Ia malah berkata dengan lembut kepada Paijo.

“Tidak perlu kuatir Jo, mereka adalah teman-temanku. Kamu sebaiknya kembali saja dulu ke kamarmu”

Anak itu beringsut dari kasur. ia tak lupa memunguti pakaiannya yang berceceran di lantai sebelum meninggalkan kamar. Penisnya yang telah kembali ke ukuran normal itu  terjuntai dan mau tak mau terlihat jelas oleh pandangan kedua wanita cantik itu.

“Kegilaan macam apa lagi ini” tanya Nadine setelah Paijo pergi.

Mereka bertiga duduk bersila di atas tempat tidur seperti yang sering mereka lakukan pada masa-masa remaja mereka dulu. Lalu Sandra-pun menceritakan semuanya tanpa terkecuali.

“Apakah Didiet sudah mengetahui mengenai hal ini, Sand?” Tanya Nadine setelah Sandra usai menuturkan kisahnya. Nadine

“Belum.”

“Sand, kuanggap kamu telah melangkah terlalu jauh. Bukankah ada banyak cara untuk mendapatkan sebuah kehamilan seperti  bayi tabung atau mengambil benih pada bank sperma bukannya dengan menyuruh anak itu mendonorkan sperma-nya dalam sebuah persetubuhan langsung. Ini adalah sebuah perselingkuhan, Sand.” ungkap Nadine

“Perselingkuhan? Mungkin benar apa yang aku perbuat ini layak disebut perselingkuhan tapi apakah kalian lupa apa yang terjadi dengan rumah tanggaku?. Sebuah rumah tangga yang sudah dipenuhi ketidakwajaran dan itu sudah di mulai sebelum aku menikah. Selama ini silih berganti orang lain yang masuk kedalam kehidupan rumahtanggaku mulai dari Alfi, Dian , kamu lalu Niken dan Lila. Entah siapa lagi yang akan menyusul terseret kedalam hubungan yang aneh ini. Lantas apakah masih ada pengaruhnya dengan hadirnya Paijo di dalam kegilaan ini?”. 

“Aku mengerti Sand. Tetap saja kau tak bisa mencari sebuah solusi bagi masalahmu dengan cara membabi buta seperti ini”

“Engkau tidak mengerti, Nad. Kau bisa mengatakan itu karena kamu sudah memiliki Alfina.Tapi ..Kalian tak tahu bagaimana hancurya perasaanku mengetahui begitu kecil-nya kemungkinan buat diriku untuk bisa hamil” Ujar Sandra dengan suara mulai meninggi.

Ia bukan marah atau kesal akan ucapan sahabatnya itu. Itu adalah ungkapan kekecewaan atas segala situasi buruk yang telah menimpa dirinya. Nadine cepat memeluk sahabatnya yang telah membagi kebahagiaan kepadanya. Nadine hapal dengan sahabatnya itu. Sandra bukanlah type wanita yang cengeng dan gampang menangis seperti Niken. Namun Nadine tahu persis jika ada sebuah kesedihan yang mendalam pada relung jiwa sahabatnya itu. Ia tak ingin Sandra semakin terguncang dalam sebuah dilemma. Dian-pun ikut merangkul. Itu yang biasa mereka lakukan sejak remaja bila ada salah satu dari mereka yang tertimpa oleh sebuah permasalahan.

“Sand. jangan gusar aku tak bermaksud menghalangimu memiliki buah hati dari rahimmu sendiri. Aku hanya tak ingin kau mengambil resiko besar bagi perkawinanmu.”

“Iya dong. Bukankah selama ini kita selalu saling mendukung. Lantas mengapa tak mengapa kamu tidak pernah bilang ke kami soal ini?” ujar Dian.

“Semuanya terjadi diluar kendali. A..ku benar-benar terjebak dalam situasi buruk saat itu. Anak itu hadir disaat aku sedang di landa kegelisahanku dan…tahu-tahu semuanya terjadi begitu saja”

“Sudahlah semuanya telah terjadi. Sekarang bagaimana rencanamu selanjutnya?”

“Kalian tak perlu kuatir. Aku telah memikirkan semuanya. Aku memilih Paijo justru karena tak ada yang akan membuatku terikat secara emosional. Mungkin secara seksualitas Paijo sangat memuaskan dan kemampuan bercintanya di atas suamiku Didiet  namun walau bagaimanapun aku tetap mencintai suamiku. Lagian aku sudah memiliki Alfi jika masalahnya adalah seks.”

“Dengarkan aku Sand. Ketika seorang wanita melakukan perselingkuhan, awalnya ia hanya berpikir akan menjalin sebuah hubungan singkat yang tanpa didasari ikatan emosional. Namun berjalan waktu engkau mulai merasa tergantung dengannya. kau merasa semakin membutuhkan dia. Setelah rasa ketergantungan itu, mulailah terjalin kontak batin diiringi proses saling memenuhi kebutuhan emosional satu sama lain. Hingga akhirnya hubungan itu terus berlanjut di luar kendali dan  menjadi sebuah perselingkuhan yang permanent dan sulit sekali dilepaskan.”ujar Nadine memberikan pandangannya.

“Tapi aku berselingkuh bukan untuk mencari kepuasan seksual atau cinta yang lain, itu hanya karena aku ingin hamil. Dan aku tak berniat menjalin sebuah hubungan dalam waktu yang jangka panjang. Secepatnya begitu aku hamil aku sesegera mungkin mengakhiri hubunganku dengan Paijo”.

“Baiklah bila itu sudah menjadi pilihanmu. Kami cuma berharap engkau tetap konsisten dengan ucapanmu barusan. Lantas bagaimana dengan Alfi sendiri. Aku belum dapat membayangkan apa reaksi Alfi bila memerogi kalian?”

Hening sejenak. Sandra sadar ia belum memikirkan hal yang satu itu. Ia yakin mungkin Didiet tak keberatan akan hubungan dirinya bercinta dengan anak seusia Paijo mengingat kebiasaan anehnya. Sedangkan Alfi,  firasatnya mengatakan jika Alfi tak bakalan bisa menerima seorang pesaing macam Paijo. Alfi.. anak itu meski telah bercinta dengan banyak wanita. Namun Sandra tahu jika hanya dirinya dan Niken-lah yang sangat dipuja-puja Alfi. Alfi menganggap dirinya seakan seorang bidadari yang tercipta untuk dirinya. Bahkan Alfi sering menunjukan hasratnya ingin memiliki dirinya secara utuh jika saja Sandra bukanlah istri dari Didiet.

“Aku juga tak tahu. Namun sebaiknya ia tak usah tahu tentang hal ini.”

“Ya. aku rasa juga demikian.. Sebaiknya mulai sekarang engkau harus pintar-pintar mengatur waktumu bagi ke duanya”

“Sepertinya aku harus fokus meladeni Paijo seorang saja. Oleh sebab itu bisakah aku  minta bantuan kalian buat mengalihkan perhatian Alfi dariku ke kalian berdua?. Hanya untuk beberapa minggu ke depan saja hingga Paijo berhasil membuahiku”

“Yah..Baiklah Sand”

“Berarti kita tak boleh lengah. Ngomong-ngomong kapan ia  kemari?”

“Tenang Nad. Jadwal Alfi buatku masih beberapa hari lagi?”

“Sand, alangkah baiknya jika engkau segera minta pendapat Lila sekaligus memeriksakan diri anak itu secara klinis”

“Aku memang berencana menemui Lila besok. Terima kasih karena kalian telah mau berbagi dalam masalah denganku”

“Hi hi sejak dulu kamu memang biangnya masalah bagi kita bertiga Sand” kata Dian

“Nad..”

“Ya?”

“Mungkin aku telah kualat karena telah membohongi ibumu tempo hari”

“Sudahlah jangan terlalu banyak memikirkan hal-hal yang hanya akan menambah beban pikiranmu” ujar Nadine.

“Oya..Sebaiknya kalian pulang atau menginap saja di paviliun sebelah sebab aku tak ingin kalian ikut-ikutan ditiduri anak itu” Adapun yang di sebut Sandra sebagai paviliun itu sebenarnya  adalah sebuah bangunan yang terletak bersebelahan rumah yang ditempati oleh Sandra.

Perkataan Sandra langsung disambut gelak tawa Dian.

“Kok ketawa? Aku serius tau”

“Hi hi hi. kamu ini Sand. Mana mungkin aku tertarik dengan penis berukuran biasa-biasa saja seperti itu. Boro-boro dapet enak Paling-paling cuma bikin lengket badan saja. Ujung-ujungnya capek deh!”

“Jangan anggap remeh anak itu. Kemaluan anak itu,  besar dan panjangnya mungkin  tak sebanding dengan milik Alfi. Tapi ia memiliki sesuatu yang unik buat menaklukan seorang wanita di ranjang. Jujur saja ia bisa membuat aku mengalami sepuluh kali orgasme disepanjang malam coba kalian bayangkan”

“Yang benar saja Sand? Bagaimana bisa?” tanya Dian tak percaya.

“Entahlah aku juga tak mengerti. Aku merasa ada sesuatu yang aneh pada penisnya.

“Aneh?”

“Ya aneh. Bila benda itu sudah berada didalam tubuhku dan setiap kali bergerak seakan ada sesuatu yang menggelitik bagian dalam organ kewanitaanku. Lalu timbul rasa gatal nikmat yang luar biasa sehingga membuatku cepat sekali mendapat orgasme.”

“Tuh kan. Kamu sudah ketagihan”ujar Nadine.

“Mungkin benar aku bisa menikmati saat ia mengauliku.Tapi itu bukan berarti telah membuktikan teorimu Nad. Bisa saja itu terjadi hanya karena aku mulai jarang disentuh oleh Alfi atau Didiet sehingga aku terlalu antusias. Dan aku rasa itu normal.” Kilah Sandra “Tapi yang jelas kamu tidak usah kuatir Nad. Bukankah tadi sudah kukatakan bahwa begitu aku hamil saat itu juga aku menghentikan ini semua”

“Ya aku juga harap juga demikian.”

“Tapi aku masih penasaran dengan ceritamu tadi. Aku jadi teringat penuturan dari salah seorang temanku. Mungkin ini ada kaitannya dengan mitos yang sudah lama sekali lenyap di jaman modern seperti sekarang ini”ujar Dian

“Mitos?…mitos apa?”

“Ia mengatakan kalau  ada sebuah ilmu yang kerap diburu oleh kaum pria untuk memuaskan wanita dalam hubungan intim yang dinamakan susuk tindik kejantanan. Namun kabarnya ilmu ini begitu langka dan tak dimiliki oleh  banyak orang pintar. Bagi pria yang menginginkannya harus melakukan ritual-ritual khusus terlebih dahulu seperti disuruh berpuasa mutih selama tiga hari. Kemudian pada bagian atas alat vitalnya akan ditindik seperti tindik pada telinga. namun yang dipasang bukanlah anting, tapi rambut kuda yang berasal dari ekor kuda yang telah dirituali oleh si orang pintar tersebut”

“Apa susuk? Maksudmu aku telah ia guna-gunai?”

“Bukan seperti itu. Yang kudengar kaum lelaki melakukan itu bukan bertujuan menaklukan wanita secara mistis namun efek dari susuk itu justru terasa secara nyata dalam hubungan intim. Penggunanya justru kebanyakan pria yang sudah beristri. Sebagai laki-laki merupakan kebanggaan besar jika mampu memuaskan istri di ranjang. hal seperti itu ternyata jauh lebih efektif ketimbang melakukan upaya membesarkan kejantanan.

Saat persetubuhan berlangsung rambut kuda pada alat vital laki-laki tersebut akan menggelitik bagian dalam vagina terutama bagian g-spot sehingga akan membuat wanita cepat mencapai orgasme.Dan tentu saja wanita yang pernah merasakan sensasi kedahsyatan alat vital yang menggunakan tindik kejantanan ini akan menjadi ketagihan. Begitu temanku bilang”

“Ah…Ada-ada saja kamu An. Masa kau masih percaya dengan hal-hal berbau tahayul seperti itu. Lagian mana mungkin anak seusia Paijo ngurusi yang begituan meski ia sudah beristri.”

“Hi hi iya juga sih. Entahlah pikiran itu tiba-tiba saja melintas dalam pikiranku.”

******************************

Di tempat Praktek dr.Lila

Sandra kembali ke tempat Lila setelah satu hari sebelumnya ia mengajak Paijo ke situ  memberikan sample spermanya untuk di teliti. Lila mengatakan jika siklus terjadinya pembuahan terbaik buat Sandra terjadi dua minggu lagi. Namun Lila melihat ada sebuah permasalahan lain. Setelah di lakukan pengujian di laboratorium ternyata sel-sel Sperma Paijo justru tak menunjukan tingkat kesuburan yang baik. Spermanya terlihat berenang dengan lemah.

“Percuma saja Sand sperma anak itu tak akan mampu membuahi sel telurmu”

“Maksudmu si Paijo mandul La?”

“Hmm…. Kondisi yang di alami oleh Paijo disebut infertilitas dimana penyebab utamanya disebabkan oleh ketidakmampuan tubuh Paijo untuk memproduksi sperma dalam jumlah dan kualitas yang baik. Memang ada sejumlah kecil sel sperma Paijo yang subur namun dari sekian juta sel kuperkirakan hanya kurang dari dua persennya saja. Dan jumlah itu tak cukup untuk‘survive’ saat dalam perjalanan menuju ke rahimmu yang terbalik lalu membuahi sel telurmu. Butuh lebih banyak lagi sel sperma yang subur dan  memiliki mortilitas yang bagus dan itu hanya bisa ditemui pada spermanya Alfi.”

“Tetapi bagaimana mungkin ia mandul La. Sebab yang kutahu anak itu bisa membuat hamil teman gadisnya”

“Apabila  dalam kondisi normal mungkin saja terjadi kehamilan secara kebetulan meski kemungkinan terjadinya-pun sangat kecil. Namun dalam kasus-mu dimana kondisi rahimmu menghadap ke belakang…maaf…secara ilmiah aku meragukan hal itu Sand.”

Sandra terhenyak lemah di atas kursinya.

“Berarti yang aku lakukan selama ini sia-sia saja”

“Masih ada jalan lain ada berbagai cara yang dapat ditempuh untuk mengatasinya tapi aku tak menjamin ini berhasil”

“Apa itu La”

“Aku akan memberinya beberapa suplemen atau vitamin  Selain itu aku anjurkan sebaiknya mulai sekarang Paijo lebih banyak mengkonsumsi banyak buah dan sayuran untuk meningkatkan kualitas spermanya serta mengindari memakan daging-dagingan termasuk mengurangi konsumsi produk susu dan olahannya”

“Bukannya susu merupakan sumber protein la? Mengapa Paijo justru tak boleh mengkonsumsinya”

“Benar namun hasil penelitian  menunjukan bahwa laki laki yang mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung daging dan bahan bahan yang terbuat dari susu memiliki kualitas sperma yang lebih rendah bila dibandingkan dengan mereka yang mengkonsumsi banyak buah dan sayuran.” Ujar Lila

“La..”

“Ya?”

 “Apakah semua ini ada manfaatnya?”

“Mengapa kau tanyakan itu? Kau ragu buat mencobanya?”

“Tadinya aku hanya memanfaatkan kehadiran Paijo untuk membuatku hamil La. tapi setelah aku tahu ternyata kondisi Paijo ‘buruk’, Aku tak tahu apakah aku masih perlu meneruskan hubungan ini”

“Sand,  Jika kamu tak menginginkannya kamu bisa saja menghentikan semua ini sekarang. Namun setelah apa yang terjadi tak ada salahnya kalau kau mencoba.”

“Itu masalahnya. Logikaku mengatakan jika aku memang harus menghentikan semua ini tapi Ada bagian diriku yang menginginkan ia tetap melakukan itu meski hasilnya cenderung gagal. Tapi baiklah… Bukankah aku sudah terlanjur memilih jalan ini dan seperti katamu tadi tak ada salahnya bila kucoba sehingga apa yang telah aku lakukan selama ini tak menjadi sia-sia meskipun aku agak ragu jika semua ini akan berhasil”

“Baiklah aku akan membuatkan resep buat Paijo sekarang”

“Sebenarnya ada satu hal lagi yang kukuatirkan”

“Apa itu?”

“Aku takut jika hal ini terjadi berlarut-larut tak hanya akan mengganggu hubunganku dengan Alfi tapi juga membuatku terlanjur tertarik secara seksualitas pada Paijo”

“Begitukah?..tentunya anak itu punya ‘sesuatu’ yang luar biasa, kan?”

Sandra tak menjawab namun dari pipinya yang merona Lila dapat melihat jika terkaannya mengena. Dalam hati Lila membenarkan ucapan Sandra.  Ia-pun pernah mencoba mencicipi bocah-bocah nelayan saat berbulan madu bersama Robert tempo hari di Thailand. Memang tak ada yang menandingi kemampuan Alfi di atas ranjang bahkan gigolo yang katanya terbaik seperti Charan-pun tak ada apa-apanya dibandingkan Alfi. Namun petualangan indah itu tetap memberikan kesan yang sangat mendalam baginya. Ia bahkan tak menolak apabila suatu hari nanti Robert mengajaknya mengulangi petualangan seperti itu lagi. Tentu saja mereka tak pernah memberitahukan mengenai hal tersebut pada Alfi.

***************************
Dian

Dian

Sementara itu ditempat lain di saat yang bersamaan dengan Sandra menemui dr.Lila. Sesuatu sedang terjadi di dalam kamar tidur Sandra. Terlihat beberapa potong pakaian nampak berserakan di lantai kamar. Di atas ranjang itu sedang terjadi sebuah pergumulan yang panas. Terdengar rintihan-rintihan Paijo bersama seorang wanita.

“Oghhhhh! …” rintihan penuh kenikmatan itu terlontar dari bibir Dian ketika ia mendapatkan sebuah orgasme berbarengan dengan terjadinya ejakulasi pada Paijo.

Ternyata wanita itu memang tak lain adalah Dian. Hari ini ia diminta Sandra pulang kantor lebih awal karena kuatir Alfi datang ke sana. Kejadian itu berlangsung begitu saja. Ketika itu ia menemukan si Paijo masih tertidur dalam keadaan bugil di kamar Sandra. Penis kampung yang masih segar itu sangat menggodanya untuk melakukan percintaan di siang ini. Hatinya tergelitik setelah mendengar cerita Sandra mengenai keperkasaan anak itu di ranjang. Sehingga ia tertarik buat sekedar ‘menguji’ kebenaran cerita tentang anak itu. Saat Paijo terjaga dari tidur, ia melihat seorang bidadari cantik yang lain terbaring menyamping tanpa busana di sebelahnya. Tentu saja Paijo tak menolak rejeki yang datang itu. Dian langsung dihajarnya dengan sejatanya yang dapat menimbulkan gelitik nikmat itu. Mereka bercinta dalam kurun waktu hampir satu jam-an dan Paijo Barulah setelah itu akhirnya Paijo mengalami ejakulasi untuk kedua kalinya.

“Sejak tadi ibu keluar terus” ujar Paijo membuat Dian tersipu malu . Kini Dian sudah merasakannya sendiri. Tak salah jika Sandra mengatakan anak ini punya keistimewaan. Alat kejantanannya memang benar-benar terasa enak bila berada di dalam vagina.

“He e…punya kamu… ternyata enak juga” puji  Dian lirih sambil mengusap dada Paijo yang penuh peluh. Lumayan juga anak ini, pikir Dian. Pada pertarungan awal ia mampu membuatnya dua kali orgasme.

Paijo begitu senang mendengar pujian wanita itu. Rasa kebanggaan menyelinap di dadanya. Betapa tidak, sudah dua orang wanita cantik mengatakan hal yang sama. jika bercinta denganya sangat memuaskan. Paijo melepaskan tindihannya dari tubuh Dian. Ia terlentang sejenak memulihkan tenaganya. Butir-butir peluh mengembang dari permukaan kulitnya. Tiba-tiba Dian teringat akan sesuatu. Ia segera bangkit dan mendekatkan wajahnya pada selangkangan Paijo.

“Ibu sedang mencari apa?” Tanya Paijo heran melihat Dian sedang mengamati sambil membolak balik batang penisnya ke sana kemari.

“Jo, burungmu kok ada bulu-bulu begitu di lehernya?” tanya Dian terkejut saat menemukan sesuatu pada bagian bawah leher kemaluan Paijo. Memang bentuknya persis seperti yang pernah dituturkan sahabatnya di kantor.

“Saya juga tidak tahu. Itu sudah ada sejak saya kecil”

“Kamu pakai susuk ya?”

“Susuk? Susuk apa bu?”

“Coba kamu ingat-ingat dulu. soalnya tak mungkin benda ini melekat pada anu-mu sejak kamu lahir Jo”

“Saya tidak pernah begitu… tapi mungkin juga ibu benar. Saya ingat  Bu de pernah  bilang kalau sewaktu berumur lima tahun saya pernah di bawa sama pak de ke tempat orang pinter. Tempatnya jauh di luar desa di sekitar lereng gunung. Saya tidak ingat persis kejadiannya karena saya dalam keadaan tertidur saat di bawa ke sana ”

Benar juga dugaannya tempo hari. Anak ini memang memiliki sesuatu yang di tanam pada kemaluannya. Ternyata mitos itu benar-benar ada. Bahkan efeknya terhadap wanitapun sudah ia dan Sandra rasakan sendiri. Tapi Dian menilai rasa nikmat yang diawali rasa geli seperti itu tak ada bedanya dengan bermasturbasi dengan mempergunakan vibrator dua kepala. Dimana salah satu kepala benda itu bergetar menggelitik bagian klitoris sedangkan satu kepala lagi bergetar di dalam liang senggama. Pada intinya orgasme yang datang wanita terjadi saat itu disebabkan oleh rasa geli yang diaklerasi secara ekstrim Bahkan tak jarang wanita bukannya memperoleh orgasme malahan terkencing-kencing karena tak tahan terhadap rasa geli seperti itu. Tadipun saat mengalami orgasme Dian nyaris tak dapat menahan air kencingnya. Tak menyenangkan sekali. Orgasmenya malah sempat buyar karena kegelian. Dian  membanding-bandingkan antara diri Alfi dan Paijo. Baginya bercinta dengan Alfi tetap adalah yang ternikmat. Segalanya berjalan dengan alami. Meski membutuhkan waktu yang lebih lama untuk membuat seorang wanita mencapai puncak kenikmatan. Namun kenikmatan yang dihasilkan jauh lebih enak dan panjang. Lambat namun pasti Alfi akan menggiring pasangan intimnya kepada fase multiorgasme.

Ukuran kejantanan jelas menjadi factor perbedaan yang tak dapat dibantah. Daging cinta Alfi yang panjang dan besar jelas lebih unggul ketimbang Paijo. Lima senti adalah sebuah selisih panjang yang signifikan. Hanya milik Alfi yang mampu mencapai dasar vagina setiap wanitanya. Mereka dapat merasakan setiap mili organ tersebut menyentuh bagian dalam kewanitaan mereka hingga di dasar liang senggama. Kemaluan berukuran standar seperti milik Paijo juga tak terlalu nikmat dipergunakan pada posisi doggie bukan saja karena tak mampu mencapai kedalaman maksimal namun juga akan lebih sering terlepas saat berlangsung persetubuhan. Pada ukuran diameter Alfi juga unggul dari Paijo. Diameternya nyaris seukuran lengan seorang bayi yang paling gemuk itu akan bersentuhan secara maksimal dengan liang vagina wanita. Satu lagi kelebihan Alfi yang tak dimiliki oleh Paijo. Melakukan keintiman dengan Alfi lebih tepat disebut sebuah percintaan ketimbang persetubuhan. Alfi selalu melakukan hal itu penuh dengan perasaan kasih sayang terhadap pasangan intimnya. Kata-kata sayang dan cinta selalu menghiasi sepanjang percintaan itu berlangsung mulai dari pra-persetubuhan hingga ke pasca persetubuhan. Hal itu mendatangkan perasaanan yang nyaman dan lebih dihargai bagi wanita manapun yang  ia tiduri. Tidak seperti kebanyakan pria yang hanya bisa mengumbar kecabulan lalu tak perduli lagi dengan pasangannya dan jatuh tertidur begitu saja setiap kali usai melakukan keintiman.

“Ibu masih kuat? Kalau tidak saya mau mandi dulu” Tanya Paijo.

Sialan! Sombong betul bocah ini! gerutu Dian dalam hati. Baru bisa bikin perempuan orgasme saja sudah merasa paling perkasa. Muncul keisengannya. Ia bertekad ingin memberi sebuah pelajaran pada Paijo.

“Benarkah aku boleh kan minta sekali lagi? “ rayu.

“Ya tapi satu kali saja ya bu. Soalnya saya harus menemani bu Sandra setelah ini!” jawab Paijo dengan kepongahan

“Aduhh Jo, kamu memang benar-benar jantan.” Ujar Dian penuh kegombalan. Pujian itu makin membuat Paijo besar kepala.

Sok jantan kamu Jo! Tunggulah! Sebentar lagi aku akan membuatmu keok. Umpat Dian lagi.

Sepuluh menit berlalu, Dian telah bersiap-siap melakukan persetubuhan kembali. Kali ini ia ingin melakukannya dengan posisi dirinya di atas agar dapat mengontrol persetubuhan secara penuh. Lalu ia naik ke atas tubuh Paijo yang masih terlentang. Penis Paijo yang sudah berdiri kembali itu ia bimbing masuk ke dalam vaginanya. Bless!! Begitu benda itu tertanam sempurna di dalam liang senggamanya, pinggul Dian-pun langsung berayun. Jika saat bercinta dengan Sandra selama ini mereka hanya melakukan nya dalam posisi missionary dan knee-chess, maka dengan wanita cantik yang satu ini Paijo mendapat sebuah pengalaman baru. Ia dengan leluasa dapat memandang kesempurnaan sososk tubuh yang sedang menduduki perutnya saat itu. Ia pernah melakukannya dengan Surti dulu namun sungguh tak membuatnya nyaman karena Surti begitu pasif dan hanya rebah di atas tubuhnya. Saat ini ia baru merasakan kenikmatan dan keindahan bercinta dalam posisi ini. Tentu saja wanita yang melakukan bersamanya kali ini adalah seorang yang telah berpengalaman. Dian tidak main-main dalam melaksanakan tekadnya. Tangannya bertumpu pada dada Paijo. Kemudian tubuhnya mulai bergerak naik turun secara perlahan. Dian mempergunakan seluruh kekuatan otot-otot panggulnya saat berputar dan bergoyang. Di saat naik otot-otot bagian dalam kewanitaannya-pun beraksi mencengram dan menarik setiap mili batang kemaluan Paijo ke atas. Lalu pinggulnya berputar lambat. Saat itulah Paijo merasakan penisnya di peras-peras. Kemudian Dian melepaskan kuncian vaginanya sambil menyentak turun dengan cepat.

“Aaoooo!!!!” Paijo melolong nikmat.

Paijo menggelepar tak berdaya di bawah kendali Dian. Tubuh anak itu melengkung saat puncak kenikmatan secara dasyat menyengat kemaluannya. Gerakan Dian-pun semakin cepat dan liar. Jemari Paijo mencoba meraih pinggul Dian seakan ingin mencari tempat berpegang sebelum ia jatuh ke dalam jurang kenikmatan yang sangat dalam. Persetubuhan itu baru berjalan kurang dari tiga menit namun Paijo sudah tak mampu lagi bertahan.

“Aargggggg!!!” itu pekik terakhir dari Paijo saat terhempas dalam sebuah ejakulasi hebat.

Creettt…creettt…cretttttt…gumpalan demi gumpalan yang tak dapat dikatakan kental lagi itu berhamburan dari ujung penisnya memenuhi relung-relung lembut vagina Dian.

Penis Paijo terus memancarkan seluruh sisa sperma yang terproduksi oleh tubuhnya buat hari ini. Vagina Dian terus menghisapnya tanpa ampun seakan ingin membetot jiwanya sekaligus. Pandangan Paijo mengabur bersamaan dengan usainya ejakulasi itu. Seluruh ketegangan tadi mengendur. Dua menit berlalu. Perlahan kesadarannya yang menghilang tadi kembali. Paijo dapat mengingat kembali semua yang baru terjadi.

Edann! Yang barusan tadi itu nikmatt sekali. Dalam hati Paijo mengakui kemampuan bercinta wanita di hadapannya itu memang luar biasa. Ia benar-benar tak habis berpikir bagaimana bisa lubang tempik wanita satu ini menjadi demikian enaknya?

“Kamu kok cepat sekali keluar Jo?”

“Eh .iya…punya ibu.. enak.. sekali!… sempit!… ngisepnya.. kuat banget!” puji Paijo disela-sela napasnya yang tersengal-sengal.

“lagi?”tantang Dian.

“Sudah dulu bu. besok saja lagi.”

“Masa begitu saja sudah nyerah? Ayo dong Jo. Tadi kan aku belum dapet”

“Eh anu. Bukan begitu bu. Soalnya saya takut bu Sandra pulang dan saya dimarahi” jawab Paijo ngeles. Anak ini masih bisa sombong juga. Padahal sebenarnya ia  tak punya kekuatan lagi. Penisnyapun sudah mengecil.

“Jangan kuatir Jo. Kan ada aku. Sandra tak bakalan marah.” Ujar Dian membungkuk sehingga wajahnya tepat berada di depan penis Paijo.

“Tapii..tapii..” ujar Paijo kehabisan akal. Sia-sia saja ia berusaha menghindar sebab Dian tak membiarkan kesombongannya semakin membumbung. Dian telah menyergap batang penisnya yang telah menguncup kecil itu. Lalu mengulumnya dengan hisapan yang kuat dan liar. Kontan saja Paijo merintih. Itu bukan lagi rintihan keenakan namun itu rintihan kesakitan.

“Aduuhh.. duhh.. ampunn buu…itu saya sakitt ..saya tidak mauu lagi” pintanya sambil meringis.

Rasa ngilu itu benar-benar merupakan siksaan baginya. Akhirnya Paijo harus mengaku kalah. Ulah Dian menenggelamkan  segala kesombongannya. Penisnya benar-benar terasa sakit hingga ke testisnya. Setengah menit kemudian Dian baru melepaskan kemaluan anak itu setelah dilihatnya benda itu memang tak mampu lagi berdiri.
Paijo

Paijo

“Yah sudah!. Berarti cuma begitu saja kemampuanmu” Cibir Dian. Rasakan! Baru tahu rasa kamu.

Paijo tak dapat berkata-kata lagi. Bisa mampus ia bila terus meladeni kuda betina ini.

Padahal awalnya ia sudah berbangga hati ketika mampu membuat Dian orgasme. Ia pikir ia sudah berhasil menaklukan wanita cantik itu tidak tahunya malah justru ia yang dipecundangi. Terbukti sudah. Alfi memang unggul segala-galanya dari Paijo. Paijo pun tak bisa menandingi Alfi dalam urusan stamina. Baik Dian maupun semua wanita yang pernah ditiduri Alfi selalu kewalahan meladeni keperkasaannya di tempat tidur. Alfi mampu bercinta kapanpun tanpa mengenal kata lelah dan batas waktu. Meski ia harus meladeni begitu banyak wanita. Penisnya selalu kembali berdiri setiap kali selesai melakukan persetubuhan. Alfi-pun tak pernah sekalipun meminta istirahat justru para wanitanya yang lebih dulu minta berhenti. Lila sekalipun tak menemukan jawaban mengapa anak itu memiliki daya tahan sedemikian hebat. Seakan Alfi memang terlahir sebagai   Sedangkan Paijo baru meladeni dua orang wanita saja sudah kedodoran. Dian menilai Sandra sedikit agak berlebihan soal kejantanan anak itu.  Kemungkinan benar jika Sandra hanya terlalu antusias karena jarang di belai Alfi.  Bagi Dian sudah jelas kini hanya Alfi seorang yang mampu membuat ia dan yang lain terhempas dalam lautan kenikmatan tak bertepi. Tak berapa lama kemudian Nadine muncul. Ia terpaksa pulang lebih lambat karena harus menghadiri meeting di kantornya hari itu. terbukti baru meladeni dua perempuan saja

“An!! Apa-apaan kamu” ujarnya kaget melihat ulah sahabatnya itu.

“Hi hi kalem dikit dong, Nad. Aku hanya menuntaskan rasa penasaranku saja. Tidak lebih dari itu kok”. Ujar Dian santai sambil memakai pakaiannya kembali.

 “Tapi kamu seharusnya tak ikut-ikutan melakukannya dengan pemuda itu. Bukankah kita kemari karena sudah sepakat ingin membantu Sandra buat mengamankan situasi.

Bagaimana jika Alfi tiba-tiba saja muncul disaat kamu bersama dengan Paijo?”

“Iya..iya aku juga sudah selesai kok. Aku tadi bosan banget nungguin kamu datang jadi emm…” jawab Dian

Nadine cuma dapat mengeleng-gelengkan kepala melihat ulah Dian.

“Hei kamu! Pindahlah ke kamarmu sekarang!” hardik Nadine pada Paijo.

Paijo cukup terkejut akan ketegasan wanita cantik yang satu itu. Lalu sambil meringis kesakitan ia bergegas memunguti pakaiannya. Sesaat sebelum keluar dari kamar Paijo masih sempat melirik dada besar Nadine yang padat dipenuhi oleh air susu itu. Glekk!  Paijo meneguk air liur sendiri.

********************

Alfi

Ketika Alfi datang siang  itu, Nadine dan Dian telah siap menunggunya di depan teras. Mereka mengatakan pada Alfi jika Sandra telah berangkat ke kota G menyusul Didiet. Lalu mereka mengajak Alfi melakukan percintaan di rumah Dian. Alfi sempat terkejut ketika melihat beberapa bekas kemerahaan pada dada Dian. Ia tahu persis itu bekas apa. Namun ia tak merasa membuatnya. Ia tak terlalu suka melakukan cupangan ataupun gigitan. Tidak mungkin kak Donnie. Pikir Alfi. Ia-pun tahu Donnie maupun Didiet juga tak suka berprilaku demikian. Lantas dari siapa Dian mendapat sebanyak cupangan itu? Mungkinkah kak Dian sudah punya pacar? Mungkin saja pikir Alfi. Dian memang belum mendapatkan jodohnya. Dulu sewaktu Niken menawarinya buat di madu. Tapi Dian menolak dengan alasan ia masih enjoy melajang. Dan ia lebih suka mencari pasangan hidupnya sendiri. Alfi tak jadi menanyakan soal itu. Ia cuma berharap Dian segera mendapatkan pasangan yang sepadan seperti halnya Niken maupun Lila. Demikianlah hal itu berlangsung selama hampir dua minggu. Selama itu semua berjalan dengan baik sesuai dengan yang mereka bertiga rencanakan. Terkadang Alfi muncul. Terkadang ia absen seperti biasa.Hingga pada suatu hari. Di luar perhitungan mereka semua ternyata pada suatu hari Alfi datang di hari yang bukan jadwalnya. Seharusnya hari ini ia bersama Lila. Bahkan tak biasanya Alfi datang di saat jam pelajaran sekolah berlangsung. Ternyata hari itu ia pulang lebih cepat karena ada rapat besar para guru di sekolahnya. Sebelum pulang ke rumah Lila ia memutuskan mampir sebentar ke tempat Sandra  buat mengambil sesuatu di dalam kamarnya. Namun ketika ia hendak masuk ke dalam ia melihat sepasang sepatu di depan pintu. Kebetulan ia hapal itu milik siapa.

“Yeahh..sepertinya kak Sandra sudah pulang” ujarnya gembira.

Alfi bergegas masuk dari samping rumah karena tak dapat membendung rasa rindunya untuk bertemu Sandra. Di dapur ia melintasi Bik Iyah yang baru akan bersiap pergi ke pasar.

“Den ..den Alfi  tunggu jangan masuk ke dalam…” ujar bik Iyah panic melihat kemunculan pemuda itu. Wanita tua itu setengah berlari menyusul Alfi ke arah dalam rumah.

“Loh memangnya kenapa bik? Kak Sandra sudah pulang kan?”

“A..anu..denn. .belumm…tapi  neng Nadine sama neng Dian ada di paviliun sebelah”

“Belum? Lah itu sepatunya ada di depan pintu”

“A..nu  tadi eng…non Dian yang pinjem”

“Masak? ukuran kakinya Kak Dian kan lebih kecil Bik?”

“Ehh maaf salah maksud Bibik… Non Nadine yang pake”

“Wah itu lebih ngga masuk akal lagi bik. Kaki kak Nadine justru lebih gede dari kak Sandra”

Kasihan Bik Iyah ia tak dapat mencari kata-kata yang pas untuk memberikan penjelasan pada pemuda itu. Ia benar-benar mati kutu karena Alfi sangat mengenal semua hal mengenai para kekaksih itu. Jawabannya itu sangat tak memuaskan malah justru mendatangkan kecurigaan bagi Alfi. Alfi menangkap sesuatu yang tidak beres dari setiap ucapan bik iyah saat berbicara dengannya. Kentara sekali kalau bik Iyah sedang berbohong mengenai soal sepatu itu. Ia sangat yakin bila saat ini Sandra ada di dalam kamarnya. Memang selama dua minggu belakangan ia sudah merasakan kejanggalan. Setiap kali ia datang kemari Nadine dan Dian selalu menunggu kehadirannya di sini namun mereka mengajaknya bercinta di rumah Dian Apa sebenarnya yang sedang terjadi saat ini. Mengapa ia tak dapat melihat kekasihnya itu tanpa mendapat penjelasan sedikitpun. ia ingin semua nya menjadi jelas sekarang. Tanpa menghiraukan bik Iyah. Ia melangkah ke arah kamar Sandra.

“Bibik mohonn, aden jangan masuk ke sana” ujar Bik Iyah masih berusaha mencoba menghalagi upaya Alfi buat menerobos masuk ke dalam kamar Sandra.

“Minggir bik” ujarnya mendorong tubuh Bik Iyah kesamping agar ia dapat lewat.

“Aduh bagaimana ini…” ujar Bik Iyah membatin karena tahu sebentar lagi semuanya akan menjadi runyam. Namun apa daya ia tak kuasa mencegah Alfi.

Alfi mendorong daun pintu kamar Sandra memang tak pernah terkunci dan langsung  masuk ke dalam.

“Ohh!! Kakk!!”

Bukan main terperanjatnya Alfi saat melihat pemandangan di atas tempat tidur Sandra. Di atas ranjang itu terbaring sang bidadari yang paling ia sayangi itu dalam keadaan polos tanpa sehelai benang-pun yang melekat pada tubuhnya bersamanya seseorang anak lelaki yang tak ia kenal yang juga dalam keadaan bugil total dengan dada penuh peluh bercucuran. Di sekitar payudara Sandra yang putih bersih itu terlihat jelas banyak bekas-bekas cupangan berwarna merah. Darah Alfi naik dengan cepat ke ubun-ubunnya di saat yang sama jilatan api cemburu membakar hatinya. Rasa yang tak pernah menghinggapi hatinya bila melihat sosok Didiet, Donnie ataupun Robert saat bersama-sama dengan para wanita yang ada di dalam kehidupannya..

“Ohh! Fi  ka..mu..” Sandra juga terkaget hingga tak tahu harus berkata apa-apa menghadapi situasi saat itu.

“Siapa dia kak?!”

“Fi.. se..bentar kakak akan jelaskan ini semua. Kamu tunggu kakak di luar ya sayang” ujar Sandra belingsatan sambil mencoba mencari pakaiannya yang tercecer di lantai.

Sandra mengira ia dapat mengendalikan situasi dengan sebuah bujukan lembut kepada Alfi. Ia tak sadar jika Alfi tak menghiraukan ucapannya. Saat itu semua pancaindra dan pikirannya hanya tertuju pada sosok hitam di hadapannya. Matanya menatap tajam ke arah si penyusup itu. Alfi benar-benar dalam keadaan sudah tak dapat membendung emosinya lagi. Tanpa di duga-duga sebuah pukulan melayangkan deras ke wajah Paijo.

Buuukk!! Pukulan keras itu tepat menghantam pipi sebelah kiri. Paijo yang tak menduga jika dirinya akan di serang dalam keadaan tidak siaga. Ia terpaksa menerima mentah-mentah hantaman tersebut sehingga tubuhnya terjengkang. Untung saja ia jatuh ke atas tempat tidur sehingga ia tak sampai mengalami cidera. Tapi ia tak belum dapat bernapas lega sebab sebuah pukulan dari Alfi kembali menghajar wajahnya. Sandra-pun terkejut melihat reaksi cepat Alfi yang tak sempat ia cegah.

“Fiii Janggaannn!”pekik Sandra yang dalam keadaan sedang memakai pakaiannya.

“Aduhh nonnnn!!” Bik Iyah ikut terpekik panik.

“Fii!! Hentikann..!Dengarkan kakakk duluu!” teriak Sandra sambil berusaha memegang lengan Alfi dengan tujuan untuk menghentikannya. Namun hal itu sia-sia saja. Cekalannya kembali terlepas. Alfi bagai kesetanan memburu kemanapun Paijo bergerak sambil melancarkan pukulan demi pukulan. Karena terpojok akhirnya Paijo-pun membalas memukul.

“Kurang ajar! Rasakan ini!!” ujar Alfi bertambah berang melihat adanya perlawanan dari musuhnya itu.

Karena terlalu emosi Alfi  tak sempat lagi memikirkan tentang jurus karatenya. Ia meladeni Paijo berkelahi secara serabutan. Pada sebuah kesempatan sebuah pukulan Paijo berhasil menghantam wajah Alfi namun Alfi seolah tak menghiraukan balasan Paijo tersebut. Keduanya kini terlibat saling adu pukulan dan tendangan namun pukulan Alfi lebih banyak yang mendarat. Terus menerus dihajar Paijo tak tahan juga. Wajah anak itu sudah babak belur. Keadaan kamarpun jadi berantakan akibat pergumulan kedua pemuda itu. Sandra dan bik Iyah sudah kewalahan melerai perkelahian itu. Untung saja Dian dan Nadine segera datang di tempat itu. Mereka bergegas kesana setelah mendengar kegaduhan ini. Setelah di bantu oleh kedua sahabatnya barulah mereka dapat memisahkan pergumulan itu. Sandra berdiri di antara ke dua pemuda itu sehingga menghalangi usaha Alfi buat kembali menghajar Paijo.

“Apa-apaan kamu FI!!” ujar Sandra sambil mendorong tubuh Alfi dengan keras.

Selain berang melihat semua perlakuan kasar Alfi pada Paijo juga karena sejak tadi Alfi tak lagi menghiraukan kata-katanya. Paijo terlihat meringis kesakitan. Pada wajahnya nampak lebam sementara dari hidungnya mengucur darah. Sementara Alfi sendiri juga tak luput dari cidera nampak beberapa memar-memar pada bagian wajahnya.

 “Kakak minggir!! Alfi belum puas menghajarnya!!” Alfi bertambah berang mendengar pembelaan Sandra buat Paijo.

Ketika ia berusaha buat kembali menyerang saingannya itu….PLAKK!! sebuah tamparan keras Sandra mendarat di pipinya dan membuatnya tertegun. Betapa menyakitkan rasanya namun bukan pipinya yang perih melainkan hatinya. Tindakan Sandra itu sungguh di luar dugaannya. Belum pernah selama ini ia melihat Sandra terlihat begitu marahnya dan berlaku kasar kepadanya. Tak hanya Alfi semua yang ada di ruangan itu terkejut melihat hal itu.

“Kakk? Kenapa?…”

“Kau memang patut menerimanya! Datang-datang langsung main pukul. Kau benar-benar keterlaluan dan sudah tak menghargai aku lagi!”

Bola mata Alfi mendadak terasa perih. Sia-sia ia saja berusaha keras menahan butiran air bening yang hendak meleleh dari sudut mata-nya. Sebenarnya ia tak ingin terlihat cengeng di depan si pengganggu itu. apalagi ia memang tak pernah menangis sebelumnya. Tapi semua ini sudah di luar kendali.

“Aneh kok malah kamu yang nangis?! Padahal si Paijo-lah sang korban di sini!” ujar Sandra sebal

“Kak! Alfi tidak suka melihat kakak bersama dia!”

“Huh! ..Apa hakmu melarangku bersama dengan pria lain? Bukankah selama ini aku juga tak pernah menghalangi dirimu utuk tidur dengan wanita lain?! Lantas mengapa kini aku  tidak boleh melakukan hal yang sama sepertimu?”

“Tapi Kak.. kenapa kakak lakukan ini?!! Apa salah Alfi?!”

“Harusnya kau bisa mengingat bagaimana kau dengan seenaknya memperlakukan diriku selama ini. Dimanakah dirimu di saat-saat aku membutuhkanmu?”

“Kakk..Alfii benar-benar minta maaf soal itu. Alfi berjanji tak akan mengulanginya lagi tapi suruh anak itu pergi kak…Alfi mohonn!” ujar Alfi sambil meraih tangan Sandra Sandra dan menciumnya dengan harapan Sandra mau mengabulkan permintaannya. Ia benar-benar tak menyangka jika perbuatannya selama ini telah membuat Sandra berpaling ke orang lain.

“Dasar egois! Semudah itu kau mengucapkan maaf! Tidak bisa. Saat ini aku hanya  ingin Paijo yang menemaniku. Kau bisa toh bersama yang lain. Sekarang lepaskan tanganku!” Sandra berusaha menarik tangannya namun Alfi masih belum mau melepaskannya.

“Tidakk Kaakk…tolongg jangan lakukan ituu  Alfi cinta sama kakak!! Alfi sayang sama kakak!!” pekik Alfi dengan suara  pecah  bercampur tangis sambil tetap menggengam jemari Sandra. Ia tak tahu lagi bagaimana caranya agar Sandra kembali kepadanya.

“Apa kau bilang? Cinta? Huh! Coba kau tanyakan pada dirimu sendiri, benarkah yang ada di dasar hatimu itu adalah sebuah cinta? Omong kosong! Apa yang telah kita lakukan selama ini tak lebih hanyalah ungkapan napsu birahi semata!”

“Tidak kakk…Percayalah kak! Alfi benar-benar cinta dan sayang pada kakaaak”

“Cukup! Aku tak ingin mendengar itu lagi. Dan lepaskan tanganku atau aku tak bakalan sudi lagi bertemu denganmu.”

Alfi terpaksa melepas tangan pujaannya itu.

“Mulai sekarang aku tak ingin lagi kau mencampuri hubunganku dengan Paijo! Apabila kau tak suka kau boleh angkat kaki dari sini!”

“K..ak..” Suara Alfi tercekat dikerongkongan. ia sungguh tak menyangka Sandra, kekasih, cintanya itu mampu mengeluarkan perkataan setega itu padanya. Apakah ia telah lupa saat-saat kala mereka berdua menumpahkan kasih sayang? Apakah benar semua itu hanyalah gairah semata?

“Mari Jo biar aku obati dulu wajahmu!” ujar Sandra tanpa menghiraukan Alfi lagi. Lalu ia membalikan badan sambil membimbing Paijo masuk ke dalam kamarnya.

Alfi merasakan hatinya bertambah perih mendengar kalimat terakhir dari Sandra barusan.

Alfi sudah tak lagi berusaha mengejar Sandra ataupun Paijo. Ia duduk terhenyak di sebuah kursi lalu meletakan kepalanya di meja sambil tersedu-sedu. Kejadian ini benar-benar telah mencabik-cabik perasaannya. Nadine dan Dian yang sejak tadi menyaksikan semua itu tak dapat berkata apa-apa. Alfi menepis tangan bik Iyah yang hendak membantu memoleskan balsem pada pipinya yang mulai bengkak.

“Biar saya saja yang mengobati Alfi Bik” ujar Nadine

Wanita tua itu akhirnya meninggalkan mereka.

“Fi ayo kita ke Paviliun nanti kakak akan menjelaskan semuanya”

******************************

“Fi Mari biar kuobati dulu memarmu” ujar Nadine saat mereka berada di Paviliun.

“Tidak usah kak. Biarkan saja.”

“Jangan begitu. Nanti sakit dan bekasnya tidak hilang-hilang jika tak di obati”

“Sepuluh kali lebih sakit dari ini masih bisa Alfi tahan ketimbang perih di hati Alfi sekarang. Perasaan Alfi benar-benar sungguh hancur kak”

“Iya iya kakak tahu itu…sekarang diam sejenak biar balsam ini tak kena matamu”

Alfi masih bermuka masam saat pipinya di olesi dengan balsem oleh Nadine.

Kesedihan hatinya terasa menghimpit dadanya beberapa kali lipat dari sebelumnya. Benarkah  Sandra sudah tak lagi memiliki perasaan sayang terhadapnya.Dan apa yang menjadi keistimewaan anak itu sehingga Sandra  lebih memilih anak itu ketimbang dirinya? pikir Alfi heran. Pastilah si Paijo bertambah jumawa dan merasa besar kepala akibat pembelaan Sandra terhadapnya.

“Fi, biarkan saja kak Sandra-mu. Lagian kan masih ada kami Fi” ujar Dian.

“Kok kakak malah belain anak itu? bahkan kakak berdua tak pernah memberi tahu Alfi padahal  sudah tahu hal ini sejak lama”

“Fi jangan salah paham. Kami cuma ingin membantu kak Sandra-mu bukannya Paijo”

“Sama saja kak. Tetap saja si Paijo yang dapat enaknya!”

“Jangan-jangan.. kakak berdua juga pernah…..?” pertanyaan itu tiba-tiba saja melintas di benaknya, hatinya bergetar penuh kekuatiran karena baru menyadari ada kemungkinan bocah kampung itu bertualang lebih jauh di dalam wilayah kekuasaannya.

Sejenak Dian dan Nadine diam.. Kedua gadis itu diam sejenak karena hendak mencari kata-kata yang pas buat menjelaskannya pada Alfi. Terutama Dian yang pernah tidur dengan Paijo. Namun Alfi yang sedang sedih dan kesal langsung dapat menangkap dan mengartikan  kediaman mereka.

“Benarkan kak?!” kejar  Alfi bertambah penasaran dengan kediaman mereka berdua.

Tiba-tiba ia teringat akan bekas cupangan pada dada Dian tempo hari. Lalu membanding-bandingkannya dengan apa yang tadi siang ia lihat di dada Sandra.

“Itu tidak benar, Fi” jawab Nadine.

Alfi maju ke arah Dian. Lalu dengan sigap ia membuka satu persatu kancing blouse Dian.

“Fi kamu mau apaa?” tanya Dian heran melihat perbuatan Alfi.

Meski sudah hampir hilang namun ia masih dapat melihat tebaran cupangan secara samara-samar di permukaan dada Dian.

“Ini apa! Tuhh kan sama dengan kak Sandra!…berarti pernah!…Woaahhhh!!!” Alfi tak dapat menahan kekesalan dan kesedihannya ia menangis meraung sejadi-jadinya. Ia sungguh tak rela para bidadarinya di jarah satu persatu oleh Paijo.

“Baik Fi kakak ngaku! kakak memang pernah melakukannya tapi cuma sekali dan karena iseng saja Kok dan kakak berjanji tak bakal mengulanginya lagi.” ujar Dian berkilah.

Sebenarnya ia juga kesal akan ulah Paijo yang melakukan cupangan saat bercinta dengannya. Bikin repot orang saja! Gerutu Dian dalam hati. Pasti Alfi tadi sempat melihat kondisi tubuh Sandra yang mirip dengan yang ada ditubuhnya saat ini sehingga Alfi dapat menduga dan membuktikan secara tepat bahwa itu adalah bekas percintaan yang telah ditinggalkan oleh Paijo.

“Sama saja!! Huu..huu berarti kakak semuanya telah menghianati cinta Alfi!” teriak kesal anak itu membaur dengan tangis.

Nadine dan Dian benar-benar merasa iba sebab ia belum pernah melihat Alfi sesedih ini. Namun mereka berdua nyaris tertawa karena geli akan ucapan Alfi itu. sekuat tenaga mereka menahan keinginan tawa mereka sebab tak ingin kekesalan Alfi semakin menjadi-jadi. Memang terkadang mereka sendiri tak begitu yakin apakah kata ‘cinta’ yang kerap Alfi ucapkan pada mereka itu adalah sebuah cinta yang sesungguhnya atau cuma ungkapan rasa suka yang berlebihan yang lebih didasari oleh nafsu birahi semata.

“Ihh…apa juga kataku!” ujar Nadine membesarkan bola matanya pada Dian sambil berusaha menenangkan anak itu.

“Pasti kakak juga begitu, kan?!” kali ini pandangan Alfi tertuju kepada Nadine.

“Fi  dengar dulu! Sungguh cuma Sandra dan aku yang pernah berhubungan intim dengan-nya, kak Nadine-mu tidak mau ikut-ikutan Fi. kamu boleh periksa kalau tak percaya” jelas Dian

“Alfi tetap tidak terima!! Whu huuu huu…” tangis Alfi tak juga mereda meski tahu seorang bidadarinya tak sampai ikut di ‘makan’ Paijo. Ia tetap merasa rugi terutama menyangkut soal Sandra sang bidadari utamanya.

****************************

Hari mulai gelap tapi Alfi belum dapat menghilangkan kesedihan hatinya. Ia duduk diberanda paviliun sambil terus menatap ke arah jendela kamar Sandra. Nadine mengeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Alfi tersebut lalu. Ketika malam semakin larut. Alfi bertekat masuk untuk menemui Sandra. Ia ingin meminta maaf atas kejadian tadi sore dengan harapan kali ini Sandra mau kembali padanya dan mengusir Paijo. Ia juga takut jika aksi Paijo akan makin melebar ke bidadarinya yang lain. Namun rasa penasarannya malah membuat hatinya bertambah sakit. Dari celah pintu kamar Ia harus menyaksikan bagaimana Paijo menujukan dominasi dan legitimasinya atas tubuh wanita yang paling ia sayangi itu  sekaligus memberikan sebuah orgasme.

“Jooo…..akuuu…dapettttt!!! Oughhhhh!!” tubuh Sandra tersentak-sentak dalam letupan kenikmatan dasyat itu.

Paijo mendekap pinggang Sandra sambil melakukan tusukan jauh. Sandrapun menyambutnya dengan mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi sehingga  Pubicnya yang tertutup rapat oleh bulu-bulu itu melekat kuat pada pubic hitam Paijo. Saat inilah yang sangat dinanti-nantikan Paijo. Seperti yang sudah-sudah disaat orgasme vagina Sandra akan menghisap penisnya secara kuat dan akan membawa ikut dirinya mengalami ejakulasi yang sangat enak secara bersamaan.

Crettt…creettt…creettt

“Oghhhhh…buuuu..enakkkk!!!” pekik Paijo tertahan, air maninya bermuncratan hingga meluber keluar dari sela-sela tautan kemaluan mereka.

Ketika itu Sandra menoleh ke arah pintu. Ia melihat wajah penuh kesedihan Alfi di sana. Ia jadi merasa iba dan tak tega juga melihat kedua pipi Alfi telah basah oleh air mata. Walau bagaimanapun anak itu sudah mempunyai tempat di dalam hatinya. Perkataan kasarnya tadi sore ia ucapkan hanya karena tak suka melihat Alfi memukul Paijo. Sandra berencana akan menemui Alfi dan menjelaskan semuanya besok pagi setelah hati anak itu agak tenang. Alfi kembali lagi ke Paviliun. Baru kali ini ia merasakan menjadi orang yang kalah. Menyaksikan secara langsung proses penyetorkan benih bayi oleh Paijo kepada Sandra membuatnya limbung tak bertenaga.

“Bukankah tadi kakak sudah melarang kamu ke sana Fi?” ujar Nadine melihat Alfi duduk  melamun di teras tanpa menghiraukan puluhan nyamuk lapar berebut mengigitinya..

Akhirnya Nadine memutuskan untuk membawa Alfi pergi ke rumah Niken malam itu selain merasa kasihan juga karena kuatir Alfi menjadi tak dapat mengendalikan emosinya sehingga terulang lagi keributan seperti tadi siang dengan Paijo.

*************************

Malam sudah semakin larut ketika mereka tiba di rumah Donnie dan Niken

“Gwha..ha.haa!” terdengar gelak tawa Donnie setelah mendengarkan penuturan dari Alfi padanya. Matanya sampai berair karena tak kuat menahan geli.

“Loh kok kak Donnie malah tertawa seperti itu? kakak ikut senang ya melihat Alfi apes seperti ini” ujar Alfi bertambah kesal.

“Bukan begitu Fi…ha ha aku cuma teringat kejadian dulu ketika aku pertama kali melihat kau meniduri kak Niken-mu. Aku tak menyangka ternyata kamu-pun bisa merasakan  kecemburuan..Ha.ha,ha!”

“Sudahlah mas. Nanti Alfi makin sedih” ujar Niken yang sedang menyusui si Fini kecil.

“Iya  ya…maaf kakak Fi. tapi percayalah kakak juga tidak suka orang asing masuk ke dalam ‘lingkungan’ kita. Tapi kakak juga tidak setuju jika kamu langsung main pukul seperti itu.”

“Alfi kesal sekali kak! Alfi tidak rela kak Sandra digituin sama dia! Dan gara-gara dia Alfi dicampakan kak Sandra. Rasanya Alfi ingin dia itu…  arghhh!!” ujar Alfi  meremas rambutnya karena kekesalannya kembali memucak saat teringat akan pemandangan yang dilihatnya di dalam kamar Sandra tadi sore.

“Sabar dulu Fi. sebaiknya kamu jangan berprasangka buruk dulu terhadap Sandra. Kupikir Sandra tak sampai membencimu. Ia hanya marah karena kamu memukul Paijo”ujar Niken

“Sudahlah, besok-besok biarlah Niken yang akan berbicara pada Sandra soal ini. Sekarang kamu nginap saja dulu di sini. Dan untuk sementara waktu selama anak itu masih di rumah Sandra sebaiknya kamu tidak usah ke sana-sana dulu”

“Nien..aku pulang dulu. Kasihan Alfina sejak pagi ia kutinggal sama ibu di rumah” ujar Nadine.

*****************************

Setelah Nadine pergi.

“Fi, kamu tidur dengan kak Dian-mu di kamar bawah ya” bujuk Niken.

“Alfi ngga mau tidur sama kak Dian! Alfi mau ke rumah kak Lila saja malam ini”

“Aduh Fi, kakak kan sudah minta maaf tadi” ujar Dian jadi ikut-ikutan merajuk.

“Sudah..sudah …kamu sama kakak malam ini Fi” ujar Niken berusaha menengahi keributan kecil itu.

“Nien, ini kan belum sampai empat puluh hari?” Tanya Donnie.

“Ga pa pa kok mas, rasanya aku sudah bersih sekarang” jawab Niken.

Malam itu setelah menidurkan putrinya. Niken kembali  melakukan persetubuhan dengan Alfi.setelah tiga bulan berpisah ranjang  Meski belum sampai empat puluh hari sejak ia melahirkan. Wanita cantik itu rela melakukan itu demi membuang kesedihan Alfi. Percintaan itu berlangsung di hadapan suaminya. Donnie tahu selain Sandra hanya istriya yang memiliki ikatan batin begitu besar dengan Alfi. Niken memang mampu membuat hati Alfi nyaman. Namun penis besar Alfi lumayan membuat Niken sedikit kesakitan pada saat penetrasi.

“Nien kamu ga pa pa kan?” Tanya Donnie melihat bercak merah menyelimuti kulit penis Alfi. Penuh sekali belahan vagina istrinya itu. Alfi memang sudah sangat kangen dengan mantan gurunya itu. Ia melakukan genjotan dalam tempo yang sangat lambat. Seakan ingin menikmati setiap gesekan kulit  penisnya dengan kelembutan liang senggama Niken.  Liang senggama Niken-pun tak berubah sama sekali setelah melahirkan. Alfipun kali ini dapat menikmati air susu Niken sepuasnya sambil menikmati lumatan istimewa liang vagina Niken.

“He e mas….Cuma perih sedikit”

“Tapi enak kan?”

“He em enak banget” ujar Niken sambil tersenyum geli.

Malam itu Donnie bukan saja tak dapat porsi ia juga harus rela Alfi mengambil ‘keperawanan kedua’ istrinya. Ia harus puas dengan hanya beronani karena Alfi tak pernah sekejabpun melepaskan dekapannya dari  tubuh Niken. Pantatnya yang bulat terus menerus berayun dan hanya sesekali saja berhenti henti sepanjang persetubuhan. selama  itu juga erangan demi erangan kenikmatan mereka berdua silih berganti menambah panasnya percintaan itu.

“Oughhhh Fii!! Kakak dapetttt!!” pekik Niken ketika orgasmenya menjelang. Itu sudah yang kesekian baginya.

“Ohh kakk …Alfiii juga dapett!”

Crotttt…crottt..crottt..

Alfi belum mereda. Tapi ia sadar Niken perlu banyak beristirahat karena harus bangun malam menyusui putri mereka. Alfi mengecup kening Niken lalu bangkit dari tempat tidur.

“Loh Fi, mau kemana?” Tanya Donnie heran.

“Alfi ga mau kak Niken kelelahan. Biar Alfi sama kak Dian dulu”

Niken tersenyum.

“Baiklah. Tapi jangan bertengkar lagi ya”

“Iya kak”

“Mas di sini saja. Biarkan mereka berdua” ujar Niken mencegah Donnie ikut-ikutan bangkit.

Tanpa mengenakan pakaiannya lagi, Alfi pindah ke kamar bawah di mana Dian sedang terbaring sendirian di sana.

“Oh  Fi..Kamu?”

Alfi naik ke tempat tidur. Langsung membekap bibir Dian dengan ciuman membara. Dian membalas ciuman itu. Tangannya melingkar di leher Alfi. Satu persatu kancing baju tidurnya terlepas sehingga dadanya yang tak terbungkus lagi oleh Bra itu membusung terkeluar . Ciuman Alfi beralih dari bibir menuju leher jenjang Dian. Menjelajahi tiap jengkal permukaan kulit halus itu hingga sampai pada kedua bukit kembar indah di dada Dian.

“Engggg Fiii” desahnya manja ketika bibir Alfi melumat salah satu puting susunya

Dian menggeliat dan mengerang menahan nikmat yang diberikan Alfi.

“Ohh Fiii.. masukinn kakak sudah pingin banget” bisik Dian sambil menarik celana dalamnya kesamping memungkinkan penis Alfi menyusup ke dalam miliknya.

Alfi membentangkan kedua paha kekasihnya itu sambil mengarahkan ujung kulupnya ke vagina Dian yang tertutup oleh bulu-bulu halus nan lebat. Alfi menekan pantatnya perlahan. Lalu sedikit demi sedikit penisnya tenggelam. Menuju kedalaman paling dasar dari liang senggama Dian.

“Argghh…” Dian menggelepar saat mulut rahimnya tertekan oleh ujung kulup Alfi.

Penuh sekali. Benda yang pernah merobek keperawanannya dulu itu sudah tubuh secara sempurna seiring kedewasaan Alfi. Tak ada lelaki lain yang dapat menandinginya. Alfi mendiamkan penisnya. Ia belum mengocok sambil memandangi wajah cantik Dian di bawah temaram lampu kamar. Dian-pun balas menatapnya.

“Hmm kamu sudah memaafkan kakak, sayang?”

“Kakak.. berjanjilah untuk tidak melakukannya sama Paijo lagi”

“Tentu sayang. Kakak berjanji”

Mereka kembali berciuman secara  panas. Alfi-pun mulai mengayunkan pinggulnya memulai percintaannya di malam yang panjang dan sahdu itu.  Dian benar-benar dibuat Alfi  tak berdaya. Ia menggelepar dalam keindahan multiorgasme di sepanjang persetubuhan berlangsung. Tubuh keduanya terus berayun dalam ritme yang harmoni.

Mereka bercinta kurang lebih dua jam dan setelah Alfi mendapat orgasmenya yang ke tiga barulah segalanya berhenti. Mereka  tertidur tetap dalam posisi missionary dengan penis Alfi masih menancap pada vagina Dian. Setidaknya percintaan dengan kedua wanita malam itu bisa membawa ketenangan sementara bagi jiwa Alfi yang sedang terguncang.

***************************

Esok harinya di apartement Robert dan Lila

“Fi, kak Sandra-mu melakukan itu agar ia dapat hamil bukannya semata-mata karena benci atau bosan padamu” ujar Robert. Ia sudah mendapat penjelasan dari Nadine tentang kejadian malam itu.

“Tapi mengapa harus sama Paijo? Pokoknya Alfi ngga rela!”

“Haihh…..kamu sayang dengan Kak Sandra-mu kan Fi?”

“Iya lah kak buktinya Alfi sedih begini. Kok ditanya lagi”

“Fi… Sayang dan cinta adalah sesuatu anugrah yg kita terima datang dengan sendirinya tanpa harus memikirkan untung dan rugi terhadap apapun. Tapi rasa sayang dan cinta itu tak hanya sekedar ucapan dibibir saja. Atau ditunjukan dengan seks yang menggebu-gebu. Cinta butuh lebih dari itu. Ia butuh sebuah pengorbanan yang kita beri tanpa rasa pamrih ikhlas dan tulus tanpa mengharapkan balasan apa-apa. Cinta itu akan menjadi sesuatu yang lebih indah ketika kita bisa berkorban buat kebahagian orang yang kita cintai. Walau pengorbanan itu menjadi hal yang menyakitkan buat kita. Aku tahu kali ini kasusnya berbeda dengan sewaktu kau merelakan Kak Lila-mu menikah denganku dulu tapi  justru saat inilah sebenarnya rasa cinta dan kasih sayangmu terhadap Sandra diuji. Walaupun ini terasa sangat berat buatmu, tapi aku berharap kau bisa melalui ujianmu ini. Bukankah ada ungkapan yang berbunyi seperti ini ‘cinta dan sayang itu akan selalu abadi di hatimu walau kau tak dapat memiliki balasan dari orang yang kau cintai itu’.

“Alfi ngga suka dengar ungkapan itu kak” ujar Alfi cemberut.

“Suka atau tidak suka kamu harus mau menerima kenyataan yang menyakitkan ini demi kebahagiaan Sandra , Fi.  Itu bila kamu benar-benar mencintai kak Sandra-mu”

“Lantas… Alfi harus gimana sekarangg kak?”

“Saat ini biarkanlah kak Sandra-mu menjalin hubungan bersama dengan Paijo. Kamu harus rela sebab Sandra juga berhak mendapatkan apa yang ia dambakan selama ini dan hal tersebut tak dapat kamu berikan. Dan aku yakin hubungan mereka hanya berlangsung  hingga Sandra memperoleh kehamilan.”

Membiarkan Paijo anak udik itu bersama bidadarinya? Apa yang lebih menyakitkan dari itu?

“Kamu paham dan mau menuruti semua ucapanku Fi?”

“i..yaa..pa.ham ..kaak hk hk huh u ”  jawab Alfi. tubuhnya terguncang-guncang sambil terisak-isak ia tak menyangka begitu menyakitkan sebuah pengorbanan itu.

“Bagus itu baru namanya seorang lelaki jantan” ujar Robert berusaha membuat hati Alfi lebih tegar.

“Satu hal lagi. Kau harus menjaga jangan sampai hal ini sampai terdengar oleh Didiet agar tak menimbulkan permasalahan bagi perkawinan mereka berdua”.

“Kamu harus tabah ya Fi” hibur Lila. Ia sesungguhnya ingin menghibur anak itu dengan sebuah percintaan namun berhubung usia kandungannya sudah memasuki masa-masa rawan maka ia tak dapat berbuat apa-apa kecuali menghiburnya dengan ucapan.

*********************************

Satu minggu sudah kejadian itu berlalu. Alfi tak pernah lagi menampakkan batang hidungnya di rumah Sandra. Tak terasa  liburan kenaikan kelas bagi Alfi-pun tiba. Hingga pada sebuah siang. Terlihat Paijo sedang tertiduran di ruang strika. Sejak bercinta dengan Sandra. Ia menjadi sering ketiduran di siang hari bolong. Fisiknya tak mampu bekerja rangkap siang dan malam. Saat ia terjaga dari tidur lelapnya. tiba-tiba saja ia terkejut bukan main.

“Eh Ohh..jangkrikk! Kamuuu   mauu a.paa.?”ujar Paijo terkejut bercampur gugup melihat orang yang  menyerangnya beberapa hari yang lalu kini tengah duduk di samping tempat ia tertidur.

“Tenang Jo. Bila aku ingin mencelakaimu itu bisa saja aku lakukan sejak tadi saat kau tidur”

“Sebaiknya kamu keluar dari sini atau saya bakal lapor ke bu Sandra!”

“Silakan saja bilang ke kakak. Aku tidak takut kok Tapii ..Ehem..kudengar-dengar kamu punya istri di kampung ya dan kabarnya dia itu mantan bunga desa”

“Kamu  kamuu..mau apa?”

“Kasihan dia pastilah sangat kesepian karena lama ditinggal suami merantau. Aku rasanya ingin sekali mampir menengok ke desamu sekaligus mencicipi bagaimana rasanya nikmatnya jepitan  memek seorang perempuan kampung. Meski sedang hamil yah…lumayanlah.”

“Setaann!!” ujar Paijo berang.

 Ia tak dapat menahan emosinya mendengar ucapan-ucapan Alfi tentang Surti.. Ia bangkit dari kursi dengan kedua tangan terjulur mengarah ke leher Alfi. Namun Alfi tak tinggal diam. Sebelum tangan Paijo berhasil meraihnya, dengan mudahnya ia menghindar dan menangkap lengan Paijo lalu memuntirnya sehingga tubuh Paijo hilang keseimbangan dan  jatuh terterungkup di lantai. Kini Paijo benar-benar tak dapat berkutik Posisi Alfi tepat menindih punggungnya sementara tangan kanannyapun terkunci dibelakang. Alfi tetap bukanlah tandingan Paijo. Meski dari ukuran fisik dan usia mereka tak jauh berbeda. Gemblengan ilmu bela diri dari Donnie sudah banyak yang ia kuasai dengan sempurna sekarang.

Kali ini Alfi bertindak lebih tenang tak seperti pada hari saat mereka pertama kali berkelahi.

“Aduhhh… sakittt!!!Lepaskan!!” teriak Paijo. Tapi ia baru teringat kalau bu denya sedang tak di rumah saat itu. Harapannya tinggal pada Sandra yang mudah-mudahan dapat mendengar jeritannya.

“Silakan berteriak maka akupun akan sekalian mematahkan batang lehermu.” Ancam Alfi. Ia membuktikan ancamannya dengan memutar kunciannya lebih jauh sehingga membuat Paijo semakin kesakitan.

“Ampunnn kang…lepaskan saya …sakittt!! Hu  huuu huu” rintih Paijo yang juga mulai meratap dan menangis. Ia benar-benar tak berdaya kali ini.

“Huh! Kau sendiri yang datang mencari gara-gara. Sudah punya istri tapi masih mau menggangu milik orang lain. Tidakkah kau berpikir sia –sia saja penantian istrimu selama ini. Entah bagaimana perasaannya ketika mendengar suaminya bukannya mencari uang buat biaya ia melahirkan  tapi malahan enak-enakan bikin bayi baru di rantauan.” Ujar Alfi mengkuliahi Paijo.

“Ja..gaannn …toloongg jangann ganggu Surtiii Kangg…apalagi katakan hal itu padanya. Aku tak ingin ia tahu dan sedih… sayaa akan meninggalkan tempat ini sekarang juga bila itu mau akang ..huh ..huuu…” mohon Paijo dalam tangisnya. Ia menjadi sangat ketakutan bila perbuatannya bakal diketahui oleh Surti dan gadis itu akan meninggalkan dirinya.

Tiba-tiba Alfi mengendorkan kunciannya. Ia juga melepaskan tindihannya pada  punggung Paijo sehingga anak kampung itu terbebas. Alfi duduk terhenyak bersandar di dinding. Ia  diam dan bahkan tak lagi memperdulikan Paijo. Matanya hanya menatap ke depan dengan pandangan kosong. Paijo pun duduk sambil memegang pergelangannya yang masih menyisahkan sakit. Ia heran melihat perubahan sikap Alfi yang tak segarang tadi. Meskipun demikian hatinya sudah ciut buat melawan.

“Hei! Mau kemana kamu?!” tanya Alfi saat Paijo bangkit hendak meninggalkannya.

“M..mau berkemas buat pulang ke kampung kang”

“Bego! siapa suruh kamu pulang!”

“bu..bukankah itu maunya akang?” tanyanya bingung bercampur takut.

“Aku justru tak ingin kamu pergi karena aku tak ingin kak Sandra menjadi sedih”

“Lantas saya harus bagaimana sekarang kang?”

“Aku kemari bukannya buat menghalangi hubungan kalian. Aku bahkan tak akan mengganggumu lagi setelah ini.” Alfi diam sejenak. Mengumpulkan kekuatan hatinya untuk mengatakan sesuatu yang sangat menyakitkan baginya sendiri. Berkali-kali ia menelan ludahnya sebelum akhirnya meneruskan perkataannya dengan suara bergetar “Aku… cuma ingin berpesan padamu agar kau harus berusaha membuat  kak Sandra bahagia dengan… sebuah ..kehamilan”.

“Haa..?” ujar Paijo bengong karena bingung. Ia heran Alfi rela membiarkan ia terus melakukan percintaannya dengan Sandra. Bukankah kemarin bocah saingannya ini begitu  membencinya. Tapi dibalik itu ia senang bukan main berarti tak ada lagi penghalang bagi hubungannya dengan majikannya yang molek itu.

“Eh malah bengong!” hardik Alfi sebal. 

“B..bbaik kang. Saya tak bakalan mengecewakan kang Alfi”

“Bagus! Tapi ingat! Jangan pernah ganggu kak Dian lagi ataupun kak Nadine. Urusanmu di sini hanya buat membuat kak Sandra  hamil. Lalu setelah kau berhasil. Kau-pun harus segera minggat dari sini selamanya”

“Baik kang” Jawab Paijo setuju. Huh! apa hakmu berkata demikian ujar Paijo dalam hati. Itu kan tergantung sepenuhnya pada mereka sendiri. Paijo menduga dan yakin jika para wanita di rumah itu sebenarnya lebih suka kepadanya ketimbang Alfi. Tapi saat ini biarlah ia mengalah dulu dan berpura-pura menurut sebab ia tak mungkin bisa menang menghadapi Alfi.

“Ada sesuatu hal lagi”

“Ya kang?”

“Jangan sampai hal ini sampai diketahui oleh orang lain luar”

“Kang Alfi tenang saja, saya tidak mungkin melakukan itu”. ujar Paijo dengan pedenya.

“Kamu jangan asal berjanji Jo! Kau tahu apa yang akan aku lakukan padamu  apabila perkawinan kak Sandra dan Kak Didiet sampai hancur gara-gara mulutmu yang longcer itu?”

“Tii..dak. Memangnya apa yang akan akang lakukan?” Paijo kembali merasakan sesuatu yang tidak enak dari suara dingin yang Alfi sedingin tatapan matanya.

“Aku akan mencarimu Jo. Setelah ketemu…. Lalu dengan tanganku sendiri aku akan mengiris-iris barang-mu yang pendek itu menjadi potongan-potongan yang kecil. Dan aku akan melakukan itu dengan sangat perlahan hingga saat itu terjadi kau tak akan tahu lagi perbedaan antara hidup dan mati.”

“Aduhh!!.. A..ampun kangg. Jangan lakukan itu pada saya. Saya akan melakukan semua perintah akang dan percayalah saya akan pegang janji!” ujar Paijo tergagap ketakutan. Ia terperanjat bukan main mendengar ucapan terakhir dari Alfi tersebut. Meski Alfi mengucapkan kalimat tersebut dengan suara yang datar namun justru sangat membuat ia merasa ‘Syok!’. Ia yakin sekali jika Alfi akan melaksanakan ancaman yang di arahkan kepada dirinya tersebut. Sungguh iapun tak menyangka sedemikian besarnya perhatian dan kasih sayang pemuda disampingnya itu pada Sandra sehingga membuatnya sanggup berkata sedemikian mengerikan-nya.

Alfi bangkit meninggalkan Paijo yang masih terbengong ketakutan dalam imajinasinya. Lalu ia melintas ke dalam rumah menuju ke kamar Sandra. Saat ia masuk ke dalam kamar, Ia melihat bidadarinya tergolek dalam keadaan tertidur lelap. Sebetulnya ia kangen sekali pada wanita itu namun sepertinya ia sedang tak ingin berlama-lama di sana. Lalu Ia mendekat dan dengan lembut ia kecup kening Sandra. Perlahan sekali karena ia  tak ingin Sandra terganggu dan terbangun dari tidurnya. Lalu ia bangkit dan pergi keluar dari kamar.

“Fii..tunggu” terdengar suara lembut yang sangat ia rindukan memanggil namanya.

Alfi menoleh ternyata Sandra telah duduk pinggir tempat tidur. Sebenarnya Sandra memang sedang tidak tidur. Mulanya ia sangat gembira mengetahui yang datang ke kamarnya adalah Alfi. Bahkan tadinya ia berpikir Alfi kembali ke rumah untuk bercinta dengannya siang ini. Ternyata dugaannya meleset. Alfi hanya mengecup keningnya. 

“Kakak?..maaf telah membuat kakak terbangun. Sebetulnya tadi Alfi ingin pamitan dengan kakak”

“Memangnya kamu mau hendak pergi kemana?” Tanya Sandra heran. Ia baru menyadari ketika melihat sebuah ransel besar pada punggung Alfi menandakan anak itu memang dalam keadaan siap untuk menempuh sebuah perjalanan.

“Kak. hari ini Alfi  tujuh belas tahun” ujar Alfi tanpa menjawab pertanyaan Sandra barusan.

“Oh..sayangg benarkah?..”

“Ya kak. Dan Alfi juga naik kelas”

Sandra mendekat dan langsung memeluknya. Lalu mengecup bibir anak itu dengan mesra. mereka berciuman hangat.

“Kamu belum mengatakan kamu akan pergi kemana?” Tanya Sandra lagi. Alfi mengendurkan dekapannya.

“Beberapa hari yang lalu sekolah sudah libur jadi Alfi memutuskan untuk ikut bang Wayan pimpinan regu pendaki gunung buat mendaki gunung XX hari ini”

“Loh? Bukankah kakak sudah  melarang kamu buat ikut kegiatan itu Fi?” ujar Sandra cemas. Apakah si Wayan itu sudah gila membiarkan para pemula seperti Alfi ikut mendaki bersama mereka. Ia tahu gunung XX adalah gunung tertinggi di antara beberapa gunung di gugusan itu. Bahkan saat ia masih kuliah dulu pernah terjadi beberapa pendaki hilang dan tak pernah kembali lagi dari sana. Gunung itu memang terkenal angker karena terlalu sering memakan korban. Para pendaki mengatakan bahwa gunung itu  memiliki lereng-lereng yang sangat curam. Sebetulnya yang paling menakutkan adalah seringnya muncul kabut tebal secara mendadak yang dapat membuat para pendaki kehilangan arah dan pandangan. Apakah tidak ada gunung lain yang lebih landai atau aman buat didaki?.

“Alfi kan sudah hampir satu tahun ikut latihan mendaki. Jadi tak ada yang perlu kakak  kuatirkan. Lagian ada kak Wayan bersama tim-nya yang akan mengawasi kami kok.”

“Tapi Fi apa yang kamu lakukan itu penuh dengan resiko. Kakak tetap tak mengijinkan kamu pergi”

“Kenapa kak? Ini adalah impian Alfi sejak lama. Bukankah kakak juga berani mengambil resiko buat meraih impian kak Sandra?”

Sandra terkejut. Ia ini adalah salah satu konsekuensi yang harus ia terima akibat perbuatannya dengan Paijo. Setidaknya hal itu juga yang telah membuat Alfi menjadi nekat seperti ini. Sejak awal ia sudah dapat menerka jika Alfi bakal menolak kehadiran Paijo. Namun karena hasratnya buat memiki bayi begitu besar ia tetap juga melakukannya juga. Sekarang ia harus menanggung segala resikonya. Termasuk pula resiko yang bakal ia hadapi saat Didiet mengetahui hal itu.

“Fi apakah kamu masih marah pada kakak? Maafkan atas perbuatan dan perkataan kakak tempo hari. Kakak tak bermaksud menyakiti hatimu. Kakak mohon urungkan kepergianmu” ujar Sandra tetap ngotot.

“Kakak sayang, Alfi tahu itu. Alfi tidak  pernah membenci kakak. Alfi justru sangat sayang pada kakak. Tapi jika Alfi tetap di sini itu sama artinya kakak membiarkan Alfi mati pelan-pelan dalam kesedihan karena melihat kakak bersama Paijo. Ijinkanlah Alfi pergi kak Kakak harus percaya Alfi bisa menjaga diri” mohon Alfi.

Sandra sadar semua ucapan Alfi benar adanya. Tapi ia menjadi bingung karena dihadapkan dalam dua pilihan yang sama beratnya. Dan ia harus memilih salah satu sekarang. Bila ia tak ingin Alfi pergi. Tak ada jalan lain ia harus memulangkan Paijo. Dan itu berarti ia harus rela melepas segala keinginannya untuk memiliki seorang bayi.

Atau sebaliknya ia harus membiarkan Alfi pergi.

“Baiklah Sayangg, sekarang juga kakak akan meminta bik Iyah memulangkan Paijo asalkan kamu tidak pergi ke gunung itu” bujuk Sandra kali ini. Ia memutuskan untuk  melepas keinginannya. Ia sadar kini betapa besar arti Alfi dalam kehidupannya. Ada lebih dari hanya sekedar sebuah ketakutan bila terjadi sesuatu pada anak itu. Seakan merasakan ada bagian dari dirinya yang bakal hilang.

“Tidak kak. Alfi tetap harus pergi” jawaban Alfi itu sungguh mengejutkan sekaligus membuat Sandra bertambah bingung.

“ Aduhhh Fiii…kakak harus bagaimana lagiii?”

“Alfi justru tak ingin menjadi penghalang bagi impian kakak. Alfi sudah tak mampu memberikan sesuatu yang sangat kakak dambakan selama ini. Alfi akan lebih merasa berdosa membiarkan kakak kembali larut dalam kesedihan. Biarlah semuanya berjalan dulu kak. Dengan demikian Alfi juga akan tahu apakah ucapan kakak tempo hari benar jika apa yang pernah kita lakukan selama ini hanyalah didasari oleh napsu semata atau karena ada kasih sayang di situ. Alfi juga sudah minta Paijo menemani dan menjaga kakak selama Alfi pergi. ”

Apa? Alfi berbicara kepada Paijo? Ia memohon pada saingannya itu? Sadarlah Sandra kini betapa besar rasa kasih sayang Alfi kepada dirinya.  Sebelum ia rela bekorban buat Alfi ternyata anak itu sudah terlebih dulu melakukannya.

“Tapii Fi…kakak…kakakk…” Sandra kini sudah kehabisan akal bagaimana caranya membuat Alfi mengurungkan niatnya pergi ke gunung itu. Anak itu benar-benar tak dapat di cegah lagi sekarang. Ia tak dapat lagi menahan butiran air matanya kali ini Ia sebenarnya bukanlah seorang wanita yang cengeng dan gampang menangis tapi dalam  kemelut dan tekanan yang datang silih berganti melanda dirinya mau tak mau membuatnya menyerah dalam derai air mata. Alfi mendekat lalu mengecup ke dua pipi Sandra.

“Kak ..Alfi pergi dulu. Jaga diri kakak baik-baik” bisiknya lembut. Ia tahu Sandra tak akan memberinya ijin sampai kapanpun. Tanpa menunggu lagi persetujuan Sandra, Lalu ia memutuskan segera pergi dari situ sebelum tangis wanita yang dicintainya itu pecah dan membuat hatinya goyah.
« Petugas Pajak Itu Ternyata…
Dinda Kirana XXX 2: 1 Is Great, 2 Are Better »
Cinta Sang Bidadari Buat Alfi 3

14 Desember 2010 oleh shusaku

Sudah satu bulan lebih Paijo tinggal bersama Sandra. Sementara itu Didiet masih sibuk dengan pekerjaannya di kota G. Dia jelas belum bisa meninggalkan pekerjaannya yang sedang dalam kondisi mengejar progress akhir. Ia hanya bisa pulang setiap dua minggu sekali dan menginap selama dua hari. Sampai dengan saat ini Sandra beranggapan Didiet  sama sekali tak mengetahui jika telah terjadi perubahan besar di dalam rumahnya karena ia dan yang lain selalu berhasil ‘menyembunyikan’ Paijo setiap kali Didiet pulang. Sandra memang berharap Didiet tak pernah tahu sehingga tak menambah polemik yang terjadi di dalam rumah tangganya. Paling tidak sampai apa yang ia harapan berhasil dulu.  Apalagi dengan perginya Alfi semakin menjadikan perselingkuhan antara Sandra dan Paijo  terus berlangsung tanpa ada lagi yang menghalangi.

 –

Malam harinya.
Sandra

Sandra



Malam ini adalah malam dimana kesuburan Sandra sedang di puncak waktu terbaiknya. Seperti anjuran Lila mereka diminta untuk melakukan hubungan intim dalam posisi knee-chest agar mendapatkan hasil yang maksimal. Paijo sendiri sejak satu minggu sebelumnya  sudah di cekoki bermacam-macam suplemen penyubur dan juga melakukan program menu vegetarian termasuk dilarang bersetubuh dan  melakukan masturbasi agar dapat mendongkrak kualitas dan kuantitas spermanya. Sejak sore Paijo terus menerus memikirkan persetubuhan ini. Kerjanya hanya mondar-mandir di kamar Sandra dengan tubuh bugil seperti tuyul. Penisnya sudah berjam-jam menegang keras. Ujung kulupnya penuh dibasahi oleh cairan mazi yang  tak henti-hentinya merembes keluar dari lubang pipisnya. Dengan gelisah ia menanti Sandra masuk ke dalam kamar.namun Sandra tak kunjung muncul. Sandra sendiri tak ingin terprovokasi oleh tingkah Paijo. Ia masih ingin melakukan hal lain dulu sore itu. Ia masih sempat menonton acara TV favorite-nya di ruang keluarga sambil makan cemilan sehat. Baru sekitar pukul tujuh malam Sandra memasuki kamar tidur. Dan pada saat itu  Paijo-pun langsung menerkamnya.

“Joo! Pelan-pelang dong! nanti gaunku bisa robek! …uhhh” keluh Sandra memperingatkan Paijo yang tengah menggumulinya secara liar.

“Saya mau entot ibu sekarang! Saya mauu entot ibu sekarang!” ujar Paijo berulang-ulang sambil berusaha menarik lepas lingerie yang dikenakan Sandra.

Tadinya Sandra sangat berharap jika Paijo akan berlaku sedikit sabar dan melakukan foreplay terlebih dahulu sebelum melakukan penetrasi. Namun sepertinya Anak itu sudah tak kuat mengendalikan hasratnya. Sandra terpaksa ikut membantu melepas pakaian yang tersisa dengan terburu-buru. Lalu ia memposisikan dirinya tengkurap di kasur dengan sebuah bantal empuk mengganjal di bawah perutnya. Belahan vaginanya yang cantik masih kering menandakan ia sebenarnya belum siap menerima hujaman penis kampung Paijo. Paijo sudah memposisikan dirinya di atas punggung Sandra sambil menggosok-gosokan glans-penisnya yang membulat bak buah tomat pada bibir vagina wanita molek itu. Setelah merasakan ujung penisnya berhasil menyelip pada kelopak vagina istri Didiet itu, Paijo-pun menekan pantatnya dengan kuat …. Bleessss….

“Ohh…Joooooo!” desahan panjang Sandra terdengar ketika  penis Paijo amblas sekaligus seluruhnya ke dalam tubuhnya. Detik itu pula vaginanya  langsung bereaksi  mencengram benda asing yang memasukinya itu secara maksimal.

Paijo menggigil merasakan nikmat yang luar biasa ketika alat kelaminnya terlumat dasyat dari pangkal hingga ke ujung. Jemarinya mencengkram seprey secara ketat. Syaraf-syaraf pada penisnya seakan menjadi sedemikian sensitive saat bersentuhan dengan bagian dalam liang senggama Sandra yang lembut. Dan seketika itu juga dorongan buat berejakulasi secara dini mulai menyergapnya.

“Ampunnnn buuu… punyaa ibuuu perettt bangetttt!…enaaaaaakkk!” rintih pemuda itu berusaha bertahan.

“Joo…kocookkkkk..” desah Sandra tak memperdulikan problem yang sedang dialami Paijo.

Paijo tahu ia tak mempunyai pilihan lain. Didiamkan juga rasa nikmat itu juga tak bakal mereda. Lebih baik ia mulai menyetubuhi Sandra tanpa memikirkan bakal cepat muncrat.

Pantat hitamnya segera berayun mengocok cepat diantara kepitan paha putih Sandra. Tapi satu minggu berpisah dari vagina Sandra terasa terlalu lama buat Paijo sehingga hasratnya meletup-letup. Persetubuhan itu  barulah berlangsung  tiga menitan  dan Paijo sudah tak mampu lagi bertahan. Gumpalan air maninya yang berisikan benih-benih yang diharapkan subur dan dapat membuahi Sandra berebutan mengalir dan memenuhi saluran kencingnya lalu tanpa tertahankan melenjit tersembur melalui ujung penis kampungnya.

Craaatt!!!!!…cretttt….cratttt…croootttttt…

“Aaooooo…..eunakkkk!!!” pekik Paijo membahana dan sekujur tubuh kerempengnya mengejang kaku di landa rasa nikmat yang menyengat kemaluannya.

Detik demi detik berlalu Paijo terus menghentak-hentakan pinggulnya buat menuntaskan gatal nikmat yang menggila itu. Sementara itu tangan Sandra menggapai ke belakang menarik dan menekan pantat Paijo ke arahnya agar terus menyatu dengannya dalam waktu yang cukup lama.

“Cabutt  perlahan Joo” ujar Sandra setelah Paijo  menyelesaikan ejakulasinya. Sebenarnya Sandra  masih menginginkan penis Paijo mendekam dalam liang senggamanya. Apalagi tadi ia belum mendapatkan orgasme. Namun saat ini ia harus mendahulukan urusan yang lebih penting yaitu Kehamilan Paijo melakukan perintah Sandra tersebut. Secara perlahan ia mencabut lepas penisnya. Plokk!

Lalu seperti biasa Sandra terlentang sambil mengangkat kedua kakinya tinggi-tinggi dan menyandarkannya pada dinding. Dengan begitu  sperma Paijo tak bakalan tumpah dari vaginanya sehingga memberinya cukup waktu agar dapat membuahinya. Ia sungguh berharap benih-benih Paijo dapat mencapai sel telurnya dengan selamat. Sementara itu Paijo harus menunggu setidaknya beberapa menit sebelum melakukan pertarungan kedua.

“Ouuuhg….” Leguh Sandra. Puting payudaranya menjadi sasaran mulut Paijo yang memanfaatkan jedah waktu menunggunya. Sesekali Paijo menarik kepalanya kebelakang sehingga bibirnya terlepas dari puting Sandra dengan menimbulkan suara erotis.

Cplak! cplok! Hal itu Paijo lakukan berulang-ulang. Tak satu tetes-pun air susu yang keluar. Paijo hanya mendapatkan dua puting yang menegang dan memerah.

Akhirnya setelah beberapa menit berlalu. Sandra memberi kode ke Paijo untuk kembali menyetubuhinya. Cleppp!!! Penis Paijo-pun sudah kembali bersarang di dalam vagina Sandra. Vagina Sandra terasa likat oleh sperma yang mulai mengental. Buih-buih putih menyelimuti permukaan kulit penis Paijo yang hitam pekat. Sandra sangat berharap kondisi Paijo masih cukup bertenaga setelah orgasme tadi. Benar juga di pertarungan ke dua ini terlihat Paijo kembali bersemangat. Tak hanya itu penis bertindik miliknya mulai mampu membuat Sandra mengelinjang kegelian. Tangan Paijo berpegangan pada pinggul Sandra sambil menyodok  wanita cantik dengan segenap keahlian yang ia miliki. Kocokannya terkadang cepat terkadang melambat  Sesekali ia hentakan jauh sedalam-dalamnya. Ia tahu wanita suka sekali bila vaginanya terasa penuh oleh sebuah  titit. Namun sayang miliknya memang kurang panjang  sehingga tak mampu menyentuh bagian dasar liang surga itu. Dalam hatinya Paijo merasa berterima kasih pada pak de-nya yang dulu telah menindik kemaluannya karena dengan  modal itu ia masih bisa memberikan konstribusi kenikmatan kepada Sandra. Lima belas menit berlalu, Giliran Sandra yang merintih-rintih. sepertinya rasa nikmat yang ia rasakan sudah sampai pada puncaknya.

“Oughhhh Jooo!!” pekik Sandra tertahan

Paijo cepat-cepat menghujaman penisnya sedalam mungkin agar Sandra memperoleh kenikmatan lebih. Cincin-cincin di sepanjang liang senggama Sandra berdenyut keras secara priodik mencengram batang penis pemuda kampung yang beruntung itu. Mata Paijo mendelik ikut tersengat oleh nikmat saat proses orgasme yang sedang melanda Sandra berlangsung. Sambil menggigit bibirnya sendiri ia berusaha bertahan dalam badai birahinya yang akan menghempaskan dirinya kepada ejakulasi. Ia belum ingin ikut ber-orgasme paling tidak untuk saat ini. Lalu ia mencoba mengalihkan pikirannya ke hal-hal lain. Seperti membayangkan wajah bu denya yang galak! Dan ternyata taktiknya itu cukup berhasil. Napsunya sedikit mereda dan rasa ingin berejakulasinyapun kembali menjauh. Untunglah orgasme pada Sandra segera usai maka cengkraman dasyat vaginanya pada batang penis Paijopun agak mengendur. Paijo-pun dapat sedikit bertahan. Setelah mengatur napas ia kembali mengocok dengan teratur.

“Oghhh…. Jooooo!!!” Sandra merintih pada setiap tusukan dan cabutan yang dilakukan Paijo.

Setelah mengalami orgasme sekali Sandra-pun dengan cepat kembali melambung. Hal itu memompa semangat Paijo. Ia yakin ia bisa membuat Sandra kembali orgasme beberapa kali sebelum ia sendiri berejakulasi lagi. Lima belas menit berlalu. Seprey di ranjang itu sudah berantakan tak menentu. Kocokan Paijo semakin cepat dan ganas. Hingga pada suatu ketika Sandra kembali orgasme dibuatnya.

“Awwwww….Jooooo!!!”.

Pekik kenikmatan Sandra membuat Paijo tersenyum bangga. Tak percuma usahanya mengikuti terapi menyebalkan dari dokter Lila yang cantik nan bohai itu. Ia lumayan bisa sedikit lebih lama bertahan. Meski harus bermandikan peluh ia berhasil memuaskan Sandra. Ia yakin sekali setelah ini Sandra bakal semakin  tergila-gila padanya. Sambil bertahan dalam lumatan nikmat vagina Sandra pikiran Paijo terus melayang. Kapan-kapan ia juga berharap bisa menaklukan Dian yang telah mempecundanginya tempo hari. Wanita yang satu itu juga mempunyai lumatan vagina yang membuatnya ketagihan. Dan tak hanya itu siapa tahu iapun beruntung bisa mencicipi teman Sandra satunya lagi yang punya dada ranum itu pikir Paijo menghayalkan Nadine. Tapi beberapa detik kemudian Paijo dibuat terkejut bukan main. Setelah ditunggu setengah menitan…satu menit…bahkan lebih lama namun kali ini vagina Sandra tak lagi berhenti berkontraksi. Ternyata saat itu Sandra sedang dilanda gelombang multiorgasme. Kenikmatan itu datang susul menyusul dan tak pernah terputus. Celakanya Paijo-pun terpaksa ikut merasakan dampaknya. Vagina Sandra membetot penisnya secara permanent.

“Egggghhh…!!” Paijo meleguh tertahan.

Ia mulai panik dan ragu mempertahankan eksistensinya. Gelombang kenikmatan itu makin tak bisa ia tahan. Penisnya terkunci  dalam bekapan nikmat  yang tak kunjung berakhir. Ia menjadi sungguh tak berdaya dalam kondisi seperti itu. Bola matanya terbalik ke atas meninggalkan bagian putihnya di bawah. Sepertinya kali ini ia tak bakal mampu lagi melawan. Itu sudah melampaui batas kemampuannya. Sambil merangkul pinggang Sandra, ia hujamkan penisnya seraya melepas ejakulasinya.

“Arrggggggg…buu enaakkkkkkk!!” pekik nikmat ala Paijo melengking memenuhi kamar.

Creeettt…crootttt…crooottt…crootttt….penis Paijo kembali tersentak-sentak kuat sambil terus menyuntikan calon-calon bayinya  ke dalam vagina Sandra. Masih cukup banyak dan kental. Di saat yang bersamaan  otot-otot kewanitaan Sandra masih terus menerus berkontraksi kuat seakan ingin membetot habis sperma Paijo hingga ke tetes terakhir.

Satu menit berjalan Paijo menuntaskan ejakulasinya. Ia ambruk tertelungkup di atas punggung Sandra. Orgasme barusan sungguh dasyat dan membuat kesadarannya pergi meninggalkan raganya. Beberapa menit ke depan ia masih belum mampu bergerak. Sehingga  Sandra harus mendorongnya ke samping agar terlepas dari tindihan tubuhnya dan melakukan proses selanjutnya. Tadinya Sandra sudah ingin menghentikan persetubuhan ini. Ia berpikir tak ada gunanya lagi diteruskan sebab bagian tersubur dari sperma Paijo pasti sudah dikeluarkan semua pada dua sesi persetubuhan barusan. Namun Paijo merengek-rengek minta tambah. Kali ini ia memohon pada Sandra agar mau melakukannya dalam posisi missionary. Ini adalah posisi yang primitif namun juga sangat di sukai oleh Sandra. Sandra-pun memberinya izin buat menikmati ronde terakhir tersebut. Akhirnya Paijo berkesempatan melakukan hal-hal yang tak dapat ia lakukan pada dua ronde sebelumnya. Sembari mengentot kini ia bisa melumat bibir ranum istri Didiet itu. Dan juga menyedot puting susu Sandra sepuas-puasnya. Paijo terus melakukan pekerjaan yang melelahkan namun enak tersebut dengan penuh semangat tinggi. Hingga lima belas menit berlalu dan cairan-cairan encer dan bening memancar dari ujung penisnya menandai berakhirnya permainan malam itu. Setelah pergumulan panas itu usai.Sandra meminta Paijo menjauh dari dirinya. Mereka telah bergumul kurang lebih satu jam-an dan anak itu telah menyemburkan sperma sebanyak tiga kali. Sandra  sendiri memperoleh entah berapa kali orgasme. Tapi Sandra tak terlalu mementingkan itu lagi. Ia hanya berharap terapi yang diberikan Lila pada Paijo bisa berhasil. Plop! Batang penis Paijo tercabut lepas dari kukungan vagina Sandra dalam keadaan berlepotan lendir. Paijo langsung terlentang di sampingnya dengan napas terengah-engah dan tubuh bermandikan peluh. Sementara Sandra menatap langit-langit kamar dengan pikiran menerawang. Sepertinya ia tak terlalu menikmati persetubuhan malam ini.. Betul persetubuhan barusan berlansung sangat panas dan Paijo mampu membawanya berulang-ulang mencapai puncak kenikmatan.Tapi Sandra tetap merasakan sesuatu yang berbeda. Ada sesuatu yang kurang pada persetubuhan barusan. Ia tak merasa nyaman. Entah hal itu disebabkan karena hatinya masih diliputi kegalauan akan kepergian Alfi atau bukan.  Baginya saat-saat keintiman bersama Alfi  merupakan saat-saat yang paling diinginkannya. Anak itu tak hanya mampu membuat dirinya terhempas dalam kenikmatan ragawi tanpa batas akan tetapi membawa perasaannya ikut melambung dalam rasa nyaman dan….kebahagiaan. Alfi menjadikan segalanya menjadi sesuatu yang  jauh lebih indah. Seakan ia menegaskan arti  perbedaan antara bersetubuh dengan bercinta.

Sandra memejamkan matanya sementara pikirannya semakin jauh melayang berkelana  menuju ke masa lalu. Tepatnya dua tahun yang lalu. Di masa itu ia belum menikah dengan Didiet. Kala itu dirinya berada di sebuah kamar. Sebuah  kamar yang penuh dengan kenangan indah yang tak terlupakan sekaligus sangat mendebarkan. Dari dalam kamar itu ia dapat mendengar suara deburan ombak di pantai. Sebuah kamar yang memiliki sebuah tempat tidur besar yang nyaman dan tertutup oleh seprey putih. Di atas ranjang itu ia melihat sesosok tubuh ramping berkulit gelap tengah menantinya. Sosok anak lelaki yang belum dikenalnya  dalam keadaan…. telanjang bulat! Sambil mengenang peristiwa itu jemari lentiknya menjelajah ke arah selangkangannya sendiri. Perlahan ia menyentuh permukaan vaginanya yang masih basah belepotan oleh lendir Paijo. Sementara tangannya yang satu lagi meremas-remas payudaranya yang putih montok. Desahannya membuat Paijo menoleh ke samping.

“Lho Bu..ibu sedang apa?” tanya pemuda itu heran ketika melihat Sandra merangsang diri sambil menggelinjang-mengelinjang.

“Stttt  Jo… jangan ganggu aku” ujar Sandra di sela-sela desahannya.

“Ibu belum puas ya?.” tanyanya penasaran mengingat Sandra sudah sering ‘dapet’ saat bersetubuh dengannya tadi.

“Diam kamu Jo!” hardik Sandra yang merasa terganggu oleh pertanyaan-pertanyaan Paijo.

Paijo terkejut oleh suara Sandra yang meninggi. Ia sudah cukup hapal bila suasana hati majikannya yang cantik itu sedang tidak nyaman sehingga ia memutuskan tak akan bertanya lagi. Sandra kembali memejamkan matanya. Ingatannya kembali berkelana ke masa lalu. Di mana saat itu ia tengah dilanda kebimbangan. Ada rasa takut dan juga keraguan. Berkali-kali ia menoleh ke luar kamar di mana Didiet yang kala itu belum menjadi suaminya sedang duduk bersandar di sebuah sofa sambil terus tersenyum kepadanya. Begitu banyak pertanyaan yang melintas di benaknya. Mengapa bukan Didiet sendiri saja melakukannya? Mengapa harus dengan anak sekecil itu? Atau setidaknya jangan di kali pertama karena saat itu ia masih perawan!. Bahkan sempat saat itu ia mempertanyakan dalam hati seberapa besar-kah cinta Didiet kepadanya sehingga merelakan calon istrinya sendiri melakukan itu? Rasanya ia dan Didiet sudah cukup berargument soal ini. Tapi memang dasar Didiet tak pernah menyerah. Berulang kali pemuda yang bakal menjadi suaminya itu berusaha meyakinkan dirinya jika ia akan menepati janjinya untuk menikahinya setelah semua itu terjadi. Sandra menarik napas dalam-dalam. Lalu ia hembusan lagi cepat sebagai upaya melepas kegalauan hatinya. Ia berpikir memang ia dan Didiet cukup lama berpacaran. Jika saja Didiet mau ia bisa saja mengambil kegadisan kekasihnya itu sejak kemarin-kemarin. Tapi sepertinya Didiet memang merencanakan dan menanti saat-saat ini sejak lama. Lagian bukankah mereka memang sudah berencana menikah akhir tahun itu bahkan keluarga dari kedua belah pihak juga sudah tahu. Jadi Sandra merasa tak ada lagi yang perlu ia kuatirkan. Setelah ia membuang jauh-jauh keragu-raguannya dan memantapkan hatinya untuk melakukan permintaan aneh dari sang kekasih tercinta tersebut, akhirnya ia melangkahkan kakinya ke kasur dengan jantung berdebar.

Dari jarak yang cukup dekat ia dapat memandang dengan jelas wajah calon lelaki yang akan memerawaninya itu. Masih begitu belia. Mungkin baru memasuki masa-masa pubernya. Paling-paling usia anak itu belum lagi lima belas tahun. Tubuh yang kurus kering sehingga nampak tulang iganya bertonjolan. Kulitnya hitam terjemur panas matahari. Pada kulit pipinya yang hitam terdapat beberapa bola-bola kecil berwaena putih… panu!. Sosok seperti inikah yang memenuhi fantasi si Didiet? Baru saja ia duduk di pinggir kasur. Ia terkejut ketika anak itu secara tiba-tiba menyergap bibirnya. Semula ia ingin marah dan menolak tubuh anak itu kebelakang. Namun itu tak jadi ia lakukan. Ciuman yang dilancarkan anak itu bukanlah ciuman sederhana. Itu merupakan ciuman seorang yang sangat berpengalaman dan ada kenikmatan di dalam situ. Ia terpaksa membuka mulutnya menerima sodoran lidahnya. Sepertinya anak itu ternyata memang sudah biasa dan mahir dalam urusan begini. Berarti reputasi bocah itu yang ia dengar dari Didiet pastilah juga benar. Nama anak itu Alfi. Didiet mengatakan jika ibunya adalah seorang lonte. Dan Alfi hidup dan tumbuh di dalam lingkungan prostitusi. Ia terbiasa melihat, meniru bahkan ikut melakukan perbuatan apa saja yang dilakukan oleh para orang dewasa di sekitarnya sejak ia kecil. Tak mengherankan jika Alfi dapat mengenali titik-titik yang menyenangan pada tubuh wanita. Sandra sendiri tak pernah tahu atau menyelidiki letaknya. Bahkan ketika Alfi memberinya rangsangan puting, Itu menjadi sebuah titik awal buatnya melakukan penyerahan diri. Meski itu bukanlah  yang pertama kali baginya merasakan hal itu karena Didiet pun cukup sering melakukannya di kala bermesraan dengannya. Tapi tak senikmat jika Alfi yang melakukannya. Jelas kemampuan Paijo tak bisa dibandingkan dengan Alfi. Anak kampung itu hanya mengikuti nalurinya saja. Jangankan Paijo, Didiet saja tak pernah melakukan hal itu secara benar bahkan hingga bertahun-tahun ke depan di masa pernikahan mereka. Sandra ingat ia hanya bisa mendesah  pasrah ketika rangsangan demi rangsangan dari Alfi menjadi semakin kuat dan tak tak terkendali. Ia merasa ia tak mesti harus bertahan ataupun berhenti saat itu. Bahkan ia siap menerima apapun yang akan diperbuat anak itu setelah itu padanya. Namun Sandra terpana kala itu melihat sesuatu yang besar berwarna lebih gelap dari kulit bagian tubuh yang lainnya mencuat di antara kedua paha anak itu. Itu! Bukan lagi milik anak kecil! Duh! Anak ini-pun ternyata belum lagi di sunat pikir Sandra ketika melihat ujung titit anak itu yang masih tertutup kulup. Ia berharap Didiet sudah memeriksa sebelumnya jika Alfi tak mengindap penyakit kelamin. Sandra-pun memastikan jika ia pasti akan sangat kesakitan dan menderita bila benda yang sudah dalam kondisi mengacung tegak itu memasuki alat kelaminnya.  Beberapa menit ke depan ia akan membiarkan Penis Alfi yang selama ini kerap dipakai buat mengaduk begitu banyak lobang vagina para lonte itu menjadi penis pertama yang masuk ke dalam liang senggamanya dan sekaligus merengut kegadisannya. Tapi Sandra juga ingat bagaimana benda itu membuatnya mengalami apa yang di sebut sebagai orgasme buat pertama kali. Saat itu Alfi belum lagi benar-benar menyenggamainya. Ia hanya memasukan penisnya sedalam dua atau tiga sentian saja. Sungguh tak terlukiskan betapa  nikmatnya saat daging yang menyumbat mulut kelaminnya itu bergerak keluar dan masuk secara lembut di permukaan selaput daranya. Lalu membuatnya mengejang, berkontraksi selama beberapa menit.
Paijo

Paijo

Sementara itu Paijo terperangah  menonton kejadian luar biasa itu di hadapannya tanpa berani mendekat. Sandra mengelinjang dan merintih sambil menggoyangkan pinggulnya secara liar.  Ia tahu persis saat itu Sandra sedang membayangkan bercinta dengan seseorang dan ia juga yakin orang tersebut jelas bukan dirinya.

“Ouuughh!!!” Sandra terus mendesah panjang dalam kenikmatan dan kenangan masa lalunya itu.

Sandra sendiri tak lagi memperdulikan ada tidaknya Paijo di situ. Ia terus larut dalam alunan memori indahnya. Ia masih ingat  saat itu ia sempat kuatir jika sampai hamil ketika Alfi merengek minta berejakulasi di dalam vaginanya. Sebab meski Alfi mengaku benihnya belumlah subur namun tetap tak ada jaminan pasti jika ia tak bakalan hamil. Tapi ia tak kuasa menolak setiap kesenangan yang di berikan anak itu. Ia juga tak tahu mengapa malam itu ia tak mencoba mempertahankan lambang kesuciannya sebagai seorang wanita. Seakan ia sudah merelakan jiwa raganya bulat-bulat untuk menjadi budak mainan seks bagi kesenangan fantasi-nya Didiet. Hingga akhirnya ia mengizinkan Alfi  untuk menodainya….dan anak itu melakukannya…

“Ouhgggg  ….Fiii!!!” Sandra sontak terpekik. Di bawah kukungan fantasinya Sandra mengalami sebuah orgasme yang kuat. Organ dalam kewanitaannya berkontraksi dengan hebat membawanya menuju ke sebuah kesenangan tertinggi. Cairan cintanya meluber dari liang senggamanya membasahi seprey. Kenangan saat terjadinya puncak peristiwa itu memenuhi segenap alam bawah sadarnya. Ia seolah dapat kembali merasakan bagaimana indahnya penyatuan saat itu. Batapa mencengangkan kenikmatan yang bercampur rasa sakit tatkala selaput daranya merenggang dan terkoyak oleh terjangan penis anak itu. Ia-pun ingat bagaimana rasanya untuk pertama kali sebuah alat kelamin pria berdenyut-denyut dengan kuatnya sambil memancutkan sperma di dalam vaginanya. Sementara itu di sisi lain tempat tidur, Paijo tercengang menyaksikan semua peristiwa itu. Tubuh sintal Sandra tersentak-sentak dilanda sebuah orgasme yang sedemikian kuatnya. Dari jeritan Sandra barusan  membuatnya jadi tahu bahwa seseorang yang sedang dibayangkan Sandra ternyata adalah Alfi. Pemuda yang selama ini menjadi rivalnya itu! Bagaimana mungkin seorang wanita bisa memperoleh orgasme sedemikian kuat tanpa melakukan persetubuhan. Sedemikian besarkah pengaruh  seorang Alfi bagi Sandra?

Rasa tidak senang atau lebih tepat dikatakan cemburu merambati hati Paijo. Huh! Apa sih kelebihan si Alfi itu sehingga Sandra  masih juga memikirkannya? umpat Paijo dalam hati. Padahal tadinya ia merasa gembira karena  pemuda  yang menjadi penghalang utama bagi hubungannya dengan Sandra itu telah pergi dari rumah ini.. Tapi persetan! Biar saja Sandra menghayalkan Alfi atau suaminya. Yang jelas saat ini dirinyalah yang sedang  menikmati tubuh molek Sandra di atas ranjang bukan kedua orang itu.. Paijo beringsut mendekatkan kepalanya ke arah selangkangan Sandra dengan tujuan memberikan rangsangan agar wanita itu terpancing buat kembali melakukan kemesraan dengannya. Namun Sandra segera mengepitkan kedua pahanya sebagai tanda penolakan bagi dirinya. Paijo sendiri sepertinya belum mau menyerah. Namun ketika ia baru saja mencoba mendekat,

“Jo jangan ganggu aku!. Aku capek dan ingin tidur!” hardik Sandra sambil membalikan tubuhnya menghadap ke arah dinding membelakangi Paijo.

Mendengar itu Paijo menghentikan upayanya. Sesungguhnya ia masih merasa ‘panas’ melihat Sandra menghayalkan diri Alfi namun ia pun  sadar ia tak mungkin memaksa Sandra. Bisa-bisa ia dihajar lagi oleh bibinya seperti tempo hari. Lagian ia juga sebenarnya sudah kehabisan amunisi. Tak hanya tubuhnya terasa sangat letih. penisnyapun juga sudah menciut kecil. Namun kejadian barusan membuatnya bertekat untuk mendapat ‘hati’ Sandra secara utuh sehingga dengan demikian ia akan memenangkan persaingannya dengan Alfi secara total. Paijo kembali terlentang di sisi lain ranjang jauh dari posisi tubuh Sandra. Tak lama kemudian akhirnya ia pun menyerah pada rasa letihnya dan tertidur pulas.

###########################

Malam semakin larut ketika Sandra mendapatkan sebuah mimpi di dalam tidurnya. Sandra merasakan dirinya tengah berada di sebuah tempat. Entah dimana, Ia sendiri belum pernah ke tempat itu sebelumnya. Tebing dan jurang mendominasi pandangannya. Udara dingin berkabut tipis menyelimuti sekeliling sekaligus menghalangi sinar matahari menerpa tubuhnya. Suasana begitu sunyi dan sepi justru membuat hatinya tak nyaman berada di situ. Ia memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu meski ia tak tahu pasti harus menuju kemana. Ia melangkah dengan hati-hati di atas batu terjal dan licin. Titik-titik air  dibawa oleh kabut telah membasahi permukaan tempat itu. Ketika ia sedang meniti langkahnya tiba-tiba ia melihat sesosok tubuh berjalan tak begitu jauh di depannya di antara kabut yang menghalangi pandangannya. Sandra bergegas mempercepat langkahnya. Ia harus dapat menyusul orang itu agar bisa membantunya keluar dari tempat asing ini. Ketika jaraknya dengan orang tersebut semakin dekat. Sandra sempat tertegun. Sepertinya ia mengenali orang itu. Dari bentuk tubuh, gerak gerik, pakaian terutama tas ransel yang sedang dipakainya.  Tak salah lagi itu pikir Sandra. Itu pasti Alfi!

“Fiiii!! Tunggu kakakk!!!” teriak Sandra mencoba memberi tahu keberadaannya di situ.

Orang itu berhenti melangkah lalu berbalik ke arahnya. Dan benar saja dugaan Sandra itu memang Alfi adanya.

“Kakakk?!”

“Iya Fiii..ini kakakk!!” sahut Sandra kegirangan.

Sungguh tak dinyana bisa ia bertemu Alfi di tempat ini. Apalagi saat pemuda itu tersenyum lebar ketika melihat dirinya. Duh! Ada sinar kerinduan yang begitu dalam terpancar dari mata anak itu. Sebesar rasa rindunya sendiri pada Alfi. Alfi  berlari kecil menyongsongnya. Ketika itu Sandra merasa perlu memperingatan Alfi agar berhati-hati karena jalan di situ sangat licin. Namun belum sempat ia bertindak, Tahu-tahu Alfi sudah terpleset dan hilang keseimbangan.

“Bruakk!” Alfipun jatuh terguling dan membawanya hingga ke arah bibir jurang.

“Argghhh Fiii!” Sandra berteriak cemas saat melihat kejadian itu terjadi. Semuanya berlangsung dengan begitu cepat.

Tangan Alfi sempat menangkap sebuah cadas yang menonjolan untuk berpegangan. Tetapi posisi tubuhnya telah menggantung di atas jurang.

“Bertahanlah Fii, kakak akan menolongmu!” teriak Sandra panik sambil berusaha melangkah menuju posisi anak itu.

Tetapi entah mengapa seluruh persendian kakinya mendadak menjadi begitu kaku. Menjadikan langkahnya begitu berat dan lambat padahal ia harus sesegera mungkin menolong Alfi. Upayanya memperkecil jaraknya menjadi sangat tidak mudah. Jarak yang terlihat hanya beberapa meter saja itu seakan begitu sukar di tempuh. Rasanya lama sekali ia mencapai  tempat yang ia tuju. Sandra menengok ke arah bawah. Sungguh mengerikan! lubang yang menganga di bawah tubuh Alfi itu benar-benar dalam dan tak terlihat dasarnya. Kabut tipis berarak melintas menambah keseramannya. Namun rasa sayangnya pada anak itu telah mengalahkan rasa takutnya itu. Ia merebahkan tubuhnya sambil menjulurkan tangannya ke arah Alfi. Tapi sepertinya  itu belum cukup untuk menggapai tangan Alfi. Nampaknya Alfilah yang harus berusaha meraih tangannya agar dapat naik.

“Fi, apakah engkau bisa menggapai tangan kakak?!”

“Sebentarr kak…Alfii..haruss… mencari tempat untuk berpijak duluu..”

Alfi mencoba berayun ke samping. Dan sepertinya ia berhasil. Sebuah cerukan kecil cukup buat ia meletakan salah satu kakinya. Posisi yang cukup baik bagi Alfi. Namun dengan hanya satu buah tangan dan kaki yang terbebas ia masih belum lepas dari kesulitan. Semua peralatan mendakinya berada di dalam ransel pada punggungnya. Dan ia tak ada kesempatan mempergunakan itu. Kemungkinan batu tempat ia berpegang dan berpijak tidak kuat terus-terusan menyanggah tubuhnya. Satu-satunya cara ia harus melakukan penyelamatan diri dengan memanjat secara manual secepat mungkin mempergunakan kekuatan otot –otot tangan dan kakinya tanpa bantuan alat. Sandra menekan tubuhnya lebih rapat ke tanah sambil terus menjulurkan tangannya.

“Fii!! Apa yang kamu tunggu? Ayo pegang tangan kakak Fii!” ujar Sandra karena Alfi belum juga menyambut uluran tangannya.

“Nanti dulu kak. Ada sesuatu yang ingin Alfi berikan dulu ke kakak” ucap Alfi sambil merogoh saku celananya.

Tadinya Sandra mengira Alfi ingin ia melakukan sesuatu yang ada kaitannya dengan cara penyelamatan di saat pendakian.

“Coba lihat ini kakak pasti suka.” ujar Alfi menyodorkan sesuatu pada Sandra.

Sandra dapat melihat benda itu adalah sebuah cincin. Apa-apaan anak ini? Gerutu Sandra dalam hati. Pada saat seperti ini Alfi masih mementingkan hal lain padahal jiwanya sedang dalam bahaya besar.

“Aduhh Fii, tidak usah urusi hal lain dulu! Kamu tak boleh lama-lama berdiri di situ. Cepat sambut tangan kakak!”

“Tapi kak ini penting sekali”

“Fii nanti saja!. Kakak hanya mau kamu naik sekarang!”perintah Sandra kesal.

“Tidak mau! Ambil cincinya dulu kak!” ujar Alfi ngotot menyodorkan benda itu.

Dasar keras kepala!  Sandra tahu Alfi ingin menyenangkan hatinya. Ia tak ingin berbantahan pada situasi genting seperti ini. Lebih baik ia mengambil cincin itu terlebih dahulu agar Alfi senang. Ketika ia berhasil meraih cincin itu, ia dapat melihat benda itu memang begitu indahnya  dengan sebuah hiasan kecil berbentuk hati menghiasinya. Dan yang sangat luar bisa sebuah cahaya berwarna merah membias lembut dari situ. Hanya saja Sandra heran dari mana Alfi memperoleh benda seindah itu. Namun itu tidaklah penting dan sekarang bukanlah saat yang tepat mengurusi hal semacam itu.

“Bagus kan kak? Itu Alfi berikan buat kakak sebagai tanda cinta Alfi pada kakak”

“Ya sayang, kakak suka sekali. Nah sekarang  kamu sambut tangan kakak! Ayoo!”

Namun Alfi belum juga menjulurkan tangannya. Ia hanya tersenyum. Bola matanya menatap Sandra dengan pandangan sendu. Entah mengapa mendadak Sandra tak suka melihat ekspresi Alfi saat itu. Seakan itu sebuah ucapan ….selamat tinggal!.

Tiba-tiba…“Kraakk!!” Terdengar suara berderak keras berasal dari tempat pijakan Alfi yang pecah berhamburan.

Terasa beban berat pada ransel di punggungnya itu semakin membuat Alfi kesulitan mempertahankan peganggannya. Ketika jemarinya kecilnya mencapai batas yang mampu ia tahan…. Akhirnya Alfi menyerah. Pegangannya terlepas dan seketika itu juga tubuhnya dengan cepat meluncur jatuh menyusul bebatuan kecil tempatnya berpijak tadi..

“FIiiiiiiiiiiiii!!!!!!!!!!!” Sandra terpekik kaget dan ngeri.

Kejadian itu berlangsung dengan cepat dan ia benar-benar dibuat tak berdaya. Anehnya Alfi tak nampak ketakutan. Sandra justru melihat senyum mengembang di bibir anak itu beberapa saat sebelum kabut tebal yang menutupi dasar jurang menelan tubuh Alfi hingga lenyap dari pandangannya.

“Fiiiiii!!!! Alfiiii!!!! Sandra menjerit histeris terus memanggil nama anak itu berulang-ulang. Namun tak ada jawaban. Ia hanya mendengar gema suaranya sendiri bersaut-sautan.

“Huu… huu… huu…Fiiiii. Kamuu kenapaaa sih?! Tadikan kakak sudah bilang! Huuu huu…”

Sandra menangis sejadi jadinya karena rasa sedih bercampur dengan kesal. Kalau saja  tadi Alfi tak membuang-buang waktu buat menyenangkan dirinya. Pasti hal ini tak perlu terjadi dan sekarang ia pasti sudah selamat. Pupus sudah segala rasa gembira yang sempat ia rasakan tadi dan berganti menjadi sebuah kedukaan.

#########################

“Buu…bu Sandra…bangun bu…” terdengar suara Paijo berusaha membangunkannya sambil mengguncang-guncang bahunya.

“Ehh.. uhhhh…kamu….Paijo?” Ia menatap sekelilingnya seakan ingin menegaskan lagi. Tak ada Alfi, cincin, kabut atau jurang. Ia memang masih di kamar, di atas ranjang bersprey kusut bersama Paijo.

Hhhh! Sandra-pun tersadar. Ternyata itu hanyalah sebuah  mimpi buruk. Tetapi apa yang ia impikan  barusan terasa begitu nyata. Bahkan sampai sekarangpun perasaannya masih terbawa suasana tadi.Ia memang berharap bisa bertemu Alfi di dalam mimpinya. Tapi yang seperti itu bukanlah sebuah mimpi yang ia harapkan. Ia bangkit dan duduk di bibir tempat tidur sambil mengusap sisa air matanya yang tadi terkeluar.

“Ibu baik-baik saja?”

“Kamu teruskan saja tidurmu Jo. Aku tidak apa-apa”jawab Sandra setelah ia bisa menguasai perasaannya.

“Ibu mimpi apa barusan?”tanya Paijo ingin tahu.

Sandra hanya diam

“Tentang…kang Alfi.ya bu?”Tebak Paijo penuh dengan rasa penasaran.

Sandra kembali tak menjawab rangkaian pertanyaan Paijo. Mukanya yang masam membuat hati Paijo agak kecut dan tak lagi bertanya-tanya. Lagi-lagi si Alfi! Keluh Paijo dalam hati. Pemuda itu  kembali membaringkan diri dengan menyimpan banyak ganjalan di dalam hatinya. Sandra menoleh ke arah jam dinding. Pukul lima. Ternyata sudah menjelang pagi.  Rasa kantuknya mendadak hilang. Mimpinya barusan masih saja memenuhi pikirannya.  Meski ia bersyukur yang terjadi barusan hanyalah mimpi. Namun hatinya tetap merasa cemas mengingat Alfi benar-benar masih berada di gunung yang menakutkan itu. Sandra bangkit dari tempat tidur dan mengenakan pakaiannya. Lalu pergi ke teras belakang rumahnya. Ia duduk termenung sendirian di pinggir kolam renang hingga matahari keluar dari upuk timur.

#############################

Pagi itu.

“Jo?”panggil Sandra yang  saat itu  sedang duduk di ruang makan. Dan Paijo segera datang.

“Ya  bu?”

“Duduklah. Ada yang ingin kusampaikan padamu”Sandra berhenti sejenak. Setelah Paijo duduk ia lalu melanjutkan perkataannya.

”Engkau tentunya tahu jika apa yang telah kita lakukan selama ini seharusnya tak boleh terjadi dan penuh dengan resiko karena aku adalah seorang wanita yang masih memiliki seorang suami.”

“Tahu bu”

“Oleh karena itu kau hanya akan kuberi waktu hingga akhir bulan ini saja buat membuahi-rahimku. Setelah itu,  berhasil atau tidak  kita harus menghentikan ini semua dan kamu harus pergi dari kehidupanku.”

“Loh kenapa cuma hingga akhir bulan bu?. Saya bersedia melakukannya sampai ibu benar-benar hamil” Paijo benar-benar tak rela jika harus mengakhiri keindahan hubungannya bersama Sandra.

“Tidak Jo. Ini sudah menjadi keputusanku. Kita tak bisa terus bersama. Kuanggap kita sudah mendapat cukup kesempatan buat mencoba. Dan aku sudah terlalu banyak yang kukorbankan bagi kehamilan ini termasuk mempertaruhkan keutuhan perkawinanku dan hubunganku dengan Alfi. Kuharap kamu-pun sudah cukup puas karena dapat menikmati tubuhku selama ini”

“Tidak mau!. Saya ingin tetap di sini bersama ibu” Ujar Paijo ngotot. Biar dia dari kampung dan bodoh tetapi mana mau ia menghentikan pekerjaan yang enak itu. Seumur hidup belum tentu ia mendapat kesempatan seperti ini lagi. Bertemu dengan majikan yang cantik dan sexy, bisa dientot pula.

“Turuti saja apa kataku! Jika kau tetap membandel maka  aku tak segan-segan akan memotong penismu yang menjijikan itu!”hardik Sandra dongkol.

Paijo terperanjat dan bergidik ngeri mendengar wanita cantik ini juga mengeluarkan ancaman yang persis sama seperti yang pernah Alfi lontarkan padanya tempo hari. Ia merasa heran mengapa begitu banyak orang yang ingin memotong penisnya. Seakan tak ada bagian lain dari tubuhnya yang lebih berharga di potong. Meski di dalam hati Paijo sangat tak ingin berpisah dengan wanita ini namun ia tak berani lagi berbantah.

#########################

Siangnya

Niken datang mengunjungi Sandra. Ia sengaja datang sendirian tanpa membawa serta bayinya.

“Sendirian saja Nien? Mana Fini?”tanya Sandra

“Kutinggal di rumah mumpung  Donnie tidak ngantor hari ini”.

“Duh kenapa tak kau bawa ia kemari. Aku ingin mencubit pipinya yang gemesin itu”

“Tadi begitu  selesai mimik ia langsung tertidur. Di lain waktu ia pasti kubawa kemari. Eh kok sepi sekali, Mana yang lain?”

“Dian seminar ke Singapore. Nadine menyusul Didiet ke kota G menggantikan aku buat bulan ini. Kasihan Didiet. Ia terlalu sering sendirian dalam waktu yang lama. Engkau tentu mengerti maksudku kan? Dan kupikir Nadine juga sangat  membutuhkan ‘itu’ sejak Alfi pergi”

“Begitu rupanya.”

“Eh, kau mau minum apa?” ujar Sandra menuju ke arah pantry. Niken mengikutinya dari belakang.

“Tak usah repot-repot. Aku bisa mengambilnya sendiri nanti. Oya Sand apakah sudah ada kabar dari Alfi sejak kepergiannya tempo hari?”

Sandra menghela napas panjang.

“Belum Nien. Setiap hari  bahkan setiap saat aku selalu menantikan kabar darinya namun sampai saat ini tak satu kalipun ia menelponku. Mungkin ia masih marah atau justru semakin membenci diriku”

“Kupikir dugaanmu keliru. Alfi melakukan itu justru karena sangat mencintaimu. Ia sengaja menyingkir karena tak ingin mengganggu kebersamaanmu dengan Paijo”

“Aku benar-benar merasa bersalah padanya. Aku ..aaku .. tak menyangka jika ia menjadi begitu cemburu dan benar-benar nekat pergi juga ke gunung itu, Nien” ujar Sandra penuh rasa menyesal.

“Sand..Sand..sudahlah” bujuk Niken.

“Anak itu memang susah di tebak. Padahal selama ini ia tak pernah menunjukan rasa cemburu terhadap suamiku atau  pada Donnie dan juga Robert?”

“Jelas kamu tak dapat menyamakan antara hubunganmu dan Paijo dengan keberadaan Didiet sebagai suamimu atau hubungan Donnie dan aku dan juga hubungan Robert dan Lila. Bagi Alfi  kehadiran Paijo merupakan saingan sekaligus ancaman baginya dalam mendapatkan kasih sayangmu. Apalagi kamu merupakan wanita yang paling ia cintai di antara kita berlima”

“Bagaimana kau bisa berkata demikian Nien. Bukankah dia juga sangat menyukaimu seperti halnya ia menyukai diriku. Begitupun dengan yang lainnya?” Tanya Sandra.

Yang ia tahu bukan hanya ia seorang yang sangat di gilai oleh Alfi. Niken-pun begitu dipuja bak seorang dewi oleh Alfi..

“Memang Alfi tak pernah mengatakannya padaku secara langsung. Tapi kami berempat tahu akan hal itu” yang dimaksud Niken adalah dirinya, Nadine, Dian dan Lila

“Aku tetap tak yakin Nien”

Sambil berbincang Niken melangkah menuju ke arah kamar Alfi seakan ia sengaja menggiring Sandra menuju ke sana.

“Alfi tetaplah Alfi. Ia mencintai kita berlima sekaligus dengan cara yang unik. Anak itu menebar cintanya terhadap kita dengan kadar berbeda. Lihatlah Sand” Ujar Niken menunjuk sebuah gambar poster di antara sekian banyak poster yang menempel di dinding kamar. Jika dibandingkan dengan yang lain, poster tersebut terlihat paling mencolok. Sebuah poster berbentuk hati besar buatan tangan Alfi sendiri.

“Ada apa dengan poster itu, Nien?”Tanya Sandra ia tak melihat sesuatu yang aneh di situ. Itu hanya sebuah kreasi tangan biasa dan ia sudah sering melihatnya setiap kali masuk ke kamar ini.

“Coba kau perhatikan secara seksama”ujar Niken lagi.

Lama Sandra memperhatikannya untuk mengetahui apa makna yang diungkapkan Alfi di situ. Pada poster itu terbentuk dari tertebaran mozaik warna warni. Sebagian besar terdiri dari warna merah. Sedangkan sisanya terdiri empat buah warna namun warna pink lebih mendominasi bagian ini. Setelah beberapa saat Sandra terperangah takjub. Jika diperhatikan dengan seksama ternyata mozaik berwarna merah yang tersebar itu terbentuk dari hurup-hurup yang sangat kecil dan Sandra dapat membaca namanya tertulis di situ dalam jumlah yang tak terkira banyaknya. Dengan tangannya sendiri Alfi mengerjakan itu semua. Merangkai nama wanita yang ia sayangi satu persatu. Dan seakan-akan Alfi ingin mengungkapkan jika ia hanya memberikan tempat yang paling luas di dalam hatinya hanya untuk Sandra. Lalu Sandra memperhatikan sisi lain yang di dominasi oleh warna pink. Ia tahu warna pink pastilah mewakili diri Niken. Dan benar saja terlihat nama Niken di situ. Betapa semua itu membuat hati Sandra tersanjung dan terharu.

“Mungkin Alfi sering mengungkapkan betapa besar cintanya padamu dengan berbagai macam cara, Sand. Hanya saja engkau tak begitu menyadarinya”  ujar Niken.

“Oh!” Tiba-tiba jantung Sandra berdetak keras saat menyadari sesuatu. Jika diperhatikan dengan seksama. Tebaran mozaik yang merupakan ungkapan isi ‘hati’ Alfi itu membentuk seperti sebuah…hati?! Ya. Hati!… Bukankah di dalam mimpinya Alfi memberinya sebuah cincin berhiaskan sebuah hati yang juga bercahaya kemerahan?! Pikir Sandra.

Mungkinkah ini sebuah kebetulan? ataukah sebuah firasat! Bagaimana pula dengan celakanya Alfi di mimpi itu? Mungkinkah hal itu juga bakal terjadi?! Ohh!..Sandra mendadak dirinya  dijalari rasa takut yang luar biasa.

”Ada apa Sand?!” Tanya Niken melihat perubahan pada air muka Sandra yang menjadi pucat.

“Aku…aku takut telah terjadi sesuatu yang buruk pada Alfi, Nien! Dan apabila hal itu benar terjadi maka aku sungguh tak bisa memaafkan diriku” ucap Sandra dengan suara bergetar. Niken meraih tangan Sandra dan menggenggamnya erat. Jemari Sandra terasa dingin saat tersentuh olehnya. Ia bimbing Sandra untuk duduk di ranjang Alfi. Lalu ia segera bergegas pergi ke pantry. Tak lama kemudian ia kembali lagi dengan segelas air putih di tangan.

“Minumlah dulu Sand. Setidaknya ini bisa membuatmu agak tenang”

“Ma kasih, Nien”

“Sand, tenangkan dirimu. Jangan engkau bebani pikiranmu dengan hal-hal yang belum tentu terjadi. Bisa-bisa engkau sakit nantinya. Berdoa saja agar Alfi baik-baik saja selama kepergiannya.”

Sandra membenarkan perkataan Niken. Tak seharusnya ia larut dalam kesusahan. Bukankah Lila juga mengatakan faktor psikologisnya juga dapat mempengaruhi upayanya untuk hamil.

“Nien…”

“Ya?”

“Bagaimana aku harus menerima dan membalas cinta Alfi yang sedemikian besar? Sedangkan aku sendiri tak yakin apa yang telah kami lakukan selama ini benar-benar di dasari oleh perasaan cinta”

“Haihh…Kurasa engkau masih takut menerima kenyataan itu seperti halnya diriku dulu, Sand?”

“Kenyataan apa, Nien?”

“Kenyataan…kalau cintamu padanya sebetulnya jauh lebih besar ketimbang cintamu pada suamimu sendiri”

Deg! kalimatnya terakhir dari Niken itu sungguh membuat jantung Sandra seakan berhenti berdetak.

“Nienn …aaku..akuu..pikir itu tak mungkin terjadiii”

“Mengapa kita harus mendustai perasaan kita sendiri, Sand?  Rasa cemasmu … kesedihanmu yang muncul akhir-akhir ini karena takut kehilangan dirinya apakah itu tak layak di sebut cinta? Ketahuilah selama satu tahun ini aku telah berusaha memberikan hatiku secara utuh bagi Donnie suamiku dan  menganggap kehadiran Alfi hanyalah sebagai solusi bagi masalah seksual yang di alami oleh Donnie selama ini. Awalnya aku kira semua itu akan berjalan sesuai dengan kehendakku namun ternyata aku salah….aku tak bisa Sand…”

“Nien…”

“Aku..aku  tak mampu memalingkan perasaanku terhadap anak itu….ia…telah memiliki segalanya… ragaku..termasuk hatiku”

“Ohh..Nienn!”

Sandra tak tak dapat membendung perasaannya lagi. Ia memeluk sahabatnya itu. Mencurahkan semuanya dalam pelukan dan tangis. Ia sadar apa yang dialami oleh Niken juga telah juga ia alami bahkan sebelum ia menikahi Didiet. Tak dapat ia pungkiri jika peristiwa indah dan mendebarkan bersama Alfi di dalam cottage di pantai  dua tahun yang silam benar-benar  telah meninggalkan bekas yang mendalam di dalam relung jiwanya. Namun ia selalu berusaha menepis kenyataan itu. Mengapa ia tak bisa seperti Niken yang mampu berkata jujur. Setidaknya terhadap dirinya sendiri. Mungkin saja ia lebih kuat ketimbang Niken. Namun hingga kapan ia harus bertahan? Lama pelukan mereka berlangsung. Setidaknya hal itu bisa memberikan sedikit rasa lega bagi hati mereka. Bahkan Sandra mulai bisa tertawa.

“Ada apa Sand?”

“Hi hi Aku hanya tak dapat membayangkan jika Didiet sampai mengetahui bahwa istrinya sebenarnya benar-benar telah jatuh cinta pada seseorang yang tadinya hanya dijadikan alat untuk mewujutkan fantasi liarnya ”

“Kurasa para suami kita tak perlu tahu soal ini. Biarlah hal itu menjadi ‘rahasia hati’ kita berdua..”

“Nien, terima kasih karena telah membukakan hatiku”

Sandra sadar meski ia mencintai Alfi namun hal itu tak bakal merubah apapun. Ia tetaplah istri syah Didiet. Namun ke depan hari-harinya sudah tidak sama lagi dengan sebelum ini. Kini ia tahu ia membutuhkan Alfi lebih dari hanya sekedar seks. Alfi-lah sesungguhnya tempat ia mencurahkan cinta dan kasih sayangnya.

“Itu gunanya sahabat Sand. Baiklah. Aku rasa aku harus pamit pulang dulu. Mudah-mudahan saja Alfi segera kembali tanpa halangan apapun ”

“Ya, Nien aku juga berharap demikian”

“Telepon aku bila kau butuh teman bicara”

“Terima kasih Nien”

#############################

Keesokan siang,

Tampak Dian baru saja pulang dari perjalanan seminarnya. Ketika itu Sandra sedang pergi bersama bik Iyah. Ia diam saja ketika tiba-tiba Paijo langsung memeluk dirinya. Anak ini sepertinya ketagihan gara-gara bercinta dengannya tempo hari. Sementara Paijo sendiri bertekat buat menaklukan Dian kali ini.

“Oh..buu..kita ke kamar saya yuk?” rayu Paijo.

“Aduhh  Jo, maaf aku tak bisa”

“Ayolahh..Sebentar saja buu..saya kangen banget sama ibuu” Ia benar-benar menginginkan wanita itu bercinta dengannya saat ini. Penisnyapun sudah menegang penuh dan mendesak celana usangnya.

“Tidak Jo”

“Kenapa buuu?”

“Aku tak ingin mengganggu masa-masa suburmu yang sengaja dipersiapkan buat kehamilan Sandra dan aku yakin dia  tak akan senang melihatmu membuang-buang spermamu pada wanita lain.”

Paijo terdiam sejenak. Melihat anak itu diam, Dian melanjutkan kalimatnya.

“Dan kukira kau harus berhati-hati dengan Sandra. Ia akan semakin depresi jika upayanya kali ini juga mengalami kegagalan. Tahukah engkau jika seorang wanita yang sedang dilanda  tekanan batin seperti itu biasanya suka bertindak nekat dan terkadang sadiz terutama sedang dalam keadaan kecewa” Dian sengaja menyelipkan kata-kata agak ‘horor’ yang bertujuan membuat takut Paijo.

“B..benarkah?”tanya Paijo tergagap. Ia jadi teringat akan ancaman Sandra tadi pagi.

“Sandra adalah sahabat baikku sejak lama dan aku mengenal sekali wataknya. Oleh karena itu  alangkah baiknya jika kamu bisa menahan hasratmu terhadap diriku kecuali jika kau ingin ia murka hi hi hi” tambah Dian Lagi

Paijo bergidik. Ucapan Dian benar adanya. Dan bukannya tak mungkin Sandra bakalan tahu bila mendapati penisnya tak cukup kuat ber-ereksi akibat bercinta dengan Dian. Rasa-rasanya ia tak begitu berani menanggung resiko apa yang akan terjadi kemudian.

Paijo tertunduk lesu dan memutuskan tak lagi mencoba merayu Dian.

##############################

Selama hampir satu setengah bulan sudah Hubungan Paijo dan Sandra berjalan dan setiap malam-nya Paijo berusaha melakukan kewajibannya terhadap wanita cantik itu sebaik-baiknya. Namun hubungan keduanya berjalan tak seperti sebelum-sebelumnya. Jika pada awalnya mereka berdua bercinta dengan dipenuhi hasrat gairah. Namun bagi Sandra hubungannya dengan Paijo sekarang ini benar-benar terasa hambar dan membosankan. Seperti layaknya sedang melakukan sebuah terapi yang rutin saja. Tak kata-kata mesrah apalagi ada perasaan kasih sayang buat Paijo. Sejak kepergian Alfi, hati dan pikiran Sandra selalu diliputi oleh rasa bersalah, kehilangan dan kekuatiran. Ia baru menyadari betapa ia sungguh tak dapat berpisah dari anak itu. Apalagia sejak malam di mana ia memimpikan Alfi, Ia tak lagi bisa menikmati persetubuhan dengan Paijo. Bahkan iapun pernah tak lagi merasakan orgasme.  Paijo bukannya tak berusaha. Ia sudah mengerahkan segenap kemampuan bersetubuhnya namun itu semua tak menimbulkan nikmat bagi Sandra. Sandra seakan sudah kehilangan gairah dan putus urat gelinya terhadap rangsangan Paijo. Ia hanya membiarkan Paijo mengengenjotnya hingga perlawanan anak itu berakhir dengan sendirinya. Kini yang tersisa dari hubungan ini hanyalah kepentingan pribadi semata. Bagi Sandra ia hanya mengejar sebuah kehamilan. Itu saja. Sedangkan buat Paijo sendiri ia tak lagi ambil peduli apakah Sandra terpuaskan olehnya atau tidak. Bisa hamil atau tidak. Yang penting ia bisa memanfaatkan waktu yang hanya tinggal sedikit ini buat menikmati tubuh majikannya itu.

##################################

Hingga pada di suatu pagi buta Sandra mengeluarkan alat test kehamilan-nya. Itu adalah waktu yang tepat bagi  seorang wanita memeriksa kehamilannya. Ia harus meneteskan sedikit urin-nya pada alat itu. Lalu proses selanjutnya adalah menunggu. Dengan tak sabar dan jantung berdebar ia menanti hasil yang muncul. Setelah lewat satu menit hanya sebuah garis horizontal yang tampak. Belum ada lagi yang muncul. Tapi ia tetap menunggu dengan was-was berharap akan muncul sebuah garis vertical yang menyilang pada garis pertama tadi sehingga membentuk lambang positif. Sampai waktu yang ditentukan oleh brosur habis apa yang ia harapkan tetap tak juga muncul. Hasilnya tetap saja sama…tak ada garis vertical..hanya garis minus…alias NEGATIF. Dengan geram Sandra membanting benda itu ke lantai kamar mandi hingga pecah berhamburan. Tubuhnya terasa lemas lunglai. Ia duduk di lantai dan tersandar di dinding sambil menangis sesegukan. Hatinya dipenuhi  rasa kecewa dan penyesalan. Percuma saja perselingkuhan yang ia lakukan selama ini. Hanyalah kesia-sia-an yang ia dapatkan. Satu bulan lebih ia menyerahkan tubuhnya buat dinikmati Paijo namun tak satu bayi-pun berhasil ditanamkan ke dalam rahimnya. Bahkan ia telah mengorbankan hubungannya dengan Alfi.

##################################

Pagi itu nampak Sandra duduk termenung sendirian menghadapi sarapannya di meja makan. Matanya yang masih bengkak karena kebanyakan menangis menambah warna kesedihan pada wajahnya.

“Bu, maaf mengganggu”

“Kebetulan kamu muncul Jo. Ada yang ingin aku sampaikan padamu mengenai test kehamilanku  pagi ini” ujar Sandra sambil membelah daging sosis dihadapannya untuk di masukan ke dalam roti sarapannya. Terkadang ia hanya memakan sedikit saja daging-dagingan. Itu ia lakukan buat menjaga keindahan tubuhnya.

“Ba..gaimana hasil-nya bu?” ujar Paijo gugup sambil memperhatikan pisau yang berkilat di tangan Sandra.

Cress! Satu kali ayunan sosis berwarna merah itu terbelah dua. Glekkk…Paijo menelan ludah bukan ngiler karena ingin makan sosis. Ia teringat ancaman Sandra tempo hari. Ia merasa ngeri membayangkan bila yang terpotong itu bukanlah sosis melainkan…penisnya. Kasihan pemuda itu, jidat sampai mengeluarkan keringat dingin karena begitu takut-nya.

“Negatif  Jo! Aku tidak hamil!”ujar Sandra

“Be..benarkah itu bu?” Wajah Paijo bertambah pucat pasi mendengar berita itu.

“Ya, dan Kamu sudah gagal, Jo!!”

“B bo..lehkah saya minta kesempatan buat berusaha lagi bu?”

“Percuma saja..itu tak akan berhasil!. Engkau tak mungkin mampu membuatku hamil sebab dirimu mandul!”

Paijo terperanjat bukan main.

“Me..ngapa ibu bekata demikian?”

“Hasil test kesuburan pada laboratorium tempo hari menunjukan jika sel spermamu tidak subur. Bahkan setelah diberikan terapi sekalipun, kamu ternyata tetap saja mandul!”

“Tetapi  bagaimana mungkin?…Surti ?”

“Aku tidak tahu itu. Tanyakan pada dirimu sendiri benarkah janin di dalam kandungan Surti memang betul-betul anakmu?”tukas Sandra.

Paijo tersentak kaget mendengar perkataan terakhir Sandra. Jantungnya berdetak keras serta perasaan tidak enak menerpa sanubarinya. Ada satu hal yang selama ini memang sangat menggelisahkannya. Seakan-akan ada tabir yang harus ia kuak sedikit demi sedikit. Ia juga heran saat itu. Mengapa tiba-tiba Surti mendadak menjadi suka kepadanya yang sebatang kara dan tak punya apa-apa ini padahal ia tahu gadis itu sudah memiliki seorang pacar bernama Ipung. Pemuda itu boleh dikatakan sebagai playboy-nya  kampung karena selain agak ganteng buat ukuran kampung, juga memiliki orang tua tergolong kaya dan memiliki hektaran sawah di desanya. Pada suatu hari ia melihat Surti duduk seorang diri termenung di kelas. Paijo yang memang sejak lama memendam rasa cinta pada Surti menawarkan diri untuk mengantar gadis itu pulang. Paijo merasa mendapat angin karena gadis itu tak menolak.

Begitulah berjalan satu minggu ia masih sering melihat Surti termenung dan menangis sendiri. Ia tak tahu kesedihan Surti itu karena diputus oleh Ipung. Namun ia tak pernah ada keberanian untuk menanyakannya. Yang penting ia senang karena bisa berdekatan dengan gadis pujaannya itu. Hingga pada suatu hari, terjadi suatu hal yang luar biasa di dalam hidup Paijo. Kala ia seperti biasa menemani Surti duduk melamun di kelas seusai jam sekolah. Hari itu semua guru maupun semua murid sudah pulang ke rumah. Tiba-tiba saja Surti menciumnya. Paijo terkejut ia tak menyangka gadis selembut bisa Surti melakukan itu. Paijo yang naïf., ia menganggap Surti sudah menerima cintanya. Ciuman itu berlangsung semakin panas dan berlanjut di lantai sekolah. Si perjaka katrok macam Paijo jelas tak kuasa bertahan dalam godaan kemesraan yang di susupkan Surti. Api birahinya meletup tak tertahankan dari tubuh pemuda yang baru melewati masa pubernya itu. Hingga semua itu terjadi. Dan ketika hal itu berakhir ia dihadapkan dengan persoalan baru yang mengharuskan ia berhenti sekolah dan merantau ke sini. Mengingat itu Paijo terhenyak lemas. Hati-nya mulai menduga-duga.

“Ma..afkan saya bu” hanya itu yang mampu ia katakan.

“Baiklah Jo, aku tak akan mempermasalahkannya tapi kamu masih ingat dengan perjanjian kita tempo hari kan?” Tanya Sandra dingin

“I..ingatt buu. Saya harus pergi meninggalkan rumah ini dan berjanji tidak akan   bilang ke siapa-siapa soal apa yang terjadi di sini.”

“Syukurlah kau ingat akan hal itu!“

“Besok pagi-pagi sekali saya akan pulang ke kampung”

“Mengapa harus besok?! Lebih cepat kamu pergi lebih baik sebelum suamiku pulang. Lagian aku tidak mau kamu mencari-cari kesempatan lagi buat mengulangi perbuatan kita selama ini”

“Ba..ikk buu… kalau begitu sa..ya pulangnya sekarang saja. Sayaa juga sudah janji sama kang Alfi ngga mau macem-macem. Lagian saya kasihan sama istri yang sudah lama saya tinggalkan”

“Bagus jika tak ada lagi yang perlu dibicarakan Silakan jika kamu ingin berkemas sekarang!”

“Ya bu, tapi ijinkan saya minta maaf kalau selama ini saya sudah buat masalah di sini…dan  saya  juga mengucapkan terima kasih atas kebaikan ibu pada saya selama ini. Saya tak bakal melupakan perjumpaan saya sama ibu. Sa..ya permisi sekarang bu”

Sandra tak lagi menjawab ucapannya. Sebenarya Ia tak sampai hati memperlakukan Paijo seperti itu. namun ia harus melakukan itu agar hubungan ini segera berakhir secepatnya. Sandra takut semakin lama bocah itu di sini ia kembali tak mampu menghindari ajakan serta rayuan Paijo buat kembali melakukan kemesraan sehingga mereka semakin larut  dalam perselingkuhan ini. Setelah Paijo berlalu. Bik Iyah datang ke arahnya.

“Maafkan  atas kelakuan Paijo selama ini, Non.” Ujar Wanita tua itu

“Tak mengapa bik. Mungkin ini sudah menjadi nasibku.”

“Non sa..”

“Tinggalkan aku sendiri bik. Sebaiknya bibik bantu saja Paijo berkemas dan berikan ini pada Paijo. Katakan untuk biaya isrinya melahirkan” potong Sandra sambil menyerahkan segepok uang pecahan seratusribuan kepada bik Iyah..

Bik Iyah tak bisa berkata lagi. Ia tak tahu bagaimana caranya menghibur Sandra saat ini. Namun ia turut dapat merasakan kesedihan bekas asuhannya itu. Ia pergi ke belakang meninggalkan Sandra sendirian di situ.
Hari demi hari berlalu. Satu bulan sudah Alfi pergi dan belum juga kembali. Bila tempo hari ia mengatakan jika ia hanya akan pergi selama dua pekan saja. Berarti sekarang ini sudah dua minggu melampaui jadwal kepulangannya. Tak ada kabar sedikitpun mengenai dirinya. Sandra sudah berusaha menghubungi lewat Handphone. Namun tak ada jawaban baik dari hp Alfi maupun dari semua anggota tim. Kemungkinan mereka hanya mengaktifkan hp pada saat-saat tertentu saja karena keterbatasan baterai. Tentu saja semua itu  membuat Sandra dan yang lain kelabakan. Mereka semua mulai cemas jika benar-benar telah terjadi hal yang buruk menimpa diri anak itu. Pagi itu terlihat Sandra duduk termenung sendirian. Matanya menatap kosong ke luar jendela. Siang ini Didiet akan pulang. Ia sudah memutuskan untuk berterus terang kepada Didiet tentang apa yang telah terjadi selama ini. Toh! cepat atau lambat Didiet juga akan mengetahui semuanya. Tapi setidaknya masalah keselamatan Alfi jauh lebih penting dan harus cepat diatasi.  Ia bahkan lebih siap menerima kemarahan dari Didiet ketimbang harus menderita batin karena mencemaskan Alfi.

“Non..” terdengar suara bik Iyah menyadarkan ia dari lamunannya.

“Ada apa bik?”

“Bibik..bibik merasa tidak enak sama non. Gara-gara si Paijo, den Alfi jadi tidak pulang-pulang dan si Non terus-terusan sedih dan murung”

Sandra hanya diam. Ia sangat tak ingin membahas soal Paijo lagi.

“Maafkan bibik non.. hks hks” ujar bik Iyah tiba-tiba terisak.

“Aduuh Bik.. sudahlah…Aku tak ingin bibik jadi ikut-ikutan menjadi susah karena persoalanku ini”  ujar Sandra mau tak mau ia menanggapi omongan bik Iyah barusan karena tak sampai hati. Ia memang belum pernah melihat bik Iyah menangis sebab yang ia tahu wanita tua ini sangat keras dan  teguh hatinya.

“Hks hks non tidak mengerti… bibiklah yang bersalah dalam hal inii… Seandainya saja pada waktu itu bibik tidak meminta pertolongan sama Den Didiet mungkin tak begini jadinya”

“Didiet? Bibik sedang bicara apa?” Deg! Jantung Sandra seakan berhenti berdetak saat mendengar nama Didiet di sebut-sebut.

“Selama ini bibik sudah berlaku tidak jujur sama non. Sebenarnya…. den Didiet sudah tahu jika si Paijo tinggal di sini”

“Apaaa?!! Didiet sudah tahu?!” tanya Sandra terlonjak kaget mendengar penuturan bik Iyah tersebut. Seseorang telah lebih dahulu mengatakannya pada Didiet. Dan itu yang tak ia inginkan. Ia ingin Didiet mendengar langsung darinya sendiri sehingga tak menimbulkan salah pengertian.

“B betul non” ujar bik Iyah menegaskan.

Tapi dari siapa Didiet tahu?. Tak mungkin Nadine atau Dian yang melakukannya. Tapi siapa? Sandra bertanya-tanya dalam hati. Mungkinkah Alfi? Paijo?! ataukah… Tiba-tiba ia menatap bik Iyah dengan pandangan menuduh.

“Pasti bibik yang mengadu pada Didiet?!”

“B..bukan non. ” jawab bik iyah. Bik Iyah sepertinya ingin menjelaskan sesuatu namun Sandra yang dalam keadaan depresi tak memberinya kesempatan untuk itu.

“Lantas Siapa?! Katakan terus terang bik!!” bentak Sandra sambil mencengram bahu bik Iyah. Ia kesal karena belum juga mendapatkan jawaban yang memuaskan hatinya. Padahal ‘kunci’nya jelas ada pada pembantunya itu. Bik Iyah yang tahu tentang perselingkuhannya dengan Paijo. Bik Iyah juga orang yang tahu jika Didiet sudah mengetahui hal itu.

“N non?. Hks.. hks …” Bik Iyah terkejut dan kembali terisak. Ia sedih bukan karena di perlakukan kasar oleh ‘nona’-nya itu. Melainkan karena ia ikut merasa bersalah atas segala kemelut yang menimpa Sandra. Sejenak Sandra seakan baru tersadar apa yang ia perbuat. Cepat-cepat ia melepaskan cengkramannya dan memeluk tubuh tua itu.

“Aduhh Bik..m maafkan aku…aku tak bermaksud kasar sama bibik” ucap Sandra menyesal. Betapa ia benar-benar khilaf tadi dan sempat berlaku tak pantas terhadap seseorang yang mengasuh dan memanjakannya saat kecil itu. Kemelut yang terjadi akhir-akhir ini semakin membuatnya sulit mengontrol emosinya.

“Tidak apa-apa non. Bibik maklum akan kondisi non.” ujar bik Iyah. Sebenarnya ia tak ingin menambah beban pikiran Sandra namun ia merasa ia harus mengatakannya pada Sandra.

“Bik beritahu aku bagaimana Didiet bisa mengetahui semua ini” ujar Sandra. Kali ini ia berusaha untuk lebih tenang.

“Baiklah bibik akan katakan semua yang bibik ketahui pada non.” ujar bik Iyah mengawali pengakuannya dengan terbata-bata   “Kejadiannya kira-kira dua bulan yang lalu. Saat itu bibik masih bekerja di rumah ibu non Sandra. Hari itu den Didiet datang sendirian ke sana menjenguk ibu sekaligus meminta bibik tukaran posisi dengan bik Nah. Pada kesempatan itu bibik sempat minta tolong di carikan pekerjaan buat keponakan bibik si Paijo yang menganggur karena saat itu istrinya sedang hamil dan membutuhkan biaya untuk melahirkan. Lantas Den Didiet menyuruh bibik mengajak sekalian Paijo kemari untuk bekerja di sini ”

Pengakuan bik Iyah tersebut sungguh  di luar dugaan dan membuat Sandra benar-benar merasa kecele. Selama ini ia dan yang lain menganggap Didiet belum tahu soal keberadaan Paijo di rumah ini. Padahal sejak awal hal itu justru merupakan idenya Didiet sendiri!

“Mengapa?…mengapa baru sekarang aku diberi tahu soal ini Bik?”

“Maafkan saya non. Tetapi den Didiet yang melarang bibik mengatakannya pada Non Sandra.”

“Aku semakin tak mengerti? L..lantas…Apakah ia juga mengetahui apa yang telah aku lakukan dengan Paijo selama ini, Bik?!” Tanya Sandra bingung. Ia sungguh tak mengerti akan situasi yang terjadi di dalam rumah tangganya saat ini. Entah siapa yang terlebih dahulu memulai ketidak jujuran di antara ia dan Didiet.

“Ya say, aku juga sudah tahu akan hal itu.” Terdengar suara dari arah ruang depan sebelum bik Iyah sempat menjawab. Kedua wanita itu-pun menoleh ke arah suara tersebut secara bersamaan.

“Ditt?!” ujar Sandra tergagap ketika melihat Didiet  muncul dari balik pintu..

“Oh! den Didiet sudah pulang” ujar Bik Iyah-pun tak kalah kaget.

Pembicaraan yang serius barusan membuat mereka tak menyadari kehadiran Didiet di situ.

“Bik, tinggalkan saja kami berdua”ucap Didiet santai.

“Baik den” ujar Bik Iyah patuh. Ia masih sempat mengambil alih koper dari tangan majikannya itu.

Setelah bik Iyah berlalu.

“Dit, benarkah engkau sudah mengetahui apa yang terjadi selama ini?” pertanyaan  Sandra langsung membuka percakapan.

“Say..kemarilah.”ujar Didiet lembut.

Apa?..Say?..suaminya masih memanggilnya ‘say’ dalam situasi seperti ini?. Mengapa Didiet sepertinya tak mempermasalahkan perselingkuhannya dengan Paijo? Sandra mendatangi suaminya dengan perasaan bercampur aduk. Lalu ia merasakan rengkuhan tangan kokoh pada punggungnya saat Didiet memeluknya. Saat mengadahkan wajahnya ke wajah Didiet sebuah kecupan hangat hinggap di bibirnya.

“Ditt engkau belum menjawab pertanyaanku” kejar Sandra penasaran karena Didiet belum memberinya jawaban.

“Ya. Say. Aku sudah mengetahui tentang hubunganmu dengan Paijo Namun kamu tidak perlu kuatir aku akan mempermasalahkannya karena hal itu juga ada hubungannya mengapa sejak awal aku tak memberi tahumu soal kepindahan Paijo kemari”

“Katakan, Dit. Mengapa engkau tak pernah memberi tahuku soal itu?.” tanya Sandra tak sabar.

“Sebenarnya sejak awal aku ingin memberitahumu namun mengingat saat itu suasana hatimu sedang tak baik maka aku merasa harus menunggu waktu yang tepat  untuk berbicara padamu.” Ujar Didiet sambil membimbing istrinya untuk duduk bersama di sofa. “Baiklah aku ceritakan saja sekarang. Seperti yang telah bik Iyah katakan padamu tadi, aku memang bertemu dengannya di rumah ibumu. Aku terkejut saat tahu ternyata keponakannya yang bernama Paijo itu telah memiliki seorang istri yang sedang hamil. Hal itu  membuatku teringat dengan masalah kehamilanmu. Tiba-tiba saja terbetik keinginan untuk menjadikan Paijo sebagai pendonor bagimu. Lantas kuminta bik Iyah untuk mengajaknya kemari. Dan ia memang kularang mengatakannya padamu. Namun ia sungguh tak tahu apa sebenarnya tujuanku. Awalnya aku ingin Paijo tinggal bersama kita beberapa minggu terlebih dahulu dengan harapan aku bisa mengenal segala hal tentang Paijo lebih jauh agar tak menimbulkan masalah bagi kita di kemudian hari. Namun ternyata tanpa kuduga, sebelum aku sempat mengungkapkan rencanaku padamu, ternyata hubungan antara engkau dan Paijo sudah terjalin dengan sendirinya. Aku baru mengetahui hal itu dua minggu yang lalu. Ketika itu penerbanganku kemari dimajukan lebih awal. Dan aku tiba di rumah pagi-pagi sekali. Saat itulah aku menemukan dirimu masih tertidur lelap berdua dengan anak itu di ranjang kita. Tetapi aku tak ingin mengganggu kalian. Jadi kuputuskan  pergi ke rumah Donnie. Lalu setelah agak siang aku kembali lagi ke rumah. Dan berlagak seolah-olah baru tiba siang itu..”jelas Didiet panjang lebar.

Sandra tercenung setelah mengetahui kenyataan tersebut.

“Say, apakah ada yang salah?” Tanya Didiet heran. Tadinya ia yakin ini menjadi sebuah surprise yang menyenangkan buat Sandra. Namun Sandra tak bereaksi seperti yang ia harapkan. Garis-garis kesedihan nampak jelas di wajahnya.

“Dit? Apakah engkau sengaja memanfaatkan kelemahaan dan permasalahanku untuk mewujutkan fantasi liarmu?” Tanya Sandra.

“Sand? ”  Tanya Didiet terkejut melihat reaksi istrinya itu.

“Engkau sengaja mengumpankan anak itu agar berselingkuh denganku! Benarkan Dit?!”

“Say..akukan cuma berniat membantu” ujar Didiet terpojok. Ia tak menyangka ternyata Sandra mampu membaca niat terselubungnya,

“Jawab pertanyaanku Dit!!” tanya Sandra kesal. Ia benar-benar sudah lelah dengan semua ini. Tak di sangka ternyata suaminya sendiri yang menjadi actor intelektual atas perselingkuhan dirinya dengan Paijo yang berujung pada kepergian Alfi.

“Baik! Baik!! Aku akui. Aku memang memiliki hasrat melihat anak itu menidurimu. Namun apa bedanya? Toh, selama ini engkau juga melakukannya bersama Alfi. Ayolah say…kita ambil positifnya saja. Bukankah dengan begini engkau bisa memperoleh manfaatnya karena ada seseorang yang mau menghamilimu dan aku sendiri…yahh…mendapatkan apa yang kumau” tukas Didiet. Ia berbalik heran melihat keberangan istrinya. Ia sulit menebak bagaimana kondisi emosi istrinya saat ini. Bukankah seharusnya Sandra senang ada solusi bagi masalah kehamilannya. Namun kenyataannya justru tidak demikian. ia sungguh tak menyangka Sandra justru terlihat sangat kesal kepadanya.

“Tetapi tahukah engkau akibat semua ini bagi Alfi?!”

“Lho? Memangnya ada apa dengan Alfi?!”

“Alfi…diaa…sangat terpukul setelah melihat kebersamaanku dengan Paijo.”

“Terpukul? Aneh!…aku benar-benar tak mengerti maksudmu? Bukankah selama ini ia tak mempermasalahkan kehadiran pria lain seperti aku atau Donnie dan juga Robert?”

“Aku juga tak mengerti soal itu, Ditt!.Yang jelas ia tak suka melihat Paijo di sini meniduri aku!”

“Baiklah, di mana anak itu sekarang? Mungkin aku bisa minta maaf serta pengertiannya soal hal ini. Setidaknya ia tak perlu menyalahkan dirimu atas semua yang terjadi “

“Terlambat Dit. Alfi sudah pergi” ujar Sandra lirih.

“Apa? Pergi?..Kemana? Apakah ia ke rumahnya Donnie atau Robert?”

“Ia tidak ada di sana, Dit. Alfi pergi mendaki gunung XX.”

“Haa!! Mendaki?! Mengapa kau tak berusaha mencegahnya? Bukankah aku sudah pernah melarangnya melakukan kegiatan itu!”

Lalu Sandra menceritakan secara ringkas semua yang telah terjadi selama ini. Didiet-pun melongo setelah mendengar penuturan Sandra. Kali ini ia baru nyambung. Ia dibuat bingung dan tak tahu harus menjawab apa. Situasi yang terjadi tak seperti yang ia harapkan. Sungguh! Ternyata banyak hal yang tak terpikirkan olehnya. Ia lupa memperhitungkan resiko jika Alfi tak menyukai Paijo. Bahkan tak akan pernah ada kehamilan dikarenakan Paijo Mandul!

“Eh uh..Maafkan aku say..aku benar-benar tak tahu jika akan begini jadinya” ujar Didiet penuh penyesalan karena semua  ini  justru membuat Sandra semakin sedih dan tertekan.

“Ia… ia sengaja mencari mati gara-gara aku huu huu“ Sandra mengatakan itu sambil mendekap wajahnya dengan ke dua telapak tangannya. Air matanya tumpah tak terbendung lagi. Bayang-bayang mimpi buruknya tentang Alfi tempo hari kembali terlintas di kepalanya.

Didiet benar-benar kaget ketika melihat istrinya itu menangis. Cepat-cepat ia bangkit seraya menarik kepala Sandra ke dalam pelukannya.

“Aduhh say!.. tak perlu seperti ini? haduhh bagaimana ini…..tadi kan aku sudah katakan  jika aku sangat menyesal…” bisiknya kebingungan membujuk istrinya agar berhenti menangis.

“Bagaimana dengan Alfi, Ditt? Sudah satu bulan ia tidak pulang. Aku kuatir sekali jika terjadi apa-apa padanya hks hks!”tanya Sandra di antara isaknya.

“Kita akan mencari tahu tentang dia. Namun aku ingin engkau berusaha menenangkan dirimu dulu.. Aku cukup mengenal leader kelompok itu. Ia merupakan juniorku di kampus dulu. Pemuda itu tak sembarangan mengajak seseorang buat mendaki. Semuanya pasti sudah dipersiapan secara matang. Jadi aku kira tak terjadi apa-apa dengan mereka. Lagian bukankah tak ada berita buruk dari radio maupun televise?”

“Tapii Ditt masa kita harus menunggu terjadi apa-apa dulu baru bertindak?! huu huu “

“Baik!..Baiklah say!. Aku segera memerintahkan beberapa karyawanku buat mencari Alfi di posko para pencinta alam di kota H besok. Aku yakin mereka dapat dengan cepat memperoleh info keberadaan Alfi. Selanjutnya biarlah aku yang akan menangani hal ini ya Say ” ujar Didiet. Ia sadar tak ada jalan lain untuk membuat hati istrinya itu tenang kecuali menemukan Alfi secepatnya.

Alhasil setelah mendengar ucapan suaminya itu Sandra menjadi lebih tenang. Beberapa saat kemudian tangisnya-pun mereda di dalam dekapan suaminya. Haihh…Didiet menghela napas panjang. Ia merasakan kemejanya basah oleh air mata istrinya itu. Sejak berkenalan dengannya hingga saat ini, Sandra tak pernah menjadi sesedih seperti tadi. Kecuali satu kali. Ya…Didiet  jadi teringat akan peristiwa dulu saat itu Sandra menjadi begitu murungnya sejak berpisah dengan Alfi setelah melakukan percintaan buat pertama kalinya di cottage di pantai X tempo hari. Dalam hati kecilnya sebetulnya ia tahu bila kehadiran Alfi dalam perkawinan  mereka telah mendapat tempat yang istimewa di dalam hati Sandra tapi ia tak pernah menduga seberapa besar perasaan  itu. Dan selama ini-pun Sandra selalu mengungkapkan jika ia hanya mencintai dirinya seorang sedangkan Alfi hanyalah dianggap sebagai bumbu dalam  kehidupan ranjang mereka semata. Tapi kini kenyataan itu tak lagi dapat di tutupi oleh Sandra. Kemarahan dan tangis Sandra barusan itu tak cuma mengartikan sebuah kekuatiran namun juga sebuah ungkapan penuh kerinduan dan kasih sayangnya terhadap Alfi. Didiet seakan baru tersadar jika bayang-bayang Alfi secara perlahan namun pasti akan mampu menggeser dirinya dari hati Sandra. Tapi ia tak bisa menyalahkan orang lain. Bukankah semua ini berasal dari keinginan dan fantasi liarnya sendiri? Berarti ia sendiri yang juga harus siap menanggung segala konsekuensi atau akibat yang di timbulkan oleh hal tersebut. Termasuk siap tersisih dalam memperebutkan cinta sejati Sandra!

##########################

Keesokan paginya Didiet terlihat sibuk menelpon ke sana kemari. Namun hingga siangnya ia belum juga mendapatkan jawaban yang memuaskan.

“Sepertinya aku sendiri yang harus pergi mencari Alfi” ujarnya pada Sandra.

“Aku tak ingin menyusahkanmu Dit. Kurasa kita bisa menunggu kabar dari orang-orangmu”

“Tak mengapa. Ketimbang hanya menunggu. Semakin cepat aku bisa memperoleh kabar mengenai keberadaan Alfi tentunya semakin baik.”

Akhirnya Didiet pergi ke kota H yang hanya berjarak empat jam perjalanan berkendaraan mobil dari kota S. Waktu terus merambat. Sandra terus menunggu dengan harap-harap cemas. Handphonenya tak pernah lepas dari genggamannya. Menanti benda itu berdering dan seseorang yang akan  memberinya kabar baik mengenai Alfi. Namun hingga hari menjelang sore apa yang ia harapkan tak juga terjadi. Ia mulai merasa putus asa. Masalah kehamilan yang berujung dengan kepergian Alfi benar-benar telah membuatnya lelah. Ketika ia sedang berupaya membuang kegelisahannya dengan berjalan-jalan di pekarangan rumahnya sambil memandangi beragam bunga yang tumbuh di sana.  Tiba-tiba terdengar derit pintu gerbang bergeser. Seseorang masuk ke perkarangan rumah sambil tersenyum riang tengah berlari kecil menuju ke arahnya.

“Kakaakkk! Alfi pulanggg!”

“Ohhh  Fii?! Kamu.. sudahh pulanggg?!!”.

Sandra-pun langsung menubruk tubuh anak itu. Memeluknya se-erat mungkin. Mendekapannya. Seakan tak ingin melepaskannya lagi. Air matanya meleleh tak terbendung lagi oleh rasa lega dan kerinduan yang mendalam.

“Ooh..Fii   kakakk kuatir sekali huu huu”

“Duh! Kenapa kakak begitu kuatir? Bukankah sudah Alfi bilang kalau Alfi bakal mampu menaklukan gunung itu” bisik Alfi sambil membelai rambut Sandra. Ia sungguh tak tega melihat bidadarinya menangis.

“Kamu jangan pergii lagi ya Fi  huu hu..”

“Iya iya Alfi tidak bakalan meninggalkan kakak lagi. Alfi sudah berniat tak akan mendaki lagi demi kakak. Cukup sudah satu kali itu buat menuntaskan hasrat dan rasa ingin tahu Alfi saja. Nah sekarang kakak sudahan dulu nangisnya” bujuk Alfi sambil mengusap pipi Sandra yang basah.

“Kakk..” bisik Alfi setelah tangis Sandra  mereda.

“Iya Fi?”

“Alfi kangen sama sekali sama kakak”

“Oh..Fii Kakak juga, sayang. Ayo kita masuk. Kamu harus istirahat setelah menempuh perjalanan jauh”

“Melihat kakak, rasa capek Alfi jadi hilang”

“Gombal ahh!” ujar Sandra mencubit pinggang pemuda itu.

#################################

Alfi

Sandra segera mengabarkan kepulangan Alfi kepada Didiet. Didietpun merasa lega. Ia menganggap masalah dan kemelut antara Sandra dan Alfi sudah terselesaikan. Namun Ia mengabarkan jika ia tidak bisa pulang ke kota S. Ia memutuskan untuk langsung berangkat ke kota G dengan pesawat. Ia-pun berpesan agar Nadine segera menyusulnya. Sore itu  Sandra menghabiskan waktu berjam-jam di sebuah SPA buat menyambut pertemuannya dengan Alfi. Ia tahu selama beberapa hari ke depan akan menjadi hari-hari penuh keintiman yang melelahkan bagi mereka berdua. Dan malamnya ia mengajak Alfi makan malam di sebuah restoran berkelas di kawasan elite. Sandra mengenakan gaun malam hitam yang indah terlihat begitu kontras dengan  kulitnya yang putih lembut itu. Ia ingin terlihat cantik buat pemuda itu. Para pengunjung lain banyak yang mencuri memandang ke arah mereka sambil berbisik-bisik. Tentu saja pasangan unik itu cukup mengundang tanya mereka. Kemana suaminya? Mengapa wanita secantik dan seanggun Sandra minta ditemani oleh pemuda bertampang pas-pasan seperti Alfi yang cocok menjadi jongosnya itu? Namun Sandra tak memperdulikan semua itu. Kepulangan Alfi telah menepis segala kegalauan hatinya selama ini. Saat ini ia benar-benar sedang dimabuk asmara. Ia ingin menikmati saat-saat terindahnya bersama Alfi tanpa terganggu oleh siapa pun malam ini. Setelah selesai menikmati makan malam. Mobil Sandra meluncur menembus gemerlapnya malam. Menuju ke luar kota ke sebuah tempat yang penuh dengan nostalgia indah baginya dan Alfi. Cottage xxx di tepi pantai X. Malam semakin larut dan dingin ketika mereka tiba di situ. pohon nyiur melambai kuat di terjang hembusan angin pantai. Sepertinya tak lama lagi bakal turun hujan lebat. Sebuah malam pertemuan yang sempurna buat Alfi dan Sandra.

“Wah..Kakak cantik sekalii..dan harum” puji Alfi ketika wangi tubuh Sandra menggelitik hasrat kejantannya.

“Betulkah?” Sandra tersipu senang.

“Engg..kak”

“Iya sayang”

“Alfi turut  prihatin” ujar Alfi sambil membelai pipi Sandra lembut.

“Soal apa sayang?”

“Soal kegagalan Paijo. Alfi sudah mengetahui semuanya dari kak Dian” ujar Alfi. Sandra tahu Alfi tak sedang mengoloknya. Ia melihat ketulusan di mata Alfi.

“Tidak apa-apa sayang. Mungkin itu pantas kakak terima karena kakak telah menyakiti hatimu” jawab Sandra.

“Tapi Alfi ngga pernah membenci kakak. Saat itu Alfi justru ingin dia bisa bikin kakak hamil.”

“Betul begitu?” Sandra menatap mata pemuda itu lekat-lekat. Ia tahu Alfi sudah melakukan sebuah pengorbanan besar dan ia sudah membuktikan betapa besar cintanya dengan mampu melewati ujian yang sangat berat itu. Kini Sandra-lah yang harus memikirkan bagaimana ia membalas semua yang telah dilakukan anak itu kepadanya.

Alfi mengangguk sambil membalas tatapan Sandra. Jelas ia ingin Sandra tahu jika ia tak berbohong atau dianggap sekedar mengucapkan kata-kata gombal.

“Terima kasih sayangku. Namun mulai saat ini kakak hanya inginkan kamu yang nantinya bisa menghamili kakak.”ujar Sandra membelai wajah anak itu.

“Eng Kak…Alfi… kangen sekali sama kakak.”

“Lantas kenapa sejak pulang kamu belum juga mencium kakak”

Alfi tak memberi jawaban atau menunggu Sandra bertanya lagi. Ia langsung memagut Bibir kekasihnya itu. Lalu keduanya menumpahkan segala rasa rindu mereka dalam balutan ciuman yang ketat. Tak ada keliaran di situ. Ini sebuah ciuman yang di dasari oleh perasaan cinta dan kasih sayang dari kedua pelakunya.

“Fi ada yang mau kakak katakan padamu” ujar Sandra saat ciuman mereka terlepas.

“Apa itu kak?”

“Fi… kakak mencintaimu”

“Alfi tahu itu kak” Alfi menanggapinya dengan tersenyum getir. Ia sudah sering mendengar kata-kata itu terucap tak hanya oleh Sandra namun juga dari wanitanya yang lain. Ia menganggap itu hanya ekspresi rasa kangen Sandra saja. Mana mungkin Sandra benar-benar mencintainya dalam arti yang sebenarnya sebagaimana halnya ia sendiri  mencintai wanita itu. Selain itu tak  mungkin ia mampu bersaing dengan kak Didietnya.

“Fi, kakak serius. Kakak mencintaimu dengan segenap jiwa raga kakak” Sandra seakan tahu apa yang berkecamuk di dalam benak Alfi. Ia  mengucapkan hal itu sambil menatap lekat-lekat mata Alfi. Kini adalah giliran baginya untuk menyatakan isi hatinya pada Alfi. Ia tak ingin lagi mengingkari perasaannya yang sebenarnya terhadap Alfi dan ia ingin Alfi tahu kebenaran itu sekarang bahwa Ia sungguh-sungguh mencintai Alfi.

“Tetapi K..kaak Alfi kan jelek. Sedangkan kakak cantik” mau tak mau kali ini Alfi menanggapi ucapan Sandra dengan serius.

“Ya Fi. Kamu memang tak setampan dan segagah suami-suami kami. Kamu juga tak sekekar Donnie. Kamu memang ngga sepintar Robert. Tetapi aku tak perduli dengan semua kekuranganmu itu, Fi. Kamu justru memiliki sesuatu yang tak mereka bahkan kebanyakan pria punyai. Kamu jantan. Penuh dengan ketulusan dan kasih sayang. Kakak merasa kamu itu ngga jelek-jelek amat kok. Justru di mata kakak kamu itu sangat…seksi lho. Lagian apakah ada larangan buat seorang yang cantik mencintai orang seperti dirimu Fi?”

Mendengar ucapan Sandra tersebut jantung Alfi seakan berhenti berdetak  saat itu juga. Rasanya ia tak bermimpi. Wanita yang paling ia cintai itu akhirnya membalas cintanya. Hal itu yang selama ini paling ia dambakan. Tak ada kata-kata yang bisa mewakili kebahagian hatinya saat itu.

“Ohh Kakaak …Alfi juga sangat mencintai kakak”. Alfi tak lagi dapat membendung perasaannya. Bibir Sandra yang mengiurkan itu di sambarnya. Dan merekapun kembali larut dalam lautan French kiss yang menghanyutkan.

“Kak, Alfi mau ceritain pengalaman Alfi waktu di gunu …”.ujar Alfi sambil merenggangkan rangkulannya.

“Stttt  Fii sebaiknya kita ngga usah bicara itu dulu ya..” potong Sandra sebelum Alfi menyelesaikan kalimatnya.

“Lho kenapa  kak?”tanya Alfi

“Katamu kamu sudah kangen banget sama kakak, tapi kok malah ngomong melulu?”

“Hi hi Iya ya kak ….”

Alfi segera memagut bibir kekasihnya dengan lembut. Sandrapun menyambutnya dengan penuh hasrat dan kerinduan. Menjadikan ciuman mereka begitu ketat. Sementara itu hujan telah turun dengan lebatnya. Udara lembab dan sejuk mengalahkan kenyamanan dari AC modern manapun merasuk masuk ke dalam  kamar menyapu hawa panas yang sedang membara berasal dari tubuh dua insan berlainan jenis dan status sosial yang sedang bergumul di atas ranjang. Bila dulu Alfi lah yang kerap merengek-rengek bila kebelet ingin bersetubuh. kini malah Sandra yang dibuat merengek-rengek manja. Alfi yang sekarang benar-benar bisa mengendalikan hasratnya.  Tapi Sandra  tahu anak itu siap meledakan gairahnya pada saat percintaan yang akan terjadi sebentar lagi. Bahkan jauh lebih dasyat dari sebelum-sebelumnya. Alfi berlaku sabar dalam  melakukan cumbuan awal untuk memulai sebuah persetubuhan. Bibir mereka saling menghisap satu sama lain. Saling kecup. Bergantian memasukan lidah dan saling bertukar cairan mulut. Ciuman Alfi  menjalar ke leher jenjang Sandra. Ia kecupi setiap jengkal kulit putih bak pualam itu. Sandra memejamkan matanya meresapi setiap kecupan Alfi yang jauh berkelana hingga ke dadanya yang membusung. Tubuh Sandra maupun dirinya masih tertutup oleh pakaian lengkap. Begitu juga dengan Alfi. Tak sukar bagi Alfi melakukan kemesrahan. Jemarinya yang terlatih dengan cepat berhasil membuka satu demi satu kancing-kancing gaun Sandra. Sandra sengaja memakai bra berkait depan. Dan ketika Alfi membuat satu gerakan lagi maka dada Sandra yang membusung indah itupun terbebas.

Alfi menjatuhkan kecupannya pada puncak bukit putih yang berwarna merah muda itu. Menangkapnya dalam mulutnya. Menguncinya dengan bibirnya. Lalu menghisapnya dengan kuat.

“Arggg…sayanggggg” rintih Sandra dalam kenikmatan. Lidah Alfi mampu berputar liar menyapu setiap sisi puting susunya di dalam kevakuman rongga mulutnya. Rasa nikmat itu membaur dalam rasa deg-degan. Tak ada yang menandingi anak ini dalam urusan yang satu ini. Sandra benar-benar dibuatnya semakin melambung.. Alfi juga memberikan porsi yang sama pada puting susu satunya. Bila sudah demikian ia akan melakukannya paling tidak satu dua menitan. Meski ke dua puting Sandra sudah berdiri penuh ia akan tetap akan menempel di situ persis seperti seorang bayi yang sedang menyusu. Itu pula yang sangat di sukai setiap wanitanya. Alfi mampu membuat seks pada puting susu menjadi begitu mengasyikan.

“Ohh..Fiii geliiii” pekik Sandra.

Geli itu di barengi tumpahnya cairan-cairan cinta yang membasahi rongga-rongga liang senggamanya. Sandra mulai kewalahan buat mengalihkan gairah yang berubi-tubi di susupkan Alfi ke tubuhnya. Gairahnya terpompa naik dengan cepat oleh setiap sentuhan Alfi. Ia tahu Alfi tak akan melewati setiap tahaban foreplay yang ada. Dan ia  tak akan mendapat penuntasan dalam waktu dekat.  Jemari Sandra menggapai-gapai berusaha meraih sesuatu pada selangkangan anak itu. Ia berusaha menyusupkan jemarinya ke dalam celana Alfi yang ketat. Namun nampaknya begitu sulit baginya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.

“Fii…buka semuanyaaa”  rengek Sandra.

Alfi bangkit. Ia melepas semua pakaian yang masih melekat di tubuhnya satu persatu. Sandra-pun tak tinggal diam. Ia-pun melakukan hal yang sama. Lalu Alfi berdiri pada ke dua lututnya. Membuat wajah Sandra persis berada di selangkangannya. Hal itu untuk memudahkan kekasihnya itu melakukan apa saja yang ia mau pada kemaluannya. Sandra menatap benda panjang hitam sedang teranguk-anguk garang di hadapannya itu. Benda itu sudah berdiri penuh dan  pada ujungnya bertumpahan cairan lengket. Benda ini yang dulu telah merenggangkan selaput daranya hingga berdarah. Menodai kesuciannya yang telah susah payah ia jaga selama dua puluh lima tahun. Tak hanya itu benda itu juga pernah memberikan rasa sakit dan nikmat secara bersamaan pada vaginanya untuk  pertama kalinya. Tapi benda itupun  kini tak lagi sama ukurannya dengan dulu. Selama dua tahun ini besar dan panjangnya tumbuh semakin meraksasa hingga ke ukuran puncaknya.

Sandra menggenggam pangkal kemaluan Alfi dan mulai mengocok pelan. Membuat kulit kulup yang menutupi glans penis Alfi terbuka dan menutup. Wajahnya bergerak mendekat hingga hanya berjarak beberapa senti meter saja lagi. Dan…Leppp Sandra  memasukan ujung organ tersebut ke dalam mulutnya. Lalu dengan telaten mengulum dan menjilatinya. Mengambil alih untuk sementara tugas vaginanya memberi kenikmatan pada penis Alfi.

“Ooohh… Kakk… ooohh…”, desahan Alfi terdengar lirih setiap kali batang penisnya memasuki mulut kekasihnya. Penisnya terus dibetot oleh mulut Sandra dengan hisapan liar yang dasyat.

Deburan ombak terdengar seakan menggambarkan letupan gelombang gairah kedua insan tersebut. Semilir udara dingin ditambah hembusan AC tak mampu menahan butir-butir peluh yang mulai membintik di sekujur tubuh ke duanya. Sandra menyadari sepenuhnya. Alfi memang bukan lagi Alfi yang Sandra kenal dua tahun yang lalu. Tubuh anak itu semakin tinggi meski masih berselisih jauh dengannya. Dadanya membidang basah oleh peluh mengucur hingga bungkahan otot-otot di perutnya. Memang sejak mengenal Donnie, Alfi jadi rajin berolah raga menjadikan tubuhnya berkembang baik. Alfi meletakkan sebuah bantal di tengah tempat tidur. Ia meminta Sandra berbaring tengkurap dengan posisi bantal tersebut tepat di bawah pinggul Sandra. Dengan demikian Ia  mendapatkan ruang yang paling terbuka untuk mengoral Sandra.  Vagina Sandra memang terekspos sempurna. Bibirnya yang telah basah itu membuka, Alfi menyelinap di antara kedua paha Sandra dan menempatkan kepalanya tepat di depan vagina wanita cantik itu. Ia mulai dengan mengecup ke dua pipi bukit cantik itu. Lalu menjilat apapun yang ada dihadapannya bagai seseorang anak kecil melahap sebuah es krim yang lezat. Gelombang kenikmatan dengan cepat merasuki Sandra. Ia sudah pasti akan orgasme dalam waktu dekat. Tiba-tiba saja ia menjauhkan pinggulnya dari wajah Alfi sebelum hal itu terjadi.

“Kenapa kakak sayang?”

“Fiiii udahhhh!  kakakkk pinginn kamu gituin sekarang” ujar Sandra terengah-engah. Ia tak ingin orgasme dulu sebelum titit Alfi masuk ke tubuhnya.

Sandra mengubah posisi tubuhnya menjadi terletang.

“Lho? Kakak seharusnya tetap tengkurap”

“Ngga mau…kakak ingin kamu nindih kakak dari depan seperti waktu pertama kali kamu ngambil perawan kakak dulu”

“Tapi kak, bukankah sekarang ini adalah saat yang tepat buat melakukan pembuahan? Alfi sudah siap membuahi kakak malam ini. Apalagi akhir-akhir ini Alfi hanya menkonsumsi sayur-sayuran saja”

Ucapan Alfi membuat Sandra heran.

“Sayangggg…Buat apa kamu lakukan itu?”

“Kak Lila bilang selama diperjalanan Alfi harus banyak makan buah dan sayuran. Bahkan Alfi juga dilarang menkonsumsi mie instan. Katanya itu bisa bikin kak Sandra cepat hamil”

Sandra akhirnya mengerti ternyata Lila sadar jika kemungkinan Paijo untuk gagal begitu besar. Dokter cantik itu-pun tahu siapa sebenarnya yang mampu dan paling pantas untuk menghamili Sandra. Untuk itu ia sengaja mempersiapkan Alfi buat itu.

“Oh begitu…tapi kamu sudah banyak berkorban buatku, oleh karena itu sejak malam ini kakak ingin kita menikmatinya tanpa memikirkan lagi soal kehamilan. Hamil atau tidak kakak tak lagi mempermasalahkannya. Yang penting kakak hanya ingin kamu selalu ada bersama kakak”

“Eng..Baiklah kalau begitu kak”Alfi tak ingin berbantah dengan kekasihnya itu. Namun ia tetap bertekat ia harus berhasil membuahi kekasihnya malam ini. Ia tak ingin masa-masa puncak kesuburan Sandra berlalu dengan kesia-sia-an seperti sebelum-sebelum ini.

Posisi misionari adalah posisi keintiman yang paling mereka sukai. Bagi Sandra ini  merupakan cara penyatuan yang sempurna dan  penuh dengan kenangan bagi mereka berdua. Posisi ketika si Alfi kecil pertama kali merengut kegadisannya. Alfi mengangkat tubuh Sandra bergeser ke tengah-tengah tempat tidur agar memperoleh posisi yang lebih nyaman.  Setelah itu ia menindih tubuh kekasihnya itu sekaligus memberinya ciuman yang ketat. Tubuh mereka-pun menyatu tanpa ada penghalang. Sandra merasakan  ujung penis Alfi  mengusap-usap permukaan vaginanya. Cairan cintanya merembes keluar dan  melicinkan bagian dalam kewanitaannya. Ia membuka kedua kaki lebih lebar memberi akses seluasnya bagi Alfi memasuki dirinya. Tanpa perlu dibimbing .penis Alfi seakan tahu di mana jalan yang harus ia jelajahi. Perlahan setahab demi setahab  mulai kepalanya yang bulat bak tomat membelah dan masuk …lalu leher tempat berkumpul kulit kulupnya yang tertarik …hingga akhirnya seluruh batang penis besar Alfi tertelan utuh  ke dalam liang kenikmatan kekasihnya yang cantik itu.

“Arrgghkkhh…!”, Sandra dan Alfi mendesah bersamaan saat penyatuan itu berlangsung.

Sebuah penyatuan yang sempurna. Terjadi di dalam kamar yang sama dan di atas ranjang yang sama  dikala Sandra ternoda dulu. Sandra-pun  langsung orgasme secepat begitu penis Alfi mengisinya. Sungguh luar biasa nikmatnya titit Alfi. Vaginanya terasa begitu penuh. Baik penis suaminya maupun Paijo tak ada yang mampu menyentuh dasar vaginanya seperti halnya milik Alfi. Dan belum ada pria lain selain Alfi yang mampu membuatnya orgasme secepat ini.

“Ouhhhhh..sayaaangggg!!”pekik Sandra tertahan.

Kedua tutut Sandra membuat satu garis lurus hingga ke kesepuluh ujung jemarinya yang menegang. Alfi tahu apa yang harus dilakukannya saat itu. Ia menahan gerakannya. Sehingga ujung penisnya tetap menekan dasar vagina Sandra. Membiarkan vagina Sandra berpuas-puas mengulumi penisnya. Tak beberapa lama kemudian, setelah orgasme pembuka yang berlangsung beberapa detik tersebut usai. Barulah Alfi menggerakan pinggulnya naik turun. Alfi melakukannya dengan sangat lambat. Menarik penisnya hingga ke bagian leher. Melakukan kocokan dangkal yang lambat beberapa kali. Lalu pelan-pelan mengirim utuh semua penisnya ke bagian terdalam vagina Sandra. Dan menekannya dasar rahim Sandra beberapa detik. Lalu melakukan kocokan pendek namun dalam pada kedalaman itu.

“Ooohhh…sa..yanggggg…ohhhhh” Rintihan dan desahan silih berganti keluar dari bibir Sandra akibat perlakuan Alfi tersebut. Gerakan kepala penis Alfi yang bulat besar itu terasa bagaikan mengulek dasar vaginanya di sepanjang persenggamaan. Liang senggamanya yang selama beberapa pekan belakangan selalu di hajar oleh penis kampung Paijo terasa tetap rapat dan tak berubah sama sekali bagi Alfi.

Cleks..clks…ckleks…Suara lembut berasal dari tautan kemaluan mereka berdua mengiringi setiap kocokan Alfi. Sepuluh menit berlalu dan sebuah orgasme kembali melanda Sandra. Kuku-kukunya menghujam dan menekan bongkahan pantat Alfi. Berusaha menahan Alfi agar tak menarik penisnya.

“Ughhh….!!! Fiii…kakakkk dapettt lagiii!”

Alfi kembali menahan gerakannya. Membiarkan Sandra menikmati setiap detik kenikmatan yang diakibatkan penisnya itu. Meski dalam keadaan diam namun dengan kekuatan ototnya Alfi mampu membuat penisnya berdenyut-denyut dengan kuat. Sementara kemaluannya bekerja, Alfi berusaha menambah rasa kenikmatan yang dialami  Sandra dengan mengecupi seputar leher jenjang kekasihnya itu atau memberinya lumatan di bibir. Kedua tangannya-pun tidak tinggal diam. Payudara dan pinggul Sandra secara bergantian ia remas-remas secara kembut.

“Hmm..punya kamu enak banget sayangg” puji Sandra setelah orgasmenya mereda. Jemarinya dengan lembut mengelus-elus perut hingga pubik Alfi yang menempel pada miliknya.  Sementara kemaluan Alfi masih tetap menegang keras dan mengeram di dalam vaginanya.

“Enak mana sama Paijo kak?”goda Alfi.

“Aaa…Alfi begituuu..!!”

“Bilang dulu enak titit Alfi atau punyanya Paijo?”

“Emang kenapa jika titit Paijo lebih enak?” Sandra balas menggoda kekasihnya itu.

“Betulkah kak? Titit Paijo seenak itu?” Tanya Alfi penasaran.

“Hi hi ngga sayang. Titit kamu tetap paling enak kok”

“Tapi tempo hari Alfi lihat sendiri kakak dibuatnya orgasme?” kejar Alfi belum yakin.

“Hi hi Kamu cemburu ya Fii?”

“Kakakkk?!”Alfi merengek kesal. Sepertinya ia memang mulai tersulut api cemburu.

“Iya..iya..kakak memang orgasme waktu itu. Tapi bikinnya susah bener sebab titit Paijo kecil dan pendek. Tetap saja titit kamu lebih enak dari Paijo, sayang”.

“Begitu ya kak?”

“Kan buktinya dia kakak suruh pulang kampung. Dan kakak milih menunggu kamu pulang”

Alfi tersenyum. Kali ini ia percaya akan omongan Sandra. Ia gembira telah memenangkan segalanya dari Paijo.

“Sudah ngga cemburu lagi kan?”Tanya Sandra.

“hi hi sudah kakak”

“Kalau begitu entott kakak lagi sayanggg” rengek Sandra manja.

Demikian percintaan itu terus berlangsung penuh cita rasa bagi mereka berdua. Hingga akhirnya Sandra sampai pada fase multiorgasme-nya. Penis Alfi mulai memberinya orgasme yang luar biasa nikmat secara beruntun tanpa henti. Vaginanya tak lagi berhenti berkontraksi.. Lepas dari sebuah orgasme kuat maka sebuah orgasme berikut datang melandanya. Begitu seterusnya. Kenikmatan itu datang susul menyusul bagai bergelombang ombak yang tak pernah terputus. Dan multiorgasme yang melanda Sandra itu membuat lumatan liang vaginanya menjadi permanent.  Saat seperti inilah yang membuat Paijo selalu gagal bertahan. Tetapi Alfi bukan Paijo. Alfi adalah pejantan sejati yang diimpikan banyak wanita. Tempaan seks sejak kecil  menjadikan otot-otot sekitar kelaki-lakiannya tumbuh dengan sempurna dan berbeda dengan kebanyakan pria lain. Ia tak semudah  tak gampang jebol. Ia selalu berhasil mengontrol dirinya dalam durasi waktu yang panjang. Ia biarkan Sandra menikmati proses orgasme demi orgasme tersebut berlangsung dengan kondisi sebuah penis tetap ber-ereksi penuh di dalam vaginanya. Hampir satu jam Alfi bertahan dalam sebuah persetubuhan yang emosional. Tanpa seks selama lebih satu bulan. Menahan ejakulasi dari betotan secara periodik gelombang multiorgasme vagina Sandra. Sungguh luar biasa! Ini sudah melampaui di ambang batas yang mampu ia pernah lakukan.

“Kakakkk …..Alfi sudah mau mun..crattt” bisik Alfi lirih.

“Ohhh…sa..yanggggku…La..ku..kan.”erang Sandra di antara kesadarannya yang memudar akibat balutan kenikmatan dasyat itu, ia dapat melihat wajah kekasihnya yang hitam itu memucat. Bola mata hanya terlihat putihnya saja. keningnya mengerenyit seolah menahan sakit yang amat sangat.

Alfi menyusupkan kedua telapak tangannya ke bawah bungkahan pantat Sandra yang montok. Dengan mengerahkan seluruh kekuatan pinggulnya ia mengocok secara  cepat dan bertenaga. untuk mengakhiri sesi ini. Desahan Sandra kini terdengar semakin kencang seiring kocokan Alfi yang  semakin cepat. kewanitaannya yang dalam kondisi mengecut itu teraduk-aduk hebat. Ia tahu ini akan menjadi sebuah akhir yang dasyat. Kedua lengannya ia rangkulkan pada leher Alfi. Ia ingin menikmati momen secara berbarengan dengan Alfi.

“Sekaranggg sayaanggggg!…sekaranggggggg!!”rintih Sandra memberi isyarat pada Alfi

“Arghhhh kakaaakk!!!” Alfi menggeram kuat saat melepas kenikmatan itu dalam satu hujaman akhir yang kuat dan dalam. Sandra  mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi menyambut hujaman Alfi tersebut. Di saat itulah kepala penis Alfi seakan meledak di mulut rahim kekasihnya.

CRAATTTTTT!!!…Crattttttt!!!,,,,crattttttttt!!! Sandra pun terkaget ketika sesuatu yang amat kental melenjit masuk jauh menjangkau bagian rahimnya. Lalu gumpalan-gumpalan lain susul menyusul ikut masuk tak terkendali. Ledakan dasyat yang memicu ledakan yang paling kuat pada dirinya sendiri.

“Argghhhhh….SAYANGGGGGG!!!!” Sandra memekik nikmat saat  mencapai puncak kenikmatan.

Tubuhnya saling mendekap dengan tubuh Alfi. Tak hanya tubuh, jiwa mereka-pun bersatu dalam puncak kenikmatan tersebut. Dua tubuh dengan warna kulit yang begitu berbeda kontras bagai dua buah kutub magnet yang berlawanan namun melekat dengan sangat kuat. Proses orgasme berbarengan yang hanya berlangsung tak lebih dari  dua menit itu seakan terasa bagai sebuah tingkat kesenangan yang berlangsung berabad-abad bagi mereka. Hingga akhirnya fase yang penuh keindahan itu berakhir mereka masih tetap berpelukan mesrah. Sandra mengecupi wajah Alfi dengan lembut. Ia lakukan itu sebagai ungkapan bahagia. Puas. Terima kasih dan bahagia tentunya.

“Ohh..Fiii..sa..yanggg …apa yang terjadi barusann?” Tanya Sandra setelah mereka berdua menuntaskan orgasmenya. Begitu mempersona rasanya ledakan besar yang mereka alami bersama barusan. Emosi energi cinta mengalir dari hati yang lebih dasyat dari luapan hasrat birahi

“Kenapa kak?”

“Kakak… kakak..belum pernah merasakan yang seperti itu. itu..itu..benar-benar enak banget..dan kenapa sperma-mu begitu kental dan banyak seakan menembus ke jauh dalam perut kakak”

“Alfi tidak tahu.  Mungkin gara-gara Alfi tidak begituan selama lebih sebulan ini”

“Lho, apa kamu tidak cobain tidur dengan teman wanitamu selama di perjalanan,  Fi?”

“Ngga lah kak. Mana mungkin Alfi berani. Ntar bikin masalah lagi.”

“Setidaknya kamu bisa onani kan sayang?”

“Rugi ahh! Mana mungkin kenikmatan tubuh kakak ditukar sama jari. Biar Alfi rela menunggu sampai ketemu kakak. Dan hanya karena kakak Alfi bisa tahan tak melakukan itu.”

“Ohh..sayangg itu manis sekali. Kakak tambah cinta padamu”

Bibir Sandra yang mengiurkan itu kembali di sambar Alfi. Dan merekapun kembali larut dalam lautan French kiss yang menghanyutkan. Mereka mencurahkan semua perasaan bahagia mereka di situ. Demikianlah mereka mereguk madu kasih berdua tanpa memikirkan hal lain malam itu. Panasnya gairah berbaur dengan letupan kasih sayang membuat mereka bersetubuh seakan tiada lagi hari esok. Sandra seakan mengulang keindahan masa lalunya bersama Alfi dulu. Bahkan tak terasa ini memasuki malam kedua mereka berduaan di kamar. Tak pernah Alfi menyenggamai Sandra dalam waktu selama itu.Selama lebih delapan belas jam anak itu hanya mencabut titit besarnya bila ke kamar kecil atau mau makan selebihnya ia biarkan tititnya mengeram di dalam vagina Sandra. Alfi tak hanya mampu mempertahankan ereksinya dalam kurun waktu lama namun juga mampu produksi sperma yang seakan tak habis-habisnya Bahkan terjangan orgasme Alfi yang terjadi itu masih tetap deras dan banyak walau telah ia suntikan berkali-kali ke dalam rahim wanita yang sangat ia cintai itu. Sandra sungguh merasakan luapan kebahagiaan. Malam ini ia telah mengungkapkan cintanya pada Alfi. Ini pertama kalinya raga dan hatinya menyatu dalam gelombang gairah tiada akhir. Setelah percintaan mereka usai ia menyusupkan kepalanya di dada Alfi. Lalu tertidur dalam belaian sang kekasih sejatinya.

############################

Sandra terbangun dari tidur lelapnya saat handphonenya berbunyi. Dilihatnya jam masih menunjukkan pukul empat pagi. Alfi-pun masih tertidur lelap di sampingnya.

“Hoamm…ada apa Nad?” tanyanya dengan agak sungkan karena masih ngantuk. Tak biasanya Nadine mengganggunya pagi-pagi buta seperti ini.

“Sttt..Sand… engkau pasti terkejut jika tahu apa yang telah terjadi di sini semalam” suara Nadine terdengar berbisik.

“Duhh…Nad apa-apaan sih?! Kau menelponku sepagi ini hanya buat main tebak-tebakan denganku?”

Ia tahu Nadine sudah tiba di kota G sejak sore. Selama ini Didiet menyewa sebuah apartment  buat mereka tinggal di sana.

“Sebelum aku jelaskan tunggu sebentar aku ingin memastikan ‘mereka’ masih tertidur” ujar Nadine menggantung pembicaraannya. Duh! sudah dibangunkan lalu disuruh menunggu pula. pikir Sandra sebal.

“Ok..aku sudah di zona yang aman buat kita bicara” terdengar Nadine kembali berbicara.

“Tunggu! Tadi engkau menyebut kata ‘mereka’? siapa yang kau maksud itu? Engkau tak mengajak Alfina ikut ke sana kan?” tanyanya.

“Tidak putriku tinggal bersama ibu di kota S”

“Lantas siapa yang engkau maksud tadi”

“Didiet dan Paijo”

“Apaaa?!! Paijo, Nad?!! Yang benar saja?!” Ujar Sandra terlonjak kaget. Matanya yang semula sayu dan nyaris tertutup karena mengantuk mendadak terbuka lebar.

“ Aduhhh Sand! pelankan sedikit suaramu. Telingaku bisa budeg nih!”

“E oh maaf aku tadi terlalu kaget. Ba..bagaimana mungkin si Paijo bisa ada di sana?!”ujar Sandra baru tersadar jika suaranya juga bisa membuat Alfi terbangun. Ia bangkit dari tempat tidur lalu menuju ke arah teras cottage.

“Baiklah akan aku persingkat saja …ketika aku tiba sore kemarin aku terkejut karena ada anak itu di apartemen kita. Ternyata Didiet menemukan Paijo di desanya saat sedang mencari Alfi dua hari yang lalu dan memutuskan mengajak Paijo serta ke kota G. Didiet mengatakan kepadaku  ia hanya ingin membantu anak itu lepas dari permasalahannya dengan mencarikannya pekerjaan.”

“Engkau patut berhati-hati, Nad. Didiet pasti akan membujukmu buat tidur dengan anak itu”

“Sebenarnya Didiet memang telah melakukannya tadi malam “

“Nah kan!? Engkau pasti menolaknya kan Nad?!”

“Awalnya begitu. tapi…” ucapan Nadine mendadak terputus di tengah menandakan ia sedang berpikir mencari kalimat yang pas buat menjelaskan apa yang terjadi pada Sandra

“Nad! Kamu tidak melakukannya dengan anak itu kan?!” desak Sandra penasaran.

“Maafkan aku Sand…” jawab Nadine lirih. Sebuah jawaban yang singkat namun itu sudah cukup buat Sandra mengetahui apa yang tersirat.

Sial!!! Sandra mendengus kesal. Tadinya ia beranggapan polemik yang terjadi sudah berakhir. Namun ternyata masalah ini akan memulai sebuah babak baru. Nampaknya penyakit aneh si Didiet  kambuh lagi! Dan Nadine yang telah menjadi korban pertamanya.

“Bagaimana hal itu bisa terjadi?”

“Semuanya berawal ketika aku dan Didiet melakukan keintiman tadi malam. Ketika hal itu baru berjalan sepuluh menit dan tiba-tiba saja di tengah permainan Didiet sengaja ‘mencabutnya’. Pada saat itulah ia  memohon kesediaanku agar anak itu yang menuntaskannya..dan…entah mengapa? Apakah karena aku sedang dipuncak gairahku sehingga akhirnya aku  bersedia ia melakukannya dan….. semuanya terjadi “

Sandra termenung mendengarkan semua penjelasan Nadine. Ia tak dapat menyalahkan Nadine. Dasar si Didiet! Ia memang banyak akalnya. Sandra sangat mengenal suaminya itu. Ia tak pernah berhenti berusaha membujuk mereka melakukan keinginannya itu meski  sudah berkali-kali ditolak. Bukankah ia sendiri juga selalu gagal menolak keinginan-keinginan aneh Didiet? Bahkan ia justru selalu menikmati setiap keliaran yang suaminya ciptakan di dalam rumah tangga mereka selama ini. Termasuk ketika dulu ia diminta untuk menyerahkan kesuciannya kepada Alfi.

“Sand? Kamu masih di sana kan?” Tanya Nadine ketika Sandra diam dalam waktu yang agak lama.

“Ya, aku masih mendengarmu, Nad.”

“Engkau tidak marah padaku kan?”

“Tentu saja tidak. Aku tak menyalahkanmu dalam hal ini. Didiet memang pandai memanfaatkan situasi. Aku hanya berharap Alfi tak sampai mengetahui hal ini”

“Sebaiknya begitu, Sand. Tadi-pun aku telah meminta Paijo agar tak ‘menandai’ dadaku seperti yang pernah ia lakukan padamu dan Dian”

Sandra kembali termenung. Permainan apa lagi yang sedang direncanakan suaminya itu sekarang?  Apakah masih belum cukup keruwetan yang akhir-akhir ini timbul akibat kehadiran anak itu?.Begitu banyak yang pertanyaan memenuhi kepala Sandra. Namun yang pasti ia tidak suka Didiet ‘menarik’ Paijo kembali ke dalam lingkungan keluarga mereka.

“Aduhh!” keluhan Nadine menyadarkan Sandra.

“Ada apa Nad?”

“Uh..tidak apa-apa. Hanya sedikit nyeri”

“Engkau jangan bercanda Nad! Masa Penis kecil anak itu mencideraimu!” ujar Sandra ketus.

“Bukan yang itu….tapi puting payudaraku…anak itu buas sekali. Dua jam ia tak melepasnya. Kupikir persediaan susu buat Alfina bisa  habis oleh dia sendiri!” keluh Nadine. 

“Yah! Ia memang sudah lama mengincar dirimu untuk hal itu, Nad.” Ujar Sandra. Ia dapat membayangkan bagaimana lahapnya Paijo menetek  sambil menusukkan titit bertindiknya ke dalam liang senggama Nadine. Terbayang pula wajah pemuda kampung itu meringis keenakan sambil menjerit-jerit ‘bu enak, bu enak bu’ sebagaimana dulu ketika Paijo menyetubuhi dirinya.

“Eh Sand, apakah menurutmu Didiet juga akan memintamu diintimi Paijo pas giliranmu kemari?”tanya Nadine. Sebuah pertanyaan cukup mengagetkan buat Sandra.

“Tak mungkin Nad! Didiet pasti tak mungkin memintaku melakukan itu mengingat kejadian kemarin-kemarin”

“Mengapa tidak? Bukankah untuk itu ia mengajak Paijo di kota G. Dengan begitu keinginannya bisa tercapai tanpa diketahui oleh Alfi seperti apa yang terjadi padaku malam ini”

“A.kuu.. aku…ah  Entahlah.…” Sandra tak bisa meneruskan kalimatnya. Ia menyadari omongan Nadine sepertinya memang benar. Bisa jadi memang betul demikian yang Didiet rencanakan. Bukankah Didiet memang sangat ingin menyaksikan persetubuhan antara dirinya dan Paijo secara langsung karena keinginannya itu memang belum sempat terwujut tempo hari? Sebenarnya bukan diri Paijo yang Sandra  kuatirkan. Namun perilaku Didiet. Toh! Tanpa Paijo sekalipun setiap saat Didiet bisa saja mencari pemuda lain yang sesuai untuk memenuhi angan-angannya

“Ya sudah! Kita tidak bisa membahasnya di telepon sekarang tetapi kita memang harus memikirkan semua ini nantinya.” Ujar Nadine seakan tahu kegalauan sahabatnya itu. Sandra tak menyahut.

“Baiklah kalau begitu. Biar besok aku telpon kamu lagi Sand” ujar Nadine mengakhiri pembicaraan.

Sandra kembali ke dalam kamar. Ia memandangi wajah Alfi yang sedang terlelap di kasur. Rasanya ia benar-benar tak sanggup untuk berpisah lagi dengan Alfi. Ia juga tak ingin melihat Alfi kembali menderita gara-gara mengetahui para wanitanya ditiduri Paijo. Perlahan Sandra merebahkan kepalanya di dada kekasihnya itu. Lalu kembali tertidur.

######################################

Satu bulan Sejak kepulangan Alfi

Di pagi itu, nampak Sandra sedang gelisah karena tamu bulanannya tak kunjung muncul. Ia tak yakin itu di sebabkan oleh kehamilan. Memang ia dan Alfi telah melakukan percintaan sesuai jadwal namun demikian mereka tak melakukannya dalam posisi yang tepat sesuai dengan anjuran Lila. Sandra tak ingin terlalu berharap sehingga akan mendatangkan kekecewaan baginya saja. Namun rasa penasaran membuatnya tetap juga pergi ke kamar mandi. Lalu mengambil alat test kehamilannya dari kotak obat. Dengan hati-hati ia meneteskan urine-nya ke tempat yang disediakan pada alat tersebut…selanjutnya adalah proses menanti …dan…menanti…sebuah garis samar-samar muncul dan menyilangi tanda minus…lalu semakin jelas dan … Positive. Ia Hamil? Sungguhkah ini ?! Tidak! Tidak! Ia tak boleh senang dulu. Pikir Sandra sambil mencoba mengendalikan perasaannya yang mulai panic. Mengingat kejadian yang lampau bukan tak mungkin terjadi kesalahan pada benda ini.   Ia  merogoh kotak obat dan mengambil lagi sebuah alat test yang baru. Jemarinya gemetar saat ia mengulangi semua prosedur yang telah ia lakukan sebelumnya. Dan hasil yang muncul sama. Positive!

“ARgggg…!!!!” teriak Sandra girang. Teriakan berasal dari kamar mandi itu terdengar sampai keluar dari kamar tidur. Alfi yang saat itu sedang berada di ruang depan mendengar teriakan itu langsung memburu ke arah kamar.

“Ada apa kakkk?!” Tanya Alfi kuatir. Namun ia bingung ketika melihat senyum girang Sandra.

“Hmmm….sabar ya sayanggg. Nanti akan  kakak beri tahu. Sekarang tolong panggilkan kak Dian-mu kemari” pinta Sandra. Meski masih bingung Alfi melakukan keinginan sang kekasihnya itu. Ternyata Sandra meminta Dian buat menemaninya ke klinik milik Lila. Sandra tak ingin cepat mengambil kesimpulan bahwa ia sudah hamil. Ia ingin Lila yang memberikan jawaban pasti.

Dua jam berselang ia sudah kembali ke rumah.

“Fiii  aku HAMILLL!!”pekiknya girang sambil memeluk Alfi erat.

Hasil labor di klinik Lila menunjukan jika ia memang benar-benar sedang hamil.

“Benarkah kak?!”

“Ya sayang. Kakak berterima kasih sekali padamu” ujar Sandra yang tak dapat menyembunyikan kebahagiannya. Ia terus-terusan menghujani Alfi dengan kecupan-kecupan.

“Alfi juga senang sekali Kak” ujar Alfi girang. Ia sendiri tak menyangka jika akhirnya ia berhasil membuat Sandra, sang bidadarinya, wanita yang paling ia cintai itu hamil. Ia sendiri takjub. Betapa tidak  Di saat anak-anak seusianya masih berkutat dengan video game, mencuri lihat video porno dari handphone atau baru mencoba-coba berciuman. Sedangkan ia sendiri tahun depan bakal menjadi ayah dari empat orang anak yang berasal dari empat orang wanita berbeda .

“Tapi Fii kakak juga harus minta maaf padamu”

“Loh ada apa emangnya kak?”

“Mungkin buat sementara kakak tidak bisa melayanimu. Paling tidak selama trimester pertama. Kakak tak ingin calon bayi mungil kita terganggu oleh keintiman kita” ujar Sandra  pada  pemuda itu.  Kekuatiran Sandra  cukup beralasan sebab aktivitas seksual di usia kehamilan muda bisa saja menyebabkan terjadinya Abortus Spontan akibat trauma benturan dari penis Alfi yang panjang terhadap mulut rahimnya. Apalagi mengingat kondisi organ kandungan Sandra yang tak normal.

“Ooo soal itu. Kakak tenang saja.” ujar Alfi mantab lalu mengecup bibir kekasihnya itu.

“Iya kamu-kan bisa minta jatah sama kak Niken dan yang lain, Fi.”ujarnya lagi

##############################

Hari-hari berlalu bertabur kebahagiaan buat Sandra dan Alfi terus berlangsung. Buah cinta mereka sudah tumbuh di rahim Sandra dan membuat ikatan keduanya semakin tak terpisahkan. Alfi menepati janjinya untuk tidak dulu mengintimi Sandra. Namun hal itu tak membuat keharmonisan mereka terganggu. Alfi cukup pandai berlaku romantis dan memanjakan kekasihnya itu tanpa harus mengakhirinya dengan persetubuhan.  Hingga pada suatu malam.

“Bu Sandra.?.”terdengar suara riang di seberang telepon.

“Siapa ini?”

“Ini Paijo buuu”

“Paijo?…”

“Iya bu, Paijo”

Dari mana ia tahu nomor teleponku? Tanya Sandra dalam hati. Pasti Didiet yang memberikan.

“Ada apa menelponku?” Tanya Sandra dingin. Namun ia tak ingin berkata kasar.

“Saya cuma mau ngasih tahu kalau saya seneng banget ibu mau kemari besok. Beri tahu saya jam berapa ibu datang biar saya yang jemput di bandara”

“Huh!.Siapa bilang aku akan pergi ke sana?” kata Sandra ketus.

“Lho? Kata pak Didiet, ibu bakal tinggal di sini selama dua minggu dan saya disuruh jemput ibu besok”

Duh! Keluh Sandra. Ia tahu hal ini cepat atau lambat akan terjadi juga. Dan kini masalah itu sudah muncul dihadapannya. Padahal ia belum lagi menemukan solusi yang tepat untuk itu. Ini memang sudah giliran ia menemani suaminya di sana. Nadine pun tak mungkin terus-terusan meninggalkan pekerjaan dan putrinya. Ia juga tak bisa terus menghindar. Justru sebaliknya ia harus menghadapi dan menyelesaikan masalah ini secepatnya.

“Ibu kemari ya. Saya sudah kangeeen banget sama ibu…saya pingin banget ngentot sama ibu lagi” Dasar udik! gerutu Sandra jengah. Anak ini ngomong  vulgar seperti itu di telepon. Nyata sekali Paijo ingin kembali mengulangi kebersaman dengan dirinya seperti selama ini.

“Aku belum bisa memutuskannya sekarang. Kalaupun aku jadi menyusul suamiku, aku tak mungkin bersamamu Jo sebab saat ini aku sedang hamil muda” jelas Sandra berusaha mengelak

“Aduh buu…saya janji.. saya bakal ngegituin ibu pelan-pelan… ” terdengar rayuan erotis nan kampungan ala Paijo berusaha membujuknya. Edan! Padahal anak itu baru beberapa hari saja ditinggalkan Nadine tetapi sepertinya sudah kebelet sekali.

“Ya sudah sudah! Nanti aku akan pertimbangkan tetapi jangan telepon-telepon aku lagi.”ujar Sandra sebal. Ia ingin segera mengakhiri pembicaraan itu.

“Lho kenapa bu? Saya kan cuma pingin kangen-kangenan sama ibu di telepon”

“Pokoknya jangan nelpon kemari! jika kamu terus membandel aku tidak bakalan mau berangkat!” ancam Sandra

“I..iyaa iya buu… saya nurut apa kata ibu! Sampai besok ya bu. Jangan sampai tidak datang…saya bakal..”

Sandra telah mematikan handphone-nya sebelum kalimat –kalimat bawel Paijo selesai.

###########################

Keesokan paginya

Panggilan boarding bagi para penumpang sudah menggaung dari speaker bandara. Sebagian penumpang dengan tujuan kota G sudah berjejer antri memperlihatkan boarding pass mereka pada petugas.

“Hati-hati di jalan ya kak” ujar Alfi sambil mengecup kening Sandra.

“Kamu juga sayang. Kakak pergi dulu ya. Dagg Alfi!” ujar Sandra berjalan menuju tempat antrian sambil menyeret koper-nya.

“Daag kakakk!!”pekik Alfi sambil membalas lambaian Sandra.
Penerbangan dari kota S sudah lima belas menitan mendarat. Penumpang pertama terlihat keluar dari pintu. Kemudian di susul oleh penumpang berikutnya diiringi oleh seorang porter yang menyeret sebuah troli yang penuh oleh tumpukan koper dan barang lainnya. Dalam hitungan detik suasanapun menjadi hiruk pikuk. Para supir taxi  menyongsong setiap penumpang yang keluar. Mereka memang selalu begitu. Berebutan menawarkan jasa tanpa memikirkan kenyamanan orang lain. Sementara itu beberapa petugas bandara sudah semakin kewalahan menertipkan para penjemput yang semakin menjejali pintu. Bandara Kota H memang kecil. Ruangnya sempit dan pintu keluarnya cuma satu. Ditambah lagi orang-orangnya yang susah di atur. Sandra terlihat berupaya untuk keluar dengan susah payah di antara kerumunan orang di sana. Beberapa kali ia harus mengucapakan ‘permisi’ kepada setiap orang yang menghalangi jalannya.

“Hhhhh!” akhirnya ia baru bisa lega setelah duduk di dalam taxi.

“Apartemen xxx, pak” katanya pada pak sopir.

Untungnya barusan Didiet menelpon bahwa Paijo batal menjemputnya tanpa menyebutkan alasannya. Tadinya ia sudah membayangkan perjalanan ini akan semakin menjadi lebih menjengkelkannya. Setidaknya ia masih bisa punya waktu buat rilek sejenak sebelum memulai ‘perang dunia ke-lima’ dengan Didiet setibanya di apartemen nanti.    Dua puluh lima menit kemudian ia tiba di apartemen. Senyum ramah dan sapaan dari petugas security di loby tak terlalu ia hiraukan. Ia melangkah cepat menuju ke Lift. Selama di dalam Lift ia berusaha mengingat ulang apa saja yang akan ia utarakan kepada suaminya nanti. Sambil  menguatkan tekat untuk menolak setiap permintaan aneh Didiet sekalipun Didiet memaksanya melakukan itu. Ternyata Didiet sendiri yang membukakan pintu baginya.

“Hai” sapa Didiet seraya mengambil alih travelbag dari tangan Sandra. Lalu mendaratkan kecupan tipis di bibir istrinya.

Hari ini Sandra hanya memakai olesan tipis di wajahnya. Namun di mata Didiet itu hampir tak ada pengaruhnya. Kecantikan yang dimiliki Sandra memang luar biasa.

“Hmmm” Sandra menanggapinya dengan dingin. Begitu masuk pandangannya langsung memindai ke seluruh sudut ruangan. Namun ia tak menemukan apa yang ia cari.

“Mana anak itu?!” tanyanya ketus.

“Paijo maksudmu, Say? Ia masih tidur. Nanti saja kangen-kangenannya. Lebih baik engkau beristirahat dulu pagi ini”

“Apa!? Kangen-kangenan katamu?! Siapa juga yang kangen pada anak kampung itu!” Sandra langsung meledak sambil membesarkan mata.

“Aduhhh aku kan cuma bercanda, Say. Tapi aku justru suka melihat dirimu kalau sedang marah. Semakin menggemaskan!”

Wajah Sandra sempat merona. Tetapi ia tak mau kegombalan Didiet mempengaruhinya kali ini.

“Aku benar-benar tak percaya engkau melakukan semua ini! Buat apa engkau mengajak anak itu kembali!” ujar Sandra terus masuk ke gigi lima persneling dan  tancap gas.

“Sabar say. Beri aku kesempatan untuk menjelaskannya padamu”. Ujar Didiet dengan santai. Nyata sekali ia sama sekali tak terprovokasi oleh keberangan istrinya yang molek itu.

“Tidak perlu Dit! Aku sudah tahu semua rencanamu. Mungkin engkau bisa memaksa Nadine memenuhi hasrat liarmu pada anak itu namun tidak kepadaku!”

“Lho, Aku tak pernah memintamu datang kemari buat bercinta dengan Paijo.”

“Paijo yang mengatakannya kemarin di telepon!”

“Ha ha ha! ” Didiet tertawa geli.

“Dit! hentikan ini tidak lucu, tahu!”

“Ha ha Baik baik ….sabar dulu. Waktu itu  kami hanya mengodamu.”

“Maksudmu Paijo tak sungguh-sungguh ingin bercinta denganku, begitu!? Huh!!”

“Iya, Say “

“Aku tak percaya kalian berdua tak menginginkan itu! Buktinya Nadine?!”

“Itu soal lain. Sungguh! Aku sama sekali tak memaksa Nadine. Hari itu aku terlalu lelah buat melakukan kewajibanku sebagai suami kepada Nadine. Aku cuma menawarkan kepadanya. Kalaupun ia tak bersedia akupun tak akan memaksa. Dan Nadine sendiri setuju. Ia menganggap  itu murni hanyalah karena seks! tak ada perasaan sama sekali terhadap Paijo”.

“Aku sangat mengenal Nadine, Dit!. Ia tidak pernah menyukai Paijo. Kalau bukan karena ingin menyenangkan dirimu ia tak mungkin mau melakukannya dengan anak itu”

“Kenyataan yang terjadi Nadine justru sangat menginginkan persetubuhan malam itu. dan ia terpuaskan oleh anak itu. Sand, Paijo hanya memberi Nadine apa yang seharusnya Alfi rutin berikan padanya.”

Sandra mengakui.Didiet memang benar. Belakangan ini Alfi memang sudah kewalahan mengatur waktu buat memenuhi kebutuhan biologis dari sekian banyak wanita yang ada di dalam kehidupannya. Bahkan Sandra baru sadar jika Nadine memang tidak di intimi Alfi selama lebih satu bulan terakhir ini. Bukankah dulu ia sendiri mengalami hal yang serupa tatkala Alfi jarang mendatanginya. Bagaimana ia begitu frustasi mengharapkan belaian Alfi sehingga akhirnya ia tergoda melakukan perselingkuh dengan Paijo. Jadi wajar saja bila Nadine akhirnya juga terseret dalam permasalahan yang sama dan memutuskan buat melakukan perselingkuhan.

“Tetapi bagaimana bila Alfi sampai mengetahui hal itu? Dan ia pasti akan kembali meradang”

“Seharusnya Alfi tak perlu cemburu bila ia memang sungguh-sungguh ‘hanya’ mencintaimu.” ujar Didiet memberikan penekanan pada kata ‘hanya’ pada ucapannya.

Ya! Didiet benar lagi soal itu. renung Sandra. Meski Alfi menyatakan sangat menyintai dirinya  namun Alfi belum pernah membuktikan kesetiaannya. Sampai saat ini ia masih saja menebarkan cinta kepada banyak wanita. Dan Sandra yakin jumlah kekasih Alfi akan selalu bertambah seiring dengan waktu.

“Aku maklum dengan kekuatiranmu itu. Namun tak semestinya engkau berprasangka buruk terlebih dahulu kepada kami berdua. Aku tak akan pernah memaksamu melakukan apa yang tak ingin engkau lakukan Say. Begitu juga dengan Paijo. Ia tahu engkau sudah menjatuhkan pilihanmu kepada Alfi. Dan ia sadar jika ia sudah tersingkir dalam persaingan memperebutkan dirimu ketika mengetahui engkau hamil oleh Alfi” ujar Didiet lagi

“Maaf aku Dit. Aku hanya tak ingin hubunganku dan Alfi kembali memburuk. Perbuatanmu  mengajak Paijo kemari sungguh membuatku bingung dan kuatir, Dit”

“Tak usah di masukan ke dalam hati Say. Aku memang belum bercerita kepadamu apa alasanku membawanya kemari”

– – – – –

“Sewaktu engkau memberi kabar bahwa Alfi sudah pulang maka kuputuskan untuk langsung berangkat kemari dengan mengunakan pesawat dari kota H. Dalam perjalanan menuju ke kota H aku melintasi desanya bik Iyah. Aku berhenti sejenak di sebuah Puskesmas kecil di desa itu buat meminta obat karena kepalaku mendadak puyeng.  Di sana aku malah menemukan Paijo sedang terbaring di ranjang puskesmas sambil menangis. Kulihat banyak bekas penganiayaan di sekujur tubuhnya. Mantri yang mengobatinya mengatakan bahwa Paijo telah menjadi korban penganiayaan oleh beberapa begundal suruhan seorang tuan tanah di sana. Darinya juga aku mengetahui kejadian sebenarnya bahwa ternyata bukan Paijo yang telah menghamili Surti. Gadis itu hamil oleh Ipung pacarnya sendiri yang merupakan anak tuan tanah kaya di kampungnya. Hal itu terjadi beberapa bulan sebelum Paijo datang ke rumah kita. Karena Ipung takut bertanggung jawab maka Surti mencari jalan buat menutupi aib tersebut. Paijo yang naïf, ia benar-benar tak tahu hanya dimanfaatkan oleh Surti. Surti menjebaknya dengan keintiman. Lalu satu bulan kemudian ia mengaku telah hamil. Surti juga tahu Paijo tak akan menolak bila dimintai tanggung jawab  karena sangat ngebet padanya. Permasalahan baru muncul saat Paijo pulang ke desa, ternyata istrinya sudah diboyong oleh Ipung ke rumah besar orang tua-nya. Ipung yang tak senang akan kepulangan Paijo lalu memerintahkan beberapa karyawan perkebunan ayahnya buat mengusir Paijo dari kampung itu sekaligus menjauhkannya dari Surti untuk selama-lamanya. Tak ada seorangpun yang mau membelanya atau menolongnya saat ia di aniaya.”

“Bagaimana mungkin orang-orang di sana membiarkan hal seperti itu terjadi padahal mereka tahu Surti adalah istri Paijo?” timpal Sandra. Tanpa sadar timbul rasa ibanya terhadap nasib buruk yang selalu menimpa diri Paijo.

“Orang-orang di desanya segan terhadap keluarga Ipung yang kaya raya. Mereka lebih memilih untuk tidak ikut campur tangan dengan urusan itu. Dan satu hal lagi faktanya pernikahan antara Paijo dan Surti sesungguhnya tidaklah syah sebab mereka tak pernah benar-benar dinikahkan oleh keluarga Surti. Tak ada penghulu bahkan tak ada buku nikah. Mereka  cuma tinggal serumah tanpa ada ikatan resmi”

“Sungguh malang nasib anak itu. Tadinya kupikir setelah kusuruh pulang ia akan menemukan kebahagiaan di sana.”

“Namun itulah kenyataan hubungan antara Surti dan Paijo. Seakan kemalangan selalu identik dengan orang-orang seperti dia. Nasibnya tak seberuntung Alfi. Di desa itu tak ada seorangpun yang mau mengurusinya. Lantas karena kasihan akhirnya kuputuskan mengajaknya kemari bersamaku. Aku memang sengaja tak membawanya ke rumah kita di kota S karena aku tak ingin terjadi permasalahan lagi dengan Alfi. Namun demikian apabila engkau keberatan aku akan segera memindahkannya ke sebuah tempat kos”  ujar Didiet mengakhiri penuturannya.

“Baiklah Dit. Aku bisa mengerti alasanmu mengajaknya kemari. Aku juga tak keberatan ia tinggal di sini buat sementara waktu asalkan engkau berjanji tak memintaku bercinta dengannya”

“Tentu Say. Bukankah sejak tadipun aku sudah mengatakannya. Akupun tak ingin membuatmu resah apalagi mengingat engkau sedang dalam keadaan hamil.”



Hari-hari berlalu dengan tentram. Sandra tak lagi mempermasalahkan lagi urusan Paijo. Tetapi meski demikian ia tetap menjaga jarak dengan anak itu. Hampir setiap malam ia dan Didiet bercinta. Namun hanya sebatas melakukan oral seks. karena Sandra takut akan terjadi masalah terhadap kandungannya. Sementara itu tanda-tanda kehamilannya mulai terlihat. Rasa mual mulai sering ia rasakan. Waktu berjalan hampir dua minggu dan sampai detik ini tak terjadi hal-hal yang dikuatirkan Sandra. Sandra baru bisa bernapas lega karena baik Didiet maupun Paijo benar-benar menunjukan konsistensinya terhadap omongan mereka. Dan yang paling menggembirakan buat Sandra karena lusa ia akan pulang ke kota S.

“Mengapa ia belum juga sarapan?” Tanya Sandra heran pada suatu pagi saat menemani Didiet sarapan.

“Kukira anak itu masih terluka. Bercinta dengan Nadine ternyata tak lantas membuatnya melupakan Surti. Entah bagaimana ia harus melewati hari-harinya setelah ini. Sampai sekarangpun anak itu masih sering menangisi kemalangannya meski ia melakukannya dengan sembunyi-sembunyi. Biarkan saja. Nanti juga ia akan makan  kalau ia sudah merasa lapar” ujar Didiet menanggapi.

Sandra menemukan kenyataan bahwa  kini Paijo benar-benar telah banyak berubah. Ia jadi sangat pendiam. Terkadang Sandra melihat anak itu sering melamun. Namun ia ragu buat memulai dialog dengan anak itu. Tak lama setelah Didiet pergi Lila menelponnya.

“Hi, La. Ada apa ?”

“Ada yang perlu kusampaikan padamu. Ini berkaitan dengan pemeriksaan kehamilanmu tempo hari”

“Apakah ada kelainan atau …” tanya Sandra cemas.

“Tenang janinmu sehat kok.”

“Hhh! Syukurlah! Aku tadi sudah kuatir kalau-kalau ada masalah dengan janinku”

“Tidak. Aku hanya memberi tahumu bahwa sesuai dengan perhitungan kalenderku  saat ini kehamilanmu telah memasuki usia sembilan minggu”

“Apakah tidak salah La? Bukankah seharusnya ini baru akan masuk minggu ke-5?”

“Tidak Sand. perhitunganku akurat untuk itu” tegas Lila

“Minggu ke-9? Ituu. .be rar ti….”

“Ya Sand, Sudah terjadi pembuahan sebelum Alfi ‘mencampurimu’. Dan bisa kupastikan ayah dari janinmu yang sesungguhnya adalah…. Paijo”

Pernyataan Lila sungguh sangat mengejutkan Sandra.

“Tidak mungkinn,La!..A.aku tahu persis aku belum hamil pada saat itu”

“Engkau keliru. Alat test kehamilan yang engkau pakai tak bisa dijadikan patokan.

Usia kandungan ditentukan dari kapan terakhir seorang wanita tak mendapatkan haidnya.”

Hening. Sandra tahu ucapan Lila selalu didukung oleh bukti klinis. Lila tahu saat itu Sandra sedang memikirkan semua yang ia sampaikan barusan.

“Maafkan aku Sand. Aku tak memberitahumu soal ini sejak awal. Aku tak ingin merusak kebahagianmu dan Alfi saat itu. Aku sebenarnya tak ingin hal itu menjadi dilema dan beban pikiranmu namun aku harus tetap harus mengatakannya padamu”

“Tidak apa-apa, La. Aku bisa mengerti. Aku justru berterima kasih atas perhatianmu” ujar Sandra.

Lila sudah melakukan sesuatu hal benar. Ia harus tahu ayah biologis dari janin yang dikandungnya. Sehingga dengan begitu apabila dikemudian hari ada permasalahan yang membutuhkan pertolongan dari sang ayah biologis anaknya, dia tahu harus mencari siapa. Untungnya Nadine memakai kontrasepsi saat bercinta dengan anak itu jika tidak dia juga pasti akan terbuahi oleh Paijo.

“Ada satu berita lagi buatmu, Sand. Namun yang satu ini akan sangat mengembirakan. Aku melihat ada dua janin di rahimmu”

“OHH! K KKEMBARR! Benarkahh, Laa?!”pekik Sandra girang.

“Aku tak mungkin salah lihat. Mudah-mudahan saat engkau pulang nanti kita bisa melihatnya semakin jelas melalui alat USG. Sekali lagi selamat buatmu ya, Sand”

“La, a..akuu tak tahu harus bicara apa. Di satu sisi aku benar-benar bahagia mendapati aku bakal memiliki dua orang bayi namun di sisi lain akupun merasa kuatir jika suatu saat Alfi mengetahui bahwa sesungguhnya bukan dia yang berhasil menghamiliku”

“Menurutku saat ini nikmati saja dulu kebahagiaanmu. Perlahan-lahan kita cari cara buat memberi pengertian  pada Alfi. Oya jangan lupa atur menu makananmu sebab janinmu memerlukan asupan nutrisi sejak dini ”

“Terima kasih, La. Oya bagaimana dengan kandunganmu sendiri?”

“Ini sudah masuk bulannya bagi dia lahir. Hmmm…Kira-kira dia akan mirip denganku atau Alfi ya, Sand?”tanya Lila.

“Mudah-mudahan ia lebih mirip ke kamu, La. Biar kalau sudah gede dia ga minder-an sama Alfina dan Fini hi hi”

“Hi hi benar juga katamu. Eh Sand..sudah dulu ya. Aku jadi ingat ada yang harus aku beli buat Fili”

“Fili? Engkau memberinya nama itu? Hi hi Baiklah kalau begitu.. Daagg!”



Setelah menutup pembicaraan Sandra termenung memikirkan semua rankaian kejadian ini. Sungguh tak ia sangka ternyata justru Paijo yang berhasil membuahinya. Tidak tanggung-tanggung, Paijo justru memberinya dua orang bayi sekaligus. Ia benar-benar menjadi serba salah bagaimana harus bersikap kepada anak itu. Soalnya akhir-akhir ini ia telah memperlakukan anak itu secara kurang baik. Lalu bagaimana juga dengan Alfi? Bagaimana reaksinya bila mendengar berita ini. Sandra jadi benar-benar bingung.

“Buu…ibu tidak apa-apa?”

Terdengar seseorang menegurnya.

“Eh ohh kamu Jo. Ya aku tidak apa-apa. Kenapa?” Sandra benar-benar tak menyadari kehadiran anak itu di situ.

“Syukurlah sedari tadi saya sudah  memanggil ibu berkali-kali tapi ibu tak menyahut”

“Ohh begitukah? Em ada apa Jo?”

“Saya cuma mau mengembalikan ini sama ibu” ujar Paijo sambil menyodorkan sebuah amplop.

“Apa ini Jo?”

“Itu uang yang dulu ibu kasih ke saya buat istri saya melahirkan. Saya kembalikan ke ibu karena ternyata sudah tidak diperlukan lagi”

“Tak perlu dikembalikan. Jo”

“Tapi buu”

“Simpan saja. Suatu saat engkau pasti membutuhkannya”

“Terima kasih bu. Tapi kalau ibu tak keberatan saya mau titip uang dari ibu ini buat bu de saja.”

Sandra mengeleng-gelengkan kepala. Anak ini tak jauh berbeda dengan Alfi. Agak keras kepala. Namun memiliki hati yang baik.

“Hmmm…Baiklah jika itu keinginanmu. Begitu aku pulang lusa langsung akan kusampaikan pada bik Iyah”

“Terima kasih bu. Saya juga sekalian mau pamit ke ibu karena mulai minggu depan saya tidak tinggal di sini lagi”

“Lho kamu mau kemana?”

“Saya diterima  kerja  sebagai buruh angkut di sebuah pertambangan milik temannya pak Didiet di pulau K.”

“Pulau K? itu jauh sekali, Jo”

“Iya. justru itu saya minta tolong ibu. Siapa tahu saya bakal lama baru bisa bertemu sama bu de lagi”

“Apakah engkau sudah pikirkan matang-matang keputusanmu itu? Bekerja di tempat seperti itu begitu berat bagi anak seusiamu”

Aneh! pikir Sandra. Mengapa jauh di lubuk sanubarinya muncul perasaan tak tega melihat anak ini pergi? Mengapa ia tak ingin Paijo harus terus menerus berkutat dalam penderitaan selama hidupnya? Jelas itu lebih dari  sekedar hanya rasa kasihan.

“Tidak apa-apa kok bu. Saya harus kerja supaya bu de bangga sama saya. Dengan begitu saya juga bisa ngasih ke bu de uang yang banyak. he he” Paijo mengucapkan hal itu dengan kebanggaan.

“Jo kamu sebenarnya anak yang berbakti. Baik-baiklah kamu di rantauan dan pandai-pandailah membawa diri, ya”.

“Ya bu, terima kasih atas nasehatnya”

Paijo sudah akan melangkah keluar namun ia berbalik lagi.

“Oya saya lupa beri selamat sama ibu.”

“Selamat buat apa, Jo?”

“Selamat karena ibu bakal dapat momongan”

“Oh i..tu  iya. terima kasih” Sandra tergagap.

“Wahh wah kang Alfi memang hebat. Bisa punya  momongan begitu banyak ” ujar Paijo berkata sendiri. Paijo masih terus bergumam terkagum-kagum sambil melangkah ke luar.

Sandra memandang punggung Paijo tanpa dapat berkata-kata. Anak itu begitu tulus menyatakan kebahagian buatnya.



Siangnya

Ia ingat  bukankah tadi siang Paijo berencana menyikat lantai kamar mandi karena kuatir Sandra sampai jatuh terpleset gara-gara lantai yang licin. Aneh! mengapa anak itu begitu lama?. Jangan-jangan dia malah onani di dalam situ. Dasar! pikir Sandra. Timbul keisengannya. Ia ingin mengagetkan Paijo. Perlahan ia mengendap ke dekat kamar mandi. Lamat-lamat telinganya mendengar suara tangisan dari balik pintu kamar mandi. Karena penasaran akan apa yang terjadi di dalam kamar mandi, Sandra  mendorong pintu itu.

“Joo apa yang terjadi?.” Tanya Sandra heran melihat Paijo duduk meringkuk sambil sesegukan di lantai kamar mandi. Kepalanya tertunduk masuk di dalam lipatan tangannya yang ditopang kedua lutut. Celananya basah semua. Paijo tak menjawab. Ia terus larut dalam tangisnya. Sandra bingung harus berbuat apa sampai akhirnya ia melihat sebuah hp di pangkuan Paijo.

“Boleh kulihat?” tanyanya. Meski Paijo tak menjawab. Sandra tetap meraih benda itu. Ternyata ada sebuah sms. Dari Surti rupanya.

Tertulis di situ ;

“Kang mas Paijo, sebelumnya Surti minta maaf.  Surti hanya mau mengabarkan jika Surti dan kang Ipung sudah menikah pagi tadi. Surti mohon jangan hubungi Surti lagi setelah ini. Terima kasih atas pengorbanan kang mas selama ini.  Salam Surti.”

Jelas ini biang keladinya!. Dasar perempuan tak tahu balas budi! umpat Sandra dalam hati. Seharusnya dia tak perlu lagi menghubungi Paijo setelah mencampakannya seperti sampah.  Yang jelas kabar itu hanya akan  melukai perasaan Paijo saja.

“Joo..sabar ya. Tabahkan hatimu” bujuk Sandra

“Surtiii..huu huuu.” Dengan perasaan pilu Paijo menyebut nama wanita yang ia sayangi itu di sela tangisannya. Sandra sungguh merasa iba. Anak semuda itu tak seharusnya mengalami penderitaan batin begitu bertubi-tubi. Jiwanya masih sangat rapuh dan labil.

“Tak usah engkau tangisi perempuan seperti itu Jo. Dia dan keluarganya hanya memanfaatkan dirimu saja selama ini!”

“Tapi..saya hks cinta sekali sama Surtii, bu.. hks.. hks” jawab Paijo tersengal-sengal karena pernapasannya terbuka dan tertutup sendiri akibat dari reaksi metabolisme dari tangisnya yang berlangsung terlalu lama.

“Tapi dia tak menyintaimu,Jo. Dan yang ada di kandungan Surti bukanlah anakmu. Itu adalah anaknya Ipung”

“Berarti saya.. hks.. sudah tidak punya harapan lagiii. Kalau begitu biar saya mati saja buu! huu huuu”

“Aduhhh Joo! Engkau tidak boleh putus asa seperti itu!.”

Sandra jadi kuatir anak itu akan bertindak nekat karena tak mampu menahan kesedihannya. Tak ada jalan lain buat menghentikan itu pikir Sandra. Ia harus memberitahu Paijo soal kehamilannya.

“Joo, ada sesuatu yang ingin kuberitahukan kepadamu”

“hks hks huuuu…huu” Paijo terus menangis.

“Ketahuilah Jo bahwa janin yang ada dirahimku sebenarnya adalah…. anakmu” lanjut Sandra.

Paijo mengangkat kepalanya.

“A.anak saya? ibu kok ngomong begitu hks…? Kan ibu sendiri yang bilang kalau saya mandul huu huu”

Setelah mengatakan itu Paijo kembali meraung pedih. Ia menjadi semakin sedih dan merasa tak berguna sebab yang ia tahu ia sudah gagal dan janin di rahim Sandra itu adalah buah percintaan antara Sandra dengan Alfi.

“Dengarkan aku dulu, Jo. Aku mengatakan yang sesungguhnya. Memang kamu yang telah membuatku hamil” ujar Sandra sambil meraih wajah anak itu dengan kedua tangannya.

Paijo menghentikan tangisnya sambil menatap Sandra.

“Maafkan aku. Aku-pun baru pagi ini tahu itu dari Lila. Terapi tempo hari ternyata berhasil. Bahkan kamu memberiku bayi kembar “sambung Sandra.

“Kem..baarr? Ibu bukan cuma mau nyenengin saya, kan?” tanya Paijo dengan perasaan bercampur aduk.

“Percayalah. Jo.”

“Tapi bagaimana dengan Surti buu”

“Soal Surti. Kamu harus bisa merelakannya. Mungkin ia memang bukan jodohmu. Suatu saat engkau pasti akan menemukan pengganti Surti. Kamu masih memiliki bik Iyah yang menyayangimu seperti putranya sendiri. Dan kamu masih memiliki ini” ujar Sandra sambil menunjuk ke perutnya.

“Engkau maukan bertemu dengan kedua anakmu kelak?” tanya Sandra.

Paijo mengangguk dengan air matanya masih meleleh di pipi.

“Iya bu saya pingin melihat mereka setelah lahir”

“Nah! kalau begitu kamu harus tetap melanjutkan hidupmu. Bukankah tadinya engkau begitu bersemangat bekerja dan mencari uang buat bu de-mu. Seharusnya engkau bertambah giat setelah tahu engkau bakal menjadi seorang ayah”

“Iya buu. Terima kasih.” jawab Paijo sambil mengusap sisa-sisa air matanya dengan mempergunakan ujung bajunya.

“Sudah tidak sedih lagi kan?”

Ia kembali mengangguk kecil. Sandra tahu tak segampang itu meredakan kesedihan anak ini. Tapi ia sedikit agak lega melihat Paijo mulai tenang. Sepertinya nasehatnya kali ini mengena. Sandra yakin anak itu mau mendengarkan ucapannya.

“Tapi Buu”

“Apa lagi Jo?”

“Jangan bilang ke siapa-siapa”

“Soal apa?”

“Soal siapa sebenarnya ayah kedua anak saya ini. Biarlah kang Alfi dan yang lain tetap mengira ayah bayi di dalam perut ibu adalah kang Alfi. “

“Kenapa kamu mau aku melakukan hal itu Jo?”

“Saya tidak ingin dia jadi sedih seperti yang saya alami sekarang. Lantas akan menjadi masalah baru buat keluarga ibu”

“Tapi ini tak adil buat kamu, Jo”

“Tidak apa-apa bu. Saya rela demi ibu dan kedua anak saya”

“Ohh Jo ..kamu ternyata adalah seorang calon bapak yang baik. Terima kasih karena sudah mau memikirkan aku.” Sandra haru sekaligus iba. Haruskah Paijo menderita lagi setelah apa yang ia alami selama ini. Namun di sisi lain pendapat Paijo barusan benar adanya dan ia sendiri juga tak ingin Alfi kembali ngambek dan menimbulkan konflik baru yang berkepanjangan

“Segera ganti pakaianmu. Nanti engkau keburu masuk angin”.

“Baik bu”



Tuuttt.. tutt… ti…Handphone Sandra berbunyi. Ia melihat avatar Alfi tampil dilayar. Duh! Kangennya ia pada anak itu. Saat ini Alfi pasti sedang asyik bersama Niken. Sandra menduga demikian karena itu sudah menjadi kebiasaan Alfi selama ini. Sebenarnya satu minggu ini adalah jatah Alfi buat Sandra sendiri. Namun karena saat ini ia pergi ke kota G jadi Alfi bebas kemanapun ia ingin pergi.

“Apa kabar kamu hari ini, sayang?” Tanya Sandra mengawali percakapan.

“Baik kak, Kakak sendiri bagaimana?”

“Juga baik sayang. Eng..lagi ngapain kamu Fi?”

“Alfi baru pulang dari sekolah. masih di rumah menunggu kak Nadine pulang kerja”

“Lho tadinya kakak pikir kamu pergi ke rumah kak Niken-mu, Fi”

“Ngga kak,. Alfi pingin dulu ngabisin waktu beberapa minggu ini sama kak Nadine. Lagian Alfi kangen banget sama kak Nadine”

“Kok, tumben?”

Ini aneh? Pikir Sandra. Tak biasanya Alfi mengambil keputusan seperti itu. Ia selalu lebih memilih untuk meniduri Niken bila sudah dihadapkan pilihan antara Niken atau para wanitanya yang lain.

“Iya kak. Soalnya Alfi merasa bersalah sama kak Nadine dan kak Dian. Alfi berlaku tidak adil pada mereka selama ini. Terutama kak Nadine. Sudah banyak pengorbanan yang ia lakukan sejak dia Alfi nodai. Ia harus rela menjadi istri kedua kak Didiet karena hamil oleh Alfi.”

“Aduhh sayangg. Ada apa kamu mendadak berpikiran seperti itu?”

“Setelah peristiwa Paijo dulu Alfi jadi sadar betapa Alfi mencintai kakak. Dan Alfi tak ingin hal serupa terjadi pada kak Nadine dan kak Dian sebab Alfi juga sangat sayang sama mereka.”

“Lho kan si Paijo sudah tak ada lagi jadi kenapa kamu begitu kuatir?”

“Alfi tahu itu. Tapi di hati kecil Alfi tetap merasa jika sesuatu telah terjadi”

“Kakak tak mengerti maksudmu, Fi”

“Alfi takut ada orang lain ….” Ujar Alfi ragu meneruskan kata-katanya

“Kamu mengira kak Nadine-mu telah berselingkuh, Fi?” Tanya Sandra kuatir jika Alfi mengendus perselingkuhan Nadine dan Paijo. Siapa tahu Paijo tanpa sengaja  meninggalkan bekas cupangan di tubuh Nadine.

“Alfi tidak menuduh kak. Alfi hanya kuatir saja kok kak. Tetapi seandainya itu memang terjadi, Alfi tak akan menyalahkan kak Nadine karena itu memang kesalahan Alfi sendiri.”

“Syukurlah kalau kamu sadar kalau permasalahan yang timbul akhir-akhir ini akibat perbuatanmu sendiri dan hal itu telah menyusahkan kami semua” Ujar Sandra lega. Setidaknya peristiwa dulu bisa membuat Alfi mengintropeksi dirinya. Meski demikian Sandra beranggapan Alfi tetap tidak perlu tahu mengetahui hubungan Nadine dan Paijo selama di kota G sebab ia masih ragu jika Alfi memang sudah bisa menerima hal itu.

“Iya kak. Karena itu Alfi di menanti mereka sini buat menebus kesalahan Alfi pada mereka berdua”

“Ya sudah. Eh Fii, kamu kangen ngga sama kakak? Kakak pinginn bangett kamu gituinn” rengek Sandra. Mereka memang masih harus menahan diri setidaknya selama satu bulan lagi buat bercinta secara penuh menunggu hingga usia kandungan Sandra benar-benar sudah cukup kuat.

“Alfi juga kangen banget sama kakak. Kasihan kakak. Tapi Alfi juga binggung dan sedih karena ngga bisa nolong kakak.”

“Eh.. KAK!” tiba-tiba Alfi berteriak kegirangan.

“Iya ada apa Fi?’

“Kenapa kita ngga minta sama kak Didiet aja yang ngegituin kakak. punya kak Didiet kan pendek jadi ngga bakalan ngebentur rahim kakak”

“Iya juga sih! Tapi kakak ngga mau!.”

“Lho kenapa kak?”

“Habisnya ngga enak! Enaknya sama titit kamu”

“Paling tidak saat ini kakak ngga terlalu menderita seperti sekarang”

“Pokoknya kakak ngga mau. masalahnya kak Didiet-mu selalu saja ‘dapet’ duluan jadinya sama saja dengan ngga di apa-apain”

“Duh bagaimana ya? Seandainya saja si Paijo ada di sini…” keluh Alfi dalam kebinggungannya.

“Paijoo? Sayangg, Kamu bicara apaaa?!!”

“Iya kak, kalau saja saat ini ada si Paijo.  Pasti kesulitan kita bakal teratasi”

“Kenapa kamu bicara seperti itu? Kakak ngga mau lagi berhubungan dengan dia. Kakak kapok! Kakak ngga mau lagi kehilangan kamu.”

“Paling tidak ia bisa memenuhi kebutuhan kakak. Dan aman buat kakak bercinta sama dia karena tititnya ngga bisa membentur rahim kakak Apalagi dia itu punya titit yang enak banget kan kak?..”

“Aaa Alfi! Kamu tega banget ngegoda kakak. Kakak kan jadi tambah basah!”

“Bukannya kamu bilang kamu tidak suka sama paijo. Emang kamu ngga cemburu Fi. Kalau aku di gituin lagi sama Paijo?hi hi”

“Cemburu sih iya. Tapi Alfi ngga kuatir seperti tempo hari sebab Alfi tahu cinta kakak hanya buat Alfi seorang. Yang penting sekarang buat Alfi adalah kebutuhan buat kakak dulu. Alfi rela melakukan apapun demi kakak agar kakak bahagia.”

“Bener nihh kamu ngga cemburu?. Kakak bisa saja mencari seseorang di sini yang mirip Paijo. Engg… terus kakak selingkuh sama orang itu”

“Ngga papa Kak. Alfi rela. Jika perlu Alfi bisa minta sama kak Didiet buat  membawa Paijo datang kesitu buat nemani kakak selama di sana..”

“Sudah Ah. Kok ngomongnya ngelantur terus. Entar bener-bener kejadian deh!”

“Lho siapa bilang Alfi sedang bercanda. Alfi serius kok kak”

“Iya iya sudah! Kakak tahu kamu rela dan mau berkorban buat kakak. Tapi saat ini kakak hanya pingin kamu yang  menuntaskan hasrat kakak  saat kakak pulang”



Sore hari itu

Didiet baru saja menelpon dan mengatakan jika ia bakal pulang kemalaman karena harus meninjau pekerjaannya ke lapangan.

“Kamu makan malam saja dulu Say. tak perlu menungguku” pesannya pada Sandra.

Sandra mengetuk kamar Paijo.

“Joo ayo temani aku makan malam” Ia sengaja mengajak Paijo makan bersamanya karena tak ingin Paijo terus menerus sendirian. Seseorang yang sedang mengalami kesedihan berat semacam itu harus kerap di awasi.

Tak lama kemudian Paijo membuka pintu.

“Saya belum lapar buu. Silakan ibu makan terlebih dahulu. Saya nyusul belakangan saja “

Sandra melihat mata Paijo yang masih bengkak. Ia baru menangis lagi. Ia pasti masih terus memikirkan soal Surti.

“Duhh..Lihat tuh! Ternyata bapakmu habis nangis” Goda Sandra seolah-olah sedang berkata pada perutnya sendiri.

“Saya tidak nangis kok bu” sangkal Paijo sambil menunduk malu.

“Bilang langsung ke mereka kalau bapaknya tidak bakal sedih dan nangis lagi” ujar Sandra menunjuk ke perutnya. Tingkah Sandra itu mau tak mau membuat Paijo tersenyum dan menahan ketawa.

“Ayoo.Joo!”

“B..bapak tidak bakal sedih lagi” ucap Paijo sekenanya.

“Kok ngomongnya dari situ? Dia ngga bisa dengar kalau seperti itu Jo. Sini!”desak Sandra. Paijo mendekatkan kepalanya ke perut Sandra.

“Nakk, bapak tidak bakalan sedih dan nangis lagi” ujar Paijo dengan lebih serius mengulangi ucapannya sambil mengusap-usap perut Sandra.

“Argg Joo. Geli!” pekik Sandra. Entah mengapa mendadak gairahnya mendadak ketika Paijo mengusap perutnya Meski itu hanya sebuah gerakan sederhana dan spontan namun berdampak sangat besar bagi Sandra. Menyambar bagaikan percikan api dari sebuah pematik di tengah galonan bensin.

“Iya buu. Maaf..” ujar Paijo menjauhkan kepalanya. Sandra  senang melihat senyum Paijo. Setidaknya ia bisa sedikit meringankan beban anak itu.

Ugh! Tiba-tiba wajah Sandra berubah pucat. Rasa mual itu mulai datang lagi. Kali ini dorongan buat muntah begitu besar. Sandra bergegas menuju ke kamar mandi.

“Hoekss!!” seketika itu juga ia tak mampu menahan dorongan untuk muntah.

“Buu?”

Paijo tidak tinggal diam. Di ambilnya sebotol minyak angin miliknya dan didekatkannya ke hidung Sandra. Namun sepertinya itu saja tak cukup.

“Hoekkkk!!…Hoeeeeekkk!!…” serangan itu kembali. Sebenarnya Paijo sudah cukup berpengalaman dan tahu bagaimana mengatasi situasi seperti ini tatkala mantan istrinya  tengah mengalami hal yang sama dulu. Ia ingat ia selalu memberikan pijatan di sekitar pundak Surti. Tetapi ia agak ragu buat menyentuh Sandra. Sehingga ia hanya berdiri saja dengan kebinggungan di situ.

“Hoeeeeeeekk!!….aduuhhh Joo..” rintih si cantik itu. Sudah lebih dua menit metabolisme alami yang amat mengganggu itu tak juga kunjung reda malahan semakin menjadi-jadi. Tak ada yang bisa  ia muntahkan lagi namun dorongan itu tak terhentikan. Dan hal itu mulai menyakitkan. Lama-kelamaan wajah Sandra yang putih menjadi semakin pucat. Akhirnya Paijo tak tahan lagi melihat penderitaan wanita yang sedang mengandung anaknya itu.. Dengan tangan gemetar diraihnya pundak Sandra.

“Hhhhh…” Sandra merasakan kenyamanan ketika jemari Paijo menekan syaraf-syaraf pundaknya. Sedikit demi sedikit Sandra kembali bisa bernapas lega. Hampir lima menit Paijo melakukan hal itu. Setelah yakin rasa mual Sandra benar-benar mereda, Paijo membimbingnya kembali ke kamar. Kemudian ia bergegas ke pantry menyeduhkan teh hangat buat Sandra.

“Nah, ibu istirahat saja dulu. Saya mau keluar sebentar” katanya sambil menyerahkan cangkir teh kepada Sandra. Belum sempat Sandra bertanya ia sudah menghilang.

Lima belas menit Sandra duduk sendiri di kamar itu. Sesekali ia menyeruput teh seduhan Paijo bila rasa mual itu kembali muncul. Entah mengapa ia belum ingin kembali ke kamarnya sendiri. Tak lama kemudian Paijo muncul sambil membawa sebuah mangkuk.

“Aww….rujaaak!” pekik Sandra girang. Entah dari mana Paijo memperolehnya di saat seperti ini, namun memang ini yang ia idamkan saat ini. Dengan cepat ia rebut mangkuk tersebut dari tangan Paijo. Pertama sepotong kecil mangga muda langsung dicomotnya. Rasa asam kecut yang melanda lidahnya bercampur sedikit rasa pedas itu dengan cepat memunahkan rasa mualnya. Paijo sendiri jadi ikut-ikut memeramkan mata karena ia tahu rasa buah itu memang sangat asam.

“Kok kurang pedas, Jo?”

“Lho itu tadi sudah di kasih cabe tiga biji kok bu”

“Masih kurang! Tambahin cabenya, Joo”” rengek Sandra.

“Saya tidak mau ibu malah sakit perut.”

“Sedikiiiit saja Joo”

“Tidak boleh!” jawab Paijo dengan tegas. Baru kali ini Sandra merasakan Paijo bersikap seperti itu padanya. Tapi ia justru senang sekali dengan perhatian anak itu padanya. Mereka duduk bersisian di tepi ranjang. Paijo dengan sabarnya menunggui Sandra menyantap rujaknya.

“Joo..” panggil Sandra sambil meletakan mangkuk yang telah kosong di atas meja di samping tempat tidur.

“Ya buu?”

“Terima kasih ya karena sudah mau repot buat aku”

“He he ndak apa apa kok buu..lagian kan ibu hamil gara-gara saya” jawab Paijo tersenyum malu.

“Oya Jo, Aku mau menanyakan sesuatu padamu”

“Tanya soal apa bu?”

“Eng..Sewaktu Surti hamil muda dulu apakah kalian …..melakukannya?”

“Melakukann apaa bu?”

“Uh em tidak jadi Jo. Sudah lupakan saja ” ujar Sandra merasa jengah sendiri.

“M..maksudd ibu n ngentott?” tanya Paijo hati-hati.

“he e  ..” jawab Sandra lirih nyaris tak terdengar.

“Kenapa ibu tanyakan itu?”

“Soalnya aku sudahh tiga minggu tidak..” ujar Sandra sambil menggigit bibirnya sendiri. Sejak Paijo menyentuh lembut perutnya juga saat melakukan pemijatan tadi hasratnya semakin tak terkendali.

“I.buu..lagi kepinginn yaa?”

“Tapi a..ku takutt keguguran, Jo”

“Eng..Sebenarnya sewaktu Surti sedang hamil muda dulu kami sering melakukannya ” ujar Paijo mencoba mengingat-ingat kejadian saat dengan Surti dulu.

“Benarkah?”

“Iya. Malahan hampir setiap hari. Mulanya saya yang takut bakal terjadi apa-apa dengan kandungannya tapi karena Surti yang minta jadi saya terpaksa nurutin. Eh bu sebentar lagi pak Didiet kan pulang berarti kan sudah ndak masalahkan?.”

“Dia pasti sudah capek buat itu”

“Kalau begitu saya antar ibu ke bandara sekarang. Saya yakin kita masih dapat tiket buat ibu ke kota S”

“Tidak usah Jo”

“Lho kenapa bu?, saya pikir pak Didiet pasti ngasih izin ke ibu. Mumpung ini masih agak sore”

“Kamu salah mengerti Jo. aku bukannya ingin suamiku atau Alfi yang melakukannya. Aku ingin ..kamu, Jo”

“Sayaa bu?!” Tanya Paijo keget.

Jantungnya berdetak cepat. Seketika itu juga gairahnya meninggi dan celana usangnya menjadi sesak. Ia memang rindu sekali pada wanita cantik ini. Namun ia mendadak teringat perkataan Nadine kepadanya tempo hari. Ia tak ingin melakukan kesalahan lagi. Sandra mengangguk mengiyakan. Wajahnya bersemu dadu karena rasa malu semakin membuat Paijo tak tahan memandangnya.

“Tapii..buu saya sudah janji sama kang Alfi tidak bakal ngeganggu ibu lagi. Kemarinpun saya sudah sekali lagi berbuat salah sewaktu nidurin bu Nadine. Saya takutt salah lagi….” ujar Paijo berusaha bertahan. Ia tak ingin gegabah dan menuruti hawa nafsunya. Dan ia tak yakin akan keinginan Sandra ini. Yang ia tahu Sandra hanya tidur dengannya dulu itu hanya karena ingin hamil. Apalagi sekarang sudah ada Alfi yang ia akui tak bakal mampu ia tandingi.

“Tidak apa-apa, Joo… Soal Nadine, engkau  justru telah menolong dia  dan saat ini pun aku tengah mengalami hal yang sama. Apakah engkau tidak kasihan terhadap diriku. Aku tersiksa sekalii akhir-akhir ini… ” pinta Sandra sebelum Paijo sempat menyelesaikan kalimatnya.

“Buuu?” Paijo masih kebinggungan buat memutuskan. Ia sungguh tak tahu di titik mana ia harus bertahan.

“Intimi aku malam inii, ya kang mas?”

Paijo terkejut sekali. Sandra memanggilnya dengan sebutan ‘Kang Mas’?!. Itu adalah panggilan Surti kepadanya selama ini. Sandra tak pernah melakukan ini padanya sebelum-sebelum ini.

“Di.a.jenggg…akuu…akuu ” jawab Paijo.

Sandra tersenyum mendengar Paijo balas memanggilnya dengan sebutan itu. Ia paham apa yang harus ia lakukan dalam situasi seperti ini. Sandra dapat melihat dengan jelas tonjolan besar pada celana Paijo. Ia mendekat ke arah pemuda kampung yang kebinggungan itu. Wajah nan cantik itu maju hingga hanya beberapa inchi dihadapan Paijo. Sandra memejamkan matanya sementara bibirnya yang merah merekah  itu sudah terbuka menunggu kedatangan bibir Paijo. Naluri Paijo akhirnya mengatakan bahwa ini adalah saatnya buat ia bertindak. Meski mulanya agak ragu, Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Sandra.. seraya sedikit memiringkan kepalanya… Dan…

Hal itu terjadi….

Bibir Sandra memagut liar bibir Paijo. Kenyatannya selama tiga minggu tak bersetubuh dan hanya melakukan oral dengan Alfi dan Didiet tidaklah cukup buat meredam gairahnya dan menjadikan dirinya benar-benar haus akan belaian. Yang vaginanya sangat butuhkan adalah kenikmatan langsung dari sebuah alat vital pria. Dan penis  Paijo yang sangat beruntung malam ini karena sebentar lagi bakal di lumat habis-habisan dan spermanya bakal di hisap sampai kering buat menuntaskan rasa dahaga vaginanya. Kali ini ia tak lagi ragu buat melakukan hubungan intim. Bukankah sebelum ia menyadari tentang kehamilannya itu dari Lila, ia dan Alfi selalu berhubungan intim di minggu-minggu awal kehamilannya dan hal itu tak menyebabkan permasalahan bagi janin pada kandungannya. Apalagi cuma melakukannya dengan Paijo. Ucapan Alfi ada benarnya. Titit Paijo memang tak bakalan bisa membentur rahimnya.
Paijo

Paijo

Paijo sendiri seakan masih tak percaya akan keberuntungan yang datang kepadanya saat ini. Ciuman dari Sandra telah menepis segala keragu-raguan hatinya. Ia sadar panggilan sayang yang diucapkan Sandra kepadanya hanyalah sebuah ungkapan rasa suka sesaat yang di dasari oleh nafsu birahi semata bukanlah sebuah rasa suka karena ada perasaan cinta seperti halnya Sandra terhadap Alfi. Sekalipun kini ia  diberi hak yang sama dengan Alfi oleh Didiet untuk menikmati kemesraan dengan istrinya itu. Dan Sandra sendiri saat ini suka rela ia intimi. Ataupun karena dialah yang telah berhasil menanamkan janin di rahim Sandra saat ini bukanlah Alfi. Namun semua itu tak dapat merubah perasaan Sandra. Sebab cinta sang bidadari itu memang hanya buat Alfi seorang. Tetapi Paijo sungguh bangga akan pencapaiannya saat ini. Seandainya saja dulunya ia lebih dahulu bertemu dengan Sandra ketimbang Alfi  mungkin saja ceritanya akan menjadi lain. Perlahan Sandra menariknya naik ke atas tempat tidur tanpa melepas ciuman mereka. Keduanya berdiri di atas lutut mereka. Wanita cantik itu mulai melepas satu persatu kancing kemeja lusuhnya. Setelah itu giliran celana pendeknya tertanggal. Napas Paijo semakin memburu ketika jemari halus Sandra mencengram gemas batang penisnya yang sudah kukuh bagai tonggak.

“Buka bajuku Kang mas” pinta Sandra tanpa melepas kontol Paijo dari genggamannya sambil sesekali melakukan gerakan kocokan.

Sementara tangan kirinya meraih belakang kepala Paijo dan menarik kepala Paijo buat kembali melakukan ciuman. Bukanlah perkara gampang buat Paijo mempereteli busana tanpa melihat.  Di tengah gairah yang membakar hasratnya saat ini  jemarinya hanya bisa mengandalkan nalurinya agar pekerjaannya cepat selesai. Alhasil meski agak lama ia berhasil juga menanggalkan semuanya. Yang pertama menjadi sasarannya tentu saja payudara indah Sandra.

“Oughhhhh…”leguh Sandra ketika salah satu putting payudaranya berada dalam kemutan mulut Paijo. Tetapi sedetik kemudian ia langsung menolak kepala Paijo menjauh dari dadanya.

“Jenggg?” Tanya Paijo heran.

“Kangmas aku sudah tidak tahan lagiii…” rengek Sandra. Meski tak biasanya Sandra langsung main tembak seperti ini namun Paijo paham apa yang diinginkan calon ibu dari kedua anaknya itu

Ia mengangguk. Sandra sudah rebah terlentang. Paijo mengatur posisi tubuhnya. Ia masuk di antara ke dua paha montok nan putih istri Didiet itu. Ujung penisnya ia arahkan tepat ke sebuah bukit kecil itu berbentuk bagaikan kue serabi dengan saus lezat meleleh dari bagian tengahnya yang terbelah. Pada detik-detik penyatuan itu pandangannya bertemu dengan Sandra.

“Masukinn sekarangg kanggg mass..Ough!” rintih Sandra semakin tak sabaran sambil berusaha menarik pinggul Paijo ke arahnya.

Akhirnya Paijopun menurunkan pinggulnya.  Blessss!!! …

“Arggggg !!!” Sandra dan Paijo terpekik berbarengan saat penyatuan itu berlangsung. Organ intim mereka telah kembali bersatu. Merasakan jutaan sengatan kenikmatan pada kemaluan mereka setelah sekian lama berpisah. Setelah terjadi gejolak hebat dalam rumah tangga Sandra hal itu yang nyaris tak mungkin lagi terjadi.

“Ougghhhhh kangg masssss.!!” Sandra terpekik dilanda orgasmenya yang pertama.

Anak ini telah menuntaskan hasrat dan gairahnya yang telah terkukung selama beberapa minggu ini hanya dalam waktu kurang dari satu menit setelah penetrasi dan ia belum lagi menggerakan pinggungnya. Paijo memang memiliki sebuah kelebihan buat menaklukan banyak wanita di atas ranjang termasuk dirinya. Bahkan Nadine yang kekeuh saja akhirnyapun menggelepar takluk di dalam dekapannya. Hanya saja nasibnya tak seberuntung Alfi. Cuma satu kekurangan Paijo. Penisnya memang tak sepanjang milik Alfi sehingga tak mampu menyentuh dasar vagina Sandra dan Nadine. Namun itu sudah cukup untuk membuat para wanita itu mendapatkan kenikmatan yang begitu tinggi.

“Kang mas kocokin tititnyaa” rengek Sandra setelah orgasme pembukanya tadi mereda. Ia sungguh ketagihan merasakan benda bertintik itu menggelitik seluruh cerukan yang ada di dalam liang intimnya.

Paijo mulai mengocok. Ia lakukan itu dengan begitu lembut kerena ia ingat ada anaknya diperut dalam perut Sandra. Benda hitam legam itu bergerak keluar sedikit namun masuk kembali secara maksimal hingga pubik bertemu pubik. Setiap gerakannya membuat cairan kenikmatan Sandra membanjir. Begitu banyaknya hingga tertumpah-tumpah di seprey. Paijo tak juga menaikan tempo kocokannya. Ia tetap konsisten dalam gerakan lambat nan syahdu. Sementara Sandra semakin menggelepar di bawah tindihannya..

“Argggg  kangg masssss.!!”pekik kenikmatan Sandra kembali terdengar. Paijo kembali menekan penisnya dalam-dalam dan menahan gerakannya. Penisnya yang berdenyut-denyut kuat semakin menambah rasa nikmat bagi Sandra saat itu.

“Uhhh…diajeng  dapett lagii?”

“Iyaaa kangg masss…. Titit kang mass enak sekaliiii!!.”

Setidaknya persetubuhan itu sudah berjalan lima belas menit ketika Sandra kembali memperoleh orgasmenya yang ke tiga..

“Dicabut sekarang, jeng?” tanya Paijo sepertinya ragu buat meneruskan persetubuhan itu. Ia  ingin mengakhirinya karena kuatir akan keselamatan janin di dalam kandungan

Sandra meski ia sendiri belum memperoleh orgasme. Ia sengaja mati-matian bertahan dan mengkesampingkan kepuasan dirinya karena ia ingin wanita yang mengandung anaknya itu terpuaskan dulu.

“Jangan dulu kang mas! Aku masih mau lagi. Lagian Kang mas kan juga belum dapet?” ujar Sandra sambil mengusap dada pemuda perkasa itu dengan jemarinya yang lembut.

“Tapii jeng…”

“Tidak apa-apa kang mas. Kita terus lakukan secara perlahan saja. Aku ingin sekali merasakan denyutan titit kang mas di dalam tubuhku sewaktu kang mas dapet” ujar Sandra. Ia dapat melihat wajah Paijo yang begitu pucat karena menahan ejakulasinya. Ia jadi heran bercampur kagum pada anak ini. Paijo tampak begitu berbeda dengan sosok yang pernah menggaulinya beberapa bulan yang lalu. Paijo yang ini begitu santun bahkan mampu bersikap bagai seorang gentleman.

“Baiklah jeng”

Mereka kembali bergumul. Sandra mulai bisa mengendalikan situasi setelah memperoleh tiga kali orgasme. Ia mulai mempergunakan kekuatan otot-otot panggulnya hingga kewanitaannya. Vaginanya menghisap dasyat penis hitam Paijo.

“Uhhhh!  Jengg..enakkk..ekkkk..”rintih Paijo.

“Enakk sayanggg?” tanya Sandra bergairah.

Entah mengapa ia-pun menjadi sangat suka pada rintihan kenikmatan katrok ala Paijo pada saat mereka bersetubuh. Hal itu memancing gairahnya semakin tinggi dalam percintaan ini.

“Iyaaa jeeng  enak sekaliii “

“Kalauu beginii sayangg?” goda Sandra sambil melakukan kocokan balasan yang lembut dari arah bawah.

“Arggg jeeng…enakkk!” Paijo semakin terpekik.

Yang dilakukan Sandra barusan bukanlah kocokan yang sederhana. kontolnya mendapatkan tekanan yang besar di dalam situ. Tubuh sintal  Sandra dengan tinggi 174 sentimeter membelit tubuh kerempeng Paijo yang hanya 153 sentimeter itu. Menguasai dan mendominasi hampir seluruh bagian tubuh Paijo dan hanya menyisakan bagian lutut hingga ke telapak kaki yang terbebas. Tubuh Paijo bagaikan seekor anak kambing yang tak berdaya di dalam belitan seekor pyton besar. Sandra membelit tubuhnya dan sekaligus menelan bulat-bulat organ vital bocah itu.

Akhirnya anak itu mendekap pinggang Sandra. Sandra mengenali gejala itu. Anak itu sudah akan orgasme. Ia segera melumat bibir Paijo sambil balik mendekapnya. Lalu mengayunkan pinggulnya ke atas dan ke bawah secara kuat. sementara itu bagian kewanitaannya bekerja mencekik dan mengunci erat titit pemuda itu. Paijo terpekik namun suaranya teredam oleh bekapan bibir Sandra. Saat itu ia menerima dua kenikmatan sekaligus dari bagian atas dan…bawah! Penisnya berdenyut keras. Lalu memuntahkan lahar panas dari ujung kepundan lubang pipisnya. croottt!…crottt…crottt!! Mata pemuda itu sempat terbelalak sekejap lalu mendelik selanjutnya terpejam erat. Begitu dasyat orgasme yang melanda Paijo. Tubuhnya ikut terhentak-hentak setiap kali kontolnya memancutkan spermanya.

“Semprotinn..kangmass sayangg…habiskann semua..benih kangmas buatkuu..” desah Sandra sambil menikmati proses orgasme yang di alami Paijo kali ini.

Liang senggamanya begitu penuh oleh titit dan jutaan benih subur Paijo. Gumpalan cairan yang sama dengan cairan yang pernah membuahi rahimnya. Sandra menganggap Paijo memang pantas mendapatkan itu. Ia seakan ingin mengungkapkan rasa terima kasihnya atas dua janin yang berhasil anak itu tanamkan ke dalam rahimnya saat ini. Tubuh mereka terus saling melekat satu sama lain dalam posisi missionary sambil berciuman ketat. Jika dulu Sandra selalu meminta Paijo menjauh agar ia bisa melakukan proses pembuahan namun kini hal itu tak perlu lagi. Sandra membiarkan Paijo meresapi sisa-sisa kenikmatan itu hingga tuntas di dalam dekapan tubuh cantiknya.

“Pejuh kang mas banyak sekalii”ujar Sandra ketika ciuman mereka terlepas.

“Habis tempik diajeng enak sekali “puji Paijo

“Benarkah? Kang mas suka tempikku? masih peret ya?”

“Iya jeng. Peret sekali. Bahkan lebih peret dari punya Surti”

Wow! Lebih peret dari gadis seusia Surti? Sandra jadi melambung mendengar itu. Ia yakin sekali Paijo berkata apa adanya.

“Bagaimana Dian dan Nadine?” Ini kesempatan bagi Sandra untuk mencari tahu mengenai hal itu. Soalnya selama ini Alfi tak pernah mau mengatakannya.

“Bu Dian itu asyik tapi ‘ngisep’-nya ndak sekuat diajeng apalagi kalau dia sudah ‘dapet’. Kalau bu Nadine hampir sama seperti diajeng, tempiknya masih peret sekali meski sudah pernah melahirkan, tapi saya ndak begitu suka sebab dia mintanya selalu yang aneh-aneh. Buat saya tetap punya diajeng yang paling enak”

“Hi hi hi terima kasih kang mas sudah memilih aku” Sandra tersenyum geli.

Ia paham apa maksud Paijo. Nadine memang menginginkan begitu banyak variasi pada saat berhubungan intim. Padahal baik Paijo maupun Alfi lebih suka melakukannya dalam posisi missionari karena posisi ini sederhana, tidak harus retok namun full body contact. Sedangkan Sandra sendiri memang lebih suka posisi itu karena secara psikologis ia merasa di dominasi dan dikuasai  oleh pasangannya pada saat persetubuhan berlangsung dan itu memberikannya rasa nikmat yang sangat kuat. Sedangkan Dian kemungkinan saat itu ia memang tak terlalu antusias bercinta dengan Paijo.

“Tapi bu Dian itu manis sekali orangnya” sambung Paijo seakan ia ingin menegaskan bahwa keintiman bukanlah segala-galanya baginya.  Ada hal-hal lain yang membuatnya suka akan seseorang.

“Hi hi ketahuan sekarang. Kang mas punya perasaan sama dia kan?”

Paijo tersipu-sipu malu. Memang keisengan Dian tempo hari telah meninggalkan kesan yang mendalam baginya.

“Kang mas pasti kangen sama dia kan?”

“Iya jeng saya kangen sekali sama bu Dian”

“Bagaimana kalau kuminta ia datang kemari menemui kang mas sebelum keberangkatan kang mas ke pulau K?”

“B.benarkah jeng?… tapi… apakah bu Dian mau datang buat saya?”

“Kang mas tenang saja serakan semuanya padaku”

“Baiklah jeng”

Mereka masih terus berdekapan dengan kemaluan Paijo masih menancap ketat di dalam vagina lembut Sandra.

“Kang maasss..”

“Ya jeng?”

“Punya kang mas masih tegang dan berdenyut-denyut di dalam punyaku. Kang mas masih mau ngegituin aku lagi kan?”

“Iya jeng. Aku masih pingin terus ngentot sama diajeng”

“Kalau begitu kita terusin lagi ya kang mas? Berikan rahimku beberapa kali lagi semprotan cinta kangmas”

Untuk kesekian kalinya mereka kembali bergumul. Ketika bercinta dengan Nadine, Paijo tak begitu gairah dan cenderung berlaku pasif.  Justru Nadine yang begitu meletup-letup malam itu. Mungkin saja hal itu terjadi karena Paijo masih terpengaruh oleh persoalannya dengan Surti. Tapi kali ini sangat berbeda. Semangat dan kepercayaan dirinya terpompa setelah tahu bahwa dialah ayah dari janin di dalam rahim Sandra. Dan penyerahan diri Sandra benar-benar telah menghapus segala bentuk kesedihan dan kekecewaannya terhadap Surti. Dulu ia mengira Surti adalah hal terbaik dalam hidupnya. Ternyata anggapannya itu salah.  Kini ia sadar jika ia begitu merindukan wanita ini lebih dari rasa kengennya terhadap Surti.

“Ouhhhhhh Kangg massss sayanggggggg!” rintih Sandra merasakan kenikmatan dasyat hasil kombinasi kombinasi sempurna dari kontol bertindik dan stamina prima Paijo.

Tidak sia-sia  Paijo mengikuti terapi sehat yang di anjurkan Lila baginya tempo hari. Dan itu masih ia terus lakukan sampai dengan saat ini. Ternyata setelah berjalan beberapa bulan barulah kelihatan hasilnya.  Sungguh luar biasa penisnya masih terus berdiri tegak dalam hisapan gelombang multiorgasme Sandra yang sudah berlangsung hampir satu jam! Hingga suatu ketika…

“Jengg aku sudah ngga kuat lagiii!!” rintih Paijo. Tampaknya ia memang sudah berada di waktu yang tepat karena Sandra-pun sudah sampai di puncak klimaksnya.

“Lepassiinnnn kangg mass!! Sekaranggggg!! Arghhhhhh!!!!”pekik Sandra

Penis Paijo mengembang kempis berkontraksi sekaligus melontarkan stok sperma miliknya yang masih lumayan banyak. Mendobrak katup penahan terakhir. Lalu meluncur dengan kecepatan tinggi di dalam saluran pipis Paijo berebutan buat mencapai ujung diiringi rasa geli dan nikmat yang tiada tara. Croottttt!!..crotttttt…crooottt…..

“Argggggggg  “pekik nikmat dari Paijo membahana. Sekitar lima belas semprotan dengan gumpalan besar susul menyusul menghantam dinding rahim Sandra.

“Kang mas perkasa sekalii malam ini. Aku benar-benar puas dan mengaku takluk” pujinya sambil mengelus-elus dada pejantan kampung itu.

“Kucabut dulu ya jeng. Biar anak kita ndak berat” kata Paijo. Sandra tersenyum dan mengangguk.

Plop…..Paijo melepas penisnya meninggalkan lubang merah indah menganga di selangkangan Sandra yang penuh dengan spermanya. Lalu rebah terlentang bersisian dengan wanita luar biasa ‘membakar’ itu. Keduanya berusaha meredakan nafas yang memburu. Butir-butir peluh membanjiri sekujur tubuh mereka. Sandra terperangah kagum. Yang terjadi barusan benar-benar adalah sebuah percintaan yang sangat mengguncang. Paijo memberinya rangkaian orgasme yang sempurna. Sedangkan bagi Paijo sendiri. Ia baru merasakan persetubuhan pada tingkatan seperti ini. Mungkin hanya baru titit Alfi yang selama ini pernah dan bisa merasakan puncak orgasme Sandra. Ia memutar tubuhnya ke samping sehingga menghadap ke arah Paijo. Lalu merapatkan tubuhnya. Sementara kepalanya ia rebahkan ke bahu anak itu. Sepuluh menit berlalu. Tiba-tiba Sandra bangkit. Diraihnya penis Paijo yang sudah agak melembek. Lalu dikocoknya benda hitam di dalam genggamannya dengan lembut. Anak ini! lubang pipisnya begitu lebar. Gumam Sandra gemas. Ia bisa melihat jauh ke dalam. Dan dari dalam situ cairan sperma kembali meluber keluar.

“Biar kubersihkan pake mulutku ya kang mass” tanpa menunggu jawaban dari Paijo, Sandra langsung memasukan titit hitam berlumur lendir itu ke dalam mulutnya.

“Engghh…apa jeng tidak jijiiik?”tanya Paijo di sela-sela rintihannya.

“Glk..clk..tidakk..punya kang mas…gurihh maniss Glkk clkk” Jawab Sandra singkat. Lalu dengan gemas kembali melahap penis anak itu bagaikan sebuah lolipop yang sangat lezat.

Paijo tak ingin bertanya-tanya lagi. Ia biarkan Sandra menikmati kejantanannya. Menghisap dan menjilati sisa-sisa sperma di sepanjang batang kemaluannya. Tak ada yang terlewatkan. Terutama yang terselip di seputar kulupnya. Semuanya tandas Sandra telan . Kuluman Sandra tak hanya berdampak membersihkan namun juga menjadikan alat vital anak itu kembali berdiri dengan kukuhnya. Dan memang hal itu yang diinginkan oleh Sandra. Hingga lima menit berlalu…

“Entot aku lagi seperti tadi kang mas” bisik Sandra lalu terlentang sambil membuka ke dua pahanya lebar-lebar Paijo masuk di antara kedua paha montok wanita cantik itu. Lalu mengambil lagi posisi missionary.

Penisnya tanpa perlu dituntun melesak perlahan ke dalam belahan vagina Sandra. Sandra langsung melingkarkan ke dua pahanya melilit pantat Paijo ketika penyatuan itu terjadi. Mereka kembali melakukannya dalam beberapa jam ke depan. Pemuda miskin, putus sekolah, berkulit hitam legam terbakar sinar matahari, namun beruntung mendapatkan kehangatan dari wanita cantik bertubuh molek bagai top model seperti Sandra. Setelah sesi itu berakhir, Sandra bangkit dan memungut pakaiannya dari lantai. Ia harus pindah ke kamarnya jika tak ingin persetubuhan mereka terus terjadi hingga pagi harinya. Paijo-pun seakan mengerti akan hal itu. Ia juga ingat jika Sandra sedang hamil anaknya.

“Buuu” panggil Paijo kembali memanggil Sandra dengan sebutan ‘ibu’

“Ya Jo?”

“Terima kasih” ucap pemuda itu.

Sandra tersenyum lalu menutup pintu kamar Paijo.



Pukul dua puluh satu lewat tigapuluh.

Saat Sandra kembali ke kamar ia berpapasan dengan Didiet. Sepertinya suaminya itu  baru  saja tiba dan nampak sedang melepas dasinya.

“S…sayy?”  Didiet terbengong melihat Sandra melintasinya tanpa busana.

Tadinya ia mengira Sandra sedang berada di kamar mandi tak tahunya istrinya justru masuk dari arah luar kamar.

“Apakah aku melewatkan sesuatu Say?” tanyanya menduga-duga.

Sandra tak menjawab. Ia naik ke atas tempat tidur dengan cuek seolah tak melihat kehadiran suaminya di situ.

“Say! Sayy! Jawab aku dooong” kejar Didiet penasaran.

“Bodoh ahh!” jawab Sandra sambil tersenyum nakal.

Didiet buru-buru melucuti semua pakaiannya. Lalu menyusul naik ke atas kasur. Ia yakin sekali telah terjadi sesuatu antara istrinya dan Paijo. Ia dapat melihat tanda-tanda itu di sekujur tubuh Sandra. Keringat yang bercucuran ditambah puting susu yang masih menegang dan warna merah. Ia hanya perlu menambah bukti yang paling meyakinkannya.

“Ngapain sich!” Tanya Sandra melihat Didiet memposisikan wajahnya ke bagian kewanitaannya..

“Sayy.. buka sedikit dongg, ” bisiknya tak sabaran.

Sandra-pun membuka pahanya lebar sehingga dengan begitu suaminya leluasa melakukan investigasi tubuhnya.

Jantung Didiet berdetak cepat saat melihat area pubik dan permukaan vagina istrinya yang memerah memar. Ia tahu hal itu diakibatkan oleh sebuah persetubuhan yang panjang. Jemarinya gemetar berusaha membuka belahan cantik itu. Gila! ternyata masih banyak sekali sperma yang tertinggal di situ. Begitu kental sehingga tak tertumpah saat Sandra berjalan menuju ke kamar tadi.

“Sayy engkau curanggg! Kemarin-kemarin kan engkau bilang tak menginginkan dia! Tetapi ternyata ..” Didiet berteriak kecewa bagai anak kecil tak dibelikan permen oleh ibunya.

Ia memang sama sekali tak menduga jika akhirnya Sandra kembali mau bercinta dengan Paijo.

“Seperti yang pernah engkau katakan itu cuma sex! dan aku membutuhkannya seperti halnya Nadine”.

“Tetapi setidaknya engkau kan memberi tahuku sehingga aku bisa pulang lebih awal sehingga bisa menyaksikan kalian melakukannya”

“Hmm. Semuanya terjadi begitu saja tanpa kurencanakan. Lagian aku tak ingin mengganggu kesibukanmu di kantor”

“Engkau pasti sengaja melakukannya untuk membuatku penasaran, kan?”

“Siapa suruh meninggalkan istri cantik dengan pria lain dalam satu rumah. Pake acara lembur segala? Tanggung sendiri akibatnya.”

“Eng ..kapan kalian mulai, Say?”

“Sejak jam enam sore”

“Benar-benar sial sekali aku!.” gerutu Didiet.

Berarti setidaknya sudah empat jam mereka bergumul. Hal yang tak direncanakan seperti ini memang memiliki tingkat akumulasi gairah yang tinggi. Namun tetap saja sia-sia sebab ia tak menyaksikan sekejab-pun pertunjukan hebat tersebut.

“Say …katakan padaku apakah engkau p puasss?”

“Iya” jawab Sandra singkat.

“Mmaksudku… apakah engkau terpuaskan oleh kontolnya yang berukuran standar itu?” tanya Didiet seakan belum percaya.

Padahal saat bercinta dengan Nadine tempo hari, Paijo telah menunjukan kehebatannya seperti apa yang Sandra tuturkan barusan. Baginya itu terlalu luar biasa. Pemuda itu tak mungkin bakalan mampu menandingi kehebatan Alfi. Dan Ia masih menganggap keintiman yang panas malam itu dikarenakan Nadine sedang dalam keadaan tak terkendali.

“Engkau bercanda?. Yang terjadi barusan itu adalah salah satu seks terbaik dalam hidupku. Dia itu benar-benar sebuah mesin cinta yang tercipta buat  menaklukan para wanita di atas ranjang. Soal ukuran…Memang Paijo tak memiliki kemaluan sebesar atau sepanjang miliknya si Alfi. Namun dia punya keunggulan tersendiri yang tak dimiliki oleh Alfi. Engkau tahu Dit? Tititnya itu enakk bangettt! Aku tak tahu mana yang lebih enak antara dia dan Alfi. Mungkin saja miliknya adalah titit ter-enak yang pernah masuk ke dalam punyaku. Bayangkan selama dua jam terakhir aku di hajarnya sampai mengalami orgasme ngga putus-putus. Jika saja aku sedang tidak hamil kami pasti akan melakoninya di sepanjang malam ini.”

“Apaaa?!! D..diaa mampu membuatmu mengalami multiorgasme?! Argghhh Sayyyyy!” pekik Didiet histeris.

Gairahnya naik dengan cepat hanya dengan mendengar penjelasan Sandra. Sementara itu tangannya mulai mengocok liar kontolnya sendiri.  Sandra memang sengaja membiarkan suaminya larut sendiri dulu dalam imajinasi dan fantasinya. Kini Didiet baru percaya apa yang dikatakan Nadine tempo hari soal sesuatu yang luar bisa tersimpan pada penis bocah itu. Sandra sendiri baru bertindak setelah melihat Penis Didiet sudah berwarna keunguan. Ia  merunduk Didietpun melepaskan pegangan jemarinya. Dan mulut Sandra-pun mengambil alih kontolnya yang terawat bersih itu. Tak perlu menunggu lama. Didiet sudah terlalu ‘high’ saat itu. Pria itu telah sampai pada puncak kenikmatan.

“Arggggghhh sayy!” Jerit Didiet sambil mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi seiring ujung penisnya memuncratkan sperma. Sandra berupaya memberikan hisapan terbaiknya. Tak melepaskannya hingga penis Didiet memuntahkan tetes sperma terakhirnya.

“Nikmat?” Tanya Sandra genit sambil menjilat beberapa tetes sperma suaminya yang belepotan di sekitar bibirnya.

“Hss..hss Yaa terima kasih, Say” jawab Didiet dengan napas masih terengah-engah.

“E.ee kamu mau ngapain lagii, sich?” Tanya Sandra melihat Didiet beringsut hendak menindihnya.

“Aku kangen banget padamu ” jawab Didiet berusaha masuk ke posisi misionari.

“Tidak bisa!. Aku masih kuatir akan ada efeknya terhadap kandunganku” ujar Sandra engan cepat merapatkan ke dua kakinya sehingga upaya Didiet terhalang.

“Tapi kenapa anak itu engkau beri sedangkan aku tidak boleh? Padahal ukuranku kan sama dengan anak itu” protes Didiet meminta keadilan pada istrinya..

“Tetap saja beda. Titit Paijo enak dan punyamu biasa saja”

“Lho? Lantas apa hubungannya dengan resiko keguguran?”

“Paling tidak rasa enaknya harus seimbang dengan resikonya. ” jawab Sandra seenaknya.

“Ah! Engkau hanya mengada-ada. Say! Pleaseee. Satu kali saja , say” rayu Didiet

“Tidak bisa!”

“Jadii benar-benar tidak bisa?”

“Tidak!”

“Yah! Baiklah aku menyerah deh! Sepertinya aku hanya akan bisa menikmati jemari tanganku sendiri sambil menonton kalian” gerutu Didiet lesu.

Soal keputusan yang satu ini Sandra tak bisa lagi di ajak tawar menawar. Ia tak bakalan bisa merasakan vagina istrinya hingga beberapa bulan ke depan. Tak mengapalah. pikir Didiet. Sebab toh ia masih punya istri yang lain yaitu Nadine.

“Setidaknya engkau bisa menikmati hal itu kan?”

“Kalau begitu aku bisa melihat kalian melakukannya sekali lagi, kan?” rayu Didiet untung-untungan.

“Tentu saja, tapi besok. Soalnya sekarang aku sudah cepek banget.” jawab Sandra menolak permintaan Didiet sekaligus mengodanya. Ia tahu suaminya itu masih bergairah sekali. Lalu ia menarik selimut dan tertidur dengan senyum kepuasan tersungging.

“Duhh  lagi-lagi siaal”



Pagi harinya

Sandra menelpon ke rumah. Dan Nadine yang mengangkat. “Hi..Nad. Bagaimana ke adaan rumah?”

“Hi hi beres kok Sand, ada apa sih?”

“Aku cuma mau mengingatkan Alfi jika aku pulang besok. Aku ingin dia menjemputku”

“Ok nanti sepulang sekolah, akan kukatakan padanya. Oya, Sand.. kau tahu Alfi berperilaku aneh sejak kemarin”

“Aneh bagaimana, Nad? Apa mungkin ia tahu kamu selingkuh!?” Tanya Sandra kuatir.

“Hi hi hi kamu kok cemas gitu? calm sedikit donk. Yang ingin kusampaikan ini adalah berita baik kok”

“Soalnya akhir-akhir ini aku selalu saja mendapat kabar-kabar yang membuatku risau. Oya ada apa memangnya dengan Alfi”

“Hi hi begini ceritanya…Aku tiba bersama Alfina siang kemarin. Mulanya aku heran ia masih di rumah padahal seperti engkau ketahui biasanya bila engkau tak ada ia selalu pergi ke rumah Niken. Ia mengambil alih Alfina dariku lalu mengajaknya bercengkrama bersama bik Iyah di ruang keluarga. Aku baru terkejut ketika aku memasuki kamar tidurku, kudapati hamparan bunga mawar putih dan merah di atas tempat tidur. Harum alami bunga-bunga tersebut bercampur dengan asap aromaterapi merebak kesetiap penjuru kamar. Alfi menyusulku ke dalam kamar dengan minyak zaitun di tangannya. Rupanya ia berniat memberiku pijatan. Meski diliputi keheranan akan perlakuannya yang tak biasa itu, aku menurut saja. Aku melepas seluruh pakaianku. Lalu tidur tengkurap di atas ranjang”

“Biar kutebak… engkau pasti terangsang lantas setelah itu kalian bercinta dengan hot-nya,kan?” Sela Sandra.

“Hi hi Dugaanmu meleset, Sand. Tidak ada seks sama sekali siang itu. Sepertinya Alfi tak berniat merangsangku dengan pijatannya. ia hanya ingin aku merasakan  kenyaman. Tak kusangka pijatannya seperti layaknya pijatan seorang pemijat professional.. Aku sampai merem melek karena di susupi rasa nyaman dan kantuk. Alfi terus menyelusuri tiap inci tubuhku dengan jemarinya hingga aku tertidur lelap di tengah pijatannya itu.”

“Mungkin sekitar satu sampai dua jam aku tertidur akibat pijatan dari Alfi tadi. Dan ketika aku terjaga dari lelapku  hari telah menjelang sore. Lalu aku memutuskan untuk mandi agar tubuhnu kembali segar. Kemudian aku menuju ke kamar mandi. Di sana aku kembali dikejutkan saat melihat jacuzi-ku sudah dalam keadaan sudah terisi penuh cairan rempah dan di kelilingi oleh belasan lilin beraneka warna yang sudah dalam keadaan menyala. Aku juga menemukan sebuah kartu ucapan dalam keadaan terbuka di atas tumpukan handuk yang di dalamnya tertulis;

‘Kakak sayang,

Tak usah tanya-tanya kenapa Alfi lakukan ini. Kakak hanya perlu tahu bahwa

kakak memang layak mendapatkannya. Setelah ini dandan yang cantik ya, Alfi

menunggu buat makan malam..



Alfi’

“Aku masih diliputi keheranan mengapa anak itu melakukan ini semua sebab seingatku hari ini bukanlah hari ulang tahunku. Tapi sepertinya Alfi sedang berniat memanjakanku hari itu. Dan karena ia sudah mempersiapkan itu semua maka aku langsung memanfaatkan kesempatan itu. Setelah kupikir  aku memang sangat membutuh waktu buat memanjakan diri. Melepas sejenak dari tugas rutinku sebagai wanita karier dan ibu rumah tangga.”

“Hi hi hi tak kusangka ia romantis seperti itu, Nad.”Sela Sandra

“Aku juga demikian. Ternyata anak itu benar-benar mengerti akan diriku. Kuperhatikan secara seksama semua yang ia persiapkan buatku memang cocok dengan kulitku.”

“Puas merendam diri aku kembali ke kamar dan berdadan layaknya akan pergi ke sebuah pesta sesuai dengan permintaannya. Kupilih baju terusan mini dengan dada sedikit terbuka berwarna hitam. Kutahu ia paling senang melihatku mengenakan baju itu.”

“Kejutan lain berlanjut sore harinya. Kupikir tadinya ia akan mentraktirku makan ke restoran. Ternyata ia sudah menungguku di meja makan kita yang sudah tertata rapi lengkap dengan dinner set mewah milikmu diatasnya di antara beberapa lilin yang menyala. Aku tak tahu kapan ia mempersiapkan itu semua. Aku benar-benar merasa tersanjung terus menerus menerima kejutan-kejutan darinya itu.”

“Alfi menyambutku. Ia sudah berdandan rapi menggunakan pakaian terbaiknya. Lalu ia menarikan kursi buatku duduk. Sedangkan ia sendiri mengambil duduk bersebrangan meja denganku. Kejadian selanjutnya membuatku nyaris tertawa ketika melihat bik Iyah berdandan ala pelayan bangsawan eropa muncul membawa Appetizer. Kami mulai dengan hidangan pembuka yang berupa soup dan shrim coktail. Bik Iyah terus melayani kami berdua dengan sigap. Setelah hidangan pembuaka selesai ia mengambil setiap piring bekas lalu menggantinya dengan T-Bone Steak sebagai ‘main course’. Alfi memang tahu betul selera kita, Sand. Selain dagingnya yang empuk saus garlic-nya benar-benar lezattt! ..Terakhir hidangan malam itu ditutup dengan sepotong tiramisu dan ice cream. Aku menduga mereka pasti telah berlatih keras buat melakukan ini semua. Satu persatu hidangan tersaji dengan begitu sempurna.  Ketika kutanyakan pada Alfi bagaimana ia melakukan itu semua. Ia hanya menjawab kakak nikmati saja semua. Aduuh Sanddd…aaaku benar-benar terlena dalam buayan romantisme-nya itu!”

“Wah wah Aku jadi kepingin cepat pulang agar bisa dia mesrai sepertimu.” Sela Sandra ikut terbawa suasana romantisme mendengar penuturan sahabatnya itu. “Lantas apa yang terjadi selanjutnya, Nad?”

“Ya memang itu belum selesai. Setelah usai makan malam kami pindah ke ruang tengah. Alfi menawarkan padaku beberapa pilihan film yang dibelinya. Sementara Bik Iyah menidurkan Alfina di baby room,  kami bebas berduaan nonton hingga pukul sepuluh malam. Lalu kami pindah ke kamar tidur. ia kembali memberiku pijatan. Tetapi tidak seperti siang tadi. Kali ini Ia melakukannya dengan tubuh bugil. Dan titik-titik pijatannya selalu ia arahkan ke sekitar bagian intimku.  Semakin lama pijatannya semakin ‘Hot’ dan lebih pantas di sebut sebagai upaya merangsang itu membuatku benar-benar kebelet kepingin segera ia  intimi. Lalu kami melakukannya. Alfi memintaku berdiri di atas ke dua lututku sambil berpegangan pada kepala ranjang. Sedangkan ia sendiri juga berdiri di atas kedua lututnya dan mengambil posisi di belakangku. Aku langsung orgasme begitu ia utuh memasukiku.”

“Glkk..Nadd..aku jadi basah mendengarnya..terusss..teruss..” Tanya Sandra  tak sabar mendengar kelanjutan kisah Nadine.

“Dan semua itu belum berakhir, Sand. Puncaknya aku mendapat kejutan besar setelah kami bercinta selama kurang lebih satu jam-an. Alfi melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan selama bercinta dengan kita bertiga, Sand.”

“Apa itu, Nadd?” Tanya Sandra semakin penasaran.

“Ia memasukiku dari belakang tetapi bukan melewati jalan biasa”

“ANAL maksudmu Nad?!”pekik Sandra tertahan

“He em”

“Oww Nad! Sakitkahh?!”

“Lumayann tapi sensasinya luar biasa. Aku tetap orgasme kuat dalam kesakitanku.”

“Pagi ini, ketika aku terbangun aku menemukan di sebelahku sarapan buatku sudah terhidang di atas sebuah meja kecil. Di atasnya ada semangkuk bubur ayam lengkap dengan emping kesukaanku plus satu poci teh hangat. Kuduga ia sudah berangkat ke sekolah. Sempat-sempatnya ia mempersiapkan itu semuanya saat aku masih terlelap. Dan kulihat ada sebuah kartu ucapan terselip di antara gelas dan poci. Sebuah kartu ucapan yang  lain. Isi tertulisnya begini;

‘Kakak yang cantik,

Apakah kebahagiaan semalam mampu menghapus kesalahan yang pernah Alfi

lakukan pada kakak selama ini?

Apabila tidak,

Alfi rela bila kakak mencari pengganti bagi diri Alfi,

Alfi siap terluka melihat kakak besama yang lain.



Alfi’

“Dari situ aku tahu ternyata ia melakukan itu ia ingin aku memaafkannya karena ia merasa bersalahnya padaku selama ini. Tapi aku tetap tak mengerti mengapa semuanya begitu mendadak?”

“Mungkin saja karena Alfi takut bila terus-terusan tak ia jamahi kamu juga akan berselingkuh sebagaimana halnya Dian dan diriku dulu”jawab Sandra.

“Duh Sand, jika benar demikian aku justru yang merasa bersalah padanya. Susah payah ia men’servis’ku habis-habisan padahal aku sudah berselingkuh dengan Paijo dan ia pasti telah menguras uang tabungannya buat semua ini”

“Hi hi Kalau begitu balik dirimu yang harus memberinya keintiman penebusan buatnya siang ini”

“Iya juga. Aku rasanya tak sabar menantinya pulang sekolah hari ini”

“Beruntung sekali kamu, Nad”

“Eh bagaimana denganmu? Apakah engkau masih ‘virgin’ selama di sana?”goda Nadine

“Kau benar Nad. Aku telah bercinta dengannya semalam”

“Hi hi hi apa kubilang kamu juga pasti menyerah, kan?”

“Apa yang telah engkau lakukan pada anak itu, Nad?. Aku seakan tak melihat lagi sosok Paijo yang kukenal dulu. Anak itu begitu banyak berubah. Tak hanya kemampuan bercintanya yang meningkat hebat namun juga kelakuannya juga semakin baik”

“Hi hi hi hanya sebuah terapi kepribadian, kok. Tapi diselingi dengan percintaan”

“Sebenarnya aku juga heran kenapa aku bisa jatuh kembali ke dalam pelukannya. Aku tak ingin membanding-bandingkannya anak itu dengan Alfi. Yang jelas dia juga punya pesona kuat buat menaklukan banyak wanita. Aku hanya kuatir jika Alfi sampai tahu aku berhubungan lagi dengan rivalnya itu.”

“Ngga usah terlalu dipikirkan, Sand. Anggap saja sebagai selingan selama kita menemani Didiet di kota yang membosankan itu”.

“Iya selingan indah rumah tangga utuh hi hi hi..Eh..Nad, Sudah dulu ya ngobrolnya”

“Lho kok buru-buru amat, sich?”.

“Iya nihh soalnya akuu…”

“Aaa aku tahu! Kamu pasti mau ‘anu’sama Paijo kan?”

“Hi hi hi Memangnya mau ngapain lagi. Gara-gara mendengar ceritamu aku jadi basah!”.

“Iya deh kalau begitu. Selamat bercinta, Sand”



Sorenya

Didiet baru pada sorenya saat Didiet pulang. Ia menemukan  istrinya yang molek di atas ranjang tengah digenjot oleh Paijo. Ternyata  ia sudah terlambat beberapa jam. Mereka sudah memulainya sejak seusai pembicaraan Sandra dengan Nadine siang tadi. Untungnya pergumulan itu belum juga berakhir. Akhirnya apa yang Didiet inginkan selama ini tercapai juga. Ia dapat melihat bagaimana penis berukuran standar milik Paijo memberi istrinya multiorgasme dalam kurun waktu yang panjang. Wowww!! Didiet terpekik takjub ketika melihat sperma Paijo terpancar balik keluar dari vagina Sandra. Ia tahu multiorgasme Sandra yang menyebabkan itu. Pada kondisi seperti itu liang senggama Sandra menciut secara maksimal sehingga tak ada ruang lagi bagi benda lain selain kontol Paijo. Lalu denyutan demi denyutan yang kuat vagina Sandra menyebabkan seluruh cairan yang berada di dalam akan terpompa lalu tersemprot keluar dari sela-sela tautan alat vital keduanya. Malam itupun ia mendapatkan ‘belas kasihan’ Sandra buat menuntaskan hasratnya melalui persetubuhan dengan istrinya itu. Liang senggama Sandra terasa begitu likat oleh sperma Paijo. Didiet menggigil dalam sengatan kenikmatan sambil membayangkan hisapan dasyat itu yang juga telah menyengat penis Paijo selama beberapa jam ini.

“Kau rasakan itu, Say? Bayangkan betapa sering dia menyiramkan cairan kelaki-lakiannya di dalam tubuhku. Seakan tak pernah ada habisnya meski vaginaku terus meminum-nya …Oughhh” Kata-kata nakal Sandra terus terbisik di telinganya di tengah persetubuhan itu. Sepuluh menit berlalu. Didiet sudah sampai pada akhir pelawanannya. Sandra dapat merasakan itu. Ia mengunci pergerakan penis standar suaminya itu dengan mengerahkan kekuatan otot-otot kewanitaannya.

“Argggg…Sandddd!!” erang Didiet seketika itu juga orgasme dasyat melanda dirinya.

Kukungan fantasinya tak hanya semakin mempercepat terjadinya ejakulasinya namun juga membuatnya menjadi lebih nikmat berkali-lipat. Tubuhnya mengenjan beberapa kali sebelum ia benar-benar hilang kesadarannya di atas tubuh molek istrinya itu. Orgasmenya telah mengakhiri semua ‘percintaan panas’ di malam itu.



Malamnya

“Dit?” tanya Sandra setelah Paijo pindah ke kamarnya sendiri.

“Ya?”

“Mengapa engkau berikan pekerjaan seperti itu pada Paijo?”

“Aku tak pernah menawarkannya. Secara kebetulan saja ia mendengar pembicaraanku dengan temanku di telepon soal itu. Ia sendiri yang justru menginginkan pekerjaan itu. Aku-pun sudah berusaha mencegah dan memberikan gambaran berbagai kesulitan yang bakal ia hadapi di sana. Namun ia tetap bersikeras ingin pergi”

“Kasihan anak ituu…” desah Sandra.

“Sudahlah. Semua itu sudah menjadi pilihannya sendiri. Kita tak dapat memaksakan keinginan kita kepadanya. Mungkin juga ada baiknya untuk sementara waktu ia tak bersama-sama kita. Setidaknya apa yang terjadi antara dia dan engkau selama dua hari ini telah memberinya semangat untuk melanjutkan hidupnya.  Sebaiknya beristirahatlah, Say. Ini sudah pukul sebelas. Engkau harus menjaga kesehatanmu demi si ‘kecil’”

Sandra merenungkan ucapan suaminya itu. Ia sendiri merasa aneh mengapa ia menjadi sangat menikmati apa yang terjadi akhir-akhir ini. Terlibat dalam sebuah percintaan segitiga antara dirinya, Alfi dan Paijo di tengah pernikahan anehnya dengan Didiet. Tetapi ia tak dapat memilih hanya salah satu di antara ke tiganya. Dan ia merasa ia tak harus melakukan itu. Ia justru ingin memiliki semuanya sekaligus. Alfi pemuda yang sangat ia cintai dan puja bagai sang dewa cintanya, Lalu Paijo pasangan selingkuhnya yang sekaligus ayah dari janin yang sedang dikandungnya dan yang terakhir adalah Didiet suaminya yang syah yang telah menciptakan semua keliaran ini. Sebuah hubungan yang dianggap sangat janggal bagi kebanyakan orang tetapi Sandra menganggap apa yang terjadi sekarang ini adalah momen terbaik dalam hidupnya. Ia bahagia. Malam ini ia bisa menutup matanya dengan perasaan nyaman.



Pagi-pagi sekali Didiet bangun dan tak melihat istrinya berada di sisinya. Ia pasti pindah ke kamar bocah itu! duga Didiet. Dan benar saja ia menemukan Sandra dan Paijo sedang bergumul  di ranjang Paijo. Didiet mengeleng-geleng  heran bercampur takjub. Sandra begitu bergairah. Seandainya saja Paijo dan Alfi bisa akur  justru semuanya tak memiliki rasa dan warna. Keduanya masih sempat bercinta selama dua jam-an dan berlanjut dengan acara mandi plus bersetubuh bersama di bawah siraman shower sebelum akhirnya semua keintiman itu benar-benar berhenti. Sandra-pun harus bergegas berpakaian dan berkemas buat mengejar keberangkatannya hari itu. Tak hanya itu keduanya masih kerap berciuman di sepanjang perjalanan menuju bandara.

“Say, ini sudah pukul sembilan lewat sepuluh” ujar Didiet mengingatkan. Ia masih harus menunggu Sandra dan Paijo menyelesaikan ciuman perpisahan mereka  sesaat sebelum mereka meninggalkan mobil di parkiran. Ia kuatir Sandra akan terlambat karena pesawat akan take off pada pukul sembilan lewat dua puluh lima menit.

“Empp..Ya..”sahut Sandra. Didiet lega akhirnya tautan bibir mereka terlepas juga.

“Dit”

“Ya, Say. Ada apa?”

“Kalian jangan dulu pergi dari sini.”

“Lho, ngapain lagi kami berdua di tempat ini?”

“Kira-kira satu jam lagi penerbangan Dian akan tiba”

“Apa? Dian mau datang kemari?”

“Iya aku yang minta ia kemari.Dan aku juga belum memberitahunya jika ada Paijo di sini” ujar Sandra sambil tersenyum nakal.

“O..oww…Aku tahu Say!..aku tahuu! Dasar! engkau memang kelinci nakalku” Didiet tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala. Memang ia yang memulai setiap keliaran yang terjadi selama ini namun ada akhirnya selalu Sandra-lah yang mengambil alih dan mengendalikannya permainan.

“Nah! Aku sudah berusaha membantu kalian. Selanjutnya tinggal kalian yang berupaya membuatnya betah selama di sini”

Sandra tiba-tiba menahan langkahnya sesaat sebelum masuk melalui pintu sekurity. Ia menoleh ke arah Paijo

“Jo…”

“Iya bu?”

“Engkau mau-kan pulang menemui aku bila kamu sedang cuti?”

“Ohh…buuuu…saya mau bu..saya janji akan datang buat ibu” jawab Paijo dengan senyum kebahagiaan mengembang. Itu berarti yang telah terjadi selama dua hari ini  bukanlah sebuah persetubuhan yang terakhir dari Sandra buatnya.



Sandra mengangkat handphone-nya.

“An, kamu jadi kemarikan?” Tanya Sandra agak berbisik karena tak ingin orang di sekitarnya mendengar perkataannya.

“Iya, jadi. Sekarang ini sedang boarding, kok.” Terdengar jawaban Dian dari seberang pembicaraan.

“Apakah Alfi bersama-mu minggu-minggu ini?”

“Tidak sepulang dari singapore aku menginap di rumah ibuku. Rencananya besok aku baru akan menginap di rumahmu.”

“Baguslah jika begitu.”

“Apanya yang bagus, Sand. Tahu ngga saat ini aku sedang h o r n y bangett!. Tetapi engkau justru  meminta aku pergi menemani Didiet”

“Entar si Didiet bisa mengantikan keintiman buatmu”

“Hhhhhh!”terdengar helahan lesu Dian.

“Hi hi hi tenang saja dia sudah menyiapkan sesuatu agar engkau ‘bahagia’ selama di sini”

“Benarkah? Memangnya Didiet sudah mulai mengkonsumsi Viagra, ya?” cibir Dian

“Nanti engkau akan tahu sendiri setelah tiba di sini. Aku jamin kamu pasti keget dan puas!”

“Aku jadi penasaran”

“Oya An, apakah engkau jadi menemui Lila buat memasang kembali alat KB-mu?” Seingat Sandra tempo hari Dian berniat memasang alat kontrasepsinya.

“Aku belum sempat, Sand. Tetapi Didiet kan bisa memakai pengaman. Eh, kok mendadak menanyakan itu. Ada apa memangnya?

“Tidak apa-apa”

“Eh, Sand. Sudah dulu ya. Aku sudah mau masuk ke pesawat nih. Dag!”

“Baiklah, dag!” Sandra-pun mematikan handphone-nya lalu melangkah memasuki pintu pesawat seraya tersenyum bahagia.

Alfi sayangg. Tunggulah kakak pulang buatmu!



Selesai
XXX STORY : ALFI, Pada: Selasa, Juli 17, 2012
Copyright © 2015 CERITA DEWASA Design by bokep - All Rights Reserved