“Apa artinya ini Mas?!!” terdengar suara teriakan wanita bernada keras menggema di ruang tamu sebuah rumah mewah.
“Ya, saya harap kamu mengerti dengan pilihan saya ini.” Tutur seorang laki-laki paruh baya yang sedang duduk diruang tamu itu bersama seorang wanita dengan kemarahan yang terpancar jelas diraut wajahnya.
“Bagaimana dengan pernikahan kita selama ini Mas?! Bagaimana dengan Joanna dan Jonny?! Apa Mas tidak kasihan dengan mereka?! Mereka itu anak-anak kita, Mas?!” sahut wanita itu berusaha memberi pengertian bagi suaminya itu.
“Bukan begitu, Erny. Saya minta pengertianmu tentang perasaan saya. Sudah lama saya merasa tertarik dengan Vivi, lagipula dia cukup akrab dengan anak-anak kan? Pastinya tidak ada masalah kalau saya menikahinya”
“Jadi, maksudnya selama ini saya dimadu? Begitu?! Teganya kamu… Mas Johan… Teganya kalian!”” Erny berteriak penuh kemarahan.
“Bukan, bukan begitu! Saya merasa dengan kehadiran Vivi, keluarga kita akan semakin lengkap. Bukannya kalian juga berteman baik dari dulu? Seharusnya kamu mendukung pernikahan kami!” jelas Johan berusaha untuk menenangkan amarah Erny.
“Enak saja! Alasan apa itu?! Bagaimana dengan perasaan saya?! Saya sudah mendukung Mas selama 10 tahun sejak kita menikah! Dari saat Mas Johan masih bekerja sebagai pegawai rendahan sampai jadi manajer seperti sekarang!! Ini balasan Mas Johan untuk kesetiaan saya selama ini?!”
“Bukan begitu! Saya hanya minta agar kamu mengerti dengan perasaan saya ini! Apakah itu susah sekali?! Lagipula wanita yang saya pilih bukan orang asing! Kalian juga sudah mengenal Vivi dari dulu! Vivi itu wanita baik-baik! Kamu sebagai seorang istri seharusnya bangga karena suamimu ini masih pengertian dengan kalian! Laki-laki lain pasti sudah menceraikan istri yang tidak mau menuruti suami seperti kamu!” Bentak Johan dengan nada marah karena kehilangan kesabaran.
Vivi
Vivi
Malam itu benar-benar malam yang terburuk bagi Erny dalam kehidupan rumah tangganya dengan suaminya, Johan. Bagaimana tidak, setelah 10 tahun membina rumah tangga bersama, Erny tidak pernah menyangka bahwa suaminya itu telah berselingkuh dengan seorang wanita yang tak lain adalah sahabat masa kecil Erny, Vivi. Memang banyak rumor yang beredar kalau Johan berselingkuh dengan seorang wanita muda, namun Erny menaruh kepercayaan penuh pada Johan dan tidak menghiraukan rumor itu sama sekali. Namun semua kesetiaan Erny terbukti keliru dengan pernyataan Johan malam itu yang memberitahu rencana pernikahannya secara mendadak pada Erny. Erny masih tidak percaya bahwa suaminya, Johan, memang telah berselingkuh dan lagi mengakui cintanya terhadap wanita lain itu. Fakta bahwa wanita yang hendak dinikahi oleh Johan itu adalah sahabat karib Erny sendiri kian membuat hati Erny membara dan hancur.
“Kalau begitu… Mas Johan boleh memilih! Kalau Mas menikahi Vivi, saya dan anak-anak akan angkat kaki!” ancam Erny.
Di lubuk hatinya yang terdalam, Erny berharap agar ancamannya ini dapat mengurungkan niat Johan untuk menikah lagi dan sekaligus untuk menguji apakah masih ada rasa cinta Johan padanya.
“Kalau begitu, kamu juga boleh memilih! Hidup bersama saya dan Vivi atau silahkan kamu bawa semua barang-barangmu dan keluar dari sini! Saya tidak akan berhubungan lagi denganmu! Lagipula Joanna lebih suka dengan Vivi dibandingkan kamu!” Johan kembali membentak Erny dengan nada keras.
Jawaban Johan yang disampaikan lewat bentakan itu langsung menghancurkan hati Erny berkeping-keping. Pikiran Erny berkecamuk dalam hatinya. Memang, kalau dibandingkan dengan Erny yang sudah berusia 30 tahun, Vivi yang masih berusia 23 tahun sangat berbeda jauh. Bukan hanya lewat perbedaan umur saja, namun Vivi yang memang berparas amat cantik itu bisa dikatakan mengalahkan Erny diberbagai bidang. Jelas, tubuh indah milik Vivi yang langsing dan padat dengan tinggi 162 cm yang proporsional amat kontras dengan tubuh Erny yang gemuk sehabis melahirkan Jonny, anak keduanya dengan Johan. Terlebih lagi, dengan sikap Vivi yang feminin dan baik hati itu terkadang membuatnya lebih disukai dibandingkan Erny oleh Joanna, anak pertama Erny yang baru berusia 6 tahun.
Walaupun sikap Joanna itu kadang melukai perasaan Erny sebagai seorang ibu, Erny tidak begitu menggubris sikap Joanna pada Vivi, mengingat persahabatan Erny dan Vivi sejak kecil. Ya, pada waktu mereka masih kecil, Vivi adalah tetangga Erny, karena perbedaan usia mereka itulah, Erny sering merawat Vivi yang saat itu masih bayi, bahkan Erny sudah menganggap Vivi seperti adiknya sendiri. Ia turut menyaksikan pertumbuhan Vivi dari seorang anak kecil menjadi seorang wanita muda yang amat cantik. Hati Erny kian tersayat-sayat mengingat bagaimana ia merawat Vivi dulu layaknya seorang kakak pada adiknya; ironisnya, sahabatnya itu kini justru akan merebut suaminya sendiri dari tangannya. Betapa kejinya balasan yang ditimpakan Vivi padanya, pikir Erny.
“Saya akan memberimu waktu untuk berpikir, toh pernikahan kami baru dilaksanakan bulan depan. Tapi ingat, saya tidak akan merubah pikiran saya. Keputusan saya sudah bulat dan saya akan tetap menikahi Vivi, terserah apa kamu suka atau tidak!” tegas Johan seraya berlalu masuk ke dalam kamar.
Seketika itu pula Erny ambruk ke lantai dan menangis tersedu-sedu menyadari bahwa cintanya telah dikhianati oleh Johan. Untunglah Joanna sedang menginap di rumah teman sekelasnya, sehingga anak itu tidak perlu menyaksikan pertengkaran orang tuanya itu, sementara Jonny masih terlalu kecil untuk mengerti pokok permasalahan Erny dan Johan. Erny berpikir dengan keras, bisa saja ia meninggalkan rumah itu, namun itu berarti bahwa ia harus menyerahkan kedua anaknya pada Vivi, dan itu tidak lebih dari pengibaran bendera kekalahannya dalam mempertahankan rumah tangganya. Erny berusaha tegar, ia tidak akan menyerah semudah itu. Ia memikirkan masa depan Joanna dan Jonny yang entah bagaimana nasibnya apabila ditinggal olehnya ditangan Vivi. Namun apabila ia bertahan, itu berarti dia harus rela dimadu seumur hidupnya oleh Johan, sesuatu yang tentu saja tidak diinginkan oleh seorang istri yang setia sepertinya. Mata Erny kian berat, ujian ini begitu sulit baginya, bagaimana rumah tangganya kini terancam hancur karena ulah seorang sahabatnya sendiri, bagaimana nasib anak-anaknya kelak dan bagaimana ia harus melewati hari-hari dengan adanya istri kedua Johan itu.
“AARGHH!!!” PRAANG… Erny mengamuk dan dilemparkannya asbak kaca yang berada dimeja disampingnya ke lantai hingga asbak itu pecah berkeping-keping. Kembali Erny terlarut dalam kesedihannya, saat terbayang masa-masanya bersama Johan dan pertemanannya dengan Vivi, Erny tak kuasa menahan amarahnya lagi. Kini dendamnya membara kepada sahabat yang mengkhianatinya itu.
“Kalau saja dia tidak pernah ada… kalau saja kami tidak pernah berteman… KALAU SAJA AKU BISA MEMBUATNYA MENDERITA!!” demikian gemuruh hati Erny pada Vivi.
Tidak ada lagi perasaannya sebagai seorang sahabat bagi Vivi, yang ada kini hanyalah dendam yang mendalam sebagai seorang wanita yang disakiti dan seorang sahabat yang dikhianati. Erny sadar bahwa untuk membalas dendamnya pada Vivi, ia perlu menenangkan diri dan berpikir dengan jernih. Erny berusaha keras mendinginkan kepalanya yang terbakar oleh amarah dan dendam sambil berusaha berpikir bagaimana caranya untuk memberi pelajaran bagi Vivi. Membunuh Vivi tentu saja merupakan jalan pintas, namun Erny berpikir apabila hal itu dilakukan, sudah pasti dirinyalah yang pertama kali dijadikan tersangka karena motifnya amat gampang dibaca apalagi menyewa orang untuk membunuh tentunya tidak mudah dan bisa saja menguras banyak biaya. Lagipula Erny lebih menginginkan agar Vivi sengsara dan menderita. Melukai atau menyiksa Vivi hingga cacat? Itu mungkin ide yang efektif, namun pastinya akan membuat Erny meringkuk ditahanan polisi apabila Johan sampai tahu tentang hal itu. Bisa saja Vivi yang dilukai akan membalas dendamnya pada Joanna atau Jonny. Kepala Erny kini malah semakin pusing dengan rencananya itu, ia sama sekali tidak bisa menemukan cara yang efektif. Dalam keputusasaannya, Erny mengambil handphonenya dan beranjak keluar dari rumahnya. Erny segera menelepon menghubungi kakaknya, Marny.
“Halo, ada apa, Er?” tanya Marny.
“Kak… tolong bantu saya Kak… Saya sudah tidak tahan…” pinta Erny dengan suara tersedu-sedu. Tentu saja Marny sontak terkejut mendengar suara adiknya itu.
“Lho? Ada apa, Er? Kamu kenapa?!”
“Kak… saya… saya…” Erny kembali terisak menahan tangisnya.
“Sudah, sudah… Er, tenangkan diri dulu ya? Ceritakan apa yang terjadi.” Ujar Marny menenangkan Erny.
Mendengar suara Marny, Erny kembali berusaha untuk mengendalikan diri. Setelah memastikan kalau perasaannya sudah tenang, Erny pun mulai menceritakan duduk persoalan rumah tangganya pada kakaknya itu. Mendengar nasib adiknya itu, sontak Marny naik darah dan emosi, apalagi saat mendengar bahwa Johan hendak mengusir Erny.
“Jadi, rupanya si Vivi itu selingkuhannya Johan?! Mereka mau menikah?!” tanya Marny dengan emosi.
“I… iya Kak…”
“Apa-apaan si Vivi itu?! Bukannya dia itu teman baikmu, Er? Tega sekali dia!! Kakak tidak menyangka kalau dia wanita seperti itu!”
“Makanya kak… Erny sudah tidak tahan… Erny juga tidak sampai pikir kalau Vivi rupanya seperti itu…” ujar Erny terbata-bata.
“Terus, bagaimana rencana kamu?”
“Erny mau balas dendam Kak. Erny tidak rela kalau Vivi yang menikmati semua ini tanpa penderitaan.” Tutur Erny.
“Baguslah, Kakak dukung kalau begitu! Terus, kamu mau apakan si Vivi itu?!” tanya Marny.
“Erny bingung… kak… Kita tidak bisa membunuh atau melukai Vivi… kita bisa dipenjara…”
“Aduuh! Kamu kepikirannya kejauhan! Bukannya ada cara yang lebih gampang?!” gerutu Marny.
“Apa Kak?” tanya Erny bingung.
“Makanya Er, tenangkan diri dulu lain kali.” Jawab Marny.
“Bukannya gampang? Daripada dibunuh atau dilukai begitu, lebih baik kalau kita melukai mental si Vivi saja!” lanjut Marny.
“Maksudnya?”
“Er, suruh saja orang buat memperkosa si Vivi sebelum dia menikah!” cetus Marny.
Pernyataan kakaknya itu seolah seberkas cahaya yang menghapus kebingungan hati Erny. Benar-benar sebuah ide yang luar biasa! Membuat Vivi diperkosa sebelum menikah dengan Johan!
“Mengapa tidak? Tentu saja! Itu cara yang paling baik untuk menaklukkan Vivi!” pikir Erny. Dengan diperkosanya Vivi, tentu saja akan memberi luka mendalam bagi Vivi sementara membuat Johan berpikir bahwa Vivi bukan seorang wanita yang baik-baik karena sudah tidak perawan sebelum menikah. Benar-benar sambil menyelam minum air! Lagipula dengan trauma pemerkosaan itu, pastilah mental Vivi akan goyah dan gampang diintimidasi oleh Erny. Erny yang kenal baik dengan Vivi tahu betul bahwa kepribadian Vivi yang feminin dan agak penakut itu akan membuatnya gampang dikontrol dibawah kendali Erny.
“Benar Kak! Ide kakak bagus sekali! Tapi bagaimana cara melaksanakannyaKak?”
“Tenang sajalah! Kakak yakin kalau banyak laki-laki yang mau kalau kamu bayar untuk memperkosa si Vivi, lagipula si Vivi kan cantik? Malah lebih gampang untuk mencari ‘sukarelawan’?” papar Marny.
“Kalau kamu mau, Kakak bisa mencarikan beberapa orang.” Lanjutnya. Marny lalu memberikan sedikit nasihat untuk Erny dalam merencanakan perangkap itu.
“Boleh Kak! Tolong kakak carikan orang-orang yang bisa dipakai buat si Vivi!” Pinta Erny yang kini tampak ceria, kontras dengan raut wajahnya sebelum menelepon Marny.
“Ya sudah kalau begitu. Jangan sedih lagi ya? Ingat, kalau besok Johan bertanya lagi, jawab saja kalau kamu setuju. Supaya rencana kita bisa berjalan.”
“Iya Kak. Terima Kasih Kak!”
“Iya, kakak tutup dulu ya? Besok kakak akan menyuruh orang-orang yang kakak pilih ke rumahmu waktu Johan ke kantor. Kamu siapkan saja tawaran buat mereka.”
“Baik, Kak.”
“Daah, malam ya, Er.”ujar Marny sambil menutup teleponnya
Erny tersenyum sekilas, ide brilian itu amat efisien dan mudah untuk dilaksanakan, sekarang hanya tinggal mempersiapkan semua keperluan agar rencana itu bisa berjalan lancar. Erny segera bangkit sambil tertawa-tawa kecil membayangkan rencananya itu. Erny segera pergi tidur dengan perasaan tidak sabar untuk menunggu kedatangan esok hari. Pagi harinya, Erny bangun dengan perasaan lega. Erny meregangkan tubuhnya dan menghela nafas sejenak sebelum turun dari tempat tidurnya dan keluar dari kamar itu. Erny lalu pergi menuju ke dapur, dilihatnya Johan sudah berpakaian lengkap, siap untuk pergi ke kantornya. Johan sedang duduk dimeja makan sambil membaca koran pagi dan menyeruput secangkir kopi hangat. Erny lalu mendudukkan dirinya di hadapan Johan. Sesaat hawa dingin yang terasa cukup menekan karena mereka berdua saling terdiam tanpa bicara sebelum akhirnya Johan mulai angkat bicara.
“Er, bagaimana keputusan kamu soal pernikahan kami?” tanya Johan langsung ke pokok permasalahan.
Begitu mendengar pertanyaan Johan itu, segera darah Erny kembali naik ke ubun-ubun melihat bagaimana suaminya itu tergila-gila pada Vivi. Erny nyaris mengamuk kembali, namun ia teringat nasihat Marny semalam. Erny pun berusaha menjaga emosinya dan bersikap seolah ia pasrah dengan pernikahan Johan itu. Bagaimanapun agar rencana ini berhasil, upacara pernikahan Vivi dan Johan harus tetap berlangsung.
“Sudahlah Mas, kalau itu memang keinginan Mas Johan, saya sebagai istri hanya bisa ikut saja.” Tutur Erny dengan nada lirih yang dibuat-buat.
Johan langsung tersenyum sumringah begitu mendengar perkataan Erny itu. Johan sedikit kebingungan dengan sikap Erny yang berubah drastis 180 derajat dibandingkan kemarin.
“Kamu… kamu yakin, Er?!” tanya Johan keheranan.
“Iya Mas. Kemarin saya sudah bicara dan dinasehati Kak Marny. Memang sebagai istri kita harus membuat suami kita bahagia. Karena saya mau Mas Johan bahagia, saya rela kalau Mas mau memperistri Vivi. Lagipula perkataan Mas Johan kemarin memang benar, Vivi bukan orang asing bagi kita, saya kenal baik dengan Vivi, makanya saya setuju.” Kilah Erny.
“Er, saya benar-benar bahagia, akhirnya kamu mau mengerti juga perasaan saya!” Johan tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya lagi.
“Tapi Mas Johan harus berjanji kalau Mas bisa membagi kasih sayang dengan kami dengan seimbang. Terus, jangan lupakan anak-anak.”
“Iya, pasti! Kamu kan juga istri saya? Bagaimana mungkin saya melupakan kamu?” ujar Johan.
Erny lega, setidaknya Johan dapat masuk perangkap lebih mudah dari yang ia bayangkan. Sekarang ia perlu mengatur agar ia ikut terlibat dalam acara pernikahan Vivi itu.
“Mas Johan, kalau boleh saya juga mau ikut membantu acara pernikahan Mas dengan Vivi.” Pinta Erny.
“Boleh saja. Tapi kenapa kamu juga mau ikut membantu? Sebenarnya kita sudah merencanakan kalau kamu tidak perlu ikut. Si Vivi katanya tidak enak kalau kamu ikut repot, makanya dia mau berusaha sendiri.” Tanya Johan agak penasaran.
“Sudah, tenang saja Mas. Bagaimanapun, Vivi itu teman dekat saya, Mas tahu sendiri kalau saya hampir menganggap Vivi sebagai adik saya sendiri. Tentu saja saya harus ikut membantu.” Dalih Erny.
“Kamu tidak repot nantinya?” tanya Johan. Erny hanya menggeleng sambil tersenyum.
“Syukurlah! Er, saya benar-benar senang punya istri yang pengertian seperti kamu!” puji Johan.
“Begini, kalau bisa, mungkin kamu bisa membantu Vivi untuk mempersiapkan dirinya. Kamu kan sudah pernah menikah, mungkin kamu bisa mengajari Vivi atau membantunya mempersiapkan diri.”
“Mas bagaimana? Mas tidak mau ikut mempersiapkan Vivi?” tanya Erny.
“Sebenarnya tadinya saya mau, tapi sepertinya tidak bisa. Kebetulan direktur cabang kami, Pak Anton sedang cuti. Saya harus menyelesaikan tugas-tugas sebelum beliau selesai cuti. Makanya untung kamu bisa mengerti.” jelas Johan.
“Lho? Mbak Sasha bagaimana? Bukannya dia bisa membantu?”
“Kebetulan Sasha juga ambil cuti. Saya belum tahu kapan mereka kembali, makanya, kamu bisa membantu kan?” tanya Johan penuh pengharapan.
“Beres, Mas. Saya akan membantu sebisa mungkin!” jawab Erny mantap.
“Bagus! Terima kasih ya, Er! Saya serahkan semua ke kamu!” jawab Johan dengan ceria.
Dalam hatinya, Erny jauh lebih ceria dari Johan; sekarang sebagian besar kendali berada ditangannya. Erny tertawa-tawa dalam hati melihat bagaimana gampangnya rencananya berjalan dan bagaimana semua situasi yang seolah mendukungnya. Johan pun segera berangkat ke kantor setelah sarapan pagi, tanpa menyadari rencana jahat istrinya terhadap Vivi. Sementara Erny tidak sabar lagi menunggu para ‘sukarelawan’ yang akan dikirim Marny. Beberapa jam kemudian, pintu rumah Erny diketok dengan keras. Erny segera beranjak keruang tamu untuk membukakan pintu pada tamu yang hendak berkunjung itu. Begitu pintu rumah dibuka, Erny terperangah sedikit melihat 3 orang lelaki berkulit gelap di depan beranda rumahnya. Salah satu lelaki itu tampak kekar dan beringas dengan rambut gondrong seperti preman. Lelaki yang kedua berpostur kurus dengan gigi tonggos dan sebuah tompel di pipinya. Lelaki yang terakhir berpostur gemuk dengan perut yang tambun. Ketiganya langsung mendelik melihat Erny yang membuka pintu.
“Kamu yang namanya Erny?!” tanya lelaki berpostur kekar dengan nada yang keras.
“I… iya!” jawab Erny tergagap melihat ketiga lelaki itu. Erny merasa agak takut melihat penampilan ketiga pria itu.
“Kami dengar dari Bu Marny kalau ada lowongan kerja, benar bu?!” tanya lelaki ketiga yang gemuk itu.
“Iya, benar.” Jawab Erny, ia sebenarnya ingin mempersilahkan ketiga pria ini untuk masuk ke dalam rumahnya, namun ia cemas karena bisa saja nanti malah dirinya yang dirampok atau diperkosa ketiga pria beringas ini.
Entah bagaimana, seolah bisa membaca pikiran Marny, lelaki kekar itu langsung angkat bicara.
“Kenapa kita tidak diizinkan masuk? Takut dirampok, Heh?!” sindirnya.
“Oh, iya, iya. Silahkan masuk, bapak-bapak!” ujar Erny penuh keterpaksaan.
Tentu saja ia tidak mungkin menolak ketiga pria itu dengan sindiran yang dilontarkan si kekar barusan. Tanpa dipersilahkan, ketiga pria itu langsung duduk di sofa ruang tamu rumah Erny. Erny tetap berusaha untuk menjaga kesabaran dan tampak kalem atas kekurangajaran pria-pria itu.
“Nah, jadi disini kita mau disuruh apa?” tanya lelaki kekar itu tidak sabaran.
“Iya, katanya ada kerjaan yang bagus nih!” imbuh lelaki yang gemuk.
“Begini bapak-bapak…”
“Namaku Iqbal, ini Aziz, dan yang gemuk itu Yono!” ujar pria kekar yang rupanya bernama Iqbal itu dengan keras memperkenalkan diri mereka. Erny langsung dapat mengenali ketiga orang itu dengan singkat lewat perkenalan itu karena perbedaan dan ciri khas ketiga orang itu. Si kekar bernama Iqbal, si tompel bernama Aziz dan si gendut bernama Yono.
“Lalu, kerjaan apa yang mau dilakukan?” tanya Aziz.
“Begini, bapak-bapak. Saya mau menyewa anda sekalian untuk memberi pelajaran pada seseorang.” Papar Erny.
“Oh begitu, siapa orangnya?! Mau diapakan? Dipukul atau dibunuh, heh?!” jawab Iqbal dengan nada bersemangat.
Erny tidak segera merespon reaksi Iqbal, ia hanya membuka sebuah album foto dan mengeluarkan selembar foto Vivi dari album itu dan melemparkannya kehadapan ketiga pria itu.
“Ini orangnya, target anda, namanya Vivianny, panggilannya Vivi.” Ujar Erny.
“Hah?! Cewek?” Iqbal terkejut begitu melihat foto Vivi.
“Wuiih, cakep juga nih cewek! Mukanya mirip artis.” gumam Aziz.
“Badannya juga oke, hehe… sayang kalau dibunuh nih, mendingan dientot aja, pasti enak, hehehe…” celetuk Yono.
“Ya, memang itu yang saya minta pada anda sekalian, Pak Yono.” Tutur Erny.
Seketika itu pula, raut wajah ketiga pria itu berubah dari bengis ke senyum yang memuakkan.
“Yang benar, bu?” tanya Yono setengah tidak percaya.
“Ya, untuk ini anda akan saya bayar 4 juta masing-masing.” Jawab Erny.
“Lumayan juga nih.” Gumam Iqbal.
“Wuiih, enaak, udah dapat cewek, dibayarin lagi.” celoteh Aziz
“Silahkan bapak-bapak perlakukan Vivi sesuka anda. Tapi, jangan sampai dia dibunuh. Saya mau dia tetap hidup supaya dia sengsara.”
“Weleh, weleh, kenapa begitu bu? Kalau dibunuh bukannya lebih gampang?” tanya Yono.
“Tidak! Si Vivi ini berniat merebut suami saya, lebih baik kalau dia diperkosa dulu, supaya dia tahu derajatnya! Nantinya dia bakal lebih gampang diatur dirumah ini!” jawab Erny.
“Ooh, gituu… Kalau begitu kapan kami beraksi Bu?” tanya Aziz.
“Bulan depan, rencananya suami saya dan Vivi bakal melangsungkan pernikahan mereka. Saya akan mengatur agar anda sekalian ikut ditugaskan dalam acara pernikahan ini supaya kita bisa lebih gampang menculik si Vivi.” Papar Erny serius.
“Lalu kamu sendiri?” tanya Iqbal dengan raut serius.
“Saya akan ikut menjemput si Vivi bersama anda agar ia tidak curiga.” Jawab Erny.
“Begitu semuanya selesai, uang anda akan saya bayarkan.” Lanjut Erny.
“Wuiih, sip banget! Aku ikut, Bu!” Jawab Aziz tanpa basa-basi.
“Aku juga mau.” Susul Yono.
“Oke, kalau begitu aku ikut juga!” imbuh Iqbal.
“Bagus, kalau begitu saya akan menghubungi anda sekalian untuk rencana selanjutnya. Mohon agar hal ini dirahasiakan dari siapa saja!” pinta Erny.
“Berees, bu! Tenang saja, kita bakal diam kayak patung!” ujar Yono.
“Hehe… pasti Bu! Yang penting saya dapat jatahnya Non Vivi.” Aziz menimpali.
“Ya sudah kalau begitu. Nanti anda akan akan saya kabari, untuk hari ini cukup sekian.” Tutup Erny.
Ketiga orang itu pun pergi keluar dengan raut wajah puas. Erny tidak bisa menyembunyikan kegirangannya lagi, ia pun tertawa puas melihat segalanya berjalan lancar seperti keinginannya. Sekarang ia hanya tinggal mengatur skenario saja agar ia terhindar dari tuduhan. Hari demi hari pun berlalu, Erny tetap menjaga sikap dan memainkan perannya sebagai seorang istri yang pasrah dan penurut; Sambil terus menghubungi Marny dan menyusun skenario dan rencana mereka sedetil mungkin. Johan yang terlalu fokus pada Vivi sama sekali tidak memperhatikan tingkah Erny apalagi Marny. Rencana kedua kakak-beradik itu pun semakin matang dan siap untuk dilaksanakan. Vivi, yang awalnya agak canggung dengan sikap Erny yang bersedia menerima kehadirannya, walaupun Vivi sudah berdusta padanya, akhirnya bersedia menerima “kebaikan” hati Erny untuk membantunya dalam melaksanakan pernikahan itu. Erny mempersiapkan hampir semuanya, mulai dari gaun pengantin Vivi, bridal studio dan resepsi acara itu. Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu itu tiba. Subuh jam 4 pagi, pintu rumah rumah Johan dan Erny diketuk. Johan membuka pintu dan ia tersenyum lebar saat melihat Vivi datang untuk persiapan pernikahannya.
“Wah, datangnya pagi sekali!” canda Johan.
“Iya. Katanya periasnya datang jam 5 pagi ya, Mas?” tanya Vivi.
“Kalau sudah tahu kok datangnya pagi banget? Nggak sabaran jadi pengantin nih?” kembali Johan menggoda Vivi.
“Soalnya saya mau memastikan kalau persiapannya sudah beres. Kata Kak Erny, semuanya sudah disiapkan ya, Mas?” tanya Vivi.
“Sudah, kamu tenang saja. Semuanya ada di kamar Erny kok. Ayo, ikut!” ujar Johan sambil menggandeng Vivi masuk menuju kamar Erny.
Sesampainya di kamar, Vivi takjub melihat persiapan yang disiapkan oleh Erny. Bagaimana tidak, sehelai gaun pengantin putih yang indah milik Vivi sudah tergantung dengan rapi dan semua aksesoris yang diperlukan telah tertata diatas ranjang Erny. Kosmetik-kosmetik mahal khusus untuk Vivi telah dibelikan oleh Erny dan tersusun diatas sebuah meja rias.
“Wah…” Vivi bergumam kagum melihat persiapan Erny itu.
“Bagaimana? Si Erny sampai lembur lho untuk mempersiapkan ini semua.” Ujar Johan.
“Bagus sekali… Oh iya, Kak Erny sekarang ada dimana, Mas?” tanya Vivi penasaran. Memang, dari tadi ia tidak melihat atau bertemu dengan Erny sejak pertama kali ia menginjakkan kakiknya dirumah itu.
“Wah, Erny kemarin malam tiba-tiba ada urusan keluarga yang mendadak, makanya dia tiba-tiba pulang ke rumah orangtuanya. Katanya dia tidak bisa hadir di acara hari ini”
“Eh? Kenapa saya tidak diberitahu?” tanya Vivi terkejut mendengar berita itu.
“Sudahlah, tidak apa-apa. Yang penting kan kita berdua.”
“Bukan begitu! Saya juga mau Kak Erny ikut dalam acara hari ini. Kak Erny sudah banyak membantu saya dari kecil, jadi mana mungkin saya melupakan jasanya!”
“Aah, jangan dipikirkan, Vi! Yang penting semua persiapannya beres.” Ujar Johan
“Kok Mas Johan begitu sih? Bukannya Kak Erny itu juga istri Mas?” gerutu Vivi.
“Katanya kalau saya mau menerima lamaran Mas Johan, Kak Erny tidak akan diacuhkan?” ujar Vivi mengingatkan Johan akan janjinya saat melamar gadis itu. Memang Vivi bersikeras agar Johan tidak melupakan Erny apabila Vivi menjadi istrinya.Ya, pada awalnya memang Johan yang tergila-gila pada Vivi dan berulangkali mengutarakan cintanya pada Vivi. Vivi yang sebenarnya tahu diri dan tidak ingin mengkhianati sahabatnya, selalu menolak Johan; walaupun Vivi juga lebih memilih untuk tidak memberitahu Erny akan sikap suaminya itu untuk menjaga keutuhan rumah tangga Erny. Ironisnya, Vivi sama sekali tidak tahu kalau keputusannya untuk diam itu malah menimbulkan kesalahpahaman Erny. Namun, walaupun Vivi selalu berusaha mengelak, pertahanannya akhirnya terpaksa runtuh saat Johan mengancam akan menceraikan Erny untuk mengejar cinta Vivi apabila Vivi menolak menerima pinangannya. Dengan penuh keterpaksaan, Vivi pun menerima pinangan Johan demi menjaga kelangsungan rumah tangga Erny, dengan syarat bahwa Johan tidak akan meninggalkan Erny ataupun keluarga pertamanya.
“Ya sudah, kalau begitu nanti kita akan mengajak Erny pergi bareng waktu bulan madu, bagaimana?!” bujuk Johan.
“Yang benar, Mas?” wajah Vivi mulai tampak ceria kembali mendengar tawaran calon suaminya itu.
“Iya, iya. Saya janji. Nah, kamu jangan ngambek lagi ya?”
“Ya sudah deh kalau begitu. Nanti boleh kan kalau saya menelepon Kak Erny? Saya harus mengucapkan terima kasih!” tanya Vivi.
“Boleh! Vi, kenapa sih kamu itu segan banget dengan si Erny? Bukannya dia itu cuma kenalanmu saja?” tanya Johan penasaran sambil menggerutu.
“Bukan cuma kenalan Mas…” Ujar Vivi sambil tersenyum.
“Kak Erny itu sudah seperti kakak kandung saya sendiri. Saya masih ingat, waktu saya masih kecil dulu, Kak Erny sering merawat saya karena orangtua saya sering dikantor. Bisa dibilang kalau saya berhutang budi kepadanya. Lagipula, dia sering mengajari saya banyak hal dan menolong saya, makanya saya sangat menghormati Kak Erny.” Tutur Vivi menjelaskan perasaannya.
Johan menggumam sejenak, kalau memang demikian perasaan Vivi terhadap Erny, maka wajar saja apabila Vivi tidak pernah mau menerima pinangannya. Sebelumnya Johan hanya menganggap hubungan Erny dan Vivi hanya sebatas kenalan masa kecil semata. Ia tidak pernah tahu kalau Vivi punya perasaan sedalam itu pada Erny.
“Ooh, jadi itu alasan sebenarnya kenapa kamu menolak saya dari dulu?” tanya Johan sambil tersenyum.
“Hmm, bisa dibilang begitu sih…” gumam Vivi.
“Eh?” Vivi terkejut saat tiba-tiba Johan memeluknya dari belakang.
“Ya, ya, Vivi memang anak yang baik ya?” goda Johan sambil mengusap-usap kepala Vivi. Dibelainya pergelangan tangan Vivi yang tampak lebih putih, mulus dan wangi berkat lulur yang dipakaikan pada tubuh Vivi sebelum ia datang ke rumah Johan.
“Mas Johan, sabar dulu dong. Resepsinya kan belum mulai?” ujar Vivi dengan wajah memerah.
“Ya sudah deh, Sayang! Aku tunggu ya nanti?” tanya Johan. Vivi mengangguk kecil mengiyakan permintaan Johan itu.
“Eh, Kak Vivi? Kok sudah disini?” tiba-tiba terdengar suara anak kecil dari belakang. Rupanya Joanna terbangun dari tidurnya. Johan pun segera melepas pelukannya pada Vivi.
“Hai, Joanna.” Sapa Vivi sambil tersenyum ramah.
“Joan, kok panggilnya begitu? Bukan “Kak Vivi” lagi, tapi “Mami Vivi” tahu!” tegur Johan.
“Oh, iya. Maaf ya Kak… eh! Mami Vivi!” ujar Joanna salah tingkah.
“Hihihi… tidak apa-apa kok, Joanna. Tidak usah buru-buru, panggil saja sesuka Joanna, ya?” ujar Vivi sambil tertawa kecil.
“I… iya… Mami mau menikah hari ini kan? Boleh nggak kalau Joan melihat Mami waktu pakai gaun?” tanya Joanna penasaran.
“Boleh dong. Nah, sekarang Joanna tidur dulu ya, kan masih pagi? Joanna harus istirahat yang cukup. Nanti Mami bangunkan kalau sudah selesai ya?” bujuk Vivi.
“Iya!” ujar Joanna sambil mengangguk senang. Vivi segera menuntun Joanna kembali menuju kamarnya.
Setelah berhasil menidurkan Joanna, Vivi pun kembali pergi ke kamar Erny.
“Joanna sudah tidur?” tanya Johan.
“Sudah.” Jawab Vivi ceria.
“Baguslah. Oh iya, kamu harus mulai siap-siap, sebentar lagi penata riasnya datang.” ujar Johan sambil berlalu keluar dari kamar Erny untuk mempersiapkan diri.
“Nanti Mas Johan langsung berangkat ke tempat upacara ya?” tanya Vivi.
“Iya, kalau sudah selesai, nanti kamu langsung naik saja ke mobil pengantin. Supirnya sudah tahu tempatnya.” Jawab Johan.
“Sampai ketemu nanti ya, Sayang? Saya tunggu di altar.” lanjut Johan sambil melambaikan tangannya pada Vivi yang dibalas dengan senyuman Vivi.
“Huff…” Vivi menghela nafas sejenak saat Johan menutup pintu kamar itu. Vivi langsung merebahkan dirinya sejenak diatas ranjang Erny.
Sejenak Vivi tampak terhanyut dengan pikirannya, bagaimanapun setelah ini, ia akan tinggal serumah dengan Erny. Vivi nyaris tidak percaya kalau ia sebentar lagi akan menikah dengan Johan, hari-hari itu serasa berlalu begitu cepat. Sikap Erny yang menerimanya dengan lapang sedikit memberatkan hati Vivi; apapun alasannya Vivi masih merasa telah mengkhianati Erny dengan menerima lamaran Johan walaupun sebenarnya itu juga demi kebaikan Erny. Apakah memang pilihannya ini adalah yang terbaik? Itulah pikiran yang terngiang sejenak didalam benak Vivi. Vivi menoleh kesamping, dilihatnya gaun putih yang indah yang sebentar lagi akan dikenakannya menuju pelaminan. Vivi bangkit dari ranjang itu dan berjalan menuju gaun itu, ia tersenyum sejenak saat mengamati gaun itu. Erny telah memilihkan gaun yang amat sesuai baginya. Gaun pengantin putih berbahan satin itu tampak anggun dengan model off-shoulder yang akan menampakkan keindahan bahu Vivi. Atasan gaun Vivi tampak sederhana dengan dan dengan taburan kristal-kristal imitasi kecil yang membentuk lekuk garis-garis yang cantik yang seolah terlukis dengan indah diatas kanvas berupa gaun pengantin satin itu. Sementara bordir-bordir halus dengan sulaman renda yang indah tampak menghiasi bagian pinggang dan ujung rok gaun itu, sebuah pita putih besar menutupi zipper dibagian punggung gaun pengantin Vivi. Vivi mengambil gantungan gaun itu dan menempelkan gaun itu di tubuhnya. Dilihatnya cermin meja rias dimana pantulan bayangannya terpampang dicermin itu. Vivi memutarkan tubuhnya sejenak untuk melihat apakah gaun itu pas di tubuhnya, dan tampak jelas kalau gaun itu benar-benar sesuai untuknya. Vivi membayangkan kehidupan barunya yang akan dimulai dirumah itu. Walaupun agak canggung, dilain pihak, Vivi merasa amat senang dan bahagia karena ia akan tinggal bersama Erny, ia berharap bahwa dirinya dapat membantu Erny sebisa mungkin dan itulah salah satu sebab mengapa ia mau menerima pinangan Johan selain dari ancaman Johan itu. Bagaimana nanti ia akan tinggal bersama Johan dan Erny dengan status yang sama seperti Erny. Bagaimana dirinya dan Erny akan saling bahu-membahu dalam kegiatan rumah tangga mereka, mulai dari merawat anak, memasak ataupun melayani Johan. Perlahan perasaan galau yang sempat menyelimuti hati Vivi lenyap.
TOK… TOK… tiba-tiba pintu kamar Vivi diketuk. Vivi segera beranjak membuka pintu dan dilihatnya 2 orang wanita muda yang membawa seperangkat alat rias. Dengan ceria, Vivi mempersilahkan mereka untuk masuk kedalam kamar Erny. Selama sekitar 1 jam, Vivi dirias oleh kedua penata riasnya itu. Setelah selesai, Vivi tampak kagum dengan penampilannya sebagai seorang pengantin wanita. Vivi mengenakan gaun pengantinnya yang dilengkapi dengan aksesoris-aksesoris tambahan seperti sebuah petticoat untuk menyangga rok gaun Vivi, sebuah mahkota keemasan yang menghiasi kepala Vivi dan sepasang sarung tangan putih sutra yang menyelimuti jari-jari Vivi hingga ke lengan. Rambut hitam panjang Vivi disanggul dan sebuah slayer putih bermotif bunga-bunga diselipkan pada sanggul rambut Vivi. Wajah Vivi yang dirias tampak amat mempesona. Alis mata Vivi ditebalkan sementara bulu matanya dilentikkan. Dengan sapuan ringan eye-shadow yang tampak berkilau, mata Vivi tampak berseri. Riasan bedak yang tipis dan olesan lipstik merah muda kian menekankan kecantikan alami Vivi. TOK… TOK… kembali pintu kamar itu diketuk.
“Mamii, ada om gendut yang naik mobil. Katanya mau jemput mami!” terdengar seruan Joanna dari balik pintu. “Oh, itu pasti mobil pengantinnya!” pikir Vivi.
“Iya, Joanna! Sebentar ya!” jawab Vivi sambil merapikan penampilannya terakhir kali sebelum berangkat. Setelah memastikan semuanya telah beres, Vivi segera beranjak keluar dari kamarnya; Vivi berpapasan dengan Joanna yang menunggunya. Joanna pun tampak terpana dengan penampilan Vivi.
“Waah, Mami cantik sekali!” puji Joanna.
“Terima kasih, Joanna.”balas Vivi sambil tersenyum. Vivi membungkuk sejenak, mengangkat slayer yang menutupi wajahnya dan melayangkan ciuman sayang pada pipi Joanna.
“Nanti kita ngobrol lagi ya? Sekarang Mami pergi dulu, sudah dijemput nih!” ujar Vivi. Joanna mengangguk senang mengiyakan. Vivi segera berlalu menuju mobil pengantinnya. Kali ini, ia bertemu dengan supir mobil itu yang tak lain adalah Yono.
“Wah, Neng Vivi ya? Cantik sekali, hehehe…” puji Yono sambil tertawa cengengesan.
“Terima kasih, Pak.” Jawab Vivi. Sebenarnya Vivi merasa agak jijik dan resah melihat Yono, apalagi dengan raut wajah dan sorot mata Yono yang tampak seolah hendak menelanjangi tubuh Vivi, namun Vivi tetap berusaha ramah sebisa mungkin dan menghilangkan firasat buruknya.
“Ayo, ayo Neng, silakan masuk!” Yono segera membuka pintu mobil itu dan mempersilahkan Vivi untuk masuk. Vivi mengangkat rok gaunnya dengan dibantu oleh kedua periasnya. Pintu mobil itu pun ditutup oleh Yono dan melaju membawa Vivi bersamanya.
“Neng Vivi, umurnya sekarang berapa?” tanya Yono sambil mengemudikan mobilnya.
“23, Pak…” jawab Vivi.
“Wuiih, masih muda tuh neng! Ngapain buru-buru nikah? Mendingan cari jodoh lain saja dulu, pasti banyak cowok yang mau!” ujar Yono.
“Oh ya?”
“Iya laah, saya mau kok, kalau punya istri secantik Neng Vivi, hehehe…” ujar Yono.
Vivi merasa agak risih mendengar perkataan itu, sekali lagi Vivi berusaha menghilangkan rasa tidak senangnya pada Yono dengan tersenyum kecil. Ia berusaha menganggap bahwa Yono hanya bercanda semata. Vivi pun berusaha mengalihkan perhatiannya dengan melihat pemandangan diluar dan tidak begitu menghiraukan perkataan Yono. Pemandangan jalan perumahan itu segera berganti menjadi pemandangan jalan tol, sebelum akhirnya memasuki jalan-jalan kecil dalam sebuah kompleks. Sinar matahari masih belum begitu terasa karena saat itu waktu masih menunjukkan pukul 7 pagi.
CKIIIIT…. Tiba-tiba mobil pengantin itu direm mendadak.
“Aduh!” jerit Vivi saat tubuhnya terpental menghantam kursi pengemudi.
“Ada apa sih, Pak?” tanya Vivi sambil beranjak bangkit kembali ke kursi penumpang.
“Itu, neng… ada mobil di depan…” ujar Yono. Vivi menoleh keluar dan memang terdapat sebuah mobil minibus yang berhenti tepat didepan mereka.
“Kenapa tuh, Pak? Coba diklakson saja.” Saran Vivi. Namun belum sempat Yono menekan klaksonnya, sesosok wanita turun dari mobil itu. Vivi terkejut saat menyadari kalau wanita itu tak lain adalah Erny. Erny tampak tergopoh-gopoh menghampiri mobil pengantin Vivi dan mengetuk kaca mobil Vivi. Vivi segera menurunkan kaca mobilnya itu.
“Kak Erny? Ada apa? Bukannya Kakak kembali ke Bandung kemarin?” tanya Vivi terkejut.
“Vi, tolong kakak! Kakak sekarang sedang ada masalah!” ujar Erny dengan nada panik.
“Kenapa Kak? Apa yang bisa Vivi bantu?” tanya Vivi dengan penuh kecemasan.
“Tadi Joanna ditinggalkan dirumah sendirian ya?” tanya Erny. Vivi mengangguk, Joanna memang ditinggalkan karena nanti akan dijemput oleh keluarga Johan pada saat resepsi.
“Begini, Vi! Tadi subuh kakak ditelepon oleh seseorang yang mengancam mau menculik Joanna! Dia tahu kapan Joanna sendirian dirumah!”
“Hah?! Kenapa bisa begitu kak?!”
“Dia pegawai sewaan kakak untuk acara ini! Sepertinya dia sengaja melamar untuk menculik Joanna!” terang Erny. Sontak Vivi pun ikut panik setelah mendengar penjelasan Erny, Ia juga merasa bertanggung jawab karena telah meninggalkan Joanna sendirian di rumah.
“Jadi, jadi bagaimana Kak?! Apa yang bisa Vivi bantu?” tanya Vivi dengan panik.
“Vi, kamu boleh ikut dengan kakak? Kita langsung saja kembali bareng!” tanya Erny.
“Boleh kak! Vivi ikut dengan kakak!” Vivi langsung beranjak keluar dari mobilnya tanpa pikir panjang lagi karena kepanikan yang melanda pikirannya. Vivi berjalan terburu-buru menuju minibus itu, agak sulit memang, karena sepatu hak tinggi yang dikenakannya; namun Vivi tetap berusaha untuk berjalan secepat mungkin dan ia segera masuk kedalam minibus itu.
“Ayo, Pak! Bapak ikut sekalian, supaya bapak bisa menjaga kami!” pinta Erny pada Yono.
Yono juga segera keluar dari mobilnya dan menyusul Vivi kedalam minibus Erny.
Pintu mobil minibus itu ditutup dan mobil itu segera melaju, meninggalkan mobil pengantin Vivi yang diparkir ditepi jalanan tanpa seorangpun didalamnya. Vivi duduk di kursi belakang minibus itu dengan diapit oleh Erny dikanan dan Yono dikiri. Perasaan cemas menghantui pikiran Vivi, namun ada hal lain yang juga semakin membuatnya risih, yaitu Yono yang duduk disampingnya. Vivi menyadari kalau Yono sesekali memegang rok gaun pengantin Vivi dan memainkannya dengan jari tangannya yang gemuk dan hitam itu. Yono juga kepergok beberapa kali mendekatkan wajahnya didekat Vivi dan menghirup nafas sedalam mungkin, seolah meresapi wangi tubuh Vivi itu. Vivi berusaha menjauhkan diri, namun agak susah baginya karena rok gaun pengantinnya sudah cukup banyak memakan tempat akibat petticoat yang ia kenakan.
“Maaf ya, Vi. Acaramu jadi kacau begini…” tiba-tiba terdengar suara Erny yang meminta maaf pada Vivi.
“Tidak apa-apa, Kak! Yang penting Joanna selamat, semoga kita belum terlambat…” jawab Vivi.
“Aah… coba kemarin Kakak membawa Joanna bareng ke Bandung…” ujar Erny.
“Tenang Kak, saya yakin Joanna akan selamat. Yang penting sekarang kita harus tepat waktu.” ujar Vivi sambil berusaha menghibur Erny.
“Makasih ya, Vi…” jawab Erny,
Vivi mengangguk sambil tersenyum kecil untuk menenangkan Erny. Dalam hatinya, Vivi berharap agar mereka dapat sampai tepat waktu. Minibus itu pun terus dipacu dengan kecepatan tinggi melewati jalan tol. Seiring berjalannya waktu, Vivi mulai merasa agak curiga. Seingatnya, Erny tidak punya minibus, dan yang jelas minibus yang ditumpanginya tidak kelihatan seperti mobil sewaan karena tidak ada lambang perusahaan penyewaan. Lagipula, arah mobil itu seperti berputar-putar kearah yang berlawanan dari rumah Erny.
“Kak Erny, mobil ini mobilnya siapa? Vivi belum pernah melihat mobil ini sebelumnya.” Tanya Vivi.
“Oh… ini mobil keluarga di Bandung…” tutur Erny.
“Tapi kenapa pelatnya bukan pelat Bandung? Pelat mobil ini kan B, bukan D” Vivi kembali bertanya keheranan.
“Oh… itu… mobil dinas… ya! Mobil dinas keluarga kakak, soalnya dia sering ke Jakarta!” jelas Erny. Vivi mengrenyitkan dahinya sejenak, nada suara Erny seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Vivi yang sudah lama mengenal Erny tentu saja heran dengan tingkah dan kelakuan Erny tersebut.
“Pak supir, kenapa jalannya lewat tol ini, bukannya lebih cepat kalau kita ambil tol di depan?” tanya Vivi saat minibus itu kembali melenceng dari arah yang seharusnya, namun pengemudi minibus itu tidak menjawab dan merespon pertanyaan Vivi. Erny semakin khawatir dan tampak cemas
“Eh, Vi! Itu bukannya mobil Mas Johan?!” tiba-tiba Erny berseru memecah keheningan.
“Eh?! Mas Johan?” Vivi langsung mendekatkan diri ke kaca jendela minibus itu. diamatinya sejenak keadaan dijalan, namun ia tidak melihat adanya mobil milik Johan. Vivi tidak menyadari kalau Erny mengeluarkan sehelai saputangan dari dalam tasnya.
“Hmmp?” Vivi sontak terkejut saat tangan Erny membekap hidung dan mulut Vivi dengan saputangan itu.
“MMFF!! MMM!!” Vivi berusaha berontak, namun Yono dengan sigap mencengkeram kedua tangan Vivi sehingga gerakan Vivi teredam.
“Bagus, No! Tahan terus! Jangan lepaskan dia!!” perintah Erny sambil terus menekankan saputangan itu kehidung Vivi.
Perlahan-lahan, tubuh Vivi terasa lemas dan pandangannya terasa gelap. Vivi pun akhirnya berhasil terbius oleh obat bius yang dilumurkan Erny ke sapu tangan itu. Setelah memastikan kalau Vivi telah tertidur, Erny melepaskan sapu tangan itu dari wajah Vivi. Vivi pun segera jatuh rebah kedalam pelukan Yono. Yono tampak ceria saat tubuh tambunnya ditimpa oleh tubuh lembut Vivi, Ia segera memeluk Vivi yang telah tertidur itu dan meremas-remas pantat Vivi yang montok.
“Hampir saja! Iqbal, kita langsung ke tempat Aziz.” Perintah Erny. Supir minibus itu segera mengubah haluan dan berangkat menuju tempat yang disebut oleh Erny.
“Wuiih, udah cakep, lembut pula nih cewek! Enaak, dapat penganten baru.” puji Yono
“Oi, No! Jangan buru-buru kau! Aku masih belum dapat jatah cewek itu!” bentak supir minibus itu yang tak lain adalah Iqbal.
“Aah, tenang aja Bal! Aku cuma peluk-peluk saja kok! Nanti dia kita bagi rame-rame! Hmm… Wangii” jawab Yono sambil mencium aroma wangi tubuh Vivi.
“Awas kau kalau main duluan!” ancam Iqbal sambil kian memacu kencang mobilnya sementara Vivi terus tidak sadarkan diri karena terbius sepanjang perjalanan itu dan tubuhnya terus digerayangi Yono yang mencubit-cubit gemas kulit Vivi yang putih mulus. Erny sendiri sibuk mengelap keringatnya yang mengucur deras akibat ketakutan bahwa rencananya nyaris saja gagal. Saat tersadar, kepala Vivi terasa melayang-layang dan pusing sementara tubuhnya terasa lemas tanpa tenaga. Vivi berusaha bergerak, namun kedua tangannya tidak merespon sama sekali. Tangannya serasa terikat menempel jadi satu dan hanya bisa bergerak naik turun, namun kakinya masih bisa bergerak bebas. Vivi berusaha menghentakkan kakinya, ia bisa merasakan kakinya menyentuh lantai. Berarti ia dalam posisi berdiri, namun dimanakah ia sekarang?
Vivi membuka matanya perlahan, segalanya tampak kabur seperti ada embun yang menutupi permukaan matanya, namun Vivi bisa mencium bau cat dan karton yang apek disekitar tempatnya sekarang.
“Oi, si penganten kita udah bangun tuh!” sayup-sayup terdengar suara pria di telinga Vivi. Siapa? Pikir Vivi, namun ia tidak bisa melihat jelas pemandangan sekitarnya. Ia hanya bisa melihat bayangan 4 orang yang bergerak mendekatinya.
“Hehehe… bangun juga akhirnya. Udah nggak sabar aku, moga-moga dia masih perawan!” terdengar suara laki-laki lainnya yang bergema diruangan itu. Mendengar ucapan “semoga masih perawan” itu, Vivi sontak terkejut dan tubuhnya langsung diselimuti ketakutan yang mencekam. Ucapan itu hanya berarti satu hal: yaitu ia akan segera diperkosa oleh para lelaki ini!
“Siapa di sana?! Jangan mendekat!!” Vivi berteriak dengan panik, namun bayangan keempat orang itu kian mendekat, seolah mengacuhkan dirinya.
Karena merasa keselamatan dan kehormatannya kian terancam, Vivi semakin panik dan ketakutan. Kakinya segera diayunkannya dengan keras kearah bayangan orang-orang itu dengan harapan agar tendangannya itu dapat menakuti mereka. Namun usahanya sia-sia saja, selain tubuhnya yang terasa lemas, petticoat dan rok gaun Vivi kian mengurangi kekuatan tendangan Vivi. Wajar saja kalau tendangannya meleset semua. Dengan usaha keras, Vivi kembali mengayunkan tendangannya, namun kali ini malah kakinya berhasil ditangkap oleh salah satu orang-orang itu. Habislah sudah pertahanan Vivi, kini dirinya sudah mati kutu dikelilingi oleh 4 orang itu.
“Wuiih, galak juga nih cewek! Seraam… hahaha…” ejek salah satu orang-orang itu.
“Nendang angin aja luh!” ejek suara lelaki yang lain.
“Tolong… saya mohon… jangan sakiti saya!” pinta Vivi dengan putus asa.
“Lhoo… siapa bilang mau disakitin, Neng? Kita mau bikin Neng Vivi keenakan kok!” tiba-tiba terdengar suara dari belakang Vivi.
“Hegh!” Vivi terhenyak sejenak saat lehernya dicengkeram dari belakang. Sejenak terasa hembusan nafas yang memburu menyentuh permukaan kulit Vivi.
“Ah!” Vivi terkejut saat merasakan sesuatu yang lunak dan licin menyapu jenjang lehernya dari belakang dan mengoleskan cairan yang lengket dan kental ke permukaan kulit leher Vivi. Vivi akhirnya menyadari kalau saat ini ada seseorang yang menjilati lehernya itu.
“Enaak, makin nggak sabar aku! Tenang saja neng, nanti pasti neng ketagihan kok main bareng-bareng kita!” goda lelaki yang menjilati leher Vivi itu.
“Tidak… Saya tidak mau!!! TOL…”
PLAAK! Belum sempat Vivi berteriak, tiba-tiba sebuah tamparan mendarat telak di pipinya yang mulus, tak pelak, pipi yang putih mulus itu kini tampak merah merona akibat tamparan yang keras itu.
“Siapa yang suruh kamu teriak, heh?! Dasar pelacur!” tiba-tiba terdengar suara perempuan diruangan itu. Vivi tersentak, ia merasa sangat mengenali suara itu.
“Kak… Erny…?” ujar Vivi setengah tidak percaya, suara itu sekilas mirip dengan suara Erny, namun apa mungkin sosok Erny yang ia hormati dan kagumi itu rela berbuat seperti ini?
“Buta apa? Dasar wanita penggoda!” jawab suara perempuan itu.
“Waduh…waduh… tenang bu. Kayaknya Neng Vivi nggak bisa melihat kita dengan jelas, dia kan baru bangun?” ujar seorang lelaki menenangkan perempuan itu.
“Pantas aja nendangnya nggak kuat. Setengah buta ya?” gumam lelaki yang lain.
“Hmph!” gerutu perempuan itu sejenak, ia lalu berbalik arah dan mengambil sesuatu sebelum kembali mendekati Vivi dengan sesuatu ditangannya. BYUUR!
“Aah!” Vivi menjerit saat wajahnya disiram dengan air yang dingin. Perempuan itu langsung maju dan mengucek kedua kelopak mata Vivi dengan kasar.
“Nih! Bisa lihat belum kamu haah?! Bisa lihat belum?!” ujar perempuan itu penuh kegeraman.
“Jangan! Jangan! Aduh! Sakiit… Saya mohon! Hentikan!!” Vivi menjerit-jerit kesakitan karena gosokan kasar perempuan itu di kedua belah matanya.
“Udah… udah Bu! Jangan terlalu keras, nanti bisa buta Neng Vivinya!” kembali terdengar suara lelaki yang menenangkan kemarahan perempuan itu.
Perempuan itu pun menghentikan kucekannya, sementara wajah Vivi dilap pelan dengan sebuah kain yang berbau apek. Setelah wajahnya kering, Vivi kembali membuka matanya, kini pemandangan yang dilihatnya cukup jelas. Ia bisa melihat lantai semen dan rok gaunnya yang membentang beserta kedua pergelangan tangannya yang diikat menjadi satu dengan seutas tali tambang yang tampak terjulur ke atas.
Perlahan-lahan, Vivi mendongakkan kepalanya untuk melihat wujud asli keempat bayangan itu sekaligus memastikan dugaannya. Vivi benar-benar terkejut dan amat shock saat melihat Erny berdiri dihadapannya bersama 3 orang lelaki yang buruk rupa. Vivi mengenal 2 orang diantaranya, yaitu si supir mobil pengantin yang gemuk yang sekarang berada dibelakang tubuhnya dan si supir minibus beserta seorang pria lagi berada disamping Erny, yang sedang menahan kakinya namun pria ketiga yang kurus dan bertompel itu sama sekali belum pernah dilihat Vivi.
“Kak Erny? Apa ini?! Kenapa Vivi dibeginikan?” tanya Vivi setengah tidak percaya, setengah ketakutan.
“Pakai tanya lagi! Ini hukuman buat kamu, dasar pelacur!” umpat Erny.
“Apa salah Vivi kak?! Kenapa Kak Erny jadi begini?!” Vivi semakin tidak percaya dengan sikap Erny itu. Betapa tidak, Erny yang sehari-harinya begitu baik padanya, kini berubah total seperti orang lain.
“Dasar kucing garong!! Enak saja merebut suami orang! Pura-pura tidak bersalah lagi!” umpat Erny.
“Saya nggak menyangka kalau kamu bisa setega itu! Saya merawat kamu dari kecil dan ini balasannya? Hah?! Dasar wanita penggoda!!” bentak Erny penuh emosi.
Hati Vivi seketika terasa sakit tersayat-sayat saat mendengar kata-kata Erny itu. Bukan niat hatinya untuk merebut suami Erny, namun itu lebih karena pengaruh dorongan Johan yang tergila-gila padanya. Niat baiknya yang merahasiakan pendekatan-pendekatan Johan pada dirinya malah kini menjadi bumerang yang berbalik mengancam keselamatan dirinya.
“Bukan kak… itu… itu…” Vivi berusaha menjelaskan keadaannya pada Erny, namun itu malah memancing emosi Erny. Erny beranjak mendekati wajah Vivi dan PLAAK… kembali ditamparnya pipi mulus Vivi sekali lagi.
“Diam kamu! Jangan banyak alasan!! Saya bunuh kamu kalau macam-macam!!” ancam Erny.
Vivi sadar, Erny yang sekarang bukanlah Erny yang biasanya ia kenal dan ia hormati, Erny yang ada di depannya saat ini adalah seorang wanita yang terbakar dan dibutakan oleh dendam. Vivi tidak mungkin dapat mengutarakan apapun bagi Erny dalam keadaan emosi seperti ini. Tanpa bisa dicegah lagi, Vivi menitikkan air mata saat merasakan rasa pilu karena perubahan sikap sahabatnya itu.
“Maaf… Kak… Vivi minta maaf… Tolong maafin Vivi Kak…” Vivi mengiba dihadapan Erny, Vivi berharap masih ada rasa belas kasihan dari Erny. Bagaimanapun Vivi masih bisa mengerti apabila Erny marah dan hal itu tidak lebih dari kesalahpahaman semata.
“Aah, sudah! Jangan banyak bacot kau! Sekarang nurut saja atau kami main kasar!” tiba-tiba Iqbal membentak Vivi.
“Kak, Vivi mohon…”
Mendengar Vivi yang tidak menggubris ancamannya, Iqbal langsung naik pitam, ia berjalan ke arah Yono dan mendorong pria gemuk itu menjauh dari tubuh Vivi.
“AAH!” Vivi menjerit kesakitan saat sanggul rambutnya dijambak dengan kasar oleh Iqbal.
“Heh? Kau dengar tidak?! Aku suruh kau jangan banyak bacot! Mau kusuruh preman-preman lain kesini biar kau dientot lebih lama, Heh?!” bentak Iqbal ditelinga Vivi.
“A… ampun Pak… Aduh…ampun…” Vivi kembali mengaduh karena cengkeraman tangan Iqbal di rambutnya.
“Sudah! Pakai saja dia sesuka kalian!! Ajarkan dia supaya tahu diri!!” perintah Erny yang langsung ditanggapi dengan seringai ketiga pria itu. Vivi amat shock dengan sikap Erny itu. Ia masih tidak bisa mempercayai kalau wanita yang dianggapnya seperti kakaknya sendiri itu tega berbuat sekeji ini.
“Jangan Kak! Ampun! Tolong saya, jangan perkosa saya!!” Vivi menjerit-jerit ketakutan, namun sia-sia saja. Ketiga pria itu sudah keburu berada dihadapannya, sementara Erny sama sekali tidak menghiraukan jeritan dan isak tangis Vivi, ia malah duduk disebuah kursi dihadapan Vivi untuk “menonton” pelajaran yang akan diberikan ketiga pria itu bagi Vivi.
“No, tarik talinya!” Iqbal memberi perintah kepada Yono. Yono dengan cengengesan segera memutar sebuah gagang besi yang menarik tali tambang yang mengikat tangan Vivi. Otomatis, kedua tangan Vivi tertarik keatas dan tubuh Vivi ikut melayang tergantung oleh tali tambang itu. Aziz tetap menahan kaki Vivi yang tadi ditangkapnya itu.
“Aduuh! Sakit…” Vivi meringis menahan perih ditangannya karena tubuhnya tergantung dengan bertumpu pada kedua tangannya yang terikat erat pada tambang itu.
Vivi sempat mendongak keatas dan dilihatnya tali yang mengikat tangannya terpasang pada sebuah katrol besi yang ada di langit-langit ruangan itu. Ruangan itu tampak seperti sebuah gudang yang sudah lama ditinggalkan, banyak kardus karton berserakan dan beberapa kaleng cat disekitar gudang itu, apalagi dengan adanya katrol yang kini mengangkat tubuh Vivi, sudah jelas bahwa ruangan itu adalah sebuah gudang peralatan, namun Vivi sama sekali tidak tahu dimana lokasi gudang itu karena ia dibius saat dibawa ke gudang itu.
“Wah, kakinya muluus…” Vivi tersentak saat mendengar celotehan Aziz yang sedang mengagumi kakinya. Aziz mengelus sambil mengendusi betis kaki Vivi yang masih dibalut stocking putih itu. Vivi merasa jijik dengan tingkah laku Aziz itu, namun apa dayanya? Ia tidak bisa berontak sama sekali dengan keadaan tergantung seperti ini. Aziz lalu melepaskan sepatu hak tinggi putih yang masih terpasang di kaki Vivi. Dengan rakusnya, ia segera mengemut jempol kaki Vivi.
“Ah! Jangan Pak!” Vivi menjerit, namun sia-sia saja. Jempol kakinya sudah keburu berada didalam mulut Aziz. Aziz mengenyot jempol kaki Vivi dengan perlahan sambil menjilat-jilati dan mengisap tiap jari kaki Vivi, sehingga Vivi menggelinjang pelan akibat rasa geli yang melanda kaki kanannya itu. Apalagi saat Aziz sedikit menggigiti ujung-ujung jari kakinya.
“EH?!” Vivi kembali tersentak saat kedua belah payudaranya dicengkeram dari belakang oleh sepasang telapak tangan yang hitam dan gemuk. Vivi merasakan hembusan nafas yang tidak asing lagi; Vivi menoleh kebelakang dan dilihatnya Yono sedang terkekeh-kekeh.
“Ah?!” Vivi menjerit kecil saat tangan Yono meremas payudaranya.
“Hehehe… Nah, mau bagaimana nih sekarang?” gumam Yono sambil mendekatkan tubuhnya menempeli tubuh Vivi dari belakang.
“Hentikan Pak… Jangan… AW!” Vivi mengaduh kesakitan saat Yono mencubit payudaranya yang kenyal itu.
“Bego kau, No! Kalau begitu mana bisa dia keenakan?! Biar kuajarin kau!” umpat Iqbal.
Tanpa basa-basi, Iqbal langsung mengeluarkan sebilah pisau dan menebas strap bahu gaun pengantin Vivi hingga putus. Dengan gampangnya, Iqbal melorotkan bagian dada gaun pengantin Vivi, sehingga tampaklah sebuah bra berenda berwarna putih susu yang menutupi payudara Vivi. Iqbal dan Yono mengamati dada Vivi sejenak, ukurannya memang tidak terlalu besar, namun tampak sesuai dengan bentuk tubuh Vivi. Belahan dada Vivi tampak menggemaskan dan menggoda.
“Nah, diam kau! Atau kutebas kau dengan pisau ini!” ancam Iqbal. Vivi hanya bisa menjawab dengan rintihan-rintihan menahan rasa geli di kakinya akibat jilatan Aziz. Vivi tak bisa berbuat banyak karena ia tahu Iqbal adalah tipe orang yang serius dan kejam. Ia hanya bisa pasrah sesunggukan saat pisau Aziz merobek bagian tengah bra putihnya, sehingga kedua belah payudara yang putih mulus dengan puting susu yang merah muda begitu menggoda itu kini tergantung, tersaji dihadapan Aziz dan Yono.
“Nah, begini caranya!” ujar Iqbal sambil mencengkeram dada kanan Vivi dengan telapak tangannya yang berotot.
“Ah…” Vivi mendesah pelan saat Iqbal mengelus pelan payudaranya yang mulus itu, tangan Iqbal dengan pelan meraba permukaan kulit payudaranya. Bulu kuduk Vivi langsung berdiri akibat rabaan permukaan tangan Iqbal yang kasar. Iqbal sesekali menyentil puting susu Vivi dengan kukunya yang panjang, akibatnya Vivi langsung bergidik kegelian. Sesekali terdengar desahan yang tertahan dari bibir Vivi yang mengiringi isak tangisnya.
“Aakh…” Vivi langsung melenguh saat Aziz meremas dan menekan payudaranya itu. Rasanya seperti dipijat, jauh berbeda dengan remasan Yono barusan. Mungkin hal itu karena tangan Iqbal yang kekar jauh lebih bertenaga dibandingkan tangan Yono. Iqbal terus mempermainkan payudara Vivi dengan berbagai cara. Sesekali dicubitnya puting susu Vivi ataupun ditekannya keras hingga puting susu Vivi tertekan masuk seiring dengan pijatan dan remasannya di payudara Vivi.
Diperlakukan sedemikian rupa, gairah seksual Vivi mulai bangkit secara otomatis. Walaupun ia sedang terisak menangisi nasibnya, hal itu tidak mempengaruhi rasa geli dan sedikit nikmat yang mulai menjalari tubuhnya. Dadanya serasa diairi listrik yang menyengatnya dengan rasa nikmat saat Iqbal mencubiti atau menekan putingnya. Yono yang dari tadi hanya menonton, mulai tidak sabar. Katrol itu kembali diputarnya sedikit.
“Aww! Sakiit…” Vivi kembali meringis kesakitan saat tubuhnya dikatrol keatas sehingga melayang sedikit lebih tinggi.
Yono berjalan ke arah Vivi, ia lalu berdiri di hadapan dada Vivi, memang setelah tubuhnya dikatrol, kini dada Vivi tepat berada dihadapan wajah Yono. Yono bisa melihat payudara kanan Vivi yang memerah akibat pijatan Iqbal, matanya kini tertuju pada payudara kiri Vivi yang masih putih mulus.
HAPP... Tanpa banyak dikomando, Yono segera melahap payudara Vivi itu. Bibirnya melingkari puting payudara Vivi dan payudara itu dikenyotnya dengan pelan, seolah bayi yang menyusu pada ibunya saja.
“Aduh!” Vivi menjerit saat puting susunya digigiti dan dihisap oleh Yono.
Yono terus menghisap dan menyedot payudara Vivi dengan kuat, seolah hendak menyedot keluar air susu Vivi, namun sia-sia saja karena Vivi belum pernah melahirkan, sehingga air susunya tentu belum bisa keluar. Vivi semakin kebingungan akibat rasa yang kontras antara rasa sakit-sedikit nikmat di payudara kirinya berpadu dengan kenikmatan di payudara kanannya langsung menyebar menjalari tubuhnya. Kesadaran Vivi semakin melemah akibat sensasi-sensasi yang melanda dada dan kakinya.
“Hmmp… empuk… hmp… enaak…” celoteh Yono sambil menikmati payudara Vivi itu.
“Ahk… Jangan Pak… saya mohon… hentikan Pak… Ah… aghh…” Vivi memohon dengan lirih, berharap Yono melepaskan kenyotannya itu, walaupun suaranya kini bercampur dengan desahan nikmat.
“Enak tuh, No?” tanya Aziz sambil menghentikan kulumannya pada kaki Vivi.
“Sip dah pokoknya!! Sayang nih cewek masih belum pernah bunting, coba kalau udah punya anak, kita bisa minum susunya sekarang! Montok nih coy!” celoteh Yono sambil menggoyang-goyangkan payudara Vivi.
“Bego benar kau No! Justru kalau udah bunting, berarti memeknya udah bekas! Enakan gini! Kayaknya masih perawan nih dia!” hardik Iqbal.
“Tolong… Pak… aahk… ahh… hentikan… ooh…” desahan-desahan Vivi semakin jelas terdengar dari mulutnya.
“Ah, sok alim pula kau! Minta-minta berhenti padahal keenakan!” bentak Iqbal.
“Sudah! Kalian lihat saja isi dibalik roknya! Nanti juga ketahuan dia itu perempuan macam apa!” tiba-tiba Erny memberi perintah pada ketiga orang itu.
“Wah, bener juga tuh, Bu! Bal, No! Bantuin aku dong!” ujar Aziz.
“Ah, kau sajalah, Bal! Nanti aku nyusul! Aku belum puas netekin susunya cewek ini!” ujar Yono cuek.
Iqbal segera melepas cengkeraman tangannya dari dada Vivi. Ia lalu mengambil dua buah kait besar yang tampaknya terpasang di katrol itu sebelum Vivi digantung disana.
“Mau apa kau pakai kait itu, Bal?” tanya Aziz penasaran.
“Lihat sajalah kau! Jangan banyak bacot!” bentak Iqbal.
Iqbal mulai memasang kedua kait itu pada dua utas tali. Kemudian, ia menyambungkan kedua utas tali kait itu dengan tali yang terpasang di katrol itu. Kedua kait itu sengaja diposisikan terpasang satu dihadapan Vivi, dan satu lagi dibelakang tubuh Vivi. Iqbal segera mengaitkan rok petticoat Vivi ke kait itu di kedua sisi depan dan belakang. Tuas katrol itu kembali ia putar.
“Aah?!” tubuh Vivi kembali terangkat, namun kali ini roknya juga ikut terangkat hingga ke pinggang karena kait yang terpasang di petticoat Vivi.
Pegangan Aziz dan kenyotan Yono pun terhenti akibat naiknya tubuh Vivi yang kini melayang tergantung sekitar 50 cm diatas lantai gudang itu. Akibatnya, selangkangan Vivi terpampang jelas dihadapan Erny dan ketiga pria itu. Mereka bisa melihat bagaimana selangkangan Vivi terlindungi oleh celana dalam putih berenda dan sebuah suspender yang melingkari pinggang Vivi mengaitkan stocking sutra berwarna putih milik Vivi yang sebagian menutupi paha Vivi yang mulus.
“Hahaha… keliatan jelas tuh celana dalamnya! Putih bersih tuh! Suit… suiitt…” ejek Aziz sambil bersiul.
“Pahanya mulus banget tuh! Hehehe…” komentar Yono.
“Celana dalamnya sudah basah tuh rupanya! Ngompol yah, Neng?” tambah Aziz saat melihat celana dalam Vivi yang mulai basah dengan cairan cintanya akibat rangsangan di dada Vivi barusan.
“Jangan! Jangan lihat! Saya mohon Paak…” pinta Vivi panik. Namun teriakannya kembali sia-sia saja, apalah dayanya untuk menghentikan tatapan mata ketiga hewan buas ini di selangkangannya? Bahkan untuk menurunkan rok gaunnya yang disingkap keatas saja ia tidak mampu.
“Eh?! Tidak! Jangan Pak! Jangan!!” Vivi kembali kalang-kabut saat dilihatnya Yono berjalan dan berlutut di hadapan selangkangannya yang kini tergantung di hadapan wajah Yono.
“Tenang aja Neng! Saya cuma mau tahu kalau Neng itu bersih atau nggak. Hehehe…” jawab Yono terkekeh-kekeh.
“Jangan…Aash…!!” Vivi mendesis saat merasakan hembusan nafas Yono di selangkangannya. Rupanya Yono sedang mengendusi aroma khas vagina Vivi.
“Wiih… wangi coy rupanya! Rupanya dia nggak ngompol, Ziz! Memeknya basah udah nggak sabaran pengen dientot rupanya! Hahaha…” ejek Yono.
Desiran nafas Yono diselangkangannya membuat tubuh Vivi mengigil dengan perasaan campur aduk. Entah bagaimana malunya Vivi saat itu, celana dalamnya dipamerkan dengan jelas dan diendusi sesuka hati oleh pria mesum seperti Yono, terlebih komentar-komentar cabul baik dari Yono maupun Aziz sangat mengusik hatinya. Pemandangan indah yang disajikan oleh Vivi di hadapan Yono tak pelak membuatnya tangan pria itu gatal. Dengan nakalnya, dicoleknya celana dalam Vivi dengan jarinya.
“Hyah!” Vivi tersentak saat merasakan jari gemuk milik Yono itu di celana dalamnya. Yono mencubit celana dalam sutra Vivi dengan jempol dan jari telunjuknya dan menggesek-gesekkan celana dalam itu dikedua jarinya. Yono bisa merasakan rasa sejuk akibat rembesan cairan cinta Vivi di celana dalam pengantin itu.
“Aah! Jangan Pak!!” Vivi kembali menjerit panik saat jari telunjuk Yono menelusup lewat sela-sela celana dalamnya. Jari telunjuk Yono lalu mulai bergerak pelan membelai pelan permukaan vagina Vivi.
“Aagh… aa…” Vivi mendesah pelan, jari telunjuk Yono yang gemuk itu sedikit membuat vaginanya geli. Rabaannya yang sesekali menyentuh rambut-rambut kemaluan Vivi yang halus menggelitik syaraf Vivi.
“Hehehe… udah becek banget rupanya nih, Neng? Enak ya?” gumam Yono saat merasakan permukaan vagina Vivi yang sudah lumayan basah.
“Bukan Pak… itu… emmh…” Vivi berusaha mengelak dari pertanyaan Yono, walaupun jelas kalau Vivi semakin dilanda nafsu birahinya.
“Huaah?!!” Vivi tersentak sejenak saat Yono tiba-tiba memeluk pinggangnya dan membenamkan wajahnya diselangkangan Vivi.
“A… ah?! Lepaskan Pak! Hentikan!” Vivi langsung meronta-ronta panik saat merasakan wajah Yono yang menempel di selangkangannya, namun semakin ia meronta, tekanan pada ikatan dikedua tangannya semakin keras dan demikian pula dengan rasa sakit yang ia rasakan.
“Sudah! Diam sajalah, Neng! Dienjoy aja, daripada tangan Neng Vivi makin sakit!” seru Aziz. Vivi pun terpaksa mengikuti saran Aziz, memang tangannya saat ini sudah terasa luar biasa sakit. Akibat jeratan tali tambang itu.
“Nah, gitu dong! Neng emang pintar!” celoteh Yono.
“Karena Neng Vivi nurut, saya bantuin ya, supaya tangannya Neng tidak sakit?” lanjut Yono.
Vivi merasa heran dengan tawaran Yono itu, namun ia terpaksa mengangguk menyanggupi tawaran Yono, karena tangannya sudah mulai mati rasa akibat rasa sakit itu.
“Oke deeh!” Yono tampak gembira melihat anggukan Vivi itu.
“Hyah?!” Vivi terkejut saat Yono mengangkat tubuhnya dan kini memeluk pantat Vivi dengan erat.
Tubuh Vivi terangkat tinggi dan tekanan katrol itu otomatis mengendur. Vivi merasa lega sejenak akibat terbebas dari jeratan tali itu, namun keadaannya sekarang tidak lebih baik. Dengan pelukan erat Yono di pantatnya, kini wajah Yono kian membenam diselangkangan Vivi. Parahnya lagi, kini tangan Yono semakin mudah mengakses pantat Vivi. Yono mencengkeram kedua bongkahan pantat Vivi dan sesekali meremasnya dengan gemas. Jari-jari Yono ikut beraksi dengan membelah celah pantat Vivi dan menyusupkan celana dalam Vivi sedalam mungkin di belahan pantat pengantin itu sehingga pantat Vivi terasa agak sesak. Reaksi tubuh Vivi semakin kacau akibat perlakuan Yono, rasa nikmat semakin terasa saat hembusan nafas Yono di selangkangannya melewati celana dalam Vivi dan menimbulkan sensasi rasa hangat di vagina Vivi, apalagi saat Yono mencolek-colek celana dalam Vivi.
“Ah… ugh… auh…” Vivi mendesah-desah pelan saat gairah seksualnya dibangkitkan Yono.
“Gimana No?! Jangan kelamaan kau mainnya!!” tiba-tiba terdengar bentakan Iqbal dari belakang.
“Hehehe… memeknya Neng Vivi basah nih coy! Udah siap nih dia!” jawab Yono sambil menurunkan tubuh Vivi dengan pelan sehingga Vivi kembali tergantung di katrol itu.
“Benar kan?! Memang dia itu pelacur!” umpat Erny.
“Ya sudah, ayo kita sikat!” ujar Iqbal tidak sabaran.
“Jangan… tidak!! Jangan perkosa saya!!” Vivi terisak ketakutan, namun hal itu tidak menghentikan gerak ketiga pria itu.
Dengan penuh keputusasaan, Vivi kembali menendang-nendang untuk mengusir ketiga pria itu. Namun, saat tendangannya diluncurkan, otomatis tercipta tekanan di katrol itu, sehingga tangan Vivi kian terasa perih akibat pergerakannya. Vivi pun terpaksa menghentikan tendangannya itu sebelum tangannya robek. Iqbal tak tinggal diam melihat pemberontakan Vivi. Ia segera memegang kedua mata kaki Vivi dan ditariknya turun sekuat tenaga. Akibatnya, tekanan tali yang menjerat tangan Vivi semakin kuat dan rasa sakitnya pun berlipat ganda.
“Aaah! Ampun! Sakiit!! Ampun Paak!!” Vivi menjerit sekuat-kuatnya akibat rasa sakit yang mendera tangannya.
“Siapa suruh kau tendang-tendang, hah?! Sudah berani macam-macam kau?!” gertak Iqbal.
“Tidak Paak… tolong ampuni saya!! Saya janji tidak akan macam-macam lagi! Lepaskan saya Pak! Saya mohon!!” pinta Vivi dengan putus asa. Tangan Vivi serasa sudah nyaris putus akibat rasa sakit itu,
“Hmm?! Benar tidak?! Aku lepaskan kau kalau kau tidak macam-macam waktu dientot! Gimana?!” gumam Iqbal.
“I… iya Pak! Saya akan menuruti perintah bapak!! Tolong jangan sakiti saya lagi!!” Vivi memohon sambil berlinang air mata.
“Oke! Kalau kau macam-macam, kutebas kau! Ingat itu! Sekarang diam kau!!” ancam Iqbal sebelum menghentikan tarikannya.
“Pakai suspender segala, repot nih kalau begini! Celana dalamnya bakal sulit dilepas.” Gumam Iqbal.
Setelah berpikir sejenak, pisau andalan Iqbal pun kembali beraksi. Disusupkannya mata pisau itu ke tepian celana dalam Vivi. Vivi tidak dapat berbuat apa-apa, namun ia amat ketakutan saat merasakan dinginnya besi pisau itu di kulitnya. Isak tangisnya tidak kunjung berhenti, seolah memohon belas kasihan yang tak kunjung datang dari keempat orang itu. SREET… Dengan sekali sentakan, robeklah tepian kanan celana dalam Vivi. Iqbal lalu melakukan hal yang sama dengan tepian kiri celana dalam Vivi. Tak pelak lagi, dengan sekali sentakan, celana dalam putih itu jatuh dilantai; menampakkan vagina Vivi seutuhnya di hadapan keempat orang itu. Aziz dan Yono memelototi pemandangan itu dan tak henti-hentinya berdecak kagum. Bagaimana tidak, vagina Vivi yang terawat dengan rambut-rambut halus yang rapi disekitar vaginanya tampak menggoda dengan kilatan cairan cintanya yang terpantul oleh cahaya matahari. Erny hanya mendengus kesal sambil mengalihkan pandangannya sejenak, sementara Iqbal tersenyum sinis melihat vagina Vivi dihadapannya. Vivi sendiri menutup matanya dengan lirih sambil memalingkan muka, ia sudah tidak sanggup lagi melihat ekspresi mesum para pria itu. Saat celana dalamnya dipamerkan tadi sudah lebih dari cukup untuk membuatnya malu setengah mati, apalagi saat ini yang terpampang jelas dihadapan mereka adalah vaginanya. Belum sempat Aziz dan Yono memberi komentar, Iqbal segera memberi isyarat.
“Ziz! Turunkan dia!” perintah Iqbal yang segera dituruti oleh Aziz yang dengan sigap membalikkan putaran katrol itu.
Tubuh Vivi pun diturunkan sehingga kedua kakinya menyentuh lantai, rok Vivi pun ikut turun menutupi vagina dan selangkangannya yang tadi dipamerkan. Iqbal pun melepas ikatan pada kedua pergelangan tangan Vivi. Vivi merasa lega akibat terbebas dari rasa sakit yang melanda tangannya. Mereka semua bisa melihat pergelangan tangan Vivi yang sedikit terluka gores akibat jeratan tali itu.
“Jangan coba-coba lari kau! Tempat ini terkunci!” ancam Iqbal. Vivi hanya bisa mengangguk pelan sambil sesunggukan.
Iqbal segera melepas slayer dan sanggul rambut Vivi. Tak pelak, rambut hitam lurus sepunggung milik Vivi terurai lepas. Mahkota milik Vivi tetap dibiarkan terpasang di kepala Vivi.
“Sini kau!” Iqbal menarik tangan Vivi dan menggandengnya ke sebuah meja kayu yang besar disamping Erny.
“Agh!” Vivi mengaduh saat Iqbal dengan keras menekan punggung Vivi ke atas meja itu sehingga tubuh Vivi tertungging di meja itu.
Aziz dan Yono memposisikan diri mereka disamping kiri-kanan meja itu. Mereka masing-masing memegangi tangan dan kaki Vivi dan merentangkannya lebar sehingga Vivi kini menungging dengan paha yang terbuka lebar dimeja itu. Iqbal lalu menyingkapkan rok gaun Vivi dan menyuruh Aziz dan Yono untuk memegangi rok gaun itu. Sekarang pantat dan kewanitaan Vivi terpampang jelas, tersaji diatas meja itu. Vivi sama sekali tidak berontak lagi, ia sudah pasrah menerima nasibnya itu. Ancaman Iqbal begitu kuat tertanam di pikirannya; lebih baik baginya untuk menuruti perintah Iqbal daripada kembali merasakan siksaan dari pria itu dan sudah jelas kalau Iqbal tidak akan ragu sama sekali untuk menyakiti Vivi. Tanpa menunggu komando Erny, Iqbal segera melepas pakaiannya hingga telanjang bulat. Erny melotot saat melihat kemaluan Iqbal yang luar biasa besar dan berotot, dilihatnya sejenak vagina Vivi yang masih begitu rapat. Erny bergumam sejenak memikirkan bagaimana penis besar itu akan menembusi liang vagina Vivi yang masih sempit itu.
Vivi sendiri tidak bisa melihat kearah belakang karena lehernya ditekan ke meja itu oleh Aziz. Ia hanya hanya menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya yang sebentar lagi akan kehilangan mahkota kehormatannya.
Iqbal berlutut di hadapan vagina Vivi, dijulurkannya lidahnya yang panjang kearah liang vagina Vivi.
“Ah…” SLURP! Terdengarlah suara jilatan perdana Iqbal di bibir kewanitaan sang pengantin yang diiringi lenguhan Vivi.
Iqbal tidak berhenti disitu, dibukanya bibir kewanitaan Vivi dengan kedua jempolnya dan ditariknya kearah berlawanan dengan perlahan.
Vivi hanya meringis saat merasakan otot liang vaginanya yang melebar. Iqbal memposisikan kepalanya di bawah liang vagina Vivi dan kembali memasukkan lidahnya ke dalam vaginanya.
“Eegh…” Vivi menggelinjang kegelian saat lidah Iqbal mencolok-colok lubang pipis Vivi.
Setiap tusukan di lubang pipisnya, menimbulkan kejutan gelombang kenikmatan di tubuh Vivi. Vivi jelas amat kebingungan dengan reaksi tubuhnya itu.
“Tenang, Neng… rileks saja supaya enak.” Mendadak terdengar bisikan Yono ditelinga Vivi.
Walaupun ia ketakutan dan membenci pria itu, Vivi tidak punya pilihan lain selain mendengarkan nasihat Yono. Vivi pun melemaskan otot-otot tubuhnya, Aziz dan Yono bisa merasakan tenaga Vivi yang semakin mengendur dan melemasnya kaki dan tangan Vivi. Benar saja, rasa gelombang rasa nikmat itu kian terasa saat tubuh Vivi rileks, tubuh Vivi bergetar saat rasa nikmat itu semakin menyebar ke seluruh tubuh Vivi. Desahan dari bibir Vivi pun semakin keras bersamaan dengan jilatan itu dan tenggelamnya kesadaran Vivi dalam sensasi kenikmatannya.
“Hyaah!” Vivi kembali menjerit saat merasakan sengatan rasa nikmat yang lebih kuat dan belum pernah ia rasakan seumur hidup.
Rupanya Iqbal berhasil menemukan klitoris Vivi dan mulai memainkan klitoris pengantin wanita itu dengan lidahnya, akibatnya semakin banyak cairan cinta yang meluap keluar dari vagina Vivi.
“Agh!” tubuh Vivi sedikit terhentak saat lidah Iqbal itu menjepit klitorisnya.
“Nah, gitu dong Neng! Enak kan?” tanya Aziz cengengesan.
“Aahm… ooh… ja…ngan… aah…” Vivi hanya mendesah-desah perlahan akibat rasa nikmat saat vaginanya dicicipi seperti itu.
PLAAK!! “Aduh!!” Vivi tiba-tiba menjerit saat Iqbal menampar bongkahan pantatnya.
“Aah! Sok alim kau! Jawab yang jujur! Enak nggak rasanya?!” bentak Iqbal.
“I… iyaah… enak paak… akhh… Vi… Vivi sukaa…” jawab Vivi terbata-bata dengan amat terpaksa yang langsung disambut dengan ledakan tawa ketiga pria itu.
“Wah, cepat juga ya terangsangnya Neng?”
“Ya iyalah! Sudah basah kayak gini, masih aja pura-pura nggak suka!!” cibir Iqbal sambil menggosok pelan vagina Vivi dan menimbulkan suara yang becek.
“Aahn… aah… aahh…” Vivi mendesah-desah keras saat kepala Iqbal maju-mundur menyentuh vaginanya.
Vaginanya serasa mati rasa akibat hisapan Iqbal itu, sementara cairan cintanya terus meluap keluar seolah air terjun yang memuaskan dahaga Iqbal. Tubuh Vivi semakin menggeliat kegelian seolah ada sesuatu yang hendak meledak keluar dari tubuhnya dan tak butuh waktu lama bagi tubuh Vivi untuk mencapai puncak kenikmatannya.
“OOOKH… AAAH…” dengan diiringi lenguhan dari bibir Vivi, seluruh otot tubuhnya menegang keras dan rasa nikmat yang sedari tadi menyerang vaginanya meledak keluar dari tubuhnya mengiringi muncratnya cairan cinta Vivi untuk pertama kalinya, Vivi pun mencapai orgasmenya. Iqbal segera membenamkan wajahnya ke vagina Vivi. Kali ini, ia mulai menghisap-hisap cairan cinta Vivi.
“Hahahaa… muncrat juga dia! Rupanya keenakan nih cewek!!” ejek Aziz. Wajah Vivi sudah merah padam, betapa malunya dirinya saat orgasme sambil dilihat oleh ketiga pria itu. Hal ini jauh lebih memalukan daripada saat celana dalam dan vaginanya dipamerkan barusan.
“Gimana rasanya, Bal?” tanya Yono penasaran.
“Enak, gurih!! Beda jauh dengan perek sewaan!” jawab Iqbal.
“Hei, sampai kapan kalian mau menyimpan keperawanan dia, hah?! Dari tadi dimainkan melulu, kalau mau main terus sewa saja pelacur diluar! Jangan sampai percuma saya sediakan pelacur gratis untuk kalian!!” ujar Erny tak sabaran.
“Ah, cerewet! Aku juga sudah tak sabar mau mulai beraksi, jadi jangan banyak bacot!” bentak Iqbal.
“Oi, aku juga mau dong!” pinta Yono.
“Aku juga!” sambung Aziz.
“Aah! Kau tunggu dulu No! Giliran kau nanti! Ziz, kau boleh ikut!” jawab Iqbal. Yono hanya bisa merengut dengan kesal, namun ia tampak tidak berani melawan Iqbal. Aziz dengan riangnya segera melepas celananya hingga kemaluannya yang sudah berdiri tegak dari tadi terpampang jelas.
“Nah, ayo bangun kau!” hardik Iqbal sambil menarik lengan Vivi sehingga Vivi kini berdiri.
Nafas Vivi tampak tersengal-sengal dan memburu, matanya yang sembab tampak terus menitikkan air mata kepedihan. Aziz segera duduk diatas meja itu, sementara Iqbal menarik pinggang Vivi kebelakang.
“Ayo, nungging kau!” perintah Iqbal.
Vivi segera menuruti perintah Iqbal saat pinggangnya ditarik kasat oleh Iqbal. Dengan perlahan, Vivi memundurkan pantatnya sambil membungkukkan badan sehingga ia kembali menungging. Yono kembali menyingkapkan rok gaun Vivi, namun kali ini rok gaun itu disisipkan dengan beberapa butir peniti agar tidak jatuh.
“Ayo, buka lebar kakimu!” tambah Iqbal.
Vivi dengan patuh melebarkan kakinya seperti sebelumnya; sementara Aziz menarik tangan Vivi dan mencengkeramnya erat sehingga kini Vivi menungging dihadapan meja itu sambil menumpukan tubuhnya pada cengkeraman tangan Aziz dan dengan vagina dan pantatnya tersaji dihadapan Iqbal. Perlahan-lahan, Iqbal memposisikan penisnya dihadapan bibir vagina Vivi. Penisnya sengaja dijepitkan di bibir vagina Vivi yang terpaksa membuka akibat penis besar milik Iqbal. Vivi mengigit bibirnya penuh kecemasan dan ketakutan. Ia bisa merasakan diameter luar biasa penis Iqbal yang terjepit di bibir vaginanya, sementara Erny melihat pemandangan itu dengan seksama.
“Oo…keh!” Iqbal mulai mendorong pinggangnya maju dengan perlahan. Vivi semakin ketakutan dan tangisannya kian menjadi. Keringat dingin mengucur deras dari sekujur tubuhnya saat merasakan vaginanya kian membuka dan penis itu semakin bergerak kedalam kewanitaannya; perlahan tapi pasti.
“Uuh… AAGH!!” terdengarlah jeritan pilu dari bibir Vivi saat keperawanannya terenggut. Rasa sakit yang amat perih segera menjalar ke setiap simpul syaraf tubuh Vivi, mengakibatkan tubuhnya menegang keras.
Iqbal menghentikan gerakannya sejenak saat melihat reaksi Vivi yang kesakitan.
“Heh, masih perawan nih rupanya! Seret banget memeknya!” seru Iqbal dengan puas.
“Sa… sakiit… ampun… Pak…” Vivi mengaduh kesakitan akibat rasa perih dan sesak di vaginanya.
“Diam saja Neng, nanti juga keenakan kok! Dijamin Neng Vivi bakal ketagihan! Sekarang isep punya saya ya, Neng?” ujar Aziz sambil mendorongkan pinggangnya kehadapan Vivi sehingga kemaluannya terpampang dihadapan wajah Vivi. Vivi merasa jijik dan mual saat melihat penis hitam yang amis itu dihadapan wajahnya.
“Tidak… saya tidak mau… hhh… AAH!” Vivi langsung menjerit saat Iqbal mulai melakukan gerakan maju-mundur sehingga penisnya terpompa dalam vagina Vivi.
“Sakit! Sakit! Ampun!! Tolong saya Pak!! Kak… kak Erny!! Tolong!!!” jerit Vivi dengan pilu, namun Iqbal terus saja menggerakkan penisnya tanpa ampun menyeruduk hingga kedalam rahim Vivi. Sementara Erny tersenyum sinis sambil mencibir Vivi.
“Tuh, memang pelacur cocoknya begitu! Pantas buat kamu!!” cibir Erny.
“Aakh!” Vivi mengerang kesakitan saat rambut panjangnya tiba-tiba dijambak oleh Aziz.
“Ayo, isep Neng! Atau Neng mau saya sakiti juga?” ancamnya. Vivi menggeleng sambil menangis kesakitan, ia tahu kalau usahanya untuk memohon belas kasihan akan sia-sia saja. Satu-satunya yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah mematuhi perintah orang-orang itu agar mereka tidak bertindak lebih jauh. Dengan keterpaksaan luar biasa, Vivi pun membuka mulutnya dan perlahan melahap ujung penis Aziz.
“Ooh… hangaat, lembuut…” gumam Aziz saat merasakan ujung penisnya dalam mulut Vivi.
“Sekarang masukin mulutnya lebih dalam, Neng! Mainin juga pakai tangan Neng Vivi!” perintah Aziz.
Vivi dengan berat hati memajukan kepalanya menjemput penis Aziz yang panjang. Mulutnya yang mungil agak kesulitan menghadapi penis panjang milik Aziz. Aziz yang agak tidak sabaran tiba-tiba memeluk kepala Vivi dan menghantamkannya maju agar penisnya terbenam sedalam mungkin.
“Mmph! Ohokk… okh…” Vivi langsung tersedak akibat hantaman mendadak penis Aziz di mulutnya. Penis Aziz langsung termuntahkan dari mulut Vivi.
“Ziz! Kau mau bunuh dia apa?! Kasihan Neng Vivinya!” bentak Yono dengan gusar.
“Ah, maaf, maaf… nggak nyangka mulutnya mungil banget! Hehehe…” ujar Aziz sambil kembali memasukkan penisnya kedalam mulut Vivi. Vivi pun kembali mengisap-isap ujung penis Aziz
“Oi! Jangan sok alim kau, No!! Nanti jatahmu ada! Jangan ganggu kami, gembrot!!” bentak Iqbal. Yono hanya mendengus kesal sejenak, namun ia tidak mau menantang Iqbal. Dilihatnya Vivi sedang kewalahan dengan gerakan Iqbal di vaginanya dan penis Aziz di mulutnya. Dari eskpresi wajah Vivi, amat jelas kalau wanita itu sedang dilanda kesakitan yang amat sangat. Yono kembali mengampiri Vivi sejenak.
“Tenang sedikit, Neng! Jangan dipaksakan dulu, nanti malah makin sakit. Coba atur nafas sedikit.” Kembali Yono berbisik memberi saran pada Vivi.
Vivi yang tidak punya pilihan lain segera menuruti nasihat Yono sekali lagi. Vivi tidak lagi menegangkan tubuhnya, ia berusaha untuk rileks dan mengendurkan ketegangan tubuhnya sambil mengatur pernafasannya. Nasihat Yono rupanya efektif, rasa sakit itu semakin berkurang dan kini malah terasa ada kenikmatan yang menjalari tubuh bagian bawah Vivi saat penis Iqbal menggesek kewanitaannya. Perlahan-lahan, Vivi semakin menikmati persetubuhannya dengan Iqbal.
“Mmm… mmph… mph…” terdengar desahan penuh kenikmatan dari bibir
Vivi yang masih sibuk mengoral penis Aziz. Vivi semakin kehilangan kontrol atas tubuhnya sendiri. Walaupun pikirannya berusaha untuk menolak perlakuan yang ia terima, tubuhnya malah tampak tidak bisa terlepas dari kenikmatan yang ia rasakan bersama Iqbal. Hal itu secara tidak langsung berdampak pada cara Vivi memainkan penis Aziz. Vivi yang pada awalnya canggung, mulai menyesuaikan diri. Ia mengulum penis itu dalam-dalam sambil memijatnya dengan bibirnya yang lembut. Vivi hanya berusaha memuaskan Aziz berdasarkan pendengarannya. Saat merasa Aziz mendesah kenikmatan, Vivi langsung mengingat caranya mengulum penis Aziz saat itu, Vivi terus mencari berbagai cara agar Aziz bisa cepat berejakulasi dan menghentikan pemerkosaan ini.
“Wuaah… enaak… terus Neng!” terdengar suara Aziz yang tampak keenakan.
Vivi langsung memfokuskan gerakan bibirnya dengan cara menghisap penis itu sedalam mungkin sehingga tubuh Aziz pun langsung tegak menyelami kenikmatan hisapan mulut Vivi.
“Mainin juga pakai tangannya, Neng!” pinta Aziz yang langsung dituruti oleh Vivi, penis Aziz dikeluarkan dari mulutnya dan tangan Vivi langsung beraksi. Dipegangnya batang penis Aziz dan dikocoknya pelan. Sutra yang halus pada sarung tangan Vivi memberi sensasi nikmat tersendiri bagi penis Aziz.
“Aah… ahn… aahh…” Vivi terus mendesah keenakan sambil mengocok penis Aziz.
Iqbal tampak sedang menggoyang penisnya dengan pelan didalam kewanitaan Vivi. Pinggang Vivi dicengkeram erat sementara Iqbal menggoyangkan pantatnya. Akibatnya, Vivi merasa vaginanya diaduk-aduk oleh penis Iqbal dan sensasi kenikmatan yang ia rasakan kian menjadi-jadi, Vivi juga sesekali memundurkan pantatnya secara otomatis seolah meminta agar penis Iqbal itu terus menjelajahi liang vaginanya.
“Tuh, keenakan juga kan diperkosa? Mukanya saja yang tampak baik, aslinya penggoda!” umpat Erny saat melihat reaksi tubuh Vivi.
Vivi berusaha sekuat tenaga untuk mengontrol tubuhnya, namun sia-sia saja. Tubuhnya saat ini secara otomatis terus bergerak mencari kenikmatan tiada tara di kewanitaannya yang pertama kalinya ia rasakan. Vagina Vivi seolah tidak rela melepaskan penis Iqbal barang sedetikpun; walaupun pikirannya terus memberontak tidak terima terhadap perlakuan Iqbal dan Aziz itu.
“Oi, jawab dong, Neng. Enak nggak dientot? Hehehe…” ujar Aziz sambil melepaskan penisnya dari cengkeraman Vivi.
“Ookh… Iyaa… enaak sekali… nikmaat… aah…” gumam Vivi secara otomatis, kembali tawa para pria itu meledak sekeras-kerasnya.
“Bener lho, Bu Erny! Rupanya Neng Vivi emang suka dientot!” ejek Aziz.
“Saya bilang juga apa?! Dia memang pelacur!!” umpat Erny.
“Ya sudahlah, kalau begitu, kau saja main duluan sama dia, Bal! Lagi keenakan tuh cewek ini!” usul Aziz.
“Okelah… nanti… giliran kau, Ziz! Rrmh…” gumam Iqbal sambil menggeram menghentakkan penisnya dalam vagina Vivi.
“Ah?!” Vivi tersentak saat puting susunya tiba-tiba dicubit.
Dilihatnya sejenak ujung jari yang menjamah payudaranya itu dan ia bisa melihat Aziz yang terkekeh-kekeh sedang memencet kedua puting susu Vivi dengan jari-jarinya dan menarik puting susu Vivi seolah memerah sapi, membuat dada Vivi semakin terasa nikmat. Kini dengan dua sensasi sekaligus di dada dan vaginanya, Vivi sama sekali tidak berdaya. Rasa nikmat pada vagina dan payudaranya kini menjalari tiap syaraf tubuh bagian atas dan bawahnya. Orgasme kedua Vivi terasa semakin mendekat dan…
“OOOKH… AAAA…” Vivi mendongakkan kepalanya dan melenguh keras.
Seluruh sendi tubuhnya menegang keras dan dinding-dinding vaginanya seolah merapat menjepit penis Iqbal saat orgasmenya meledak. Cairan cinta Vivi yang hangat menyembur deras, membuat penis Iqbal terasa semakin becek didalam vagina Vivi.
Tubuh Vivi pun langsung melemas setelah orgasme, ia nyaris ambruk apabila Yono tidak segera menopang perut Vivi; Aziz pun langsung menarik tangan Vivi agar Vivi tidak ambruk ke lantai.
“Haah… hah… haa…” Vivi tersengal-sengal setelah orgasmenya meledak. Vivi tidak bisa berbuat banyak saat Iqbal mempercepat gerakannya dalam vaginanya. Nafas Iqbal yang kian memburu dan gerakannya yang semakin liar memberitahu Vivi bahwa Iqbal sebentar lagi akan berejakulasi. Vivi mengumpulkan segenap tenaganya untuk menjauhkan tubuhnya dari Iqbal, namun Iqbal terus menempeli tubuh Vivi.
“Le… paskan… Pak… jangan didalam… aah…” pinta Vivi.
Saat mendengar permintaan Vivi, Iqbal malah semakin mempercepat tempo gerakannya.
“Jangan… jangan… Pak… aahn… aah… hentikan… akh.. keluarkan Pak…”
“Ce…re…wet… Kau! Eergh…!!” Iqbal menggeram sejenak.
“Kyaah!” Vivi kembali menjerit saat ia merasakan semacam cairan yang hangat dan kental menyembur kedalam rahimnya. Kewanitaan Vivi yang baru saja orgasme masih penuh oleh cairan cintanya. Ditambah dengan semburan sperma Iqbal, membuat vaginanya tidak mampu menampung cairan itu. Akibatnya, cairan cinta Vivi yang bercampur dengan sperma Iqbal menetes keluar dari vaginanya dan membasahi lantai. Vivi benar-benar kehabisan tenaga, tak ayal, saat Iqbal melepas penis dan pegangannya pada tubuh Vivi, Vivi langsung ambruk kelelahan.
“Agh… haah… hah… haahh…” nafas Vivi terdengar memburu dan jantungnya berdegup kencang.
“Gimana? Enak kan, pelacur?! Moga-moga kamu hamil!” sindir Erny sambil beranjak mendekati Vivi.
“Kak Erny… Aduh!” Vivi kembali meringis saat Erny menjambak rambut panjangnya.
“Rasakan!! Ini akibatnya kalau kamu merusak rumah tangga orang!!” ujar Erny sinis.
“Kak… tolong… hahh… dengarkan Vivi… Kak…” pinta Vivi sambil tersengal-sengal kelelahan.
“Diam kamu! Jangan coba bicara!! Saya sudah muak mendengar celotehan kucing garong seperti kamu! Pura-pura alim padahal keenakan diperkosa, dasar wanita murahan!”
“Tapi Kak… Vivi…” Erny kembali naik pitam, Ia langsung menjambak rambut Vivi dengan keras dan PLAAK… sebuah tamparan keras tanpa ampun kembali mendarat di pipi Vivi.
“Iqbal, bantu saya sebentar! Mulutnya perlu diajari supaya diam!” perintah Erny. Iqbal yang baru saja berejakulasi langsung membopong tubuh Vivi keatas dan meletakkan kepala Vivi dihadapan penis Aziz yang masih tegak perkasa.
“Ayo, peluk pinggang Aziz!” perintah Iqbal. Vivi mengulurkan dan melingkarkan tangannya ke pinggang Aziz sehingga ia memeluk pinggang pria itu seperti yang diperintahkan Iqbal. Akibatnya, penis Aziz kini semakin dekat dihadapan wajah Vivi.
“Nah, tadi Neng Vivi dan si Iqbal udah konak, sekarang giliran aku ya, Neng? Isep lagi ya? Hehehe…” goda Aziz. Vivi hanya membuang mukanya dari penis Aziz dengan penuh perasaan malu dan terhina. Seperti yang diperintahkan Erny, Vivi diperlakukan bak seorang pelacur saja disana; mereka sama sekali tidak menghiraukan perasaan dan rasa sakit yang dialami Vivi.
PLAK! “Awh!” Vivi mengaduh saat Iqbal menepuk bongkahan pantatnya dan meremasnya pelan.
“Ayo, maju! Tunggu apa lagi kau?! Cepat!!” gertak Iqbal sambil mendorong pantat Vivi kearah depan.
“Hehehe, yang seperti tadi aja Neng. Enak kok!” tambah Aziz.
Dengan berat hati, Vivi kembali melahap penis Aziz dengan mulutnya. Seketika itu pula penis Aziz kembali diliputi sensasi dari rasa basah dan hangat dalam mulut Vivi yang melahap penisnya dengan lembut.
“Oogh… enak… nikmaat… sepongannya okee, coy!” gumam Aziz keenakan.
“Mmph… mmm…” Vivi terus memainkan penis Aziz sebaik mungkin agar ia bisa terbebas dan mengistirahatkan tubuhnyayang kelelahan.
Penis Aziz memenuhi tiap senti rongga mulut Vivi yang mungil. Vivi mulai menggerakkan kepalanya maju-mundur seperti anggukan sambil erat memegangi pangkal penis Aziz dengan jari-jari lentiknya. Hal itu semakin merangsang Aziz yang merasakan kenikmatan itu hingga ke ubun-ubunnya. Saat Vivi memasukkan penis Aziz kedalam mulutnya, rasa ketat yang dihasilkan tidak kalah dengan vagina akibat tekanan erat dari jari-jari Vivi dan kehangatan dalam mulutnya.
“Agh… enaak… sekalii…” Aziz kian terlena dengan hisapan Vivi pada penisnya itu. Terdengar suara-suara erotis saat penis Aziz berdecak dengan bibir dan ludah Vivi. Sekali lagi, Aziz meraih payudara Vivi dan meremasnya pelan.
“Mmh! Mmm…” terdengar suara rintihan kecil dari mulut Vivi yang masih dijejali penis; wajah Vivi tampak tersiksa akibat sentuhan tangan Aziz di payudaranya itu.
Aziz yang sekarang berada di langit ketujuh, tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Dipeganginya kepala Vivi dengan erat dan menekan penisnya semakin dalam kedalam rongga mulut Vivi.
“Isep Neng… telan semuaah…” Aziz menggeram sejenak dan menekan keras kepala Vivi agar tidak kabur. Vivi tidak bisa mengelak dan tidak berdaya menghadapi nasbnya. Sesaat kemudian, pperma Aziz pun langsung menyemprot hingga kedalam kerongkongan Vivi.
“Mmgh… ghk…” Vivi tampak tersedak kecil saat sperma Aziz menyembur. Aziz tetap menekan kepala Vivi dan tidak menghiraukan suara batuk dari mulut Vivi.
“Telan semua, Neng! Harus bersih, baru kulepaskan!” perintah Aziz.
Vivi dengan sekuat tenaga berusaha menelan sperma Aziz dan akhirnya seluruh sperma itu berhasil ditelannya dengan perasaan luar biasa mual akibat bau amis sperma Aziz. Aziz pun mengeluarkan penisnya dari mulut Vivi.
“Uhukk… ahk… ahkk…” Vivi terbatuk-batuk dan nyaris muntah karena bau sperma Aziz yang menyengat. Tubuh Vivi kembali lunglai dan kini roboh terlungkup di lantai. Rok gaun bagian belakang Vivi masih tersingkap akibat peniti yang terpasang di rok gaunnya itu sehingga menampilkan bulatan pantat Vivi yang montok dan menggemaskan.
“Ayo, giliran Yono masih belum!” hardik Iqbal sambil menarik tangan Vivi. Vivi sudah nyaris pingsan kelelahan. Tubuhnya yang kehabisan tenaga sudah seperti sebuah boneka yang rusak dan tidak berdaya sama sekali saat tubuhnya hendak diseret oleh Iqbal. Iqbal mendirikan tubuh Vivi sejenak, namun kaki Vivi tampak bergetar akibat rasa sakit yang mendera kewanitaannya. Vivi pun kembali ambruk ke lantai. Melihat Vivi yang kesakitan, Yono segera pasang badan.
“Bal, tunggu sebentar! Biar aku yang urus Neng Vivi!” usul Yono.
“Ya sudahlah! Terserah kau mau apakan dia! Toh, sekarang giliran kau, No!” ujar Iqbal sambil melepaskan tangan Vivi dan mengambil celananya yang terserak di lantai.
Yono menghampiri Vivi dan dilihatnya tubuh pengantin yang tidak berdaya lagi itu terlungkup di lantai gudang yang dingin.
“Neng… Neng Vivi! Neng nggak apa-apa?” tanya Yono. Vivi merasa sedikit lega karena Yono tampak amat perhatian dengannya, ia berharap Yono bisa mengasihaninya dan melepaskan dirinya dari siksaan fisik akibat pemerkosaan itu beserta siksaan batin Vivi akibat perlakuan dan hinaan Erny, seorang wanita yang amat ia hormati dan kagumi.
“Pak…Yono… tolong lepaskan saya Pak… saya tidak tahan lagi…” pinta Vivi memelas dengan berlinang air mata.
“Neng Vivi baik-baik saja kan? Neng masih kuat? Bisa lari?” tanya Yono dengan perhatian. Harapan Vivi semakin bertambah untuk kabur dari mimpi buruk ini saat mendengar pertanyaan Yono itu apalagi mengingat Yono sering membantu meringankan penderitaan Vivi saat ia disiksa oleh Erny, Iqbal dan Aziz.
“Iya Pak… saya masih bisa lari… sedikit…” jawab Vivi sambil mengangguk pelan.
“Syukurlah…” jawab Yono lega sambil menghela nafas.
“Tadinya saya takut kalau Neng Vivi sudah kecapekan jadi saya nggak kebagian jatah! Syukurlah, rupanya Neng Vivi masih kuat jadi masih bisa saya entot! Maklumlah, Neng. Giliran saya yang terakhir. Hehehe…” ujar Yono sambil menyeringai.
Seketika itu pula seluruh harapan Vivi yang tadi bersemi langsung runtuh dalam sekejap; Vivi merasa terjerembab kedalam lubang gelap gulita yang mencekam saat mendengar perkataan Yono itu. Rupanya perhatian yang sedari tadi ditunjukkan oleh Yono adalah untuk memastikan bahwa Vivi masih berstamina untuk melayani nafsu lelaki gendut ini. Yono khawatir Vivi tidak bisa disetubuhi lagi akibat perlakuan Iqbal dan Aziz sebelumnya. Akhirnya Vivi tahu kalau lelaki ini tidak ada bedanya dari kedua rekannya barusan. Justru Yono tampak lebih bejat karena terang-terangan menunjukkan kemunafikannya dan sifat egoisnya untuk menikmati tubuh Vivi.
“Ti… tidak… Pak Yono… jangan… Pak…” pinta Vivi dengan amat ketakutan. Tidak terbayang betapa hancurnya perasaan Vivi saat itu. Perlakuan kejam dan hinaan Erny yang menyayat relung hatinya, pemerkosaan yang merenggut kehormatannya dan tindakan Yono yang mempermainkan harapan dan perasaannya. Kini Vivi sama sekali tidak tahu harus berbuat apa, perasaannya sudah campur aduk dan ia tampaknya hanya bisa pasrah untuk digilir sekali lagi; kali ini oleh Yono, si gendut yang munafik itu.
“Ooi, bantuin aku dong!” seru Yono pada Iqbal dan Aziz yang sedang memakai pakaian mereka masing-masing. Kedua lelaki itu segera datang menghampiri Vivi dan memanggul tubuh Vivi, sementara Yono melepas seluruh pakaiannya hingga telanjang bulat.
“Mau diapakan nih cewek? Udah letoi gini, hehehe…” tanya Aziz.
“Ah, dia cuma pura-pura aja! Katanya tadi dia masih bisa lari tuh, ya berarti bisa dientot juga doong? Hahahahaa…” tawa Yono terdengar tergelak-gelak.
“Tumben kau pintar, No! Tadi kukira kau mau sok macam-macam denganku!” ujar Iqbal.
“Ya nggak laah… Kita kan sohib! Lagian siapa mau ngelepasin cewek secantik Neng Vivi?” jawab Yono.
“Bagus! Nah mau diapakan nih cewek, kawan?”
Yono mulai berjalan berputar mengelilingi tubuh Vivi yang masih disanggah oleh Iqbal dan Aziz. Yono terkekeh-kekeh saat melihat tubuh Vivi yang terpampang bebas dihadapannya. Di tubuh bagian depan, payudara Vivi yang ranum masih tampak tergantung bebas dengan bekas cubitan yang memerah disekitar puting susunya sementara saat Yono berjalan dibelakan tubuh Vivi, pantat Vivi yang montok dan menggoda tampak terlihat jelas karena rok gaunnya yang masih tersingkap dan terjepit oleh peniti yang terpasang erat.
“Ahgh!” Vivi menegang sedikit saat tangan Yono yang kasar terasa meraba celah pantatnya.
“Mulut dan memeknya udah disikat kalian! Ya, aku ambil ini saja deh! Hehehe…” ujar Yono sambil memasukkan jari telunjuknya yang gemuk kedalam celah pantat Vivi.
“Tidak… Pak… jangan…” pinta Vivi lirih.
“Ah, bodoh aku! Kenapa aku ambil mulutnya tadi?!” umpat Aziz.
“Sudahlah, jangan banyak kau pikirkan! Yang penting pantatnya masih perawan supaya bisa kuentot! Hehe…”
Yono lalu membaringkan tubuhnya diatas meja kayu tempat Vivi tadi menungging. Meja kayu yang lebar itu cukup untuk menampung tubuh besar milik Yono, lagipula meja itu cukup padat dengan rangka besi sehingga mampu menopang berat badan Yono.
“Katanya capek ya, Neng? Duduk diatas sini doong…” goda Yono sambil melambai-lambaikan tangannya.
“Ti… tidak… jangan Pak! Ampuni saya! Tolong lepaskan saya Pak… Tolong…” Vivi berusaha meronta, namun tenaganya sudah nyaris terkuras habis. Lagipula Iqbal langsung mencengkeramkan tangannya dileher Vivi, seolah mengancam akan mencekik Vivi apabila wanita itu berontak. Akibatnya, Vivi tidak bisa berbuat banyak saat tubuhnya dibopong untuk menduduki tubuh Yono.
Iqbal dan Aziz membawa tubuh Vivi mundur kearah Yono sambil menekukkan lutut Vivi.
Vivi lalu dipaksa jongkok di hadapan Yono, permohonan lirih Vivi sia-sia saja saat Aziz mulai mencolek vagina Vivi sambil menampung cairan cinta Vivi yang keluar membasahi kewanitaannya itu. Setelah tangannya cukup basah, Aziz segera mengusapkan cairan cinta Vivi ke celah pantat wanita itu.
“Akh! Awh!” Vivi mengerang saat lubang pantatnya terasa ditekan-tekan oleh jari kasar Aziz.
“Jangan sampai dia jebol duluan gara-gara jari kau, Ziz! Enak saja kalian dapat jatah keperawanannya lalu aku gigit jari!” protes Yono.
“Hehehe, tenang ajalah, No! Aku cuma mau menceboki Neng Vivi supaya pantatnya nggak terlalu sulit kau entot!” jelas Aziz.
“Okelah, hati-hati, jangan sampai kau perawani pula pantatnya!” tegas Yono.
“Berees!” Aziz kembali mengusapkan cairan cinta Vivi disekitar anus Vivi.
Kaki Vivi sudah kesemutan akibat berjongkok, namun percuma saja meminta belas kasihan dari keempat orang itu. Erny tidak mungkin akan menolongnya, sementara ketiga lelaki itu sama saja bejatnya.
“Oi, kakinya udah gemetaran tuh!” seru Yono.
“Ooh, udah nggak sabaran mau dientot rupanya! Ya sudah, pantatnya juga sudah beres kok!” ujar Aziz. Iqbal dan Aziz pun mulai memposisikan tubuh Vivi sehingga lubang pantat Vivi berada tepat dihadapan penis Yono yang tegak menantang. Yono memegangi penisnya agar tetap berdiri tegak.
“Ayo duduk sayang! Jangan malu-malu, kakinya pegal kan?” goda Yono.
Perlahan-lahan, pinggang Vivi diturunkan oleh kedua lelaki itu. Vivi bisa merasakan penis gemuk milik Yono memasuki celah pantatnya dan saat penis itu kini terasa berada di hadapan lubang pantatnya dan mulai menekan masuk.
“Ampun Paak… ampuun… Lepaskan saya pak…” Vivi kembali memohon lirih. Namun seperti biasa, permohonannya itu sia-sia belaka. Iqbal dan Aziz sama sekali tidak menghiraukan permohonan Vivi, mereka lebih terfokus dengan pantat Vivi dan penis Yono.
“AAAKH!!” kembali terdengar jeritan pilu dari bibir Vivi saat otot lubang pantatnya merekah dan penis Yono berhasil menembusi pantat Vivi untuk pertama kalinya.
“Ampun!! Sakit!! Sakit sekali Pak!!” Vivi menjerit dengan amat panik. Tidak terbayang betapa perihnya anus Vivi saat itu. Vivi merasa pantatnya seperti dicolok dengan besi panas dan rasa perih itu seolah mengoyak pantat Vivi.
“Wiih, seret banget coy! Sempit, hangat lagi!!” seru Yono.
“Baringkan dia! Jangan biarkan bangun!” Erny langsung memberi perintah yang segera dituruti oleh Iqbal dan Aziz.
Aziz mendorong pundak Vivi sehingga keseimbangan Vivi goyah; tubuh Vivi pun rebah dengan pelan menimpa tubuh Yono yang tampak kegirangan. Posisi tubuh Vivi yang berbaring diatas Yono ini tak pelak membuat penis Yono semakin terbenam kedalam pantat Vivi, sementara Yono melepas pegangan pada penisnya agar pantat Vivi bisa menerima seluruh batang penisnya.
“Ah! Aaa…” Rintihan Vivi terdengar pelan saat rasa sakit dan sesak terasa memenuhi pantatnya seiring semakin dalamnya penis Yono terbenam dalam pantatnya.
Akhirnya, tubuh Vivi berhasil dibaringkan diatas tubuh Yono dalam keadaan setengah mengangkang-setengah jongkok. Penis Yono pun terbenam sempurna dalam pantat Vivi. Rasa sakit yang mendera pantat Vivi kian menjadi, apalagi karena punggungnya membusung kedepan akibat menimpa perut buncit Yono, dan rasa tidak nyaman akibat petticoat dan roknya yang tertekan diantara punggung Vivi dan perut Yono.
“Tarik nafas sedikit, Neng. Daripada nanti makin sakit.” Yono kembali memberi saran. Vivi tak punya pilihan lain selain mencoba saran Yono. Diaturnya nafasnya yang memburu sejenak. Yono hanya diam untuk membiasakan tubuh Vivi menerima penis Yono didalam pantatnya. Sambil membiasakan Vivi, Yono dengan santainya menikmati kelembutan dan wangi tubuh Vivi yang berbaring diatas tubuhnya; beserta rasa hangat dan lembut dari dalam pantat Vivi.
“Nah, kita mulai ya, Neng?” ujar Yono sambil memegangi bongkahan pantat Vivi.
“Pak… tolong… jangan kasar… sakiit…” pinta Vivi pelan.
“Tenang saja Neng, asal Neng Vivi nggak bandel, dijamin nikmat deh!” jawab Yono sambil mengerdipkan matanya.
Vivi hanya mengangguk pelan dan memasrahkan nasibnya. Sekarang seluruh tubuhnya sudah dijamah oleh para pria itu dan tidak ada lagi bagian tubuhnya yang bisa dikatakan masih perawan. Tidak ada gunanya lagi Vivi berontak maupun melawan, setidaknya Vivi tidak mau lagi merasa tersiksa oleh rasa sakit, karena itulah ia memutuskan untuk menuruti kemauan Yono. Perlahan-lahan Yono mengangkat pinggang Vivi sehingga pantat Vivi ikut terangkat dari penisnya
“Aah…” Vivi mendesah pelan saat penis Yono terasa menggesek permukaan lubang pantatnya dengan pelan.
“Awh!” jerit Vivi kesakitan saat Yono melepaskan bongkahan pantatnya sehingga pantatnya langsung jatuh menghunjam penis Yono yang tegak berdiri.
Yono terus mengulangi gerakannya itu dengan pelan untuk membiasakan Vivi. Lama kelamaan, Vivi mulai terbiasa dengan pergerakan pinggangnya yang ditopang oleh Yono. Rasa sakit dan perih yang tadinya sempat mendera pantatnya perlahan-lahan menghilang dan kini berganti dengan rasa sesak dan geli yang nikmat. Perut Vivi terasa sedikit terdesak saat pantatnya menghunjam penis Yono, dan memberinya kenikmatan tersendiri.
“Aah… ooh… ah…” Vivi mulai mendesah-desah seiring dengan pergerakan penis Yono didalam pantatnya.
Saat ini sangat jelas kalau desahannya itu adalah desahan kenikmatan murni, bukan lagi desahan yang diiringi rintihan kesakitan. Hal itu tampak wajar karena Vivi tidak lagi banyak berontak seperti saat ia diperkosa Iqbal atau Aziz, dan lagi Yono jauh lebih perhatian dan tidak memaksakan kehendaknya pada Vivi. Untuk pertama kalinya, Vivi mulai bisa merasakan kenikmatan bercinta yang sesungguhnya. Saat melihat keadaan Vivi yang tenggelam dalam sensasi kenikmatan, Yono mulai mempermainkan Vivi. Saat penisnya menghunjam kedalam pantat Vivi, ia segera melepaskan pegangannya dari pinggang Vivi sehingga pergerakan mereka terhenti.
“Hngh?!” Vivi tampak keheranan saat Yono menghentikan pompaannya itu. Sekilas Vivi menoleh dan melihat wajah Yono dengan raut muka sedikit keheranan, seolah bertanya alasan Yono menghentikan gerakannya itu.
“Aku capek! Kalau Neng mau, gerak saja sendiri!” ujar Yono sambil membuang muka.
“Aah…” Vivi tampak mengeluh kebingungan.
Di satu sisi, ia baru saja merasakan kenikmatan yang luar biasa saat Yono memompa penisnya dalam pantat Vivi dan ia merasa amat penasaran dengan rasa nikmat itu. Dilain pihak, apabila ia mengikuti naluri seksualnya, itu hanya menegaskan pernyataan Erny bahwa ia tak lebih dari seorang pelacur yang binal.
“Sudah, nggak usah malu-malu kalau keenakan, Neng!” goda Yono sambil menggoyangkan pantatnya sehingga penisnya seolah mengaduk pantat Vivi, memberi sensasi baru bagi tubuh Vivi sekaligus menyiksa Vivi dengan gairah seksualnya yang kian terbangunkan.
“Ngapain malu-malu, sudah, nikmati saja, Neng. Dijamin keenakan! Dirumah nanti belum tentu bisa dapat yang kayak begini!” Lanjut Yono.
Mendengar bujukan Yono terus menerus, pertahanan dan harga diri Vivi pun akhirnya luruh juga, dikalahkan oleh gairah seksualnya. Dengan pelan, Vivi mulai mengangkat pinggangnya, meniru kecepatan gerakan Yono. Setelah merasa penis Yono sudah nyaris tercabut dari pantatnya, Vivi langsung merebahkan pinggangnya menghunjam penis Yono. Vivi pun terus menggerakkan pinggangnya naik-turun dan memompa penis Yono dalam pantatnya sendiri dengan pelan.
“Tuh! Memang dasar pelacur!! Keenakan kan, diperkosa?! Ayo jawab!!” hardik Erny saat melihat Vivi yang mulai menggerakkan pantatnya sendiri.
“Jawab, Neng! Kalau tidak, jangan harap bisa lanjut!” bisik Yono ditelinga Vivi sambil menahan pinggang Vivi. Vivi yang sudah terburu nafsu pun tidak bisa berbuat banyak. Vivi membuang segenap harga dirinya sebelum menjawab pertanyaan Erny itu.
“Iya… Kak… enak… Vivi suka… diperkosa… Vivi keenakan… diperkosa… ah…” jawab Vivi sambil mendesah.
“Ayo, mengaku! Bilang ke kami semua kalau kamu itu memang pelacur!! Cepat!” perintah Erny sekali lagi.
“Akh… ahaa… Semua… nyaah… Vivi… Vivi ini… aah… pelacur… Vivi suka… aah… dientot… bapak-bapak semuaa…ahk… Silahkan bapak-bapak… entot Vivi sepuasnya… hhh… Vivi mau orgasme lagii…” Vivi pun kembali merendahkan dirinya dihadapan Erny dan para pemerkosanya.
Tawa para pria itu langsung kembali meledak, terdengar jelas menggema di gudang yang sepi itu. Erny hanya tersenyum sinis, hatinya merasa amat puas melihat penderitaan Vivi dan bagaimana Vivi dipermalukan sedemikian rupa sehingga tak ubahnya seperti seorang pelacur asli, terlebih lagi setelah mendengar “pengakuan” Vivi barusan yang kian melengkapi kepuasan batin Erny.
“Wah, kalau begitu sini Neng! Biar kubantu supaya cepat konak lagi!” Aziz dengan gembira segera memghampiri tubuh Vivi yang terbaring di atas tubuh Yono. Dilihatnya payudara Vivi yang membusung menggoda, dan tanpa aba-aba, Aziz mencubit sambil sesekali menarik puting susu Vivi.
“Aw! Aah…” Vivi menjerit pelan, namun kali ini rasa sakit di dadanya malah berubah menjadi sensasi rasa nikmat yang merangsang.
“Aku ikut kalau begitu! Jariku ini sudah banyak membahagiakan wanita! Sekarang kubikin kau bahagia dan ketagihan!” ujar Iqbal sambil memamerkan jari-jarinya yang berotot. Ia segera menyingkap rok gaun bagian depan Vivi dan segera dilesakkannya jari telunjuk dan jari tengahnya kedalam vagina Vivi.
“Awh! Aah! Aahh! Aaa..” rintih Vivi, yang segera disusul dengan lenguhan-lenguhan erotis saat Iqbal menggerakkan jari-jarinya maju-mundur mengocok vagina Vivi. Sesekali Iqbal memutar jarinya dan mengorek liang vagina Vivi sehingga Vivi merintih-rintih antara sakit dan nikmat.
Vivi kini jelas-jelas tidak berdaya menghadapi deraan kenikmatan yang melanda payudara, vagina dan anusnya sekaligus. Rasa sesak di selangkangannya berpadu dengan tarikan dan pijatan Aziz di payudaranya semakin membuat kesadaran pikirannya hilang. Kepala Vivi serasa kosong dan ia tidak mampu berpikir apapun lagi, tubuhnya bergerak sendirinya mengejar kenikmatan seksual yang ia rasakan. Saat Iqbal memencet atau menekan klitoris Vivi dengan jarinya, rasa geli yang nikmat menjalar sekaligus kebagian tubuh bawah Vivi sehingga bulu kuduk Vivi berdiri.
Sementara itu, rasa sesak yang bercampur dengan rasa geli yang agak menyakitkan saat Vivi memompa penis Yono dalam pantatnya ikut menyatu dengan kenikmatan sodokan jari Iqbal di vagina Vivi. Akibatnya, selangkangan Vivi dilanda kenikmatan yang luar biasa sekaligus dalam vagina dan pantatnya. Bagian tubuh atas Vivi juga dilanda ransangan seksual yang amat hebat saat Aziz mencubiti atau menggigiti ujung puting susu Vivi. Sesekali, Aziz memencet puting susu Vivi dan menariknya pelan, seolah hendak memerah susu sapi. Wajah Vivi merah padam, suara yang terdengar dari mulutnya sudah tidak dapat dimengerti sama sekali antara desahan, rintihan, atau lenguhan. Erny tidak mau ketinggalan, dicengkeramnya pinggang Vivi dan pinggang Vivi pun dihentak-hentakkan oleh Erny naik-turun dengan amat cepat. Akibatnya, gerakan pinggang Vivi kian liar dan cepat dalam memompa penis Yono didalamnya. Vivi pun tidak mampu lagi menahan kenikmatan seksual yang menggelora didalam tubuhnya. Dengan diiringi desahan yang tertahan, tubuh Vivi kembali menegang dan otot-otot tubuhnya kaku. Iqbal bisa merasakan jarinya seolah diremas oleh dinding-dinding vagina Vivi.
“Oi! Udah mau konak dia!” seru Iqbal.
“Terus, bikin dia konak! Tadi dia minta sendiri tuh! Mau dikonakin katanya!!” ujar Aziz.
“Hngkk… aku… aku juga mau sampai…” terdengar suara Yono yang mulai kewalahan.
“AAKH… AAA… Semuaa… Vivi… Vivi… AAH!!!” dengan diiringi oleh jeritan Vivi, liang vagina Vivi kembali memuncratkan cairan cintanya membasahi jari Iqbal dan meleleh turun membasahi penis Yono yang masih tertancap dalam pantatnya. Orgasme yang ketiganya ini jauh lebih hebat dari orgasme Vivi sebelumnya, karena rangsangan yang menyeluruh di tiap titik saraf seksualnya. Tubuh Vivi langsung melemas lunglai tanpa daya setelah orgasmenya mereda; pompaan anusnya pada penis Yono ikut terhenti karena Erny melepas cengkeramannya pada pinggang Vivi.
“Yono! Keluarkan didalam vaginanya! Iqbal, Aziz, cepat bantu!” perintah Erny.
Dengan sigap, Iqbal dan Aziz menarik lepas penis Yono dari dalam vagina Vivi. Vivi pun dibaringkan mengangkang dengan rok gaun yang tersingkap menggantikan Yono. Kini, giliran Yono yang menimpa tubuh Vivi dan memompakan penisnya didalam vagina pengantin wanita itu. Vivi sendiri merasa tubuhnya sudah mati rasa, ia hanya diam tanpa daya saat tubuhnya ditimpa dan dipompa oleh tubuh Yono yang gemuk penuh lemak itu.
Tidak perlu waktu lama bagi Yono, yang tadi nyaris mencapai puncak kenikmatannya untuk kembali tiba di puncak itu.
“Heergh…” dengan diiringi geraman yang tertahan, Yono berhasil berejakulasi didalam vagina Vivi.
“Ookh…” Vivi mendesah pelan saat merasakan semburan cairan hangat itu dalam vaginanya.
Yono segera melepaskan penisnya dari vagina Vivi, ia lalu turun dari meja itu dan menghampiri wajah Vivi yang masih terbaring lemas.
“Ayo, Neng! Bersihkan! Cicipin rasanya memekmu sendiri” perintah Yono sambil mengacungkan penisnya yang tampak berkilat akibat dilapisi oleh cairan cinta Vivi. Vivi dengan lirih membuka mulutnya dan mengulum penis Yono, perlahan-lahan diisapnya sperma Yono dan cairan cintanya sendiri yang masih tersisa di penis Yono.
Erny berkacak pinggang dan menghampiri Vivi yang masih sibuk menjilati penis Yono. Terlihat senyum sinis penuh kepuasan yang terpancar dari wajah Erny. Pelan-pelan, penis Yono akhirnya bersih dari bekas spermanya dan cairan cinta Vivi; Yono pun mengeluarkan penisnya dari mulut Vivi, sementara Vivi tetap terkapar kelelahan diatas meja itu.
“Nah, kamu masih mau main lagi?!” tanya Erny. Vivi terperangah mendengar pertanyaan Erny itu; namun ia kebingungan menjawab pertanyaan itu. Sebenarnya Vivi masih ingin terus disetubuhi, karena ia baru saja merasakan kenikmatan bercinta yang sesungguhnya bersama Yono, namun apakah mungkin Erny akan mengizinkan hal itu? Vivi pun mengikuti nalurinya semata dan mengangguk pelan.
“I… iya Kak… Vivi masih mau…” ujar Vivi pelan. Erny pun tersenyum puas mendengar pernyataan Vivi.
“Kalau begitu, kamu janji mau menuruti perintah saya?!” tanya Erny.
Vivi pun mengangguk pelan menyanggupi permintaan Erny; ia sudah pasrah menerima nasibnya. Mungkin inilah hukuman baginya karena tidak jujur pada sahabatnya itu; walaupun pada kenyataannya, Vivi melakukan hal itu demi melindungi keutuhan rumah tangga Erny.
Di lain pihak, Vivi juga sebenarnya tidak begitu mencintai Johan, ia hanya menerima pinangan itu untuk melindungi Erny, Joanna dan Jonny. Terlebih lagi, kini ia menikmati saat dirinya disetubuhi dan ia penasaran ingin mencobanya sekali lagi. Johan belum tentu akan menyetubuhinya mengingat dirinya telah diperkosa, namun mungkin saja Erny akan dapat memberinya pemuasan atas hasrat barunya itu.
“Bagus! Mulai saat ini, kamu adalah seorang pelacur yang bekerja untuk saya!! Kamu akan melayani para laki-laki seperti yang saya perintahkan!! Sebagai permulaan, Saya akan mengizinkan kamu untuk menikah dengan Johan.” Ujar Erny mendadak.
“Tapi… Mas Johan…bagaimana? Lalu… Kak Erny…?” tanya Vivi kebingungan dengan tindakan Erny itu. Bagaimana caranya menjelaskan kejadian ini pada Johan? Hal ini pasti sulit baginya dan belum tentu Johan mau mempercayainya.
“Hal itu tidak usah kamu pikirkan, saya akan membelamu nanti supaya kamu tetap dinikahi Johan! Kamu akan bersaksi kalau kamu diperkosa oleh berandalan yang menculik kamu waktu menuju ke resepsi dan kamu pingsan sehingga tidak bisa melihat para pelaku. Yono akan ikut bersaksi seperti itu.” jelas Erny.
“Lagipula saya rasa kamu pasti hamil setelah Iqbal dan Yono mengeluarkan sperma mereka dalam rahimmu, jadi saya bisa saja memaksa Johan untuk mengetes DNA anakmu nanti. Saya bisa meyakinkannya kalau kamu berselingkuh; kamu akan terbuang dari rumah kami dan dicap sebagai wanita murahan. Saya akan menampung dan melindungimu, tapi kamu harus bisa menjaga rahasia!” Tambah Erny.
“Bagaimana, kamu setuju?!” tanya Erny terakhir kalinya untuk memastikan takluknya Vivi.
Vivi pun tidak punya pilihan lain selain menyetujui tawaran Erny. Hal itu jauh lebih baik daripada ditelantarkan dan dicemooh seumur hidupnya, walaupun kini ia harus merelakan tubuhnya pada kehendak Erny.
“Iya Kak… Vivi setuju… Vivi akan menuruti semua perintah Kak Erny…” Jawab Vivi lirih.
Erny tertawa terbahak-bahak, ia telah berhasil menyengsarakan Vivi sekaligus menaklukkan mantan sahabatnya itu, terlebih lagi Vivi mulai saat ini akan menjadi seorang pelayannya yang bisa ia gunakan untuk mendapatkan uang dari para lelaki hidung belang yang kelak akan dilayani oleh Vivi. Di antara Erny dan Vivi sekarang tidak ada lagi hubungan antar sahabat seperti dulu, semua itu hanyalah kenangan dimasa lalu. Vivi saat ini bukan lagi seorang sahabat ataupun adik bagi Erny, Vivi saat ini adalah pelayannya yang akan memenuhi semua keinginan Erny.
Pembalasan dendam Erny masih akan terus berlanjut, demikian pula dengan derita Vivi dikemudian hari…
#################################################
“Ya, saya harap kamu mengerti dengan pilihan saya ini.” Tutur seorang laki-laki paruh baya yang sedang duduk diruang tamu itu bersama seorang wanita dengan kemarahan yang terpancar jelas diraut wajahnya.
“Bagaimana dengan pernikahan kita selama ini Mas?! Bagaimana dengan Joanna dan Jonny?! Apa Mas tidak kasihan dengan mereka?! Mereka itu anak-anak kita, Mas?!” sahut wanita itu berusaha memberi pengertian bagi suaminya itu.
“Bukan begitu, Erny. Saya minta pengertianmu tentang perasaan saya. Sudah lama saya merasa tertarik dengan Vivi, lagipula dia cukup akrab dengan anak-anak kan? Pastinya tidak ada masalah kalau saya menikahinya”
“Jadi, maksudnya selama ini saya dimadu? Begitu?! Teganya kamu… Mas Johan… Teganya kalian!”” Erny berteriak penuh kemarahan.
“Bukan, bukan begitu! Saya merasa dengan kehadiran Vivi, keluarga kita akan semakin lengkap. Bukannya kalian juga berteman baik dari dulu? Seharusnya kamu mendukung pernikahan kami!” jelas Johan berusaha untuk menenangkan amarah Erny.
“Enak saja! Alasan apa itu?! Bagaimana dengan perasaan saya?! Saya sudah mendukung Mas selama 10 tahun sejak kita menikah! Dari saat Mas Johan masih bekerja sebagai pegawai rendahan sampai jadi manajer seperti sekarang!! Ini balasan Mas Johan untuk kesetiaan saya selama ini?!”
“Bukan begitu! Saya hanya minta agar kamu mengerti dengan perasaan saya ini! Apakah itu susah sekali?! Lagipula wanita yang saya pilih bukan orang asing! Kalian juga sudah mengenal Vivi dari dulu! Vivi itu wanita baik-baik! Kamu sebagai seorang istri seharusnya bangga karena suamimu ini masih pengertian dengan kalian! Laki-laki lain pasti sudah menceraikan istri yang tidak mau menuruti suami seperti kamu!” Bentak Johan dengan nada marah karena kehilangan kesabaran.
Vivi
Vivi
Malam itu benar-benar malam yang terburuk bagi Erny dalam kehidupan rumah tangganya dengan suaminya, Johan. Bagaimana tidak, setelah 10 tahun membina rumah tangga bersama, Erny tidak pernah menyangka bahwa suaminya itu telah berselingkuh dengan seorang wanita yang tak lain adalah sahabat masa kecil Erny, Vivi. Memang banyak rumor yang beredar kalau Johan berselingkuh dengan seorang wanita muda, namun Erny menaruh kepercayaan penuh pada Johan dan tidak menghiraukan rumor itu sama sekali. Namun semua kesetiaan Erny terbukti keliru dengan pernyataan Johan malam itu yang memberitahu rencana pernikahannya secara mendadak pada Erny. Erny masih tidak percaya bahwa suaminya, Johan, memang telah berselingkuh dan lagi mengakui cintanya terhadap wanita lain itu. Fakta bahwa wanita yang hendak dinikahi oleh Johan itu adalah sahabat karib Erny sendiri kian membuat hati Erny membara dan hancur.
“Kalau begitu… Mas Johan boleh memilih! Kalau Mas menikahi Vivi, saya dan anak-anak akan angkat kaki!” ancam Erny.
Di lubuk hatinya yang terdalam, Erny berharap agar ancamannya ini dapat mengurungkan niat Johan untuk menikah lagi dan sekaligus untuk menguji apakah masih ada rasa cinta Johan padanya.
“Kalau begitu, kamu juga boleh memilih! Hidup bersama saya dan Vivi atau silahkan kamu bawa semua barang-barangmu dan keluar dari sini! Saya tidak akan berhubungan lagi denganmu! Lagipula Joanna lebih suka dengan Vivi dibandingkan kamu!” Johan kembali membentak Erny dengan nada keras.
Jawaban Johan yang disampaikan lewat bentakan itu langsung menghancurkan hati Erny berkeping-keping. Pikiran Erny berkecamuk dalam hatinya. Memang, kalau dibandingkan dengan Erny yang sudah berusia 30 tahun, Vivi yang masih berusia 23 tahun sangat berbeda jauh. Bukan hanya lewat perbedaan umur saja, namun Vivi yang memang berparas amat cantik itu bisa dikatakan mengalahkan Erny diberbagai bidang. Jelas, tubuh indah milik Vivi yang langsing dan padat dengan tinggi 162 cm yang proporsional amat kontras dengan tubuh Erny yang gemuk sehabis melahirkan Jonny, anak keduanya dengan Johan. Terlebih lagi, dengan sikap Vivi yang feminin dan baik hati itu terkadang membuatnya lebih disukai dibandingkan Erny oleh Joanna, anak pertama Erny yang baru berusia 6 tahun.
Walaupun sikap Joanna itu kadang melukai perasaan Erny sebagai seorang ibu, Erny tidak begitu menggubris sikap Joanna pada Vivi, mengingat persahabatan Erny dan Vivi sejak kecil. Ya, pada waktu mereka masih kecil, Vivi adalah tetangga Erny, karena perbedaan usia mereka itulah, Erny sering merawat Vivi yang saat itu masih bayi, bahkan Erny sudah menganggap Vivi seperti adiknya sendiri. Ia turut menyaksikan pertumbuhan Vivi dari seorang anak kecil menjadi seorang wanita muda yang amat cantik. Hati Erny kian tersayat-sayat mengingat bagaimana ia merawat Vivi dulu layaknya seorang kakak pada adiknya; ironisnya, sahabatnya itu kini justru akan merebut suaminya sendiri dari tangannya. Betapa kejinya balasan yang ditimpakan Vivi padanya, pikir Erny.
“Saya akan memberimu waktu untuk berpikir, toh pernikahan kami baru dilaksanakan bulan depan. Tapi ingat, saya tidak akan merubah pikiran saya. Keputusan saya sudah bulat dan saya akan tetap menikahi Vivi, terserah apa kamu suka atau tidak!” tegas Johan seraya berlalu masuk ke dalam kamar.
Seketika itu pula Erny ambruk ke lantai dan menangis tersedu-sedu menyadari bahwa cintanya telah dikhianati oleh Johan. Untunglah Joanna sedang menginap di rumah teman sekelasnya, sehingga anak itu tidak perlu menyaksikan pertengkaran orang tuanya itu, sementara Jonny masih terlalu kecil untuk mengerti pokok permasalahan Erny dan Johan. Erny berpikir dengan keras, bisa saja ia meninggalkan rumah itu, namun itu berarti bahwa ia harus menyerahkan kedua anaknya pada Vivi, dan itu tidak lebih dari pengibaran bendera kekalahannya dalam mempertahankan rumah tangganya. Erny berusaha tegar, ia tidak akan menyerah semudah itu. Ia memikirkan masa depan Joanna dan Jonny yang entah bagaimana nasibnya apabila ditinggal olehnya ditangan Vivi. Namun apabila ia bertahan, itu berarti dia harus rela dimadu seumur hidupnya oleh Johan, sesuatu yang tentu saja tidak diinginkan oleh seorang istri yang setia sepertinya. Mata Erny kian berat, ujian ini begitu sulit baginya, bagaimana rumah tangganya kini terancam hancur karena ulah seorang sahabatnya sendiri, bagaimana nasib anak-anaknya kelak dan bagaimana ia harus melewati hari-hari dengan adanya istri kedua Johan itu.
“AARGHH!!!” PRAANG… Erny mengamuk dan dilemparkannya asbak kaca yang berada dimeja disampingnya ke lantai hingga asbak itu pecah berkeping-keping. Kembali Erny terlarut dalam kesedihannya, saat terbayang masa-masanya bersama Johan dan pertemanannya dengan Vivi, Erny tak kuasa menahan amarahnya lagi. Kini dendamnya membara kepada sahabat yang mengkhianatinya itu.
“Kalau saja dia tidak pernah ada… kalau saja kami tidak pernah berteman… KALAU SAJA AKU BISA MEMBUATNYA MENDERITA!!” demikian gemuruh hati Erny pada Vivi.
Tidak ada lagi perasaannya sebagai seorang sahabat bagi Vivi, yang ada kini hanyalah dendam yang mendalam sebagai seorang wanita yang disakiti dan seorang sahabat yang dikhianati. Erny sadar bahwa untuk membalas dendamnya pada Vivi, ia perlu menenangkan diri dan berpikir dengan jernih. Erny berusaha keras mendinginkan kepalanya yang terbakar oleh amarah dan dendam sambil berusaha berpikir bagaimana caranya untuk memberi pelajaran bagi Vivi. Membunuh Vivi tentu saja merupakan jalan pintas, namun Erny berpikir apabila hal itu dilakukan, sudah pasti dirinyalah yang pertama kali dijadikan tersangka karena motifnya amat gampang dibaca apalagi menyewa orang untuk membunuh tentunya tidak mudah dan bisa saja menguras banyak biaya. Lagipula Erny lebih menginginkan agar Vivi sengsara dan menderita. Melukai atau menyiksa Vivi hingga cacat? Itu mungkin ide yang efektif, namun pastinya akan membuat Erny meringkuk ditahanan polisi apabila Johan sampai tahu tentang hal itu. Bisa saja Vivi yang dilukai akan membalas dendamnya pada Joanna atau Jonny. Kepala Erny kini malah semakin pusing dengan rencananya itu, ia sama sekali tidak bisa menemukan cara yang efektif. Dalam keputusasaannya, Erny mengambil handphonenya dan beranjak keluar dari rumahnya. Erny segera menelepon menghubungi kakaknya, Marny.
“Halo, ada apa, Er?” tanya Marny.
“Kak… tolong bantu saya Kak… Saya sudah tidak tahan…” pinta Erny dengan suara tersedu-sedu. Tentu saja Marny sontak terkejut mendengar suara adiknya itu.
“Lho? Ada apa, Er? Kamu kenapa?!”
“Kak… saya… saya…” Erny kembali terisak menahan tangisnya.
“Sudah, sudah… Er, tenangkan diri dulu ya? Ceritakan apa yang terjadi.” Ujar Marny menenangkan Erny.
Mendengar suara Marny, Erny kembali berusaha untuk mengendalikan diri. Setelah memastikan kalau perasaannya sudah tenang, Erny pun mulai menceritakan duduk persoalan rumah tangganya pada kakaknya itu. Mendengar nasib adiknya itu, sontak Marny naik darah dan emosi, apalagi saat mendengar bahwa Johan hendak mengusir Erny.
“Jadi, rupanya si Vivi itu selingkuhannya Johan?! Mereka mau menikah?!” tanya Marny dengan emosi.
“I… iya Kak…”
“Apa-apaan si Vivi itu?! Bukannya dia itu teman baikmu, Er? Tega sekali dia!! Kakak tidak menyangka kalau dia wanita seperti itu!”
“Makanya kak… Erny sudah tidak tahan… Erny juga tidak sampai pikir kalau Vivi rupanya seperti itu…” ujar Erny terbata-bata.
“Terus, bagaimana rencana kamu?”
“Erny mau balas dendam Kak. Erny tidak rela kalau Vivi yang menikmati semua ini tanpa penderitaan.” Tutur Erny.
“Baguslah, Kakak dukung kalau begitu! Terus, kamu mau apakan si Vivi itu?!” tanya Marny.
“Erny bingung… kak… Kita tidak bisa membunuh atau melukai Vivi… kita bisa dipenjara…”
“Aduuh! Kamu kepikirannya kejauhan! Bukannya ada cara yang lebih gampang?!” gerutu Marny.
“Apa Kak?” tanya Erny bingung.
“Makanya Er, tenangkan diri dulu lain kali.” Jawab Marny.
“Bukannya gampang? Daripada dibunuh atau dilukai begitu, lebih baik kalau kita melukai mental si Vivi saja!” lanjut Marny.
“Maksudnya?”
“Er, suruh saja orang buat memperkosa si Vivi sebelum dia menikah!” cetus Marny.
Pernyataan kakaknya itu seolah seberkas cahaya yang menghapus kebingungan hati Erny. Benar-benar sebuah ide yang luar biasa! Membuat Vivi diperkosa sebelum menikah dengan Johan!
“Mengapa tidak? Tentu saja! Itu cara yang paling baik untuk menaklukkan Vivi!” pikir Erny. Dengan diperkosanya Vivi, tentu saja akan memberi luka mendalam bagi Vivi sementara membuat Johan berpikir bahwa Vivi bukan seorang wanita yang baik-baik karena sudah tidak perawan sebelum menikah. Benar-benar sambil menyelam minum air! Lagipula dengan trauma pemerkosaan itu, pastilah mental Vivi akan goyah dan gampang diintimidasi oleh Erny. Erny yang kenal baik dengan Vivi tahu betul bahwa kepribadian Vivi yang feminin dan agak penakut itu akan membuatnya gampang dikontrol dibawah kendali Erny.
“Benar Kak! Ide kakak bagus sekali! Tapi bagaimana cara melaksanakannyaKak?”
“Tenang sajalah! Kakak yakin kalau banyak laki-laki yang mau kalau kamu bayar untuk memperkosa si Vivi, lagipula si Vivi kan cantik? Malah lebih gampang untuk mencari ‘sukarelawan’?” papar Marny.
“Kalau kamu mau, Kakak bisa mencarikan beberapa orang.” Lanjutnya. Marny lalu memberikan sedikit nasihat untuk Erny dalam merencanakan perangkap itu.
“Boleh Kak! Tolong kakak carikan orang-orang yang bisa dipakai buat si Vivi!” Pinta Erny yang kini tampak ceria, kontras dengan raut wajahnya sebelum menelepon Marny.
“Ya sudah kalau begitu. Jangan sedih lagi ya? Ingat, kalau besok Johan bertanya lagi, jawab saja kalau kamu setuju. Supaya rencana kita bisa berjalan.”
“Iya Kak. Terima Kasih Kak!”
“Iya, kakak tutup dulu ya? Besok kakak akan menyuruh orang-orang yang kakak pilih ke rumahmu waktu Johan ke kantor. Kamu siapkan saja tawaran buat mereka.”
“Baik, Kak.”
“Daah, malam ya, Er.”ujar Marny sambil menutup teleponnya
Erny tersenyum sekilas, ide brilian itu amat efisien dan mudah untuk dilaksanakan, sekarang hanya tinggal mempersiapkan semua keperluan agar rencana itu bisa berjalan lancar. Erny segera bangkit sambil tertawa-tawa kecil membayangkan rencananya itu. Erny segera pergi tidur dengan perasaan tidak sabar untuk menunggu kedatangan esok hari. Pagi harinya, Erny bangun dengan perasaan lega. Erny meregangkan tubuhnya dan menghela nafas sejenak sebelum turun dari tempat tidurnya dan keluar dari kamar itu. Erny lalu pergi menuju ke dapur, dilihatnya Johan sudah berpakaian lengkap, siap untuk pergi ke kantornya. Johan sedang duduk dimeja makan sambil membaca koran pagi dan menyeruput secangkir kopi hangat. Erny lalu mendudukkan dirinya di hadapan Johan. Sesaat hawa dingin yang terasa cukup menekan karena mereka berdua saling terdiam tanpa bicara sebelum akhirnya Johan mulai angkat bicara.
“Er, bagaimana keputusan kamu soal pernikahan kami?” tanya Johan langsung ke pokok permasalahan.
Begitu mendengar pertanyaan Johan itu, segera darah Erny kembali naik ke ubun-ubun melihat bagaimana suaminya itu tergila-gila pada Vivi. Erny nyaris mengamuk kembali, namun ia teringat nasihat Marny semalam. Erny pun berusaha menjaga emosinya dan bersikap seolah ia pasrah dengan pernikahan Johan itu. Bagaimanapun agar rencana ini berhasil, upacara pernikahan Vivi dan Johan harus tetap berlangsung.
“Sudahlah Mas, kalau itu memang keinginan Mas Johan, saya sebagai istri hanya bisa ikut saja.” Tutur Erny dengan nada lirih yang dibuat-buat.
Johan langsung tersenyum sumringah begitu mendengar perkataan Erny itu. Johan sedikit kebingungan dengan sikap Erny yang berubah drastis 180 derajat dibandingkan kemarin.
“Kamu… kamu yakin, Er?!” tanya Johan keheranan.
“Iya Mas. Kemarin saya sudah bicara dan dinasehati Kak Marny. Memang sebagai istri kita harus membuat suami kita bahagia. Karena saya mau Mas Johan bahagia, saya rela kalau Mas mau memperistri Vivi. Lagipula perkataan Mas Johan kemarin memang benar, Vivi bukan orang asing bagi kita, saya kenal baik dengan Vivi, makanya saya setuju.” Kilah Erny.
“Er, saya benar-benar bahagia, akhirnya kamu mau mengerti juga perasaan saya!” Johan tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya lagi.
“Tapi Mas Johan harus berjanji kalau Mas bisa membagi kasih sayang dengan kami dengan seimbang. Terus, jangan lupakan anak-anak.”
“Iya, pasti! Kamu kan juga istri saya? Bagaimana mungkin saya melupakan kamu?” ujar Johan.
Erny lega, setidaknya Johan dapat masuk perangkap lebih mudah dari yang ia bayangkan. Sekarang ia perlu mengatur agar ia ikut terlibat dalam acara pernikahan Vivi itu.
“Mas Johan, kalau boleh saya juga mau ikut membantu acara pernikahan Mas dengan Vivi.” Pinta Erny.
“Boleh saja. Tapi kenapa kamu juga mau ikut membantu? Sebenarnya kita sudah merencanakan kalau kamu tidak perlu ikut. Si Vivi katanya tidak enak kalau kamu ikut repot, makanya dia mau berusaha sendiri.” Tanya Johan agak penasaran.
“Sudah, tenang saja Mas. Bagaimanapun, Vivi itu teman dekat saya, Mas tahu sendiri kalau saya hampir menganggap Vivi sebagai adik saya sendiri. Tentu saja saya harus ikut membantu.” Dalih Erny.
“Kamu tidak repot nantinya?” tanya Johan. Erny hanya menggeleng sambil tersenyum.
“Syukurlah! Er, saya benar-benar senang punya istri yang pengertian seperti kamu!” puji Johan.
“Begini, kalau bisa, mungkin kamu bisa membantu Vivi untuk mempersiapkan dirinya. Kamu kan sudah pernah menikah, mungkin kamu bisa mengajari Vivi atau membantunya mempersiapkan diri.”
“Mas bagaimana? Mas tidak mau ikut mempersiapkan Vivi?” tanya Erny.
“Sebenarnya tadinya saya mau, tapi sepertinya tidak bisa. Kebetulan direktur cabang kami, Pak Anton sedang cuti. Saya harus menyelesaikan tugas-tugas sebelum beliau selesai cuti. Makanya untung kamu bisa mengerti.” jelas Johan.
“Lho? Mbak Sasha bagaimana? Bukannya dia bisa membantu?”
“Kebetulan Sasha juga ambil cuti. Saya belum tahu kapan mereka kembali, makanya, kamu bisa membantu kan?” tanya Johan penuh pengharapan.
“Beres, Mas. Saya akan membantu sebisa mungkin!” jawab Erny mantap.
“Bagus! Terima kasih ya, Er! Saya serahkan semua ke kamu!” jawab Johan dengan ceria.
Dalam hatinya, Erny jauh lebih ceria dari Johan; sekarang sebagian besar kendali berada ditangannya. Erny tertawa-tawa dalam hati melihat bagaimana gampangnya rencananya berjalan dan bagaimana semua situasi yang seolah mendukungnya. Johan pun segera berangkat ke kantor setelah sarapan pagi, tanpa menyadari rencana jahat istrinya terhadap Vivi. Sementara Erny tidak sabar lagi menunggu para ‘sukarelawan’ yang akan dikirim Marny. Beberapa jam kemudian, pintu rumah Erny diketok dengan keras. Erny segera beranjak keruang tamu untuk membukakan pintu pada tamu yang hendak berkunjung itu. Begitu pintu rumah dibuka, Erny terperangah sedikit melihat 3 orang lelaki berkulit gelap di depan beranda rumahnya. Salah satu lelaki itu tampak kekar dan beringas dengan rambut gondrong seperti preman. Lelaki yang kedua berpostur kurus dengan gigi tonggos dan sebuah tompel di pipinya. Lelaki yang terakhir berpostur gemuk dengan perut yang tambun. Ketiganya langsung mendelik melihat Erny yang membuka pintu.
“Kamu yang namanya Erny?!” tanya lelaki berpostur kekar dengan nada yang keras.
“I… iya!” jawab Erny tergagap melihat ketiga lelaki itu. Erny merasa agak takut melihat penampilan ketiga pria itu.
“Kami dengar dari Bu Marny kalau ada lowongan kerja, benar bu?!” tanya lelaki ketiga yang gemuk itu.
“Iya, benar.” Jawab Erny, ia sebenarnya ingin mempersilahkan ketiga pria ini untuk masuk ke dalam rumahnya, namun ia cemas karena bisa saja nanti malah dirinya yang dirampok atau diperkosa ketiga pria beringas ini.
Entah bagaimana, seolah bisa membaca pikiran Marny, lelaki kekar itu langsung angkat bicara.
“Kenapa kita tidak diizinkan masuk? Takut dirampok, Heh?!” sindirnya.
“Oh, iya, iya. Silahkan masuk, bapak-bapak!” ujar Erny penuh keterpaksaan.
Tentu saja ia tidak mungkin menolak ketiga pria itu dengan sindiran yang dilontarkan si kekar barusan. Tanpa dipersilahkan, ketiga pria itu langsung duduk di sofa ruang tamu rumah Erny. Erny tetap berusaha untuk menjaga kesabaran dan tampak kalem atas kekurangajaran pria-pria itu.
“Nah, jadi disini kita mau disuruh apa?” tanya lelaki kekar itu tidak sabaran.
“Iya, katanya ada kerjaan yang bagus nih!” imbuh lelaki yang gemuk.
“Begini bapak-bapak…”
“Namaku Iqbal, ini Aziz, dan yang gemuk itu Yono!” ujar pria kekar yang rupanya bernama Iqbal itu dengan keras memperkenalkan diri mereka. Erny langsung dapat mengenali ketiga orang itu dengan singkat lewat perkenalan itu karena perbedaan dan ciri khas ketiga orang itu. Si kekar bernama Iqbal, si tompel bernama Aziz dan si gendut bernama Yono.
“Lalu, kerjaan apa yang mau dilakukan?” tanya Aziz.
“Begini, bapak-bapak. Saya mau menyewa anda sekalian untuk memberi pelajaran pada seseorang.” Papar Erny.
“Oh begitu, siapa orangnya?! Mau diapakan? Dipukul atau dibunuh, heh?!” jawab Iqbal dengan nada bersemangat.
Erny tidak segera merespon reaksi Iqbal, ia hanya membuka sebuah album foto dan mengeluarkan selembar foto Vivi dari album itu dan melemparkannya kehadapan ketiga pria itu.
“Ini orangnya, target anda, namanya Vivianny, panggilannya Vivi.” Ujar Erny.
“Hah?! Cewek?” Iqbal terkejut begitu melihat foto Vivi.
“Wuiih, cakep juga nih cewek! Mukanya mirip artis.” gumam Aziz.
“Badannya juga oke, hehe… sayang kalau dibunuh nih, mendingan dientot aja, pasti enak, hehehe…” celetuk Yono.
“Ya, memang itu yang saya minta pada anda sekalian, Pak Yono.” Tutur Erny.
Seketika itu pula, raut wajah ketiga pria itu berubah dari bengis ke senyum yang memuakkan.
“Yang benar, bu?” tanya Yono setengah tidak percaya.
“Ya, untuk ini anda akan saya bayar 4 juta masing-masing.” Jawab Erny.
“Lumayan juga nih.” Gumam Iqbal.
“Wuiih, enaak, udah dapat cewek, dibayarin lagi.” celoteh Aziz
“Silahkan bapak-bapak perlakukan Vivi sesuka anda. Tapi, jangan sampai dia dibunuh. Saya mau dia tetap hidup supaya dia sengsara.”
“Weleh, weleh, kenapa begitu bu? Kalau dibunuh bukannya lebih gampang?” tanya Yono.
“Tidak! Si Vivi ini berniat merebut suami saya, lebih baik kalau dia diperkosa dulu, supaya dia tahu derajatnya! Nantinya dia bakal lebih gampang diatur dirumah ini!” jawab Erny.
“Ooh, gituu… Kalau begitu kapan kami beraksi Bu?” tanya Aziz.
“Bulan depan, rencananya suami saya dan Vivi bakal melangsungkan pernikahan mereka. Saya akan mengatur agar anda sekalian ikut ditugaskan dalam acara pernikahan ini supaya kita bisa lebih gampang menculik si Vivi.” Papar Erny serius.
“Lalu kamu sendiri?” tanya Iqbal dengan raut serius.
“Saya akan ikut menjemput si Vivi bersama anda agar ia tidak curiga.” Jawab Erny.
“Begitu semuanya selesai, uang anda akan saya bayarkan.” Lanjut Erny.
“Wuiih, sip banget! Aku ikut, Bu!” Jawab Aziz tanpa basa-basi.
“Aku juga mau.” Susul Yono.
“Oke, kalau begitu aku ikut juga!” imbuh Iqbal.
“Bagus, kalau begitu saya akan menghubungi anda sekalian untuk rencana selanjutnya. Mohon agar hal ini dirahasiakan dari siapa saja!” pinta Erny.
“Berees, bu! Tenang saja, kita bakal diam kayak patung!” ujar Yono.
“Hehe… pasti Bu! Yang penting saya dapat jatahnya Non Vivi.” Aziz menimpali.
“Ya sudah kalau begitu. Nanti anda akan akan saya kabari, untuk hari ini cukup sekian.” Tutup Erny.
Ketiga orang itu pun pergi keluar dengan raut wajah puas. Erny tidak bisa menyembunyikan kegirangannya lagi, ia pun tertawa puas melihat segalanya berjalan lancar seperti keinginannya. Sekarang ia hanya tinggal mengatur skenario saja agar ia terhindar dari tuduhan. Hari demi hari pun berlalu, Erny tetap menjaga sikap dan memainkan perannya sebagai seorang istri yang pasrah dan penurut; Sambil terus menghubungi Marny dan menyusun skenario dan rencana mereka sedetil mungkin. Johan yang terlalu fokus pada Vivi sama sekali tidak memperhatikan tingkah Erny apalagi Marny. Rencana kedua kakak-beradik itu pun semakin matang dan siap untuk dilaksanakan. Vivi, yang awalnya agak canggung dengan sikap Erny yang bersedia menerima kehadirannya, walaupun Vivi sudah berdusta padanya, akhirnya bersedia menerima “kebaikan” hati Erny untuk membantunya dalam melaksanakan pernikahan itu. Erny mempersiapkan hampir semuanya, mulai dari gaun pengantin Vivi, bridal studio dan resepsi acara itu. Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu itu tiba. Subuh jam 4 pagi, pintu rumah rumah Johan dan Erny diketuk. Johan membuka pintu dan ia tersenyum lebar saat melihat Vivi datang untuk persiapan pernikahannya.
“Wah, datangnya pagi sekali!” canda Johan.
“Iya. Katanya periasnya datang jam 5 pagi ya, Mas?” tanya Vivi.
“Kalau sudah tahu kok datangnya pagi banget? Nggak sabaran jadi pengantin nih?” kembali Johan menggoda Vivi.
“Soalnya saya mau memastikan kalau persiapannya sudah beres. Kata Kak Erny, semuanya sudah disiapkan ya, Mas?” tanya Vivi.
“Sudah, kamu tenang saja. Semuanya ada di kamar Erny kok. Ayo, ikut!” ujar Johan sambil menggandeng Vivi masuk menuju kamar Erny.
Sesampainya di kamar, Vivi takjub melihat persiapan yang disiapkan oleh Erny. Bagaimana tidak, sehelai gaun pengantin putih yang indah milik Vivi sudah tergantung dengan rapi dan semua aksesoris yang diperlukan telah tertata diatas ranjang Erny. Kosmetik-kosmetik mahal khusus untuk Vivi telah dibelikan oleh Erny dan tersusun diatas sebuah meja rias.
“Wah…” Vivi bergumam kagum melihat persiapan Erny itu.
“Bagaimana? Si Erny sampai lembur lho untuk mempersiapkan ini semua.” Ujar Johan.
“Bagus sekali… Oh iya, Kak Erny sekarang ada dimana, Mas?” tanya Vivi penasaran. Memang, dari tadi ia tidak melihat atau bertemu dengan Erny sejak pertama kali ia menginjakkan kakiknya dirumah itu.
“Wah, Erny kemarin malam tiba-tiba ada urusan keluarga yang mendadak, makanya dia tiba-tiba pulang ke rumah orangtuanya. Katanya dia tidak bisa hadir di acara hari ini”
“Eh? Kenapa saya tidak diberitahu?” tanya Vivi terkejut mendengar berita itu.
“Sudahlah, tidak apa-apa. Yang penting kan kita berdua.”
“Bukan begitu! Saya juga mau Kak Erny ikut dalam acara hari ini. Kak Erny sudah banyak membantu saya dari kecil, jadi mana mungkin saya melupakan jasanya!”
“Aah, jangan dipikirkan, Vi! Yang penting semua persiapannya beres.” Ujar Johan
“Kok Mas Johan begitu sih? Bukannya Kak Erny itu juga istri Mas?” gerutu Vivi.
“Katanya kalau saya mau menerima lamaran Mas Johan, Kak Erny tidak akan diacuhkan?” ujar Vivi mengingatkan Johan akan janjinya saat melamar gadis itu. Memang Vivi bersikeras agar Johan tidak melupakan Erny apabila Vivi menjadi istrinya.Ya, pada awalnya memang Johan yang tergila-gila pada Vivi dan berulangkali mengutarakan cintanya pada Vivi. Vivi yang sebenarnya tahu diri dan tidak ingin mengkhianati sahabatnya, selalu menolak Johan; walaupun Vivi juga lebih memilih untuk tidak memberitahu Erny akan sikap suaminya itu untuk menjaga keutuhan rumah tangga Erny. Ironisnya, Vivi sama sekali tidak tahu kalau keputusannya untuk diam itu malah menimbulkan kesalahpahaman Erny. Namun, walaupun Vivi selalu berusaha mengelak, pertahanannya akhirnya terpaksa runtuh saat Johan mengancam akan menceraikan Erny untuk mengejar cinta Vivi apabila Vivi menolak menerima pinangannya. Dengan penuh keterpaksaan, Vivi pun menerima pinangan Johan demi menjaga kelangsungan rumah tangga Erny, dengan syarat bahwa Johan tidak akan meninggalkan Erny ataupun keluarga pertamanya.
“Ya sudah, kalau begitu nanti kita akan mengajak Erny pergi bareng waktu bulan madu, bagaimana?!” bujuk Johan.
“Yang benar, Mas?” wajah Vivi mulai tampak ceria kembali mendengar tawaran calon suaminya itu.
“Iya, iya. Saya janji. Nah, kamu jangan ngambek lagi ya?”
“Ya sudah deh kalau begitu. Nanti boleh kan kalau saya menelepon Kak Erny? Saya harus mengucapkan terima kasih!” tanya Vivi.
“Boleh! Vi, kenapa sih kamu itu segan banget dengan si Erny? Bukannya dia itu cuma kenalanmu saja?” tanya Johan penasaran sambil menggerutu.
“Bukan cuma kenalan Mas…” Ujar Vivi sambil tersenyum.
“Kak Erny itu sudah seperti kakak kandung saya sendiri. Saya masih ingat, waktu saya masih kecil dulu, Kak Erny sering merawat saya karena orangtua saya sering dikantor. Bisa dibilang kalau saya berhutang budi kepadanya. Lagipula, dia sering mengajari saya banyak hal dan menolong saya, makanya saya sangat menghormati Kak Erny.” Tutur Vivi menjelaskan perasaannya.
Johan menggumam sejenak, kalau memang demikian perasaan Vivi terhadap Erny, maka wajar saja apabila Vivi tidak pernah mau menerima pinangannya. Sebelumnya Johan hanya menganggap hubungan Erny dan Vivi hanya sebatas kenalan masa kecil semata. Ia tidak pernah tahu kalau Vivi punya perasaan sedalam itu pada Erny.
“Ooh, jadi itu alasan sebenarnya kenapa kamu menolak saya dari dulu?” tanya Johan sambil tersenyum.
“Hmm, bisa dibilang begitu sih…” gumam Vivi.
“Eh?” Vivi terkejut saat tiba-tiba Johan memeluknya dari belakang.
“Ya, ya, Vivi memang anak yang baik ya?” goda Johan sambil mengusap-usap kepala Vivi. Dibelainya pergelangan tangan Vivi yang tampak lebih putih, mulus dan wangi berkat lulur yang dipakaikan pada tubuh Vivi sebelum ia datang ke rumah Johan.
“Mas Johan, sabar dulu dong. Resepsinya kan belum mulai?” ujar Vivi dengan wajah memerah.
“Ya sudah deh, Sayang! Aku tunggu ya nanti?” tanya Johan. Vivi mengangguk kecil mengiyakan permintaan Johan itu.
“Eh, Kak Vivi? Kok sudah disini?” tiba-tiba terdengar suara anak kecil dari belakang. Rupanya Joanna terbangun dari tidurnya. Johan pun segera melepas pelukannya pada Vivi.
“Hai, Joanna.” Sapa Vivi sambil tersenyum ramah.
“Joan, kok panggilnya begitu? Bukan “Kak Vivi” lagi, tapi “Mami Vivi” tahu!” tegur Johan.
“Oh, iya. Maaf ya Kak… eh! Mami Vivi!” ujar Joanna salah tingkah.
“Hihihi… tidak apa-apa kok, Joanna. Tidak usah buru-buru, panggil saja sesuka Joanna, ya?” ujar Vivi sambil tertawa kecil.
“I… iya… Mami mau menikah hari ini kan? Boleh nggak kalau Joan melihat Mami waktu pakai gaun?” tanya Joanna penasaran.
“Boleh dong. Nah, sekarang Joanna tidur dulu ya, kan masih pagi? Joanna harus istirahat yang cukup. Nanti Mami bangunkan kalau sudah selesai ya?” bujuk Vivi.
“Iya!” ujar Joanna sambil mengangguk senang. Vivi segera menuntun Joanna kembali menuju kamarnya.
Setelah berhasil menidurkan Joanna, Vivi pun kembali pergi ke kamar Erny.
“Joanna sudah tidur?” tanya Johan.
“Sudah.” Jawab Vivi ceria.
“Baguslah. Oh iya, kamu harus mulai siap-siap, sebentar lagi penata riasnya datang.” ujar Johan sambil berlalu keluar dari kamar Erny untuk mempersiapkan diri.
“Nanti Mas Johan langsung berangkat ke tempat upacara ya?” tanya Vivi.
“Iya, kalau sudah selesai, nanti kamu langsung naik saja ke mobil pengantin. Supirnya sudah tahu tempatnya.” Jawab Johan.
“Sampai ketemu nanti ya, Sayang? Saya tunggu di altar.” lanjut Johan sambil melambaikan tangannya pada Vivi yang dibalas dengan senyuman Vivi.
“Huff…” Vivi menghela nafas sejenak saat Johan menutup pintu kamar itu. Vivi langsung merebahkan dirinya sejenak diatas ranjang Erny.
Sejenak Vivi tampak terhanyut dengan pikirannya, bagaimanapun setelah ini, ia akan tinggal serumah dengan Erny. Vivi nyaris tidak percaya kalau ia sebentar lagi akan menikah dengan Johan, hari-hari itu serasa berlalu begitu cepat. Sikap Erny yang menerimanya dengan lapang sedikit memberatkan hati Vivi; apapun alasannya Vivi masih merasa telah mengkhianati Erny dengan menerima lamaran Johan walaupun sebenarnya itu juga demi kebaikan Erny. Apakah memang pilihannya ini adalah yang terbaik? Itulah pikiran yang terngiang sejenak didalam benak Vivi. Vivi menoleh kesamping, dilihatnya gaun putih yang indah yang sebentar lagi akan dikenakannya menuju pelaminan. Vivi bangkit dari ranjang itu dan berjalan menuju gaun itu, ia tersenyum sejenak saat mengamati gaun itu. Erny telah memilihkan gaun yang amat sesuai baginya. Gaun pengantin putih berbahan satin itu tampak anggun dengan model off-shoulder yang akan menampakkan keindahan bahu Vivi. Atasan gaun Vivi tampak sederhana dengan dan dengan taburan kristal-kristal imitasi kecil yang membentuk lekuk garis-garis yang cantik yang seolah terlukis dengan indah diatas kanvas berupa gaun pengantin satin itu. Sementara bordir-bordir halus dengan sulaman renda yang indah tampak menghiasi bagian pinggang dan ujung rok gaun itu, sebuah pita putih besar menutupi zipper dibagian punggung gaun pengantin Vivi. Vivi mengambil gantungan gaun itu dan menempelkan gaun itu di tubuhnya. Dilihatnya cermin meja rias dimana pantulan bayangannya terpampang dicermin itu. Vivi memutarkan tubuhnya sejenak untuk melihat apakah gaun itu pas di tubuhnya, dan tampak jelas kalau gaun itu benar-benar sesuai untuknya. Vivi membayangkan kehidupan barunya yang akan dimulai dirumah itu. Walaupun agak canggung, dilain pihak, Vivi merasa amat senang dan bahagia karena ia akan tinggal bersama Erny, ia berharap bahwa dirinya dapat membantu Erny sebisa mungkin dan itulah salah satu sebab mengapa ia mau menerima pinangan Johan selain dari ancaman Johan itu. Bagaimana nanti ia akan tinggal bersama Johan dan Erny dengan status yang sama seperti Erny. Bagaimana dirinya dan Erny akan saling bahu-membahu dalam kegiatan rumah tangga mereka, mulai dari merawat anak, memasak ataupun melayani Johan. Perlahan perasaan galau yang sempat menyelimuti hati Vivi lenyap.
TOK… TOK… tiba-tiba pintu kamar Vivi diketuk. Vivi segera beranjak membuka pintu dan dilihatnya 2 orang wanita muda yang membawa seperangkat alat rias. Dengan ceria, Vivi mempersilahkan mereka untuk masuk kedalam kamar Erny. Selama sekitar 1 jam, Vivi dirias oleh kedua penata riasnya itu. Setelah selesai, Vivi tampak kagum dengan penampilannya sebagai seorang pengantin wanita. Vivi mengenakan gaun pengantinnya yang dilengkapi dengan aksesoris-aksesoris tambahan seperti sebuah petticoat untuk menyangga rok gaun Vivi, sebuah mahkota keemasan yang menghiasi kepala Vivi dan sepasang sarung tangan putih sutra yang menyelimuti jari-jari Vivi hingga ke lengan. Rambut hitam panjang Vivi disanggul dan sebuah slayer putih bermotif bunga-bunga diselipkan pada sanggul rambut Vivi. Wajah Vivi yang dirias tampak amat mempesona. Alis mata Vivi ditebalkan sementara bulu matanya dilentikkan. Dengan sapuan ringan eye-shadow yang tampak berkilau, mata Vivi tampak berseri. Riasan bedak yang tipis dan olesan lipstik merah muda kian menekankan kecantikan alami Vivi. TOK… TOK… kembali pintu kamar itu diketuk.
“Mamii, ada om gendut yang naik mobil. Katanya mau jemput mami!” terdengar seruan Joanna dari balik pintu. “Oh, itu pasti mobil pengantinnya!” pikir Vivi.
“Iya, Joanna! Sebentar ya!” jawab Vivi sambil merapikan penampilannya terakhir kali sebelum berangkat. Setelah memastikan semuanya telah beres, Vivi segera beranjak keluar dari kamarnya; Vivi berpapasan dengan Joanna yang menunggunya. Joanna pun tampak terpana dengan penampilan Vivi.
“Waah, Mami cantik sekali!” puji Joanna.
“Terima kasih, Joanna.”balas Vivi sambil tersenyum. Vivi membungkuk sejenak, mengangkat slayer yang menutupi wajahnya dan melayangkan ciuman sayang pada pipi Joanna.
“Nanti kita ngobrol lagi ya? Sekarang Mami pergi dulu, sudah dijemput nih!” ujar Vivi. Joanna mengangguk senang mengiyakan. Vivi segera berlalu menuju mobil pengantinnya. Kali ini, ia bertemu dengan supir mobil itu yang tak lain adalah Yono.
“Wah, Neng Vivi ya? Cantik sekali, hehehe…” puji Yono sambil tertawa cengengesan.
“Terima kasih, Pak.” Jawab Vivi. Sebenarnya Vivi merasa agak jijik dan resah melihat Yono, apalagi dengan raut wajah dan sorot mata Yono yang tampak seolah hendak menelanjangi tubuh Vivi, namun Vivi tetap berusaha ramah sebisa mungkin dan menghilangkan firasat buruknya.
“Ayo, ayo Neng, silakan masuk!” Yono segera membuka pintu mobil itu dan mempersilahkan Vivi untuk masuk. Vivi mengangkat rok gaunnya dengan dibantu oleh kedua periasnya. Pintu mobil itu pun ditutup oleh Yono dan melaju membawa Vivi bersamanya.
“Neng Vivi, umurnya sekarang berapa?” tanya Yono sambil mengemudikan mobilnya.
“23, Pak…” jawab Vivi.
“Wuiih, masih muda tuh neng! Ngapain buru-buru nikah? Mendingan cari jodoh lain saja dulu, pasti banyak cowok yang mau!” ujar Yono.
“Oh ya?”
“Iya laah, saya mau kok, kalau punya istri secantik Neng Vivi, hehehe…” ujar Yono.
Vivi merasa agak risih mendengar perkataan itu, sekali lagi Vivi berusaha menghilangkan rasa tidak senangnya pada Yono dengan tersenyum kecil. Ia berusaha menganggap bahwa Yono hanya bercanda semata. Vivi pun berusaha mengalihkan perhatiannya dengan melihat pemandangan diluar dan tidak begitu menghiraukan perkataan Yono. Pemandangan jalan perumahan itu segera berganti menjadi pemandangan jalan tol, sebelum akhirnya memasuki jalan-jalan kecil dalam sebuah kompleks. Sinar matahari masih belum begitu terasa karena saat itu waktu masih menunjukkan pukul 7 pagi.
CKIIIIT…. Tiba-tiba mobil pengantin itu direm mendadak.
“Aduh!” jerit Vivi saat tubuhnya terpental menghantam kursi pengemudi.
“Ada apa sih, Pak?” tanya Vivi sambil beranjak bangkit kembali ke kursi penumpang.
“Itu, neng… ada mobil di depan…” ujar Yono. Vivi menoleh keluar dan memang terdapat sebuah mobil minibus yang berhenti tepat didepan mereka.
“Kenapa tuh, Pak? Coba diklakson saja.” Saran Vivi. Namun belum sempat Yono menekan klaksonnya, sesosok wanita turun dari mobil itu. Vivi terkejut saat menyadari kalau wanita itu tak lain adalah Erny. Erny tampak tergopoh-gopoh menghampiri mobil pengantin Vivi dan mengetuk kaca mobil Vivi. Vivi segera menurunkan kaca mobilnya itu.
“Kak Erny? Ada apa? Bukannya Kakak kembali ke Bandung kemarin?” tanya Vivi terkejut.
“Vi, tolong kakak! Kakak sekarang sedang ada masalah!” ujar Erny dengan nada panik.
“Kenapa Kak? Apa yang bisa Vivi bantu?” tanya Vivi dengan penuh kecemasan.
“Tadi Joanna ditinggalkan dirumah sendirian ya?” tanya Erny. Vivi mengangguk, Joanna memang ditinggalkan karena nanti akan dijemput oleh keluarga Johan pada saat resepsi.
“Begini, Vi! Tadi subuh kakak ditelepon oleh seseorang yang mengancam mau menculik Joanna! Dia tahu kapan Joanna sendirian dirumah!”
“Hah?! Kenapa bisa begitu kak?!”
“Dia pegawai sewaan kakak untuk acara ini! Sepertinya dia sengaja melamar untuk menculik Joanna!” terang Erny. Sontak Vivi pun ikut panik setelah mendengar penjelasan Erny, Ia juga merasa bertanggung jawab karena telah meninggalkan Joanna sendirian di rumah.
“Jadi, jadi bagaimana Kak?! Apa yang bisa Vivi bantu?” tanya Vivi dengan panik.
“Vi, kamu boleh ikut dengan kakak? Kita langsung saja kembali bareng!” tanya Erny.
“Boleh kak! Vivi ikut dengan kakak!” Vivi langsung beranjak keluar dari mobilnya tanpa pikir panjang lagi karena kepanikan yang melanda pikirannya. Vivi berjalan terburu-buru menuju minibus itu, agak sulit memang, karena sepatu hak tinggi yang dikenakannya; namun Vivi tetap berusaha untuk berjalan secepat mungkin dan ia segera masuk kedalam minibus itu.
“Ayo, Pak! Bapak ikut sekalian, supaya bapak bisa menjaga kami!” pinta Erny pada Yono.
Yono juga segera keluar dari mobilnya dan menyusul Vivi kedalam minibus Erny.
Pintu mobil minibus itu ditutup dan mobil itu segera melaju, meninggalkan mobil pengantin Vivi yang diparkir ditepi jalanan tanpa seorangpun didalamnya. Vivi duduk di kursi belakang minibus itu dengan diapit oleh Erny dikanan dan Yono dikiri. Perasaan cemas menghantui pikiran Vivi, namun ada hal lain yang juga semakin membuatnya risih, yaitu Yono yang duduk disampingnya. Vivi menyadari kalau Yono sesekali memegang rok gaun pengantin Vivi dan memainkannya dengan jari tangannya yang gemuk dan hitam itu. Yono juga kepergok beberapa kali mendekatkan wajahnya didekat Vivi dan menghirup nafas sedalam mungkin, seolah meresapi wangi tubuh Vivi itu. Vivi berusaha menjauhkan diri, namun agak susah baginya karena rok gaun pengantinnya sudah cukup banyak memakan tempat akibat petticoat yang ia kenakan.
“Maaf ya, Vi. Acaramu jadi kacau begini…” tiba-tiba terdengar suara Erny yang meminta maaf pada Vivi.
“Tidak apa-apa, Kak! Yang penting Joanna selamat, semoga kita belum terlambat…” jawab Vivi.
“Aah… coba kemarin Kakak membawa Joanna bareng ke Bandung…” ujar Erny.
“Tenang Kak, saya yakin Joanna akan selamat. Yang penting sekarang kita harus tepat waktu.” ujar Vivi sambil berusaha menghibur Erny.
“Makasih ya, Vi…” jawab Erny,
Vivi mengangguk sambil tersenyum kecil untuk menenangkan Erny. Dalam hatinya, Vivi berharap agar mereka dapat sampai tepat waktu. Minibus itu pun terus dipacu dengan kecepatan tinggi melewati jalan tol. Seiring berjalannya waktu, Vivi mulai merasa agak curiga. Seingatnya, Erny tidak punya minibus, dan yang jelas minibus yang ditumpanginya tidak kelihatan seperti mobil sewaan karena tidak ada lambang perusahaan penyewaan. Lagipula, arah mobil itu seperti berputar-putar kearah yang berlawanan dari rumah Erny.
“Kak Erny, mobil ini mobilnya siapa? Vivi belum pernah melihat mobil ini sebelumnya.” Tanya Vivi.
“Oh… ini mobil keluarga di Bandung…” tutur Erny.
“Tapi kenapa pelatnya bukan pelat Bandung? Pelat mobil ini kan B, bukan D” Vivi kembali bertanya keheranan.
“Oh… itu… mobil dinas… ya! Mobil dinas keluarga kakak, soalnya dia sering ke Jakarta!” jelas Erny. Vivi mengrenyitkan dahinya sejenak, nada suara Erny seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Vivi yang sudah lama mengenal Erny tentu saja heran dengan tingkah dan kelakuan Erny tersebut.
“Pak supir, kenapa jalannya lewat tol ini, bukannya lebih cepat kalau kita ambil tol di depan?” tanya Vivi saat minibus itu kembali melenceng dari arah yang seharusnya, namun pengemudi minibus itu tidak menjawab dan merespon pertanyaan Vivi. Erny semakin khawatir dan tampak cemas
“Eh, Vi! Itu bukannya mobil Mas Johan?!” tiba-tiba Erny berseru memecah keheningan.
“Eh?! Mas Johan?” Vivi langsung mendekatkan diri ke kaca jendela minibus itu. diamatinya sejenak keadaan dijalan, namun ia tidak melihat adanya mobil milik Johan. Vivi tidak menyadari kalau Erny mengeluarkan sehelai saputangan dari dalam tasnya.
“Hmmp?” Vivi sontak terkejut saat tangan Erny membekap hidung dan mulut Vivi dengan saputangan itu.
“MMFF!! MMM!!” Vivi berusaha berontak, namun Yono dengan sigap mencengkeram kedua tangan Vivi sehingga gerakan Vivi teredam.
“Bagus, No! Tahan terus! Jangan lepaskan dia!!” perintah Erny sambil terus menekankan saputangan itu kehidung Vivi.
Perlahan-lahan, tubuh Vivi terasa lemas dan pandangannya terasa gelap. Vivi pun akhirnya berhasil terbius oleh obat bius yang dilumurkan Erny ke sapu tangan itu. Setelah memastikan kalau Vivi telah tertidur, Erny melepaskan sapu tangan itu dari wajah Vivi. Vivi pun segera jatuh rebah kedalam pelukan Yono. Yono tampak ceria saat tubuh tambunnya ditimpa oleh tubuh lembut Vivi, Ia segera memeluk Vivi yang telah tertidur itu dan meremas-remas pantat Vivi yang montok.
“Hampir saja! Iqbal, kita langsung ke tempat Aziz.” Perintah Erny. Supir minibus itu segera mengubah haluan dan berangkat menuju tempat yang disebut oleh Erny.
“Wuiih, udah cakep, lembut pula nih cewek! Enaak, dapat penganten baru.” puji Yono
“Oi, No! Jangan buru-buru kau! Aku masih belum dapat jatah cewek itu!” bentak supir minibus itu yang tak lain adalah Iqbal.
“Aah, tenang aja Bal! Aku cuma peluk-peluk saja kok! Nanti dia kita bagi rame-rame! Hmm… Wangii” jawab Yono sambil mencium aroma wangi tubuh Vivi.
“Awas kau kalau main duluan!” ancam Iqbal sambil kian memacu kencang mobilnya sementara Vivi terus tidak sadarkan diri karena terbius sepanjang perjalanan itu dan tubuhnya terus digerayangi Yono yang mencubit-cubit gemas kulit Vivi yang putih mulus. Erny sendiri sibuk mengelap keringatnya yang mengucur deras akibat ketakutan bahwa rencananya nyaris saja gagal. Saat tersadar, kepala Vivi terasa melayang-layang dan pusing sementara tubuhnya terasa lemas tanpa tenaga. Vivi berusaha bergerak, namun kedua tangannya tidak merespon sama sekali. Tangannya serasa terikat menempel jadi satu dan hanya bisa bergerak naik turun, namun kakinya masih bisa bergerak bebas. Vivi berusaha menghentakkan kakinya, ia bisa merasakan kakinya menyentuh lantai. Berarti ia dalam posisi berdiri, namun dimanakah ia sekarang?
Vivi membuka matanya perlahan, segalanya tampak kabur seperti ada embun yang menutupi permukaan matanya, namun Vivi bisa mencium bau cat dan karton yang apek disekitar tempatnya sekarang.
“Oi, si penganten kita udah bangun tuh!” sayup-sayup terdengar suara pria di telinga Vivi. Siapa? Pikir Vivi, namun ia tidak bisa melihat jelas pemandangan sekitarnya. Ia hanya bisa melihat bayangan 4 orang yang bergerak mendekatinya.
“Hehehe… bangun juga akhirnya. Udah nggak sabar aku, moga-moga dia masih perawan!” terdengar suara laki-laki lainnya yang bergema diruangan itu. Mendengar ucapan “semoga masih perawan” itu, Vivi sontak terkejut dan tubuhnya langsung diselimuti ketakutan yang mencekam. Ucapan itu hanya berarti satu hal: yaitu ia akan segera diperkosa oleh para lelaki ini!
“Siapa di sana?! Jangan mendekat!!” Vivi berteriak dengan panik, namun bayangan keempat orang itu kian mendekat, seolah mengacuhkan dirinya.
Karena merasa keselamatan dan kehormatannya kian terancam, Vivi semakin panik dan ketakutan. Kakinya segera diayunkannya dengan keras kearah bayangan orang-orang itu dengan harapan agar tendangannya itu dapat menakuti mereka. Namun usahanya sia-sia saja, selain tubuhnya yang terasa lemas, petticoat dan rok gaun Vivi kian mengurangi kekuatan tendangan Vivi. Wajar saja kalau tendangannya meleset semua. Dengan usaha keras, Vivi kembali mengayunkan tendangannya, namun kali ini malah kakinya berhasil ditangkap oleh salah satu orang-orang itu. Habislah sudah pertahanan Vivi, kini dirinya sudah mati kutu dikelilingi oleh 4 orang itu.
“Wuiih, galak juga nih cewek! Seraam… hahaha…” ejek salah satu orang-orang itu.
“Nendang angin aja luh!” ejek suara lelaki yang lain.
“Tolong… saya mohon… jangan sakiti saya!” pinta Vivi dengan putus asa.
“Lhoo… siapa bilang mau disakitin, Neng? Kita mau bikin Neng Vivi keenakan kok!” tiba-tiba terdengar suara dari belakang Vivi.
“Hegh!” Vivi terhenyak sejenak saat lehernya dicengkeram dari belakang. Sejenak terasa hembusan nafas yang memburu menyentuh permukaan kulit Vivi.
“Ah!” Vivi terkejut saat merasakan sesuatu yang lunak dan licin menyapu jenjang lehernya dari belakang dan mengoleskan cairan yang lengket dan kental ke permukaan kulit leher Vivi. Vivi akhirnya menyadari kalau saat ini ada seseorang yang menjilati lehernya itu.
“Enaak, makin nggak sabar aku! Tenang saja neng, nanti pasti neng ketagihan kok main bareng-bareng kita!” goda lelaki yang menjilati leher Vivi itu.
“Tidak… Saya tidak mau!!! TOL…”
PLAAK! Belum sempat Vivi berteriak, tiba-tiba sebuah tamparan mendarat telak di pipinya yang mulus, tak pelak, pipi yang putih mulus itu kini tampak merah merona akibat tamparan yang keras itu.
“Siapa yang suruh kamu teriak, heh?! Dasar pelacur!” tiba-tiba terdengar suara perempuan diruangan itu. Vivi tersentak, ia merasa sangat mengenali suara itu.
“Kak… Erny…?” ujar Vivi setengah tidak percaya, suara itu sekilas mirip dengan suara Erny, namun apa mungkin sosok Erny yang ia hormati dan kagumi itu rela berbuat seperti ini?
“Buta apa? Dasar wanita penggoda!” jawab suara perempuan itu.
“Waduh…waduh… tenang bu. Kayaknya Neng Vivi nggak bisa melihat kita dengan jelas, dia kan baru bangun?” ujar seorang lelaki menenangkan perempuan itu.
“Pantas aja nendangnya nggak kuat. Setengah buta ya?” gumam lelaki yang lain.
“Hmph!” gerutu perempuan itu sejenak, ia lalu berbalik arah dan mengambil sesuatu sebelum kembali mendekati Vivi dengan sesuatu ditangannya. BYUUR!
“Aah!” Vivi menjerit saat wajahnya disiram dengan air yang dingin. Perempuan itu langsung maju dan mengucek kedua kelopak mata Vivi dengan kasar.
“Nih! Bisa lihat belum kamu haah?! Bisa lihat belum?!” ujar perempuan itu penuh kegeraman.
“Jangan! Jangan! Aduh! Sakiit… Saya mohon! Hentikan!!” Vivi menjerit-jerit kesakitan karena gosokan kasar perempuan itu di kedua belah matanya.
“Udah… udah Bu! Jangan terlalu keras, nanti bisa buta Neng Vivinya!” kembali terdengar suara lelaki yang menenangkan kemarahan perempuan itu.
Perempuan itu pun menghentikan kucekannya, sementara wajah Vivi dilap pelan dengan sebuah kain yang berbau apek. Setelah wajahnya kering, Vivi kembali membuka matanya, kini pemandangan yang dilihatnya cukup jelas. Ia bisa melihat lantai semen dan rok gaunnya yang membentang beserta kedua pergelangan tangannya yang diikat menjadi satu dengan seutas tali tambang yang tampak terjulur ke atas.
Perlahan-lahan, Vivi mendongakkan kepalanya untuk melihat wujud asli keempat bayangan itu sekaligus memastikan dugaannya. Vivi benar-benar terkejut dan amat shock saat melihat Erny berdiri dihadapannya bersama 3 orang lelaki yang buruk rupa. Vivi mengenal 2 orang diantaranya, yaitu si supir mobil pengantin yang gemuk yang sekarang berada dibelakang tubuhnya dan si supir minibus beserta seorang pria lagi berada disamping Erny, yang sedang menahan kakinya namun pria ketiga yang kurus dan bertompel itu sama sekali belum pernah dilihat Vivi.
“Kak Erny? Apa ini?! Kenapa Vivi dibeginikan?” tanya Vivi setengah tidak percaya, setengah ketakutan.
“Pakai tanya lagi! Ini hukuman buat kamu, dasar pelacur!” umpat Erny.
“Apa salah Vivi kak?! Kenapa Kak Erny jadi begini?!” Vivi semakin tidak percaya dengan sikap Erny itu. Betapa tidak, Erny yang sehari-harinya begitu baik padanya, kini berubah total seperti orang lain.
“Dasar kucing garong!! Enak saja merebut suami orang! Pura-pura tidak bersalah lagi!” umpat Erny.
“Saya nggak menyangka kalau kamu bisa setega itu! Saya merawat kamu dari kecil dan ini balasannya? Hah?! Dasar wanita penggoda!!” bentak Erny penuh emosi.
Hati Vivi seketika terasa sakit tersayat-sayat saat mendengar kata-kata Erny itu. Bukan niat hatinya untuk merebut suami Erny, namun itu lebih karena pengaruh dorongan Johan yang tergila-gila padanya. Niat baiknya yang merahasiakan pendekatan-pendekatan Johan pada dirinya malah kini menjadi bumerang yang berbalik mengancam keselamatan dirinya.
“Bukan kak… itu… itu…” Vivi berusaha menjelaskan keadaannya pada Erny, namun itu malah memancing emosi Erny. Erny beranjak mendekati wajah Vivi dan PLAAK… kembali ditamparnya pipi mulus Vivi sekali lagi.
“Diam kamu! Jangan banyak alasan!! Saya bunuh kamu kalau macam-macam!!” ancam Erny.
Vivi sadar, Erny yang sekarang bukanlah Erny yang biasanya ia kenal dan ia hormati, Erny yang ada di depannya saat ini adalah seorang wanita yang terbakar dan dibutakan oleh dendam. Vivi tidak mungkin dapat mengutarakan apapun bagi Erny dalam keadaan emosi seperti ini. Tanpa bisa dicegah lagi, Vivi menitikkan air mata saat merasakan rasa pilu karena perubahan sikap sahabatnya itu.
“Maaf… Kak… Vivi minta maaf… Tolong maafin Vivi Kak…” Vivi mengiba dihadapan Erny, Vivi berharap masih ada rasa belas kasihan dari Erny. Bagaimanapun Vivi masih bisa mengerti apabila Erny marah dan hal itu tidak lebih dari kesalahpahaman semata.
“Aah, sudah! Jangan banyak bacot kau! Sekarang nurut saja atau kami main kasar!” tiba-tiba Iqbal membentak Vivi.
“Kak, Vivi mohon…”
Mendengar Vivi yang tidak menggubris ancamannya, Iqbal langsung naik pitam, ia berjalan ke arah Yono dan mendorong pria gemuk itu menjauh dari tubuh Vivi.
“AAH!” Vivi menjerit kesakitan saat sanggul rambutnya dijambak dengan kasar oleh Iqbal.
“Heh? Kau dengar tidak?! Aku suruh kau jangan banyak bacot! Mau kusuruh preman-preman lain kesini biar kau dientot lebih lama, Heh?!” bentak Iqbal ditelinga Vivi.
“A… ampun Pak… Aduh…ampun…” Vivi kembali mengaduh karena cengkeraman tangan Iqbal di rambutnya.
“Sudah! Pakai saja dia sesuka kalian!! Ajarkan dia supaya tahu diri!!” perintah Erny yang langsung ditanggapi dengan seringai ketiga pria itu. Vivi amat shock dengan sikap Erny itu. Ia masih tidak bisa mempercayai kalau wanita yang dianggapnya seperti kakaknya sendiri itu tega berbuat sekeji ini.
“Jangan Kak! Ampun! Tolong saya, jangan perkosa saya!!” Vivi menjerit-jerit ketakutan, namun sia-sia saja. Ketiga pria itu sudah keburu berada dihadapannya, sementara Erny sama sekali tidak menghiraukan jeritan dan isak tangis Vivi, ia malah duduk disebuah kursi dihadapan Vivi untuk “menonton” pelajaran yang akan diberikan ketiga pria itu bagi Vivi.
“No, tarik talinya!” Iqbal memberi perintah kepada Yono. Yono dengan cengengesan segera memutar sebuah gagang besi yang menarik tali tambang yang mengikat tangan Vivi. Otomatis, kedua tangan Vivi tertarik keatas dan tubuh Vivi ikut melayang tergantung oleh tali tambang itu. Aziz tetap menahan kaki Vivi yang tadi ditangkapnya itu.
“Aduuh! Sakit…” Vivi meringis menahan perih ditangannya karena tubuhnya tergantung dengan bertumpu pada kedua tangannya yang terikat erat pada tambang itu.
Vivi sempat mendongak keatas dan dilihatnya tali yang mengikat tangannya terpasang pada sebuah katrol besi yang ada di langit-langit ruangan itu. Ruangan itu tampak seperti sebuah gudang yang sudah lama ditinggalkan, banyak kardus karton berserakan dan beberapa kaleng cat disekitar gudang itu, apalagi dengan adanya katrol yang kini mengangkat tubuh Vivi, sudah jelas bahwa ruangan itu adalah sebuah gudang peralatan, namun Vivi sama sekali tidak tahu dimana lokasi gudang itu karena ia dibius saat dibawa ke gudang itu.
“Wah, kakinya muluus…” Vivi tersentak saat mendengar celotehan Aziz yang sedang mengagumi kakinya. Aziz mengelus sambil mengendusi betis kaki Vivi yang masih dibalut stocking putih itu. Vivi merasa jijik dengan tingkah laku Aziz itu, namun apa dayanya? Ia tidak bisa berontak sama sekali dengan keadaan tergantung seperti ini. Aziz lalu melepaskan sepatu hak tinggi putih yang masih terpasang di kaki Vivi. Dengan rakusnya, ia segera mengemut jempol kaki Vivi.
“Ah! Jangan Pak!” Vivi menjerit, namun sia-sia saja. Jempol kakinya sudah keburu berada didalam mulut Aziz. Aziz mengenyot jempol kaki Vivi dengan perlahan sambil menjilat-jilati dan mengisap tiap jari kaki Vivi, sehingga Vivi menggelinjang pelan akibat rasa geli yang melanda kaki kanannya itu. Apalagi saat Aziz sedikit menggigiti ujung-ujung jari kakinya.
“EH?!” Vivi kembali tersentak saat kedua belah payudaranya dicengkeram dari belakang oleh sepasang telapak tangan yang hitam dan gemuk. Vivi merasakan hembusan nafas yang tidak asing lagi; Vivi menoleh kebelakang dan dilihatnya Yono sedang terkekeh-kekeh.
“Ah?!” Vivi menjerit kecil saat tangan Yono meremas payudaranya.
“Hehehe… Nah, mau bagaimana nih sekarang?” gumam Yono sambil mendekatkan tubuhnya menempeli tubuh Vivi dari belakang.
“Hentikan Pak… Jangan… AW!” Vivi mengaduh kesakitan saat Yono mencubit payudaranya yang kenyal itu.
“Bego kau, No! Kalau begitu mana bisa dia keenakan?! Biar kuajarin kau!” umpat Iqbal.
Tanpa basa-basi, Iqbal langsung mengeluarkan sebilah pisau dan menebas strap bahu gaun pengantin Vivi hingga putus. Dengan gampangnya, Iqbal melorotkan bagian dada gaun pengantin Vivi, sehingga tampaklah sebuah bra berenda berwarna putih susu yang menutupi payudara Vivi. Iqbal dan Yono mengamati dada Vivi sejenak, ukurannya memang tidak terlalu besar, namun tampak sesuai dengan bentuk tubuh Vivi. Belahan dada Vivi tampak menggemaskan dan menggoda.
“Nah, diam kau! Atau kutebas kau dengan pisau ini!” ancam Iqbal. Vivi hanya bisa menjawab dengan rintihan-rintihan menahan rasa geli di kakinya akibat jilatan Aziz. Vivi tak bisa berbuat banyak karena ia tahu Iqbal adalah tipe orang yang serius dan kejam. Ia hanya bisa pasrah sesunggukan saat pisau Aziz merobek bagian tengah bra putihnya, sehingga kedua belah payudara yang putih mulus dengan puting susu yang merah muda begitu menggoda itu kini tergantung, tersaji dihadapan Aziz dan Yono.
“Nah, begini caranya!” ujar Iqbal sambil mencengkeram dada kanan Vivi dengan telapak tangannya yang berotot.
“Ah…” Vivi mendesah pelan saat Iqbal mengelus pelan payudaranya yang mulus itu, tangan Iqbal dengan pelan meraba permukaan kulit payudaranya. Bulu kuduk Vivi langsung berdiri akibat rabaan permukaan tangan Iqbal yang kasar. Iqbal sesekali menyentil puting susu Vivi dengan kukunya yang panjang, akibatnya Vivi langsung bergidik kegelian. Sesekali terdengar desahan yang tertahan dari bibir Vivi yang mengiringi isak tangisnya.
“Aakh…” Vivi langsung melenguh saat Aziz meremas dan menekan payudaranya itu. Rasanya seperti dipijat, jauh berbeda dengan remasan Yono barusan. Mungkin hal itu karena tangan Iqbal yang kekar jauh lebih bertenaga dibandingkan tangan Yono. Iqbal terus mempermainkan payudara Vivi dengan berbagai cara. Sesekali dicubitnya puting susu Vivi ataupun ditekannya keras hingga puting susu Vivi tertekan masuk seiring dengan pijatan dan remasannya di payudara Vivi.
Diperlakukan sedemikian rupa, gairah seksual Vivi mulai bangkit secara otomatis. Walaupun ia sedang terisak menangisi nasibnya, hal itu tidak mempengaruhi rasa geli dan sedikit nikmat yang mulai menjalari tubuhnya. Dadanya serasa diairi listrik yang menyengatnya dengan rasa nikmat saat Iqbal mencubiti atau menekan putingnya. Yono yang dari tadi hanya menonton, mulai tidak sabar. Katrol itu kembali diputarnya sedikit.
“Aww! Sakiit…” Vivi kembali meringis kesakitan saat tubuhnya dikatrol keatas sehingga melayang sedikit lebih tinggi.
Yono berjalan ke arah Vivi, ia lalu berdiri di hadapan dada Vivi, memang setelah tubuhnya dikatrol, kini dada Vivi tepat berada dihadapan wajah Yono. Yono bisa melihat payudara kanan Vivi yang memerah akibat pijatan Iqbal, matanya kini tertuju pada payudara kiri Vivi yang masih putih mulus.
HAPP... Tanpa banyak dikomando, Yono segera melahap payudara Vivi itu. Bibirnya melingkari puting payudara Vivi dan payudara itu dikenyotnya dengan pelan, seolah bayi yang menyusu pada ibunya saja.
“Aduh!” Vivi menjerit saat puting susunya digigiti dan dihisap oleh Yono.
Yono terus menghisap dan menyedot payudara Vivi dengan kuat, seolah hendak menyedot keluar air susu Vivi, namun sia-sia saja karena Vivi belum pernah melahirkan, sehingga air susunya tentu belum bisa keluar. Vivi semakin kebingungan akibat rasa yang kontras antara rasa sakit-sedikit nikmat di payudara kirinya berpadu dengan kenikmatan di payudara kanannya langsung menyebar menjalari tubuhnya. Kesadaran Vivi semakin melemah akibat sensasi-sensasi yang melanda dada dan kakinya.
“Hmmp… empuk… hmp… enaak…” celoteh Yono sambil menikmati payudara Vivi itu.
“Ahk… Jangan Pak… saya mohon… hentikan Pak… Ah… aghh…” Vivi memohon dengan lirih, berharap Yono melepaskan kenyotannya itu, walaupun suaranya kini bercampur dengan desahan nikmat.
“Enak tuh, No?” tanya Aziz sambil menghentikan kulumannya pada kaki Vivi.
“Sip dah pokoknya!! Sayang nih cewek masih belum pernah bunting, coba kalau udah punya anak, kita bisa minum susunya sekarang! Montok nih coy!” celoteh Yono sambil menggoyang-goyangkan payudara Vivi.
“Bego benar kau No! Justru kalau udah bunting, berarti memeknya udah bekas! Enakan gini! Kayaknya masih perawan nih dia!” hardik Iqbal.
“Tolong… Pak… aahk… ahh… hentikan… ooh…” desahan-desahan Vivi semakin jelas terdengar dari mulutnya.
“Ah, sok alim pula kau! Minta-minta berhenti padahal keenakan!” bentak Iqbal.
“Sudah! Kalian lihat saja isi dibalik roknya! Nanti juga ketahuan dia itu perempuan macam apa!” tiba-tiba Erny memberi perintah pada ketiga orang itu.
“Wah, bener juga tuh, Bu! Bal, No! Bantuin aku dong!” ujar Aziz.
“Ah, kau sajalah, Bal! Nanti aku nyusul! Aku belum puas netekin susunya cewek ini!” ujar Yono cuek.
Iqbal segera melepas cengkeraman tangannya dari dada Vivi. Ia lalu mengambil dua buah kait besar yang tampaknya terpasang di katrol itu sebelum Vivi digantung disana.
“Mau apa kau pakai kait itu, Bal?” tanya Aziz penasaran.
“Lihat sajalah kau! Jangan banyak bacot!” bentak Iqbal.
Iqbal mulai memasang kedua kait itu pada dua utas tali. Kemudian, ia menyambungkan kedua utas tali kait itu dengan tali yang terpasang di katrol itu. Kedua kait itu sengaja diposisikan terpasang satu dihadapan Vivi, dan satu lagi dibelakang tubuh Vivi. Iqbal segera mengaitkan rok petticoat Vivi ke kait itu di kedua sisi depan dan belakang. Tuas katrol itu kembali ia putar.
“Aah?!” tubuh Vivi kembali terangkat, namun kali ini roknya juga ikut terangkat hingga ke pinggang karena kait yang terpasang di petticoat Vivi.
Pegangan Aziz dan kenyotan Yono pun terhenti akibat naiknya tubuh Vivi yang kini melayang tergantung sekitar 50 cm diatas lantai gudang itu. Akibatnya, selangkangan Vivi terpampang jelas dihadapan Erny dan ketiga pria itu. Mereka bisa melihat bagaimana selangkangan Vivi terlindungi oleh celana dalam putih berenda dan sebuah suspender yang melingkari pinggang Vivi mengaitkan stocking sutra berwarna putih milik Vivi yang sebagian menutupi paha Vivi yang mulus.
“Hahaha… keliatan jelas tuh celana dalamnya! Putih bersih tuh! Suit… suiitt…” ejek Aziz sambil bersiul.
“Pahanya mulus banget tuh! Hehehe…” komentar Yono.
“Celana dalamnya sudah basah tuh rupanya! Ngompol yah, Neng?” tambah Aziz saat melihat celana dalam Vivi yang mulai basah dengan cairan cintanya akibat rangsangan di dada Vivi barusan.
“Jangan! Jangan lihat! Saya mohon Paak…” pinta Vivi panik. Namun teriakannya kembali sia-sia saja, apalah dayanya untuk menghentikan tatapan mata ketiga hewan buas ini di selangkangannya? Bahkan untuk menurunkan rok gaunnya yang disingkap keatas saja ia tidak mampu.
“Eh?! Tidak! Jangan Pak! Jangan!!” Vivi kembali kalang-kabut saat dilihatnya Yono berjalan dan berlutut di hadapan selangkangannya yang kini tergantung di hadapan wajah Yono.
“Tenang aja Neng! Saya cuma mau tahu kalau Neng itu bersih atau nggak. Hehehe…” jawab Yono terkekeh-kekeh.
“Jangan…Aash…!!” Vivi mendesis saat merasakan hembusan nafas Yono di selangkangannya. Rupanya Yono sedang mengendusi aroma khas vagina Vivi.
“Wiih… wangi coy rupanya! Rupanya dia nggak ngompol, Ziz! Memeknya basah udah nggak sabaran pengen dientot rupanya! Hahaha…” ejek Yono.
Desiran nafas Yono diselangkangannya membuat tubuh Vivi mengigil dengan perasaan campur aduk. Entah bagaimana malunya Vivi saat itu, celana dalamnya dipamerkan dengan jelas dan diendusi sesuka hati oleh pria mesum seperti Yono, terlebih komentar-komentar cabul baik dari Yono maupun Aziz sangat mengusik hatinya. Pemandangan indah yang disajikan oleh Vivi di hadapan Yono tak pelak membuatnya tangan pria itu gatal. Dengan nakalnya, dicoleknya celana dalam Vivi dengan jarinya.
“Hyah!” Vivi tersentak saat merasakan jari gemuk milik Yono itu di celana dalamnya. Yono mencubit celana dalam sutra Vivi dengan jempol dan jari telunjuknya dan menggesek-gesekkan celana dalam itu dikedua jarinya. Yono bisa merasakan rasa sejuk akibat rembesan cairan cinta Vivi di celana dalam pengantin itu.
“Aah! Jangan Pak!!” Vivi kembali menjerit panik saat jari telunjuk Yono menelusup lewat sela-sela celana dalamnya. Jari telunjuk Yono lalu mulai bergerak pelan membelai pelan permukaan vagina Vivi.
“Aagh… aa…” Vivi mendesah pelan, jari telunjuk Yono yang gemuk itu sedikit membuat vaginanya geli. Rabaannya yang sesekali menyentuh rambut-rambut kemaluan Vivi yang halus menggelitik syaraf Vivi.
“Hehehe… udah becek banget rupanya nih, Neng? Enak ya?” gumam Yono saat merasakan permukaan vagina Vivi yang sudah lumayan basah.
“Bukan Pak… itu… emmh…” Vivi berusaha mengelak dari pertanyaan Yono, walaupun jelas kalau Vivi semakin dilanda nafsu birahinya.
“Huaah?!!” Vivi tersentak sejenak saat Yono tiba-tiba memeluk pinggangnya dan membenamkan wajahnya diselangkangan Vivi.
“A… ah?! Lepaskan Pak! Hentikan!” Vivi langsung meronta-ronta panik saat merasakan wajah Yono yang menempel di selangkangannya, namun semakin ia meronta, tekanan pada ikatan dikedua tangannya semakin keras dan demikian pula dengan rasa sakit yang ia rasakan.
“Sudah! Diam sajalah, Neng! Dienjoy aja, daripada tangan Neng Vivi makin sakit!” seru Aziz. Vivi pun terpaksa mengikuti saran Aziz, memang tangannya saat ini sudah terasa luar biasa sakit. Akibat jeratan tali tambang itu.
“Nah, gitu dong! Neng emang pintar!” celoteh Yono.
“Karena Neng Vivi nurut, saya bantuin ya, supaya tangannya Neng tidak sakit?” lanjut Yono.
Vivi merasa heran dengan tawaran Yono itu, namun ia terpaksa mengangguk menyanggupi tawaran Yono, karena tangannya sudah mulai mati rasa akibat rasa sakit itu.
“Oke deeh!” Yono tampak gembira melihat anggukan Vivi itu.
“Hyah?!” Vivi terkejut saat Yono mengangkat tubuhnya dan kini memeluk pantat Vivi dengan erat.
Tubuh Vivi terangkat tinggi dan tekanan katrol itu otomatis mengendur. Vivi merasa lega sejenak akibat terbebas dari jeratan tali itu, namun keadaannya sekarang tidak lebih baik. Dengan pelukan erat Yono di pantatnya, kini wajah Yono kian membenam diselangkangan Vivi. Parahnya lagi, kini tangan Yono semakin mudah mengakses pantat Vivi. Yono mencengkeram kedua bongkahan pantat Vivi dan sesekali meremasnya dengan gemas. Jari-jari Yono ikut beraksi dengan membelah celah pantat Vivi dan menyusupkan celana dalam Vivi sedalam mungkin di belahan pantat pengantin itu sehingga pantat Vivi terasa agak sesak. Reaksi tubuh Vivi semakin kacau akibat perlakuan Yono, rasa nikmat semakin terasa saat hembusan nafas Yono di selangkangannya melewati celana dalam Vivi dan menimbulkan sensasi rasa hangat di vagina Vivi, apalagi saat Yono mencolek-colek celana dalam Vivi.
“Ah… ugh… auh…” Vivi mendesah-desah pelan saat gairah seksualnya dibangkitkan Yono.
“Gimana No?! Jangan kelamaan kau mainnya!!” tiba-tiba terdengar bentakan Iqbal dari belakang.
“Hehehe… memeknya Neng Vivi basah nih coy! Udah siap nih dia!” jawab Yono sambil menurunkan tubuh Vivi dengan pelan sehingga Vivi kembali tergantung di katrol itu.
“Benar kan?! Memang dia itu pelacur!” umpat Erny.
“Ya sudah, ayo kita sikat!” ujar Iqbal tidak sabaran.
“Jangan… tidak!! Jangan perkosa saya!!” Vivi terisak ketakutan, namun hal itu tidak menghentikan gerak ketiga pria itu.
Dengan penuh keputusasaan, Vivi kembali menendang-nendang untuk mengusir ketiga pria itu. Namun, saat tendangannya diluncurkan, otomatis tercipta tekanan di katrol itu, sehingga tangan Vivi kian terasa perih akibat pergerakannya. Vivi pun terpaksa menghentikan tendangannya itu sebelum tangannya robek. Iqbal tak tinggal diam melihat pemberontakan Vivi. Ia segera memegang kedua mata kaki Vivi dan ditariknya turun sekuat tenaga. Akibatnya, tekanan tali yang menjerat tangan Vivi semakin kuat dan rasa sakitnya pun berlipat ganda.
“Aaah! Ampun! Sakiit!! Ampun Paak!!” Vivi menjerit sekuat-kuatnya akibat rasa sakit yang mendera tangannya.
“Siapa suruh kau tendang-tendang, hah?! Sudah berani macam-macam kau?!” gertak Iqbal.
“Tidak Paak… tolong ampuni saya!! Saya janji tidak akan macam-macam lagi! Lepaskan saya Pak! Saya mohon!!” pinta Vivi dengan putus asa. Tangan Vivi serasa sudah nyaris putus akibat rasa sakit itu,
“Hmm?! Benar tidak?! Aku lepaskan kau kalau kau tidak macam-macam waktu dientot! Gimana?!” gumam Iqbal.
“I… iya Pak! Saya akan menuruti perintah bapak!! Tolong jangan sakiti saya lagi!!” Vivi memohon sambil berlinang air mata.
“Oke! Kalau kau macam-macam, kutebas kau! Ingat itu! Sekarang diam kau!!” ancam Iqbal sebelum menghentikan tarikannya.
“Pakai suspender segala, repot nih kalau begini! Celana dalamnya bakal sulit dilepas.” Gumam Iqbal.
Setelah berpikir sejenak, pisau andalan Iqbal pun kembali beraksi. Disusupkannya mata pisau itu ke tepian celana dalam Vivi. Vivi tidak dapat berbuat apa-apa, namun ia amat ketakutan saat merasakan dinginnya besi pisau itu di kulitnya. Isak tangisnya tidak kunjung berhenti, seolah memohon belas kasihan yang tak kunjung datang dari keempat orang itu. SREET… Dengan sekali sentakan, robeklah tepian kanan celana dalam Vivi. Iqbal lalu melakukan hal yang sama dengan tepian kiri celana dalam Vivi. Tak pelak lagi, dengan sekali sentakan, celana dalam putih itu jatuh dilantai; menampakkan vagina Vivi seutuhnya di hadapan keempat orang itu. Aziz dan Yono memelototi pemandangan itu dan tak henti-hentinya berdecak kagum. Bagaimana tidak, vagina Vivi yang terawat dengan rambut-rambut halus yang rapi disekitar vaginanya tampak menggoda dengan kilatan cairan cintanya yang terpantul oleh cahaya matahari. Erny hanya mendengus kesal sambil mengalihkan pandangannya sejenak, sementara Iqbal tersenyum sinis melihat vagina Vivi dihadapannya. Vivi sendiri menutup matanya dengan lirih sambil memalingkan muka, ia sudah tidak sanggup lagi melihat ekspresi mesum para pria itu. Saat celana dalamnya dipamerkan tadi sudah lebih dari cukup untuk membuatnya malu setengah mati, apalagi saat ini yang terpampang jelas dihadapan mereka adalah vaginanya. Belum sempat Aziz dan Yono memberi komentar, Iqbal segera memberi isyarat.
“Ziz! Turunkan dia!” perintah Iqbal yang segera dituruti oleh Aziz yang dengan sigap membalikkan putaran katrol itu.
Tubuh Vivi pun diturunkan sehingga kedua kakinya menyentuh lantai, rok Vivi pun ikut turun menutupi vagina dan selangkangannya yang tadi dipamerkan. Iqbal pun melepas ikatan pada kedua pergelangan tangan Vivi. Vivi merasa lega akibat terbebas dari rasa sakit yang melanda tangannya. Mereka semua bisa melihat pergelangan tangan Vivi yang sedikit terluka gores akibat jeratan tali itu.
“Jangan coba-coba lari kau! Tempat ini terkunci!” ancam Iqbal. Vivi hanya bisa mengangguk pelan sambil sesunggukan.
Iqbal segera melepas slayer dan sanggul rambut Vivi. Tak pelak, rambut hitam lurus sepunggung milik Vivi terurai lepas. Mahkota milik Vivi tetap dibiarkan terpasang di kepala Vivi.
“Sini kau!” Iqbal menarik tangan Vivi dan menggandengnya ke sebuah meja kayu yang besar disamping Erny.
“Agh!” Vivi mengaduh saat Iqbal dengan keras menekan punggung Vivi ke atas meja itu sehingga tubuh Vivi tertungging di meja itu.
Aziz dan Yono memposisikan diri mereka disamping kiri-kanan meja itu. Mereka masing-masing memegangi tangan dan kaki Vivi dan merentangkannya lebar sehingga Vivi kini menungging dengan paha yang terbuka lebar dimeja itu. Iqbal lalu menyingkapkan rok gaun Vivi dan menyuruh Aziz dan Yono untuk memegangi rok gaun itu. Sekarang pantat dan kewanitaan Vivi terpampang jelas, tersaji diatas meja itu. Vivi sama sekali tidak berontak lagi, ia sudah pasrah menerima nasibnya itu. Ancaman Iqbal begitu kuat tertanam di pikirannya; lebih baik baginya untuk menuruti perintah Iqbal daripada kembali merasakan siksaan dari pria itu dan sudah jelas kalau Iqbal tidak akan ragu sama sekali untuk menyakiti Vivi. Tanpa menunggu komando Erny, Iqbal segera melepas pakaiannya hingga telanjang bulat. Erny melotot saat melihat kemaluan Iqbal yang luar biasa besar dan berotot, dilihatnya sejenak vagina Vivi yang masih begitu rapat. Erny bergumam sejenak memikirkan bagaimana penis besar itu akan menembusi liang vagina Vivi yang masih sempit itu.
Vivi sendiri tidak bisa melihat kearah belakang karena lehernya ditekan ke meja itu oleh Aziz. Ia hanya hanya menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya yang sebentar lagi akan kehilangan mahkota kehormatannya.
Iqbal berlutut di hadapan vagina Vivi, dijulurkannya lidahnya yang panjang kearah liang vagina Vivi.
“Ah…” SLURP! Terdengarlah suara jilatan perdana Iqbal di bibir kewanitaan sang pengantin yang diiringi lenguhan Vivi.
Iqbal tidak berhenti disitu, dibukanya bibir kewanitaan Vivi dengan kedua jempolnya dan ditariknya kearah berlawanan dengan perlahan.
Vivi hanya meringis saat merasakan otot liang vaginanya yang melebar. Iqbal memposisikan kepalanya di bawah liang vagina Vivi dan kembali memasukkan lidahnya ke dalam vaginanya.
“Eegh…” Vivi menggelinjang kegelian saat lidah Iqbal mencolok-colok lubang pipis Vivi.
Setiap tusukan di lubang pipisnya, menimbulkan kejutan gelombang kenikmatan di tubuh Vivi. Vivi jelas amat kebingungan dengan reaksi tubuhnya itu.
“Tenang, Neng… rileks saja supaya enak.” Mendadak terdengar bisikan Yono ditelinga Vivi.
Walaupun ia ketakutan dan membenci pria itu, Vivi tidak punya pilihan lain selain mendengarkan nasihat Yono. Vivi pun melemaskan otot-otot tubuhnya, Aziz dan Yono bisa merasakan tenaga Vivi yang semakin mengendur dan melemasnya kaki dan tangan Vivi. Benar saja, rasa gelombang rasa nikmat itu kian terasa saat tubuh Vivi rileks, tubuh Vivi bergetar saat rasa nikmat itu semakin menyebar ke seluruh tubuh Vivi. Desahan dari bibir Vivi pun semakin keras bersamaan dengan jilatan itu dan tenggelamnya kesadaran Vivi dalam sensasi kenikmatannya.
“Hyaah!” Vivi kembali menjerit saat merasakan sengatan rasa nikmat yang lebih kuat dan belum pernah ia rasakan seumur hidup.
Rupanya Iqbal berhasil menemukan klitoris Vivi dan mulai memainkan klitoris pengantin wanita itu dengan lidahnya, akibatnya semakin banyak cairan cinta yang meluap keluar dari vagina Vivi.
“Agh!” tubuh Vivi sedikit terhentak saat lidah Iqbal itu menjepit klitorisnya.
“Nah, gitu dong Neng! Enak kan?” tanya Aziz cengengesan.
“Aahm… ooh… ja…ngan… aah…” Vivi hanya mendesah-desah perlahan akibat rasa nikmat saat vaginanya dicicipi seperti itu.
PLAAK!! “Aduh!!” Vivi tiba-tiba menjerit saat Iqbal menampar bongkahan pantatnya.
“Aah! Sok alim kau! Jawab yang jujur! Enak nggak rasanya?!” bentak Iqbal.
“I… iyaah… enak paak… akhh… Vi… Vivi sukaa…” jawab Vivi terbata-bata dengan amat terpaksa yang langsung disambut dengan ledakan tawa ketiga pria itu.
“Wah, cepat juga ya terangsangnya Neng?”
“Ya iyalah! Sudah basah kayak gini, masih aja pura-pura nggak suka!!” cibir Iqbal sambil menggosok pelan vagina Vivi dan menimbulkan suara yang becek.
“Aahn… aah… aahh…” Vivi mendesah-desah keras saat kepala Iqbal maju-mundur menyentuh vaginanya.
Vaginanya serasa mati rasa akibat hisapan Iqbal itu, sementara cairan cintanya terus meluap keluar seolah air terjun yang memuaskan dahaga Iqbal. Tubuh Vivi semakin menggeliat kegelian seolah ada sesuatu yang hendak meledak keluar dari tubuhnya dan tak butuh waktu lama bagi tubuh Vivi untuk mencapai puncak kenikmatannya.
“OOOKH… AAAH…” dengan diiringi lenguhan dari bibir Vivi, seluruh otot tubuhnya menegang keras dan rasa nikmat yang sedari tadi menyerang vaginanya meledak keluar dari tubuhnya mengiringi muncratnya cairan cinta Vivi untuk pertama kalinya, Vivi pun mencapai orgasmenya. Iqbal segera membenamkan wajahnya ke vagina Vivi. Kali ini, ia mulai menghisap-hisap cairan cinta Vivi.
“Hahahaa… muncrat juga dia! Rupanya keenakan nih cewek!!” ejek Aziz. Wajah Vivi sudah merah padam, betapa malunya dirinya saat orgasme sambil dilihat oleh ketiga pria itu. Hal ini jauh lebih memalukan daripada saat celana dalam dan vaginanya dipamerkan barusan.
“Gimana rasanya, Bal?” tanya Yono penasaran.
“Enak, gurih!! Beda jauh dengan perek sewaan!” jawab Iqbal.
“Hei, sampai kapan kalian mau menyimpan keperawanan dia, hah?! Dari tadi dimainkan melulu, kalau mau main terus sewa saja pelacur diluar! Jangan sampai percuma saya sediakan pelacur gratis untuk kalian!!” ujar Erny tak sabaran.
“Ah, cerewet! Aku juga sudah tak sabar mau mulai beraksi, jadi jangan banyak bacot!” bentak Iqbal.
“Oi, aku juga mau dong!” pinta Yono.
“Aku juga!” sambung Aziz.
“Aah! Kau tunggu dulu No! Giliran kau nanti! Ziz, kau boleh ikut!” jawab Iqbal. Yono hanya bisa merengut dengan kesal, namun ia tampak tidak berani melawan Iqbal. Aziz dengan riangnya segera melepas celananya hingga kemaluannya yang sudah berdiri tegak dari tadi terpampang jelas.
“Nah, ayo bangun kau!” hardik Iqbal sambil menarik lengan Vivi sehingga Vivi kini berdiri.
Nafas Vivi tampak tersengal-sengal dan memburu, matanya yang sembab tampak terus menitikkan air mata kepedihan. Aziz segera duduk diatas meja itu, sementara Iqbal menarik pinggang Vivi kebelakang.
“Ayo, nungging kau!” perintah Iqbal.
Vivi segera menuruti perintah Iqbal saat pinggangnya ditarik kasat oleh Iqbal. Dengan perlahan, Vivi memundurkan pantatnya sambil membungkukkan badan sehingga ia kembali menungging. Yono kembali menyingkapkan rok gaun Vivi, namun kali ini rok gaun itu disisipkan dengan beberapa butir peniti agar tidak jatuh.
“Ayo, buka lebar kakimu!” tambah Iqbal.
Vivi dengan patuh melebarkan kakinya seperti sebelumnya; sementara Aziz menarik tangan Vivi dan mencengkeramnya erat sehingga kini Vivi menungging dihadapan meja itu sambil menumpukan tubuhnya pada cengkeraman tangan Aziz dan dengan vagina dan pantatnya tersaji dihadapan Iqbal. Perlahan-lahan, Iqbal memposisikan penisnya dihadapan bibir vagina Vivi. Penisnya sengaja dijepitkan di bibir vagina Vivi yang terpaksa membuka akibat penis besar milik Iqbal. Vivi mengigit bibirnya penuh kecemasan dan ketakutan. Ia bisa merasakan diameter luar biasa penis Iqbal yang terjepit di bibir vaginanya, sementara Erny melihat pemandangan itu dengan seksama.
“Oo…keh!” Iqbal mulai mendorong pinggangnya maju dengan perlahan. Vivi semakin ketakutan dan tangisannya kian menjadi. Keringat dingin mengucur deras dari sekujur tubuhnya saat merasakan vaginanya kian membuka dan penis itu semakin bergerak kedalam kewanitaannya; perlahan tapi pasti.
“Uuh… AAGH!!” terdengarlah jeritan pilu dari bibir Vivi saat keperawanannya terenggut. Rasa sakit yang amat perih segera menjalar ke setiap simpul syaraf tubuh Vivi, mengakibatkan tubuhnya menegang keras.
Iqbal menghentikan gerakannya sejenak saat melihat reaksi Vivi yang kesakitan.
“Heh, masih perawan nih rupanya! Seret banget memeknya!” seru Iqbal dengan puas.
“Sa… sakiit… ampun… Pak…” Vivi mengaduh kesakitan akibat rasa perih dan sesak di vaginanya.
“Diam saja Neng, nanti juga keenakan kok! Dijamin Neng Vivi bakal ketagihan! Sekarang isep punya saya ya, Neng?” ujar Aziz sambil mendorongkan pinggangnya kehadapan Vivi sehingga kemaluannya terpampang dihadapan wajah Vivi. Vivi merasa jijik dan mual saat melihat penis hitam yang amis itu dihadapan wajahnya.
“Tidak… saya tidak mau… hhh… AAH!” Vivi langsung menjerit saat Iqbal mulai melakukan gerakan maju-mundur sehingga penisnya terpompa dalam vagina Vivi.
“Sakit! Sakit! Ampun!! Tolong saya Pak!! Kak… kak Erny!! Tolong!!!” jerit Vivi dengan pilu, namun Iqbal terus saja menggerakkan penisnya tanpa ampun menyeruduk hingga kedalam rahim Vivi. Sementara Erny tersenyum sinis sambil mencibir Vivi.
“Tuh, memang pelacur cocoknya begitu! Pantas buat kamu!!” cibir Erny.
“Aakh!” Vivi mengerang kesakitan saat rambut panjangnya tiba-tiba dijambak oleh Aziz.
“Ayo, isep Neng! Atau Neng mau saya sakiti juga?” ancamnya. Vivi menggeleng sambil menangis kesakitan, ia tahu kalau usahanya untuk memohon belas kasihan akan sia-sia saja. Satu-satunya yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah mematuhi perintah orang-orang itu agar mereka tidak bertindak lebih jauh. Dengan keterpaksaan luar biasa, Vivi pun membuka mulutnya dan perlahan melahap ujung penis Aziz.
“Ooh… hangaat, lembuut…” gumam Aziz saat merasakan ujung penisnya dalam mulut Vivi.
“Sekarang masukin mulutnya lebih dalam, Neng! Mainin juga pakai tangan Neng Vivi!” perintah Aziz.
Vivi dengan berat hati memajukan kepalanya menjemput penis Aziz yang panjang. Mulutnya yang mungil agak kesulitan menghadapi penis panjang milik Aziz. Aziz yang agak tidak sabaran tiba-tiba memeluk kepala Vivi dan menghantamkannya maju agar penisnya terbenam sedalam mungkin.
“Mmph! Ohokk… okh…” Vivi langsung tersedak akibat hantaman mendadak penis Aziz di mulutnya. Penis Aziz langsung termuntahkan dari mulut Vivi.
“Ziz! Kau mau bunuh dia apa?! Kasihan Neng Vivinya!” bentak Yono dengan gusar.
“Ah, maaf, maaf… nggak nyangka mulutnya mungil banget! Hehehe…” ujar Aziz sambil kembali memasukkan penisnya kedalam mulut Vivi. Vivi pun kembali mengisap-isap ujung penis Aziz
“Oi! Jangan sok alim kau, No!! Nanti jatahmu ada! Jangan ganggu kami, gembrot!!” bentak Iqbal. Yono hanya mendengus kesal sejenak, namun ia tidak mau menantang Iqbal. Dilihatnya Vivi sedang kewalahan dengan gerakan Iqbal di vaginanya dan penis Aziz di mulutnya. Dari eskpresi wajah Vivi, amat jelas kalau wanita itu sedang dilanda kesakitan yang amat sangat. Yono kembali mengampiri Vivi sejenak.
“Tenang sedikit, Neng! Jangan dipaksakan dulu, nanti malah makin sakit. Coba atur nafas sedikit.” Kembali Yono berbisik memberi saran pada Vivi.
Vivi yang tidak punya pilihan lain segera menuruti nasihat Yono sekali lagi. Vivi tidak lagi menegangkan tubuhnya, ia berusaha untuk rileks dan mengendurkan ketegangan tubuhnya sambil mengatur pernafasannya. Nasihat Yono rupanya efektif, rasa sakit itu semakin berkurang dan kini malah terasa ada kenikmatan yang menjalari tubuh bagian bawah Vivi saat penis Iqbal menggesek kewanitaannya. Perlahan-lahan, Vivi semakin menikmati persetubuhannya dengan Iqbal.
“Mmm… mmph… mph…” terdengar desahan penuh kenikmatan dari bibir
Vivi yang masih sibuk mengoral penis Aziz. Vivi semakin kehilangan kontrol atas tubuhnya sendiri. Walaupun pikirannya berusaha untuk menolak perlakuan yang ia terima, tubuhnya malah tampak tidak bisa terlepas dari kenikmatan yang ia rasakan bersama Iqbal. Hal itu secara tidak langsung berdampak pada cara Vivi memainkan penis Aziz. Vivi yang pada awalnya canggung, mulai menyesuaikan diri. Ia mengulum penis itu dalam-dalam sambil memijatnya dengan bibirnya yang lembut. Vivi hanya berusaha memuaskan Aziz berdasarkan pendengarannya. Saat merasa Aziz mendesah kenikmatan, Vivi langsung mengingat caranya mengulum penis Aziz saat itu, Vivi terus mencari berbagai cara agar Aziz bisa cepat berejakulasi dan menghentikan pemerkosaan ini.
“Wuaah… enaak… terus Neng!” terdengar suara Aziz yang tampak keenakan.
Vivi langsung memfokuskan gerakan bibirnya dengan cara menghisap penis itu sedalam mungkin sehingga tubuh Aziz pun langsung tegak menyelami kenikmatan hisapan mulut Vivi.
“Mainin juga pakai tangannya, Neng!” pinta Aziz yang langsung dituruti oleh Vivi, penis Aziz dikeluarkan dari mulutnya dan tangan Vivi langsung beraksi. Dipegangnya batang penis Aziz dan dikocoknya pelan. Sutra yang halus pada sarung tangan Vivi memberi sensasi nikmat tersendiri bagi penis Aziz.
“Aah… ahn… aahh…” Vivi terus mendesah keenakan sambil mengocok penis Aziz.
Iqbal tampak sedang menggoyang penisnya dengan pelan didalam kewanitaan Vivi. Pinggang Vivi dicengkeram erat sementara Iqbal menggoyangkan pantatnya. Akibatnya, Vivi merasa vaginanya diaduk-aduk oleh penis Iqbal dan sensasi kenikmatan yang ia rasakan kian menjadi-jadi, Vivi juga sesekali memundurkan pantatnya secara otomatis seolah meminta agar penis Iqbal itu terus menjelajahi liang vaginanya.
“Tuh, keenakan juga kan diperkosa? Mukanya saja yang tampak baik, aslinya penggoda!” umpat Erny saat melihat reaksi tubuh Vivi.
Vivi berusaha sekuat tenaga untuk mengontrol tubuhnya, namun sia-sia saja. Tubuhnya saat ini secara otomatis terus bergerak mencari kenikmatan tiada tara di kewanitaannya yang pertama kalinya ia rasakan. Vagina Vivi seolah tidak rela melepaskan penis Iqbal barang sedetikpun; walaupun pikirannya terus memberontak tidak terima terhadap perlakuan Iqbal dan Aziz itu.
“Oi, jawab dong, Neng. Enak nggak dientot? Hehehe…” ujar Aziz sambil melepaskan penisnya dari cengkeraman Vivi.
“Ookh… Iyaa… enaak sekali… nikmaat… aah…” gumam Vivi secara otomatis, kembali tawa para pria itu meledak sekeras-kerasnya.
“Bener lho, Bu Erny! Rupanya Neng Vivi emang suka dientot!” ejek Aziz.
“Saya bilang juga apa?! Dia memang pelacur!!” umpat Erny.
“Ya sudahlah, kalau begitu, kau saja main duluan sama dia, Bal! Lagi keenakan tuh cewek ini!” usul Aziz.
“Okelah… nanti… giliran kau, Ziz! Rrmh…” gumam Iqbal sambil menggeram menghentakkan penisnya dalam vagina Vivi.
“Ah?!” Vivi tersentak saat puting susunya tiba-tiba dicubit.
Dilihatnya sejenak ujung jari yang menjamah payudaranya itu dan ia bisa melihat Aziz yang terkekeh-kekeh sedang memencet kedua puting susu Vivi dengan jari-jarinya dan menarik puting susu Vivi seolah memerah sapi, membuat dada Vivi semakin terasa nikmat. Kini dengan dua sensasi sekaligus di dada dan vaginanya, Vivi sama sekali tidak berdaya. Rasa nikmat pada vagina dan payudaranya kini menjalari tiap syaraf tubuh bagian atas dan bawahnya. Orgasme kedua Vivi terasa semakin mendekat dan…
“OOOKH… AAAA…” Vivi mendongakkan kepalanya dan melenguh keras.
Seluruh sendi tubuhnya menegang keras dan dinding-dinding vaginanya seolah merapat menjepit penis Iqbal saat orgasmenya meledak. Cairan cinta Vivi yang hangat menyembur deras, membuat penis Iqbal terasa semakin becek didalam vagina Vivi.
Tubuh Vivi pun langsung melemas setelah orgasme, ia nyaris ambruk apabila Yono tidak segera menopang perut Vivi; Aziz pun langsung menarik tangan Vivi agar Vivi tidak ambruk ke lantai.
“Haah… hah… haa…” Vivi tersengal-sengal setelah orgasmenya meledak. Vivi tidak bisa berbuat banyak saat Iqbal mempercepat gerakannya dalam vaginanya. Nafas Iqbal yang kian memburu dan gerakannya yang semakin liar memberitahu Vivi bahwa Iqbal sebentar lagi akan berejakulasi. Vivi mengumpulkan segenap tenaganya untuk menjauhkan tubuhnya dari Iqbal, namun Iqbal terus menempeli tubuh Vivi.
“Le… paskan… Pak… jangan didalam… aah…” pinta Vivi.
Saat mendengar permintaan Vivi, Iqbal malah semakin mempercepat tempo gerakannya.
“Jangan… jangan… Pak… aahn… aah… hentikan… akh.. keluarkan Pak…”
“Ce…re…wet… Kau! Eergh…!!” Iqbal menggeram sejenak.
“Kyaah!” Vivi kembali menjerit saat ia merasakan semacam cairan yang hangat dan kental menyembur kedalam rahimnya. Kewanitaan Vivi yang baru saja orgasme masih penuh oleh cairan cintanya. Ditambah dengan semburan sperma Iqbal, membuat vaginanya tidak mampu menampung cairan itu. Akibatnya, cairan cinta Vivi yang bercampur dengan sperma Iqbal menetes keluar dari vaginanya dan membasahi lantai. Vivi benar-benar kehabisan tenaga, tak ayal, saat Iqbal melepas penis dan pegangannya pada tubuh Vivi, Vivi langsung ambruk kelelahan.
“Agh… haah… hah… haahh…” nafas Vivi terdengar memburu dan jantungnya berdegup kencang.
“Gimana? Enak kan, pelacur?! Moga-moga kamu hamil!” sindir Erny sambil beranjak mendekati Vivi.
“Kak Erny… Aduh!” Vivi kembali meringis saat Erny menjambak rambut panjangnya.
“Rasakan!! Ini akibatnya kalau kamu merusak rumah tangga orang!!” ujar Erny sinis.
“Kak… tolong… hahh… dengarkan Vivi… Kak…” pinta Vivi sambil tersengal-sengal kelelahan.
“Diam kamu! Jangan coba bicara!! Saya sudah muak mendengar celotehan kucing garong seperti kamu! Pura-pura alim padahal keenakan diperkosa, dasar wanita murahan!”
“Tapi Kak… Vivi…” Erny kembali naik pitam, Ia langsung menjambak rambut Vivi dengan keras dan PLAAK… sebuah tamparan keras tanpa ampun kembali mendarat di pipi Vivi.
“Iqbal, bantu saya sebentar! Mulutnya perlu diajari supaya diam!” perintah Erny. Iqbal yang baru saja berejakulasi langsung membopong tubuh Vivi keatas dan meletakkan kepala Vivi dihadapan penis Aziz yang masih tegak perkasa.
“Ayo, peluk pinggang Aziz!” perintah Iqbal. Vivi mengulurkan dan melingkarkan tangannya ke pinggang Aziz sehingga ia memeluk pinggang pria itu seperti yang diperintahkan Iqbal. Akibatnya, penis Aziz kini semakin dekat dihadapan wajah Vivi.
“Nah, tadi Neng Vivi dan si Iqbal udah konak, sekarang giliran aku ya, Neng? Isep lagi ya? Hehehe…” goda Aziz. Vivi hanya membuang mukanya dari penis Aziz dengan penuh perasaan malu dan terhina. Seperti yang diperintahkan Erny, Vivi diperlakukan bak seorang pelacur saja disana; mereka sama sekali tidak menghiraukan perasaan dan rasa sakit yang dialami Vivi.
PLAK! “Awh!” Vivi mengaduh saat Iqbal menepuk bongkahan pantatnya dan meremasnya pelan.
“Ayo, maju! Tunggu apa lagi kau?! Cepat!!” gertak Iqbal sambil mendorong pantat Vivi kearah depan.
“Hehehe, yang seperti tadi aja Neng. Enak kok!” tambah Aziz.
Dengan berat hati, Vivi kembali melahap penis Aziz dengan mulutnya. Seketika itu pula penis Aziz kembali diliputi sensasi dari rasa basah dan hangat dalam mulut Vivi yang melahap penisnya dengan lembut.
“Oogh… enak… nikmaat… sepongannya okee, coy!” gumam Aziz keenakan.
“Mmph… mmm…” Vivi terus memainkan penis Aziz sebaik mungkin agar ia bisa terbebas dan mengistirahatkan tubuhnyayang kelelahan.
Penis Aziz memenuhi tiap senti rongga mulut Vivi yang mungil. Vivi mulai menggerakkan kepalanya maju-mundur seperti anggukan sambil erat memegangi pangkal penis Aziz dengan jari-jari lentiknya. Hal itu semakin merangsang Aziz yang merasakan kenikmatan itu hingga ke ubun-ubunnya. Saat Vivi memasukkan penis Aziz kedalam mulutnya, rasa ketat yang dihasilkan tidak kalah dengan vagina akibat tekanan erat dari jari-jari Vivi dan kehangatan dalam mulutnya.
“Agh… enaak… sekalii…” Aziz kian terlena dengan hisapan Vivi pada penisnya itu. Terdengar suara-suara erotis saat penis Aziz berdecak dengan bibir dan ludah Vivi. Sekali lagi, Aziz meraih payudara Vivi dan meremasnya pelan.
“Mmh! Mmm…” terdengar suara rintihan kecil dari mulut Vivi yang masih dijejali penis; wajah Vivi tampak tersiksa akibat sentuhan tangan Aziz di payudaranya itu.
Aziz yang sekarang berada di langit ketujuh, tidak dapat bertahan lebih lama lagi. Dipeganginya kepala Vivi dengan erat dan menekan penisnya semakin dalam kedalam rongga mulut Vivi.
“Isep Neng… telan semuaah…” Aziz menggeram sejenak dan menekan keras kepala Vivi agar tidak kabur. Vivi tidak bisa mengelak dan tidak berdaya menghadapi nasbnya. Sesaat kemudian, pperma Aziz pun langsung menyemprot hingga kedalam kerongkongan Vivi.
“Mmgh… ghk…” Vivi tampak tersedak kecil saat sperma Aziz menyembur. Aziz tetap menekan kepala Vivi dan tidak menghiraukan suara batuk dari mulut Vivi.
“Telan semua, Neng! Harus bersih, baru kulepaskan!” perintah Aziz.
Vivi dengan sekuat tenaga berusaha menelan sperma Aziz dan akhirnya seluruh sperma itu berhasil ditelannya dengan perasaan luar biasa mual akibat bau amis sperma Aziz. Aziz pun mengeluarkan penisnya dari mulut Vivi.
“Uhukk… ahk… ahkk…” Vivi terbatuk-batuk dan nyaris muntah karena bau sperma Aziz yang menyengat. Tubuh Vivi kembali lunglai dan kini roboh terlungkup di lantai. Rok gaun bagian belakang Vivi masih tersingkap akibat peniti yang terpasang di rok gaunnya itu sehingga menampilkan bulatan pantat Vivi yang montok dan menggemaskan.
“Ayo, giliran Yono masih belum!” hardik Iqbal sambil menarik tangan Vivi. Vivi sudah nyaris pingsan kelelahan. Tubuhnya yang kehabisan tenaga sudah seperti sebuah boneka yang rusak dan tidak berdaya sama sekali saat tubuhnya hendak diseret oleh Iqbal. Iqbal mendirikan tubuh Vivi sejenak, namun kaki Vivi tampak bergetar akibat rasa sakit yang mendera kewanitaannya. Vivi pun kembali ambruk ke lantai. Melihat Vivi yang kesakitan, Yono segera pasang badan.
“Bal, tunggu sebentar! Biar aku yang urus Neng Vivi!” usul Yono.
“Ya sudahlah! Terserah kau mau apakan dia! Toh, sekarang giliran kau, No!” ujar Iqbal sambil melepaskan tangan Vivi dan mengambil celananya yang terserak di lantai.
Yono menghampiri Vivi dan dilihatnya tubuh pengantin yang tidak berdaya lagi itu terlungkup di lantai gudang yang dingin.
“Neng… Neng Vivi! Neng nggak apa-apa?” tanya Yono. Vivi merasa sedikit lega karena Yono tampak amat perhatian dengannya, ia berharap Yono bisa mengasihaninya dan melepaskan dirinya dari siksaan fisik akibat pemerkosaan itu beserta siksaan batin Vivi akibat perlakuan dan hinaan Erny, seorang wanita yang amat ia hormati dan kagumi.
“Pak…Yono… tolong lepaskan saya Pak… saya tidak tahan lagi…” pinta Vivi memelas dengan berlinang air mata.
“Neng Vivi baik-baik saja kan? Neng masih kuat? Bisa lari?” tanya Yono dengan perhatian. Harapan Vivi semakin bertambah untuk kabur dari mimpi buruk ini saat mendengar pertanyaan Yono itu apalagi mengingat Yono sering membantu meringankan penderitaan Vivi saat ia disiksa oleh Erny, Iqbal dan Aziz.
“Iya Pak… saya masih bisa lari… sedikit…” jawab Vivi sambil mengangguk pelan.
“Syukurlah…” jawab Yono lega sambil menghela nafas.
“Tadinya saya takut kalau Neng Vivi sudah kecapekan jadi saya nggak kebagian jatah! Syukurlah, rupanya Neng Vivi masih kuat jadi masih bisa saya entot! Maklumlah, Neng. Giliran saya yang terakhir. Hehehe…” ujar Yono sambil menyeringai.
Seketika itu pula seluruh harapan Vivi yang tadi bersemi langsung runtuh dalam sekejap; Vivi merasa terjerembab kedalam lubang gelap gulita yang mencekam saat mendengar perkataan Yono itu. Rupanya perhatian yang sedari tadi ditunjukkan oleh Yono adalah untuk memastikan bahwa Vivi masih berstamina untuk melayani nafsu lelaki gendut ini. Yono khawatir Vivi tidak bisa disetubuhi lagi akibat perlakuan Iqbal dan Aziz sebelumnya. Akhirnya Vivi tahu kalau lelaki ini tidak ada bedanya dari kedua rekannya barusan. Justru Yono tampak lebih bejat karena terang-terangan menunjukkan kemunafikannya dan sifat egoisnya untuk menikmati tubuh Vivi.
“Ti… tidak… Pak Yono… jangan… Pak…” pinta Vivi dengan amat ketakutan. Tidak terbayang betapa hancurnya perasaan Vivi saat itu. Perlakuan kejam dan hinaan Erny yang menyayat relung hatinya, pemerkosaan yang merenggut kehormatannya dan tindakan Yono yang mempermainkan harapan dan perasaannya. Kini Vivi sama sekali tidak tahu harus berbuat apa, perasaannya sudah campur aduk dan ia tampaknya hanya bisa pasrah untuk digilir sekali lagi; kali ini oleh Yono, si gendut yang munafik itu.
“Ooi, bantuin aku dong!” seru Yono pada Iqbal dan Aziz yang sedang memakai pakaian mereka masing-masing. Kedua lelaki itu segera datang menghampiri Vivi dan memanggul tubuh Vivi, sementara Yono melepas seluruh pakaiannya hingga telanjang bulat.
“Mau diapakan nih cewek? Udah letoi gini, hehehe…” tanya Aziz.
“Ah, dia cuma pura-pura aja! Katanya tadi dia masih bisa lari tuh, ya berarti bisa dientot juga doong? Hahahahaa…” tawa Yono terdengar tergelak-gelak.
“Tumben kau pintar, No! Tadi kukira kau mau sok macam-macam denganku!” ujar Iqbal.
“Ya nggak laah… Kita kan sohib! Lagian siapa mau ngelepasin cewek secantik Neng Vivi?” jawab Yono.
“Bagus! Nah mau diapakan nih cewek, kawan?”
Yono mulai berjalan berputar mengelilingi tubuh Vivi yang masih disanggah oleh Iqbal dan Aziz. Yono terkekeh-kekeh saat melihat tubuh Vivi yang terpampang bebas dihadapannya. Di tubuh bagian depan, payudara Vivi yang ranum masih tampak tergantung bebas dengan bekas cubitan yang memerah disekitar puting susunya sementara saat Yono berjalan dibelakan tubuh Vivi, pantat Vivi yang montok dan menggoda tampak terlihat jelas karena rok gaunnya yang masih tersingkap dan terjepit oleh peniti yang terpasang erat.
“Ahgh!” Vivi menegang sedikit saat tangan Yono yang kasar terasa meraba celah pantatnya.
“Mulut dan memeknya udah disikat kalian! Ya, aku ambil ini saja deh! Hehehe…” ujar Yono sambil memasukkan jari telunjuknya yang gemuk kedalam celah pantat Vivi.
“Tidak… Pak… jangan…” pinta Vivi lirih.
“Ah, bodoh aku! Kenapa aku ambil mulutnya tadi?!” umpat Aziz.
“Sudahlah, jangan banyak kau pikirkan! Yang penting pantatnya masih perawan supaya bisa kuentot! Hehe…”
Yono lalu membaringkan tubuhnya diatas meja kayu tempat Vivi tadi menungging. Meja kayu yang lebar itu cukup untuk menampung tubuh besar milik Yono, lagipula meja itu cukup padat dengan rangka besi sehingga mampu menopang berat badan Yono.
“Katanya capek ya, Neng? Duduk diatas sini doong…” goda Yono sambil melambai-lambaikan tangannya.
“Ti… tidak… jangan Pak! Ampuni saya! Tolong lepaskan saya Pak… Tolong…” Vivi berusaha meronta, namun tenaganya sudah nyaris terkuras habis. Lagipula Iqbal langsung mencengkeramkan tangannya dileher Vivi, seolah mengancam akan mencekik Vivi apabila wanita itu berontak. Akibatnya, Vivi tidak bisa berbuat banyak saat tubuhnya dibopong untuk menduduki tubuh Yono.
Iqbal dan Aziz membawa tubuh Vivi mundur kearah Yono sambil menekukkan lutut Vivi.
Vivi lalu dipaksa jongkok di hadapan Yono, permohonan lirih Vivi sia-sia saja saat Aziz mulai mencolek vagina Vivi sambil menampung cairan cinta Vivi yang keluar membasahi kewanitaannya itu. Setelah tangannya cukup basah, Aziz segera mengusapkan cairan cinta Vivi ke celah pantat wanita itu.
“Akh! Awh!” Vivi mengerang saat lubang pantatnya terasa ditekan-tekan oleh jari kasar Aziz.
“Jangan sampai dia jebol duluan gara-gara jari kau, Ziz! Enak saja kalian dapat jatah keperawanannya lalu aku gigit jari!” protes Yono.
“Hehehe, tenang ajalah, No! Aku cuma mau menceboki Neng Vivi supaya pantatnya nggak terlalu sulit kau entot!” jelas Aziz.
“Okelah, hati-hati, jangan sampai kau perawani pula pantatnya!” tegas Yono.
“Berees!” Aziz kembali mengusapkan cairan cinta Vivi disekitar anus Vivi.
Kaki Vivi sudah kesemutan akibat berjongkok, namun percuma saja meminta belas kasihan dari keempat orang itu. Erny tidak mungkin akan menolongnya, sementara ketiga lelaki itu sama saja bejatnya.
“Oi, kakinya udah gemetaran tuh!” seru Yono.
“Ooh, udah nggak sabaran mau dientot rupanya! Ya sudah, pantatnya juga sudah beres kok!” ujar Aziz. Iqbal dan Aziz pun mulai memposisikan tubuh Vivi sehingga lubang pantat Vivi berada tepat dihadapan penis Yono yang tegak menantang. Yono memegangi penisnya agar tetap berdiri tegak.
“Ayo duduk sayang! Jangan malu-malu, kakinya pegal kan?” goda Yono.
Perlahan-lahan, pinggang Vivi diturunkan oleh kedua lelaki itu. Vivi bisa merasakan penis gemuk milik Yono memasuki celah pantatnya dan saat penis itu kini terasa berada di hadapan lubang pantatnya dan mulai menekan masuk.
“Ampun Paak… ampuun… Lepaskan saya pak…” Vivi kembali memohon lirih. Namun seperti biasa, permohonannya itu sia-sia belaka. Iqbal dan Aziz sama sekali tidak menghiraukan permohonan Vivi, mereka lebih terfokus dengan pantat Vivi dan penis Yono.
“AAAKH!!” kembali terdengar jeritan pilu dari bibir Vivi saat otot lubang pantatnya merekah dan penis Yono berhasil menembusi pantat Vivi untuk pertama kalinya.
“Ampun!! Sakit!! Sakit sekali Pak!!” Vivi menjerit dengan amat panik. Tidak terbayang betapa perihnya anus Vivi saat itu. Vivi merasa pantatnya seperti dicolok dengan besi panas dan rasa perih itu seolah mengoyak pantat Vivi.
“Wiih, seret banget coy! Sempit, hangat lagi!!” seru Yono.
“Baringkan dia! Jangan biarkan bangun!” Erny langsung memberi perintah yang segera dituruti oleh Iqbal dan Aziz.
Aziz mendorong pundak Vivi sehingga keseimbangan Vivi goyah; tubuh Vivi pun rebah dengan pelan menimpa tubuh Yono yang tampak kegirangan. Posisi tubuh Vivi yang berbaring diatas Yono ini tak pelak membuat penis Yono semakin terbenam kedalam pantat Vivi, sementara Yono melepas pegangan pada penisnya agar pantat Vivi bisa menerima seluruh batang penisnya.
“Ah! Aaa…” Rintihan Vivi terdengar pelan saat rasa sakit dan sesak terasa memenuhi pantatnya seiring semakin dalamnya penis Yono terbenam dalam pantatnya.
Akhirnya, tubuh Vivi berhasil dibaringkan diatas tubuh Yono dalam keadaan setengah mengangkang-setengah jongkok. Penis Yono pun terbenam sempurna dalam pantat Vivi. Rasa sakit yang mendera pantat Vivi kian menjadi, apalagi karena punggungnya membusung kedepan akibat menimpa perut buncit Yono, dan rasa tidak nyaman akibat petticoat dan roknya yang tertekan diantara punggung Vivi dan perut Yono.
“Tarik nafas sedikit, Neng. Daripada nanti makin sakit.” Yono kembali memberi saran. Vivi tak punya pilihan lain selain mencoba saran Yono. Diaturnya nafasnya yang memburu sejenak. Yono hanya diam untuk membiasakan tubuh Vivi menerima penis Yono didalam pantatnya. Sambil membiasakan Vivi, Yono dengan santainya menikmati kelembutan dan wangi tubuh Vivi yang berbaring diatas tubuhnya; beserta rasa hangat dan lembut dari dalam pantat Vivi.
“Nah, kita mulai ya, Neng?” ujar Yono sambil memegangi bongkahan pantat Vivi.
“Pak… tolong… jangan kasar… sakiit…” pinta Vivi pelan.
“Tenang saja Neng, asal Neng Vivi nggak bandel, dijamin nikmat deh!” jawab Yono sambil mengerdipkan matanya.
Vivi hanya mengangguk pelan dan memasrahkan nasibnya. Sekarang seluruh tubuhnya sudah dijamah oleh para pria itu dan tidak ada lagi bagian tubuhnya yang bisa dikatakan masih perawan. Tidak ada gunanya lagi Vivi berontak maupun melawan, setidaknya Vivi tidak mau lagi merasa tersiksa oleh rasa sakit, karena itulah ia memutuskan untuk menuruti kemauan Yono. Perlahan-lahan Yono mengangkat pinggang Vivi sehingga pantat Vivi ikut terangkat dari penisnya
“Aah…” Vivi mendesah pelan saat penis Yono terasa menggesek permukaan lubang pantatnya dengan pelan.
“Awh!” jerit Vivi kesakitan saat Yono melepaskan bongkahan pantatnya sehingga pantatnya langsung jatuh menghunjam penis Yono yang tegak berdiri.
Yono terus mengulangi gerakannya itu dengan pelan untuk membiasakan Vivi. Lama kelamaan, Vivi mulai terbiasa dengan pergerakan pinggangnya yang ditopang oleh Yono. Rasa sakit dan perih yang tadinya sempat mendera pantatnya perlahan-lahan menghilang dan kini berganti dengan rasa sesak dan geli yang nikmat. Perut Vivi terasa sedikit terdesak saat pantatnya menghunjam penis Yono, dan memberinya kenikmatan tersendiri.
“Aah… ooh… ah…” Vivi mulai mendesah-desah seiring dengan pergerakan penis Yono didalam pantatnya.
Saat ini sangat jelas kalau desahannya itu adalah desahan kenikmatan murni, bukan lagi desahan yang diiringi rintihan kesakitan. Hal itu tampak wajar karena Vivi tidak lagi banyak berontak seperti saat ia diperkosa Iqbal atau Aziz, dan lagi Yono jauh lebih perhatian dan tidak memaksakan kehendaknya pada Vivi. Untuk pertama kalinya, Vivi mulai bisa merasakan kenikmatan bercinta yang sesungguhnya. Saat melihat keadaan Vivi yang tenggelam dalam sensasi kenikmatan, Yono mulai mempermainkan Vivi. Saat penisnya menghunjam kedalam pantat Vivi, ia segera melepaskan pegangannya dari pinggang Vivi sehingga pergerakan mereka terhenti.
“Hngh?!” Vivi tampak keheranan saat Yono menghentikan pompaannya itu. Sekilas Vivi menoleh dan melihat wajah Yono dengan raut muka sedikit keheranan, seolah bertanya alasan Yono menghentikan gerakannya itu.
“Aku capek! Kalau Neng mau, gerak saja sendiri!” ujar Yono sambil membuang muka.
“Aah…” Vivi tampak mengeluh kebingungan.
Di satu sisi, ia baru saja merasakan kenikmatan yang luar biasa saat Yono memompa penisnya dalam pantat Vivi dan ia merasa amat penasaran dengan rasa nikmat itu. Dilain pihak, apabila ia mengikuti naluri seksualnya, itu hanya menegaskan pernyataan Erny bahwa ia tak lebih dari seorang pelacur yang binal.
“Sudah, nggak usah malu-malu kalau keenakan, Neng!” goda Yono sambil menggoyangkan pantatnya sehingga penisnya seolah mengaduk pantat Vivi, memberi sensasi baru bagi tubuh Vivi sekaligus menyiksa Vivi dengan gairah seksualnya yang kian terbangunkan.
“Ngapain malu-malu, sudah, nikmati saja, Neng. Dijamin keenakan! Dirumah nanti belum tentu bisa dapat yang kayak begini!” Lanjut Yono.
Mendengar bujukan Yono terus menerus, pertahanan dan harga diri Vivi pun akhirnya luruh juga, dikalahkan oleh gairah seksualnya. Dengan pelan, Vivi mulai mengangkat pinggangnya, meniru kecepatan gerakan Yono. Setelah merasa penis Yono sudah nyaris tercabut dari pantatnya, Vivi langsung merebahkan pinggangnya menghunjam penis Yono. Vivi pun terus menggerakkan pinggangnya naik-turun dan memompa penis Yono dalam pantatnya sendiri dengan pelan.
“Tuh! Memang dasar pelacur!! Keenakan kan, diperkosa?! Ayo jawab!!” hardik Erny saat melihat Vivi yang mulai menggerakkan pantatnya sendiri.
“Jawab, Neng! Kalau tidak, jangan harap bisa lanjut!” bisik Yono ditelinga Vivi sambil menahan pinggang Vivi. Vivi yang sudah terburu nafsu pun tidak bisa berbuat banyak. Vivi membuang segenap harga dirinya sebelum menjawab pertanyaan Erny itu.
“Iya… Kak… enak… Vivi suka… diperkosa… Vivi keenakan… diperkosa… ah…” jawab Vivi sambil mendesah.
“Ayo, mengaku! Bilang ke kami semua kalau kamu itu memang pelacur!! Cepat!” perintah Erny sekali lagi.
“Akh… ahaa… Semua… nyaah… Vivi… Vivi ini… aah… pelacur… Vivi suka… aah… dientot… bapak-bapak semuaa…ahk… Silahkan bapak-bapak… entot Vivi sepuasnya… hhh… Vivi mau orgasme lagii…” Vivi pun kembali merendahkan dirinya dihadapan Erny dan para pemerkosanya.
Tawa para pria itu langsung kembali meledak, terdengar jelas menggema di gudang yang sepi itu. Erny hanya tersenyum sinis, hatinya merasa amat puas melihat penderitaan Vivi dan bagaimana Vivi dipermalukan sedemikian rupa sehingga tak ubahnya seperti seorang pelacur asli, terlebih lagi setelah mendengar “pengakuan” Vivi barusan yang kian melengkapi kepuasan batin Erny.
“Wah, kalau begitu sini Neng! Biar kubantu supaya cepat konak lagi!” Aziz dengan gembira segera memghampiri tubuh Vivi yang terbaring di atas tubuh Yono. Dilihatnya payudara Vivi yang membusung menggoda, dan tanpa aba-aba, Aziz mencubit sambil sesekali menarik puting susu Vivi.
“Aw! Aah…” Vivi menjerit pelan, namun kali ini rasa sakit di dadanya malah berubah menjadi sensasi rasa nikmat yang merangsang.
“Aku ikut kalau begitu! Jariku ini sudah banyak membahagiakan wanita! Sekarang kubikin kau bahagia dan ketagihan!” ujar Iqbal sambil memamerkan jari-jarinya yang berotot. Ia segera menyingkap rok gaun bagian depan Vivi dan segera dilesakkannya jari telunjuk dan jari tengahnya kedalam vagina Vivi.
“Awh! Aah! Aahh! Aaa..” rintih Vivi, yang segera disusul dengan lenguhan-lenguhan erotis saat Iqbal menggerakkan jari-jarinya maju-mundur mengocok vagina Vivi. Sesekali Iqbal memutar jarinya dan mengorek liang vagina Vivi sehingga Vivi merintih-rintih antara sakit dan nikmat.
Vivi kini jelas-jelas tidak berdaya menghadapi deraan kenikmatan yang melanda payudara, vagina dan anusnya sekaligus. Rasa sesak di selangkangannya berpadu dengan tarikan dan pijatan Aziz di payudaranya semakin membuat kesadaran pikirannya hilang. Kepala Vivi serasa kosong dan ia tidak mampu berpikir apapun lagi, tubuhnya bergerak sendirinya mengejar kenikmatan seksual yang ia rasakan. Saat Iqbal memencet atau menekan klitoris Vivi dengan jarinya, rasa geli yang nikmat menjalar sekaligus kebagian tubuh bawah Vivi sehingga bulu kuduk Vivi berdiri.
Sementara itu, rasa sesak yang bercampur dengan rasa geli yang agak menyakitkan saat Vivi memompa penis Yono dalam pantatnya ikut menyatu dengan kenikmatan sodokan jari Iqbal di vagina Vivi. Akibatnya, selangkangan Vivi dilanda kenikmatan yang luar biasa sekaligus dalam vagina dan pantatnya. Bagian tubuh atas Vivi juga dilanda ransangan seksual yang amat hebat saat Aziz mencubiti atau menggigiti ujung puting susu Vivi. Sesekali, Aziz memencet puting susu Vivi dan menariknya pelan, seolah hendak memerah susu sapi. Wajah Vivi merah padam, suara yang terdengar dari mulutnya sudah tidak dapat dimengerti sama sekali antara desahan, rintihan, atau lenguhan. Erny tidak mau ketinggalan, dicengkeramnya pinggang Vivi dan pinggang Vivi pun dihentak-hentakkan oleh Erny naik-turun dengan amat cepat. Akibatnya, gerakan pinggang Vivi kian liar dan cepat dalam memompa penis Yono didalamnya. Vivi pun tidak mampu lagi menahan kenikmatan seksual yang menggelora didalam tubuhnya. Dengan diiringi desahan yang tertahan, tubuh Vivi kembali menegang dan otot-otot tubuhnya kaku. Iqbal bisa merasakan jarinya seolah diremas oleh dinding-dinding vagina Vivi.
“Oi! Udah mau konak dia!” seru Iqbal.
“Terus, bikin dia konak! Tadi dia minta sendiri tuh! Mau dikonakin katanya!!” ujar Aziz.
“Hngkk… aku… aku juga mau sampai…” terdengar suara Yono yang mulai kewalahan.
“AAKH… AAA… Semuaa… Vivi… Vivi… AAH!!!” dengan diiringi oleh jeritan Vivi, liang vagina Vivi kembali memuncratkan cairan cintanya membasahi jari Iqbal dan meleleh turun membasahi penis Yono yang masih tertancap dalam pantatnya. Orgasme yang ketiganya ini jauh lebih hebat dari orgasme Vivi sebelumnya, karena rangsangan yang menyeluruh di tiap titik saraf seksualnya. Tubuh Vivi langsung melemas lunglai tanpa daya setelah orgasmenya mereda; pompaan anusnya pada penis Yono ikut terhenti karena Erny melepas cengkeramannya pada pinggang Vivi.
“Yono! Keluarkan didalam vaginanya! Iqbal, Aziz, cepat bantu!” perintah Erny.
Dengan sigap, Iqbal dan Aziz menarik lepas penis Yono dari dalam vagina Vivi. Vivi pun dibaringkan mengangkang dengan rok gaun yang tersingkap menggantikan Yono. Kini, giliran Yono yang menimpa tubuh Vivi dan memompakan penisnya didalam vagina pengantin wanita itu. Vivi sendiri merasa tubuhnya sudah mati rasa, ia hanya diam tanpa daya saat tubuhnya ditimpa dan dipompa oleh tubuh Yono yang gemuk penuh lemak itu.
Tidak perlu waktu lama bagi Yono, yang tadi nyaris mencapai puncak kenikmatannya untuk kembali tiba di puncak itu.
“Heergh…” dengan diiringi geraman yang tertahan, Yono berhasil berejakulasi didalam vagina Vivi.
“Ookh…” Vivi mendesah pelan saat merasakan semburan cairan hangat itu dalam vaginanya.
Yono segera melepaskan penisnya dari vagina Vivi, ia lalu turun dari meja itu dan menghampiri wajah Vivi yang masih terbaring lemas.
“Ayo, Neng! Bersihkan! Cicipin rasanya memekmu sendiri” perintah Yono sambil mengacungkan penisnya yang tampak berkilat akibat dilapisi oleh cairan cinta Vivi. Vivi dengan lirih membuka mulutnya dan mengulum penis Yono, perlahan-lahan diisapnya sperma Yono dan cairan cintanya sendiri yang masih tersisa di penis Yono.
Erny berkacak pinggang dan menghampiri Vivi yang masih sibuk menjilati penis Yono. Terlihat senyum sinis penuh kepuasan yang terpancar dari wajah Erny. Pelan-pelan, penis Yono akhirnya bersih dari bekas spermanya dan cairan cinta Vivi; Yono pun mengeluarkan penisnya dari mulut Vivi, sementara Vivi tetap terkapar kelelahan diatas meja itu.
“Nah, kamu masih mau main lagi?!” tanya Erny. Vivi terperangah mendengar pertanyaan Erny itu; namun ia kebingungan menjawab pertanyaan itu. Sebenarnya Vivi masih ingin terus disetubuhi, karena ia baru saja merasakan kenikmatan bercinta yang sesungguhnya bersama Yono, namun apakah mungkin Erny akan mengizinkan hal itu? Vivi pun mengikuti nalurinya semata dan mengangguk pelan.
“I… iya Kak… Vivi masih mau…” ujar Vivi pelan. Erny pun tersenyum puas mendengar pernyataan Vivi.
“Kalau begitu, kamu janji mau menuruti perintah saya?!” tanya Erny.
Vivi pun mengangguk pelan menyanggupi permintaan Erny; ia sudah pasrah menerima nasibnya. Mungkin inilah hukuman baginya karena tidak jujur pada sahabatnya itu; walaupun pada kenyataannya, Vivi melakukan hal itu demi melindungi keutuhan rumah tangga Erny.
Di lain pihak, Vivi juga sebenarnya tidak begitu mencintai Johan, ia hanya menerima pinangan itu untuk melindungi Erny, Joanna dan Jonny. Terlebih lagi, kini ia menikmati saat dirinya disetubuhi dan ia penasaran ingin mencobanya sekali lagi. Johan belum tentu akan menyetubuhinya mengingat dirinya telah diperkosa, namun mungkin saja Erny akan dapat memberinya pemuasan atas hasrat barunya itu.
“Bagus! Mulai saat ini, kamu adalah seorang pelacur yang bekerja untuk saya!! Kamu akan melayani para laki-laki seperti yang saya perintahkan!! Sebagai permulaan, Saya akan mengizinkan kamu untuk menikah dengan Johan.” Ujar Erny mendadak.
“Tapi… Mas Johan…bagaimana? Lalu… Kak Erny…?” tanya Vivi kebingungan dengan tindakan Erny itu. Bagaimana caranya menjelaskan kejadian ini pada Johan? Hal ini pasti sulit baginya dan belum tentu Johan mau mempercayainya.
“Hal itu tidak usah kamu pikirkan, saya akan membelamu nanti supaya kamu tetap dinikahi Johan! Kamu akan bersaksi kalau kamu diperkosa oleh berandalan yang menculik kamu waktu menuju ke resepsi dan kamu pingsan sehingga tidak bisa melihat para pelaku. Yono akan ikut bersaksi seperti itu.” jelas Erny.
“Lagipula saya rasa kamu pasti hamil setelah Iqbal dan Yono mengeluarkan sperma mereka dalam rahimmu, jadi saya bisa saja memaksa Johan untuk mengetes DNA anakmu nanti. Saya bisa meyakinkannya kalau kamu berselingkuh; kamu akan terbuang dari rumah kami dan dicap sebagai wanita murahan. Saya akan menampung dan melindungimu, tapi kamu harus bisa menjaga rahasia!” Tambah Erny.
“Bagaimana, kamu setuju?!” tanya Erny terakhir kalinya untuk memastikan takluknya Vivi.
Vivi pun tidak punya pilihan lain selain menyetujui tawaran Erny. Hal itu jauh lebih baik daripada ditelantarkan dan dicemooh seumur hidupnya, walaupun kini ia harus merelakan tubuhnya pada kehendak Erny.
“Iya Kak… Vivi setuju… Vivi akan menuruti semua perintah Kak Erny…” Jawab Vivi lirih.
Erny tertawa terbahak-bahak, ia telah berhasil menyengsarakan Vivi sekaligus menaklukkan mantan sahabatnya itu, terlebih lagi Vivi mulai saat ini akan menjadi seorang pelayannya yang bisa ia gunakan untuk mendapatkan uang dari para lelaki hidung belang yang kelak akan dilayani oleh Vivi. Di antara Erny dan Vivi sekarang tidak ada lagi hubungan antar sahabat seperti dulu, semua itu hanyalah kenangan dimasa lalu. Vivi saat ini bukan lagi seorang sahabat ataupun adik bagi Erny, Vivi saat ini adalah pelayannya yang akan memenuhi semua keinginan Erny.
Pembalasan dendam Erny masih akan terus berlanjut, demikian pula dengan derita Vivi dikemudian hari…
#################################################
