Exorcist Girl: Pocong Muda
Waktu masih kecil, aku memang bisa dibilang anak bangor atau bandel karena biarpun aku cewek, aku tidak segan-segan memanjat pohon, bermain bola, main layangan, dan segala permainan anak cowok yang lainnya sampai-sampai ibu dan ayahku tidak bosan-bosannya mengomeliku agar bertingkah laku yang semestinya. Meskipun sering dimarahi, aku tau kalau orang tuaku sangat sayang kepadaku sehingga aku selalu berusaha sekuat mungkin untuk membuat mereka tidak marah-marah. Aku menyimpan sebuah rahasia besar dari kedua orang tuaku, aku bisa melihat berbagai macam hantu. Memang setiap anak kecil bisa melihat setan hingga umur 6 tahun, tapi aku masih bisa melihat hantu sampai aku duduk di SMP. Aku tidak pernah takut melihat berbagai macam setan karena sifatku memang tomboi jadi tidak mudah takut. Seperti kata orang, ‘jika kamu bisa melihat setan, maka setan bisa melihatmu’ sehingga tak heran setan-setan banyak yang menakut-nakuti, tapi sory ya, aku tidak takut sama sekali lagipula aku sudah terbiasa jadi, bagaimanapun seramnya, aku tidak takut.Saat aku sudah duduk di SMP, lama kelamaan aku mulai jadi feminim karena teman-temanku yang cewek sudah mulai dandan sehingga tanpa sadar aku juga ikut-ikutan. Siapa sangka, dulu ketika SD aku sering dikira anak cowok, tapi ketika sudah SMP, tubuhku berkembang lebih cepat dari teman-temanku yang lain. Payudaraku sudah berukuran 34 C ketika duduk di kelas 3 SMP. Akibat payudara berukuran 34 C yang mancung, kencang, dan kenyal serta tubuhku yang berlekuk-lekuk dengan indahnya ditambah dengan paras yang cantik & anggun membuatku jadi incaran cowok-cowok baik cowok SMP ataupun cowok SMA bahkan cowok kuliah juga banyak yang mengincarku. Banyak yang bilang wajah cantik & anggunku mirip seperti wajah ibuku, tapi tubuhku lebih sexy dibandingkan ibuku, aku juga tidak tau kenapa. Aku berganti-ganti pacar terus karena aku terlalu sering dikekang oleh pacar-pacarku. Aku sudah lulus SMP dan masuk ke SMA favorit. Tidak ada yang spesial dari hidupku hingga aku kehilangan keperawananku oleh salah satu pacarku ketika aku duduk di kelas 3 SMA.
Waktu berlalu dengan cepat, tiba-tiba aku sudah lulus SMA. Aku mengikuti ujian masuk universitas negeri, tapi tidak berhasil sehingga aku masuk di universitas swasta yang lumayan favorit. Aku datang ke universitas itu untuk daftar, belum jadi mahasiswi di universitas itu, tapi banyak cowok yang kebetulan sedang istirahat maupun yang sedang nongkrong mendekatiku dan mengajakku berkenalan. Setelah daftar, daftar ulang, pengarahan, aku resmi menjadi mahasiswi universitas itu dan hanya tinggal ospek saja. Ospek berlangsung 3 hari, aku menjadi sasaran bagi senior cewek karena mereka cemburu dan jealous kepadaku yang menjadi pusat perhatian senior cowok. Senior cowok pada berlomba-lomba untuk dekat denganku, aku tidak menolak semua senior cowok yang ingin kenalan denganku sebab aku jadi dilindungi dari senior cewek oleh para senior cowok. Hari ke 2 ospek diadakan angket, aku mendapat gelar junior yang paling cantik dan paling sexy.
Ospek hari ke 3 diadakan api unggun sekaligus acara pembakaran papan nama sebagai simbol ospek telah berakhir. Pembakaran papan nama telah berakhir sehingga tinggal senang-senang saja dan mengakrabkan diri dengan para senior. 2 senior cowok memanggilku dan menyuruhku untuk mengikuti mereka berdua. Kami menuju ke suatu ruangan yang sangat jauh dari keramaian dan sangat gelap. Kami bertiga masuk ke dalam dan salah satu senior cowok mengunci pintu ruangan. Aku sudah tau apa yang akan mereka lakukan dari sinar wajah mereka yang terlihat sudah dipenuhi nafsu melihat wajah dan tubuhku.
“sini,,”, kata senior yang kutau namanya Doni.
“ada apa ka,,”, kataku sambil mendekat ke arahnya.
“nama kamu siapa?”.
“Neysa ka’,,”.
“Neysa siapa?”.
“Neysa Dewi Anastasia ka’,,”.
“oh,,ternyata namanya sesuai ama orangnya,,bener-bener kayak dewi,,”.
“makasih ka’,,”, kataku sambil melemparkan senyuman.
“cantik banget,,setuju gak Gas?”, tanyanya ke temannya yang bernama Bagas.
“iya,,ini emang dewi,,bukan manusia,,”.
“ah ka’ Doni,,ka’ Bagas bisa aja,,”.
“Neysa,,kamu udah pernah ML??”.
“buset nih orang,,gak ada basa-basinya,,”, kataku dalam hati.
“udah pernah ka’,,”, jawabku.
“goblok lo Gas,,cewek cakep gini pasti udah pernah,,biarpun Neysa gak mau,,tapi pasti pacar-pacarnya pada maksa,,iya kan Ney?”.
“iya ka’,,”.
“kalo gitu gue apa-apain gak apa-apa kan Ney?”, tanya Doni.
“terserah ka’ Doni ama ka’ Bagas aja deh,,”.
“buset,,udah cantik,,bohai,,mau diapain aja,,emang bidadari,,”, komentar Bagas.
“makasih,,”, kataku sambil senyum.
“Gas,,kalo gitu lo ambil tiker sono,,”.
“okeh,,tapi Neysa jangan diapa-apain dulu Don,,”.
“iye gampang,,sono cepet lo,,”. Bagas bergegas keluar dari ruangan.
“ka’ Doni,,ini ruangan apa sih?”.
“oh,,ini gudang,,katanya sih ada hantunya,,”.
“ha? yang bener?”.
“kamu tenang aja,,ada ka’ Doni,,ada ka’ Bagas,,”.
“lo yang tenang aja,,”, kataku dalam hati.
“iya,,”, jawabku. Tak lama Bagus datang membawa tikar yang besar dengan buru-buru dan menaruh tikar itu di lantai.
“Neysa,,kamu yakin mau kita apa-apain?”, tanya Bagas.
“kalau aku gak mau,,kaka’ berdua pasti maksa juga kan?”.
“iya sih,,tau aja,,”.
“yaudah,,kalo gitu lanjut aja,,”, tambah Bagas. Bagas dan Doni yang berkulit hitam dan berwajah jelek saling berlomba membuka pakaian mereka masing-masing. Doni mempunyai tubuh lebih gendut daripada Bagas, tapi Bagas juga tidak kurus melainkan sekel untuk ukuran cowok karena dia tidak setinggi Doni. Mereka tinggal memakai celana dalam saja sedangkan aku masih memakai pakaian lengkap.
“Neysa buka baju juga dong,,”, pinta Bagas.
“iya ka’,,”. Aku mulai membuka baju dan celanaku hingga tinggal bh dan celana dalamku saja yang melekat di tubuhku. Aku membuka bh dan celana dalamku sehingga tubuh indahku yang putih mulus tidak terbalut apa-apa lagi di hadapan Doni dan Bagas.
“gila !!! mulus banget bodynya,,”, komentar Bagas.
“toket kamu ukurannya berapa,,Ney?”.
“36 C,,kenapa ka’?”.
“pantes,,gede banget,,”.
“ah kaka’ bedua dari tadi muji mulu,,”.
“abisnya kamu tanpa cela sih,,hehe,,”, rayu Doni.
“ah,,bisa aja,,”. Tanpa membalas perkataanku, mereka berdua mengangkatku dan menaruh tubuhku di tikar. Mereka berdua memandangi tubuh putihku yang terbaring pasrah di tikar dengan tatapan srigala yang siap menerkamku. Mereka langsung tidur di samping kanan dan kiriku. Mula-mula mereka menjilati wajahku bergantian hingga wajahku benar-benar basah oleh air liur mereka berdua. Puas menjilati wajahku, mereka berdua bergantian mencumbu bibirku dan memainkan lidah mereka di dalam rongga mulutku. Aku memang tadinya kewalahan dengan bau mulut mereka yang hampir membuatku muntah, tapi lama kelamaan aku mulai terbiasa malah kini, aku menikmati permainan lidah mereka berdua di dalam mulutku. Selama bergantian melumat bibirku, Bagas menggerakkan 2 jarinya keluar masuk vaginaku sementara Doni bermain-main dengan klitorisku menggunakan jari telunjuknya. Birahiku semakin menanjak tajam ditambah perasaan liar yang muncul karena yang sedang asik bermain dengan tubuhku bukanlah cowok ganteng atau keren seperti biasanya, tapi kali ini yang sedang merangsangku adalah 2 orang senior cowok yang berwajah jelek.
Itu semua membuatku tak bisa menahan lagi birahiku yang semakin memuncak.
“ooouuhh,,”, lenguhku panjang ketika aku melepaskan gelombang orgasme pertama di tangan 2 senior cowok. Tiba-tiba Bagas yang sedang melumat bibirku melepaskan ciumannya lalu dia mengeluarkan ludahnya sehingga jatuh dan langsung masuk ke dalam mulutku. Bukannya jijik, aku malah menelan ludahnya seperti orang kehausan, Doni pun membuang ludahnya juga ke dalam mulutku dan aku menelannya lagi seperti sebelumnya. Kini, mereka menurunkan ciumannya ke payudaraku. Bagas menelusuri payudara kiriku dengan lidahnya sementara lidah Doni menari-nari di sekitar payudara kananku. Sambil memainkan kedua payudaraku, mereka juga memainkan vaginaku sama seperti sebelumnya, tapi kali ini 2 jari Doni yang bergerak keluar masuk vaginaku sementara Bagas asik memainkan, mengelus-elus, dan menekan-nekan tombol sensitif yang berada sedikit di atas bibir luar vaginaku yaitu klitorisku
Selain itu, setiap 30 detik mereka terus bergantian membuang ludah mereka ke dalam mulutku dan aku menelan ludah mereka berdua bagai orang kehausan mungkin karena aku sedang sangat bernafsu. Aku melepaskan orgasme keduaku sehingga baik jari telunjuk dan jari tengah Bagas ataupun Doni sudah pernah kusiram dengan cairanku. Bagas bergerak ke bawah menaruh kepalanya di selangkanganku yang sengaja kubuka lebar.
“hmm,,memek cewek cakep emang beda,,wangi,,”.
“iyelah,,cewek cakep kan memeknye dirawat,,bego lo Gas,,”, jawab Doni. Tanpa berbasa-basi lagi, Bagas langsung menyerbu sekitar daerah vaginaku dengan mulut beserta lidahnya.
“mmmmhhh,,,”, aku hanya bisa mendesah keenakan sambil menekan kepala Bagas agar dia tidak menghentikan aktivitasnya. Doni bosan hanya meremas-remas dan menjilati payudaraku serta memainkan klitorisku jadi, dia berdiri lalu bertumpu pada kedua siku serta kedua lututnya, dia memposisikan penisnya sehingga penisnya tepat berada di atas mulutku.
Doni menurunkan tubuhnya sehingga penisnya langsung masuk ke dalam mulutku, aku pun mulai menjilati penis Doni yang cukup besar namun agak bau. Aku tidak mempermasalahkan itu karena nafsu yang sudah mencapai puncak mengalahkan segala rasa yang lain. Doni menaikkan tubuhnya sehingga penisnya keluar dari mulutku, tapi dia memasukkan penisnya ke dalam mulutku lagi. Oleh karena itu, aku terlihat seperti ikan yang sedang dipancing dengan penis Doni sebagai kailnya.
“mmmfffhh,,”, desahanku tertahan penis Doni ketika aku orgasme. Aku merapatkan kedua kakiku, kepala Bagas terjepit diantara kedua paha putih mulusku. Bagas tidak berontak sama sekali, dia malah dengan tenang menyeruput habis lalu menjilati cairan vaginaku. Penis Doni sudah jauh tertanam di dalam mulutku sehingga aku agak kesusahan untuk bernafas, tapi anehnya aku menyukainya. Setelah cairanku habis, aku merenggangkan kedua kakiku agar Bagas bisa bernafas lega.
“Don,,lo harus nyobain,,memeknye Neysa manis banget,,”, kata Bagas.
“okeh,,sekarang gantian Gas,,”.
Mereka bertukar posisi sehingga aku berada dalam laut kenikmatan lagi ketika Doni mulai mengeksplorasi vaginaku dengan lidahnya sementara aku dipancing lagi, tapi kali ini penis Bagas yang menjadi kail pancingnya. Penis Bagas tidak besar seperti Doni, tapi panjang hingga penisnya membuatku tersedak ketika dia mendorong penisnya masuk ke dalam mulutku. Setelah tubuhku mengejang lagi alias orgasme, Doni meminum semua cairanku yang bisa diraihnya baik dengan lidahnya ataupun jarinya.
“nah,,sekarang saatnya mencoblos,,hehe”. Doni langsung berbaring terlentang di sebelahku.
“ayo sini Ney,,duduk di ****** ka’ Doni,,”.
“ok ka’,,”, jawabku. Aku memposisikan vaginaku di atas penis Doni lalu perlahan aku menurunkan tubuhku dan membimbing penis Doni ke lubang vaginaku. Senti demi senti penis Doni ditelan oleh vaginaku hingga akhirnya penis Dino sudah amblas ditelan oleh vaginaku. Aku langsung menggoyang pinggulku untuk memulai permainan lalu aku memaju mundurkan tubuhku agar penis Doni lebih terkocok di dalam vaginaku.
Bagas mendorong tubuhku ke depan sehingga payudaraku menempel di wajah Doni yang langsung di sambut dengan mulutnya. Lubang anusku yang terekspos langsung dicoblos Bagas menggunakan penisnya yang panjang itu. Kini, tubuhku yang putih mulus dihimpit dua cowok yang berkulit hitam bagaikan mutiara yang ada di tengah-tengah arang. Dengan kompak, mereka berdua mulai menggenjot penis mereka ke masing-masing lobangku yang telah mereka masuki. Aku hanya bisa mendesah keenakan menerima 2 penis yang keluar masuk vagina dan anusku dengan ritme genjotan yang hampir sama. Setelah 15 menit, Bagas mencabut penisnya keluar dari anusku lalu mengocok penisnya di wajahku, aku membuka mulutku lebar-lebar. Tidak lama kemudian, Bagas mengarahkan penisnya ke mulutku dan menyemburkan spermanya yang hangat ke dalam mulutku, tidak hanya ke mulutku, Bagas juga menembakkan spermanya ke seluruh wajahku sehingga sperma membasahi wajahku.
Aku menutup mulutku dan menelan sperma Bagas yang ada di dalam mulutku. 3 menit setelah itu, Doni menyuruhku berdiri dan bersimpuh di hadapannya yang sedang mengocok penisnya sendiri agar memuntahkan isinya. Sama seperti tadi, aku membuka mulutku menantikan sperma yang hangat mendarat di lidahku. Doni membuang spermanya ke mulut dan wajahku.
“huff,,gila,,enak banget ngentotin cewek cakep,,”.
“iye Don,,mantep banget,,ude gitu,,mau diapain aje,,”.
“berarti ka’ Doni ama ka’ Bagas,,puas kan?”, tanyaku sambil meratakan sperma ke seluruh wajahku.
“belom Ney,,”.
“ha? belom?”.
“iya,,ka’ Bagas kan belom nyobain memek kamu Ney,,”, kata Bagas.
“he eh,,ka’ Doni juga belom nyobain pantat kamu Ney,,”, tambah Doni.
“yaudah,,kalo gitu,,ka’ Doni ama ka’ Bagas istirahat dulu,,”.
“terus kamu ngapain?”.
“aku bakal joget buat hiburan kaka’ bedua,,”.
“joget? wah,,sip tuh,,”. Aku menyalakan musik dari hpku lalu aku mulai mempratekkan gerakan-gerakan sensual yang kupelajari dari ekskul sexy dancer sewaktu masih SMA dulu.
“gile Gas,,mimpi ape kite kemaren,,bisa ngentot ama cewek cakep kayak si Neysa ini?”.
“tau deh,,hoki banget kite,,Neysa udah cakep, bohay banget, baek, terus bisa joged juga ternyata,,”.
“ho oh,,”. Aku menggoyang-goyangkan pantatku di depan wajah mereka secara bergantian, tentu saja mereka jadi gemas sehingga mereka meremas serta menepuk kencang pantatku hingga pantatku merah. Dengan gerakan sensual dariku, hanya butuh 2 menit bagi penis mereka untuk bangun lagi dari tidurnya.
“nah,,Ney,,udah bangun lagi nih,,yok maen lagi,,”, kata Doni.
“ayok,,”, jawabku. Ronde kedua dimulai, Doni tetap berada di bawah tubuhku, tapi kali ini dia mengisi liang anusku dengan penisnya sementara Bagas menindih tubuhku dan mengisi vaginaku dengan penisnya. Mereka menyemburkan sperma mereka ke wajahku lagi sehingga wajahku semakin belepotan sperma. Kami beristirahat sambil duduk-duduk setelah memakai pakaian kami masing-masing.
“Ney,,kok kamu mau dientot ama kita berdua sih?”.
“sebagai junior yang baik,,harus bisa bikin senior seneng,,bener kan?”.
“bener banget itu,,”, jawab Bagas. Ketika kami bertiga sedang asyik mengobrol, tiba-tiba sesosok mahluk berdiri di belakang Bagas & Doni. Aku melihatnya dari kaki hingga ke atas dan menemukan wajah seram, dingin, tanpa ekspesi menatapku. Makhluk itu dililit kain putih dan aku baru sadar kalau makhluk itu adalah pocong.
“ka’ Bagas,,ka’ Doni,,”.
“ada apa Neysa sayang?”, sahut Bagas.
“tolong jangan liat kebelakang ya,,”.
“emang kenapa?”, dasar sifat manusia, jika dilarang malah seperti disuruh. Bagas & Doni malah melihat ke belakang sehingga mereka langsung pucat pasi ketika melihat sosok makhluk yang ada di belakang mereka.
“poc,,poc,,poc,,copong,,eh salah pocong !!!”, teriak Bagas.
“seetaaan !!!”, teriak Doni. Mereka berdua langsung mengambil seribu langkah, untungnya mereka sudah memakai baju mereka sementara aku tetap duduk di hadapan pocong itu tanpa gentar dan takut, malah aku memandangi matanya yang tak ada sinar kehidupan.
“ngapain lo ngeliatin gue?”, tanyaku ke pocong itu. Tiba-tiba ekspresi pocong itu berubah dari yang tadinya sangat dingin menjadi keheranan dan melihat ke arahku.
“lo gak takut ama gue,,”.
“yah,,takut? ga kenal tuh,,”, kataku.
“oke kalo gitu,,”. Dia mulai menakut-nakutiku mulai dari mengeluarkan darah dari sekujur tubuhnya, mata dan lidahnya copot, sampai tubuhnya hancur berantakan, tapi itu semua tidak membuatku takut.
“beneran gak takut ni cewek,,”.
“dibilangin susah amat nih pocong,,gue gak takut,,”.
“hebat juga lo,,”.
“lo duduk napa,,gue capek kepala gue dongak ke atas terus,,”, kataku.
“bentar gue tiduran aje,,ribet kalo duduk,,maklum namanya juga pocong,,”. Pocong itu menghilang dan tiba-tiba tidur di depanku.
“nah gitu dong,,gue jadi gak capek kan,,”.
“kok lo gak takut ama gue? padahal 2 cowok yang tadi aje langsung ngibrit ngeliat gue?”.
“gue udah biasa ngeliat setan dari kecil,,eh ngomong-ngomong lo pocong gaul ye? ngomongnye pake gue-lo dari tadi?”.
“pas gue mokad gue masih muda,,jadinye pocong muda,,”.
“hemmhh,,pantes aje masih gaol,,”.
“oh iye,,nama lo siape?”, tanya pocong itu.
“nama gue Neysa,,lo masih inget nama lo gak?”.
“masih,,kalo gak salah sih nama gue Gino,,”. Aku dan Gino malah mengobrol sampai kami berdua menjadi akrab. Aku melihat sudah jam 10, waktu untuk acara penutupan OSPEK.
“eh No,,gue balik dulu yee,,”.
“ha? mau kemane lo?”.
“gue musti balik ke lapangan,,”.
“gue ikut yee,,gue takut,,”.
“lah,,lo kan setan? takut ama apaan?”.
“gue kan bukan setan daerah sini,,”.
“alah,,oh,,setan punya daerah juga,,kayak preman aje,,”.
“iye,,makanye,,gue boleh ikut yee?”.
“iya deh,,tapi ntar pada kabur ngeliat lo gimana?”.
“gue masuk ke badan lo aje,,gimane?”.
“yaudah,,cepet,,tapi lo jangan macem-macem,,”.
“okeh,,”. Gino masuk ke dalam tubuhku, memang ada rasa aneh, tapi aku masih bisa menggerakkan tubuhku sesuai keinginanku karena Gino hanya masuk ke dalam tubuhku bukan merasukiku. Aku mengelap wajahku yang belepotan sperma dengan tisu yang ada di kantung celanaku dan menyemprotkan minyak wangi ke seluruh tubuhku agar bau keringat dan bau sperma bisa tersamarkan.
Begitu aku keluar dari ruangan, aku melihat 4 orang cowok berlari ke arahku dan 2 diantaranya adalah Bagas dan Doni
“Neysa,,kamu gak apa-apa?”, tanya Bagas kepadaku setelah sampai di hadapanku.
“gak apa-apa ka’,,”.
“mana hantunye? ngarang lo bedua,,”, kata seorang senior cowok yang lain.
“tau lo pade,,masa Neysa yang cantik kayak gini dibilang setan,,”, tambah seorang senior cowok yang terakhir.
“udeh lah,,biarin aje ni 2 orang pengecut,,mending Neysa ikut ama ka’ Dana n’ ka’ Panji ke lapangan,,udah mau acara penutupan,,”.
“iya ka’,,”. Aku berjalan diantara ka’ Dana & ka’ Panji yang berjalan di kanan dan kiriku sementara ka’ Bagas & ka’ Doni dengan wajah pucat pasi melongok ke dalam ruangan yang tadi menjadi arena pergumulanku dengan mereka berdua. Selama berjalan ke lapangan, Panji & Dana selalu berusaha mencari-cari kesempatan untuk bisa mengelus-elus dan meraba-raba tubuhku.
“dasar,,ngambil kesempatan mulu ni 2 orang,,”, kataku dalam hati.
Setelah sampai di lapangan, aku langsung ikut duduk di tengah-tengah junior yang lain. Setelah acara penutupan, junior diperbolehkan pulang. Para senior maupun junior cowok banyak yang mengajukan diri untuk mengantarku pulang.
“sori banget,,gue bawa motor,,”, jawaban yang sama yang selalu kukeluarkan setiap kali para cowok ingin mengantarkanku pulang. Aku pulang dengan mengendarai motor maticku yang sangat kusayangi. Sampai juga di rumah, aku memarkirkan motorku dan masuk ke dalam rumah dan istirahat di ruang tamu.
“eh No,,keluar lo dari badan gue,,”. Gino keluar dari tubuhku dan berdiri di hadapanku.
“eh,,ngapain celingak celinguk gitu??”, tanyaku karena melihat Gino seperti sedang mencari seseorang.
“gue nyariin orang tua lo,,ntar kalo tiba-tiba ngeliat gue bisa repot,,”.
“ohh,,nyantai aja,,bokap ama nyokap gue udah meninggal 5 bulan lalu,,”.
“oh maap,,gue turut prihatin,,”.
“alah,,emang pocong bisa prihatin juga?”.
“ya nggak sih,,gue kan cuma basa-basi,,”.
“iya,,iya,,makasih,,eh gue mandi dulu yee,,lo jangan keluyuran komplek gue,,bisa heboh,,”.
“sip,,”. Aku pergi menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku yang berbau sperma dan keringat. Aku membuka baju, celana, bh, dan celana dalamku hingga tubuhku yang putih mulus tak tertutup sehelai benang lagi. Aku menyalakan shower lalu menyiram tubuhku dengan air dingin.
“mmmhhh,,”, lirihku pelan menikmati siraman air dingin membasahi sekujur tubuhku dari kepala hingga ke kakiku sehingga aku tidak merasa capek lagi. Aku menuangkan sabun wajah ke tangan kiriku, aku meratakan sabun itu ke kedua telapak tanganku. Aku mengusapkan ke wajahku hingga wajahku benar-benar tertutup sabun lalu aku membilas wajahku untuk membersihkan kuman-kuman sperma yang masih tersisa di wajahku. Setelah itu, aku baru menyabuni seluruh tubuhku dengan sabun mosturizer agar kulitku menjadi semakin halus dan semakin putih.
Ketika sedang asik menyabuni diriku sendiri, tiba-tiba Gino muncul di hadapanku.
“aaakhhh !!!”, teriakku kaget dan spontan aku mengarahkan shower ke arahnya sehingga dia basah kuyup.
“Gino,,lo ngagetin gue aje,,tiba-tiba muncul,,sialan lo,,”. Gino tidak menjawabku dan langsung menghilang, tapi dia langsung muncul lagi di dekat pintu kamar mandi.
“parah lo Ney,,gue disiram ampe basah,,”.
“nah,,elo lagian,,tiba-tiba muncul di depan gue,,”.
“katanye lo gak takut?”.
“bukannye takut,,kaget,,dodol,,lagian lo ngapain ke sini,,gue kan lagi mandi,,”.
“bosen di luar sendirian,,mending gue ngeliatin lo mandi,,belom pernah gue ngeliat cewek mandi,,”.
“dasar pocong mesum lo,,yaudah,,terserah lo aja deh,,”. Aku meneruskan mengusapkan sabun ke seluruh tubuhku hingga tubuh putihku menjadi berkilauan lalu aku membilas tubuhku dengan air. Aku menggosok-gosokkan sabun ke tanganku lagi, aku mulai menyabuni payudaraku. Dengan tangan yang licin menyentuh payudaraku, tiba-tiba nafsu birahiku terusik dan membuatku menjadi terangsang.
Aku mulai meremas-remas kedua buah payudaraku dan memilin-milin putingku sendiri. Aku terus memainkan kedua buah payudaraku yang besar dan kenyal ini hingga birahiku sudah sampai otakku. Kini aku menggerakkan kedua tanganku ke bawah perutku alias ke daerah selangkanganku. Aku gunakan tangan kananku untuk mengelus-elus dan menekan-nekan klitorisku hingga aku merasa vaginaku semakin ‘panas’ dan gatal saja. Jari telunjuk dan jari tengah tangan kiriku sudah kugerakkan keluar masuk vaginaku.
“eemmhh,,uummhh,,”, desahku pelan menikmati permainanku sendiri. 5 menit akhirnya aku sudah tak tahan lagi, aku mempercepat gerakan 2 jariku yang keluar masuk vaginaku hingga akhirnya aku melepaskan orgasmeku.
“ooohhh,,”, erangku lega sambil cairanku terus menjalar ke jariku dan akhirnya menetes ke lantai.
“gila,,hot banget,,”, aku baru sadar kalau aku tidak sendirian di kamar mandi. Aku masturbasi di kamar mandi dengan pocong sebagai penonton.
“gue baru inget ada lo,,”.
“parah Ney,,gue jadi nafsu banget,,”.
“alah,,emang pocong tau nafsu yee?”.
“tau dong,,”.
“hmm,,gue jadi penasaran,,kalo pocong ngaceng gimana ya,,seumur-umur belum ada kasus pocong ngaceng,,”.
“kalo gitu,,lo mau ngeliat kontol gue?”.
“mm,,gimana ya?? boleh deh,,gue penasaran banget,,”.
“tapi bukain baju pocong gue,,gue gak bisa buka sendiri,,”.
“iya,,iya,,”. Aku maju mendekat ke arah Gino, aku membuka tali yang ada di atas kepalanya sehingga tentu saja aroma tubuhku bisa tercium oleh Gino.
“mmm,,lo wangi banget,,”.
“makasih,,”. Setelah aku membuka tali kepalanya, aku membuka tali yang mengikat kedua tangannya dan juga tali yang mengikat kedua pahanya serta tali yang mengikat kedua kakinya. Lalu aku membuka kain putihnya dan menjatuhkannya ke lantai hingga dia benar-benar tidak tertutup apa-apa lagi. Aku melihat tubuh Gino yang kotor dan penuh luka di mana-mana.
“No,,kok banyak lukanye?”.
“di siksa di kuburan,,”.
“ooh,,kalo gitu lo banyak dosanya dong,,”.
“ya gitu deh,,”.
“emang lo bikin dosa apa?”.
“ada deh,,mau tau aja lo,,”.
“yee,,dasar lo,,bodo ah,,”. Aku langsung jongkok di hadapannya dan bertemu dengan penis Gino yang bentuknya tak karuan dan berbau amis, tapi besar dan panjang.
“iih,,kok begini?”.
“ya namanya juga pocong,,”.
“tapi gede juga ya,,”.
“iye dong,,”. Aku yang sudah berada dalam keadaan ‘on’ sehabis permainanku sendiri tadi dan hanya penis Gino yang tersedia jadi, tanpa ragu-ragu aku memegang batang penisnya dan meremas-remas pelan buah zakarnya. Aku membuka mulutku lebar-lebar dan memasukkan senti demi senti penis Gino hingga penis Gino hampir semuanya berada di dalam mulutku. Aku mulai memaju mundurkan kepalaku sambil menyentil-nyentil lubang kencingnya dengan lidahku. Tadinya aku benar-benar merasa ingin muntah karena terasa anyir dan amis, tapi seiring waktu aku tidak memikirkan itu lagi dan dengan nyamannya aku mengulum penis pocong yang bentuknya tak karuan. Aku terus memandikan penis Gino dengan air liurku hingga seluruh batang penis dan buah zakarnya basah terselimuti air liurku.
Aku mengemuti kepala penisnya, menjilati leher kepala penisnya. 10 menit kemudian, Gino menyemburkan spermanya yang rasanya aneh ke dalam mulutku. Meskipun rasanya aneh, tapi aku telan semua spermanya yang masuk ke dalam mulutku hingga tak bersisa. Aku menyudahi memainkan penis Gino dengan mulutku setelah tidak ada sperma lagi yang tersisa.
“jago banget lo Ney,,”.
“eh,,kok aneh sih rasa peju lo??”, tanyaku.
“gue kan udah mokat,,tapi lo gak apa-apa minum peju gue?”.
“gak apa-apa,,”.
“gue pengen ngerasain nyoblos memek lo deh,,”.
“boleh aja,,tapi badan lo kan kaku gitu,,gimana caranya?”.
“pokonya bisa deh,,”.
“yaudah,,lo tunggu gue di kasur,,gue mau nerusin mandi dulu,,”.
“oke,,”. Dia langsung lenyap dari pandanganku, aku pun meneruskan mandi dengan membersihkan vaginaku menggunakan sabun khusus untuk menjaga vaginaku tetap wangi, bersih, dan kesat. Setelah selesai, aku membilas tubuhku lagi dan mengeringkan tubuhku dengan handuk lalu aku keluar mandi tanpa melilitkan handuk ke tubuhku alias telanjang.
Aku kaget ketika melihat seseorang sedang tidur di atas ranjangku.
“siapa lo??”, tanyaku dengan nada yang keras.
“tenang Ney,,ni gue Gino,,”, kata orang itu.
“ha? Gino?”, aku mendekat ke ranjang dan memperhatikan wajah orang itu dengan seksama. Wajahnya memang mirip dengan pocong tadi alias si Gino, tapi aku masih belum yakin.
“lo beneran pocong yang tadi?”.
“beneran,,nih kalo gak pecaya,,”, tiba-tiba dia berubah menjadi pocong lalu berubah ke bentuk manusia lagi.
“jadi beneran lo Gino?”.
“bener lah,,”.
“lo bisa berubah jadi manusia?”.
“bisa,,”.
“jadi,,ngapain gue ngoral lo pas jadi pocong??”.
“lagian lo langsung aje,,”.
“gue kan gak tau lo bisa berubah jadi manusia,,lagian tadi enak kan,,”.
“iya sih,,hehehe,,”.
“eh,,No,,lo gak bisa berubah jadi lebih ganteng apa?”, tanyaku melihat wujud manusianya yang jelek, berkulit sawo matang, dan giginya mancung.
“gak bisa,,ilmu gue masih rendah,,cuma bisa berubah ke wujud asli gue pas masih idup,,”.
“oh gitu,,”.
“ayo dong Ney,,gue udah gak sabar nih,,”.
“iya,,iya,,gak sabaran amat sih,,”.
“abisnya kan baru kali ini gue bisa ngentot ama cewek,,cantik lagi,,”.
“jadi semasa idup lo belum pernah gituan ma cewek?”.
“belum,,”.
“pantes aja,,muka lo aja begitu,,”.
“yah,,ini kan udah dari sananya,,”, jawabnya dengan muka sedih.
“jangan nangis gitu,,gue cuma becanda,,ni deh biar gak ngambek lagi,,”. Aku naik ke atas ranjang dan tidur di atas tubuh Gino yang sudah telanjang secara terbalik alias posisi 69. Aku mulai membasahi penis Gino yang besar dengan air liurku lagi sambil membiarkan Gino melahap vaginaku.
“mmmhhh,,”, desahku pelan menerima serangan lidah Gino terhadap vaginaku. Aku menjadi bersemangat mengulum penis Gino karena permainan lidah Gino. Aku merasakan Gino menggunakan lidahnya untuk menjelajahi daerah luar dan dalam vaginaku dengan sangat telaten hingga tak ada satu senti pun yang terlewat.
“ooouuummhh,,”, erangku ketika melepaskan orgasmeku dan membiarkan Gino meminum habis cairan vaginaku.
Begitu selesai, aku turun dari atas tubuh Gino. Aku tidur terlentang di sebelahnya, Gino menindih tubuhku. Aku membuka kakiku dan melingkarkan ke pinggangnya sehingga dia bisa melumat bibirku. Secara bergantian kami saling melumat bibir, saling bersilat dan menghisap lidah, dan saling mengeksplorasi rongga mulut. Kami berciuman begitu hangat dan begitu bergairah bagaikan sepasang kekasih yang saling mencintai. Karena begitu nyaman dan nikmat, kami pun berciuman selama kurang lebih 3 menit. Gino melepaskan cumbuannya terhadap bibirku sehingga aku bisa menghirup udara segar lagi, selain itu aku bisa melihat ludah kami yang menyatu dan membentuk seperti benang panjang yang menghubungkan mulutku dengan mulut Gino. Gino menurunkan ciumannya menuju ke kedua buah payudaraku yang putih mulus tanpa cacat sedikit pun. Aku mengelus-elus kepala Gino yang sedang menyusu kepadaku.
“mmmhh,,teerruusshh,,”, lirihku pelan ketika lidah Gino menyapu jengkal demi jengkal dari kedua buah payudaraku secara perlahan
Vaginaku semakin gatal saja ketika Gino menghisapi, mengemuti, dan menggiti kedua putingku secara bergantian dan terus menerus. Gino puas memainkan kedua buah payudaraku, dia mulai memposisikan penisnya di depan lubang vaginaku. Penis itu menyeruak masuk ke dalam vaginaku hingga benar-benar amblas ditelan vaginaku. Gino mulai memompa penisnya dengan sangat perlahan hingga aku menikmati ketika urat-urat penis Gino bergesekan dengan dinding vaginaku secara terus menerus. Vaginaku terasa penuh sesak ketika vaginaku menjadi tempat peristirahatan sementara bagi penis Gino yang besar.
“ooohh,,”, desah Gino. Gino mengangkat tubuhku sehingga dia duduk dengan kaki bersila sementara aku duduk di atas penisnya dan menaruh pantatku di pahanya. Gino memeluk tubuhku dan mulai mendorong penisnya lebih masuk ke dalam vaginaku sehingga tubuhku juga ikut terdorong ke atas. Gino mendekatkan wajahnya ke payudaraku sehingga payudaraku yang berguncang naik turun bersamaan dengan tubuhku terus menerus bergesek-gesekkan dengan wajah Gino.
5 menit berlalu, Gino mendorong tubuhku sehingga aku tidur terlentang lagi. Gino mengangkat dan mendorong kedua kakiku sehingga kakiku berada di samping kanan dan kiri kepalaku. Aku merasa penis Gino semakin tertanam lebih dalam karena posisi yang sekarang. Akhirnya, Gino mempercepat sodokannya yang menandakan sebentar lagi dia akan orgasme.
“janganhh,,di,,dalemmhh,,”, erangku terlambat ketika Gino sudah mulai menembakkan spermanya ke dalam vaginaku. Gino melumat bibirku sambil menunggu penisnya selesai memuntahkan isinya ke dalam vaginaku. Aku merasa aneh, penis Gino sudah mengosongkan isinya ke dalam vaginaku, tapi penis Gino sama sekali tidak menyusut. Dengan penis Gino masih tertanam di vaginaku, kami berdua mengobrol.
“No,,kok kontol lo gak lemes?”.
“kan gue pocong,,jadi badan gue ada yang selalu kaku,,”.
“oh iya ya,,lo kan pocong,,lupa gue,,”.
“tadi kenapa? gak mau dikeluarin di dalem?”.
“ya takut hamil lah,,ntar jadi anak pocong,,gimana?”.
“oh iya,,kasian juga kalo lo hamil anak pocong,,”.
“makanye,,tapi udahlah,,udah terlanjur,,pokonya jangan di dalem lagi ya,,”.
“oke,,kalo gitu sekarang lanjut lagi boleh kan?”.
“terserah lo,,”.
“asik kalo gitu,,”. Gino mencabut penisnya dari vaginaku dan menancapkan penis ke lubang anusku. Gino berusaha susah payah karena lubang anusku yang sempit, tapi Gino dengan sabar mendorong penisnya ke dalam anusku agar membuatku tidak merasa kesakitan hingga akhirnya masuk ke dalam anusku. Ronde ke 2 dimulai, kakiku tetap berada di samping kanan dan kiri kepalaku. Aku merasa nikmat sekali penis Gino yang besar keluar masuk lubang anusku dengan perlahan.
“hheemmhh,,oouuummhh,,”, desahku dengan nafas yang memburu. Gino mencabut penisnya dari anusku agar aku bisa mengambil posisi doggystyle. Setelah aku sudah bertumpu dengan kedua siku dan kedua lututku, Gino langsung menanamkan penisnya lagi ke dalam anusku hingga anusku terasa penuh lagi.
Gino menarik kedua tanganku kebelakang sehingga Gino seperti sedang mengendaraiku dengan kedua tanganku sebagai tali kekangnya.
“pok,,pok,,pok,,”, bunyi benturan tubuh kami berdua ketika Gino mempercepat frekuensi sodokan penisnya ke dalam lubang anusku. Suara nafas yang memburu dan desahan demi desahan kami berdua memenuhi kamarku. Gino menekan penisnya dengan sangat kuat sehingga aku merasakan penisnya benar-benar masuk ke dalam anusku hingga mentok. Lalu dia menyemburkan lahar putihnya yang hangat dan kental ke dalam anusku. Gino melepaskan tanganku supaya aku bisa menahan tubuhku yang lemas. Gino menekan tubuhku sehingga dia menindih tubuhku, dia menciumi leherku, punggungku, dan pundakku serta menjilati kedua kupingku hingga basah oleh air liurnya. Selesai mengisi liang anusku dengan spermanya, Gino mencabut penisnya lalu dia membalikkan tubuhku sehingga aku tidur terlentang lagi. Aku melemparkan senyum manis ke Gino, dia membalas tersenyum dan langsung melumat bibirku lagi.
Gino melepaskan ciumannya, dia melebarkan kakiku lalu dia memasukkan penisnya ke vaginaku lagi hingga amblas ke dalam vaginaku, tapi dia langsung mengeluarkannya lagi hingga benar-benar keluar dari vaginaku. Dia memasukkan penisnya lagi, Gino terus melakukan sebanyak 5x. Aku bingung apa yang dia lakukan jadi, aku bertanya kepadanya.
“No,,lo ngapain sih??”.
“ini,,tadi kan penis gue dari pantat lo,,supaya gak bau,,gue giniin deh,,”.
“oh,,emang lo mau ngapain?”.
“soalnya gue mau gini,,”. Dia langsung menaiki tubuhku dan menyodorkan penisnya ke mulutku, aku langsung menjilati penis Gino yang berlumuran sperma dan cairan vaginaku sendiri. 10 menit kemudian dia menyemprotkan sperma ke dalam mulutku yang langsung kutelan hingga tak bersisa. Aku bingung karena tadinya aku lemas sekali, tapi setelah meminum sperma Gino aku menjadi segar kembali.
“No,,lo yakin baru pertama kali gituan ma cewek?”.
“iya,,emang kenapa?”.
“kok lo jago banget mainnya?”.
“ama manusia emang baru pertama kali,,tapi ama hantu cewek udah sering,,”.
“hemm,,pantes aja,,lo jago,,tapi kok hantu cewek pada mau ama lo ya?”.
“jelek-jelek gini,,gue terkenal di komplek kuburan gue lho,,”.
“terkenal gimana maksudnya?”.
“pejantan alfa gitu,,”.
“buset,,udah kayak hewan aja ada pejantan alfa,,”.
“iya dong,,gue juga pengen nanya nih,,”.
“mau nanya apa?”.
“kok lo mau ngentot ama pocong jelek kayak gue? padahal lo kan cantik banget,,”.
“tadinya si kasian aja,,lo gak pernah gituan selama hidup lo,,eh gak taunya,,kalo tau lo sering di kuburan sih,,gak gue kasih,,”.
“yah,,tapi kayaknya dari tadi lo keenakan deh,,hehe”, dia menggodaku.
“hehe,,iya sih,,”.
“ya kan bener,,”.
“iya,,iya,,gue ngaku,,eh tapi ****** lo bakal bangun terus kayak gitu?”.
“gak lah,,ntar jam 3 pagi juga turun sendiri,,”.
“kok,,?”.
“itu tandanya gue harus balik ke rumah abadi gue,,”.
“rumah abadi?”.
“kuburan maksud gue,,”.
“hahaha,,gue kira rumah apaan,,”.
“eh Ney,,boleh lagi gak? baru jam 12 nih,,masih lama,,”.
“yauda,,boleh juga,,”.
“nah lo,,ketagian kan lo Ney,,”.
“hehe,,tapi inget ya,,jangan di dalem memek gue lagi,,”.
“oke Ney,,”.
Aku sangat heran kenapa kami berdua bercinta dengan sangat panas, bergairah, dan menggebu-gebu padahal kami berdua baru saja bertemu. Mungkin benar kata Gino bahwa dia adalah pejantan alfa di daerah kuburannya karena aku sangat bergairah malam ini dan aku merasa nyaman sekali menghabiskan malam di atas ranjang bersama Gino meskipun sebenarnya dia adalah pocong. Ronde demi ronde kami lalui bersama untuk menghabiskan malam yang dingin. Gino menuruti perintahku, dia tidak menyemburkan spermanya ke dalam vaginaku. Dia menembakkan spermanya ke dalam mulut dan anusku, selain itu dia juga menyemburkan spermanya ke tubuhku baik tangan, telapak tangan, betis, paha, perut, wajahku, kedua buah payudaraku, pantatku, ataupun di dekat bibir vaginaku sehingga aku seperti mandi sperma karena sperma Gino hampir ada di seluruh bagian tubuhku. Jam 3 pun datang, pas sekali ketika Gino selesai menyemburkan spermanya ke wajahku.
“Ney,,udah waktunya gue pulang,,”, katanya karena penisnya sudah melemas.
“iya,,”.
“makasih banget ya Ney,,gue boleh ngentotin lo semaleman,,besok lagi ya,,”.
“iya,,sana cepet pulang,,bentar lagi subuh,,ntar kebakar,,”.
“ok Ney,,daah,,”.
“bye,,”. Gino kembali ke bentuk pocong dan langsung menghilang. Aku sudah merasa ngantuk sehingga aku menutup mataku. Ketika aku sudah hampir tertidur, aku mendengar ada suara.
“tooloonngg,,”, suara itu memang pelan, tapi cukup membuatku tersadar. Aku melihat sekitar dengan mata yang tinggal 0,5 watt dan menemukan sesosok bayangan yang bersuara minta tolong sekali lagi, tapi sehabis itu dia menghilang. Aku yang sudah sangat mengantuk tidak memikirkan itu dan menutup mataku lagi…
——————————–
Exorcist Girl 2: Suster Ngesot Modern
Semenjak Gino rajin mengunjungiku setiap malam dan selalu membuatku mandi dengan spermanya, aku merasa kulitku menjadi semakin halus dan warna kulitku menjadi semakin putih merona. Selain itu, aku merasa kulit kedua payudaraku dan pantatku menjadi sangat kencang dan sangat kenyal, teman-temanku juga banyak yang bilang kalau wajahku menjadi semakin cantik dan selalu bersinar-sinar setiap hari.
“apa gara-gara peju si Gino ya?”, tanyaku dalam hati. Aku dan Gino sudah berhubungan selama 1 bulan yang membuat Gino menjadi sangat sayang kepadaku, tapi setiap malam sebelum tidur, pasti aku mendengar suara orang minta tolong dan melihat sosok bayangan yang lalu menghilang. Aku semakin penasaran dengan hantu itu, aku mau memanggilnya tapi aku tidak bisa karena aku tidak tau caranya. Akhirnya, aku memutuskan untuk meminta bantuan Gino.
“Gin,,bisa tunggu bentar gak?”, tanyaku ke Gino setelah dia menyemburkan semprotan spermanya yang terakhir karena sudah jam 3.
“ada apa Neysaku sayang?”.
“kamu masuk ke badanku bentar deh,,”.
“emang ada apa sih Ney?”.
“tiap malem ada yang minta tolong ke aku,,tapi pas aku buka mata gak ada apa-apa,,”.
“hantu?”.
“iyalah,,masa maling minta tolong,,gimana sih kamu,,gak pinter-pinter?”.
“ya maap,,”.
“kamu masuk ke badanku dulu,,biar tu setan tetep muncul,,”.
“oke sayang,,”. Gino langsung meloncat dan masuk ke dalam tubuhku. Aku pura-pura mau tidur, benar saja langsung muncul suara minta tolong seperti biasa, ketika aku ingin melihatnya, bayangan itu langsung menghilang. Begitu bayangan itu menghilang, Gino keluar dari tubuhku.
“oh itu namanya Rina,,si suster ngesot,,”.
“suster ngesot? oh iya,,aku tau,,tapi ada apa ya dia minta tolong ke aku?”.
“aduh,,gak tau deh,,”.
“kenapa dia ilang-ilang gitu sih?”.
“kalo itu aku tau,,”.
“kenapa emangnya?”.
“sinyal dia lemah kalo bukan di daerah rumah sakit,,”.
“sinyal? kamu kira operator handphone?”, tanyaku sambil tertawa karena setan itu tergantung sinyal.
“ya emang begitu,,”.
“kok kamu tau sih?”.
“dulu aku pernah ngincer dia,,tapi ditolak,,”.
“emang dia cakep?”.
“cakep makanya aku naksir,,tapi kayak lagu,,cintaku bertepuk sebelah tangan,,”.
“alah,,hahaha,,jangan-jangan kamu masih naksir ama si Rina?”.
“nggak lah,,sekarang udah gak jaman cewek hantu,,soalnya aku udah punya kamu,,cewek manusia yang cantik banget,,hehe,,”.
“bagus deh kalo gitu,,oh ya kamu tau dia muncul di rumah sakit mana?”.
“gak tau,,dia pindah-pindah terus,,”.
“tapi paling sering muncul dimana?”.
“aku gak tau,,maap ya sayang,,”.
“iya,,gak apa-apa kok,,mendingan kamu pulang deh,,udah mau subuh,,”.
“oke,,bye Ney sayang,,sampe besok,,”.
“iyaa,,daah,,”. Gino menghilang dan aku langsung menutup mata karena sudah sangat mengantuk. Untungnya mata kuliahku siang hari sehingga aku bisa tidur tanpa khawatir bangun telat. Aku membuka mataku sambil menegangkan dan meluruskan tubuhku alias ngulet. Aku melihat ke arah jam yang menunjukkan sudah pukul 11 pagi. Aku bangun dari tempat tidur setelah nyawaku sudah terkumpul dan aku sudah merasa segar, aku langsung pergi ke kaca.
Aku bisa melihat tubuhku yang banyak noda-noda sperma yang telah mengering. Aku mandi untuk membersihkan tubuhku dari sperma Gino yang sudah mengering. Tubuhku sudah menjadi bersih dan wangi kembali, aku memakai pakaian yang rapih dan tidak sexy karena sehabis ini aku akan kuliah. Aku sudah sampai di kampus, aku langsung memarkirkan motorku.
“eh neng Neysa,,”, sapa satpam yang biasa menjaga tempat parkir.
“pagi pak Maman,,”.
“ada kuliah siang neng Neysa?”.
“iya pak,,tapi kayaknya Neysa datengnya kecepetan deh pak,,”.
“kalo gitu,,mending ngobrol aja ama bapak,,”.
“aduh pak,,bukannya Neysa,,tapi temen Neysa udah nunggu Neysa di kantin,,”.
“yah,,yaudah deh,,gak apa-apa,,”.
“yaudah,,Neysa ke kantin dulu ya pak,,”. Aku tersenyum ke pak Maman sebelum aku pergi meninggalkannya. Di kantin, Nita dan Hani yang merupakan teman baikku sudah menungguku. Kami bertiga mengobrol dan tertawa-tawa karena aku menceritakan tingkah laku cowok-cowok di kampus yang berusaha mati-matian dan berlomba untuk mendekatiku.
“Nit,,Han,,gue duluan yee,,ada kelas nih,,”.
“oke,,lo jangan godain dosen yee,,”, kata Nita meledekku.
“aduh,,gimana ya,,udah naluri tuh,,sial lo dasar,,udah ah gue duluan ya,,”. Aku sudah menyelesaikan mata kuliahku pada jam 5 sore. Aku berencana pulang, tapi handphoneku tiba-tiba berbunyi.
“ada apa Fin?”, tanyaku karena Fina yang menghubungiku.
“eh,,udah tau belom Ney,,tadi pagi si Oya operasi usus buntu??”.
“ha? yang bener lho? terus lo udah jenguk?”.
“udah,,tadi siang bareng si Edi, Nyoman, ama Evelyn,,”.
“yauda de,,gue jenguk dia,,di rumah sakit mana?”. Dia memberitaukan kepadaku dimana Oya dirawat.
“oke kalo gitu,,lo masih disana?”.
“nggak,,makanya gue nelpon lo,,si Oya maunya ditemenin lo,,gak tau kenapa,,”.
“yauda kalo gitu,,gue berangkat,,bye,,”, lalu aku menutup telpon dan bergegas ke tempat parkir.
“neng Neysa,,kayaknya buru-buru banget,,”.
“ini pak,,Neysa mau jenguk temen,,”.
“oh,,pantes aja,,”. Aku mengambil motorku dan keluar dari tempat parkir.
“Neysa duluan ya pak,,nih,,”, kataku sambil memberikan seribu rupiah.
“neng Neysa mah gak usah,,kasih yang kayak biasa aja,,”, katanya sambil menyodorkan pipinya.
“oh,,oke pak,,”. Aku mencium pipi pak Maman, orang tua genit yang selalu menggodaku.
“daah pak Maman,,”.
“daah,,”. Aku menarik gas motorku dan pergi menjauh dari tempat parkir kampus. Aku memang tidak pernah ngebut kalau mengendarai motor agar selamat. 45 menit kemudian, aku sampai di rumah sakit tersebut. Setelah memarkirkan motor, aku masuk ke dalam rumah sakit. Aku ke meja resepsionis dan menanyakan temanku dirawat di kamar yang mana.
“di kamar nomer 405,,”, jawab suster itu.
“makasih,,”. Aku bergegas menuju ke lift, tentu saja setiap cowok tidak bisa mengalihkan pandangan mereka dariku. Ternyata, di rumah sakit ini tidak hanya dokter yang telah tua, tapi ada juga dokter yang masih muda dan ganteng. Aku tidak terlalu memikirkan hal itu karena aku ingin segera menemui temanku. Aku sampai juga di depan kamar 405, aku mengetuk pintu.
“masuk,,”, kata seseorang dari dalam kamar.
Aku membuka pintu kamar dan melihat Oya sedang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.
“Halo Oya,,”.
“eh Neysa,,dateng juga lo,,gue udah nunggu dari tadi,,”.
“lo gak bilang gue kalo mau operasi,,”.
“ya gimana mau kasih tau,,gue kan lagi sakit,,”.
“iya juga sih,,eh,,tapi katanya Fina,,lo maunya ditemenin gue? kenapa emangnya?”.
“gini,,kan orang tua gue balik lagi besok,,”.
“terus kenapa?”.
“katanya di sini ada hantu,,gue tau lo kan cewek paling berani di antara temen gue,,”.
“ha? kenapa gak minta ditemenin cowok lo aja?”.
“cowok gue juga sibuk lagian dia paling takut ama yang namanya hantu,,”.
“ah,,payah cowok lo,,”.
“jadi,,lo gak mau nemenin gue yee?”.
“mau ko’,,tenang aja Ya,,gue temenin,,ntar kal ada hantu,,biar gue ajak ribut,,”.
“eemm,,dasar tomboi,,gak ilang juga tomboinya,,padahal udah gue ajarin jadi feminim,,”, aku teringat waktu SMP, Oya yang mengajariku menjadi feminim sehingga aku bisa berubah dari cewek tomboi menjadi seperti sekarang, penggoda cowok sejati.
Aku dan Oya mengobrol menghabiskan waktu hingga jam 10 malam, tentu saja aku menyuapinya jika Oya ingin makan dan mengantarnya ke kamar mandi jika ada ‘urusan’.
“Ney,,gue tidur ya,,udah ngantuk,,”.
“oh,,yaudah,,lo emang harus banyak tidur,,”.
“tapi lo jangan pergi yaa,,”.
“iya,,tenang aja,,”. Oya menggenggam tanganku agar tidak meninggalkannya. Aku terus berada di samping Oya hingga dia tertidur pulas ketika sudah jam 11. Gino tiba-tiba muncul di dekat pintu.
“Neysa sayang,,malem ini aku gak bisa nemenin kamu,,soalnya ada rapat di daerah kuburan aku,,”.
“ya elah,,pocong ada rapat juga ya?”.
“ada dong,,aku kan pocong eksekutif,,”.
“ada-ada aja,,yauda ga’ apa-apa,,kebetulan aku juga nemenin temenku ini”.
“oh,,bagus deh kalo gitu,,aku pergi ya,,daah,,”.
“daahh,,”. Gino menghilang dari pandanganku. Tak lama setelah itu, ada yang berteriak minta tolong dan kali ini aku mendengarnya dengan sangat jelas. Aku melepaskan genggaman Oya dengan perlahan.
Setelah tanganku lepas, aku membuka pintu dengan perlahan agar tidak membangunkan Oya lalu aku keluar dan tidak melihat siapa-siapa ataupun sesuatu. Aku berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang sangat mencekam dan sangat sepi, belum lagi ditambah suara jangkrik yang membuat suasana menjadi lebih seram. Aku yakin kalau bukan seseorang dengan mental yang kuat pasti tidak akan berani melewati lorong yang sedang kulalui. Tiba-tiba udara menjadi dingin sekali dan suara minta tolong pun semakin kencang.
“sreek,,sreek,,sreek,,”, aku mendengar suara seperti orang sedang menyapu dan suara itu terdengar semakin mendekat. Akhirnya aku bisa melihat dari mana suara itu berasal, aku melihat seorang wanita berpakaian seperti suster dan berjalan dengan ngesot. Pakaian suster itu berwarna putih, tapi ada noda darah dimana-mana membuat pakaian suster itu menjadi kotor.
“lo Rina ya?”, tanyaku setelah dia sudah dekat.
“kamu tau aku?”, tanyanya.
“tau,,gue dikasih tau ama pocong yang namanya Gino,,”.
“oh Gino,,aku inget,,dulu pernah deketin aku,,memangnya dia siapanya kamu?”.
“ya bisa dibilang pacar gue,,”.
“ha?! yang bener? pocong jelek kayak dia punya pacar kayak kamu?”.
“ya gitu deh,,eh,,lo ganti wujud dulu dong,,gak enak banget muka lo,,”, kataku melihat matanya dengan air mata darah yang mengalir dari matanya, rambutnya acak-acakan.
“oke,,”. Rina pun berubah ke wujud manusianya dulu yang cantik.
“kita ngobrolnya duduk aja yuk,,”, ajakku.
“disana ada bangku tuh,,”, kata Rina. Kami duduk di bangku yang kebetulan ada di dekat kami berdua.
“nah,,sekarang,,gue pengen nanya,,kenapa lo muncul setiap gue mau tidur?”.
“soalnya aku mau minta tolong,,”.
“minta tolong apa?”.
“balesin dendam aku,,”.
“balesin dendam?? gue bukan preman,,gimana caranya coba? lagian ngapain minta tolong ke gue?”.
“gini,,aku kan diperkosa terus kakiku dibikin lumpuh baru aku dibunuh,,”.
“terus?”.
“nah aku pengen minta kamu balesin dendamku,,”.
“kenapa harus gue?”.
“kamu kandidat yang paling cocok untuk membalaskan dendamku,,”.
“maksudnya?”.
“kamu kan cewek,,cantik,,sexy,,”.
“kan banyak yang lebih cantik dari gue?”.
“iya,,tapi cuma kamu yang bisa ngeliat hantu dan gak lari ketakutan,,jadi aku mutusin untuk minta bantuan kamu,,”.
“tapi kok lo tau-tauan gue bisa ngeliat hantu ‘n gak takut ama hantu?”.
“aku udah sering denger kabar dari hantu-hantu yang pernah nyoba nakut-nakutin kamu,,”.
“oh gitu,,tapi bentar deh,,lo bukannya paling seneng nakut-nakutin orang?”.
“please deh,,udah 2008 gitu loh,,orang-orang udah banyak yang gak percaya ama hantu lagian aku bosen nakut-nakutin orang mulu,,”.
“oh iya ya,,sekarang malah ada ketik REG HOROR,,”.
“makanya itu,,sekarang hantu dijadiin barang dagangan,,jadi,,kamu mau nolong aku gak?”.
“mau,,tapi gue kan gak tau muka ‘n alamat orang yang merkosa lo dulu,,”.
“bentar,,aku ngambil sesuatu dulu,,”. Rina menghilang beberapa detik dan dia kembali lagi muncul di sampingku dengan laptop di pangkuannya.
“ini laptop lo Rin?”.
“iya,,bentar ya aku mau nyari informasi orang yang bunuh aku dulu,,”.
“kok hantu punya laptop?”.
“punya dong,,”.
“hebat ya hantu zaman sekarang,,”.
“iya dong,,ngikutin manusia,,eh nih udah dapet,,mana hape kamu,,aku kirim lewat bluetooth,,”.
“buset,,lo ngerti bluetooth juga?”.
“iya dong,,hari gini gak ngerti bluetooth,,capek deh,,”. Setelah foto dan alamat 3 orang pemerkosa si Rina kuterima di hpku, aku langsung membaca alamatnya.
“ya ampun,,ada profesinya segala,,lengkap amat,,”.
“iya,,hebat kan?”.
“iya deh,,eh tapi gimana caranya gue bisa balesin dendam lo?”.
“kamu harus ngebolehin 3 orang itu nyemprotin sperma ke dalam vagina kamu,,”.
“ha? terus ntar kalo gue hamil gimana?”.
“tenang aja,,ntar sebelum gituan kamu suntik ini ke badan kamu,,”, katanya sambil menyerahkan 3 jarum suntik yang berisi cairan putih.
“cairan apa nih?”.
“ada deh,,pokonya bisa cegah kamu hamil deh,,”.
“iya deh,,tapi gak malam ini gak apa-apa kan?”.
“ya itu terserah kamu,,udah ya aku pergi dulu,,mau ngapel,,”.
“dasar hantu zaman sekarang ikut-ikut manusia aja,,”.
“iya dong,,kita juga gak mau kalah,,udah ah daah,,”.
“daah,,”.
Rina menghilang, aku menaruh 3 suntikan itu di tasku ketika aku sudah berada di kamar Oya lagi. Setelah itu, aku duduk di sampingnya dan ikut tertidur karena suasana rumah sakit yang sepi membuatku mudah mengantuk. Aku terbangun karena ada seseorang yang menggoyang.
“nak Neysa,,nak Neysa,,”.
“ada apa?”, aku membuka mataku secara perlahan. Ternyata yang membangunkanku adalah ayahnya Oya.
“eh om,,”, kataku sambil mengucek-ngucek mataku.
“makasih ya nak Neysa udah mau nemenin Oya semaleman,,”.
“iya Neysa,,makasih ya,,kami jadi gak enak,,”, tambah ibunya.
“iya Ney,,thanks banget,,udah nemenin gue semalem,,”.
“ah gak apa-apa,,kan Neysa udah dianggep keluarga,,oh iya,,sekarang udah jam berapa ya?”.
“udah jam 9,,”, kata ibunya Oya.
“kalo gitu,,om,,tante,,Neysa pergi kuliah dulu ya,,”.
“kamu gak mandi,,Neysa?”, tanya ayahnya Neysa
“gak usah om,,Neysa udah ampir telat,,”.
“iya pah,,Neysa gak mandi juga banyak yang naksir,,”.
“alah,,apaan si lo Ya,,bentar om,,tante,,Neysa mau cuci muka.
Setelah mencuci muka, aku menyemprotkan parfum ke tubuhku.
“om,,tante,,Neysa pulang dulu ya,,Oya,,gue pulang dulu ya,,dah semuanya,,”.
“dah,,makasih ya Neysa,,”. Aku meninggalkan rumah sakit dan segera menuju ke kampus karena ada mata kuliah yang harus kuhadiri. Akhirnya, aku sampai di tempat parkir kampus. Aku memakai cardigan yang ada di tasku agar tidak terlihat kalau aku tidak ganti baju. Benar-benar capek hari itu, ditambah lagi aku belum mandi sehingga aku merasa gerah sekali. Begitu selesai mata kuliahnya, aku langsung pulang meskipun banyak yang mengajakku jalan-jalan baik temen cowok maupun temen cewek, tapi aku menolak karena aku harus segera mandi jika tidak pasti aku akan merasa tidak betah pergi kemana-mana. Setelah sampai di rumah, aku langsung mandi. Guyuran air dingin membuatku merasa seperti hidup kembali karena begitu segar. Seusai mandi, aku melihat jam yang baru menunjukkan pukul 4 sore.
“ah,,baru jam segini,,enaknya ngapain ya?”.
“oh iya,,”, kataku setelah ingat kejadian di rumah sakit kemarin malam. Aku melihat hpku yang ada identitas 3 orang pemerkosa si Rina.
“gue ngecek alamatnya aja ah,,”. Aku memakai pakaian santai karena aku hanya mengecek alamat saja. Target pertamaku adalah pak Yunus, seorang supir angkot yang sudah mempunyai istri dan 2 anak. Pas sekali, ketika aku berhenti di depan rumahnya, ada angkot yang berhenti juga. Aku menduga kalau orang yang turun dari angkot adalah pak Yunus karena mirip sekali dengan yang ada di foto. Setelah aku sudah yakin, aku langsung memacu gas motorku meninggalkan daerah itu sebelum pak Yunus melihatku. Aku melihat ke jam tanganku.
“yah,,baru jam setengah 6,,kemana dulu ya?”. Aku melihat ada tukang siomay, aku pun langsung berhenti karena siomay adalah favoritku dari dulu. Aku memakirkan motorku di dekat gerobak siomay lalu duduk sambil membuka helmku.
“bang,,somay 1 piring ya,,jangan pake pare, kol, ama kentang ya bang,,”.
“pake telor gak neng,,”.
“pake bang,,”.
“ini neng,,”, katanya berbalik sambil menyerahkan sepiring siomay kepadaku. Dia terlihat kaget melihatku dan terdiam sebentar.
“kenapa bang?”.
“ah nggak neng,,neng bukan orang sini ya?”.
“ya Bang,,kok abang bisa langsung tau?”.
“soalnya saya baru pertama kali ngeliat neng,,lagian cewek di sekitar sini gak ada yang cantik banget kayak neng,,”.
“ah abang,,bisa aja,,”.
“saya boleh duduk di sebelah neng gak?”.
“ya boleh lah,,masa gak boleh,,”.
“makasih neng,,”. Kami mengobrol untuk mengakrabkan diri sambil aku terus melahap siomay yang ada di piringku.
“yah abis,,tambah lagi dong Bang,,”.
“buset,,neng Neysa,,cantik cantik,,makannya kuat juga,,”.
“bukan gitu Bang,,somaynya enak sih,,lagipula Neysa emang suka somay,,”.
“oh,,yaudah,,sini saya tambahin,,”. Aku mulai memakan siomay ronde ke 2ku sambil terus mengobrol dengan tukang siomay.
“udahan ni bang,,berapa jadinya?”.
“gak usah,,buat neng Neysa yang cantik,,”.
“jangan gitu dong bang,,nih Neysa bayar,,”, aku menyerahkan 15 ribu ke tangan tukang siomay itu.
“loh,,banyak amat,,kan cuma 8 ribu,,”.
“gak apa-apa bang,,udah ya bang,,Neysa mau pulang,,udah sore,,”.
“yaudah deh,,makasih banget ya neng Neysa,,”.
“sama-sama bang,,”. Aku pulang ke rumah, tapi aku sengaja mengambil rute yang panjang karena aku ingin menghabiskan waktu terlebih dulu. Sebelum sampai di rumah, aku masih sempat mampir ke kafe tempat hangout anak-anak gaul. Setelah sudah jam 8 malam, barulah aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Sesampainya di rumah dan sudah memarkirkan motorku, aku masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke kamar. Baru sebentar aku tidur terlentang di kasur, Gino sudah muncul.
“alo Neysa sayang,,”.
“yah,,dia udah muncul aja,,”.
“iya dong,,kan udah jatah,,”.
“iya deh,,tapi aku mandi dulu ya,,”.
“kalo gitu aku temenin deh,,hehe,,”.
“boleh,,asal kamu jadi manusia dulu,,”.
“oke,,gampang,,”, lalu Gino merubah dirinya menjadi bentuk manusia.
“nah kalo gini kan,,kamu bisa lebih luwes gerakannya,,”.
“yaudah yuk,,”.
Aku dan Gino memang sering mandi bersama karena Gino paling suka menyabuniku yang membuat tubuhku menjadi berkilauan karena sabun, menurutnya aku menjadi semakin seksi jika sedang seperti itu. Malam itu pun aku lewati bersama Gino dengan penuh kemesraan, kehangatan, dan dikuasai nafsu birahi.
“No,,kayaknya kamu 3 malem gak usah ke sini dulu deh,,”.
“kenapa?”.
“soalnya,,aku mau bantuin Rina bales dendam,,”.
“oh,,yaudah,,aku juga ada urusan,,”.
“wah,,pas banget ya,,”.
“iya,,kayaknya kita emang jodoh,,”.
“ih,,enak aja,,masa jodoh aku pocong sih,,gak deh,,”.
“ya kali aja gitu,,hehe”.
“tapi kayaknya kamu jadi sibuk banget,,emang kamu mau ngapain?”.
“aku mau studi banding antara pocong,,”.
“emang bener-bener deh,, setan jaman sekarang aneh banget,,”.
“yaudah ya Neysa sayang,,udah jam 3,,aku harus pulang,,daah,,”.
“yaudah,,bye,,”. Seperti biasa, setelah Gino menghilang, aku langsung tidur. Besok adalah hari Minggu sehingga aku bisa tidur dengan santai. Keesokan hari aku menghabiskan waktu dari jam 10 pagi sampai jam 9 malam bersama pacarku yang ‘asli’ dan teman-temanku.
Aku pulang dulu ke rumahku untuk mandi sebelum menjalankan rencana untuk menemui target pertamaku. Seusai mandi, aku memakai baju ketat tanpa lengan berwarna putih sehingga bentuk kedua buah payudaraku tercetak jelas di kaosku. Untuk bawahannya, aku memakai rok selutut dengan celana dalam yang berwarna pink. Ketika akan pergi, aku baru ingat kalau harus menggunakan suntikan yang diberikan oleh Rina sebelum menuntaskan target. Aku mengambil suntikan dari meja dan membuka penutup jarumnya.
“aduh gue lupa nanya ma Rina,,suntikin ke mana ni yee?”. Aku mencuci jarumnya dengan alkohol agar steril.
“tau ah,,gue suntik ke pantat gue aje ah,,”. Aku pun membuka rok dan celana dalamku, lalu aku menyiapkan daerah pantatku yang akan kutancapkan jarum suntik dengan mengelus-elus menggunakan kapas yang telah kutuangi alkohol. Akhirnya, aku selesai menyuntik diriku sendiri dan cairan yang ada di jarum suntik tadi sudah berada di dalam tubuhku.
Aku memakai celana dalam dan rokku lagi, lalu aku pergi ke tempat tujuan menggunakan taxi. Aku turun dari taxi begitu sampai di tempat tujuanku. Aku menunggu di jalan yang biasa dilewati angkot pak Yunus. Tak begitu lama, angkot lewat dan mendekatiku, setelah aku yakin kalau supirnya adalah pak Yunus aku naik angkot tersebut. Hanya ada 2 penumpang, 1 orang cowok bertampang alim dan 1 cewek bertampang alim juga, kelihatannya mereka adalah sepasang kekasih. Hanya beberapa meter dari tempatku naik, mereka berdua turun.
“neng,,kok malem-malem masih ada di luar,,”.
“iya pak,,saya abis dari rumah temen,,”.
“emang neng gak takut malem-malem pulang sendiri?”.
“yaa abis gimana lagi pak,,”.
“masa neng gak punya pacar,,”.
“punya,,tapi dia lagi sibuk,,”.
“oh,,”. Tiba-tiba pak Yunus menghentikan angkot.
“bentar ya neng,,mau buang air kecil dulu,,”.
“oh,,yaudah,,cepet ya pak,,”. Sekitar 5 menit menunggu, pak Yunus tidak kembali juga, malah tiba-tiba ada yang menyekap mulutku dari arah belakang karena jendela yang ada di dekatku terbuka.
Ternyata sapu tangan yang digunakan mengandung obat tidur sehingga hanya dalam 30 detik setelah meronta-ronta, aku merasa benar-benar mengantuk dan tak lama kemudian aku pingsan. Dalam keadaan 3/4 pingsan, aku merasa tubuhku diangkat sebentar dan didudukkan lagi, setelah itu barulah aku tidak tau apa yang terjadi. Aku tersadar ketika aku merasa puting kananku basah, hangat, dan juga ada rasa geli sekaligus nikmat. Spontan, aku membuka mataku dan melihat pak Yunus sedang melahap puting kananku serta menggiti puting kananku seperti marmut sedang menggigiti biji matahari, pelan-pelan tapi cukup keras. Lalu dia berganti memainkan puting kiriku sambil membuat kedua buah payudaraku basah karena air liurnya.
“eh neng udah bangun,,kalo gitu,,bapak bisa nyipok neng,,”, kata pak Yunus sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku. Dia membuka plester yang menutup mulutku, dia langsung melumat bibirku habis-habisan.
Dia mengemut bibir atas dan bibir bawahku sebelum dia memasukkan lidahnya ke dalam mulutku, aku tidak mampu menahan gerakan lidahnya yang bergerak-gerak di dalam rongga mulutku mencari lidahku untuk diajak bertarung. Aku tidak punya pilihan lain selain menggerakkan lidahku juga sehingga lidah kami saling membelit. Selama berciuman, aku bisa menatap kedua mata pak Yunus yang sudah berapi-api karena sudah sangat bernafsu melihat tubuhku.
“emang beda,,bibir cewek cakep,,lembut banget,,gak kayak bibir si Parni,,”, komentarnya setelah puas melumat bibirku. Dia menutup bibirku lagi dengan selotip tadi, aku baru sadar tanganku terikat ketika aku ingin menggerakkan tanganku. Pak Yunus kini berada di depan kakiku yang kututup rapat. Dia membuka kedua kakiku selebar mungkin, tapi aku masih berusaha menutup kedua kakiku agar pak Yunus tidak mendapatkan akses ke vaginaku. Pak Yunus tidak mudah menyerah untuk mendapatkan akses ke vaginaku, akhirnya dia berhasil menempatkan kepalanya di depan vaginaku.
Aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain berusaha merapatkan kedua pahaku yang putih mulus sambil berharap agar dia tidak nyaman dan menarik kepalanya dari vaginaku, tapi pak Yunus malah asyik dan terlihat nyaman menjilati daerah selangkanganku dan juga klitorisku. Tubuhku menggeliat-geliat yang menandakan kalau aku tidak bisa menolak rasa nikmat yang sedang melanda diriku, tapi dengan tangan terikat pada balok yang ada di langit-langit ruangan ini dan dengan mulut tertutup lakban sehingga aku tidak bisa mengeluarkan suara, itu semua membuatku hanya bisa menutup mata sambil menggeliatkan tubuhku.
“mmmfffhh,,”, desahanku tertahan lakban ketika pak Yunus menjilati dan menyentil-nyentil klitorisku dengan lidahnya. Aku tidak sanggup menahan lagi setelah 5 menit pak Yunus mengobok-ngobok vaginaku dengan mulutnya sehingga pak Yunus bisa mencicipi dan menyeruput cairan vaginaku hingga tak bersisa.
“neng,,keenakan aja pake sok gak mau segala,,”, komentarnya.
“sekarang mulai ah,,gak sabar pengen ngerasain memek cewek cakep,,”.
Aku tak bisa merapatkan kedua pahaku untuk menjepit kepala pak Yunus agar tidak bergerak karena aku lemas sehabis orgasme tadi. Pak Yunus membuka celana dan celana dalamnya sehingga aku bisa melihat penisnya yang sama besar seperti punya Gino. Dia menaruh kedua kakiku di pundaknya sementara dia memposisikan penisnya di depan lubang vaginaku. Lalu dia mendorong penisnya masuk ke dalam vaginaku secara perlahan. Meskipun penisnya tergolong besar, aku tidak merasa pedih karena vaginaku sudah terbiasa dengan penis Gino yang hampir sama dengan penis pak Yunus. Begitu penisnya sudah tertanam di dalam vaginaku, pak Yunus mulai menggenjot vaginaku. Sambil memompa penisnya keluar masuk, pak Yunus menjilati kedua telapak kakiku yang membuatku kegelian dan ingin menarik kakiku, tapi tak bisa karena dia memegangi kakiku.
“padahal kaki,,tapi kok wangi juga ya,,kalo cewek cantik emang beda,,semuanya wangi,,gak ada yang bau,,”, katanya sambil terus menciumi dan menjilati telapak serta jari-jari kedua kakiku secara bergantian.
Rasa nikmat dan geli yang teramat sangat membuatku mendapatkan orgasme kedua.
“mmmfffhhh,,”, desahku tertahan lakban. Pak Yunus jago memainkan ritme genjotannya. Kadang dia memompa vaginaku dengan ritme yang sangat pelan seperti ingin merasakan kehangatan dan himpitan dinding vaginaku, dan kadang dia menggenjot vaginaku dengan irama cepat seperti sedang diburu waktu. Selain variasi ritme, dia juga ahli dalam variasi sodokan. Misalnya, dia tusukkan penisnya dengan sangat kuat ke dalam vaginaku dan menarik penisnya keluar dari vaginaku dengan sangat perlahan lalu dia memasukkan penisnya ke dalam vaginaku lagi dengan sangat perlahan hingga penisnya mentok kemudian dia mencabut penisnya keluar dari vaginaku dengan sangat cepat, selain itu dia juga mempunyai bermacam-macam teknik lainnya. Pak Yunus mendorong penisnya ke dalam vaginaku hingga mentok lalu dia mulai menembakkan spermanya ke dalam vaginaku. Vaginaku terasa hangat ketika sperma pak Yunus yang hangat dan kental terus menerus ke dalam vaginaku.
Setelah semburan sperma dari penis pak Yunus, aku bisa merasakan penisnya mulai menyusut sementara pak Yunus menciumi betis kiriku. Ketika sedang masa ‘tenang’, tiba-tiba ada seseorang membuka pintu.
“buset,,ada yang lagi enak toh,,”, aku tidak bisa melihat orang itu, tapi aku tau kalau orang yang datang itu adalah laki-laki dari suaranya.
“parah lo Nus,,punya barang bagus kayak gini gak bilang-bilang,,”.
“bukannye gitu,,”.
“ah,,udehlah,,gue manggil yang laen dulu,,”.
“woy,,yang mau anget-anget ke sini !!!”, teriak orang itu. Satu per satu terus memasuki ruangan dan berdiri mengelilingiku dan pak Yunus. Aku bisa menghitung orang yang masuk ada 12 orang.
“gue kira ada kopi gratis,,taunya malah ada cewek cantik yang udah siap dientot,,”.
“parah lo Nus,,pengen enak sendirian,,”.
“ya,,tapi kan gue baru aja mau manggil lo pada,,”, balas pak Yunus.
“udeh lo,,minggir,,gantian,,sekarang giliran kite,,”.
Pak Yunus langsung berdiri dan menjauh meninggalkan aku yang sudah dikelilingi 12 bapak-bapak yang sudah sangat bernafsu melihat tubuh putih mulusku yang terikat tak berdaya dan sudah pasrah kepada apapun yang akan mereka lakukan.
“yah,,padahal gue pengen jilatin memek ni cewek,,tapi udah ada peju si Yunus,,”, kata seseorang kecewa melihat ada sperma yang meleleh keluar dari vaginaku.
“mending lo bantuin iketan tangannye,,’n plester biar lebih hot pas dientot,,”. Memang, ikatan tanganku dibuka dan plester yang menutupi mulutku dilepas, tapi setelah itu mereka langsung berebut menjilati seluruh bagian tubuhku. Mereka mengerubungiku bagaikan 12 ekor semut menemukan gula. Seluruh bagian tubuhku tidak ada yang terlewat dari jilatan-jilatan mereka kecuali vaginaku tentunya. Setelah tubuhku sudah berlumuran campuran air liur 12 orang, mereka langsung menggilir vagina, anus, dan mulutku baik sendiri-sendiri ataupun langsung 3 some. Ketiga lubangku sudah menjadi tempat pelancongan dari 12 penis yang masing-masing mempunyai bentuk, ukuran, tekstur, dan bau yang berbeda-beda.
Meskipun berkali-kali aku orgasme, aku tidak merasa capek sama sekali, mungkin karena suntikan yang diberikan oleh Rina. Masing-masing dari 12 orang itu minimal telah menyemburkan spermanya sebanyak 4x baik ke dalam 3 lubangku atau ke tubuhku. Entah sudah berapa jam tubuhku menjadi tempat pembuangan sperma ke 12 orang itu, aku hanya tau tubuhku sudah benar-benar belepotan sperma bahkan mungkin aku terlihat seperti memakai pakaian yang terbuat dari sperma. Penderitaanku berakhir sudah ketika 2 orang terakhir menyemburkan sperma ke wajahku disusul oleh temannya yang juga menyemburkan spermanya ke wajahku.
“gila,,puas banget gue ngentotin cewek cakep,,”.
“iyee,,mantep banget,,kont** gue ampe gak bisa bangun lagi,,”.
“bener gue juga,,kalo gitu mendingan kite tidur aje,,noh yang laen juga pada tepar gara-gara terus-terusan buang peju ke jablay cakep ini,,”, kata orang itu sambil menunjuk ke arahku.
“nyok ah,,gue juga udah lemes banget,,biarin aje ni jablay istirahat dulu,,ntar pagi-pagi sebelom narik kite entotin lagi,,”.
“sip banget tuh ide lo,,gue mau tidur nyembari melukin baju die ah,,siape tau di dalem mimpi,,gue bisa nerusin,,”.
“kalo gitu gue roknye aje deh,,soalnye cdnye ame si Bejo,,terus bhnye ame si Jupri,,”.
“yaude,,nyok tidur nyok ah,,”. Mereka bergabung dengan 10 orang yang lain yang sudah tertidur pulas. Staminaku memang masih ada, tapi aku tidak bisa menggerakkan tubuhku sedikitpun. Aku hanya bisa terbaring diam menutup mata berharap ini semua hanyalah mimpi buruk. Lama juga aku terdiam sambil memejamkan mata, mungkin aku sempat tertidur sebentar dan seiring dengan waktu seluruh sperma yang ada di tubuhku mulai mengering. Tiba-tiba ada seseorang yang masuk dan mengangkat tubuhku yang ada bekas gigitan dan bekas cupangan dimana-mana serta sudah berlumuran 3 macam cairan yaitu keringat, air liur, dan sperma meskipun telah mengering dan menjadi kerak di tubuhku. Setelah di luar, barulah aku tau kalau yang sedang mengangkat tubuhku adalah pak Yunus.
Dia menaruhku di dalam angkotnya, di samping kursi supir. Dia menyalakan mobilnya dan memacu mobilnya menjauh dari rumah itu.
“maaf neng,,bapak gak tau kalo neng bakal jadi begini,,”, katanya sambil terus menyupir.
“…”, aku tidak menjawab karena aku bingung harus menjawab apa.
“tadinya bapak cuma mau nyobain memek neng sekali aja,,soalnya gak tahan ngeliat body neng,,tapi malah ketauan ama Juki,,jadinya neng begini deh,,maap banget neng,,”.
“udah lah pak,,udah berlalu,,”.
“ya,,tapi maap banget neng,,”.
“iya,,oh ya pak,,kaca mobil ini bisa keliatan dari luar gak pak?”.
“oh iya,,bapak lupa ngambilin baju buat neng,,jadinya,,neng telanjang kayak gini deh,,maap neng”.
“iya,,tapi bisa keliatan dari luar gak?”.
“nggak neng,,”.
“yaudah,,kalo gitu,,”.
“maap banget neng,,sebagai permintaan maap,,bapak anterin sampe rumah neng deh,,”.
“makasih pak,,”.
“rumah neng dimana?”.
“di jalan Kembang Setan pak,,”.
“wah,,itu jauh banget dari sini,,tapi gak apa-apa deh,,bapak udah salah,,”.
“bapak kurang ajar ya,,udah bikin neng kayak gini,,tapi bapak belum tau nama neng,,”, katanya sambil mengemudi.
“oh,,nama saya Neysa,,bapak namanya siapa?”, tanyaku pura-pura tidak tau.
“nama bapak,,Yunus,,oh iya neng Neysa mau pake baju bapak biar gak kedinginan?”.
“ah gak usah pak,,saya gak kedinginan,,”.
“tapi rumah neng Neysa itu jauh banget lho,,ntar neng Neysa sakit gara-gara gak pake baju,,”.
“gak apa-apa pak,,lagian gak keliatan ini dari luar,,”.
“tapi kan keliatan ama bapak,,”.
“ya kan bapak juga udah ngeliat badan saya,,”, balasku.
“iya juga sih,,hehe,,”, arah pembicaraan kami pun berubah menjadi menjurus ke hal yang berbau seks dan akhir dari pembicaraan kami membuatku jadi menghangatkan penis pak Yunus dengan mulutku selama perjalanan ke rumahku. Karena lumayan jauh, pak Yunus bisa menyemburkan spermanya ke dalam mulutku lebih dari 3x. Akhirnya, sampai juga di depan rumahku, aku mau turun sendiri, tapi aku masih belum bisa menggerakkan tubuhku.
“pak,,bisa tolong gendong saya masuk ke dalem gak? saya lemes banget,,”.
“tapi orang tua neng Neysa?”.
“saya tinggal sendiri,,”.
“oh,,yaudah kalo gitu,,bapak bakal gendong neng Neysa ampe kamar neng Neysa,,”. Pak Yunus turun dan mengangkat tubuhku masuk ke dalam rumah dan menuju kamarku. Lalu dia menaruh tubuhku di ranjang.
“neng Neysa,,sebenarnya bapak mau nemenin neng Neysa,,tapi bapak harus pulang,,ntar bini bapak,,si Parni nyariin bapak,,”.
“oh,,yaudah,,”.
“lagian siapa juga yang mau ditemenin bapak-bapak yang umurnya udah 48 pas lagi lemes gini,,”, kataku dalam hati.
“sekali lagi bapak minta maap banget,,udah bikin neng Neysa jadi begini,,”.
“iya pak,,saya maapin,,ati-ati di jalan pak,,”.
“makasih buat semuanya ya neng Neysa,,daah,,”.
“daah,,”. Tak lama setelah pak Yunus pergi, Rina si suster ngesot muncul di sampingku dalam bentuk manusianya.
“ya ampun,,kok kamu jadi kayak gini?”, tanyanya setelah melihat tubuhku yang banyak noda sperma kering dimana-mana.
“Rin,,kayaknya gue gagal deh,,”.
“gagal kenapa?”.
“di memek gue,,bukan cuma ada pejunya si Yunus,,tapi juga ada peju 12 orang yang laen,,tadi gue diperkosa,,”.
“tapi yang pertama kali nyiram vagina kamu siapa?”.
“Yunus,,emang kenapa?”.
“kalo gitu kamu gak gagal,,”.
“haduh,,gue gak ngerti,,”.
“yaudah,,aku tunjukkin,,”.
“sebelum itu,,gue pengen nanya lagi,,kok gue gak lemes tapi gue gak bisa gerakkin badan gue?”.
“iyalah,,sebenarnya kalo gak make suntikan dari aku,,kamu udah pingsan diperkosa 12 orang,,”.
“oh,,jadi suntikan yang dari lo,,bikin energi gue gak abis tapi badan gue tetep lemes,,”.
“iya,,oh iya,,aku buat kamu supaya bisa gerak lagi,,”. Dia menyentuh keningku dengan telunjuknya dan sekejap aku bisa menggerakkan tubuhku lagi.
“pluk,,”, aku mendengar suara seperti ada yang lepas dari dalam tubuhku.
“sekarang kamu ambil ember,,jangan banyak tanya,,”.
“okeh,,”. Aku mengambil ember sesuai perintah Rina dan kembali ke Rina.
“terus sekarang ngapain?”, tanyaku.
“kamu taro embernya tepat di bawah vagina kamu,,”. Aku melakukan sesuai perintah Rina.
“nah sekarang,,kamu diem aja,,”. Dia berjongkok di hadapanku dan melihat vaginaku.
“maap ya Neysa,,vagina kamu ampe jadi gini,,”.
“iya,,gak apa-apa,,tapi lo mau ngapain?”.
“kamu diem aja,,”. Tanpa aku duga, Rina memasukkan 2 jarinya ke dalam vaginaku dan mulai menggerakkan 2 jarinya itu keluar masuk vaginaku.
“lo ngapainhhh???”, tanyaku sambil mendesah keenakan. Aku berpegangan ke pundak Rina karena kedua kakiku gemetaran. Dia tidak menjawab, tapi dia terus mengocok vaginaku dengan 2 jarinya. Rina mempercepat gerakan kedua jarinya sehingga dalam waktu 7 menit, aku orgasme. Aku kaget sekali ketika Rina mencabut kedua jarinya dari vaginaku karena cairanku putih kental mengucur dari vaginaku ke ember kecil yang ada di bawah vaginaku bagaikan air terjun yang jatuh ke bawah.
“kok banyak banget?!”, tanyaku kaget.
“ini sperma yang ada di dalam tubuh kamu,,”.
“bukannya udah kering? lagian kayaknya gak banyak gini,,”, kataku melihat ember kecil yang sudah terisi setengahnya.
“ini sperma dari vagina, anus, ama mulut kamu,,”.
“kok bisa??”.
“bisa dong,,aku kan suster hantu yang udah profesional,,”. Cairan dari vaginaku terus mengucur keluar dan berhenti pas ember kecil itu sudah penuh. Tiba-tiba Rina memasukkan tangan kanannya seperti mencari sesuatu. Dia mengeluarkan kristal dari cairan itu.
“apaan tuh?”.
“suntikan yang aku kasih bakal nangkep sperma yang pertama kali masuk terus jadi kristal ‘n nyumbat saluran vagina kamu jadi kamu gak bakal hamil,,”.
“ooh,,akhirnya gue ngerti,,”. Lalu dia membaluri dari klitorisku hingga ke lubang anusku dengan cairan yang ada di ember.
“terus sekarang lo ngapain?”, tanyaku lagi.
“aku bisa bikin vagina dan anus kamu balik ke bentuk semula pake cairan ini,,”.
“ohh,,gitu,,tapi kok gue gak ngerasa apa-apa?”.
“iyalah,,emangnya sihir,,bisa langsung,,”.
“oh iya,,iya,,eh iya gue lupa mau nanya,,”.
“nanya apaan?”.
“bukannya lo kalo muncul di luar rumah sakit,,sinyal lo lemah?”.
“oh,,itu,,aku udah ganti operator jadinya sinyalnya kuat deh,,”.
“alah,,kayak hape aja,,”.
“udah ah,,aku pulang ya,,udah mau subuh,,oh iya,,sebelum tidur kamu harus tuang cairan yang ada di ember itu ke badan kamu,,,”.
“kenapa?”.
“pokoknya ikutin aja,,”.
“iya deh,,tapi gue boleh mandi?”.
“gak boleh,,”.
“yah,,masa ntar gue tidur lengket-lengketan,,”.
“terserah kamu,,mau ngikutin perintah aku apa tubuh kamu tetep kayak gitu,,banyak bekas gigitan ‘n cupangan,,”.
“ah,,jahat lo,,iya deh,,gue ikutin,,”. Rina pun menghilang, aku memutuskan menjalani perintahnya. Aku membawa ember itu ke kamar mandi, aku menumpahkan isinya ke kepalaku sehingga mengalir hingga ke kakiku lalu aku meratakannya ke seluruh tubuhku. Aku tidak mau kasurku jadi kotor, oleh karena itu aku menunggu cairan yang menyelimuti tubuhku mengering, setelah itu aku baru tidur. Begitu aku terbangun keesokan harinya, aku menyadari bekas gigitan dan bekas cupangan hilang dari tubuhku serta lubang vagina dan anusku yang tadinya terbuka lebar jadi rapet kembali.
Lalu aku langsung mandi untuk membersihkan tubuhku dari sperma yang telah menjadi kerak di tubuhku. Target keduaku adalah pak Parjo, seorang bapak-bapak berumur 45 tahun yang berprofesi sebagai tukang ojek dan mempunyai istri serta 1 orang anak. Seperti kemarin, aku mengecek alamat pak Parjo saat hari siang ketika sudah pulang kuliah. Karena pak Parjo adalah tukang ojek, aku harus mencari pangkalan ojek yang biasa dia datangi. Dengan bertanya ke orang-orang, akhirnya aku bisa menemukan tempatnya. Malamnya sekitar jam 10 malam, aku pergi menjalankan tugas tanpa rencana sama sekali dengan menggunakan motorku. Aku mendatangi pangkalan ojek tersebut, tapi aku tidak menemukan pak Parjo. Aku bertanya ke 2 tukang ojek yang sedang mangkal di pangkalan ojek itu. Mereka bingung kenapa cewek cantik sepertiku mencari pak Parjo yang berwajah jelek pada malam hari, aku bilang saja kalau aku keponakannya. Mereka mengatakan kalau malam ini, pak Parjo sedang ronda malam di pos ronda yang lumayan jauh dari pangkalan ojek itu.
Aku mencari pos ronda di sekitar situ dan akhirnya aku menemukan pos ronda yang dimaksud 2 tukang ojek tadi. Aku baru sadar kalau motorku kehabisan bensin ketika motorku tiba-tiba berhenti. Terpaksa, aku mendorong motorku hingga mencapai pos ronda. Di dalam pos ronda, ada 3 orang. 2 orang bapak-bapak yang sedang main catur dan 1 pemuda yang sedang merokok.
“maaf mas,,bisa minta tolong gak?”, tanyaku ke pemuda yang sedang merokok.
“oh ya ada apa ya?”, tanya pemuda itu sementara 2 orang bapak-bapak yang tadi main catur langsung melihat ke arahku.
“ini mas,,bensin saya abis,,abang punya bensin gak?”.
“aduh,,gue gak punya,,”.
“eh,,Udin,,cewek cakep minta tolong kok gak ditolongin?”, kata seorang bapak.
“tapi gimana pak? disini kan emang gak ada bensin,,”, balas pemuda itu.
“ya lo beliin kek di sono,,kan si Yasir jualan bensin eceran,,”, kata bapak yang aku tau dari wajahnya kalau itu adalah pak Parjo.
“tolong banget ya mas,,ini duitnya,,”, kataku sambil menyerahkan uang 25 ribu.
Pemuda itu mengambil uang yang kuberikan dan berangkat meskipun dia terlihat sangat malas.
“sini neng,,nunggunya sambil duduk aja,,”.
“ntar gak ganggu nih?”.
“ah nggak kok,,neng duduk aja,,biar gak capek,,”.
“makasih ya pak,,”. Aku duduk di tepi pos ronda tersebut. Mereka langsung meninggalkan permainan catur dan duduk mendekat ke arahku.
“lho pak,,kok gak diterusin maen caturnya? padahal saya pengen ngeliat,,”.
“gak ah,,gak usah,,masa ada orang didiemin,,”.
“oh ya,,neng,,namanya siapa?”.
“nama saya Neysa,,kalo bapak berdua namanya siapa?”.
“nama bapak,,Charles,,”.
“jah,,Charles,,boong neng,,nama dia Cecep,,”.
“oh,,kok pake diganti namanya pak?”.
“abisnya malu nyebutin nama asli bapak kalo di depan cewek cantik kayak neng Neysa,,”.
“alah pak Cecep bisa aja,,kalo bapak namanya siapa?”.
“nama bapak,,Parjo,,oh ya neng Neysa,,manggilnya abang aja,,”.
“iya neng,,kesannya tua banget,,”.
“oh,,iya deh bang Parjo,,bang Cecep,,”.
“neng Neysa ngapain malem-malem keluyuran,,”.
“tadi abis dari rumah temen,,eh lupa ngeliat bensin,,jadi abis deh,,”.
“oh,,untung ketemu ama pos ronda ini neng,,coba kalau ketemu preman,,bisa gawat neng,,”.
“iya,,untung aja,,”. Aku membuka helmku sehingga rambut panjangku terurai dengan indahnya dan mereka bisa melihat wajahku lebih jelas. Kami bertiga mengobrol dan aku tau sambil mengobrol mereka merencanakan sesuatu.
“maap ya neng,,”, kata pak Cecep. Pak Cecep tiba-tiba bergerak ke belakangku dan memegangi pergelangan tanganku sementara pak Parjo memegangi kedua kakiku.
“maaffhh,,”, aku mau berbicara tapi mulutku sudah keburu dibungkam oleh pak Cecep dengan tangannya. Mereka mengangkat tubuhku dan menaruhku di tengah-tengah pos ronda alias lebih masuk ke dalam. Pak Cecep memegang pergelangan tanganku dengan satu tangan dan menggunakan tangannya yang lain untuk meremas-remas payudara kananku yang masih terbungkus bh, baju, dan cardigan, tapi cukup untuk membuatku merasakan remasan tangannya yang cukup kuat. Aku coba berontak tapi apalah artinya tenaga perempuan dibandingkan tenaga 2 orang laki-laki.
Merasa belum menguasaiku, pak Cecep menyusupkan tangannya ke dalam cardigan, baju lalu bhku. Tangannya kini bisa meremas payudaraku tanpa terhalang apa-apa lagi.
“jangannhh,,”, larangku pelan karena aku tidak bisa membohongi diriku sendiri yang menikmati remasan pak Cecep terhadap payudaraku. Pak Cecep tidak hanya meremas-remas kedua buah payudaraku, dia juga memilin-milin kedua putingku secara bergantian. Perlawananku pun mulai melemah karena pak Cecep terus meremas-remas kedua buah payudaraku padahal aku masih memakai pakaian lengkap. Mereka tau aku telah melemah, mereka melepaskan tangan dan kakiku. Pak Cecep memasukkan tangan satunya ke dalam bajuku sehingga kini, dua tangannya berada di dalam bajuku sedang meremas-remas kedua buah payudaraku yang putih mulus sementara pak Parjo menggerakkan tangannya menelusuri kedua pahaku hingga menyusup ke balik rokku yang selutut dan menyentuh celana dalamku. Dia menarik celana dalamku hingga ke lututku lalu menyingkap rokku.
“buset,,memeknya bagus banget,,gile,,”, komentar pak Parjo melihat bentuk vaginaku yang sangat rapat. Pak Parjo menekuk kedua kakiku dan melebarkan kedua kakiku. Dia mulai menjilati daerah vaginaku, bibir vaginaku serta memasukkan lidahnya untuk menjilati rongga dalam vaginaku.
“jangg,,hhh,,aannhh,,”, desahku lemah sambil berusaha mendorong kepala pak Parjo untuk menjauh dari vaginaku. Tapi percuma, tenaga dan kesadaranku mulai hilang karena aku semakin tenggelam dalam lautan kenikmatan dari pak Cecep yang terus memainkan payudaraku dan serangan lidah pak Parjo terhadap vaginaku.
“mmmhhh,,teeruusshh,,”, tidak sadar aku mendesah keenakan sehingga mereka semakin semangat untuk membuatku orgasme. 4 menit aku tidak tahan lagi, tubuhku mengejang hebat. Pak Parjo pun sudah siap menanti cairanku dengan mulutnya. Pak Parjo membenamkan kepalanya ke selangkanganku untuk menyeruput cairanku hingga benar-benar tak bersisa.
Mereka yakin kalau aku sudah menyerahkan tubuhku ke mereka karena aku sudah orgasme yang menandakan kalau aku keenakan dengan permainan mereka tadi. Pak Parjo menarik celana dan menaruhnya di tepi pos ronda lalu dia membuka rokku. Setelah tidak ada sehelai benang lagi yang menutupi bagian bawah tubuhku, pak Cecep membuatku duduk dengan kaki berselonjor. Pak Cecep membuka cardigan, baju, dan bhku hingga sekarang tubuhku yang putih mulus bisa terlihat oleh mereka berdua. Pak Cecep membuatku tidur terlentang, mereka berdiri dengan bertumpu pada lutut mereka di kanan dan kiriku karena langit-langit pos ronda itu pendek. Mereka menatapku yang sudah terbaring pasrah dari kepalaku hingga ke kakiku.
“gila,,bodynya mulus banget,,putih mulus,,”, kata pak Cecep.
“maap ya neng,,kami kedinginan,,jadi butuh penghangat,,”, tambah pak Parjo. Tidak memberiku kesempatan berbicara, pak Cecep langsung melumat bibirku, menghisap bibirku, memainkan lidahnya di dalam rongga mulutku, bahkan dia menggigit bibir bawahku karena sangat gemas terhadap bibirku yang menurutnya sangat lembut.
Pak Parjo menuntun tangan kananku untuk mengocok penisnya. Aku merasakan penis pak Parjo semakin lama semakin besar hingga mencapai ukuran maksimalnya. Lalu pak Parjo gantian yang melumat bibirku sementara aku menggunakan tangan kiriku untuk mengocok penis pak Cecep hingga penis pak Cecep juga mencapai ukuran maksimalnya. Pak Cecep bergerak ke bawah tubuhku, dia melebarkan kakiku dan mulai menjilati vaginaku. Sementara itu pak Parjo menjilati wajahku sambil sesekali melumat bibirku. 5 menit aku merasakan lihainya permainan lidah pak Cecep, aku menyemprotkan cairanku ke mulut pak Cecep yang sudah menanti di pintu masuk lubang vaginaku. Setelah itu mereka berdua bergantian mengangkaki kepalaku dan ‘mencelupkan’ penisnya ke dalam mulutku hingga penis mereka basah oleh air liurku. Lalu mereka membuatku tidur tengkurap, mereka menyuruhku untuk mengambil posisi doggystyle tapi aku tidak boleh pada sikuku sehingga wajah dan payudaraku menempel di lantai pos ronda.
Aku menoleh ke belakang dan melihat pak Cecep sedang menyiapkan penisnya di depan lubang vaginaku. Dia menggesek-gesekkan penisnya di belahan bibir vaginaku yang membuat benar-benar terasa gatal ingin ditusuk.
“cepeethh,,masukiinnhh,,”, desahku tak sadar memintanya untuk segera menanamkan penisnya di dalam vaginaku.
“udah gak sabar ya?”, tanyanya mengejekku.
“yaudah,,gue tusuk lo,,”, dia tidak menancapkan penisnya di vaginaku, tapi dia menghentakkan penisnya dengan kuat ke dalam lubang anusku. Aku merasa pedih karena dia menghentakkan penisnya yang besar ke dalam lubang anusku yang sempit dengan begitu kuat hingga semuanya masuk ke dalam anusku, tapi dia langsung mencabut penisnya secara perlahan dan digantikan oleh pak Parjo yang juga menghentakkan penisnya dengan sangat kuat ke dalam anusku. Pak Parjo juga mencabut penisnya dan langsung digantikan pak Cecep yang menghentakkan penisnya ke dalam anusku lagi lalu dia mencabutnya.
Tapi, tidak seperti tadi, pak Cecep menghentakkan penisnya lagi ke dalam anusku, setelah itu barulah pak Parjo menggantikannya dan menghentakkan penisnya ke dalam anusku sebanyak 2x juga. Begitu seterusnya, mereka bergantian menyodok anusku setiap 3x lalu 4x sentakan, barulah setelah 5x sodokan mereka agak lama menggenjot lubang anusku mungkin hingga 10x hentakan yang membuatku dapat mengalami 2x orgasme karena permainan tag team mereka itu. Mereka juga melakukan hal yang sama terhadap vaginaku hingga aku mengalami 2x orgasme berikutnya.
“Cep,,gue nyoblos memeknye duluan yee,,gue udah gak tahan,,”.
“yaude,,kebetulan gue masih pengen ngerasain lobang pantatnyee,,”. Pak Cecep melebarkan kedua kakiku dan menarik kedua tanganku hingga tubuhku terangkat dari lantai pos ronda. Pak Parjo entah bagaimana caranya berada di bawahku dengan melewati kakiku yang terbuka. Pak Cecep mencabut penisnya supaya pak Parjo bisa memposisikan penisnya di depan lubang vaginaku. Begitu penis pak Parjo tepat di pintu masuk lubang vaginaku, pak Cecep menekan pundakku ke bawah sehingga penis pak Parjo langsung menembus masuk ke dalam vaginaku
Pak Cecep pun langsung menghentakkan penisnya ke dalam anusku lagi. Mereka mulai memompa penis mereka keluar masuk 2 lubangku dengan ritme yang kadang-kadang bersamaan dan kadang-kadang ritmenya berbeda.
“mmmfffhhh,,”, aku tidak bisa mengeluarkan suara jiwaku alias desahan karena aku sibuk bersilat lidah dengan pak Parjo. Tubuh putih mulusku dihimpit oleh 2 orang bapak-bapak berkulit sawo matang yang sepantasnya menjadi ayahku. Mereka terus memompa penis mereka untuk melampiaskan nafsu mereka kepadaku, seorang gadis yang tak berdaya. Tiba-tiba pak Cecep mendekapku dan menjatuhkan badannya ke kanan sehingga sekarang aku disetubuhi dari depan dan belakangku. Pak Parjo mengangkat kaki kiriku ke atas agar lebih mudah menggenjot vaginaku. 20 menit sudah berlalu, pak Parjo dan pak Cecep masih menggenjot vagina dan anusku dengan tenang meskipun mereka menyodokkan penis mereka dengan sangat bernafsu.
Dengan gerakan selaras, mereka bisa mengganti posisi tanpa mencabut keluar penis mereka. Sekarang, pak Cecep berada di bawah tubuhku dan pak Parjo menindih tubuhku. Bunyi jangkrik dan nafas yang memburu menghiasi malam. Mungkin sudah 30 menit aku digenjot oleh mereka, pak Parjo dan pak Cecep mendorong penisnya lebih ke dalam dan akhirnya mereka menyemburkan spermanya ke dalam vagina dan anusku bersamaan dengan orgasme sehingga cairan dan sperma pak Parjo bercampur di dalam vaginaku. Setelah itu, pak Parjo mencabut penisnya dari vaginaku. Dia mengangkat tubuhku dari badan pak Cecep dan menaruhku di lantai lagi.
“buset,,enak banget ngentotin cewek cakep,,”.
“bener lo Jo,,biarpun abis dientot,,tetep enak dipandang,,”.
“iye,,ada rasa kepuasan tersendiri kalo abis ngentotin cewek cakep,,”. Tiba-tiba Udin sudah kembali dengan membawa jerigen berisi bensin.
“waduh,,pak Parjo,,pak Cecep,,pantes aje,,gue disuruh beli bensin,,ternyata mau seneng-seneng ama neng ini,,”.
“yaude,,lo jangan marah-marah,,sekarang giliran lo tuh,,kite bedua mau istirahat dulu,,”.
“asiik,,”, dia bergegas membuka bajunya sendiri hingga dalam waktu sekejap, dia sudah telanjang sehingga aku bisa melihat penisnya yang lumayan besar. Dia mampu menggenjot vaginaku dalam beberapa posisi selama 15 menit hingga dia menyemprotkan spermanya ke dalam vaginaku sehingga vaginaku semakin luber saja. Mereka bertiga duduk mengelilingiku yang terbaring tak berdaya.
“Din,,lo bawa apaan nih,,”, tanya pak Parjo sambil membuka plastik yang tadi Udin bawa bersamaan dengan bensin untukku.
“oh iya lupa,,tadi ada titipan dari pak Yasir buat bapak,,”.
“oh iya,,tadi siang gue mesen obat kuat buat maen ama bini gue,,”.
“mending buat maen ama neng Neysa deh,,lebih mantep,,”.
“bener juga lo Cep,,daripada maen ama si Yani yang udah jelek mending maen ama neng Neysa yang cakep ‘n sexy,,”.
“emang ada berapa obatnya pak?”, tanya Udin.
“pas nih ada 3,,kalo kita minum obat ini bisa ngaceng 3 jam,,”.
“wah,,asik tuh,,bisa lama ngentotin neng Neysa tanpa nunggu,,”.
“yaudah,,kite minum,,abis itu kite ngentotin neng Neysa daripada bosen ngeronda,,”, lalu mereka bertiga meminum obat itu dan setelah menunggu 5 menit, barulah penis mereka bangun untuk 3 jam kedepan. Aku pun langsung digarap lagi, pak Cecep merasakan vaginaku, pak Parjo menikmati permainan mulutku, dan Udin menikmati sempitnya lubang anusku. Bukannya menjaga keamanan kampung tapi mereka malah menghangatkan tubuh mereka dengan tubuhku sebagai penghangatnya. Masing-masing dari mereka telah mencoba dan menyemburkan sperma baik ke dalam mulut, anus, ataupun vaginaku. Mereka menyetubuhiku dalam berbagai posisi bahkan aku disetubuhi di luar pos ronda dengan posisi berdiri dan sambil berpegangan pada tiang pos ronda. Berada di luar tanpa memakai sehelai benang pun di tubuhku dan terpaan angin malam membuatku merasa liar. Mereka juga lebih senang menyetubuhiku di luar pos ronda sehingga mereka membawaku ke halaman belakang di belakang pos ronda.
3 jam telah berlalu, penis mereka sudah tidak bisa bangun lagi karena telah mengosongkan isinya ke dalam mulut, anus, dan vaginaku. Udin menuangkan bensin ke tangki motor sementara aku duduk dan mengobrol dengan pak Parjo dan pak Cecep.
“Neysa,,udah gue isi tuh bensinnya,,”.
“oh iya,,makasih ya mas Udin,,kalo gitu Neysa pake baju ya,,”. Aku memakai pakaianku hingga rapih kembali.
“neng Neysa,,makasih ya udah mau nemenin kita ngeronda,,”.
“maap banget kita merkosa neng Neysa,,abisnya neng Neysa cantik banget,,terus body neng Neysa napsuin banget,,jadinya kita berdua gak tahan,,hehe,,”.
“yaudah,,gak apa-apa,,udah terlanjur,,”.
“boleh minta nomer hp neng Neysa gak?”.
“enak aja minta nomer hp gue,,ntar gue digangguin terus,,”, kataku dalam hati.
“aduh,,Neysa baru ganti nomer,,jadinya Neysa lupa,,”, jawabku berbohong.
“yah,,emang sekarang neng Neysa gak bawa hape?”.
“wah,,hape Neysa baterenya abis,,”.
“yah,,terus kapan dong kita bisa ngentotin neng Neysa lagi??”.
“kapan-kapan deh,,ntar kalo gak ada urusan,,Neysa kesini lagi deh,,”.
“bener ya?”.
“bener,,yaudah Neysa pulang dulu ya,,”.
“eh bentar,,”. Pak Parjo menyingkap rokku, menurunkan celana dalamku dan menyuruhku berpegangan pada tiang. Dia langsung menepuk kencang kedua bongkahan pantatku sebanyak 5 kali hingga pantatku terasa sangat panas dan pedih.
“aduh,,pak Parjo,,saakiiit !!!”, teriakku.
“hehe,,bapak gemes ngeliat pantat neng Neysa yang montok banget,,”.
“wah,,gue juga ikutan ah,,”, pak Cecep pun ikut menepuk pantatku sebanyak 5x juga.
“aduh,,pak Cecep kok ikutan sih?!”, tanyaku sambil protes. Udin pun mendekat dan ikut menepuk pantatku 5x juga hingga pantatku benar-benar terasa panas dan aku yakin kulit pantatku yang tadinya putih mulus pasti berubah menjadi merah.
“nah,,sekarang neng Neysa baru boleh pulang,,”.
“aduh,,pada jahat-jahat banget,,jadinya kan pantat Neysa sakit tau,,!!”, protesku sambil mengelus-elus pantatku.
“kalo pantatnya sakit,,neng Neysa disini aja dulu,,hehe”, kata pak Parjo.
“ah enggak deh,,mendingan Neysa pulang,,daah,,”.
Aku menaikkan celana dalamku dan menurunkan rokku lalu aku naik ke motorku setelah memakai helm.
“daah,,”.
“makasih ya neng Neysa,,daah”. Aku mengendarai motorku menjauhi pos ronda itu. Seperti kemarin, di rumahku Rina langsung menguras semua sperma yang ada di dalam tubuhku, tapi kali ini dia menampungnya di dalam gelas lalu menyuruhku untuk membalurkan sedikit ke payudara, leher, dan pantatku agar bekas cupangan dan gigitan bisa hilang juga ke vagina & anusku agar kembali ke bentuk semua. Kemudian, dia menyuruhku untuk meminum sisanya, aku menuruti perintahnya karena aku tau perintahnya untuk kebaikanku. Hari ketiga menyosongku berarti saatnya untukku mencari alamat target ketiga. Target ketiga bernama pak Dede, seorang duda berumur 52 tahun yang mempunyai 1 anak perempuan dan bekerja di bengkel kecil miliknya sendiri. Pukul menunjukkan jam 9 malam, saatnya untuk pergi ke alamat pak Dede dan membalaskan dendam Rina ke orang terakhir yang dulu memerkosanya.
Jalan yang kulalui saat mencari alamatnya sangat bersih, tapi ketika aku melewatinya lagi sudah banyak beling-beling kaca yang bertebaran di jalan. Alhasil, hanya beberapa meter dari jalan yang banyak beling itu, banku langsung kempes sehingga aku harus mendorong motorku ke bengkel pak Dede. Aku sampai di bengkel pak Dede yang kecil tapi lumayan rapih. Aku melihat pak Dede sudah mulai menutup bengkelnya. Aku langsung mendorong motorku dengan sedikit berlari.
“pak,,tunggu,,!!”, teriakku. Pak Dede berhenti dan melihat ke arahku yang sedang mendorong motor ke arah bengkelnya.
“hhh,,pak tunggu,,”.
“ada apa ya neng?”.
“ban saya kempes,,bisa tolong gantiin gak?”.
“udah malem neng,,bengkel bapak udah tutup,,”. Aku melepas helmku sehingga dia bisa melihat wajahku.
“tolong pak,,saya mau pulang nih,,”, kataku memintanya dengan memelas dan dengan manja agar dia mau membantuku.
“aduh,,,gimana ya?”.
“ayolah pak,,saya bayar 2 kali lipat deh pak,,”.
“bener nih neng?”.
“bener pak,,”.
“yaudah kalo gitu,,sini bapak gantiin bannya”. Dia membuka papan yang dia gunakan untuk menutup bengkelnya (papan yang biasa dipakai untuk menutup warung).
“ayo neng,,masuk,,”, katanya sambil mendorong motorku masuk ke dalam bengkelnya dan aku berjalan masuk ke dalam di belakangnya. Kami mengobrol sembari pak Dede terus mengganti ban belakangku.
“neng Neysa,,kok malem-malem keluyuran?”.
“iya ni pak Dede,,tadi Neysa abis dari rumah temen,,”.
“oh,,terus neng Neysa lewat mana,,bannya 2-2nya kempes begini,,”.
“lewat jalan yang di deket lapangan itu pak,,”.
“oh pantes aja,,”.
“kenapa emangnya pak?”.
“tadi bapak buang beling disana,,”.
“nah ya,,ketauan,,pak Dede sengaja ya nebar beling disana,,Neysa aduin ke warga lho,,”.
“bukannya gitu neng,,abisnya bapak males buang sampah beling ke TPS,,jauh,,jadi bapak buang aja di situ,,”.
“emangnya gak apa-apa tuh,,”.
“gak apa-apa,,besok juga ada yang bersihin,,”.
“oh,,”, aku berjongkok di dekatnya dan berpegangan padanya sehingga secara spontan dia menoleh ke arahku dan bisa melihat pahaku yang putih mulus karena rok miniku terangkat dan tidak menutupi sebagian pahaku.
Dia meninggalkan pekerjaanya dan dia mengalihkan perhatiannya ke arahku. Dia mendorongku hingga aku terjatuh ke lantai bengkel yang kotor. Dia langsung menindih tubuhku lalu dia memegangi tanganku dengan kedua tangannya.
“pak,,jaang,,aan,,paak,,mmmffhh,,”, pintaku langsung terhenti karena pak Dede langsung melumat bibirku habis-habisan seperti sudah lama tidak mencium seorang wanita. Awalnya, aku menggeleng-gelengkan kepalaku untuk membuatnya melepaskan ciumannya, tapi dia gigih terus melumat bibirku dan memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulutku. Lama-lama aku pasrah saja dan tidak melakukan perlawanan, malah secara tak sadar aku membalas permainan lidahnya sehingga lidah kami saling bertemu, bertarung, dan membelit di dalam rongga mulutku.
“maap neng,,bapak gak tahan ngeliat paha neng Neysa,,putih banget,,”, katanya setelah melepaskan cumbuannya terhadap bibirku.
Tanpa mendengarkan jawabanku, dia membuka jaketku lalu menyingkap kaosku hingga ke atas payudaraku. Kemudian dia menurunkan bhku sehingga dia melihat kedua buah payudaraku yang putih, besar, kencang, dan sangat kenyal. Melihat bentuk kedua buah payudaraku yang sangat menggoda, dia langsung tidak tahan dan mulai menjilati senti demi senti dari kedua buah payudaraku. Setelah puas menjilati, mencium, menggiti pelan kedua buah payudaraku dan kedua putingku, dia langsung memusatkan perhatiannya ke bagian bawah tubuhku. Dia menyingkap rokku dan menarik celana dalamku dan menaruhnya di atas jok motorku. Dia melebarkan kedua pahaku dan mulai memuaskan rasa penasarannya dengan menjilati seluruh daerah di sekitar vaginaku.
“oouuummhhh,,mmhh,,”, desahku terus menerus yang menandakan kalau aku benar-benar merasakan nikmat dari permainan lidah pak Dede di vaginaku.
“ooohhhh,,,”, erangku ketika aku sudah tidak bisa menahan lagi aliran listrik yang sudah ingin meledak alias orgasme.
Pak Dede menyeruput habis cairan vaginaku hingga mengeluarkan bunyi seruput yang lumayan kencang.
“mmm,,enak,,”, komentarnya setelah selesai menyeruput cairan vaginaku. Lalu dia berdiri dan menutup pintu masuk yang kami lewati tadi dengan papan penutupnya sehingga kini aku dan pak Dede berada dalam ruangan tertutup dengan payudara dan vaginaku yang sudah tidak tertutup apa-apa lagi.
“maap neng Neysa,,bapak udah 3 tahun gak pernah ngesex ama cewek jadi pas ngeliat body neng,,langsung nafsu,,maap ya neng,,”, aku jadi ingin memberikan tubuhku kepadanya karena dia sopan lagipula aku kasian kepadanya.
“iya pak gak apa-apa,,oh iya,,istri bapak namanya siapa?”, tanyaku yang menduga kalau istrinya adalah Rina.
“nama istri bapak,,Marni,,memangnya kenapa?”.
“oh,,nggak kok,,pak,,cuma nanya aja,,”.
“dulu saat masih pacaran sama istri bapak,,bapak pernah bikin kesalahan,,”.
“pak Dede mau curhat ke Neysa?”.
“gak boleh ya?”.
“oh boleh kok pak,,Neysa bakal dengerin curhatan bapak,,”.
“makasih neng,,gini,,”.
Dia menceritakan kejadiannya memperkosa si Rina, tapi dia tidak menyangka kalau pak Parjo dan pak Yunus akan membunuh Rina setelah mereka berdua membuat Rina lumpuh.
“karena itu neng,,bapak bersumpah gak akan berhubungan selain ama istri bapak,,tapi pas ngeliat neng Neysa,,tadi bapak jadi gelap mata,,”.
“oh,,mungkin karena udah lama kali pak,,”.
“jadi neng Neysa gak marah?”.
“nggak kok pak,,Neysa bisa maklum,,”.
“makasih ya neng Neysa,,neng Neysa baik banget,,”.
“ah bapak bisa aja,,”, kataku.
“neng Neysa,,bapak boleh lanjut gak?”.
“mmmmm,,gimana ya?”.
“ayo dong neng Neysa,,masa gak kasian ama bapak?”.
“mm,,nggak ah,,udah malem banget,,Neysa pengen pulang,,”. Pak Dede malah mendekatiku yang dari tadi sudah berdiri. Dia berjongkok di depanku, dia menyingkap rokku lalu dia membuat kakiku sangat lemas dengan menjilati vaginaku dan menyentil-nyentil klitorisku dengan lidahnya. Tapi ketika sebentar lagi aku akan orgasme, dia menghentikan aktivitasnya yang membuatku sangat tidak enak dan tidak nyaman.
“pak kok berhenti ?!”, tanyaku kesal.
“jawab dulu,,bapak boleh ngentotin neng Neysa apa nggak?”.
“iya deh,,boleh,,boleh,,sekarang cepet,,terusin !!”, kataku seperti orang yang sangat putus asa.
“ok kalo gitu,,”. Pak Dede melanjutkan aktivitasnya tadi dan membuatku orgasme lagi.
“nah,,tadi neng Neysa bilang boleh,,”.
“iya,,iya,,”, lalu aku mulai membuka seluruh pakaianku, saat aku membuka rokku, aku melihat ada ceplakan tangan berwarna hitam di paha kanan dan kiriku.
“tangan bapak kotor ya?”, tanyaku.
“oh iya,,abisnya sini airnya lagi mati,,terus gimana dong Neysa,,?”.
“yaudah gak apa-apa,,oh iya,,bapak buka baju juga dong,,”.
“oh iya,,lupa,,”. Pak Dede membuka seluruh bajunya hingga dia telanjang. Aku bisa melihat penis pak Dede yang berukuran 19 cm dan sudah mengacung tegak.
“wah,,****** pak Dede gede,,”.
“ini masih normal neng,,belom ukuran maksnya,,”.
“segini baru normalnya? gimana kalo udah maksnya”.
“coba aja neng Neysa jilat,,”.
“iya deh,,tadi Neysa udah janji,,”.
Aku menggenggam batang penisnya yang besar dan memasukkan penis pak Dede ke dalam mulutku. Aku menjilati batang penisnya berulang kali terus menerus hingga penisnya basah oleh air liurku. Lalu aku mengemuti kepala penisnya dan kantung buah zakarnya, setelah itu aku menyentil-nyentil lubang kencingnya dengan lidahku hingga dia bergelinjang karena merasa kegelian dan kenikmatan secara bersamaan. Aku merasakan penisnya bertambah besar dan panjang.
“buset,,jadi gede banget,,”, kataku setelah mengeluarkan penis pak Dede yang bertambah 5 cm dari mulutku.
“neng Neysa,,jago banget jilatannya,,”.
“hehe,,iya dong,,”.
“kalo gitu,,lanjutin dimana ya?”.
“ha? maksud pak Dede disini gak ada kasur?”.
“ada sih,,tapi kotor banget,,pasti cewek secantik neng Neysa gak mau,,”.
“ah gak apa-apa kok,,Neysa orangnya merakyat,,”.
“wah,,neng Neysa ternyata orangnya mau diajak susah,,kalo bapak punya istri kayak neng Neysa pasti bapak bahagia setiap hari,,”.
“emangnya kenapa pak?”.
“iya,,soalnya neng Neysa udah cantik, baik, sexy, terus juga bisa diajak susah,,”.
“aah,,bapak bisa aja,,”.
“yauda yo neng,,ke belakang,,”.
“ayok,,”. Aku dan pak Dede membuka pintu yang menuju kamar yang biasa pak Dede gunakan untuk beristirahat sejenak. Pak Dede meletakkan tubuhku di kasurnya yang kotor itu dengan sangat perlahan. Lalu dia mulai memanjakanku dengan menjilati seluruh tubuhku yang membuatku seperti merasa sangat dicintai dan sangat dipuja oleh pak Dede. Aku orgasme lagi dengan permainan lidah pak Dede di vaginaku. Dia juga meremas-remas kedua buah payudaraku dengan pelan-pelan. Setelah itu pak Dede membuka pahaku selebar mungkin dan menempatkan penisnya di depan pintu masuk vaginaku. Sangat perlahan, dia mendorong penisnya masuk ke dalam vaginaku, tapi hanya 3/4nya saja yang bisa masuk ke vaginaku hingga mentok karena penisnya yang besar itu. Dia tidak bergerak untuk membiarkanku bisa menyesuaikan diri. Dia mencium keningku lalu mencium bibirku, aku bisa merasakan ciumannya kali ini bukan ciuman nafsu tapi ciuman cinta karena aku merasakan kehangatan dari ciumannya.
Lalu dia mulai memompa penisnya, pertama-tama dengan sangat pelan, lama kelamaan dia mempercepat ritme pompaannya. Memang posisi kami tidak berubah, tapi penisnya yang besar dan panjang bisa membuatku merasakan kenikmatan yang amat sangat karena genjotan penisnya menggesek-gesek dinding vaginaku dan juga mengenai G-spotku yang membuatku cepat mendapat orgasme. Selama menggenjot vaginaku, dia mencium seluruh wajahku dan akhirnya mencium bibirku lagi. 15 menit setelah itu, dia menyemburkan spermanya ke dalam vaginaku. Ternyata, meskipun sudah menumpahkan isinya ke dalam vaginaku, penisnya masih berdiri dengan kokoh dan masih membuat liang vaginaku penuh sesak.
“pak,,kok,, kontol bapak gak lemes?”.
“itu dia neng Neysa,,meski kontol bapak cuma nambah 5 cm kalau ngaceng,,tapi kontok bapak masih berdiri terus kalo gak langsung dikeluarin dari memek,,”.
“oh,,gitu,,”.
“nah,,makanya neng Neysa gak bakal nyesel kalo jadi istri bapak,,hehe,,”, katanya terus merayuku untuk mau menjadi istrinya.
“ah,,nggak ah pak,,masih pengen seneng-seneng,,belum mau nikah,,”.
“oh neng Neysa mau seneng-seneng? ok kalo gitu,,”. Dia pun mulai memompa penisnya lagi. Dia terus menyemburkan spermanya ke dalam vaginaku sampai 5 ronde, setelah itu dia mencoba himpitan dan kehangatan dari lubang anusku. Dia menembakkan spermanya ke dalam anusku sebanyak 3x permainan. Kemudian dia memberiku minum dengan spermanya sebanyak 2x ronde. Setelah 10 ronde permainan, aku berbicara kepadanya.
“pak,,ban motor Neysa kapan diganti?”.
“oh iya,,lupa,,keasikan ngentotin neng Neysa sih,,”.
“yee,,sono,,ganti ban motor Neysa dulu,,abis itu boleh deh ngentotin Neysa lagi,,”.
“asik,,”.
“nah makanya yang semangat ya pak,,”.
“okeh,,”. Pak Dede langsung bergegas mengganti ban depan dan belakang motorku sementara aku duduk melihatnya dengan sperma yang masih meleleh keluar dari vagina dan anusku.
“nah,,selesai juga,,sekarang bisa ngentotin neng Neysa lagi deh,,”.
“iya pak,,sebagai hadiahnya bapak boleh ngentotin Neysa selama yang bapak mau,,”.
“wah,,asik banget,,langsung yok,,”. Pak Dede melampiaskan nafsu birahinya yang 3 tahun tak dia lampiaskan kepadaku. Berbagai posisi pun kami lakukan bahkan dia menyetubuhiku sambil berjalan pelan-pelan mengelilingi motorku. Jam setengah 3 malam, pak Dede sudah tidak sanggup lagi karena tenaganya sudah benar-benar terkuras.
“neng Neysa hebat banget,,neng Neysa gak capek ya?”.
“nggak pak,,”.
“oh ya neng Neysa,,minta nomer hpnya dong,,”.
“bapak aja yang ngasih nomer,,ntar Neysa telpon,,”.
“yaudah,,”, dia menyerahkan kartu nama bengkelnya yang ada nomer hpnya.
“pak,,Neysa pulang ya,,udah malem,,”.
“yah,,yaudah,,kalo neng Neysa berubah pikiran pengen jadi istri bapak,,telpon bapak ya,,hehe,,”.
“iya,,iya,,yaudah,,Neysa pulang dulu yah,,kapan-kapan Neysa telpon deh,,daah,,”. Di jalan, aku baru sadar ketika bersetubuh dengan pak Dede, aku mendapatkan malam yang hangat, romantis, dan penuh cinta sama seperti ketika menghabiskan malam bersama Gino.
Oleh karena itu, aku jadi mempertimbangkan tawaran pak Dede untuk menjadi istrinya. Ketika sampai di kamar, Rina sudah menungguku. Dia ‘menguras’ sperma yang ada di dalam tubuhku dan menampungnya di gelas seperti kemarin setelah aku telanjang bulat. Rina bisa melihat tubuhku yang penuh ceplakan tangan pak Dede dimana-mana. Setelah mengambil kristal berisi sperma pak Dede, dia meminum sperma yang ada di gelas itu lalu menyemburkannya ke seluruh tubuhku termasuk daerah vagina, anus, dan mulutku.
“zassutavu,,mekombaz,,harrastoyukfaz,,”, dia mengeluarkan kata-kata yang tidak kumengerti. Tiba-tiba tubuhku bercahaya sebentar. Aku melihat tubuhku sudah tidak ada ceplakan tangan pak Dede, tapi aku lebih kaget ketika melihat tubuhku seperti saat saat SMA dulu. Puting dan vaginaku berwarna kemerah-merahan, merah muda lebih tepatnya. Aku juga merasa lubang vagina dan lubang anusku sangat sempit.
“badan gue kenapa nih Rin?”.
“tadi aku baca mantra supaya badan dan wajah kamu bisa tetep pas kayak kamu masih SMA dulu,,”.
“berarti gue perawan terus dong,,yeey,,”.
“nggak Ney,,”.
“yah kok lo gak bikin supaya gue perawan terus?”.
“selaput dara itu mantranya susah tau,,”.
“emang sesusah apa?”.
“susahnya kayak kamu disuruh baca buku tapi gak ada tulisannya,,”.
“oh gitu toh,,”.
“bukannya makasih kek,,malah protes,,”.
“iya,,iya,,makasih,,tapi lo ngapain bikin gue jadi gini?”.
“aku mau ngasih hadiah,,soalnya kamu udah ngorbanin tubuh kamu buat balesin dendamku,,”.
“oh gitu,,”.
“oh iya,,satu lagi,,kalau kamu mau stamina kamu gak ada abisnya dan bisa gerakkin badan kamu walau udah 20 ronde,,bilang yahoo,,”.
“kok yahoo?”.
“ya abisnya aku bikinnya yahoo sih,,bukannya hotmail atau plasa,,”.
“alah,,jadi menurut e-mail toh,,hahaha,,kalo gue teriak yang laen?”.
“ya gak bakal ada fungsinya,,lagian aku bilang kan yahoo,,kok kamu ngeyel sih?”.
“ya pengen tau aja,,oh iya,,sebenarnya tuh kristal buat apaan sih?”.
“buat bawa Yunus, Parjo, dan Dede ke alam gaib bareng aku,,”.
“mau lo jadiin apaan?”.
“ada dech,,mau tau aja,,”.
“yee,,dasar suster ngesot yang aneh,,”.
“iya dong,,anak gaol nih,,”.
“oh ya,,kalo lo bawa mereka ke alam gaib,,apa gak pada nyariin tuh keluarganya?”.
“kalo manusia ke alam gaib,,di dunia manusia itu seperti gak pernah lahir,,jadi gak bakal ada yang nyariin,,”.
“terus keluarga ‘n anak mereka?”.
“ya gak pernah tebentuk,,”.
“oh gitu,,”. Tiba-tiba Rina menelan 3 kristal itu.
“kok ditelen?”, tanyaku lagi.
“supaya mereka matuhin perintahku di alam gaib,,yaudah ya,,udah mau subuh,,pergi dulu ya bye,,”.
“bye,,”. 1 minggu setelah berlalu, aku penasaran apa yang terjadi kepada 3 pemerkosa Rina. Aku membuka e-mailku dan melihat isi e-mail Rina. Ternyata isinya adalah gambar Rina dengan memegang tali kekang yang mengekang leher pak Parjo dan pak Yunus sementara pak Dede memakai baju pelayan dan sedang menyuapinya.
“dasar,,suster ngesot modern,,”.
————————————————
Exorcist Girl 3: Hantu Jeruk Purut
Rina memberiku hadiah yaitu awet muda dan aku bisa membuat energiku tak habis-habis dengan mengucapkan yahoo. Wajah dan tubuhku akan tetap seperti ketika masih SMA dulu, oleh karena itu Gino dan ‘pacar’ku yang asli semakin senang melihat tubuhku yang sekarang. Selesai kuliah, aku langsung pulang ke rumah karena tidak ada kegiatan lagi. Aku membuka seluruh pakaianku hingga aku telanjang bulat.
“gila,,si Rina bikin body gue jadi mantep kayak dulu,,terus peju si Gino bikin kulit gue jadi alus, kenceng ‘n kenyel,,apa gue terus bantuin hantu-hantu aja ya,,siapa tau dapet hadiah laen,,”, kataku berbicara sendiri. Aku bangun dari tidurku setelah tadi malam seperti biasa, aku menghabiskan malam bersama Gino. Aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku dari sperma Gino yang telah mengering. Setelah mandi, aku bersiap-siap untuk pergi kuliah karena ada kuliah yang harus dihadari. Setelah kuliah, aku bingung mau kemana, mau jalan-jalan, gak punya duit, mau bantu hantu masih siang.
“ngapain ya enaknya?”.
Pacarku sedang sibuk, teman-temanku mengajak aku jalan-jalan, tapi kalau jalan-jalan dengan teman-temanku harus bawa minimal 250 ribu sedangkan duitku sudah sangat menipis. Handphoneku berbunyi, aku mengangkat handphoneku.
“halo? nih siapa?”.
“ini Roni, Ney,,”.
“Roni mana ya?”.
“Roni agency dulu,,masa lupa,,”.
“oh,,yaampun,,maap,,abisnya udah lama sih lo gak nelpon gue,,ada apa Ron?”.
“gini,,agency gue lagi nyari model majalah baru,,”.
“terus?”.
“ya gue pengen minta lo jadi cover girl majalah gue,,”.
“lho? bukannya majalah yang lo tanganin majalah beken?”.
“iya,,emangnya kenapa? lo gak mau?”.
“mau banget,,tapi gak pd ah,,gue belum pernah jadi cover girl,,lagian pasti banyak yang pengen jadi cover girl majalah lo,,”.
“iya sih,,tapi gue yakin lo menang,,lo kan cewek paling cantik diantara temen-temen gue,,”.
“ah bisa aja lo,,tapi gimana ya,,”.
“ayolah,,pendaftarannya paling lambat ntar sore jam 4,,”.
“yaudah deh,,boleh,,kali kali aja,,gue bisa terkenal,,hoho”.
“nah,,gitu donk,,”.
“tapi,,tempat pendaftarannya dimana?”.
“oh iya,,lo gak tau tempat kerja gue yaa,,kalo gitu gue jemput lo,,rumah lo masih yang dulu?”.
“masih lah,,emangnya gue punya duit buat beli rumah,,yaudah,,lo ke rumah gue jam berapa?”.
“jam 2-an ntar,,okeh?”.
“oke,,”. Aku pulang ke rumah dan menunggu jam 2 siang. 30 menit sebelum jam 2, aku mandi untuk menyegarkan badanku karena udara terasa panas sekali. Jam 2.15 ada yang membunyikan klakson di depan rumahku. Aku keluar dengan pakaian yang rapih karena aku sudah menunggu Roni dari tadi. Aku membuka pintu mobilnya dan langsung duduk di sampingnya.
“lama amat sih lo,,”.
“ya maap,,kan macet lagi ngetren sekarang,,”.
“yee,,dasar,,oh iya kalo diliat-liat lo makin jelek aja ya,,hehe,,”.
“biarpun jelek rejeki gue lancar,,”.
“iya deh,,”. Sepanjang jalan, kami mengobrol hingga akhirnya kami sampai di tempat Roni bekerja. Kami pun langsung masuk ke dalam dan kami menuju lantai 3, tempat pendaftaran. Pintu lift terbuka, aku dan Roni menuju ke ruang pendaftaran.
Ruang pendaftaran bagaikan surga yang diimpikan bagi laki-laki karena setidaknya ada 20 orang cewek cantik baik yang berkulit putih mulus ataupun kuning langsat dan dari berbagai umur, mulai dari 18 tahun sampai 24 tahun.
“Ron,,banyak amat yang daftar,,gue pasti gak bakal menang,,”.
“tenang aja Ney,,gue yakin pasti lo menang deh,,”.
“tapi lo gak maen curang kan bantuin gue? gue gak enak soalnya,,”.
“gak lah,,gue kan cuma perekrut model baru doang,,”.
“oh,,bagus deh,,gue pengen usaha sendiri soalnya,,”. Setelah pendaftaran, audisi pun dimulai, para calon model satu per satu difoto. Jam 7 malam audisi tahap pertama sudah selesai sehingga hanya tinggal 3 orang saja yang lolos tes dan menuju audisi tahap 2 yang akan diadakan besok.
“Ney,,gue anterin pulang ya,,”.
“emang lo gak sibuk?”.
“udah selesai semuanya,,”.
“oh,,yaudah,,makasih ya Ron,,”. Setelah segalanya beres, aku dan Roni naik ke mobilnya. Jalanan macet sekali sehingga mau tak mau kami menunggu mobil kami bisa berjalan, tapi percuma karena macet sekali.
“oh ya,,gue tau jalan pintas deket sini,,”.
“yaudah,,langsung dah,,”. Roni langsung mengendarai mobilnya melalui jalan yang sepi, di samping kanan dan kiri jalanan yang kami lalui banyak kuburan. Roni membunyikan klakson 3x.
“lo ngapain klakson 3x Ron?”.
“masa lo gak tau,,ini kan kuburan Jeruk Purut?”.
“terus kenapa?”.
“kalo gak mau di datengin ama hantu Jeruk Purut harus 3x klakson,,”.
“oh,,gitu ya,,hantu yang nenteng kepala itu kan?”.
“hush,,jangan ngomong gitu,,ntar dia dateng,,”.
“iya,,maap,,”. Roni memacu mobilnya hingga bisa sampai ke rumahku hanya dalam waktu 20 menit.
“makasih ya Ron,,”.
“besok gue jemput lo lagi boleh gak?”.
“ah,,gak usah Ron,,gue besok naek taksi aja,,”.
“yah,,gue jemput deh,,”.
“yee,,kok maksa? gak ah,,gue mau naek taksi aja,,”.
“yauda deh,,besok jam 11 ya Ney,,”.
“ok,,”.
“bye,,”.
“bye,,”. Aku masuk ke dalam rumah sementara Roni semakin menjauh dari rumahku. Begitu sampai di dalam kamar, Gino langsung muncul di hadapanku.
“tadi siapa?”.
“Roni,,temen aku,,kenapa? kamu cemburu?”.
“iya,,”.
“jah,,pocong bisa cemburu juga? baru tau,,”.
“abisnya,,aku kan pacar kamu,,”.
“kamu kan pacar kalo malem doang,,tapi terserah kamu sih,,mau marah apa nemenin aku mandi,,”, kataku sambil membuka bajuku satu per satu hingga tak ada sehelai benang lagi yang menutupi tubuhku. Tentu saja melihat tubuhku yang putih mulus, Gino tak jadi marah dan dia langsung menemaniku mandi. Keesokan harinya, aku bangun setelah semalaman melayani Gino. Jam sudah menunjukkan pukul 9.30, aku langsung bergegas mandi untuk membersihkan tubuhku. Setelah selesai mandi, aku memakai pakaian untuk berangkat ke kantor Roni karena audisi tahap 2 diadakan di sana. 3 orang yang lolos ke audisi tahap 2 yaitu aku, Sinta, dan Kirana. Kirana sangat bersahabat dan sangat baik sehingga aku dan Kirana menjadi teman baik meskipun kami baru saling kenal, sedangkan Sinta menganggapku sebagai saingannya sejak pertama kali melihatku, aku tidak tau kenapa dia menganggapku musuhnya.
Aku, Kirana, dan Sinta masuk ke dalam suatu ruangan dimana kru foto sudah bersiap-siap. Kami bertiga satu per satu berpose di depan kamera. Saat kami bertiga diharuskan memakai bikini, para kru sangat semangat mengambil fotoku yang berpose lumayan menggoda. Selesai juga audisi hari itu, kami bertiga memakai pakaian kami lagi. Roni langsung menghampiriku setelah aku keluar dari ruang ganti.
“Ney,,ayo,,gue anter pulang,,”.
“ah,,gak usah Ron,,gue pulang ama Kirana aja,,”.
“Ron,,sini,,”, teriak salah satu kru.
“tuh kan,,lo masih ada kerjaan,,”.
“maap ya Ney,,gue gak bisa nganterin,,”.
“jah,,ngapain minta maap,,gak apa-apa kali,,udah sana,,udah dipanggil ama temen lo,,”.
“yaudah,,pulangnya ati-ati ya Ney,,”.
“ya elah,,iya,,bawel banget lo kayak cowok gue aje,,”. Rony langsung menuju ke temannya yang tadi memanggilnya. Kirana pun keluar dari ruang ganti.
“ayo Ney,,”.
“yuk,,”. Aku & Kirana menuju ke tempat parkir karena Kirana membawa mobilnya sendiri.
“o iye,,Ran lo tau kapan pengumuman audisi tadi?”.
“kayaknya sih 3 hari lagi,,emang kenapa Ney?”.
“ah nggak,,pengen tau aja,,”.
“lo udah gak sabar pengen menang ye?”.
“ha? gak lah,,gue gak pengen banget menang,,”.
“tapi Ney,,kayaknya lo yang bakal menang deh,,”.
“kok lo bilang gitu?”.
“tadi krunya pada semangat pas ngambil foto lo,,lagian lo cantik,,”.
“alah,,belum tentu juga,,lo ama Sinta juga cantik kok,,”.
“tapi mudah-mudahan bukan Sinta,,”.
“lho? kenapa?”.
“sebel banget gue,,sombong banget,,gak kayak lo,,”.
“udahlah,,biarin aja,,emang sifatnya kali,,”.
“iya kali ya,,oh ya Ney,,kalo lo gue ajak nginep di rumah gue,,gimana?”.
“mm,,gue gak bawa baju,,”.
“kan ada baju gue,,mau ya?”.
“emangnya kenapa sih?”.
“orang tua gue lagi pergi,,jadi rumah gue sepi,,”.
“oke deh,,boleh,,”.
“makasih Ney,,emang lo paling baek deh,,”. Kami berdua menuju ke rumah Kirana. Kami langsung masuk ke dalam rumah Kirana begitu sampai di depan rumah Kirana. Ternyata rumah Kirana memang benar-benar sepi, tidak ada orang sama sekali.
“Ney,,lo keluar dulu dong,,”.
“kenapa emangnya?”.
“gue mau ganti baju,,”.
“lah,,kan kita sama-sama cewek,,”.
“iya,,tapi gue malu,,”.
“iya dah,,terserah lo,,”. Aku pun keluar dari kamar Kirana sambil berpikir kalau Kirana adalah seorang cewek yang malu-malu.
“Ney,,tolong,,!!”, teriak Kirana dari dalam kamar, aku pun langsung masuk ke dalam kamar. Aku melihat kejadian lucu, Kirana berlari-lari tak karuan, menunduk lalu berlari hingga terjatuh hanya untuk menghindari kecoa terbang.
“hahaha,,ngapain si lo Ran,,”.
“jangan ketawa,,usir nih kecoa,,”, teriak Kirana marah sambil terus waspada terhadap kecoa terbang itu.
“iya,,iya,,”. Kecoa itu malah nemplok ke payudara Kirana karena Kirana sedang telanjang.
“waaaa !!!”, teriak Kirana keras sekali. Aku bergegas menyingkirkan kecoa dari payudara Kirana dan membuangnya keluar jendela.
“aduh,,untung banget,,makasih ya Ney,,”.
“segitu takutnya ama kecoa ampe teriak kenceng banget,,”.
“jijik tau,,kok lo gak jijik sih?”.
“biasa aja tuh,,tadi kecoanya cowok kali ya,,langsung nempel ke situ,,”, kataku sambil menunjuk payudaranya.
Kirana sadar sehingga dia langsung berusaha menutupi payudara dan daerah vaginanya dengan kedua tangannya.
“ya elah,,Ran,,gue kan cewek,,malu-malu amat,,”.
“gue kan belom pernah telanjang di depan orang,,”.
“oh,,jadi lo belum pernah ya?”.
“belum,,”.
“tapi pasti lo udah pernah pacaran kan?”.
“udah,,tapi cuma pacaran biasa,,gak ampe begituan,,”.
“wuih,,hari gini udah jarang yang kayak lo,,”.
“berarti lo udah pernah?”.
“udah,,hehe,,”, jawabku agak malu karena Kirana masih suci.
“aduh Ney,,tetep aja,,gue malu,,”.
“yaudah,,biar adil,,gue juga deh,,”. Aku langsung melucuti pakaianku di depan Kirana yang sudah duduk di ranjang sambil tetap menutupi payudara serta vaginanya.
“Ney,,body lo bagus banget,,”.
“body lo juga bagus kok,,Ran,,”.
“ah,,nggak,,masih bagusan body lo,,”. Aku menarik tangan Kirana agar dia berdiri dan aku berusaha menyingkirkan tangannya.
“tuh,,body lo bagus kali Ran,,”. Kirana masih terlihat malu-malu dan tak berbicara sama sekali.
“oh iya Ran,,mending lo mandi dah,,bau kecoa lo,,haha,,”.
“oh iya,,gue mandi ah,,”.
“gue mandi juga,,ah”.
“jadi gue mandi bareng ama lo?”, tanya Kirana.
“iya,,kenapa? malu? Udah,,anggep aja gue adek lo,,”, kataku sambil mendorongnya masuk ke dalam kamar mandi. Akhirnya Kirana pun jadi lebih luwes dan nyaman berbicara denganku meskipun tanpa memakai busana. Sambil mandi, aku & Kirana mengobrol. Setelah mandi, aku memakai baju tidur milik Kirana yang terbuat dari bahan mahal karena Kirana memang termasuk golongan anak yang kaya sehingga tak heran kalau baju-bajunya terbuat dari bahan yang mahal.
“gak nyangka gue,,gue kira cewek kayak lo,,belom pernah disentuh ama cowok,,”.
“bukannya belom,,tapi guenya gak mau,,”.
“oh,,”. Kami mengobrol di tempat tidur untuk menunggu mata kami melemah. Untungnya Gino sedang sibuk selama 1 minggu ke depan sehingga aku bisa menginap di rumah Kirana dengan tenang tanpa memikirkan Gino. Tak lama kemudian, kami berdua telah mengantuk dan akhirnya tertidur.
Keesokan harinya, aku mau pulang tapi Kirana mengajakku jalan-jalan sehingga aku menemani Kirana jalan-jalan hingga sore hari dan istirahat di rumah Kirana hingga malam hari sekitar jam 8 malam.
“Ney,,nginep lagi dong,,enak juga ditemenin nginep ama lo,,”.
“yah,,Ran,,gue mesti balik,,”.
“yaudah,,gue anterin,,lo gak boleh nolak,,”.
“terserah lo dah,,”. Kirana mengantarku pulang dengan mobilnya, tapi karena macet, kami tidak sampai-sampai meski sekarang sudah jam 11 malam. Tiba-tiba Kirana mengambil jalan pintas dan ternyata jalan pintas yang diambil Kirana adalah daerah kuburan Jeruk Purut. Tiba-tiba mesin mobil Kirana mati, aku jadi teringat perkataan Roni kalau tidak membunyikan klakson 3x maka mesin kendaraan akan mati. Kirana terlihat ketakutan karena kami berhenti tepat di areal kuburan. Tiba-tiba ada yang mengetuk kaca jendela di sebelah Kirana. Tentu saja, aku & Kirana langsung melihat ke arah kanan, ada sesosok bayangan berdiri di samping kaca Kirana.
Kirana langsung pingsan begitu melihat bayangan itu mengangkat kepala yang matanya bergerak-gerak. Kepala itu menatap ke arahku, aku memang tidak takut tapi entah kenapa aku tidak bisa menggerakkan tubuhku. Bayangan itu kini berjalan ke sampingku. Kaca jendela yang ada di sampingku terbuka sendiri, bayangan itu menyodorkan kepalanya ke depan wajahku. Kepala itu membuka mulutnya sehingga aku bisa mencium bau nafasnya yang membuatku langsung pingsan. Tiba-tiba aku terbangun dan menyadari aku sedang berada di dalam kamar yang mewah.
“dimana nih gue?”, tanyaku mengoceh sendiri.
“waduh,,kok gue pake baju beginian,,”, aku kaget karena aku tidak memakai pakaian yang tadi melainkan hanya pakaian terbuat dari kain sutra yang sangat halus dan sangat tipis sehingga tembus pandang. Tiba-tiba ada yang membuka pintu.
“selamat datang di kamarku,,”, rupanya yang datang adalah hantu tak berkepala. Aku ingin bergerak, tapi tetap tak bisa sehingga aku hanya bisa melihat hantu itu berjalan mendekatiku yang terbaring pasrah di ranjang karena aku tidak bisa menggerakkan tubuhku.
“waw,,kamu cantik sekali,,”.
“mau ngapain lo?!”, tanyaku dengan nada bicara yang tinggi.
“galak amat,,sini biar gak galak lagi,,”. Tanpa kehendak dariku, kakiku bergerak sehingga kakiku terbuka lebar dengan sendirinya. Hantu itu meletakkan kepalanya di depan vaginaku. Dia menggigit kain sutra yang menutupi vaginaku sehingga dia bisa menjilati daerah vaginaku yang sudah tidak tertutup apa-apa lagi.
“mmmhhh,,”, aku hanya bisa mendesah saja tanpa bisa melakukan apa-apa. Kepala hantu itu sedang asik menjilati vaginaku sementara hantu itu menyusupkan kedua tangannya untuk meremas-remas kedua buah payudaraku yang putih, kencang, dan kenyal. Aku tidak bisa memungkiri kalau hantu itu sangat lihai menjilati vaginaku dan ditambah kedua buah payudaraku yang diremas olehnya dengan sangat perlahan dan lembut.
“oohhhh !!”, desahku kencang karena aku tidak bisa menahan orgasme yang sudah ingin meletus keluar dari dalam tubuhku.
Hantu itu pun langsung menyeruput habis cairan vaginaku hingga tak bersisa sedangkan tangannya tetap asik ‘memainkan’ kedua buah payudaraku beserta putingku.
“nah,,sekarang kamu gak bisa sombong lagi,,tadi enak kan?”, tanyanya untuk menggodaku.
“…”, aku tidak menjawab.
“eh masih sombong juga,,”. Hantu itu meletakkan kepalanya di wajahku sehingga dia bisa langsung melumat dan memagut bibirku. Bibirnya yang menempel erat dengan bibirku membuat kepalanya tidak menggelinding jatuh. Sambil berciuman, mataku dan matanya saling bertatapan, aku bisa melihat matanya yang sangat berapi-api dan sangat bernafsu melihatku. Hantu itu terus melumat bibirku, memainkan lidahnya di dalam rongga mulutku sementara hantu itu menggerakkan tangannya untuk mengelus-elus daerah vaginaku yang membuat vaginaku terasa semakin gatal saja. Lalu hantu itu memasukkan 2 jarinya ke dalam vaginaku dengan sangat perlahan hingga kedua jarinya sudah amblas tertelan vaginaku dan tanpa disuruh lagi, hantu itu langsung mengorek-ngorek bagian dalam vaginaku.
Aku pun orgasme lagi karena permainan hantu itu terhadap tubuhku. Hantu itu menaruh kedua kakiku di pundaknya sambil menyiapkan penisnya di depan pintu masuk lubang vaginaku.
“uuuhh,,sempit banget,,”, erangnya. Rasa enak sekaligus sedikit rasa pedih menyerang batinku karena penis hantu itu terasa besar sekali, tapi setelah penisnya berada di dalam vaginaku, aku merasa penis hantu itu sangat klop dengan vaginaku karena aku merasakan vaginaku sangat penuh terisi penis itu tanpa ada celah sedikit pun. Selain diameternya sangat cocok dengan lebar lubang vaginaku, panjang penis hantu itu juga pas sekali hingga mentok di dalam vaginaku. Hantu itu mulai menggenjot vaginaku dengan menggunakan kedua buah payudaraku sebagai pegangan tangannya. Aku merasakan kenikmatan yang lain dari biasanya karena urat-urat di penis hantu itu terus menerus bergesekan dengan dinding vaginaku sehingga menimbulkan sensasi tersendiri. Lidahnya dan lidahku saling bersilat dan membelit di dalam rongga mulutku.
Aku pun sudah larut dengan permainan hantu yang sedang asik menggerakkan penisnya keluar masuk vaginaku. Entah kenapa tubuhku cepat sekali mencapai klimaks karena setiap 5 menit, aliran listrik menjalar di sekujur tubuhku alias orgasme. Aku mengucapkan kata ajaibku yang bisa membuat tenagaku tidak habis-habis yaitu ‘yahoo’. Aku merasa perlu mengatakan kata ajaibku karena sudah 3 kali orgasme, tapi hantu itu menggenjot vaginaku dengan sangat tenang dan tidak terburu-buru. Mungkin sudah sekitar 1 liter air liur hantu itu yang terpaksa kutelan karena sudah 30 menit aku & hantu itu berciuman. Penis hantu itu pun masih keluar masuk vaginaku dengan tenang dan perlahan. Suara kecipak air terdengar sangat kencang karena vaginaku benar-benar sangat becek oleh cairan vaginaku sendiri karena aku sudah berkali-kali orgasme. Untungnya aku sudah mengucapkan kata ajaibku sehingga aku tidak pingsan.
“ooummffhh,,”, desahku tertahan oleh bibir hantu itu.
Akhirnya hantu itu mempercepat frekuensi genjotannya dan aku merasa penis hantu itu sudah berdenyut-denyut karena ingin memuntahkan isinya ke dalam vaginaku. Sperma hantu itu sudah bercampur dengan cairan vaginaku yang sudah membanjiri vaginaku sendiri. Vaginaku terasa semakin hangat setelah ditembak beberapa kali oleh penis hantu itu dengan peluru putihnya yang kental. Meskipun sudah menyemburkan spermanya ke dalam vaginaku, hantu itu terus memagut bibirku dan tentu saja dengan terpaksa aku melayaninya. 5 menit kemudian barulah hantu itu mengangkat kepalanya dari wajahku sehingga aku bisa bernafas lega lagi. Bibirku terasa ledes karena lebih dari 30 menit, bibirku dilumat tanpa henti.
“hh,,gak nyangka,,kamu kuat banget,,gak pingsan,,”.
“iya,,tapi bikin gue bisa gerak lagi dong,,”.
“oke,,”. Akhirnya aku bisa menggerakkan tubuhku dengan leluasa lagi.
“kenapa lo merkosa gue?”.
“maap,,saya udah lama gak ngerasain ngentotin cewek manusia,,”.
“lah,,terus kenapa gue?”.
“soalnya tadi kamu gak pingsan?”.
“ha? maksudnya?”.
“iya,,pas saya muncul tadi,,kamu gak pingsan,,”.
“lah,,tadi kan gue pingsan juga,,”.
“iya,,tapi kan saya yang bikin kamu pingsan,,supaya saya bisa bawa kamu ke sini,,”.
“tapi,,kenapa harus gue?”.
“dari dulu,,cewek jarang yang lewat daerah saya,,kalaupun ada pasti langsung pingsan kayak temen kamu,,”.
“masa cowok banyak yang pingsan juga?”.
“ya masa saya jeruk makan jeruk,,gak level ah,,”.
“kirain lo fleksibel,,”.
“oh iya,,maap,,saya udah merkosa kamu tapi belum ngasih tau nama saya,,nama saya Brian,,”.
“keren amat nama lo,,hantu impor yah?”.
“iya dong,,pakaian saya aja kayak Neo di Matrix,,item-item gini,,”.
“walah,,tau-tauan Neo Matrix,,”.
“oh iya,,nama kamu siapa?”.
“nama gue Neysa,,oh iya,,ini dimana nih?”.
“ini di rumah saya yang ada di alam gaib,,”.
“oh,,pantes aneh,,sekarang udah jam berapa? ntar temen gue nyariin gue,,”.
“tenang aja,,1 jam disini,,5 menit di dunia kamu,,”.
“oh,,begitu,,”.
“saya untung banget ya,,bisa ngentotin manusia yang cantik banget kayak kamu,,”.
“alah,,bisa aja,,”. Brian menaruh kepalanya di tempat yang seharusnya.
“yah,,palanya jatoh,,”, dengan spontan aku turun dari ranjang dan mengambil kepala Brian.
“makasih ya Ney,,”.
“kasian,,palanya gak bisa nempel,,”.
“iya,,derita seumur hidup,,oh iya Ney,,boleh ngentotin lo lagi gak?”.
“ada saratnya,,jangan bikin gue gak bisa gerak lagi,,”.
“oke,,”. Selama 4 jam ke depan, aku melayani Brian hingga dia benar-benar sudah puas menyetubuhiku.
“makasih Ney,,saya gak nyangka kamu mau saya entotin sampai 4 jam,,”.
“iya,,gak apa-apa,,”.
“boleh minta nomer hp kamu gak?”.
“emangnya lo punya hp?”.
“ada dong,,3G malah,,nih,,”.
“3G? hantu punya 3G,,aneh,,yaudah nih,,”.
“makasih Ney,,”.
“sekarang balikin gue ke alam gue,,”.
“oke,,”. Tiba-tiba aku mengantuk dan terbangun sudah berada di sebelah Kirana yang masih pingsan bagaikan hanya mimpi saja. Tapi, cairan yang meleleh keluar dari vagina dan anusku cukup membuatku sadar kalau kejadian tadi bukanlah mimpi melainkan kejadian yang nyata.
“Ran,,Ran,,bangun,,”.
“hantu,,!!”, Kirana terbangun dengan berteriak.
“oi,,ini gue,,Neysa,,”.
“t,,tt,,api,,tadi ada,,hantu,,”, katanya sambil menunjuk ke kaca jendela.
“mana,,gak ada apa-apa,,udah yuk ah,,balik,,”.
“ttapi,,”.
“udah,,balik nyok,,”. Akhirnya, aku berhasil membuat Kirana percaya tadi hanyalah mimpi karena kepalanya terbentur stir setelah menghindari kucing yang menyebrang.
“Ney,,gue nginep di rumah lo ya,,gue masih agak parno nih,,”.
“oh,,yaudah,,tapi lo harus ngikutin peraturan di rumah gue ya,,”.
“oke deh,,”. Aku & Kirana sampai di rumahku, dia memakirkan mobilnya ke garasiku.
“rumah lo bagus juga ya Ney,,”.
“tapi gak segede rumah lo Ran,,yuk ah,,masuk,,”.
“lo tinggal sendiri disini?”.
“iya,,ortu gue udah gak ada,,”.
“oh,,maap,,gue gak tau,,”.
“iya gak apa-apa,,”.
“terus biaya kuliah lo darimana?”.
“tadinya dari uang yang ditinggalin bokap gue,,tapi udah ampir habis,,jadinya gue ikutan audisi model tadi,,”.
“kalo gitu,,gue bantuin aja gimana?”.
“gak usah Ran,,”.
“gak apa-apa,,gue pengen bantuin lo,,”.
“tapi kenapa lo pengen bantuin gue? kan lo baru kenal ma gue,,”.
“nah,,justru itu,,gue baru kenal tapi rasanya lo kayak sodara gue,,”.
“oh,,tapi tetep aja,,gue gak enak ama lo,,”.
“gak bisa,,pokoknya lo harus mau gue bantuin,,”.
“yee,,yaudah deh,,kalo lo maksa,,makasih banget ya Ran,,”.
“iya,,eh Ney,,badan lo bagus banget,,lo sering fitness ya?”.
“ah,,nggak,,mana punya duit gue,,”.
“terus? oh gue tau,,minum jamu ya?”.
“nggak juga,,”.
“jadi,,maksud lo badan lo udah dari sananya?”.
“bisa dibilang begitu,,badan lo juga bagus kok,,”.
“kalo gue kan gara-gara fitness,,lagian gak bagus-bagus banget kok,,”.
“gue punya ide,,gimana kalo kita buka baju aja,,”.
“ah,,nggak ah,,malu gue,,”.
“ah lo mah,,yaudah deh,,gue mandi aja,,”.
“gue tiduran aja di kasur lo,,boleh kan?”, tanya Kirana.
“boleh lah,,”. Aku masuk ke kamar mandi dan segera melucuti pakaianku karena aku ingin membersihkan tubuhku. Sambil mandi, aku berpikir cewek secantik Kirana masih perawan jadi, aku memutuskan untuk ‘mengerjainya’.
Setelah selesai mandi, aku melilitkan handuk ke tubuhku sebelum keluar dari kamar mandi. Aku melihat Kirana sedang tidur terlentang di atas ranjangku. Aku langsung berlari ke arah Kirana dan loncat ke atas ranjang sehingga aku langsung menindih Kirana.
“aduh Ney,,ngapain lo?”. Aku tidak menjawabnya, aku langsung melumat bibirnya yang halus dan lembut seperti bibirku.
“mmffhh,,”, Kirana bergumam sambil berusaha melawan. Aku tidak berusaha menyelipkan lidahku ke dalam mulut Kirana. Aku hanya melumat bibir Kirana terus menerus sampai akhirnya dia menyerah dan malah membalas lumatanku dengan melumat bibirku sehingga sekarang kami berdua saling melumat dan saling memagut bibir. Kirana malah memelukku erat seolah tak membiarkanku menarik bibirku dari bibirnya. Begitu ada kesempatan, aku langsung menyelipkan lidahku ke dalam mulut Kirana. Tidak ada reaksi dari Kirana jadi aku meneruskan memainkan lidahku di dalam rongga mulut Kirana untuk membuatnya belajar memainkan lidahnya.
Sesuai dugaanku, Kirana belajar dengan cepat, dia mulai menggerakkan lidahnya untuk membelit lidahku. Kirana yang tadinya menolak kucium, kini malah sangat semangat mengajakku french kiss.
“tadi malu-malu,,sekarang malah semangat banget,,”, kataku menggoda Kirana setelah menyudahi ciuman kami.
“abisnya,,lo nyium gue,,pasrah aja gue,,lagian bibir lo lembut banget,,”.
“bibir lo juga lembut,,”.
“baru kali ini,,gue ciuman pake lidah,,”.
“jadi lo belum pernah? haduh,,yang tadi namanya french kiss,,”.
“belum pernah,,”. Tanpa menjawabnya, aku menciumi leher jenjang Kirana.
“Neeeyyyhhh,,”, Kirana mendesah pelan menikmati ciumanku yang turun menelusuri leher jenjangnya. Setelah itu, aku menyingkap kaos Kirana ke atas sehingga aku bisa melihat payudara 34B milik Kirana yang sangat kencang dan kenyal yang masih tertutup bhnya.
“Ney,,jangann,,Ney,,”. Aku tidak mengindahkan Kirana, aku langsung menyingkap bhnya. Aku langsung menjilati mengelilingi kedua buah payudara Kirana.
“mmhh,,”, desah Kirana pelan sekali.
Lalu aku menjilati belahan payudara Kirana dan seluruh permukaan payudara Kirana kecuali kedua putingnya. Setelah payudara Kirana tertutupi air liurku, barulah aku memfokuskan pandanganku ke kedua puting Kirana yang terlihat sangat halus karena belum disentuh sama sekali oleh pria.
“oouummhh,,Neeyy”, desahnya manja menikmati permainan mulutku di putingnya karena aku mengemuti, menjilati, dan menggigiti kedua putingnya hingga dia menggeliat-geliat bagai cacing kepanasan.
“gimana Ran?”.
“jangan berhenti Ney,,”.
“sekarang baru utamanya,,”. Aku melebarkan kaki Kirana sehingga membentuk huruf M.
“mau ngapain lo Ney?”.
“udah,,lo tenang aja,,”. Aku langsung menarik celana dalam Kirana serta menyingkap rok pendeknya sehingga vagina Kirana yang belum pernah terjamah oleh siapapun terhidang di hadapanku. Aku langsung membenamkan kepalaku di selangkangan Kirana. Dia merapatkan kedua pahanya sehingga kepalaku terjepit diantara kedua paha Kirana yang kuning langsat.
Aku langsung menyapukan lidahku di belahan bibir vaginanya yang masih tertutup rapat.
“Neeyyhhh,,ooohh,,”, desahnya terdengar sangat keenakan karena aku terus menjilati vaginanya dan di sekitar vaginanya sambil sesekali memainkan ‘tombol kecil’nya yang membuat dia semakin menggelinjang. Akhirnya, tubuh Kirana mengejang dan cairan vaginanya langsung mengalir keluar dari lubang vaginanya, tentu saja langsung kuseruput hingga habis.
“enak gak Ran?”.
“enakhh,,bangethh,,Ney,,”, katanya dengan nafas yang terengah-engah. Aku tidur di sebelah Kirana yang pakaiannya sudah acak-acakan. Aku tidak berbicara untuk membiarkan Kirana mengatur nafasnya.
“gak nyangka,,ternyata enak banget ya Ney,,”, kata Kirana setelah nafasnya sudah teratur dan menghadap ke arahku sehingga kami berdua saling bertatapan.
“yaudah,,Ran lo telanjang aja,,tanggung,,”.
“mm,,”.
“jangan bilang masih malu,,”.
“yaudah,,gue buka,,”. Kirana berdiri dan mulai melucuti pakaiannya hingga ia telanjang.
“lo juga dong,,”.
“iya gampang,,”. Aku menarik lilitan handukku dan membuangnya ke lantai.
Aku mengajari Kirana tentang apa yang tadi kulakukan terhadapnya hingga lama kelamaan Kirana mulai ahli dalam hal ‘lesbian’. Ketika kami sudah puas setelah beberapa kali saling meminum cairan vagina, Kirana iseng membuka lemariku. Aku yang tinggal sendiri dan jarang ada teman yang menginap di rumahku membuatku sembarangan menaruh barang pribadiku sehingga Kirana menemukan dildo kepunyaanku.
“ni dildo lo Ney?”.
“kok lo tau itu namanya dildo?”.
“yah,,lo kira gue perawan dari kampung,,gue kan dari kota,,”.
“ya kirain gue gitu lo gak tau,,iya itu punya gue,,kenapa?”.
“gue pengen,,”, katanya dengan pipi yang agak memerah.
“yakin? masa keperawanan lo ilang gara-gara dildo?”.
“gak apa-apa,,asal yang merawanin gue pake dildo,,lo,,”.
“lho? kenapa gue?”.
“soalnya gue sayang banget ama lo,,”.
“waduh,,lo,,gak jadi lesbi gara-gara gue kan?”, tanyaku deg-degan.
“gak lah,,gue masih normal,,gak tau gue,,rasanya gue sayang ‘n nyaman ama lo,,”.
“yaudah,,terserah lo,,”.
Kirana langsung mengambil posisi di atas ranjang dan melebarkan kakinya. Aku pun naik ke atas ranjang dan menaruh dildo di depan lubang vagina Kirana.
“yakin nih beneran?”.
“he eh,,”, kata Kirana sambil mengangguk.
“oke siap ya,,”. Dengan perlahan, aku memasukkan dildo itu ke vagina Kirana.
“nngghh,,”, desah Kirana seperti orang yang sedang merasa pedih. Baru sekitar 1/4 dildo itu masuk ke dalam vagina Kirana, darah menjalar keluar melalui batang dildo yang artinya kini Kirana sudah tidak perawan lagi. Aku membiarkan Kirana beradaptasi terlebih dahulu. Setelah dia sudah beradaptasi, aku mulai mendorong dildo itu masuk ke dalam vaginanya lagi dengan perlahan hingga dildo itu telah sepenuhnya masuk ke dalam vagina Kirana. Aku mulai menggerakkan dildo itu maju mundur tapi dengan sangat perlahan karena aku melihat Kirana masih terlihat ngilu. Proses adaptasi pun selesai ketika Kirana mulai mendesah dan menggeliatkan tubuhnya setelah beberapa menit.
Beberapa menit kemudian, Kirana mengejang dan mendesah kencang yang menandakan dia sudah orgasme. Aku membiarkan dildo bersarang di dalam vagina Kirana, sementara aku mendekatkan bibirku ke bibirnya. Aku melumat bibir Kirana lagi dan dia pun membalas lumatanku. Sejak saat itu, Kirana sudah resmi tidak perawan lagi. Dan sejak saat itu pula, Kirana memintaku untuk mengajarinya tentang berbagai hal yang berhubungan dengan sex. Aku merasa bersalah karena telah membuat Kirana yang tadinya ‘si perawan lugu’ menjadi Kirana ‘si gadis penasaran’. Tapi, setiap aku tanya kepadanya apakah dia menyesal kenal denganku, dia selalu menjawab tidak dan malah senang bertemu denganku. Meskipun sudah kuajari berbagai hal tentang sex, Kirana masih belum melakukan sex perdananya. 1 minggu telah berlalu, ketika aku sedang istirahat di rumah setelah jalan-jalan bersama teman-teman kampusku, tiba-tiba handphoneku berbunyi. Aku melihat handphoneku yang ada panggilan 3G. Nomernya belum terdaftar di kontakku.
“siapa nih? nelpon gue pake 3G,,”, kataku penasaran.
“oh Brian toh,,”.
“halo Neysa,,”.
“ada apa nelpon gue?”.
“saya pengen ke rumah kamu,,boleh gak?”.
“ha? emangnya lo tau rumah gue?”.
“kan bisa saya lacak nomer kamu pake GPS,,”.
“walah,,ada GPSnya juga? canggih amat hp lo,,”.
“iya dong,,jadi boleh gak saya main ke rumah kamu?”.
“iya boleh,,terserah lo,,”, aku langsung menutup telpon. Tiba-tiba Brian muncul di depan pintu kamarku.
“cepet amat nyampenya,,”.
“iya dong,,saya kan setan,,jadi bisa cepet datengnya,,”.
“terus buat apa GPSnya?”.
“biar gak nyasar,,kalo nyasar ke tempat ibadah kan bisa repot,,”.
“oh iya ya,,”.
“nah,,Ney,,boleh gak saya lepas kangen ama kamu?”.
“baru dateng udah mau lepas kangen aja,,”.
“abisnya udah kangen banget,,ayo dong,,”.
“tapi gue belom mandi,,”.
“gak apa-apa,,kamu udah mandi ato belom,,tetep aja wangi,,”.
“alah,,setan ngerayu segala,,”.
“iya dong,,biar dibolehin,,hehe”.
“tapi lo gak bisa berubah jadi manusia gitu? biar gampang,,”.
“oke,,gampang itu,,”, Brian pun menaruh kepalanya di lehernya sebelum berubah menjadi manusia.
“nah sekarang,,udah boleh kan Ney?”. Aku mengangguk. Dia langsung mendekat ke arahku dan menarik tubuhku ke pelukannya. Brian langsung mencium bibirku, aku membalas ciumannya. Brian melumat bibirku dengan bersemangat hingga aku kewalahan menerima serangan bibir sekaligus lidahnya sehingga aku memutuskan untuk diam saja dan membiarkan Brian melumat bibirku sepuasnya. Brian pun dengan nakal meremas-remas dan menepuk kencang bongkahan pantatku dengan kedua tangannya sambil terus bermain lidah denganku.
“hemmhh,,”, gumamku sambil terus melayani lidah Brian yang berputar-putar di dalam rongga mulutku. Akhirnya Brian melepaskan cumbuannya terhadapku setelah kurang lebih 3 menit dia mengulum bibirku.
“bibir kamu kok ada rasa strawberrynya sih?”.
“iya,,tadi gue pake lipgloss strawberry,,”.
“bibir kamu udah lembut,,ada rasanya juga,,jadi makin seneng nyipok kamu,,”.
“oh,,jadi mau nyipok gue doang nih?”.
“eh,,gak,,masa cuma nyipok doang,,kan gak seru,,”.
“kirain,,nyipok doang,,”, kataku meledeknya.
“gak lah,,”, kata Brian yang sekarang sudah jongkok di hadapanku. Aku membuka kancing & resleting celana jeansku lalu Brian menarik celana jeansku. Aku mengangkat kaki kiriku lalu kaki kananku sambil berpegangan ke pundak Brian. Kini aku hanya memakai celana dalam sebagai bawahanku.
“hmm,,memek kamu wangi banget,,”, katanya sambil menempelkan hidungnya ke vaginaku yang masih tertutup celana dalam untuk mengendus vaginaku.
“kamu pake minyak wangi di memek kamu ya?”.
“buset,,gak lah,,”.
“kok bisa wangi begini?”.
“gue pake obat khusus daerah kewanitaan,,”.
“oh,,yang kayak iklan di tv ya?”.
“emangnya lo punya tv?”.
“punya dong,,malah pake parabola biar bisa nonton saluran khusus dewasa dari luar negeri,,”.
“dasar,,”.
“saya mulai ya,,”. Brian mengecup vaginaku yang masih tertutup celana dalam. Lalu dia menjilati sedikit bagian dari selangkanganku yang tidak tertutup celana dalam serta menjilati kedua pahaku sampai ke pangkal pahaku, itu cukup untuk membuat tubuhku ‘panas’.
Lalu Brian menarik celana dalamku dan membuangnya jauh-jauh sehingga kini lembah kenikmatan milikku tidak tertutup apa-apa lagi. Brian menjilat vaginaku dari bawah ke atas hingga lidahnya mengenai klitorisku.
“mmhh,,”, desahku ketika Brian melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya. Tapi, setelah itu dia berdiri.
“kenapa berhenti?”, tanyaku dengan wajah yang terangsang.
“pengen jilatin toket kamu dulu,,”.
“oh,,yaudah,,”. Aku mengangkat kedua tanganku ke atas, Brian melepaskan kaosku serta membuka bhku sehingga aku sudah bugil di depan Brian yang keliatan sangat kagum melihat tubuhku. Dia mengecup bibirku lalu dia menciumi leherku yang membuat aku semakin bergairah. Akhirnya, Brian mulai menyapukan lidahnya di seluruh permukaan payudaraku dan mengulum serta menyedot kedua putingku bagai bayi yang benar-benar kehausan.
“oouummhh,,”, desahku merasa keenakan karena permainan mulut Brian di putingku. Sambil menghisapi kedua putingku, 2 jari Brian sudah tertanam di dalam vaginaku.
Jarinya keluar masuk vaginaku untuk mengorek-ngorek bagian dalam vaginaku sehingga aku semakin larut dalam kenikmatan.
“ooohhh,,yeesshh,,”, erangku ketika aku orgasme. Brian mengeluarkan 2 jarinya dari lubang vaginaku dan menyodorkannya ke mulutku. Aku langsung mengulum 2 jari Brian sehingga aku bisa merasakan cairan vaginaku sendiri. Brian berhenti menari-narikan lidahnya di kedua buah payudaraku. Dia berjongkok lagi di hadapanku. Kini, lidahnya yang bekerja memanjakan vaginaku. Jilatan demi jilatan Brian di vaginaku membuat kakiku gemetaran sehingga aku harus memegang pundak Brian sebagai pegangan agar aku tidak jatuh. Aku pun mendapat orgasme lagi dari jilatan Brian, dia tak menyia-nyiakan cairan vaginaku karena Brian langsung menyeruput habis cairan vaginaku bahkan dia menyelipkan lidahnya ke dalam vaginaku untuk mengais sisa cairan vaginaku. Ternyata, dia hanya menampung cairanku karena dia langsung menciumku untuk berbagi cairanku sendiri.
Setelah itu, dia melepaskan cumbuannya lalu mulai mengemuti kedua putingku lagi sehingga membuatku mendesis dan sedikit mengejang. Kemudian dia menggendongku dan menaruhku di ranjang.
“bentar ya Ney,,saya buka baju dulu,,”, kata Brian sambil mulai melucuti pakaiannya. Lalu dia langsung memposisikan penisnya di depan mulutku, aku pun langsung menggenggamnya dan mengecup kepala penisnya. Badan Brian langsung sedikit bergetar menerima ciumanku di kepala penisnya. Aku memulainya dengan mengecup ke seluruh permukaan batang penis Brian serta aku melayangkan beberapa kecupan ke kantung buah zakarnya. Barulah setelah itu aku mulai menelusuri setiap senti penis Brian dengan lidahku. Aku jilati bagian bawah dari batang penisnya dari pangkal hingga ke kepala penisnya, aku melakukan hal yang sama ke bagian atas dari penisnya. Kantung buah zakar Brian pun tak luput dari jilatan dan kecupanku hingga ekspresi muka Brian benar-benar merasa keenakan dari permainan mulutku, kebetulan malam ini aku juga lagi good mood sehingga aku benar-benar bersemangat.
Aku menggerakkan lidahku mengitari leher penis Brian yang membuatnya menggelinjang, mungkin karena ngilu. Lalu aku mengemut-ngemut kepala penisnya sambil menggelitik lubang kencingnya dengan lidahku.
“aaahhh,,enakhh,,bangethh,,Neyhh,,”, desahnya benar-benar keenakan penisnya kupermainkan di dalam mulutku. Dengan pelan-pelan, aku melahap batang penis Brian hingga 3/4nya sudah berada di dalam mulutku lalu aku mengeluarkan penisnya lagi sehingga terlihat penis Brian yang basah oleh air liurku.
“udah sana,,masuk,,”, kataku seolah berbicara ke penis Brian sambil mengecup kepala penisnya. Penis Brian sudah berada di depan lubang vaginaku. Aku pun melingkarkan kakiku ke pinggangnya, lalu Brian mulai mempenetrasiku hingga penisnya sudah bersemayam di dalam vaginaku seluruhnya. Brian mulai menggenjot vaginaku sambil menciumi seluruh wajahku. Dia menindih tubuhku sambil terus memompa penisnya dengan ritme yang berubah-ubah, kadang-kadang cepat & kadang-kadang perlahan.
Tentu saja, bibirku tidak selamat dari serangan bibir Brian karena Brian sangat suka melumat bibirku habis-habisan yang menurutnya bibirku itu sangat lembut. Seperti sebelumnya, aku cepat sekali mencapai orgasme jika penis Brian sudah mengaduk-aduk vaginaku karena urat-urat di batang penisnya selalu bergesekkan dengan dinding vaginaku yang menambah kenikmatan yang menjalar di sekujur tubuhku. Lalu dia mengangkat tubuhku sehingga Brian kini duduk di atas ranjang dengan kaki selonjor sementara aku duduk di pahanya dengan penis Brian yang masih tertancap di vaginaku. Aku mulai menggerakkan tubuhku naik turun sementara payudaraku ikut berguncang-guncang yang menggesek-gesek wajah Brian. Dan kadang-kadang aku tidak bergerak untuk membiarkan Brian menikmati payudaraku yang terhidang tepat di depan wajahnya. Lalu dia pun tiduran sehingga posisi kami menjadi woman on top. Aku menggerakkan tubuhku naik-turun lagi sambil sesekali menggerakkan pinggulku memutar untuk memelintir penis Brian.
Bunyi kecipak air pun terdengar kencang karena vaginaku sudah banjir akibat orgasme yang telah kudapat. Aku merasa capek, aku memutuskan untuk merebahkan tubuhku di atas tubuh Brian sehingga payudaraku menempel di dada Brian. Brian mengerti aku kecape’an jadi, dia yang kini ‘bergerak’, tapi sebagai konsekuensi aku beristirahat, bibirku langsung dilumat oleh Brian lagi. Jika sedang ingin main cepat, Brian melepaskan lumatan terhadap bibirku dan memelukku dengan erat untuk menyodok vaginaku dengan ritme yang cepat. Lalu dia berganti ke ritme pelan, tentu saja bibirnya langsung menempel di bibirku bagai magnet, selain itu dia juga mengelus, meremas, dan menepuk-nepuk kedua bongkahan pantatku.
“ooohh,,!!”, erangnya karena dia sedang menyiram rahimku dengan spermanya yang hangat & kental itu. Aku tiduran di atas tubuh Brian dengan nafas yang terengah-engah. Kami pun berciuman lagi, tapi kali ini dia menciumku dengan penuh perasaan tidak seperti sebelumnya. Penis Brian yang mengisi vaginaku masih keras dan sudah siap untuk ronde kedua.
“eh,,gue ke kamar mandi dulu ya,,”.
“kamu mau ngapain?”.
“mau pipis dulu,,”.
“ikut dong,,hehe,,”.
“yee,,udah tunggu disini aja,,ntar juga gue balik ke sini,,”.
“jangan lama-lama ya Ney,,”.
“iya,,bawel,,”. Aku turun dari atas tubuh Brian sehingga penis Brian dan vaginaku sudah tidak menyatu lagi. Aku langsung berjalan ke kamar mandi karena aku benar-benar ingin buang kecil. Setelah buang air kecil, aku menyemprotkan air ke vaginaku dengan shower untuk membilas sperma Brian keluar dari vaginaku karena aku tidak mau & tidak ingin jika nantinya aku mengandung anak dari Brian. Tiba-tiba Brian muncul di belakangku dan langsung memelukku dari belakang.
“lagi ngapain sih Ney? lama banget,,”, katanya sambil menciumi leher dan bahuku.
“lagi bilas,,biar gak ada sperma lo di dalem memek gue,,”.
“lho,,emangnya kenapa?”.
“ntar kalo gue hamil,,bisa repot gue,,jadi lo jangan keluar di dalem lagi ya,,”.
“oke deh,,tapi kalo keluar di dalem pantat, mulut atau di badan kamu gak apa-apa kan?”.
“iya,,gak apa-apa,,”.
“bagus deh,,soalnya udah gak tahan pengen nyoblos pantat kamu,,”, katanya sambil mengelus-eluskan penisnya ke belahan pantatku.
“ha? disini? di kasur aja,,”.
“eh gak boleh nolak,,”. Tiba-tiba dia memijit-mijit dan mengelus-elus klitorisku sehingga yang tadinya aku menolak malah jadi bersemangat untuk melayani Brian di kamar mandi. Apa mau dikata, kami pun mengumbar hawa nafsu kami di dalam kamar mandi yang berakhir dengan sperma Brian yang menghangatkan lubang anusku. Setelah itu, aku berjalan keluar meninggalkan Brian di kamar mandi. Lalu aku berdiri di depan kaca besar yang ada di kamarku untuk melihat tubuh montokku yang kini hanya menjadi tempat pelampiasan nafsu 2 setan yaitu Brian & Gino. Brian pun muncul di belakangku lagi, dia menjilati kupingku dan leherku serta memainkan kedua putingku. Lalu Brian menghentikan semua aktivitasnya dan menempelkan dagunya ke pundak kananku sehingga kami berdua sama-sama melihat ke kaca.
“duh,,Ney,,kamu cantik banget sih,,”.
“alah,,pake muji segala,,paling-paling mau minta jatah lagi kan?”.
“iya,,tau aja kamu,,hehe”.
“perasaan tadi baru maen di kamar mandi,,emang belum cukup?”.
“kalo ngentotin kamu,,kayaknya gak pernah cukup,,hehe,,”.
“aduh,,gue capek tau,,”.
“kalo diteken tombol on,,kamu juga gak bisa nolak,,”, katanya yang dilanjutkan olehnya dengan memencet klitorisku.
“mmhh,,iya,,iya,,tau aja kelemahan gue,,”. Aku langsung membalikkan badanku dan berhadap-hadapan dengannya. Ketika aku akan mencium Brian, tiba-tiba Gino muncul di belakang Brian sehingga aku bisa melihatnya dengan jelas.
“Gino,,!!”, kataku kaget dan dengan spontan aku menjauh dari Brian. Brian menengok ke belakang sehingga 2 setan yang dalam bentuk manusia itu saling bertatapan. Aku tidak berani bicara apa-apa. Tiba-tiba Gino membungkukkan badannya seperti hormat orang Jepang.
“Suhu,,”, kata Gino.
“oh kamu Gino,,”.
“kalian udah saling kenal?”. Mereka menceritakan hubungan mereka sebagai murid dan guru kepadaku.
Aku duduk di tepi ranjang untuk mendengarkan cerita mereka, tentu saja mereka berdua duduk mengapitku di tengah-tengah mereka.
“jadi ini cewek kamu No?”, tanya Brian ke Gino sambil mengelus-elus paha kananku.
“ya bisa dibilang begitu Suhu,,”, jawab Gino sambil menciumi bahu kiriku.
“oi,,ngobrolnya jangan pake grepe-grepe dong,,”, kataku menggoda mereka.
“biar gak bosen ngobrol,,hehe,,”, jawab Brian.
“Suhu kok bisa ketemu Neysa?”, tanya Gino.
“gini nih,,”. Brian menceritakan kejadian bertemu denganku ke Gino sementara aku hanya diam saja duduk di tengah-tengah mereka sambil membiarkan tangan jail mereka berdua mengeksplorasi tubuhku. Bahkan, mereka kompak mengelus-elus daerah vaginaku sampai aku orgasme sementara mereka mengobrol dengan tenangnya seperti tidak terjadi apa-apa.
“gak nyangka,,udah lama gak ketemu Suhu,,malah ketemu di rumah Neysa,,”.
“iya,,oh ya kamu ngapain ke sini No?”, tanya Brian.
“saya tiap hari selalu ke sini buat minta jatah ke Neysa,,hehe,,”.
“tiap hari? wah,,enak banget kamu No,,”.
“Suhu juga abis minta jatah ama Neysa?”.
“iya,,hehe,,tapi belum puas,,”.
“kalo gitu kita ke rumah suhu yang ada di alam gaib aja,,biar bisa main ama Neysanya lebih lama,,”.
“ide bagus tuh,,yuk,,”. Brian & Gino masing-masing memegang lenganku. Dalam satu kedipan mata saja, aku sudah berada di rumah Brian yang sudah familiar.
“haduh,,mau main keroyokan nih?”, kataku.
“iya dong,,biar seru,,”, kata Gino menciumi punggung tanganku lalu mengulum semua jari tangan kananku, sementara Brian melakukan hal yang sama ke tangan kiriku. Lalu secara bersamaan, mereka berdua mulai menaikkan ciuman mereka hingga ke kedua bahuku dan mereka terus melayangkan kecupan demi kecupan ke leherku hingga akhirnya mereka berhenti di telingaku. Tapi, masing-masing mereka malah menjilati telingaku hingga aku kegelian.
“uudahh donghh,,geli taukk”, aku berusaha menghentikan aktivitas mereka, tapi mereka malah menjadi semangat menjilati telingaku karena melihatku yang kegelian tapi menikmati aktivitas mereka.
Akhirnya, mereka berhenti juga menjilati telingaku.
“enak gak Neysa sayang?”, tanya Gino.
“enak apaan? geli tau,,”.
“maap deh,,abisnya ngeliat kamu kegelian,,kita berdua jadi semangat,,hehe”, jawab Brian.
“iya,,hehe”, timpal Gino. Setelah sedikit mengobrol, Brian menyuruhku tidur terlentang sementara mereka berdua tidur mengapitku. Lalu mereka berdua bergantian melumat bibirku juga bergantian memainkan lidah mereka di dalam rongga mulutku. Aku pun hanya bisa membiarkan bibirku dilumat habis-habisan oleh mereka berdua. Setelah membuat bibirku ledes, mereka berdua melayangkan cupangan demi cupangan di leherku. Kemudian, mereka membagi jatah menjilati kedua buah payudaraku. Brian kebagian melahap payudara kananku sementara lidah Gino menari-nari di payudara kiriku.
“wuih,,susunya Neysa emang pas banget,,”, komentar Brian.
“iya,,cewek saya gitu loh,,Suhu,,”, ujar Gino.
“Suhu,,mau jilatin memeknya Neysa duluan gak?”, tanya Gino.
“kamu aja dulu,,Suhu mau nyipok Neysa dulu,,”.
“oh,,yaudah,,”. Mereka pun langsung mengambil posisi mereka masing-masing. Gino memposisikan kepalanya di antara kedua pahaku yang sudah kubuka selebar-lebarnya. Sedangkan, Brian tidur di sampingku dan mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku. Brian pun melumat bibirku sambil memelintir dan memilin-milin kedua putingku secara bergantian sementara Gino sudah melakukan ‘pekerjaannya’ di bawah sana sehingga sekarang aku benar-benar mempasrahkan tubuhku kepada mereka berdua. Aku pun mengalami orgasme dari permainan mereka berdua, Gino langsung menyeruput cairanku hingga tak ada setetes pun yang tersisa.
“nah Suhu,,gantian tuh,,”.
“okeh,,”. Gino & Brian langsung bertukar tempat hingga Brian juga meminum cairanku yang merupakan hasil dari orgasme keduaku.
“Neysa sayang,,sekarang kamu jilatin kontol aku ama kontol Suhu dong,,kamu kan jago tuh kalo soal jilat kontol,,”.
“iya,,”, jawabku singkat. Aku turun dari ranjang dan langsung menaruh pantatku di lantai yang dingin.
“ayo sini,,”. Kini, penis mereka berdua sudah ada di samping kanan dan kiri kepalaku. Aku mulai memanjakan penis mereka dengan meremas-remas dan memijit kantung buah zakar mereka berdua dengan kedua tanganku. Aku meludahi kepala penis mereka berdua, lalu aku mulai mengocok-ngocok penis mereka berdua sehingga penis mereka berdua berlumuran air liurku. Aku menjilati penis Gino terlebih dulu sehingga Brian harus rela tidak bisa menikmati kehangatan mulutku lebih dulu, tapi keliatannya Brian tidak keberatan karena Brian sangat menikmati kocokan tanganku.
“teeruusshh,,enaakhh,,Neeyyhh,,”, desah Gino. 5 menit kemudian, aku mengocok penis Gino sementara aku menghangatkan penis Brian dengan mulutku. 5 menit kemudian, aku kembali menolehkan kepalaku ke arah kiri dimana penis Gino sudah menunggu untuk menghangatkan diri di dalam mulutku. Tapi, kali ini Gino memegangi kepalaku dan memompa penisnya keluar masuk mulutku hingga membuatku hampir tersedak. Saat aku menoleh ke kanan, Brian melakukan hal sama yang dilakukan Gino.
Meskipun aku tidak menyukai yang mereka lakukan, aku tidak bisa menolaknya karena aku telah terbakar api nafsu lagipula aku sudah membolehkan mereka melakukan apa saja terhadapku. Setelah puas merasakan permainan lidahku, mereka berdua menampar kedua pipiku terus menerus dengan penis mereka sambil memutuskan penis siapa yang akan bermukim di vagina dan anusku. Lalu Gino tidur terlentang di atas ranjang.
“tuh liat Neysa sayang,,kontol aku udah nyari-nyari pantat kamu nih,,ayo dong,,”.
“iya,,sabar dong,,”. Aku memposisikan lubang anusku di atas penis Gino. Penis Gino sudah berada di dalam anusku, lalu aku tidur terlentang di atas tubuh Gino sehingga punggungku menempel di dada Gino. Brian pun langsung menghantamkan penisnya ke dalam vaginaku yang sudah siap menerima penisnya. Kini, aku sudah di sandwich oleh mereka berdua.
“mmmffhh,,”, desahanku karena seperti biasa Brian melumat bibirku. Tubuh kami bertiga berpeluh keringat yang menandakan persetubuhan kami sangatlah ‘panas’.
Gino lebih dahulu mencapai orgasme, dan Brian mencapai orgasme 10 menit kemudian. Gino menyemburkan spermanya ke dalam liang anusku sementara Brian menebar spermanya di atas bibir vaginaku karena dia mengikuti perintahku untuk tidak menembakkan spermanya ke dalam vaginaku.
“lagi ah,,kontol aku masih kangen ama pantat kamu,,”, bisik Gino dari belakang.
“kalo gitu,,saya juga lagi ah,,”, ujar Brian. Mereka pun terus-terusan menyetubuhiku dan melampiaskan nafsu mereka kepadaku sepuas-puasnya hingga aku sudah seperti mandi sperma karena mereka menyemburkan sperma mereka ke segala bagian di tubuhku.
“udah ya,,capek nih maen mulu,,”, kataku.
“lagi dong,,”, jawab Gino.
“iya,,baru maen 9 jam,,”, tambah Brian.
“ha? 9 jam? apa belum puas maen 9 jam?”, tanyaku agak kesal karena aku harus melayani mereka terus menerus.
“kan udah saya bilang,,kalo maen ama kamu kayaknya pengen nambah terus,,”, jawab Brian.
“iya Neysa sayang,,lagian kamu kan gak bisa pulang kalo gak dianter ama Suhu Brian,,”.
“oh iya ya,,bener juga,,tapi emang masih mau main? badan aku udah kotor gini?”.
“ya kamu mandi dulu,,”, jawab Brian.
“disini ada air kan?”, tanyaku.
“ada,,kan pake JetPam,,”.
“wow,,kayak manusia aja pake JetPam,,yaudah,,aku mandi dulu ya,,”.
“jangan lama-lama ya,,kontol aku gak tahan dingin jadi harus masuk ke salah satu lobang kamu,,hehe,,”, ujar Gino.
“oh ya,,butuh ditemenin mandi gak?”, tanya Brian.
“gak ah,,ntar mandinya gak konsen,,”. Setelah tubuhku sudah bersih dari noda-noda sperma juga sudah wangi kembali, aku kembali ke kamar dimana Brian & Gino sudah menungguku dengan penis mereka yang sudah tak sabar ingin masuk ke dalam mulut, anus, serta vaginaku. Kami bermain lagi hingga 10 jam setelah akhirnya mereka telah benar-benar puas menyumpal vagina, mulut, serta anusku dengan penis mereka. Tiba-tiba tubuh Brian bercahaya dan sayap mulai mengembang di punggungnya.
“terima kasih Neysa,,”.
“kamu kenapa?”, tanyaku ke Brian.
“gara-gara kamu,,akhirnya roh saya bisa tenang,,”.
“emang apa yang bikin roh kamu gak tenang?”.
“sebelum mati,,saya sedang ingin memperkosa seorang gadis,,”.
“terus?”.
“saya digebuk, dibakar, dan kepala saya dipotong oleh warga yang menangkap basah saya,,jadi roh saya penasaran,,ingin bersetubuh dengan gadis manusia,,”, jelas Brian.
“tapi kenapa baru sekarang? bukannya kamu merkosa saya seminggu yang lalu?”.
“soalnya tanggal saya mati itu sekarang,,jadi roh saya baru tenang sekarang,,”.
“oh,,gitu,,”.
“Gino,,Suhu berikan rumah ini ke kamu,,”.
“terima kasih Suhu,,”.
“dan untuk kamu Neysa,,saya berikan kemampuan khusus,,yaitu kamu bisa menghipnotis orang,,dengan menatap mata orang terus ngomong mantranya,,”.
“emang apa mantranya?”.
“itu lho,,yang sering diucapin pesulap terkenal dari Indonesia?”.
“siapa?”.
“aduh lupa lagi namanya,,itu tuh yang rambutnya aneh,,matanya yang item gitu,,”.
“oh,,si Deddy itu ya? emang dia sering ngucapin apa?”.
“nah itu dia,,dia sering ngucapin tatap mata saya,,nah itu mantranya,,”.
“oh,,okeh,,okeh,,eh tapi sebelum ngilang,,balikin aku ke dunia aku lagi dong,,soalnya si Gino gak bisa balikin aku ke dunia aku,,”.
“okeh,,ntar pas saya udah ilang,,kamu tutup mata aja,,ntar kamu pasti udah sampe di rumah kamu,,”.
“okeh,,”.
“yaudah,,saya pergi dulu ya,,makasih banyak ya Neysa,,oh ya No,,jaga Neysa baek-baek ya,,,”.
“iya Suhu,,”.
“daah,,”.
“daah,,”, aku dan Gino mengucapkan berbarengan. Setelah Brian menghilang, aku menutup mataku. Ketika aku membuka mataku, aku sudah berada di dalam kamarku lagi dan aku melihat sudah jam 2.25 pagi. Rupanya, Gino ikut kembali ke kamarku dan berdiri di hadapanku dengan penisnya yang masih mengacung tegak.
“Neysa sayang,,kayaknya masih sempet satu ronde lagi nih,,boleh kan?”.
“iya,,iya boleh,,tapi abis ini kamu pulang ya,,”.
“tapi gak apa-apa kan kalo aku langsung tuncep? soalnya,,aku pengen nyiumin kamu,,tapi badan kamu udah peju semua gitu,,”.
“lagian kamu ama guru kamu ngentotin aku terus,,udah gitu buang pejunya dimana-mana,,jadinya kan begini,,”.
“tapi kamu gak marah kan?”.
“aku gak marah,,tenang aja,,”.
“yaudah,,kalo gitu,,mulai yuk,,”. Aku pun melayani Gino untuk satu ronde lagi sebelum jam 3 dan berakhir dengan aku mendapatkan facial dari sperma Gino.
“makasih ya Neysa sayang,,hari ini aku bener-bener puas ngentotin kamu,,aku pulang dulu ya,,”.
“ya sana,,hush,,hush,,”.
“daah,,”.
“bye,,”. Setelah Gino sudah tidak ada, aku langsung mandi untuk membersihkan tubuhku sebelum tidur. Aku tidak pernah membayangkan harus melayani 2 setan pria sekaligus selama kurang lebih 19 jam, hal itu menyebabkan di dalam mimpiku aku disetubuhi Brian & Gino terus menerus. Hariku pun berlanjut dengan melakukan aktivitasku di siang hari dan menjadi istri sekaligus budak seks bagi Gino di malam hari setiap harinya kecuali Gino sedang ada urusan. Aku telah mengetahui 2 hal tentang alam gaib yaitu:
1. Manusia yang berada di dalam alam gaib maka manusia itu seperti tidak pernah ada di dunia.
2. 1 jam di alam gaib = 5 menit di dunia. Aku terus mengumpulkan informasi tentang alam gaib dan kalau mungkin cara pergi ke sana karena aku penasaran.
*******************
#########################################################
Bunga Putri Laura
“hhhooaahhmm,,”, aku menguap sehabis bangun tidur. Mataku masih kerenyep-kerenyep sehabis bangun tidur, lalu aku meraih jam dan melihat jam berapa sekarang.
“ya ampun, udah jam segini, mampus gue”, aku kaget setengah mati melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 10 pagi, padahal waktu pengambilan rapor adikku jam 10.15, makanya aku langsung loncat dari ranjang dan berlari menuju kamar mandi sambil membuka kaosku. Aku mandi cepat-cepat dan membersihkan tubuhku sintalku agar menjadi segar dan wangi. Aku keluar dari kamar mandi dan langsung mengeringkan badanku dengan handuk. Setelah kering, aku langsung memakai baju yang tersisa di lemariku yaitu kaos putih dan celana jeans. Saking terburu-buru, aku lupa memakai cd dan bh sehingga puting dan bentuk payudaraku yang bulat tercetak jelas di kaosku. Aku langsung mengunci pintu rumah, lalu menuju garasi untuk mengeluarkan mobil. Setelah mobilku keluar dari garasi dan sudah berada di depan gerbang rumah, aku keluar kembali untuk mengunci gerbang rumah, kemudian aku langsung masuk ke dalam mobil lagi dan menginjak pedal gas dalam-dalam alias ngebut.
Aku yakin bahkan Ananda Nicola pun kalah dengan caraku menyetir, belok sana belok sini untuk menghindari kendaraan lain. Aku memang gila kalau sedang menyetir dengan terburu-buru karena aku diajari oleh mantan pacarku yang kelima. Akhirnya, sampai juga di sekolah adikku yang juga dulu merupakan sekolahku. Aku langsung keluar dari mobil sambil membawa tas tanganku, lalu aku berlari kecil masuk ke dalam sekolah.
“fiuuhh,,”, aku lega karena sampai pada waktunya. Aku langsung menuju ke kelas adikku sambil bernostalgia ketika aku masih SMP dulu, dimana aku masih lugu, tomboy, dan badanku masih dalam tahap berkembang. Sambil mengenang masa lalu, tak terasa sudah berada di depan pintu kelas adikku.
“tok,,tok,,tok”, aku mengetuk pintu lalu membuka pintu dengan perlahan.
“yak, silakan masuk”, sapa bapak yang duduk di meja guru. Spontan, aku langsung jadi pusat perhatian karena ternyata orangtua murid lainnya sudah duduk di bangku yang ada label nama anak mereka masing-masing.
“maaf, saya telat”.
“oh, gak apa-apa, ini juga baru dimulai, mari, silakan duduk Bu”.
“terima kasih”.
“ah, enak aja, gue dipanggil ibu, emangnya gue kayak ibu-ibu apa”, gumamku dalam hati. Aku langsung ditunjukkan dimana Rini duduk oleh bapak itu. Ternyata, Rini duduk di barisan depan, tepat di dekat pintu masuk. Aku langsung menuju tempat duduk Rini, disana sudah ada seorang kakek-kakek, ya kira-kira berumur 53 tahunan.
“permisi, pak”.
“o, ya, silakan”. Kakek itu berdiri agar aku bisa masuk ke dalam, lalu aku duduk begitu juga kakek itu.
“ya, pembagian rapor akan dimulai, orangtua dari Adam Jaya”, lalu orangtua dari Adam Jaya maju ke meja guru, sementara orang tua yang lain bebas melakukan apa saja. Daripada bosan menunggu, aku mengajak ngobrol kakek yang ada disampingku.
“maaf pak,, nama anak bapak siapa ya?”.
“nama anak saya Dani, nama anak Anda siapa?”, tanyanya balik.
“Rini, tapi bukan anak saya”.
“jadi?”.
“Rini itu adik saya pak”.
“sudah saya duga”.
“emang kenapa pak?”.
“soalnya Anda masih muda jadi gak mungkin kalau Anda seorang ibu”.
“ah, bapak bisa aja”.
“Dani Adiswara”. Lalu kakek itu maju ke depan, sementara aku jadi sendirian lagi, aku memutuskan untuk mengutak-atik hpku, ternyata ada sms dari Rini, katanya dia sedang ada di depan sekolah bersama teman-temannya. Tak lama kemudian, kakek yang tadi duduk disebelahku selesai menerima rapor anaknya, dan dia pun keluar dari kelas sambil pamit padaku. Lama juga menunggu nama Rini karena Rini absen terakhir di kelasnya. Menit demi menit kulalui dengan kebosanan hingga akhirnya nama Rini dipanggil. Aku langsung berdiri sambil merapikan bajuku yang sangat ketat. Aku duduk di hadapan orang itu, setelah kuperhatikan dengan seksama ternyata wali kelas Rini adalah mantan wali kelasku ketika aku masih kelas 2 SMP dulu.
“pak Herman !”, kataku sambil terkejut.
“maaf, apa Anda mengenal saya?”, tanyanya heran.
“ya ampun, masa bapak lupa sih, ini Bunga, Pak”.
“Bunga? eemmm,,”.
“iya, Bunga yang dulu tomboi”.
“ooh,, Bunga si bintang basket”.
“iya pak, akhirnya bapak inget juga”.
“maaf loh,, Bapak sampai pangling,, abis kamu berubah banget sih”.
“iya dong pak,, masa Bunga jadi tomboy terus”.
“sekarang kamu jadi makin cantik”, komentarnya melihat aku dari ujung rambut hingga ujung kakiku terutama payudaraku. Ketika aku masih SMP dulu, aku menjadi ‘objek’ pak Herman, waktu itu dia suka mencubit pipiku, mengelus-elus rambutku dan kadang-kadang menepuk pantatku, tapi dia tidak melakukan pelecehan terhadapku di sekolah melainkan di rumahnya ketika waktu itu aku sering berkunjung ke rumahnya.
“oh jadi Rini itu adik kamu, pantas cantik”.
“ye si bapak bisa aja, mana rapor Rini, Pak”.
“oh ya, Bapak hampir lupa, ini”, kata pak Herman sambil menyerahkan rapor Rini. Aku langsung membuka rapor Rini karena penasaran, selama aku melihat rapor, aku sempat menangkap pak Herman sedang menatap payudaraku yang tercetak jelas di kaosku begitu juga putingku.
“buset, nih pak guru gak berubah, tetep aje mata keranjang”, komentarku dalam hati.
“nngg,, Bunga, bapak boleh tau nomer hp kamu?”.
“ya bolehlah, masa gak boleh”. Aku meminta hp pak Herman dan memasukkan nomerku.
“nih pak, yaudah kalo gitu, Bunga pulang dulu ya”.
“kapan-kapan bapak telpon kamu ya”.
“sip pak”. Aku meninggalkan pak Herman sambil memperlihatkan pantatku yang bergoyang ke kanan dan kiri kepada pak Herman. Aku keluar dari kelas dan menuju keluar sekolah. Di depan gerbang sekolah, Rini sudah menanti dengan teman-temannya ada yang cewek dan ada beberapa juga yang cowok.
“gimana kak, rapor Rini,,??”.
“kamu gak naik kelas,,”.
“apa kak?!”.
“hehe,,nggak cuma be’canda kok, rapor kamu bagus banget malah”, kataku sambil menyerahkan rapor ke Rini. Rini langsung membuka dan melihat rapornya, teman-teman Rini yang cewek memperhatikan rapor Rini yang dihiasi dengan nilai 8 ke atas. Sementara 3 temannya yang cowok hanya berpura-pura melihat rapor Rini karena sebetulnya mereka mencuri-curi pandang ke arahku, entah ke putingku yang tercetak di kaosku atau wajahku.
Dan untuk bagian bawah, aku memakai celana jeans panjang, lalu aku memakai parfum dan make-up. Hpku berbunyi lagi.
“halo Bunga”, aku melihat nomer yang menelponku nomer pak Herman lagi.
“ada apa lagi pak?”.
“anu, kayaknya bapak tidak jadi”.
“kenapa pak?”.
“tiba-tiba bapak ada rapat penting”.
“oohh begitu,,”.
“maaf ya Bunga”.
“akh, gak apa-apa pak”. Setelah aku menutup telpon, aku bingung mau kemana, kan sayang make-up yang sudah aku poles di wajahku kalau aku tidak kemana-mana.
“oh iya,, gue ke desa aja ah,,sekalian refreshing”, kataku. Aku menyiapkan koper dan mengisinya dengan pakaian-pakaianku. Lalu aku mengunci semua jendela dan pintu rumah, kemudian aku langsung menaruh koper di bagasi dan memacu mobilku setelah mengunci gerbang. Dalam waktu 2 jam, aku sampai ke desa tujuanku, untungnya jalanan yang menuju rumahku sudah bagus sehingga mobilku bisa melaju sampai ke rumahku.
Di depan rumahku, ada 1 orang kakek yang sedang membersihkan di sekitar rumahku. Kakek itu bernama Mang Karyo, umurnya 62 tahun, dia menjaga rumahku yang ada di desa, tentu sesuai umurnya yang sudah lanjut, wajahnya sudah terlihat tua, badannya kurus, dan kulitnya hitam karena sering terbakar matahari. Aku memberhentikan mobilku tepat di depannya yang sedang mencabuti rumput. Dia berdiri dan memberi salam.
“pagi nyonya..”, sapanya. Aku membuka kaca mobilku.
“enak aja,, nyonya,, Bunga kan belum nikah”.
“eh, non Bunga toh, Mang Karyo kirain nyonya”.
“Mang Karyo, Bunga masuk dulu ya”, aku memasukkan mobilku ke dalam garasi dengan sangat perlahan dan hati-hati. Lalu aku turun dari mobil dan menuju ke dalam, tiba-tiba sepasang tangan meremas-remas payudaraku, membuatku kaget.
“aduh,, Mang Karyo,,”, kataku manja karena aku tau orang yang ada hanya aku dan Mang Karyo.
“non Bunga makin montok aja”.
“montok sih montok tapi jangan diremes-remes gini dong,,emangnya dada Bunga mie remes apa”.
“yah si non Bunga kok jadi galak gini sih”, katanya protes sambil menjauhkan tangannya dari payudaraku.
“bukannya gitu Mang,, Bunga kan baru nyampe,, ntar aja kalau Bunga udah mandi ‘n istirahat”.
“oh ya,,maaf ya non,,abis Mang Karyo udah kangen sih ama non Bunga”.
“tenang aja Mang,, Bunga bakal nemenin Mang Karyo sampai minggu depan..”.
“asikk!!!”, teriaknya kegirangan.
“segitu girangnya..”.
“ya iyalah,, siapa yang gak girang kalau ditemenin cewek cantik kayak non Bunga”.
“aahh,, Mang Karyo bisa aja,, udah Mang, selagi Bunga istirahat, mendingan Mang Karyo terusin cabut rumputnya”.
“ok,, tapi abis cabutin rumput,, boleh kan?”.
“boleh,,boleh”, jawabku sambil tersenyum. Mang Karyo pun langsung keluar untuk meneruskan aktivitasnya, sementara aku mengambil koperku yang ada di bagasi mobil dan masuk ke dalam. Aku memang sudah hampir 6 bulan lebih tidak ke rumahku yang ini karena aku selalu malas tapi kali ini selagi 2 minggu ke depan kuliahku libur, dan di rumah yang di kota tidak ada siapa-siapa, jadi aku memutuskan untuk menghirup udara desa yang masih segar.
Sudah menjadi kebiasaan kalau aku kesini, aku selalu menyerahkan tubuhku untuk dinikmati Mang Karyo. Aku ingat dia adalah orang yang memerawaniku ketika aku masih kelas 2 SMA, memang pertama kali dia memperkosaku, tapi selanjutnya aku tidak menolak untuk menyerahkan tubuhku kepadanya. Mang Karyo lah yang mengajariku semuanya tentang seks, mulai dari posisi, foreplay, dan lainnya. Penis Mang Karyo adalah penis yang pertama kali memasuki semua lubang-lubangku mulai dari vagina, anus, dan juga mulutku. Sejak saat itu, aku jadi merasa kalau tubuhku memang diciptakan untuk Mang Karyo karena penis-penis lain yang pernah mengisi vaginaku tidak bisa dibandingkan kenikmatannya apabila dibandingkan dengan rasa nikmat ketika penis Mang Karyo mengisi vaginaku. Setelah beristirahat sejenak, aku mandi agar badanku benar-benar terasa segar. Karena aku pikir di rumah hanya ada aku dan Mang Karyo yang sudah sering melihat tubuhku, aku memutuskan untuk tidak memakai apa-apa setelah keluar dari kamar mandi.
Setelah aku mengeringkan tubuhku dengan handuk, aku menuju ke ruang keluarga untuk menonton tv. Tak lama kemudian Mang Karyo masuk ke dalam, dan langsung menuju aku yang sedang menonton tv.
“waduh, non Bunga kok nonton tvnya gak pake baju”.
“enak Mang,,lebih adem”.
“alah, non Bunga ada-ada aja”.
“udah nyabutin rumputnya Mang? Kok cepet banget sih?”.
“iya, Mang cepet-cepet nyabutin rumputnya, abis udah gak sabar pengen ngerasain memek non Bunga”.
“udah Mang Karyo minum dulu sana, ntar baru deh,,”.
“ok non”. Lalu dia pergi ke belakang untuk membuat minuman, tak lama kemudian Mang Karyo kembali lagi sambil memegang minuman. Dia berdiri di depan televisi.
“non Bunga,, kayaknya kalau diliat-liat,,toket non Bunga jadi tambah gede deh..”, komentar Mang Karyo.
“wuih,, iya dong!!”.
“jangan-jangan non Bunga disuntik…emm..apa tuh namanya?”.
“suntik silikon??”.
“nah iya,, itu maksud Mang”.
“yee,,enak aja,,ini asli kok,, pegang aja kalo gak percaya”, kataku menggodanya.
Tentu saja Mang Karyo langsung menuju ke arahku yang sedang memegang dan meremas-remas payudaraku sendiri.
“eeiitt,,mendingan kita mainnya di kamar aja, Mang”.
“bener juga,, yok”. Lalu aku berdiri dan langsung menuju kamar yang ada di lantai 2 dengan Mang Karyo mengikutiku di belakang, sambil menuju ke kamar, Mang Karyo terus mengelus-elus dan sesekali menepuk bongkahan pantatku, mungkin dia gemas melihat bongkahan pantatku yang padat. Begitu sampai, aku langsung mengambil posisi tidur terlentang dan membuka kakiku lebar-lebar agar vaginaku yang merupakan tempat bersangkarnya penis Mang Karyo bisa dilihat olehnya. Sementara Mang Karyo dengan terburu-buru membuka baju dan celananya, tak lama kemudian, Mang Karyo sudah bugil di hadapanku sehingga aku bisa melihat badannya yang kurus dan hitam serta benda tumpul yang sudah mengacung tegak di tengah selangkangannya.
“non Bunga,, kayaknya Mang Karyo bau matahari deh, kalo mandi dulu gimana?”.
“terserah, Mang Karyo, mau mandi apa mau langsung”, kataku sambil mengelus-elus vaginaku untuk membuatnya berpikir dua kali sekaligus untuk merangsang diriku sendiri.
“emang gak apa-apa non?”, tanya Mang Karyo.
“nggak apa-apa kok,,”.
“asik,, non Bunga emang pengertian banget”. Lalu dia naik ke ranjang dan duduk di depan vaginaku.
“Mang, terusin dong,,Bunga capek nih”, kataku sambil menghentikan mengelus vaginaku sendiri.
“itu mah gak usah disuruh non,,”. Mang Karyo langsung melebarkan kakiku agar dia bisa menyelipkan kepalanya di antara kedua pahaku. Mang Karyo membuka bibir vaginaku dengan jari telunjuk dan tengahnya. Tanpa basa-basi lagi, Mang Karyo mulai menjulurkan lidahnya menyentuh bibir luar vaginaku membuat rasa nyetrum mengalir di sekujur tubuhku, lalu Mang Ucup mulai menjilati daerah selangkanganku, menyapu bibir luar vaginaku dari atas ke bawah dan sebaliknya menggunakan lidahnya.
“aahh,,teeruss Mangg,,ennakk”, erangku. Semakin lama, Mang Karyo semakin bernafsu melahap vaginaku sehingga dia lebih membenamkan kepalanya ke selangkanganku, secara spontan, aku merapatkan kedua pahaku sehingga kepala Mang Karyo terhimpit oleh kedua pahaku yang putih mulus.
Mang Karyo mendorong kakiku sehingga kini kakiku berada di samping kepalaku, dalam posisi seperti ini dia lebih leluasa untuk memainkan vaginaku baik dengan lidahnya atau jarinya. Aku hanya bisa mengerang keenakan menerima semua serangan mulut dan permainan jari oleh Mang Karyo terhadap vaginaku. Mang Karyo kini tidur terlentang dan menyuruhku untuk menduduki wajahnya, begitu aku duduk di wajahnya, Mang Karyo langsung melanjutkan aktivitasnya. Dan tanpa sadar aku menggerakkan tubuhku maju mundur untuk menggesek-gesekkan vaginaku ke wajah Mang Karyo. Mang Karyo menahan dan menarik tubuhku ke bawah seolah ingin terus menjilati vaginaku. 5 menit sudah, lidah Mang Karyo bermain-main di selangkanganku, akhirnya aku mencapai orgasmeku yang pertama. Mang Karyo langsung menampung semua cairanku dengan membuka mulutnya, dia pun menyeruput habis semua cairanku hingga tak bersisa.
“hhh,,hoshh,,haahh”, nafasku tersengal-sengal setelah orgasmeku yang pertama. Lalu aku agak mundur dan duduk di dadanya.
“gimana Mang? Enak gak?”.
“enak banget non Bunga, malah tambah manis”.
“sekarang gantian ya Mang, Bunga di bawah, Mang Karyo di atas”.
“gak berat non?”.
“gak apa-apa kali Mang,,”. Lalu kini aku yang berada di bawah dan Mang Karyo menindih tubuhku. Kami saling memainkan alat kelamin, Mang Karyo memainkan vaginaku sementara kepalaku kini berada di selangkangan Mang Karyo yang agak ‘huuff,, gak nahan baunya’, tapi karena aku sudah terbiasa jadi aku tetap menjilati onderdil Mang Karyo hingga ke buah zakarnya dan juga sekitar daerah pantatnya. Aku agak kesusahan melakukan oral service karena penis Mang Karyo berukuran 20 cm dan berdiameter 5 cm. Ketika aku sedang asyik menjilati dan menelusuri batang kejantanan milik Mang Karyo yang ada di hadapanku, aku mengalami orgasme keduaku. Aku cepat mencapai orgasmeku yang kedua karena Mang Karyo memfokuskan permainan lidahnya di klitorisku sehingga aku tidak tahan dan mencapai orgasme dalam waktu yang singkat.
Spontan, Mang Karyo langsung agak memajukan tubuhnya sehingga penisnya menggesek wajahku. Mang Karyo menyeruput cairan yang meleleh keluar dari vaginaku dan mengalir ke selangkanganku.
“sllurrpp,,sslluurrppp”, bunyi yang keluar ketika Mang Karyo menyeruput semua cairanku. Sambil menunggu Mang Karyo meminum habis cairanku, aku menjulurkan lidahku untuk menyentuh kepala penis Mang Karyo yang ada di mulutku. Setelah Mang Karyo menyimpan semua cairanku di mulutnya, dia langsung memutar badannya sehingga kini wajah kami saling bertemu, Mang Karyo langsung mencium bibirku dan melumat bibirku sehingga aku bisa merasakan cairanku sendiri yang tersisa di bibir Mang Karyo. Lidahnya bergerak-gerak di dalam rongga mulutku, aku pun memainkan lidahku untuk membelit lidahnya, nafasnya terasa bau tapi untungnya aku sudah terbiasa menerima ciuman Mang Karyo. Lalu dia melepaskan ciumannya dan terlihatlah ludah kami saling menempel.
“Non Bunga emang mantep ciumannya”.
“Mang Karyo, langsung aja yuk,, udah gak tahan nih”.
“wah, non Bunga udah kangen ya ama kontol Mang Karyo”.
“iya nih, makanya cepetan dong”. Mang Karyo langsung melebarkan kedua pahaku, lalu secara perlahan dia memasukkan penisnya itu ke dalam vaginaku, penisnya yang berurat bergesekan dengan dinding vaginaku ketika senti demi senti penis Mang Karyo memasuki liang vaginaku.
“mmhhh,,”, desahku. Akhirnya, penis Mang Karyo sudah berada di dalam vaginaku. Dari dulu aku sudah menduga kalau vaginaku memang diciptakan untuk menerima penis Mang Karyo karena vaginaku terasa penuh tapi sama sekali tidak terasa perih. Mang Karyo mulai menggerakkan pinggulnya, sementara aku melingkarkan kakiku di pinggangnya. Mang Karyo sengaja menggenjotku dengan perlahan, dia membiarkanku terbiasa menerima penisnya di dalam vaginaku yang sudah 6 bulan tidak dimasuki penis Mang Karyo yang ‘wow’ itu.
“aahh,,uummhh,,oohh”, erangku menerima penis Mang Karyo yang keluar masuk vaginaku dengan sangat perlahan seolah Mang Karyo ingin benar-benar merasakan betapa hangat dan sempitnya liang vaginaku. Tentu saja selama memompa penisnya, Mang Karyo melumat habis bibir dan kedua buah payudaraku sehingga bibir dan payudaraku berlumuran air liurnya. Sekarang yang terdengar hanyalah desahan-desahan yang keluar dari mulutku. Orgasmeku yang ketiga sudah di ambang batas ketika setelah 5 menit Mang Karyo menyarangkan penisnya di dalam vaginaku, dan akhirnya aku mendapatkan orgasmeku yang ketiga, tentu saja cairanku tertahan oleh penis Mang Karyo yang mengisi liang vaginaku. Mang Karyo diam sejenak, sambil terus melumat bibirku.
“non Bunga, ganti posisi yuk”. Aku hanya mengangguk lemah karena tenagaku belum terkumpul setelah orgasmeku yang ketiga tadi, dia mencabut penisnya dari vaginaku dan menyodorkan ke mulutku, aku langsung menjilati batang Mang Karyo yang berkilauan karena berlumuran cairanku sendiri.
Setelah cairanku yang ada di penis habis kujilati sendiri, Mang Karyo langsung tiduran, dan aku menaiki penisnya kemudian aku mulai menurunkan tubuhku sambil membimbing penisnya masuk ke dalam vaginaku. Aku mulai menggerakkan tubuhku naik dan turun, Mang Karyo mendorong tubuhnya ke atas sehingga penisnya sangat terasa masuk ke dalam vaginaku membuat sensasi yang kurasakan menjadi lebih nikmat. Aku memajukan tubuhku agar aku bisa memberikan payudaraku untuk bisa dilumat oleh Mang Karyo. Aku mendapat orgasmeku yang keempat dalam posisi, entah karena aku yang memang gampang mencapai klimaks atau karena penis Mang Karyo yang luar biasa sehingga dalam waktu singkat aku mencapai orgasmeku yang oh my god, udah keempat kali. Aku dan Mang Karyo berhenti bergerak karena nafas kami tersengal-sengal dan tubuh kami sudah basah oleh keringat kami masing-masing. Aku menciumnya, lalu aku bangun dan mengambil posisi menungging.
“hhh,,ayo Mang lanjut,,pakee posisi favorit Mang Karyo..”.
“asik,, gaya anjing kawin,, non Bunga tau aja deh,,”.
“iya duuong,,udah Mang,,ayo cepetan”.
Mang Karyo langsung menancapkan penisnya ke vaginaku dengan kencang hingga terasa mentok di dalam vaginaku. Lalu aku bertumpu pada kedua tanganku, dan Mang Karyo mulai menggenjot vaginaku tanpa ampun karena dia memompa vaginaku dengan cepat dan menekannya kuat-kuat ke dalam vaginaku. Anehnya, aku sangat menikmati permainan cepat Mang Karyo bahkan aku sampai berteriak.
“teeruuss Mang,, entotin Bunggaa,, jangan berhentii…hamilin Bunga,,oohhh”. Seperti mendapat semangat dariku, Mang Karyo menambah kecepatan genjotannya menjadi 2 kali lipat, bahkan dia memompa vaginaku dengan cara menekan penisnya kuat-kuat ke dalam vaginaku dan menariknya hingga keluar dari vaginaku dengan sangat perlahan, cara ini terus ia lakukan hingga 10 menit ke depan.
“aawwhh,,”, erangku kencang setiap kali Mang Karyo menghujamkan penisnya ke vaginaku dengan kuat. Kemudian Mang Karyo mengganti teknik menguleknya.
Kali ini Mang Karyo tetap mendorong penisnya dan mengeluarkan seperti sebelumnya, tapi setelah Mang Karyo mencabut penisnya keluar dari vaginaku, dia langsung menghujamkan batangnya ke dalam lubang anusku. Secara spontan, aku berteriak kaget karena tiba-tiba benda tumpul milik Mang Karyo menyeruak masuk ke dalam anusku tanpa permisi. Aku hampir mencapai orgasmeku yang kelima, tapi aku berusaha mati-matian menahannya agar aku bisa mencapai klimaks bersama-sama dengan Mang Karyo. 5 menit kemudian, Mang Karyo lebih memfokuskan untuk menghujamkan penisnya ke dalam vaginaku dan mempercepat irama genjotannya yang menandakan sebentar lagi kalau dia akan orgasme dalam posisi yang pertama yaitu aku di bawah dan Mang Karyo di atas.
“akkhh,,keluaarr non,,oohh”, erangnya ketika Mang Karyo orgasme dan memuntahkan lahar putihnya ke dalam vaginaku, bersamaan dengan itu aku melepas orgasmeku yang kutahan-tahan dari tadi sehingga di dalam vaginaku bercampur antara cairanku dengan sperma Mang Karyo.
Mang Karyo menciumi dan menjilati wajahku, sementara aku memeluknya dengan erat, sambil menunggu Mang Karyo selesai menyemburkan spermanya. Lebih dari 5 kali, Mang Karyo menyemburkan spermanya ke dalam vaginaku. Setelah kami sudah bisa mengatur nafas kami masing-masing dan penis Mang Karyo sudah kembali ke ukuran semula, Mang Karyo mencabut penisnya dan langsung menyodorkan penisnya untuk kubersihkan, tanpa disuruh lagi, aku langsung membersihkan penis Mang Karyo sebersih mungkin hingga akhirnya kinclong kembali. Lalu, Mang Karyo tidur di sebelahku dan menghadap ke arahku, dan akupun menghadap ke arahnya.
“non Bunga emang mantep banget maennya,,”.
“Mang Karyo juga,, gak berubah,, selalu bikin Bunga puas banget”.
“iya dong,,Mang Karyo!!”, dia berkata dengan sombongnya.
“oh ya Mang, kayaknya peju Mang Karyo banyak banget deh..”.
“iya, kan udah 6 bulan lebih, si Otong gak ngeluarin isinya”.
“ah, yang bener, emang Mang Karyo gak ‘jajan’?”.
“nggak lah non,, tar takut kena AIDS,, lagian gak ada yang secantik non”.
“ah, Mang Karyo bisa aja,,”.
“o ya non, non Bunga ngapain bawa baju? kan di rumah ini, non Bunga gak boleh pake baju”.
“yee,,Mang Karyo gimana sih, emangnya Bunga gak mau jalan-jalan keluar,, kalau di dalam rumah sih,, udah pasti Bunga gak bakalan pake baju”.
“o iya ya..”.
“o ya Mang, kita kan udahan ngentotnya, mendingan kita ke rumah Mang Karyo, udah lama gak ketemu Mbok Parti”.
“yaudah yuk, tapi non Bunga pake baju ya.. Tar istri Mang Karyo pingsan..hehe”.
“ya iyalah, masa Bunga keluar gak pake apa-apa”. Lalu aku masuk ke kamar mandi, dan Mang Karyo keluar dari kamarku. Setelah aku mandi dan berpakaian rapih, aku keluar dimana Mang Karyo yang sudah memakai bajunya menungguku.
“yuk Mang”. Selama berjalan, aku disapa oleh penduduk desa yang sudah kenal denganku. Akhirnya, aku dan Mang Karyo sampai juga di rumah Mang Karyo.
“bu, bu,,”, teriak Mang Karyo memanggil-manggil istrinya.
“iya,,iya,, ada apa si pak?”.
“ini toh Bu, ada non Bunga,,”. Lalu istri Mang Karyo sampai di hadapan kami.
“waduh, non Bunga,, apa kabar,, udah lama gak keliatan”.
“iya nih mbok, hehe,, udah 6 bulan gak kesini nih..”. Lalu kami mengobrol sambil duduk dan minum teh, sementara Mang Karyo mandi.
“non Bunga tambah cantik aja,,”.
“ah Mbok, bisa aja,, oh ya, si Mamat mana?”, aku menanyakan anak mereka yang berumur 15 tahun.
“ya lagi sekolah toh non,,”.
“oh ya lupa,,hehe”.
“gimana kerjaan Karyo?”.
“rapih Mbok,,”.
“lo gak tau aja,, suami lo kerjanya nabung peju mulu di rahim gue”, kataku dalam hati. Mang Karyo keluar dengan dandanan rapi.
“bu,, bapak mau ke rumah non Bunga, tadi belum selesai kerjanya”, katanya sambil melirik ke arahku.
“huu,,dasar,, bilangnya mau kerja lagi,, padahal mau ngentotin gue lagi tuh..”, kataku dalam hati lagi.
“iya,, tadi ada yang belum diberesin”, kataku ke Mbok Parti sambil tersenyum ke arah Mang Karyo, dan dia pun membalas tersenyum.
“yaudah,, tapi besok pulang ya pak”.
“iya bu, tenang saja, yaudah bu, bapak berangkat dulu ama non Bunga”.
“ya Mbok, kami berangkat dulu..”.
“ati-ati di jalan ya”.
Lalu kami pulang tapi kali ini, kami mengambil jalan yang lebih sepi, bahkan tidak ada orang sama sekali.
“Mang, ngapain lewat sini sih, kan jauh?”.
“supaya Mang Karyo bisa grepe-grepe non Bunga”.
“yee, Mang Karyo,, entar aja di rumah,, jangan disini”.
“ah,, Mang Karyo udah gak tahan”. Lalu Mang Karyo pun langsung berjalan di belakangku dan menyusupkan tangannya ke dalam kaosku, dan karena aku tidak memakai bh jadi Mang Karyo bisa langsung meremas-remas payudaraku.
“aduhh,, Mang Karyo,, jaangann,,”. Bukannya berhenti, Mang Karyo malah memelintir kedua putingku dengan tangannya, dan dia juga mencium dan menjilati kuping kananku membuat birahiku memanjat ke ubun-ubun kepalaku dengan sangat cepat.
“Mang,,sstopp”, kunaikkan nada bicaraku. Untungnya dia masih agak hormat kepadaku sehingga dia menghentikan aktivitasnya.
“kenapa non, kok marah?”.
“siapa yang marah..”.
“oo jadi non mau diterusin nih digrepe-grepe ama Mang Karyo?”.
“eh, bukan gitu maksud Bunga”.
“jadi, gimana?”, tanya Mang Karyo sambil tangannya tetap memegangi kedua buah payudaraku.
“maksud Bunga tuh, dilanjutin di rumah aja,, kan lebih bebas..”.
“tapi, Mang Karyo boleh kan ngentotin non Bunga terus-terusan sampe besok?”.
“ya elah Mang, kayak baru kenal Bunga aja. Ya boleh lah, pokonya ampe Mang Karyo gak bisa ngaceng lagi”.
“bener ya?”.
“suer deh,,”.
“asik,,”.
“asik si asik, tapi lepasin dulu tangan Mang Karyo, masa toket Bunga dipegangin terus”.
“hehe,, maaf non,, abisnya toket non Bunga kenyel banget sih, jadi enak meganginnya”.
“yaudah, sekarang lepasin, abis itu, di rumah, Mang Karyo bisa megangin toket Bunga seharian”. Lalu Mang Karyo mengeluarkan tangannya, dan aku merapikan kaosku, kemudian kami mulai berjalan lagi sambil mengobrol.
“non Bunga, gimana kalau non Bunga jadi istri Mang Karyo aja..”.
“sekarang aja, Bunga udah kayak istri kedua Mang Karyo..”.
“oh iya,, ya,,betul juga.. Oh ya non, ada 1 lagi,, non Bunga emang gak takut hamil? kan Mang Karyo sering ngeluarin peju di dalam memek non..”.
“gak Mang, Bunga kan udah minum obat pencegah hamil,, tapi, emang kalo Bunga hamil, Mang Karyo mau punya anak dari Bunga?”.
“mau dong, kalo ibunya cakep pasti anaknya nanti juga cakep..”.
“haha,, Mang Karyo bisa aja,, tar ya Mang,,kalo Bunga udah siap punya anak..rahim Bunga bakal Bunga kasih cuma buat Mang Karyo seorang”. Tak terasa, kami sudah berada di depan rumah, kami bergegas masuk ke dalam rumah.
“nah, Mang Karyo, sekarang Bunga mau buka baju dulu ya,,”.
“sini non,,biar Mang yang bukain..”.
“yaudah,,”. Aku memang sudah biasa ditelanjangi oleh Mang Karyo, jadi ketika dia membuka kaos dan celana panjangku aku tidak canggung lagi.
“sekarang Bunga kan udah telanjang,, gantian ya,, Bunga yang buka baju Mang Karyo”.
“ok non, dengan senang hati”. Lalu aku mulai menelanjangi Mang Karyo, tentu saja selama aku sibuk membuka pakaian Mang Karyo, dia juga sibuk meremas-remas pantat kenyalku, dan memasukkan satu jarinya ke dalam anusku.
Tak lama kemudian, Mang Karyo sudah telanjang dan kami pun saling berciuman sehingga tubuh putih mulusku yang sangat kontras dengan tubuh hitam Mang Karyo bersatu dalam luapan birahi dan luapan cinta. Dengan ciuman itu, aku sudah resmi menjadi budak seks Mang Karyo untuk seminggu ke depan. Dan Mang Karyo pun tak menyia-nyiakan kesempatan emas yang kuberikan, dia menyetubuhiku selama 30 menit dan berhenti 30 menit untuk istirahat, begitu seterusnya hingga malam hari. Selama beristirahat, kami makan, bercanda, mengobrol, dan lain-lain. Entah darimana, Mang Karyo mempunyai energi yang luar biasa itu. Mungkin kalau aku tidak minum obat anti hamil pasti besok aku sudah mengandung anak dari Mang Karyo karena entah sudah berapa trilyun sperma Mang Karyo yang berenang-renang di rahimku. Akhirnya Mang Karyo ngantuk juga dan memutuskan untuk tidur. Aku senang sekali karena tubuhku seperti sudah remuk mengalami berpuluh kali orgasme. Aku melihat ke arah jam.
“buset,, udah jam 2 pagi,, Mang Karyo emang hebat banget udah kayak Superman,, mendingan tidur aja ah,, supaya besok bisa muasin Mang Karyo,, suami gelapku”, kataku dalam hati sambil tersenyum ke wajah Mang Karyo yang ada di hadapanku. Tiba-tiba, Mang Karyo membuka matanya lagi.
“ada apa non? belum tidur?”.
“cium Bunga dulu dong,,katanya Mang Karyo nganggep Bunga istri..”.
“oh ya,,nih Mang cium deh,,non Bungaku tersayang”, katanya sambil mencium bibir lembutku.
“nah, gitu dong,, baru kayak suami istri,, yaudah Mang, kita tidur yuk,,besok kita lanjutin lagi maen suami-istrinya”.
“ok non,,”, lalu kami saling berpelukan dan kemudian menutup mata untuk menghadapi esok hari.
“kukuruyuk,,kukuruyuk”, bunyi ayam berkokok di pagi hari membangunkanku pada hari ke 4 aku berkunjung ke desa sekaligus menjadi tempat penyimpanan sperma Mang Karyo. Kulihat Mang Karyo dan penisnya masih tertidur sehabis menyerangku seharian seperti hari-hari sebelumnya.
“hmm,, Mang Karyo masih tidur, mendingan gue bikin sarapan deh,,”, kataku dalam hati. Aku bangun dari ranjang dan melangkah keluar dari kamar menuju ke dapur, aku membuat roti dilapisi selai kacang dan juga teh manis untuk Mang Karyo. Kalau dipikir-pikir aku memang sudah seperti istri Mang Karyo karena aku melakukan hal-hal yang dilakukan seorang istri kepada suaminya, seperti melayaninya kapan pun dia mau, membuatkannya sarapan, makan siang dan makan malam bahkan aku memandikannya setiap kali ia mandi. Setelah selesai, aku menata rapi sarapan yang kubuatkan untuk Mang Karyo di meja makan. Aku merasakan dan melihat noda sperma yang telah mengering di daerah sekitar vaginaku.
“anjrit,, Mang Karyo emang tua-tua keladi, makin tua makin hebat aja,, perasaan dulu gak segini banyak”, aku berbicara sendiri.
“ah, udah ah, mendingan gue bangunin Mang Karyo daripada makanannya tar dingin”. Lalu aku menuju kamar kembali untuk membangunkan Mang Karyo.
“ah, gue banguninnya beda ah,,”. Lalu aku berdiri di tepi ranjang dan agak membungkuk untuk mendekatkan wajahku dengan penis Mang Karyo. Aku menjulurkan lidahku dan menyentuhkan lidahku ke lubang kencing Mang Karyo, dia hanya bergerak sedikit dan bergumam tapi matanya tetap terpejam. Aku mengemuti kepala penisnya, dan Mang Karyo langsung terbangun.
“eh, non Bunga, bandel ya,,”.
“hehe,,gimana cara bangunin Bunga yang baru,, mantep kan?”.
“mantep,,mantep,,”.
“Mang Karyo, tuh udah Bunga bikinin sarapan,,”.
“ok,,yuk”. Lalu kami berjalan ke luar dan duduk di meja makan.
“ayo Mang,, dimakan rotinya,”.
“ok non,,”.
“o ya Mang,, mau makan roti yang itu apa rotinya Bunga?”, tanyaku sambil mengolesi payudaraku yang putih mulus dengan selai kacang.
“wah,, kalo dua-duanya gimana?”.
“yee, Mang Karyo maruk ah,, tapi gak apa-apa deh, Mang Karyo makan roti yang itu dulu abis itu baru roti punya Bunga”.
“ok non,,”. Lalu Mang Karyo memakan rotinya lagi sambil memperhatikanku yang sedang mengolesi kedua buah payudaraku dengan selai kacang. Mang Karyo selesai memakan sarapannya juga meminum tehnya.
“udah Mang, makannya?”.
“udah non,, sini dong non, biar Mang Karyo bisa makan roti lagi,,hehe”. Aku langsung mendekatinya, dan duduk di pangkuannya tapi aku tak memasukkan penis Mang Karyo ke dalam vaginaku.
“ayo, Mang Karyo, silakan dimakan rotinya”. Mang Karyo memegang kedua buah payudaraku dengan tangannya dan menggerakkan lidahnya menjelajahi setiap senti payudaraku yang terbalut selai kacang. Tanpa sadar aku menekan kepala Mang Karyo.
“ahh,,mmhh,,teerus,,Mang,,”, desahku menerima sapuan lidah Mang Karyo di payudaraku yang bergerak ke atas, bawah, kanan, kiri, dan memutar. Seiring dengan naiknya birahiku, aku juga merasakan batang Mang Karyo sudah mengeras dan mencapai ukuran maksimal.
Ketika aku menutup mata untuk meresapi nikmatnya jilatan Mang Karyo, tapi tiba-tiba Mang Karyo menghentikan aktivitasnya, spontan aku membuka mataku dan bertanya padanya.
“kenapa berhenti, Mang?”.
“ini non,, kasian si otong,, kedinginan, pengen masuk ke sarangnya”.
“oouu,, kasian,, si otong kedinginan ya,,sini biar Bunga masukkin ke sarangnya”. Lalu aku sedikit mengangkat tubuhku, dan meraih penis Mang Karyo dan menuntunnya ke pintu masuk lubang vaginaku, setelah kepala penisnya sudah berada di dalam vaginaku, aku langsung menurunkan tubuhku secara perlahan sehingga akhirnya penis itu sudah berada di dalam vaginaku yang memang merupakan soulmate dari penis Mang Karyo.
“nah, sekarang otong Mang Karyo kan udah gak kedinginan,,lanjutin dong jilatin toked Bunga”.
“itu mah gak usah disuruh lagi non,,”. Mang Karyo melanjutkan membersihkan payudaraku, dia mainkan kedua putingku dengan tangan dan mulutnya, juga kadang-kadang ia menggigit kecil kedua putingku secara bergantian.
“awwhh,,”, desahku manja ketika Mang Karyo menggigit kecil putingku.
Setelah payudaraku bersih dan terlihat putih mulus lagi, Mang Karyo dengan nakalnya menggerakkan pinggulnya sehingga penis Mang Karyo yang ada di dalam vaginaku juga ikut bergerak.
“ehh,, Mang Karyo nakal ya,, si otong digerakkin”.
“ah,, nggak kok,, si otong bergerak sendiri,,hehe,, jawabnya sambil tertawa kecil.
“bisa aja Mang Karyo,,emang Mang Karyo mau sekalian nih,,hmm?”.
“boleh juga nih..”. Lalu aku memutuskan untuk menggerakkan tubuhku naik turun, dan Mang Karyo pun mendorong penisnya ke atas sehingga terasa lebih masuk ke dalam vaginaku.
“oohh,,ahh,,”, desahku. Payudaraku berguncang naik-turun seiring tubuhku yang juga bergerak naik-turun. Mungkin Mang Karyo ngiler melihat payudaraku yang sekal dan putih mulus bergerak naik turun, jadi Mang Karyo langsung memegang payudaraku dan menyentil-nyentilkan lidahnya ke putingku. Mungkin 10 menit, kami bersetubuh dalam posisi duduk seperti ini.
“Mang, kita terusinnya sambil mandi yuk,,kayaknya badan Bunga udah bau nii,,”.
“iya,,non Bunga udah bau peju,,”.
“yee,,ini kan bau peju Mang Karyo,,”.
“hehe,,yuk non,,badan Mang Karyo juga udah bau keringet nih”.
“yaudah,,Bunga bangun dulu ya,,”.
“gak usah non,,biar Mang Karyo gendong non Bunga ampe kamar mandi”.
“emang Mang Karyo kuat?”.
“ngentotin non seharian aja kuat,,masa cuma gendong doang gak kuat..”.
“yaudah,,tapi ati-ati ya,, Bunga jangan ampe jatoh..”.
“sip non,, sekarang non Bunga peluk Mang Karyo deh,,”. Lalu aku melingkarkan tanganku ke leher Mang Karyo, sementara Mang Karyo mulai berdiri dengan perlahan. Dan aku juga melingkarkan kakiku ke pinggang Mang Karyo. Kemudian, Mang Karyo mulai berjalan ke kamar mandi, tentu saja selama bergerak, penis Mang Karyo juga bergerak-gerak di dalam vaginaku membuat sensasi tersendiri. Kadang-kadang Mang Karyo memeluk dan mendekatkanku sehingga dia bisa mencium dan melumat bibirku, aku menjulurkan lidahku agar Mang Karyo bisa mengemut dan menggigit lidahku. Begitu juga Mang Karyo, dia mengeluarkan lidahnya agar aku bisa mengemutnya.
Akhirnya kami sampai di kamar mandi.
“Mang,, Bunga turun dulu ya..”. Lalu aku turun dari tubuh Mang Karyo, dan otomatis penis Mang Karyo tercabut dari vaginaku.
“siapa yang mandi duluan nih, Mang Karyo apa Bunga duluan?”.
“gimana kalau non Bunga duluan?”.
“ok,,tapi Mang Karyo mau kan mandiin Bunga?”.
“mau banget dong non,,tapi abis itu non Bunga mandiin Mang Karyo ya..”.
“ok,,Mang, beres”. Lalu aku duduk di kursi kecil yang sudah disiapkan oleh Mang Karyo. Aku duduk di kursi kecil, lalu Mang Karyo mengguyur tubuhku dengan air.
“dingin Mang,,,”, kataku karena airnya memang terasa dingin. Kemudian, Mang Karyo menggosok-gosok sabun di tangannya hingga tangannya berbusa. Mang Karyo bergerak ke depan dan duduk bersila di hadapanku.
“sini non, kaki non taro di sini”, katanya sambil menepuk kedua pahanya. Aku menaruh kakiku di pahanya. Mang Karyo langsung mengusapkan kedua tangannya yang berlumuran sabun ke kaki kananku, dan dia benar-benar membersihkan kakiku dengan telaten.
Setelah kakiku berlumuran sabun, Mang Karyo mengurut betisku, lalu dia melanjutkan membersihkan kaki dan betis kiriku. Mang Karyo mengguyur kakiku untuk membilas sabun.
“nah,,kaki non udah bersih lagi, sekarang badan non..”.
“loh bukannya paha Bunga dulu,,kan tanggung..”.
“itu mah belakangan,,hehe,,”.
“oh, Bunga ngerti,,yaudah, Mang Karyo tolong bersihin badan Bunga ya”. Lalu Mang Karyo berjalan ke belakangku, dia menggosok-gosokkan sabun ke tangannya kemudian Mang Karyo mulai mengelap bagian perutku yang langsing. Mang Karyo menyabuni perut, leher, tangan, serta punggungku. Lalu ketika tiba saatnya untuk menyabuni payudaraku, Mang Karyo langsung semangat memijat dan meremas kedua buah payudaraku. Sambil menyabuni payudaraku, Mang Karyo menggesek-gesekkan penisnya ke punggungku.
“Mang Karyo ngapain sih??”.
“hehe,,lagi nyikatin badan non Bunga pake kontol Mang Karyo”.
“ada-ada aja Mang Karyo,,yaudah,,lanjutin aja,,”.
“ok non,,,”, katanya sambil meneruskan menggesek-gesekkan penisnya ke atas dan ke bawah punggungku.
Setelah itu, Mang Karyo membilas tubuhku yang seluruhnya sudah tertutupi sabun kecuali wajahku dengan air.
“nah, sekarang memek non,,”. Aku disuruh masuk ke dalam bathtub yang sudah diisi dengan air. Aku masuk ke dalam bathtub yang memang agak besar dari bathtub-bathtub umumnya. Dengan perlahan, aku duduk dan menaruh kepalaku di bantal yang sudah disiapkan di kepala bathtub. Lalu Mang Karyo juga masuk ke dalam bathtub dan duduk di depan selangkanganku. Kemudian aku menaruh masing-masing kakiku di pinggiran bathtub sehingga vaginaku yang setengahnya terendam air bisa terlihat oleh Mang Karyo. Lalu Mang Karyo langsung meraba-raba dengan tangannya yang bersabun, mulai dari lututku, tangan Mang Karyo terus merembet ke pahaku yang putih mulus hingga ke vaginaku. Dia bersihkan bibir luar vaginaku dan klitorisku serta daerah pantatku, Mang Karyo juga memasukkan dua jarinya untuk membersihkan bagian dalam vaginaku sekaligus memainkan vaginaku.
Aku berpegangan pada pinggiran bathtub agar tidak jatuh sebab tubuhku menggelinjang karena Mang Karyo dengan gencarnya menggerakkan 2 jarinya keluar masuk vaginaku.
“oouhh,,Mang,,mmhh,,!!”, erangku ketika aku orgasme.
“yee,, si non,,lagi dibersihin malah ngencrot”.
“lagian si Mang Karyo,,memek Bunga pake diobok-obok segala..”.
“emang kenapa non?”.
“pake belaga pilon,,kan enak,, jadi ngencrot deh..”.
“hehe,,yaudah tar Mang Karyo bersihin memek non Bunga lagi deh,, sekarang gantian dong..”.
“iya,,Mang Karyo,, suami bo’onganku,,sabar dong”. Lalu kami berdua keluar dari bathtub dan kini Mang Karyo yang duduk di kursi kecil. Aku mengguyurnya dan mulai menggosok-gosokkan sabun ke tanganku, tapi aku punya ide lain, aku menggosok-gosokkan sabun ke payudaraku hingga kedua buah payudaraku penuh dengan busa.
“Mang Karyo,, kalo Bunga nyikatin badan Mang Karyo pake toket Bunga, boleh gak?”.
“boleh banget,,”. Dan aku pun mulai menempelkan payudaraku di punggung Mang Karyo dan mulai menggerakkannya ke atas dan ke bawah secara perlahan.
“wah,,enak banget disabunin pake toket non Bunga,,empuk banget”. Dipuji seperti itu, aku semakin semangat menyabuni Mang Karyo dengan payudaraku, aku menggesek-gesekkan payudaraku ke kedua tangan dan kedua kakinya. Setelah itu Mang Karyo melebarkan kakinya agar aku bisa membersihkannya. Aku urut semua bagian selangkangannya dengan tanganku yang bersabun, apalagi penisnya, aku mengurutnya dari pangkal hingga ke kepalanya berulang-ulang kali sampai dia terlihat ngilu.
“uudahh noon,,nggiluu,,”.
“Mang Karyo,,kalo nyemprot peju ke memek Bunga aja bisa terus-terusan,,masa gini doang ngilu”, kataku sambil terus mengurut penis Mang Karyo.
“kaann bedaa,,”, balas Mang Karyo sambil menahan ngilu dengan mati-matian, aku menghentikan aktivitas karena kasihan melihat Mang Karyo.
“gini aja, Mang. Gimana kalo penis Mang Karyo, Bunga jepit pake toket Bunga”.
“wah,,setuju tuh non,,”.
“yaudah,, sekarang Mang Karyo diri,,”.
Mang Karyo berdiri, dan aku langsung bertumpu pada kedua lututku agar payudaraku sejajar dengan penis Mang Karyo. Mang Karyo langsung menaruh penisnya di belahan payudaraku, kemudian Mang Karyo menggerakkan penisnya ke atas dan bawah di belahan payudaraku, aku merapatkan kedua buah payudaraku agar penis Mang Karyo terjepit di tengah-tengah payudaraku.
“aduuh non,,empuk ‘n anget banget”. Karena payudaraku penuh dengan busa dari sabun, maka penis Mang Karyo juga tertutupi sabun.
“nah ****** Mang Karyo kan sekarang udah kena sabun tuh,, Bunga siram ya,,”. Lalu aku menyiram badan Mang Karyo dan menyiram tubuhku sendiri.
“nah,,non Bunga,,Mang Karyo punya ide nih..”.
“apaan tuh Mang?”.
“gimana kalo Mang Karyo bersihin bagian dalem memek ‘n pantat non Bunga,, pake kontol Mang Karyo”.
“boleh juga tuh,,yok”, lalu aku mengurut penis Mang Karyo lagi dengan sabun hingga penis Mang Karyo mengkilat dan licin. Setelah itu, aku membelakangi Mang Karyo dan menaruh tanganku di tembok, lalu Mang Karyo mulai mendekatkan tubuhnya kepadaku yang sudah siap menerima penisnya di lubang anusku atau vaginaku.
Mang Karyo menancapkan penisnya dalam-dalam ke anusku secara tiba-tiba sehingga spontan aku berteriak kecil.
“awwhh,,Mang Karyo nakal nih,,”, omelku.
“maaf non,,si otong udah gak sabar pengen masuk pantat non”.
“huu,,dasar,,yaudah, sekarang gosokkin pantat Bunga ya,,”.
“siap,,non”. Mang Karyo langsung memompa penisnya keluar masuk anusku, karena licin, penis Mang Karyo dengan mudah bergerak keluar masuk anusku.
“aahh,,oouhh,,yeeaahh!!”, racauku tak jelas. Tak henti-hentinya Mang Karyo menghujamkan penisnya ke dalam anusku, dan juga Mang Karyo meremas-remas kedua buah payudaraku yang menggelantung dengan indah. 15 menit kulayani penis Mang Karyo dengan anusku hingga akhirnya aku mencapai orgasme dan cairanku ada yang mengalir melalui pahaku dan ada juga yang langsung menetes ke lantai. Mang Karyo mencabut penisnya dari anusku yang sudah dilumasi sabun dari batang penis Mang Karyo.
“non,,olesin sabun lagi dong”.
“ok deh, Mang Karyo,,”. Aku berbalik badan dan berjongkok di hadapan Mang Karyo lagi. Aku urut lagi penis Mang Karyo hingga pangkal penis Mang Karyo sampai helmnya mengkilat dan licin kembali.
“ok Mang,, udah siap lagi,,sekarang bersiin memek Bunga ya,,”.
“dengan senang hati,,”. Aku membalikkan tubuhku lagi, tapi kali ini aku dipeluk oleh Mang Karyo. Mang Karyo memelukku dengan menaruh tangan kirinya di bawah kedua buah payudaraku, sementara tangan kanannya menuntun penisnya sendiri ke pintu masuk vaginaku. Lalu Mang Karyo mulai mendorong penisnya masuk ke dalam vaginaku dengan perlahan. Setelah penis Mang Karyo sudah klop di dalam vaginaku, Mang Karyo langsung menggerakkan penisnya tapi kali ini dengan sangat perlahan sehingga urat-urat yang menonjol di batang penis Mang Karyo bergesekkan dengan dinding vaginaku menimbulkan sensasi luar biasa. Kadang-kadang aku menolehkan kepalaku ke belakang agar Mang Karyo bisa melumat-lumat bibirku. Dan selama Mang Karyo memompa penisnya keluar masuk vaginaku, dia juga meremas-remas payudaraku dan memilin-milin serta menarik-narik putingku.
“enngghh,,Mang Karyo,,oohh,,aahh”.
“non Bunga,,ookkhh!!”, erang Mang Karyo mencapai puncaknya setelah 15 menit menyarangkan penisnya di dalam vaginaku. Mang Karyo menyemburkan spermanya ke dalam vaginaku ketika aku juga mencapai orgasme sehingga cairanku dan sperma Mang Karyo bercampur di rahimku. Sambil menunggu Mang Karyo selesai menyemprotkan benihnya ke dalam rahimku, aku membiarkan Mang Karyo menjilati tengkuk leherku dan daun telingaku. Setelah selesai, Mang Karyo langsung mencabut penisnya dan membasuhnya dengan air.
“non,,boleh gak memek non Bunga,, Mang Karyo semprot pake shower?”.
“yee bolehlah,,kan Bunga istri Mang Karyo,,jadi terserah Mang Karyo mau ngapain..”.
“bener non?”.
“bener,,tubuh Bunga boleh diapain aja ama Mang Karyo..”.
“asiik,, kalo gitu non Bunga buka dikit pahanya,,”. Aku merenggangkan pahaku agar Mang Karyo bisa leluasa menyemprot vaginaku dengan memakai shower.
Lalu Mang Karyo mendekatiku lagi dan sudah membawa shower yang memancurkan air. Kemudian Mang Karyo berjongkok di depan vaginaku dan Mang Karyo pun langsung menaruh shower di depan lubang vaginaku sehingga air masuk ke dalam vaginaku.
“aduuhh,,Mang,,hihi,,gelii,,”, kataku sambil menahan geli. Tak lama kemudian, Mang Karyo menjauhkan shower dari vaginaku.
“udahan yuk non,,lama-lama dingin juga nii,,”.
“yaudah,, Mang Karyo duluan aja,,Bunga mau pake obat buat memek Bunga,, biar keset ‘n wangi gitu deh..”.
“ooh,,yaudah,,Mang Karyo duluan ya..”. Lalu Mang Karyo keluar dari kamar mandi, dan aku memakai obat khusus vagina. Setelah itu aku keluar dari kamar mandi, mengeringkan tubuhku dan menyusul Mang Karyo yang sedang menonton tv di ruang tamu. Aku langsung menaruh kepalaku di paha Mang Karyo yang sedang menonton tv, dan otomatis di samping kepalaku adalah penis Mang Karyo.
“Mang,,Bunga pengen nanya nih,,”.
“nanya apa non Bungaku yang cantik?”.
“Mang Karyo pake apa sih,, kok bisa ngentotin Bunga terus-terusan padahal kan Mang Karyo udah tua”.
“emang Mang Karyo belum pernah cerita ya..”.
“belum,,dari dulu,,setiap Bunga nanya,,pasti Mang Karyo bilangnya rahasia perusahaan,, sekarang kasih tau dong,, kalo gak,, Mang Karyo gak boleh ngentotin Bunga lagi..”.
“waduh non Bunga,,ancemannya nyeremin banget..Iya deh, Mang Karyo ceritain,,”. Mang Karyo bercerita kepadaku kalau dia mendapatkan stamina yang luar biasa itu dari seorang kakek. Kakek itu juga warga desa dan dikenal sangat baik dan sering menolong warga desa sewaktu ia muda, tapi setelah ia ditinggal mati oleh istrinya, ia lebih suka menyendiri, dan hanya Mang Karyo yang menjenguknya seminggu 1 kali.
“terus,, Mang Karyo ngapain bolak-balik ke rumah kakek itu?”.
“bantuin bikin jamu,,”.
“jamu apa?”.
“jamu pasak bumi,,”.
“hah?! Ooh pantes aja,, jangan-jangan Mang Karyo minum jamu itu ya,,”.
“iya,,”.
“huu,,dasar,,berarti bukan kemampuan sendiri dong,,”.
“biarin aja,, yang penting non Bunga,,suka kan?”.
“iya sih,,hehe”.
“o ya,, non, Mang Karyo kan ceritanya mau ngasih tanda terima kasih ke kakek itu,,tapi apa ya?”.
“kasih apa ya? Haduh,,Bunga jadi bingung”.
“gini non,,rencananya Mang Karyo pengen ngasih non Bunga ke dia..”.
“hah?! maksud Mang Karyo,, Bunga dijadiin kado?”.
“iya,,maaf non Bunga,,abisnya dikasih duit atau makanan dia gak mau, jadi ini jalan satu-satunya”.
“yaudah,,gak apa-apa,,itung-itung berbakti ama suami..Haha..”.
“si non bisa aja,,yaudah yuk non,,kita berangkat,,”. Aku bangun dan menuju kamarku untuk memakai baju begitu juga dengan Mang Karyo. Kemudian setelah memakai baju, kami berangkat ke rumah kakek-kakek yang diceritakan Mang Karyo. Agak jauh berjalan, akhirnya kami sampai di rumah kakek itu.
“punten,,Mbah Tanto,,punten,,”, Mang Karyo berteriak sambil mengetuk pintu. Tak lama kemudian, ada yang membuka pintu, terlihat kakek yang umurnya mungkin 70an.
“oohh,,Karyo toh,,ada apa yo??”.
“nggak mbah,,saya mau minta jamu mbah lagi..”.
“wah,,wah,,lo mau bikin anak lagi yee Yo,, ama istri lo si Parti?”.
“bukan Mbah,,bukan ama si Parti,,”.
“loh,,terus lo mau bikin anak ama siapa lagi?”.
“ama ini nih Mbah,,”, kata Mang Karyo sambil menggeser badannya dan mendorongku ke hadapan Mbah Tanto.
“wah,,sopo iki,,cakep banget,,”.
“ini namanya neng Bunga,,Mbah,,majikan sekaligus simpenan saya Mbah”.
“simpenan lo? muka jelek kayak lo masa bisa punya simpenan cakep banget kayak gini,,”.
“yee,,si Mbah,,kalo gak pecaya,,tanya aja sendiri,,”.
“emang bener neng?”, tanya Mbah Tanto kepadaku, aku hanya membalasnya dengan sedikit mengangguk dan tersenyum.
“tuh kan,,Mbah,,gak pecaya sih..”.
“tau deh,,terus ngapain lo bawa neng Bunga ke sini”.
“gini Mbah,, saya ada urusan sampe ntar sore..neng Bunga gak mau di rumah sendirian,,jadi saya bawa aja kesini,,gak apa-apa kan Mbah?”.
“ya,,nggak apa-apa toh,,”.
“yaudah Mbah Tanto,,saya pergi dulu..”. Lalu Mang Karyo pergi menjauh dari rumah Mbah Tanto.
“ayo neng Bunga,,masuk ke dalam..”.
“oh iya kek,,”. Aku menyusulnya masuk ke dalam rumah.
“ayo neng,,silakan duduk,,”.
“oh ya kek,,makasih”, lalu aku duduk di hadapan Mbah Tanto.
“neng Bunga, mau minum apa nih..”.
“apaan aja,,”.
“kalau gitu,, Mbah bikinin teh ya..”.
“maaf kek,,ngerepotin..”.
“ah,,nggak apa-apa,,tunggu sebentar ya..”. Tak lama kemudian, Mbah Tanto datang dengan membawa minuman.
“ini minumannya,.ayo neng Bunga,, diminum”.
“makasih kek,,jadi gak enak nih ngerepotin..”.
“gak apa-apa neng,,oh ya neng,,panggilnya Mbah Tanto aja,,”.
“ok deh Mbah,,”, sambil terus mengobrol dia tidak henti-hentinya mengambil kesempatan untuk melihat ke arah payudaraku dan juga kaki jenjangku yang putih mulus.
“maaf ni Mbah,,tapi kata Mang Karyo,,istri Mbah udah meninggal ya?”.
“iya,,5 tahun yang lalu,,”.
“pantes aja,,ngeliat gue langsung jelalatan matanya,,”, kataku dalam hati.
“terus Mbah gak nyari penggantinya?”.
“wong Mbah udah tua,,ngapain nyari istri lagi..”.
“kirain Bunga, Mbah mau nyari lagi,,”.
“neng Bunga sendiri, bener,,jadi simpenannya si Karyo?”.
“bener,,”.
“kok bisa?”.
“ceritanya panjang deh Mbah,,pokonya dari SMA dulu”.
“hah?! pas neng Bunga masih SMA,,berarti udah lama dong,,sialan tuh Karyo,,punya simpenan cakep banget gak bilang-bilang,,eh maaf, neng Bunga”, ucapnya keceplosan.
“gak apa-apa Mbah,, oh ya, katanya Mbah Tanto jago mijet ya?”.
“jago si nggak,,cuma bisa dikit,,kenapa, neng Bunga mau dipijet?”.
“iya nii Mbah,,badan Bunga pegel-pegel”.
“kalo gitu,,neng, tunggu di kamar Mbah aja..”.
“dimana kamarnya, Mbah?”.
“di sana neng”, katanya sambil menunjuk ke sebuah kamar.
“terus Bunga harus buka baju gak, Mbah?”.
“terserah neng Bunga deh,,”. Aku menuju kamar Mbah Tanto, ternyata lumayan juga kamarnya, rapih, bersih, dan kasurnya juga besar. Untuk membuat Mbah Tanto semakin tergoda dengan kemulusan tubuhku, aku memutuskan untuk menelanjangi diriku hingga tak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuh sekalku. Lalu aku tengkurap dan menutupi tubuhku dengan kain yang ada di dekatku, tak lama kemudian Mbah Tanto datang. Dia langsung duduk di tepi ranjang dan mulai menggosok-gosokkan minyak ke tangannya. Kemudian, Mbah Tanto mulai memijat leher dan bahuku.
“mmm,,enak banget pijetan Mbah Tanto”.
“makasih,,”. Tak begitu lama, Mbah Tanto selesai memijat leherku.
“udah,,neng Bunga,,”.
“yah,,tanggung,,kalau gitu, semuanya aja deh,,abis Mbah Tanto jago mijet sih”.
“tapi gak apa-apa neng? ntar badan neng Bunga keliatan?”.
“udah,,gak apa-apa”.
“yaudah,,Mbah buka kainnya ya,,”. Lalu Mbah Tanto mulai membuka kain yang menutupi tubuhku hingga akhirnya tubuhku yang putih terlihat oleh Mbah Tanto yang tertegun melihat pantatku yang putih nan kenyal.
“kenapa, Mbah? kok diem?”.
“nggak,,badan neng Bunga bagus banget..”.
“ah,, Mbah bisa aja,, Mbah,,ayo dong mulai pijetnya,,”. Lalu, Mbah Tanto mulai memijat punggungku sampai ke pinggangku, setelah selesai, Mbah Tanto naik ke ranjang dan duduk di dekat kakiku. Dia memijiti kakiku, betisku, pahaku, hingga akhirnya tangannya merembet ke daerah dekat vaginaku yang tentunya dapat terlihat oleh Mbah Tanto.
Mbah Tanto sengaja berulang-ulang menyentuhkan tangannya ke pangkal pahaku sehingga jarinya ada yang menyentuh bibir luar vaginaku. Aku pura-pura tidak sadar, dan membiarkannya, padahal birahiku sudah mulai naik. Mbah Tanto memindahkan kedua tangannya dan memulai memijit pantatku. Sepertinya Mbah Tanto gemas melihat pantatku yang kenyal sehingga dia terus menerus meremas-remas pantatku. Tiba-tiba dia menggulingkan tubuhku, dan langsung menaiki tubuhku dan memegangi kedua tanganku.
“Mbah,,jangan,,jangan”, teriakku seolah tak menginginkan hal ini. Tanpa menjawabku, Mbah Tanto langsung menyerangku dengan melumat habis bibirku, dan memainkan lidahnya di dalam rongga mulutku. Kemudian, Mbah Tanto menurunkan ciumannya ke leherku yang jenjang, turun hingga ke payudaraku. Yakin sudah menguasaiku, Mbah Tanto melepaskan pegangannya terhadap tanganku dan mulai mengeksplorasi kedua buah payudaraku dengan lidahnya dan mulutnya yang ompong. Geli sekaligus nikmat menjalar di sekujur tubuhku saat Mbah Tanto mengemut-emut dan menyentil-nyentilkan lidahnya ke kedua putingku secara bergantian.
Setelah puas bermain-main dengan payudaraku, Mbah Tanto menurunkan jilatan dan ciumannya ke perutku lalu dia menjulurkan lidahnya ke pusarku.
“Mbah,,jangannn,,”. Tapi dia tidak mengindahkanku, malah dia menurunkan mulutnya ke daerah selangkanganku. Mbah Tanto menelusuri pangkal paha kanan dan kiriku secara bergantian membuatku semakin pasrah saja, lalu Mbah Tanto memanjakan vaginaku dengan lidahnya.
“oohh,,ahh,,mmhh,,ahh,, teruuss,,Mbaahhh”. Mbah Tanto semakin semangat membenamkan wajahnya diantara pahaku sampai akhirnya 5 menit kemudian aku mengalami orgasme pertamaku. Tentu saja, Mbah Tanto tanpa pikir panjang lagi langsung menyeruput cairan vaginaku yang ada di sekitar bibir vaginaku dan juga di dalam vaginaku. Setelah selesai mencicipi cairanku yang cukup manis dan gurih, Mbah Tanto langsung menggulingkan tubuhku ke samping kanan sehingga sekarang tubuhku berada di tepi ranjang.
Mbah Tanto tidur di belakang tubuhku dan mengangkat kaki kananku ke atas, lalu dia menuntun penisnya ke lubang vaginaku. Setelah berada tepat berada di depan lubang vaginaku, dia mengelus-eluskan penisnya ke bibir vaginaku membuat vaginaku semakin gatal saja karena sudah ngiler ingin ditanami penis Mbah Tanto. Mbah Tanto mencoblos vaginaku dengan kuat.
“aawwhh,,”, teriakku agak manja. Ternyata setelah penis Mbah Tanto ada di dalam vaginaku, aku baru sadar kalau penis Mbah Tanto cocok sekali dengan vaginaku sama seperti penis Mang Karyo. Mbah Tanto terus menerus memompa penisnya ke vaginaku, dan kadang-kadang dia mencium tengkuk leherku membuat bulu kudukku berdiri, seiring dengan birahiku yang semakin tinggi. Entah berapa lama Mbah Tanto menggerakkan penisnya keluar masuk vaginaku, yang pasti kini aku sudah mengalami orgasmeku yang kedua sehingga di kamar Mbah Tanto hanya muncul 3 suara yaitu suara kecipak air ketika Mbah Tanto memompa penisnya, suara desahanku, dan juga bunyi nafas kami yang saling memburu.
Mbah Tanto mencabut penisnya dan menarik tubuhku kebelakang sehingga kini aku tidur terlentang dengan pasrah lagi di hadapan Mbah Tanto. Ternyata benar, penisnya hampir sama dengan penis Mang Karyo, tapi urat-urat yang menghias batang penis Mbah Tanto lebih banyak daripada milik Mang Karyo.
“pantes aja,,lebih mantep,, ternyata kontol Mbah Tanto lebih berotot daripada kontolnya Mang Karyo”, gumamku dalam hati. Mbah Tanto melebarkan kakiku, dan tanpa membuang 0,1 detik pun, Mbah Tanto langsung menancapkan penisnya lagi ke dalam vaginaku. Dan dimulailah pemompaan terhadap vaginaku oleh Mbah Tanto.
“emmhh,,aaoohh,,uuhh”, desahku tak karuan karena rasa nikmat yang kuterima memang senikmat ketika aku disetubuhi oleh 2 orang. Mbah Tanto pun meracau.
“oohhh,,neng Bungaa,,sempiit baangeet”. Mbah Tanto terus menyetubuhiku dalam posisi seperti ini hingga aku mencapai orgasmeku yang ketiga. Akhirnya Mbah Tanto bosan dengan posisi ini sehingga dia memutuskan untuk mencabut penisnya dari vaginaku, aku bisa melihat penisnya sangat mengkilat karena sudah disembur oleh vaginaku sebanyak 2 kali.
Mbah Tanto mendorong kedua kakiku ke depan sehingga kedua kakiku tertekan ke dadaku. Dia setengah berdiri dan memegangi kedua kakiku, lalu burung Mbah Tanto keluar masuk lagi ke tempat persembunyiannya yaitu vaginaku. Selama menggerakkan penisnya, Mbah Tanto menjilati telapak kakiku membuatku geli tidak karuan. Detik demi detik penis Mbah Tanto tak bosan-bosannya keluar masuk vaginaku hingga penis Mbah Tanto kusiram lagi dengan cairan vaginaku dalam orgasmeku yang keempat. Tak lama setelah itu, kurasakan penis Mbah Tanto berdenyut-denyut yang menandakan kalau sebentar lagi dia akan orgasme. Menyadari dirinya akan orgasme, Mbah Tanto mencabut penisnya dan membiarkanku menurunkan kakiku lagi, sementara dia langsung bergerak dengan cepat untuk mendekatkan penisnya ke wajahku. Setelah penisnya berada di depan wajahku, Mbah Tanto mengocok penisnya dengan tangannya sendiri hingga penisnya sudah siap memuntahkan isinya.
“croot,,croot,,crot”, semburan hangat sperma Mbah Tanto menerpa seluruh wajahku hingga ke rambutku. Dan karena kadang-kadang Mbah Tanto mengincar mulutku, aku membuka mulutku lebar-lebar agar semprotan lahar putih Mbah Tanto bisa masuk ke dalam mulutku. Hampir seluruh wajahku tertutupi sperma Mbah Tanto yang kental itu, dan itu pun dia masih menyemburkan spermanya ke wajahku. Akhirnya, penis Mbah Tanto sudah selesai mengosongkan isinya, Mbah Tanto langsung membanting dirinya sendiri ke samping tubuhku, dan nafasnya tersengal-sengal sama sepertiku. Setelah 3 menit beristirahat, nafasku dan nafas Mbah Tanto sudah kembali normal.
“maaf neng Bunga,,Mbah gak tahan ngeliat badan neng,,mulus banget,,”.
“ah,,nggak apa-apa Mbah,,Bunga juga seneng”.
“maksud neng Bunga?”.
“sebenarnya tuh,, Mang Karyo nganterin Bunga ke sini,,supaya Bunga bisa ngelayanin Mbah Tanto”.
“yang bener neng?”.
“bener,,Bunga itu sebenernya kado dari Mang Karyo buat Mbah Tanto”.
“wah,,jadi Mbah boleh ngapa-ngapain neng Bunga dong?”.
“ya boleh lah,, terserah Mbah Tanto..”.
“asik banget,,oh ya,,maafin Mbah ya,,buang pejunya di muka neng Bunga,,jadi kotor gitu deh,,”.
“gak apa-apa kalee,,Mbah,,itung-itung facial”, kataku sambil meratakan sperma Mbah Tanto ke seluruh wajahku.
“sebenernya kalo Mbah mau buang peju Mbah di dalem memek Bunga juga gak apa-apa,,”, tambahku.
“wah,,gak nyangka,,neng Bunga kan cantik banget,,kok mau sih ama macem kayak Mbah ‘n si Karyo?”.
“gak tau de,,Mbah,,Bunga juga bingung,,kayaknya sih Bunga diciptain emang buat Mbah ‘n Mang Karyo..”.
“tapi kan neng Bunga cantik ‘n badan neng Bunga juga seksi banget,,masa gak ada cowok ganteng yang ngelirik,,”.
“banyak banget,,saking banyaknya,,Bunga jadi bosen sendiri,,”.
“oohh,,gitu,,berarti Mbah ama Karyo beruntung banget dong,,bisa dilayanin cewek idaman semua lelaki kayak neng Bunga,,”.
“aah,,bisa aja Mbah mujinya,,”, tak disangka sudah 15 menit kami berdua mengobrol.
Kulihat penis Mbah Tanto sudah mulai bangun lagi.
“wah,,****** Mbah Tanto udah bangun lagi,,cepet banget ya”, kataku.
“iya dong,,”.
“tapi kalo Mang Karyo bangunnya abis 30 menit..”.
“kalo si Karyo kan murid gue,,”.
“oh iya ya,,”.
“gimana,,neng Bunga,,boleh gak Mbah entot lagi?”.
“boleh aja Mbah,,terus-terusan ampe sore juga gak apa-apa,,”.
“kalo Mbah nyobain pantat neng,,boleh gak?”.
“ya elah,,si Mbah,,gini aja deh,,anggep aja Bunga itu istri Mbah,,jadi Mbah boleh ngapain aja,,”.
“asik,,”.
“yaudah,,tapi Bunga cuci muka dulu ya,,biar bersih”.
“ok,,”, lalu aku pergi ke kamar mandi dan mencuci mukaku. Setelah cuci muka, aku kembali ke kamar Mbah Tanto.
“ok,,mbah,,kita mulai ronde ke 2,,”. Setelah itu, dimulailah persetubuhan antara seorang kakek perkasa dengan gadis muda dan cantik yang mau diapain aja. Ternyata Mbah Tanto tau caranya memanjakan wanita, dia menelusuri lekuk tubuhku dengan lidahnya tanpa terkecuali karena katanya dia sangat kagum dengan keindahan dan kemulusan tubuhku. Karena perlakuannya itulah, timbul rasa sayang di dalam diriku terhadap Mbah Tanto sama seperti rasa sayangku terhadap Mang Karyo.
Setiap 1 ronde, Mbah Tanto bisa menyetubuhiku selama 45 menit, dan aku bisa orgasme 4 kali atau lebih, setelah Mbah Tanto menyemburkan spermanya baik ke dalam anus, mulut, ataupun vaginaku, kami beristirahat selama 15 menit sebelum memulai ronde berikutnya. Bayangkan saja, dari jam 10 pagi hingga jam 6 sore, Mbah Tanto melampiaskan nafsu setannya yang selama 5 tahun lebih terpendam terhadap diriku sehingga Mbah Tanto terus menerus menyetubuhiku hingga aku tidak bisa menghitung sudah berapa ronde kami bermain, sudah berapa puluh kali aku orgasme, dan entah sudah berapa liter sperma Mbah Tanto yang masuk ke dalam tubuhku baik masuk lewat mulut, anus, ataupun vaginaku. Jam 6 sore lewat sedikit, Mang Karyo kembali ke rumah Mbah Tanto.
“punten,,Mbah,,”.
“siapa?”, teriak Mbah Tanto yang sedang duduk di ruang tamu sambil menghisap rokok.
“Karyo,,Mbah,,”.
“oh,,masuk aja Yo,,gak dikunci,,”.
“gimana,,Mbah,,kado dari saya?”.
“lo kalo mau kasih kado yang enak banget,,bilang-bilang dulu,,jadinya kan Mbah bisa siap-siap”.
“tapi,,enak kan Mbah?”.
“bukannya enak lagi tapi mantab,,makasih ye Yo,,gara-gara lo,,gue bisa ngerasain memek lagi,,memek gadis kota lagee”.
“sama-sama Mbah,,gara-gara Mbah,,saya bisa dapet simpenan yang cantik dan mau diapain aja,,”.
“gimana kalo simpenan lo alias neng Bunga kita pake bareng-bareng?”.
“boleh aja sih,Mbah,,tapi non Bunganya sekarang ada di mana?”.
“nih disini,,”, kata Mbah Tanto sambil membuka sarungnya sehingga aku yang sedang mengulum penis Mbah Tanto bisa dilihat oleh Mang Karyo.
“oh,,non Bunga lagi asik karaokean ya,,”. Aku mengeluarkan penis Mbah Tanto yang sudah berlumuran air liurku, kemudian berdiri dan duduk di kursi.
“eh, Mang Karyo,,udah balik lagi,,”.
“eh non Bunga,,tuh,masih ada peju di mulutnya”. Aku menyeka sisa sperma yang ada di mulutku dengan punggung tanganku.
“gile lo Yo,,berarti dari 4 hari yang lalu,,lo ******* ama neng Bunga terus dong?”.
“iya dong Mbah, makanya saya jarang pulang ke rumah,,”.
“oh ya,,neng Bunga gak takut punya anak dari Mbah atau si Karyo?”.
“nggak apa-apa Mbah,,pokoknya Bunga gak bakal hamil”, balasku.
“oh ya Mbah, ngomong-ngomong jamunya mana?”, tanya Mang Karyo.
“oh ya,,sebentar,,Mbah ambil dulu,,”, lalu Mbah Tanto meninggalkan aku dan Mang Karyo.
“gimana non,,si Mbah?”.
“kuat banget,,Bunga sampe kewalahan..”.
“coba non,,liat dong memek non Bunga”.
“nih,,”,kataku sambil melebarkan pahaku sehingga daerah selangkanganku yang belepotan dengan sperma bisa terlihat.
“wuih,,ampe belepotan kayak gitu..”.
“ah,,Mang Karyo juga kalo ngentotin Bunga kan ampe belepotan begini..”.
“emang iya ya,,hehe,,Mang Karyo gak nyadar,,”.
“oh ya Mang Karyo kenapa manggil Mbah Tanto pake Mbah? padahal kan umur Mang Karyo ama Mbah Tanto gak terlalu jauh beda,,”.
“iya sih,,tapi kan Mbah Tanto udah kayak guru Mang Karyo,,jadi Mang Karyo manggil Mbah aja,,daripada manggil master atau guru..Iya, kan?”.
“iya juga,,”, tak lama kemudian Mbah Tanto kembali dengan memegang sesuatu.
“nih Yo,,jamu lo,,”.
“kayaknya beda dari jamu kemaren,,”.
“iya,,ni jamu racikan gue yang baru,,”.
“efeknya apa Mbah?”.
“sama kayak jamu yang udah-udah,,tapi jamu yang ini bisa bikin ****** lo ngaceng terus,,”.
“wah,,ini dia jamu yang saya tunggu-tunggu,,tapi berhasil gak?”.
“itu dia,,Mbah belum nyoba ni jamu,,jadi Mbah gak tau ini berhasil apa gak,,”.
“loh,,bukannya Mbah udah nyoba ama non Bunga?”.
“nggak,,tadi saking udah nafsu banget ama neng Bunga, Mbah jadi lupa minum jamu itu,,”.
“jadi tadi Mbah belum minum jamu?”, tanyaku.
“belum, abis ngeliat bodi neng Bunga yang mulus banget,,Mbah jadi lupa deh”.
“gak minum jamu aja bisa ngentotin Bunga dari jam 10 ampe jam 6,,gimana kalo udah minum?”, tanyaku nakal.
“ya paling-paling,,neng Bunga gak bisa turun dari ranjang”.
“emang kenapa tuh?”, tanyaku menggoda.
“ya Mbah entotin terus,,haha”, jawab Mbah Tanto yang diiringi gelak tawa kami, sambil tertawa aku memakai bajuku lagi.
“yaudah Mbah,,kami pulang dulu ya,,mau nyobain jamu”, kata Mang Karyo sambil minta izin ke Mbah Tanto.
Kulihat muka Mbah Tanto sedikit sedih, aku mencolek Mang Karyo dan memberikan isyarat kepada Mang Karyo, untungnya Mang Karyo langsung mengerti maksudku.
“emm,,Mbah,,Mbah mau nyobain jamu ini juga”.
“emang boleh Yo?”.
“ya bolehlah,,kan Mbah yang bikin jamu ini”.
“terus cobain ke siapa?”.
“yee,,si Mbah pake nanya,,yaa kita cobain efek jamu ini ke non Bunga lah”.
“emang neng Bunga mau?”.
“mau aja,,tapi jangan disini mendingan di rumah Bunga aja”, jawabku.
“ok kalo gitu,,yuk Mbah,,kita bareng-bareng,,”, ajak Mang Karyo.
“bentar, Mbah pake baju dulu”. Setelah Mbah Karyo sudah memakai baju dan mengganti sarungnya dengan celana panjang, kami pun langsung berangkat. Selama perjalanan, tak hentinya mereka berdua meraba-raba payudara dan pantatku. Aku tidak keberatan karena sudah jam 6 sore sehingga jalanan sepi, hal ini disebabkan karena menurut tradisi desa ini, warga desa tidak boleh keluar rumah kecuali ada urusan yang penting.
Akhirnya kami sampai di rumahku dan begitu aku sudah ada di dalam rumah, aku langsung melepas bajuku sendiri yang membuat Mbah Tanto kebingungan.
“loh,,neng Bunga kok tiba-tiba buka baju?”.
“gini Mbah,,saya buat peraturan,,kalo di dalem rumah,,non Bunga gak boleh pake baju,,”, jawab Mang Karyo.
“wah,enak banget si lo,,padahal neng Bunga majikan lo,,tapi lo yang buat peraturan,,”.
“hehe,,”, Mang Karyo hanya tertawa.
“ok,,neng Bunga,,kita mulai sekarang aja,,”.
“eiit,,tar dong,,Bunga mandi dulu biar wangi lagi,,”.
“yaudah,,sana non Bunga mandi dulu,,ayo Mbah,,sambil nungguin non Bunga selesai mandi mendingan kita minum jamu ‘n nyantai dulu”.
“bener juga,,neng Bunga mandinya jangan lama-lama ya,,****** Mbah udah gak sabar nih pengen ngumpet lagi di dalem memek neng,,”.
“ok deh,,Mbah,,yaudah, Bunga mandi dulu ya”. Lalu aku menuju kamar mandi untuk membersihkan noda sperma yang telah mengering, juga untuk membuat tubuhku wangi kembali.
Setelah mandi, aku langsung menuju Mang Karyo dan Mbah Tanto yang sudah tidak sabar menunggu untuk memasukkan penisnya ke dalam mulut, anus, atau vaginaku. Karena jamu Mbah Tanto, mereka yang tadinya sudah perkasa dalam hal menyetubuhiku, kini mereka tambah perkasa karena penis mereka tidak bisa tidur alias ngaceng terus sehingga mereka terus memompakan penis mereka dan mengosongkan air mani mereka ke dalam tubuhku hingga berjam-jam nonstop, sampai-sampai aku pingsan karena sudah tidak ada tenaga lagi. Karena itu aku tidak tau apa yang mereka lakukan terhadapku karena aku sudah tidak sadarkan diri. Aku hanya bisa berharap agar lubang vagina dan anusku tidak luka. Tiba-tiba aku tersadar dan bisa membuka mataku, aku menyadari kalau aku tidur dengan dihimpit oleh Mang Karyo yang ada di depanku dan Mbah Tanto yang ada di belakangku. Tapi, tetap saja efek jamu itu belum habis karena aku merasakan kalau penis Mang Karyo yang masih menancap di dalam vaginaku dan juga penis Mbah Tanto yang masih tertanam di dalam anusku masih berada pada ukuran maksimalnya, tapi karena aku sudah lemas dan ngantuk sekali aku tidak memikirkan itu, dan aku menutup mataku agar badanku bisa segar dan bisa melayani mereka lagi esok hari.
----------------------
Namaku adalah Bunga Putri Laura, umurku baru saja menginjak 19 tahun, aku memiliki wajah yang dibilang cukup lumayan karena banyak cowok yang melirikku dari yang wajahnya tampan sampai yang wajahnya biasa-biasa saja. Aku sering merawat tubuhku mulai dari menyabuninya dengan sabun khusus, selalu ke spa, fitness, luluran, dan lain-lain sehingga sekarang aku bisa menuai hasil dari kerja kerasku untuk merawat tubuh, kini aku mempunyai kulit yang putih halus, payudara berukuran 34C, dan pantatku yang kencang dan kenyal. Aku memiliki hobi yang aneh sejak kecil, aku suka sekali jika bagian tubuhku terbuka sedikit sehingga para laki-laki melihatku dengan pandangan buas, entah darimana hobiku itu berasal, yang hobiku itu muncul ketika tubuhku sudah mulai berkembang yaitu ketika aku duduk di kelas 2 SMP.Di kampusku juga aku selalu menjadi pusat perhatian, sebetulnya aku tidak menjadi pusat perhatian di kampusku saja, tapi setiap tempat yang kudatangi, para pria langsung melirikku. Aku mempunyai adik perempuan yang bernama Rini. Dia masih duduk di kelas 2 SMP, dia selalu mengikuti gayaku, yah bisa dibilang dia mengidolakanku, maklum namanya juga anak SMP. Suatu hari, Rini sudah selesai ulangan dan hari Sabtu besok dia bagi rapor tengah semester (sistem pendidikan yang sekarang), tapi Sabtu besok kedua orangtuaku ada urusan bisnis jadi terpaksa aku yang disuruh mengambil rapor adikku.
“ah,, yah,, males ah,, aku kan mau jalan-jalan besok”.
“ntar papa kasih duit deh”.
“nah,, kalau itu baru ada pertimbangan, tapi berapa yah?”.
“seceng,,”, kata ayahku sambil tersenyum.
“yee,, kalo gitu gak jadi”.
“cuma be’canda,, ntar papa kasih 200 ribu,, kamu mau gak?”.
“ok,, thank’s yah”.
Hari Jum’atnya ayah dan ibuku sudah berangkat ke Bandung untuk urusan bisnis, di rumah tinggal aku dan adikku.
“kak Bunga, besok kakak jadi kan ke sekolahku?”.
“iya,,iya,, bawel,, kenapa sih,, kayaknya kamu seneng banget?”.
“aku seneng soalnya aku bisa nunjukkin ke temen-temen kalau kakakku cantik banget”.
“muji apa ngeledek nih?”.
“ya muji lah,, kakak kan emang cantik”.
“yaudah sekarang kamu mau makan apa?”.
“mau makan pizza!!!”.
“yaudah,, kakak pesen dulu ya”. Lalu aku menelepon salah satu perusahaan pizza yang terkenal.
“halo,,”.
“selamat sore,, bisa saya bantu?”.
“saya mau pesan pizza”.
“oh, maaf Anda salah sambung,, kami tidak menjual pizza,, kami toko bangunan”.
“oh maaf,,”, betapa malunya aku, salah sambung rupanya.
Setelah kupikir-pikir daripada makan di rumah, mendingan makan di luar sekalian, lagipula masih sore ini.
“Rin,, makan di luar yuk”.
“ayuk, aku juga bosen di rumah”. Aku dan adikku pergi ke kamar masing-masing untuk berganti baju, aku memakai kaos tanpa lengan yang sangat ketat menempel di tubuhku berwarna putih dan untuk bawahannya aku memakai celana jeans berwarna biru. Aku keluar dari kamarku bersamaan dengan adikku yang memakai kaos berlengan dan rok selututnya, yah tipikal pakaian untuk anak seumuran dia.
“yuk kak”.
“yuk”. Kami menuju garasi, untungnya aku dibelikan mobil ketika aku berulang tahun yang ke 19, bulan kemarin.
Kami masuk ke dalam mobil dan aku langsung menghidupkan mobilku dan langsung menjalankannya keluar dari garasi. Setelah sudah di tengah perjalanan kami mengobrol.
“kak Bunga, cantik banget sih”.
“dari tadi bilang cantik mulu,, jangan-jangan kamu suka ama cewek ya,,ihhh”.
“yee,, enak aja,, aku cuma kagum aja ama kakak,, gak pake make-up kakak tetep cantik”.
“makasih,, tapi kamu juga cantik kok,, buktinya kamu selalu dikejar-kejar cowok di sekolah kamu kan”.
“hehe,,,”. Akhirnya kami sampai juga di sebuah restoran pizza, kami turun dari mobil setelah aku memakirkan mobilku dengan lancar.
Kami masuk ke dalam restoran. Lalu aku mendekati kasir sementara Rini memilih tempat duduk yang didekat jendela. Setelah aku memesan, aku mendekati adikku yang sedang melihat ke arah jalanan.
“heh,, bengong aja,, kesambet setan, baru tau rasa deh”. Kami mengobrol, dan tak lama kemudian pizza yang kami pesan datang juga, kami langsung menyantap pizza yang tersaji di meja kami. Setelah selesai, kami langsung mencuci tangan dan setelah beres-beres, kami keluar dari restoran itu.
“terima kasih,,”, sapa pelayan yang menunggu di pintu. Kami langsung naik ke mobil.
“Rin,, gimana kalau kita jalan-jalan dulu”.
“asik,,yuk ke kak,, kita ke mall,, aku juga pengen beli baju baru nih”.
“bentar dulu, mau beli baju, pake duit siapa nih?”.
“ya duit kakak dong,, masa pake duitku”.
“huu,, untung adek,, kalau gak,, udah kakak jitak”. Kebetulan aku sedang punya banyak duit, dan aku juga sedang bosan di rumah jadi aku pustuskan untuk menyetujui permintaan adikku, dan kami pun pergi ke mall yang tidak jauh dari restoran tadi.
Kami menghabiskan sore hingga jam 9 malam di mall itu, biasalah kegiatan cewek, beli baju, anting, kalung, boneka, dan lain-lain. Kami pulang karena kulihat Rini sudah sangat kecape’an. Sedangkan mataku masih terbuka lebar karena sudah terbiasa cape’. Setelah sampai di rumah, aku memakirkan mobilku lalu aku menuntun adikku ke kamarnya, setelah Rini sudah sampai di kamarnya, dia langsung berbaring di ranjangnya. Aku lepaskan sepatunya dan aku tinggalkan dia istirahat. Sementara Rini sudah tertidur lelap, aku masih segar bugar, maklum aku baru merasa ngantuk setelah jam 12 malam.
Kulihat jam menunjukkan baru jam 09.30 malam, aku memutuskan untuk menyalakan tv. Ternyata tak ada acara yang bagus, makanya aku langsung mematikan tv.
“akh,, acara gak ada yang bagus,, oh iya,, mendingan gue jalan-jalan aje,,”, kataku berbicara sendiri.
“apa mendingan gue jalan-jalan di sekitar komplek aje yee”, tambahku sendiri. Akhirnya aku memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar kompleks saja. Aku pergi ke kamarku untuk mengganti bajuku dengan yang lebih santai yaitu tank top berwarna ungu dan celana pendek, dan karena kupikir sudah malam jadi aku memutuskan untuk tidak memakai bh sehingga putingku tercetak di tank topku. Aku keluar dari kamarku dan menuju keluar, kemudian aku mengunci pintu depan dan gerbang, lalu aku mulai berjalan mengelilingi kompleks di sekitar rumahku yang memang cukup elit.
Agak jauh juga aku berjalan-jalan di sekitar kompleks rumahku. Aku sampai di area dekat pos ronda, tapi aku lumayan jauh dari pos ronda itu. Kulihat ada 4 bapak-bapak di dalam pos ronda tersebut. Penyakitku mulai kambuh, terlintas di pikiranku untuk menggoda 4 bapak-bapak itu, lagipula aku sudah lama tidak bersetubuh semenjak aku putus dengan pacarku 3 minggu yang lalu. Aku berjalan mendekati pos ronda yang bisa disebut rumah ronda karena pos rondanya lumayan besar hampir seukuran rumah, namanya juga kompleks elit, jadi pasti pos rondanya juga elit.
Aku mulai berjalan mendekati pos ronda itu, dimana bapak-bapak itu sedang menonton tv yang cukup besar.
“tok,,tok,,tok”, aku mengetuk pintu yang terbuka lebar.
“permisi,,bapak-bapak”, kataku sambil berdiri di depan pintu.
“eh,, neng Bunga, mari silakan masuk”, jawab satpam yang posisi duduknya paling dekat dengan pintu. Akhirnya aku tau siapa saja yang sedang berada di pos ronda tersebut. Bapak yang paling ujung bernama pak Wawan, orangnya botak & gendut tapi terkenal dengan keramahannya. Sebelahnya bernama pak Maman, berkulit hitam dengan rambut berwarna putih. Lalu ada pak Jono, berkulit hitam dan berbadan kurus dibandingkan dengan lainnya. Dan yang terakhir, si satpam tadi bernama Bara, kumisnya yang tebal menambah kegarangan wajahnya, tapi entah kenapa dia sangat baik kepadaku, bahkan dia kadang-kadang be’canda hal-hal yang porno kepadaku, dan karena aku menyukai hal-hal seperti itu, aku menanggapinya.
“neng Bunga, ngapain malem-malem keluar rumah”, sapa pak Wawan.
“bosen di rumah pak”.
“emangnya gak takut diperkosa malem-malem gini, neng?”, tanya pak Bara.
“ah, kan ada bapak-bapak ini, jadi Bunga bisa tenang”, balasku dengan kedua tanganku kutaruh di belakang sehingga dadaku semakin membusung ke depan agar mereka semakin bernafsu.
Kelihatannya aku berhasil mengundang nafsu mereka, karena kulihat ke 4 bapak itu memandangi buah dadaku yang membusung itu.
“hayo, pada liatin apa? sampe gak kedip gitu”, kataku menggoda sambil pura-pura menutupi payudaraku. Mereka langsung salah tingkah dan pura-pura menonton tv lagi.
“oh ya, bapak-bapak, Bunga boleh ikutan nonton gak?”.
“emang neng Bunga suka bola ya?”, tanya pak Maman.
“suka nonton sih, tapi gak t’gila-gila banget”.
“yaudah, yok bareng-bareng nonton ama kita”, balas pak Wawan. Lalu aku mengambil bangku kosong dan duduk tepat di tengah-tengah mereka. Aku menonton bola bersama mereka sambil makan kacang tanpa memikirkan mitos kalau kacang dapat menumbuhkan jerawat, dan juga sambil minum sirup yang dibuatkan pak Bara. Selama menyaksikan bola, tak henti-hentinya mereka mencuri-curi pandang ke pahaku yang putih mulus, dan juga ke ‘bola’ kembarku yang menggantung dengan kencang & indah. Kupikir ini saatnya untuk ‘final step’, aku pura-pura mengantuk lalu akhirnya, aku menutup mataku agar 4 bapak itu merasa lebih leluasa untuk menggerayangiku kalau aku pura-pura tidur. Benar saja, tidak lama kemudian pak Wawan menuju ke belakangku setelah mereka yakin kalau aku tertidur.
Aku merasakan tanganku diangkat ke atas, lalu pak Wawan memegangi pergelangan tanganku. Aku tidak tau siapa, tapi ada 2 buah tangan yang menyusup ke dalam kaosku dan meremas-remas kedua buah payudaraku serta memainkan kedua putingku. Sementara itu ada yang menarik celana pendekku dan juga celana dalamku. Lalu aku merasakan benda tumpul, dan basah yang kuduga itu adalah sebuah lidah. Aku pura-pura terbangun dan membuka mataku.
“aahh,, pak, jangan!!”, seruku agar tidak terlihat seperti aku yang menginginkannya.
“jangg,,,mmmfff!!!”, kataku terputus karena tiba-tiba mulutku dibekap oleh pak Wawan yang ada di belakangku. Rupanya Maman & Jono yang memainkan kedua buah payudaraku, sedangkan pak Bara yang sedang ‘membersihkan’ vaginaku.
“pantes aje,, ada rasa geli-gelinye”, pikirku dalam hati karena kumis pak Bara terus menggesek-gesek klitorisku sehingga menimbulkan sensasi yang luar biasa.
Akhirnya aku benar-benar larut dalam kenikmatan yang sedang melanda diriku. Pak Maman dan Jono mulai membuka kaosku sehingga kini payudaraku yang putih mulus, kencang dan kenyal dapat terlihat jelas oleh 4 bapak-bapak itu.
“waah,, toket neng Bunga montok banget, masih kenceng banget lagi”, komentar pak Maman yang tepat berada di depan payudara kananku.
“iya nih,, udah cantik,, toketnya sekel banget,, udah gitu putih banget kayak susu”, tambah si Jono. Karena yakin sudah menguasaiku, Wawan melepaskan bekapannya sehingga aku bisa berbicara lagi.
“yaudah, kalau gitu jilatin aja”.
“hah,, neng Bunga gak marah kalau kita perkosa?”, tanya Wawan keheranan mendengar perkataanku.
“nggak kok, tadi aku cuma kaget aja”.
“wah, Man, yang punya udah ngijinin,,”, kata Jono ke Maman.
“ok,, kalo gitu neng Bunga,, bang Maman ‘n bang Jono jilatin toket neng dulu ya”.
“yaudah silakan”. Mereka tak menyia-nyiakan kesempatan, Maman langsung mengenyot payudara kananku, sedangkan Jono mengenyot payudara kiriku. Pak Bara sama sekali tak mengindahkan pembicaraan kami bertiga, dia terus menerus menyapu sekitar vaginaku dan rongga dalam vaginaku serta menggesek-gesekkan kumisnya ke klitorisku.
Pak Maman, Jono, dan Bara sudah mendapat jatah mereka masing-masing, pak Wawan juga tidak mau ketinggalan, kepalaku ditarik ke belakang dengan perlahan sehingga kepalaku agak mendongak ke atas. Pak Wawan langsung mencumbu serta melumat bibirku, lalu dia menyelipkan lidahnya masuk ke dalam mulutku, yang bisa kulakukan hanyalah membuka mulutku dan membiarkan pak Wawan memainkan lidahnya di dalam mulutku. Kini, tubuhku sudah menjadi boneka bagi mereka, karena mereka bisa berbuat sesuka mereka terhadap tubuhku. Mereka menikmati jatah mereka dengan maksimal, pak Maman & pak Jono terus menjilati kedua buah payudaraku serta menggiti kedua putingku. Pak Wawan terus menerus memainkan lidahnya, dan aku membalasnya dengan memainkan lidahku juga sehingga lidah kami saling membelit, dan aku yakin kalau ludah kami sudah saling bercampur karena kami berciuman lama sekali.
Pak Bara lebih membenamkan kepalanya di antara kedua pahaku, dan karena agak geli akupun merapatkan kedua pahaku sehingga kepala Pak Bara terhimpit oleh kedua paha putihku. Menerima 4 serangan birahi dari 4 pria yang berbeda di daerah sensitifku, aku jadi tidak kuat menahan lama-lama sehingga dalam waktu 7 menit saja, tubuhku sudah seperti tersengat arus listrik yang menandakan kalau sebentar lagi aku akan orgasme. Benar, tak lama kemudian aku orgasme, tapi tiba-tiba pak Bara mengambil sebuah gelas dan menaruhnya tepat di depan lubang vaginaku.
“syuurrr,,,”, cairanku menyemprot keluar dari vaginaku dan langsung menuju gelas. Karena pak Maman & pak Jono terus menjilati payudaraku, cairanku jadi mengalir bagai sungai hingga gelas itu penuh dengan cairanku. Setelah cairanku sudah habis, ke 3 bapak yang masih menggerayangiku menghentikan aktivitas mereka dan langsung mendekati pak Bara yang memegang gelas penuh dengan cairanku. Mereka bergantian meminum cairanku yang ada di gelas, hingga mereka berempat kebagian semua.
“wuih neng Bunga,, cairan neng,, manis ‘n gurih banget”, komentar pak Bara.
“ahh,, nambah ahhh”, tambah pak Bara. Lalu dia menunduk lagi dan menjilati sisa-sisa cairan vaginaku yang masih ada di sekitar bibir vaginaku.
“akh,, curang lo!!”, komentar pak Wawan.
“hehehe,,,”, balas pak Bara dengan tawa.
“udah,,udah,, gak usah berantem bapak-bapak,, mau nyobain punya Bunga gak?”, tanyaku sambil menunjuk vaginaku.
“oh ya,, mau dong Neng”, jawab pak Jono. Lalu mereka langsung buka baju dengan terburu-buru, mungkin karena mereka sudah tak sabar ingin merasakan kehangatan tubuhku yang sudah kupasrahkan untuk mereka berempat. Akhirnya mereka semua sudah telanjang bulat di hadapanku, 4 orang bapak-bapak telanjang dengan penis yang sudah mengacung tegak dan keras di hadapan seorang gadis muda & cantik yang sepantasnya jadi anak mereka.
“wah, gede-gede,,”, kataku sambil manja untuk lebih menggoda.
“neng Bunga,, kita ke sofa aja yuk, biar lebih enak”, ajak pak Maman.
“bapak-bapak,, siapa yang mau duluan nyobain punya Bunga?”, tanyaku.
“bapak aja neng”, teriak pak Jono.
“bapak dong neng Bunga”, teriak pak Wawan tak mau kalah. Mereka saling berebutan ingin menjadi yang pertama kali mencobloskan penis mereka masing-masing ke dalam vaginaku yang masih merah merekah dan masih sangat sempit.
“udah,, udah,, jangan berantem mulu dong,, tar Bunga gak jadi kasih nih”.
“jangan marah dong neng Bunga,, iya deh kami gak bakal ribut lagi,,”, jawab Pak Wawan.
“yaudah,, kalo gitu,, biar Bunga aja yang milih”.
“boleh juga idenya neng Bunga”, kata pak Jono. Aku melihat ke arah selangkangan mereka dan aku menemukan kalau penis pak Bara-lah yang paling besar di antara yang lain, maka dari itu aku memilih pak Bara untuk mengisi liang vaginaku, lalu aku memilih pak Wawan untuk ditanamkan di dalam anusku karena penisnya yang gemuk seperti badannya. Pak Bara langsung duduk di sofa, aku mendekat ke arahnya dan menaiki sofa, kemudian aku membimbing penis pak Bara ke dalam vaginaku dengan susah payah karena lubang vaginaku masih sempit.
Kini penis pak Bara sudah amblas ditelan vaginaku, untungnya tidak terlalu perih sehingga aku bisa menikmatinya. Beberapa detik kemudian, pak Wawan mendorong tubuhku sehingga tubuhku tertekan ke depan dan payudaraku menempel di wajah pak Bara yang tentu saja langsung menjilati payudaraku dan menggesek-gesekkan kumisnya ke putingku membuat birahiku semakin meledak.Pak Wawan memaksakan penis gemuknya masuk ke dalam lubang anusku, aku hanya bisa menggigit bibir bawahku saja untuk menahan rasa pedih, karena dibalik rasa pedih itu mulai muncul rasa nikmat yang tiada tara. Tapi, untungnya pak Wawan dan pak Bara membiarkanku agar terbiasa dengan penis mereka, tapi tetap saja lidah pak Bara tak henti-hentinya bermain di kedua buah payudaraku.
“mmmhhhh,,,,”, desahku pelan menerima jilatan demi jilatan pak Bara. Akhirnya setelah beberapa detik, pak Bara dan pak Wawan mulai menggerakkan penisnya keluar masuk vagina dan anusku hampir secara bersamaan. Ritmenya pun hampir sama, sudah 3 minggu aku tidak pernah dimasuki 2 penis sekaligus sejak putus dari pacarku karena ketika aku masih berpacaran dengan mantanku, dia selalu mengundang teman-temannya untuk menikmati tubuhku, tapi aku tidak menolaknya karena aku juga ketagihan dengan yang namanya dikeroyok seperti ini.
“oohhh,,,aaahhhh,,,yeeaaahhh,,,terrussss”, erangku menerima 2 sodokan di vagina dan anusku secara bersamaan. Tiba-tiba pak Joni dan Maman mendekat dan berjalan ke depanku lalu mereka menyodorkan penis mereka masing-masing ke arahku.
Karena tubuhku terdorong ke depan, sudah pasti wajahku berada agak ke depan sehingga aku bisa menggenggam satu penis dan mengulum penis yang satunya lagi.
“aaahhh,,,oohhh,,, terruusss neng”, desah pak Maman ketika aku mengemut kepala penisnya serta menyentil-nyentilkan lidahku ke lubang kencingnya. Sementara aku melayani batang kejantanan pak Maman dengan mulutku, aku mengocok penis pak Jono dengan tangan kananku secara perlahan sehingga tanganku yang halus mengelus-elus penis pak Jono.
“ooohh,,aaahhh,,,ooohhhh,,,teruusss,,entotin Bunga seepppuuaasssnnyyyaaa”, desahku karena tidak kuat merasakan sensasi luar biasa yang ditimbulkan dari pompaan 2 penis di vagina dan anusku. Menerima serangan dari dua arah, aku pun cepat mencapai orgasme hanya dalam waktu 14 menit, aliran cairan vaginaku tertahan oleh penis pak Bara yang sedang keluar masuk vaginaku sehingga berbunyi kecipak air setiap kali, pak Bara memompa penisnya masuk ke dalam vaginaku. Untungnya, aku masih kuat biarpun sudah mengalami 2 kali orgasme. Sementara itu, pak Maman dan pak Jono menarik penis mereka jauh-jauh dari mulutku karena mereka tidak ingin keluar cepat-cepat.
Karena tidak ada lagi penis yang harus kukulum, aku jadi bisa mendesah sepuas hati.
“mmhhhh,,,aahhhhh,,,,!!!”. Akhirnya 6 menit setelah aku mencapai orgasmeku yang kedua tadi, aku merasakan penis pak Wawan yang sedang mengisi anusku berdenyut-denyut menandakan kalau pak Wawan akan orgasme. Pak Wawan mempercepat sodokan penisnya terhadap anusku yang membuatku ngos-ngosan karena penis gemuknya itu keluar masuk dengan cepat dan kuat, padahal lubang anusku sangat sempit, tapi akhirnya aku menemukan rasa nikmat dibalik rasa ngilu itu. Seolah tak mau kalah, pak Bara pun mempercepat genjotannya terhadap vaginaku sehingga sekarang aku hanya bisa menutup mata sambil merasakan sensasi nikmat. Sementara pak Bara sedang asik menikmati hangat dan sempitnya vaginaku, dan pak Wawan juga sedang menikmati himpitan lubang anusku terhadap penisnya, aku melihat pak Jono dan pak Maman sedang berdiri di hadapanku sambil mengocok penis mereka sendiri, sepertinya mereka sudah tidak sabar ingin mencicipi tubuhku juga.
“aahhhh,,,nenggg,,Bunngaaa,,,bapaaakkk,,,kkkellluu aarrrr,,,,!!!”, teriak pak Bara. Dan tak lama kemudian, pak Bara sudah menyemburkan larva putihnya yang hangat ke dalam rahimku, lalu nafas pak Bara tersengal-sengal sehingga dia memutuskan untuk ‘merawat’ payudaraku dengan mulutnya sambil menunggu penisnya memuntahkan semua isinya ke dalam vaginaku. Tak lama kemudian, pak Wawan menghujamkan penisnya dalam-dalam ke anusku, dan terasa lah rasa hangat dari sperma yang keluar dari penis pak Wawan.
“hhhh,,,neng Bunga,,,hhheebbaattt”, komentar pak Wawan yang sedang beristirahat juga sekaligus menunggu penisnya menyemburkan sperma ke dalam anusku hingga tetes terakhir. Setelah 2 menit beristirahat, aku bisa mengatur nafasku dan tenagaku untuk menghadapi ronde ke dua yaitu dengan pak Maman dan pak Jono.
Pak Wawan mencabut penisnya dari anusku, begitu juga pak Bara, dia membiarkan aku berdiri. Ternyata mereka ada maunya, aku disuruh bersimpuh di hadapan mereka dan bertumpu dengan kedua lututku. Aku mengerti maksud mereka, maka dari itu aku langsung mengambil dua penis yang ada di hadapanku yang berlumuran sperma dan cairan vaginaku. Aku memutuskan untuk membersihkan penis pak Bara terlebih dahulu. Setelah penis pak Bara sudah selesai kubersihkan, aku langsung membersihkan penis pak Wawan hingga kinclong.
Rupanya, pak Jono dan Pak Maman menyiapkan kasur dan bantal untuk menjadi tempat pergumulan kami nanti.
“pak Bara, pak Wawan, Bunga udah bersihin ampe kinclong nih, Bunga main ama pak Jono ‘n pak Maman dulu ya,,”, kataku.
“makasih ya neng Bunga, yaudah bapak juga mau istirahat dulu”, jawab pak Wawan. Kulihat pak Maman sudah tidur terlentang di kasur kapuk tersebut, dan pak Jono berdiri di dekatnya. Aku pun langsung mendekati mereka yang sudah setia menantiku.
“ayo neng Bunga, sini”, ajak pak Maman licik. Aku pun langsung berdiri di atas tubuh pak Maman yang sudah kelihatan bernafsu sekali melihat kemolekan tubuhku yang semakin terlihat seksi karena aku berkeringat sehabis disetubuhi oleh pak Wawan dan Pak Bara. Aku menurunkan tubuhku sambil membimbing penis pak Maman yang sudah tak sabar ingin masuk ke dalam vaginaku.
Karena vaginaku sudah banjir dari cairanku sendiri dan juga sperma pak Bara, penis pak Maman jadi dengan mudah masuk melesat ke dalam vaginaku. Setelah penis pak Maman sudah hilang ditelan oleh vaginaku, aku langsung merundukkan tubuhku agar pak Jono yang sudah menunggu di belakangku bisa melihat letak lubang anusku dengan jelas. Tentu saja payudaraku yang tertekan ke wajah pak Maman yang tiduran di bawah tubuhku langsung dimainkan oleh pak Maman dengan mulut dan lidahnya.
“mmmm,,,”, desahku pelan menikmati sapuan lidah pak Maman. Sementara itu, pak Jono mulai menyiapkan dan menaruh penisnya di depan lubang anusku yang sudah belepotan sperma dari pak Wawan. Penis pak Jono secara perlahan tapi pasti, mulai masuk ke dalam anusku senti demi senti yang kurasakan dengan penuh penghayatan sampai-sampai dengan tidak sadar, aku menutup mataku. Akhirnya, kini aku sudah diisi oleh 2 penis sekaligus untuk yang kedua kalinya. Lalu mereka mulai menggerakkan penis mereka keluar masuk tubuhku, karena vagina dan anusku sudah dilumasi sperma, jadinya penis pak Maman dan pak Jono dengan mudah keluar masuk vagina dan anusku.
“aahhh,,oouuummhh,,mmmhhh,,,hhhhh”, desahku karena tidak bisa menahan kenikmatan yang sedang menyerangku. Pak Jono menghentakkan penisnya masuk ke dalam lubang anusku dengan cepat dan kuat hingga mulai dari kepala penisnya sampai pangkal penisnya tertanam di dalam lubang anusku, lalu dia mengeluarkan penisnya secara perlahan sehingga menimbulkan sensasi tersendiri. Sementara itu, pak Maman menggerakkan penisnya ke dalam vaginaku dengan sangat perlahan dan mencabutnya dengan cepat. Variasi gerakan yang berbeda dari 2 penis yang sedang keluar masuk vagina dan anusku mengantarkanku ke gerbang pintu orgasmeku yang ketiga. Kejutan listrik alias gelombang orgasme mengalir lagi di sekujur tubuhku untuk ketiga kalinya. Beberapa menit ke depan, yang terdengar hanya suara pompaan penis, suara nafas pak Maman dan pak Jono yang saling memburu, dan desahanku. Sementara itu, kulihat pak Wawan dan pak Bara sudah duduk memakai celana panjang mereka sambil menghisap rokok dan meminum kopi dengan tontonan mereka yaitu aku yang sedang diapit 2 lelaki berkulit hitam alias pak Maman dan pak Jono.
5 menit kemudian, akhirnya pak Maman, dan pak Jono serta aku sendiri saling berlomba menuju orgasme, dan yang paling pertama mencapai orgasme adalah pak Jono, dia menyemprotkan spermanya ke dalam anusku sampai meleleh keluar dari anusku dan mengalir menuju lubang vaginaku, setelah itu pak Jono beristirahat dengan penisnya masih berada di dalam anusku. 2 menit kemudian, aku sudah tidak tahan lagi sehingga aku melepaskan orgasmeku yang keempat bersamaan dengan pak Maman yang menyemburkan spermanya ke dalam vaginaku. Kini daerah sekitar vagina dan anusku sudah banjir sperma sampai terbentuk aliran seperti aliran sungai yang menghubungkan lubang anusku dan lubang vaginaku.
“hh,,,hhhh,,hh”, nafasku tersengal-sengal, begitu juga dengan pak Maman dan pak Jono yang sudah menuntaskan nafsu setan mereka kepadaku. Sambil mengatur nafas, pak Jono menciumi tengkuk leherku dengan lembut, dan pak Maman ingin melumat bibirku tapi aku menolaknya karena aku mau mengatur nafasku dulu sehingga dia jadi menjilati leherku yang jenjang.
Setelah nafas kami bertiga sudah normal kembali, pak Jono mencabut penisnya yang sudah lemas dari anusku, kemudian dia berdiri dan berjalan untuk mengambil bajunya. Sedangkan aku berdiri dan mengambil pakaianku yang berserakan di depan tv yang sudah tidak menayangkan acara bola lagi.
“udah ya bapak-bapak, Bunga pulang ya”.
“jangan dong neng Bunga”.
“kenapa? Emang bapak-bapak mau nambah?”.
“iya,,”, jawab mereka serempak.
“tapi kan anu bapak-bapak udah pada lemes kayak gitu,, lagian Bunga udah capek banget nih”.
“kalo gitu doang mah gampang, di rumah bapak punya obat kuat, gimana neng Bunga?”.
“bapak-bapak doang yang minum obat kuat, Bunga gimana? Ntar Bunga lemes dong?”.
“bapak juga punya obat kuat buat cewek, gimana neng Bunga?”.
“gimana ya?”.
“ayo dong, neng Bunga, bapak mohon, mau ya”, pinta pak Wawan pura-pura memelas.
“iya neng Bunga, temenin kita dong”, ujar pak Jono.
“iya, kan dingin kalau kita cuma berempat,, kalau ada neng Bunga kan, bisa menghangatkan diri”, tambah pak Maman.
“huu, dasar,, yaudah deh, boleh, asal bapak-bapak mau menuhin syarat dari Bunga”.
“apaan tuh neng Bunga?”, tanya pak Bara penasaran.
“bapak-bapak jangan bilang-bilang ama orang lain ya, biar jadi rahasia kita berlima aja, gimana?”.
“yah, itu mah gak usah disuruh neng, masa’ kami bilang-bilang”, jawab pak Wawan.
“yaudah, kalo gitu, pak Bara ambil obatnya”.
“ok neng, bapak ambil obatnya dulu ya”. Pak Bara pun langsung bergegas memakai pakaiannya yang belum dipakai, lalu secepat kilat dia menuju motornya dan memacunya kencang. Sementara aku masih telanjang bulat dan berada di dalam pos bersama pak Wawan, pak Maman, dan pak Jono yang sudah mulai terangsang lagi melihat tubuhku yang putih dan montok belepotan sperma.
“eiit,, jangan,,biar adil, kita mulainya tunggu pak Bara dulu ya”.
“yah neng, kami udah gak tahan pengen ngentotin neng Bunga lagi”, kata pak Jono dengan agak kecewa.
“yaudah, disini ada kamar mandi gak?”.
“ada tuh neng, di belakang”, jawab pak Wawan.
“yaudah, Bunga mandi dulu ya, ntar kalau udahan, Bunga panggil atu-atu ya”.
“wah, jadi kita satu per satu ngentotin neng Bunga di kamar mandi?”, tanya pak Maman.
“yee,,enak aja,, bapak-bapak cuma jilatin punya Bunga doang, tadi kan pak Bara doang”.
“yaudah,, gitu juga asik tuh”.
“tapi awas ya, kalau ada yang coba-coba mulai ronde, Bunga gak kasih jatah ntar”, ancamku.
“siip,,neng Bunga”. Lalu aku masuk dan mulai mengguyur dan membersihkan seluruh bagian tubuhku yang sudah belepotan dengan keringat, air liur juga sperma. Lalu aku mulai memanggil mereka satu per satu dan membiarkan vaginaku menjadi bulan-bulanan lidah mereka, bahkan ketika masing-masing mereka bertiga sudah mendapatkan jatah untuk mencicipi rasa cairan vaginaku, mereka bertiga masuk kembali dan menjilati seluruh tubuhku sehingga tubuhku berlumuran air liur mereka lagi.
“aduh,, bapak-bapak bandel banget sih,, badan Bunga kan jadi kotor lagi”.
“maap deh neng Bunga”.
Lalu aku mendengar suara motor dari arah luar.
“tuh, pak Bara udah pulang, udah sana bapak-bapak keluar dulu, Bunga mau mandi lagi, biar fresh lagi”. Pak Wawan, pak Maman, dan pak Jono keluar dari kamar mandi sehingga aku bisa melanjutkan membersihkan tubuhku lagi. Setelah kurasa tubuhku sudah bersih dan fresh lagi, aku keluar dari kamar mandi.
“wah, neng Bunga udah seger lagi”, komentar pak Bara.
“iya dong, buat bapak-bapak, Bunga harus segar selalu”.
“yaudah, ni neng Bunga, obatnya diminum”. Lalu aku meminum obat yang disodorkan pak Bara, tubuhku menjadi ringan sekali setelah meminum obat itu.
“yaudah, neng Bunga mulai yuk”.
“yuk,, silakan bapak-bapak entot Bunga sepuasnya”. Lalu dimulailah ronde demi ronde pelampiasan nafsu bejat 4 orang pria tua terhadap seorang gadis cantik dan masih muda belia yaitu aku. Aku disetubuhi oleh 4 bapak-bapak itu di semua sudut pos ronda, juga mereka menikmati tubuhku dengan berbagai posisi.
Karena mereka sangat ketagihan dengan himpitan vagina dan anusku, mereka mencoba ide gila mereka yaitu aku dibawa berkeliling kompleks tanpa menggunakan sehelai benang pun, untungnya kompleksku jika sudah lebih dari jam 2 malam lewat, benar-benar sepi. Tapi, tetap saja aku merasa sangat kedinginan. Selama perjalanan, mereka berempat menanamkan penis mereka ke dalam vaginaku secara bergantian sampai satu per satu dari mereka menyemburkan benihnya ke dalam vaginaku. Kami berlima mengelilingi kompleks sebanyak 3 kali, selama perjalanan itulah, vaginaku terus menerus disodok penis dan juga disemprot sperma oleh mereka berempat. Selain itu, aku tidak bisa menghitung lagi sudah berapa kali aku mengalami orgasme. Setelah kami sudah lelah, kami pun kembali ke pos ronda. Sambil beristirahat, kami mengobrol.
“neng Bunga, dari tadi dikeluarin di dalem, apa neng gak takut hamil?”, tanya pak Bara yang paling sering menyemprotkan spermanya ke dalam vaginaku.
“emang, bapak-bapak pada gak mau tanggung jawab kalau Bunga hamil?”.
Muka mereka terlihat pucat dan khawatir mendengar pertanyaanku itu.
“hahaha,, tenang aja bapak-bapak,, Bunga udah minum obat pencegah hamil kok”. Aku melihat sudah jam 4.30 pagi.
“bapak-bapak, Bunga pulang dulu ya, mau tidur nih”.
“tapi, neng Bunga mau gak nemenin kami lagi?”, tanya pak Maman.
“boleh aja asal yang ngeronda bapak-bapak berempat”.
“itu mah, bisa diatur”, jawab pak Wawan yang mengatur jadwal ronda.
“iyah, tapi jangan setiap malam ya, ntar lama-lama Bunga bisa hamil”.
“gimana kalau seminggu 3 kali?”, tanya pak Jono.
“yaudah, hari Senin, Rabu, ama Sabtu malem aja ya”.
“sip neng”.
“yaudah Bunga pulang dulu ya”. Aku memakai pakaianku lagi.
“dah,,”.
“dah neng Bunga”. Aku langsung pulang ke rumah, begitu sampai di rumah, aku masuk ke dalam dan mengunci gerbang serta pintu rumah. Akhirnya aku bisa merebahkan tubuhku yang habis dinikmati oleh 4 pria tua, untungnya aku langsung tertidur karena besok aku harus ke sekolah adikku untuk mengambil rapor.
-------------------------------
1 tahun sudah berlalu setelah aku berlibur di desa sambil membiarkan Mang Karyo dan Mbah Tanto mendepositkan benihnya ke dalam rahimku. Aku beraktifitas seperti biasa, pergi kuliah, jalan-jalan, shopping, dan kadang-kadang kalau aku libur lebih dari 2 hari, aku langsung pergi ke desaku untuk melepas rindu terhadap Mang Karyo dan Mbah Tanto, juga seperti yang telah aku janjikan setiap hari Senin, Rabu, dan Sabtu aku harus menemani pak Bara, pak Maman, pak Wawan, dan pak Jono ngeronda tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhku.
Kebetulan hari ini, aku sedang rajin kuliah, dan semua dosen mata kuliahku pun masuk semua hingga aku pulang agak sore dari biasanya. Aku langsung pulang ke rumah karena badanku sudah terasa pegal bukan kepalang. Setelah sampai di rumah, aku memakirkan mobilku ke garasi, lalu aku masuk ke dalam dan karena ibu sedang mengantar Rini les piano, aku mengunci pintu dan menuju kamar.
“akhirnya,,”, kataku setelah membanting tubuhku ke ranjangku yang terasa sangat nyaman.
Tanpa sadar, dalam 1 menit mataku sudah tertutup rapat dan aku sudah melanglang buana di alam mimpi. Akhirnya aku bangun setelah tidur dari jam 5 sore hingga jam setengah 11 malam. Aku melihat ke kamar Rini ternyata dia sudah tidur, lalu aku turun ke bawah sambil menggunakan pakaian bekas kuliah tadi karena aku belum ganti pakaian. Ternyata, ada seseorang yang sedang menonton tv.
“oh,,papah..kirain siapa..”.
“eh,,Bunga,,kamu belum tidur?”.
“udah pah,,dari sore,,sekarang jadinya udah seger lagi deh”.
“yaudah,,mending temenin papa nonton bola..”.
“ok,,”, lalu aku duduk disamping ayahku dan menonton bola sambil makan kacang. Ini sudah biasa bagiku, karena sewaktu aku lahir, ayah menginginkan anak laki-laki tapi yang keluar malah anak perempuan. Jadi, ayahku mendidik aku seperti anak laki-laki, alhasil sampai SMP aku menjadi anak yang tomboi, untungnya sejak SMA aku mulai sadar dan menghilangkan sifat tomboiku.
“Bunga,,papa mau nanya”.
“nanya apaan, Pah?”.
“kamu masih inget ulang tahun perusahaan papa,,2 bulan lalu..”.
“iya Pah,,kenapa?”.
“kamu inget gak pak Danu?”.
“o iya,,yang gendut itu kan?”.
“hush..itu rekan bisnis papa yang penting tuh..”.
“hehe,,iya,,maap deh Pah,,emang kenapa si Pah,,tiba-tiba nanyain pak Danu?”.
“waktu itu kan kamu dikenalin ama anaknya,,inget gak?”.
“oh iya,,iya,,nama anaknya Tomi kan?”.
“iya,,semenjak ketemu kamu,,si Tomi jadi tegila-gila ama kamu..”.
“ah,,yang bener, Pah?”.
“bener, malah,, waktu si Tomi tidur,,ngigaunya nama kamu,,”.
“buset,,ampe segitunya,,”.
“mendingan besok malem,,kamu nemuin dia,,”.
“yaudah,,Bunga sih mau-mau aja..”.
“ok,,tar papa ama pak Danu yang ngatur”. Lalu kami berdua melanjutkan nonton bola hingga selesai.
“hhoaahmm,,papa ngantuk nih..papa tidur duluan ya..”.
“yaudah,,inget,,mamah jangan diapa-apain,,hehe”.
“bisa aja kamu,,udah ah,,papah tidur dulu”. Lalu ayahku masuk ke kamarnya, sementara aku bingung mau ngapain.
“oh iye,,hari ini kan hari Sabtu,,berarti gue harus ngeronda dong..”, kataku sendiri.
“kalo gitu,,gue mandi dulu ah,,biar wangi,,”.
Setelah mandi, aku memakai baju yang lebih santai dan memakai wewangian. Lalu aku keluar dan berjalan malam-malam menuju pos ronda.
“misi,,”, kataku sambil mengetok pintu pos ronda.
“eh,neng Bunga udah dateng..masuk neng..”, kata pak Bara mempersilakanku masuk.
“hmm,,neng Bunga,,emang wangi mulu..”, komentar pak Jono.
“emang beda kalau cewek cantik..wanginya enak banget..”, tambah pak Wawan.
“aahh,,bapak-bapak bisa aja nih ngerayunya..bunga jadi malu..”.
“tapi emang bener kok neng..”, balas pak Maman.
“ah,,udah ah,,gimana nih, mau mulai sekarang?”.
“tar dulu deh neng..lagi seru nih bolanya..”, kata pak Bara sambil duduk dan mulai menonton lagi.
“yaudah, Bunga bikin kopi dulu deh buat bapak-bapak..”.
“makasih ya neng Bunga,,”.
“neng Bunga emang istri idaman deh..”, tambah pak Wawan sambil tertawa. Setelah aku selesai membuat kopi, aku menaruh nampan di meja yang ada di hadapan mereka dan aku pun ikut duduk di sofa untuk menonton bola.
“bukannya udah abis ya?”.
“kalau yang ini lain lagi neng..”.
“emang neng Bunga yang tadi nonton?”, tanya pak Jono.
“iya,,Bunga nonton ama papah..”.
“ooh,,”. Lalu kami serius menonton pertandingan yang sedang berlangsung, dan tak heran, pak Maman dan pak Wawan yang berada di samping kanan dan kiriku meremas-remas payudaraku jika pertandingan sedang tidak seru. Tak lama kemudian, pertandingan berakhir sehingga kini aku harus siap-siap melayani mereka berempat. Dengan serentak, mereka berempat langsung mengerubungiku. Pak Bara berada di belakangku, dia menarik kepalaku ke belakang sehingga lidahnya bisa bereksplorasi di wajahku dan tentu saja di dalam rongga mulutku. Pak Wawan dan pak Maman dengan kompak menyingkap kaosku ke atas dan langsung menyerbu payudaraku dengan mulut mereka. Sementara celana pendekku yang memang mudah dilepaskan sudah berada di bawah dan kini pak Jono sudah asyik menjilati vaginaku. Aku sudah terbiasa dikerubungi oleh mereka seperti ini. Mereka menyerang bagian-bagian sensitifku, apalagi pak Jono, dia menyapu vaginaku dari atas ke bawah, bawah ke atas dan seterusnya, tak jarang juga ia memasukkan lidahnya ke dalam vaginaku, karena itu aku mencapai orgasme dalam waktu yang singkat.
Pak Jono yang mendapat vaginaku berkomentar setelah menyeruput habis cairanku.
“si neng Bunga,,makin hari,,memeknya makin manis aja..”.
“mana,,mana,,gantian Jon,,gue juga pengen ngerasain”, sela pak Maman.
“yaudah tuh,,”. Mereka berganti posisi sehingga pak Jono kini mencupangi payudara kananku dan pak Maman mencicipi vaginaku. Terus menerus tubuhku dimainkan oleh mereka hingga air liur mereka berempat bercampur di vaginaku.
“udah puas jilatin memek Bunga belum?”, tanyaku.
“emang kalau belum, kenapa neng?”, tanya pak Bara yang merupakan orang terakhir yang menjilati vaginaku.
“ya gak apa-apa lanjutin aja”.
“gimane, mau lanjutin apa langsung?”, tanya pak Bara ke pak Wawan, Maman, dan pak Jono.
“langsung aja dah,,”, jawab pak Wawan.
“iye bener..”, tambah pak Maman.
“yaudah, kalau pada mau langsung..yuk..”, jawabku.
“sip neng Bunga, kontol kita-kita udah gak sabar pengen masuk ke kandangnya..”, balas pak Jono.
“emang kandangnya dimana tuu?”, balasku menggoda mereka.
“ya di memek neng Bunga lah..”, jawab pak Jono.
“haha..bisa aja nih bapak-bapak..”, jawabku sambil diiringi gelak tawa kami berlima. Setelah puas tertawa, aku tidur terlentang di tikar yang telah mereka sediakan, siap memberikan tubuhku untuk mereka. Pak Bara langsung tidur di bawahku dan memasukkan penisnya ke dalam anusku, lalu pak Jono menanamkan penisnya ke dalam vaginaku. Mereka mulai menggenjot penisnya dengan nafsu yang memburu.
“ayo teruss,,aahh,,mmhh,,ohh”, desahku menerima serangan 2 penis di 2 lubangku secara bersamaan. Ketika aku sedang asik menikmati penis pak Jono yang keluar masuk vaginaku dan penis pak Bara yang juga keluar masuk anusku, tiba-tiba pak Wawan menarik tangan kiriku dan pak Maman menarik tangan kananku, aku langsung mengerti maksud mereka. Mereka berdua mendekatkan tanganku ke penis mereka masing-masing, aku pun langsung mengocok penis mereka berdua dengan tanganku.
Aku terus mengocok penis pak Wawan dan pak Maman sementara vagina dan anusku terus dipompa oleh pak Jono dan pak Bara. 15 menit kemudian, pak Bara mempercepat penisnya yang keluar masuk anusku dan tak lama kemudian pak Bara menyemburkan spermanya yang hangat ke dalam anusku.
“ooh,,oohh neng Bunga !!”, teriak pak Bara sambil terus menyemprotkan spermanya ke dalam anusku hingga semburan terakhir. Tak lama kemudian, pak Jono pun menyusul mencapai klimaksnya dan menembakkan lahar putihnya yang kental ke dalam vaginaku. Sambil menunggu pak Jono dan pak Bara menanamkan benihnya ke dalam tubuhku, aku yang sedari tadi mengocok sambil menjilati batang penis pak Maman dan pak Wawan secara bergantian tetap melanjutkan aktivitasku hingga penis mereka berdua berlumuran air liurku. Setelah pak Jono dan pak Bara sudah berhenti menyemprotkan spermanya, mereka langsung mencabut penis mereka sehingga sperma mereka berdua meleleh keluar dari vagina dan anusku.
Dengan cepat, pak Wawan menggantikan posisi pak Bara dan pak Maman menggantikan posisi pak Jono. Dengan mudah, penis pak Maman menyusup ke dalam vaginaku karena vaginaku sudah dilumasi sperma pak Jono dan juga cairan vaginaku sendiri, selain itu batang penis pak Maman juga sudah berlumuran air liurku sehingga semakin mudah dan licin untuk keluar masuk vaginaku. Sementara pak Wawan juga mudah menanamkan penisnya karena anusku sudah dilumasi sperma pak Bara. Lalu mereka mulai memompa penis mereka dan aku pun hanya bisa mendesah keenakan menerima 2 penis yang keluar masuk vagina dan anusku dengan ritme genjotan yang hampir bersamaan. Sementara itu pak Bara dan pak Jono mendekatkan penis mereka yang berkemilauan karena sperma mereka sendiri ke wajahku. Aku meratakan sperma yang ada di penis pak Bara dengan tangan kananku sementara aku memegang tangan kiriku dan mulai menjilati penis pak Jono dari kepala hingga pangkal batang penisnya. Setelah selesai aku langsung memalingkan wajahku dan mulai membersihkan penis pak Bara.
Tiba-tiba aliran listrik menjalar di sekujur tubuhku yang menandakan kalau aku mencapai orgasmeku yang keenam kali.
“mmhh,,teruuss,,aahh,,oohh!!!”, desahku merasakan kenikmatan yang tiada duanya. Pak Wawan dan pak Maman mempercepat genjotannya dan tak lama kemudian mereka memuntahkan lahar putih mereka masing-masing di waktu yang hampir bersamaan. Setelah pak Maman dan pak Wawan menguras habis persediaan sperma ke dalam vagina dan anusku, mereka langsung mencabut penis mereka.
“gila, neng Bunga emang tau banget gimana caranya muasin pria..”, komentar pak Maman.
“iya nih,,kita udah sering ngentot ama neng Bunga,,tapi gak pernah bosen,,”, ujar pak Jono.
“iye..bener neng Bunga,,soalnya memek ama lobang pantat neng Bunga sempit ‘n peret banget,,bikin ketagihan..Hehe,,”, tambah pak Bara.
“ah,,bisa aja nih bapak-bapak,,Bunga seneng kok kalau bisa muasin bapak-bapak”, jawabku.
“haha,,kalau dipikir-pikir neng Bunga tuh udah kayak istri bersama ya..haha”, komentar pak Wawan.
“bener juga ya,,Bunga jadi istri bapak-bapak..Haha”, kataku sambil tertawa.
“neng Bunga,,kayaknya udah seger lagi nih..boleh ronde ketiga gak?”, tanya pak Bara sudah tidak sabar.
“ya bolehlah..kayak baru pertama kali aja..”, jawabku.
“siplah kalo gitu,,mulai lagi yuk,,”, ajak pak Bara ke teman-temannya. Lalu dimulailah ronde ketiga, kali ini pak Bara tetap tidur di bawah tapi kali ini aku menaiki tubuhnya dan menuntun penisnya ke dalam vaginaku.
“mmmhhh,,,”, desahku pelan ketika dengan perlahan penis pak Bara memasuki liang vaginaku. Dan tak lama kemudian, penis pak Bara sudah bersembunyi di dalam vaginaku.
“neng Bunga..memek neng Bunga anget banget..”, komentar pak Bara. Aku hanya memberikan senyuman saja, lalu aku menurunkan tubuhku sehingga payudaraku tertekan ke wajah pak Bara dan lubang anusku dapat terlihat jelas.
“ayo pak Jono, silahkan dicoblos,,”, kataku menggoda pak Jono.
“beres neng Bunga,,gak usah disuruh lagi,,hehe”, balas pak Jono.
Melihat lubang anusku yang terbuka, pak Jono langsung menghujamkan penisnya ke dalam anusku hingga benar-benar masuk ke dalam anusku. Setelah penis pak Jono dan pak Bara sudah berada di dalam pos mereka masing-masing, mereka dengan kompak mulai memompa penis mereka dengan irama yang sama sehingga memberikan rasa nikmat yang tiada tara. Sementara itu, pak Bara menggelitikku dengan menggesek-gesekkan kumisnya ke puting kanan dan puting kiriku secara bergantian. Seterusnya hanya terdengar desahan-desahan yang keluar dari mulutku dan juga nafas pak Bara dan pak Jono yang memburu seperti kesetanan. Dan kadang-kadang pak Wawan dan pak Maman bergantian mengangkat kepalaku dan memasukkan penisnya ke dalam mulutku. 10 menit kemudian, aku mencapai orgasmeku yang ketujuh dan menyiram penis pak Bara yang sedang keluar masuk vaginaku dengan cairan vaginaku yang hangat. Pak Wawan dan pak Maman kelihatan sudah tidak sabar ingin menikmati jepitan dinding vaginaku dan anusku.
5 menit berlalu setelah aku mendapat orgasmeku yang ke tujuh, pak Bara dan pak Jono sedang mengosongkan lagi spermanya ke dalam tubuhku. Setelah mereka telah menyemburkan air mani mereka hingga tetes terakhir ke dalam vagina dan anusku dan beristirahat sebentar, pak Jono dan pak Bara langsung digantikan oleh pak Wawan dan pak Maman yang sedari tadi memang sudah tidak sabar ingin menanamkan benih mereka ke dalam rahim dan anusku untuk kedua kalinya. Tapi kali ini pak Wawan yang mengisi vaginaku dengan penisnya dan pak Maman yang mengisi anusku dengan penisnya. 16 menit kemudian, mereka telah selesai menyemprotkan benihnya dan meninggalkanku istirahat di tikar dengan anus dan vagina yang banjir dengan sperma mereka berempat. Beginilah aktivitasku kalau ngeronda bersama pak Maman, pak Wawan, pak Jono, dan pak Bara. Memang, tubuhku seperti hanya sebagai penghangat untuk mereka dan mulut, anus serta vaginaku hanyalah ibarat hotel bagi penis mereka karena penis mereka bisa keluar masuk kapan saja, tapi aku senang bisa melayani mereka lagipula aku tidak akan hamil oleh mereka.
Sepanjang malam itu, mereka menyetubuhiku setiap kali nafsu mereka bangkit lagi, dan pada jam 1 malam, mereka melakukan aktivitas lainnya yang juga sudah biasa kami lakukan yaitu satu per satu mengajakku keliling kompleks dan aku sama sekali tidak menggunakan sehelai benangpun sehingga siapapun dari mereka yang berjalan bersamaku bisa menyetubuhiku kapanpun mereka mau meskipun di depan rumah orang. Memang terasa dingin dan takut ketahuan orang, tapi rasa takut ketahuan orang lain membuatku merasa lebih bergairah daripada biasanya. Setelah semua sudah berpatroli denganku, aku disetubuhi lagi oleh mereka di dalam pos ronda, tapi kali ini mereka menyemprotkan sperma mereka ke wajahku, dadaku, perutku, dan pahaku. Jam 5 pagi mereka puas melampiaskan nafsu setan mereka terhadapku, dan kini tubuhku beraromakan sperma juga penuh noda sperma di seluruh tubuhku baik yang sudah mengering ataupun yang masih hangat.
“bapak-bapak,,Bunga pulang dulu ya”, kataku meminta izin.
“oh ya neng Bunga,,makasih banyak ya udah nemenin kami ngeronda,,hehe”, balas pak Bara.
“iya,,Bunga juga seneng bisa nemenin bapak-bapak ngeronda,,”, kataku sambil memakai baju untuk menutupi tubuh putihku yang banyak noda-noda sperma.
“yaudah bapak-bapak, Bunga pulang dulu ya..mau mandi terus tidur deh..”, kataku setelah selesai memakai baju dan celanaku.
“oh iya neng,,makasih banyak ya neng Bunga,,jangan bosen nemenin kami ngeronda ya,,”, ujar pak Wawan.
“tenang aja bapak-bapak,,Bunga gak bakalan bosen kok..yaudah..Bunga pulang ya..dah”, kataku sambil keluar dari pos ronda ditemani pak Jono.
“neng Bunga,,mau dianter ampe rumah?”, tanya pak Jono.
“ah,,gak usah pak,,tar kalau ada yang ngeliat,,kita dicurigain”.
“oh ya bener..tapi kalau ada orang jahat terus merkosa neng Bunga gimana?”, tanya pak Jono balik.
“kan rumah Bunga deket lagipula sekarang Bunga juga baru diperkosa ama pak Jono dan kawan-kawan..”.
“oh iya,,ya,,haha,,neng Bunga bisa aja..”.
Aku melangkah dengan badan yang terasa lengket dimana-mana. Akhirnya aku sampai di rumah, aku langsung mengunci gerbang dan pintu rumahku lalu menuju kamarku. Karena mataku sudah sangat berat, aku memutuskan tidak jadi mandi dan langsung tidur meskipun badanku lengket karena keringat dan juga noda sperma. Setelah puas tidur, aku bangun dan membuka mataku, kulihat sudah pukul 11 pagi. Aku merenggangkan tubuhku, menurunkan celana pendekku sehingga aku bisa melihat daerah sekitar vaginaku banyak noda-noda sperma yang telah mengering.
“buset,,memek gue kotor banget,,”, kataku berbicara sendiri.
“mandi dulu,,aahh”. Aku mematikan ac dan membuka hordeng dan jendela, lalu aku membuka pakaianku dan mandi, setelah mandi aku bergaya-gaya di depan kaca tanpa memakai baju. Aku melihat tubuhku yang putih mulus dan juga sambil memegang kedua buah payudaraku yang berukuran 34C. Tiba-tiba handphoneku berbunyi, aku lupa ditaruh dimana handphoneku, makanya aku repot mencarinya, tapi akhirnya aku bisa menemukan hpku.
“halo”.
“halo, ini Bunga bukan?”.
“ya, ini siapa ya?”.
“Tomy,,”.
“emm,,Tomy siapa? Tomy Rafael?”.
“Tomy anaknya Danu Wicaksono..”.
“oh..tomy anaknya pak Danu,,”.
“akhirnya inget juga..”.
“ada apa Tom?”. Lalu dia dan aku mulai mengobrol lewat telepon sampai 1 1/2 jam.
“oh iya Tom,,lo dapet nomer gue dari mana?”.
“dari bokap gue..”.
“oh,,”.
“oh iya Bunga,,boleh gak gue ngajak lo ketemuan?”.
“kenapa tiba-tiba ngajak gue ketemuan?”.
“emang lo gak mau ya?”. Aku teringat kalau papaku menyuruhku untuk menemui Tomy malam ini, tapi kupikir mendingan bertemu sekarang lagipula aku sedang tidak ada rencana siang ini.
“mau kok,,tapi lo jemput gue ya..gue males bawa mobil..hehe,,btw, udah tau belum rumah gue dimana?”.
“gue tau,,kan bokap gue pernah ke rumah lo..”.
“oh iye..lupa gue..maaf nih Tom,,gue ngerepotin..”.
“gak kali Bunga,,malah gue seneng banget bisa jemput lo..’n thank’s banget ya Bunga,,lo mau gue ajak ketemuan..”.
“ya ilah..nyantai aja,,gue seneng kok bisa jalan-jalan ma lo..yaudah,,cepetan ya..gue tunggu..”.
“OK,,”.
Karena tadi terlalu lama menelpon, aku memutuskan untuk mandi lagi agar segar dan wangi kembali. Lalu selesai mandi, aku memakai kaos yang tidak terlalu ketat tapi tidak longgar juga dan untuk bawahannya aku memakai celana jeans. Tak lama, suara klakson mobil terdengar, aku pun segera bergegas dan mengunci pintu karena ayah, ibu, dan Rini sedang pergi jalan-jalan. Karena sudah biasa, aku menaruh kunci di bawah pot bunga yang ada di dekat pintu. Aku berlari kecil menuju mobil bmw merah yang sudah berada di depan gerbang. Setelah mengunci gerbang, aku langsung masuk ke dalam mobil Tomy.
“sori ya Tom, lo jadi nunggu..”.
“ah,,nggak kok, baru aja..oh ya, mau jalan-jalan kemana nih?”.
“kemana aja deh..terserah lo..”.
“Ok,,kalo gitu..”. Lalu dia membawa ke tempat-tempat yang harganya sangat mahal.
“beh,,emang beda deh keluarga yang punya unlimited money..”, kataku dalam hati. Aku diajak ke bioskop, makan, dan dibelikan pakaian, semuanya dengan harga yang menurutku mahal.
Wajah Tomy memang tidak ganteng malah boleh dibilang culun, badannya juga kurus, tapi dia enak diajak ngobrol dan juga sangat baik kepadaku. Tak sadar, kami berdua jalan-jalan sampai jam 8 malam. Lalu aku diantar pulang olehnya, dan semenjak itu dia sering mengajakku jalan-jalan. Suatu hari, kami berjalan-jalan hingga jam 9 malam, dan karena orangtuaku serta Rini sedang mengunjungi rumah nenek dan kakekku, aku jadi takut tinggal sendiri di rumah. Kami sampai di depan rumahku jam 10 malam.
“Bunga, kayaknya rumah lo sepi banget?”.
“iya nih..bonyok ama adek gue lagi ke rumah kakek gue”.
“lo gak takut sendirian di rumah?”.
“takut sih..cuma mau gimana lagi..”.
“kalo gue temenin boleh?”.
“mmm,,,”, otakku langsung bekerja memikirkan pikiran nakal, dan juga aku sangat penasaran dengan rumor kalau orang kurus mempunyai penis yang besar. Sampai sekarang aku belum mengecek rumor itu, karena aku lebih sering melihat penis bapak-bapak, dan penis temanku yang berbadan atletis ataupun gendut, tapi belum pernah melihat yang kurus.
Maka dari itu aku berniat menyetujuinya.
“mm..gimana ya??”.
“ya,,kalo lo gak mau..gak apa-apa sih..”.
“boleh deh..daripada gue sendirian,,tapi jangan macem-macem ya..”.
“iya,,iya,,gue gak bakal ngapa-ngapain lo kok”.
“yaudah,,masukin mobilnya..”.
“ok..”. Setelah memasukkan mobil ke dalam garasi, kami langsung masuk ke dalam rumah. Aku menyuruh Tomy duduk di ruang tamu, sementara aku membuatkan minuman untuk kami berdua.
“ni Tom, minumannya,,”.
“makasih banyak ya Bunga..”.
“oh iya,,katanya lo mau nemenin gue,,otomatis lo gak pulang ke rumah dong??”.
“iya,,kenapa emangnya??”.
“emang lo gak dicariin ama bonyok lo??”.
“nyokap gue lagi keluar negeri,,bokap lagi ngurusin cabang perusahaannya yang ada di Inggris..”.
“oh..”. Kami mengobrol sambil meminum minuman yang telah aku buat. Aku memutuskan untuk mulai menggodanya dan menjalankan rencana pertamaku yaitu membiarkan Tomy mendapatkan pemandangan pahaku yang putih mulus.
Aku bergerak-gerak sehingga makin lama, celana pendekku semakin terangkat ke atas dan tentu kini pahaku yang putih mulus bisa dilihat oleh Tomy, tentu Tomy tidak menoleh dari pahaku. Aku memutuskan untuk langkah kedua yaitu membuat air minum tumpah ke kaos putihku sehingga payudaraku tercetak di kaos putihku yang menjadi transparan, tapi rupanya dia hanya berani curi-curi pandang saja ke payudaraku.
“mmm..susah juga..cara pasif gagal..kalo gitu agresif aja deh..”, kataku dalam hati.
“Tom,,lo udah berapa kali pacaran?”.
“cuma 8 kali..kalo lo?”.
“ah..jangan ditanya deh..”.
“kenapa..saking banyaknya gak keitung ya?”.
“asal nebak aja lo,,”.
“oh ya Bunga,,boleh nanya yang lebih pribadi gak?”.
“boleh aja..nyantai aja ama gue..mau nanya apa?”.
“lo udah pernah gituan belom?”.
“hmm..gimana ya jawabnya?”.
“dia mulai kepancing nih”, kataku dalam hati lagi.
“udah,,kenapa?”.
“ah..nggak,,berarti lo udah gak perawan dong?”.
“ya nggak lah,,lo udah pernah juga?”.
“belum,,”.
“wah..berarti masih perjaka dong?”.
“hehe,,iya,,”.
“aduh kasian..Hahaha..”.
“iya,,gak ada yang mau..”.
“kalo ama gue..mau?”.
“hah?! yang bener?”.
“bener..”.
“cewek secantik lo masa mau gue apa-apain?”.
“sebenernya si gak mau..cuma kasihan aja ama lo..haha”.
“ah,,lo mah,,tapi gapapa deh..yang penting lo serius kan?”.
“serius gue..lo tunggu di kamar gue aja..naik ke atas terus kamar yang paling pojok..”.
“ok Bunga..”. Tomy pun langsung bergegas naik ke atas, sementara aku mandi di kamar mandi bawah agar tubuhku terasa segar dan wangi. Setelah selesai, aku memakai kimono yang biasa kupakai setelah mandi untuk menutupi tubuh putihku yang masih basah. Aku mengeringkan rambutku, lalu aku naik ke atas dan menuju kamarku. Sebelum sampai di kamarku, aku berdiri di depan pintu kamarku dan berteriak ke Tomy yang sedang menungguku di dalam kamar.
“Tom..tutup mata lo kalo pengen gue masuk ke dalem..!!”, kataku.
“iye,,iye,,Bunga!!”, balasnya dengan agak teriak mungkin dia takut tidak terdengar olehku.
Aku mengintip ke dalam lewat celah-celah pintu, ternyata Tomy benar-benar menutup matanya dan menunggu. Aku bisa melihat Tomy sudah tidak sabar menungguku, karena raut wajahnya yang terlihat gelisah. Lalu aku berdiri di depan Tomy yang sedang duduk di tepi ranjang, aku pun melepaskan kimonoku dan membiarkannya turun ke bawah sehingga kini tubuhku benar-benar sudah telanjang bulat di depan Tomy yang masih menutup matanya.
“ayo Tom..sekarang buka mata lo”.
“o..o..kee”, dengan perlahan Tomy membuka matanya sampai matanya benar-benar terbuka lebar. Tomy pun tercengang dan melongo tanpa berkedip sekalipun, karena tubuh putihku yang tanpa tertutupi sehelai benang pun berada tepat di hadapannya. Kulihat Tomy menelan ludahnya dan dia benar-benar tidak berkedip sama sekali.
“Tom,,kenape lo Tom..kok bengong gitu? body gue jelek ya?”, tanyaku.
“…”, dia tidak menjawab karena sepertinya dia masih terbengong sambil menikmati tubuh telanjangku yang ada di hadapannya dari ujung kepala hingga ujung kakiku.
“woy,,Tom..bengong aja..jawab dong!!”.
“bagus parah bodi lo..seksi banget..”.
“ah..yang bener? makasi ya..”.
“mantep banget bodi lo..sumpah deh..”.
“gak nyesel kan lo bisa kenalan ma gue..”.
“he eh..boleh gak gue megang-megang lo?”.
“mmm…boleh kok..”.
“wah..beneran nih? kok kayaknya lo gampang banget ngebolehin gue grepe-grepe lo?”.
“jadi,,gak mau nih?”, tanyaku untuk lebih menggodanya.
“beh..mau banget..tapi gue penasaran aja..”.
“gue kasian aja ama lo yang belum pernah megang-megang cewek”.
“oh…gitu..jadi malu gue..”.
“lo beneran belum pernah gituan ama cewek kan?”.
“beneran,,tapi kalau nonton bokep udah sering banget..”.
“oh,,bagus deh..kalau gitu gue gak perlu ngajarin dari dasar”, kataku sambil menaruh kedua tangannya di pantatku dan kutekan kepalanya sehingga wajahnya menempel di perutku. Tanpa kusuruh lagi, dengan instingnya, Tomy mulai meremas-remas kedua bongkahan pantatku yang kenyal dan kencang.
“ya,,bagus Tom,,terus,,”. Lalu aku melepaskan tanganku dari kepalanya, dan dia pun agak menjauhkan wajahnya dari perutku.
“Bunga,,pantat lo enak banget buat diremes-remes..”.
“hehe..makasih..ayo dong..apalagi yang lo tau..”. Tanpa sepengetahuanku, dia sudah menjulurkan lidahnya dan mulai memasukkannya ke dalam pusarku yang memberikan sensasi geli.
“mmmhh..terusss..”, desahku. Setelah ‘membersihkan’ pusarku dengan lidahnya, dia mencium pusarku lalu tetap mencium sambil terus turun kebawah hingga akhirnya ketika ciumannya mengenai klitorisku, dengan spontan aku mendesah.
“aaahhh..”. Tomy langsung menghentikan kegiatannya seolah-olah dia bingung.
“kok berhenti?”, tanyaku.
“kayaknya lo kesakitan?”.
“bukan dodol, justru enak banget..”.
“enak banget? jangan-jangan ini yang namanya klitoris ya?”.
“nah tu,,lo tau..anak pintar..hehe..”, kataku untuk meledeknya.
“awas lo ya..”, balas Tomy dengan menyentil-nyentil klitorisku dengan lidahnya sehingga secara spontan rasa nikmat yang seperti aliran listrik menjalar di sekujur tubuhku. Sepertinya insting sudah mengambil alih Tomy.
Karena tanpa kusuruh lagi, dia mulai menjelajahi bibir vaginaku dan daerah selangkanganku dengan lidahnya membuat sensasi nikmat yang tiada tara.
“ohh..terusss..!!”, desahku kencang. Sementara vaginaku terus dijelajahi lidahnya, Tomy terus meremas-remas pantatku dengan perlahan tapi kuat. Tak kuat lagi menahan gelombang demi gelombang rasa nikmat dari pengeksplorasian Tomy terhadap vaginaku, aku pun melepaskan desakan orgasme pertama yang dari tadi ingin meledak sehingga cairan vaginaku ada yang memancar keluar dan meleleh keluar dari vaginaku. Tapi, anehnya Tomy malah mundur dan membiarkan cairanku menetes ke lantai dan mengalir ke bawah melalui pahaku.
“loh..Tom..kok malah mundur?”.
“gue belum pernah ngerasain cairan vagina..jadi gue agak jijik..”.
“oh iya ya,,lo kan baru kali ini ngesex..”, kataku sambil mencolek sedikit cairan vaginaku.
“nih,,cobain deh..”, tambahku sambil menyodorkan jariku ke mulutnya.
“hah?! gak apa-apa nih?”, tanyanya.
“cobain aja dulu..lu gak bakal mati kok..haha”.
Dengan perlahan dia menjulurkan lidahnya untuk mencicipi sedikit cairan yang ada di telunjukku. Setelah mencicip sedikit sambil mengecap-ngecap bibirnya.
“kok rasanya gini ya,,gurih,,agak asin,,tapi manis,,jadi bingung”.
“lah,,dia malah bingung,,hahaha,,nih masih ada di jari gue,,cobain aja lagi..”.
“ok,,kalo gitu..”, kali ini dia langsung memasukkan jariku ke dalam mulutnya dan mengulum jariku untuk merasakan sisa cairan vaginaku.
“oi udah oi,,jari gue diemut terus ntar keriting jari gue..”, kataku sambil meledeknya karena dia terus mengulum jariku.
“abisnya,,rasanya enak sih,,”.
“ketagihan nih ceritanya?”.
“iya,,”, jawabnya.
“yaudah,,jari gue lepasin,,jilatin dari sumbernya aja lah,,”.
“oh iya ya,,”. Tomy langsung jongkok dan menempatkan dirinya di antara selangkanganku, aku pun melebarkan kakiku agar dia lebih leluasa menikmati cairan vaginaku yang ada di paha kiriku dan di sekitar vaginaku.
“mmhh..oohh..”, desahku ketika Tomy sedang mengubek-ngubek vaginaku dengan lidahnya demi untuk mengais sisa-sisa cairan yang ada di dalam vaginaku.
Ini malah membuatku mencapai orgasme keduaku sehingga Tomy semakin puas saja merasakan cairan vaginaku yang mengalir keluar dari vaginaku.
“sslluurrpp,,”, bunyi yang keluar ketika Tomy terus menyeruput cairan vaginaku hingga benar-benar kering.
“woy,,udah,,masa jilatin memek gue terus,,”.
“abisnya enak banget sih rasanya,,”.
“yah,,dia ketagihan,,tadi aja ogah,,”.
“tadinya kan,,belum tau rasanya,,eh taunya enak banget,,hehe”.
“huu,,dasar,,yaudah,,sekarang lo buka baju dong,,masa gue doang yang telanjang,,”.
“iya,,iya,,tapi jangan ketawa..”.
“he?kenapa emang?”.
“badan gue kurus,,’n punya gue kecil..”.
“alah, itu mah gak penting,,udah, cepet buka baju lo”. Tomy membuka bajunya dan terlihatlah olehku tubuhnya yang kurus.
“nah,,sekarang gue buka celana lo,,ya”.
“eh,,jangan,,biar gue sendiri aja,,”.
“udah,,gak usah malu,,biar gue aja,,”. Aku mulai membuka celananya hingga tinggal celana dalamnya yang melindungi penis Tomy.
Kulihat tonjolannya cukup besar.
“katanya kecil,,ini lumayan gede kok,,”, kataku sambil mengecup dan menjilati penis Tomy yang masih terbungkus celana dalamnya.
“aah,,enak,,”.
“gue buka ya cd lo,,”, ujarku sambil membuka celana dalamnya, begitu kuturunkan celana dalamnya, penis Tomy pun langsung menyembul keluar.
“tuh,,kata siapa kecil,,ini normal kok,,”, kataku sambil melihat penisnya yang panjangnya kira-kira 15 cm.
“ouh,,segini normal toh,,abisnya gue liat di video bokep,,kontolnya gede-gede banget,,”.
“ya lo bandingin ama kontol orang bule,,ada-ada aja”, kataku sambil menggenggam penisnya dengan tangan kananku.
“lo mau ngapain kontol gue?”.
“mau,,gue emut,,”, kataku dan tanpa basa-basi lagi aku mengemut kepala penisnya membuat Tomy meliak-liukkan badannya mungkin karena menahan rasa ngilu. Aku tak menghiraukan Tomy yang sedang merasa ngilu yang terasa teramat sangat. Aku terus mengemut kepala penisnya, menjilati dari atas ke bawah, dan melahap kantung buah zakarnya hingga dia mendesah keenakan.
“aahh,,enaak banngett,,”, desah Tomy. Aku menghentikan aktifitasku karena mulai dari kepala penisnya hingga ke buah zakarnya sudah berlumuran air liurku.
“gimana,,enak gak?”.
“gila,,jago banget mulut lo,,”.
“iya donk,,”, kataku. Lalu aku menaruh penisnya di belahan dadaku, dan aku merapatkan payudaraku sehingga penis Tomy terhimpit oleh payudaraku.
“ayo Tom, gerakkin kontol lo,,”.
“anget banget memek gue,,”.
“ya iyalah,,udah,,sekarang gerakkin kontol lo”.
“ok,,”. Tomy mulai menggerakkan penisnya ke atas dan ke bawah sehingga penisnya bergesekkan dengan kulit payudaraku yang putih dan mulus. Aku melepaskan himpitan payudaraku sehingga kini Tomy mengelus-eluskan penisnya ke permukaan payudaraku yang kencang, dan juga dia mengelus-eluskan penisnya ke kedua putingku. Penis Tomy yang tadi diselimuti oleh air liurku kini telah kering lagi karena payudaraku dijadikan alat pengelap olehku sendiri.
“nah,,sekarang kontol lo udah bersih,,”.
“oh jadi dari tadi buat ngebersihin kontol gue toh,,”.
“yup,,sekarang ke ranjang yuk,,”.
“asiik..”, kata Tomy kesenangan. Tomy tidur terlentang sementara aku menaiki badannya dan duduk di pahanya.
“oh iya,,Bunga,,gue gak pake kondom nih?”.
“ah,,gak usah,,enakan gak pake kondom,,lebih kerasa,,”.
“tapi lo gak takut kena penyakit??”.
“itu seninya kalee,,”.
“eh,,serius gue,,”.
“tenang aja,,gue udah kebal ama penyakit kelamin,,”.
“lho? kok bisa? apa rahasianya?”.
“ada deh,,udah ah,,lo mau ngobrol doang jadinya nih?”.
“eh,,gak dong,,gue mau ngerasain memek lo,,”.
“yaudah,,kalo gitu jangan banyak tanya,,”.
“iya,,maap deh Bunga,,”.
“ok kalo gitu,,mulai ya,,”. Kini aku berada di atas penis Tomy yang sudah mengacung tegak dan tidak sabar ingin menjelajahi vaginaku. Aku memegang penis Tomy dan mengarahkannya ke vaginaku, lalu aku mulai menurunkan tubuhku secara perlahan sambil membimbing penis Tomy masuk ke vaginaku. Tak lama kemudian, penisnya sudah amblas ditelan vaginaku.
“jadi gini rasanya,,anget ‘n sempit banget,,”, komentarnya.
Aku tak berkata apa-apa tapi aku menggerakkan tubuhku naik turun, dan Tomy memegang pinggangku.
“mmmhh,,”, desahku pelan ketika aku terus menggerakkan tubuhku naik turun. Sepertinya Tomy sudah menguasai ritmenya sehingga dia kini menyodokkan penisnya ke dalam vaginaku dengan sangat kuat, tapi anehnya bukan terasa sakit tapi malah terasa nikmat tiada tara. Aku menghentikan gerakanku sehingga tubuhku kini bergerak sesuai irama sodokan penis Tomy, tentu saja ini membuat payudaraku berguncang naik-turun, dan sepertinya Tomy gemas melihat payudaraku sehingga dia langsung meremas-remas kedua buah payudaraku. Setelah puas memainkan kedua buah payudaraku, Tomy memegang pinggangku tapi aku menurunkan tubuhku agar Tomy bisa menjilati kedua putingku, dan dengan insting kelaki-lakiannya, dia mulai menjilati seluruh permukaan kedua buah payudaraku yang putih mulus, dan juga kedua putingku. 7 menit kemudian, kami berganti posisi dan kali ini aku langsung mengajarinya posisi doggystyle, posisi yang paling disenangi oleh para cowok yang pernah menyetubuhiku.
Selama menggenjotku, Tomy memegangi dan meremasi payudaraku serta memelintir kedua putingku.
“aaahhh,,”, desahku ketika melepas orgasmeku yang ketiga kalinya membasahi penis Tomy yang sedang bergerak keluar masuk vaginaku. Dan tak beberapa lama kemudian, kurang lebih 5 menit kemudian tepatnya, Tomy mencapai puncaknya dan menyemburkan lahar putihnya yang kental ke dalam vaginaku. Biarpun tak terlalu lama dia bisa menyutubuhiku, tapi jumlah semburan spermanya lebih dari 6 kali semburan. Setelah penisnya benar-benar sudah mengosongkan isinya, diapun mencabut penisnya dan langsung tiduran di ranjang, sementara aku masih menungging untuk mengatur nafasku. Tomy tidur terlentang di ranjang dengan pemandangan aku yang masih menungging sehingga vaginaku yang terbuka dan sperma yang meleleh keluar hingga ke pahaku dapat dilihat jelas oleh Tomy. Setelah nafasku teratur lagi, aku bergerak dan tidur di sampingnya.
“gile Bunga,,lo jago banget maennya..hhh”, katanya sambil ngos-ngosan.
“lo juga lumayan buat orang yang baru pertama kali ngeseks,,”.
“oh iya,,gue nyemprot di dalam memek lo,,gak apa-apa?”.
“hamil maksud lo? gak apa-apa ko’,,gue udah ada obat penangkalnya..”.
“wah,,sedia payung sebelum hujan..hahaha”.
“bisa aja lo,,”.
“oh iya Bunga,,ntar boleh lagi nggak?”.
“yah dia ketagian maen ama gue,,”, ledekku.
“iya nih,,enak banget sih memek lo,,”.
“iya,,iya,,boleh kok,,lo nginep kan,,”.
“iya,,sekalian ajarin gue ya,,”.
“ok deh,,”. Sampai keesokan hari, Tomy terus kuajari berbagai hal tentang sex. Aku pun menjadi guru sexnya selama 3 bulan hingga akhirnya dia mampu bertahan hingga 30 menit dalam satu ronde. Dan setelah kejadian sex perdana bagi Tomy, kami berpacaran. Pada saat kami telah 6 bulan berpacaran, keluargaku pindah ke luar negeri karena urusan bisnis, tapi aku tidak pindah ke luar negeri karena aku tidak mau. Sementara itu, keluarga Tomy memang sudah di luar negeri sejak Tomy berumur 18 tahun. Selama berpacaran dengan Tomy, aku tetap mencuri-curi waktu untuk pergi ke desa dan bertemu Mang Karyo dan Mbah Tanto.
Selain itu aku tetap melaksanakan janjiku untuk menemani pak Bara, pak Wawan, pak Maman, dan pak Jono ‘ngeronda’. Tomy benar-benar sayang kepadaku karena dia mau membelikan apa saja dan mau menemaniku kemana saja yang kumau. Tapi, aku merasa tidak enak juga jadi aku membiarkan tubuhku untuk didominasi oleh Tomy jika sedang di ranjang. Kami berpacaran hingga 1 tahun, dan ketika itu istri Mang Karyo meninggal dunia karena sakit, sehingga aku membawa Tomy dan akhirnya Tomy, Mang Karyo, dan Mbah Tanto saling berkenalan. 1 bulan setelah istri Mang Karyo meninggal, tanpa kuduga Tomy melamarku ketika sedang makan di restoran mahal seperti impianku, tapi sayangnya yang melamarku bukan pria ganteng.
“Bunga,,mau gak kamu jadi istriku?”.
“hah?! Kamu ngelamar aku nih ceritanya?”.
“iya,,”.
“tapi kan kamu udah sering ngentotin aku,,entar kalo udah nikah,,terus kamu bosen ma aku gimana?”.
“nah,,itu dia,,gak tau kenapa..aku gak pernah bosen ngeliat wajah kamu, denger suara kamu, apalagi ngeliat kamu telanjang,,”.
“hahaha,,bisa aja kamu,,”.
“jadi mau gak?”.
“aku mau,,”.
“asiik,,”.
“tapi ada 2 syarat,,”.
“apa syaratnya, sayang?”.
“syaratnya,,”.
--------------------------
“syaratnya,,”.
“apa syaratnya sayang?”.
“yang pertama,,kamu masih inget kan Mang Karyo ama Mbah Tanto??”.
“oh yang waktu itu ada di desa kamu ya?”.
“iya,,”.
“terus apa hubungannya ama kita??”, tanya Tomy.
“kamu harus rela membagi tubuhku dengan mereka”.
“kenapa begitu?”.
“soalnya aku janji ke mereka kalau aku akan jadi istri mereka kalau aku udah siap”.
“…”.
“yang kedua, kamu aku anggep suami ketigaku, jadi yang dapet jatah pertama kali pas malam pertama itu Mang Karyo terus Mbah Tanto baru deh kamu”.
“…”.
“gimana? setuju gak?”.
“mmm,,”.
“mau mikir dulu,,yaudah,,ntar-ntar aja jawabnya,,sekarang kita makan dulu,,”.
“ok,,”. Lalu kami makan makanan yang baru saja terhidang di depan kami, dan kami tidak berbicara selagi makan karena aku juga mengerti kalau Tomy sedang serius berpikir. Tak lama kemudian, kami selesai makan makanan utama setelah itu kami makan hidangan penutup.
“sayang,,”.
“apa,,”, kataku sambil menyendok hidangan penutupku.
“kayaknya aku setuju ama syarat yang kamu ajuin,,”, ujar Tomy.
“yakin,,udah bener-bener dipikirin?”, tanyaku menanyakan keputusannya.
“yakin,,seyakin-yakinnya”.
“deal kalo gitu deh..berarti mulai sekarang kamu udah resmi jadi tunanganku”, kataku.
“asik,,oh ya sayang nih cincin tunangan kamu,,”, katanya sambil menyerahkan cincin permata berlian.
“wah,,ini kan cincin mahal,,gak apa-apa nih buat aku?”.
“cincin ini gak indah kalau dibandingin ama kamu yang sangat cantik,,”.
“ah,,bisa aja kamu,,”, kataku tersipu malu sambil memakai cincin berlian itu di jari manisku. Setelah itu kami berciuman tapi tanpa nafsu karena kami sedang berada di restoran jadi kami hanya saling mengecup bibir. Tapi, tetap saja banyak yang memperhatikan kami karena cowok yang bertampang culun seperti Tomy bisa mencium cewek cantik sepertiku. Setelah selesai, kami pulang ke rumah, dan selama perjalanan aku menceritakan semua pengalamanku dengan Mang Karyo dan Mbah Tanto kepada Tomy.
“oh,,jadi yang merawanin kamu tuh Mang Karyo,,wah enak banget si Mang Karyo,,”.
“tapi waktu itu aku diperkosa,,”.
“oh,,terus kamu gak marah?”.
“gak,,abis enak sih,,hehe”.
“aku gak nyangka lho,,cewek cantik ‘n dari keluarga baik-baik kayak kamu bisa liar banget,,”.
“iya nih,,tapi aku beruntung ada cowok baek kayak kamu yang nerima aku apa adanya,,”.
“justru aku yang beruntung bisa punya tunangan yang cantik banget kayak bidadari”, katanya sambil mencubit pipi kananku.
“ah,,bisa aja”.
“oh iya,,aku juga punya rahasia lho,,”.
“emm?apa rahasianya?”.
“aku udah lama pengen ngeliat kamu dientotin 2 orang sekaligus,,”.
“ha?! yang bener? jangan-jangan itu alasan kamu nerima syarat dari aku?”.
“iya,,aku mau ngomong dari dulu tapi aku takut kamu marah ‘n mutusin aku,,”.
“terus alesan kamu pengen ngeliat aku dientot 2 orang sekaligus kenapa?”.
“abisnya kamu cantik banget udah gitu kulit kamu putih mulus ‘n body kamu bohay banget,,jadinya aku sering ngebayangin kamu dijepit ama 2 cowok kulit item,,”.
“wah,,wah,,muka kamu alim tapi fantasi kamu kemana-mana,,kayaknya kita emang jodoh nih,,haha”.
“iya donk sayang,,kita emang jodoh..”.
“yank,,maen yu,,”, kata Tomy.
“huu,,dasar,,belum jadi suami udah minta maen mulu,,”.
“abisnya Tomy junior udah gak sabar pengen ngumpet di memek kamu apalagi lobang pantat kamu yang sempitnya minta ampun,,”.
“alah,,ada-ada aja,,iya,,iya,,di rumahku ya,,jangan di apartemen kamu,,takut kedengeran ama yang lain”.
“ok honey bunny sweetieku,,”. Tomy mengemudikan mobilnya menuju ke rumahku, selama sisa perjalanan, aku menyelipkan tanganku ke dalam celananya untuk mengelus-elus penis Tomy sementara Tomy pun meremas-remas dadaku dan juga kadang-kadang mengelus-elus vaginaku yang masih terbungkus celana dalam. Akhirnya kami berdua sampai di rumahku, kami turun dari mobil setelah Tomy memarkirkan mobilnya. Setelah berada di dalam, kami duduk di ruang tamu sambil menonton tv untuk mengistirahatkan badan kami dulu.
“yank, kok kamu cantik banget sih?”.
“lah,,mana aku tau,,emangnya aku milih muka aku sendiri? ada-ada aja nih nanyanya,,hahaha”.
“abisnya,,cantiknya gak ketolongan sih..”.
“dasar,,ayangku ada-ada aja”.
“yank,,aku cium kamu ya,,”, tanya Tomy.
“cium aja,,biasanya juga maen nyosor bibir aku,,”, jawabku.
“oh iya ya,,”, jawabnya dan dia pun langsung mendekat ke arahku. Tomy langsung memeluk diriku dan memagut bibirku, aku membiarkannya melumat bibirku dan memainkan lidahnya di dalam rongga mulutku sesuka hatinya. Tomy langsung menyambar dan mengemut-emut lidahku yang sengaja kukeluarkan. Setelah 3 menit berciuman, kini giliranku untuk melakukan seperti apa yang dilakukan oleh Tomy barusan. Lalu, Tomy meremas-remas payudaraku dengan kedua tangannya, sementara aku melepas cumbuanku sehingga terlihatlah air liur kami yang saling menyatu dan bercampur.
“mmhh,,bibir kamu emang manis banget,,”, komentar Tomy.
“bisa aja nih ayangku,,”.
“ayang,,mulai yuk,,udah nyut-nyutan nih pengen masuk ke sarangnya”.
“apa tuh yang nyut-nyutan?”, kataku menggodanya.
“biasa,,si Tomy Jr.”.
“aduh,,aduh,,kacian,,yuk di kamar mandi aja”, kataku sambil mengelus-elus penis Tomy yang masih terbungkus celananya.
“lho? kok di kamar mandi?”.
“iya,,aku sekalian mau mandi..”.
“oh gitu,,ide bagus tuh,,ayuk”, Tomy mendorong tubuhku agar aku berjalan lebih cepat. Sesampainya di depan pintu kamar mandi, kami langsung melepaskan pakaian kami masing-masing agar lebih cepat. Setelah kami bertelanjang ria, kami masuk ke kamar mandi, sementara aku mengisi air di bathtub, Tomy menyiapkan sabun mandi. Tak lama kemudian, air di bathtub sudah penuh sehingga aku harus sedikit membungkukkan badanku untuk mematikan keran. Tiba-tiba pantatku ditepuk kencang oleh Tomy.
“aw,,sakit tau,,”.
“sori deh abisnya pantat kamu semok banget,,”.
“semok sih semok,,tapi kan sakit tau,,dasar”.
“maap deh,,sayang”, katanya lalu dia mencium pantatku.
“iihh,,pantat aku kok dicium,,”.
“abisnya,,aku gemes banget ngeliat pantat kamu,,”. Setelah itu, kami membasuh badan kami masing-masing dan saling menyabuni. Vagina dan anusku dibersihkan dengan jari Tomy dan tentu saja Tomy menyodok-nyodokkan penisnya ke vagina dan anusku sampai dia menyemburkan spermanya di dalam anusku hingga luber dan meleleh keluar dari lubang anusku.
“yank,,udah yuk mandinya,,dingin juga lama-lama di kamar mandi,,”, ajakku.
“ok,,tapi lagi ya,,”.
“iya,,iya,,pokoknya sampe kamu puas deh,,tapi liat tuh, kontol kamu aja masih lemes gitu”.
“ya iyalah,,isinya kan baru ditelen ama lubang pantat kamu,,”.
“siapa suruh dimasukkin,,hehe”.
“sambil nunggu aku ‘bangun’ lagi,,aku mainin memek kamu ya,,”.
“kamu kira memek aku mainan,,hahaha,,cuma becanda yank,,iya,,iya boleh,,kamu boleh mainin memek aku sesukamu,,”.
“asik,,sini aku gendong ampe ke kasur,,”.
“halah,,mana kuat,,badan kamu kurus gitu,,udah,,gak usah,,kamu ambil maenannya aja,,”.
“ok,,ada maenan baru beli soalnya,,”.
“hah?! baru beli lagi? perasaan maenan kita udah lebih dari 10 deh?”.
“abisnya enak sih maenin memek kamu pake mainan baru…hehe”.
“huu,,dasar,,yaudah sana ambil dulu,,”.
“ok sayang,,”. Lalu dia keluar kamar sementara aku langsung tidur terlentang di ranjang.
Tak lama kemudian, Tomy masuk kembali dengan membawa dildo berkepala 2.
“wah,,ayang udah siap rupanya”.
“iya donk,,oh itu mainan barunya,,ada 2 gitu kepalanya,,syerem”.
“iya,,jadi bisa masuk ke memek ‘n lubang pantat kamu sekaligus,,”.
“hadoh,,hadoh,,makin canggih aja mainan kamu,,”.
“udah ah,,aku udah gak sabar pengen nancepin ni dildo ke memek kamu,,”.
“yaudah,,”. Aku menekuk kakiku dan melebarkan selebar-lebarnya hingga membentuk huruf M, Tomy langsung duduk di depan vaginaku. Dia langsung memasukkan dildo berkepala 2 itu, yang batangnya panjang ke dalam vaginaku sedangkan yang agak pendek ke dalam anusku.
“uummmhhh,,,”, desahku pelan ketika senti demi senti kedua dildo itu menembus masuk ke dalam vagina dan anusku secara bersamaan, dan akhirnya kedua dildo itu sudah tertanam di dalam vagina dan anusku sehingga hanya tinggal pegangan saja yang tertinggal. Tomy menekan suatu tombol di pegangan itu, tiba-tiba kedua dildo itu bergerak-gerak dan bergetar kencang di dalam vagina dan anusku.
“aaahhhh,,,”, desahku spontan.
Tomy tidak memberi waktu untuk aku mengeluarkan desahan karena dia langsung melumat bibirku dan memainkan lidahnya di rongga mulutku sementara tangannya sibuk meremas-remas payudaraku serta memilin-milin putingku. Setelah puas bermain lidah denganku, dia pun langsung melepaskan cumbuannya dan beralih ke payudaraku, dia telusuri belahan dadaku juga seluruh permukaan payudaraku. Ketika lidahnya sampai di putingku, dia melingkari daerah kedua putingku yang sangat sensitif dengan lidahnya secara bergantian, Tomy juga menggigiti dan kadang-kadang menarik kedua putingku dengan perlahan tentunya. Sementara itu, dia menggerakkan jari telunjuk tangan kanannya untuk mengelus-elus klitorisku sehingga membuatku yang memang dari tadi sudah benar-benar keenakan menjadi sangat keenakan. Oleh karena itu, aku tidak dapat menahan lagi, dan kukeluarkan ledakan orgasme bersamaan dengan eranganku.
“ooohhh,,,!!!”. Tomy berhenti dan berbicara.
“wah,,kamu udah orgasme ya,,asik,,aku bisa minum cairan kamu yang enak banget”.
Aku hanya tersenyum ke arahnya, lalu Tomy mencabut dildo dari kedua lubangku sehingga terlihatlah dildo yang mengaduk-aduk vaginaku terselimuti cairanku sehingga dildo itu tampak berkilauan.
“sayang,,mau cobain cairan kamu juga?”, tanya Tomy. Aku mengangguk pelan sambil tersenyum. Tomy menekan tombol off sehingga dildo itu berhenti bergerak dan bergetar, lalu dia menaruh dildo itu di tanganku sementara dia berpindah ke daerah selangkanganku yang masih terbuka lebar. Aku memasukkan dildo itu ke dalam mulutku sehingga aku bisa merasakan cairan vaginaku sendiri. Tomy juga sedang sibuk menanamkan kepalanya ke selangkanganku, aku merapatkan pahaku sehingga kini kepala Tomy terhimpit kedua pahaku yang putih mulus. Saking nafsunya dia mengangkat pahaku dan mendorongnya ke depan sehingga kedua kakiku berada di samping tanganku, Tomy melanjutkan mengais-ngais sisa cairanku yang masih ada di dalam vaginaku dengan lidahnya dan kadang-kadang dia mengorek-ngorek vaginaku dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.
Setelah yakin cairanku sudah tak ada lagi, Tomy melepas kakiku sehingga aku bisa menurunkan kakiku. Lalu Tomy tidur di sampingku, kami saling berhadapan dan saling memeluk.
“yank,,masih lemes?”.
“iyaa,,ntar dulu ya”, jawabku dengan pelan. Setelah 3 menit beristirahat, tenagaku sudah pulih dan nafasku sudah normal kembali.
“yank,,ayuk sekarang,,”, kataku.
“asik,,ayuk,,ayuk,,”.
“apaan nih gayanya?”.
“gaya favorit aku,,”.
“oh,,ok,,”. Lalu aku bertumpu pada tangan dan lututku alias posisi doggystyle. Tomy langsung mendorong penisnya masuk ke dalam vaginaku yang sudah menanti penisnya. Kini, penisnya sudah bergerak keluar masuk vaginaku dengan akselerasi yang terus bertambah hingga kecepatan sodokannya mencapai maksimum. Kadang-kadang Tomy sengaja menekan penisnya ke dalam vaginaku dengan sangat kuat sehingga aku berteriak kecil, lalu dia diam sejenak sambil membiarkan penisnya terdiam di dalam kehangatan vaginaku.
“hhh,,,hhh”, nafasku berat karena aku sudah mencapai klimaks tadi.
“yank,,ganti posisi yuk,,udah 15 menit nih,,bosen,,”.
“ok deh sayangku,,”, jawabku. Tomy mencabut penisnya dan menyuruhku tidur menyamping lalu dia tidur di belakangku dengan posisi menyamping juga. Dia mengangkat kaki kananku, Tomy mulai mendorong penisnya untuk bersembunyi di dalam vaginaku lagi. Setelah sudah klop, Tomy mulai menggenjot vaginaku dengan posisi menyamping.
“mmmhhh,,aaahhh”, desahku menerima serangan penis Tomy yang tanpa henti. Sementara aku sedang menghayati kenikmatan yang menjalar di sekujur tubuhku, Tomy menyentil-nyentil daun telingaku dengan lidahnya sehingga aku semakin horny dan horny terus. 7 menit kemudian, Tomy mencabut penisnya dan menurunkan kakiku lalu Tomy meminta aku menaiki tubuhnya. Aku langsung berada di atasnya dan memposisikan vaginaku tepat di atas penis Tomy yang berkemilauan karena sudah disiram dengan cairan vaginaku beberapa kali. Aku membimbing penis Tomy dan menurunkan tubuhku sehingga penisnya sudah bersemayam di dalam vaginaku lagi.
Tomy memegang pinggulku dan mulai mendorong penisnya ke atas sementara aku menekan tubuhku ke bawah sehingga dengan cara ini penis Tomy lebih terasa menusuk vaginaku.
“ooohhh,,terusss Tom,,”, teriakku karena sebentar lagi aku merasa akan mencapai orgasme yang entah sudah keberapa kali. Sekitar 8 menit kemudian, Tomy semakin gencar dan cepat mendorong penisnya ke atas juga nafasnya yang semakin memburu. Aku tau kalau sebentar lagi Tomy akan menyemprotkan spermanya ke dalam vaginaku, jadi aku menggerakkan pinggulku lebih hebat lagi. Tak beberapa lama, Tomy menyemburkan spermanya ke dalam vaginaku dan karena aku juga mengalami orgasme, cairanku dan sperma Tomy bercampur aduk di dalam vaginaku. Kami berdua berdiam sambil menunggu penis Tomy selesai menyemburkan sperma dan sekaligus kami berdua mengatur nafas kami masing-masing. Beberapa menit kemudian, penis Tomy mengecil dengan sendirinya sehingga langsung lolos keluar dari vaginaku. Aku bangun dari atas tubuh Tomy lalu aku membersihkan sisa-sisa sperma yang masih ada di penis Tomy.
“emang bener-bener enak banget kalo maen ama kamu,,”.
“iya donk,,siapa dulu,,Bunga gitu loh…”, kataku sambil menjilati jari-jariku yang ada sedikit sperma Tomy karena tadi sambil membersihkan penisnya, aku sempat memegangnya.
“oh ya,,besok kamu ada acara gak?”, tanyaku.
“ada,,kenapa?”.
“yah,,padahal tadinya aku mau ngajak kamu ketemu Mang Karyo dan Mbah Tanto,,”.
“oh,,mau ngomongin masalah pernikahan ya?”.
“iya,,emang besok gak bisa diwakilin aja ama anak buah kamu?”.
“gak bisa,,klien aku mintanya aku ngawasin langsung sampe minggu depan,,”.
“oh,,yaudah,,”.
“kamu marah ya?”.
“nggak,,yauda,,berarti minggu depan ya..”.
“okeh,,sweety,,”.
“yank,,pulang sana,,udah jam 12 malem tuh”.
“ngusir nih?”.
“kalo iya kenapa,,wee,,hehe,,becanda..tadi kan kata kamu, besok ada urusan, jadi kan harus tidur yang cukup”.
“tapi aku maunya nginep disini..”.
“kan dokumen-dokumen dan yang lainnya ada di apartemen kamu,,”.
“oh iya ya,,”.
“lagian kalo nginep di sini, adanya kamu malah ‘ngerjain’ aku semaleman,,ya kan?”.
“hehehe,,iya juga sih,,yaudah deh,,aku pulang aja”. Tomy bangun dari tempat tidur dan memakai pakaiannya lagi sementara itu, aku juga bangun dari tempat tidur dan duduk di tepian ranjang.
“pulang dulu ya,,”, kata Tomy setelah selesai memakai bajunya.
“aku anterin ampe depan ya,,”.
“nggak usah,,”.
“udah,,gak apa-apa..aku juga sekalian mau ngunci pintu”.
“oh,,yaudah,,”.
“bentar ya,,aku make baju dulu”, aku memakai kaos yang kebesaran sehingga bisa menutupi pantat dan vaginaku.
“yuk,,”.
“lho,,kamu gak pake celana?”.
“nggak ah,,males,,”.
“terserah kamu aja deh..yok turun,,”. Lalu kami berjalan ke luar rumah, sebelum masuk mobil, Tomy mencium jidatku.
“pulang dulu ya sayang..”.
“ati-ati ya nyetirnya..jangan ngebut-ngebut ya..”.
“iya,,oh ya,,jangan lupa mandi ya..”.
“hah? mandi?”.
“iya,,supaya memek kamu gak lengket,,”.
“oh..nggak ah,,dingin tau mandi jam segini..”.
“tapi gapapa tuh? ntar jadi ada noda-noda di selangkangan kamu,,”.
“gak apa-apa,,kan peju kamu ini,,lagian besok pagi bisa aku bersihin kok..”.
“hahaha,,bisa aja,,yaudah deh,,aku pulang dulu,,gud nite,,sweet dream ya..dah”.
“dah..”. Lalu Tomy mengendarai menjauhi rumahku, aku pun terus melambaikan tanganku sampai mobil Tomy tidak terlihat lagi olehku, kemudian aku masuk ke dalam rumah setelah mengunci pintu gerbang. Aku mengunci pintu depan rumah dan langsung menuju kamar untuk tidur. Tapi, sebelum tidur aku membuka kaosku karena aku merasa lebih nyaman dengan tidur tanpa mengenakan apa-apa. Aku langsung tidur karena aku memang capek. Jam 10 pagi aku terbangun, aku ngulet untuk meregangkan tubuhku setelah tidur.
“hhooaahhmm,,nym,,nym”, gumamku.
“jam berapa nih?oh jam 10,,,”, kataku pelan karena belum benar-benar melek. Setelah 10 menit mengumpulkan kesadaran akhirnya aku tidak merasa ngantuk lagi.
“mandi ah,,”, lalu aku mandi untuk menyegarkan badan sekaligus membersihkan daerah selangkanganku dari noda-noda sperma Tomy yang sudah mengering.
Setelah selesai mandi, aku keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan tubuhku dengan handuk.
“oh iya,,gue nemuin Mang Karyo ‘n Mbah Tanto aja ah,,”, kataku berbicara sendiri. Aku memakai baju dan rok mini, setelah itu aku mengunci pintu-pintu dan jendela. Kemudian, aku langsung mengeluarkan mobil dari rumah dan aku pun memacu mobilku setelah mengunci pintu gerbang. Tak beberapa lama, aku sampai dan memakirkan mobil di garasi rumahku.
“Mang Karyo !!”, teriakku memanggil Mang Karyo.
“Mang Karyo,,”, teriakku lagi karena tak ada jawaban.
“ah,,mungkin lagi keluar”, aku masuk ke dalam rumah. Aku langsung duduk di sofa dan menyalakan tv untuk mengistirahatkan badanku setelah menyetir. 10 menit kemudian, aku mendengar pintu terbuka dan orang itu masuk ke dalam rumah, untungnya orang itu Mang Karyo bukan maling.
“oh,,Mang Karyo,,kirain maling,,hehe”.
“eh,,ada non Bunga toh,,enak aja Mang Karyo disangka maling,,”.
“iya,,iya,,maap,,kan Bunga cuma becanda,,”.
“oh ya,,non Bunga tumben,,mau kesini gak bilang-bilang dulu,,”.
“emang kenapa kalau Bunga bilang-bilang dulu??”.
“kan Mang Karyo bisa nyiapin ranjang dulu…”.
“huu..dasar..Mang Karyo pikirannya ke ranjang mulu..”.
“hehehe,,ya iyalah,,ngeliat non Bunga,,siapa sih yang gak kepikiran kayak gitu..”.
“yee..perasaan baru minggu kemaren ketemu deh..”.
“iya sih,,tapi udah kangen ama non Bunga,,”.
“kangen ma Bunga apa memek Bunga?hmm?”.
“kangen ma non Bunga donk,,soalnya kan kalau kangen ama non Bunga,,udah pasti kangen ama memek non Bunga..”.
“oh iya ya,,,hahaha..Mang Karyo pinter juga ya..”.
“Mang Karyo gitu loh,,”.
“oh ya,,Bunga mau ngomong serius nih..yuk duduk,,”.
“ok,,tapi non Bunga mau ngomong apa? tumben pake acara serius segala..”.
“gini Mang,,waktu itu kan Mang Karyo pengen nikah ‘n punya anak dari Bunga,,”.
“iya,,iya,,terus?”.
“Mang Karyo masih pengen nikahin Bunga?”.
“iya,,Mang Karyo malah semakin ngebet pengen punya anak dari non Bunga..abisnya anak Mang Karyo diambil ama mertua Mang Karyo sejak istri Mang Karyo meninggal,,”.
“wah kasian Mang Karyo,,jadi sendirian terus donk kalau Bunga gak kesini?”.
“iya,,makanya Mang Karyo pengen banget jadiin non Bunga jadi istri biar tiap malem ada temen,,hehehe”.
“sip dah Mang Karyo,,Bunga bakal jadi istri yang baik,,tapi ada masalah lain..”.
“apa?”.
“Bunga pengen ada 2 orang lagi yang jadi suami Bunga..”.
“siapa?”.
“Mbah Tanto ama satu lagi,, kenalan Bunga”.
“oh,,kalo Mbah Tanto mah juga udah setuju ama Mang Karyo..”.
“ha?maksudnya?”.
“Mang Karyo jadi suami pertama non Bunga,,terus Mbah Tanto jadi suami kedua non Bunga,,”.
“wah,,jadi Mbah Tanto pengen nikah ma Bunga juga?”.
“iya,,sejak kenal ama non Bunga,,kata Mbah Tanto pengen tau kalau punya anak dari cewek cantik, gimana jadinya,,gitu katanya..”.
“kenapa Mbah Tanto gak bilang ke Bunga aja?”.
“takut marah katanya,,”.
“berarti kalau nambah satu lagi,,gak apa-apa kan?”.
“kalau Mang Karyo sih gak apa-apa,,asal bisa bikin generasi baru ama non Bunga,,”.
“kenalan Bunga juga udah setuju,,berarti udah fixed ya,,ok deh,,”.
“kalo gitu,,sekarang udah boleh?”.
“boleh ngapain?”.
“boleh ngelepas rindu ama non Bunga,,”.
“oh,,itu,,iya,,iya,,boleh kok”.
“asik,,tapi Mang Karyo mau nelpon Mbah Tanto,,biar kesini..”.
“ok,,Bunga mandi dulu aja ya,,biar wangi ‘n fresh..”.
“perlu dimandiin?hehehe..”.
“yee,,katanya mau nelpon Mbah Tanto..”.
“iya,,iya,,yaudah non Bunga mandi sana..”. Aku langsung pergi ke kamar mandi sementara Mang Karyo mulai menekan tombol-tombol telpon untuk menelpon Mbah Tanto. Ketika keluar dari kamar mandi, Mang Karyo dan Mbah Tanto sudah berdiri menungguku di depan pintu kamar mandi.
“haduh,,Mang Karyo ngagetin aja,,Mbah Tanto juga ikut-ikutan lagi,,”, protesku.
“hehe,,abisnya udah gak tahan nungguin Neng Bunga mandi,,lama banget,,”, jawab Mbah Tanto.
“yee,,Bunga lama kan biar badan Bunga wangi,,cium aja coba,,”. Mereka berdua langsung mendekati tubuhku dan mengendus tubuhku dari kepala hingga daerah vaginaku.
“hmm,,bener-bener wangi,,”, komentar Mang Karyo.
“iya bener,,apalagi memeknya,,”, tambah Mbah Tanto.
“kok cuma ampe situ ngendusnya?”.
“iya donk,,lutut ke bawah enggak penting,,hehe”, balas Mbah Tanto.
“yee,,ada ada aja nih Mbah Tanto,,”, kataku.
“non,,udah yuk,,ke kamar,,udah gak tahan,,”, pinta Mang Karyo.
“aduh,,ntar dulu dong,,belom juga dikeringin pake handuk,,”.
“yaudah,,biar Mang Karyo ama Mbah Tanto aja yang ngelapin badan non Bunga,,”.
“yaudah,,”. Lalu Mang Karyo dan Mbah Tanto mengambil handuk, mereka mulai mengeringkan tubuhku. Mang Karyo mengeringkan tubuh bagian depanku sementara Mbah Tanto mengeringkan tubuh bagian belakangku. Mbah Tanto menyusupkan tangannya dan meraih payudara kananku dengan tangannya yang tertutup handuk, sementara Mbah Tanto mengeringkan sambil memainkan payudara kananku, Mang Karyo melakukan hal yang sama terhadap payudara kiriku. Mereka berdua memainkan putingku dengan memilin-milin kedua putingku.
“aduuhh,,udaah donghh,,geli nih,,”, desahku pelan.
“kan biar bersih ‘n gak ada kumannya non,,hehe”, jawab Mang Karyo.
Akhirnya, mereka menyudahi memainkan putingku dan melanjutkan mengeringkan tubuhku. Terasa geli ketika Mang Karyo mengeringkan daerah vaginaku bersamaan dengan Mang Karyo yang mengeringkan pantatku. Lalu mereka melanjutkan mengeringkan pahaku sampai kakiku. Tiba-tiba Mang Karyo dan Mbah Tanto berdiri, mereka menaruh handuk di antara kedua paha putihku. Mang Karyo menarik handuk ke arahnya dan dibalas oleh Mbah Tanto yang menarik handuk ke belakang membuat handuk itu bergesek-gesekkan dengan vaginaku seperti gerakan orang yang sedang menggergaji.
“uuummhh,,”, erangku keenakan karena handuk itu terus bergesek-gesekkan dengan vaginaku, itu membuat kakiku terasa lemas, untungnya di depanku ada Mang Karyo jadi aku bisa berpegangan padanya agar aku tidak jatuh. Aku menunjukkan wajahku yang sedang merasa keenakan kepada Mang Karyo yang ada di hadapanku. Dan akhirnya, tubuhku gemetar hebat yang menandakan aku mengalami orgasme dan cairanku mengucur ke handuk yang memang sengaja mereka hentikan untuk menampung cairan vaginaku.
Setelah bagian tengah handuk sudah basah gara-gara cairanku, mereka menggantinya dengan handuk yang tadi Mbah Tanto pakai untuk membersihkan bagian belakang tubuhku. Mereka melakukan hal yang sama seperti tadi, tapi kali ini Mang Karyo melumat bibirku sedangkan Mbah Tanto menjilati tengkuk leherku dan juga kedua telingaku yang memberikan sensasi geli-geli nikmat. Aku hanya bisa meliuk-liukkan tubuhku dan aku tidak bisa mendesah yang merupakan nyanyian jiwa karena aku sedang sibuk bermain lidah di dalam rongga mulutku dengan Mang Karyo. Tidak butuh waktu lama untuk membuatku mengeluarkan cairan vagina lagi sehingga handuk kedua juga basah.
“hhh,,udah donk,,lemes nih,,”, protesku setelah Mang Karyo melepaskan cumbuannya terhadapku.
“abisnya enak sih mainin memeknya neng Bunga,,”, jawab Mbah Tanto.
“iya,,tapi jangan lama-lama,,lemes tau,,”, kataku.
“iya iya maap non Bunga,,”.
“yaudah,,ga papa,,oh iya,,katanya mau ngelepas kangen ama Bunga?”, tanyaku untuk menggoda mereka berdua.
“oh iya,,ayo non ke kamar,,”. Mereka berdua memapahku ke kamar, selama memapahku menuju kamar, mereka sering mencium dan menjilati pipiku yang putih sehingga pipi kiriku basah oleh air liur Mbah Tanto dan pipi kananku basah oleh air liur Mang Karyo. Setelah sampai di kamar, mereka menaruh tubuhku di atas ranjang. Mereka membuka baju mereka masing-masing dengan tergesa-gesa, mungkin mereka sudah tak sabar ingin melepas rindu kepadaku yang tergolek lemas dan pasrah menunggu mereka. Dalam waktu sebentar, Mang Karyo dan Mbah Tanto sudah telanjang sehingga penis mereka yang sudah biasa menghuni vagina, anus, dan mulutku bisa terlihat olehku mengacung tegak ke arahku seolah menantangku.
“ayo sini,,”, kataku. Mereka berdua langsung naik ke atas ranjang. Mereka langsung membagi jatah atas tubuhku menjadi 2, Mang Karyo menjilati bagian tubuh kananku dan Mbah Tanto menjilati bagian tubuh kiriku.
Mereka berdua menjilati dari jidatku hingga ke jari-jari kakiku, tapi mereka sengaja melewatkan daerah vaginaku mungkin sengaja untuk saat terakhir.
“ih,,gak jijik apa jilatin kaki Bunga?”, tanyaku setelah mereka membuat jari-jari kakiku basah oleh air liur mereka.
“gak apa-apa,,non Bunga mah dari ujung rambut ampe ujung kaki,,wangi,,”.
“nah,,neng Bunga gak jijik,,badan neng jadi ludah semua g,,”.
“ah gak papa,,udah biasa kena ludah Mbah Tanto ama Mang Karyo,,lagian Bunga seneng kok,,”.
“non Bunga,,udah siap memeknya dijilatin?”.
“udah siap dari tadi,,silakan,,”, kataku mempersilakan mereka untuk menjilati daerah vaginaku. Mang Karyo menekuk kedua kakiku dan melebarkan kakiku sehingga terlihat seperti huruf M, Mang Karyo menaruh kepalanya di depan vaginaku. Mang Karyo langsung menjilati vaginaku sedangkan Mbah Tanto menjilati klitorisku.
“eemmhhh,,,oohhh”, desahku pelan sambil bernafas dengan nafas yang memburu. Mbah Tanto menyapu bibir luar vaginaku dari atas ke bawah dan sebaliknya.
Mbah Tanto mengimbangi permainan lidah Mang Karyo dengan menyentil-nyentil klitorisku membuatku semakin menggelinjang keenakan. Tak beberapa lama, Mang Karyo sedang menyeruput cairanku karena aku sudah orgasme. Setelah Mang Karyo selesai, dia gantian dengan Mbah sehingga aku juga memberi minum Mbah Tanto dengan cairan vaginaku 5 menit kemudian. Mang Karyo dan Mbah Tanto menghimpit tubuhku dengan Mang Karyo yang mengisi vaginaku dengan penisnya berada di bawah tubuhku sedangkan Mbah Tanto yang mengisi liang anusku dengan penisnya berada di atasku alias menindih tubuhku. Tubuh putih mulusku dihimpit kedua lelaki yang sudah biasa menghujamkan penisnya ke dalam tubuhku. Mang Karyo dan Mbah Tanto memang paling suka membuatku terhimpit di antara mereka berdua. Aku mengalami orgasme dan menyiram penis Mang Karyo yang sedang mengaduk-aduk vaginaku. Suasana di luar sangat hening sehingga aku bisa mendengar suara desahanku, suara pompaan penis Mang Karyo dan Mbah Tanto, serta nafas memburu mereka berdua karena mereka sangat bernafsu menyetubuhiku.
Akhirnya, mereka menyelesaikan ronde pertama dengan menembakkan sperma ke dalam vagina dan anusku.
“heemhh,,hhh,,”, nafasku berat. Mbah Tanto mencabut penisnya setelah penisnya selesai memuntahkan isinya ke dalam anusku. Mang Karyo menurunkanku dari tubuhnya dan membuatku tidur terlentang di ranjang.
“emang enak banget ngentotin neng Bunga,,”.
“bener kata Mbah Tanto,,gak ada bosen-bosennye,,”, tambah Mang Karyo.
“bisa aja,,oh iya,,Mang Karyo ato Mbah Tanto,,tolong ambilin minum dong,,aus nih,,”.
“oke tuan putri,,hehe”, kata Mang Karyo keluar dari kamar sementara Mbah Tanto bergabung denganku di ranjang dan kami berdua saling berhadap-hadapan.
“Mbah Tanto,,pijitin Bunga dong,,udah lama gak dipijit Mbah Tanto,,”.
“oke deh neng Bunga yang cantik kayak bidadari,,”. Aku langsung tidur tengkurap, Mbah Tanto naik ke atas tubuhku dan mulai memijat dari bahuku, punggungku, pinggangku. Ketika tangan Mbah Tanto sampai di pantatku, bukannya memijat, Mbah Tanto malah menepuk-nepuk pantatku seperti sedang bermain gendang.
“kok pantat Bunga dijadiin gendang?”.
“abisnya pantat neng Bunga kenyel banget,,jadi enak buat dimaenin,,”.
“Mbah Tanto payah,,masa maenannya nepokin pantat orang,,woo,,hehehe”.
“biarin,,oh ya neng Bunga kok lobang pantatnya keliatan masih sempit sih? padahal udah berkali-kali Mbah Tanto ‘n Karyo ngaduk-ngaduk pantat neng Bunga?”, kata Mbah Tanto sambil melebarkan pantatku yang kenyal dan putih mulus sehingga lubang anusku yang belepotan sperma bisa terlihat oleh Mbah Tanto.
“gak tau deh,,dari sananya,,tapi bagus kan kalo kayak gitu,,”.
“iyalah,,”.
“si Mang Karyo mana? lama amat ngambil minum doang?”.
“tau,,si Karyo mane nih,,”. Mang Karyo masuk ke dalam kamar.
“panjang umur banget lo Yo,,”, kata Mbah Tanto.
“non Bunga udah nunggu lama ya,,”.
“iya nih,,tenggorokan Bunga udah kering,,mana minumannya?”.
“ada di meja makan,,kita sekalian makan aja,,”.
“wah,,pas banget,,Bunga juga udah laper nih,,tau aja Mang Karyo,,jadi makin sayang deh,,hehe”.
“kok neng Bunga sayangnya ama Karyo doang,,ama Mbah Tanto nggak?”.
“iya,,Bunga juga sayang kok ama Mbah Tanto,,”, kataku sambil mencubit pipi kempot Mbah Tanto. Mbah Tanto dan Mang Karyo memakai celana pendek mereka sementara aku bangun dari tempat tidur.
“yok,,makan yuk,,”, kataku sambil menarik tangan mereka keluar dari kamar.
“lah,,non Bunga gak pake baju?”.
“gak usah,,kan cuma kita betiga ini,,lagipula lebih adem kalo kayak gini,,hehe”.
“neng Bunga udah cantik, sexy, nakal lagi,,jadi makin gemes,,”, kata Mbah Tanto sambil menepok pantatku.
“hehe,,udah yuk ah,,mari kita makan,,”.
“oke non Bunga,,”. Kami mulai makan makanan yang telah Mang Karyo siapkan di meja makan. Setelah makan dan istirahat sebentar agar makanan yang baru kami makan turun ke perut. Aku melihat Mang Karyo dan Mbah Tanto mencampur sesuatu ke minuman mereka kemudian mereka meminumnya.
“wah,,minum apa tuh? minum jamunya Mbah Tanto ya?”.
“iya non,,”.
“ah curang,,”.
“abisnya pengen lepas kangen ama neng Bunga seharian,,”, tambah Mbah Tanto.
“besok,,Bunga juga masih ada disini,,”.
“besok juga seharian,,hehe”.
“huu,,dasar,,hahaha,,”.
“jadi non Bunga gak mau nih?”, tanya Mang Karyo.
“Bunga kan mau jadi istri yang baik,,masa Bunga nolak,,”.
“oh iya ya,,”.
“jadi tambah gak sabar pengen nikah ama neng Bunga,,bisa puas tiap hari,,hehe”, tambah Mbah Tanto. Ronde kedua dimulai, kali ini Mbah Tanto yang mengisi liang vagina dan Mang Karyo yang mengisi anusku. Aku melayani mereka seharian hingga tubuhku benar-benar lemas bagaikan tak bertulang karena entah sudah berapa kali aku orgasme. Untung keesokan harinya, Mang Karyo dan Mbah Tanto sedang ada urusan di kelurahan sehingga dari pagi sampai sore, aku bisa bersantai dan mengobrol dengan warga desa yang lain, aku lumayan terkenal karena sejak kecil sampai sekarang aku sering mengobrol dan membantu warga desa. Para lelaki di desaku, tidak ada yang tidak mengenalku karena meskipun mereka sering menggodaku dan berbicara jorok kepadaku, aku tidak marah, malah aku menanggapi mereka sehingga mereka nyaman mengobrol denganku.
Mang Karyo dan Mbah Tanto pulang sore-sore, aku langsung masuk kandang dan tidak keluar rumah lagi karena harus melayani Mang Karyo dan Mbah Tanto. Aku pulang setelah 5 hari aku menjadi tempat penyimpanan sperma Mang Karyo dan Mbah Tanto. Aku memberi tau ke seluruh keluargaku kalau aku akan menikah 2 minggu lagi dengan Tomy. Mendengar kabar itu, orang tuaku dan seluruh keluargaku sangat bahagia. Orang tuaku berencana pulang untuk mempersiapkan pernikahan dengan Tomy. Sedangkan Tomy, aku menyuruhnya untuk mengakrabkan diri dengan Mang Karyo dan Mbah Tanto. Awalnya, aku takut kalau Tomy susah mengakrabkan diri dengan Mang Karyo dan Mbah Tanto karena perbedaan usia, tapi tak kusangka, mereka jadi sangat akrab bagaikan teman yang sudah lama tak bertemu. Yang membuat mereka jadi sangat akrab adalah aku karena mereka saling bertukar pengalaman bagaimana pertama kali bertemu denganku. Setidaknya, itulah yang kudengar dari Tomy.
Ketiga calon suamiku sudah akrab, kedua keluarga juga sudah ada di Indonesia, undangan sudah disebar, dan segala persiapan sudah selesai sehingga tinggal pelaksanaannya saja. Gaun pernikahan pun sudah kubeli bersama teman-temanku. Hari H datang, meskipun aku sudah tau Tomy luar dalam, tapi aku tetap deg-degan mungkin inilah perasaan seorang wanita jika menikah. Akhirnya, aku resmi menjadi istri Tomy, sekarang tinggal makan-makan dan foto-foto.
“wah,,kembang kampus ngeduluin kita nih,,”, kata temanku yang bernama Nina.
“hahaha,,bisa aja lo Nin,,”.
“padahal tadinya gue mau pdkt ke lo,,”, kata Agus yang merupakan temanku juga.
“hahahaha,,lo sih gak bilang-bilang,,”.
“eh,,lo gak salah pilih suami? lo kan cantik banget,,tapi maap ya,,suami lo gak ganteng sih?”, tanya Dewi, temanku.
“ya mau gimana lagi,,udah cinta sih,,kan cinta itu buta”.
“ahaha,,bisa aja lo,,”. Aku dan teman-temanku mengobrol sambil tertawa-tawa, begitu juga Tomy. Aku mengenalkan teman-temanku ke teman-teman Tomy.
Pesta berakhir saat sore hari, para tamu pulang, begitu juga keluargaku dan keluarga Tomy kembali ke luar negeri.
“Tom,,kamu udah siapin rumah kita kan?”.
“udah,,mendingan kita langsung nemuin Mang Karyo ‘n Mbah Tanto,,”.
“oh iya,,yuuk,,”. Kami berangkat ke desa dengan mobil Tomy. Hari itu, aku menikah 3x, tentu saja pernikahan dengan Mang Karyo dan Mbah Tanto tidak resmi, tapi hanya pernikahan sirih saja karena aku takut repot nantinya dan keliatannya Mang Karyo juga Mbah Tanto tidak keberatan jika tidak menikah resmi denganku. Aku, Tomy, Mang Karyo, dan Mbah Tanto langsung pergi ke rumah yang akan menjadi rumah kami. Tomy menyetir, Mang Karyo dan Mbah Tanto duduk di kursi belakang sementara aku duduk di samping Tomy.
“akhirnya,,bisa bikin anak juga,,”, kata Mbah Tanto.
“iya,,tapi inget ya,,ntar Mang Karyo duluan,,abis itu Mbah Tanto,,terakhir Tomy,,”, kataku.
“oke,,”, jawab Tomy.
“kamu gak apa-apa Tom dapet terakhir?”, tanyaku takut Tomy tidak senang.
“gak apa-apa kok,,kan Mang Karyo udah kenal kamu dari SMA,,”.
“dek Tomy bener gak apa-apa? kalo mau duluan,,gak apa-apa kok dek Tomy”, tanya Mang Karyo.
“gak ko Mang,,Mang Karyo yang pertama ntar,,”. Kami sampai juga di rumah baru kami yang sudah tertata rapi karena Tomy sudah menyiapkan rumah ini seminggu sebelumnya. Aku, Mang Karyo, dan Mbah Tanto keluar dari mobil sambil menunggu Tomy selesai memarkir mobil. Setelah Tomy selesai memarkir mobil, kami berempat masuk ke dalam rumah.
“Bunga mandi dulu ya,,”.
“yaudah,,kita juga mau istirahat dulu,,iya kan Mang Karyo, Mbah Tanto?”.
“he eh,,”, jawab mereka berdua. Tomy tidak tanggung-tanggung membeli rumah, rumah ini terdiri dari ruang dapur yang besar, ruang makan, ruang santai, ruang keluarga, ruang tamu, 2 kamar pembantu, 2 kamar tamu, 2 kamar kosong, 3 kamar, 1 kamar yang sangat besar, dan kamar mandi di setiap kamar. Aku menggunakan kamar mandi yang ada di kamar besar. Begitu aku masuk ke kamar yang paling besar, ada 1 ranjang yang sangat besar, 1 lemari pakaian, 1 buah tv yang sangat besar, meja rias dengan segala alat-alat kecantikan, cermin yang bisa menunjukkan dari kepala sampai kaki, dan hal-hal cewek lainnya.
Setelah mandi dan mengeringkan tubuhku, aku langsung keluar tanpa memakai apa pun dan menuju ke 3 suamiku yang sedang duduk dan menonton tv di ruang keluarga.
“Bunga mau nanya sesuatu nih?”, aku duduk di samping Mang Karyo.
“nanya apa?”, jawab mereka serentak.
“kan kita berempat udah nikah nih,,mau manggil Bunga apa?honey, sayang, apa mami?”.
“kalau aku,,mimi aja ah,,”, kata Tomy.
“oke,,kalau Mang Karyo ama Mbah Tanto?”.
“tetep aja deh,,”, kata Mang Karyo.
“iya,,sama ama Karyo”, kata Mbah Tanto.
“ha? tetep? yakin? sekarang boleh manggil apa aja kok,,”.
“nggak ah,,”.
“oh yaudah,,tapi Bunga boleh kan manggil papa ke kalian semua,,”.
“boleh lah,,”, jawab mereka serentak
“oh iya,,papa-papa sekalian jangan ada yang minum obat kuat ya,,soalnya Bunga pengen malem pertama yang alami,,”.
“beres,,”, jawab mereka bertiga.
“nah,,ayo sekarang papa Karyo duluan yuk,,”, kataku sambil menarik tangan Mang Karyo ke kamar yang paling besar.
“duluan ya,,”, kata Mang Karyo mengejek Mbah Tanto dan Tomy.
“dasar,,”, kata Tomy. Aku dan Mang Karyo bercinta dengan penuh gairah, dan malam itu sperma Mang Karyo yang pertama kali mencoba menembus sel telurku. Setelah beristirahat sejenak sehabis bercinta dengan Mang Karyo, aku keluar dari kamar dan menuju ruang keluarga bersama Mang Karyo dengan penis yang sudah lemas.
“ayo,,sekarang giliran papa Tanto,,”, aku menarik tangan Mbah Tanto
“dek Tomy,,yang sabar ya,,”, kata Mbah Tanto mengejek Tomy.
“aduh jadi gak sabar,,”, kata Tomy. Mbah Tanto menyetubuhiku dengan sangat bernafsu. Mbah Tanto menanamkan benihnya ke dalam vaginaku untuk membantu sperma Mang Karyo menembus sel telurku. Tubuhku sudah berpeluh keringat akibat begitu ‘panas’nya persetubuhanku dengan Mang Karyo dan Mbah Tanto. Aku keluar bersama Mbah Tanto ke ruang keluarga lagi.
“nah,,sekarang giliran papa Tomy deh,,”, kataku.
“asik,,akhirnya,,”. Di ranjang, Tomy menciumi dan menjilati seluruh bagian tubuhku yang sudah berkeringat, dia seperti memujaku bagaikan dewi. Satu bagian yang tidak ia jilati yaitu daerah selangkanganku karena sudah sangat belepotan sperma Mang Karyo dan Mbah Tanto. Aku memberinya kesempatan 2 kali untuk menembakkan spermanya ke dalam vaginaku karena aku kasihan padanya yang menunggu paling lama. Jadi, sekarang di dalam rahimku, sel telurku sedang dikeroyok oleh sperma dari 3 orang, mudah-mudahan bisa tembus sehingga aku bisa cepat mempunyai anak. Aku kembali ke ruang tamu dengan vagina yang sangat belepotan sperma.
“fiiuhh,,capek juga ya punya 3 suami,,”, kataku sambil duduk di samping Tomy.
“mudah-mudahan bisa cepet,,”, kata Mang Karyo.
“oh iya,,Bunga mau ngatur jadwal nih buat papa-papa,,”.
“jadwal apa?”, tanya mereka serempak.
“jadwal jatah lah,,”.
“oh,,”.
“gini,,kamar utama ada 4 kan,,masing-masing papa nempatin 1 kamar,,”.
“terus?”, tanya mereka serempak.
“hari Senin,,Bunga ngelayanin papa Karyo seharian penuh,,hari Selasa Bunga milik papa Tanto,,hari Rabu Bunga punya papa Tomy,,terus Kamis ama Jumat,,kita maen rame-rame deh”.
“terus Sabtu Minggu?”, tanya Mbah Tanto ingin tau.
“Sabtu Minggu bebas,,boleh jalan-jalan atau maen bareng lagi,,”.
“terus kalo misalnya papa Karyo ada urusan pas hari senin? jadi gak dapet jatah yang sendirian itu dong?”.
“nah,,Sabtu Minggu kan ada tuh,,”.
“oh iya,,iya,,ngerti”, jawab Mang Karyo.
“yah,,Mimi,,berarti lama dong,,papa Tomy dapet jatah sendiriannya?”.
“nggak,,minggu depannya digeser,,hari Senin papa Tanto, hari Selasa papa Tomy, hari Rabu papa Karyo, terus minggu depannya digeser lagi deh,,gimana,,adil kan?”.
“tapi boleh diganggu gak pas jatah sendiri?Hehehe”, tanya Mang Karyo.
“namanya juga jatah sendirian,,masa masih mau diganggu juga,,papa Karyo maruk ih,,hehehe”.
“abisnya pengen ngentotin non Bunga tiap hari,,”.
“yee,,dasar,,papa Karyo maruk,,woo,,udah ya,,Bunga mau tidur dulu,,”.
“yah kok tidur,,”, kata Mang Karyo kecewa.
“iya,,mending kita usaha bikin anak lagi,,”, tambah Tomy.
“katanya mau jadi istri yang baik,,”, Mbah Tanto menambahkan.
“biarin,,wee”, kataku sambil memeletkan lidahku.
“yee ngeledek,,yauda,,kita perkosa aja nih istri kita yang cantik tapi bandel ini”, kata Mang Karyo.
“ayo,,”, jawab Mbah Tanto dan Tomy serentak.
“aduh,,jangan dong,,ternyata ganas-ganas nih,,”, kataku sambil cekikikan. Aku diserang mereka bertiga, penis Mang Karyo di vaginaku, penis Mbah Tanto di anusku, dan penis Tomy di mulutku. Setiap 5 menit, mereka berganti lobang sehingga mereka bertiga kebagian semua lubangku. Setelah 30 menit, mereka bertiga menyemburkan sperma sekitar 3x semburan ke wajahku secara bersamaan, dan menyemprotkan sisanya ke payudaraku. Aku meratakan sperma yang ada di wajah dan payudaraku sehingga wajah dan payudaraku terlihat mengkilap.
“udah puas belum?”, tanyaku.
“belum sih,,tapi kasian non Bunga capek,,”, kata Mang Karyo.
“iya,,neng Bunga tidur aja,,”.
“kita mau nonton bola,,Mimi tidur duluan aja,,”.
“yaudah,,oh iya Bunga tadi cuma becanda,,Bunga gak bakal nolak ngelayanin papa-papa, jadi papa Karyo, papa Tanto, sama papa Tomy jangan ‘jajan’ diluar ya,,ntar kena AIDS,,”.
“udah pasti,,kalau istri secantik Mimi mah gak mungkin jajan diluar,,”.
“iya,,bener kata si Tommy,,”, tambah Mang Karyo.
“yaudah,,Bunga tenang,,Bunga tidur dulu ya,,dadah,,papa-papaku yang tersayang”.
“dah,,”. Aku tidur di kamar besar yang menjadi tempat malam pertamaku dengan 3 suamiku sehingga sambil mencoba untuk tidur aku bisa mencium aroma keringat dan sperma, ditambah lagi sperma yang ada di wajah dan payudaraku mulai mengering. Tapi, itu semua tidak membuatku susah tidur karena aku memang sudah capek. Selanjutnya, aku membagi jatah tubuhku sesuai jadwal yang kubuat sendiri. Karena pada setiap hari aku dibuahi seharian penuh, dalam waktu 3 minggu saja aku mulai mual-mual dan setelah diperiksa dokter kandungan ditemani Tomy, aku resmi mengandung anak dari benih gabungan antara Mang Karyo, Mbah Tanto, dan Tomy.
Tapi, tetap saja mereka menyetubuhiku hingga usia kandunganku mencapai 2 bulan. Aku sudah menyewa 2 pembantu wanita untuk bantu-bantu membersihkan rumah, dan 2 orang satpam. Awalnya mereka bingung kenapa aku punya 3 suami, tapi lama kelamaan mereka terbiasa. Mang Karyo, Mbah Tanto, dan Tomy memperlakukan aku bagai putri, segala keinginanku mereka penuhi, mereka juga mampu menahan nafsu mereka sehingga aku merasa nyaman. Selama mengandung, Mbah Tanto membuatkan jamu agar nanti aku melahirkan dengan mudah. Sampai bulan ke 7, aku mengidam yang biasa-biasa saja seperti makan yang asam, ingin merasakan masakan yang aneh-aneh dan sebagainya. Tapi, awal bulan ke 8 mulai aneh, aku mengidam hal-hal yang berhubungan dengan sperma, contohnya aku mengidam minum sperma memakai gelas, memakan roti atau biskuit dengan sperma, dan sebagainya. Aku takut kalau nanti anakku perempuan dan jadi sepertiku yang senang dengan kesenangan surga dunia, tapi aku tidak memikirkannya karena takut ketulah dan jadi kenyataan.
Akhirnya, waktu melahirkan tiba setelah air ketubanku pecah.
“mmmfffhh,,”, suaraku menekan bayiku keluar.
“ayo teruss,,kamu bisa,,”, dukung Tomy yang ada di sampingku dan menggenggam tanganku dengan erat. Mungkin karena jamu Mbah Tanto hanya dengan 3x dorongan bayiku sudah keluar.
“selamat,,nyonya Bunga,,anak anda perempuan,,”.
“hfffhh,,terima kasih dok”. Lalu tim dokter membawa bayiku ke ruang inkubator setelah dibersihkan. Tomy mengelap keringatku dan mengecup keningku.
“akhirnya,,anak kita berempat lahir,,”.
“iyaahh,,”, kataku lemah. Keluargaku dan keluarga Tomy datang keesokan harinya untuk menjenguk bayiku. Aku mengurus bayiku yang kuberi nama Monissa Putri Indriani di rumah keluargaku karena keluargaku memaksa ingin merawat bayiku, keluarga Tomy juga kadang-kadang berkunjung ke rumah untuk melihat bayiku. Aku ke rumahku bersama Tomy untuk menemui Mang Karyo dan Mbah Tanto. Untung, mereka mengerti dan tidak marah kalau bayi kami masih ada di rumah keluargaku, malah Mbah Tanto membuatkanku jamu untuk melangsingkan tubuh sehabis hamil.
Kalau diliat-liat, tubuhku memang bertambah besar sehabis persalinan.
“papa Tanto bisa bikin jamu apa aja ya?”.
“ya lumayan bisa banyak macem bikin jamunya,,”.
“wah,,gak nyangka papa Tanto hebat,,”.
“oh iya,,jangan lupa ngurusin badan ya,,”.
“iya,,iya,,Bunga bakal ngurusin badan,,biar papa-papa nafsu lagi,,”.
“bagus deh,,tapi toketnya jangan ya,,bagus nih”, kata Mang Karyo sambil memegang payudaraku yang kini 36 C karena penuh susu.
“iya nih,,bagus,,”, tambah Mbah Tanto sambil menarik kaosku ke atas sehingga payudaraku yang semakin besar tapi tetap kencang bisa dipegang-pegang oleh Mang Karyo dan Mbah Tanto. Ketika mereka berdua meremasnya, susu langsung terpancar keluar dari kedua putingku.
“wih,,sekarang ada susunya,,bagi ya,,”, kata Mang Karyo.
“yaudah,,tapi jangan banyak-banyak ya,,ntar dedek bayi gak kebagian,,”.
“iya,,iya,,”. Aku merasa geli dan nikmat ketika mereka berdua menghisap keluar susu dari kedua putingku. Tomy datang dan melihat Mang Karyo juga Mbah Tanto sedang menyusu kepadaku.
“wah,,Mimi lagi bagi-bagi susu ya,,”.
“enak aja,,emangnya aku tukang susu,,nih papa Karyo ‘n papa Tanto pengen minta susu,,papa Tomy mau juga?”.
“mau dong,,”.
“yaudah,,tapi abis papa Tanto ya,,”, mereka berdua menyedot susuku selama 5 menit.
“papa Tanto,,papa Karyo,,udahan dong,,jangan diabisin,,”, kataku sambil menepuk-nepuk kepala mereka berdua. Ketika Mbah Tanto selesai, Tomy langsung menggantikan posisinya meminum susu dari payudara kiriku.
“maap non Bunga,,abisnya susu non Bunga manis banget,,”.
“iya,,masih seger lagi,,langsung dari sumbernya,,”, tambah Mbah Tanto. Setelah 5 menit, Tomy selesai meminum susuku.
“udah kan,,Bunga pulang dulu ya,,papa Karyo,,papa Tanto,,”.
“jangan lama-lama ya pulangnya,,gak sabar pengen ngerawat dedek bayi,,”, kata Mang Karyo.
“oke,,daah,,”. Selama sebulan, aku merawat bayiku bersama keluargaku hingga keluargaku kembali ke luar negeri karena proyek ayahku disetujui dan harus cepat dilaksanakan.
Aku kembali ke rumahku untuk merawat buah hatiku bersama Mang Karyo, Mbah Tanto, dan Tomy. Mang Karyo dan Mbah Tanto keliatan sangat senang karena mereka memang baru melihat buah hati kami.
“ternyata bener ya Yo,,”.
“kenapa Mbah?”.
“kalo cewek cantik pasti anaknya juga cantik ya,,”.
“iya Mbah,,masih bayi aja udah cantik ‘n lucu begini,,”.
“papa Karyo,,papa Tanto bisa aja,,ini kan hasil kita berempat,,”.
“oh iya non Bunga,,kayaknya badannya udah bagus lagi tuh,,”.
“ini gara-gara Bunga minum jamu papa Tanto ‘n sering olahraga,,oh iya,,papa Karyo sama papa Tanto manggil Bunga jangan kayak dulu dong,,”.
“emang kenapa?”, tanya Mbah Tanto.
“ntar anak kita kalo udah gede bingung,,”.
“iya juga sih,,terus manggil apa?”, tanya Mang Karyo.
“papa Karyo panggil mami.,papa Tanto manggil mama,,”.
“tapi susah,,gak biasa,,”.
“ya harus dibiasain,,demi anak kita,,okeh.?”. Sejak saat itu Mang Karyo dan Mbah Tanto mulai belajar menyebutku dengan Mami dan Mama.
Dalam waktu 2 bulan, tubuhku sudah kembali ke bentuk semula malah kali ini, tubuhku semakin montok karena kedua buah payudaraku kini bertambah besar menjadi 36 C dan pantatku juga semakin bulat dan kenyal, mungkin hasil dari fitness dan jamu buatan Mbah Tanto. Aku meminum obat anti hamil lagi karena mereka mulai melampiaskan nafsu padaku lagi sedangkan aku tidak mau hamil lagi sampai umur anakku 2 tahun. Tentu saja, susuku tidak disia-siakan oleh 3 suamiku, tapi aku tidak memberikannya kecuali bayiku sudah meminum susu. Seperti rumah tangga pada umumnya, Tomy dan aku sering berselisih paham, tapi karena kemampuan Mang Karyo yang hebat menenangkan orang serta Mbah Tanto yang bijaksana membuat aku dan Tomy bertengkar paling lama hanya 2 hari, sedangkan Mang Karyo dan Mbah Tanto tidak pernah marah-marah kepadaku. Jika aku sedang bete karena haid, Mang Karyo dan Mbah Tanto malah memanjakanku yang membuatku jadi tidak marah lagi. Aku menanyakan kenapa mereka tak pernah marah-marah kepadaku.
Jawaban yang mereka berikan karena mereka sangat mencintaiku dan sama sekali tidak mau menyakitiku. Oleh sebab itu, pernikahan kami tidak mengenal dan tidak pernah terucap yang namanya kata cerai karena kami hidup harmonis. Aku tidak tau apakah mereka bertiga ‘jajan’ di luar atau tidak, tapi yang pasti aku selalu mencuci penis mereka bertiga dengan telaten setiap mereka bertiga pulang dari suatu tempat. 2 tahun lewat, aku siap untuk hamil yang kedua kalinya karena itu aku tidak meminum obat anti hamil lagi. Dalam waktu 1 bulan, aku sudah mengandung dan melahirkan 9 bulan setelahnya dengan normal tanpa operasi cesar mungkin karena jamu Mbah Tanto. Bayi keduaku adalah laki-laki dan kami beri nama Agus Putra Widyanto . Aku membiasakan kedua anakku untuk memanggil Mang Karyo dengan sebutan Papi, Mbah Tanto dengan sebutan Papa, dan Tomy dengan sebutan Ayah. Semakin besar, mereka bertanya-tanya kenapa ayah mereka ada 3. Aku hanya menjawab aku cinta kepada 3 ayah mereka.
Aku mengikuti program KB sehingga aku tidak bisa hamil lagi, tapi tetap saja Mang Karyo, Mbah Tanto, dan Tomy tidak bisa melampiaskan nafsu mereka kepadaku dengan mudah seperti dulu karena kini, ada 2 anak yang selalu membuntutiku. Mereka mulai beranjak remaja, aku menjelaskan kenapa mereka mempunyai 3 ayah. Aku mengira mereka akan menganggap aku pelacur atau semacamnya karena mempunyai 3 suami, tapi mereka malah bersyukur karena mempunyai 3 orang ayah sehingga kasih sayang yang mereka dapat 3x lebih banyak. Aku lega sekali karena rahasia yang kusimpan dari 2 anakku sedari dulu akhirnya kuceritakan dan mereka menerima keadaan ibu mereka dengan senang hati. Tomy menjadi penerus dari perusahaan-perusahaan ayahnya yang telah merajai pasar dunia, Mbah Tanto membuka perusahaan jamu dengan modal dari Tomy, Mang Karyo malah menjadi ahli jiwa meskipun tidak mempunyai gelar sarjana psikologi tapi semua pasien yang pernah datang kepadanya merasa masalah mereka bisa terpecahkan setelah berkonsultasi dengan Mang Karyo, sedangkan perusahaan ayahku, kuberikan posisiku ke adikku karena dia selalu ingin memimpin perusahaan ayah.
Mang Karyo, Mbah Tanto, dan Tomy sukses dalam bidangnya masing-masing serta adikku selalu memberikan 40% keuntungan perusahaan setiap tahunnya kepadaku. Itu semua membuat keluargaku sangat kaya, tapi untungnya aku selalu membiasakan kedua anakku untuk hidup sederhana sehingga mereka tidak menjadi anak manja yang kerjanya menghabiskan uang. Mbah Tanto memberikan jamu ‘pembentuk tubuh’ kepada Monissa sehingga tubuhnya berkembang menjadi tubuhku yang dulu malah lebih sintal dan putih. Agus diberikan jamu ‘perkasa’ oleh Mbah Tanto sehingga badannya atletis dengan sendirinya. Monissa tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan sexy, sementara Agus tumbuh menjadi pemuda yang tampan, gagah, dan macho. Mbah Tanto menurunkan kemampuannya membuat jamu ke Monissa sedangkan Mang Karyo menurunkan kemampuannya mencari solusi ke Agus. Tomy telah memutuskan penerus perusahaan adalah Agus.
Adikku juga memberikan setengah kekuasaan perusahaan keluarga kami ke Monissa. Kami menjadi keluarga yang harmonis dan sejahtera. Mbah Tanto meninggal, disusul Mang Karyo 5 tahun kemudian sehingga tinggal aku dan Tomy saja yang melihat kedua anak kami menikah dengan orang baik-baik. Aku lega karena Monissa tidak menjadi sepertiku. Tomy meninggal lebih dulu daripadaku. Aku menyusul 4 tahun kemudian sehingga aku bisa berkumpul lagi dengan Mang Karyo, Mbah Tanto, dan Tomy. Kami melihat kehidupan kedua anak kami dari atas dan kami bahagia karena masing-masing dari mereka mempunyai keluarga yang harmonis juga.
“Non Bunga,,maen yuk,,udah lama gak maen,,”, kata Mang Karyo yang dalam keadaan muda.
“iya nih,,udah lama gak maen ama neng Bunga,,”, tambah Mbah Tanto yang kini dalam keadaan muda juga.
“aku ikutan juga dong,,”, ujar Tomy.
“ayo,,papa-papaku,,”, kataku yang dalam keadaan umur 18 tahunan. Kami menutup pintu rumah akhirat kami dan terdengarlah suara yang tidak asing lagi.
THE END
#############################################
