Nightmare Sidestory: The Waiting Time
Minggu pagi jam sepuluh di sebuah perumahan menengah atas sebuah mobil sedan KIA berwarna red wine meluncur menyusuri jalan di perumahan itu. Mobil itu berhenti di sebuah rumah bertingkat dua dengan taman kecil di depannya. Pintu mobil terbuka dan pengemudinya seorang gadis cantik berumur awal duapuluhan. Kacamata hitam menghiasi wajah indonya dengan rambut merah sebahu yang dikuncir kebelakang. Tubuhnya yang indah itu terbungkus pakaian celana sedengkul warna putih dan baju berkancing tanpa lengan yang berwarna sama dengan bawahannya. Gadis itu menjulurkan tangannya ke dalam pagar untuk mencari knop bel. Tak lama kemudian dari dalam sana keluar seorang pria setengah baya yang bertubuh bongkok yang punggungnya seperti punuk unta.
“Cari siapa Non ?” sapanya dengan terkekeh.
“Ngg…anu Pak, apa benar ini rumahnya Pak Dahlan ?” tanya si gadis
“O iya bener Non, pasti Non ini Fanny yah ?”
“Iya Pak, bener, Pak Dahlannya ada ga ?” tanya gadis itu lagi.
“Maaf Non, bapak dari tadi pagi keluar ke rumah familinya katanya” jawab si bongkok itu sambil matanya memandangi tubuh gadis berdarah Manado-Prancis itu.
“Gitu yah, sampai kapan baru balik kira-kira ?” Fanny agak dongkol karena sudah jauh-jauh datang dan susah payah mencari tempat ini.
“Sepertinya siang ini juga pulang kok, o iya, Bapak juga pesan kalau Non datang duluan disuruh nunggu aja di dalam”
Maka Fanny pun akhirnya memasukkan juga mobilnya ke dalam setelah pria berpeci itu membukakan pagar untuknya.
“Ya…terus, maju dikit lagi, ya…stop !” pria itu membantunya memarkirkan mobilnya.
Turun dari mobil Fanny mengikuti si bongkok, Thalib memasuki rumah itu setelah melepas alas kaki dan menaruhnya di depan pintu. Walau tidak besar, rumah itu tertata apik, rumput-rumput dan tumbuhan di tamannya teratur dan indah, bagian interiornya pun berselera tinggi, terlihat dari lukisan yang menghiasi dinding dan perabotan bergaya elegan.
“Non tunggu sini aja sambil nonton TV ya !” Thalib mempersilakannya duduk di kursi ruang tengah itu seraya menyalakan TV.
Sebagai gadis yang kaya dengan pengalaman seks, Fanny sadar bahwa sejak tadi si bongkok itu sudah mencuri-curi pandang melihat tubuhnya, terutama lewat bagian dadanya yang memang agak rendah membentuk huruf V, namun dia membiarkannya saja sambil tetap bersikap wajar agar tidak memberi kesan murahan.
“Non mau minum apa ?” tawar Thalib
“Air putih ajalah Pak” jawabnya
“Makasih Pak !” ucap Fanny dengan tersenyum kecil setelah Thalib menyodorkan segelas air padanya.
“Ehm…Non ini mahasiswinya Bapak yah ?” tanya Thalib seraya menjatuhkan pantatnya duduk di sebelah Fanny.
“Iya” Fanny hanya menjawab singkat sambil menggeser tubuhnya sedikit.
“Ada perlu apa Non sama Bapak ?” tanyanya lagi
“Ya biasa masalah kuliah, ada yang perlu didiskusiin aja”
“Hehe…masalah kuliah atau masalah ngentot ?” tanya Thalib tanpa tendeng aling-aling sehingga menyebabkan Fanny yang sedang meneguk airnya agak tersedak dan terbatuk-batuk.
“Eehh…omong apaan sih Bapak ini, sopan dikit dong !” protes Fanny dengan wajah memerah karena memang benar tujuannya datang ke sini adalah untuk memberi upeti syahwat untuk dosennya itu.
Sudah hampir dua bulan sejak dia menggadaikan tubuhnya untuk menebus nilai UTSnya yang jeblok dulu. Kali ini menjelang UAS mata kuliah yang sama, Pak Dahlan si dosen mesum itu menawarkan membantunya sekali lagi dengan sedikit bocoran soal dengan imbalan ‘pelayanannya’. Fanny yang memang merasa kesulitan dalam mata kuliah tersebut tentu menyambut baik tawaran itu. Untuk kali ini Pak Dahlan menyuruhnya datang ke rumahnya saja dengan alasan supaya bisa lebih nyaman berduaan.
“Waduh Non, gak usah kaget gitu, disini udah biasa kok kalau ada cewek cantik nyariin Bapak terus ngaku mahasiswinya pasti ujungnya ga jauh-jauh dari ngentot minta dibantuin nilainya” terang Thalib, “saya juga sering dikasih jatah kok sama Bapak makannya betah banget saya kerja disini hehehe…!” sambungnya sambil meraih lengan Fanny.
Terus terang dia merasa risih dan dilecehkan oleh tingkah dan perkataan si bongkok yang menjijikkan itu, namun di saat yang sama dia juga merasakan sebuah sensasi aneh yang menginginkan pria itu berbuat makin jauh terhadapnya. Buktinya dia diam saja saat pria itu meraih lengan kanannya, darahnya serasa berdesir dan bulu kuduknya berdiri ketika tangan kasar itu membelai lengannya yang mulus dan terbuka. Melihat reaksi Fanny, Thalib makin berani, duduknya makin bergeser memepet Fanny yang sudah diujung sofa. Tangannya merangkul pinggangnya dan membawa tubuhnya dalam pelukannya. Dadanya yang montok berukuran 34C itu terasa empuk dan kenyal ketika menyenggol lengan Thalib.
“Non Fanny, sambil nunggu Bapak main sama saya aja dulu, gini-gini saya jago muasin cewek loh, dijamin Non pasti ketagihan”
Fanny diam tidak tahu harus menjawab apa, dia hanya merasakan pria itu makin erat memeluknya dan tangannya mulai berani meraba dadanya dari luar.
“Wow, tetek Non gede juga yah, kayanya enak dipake nyusu, boleh ya Non” pintanya dengan tangan meraih kancing paling atas baju putihnya.
“Duh jangan gitu dong Pak, gak enak kalo ada yang liat !” Fanny menepis pelan tangan Thalib pura-pura menolak.
“Berarti kalo ngga ada yang liat enak-enak aja dong Non, disini ga ada siapa-siapa lagi kok, tenang aja” ujarnya sambil membuka satu persatu kancing baju Fanny.
Baju itu kini telah terbuka sehingga terlihat di baliknya bra berwarna ungu tanpa tali bahu. Pemandangan yang menggairahkan itu, ditambah lagi sikap Fanny yang malu-malu kucing membuat Thalib semakin terbakar birahi. Dengan terburu-buru disingkapkannya ke atas cup bra yang sebelah kanan. Pria bongkok itu menatapi buah dada Fanny yang montok dan kencang itu dengan bernafsu, bentuknya yang bulat dan membusung dengan puting kemerahan itu memang meneteskan liur setiap pria normal yang melihatnya. Tanpa buang waktu lagi, dia segera melumat bongkahan kenyal itu dengan gemas.
“Aahh…ahhh…jangan digigit, oohh…perih !” Fanny meringis sambil meremas rambut si bongkok yang menyedoti payudaranya dengan disertai gigitan-gigitan keras maupun lembut.
Tangan Thalib mulai merayap ke punggungnya mencari kaitan branya, setelah ketemu dia membukanya lalu menarik lepas bra itu. Mulutnya berpindah melumat payudara yang satunya sementara tangannya turun ke bawah mengelusi pantat dan paha yang masih terbungkus celana putih ketatnya. Fanny menggigit bibir dan memejamkan mata, tubuhnya menggeliat menikmati setiap rangsangan seksual dari si bongkok itu.
Tanpa berhenti mengenyot payudara Fanny, tangan Thalib mulai membuka sabuk yang melilit di pinggang gadis itu, disusul kancing celananya dan resletingnya. Kemudian disusupkannya tangannya lewat atas celana dalamnya. Fanny makin mendesah dan memeluk erat kepala Thalib ketika jari-jari pria itu menyentuh kemaluannya, dia merasakan darahnya makin bergolak, putingnya mengeras dan kemaluannya semakin basah. Tidak disangka si bongkok yang mirip Quasimodo dari Notredame itu mampu membawanya ke awang-awang. Rasa enggan dan jijiknya mulai berkurang berganti menjadi libido yang meledak-ledak menuntut pemuasan. Tangan gadis itu kini mulai merambat ke selangkangan Thalib, dari balik sarungnya dia meraba sebuah batang yang sudah mengeras.
“Hehehe, udah gatel yah pengen coba kontol saya Non ?” kata Thalib sambil menaikkan sarungnya sehingga penisnya yang hitam menyembul keluar, ternyata di balik sarungnya dia tidak memakai apa-apa.
Kemudian Thalib menarik lepas celana Fanny beserta celana dalamnya, Fanny sendiri melepaskan baju yang kancingnya sudah terbuka itu. Sejenak kemolekan tubuhnya membuat si bongkok terpana, tubuh putih mulus dengan pinggang ramping, paha jenjang, dan bulu kemaluan tidak terlalu lebat itu sungguh menggiurkan. Dengan modal fisik demikian tak heran dia mudah mendapat kerja paruh waktu sebagai SPG.
Tangan Thalib menyusuri pelosok tubuh Fanny dengan liar sebelum berbaring di sofa dan memintanya naik ke tubuhnya dengan posisi 69. Begitu gadis itu naik ke wajahnya, dia langsung menjilati bibir kemaluannya, dengan jarinya dia buka daerah itu sehingga lidahnya dapat menelusuri lebih ke dalam. Tanpa diminta Fanny juga mulai melakukan tugasnya. Penis Thalib yang hitam dengan ujungnya yang bersunat berbentuk helm tentara itu digenggam dan dikocok perlahan. Dengan lidahnya dia jilati kepala penis itu sehingga batang itu beserta badan pemiliknya bergetar.
“Oohhh…enak banget Non, udah pengalaman yah keliatannya !” desah Thalib saat menerima serangan pertama dari gadis itu.
Selain dengan lidah, Thalib juga mengerjai liang vagina gadis itu dengan jari-jarinya, jadi sambil menjilat jarinya juga aktif mengorek-ngorek liang itu sehingga area itu semakin berlendir. Sesekali dia mengerang merasakan enaknya oral seks yang diberikan Fanny. Kini Fanny sudah memasukkan batang itu ke mulutnya setelah memberikan pemanasan dengan menjilati permukaan batang hingga kantong pelirnya.
“Bener kan Non ketagihan tuh nyepongnya semangat gitu, uuhh…uhh…!”
Fanny terus melakukan aktivitasnya tanpa menghiraukan celotehan Thalib, yang terpikir di benaknya kini adalah pemuasan birahi secara total. Dia mengintensifkan permainannya terhadap penis itu, gerakan menyedot dan menjilat divariasikannya dengan lihai.
Thalib menemukan daging kecil seperti kacang yang merupakan bagian paling sensitif dari wanita. Bagian itu dijilatinya dengan ujung lidahnya sehingga Fanny pun tidak bisa menahan erangannya dan gelinjang tubuhnya. Sambil terus menjilat Thalib juga mengelusi bongkahan pantat dan paha yang putih itu. Thalib menggigit pelan klitorisnya dan mulutnya melakukan gerakan mengisap. Hal itu membuat tubuh Fanny mengejang tak lama kemudian, dia merasa cairan kewanitaannya tumpah semua. Dengan rakusnya Thalib menyeruput cairan bening yang masih hangat itu.
“Hhhmm…uenak Non…ssrrpp..srrpp…gurih banget pejunya !” ceracau Thalib dari bawah sana.
Setelah puas melahap cairan kewanitaan Fanny, si bongkok itu mengajaknya bangkit, dia duduk di sofa dan Fanny didudukan di pangkuannya dalam posisi memunggungi.
“Enak Non barusan ? jurus isep memek saya gimana ?” tanya Thalib.
Fanny hanya mengangguk dengan nafas masih terengah-engah, tak disangka baru ronde pertama si bongkok itu telah memimpin permainan dengan gemilang. Kata-kata kotor dan permainannya yang agak brutal itu dirasanya lain dari pria-pria yang biasa terlibat hubungan seks dengannya, kebanyakan mereka bersikap gentle dan lembut, mungkin yang gaya permainannya mendekati si bongkok ini tak lain adalah Imron, si penjaga kampus tempatnya kuliah.
“Puas ga Non, puas ga ?” tanyanya lagi yang kembali dijawab dengan anggukan “kalo puas sun dong buat hadiah” katanya sambil mendekatkan wajahnya ke sebelah wajah gadis itu.
Tanpa disuruh lagi, Fanny pun menengokkan wajah ke samping lalu meraih kepala si bongkok itu dan memberi kecupan di bibir. Keduanya terlibat percumbuan panas selama beberapa saat, lidah mereka saling belit dan jilat, ludah saling bertukar. Selama bercumbu Thalib selalu menggerayangi kedua buah dada Fanny, sesekali juga mengelusi bagian tubuh lainnya seperti perut dan paha. Tanpa melepas cumbuan yang makin panas itu Thalib mengarahkan penisnya ke vagina Fanny yang bereaksi dengan mengangkat sedikit tubuhnya, dengan tangan satunya dia bahkan membuka liang vaginanya mempersilakan penis Thalib memasukinya. Fanny melepas ciumannya untuk berkonsentrasi melakukan penetrasi, dia menekan tubuhnya ke bawah sehingga batang itu melesak masuk ke dalam vaginanya, desahan lirih terdengar dari mulutnya mengiringi proses itu. Dia mulai menaik-turunkan tubuhnya, kadang disertai gerakan memutar. Sambil menikmati goyangan Fanny, Thalib memain-mainkan puting susunya yang menggemaskan itu. Mulut pria itu menciumi daerah pundak dan lehernya, rambutnya yang terikat memudahkan Thalib mencupangi leher jenjangnya. Fanny mengerang sejadi-jadinya, kadang erangannya tersendat saat diselingi berciuman, goyangannya semakin liar saking sudah menikmatinya.
Setelah limabelas menitan dalam posisi demikian, Thalib melepas sejenak tubuh mereka yang telah bersatu untuk ganti gaya. Kali ini Fanny dibaringkan telentang di sofa, setelah menyelipkan bantal kursi ke bawah kepala Fanny kembali dia masukkan penisnya ke dalam vagina gadis itu dan meneruskan genjotannya. Buah dada Fanny yang bulat itu nampak turut bergoyang-goyang mengikuti goncangan tubuhnya.
“Aahhh…aaahh…Bapak mau ngecrot nih Non, pengen dimana !” sahutnya dengan nafas memburu karena sudah diambang klimaks.
“Mulut Pak nngghh…aahh !” jawab Fanny dengan refleks.
Thalib pun lalu mencabut penisnya dan membawanya ke dekat wajah Fanny. Maka cret…cret…dua semburan sudah keburu mengenai wajahnya sebelum sempat dimasukkan ke mulut. Di dalam mulut gadis itu, penis Thalib terus memuntahkan isinya yang diterima Fanny dengan hisapannya yang dahsyat.
“Oohh…enak Non…telen terus pejunya…iyahh…enak !” ceracaunya menikmati klimaks di mulut Fanny.
Fanny menyedot dan menelan habis setiap tetes sperma yang menyemprot dari lubang penis Thalib, selain cipratan di wajah yang karena terlambat dimasukkan mulut, tidak ada lagi tetes lainnya yang terbuang, semua habis disedot sampai penis itu mengendur di mulutnya. Thalib benar-benar puas dengan teknik oral gadis ini yang begitu ahli. Setelah mengeluarkan penis itu dari mulutnya, Fanny menyeka cipratan sperma di hidung dan pipinya dengan jari dan kemudian diemutnya jari itu. Wajah nakalnya ketika itu sungguh membuat Thalib semakin kesengsem dengannya.
“Enak yah Non, kayanya kok Non demen banget minum peju, rasanya gimana emang ?” tanya Thalib sambil merengkuh tubuh Fanny dalam pelukannya.
“Ya gimana yah…asik aja gitu” jawabnya cuek
“Ngghh…Pak ngapain lagi sih ?” tanya Fanny ketika si bongkok itu menunduk lalu mengenyot payudaranya.
“Mau nyusu lagi, sambil istirahat, saya seneng sih sama tetek Non” jawabnya lalu kembali menyusu.
Sambil menyusu tangannya bercokol di kemaluan gadis itu, jarinya membelai dan mengorek liangnya. Fanny memejamkan mata menikmatinya, rasanya seperti menyusui bayi raksasa, demikian pikirnya. Ning…nong…tiba-tiba saja kenikmatan mereka dibuyarkan oleh bunyi bel. Sesaat mereka saling pandang lalu Thalib bangkit dan memakai kembali sarungnya.
“Bapak ?” tanya Fanny
“Bukan, kalau Bapak suaranya klakson mobil, Non tunggu aja, biar saya liat keluar” jawab Thalib sambil meninggalkannya.
Sepeninggal Thalib, Fanny juga bangkit menuju wastafel yang terletak di ruang makan yang menyatu dengan dapur mini di sebelah ruang tengah itu. Disana dia mencuci mukanya yang lengket bekas cipratan sperma tadi, juga berkumur-kumur menghilangkan bau sperma di mulutnya.
Fanny bercermin dan melihat di lehernya ada bekas cupangan yang memerah yang juga nampak pada beberapa tempat di payudaranya.
“Damn, besok harus pake foundation deh gua !” omelnya dalam hati.
Sebentar kemudian terdengar suara langkah mendekat.
“Siapa barusan…aaww !” Fanny terkejut ketika menoleh ke samping ternyata ada seorang pria lainnya selain Thalib, refleks dia pun menyilangkan tangan menutup tubuhnya.
Pria berusia tigapuluhan yang sedang menggotong tabung elpiji itu terbengong melihat pemandangan indah di hadapannya.
“Ehehe…maaf Non, ini Bakri yang nganterin gas, saya kira Non udah ngeliat ada yang dateng langsung sembunyi” kata Thalib cengengesan.
“Wuih siapa nih Pak Thalib, pantes tadi lama bukanya !” tanya Bakri terkagum-kagum “boleh ikutan gak nih acaranya ?”
Merasa kepalang basah, Fanny menurut saja saat Thalib menarik lengannya dan mengajaknya mendekati Bakri untuk diperkenalkan. Begitu menjabat tangan Fanny, Bakri terus mencengkramnya seperti tidak mau lepas darinya.
“Saya pegang yah tokednya Non !” dia meminta ijin dulu untuk basa-basi.
Tangannya gemetaran ketika meraih buah dada yang montok itu seolah tak percaya bisa mendapat kesempatan emas seperti ini.
“Aje gile, ternyata gua bukan mimpi loh, nyata, ini anget, empuk lagi” celotehnya sambil meremasi buah dada itu dengan gemas.
Selanjutnya mereka mengajak Fanny kembali ke ruang tengah dan bermain di atas karpet.
“Asyik…hari ini lagi hoki ketiban rejeki bisa ngewe sama bidadari !” Bakri bersyukur bukan main hari itu.
“Iya situ enak, gua yang suwe hari ini difuck abang-abang melulu !” gerutu Fanny dalam hati.
Kedua pria itu pun melucuti pakaiannya masing-masing, terlihat badan Bakri yang cukup berotot setelah dia membuka kaos hijau bekas pemilu bergambar lambang sebuah partai, maklum karena pekerjaannya memang sering mengandalkan otot. Kontras sekali perbedaannya tubuh Fanny yang putih mulus diantara kedua pria yang berkulit sawo matang itu. Kedua pria itu kini berdiri mengerubunginya, Fanny berlutut di tengah dengan tangan kanan menggenggam penis Bakri dan yang lain menggenggam yang Thalib. Sambil mengocok penis Thalib dengan tangannya, dia membuka mulut memasukkan penis Bakri ke mulutnya. Pria berkumis tipis dan berjenggot mirip teroris Amrozy itu mendesah tak karuan saat penisnya diemut-emut Fanny, lidah gadis itu bergerak liar menyapu batang dan kepala penisnya diselinggi pijatan lembut pada zakarnya.
“Eh, terusin lagi dong Non, kok udahan sih ?” protes Bakri ketika Fanny berpindah mengoral penis Thalib.
“Gantian dong Bang, mulut saya kan cuma satu, lagian kalo buru-buru keluar mana enak ?” jawab Fanny agak sewot “udah dikasih gratis aja banyak protes lu !” omelnya dalam hati.
Puas menikmati mulut Fanny, Bakri pindah ke belakang Fanny dan berlutut disana, pinggang Fanny ditariknya ke belakang hingga menungging, diciuminya bagian samping tubuh gadis itu sambil menggesek-gesekkan penisnya pada belahan pantat Fanny. Gesekan-gesekan ini membuat gairah Fanny makin membara sehingga hisapannya pada penis Thalib pun makin liar. Saat kepala penis Bakri menyentuh bibir kemaluannya, dia menekan benda itu hingga melesak masuk ke dalam vagina Fanny.
“Aaahh…!!” erang Fanny panjang.
Tanpa buang waktu lagi, Bakri menggenjot vagina Fanny dengan kasar hingga tubuh gadis itu terguncang hebat. Erangan gadis itu teredam karena tak lama kemudian Thalib menjejali mulutnya dengan penisnya dan memaju-mundurkan pinggulnya seperti gerakan bersenggama. Disodok dari dua arah begitu, Fanny agak gelagapan apalagi gaya mereka menjurus ke brutal. Namun sebentar saja dia sudah membiasakan diri dan menikmatinya, kulumannya kini sudah lebih teratur dan sudah dapat mengikuti irama genjotan Bakri.
“Asoy banget nih, memeknya mantep abis, baru pernah gua nyobain yang ginian !” ceracau Bakri sambil mempercepat tempo goyangannya.
Dalam waktu limabelas menit, Bakri telah berhasil membuat Fanny orgasme panjang, cairan kewanitaannya mengalir dengan deras membasahi daerah selangkangannya. Desahannya tertahan karena dia sedang sibuk mengulum penis Thalib dan kepalanya dipegangi oleh si bongkok itu.
“Masukin disini boleh yah Non ?” tanya Bakri sambil mencucukkan jari ke dubur Fanny.
“Tapi jangan kasar-kasar dong Bang, sakit” Fanny memperingatkannya
Kemudian Thalib berbaring di karpet dan menaikkan Fanny ke penisnya dan Bakri mengarahkan miliknya ke bagian anus.
“Hhhssh….pelan-pelan aaahh…jangan kasar !” rintih Fanny dengan wajah meringis ketika dua penis itu melakukan penetrasi pada dua lubangnya.
Fanny mencengkram kuat-kuat bahu Thalib yang dibawahnya menahan rasa perih. Setelah kedua batang itu berhasil menancap, mereka memberinya waktu sebentar untuk beradaptasi. Butir-butir keringat nampak pada wajah dan tubuhnya hasil pergumulan liarnya barusan. Semenit kemudian baru mereka mulai bergoyang, mula-mula dengan gerakan pelan, namun lama-lama makin liar. Cairan yang dihasilkan kewanitaan Fanny berfungsi sebagai pelumas yang memperlancar sodokan-sodokan penis di daerah itu. Thalib tidak menyia-nyiakan payudara Fanny yang menjuntai dan bergoyang-goyang di atas wajahnya, mulutnya menyedoti payudara kiri gadis itu sampai pipinya kempot sementara tangannya meremas dan memilin-milin puting payudara yang satunya. Sementara Bakri, sambil menyodomi dia melumat bibir Fanny yang menengokkan wajahnya. Fanny yang sudah terbiasa dengan keliaran seperti ini serta-merta mengeluarkan segenap keahliannya untuk mengimbangi kedua lawan mainnya itu.
Yang lebih dulu orgasme pada ronde itu adalah Bakri, mungkin karena sempit dan sudah sejak tadi dia bekerja. Fanny merasakan cairan kental yang hangat itu memenuhi pantatnya dan meluap hingga membasahi daerah sekitarnya. Sepuluh menit kemudian baru dirinya kembali mencapai puncak bersama dengan Thalib. Sperma Thalib menyemprot di dalam rahimnya bercampur dengan cairan orgasmenya. Erangan orgasme mereka terdengar nyaring memenuhi ruangan itu. Akhirnya Fanny ambruk menindih Thalib di bawahnya, buah dadanya yang kenyal itu mengencet dada si bongkok. Baru beristirahat sebentar nafsu Bakri kini bangkit lagi, ditariknya tubuh Fanny yang belum pulih sepenuhnya dan ditelentangkan di karpet, dibentangkannya kedua pahanya yang jenjang, dia sendiri mengambil posisi diantaranya untuk menembak.
“Aduh sabar dikit dong Bang, saya kan masih capek” pinta Fanny dengan suara lemah.
“Maaf Non waktu saya gak banyak, kalau bos nyari sayanya ga ada bisa di PHK, tapi kalo ngentot sama Non kan kapan lagi, jadi harus dipuas-puasin dong !” jawab Bakri tanpa menghiraukan permohonan Fanny.
Fanny pun akhirnya pasrah saja menuruti kemauan pria mirip Amrozy itu. Dia disetubuhi denga kedua pahanya mekakangkang dan betisnya dinaikan pria itu ke bahunya, kadang tangannya yang kasar meremas payudaranya, lekuk-lekuk tubuhnya yang indah tidak ada yang lolos dari jamahan tangannya. Sementara itu Thalib beristirahat di sofa, dia hanya menonton sambil menikmati rokok, dengan usianya yang sudah lebih dari setengah abad tenaganya tidak lagi sekuat si tukang antar gas yang sedang berasyik-masyuk di depannya itu.
Kurang lebih setengah jam Bakri mengerjai Fanny dengan berbagai cara, ditindih, dipangku, dan menyamping, namun pria ini belum menunjukkan akan mengakhiri perkosaan terhadapnya, padahal dia telah orgasme sekali di mulut gadis itu, sisa-sisa spermanya masih nampak di sudut bibir si gadis. Kini ketika sedang gaya woman on top, si bongkok itu menghampiri mereka bermaksud kembali bergabung.
“Oh, God sampai kapan…!” keluh Fanny dalam hati karena dia sudah kewalahan.
Untungnya kali ini si bongkok cuma mau minta netek, dia berjongkok di sampingnya dan meraih payudaranya untuk dikenyot. Melihat Bakri yang sudah melenguh lebih panjang dan penisnya terasa berdenyut di vaginanya, Fanny mempercepat goyangan badannya agar cepat selesai. Tak lama pria itu pun orgasme, namun Fanny masih menaik-turunkan badannya karena tanggung hingga 2-3 menit kemudian saat dia juga menyusul ke puncak. Dia langsung menjatuhkan diri ke samping setelah itu, nafasnya ngos-ngosan dan tubuhnya sudah bermandikan keringat, dia sudah tidak mampu lagi menggerakkan tubuhnya karena tulang-tulangnya serasa mau copot setelah sekitar dua jam disetubuhi, pandangannya makin kabur hingga semuanya menjadi gelap. Rasa lelah telah membuatnya tertidur nyenyak.
Fanny membuka mata perlahan-lahan dan menemukan dirinya berbaring di sebuah ranjang empuk, tubuhnya yang masih telanjang hanya ditutupi selembar selimut. Ikat rambutnya telah terbuka sehingga rambutnya kini tergerai, dia menemukan jepit rambutnya diletakkan di rak pada kepala ranjang. Kesadarannya berangsur pulih dan matanya memandang sekeliling kamar yang berwallpaper krem dan berhiaskan beberapa perabotan klasik itu. Jam weker di meja kecil sebelah ranjang menunjukkan pukul 4.35 dan langit di luar telah menguning.
“Dimana ini ? gua tidur berapa lama nih ?” tanyanya dalam hati.
Tiba-tiba pintu membuka dan seseorang masuk.
“Oh, bangun juga kamu akhirnya Fan” sapa orang yang masuk itu yang tak lain adalah Pak Dahlan yang ditunggu sejak tadi. “maaf ya tadi Bapak ada acara keluarga jadi agak telat pulangnya”
“Yah, whateverlah…yang pasti gua sekarang udah pegel-pegel tau !” omel Fanny dalam hati namun dia tetap tersenyum kecil dibuat-buat.
Pria tambun itu duduk di tepi ranjang dan menyodorkannya segelas minuman hangat.
“Ini kebetulan Bapak baru buatkan untuk kamu teh jahe, diminum yah mumpung panas biar seger” tawarnya.
Fanny menyandarkan bantal ke kepala ranjang dan dengan susah payah bangkit untuk duduk bersandar disana. Kemudian dia menerima gelas yang disodorkan dosennya. Buah dadanya yang keluar dari selimut dan terekspos membuat pandangan pria itu tertumbuk ke sana.
“Thalib bilang tadi siang kamu kerja keras ya, sama si Bakri juga, keliatannya kamu masih capek hari ini” kata pria itu “soal janji kita, Bapak gak akan maksa kamu hari ini kalau kamu udah ga kuat, kamu boleh pulang setelah mandi” lanjutnya.
“Ga apa-apa kok Pak, hari ini aja biar cepet beres, saya masih bisa kok” jawab Fanny setelah meneguk sedikit minumannya.
“Tapi kan ini udah mau gelap, lagian malam minggu apa kamu ga ada acara sama pacar kamu mungkin ?”
“Ngga, ngga apa-apa kok, bisa saya atur lagi jadwalnya Pak ?” padahal dalam hatinya dia berkata “yah kepaksa deh !”
Fanny memutuskan demikian dengan pertimbangan agar masalah ini cepat selesai dan dia bisa lega saat ujian nanti karena sudah mendapatkan bocorannya, untuk itu terpaksa dia harus mengorbankan janji nonton dengan pacarnya malam ini.
“Pak, bisa tolong ambilin tas saya disana dong !” pintanya sambil menunjuk sebuah kursi dimana tas jinjingnya diletakkan, di bawah tas itu ada pakaiannya yang telah dilipat rapi, entah Thalib atau Pak Dahlan sendiri yang meletakkannya disana.
Fanny mengeluarkan ponselnya dari tas kecil itu, dua miscall dan empat sms telah masuk.
“Katanya kamu tadi disodomi yah Fan, sekarang apa masih sakit ?” tanya pria itu.
“Iya sih lumayan, abis tuh orang kasar banget sih Pak” jawabnya sambil jarinya memencet-mencet tombol ponselnya membalas SMS yang masuk.
“Bentar yah Pak, saya mau nelepon dulu” katanya “Eh, Di sori yah kayanya nontonnya lain kali aja deh, soalnya malam ini gua ada acara sama saudara gua” dia berbicara pada orang di telepon.
“Iya tadi HPnya di silence jadi gua ga denger, gua kan lagi di mal tadi”
Pak Dahlan memegang-megang payudara Fanny ketika dia sedang berbicara di telepon.
“Iya-iya…abis kan gua udah dipanggil gini jadi nggak enak nolaknya, lagian jarang ketemu sama mereka juga”
“Besok gua janji ke rumah lu deh…iya pokoknya besok I’m yours one hundred percent deh…ok honey, udah ya gua mau siap-siap dulu sekarang…ok bye…I love u too !”
“Ok Pak, semua udah beres, sekarang terserah Bapak aja, kita mau ngapain nih ?” katanya setelah menutup pembicaraan dengan ponselnya.
“Pacar kamu Fan ?” tanya pria itu yang dijawab Fanny dengan anggukan.
“Udah berapa lama nih ?” tanyanya lagi.
“Baru sebulan lebih kok, tenang dia orangnya gak neko-neko kok Pak, jadi saya yang lebih kuasa hihihi”
“Apa dia di fakultas kita ?”
“Ngga, anak hukum kok, dua tahun lebih muda dari saya”
“Wah-wah suka sama cowok lebih muda kamu yah kamu Fan ?”
“Nggak juga sih, ya coba-coba aja, orangnya ga banyak bacot sih, jadi saya juga bisa ngatur gini-gitunya, lagian cakep terus kantongnya tebel lagi Pak” Fanny senyum-senyum menceritakan pacarnya itu.
“Dasar kamu nakal yah” Pak Dahlan mencubit putingnya sambil berkata dalam hati “dasar lonte kampus tukang morotin kantong orang”
“Mandi yuk Fan, biar badannya enak, Bapak juga belum…barengan aja !” ajak Pak Dahlan berdiri dan membuka kaosnya hingga perutnya yang bulat terlihat, penisnya yang sudah mengacung juga keluar setelah dia membuka celana pendeknya.
Fanny meneguk teh jahenya hingga habis lalu menjulurkan tangan minta dibantu bangun. Pak Dahlan mendekatinya tapi bukan menarik tangannya tapi malah mengangkat tubuh gadis itu dengan dua lengannya sehingga dia menjerit kecil dan tertawa cekikikan.
“Hup…iyah…hehehe, berat juga kamu” godanya.
Pak Dahlan kemudian mencumbunya sekitar setengah menit lalu dibawanya memasuki kamar mandi yang menyatu dengan kamar itu, disana baru tubuh Fanny diturunkan pelan-pelan. Dinyalakannya kran shower, setelah suhunya dirasa cukup hangat dia panggil gadis itu bergabung di bawah siraman shower. Hhmmm…segar sekali pikir Fanny, air hangat itu mengurangi kepenatan tubuhnya, bekas sperma dan ludah yang menimbulkan rasa lengket juga hilang seketika. Kemudian dia merasa pinggangnya dirangkul dari belakang, perut tambun pria itu menempel di punggungnya, selain itu juga di bawah dia merasakan benda panjang menggesek pantatnya.
“Bapak bantu sabunan yah, biar wangi” katanya seraya mengambil sebatang sabun dari tempat sabun.
Fanny membiarkan sabun dan tangan pria itu membelai tubuhnya, Pak Dahlan yang berpengalaman itu menggosok tubuh Fanny dengan lembut sehingga gairahnya mulai bangkit lagi.
Fanny sesekali mendesah selama badannya disabuni terutama ketika Pak Dahlan sedang menyabuni daerah-daerah sensitifnya. Sementara tangannya yang kanan menyabuni payudaranya, tangannya yang kiri memilin dan memencet-mencet puting payudara yang licin itu. Belaian itu makin menurun ke bawah, pria itu berjongkok menyabuni pantat dan kedua belah kakinya yang ramping itu, tidak ada yang terlewat hingga ke ujung kaki. Maka sekarang tubuh Fanny dari leher ke bawah telah licin dan berbusa oleh sabun. Lalu dia berdiri lagi dan mengarahkan sabunnya ke tempat terakhir yang belum disabuni, kemaluannya.
“Nah, disini juga harus dikramas kan banyak bekas sperma dan ludahnya” katanya.
“Hati-hati yah Pak nyucinya sabunnya jangan sampai masuk ke dalam”
“Tenang Bapak hati-hati kok ke yang satu ini” katanya mulai menggosok.
Fanny mendesah saat pria itu mencuci daerah itu, karena daerah itu sangat sensitif, jari-jari gemuk pria itu sering menggesek bibir kemaluannya menimbulkan rangsangan. Setelah selesai menyabuni Fanny dia menyabuni tubuhnya sendiri dengan agak terburu-buru setelahnya dia taruh kembali sabun itu pada tempatnya. Dipeluknya tubuh Fanny hingga payudara gadis itu menghimpit dadanya. Mulut mereka makin mendekat dan bertemu, merekapun terlibat percumbuan yang panas, lidah masing-masing saling beradu dalam mulut. Di tengah percumbuan Fanny tiba-tiba menggesekkan buah dadanya pada dada dosennya, tubuh mereka yang telah licin makin menambah sensasinya.
“Wow, apa tuh Fan, kamu nantangin Bapak nih ceritanya ?” kata Pak Dahlan melepas sejenak ciumannya.
“Gimana Pak Thai massage saya, asyik gak ?” Fanny tersenyum nakal pada dosennya itu.
“Kamu emang pinter nyenengin cowok, ayo lagi dong !” kembali pria tambun itu melumat bibir Fanny.
Dielusnya punggung gadis itu ke bawah, sampai di pantat, diremasnya kedua pantatnya yang sekal itu dengan gemas. Hampir lima menit lamanya mereka bercumbu sambil raba-rabaan sebelum akhirnya memisahkan diri dengan nafas memburu. Pak Dahlan mengajaknya ke tengah siraman air untuk membilas badan. Ketika membersihkan bagian vagina sekali lagi pria itu menggosoknya atau kalau bisa dikatakan menggerayanginya dengan teliti, setelah busanya terbilas dia memasukkan jarinya mengorek-ngorek bagian dalamnya sehingga Fanny pun mendesah dan menggelinjang.
“Biar bersih luar dalam” demikian katanya karena dia ingin menikmati Fanny dalam keadaan sebersih mungkin setelah dipenuhi bekas pergumulannya tadi siang.
Setelah selesai membilas badan, Pak Dahlan mengambil handuk dan menghanduki tubuhnya sebelum menghanduki dirinya sendiri. Setelahnya kembali diangkatnya tubuh gadis itu dan keluar dari kamar mandi, sampai di ranjang dibaringkannya dia pelan-pelan.
“Hmm…coba kamu tengkurap, biar Bapak pijatin kamu supaya lebih enak” suruhnya.
“Yang enak yah Pak, jangan malah jadi sakit tulang ntar” sahut Fanny tersenyum dan berguling ke kanan membalik tubuhnya.
Pak Dahlan pun memulai pijatannya dari tenguk, bahu, dan punggung. Fanny merasakan pijatannya memang enak dan nyaman, sesekali tangan pria itu sengaja melenceng ke samping tubuh menyentuh payudaranya. Pemanasan yang sejak di kamar mandi tadi saja sudah membangkitkan nafsunya lagi, kini pijatan itu semakin membuatnya merasa nikmat dan siap memulai ronde selanjutnya. Pijatan Pak Dahlan makin turun ke bawah, mengelus pantatnya sekilas, lalu turun menguruti pahanya, terus ke bawah, betis hingga telapak kaki. Kemudian Fanny merasa betisnya ditekuk hingga terangkat, selanjutnya dia merasakan pria itu mengemuti jari-jari kakinya.
“Mmmhhh…!” desisnya terangsang.
Ciumannya lalu naik ke betis, paha, dan ketika sampai pantat dia balikkan tubuh gadis itu hingga telentang. Pak Dahlan mendekatkan wajahnya pada vagina gadis itu, Fanny melihat ke bawah betapa nanar tatapan dosennya itu melihat daerah kemaluannya dari dekat, digesekkannya paha mulusnya pada pipi pria itu menggodanya.
“Ssshhh…Pak !” desisnya begitu lidah pria itu menjilati bibir kemaluannya.
Lidah Pak Dahlan masuk menjilati bagian dalam kewanitaannya, aroma vaginanya Fanny yang wangi karena baru saja dicuci dan rutin dirawat dengan cairan pembersih membuat dosennya semakin bernafsu melumatnya.
Tubuh Fanny menggeliat-geliat dan mulutnya mendesah liar saat dosennya memainkan lidahnya di vaginanya. Tangannya meremas rambut dan menekan wajah pria itu menginginkan pria itu terus melakukannya dan jangan pernah berhenti.
“Masukin Pak, saya udah kepengen” pinta Fanny dengan lirih.
Merasa vagina itu sudah cukup berlendir, Pak Dahlan pun menempelkan kepala penisnya disana. Meski sudah kehilangan keperawanannya sejak lama dan sering melakukan seks bebas, Fanny sangat memperhatikan perawatan tubuhnya termasuk daerah yang satu ini sehingga ketika Pak Dahlan memasukkan penisnya ke sana dia merasa sangat sempit. Dia mendiamkan sebentar penisnya setelah berhasil melakukan penetrasi. Rasa hangat dan basah pada penisnya yang dijepit vagina Fanny mendatangkan rasa nikmat baginya. Ditatapnya ekspresi wajah mahasiswinya itu saat meresapi momen ini.
“Enak sekali Fan, masih sempit kaya perawan, emang kapan kamu pertama kali ngeseks ?” tanya Pak Dahlan.
“Limabelas tahun Pak, waktu awal SMA dulu”
“Oh ya, sama siapa itu ?” tanyanya lagi.
“Mantan saya, udah lama putus aahh…!” desahnya karena begitu menyelesaikan kata-katanya Pak Dahlan langsung menyentak pinggulnya.
Sambil menggenjot Pak Dahlan menciumi bibir Fanny berulang-ulang. Saat itu tiada batasan antara dosen dengan mahasiswi maupun perbedaan ras, agama, dll yang ada adalah sepasang manusia yang terlibat hubungan seks yang panas.
Fanny sangat menikmati sentuhan dan sodokan yang diberikan Pak Dahlan yang seusia dengan ayahnya ini. Dia melingkarkan lengan memeluk pria itu, kakinya juga dia lingkarkan pada pinggangnya seperti tidak ingin dilepaskan. Pria ini melakukan persetubuhan dengan kombinasi lembut dan kasar secara beraturan sehingga membuatnya merasa diperlakukan seperti ratu, tidak seperti dua orang tadi siang yang gayanya primitif dan kasar, namun bagaimanapun baginya seks tetap sama, variasi apapun mempunyai kenikmatannya tersendiri. Ketika sedang larut dalam persetubuhan itu dia agak kaget saat melihat seraut wajah di jendela kaca yang terletak di atas pintu masuk kamar. Wajah dengan mata sipit sebelah itu tak lain Thalib yang tadi siang mengerjainya, karena sudah terbiasa Fanny pun membiarkan orang itu mengintip persetubuhan dengan dosennya ini, Pak Dahlan sendiri sepertinya tidak tahu karena dia membelakangi pintu. Tak lama mereka berganti posisi, Fanny bertumpu dengan kedua lutut dan sikunya, dari belakang Pak Dahlan kembali menjejali vaginanya dengan penisnya. Mulut pria itu menceracau tidak karuan sambil meremas-remas payudara Fanny.
“Uhhh…uhhh…bener-bener memek yang enak, goyangnya juga enak !” katanya “lonte…berapa harga paling mahal buat nih memek hah…berapa paling mahal pernah kamu jual ?” kata-kata yang tidak pantas diucapkan seorang dosen itu terlontar begitu saja.
“Lima…ahh…lima juta !” sahut Fanny sambil mendesah, dia tidak merasakan itu merendahkannya karena dia menganggap kata-kata kotor itu hanyalah bumbu dari seks yang menambah nikmat aktifitas ini.
Setelah kurang lebih duapuluh menit, erangan panjang keluar dari mulut Fanny, tubuhnya mengejang dan tangannya mencengkram erat-erat bantal yang dipeluknya. Kontraksi otot vagina dan cairan kewanitaan yang menghangatkan penis Pak Dahlan membuatnya semakin gencar menyodok vagina gadis itu. Tiga menit kemudian diapun menyusul orgasme, penisnya ditekan dalam-dalam saat menyemburkan spermanya. Mereka pun terbaring lemas bersebelahan. Fanny menoleh ke samping ke arah jam weker yang kini menunjukkan jam enam kurang sepuluh menit, langit pun sudah gelap. Lalu dirasakannya tangan pria itu menggenggam tangannya.
“Bagus Fan…kamu kuat sekali, Bapak bener-bener puas” kata Pak Dahlan.
Fanny tersenyum menanggapi pujian itu seraya menarik selimut menutup sebagian tubuhnya karena dinginnya AC.
“Rokok ?” tawar Pak Dahlan menyodorkan sekotak Malboro padanya.
“Ngga…makasih Pak, lagi ngurangin” tolak Fanny sopan.
Pria itu menyulut rokoknya, mereka ngobrol-ngobrol sebentar sambil mengumpulkan tenaga. Thalib sudah tidak nampak lagi di jendela sana.
“Kita makan malam dulu yah abis ini, udah gitu baru kita bicarakan mengenai soal ujian itu, kamu pasti lapar kan” kata pria itu.
Fanny turun dari ranjang menuju ke kamar mandi, disana dia membasuh tubuhnya dari sisa-sisa persetubuhan dan buang air kecil.
“Kamu pakai ini aja dulu, maaf disini nggak ada wanita sih, jadi baju laki-laki semua” kata Pak Dahlan memberikan sebuah kemeja putih bergaris-garis biru muda miliknya.
Fanny lalu memakai kemeja itu, pakaian yang kebesaran itu menutupi tubuhnya hingga lutut ke atas sedikit, lengannya digulung hingga siku karena kepanjangan, dibaliknya dia hanya memakai celana dalam. Aroma badan bapak-bapak terasa pada kemeja itu.
“Dibuka sedikit gini…nah kan seksi, kamu memang cantik Fan !” pujinya pada penampilan Fanny yang seksi itu dengan empat kancing atas terbuka sehingga memperlihatkan sebagian dadanya.
Mereka turun ke bawah dan melihat Thalib sedang menonton ‘Bajaj Bajuri’ di ruang tengah. Si bongkok itu terpana melihat penampilan Fanny yang menyegarkan mata dengan rambutnya yang kini terurai.
“Makanannya sudah ?” tanya Pak Dahlan padanya.
“Udah beres semua Pak, masih hangat lagi” jawabnya.
Dengan gentleman Pak Dahlan menarikkan kursi untuk Fanny sebelum duduk, lalu disendokkannya juga nasi untuknya. Lauknya berupa ikan goreng, tempe bacem, dan capcay.
“Bisa makannya Fan ? maaf ya disini pria semua sih jadi masaknya juga gitu-gitu aja, paling beli di luar kalau mau enak” kata pria itu berbasa-basi.
“Enak kok Pak, lagian saya juga makannya gak macem-macem, takut gendut hihihi” kata Fanny.
“Eh…udah jangan Fan, biar Pak Thalib aja !” kata Pak Dahlan ketika Fanny hendak mengambil piringnya yang kosong dan mencucinya.
“Udah nggak papah kok, saya di kost juga biasa nyuci sendiri” Fanny tetap mengambil piring bekas dosennya itu.
“Waduh jadi ngerepotin kamu aja Fan, ya udah Bapak ke atas dulu yah, sakit perut nih sekalian mau ambilin soal ujiannya” pria itu pun meninggalkan Fanny di ruang makan yang menyatu dengan dapur itu.
Fanny mencuci piring-piring dan gelas bekas itu di tempat pencucian, sebentar saja dia sudah selesai karena hanya dua itu. Ditaruhnya cucian itu pada tempat pengeringan lalu dia mencuci tangannya. Ketika berbalik badan dia terkejut dan menjerit kecil karena dibelakangnya ternyata Thalib telah berjongkok mengintip tubuhnya lewat bawah, entah sejak kapan dia disitu.
“Ahh…ngapain sih Bapak ngagetin aja, ngapain sih !”
“Hehehe…cuma ngintip dikit kok, mau tau pake daleman atau ngga, eh taunya pake yah” jawabnya cengengesan dengan wajah mesum “kenapa gak dibuka aja Non biar adem ?”
“Jorok banget sih Pak ngomongnya !” Fanny cemberut dan berjalan melewatinya.
“Ee-ee…tunggu dulu dong kok buru-buru gitu ?” kata Thalib mencengkram lengan Fanny “saya mau tau yang atasnya pake daleman juga ga hehehe !” seraya menyusupkan tangan lewat pinggir kemeja yang kancingnya terbuka, payudaranya yang tidak pakai bra itu langsung dipencet-pencet olehnya.
“Ih…jangan, lepasin Pak, lepasin…ntar Bapak ngeliat !” Fanny meronta dan minta dilepaskan.
Namun dengan kasar Thalib malah mengangkat dan mendudukkan Fanny di platform lapis marmer dekat tempat cuci piring itu. Kemeja yang kebesaran itu dia peloroti sebatas dada hingga kedua payudara Fanny menyembul keluar. Mulutnya lantas mengenyoti yang bagian kiri dan tangannya meremas yang kanan. Nampaknya si bongkok ini memang tergila-gila dengan payudara Fanny yang bulat seperti bakpao itu, posturnya juga tegak dan kencang sehingga tidak heran kedua daging kenyal itu memang sering jadi bulan-bulanan oleh siapapun yang pernah mencicipi tubuhnya. Tangan Thalib yang satu lagi bekerja di bawah mengelusi paha Fanny dengan lembut meresapi setiap jengkal kehalusan kulit pahanya, elusannya naik hingga mencapai selangkangan, disana tangannya menarik lepas celana dalamnya. Fanny yang sudah mulai terangsang menggerakkan kaki membantu celana itu melolosi kakinya.
“Pak…udah dulu, Bapak ntar lagi turun !”
“Nggak apa-apa kok Non, lagian sebentar aja kok” kata Thalib mengeluarkan penisnya dari balik sarung dan menempelkannya pada vagina Fanny.
Thalib menghujamkan penisnya hingga masuk dan menggenjotnya dengan kecepatan tinggi. Fanny mendesah-desah dan makin erat memeluk punggung bongkok Thalib.
“Udah makan kamu Lib ?”tanya Pak Dahlan yang kehadirannya tidak mereka sadari.
“Iya…sebentar abis ini !” jawab Thalib sambil terus menggenjot Fanny.
Fanny agak heran juga ketika melihat reaksi dosennya yang bersikap biasa saja melihat pembantunya berbuat demikian. Dia makin percaya kalau si bongkok ini memang sering mendapat ‘jatah sisa’ dari majikannya itu.
“Gila tuh dosen, pantes cerai ama bininya” demikian kata Fanny dalam hati.
Mereka hanya melakukannya secara kilat, tidak sampai sepuluh menit keduanya orgasme hampir berbarengan. Cairan hasil persenggamaan mereka menetes sebagian pada marmer di bawah tubuh Fanny. Fanny pun lalu turun dari situ sambil merapikan lagi kemejanya dan memakai celana dalamnya. Thalib berjalan ke meja makan dan mulai makan.
“Gimana udah beres ? ayo duduk sini, sekarang Bapak kasih tau soalnya ?” Pak Dahlan menyuruhnya duduk di sofa ruang tengah itu.
Mereka pun terlibat pembicaraan mengenai ujian, Pak Dahlan memberitahu jawaban-jawaban soal yang akan diujikan itu pada Fanny.
“Nah gimana? Kamu udah nangkap semua? Jangan bilang siapa-siapa tentang ini yah, bahaya !” kata pria tambun itu.
Fanny mengangguk, kini dia sudah lega setelah menempuh jalan pintas untuk melewati mata kuliah yang membuatnya pusing itu.
“Bapak dikasih apa nih udah gitu ?” tanyanya sambil cengengesan.
Fanny pun mendekatinya dan memberi kecupan di pipi kiri dan juga kanan.
“Sini…sini belum !” katanya lagi sambil memonyongkan bibirnya.
Fanny pun mendaratkan ciuman ringannya ke bibir tebal itu, namun begitu bibir Fanny menempel dia langsung memeluk gadis itu dan menempelkan bibirnya lebih lekat ke bibir mungilnya. Kemudian dia membuka celananya pendeknya sehingga penisnya yang telah menegang keluar dan disuruhnya Fanny mengoralnya. Sambil bersandar di sofa dan menonton TV dia menikmati sepongan Fanny. Pria itu melenguh dan tangannya meraba-raba tubuh gadis itu, sepertinya dia sudah tidak konsen dengan acara di TV karena saking keenakannya.
“Ngapain disitu ? ayo sini, ikutan aja jangan ngintip-ngintip gitu !” Pak Dahlan memanggil Thalib yang sedang mengintip adegan mereka di pinggir tembok yang memisahkan ruang tengah dengan ruang makan.
Karena sudah horny Fanny cuek saja dan membiarkan Thalib bergabung dengan mereka. Malam itu dia dikerjai mereka berdua habis-habisan sampai akhirnya dia harus menginap di rumah itu karena lelah dan hari sudah terlampau malam. Dia tidur di kamar Pak Dahlan bersama pria itu yang mendekap tubuhnya bagaikan guling.
“Akhirnya ga sia-sia gua ngelembur dulu, good bye deh ama pelajaran edan ini” kata Fanny dua minggu kemudian setelah melihat hasil ujiannya yang mendapat B+ lewat internet.
###########################
Nightmare Sidestory: Home Alone
Kisah ini terjadi sekitar tiga bulan setelah Sherin mengalami mimpi buruknya dengan Imron, si penjaga kampus bejat itu. Saat itu adalah lima hari menjelang Lebaran, Sherin sudah tiga hari di rumah tanpa orang tuanya karena keduanya sedang ke luar kota menghadiri pernikahan famili. Tinggallah dia di rumah yang besar itu dengan dua orang pembantunya Mbak Jum dan Mbak Narti serta seorang tukang kebun tua, Pak Udin. Sebenarnya ada seorang pembantu lagi, Mbak Milah tapi dia sudah minta ijin mudik sehari sebelum kedua orang tuanya berangkat. Hari itu jam sepuluh pagi, Mbak Jum dan Narti pun berpamitan pada Sherin untuk mudik, Sherin sebelumnya memang sudah diberitahu hal ini oleh mamanya dan dititipi sejumlah uang untuk mereka. Maka Sherin pun menyerahkan kedua amplop berisi uang itu kepada mereka sebelum mereka meninggalkannya.
“Cepetan balik yah Mbak, saya sendirian nih jadinya !” pesan Sherin.
“Non nggak usah takut kan disini masih ada Pak Udin, oh iya makanan buat siang nanti Mbak udah siapkan di meja, kalau dingin masukin oven aja yah” kata Mbak Narti.
Akhirya kedua wanita itupun berangkat. Sherin sebenarnya agak risih di rumah hanya berdua dengan Pak Udin, apalagi masih belum hilang dari ingatannya kenangan pahit diperkosa mantan sopirnya, Nurdin dulu.
Dia ingin memanggil pacarnya Frans untuk menemaninya, namun sayang pemuda itu baru berangkat bersama keluarganya ke Singapura kemarin. Namun dia agak lega karena menurutnya Pak Udin bukanlah pria berbahaya seperti mantan sopirnya itu, dia adalah pria berusia lanjut, 67 tahun dan orangnya cukup sopan, kalau berpapasan selalu menyapanya walaupun seringkali Sherin cuek karena sedang buru-buru atau tidak terlalu memperhatikan. Ia baru bekerja di rumah mewah itu sebulan yang lalu menggantikan tukang kebun sebelumnya, Pak Maman yang mengundurkan diri setelah istrinya di kampung meninggal. Setelah mengantarkan kedua pembantunya hingga ke pagar, Sherin kembali ke dalam dan masuk ke kamarnya. Di sana dia mengganti bajunya dengan baju fitness yang seksi, atasannya berupa kaos hitam tanpa lengan yang menggantung ketat hingga bawah dada sehingga memperlihatkan perutnya yang seksi, belum lagi keketatannya menonjolkan bentuk dadanya yang membusung indah, sementara bawahannya berupa celana pendek yang membungkus paha hingga sepuluh centi diatas lutut. Setelah mengikat rambutnya ke belakang, dia segera turun ke bawah menuju ruang fitness di belakang rumah. Ruang itu berukuran sedang dengan dilapisi karpet kelabu, beberapa peralatan fitness tersedia disana seperti treadmill, training bike, perangkat multi gym, hingga yang kecil-kecil seperti abdomenizer dan barbel. Ruang fitness keluarga ini memang cukup lengkap, disinilah Sherin sering berolahraga menjaga kebugaran dan bentuk tubuhnya.
Sebelum mulai berolah raga Sherin menyalakan CD playernya dan terdengarlah musik R&B mengalun dari speaker yang terpasang pada dua sudut ruangan itu. Sherin memulai latihan hari itu dengan treadmill, kira-kira dua puluh menit lamanya dia berjalan di atas papan treadmill itu lalu dia berpindah ke perangkat multi gym. Disetelnya alat itu menjadi mode sit up dan mulailah dia mengangkat-angkat badannya melatih perut sehingga tidak heran jika dia memiliki perut yang demikian rata dan mulus. Butir-butir keringat mulai membasahi tubuh gadis itu, dari kening dan pelipisnya keringatnya menetes-netes. Tiba-tiba Sherin merasa dirinya ada yang sedang mengawasi, dia melayangkan pandangannya ke arah pintu geser yang setengah terbuka dimana dilihatnya Pak Udin, si tukang kebun itu sedang berdiri memandangi dirinya.
“Heh…ngapain Bapak disitu !?” hardik Sherin yang marah atas kelancangan Pak Udin yang masuk diam-diam itu.
“Nggak Non, abis nyiram tanaman aja kebetulan lewat sini ngeliat Non lagi olahraga” jawab pria itu.
“Ga sopan banget sih, masuk diem-diem gitu, keluar !!” bentak Sherin sambil menundingnya.
Sherin mulai merasa tidak enak dan takut ketika melihat pria tua itu bukannya pergi malah diam saja menatap padanya lalu mengembangkan senyum. Tidak, peristiwa seperti dulu tidak boleh terjadi lagi demikian pikir Sherin, lagipula dia hanya seorang pria tua, bisa apa dia terhadapnya, seburuk-buruknya kemungkinan pun paling melarikan diri dan si tua itu tidak mungkin tenaganya cukup untuk mengejar.
“Bapak mulai kurang ajar yah” Sherin marah dan berdiri menghampirinya, “denger gak tadi saya bilang keluar !?”
“Keluar ya keluar Non, tapi ngomongnya baik-baik dikit dong, dasar lonte” kata Pak Udin.
Kedua kata umpatan terakhir itu memang diucapkan Pak Udin dengan suara kecil, namun Sherin dapat mendengarnya sehingga kontan darahnya pun semakin naik.
“Hei…omong apa tadi ?! Keluar sana, cepat beresin barang Bapak, Bapak saya pecat sekarang juga, dasar orang tua ga tau diri !” Sherin membentaknya dengan sangat marah.
Pak Udin tentu saja kaget karena umpatannya terdengar sehingga memancing kemarahan nona majikannya itu, tapi sebentar saja senyumnya mengembang kembali.
“Lho kenapa emangnya Non, emang bener kan kata saya tadi, sama penjaga kampus dan sopir aja Non mau kan ?” ujarnya enteng.
Mendengar itu Sherin langsung merasa seperti ada belati dilempar tepat mengenai dadanya, dia langsung mati kutu dan terdiam selama beberapa detik, rasa takut pun mulai melingkupi dirinya.
“Jangan ngomong sembarangan yah, saya telepon papa atau polisi kalau perlu kalau Bapak macam-macam !” gertaknya sambil menutupi kegugupan.
“Ya silakan Non, telepon aja, ntar juga saya laporin Non pernah ada main sama si Nurdin dulu, terus sama penjaga kampus Non juga”
Kemudian pria tua itu mulai menjelaskan bagaimana dia mengetahui skandal-skandal seks gadis itu yang ternyata didapatnya dari Nurdin, mantan sopirnya, yang juga tidak lain adalah keponakan pria itu.
Sherin diam seribu bahasa, rasanya lemas sekali membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Pak Udin lalu mendekati Sherin yang berdiri terpaku, tangan keriputnya memegang kedua lengannya yang mulus. Sherin tidak bereaksi, batinnya mengalami konflik, dia sama sekali tidak ingin melayani nafsu pria seusia kakeknya ini, namun apa daya karena pria ini telah mengetahui aibnya yang dipakainya sebagai alat mengintimidasinya. Tangan pria itu mulai membelai lengannya sehingga menyebabkan bulu kuduk gadis itu serentak berdiri merasa geli dan jijik. Tangan kanannya naik membelai pipinya lalu ke belakang kepalanya menarik ikat rambutnya sehingga tergerailah rambut indahnya yang seminggu lalu baru diluruskan dan dihighlight kemerahan.
“Cantik, bener-bener cantik !” gumam Pak Udin mengagumi kecantikan Sherin, “Cuma sayang sifatnya jelek !” sambungnya sambil mendorong tubuh gadis itu hingga jatuh tersungkur di lantai berkarpet.
“Aaaww !” jerit Sherin, namun sebelum dia sempat bangkit pria itu telah lebih dulu meraih kedua lengannya, mengangkatnya ke atas kepala dan mengunci kedua pergelangannya dengan tangan kiri sementara tangan kanannya menyibak kaos fitnessnya sehingga payudaranya yang putih montok berputing kemerahan itu terekspos. Mata Pak Udin melotot seperti mau copot melihat keindahan kedua gunung itu. Tatapan mata itu membuat Sherin bergidik melihatnya.
“Dasar anak jaman sekarang, udah jadi lonte aja masih suka belagu !” kata Pak Udin sambil meremas payudara kirinya dengan gemas. “Tau gak, Bapak sebenernya kasian ngedenger si Nurdin cerita tentang Non itu, saya sempat tegur dia, terus saya pikir Non juga udah bertobat, tapi selama saya kerja disini ternyata masih gitu-gitu aja. Non tetap sombong dan suka marah-marah ke pembantu seperti kita, emang Non pikir kita ini apa sih !?” pria itu dengan keras memarahinya.
“Jangan Pak, jangan begitu !” kata Sherin dengan suara bergetar.
Sementara Pak Udin terus mengagumi kedua payudara Sherin yang menggemaskan itu, tangan kanannya terus berpindah-pindah meremasi kedua payudara itu. Sherin sendiri menggeliat-geliat dan meronta tapi kuncian Pak Udin pada pergelangan tangannya cukup kuat. Sentuhan tangan keriput itu pada payudaranya mulai menimbulkan sensasi aneh, darahnya bergolak dan nafasnya mulai tidak teratur.
“Cewek kaya Non gini emang harus dikasih pelajaran biar tau diri dikit, sekalian Bapak juga mau ngerasain cewek cantik mumpung masih hidup hehehe !” katanya terkekeh-kekeh.
“Aahh…sshhh….nngghh !” desah Sherin saat mulut Pak Udin melumat payudaranya, lidahnya yang panas itu langsung mempermainkan putingnya yang sudah mengeras.
Sherin benar-benar tidak berdaya saat itu karena nikmatnya, dia sudah terbiasa mengalami pelecehan sejak menjadi budak seks Imron sehingga nafsunya dengan cepat naik walau bercampur perasan benci pada orang-orang yang mengerjainya.
Sambil masih mengunci pergelangan dan menciumi payudara nona majikannya, pria tua itu menyusupkan tangan satunya ke celana pendek itu. Telapak tangannya menyentuh vagina gadis itu yang ditumbuhi rambut-rambut lebat. Tubuh Sherin berkelejotan dan mulutnya mengeluarkan desahan ketika jari-jari pria itu menyentuh bibir vaginanya dan mulai mengorek-ngorek liangnya, Sherin merasakan daerah itu semakin basah saja. Pak Udin tersenyum puas melihat wajah terangsang Sherin yang bersemu merah. Merasa Sherin sudah takluk dan tidak memberontak lagi, pria itu mulai melepaskan kunciannya pada pergelangan gadis itu. Setelah melepas kunciannya tangannya langsung menarik lepas kaos fitness yang tersingkap itu sehingga membuat gadis itu topless. Keringat bagaikan embun membasahi tubuh bagian atasnya hasil dari fitness barusan. Sherin hanya bisa pasrah, matanya nerawang menatap langit-langit sambil sesekali merem-melek menahan nikmat. Mulut Pak Udin kini merambat naik ke lehernya sementara kedua tangannya tetap bekerja meremas payudaranya dan mengobok-obok di balik celananya. Sherin membuang muka ketika pria itu mencoba mencium bibirnya, terus terang dia enggan dicium oleh tua bangka ini, melihat giginya yang mulai ompong dan hitam-hitam saja jijik apalagi dicium. Dua kali dia membuang muka ke kiri dan kanan sampai akhirnya Pak Udin berhasil memagut bibirnya yang indah itu.
Dia menggeleng-gelengkan kepala berusaha lepas, tapi saat itu pria itu menekankan jari tengahnya pada klitoris yang telah berhasil ditemukannya sehingga otomatis pemiliknya mendesah dan mulutnya membuka. Saat itulah lidah Pak Udin menyeruak masuk dan langsung menyapukan lidahnya di dalam mulut. Ketika Pak Udin melumat bibirnya, Sherin memejamkan mata menahan jijik, betapa tidak bibir Pak Udin yang sudah berkerut itu sedang beradu dengan bibirnya yang mungil dan tipis. Semula dia menanggapi ciuman tukang kebunnya itu dengan pasif, tapi karena serangan-serangan pria itu pada daerah lainnya cukup gencar dan membuat birahinya semakin bergolak, lidah Sherin mulai ikut bergerak beradu dengan lidah kasar tukang kebunnya itu. Selama tiga menit lamanya Pak Udin menindih tubuh anak majikannya itu sambil menciumi dan menggerayangi tubuhnya. Pria itu merasakan jari-jarinya makin basah oleh lendir dari kemaluan gadis itu. Kemudian Pak Udin melepas ciumannya, air ludah mereka nampak saling menjuntai ketika bibir keduanya berpisah. Berikutnya dia menarik lepas celana pendek Sherin beserta celana dalamnya. Dia bangkit berdiri tanpa melepaskan pandangan matanya yang penuh nafsu itu dari tubuh telanjang nona majikannya. Dia mulai melepaskan kemeja lusuhnya memperlihatkan tubuhnya yang hitam kerempeng lalu dia buka celananya sehingga terlihatlah penisnya yang sudah tegang, bentuknya lumayan panjang, pangkalnya ditumbuhi bulu-bulu yang setengah memutih.
Pak Udin memapah Sherin lalu membaringkannya di alat sit up, sebuah platform yang berdiri membentuk sudut 45 derajat dengan lantai. Pria itu berjongkok di depannya dan membuka kaki gadis itu. Wajahnya mendekat hingga berjarak hanya sepuluh centi dari vagina gadis itu, matanya menatap nanar kemaluan yang berbulu lebat dengan bagian tengah yang memerah itu. Sherin memalingkan wajah ke samping dan memejamkan mata, dia merasa malu diperlakukan demikian, namun juga ada seperti rangsangan aneh yang membuatnya merasa seksi. Dia bisa merasakan dengus nafas pria itu menerpa vaginanya dan menambah sensasi nikmat.
“Ooohh…Paakk !” Sherin mendesah panjang sambil menggenggam erat pegangan alat itu ketika lidah Pak Udin menyapu bibir kemaluannya.
Demikian lihainya mulut ompong Pak Udin menjilati dan menyedot vagina Sherin sampai membuat gadis itu menikmatinya. Sherin mendesis-desis dan kakinya mengejang, dia mulai berani melihat ke bawah dimana selangkangannya sedang dijilati dan dihisap-hisap oleh pria tua itu. Lidah Pak Udin bergerak dengan lincah, kadang dengan gerakan lambat, kadang cepat, kadang menjilati memutar di daerah itu sehingga tanpa disadari Sherin merasa terbang ke awang-awang, tanpa disadari tangannya meraih tangan Pak Udin dan meletakkannya pada payudaranya, tangan keriput itupun langsung bekerja meremas dan memilin-milin putingnya.
Setelah setengah jam lebih sedikit, tubuh Sherin mengejang hebat, cairan orgasme meleleh dari liang vaginanya.
“Aahh…oohhh…!” Sherin mengerang panjang dalam orgasme pertamanya dengan si tukang kebun itu.
Pak Udin sengaja menghentikan jilatannya untuk mengamati lendir vagina gadis itu yang membanjir sampai menetes ke lapisan kulit pada alat fitness itu. Sebuah senyum mesum tergurat pada wajah tuanya, sepertinya dia senang sekali berhasil menaklukkan nona majikannya seperti ini.
“Huehehe…gila banjir gini, Non juga konak yah, Bapak suka banget sama memek Non, hhhmhh…ssllrrpp !” Pak Udin mengakhiri kata-katanya dengan menghirup lendir vagina nona majikannya.
Mulutnya sampai menyedoti bibir vagina gadis itu sehingga membuat tubuhnya makin mengejang dan menambah nikmat orgasmenya.
“Hhmm..enak yah rasa pejunya, Bapak udah lama nggak ngerasain seperti ini !” gumamnya sambil terus menghirup cairan orgasme Sherin.
Gairah Sherin dengan cepat bangkit kembali karena Pak Udin terus menjilati vaginanya dan melahap cairan orgasmenya hingga habis menyisakan bercak ludah di daerah selangkangan gadis itu. Gairah itu menghapus sementara rasa marah dan jijik yang sebelumnya melingkupinya, entah mengapa dia kini merasa ingin penis lelaki tua ini segera menusuk vaginanya.
Jantung Sherin semakin berdebar-debar ketika kepala penis pria itu menyentuh bibir vaginanya. Nuraninya menghendaki agar dirinya memberontak dan kabur, tapi tubuhnya yang berkata lain malah menggerakkannya untuk membuka kakinya lebih lebar. Dia melihat jelas bagaimana penis pria itu memasuki vaginanya juga ekspresi puas di wajah tuanya karena berhasil menikmati tubuh gadis cantik yang baru pernah dirasakan seumur hidupnya.
“Hhsshhh…enngghh…me…mek Non seret…banget !” gumam tukang kebun itu disela-sela nafasnya yang memburu.
“Ahhh…Pak Udin…ooohh !” rintih Sherin menahan nikmat saat penis itu mulai bergerak menggesek dinding vaginanya.
Pak Udin mulai menggenjoti vagina nona majikannya itu dengan kecepatan makin meningkat tapi tidak sebrutal Imron atau sopirnya dulu karena faktor usia. Pak Udin pun nampaknya sadar akan hal ini sehingga dia tidak mau menggenjotnya terlalu cepat agar tidak terlalu menghamburkan tenaga dan dapat menikmati kenikmatan langka ini lebih lama. Sherin sendiri mulai terhanyut oleh gaya Pak Udin yang khas itu. Tanpa disadari dia menggerakkan tubuh bagian bawahnya menyambut hujaman-hujaman penis Pak Udin. Mata pria tua itu menatap kedua payudaranya yang turut bergoyang-goyang mengikuti goyangan tubuhnya sehingga dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menjulurkan tangan kanannya meremasi benda itu sambil tangan yang satunya tetap menyangga lutut gadis itu. Sherin nampak meringis-ringis dan mendesah sambil sesekali menggigiti bibir bawah atau tangannya yang terkepal.
“Balik Non, nungging !” perintah pria itu setelah 20 menitan dalam posisi yang sama.
Sherin kini berpijak dengan kedua lututnya dan tangannya bertumpu pada alat sit-up itu. Pria itu melebarkan sedikit kakinya lalu kembali memasukkan penisnya ke liang senggama gadis itu yang telah licin oleh lendir. Sherin merasakan sodokan tukang kebunnya ini kini terasa lebih bertenaga dan lebih dalam sehingga tubuhnya lebih terguncang daripada sebelumnya. Sambil menggenjot, kedua tangan keriputnya juga menggerayangi sepasang payudara yang menggantung itu. Suara benturan antara pantat Sherin dengan selangkangan pria itu bercampur baur dengan irama musik R&B yang masih mengalun dari CD player.
“Aarhhh…terus Non, goyang terus !” erang pria itu dengan suara parau.
Sebagai gadis yang sudah berpengalaman soal seks, Sherin tahu bahwa bajingan tua ini sudah mau klimaks. Maka dia pun merespon dengan menggoyangkan pinggulnya lebih cepat. Benar saja, tak lama kemudian dia merasakan adanya siraman hangat di dalam vaginanya. Pria itu mengerang menikmati spermanya mengisi rahim anak gadis majikannya tersebut. Genjotannya makin menurun kecepatannya hingga akhirnya berhenti dan penisnya tercabut. Akhirnya pria tua itu duduk berselonjor di lantai dengan nafas ngos-ngosan. Sherin terlalu seksi baginya sehingga dia menggenjotnya terlalu bernafsu di saat-saat terakhir sehingga tenaganya banyak terkuras.
Sherin buru-buru memunguti pakaiannya dan keluar dari ruangan itu setelah terlebih dahulu mematikan cd-player. Dia menatap kesal pada pria itu ketika melintas di depannya sementara Pak Udin sendiri hanya tersenyum puas sambil mengatur nafasnya yang masih putus-putus. Sherin langsung masuk ke kamarnya dan membanting pintu serta menguncinya. Kurang ajar sekali tua bangka ini, marahnya, tidak disangka si tua itu ternyata adalah paman dari bekas sopir yang pernah mempecundanginya dulu. Sekarang dirinya telah jatuh dalam kekuasaan bajingan tua ini tanpa dapat berbuat apa-apa karena dia memegang kartu trufnya. Setelah air di bathtub penuh, Sherin menaburkan sabun ke dalamnya hingga berbusa lalu dia masuk ke dalam dan membasuh tubuhnya dari sisa-sisa persetubuhan. Rasa lelah dari berolah raga dan persetubuhan tadi membuatnya merasa ngantuk di dalam air hangat yang memberi kenyamanan itu sehingga tanpa terasa dia mulai tertidur di bak. Lebih dari setengah jam kemudian barulah dia terbangun karena ponselnya yang diletakkan di pinggir bathtub berbunyi. Dia segera mengangkat telepon dari mamanya yang mengabarkan mereka besok sore baru pulang dan berpesan agar jaga diri di rumah, dan jangan lupa kunci rumah yang benar. Betapa dongkolnya Sherin karena dengan demikian berarti dia tidak bisa melepaskan diri dari Pak Udin hingga besok dan masih harus iklas dikerjai orang tua itu.
Diapun bangkit dan keluar dari bak menyudahi mandinya. Setelah mengeringkan tubuh dengan handuk dipakainya sebuah kaos longgar warna biru muda dan celana pendek. Jam telah menunjukkan pukul setengah dua ketika itu, diluar sana matahari sedang terik-teriknya. Sherin merasa perutnya telah berbunyi minta diisi. Dibukanya pintu sedikit dan melongokkan kepala keluar melihat keadaan, sepi…Pak Udin sepertinya sedang di belakang sana. Maka dia pun keluar dari kamar menuju ruang makan. Setelah menyendok nasi ke piringnya, dibukanya tudung saji yang menutupi makanan di atas meja makan dan diambilnya lauk secukupnya. Sepuluh menit kemudian, dia pun selesai makan, lalu dibawanya piring dan gelas bekas itu ke tempat cuci piring. Selagi mencuci piring, tiba-tiba dia merasa sebuah tangan mendarat di pantatnya lalu meremasnya. Spontan diapun membalik badannya dan menepis tangan itu.
“Kurang ajar !” omelnya dengan wajah cemberut.
“Siang Non, udah bangun yah, asyik kan tadi ?” goda Pak Udin sambil cengengesan.
Wajah Sherin langsung merah padam mendengarnya, memang tak dapat dipungkiri walaupun tindakan pria ini bisa digolongkan sebagai pemerkosaan dan merendahkan harga dirinya namun dia sendiri juga menikmatinya. Ingin rasanya menghantamkan piring di belakangnya ke kepala tua bangka ini hingga bocor, tapi nyalinya tidak sebesar itu. Dia hanya bisa menepis tangan pria itu ketika hendak meraba dadanya lalu mendengus kesal sambil melengos meninggalkannya. Tak lama kemudian terdengar suara pintu dibanting dari kamarnya. Pak Udin sendiri hanya tertawa-tawa melihat reaksi nona majikannya itu.
Di kamar Sherin menyetel cd-playernya keras-keras sambil menyalakan sebatang rokok untuk melampiaskan kekesalan pada tukang kebunnya yang brengsek itu. Setelah rokok itu habis setengah batang, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. Dia kecilkan sedikit volume cd-playernya lalu membuka pintu.
“Ngapain lagi sih Pak ?!” ujarnya ketus.
“Waduh…jangan judes gitu dong Non, ini Bapak cuma konak lagi nginget yang barusan, kita main lagi dikit yuk Non, mumpung cuma kita duaan disini” sahut Pak Udin.
“Nggak ah, tadi kan udah…pergi sana !” tolak Sherin dengan kesal seraya menutup pintu.
“Ayo dong Non jangan gitu ah…sebentar aja, tadi Bapak belum ngerasain kontol Bapak dimulut Non, ayo dong…yah !” Pak Udin menahan pintu itu dengan setengah memohon dan setengah memaksa.
Pak Udin membuatnya tidak punya pilihan lain sehingga akhirnya dengan terpaksa diiyakannya kemauan pria ini. Dengan berat hati dibiarkannya pria itu masuk ke kamarnya. Sherin menghempaskan pantatnya hingga terduduk di tepi ranjang tanpa melepas pandangan marahnya pada pria itu. Pak Udin berdiri di hadapannya dan mulai melepaskan celananya. Setelah celana panjangnya melorot jatuh, dia mengeluarkan penisnya yang sudah menegang dari balik celana dalamnya.
“Ayo Non disepong yang enak !” Pak Udin menyodorkan penis itu pada nona majikannya.
Walau terbiasa melihat penis hitam dan dilecehkan seperti itu, namun Sherin baru pernah berurusan dengan penis tua yang bulu-bulunya sudah mulai beruban seperti yang satu ini sehingga ada rasa enggan untuk mengoralnya. Sherin sadar bahwa itu adalah keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, maka dengan terpaksa dia mulai menggenggam penis itu, terasa denyutan benda itu dalam genggamannya. Tanpa menunggu perintah lagi dia mendekatkan wajahnya pada penis yang menodong wajahnya itu. Lidahnya bergerak menyapu bagian kepalanya yang bersunat. Pak Udin mengerang parau merasakan jilatan lidah gadis itu pada ujung penisnya, tubuhnya bergetar sambil meremas rambut gadis itu. Seumur hidupnya baru pernah pria tua itu merasakan yang namanya oral seks, istrinya selalu menolak untuk melakukan hal itu, sehingga kehidupan seksnya terasa hambar selama puluhan tahun menikah. Oral seks pertama dengan gadis secantik nona majikannya ini memberinya sensasi luar biasa, rasanya seperti kembali muda lagi sehingga dia melenguh tak karuan. Penisnya kini sudah masuk ke mulut gadis itu, dia merasakan lidahnya menggelikitik penisnya juga sensasi hangat dari air liurnya.
“Uhhh…enak banget Non, terus gituin yah…eeemm…jangan dilepas yah !” erangnya sambil memegangi kepala gadis itu.
Sherin melancarkan teknik-teknik mengoralnya, semakin hari dia semakin terbiasa diperlakukan demikian di kampus, terutama yang paling sering dengan Imron, sesekali dengan Pak Dahlan si dosen bejat itu atau pernah juga dengan Pak Kahar, si satpam kampus yang tak bermoral. Dia memaju-mundurkan kepalanya sambil mengulum penis itu, tangannya juga ikut bekerja mengocok batangnya atau memijat buah pelirnya. Pria setengah baya itu merasa semakin keenakan sehingga tanpa sadar ia menggerak-gerakkan pinggulnya sehingga penisnya menyodoki mulut Sherin seolah menyetubuhinya. Kini Sherin berhenti memaju-mundurkan kepalanya dan hanya pasrah membiarkan mulutnya disenggamai tukang kebunnya itu, kepalanya dipegangi sehingga tidak bisa melepaskan diri. Kurang lebih sepuluh menitan akhirnya Pak Udin mencapai puncak, dia mengerang tak karuan dan menggerakkan pinggulnya lebih cepat sehingga membuat Sherin agak kelabakan. Diiringi erangan keras, keluarlah spermanya di mulut Sherin. Walaupun jijik karena aromanya yang cukup tajam, Sherin bisa juga menelan habis cairan itu tanpa menetes keluar dari mulutnya. Memang menghisap merupakan salah satu kelebihannya dalam hubungan seks. Frans, pacarnya, juga sangat suka penisnya dioral olehnya, terkadang kalau sudah mau orgasme dia minta padanya untuk dioral agar bisa keluar di mulut dan merasakan hisapannya yang dahsyat itu. Setelah semprotannya berhenti, dijilatinya juga sisanya yang blepotan pada batang itu hingga bersih.
“Udah Pak…cukup sampai sini, sekarang keluar !” Sherin berdiri dan menyuruhnya keluar.
“Alah Non…masa sih segitu aja ? ayo dong biar Bapak muasin Non !” Pak Udin mendekap tubuh Sherin dan tangannya bergerak ke bawah meremas pantatnya.
Sherin meronta dan mendorong tubuh pria tua itu hingga dia terhuyung ke belakang hampir terjatuh.
“Udah dong Pak, saya bilang jangan sekarang, kenapa sih !?” kata Sherin setengah menghardik.
Pak Udin hanya tersenyum kecil sambil menaikkan kembali celananya.
“Ya udah ga apa-apa deh…dasar lonte…awas ya nanti !” dia lalu membalikkan badan dan keluar dari kamar.
Akhirnya Sherin berhasil juga menolak pria itu, tapi dia agak takut juga mendengar perkataan terakhir Pak Udin yang bernada mengancam itu. Ya sudahlah paling-paling digarap habis-habisan lagi dan disuruh tidur bareng dengan si tua brengsek itu, toh yang seperti itu bisa dibilang sudah menjadi hal biasa sejak dirinya menjadi budak seks. Sekarang ini dia sedang tidak mood melakukan hal itu. Dia pun berbaring di ranjang empuk itu sambil mendengarkan musik yang mengalun dari cd-player. Matanya terpejam hingga tanpa terasa dia tertidur lagi.
Sekitar jam setengah empat, Sherin terbangun dari tidurnya karena ada suara ketukan di pintu beserta suara Pak Udin memintanya membuka pintu.
“Huh, tua bangka itu lagi, dasar ga tau diri” omelnya.
“Ngapain lagi sih Pak, jangan kelewatan dong !” katanya dengan judes begitu nongol di depan pintu.
“Wes…wes…jangan marah-marah melulu dong Non, Bapak bukan mau ganggu Non, itu ada orang dari pabrik dateng katanya mau ambil barang titipan tuan !” kata Pak Udin kalem.
Sherin baru ingat memang sebelum pergi papanya pernah menitipkan dokumen kerja dan sebuah CD yang dibungkus dalam amplop besar berwarna coklat. Dia pun langsung menuju ke ruang kerja papanya setelah sebelumnya menutup pintu kamar dengan setengah dibanting di depan tukang kebunnya itu. Diambilnya amplop coklat yang dimaksud itu dari lemari meja papanya dan dibawanya ke ruang tengah dimana orang suruhan papanya itu menunggu. Di sofa ruang tengah telah menunggu dua orang pria yaitu Pak Irfan, salah satu staff papanya, seorang yang berpostur pendek berusia 40-an, dan satunya adalah sopir pabriknya yang bernama Jabir, seorang pria berkumis tebal dan tubuhnya padat berisi serta kulitnya hitam kasar karena sering terbiasa bekerja di bawah sinar matahari.
“Sore Non Sherin” sapa Pak Irfan ramah, Jabir juga tersenyum menyapanya.
“Sore Pak” Sherin balas menyapa dan tersenyum kecil “Ini Pak , titipan dari papa, bener kan?”
“Ah…iya Non bener ini, makasih yah !” kata Pak Irfan seraya menerima amplop itu.
“Ada apa lagi Pak yang bisa saya bantu ?” tanya Sherin melihat mereka yang belum beranjak pergi.
Kedua pria itu terdiam sejenak saling pandang satu sama lain, lalu Pak Irfan berkata,
“Mmm…anu Non sekalian itu…THR nya ?”
“THR ? Kok mintanya ke saya, kan yang ngurus bagian pabrik ?” Sherin agak heran.
“Itu Non, THR spesialnya…kan Pak Udin juga dikasih, masa kita nggak ?” sambung Jabir si sopir pabrik.
Deg…Sherin terperanjat mendengar perkataan Jabir itu, apalagi ekpresi mereka mulai berubah menyeringai mesum begitu melihat reaksinya.
“Brengsek…tua bangka mulut ember, keterlaluan banget sih !” makinya dalam hati.
“Nnngg….ma-maksudnya apa sih Pak ?” tanyanya gugup pura-pura tidak tahu apa-apa.
“Alah Non pura-pura bego aja” kata Pak Irfan sambil menggeser duduknya mendekati Sherin, “THR dari Non, ini loh” katanya memegang paha gadis itu.
“Eeii…jangan kurang ajar yah !” bentak Sherin mendorong pria itu.
Tanpa diduga, Jabir telah berada di sebelahnya dan mendekap tubuhnya setelah dia mendorong Pak Irfan.
“Apa-apaan nih, lepasin saya, tolong…tolong…!!” jeritnya sambil meronta.
“Hus jangan teriak Non, ntar semua orang tau mau taro dimana mukanya…kan kasian juga bapak Non, di pabrik dibilang apa ntar kalau anaknya ada main sama tukang kebun hehehe !” kata Pak Irfan sambil tertawa-tawa.
“Iya Non, lagian kan udah mau hari raya, boleh dong sekali-sekali nyenengin kita-kita yang udah kerja buat keluarga Non” timpal Jabir
“Hehe…gimana Non, kata Nurdin dulu Non suka keroyokan makannya Bapak ajak mereka ngerasain Non, dijamin Non puas deh” kata Pak Udin yang sudah berdiri di belakang sofa.
Sherin sadar bahwa kini dirinya benar-benar terjebak, tidak ada pilihan lain lagi selain menuruti kemauan bejat mereka. Dipandangnya tiga wajah mesum yang mengelilinginya dengan kesal, terutama Pak Irfan, bawahan papanya yang telah dikenalnya sejak masih kecil itu tega-teganya berbuat demikian terhadapnya, ternyata dia tidak berbeda dengan pria-pria lain yang pernah memperkosanya, bermoral bejat. Tangan pria itu kini memegangi pergelangan kakinya dan tangan lainnya mengelusi betis hingga pahanya yang ramping dan mulus itu sehingga darahnya mulai berdesir. Demikian pula Pak Udin dan Si Jabir yang mendekapnya juga mulai menggerayangi tubuh bagian atas payudaranya dari luar sehingga membuatnya menggeliat-geliat. Jantungnya berdetak dengan kencang, adakah yang lebih buruk daripada melayani ketiga binatang berwajah manusia ini, demikian katanya dalam hati.
“Ga kerasa Non udah dewasa yah, udah tambah cantik, tambah nafsuin” kata Pak Irfan sambil melepas celana pendek Sherin.
Jabir mengikuti tindakan Pak Irfan dengan melepas kaos gadis itu. Maka kini tubuh Sherin yang putih mulus itu hanya tinggal memakai bra berenda dan celana dalam yang keduanya berwarna putih, bulu kemaluannya nampak terlihat melalui celana dalamnya yang semi transparan. Mata ketiganya terbelakak melihat kemolekan tubuhnya, nampak jakun mereka bergerak naik-turun dan pandangan mata mereka demikian bernafsu seperti srigala lapar.
“Akhirnya bisa juga ngeliat bodynya Non Sherin, tiap kali saya konak banget kalau liat Non pake baju seksi ke pabrik” kata Jabir.
“Misi yah Non, bapak mau nyusu dulu” Pak Udin yang sudah berpindah tempat berjongkok di depan sofa meminta ijin seraya menyingkap cup bra sebelah kanannya.
Tanpa ba-bi-bu lagi pria setengah baya itu langsung melumat payudara kanannya.
“Sshhh !” desis Sherin merasakan payudaranya dikenyoti.
Terasa sekali lidah bagian atas pria itu menggesek-gesek putingnya seperti mengamplas sehingga benda itu makin menegang tanpa bisa tertahan. Jabir yang dibelakangnya juga merangsangnya dengan ciuman dan jilatan pada leher dan telinganya, telapak tangannya yang besar itu menyusup masuk ke cup bra kirinya menyentuh kulitnya yang halus, segera jari-jarinya memilin-milin putingnya setelah menemukannya. Sementara itu, Pak Irfan di bawah sana sedang memegangi kaki kanannya agar tetap terbentang sambil tangan satunya memainkan jari-jarinya mengosok-gosok kemaluannya dari luar celana dalam.
Senyum pria itu makin lebar seiring dengan bercak cairan pada celana dalamnya yang makin lebar.
“Enak kan Non, sampe banjir gini” kata Pak Irfan yang semakin gencar menggerayangi selangkangannya.
Diserbu dari berbagai arah pada bagian sensitifnya seperti itu membuat birahi Sherin mau tidak mau menggeliat bangkit. Dia pasrah saja membiarkan ketiga pria itu menjarah tubuhnya. Jabir melumat bibir gadis itu ketika kepalanya mendongak karena terangsang. Mata Sherin membelakak ketika pertama kali bibir tebal pria itu menempel ke bibirnya namun beberapa detik saja matanya kembali terpejam menikmati percumbuan. Kumis tebal Jabir bergesekan dengan daerah sekitar mulut Sherin, namun dia mengabaikannya dan terus menyambut ciuman si sopir pabrik itu, nampak lidah keduanya saling beradu dan saling jilat. Sambil bercumbu, tangan pria itu terus saja meremas-remas payudara kirinya. Pak Udin yang berjongok di sebelahnya bukan saja melumat payudaranya, mulutnya terkadang menelusuri bagian tubuh yang lain yang masih lowong meninggalkan jejak air liur, tangannya pun turut menjamah-jamah disana-sini. Pak Irfan mendekatkan wajahnya pada selangkangan Sherin lalu menjulurkan lidah menjilati bagian celana dalam yang basah itu sehingga tubuh gadis itu menggeliat. Sungguh ketiga pria ini pikirannya telah buta oleh hawa nafsu. Tuhan diatas sana pasti telah menghapus semua ibadah puasa mereka yang telah dijalankan selama sebulan dan hampir mencapai tahap akhir itu.
Pak Irfan menarik lepas celana dalam Sherin yang bagian tengahnya sudah basah. Matanya langsung nanar melihat kemaluannya yang berbulu lebat dan sudah becek itu. Sebelum melanjutkan mereka membaringkan tubuh gadis itu di atas meja ruang tamu dari bahan kayu berukir dekat mereka. Pak Udin menyingkirkan barang-barang diatasnya, Jabir melucuti branya sehingga kini tubuh Sherin yang sudah telanjang bulat itu ditelentangkan di atas meja dengan kedua kaki menjuntai ke bawah. Ketiganya menatapi tubuh telanjang itu dengan pandangan penuh birahi. Pak Irfan nampaknya tidak sabar lagi untuk segera menikmati, dia segera berlutut di antara paha Sherin dan menaikkan kedua pahanya ke bahu lalu membenamkan wajahnya di selangkangan gadis itu.
“Oohhh…!!” desah Sherin sambil menggeliat ketika lidah pria itu menyentuh bibir vaginanya dan menyeruak masuk seperti ular.
Lidah itu menari-nari dan menjilati vaginanya, dia merasakan suatu perasaan yang sulit dilukiskan saat lidah pria itu menyentuh klitorisnya sehingga dia hanya bisa mendesah lebih panjang dan tubuhnya menggelinjang. Pak Udin dan Jabir masing-masing berdiri di kanan dan kiri kepalanya, mereka membuka celananya masing-masing. Betapa terpananya Sherin melihat penis Jabir yang demikian besar dan berurat itu, ada mungkin ukurannya 20 cm. Dia merasakan penis itu bergetar di tangannya ketika digenggam.
“Sepong Non, Pak Udin bilang Non nyepongnya enak !” perintah Jabir.
Walau kata-kata tidak senonoh itu terasa panas di kupingnya, namun dimasukkan juga benda itu ke mulutnya. Dia membuka mulut selebar-lebarnya untuk memasukkannya.
Sherin mengoral penis Jabir sambil tangan satunya mengocoki penis Pak Udin. Kedua pria itu melenguh sambil merem-merem menikmati ‘adik’nya dilayani oleh gadis itu. Rangsangan-rangsangan akibat jilatan Pak Irfan pada vaginanya menyebabkan libidonya meninggi sehingga semakin baik pula pelayanannya pada dua penis itu. Tak lama kemudian Pak Irfan merasa puas menjilati vagina Sherin.Ketika dia bersiap hendak menyetubuhi putri atasannya itu, tiba-tiba si Jabir menyela,
“Eh…tunggu-tunggu, jangan disodok dulu, gua mau nyicipin bentar memeknya, pengen tau rasanya memek cewek cantik !”
“Sabar dong, semua dapet giliran kok, gua udah ga tahan nih !” kata Pak Irfan.
“Ayolah bentar aja, ntar kalau lu tusuk keburu bau kontol, gua jadi ga selera” pinta Jabir sekali lagi.
Mereka bertiga tertawa-tawa mendengarnya, akhirnya Pak Irfan mengalah sedikit dan membiarkan Jabir menjilati vagina Sherin.
“Ya udah, sana nyepong, jangan lama-lama, abis ini gua nusuk duluan yah !” kata Pak Irfan sambil membuka celananya dan berdiri di sebelah Sherin.
Maka mulailah si kumis itu menjilati vaginanya, bukan hanya lidahnya yang bermain, jarinya pun turut menusuk-nusuk sehingga tubuh Sherin dibuatnya makin menggelinjang. Di saat yang sama Sherin kini melayani penis Pak Irfan dan Pak Udin, tukang kebunnya.
Kedua tangan Sherin menggenggam penis itu, mengocok dan mengoralnya secara bergantian. Karena keenakan, Pak Irfan memegangi kepala Sherin ketika diemut penisnya, tidak rela kehilangan kuluman nikmat itu.
“Hehehe…bener kan kata saya, situ sampe ketagihan sepongan si Non ?” kata Pak Udin terkekeh melihat tingkah Pak Irfan.
“Iya toh…enak tenan bener sepongan Non…emmm…hati-hati Non, jangan kena gigi !” ucap Pak Irfan sambil merem-melek keenakan.
Dengan birahinya yang semakin naik, Sherin pun mulai menikmati diperlakukan demikian, tidak nampak dirinya meronta seperti orang diperkosa ataupun menangis seperti dulu waktu pertama kali di kampus dulu, baginya yang seperti ini sudah biasa. Tiba-tiba tubuh Sherin menggelinjang, dari mulutnya yang dijejali penis Pak Irfan terdengar erangan tertahan. Rupanya dia telah mencapai orgasme akibat jilatan dan permainan jari Jabir pada vaginanya. Nampaknya Pak Irfan cukup pengertian dengan kondisinya dia melepaskan sejenak penisnya dari mulut gadis itu. Ketiga pria itu kelihatan senang melihat reaksinya saat mencapai orgasme itu. Si Jabir dengan rakusnya melahap cairan orgasme yang membanjir dari vagina gadis itu.
“Ssrrpp…slurp….wuih, uenak banget pejunya si Non ini slluurpp !” komentarnya sambil mengisapi vagina Sherin.
Kedua paha mulus Sherin mengapit wajah pria itu karena tubuhnya yang menegang dan merasa geli karena oral seks si kumis itu. Setelah beberapa saat akhirnya gelombang orgasme itu reda, namun Jabir masih terus mengisapi vaginanya hingga cairan orgasmenya habis dilahap.
Sherin terbaring bugil di meja itu dengan nafas terputus-putus setelah mencapai klimaks barusan. Kedua buah dadanya nampak naik-turun seirama nafasnya. Matanya melihat sekelilingnya dimana ketiga lelaki itu manatapnya dengan mata nanar. Mereka membuka pakaiannya masing-masing hingga bugil. Dia melihat tubuh si Jabir begitu padat dan berotot dan dadanya ditumbuhi sedikit bulu.
“Gila…mampus dah gua !” keluhnya dalam hati membayangkan dirinya akan habis ‘dibantai’ ketiga orang itu.
Sesuai perjanjian, Pak Irfan menagih giliran pertamanya untuk menyetubuhi Sherin. Dia langsung mengambil posisi diantara kedua paha gadis itu dan mengarahkan penisnya.
“Uhhh…nikmat, seret, becek banget !” erangnya sambil menekan pelan-pelan penisnya memasuki liang senggama gadis itu.
Dengan cairan orgasme yang berfungsi sebagai pelumas, penis Pak Irfan melesak masuk dengan lancar, ukurannya juga termasuk sedang sehingga tidak terlalu sulit dalam melakukan penetrasi.
“Enak Pak ?” tanya Jabir setelah atasannya itu berhasil menancapkan seluruh penisnya pada vagina nona majikan mereka.
“Yo jelas toh, mana Non nya ayu gini lagi, uuhh bini gua aja kalah dah !” komentarnya.
“Dasar bajingan, istri sendiri diomongin gitu” omel Sherin dalam hati.
Tak lama kemudian Pak Irfan mulai menggoyangkan pinggulnya memompa gadis itu.
“Oohhh…oohh !” desah Sherin merasakan sodokan pria itu.
Jabir kini berjongkok di sebelahnya, lidahnya menjilati payudaranya dan tangannya bergerilya menjamah-jamah bagian tubuh lainnya. Sementara itu Pak Udin mendekatkan penisnya ke wajahnya. Tahu apa yang harus dilakukan, Sherin meraih batang itu dan menjilatinya.
“Uuuhh…enak…enak…seret banget !” ceracau Pak Irfan sambil menggenjot Sherin.
Pria itu memaju-mundurkan pinggulnya sambil tangannya memegangi pergelangan kaki gadis itu. Suara cek…cek…cek…terdengar dari selangakangan mereka yang saling bertumbukkan. Sherin sendiri sedang terlarut menikmati penis Pak Udin, penis itu dia jilati, sesekali digosokkan ke wajahnya yang mulus, buah zakarnya dia pijati sehingga pria setengah baya itu mengerang keenakan. , kalau saja jantungnya tidak kuat mungkin saat itu dia sudah kena serangan jantung saking berdebar-debarnya. Si Jabir juga masih asyik bermain dengan payudara Sherin, wangi tubuh gadis itu membuatnya semakin bernafsu menjilatinya, air liur dan bekas cupangan memerah pun menghiasi kulitnya yang putih, terutama di daerah payudara. Kumis si Jabir yang tebal itu terasa sangat menggelitik tubuhnya dan memberinya sensasi plus di samping cupangan-cupangannya. Sungguh nampak kontras sekali adegan seks di ruang tengah itu, seorang gadis berparas cantik, berkulit putih mulus sedang digauli tiga orang pria bertampang minus berkulit gelap kasar, juga berbeda status dan rasnya. Sherin pun tidak bisa memungkiri bahwa seks liar seperti ini memberinya kepuasan lebih daripada melakukannya dengan pacarnya.
“Uuhh…uhh…mau keluar Non…bapak buang di dalem ya !!” erang Pak Irfan sambil mempercepat sodokannya karena sudah mau mencapai puncak.
Sherin tidak peduli lagi apapun yang dikatakan padanya, dia sedang mengulum penis Pak Udin ketika itu. Lagipula kalaupun ia menolak buang di dalam apakah Pak Irfan mendengarkannya. Pak Irfan memutar-mutar penisnya dalam vagina Sherin seperti gerakan mengaduk adonan., lalu dia menekannya dalam-dalam. Sherin merasakan cairan hangat menyemprot di dalam vaginanya, banyak sekali sampai cairan itu meluber keluar dan semakin membasahi selangakangannya. Genjotan Pak Irfan makin melemah hingga akhirnya berhenti dan penisnya terlepas dari vaginanya.
“Wuihh…puas banget main sama si Non ini !” katanya dengan nafas ngos-ngosan.
“Payah, cuma segitu aja” kata Sherin dalam hati karena masih belum puas, “Oh my God, apa yang gua pikir barusan ?” ia baru menyadari pikiran tadi terlintas begitu saja di benaknya akibat birahi yang semakin naik sehingga akal sehatnya semakin hilang.
“Gua…gua sekarang !” sahut Jabir yang sudah tak sabar menikmati kehangatan tubuh Sherin, “tapi jangan disini dong, tempatnya sempit, kita bawa ke kamarnya aja gimana, boleh yah Non, main di kamar Non aja, OK ?”
Sherin hanya mengangguk lemah saja sebagai jawabannya. Maka mereka pun segera membawanya ke kamarnya. Jabir menggendong tubuh telanjang Sherin dengan kedua lengan kekarnya sambil berjalan mengikuti Pak Udin yang menuntun mereka ke kamar gadis itu.
“Wah asyik yah kamarnya enak, ber-AC lagi !” komentar Pak Irfan begitu memasukinya.
“Main sama cewek cakep emang enaknya di tempat yang enak gini” timpal Jabir sambil menurunkan Sherin di ranjanganya.
Jabir langsung menyuruhnya nungging karena dia ingin melakukannya dengan gaya doggie. Sherin yang masih belum puas dan masih ingin disetubuhi menurut tanpa diperintah dua kali.
“Eenggh !” desahnya saat Jabir memenekankan kepala penisnya pada vaginanya, “jangan kasar-kasar dong Bang, sakit !”
“Sori Non, abis nafsu sih hehehe !” tawanya, sepertinya dia cukup menurut sehingga memperlembut proses penetrasi itu.
Sherin mengerang dengan wajah meringis dan sesekali menggigit bibir karena penis Jabir yang besar dan berurat itu terasa sesak di vaginanya. Tangannya terkepal erat sambil meremasi sprei di bawahnya. Sedikit demi sedikit akhirnya penis hitam besar itu masuk juga seluruhnya ke dalam liang vagina Sherin.
“Wuih, sempit banget nih memek Non, baru pernah loh saya ngerasain yang gini !” komentar si kumis itu setelah berhasil menancapkan penisnya.
Beberapa saat kemudian mulailah dia menggerakkan pinggulnya menggenjot gadis itu.
“Aahh…ahhh…iyahh…aahh…enak !” Sherin mendesah dan tanpa sadar kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutnya.
Jabir yang mengetahui Sherin sudah terangsang berat itu semakin bernafsu, frekuensi genjotannya semakin kencang, tangannya juga meremasi pantat dan payudara gadis itu.
“Ternyata Non ini bener-bener lonte yah, awalnya nolak sekarang malah keenakan hehehe !” ejek Pak Udin sambil meremas sebuah payudaranya.
Sherin tidak menghiraukan hinaan itu karena bukan hal baru baginya, malah kata-kata merendahkan itu membuatnya makin bergairah. Dia turut memacu tubuhnya bersama Jabir, seolah ingin penis itu menusuk lebih dalam lagi. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain saat melihat bingkai foto di bufet sebelah ranjangnya yang berisi foto studionya bersama Frans, pacarnya. Dalam foto itu keduanya tampak serasi dan mesra sekali, karena itulah ia tidak sanggup menatapinya lama-lama karena keadaannya sekarang sangat bertentangan dari di foto itu, ia malah menikmati hubungan terlarang dengan orang-orang yang tidak seharusnya seperti ini, sungguh suatu dilema baginya, dia masih mencintai Frans, namun dia juga telah terperangkap dan diperbudak oleh hasrat liarnya yang semakin tak terkendali sejak hasrat itu dilepaskan keluar oleh Imron. Pak Udin kini mengangkat tubuh Sherin hingga posisinya kini berlutut sambil tetap disetubuhi Jabir dari belakang, ia memeluk tubuh kerempeng tukang kebunnya itu sebagai tempat bertumpu. Erangannya teredam setelah pria itu melumat bibirnya, dia menciuminya dengan ganas sambil menggerayangi payudaranya. Pak Irfan lalu bergabung dengan mereka, ia memegang payudara Sherin yang satunya dan menciuminya, tangannya menggerayangi bagian tubuh sensitif lainnya. Setelah Pak Udin melepaskan ciumannya, ia masih harus beradu lidah dengan Pak Irfan yang menggantikannya.
“Oohh…gila, ini sinting…tapi…tapi nikmat sekali !” Sherin mengalami pergumulan hebat dalam hatinya.
Sekitar setengah jam kemudian, Sherin mendesah makin keras, dia merasa tubuhnya mengejang hebat dan dari vaginanya ingin mengeluarkan sesuatu yang makin tak tertahankan.
“Aakkhh….aahhh…oohhh !” Sherin mendesah panjang sekali, ia mengalami orgasme panjang yang membawanya pada puncak kenikmatan tertinggi.
Dia memeluk erat-erat tubuh Pak Irfan yang saat itu sedang menjilati lehernya. Punggung pria itu sempat tergores sedikit oleh kukunya. Setelah orgasmenya reda, mereka membaringkan tubuhnya di ranjang, keringat sudah nampak membasahi tubuhnya. Jabir yang baru melepas penisnya buru-buru menaiki wajah Sherin, tangannya menarik kepala gadis itu sementara tangan lainnya memegang penisnya.
“Buka mulut Non, saya mau keluar di mulut Non !” suruhnya terbata-bata.
Jabir tidak bisa menahan spermanya lebih lama lagi, baru saja Sherin membuka mulut dan kepala penisnya menyentuh bibir gadis itu, dia sudah ejakulasi. Cairan spermanya yang kental itu sebagian masuk ke mulut Sherin dan sebagian berceceran membasahi mulut gadis itu. Jabir menjejali benda itu ke mulut Sherin tak peduli walau dia kelabakan menerima penisnya yang besar dan memuncratkan sperma dengan deras. Sherin meronta karena merasa tersiksa, namun tangan Jabir terlalu kokoh menahan kepalanya. Terpaksa dia harus berusaha menelan sperma yang menyemprot di dalam mulutnya sampai semprotannya berhenti dan batang itu menyusut dalam mulutnya.
Sherin merasa lelah sekali tubuhnya basah oleh keringat dan sisa air liur, cipratan sperma nampak pada hidung, dagu, dan terutama daerah mulutnya. Jabir mencolek cipratan spermanya pada hidung Sherin lalu di tempelkan ke bibirnya.
“Nih Non, sayang kalau mubazir, Non kan demen negak peju” katanya disambut tawa kedua pria lainnya.
Sherin pasrah saja membuka sedikit mulutnya membiarkan jari itu masuk lalu diemutnya pelan. Ketiga pria itu cengengesan memandangi dirinya yang telah terkulai lemas, komentar-komentar jorok keluar dari mulut mereka.
“Sudah demikian hinakah gua ?” Sherin bertanya pada dirinya sendiri dalam hati, dalam rasa terhina itu dia juga menikmati menjadi budak seks, sungguh dilema yang rumit.
Pak Udin memberinya tisu dan air minum untuk menyegarkan diri, setelah mengelap cipratan sperma di wajahnya, dia langsung menyambar gelas itu dan meminum isinya hingga habis.
“Bisa kita mulai lagi Non ?” tanya Pak Udin.
“Jangan terlalu kasar dong, saya udah capek” jawabnya lemas.
“Ngga, kali ini santai aja, ayo dong Non…naik sini !” perintah Pak Udin yang berbaring telentang sambil menunjuk pada penisnya.
Sherin pun naik ke tubuh tukang kebunnya itu. Penis yang mengacung itu digenggamnya dan diarahkan ke vaginanya. Kemudian ia menurunkan tubuhnya perlahan-lahan.
“Ahhh….!” desahnya merasakan penis itu mengisi vaginanya.
Sebentar saja Sherin sudah menaik turunkan tubuhnya, kedua telapak tangannya saling genggam dengan Pak Udin. Pak Irfan berdiri di ranjang dan mendekatkan penisnya ke wajah gadis itu. Tahu apa yang akan diminta pria itu, sebelum disuruh Sherin sudah menggenggam batang itu dan membuka mulut. Dia mengoral penis itu sambil memacu tubuhnya. Payudaranya yang ikut bergoyang-goyang itu membuat Jabir merasa gemas sehingga dia mendekatinya dan mencaplok yang sebelah kanan.
“Sakit Bang, jangan gigitnya jangan keras gitu dong !” rintihnya karena merasa nyeri putingnya digigit dengan keras oleh pria itu.
“Jangan nafsu gitu oi, ntar salah-salah kontol gua kegigit gimana ?” kata Pak Irfan.
“Huehehe…sori abis bikin gemes sih, iya ane pelanin deh nih !” lalu dia menyapukan lidahnya pada puting itu.
Sapuan lidah itu membuatnya merasa lebih nyaman dan memberinya rangsangan setelah rasa nyeri barusan. Pak Udin pun menjulurkan tangannya meremasi payudara gadis itu yang sebelahnya, putingnya dia pilin-pilin sehingga makin mengeras.
Setelah merasa cukup dioral oleh Sherin, Pak Irfan siap menyetubuhinya kembali. Dia menuju ke belakang dan membuka pantat gadis itu.
“Bapak cobain disini yah Non, pasti lebih seret !” pintanya.
“Tapi jangan kasar-kasar Pak” kata gadis itu.
Setidaknya Sherin merasa bersyukur karena yang meminta anal seks Pak Irfan yang ukuran penisnya sedang-sedang saja, kalau Jabir yang minta pasti sakitnya akan terasa selama beberapa hari. Setelah meludahi duburnya Pak Irfan memulai proses penetrasinya.
“Sempit toh Pak ?” sahut Pak Udin dari bawah tubuh Sherin melihat Sherin dan pria itu merintih-rintih.
“Iya nih…uh sempit banget !” jawab Pak Irfan sambil terus menekan-nekankan penisnya.
Semenit kemudian akhirnya Pak Irfan berhasil memasukkan penisnya ke dubur Sherin, dia mendiamkannya untuk beradaptasi dengan jepitannya yang keras. Pak Udin menarik wajah gadis itu mendekati wajahnya untuk berciuman. Di tengah percumbuannya dengan Pak Udin, Sherin merasakan penis di duburnya mulai bergerak, Pak Udin pun mulai menggerakkan pinggulnya lagi menusuk-nusuk vaginanya. Posisinya kini sedang disandwitch oleh kedua tukang kebunnya dan bawahan papanya. Perbedaan warna kulit yang mencolok membuatnya terlihat seperti daging bersih dijepit dengan dua roti hangus.
Selain melakukan double penetration, tugas Sherin bertambah ketika Jabir menjejalkan penisnya ke dalam mulutnya. Posisi serangan tiga arah itu bertahan sekitar sepuluh menit sebelum Pak Udin dan Pak Irfan melepaskan penisnya karena akan orgasme. Mereka menelentangkan tubuhnya, dan berejakulasi di atasnya. Pak Irfan menumpahkan spermanya di perut dan dadanya, sedangkan Pak Udin di mulut. Jabir yang masih belum puas berlutut diantara kedua paha Sherin dan menyutubuhinya sampai sepuluh menit berikutnya. Keduanya mencapai orgasme secara berbarengan sperma Jabir muncrat di dalam vaginanya dan Sherin sendiri menggelinjang hebat. Dia harus mengakui bahwa Jabir benar-benar perkasa dibandingkan dengan Pak Irfan atau Pak Udin, bahkan dengan Frans, pacarnya, mungkin keperkasaannya bisa disejajarkan dengan Imron, si penjaga kampus itu. Kamar itu hening selama beberapa menit, yang terdengar hanya dengusan nafas kelelahan. Langit di luar sudah menguning, jam telah menunjukkan pukul 5.40. Pak Irfan akhirnya turun dari ranjang dan masuk ke toilet di kamar itu.
“Cabut yuk, udah sore lagi nih !” katanya pada Jabir yang lalu menggerakkan tubuhnya untuk bangkit.
“Udah ya Non, kita pulang dulu, makasih banget THRnya, lain kali lagi yah hehehe…!” pamitnya sambil meremas payudara Sherin.
“Go to hell lah…THR…THR !” omel Sherin dalam hati.
Setelah mereka berpakaian Pak Udin mengantarkan mereka keluar rumah dan membukakan pagar.
Setelah itu Pak Udin masih terus mengerjai Sherin mulai dari mandi bareng hingga malamnya minta tidur bareng di kamarnya. Sherin tidak punya pilihan lain selain mengiyakannya. Hari-hari berikutnya pun setiap kali ada kesempatan Pak Udin selalu meminta jatah darinya. Sherin sendiri walaupun merasa benci dan kesal juga diam-diam menikmatinya. Hal itu tidak berlangsung terlalu lama karena dua mingguan setelah kejadian itu, Pak Udin terjatuh dari bangku tinggi ketika sedang mengairi tanaman di pot gantung. Kepala belakangnya membentur lantai cukup keras dan berdarah sehingga harus dirawat di rumah sakit. Hari ketiga di rumah sakit Sherin sengaja datang membesuknya. Suasana kamar tempatnya dirawat tidak ada siapa-siapa ketika itu, Sherin masuk dan mengunci pintu. Ia menatap tajam dengan pandangan penuh dendam pada pria yang pernah melecehkan dan merendahkannya itu yang kini tergolek tak berdaya di ranjang pesakitan. Perlahan si sakit membuka matannya dan dia mengembangkan senyum melihat siapa yang di sebelahnya.
“He…he…Bapak tau Bapak gak bakal hidup lebih lama lagi, tapi Bapak puas…soalnya udah ngerasain kehangatan dari Non” katanya terputus-putus.
Sherin tetap diam tak bersuara apapun sejak tadi, lalu dia menundukkan badan dan mendekatkan wajahnya ke wajah keriput pria itu. Bibir mereka bertemu, membuka dan beradu lidah seperti hari itu. Namun tiba-tiba Sherin menarik wajahnya dengan cepat. Pak Udin merasakan bantal di bawah kepalanya ditarik dan tak sampai sedetik benda itu sudah berpindah menutupi wajahnya. Sherin menekan bantal itu keras-keras membekap wajah pria itu. Tubuh tua itu meronta tapi tak lama sebelum akhirnya diam tak bergerak. Setelahnya barulah Sherin melepaskan bantal itu, mata pria membuka dengan tatapan kosong, nafasnya sudah tak terdengar lagi. Sherin menaruh kembali bantal itu dibawah kepalanya.
“Salam buat iblis di neraka” katanya sambil menutup mata pria itu.
Setelah menyisir rambutnya, iapun keluar dari kamar itu dengan hati puas telah membalaskan dendamnya. Keluarga Pak Udin di kampung menerima santunan dari keluarga Sherin dan mereka menerima dengan ikhlas kematiannya yang mereka anggap sebagai kecelakaan kerja itu.
###########################
Nightmare Sidestory: Campus SAL (Sex After Lunch)
Hari itu jam sebelas kurang di gedung administrasi pusat Universitas ******. Nampak beberapa orang sedang berdiri di depan pintu lift. Tak lama kemudian pintu lift sebelah kiri yang menuju ke atas membuka, lima orang masuk sedangkan sisanya menunggu lift berikut karena berlawanan jurusan.
“Tunggu-tunggu, sori tahan bentar !” kata seorang wanita dari luar sambil berlari-lari kecil menuju lift yang pintunya sudah mau menutup itu.
Seorang pria dari dalam yang dekat tombol lift menahan tombol open sehingga wanita muda itu tidak ketinggalan lift. Setelah pintu menutup lift pun bergerak ke atas. Di lantai tiga seorang wanita 30an dan seorang pria yang berseragam staff administrasi keluar. Lift naik lagi hingga berhenti di lantai lima dimana pria yang menahan pintu lift tadi turun dan di tingkat berikutnya seorang mahasiswi turun, sepertinya dia hendak mengurus biaya kuliah karena di tingkat itu adalah ruang bagian keuangan. Maka kini di lift tinggal dua orang saja, yaitu wanita muda tadi dan seorang pria tambun.
“Emmm…Bu Rania yah !” sapa pria tambun itu sehingga si wanita menoleh ke belakang dan agak kaget bagimana pria ini mengenal dirinya.
Rania memang mengenal pria ini sebagai Pak Dahlan, kepala fakultas arsitektur, tapi hanya sekedar tahu saja karena mereka tidak pernah berhubungan karena jurusan berbeda dan Rania juga hanya dosen muda dan hubungannya dengan dosen fakultas lain tidak terlalu luas. Sekarang ini dirinya sedang hendak mewakili kepala jurusaannya yang berhalangan hadir untuk mengikuti rapat umum di ruang rapat lantai 12.
“Mau rapat Bu ?” tanya pria itu.
“Eengg…iya…iya Pak” Rania tersenyum kecil menjawabnya lalu berbalik lagi menatap indikator lift.
Walaupun bersikap sopan, namun Rania merasa tidak nyaman berada satu lift dengan pria ini, entah mengapa instingnya mengatakan demikian, dia merasa lift berjalan lambat sekali. Firasat tidak baik itu terbukti ketika tiba-tiba ada tangan dari belakang menepuk pantatnya dan meremasnya. Spontan Rania pun kaget dan membalikkan badan.
“Kurang ajar ! apa-apaan sih Pak !” bentaknya dengan marah.
“Hehehe…memangnya kenapa Bu, Pak Imron aja boleh kan ?” ujar Pak Dahlan enteng.
Rania tertegun seperti disambar petir mendengar perkataaan pria itu.
“A-apa, apa…Bapak ngomong apa ?” suaranya terasa berat karena terkejut.
“Nah kan bener, dari reaksinya aja saya tau tuh”
“Gimana mungkin dia tau ?” Rania bertanya dalam hati dan menyesal karena tidak bisa menahan rasa nervousnya.
“Maksud Bapak apa…saya peringatkan jangan macam-macam Pak !” gertaknya menutupi rasa gugup.
“Ah, Ibu ini masa gak ngerti sih maksud saya apa ? kita kan sudah sama-sama dewasa Bu” katanya sambil mendekat dan meraih lengan Rania “saya sudah tau semua Bu, masa sih ada dosen main lesbian sama mahasiswinya hehehe…!”
“Bapak mengancam saya ya !” bentak Rania sambil menyentak tangannya.
‘Ting !’ lift sampai ke lantai 12 yang dituju sehingga keduanya menjaga sikap agar tidak terlihat mencurigakan.
“Pikirkan lagi yah Bu, saya dengar keputusannya setelah rapat” katanya pelan sambil berjalan keluar dari lift dan sempat mencolek pantat Rania.
“Huh…bangsat nih orang !” makinya dalam hati.
Disana sudah cukup banyak orang berkumpul, sebagian sudah menempati kursinya di ruang rapat, sebagian lainnya masih di luar ngobrol-ngobrol dengan rekannya atau merokok. Walau hatinya galau, Rania berusaha agar dapat tersenyum dan berbasa-basi bila ada orang menyapanya. Rapat pun akhirnya dimulai, Rania tidak bisa sepenuhnya berkonsentrasi pada hal yang dibahas karena terganggu oleh yang satu itu. Dia membalas senyum Pak Dahlan yang duduk berseberangan dengannya itu dengan pandangan tajam, rasanya ingin melempar botol air mineral mejanya ke wajah pria itu kalau saja emosinya meledak. Hatinya makin membara ketika Pak Dahlan angkat bicara, pria itu jelas sedang menyindirnya di depan dosen-dosen lain dengan berlagak sok bermoral.
“Hhh…saya rasa kampus kita ini perlu merevisi tata-tertib agar lebih ketat, soalnya belakangan ini saya dengar mahasiswa-mahasiswa kita ini makin nggak karuan tingkah lakunya, mau jadi apa bangsa kita kalau moralnya begini…yang lebih gila saya pernah dengar…ini nggak tau benar atau nggak ya…dosen juga ada yang kebawa-bawa”
Rania menjaga sikapnya senormal mungkin agar para peserta rapat tidak curiga, padahal dalam hatinya ia benar-benar marah pada pria itu, atas sikapnya yang kurang ajar dan kemunafikannya yang memuakkan.
Jam 12.15 rapat dihentikan sementara untuk jam makan siang dan akan dilanjutkan jam 1.00. Rania buru-buru keluar dari ruang itu bersama dua dosen wanita lainnya yang mengajaknya makan siang bersama. Dia berharap dengan begitu dapat terhindar dari Pak Dahlan sementara pria itu juga masih berbincang-bincang dengan seorang dosen lain di ruang rapat.
“Aduh lama banget sih ! cepetan dong !” serunya dalam hati karena merasa cemas pria itu akan menyusulnya.
Lift makin naik, namun ketika baru menunjukkan tiba di lantai 10, tiba-tiba terdengar dari belakang namanya dipanggil, suara itu dikenalnya dan tidak diharapkannya.
“Bu…Bu Rania tunggu sebentar, saya harus bicara dengan ibu sebentar !” panggil Pak Dahlan, “Eh…maaf ngeganggu bentar yah…udah pada pengen makan yah ?” sapanya pada dua dosen wanita yang bersama Rania.
Rania tidak mungkin bersikap judes padanya disitu karena justru akan mengundang kecurigaan orang.
“Oh…iya Pak ada apa yah ?” tanyanya dengan sikap ramah dibuat-buat.
“Hhmm…kalau Bu Nia buru-buru ya udah nggak apa-apa deh, hanya masalah yang terlewat saja kok, saya pikir bisa dibahas sekarang supaya Ibu lebih nyantai, nggak repot lagi ntar !” nada bicara Pak Dahlan begitu kebapakan dan berwibawa bila di depan umum seperti ini, sungguh pandai dia menutupi tabiat mesumnya.
Rania tahu apa yang dimaksud ‘repot’ oleh pria tambun itu sehingga dengan terpaksa dia memilih berbicara dulu dengan pria itu dan menyuruh kedua rekannya pergi makan siang tanpa dirinya.
“Maaf yah…saya ada urusan sebentar, kalian duluan aja deh ga usah nunggu saya, ini ada urusan dikit. Biasalah kalau mewakili orang jadi banyak yang harus diomongin hehehe…!” katanya pada kedua dosen itu.
“Ya udah deh Bu Nia, kita duluan deh kalau sempat nyusul saja yah di seberang !” kata dosen wanita yang gemuk itu sebelum masuk ke lift.
Begitu pintu lift menutup senyum di wajah Rania langsung berganti dengan wajah masam yang diarahkan pada pria itu.
“Ada apa sih Pak ?” tanyanya ketus.
“Hehe…jangan galak gitu Bu, nggak enak kalau ada yang liat, gimana nih jadi keputusannya ?” tanyanya kalem.
“Saya benar-benar ga nyangka kalau anda itu begitu menjijikkan !” Rania melipat tangan dengan memandang jijik padanya.
“Jadi menurut Ibu kalau ada dosen main lesbian sama mahasiswinya itu ga menjijikkan” balas Pak Dahlan.
Rania sudah mau menjerit dan menampar pria ini kalau saja dia tidak ingat di ruang rapat sana masih ada orang sehingga dia hanya bisa mengepalkan tangan dan menggigit bibir untuk melampiaskan kekesalan.
“Ya itu sih terserah sama Ibu saja kok, saya nggak suka maksa orang, paling akibatnya Ibu tanggung saja nanti” kata pria itu dengan tenang, “ah…sekarang saya mau ke toilet dulu nih, kalau Ibu mau nyusul aja yah ke lantai 14″
Pria itu lalu melangkahkan kaki menuju ke tangga. Rania diam terpaku, hatinya gelisah tidak tahu apa yang harus diperbuat.
“Lho…Bu lagi ngapain sendirian ? Kok belum turun ?” sebuah suara dari belakang membuyarkan lamunannya.
Pak Budi, si rektor universitas menyapanya dengan ramah, bersamanya juga ada dua orang staff rektorat dan seorang dekan yang keluar belakangan.
“Oh, ini Pak baru nelepon ke rumah, jadi belum sempat turun !” balasnya menyapa dengan senyum dipaksa.
“O gitu, ya udah kita turun bareng sekarang !” ajak Pak Budi pas ketika lift membuka.
“Eehh…saya nanti aja Pak, kalian duluan aja, saya masih harus nelepon lagi, ada masalah keluarga” kata Rania terbata-bata seraya mengambil ponselnya pura-pura mau menelepon.
“Ibu baik-baik aja kan ? masalahnya tidak serius kan ?” tanya staff rektorat, seorang wanita paruh baya.
“Nggak, nggak apa-apa kok, biasa masalah di rumah, ntar juga bisa selesai kok. Iya…gak apa-apa !” jawabnya.
“Ya udah Bu, semoga cepat selesai deh, kita duluan ya !” pamit Pak Budi sebelum masuk lift.
Setelah lift menutup tinggallah dia sendirian di lantai itu dan kembalilah kegelisahan itu melandanya. Sepertinya tidak ada pilihan lain baginya selain menuruti apa yang diminta si dosen bejat itu, lagipula dirinya toh sudah ternoda dan dua bulan terakhir ini sudah beberapa kali terlibat hubungan seks dengan Imron, si penjaga kampus, apa bedanya bila melakukannya dengan Pak Dahlan daripada pria itu nanti ‘bernyanyi’ dalam rapat yang malah mempermalukannya di depan umum. Maka Rania melangkahkan kakinya menuju tangga ke atas ke lantai 14. Lantai 13 gedung itu kosong belum terpakai, sementara ini hanya berfungsi sebagai gudang. Lantai 14 adalah lantai teratas sebelum atap gedung, disana terdapat teater yang biasanya dipakai untuk acara seminar, drama, atau pertunjukkan. Namun dihari-hari biasa tempat itu sepi hampir tidak ada yang mengunjungi sampai suara langkah kakinya yang memakai sepatu hak terdengar. Rania menuju ke toilet di lantai itu yang tadi disebutkan oleh Pak Dahlan. Semakin mendekati tempat itu, langkahnya terasa makin berat dan detak jantungnya semakin cepat. Di lorong itu terdapat tempat rias dan cermin-cermin besar tempat make-up, biasanya dipakai untuk persiapan drama. Pada salah satu sisi lorong tersebut nampak sebuah toilet pria yang lampunya menyala. Ia membuka pintu toilet itu dengan tangan bergetar.
“Ah…Bu Nia, hampir saja saya pergi, kirain Ibu nggak jadi datang” sapa Pak Dahlan yang sedang mencuci muka di wastafel, dia hanya melihat dari cermin tanpa membalikkan badan.
“Sudahlah Pak nggak usah basa-basi lagi, saya gak ada banyak waktu untuk anda !” ujar Rania ketus.
“Santai aja Bu, masih ada waktu setengah jam-an kok” pria itu membalik badan dan berjalan menghampirinya.
Rania nampak tegang sekali, beberapa kali dia menelan ludah, punggungnya bersandar pada tembok karena kakinya agak gemetar. Pak Imron meraih saklar yang terletak di sebelah Rania dan mematikan lampu. Ruang dengan dengan dua toilet bersekat itu kini hanya diterangi oleh sinar matahari dari ventilasi di atasnya.
“Nah…begini lebih romantis suasanya, biar lebih enak” katanya sambil menyandarkan telapak tangan kiri di sebelah kepala Rania.
Jarak mereka kini begitu dekat sehingga Rania bisa merasakan hembusan nafas Pak Dahlan pada wajahnya, pria itu lebih pendek sedikit darinya.
Rania menepis tangan pria itu ketika hendak meraba dadanya.
“Kenapa Bu ? bukannya udah biasa, kalau berubah pikiran ya udah kita keluar aja”
“Bajingan !” umpatnya dalam hati.
Dengan berat hati diapun membiarkan dadanya dipegang oleh Pak Dahlan. Pria itu juga mengendusi daerah leher yang tertutup sedikit oleh rambut panjangnya. Bau badan Rania yang bercampur parfum menaikkan birahinya sehingga bibir tebalnya langsung menciumi pipi dosen muda itu. Rania memejamkan mata menahan jijik, kumis pria itu menyapu wajahnya yang mulus. Dia memalingkan muka ke arah lain ketika bibir pria itu makin merambat ke bibirnya.
“Jangan…emmhh !” baru mau memalingkan wajah kedua kalinya, Pak Dahlan sudah melumat bibirnya dan meredam protesnya.
Spontan bulu kuduk Rania berdiri karena jijik, dia meronta berusaha melepaskan diri, namun entah mengapa ada hasrat menggebu-gebu yang menginginkan tubuhnya dimanja sehingga perlawanannya pun hanya setengah tenaga. Bibirnya yang tadinya dikatupkan rapat-rapat mulai mengendur sehingga lidah pria itu masuk dan bermain-main dalam mulutnya. Perasaan Rania campur aduk antara marah, jijik dan terangsang, apalagi Pak Dahlan terus menggerayangi tubuhnya dari luar pakaian. Berangsur-angsur rontaannya berkurang hingga akhirnya pasrah menerima apapun yang dilakukan pria itu. Rania mulai membalas cumbuan pria itu, lidahnya kini bertautan dengan lidahnya. Desahan tertahan terdengar di antara percumbuan yang makin panas itu. Merasa lawannya telah takluk, pria itu mempergencar serangannya. Blazer krem itu dilucutinya, Rania sendiri secara refleks menggerakkan tangannya membiarkan blazer itu terlepas dari tubuhnya sehingga tinggal tank-top ungu yang membalut tubuh atasnya. Pak Dahlan menggantungkan blazer itu pada gagang pintu tanpa melepas ciumannya. Tubuh mereka berdekapan begitu ketat, Rania dapat merasakan benda keras dari balik celana Pak Dahlan mengganjal selangkangannya. Tangan Pak Dahlan yang tadinya cuma meremas payudara dari luar mulai menyusup masuk lewat bawah tank topnya langsung menyusupi cup branya dan tangan satunya masih tetap meremasi pantatnya.
“Eennghh !” Rania makin mendesah merasakan jari-jari besar itu menyentuh putingnya serta memencetnya.
Lidahnya semakin aktif membalas lidah Pak Dahlan hingga masuk ke mulut pria itu menyapu rongga mulutnya, tangannya pun tanpa disadari memeluk tubuh tambunnya. Nafasnya makin memburu dan gairahnya makin naik. Mulut Pak Dahlan turun ke dagunya, bawah telinga, dan leher. Rania agak lega bisa mengambil udara segar walau dengan nafas putus-putus. Pak Dahlan memutar tubuh Rania menghadap tembok sehingga wanita itu bertumpu disana dengan kedua lengannya. Ia juga menyibakkan rambut Rania ke sebelah kiri sehingga mulutnya dapat dengan leluasa menciumi leher, pundak, dan bahunya yang terbuka. Tangan pria itu yang satu lagi ikut menyusup lewat bawah tank topnya sehingga kini pakaian itu setengah tersingkap. Sambil mempermainkan kedua payudara wanita itu, Pak Dahlan menciumi leher jenjangnya. Dengan penuh penghayatan disedotnya kulit leher samping yang putih mulus itu.
“Sshhh…jangan terlalu depan Pak…eeemm…ntar bekasnya keliatan” Rania mengingatkannya dengan suara lirih.
“Gak usah kuatir Bu, saya juga ngerti kok, lagian Ibu kan rambutnya panjang bisa buat nutupin” katanya.
Rania semakin mendesah, pipinya bersemu merah ketika merasakan lidah pria itu yang basah pada telinganya, menggelitik dan memancing gairahnya.
“Sudah Pak…jangan disitu !” Rania semakin mendesah waktu Pak Dahlan hendak merogohkan tangannya lewat atas celana panjangnya..
Rania menggerakkan tangannya menahan tangan pria itu yang ingin masuk. Namun penolakan itu dilakukannya hanya dengan setengah hati karena walaupun merasa dilecehkan di saat yang sama dia juga sudah terhanyut dalam pemanasan yang dilakukan dengan cemerlang oleh Pak Dahlan. Gaya Pak Dahlan yang gentle sangat membuatnya terbuai, berbeda dengan gaya permainan Imron, si penjaga kampus, yang cenderung kasar. Pak Dahlan memang berpengalaman dan tahu persis bagaimana menundukkan wanita secara seksual sehingga Rania yang seorang dosen terhormat pun ingin menikmati buaiannya lebih jauh. Setelah menyentakkan perlahan tangannya pegangan Rania pun lepas dan langsung ia menyusupkan langannya ke balik celana wanita itu. Pak Dahlan merasakan bulu-bulu lebat yang tumbuh pada permukaan vaginanya juga sedikit basah pada bagian belahannya.
“Oohh…mmmhh…tolong hentikan !” desahnya antara mau dan tidak.
Desahan itu membuat Pak Dahlan semakin bernafsu, dengan nakal jari-jari besarnya menggerayangi daerah sensitif itu. Mulutnya mencaplok bahu kanan wanita itu sambil menjilat dan mengisapnya dan tangannya yang sejak tadi bercokol di payudara makin gencar menyerang. Payudara 34B itu diremas-remas, putingnya dipilin-pilin atau kadang digesek-gesekan dengan jarinya sehingga benda itu makin keras saja.
Pak Dahlan melebarkan kedua paha Rania dengan menggeserkan telapak kakinya sehingga dapat lebih menjelajahi vaginanya lebih luas. Tubuh Rania tersentak saat jari pria itu memasuki liang vaginanya dan mulai mengorek-ngoreknya. Digesek-geseknya klentitnya dengan jari sehingga membuat wanita itu semakin seperti cacing kepanasan.
“Aahh…aahh…saya mohon…nngghh….jangan teruskan” desahnya.
“Hehehe…Ibu ini masih pura-pura aja, udah becek gini masih sok suci” ejek Pak Dahlan.
Rania yang sudah pasrah hanya bisa mendesah saja merasakan jari-jari pria itu mengaduk vaginanya. Lima menit Pak Dahlan merogoh-rogoh celana dalam Rania dengan diselingi beberapa ciuman lalu dia mengeluarkan tangannya dari sana. Nampak lendir kewanitaan Rania membasahi jari-jari besar itu.
“Hhhmm…enak, lendir yang enak !” katanya sambil mengemut jari tengahnya, “lihat ini Bu, banyak gini cairannya” didekatkannya tangannya ke wajah wanita itu.
Rania yang merasa tanggung karena hampir mencapai orgasme menurut saja ketika pria itu meletakkan jarinya yang belepotan itu di bibirnya untuk diemut. Diemutnya jari itu dan dirasakannya lendir kewanitaannya sendiri, ini bukan yang pertama kali baginya karena Imron pun pernah menyuruhnya demikian sehingga tidak ada rasa ragu ataupun risih lagi dalam melakukannya.
“Wah…wah…pinter juga Ibu nyenengin laki-laki, baru emut jari aja udah enak gini, gimana kalau emut kontol” kata Pak Dahlan.
Kata-kata itu membuat Rania merasa dilecehkan namun juga membuatnya bergairah.
Kemudian Pak Dahlan menyuruh dosen muda itu berlutut di hadapannya. Dengan agak buru-buru dia membuka sabuknya dan menurunkan resletingnya. Setelah celananya melorot jatuh dia menurunkan celana dalamnya mengeluarkan penisnya yang telah tegang. Rania terperangah melihat penis hitam yang berdiameter lumayan besar itu, pangkalnya ditumbuhi bulu-bulu lebat, kepalanya seperti jamur kemerahan menyembul dari kulupnya yang bersunat.
“Ayo Bu jangan bengong gitu, waktunya mepet nih !” sahut pria itu membuyarkan lamunannya.
Dia menggenggam batangnya dan menyodorkannya ke wajah wanita itu. Dengan ragu-ragu Rania menggerakkan tangannya memegang batang itu. Dia tahu pria itu menginginkan dirinya melakukan oral pada penisnya, maka tanpa menunggu perintah lagi dia mengocok perlahan batang itu dan membuka mulut menjilati permukaan batang itu. Pria itu menarik nafas panjang dan melenguh merasakan sapuan lidah Rania pada penisnya. Sejak menjadi budak seks, kemampuan Rania dalam berhubungan seks termasuk oral semakin meningkat dari hari ke hari. Dia semakin menikmati seks walaupun hubungan itu bertentangan dengan hati nuraninya karena dilakukan dengan paksaan, dengan tunangannya saja dia baru pernah sebatas petting bahkan melihat penisnya saja belum pernah, namun dengan lelaki yang dibencinya telah berbuat sejauh ini, ironisnya malah terbuai dalam kenikmatan terlarang itu.
Setelah menjilati penis Pak Dahlan hingga basah oleh liurnya, Rania mulai memasukkan benda itu ke mulutnya.
“Uuuhh…iya, gitu Bu…isap terus !” Pak Dahlan mendesah keenakan.
Rania bekerja keras mengulum dan memainkan lidahnya pada batang itu yang terasa sesak di mulutnya yang mungil. Benda itu bergetar setiap lidah Rania menyapu kepalanya. Pak Dahlan yang merasa nikmat itu memaju-mundurkan pinggulnya secara perlahan seperti gerakan menyetubuhi.
“Mmmm…enak sekali Bu, ga salah kata si Imron !” lenguhnya sambil meremasi rambut Rania.
“Iyah Bu…dikit lagi…terus aaahh…saya mau keluar di mulut Ibu !” erang pria itu setelah sepuluh menitan Rania mengoral penisnya.
Tak lama kemudian, Pak Dahlan mencapai puncak kenikmatannya dengan mengeluarkan cairan putih kental dari penisnya. Cairan hangat itu menyemprot di dalam mulut Rania yang langsung ditelannya agar tidak terlalu terasa di mulut. Cairan itu meleleh sedikit di ujung bibirnya karena mulutnya terasa sesak sehingga tidak bisa menelan dengan sempurna. Penis itu semakin menyusut seiring semprotannya yang semakin lemah. Akhirnya dia melepaskan penisnya dari mulut wanita itu. Rania merasa pegal pada mulutnya karena sesak dan harus bekerja keras sejak tadi, dia juga nampak terengah-engah mengambil udara segar.
“Bagus Bu, awal yang bagus…kita akan lanjutkan setelah rapat” kata Pak Dahlan sambil membenahi celananya, “yuk kita turun, sudah mau mulai lagi !”
“What…lagi ? jadi ini baru awal ?” kata Rania dalam hatinya.
“Saya turun duluan yah Bu, Ibu beres-beres aja dulu, masih lima menit lagi kok” katanya, “dan…kalau masih mau terus saya tunggu di ruang saya setelah rapat” sambungnya lagi sebelum menutup pintu meninggalkannya sendirian di ruang itu.
Rania berdiri dan merapikan lagi pakaiannya yang tersingkap sana-sini, dipakainya kembali blazernya. Kemudian dia berjalan ke wastafel untuk mencuci tangan dan berkumur-kumur. Setelah memoles kembali bibirnya dengan lipstik dan menyisir rambutnya, diapun keluar dari sana dan kembali ke ruang rapat. Perasaan kesal sekaligus terangsang melingkupi dirinya. Untuk sementara hal tersebut terabaikan karena di sesi kedua rapat ini ia harus mencatat beberapa hal penting yang harus dia sampaikan pada kepala jurusannya. Rapat baru bubar pada pukul setengah dua.
“Saya tunggu di ruang saya yah Bu, lantai tiga gedung arsitektur” kata Pak Dahlan yang menghampirinya yang sedang membereskan barang-barangnya.
“Gak bisa sekarang Pak saya masih ada urusan !” jawab Rania ketus namun pelan agar tidak memancing pelan.
“Jadi jam berapa Bu ?”
“Gak tau ah, sejam lagi aja, saya sibuk, permisi !” jawabnya sambil bangkit berdiri dan melengos begitu saja dengan sikap judes.
Rania turun ke kantin bawah dan membeli makan. Perutnya terasa lapar sekali karena jam makan siangnya tertunda gara-gara dosen bejat itu. Setelah selesai makan dia kembali ke ruang dosen fakultasnya untuk menyelesaikan tugasnya yaitu membereskan sisa koreksian hari itu. Setelah pekerjaan itu beres dalam waktu duapuluh menit, hal yang mengganjal pikirannya itu datang lagi. Benar-benar bingung memikirkannya, kok rasanya dirinya yang terpelajar ini sudah tidak beda dari pelacur, apa yang akan dikatakan pada tunangannya nanti setelah pria itu kembali dari studinya di luar negeri, apakah dia masih sanggup menatap wajah kekasihnya itu dengan keadaan sudah ternoda seperti sekarang. Pikiran-pikiran seperti itu seringkali mengusiknya, namun ketika harus menunaikan kewajibannya sebagai budak seks dia justru terlarut di dalamnya, tidak bisa untuk tidak menikmati, bahkan terkadang hasrat liar itu muncul sendiri dari dalam dirinya.
“Hai Nia…kamu nggak enak badan ?” tanya seorang dosen pria melihatnya melamun dengan menyandarkan kepala pada kedua telapak tangan.
“Eehh…nggak…ga papa kok Ton, baru nyelesaiin koreksian aja, capek dikit hehe !” jawabnya berkelit.
Merasa tidak ada lagi yang perlu dikerjakan akhirnya Rania membereskan barang-barangnya untuk pulang, tentunya sebelumnya ia harus menyelesaikan tugas terakhirnya…melayani Pak Dahlan. Dia pun berpamitan pada beberapa rekan dosen yang masih ada di ruang itu dan keluar dari situ.
Dengan jantung deg-degan dan langkah berat ia berjalan menuju ke ruang kerja pria itu di gedung fakultas arsitektur. Diketuknya pintu ruang itu sesampainya di sana.
“Iya…masuk aja !” terdengar suara dari dalam yang dikenalnya.
“Bu Nia…saya sudah lama menunggu” sapa pria itu dari balik meja kerjanya “tolong ya Bu pintunya sekalian dikunci dan tirainya tutup yah, supaya nyaman !”
Rania membanting pantatnya ke sofa setelah menutup tirai. Pak Dahlan tersenyum dan menghampirinya, dia duduk di sebelah Rania dan melingkarkan tangannya ke bahu dosen muda itu.
“Minum dulu Bu !” katanya menawarkan segelas air yang sebelumnya diambil dari dispenser, “sebelumnya saya ingin mengenal Ibu lebih dalam dulu, eehhmm…apa Ibu sudah punya pacar ? selama ini saya lihat Ibu selalu datang dan pulang sendiri”
“Itu bukan urusan Bapak, apa kita bisa cepat dikit ? saya capek, mau pulang !” sahut Rania dengan hambar sambil meletakkan gelasnya di meja.
“Aduh, Ibu ini kok ketus banget ke saya ? Oh…iya gimana Bu hubungannya sama si Imron, gimana kesan-kesan Ibu ?” tanyanya lagi.
Rania benar-benar kesal dengan sikapnya yang menyebalkan itu, apalagi ketika mengungkit-ungkit tentang yang terakhir itu. Dia menoleh menatap wajah pria itu.
“Pak please yah, saya udah bilang saya nggak banyak waktu, kenapa sih gak to the point aja !” sehabis berkata dia langsung mendorong dada pria itu dengan kedua tangannya hingga tubuh tambun itu terjungkal ke belakang.
Sebelum Pak Dahlan sempat bangun, Rania sudah berada diatas tubuhnya dan memeluknya. Bibirnya langsung menempel di bibir tebal pria itu menciuminya dengan ganas. Rasa kesal bercampur gairah yang masih tersisa dari pemanasan tadi siang membuatnya nekad mengambil inisiatif memulai duluan. Yang diinginkan pria ini toh hanya tubuhnya, kenapa sih harus buang-buang waktu sampai mengungkit-ungkit masalah pribadi segala, demikian pikirnya. Entah setan apa yang merasukinya sehingga menjadi seliar itu, mungkin dengan cara demikianlah ia melampiaskan kekesalannya. Sambil terus berciuman ia menggesekkan dadanya yang menempel dengan dada pria itu, bukan itu saja, ia juga menggerakkan tangannya menjamah selangkangan serta mengelus-elusnya. Perlahan benda di balik celananya itu makin mengeras.
“Hoo…ho…ga usah nafsu gitu Bu, santai saja !” gumamnya perlahan.
“Sudahlah Pak, nikmati saja atau tidak sama sekali” bisik Rania dengan suara sedikit mendesah di dekat telinganya.
Di bawah sana Rania telah membuka resleting celana pria itu dan mengeluarkan penisnya yang sudah tegang dari lubang resleting itu. Wajah pria itu menunjukkan ekspresi nikmat akibat belaian tangan Rania pada penisnya. Rania menegakkan tubuhnya sejenak untuk melepaskan blazernya. Setelah melempar blazer itu ke sofa pendek di samping, dia menggeser tubuhnya ke bawah, disana ia membungkuk dan memasukkan penis itu ke mulutnya. Di dalam mulut benda lidahnya bermain-main memanjakan benda itu, sesekali disertai hisapan.
“Ooohh…Bu Nia, anda ngapain…uughh !” erang Pak Dahlan yang masih bengong dengan perubahan sikap Rania.
Rania sendiri tidak tahu kenapa dirinya menjadi senekad ini, yang jelas dia merasa gairahnya menggebu-gebu. Hal yang sering dialaminya sejak menjadi budak seks, kadang pelecehan dan kata-kata yang merendahkannya justru memancing gairahnya. Benci dan birahi bercampur membentuk gairah yang liar seperti yang sekarang ini. Ia mengisapi kepala penis Pak Dahlan yang bersunat itu tanpa canggung, kadang lidahnya menjilati ujungnya sehingga pria tambun itu belingsatan keenakan.
“Aarghh…saya…mau keluar, stop dulu Bu…stop !” erang pria itu.
Pak Dahlan bangkit dan mengangkat tubuh Rania yang sedang mengoralnya serta mendorongnya ke belakang hingga terbaring di sofa. Kini pria itu berada di atas tubuhnya, wajah mereka saling bertatapan dalam jarak kurang dari sejengkal.
“Itu yang anda mau kan ? bangsat !” ujar Rania dengan sinis.
“Hehehe, Ibu memang pintar, saya yakin kita bakal sama-sama puas, saya sudah sering main sama mahasiswi, tapi baru kali ini sama dosen” katanya sambil mengelus pipi wanita itu.
“Dasar serigala berbulu domba, anda tidak malu dengan kelakuan anda hah !?”
“Kenapa harus malu, toh mereka yang datang pada saya, saya hanya menyetujui tawaran saja, lagipula mereka juga enjoy kok” jawabnya santai, “jangan munafik Bu, manusia butuh seks, toh Ibu sendiri juga menikmati kan, apakah bercumbu dengan mahasiswi dan terlibat seks dengan penjaga kampus tidak memalukan bagi Ibu”
“Lebih baik cepat selesaikan nafsu iblis anda” tidak ingin mendengar ocehan pria itu lebih panjang, Rania langsung melumat bibir tebal pria itu begitu menyelesaikan kata-katanya.
Sambil berciuman pria itu menyingkap tank-top Rania beserta bra tanpa tali bahunya. Desahan tertahan terdengar dari mulutnya ketika jari-jari besar itu memencet putingnya. Pak Dahlan menggeser bibirnya menciumi leher jenjang itu terus turun hingga ke payudaranya. Sebelum menikmati kedua gunung kembar itu, dia melepaskan terlebih dulu kait bra itu lalu menjatuhkannya ke lantai. Mata pria itu memandang nanar pada payudara 34B dengan puting kemerahan itu. Kedua tangannya langsung meremas sepasang daging kenyal itu, lidahnya menjilati melingkar di daerah areolanya lalu menyentil-nyentil benda mungil yang sensitif itu sehingga pemiliknya tidak bisa menahan desahan. Tangannya yang satu merayap ke bawah melepaskan sabuk Rania, lalu melepaskan kancing celananya disusul resletingnya.
“Aaahh…aahhh…Pak !” desah Rania dengan nikmatnya ketika pria itu mengenyoti putingnya sambil merogohkan tangannya ke balik celana dalamnya.
Kedua matanya terpejam sambil menggigit bibir bawah, tangannya meremas-remas rambut Pak Dahlan yang sedang asyik menyusu darinya. Dengan penuh perasaan Pak Dahlan meremas, menciumi dan menjilati kedua payudara Rania secara bergantian. Hal ini membuat birahi Rania bergolak hebat, dia tak bisa menyangkal bahwa pria yang dibencinya ini telah sanggup membuatnya serasa terbang. Setelah puas menyusu, Pak Dahlan bangkit sebentar untuk melepaskan pakaiannya sendiri. Rania memandangi tubuhnya yang gempal hitam dengan sedikit bulu di dadanya itu, penisnya mengacung tegak diantara kedua pahanya.
Setelah membuka pakaiannya pria itu melepaskan sepatu yang dipakai Rania lalu melepaskan celana panjangnya. Sepasang pahanya yang panjang dan putih mulus itu kini tidak tertutup apa-apa lagi, yang masih tersisa di tubuhnya hanya tank-top yang sudah tersingkap dan celana dalam pink berenda. Pak Dahlan memandang tubuh seksi itu dengan bernafsu dan mengelusinya.
“Paha yang indah, benar-benar indah !” pujinya sambil mengelus paha itu dengan tangan bergetar.
Darah Rania berdesir seiring dengan sentuhan erotis itu dan terpaan AC yang langsung mengenai tubuhnya. Pria itu juga memberi kecupan-kecupan ringan dan jilatan pada kulit pahanya yang mulus. Perlahan-lahan ia memeloroti celana dalam itu hingga lepas. Tangan pria itu terus menggerayangi tubuh Rania dengan lihainya, memberinya sensasi nikmat pada setiap daerah sensitif. Kemudian didorongnya tubuh dosen muda itu ke belakang hingga mentok ke sandaran tangan pada sofa itu. Rania kini duduk menyamping di sofa itu. Pak Dahlan melebarkan sepasang pahanya lalu merunduk serta mengarahkan wajahnya ke selangkangan wanita itu.
“Aakkhh” desah Rania sambil menggeliat begitu lidah Pak Dahlan menyapu bibir vaginanya.
Lidah itu terus bergerak masuk menyentuh bagian lebih dalam dari vaginanya. Kenikmatan makin menjalari tubuhnya membuat wajahnya memerah dan nafasnya makin memburu.
Setelah lima menitan menikmati vagina Rania, Pak Dahlan memintanya melakukan posisi 69, yaitu saling mengoral kelamin pasangan dalam saat bersamaan. Rania yang sudah horny itu menurut saja disuruh naik ke wajah pria itu. Pak Dahlan meneruskan lagi jilatannya pada vagina wanita itu, kali ini sambil merasakan nikmatnya kuluman Rania pada penisnya. Ketika sedang asyik-asyiknya menikmati vagina Rania, tiba-tiba ponselnya berbunyi tanda SMS masuk. Ia mengambil ponsel itu dari kantong celananya yang diletakkan tidak jauh dari situ sementara tangan satunya tetap mengorek-ngorek vagina Rania. Hanya SMS dari sesama dosen ternyata yang memberitahukan masalah pekerjaan. Setelah selesai membaca SMS itu, Pak Dahlan memencet nomor lagi untuk menghubungi seseorang.
“Hoi, Ron pakabar nih ?” sapanya pada orang disana.”saya sekarang lagi sama Bu Rania nih, itu tuh dosen yang lu kasih tau Rabu kemaren”
Ternyata dia menghubungi Imron untuk memberitahukan keberhasilannya menggaet dosen muda itu.
“Enak banget loh Ron sepongannya, wuih…yahud !” katanya di telepon.
“Bener kan Pak apa kata saya juga, dosen juga manusia kalau udah terangsang ya ga beda sama lonte hahaha !” kata Imron di telepon.
“Dasar dua bajingan tengik !” maki Rania dalam hati, dia memperkuat hisapannya sebagai pelampiasan.
“Uooh…gila nih Ron, kontol gua lagi diisep, enak banget !” katanya “eh, mau bergabung ga, udah jam segini nyantai kan ?” tawarnya.
“Ohh, ga deh Pak, enjoy aja dulu, saya juga lagi sibuk nih” jawab Imron “Uuhhh !” Pak Dahlan samar-samar mendengar suara desahan wanita di seberang sana.
“Wahaha…lagi asyik juga toh lu Ron, itu suara apa tuh, hayo !”
“Iyalah Pak biasa abis jam sibuk gini kan enaknya cari penyegaran dikit” jawab Imron yang saat itu sedang berbaring di dipan di ruangannya menikmati Joane yang sedang melakukan woman on top posisi memunggungi di atas penisnya.
“Ya udah selamat bersenang-senang yah !”
“Yok Pak sama-sama salam buat Bu Rania yah, hehe” balas Imron lalu dia menutup ponselnya.
“Ayo manis, kita ganti gaya !” perintahnya sambil mendekap tubuh Joane yang pakaiannya telah tersingkap sana-sini.
Dia lalu menindih tubuh gadis itu dan memasukkan kembali penisnya bersiap untuk gaya misionaris. Tapi agaknya kita harus meninggalkan Imron dan Joane karena episode ini bukanlah porsinya mereka. Yah, sebaiknya kita kini kembali pada Rania dan Pak Dahlan yang juga sedang berasyik-masyuk.
Rania sedang menaik-turunkan kepalanya melayani penis Pak Dahlan. Dia merasakan jari Pak Dahlan bergerak memutar-mutar dalam vaginanya dan juga lidahnya yang nakal itu terus saja menjilati daerah kewanitaannya sehingga makin menaikkan birahinya. Vagina Rania makin berlendir karena terus-menerus dirangsang sedemikian rupa dan nampaknya pria itu sangat menikmati cairan itu yang dijlatinya dengan bernafsu. Ketika di ambang orgasme, sekali lagi dia menyuruh Rania berhenti mengulum, ia ingin menikmati tubuh wanita itu sepenuhnya sehingga tidak mau cepat-cepat keluar. Kini diperintahkannya Rania menaiki penisnya. Tidak terlalu sulit penisnya memasuki vagina itu karena sudah basah dan licin. Erangan Rania turut mengiringi proses penetrasi itu hingga akhirnya penis itu tertancap seluruhnya.
“Mmhhh…enak Bu, memek Ibu legit sekali !” gumam Pak Dahlan merasakan himpitan dinding vagina Rania terhadap penisnya.
Tanpa menghiraukan ocehan Pak Dahlan, Rania mulai menggoyangkan tubuhnya naik-turun. Sesekali ia meliukkan pinggulnya sehingga Pak Dahlan merasa penisnya seperti dipelintir. Secara refleks tangannya yang saling genggam dengan tangan pria itu membimbingnya ke salah satu payudaranya seolah meminta pria itu meremasinya. Pak Dahlan mulai memainkan payudaranya dan tangan satunya menelusuri tubuh yang molek itu, merasakan kulitnya yang halus dan lekuk tubuhnya yang indah. Rania sudah semakin hanyut dalam persetubuhan itu walaupun pada awalnya dilakukannya dengan terpaksa.
“Yah…terus Bu, enak…terushh !” desah pria itu seiring genjotan Rania yang semakin liar karena semakin dikuasai birahi.
Kemudian Rania menegakkan tubuhnya sejenak untuk melepaskan tank topnya yang tersingkap, satu-satunya pakaian yang masih tersisa, sehingga kini keduanya telanjang bulat. Dari bawah Pak Dahlan juga ikut menggerakkan pinggulnya, tumbukkan mereka yang saling berlawanan arah itu menyebabkan penis itu menusuk lebih dalam. Rania tidak menghiraukan yang lain lagi selain birahinya yang menuntut pemuasan, rasio, hati nurani, dan perasaan-perasaan lainnya untuk sementara terkubur.
“Gimana Bu Nia ? Enak ga kontol saya ?” tanya Pak Dahlan yang merasa telah menaklukkannya.
“Aahh…ahhh…enak Pak…terus…goyang terus Pak !” erang Rania tanpa malu-malu lagi.
Tidak sampai sepuluh menit setelahnya, Rania mulai sampai ke puncak, otot-otot vaginanya berkontraksi dengan cepat dan makin basah. Dia menambah kecepatan goyangannya sehingga pria itu juga makin mendesah.
“Oohhh !” Rania menggelinjang dahsyat di atas tubuh tambun Pak Dahlan.
Selama beberapa saat tubuhnya menegang tak terkendali, dinding vaginanya makin meremasi penis pria itu sehingga diapun tak mampu menahan ejakulasinya.
“Ooohh…saya juga keluar Bu !” erangnya menyambut gelombang orgasme, spermanya menyemprot deras mengisi vagina Rania.
Tubuh mereka berangsur-angsur melemas kembali. Rania ambruk diatas tubuh Pak Dahlan dengan nafas tesenggal-senggal dan bersimbah keringat, penis itu masih menancap di vaginanya. Senyuman puas terlihat pada wajah pria itu karena berhasil menikmati dosen cantik bertubuh molek ini.
“Hebat, enak sekali Bu, Ibu memang pintar memuaskan pria” kata Pak Dahlan sambil mengelus rambut panjang Rania yang agak bergelombang.
“Persetan lah !” omel Rania dalam hati.
Rania yang kesadarannya mulai pulih merasakan dirinya benar-benar kotor, dia ingin melawan namun tidak sanggup apalagi dalam keadaan seperti ini dan dibawah tekanan. Namun dia juga harus mengakui dirinya sangat menikmati persetubuhan dengan pria tambun yang umurnya dua kali lipat dirinya itu.
“Misi bentar Bu, saya mau ambil minum dulu” sahut Pak Dahlan seraya menurunkan tubuh Rania hingga terbaring di sofa, lalu berjalan ke arah dispenser.
Setelah minum seteguk, dia menyodorkan gelas yang tinggal setengah isinya itu pada Rania. Rania mengambil gelas itu lalu menggeser tubuhnya agak bersandar pada sandaran tangan. Air itu memberinya sedikit kesegaran pada tenggorokkannya yang terasa kering karena mendesah juga mengembalikan sedikit tenaganya.
Pak Dahlan terus memperhatikan Rania sementara dia sedang meneguk minumannya, diperhatikannya lehernya yang jenjang itu berdenyut-denyut karena meneguk air, tubuh telanjangnya dengan payudara putih montok, perut rata, dan paha yang panjang dan mulus, semua itu membuat birahi Pak Dahlan kembali naik.
Setelah air dalam gelas itu habis, Pak Dahlan mengambilnya dan meletakkannya kembali di atas meja. Didekapnya tubuh Rania dengan tangannya yang kokoh dan tangan yang satunya menyeka keringat di dahinya. Rania dengan ketus menepis tangan pria itu.
“Gak usah sok sayang gitu, Bapak bukan siapa-siapa saya !” katanya ketus sambil menyeka sendiri keringat di dahinya.
Pak Dahlan hanya senyum-senyum saja melihat reaksi Rania, karena dia malah senang dengan korban yang reaksinya sok jual mahal seperti ini. Kemudian dia meraih salah satu payudara wanita itu dan menundukkan kepala.
“Oouucchh !” rintih Rania dengan wajah meringis karena Pak Dahlan menggigiti putingnya.
Tubuh Rania menggeliat sambil tangannya mendorong-dorong kepala pria itu karena dia terus menggigiti putingnya dengan menggetarkan giginya, rasanya ngilu dan sakit, tapi juga…enak.
“Aduh…aah…jangan terlalu keras Pak…aahh…sakit !” rintihnya sambil meremas-remas rambut pria itu.
Pak Dahlan akhirnya melepaskan juga gigitannya pada puting Rania setelah beberapa saat kepalanya didorong-dorong hingga rambutnya agak acak-acakan. Dia tersenyum nakal melihat wajah Rania yang bersemu merah karena terangsang oleh gigitannya.
Kemudian pria itu menundukkan kepalanya hendak mengarah ke payudaranya lagi.
“Sudah Pak, jangan lagi…eeengghh !” ternyata kali ini bukan gigitan melainkan sapuan lidah yang diterimanya.
Kali ini Rania merasa lebih nyaman setelah tadi putingnya sempat panas nyut-nyutan akibat gigitan pria itu. Jilatan-jilatan itu membuatnya kembali bergairah. Memang Pak Dahlan sangat lihai mempermainkan nafsu korban-korbannya sehingga mereka takluk padanya. Sambil terus menjilati putting itu, tangan Pak Dahlan merambat ke bawah menyentuh kemaluannya. Rania makin mendesah dan menggeliat saat jari-jari besar itu mengelusi bibir vaginanya. Pria itu naik ke sofa menindih tubuhnya, kali ini mulutnya naik mencupangi leher jenjangnya sambil tangannya terus mengorek-ngorek vaginanya. Tak lama kemudian Rania merasakan benda tumpul didorong-dorong hendak memasuki vaginanya. Dia mendesah menahan sakit saat penis itu menyeruak masuk ke dalam vaginanya. Penis itu tidak terlalu sulit melakukan penetrasi karena vagina Rania sudah becek sekali.
“Uhhh…enaknya, memek Ibu emang seret banget !” dengus pria itu.
Pak Dahlan mulai menggerakkan pinggulnya menyodoki vagina Rania dengan penisnya. Terdengar suara seperti tepukan setiap kali selangakangan mereka bertumbukkan. Pompaan Pak Dahlan kadang keras tapi kadang juga lembut sehingga membuat Rania larut menikmati persetubuhan itu.
Setelah lewat seperempat jam Rania tidak mampu lagi menahan orgasme. Dia mendesah panjang dan mengeluarkan banyak sekali cairan dari vaginanya. Tubuhnya mengejang dan memeluk erat-erat tubuh Pak Dahlan yang menindihnya. Pak Dahlan sendiri masih belum mencapai puncak, dia terus menggenjoti Rania semakin ganas karena sensasi nikmat yang didapat dari kontraksi dinding vagina wanita itu ketika orgasme yang semakin erat menghimpit penisnya. Tak lama kemudian ketika di ambang orgasme, pria itu mencabut penisnya dari vagina Rania. Cairan lendir meleleh-leleh dari batang itu dan membuatnya terlihat mengkilap ketika baru saja ditarik lepas dari liang vaginanya. Kemudian pria itu naik ke dada Rania dan menjepitkan penisnya dengan kedua payudara montok itu. Rania yang masih lelah pasca orgasme hanya pasrah saja membiarkan pria itu melakukan breast-fucking terhadapnya. Penis yang sudah licin itu maju mundur dengan lancar diantara kedua gunung kembarnya. Dia sedikit merintih karena Pak Dahlan terkadang meremas payudaranya terlalu keras. Tidak sampai lima menit, pria itu mengerang nikmat dan menyemprotkan spermanya. Cairan seperti susu kental itu mengenai wajah Rania, terutama daerah dagu dan mulut, juga menciprati leher dan dadanya. Tubuh gempal itu berkelejotan meresapi gelombang orgasme yang melandanya. Setelah spermanya tidak keluar lagi, pria itu turun dari dada Rania dan duduk di sofa itu. Sambil beristirahat tangannya iseng mengolesi cipratan spermanya di dada wanita itu hingga merata.
Rania, dengan tenaga yang sudah mulai terkumpul, menggerakkan tangannya dan menepis tangan pria itu dari dadanya.
“Jangan gitu dong Pak, lengket tau gak !?” bentaknya lemas.
“Hehehe…puas banget saya Bu, lain kali lagi yah” pria itu berkata dengan nafas berat kelelahan.
Rania memutuskan untuk secepatnya angkat kaki dari tempat itu sebelum pria itu pulih dan mengerjainya lagi. Maka dia buru-buru turun dari sofa dan memunguti pakaiannya lalu memakainya kembali, sebelumnya dia mengelap ceceran sperma di tubuhnya dengan tisue yang dibasahi air. Tanpa memberi salam selain tatapan marah dia keluar dari ruangan itu dan menutup kembali pintunya dengan setengah dibanting.
“Dasar bajingan ga bermoral, munafik !” makinya dalam hati sambil terus berjalan.
Detak jantung Rania tertahan sejenak ketika dilihatnya sesosok tubuh yang dikenalnya muncul dari arah tangga lantai bawah, seseorang yang dikenalnya.
Di koridor lantai dua yang sudah sepi itu dia berpapasan dengan Imron yang baru saja naik dari lantai satu.
“Woo…hoo…Bu Nia, baru beres sama Pak Dahlan yah, gimana acara gininya Bu ?” sapanya sambil menunjukkan jempol yang diselipkan antara telunjuk dan jari tengahnya.
Rania terus saja melengos tanpa menjawabnya, sungguh benci dia pada pria yang telah merenggut kesuciannya dan menjerumuskannya dalam lembah nista.
“Yee…ditanya diem aja, dasar dosen lonte !” kata Imron seraya menepuk pantat Rania yang berlalu sambil mengacuhkannya.
Rania menengok dan memelototinya, namun ia tidak bisa lebih berbuat lebih selain mempercepat langkahnya agar menjauh dari pria itu, untunglah Imron tidak macam-macam karena dia baru menuntaskan hajatnya dengan Joane beberapa saat lalu.
“Gimana Pak barang barunya, sedap gak ?” tanya Imron yang menemui Pak Dahlan di ruangannya.
“Ya sedap toh, puas banget nih saya, hebat lu Ron bisa dapetin dosen, kalau mahasiswi bispak sih saya udah biasa, tapi kalau dosen bispak baru luar biasa, hahaha” katanya berkelakar.
Kedua penjahat kelamin itu pun tertawa-tawa penuh kemenangan.
###########################
Nightmare Sidestory: Lesson from Joane
Kilatan cahaya dan kelap-kelip lampu disco yang mengikuti irama musik underground memenuhi dance floor tempat para muda-mudi asyik melewati malam dengan berdansa, minum alkohol, ngobrol-ngobrol, dan kegiatan lainnya. Sebagian besar yang hadir malam itu adalah mahasiswa/i karena malam itu sedang acara campus nite. Di tempat clubbing elite itu mereka bersantai dan melupakan sejenak kesibukan dan stress mengenai masalah kuliah. Diantara mereka yang bergoyang mengikuti irama musik nampak Joane, Devi, serta beberapa teman wanita dan pria mereka. Setelah puas bergoyang Joane kembali ke sofa tempat teman-teman lainnya berkumpul, ia pun bersulang segelas kecil Jack Daniels. Ia nampak seksi malam itu dengan tank top kuning dan rok mini putih yang memamerkan pahanya, Ia pun larut dalam canda tawa dengan mereka, kadang untuk mengobrol mereka harus agak berteriak mengimbangi dentuman-dentuman speaker yang bising itu.
“Loh, Jo…bukannya itu si Yogi !” sahut Anna, seorang temannya.
“Hah ?? apa ?” tanyanya agak keras.
“Yogi…cowok baru lu tuh !” Anna mengeraskan suara sambil menunjuk.
Joane menengok ke belakang ke arah yang dimaksud temannya, senyuman di wajahnya mendadak hilang. Matanya memandang tajam ke arah seorang pria berambut spike yang sedang baru duduk di sofa lalu merangkul seorang gadis cantik, mereka sepertinya begitu akrab sampai-sampai si cewek mengecup pipinya begitu dia duduk.
“Bangsat !” makinya dalam hati sambil bangkit berdiri dengan tangan terkepal kuat.
Seorang temannya memegang pergelangan tangannya bermaksud menahan, namun ia menyentak tangannya dan tetap berjalan menghampiri pria itu. Orang-orang yang berkumpul di sofa itu memandang ke arahnya, begitu juga pemuda berambut spike yang baru datang itu, ia kaget dan langsung menurunkan tangannya dari bahu gadis itu begitu melihat Joane sudah berdiri disitu sambil melipat tangan, lalu ia segera membuang muka dan meninggalkan mereka. Seperti yang diharapkan, pria itu mengikutinya keluar ruangan. Joane menghentikan langkahnya di dekat toilet yang agak sepi dan jauh dari hingar bingar musik.
“Dasar laki-laki brengsek, lu tau kan gua paling gak suka diboongin !” ia langsung menyemprotnya dengan marah.
“Jo…Jo…please denger dulu dong, kita tuh emang abis bicarain urusan kerja, udah gitu baru temen-temen gua ngajakin ke sini” Yogi berusaha menjelaskan sambil meletakan tangan ke bahu Joane yang mulai uring-uringan.
“Terus cewek itu nyium lu juga disuruh temen lu? iya !?”
“Aduh Jo, itu kan cuma gitu aja…lagian dari sebelum jadian kita duaan juga udah ga perawan ini kan ?”
“Cuma gitu aja hah lu bilang !” Joane benar-benar marah mendengar jawaban itu, minta maaf pun tidak malah masih membela diri. Ia menepis tangan pemuda itu dari bahunya, lalu menamparnya dan berlari meninggalkannya.
Dengan hati hancur ia berlari ke mobilnya di basement parkir. Begitu masuk dan menutup pintu, ia mengeluarkan ponselnya dan menulis SMS, ‘Dev,ntar u sama si Anna plg ikut yg lain aja yah, sori gw hrs plg duluan’. Setelah mengirim SMS itu ia menghidupkan mesin mobil dan menjalankannya. Sepanjang pejalanan pikirannya nerawang sampai diteriaki ‘goblok’ oleh seorang pengendara motor karena menyalip jalur dengan kecepatan tinggi. Untuk kesekian kalinya ia kembali menelan pil pahit dalam berpacaran. Memang ia mengakui dirinya bukanlah wanita baik-baik, ia seorang ayam kampus yang pernah terlibat macam-macam petualangan seks, namun setidaknya selama ini ia tidak pernah berbohong pada para pria yang menjadi pacarnya. Pada mereka yang pernah menjalin hubungan kasih dengannya ia selalu mengakui latar belakangnya yang suram dan kalau mereka mau menerima apa adanya ia akan berusaha memperbaiki diri. Namun selama ini kebanyakan laki-laki itu hanya menginginkan tubuhnya sehingga ia sudah terbiasa disakiti dan makin terjerumus dalam kehidupan yang kelam, terlebih ia kini telah menjadi budak seks Imron, si penjaga kampus bejat itu. Sebulan lalu ia baru saja mencoba hubungan serius dengan Yogi, eksekutif muda itu, yang berhasil menundukannya. Pemuda itu menjanjikannya segudang harapan bahwa ia menerima dirinya yang telah kotor itu apa adanya dan bersama mereka akan menghadapi masa depan yang lebih baik. Di pundak pemuda itu, Joane telah menaruh harapan besar tentang hari depannya setelah lulus nanti dan lepas dari cengkraman Imron. Namun baru sebulan saja janji-janji itu hanya tinggal janji, persis janji-janji para politikus setelah memenangkan kampanye, semua pria sama saja, hanya pintar mengobral janji dan bermanis mulut.
Sampai di kamar kostnya ia langsung membanting tubuhnya ke ranjang, dipeluknya bantal guling sambil menangis sejadi-jadinya. Pria itu bahkan belum menelepon untuk setidaknya minta maaf. Tak lama kemudian ia tertidur kelelahan tanpa sempat berganti pakaian. Ia baru bangun pagi hari jam sepuluh ketika matahari menerangi kamarnya. Setelah menyesuaikan matanya yang baru menyesuaikan diri dengan cahaya, ia turun dari ranjang dan melepaskan pakaiannya hingga bugil lalu memasuki kamar mandi yang menyatu dengan kamarnya. Di kamar mandi, ia memutar kran dan mengucurlah air dari shower membasahi tubuhnya. Sambil menyabuni tubuhnya, dalam pikirannya masih terbayang-bayang kejadian semalam, apa gerangan yang sedang dilakukan lelaki itu sekarang, pasti ia juga baru bangun setelah tidur seranjang dengan gadis itu atau mungkin sekarang mereka sedang meneruskan babak selanjutnya di kamar mandi. Tapi…ah sudahlah ngapain juga harus memikirkan seperti itu terus, ini memang bukan pertama kalinya, tapi entah sampai kapan akan ada lelaki baik yang bukan hanya menginginkan tubuhnya dan serius mencintainya.
Sebagai ayam kampus ia juga tidak berharap terlalu muluk untuk mendapatkan lelaki yang perfect, penampilan tidak terlalu pentinglah, kekayaan pun ya bisa ditempatkan di nomor sekianlah karena keluarganya termasuk sangat berkecukupan, yang diperlukannya hanyalah kasih sayang tulus dan perhatian yang tidak pernah didapat dari orang tuanya sejak kecil, mereka selalu sibuk dengan pekerjaannya masing-masing dan seringkali bertengkar bahkan tidak jarang di depan dirinya. Mamanya yang lebih sayang pada adik laki-lakinya sering mencubit dan memukulnya bila berbuat salah. Kurangnya kasih sayang dan perhatian inilah yang membuat Joane menjadi rusak. Sejak kehilangan keperawanan pada umur 16 tahun, hidupnya semakin tak karuan, terlebih saat itu ia telah tinggal di kost jauh dari keluarga. Ia mulai menjual diri dan kecanduan seks, predikat wanita nakal mulai melekat pada dirinya. Sebenarnya dalam hati kecil Joane, ia pun ingin merasakan cinta yang tulus dan kelak membangun keluarga bahagia, ia juga senang sekali dengan anak kecil, hal ini nampak dari hubungannya dengan keponakannya yang masih balita, ia begitu akrab bermain-main dengan mereka. Kepolosan dan kelucuan merekalah yang dapat membuatnya seperti meneguk setetes kebahagiaan di tengah hidupnya yang kelam. Sebagai manusia tentu ia tidak ingin berkubang dalam lumpur dosa selamanya, beberapa kali ia mencoba memperbaiki diri setiap ada lelaki yang dianggapnya benar-benar mencintainya, namun beberapa kali pula mereka mengecewakannya sehingga membuatnya terjerumus makin dalam.
Sejak Yogi menyatakan cintanya sebulan lalu ia telah mengurangi merokok dan menolak seks dengan pria lain selain pemuda itu dan tentu saja Imron yang telah menguasainya. Dengan segala rayuan gombalnya mampu membuat Joane yakin dialah ‘sang prince charming’ yang selalu dinantinya, terlebih keduanya memiliki latar belakang yang sama-sama kelam, Joane telah mendukung pemuda itu dalam usahanya lepas dari ketergantungan alkohol dan kesukaannya main perempuan. Ia melihat keseriusan pemuda itu yang mulai mengurangi minum dan tidak main perempuan, sehingga ia pun mulai memperbaiki diri juga, ia tidak lagi menerima panggilan untuk menjual tubuh dan meredam nafsunya yang liar dengan berolah raga dan kegiatan positif lainnya. Panggilan dari Imron adalah perkecualian karena si monster pemangsa wanita itu telah menjeratnya, ia hanya berharap segera lulus sehingga lepas darinya seperti yang dijanjikan Imron bahwa korbannya baru bisa lepas setelah lulus atau minimum dua tahun menjadi budaknya sambil menunggu mangsa baru dari angkatan berikutnya, pria itu selalu mengancam bila keluar dari kampus itu sebelum waktunya ia akan membeberkan foto-foto memalukan korbannya. Sepuluh menit kemudian, Joane menyudahi mandinya, ditutupnya kran hingga air berhenti mengalir. Ia mengelap tubuhnya yang basah dengan handuk lalu keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya. Hari itu adalah hari Minggu, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh kurang seperempat. Ia membuka lemarinya untuk mengambil pakaian, dipilihnya pakaian yang santai berupa sebuah kaos pink tanpa lengan dan bawahannya hot pants yang sangat pendek sehingga mengekspos paha rampingnya yang putih mulus.
Setelah berpakaian ia mengambil ponselnya, hanya ada satu SMS yang masuk sejak semalam yaitu dari temannya, Devi. Isinya, ‘Jo, u gpp kan ? j5 sore ini kta jln2 ke mall aja yah, biar kita fun dikit’. Joane membalas SMS itu sambil berjalan keluar kamarnya untuk menggantung handuknya yang basah di jemuran. Ketika berjalan ke tempat jemuran, karena matanya melihat ke layar ponsel, ia hampir bertabrakan dengan Mumun, si kacung kost yang baru berusia 14 tahun yang biasa kerjanya bersih-bersih, membelikan barang titipan penghuni kost, atau pekerjaan-pekerjaan ringan lainnya. Ia bekerja disini membantu ibunya, Mbak Sarti, karena tidak punya biaya untuk meneruskan sekolah. Mbak Sarti sendiri lebih sering berada di rumah ibukost yang letaknya berdekatan dengan kost itu. Anak itu berambut cepak dan kurus, kulitnya gelap karena sering terkena panas matahari, dibanding Joane tinggi anak itu baru sebatas mulutnya, sifatnya pendiam dan pemalu. Joane tersentak pelan lalu mengelus dada karena agak terkejut anak itu hampir menabraknya dari samping, ia sedang mengepel lantai saat itu.
“Maaf Non” ujarnya sambil tetap menunduk dan meneruskan pekerjaannya.
Setelah menggantungkan handuknya di jemuran Joane langsung berbalik kembali ke kamarnya. Diam-diam Mumun memandangi sosoknya yang seksi itu, pria mana yang tidak menelan ludah melihat tubuhnya yang ramping itu dengan kostum yang minim, pahanya yang mulus membuat orang bernafsu membelainya, hotpants yang pendek dan ketat itu mencetak bentuk pinggulnya yang bulat indah. Sebenarnya Joane pun merasa dirinya sedang dipandangi, namun ia santai saja karena tatapan nakal pria bukan hal yang asing baginya.
Joane menyalakan TV lalu duduk berselonjor di ranjang sambil menonton. Tangannya meraih sekotak rokok A-Mild dan menyelipkannya sebatang diantara bibirnya yang indah. Pikirannya tentang pria itu masih terngiang-ngiang di benaknya walau ia berusaha melupakannya.
“Dasar laki-laki, dimana-mana sama aja! Di depan mulutnya manis, di belakang selingkuh, emangnya gua ga bisa gitu apa ?!” marahnya dalam hati sambil mengepulkan asap dari mulutnya.
Dalam kemarahannya, pikiran nakal melintas di benaknya, tiba-tiba saja ia teringat pada Mumun, si bocah pembantu kost yang barusan berpapasan dengannya. Ia ingin menggoda anak itu sebagai pelampiasan kekesalan terhadap pria yang telah mengkhianatinya. Nuraninya sempat berbicara sebentar, bagaimanapun ia telah berusaha memperbaiki diri apakah harus mengotorinya lagi demi membalas dendam ? Maka ia pun memendam hasrat itu sementara sambil menunggu pria itu menghubunginya lewat ponsel setidaknya untuk meminta maaf. Namun dua puluh menit ia menunggu tidak pria itu belum juga menelepon ataupun meng-SMSnya. Sungguh pria itu mengecewakannya, ia sama saja dengan yang lainnya, tidak pernah mencintainya dengan tulus. Habis sudah kesabarannya, sisi liar dalam dirinya mulai menggeliat, ia memutuskan untuk merayu anak itu. Setelah menghabiskan rokoknya yang kedua ia turun dari ranjang dan melepaskan bra yang dipakainya lalu keluar mencari anak itu. Suasana kost pada hari Minggu seperti ini biasanya lenggang karena kebanyakan penghuninya kelau tidak ke gereja ya bermain di luar. Irama musik rap terdengar dari sebuah kamar yang tertutup dan di kamar lain yang pintunya terbuka setengah nampak dua orang pemuda sedang asyik main Winning Eleven di PS2. Joane mendapati Mumun sedang menonton TV di ruang tamu kost itu.
“Mun…Mumun, bisa ke kamarku bentar ga? Ada perlu nih” ajaknya.
Joane naik terlebih dulu sementara Mumun mematikan TV. Ia menunggu kedatangan anak itu dengan jantung berdebar-debar. Tidak sampai semenit, Mumun sudah menyusul ke kamarnya.
“Ada apa Non ?” tanyanya canggung.
“Ayo masuk aja” ajaknya, “itu tolong kamu bukain tutup botol di meja itu, keras banget” katanya sambil menggerakan wajah ke arah botol Coca-cola Diet di atas meja yang kebetulan masih baru dan belum dibuka.
Ia menjatuhkan pantatnya di ranjang setelah menutup pintu dan diam-diam menggeser grendelnya. Dengan mudah Mumun memutar tutup botol itu hingga terbuka.
“Udah Non, ini !” katanya seraya menyodorkan pada gadis itu.
“Makasih ya, ayo sini minum dulu” tawar Joane sambil menuangkan ke gelas.
Anak itu menerima sambil tertawa malu-malu, mereka pun meneguk minuman di gelas masing-masing. Sambil minum, diam-diam matanya terus tertuju pada paha Joane yang indah dan dadanya yang agak rendah. Tingkahnya yang kikuk itu membuat Joane makin suka menggodanya.
“Eeenngg…udah Non, terima kasih ya, saya pergi dulu !” ucapnya seraya meletakkan gelas itu dimeja.
“Eh, sebentar Mun, kenapa gak temenin aku dulu sini, kita kan kebetulan lagi sendirian nih” kata Joane sambil menepuk tempat di sebelahnya.
Mumun makin salah tingkah karena tingkah genit gadis itu, wajahnya tertunduk tidak berani memandang wajah gadis itu yang sedang tersenyum nakal.
“Heh, kenapa ? kok bengong gitu sih ? sini dong…santai aja aku gak bakal ngegigit kok” ujar Joane sambil meraih pergelangan tangan anak itu dan mendudukannya di sebelahnya.
“Kamu udah berapa lama kerja disini Mun ?” tanyanya membuka percakapan.
“Baru setaun sih Non, abis gak cukup biaya nerusin ke SMP, ya udah sama Mak disuruh kerja aja deh” jawabnya jujur.
“Terus kamu betah kerja disini Mun ?” tanyanya lagi.
“Mmmm…ya betah juga sih Non, orang-orang disini baik-baik, ada juga sih yang agak sombong tapi gak banyak”
Joane tersenyum mendengar jawaban polosnya, pemalu sekali anak ini pikirnya sehingga ia makin tertantang.
“Kalau aku Mun, termasuk yang mana nih, yang baik atau yang sombong”
“Yah kalau Non sih baik banget, mau ngebagi Coca-cola ke saya gitu masa ga baik sih hehe” jawabnya sambil mengelus kepala yang semakin menampakan keluguannya.
“Hehehe…dasar kamu ah, ini lagi ngegoda aku yah ?” Joane tertawa renyah sambil mencolek lengan anak itu.
“Nggak Non, bener kok Non baik makannya saya omong terus terang”
“Ya udah sekarang kamu yang nanya dong Mun, masa dari tadi aku yang tanya terus sih”
“Eerrr…tanya apa Non ?” katanya “Mumun bingung mo tanya apa?”
“Apa aja lah, kan kita lagi ngobrol-ngobrol santai ini”
Walaupun sejak tadi tidak berani bertatap muka dengan Joane, namun mata anak itu selalu saja mencuri-curi pandang tubuh gadis itu, jantungnya deg-degan dan tak terasa penisnya menggeliat karenanya.
“Non…Non asalnya dari mana, kok logatnya agak Jawa-Jawa gitu ?” tanyanya
“Dari Semarang Mun, kamu pernah kesana ?” jawabnya tersenyum.
“Oohh…ga pernah sih” jawab anak itu menggeleng, “terus Non udah berapa lama disini”
“Ya dari kuliah aja, dua tahunan lah”
Setelah sepuluh menitan ngobrol-ngobrol, rasa canggung Mumun mulai berkurang apalagi Joane kadang mengajaknya bercanda sehingga mau tidak mau anak itu ikut tersenyum. Ia mulai berani mengangkat wajah menatap lawan bicaranya yang cantik itu. Tampak anak itu menelan ludah melihat puting Joane agak tercetak di balik tank kaosnya.
“Non udah punya pacar belum ?” tanyanya tiba-tiba membuat Joane terdiam sejenak.
“Belum” jawabnya singkat.
“Masa belum sih Non, Non kan cantik masa belum ada yang mau ?” tanyanya polos.
“Bener, emang belum kok, kalau kamu sendiri Mun ?” Joane balik bertanya
“Ya belum lah Non, saya kan masih kecil hehe” jawabnya sambil garuk-garuk kepala, “eeh, Non mo tanya juga nih, kalau pacaran itu emangnya ngapain aja sih ?”
Joane tersenyum lagi, kepancing juga nih anak pikirnya, Mumun sendiri merasa Joane semakin manis dengan senyumnya itu sehingga dia senang memandanginya terlebih dengan pakaian yang minim seperti itu.
“Ehm, gimana yah jawabnya, ya intinya sih antara pria dan wanita saling mendekati gitulah misalnya jalan bareng, nonton bareng, makan bareng, nah dari situ timbul deh perasaan diantara mereka jadi makin mendalami pasangan masing-masing” kata Joane menjelaskan.
“Oohh gitu yah Non, kayanya asik juga yah Non” katanya mangut-mangut, “terus Non kalau yang namanya ngentot itu kaya gimana Non?”
Joane agak terkejut mendengar pertanyaan terakhir anak itu, tapi sekaligus senang juga, ini berarti umpan yang dilemparnya sudah semakin mengena.
“Kamu…kamu denger itu darimana Mun ?” tanyanya, ia melihat wajah anak itu sepertinya polos sekali waktu bertanya demikian, tidak tampak sedikitpun ekspresi mupeng.
“Ya itu Non, Mumun sering denger orang ngobrol-ngobrol di warung gitu, terus dari temen juga, katanya ntar kalau udah kawin kita tuh harus ngentot” katanya dengan lugu, “terus mereka bilang ngentot tuh enak, tapi saya ga dijelasin gimana, masih kecil katanya”
“Ok deh Mun, aku mau ngajarin kamu tentang apa itu ngentot, tapi kamu gak boleh cerita ke siapa-siapa, janji ?” Joane semakin bergairah karena itulah yang diharapkannya.
“Wah, bener nih Non, iya Mumun janji kok gak bakal ngomong ke siapa-siapa !” katanya antusias karena kepenasarannya sebentar lagi terjawab.
“Jadi gini Mun, ngentot itu bisa dibilang proses antara sepasang cowok sama cewek saling melepas nafsu birahi dengan berhubungan badan”
“Mmm, apa maksudnya tuh Non, ngelepas nafsu misalnya gimana ?” tanyanya belum terlalu mengerti.
Joane tersenyum sambil menggeser duduknya makin mendekati anak itu, selain itu digenggamnya juga tangan anak itu membuatnya semakin grogi.
“Nah prakteknya gini Mun, apa yang kamu rasain sejak berduaan sama aku tadi sama sekarang juga waktu berdekatan gini ?” tanyanya.
“Eeengg…ya deg-degan gitu Non, agak grogi jadinya” jawabnya.
“Kamu tau kenapa kamu ngerasa gitu ?” tanyanya lagi.
“Ya gimana ya…abis, abis Non kan cantik, seksi lagi jadi saya deg-degan” jawabnya gugup.
“Terus anu kamu tegang ga?” tanyanya yang dijawab anak itu dengan anggukan, “Nah itu yang namanya birahi, nah…terus kalau gini rasanaya gimana Mun ?” Joane meletakkan tangan yang digenggamnya itu di atas paha mulusnya.
“Mulus Non, kulit Non bagus banget !” jawab anak itu.
Joane mengusapkan tangan itu pada pahanya, ia merasakan darahnya berdesir dan tangan anak itu gemetaran. Muka anak itu memerah malu walau ia merasakan sesuatu dalam dirinya yang menggelegak, suatu perasaan yang luar biasa namun tidak bisa diungkapkannya dengan kata-kata.
“Kamu pasti belum pernah pegang-pegang cewek ya Mun ?” tanyanya nakal.
“Be…belum Non, mana berani saya” terlihat sekali ia semakin gugup.
“Kalau liat cewek telanjang ?”
“Pernah sih, tapi nggak sengaja di kampung dulu, lewat di sungai eh ada yang mandi, pernah juga sih ga sengaja mergokin emak saya mandi, itu juga ga sengaja” jawaban yang benar-benar apa adanya tanpa dibuat-buat.
Joane tertawa dalam hati melihat keluguan anak itu, seumur-umur baru pernah dia menggoda yang masih hijau dan usianya hampir tujuh tahun jauh dibawahnya seperti si Mumun ini. Seru juga nih sama yang bau kencur gini, nambah pengalaman, begitu katanya dalam hati.
“Mun, kamu berani nggak bukain bajuku ?” tantang Joane.
“Aduh…yang bener Non, Mumun malu nih” wajahnya tersipu-sipu.
“Yee…gapapa lagi, kan katanya mau diajarin ngentot, ya harus telanjang dulu dong !” katanya sambil meletakkan tangan anak itu di ujung bawah bajunya. “ayo Mun, angkat ke atas dong !”
Setelah didesak terus Mumun pun mengangkat kaos itu perlahan-lahan, Joane sendiri mengangkat tangannya membiarkan kaos itu lolos dari tubuhnya. Mata Mumun yang belo itu terlihat seperti mau keluar memandang tubuh Joane yang sudah setengah telanjang itu yang tinggal memakai hotpants saja. Tubuh itu begitu putih mulus tanpa cacat dengan payudara 34B nya yang mancung serta perutnya yang rata karena rajin berolahraga. Ketika Mumun sedang terbengong tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun, Joane meraih tangannya dan meletakkannya pada payudaranya. Tangannya gemetaran ketika pertama kalinya menyentuh gundukan daging kenyal itu. Dibimbingnya tangan itu membelai dan meremas payudaranya yang montok itu.
“Mmhh…gitu Mun, remas pelan-pelan, rasain putingnya ngeras” katanya sambil membimbing tangan Mumun yang satunya membelai tubuhnya.
Joane memejamkan mata menikmati belaian tangan bocah pembantu kostnya itu, belaian itu kadang terkesan ragu-ragu tapi sangat mengusik birahinya.
Joane kemudian menaikan satu kakinya di pangkuan Mumun dan merangkul bahunya, tangan bocah itu juga ia lingkarkan pada tubuhnya. Wajah mereka sangat dekat sekali sampai hidungnya bersentuhan, Mumun dapat merasakan hembusan nafas gadis itu menerpa wajahnya.
“Kamu senang kan Mun ?” tanyanya dengan suara mendesah yang dijawab bocah itu dengan anggukan, “sekarang buka mulut yah, jangan ditutup, aku mau ajarin kamu ciuman”
Bibir keduanya saling berpagutan, Joane dengan agresif memainkan lidahnya di dalam mulut Mumun, ia menyapu langit-langit mulutnya dan mendorong-dorong lidah anak itu dengan lidahnya. Mumun pun tergerak untuk ikut memainkan lidahnya membalas lidah gadis itu yang seolah mengajaknya ikut menari. Sambil berciuman dengan penuh gairah tangan anak itu mengelusi punggung Joane yang mulus dan hangat. Joane merasakan pahanya yang dipangkuan anak itu menyentuh benda keras di selangkangannya. Beberapa saat kemudian mereka melepas ciuman setelah merasa nafasnya memburu dan butuh udara segar. Kemudian Joane berdiri di depan Mumun yang masih melongo dan melepaskan pakaian terakhir yang tersisa di tubuhnya, ia menurunkan sekaligus hotpants beserta celana dalam di baliknya. Mumun terpana menatap pemandangan indah di depan matanya itu, mata besarnya itu tak berkedip menatap kemaluan Joane yang ditumbuhi bulu-bulu hitam yang lebat.
“Ayo Mun, kamu juga buka baju” kata Joane menyentuh bagian bawah kaos lusuhnya.
Mumun mengangkat tangannya, ia pasrah membiarkan gadis itu melucuti pakaiannya walau masih tegang. Setelah melemparkan kaos itu ke belakang, Joane menyuruhnya berbaring di ranjangnya.
“Ayo cepet, tunggu apa lagi !?” katanya tidak sabaran karena anak itu bengong saja.
Mumun pun berbaring telentang di ranjang itu, tidak tahu apa lagi yang harus dilakukannya karena dia sama sekali buta soal seks, bahkan nonton film bokep atau lihat gambar porno saja belum pernah. Memang di usianya yang mulai puber itu ada rasa senang ketika melihat gadis-gadis penghuni kost itu lalu-lalang dengan pakaian yang memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh mereka, tapi ia sendiri tidak tahu mengenai perasaan yang disebut ‘birahi’ itu. Anak itu kaget dan menahan celana pendeknya ketika Joane hendak menurunkannya, namun tangannya segera ditepis gadis itu yang terus menurunkan celana itu hingga lepas. ‘Wew’ serunya dalam hati melihat penis anak itu yang sudah tegang, ujungnya sudah disunat dan berbentuk seperti helm, memang ukurannya tidak sebanding dengan pria-pria dewasa yang pernah terlibat seks dengannya, namun lumayan juga untuk ukuran anak seusianya. Joane merunduk dan menggerakan tangan untuk menggenggam penis itu.
“Eh…Non, jangan ah !” katanya sambil menutupi penisnya dengan telapak tangan.
“Kenapa sih lu, katanya mau diajarin !” Joane jadi agak sewot “kalau cerewet terus ya udah, sana pake baju keluar!” dengan kesal ia menggeser tubuhnya ke tepi ranjang dan memunggungi anak itu, tangannya meraih hotpants dan celana dalamnya yang diletakkan di kursi dekat situ. Namun tiba-tiba ia merasakan sepasang lengan kurus memeluknya dari belakang.
“Non, jangan marah dong, Mumun minta maaf, Mumun kan tegang baru pertama kali”
kata anak itu memelas.
Joane sengaja diam tak berkata apa-apa sehingga anak itu terus memohon dengan mengguncang-guncang tubuhnya. Dalam hati ia tersenyum melihat reaksinya yang seperti anak-anak minta permen itu. Ia pun menengokan wajah memandang wajah anak itu lalu berkata,
“Iya, iya kali ini aku ampuni, tapi janji jangan banyak bacot lagi”
“Iya Non, Mumun janji kok bakal nurut ke Non aja” jawabnya dengan penuh harap.
Maka Joane pun menyuruhnya kembali berbaring dan dituruti tanpa pikir panjang oleh bocah itu. Joane kembali ke posisinya semula berlutut di samping anak itu, ia merunduk dan menggenggam penis itu. Tangannya yang lembut dengan jari-jari lentik mulai mengusap batang itu. Mumun memejamkan mata dan menelan ludah menikmati usapan lembut itu.
“Pernah Mun ininya diginiin ?” tanya Joane yang hanya dijawab dengan gelengan kepala.
“Pakai tangan sendiri juga belum ?” tanyanya lagi.
“Pakai tangan sendiri, emang buat apa Non, tapi iya juga enak sih tititnya dikocok-kocok gitu” jawaban itu membuat Joane tersenyum geli sambil terus mengocok penis itu.
Anak itu mendesah dan tubuhnya berkelejotan ketika Joane pertama kali mendaratkan bibirnya mengecup kepala penisnya, lidahnya lalu menyusul menjilati bagian yang bersunat itu sambil tangannya memijat pelan buah zakarnya. Tak lama kemudian Joane sudah memasukan penis itu ke dalam mulutnya. Anak itu meremas-remas sprei dan mendesis merasakan hangatnya ludah gadis itu menyelubungi penisnya serta hisapan dan jilatannya yang berpengalaman itu.
“Aduh Non…sshhh…Mumun gak tahan…enakhh !” desahnya.
Sungguh sebuah sensasi luar biasa yang baru pernah dirasakannya dimana penisnya diemut-emut seorang gadis cantik seperti Joane. Terkadang Joane menggerakkan matanya untuk melihat reaksi anak itu, tatapan matanya saat itu membuat Mumun tak sanggup berlama-lama memandangnya. Tak lama kemudian saat kepala penis Mumun bersentuhan dengan daging lembut di langit-langit tenggorokan Joane, menyemprotlah spermanya tanpa terbendung. Tubuh anak itu menegang sambil menggigiti bibir bawahnya, kenikmatan ini tak terlukiskan dengan kata-kata, ia merasa seperti sedang kencing, tapi bukan kencing entah perasaan apakah ini namanya, demikian pikirnya. Penis itu banyak sekali mengeluarkan sperma yang langsung dihisap Joane dengan teknik menyedotnya yang telah membuat banyak pria serasa terbang. Meskipun cairan putih yang keluar cukup banyak namun tak setetespun keluar dari mulutnya, Joane mengisapnya hingga tetes terakhir dan penis itu menyusut dalam mulutnya.
“Gimana Mun, enak gak barusan ?” tanyanya begitu melepas penis itu dari mulutnya.
“Uenak banget Non, duh baru pernah ngerasain yang ginian” katanya puas.
“Itu tadi namanya orgasme, kalau udah sampai di puncak kenikmatan ya gitu tuh rasanya” Joane menjelaskan sambil membaringkan tubuhnya menyamping di sebelah anak itu.
“Oohh…ngerti jadi waktu kita orgasme itu kita ngeluarin pipis kaya tadi itu ?”
“Aduh Mun itu bukan pipis” Joane memutar mata dongkol, “cape deh !” katanya dalam hati, “tadi yang keluar itu namanya sperma, itu tuh yang bikin perempuan hamil kalau lagi subur Mun, aduuh”
“Sini, aku ajarin yang lain lagi !” suruhnya seraya menelentangkan tubuhnya dan menarik tangan anak itu sebelum dia harus memberi kuliah biologi padanya.
Diletakkannya tangan anak itu diatas kemaluannya yang berbulu lebat dan tangan satunya di payudaranya. Ia membimbing tangan Mumun pada vaginanya untuk membelai dan memasukkan jarinya memasuki liangnya.
“Gimana rasanya dibawah sana Mun ?”
“Hangat Non, becek-becek juga”
“Coba masuk lebih dalem lagi cari daging yang aahh !” desah Joane karena saat itu jari Mumun menyentuh klitorisnya yang sensitif.
“Oh, Non sakit yah, maaf Non, maaf !” katanya sambil mengeluarkan jarinya dari vaginanya.
“Heh siapa suruh keluarin ?” bentaknya memegangi lengan anak itu, “itu tadi yang namanya klitoris, titik sensitifnya cewek, coba kamu gosok pelan-pelan, yahh…ahhh…gitu”
“Jadi diginiin enak yah Non” kata Mumun tersenyum dan menggosokkan jarinya pada daging kecil itu.
Mumun kini telah menindih tubuhnya, mulutnya mengisap dan menjilati payudaranya sementara tangannya terus mengorek-ngorek vaginanya. Tanpa harus dibimbing lagi anak itu mengenyoti payudara montok Joane sampai pipinya kempot, lidahnya juga menyapu-nyapu putingnya menyebabkan Joane makin terangsang. Ia memegangi kepalanya dan menekan-nekan wajahnya ke payudaranya seolah memintanya terus melakukannya.
“Iyah Mun…terushh…gitu enak…ahhh…aahhh !” desahnya.
“Mun…Mun !” panggilnya menepuk-nepuk kepala Mumun yang sedang asyik menyusu, “udah dulu disitu, sekarang kamu jilatin memekku pakai cara ciuman yang tadi kuajari”
Mumun menurut saja apa yang disuruh Joane, ia menggeser tubuhnya ke bawah. Aroma kewanitaan yang harum karena rajin dirawat itu langsung tercium oleh Mumun begitu Joane membuka pahanya.
“Ayo Mun, jilati sepuasmu !” pintanya.
Mumun mulai menjilati bibir vagina Joane yang sudah basah, mula-mula ia agak canggung melakukannya namun lama-lama dengan dibimbing Joane ia semakin menikmati tugasnya.
“Iyah, disitu Mun, mmmhh…iyah disitu !” desahnya sambil mengarahkan Mumun menjilat daerah yang tepat.
Sedikit demi sedikit lidah Mumun mulai terlatih dalam melakukan oral seks. Lidah itu menyapu bibir vaginanya dan menggelitik klitorisnya sampai Joane menggeliat-geliat dan mendesah nikmat. Mumun sangat menikmati sari kewanitaan yang terus keluar dari vagina itu. Sedang enak-enaknya menikmati jilatan Mumun, tiba-tiba HP yang terletak di meja sebelah berbunyi.
“Terusin aja Mun, santai aja jilatinnya yah” katanya seraya meraih HPnya, ternyata yang menelepon temannya, Devi.
“Jo, kalau kita keluarnya jam dua aja gimana ? soalnya sorenya gua ada acara nih!” kata Devi di seberang sana.
“Jam dua, ya boleh juga lah, lu yang jemput gua kan?”
“Iya, ni hari gua aja yang bawa mobil, Jo lu gapapa kan kemaren ? kita udah watir loh sama lu, takutnya gimana-gimana gitu”
“Tenang aja lah Dev, udah biasa gua, yah ntar juga biasa lagi kok sshhh !” Joane menjawab telepon itu dengan nafas berat sambil menggigit bibir.
Joane harus melayani obrolan di telepon dengan Devi dalam keadaan vagina dijilati oleh Mumun. Lidah anak itu bergerak makin liar membuat gairah Joane semakin bergolak sehingga terkadang kata-katanya bergetar atau disertai desahan.
“Jo…lu kenapa sih ? kok ngomongnya aneh gitu sih ?” tanya Devi.
“Nggak…gapapa kok Jo gua cuma mmmhhh…sshhh…ok deh sampe nanti yah, lu jemput gua kan ?” Joane makin tak sanggup menahan desahannya karena Mumun makin bernafsu mengisap vaginanya.
“Hayo lu lagi ngapain nih ?” Devi menebak-nebak “lagi sama sapa tuh disitu, si Yogi dateng yah jangan-jangan…”
“Udah ah Dev jangan sebut-sebut bangsat itu, udah ya, see you !” Joane langsung menutup telepon itu dan kekesalannya bangkit lagi karena teringat lagi pria itu.
“Mun…sini !” panggilnya.
“Iyah Non, kenapa ?” ia merangkak di atas tubuh Joane hingga wajah mereka saling berhadapan, mulut anak itu nampak basah oleh cairan kewanitaan.
Tanpa banyak bicara lagi Joane langsung menarik kepala anak itu ke wajahnya dan melumat bibirnya. Mumun walaupun kaget dengan gerakan yang tiba-tiba itu pasrah saja, ia bahkan membalas pagutan Joane, lidahnya mulai berani menyapu-nyapu rongga mulut gadis itu dan bermain lidah dengannya. Joane menggulingkan badan ke samping sehingga kini ia berada di atas anak itu, dadanya yang montok dan hangat bergesekan dengan dada kurus Mumun. Joane menciuminya dengan ganas sebagai pelampiasan atas kekecewaannya pada pria yang pernah menjadi harapannya. Ketika mereka melepas ciuman tiga menit kemudian ludah mereka teruntai dan sedikit menetes.
“Sekarang waktunya Mun” katanya sambil menegakkan tubuh dan meraih penisnya.
Tangannya yang lain membuka vaginanya sendiri lalu secara perlahan ia menurunkan pinggulnya. Mumun merasakan kepala penisnya yang bersunat itu menyentuh daging yang hangat dan basah. Semakin Joane menurunkan pinggulnya semakin terbenam pula penis itu dalam vaginanya.
“Uuuhh…perih Non, perih !” erang Mumun yang kulit penisnya tertarik oleh himpitan dinding vagina Joane.
“Ssstt…jangan keras-keras, kalau ketauan orang di luar kita bisa gawat” kata Joane menempelkan telunjuknya ke bibir anak itu, “sebentar yah digoyang dikit dulu supaya pas” lalu ia menggoyang sedikit dan memaju-mundurkan pinggulnya.
Mumun merasakan sensasi dahsyat ketika penisnya tertanam seluruhnya dan bergesekan dengan vagina Joane yang bergerinjal-gerinjal, itulah saat pertama ia kehilangan keperjakaannya yang dirasanya tegang tapi nikmat dan akan bertambah nikmat.
“Nikmatin yah Mun, tapi jaga suaranya jangan terlalu rebut !” kata Joane sambil membelai pipi bocah itu.
Maka mulailah ia menaik-turunkan pinggulnya di atas penis anak itu. Nafas Mumun semakin menderu-deru merasakan kenikmatan yang baru pernah dirasakannya seumur hidup dimana penisnya serasa diperas di dalam rongga vagina gadis itu.
“Kamu remas-remas disini dong Mun !” kata Joane dengan manja sambil meletakkan tangan anak itu di payudaranya. “Aahh…ssshh…kerasan dikit Mun, gitu enak…iyahh…aahh !” desahnya.
“Auuuhh…, Non, ooohh…, enaakk… susu Non mantep banget, mm…,oooh goyangnya enak !” pujian jujur keluar dari mulut anak itu disertai desahan.
Joane melakukan gerakan naik-turun itu cukup lama juga, ada mungkin seperempat jam, tubuh keduanya sudah mulai berkeringat. Tangan Mumun yang mengusap punggungnya jadi ikut basah karena keringat yang keluar melalui pori-pori kulit seperti embun itu. Goyangan Joane yang semakin cepat menyebabkan rasa nikmat terus menjalar ke seluruh tubuh melalui penisnya. Kenikmatan itu membuatnya ikut menggerakan pinggulnya secara refleks menyambut goyangan gadis itu.
“Uuhh…tambah pinter yah kamu…bener gitu Mun, gerakin juga badan kamu…aahh…bagus !”
“Bangun sini Mun, aku ajari posisi lain !” katanya seraya menarik lengan anak itu hingga terduduk di ranjang, “nah, gini kan kamu bisa sambil nyusu !”
Ia meneruskan kembali goyangannya dan menekan wajah Mumun ke dadanya. Tanpa diperintah lagi Mumun mengenyoti payudara kanan Joane dan tangannya meremasi payudara yang lain. Kedua kaki Joane melingkari pinggang anak itu, sesekali ia menempelkan bibir mencumbunya agar desahannya tidak terlalu keras.
“Oohhh…Mun, jangan keras-keras !” Joane meringis dan menjenggut rambut pendek anak itu ketika putingnya digigit keras.
Kenikmatan yang semakin melambungkannya semakin membuat Mumun lupa diri hingga tak terasa puting Joane yang sedang dikenyotnya tergigit dengan kuat.
“Maaf Non, gak sengaja, abis enak banget…uuhh !”
Tak dapat disangkal rasa nyeri itu turut bercampur menjadi bagian dari kenikmatan persetubuhan itu. Joane merasakan vaginanya semakin banjir dan berkontraksi makin cepat. Ia pun menambah kecepatan goyangannya dan sesekali meliuk-liukan pinggulnya.
“Non….ooohhh…enak !”
“Aaahhh…aku…aku keluar Mun….mmhh…uummhh !”
Keduanya mencapai puncak kenikmatan secara berbarengan, Joane buru-buru memagut bibir Mumun agar erangannya teredam. Tubuh keduanya mengejang selama beberapa detik hingga melemas kembali dengan nafas terputus-putus.
“Kamu udah jadi laki-laki Mun, udah bukan perjaka lagi, ngerti kan yang namanya ngentot ?” tanya Joane membelai kepala anak itu.
“Asyik banget Non, baru pernah Mumun ngerasain yang gini, Mumun masih mau Non, boleh kan Non !?” pintanya.
Joane mengangguk dan tersenyum, sambil memulihkan tenaga ia membuarkan saja anak itu membelai dan mencium payudaranya.
Lama berpelukan Joane merasa semakin gerah, apalagi tubuhnya sudah keringatan begitu. Maka ia melepaskan pelukannya dari anak itu dan berbaring telentang.
“Ambilin minum dong Mun !” suruhnya.
Mumun langsung turun dari ranjang tanpa harus diperintah lagi, ia menuangkan Coca-cola Diet yang masih terletak di meja ke gelas Joane lalu memberikannya padanya. Setelah meneguknya, Joane menyodorkan sisanya yang setengah pada anak itu.
“Minum dulu Mun, kamu juga pasti haus kan !” katanya.
Mumun berterimakasih dan buru-buru meminumnya hingga habis. Setelah itu ia menaruh gelas itu di meja dan kembali ke Joane yang sedang berbaring. Tubuh kurusnya naik menindih Joane, mulutnya langsung nyosor ke payudaranya.
“Mmm…Mun, mulai gak sopan yah kamu” Joane mendesah genit dan meremas-remas rambut anak itu yang sedang mengisapi putingnya, “oohhh !” ia mendesah lebih panjang ketika jari anak itu memasuki vaginanya.
Cepat juga anak ini belajarnya, belum apa-apa sudah bisa merangsang seperti ini, pikirnya. Mumum melumat payudaranya secara berganti-ganti kiri dan kanan.
“Tetek Non mantap, bentuknya bagus, saya suka banget netek dari Non” katanya di sela-sela mengenyot payudara Joane.
Gairah Joane pun mulai bangkit lagi akibat rangsangan-rangsangan itu, demikian pula Mumun, penisnya kembali mengeras dan Joane merasakannya karena benda itu bersentuhan dengan pahanya. Disuruhnya anak itu berlutut diantara kedua pahanya dan menusuk vaginanya dengan penis yang sudah keras itu. Mumun mengikuti pengarahan Joane, ia menekan kepala penisnya ke vagina gadis itu.
“Ssshhh !” Joane mendesah meresapi proses penetrasi.
Sesaat kemudian Mumun sudah mulai bergoyang mencari kenikmatannya, tangannya perpegangan pada kedua betis Joane, ia mengikuti nalurinya tanpa pengarahan Joane lagi. Mumun yang baru pertama kali menikmati hubungan seks itu benar-benar menikmati penisnya keluar-masuk dalam vagina gadis itu. Pinggulnya bergerak maju-mundur menghujam-hujam vagina Joane menyebabkan tubuhnya tergoncang-goncang sehingga payudaranya pun bergetar hebat.
“Goyangnya cepetin Mun…aahh…enaknya, aku suka punyamu….aaahhh !” desah Joane sambil mengimbangi genjotan anak itu dengan menggoyang pinggulnya.
Setelah sepuluh menit anak itu maju menindih Joane tanpa melepas penisnya, persenggamaan itu terus berlanjut dalam posisi misionaris. Mumun menatap wajah seksi Joane yang sedang high itu, sungguh sangat menggoda pipinya yang bersemu merah dan sorot matanya yang dipenuhi hasrat itu sehingga Mumun tak tahan untuk tak menciumi pipinya dan bibirnya. Ciuman Mumun juga mengarah ke leher dan payudaranya membuat Joane sangat terbuai. Ia tak menyangka ABG kurus yang baru melakukannya pertama kali ini begitu cepat belajar dan mampu memuaskannya. Akhirnya ia tak sanggup bertahan lebih lama lagi, gelombang klimaks yang dahsyat kembali menerpa tubuhnya.
“Oohhh…oohhh…keluar lagi…aku gak kuat lagi Mun !” erangnya sambil memeluk erat tubuh anak itu, cairan kewanitaannya meleleh membasahi penis Mumun yang masih keras.
“Tambah enakhh Non…jadi tambah licin aja…uuhh…aahhh…nikmat Non !” desah Mumun merasakan ejakulasi Joane yang menghangatkan dan menghimpit penisnya lebih keras sehingga memberi kenikmatan ekstra.
Mumun menyusul tak lama kemudian dengan melenguh panjang dan menyemburkan spremanya di dalam vagina gadis itu.
Keduanya tergolek dalam posisi berpelukan, Joane menggeser tubuh Mumun yang menindihnya hingga terguling lemas ke samping, karena merasa berat dan panas. Namun Mumun kembali merangkul tubuhnya sambil terus meraba-raba tubuhnya, mulutnya menjatuhkan ciuman-ciuman ringan di pipi, bibir dan payudara gadis itu. Joane diam saja membiarkan anak itu berbuat semaunya.
“Non, Non cantik sekali, seksi lagi, lain kali boleh gak minta ginian lagi Non !” tanyanya.
“Boleh aja, tapi aku kasih tau ya, kalau di depan umum jangan macem-macem lu, jaga sikap, ngerti ?” katanya mewanti-wanti.
Mumun hanya mengangguk, ia juga sudah cukup lelah melayani keliaran gadis ini. Joane melirik ke arah weker di sebelahnya. Sudah jam 1.20, wah tak terasa lama juga persetubuhan ini, selain itu sepertinya Devi sebentar lagi akan datang menjemputnya.
“Mun, bangun, pake baju sana !” katanya.
Namun Mumun masih terus mengelusi payudaranya tanpa melepas rangkulannya sehingga Joane terpaksa menepis tangannya.
“Heh, bangun aku bilang, denger ga sih !” nadanya agak ketus.
“Tapi Non…”
“Cepet turun, masih ada kerjaan tau, jangan ngelunjak ah !” Joane mendorong dada anak itu sambil bangkit terduduk di ranjang.
Mumun buru-buru memunguti pakaiannya dan memakainya, takut dengan sikap Joane yang mulai judes itu.
“He…he…jangan asal keluar dulu dong, liat dulu dari jendela kalau sepi baru keluar !” katanya ketika anak itu menggeser grendel pintu.
“Sepi Non, biasa lah hari gini !” jawabnya terbata-bata setelah mengintip dari jendela.
“Ya dah keluar sana, tutup lagi pintunya !”
Sepeninggal Mumun, Joane membersihkan diri di kamar mandi. Dalam hati ia merasa puas, baik puas secara birahi, dan puas telah melampiaskan kekesalannya pada pria yang membohonginya itu, hatinya terasa lebih plong. Devi datang tak lama setelah ia selesai mandi dan berpakaian. Merekapun pergi menikmati hari Minggu dengan mobil Devi.
###
Yogi baru meneleponnya pada keesokan harinya.
“Jo…gua bener-bener sori kemarin itu, gua pengen ketemu aja buat minta maaf ke lu, gua benernya masih sayang kok ke lu”
“Masih sayang, dari kemaren ngapain aja lu ? udah puas sama tuh cewek baru nyari gua lagi” omelnya dalam hati sehingga ia terdiam beberapa saat tanpa menjawabnya.
“Jo…Jo…jawab dong, gua bener nyesel banget, gua sengaja nunggu sampai hari ini biar lu cooling down dulu, please kasih gua kesempatan sekali lagi”
“Emm, ya dah lu dateng kesini aja jam empat sore, gua ada kuliah sekarang” jawabnya lalu menutup pembicaraan.
Sorenya jam setengah empatan Joane memanggil Mumun ke kamarnya. Tentu saja anak itu senang sekali, apalagi Joane mengajaknya mandi bareng. Ia menyuruh Mumun masuk duluan ke kamar mandi dan menyalakan air hangat, tak lama kemudian ia menyusul ke dalam. Mata Mumun seperti mau copot melihat Joane yang masuk sudah dalam keadaan bugil, penisnya tambah mengeras melihat keindahan di depan matanya itu. Ia memeluk anak itu dibawah siraman shower yang membasahi tubuh keduanya, lalu menundukan kepala memagut bibirnya. Mereka berciuman beberapa saat sampai Joane menurunkan tubuhnya hingga berlutut di depan anak itu. Diraihnya penis yang telah menegang itu dan dikulumnya. Mumun melenguh dan wajahnya mendongak ke atas menggeleng-geleng karena merasa geli penisnya dipermainkan Joane dengan kuluman dan kocokan.
Lima menit kemudian, Joane melepas penis Mumun yang sudah mencapai ketegangan maksimal. Ia berdiri membelakangi anak itu dengan menunggingkan pantat dan menyandarkan tangan ke tembok. Dibimbingnya penis anak itu ke arah vaginanya, setelah tepat sasaran disuruhnya dia mendorong pinggulnya hingga penis itu memasuki vaginanya. Mumun harus sedikit berjinjit karena kaki Joane lebih panjang dari kakinya.
“Hhhshhh…entot aku Mun, entot sepuasmu !” desah Joane menikmati sodokan demi sodokan penis Mumun.
Sambil menggenjot, tangan Mumun menjelajahi lekuk-lekuk tubuh gadis itu, payudara yang menggantung itu diremas-remasnya dengan gemas. Joane turut menggerakan pinggulnya meyambut genjotan anak itu. Sepuluh menit lamanya mereka bersenggama dalam posisi demikian hingga keduanya orgasme dalam waktu bersamaan. Mumun menekan dalam-dalam penisnya yang menyemburkan sperma sambil melenguh panjang, demikian juga Joane yang tak mampu menahan desahannya dan matanya membeliak-beliak. Setelah mencapai orgasme Joane tersenyum pada anak itu dan menciumnya di bibir. Diambilnya sabun dan digosokannya ke tubuh kurus itu. Wajahnya masih malu-malu ketika tangan halus Joane dan sabun itu membelai tubuhnya, tapi yang jelas penisnya tampak tegang terutama ketika Joane menyabuninya, dengan nakal gadis itu sengaja mengocoknya pelan sehingga anak itu sedikit mendesah.
“Sini Mun sekarang kamu yang sabuni aku yah !” ujarnya seraya menyerahkan sabun.
Mumun mulai menyabuni tubuh Joane dengan tangan bergetar. Ketika sampai di vaginanya, Joane memegang lengannya dan mengeluskannya disana. ‘Emmmhhh !” desisnya sambil memejamkan mata. Ia memeluk anak itu dan menggeser tubuh ke bawah shower sehingga air menyiram dan membilas busa sabun di tubuh mereka. Mumun mengelus dan memasukkan jarinya ke vagina Joane sambil mengemut puting gadis itu. Joane terus mendesis menikmati jari-jari Mumun di vaginanya dan hisapan pada putingnya, air shower menyiram wajahnya yang menengadah dengan mata terpejam. Sedang larut-larutnya dalam birahi tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dan Yogi muncul di ambang pintu, ia tercengang melihat pacarnya yang sedang bugil di bawah siraman shower sedang memeluk bujang kostnya yang umurnya jauh dibawahnya dan sedang mengenyot payudaranya.
“Jo ! heh…anjing lo, berani-beraninya !” bentak Yogi pada anak itu dan melangkah ke anak itu hendak menghajarnya.
Mumun yang terkejut langung melepas pelukannya dan sembunyi ke belakang tubuh Joane. Joane sendiri tidak nampak terkejut ketika Yogi muncul mendadak karena itu memang sesuai yang diharapkannya, sebelumnya ia telah mengirim SMS padanya yang berisi, ‘gua tunggu di kmr mndi yah yang, pintu kamar ga gua kunci kok, u lgsg msk aja’
Joane mematikan air dan menghalangi Yogi yang hendak menangkap Mumun dengan tubuhnya.
“Hei…hei kenapa sih lo, kesurupan yah, kalau berani jangan beraninya ke anak kecil dong heh !” kata Joane dengan ketus sambil mendorong dada pemuda itu.
“Minggir Jo…kurang ajar bener si tuyul itu, minggir biar gua hajar !” katanya dengan emosian.
“Kok lu nyalahin dia sih, orang gua yang mau kok” kata Joane santai sambil mengelap tubuhnya dengan handuk.
“Apa ? lu ini…apa-apaan sih maksudnya ? jadi lu ada main sama si tuyul sialan itu ?” tanya Yogi dengan suara bergetar seolah tak percaya pendengarannya
“Iya emang, so what gitu loh, apa peduli lu, cuma gitu aja kan ?” ia melilitkan handuk ke tubuhnya dengan sikap cuek, “sekarang lu tau kan perasaan gua waktu lu boongin gua bilang ada urusan bisnis terus gua liat lu ciuman sama cewek lain !”
Yogi langsung terpaku, ia sadar ini adalah pembalasan atas perselingkuhan yang dilakukannya, namun bagaimanapun ia tidak terima Joane membalasnya dengan cara demikian.
“Lu…lu…dasar perek, emang udah aslinya perek, lu juga sama aja belum berobah !” maki Yogi sambil menunding Joane.
“Iya, emang, gua tau gua seperti apa, lu juga udah tau kan, tapi seenggaknya gua ga pernah main belakang kaya lu tau !” balasnya sengit.
“Hhiiihh !” Yogi gregetan mengangkat tangan hendak menampar Joane.
“Kenapa ? mau nabok ? ayo…tabok aja kalau berani, biar heboh orang diluar sana tau, biar mereka tau lu tuh banci, ayo !” tantang Joane sambil memberi pipinya.
Joane melangkah maju menantangnya sementara Yogi hanya bisa mundur-mundur tak kuasa menggerakan tangannya ataupun berkata apapun lagi. Ia hanya bisa membalikan badan dan mendengus kesal.
“Tunggu dulu” sahut Joane ketika pria itu hendak melangkah ke pintu, “Ini nih, gua gak butuh ini lagi, kasih aja ke perek lu itu !” ia melepaskan cincin emas putih yang diberikan Yogi ketika menyatakan cintanya dan melemparnya ke kaki pria itu.
Yogi meneruskan langkahnya dan membuka pintu tanpa menengok ke belakang, setelah di luar ia membanting pintu itu agak keras. Sepeninggal Yogi, Joane menengok ke kamar mandi di belakangnya, Mumun masih meringkuk di sudut kamar mandi, ia nampak bingung melihat cekcok barusan. Ia mendekati Mumun namun ketika baru mau berjongkok dan menenangkannya pintu kamarnya ada yang mengetuk.
“Tunggu disitu yah ! jangan keluar dulu !” katanya lembut.
Ia menutup kamar mandi dan membukakan pintu untuk dua teman kostnya yang kebetulan dekat situ dan mendengar suara perang mulut di dalam dan melihat Yogi keluar sambil membanting pintu.
“Jo….kenapa tadi ? lu gapapa kan ?” tanya seorang gadis kurus berkacamata.
“Nggak, biasalah urusan cowok cewek, yah gitulah cape deh !” katanya menghela nafas.
Setelah berbasa-basi dan meyakinkan mereka segalanya baik-baik, iapun kembali menutup pintu.
Joane kembali pada Mumun di kamar mandi, ia memegang bahu anak itu untuk menengangkannya. Mumun tersenyum terpaksa membalas pandangan mata Joane.
“Maaf yah Mun barusan itu !” ucapnya lembut lalu mengecup ringan pipi Mumun.
Ia menyuruh anak itu segera berpakaian dan menunggu sebentar di kamarnya sampai di depan agak sepi sehingga bisa keluar. Mumun tidak berani bertanya apa-apa mengenai kejadian tadi pada Joane, demikian pula Joane ia nampaknya cuek saja merokok sambil sesekali memantau situasi di luar dari celah tirai. Mumun keluar meninggalkan kamar itu setelah disuruh Joane yang yakin situasi di luar sepi. Joane menyalakan CD-playernya dan menjatuhkan diri ke ranjang. Walau agak sedih karena sendiri lagi, secara keseluruhan ia merasa kelegaan dalam hatinya, lepas sudah beban pikirannya. Malam itu Joane menepikan mobilnya sejenak di tepi sebuah jembatan. Dari sana ia melempar jauh-jauh cincin dari bekas pacarnya itu hingga benda itu menghilang di tengah luasnya laut. Devi memandang Joane dan mengelus-elus punggungnya, ia mengerti perasaan sahabatnya itu dan berusaha menghiburnya. Seminggu kemudian, setelah melunasi tagihan bulanan, Joane mengepak barang-barangnya untuk pindah ke kost baru. Sebelum pindah ia berkata pada Mumun yang membantu membereskan barangnya.
“Makasih yah Mun, sori kalau selama ini ngerepotin kamu, jangan lupain yang pernah kita pelajari yah”
Mumun merasa kesepian setelah Joane pindah dari kost itu, ia tidak mana kemana gadis itu pindah karena Joane tidak mengatakannya, namun ia tidak akan melupakan pengalaman yang didapatnya dari gadis itu, pengalaman itu menjadi kesan tersendiri dalam kehidupannya.
###########################
Slut, Bitch, or Angel?
Neraka bukanlah di sana atau di sini,
Melainkan di tubuh dan batin kita sendiri.
Hasrat yang tiada terpuaskan,
Itulah yang mengobarkan bara nafsu,
Yang membakar tubuh dan batin kita.
Kata-kata bijak dari Sang Budha di atas hendaklah mengingatkan kita, bahwa jika engkau mengijinkan nafsu mengendalikan dirimu, maka engkau akan terseret olehnya hingga sulit kembali, engkau akan terperangkap dalam sesuatu yang tiada pernah terpuaskan. Tiga bulan setelah menjadi budak seks Imron, kehidupan Syeni (baca Nightmare Campus 12: My Guilty Pleasure) banyak mengalami perubahan besar, terutama sejak diputus oleh pacarnya dengan cara yang menyakitkan. Imron memang telah sukses menggali hasrat liar dalam diri gadis berusia 23 tahun itu sehingga libidonya semakin tidak terkendali dari hari ke hari. Bagi Syeni, seks adalah pelarian dari hatinya yang hancur yang ia lampiaskan pada macam-macam orang dengan berbagai cara. Ia semakin menikmati tugasnya sebagai budak seks Imron dan teman-temannya yang dari golongan bawah, sementara pada golongan atas ia menjual tubuhnya. Dalam waktu singkat, ia sudah dikenal di antara para eksekutif muda dan om-om hidung belang yang berkantong tebal sebagai salah satu wanita panggilan termahal dengan service yang memuaskan. Hari itu, jam duaan, Syeni sedang melewati waktu luangnya, memang jadwal kuliahnya sudah sangat santai karena ia sedang mengerjakan skripsi, ke kampus pun paling hanya untuk mencari bahan referensi atau menemui dosen pembimbingnya. Ia berbaring menyamping di sofa ruang tengah sambil menonton film serial drama Korea dari DVD, di meja depannya telah tersedia snack dan air minum. Tubuhnya saat itu dibungkus kaos hitam lengan pendek dan celana pendek yang memperlihatkan sepasang kakinya yang jenjang dan putih mulus.
Syeni
Syeni
“Cinta?? Huh…emang kenyataannya seindah itu?” pertanyaan sinis terlintas di benak gadis itu
Adegan romantis di film itu membuatnya iri dan juga sinis karena dalam kehidupan cintanya, ia tidak mendapatkan cinta yang sebenarnya. Dicampakkan pria yang pernah dicintainya yang memakinya sebagai ‘lonte’ hingga akhirnya terjerumus dalam lembah kelam sebagai budak seks dan wanita panggilan. Aahh…tak pernah terpikir olehnya kalau hidupnya akan berubah seperti ini. Tiba-tiba mengalun nada musik dari bel pertanda ada tamu.
“Ya….siapa?” tanya gadis itu melalui alat dekat pintunya.
“Tukang ledeng, mau betulin pipa!” jawab suara di sana.
“Ohhh…ok silakan naik!”
Ia teringat dengan saluran air di apartemennya yang bermasalah sehingga air yang mengalir ke kamar mandi terganggu. Ia memberikan akses masuk pada orang yang hendak memperbaiki saluran air di kamarnya itu. Tidak lama kemudian terdengar ketukan di pintu depan. Syeni pun segera membukakan pintu untuk orang itu.
Dua orang pria berdiri di ambang pintu, yang satu pria setengah baya berumur awal 50an, berbadan tegap dan memiliki kumis yang menambah sangar wajahnya, pria ini bernama Sobri. Sedangkan yang satunya menenteng sebuah kotak perkakas, bertubuh kurus tinggi dengan tampang seperti Petruk, berusia 40an dengan gigi agak ompong, namanya Djafar. Syeni langsung mempersilahkan mereka masuk. Ia menyadari kedua pria itu sejak awal telah menatap kagum pada kecantikannya dan keindahan tubuhnya yang dibungkus pakaian rumah yang minim itu. Mereka tidak bisa tidak menelan ludah membayangkan yang jorok-jorok.
“Masalahnya gimana Non?” tanya Sobri sambil matanya jelalatan mengamati tubuh Syeni.
Syeni pun menjelaskan masalah yang terjadi sambil mengantarkan mereka ke ruang kecil yang memang berfungsi untuk penempatan saluran air dan water heater. Tanpa buang waktu lagi, Sobri dan Djafar pun melaksanakan tugas mereka. Sementara Syeni ke dapur untuk menyiapkan minuman untuk kedua tukang ledeng tersebut.
“Semanget gua kerja kalau kaya gini Far!” kata Sobri sambil tangannya tetap bekerja.
“Nape…gara-gara ada yang bening-bening? Hehehe” sahut Djafar dengan suara dipelankan.
“Ssstt..janga keras-keras ntar kedengeran, emang cakep banget sih tapi ya kita Cuma bisa ngiler aja…kunci dong!!”
Djafar memberikan kunci inggris dari kotak perkakas pada temannya. Di dapur sana, entah dari mana, dalam diri Syeni terlintas sebuah ide sensual. Bagaimana kalau hari ini ia menggoda mereka untuk bercinta, di sini, di kamar apartemennya sendiri. Ia membatin, sungguh ia telah menjadi pribadi yang sangat berbeda dari yang dulu, nafsu liar dalam dirinya semakin mendominasinya sehingga menjadi seperti sekarang ini. Tangannya meremas payudaranya sendiri dari luar kaosnya, benaknya sedang dipenuhi lamunan erotis bagaimana kedua tukang ledeng itu menggerayangi tubuhnya, menjilat dan menyetubuhinya sepuas mereka. Ia sampai tidak sadar air yang dituangkannya ke gelas sampai meluap dan ia segera merapikannya. Sesungguhnya:
Birahi, adalah hamba yang menyenangkan, namun tuan yang mengerikan
“Bagaimana Pak? Parah rusaknya?” tanya Syeni ke belakang dulu melihat kerja mereka, kelihatan ia masih gelisah dan nafasnya memburu karena lamunan erotis tadi.
Ia menghampiri mereka dan memperhatikan keduanya bekerja. Djafar yang jongkok di sebelahnya kebagian pemandangan indah berupa belahan dada Syeni yang terlihat jelas, bahkan ia bisa melihat bentuk payudaranya yang sedang itu.
“Ga apa-apa Non, Cuma ada pipa karatan aja, udah lama, makannya airnya suka mampet” sahut Sobri sambil mengencangkan baut mur.
“Hhhmmm…gitu ya, syukur deh pak kalau gitu” kata Syeni lalu ia kembali ke ruang tengah.
“Wuih, dahsyat!” kata Djafar setelah Syeni pergi.
“Apa…apaan?” tanya Sobri penasaran.
“Penampakan tuh tadi, dahsyat banget!”
“Penampakan apa sih? Ada tuyul emang?” Sobri menepuk lengan temannya itu
“Itu si Non, tadi nunduk sampe keliatan tokednya, edan putih mulus! Pengen ngeremes rasanya!” kata Djafar menggerak-gerakkan jarinya dengan wajah mesum.
“Yeee…ada barang bagus kok ga bilang-bilang lo!?” kata Sobri sewot tapi tetap menahan suaranya
“Lho situ yang lagi sibuk kan heehe…!”
Hasrat Syeni semakin bergelora ketika mencium bau keringat kedua tukang ledeng itu di ruang kecil tadi. Jantungnya berdegup semakin keras dan tubuhnya gemetar, sejenis gemetar yang nikmat. Obsesinya selama ini, yang kemudian dipicu oleh pertemuannya dengani Imron, si penjaga kampus bejat itu, benar-benar mematangkan hasrat libidonya. Mereka agaknya tidak lama lagi segera menyelesaikan pekerjaan mereka. Syeni segera mencari akal bagaimana caranya mewujudkan obsesinya. Akhirnya ia menuju ke kamar mandi dan membuka pakaiannya hingga tidak ada tersisa di tubuhnya. Kemudian diambilnya handuk berwarna kuning bergaris-garis orange yang tergantung di tempatnya untuk melilit tubuh telanjangnya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, buru-buru ia ke kamarnya yang tepat di sebelah kamar mandi itu dan mengangkat telepon. Selama kurang lebih sepuluh menit ia mengobrol dengan temannya yang sama sama sedang skripsi dengannya hingga akhirnya terdengar suara Sobri memanggilnya dari luar sana.
“Non!! Non!! Ini udah beres!”
“Ohh…iya Pak, sebentar ya!!” Syeni menyahut dari kamar, “Eh….Da, udah dulu ya, lagi ada tukang benerin saluran air di tempat gua”
Setelah menutup ponselnya, ia menghela nafas panjang bersiap untuk keluar menemui mereka hanya dengan berbalut selembar handuk yang hanya menutupi dari bawah ketiak hingga sejengkal dari pangkal paha. Seperti yang diduga, Sobri dan Djafar terbengong melihat Syeni keluar dari kamar dengan hanya selembar handuk.
“Udah selesai ya Pak? Mari silakan diminum dulu!” Syeni bersikap sangat biasa seraya menawarkan baki yang di atasnya terdapat dua gelas sirup dingin yang disiapkannya tadi.
“Ehehe….makasih Non. Ada apa nih kok cuma pake handuk gitu Non?” sahutnya sambil terheran-heran melihat Syeni yang begitu seksi.
“Abis ini mau langsung mandi soalnya, airnya bener dah lancar lagi kan?”
Mereka menatap dirinya tanpa berkedip sedikit pun, bahkan ketika meminum air dari gelas pun mata mereka tidak pernah lepas darinya.
“Aahh…panas juga di sini ya Non” keluh Sobri pura-pura mencari alasan sambil mengipas-ngipas kerah bajunya.
“Apa AC-nya masih kurang dingin?” tanya Syeni pura-pura tidak mengerti
“Bukan AC sih Non, tapi ngeliat Non seksi gini saya yang jadi panas hehehe!” Sobri makin berani menggoda gadis itu melihat reaksinya.
Syeni hanya tersenyum seraya berkata, “Ah si bapak bisa aja, saya baru pake handuk aja udah genit, apalagi kalau gak pake apa-apa?”
“Emang boleh Non kita liatin Non gak pake apa-apa?” timpal Djafar makin antusias dan bernafsu.
“Hihihi…saya tau Bapak-bapak dari tadi udah pengen…jadi…tunggu apa lagi?”
Tiba-tiba Djafar meletakkan gelasnya dan berjalan ke arah Syeni diikuti oleh Sobri. Tentu saja Syeni merasa tegang tapi dia berusaha tenang. Kini mereka bertiga berdiri berhadap-hadapan, terpisah beberapa sentimeter satu sama lain. Jantung gadis itu berdetak kencang, ia tahu kedua pria itu telah mencaplok umpan yang dilemparkannya. Tatapan mereka berdua sudah dipenuhi nafsu, kelihatan sekali bahwa mereka berdua akan segera menggarapnya habis-habisan. Ia balas menatap mata mereka dengan ekspresi menggoda dan menantang. Kemudian ia gerakkan tangannya ke arah lipatan handuk di dadanya. Sekali tarik saja lepaslah lipatan itu dan handuk itu jatuh ke lantai sehingga terpampanglah tubuh telanjangnya yang indah di depan kedua tukang ledeng itu. Mereka terhenyak menyaksikannya.
“Wow… aje gile mulusnya!!” sahut Djafar menelan liur
Tanpa buang waktu lagi tangan pria itu meraba payudara Syeni dan langsung melumat bibirnya. Sementara Sobri berjongkok di hadapannya dan merenggangkan kakinya, lidahnya mulai menjilat dengan rakus vagina yang ditumbuhi bulu-bulu yang dicukur rapi itu. Mata Syeni terpejam dan mulutnya mendesah tertahan menikmati kedua bibirnya dicumbui mereka. Setelah beberapa saat berciuman, Djafar mulai mencium leher gadis itu sambil mendesah-desah merasakan kenikmatan, selain itu tangannya juga merambat meremas-remas payudara kiri Syeni dengan liar dan ganas.
“Di sofa aja Pak, lebar, empuk lagi, masa berdiri gini?” ajak Syeni setelah Djafar melepaskan pagutan dari mulutnya
Mereka pun memapah tubuh telanjangnya ke sofa dekat situ lalu membaringkannya.
“Hehehe…gua paling suka amoy kaya gini, bodi bahenol, wajahnya juga ayu banget kaya di film-film Hongkong. Gak nyangka, kesampean juga bisa main ama amoy!” komentar Sobri sambil membuka bajunya, penisnya yang sejak tadi terasa sesak di dalam celana panjangnya, menuntut untuk dikeluarkan.
Batang kemaluan itu mengacung tegak begitu dikeluarkan, lumayan panjang dan berurat di pinggirannya membuat Syeni terhenyak mengamatinya.
“Tul tuh…cewek amoy memang yang paling top deh. Lihat saja kulitnya, kayak porcelin. Gue pasti bakal ketagihan ama ini cewek,” tambah Djafar sambil menjlati bibirnya.
“Ayo Non, sedot kontol abang dulu. Pengen tau enaknya disepongin amoy cantik,” perintah Djafar sambil mengarahkan penisnya yang sudah ereksi ke wajah gadis itu.
“Siapa takut?” Syeni tak menolak sedikitpun karena dia memang sudah horny berat.
Sobri
Sobri
Setelah menggenggam penis itu sambil berbaring menyamping, ia segera mengeluarkan jurus-jurus oralnya. Lidahnya menari-nari dengan lincah di penis pria itu, menyapu setiap centi permukaan batang itu. Penis Djafar memang lumayan besar, ujungnya bersunat, yang paling seksi adalah lubang kencingnya. Lubang itu selalu saja menganga sedikit, seakan menggoda untuk disedot. Tanpa merasa jijik, Syeni memainkan lubang itu dengan lidahnya. Djafar dibuatnya merem-melek sambil meracau menikmati betapa dahsyatnya lidah gadis itu “menyiksa” lubang penisnya. Bagi yang tidak biasa, lubang penis mungkin akan terasa sedikit perih jika dimainkan. Tapi dengan kemahirannya dalam melakukan oral seks, Syeni malah membuat pria itu melenguh-lenguh kenikmatan. SLURP! SLURP! begitu bunyi lidah Syeni yang tak henti-hentinya menjilati penis Djafar. Selama itu Sobri tidak tinggal diam, pria berkumis itu menggerayangi dan mencumbui tubuh Syeni, kini mulutnya tengah mencium dan menjilati bongakahan pantat gadis itu yang bulat sempurna sambil tangannya mengelusi vaginanya. Buah dada Syeni yang putih mulus itupun tak lepas dari remasan Sobri. Diremasnya payudara indah itu dengan penuh nafsu oleh tukang ledeng itu dari belakang sembari terus menjilati tubuhnya.
“HHhhhmmm…sedap, mulus dan wangi badannya Non, saya suka yang seger-seger gini!” sahut Sobri .
“Nyepongnya juga asyik nih, aaahhh…ueeenaakk…terus Non, yah disitu isep!” timpal Djafar lalu memaju-mundurkan penisnya di dalam rongga mulut Syeni dengan lebih cepat sampai nyaris saja gadis itu tersedak
“Akhhh…jilat disitu enak Pak…mmmhhhh…yah…disitu…jilat di bagian itu….akhhh…terus…Pak!” desah Syeni ketika lidah Sobri mengobrak-abrik liang kemaluannya.
Syeni mendesis tak karuan menahan rasa geli campur nikmat dari jilatan pria itu terutama ketika kumis tebalnya menyapu bibir vaginanya yang sensitif. Cairan kewanitaannya semakin banyak yang keluar dan meluber keluar sehingga membasahi kulit sofa di ruangan itu dengan tetesannya. Sobri mengintensifkan serangannya dengan memasukkan dua jadinya dan mengobok-obok liang kewanitaannya sehingga Syeni semakin melenguh merasakan kenikmatan, tangannya semakin cepat mengocok penis Djafar yang digenggamnya. Beberapa detik kemudian tubuhnya menggelinjang hebat, Syeni akhirnya mencapai orgasme saat itu. Puas menjilat, Sobri kini menyedot vagina Syeni yang sudah banjir. Seperti vacum cleaner, pria itu menyedot cairan vagina gadis itu. SLURP! SLURP! Syeni menggeliat-geliat merasakan sensasi nikmat hisapan Sobri pada vaginanya.
“Aarrgghh.. Oohh…eeempphhh!” erangannya terhambat karena Djafar yang semakin birahi menjenggut rambutnya dan kembali menjejalkan penisnya ke dalam mulut Syeni sedalam-dalamnya, “aarrgghh.. Oohh yeaah…sedot Non.. Aahh.. Yyaa.. Jilatin kontol gue.. Aahh… Loe suka kan? Aahh!!”
Tidak sampai lima menit kemudian tiba-tiba Djafar menarik kepala seraya berkata,”Udahan dulu Non, kalo diterusin, bapak bisa KO duluan.”
“Bri…gua duluan yah, udah ngebet nih, ampir aja keluar tadi saking enaknya!” pinta pria ompong itu pada temannya.
“Okeh, gua juga pengen rasain dulu mulut si Non!” jawab Sobri mengiyakan
Syeni menggeser posisi berbaringnya agar nyaman, ia menaruh kepalanya pada sandaran lengan sambil berbaring telentang. Tangannya meraih penis Sobri yang berdiri di depan wajahnya dan mulai mengocok pelan penis itu. Melihat Djafar sudah mengambil ancang-ancang untuk menyetubuhi Syeni, Sobri makin bergairah apalagi saat itu Syeni sudah mulai menjilati kepala penisnya lalu memasukkan benda itu ke mulutnya. Kehangatan mulut Syeni dan permainan lidahnya sungguh memanjakan Sobri.
“Aahh…udah becek banget, anget mantep!” sahut Djafar menggesek-gesekkan penisnya pada bibir vagina Syeni untuk melumuri kepala penisnya dengan cairan kewanitaan gadis itu, agar lebih terangsang, pria itu membelai-belai payudara Syeni.
“Oohh.. Oohh…sedap Non!” desah Toni menikmati kuluman Syeni pada penisnya
“Aahh…siap ya Non, abang coblos nih sekarang!” celoteh Djafar saat menekan kepala penisnya ke lubang vagina Syeni, tanpa menunggu lebih lama lubang itu ditekannya kuat-kuat dengan penisnya yang sudah dilumasi lendir gadis itu sampai amblas.
“Aarrgghh!!” jerit Syeni menahan nyeri karena Djafar melakukannya agak kasar.
Selama beberapa menit, Djafar berjuang untuk mendorong penisnya yang baru masuk setengah agar semakin dalam sedikit demi sedikit. Kenikmatan tergambar jelas di guratan wajahnya yang amburadul. Dengan segenap tenaga pria itu melakukan sodokan untuk mempenetrasi vagina Syeni yang peret itu.
“NNnngghhh…eeeemmm!!” erangan Syeni tertahan oleh penis Sobri yang memenuhi mulutnya, matanya membelakak namun berangsur-angsur kembali sayu seiring kenikmatan yang menjalari tubuhnya..
“Memeknya masih seret banget Non, enak….dah pernah dientotin sapa aja nih?” tanya Djafar pada Syeni di antara pompaan penisnya yang sekarang sudah menancap penuh pada liang senggama gadis itu.
Syeni terus mengulum penis Sobri tanpa menghiraukan pertanyaan Djafar. Pria itu juga terus menggenjot vaginanya
“Ohh Non, uennaakk sekali memekmu…oh,” Djafar menyetubuhi Syeni dengan irama yang cepat dan tetap, dan Syeni juga mengimbangi gerakannya sambil melakukan oral seks.
Kini gadis cantik itu total melayani kebutuhan seks kedua tukang ledeng tersebut sekaligus memuaskan hasratnya yang menggebu-gebu.
“Non udah punya pacar belum Non, pasti sama pacarnya juga ngentot tiap hari ya?” tanya Djafar sambil terus menyodokkan batang kejantanannya semakin cepat ke liang vagina Syeni.
Mendengar pertanyaan itu, Syeni melepaskan penis Sobri lalu menengok ke arah Djafar dengan ekspresi setengah marah
“Tolong ya Pak jangan sebut-sebut pacar lagi….aahhhh…itu bukan urusan Bapak” sahutnya sambil terus mendesah sesekali mengaduh saat Djafar mempercepat sodokannya. “Jangan sampe saya kehilangan mood…ngerti…aaakkhhh!” ucapannya terhenti ketika kepala penis Djafar menghantam bagian dalam vaginanya yang merupakan G-spot sampai tubuh gadis itu menggelinjang.
“Iyah…iyah….maaf Non kalau abang menyinggung…yang penting sekarang kita ngentot dulu sampe puas…uuuhh!” sahut Djafar meminta maaf, ia tidak ingin mengungkit hal itu lebih jauh karena tak rela bila sampai gadis ini kehilangan mood dan mengusirnya.
“Hehehe…si Non tambah cakep aja biar lagi marah juga, yuk lanjut dong nyepongnya!” kata Sobri.
Tanpa diminta lagi, Syeni pun kembali memasukkan penis dalam genggamannya itu ke mulutnya dan kembali memainkannya dengan lidah dan hisapannya.
“Wwwaahh…enak banget…lobang memek amoy… Aahh…mana orangnya ayu banget lagi.. Aduh enaknya!!” ceracau Djafar terus menggenjot, kedua betis gadis itu ia naikkan ke bahunya.
Tubuh mereka mulai bersimbah keringat, Djafar menggenjot vagina Syeni sementara Syeni sendiri mengoral penis Sobri. Ritme genjotan Djafar semakin cepat dan bertenaga sehingga tubuh Syeni terguncang-guncang terutama sepasang gunung kembarnya, kedua pria itu tentu tak bisa tidak menggerayanginya. Seiring dengan semakin cepatnya sodokan pria itu, Syeni pun menjadi semakin lepas kontrol. Ia begitu larut menikmati permainan seks interacial itu. Wajah cantiknya bercampur dengan raut muka terangsang yang membuatnya terlihat sangat seksi. Syeni pun mencapai orgasmenya di tengah genjotan Djafar yang makin liar, tubuhnya menggelinjang dahsyat dan mulutnya mengeluarkan desahan nikmat sejadi-jadinya.
“Uuuhhh…keluar abang, Nonn!!” seru Djafar sembari menyemburkan seluruh cairan spermanya di dalam liang kemaluan Syeni.
Sperma yang dikeluarkan oleh pria ompong itu sangat banyak sehingga saat batang kemaluannya dicabut dari liang kewanitaan Syeni mengalirlah keluar cairan putih kental yang sangat banyak bercampur dengan cairan orgasme gadis itu. Bibir vagina Syeni pun tampak memerah akibat benturan dan gesekan keras batang penis Djafar. Dengan kemampuannya mendapatkan orgame beruntun/ multi orgasme, Syeni tidak membutuhkan istirahat lama-lama.
Djafar
Djafar
Setelah Djafar menarik lepas penisnya dan ambruk kelelahan, Syeni menarik lengan Sobri yang disuruhnya duduk di sofa, ia sendiri lalu naik ke pangkuan pria itu berhadapan dengann, tangannya mengganggam penis yang masih tegang itu dan menempelkannya di bibir vaginanya yang sudah becek dan menganga tersebut.
“Akhh…Pak…puasin aku yah Pak…” desah Syeni saat menurunkan tubuhnya sambil memeluk tubuh kekar pria itu.
Memang sejak tadi ia sudah banyak berharap Sobri akan mampu memberinya kenikmatan yang lebih dahsyat dibanding rekannya yang kurus itu. Mata Syeni semakin sayu karena menahan gejolak nafsu yang terpendam. Ia semakin menurunkan tubuhnya di atas penis pria itu sehingga membuat batang penis yang telah siap di depan bibir vagina gadis itu menusuk masuk ke dalam liang vaginanya sedikit demi sedikit namun pasti. Bibir vaginanya terbelah makin lebar saat dilewati kepala penis pria itu hingga separuh tenggelam di dalam vaginanya. Payudaranya beserta putingnya dipilin, diremas dan dihisap oleh pria itu dengan sesekali lidahnya menyapu pelan ujung putingnya dengan gerakan melingkar.
“Pak…ohhh…udah masuk? Memekku sesak banget eeeenggghh!!” Syeni meracau lagi tak karuan kali ini tubuhnya menggelinjang hebat lalu menegang sembari tangan dan kakinya merangkul erat tubuhku.
“Udah Non tapi belum semua, enak ya Non, kontol Bapak gede” jawab Sobri sambil menekan tubuh gadis itu, “Bapak masukin lebih dalam ya Non?”
Syeni hanya mengangguk pelan menjawab pertanyaan pria itu barusan. Dan dalam beberapa hentakan ke atas akhirnya seluruh batang kemaluan Sobri berhasil masuk secara sempurna ke dalam liang senggama gadis itu.
“Aahhh…Pak…iyahh…aahh!” desah Syeni sambil naik turun merasakan liang kemaluannya disodok penis pria itu.
Sobri tersenyum kepadanya, “Bagaimana rasanya Non, mantap kan?” tanyanya sembari meremas-remas payudaranya yang indah itu.
Puting susu gadis itu sudah mengeras dan membesar dari ukuran normalnya dan buah dadanya yang putih itu sudah mulai memerah karena terangsang dan bukan hanya buah dadanya saja melainkan perut, leher, muka dan hampir seluruh bagian tubuhnya.
“Enak…sodok terus Pak…sshhh…terus jangan berenti…aahh!” desah Syeni lagi sembari menggoyangkan pantatnya perlahan.
“Non cantik banget, jago ngentot lagi!” kata Sobri kepada Syeni yang kemudian menjawabnya dengan pagutan panas ke bibir pria itu
Djafar yang baru memulihkan tenaganya tidak tahan hanya kebagian menonton saja. Maka dia pun mendekati mereka dan menggerayangi tubuh Syeni yang sedang berpelukan dengan Sobri.
“Eeemmhh” desah gadis itu menahan geli saat Sobri menjilat-jilat punggungnya yang mulus dan sudah mulai basah oleh keringat itu.
Tangan Djafar merayap ke depan meraih payudara kiri Syeni dan meremas-remasnya. Mulut Djafar kini mencupangi pundak dan leher gadis itu setelah menyibakkan rambut panjangnya ke sebelah. Tanda-tanda kemerahan bermunculan di sekujur tubuh Syeni, baik di dada, punggung, bahu dan leher.
“Kita main tigaan ya Pak!” kata Syeni menghentikan genjotan lalu berdiri hingga penis pria itu terlepas dari vaginanya
Kali ini tubuh Syeni membelakangi Sobri dan kembali duduk di pangkuan pria itu.
“Hehehe…si Non suka main belakan juga ya!” sahut Sobri kepada Syeni ketika gadis itu meraih penisnya dan mengarahkan ke lubang duburnya hingga tepat diatas ujung senjata Sobri
“Tapi pelan-pelan ya, jangan kasar!” kata Syeni memperingati
Dalam beberapa kali tarik dorong, batang kejantanan tukang ledeng itu akhirnya berhasil masuk ke dalam liang anus Syeni walaupun hanya bagian kepala penisnya saja.
“Hehehe…asyik nih main rame-rame sama cewek cantik lagi!” kata Djafar menyaksikan proses penetrasi itu ketika temannya menarik dengan keras pinggang Syeni hingga batang kejantanannya tenggelam seluruhnya ke dalam duburnya diiringi erangan panjang gadis itu.
“Uueedann…sempitnya…uuuhh!” desah Sobri sembari memompa anus Syeni dari bawah.
“Akhh…akhhh…sakit…akhhh….pelan…pelan…dong!” rintih Syeni di antara desahannya.
Mendengar protes Syeni, Sobri memelankan sodokannya dan sekarang lebih bervariasi karena diselingi gerakan memutar sementara dari mulutnya keluar ucapan-ucapan menggoda gadis itu yang membuatnya itu malu, risih tetapi juga membuatnya semakin bernafsu saja. Buktinya tak lama kemudian dia menyambut bibir Sobri yang menjelajahi tubuhnya dengan kecupan hangat.
“Ayo…Far!” ucap Sobri pada temannya sambil membuka lebar paha Syeni hingga bibir vaginanya terbuka lebar.
Tanpa buang waktu lagi, Djafar melesakkan batang kemaluannya menembus bibir vagina Syeni. Gadis itu mendesah pelan ketika merasakan bibir vaginanya kembali ditusuk oleh penis itu, ia merasakan di tubuhnya bercokol dua buah penis yang sedang mencari kenikmatan dengan membombardir kedua lubangnya dengan penuh gairah. Sesekali kepala kedua penis itu saling bertumbukkan karena dinding pemisah antara kedua lubang Syeni seolah tergencet sehingga seolah menjadi semakin tipis saja. Belum lagi jika kedua pria itu memompanya dengan irama yang sama saat menarik dan mendorong kejantanan mereka di liang vagina dan anusnya. Karena sudah biasa melakukan gangbang, Syeni dengan cepat sudah dapat menikmati threesome tersebut namun tetap saja terasa sakit dan perih di liang anusnya mengingat penis milik Sobri memang terbilang besar. Sekitar 10-15 menit kemudian Sobri merasakan kalau dia akan segera mencapai orgasmenya, lalu dia memompa dengan lebih cepat lagi dari sebelumnya. Melihat gelagat itu Djafar juga ikut mempercepat pompaanku ke dalam liang vagina gadis itu. Syeni terlihat sudah kewalahan karena dikeroyok dua pria secara bersamaan, namun ia masih tetap bertahan. Di tengah gempuran mereka, terngiang-ngiang kembali bagaimana dirinya yang tadinya hanya seorang gadis biasa dari keluarga baik-baik menjadi terjerumus dalam lembah nista seperti sekarang ini, rela merendahkan dirinya demi kepuasan seks. Ini semua gara-gara mantan kekasihnya yang tidak bertanggung jawab itu, juga gara-gara Imron si penjaga kampus bejat itu, atau gara-gara dirinya sendiri yang memilih menjadi seperti ini sebagai pelarian atas segalanya? pertanyaan seperti ini seringkali membuatnya gundah. Terlintas pula kenangan pada omanya yang telah meninggal dua tahun sebelumnya yang menganggapnya sebagai cucu kesayangannya, yang berharap ia masih bisa hidup untuk hadir dalam pernikahannya kelak bahkan sempat menggendong cicitnya. Harapan yang tidak pernah terpenuhi karena omanya sudah keburu meninggal dan entah apakah kelak masih akan terwujud mengingat kondisi dirinya yang sudah tercemar seperti sekarang ini. Tanpa disadarinya, dari matanya yang indah air mata meleleh membasahi wajahnya. Tangisnya sedikit mengganggu Djafar maka dia pun langsung mendaratkan sebuah ciuman maut pada bibir gadis itu. Dicium secara tiba-tiba Syeni tentu saja kaget dan buyar lamunannya. Nuraninya menyuruhnya untuk melepaskan diri dari ciuman yang najis itu namun apa daya sebab kini birahi lebih mendominasi. Lidah Djafar menyeruak masuk dan air liurnya tumpah ke dalam mulut Syeni. Sadar bahwa dirinya telah menjadi budak seks, Syeni pun akhirnya memasrahkan diri. Ia semakin membiarkan dirinya hanyut menikmati apa yang sedang dia rasakan. Sebuah puisi menjadi saksi,
Bunga yang tengah bersemi dengan segala keharumannya,
telah dicabuli tumbuhan rambat yang liar
Kemekaran yang lembut dengan segala putiknya,
telah didera hujan deras dan cipratan lumpur.
Betapa menyedihkan seorang gadis secantik bunga,
jatuh ke tangan orang yang salah.
Sungguh kepingan giok yang indah,
ternoda oleh kotoran yang menjijikan.
“Aarrgghh…ayo dong Pak sodok yang kencang…saya suka kontol kalian…puasin saya aaahhh!” erang Syeni tanpa malu-malu
“Hhohh.. Aarrgghh.. Gile, nih.. Aarrgghh.. Cewek ini doyan kontol ternyata.. Aarrgghh.. Oke deh.. abang bakal ngentotin lu.. Uugghh.. sampe menjerit minta ampun…uuuhhh….uuhhh!” sahut Djafar sambil menggenjot vagina Syeni makin bertenaga.
Keringat sudah membasahi sekujur tubuh ketiganya sehingga terlihat mengkilap. Suasana panas yang erotis begitu terasa di ruang tengah apartemen itu. Aroma persenggamaan terasa begitu tajam di sana.
“Aahh.. Ngentot! Aahh.. Rasakan kontol gue…perek…mampus lu!” penis Djafar dengan brutal mengobrak-abrik vagina Syeni.
Tak terelakkan lagi, Syeni pun semakin tak terkendali, belum lagi pompaan penis Sobri pada pantatnya dan gerayangan tangan mereka pada titik-titik sensitif di tubuhnya. Merasa sudah hampir klimaks, Djafar menarik lepas penisnya kemudian didekatkannya ke mulut gadis cantik itu.
“Isepin Non…ntar pejunya ditelen juga!” perintah Djafar membelai-belai rambut Syeni.
Dengan patuh, Syeni mengganggap penis yang sudah basah itu dan membuka mulutnya lebar-lebar.
“Gitu dong, sip!!” puji pria itu seraya mendorong penisnya masuk ke mulut Syeni.
Syeni mulai membersihkan penis yang telah belepotan cairan kewanitaannya sendiri itu. Rasanya agak asin dan terasa licin di lidah. Yang seperti ini bukanlah yang pertama atau kedua kali baginya sehingga ia sudah terbiasa dengan rasanya dan bahkan bisa dibilang sudah ketagihan. Satu-satunya cara agar precum bisa mengalir keluar adalah saat penis terangsang maksimal. Oleh karena itu, Syeni berusaha sekuatnya untuk merangsang penis Djafar. Dengan tekniknya yang sudah ahli, sambil naik turun perlahan di atas penis Sobri, Syeni menjilati seluruh bagian dari penis Djafar. Untuk menambah sensasi nikmat, ia juga tak lupa menyedot kepala penis itu agar sperma bisa tersedot keluar. SLURP! SLURP! SLURP! Demikian bunyi yang terdengar
“Aahh.. Oohh… Sedot terus, aahh..edan enaknya!” desah Djafar sambil meremasi rambut Syeni.
Cairan putih susu pun tercurah dari penis pria itu dan Syeni dengan rakus langsung melahapnya. Mm… dihisap dan dijilat bersih tanpa ada yang keluar dari mulutnya.
“Non, bapak keluar akhhh…akkhhh!!” seru Sobri yang sudah mencapai puncak sambil menyemprotkan seluruh cairan sperma yang sudah kutahan sejak beberapa menit tadi sehingga membasahi liang dubur Syeni.
Syeni hanya bisa menerima semprotan sperma itu dengan mendesah panjang dan mata merem melek karena dia sudah mencapai orgasmenya juga
Bersamaan kedua tukang ledeng itu mencabut penis mereka dari mulut dan pantat Syeni sehingga ia merasakan sensasi aneh karena tiba-tiba saja tubuh bawahnya yang sebelumnya penuh, tiba-tiba terasa kosong karena isinya menghilang. Beberapa detik kemudian terlihat dari pantat Syeni mengeluarkan sedikit cairan sperma kental dari dalamnya keluar dan membasahi selangkangan gadis itu mengalir menuruni pahanya yang putih mulus. Tubuh molek Syeni kini terbaring lemas di atas sofa. Buah dadanya terlihat naik turun mengikuti nafasnya yang tersenggal-senggal.
Kewanitaan Syeni masih terasa berdenyut-denyut, tubuhnya terasa melayang-layang. Dengan menggeser tubuhnya, ia menggapai tempat tissue yang terletak di atas meja kecil sebelah sofa itu. Dari sana ia mengeluarkan selembar tissue lalu dengan tissue itu ia seka selangkangannya yang belepotan. Setelahnya ia mengambil gelas dari mini bar dekat situ dan membuka kran dispenser hingga air mengalir ke gelas.
“Masih kuat Non?” tanya Djafar, “abang masih pengen nih!”
“Kita liat aja” jawab Syeni sambil duduk di sebelah Djafar
Tanpa malu-malu, ia meraih tangan pria itu dan meletakkannya di payudaranya lalu ia menciumi leher Djafar yang masih berkeringat. Pria kurus itu membalas perlakuan Syeni dengan menciumi rambut panjang gadis itu, dipeluknya tubuh mulus itu dan ditindihnya. Tidak itu saja, tangannya pun mulai menjelajah ke sana ke mari. Sekali waktu, tangan itu mengusap-usap payudara Syeni yang masih terasa sensitif, membuat gadis itu tertawa kegelian. Kadang, tangannya merayap ke bawah, menyelinap di antara kedua tubuh mereka, menggelitik selangkangan Syeni. Gadis itu menggeliat-menggelinjang, tetapi tak bisa melepaskan diri dari tindihan Djafar
“Si Nonn nafsunya gede banget ya hehehe” kata Sobri yang bersandar di sofa sambil meneguk minumannya.
“Iya nih gua suka yang kaya gini, seru!” sahut Djafar
Merasa kepala penisnya sudah bersentuhan dengan bibir vagina Syeni, Djafar menekan pinggulnya sehingga penisnya melesak masuk ke vagina gadis itu.
“Eeennggghhh!!” desah Syeni menerima hujaman benda itu pada vaginanya lagi.
Kali ini Djafar ingin berperan aktif sedangkan Syeni tinggal berdiam diri. Ia pun mulai menggerak-gerakkan pinggulnya menyetubuhi gadis itu.
“Oohh.. Enaknya..” desah Djafar dengan mata merem melek
Sambil berciuman dengan Syeni, Djafar memompa dengan penuh semangat. Syeni seringkali membelakakan mata saat penis pria itu menyodok terlalu keras. Namun, kenikmatan dari persetubuhan ini dapat mengalihkan rasa nyeri itu. Kedua kaki indah Syeni melingkari pinggang pria itu, terkadang menekannya seakan meminta ditusuk lebih dalam dan tidak boleh melepaskan tusukannya. Kedua tangannya juga memeluk tubuh si tukang ledeng sambil mulut mereka terus berpagutan, bermain-main lidah dan bertukar liur. Sungguh menggairahkan pergumulan interasial itu.
“Oohh.. Aahh.. Gue mau muncrat.. Oohh!!” erang Djafar.
Syeni memandang dengan penuh nafsu saat tubuh Djafar yang kurus dan sudah bermandikan keringat itu mulai mengejang-ngejang. Penis pria itu yang bersarang di dalam liang senggamanya terasa berdenyut-denyut hingga akhirnya memuntahkan lahar putih kentalnya.
“Aarrgghh!!” erang Djafar sambil menghujamkan penisnya dalam-dalam.
Syeni pun ikut berteriak karena pria itu meremas payudaranya dengan keras saat mencapai puncak. Siraman sperma hangatnya terasa memenuhi vagina gadis itu. Ccrroot!! Ccrroot!! Ccrroott!! Tukang ledeng itu terus-menerus melenguh sementara badannya berkelejotan di atas tubuh Syeni.
“Aarrggh!! ooohh!! Anjrit…enaknya!!” dengan desahan panjang, Djafar menarik penisnya keluar ketika tak ada lagi sperma yang dapat disemprotkan, penisnya nampak melemas dan menyusut.
Mereka akhirnya mulai berbenah diri setelah hampir dua jam menikmati threesome yang luar biasa tadi. Syeni kembali menutupi tubuhnya dengan handuk untuk mengantarkan mereka ke pintu.
“Kapan-kapan kita ngentot lagi ya Non, mau kan?” tanya Sobri antusias.
“Gak janji ya!” jawab Syeni seenaknya sambil menutup pintu hingga kedua tukang ledeng itu terbengong.
Setelah mengisi bathtub dengan air hangat dan menuangkan sabun secukupnya, Syeni membuka handuknya dan memasuki bathtub. Ia memejamkan mata menikmati kehangatan air yang menghilangkan rasa penat pada tubuhnya sambil merenungkan apa yang baru saja terjadi tadi.
#################################
Malam hari, pukul 19.30
Di sebuah hotel berbintang.
Koh Ayong
Koh Ayong
Debaran jantung Syeni semakin kencang ketika pria setengah baya itu menggandeng tangannya menuju kamarnya di lantai dua belas setelah sebelumnya menikmati makan malam di restoran hotel tersebut. Pria setengah baya berkacamata itu bernama Koh Ayong (54 tahun), pemilik beberapa pabrik tekstil yang sukses, ia telah membooking Syeni dan membayar tinggi untuk pelayanannya malam ini. Setelah pintu kamar dikunci dari dalam, Koh Ayong langsung merangkul tubuh gadis itu menuju ranjang. Ia mempersilakan gadis itu duduk di tepi ranjang dengan gentle, ditatapnya dengan tajam seluruh lekuk-lekuk tubuh gadis itu yang terbungkus gaun terusan berwarna ungu yang membuatnya nampak anggun dan seksi namun tidak murahan, pandangan mata pria itu menyapu dari ujung rambut sampai ujung kaki seolah-olah dia hendak menelannya hidup-hidup saat itu, atau mungkin saja dia kebingungan harus memulainya dari bagian yang mana. Tapi kemudian, pria itu berhenti menatapnya, ia berjalan ke arah meja dan membuka botol red wine lalu menuangkannya ke dalam dua gelas.
“Kamu bisa minum kan?” katanya seraya menyodorkan gelas pada Syeni
“Asal ga terlalu banyak aja om” jawab gadis itu tersenyum sambil menerima gelas itu dan menyambut toast dari pria tersebut.
Tak butuh waktu lama efek hangat minuman itu langsung terasa pada tubuh mereka, kehangatan yang nikmat dan menambah suasa erotis dalam situasi seperti itu. Koh Ayong yang duduk di sebelah Syeni merangkul pundaknya dan mendaratkan ciuman bibirnya ke bibir gadis itu, makin lama makin ganas karena terbakar nafsu. Koh Ayong memutar-mutar bibirnya yang menempel di bibir Syeni seiring dengan permainan lidahnya yang sungguh buas. Syeni sendiri memejamkan mata sambil terus berusaha mengimbangi permainan pria itu. Perlahan-lahan, Koh Ayong mulai menindih tubuhnya sehingga Syeni pun kini rebahan di ranjang dengan kaki masih menjuntai. Tangan pria itu pun mulai bergerak-gerak nakal sambil menggerayangi tubuh Syeni, terutama meremas-remas payudaranya dari balik gaun terusannya. Tak cukup puas dengan meremasnya dari luar, Koh Ayong pun mulai memeloroti pakaian itu, mula-mula tali pundak sebelah kiri dan kemudian membuka restleting punggung. Begitu terbuka, ia pun langsung memeloroti gaun itu hingga sebatas perut sehingga tereksposlah payudara Syeni yang tertutup bra putih tanpa tali pundak. Tidak mau hanya pasif, gadis itu pun mulai memelorotkan celana Koh Ayong dan menanggalkan kemejanya perlahan dengan gerakan erotis, disertai elusan pada dada, sampai pria itu setengah telanjang dengan hanya mengenakan CD dan singlet. Kemudian keduanya saling memagut bibir lagi. Kali ini bahkan tak hanya bibir, Koh Ayong mengerayangi leher dan dada gadis itu dengan lidahnya sambil tangannya mulai menggerayangi paha mulusnya terus menyusup masuk ke dalam roknya hingga menyentuh celana dalamnya dan merabainya.
Perlahan Syeni mendorong kepala Koh Ayong untuk bergerak makin turun ke dadanya dimana pria itu bermain-main dengan payudaranya, mengenyot dan menjilat seperti layaknya bayi besar. Syeni mendesah-desah untuk memancing gairah Koh Ayong agar tak sampai surut, di samping karena ia sendiri memang merasa geli. Setelah sepuluh menitan menyusu sambil tangannya terus bergerilya, mulut Koh Ayong mulai turun ke bawah dan sampailah di area kewanitaan Syeni. Tak tahan ingin segera menghisap vagina gadis itu, dengan penuh nafsu, pria itu memelorotkan celana dalam putih yang dipakai Syeni. Matanya nanar memandangi vagina yang ditumbuhi bulu-bulu halus dan tercukur rapi itu dan tanpa babibu lagi, ia pun membenamkan wajahnya ke selangkangan Syeni. Ia melumat vagina gadis itu sambil mengedap-ngedipkan matanya. Syeni mendesah pelan dan tubuhnya menggeliat karena ia sedang berada dalam puncak kenikmatannya. Setiap kali melakukan hubungan seks, Syeni selalu merasa ada kenikmatan yang baru yang kurasakan, permainan pria keturunan ini berbeda dengan kedua tukang ledeng tadi siang, masing-masing mempunyai keunikannya sendiri. Entahlah, ia tak pernah bosan dengan seks, selalu ingin mencoba bermacam-macam variasi sehingga kalau boleh dikata, ia ketagihan. Imron lah yang patut dipersalahkan karena dia lah yang telah menggali keluar hasrat gadis ini hingga tercurah keluar tanpa terkendali.
“Ach, teruskan om!” pintaku pada sang bos tekstil itu.
Koh Ayong tambah liar saja memainkan sang Miss V, wilayah sensitif itu dihisapnya dengan rakus, lidahnya terus mengais-ngais lubang kenikmatannya dan akhirnya bertemu dengan daging kecilnya yang sensitif yang dikenal dengan nama klitoris. Vagina Syeni semakin basah saja baik oleh liur pria itu maupun oleh cairan kewanitaannya sendiri sehingga menimbulkan bunyi seruputan karena hisapan Koh Ayong. Selang beberapa lama, Syeni merasa vaginanya sudah tak sabar lagi untuk segera menumpahkan cairannya. Sejak tadi memang sudah keluar cairan precum yang sudah dinikmati terlebih dahulu oleh Koh Ayong. Namun sebelum benar-benar keluar, Syeni mendorong kepala pria itu menjauh dari vaginanya.
“Om…tolong winenya minta dikit lagi, boleh?” pintanya
“Boleh…boleh, biar tambah hot ya?” sahut Koh Ayong sambil mengambil botol wine itu dan menuangkannya ke gelas Syeni, “kamu emang pinter ya, minum sambil ginian emang paling enak loh!”
“Di sini sebentar ya om, biar ga ngebasahin ranjang!” Syeni turun dari ranjang dan membuka gaun terusannya yang masih menyangkut di perutnya hingga tubuhnya polos, kemudian ia duduk bersimpuh di lantai beralas kayu itu.
Koh Ayong terpana melihat yang dilakukan Syeni, wine di gelas itu tidak diminumnya melainkan ditumpahkan ke dadanya sehingga cairan merah itu terus turun dan tertampung di selangkangannya.
“Ayo Om, cepet diminum!” ajaknya dengan suara mendesah
Tanpa diminta lagi, pria itu segera ikut duduk di lantai di hadapan gadis itu. Mula-mula ia menjilati wine yang melumuri payudara Syeni, jilatannya terus turun ke bawah hingga ke selangkangannya dimana wine itu tertampung. Sssslllrrp…ssrrrlllpp…suara seruputan terdengar nyaring. Rasa wine itu kini bercampur dengan rasa kewanitaan, begitu nikmat sampai cairan itu habis pun, Koh Ayong terus menjilati vagina Syeni. Hal ini menimbulkan sensasi luar biasa bagi gadis itu dari dinginnya wine dan hangatnya lidah pria itu. Ia membuka pahanya lebih lebar sehingga Koh Ayong lebih leluasa menjilati vaginanya. Hingga pada puncaknya, tiga semprotan sekali muncrat yang langsung dijilat tak bersisa oleh Koh Ayong. Ia bahkan menghisap sampai habis sisa-sisa cairan vagina bercampur wine yang tersisa di wilayah selangkangan gadis itu. Setelah itu Syeni kembali naik ke atas ranjang empuk itu sambil menggandeng lengan Koh Ayong. Ia naiki tubuh pria itu dengan gerakan erotis, tangannya yang halus menyusup ke balik kaos singlet pria itu dan mengelusnya, jarinya memencet putingnya dan memainkannya hingga pria itu mendesah keenakan oleh pelayanannya. Tatapan matanya yang sangat menggoda membuat setiap pria normal tidak tahan menatapnya, tidak terkecuali Koh Ayong ini.
“Om udah ga tahan nih Syen, sekarang aja ya, ok?” tanya Koh Ayong kemudian sambil mengelus tubuh mulus Syeni.
“Pelan-pelan aja om, kalau keluar sebelum dinikmati kan sayang” jawab gadis itu, “sekarang buka dulu yah om bajunya” lanjutnya sambil membuka singlet pria itu lalu celana dalamnya.
Penis pria itu sudah mengacung tegak begitu celana dalamnya dipeloroti, ukurannya standar saja sih, tapi cukup keras. Syeni mengocok sebentar benda itu lalu ia membuka mulut dan memasukkan benda itu ke sana.
“Aahh.. Enak banget.. Syen!!” racau Koh Ayong merasakan penisnya dioral Syeni.
Sesekali kepala penis pria itu bersentuhan dengan gigi Syeni, ia hanya bisa mengerang tapi sambil mengelus rambut panjang gadis itu. Dimulai dengan jepitan erat bibirnya pada kepala penis, rasanya sukar dilukiskan, terutama waktu bibir Syeni masih dalam jepitan erat bergerak turun menyentuh lingkaran helm senjata pria itu. Koh Ayong merasa mau keluar saat itu tapi ia berusaha menahannya susah payah. Sensasi yang timbul saat bibir Syeni makin turun menjalari batang penis Koh Ayong yang keras dan penuh urat. Dan saat jepitan erat bibir gadis itu turun ke arah pangkal paha Koh Ayong yang berbulu, kepala penisnya menyentuh daging halus dan lembut langit-langit tenggorokan gadis itu.
“Syen… aduh.. enak sekaliii…” Koh Ayong merintih perlahan
“Hhmmm…keliatannya om udah siap ya!” kata Syeni setelah beberapa saat mengoral penis pria itu, ia lalu naik ke penisnya.
Koh Ayong berbaring telentang di tengah ranjang menanti pelayanan Syeni berikutnya. Dengan satu tangan memegang penis pria itu dan satu tangan lagi membuka celah liang kewanitaannya sendiri, Syeni perlahan-lahan menurunkan pinggulnya. Koh Ayong merasakan kepala penisnya telah menyentuh belahan hangat basah liang kewanitaan Syeni. Setelah pas posisinya, Syeni perlahan menurunkan pinggulnya hingga penis pria itu tertusuk ke vaginanya. Koh Ayong pun mulai mendesah-desah sambil menggigit-gigit bibir bawahnya, tangannya meremas kedua payudara gadis itu. Sementara itu, Syeni bukan hanya mendesah, melainkan mengerang menahan ngilu proses penetrasi itu.
“Goyang Syen!” perintah Koh Ayong
Tanpa disuruh lagi, Syeni pun segera menaik-turunkan tubuhnya, mereka berdua benar-benar menikmatinya saat itu.
“Gimana om? Enak? Aaaahh!!” tanya Syeni terlihat mesum.
Wajah gadis itu tampak bersemu merah karena sudah sangat terangsang dan pengaruh alkohol. Sesekali wajahnya meringis, menahan nikmat yang dirasakan dari hujaman-hujaman penis di bawah sana. Tangan Koh Ayong merajarela di sekujur tubuh telanjang Syeni, meremas-remas payudara, pantat, dan punggungnya.
Kali ini Syeni menundukkan badannya, mulutnya mencium mulut pria itu. Sambil berpagutan bibir ia tidak menghentikan gerakan turun naik pinggulnya.Gesekan batang kejantanan Koh Ayong pada dinding liang kewanitaan Syeni yang peret itu sungguh memberi kenikmatan luar biasa pada pria itu. Sensasi yang ditimbulkannya sampai menjalar ke seluruh tubuh, buktinya nafas pria itu semakin menderu-deru. Cukup lama juga Syeni memicu tubuhnya turun naik di atas penis Koh Ayong. Tiba-tiba saja ia menggerakkan pinggulnya semakin cepat dan makin keras menghujam ke arah batang kejantanan Koh Ayong, bukan hanya itu, lidahnya juga menyedot kuat-kuat lidah pria itu. Koh Ayong juga turut menggoyang pinggulnya menyodok ke atas.
“Oohhh Om…gitu enakhh…enak sekali.. iya terus Om…” desah Syeni
Setengah jam lamanya penis Koh Ayong yang perkasa itu menghujam-hujam vagina Syeni hingga akhirnya bobollah pertahanan gadis itu. Diiringi desahan panjang, vaginanya banyak sekali mengeluarkan cairan bening dan hangat membasahi penis pria itu yang masih tertancap dalam vaginanya. Lemaslah tubuh Syeni menindih Koh Ayong yang sedang asyik mengenyot payudaranya yang putih, montok dan kenyal. Pria itu lalu mengubah posisi, kini batang penisnya masih tertancap di vagina Syeni hingga sekarang posisi gadis itu sekarang menungging dan ia berlutut di belakangnya. Batang penisnya yang masih menancap lalu ditekannya berkali-kali ke vagina gadis itu sambil kedua tangannya memegangi pantatnya. Kembali penis Koh Ayong yang keras keluar masuk ke vagina Syeni berkali-kali sampai kira-kira setengah jam kemudian Syeni pun kembali mencapai klimaksnya bersamaan dengan pria itu. Koh Ayong lalu mencabut penisnya kemudian menumpahkannya cairan spermanya yang hangat di perut gadis itu.
“Aaahhh.. aaahhh… ssshhh…Syen…bener-bener luar biasa deh… baru kali ini om geluarin cairan segini banyaknya…aahhh!” lenguh Koh Ayong.
Bagi Syeni, klimaks kali ini sungguh tak kalah dahsyat dari yang sebelumnya. Malah lebih dahsyat karena datang di saat tubuhnya masih dilanda kenikmatan sisa klimaks sebelumnya. Ia merasakan seluruh sendinya seperti mau copot akibat orgasme yang datang beruntun itu. Memang, letih karena orgasme adalah letih yang berbeda dibanding letih yang lain.
Keduanya benar-benar kelelahan sekali setelah pertempuran tadi itu. Syeni merebahkan diri di samping Koh Ayong di ranjang spring bed itu. Mereka saling merapatkan badan sehingga dapat merasakan dekapan hangat pasangan masing-masing. Koh Ayong masih menciumi dan mengecup leher belakang Syeni, sambil kakinya dilingkarkannya ke pinggang gadis itu seperti mendekap guling. Tangannya pun dilingkarkannya di perutku dengan erat seolah sedang menemani istrinya tidur. Syeni membalikkan tubuhnya dengan lunglai.
“Ah, boleh juga nih si enkoh…so gentle”, gumamnya dalam hati membandingkannya dengan kedua tukang ledeng siang tadi.
Dipandangnya pria setengah baya itu yang berbaring dengan kejantanannya yang tegak-keras.
“Hihihi…belum puas yah Om?” kata Syeni dengan suara pelan sambil menangkap penis pria itu dengan tangannya
“Puas kok Syen…om puas banget, tadi itu minum sedikit obat China makannya masih tegak nih hehehe” jawab Koh Ayong.
“Gitu yah…kalau gitu biar saya servis lagi, sekalian saya bersihin ya om” kata Syeni lagi seraya menggeser tubuhnya ke bawah, ke penis pria itu.
Ia menjilatkan lidahnya pada batang penis itu. Koh Ayong tersentak kegelian tapi segera pula tak berkutik ketika Syeni mulai menjilat. Sambil tetap berbaring, diperhatikannya Syeni seperti bayi kelaparan, berusaha memasukkan seluruh kejantanannya ke mulut mungilnya.
“Aaaahhh!” desah pria itu keenakan, penisnya serasa disedot-sedot mulut yang hangat dan basah.
Syeni berkonsentrasi, ia berusaha keras memberikan kenikmatan maksimal kepada pria yang telah membayarnya dengan harga tinggi ini. Ia sedang melakukan tugasnya seprofesional mungkin. Dengan lidahnya yang gesit, ia menyentuh-nyentuh ujung kejantanan Koh Ayong. Setiap sentuhan lidahnya membuat pria itu tersentak-sentak, apalagi kemudian lidahnya menjilat berkeliling. Tubuh Koh Ayong bergidik dan bergetar merasakan nikmat luar biasa, terutama saat Syeni meremas-remas lembut buah pelirnya. Pijatannya yang pelan dan lembut membuat pria itu seperti dilambung-lambungkan ke awan. Koh Ayong menggeliat-geliat merasakan penisnya seperti dipenuhi air yang mencari jalan keluar, bercampur geli yang menyebar ke seluruh tubuhnya.
Syeni tahu pria ini sebentar lagi akan mencapai klimaks. Maka ia memperkuat sedotan dan kenyotannya, kepalanya maju mundur sehingga penis di mulutnya keluar-masuk dengan suara berdecap-decap.
Syeni agak terkejut ketika kepalanya ditahan oleh Koh Ayong sehingga tidak bisa begerak, dan pria itu mencabut penisnya dari cengkraman mulutnya.
“Cukup Syen…udah mau keluar nih!” katanya, lalu ia kembali membaringkan tubuh gadis itu dan naik ke atasnya.
Koh Ayong memposisikan diri di antara kedua paha Syeni dan menempelkan kepala penisnya pada bibir vagina gadis itu. Setelah dirasa pas, dengan sekali gerakan ia menghujamkan kejantanannya dalam-dalam. Syeni setengah menjerit, kaget sekaligus keenakan. Syeni memejamkan mata kembali menikmati genjotan Koh Ayong dengan penuh penghayatan. Setelah birahinya dibangkitkan lagi oleh Syeni, Koh Ayong semakin bernafsu, permainannya yang tadinya lembut kini menjadi liar. Dengan ganas ia menghujam-hujamkan penisnya yang menyebabkan Syeni menggelepar-gelepar bagai sedang disembelih. Dengan sisa tenaganya, Syeni melingkarkan kedua kakinya di pinggang Koh Ayong sehingga tubuhnya kini terpaut ke tubuh pria itu. Keduanya lalu berpagutan bibir dan beradu lidah dengan penuh gairah sehingga desahan tertahan terdengar dari mulut mereka. Sensasi yang timbul dari pergesekkan penis pria itu dengan dinding dalam vaginanya benar-benar membuat Syeni serasa terbang, nikmat sekali..
“Aahh.. Aarrgghh.. Oohh…ooomm….mau keluar!!” tangan Syeni memeluk erat tubuh Koh Ayong, kukunya sampai mencakar punggung pria itu ketika di ambang klimaks
“Aahh.. Syen enak banget… ohh…!” Koh Ayong juga mengerang-ngerang dan genjotannya semakin bertenaga.
Mata Syeni merem-melek saat gelombang dahsyat itu menerpanya, tubuhnya mengejang hebat, gelombang kenikmatan itu menjalar dari vagina ke seluruh tubuhnya. Rasa nikmat yang dirasakannya itu begitu besar sehingga dia tak mau hal itu berakhir. Sengaja kakinya yang mengapit pinggang Koh Ayong ia pererat agar penis pria itu bisa masuk lebih dalam. Tak lama kemudian pria itu juga mencapai orgasmenya. Koh Ayong menekan dalam-dalam batang penisnya dalam vagina Syeni dan menyemburkan isinya. Cairan hangat itu tertumpah di dalam rahim gadis itu. Penisnya berangsur-angsur menyusut di dalam sana, lalu ia mencabut batang kemaluannya hingga akhirnya mereka terbaring bersebelahan.
“Syen, kamu benar-benar hebat. Sudah keluar beberapa kali tetap bisa siap tempur lagi hehehe…gak salah emang kenal sama kamu” puji Koh Ayong yang membuat gadis cantik ini mukanya bersemu merah.
Akhirnya setelah obrolan ringan beberapa saat, mereka pun tertidur bersama saling berpelukan.
###########################
Keesokan paginya
Gadis cantik itu terbaring seorang diri di atas ranjang, wajahnya terlihat begitu tenang dan begitu polos ketika dalam keadaan tertidur. Tubuh telanjangnya hanya terbalut selimut hotel yang hangat yang membuatnya tidur dengan nyenyak, sedangkan sosok Koh Ayong yang kemarin bercinta dengannya sudah tidak terlihat lagi di sana.
“Mmmhhh…”, beberapa saat kemudian ia terlihat mulai terbangun dari tidurnya yang tenang. Ia mendesah pelan sambil menggeliatkan tubuhnya yang indah, matanya membuka dan berkedip. Matanya memandang ke arah jam weker digital di bufet sebelah ranjang. Waktu telah menunjukkan pukul 9.43, sudah siang, ia tertidur cukup lama. Ia bergegas turun dari ranjang dan menuangkan air putih ke gelas lalu meminumnya. Matanya tertuju pada sebuah amplop hotel bertuliskan namanya di atas meja, ia ambil amplop itu dan mengeluarkan isinya, sebuah cek delapan juta rupiah dan secarik surat, dari Koh Ayong, isinya:
Maaf Syen…om harus berangkat pagi-pagi ke pabrik ninggalin kamu sendirian. Tadinya om mau bangunin kamu tapi keliatannya kamu capek sekali jadi om nggak sampai hati bangunin. Untuk sarapan silakan kamu silakan pesan saja di hotel, tagihannya masuk rekening om kok. Uang bayaran buat kamu sudah om sediakan dalam bentuk cek. Terus terang om sangat puas dengan pelayanan kamu jadi om lebihkan bayarannya sedikit. Lain kali om akan kontak kamu lagi ok.
Syeni termenung sejenak, dalam satu malam saja ia sudah bercinta dengan seorang pria berduit, ada rasa bangga dan gembira karena dengan pesonanya ia telah berhasil mendapat uang sebesar itu, namun juga ada rasa penyesalan dan bersalah karena semua ini harus dibayar dengan kehormatannya juga perasaannya sebagai wanita, semuanya kosong dan hampa, sehampa hatinya. Kini ia merasa benar-benar sendiri, di kota asalnya papa mamanya tidak pernah punya waktu memberinya kasih sayang, mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan dan arisan, hanya tahu memberi uang dan materi pada puteri mereka, omanya yang dekat dengannya sudah tiada, pria yang pernah dicintainya telah mencampakkannya seperti samapah. Tak ada lagi orang yang menghiburnya di kala gundah, tak ada lagi laki laki pelindungku di kala susah, ia tinggal sendiri menjalani kehidupan ini yang belum tahu ke mana arahnya. Itulah manis, pahit dan getirnya menjalani profesi seperti ini. Tidak ingin lama-lama larut dalam perasaan tidak menentu, Syeni segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri di bawah shower. Setelah menghabiskan sarapannya ia segera meninggalkan hotel itu.
Karena hari itu tidak ada jadwal bimbingan, Syeni menyempatkan diri jalan-jalan di mall di depan hotel itu. Seperti gadis-gadis seumurannya di sana ia window shopping dan membeli beberapa barang yang memikat hatinya, juga bertemu beberapa teman dan mengobrol sebentar. Waktu terus berjalan hingga tak terasa sudah hampir jam makan siang lagi. Di suatu sudut di mall itu ia melihat beberapa warga Jepang yang tinggal di Indonesia tengah mengumpulkan sumbangan untuk korban tsunami di negeri mereka dengan bahasa Indonesia berlogat Jepang. Syeni melewati stan itu namun sepuluh langkah setelahnya tiba-tiba ia berbalik ke stan amal tersebut dan mengutarakan niatnya untuk menyumbang.
“Mereka lebih membutuhkan ini daripada aku” katanya dalam hati sambil mengeluarkan cek delapan juta yang diterimanya dari tasnya.
Pria setengah baya yang menjadi panitia sedikit terhenyak menerima sumbangan yang terbilang besar itu. Ketika mengisi buku daftar penyumbang, Syeni hanya mengisi nominal jumlah uangnya saja, sedangkan untuk nama ia hanya mengisinya dengan huruf ‘S’. Orang-orang yang berdiri secara bersamaan mengucapkan terima kasih dalam bahasa Jepang dan Indonesia dan seorang wanita memberikannya sebuah kertas lipat berbentuk burung-burungan sebagai tanda telah menyumbang. Kata wanita itu burung-burungan kertas dapat membawa berkat dan keberuntungan bagi yang percaya. Syeni tersenyum dan memasukkan benda itu ke tasnya dan meninggalkan stan itu. Ia tidak percaya hal-hal seperti itu, namun kehampaan hatinya sedikit terobati dengan berbuat amal dengan tulus tanpa ada niat cari muka ataupun pamer seperti yang dilakukan para politikus itu yang menyumbang sambil mengibarkan bendera partai mereka atau pejabat yang memberi sumbangan tapi harus diliput media yang tidak ada bedanya dengan ‘membeli’ dukungan. Ada tertulis dalam sebuah puisi klasik:
……….
Sebagaimana Liang Hongyu* dan Du Shiniang**,
beberapa pelacur bahkan lebih mulia daripada para munafik bertopeng moral.
Engkau dapat menipu dunia, tapi tak dapat mengelabui langit,
Engkau mungkin terlihat saleh di mata manusia,
namun langit mengetahui kebusukan hatimu.
………..
Saat keluar dari sebuah toko sepatu Syeni melihat seorang anak perempuan berumur sekitar 5-6 tahun yang sepertinya sedang kebingungan, kepalanya menengok kesana kemari seperti tersesat, matanya juga nampak sembab. Syeni melihat di sekitarnya, memang tidak ada orang dewasa lain yang menuntun anak ini, sepertinya ia memang terpisah. Ia sadar dengan kondisi seperti itu, anak itu sangat rawan penculikan, apalagi di tangan anak itu terdapat sebuah HP. Maka ia pun menghampiri anak itu.
“Dik? Kamu mau ke mana? Mama kamu mana?” tanyanya lembut.
“Papa…Amel mau papa? Papa mana?” anak itu terisak-isak ketika Syeni menanyainya.
“Oke…oke…Amel tenang ya, ini kan Amel punya HP, ayo kita telepon papa Amel aja ya” kata Syeni menenangkan gadis kecil itu.
“Tapi gak bisa nyambung Ci…Amel udah coba tapi ga nyambung terus…huuuu..!!” anak itu semakin menangis.
Syeni mencoba HP anak itu dan menghubungi nomor papanya. Ternyata masa aktif pulsanya telah habis sehingga tidak heran kalau tidak bisa dipakai untuk menelepon. Ia mengeluarkan BB-nya dan mencoba menghubungi nomor tadi. Kali ini tersambung, seorang pria menerima telepon.
“Ya…halo!” sapa suara di sana.
“Ia halo, ini ada yang mau bicara” Syeni lalu menempelkan Bbnya ke telinga anak itu.
Anak itu menangis di telepon dan ngomongnya tidak jelas sehingga Syeni menarik kembali BB-nya untuk bicara lebih jelas dengan ayahnya. Ia menjelaskan posisi mereka agar ayah anak itu dapat menemukan mereka dan menjemput anaknya.
“Oh…oke…oke…saya segera ke sana sebentar lagi!” kata pria itu segera menutup telepon.
“Mel…Amel tenang ya, papa Amel mau jemput kok sebentar lagi, udah ya udah!” Syeni memeluk anak itu dan mengelus-elus rambutnya.
Anak itu mulai tenang dan merasa nyaman dalam pelukan Syeni
“Eh…Mel, kamu haus ga? Tuh di sana ada yang jual minum, yuk cici beliin!” ajak Syeni setelah anak itu tenang.
Ia menggandeng tangan kecil itu dan membelikannya segelas bubble tea. Kemudian ia mengajak anak itu duduk di bangku dekat situ sambil menunggu ayahnya.
“Ci…cici malaikat ya?” tanya anak itu setelah menyedot minumannya, “kata laoshi di sekolah minggu malaikat itu cantik dan baik hati, selalu ngebantu kita”
“Ahh…apa…” Syeni terdiam tidak bisa melanjutkan kata-katanya, ia tidak percaya masih ada orang menyebutnya sebagai malaikat, bahkan orang tua dan mantan pacarnya pun tidak pernah menyebutnya seperti itu, apalagi mengingat keadaannya sekarang yang sudah sangat kotor, kepolosan anak ini membuatnya sangat terharu dan hampir meneteskan air mata, “bukan…cici bukan malaikat…nama cici Syeni!” lanjutnya dengan suara sedikit bergetar.
“Amel…nakal ya kamu…papa kan udah bilang jangan jauh-jauh mainnya!” seorang pria berambut belah tengah berumur awal tiga puluhan menghampiri mereka dari samping.
“Papa…papa…ini cici yang nolongin Amel nelepon papa!” Amel turun dari bangku dan memeluk papanya.
“Oooh…kamu, terima kasih…maaf ya ngerepotin, anak ini emang gini baru ditinggal sebentar udah keluyuran ke mana-mana” kata pria itu menggendong anaknya, “Oh ya, saya Stephen” ia mengulurkan tangannya.
“Syeni” gadis itu menyambut uluran tangan pria itu sambil tersenyum manis.
Setelah berbasa-basi sejenak, Syeni pun berpamitan dan hendak pergi.
“Oke deh, Amel jangan nakal lagi ya, cici pulang dulu!” katanya sambil berjongkok dan mengelus kepala anak itu, lalu berdiri dan membalik badan hendak pergi.
“Syen…tunggu dulu…saya punya kafe di mall ini dan kebetulan ini sudah jam makan siang. Kalau kamu gak keberatan, saya mau mentraktir kamu…ya sebagai tanda terima kasih” kata Stephen.
“Eenngg…tapi…”
“Ayo Ci, kita makan bareng, di kafe papa enak-enak loh makanannya!” Amel ikut mengajaknya dan menarik tangan gadis itu.
Ajakan Amel benar-benar membuat Syeni tidak bisa menolak, ia takut mengecewakan anak itu sehingga akhirnya ia pun mengiyakan ajakan ayahnya.
Sambil menggendong putrinya, Stephen membawa Syeni ke sebuah kafe di salah satu sudut mall itu. Ternyata posisinya tidak terlalu jauh dari tempat tadi Amel hampir tersesat, mungkin karena luasnya bangunan dan keramaian pengunjung membuat anak itu menjadi bingung. Sambil menunggu mereka pun mengobrol.
“Dia memang selalu merindukan figur seorang mama, makannya dia nempel ke kamu seperti tadi” kata Stephen menjelaskan sambil melihat ke arah putri kecilnya yang sedang asyik dengan mainannya di meja lain.
“Maaf kalau boleh tahu, mamanya….?”
“Sudah gak ada sejak dia lahir…pendarahan…” jawab pria bertampang kebapakan itu menjawab dengan berat.
“Oh maaf…saya turut berduka” Syeni turut berduka mendengarnya.
“Nggak…ga apa kok” Stephen kembali tersenyum, “ayo silakan diminum dulu!” ia mempersilakan Syeni meminum minuman yang baru saja diantar pelayan.
Stephen melanjutkan ceritanya bahwa ia sebagai single father membesarkan anaknya dibantu oleh kedua orang tuanya. Selama ini ia belum memikirkan untuk menikah lagi walaupun orang tua, saudara dan teman-temannya terus mendorongnya agar putrinya tidak tumbuh tanpa kasih sayang ibu. Masih banyak pergumulan dalam dirinya mengenai hal yang satu ini, juga karena selama ini ia belum menemukan wanita yang dirasanya pas sebagai pengganti almarhum istrinya maupun ibu bagi putrinya.
“Omong-omong, kamu sendiri masih kuliah? Atau sudah kerja?” pria itu mulai berusaha mengenalnya lebih jauh.
“Kuliah, lagi skripsi…di ********” jawab Syeni.
Selama menemani ngobrol mereka terus saling menatap wajah dan mata masing-masing. Entah ada kekuatan apa, baik Stephen yang telah lama menyendiri dan menutup diri dari wanita lain maupun Syeni yang sudah tidak percaya adanya pria baik, yang menganggap setiap pria hanya menginginkan tubuhnya, mulai merasakan adanya chemistry di antara keduanya. Hati keduanya yang telah membeku mulai sedikit mencair.
Di tengah menikmati hidangan utama, Stephen pamit ke dalam sebentar karena ada yang perlu dibicarakan dengan karyawannya. Syeni pun tinggal bersama dengan Amel. Keduanya tampak semakin cocok, makan sambil ngobrol dan bercanda. Sampai masuk sebuah pesan ke BB nya, dari Imron, si penjaga kampus bejat itu, yang mengajaknya untuk datang ke kampus sore ini atau dia yang akan datang ke apartemennya nanti malam. Kebahagiaan yang baru saja dirasakannya tiba-tiba rusak. Ia sadar dirinya adalah budak seks si penjaga kampus bejat itu yang menyimpan skandalnya juga budak seks bagi Pak Dahlan, si dosen mesum itu. Setelah makan, dengan alasan sedang buru-buru, Syeni pamit untuk pergi dari situ. Stephen bermaksud mengantarkan dengan mobilnya, tapi ia menolaknya dengan alasan sudah dijemput oleh seorang teman yang menunggu di depan mall. Setelah menurunkan Amel dari gendonganya, ia pun meninggalkan tempat itu.
“Syen…!” Stephen memanggilnya ingin meminta nomor HP atau pin BB agar bisa tetap berhubungan, tapi tidak meneruskannya, ia baru ingat nomor gadis itu telah masuk ke BB nya ketika meleponnya tadi.
Hati pria tampan itu berbunga-bunga, ia berharap masih dapat bertemu lagi dengan gadis itu. Namun tidak dengan Syeni, di satu sisi ia juga ingin bertemu pria itu lagi, namun di sini lain ia tidak ingin menyakitinya yang diyakininya akan terjadi bila mereka mengenal semakin dalam, juga bagaimana dengan Amel, bagaimana reaksinya bila orang yang dianggapnya malaikat itu ternyata penuh noda. Sungguh galau hatinya, semua ini seperti cerita Cinderella, kebahagiaan sejenak itu telah berakhir, kembali ke kehidupannya yang gelap, namun ‘sepatu kaca’ itu kini tertinggal, menunggu kelanjutan kisahnya. Sesungguhnya
Lahir dan mati, perjodohan dan perpisahan,
semua adalah kehendak langit.
Bila jodoh, berpisah ribuan li pun, akan kembali bersatu.
Tanpa jodoh, jarak sejengkal pun tiada pernah bisa bersatu.
Wahai pujaan hati, akankah kita bersua kembali?
Catatan:
Liang Hongyu (1102-1135) adalah putri seorang perwira militer Dinasti Song yang terpaksa menjadi pelacur demi menyelamatkan ekonomi keluarganya setelah ayahnya meninggal. Belakangan ia bertemu dan saling jatuh cinta dengan pahlawan perang Song, Han Shizhong. Keduanya akhirnya menikah, sejak itulah nasib Liang berubah. Karena menguasai ilmu bela diri dan seni perang, juga atas rekomendasi suaminya, ia mendapat posisi dalam ketentaraan. Di sana ia membuktikan diri sebagai wanita pejuang yang tangguh. Bersama suaminya, ia memenangkan beberapa pertempuran melawan suku barbar Jurchen. Setelah ia meninggal namanya harum dan dikenang dari generasi ke generasi sebagai seorang pahlawan wanita China.
Du Shiniang adalah tokoh dalam cerita rakyat China. Ia adalah seorang pelacur yang jatuh cinta pada seorang sarjana bernama Li Jia. Ketika Li memintanya untuk menjadi istrinya, Du sangat gembira dan mengiyakannya. Setelah Li menebusnya, ia pun memboyong Du ke kota asalnya. Namun dalam perjalanan, seorang saudagar bernama Sun Fu terpikat oleh kecantikan Du dan ia membujuk Jia untuk membatalkan niatnya menikahi Du. Sun juga menghasut bahwa keluarga Jia yang terpandang pasti tidak akan setuju mengambil menantu seorang bekas wanita penghibur. Jia yang plin-plan akhirnya menyetujui tawaran Sun senilai 1000 tael emas untuk menyerahkan Du padanya. Du Shiniang sangat kecewa pada Li setelah diberitahu tentang semua ini. Keesokan harinya di atas perahu yang mereka tumpangi ia melemparkan satu demi satu emas permata yang ia miliki. Ketika Li Jia menanyakan apa yang ia lakukan, Du menjawab, “semua ini adalah tabungan pribadiku yang akan kupakai untuk menempuh hidup baru setelah pensiun, tapi sekarang engkau telah menyia-nyiakan semuanya, jadi untuk apalagi semua ini?” habis berkata ia terjun ke sungai dan menenggelamkan diri demi membuktikan kemurnian cintanya.
###########################
Minggu pagi jam sepuluh di sebuah perumahan menengah atas sebuah mobil sedan KIA berwarna red wine meluncur menyusuri jalan di perumahan itu. Mobil itu berhenti di sebuah rumah bertingkat dua dengan taman kecil di depannya. Pintu mobil terbuka dan pengemudinya seorang gadis cantik berumur awal duapuluhan. Kacamata hitam menghiasi wajah indonya dengan rambut merah sebahu yang dikuncir kebelakang. Tubuhnya yang indah itu terbungkus pakaian celana sedengkul warna putih dan baju berkancing tanpa lengan yang berwarna sama dengan bawahannya. Gadis itu menjulurkan tangannya ke dalam pagar untuk mencari knop bel. Tak lama kemudian dari dalam sana keluar seorang pria setengah baya yang bertubuh bongkok yang punggungnya seperti punuk unta.
“Cari siapa Non ?” sapanya dengan terkekeh.
“Ngg…anu Pak, apa benar ini rumahnya Pak Dahlan ?” tanya si gadis
“O iya bener Non, pasti Non ini Fanny yah ?”
“Iya Pak, bener, Pak Dahlannya ada ga ?” tanya gadis itu lagi.
“Maaf Non, bapak dari tadi pagi keluar ke rumah familinya katanya” jawab si bongkok itu sambil matanya memandangi tubuh gadis berdarah Manado-Prancis itu.
“Gitu yah, sampai kapan baru balik kira-kira ?” Fanny agak dongkol karena sudah jauh-jauh datang dan susah payah mencari tempat ini.
“Sepertinya siang ini juga pulang kok, o iya, Bapak juga pesan kalau Non datang duluan disuruh nunggu aja di dalam”
Maka Fanny pun akhirnya memasukkan juga mobilnya ke dalam setelah pria berpeci itu membukakan pagar untuknya.
“Ya…terus, maju dikit lagi, ya…stop !” pria itu membantunya memarkirkan mobilnya.
Turun dari mobil Fanny mengikuti si bongkok, Thalib memasuki rumah itu setelah melepas alas kaki dan menaruhnya di depan pintu. Walau tidak besar, rumah itu tertata apik, rumput-rumput dan tumbuhan di tamannya teratur dan indah, bagian interiornya pun berselera tinggi, terlihat dari lukisan yang menghiasi dinding dan perabotan bergaya elegan.
“Non tunggu sini aja sambil nonton TV ya !” Thalib mempersilakannya duduk di kursi ruang tengah itu seraya menyalakan TV.
Sebagai gadis yang kaya dengan pengalaman seks, Fanny sadar bahwa sejak tadi si bongkok itu sudah mencuri-curi pandang melihat tubuhnya, terutama lewat bagian dadanya yang memang agak rendah membentuk huruf V, namun dia membiarkannya saja sambil tetap bersikap wajar agar tidak memberi kesan murahan.
“Non mau minum apa ?” tawar Thalib
“Air putih ajalah Pak” jawabnya
“Makasih Pak !” ucap Fanny dengan tersenyum kecil setelah Thalib menyodorkan segelas air padanya.
“Ehm…Non ini mahasiswinya Bapak yah ?” tanya Thalib seraya menjatuhkan pantatnya duduk di sebelah Fanny.
“Iya” Fanny hanya menjawab singkat sambil menggeser tubuhnya sedikit.
“Ada perlu apa Non sama Bapak ?” tanyanya lagi
“Ya biasa masalah kuliah, ada yang perlu didiskusiin aja”
“Hehe…masalah kuliah atau masalah ngentot ?” tanya Thalib tanpa tendeng aling-aling sehingga menyebabkan Fanny yang sedang meneguk airnya agak tersedak dan terbatuk-batuk.
“Eehh…omong apaan sih Bapak ini, sopan dikit dong !” protes Fanny dengan wajah memerah karena memang benar tujuannya datang ke sini adalah untuk memberi upeti syahwat untuk dosennya itu.
Sudah hampir dua bulan sejak dia menggadaikan tubuhnya untuk menebus nilai UTSnya yang jeblok dulu. Kali ini menjelang UAS mata kuliah yang sama, Pak Dahlan si dosen mesum itu menawarkan membantunya sekali lagi dengan sedikit bocoran soal dengan imbalan ‘pelayanannya’. Fanny yang memang merasa kesulitan dalam mata kuliah tersebut tentu menyambut baik tawaran itu. Untuk kali ini Pak Dahlan menyuruhnya datang ke rumahnya saja dengan alasan supaya bisa lebih nyaman berduaan.
“Waduh Non, gak usah kaget gitu, disini udah biasa kok kalau ada cewek cantik nyariin Bapak terus ngaku mahasiswinya pasti ujungnya ga jauh-jauh dari ngentot minta dibantuin nilainya” terang Thalib, “saya juga sering dikasih jatah kok sama Bapak makannya betah banget saya kerja disini hehehe…!” sambungnya sambil meraih lengan Fanny.
Terus terang dia merasa risih dan dilecehkan oleh tingkah dan perkataan si bongkok yang menjijikkan itu, namun di saat yang sama dia juga merasakan sebuah sensasi aneh yang menginginkan pria itu berbuat makin jauh terhadapnya. Buktinya dia diam saja saat pria itu meraih lengan kanannya, darahnya serasa berdesir dan bulu kuduknya berdiri ketika tangan kasar itu membelai lengannya yang mulus dan terbuka. Melihat reaksi Fanny, Thalib makin berani, duduknya makin bergeser memepet Fanny yang sudah diujung sofa. Tangannya merangkul pinggangnya dan membawa tubuhnya dalam pelukannya. Dadanya yang montok berukuran 34C itu terasa empuk dan kenyal ketika menyenggol lengan Thalib.
“Non Fanny, sambil nunggu Bapak main sama saya aja dulu, gini-gini saya jago muasin cewek loh, dijamin Non pasti ketagihan”
Fanny diam tidak tahu harus menjawab apa, dia hanya merasakan pria itu makin erat memeluknya dan tangannya mulai berani meraba dadanya dari luar.
“Wow, tetek Non gede juga yah, kayanya enak dipake nyusu, boleh ya Non” pintanya dengan tangan meraih kancing paling atas baju putihnya.
“Duh jangan gitu dong Pak, gak enak kalo ada yang liat !” Fanny menepis pelan tangan Thalib pura-pura menolak.
“Berarti kalo ngga ada yang liat enak-enak aja dong Non, disini ga ada siapa-siapa lagi kok, tenang aja” ujarnya sambil membuka satu persatu kancing baju Fanny.
Baju itu kini telah terbuka sehingga terlihat di baliknya bra berwarna ungu tanpa tali bahu. Pemandangan yang menggairahkan itu, ditambah lagi sikap Fanny yang malu-malu kucing membuat Thalib semakin terbakar birahi. Dengan terburu-buru disingkapkannya ke atas cup bra yang sebelah kanan. Pria bongkok itu menatapi buah dada Fanny yang montok dan kencang itu dengan bernafsu, bentuknya yang bulat dan membusung dengan puting kemerahan itu memang meneteskan liur setiap pria normal yang melihatnya. Tanpa buang waktu lagi, dia segera melumat bongkahan kenyal itu dengan gemas.
“Aahh…ahhh…jangan digigit, oohh…perih !” Fanny meringis sambil meremas rambut si bongkok yang menyedoti payudaranya dengan disertai gigitan-gigitan keras maupun lembut.
Tangan Thalib mulai merayap ke punggungnya mencari kaitan branya, setelah ketemu dia membukanya lalu menarik lepas bra itu. Mulutnya berpindah melumat payudara yang satunya sementara tangannya turun ke bawah mengelusi pantat dan paha yang masih terbungkus celana putih ketatnya. Fanny menggigit bibir dan memejamkan mata, tubuhnya menggeliat menikmati setiap rangsangan seksual dari si bongkok itu.
Tanpa berhenti mengenyot payudara Fanny, tangan Thalib mulai membuka sabuk yang melilit di pinggang gadis itu, disusul kancing celananya dan resletingnya. Kemudian disusupkannya tangannya lewat atas celana dalamnya. Fanny makin mendesah dan memeluk erat kepala Thalib ketika jari-jari pria itu menyentuh kemaluannya, dia merasakan darahnya makin bergolak, putingnya mengeras dan kemaluannya semakin basah. Tidak disangka si bongkok yang mirip Quasimodo dari Notredame itu mampu membawanya ke awang-awang. Rasa enggan dan jijiknya mulai berkurang berganti menjadi libido yang meledak-ledak menuntut pemuasan. Tangan gadis itu kini mulai merambat ke selangkangan Thalib, dari balik sarungnya dia meraba sebuah batang yang sudah mengeras.
“Hehehe, udah gatel yah pengen coba kontol saya Non ?” kata Thalib sambil menaikkan sarungnya sehingga penisnya yang hitam menyembul keluar, ternyata di balik sarungnya dia tidak memakai apa-apa.
Kemudian Thalib menarik lepas celana Fanny beserta celana dalamnya, Fanny sendiri melepaskan baju yang kancingnya sudah terbuka itu. Sejenak kemolekan tubuhnya membuat si bongkok terpana, tubuh putih mulus dengan pinggang ramping, paha jenjang, dan bulu kemaluan tidak terlalu lebat itu sungguh menggiurkan. Dengan modal fisik demikian tak heran dia mudah mendapat kerja paruh waktu sebagai SPG.
Tangan Thalib menyusuri pelosok tubuh Fanny dengan liar sebelum berbaring di sofa dan memintanya naik ke tubuhnya dengan posisi 69. Begitu gadis itu naik ke wajahnya, dia langsung menjilati bibir kemaluannya, dengan jarinya dia buka daerah itu sehingga lidahnya dapat menelusuri lebih ke dalam. Tanpa diminta Fanny juga mulai melakukan tugasnya. Penis Thalib yang hitam dengan ujungnya yang bersunat berbentuk helm tentara itu digenggam dan dikocok perlahan. Dengan lidahnya dia jilati kepala penis itu sehingga batang itu beserta badan pemiliknya bergetar.
“Oohhh…enak banget Non, udah pengalaman yah keliatannya !” desah Thalib saat menerima serangan pertama dari gadis itu.
Selain dengan lidah, Thalib juga mengerjai liang vagina gadis itu dengan jari-jarinya, jadi sambil menjilat jarinya juga aktif mengorek-ngorek liang itu sehingga area itu semakin berlendir. Sesekali dia mengerang merasakan enaknya oral seks yang diberikan Fanny. Kini Fanny sudah memasukkan batang itu ke mulutnya setelah memberikan pemanasan dengan menjilati permukaan batang hingga kantong pelirnya.
“Bener kan Non ketagihan tuh nyepongnya semangat gitu, uuhh…uhh…!”
Fanny terus melakukan aktivitasnya tanpa menghiraukan celotehan Thalib, yang terpikir di benaknya kini adalah pemuasan birahi secara total. Dia mengintensifkan permainannya terhadap penis itu, gerakan menyedot dan menjilat divariasikannya dengan lihai.
Thalib menemukan daging kecil seperti kacang yang merupakan bagian paling sensitif dari wanita. Bagian itu dijilatinya dengan ujung lidahnya sehingga Fanny pun tidak bisa menahan erangannya dan gelinjang tubuhnya. Sambil terus menjilat Thalib juga mengelusi bongkahan pantat dan paha yang putih itu. Thalib menggigit pelan klitorisnya dan mulutnya melakukan gerakan mengisap. Hal itu membuat tubuh Fanny mengejang tak lama kemudian, dia merasa cairan kewanitaannya tumpah semua. Dengan rakusnya Thalib menyeruput cairan bening yang masih hangat itu.
“Hhhmm…uenak Non…ssrrpp..srrpp…gurih banget pejunya !” ceracau Thalib dari bawah sana.
Setelah puas melahap cairan kewanitaan Fanny, si bongkok itu mengajaknya bangkit, dia duduk di sofa dan Fanny didudukan di pangkuannya dalam posisi memunggungi.
“Enak Non barusan ? jurus isep memek saya gimana ?” tanya Thalib.
Fanny hanya mengangguk dengan nafas masih terengah-engah, tak disangka baru ronde pertama si bongkok itu telah memimpin permainan dengan gemilang. Kata-kata kotor dan permainannya yang agak brutal itu dirasanya lain dari pria-pria yang biasa terlibat hubungan seks dengannya, kebanyakan mereka bersikap gentle dan lembut, mungkin yang gaya permainannya mendekati si bongkok ini tak lain adalah Imron, si penjaga kampus tempatnya kuliah.
“Puas ga Non, puas ga ?” tanyanya lagi yang kembali dijawab dengan anggukan “kalo puas sun dong buat hadiah” katanya sambil mendekatkan wajahnya ke sebelah wajah gadis itu.
Tanpa disuruh lagi, Fanny pun menengokkan wajah ke samping lalu meraih kepala si bongkok itu dan memberi kecupan di bibir. Keduanya terlibat percumbuan panas selama beberapa saat, lidah mereka saling belit dan jilat, ludah saling bertukar. Selama bercumbu Thalib selalu menggerayangi kedua buah dada Fanny, sesekali juga mengelusi bagian tubuh lainnya seperti perut dan paha. Tanpa melepas cumbuan yang makin panas itu Thalib mengarahkan penisnya ke vagina Fanny yang bereaksi dengan mengangkat sedikit tubuhnya, dengan tangan satunya dia bahkan membuka liang vaginanya mempersilakan penis Thalib memasukinya. Fanny melepas ciumannya untuk berkonsentrasi melakukan penetrasi, dia menekan tubuhnya ke bawah sehingga batang itu melesak masuk ke dalam vaginanya, desahan lirih terdengar dari mulutnya mengiringi proses itu. Dia mulai menaik-turunkan tubuhnya, kadang disertai gerakan memutar. Sambil menikmati goyangan Fanny, Thalib memain-mainkan puting susunya yang menggemaskan itu. Mulut pria itu menciumi daerah pundak dan lehernya, rambutnya yang terikat memudahkan Thalib mencupangi leher jenjangnya. Fanny mengerang sejadi-jadinya, kadang erangannya tersendat saat diselingi berciuman, goyangannya semakin liar saking sudah menikmatinya.
Setelah limabelas menitan dalam posisi demikian, Thalib melepas sejenak tubuh mereka yang telah bersatu untuk ganti gaya. Kali ini Fanny dibaringkan telentang di sofa, setelah menyelipkan bantal kursi ke bawah kepala Fanny kembali dia masukkan penisnya ke dalam vagina gadis itu dan meneruskan genjotannya. Buah dada Fanny yang bulat itu nampak turut bergoyang-goyang mengikuti goncangan tubuhnya.
“Aahhh…aaahh…Bapak mau ngecrot nih Non, pengen dimana !” sahutnya dengan nafas memburu karena sudah diambang klimaks.
“Mulut Pak nngghh…aahh !” jawab Fanny dengan refleks.
Thalib pun lalu mencabut penisnya dan membawanya ke dekat wajah Fanny. Maka cret…cret…dua semburan sudah keburu mengenai wajahnya sebelum sempat dimasukkan ke mulut. Di dalam mulut gadis itu, penis Thalib terus memuntahkan isinya yang diterima Fanny dengan hisapannya yang dahsyat.
“Oohh…enak Non…telen terus pejunya…iyahh…enak !” ceracaunya menikmati klimaks di mulut Fanny.
Fanny menyedot dan menelan habis setiap tetes sperma yang menyemprot dari lubang penis Thalib, selain cipratan di wajah yang karena terlambat dimasukkan mulut, tidak ada lagi tetes lainnya yang terbuang, semua habis disedot sampai penis itu mengendur di mulutnya. Thalib benar-benar puas dengan teknik oral gadis ini yang begitu ahli. Setelah mengeluarkan penis itu dari mulutnya, Fanny menyeka cipratan sperma di hidung dan pipinya dengan jari dan kemudian diemutnya jari itu. Wajah nakalnya ketika itu sungguh membuat Thalib semakin kesengsem dengannya.
“Enak yah Non, kayanya kok Non demen banget minum peju, rasanya gimana emang ?” tanya Thalib sambil merengkuh tubuh Fanny dalam pelukannya.
“Ya gimana yah…asik aja gitu” jawabnya cuek
“Ngghh…Pak ngapain lagi sih ?” tanya Fanny ketika si bongkok itu menunduk lalu mengenyot payudaranya.
“Mau nyusu lagi, sambil istirahat, saya seneng sih sama tetek Non” jawabnya lalu kembali menyusu.
Sambil menyusu tangannya bercokol di kemaluan gadis itu, jarinya membelai dan mengorek liangnya. Fanny memejamkan mata menikmatinya, rasanya seperti menyusui bayi raksasa, demikian pikirnya. Ning…nong…tiba-tiba saja kenikmatan mereka dibuyarkan oleh bunyi bel. Sesaat mereka saling pandang lalu Thalib bangkit dan memakai kembali sarungnya.
“Bapak ?” tanya Fanny
“Bukan, kalau Bapak suaranya klakson mobil, Non tunggu aja, biar saya liat keluar” jawab Thalib sambil meninggalkannya.
Sepeninggal Thalib, Fanny juga bangkit menuju wastafel yang terletak di ruang makan yang menyatu dengan dapur mini di sebelah ruang tengah itu. Disana dia mencuci mukanya yang lengket bekas cipratan sperma tadi, juga berkumur-kumur menghilangkan bau sperma di mulutnya.
Fanny bercermin dan melihat di lehernya ada bekas cupangan yang memerah yang juga nampak pada beberapa tempat di payudaranya.
“Damn, besok harus pake foundation deh gua !” omelnya dalam hati.
Sebentar kemudian terdengar suara langkah mendekat.
“Siapa barusan…aaww !” Fanny terkejut ketika menoleh ke samping ternyata ada seorang pria lainnya selain Thalib, refleks dia pun menyilangkan tangan menutup tubuhnya.
Pria berusia tigapuluhan yang sedang menggotong tabung elpiji itu terbengong melihat pemandangan indah di hadapannya.
“Ehehe…maaf Non, ini Bakri yang nganterin gas, saya kira Non udah ngeliat ada yang dateng langsung sembunyi” kata Thalib cengengesan.
“Wuih siapa nih Pak Thalib, pantes tadi lama bukanya !” tanya Bakri terkagum-kagum “boleh ikutan gak nih acaranya ?”
Merasa kepalang basah, Fanny menurut saja saat Thalib menarik lengannya dan mengajaknya mendekati Bakri untuk diperkenalkan. Begitu menjabat tangan Fanny, Bakri terus mencengkramnya seperti tidak mau lepas darinya.
“Saya pegang yah tokednya Non !” dia meminta ijin dulu untuk basa-basi.
Tangannya gemetaran ketika meraih buah dada yang montok itu seolah tak percaya bisa mendapat kesempatan emas seperti ini.
“Aje gile, ternyata gua bukan mimpi loh, nyata, ini anget, empuk lagi” celotehnya sambil meremasi buah dada itu dengan gemas.
Selanjutnya mereka mengajak Fanny kembali ke ruang tengah dan bermain di atas karpet.
“Asyik…hari ini lagi hoki ketiban rejeki bisa ngewe sama bidadari !” Bakri bersyukur bukan main hari itu.
“Iya situ enak, gua yang suwe hari ini difuck abang-abang melulu !” gerutu Fanny dalam hati.
Kedua pria itu pun melucuti pakaiannya masing-masing, terlihat badan Bakri yang cukup berotot setelah dia membuka kaos hijau bekas pemilu bergambar lambang sebuah partai, maklum karena pekerjaannya memang sering mengandalkan otot. Kontras sekali perbedaannya tubuh Fanny yang putih mulus diantara kedua pria yang berkulit sawo matang itu. Kedua pria itu kini berdiri mengerubunginya, Fanny berlutut di tengah dengan tangan kanan menggenggam penis Bakri dan yang lain menggenggam yang Thalib. Sambil mengocok penis Thalib dengan tangannya, dia membuka mulut memasukkan penis Bakri ke mulutnya. Pria berkumis tipis dan berjenggot mirip teroris Amrozy itu mendesah tak karuan saat penisnya diemut-emut Fanny, lidah gadis itu bergerak liar menyapu batang dan kepala penisnya diselinggi pijatan lembut pada zakarnya.
“Eh, terusin lagi dong Non, kok udahan sih ?” protes Bakri ketika Fanny berpindah mengoral penis Thalib.
“Gantian dong Bang, mulut saya kan cuma satu, lagian kalo buru-buru keluar mana enak ?” jawab Fanny agak sewot “udah dikasih gratis aja banyak protes lu !” omelnya dalam hati.
Puas menikmati mulut Fanny, Bakri pindah ke belakang Fanny dan berlutut disana, pinggang Fanny ditariknya ke belakang hingga menungging, diciuminya bagian samping tubuh gadis itu sambil menggesek-gesekkan penisnya pada belahan pantat Fanny. Gesekan-gesekan ini membuat gairah Fanny makin membara sehingga hisapannya pada penis Thalib pun makin liar. Saat kepala penis Bakri menyentuh bibir kemaluannya, dia menekan benda itu hingga melesak masuk ke dalam vagina Fanny.
“Aaahh…!!” erang Fanny panjang.
Tanpa buang waktu lagi, Bakri menggenjot vagina Fanny dengan kasar hingga tubuh gadis itu terguncang hebat. Erangan gadis itu teredam karena tak lama kemudian Thalib menjejali mulutnya dengan penisnya dan memaju-mundurkan pinggulnya seperti gerakan bersenggama. Disodok dari dua arah begitu, Fanny agak gelagapan apalagi gaya mereka menjurus ke brutal. Namun sebentar saja dia sudah membiasakan diri dan menikmatinya, kulumannya kini sudah lebih teratur dan sudah dapat mengikuti irama genjotan Bakri.
“Asoy banget nih, memeknya mantep abis, baru pernah gua nyobain yang ginian !” ceracau Bakri sambil mempercepat tempo goyangannya.
Dalam waktu limabelas menit, Bakri telah berhasil membuat Fanny orgasme panjang, cairan kewanitaannya mengalir dengan deras membasahi daerah selangkangannya. Desahannya tertahan karena dia sedang sibuk mengulum penis Thalib dan kepalanya dipegangi oleh si bongkok itu.
“Masukin disini boleh yah Non ?” tanya Bakri sambil mencucukkan jari ke dubur Fanny.
“Tapi jangan kasar-kasar dong Bang, sakit” Fanny memperingatkannya
Kemudian Thalib berbaring di karpet dan menaikkan Fanny ke penisnya dan Bakri mengarahkan miliknya ke bagian anus.
“Hhhssh….pelan-pelan aaahh…jangan kasar !” rintih Fanny dengan wajah meringis ketika dua penis itu melakukan penetrasi pada dua lubangnya.
Fanny mencengkram kuat-kuat bahu Thalib yang dibawahnya menahan rasa perih. Setelah kedua batang itu berhasil menancap, mereka memberinya waktu sebentar untuk beradaptasi. Butir-butir keringat nampak pada wajah dan tubuhnya hasil pergumulan liarnya barusan. Semenit kemudian baru mereka mulai bergoyang, mula-mula dengan gerakan pelan, namun lama-lama makin liar. Cairan yang dihasilkan kewanitaan Fanny berfungsi sebagai pelumas yang memperlancar sodokan-sodokan penis di daerah itu. Thalib tidak menyia-nyiakan payudara Fanny yang menjuntai dan bergoyang-goyang di atas wajahnya, mulutnya menyedoti payudara kiri gadis itu sampai pipinya kempot sementara tangannya meremas dan memilin-milin puting payudara yang satunya. Sementara Bakri, sambil menyodomi dia melumat bibir Fanny yang menengokkan wajahnya. Fanny yang sudah terbiasa dengan keliaran seperti ini serta-merta mengeluarkan segenap keahliannya untuk mengimbangi kedua lawan mainnya itu.
Yang lebih dulu orgasme pada ronde itu adalah Bakri, mungkin karena sempit dan sudah sejak tadi dia bekerja. Fanny merasakan cairan kental yang hangat itu memenuhi pantatnya dan meluap hingga membasahi daerah sekitarnya. Sepuluh menit kemudian baru dirinya kembali mencapai puncak bersama dengan Thalib. Sperma Thalib menyemprot di dalam rahimnya bercampur dengan cairan orgasmenya. Erangan orgasme mereka terdengar nyaring memenuhi ruangan itu. Akhirnya Fanny ambruk menindih Thalib di bawahnya, buah dadanya yang kenyal itu mengencet dada si bongkok. Baru beristirahat sebentar nafsu Bakri kini bangkit lagi, ditariknya tubuh Fanny yang belum pulih sepenuhnya dan ditelentangkan di karpet, dibentangkannya kedua pahanya yang jenjang, dia sendiri mengambil posisi diantaranya untuk menembak.
“Aduh sabar dikit dong Bang, saya kan masih capek” pinta Fanny dengan suara lemah.
“Maaf Non waktu saya gak banyak, kalau bos nyari sayanya ga ada bisa di PHK, tapi kalo ngentot sama Non kan kapan lagi, jadi harus dipuas-puasin dong !” jawab Bakri tanpa menghiraukan permohonan Fanny.
Fanny pun akhirnya pasrah saja menuruti kemauan pria mirip Amrozy itu. Dia disetubuhi denga kedua pahanya mekakangkang dan betisnya dinaikan pria itu ke bahunya, kadang tangannya yang kasar meremas payudaranya, lekuk-lekuk tubuhnya yang indah tidak ada yang lolos dari jamahan tangannya. Sementara itu Thalib beristirahat di sofa, dia hanya menonton sambil menikmati rokok, dengan usianya yang sudah lebih dari setengah abad tenaganya tidak lagi sekuat si tukang antar gas yang sedang berasyik-masyuk di depannya itu.
Kurang lebih setengah jam Bakri mengerjai Fanny dengan berbagai cara, ditindih, dipangku, dan menyamping, namun pria ini belum menunjukkan akan mengakhiri perkosaan terhadapnya, padahal dia telah orgasme sekali di mulut gadis itu, sisa-sisa spermanya masih nampak di sudut bibir si gadis. Kini ketika sedang gaya woman on top, si bongkok itu menghampiri mereka bermaksud kembali bergabung.
“Oh, God sampai kapan…!” keluh Fanny dalam hati karena dia sudah kewalahan.
Untungnya kali ini si bongkok cuma mau minta netek, dia berjongkok di sampingnya dan meraih payudaranya untuk dikenyot. Melihat Bakri yang sudah melenguh lebih panjang dan penisnya terasa berdenyut di vaginanya, Fanny mempercepat goyangan badannya agar cepat selesai. Tak lama pria itu pun orgasme, namun Fanny masih menaik-turunkan badannya karena tanggung hingga 2-3 menit kemudian saat dia juga menyusul ke puncak. Dia langsung menjatuhkan diri ke samping setelah itu, nafasnya ngos-ngosan dan tubuhnya sudah bermandikan keringat, dia sudah tidak mampu lagi menggerakkan tubuhnya karena tulang-tulangnya serasa mau copot setelah sekitar dua jam disetubuhi, pandangannya makin kabur hingga semuanya menjadi gelap. Rasa lelah telah membuatnya tertidur nyenyak.
Fanny membuka mata perlahan-lahan dan menemukan dirinya berbaring di sebuah ranjang empuk, tubuhnya yang masih telanjang hanya ditutupi selembar selimut. Ikat rambutnya telah terbuka sehingga rambutnya kini tergerai, dia menemukan jepit rambutnya diletakkan di rak pada kepala ranjang. Kesadarannya berangsur pulih dan matanya memandang sekeliling kamar yang berwallpaper krem dan berhiaskan beberapa perabotan klasik itu. Jam weker di meja kecil sebelah ranjang menunjukkan pukul 4.35 dan langit di luar telah menguning.
“Dimana ini ? gua tidur berapa lama nih ?” tanyanya dalam hati.
Tiba-tiba pintu membuka dan seseorang masuk.
“Oh, bangun juga kamu akhirnya Fan” sapa orang yang masuk itu yang tak lain adalah Pak Dahlan yang ditunggu sejak tadi. “maaf ya tadi Bapak ada acara keluarga jadi agak telat pulangnya”
“Yah, whateverlah…yang pasti gua sekarang udah pegel-pegel tau !” omel Fanny dalam hati namun dia tetap tersenyum kecil dibuat-buat.
Pria tambun itu duduk di tepi ranjang dan menyodorkannya segelas minuman hangat.
“Ini kebetulan Bapak baru buatkan untuk kamu teh jahe, diminum yah mumpung panas biar seger” tawarnya.
Fanny menyandarkan bantal ke kepala ranjang dan dengan susah payah bangkit untuk duduk bersandar disana. Kemudian dia menerima gelas yang disodorkan dosennya. Buah dadanya yang keluar dari selimut dan terekspos membuat pandangan pria itu tertumbuk ke sana.
“Thalib bilang tadi siang kamu kerja keras ya, sama si Bakri juga, keliatannya kamu masih capek hari ini” kata pria itu “soal janji kita, Bapak gak akan maksa kamu hari ini kalau kamu udah ga kuat, kamu boleh pulang setelah mandi” lanjutnya.
“Ga apa-apa kok Pak, hari ini aja biar cepet beres, saya masih bisa kok” jawab Fanny setelah meneguk sedikit minumannya.
“Tapi kan ini udah mau gelap, lagian malam minggu apa kamu ga ada acara sama pacar kamu mungkin ?”
“Ngga, ngga apa-apa kok, bisa saya atur lagi jadwalnya Pak ?” padahal dalam hatinya dia berkata “yah kepaksa deh !”
Fanny memutuskan demikian dengan pertimbangan agar masalah ini cepat selesai dan dia bisa lega saat ujian nanti karena sudah mendapatkan bocorannya, untuk itu terpaksa dia harus mengorbankan janji nonton dengan pacarnya malam ini.
“Pak, bisa tolong ambilin tas saya disana dong !” pintanya sambil menunjuk sebuah kursi dimana tas jinjingnya diletakkan, di bawah tas itu ada pakaiannya yang telah dilipat rapi, entah Thalib atau Pak Dahlan sendiri yang meletakkannya disana.
Fanny mengeluarkan ponselnya dari tas kecil itu, dua miscall dan empat sms telah masuk.
“Katanya kamu tadi disodomi yah Fan, sekarang apa masih sakit ?” tanya pria itu.
“Iya sih lumayan, abis tuh orang kasar banget sih Pak” jawabnya sambil jarinya memencet-mencet tombol ponselnya membalas SMS yang masuk.
“Bentar yah Pak, saya mau nelepon dulu” katanya “Eh, Di sori yah kayanya nontonnya lain kali aja deh, soalnya malam ini gua ada acara sama saudara gua” dia berbicara pada orang di telepon.
“Iya tadi HPnya di silence jadi gua ga denger, gua kan lagi di mal tadi”
Pak Dahlan memegang-megang payudara Fanny ketika dia sedang berbicara di telepon.
“Iya-iya…abis kan gua udah dipanggil gini jadi nggak enak nolaknya, lagian jarang ketemu sama mereka juga”
“Besok gua janji ke rumah lu deh…iya pokoknya besok I’m yours one hundred percent deh…ok honey, udah ya gua mau siap-siap dulu sekarang…ok bye…I love u too !”
“Ok Pak, semua udah beres, sekarang terserah Bapak aja, kita mau ngapain nih ?” katanya setelah menutup pembicaraan dengan ponselnya.
“Pacar kamu Fan ?” tanya pria itu yang dijawab Fanny dengan anggukan.
“Udah berapa lama nih ?” tanyanya lagi.
“Baru sebulan lebih kok, tenang dia orangnya gak neko-neko kok Pak, jadi saya yang lebih kuasa hihihi”
“Apa dia di fakultas kita ?”
“Ngga, anak hukum kok, dua tahun lebih muda dari saya”
“Wah-wah suka sama cowok lebih muda kamu yah kamu Fan ?”
“Nggak juga sih, ya coba-coba aja, orangnya ga banyak bacot sih, jadi saya juga bisa ngatur gini-gitunya, lagian cakep terus kantongnya tebel lagi Pak” Fanny senyum-senyum menceritakan pacarnya itu.
“Dasar kamu nakal yah” Pak Dahlan mencubit putingnya sambil berkata dalam hati “dasar lonte kampus tukang morotin kantong orang”
“Mandi yuk Fan, biar badannya enak, Bapak juga belum…barengan aja !” ajak Pak Dahlan berdiri dan membuka kaosnya hingga perutnya yang bulat terlihat, penisnya yang sudah mengacung juga keluar setelah dia membuka celana pendeknya.
Fanny meneguk teh jahenya hingga habis lalu menjulurkan tangan minta dibantu bangun. Pak Dahlan mendekatinya tapi bukan menarik tangannya tapi malah mengangkat tubuh gadis itu dengan dua lengannya sehingga dia menjerit kecil dan tertawa cekikikan.
“Hup…iyah…hehehe, berat juga kamu” godanya.
Pak Dahlan kemudian mencumbunya sekitar setengah menit lalu dibawanya memasuki kamar mandi yang menyatu dengan kamar itu, disana baru tubuh Fanny diturunkan pelan-pelan. Dinyalakannya kran shower, setelah suhunya dirasa cukup hangat dia panggil gadis itu bergabung di bawah siraman shower. Hhmmm…segar sekali pikir Fanny, air hangat itu mengurangi kepenatan tubuhnya, bekas sperma dan ludah yang menimbulkan rasa lengket juga hilang seketika. Kemudian dia merasa pinggangnya dirangkul dari belakang, perut tambun pria itu menempel di punggungnya, selain itu juga di bawah dia merasakan benda panjang menggesek pantatnya.
“Bapak bantu sabunan yah, biar wangi” katanya seraya mengambil sebatang sabun dari tempat sabun.
Fanny membiarkan sabun dan tangan pria itu membelai tubuhnya, Pak Dahlan yang berpengalaman itu menggosok tubuh Fanny dengan lembut sehingga gairahnya mulai bangkit lagi.
Fanny sesekali mendesah selama badannya disabuni terutama ketika Pak Dahlan sedang menyabuni daerah-daerah sensitifnya. Sementara tangannya yang kanan menyabuni payudaranya, tangannya yang kiri memilin dan memencet-mencet puting payudara yang licin itu. Belaian itu makin menurun ke bawah, pria itu berjongkok menyabuni pantat dan kedua belah kakinya yang ramping itu, tidak ada yang terlewat hingga ke ujung kaki. Maka sekarang tubuh Fanny dari leher ke bawah telah licin dan berbusa oleh sabun. Lalu dia berdiri lagi dan mengarahkan sabunnya ke tempat terakhir yang belum disabuni, kemaluannya.
“Nah, disini juga harus dikramas kan banyak bekas sperma dan ludahnya” katanya.
“Hati-hati yah Pak nyucinya sabunnya jangan sampai masuk ke dalam”
“Tenang Bapak hati-hati kok ke yang satu ini” katanya mulai menggosok.
Fanny mendesah saat pria itu mencuci daerah itu, karena daerah itu sangat sensitif, jari-jari gemuk pria itu sering menggesek bibir kemaluannya menimbulkan rangsangan. Setelah selesai menyabuni Fanny dia menyabuni tubuhnya sendiri dengan agak terburu-buru setelahnya dia taruh kembali sabun itu pada tempatnya. Dipeluknya tubuh Fanny hingga payudara gadis itu menghimpit dadanya. Mulut mereka makin mendekat dan bertemu, merekapun terlibat percumbuan yang panas, lidah masing-masing saling beradu dalam mulut. Di tengah percumbuan Fanny tiba-tiba menggesekkan buah dadanya pada dada dosennya, tubuh mereka yang telah licin makin menambah sensasinya.
“Wow, apa tuh Fan, kamu nantangin Bapak nih ceritanya ?” kata Pak Dahlan melepas sejenak ciumannya.
“Gimana Pak Thai massage saya, asyik gak ?” Fanny tersenyum nakal pada dosennya itu.
“Kamu emang pinter nyenengin cowok, ayo lagi dong !” kembali pria tambun itu melumat bibir Fanny.
Dielusnya punggung gadis itu ke bawah, sampai di pantat, diremasnya kedua pantatnya yang sekal itu dengan gemas. Hampir lima menit lamanya mereka bercumbu sambil raba-rabaan sebelum akhirnya memisahkan diri dengan nafas memburu. Pak Dahlan mengajaknya ke tengah siraman air untuk membilas badan. Ketika membersihkan bagian vagina sekali lagi pria itu menggosoknya atau kalau bisa dikatakan menggerayanginya dengan teliti, setelah busanya terbilas dia memasukkan jarinya mengorek-ngorek bagian dalamnya sehingga Fanny pun mendesah dan menggelinjang.
“Biar bersih luar dalam” demikian katanya karena dia ingin menikmati Fanny dalam keadaan sebersih mungkin setelah dipenuhi bekas pergumulannya tadi siang.
Setelah selesai membilas badan, Pak Dahlan mengambil handuk dan menghanduki tubuhnya sebelum menghanduki dirinya sendiri. Setelahnya kembali diangkatnya tubuh gadis itu dan keluar dari kamar mandi, sampai di ranjang dibaringkannya dia pelan-pelan.
“Hmm…coba kamu tengkurap, biar Bapak pijatin kamu supaya lebih enak” suruhnya.
“Yang enak yah Pak, jangan malah jadi sakit tulang ntar” sahut Fanny tersenyum dan berguling ke kanan membalik tubuhnya.
Pak Dahlan pun memulai pijatannya dari tenguk, bahu, dan punggung. Fanny merasakan pijatannya memang enak dan nyaman, sesekali tangan pria itu sengaja melenceng ke samping tubuh menyentuh payudaranya. Pemanasan yang sejak di kamar mandi tadi saja sudah membangkitkan nafsunya lagi, kini pijatan itu semakin membuatnya merasa nikmat dan siap memulai ronde selanjutnya. Pijatan Pak Dahlan makin turun ke bawah, mengelus pantatnya sekilas, lalu turun menguruti pahanya, terus ke bawah, betis hingga telapak kaki. Kemudian Fanny merasa betisnya ditekuk hingga terangkat, selanjutnya dia merasakan pria itu mengemuti jari-jari kakinya.
“Mmmhhh…!” desisnya terangsang.
Ciumannya lalu naik ke betis, paha, dan ketika sampai pantat dia balikkan tubuh gadis itu hingga telentang. Pak Dahlan mendekatkan wajahnya pada vagina gadis itu, Fanny melihat ke bawah betapa nanar tatapan dosennya itu melihat daerah kemaluannya dari dekat, digesekkannya paha mulusnya pada pipi pria itu menggodanya.
“Ssshhh…Pak !” desisnya begitu lidah pria itu menjilati bibir kemaluannya.
Lidah Pak Dahlan masuk menjilati bagian dalam kewanitaannya, aroma vaginanya Fanny yang wangi karena baru saja dicuci dan rutin dirawat dengan cairan pembersih membuat dosennya semakin bernafsu melumatnya.
Tubuh Fanny menggeliat-geliat dan mulutnya mendesah liar saat dosennya memainkan lidahnya di vaginanya. Tangannya meremas rambut dan menekan wajah pria itu menginginkan pria itu terus melakukannya dan jangan pernah berhenti.
“Masukin Pak, saya udah kepengen” pinta Fanny dengan lirih.
Merasa vagina itu sudah cukup berlendir, Pak Dahlan pun menempelkan kepala penisnya disana. Meski sudah kehilangan keperawanannya sejak lama dan sering melakukan seks bebas, Fanny sangat memperhatikan perawatan tubuhnya termasuk daerah yang satu ini sehingga ketika Pak Dahlan memasukkan penisnya ke sana dia merasa sangat sempit. Dia mendiamkan sebentar penisnya setelah berhasil melakukan penetrasi. Rasa hangat dan basah pada penisnya yang dijepit vagina Fanny mendatangkan rasa nikmat baginya. Ditatapnya ekspresi wajah mahasiswinya itu saat meresapi momen ini.
“Enak sekali Fan, masih sempit kaya perawan, emang kapan kamu pertama kali ngeseks ?” tanya Pak Dahlan.
“Limabelas tahun Pak, waktu awal SMA dulu”
“Oh ya, sama siapa itu ?” tanyanya lagi.
“Mantan saya, udah lama putus aahh…!” desahnya karena begitu menyelesaikan kata-katanya Pak Dahlan langsung menyentak pinggulnya.
Sambil menggenjot Pak Dahlan menciumi bibir Fanny berulang-ulang. Saat itu tiada batasan antara dosen dengan mahasiswi maupun perbedaan ras, agama, dll yang ada adalah sepasang manusia yang terlibat hubungan seks yang panas.
Fanny sangat menikmati sentuhan dan sodokan yang diberikan Pak Dahlan yang seusia dengan ayahnya ini. Dia melingkarkan lengan memeluk pria itu, kakinya juga dia lingkarkan pada pinggangnya seperti tidak ingin dilepaskan. Pria ini melakukan persetubuhan dengan kombinasi lembut dan kasar secara beraturan sehingga membuatnya merasa diperlakukan seperti ratu, tidak seperti dua orang tadi siang yang gayanya primitif dan kasar, namun bagaimanapun baginya seks tetap sama, variasi apapun mempunyai kenikmatannya tersendiri. Ketika sedang larut dalam persetubuhan itu dia agak kaget saat melihat seraut wajah di jendela kaca yang terletak di atas pintu masuk kamar. Wajah dengan mata sipit sebelah itu tak lain Thalib yang tadi siang mengerjainya, karena sudah terbiasa Fanny pun membiarkan orang itu mengintip persetubuhan dengan dosennya ini, Pak Dahlan sendiri sepertinya tidak tahu karena dia membelakangi pintu. Tak lama mereka berganti posisi, Fanny bertumpu dengan kedua lutut dan sikunya, dari belakang Pak Dahlan kembali menjejali vaginanya dengan penisnya. Mulut pria itu menceracau tidak karuan sambil meremas-remas payudara Fanny.
“Uhhh…uhhh…bener-bener memek yang enak, goyangnya juga enak !” katanya “lonte…berapa harga paling mahal buat nih memek hah…berapa paling mahal pernah kamu jual ?” kata-kata yang tidak pantas diucapkan seorang dosen itu terlontar begitu saja.
“Lima…ahh…lima juta !” sahut Fanny sambil mendesah, dia tidak merasakan itu merendahkannya karena dia menganggap kata-kata kotor itu hanyalah bumbu dari seks yang menambah nikmat aktifitas ini.
Setelah kurang lebih duapuluh menit, erangan panjang keluar dari mulut Fanny, tubuhnya mengejang dan tangannya mencengkram erat-erat bantal yang dipeluknya. Kontraksi otot vagina dan cairan kewanitaan yang menghangatkan penis Pak Dahlan membuatnya semakin gencar menyodok vagina gadis itu. Tiga menit kemudian diapun menyusul orgasme, penisnya ditekan dalam-dalam saat menyemburkan spermanya. Mereka pun terbaring lemas bersebelahan. Fanny menoleh ke samping ke arah jam weker yang kini menunjukkan jam enam kurang sepuluh menit, langit pun sudah gelap. Lalu dirasakannya tangan pria itu menggenggam tangannya.
“Bagus Fan…kamu kuat sekali, Bapak bener-bener puas” kata Pak Dahlan.
Fanny tersenyum menanggapi pujian itu seraya menarik selimut menutup sebagian tubuhnya karena dinginnya AC.
“Rokok ?” tawar Pak Dahlan menyodorkan sekotak Malboro padanya.
“Ngga…makasih Pak, lagi ngurangin” tolak Fanny sopan.
Pria itu menyulut rokoknya, mereka ngobrol-ngobrol sebentar sambil mengumpulkan tenaga. Thalib sudah tidak nampak lagi di jendela sana.
“Kita makan malam dulu yah abis ini, udah gitu baru kita bicarakan mengenai soal ujian itu, kamu pasti lapar kan” kata pria itu.
Fanny turun dari ranjang menuju ke kamar mandi, disana dia membasuh tubuhnya dari sisa-sisa persetubuhan dan buang air kecil.
“Kamu pakai ini aja dulu, maaf disini nggak ada wanita sih, jadi baju laki-laki semua” kata Pak Dahlan memberikan sebuah kemeja putih bergaris-garis biru muda miliknya.
Fanny lalu memakai kemeja itu, pakaian yang kebesaran itu menutupi tubuhnya hingga lutut ke atas sedikit, lengannya digulung hingga siku karena kepanjangan, dibaliknya dia hanya memakai celana dalam. Aroma badan bapak-bapak terasa pada kemeja itu.
“Dibuka sedikit gini…nah kan seksi, kamu memang cantik Fan !” pujinya pada penampilan Fanny yang seksi itu dengan empat kancing atas terbuka sehingga memperlihatkan sebagian dadanya.
Mereka turun ke bawah dan melihat Thalib sedang menonton ‘Bajaj Bajuri’ di ruang tengah. Si bongkok itu terpana melihat penampilan Fanny yang menyegarkan mata dengan rambutnya yang kini terurai.
“Makanannya sudah ?” tanya Pak Dahlan padanya.
“Udah beres semua Pak, masih hangat lagi” jawabnya.
Dengan gentleman Pak Dahlan menarikkan kursi untuk Fanny sebelum duduk, lalu disendokkannya juga nasi untuknya. Lauknya berupa ikan goreng, tempe bacem, dan capcay.
“Bisa makannya Fan ? maaf ya disini pria semua sih jadi masaknya juga gitu-gitu aja, paling beli di luar kalau mau enak” kata pria itu berbasa-basi.
“Enak kok Pak, lagian saya juga makannya gak macem-macem, takut gendut hihihi” kata Fanny.
“Eh…udah jangan Fan, biar Pak Thalib aja !” kata Pak Dahlan ketika Fanny hendak mengambil piringnya yang kosong dan mencucinya.
“Udah nggak papah kok, saya di kost juga biasa nyuci sendiri” Fanny tetap mengambil piring bekas dosennya itu.
“Waduh jadi ngerepotin kamu aja Fan, ya udah Bapak ke atas dulu yah, sakit perut nih sekalian mau ambilin soal ujiannya” pria itu pun meninggalkan Fanny di ruang makan yang menyatu dengan dapur itu.
Fanny mencuci piring-piring dan gelas bekas itu di tempat pencucian, sebentar saja dia sudah selesai karena hanya dua itu. Ditaruhnya cucian itu pada tempat pengeringan lalu dia mencuci tangannya. Ketika berbalik badan dia terkejut dan menjerit kecil karena dibelakangnya ternyata Thalib telah berjongkok mengintip tubuhnya lewat bawah, entah sejak kapan dia disitu.
“Ahh…ngapain sih Bapak ngagetin aja, ngapain sih !”
“Hehehe…cuma ngintip dikit kok, mau tau pake daleman atau ngga, eh taunya pake yah” jawabnya cengengesan dengan wajah mesum “kenapa gak dibuka aja Non biar adem ?”
“Jorok banget sih Pak ngomongnya !” Fanny cemberut dan berjalan melewatinya.
“Ee-ee…tunggu dulu dong kok buru-buru gitu ?” kata Thalib mencengkram lengan Fanny “saya mau tau yang atasnya pake daleman juga ga hehehe !” seraya menyusupkan tangan lewat pinggir kemeja yang kancingnya terbuka, payudaranya yang tidak pakai bra itu langsung dipencet-pencet olehnya.
“Ih…jangan, lepasin Pak, lepasin…ntar Bapak ngeliat !” Fanny meronta dan minta dilepaskan.
Namun dengan kasar Thalib malah mengangkat dan mendudukkan Fanny di platform lapis marmer dekat tempat cuci piring itu. Kemeja yang kebesaran itu dia peloroti sebatas dada hingga kedua payudara Fanny menyembul keluar. Mulutnya lantas mengenyoti yang bagian kiri dan tangannya meremas yang kanan. Nampaknya si bongkok ini memang tergila-gila dengan payudara Fanny yang bulat seperti bakpao itu, posturnya juga tegak dan kencang sehingga tidak heran kedua daging kenyal itu memang sering jadi bulan-bulanan oleh siapapun yang pernah mencicipi tubuhnya. Tangan Thalib yang satu lagi bekerja di bawah mengelusi paha Fanny dengan lembut meresapi setiap jengkal kehalusan kulit pahanya, elusannya naik hingga mencapai selangkangan, disana tangannya menarik lepas celana dalamnya. Fanny yang sudah mulai terangsang menggerakkan kaki membantu celana itu melolosi kakinya.
“Pak…udah dulu, Bapak ntar lagi turun !”
“Nggak apa-apa kok Non, lagian sebentar aja kok” kata Thalib mengeluarkan penisnya dari balik sarung dan menempelkannya pada vagina Fanny.
Thalib menghujamkan penisnya hingga masuk dan menggenjotnya dengan kecepatan tinggi. Fanny mendesah-desah dan makin erat memeluk punggung bongkok Thalib.
“Udah makan kamu Lib ?”tanya Pak Dahlan yang kehadirannya tidak mereka sadari.
“Iya…sebentar abis ini !” jawab Thalib sambil terus menggenjot Fanny.
Fanny agak heran juga ketika melihat reaksi dosennya yang bersikap biasa saja melihat pembantunya berbuat demikian. Dia makin percaya kalau si bongkok ini memang sering mendapat ‘jatah sisa’ dari majikannya itu.
“Gila tuh dosen, pantes cerai ama bininya” demikian kata Fanny dalam hati.
Mereka hanya melakukannya secara kilat, tidak sampai sepuluh menit keduanya orgasme hampir berbarengan. Cairan hasil persenggamaan mereka menetes sebagian pada marmer di bawah tubuh Fanny. Fanny pun lalu turun dari situ sambil merapikan lagi kemejanya dan memakai celana dalamnya. Thalib berjalan ke meja makan dan mulai makan.
“Gimana udah beres ? ayo duduk sini, sekarang Bapak kasih tau soalnya ?” Pak Dahlan menyuruhnya duduk di sofa ruang tengah itu.
Mereka pun terlibat pembicaraan mengenai ujian, Pak Dahlan memberitahu jawaban-jawaban soal yang akan diujikan itu pada Fanny.
“Nah gimana? Kamu udah nangkap semua? Jangan bilang siapa-siapa tentang ini yah, bahaya !” kata pria tambun itu.
Fanny mengangguk, kini dia sudah lega setelah menempuh jalan pintas untuk melewati mata kuliah yang membuatnya pusing itu.
“Bapak dikasih apa nih udah gitu ?” tanyanya sambil cengengesan.
Fanny pun mendekatinya dan memberi kecupan di pipi kiri dan juga kanan.
“Sini…sini belum !” katanya lagi sambil memonyongkan bibirnya.
Fanny pun mendaratkan ciuman ringannya ke bibir tebal itu, namun begitu bibir Fanny menempel dia langsung memeluk gadis itu dan menempelkan bibirnya lebih lekat ke bibir mungilnya. Kemudian dia membuka celananya pendeknya sehingga penisnya yang telah menegang keluar dan disuruhnya Fanny mengoralnya. Sambil bersandar di sofa dan menonton TV dia menikmati sepongan Fanny. Pria itu melenguh dan tangannya meraba-raba tubuh gadis itu, sepertinya dia sudah tidak konsen dengan acara di TV karena saking keenakannya.
“Ngapain disitu ? ayo sini, ikutan aja jangan ngintip-ngintip gitu !” Pak Dahlan memanggil Thalib yang sedang mengintip adegan mereka di pinggir tembok yang memisahkan ruang tengah dengan ruang makan.
Karena sudah horny Fanny cuek saja dan membiarkan Thalib bergabung dengan mereka. Malam itu dia dikerjai mereka berdua habis-habisan sampai akhirnya dia harus menginap di rumah itu karena lelah dan hari sudah terlampau malam. Dia tidur di kamar Pak Dahlan bersama pria itu yang mendekap tubuhnya bagaikan guling.
“Akhirnya ga sia-sia gua ngelembur dulu, good bye deh ama pelajaran edan ini” kata Fanny dua minggu kemudian setelah melihat hasil ujiannya yang mendapat B+ lewat internet.
###########################
Nightmare Sidestory: Home Alone
Kisah ini terjadi sekitar tiga bulan setelah Sherin mengalami mimpi buruknya dengan Imron, si penjaga kampus bejat itu. Saat itu adalah lima hari menjelang Lebaran, Sherin sudah tiga hari di rumah tanpa orang tuanya karena keduanya sedang ke luar kota menghadiri pernikahan famili. Tinggallah dia di rumah yang besar itu dengan dua orang pembantunya Mbak Jum dan Mbak Narti serta seorang tukang kebun tua, Pak Udin. Sebenarnya ada seorang pembantu lagi, Mbak Milah tapi dia sudah minta ijin mudik sehari sebelum kedua orang tuanya berangkat. Hari itu jam sepuluh pagi, Mbak Jum dan Narti pun berpamitan pada Sherin untuk mudik, Sherin sebelumnya memang sudah diberitahu hal ini oleh mamanya dan dititipi sejumlah uang untuk mereka. Maka Sherin pun menyerahkan kedua amplop berisi uang itu kepada mereka sebelum mereka meninggalkannya.
“Cepetan balik yah Mbak, saya sendirian nih jadinya !” pesan Sherin.
“Non nggak usah takut kan disini masih ada Pak Udin, oh iya makanan buat siang nanti Mbak udah siapkan di meja, kalau dingin masukin oven aja yah” kata Mbak Narti.
Akhirya kedua wanita itupun berangkat. Sherin sebenarnya agak risih di rumah hanya berdua dengan Pak Udin, apalagi masih belum hilang dari ingatannya kenangan pahit diperkosa mantan sopirnya, Nurdin dulu.
Dia ingin memanggil pacarnya Frans untuk menemaninya, namun sayang pemuda itu baru berangkat bersama keluarganya ke Singapura kemarin. Namun dia agak lega karena menurutnya Pak Udin bukanlah pria berbahaya seperti mantan sopirnya itu, dia adalah pria berusia lanjut, 67 tahun dan orangnya cukup sopan, kalau berpapasan selalu menyapanya walaupun seringkali Sherin cuek karena sedang buru-buru atau tidak terlalu memperhatikan. Ia baru bekerja di rumah mewah itu sebulan yang lalu menggantikan tukang kebun sebelumnya, Pak Maman yang mengundurkan diri setelah istrinya di kampung meninggal. Setelah mengantarkan kedua pembantunya hingga ke pagar, Sherin kembali ke dalam dan masuk ke kamarnya. Di sana dia mengganti bajunya dengan baju fitness yang seksi, atasannya berupa kaos hitam tanpa lengan yang menggantung ketat hingga bawah dada sehingga memperlihatkan perutnya yang seksi, belum lagi keketatannya menonjolkan bentuk dadanya yang membusung indah, sementara bawahannya berupa celana pendek yang membungkus paha hingga sepuluh centi diatas lutut. Setelah mengikat rambutnya ke belakang, dia segera turun ke bawah menuju ruang fitness di belakang rumah. Ruang itu berukuran sedang dengan dilapisi karpet kelabu, beberapa peralatan fitness tersedia disana seperti treadmill, training bike, perangkat multi gym, hingga yang kecil-kecil seperti abdomenizer dan barbel. Ruang fitness keluarga ini memang cukup lengkap, disinilah Sherin sering berolahraga menjaga kebugaran dan bentuk tubuhnya.
Sebelum mulai berolah raga Sherin menyalakan CD playernya dan terdengarlah musik R&B mengalun dari speaker yang terpasang pada dua sudut ruangan itu. Sherin memulai latihan hari itu dengan treadmill, kira-kira dua puluh menit lamanya dia berjalan di atas papan treadmill itu lalu dia berpindah ke perangkat multi gym. Disetelnya alat itu menjadi mode sit up dan mulailah dia mengangkat-angkat badannya melatih perut sehingga tidak heran jika dia memiliki perut yang demikian rata dan mulus. Butir-butir keringat mulai membasahi tubuh gadis itu, dari kening dan pelipisnya keringatnya menetes-netes. Tiba-tiba Sherin merasa dirinya ada yang sedang mengawasi, dia melayangkan pandangannya ke arah pintu geser yang setengah terbuka dimana dilihatnya Pak Udin, si tukang kebun itu sedang berdiri memandangi dirinya.
“Heh…ngapain Bapak disitu !?” hardik Sherin yang marah atas kelancangan Pak Udin yang masuk diam-diam itu.
“Nggak Non, abis nyiram tanaman aja kebetulan lewat sini ngeliat Non lagi olahraga” jawab pria itu.
“Ga sopan banget sih, masuk diem-diem gitu, keluar !!” bentak Sherin sambil menundingnya.
Sherin mulai merasa tidak enak dan takut ketika melihat pria tua itu bukannya pergi malah diam saja menatap padanya lalu mengembangkan senyum. Tidak, peristiwa seperti dulu tidak boleh terjadi lagi demikian pikir Sherin, lagipula dia hanya seorang pria tua, bisa apa dia terhadapnya, seburuk-buruknya kemungkinan pun paling melarikan diri dan si tua itu tidak mungkin tenaganya cukup untuk mengejar.
“Bapak mulai kurang ajar yah” Sherin marah dan berdiri menghampirinya, “denger gak tadi saya bilang keluar !?”
“Keluar ya keluar Non, tapi ngomongnya baik-baik dikit dong, dasar lonte” kata Pak Udin.
Kedua kata umpatan terakhir itu memang diucapkan Pak Udin dengan suara kecil, namun Sherin dapat mendengarnya sehingga kontan darahnya pun semakin naik.
“Hei…omong apa tadi ?! Keluar sana, cepat beresin barang Bapak, Bapak saya pecat sekarang juga, dasar orang tua ga tau diri !” Sherin membentaknya dengan sangat marah.
Pak Udin tentu saja kaget karena umpatannya terdengar sehingga memancing kemarahan nona majikannya itu, tapi sebentar saja senyumnya mengembang kembali.
“Lho kenapa emangnya Non, emang bener kan kata saya tadi, sama penjaga kampus dan sopir aja Non mau kan ?” ujarnya enteng.
Mendengar itu Sherin langsung merasa seperti ada belati dilempar tepat mengenai dadanya, dia langsung mati kutu dan terdiam selama beberapa detik, rasa takut pun mulai melingkupi dirinya.
“Jangan ngomong sembarangan yah, saya telepon papa atau polisi kalau perlu kalau Bapak macam-macam !” gertaknya sambil menutupi kegugupan.
“Ya silakan Non, telepon aja, ntar juga saya laporin Non pernah ada main sama si Nurdin dulu, terus sama penjaga kampus Non juga”
Kemudian pria tua itu mulai menjelaskan bagaimana dia mengetahui skandal-skandal seks gadis itu yang ternyata didapatnya dari Nurdin, mantan sopirnya, yang juga tidak lain adalah keponakan pria itu.
Sherin diam seribu bahasa, rasanya lemas sekali membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Pak Udin lalu mendekati Sherin yang berdiri terpaku, tangan keriputnya memegang kedua lengannya yang mulus. Sherin tidak bereaksi, batinnya mengalami konflik, dia sama sekali tidak ingin melayani nafsu pria seusia kakeknya ini, namun apa daya karena pria ini telah mengetahui aibnya yang dipakainya sebagai alat mengintimidasinya. Tangan pria itu mulai membelai lengannya sehingga menyebabkan bulu kuduk gadis itu serentak berdiri merasa geli dan jijik. Tangan kanannya naik membelai pipinya lalu ke belakang kepalanya menarik ikat rambutnya sehingga tergerailah rambut indahnya yang seminggu lalu baru diluruskan dan dihighlight kemerahan.
“Cantik, bener-bener cantik !” gumam Pak Udin mengagumi kecantikan Sherin, “Cuma sayang sifatnya jelek !” sambungnya sambil mendorong tubuh gadis itu hingga jatuh tersungkur di lantai berkarpet.
“Aaaww !” jerit Sherin, namun sebelum dia sempat bangkit pria itu telah lebih dulu meraih kedua lengannya, mengangkatnya ke atas kepala dan mengunci kedua pergelangannya dengan tangan kiri sementara tangan kanannya menyibak kaos fitnessnya sehingga payudaranya yang putih montok berputing kemerahan itu terekspos. Mata Pak Udin melotot seperti mau copot melihat keindahan kedua gunung itu. Tatapan mata itu membuat Sherin bergidik melihatnya.
“Dasar anak jaman sekarang, udah jadi lonte aja masih suka belagu !” kata Pak Udin sambil meremas payudara kirinya dengan gemas. “Tau gak, Bapak sebenernya kasian ngedenger si Nurdin cerita tentang Non itu, saya sempat tegur dia, terus saya pikir Non juga udah bertobat, tapi selama saya kerja disini ternyata masih gitu-gitu aja. Non tetap sombong dan suka marah-marah ke pembantu seperti kita, emang Non pikir kita ini apa sih !?” pria itu dengan keras memarahinya.
“Jangan Pak, jangan begitu !” kata Sherin dengan suara bergetar.
Sementara Pak Udin terus mengagumi kedua payudara Sherin yang menggemaskan itu, tangan kanannya terus berpindah-pindah meremasi kedua payudara itu. Sherin sendiri menggeliat-geliat dan meronta tapi kuncian Pak Udin pada pergelangan tangannya cukup kuat. Sentuhan tangan keriput itu pada payudaranya mulai menimbulkan sensasi aneh, darahnya bergolak dan nafasnya mulai tidak teratur.
“Cewek kaya Non gini emang harus dikasih pelajaran biar tau diri dikit, sekalian Bapak juga mau ngerasain cewek cantik mumpung masih hidup hehehe !” katanya terkekeh-kekeh.
“Aahh…sshhh….nngghh !” desah Sherin saat mulut Pak Udin melumat payudaranya, lidahnya yang panas itu langsung mempermainkan putingnya yang sudah mengeras.
Sherin benar-benar tidak berdaya saat itu karena nikmatnya, dia sudah terbiasa mengalami pelecehan sejak menjadi budak seks Imron sehingga nafsunya dengan cepat naik walau bercampur perasan benci pada orang-orang yang mengerjainya.
Sambil masih mengunci pergelangan dan menciumi payudara nona majikannya, pria tua itu menyusupkan tangan satunya ke celana pendek itu. Telapak tangannya menyentuh vagina gadis itu yang ditumbuhi rambut-rambut lebat. Tubuh Sherin berkelejotan dan mulutnya mengeluarkan desahan ketika jari-jari pria itu menyentuh bibir vaginanya dan mulai mengorek-ngorek liangnya, Sherin merasakan daerah itu semakin basah saja. Pak Udin tersenyum puas melihat wajah terangsang Sherin yang bersemu merah. Merasa Sherin sudah takluk dan tidak memberontak lagi, pria itu mulai melepaskan kunciannya pada pergelangan gadis itu. Setelah melepas kunciannya tangannya langsung menarik lepas kaos fitness yang tersingkap itu sehingga membuat gadis itu topless. Keringat bagaikan embun membasahi tubuh bagian atasnya hasil dari fitness barusan. Sherin hanya bisa pasrah, matanya nerawang menatap langit-langit sambil sesekali merem-melek menahan nikmat. Mulut Pak Udin kini merambat naik ke lehernya sementara kedua tangannya tetap bekerja meremas payudaranya dan mengobok-obok di balik celananya. Sherin membuang muka ketika pria itu mencoba mencium bibirnya, terus terang dia enggan dicium oleh tua bangka ini, melihat giginya yang mulai ompong dan hitam-hitam saja jijik apalagi dicium. Dua kali dia membuang muka ke kiri dan kanan sampai akhirnya Pak Udin berhasil memagut bibirnya yang indah itu.
Dia menggeleng-gelengkan kepala berusaha lepas, tapi saat itu pria itu menekankan jari tengahnya pada klitoris yang telah berhasil ditemukannya sehingga otomatis pemiliknya mendesah dan mulutnya membuka. Saat itulah lidah Pak Udin menyeruak masuk dan langsung menyapukan lidahnya di dalam mulut. Ketika Pak Udin melumat bibirnya, Sherin memejamkan mata menahan jijik, betapa tidak bibir Pak Udin yang sudah berkerut itu sedang beradu dengan bibirnya yang mungil dan tipis. Semula dia menanggapi ciuman tukang kebunnya itu dengan pasif, tapi karena serangan-serangan pria itu pada daerah lainnya cukup gencar dan membuat birahinya semakin bergolak, lidah Sherin mulai ikut bergerak beradu dengan lidah kasar tukang kebunnya itu. Selama tiga menit lamanya Pak Udin menindih tubuh anak majikannya itu sambil menciumi dan menggerayangi tubuhnya. Pria itu merasakan jari-jarinya makin basah oleh lendir dari kemaluan gadis itu. Kemudian Pak Udin melepas ciumannya, air ludah mereka nampak saling menjuntai ketika bibir keduanya berpisah. Berikutnya dia menarik lepas celana pendek Sherin beserta celana dalamnya. Dia bangkit berdiri tanpa melepaskan pandangan matanya yang penuh nafsu itu dari tubuh telanjang nona majikannya. Dia mulai melepaskan kemeja lusuhnya memperlihatkan tubuhnya yang hitam kerempeng lalu dia buka celananya sehingga terlihatlah penisnya yang sudah tegang, bentuknya lumayan panjang, pangkalnya ditumbuhi bulu-bulu yang setengah memutih.
Pak Udin memapah Sherin lalu membaringkannya di alat sit up, sebuah platform yang berdiri membentuk sudut 45 derajat dengan lantai. Pria itu berjongkok di depannya dan membuka kaki gadis itu. Wajahnya mendekat hingga berjarak hanya sepuluh centi dari vagina gadis itu, matanya menatap nanar kemaluan yang berbulu lebat dengan bagian tengah yang memerah itu. Sherin memalingkan wajah ke samping dan memejamkan mata, dia merasa malu diperlakukan demikian, namun juga ada seperti rangsangan aneh yang membuatnya merasa seksi. Dia bisa merasakan dengus nafas pria itu menerpa vaginanya dan menambah sensasi nikmat.
“Ooohh…Paakk !” Sherin mendesah panjang sambil menggenggam erat pegangan alat itu ketika lidah Pak Udin menyapu bibir kemaluannya.
Demikian lihainya mulut ompong Pak Udin menjilati dan menyedot vagina Sherin sampai membuat gadis itu menikmatinya. Sherin mendesis-desis dan kakinya mengejang, dia mulai berani melihat ke bawah dimana selangkangannya sedang dijilati dan dihisap-hisap oleh pria tua itu. Lidah Pak Udin bergerak dengan lincah, kadang dengan gerakan lambat, kadang cepat, kadang menjilati memutar di daerah itu sehingga tanpa disadari Sherin merasa terbang ke awang-awang, tanpa disadari tangannya meraih tangan Pak Udin dan meletakkannya pada payudaranya, tangan keriput itupun langsung bekerja meremas dan memilin-milin putingnya.
Setelah setengah jam lebih sedikit, tubuh Sherin mengejang hebat, cairan orgasme meleleh dari liang vaginanya.
“Aahh…oohhh…!” Sherin mengerang panjang dalam orgasme pertamanya dengan si tukang kebun itu.
Pak Udin sengaja menghentikan jilatannya untuk mengamati lendir vagina gadis itu yang membanjir sampai menetes ke lapisan kulit pada alat fitness itu. Sebuah senyum mesum tergurat pada wajah tuanya, sepertinya dia senang sekali berhasil menaklukkan nona majikannya seperti ini.
“Huehehe…gila banjir gini, Non juga konak yah, Bapak suka banget sama memek Non, hhhmhh…ssllrrpp !” Pak Udin mengakhiri kata-katanya dengan menghirup lendir vagina nona majikannya.
Mulutnya sampai menyedoti bibir vagina gadis itu sehingga membuat tubuhnya makin mengejang dan menambah nikmat orgasmenya.
“Hhmm..enak yah rasa pejunya, Bapak udah lama nggak ngerasain seperti ini !” gumamnya sambil terus menghirup cairan orgasme Sherin.
Gairah Sherin dengan cepat bangkit kembali karena Pak Udin terus menjilati vaginanya dan melahap cairan orgasmenya hingga habis menyisakan bercak ludah di daerah selangkangan gadis itu. Gairah itu menghapus sementara rasa marah dan jijik yang sebelumnya melingkupinya, entah mengapa dia kini merasa ingin penis lelaki tua ini segera menusuk vaginanya.
Jantung Sherin semakin berdebar-debar ketika kepala penis pria itu menyentuh bibir vaginanya. Nuraninya menghendaki agar dirinya memberontak dan kabur, tapi tubuhnya yang berkata lain malah menggerakkannya untuk membuka kakinya lebih lebar. Dia melihat jelas bagaimana penis pria itu memasuki vaginanya juga ekspresi puas di wajah tuanya karena berhasil menikmati tubuh gadis cantik yang baru pernah dirasakan seumur hidupnya.
“Hhsshhh…enngghh…me…mek Non seret…banget !” gumam tukang kebun itu disela-sela nafasnya yang memburu.
“Ahhh…Pak Udin…ooohh !” rintih Sherin menahan nikmat saat penis itu mulai bergerak menggesek dinding vaginanya.
Pak Udin mulai menggenjoti vagina nona majikannya itu dengan kecepatan makin meningkat tapi tidak sebrutal Imron atau sopirnya dulu karena faktor usia. Pak Udin pun nampaknya sadar akan hal ini sehingga dia tidak mau menggenjotnya terlalu cepat agar tidak terlalu menghamburkan tenaga dan dapat menikmati kenikmatan langka ini lebih lama. Sherin sendiri mulai terhanyut oleh gaya Pak Udin yang khas itu. Tanpa disadari dia menggerakkan tubuh bagian bawahnya menyambut hujaman-hujaman penis Pak Udin. Mata pria tua itu menatap kedua payudaranya yang turut bergoyang-goyang mengikuti goyangan tubuhnya sehingga dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menjulurkan tangan kanannya meremasi benda itu sambil tangan yang satunya tetap menyangga lutut gadis itu. Sherin nampak meringis-ringis dan mendesah sambil sesekali menggigiti bibir bawah atau tangannya yang terkepal.
“Balik Non, nungging !” perintah pria itu setelah 20 menitan dalam posisi yang sama.
Sherin kini berpijak dengan kedua lututnya dan tangannya bertumpu pada alat sit-up itu. Pria itu melebarkan sedikit kakinya lalu kembali memasukkan penisnya ke liang senggama gadis itu yang telah licin oleh lendir. Sherin merasakan sodokan tukang kebunnya ini kini terasa lebih bertenaga dan lebih dalam sehingga tubuhnya lebih terguncang daripada sebelumnya. Sambil menggenjot, kedua tangan keriputnya juga menggerayangi sepasang payudara yang menggantung itu. Suara benturan antara pantat Sherin dengan selangkangan pria itu bercampur baur dengan irama musik R&B yang masih mengalun dari CD player.
“Aarhhh…terus Non, goyang terus !” erang pria itu dengan suara parau.
Sebagai gadis yang sudah berpengalaman soal seks, Sherin tahu bahwa bajingan tua ini sudah mau klimaks. Maka dia pun merespon dengan menggoyangkan pinggulnya lebih cepat. Benar saja, tak lama kemudian dia merasakan adanya siraman hangat di dalam vaginanya. Pria itu mengerang menikmati spermanya mengisi rahim anak gadis majikannya tersebut. Genjotannya makin menurun kecepatannya hingga akhirnya berhenti dan penisnya tercabut. Akhirnya pria tua itu duduk berselonjor di lantai dengan nafas ngos-ngosan. Sherin terlalu seksi baginya sehingga dia menggenjotnya terlalu bernafsu di saat-saat terakhir sehingga tenaganya banyak terkuras.
Sherin buru-buru memunguti pakaiannya dan keluar dari ruangan itu setelah terlebih dahulu mematikan cd-player. Dia menatap kesal pada pria itu ketika melintas di depannya sementara Pak Udin sendiri hanya tersenyum puas sambil mengatur nafasnya yang masih putus-putus. Sherin langsung masuk ke kamarnya dan membanting pintu serta menguncinya. Kurang ajar sekali tua bangka ini, marahnya, tidak disangka si tua itu ternyata adalah paman dari bekas sopir yang pernah mempecundanginya dulu. Sekarang dirinya telah jatuh dalam kekuasaan bajingan tua ini tanpa dapat berbuat apa-apa karena dia memegang kartu trufnya. Setelah air di bathtub penuh, Sherin menaburkan sabun ke dalamnya hingga berbusa lalu dia masuk ke dalam dan membasuh tubuhnya dari sisa-sisa persetubuhan. Rasa lelah dari berolah raga dan persetubuhan tadi membuatnya merasa ngantuk di dalam air hangat yang memberi kenyamanan itu sehingga tanpa terasa dia mulai tertidur di bak. Lebih dari setengah jam kemudian barulah dia terbangun karena ponselnya yang diletakkan di pinggir bathtub berbunyi. Dia segera mengangkat telepon dari mamanya yang mengabarkan mereka besok sore baru pulang dan berpesan agar jaga diri di rumah, dan jangan lupa kunci rumah yang benar. Betapa dongkolnya Sherin karena dengan demikian berarti dia tidak bisa melepaskan diri dari Pak Udin hingga besok dan masih harus iklas dikerjai orang tua itu.
Diapun bangkit dan keluar dari bak menyudahi mandinya. Setelah mengeringkan tubuh dengan handuk dipakainya sebuah kaos longgar warna biru muda dan celana pendek. Jam telah menunjukkan pukul setengah dua ketika itu, diluar sana matahari sedang terik-teriknya. Sherin merasa perutnya telah berbunyi minta diisi. Dibukanya pintu sedikit dan melongokkan kepala keluar melihat keadaan, sepi…Pak Udin sepertinya sedang di belakang sana. Maka dia pun keluar dari kamar menuju ruang makan. Setelah menyendok nasi ke piringnya, dibukanya tudung saji yang menutupi makanan di atas meja makan dan diambilnya lauk secukupnya. Sepuluh menit kemudian, dia pun selesai makan, lalu dibawanya piring dan gelas bekas itu ke tempat cuci piring. Selagi mencuci piring, tiba-tiba dia merasa sebuah tangan mendarat di pantatnya lalu meremasnya. Spontan diapun membalik badannya dan menepis tangan itu.
“Kurang ajar !” omelnya dengan wajah cemberut.
“Siang Non, udah bangun yah, asyik kan tadi ?” goda Pak Udin sambil cengengesan.
Wajah Sherin langsung merah padam mendengarnya, memang tak dapat dipungkiri walaupun tindakan pria ini bisa digolongkan sebagai pemerkosaan dan merendahkan harga dirinya namun dia sendiri juga menikmatinya. Ingin rasanya menghantamkan piring di belakangnya ke kepala tua bangka ini hingga bocor, tapi nyalinya tidak sebesar itu. Dia hanya bisa menepis tangan pria itu ketika hendak meraba dadanya lalu mendengus kesal sambil melengos meninggalkannya. Tak lama kemudian terdengar suara pintu dibanting dari kamarnya. Pak Udin sendiri hanya tertawa-tawa melihat reaksi nona majikannya itu.
Di kamar Sherin menyetel cd-playernya keras-keras sambil menyalakan sebatang rokok untuk melampiaskan kekesalan pada tukang kebunnya yang brengsek itu. Setelah rokok itu habis setengah batang, tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. Dia kecilkan sedikit volume cd-playernya lalu membuka pintu.
“Ngapain lagi sih Pak ?!” ujarnya ketus.
“Waduh…jangan judes gitu dong Non, ini Bapak cuma konak lagi nginget yang barusan, kita main lagi dikit yuk Non, mumpung cuma kita duaan disini” sahut Pak Udin.
“Nggak ah, tadi kan udah…pergi sana !” tolak Sherin dengan kesal seraya menutup pintu.
“Ayo dong Non jangan gitu ah…sebentar aja, tadi Bapak belum ngerasain kontol Bapak dimulut Non, ayo dong…yah !” Pak Udin menahan pintu itu dengan setengah memohon dan setengah memaksa.
Pak Udin membuatnya tidak punya pilihan lain sehingga akhirnya dengan terpaksa diiyakannya kemauan pria ini. Dengan berat hati dibiarkannya pria itu masuk ke kamarnya. Sherin menghempaskan pantatnya hingga terduduk di tepi ranjang tanpa melepas pandangan marahnya pada pria itu. Pak Udin berdiri di hadapannya dan mulai melepaskan celananya. Setelah celana panjangnya melorot jatuh, dia mengeluarkan penisnya yang sudah menegang dari balik celana dalamnya.
“Ayo Non disepong yang enak !” Pak Udin menyodorkan penis itu pada nona majikannya.
Walau terbiasa melihat penis hitam dan dilecehkan seperti itu, namun Sherin baru pernah berurusan dengan penis tua yang bulu-bulunya sudah mulai beruban seperti yang satu ini sehingga ada rasa enggan untuk mengoralnya. Sherin sadar bahwa itu adalah keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, maka dengan terpaksa dia mulai menggenggam penis itu, terasa denyutan benda itu dalam genggamannya. Tanpa menunggu perintah lagi dia mendekatkan wajahnya pada penis yang menodong wajahnya itu. Lidahnya bergerak menyapu bagian kepalanya yang bersunat. Pak Udin mengerang parau merasakan jilatan lidah gadis itu pada ujung penisnya, tubuhnya bergetar sambil meremas rambut gadis itu. Seumur hidupnya baru pernah pria tua itu merasakan yang namanya oral seks, istrinya selalu menolak untuk melakukan hal itu, sehingga kehidupan seksnya terasa hambar selama puluhan tahun menikah. Oral seks pertama dengan gadis secantik nona majikannya ini memberinya sensasi luar biasa, rasanya seperti kembali muda lagi sehingga dia melenguh tak karuan. Penisnya kini sudah masuk ke mulut gadis itu, dia merasakan lidahnya menggelikitik penisnya juga sensasi hangat dari air liurnya.
“Uhhh…enak banget Non, terus gituin yah…eeemm…jangan dilepas yah !” erangnya sambil memegangi kepala gadis itu.
Sherin melancarkan teknik-teknik mengoralnya, semakin hari dia semakin terbiasa diperlakukan demikian di kampus, terutama yang paling sering dengan Imron, sesekali dengan Pak Dahlan si dosen bejat itu atau pernah juga dengan Pak Kahar, si satpam kampus yang tak bermoral. Dia memaju-mundurkan kepalanya sambil mengulum penis itu, tangannya juga ikut bekerja mengocok batangnya atau memijat buah pelirnya. Pria setengah baya itu merasa semakin keenakan sehingga tanpa sadar ia menggerak-gerakkan pinggulnya sehingga penisnya menyodoki mulut Sherin seolah menyetubuhinya. Kini Sherin berhenti memaju-mundurkan kepalanya dan hanya pasrah membiarkan mulutnya disenggamai tukang kebunnya itu, kepalanya dipegangi sehingga tidak bisa melepaskan diri. Kurang lebih sepuluh menitan akhirnya Pak Udin mencapai puncak, dia mengerang tak karuan dan menggerakkan pinggulnya lebih cepat sehingga membuat Sherin agak kelabakan. Diiringi erangan keras, keluarlah spermanya di mulut Sherin. Walaupun jijik karena aromanya yang cukup tajam, Sherin bisa juga menelan habis cairan itu tanpa menetes keluar dari mulutnya. Memang menghisap merupakan salah satu kelebihannya dalam hubungan seks. Frans, pacarnya, juga sangat suka penisnya dioral olehnya, terkadang kalau sudah mau orgasme dia minta padanya untuk dioral agar bisa keluar di mulut dan merasakan hisapannya yang dahsyat itu. Setelah semprotannya berhenti, dijilatinya juga sisanya yang blepotan pada batang itu hingga bersih.
“Udah Pak…cukup sampai sini, sekarang keluar !” Sherin berdiri dan menyuruhnya keluar.
“Alah Non…masa sih segitu aja ? ayo dong biar Bapak muasin Non !” Pak Udin mendekap tubuh Sherin dan tangannya bergerak ke bawah meremas pantatnya.
Sherin meronta dan mendorong tubuh pria tua itu hingga dia terhuyung ke belakang hampir terjatuh.
“Udah dong Pak, saya bilang jangan sekarang, kenapa sih !?” kata Sherin setengah menghardik.
Pak Udin hanya tersenyum kecil sambil menaikkan kembali celananya.
“Ya udah ga apa-apa deh…dasar lonte…awas ya nanti !” dia lalu membalikkan badan dan keluar dari kamar.
Akhirnya Sherin berhasil juga menolak pria itu, tapi dia agak takut juga mendengar perkataan terakhir Pak Udin yang bernada mengancam itu. Ya sudahlah paling-paling digarap habis-habisan lagi dan disuruh tidur bareng dengan si tua brengsek itu, toh yang seperti itu bisa dibilang sudah menjadi hal biasa sejak dirinya menjadi budak seks. Sekarang ini dia sedang tidak mood melakukan hal itu. Dia pun berbaring di ranjang empuk itu sambil mendengarkan musik yang mengalun dari cd-player. Matanya terpejam hingga tanpa terasa dia tertidur lagi.
Sekitar jam setengah empat, Sherin terbangun dari tidurnya karena ada suara ketukan di pintu beserta suara Pak Udin memintanya membuka pintu.
“Huh, tua bangka itu lagi, dasar ga tau diri” omelnya.
“Ngapain lagi sih Pak, jangan kelewatan dong !” katanya dengan judes begitu nongol di depan pintu.
“Wes…wes…jangan marah-marah melulu dong Non, Bapak bukan mau ganggu Non, itu ada orang dari pabrik dateng katanya mau ambil barang titipan tuan !” kata Pak Udin kalem.
Sherin baru ingat memang sebelum pergi papanya pernah menitipkan dokumen kerja dan sebuah CD yang dibungkus dalam amplop besar berwarna coklat. Dia pun langsung menuju ke ruang kerja papanya setelah sebelumnya menutup pintu kamar dengan setengah dibanting di depan tukang kebunnya itu. Diambilnya amplop coklat yang dimaksud itu dari lemari meja papanya dan dibawanya ke ruang tengah dimana orang suruhan papanya itu menunggu. Di sofa ruang tengah telah menunggu dua orang pria yaitu Pak Irfan, salah satu staff papanya, seorang yang berpostur pendek berusia 40-an, dan satunya adalah sopir pabriknya yang bernama Jabir, seorang pria berkumis tebal dan tubuhnya padat berisi serta kulitnya hitam kasar karena sering terbiasa bekerja di bawah sinar matahari.
“Sore Non Sherin” sapa Pak Irfan ramah, Jabir juga tersenyum menyapanya.
“Sore Pak” Sherin balas menyapa dan tersenyum kecil “Ini Pak , titipan dari papa, bener kan?”
“Ah…iya Non bener ini, makasih yah !” kata Pak Irfan seraya menerima amplop itu.
“Ada apa lagi Pak yang bisa saya bantu ?” tanya Sherin melihat mereka yang belum beranjak pergi.
Kedua pria itu terdiam sejenak saling pandang satu sama lain, lalu Pak Irfan berkata,
“Mmm…anu Non sekalian itu…THR nya ?”
“THR ? Kok mintanya ke saya, kan yang ngurus bagian pabrik ?” Sherin agak heran.
“Itu Non, THR spesialnya…kan Pak Udin juga dikasih, masa kita nggak ?” sambung Jabir si sopir pabrik.
Deg…Sherin terperanjat mendengar perkataan Jabir itu, apalagi ekpresi mereka mulai berubah menyeringai mesum begitu melihat reaksinya.
“Brengsek…tua bangka mulut ember, keterlaluan banget sih !” makinya dalam hati.
“Nnngg….ma-maksudnya apa sih Pak ?” tanyanya gugup pura-pura tidak tahu apa-apa.
“Alah Non pura-pura bego aja” kata Pak Irfan sambil menggeser duduknya mendekati Sherin, “THR dari Non, ini loh” katanya memegang paha gadis itu.
“Eeii…jangan kurang ajar yah !” bentak Sherin mendorong pria itu.
Tanpa diduga, Jabir telah berada di sebelahnya dan mendekap tubuhnya setelah dia mendorong Pak Irfan.
“Apa-apaan nih, lepasin saya, tolong…tolong…!!” jeritnya sambil meronta.
“Hus jangan teriak Non, ntar semua orang tau mau taro dimana mukanya…kan kasian juga bapak Non, di pabrik dibilang apa ntar kalau anaknya ada main sama tukang kebun hehehe !” kata Pak Irfan sambil tertawa-tawa.
“Iya Non, lagian kan udah mau hari raya, boleh dong sekali-sekali nyenengin kita-kita yang udah kerja buat keluarga Non” timpal Jabir
“Hehe…gimana Non, kata Nurdin dulu Non suka keroyokan makannya Bapak ajak mereka ngerasain Non, dijamin Non puas deh” kata Pak Udin yang sudah berdiri di belakang sofa.
Sherin sadar bahwa kini dirinya benar-benar terjebak, tidak ada pilihan lain lagi selain menuruti kemauan bejat mereka. Dipandangnya tiga wajah mesum yang mengelilinginya dengan kesal, terutama Pak Irfan, bawahan papanya yang telah dikenalnya sejak masih kecil itu tega-teganya berbuat demikian terhadapnya, ternyata dia tidak berbeda dengan pria-pria lain yang pernah memperkosanya, bermoral bejat. Tangan pria itu kini memegangi pergelangan kakinya dan tangan lainnya mengelusi betis hingga pahanya yang ramping dan mulus itu sehingga darahnya mulai berdesir. Demikian pula Pak Udin dan Si Jabir yang mendekapnya juga mulai menggerayangi tubuh bagian atas payudaranya dari luar sehingga membuatnya menggeliat-geliat. Jantungnya berdetak dengan kencang, adakah yang lebih buruk daripada melayani ketiga binatang berwajah manusia ini, demikian katanya dalam hati.
“Ga kerasa Non udah dewasa yah, udah tambah cantik, tambah nafsuin” kata Pak Irfan sambil melepas celana pendek Sherin.
Jabir mengikuti tindakan Pak Irfan dengan melepas kaos gadis itu. Maka kini tubuh Sherin yang putih mulus itu hanya tinggal memakai bra berenda dan celana dalam yang keduanya berwarna putih, bulu kemaluannya nampak terlihat melalui celana dalamnya yang semi transparan. Mata ketiganya terbelakak melihat kemolekan tubuhnya, nampak jakun mereka bergerak naik-turun dan pandangan mata mereka demikian bernafsu seperti srigala lapar.
“Akhirnya bisa juga ngeliat bodynya Non Sherin, tiap kali saya konak banget kalau liat Non pake baju seksi ke pabrik” kata Jabir.
“Misi yah Non, bapak mau nyusu dulu” Pak Udin yang sudah berpindah tempat berjongkok di depan sofa meminta ijin seraya menyingkap cup bra sebelah kanannya.
Tanpa ba-bi-bu lagi pria setengah baya itu langsung melumat payudara kanannya.
“Sshhh !” desis Sherin merasakan payudaranya dikenyoti.
Terasa sekali lidah bagian atas pria itu menggesek-gesek putingnya seperti mengamplas sehingga benda itu makin menegang tanpa bisa tertahan. Jabir yang dibelakangnya juga merangsangnya dengan ciuman dan jilatan pada leher dan telinganya, telapak tangannya yang besar itu menyusup masuk ke cup bra kirinya menyentuh kulitnya yang halus, segera jari-jarinya memilin-milin putingnya setelah menemukannya. Sementara itu, Pak Irfan di bawah sana sedang memegangi kaki kanannya agar tetap terbentang sambil tangan satunya memainkan jari-jarinya mengosok-gosok kemaluannya dari luar celana dalam.
Senyum pria itu makin lebar seiring dengan bercak cairan pada celana dalamnya yang makin lebar.
“Enak kan Non, sampe banjir gini” kata Pak Irfan yang semakin gencar menggerayangi selangkangannya.
Diserbu dari berbagai arah pada bagian sensitifnya seperti itu membuat birahi Sherin mau tidak mau menggeliat bangkit. Dia pasrah saja membiarkan ketiga pria itu menjarah tubuhnya. Jabir melumat bibir gadis itu ketika kepalanya mendongak karena terangsang. Mata Sherin membelakak ketika pertama kali bibir tebal pria itu menempel ke bibirnya namun beberapa detik saja matanya kembali terpejam menikmati percumbuan. Kumis tebal Jabir bergesekan dengan daerah sekitar mulut Sherin, namun dia mengabaikannya dan terus menyambut ciuman si sopir pabrik itu, nampak lidah keduanya saling beradu dan saling jilat. Sambil bercumbu, tangan pria itu terus saja meremas-remas payudara kirinya. Pak Udin yang berjongok di sebelahnya bukan saja melumat payudaranya, mulutnya terkadang menelusuri bagian tubuh yang lain yang masih lowong meninggalkan jejak air liur, tangannya pun turut menjamah-jamah disana-sini. Pak Irfan mendekatkan wajahnya pada selangkangan Sherin lalu menjulurkan lidah menjilati bagian celana dalam yang basah itu sehingga tubuh gadis itu menggeliat. Sungguh ketiga pria ini pikirannya telah buta oleh hawa nafsu. Tuhan diatas sana pasti telah menghapus semua ibadah puasa mereka yang telah dijalankan selama sebulan dan hampir mencapai tahap akhir itu.
Pak Irfan menarik lepas celana dalam Sherin yang bagian tengahnya sudah basah. Matanya langsung nanar melihat kemaluannya yang berbulu lebat dan sudah becek itu. Sebelum melanjutkan mereka membaringkan tubuh gadis itu di atas meja ruang tamu dari bahan kayu berukir dekat mereka. Pak Udin menyingkirkan barang-barang diatasnya, Jabir melucuti branya sehingga kini tubuh Sherin yang sudah telanjang bulat itu ditelentangkan di atas meja dengan kedua kaki menjuntai ke bawah. Ketiganya menatapi tubuh telanjang itu dengan pandangan penuh birahi. Pak Irfan nampaknya tidak sabar lagi untuk segera menikmati, dia segera berlutut di antara paha Sherin dan menaikkan kedua pahanya ke bahu lalu membenamkan wajahnya di selangkangan gadis itu.
“Oohhh…!!” desah Sherin sambil menggeliat ketika lidah pria itu menyentuh bibir vaginanya dan menyeruak masuk seperti ular.
Lidah itu menari-nari dan menjilati vaginanya, dia merasakan suatu perasaan yang sulit dilukiskan saat lidah pria itu menyentuh klitorisnya sehingga dia hanya bisa mendesah lebih panjang dan tubuhnya menggelinjang. Pak Udin dan Jabir masing-masing berdiri di kanan dan kiri kepalanya, mereka membuka celananya masing-masing. Betapa terpananya Sherin melihat penis Jabir yang demikian besar dan berurat itu, ada mungkin ukurannya 20 cm. Dia merasakan penis itu bergetar di tangannya ketika digenggam.
“Sepong Non, Pak Udin bilang Non nyepongnya enak !” perintah Jabir.
Walau kata-kata tidak senonoh itu terasa panas di kupingnya, namun dimasukkan juga benda itu ke mulutnya. Dia membuka mulut selebar-lebarnya untuk memasukkannya.
Sherin mengoral penis Jabir sambil tangan satunya mengocoki penis Pak Udin. Kedua pria itu melenguh sambil merem-merem menikmati ‘adik’nya dilayani oleh gadis itu. Rangsangan-rangsangan akibat jilatan Pak Irfan pada vaginanya menyebabkan libidonya meninggi sehingga semakin baik pula pelayanannya pada dua penis itu. Tak lama kemudian Pak Irfan merasa puas menjilati vagina Sherin.Ketika dia bersiap hendak menyetubuhi putri atasannya itu, tiba-tiba si Jabir menyela,
“Eh…tunggu-tunggu, jangan disodok dulu, gua mau nyicipin bentar memeknya, pengen tau rasanya memek cewek cantik !”
“Sabar dong, semua dapet giliran kok, gua udah ga tahan nih !” kata Pak Irfan.
“Ayolah bentar aja, ntar kalau lu tusuk keburu bau kontol, gua jadi ga selera” pinta Jabir sekali lagi.
Mereka bertiga tertawa-tawa mendengarnya, akhirnya Pak Irfan mengalah sedikit dan membiarkan Jabir menjilati vagina Sherin.
“Ya udah, sana nyepong, jangan lama-lama, abis ini gua nusuk duluan yah !” kata Pak Irfan sambil membuka celananya dan berdiri di sebelah Sherin.
Maka mulailah si kumis itu menjilati vaginanya, bukan hanya lidahnya yang bermain, jarinya pun turut menusuk-nusuk sehingga tubuh Sherin dibuatnya makin menggelinjang. Di saat yang sama Sherin kini melayani penis Pak Irfan dan Pak Udin, tukang kebunnya.
Kedua tangan Sherin menggenggam penis itu, mengocok dan mengoralnya secara bergantian. Karena keenakan, Pak Irfan memegangi kepala Sherin ketika diemut penisnya, tidak rela kehilangan kuluman nikmat itu.
“Hehehe…bener kan kata saya, situ sampe ketagihan sepongan si Non ?” kata Pak Udin terkekeh melihat tingkah Pak Irfan.
“Iya toh…enak tenan bener sepongan Non…emmm…hati-hati Non, jangan kena gigi !” ucap Pak Irfan sambil merem-melek keenakan.
Dengan birahinya yang semakin naik, Sherin pun mulai menikmati diperlakukan demikian, tidak nampak dirinya meronta seperti orang diperkosa ataupun menangis seperti dulu waktu pertama kali di kampus dulu, baginya yang seperti ini sudah biasa. Tiba-tiba tubuh Sherin menggelinjang, dari mulutnya yang dijejali penis Pak Irfan terdengar erangan tertahan. Rupanya dia telah mencapai orgasme akibat jilatan dan permainan jari Jabir pada vaginanya. Nampaknya Pak Irfan cukup pengertian dengan kondisinya dia melepaskan sejenak penisnya dari mulut gadis itu. Ketiga pria itu kelihatan senang melihat reaksinya saat mencapai orgasme itu. Si Jabir dengan rakusnya melahap cairan orgasme yang membanjir dari vagina gadis itu.
“Ssrrpp…slurp….wuih, uenak banget pejunya si Non ini slluurpp !” komentarnya sambil mengisapi vagina Sherin.
Kedua paha mulus Sherin mengapit wajah pria itu karena tubuhnya yang menegang dan merasa geli karena oral seks si kumis itu. Setelah beberapa saat akhirnya gelombang orgasme itu reda, namun Jabir masih terus mengisapi vaginanya hingga cairan orgasmenya habis dilahap.
Sherin terbaring bugil di meja itu dengan nafas terputus-putus setelah mencapai klimaks barusan. Kedua buah dadanya nampak naik-turun seirama nafasnya. Matanya melihat sekelilingnya dimana ketiga lelaki itu manatapnya dengan mata nanar. Mereka membuka pakaiannya masing-masing hingga bugil. Dia melihat tubuh si Jabir begitu padat dan berotot dan dadanya ditumbuhi sedikit bulu.
“Gila…mampus dah gua !” keluhnya dalam hati membayangkan dirinya akan habis ‘dibantai’ ketiga orang itu.
Sesuai perjanjian, Pak Irfan menagih giliran pertamanya untuk menyetubuhi Sherin. Dia langsung mengambil posisi diantara kedua paha gadis itu dan mengarahkan penisnya.
“Uhhh…nikmat, seret, becek banget !” erangnya sambil menekan pelan-pelan penisnya memasuki liang senggama gadis itu.
Dengan cairan orgasme yang berfungsi sebagai pelumas, penis Pak Irfan melesak masuk dengan lancar, ukurannya juga termasuk sedang sehingga tidak terlalu sulit dalam melakukan penetrasi.
“Enak Pak ?” tanya Jabir setelah atasannya itu berhasil menancapkan seluruh penisnya pada vagina nona majikan mereka.
“Yo jelas toh, mana Non nya ayu gini lagi, uuhh bini gua aja kalah dah !” komentarnya.
“Dasar bajingan, istri sendiri diomongin gitu” omel Sherin dalam hati.
Tak lama kemudian Pak Irfan mulai menggoyangkan pinggulnya memompa gadis itu.
“Oohhh…oohh !” desah Sherin merasakan sodokan pria itu.
Jabir kini berjongkok di sebelahnya, lidahnya menjilati payudaranya dan tangannya bergerilya menjamah-jamah bagian tubuh lainnya. Sementara itu Pak Udin mendekatkan penisnya ke wajahnya. Tahu apa yang harus dilakukan, Sherin meraih batang itu dan menjilatinya.
“Uuuhh…enak…enak…seret banget !” ceracau Pak Irfan sambil menggenjot Sherin.
Pria itu memaju-mundurkan pinggulnya sambil tangannya memegangi pergelangan kaki gadis itu. Suara cek…cek…cek…terdengar dari selangakangan mereka yang saling bertumbukkan. Sherin sendiri sedang terlarut menikmati penis Pak Udin, penis itu dia jilati, sesekali digosokkan ke wajahnya yang mulus, buah zakarnya dia pijati sehingga pria setengah baya itu mengerang keenakan. , kalau saja jantungnya tidak kuat mungkin saat itu dia sudah kena serangan jantung saking berdebar-debarnya. Si Jabir juga masih asyik bermain dengan payudara Sherin, wangi tubuh gadis itu membuatnya semakin bernafsu menjilatinya, air liur dan bekas cupangan memerah pun menghiasi kulitnya yang putih, terutama di daerah payudara. Kumis si Jabir yang tebal itu terasa sangat menggelitik tubuhnya dan memberinya sensasi plus di samping cupangan-cupangannya. Sungguh nampak kontras sekali adegan seks di ruang tengah itu, seorang gadis berparas cantik, berkulit putih mulus sedang digauli tiga orang pria bertampang minus berkulit gelap kasar, juga berbeda status dan rasnya. Sherin pun tidak bisa memungkiri bahwa seks liar seperti ini memberinya kepuasan lebih daripada melakukannya dengan pacarnya.
“Uuhh…uhh…mau keluar Non…bapak buang di dalem ya !!” erang Pak Irfan sambil mempercepat sodokannya karena sudah mau mencapai puncak.
Sherin tidak peduli lagi apapun yang dikatakan padanya, dia sedang mengulum penis Pak Udin ketika itu. Lagipula kalaupun ia menolak buang di dalam apakah Pak Irfan mendengarkannya. Pak Irfan memutar-mutar penisnya dalam vagina Sherin seperti gerakan mengaduk adonan., lalu dia menekannya dalam-dalam. Sherin merasakan cairan hangat menyemprot di dalam vaginanya, banyak sekali sampai cairan itu meluber keluar dan semakin membasahi selangakangannya. Genjotan Pak Irfan makin melemah hingga akhirnya berhenti dan penisnya terlepas dari vaginanya.
“Wuihh…puas banget main sama si Non ini !” katanya dengan nafas ngos-ngosan.
“Payah, cuma segitu aja” kata Sherin dalam hati karena masih belum puas, “Oh my God, apa yang gua pikir barusan ?” ia baru menyadari pikiran tadi terlintas begitu saja di benaknya akibat birahi yang semakin naik sehingga akal sehatnya semakin hilang.
“Gua…gua sekarang !” sahut Jabir yang sudah tak sabar menikmati kehangatan tubuh Sherin, “tapi jangan disini dong, tempatnya sempit, kita bawa ke kamarnya aja gimana, boleh yah Non, main di kamar Non aja, OK ?”
Sherin hanya mengangguk lemah saja sebagai jawabannya. Maka mereka pun segera membawanya ke kamarnya. Jabir menggendong tubuh telanjang Sherin dengan kedua lengan kekarnya sambil berjalan mengikuti Pak Udin yang menuntun mereka ke kamar gadis itu.
“Wah asyik yah kamarnya enak, ber-AC lagi !” komentar Pak Irfan begitu memasukinya.
“Main sama cewek cakep emang enaknya di tempat yang enak gini” timpal Jabir sambil menurunkan Sherin di ranjanganya.
Jabir langsung menyuruhnya nungging karena dia ingin melakukannya dengan gaya doggie. Sherin yang masih belum puas dan masih ingin disetubuhi menurut tanpa diperintah dua kali.
“Eenggh !” desahnya saat Jabir memenekankan kepala penisnya pada vaginanya, “jangan kasar-kasar dong Bang, sakit !”
“Sori Non, abis nafsu sih hehehe !” tawanya, sepertinya dia cukup menurut sehingga memperlembut proses penetrasi itu.
Sherin mengerang dengan wajah meringis dan sesekali menggigit bibir karena penis Jabir yang besar dan berurat itu terasa sesak di vaginanya. Tangannya terkepal erat sambil meremasi sprei di bawahnya. Sedikit demi sedikit akhirnya penis hitam besar itu masuk juga seluruhnya ke dalam liang vagina Sherin.
“Wuih, sempit banget nih memek Non, baru pernah loh saya ngerasain yang gini !” komentar si kumis itu setelah berhasil menancapkan penisnya.
Beberapa saat kemudian mulailah dia menggerakkan pinggulnya menggenjot gadis itu.
“Aahh…ahhh…iyahh…aahh…enak !” Sherin mendesah dan tanpa sadar kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutnya.
Jabir yang mengetahui Sherin sudah terangsang berat itu semakin bernafsu, frekuensi genjotannya semakin kencang, tangannya juga meremasi pantat dan payudara gadis itu.
“Ternyata Non ini bener-bener lonte yah, awalnya nolak sekarang malah keenakan hehehe !” ejek Pak Udin sambil meremas sebuah payudaranya.
Sherin tidak menghiraukan hinaan itu karena bukan hal baru baginya, malah kata-kata merendahkan itu membuatnya makin bergairah. Dia turut memacu tubuhnya bersama Jabir, seolah ingin penis itu menusuk lebih dalam lagi. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain saat melihat bingkai foto di bufet sebelah ranjangnya yang berisi foto studionya bersama Frans, pacarnya. Dalam foto itu keduanya tampak serasi dan mesra sekali, karena itulah ia tidak sanggup menatapinya lama-lama karena keadaannya sekarang sangat bertentangan dari di foto itu, ia malah menikmati hubungan terlarang dengan orang-orang yang tidak seharusnya seperti ini, sungguh suatu dilema baginya, dia masih mencintai Frans, namun dia juga telah terperangkap dan diperbudak oleh hasrat liarnya yang semakin tak terkendali sejak hasrat itu dilepaskan keluar oleh Imron. Pak Udin kini mengangkat tubuh Sherin hingga posisinya kini berlutut sambil tetap disetubuhi Jabir dari belakang, ia memeluk tubuh kerempeng tukang kebunnya itu sebagai tempat bertumpu. Erangannya teredam setelah pria itu melumat bibirnya, dia menciuminya dengan ganas sambil menggerayangi payudaranya. Pak Irfan lalu bergabung dengan mereka, ia memegang payudara Sherin yang satunya dan menciuminya, tangannya menggerayangi bagian tubuh sensitif lainnya. Setelah Pak Udin melepaskan ciumannya, ia masih harus beradu lidah dengan Pak Irfan yang menggantikannya.
“Oohh…gila, ini sinting…tapi…tapi nikmat sekali !” Sherin mengalami pergumulan hebat dalam hatinya.
Sekitar setengah jam kemudian, Sherin mendesah makin keras, dia merasa tubuhnya mengejang hebat dan dari vaginanya ingin mengeluarkan sesuatu yang makin tak tertahankan.
“Aakkhh….aahhh…oohhh !” Sherin mendesah panjang sekali, ia mengalami orgasme panjang yang membawanya pada puncak kenikmatan tertinggi.
Dia memeluk erat-erat tubuh Pak Irfan yang saat itu sedang menjilati lehernya. Punggung pria itu sempat tergores sedikit oleh kukunya. Setelah orgasmenya reda, mereka membaringkan tubuhnya di ranjang, keringat sudah nampak membasahi tubuhnya. Jabir yang baru melepas penisnya buru-buru menaiki wajah Sherin, tangannya menarik kepala gadis itu sementara tangan lainnya memegang penisnya.
“Buka mulut Non, saya mau keluar di mulut Non !” suruhnya terbata-bata.
Jabir tidak bisa menahan spermanya lebih lama lagi, baru saja Sherin membuka mulut dan kepala penisnya menyentuh bibir gadis itu, dia sudah ejakulasi. Cairan spermanya yang kental itu sebagian masuk ke mulut Sherin dan sebagian berceceran membasahi mulut gadis itu. Jabir menjejali benda itu ke mulut Sherin tak peduli walau dia kelabakan menerima penisnya yang besar dan memuncratkan sperma dengan deras. Sherin meronta karena merasa tersiksa, namun tangan Jabir terlalu kokoh menahan kepalanya. Terpaksa dia harus berusaha menelan sperma yang menyemprot di dalam mulutnya sampai semprotannya berhenti dan batang itu menyusut dalam mulutnya.
Sherin merasa lelah sekali tubuhnya basah oleh keringat dan sisa air liur, cipratan sperma nampak pada hidung, dagu, dan terutama daerah mulutnya. Jabir mencolek cipratan spermanya pada hidung Sherin lalu di tempelkan ke bibirnya.
“Nih Non, sayang kalau mubazir, Non kan demen negak peju” katanya disambut tawa kedua pria lainnya.
Sherin pasrah saja membuka sedikit mulutnya membiarkan jari itu masuk lalu diemutnya pelan. Ketiga pria itu cengengesan memandangi dirinya yang telah terkulai lemas, komentar-komentar jorok keluar dari mulut mereka.
“Sudah demikian hinakah gua ?” Sherin bertanya pada dirinya sendiri dalam hati, dalam rasa terhina itu dia juga menikmati menjadi budak seks, sungguh dilema yang rumit.
Pak Udin memberinya tisu dan air minum untuk menyegarkan diri, setelah mengelap cipratan sperma di wajahnya, dia langsung menyambar gelas itu dan meminum isinya hingga habis.
“Bisa kita mulai lagi Non ?” tanya Pak Udin.
“Jangan terlalu kasar dong, saya udah capek” jawabnya lemas.
“Ngga, kali ini santai aja, ayo dong Non…naik sini !” perintah Pak Udin yang berbaring telentang sambil menunjuk pada penisnya.
Sherin pun naik ke tubuh tukang kebunnya itu. Penis yang mengacung itu digenggamnya dan diarahkan ke vaginanya. Kemudian ia menurunkan tubuhnya perlahan-lahan.
“Ahhh….!” desahnya merasakan penis itu mengisi vaginanya.
Sebentar saja Sherin sudah menaik turunkan tubuhnya, kedua telapak tangannya saling genggam dengan Pak Udin. Pak Irfan berdiri di ranjang dan mendekatkan penisnya ke wajah gadis itu. Tahu apa yang akan diminta pria itu, sebelum disuruh Sherin sudah menggenggam batang itu dan membuka mulut. Dia mengoral penis itu sambil memacu tubuhnya. Payudaranya yang ikut bergoyang-goyang itu membuat Jabir merasa gemas sehingga dia mendekatinya dan mencaplok yang sebelah kanan.
“Sakit Bang, jangan gigitnya jangan keras gitu dong !” rintihnya karena merasa nyeri putingnya digigit dengan keras oleh pria itu.
“Jangan nafsu gitu oi, ntar salah-salah kontol gua kegigit gimana ?” kata Pak Irfan.
“Huehehe…sori abis bikin gemes sih, iya ane pelanin deh nih !” lalu dia menyapukan lidahnya pada puting itu.
Sapuan lidah itu membuatnya merasa lebih nyaman dan memberinya rangsangan setelah rasa nyeri barusan. Pak Udin pun menjulurkan tangannya meremasi payudara gadis itu yang sebelahnya, putingnya dia pilin-pilin sehingga makin mengeras.
Setelah merasa cukup dioral oleh Sherin, Pak Irfan siap menyetubuhinya kembali. Dia menuju ke belakang dan membuka pantat gadis itu.
“Bapak cobain disini yah Non, pasti lebih seret !” pintanya.
“Tapi jangan kasar-kasar Pak” kata gadis itu.
Setidaknya Sherin merasa bersyukur karena yang meminta anal seks Pak Irfan yang ukuran penisnya sedang-sedang saja, kalau Jabir yang minta pasti sakitnya akan terasa selama beberapa hari. Setelah meludahi duburnya Pak Irfan memulai proses penetrasinya.
“Sempit toh Pak ?” sahut Pak Udin dari bawah tubuh Sherin melihat Sherin dan pria itu merintih-rintih.
“Iya nih…uh sempit banget !” jawab Pak Irfan sambil terus menekan-nekankan penisnya.
Semenit kemudian akhirnya Pak Irfan berhasil memasukkan penisnya ke dubur Sherin, dia mendiamkannya untuk beradaptasi dengan jepitannya yang keras. Pak Udin menarik wajah gadis itu mendekati wajahnya untuk berciuman. Di tengah percumbuannya dengan Pak Udin, Sherin merasakan penis di duburnya mulai bergerak, Pak Udin pun mulai menggerakkan pinggulnya lagi menusuk-nusuk vaginanya. Posisinya kini sedang disandwitch oleh kedua tukang kebunnya dan bawahan papanya. Perbedaan warna kulit yang mencolok membuatnya terlihat seperti daging bersih dijepit dengan dua roti hangus.
Selain melakukan double penetration, tugas Sherin bertambah ketika Jabir menjejalkan penisnya ke dalam mulutnya. Posisi serangan tiga arah itu bertahan sekitar sepuluh menit sebelum Pak Udin dan Pak Irfan melepaskan penisnya karena akan orgasme. Mereka menelentangkan tubuhnya, dan berejakulasi di atasnya. Pak Irfan menumpahkan spermanya di perut dan dadanya, sedangkan Pak Udin di mulut. Jabir yang masih belum puas berlutut diantara kedua paha Sherin dan menyutubuhinya sampai sepuluh menit berikutnya. Keduanya mencapai orgasme secara berbarengan sperma Jabir muncrat di dalam vaginanya dan Sherin sendiri menggelinjang hebat. Dia harus mengakui bahwa Jabir benar-benar perkasa dibandingkan dengan Pak Irfan atau Pak Udin, bahkan dengan Frans, pacarnya, mungkin keperkasaannya bisa disejajarkan dengan Imron, si penjaga kampus itu. Kamar itu hening selama beberapa menit, yang terdengar hanya dengusan nafas kelelahan. Langit di luar sudah menguning, jam telah menunjukkan pukul 5.40. Pak Irfan akhirnya turun dari ranjang dan masuk ke toilet di kamar itu.
“Cabut yuk, udah sore lagi nih !” katanya pada Jabir yang lalu menggerakkan tubuhnya untuk bangkit.
“Udah ya Non, kita pulang dulu, makasih banget THRnya, lain kali lagi yah hehehe…!” pamitnya sambil meremas payudara Sherin.
“Go to hell lah…THR…THR !” omel Sherin dalam hati.
Setelah mereka berpakaian Pak Udin mengantarkan mereka keluar rumah dan membukakan pagar.
Setelah itu Pak Udin masih terus mengerjai Sherin mulai dari mandi bareng hingga malamnya minta tidur bareng di kamarnya. Sherin tidak punya pilihan lain selain mengiyakannya. Hari-hari berikutnya pun setiap kali ada kesempatan Pak Udin selalu meminta jatah darinya. Sherin sendiri walaupun merasa benci dan kesal juga diam-diam menikmatinya. Hal itu tidak berlangsung terlalu lama karena dua mingguan setelah kejadian itu, Pak Udin terjatuh dari bangku tinggi ketika sedang mengairi tanaman di pot gantung. Kepala belakangnya membentur lantai cukup keras dan berdarah sehingga harus dirawat di rumah sakit. Hari ketiga di rumah sakit Sherin sengaja datang membesuknya. Suasana kamar tempatnya dirawat tidak ada siapa-siapa ketika itu, Sherin masuk dan mengunci pintu. Ia menatap tajam dengan pandangan penuh dendam pada pria yang pernah melecehkan dan merendahkannya itu yang kini tergolek tak berdaya di ranjang pesakitan. Perlahan si sakit membuka matannya dan dia mengembangkan senyum melihat siapa yang di sebelahnya.
“He…he…Bapak tau Bapak gak bakal hidup lebih lama lagi, tapi Bapak puas…soalnya udah ngerasain kehangatan dari Non” katanya terputus-putus.
Sherin tetap diam tak bersuara apapun sejak tadi, lalu dia menundukkan badan dan mendekatkan wajahnya ke wajah keriput pria itu. Bibir mereka bertemu, membuka dan beradu lidah seperti hari itu. Namun tiba-tiba Sherin menarik wajahnya dengan cepat. Pak Udin merasakan bantal di bawah kepalanya ditarik dan tak sampai sedetik benda itu sudah berpindah menutupi wajahnya. Sherin menekan bantal itu keras-keras membekap wajah pria itu. Tubuh tua itu meronta tapi tak lama sebelum akhirnya diam tak bergerak. Setelahnya barulah Sherin melepaskan bantal itu, mata pria membuka dengan tatapan kosong, nafasnya sudah tak terdengar lagi. Sherin menaruh kembali bantal itu dibawah kepalanya.
“Salam buat iblis di neraka” katanya sambil menutup mata pria itu.
Setelah menyisir rambutnya, iapun keluar dari kamar itu dengan hati puas telah membalaskan dendamnya. Keluarga Pak Udin di kampung menerima santunan dari keluarga Sherin dan mereka menerima dengan ikhlas kematiannya yang mereka anggap sebagai kecelakaan kerja itu.
###########################
Nightmare Sidestory: Campus SAL (Sex After Lunch)
Hari itu jam sebelas kurang di gedung administrasi pusat Universitas ******. Nampak beberapa orang sedang berdiri di depan pintu lift. Tak lama kemudian pintu lift sebelah kiri yang menuju ke atas membuka, lima orang masuk sedangkan sisanya menunggu lift berikut karena berlawanan jurusan.
“Tunggu-tunggu, sori tahan bentar !” kata seorang wanita dari luar sambil berlari-lari kecil menuju lift yang pintunya sudah mau menutup itu.
Seorang pria dari dalam yang dekat tombol lift menahan tombol open sehingga wanita muda itu tidak ketinggalan lift. Setelah pintu menutup lift pun bergerak ke atas. Di lantai tiga seorang wanita 30an dan seorang pria yang berseragam staff administrasi keluar. Lift naik lagi hingga berhenti di lantai lima dimana pria yang menahan pintu lift tadi turun dan di tingkat berikutnya seorang mahasiswi turun, sepertinya dia hendak mengurus biaya kuliah karena di tingkat itu adalah ruang bagian keuangan. Maka kini di lift tinggal dua orang saja, yaitu wanita muda tadi dan seorang pria tambun.
“Emmm…Bu Rania yah !” sapa pria tambun itu sehingga si wanita menoleh ke belakang dan agak kaget bagimana pria ini mengenal dirinya.
Rania memang mengenal pria ini sebagai Pak Dahlan, kepala fakultas arsitektur, tapi hanya sekedar tahu saja karena mereka tidak pernah berhubungan karena jurusan berbeda dan Rania juga hanya dosen muda dan hubungannya dengan dosen fakultas lain tidak terlalu luas. Sekarang ini dirinya sedang hendak mewakili kepala jurusaannya yang berhalangan hadir untuk mengikuti rapat umum di ruang rapat lantai 12.
“Mau rapat Bu ?” tanya pria itu.
“Eengg…iya…iya Pak” Rania tersenyum kecil menjawabnya lalu berbalik lagi menatap indikator lift.
Walaupun bersikap sopan, namun Rania merasa tidak nyaman berada satu lift dengan pria ini, entah mengapa instingnya mengatakan demikian, dia merasa lift berjalan lambat sekali. Firasat tidak baik itu terbukti ketika tiba-tiba ada tangan dari belakang menepuk pantatnya dan meremasnya. Spontan Rania pun kaget dan membalikkan badan.
“Kurang ajar ! apa-apaan sih Pak !” bentaknya dengan marah.
“Hehehe…memangnya kenapa Bu, Pak Imron aja boleh kan ?” ujar Pak Dahlan enteng.
Rania tertegun seperti disambar petir mendengar perkataaan pria itu.
“A-apa, apa…Bapak ngomong apa ?” suaranya terasa berat karena terkejut.
“Nah kan bener, dari reaksinya aja saya tau tuh”
“Gimana mungkin dia tau ?” Rania bertanya dalam hati dan menyesal karena tidak bisa menahan rasa nervousnya.
“Maksud Bapak apa…saya peringatkan jangan macam-macam Pak !” gertaknya menutupi rasa gugup.
“Ah, Ibu ini masa gak ngerti sih maksud saya apa ? kita kan sudah sama-sama dewasa Bu” katanya sambil mendekat dan meraih lengan Rania “saya sudah tau semua Bu, masa sih ada dosen main lesbian sama mahasiswinya hehehe…!”
“Bapak mengancam saya ya !” bentak Rania sambil menyentak tangannya.
‘Ting !’ lift sampai ke lantai 12 yang dituju sehingga keduanya menjaga sikap agar tidak terlihat mencurigakan.
“Pikirkan lagi yah Bu, saya dengar keputusannya setelah rapat” katanya pelan sambil berjalan keluar dari lift dan sempat mencolek pantat Rania.
“Huh…bangsat nih orang !” makinya dalam hati.
Disana sudah cukup banyak orang berkumpul, sebagian sudah menempati kursinya di ruang rapat, sebagian lainnya masih di luar ngobrol-ngobrol dengan rekannya atau merokok. Walau hatinya galau, Rania berusaha agar dapat tersenyum dan berbasa-basi bila ada orang menyapanya. Rapat pun akhirnya dimulai, Rania tidak bisa sepenuhnya berkonsentrasi pada hal yang dibahas karena terganggu oleh yang satu itu. Dia membalas senyum Pak Dahlan yang duduk berseberangan dengannya itu dengan pandangan tajam, rasanya ingin melempar botol air mineral mejanya ke wajah pria itu kalau saja emosinya meledak. Hatinya makin membara ketika Pak Dahlan angkat bicara, pria itu jelas sedang menyindirnya di depan dosen-dosen lain dengan berlagak sok bermoral.
“Hhh…saya rasa kampus kita ini perlu merevisi tata-tertib agar lebih ketat, soalnya belakangan ini saya dengar mahasiswa-mahasiswa kita ini makin nggak karuan tingkah lakunya, mau jadi apa bangsa kita kalau moralnya begini…yang lebih gila saya pernah dengar…ini nggak tau benar atau nggak ya…dosen juga ada yang kebawa-bawa”
Rania menjaga sikapnya senormal mungkin agar para peserta rapat tidak curiga, padahal dalam hatinya ia benar-benar marah pada pria itu, atas sikapnya yang kurang ajar dan kemunafikannya yang memuakkan.
Jam 12.15 rapat dihentikan sementara untuk jam makan siang dan akan dilanjutkan jam 1.00. Rania buru-buru keluar dari ruang itu bersama dua dosen wanita lainnya yang mengajaknya makan siang bersama. Dia berharap dengan begitu dapat terhindar dari Pak Dahlan sementara pria itu juga masih berbincang-bincang dengan seorang dosen lain di ruang rapat.
“Aduh lama banget sih ! cepetan dong !” serunya dalam hati karena merasa cemas pria itu akan menyusulnya.
Lift makin naik, namun ketika baru menunjukkan tiba di lantai 10, tiba-tiba terdengar dari belakang namanya dipanggil, suara itu dikenalnya dan tidak diharapkannya.
“Bu…Bu Rania tunggu sebentar, saya harus bicara dengan ibu sebentar !” panggil Pak Dahlan, “Eh…maaf ngeganggu bentar yah…udah pada pengen makan yah ?” sapanya pada dua dosen wanita yang bersama Rania.
Rania tidak mungkin bersikap judes padanya disitu karena justru akan mengundang kecurigaan orang.
“Oh…iya Pak ada apa yah ?” tanyanya dengan sikap ramah dibuat-buat.
“Hhmm…kalau Bu Nia buru-buru ya udah nggak apa-apa deh, hanya masalah yang terlewat saja kok, saya pikir bisa dibahas sekarang supaya Ibu lebih nyantai, nggak repot lagi ntar !” nada bicara Pak Dahlan begitu kebapakan dan berwibawa bila di depan umum seperti ini, sungguh pandai dia menutupi tabiat mesumnya.
Rania tahu apa yang dimaksud ‘repot’ oleh pria tambun itu sehingga dengan terpaksa dia memilih berbicara dulu dengan pria itu dan menyuruh kedua rekannya pergi makan siang tanpa dirinya.
“Maaf yah…saya ada urusan sebentar, kalian duluan aja deh ga usah nunggu saya, ini ada urusan dikit. Biasalah kalau mewakili orang jadi banyak yang harus diomongin hehehe…!” katanya pada kedua dosen itu.
“Ya udah deh Bu Nia, kita duluan deh kalau sempat nyusul saja yah di seberang !” kata dosen wanita yang gemuk itu sebelum masuk ke lift.
Begitu pintu lift menutup senyum di wajah Rania langsung berganti dengan wajah masam yang diarahkan pada pria itu.
“Ada apa sih Pak ?” tanyanya ketus.
“Hehe…jangan galak gitu Bu, nggak enak kalau ada yang liat, gimana nih jadi keputusannya ?” tanyanya kalem.
“Saya benar-benar ga nyangka kalau anda itu begitu menjijikkan !” Rania melipat tangan dengan memandang jijik padanya.
“Jadi menurut Ibu kalau ada dosen main lesbian sama mahasiswinya itu ga menjijikkan” balas Pak Dahlan.
Rania sudah mau menjerit dan menampar pria ini kalau saja dia tidak ingat di ruang rapat sana masih ada orang sehingga dia hanya bisa mengepalkan tangan dan menggigit bibir untuk melampiaskan kekesalan.
“Ya itu sih terserah sama Ibu saja kok, saya nggak suka maksa orang, paling akibatnya Ibu tanggung saja nanti” kata pria itu dengan tenang, “ah…sekarang saya mau ke toilet dulu nih, kalau Ibu mau nyusul aja yah ke lantai 14″
Pria itu lalu melangkahkan kaki menuju ke tangga. Rania diam terpaku, hatinya gelisah tidak tahu apa yang harus diperbuat.
“Lho…Bu lagi ngapain sendirian ? Kok belum turun ?” sebuah suara dari belakang membuyarkan lamunannya.
Pak Budi, si rektor universitas menyapanya dengan ramah, bersamanya juga ada dua orang staff rektorat dan seorang dekan yang keluar belakangan.
“Oh, ini Pak baru nelepon ke rumah, jadi belum sempat turun !” balasnya menyapa dengan senyum dipaksa.
“O gitu, ya udah kita turun bareng sekarang !” ajak Pak Budi pas ketika lift membuka.
“Eehh…saya nanti aja Pak, kalian duluan aja, saya masih harus nelepon lagi, ada masalah keluarga” kata Rania terbata-bata seraya mengambil ponselnya pura-pura mau menelepon.
“Ibu baik-baik aja kan ? masalahnya tidak serius kan ?” tanya staff rektorat, seorang wanita paruh baya.
“Nggak, nggak apa-apa kok, biasa masalah di rumah, ntar juga bisa selesai kok. Iya…gak apa-apa !” jawabnya.
“Ya udah Bu, semoga cepat selesai deh, kita duluan ya !” pamit Pak Budi sebelum masuk lift.
Setelah lift menutup tinggallah dia sendirian di lantai itu dan kembalilah kegelisahan itu melandanya. Sepertinya tidak ada pilihan lain baginya selain menuruti apa yang diminta si dosen bejat itu, lagipula dirinya toh sudah ternoda dan dua bulan terakhir ini sudah beberapa kali terlibat hubungan seks dengan Imron, si penjaga kampus, apa bedanya bila melakukannya dengan Pak Dahlan daripada pria itu nanti ‘bernyanyi’ dalam rapat yang malah mempermalukannya di depan umum. Maka Rania melangkahkan kakinya menuju tangga ke atas ke lantai 14. Lantai 13 gedung itu kosong belum terpakai, sementara ini hanya berfungsi sebagai gudang. Lantai 14 adalah lantai teratas sebelum atap gedung, disana terdapat teater yang biasanya dipakai untuk acara seminar, drama, atau pertunjukkan. Namun dihari-hari biasa tempat itu sepi hampir tidak ada yang mengunjungi sampai suara langkah kakinya yang memakai sepatu hak terdengar. Rania menuju ke toilet di lantai itu yang tadi disebutkan oleh Pak Dahlan. Semakin mendekati tempat itu, langkahnya terasa makin berat dan detak jantungnya semakin cepat. Di lorong itu terdapat tempat rias dan cermin-cermin besar tempat make-up, biasanya dipakai untuk persiapan drama. Pada salah satu sisi lorong tersebut nampak sebuah toilet pria yang lampunya menyala. Ia membuka pintu toilet itu dengan tangan bergetar.
“Ah…Bu Nia, hampir saja saya pergi, kirain Ibu nggak jadi datang” sapa Pak Dahlan yang sedang mencuci muka di wastafel, dia hanya melihat dari cermin tanpa membalikkan badan.
“Sudahlah Pak nggak usah basa-basi lagi, saya gak ada banyak waktu untuk anda !” ujar Rania ketus.
“Santai aja Bu, masih ada waktu setengah jam-an kok” pria itu membalik badan dan berjalan menghampirinya.
Rania nampak tegang sekali, beberapa kali dia menelan ludah, punggungnya bersandar pada tembok karena kakinya agak gemetar. Pak Imron meraih saklar yang terletak di sebelah Rania dan mematikan lampu. Ruang dengan dengan dua toilet bersekat itu kini hanya diterangi oleh sinar matahari dari ventilasi di atasnya.
“Nah…begini lebih romantis suasanya, biar lebih enak” katanya sambil menyandarkan telapak tangan kiri di sebelah kepala Rania.
Jarak mereka kini begitu dekat sehingga Rania bisa merasakan hembusan nafas Pak Dahlan pada wajahnya, pria itu lebih pendek sedikit darinya.
Rania menepis tangan pria itu ketika hendak meraba dadanya.
“Kenapa Bu ? bukannya udah biasa, kalau berubah pikiran ya udah kita keluar aja”
“Bajingan !” umpatnya dalam hati.
Dengan berat hati diapun membiarkan dadanya dipegang oleh Pak Dahlan. Pria itu juga mengendusi daerah leher yang tertutup sedikit oleh rambut panjangnya. Bau badan Rania yang bercampur parfum menaikkan birahinya sehingga bibir tebalnya langsung menciumi pipi dosen muda itu. Rania memejamkan mata menahan jijik, kumis pria itu menyapu wajahnya yang mulus. Dia memalingkan muka ke arah lain ketika bibir pria itu makin merambat ke bibirnya.
“Jangan…emmhh !” baru mau memalingkan wajah kedua kalinya, Pak Dahlan sudah melumat bibirnya dan meredam protesnya.
Spontan bulu kuduk Rania berdiri karena jijik, dia meronta berusaha melepaskan diri, namun entah mengapa ada hasrat menggebu-gebu yang menginginkan tubuhnya dimanja sehingga perlawanannya pun hanya setengah tenaga. Bibirnya yang tadinya dikatupkan rapat-rapat mulai mengendur sehingga lidah pria itu masuk dan bermain-main dalam mulutnya. Perasaan Rania campur aduk antara marah, jijik dan terangsang, apalagi Pak Dahlan terus menggerayangi tubuhnya dari luar pakaian. Berangsur-angsur rontaannya berkurang hingga akhirnya pasrah menerima apapun yang dilakukan pria itu. Rania mulai membalas cumbuan pria itu, lidahnya kini bertautan dengan lidahnya. Desahan tertahan terdengar di antara percumbuan yang makin panas itu. Merasa lawannya telah takluk, pria itu mempergencar serangannya. Blazer krem itu dilucutinya, Rania sendiri secara refleks menggerakkan tangannya membiarkan blazer itu terlepas dari tubuhnya sehingga tinggal tank-top ungu yang membalut tubuh atasnya. Pak Dahlan menggantungkan blazer itu pada gagang pintu tanpa melepas ciumannya. Tubuh mereka berdekapan begitu ketat, Rania dapat merasakan benda keras dari balik celana Pak Dahlan mengganjal selangkangannya. Tangan Pak Dahlan yang tadinya cuma meremas payudara dari luar mulai menyusup masuk lewat bawah tank topnya langsung menyusupi cup branya dan tangan satunya masih tetap meremasi pantatnya.
“Eennghh !” Rania makin mendesah merasakan jari-jari besar itu menyentuh putingnya serta memencetnya.
Lidahnya semakin aktif membalas lidah Pak Dahlan hingga masuk ke mulut pria itu menyapu rongga mulutnya, tangannya pun tanpa disadari memeluk tubuh tambunnya. Nafasnya makin memburu dan gairahnya makin naik. Mulut Pak Dahlan turun ke dagunya, bawah telinga, dan leher. Rania agak lega bisa mengambil udara segar walau dengan nafas putus-putus. Pak Dahlan memutar tubuh Rania menghadap tembok sehingga wanita itu bertumpu disana dengan kedua lengannya. Ia juga menyibakkan rambut Rania ke sebelah kiri sehingga mulutnya dapat dengan leluasa menciumi leher, pundak, dan bahunya yang terbuka. Tangan pria itu yang satu lagi ikut menyusup lewat bawah tank topnya sehingga kini pakaian itu setengah tersingkap. Sambil mempermainkan kedua payudara wanita itu, Pak Dahlan menciumi leher jenjangnya. Dengan penuh penghayatan disedotnya kulit leher samping yang putih mulus itu.
“Sshhh…jangan terlalu depan Pak…eeemm…ntar bekasnya keliatan” Rania mengingatkannya dengan suara lirih.
“Gak usah kuatir Bu, saya juga ngerti kok, lagian Ibu kan rambutnya panjang bisa buat nutupin” katanya.
Rania semakin mendesah, pipinya bersemu merah ketika merasakan lidah pria itu yang basah pada telinganya, menggelitik dan memancing gairahnya.
“Sudah Pak…jangan disitu !” Rania semakin mendesah waktu Pak Dahlan hendak merogohkan tangannya lewat atas celana panjangnya..
Rania menggerakkan tangannya menahan tangan pria itu yang ingin masuk. Namun penolakan itu dilakukannya hanya dengan setengah hati karena walaupun merasa dilecehkan di saat yang sama dia juga sudah terhanyut dalam pemanasan yang dilakukan dengan cemerlang oleh Pak Dahlan. Gaya Pak Dahlan yang gentle sangat membuatnya terbuai, berbeda dengan gaya permainan Imron, si penjaga kampus, yang cenderung kasar. Pak Dahlan memang berpengalaman dan tahu persis bagaimana menundukkan wanita secara seksual sehingga Rania yang seorang dosen terhormat pun ingin menikmati buaiannya lebih jauh. Setelah menyentakkan perlahan tangannya pegangan Rania pun lepas dan langsung ia menyusupkan langannya ke balik celana wanita itu. Pak Dahlan merasakan bulu-bulu lebat yang tumbuh pada permukaan vaginanya juga sedikit basah pada bagian belahannya.
“Oohh…mmmhh…tolong hentikan !” desahnya antara mau dan tidak.
Desahan itu membuat Pak Dahlan semakin bernafsu, dengan nakal jari-jari besarnya menggerayangi daerah sensitif itu. Mulutnya mencaplok bahu kanan wanita itu sambil menjilat dan mengisapnya dan tangannya yang sejak tadi bercokol di payudara makin gencar menyerang. Payudara 34B itu diremas-remas, putingnya dipilin-pilin atau kadang digesek-gesekan dengan jarinya sehingga benda itu makin keras saja.
Pak Dahlan melebarkan kedua paha Rania dengan menggeserkan telapak kakinya sehingga dapat lebih menjelajahi vaginanya lebih luas. Tubuh Rania tersentak saat jari pria itu memasuki liang vaginanya dan mulai mengorek-ngoreknya. Digesek-geseknya klentitnya dengan jari sehingga membuat wanita itu semakin seperti cacing kepanasan.
“Aahh…aahh…saya mohon…nngghh….jangan teruskan” desahnya.
“Hehehe…Ibu ini masih pura-pura aja, udah becek gini masih sok suci” ejek Pak Dahlan.
Rania yang sudah pasrah hanya bisa mendesah saja merasakan jari-jari pria itu mengaduk vaginanya. Lima menit Pak Dahlan merogoh-rogoh celana dalam Rania dengan diselingi beberapa ciuman lalu dia mengeluarkan tangannya dari sana. Nampak lendir kewanitaan Rania membasahi jari-jari besar itu.
“Hhhmm…enak, lendir yang enak !” katanya sambil mengemut jari tengahnya, “lihat ini Bu, banyak gini cairannya” didekatkannya tangannya ke wajah wanita itu.
Rania yang merasa tanggung karena hampir mencapai orgasme menurut saja ketika pria itu meletakkan jarinya yang belepotan itu di bibirnya untuk diemut. Diemutnya jari itu dan dirasakannya lendir kewanitaannya sendiri, ini bukan yang pertama kali baginya karena Imron pun pernah menyuruhnya demikian sehingga tidak ada rasa ragu ataupun risih lagi dalam melakukannya.
“Wah…wah…pinter juga Ibu nyenengin laki-laki, baru emut jari aja udah enak gini, gimana kalau emut kontol” kata Pak Dahlan.
Kata-kata itu membuat Rania merasa dilecehkan namun juga membuatnya bergairah.
Kemudian Pak Dahlan menyuruh dosen muda itu berlutut di hadapannya. Dengan agak buru-buru dia membuka sabuknya dan menurunkan resletingnya. Setelah celananya melorot jatuh dia menurunkan celana dalamnya mengeluarkan penisnya yang telah tegang. Rania terperangah melihat penis hitam yang berdiameter lumayan besar itu, pangkalnya ditumbuhi bulu-bulu lebat, kepalanya seperti jamur kemerahan menyembul dari kulupnya yang bersunat.
“Ayo Bu jangan bengong gitu, waktunya mepet nih !” sahut pria itu membuyarkan lamunannya.
Dia menggenggam batangnya dan menyodorkannya ke wajah wanita itu. Dengan ragu-ragu Rania menggerakkan tangannya memegang batang itu. Dia tahu pria itu menginginkan dirinya melakukan oral pada penisnya, maka tanpa menunggu perintah lagi dia mengocok perlahan batang itu dan membuka mulut menjilati permukaan batang itu. Pria itu menarik nafas panjang dan melenguh merasakan sapuan lidah Rania pada penisnya. Sejak menjadi budak seks, kemampuan Rania dalam berhubungan seks termasuk oral semakin meningkat dari hari ke hari. Dia semakin menikmati seks walaupun hubungan itu bertentangan dengan hati nuraninya karena dilakukan dengan paksaan, dengan tunangannya saja dia baru pernah sebatas petting bahkan melihat penisnya saja belum pernah, namun dengan lelaki yang dibencinya telah berbuat sejauh ini, ironisnya malah terbuai dalam kenikmatan terlarang itu.
Setelah menjilati penis Pak Dahlan hingga basah oleh liurnya, Rania mulai memasukkan benda itu ke mulutnya.
“Uuuhh…iya, gitu Bu…isap terus !” Pak Dahlan mendesah keenakan.
Rania bekerja keras mengulum dan memainkan lidahnya pada batang itu yang terasa sesak di mulutnya yang mungil. Benda itu bergetar setiap lidah Rania menyapu kepalanya. Pak Dahlan yang merasa nikmat itu memaju-mundurkan pinggulnya secara perlahan seperti gerakan menyetubuhi.
“Mmmm…enak sekali Bu, ga salah kata si Imron !” lenguhnya sambil meremasi rambut Rania.
“Iyah Bu…dikit lagi…terus aaahh…saya mau keluar di mulut Ibu !” erang pria itu setelah sepuluh menitan Rania mengoral penisnya.
Tak lama kemudian, Pak Dahlan mencapai puncak kenikmatannya dengan mengeluarkan cairan putih kental dari penisnya. Cairan hangat itu menyemprot di dalam mulut Rania yang langsung ditelannya agar tidak terlalu terasa di mulut. Cairan itu meleleh sedikit di ujung bibirnya karena mulutnya terasa sesak sehingga tidak bisa menelan dengan sempurna. Penis itu semakin menyusut seiring semprotannya yang semakin lemah. Akhirnya dia melepaskan penisnya dari mulut wanita itu. Rania merasa pegal pada mulutnya karena sesak dan harus bekerja keras sejak tadi, dia juga nampak terengah-engah mengambil udara segar.
“Bagus Bu, awal yang bagus…kita akan lanjutkan setelah rapat” kata Pak Dahlan sambil membenahi celananya, “yuk kita turun, sudah mau mulai lagi !”
“What…lagi ? jadi ini baru awal ?” kata Rania dalam hatinya.
“Saya turun duluan yah Bu, Ibu beres-beres aja dulu, masih lima menit lagi kok” katanya, “dan…kalau masih mau terus saya tunggu di ruang saya setelah rapat” sambungnya lagi sebelum menutup pintu meninggalkannya sendirian di ruang itu.
Rania berdiri dan merapikan lagi pakaiannya yang tersingkap sana-sini, dipakainya kembali blazernya. Kemudian dia berjalan ke wastafel untuk mencuci tangan dan berkumur-kumur. Setelah memoles kembali bibirnya dengan lipstik dan menyisir rambutnya, diapun keluar dari sana dan kembali ke ruang rapat. Perasaan kesal sekaligus terangsang melingkupi dirinya. Untuk sementara hal tersebut terabaikan karena di sesi kedua rapat ini ia harus mencatat beberapa hal penting yang harus dia sampaikan pada kepala jurusannya. Rapat baru bubar pada pukul setengah dua.
“Saya tunggu di ruang saya yah Bu, lantai tiga gedung arsitektur” kata Pak Dahlan yang menghampirinya yang sedang membereskan barang-barangnya.
“Gak bisa sekarang Pak saya masih ada urusan !” jawab Rania ketus namun pelan agar tidak memancing pelan.
“Jadi jam berapa Bu ?”
“Gak tau ah, sejam lagi aja, saya sibuk, permisi !” jawabnya sambil bangkit berdiri dan melengos begitu saja dengan sikap judes.
Rania turun ke kantin bawah dan membeli makan. Perutnya terasa lapar sekali karena jam makan siangnya tertunda gara-gara dosen bejat itu. Setelah selesai makan dia kembali ke ruang dosen fakultasnya untuk menyelesaikan tugasnya yaitu membereskan sisa koreksian hari itu. Setelah pekerjaan itu beres dalam waktu duapuluh menit, hal yang mengganjal pikirannya itu datang lagi. Benar-benar bingung memikirkannya, kok rasanya dirinya yang terpelajar ini sudah tidak beda dari pelacur, apa yang akan dikatakan pada tunangannya nanti setelah pria itu kembali dari studinya di luar negeri, apakah dia masih sanggup menatap wajah kekasihnya itu dengan keadaan sudah ternoda seperti sekarang. Pikiran-pikiran seperti itu seringkali mengusiknya, namun ketika harus menunaikan kewajibannya sebagai budak seks dia justru terlarut di dalamnya, tidak bisa untuk tidak menikmati, bahkan terkadang hasrat liar itu muncul sendiri dari dalam dirinya.
“Hai Nia…kamu nggak enak badan ?” tanya seorang dosen pria melihatnya melamun dengan menyandarkan kepala pada kedua telapak tangan.
“Eehh…nggak…ga papa kok Ton, baru nyelesaiin koreksian aja, capek dikit hehe !” jawabnya berkelit.
Merasa tidak ada lagi yang perlu dikerjakan akhirnya Rania membereskan barang-barangnya untuk pulang, tentunya sebelumnya ia harus menyelesaikan tugas terakhirnya…melayani Pak Dahlan. Dia pun berpamitan pada beberapa rekan dosen yang masih ada di ruang itu dan keluar dari situ.
Dengan jantung deg-degan dan langkah berat ia berjalan menuju ke ruang kerja pria itu di gedung fakultas arsitektur. Diketuknya pintu ruang itu sesampainya di sana.
“Iya…masuk aja !” terdengar suara dari dalam yang dikenalnya.
“Bu Nia…saya sudah lama menunggu” sapa pria itu dari balik meja kerjanya “tolong ya Bu pintunya sekalian dikunci dan tirainya tutup yah, supaya nyaman !”
Rania membanting pantatnya ke sofa setelah menutup tirai. Pak Dahlan tersenyum dan menghampirinya, dia duduk di sebelah Rania dan melingkarkan tangannya ke bahu dosen muda itu.
“Minum dulu Bu !” katanya menawarkan segelas air yang sebelumnya diambil dari dispenser, “sebelumnya saya ingin mengenal Ibu lebih dalam dulu, eehhmm…apa Ibu sudah punya pacar ? selama ini saya lihat Ibu selalu datang dan pulang sendiri”
“Itu bukan urusan Bapak, apa kita bisa cepat dikit ? saya capek, mau pulang !” sahut Rania dengan hambar sambil meletakkan gelasnya di meja.
“Aduh, Ibu ini kok ketus banget ke saya ? Oh…iya gimana Bu hubungannya sama si Imron, gimana kesan-kesan Ibu ?” tanyanya lagi.
Rania benar-benar kesal dengan sikapnya yang menyebalkan itu, apalagi ketika mengungkit-ungkit tentang yang terakhir itu. Dia menoleh menatap wajah pria itu.
“Pak please yah, saya udah bilang saya nggak banyak waktu, kenapa sih gak to the point aja !” sehabis berkata dia langsung mendorong dada pria itu dengan kedua tangannya hingga tubuh tambun itu terjungkal ke belakang.
Sebelum Pak Dahlan sempat bangun, Rania sudah berada diatas tubuhnya dan memeluknya. Bibirnya langsung menempel di bibir tebal pria itu menciuminya dengan ganas. Rasa kesal bercampur gairah yang masih tersisa dari pemanasan tadi siang membuatnya nekad mengambil inisiatif memulai duluan. Yang diinginkan pria ini toh hanya tubuhnya, kenapa sih harus buang-buang waktu sampai mengungkit-ungkit masalah pribadi segala, demikian pikirnya. Entah setan apa yang merasukinya sehingga menjadi seliar itu, mungkin dengan cara demikianlah ia melampiaskan kekesalannya. Sambil terus berciuman ia menggesekkan dadanya yang menempel dengan dada pria itu, bukan itu saja, ia juga menggerakkan tangannya menjamah selangkangan serta mengelus-elusnya. Perlahan benda di balik celananya itu makin mengeras.
“Hoo…ho…ga usah nafsu gitu Bu, santai saja !” gumamnya perlahan.
“Sudahlah Pak, nikmati saja atau tidak sama sekali” bisik Rania dengan suara sedikit mendesah di dekat telinganya.
Di bawah sana Rania telah membuka resleting celana pria itu dan mengeluarkan penisnya yang sudah tegang dari lubang resleting itu. Wajah pria itu menunjukkan ekspresi nikmat akibat belaian tangan Rania pada penisnya. Rania menegakkan tubuhnya sejenak untuk melepaskan blazernya. Setelah melempar blazer itu ke sofa pendek di samping, dia menggeser tubuhnya ke bawah, disana ia membungkuk dan memasukkan penis itu ke mulutnya. Di dalam mulut benda lidahnya bermain-main memanjakan benda itu, sesekali disertai hisapan.
“Ooohh…Bu Nia, anda ngapain…uughh !” erang Pak Dahlan yang masih bengong dengan perubahan sikap Rania.
Rania sendiri tidak tahu kenapa dirinya menjadi senekad ini, yang jelas dia merasa gairahnya menggebu-gebu. Hal yang sering dialaminya sejak menjadi budak seks, kadang pelecehan dan kata-kata yang merendahkannya justru memancing gairahnya. Benci dan birahi bercampur membentuk gairah yang liar seperti yang sekarang ini. Ia mengisapi kepala penis Pak Dahlan yang bersunat itu tanpa canggung, kadang lidahnya menjilati ujungnya sehingga pria tambun itu belingsatan keenakan.
“Aarghh…saya…mau keluar, stop dulu Bu…stop !” erang pria itu.
Pak Dahlan bangkit dan mengangkat tubuh Rania yang sedang mengoralnya serta mendorongnya ke belakang hingga terbaring di sofa. Kini pria itu berada di atas tubuhnya, wajah mereka saling bertatapan dalam jarak kurang dari sejengkal.
“Itu yang anda mau kan ? bangsat !” ujar Rania dengan sinis.
“Hehehe, Ibu memang pintar, saya yakin kita bakal sama-sama puas, saya sudah sering main sama mahasiswi, tapi baru kali ini sama dosen” katanya sambil mengelus pipi wanita itu.
“Dasar serigala berbulu domba, anda tidak malu dengan kelakuan anda hah !?”
“Kenapa harus malu, toh mereka yang datang pada saya, saya hanya menyetujui tawaran saja, lagipula mereka juga enjoy kok” jawabnya santai, “jangan munafik Bu, manusia butuh seks, toh Ibu sendiri juga menikmati kan, apakah bercumbu dengan mahasiswi dan terlibat seks dengan penjaga kampus tidak memalukan bagi Ibu”
“Lebih baik cepat selesaikan nafsu iblis anda” tidak ingin mendengar ocehan pria itu lebih panjang, Rania langsung melumat bibir tebal pria itu begitu menyelesaikan kata-katanya.
Sambil berciuman pria itu menyingkap tank-top Rania beserta bra tanpa tali bahunya. Desahan tertahan terdengar dari mulutnya ketika jari-jari besar itu memencet putingnya. Pak Dahlan menggeser bibirnya menciumi leher jenjang itu terus turun hingga ke payudaranya. Sebelum menikmati kedua gunung kembar itu, dia melepaskan terlebih dulu kait bra itu lalu menjatuhkannya ke lantai. Mata pria itu memandang nanar pada payudara 34B dengan puting kemerahan itu. Kedua tangannya langsung meremas sepasang daging kenyal itu, lidahnya menjilati melingkar di daerah areolanya lalu menyentil-nyentil benda mungil yang sensitif itu sehingga pemiliknya tidak bisa menahan desahan. Tangannya yang satu merayap ke bawah melepaskan sabuk Rania, lalu melepaskan kancing celananya disusul resletingnya.
“Aaahh…aahhh…Pak !” desah Rania dengan nikmatnya ketika pria itu mengenyoti putingnya sambil merogohkan tangannya ke balik celana dalamnya.
Kedua matanya terpejam sambil menggigit bibir bawah, tangannya meremas-remas rambut Pak Dahlan yang sedang asyik menyusu darinya. Dengan penuh perasaan Pak Dahlan meremas, menciumi dan menjilati kedua payudara Rania secara bergantian. Hal ini membuat birahi Rania bergolak hebat, dia tak bisa menyangkal bahwa pria yang dibencinya ini telah sanggup membuatnya serasa terbang. Setelah puas menyusu, Pak Dahlan bangkit sebentar untuk melepaskan pakaiannya sendiri. Rania memandangi tubuhnya yang gempal hitam dengan sedikit bulu di dadanya itu, penisnya mengacung tegak diantara kedua pahanya.
Setelah membuka pakaiannya pria itu melepaskan sepatu yang dipakai Rania lalu melepaskan celana panjangnya. Sepasang pahanya yang panjang dan putih mulus itu kini tidak tertutup apa-apa lagi, yang masih tersisa di tubuhnya hanya tank-top yang sudah tersingkap dan celana dalam pink berenda. Pak Dahlan memandang tubuh seksi itu dengan bernafsu dan mengelusinya.
“Paha yang indah, benar-benar indah !” pujinya sambil mengelus paha itu dengan tangan bergetar.
Darah Rania berdesir seiring dengan sentuhan erotis itu dan terpaan AC yang langsung mengenai tubuhnya. Pria itu juga memberi kecupan-kecupan ringan dan jilatan pada kulit pahanya yang mulus. Perlahan-lahan ia memeloroti celana dalam itu hingga lepas. Tangan pria itu terus menggerayangi tubuh Rania dengan lihainya, memberinya sensasi nikmat pada setiap daerah sensitif. Kemudian didorongnya tubuh dosen muda itu ke belakang hingga mentok ke sandaran tangan pada sofa itu. Rania kini duduk menyamping di sofa itu. Pak Dahlan melebarkan sepasang pahanya lalu merunduk serta mengarahkan wajahnya ke selangkangan wanita itu.
“Aakkhh” desah Rania sambil menggeliat begitu lidah Pak Dahlan menyapu bibir vaginanya.
Lidah itu terus bergerak masuk menyentuh bagian lebih dalam dari vaginanya. Kenikmatan makin menjalari tubuhnya membuat wajahnya memerah dan nafasnya makin memburu.
Setelah lima menitan menikmati vagina Rania, Pak Dahlan memintanya melakukan posisi 69, yaitu saling mengoral kelamin pasangan dalam saat bersamaan. Rania yang sudah horny itu menurut saja disuruh naik ke wajah pria itu. Pak Dahlan meneruskan lagi jilatannya pada vagina wanita itu, kali ini sambil merasakan nikmatnya kuluman Rania pada penisnya. Ketika sedang asyik-asyiknya menikmati vagina Rania, tiba-tiba ponselnya berbunyi tanda SMS masuk. Ia mengambil ponsel itu dari kantong celananya yang diletakkan tidak jauh dari situ sementara tangan satunya tetap mengorek-ngorek vagina Rania. Hanya SMS dari sesama dosen ternyata yang memberitahukan masalah pekerjaan. Setelah selesai membaca SMS itu, Pak Dahlan memencet nomor lagi untuk menghubungi seseorang.
“Hoi, Ron pakabar nih ?” sapanya pada orang disana.”saya sekarang lagi sama Bu Rania nih, itu tuh dosen yang lu kasih tau Rabu kemaren”
Ternyata dia menghubungi Imron untuk memberitahukan keberhasilannya menggaet dosen muda itu.
“Enak banget loh Ron sepongannya, wuih…yahud !” katanya di telepon.
“Bener kan Pak apa kata saya juga, dosen juga manusia kalau udah terangsang ya ga beda sama lonte hahaha !” kata Imron di telepon.
“Dasar dua bajingan tengik !” maki Rania dalam hati, dia memperkuat hisapannya sebagai pelampiasan.
“Uooh…gila nih Ron, kontol gua lagi diisep, enak banget !” katanya “eh, mau bergabung ga, udah jam segini nyantai kan ?” tawarnya.
“Ohh, ga deh Pak, enjoy aja dulu, saya juga lagi sibuk nih” jawab Imron “Uuhhh !” Pak Dahlan samar-samar mendengar suara desahan wanita di seberang sana.
“Wahaha…lagi asyik juga toh lu Ron, itu suara apa tuh, hayo !”
“Iyalah Pak biasa abis jam sibuk gini kan enaknya cari penyegaran dikit” jawab Imron yang saat itu sedang berbaring di dipan di ruangannya menikmati Joane yang sedang melakukan woman on top posisi memunggungi di atas penisnya.
“Ya udah selamat bersenang-senang yah !”
“Yok Pak sama-sama salam buat Bu Rania yah, hehe” balas Imron lalu dia menutup ponselnya.
“Ayo manis, kita ganti gaya !” perintahnya sambil mendekap tubuh Joane yang pakaiannya telah tersingkap sana-sini.
Dia lalu menindih tubuh gadis itu dan memasukkan kembali penisnya bersiap untuk gaya misionaris. Tapi agaknya kita harus meninggalkan Imron dan Joane karena episode ini bukanlah porsinya mereka. Yah, sebaiknya kita kini kembali pada Rania dan Pak Dahlan yang juga sedang berasyik-masyuk.
Rania sedang menaik-turunkan kepalanya melayani penis Pak Dahlan. Dia merasakan jari Pak Dahlan bergerak memutar-mutar dalam vaginanya dan juga lidahnya yang nakal itu terus saja menjilati daerah kewanitaannya sehingga makin menaikkan birahinya. Vagina Rania makin berlendir karena terus-menerus dirangsang sedemikian rupa dan nampaknya pria itu sangat menikmati cairan itu yang dijlatinya dengan bernafsu. Ketika di ambang orgasme, sekali lagi dia menyuruh Rania berhenti mengulum, ia ingin menikmati tubuh wanita itu sepenuhnya sehingga tidak mau cepat-cepat keluar. Kini diperintahkannya Rania menaiki penisnya. Tidak terlalu sulit penisnya memasuki vagina itu karena sudah basah dan licin. Erangan Rania turut mengiringi proses penetrasi itu hingga akhirnya penis itu tertancap seluruhnya.
“Mmhhh…enak Bu, memek Ibu legit sekali !” gumam Pak Dahlan merasakan himpitan dinding vagina Rania terhadap penisnya.
Tanpa menghiraukan ocehan Pak Dahlan, Rania mulai menggoyangkan tubuhnya naik-turun. Sesekali ia meliukkan pinggulnya sehingga Pak Dahlan merasa penisnya seperti dipelintir. Secara refleks tangannya yang saling genggam dengan tangan pria itu membimbingnya ke salah satu payudaranya seolah meminta pria itu meremasinya. Pak Dahlan mulai memainkan payudaranya dan tangan satunya menelusuri tubuh yang molek itu, merasakan kulitnya yang halus dan lekuk tubuhnya yang indah. Rania sudah semakin hanyut dalam persetubuhan itu walaupun pada awalnya dilakukannya dengan terpaksa.
“Yah…terus Bu, enak…terushh !” desah pria itu seiring genjotan Rania yang semakin liar karena semakin dikuasai birahi.
Kemudian Rania menegakkan tubuhnya sejenak untuk melepaskan tank topnya yang tersingkap, satu-satunya pakaian yang masih tersisa, sehingga kini keduanya telanjang bulat. Dari bawah Pak Dahlan juga ikut menggerakkan pinggulnya, tumbukkan mereka yang saling berlawanan arah itu menyebabkan penis itu menusuk lebih dalam. Rania tidak menghiraukan yang lain lagi selain birahinya yang menuntut pemuasan, rasio, hati nurani, dan perasaan-perasaan lainnya untuk sementara terkubur.
“Gimana Bu Nia ? Enak ga kontol saya ?” tanya Pak Dahlan yang merasa telah menaklukkannya.
“Aahh…ahhh…enak Pak…terus…goyang terus Pak !” erang Rania tanpa malu-malu lagi.
Tidak sampai sepuluh menit setelahnya, Rania mulai sampai ke puncak, otot-otot vaginanya berkontraksi dengan cepat dan makin basah. Dia menambah kecepatan goyangannya sehingga pria itu juga makin mendesah.
“Oohhh !” Rania menggelinjang dahsyat di atas tubuh tambun Pak Dahlan.
Selama beberapa saat tubuhnya menegang tak terkendali, dinding vaginanya makin meremasi penis pria itu sehingga diapun tak mampu menahan ejakulasinya.
“Ooohh…saya juga keluar Bu !” erangnya menyambut gelombang orgasme, spermanya menyemprot deras mengisi vagina Rania.
Tubuh mereka berangsur-angsur melemas kembali. Rania ambruk diatas tubuh Pak Dahlan dengan nafas tesenggal-senggal dan bersimbah keringat, penis itu masih menancap di vaginanya. Senyuman puas terlihat pada wajah pria itu karena berhasil menikmati dosen cantik bertubuh molek ini.
“Hebat, enak sekali Bu, Ibu memang pintar memuaskan pria” kata Pak Dahlan sambil mengelus rambut panjang Rania yang agak bergelombang.
“Persetan lah !” omel Rania dalam hati.
Rania yang kesadarannya mulai pulih merasakan dirinya benar-benar kotor, dia ingin melawan namun tidak sanggup apalagi dalam keadaan seperti ini dan dibawah tekanan. Namun dia juga harus mengakui dirinya sangat menikmati persetubuhan dengan pria tambun yang umurnya dua kali lipat dirinya itu.
“Misi bentar Bu, saya mau ambil minum dulu” sahut Pak Dahlan seraya menurunkan tubuh Rania hingga terbaring di sofa, lalu berjalan ke arah dispenser.
Setelah minum seteguk, dia menyodorkan gelas yang tinggal setengah isinya itu pada Rania. Rania mengambil gelas itu lalu menggeser tubuhnya agak bersandar pada sandaran tangan. Air itu memberinya sedikit kesegaran pada tenggorokkannya yang terasa kering karena mendesah juga mengembalikan sedikit tenaganya.
Pak Dahlan terus memperhatikan Rania sementara dia sedang meneguk minumannya, diperhatikannya lehernya yang jenjang itu berdenyut-denyut karena meneguk air, tubuh telanjangnya dengan payudara putih montok, perut rata, dan paha yang panjang dan mulus, semua itu membuat birahi Pak Dahlan kembali naik.
Setelah air dalam gelas itu habis, Pak Dahlan mengambilnya dan meletakkannya kembali di atas meja. Didekapnya tubuh Rania dengan tangannya yang kokoh dan tangan yang satunya menyeka keringat di dahinya. Rania dengan ketus menepis tangan pria itu.
“Gak usah sok sayang gitu, Bapak bukan siapa-siapa saya !” katanya ketus sambil menyeka sendiri keringat di dahinya.
Pak Dahlan hanya senyum-senyum saja melihat reaksi Rania, karena dia malah senang dengan korban yang reaksinya sok jual mahal seperti ini. Kemudian dia meraih salah satu payudara wanita itu dan menundukkan kepala.
“Oouucchh !” rintih Rania dengan wajah meringis karena Pak Dahlan menggigiti putingnya.
Tubuh Rania menggeliat sambil tangannya mendorong-dorong kepala pria itu karena dia terus menggigiti putingnya dengan menggetarkan giginya, rasanya ngilu dan sakit, tapi juga…enak.
“Aduh…aah…jangan terlalu keras Pak…aahh…sakit !” rintihnya sambil meremas-remas rambut pria itu.
Pak Dahlan akhirnya melepaskan juga gigitannya pada puting Rania setelah beberapa saat kepalanya didorong-dorong hingga rambutnya agak acak-acakan. Dia tersenyum nakal melihat wajah Rania yang bersemu merah karena terangsang oleh gigitannya.
Kemudian pria itu menundukkan kepalanya hendak mengarah ke payudaranya lagi.
“Sudah Pak, jangan lagi…eeengghh !” ternyata kali ini bukan gigitan melainkan sapuan lidah yang diterimanya.
Kali ini Rania merasa lebih nyaman setelah tadi putingnya sempat panas nyut-nyutan akibat gigitan pria itu. Jilatan-jilatan itu membuatnya kembali bergairah. Memang Pak Dahlan sangat lihai mempermainkan nafsu korban-korbannya sehingga mereka takluk padanya. Sambil terus menjilati putting itu, tangan Pak Dahlan merambat ke bawah menyentuh kemaluannya. Rania makin mendesah dan menggeliat saat jari-jari besar itu mengelusi bibir vaginanya. Pria itu naik ke sofa menindih tubuhnya, kali ini mulutnya naik mencupangi leher jenjangnya sambil tangannya terus mengorek-ngorek vaginanya. Tak lama kemudian Rania merasakan benda tumpul didorong-dorong hendak memasuki vaginanya. Dia mendesah menahan sakit saat penis itu menyeruak masuk ke dalam vaginanya. Penis itu tidak terlalu sulit melakukan penetrasi karena vagina Rania sudah becek sekali.
“Uhhh…enaknya, memek Ibu emang seret banget !” dengus pria itu.
Pak Dahlan mulai menggerakkan pinggulnya menyodoki vagina Rania dengan penisnya. Terdengar suara seperti tepukan setiap kali selangakangan mereka bertumbukkan. Pompaan Pak Dahlan kadang keras tapi kadang juga lembut sehingga membuat Rania larut menikmati persetubuhan itu.
Setelah lewat seperempat jam Rania tidak mampu lagi menahan orgasme. Dia mendesah panjang dan mengeluarkan banyak sekali cairan dari vaginanya. Tubuhnya mengejang dan memeluk erat-erat tubuh Pak Dahlan yang menindihnya. Pak Dahlan sendiri masih belum mencapai puncak, dia terus menggenjoti Rania semakin ganas karena sensasi nikmat yang didapat dari kontraksi dinding vagina wanita itu ketika orgasme yang semakin erat menghimpit penisnya. Tak lama kemudian ketika di ambang orgasme, pria itu mencabut penisnya dari vagina Rania. Cairan lendir meleleh-leleh dari batang itu dan membuatnya terlihat mengkilap ketika baru saja ditarik lepas dari liang vaginanya. Kemudian pria itu naik ke dada Rania dan menjepitkan penisnya dengan kedua payudara montok itu. Rania yang masih lelah pasca orgasme hanya pasrah saja membiarkan pria itu melakukan breast-fucking terhadapnya. Penis yang sudah licin itu maju mundur dengan lancar diantara kedua gunung kembarnya. Dia sedikit merintih karena Pak Dahlan terkadang meremas payudaranya terlalu keras. Tidak sampai lima menit, pria itu mengerang nikmat dan menyemprotkan spermanya. Cairan seperti susu kental itu mengenai wajah Rania, terutama daerah dagu dan mulut, juga menciprati leher dan dadanya. Tubuh gempal itu berkelejotan meresapi gelombang orgasme yang melandanya. Setelah spermanya tidak keluar lagi, pria itu turun dari dada Rania dan duduk di sofa itu. Sambil beristirahat tangannya iseng mengolesi cipratan spermanya di dada wanita itu hingga merata.
Rania, dengan tenaga yang sudah mulai terkumpul, menggerakkan tangannya dan menepis tangan pria itu dari dadanya.
“Jangan gitu dong Pak, lengket tau gak !?” bentaknya lemas.
“Hehehe…puas banget saya Bu, lain kali lagi yah” pria itu berkata dengan nafas berat kelelahan.
Rania memutuskan untuk secepatnya angkat kaki dari tempat itu sebelum pria itu pulih dan mengerjainya lagi. Maka dia buru-buru turun dari sofa dan memunguti pakaiannya lalu memakainya kembali, sebelumnya dia mengelap ceceran sperma di tubuhnya dengan tisue yang dibasahi air. Tanpa memberi salam selain tatapan marah dia keluar dari ruangan itu dan menutup kembali pintunya dengan setengah dibanting.
“Dasar bajingan ga bermoral, munafik !” makinya dalam hati sambil terus berjalan.
Detak jantung Rania tertahan sejenak ketika dilihatnya sesosok tubuh yang dikenalnya muncul dari arah tangga lantai bawah, seseorang yang dikenalnya.
Di koridor lantai dua yang sudah sepi itu dia berpapasan dengan Imron yang baru saja naik dari lantai satu.
“Woo…hoo…Bu Nia, baru beres sama Pak Dahlan yah, gimana acara gininya Bu ?” sapanya sambil menunjukkan jempol yang diselipkan antara telunjuk dan jari tengahnya.
Rania terus saja melengos tanpa menjawabnya, sungguh benci dia pada pria yang telah merenggut kesuciannya dan menjerumuskannya dalam lembah nista.
“Yee…ditanya diem aja, dasar dosen lonte !” kata Imron seraya menepuk pantat Rania yang berlalu sambil mengacuhkannya.
Rania menengok dan memelototinya, namun ia tidak bisa lebih berbuat lebih selain mempercepat langkahnya agar menjauh dari pria itu, untunglah Imron tidak macam-macam karena dia baru menuntaskan hajatnya dengan Joane beberapa saat lalu.
“Gimana Pak barang barunya, sedap gak ?” tanya Imron yang menemui Pak Dahlan di ruangannya.
“Ya sedap toh, puas banget nih saya, hebat lu Ron bisa dapetin dosen, kalau mahasiswi bispak sih saya udah biasa, tapi kalau dosen bispak baru luar biasa, hahaha” katanya berkelakar.
Kedua penjahat kelamin itu pun tertawa-tawa penuh kemenangan.
###########################
Nightmare Sidestory: Lesson from Joane
Kilatan cahaya dan kelap-kelip lampu disco yang mengikuti irama musik underground memenuhi dance floor tempat para muda-mudi asyik melewati malam dengan berdansa, minum alkohol, ngobrol-ngobrol, dan kegiatan lainnya. Sebagian besar yang hadir malam itu adalah mahasiswa/i karena malam itu sedang acara campus nite. Di tempat clubbing elite itu mereka bersantai dan melupakan sejenak kesibukan dan stress mengenai masalah kuliah. Diantara mereka yang bergoyang mengikuti irama musik nampak Joane, Devi, serta beberapa teman wanita dan pria mereka. Setelah puas bergoyang Joane kembali ke sofa tempat teman-teman lainnya berkumpul, ia pun bersulang segelas kecil Jack Daniels. Ia nampak seksi malam itu dengan tank top kuning dan rok mini putih yang memamerkan pahanya, Ia pun larut dalam canda tawa dengan mereka, kadang untuk mengobrol mereka harus agak berteriak mengimbangi dentuman-dentuman speaker yang bising itu.
“Loh, Jo…bukannya itu si Yogi !” sahut Anna, seorang temannya.
“Hah ?? apa ?” tanyanya agak keras.
“Yogi…cowok baru lu tuh !” Anna mengeraskan suara sambil menunjuk.
Joane menengok ke belakang ke arah yang dimaksud temannya, senyuman di wajahnya mendadak hilang. Matanya memandang tajam ke arah seorang pria berambut spike yang sedang baru duduk di sofa lalu merangkul seorang gadis cantik, mereka sepertinya begitu akrab sampai-sampai si cewek mengecup pipinya begitu dia duduk.
“Bangsat !” makinya dalam hati sambil bangkit berdiri dengan tangan terkepal kuat.
Seorang temannya memegang pergelangan tangannya bermaksud menahan, namun ia menyentak tangannya dan tetap berjalan menghampiri pria itu. Orang-orang yang berkumpul di sofa itu memandang ke arahnya, begitu juga pemuda berambut spike yang baru datang itu, ia kaget dan langsung menurunkan tangannya dari bahu gadis itu begitu melihat Joane sudah berdiri disitu sambil melipat tangan, lalu ia segera membuang muka dan meninggalkan mereka. Seperti yang diharapkan, pria itu mengikutinya keluar ruangan. Joane menghentikan langkahnya di dekat toilet yang agak sepi dan jauh dari hingar bingar musik.
“Dasar laki-laki brengsek, lu tau kan gua paling gak suka diboongin !” ia langsung menyemprotnya dengan marah.
“Jo…Jo…please denger dulu dong, kita tuh emang abis bicarain urusan kerja, udah gitu baru temen-temen gua ngajakin ke sini” Yogi berusaha menjelaskan sambil meletakan tangan ke bahu Joane yang mulai uring-uringan.
“Terus cewek itu nyium lu juga disuruh temen lu? iya !?”
“Aduh Jo, itu kan cuma gitu aja…lagian dari sebelum jadian kita duaan juga udah ga perawan ini kan ?”
“Cuma gitu aja hah lu bilang !” Joane benar-benar marah mendengar jawaban itu, minta maaf pun tidak malah masih membela diri. Ia menepis tangan pemuda itu dari bahunya, lalu menamparnya dan berlari meninggalkannya.
Dengan hati hancur ia berlari ke mobilnya di basement parkir. Begitu masuk dan menutup pintu, ia mengeluarkan ponselnya dan menulis SMS, ‘Dev,ntar u sama si Anna plg ikut yg lain aja yah, sori gw hrs plg duluan’. Setelah mengirim SMS itu ia menghidupkan mesin mobil dan menjalankannya. Sepanjang pejalanan pikirannya nerawang sampai diteriaki ‘goblok’ oleh seorang pengendara motor karena menyalip jalur dengan kecepatan tinggi. Untuk kesekian kalinya ia kembali menelan pil pahit dalam berpacaran. Memang ia mengakui dirinya bukanlah wanita baik-baik, ia seorang ayam kampus yang pernah terlibat macam-macam petualangan seks, namun setidaknya selama ini ia tidak pernah berbohong pada para pria yang menjadi pacarnya. Pada mereka yang pernah menjalin hubungan kasih dengannya ia selalu mengakui latar belakangnya yang suram dan kalau mereka mau menerima apa adanya ia akan berusaha memperbaiki diri. Namun selama ini kebanyakan laki-laki itu hanya menginginkan tubuhnya sehingga ia sudah terbiasa disakiti dan makin terjerumus dalam kehidupan yang kelam, terlebih ia kini telah menjadi budak seks Imron, si penjaga kampus bejat itu. Sebulan lalu ia baru saja mencoba hubungan serius dengan Yogi, eksekutif muda itu, yang berhasil menundukannya. Pemuda itu menjanjikannya segudang harapan bahwa ia menerima dirinya yang telah kotor itu apa adanya dan bersama mereka akan menghadapi masa depan yang lebih baik. Di pundak pemuda itu, Joane telah menaruh harapan besar tentang hari depannya setelah lulus nanti dan lepas dari cengkraman Imron. Namun baru sebulan saja janji-janji itu hanya tinggal janji, persis janji-janji para politikus setelah memenangkan kampanye, semua pria sama saja, hanya pintar mengobral janji dan bermanis mulut.
Sampai di kamar kostnya ia langsung membanting tubuhnya ke ranjang, dipeluknya bantal guling sambil menangis sejadi-jadinya. Pria itu bahkan belum menelepon untuk setidaknya minta maaf. Tak lama kemudian ia tertidur kelelahan tanpa sempat berganti pakaian. Ia baru bangun pagi hari jam sepuluh ketika matahari menerangi kamarnya. Setelah menyesuaikan matanya yang baru menyesuaikan diri dengan cahaya, ia turun dari ranjang dan melepaskan pakaiannya hingga bugil lalu memasuki kamar mandi yang menyatu dengan kamarnya. Di kamar mandi, ia memutar kran dan mengucurlah air dari shower membasahi tubuhnya. Sambil menyabuni tubuhnya, dalam pikirannya masih terbayang-bayang kejadian semalam, apa gerangan yang sedang dilakukan lelaki itu sekarang, pasti ia juga baru bangun setelah tidur seranjang dengan gadis itu atau mungkin sekarang mereka sedang meneruskan babak selanjutnya di kamar mandi. Tapi…ah sudahlah ngapain juga harus memikirkan seperti itu terus, ini memang bukan pertama kalinya, tapi entah sampai kapan akan ada lelaki baik yang bukan hanya menginginkan tubuhnya dan serius mencintainya.
Sebagai ayam kampus ia juga tidak berharap terlalu muluk untuk mendapatkan lelaki yang perfect, penampilan tidak terlalu pentinglah, kekayaan pun ya bisa ditempatkan di nomor sekianlah karena keluarganya termasuk sangat berkecukupan, yang diperlukannya hanyalah kasih sayang tulus dan perhatian yang tidak pernah didapat dari orang tuanya sejak kecil, mereka selalu sibuk dengan pekerjaannya masing-masing dan seringkali bertengkar bahkan tidak jarang di depan dirinya. Mamanya yang lebih sayang pada adik laki-lakinya sering mencubit dan memukulnya bila berbuat salah. Kurangnya kasih sayang dan perhatian inilah yang membuat Joane menjadi rusak. Sejak kehilangan keperawanan pada umur 16 tahun, hidupnya semakin tak karuan, terlebih saat itu ia telah tinggal di kost jauh dari keluarga. Ia mulai menjual diri dan kecanduan seks, predikat wanita nakal mulai melekat pada dirinya. Sebenarnya dalam hati kecil Joane, ia pun ingin merasakan cinta yang tulus dan kelak membangun keluarga bahagia, ia juga senang sekali dengan anak kecil, hal ini nampak dari hubungannya dengan keponakannya yang masih balita, ia begitu akrab bermain-main dengan mereka. Kepolosan dan kelucuan merekalah yang dapat membuatnya seperti meneguk setetes kebahagiaan di tengah hidupnya yang kelam. Sebagai manusia tentu ia tidak ingin berkubang dalam lumpur dosa selamanya, beberapa kali ia mencoba memperbaiki diri setiap ada lelaki yang dianggapnya benar-benar mencintainya, namun beberapa kali pula mereka mengecewakannya sehingga membuatnya terjerumus makin dalam.
Sejak Yogi menyatakan cintanya sebulan lalu ia telah mengurangi merokok dan menolak seks dengan pria lain selain pemuda itu dan tentu saja Imron yang telah menguasainya. Dengan segala rayuan gombalnya mampu membuat Joane yakin dialah ‘sang prince charming’ yang selalu dinantinya, terlebih keduanya memiliki latar belakang yang sama-sama kelam, Joane telah mendukung pemuda itu dalam usahanya lepas dari ketergantungan alkohol dan kesukaannya main perempuan. Ia melihat keseriusan pemuda itu yang mulai mengurangi minum dan tidak main perempuan, sehingga ia pun mulai memperbaiki diri juga, ia tidak lagi menerima panggilan untuk menjual tubuh dan meredam nafsunya yang liar dengan berolah raga dan kegiatan positif lainnya. Panggilan dari Imron adalah perkecualian karena si monster pemangsa wanita itu telah menjeratnya, ia hanya berharap segera lulus sehingga lepas darinya seperti yang dijanjikan Imron bahwa korbannya baru bisa lepas setelah lulus atau minimum dua tahun menjadi budaknya sambil menunggu mangsa baru dari angkatan berikutnya, pria itu selalu mengancam bila keluar dari kampus itu sebelum waktunya ia akan membeberkan foto-foto memalukan korbannya. Sepuluh menit kemudian, Joane menyudahi mandinya, ditutupnya kran hingga air berhenti mengalir. Ia mengelap tubuhnya yang basah dengan handuk lalu keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya. Hari itu adalah hari Minggu, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh kurang seperempat. Ia membuka lemarinya untuk mengambil pakaian, dipilihnya pakaian yang santai berupa sebuah kaos pink tanpa lengan dan bawahannya hot pants yang sangat pendek sehingga mengekspos paha rampingnya yang putih mulus.
Setelah berpakaian ia mengambil ponselnya, hanya ada satu SMS yang masuk sejak semalam yaitu dari temannya, Devi. Isinya, ‘Jo, u gpp kan ? j5 sore ini kta jln2 ke mall aja yah, biar kita fun dikit’. Joane membalas SMS itu sambil berjalan keluar kamarnya untuk menggantung handuknya yang basah di jemuran. Ketika berjalan ke tempat jemuran, karena matanya melihat ke layar ponsel, ia hampir bertabrakan dengan Mumun, si kacung kost yang baru berusia 14 tahun yang biasa kerjanya bersih-bersih, membelikan barang titipan penghuni kost, atau pekerjaan-pekerjaan ringan lainnya. Ia bekerja disini membantu ibunya, Mbak Sarti, karena tidak punya biaya untuk meneruskan sekolah. Mbak Sarti sendiri lebih sering berada di rumah ibukost yang letaknya berdekatan dengan kost itu. Anak itu berambut cepak dan kurus, kulitnya gelap karena sering terkena panas matahari, dibanding Joane tinggi anak itu baru sebatas mulutnya, sifatnya pendiam dan pemalu. Joane tersentak pelan lalu mengelus dada karena agak terkejut anak itu hampir menabraknya dari samping, ia sedang mengepel lantai saat itu.
“Maaf Non” ujarnya sambil tetap menunduk dan meneruskan pekerjaannya.
Setelah menggantungkan handuknya di jemuran Joane langsung berbalik kembali ke kamarnya. Diam-diam Mumun memandangi sosoknya yang seksi itu, pria mana yang tidak menelan ludah melihat tubuhnya yang ramping itu dengan kostum yang minim, pahanya yang mulus membuat orang bernafsu membelainya, hotpants yang pendek dan ketat itu mencetak bentuk pinggulnya yang bulat indah. Sebenarnya Joane pun merasa dirinya sedang dipandangi, namun ia santai saja karena tatapan nakal pria bukan hal yang asing baginya.
Joane menyalakan TV lalu duduk berselonjor di ranjang sambil menonton. Tangannya meraih sekotak rokok A-Mild dan menyelipkannya sebatang diantara bibirnya yang indah. Pikirannya tentang pria itu masih terngiang-ngiang di benaknya walau ia berusaha melupakannya.
“Dasar laki-laki, dimana-mana sama aja! Di depan mulutnya manis, di belakang selingkuh, emangnya gua ga bisa gitu apa ?!” marahnya dalam hati sambil mengepulkan asap dari mulutnya.
Dalam kemarahannya, pikiran nakal melintas di benaknya, tiba-tiba saja ia teringat pada Mumun, si bocah pembantu kost yang barusan berpapasan dengannya. Ia ingin menggoda anak itu sebagai pelampiasan kekesalan terhadap pria yang telah mengkhianatinya. Nuraninya sempat berbicara sebentar, bagaimanapun ia telah berusaha memperbaiki diri apakah harus mengotorinya lagi demi membalas dendam ? Maka ia pun memendam hasrat itu sementara sambil menunggu pria itu menghubunginya lewat ponsel setidaknya untuk meminta maaf. Namun dua puluh menit ia menunggu tidak pria itu belum juga menelepon ataupun meng-SMSnya. Sungguh pria itu mengecewakannya, ia sama saja dengan yang lainnya, tidak pernah mencintainya dengan tulus. Habis sudah kesabarannya, sisi liar dalam dirinya mulai menggeliat, ia memutuskan untuk merayu anak itu. Setelah menghabiskan rokoknya yang kedua ia turun dari ranjang dan melepaskan bra yang dipakainya lalu keluar mencari anak itu. Suasana kost pada hari Minggu seperti ini biasanya lenggang karena kebanyakan penghuninya kelau tidak ke gereja ya bermain di luar. Irama musik rap terdengar dari sebuah kamar yang tertutup dan di kamar lain yang pintunya terbuka setengah nampak dua orang pemuda sedang asyik main Winning Eleven di PS2. Joane mendapati Mumun sedang menonton TV di ruang tamu kost itu.
“Mun…Mumun, bisa ke kamarku bentar ga? Ada perlu nih” ajaknya.
Joane naik terlebih dulu sementara Mumun mematikan TV. Ia menunggu kedatangan anak itu dengan jantung berdebar-debar. Tidak sampai semenit, Mumun sudah menyusul ke kamarnya.
“Ada apa Non ?” tanyanya canggung.
“Ayo masuk aja” ajaknya, “itu tolong kamu bukain tutup botol di meja itu, keras banget” katanya sambil menggerakan wajah ke arah botol Coca-cola Diet di atas meja yang kebetulan masih baru dan belum dibuka.
Ia menjatuhkan pantatnya di ranjang setelah menutup pintu dan diam-diam menggeser grendelnya. Dengan mudah Mumun memutar tutup botol itu hingga terbuka.
“Udah Non, ini !” katanya seraya menyodorkan pada gadis itu.
“Makasih ya, ayo sini minum dulu” tawar Joane sambil menuangkan ke gelas.
Anak itu menerima sambil tertawa malu-malu, mereka pun meneguk minuman di gelas masing-masing. Sambil minum, diam-diam matanya terus tertuju pada paha Joane yang indah dan dadanya yang agak rendah. Tingkahnya yang kikuk itu membuat Joane makin suka menggodanya.
“Eeenngg…udah Non, terima kasih ya, saya pergi dulu !” ucapnya seraya meletakkan gelas itu dimeja.
“Eh, sebentar Mun, kenapa gak temenin aku dulu sini, kita kan kebetulan lagi sendirian nih” kata Joane sambil menepuk tempat di sebelahnya.
Mumun makin salah tingkah karena tingkah genit gadis itu, wajahnya tertunduk tidak berani memandang wajah gadis itu yang sedang tersenyum nakal.
“Heh, kenapa ? kok bengong gitu sih ? sini dong…santai aja aku gak bakal ngegigit kok” ujar Joane sambil meraih pergelangan tangan anak itu dan mendudukannya di sebelahnya.
“Kamu udah berapa lama kerja disini Mun ?” tanyanya membuka percakapan.
“Baru setaun sih Non, abis gak cukup biaya nerusin ke SMP, ya udah sama Mak disuruh kerja aja deh” jawabnya jujur.
“Terus kamu betah kerja disini Mun ?” tanyanya lagi.
“Mmmm…ya betah juga sih Non, orang-orang disini baik-baik, ada juga sih yang agak sombong tapi gak banyak”
Joane tersenyum mendengar jawaban polosnya, pemalu sekali anak ini pikirnya sehingga ia makin tertantang.
“Kalau aku Mun, termasuk yang mana nih, yang baik atau yang sombong”
“Yah kalau Non sih baik banget, mau ngebagi Coca-cola ke saya gitu masa ga baik sih hehe” jawabnya sambil mengelus kepala yang semakin menampakan keluguannya.
“Hehehe…dasar kamu ah, ini lagi ngegoda aku yah ?” Joane tertawa renyah sambil mencolek lengan anak itu.
“Nggak Non, bener kok Non baik makannya saya omong terus terang”
“Ya udah sekarang kamu yang nanya dong Mun, masa dari tadi aku yang tanya terus sih”
“Eerrr…tanya apa Non ?” katanya “Mumun bingung mo tanya apa?”
“Apa aja lah, kan kita lagi ngobrol-ngobrol santai ini”
Walaupun sejak tadi tidak berani bertatap muka dengan Joane, namun mata anak itu selalu saja mencuri-curi pandang tubuh gadis itu, jantungnya deg-degan dan tak terasa penisnya menggeliat karenanya.
“Non…Non asalnya dari mana, kok logatnya agak Jawa-Jawa gitu ?” tanyanya
“Dari Semarang Mun, kamu pernah kesana ?” jawabnya tersenyum.
“Oohh…ga pernah sih” jawab anak itu menggeleng, “terus Non udah berapa lama disini”
“Ya dari kuliah aja, dua tahunan lah”
Setelah sepuluh menitan ngobrol-ngobrol, rasa canggung Mumun mulai berkurang apalagi Joane kadang mengajaknya bercanda sehingga mau tidak mau anak itu ikut tersenyum. Ia mulai berani mengangkat wajah menatap lawan bicaranya yang cantik itu. Tampak anak itu menelan ludah melihat puting Joane agak tercetak di balik tank kaosnya.
“Non udah punya pacar belum ?” tanyanya tiba-tiba membuat Joane terdiam sejenak.
“Belum” jawabnya singkat.
“Masa belum sih Non, Non kan cantik masa belum ada yang mau ?” tanyanya polos.
“Bener, emang belum kok, kalau kamu sendiri Mun ?” Joane balik bertanya
“Ya belum lah Non, saya kan masih kecil hehe” jawabnya sambil garuk-garuk kepala, “eeh, Non mo tanya juga nih, kalau pacaran itu emangnya ngapain aja sih ?”
Joane tersenyum lagi, kepancing juga nih anak pikirnya, Mumun sendiri merasa Joane semakin manis dengan senyumnya itu sehingga dia senang memandanginya terlebih dengan pakaian yang minim seperti itu.
“Ehm, gimana yah jawabnya, ya intinya sih antara pria dan wanita saling mendekati gitulah misalnya jalan bareng, nonton bareng, makan bareng, nah dari situ timbul deh perasaan diantara mereka jadi makin mendalami pasangan masing-masing” kata Joane menjelaskan.
“Oohh gitu yah Non, kayanya asik juga yah Non” katanya mangut-mangut, “terus Non kalau yang namanya ngentot itu kaya gimana Non?”
Joane agak terkejut mendengar pertanyaan terakhir anak itu, tapi sekaligus senang juga, ini berarti umpan yang dilemparnya sudah semakin mengena.
“Kamu…kamu denger itu darimana Mun ?” tanyanya, ia melihat wajah anak itu sepertinya polos sekali waktu bertanya demikian, tidak tampak sedikitpun ekspresi mupeng.
“Ya itu Non, Mumun sering denger orang ngobrol-ngobrol di warung gitu, terus dari temen juga, katanya ntar kalau udah kawin kita tuh harus ngentot” katanya dengan lugu, “terus mereka bilang ngentot tuh enak, tapi saya ga dijelasin gimana, masih kecil katanya”
“Ok deh Mun, aku mau ngajarin kamu tentang apa itu ngentot, tapi kamu gak boleh cerita ke siapa-siapa, janji ?” Joane semakin bergairah karena itulah yang diharapkannya.
“Wah, bener nih Non, iya Mumun janji kok gak bakal ngomong ke siapa-siapa !” katanya antusias karena kepenasarannya sebentar lagi terjawab.
“Jadi gini Mun, ngentot itu bisa dibilang proses antara sepasang cowok sama cewek saling melepas nafsu birahi dengan berhubungan badan”
“Mmm, apa maksudnya tuh Non, ngelepas nafsu misalnya gimana ?” tanyanya belum terlalu mengerti.
Joane tersenyum sambil menggeser duduknya makin mendekati anak itu, selain itu digenggamnya juga tangan anak itu membuatnya semakin grogi.
“Nah prakteknya gini Mun, apa yang kamu rasain sejak berduaan sama aku tadi sama sekarang juga waktu berdekatan gini ?” tanyanya.
“Eeengg…ya deg-degan gitu Non, agak grogi jadinya” jawabnya.
“Kamu tau kenapa kamu ngerasa gitu ?” tanyanya lagi.
“Ya gimana ya…abis, abis Non kan cantik, seksi lagi jadi saya deg-degan” jawabnya gugup.
“Terus anu kamu tegang ga?” tanyanya yang dijawab anak itu dengan anggukan, “Nah itu yang namanya birahi, nah…terus kalau gini rasanaya gimana Mun ?” Joane meletakkan tangan yang digenggamnya itu di atas paha mulusnya.
“Mulus Non, kulit Non bagus banget !” jawab anak itu.
Joane mengusapkan tangan itu pada pahanya, ia merasakan darahnya berdesir dan tangan anak itu gemetaran. Muka anak itu memerah malu walau ia merasakan sesuatu dalam dirinya yang menggelegak, suatu perasaan yang luar biasa namun tidak bisa diungkapkannya dengan kata-kata.
“Kamu pasti belum pernah pegang-pegang cewek ya Mun ?” tanyanya nakal.
“Be…belum Non, mana berani saya” terlihat sekali ia semakin gugup.
“Kalau liat cewek telanjang ?”
“Pernah sih, tapi nggak sengaja di kampung dulu, lewat di sungai eh ada yang mandi, pernah juga sih ga sengaja mergokin emak saya mandi, itu juga ga sengaja” jawaban yang benar-benar apa adanya tanpa dibuat-buat.
Joane tertawa dalam hati melihat keluguan anak itu, seumur-umur baru pernah dia menggoda yang masih hijau dan usianya hampir tujuh tahun jauh dibawahnya seperti si Mumun ini. Seru juga nih sama yang bau kencur gini, nambah pengalaman, begitu katanya dalam hati.
“Mun, kamu berani nggak bukain bajuku ?” tantang Joane.
“Aduh…yang bener Non, Mumun malu nih” wajahnya tersipu-sipu.
“Yee…gapapa lagi, kan katanya mau diajarin ngentot, ya harus telanjang dulu dong !” katanya sambil meletakkan tangan anak itu di ujung bawah bajunya. “ayo Mun, angkat ke atas dong !”
Setelah didesak terus Mumun pun mengangkat kaos itu perlahan-lahan, Joane sendiri mengangkat tangannya membiarkan kaos itu lolos dari tubuhnya. Mata Mumun yang belo itu terlihat seperti mau keluar memandang tubuh Joane yang sudah setengah telanjang itu yang tinggal memakai hotpants saja. Tubuh itu begitu putih mulus tanpa cacat dengan payudara 34B nya yang mancung serta perutnya yang rata karena rajin berolahraga. Ketika Mumun sedang terbengong tanpa bisa mengucapkan sepatah katapun, Joane meraih tangannya dan meletakkannya pada payudaranya. Tangannya gemetaran ketika pertama kalinya menyentuh gundukan daging kenyal itu. Dibimbingnya tangan itu membelai dan meremas payudaranya yang montok itu.
“Mmhh…gitu Mun, remas pelan-pelan, rasain putingnya ngeras” katanya sambil membimbing tangan Mumun yang satunya membelai tubuhnya.
Joane memejamkan mata menikmati belaian tangan bocah pembantu kostnya itu, belaian itu kadang terkesan ragu-ragu tapi sangat mengusik birahinya.
Joane kemudian menaikan satu kakinya di pangkuan Mumun dan merangkul bahunya, tangan bocah itu juga ia lingkarkan pada tubuhnya. Wajah mereka sangat dekat sekali sampai hidungnya bersentuhan, Mumun dapat merasakan hembusan nafas gadis itu menerpa wajahnya.
“Kamu senang kan Mun ?” tanyanya dengan suara mendesah yang dijawab bocah itu dengan anggukan, “sekarang buka mulut yah, jangan ditutup, aku mau ajarin kamu ciuman”
Bibir keduanya saling berpagutan, Joane dengan agresif memainkan lidahnya di dalam mulut Mumun, ia menyapu langit-langit mulutnya dan mendorong-dorong lidah anak itu dengan lidahnya. Mumun pun tergerak untuk ikut memainkan lidahnya membalas lidah gadis itu yang seolah mengajaknya ikut menari. Sambil berciuman dengan penuh gairah tangan anak itu mengelusi punggung Joane yang mulus dan hangat. Joane merasakan pahanya yang dipangkuan anak itu menyentuh benda keras di selangkangannya. Beberapa saat kemudian mereka melepas ciuman setelah merasa nafasnya memburu dan butuh udara segar. Kemudian Joane berdiri di depan Mumun yang masih melongo dan melepaskan pakaian terakhir yang tersisa di tubuhnya, ia menurunkan sekaligus hotpants beserta celana dalam di baliknya. Mumun terpana menatap pemandangan indah di depan matanya itu, mata besarnya itu tak berkedip menatap kemaluan Joane yang ditumbuhi bulu-bulu hitam yang lebat.
“Ayo Mun, kamu juga buka baju” kata Joane menyentuh bagian bawah kaos lusuhnya.
Mumun mengangkat tangannya, ia pasrah membiarkan gadis itu melucuti pakaiannya walau masih tegang. Setelah melemparkan kaos itu ke belakang, Joane menyuruhnya berbaring di ranjangnya.
“Ayo cepet, tunggu apa lagi !?” katanya tidak sabaran karena anak itu bengong saja.
Mumun pun berbaring telentang di ranjang itu, tidak tahu apa lagi yang harus dilakukannya karena dia sama sekali buta soal seks, bahkan nonton film bokep atau lihat gambar porno saja belum pernah. Memang di usianya yang mulai puber itu ada rasa senang ketika melihat gadis-gadis penghuni kost itu lalu-lalang dengan pakaian yang memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh mereka, tapi ia sendiri tidak tahu mengenai perasaan yang disebut ‘birahi’ itu. Anak itu kaget dan menahan celana pendeknya ketika Joane hendak menurunkannya, namun tangannya segera ditepis gadis itu yang terus menurunkan celana itu hingga lepas. ‘Wew’ serunya dalam hati melihat penis anak itu yang sudah tegang, ujungnya sudah disunat dan berbentuk seperti helm, memang ukurannya tidak sebanding dengan pria-pria dewasa yang pernah terlibat seks dengannya, namun lumayan juga untuk ukuran anak seusianya. Joane merunduk dan menggerakan tangan untuk menggenggam penis itu.
“Eh…Non, jangan ah !” katanya sambil menutupi penisnya dengan telapak tangan.
“Kenapa sih lu, katanya mau diajarin !” Joane jadi agak sewot “kalau cerewet terus ya udah, sana pake baju keluar!” dengan kesal ia menggeser tubuhnya ke tepi ranjang dan memunggungi anak itu, tangannya meraih hotpants dan celana dalamnya yang diletakkan di kursi dekat situ. Namun tiba-tiba ia merasakan sepasang lengan kurus memeluknya dari belakang.
“Non, jangan marah dong, Mumun minta maaf, Mumun kan tegang baru pertama kali”
kata anak itu memelas.
Joane sengaja diam tak berkata apa-apa sehingga anak itu terus memohon dengan mengguncang-guncang tubuhnya. Dalam hati ia tersenyum melihat reaksinya yang seperti anak-anak minta permen itu. Ia pun menengokan wajah memandang wajah anak itu lalu berkata,
“Iya, iya kali ini aku ampuni, tapi janji jangan banyak bacot lagi”
“Iya Non, Mumun janji kok bakal nurut ke Non aja” jawabnya dengan penuh harap.
Maka Joane pun menyuruhnya kembali berbaring dan dituruti tanpa pikir panjang oleh bocah itu. Joane kembali ke posisinya semula berlutut di samping anak itu, ia merunduk dan menggenggam penis itu. Tangannya yang lembut dengan jari-jari lentik mulai mengusap batang itu. Mumun memejamkan mata dan menelan ludah menikmati usapan lembut itu.
“Pernah Mun ininya diginiin ?” tanya Joane yang hanya dijawab dengan gelengan kepala.
“Pakai tangan sendiri juga belum ?” tanyanya lagi.
“Pakai tangan sendiri, emang buat apa Non, tapi iya juga enak sih tititnya dikocok-kocok gitu” jawaban itu membuat Joane tersenyum geli sambil terus mengocok penis itu.
Anak itu mendesah dan tubuhnya berkelejotan ketika Joane pertama kali mendaratkan bibirnya mengecup kepala penisnya, lidahnya lalu menyusul menjilati bagian yang bersunat itu sambil tangannya memijat pelan buah zakarnya. Tak lama kemudian Joane sudah memasukan penis itu ke dalam mulutnya. Anak itu meremas-remas sprei dan mendesis merasakan hangatnya ludah gadis itu menyelubungi penisnya serta hisapan dan jilatannya yang berpengalaman itu.
“Aduh Non…sshhh…Mumun gak tahan…enakhh !” desahnya.
Sungguh sebuah sensasi luar biasa yang baru pernah dirasakannya dimana penisnya diemut-emut seorang gadis cantik seperti Joane. Terkadang Joane menggerakkan matanya untuk melihat reaksi anak itu, tatapan matanya saat itu membuat Mumun tak sanggup berlama-lama memandangnya. Tak lama kemudian saat kepala penis Mumun bersentuhan dengan daging lembut di langit-langit tenggorokan Joane, menyemprotlah spermanya tanpa terbendung. Tubuh anak itu menegang sambil menggigiti bibir bawahnya, kenikmatan ini tak terlukiskan dengan kata-kata, ia merasa seperti sedang kencing, tapi bukan kencing entah perasaan apakah ini namanya, demikian pikirnya. Penis itu banyak sekali mengeluarkan sperma yang langsung dihisap Joane dengan teknik menyedotnya yang telah membuat banyak pria serasa terbang. Meskipun cairan putih yang keluar cukup banyak namun tak setetespun keluar dari mulutnya, Joane mengisapnya hingga tetes terakhir dan penis itu menyusut dalam mulutnya.
“Gimana Mun, enak gak barusan ?” tanyanya begitu melepas penis itu dari mulutnya.
“Uenak banget Non, duh baru pernah ngerasain yang ginian” katanya puas.
“Itu tadi namanya orgasme, kalau udah sampai di puncak kenikmatan ya gitu tuh rasanya” Joane menjelaskan sambil membaringkan tubuhnya menyamping di sebelah anak itu.
“Oohh…ngerti jadi waktu kita orgasme itu kita ngeluarin pipis kaya tadi itu ?”
“Aduh Mun itu bukan pipis” Joane memutar mata dongkol, “cape deh !” katanya dalam hati, “tadi yang keluar itu namanya sperma, itu tuh yang bikin perempuan hamil kalau lagi subur Mun, aduuh”
“Sini, aku ajarin yang lain lagi !” suruhnya seraya menelentangkan tubuhnya dan menarik tangan anak itu sebelum dia harus memberi kuliah biologi padanya.
Diletakkannya tangan anak itu diatas kemaluannya yang berbulu lebat dan tangan satunya di payudaranya. Ia membimbing tangan Mumun pada vaginanya untuk membelai dan memasukkan jarinya memasuki liangnya.
“Gimana rasanya dibawah sana Mun ?”
“Hangat Non, becek-becek juga”
“Coba masuk lebih dalem lagi cari daging yang aahh !” desah Joane karena saat itu jari Mumun menyentuh klitorisnya yang sensitif.
“Oh, Non sakit yah, maaf Non, maaf !” katanya sambil mengeluarkan jarinya dari vaginanya.
“Heh siapa suruh keluarin ?” bentaknya memegangi lengan anak itu, “itu tadi yang namanya klitoris, titik sensitifnya cewek, coba kamu gosok pelan-pelan, yahh…ahhh…gitu”
“Jadi diginiin enak yah Non” kata Mumun tersenyum dan menggosokkan jarinya pada daging kecil itu.
Mumun kini telah menindih tubuhnya, mulutnya mengisap dan menjilati payudaranya sementara tangannya terus mengorek-ngorek vaginanya. Tanpa harus dibimbing lagi anak itu mengenyoti payudara montok Joane sampai pipinya kempot, lidahnya juga menyapu-nyapu putingnya menyebabkan Joane makin terangsang. Ia memegangi kepalanya dan menekan-nekan wajahnya ke payudaranya seolah memintanya terus melakukannya.
“Iyah Mun…terushh…gitu enak…ahhh…aahhh !” desahnya.
“Mun…Mun !” panggilnya menepuk-nepuk kepala Mumun yang sedang asyik menyusu, “udah dulu disitu, sekarang kamu jilatin memekku pakai cara ciuman yang tadi kuajari”
Mumun menurut saja apa yang disuruh Joane, ia menggeser tubuhnya ke bawah. Aroma kewanitaan yang harum karena rajin dirawat itu langsung tercium oleh Mumun begitu Joane membuka pahanya.
“Ayo Mun, jilati sepuasmu !” pintanya.
Mumun mulai menjilati bibir vagina Joane yang sudah basah, mula-mula ia agak canggung melakukannya namun lama-lama dengan dibimbing Joane ia semakin menikmati tugasnya.
“Iyah, disitu Mun, mmmhh…iyah disitu !” desahnya sambil mengarahkan Mumun menjilat daerah yang tepat.
Sedikit demi sedikit lidah Mumun mulai terlatih dalam melakukan oral seks. Lidah itu menyapu bibir vaginanya dan menggelitik klitorisnya sampai Joane menggeliat-geliat dan mendesah nikmat. Mumun sangat menikmati sari kewanitaan yang terus keluar dari vagina itu. Sedang enak-enaknya menikmati jilatan Mumun, tiba-tiba HP yang terletak di meja sebelah berbunyi.
“Terusin aja Mun, santai aja jilatinnya yah” katanya seraya meraih HPnya, ternyata yang menelepon temannya, Devi.
“Jo, kalau kita keluarnya jam dua aja gimana ? soalnya sorenya gua ada acara nih!” kata Devi di seberang sana.
“Jam dua, ya boleh juga lah, lu yang jemput gua kan?”
“Iya, ni hari gua aja yang bawa mobil, Jo lu gapapa kan kemaren ? kita udah watir loh sama lu, takutnya gimana-gimana gitu”
“Tenang aja lah Dev, udah biasa gua, yah ntar juga biasa lagi kok sshhh !” Joane menjawab telepon itu dengan nafas berat sambil menggigit bibir.
Joane harus melayani obrolan di telepon dengan Devi dalam keadaan vagina dijilati oleh Mumun. Lidah anak itu bergerak makin liar membuat gairah Joane semakin bergolak sehingga terkadang kata-katanya bergetar atau disertai desahan.
“Jo…lu kenapa sih ? kok ngomongnya aneh gitu sih ?” tanya Devi.
“Nggak…gapapa kok Jo gua cuma mmmhhh…sshhh…ok deh sampe nanti yah, lu jemput gua kan ?” Joane makin tak sanggup menahan desahannya karena Mumun makin bernafsu mengisap vaginanya.
“Hayo lu lagi ngapain nih ?” Devi menebak-nebak “lagi sama sapa tuh disitu, si Yogi dateng yah jangan-jangan…”
“Udah ah Dev jangan sebut-sebut bangsat itu, udah ya, see you !” Joane langsung menutup telepon itu dan kekesalannya bangkit lagi karena teringat lagi pria itu.
“Mun…sini !” panggilnya.
“Iyah Non, kenapa ?” ia merangkak di atas tubuh Joane hingga wajah mereka saling berhadapan, mulut anak itu nampak basah oleh cairan kewanitaan.
Tanpa banyak bicara lagi Joane langsung menarik kepala anak itu ke wajahnya dan melumat bibirnya. Mumun walaupun kaget dengan gerakan yang tiba-tiba itu pasrah saja, ia bahkan membalas pagutan Joane, lidahnya mulai berani menyapu-nyapu rongga mulut gadis itu dan bermain lidah dengannya. Joane menggulingkan badan ke samping sehingga kini ia berada di atas anak itu, dadanya yang montok dan hangat bergesekan dengan dada kurus Mumun. Joane menciuminya dengan ganas sebagai pelampiasan atas kekecewaannya pada pria yang pernah menjadi harapannya. Ketika mereka melepas ciuman tiga menit kemudian ludah mereka teruntai dan sedikit menetes.
“Sekarang waktunya Mun” katanya sambil menegakkan tubuh dan meraih penisnya.
Tangannya yang lain membuka vaginanya sendiri lalu secara perlahan ia menurunkan pinggulnya. Mumun merasakan kepala penisnya yang bersunat itu menyentuh daging yang hangat dan basah. Semakin Joane menurunkan pinggulnya semakin terbenam pula penis itu dalam vaginanya.
“Uuuhh…perih Non, perih !” erang Mumun yang kulit penisnya tertarik oleh himpitan dinding vagina Joane.
“Ssstt…jangan keras-keras, kalau ketauan orang di luar kita bisa gawat” kata Joane menempelkan telunjuknya ke bibir anak itu, “sebentar yah digoyang dikit dulu supaya pas” lalu ia menggoyang sedikit dan memaju-mundurkan pinggulnya.
Mumun merasakan sensasi dahsyat ketika penisnya tertanam seluruhnya dan bergesekan dengan vagina Joane yang bergerinjal-gerinjal, itulah saat pertama ia kehilangan keperjakaannya yang dirasanya tegang tapi nikmat dan akan bertambah nikmat.
“Nikmatin yah Mun, tapi jaga suaranya jangan terlalu rebut !” kata Joane sambil membelai pipi bocah itu.
Maka mulailah ia menaik-turunkan pinggulnya di atas penis anak itu. Nafas Mumun semakin menderu-deru merasakan kenikmatan yang baru pernah dirasakannya seumur hidup dimana penisnya serasa diperas di dalam rongga vagina gadis itu.
“Kamu remas-remas disini dong Mun !” kata Joane dengan manja sambil meletakkan tangan anak itu di payudaranya. “Aahh…ssshh…kerasan dikit Mun, gitu enak…iyahh…aahh !” desahnya.
“Auuuhh…, Non, ooohh…, enaakk… susu Non mantep banget, mm…,oooh goyangnya enak !” pujian jujur keluar dari mulut anak itu disertai desahan.
Joane melakukan gerakan naik-turun itu cukup lama juga, ada mungkin seperempat jam, tubuh keduanya sudah mulai berkeringat. Tangan Mumun yang mengusap punggungnya jadi ikut basah karena keringat yang keluar melalui pori-pori kulit seperti embun itu. Goyangan Joane yang semakin cepat menyebabkan rasa nikmat terus menjalar ke seluruh tubuh melalui penisnya. Kenikmatan itu membuatnya ikut menggerakan pinggulnya secara refleks menyambut goyangan gadis itu.
“Uuhh…tambah pinter yah kamu…bener gitu Mun, gerakin juga badan kamu…aahh…bagus !”
“Bangun sini Mun, aku ajari posisi lain !” katanya seraya menarik lengan anak itu hingga terduduk di ranjang, “nah, gini kan kamu bisa sambil nyusu !”
Ia meneruskan kembali goyangannya dan menekan wajah Mumun ke dadanya. Tanpa diperintah lagi Mumun mengenyoti payudara kanan Joane dan tangannya meremasi payudara yang lain. Kedua kaki Joane melingkari pinggang anak itu, sesekali ia menempelkan bibir mencumbunya agar desahannya tidak terlalu keras.
“Oohhh…Mun, jangan keras-keras !” Joane meringis dan menjenggut rambut pendek anak itu ketika putingnya digigit keras.
Kenikmatan yang semakin melambungkannya semakin membuat Mumun lupa diri hingga tak terasa puting Joane yang sedang dikenyotnya tergigit dengan kuat.
“Maaf Non, gak sengaja, abis enak banget…uuhh !”
Tak dapat disangkal rasa nyeri itu turut bercampur menjadi bagian dari kenikmatan persetubuhan itu. Joane merasakan vaginanya semakin banjir dan berkontraksi makin cepat. Ia pun menambah kecepatan goyangannya dan sesekali meliuk-liukan pinggulnya.
“Non….ooohhh…enak !”
“Aaahhh…aku…aku keluar Mun….mmhh…uummhh !”
Keduanya mencapai puncak kenikmatan secara berbarengan, Joane buru-buru memagut bibir Mumun agar erangannya teredam. Tubuh keduanya mengejang selama beberapa detik hingga melemas kembali dengan nafas terputus-putus.
“Kamu udah jadi laki-laki Mun, udah bukan perjaka lagi, ngerti kan yang namanya ngentot ?” tanya Joane membelai kepala anak itu.
“Asyik banget Non, baru pernah Mumun ngerasain yang gini, Mumun masih mau Non, boleh kan Non !?” pintanya.
Joane mengangguk dan tersenyum, sambil memulihkan tenaga ia membuarkan saja anak itu membelai dan mencium payudaranya.
Lama berpelukan Joane merasa semakin gerah, apalagi tubuhnya sudah keringatan begitu. Maka ia melepaskan pelukannya dari anak itu dan berbaring telentang.
“Ambilin minum dong Mun !” suruhnya.
Mumun langsung turun dari ranjang tanpa harus diperintah lagi, ia menuangkan Coca-cola Diet yang masih terletak di meja ke gelas Joane lalu memberikannya padanya. Setelah meneguknya, Joane menyodorkan sisanya yang setengah pada anak itu.
“Minum dulu Mun, kamu juga pasti haus kan !” katanya.
Mumun berterimakasih dan buru-buru meminumnya hingga habis. Setelah itu ia menaruh gelas itu di meja dan kembali ke Joane yang sedang berbaring. Tubuh kurusnya naik menindih Joane, mulutnya langsung nyosor ke payudaranya.
“Mmm…Mun, mulai gak sopan yah kamu” Joane mendesah genit dan meremas-remas rambut anak itu yang sedang mengisapi putingnya, “oohhh !” ia mendesah lebih panjang ketika jari anak itu memasuki vaginanya.
Cepat juga anak ini belajarnya, belum apa-apa sudah bisa merangsang seperti ini, pikirnya. Mumum melumat payudaranya secara berganti-ganti kiri dan kanan.
“Tetek Non mantap, bentuknya bagus, saya suka banget netek dari Non” katanya di sela-sela mengenyot payudara Joane.
Gairah Joane pun mulai bangkit lagi akibat rangsangan-rangsangan itu, demikian pula Mumun, penisnya kembali mengeras dan Joane merasakannya karena benda itu bersentuhan dengan pahanya. Disuruhnya anak itu berlutut diantara kedua pahanya dan menusuk vaginanya dengan penis yang sudah keras itu. Mumun mengikuti pengarahan Joane, ia menekan kepala penisnya ke vagina gadis itu.
“Ssshhh !” Joane mendesah meresapi proses penetrasi.
Sesaat kemudian Mumun sudah mulai bergoyang mencari kenikmatannya, tangannya perpegangan pada kedua betis Joane, ia mengikuti nalurinya tanpa pengarahan Joane lagi. Mumun yang baru pertama kali menikmati hubungan seks itu benar-benar menikmati penisnya keluar-masuk dalam vagina gadis itu. Pinggulnya bergerak maju-mundur menghujam-hujam vagina Joane menyebabkan tubuhnya tergoncang-goncang sehingga payudaranya pun bergetar hebat.
“Goyangnya cepetin Mun…aahh…enaknya, aku suka punyamu….aaahhh !” desah Joane sambil mengimbangi genjotan anak itu dengan menggoyang pinggulnya.
Setelah sepuluh menit anak itu maju menindih Joane tanpa melepas penisnya, persenggamaan itu terus berlanjut dalam posisi misionaris. Mumun menatap wajah seksi Joane yang sedang high itu, sungguh sangat menggoda pipinya yang bersemu merah dan sorot matanya yang dipenuhi hasrat itu sehingga Mumun tak tahan untuk tak menciumi pipinya dan bibirnya. Ciuman Mumun juga mengarah ke leher dan payudaranya membuat Joane sangat terbuai. Ia tak menyangka ABG kurus yang baru melakukannya pertama kali ini begitu cepat belajar dan mampu memuaskannya. Akhirnya ia tak sanggup bertahan lebih lama lagi, gelombang klimaks yang dahsyat kembali menerpa tubuhnya.
“Oohhh…oohhh…keluar lagi…aku gak kuat lagi Mun !” erangnya sambil memeluk erat tubuh anak itu, cairan kewanitaannya meleleh membasahi penis Mumun yang masih keras.
“Tambah enakhh Non…jadi tambah licin aja…uuhh…aahhh…nikmat Non !” desah Mumun merasakan ejakulasi Joane yang menghangatkan dan menghimpit penisnya lebih keras sehingga memberi kenikmatan ekstra.
Mumun menyusul tak lama kemudian dengan melenguh panjang dan menyemburkan spremanya di dalam vagina gadis itu.
Keduanya tergolek dalam posisi berpelukan, Joane menggeser tubuh Mumun yang menindihnya hingga terguling lemas ke samping, karena merasa berat dan panas. Namun Mumun kembali merangkul tubuhnya sambil terus meraba-raba tubuhnya, mulutnya menjatuhkan ciuman-ciuman ringan di pipi, bibir dan payudara gadis itu. Joane diam saja membiarkan anak itu berbuat semaunya.
“Non, Non cantik sekali, seksi lagi, lain kali boleh gak minta ginian lagi Non !” tanyanya.
“Boleh aja, tapi aku kasih tau ya, kalau di depan umum jangan macem-macem lu, jaga sikap, ngerti ?” katanya mewanti-wanti.
Mumun hanya mengangguk, ia juga sudah cukup lelah melayani keliaran gadis ini. Joane melirik ke arah weker di sebelahnya. Sudah jam 1.20, wah tak terasa lama juga persetubuhan ini, selain itu sepertinya Devi sebentar lagi akan datang menjemputnya.
“Mun, bangun, pake baju sana !” katanya.
Namun Mumun masih terus mengelusi payudaranya tanpa melepas rangkulannya sehingga Joane terpaksa menepis tangannya.
“Heh, bangun aku bilang, denger ga sih !” nadanya agak ketus.
“Tapi Non…”
“Cepet turun, masih ada kerjaan tau, jangan ngelunjak ah !” Joane mendorong dada anak itu sambil bangkit terduduk di ranjang.
Mumun buru-buru memunguti pakaiannya dan memakainya, takut dengan sikap Joane yang mulai judes itu.
“He…he…jangan asal keluar dulu dong, liat dulu dari jendela kalau sepi baru keluar !” katanya ketika anak itu menggeser grendel pintu.
“Sepi Non, biasa lah hari gini !” jawabnya terbata-bata setelah mengintip dari jendela.
“Ya dah keluar sana, tutup lagi pintunya !”
Sepeninggal Mumun, Joane membersihkan diri di kamar mandi. Dalam hati ia merasa puas, baik puas secara birahi, dan puas telah melampiaskan kekesalannya pada pria yang membohonginya itu, hatinya terasa lebih plong. Devi datang tak lama setelah ia selesai mandi dan berpakaian. Merekapun pergi menikmati hari Minggu dengan mobil Devi.
###
Yogi baru meneleponnya pada keesokan harinya.
“Jo…gua bener-bener sori kemarin itu, gua pengen ketemu aja buat minta maaf ke lu, gua benernya masih sayang kok ke lu”
“Masih sayang, dari kemaren ngapain aja lu ? udah puas sama tuh cewek baru nyari gua lagi” omelnya dalam hati sehingga ia terdiam beberapa saat tanpa menjawabnya.
“Jo…Jo…jawab dong, gua bener nyesel banget, gua sengaja nunggu sampai hari ini biar lu cooling down dulu, please kasih gua kesempatan sekali lagi”
“Emm, ya dah lu dateng kesini aja jam empat sore, gua ada kuliah sekarang” jawabnya lalu menutup pembicaraan.
Sorenya jam setengah empatan Joane memanggil Mumun ke kamarnya. Tentu saja anak itu senang sekali, apalagi Joane mengajaknya mandi bareng. Ia menyuruh Mumun masuk duluan ke kamar mandi dan menyalakan air hangat, tak lama kemudian ia menyusul ke dalam. Mata Mumun seperti mau copot melihat Joane yang masuk sudah dalam keadaan bugil, penisnya tambah mengeras melihat keindahan di depan matanya itu. Ia memeluk anak itu dibawah siraman shower yang membasahi tubuh keduanya, lalu menundukan kepala memagut bibirnya. Mereka berciuman beberapa saat sampai Joane menurunkan tubuhnya hingga berlutut di depan anak itu. Diraihnya penis yang telah menegang itu dan dikulumnya. Mumun melenguh dan wajahnya mendongak ke atas menggeleng-geleng karena merasa geli penisnya dipermainkan Joane dengan kuluman dan kocokan.
Lima menit kemudian, Joane melepas penis Mumun yang sudah mencapai ketegangan maksimal. Ia berdiri membelakangi anak itu dengan menunggingkan pantat dan menyandarkan tangan ke tembok. Dibimbingnya penis anak itu ke arah vaginanya, setelah tepat sasaran disuruhnya dia mendorong pinggulnya hingga penis itu memasuki vaginanya. Mumun harus sedikit berjinjit karena kaki Joane lebih panjang dari kakinya.
“Hhhshhh…entot aku Mun, entot sepuasmu !” desah Joane menikmati sodokan demi sodokan penis Mumun.
Sambil menggenjot, tangan Mumun menjelajahi lekuk-lekuk tubuh gadis itu, payudara yang menggantung itu diremas-remasnya dengan gemas. Joane turut menggerakan pinggulnya meyambut genjotan anak itu. Sepuluh menit lamanya mereka bersenggama dalam posisi demikian hingga keduanya orgasme dalam waktu bersamaan. Mumun menekan dalam-dalam penisnya yang menyemburkan sperma sambil melenguh panjang, demikian juga Joane yang tak mampu menahan desahannya dan matanya membeliak-beliak. Setelah mencapai orgasme Joane tersenyum pada anak itu dan menciumnya di bibir. Diambilnya sabun dan digosokannya ke tubuh kurus itu. Wajahnya masih malu-malu ketika tangan halus Joane dan sabun itu membelai tubuhnya, tapi yang jelas penisnya tampak tegang terutama ketika Joane menyabuninya, dengan nakal gadis itu sengaja mengocoknya pelan sehingga anak itu sedikit mendesah.
“Sini Mun sekarang kamu yang sabuni aku yah !” ujarnya seraya menyerahkan sabun.
Mumun mulai menyabuni tubuh Joane dengan tangan bergetar. Ketika sampai di vaginanya, Joane memegang lengannya dan mengeluskannya disana. ‘Emmmhhh !” desisnya sambil memejamkan mata. Ia memeluk anak itu dan menggeser tubuh ke bawah shower sehingga air menyiram dan membilas busa sabun di tubuh mereka. Mumun mengelus dan memasukkan jarinya ke vagina Joane sambil mengemut puting gadis itu. Joane terus mendesis menikmati jari-jari Mumun di vaginanya dan hisapan pada putingnya, air shower menyiram wajahnya yang menengadah dengan mata terpejam. Sedang larut-larutnya dalam birahi tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dan Yogi muncul di ambang pintu, ia tercengang melihat pacarnya yang sedang bugil di bawah siraman shower sedang memeluk bujang kostnya yang umurnya jauh dibawahnya dan sedang mengenyot payudaranya.
“Jo ! heh…anjing lo, berani-beraninya !” bentak Yogi pada anak itu dan melangkah ke anak itu hendak menghajarnya.
Mumun yang terkejut langung melepas pelukannya dan sembunyi ke belakang tubuh Joane. Joane sendiri tidak nampak terkejut ketika Yogi muncul mendadak karena itu memang sesuai yang diharapkannya, sebelumnya ia telah mengirim SMS padanya yang berisi, ‘gua tunggu di kmr mndi yah yang, pintu kamar ga gua kunci kok, u lgsg msk aja’
Joane mematikan air dan menghalangi Yogi yang hendak menangkap Mumun dengan tubuhnya.
“Hei…hei kenapa sih lo, kesurupan yah, kalau berani jangan beraninya ke anak kecil dong heh !” kata Joane dengan ketus sambil mendorong dada pemuda itu.
“Minggir Jo…kurang ajar bener si tuyul itu, minggir biar gua hajar !” katanya dengan emosian.
“Kok lu nyalahin dia sih, orang gua yang mau kok” kata Joane santai sambil mengelap tubuhnya dengan handuk.
“Apa ? lu ini…apa-apaan sih maksudnya ? jadi lu ada main sama si tuyul sialan itu ?” tanya Yogi dengan suara bergetar seolah tak percaya pendengarannya
“Iya emang, so what gitu loh, apa peduli lu, cuma gitu aja kan ?” ia melilitkan handuk ke tubuhnya dengan sikap cuek, “sekarang lu tau kan perasaan gua waktu lu boongin gua bilang ada urusan bisnis terus gua liat lu ciuman sama cewek lain !”
Yogi langsung terpaku, ia sadar ini adalah pembalasan atas perselingkuhan yang dilakukannya, namun bagaimanapun ia tidak terima Joane membalasnya dengan cara demikian.
“Lu…lu…dasar perek, emang udah aslinya perek, lu juga sama aja belum berobah !” maki Yogi sambil menunding Joane.
“Iya, emang, gua tau gua seperti apa, lu juga udah tau kan, tapi seenggaknya gua ga pernah main belakang kaya lu tau !” balasnya sengit.
“Hhiiihh !” Yogi gregetan mengangkat tangan hendak menampar Joane.
“Kenapa ? mau nabok ? ayo…tabok aja kalau berani, biar heboh orang diluar sana tau, biar mereka tau lu tuh banci, ayo !” tantang Joane sambil memberi pipinya.
Joane melangkah maju menantangnya sementara Yogi hanya bisa mundur-mundur tak kuasa menggerakan tangannya ataupun berkata apapun lagi. Ia hanya bisa membalikan badan dan mendengus kesal.
“Tunggu dulu” sahut Joane ketika pria itu hendak melangkah ke pintu, “Ini nih, gua gak butuh ini lagi, kasih aja ke perek lu itu !” ia melepaskan cincin emas putih yang diberikan Yogi ketika menyatakan cintanya dan melemparnya ke kaki pria itu.
Yogi meneruskan langkahnya dan membuka pintu tanpa menengok ke belakang, setelah di luar ia membanting pintu itu agak keras. Sepeninggal Yogi, Joane menengok ke kamar mandi di belakangnya, Mumun masih meringkuk di sudut kamar mandi, ia nampak bingung melihat cekcok barusan. Ia mendekati Mumun namun ketika baru mau berjongkok dan menenangkannya pintu kamarnya ada yang mengetuk.
“Tunggu disitu yah ! jangan keluar dulu !” katanya lembut.
Ia menutup kamar mandi dan membukakan pintu untuk dua teman kostnya yang kebetulan dekat situ dan mendengar suara perang mulut di dalam dan melihat Yogi keluar sambil membanting pintu.
“Jo….kenapa tadi ? lu gapapa kan ?” tanya seorang gadis kurus berkacamata.
“Nggak, biasalah urusan cowok cewek, yah gitulah cape deh !” katanya menghela nafas.
Setelah berbasa-basi dan meyakinkan mereka segalanya baik-baik, iapun kembali menutup pintu.
Joane kembali pada Mumun di kamar mandi, ia memegang bahu anak itu untuk menengangkannya. Mumun tersenyum terpaksa membalas pandangan mata Joane.
“Maaf yah Mun barusan itu !” ucapnya lembut lalu mengecup ringan pipi Mumun.
Ia menyuruh anak itu segera berpakaian dan menunggu sebentar di kamarnya sampai di depan agak sepi sehingga bisa keluar. Mumun tidak berani bertanya apa-apa mengenai kejadian tadi pada Joane, demikian pula Joane ia nampaknya cuek saja merokok sambil sesekali memantau situasi di luar dari celah tirai. Mumun keluar meninggalkan kamar itu setelah disuruh Joane yang yakin situasi di luar sepi. Joane menyalakan CD-playernya dan menjatuhkan diri ke ranjang. Walau agak sedih karena sendiri lagi, secara keseluruhan ia merasa kelegaan dalam hatinya, lepas sudah beban pikirannya. Malam itu Joane menepikan mobilnya sejenak di tepi sebuah jembatan. Dari sana ia melempar jauh-jauh cincin dari bekas pacarnya itu hingga benda itu menghilang di tengah luasnya laut. Devi memandang Joane dan mengelus-elus punggungnya, ia mengerti perasaan sahabatnya itu dan berusaha menghiburnya. Seminggu kemudian, setelah melunasi tagihan bulanan, Joane mengepak barang-barangnya untuk pindah ke kost baru. Sebelum pindah ia berkata pada Mumun yang membantu membereskan barangnya.
“Makasih yah Mun, sori kalau selama ini ngerepotin kamu, jangan lupain yang pernah kita pelajari yah”
Mumun merasa kesepian setelah Joane pindah dari kost itu, ia tidak mana kemana gadis itu pindah karena Joane tidak mengatakannya, namun ia tidak akan melupakan pengalaman yang didapatnya dari gadis itu, pengalaman itu menjadi kesan tersendiri dalam kehidupannya.
###########################
Slut, Bitch, or Angel?
Neraka bukanlah di sana atau di sini,
Melainkan di tubuh dan batin kita sendiri.
Hasrat yang tiada terpuaskan,
Itulah yang mengobarkan bara nafsu,
Yang membakar tubuh dan batin kita.
Kata-kata bijak dari Sang Budha di atas hendaklah mengingatkan kita, bahwa jika engkau mengijinkan nafsu mengendalikan dirimu, maka engkau akan terseret olehnya hingga sulit kembali, engkau akan terperangkap dalam sesuatu yang tiada pernah terpuaskan. Tiga bulan setelah menjadi budak seks Imron, kehidupan Syeni (baca Nightmare Campus 12: My Guilty Pleasure) banyak mengalami perubahan besar, terutama sejak diputus oleh pacarnya dengan cara yang menyakitkan. Imron memang telah sukses menggali hasrat liar dalam diri gadis berusia 23 tahun itu sehingga libidonya semakin tidak terkendali dari hari ke hari. Bagi Syeni, seks adalah pelarian dari hatinya yang hancur yang ia lampiaskan pada macam-macam orang dengan berbagai cara. Ia semakin menikmati tugasnya sebagai budak seks Imron dan teman-temannya yang dari golongan bawah, sementara pada golongan atas ia menjual tubuhnya. Dalam waktu singkat, ia sudah dikenal di antara para eksekutif muda dan om-om hidung belang yang berkantong tebal sebagai salah satu wanita panggilan termahal dengan service yang memuaskan. Hari itu, jam duaan, Syeni sedang melewati waktu luangnya, memang jadwal kuliahnya sudah sangat santai karena ia sedang mengerjakan skripsi, ke kampus pun paling hanya untuk mencari bahan referensi atau menemui dosen pembimbingnya. Ia berbaring menyamping di sofa ruang tengah sambil menonton film serial drama Korea dari DVD, di meja depannya telah tersedia snack dan air minum. Tubuhnya saat itu dibungkus kaos hitam lengan pendek dan celana pendek yang memperlihatkan sepasang kakinya yang jenjang dan putih mulus.
Syeni
Syeni
“Cinta?? Huh…emang kenyataannya seindah itu?” pertanyaan sinis terlintas di benak gadis itu
Adegan romantis di film itu membuatnya iri dan juga sinis karena dalam kehidupan cintanya, ia tidak mendapatkan cinta yang sebenarnya. Dicampakkan pria yang pernah dicintainya yang memakinya sebagai ‘lonte’ hingga akhirnya terjerumus dalam lembah kelam sebagai budak seks dan wanita panggilan. Aahh…tak pernah terpikir olehnya kalau hidupnya akan berubah seperti ini. Tiba-tiba mengalun nada musik dari bel pertanda ada tamu.
“Ya….siapa?” tanya gadis itu melalui alat dekat pintunya.
“Tukang ledeng, mau betulin pipa!” jawab suara di sana.
“Ohhh…ok silakan naik!”
Ia teringat dengan saluran air di apartemennya yang bermasalah sehingga air yang mengalir ke kamar mandi terganggu. Ia memberikan akses masuk pada orang yang hendak memperbaiki saluran air di kamarnya itu. Tidak lama kemudian terdengar ketukan di pintu depan. Syeni pun segera membukakan pintu untuk orang itu.
Dua orang pria berdiri di ambang pintu, yang satu pria setengah baya berumur awal 50an, berbadan tegap dan memiliki kumis yang menambah sangar wajahnya, pria ini bernama Sobri. Sedangkan yang satunya menenteng sebuah kotak perkakas, bertubuh kurus tinggi dengan tampang seperti Petruk, berusia 40an dengan gigi agak ompong, namanya Djafar. Syeni langsung mempersilahkan mereka masuk. Ia menyadari kedua pria itu sejak awal telah menatap kagum pada kecantikannya dan keindahan tubuhnya yang dibungkus pakaian rumah yang minim itu. Mereka tidak bisa tidak menelan ludah membayangkan yang jorok-jorok.
“Masalahnya gimana Non?” tanya Sobri sambil matanya jelalatan mengamati tubuh Syeni.
Syeni pun menjelaskan masalah yang terjadi sambil mengantarkan mereka ke ruang kecil yang memang berfungsi untuk penempatan saluran air dan water heater. Tanpa buang waktu lagi, Sobri dan Djafar pun melaksanakan tugas mereka. Sementara Syeni ke dapur untuk menyiapkan minuman untuk kedua tukang ledeng tersebut.
“Semanget gua kerja kalau kaya gini Far!” kata Sobri sambil tangannya tetap bekerja.
“Nape…gara-gara ada yang bening-bening? Hehehe” sahut Djafar dengan suara dipelankan.
“Ssstt..janga keras-keras ntar kedengeran, emang cakep banget sih tapi ya kita Cuma bisa ngiler aja…kunci dong!!”
Djafar memberikan kunci inggris dari kotak perkakas pada temannya. Di dapur sana, entah dari mana, dalam diri Syeni terlintas sebuah ide sensual. Bagaimana kalau hari ini ia menggoda mereka untuk bercinta, di sini, di kamar apartemennya sendiri. Ia membatin, sungguh ia telah menjadi pribadi yang sangat berbeda dari yang dulu, nafsu liar dalam dirinya semakin mendominasinya sehingga menjadi seperti sekarang ini. Tangannya meremas payudaranya sendiri dari luar kaosnya, benaknya sedang dipenuhi lamunan erotis bagaimana kedua tukang ledeng itu menggerayangi tubuhnya, menjilat dan menyetubuhinya sepuas mereka. Ia sampai tidak sadar air yang dituangkannya ke gelas sampai meluap dan ia segera merapikannya. Sesungguhnya:
Birahi, adalah hamba yang menyenangkan, namun tuan yang mengerikan
“Bagaimana Pak? Parah rusaknya?” tanya Syeni ke belakang dulu melihat kerja mereka, kelihatan ia masih gelisah dan nafasnya memburu karena lamunan erotis tadi.
Ia menghampiri mereka dan memperhatikan keduanya bekerja. Djafar yang jongkok di sebelahnya kebagian pemandangan indah berupa belahan dada Syeni yang terlihat jelas, bahkan ia bisa melihat bentuk payudaranya yang sedang itu.
“Ga apa-apa Non, Cuma ada pipa karatan aja, udah lama, makannya airnya suka mampet” sahut Sobri sambil mengencangkan baut mur.
“Hhhmmm…gitu ya, syukur deh pak kalau gitu” kata Syeni lalu ia kembali ke ruang tengah.
“Wuih, dahsyat!” kata Djafar setelah Syeni pergi.
“Apa…apaan?” tanya Sobri penasaran.
“Penampakan tuh tadi, dahsyat banget!”
“Penampakan apa sih? Ada tuyul emang?” Sobri menepuk lengan temannya itu
“Itu si Non, tadi nunduk sampe keliatan tokednya, edan putih mulus! Pengen ngeremes rasanya!” kata Djafar menggerak-gerakkan jarinya dengan wajah mesum.
“Yeee…ada barang bagus kok ga bilang-bilang lo!?” kata Sobri sewot tapi tetap menahan suaranya
“Lho situ yang lagi sibuk kan heehe…!”
Hasrat Syeni semakin bergelora ketika mencium bau keringat kedua tukang ledeng itu di ruang kecil tadi. Jantungnya berdegup semakin keras dan tubuhnya gemetar, sejenis gemetar yang nikmat. Obsesinya selama ini, yang kemudian dipicu oleh pertemuannya dengani Imron, si penjaga kampus bejat itu, benar-benar mematangkan hasrat libidonya. Mereka agaknya tidak lama lagi segera menyelesaikan pekerjaan mereka. Syeni segera mencari akal bagaimana caranya mewujudkan obsesinya. Akhirnya ia menuju ke kamar mandi dan membuka pakaiannya hingga tidak ada tersisa di tubuhnya. Kemudian diambilnya handuk berwarna kuning bergaris-garis orange yang tergantung di tempatnya untuk melilit tubuh telanjangnya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi, buru-buru ia ke kamarnya yang tepat di sebelah kamar mandi itu dan mengangkat telepon. Selama kurang lebih sepuluh menit ia mengobrol dengan temannya yang sama sama sedang skripsi dengannya hingga akhirnya terdengar suara Sobri memanggilnya dari luar sana.
“Non!! Non!! Ini udah beres!”
“Ohh…iya Pak, sebentar ya!!” Syeni menyahut dari kamar, “Eh….Da, udah dulu ya, lagi ada tukang benerin saluran air di tempat gua”
Setelah menutup ponselnya, ia menghela nafas panjang bersiap untuk keluar menemui mereka hanya dengan berbalut selembar handuk yang hanya menutupi dari bawah ketiak hingga sejengkal dari pangkal paha. Seperti yang diduga, Sobri dan Djafar terbengong melihat Syeni keluar dari kamar dengan hanya selembar handuk.
“Udah selesai ya Pak? Mari silakan diminum dulu!” Syeni bersikap sangat biasa seraya menawarkan baki yang di atasnya terdapat dua gelas sirup dingin yang disiapkannya tadi.
“Ehehe….makasih Non. Ada apa nih kok cuma pake handuk gitu Non?” sahutnya sambil terheran-heran melihat Syeni yang begitu seksi.
“Abis ini mau langsung mandi soalnya, airnya bener dah lancar lagi kan?”
Mereka menatap dirinya tanpa berkedip sedikit pun, bahkan ketika meminum air dari gelas pun mata mereka tidak pernah lepas darinya.
“Aahh…panas juga di sini ya Non” keluh Sobri pura-pura mencari alasan sambil mengipas-ngipas kerah bajunya.
“Apa AC-nya masih kurang dingin?” tanya Syeni pura-pura tidak mengerti
“Bukan AC sih Non, tapi ngeliat Non seksi gini saya yang jadi panas hehehe!” Sobri makin berani menggoda gadis itu melihat reaksinya.
Syeni hanya tersenyum seraya berkata, “Ah si bapak bisa aja, saya baru pake handuk aja udah genit, apalagi kalau gak pake apa-apa?”
“Emang boleh Non kita liatin Non gak pake apa-apa?” timpal Djafar makin antusias dan bernafsu.
“Hihihi…saya tau Bapak-bapak dari tadi udah pengen…jadi…tunggu apa lagi?”
Tiba-tiba Djafar meletakkan gelasnya dan berjalan ke arah Syeni diikuti oleh Sobri. Tentu saja Syeni merasa tegang tapi dia berusaha tenang. Kini mereka bertiga berdiri berhadap-hadapan, terpisah beberapa sentimeter satu sama lain. Jantung gadis itu berdetak kencang, ia tahu kedua pria itu telah mencaplok umpan yang dilemparkannya. Tatapan mereka berdua sudah dipenuhi nafsu, kelihatan sekali bahwa mereka berdua akan segera menggarapnya habis-habisan. Ia balas menatap mata mereka dengan ekspresi menggoda dan menantang. Kemudian ia gerakkan tangannya ke arah lipatan handuk di dadanya. Sekali tarik saja lepaslah lipatan itu dan handuk itu jatuh ke lantai sehingga terpampanglah tubuh telanjangnya yang indah di depan kedua tukang ledeng itu. Mereka terhenyak menyaksikannya.
“Wow… aje gile mulusnya!!” sahut Djafar menelan liur
Tanpa buang waktu lagi tangan pria itu meraba payudara Syeni dan langsung melumat bibirnya. Sementara Sobri berjongkok di hadapannya dan merenggangkan kakinya, lidahnya mulai menjilat dengan rakus vagina yang ditumbuhi bulu-bulu yang dicukur rapi itu. Mata Syeni terpejam dan mulutnya mendesah tertahan menikmati kedua bibirnya dicumbui mereka. Setelah beberapa saat berciuman, Djafar mulai mencium leher gadis itu sambil mendesah-desah merasakan kenikmatan, selain itu tangannya juga merambat meremas-remas payudara kiri Syeni dengan liar dan ganas.
“Di sofa aja Pak, lebar, empuk lagi, masa berdiri gini?” ajak Syeni setelah Djafar melepaskan pagutan dari mulutnya
Mereka pun memapah tubuh telanjangnya ke sofa dekat situ lalu membaringkannya.
“Hehehe…gua paling suka amoy kaya gini, bodi bahenol, wajahnya juga ayu banget kaya di film-film Hongkong. Gak nyangka, kesampean juga bisa main ama amoy!” komentar Sobri sambil membuka bajunya, penisnya yang sejak tadi terasa sesak di dalam celana panjangnya, menuntut untuk dikeluarkan.
Batang kemaluan itu mengacung tegak begitu dikeluarkan, lumayan panjang dan berurat di pinggirannya membuat Syeni terhenyak mengamatinya.
“Tul tuh…cewek amoy memang yang paling top deh. Lihat saja kulitnya, kayak porcelin. Gue pasti bakal ketagihan ama ini cewek,” tambah Djafar sambil menjlati bibirnya.
“Ayo Non, sedot kontol abang dulu. Pengen tau enaknya disepongin amoy cantik,” perintah Djafar sambil mengarahkan penisnya yang sudah ereksi ke wajah gadis itu.
“Siapa takut?” Syeni tak menolak sedikitpun karena dia memang sudah horny berat.
Sobri
Sobri
Setelah menggenggam penis itu sambil berbaring menyamping, ia segera mengeluarkan jurus-jurus oralnya. Lidahnya menari-nari dengan lincah di penis pria itu, menyapu setiap centi permukaan batang itu. Penis Djafar memang lumayan besar, ujungnya bersunat, yang paling seksi adalah lubang kencingnya. Lubang itu selalu saja menganga sedikit, seakan menggoda untuk disedot. Tanpa merasa jijik, Syeni memainkan lubang itu dengan lidahnya. Djafar dibuatnya merem-melek sambil meracau menikmati betapa dahsyatnya lidah gadis itu “menyiksa” lubang penisnya. Bagi yang tidak biasa, lubang penis mungkin akan terasa sedikit perih jika dimainkan. Tapi dengan kemahirannya dalam melakukan oral seks, Syeni malah membuat pria itu melenguh-lenguh kenikmatan. SLURP! SLURP! begitu bunyi lidah Syeni yang tak henti-hentinya menjilati penis Djafar. Selama itu Sobri tidak tinggal diam, pria berkumis itu menggerayangi dan mencumbui tubuh Syeni, kini mulutnya tengah mencium dan menjilati bongakahan pantat gadis itu yang bulat sempurna sambil tangannya mengelusi vaginanya. Buah dada Syeni yang putih mulus itupun tak lepas dari remasan Sobri. Diremasnya payudara indah itu dengan penuh nafsu oleh tukang ledeng itu dari belakang sembari terus menjilati tubuhnya.
“HHhhhmmm…sedap, mulus dan wangi badannya Non, saya suka yang seger-seger gini!” sahut Sobri .
“Nyepongnya juga asyik nih, aaahhh…ueeenaakk…terus Non, yah disitu isep!” timpal Djafar lalu memaju-mundurkan penisnya di dalam rongga mulut Syeni dengan lebih cepat sampai nyaris saja gadis itu tersedak
“Akhhh…jilat disitu enak Pak…mmmhhhh…yah…disitu…jilat di bagian itu….akhhh…terus…Pak!” desah Syeni ketika lidah Sobri mengobrak-abrik liang kemaluannya.
Syeni mendesis tak karuan menahan rasa geli campur nikmat dari jilatan pria itu terutama ketika kumis tebalnya menyapu bibir vaginanya yang sensitif. Cairan kewanitaannya semakin banyak yang keluar dan meluber keluar sehingga membasahi kulit sofa di ruangan itu dengan tetesannya. Sobri mengintensifkan serangannya dengan memasukkan dua jadinya dan mengobok-obok liang kewanitaannya sehingga Syeni semakin melenguh merasakan kenikmatan, tangannya semakin cepat mengocok penis Djafar yang digenggamnya. Beberapa detik kemudian tubuhnya menggelinjang hebat, Syeni akhirnya mencapai orgasme saat itu. Puas menjilat, Sobri kini menyedot vagina Syeni yang sudah banjir. Seperti vacum cleaner, pria itu menyedot cairan vagina gadis itu. SLURP! SLURP! Syeni menggeliat-geliat merasakan sensasi nikmat hisapan Sobri pada vaginanya.
“Aarrgghh.. Oohh…eeempphhh!” erangannya terhambat karena Djafar yang semakin birahi menjenggut rambutnya dan kembali menjejalkan penisnya ke dalam mulut Syeni sedalam-dalamnya, “aarrgghh.. Oohh yeaah…sedot Non.. Aahh.. Yyaa.. Jilatin kontol gue.. Aahh… Loe suka kan? Aahh!!”
Tidak sampai lima menit kemudian tiba-tiba Djafar menarik kepala seraya berkata,”Udahan dulu Non, kalo diterusin, bapak bisa KO duluan.”
“Bri…gua duluan yah, udah ngebet nih, ampir aja keluar tadi saking enaknya!” pinta pria ompong itu pada temannya.
“Okeh, gua juga pengen rasain dulu mulut si Non!” jawab Sobri mengiyakan
Syeni menggeser posisi berbaringnya agar nyaman, ia menaruh kepalanya pada sandaran lengan sambil berbaring telentang. Tangannya meraih penis Sobri yang berdiri di depan wajahnya dan mulai mengocok pelan penis itu. Melihat Djafar sudah mengambil ancang-ancang untuk menyetubuhi Syeni, Sobri makin bergairah apalagi saat itu Syeni sudah mulai menjilati kepala penisnya lalu memasukkan benda itu ke mulutnya. Kehangatan mulut Syeni dan permainan lidahnya sungguh memanjakan Sobri.
“Aahh…udah becek banget, anget mantep!” sahut Djafar menggesek-gesekkan penisnya pada bibir vagina Syeni untuk melumuri kepala penisnya dengan cairan kewanitaan gadis itu, agar lebih terangsang, pria itu membelai-belai payudara Syeni.
“Oohh.. Oohh…sedap Non!” desah Toni menikmati kuluman Syeni pada penisnya
“Aahh…siap ya Non, abang coblos nih sekarang!” celoteh Djafar saat menekan kepala penisnya ke lubang vagina Syeni, tanpa menunggu lebih lama lubang itu ditekannya kuat-kuat dengan penisnya yang sudah dilumasi lendir gadis itu sampai amblas.
“Aarrgghh!!” jerit Syeni menahan nyeri karena Djafar melakukannya agak kasar.
Selama beberapa menit, Djafar berjuang untuk mendorong penisnya yang baru masuk setengah agar semakin dalam sedikit demi sedikit. Kenikmatan tergambar jelas di guratan wajahnya yang amburadul. Dengan segenap tenaga pria itu melakukan sodokan untuk mempenetrasi vagina Syeni yang peret itu.
“NNnngghhh…eeeemmm!!” erangan Syeni tertahan oleh penis Sobri yang memenuhi mulutnya, matanya membelakak namun berangsur-angsur kembali sayu seiring kenikmatan yang menjalari tubuhnya..
“Memeknya masih seret banget Non, enak….dah pernah dientotin sapa aja nih?” tanya Djafar pada Syeni di antara pompaan penisnya yang sekarang sudah menancap penuh pada liang senggama gadis itu.
Syeni terus mengulum penis Sobri tanpa menghiraukan pertanyaan Djafar. Pria itu juga terus menggenjot vaginanya
“Ohh Non, uennaakk sekali memekmu…oh,” Djafar menyetubuhi Syeni dengan irama yang cepat dan tetap, dan Syeni juga mengimbangi gerakannya sambil melakukan oral seks.
Kini gadis cantik itu total melayani kebutuhan seks kedua tukang ledeng tersebut sekaligus memuaskan hasratnya yang menggebu-gebu.
“Non udah punya pacar belum Non, pasti sama pacarnya juga ngentot tiap hari ya?” tanya Djafar sambil terus menyodokkan batang kejantanannya semakin cepat ke liang vagina Syeni.
Mendengar pertanyaan itu, Syeni melepaskan penis Sobri lalu menengok ke arah Djafar dengan ekspresi setengah marah
“Tolong ya Pak jangan sebut-sebut pacar lagi….aahhhh…itu bukan urusan Bapak” sahutnya sambil terus mendesah sesekali mengaduh saat Djafar mempercepat sodokannya. “Jangan sampe saya kehilangan mood…ngerti…aaakkhhh!” ucapannya terhenti ketika kepala penis Djafar menghantam bagian dalam vaginanya yang merupakan G-spot sampai tubuh gadis itu menggelinjang.
“Iyah…iyah….maaf Non kalau abang menyinggung…yang penting sekarang kita ngentot dulu sampe puas…uuuhh!” sahut Djafar meminta maaf, ia tidak ingin mengungkit hal itu lebih jauh karena tak rela bila sampai gadis ini kehilangan mood dan mengusirnya.
“Hehehe…si Non tambah cakep aja biar lagi marah juga, yuk lanjut dong nyepongnya!” kata Sobri.
Tanpa diminta lagi, Syeni pun kembali memasukkan penis dalam genggamannya itu ke mulutnya dan kembali memainkannya dengan lidah dan hisapannya.
“Wwwaahh…enak banget…lobang memek amoy… Aahh…mana orangnya ayu banget lagi.. Aduh enaknya!!” ceracau Djafar terus menggenjot, kedua betis gadis itu ia naikkan ke bahunya.
Tubuh mereka mulai bersimbah keringat, Djafar menggenjot vagina Syeni sementara Syeni sendiri mengoral penis Sobri. Ritme genjotan Djafar semakin cepat dan bertenaga sehingga tubuh Syeni terguncang-guncang terutama sepasang gunung kembarnya, kedua pria itu tentu tak bisa tidak menggerayanginya. Seiring dengan semakin cepatnya sodokan pria itu, Syeni pun menjadi semakin lepas kontrol. Ia begitu larut menikmati permainan seks interacial itu. Wajah cantiknya bercampur dengan raut muka terangsang yang membuatnya terlihat sangat seksi. Syeni pun mencapai orgasmenya di tengah genjotan Djafar yang makin liar, tubuhnya menggelinjang dahsyat dan mulutnya mengeluarkan desahan nikmat sejadi-jadinya.
“Uuuhhh…keluar abang, Nonn!!” seru Djafar sembari menyemburkan seluruh cairan spermanya di dalam liang kemaluan Syeni.
Sperma yang dikeluarkan oleh pria ompong itu sangat banyak sehingga saat batang kemaluannya dicabut dari liang kewanitaan Syeni mengalirlah keluar cairan putih kental yang sangat banyak bercampur dengan cairan orgasme gadis itu. Bibir vagina Syeni pun tampak memerah akibat benturan dan gesekan keras batang penis Djafar. Dengan kemampuannya mendapatkan orgame beruntun/ multi orgasme, Syeni tidak membutuhkan istirahat lama-lama.
Djafar
Djafar
Setelah Djafar menarik lepas penisnya dan ambruk kelelahan, Syeni menarik lengan Sobri yang disuruhnya duduk di sofa, ia sendiri lalu naik ke pangkuan pria itu berhadapan dengann, tangannya mengganggam penis yang masih tegang itu dan menempelkannya di bibir vaginanya yang sudah becek dan menganga tersebut.
“Akhh…Pak…puasin aku yah Pak…” desah Syeni saat menurunkan tubuhnya sambil memeluk tubuh kekar pria itu.
Memang sejak tadi ia sudah banyak berharap Sobri akan mampu memberinya kenikmatan yang lebih dahsyat dibanding rekannya yang kurus itu. Mata Syeni semakin sayu karena menahan gejolak nafsu yang terpendam. Ia semakin menurunkan tubuhnya di atas penis pria itu sehingga membuat batang penis yang telah siap di depan bibir vagina gadis itu menusuk masuk ke dalam liang vaginanya sedikit demi sedikit namun pasti. Bibir vaginanya terbelah makin lebar saat dilewati kepala penis pria itu hingga separuh tenggelam di dalam vaginanya. Payudaranya beserta putingnya dipilin, diremas dan dihisap oleh pria itu dengan sesekali lidahnya menyapu pelan ujung putingnya dengan gerakan melingkar.
“Pak…ohhh…udah masuk? Memekku sesak banget eeeenggghh!!” Syeni meracau lagi tak karuan kali ini tubuhnya menggelinjang hebat lalu menegang sembari tangan dan kakinya merangkul erat tubuhku.
“Udah Non tapi belum semua, enak ya Non, kontol Bapak gede” jawab Sobri sambil menekan tubuh gadis itu, “Bapak masukin lebih dalam ya Non?”
Syeni hanya mengangguk pelan menjawab pertanyaan pria itu barusan. Dan dalam beberapa hentakan ke atas akhirnya seluruh batang kemaluan Sobri berhasil masuk secara sempurna ke dalam liang senggama gadis itu.
“Aahhh…Pak…iyahh…aahh!” desah Syeni sambil naik turun merasakan liang kemaluannya disodok penis pria itu.
Sobri tersenyum kepadanya, “Bagaimana rasanya Non, mantap kan?” tanyanya sembari meremas-remas payudaranya yang indah itu.
Puting susu gadis itu sudah mengeras dan membesar dari ukuran normalnya dan buah dadanya yang putih itu sudah mulai memerah karena terangsang dan bukan hanya buah dadanya saja melainkan perut, leher, muka dan hampir seluruh bagian tubuhnya.
“Enak…sodok terus Pak…sshhh…terus jangan berenti…aahh!” desah Syeni lagi sembari menggoyangkan pantatnya perlahan.
“Non cantik banget, jago ngentot lagi!” kata Sobri kepada Syeni yang kemudian menjawabnya dengan pagutan panas ke bibir pria itu
Djafar yang baru memulihkan tenaganya tidak tahan hanya kebagian menonton saja. Maka dia pun mendekati mereka dan menggerayangi tubuh Syeni yang sedang berpelukan dengan Sobri.
“Eeemmhh” desah gadis itu menahan geli saat Sobri menjilat-jilat punggungnya yang mulus dan sudah mulai basah oleh keringat itu.
Tangan Djafar merayap ke depan meraih payudara kiri Syeni dan meremas-remasnya. Mulut Djafar kini mencupangi pundak dan leher gadis itu setelah menyibakkan rambut panjangnya ke sebelah. Tanda-tanda kemerahan bermunculan di sekujur tubuh Syeni, baik di dada, punggung, bahu dan leher.
“Kita main tigaan ya Pak!” kata Syeni menghentikan genjotan lalu berdiri hingga penis pria itu terlepas dari vaginanya
Kali ini tubuh Syeni membelakangi Sobri dan kembali duduk di pangkuan pria itu.
“Hehehe…si Non suka main belakan juga ya!” sahut Sobri kepada Syeni ketika gadis itu meraih penisnya dan mengarahkan ke lubang duburnya hingga tepat diatas ujung senjata Sobri
“Tapi pelan-pelan ya, jangan kasar!” kata Syeni memperingati
Dalam beberapa kali tarik dorong, batang kejantanan tukang ledeng itu akhirnya berhasil masuk ke dalam liang anus Syeni walaupun hanya bagian kepala penisnya saja.
“Hehehe…asyik nih main rame-rame sama cewek cantik lagi!” kata Djafar menyaksikan proses penetrasi itu ketika temannya menarik dengan keras pinggang Syeni hingga batang kejantanannya tenggelam seluruhnya ke dalam duburnya diiringi erangan panjang gadis itu.
“Uueedann…sempitnya…uuuhh!” desah Sobri sembari memompa anus Syeni dari bawah.
“Akhh…akhhh…sakit…akhhh….pelan…pelan…dong!” rintih Syeni di antara desahannya.
Mendengar protes Syeni, Sobri memelankan sodokannya dan sekarang lebih bervariasi karena diselingi gerakan memutar sementara dari mulutnya keluar ucapan-ucapan menggoda gadis itu yang membuatnya itu malu, risih tetapi juga membuatnya semakin bernafsu saja. Buktinya tak lama kemudian dia menyambut bibir Sobri yang menjelajahi tubuhnya dengan kecupan hangat.
“Ayo…Far!” ucap Sobri pada temannya sambil membuka lebar paha Syeni hingga bibir vaginanya terbuka lebar.
Tanpa buang waktu lagi, Djafar melesakkan batang kemaluannya menembus bibir vagina Syeni. Gadis itu mendesah pelan ketika merasakan bibir vaginanya kembali ditusuk oleh penis itu, ia merasakan di tubuhnya bercokol dua buah penis yang sedang mencari kenikmatan dengan membombardir kedua lubangnya dengan penuh gairah. Sesekali kepala kedua penis itu saling bertumbukkan karena dinding pemisah antara kedua lubang Syeni seolah tergencet sehingga seolah menjadi semakin tipis saja. Belum lagi jika kedua pria itu memompanya dengan irama yang sama saat menarik dan mendorong kejantanan mereka di liang vagina dan anusnya. Karena sudah biasa melakukan gangbang, Syeni dengan cepat sudah dapat menikmati threesome tersebut namun tetap saja terasa sakit dan perih di liang anusnya mengingat penis milik Sobri memang terbilang besar. Sekitar 10-15 menit kemudian Sobri merasakan kalau dia akan segera mencapai orgasmenya, lalu dia memompa dengan lebih cepat lagi dari sebelumnya. Melihat gelagat itu Djafar juga ikut mempercepat pompaanku ke dalam liang vagina gadis itu. Syeni terlihat sudah kewalahan karena dikeroyok dua pria secara bersamaan, namun ia masih tetap bertahan. Di tengah gempuran mereka, terngiang-ngiang kembali bagaimana dirinya yang tadinya hanya seorang gadis biasa dari keluarga baik-baik menjadi terjerumus dalam lembah nista seperti sekarang ini, rela merendahkan dirinya demi kepuasan seks. Ini semua gara-gara mantan kekasihnya yang tidak bertanggung jawab itu, juga gara-gara Imron si penjaga kampus bejat itu, atau gara-gara dirinya sendiri yang memilih menjadi seperti ini sebagai pelarian atas segalanya? pertanyaan seperti ini seringkali membuatnya gundah. Terlintas pula kenangan pada omanya yang telah meninggal dua tahun sebelumnya yang menganggapnya sebagai cucu kesayangannya, yang berharap ia masih bisa hidup untuk hadir dalam pernikahannya kelak bahkan sempat menggendong cicitnya. Harapan yang tidak pernah terpenuhi karena omanya sudah keburu meninggal dan entah apakah kelak masih akan terwujud mengingat kondisi dirinya yang sudah tercemar seperti sekarang ini. Tanpa disadarinya, dari matanya yang indah air mata meleleh membasahi wajahnya. Tangisnya sedikit mengganggu Djafar maka dia pun langsung mendaratkan sebuah ciuman maut pada bibir gadis itu. Dicium secara tiba-tiba Syeni tentu saja kaget dan buyar lamunannya. Nuraninya menyuruhnya untuk melepaskan diri dari ciuman yang najis itu namun apa daya sebab kini birahi lebih mendominasi. Lidah Djafar menyeruak masuk dan air liurnya tumpah ke dalam mulut Syeni. Sadar bahwa dirinya telah menjadi budak seks, Syeni pun akhirnya memasrahkan diri. Ia semakin membiarkan dirinya hanyut menikmati apa yang sedang dia rasakan. Sebuah puisi menjadi saksi,
Bunga yang tengah bersemi dengan segala keharumannya,
telah dicabuli tumbuhan rambat yang liar
Kemekaran yang lembut dengan segala putiknya,
telah didera hujan deras dan cipratan lumpur.
Betapa menyedihkan seorang gadis secantik bunga,
jatuh ke tangan orang yang salah.
Sungguh kepingan giok yang indah,
ternoda oleh kotoran yang menjijikan.
“Aarrgghh…ayo dong Pak sodok yang kencang…saya suka kontol kalian…puasin saya aaahhh!” erang Syeni tanpa malu-malu
“Hhohh.. Aarrgghh.. Gile, nih.. Aarrgghh.. Cewek ini doyan kontol ternyata.. Aarrgghh.. Oke deh.. abang bakal ngentotin lu.. Uugghh.. sampe menjerit minta ampun…uuuhhh….uuhhh!” sahut Djafar sambil menggenjot vagina Syeni makin bertenaga.
Keringat sudah membasahi sekujur tubuh ketiganya sehingga terlihat mengkilap. Suasana panas yang erotis begitu terasa di ruang tengah apartemen itu. Aroma persenggamaan terasa begitu tajam di sana.
“Aahh.. Ngentot! Aahh.. Rasakan kontol gue…perek…mampus lu!” penis Djafar dengan brutal mengobrak-abrik vagina Syeni.
Tak terelakkan lagi, Syeni pun semakin tak terkendali, belum lagi pompaan penis Sobri pada pantatnya dan gerayangan tangan mereka pada titik-titik sensitif di tubuhnya. Merasa sudah hampir klimaks, Djafar menarik lepas penisnya kemudian didekatkannya ke mulut gadis cantik itu.
“Isepin Non…ntar pejunya ditelen juga!” perintah Djafar membelai-belai rambut Syeni.
Dengan patuh, Syeni mengganggap penis yang sudah basah itu dan membuka mulutnya lebar-lebar.
“Gitu dong, sip!!” puji pria itu seraya mendorong penisnya masuk ke mulut Syeni.
Syeni mulai membersihkan penis yang telah belepotan cairan kewanitaannya sendiri itu. Rasanya agak asin dan terasa licin di lidah. Yang seperti ini bukanlah yang pertama atau kedua kali baginya sehingga ia sudah terbiasa dengan rasanya dan bahkan bisa dibilang sudah ketagihan. Satu-satunya cara agar precum bisa mengalir keluar adalah saat penis terangsang maksimal. Oleh karena itu, Syeni berusaha sekuatnya untuk merangsang penis Djafar. Dengan tekniknya yang sudah ahli, sambil naik turun perlahan di atas penis Sobri, Syeni menjilati seluruh bagian dari penis Djafar. Untuk menambah sensasi nikmat, ia juga tak lupa menyedot kepala penis itu agar sperma bisa tersedot keluar. SLURP! SLURP! SLURP! Demikian bunyi yang terdengar
“Aahh.. Oohh… Sedot terus, aahh..edan enaknya!” desah Djafar sambil meremasi rambut Syeni.
Cairan putih susu pun tercurah dari penis pria itu dan Syeni dengan rakus langsung melahapnya. Mm… dihisap dan dijilat bersih tanpa ada yang keluar dari mulutnya.
“Non, bapak keluar akhhh…akkhhh!!” seru Sobri yang sudah mencapai puncak sambil menyemprotkan seluruh cairan sperma yang sudah kutahan sejak beberapa menit tadi sehingga membasahi liang dubur Syeni.
Syeni hanya bisa menerima semprotan sperma itu dengan mendesah panjang dan mata merem melek karena dia sudah mencapai orgasmenya juga
Bersamaan kedua tukang ledeng itu mencabut penis mereka dari mulut dan pantat Syeni sehingga ia merasakan sensasi aneh karena tiba-tiba saja tubuh bawahnya yang sebelumnya penuh, tiba-tiba terasa kosong karena isinya menghilang. Beberapa detik kemudian terlihat dari pantat Syeni mengeluarkan sedikit cairan sperma kental dari dalamnya keluar dan membasahi selangkangan gadis itu mengalir menuruni pahanya yang putih mulus. Tubuh molek Syeni kini terbaring lemas di atas sofa. Buah dadanya terlihat naik turun mengikuti nafasnya yang tersenggal-senggal.
Kewanitaan Syeni masih terasa berdenyut-denyut, tubuhnya terasa melayang-layang. Dengan menggeser tubuhnya, ia menggapai tempat tissue yang terletak di atas meja kecil sebelah sofa itu. Dari sana ia mengeluarkan selembar tissue lalu dengan tissue itu ia seka selangkangannya yang belepotan. Setelahnya ia mengambil gelas dari mini bar dekat situ dan membuka kran dispenser hingga air mengalir ke gelas.
“Masih kuat Non?” tanya Djafar, “abang masih pengen nih!”
“Kita liat aja” jawab Syeni sambil duduk di sebelah Djafar
Tanpa malu-malu, ia meraih tangan pria itu dan meletakkannya di payudaranya lalu ia menciumi leher Djafar yang masih berkeringat. Pria kurus itu membalas perlakuan Syeni dengan menciumi rambut panjang gadis itu, dipeluknya tubuh mulus itu dan ditindihnya. Tidak itu saja, tangannya pun mulai menjelajah ke sana ke mari. Sekali waktu, tangan itu mengusap-usap payudara Syeni yang masih terasa sensitif, membuat gadis itu tertawa kegelian. Kadang, tangannya merayap ke bawah, menyelinap di antara kedua tubuh mereka, menggelitik selangkangan Syeni. Gadis itu menggeliat-menggelinjang, tetapi tak bisa melepaskan diri dari tindihan Djafar
“Si Nonn nafsunya gede banget ya hehehe” kata Sobri yang bersandar di sofa sambil meneguk minumannya.
“Iya nih gua suka yang kaya gini, seru!” sahut Djafar
Merasa kepala penisnya sudah bersentuhan dengan bibir vagina Syeni, Djafar menekan pinggulnya sehingga penisnya melesak masuk ke vagina gadis itu.
“Eeennggghhh!!” desah Syeni menerima hujaman benda itu pada vaginanya lagi.
Kali ini Djafar ingin berperan aktif sedangkan Syeni tinggal berdiam diri. Ia pun mulai menggerak-gerakkan pinggulnya menyetubuhi gadis itu.
“Oohh.. Enaknya..” desah Djafar dengan mata merem melek
Sambil berciuman dengan Syeni, Djafar memompa dengan penuh semangat. Syeni seringkali membelakakan mata saat penis pria itu menyodok terlalu keras. Namun, kenikmatan dari persetubuhan ini dapat mengalihkan rasa nyeri itu. Kedua kaki indah Syeni melingkari pinggang pria itu, terkadang menekannya seakan meminta ditusuk lebih dalam dan tidak boleh melepaskan tusukannya. Kedua tangannya juga memeluk tubuh si tukang ledeng sambil mulut mereka terus berpagutan, bermain-main lidah dan bertukar liur. Sungguh menggairahkan pergumulan interasial itu.
“Oohh.. Aahh.. Gue mau muncrat.. Oohh!!” erang Djafar.
Syeni memandang dengan penuh nafsu saat tubuh Djafar yang kurus dan sudah bermandikan keringat itu mulai mengejang-ngejang. Penis pria itu yang bersarang di dalam liang senggamanya terasa berdenyut-denyut hingga akhirnya memuntahkan lahar putih kentalnya.
“Aarrgghh!!” erang Djafar sambil menghujamkan penisnya dalam-dalam.
Syeni pun ikut berteriak karena pria itu meremas payudaranya dengan keras saat mencapai puncak. Siraman sperma hangatnya terasa memenuhi vagina gadis itu. Ccrroot!! Ccrroot!! Ccrroott!! Tukang ledeng itu terus-menerus melenguh sementara badannya berkelejotan di atas tubuh Syeni.
“Aarrggh!! ooohh!! Anjrit…enaknya!!” dengan desahan panjang, Djafar menarik penisnya keluar ketika tak ada lagi sperma yang dapat disemprotkan, penisnya nampak melemas dan menyusut.
Mereka akhirnya mulai berbenah diri setelah hampir dua jam menikmati threesome yang luar biasa tadi. Syeni kembali menutupi tubuhnya dengan handuk untuk mengantarkan mereka ke pintu.
“Kapan-kapan kita ngentot lagi ya Non, mau kan?” tanya Sobri antusias.
“Gak janji ya!” jawab Syeni seenaknya sambil menutup pintu hingga kedua tukang ledeng itu terbengong.
Setelah mengisi bathtub dengan air hangat dan menuangkan sabun secukupnya, Syeni membuka handuknya dan memasuki bathtub. Ia memejamkan mata menikmati kehangatan air yang menghilangkan rasa penat pada tubuhnya sambil merenungkan apa yang baru saja terjadi tadi.
#################################
Malam hari, pukul 19.30
Di sebuah hotel berbintang.
Koh Ayong
Koh Ayong
Debaran jantung Syeni semakin kencang ketika pria setengah baya itu menggandeng tangannya menuju kamarnya di lantai dua belas setelah sebelumnya menikmati makan malam di restoran hotel tersebut. Pria setengah baya berkacamata itu bernama Koh Ayong (54 tahun), pemilik beberapa pabrik tekstil yang sukses, ia telah membooking Syeni dan membayar tinggi untuk pelayanannya malam ini. Setelah pintu kamar dikunci dari dalam, Koh Ayong langsung merangkul tubuh gadis itu menuju ranjang. Ia mempersilakan gadis itu duduk di tepi ranjang dengan gentle, ditatapnya dengan tajam seluruh lekuk-lekuk tubuh gadis itu yang terbungkus gaun terusan berwarna ungu yang membuatnya nampak anggun dan seksi namun tidak murahan, pandangan mata pria itu menyapu dari ujung rambut sampai ujung kaki seolah-olah dia hendak menelannya hidup-hidup saat itu, atau mungkin saja dia kebingungan harus memulainya dari bagian yang mana. Tapi kemudian, pria itu berhenti menatapnya, ia berjalan ke arah meja dan membuka botol red wine lalu menuangkannya ke dalam dua gelas.
“Kamu bisa minum kan?” katanya seraya menyodorkan gelas pada Syeni
“Asal ga terlalu banyak aja om” jawab gadis itu tersenyum sambil menerima gelas itu dan menyambut toast dari pria tersebut.
Tak butuh waktu lama efek hangat minuman itu langsung terasa pada tubuh mereka, kehangatan yang nikmat dan menambah suasa erotis dalam situasi seperti itu. Koh Ayong yang duduk di sebelah Syeni merangkul pundaknya dan mendaratkan ciuman bibirnya ke bibir gadis itu, makin lama makin ganas karena terbakar nafsu. Koh Ayong memutar-mutar bibirnya yang menempel di bibir Syeni seiring dengan permainan lidahnya yang sungguh buas. Syeni sendiri memejamkan mata sambil terus berusaha mengimbangi permainan pria itu. Perlahan-lahan, Koh Ayong mulai menindih tubuhnya sehingga Syeni pun kini rebahan di ranjang dengan kaki masih menjuntai. Tangan pria itu pun mulai bergerak-gerak nakal sambil menggerayangi tubuh Syeni, terutama meremas-remas payudaranya dari balik gaun terusannya. Tak cukup puas dengan meremasnya dari luar, Koh Ayong pun mulai memeloroti pakaian itu, mula-mula tali pundak sebelah kiri dan kemudian membuka restleting punggung. Begitu terbuka, ia pun langsung memeloroti gaun itu hingga sebatas perut sehingga tereksposlah payudara Syeni yang tertutup bra putih tanpa tali pundak. Tidak mau hanya pasif, gadis itu pun mulai memelorotkan celana Koh Ayong dan menanggalkan kemejanya perlahan dengan gerakan erotis, disertai elusan pada dada, sampai pria itu setengah telanjang dengan hanya mengenakan CD dan singlet. Kemudian keduanya saling memagut bibir lagi. Kali ini bahkan tak hanya bibir, Koh Ayong mengerayangi leher dan dada gadis itu dengan lidahnya sambil tangannya mulai menggerayangi paha mulusnya terus menyusup masuk ke dalam roknya hingga menyentuh celana dalamnya dan merabainya.
Perlahan Syeni mendorong kepala Koh Ayong untuk bergerak makin turun ke dadanya dimana pria itu bermain-main dengan payudaranya, mengenyot dan menjilat seperti layaknya bayi besar. Syeni mendesah-desah untuk memancing gairah Koh Ayong agar tak sampai surut, di samping karena ia sendiri memang merasa geli. Setelah sepuluh menitan menyusu sambil tangannya terus bergerilya, mulut Koh Ayong mulai turun ke bawah dan sampailah di area kewanitaan Syeni. Tak tahan ingin segera menghisap vagina gadis itu, dengan penuh nafsu, pria itu memelorotkan celana dalam putih yang dipakai Syeni. Matanya nanar memandangi vagina yang ditumbuhi bulu-bulu halus dan tercukur rapi itu dan tanpa babibu lagi, ia pun membenamkan wajahnya ke selangkangan Syeni. Ia melumat vagina gadis itu sambil mengedap-ngedipkan matanya. Syeni mendesah pelan dan tubuhnya menggeliat karena ia sedang berada dalam puncak kenikmatannya. Setiap kali melakukan hubungan seks, Syeni selalu merasa ada kenikmatan yang baru yang kurasakan, permainan pria keturunan ini berbeda dengan kedua tukang ledeng tadi siang, masing-masing mempunyai keunikannya sendiri. Entahlah, ia tak pernah bosan dengan seks, selalu ingin mencoba bermacam-macam variasi sehingga kalau boleh dikata, ia ketagihan. Imron lah yang patut dipersalahkan karena dia lah yang telah menggali keluar hasrat gadis ini hingga tercurah keluar tanpa terkendali.
“Ach, teruskan om!” pintaku pada sang bos tekstil itu.
Koh Ayong tambah liar saja memainkan sang Miss V, wilayah sensitif itu dihisapnya dengan rakus, lidahnya terus mengais-ngais lubang kenikmatannya dan akhirnya bertemu dengan daging kecilnya yang sensitif yang dikenal dengan nama klitoris. Vagina Syeni semakin basah saja baik oleh liur pria itu maupun oleh cairan kewanitaannya sendiri sehingga menimbulkan bunyi seruputan karena hisapan Koh Ayong. Selang beberapa lama, Syeni merasa vaginanya sudah tak sabar lagi untuk segera menumpahkan cairannya. Sejak tadi memang sudah keluar cairan precum yang sudah dinikmati terlebih dahulu oleh Koh Ayong. Namun sebelum benar-benar keluar, Syeni mendorong kepala pria itu menjauh dari vaginanya.
“Om…tolong winenya minta dikit lagi, boleh?” pintanya
“Boleh…boleh, biar tambah hot ya?” sahut Koh Ayong sambil mengambil botol wine itu dan menuangkannya ke gelas Syeni, “kamu emang pinter ya, minum sambil ginian emang paling enak loh!”
“Di sini sebentar ya om, biar ga ngebasahin ranjang!” Syeni turun dari ranjang dan membuka gaun terusannya yang masih menyangkut di perutnya hingga tubuhnya polos, kemudian ia duduk bersimpuh di lantai beralas kayu itu.
Koh Ayong terpana melihat yang dilakukan Syeni, wine di gelas itu tidak diminumnya melainkan ditumpahkan ke dadanya sehingga cairan merah itu terus turun dan tertampung di selangkangannya.
“Ayo Om, cepet diminum!” ajaknya dengan suara mendesah
Tanpa diminta lagi, pria itu segera ikut duduk di lantai di hadapan gadis itu. Mula-mula ia menjilati wine yang melumuri payudara Syeni, jilatannya terus turun ke bawah hingga ke selangkangannya dimana wine itu tertampung. Sssslllrrp…ssrrrlllpp…suara seruputan terdengar nyaring. Rasa wine itu kini bercampur dengan rasa kewanitaan, begitu nikmat sampai cairan itu habis pun, Koh Ayong terus menjilati vagina Syeni. Hal ini menimbulkan sensasi luar biasa bagi gadis itu dari dinginnya wine dan hangatnya lidah pria itu. Ia membuka pahanya lebih lebar sehingga Koh Ayong lebih leluasa menjilati vaginanya. Hingga pada puncaknya, tiga semprotan sekali muncrat yang langsung dijilat tak bersisa oleh Koh Ayong. Ia bahkan menghisap sampai habis sisa-sisa cairan vagina bercampur wine yang tersisa di wilayah selangkangan gadis itu. Setelah itu Syeni kembali naik ke atas ranjang empuk itu sambil menggandeng lengan Koh Ayong. Ia naiki tubuh pria itu dengan gerakan erotis, tangannya yang halus menyusup ke balik kaos singlet pria itu dan mengelusnya, jarinya memencet putingnya dan memainkannya hingga pria itu mendesah keenakan oleh pelayanannya. Tatapan matanya yang sangat menggoda membuat setiap pria normal tidak tahan menatapnya, tidak terkecuali Koh Ayong ini.
“Om udah ga tahan nih Syen, sekarang aja ya, ok?” tanya Koh Ayong kemudian sambil mengelus tubuh mulus Syeni.
“Pelan-pelan aja om, kalau keluar sebelum dinikmati kan sayang” jawab gadis itu, “sekarang buka dulu yah om bajunya” lanjutnya sambil membuka singlet pria itu lalu celana dalamnya.
Penis pria itu sudah mengacung tegak begitu celana dalamnya dipeloroti, ukurannya standar saja sih, tapi cukup keras. Syeni mengocok sebentar benda itu lalu ia membuka mulut dan memasukkan benda itu ke sana.
“Aahh.. Enak banget.. Syen!!” racau Koh Ayong merasakan penisnya dioral Syeni.
Sesekali kepala penis pria itu bersentuhan dengan gigi Syeni, ia hanya bisa mengerang tapi sambil mengelus rambut panjang gadis itu. Dimulai dengan jepitan erat bibirnya pada kepala penis, rasanya sukar dilukiskan, terutama waktu bibir Syeni masih dalam jepitan erat bergerak turun menyentuh lingkaran helm senjata pria itu. Koh Ayong merasa mau keluar saat itu tapi ia berusaha menahannya susah payah. Sensasi yang timbul saat bibir Syeni makin turun menjalari batang penis Koh Ayong yang keras dan penuh urat. Dan saat jepitan erat bibir gadis itu turun ke arah pangkal paha Koh Ayong yang berbulu, kepala penisnya menyentuh daging halus dan lembut langit-langit tenggorokan gadis itu.
“Syen… aduh.. enak sekaliii…” Koh Ayong merintih perlahan
“Hhmmm…keliatannya om udah siap ya!” kata Syeni setelah beberapa saat mengoral penis pria itu, ia lalu naik ke penisnya.
Koh Ayong berbaring telentang di tengah ranjang menanti pelayanan Syeni berikutnya. Dengan satu tangan memegang penis pria itu dan satu tangan lagi membuka celah liang kewanitaannya sendiri, Syeni perlahan-lahan menurunkan pinggulnya. Koh Ayong merasakan kepala penisnya telah menyentuh belahan hangat basah liang kewanitaan Syeni. Setelah pas posisinya, Syeni perlahan menurunkan pinggulnya hingga penis pria itu tertusuk ke vaginanya. Koh Ayong pun mulai mendesah-desah sambil menggigit-gigit bibir bawahnya, tangannya meremas kedua payudara gadis itu. Sementara itu, Syeni bukan hanya mendesah, melainkan mengerang menahan ngilu proses penetrasi itu.
“Goyang Syen!” perintah Koh Ayong
Tanpa disuruh lagi, Syeni pun segera menaik-turunkan tubuhnya, mereka berdua benar-benar menikmatinya saat itu.
“Gimana om? Enak? Aaaahh!!” tanya Syeni terlihat mesum.
Wajah gadis itu tampak bersemu merah karena sudah sangat terangsang dan pengaruh alkohol. Sesekali wajahnya meringis, menahan nikmat yang dirasakan dari hujaman-hujaman penis di bawah sana. Tangan Koh Ayong merajarela di sekujur tubuh telanjang Syeni, meremas-remas payudara, pantat, dan punggungnya.
Kali ini Syeni menundukkan badannya, mulutnya mencium mulut pria itu. Sambil berpagutan bibir ia tidak menghentikan gerakan turun naik pinggulnya.Gesekan batang kejantanan Koh Ayong pada dinding liang kewanitaan Syeni yang peret itu sungguh memberi kenikmatan luar biasa pada pria itu. Sensasi yang ditimbulkannya sampai menjalar ke seluruh tubuh, buktinya nafas pria itu semakin menderu-deru. Cukup lama juga Syeni memicu tubuhnya turun naik di atas penis Koh Ayong. Tiba-tiba saja ia menggerakkan pinggulnya semakin cepat dan makin keras menghujam ke arah batang kejantanan Koh Ayong, bukan hanya itu, lidahnya juga menyedot kuat-kuat lidah pria itu. Koh Ayong juga turut menggoyang pinggulnya menyodok ke atas.
“Oohhh Om…gitu enakhh…enak sekali.. iya terus Om…” desah Syeni
Setengah jam lamanya penis Koh Ayong yang perkasa itu menghujam-hujam vagina Syeni hingga akhirnya bobollah pertahanan gadis itu. Diiringi desahan panjang, vaginanya banyak sekali mengeluarkan cairan bening dan hangat membasahi penis pria itu yang masih tertancap dalam vaginanya. Lemaslah tubuh Syeni menindih Koh Ayong yang sedang asyik mengenyot payudaranya yang putih, montok dan kenyal. Pria itu lalu mengubah posisi, kini batang penisnya masih tertancap di vagina Syeni hingga sekarang posisi gadis itu sekarang menungging dan ia berlutut di belakangnya. Batang penisnya yang masih menancap lalu ditekannya berkali-kali ke vagina gadis itu sambil kedua tangannya memegangi pantatnya. Kembali penis Koh Ayong yang keras keluar masuk ke vagina Syeni berkali-kali sampai kira-kira setengah jam kemudian Syeni pun kembali mencapai klimaksnya bersamaan dengan pria itu. Koh Ayong lalu mencabut penisnya kemudian menumpahkannya cairan spermanya yang hangat di perut gadis itu.
“Aaahhh.. aaahhh… ssshhh…Syen…bener-bener luar biasa deh… baru kali ini om geluarin cairan segini banyaknya…aahhh!” lenguh Koh Ayong.
Bagi Syeni, klimaks kali ini sungguh tak kalah dahsyat dari yang sebelumnya. Malah lebih dahsyat karena datang di saat tubuhnya masih dilanda kenikmatan sisa klimaks sebelumnya. Ia merasakan seluruh sendinya seperti mau copot akibat orgasme yang datang beruntun itu. Memang, letih karena orgasme adalah letih yang berbeda dibanding letih yang lain.
Keduanya benar-benar kelelahan sekali setelah pertempuran tadi itu. Syeni merebahkan diri di samping Koh Ayong di ranjang spring bed itu. Mereka saling merapatkan badan sehingga dapat merasakan dekapan hangat pasangan masing-masing. Koh Ayong masih menciumi dan mengecup leher belakang Syeni, sambil kakinya dilingkarkannya ke pinggang gadis itu seperti mendekap guling. Tangannya pun dilingkarkannya di perutku dengan erat seolah sedang menemani istrinya tidur. Syeni membalikkan tubuhnya dengan lunglai.
“Ah, boleh juga nih si enkoh…so gentle”, gumamnya dalam hati membandingkannya dengan kedua tukang ledeng siang tadi.
Dipandangnya pria setengah baya itu yang berbaring dengan kejantanannya yang tegak-keras.
“Hihihi…belum puas yah Om?” kata Syeni dengan suara pelan sambil menangkap penis pria itu dengan tangannya
“Puas kok Syen…om puas banget, tadi itu minum sedikit obat China makannya masih tegak nih hehehe” jawab Koh Ayong.
“Gitu yah…kalau gitu biar saya servis lagi, sekalian saya bersihin ya om” kata Syeni lagi seraya menggeser tubuhnya ke bawah, ke penis pria itu.
Ia menjilatkan lidahnya pada batang penis itu. Koh Ayong tersentak kegelian tapi segera pula tak berkutik ketika Syeni mulai menjilat. Sambil tetap berbaring, diperhatikannya Syeni seperti bayi kelaparan, berusaha memasukkan seluruh kejantanannya ke mulut mungilnya.
“Aaaahhh!” desah pria itu keenakan, penisnya serasa disedot-sedot mulut yang hangat dan basah.
Syeni berkonsentrasi, ia berusaha keras memberikan kenikmatan maksimal kepada pria yang telah membayarnya dengan harga tinggi ini. Ia sedang melakukan tugasnya seprofesional mungkin. Dengan lidahnya yang gesit, ia menyentuh-nyentuh ujung kejantanan Koh Ayong. Setiap sentuhan lidahnya membuat pria itu tersentak-sentak, apalagi kemudian lidahnya menjilat berkeliling. Tubuh Koh Ayong bergidik dan bergetar merasakan nikmat luar biasa, terutama saat Syeni meremas-remas lembut buah pelirnya. Pijatannya yang pelan dan lembut membuat pria itu seperti dilambung-lambungkan ke awan. Koh Ayong menggeliat-geliat merasakan penisnya seperti dipenuhi air yang mencari jalan keluar, bercampur geli yang menyebar ke seluruh tubuhnya.
Syeni tahu pria ini sebentar lagi akan mencapai klimaks. Maka ia memperkuat sedotan dan kenyotannya, kepalanya maju mundur sehingga penis di mulutnya keluar-masuk dengan suara berdecap-decap.
Syeni agak terkejut ketika kepalanya ditahan oleh Koh Ayong sehingga tidak bisa begerak, dan pria itu mencabut penisnya dari cengkraman mulutnya.
“Cukup Syen…udah mau keluar nih!” katanya, lalu ia kembali membaringkan tubuh gadis itu dan naik ke atasnya.
Koh Ayong memposisikan diri di antara kedua paha Syeni dan menempelkan kepala penisnya pada bibir vagina gadis itu. Setelah dirasa pas, dengan sekali gerakan ia menghujamkan kejantanannya dalam-dalam. Syeni setengah menjerit, kaget sekaligus keenakan. Syeni memejamkan mata kembali menikmati genjotan Koh Ayong dengan penuh penghayatan. Setelah birahinya dibangkitkan lagi oleh Syeni, Koh Ayong semakin bernafsu, permainannya yang tadinya lembut kini menjadi liar. Dengan ganas ia menghujam-hujamkan penisnya yang menyebabkan Syeni menggelepar-gelepar bagai sedang disembelih. Dengan sisa tenaganya, Syeni melingkarkan kedua kakinya di pinggang Koh Ayong sehingga tubuhnya kini terpaut ke tubuh pria itu. Keduanya lalu berpagutan bibir dan beradu lidah dengan penuh gairah sehingga desahan tertahan terdengar dari mulut mereka. Sensasi yang timbul dari pergesekkan penis pria itu dengan dinding dalam vaginanya benar-benar membuat Syeni serasa terbang, nikmat sekali..
“Aahh.. Aarrgghh.. Oohh…ooomm….mau keluar!!” tangan Syeni memeluk erat tubuh Koh Ayong, kukunya sampai mencakar punggung pria itu ketika di ambang klimaks
“Aahh.. Syen enak banget… ohh…!” Koh Ayong juga mengerang-ngerang dan genjotannya semakin bertenaga.
Mata Syeni merem-melek saat gelombang dahsyat itu menerpanya, tubuhnya mengejang hebat, gelombang kenikmatan itu menjalar dari vagina ke seluruh tubuhnya. Rasa nikmat yang dirasakannya itu begitu besar sehingga dia tak mau hal itu berakhir. Sengaja kakinya yang mengapit pinggang Koh Ayong ia pererat agar penis pria itu bisa masuk lebih dalam. Tak lama kemudian pria itu juga mencapai orgasmenya. Koh Ayong menekan dalam-dalam batang penisnya dalam vagina Syeni dan menyemburkan isinya. Cairan hangat itu tertumpah di dalam rahim gadis itu. Penisnya berangsur-angsur menyusut di dalam sana, lalu ia mencabut batang kemaluannya hingga akhirnya mereka terbaring bersebelahan.
“Syen, kamu benar-benar hebat. Sudah keluar beberapa kali tetap bisa siap tempur lagi hehehe…gak salah emang kenal sama kamu” puji Koh Ayong yang membuat gadis cantik ini mukanya bersemu merah.
Akhirnya setelah obrolan ringan beberapa saat, mereka pun tertidur bersama saling berpelukan.
###########################
Keesokan paginya
Gadis cantik itu terbaring seorang diri di atas ranjang, wajahnya terlihat begitu tenang dan begitu polos ketika dalam keadaan tertidur. Tubuh telanjangnya hanya terbalut selimut hotel yang hangat yang membuatnya tidur dengan nyenyak, sedangkan sosok Koh Ayong yang kemarin bercinta dengannya sudah tidak terlihat lagi di sana.
“Mmmhhh…”, beberapa saat kemudian ia terlihat mulai terbangun dari tidurnya yang tenang. Ia mendesah pelan sambil menggeliatkan tubuhnya yang indah, matanya membuka dan berkedip. Matanya memandang ke arah jam weker digital di bufet sebelah ranjang. Waktu telah menunjukkan pukul 9.43, sudah siang, ia tertidur cukup lama. Ia bergegas turun dari ranjang dan menuangkan air putih ke gelas lalu meminumnya. Matanya tertuju pada sebuah amplop hotel bertuliskan namanya di atas meja, ia ambil amplop itu dan mengeluarkan isinya, sebuah cek delapan juta rupiah dan secarik surat, dari Koh Ayong, isinya:
Maaf Syen…om harus berangkat pagi-pagi ke pabrik ninggalin kamu sendirian. Tadinya om mau bangunin kamu tapi keliatannya kamu capek sekali jadi om nggak sampai hati bangunin. Untuk sarapan silakan kamu silakan pesan saja di hotel, tagihannya masuk rekening om kok. Uang bayaran buat kamu sudah om sediakan dalam bentuk cek. Terus terang om sangat puas dengan pelayanan kamu jadi om lebihkan bayarannya sedikit. Lain kali om akan kontak kamu lagi ok.
Syeni termenung sejenak, dalam satu malam saja ia sudah bercinta dengan seorang pria berduit, ada rasa bangga dan gembira karena dengan pesonanya ia telah berhasil mendapat uang sebesar itu, namun juga ada rasa penyesalan dan bersalah karena semua ini harus dibayar dengan kehormatannya juga perasaannya sebagai wanita, semuanya kosong dan hampa, sehampa hatinya. Kini ia merasa benar-benar sendiri, di kota asalnya papa mamanya tidak pernah punya waktu memberinya kasih sayang, mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan dan arisan, hanya tahu memberi uang dan materi pada puteri mereka, omanya yang dekat dengannya sudah tiada, pria yang pernah dicintainya telah mencampakkannya seperti samapah. Tak ada lagi orang yang menghiburnya di kala gundah, tak ada lagi laki laki pelindungku di kala susah, ia tinggal sendiri menjalani kehidupan ini yang belum tahu ke mana arahnya. Itulah manis, pahit dan getirnya menjalani profesi seperti ini. Tidak ingin lama-lama larut dalam perasaan tidak menentu, Syeni segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri di bawah shower. Setelah menghabiskan sarapannya ia segera meninggalkan hotel itu.
Karena hari itu tidak ada jadwal bimbingan, Syeni menyempatkan diri jalan-jalan di mall di depan hotel itu. Seperti gadis-gadis seumurannya di sana ia window shopping dan membeli beberapa barang yang memikat hatinya, juga bertemu beberapa teman dan mengobrol sebentar. Waktu terus berjalan hingga tak terasa sudah hampir jam makan siang lagi. Di suatu sudut di mall itu ia melihat beberapa warga Jepang yang tinggal di Indonesia tengah mengumpulkan sumbangan untuk korban tsunami di negeri mereka dengan bahasa Indonesia berlogat Jepang. Syeni melewati stan itu namun sepuluh langkah setelahnya tiba-tiba ia berbalik ke stan amal tersebut dan mengutarakan niatnya untuk menyumbang.
“Mereka lebih membutuhkan ini daripada aku” katanya dalam hati sambil mengeluarkan cek delapan juta yang diterimanya dari tasnya.
Pria setengah baya yang menjadi panitia sedikit terhenyak menerima sumbangan yang terbilang besar itu. Ketika mengisi buku daftar penyumbang, Syeni hanya mengisi nominal jumlah uangnya saja, sedangkan untuk nama ia hanya mengisinya dengan huruf ‘S’. Orang-orang yang berdiri secara bersamaan mengucapkan terima kasih dalam bahasa Jepang dan Indonesia dan seorang wanita memberikannya sebuah kertas lipat berbentuk burung-burungan sebagai tanda telah menyumbang. Kata wanita itu burung-burungan kertas dapat membawa berkat dan keberuntungan bagi yang percaya. Syeni tersenyum dan memasukkan benda itu ke tasnya dan meninggalkan stan itu. Ia tidak percaya hal-hal seperti itu, namun kehampaan hatinya sedikit terobati dengan berbuat amal dengan tulus tanpa ada niat cari muka ataupun pamer seperti yang dilakukan para politikus itu yang menyumbang sambil mengibarkan bendera partai mereka atau pejabat yang memberi sumbangan tapi harus diliput media yang tidak ada bedanya dengan ‘membeli’ dukungan. Ada tertulis dalam sebuah puisi klasik:
……….
Sebagaimana Liang Hongyu* dan Du Shiniang**,
beberapa pelacur bahkan lebih mulia daripada para munafik bertopeng moral.
Engkau dapat menipu dunia, tapi tak dapat mengelabui langit,
Engkau mungkin terlihat saleh di mata manusia,
namun langit mengetahui kebusukan hatimu.
………..
Saat keluar dari sebuah toko sepatu Syeni melihat seorang anak perempuan berumur sekitar 5-6 tahun yang sepertinya sedang kebingungan, kepalanya menengok kesana kemari seperti tersesat, matanya juga nampak sembab. Syeni melihat di sekitarnya, memang tidak ada orang dewasa lain yang menuntun anak ini, sepertinya ia memang terpisah. Ia sadar dengan kondisi seperti itu, anak itu sangat rawan penculikan, apalagi di tangan anak itu terdapat sebuah HP. Maka ia pun menghampiri anak itu.
“Dik? Kamu mau ke mana? Mama kamu mana?” tanyanya lembut.
“Papa…Amel mau papa? Papa mana?” anak itu terisak-isak ketika Syeni menanyainya.
“Oke…oke…Amel tenang ya, ini kan Amel punya HP, ayo kita telepon papa Amel aja ya” kata Syeni menenangkan gadis kecil itu.
“Tapi gak bisa nyambung Ci…Amel udah coba tapi ga nyambung terus…huuuu..!!” anak itu semakin menangis.
Syeni mencoba HP anak itu dan menghubungi nomor papanya. Ternyata masa aktif pulsanya telah habis sehingga tidak heran kalau tidak bisa dipakai untuk menelepon. Ia mengeluarkan BB-nya dan mencoba menghubungi nomor tadi. Kali ini tersambung, seorang pria menerima telepon.
“Ya…halo!” sapa suara di sana.
“Ia halo, ini ada yang mau bicara” Syeni lalu menempelkan Bbnya ke telinga anak itu.
Anak itu menangis di telepon dan ngomongnya tidak jelas sehingga Syeni menarik kembali BB-nya untuk bicara lebih jelas dengan ayahnya. Ia menjelaskan posisi mereka agar ayah anak itu dapat menemukan mereka dan menjemput anaknya.
“Oh…oke…oke…saya segera ke sana sebentar lagi!” kata pria itu segera menutup telepon.
“Mel…Amel tenang ya, papa Amel mau jemput kok sebentar lagi, udah ya udah!” Syeni memeluk anak itu dan mengelus-elus rambutnya.
Anak itu mulai tenang dan merasa nyaman dalam pelukan Syeni
“Eh…Mel, kamu haus ga? Tuh di sana ada yang jual minum, yuk cici beliin!” ajak Syeni setelah anak itu tenang.
Ia menggandeng tangan kecil itu dan membelikannya segelas bubble tea. Kemudian ia mengajak anak itu duduk di bangku dekat situ sambil menunggu ayahnya.
“Ci…cici malaikat ya?” tanya anak itu setelah menyedot minumannya, “kata laoshi di sekolah minggu malaikat itu cantik dan baik hati, selalu ngebantu kita”
“Ahh…apa…” Syeni terdiam tidak bisa melanjutkan kata-katanya, ia tidak percaya masih ada orang menyebutnya sebagai malaikat, bahkan orang tua dan mantan pacarnya pun tidak pernah menyebutnya seperti itu, apalagi mengingat keadaannya sekarang yang sudah sangat kotor, kepolosan anak ini membuatnya sangat terharu dan hampir meneteskan air mata, “bukan…cici bukan malaikat…nama cici Syeni!” lanjutnya dengan suara sedikit bergetar.
“Amel…nakal ya kamu…papa kan udah bilang jangan jauh-jauh mainnya!” seorang pria berambut belah tengah berumur awal tiga puluhan menghampiri mereka dari samping.
“Papa…papa…ini cici yang nolongin Amel nelepon papa!” Amel turun dari bangku dan memeluk papanya.
“Oooh…kamu, terima kasih…maaf ya ngerepotin, anak ini emang gini baru ditinggal sebentar udah keluyuran ke mana-mana” kata pria itu menggendong anaknya, “Oh ya, saya Stephen” ia mengulurkan tangannya.
“Syeni” gadis itu menyambut uluran tangan pria itu sambil tersenyum manis.
Setelah berbasa-basi sejenak, Syeni pun berpamitan dan hendak pergi.
“Oke deh, Amel jangan nakal lagi ya, cici pulang dulu!” katanya sambil berjongkok dan mengelus kepala anak itu, lalu berdiri dan membalik badan hendak pergi.
“Syen…tunggu dulu…saya punya kafe di mall ini dan kebetulan ini sudah jam makan siang. Kalau kamu gak keberatan, saya mau mentraktir kamu…ya sebagai tanda terima kasih” kata Stephen.
“Eenngg…tapi…”
“Ayo Ci, kita makan bareng, di kafe papa enak-enak loh makanannya!” Amel ikut mengajaknya dan menarik tangan gadis itu.
Ajakan Amel benar-benar membuat Syeni tidak bisa menolak, ia takut mengecewakan anak itu sehingga akhirnya ia pun mengiyakan ajakan ayahnya.
Sambil menggendong putrinya, Stephen membawa Syeni ke sebuah kafe di salah satu sudut mall itu. Ternyata posisinya tidak terlalu jauh dari tempat tadi Amel hampir tersesat, mungkin karena luasnya bangunan dan keramaian pengunjung membuat anak itu menjadi bingung. Sambil menunggu mereka pun mengobrol.
“Dia memang selalu merindukan figur seorang mama, makannya dia nempel ke kamu seperti tadi” kata Stephen menjelaskan sambil melihat ke arah putri kecilnya yang sedang asyik dengan mainannya di meja lain.
“Maaf kalau boleh tahu, mamanya….?”
“Sudah gak ada sejak dia lahir…pendarahan…” jawab pria bertampang kebapakan itu menjawab dengan berat.
“Oh maaf…saya turut berduka” Syeni turut berduka mendengarnya.
“Nggak…ga apa kok” Stephen kembali tersenyum, “ayo silakan diminum dulu!” ia mempersilakan Syeni meminum minuman yang baru saja diantar pelayan.
Stephen melanjutkan ceritanya bahwa ia sebagai single father membesarkan anaknya dibantu oleh kedua orang tuanya. Selama ini ia belum memikirkan untuk menikah lagi walaupun orang tua, saudara dan teman-temannya terus mendorongnya agar putrinya tidak tumbuh tanpa kasih sayang ibu. Masih banyak pergumulan dalam dirinya mengenai hal yang satu ini, juga karena selama ini ia belum menemukan wanita yang dirasanya pas sebagai pengganti almarhum istrinya maupun ibu bagi putrinya.
“Omong-omong, kamu sendiri masih kuliah? Atau sudah kerja?” pria itu mulai berusaha mengenalnya lebih jauh.
“Kuliah, lagi skripsi…di ********” jawab Syeni.
Selama menemani ngobrol mereka terus saling menatap wajah dan mata masing-masing. Entah ada kekuatan apa, baik Stephen yang telah lama menyendiri dan menutup diri dari wanita lain maupun Syeni yang sudah tidak percaya adanya pria baik, yang menganggap setiap pria hanya menginginkan tubuhnya, mulai merasakan adanya chemistry di antara keduanya. Hati keduanya yang telah membeku mulai sedikit mencair.
Di tengah menikmati hidangan utama, Stephen pamit ke dalam sebentar karena ada yang perlu dibicarakan dengan karyawannya. Syeni pun tinggal bersama dengan Amel. Keduanya tampak semakin cocok, makan sambil ngobrol dan bercanda. Sampai masuk sebuah pesan ke BB nya, dari Imron, si penjaga kampus bejat itu, yang mengajaknya untuk datang ke kampus sore ini atau dia yang akan datang ke apartemennya nanti malam. Kebahagiaan yang baru saja dirasakannya tiba-tiba rusak. Ia sadar dirinya adalah budak seks si penjaga kampus bejat itu yang menyimpan skandalnya juga budak seks bagi Pak Dahlan, si dosen mesum itu. Setelah makan, dengan alasan sedang buru-buru, Syeni pamit untuk pergi dari situ. Stephen bermaksud mengantarkan dengan mobilnya, tapi ia menolaknya dengan alasan sudah dijemput oleh seorang teman yang menunggu di depan mall. Setelah menurunkan Amel dari gendonganya, ia pun meninggalkan tempat itu.
“Syen…!” Stephen memanggilnya ingin meminta nomor HP atau pin BB agar bisa tetap berhubungan, tapi tidak meneruskannya, ia baru ingat nomor gadis itu telah masuk ke BB nya ketika meleponnya tadi.
Hati pria tampan itu berbunga-bunga, ia berharap masih dapat bertemu lagi dengan gadis itu. Namun tidak dengan Syeni, di satu sisi ia juga ingin bertemu pria itu lagi, namun di sini lain ia tidak ingin menyakitinya yang diyakininya akan terjadi bila mereka mengenal semakin dalam, juga bagaimana dengan Amel, bagaimana reaksinya bila orang yang dianggapnya malaikat itu ternyata penuh noda. Sungguh galau hatinya, semua ini seperti cerita Cinderella, kebahagiaan sejenak itu telah berakhir, kembali ke kehidupannya yang gelap, namun ‘sepatu kaca’ itu kini tertinggal, menunggu kelanjutan kisahnya. Sesungguhnya
Lahir dan mati, perjodohan dan perpisahan,
semua adalah kehendak langit.
Bila jodoh, berpisah ribuan li pun, akan kembali bersatu.
Tanpa jodoh, jarak sejengkal pun tiada pernah bisa bersatu.
Wahai pujaan hati, akankah kita bersua kembali?
Catatan:
Liang Hongyu (1102-1135) adalah putri seorang perwira militer Dinasti Song yang terpaksa menjadi pelacur demi menyelamatkan ekonomi keluarganya setelah ayahnya meninggal. Belakangan ia bertemu dan saling jatuh cinta dengan pahlawan perang Song, Han Shizhong. Keduanya akhirnya menikah, sejak itulah nasib Liang berubah. Karena menguasai ilmu bela diri dan seni perang, juga atas rekomendasi suaminya, ia mendapat posisi dalam ketentaraan. Di sana ia membuktikan diri sebagai wanita pejuang yang tangguh. Bersama suaminya, ia memenangkan beberapa pertempuran melawan suku barbar Jurchen. Setelah ia meninggal namanya harum dan dikenang dari generasi ke generasi sebagai seorang pahlawan wanita China.
Du Shiniang adalah tokoh dalam cerita rakyat China. Ia adalah seorang pelacur yang jatuh cinta pada seorang sarjana bernama Li Jia. Ketika Li memintanya untuk menjadi istrinya, Du sangat gembira dan mengiyakannya. Setelah Li menebusnya, ia pun memboyong Du ke kota asalnya. Namun dalam perjalanan, seorang saudagar bernama Sun Fu terpikat oleh kecantikan Du dan ia membujuk Jia untuk membatalkan niatnya menikahi Du. Sun juga menghasut bahwa keluarga Jia yang terpandang pasti tidak akan setuju mengambil menantu seorang bekas wanita penghibur. Jia yang plin-plan akhirnya menyetujui tawaran Sun senilai 1000 tael emas untuk menyerahkan Du padanya. Du Shiniang sangat kecewa pada Li setelah diberitahu tentang semua ini. Keesokan harinya di atas perahu yang mereka tumpangi ia melemparkan satu demi satu emas permata yang ia miliki. Ketika Li Jia menanyakan apa yang ia lakukan, Du menjawab, “semua ini adalah tabungan pribadiku yang akan kupakai untuk menempuh hidup baru setelah pensiun, tapi sekarang engkau telah menyia-nyiakan semuanya, jadi untuk apalagi semua ini?” habis berkata ia terjun ke sungai dan menenggelamkan diri demi membuktikan kemurnian cintanya.
###########################
