Recent Posts Widget

Kisah Fandi

http://cerita-porno.blogspot.com/2015/07/kisah-fandi.html

CHAPTER 1 : INTRO

Sebut saja namaku Fandi, selepas masa sekolah SMA,aku ingin melanjutkan kuliah di Perguruan Tinggi, namun apa mau dikata, orangtuaku yang hanya bekerja sebagai karyawan sebuah perusahan BUMN yang tergolong kurang bonafid membuat keinginanku melanjutkan pendidikankupun sirna. "Jangankan buat elu kuliah Tong, buat makan aja kita musti banyak2 ibadah !", puasa senin-kemis maksudnya !, puasanya senin buka-nya kemis !, hiks....

Akhirnya aku mengambil jalan pintas (bukan jalan tikus, ato gang2 kecil maksudnya) dengan mengikuti kursus komputer yang berada di kotaku, selesai kursus aku mencoba untuk mengadu nasib dengan melamar pekerjaan disebuah perusahaan konsultan keuangan.

Setelah melewati proses seleksi penerimaan karyawan (sampe disuruh2 push up dan berlari2 kecil), akhirnya aku diterima diperusahaan tersebut, dengan syarat aku mau ditempatkan dikota yang ditunjuk oleh perusahaan selama beberapa tahun.

Aku menjadi bimbang, antara mencari kerja ditempat lain atau menerima pekerjaan dengan syarat ditempatkan diluar kota yang mungkin aku belum pernah menginjaknya, Ditengah kebimbanganku itu, aku menceritakan hal tersebut kepada kedua orangtuaku. akhirnya orang tuaku menganjurkan aku untuk mencobanya, "Kamu coba aja dulu, kalo kamu tidak betah, toh kamu bisa keluar dan mencari lagi !" saran bapakku (ya kalo dapet, emang nyari kerja gampah apah ?). Akhirnya dengan tekad yang setengah aku memberanikan diri untuk menerima pekerjaan tersebut. Akhirnya aku ditempatkan di kota B, yang letaknya jauh dari kota asalku. Aku menceritakan hal ini kepada orang tuaku, dengan antusias mereka mengatakan bahwa dikota ini ada saudara sepupu ibuku, dan kedua orangtuaku menyarankan agar aku sementara tinggal dulu dirumah sepupu ibuku tersebut.

Aku mulanya ragu, bagaimana aku harus tinggal dirumah orang yang aku belum mengenalnya sama sekali ?, Ibu dan Bapak menasehatiku dan berpesan supaya aku pandai "Menitipkan Diri" di rumah yang aku tinggali nanti. akhirnya, aku pada waktu yang telah ditentukan berangkat menuju kota B dengan segudang tanda tanya yang menggelayutiku
Tertegun aku menatap rumah didepanku, bukan serem atau angker, tapi mewah banget, gede, halaman luas ada pohon cemaranya lagi, Setelah memencet bel cukup lama, tampak seorang wanita setengah baya berlari tergopoh-gopoh (pasti ngebayangin toketnya gondal-gandul deh, …gak yee... tipis banget tuh dadanya) mendekati pagar pintu yang cukup tinggi dan runcing ujungnya itu, (kaya senjatamya tentara keraton).

"Cari siapa ya ?" kata wanita itu dengan mimik gimanaaa gitu...
Set Dah nih ibu, udah tampangnya cakep enggak, jelek enggak, (serem tapi !), memandangku curiga menatap penuh tanya... (kaya lagunya obbie mesakh, yang sekarang susah cari kasetnya).

"Ibu ada ?" Tanyaku,
"Ibu Siapa ?" Sahutnya lagi, dengan muka yang sok di tegas2in.
"eeeeee..... Bu Mala " kataku pelan dan Ragu.
"Ini Den Fandi ?" tanya ibu itu tegas, namun tidak lugas dan dapat dipercaya, kaya guru lagi nanyain PR kita kalo kita lagi males ngerjain. "Iya Bu " jawabku lirih, sambil menunduk dan melihat kuku tanganku, takut diperiksa kalo ada yg item.

"Masuk Den, Ibu udah nunggu dari tadi " katanya sambil cepat2 membuka gerendel pintu dan cepat2 merubah mimik mukanya yang tadi keliatan seperti suster ngesot menjadi seperti tamara, padahal jauh banget, malah lebih mirip mpok nori.

Perlu diketahui pembaca, biar jelek2 gini aku juga masih ada darah ningrat, di akte kelahiranku,
namaku aja depannya ada huruf R terus dikasih Titik, (artinya Raden bukan Robin temennya Batman), emang masih musim ? pake raden2 segala ?, bangga campur malu sih kalo pas diabsen dan dipanggil Raden, semua menengok ke arah aku, ngarepin, kalo yang nunjuk tangan pake jubah dan diatasnya ada mahkota, dan dipergelangan tangannya minimal ada gelang emaslah barang beberapa gram, gak taunya, yang ngacung gw, udah jelek, kucel, mana tangannya busikan lagi, rada2 nyesel sih mereka nengok, bikin pegel leher aja !. kalo ada yang mau pengen aku jual aja nih, gelar raden aku. he.. he...

Aku mengikuti wanita itu, yang kelak aku tahu bahwa dia adalah satu2nya pembantu dirumah ini, Bi Iyem, begitu ia dipanggil, menginjak usianya yang mendekati 50 tahun, hidup tanpa menikah, menurutnya, ia pernah menikah, tetapi suaminya pergi meninggalkannya karena tidak kunjung dikaruniai anak. Alasan klise, pembenaran terhadap kesalahan, daripada tinggal dikampung bengong dan tanpa ada yang mengurus lebih baik ia kerja di kota sebagai pembantu. lumayanlah, itung2 dapat makan, tidur gratis dan lebaran bisa mudik, desek2an di bis, kali aja nemu jodoh (ngarep !!!), dengan membawa oleh2 buat sanak sodara dikampung.

Dengan tampang udik (katro, ndeso), aku menatap ruangan dalam rumah yang serba mewah itu. "Silahkan duduk Den, tunggu sebentar, ibu baru selesai mandi, Nanti Bibi bilang ke Ibu, Aden sudah datang" kata Bi Iyem sambil mempersilahkan aku duduk di ruang tamu.

Tak lama, seorang wanita datang menghampiriku, "Ini Fandi ?" sahutnya sambil senyum, aku hanya tersenyum dan menganggukkan kepala, "Kamu sudah besar, terakhir kali Tante melihatmu, kamu masih SD kali ya ? " sambil memelukku dan mencium pipiku kiri kanan, (mudah2an gak disomasi dan ditegur kaya tukul). Kaget aku dengan perlakuannya yang ramah ini dan berusaha membalas cipika-cipiki beliau.

Wangi beneeer, abis mandi, parfumnya aja asli import, yang kalo disemprotin dibadan, wanginya baru ilang besok, emang elo yang kalo pake parfum seketemunya, kalo pas lagi nebeng mobil temen, liat pewangi mobil maen semprot2 aja ke badan, yang ada wanginya nyebar seruangan kaya abis disemprot foging nyamuk, mendingan wangi kuburan baru, kembang tujuh rupa.
"Gimana kabar Bapak dan Ibu kamu disana ? " tanyanya, dan semua pertanyaan2 basa basi pun diajukan olehnya, (gak perlu semuanya kan harus diceritain pembaca ?, bisa pegel nih gw ngetik, ini aja udah ngos2an). Setelah kurang lebih beberapa jam kami berbasa basi ria (lama amat sih ? emang ngobrolin apaan aja sech ? cape dech !).
"Kamu Istirahat aja dulu, mungkin kamu capek sehabis perjalanan" kata Tante Mala kemudian, "Bi Iyem udah menyiapkan kamar untuk kamu, Tante sore ini mau senam dulu, nanti pulang sebelum magrib, kalo kamu mau makan, makan aja dulu, nanti kita sama2 makan malam ya ?", lanjut Tanteku, "Iya Tante, saya tadi sudah makan, mungkin mau tidur2an aja dulu" sahutku menjawab.

Sang Tante pun mempersilahkan aku untuk menempati sebuah kamar yang berada paling belakang dilantai atas rumah tersebut, perlu diketahui bahwa kamar dirumah ini semuanya ada 5 dan hampir semuanya berada di lantai atas, hanya satu kamar dibawah untuk pembantu, satu kamar ditempati oleh Tanteku itu dan 2 Kamar lain ditempati oleh anak-anaknya. Aku menempati kamar belakang yang menghadap taman dan kolam renang. Waw, tempat yang strategis. didalam kamar layaknya hotel berbintang, kasur yang empuk dan lebar cukup buat 2 orang, televisi 21", ada Video Tape Playernya lagi. mantaap... (Jaman ntu belom Ada DVDlah, jangankan DVD, VCD aja belom ada!).

Mungkin karena lelah, aku langsung merebahkan badanku dan tertidur lelap....

Jam 7 lewat aku dibangunkan Bi Iyem, "Den.. Den... Bangun Den..." terdengar suara Bi Iyem memanggilku sambil mengetuk2 halus pintu kamarku (bukan gedor2lah... emangnya lagi digerebek di hotel ?), "Sudah ditunggu sama Ibu dibawah untuk makan malam " sahutnya kemudian, "Iya Bi, sebentar lagi saya kebawah, saya mau mandi dulu !" jawabku, berusaha untuk bangun, berjalan dan membuka pintu. Aku pun langsung mandi dengan menggunakan Kamar mandi yang letaknya didepan kamarku, juga merupakan kamar mandi yang sering dipakai oleh anak2 dikeluarga ini, sedangkan Tante Mala menggunakan kamar mandi yang berada didalam kamar beliau.
Selesai mandi, aku menuju ke ruang keluarga dan ruang makan dan disana telah menunggu 4 orang yang kesemuanya perempuan dan cantik2, salah satunya adalah Tante Mala, dan aku lalu dikenalkan oleh Tante Mala kepada ketiga putrinya. "Fandi, ini anak2 Tante, kmu mungkin belum mengenal mereka semua, karena memang mungkin dulu sekali waktu kalian masih kecil2 tante masih suka mengajak anak2 tante berkunjung ke keluarga, tp karena mereka sudah besar, susah sekali mengajak mereka" tutur Tanteku. "Om Mirza kebetulan sedang diluar kota, mungkin baru minggu ini om kamu kembali, jadi beginilah disini, kalo om kamu tidak ada, ya tidak ada lelaki dirumah ini " sahutnya kemudian.

Tante Mala, merupakan sepupu ibuku, satu kakek, lain ibu lain ayah (ya namanya juga sepupu, kalo satu ibu satu bapak, sodara sekandung lah), menikah diusia 18 tahun, diumurnya yang mendekati 38 tahun, dikaruniai 3 orang anak, semuanya putri dan cantik2 seperti ibunya, yang tertua Moza 20 thn, yang kedua Mita 18 tahun dan si bontot.... Maya, masih SMA 17 Tahun.

Om Mirza, suami Tante Mala, berusia 48 tahun, selisih 10 tahun dengan Tanteku, orangnya ganteng, dengan kumis tebal yang makin membuatnya tampak wibawa, sebagai pengusaha kontraktor pekerjaan sipil yang cukup sukses dengan proyek2 pemerintah. Karena kesibukannya, bisa dibilang ia jarang dirumah, kadang pergi pagi - pulang malam, kadang pergi malam - pulang pagi, kadang pergi lama, bisa 1 sampe 2 bulanan - baru pulang, kadang nganggur dirumah lamaaa - gak pergi2 (kalo lagi gak ada proyek), tapi dia gak pernah sih yang namanya pergi tiga kali puasa, tiga kali lebaran.

Dalam usianya yang menginjak paruh baya, Tante Mala tidak menampilkan sosok sebagai wanita yang keibuan (kaya ibu2 maksudnya), malah ia lebih nampak sebagai wanita feminin, dengan dandanan yang lebih nampak sebagai wanita gedongan kebanyakan, emangnya emak kite, baru umur 40 taon aja udah kaya umur gocap, boro2 buat beli lipstick, buat beli beras aja udah susah, sukur2 ada uang lebih belanja, kembalian mecin, bisa beli pupur buat bedak, Penampilan Tante Mala memang jauh menggambarkan dari umur sebenarnya. Tepat ditengah ruang keluarga dipajang foto keluarga mereka berlima, Sang Ayah duduk dibangku dan berdiri dibelakangnya 4 wanita cantik layaknya dewa yang dikelilingi oleh 4 bidadari, dan yang mengherankan aku, Tante Mala nampak seperti kakak dari putri2nya, cantik beneeer.

Mungkin untuk menjaga kebugaran dan biar keliatan selalu awet muda, tante Mala rajin merawat tubuhnya, ikutan senam seminggu 2-3 kali, ke Spa seminggu sekali, ke salon semau dia, belum lagi berenang yang tinggal nyebur, yang jelas, uang ada semua ada. Emangnya kita, boro2 ke salon, buat nyukur aja (potong rambut) selama masih ada temen yang bisa nyukur, ya kita manfaatin, dengan modal gunting ma kaca spion bekas, trus nyari tempat yang adem, ya jadi lah kita nyukur, duit buat nyukur lumayan kan bisa beli udud setengah bungkus, Ada kembalian duit logam 2 ratus perak, pas bener buat iseng nyabutin jenggot sambil sesekali besiul godain cewek yang lewat !.

Duh cantik2 bener mereka, sambil mengenalkan diri aku memandang mereka satu persatu, sudah ibunya cantik bapaknya cakep dan ganteng, kaya, yaa pantaslah mereka seperti ini, jadi iri, hehehe.... menunduk malu, yaa maklumlah, tampang gw pan pas2an.. masih untung idup, boro2 berani naksir cewek, masih sukur waktu godain cewek, mereka cuma melengos aja, coba kalo diludahin.. ancurrrr dah, maklumlah, aku kan gini2 juga masih keturanan indo, Indo Jerman, Ibu Jereng Bapak Preman.... hehehe...

Akhirnya suasana pun menjadi akrab, pembicaraan demi pembicaraan mengalir dengan lancar, karena mereka jauh lebih muda dari aku, mereka memanggilku dengan panggilan "Aa" yang artinya kakak. Kaya Aa Gym gituh .. hehehe.. Selama makan malam, banyak pembicaraan yang terjadi, dan aku berusaha untuk mendalami mereka satu persatu (mendalami maksudnya disini artinya memahami karakter dan sifat mereka, bukan mendalami yang itu !!!).

(Seriusin ah ceritanya.....)

Tante Mala, lama-lama kalo kuperhatikan, wajah mirip seperti wajah artis Vina Panduwinata, dengan alis tebal, hidung yang bangir mancung, bibir tipis sensual, pipi halus, rambut panjang sebahu lebih sedikit, ikal bergelombang, tinggi sekitar 158 cm, dengan payudara yang cukup besar menurutku, mungkin dengan lingkar dada 36 dan bercup C, karena dengan mengenakan baju senam, dengan belahan dada yang cukup rendah, selain mengambarkan lekuk tubuhnya yang membuat setiap mata lelaki melotot dan seakan tak mau lepas memandangnya.
Pabrik susu didadanya, layaknya seperti mau tumpah. putih, ranum, dan tampak masih kencang untuk wanita seusianya, dengan mengenakan Bra yang terlihat kokoh melindungi, namun seakan tidak muat menampung seluruh Isinya, bikin jantung deg.. deg.. serrr..... Dan yang lebih membuat pikiranku merantau keawang-awang adalah bentuk pinggul dan pantat beliau, begitu indah, dengan pinggang kecil dan pantat bulat penuh, songgeng seperti bebek seakan mengajak setiap lelaki untuk mengikuti dari belakang kemanapun dia pergi.

Moza, diusianya yang baru menginjak 20 tahun, kuliah tingkat tiga di sebuah PTS ternama, tampak seperti gadis dewasa dengan tubuh tinggi semampai, sekitar 168cm (kayaknya aku kalah tinggi deh, aku cuma 163 cm, maklum lah.. kurang gizi ma keturunan yang kurang bagus .. hiks), tubuh sintal padat, semok, bohay, kenceng deh... mirip seperti sang ibu dengan bentuk payudara yang indah dan menantang.

Dengan wajah yang melankolis, alis tebal, bentuk mata yang bulat dengan sorot mata jernih, dan dilengkapi dengan bibirnya yang tipis merekah, dengan lisptick tipis membuat wajahnya semakin tampak menarik, dengan rambut panjang sedada, bulu2 halus menjalari seluruh tubuhnya terutama dibagian lengan dan kakinya, tampak eksotis, membuat cowok-cowok ingin mendekatinya dan memacarinya dengan segala cara. yang bikin lengkap adalah bentuk pantatnya yang mengikuti jejak sang ibu, duh.. pusing deh...apalagi ketika melihat dia dengan celana pendek ketat. bawaannya yang kalem, lembut, penuh kedewasaan, orang tak akan menyangka kalo dia masih berumur 20 tahun, orang pasti akan menyangka dia berumur 24 ato 25 tahun.

Mita, Mahasiswi tingkat pertama sebuah kampus pariwisata terkenal, dengan potongan rambut pendek seleher, muka berbentuk oval, hidungnya yang bangir bulat, bibirnya tipis agak lebar seperti penyanyi rosa memperlihatkan sifatnya yang murah senyum, periang, seperti layaknya anak mahasiswi seusianya. tinggi 160cm, dengan berat yang lumayan menurutku, namun jelas memperlihatkan kemontokan dan kemolekan tubuhnya, ditambah lagi dengan gaya berpakaian yang tampak super cuek, kuliah dengan menggunakan baju seragam yang cukup tipis dengan rok lebih dari 10cm diatas lutut, seperti dianjurkan kampus, dan sering tanpa menggunakan kaos dalam, jelas mengundang mata cowok2 untuk lebih menyelami isi dada dari cewek ini, cekakak-cekikik ditelpon merupakan kegiatan rutin sehari-harinya.

Maya, si bungsu yang masih kelas 3 SMA, layaknya anak2 ABG, selalu ingin tahu bagaimana rasanya menjadi cewek dewasa, dengan rambut panjang namun sering diikat, mata bening yang selalu kelihatan malu2 apabila bertatapan dengan cowok. Untuk cewek seumuran dia mungkin kelihatan bongsor, dengan tinggi yang hampir menyamai kakaknya, 160 cm kurasa, namun dengan badan yang cukup ramping, kalo dilihat dari belakang mungkin orang akan menyangka dia adalah seorang wanita dewasa, dan herannya dia memiliki payudara yang menurutku besar, lebih dari ukuran normal untuk anak2 seusianya, namun wajahnyalah yang tidak bisa menipu, kepolosannya memperlihatkan bahwa dia masih ingusan diperlihatkan dengan tingkahnya yang tidak bisa diam dan kadang kecentilan....

malam itu, mungkin karena keasyikan ngobrol, tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 9 malam, Mita dan Mona, undur diri terlebih dahulu, karena mereka besok harus berangkat kesekolah pagi, berangkat dari rumah jam 6 lewat, sedangkan sang kakak dan Ibu masih menemaniku ngobrol sambil menonton televisi di ruang keluarga, tak lama kemudian Tante Mala meninggalkan kami berdua, Aku dan Moza.

"Fan, tante tinggal dulu ya, mau mandi dulu nih, tadi abis senam keringetan, jadi badan tante lengket, kamu terusin aja ngobrol dengan Moza, tapi jangan terlalu malam, kan besok kamu sudah mulai kerja dan Moza juga harus kuliah " kata beliau kepadaku, "Iya, Tan mungkin saya sebentar lagi, maklum Tan, tadi siang tidur, jadi belum ngantuk nih !" sahutku, "Iya mah, lagian Moza juga besok kuliah siang, nanti kalo dah ngantuk juga Moza tidur" menimpali Moza, "Ya udah kalo gitu, Mamah duluan" berkata Tante Mala.

Akhirnya tinggallah kami berdua, mengobrol sana-sini ngalor ngidul, nyerempet soal kuliah, sampai soal pacar, Moza mengaku padaku bahwa saat ini ada mahasiswa seniornya yang PDKT kepadanya, ia masih mikir-mikir, karena saat ini ia masih terikat oleh pacarnya semasa dari sekolah SMA dulu, dan pacarnya itu sedang melanjutkan kuliahnya di Luar Negeri. Antara kesepian karena merindukan sang kekasih nun jauh disana dan keinginan untuk berpacaran normal seperti teman2nya yang lain, yang diapelin malem minggu. duh enak juga ngobrol ma adik sepupuku ini, (ya ujung2nya mah sepupulah, kan gw ma dia masih sodaraan... Week !)

"Kalo Aa sendiri gimana ? Kasian dong pacarnya disana sendirian, aa kerja disini" sambil cengar-cengir dia menanyakan soal itu padaku, "Duh ini dia yang gw takutin.. nyampe juga nih pertanyaan ke gw !, nyesel gw pake nanya2 pacar segala ke dia" gerutuku dalam hati, tapi bukan Fandi namanya kalo gak bisa jawab soal ginian, "Ya gitu deh Moz, palingan juga kalo kangen ditahan2 aja, kalo udah kangen banget palingan Aa telp dia, terus kalo udah kangen berat, pas kebetulan punya duit, ya Aa baliklah pulang dulu.. ! hehehehe... " jawabku sekenanya...padahal boro2 gw punya cewek, cewek darimana pula ?, mana ada yang mau ma gw, udah muka gak ada bagus2nya, badan pendek, kecil, jauh deh dari idaman, paling banter cuman dapetin cewek pembantu tetangga gw yang suka gw isengin kalo lagi pas buang sampah, ntu juga sambil pura2 kerja bakti, dan pura2 gak sengaja nyikut toket tuh pembokat... huakakakak....

Akhirnya moza rupanya juga gak tahan, tak lama kemudian ia pamit padaku untuk masuk ke kamarnya, aku menggangguk kepadanya dan berkata "ya udah kalo kamu dah ngantuk, Aa nanti aja sebentar lagi, belum ngantuk nih, gara2 tadi siang tidur, orang biasanya gak pernah tidur siang". tak sengaja mataku mengikuti langkah Moza menjauhiku, lekuk tubuhnya jelas terbayang dengan T-Shirt putih tipis dan celana pendek hawaiinya, bentuk kakinya yang jenjang seolah terus membayangi mataku. Duh seandainya aku punya cewek seperti dia.. gak akan deh gw sia-siain, kalo perlu gw kacain biar gak kena debu... sayang ah..ntar kalo pas nikah, kalo bisa, tamu-tamu gak gw kasih salaman. takut kotor.... xixixixixi....

Beberapa saat kemudian, bete juga aku sendirian nonton televisi di ruang ini, ah mendingan aku terusin aja nonton dikamar, mulanya memang aku sejak semula ingin menonton televisi dikamar, tapi aku kemudian berpikir, jangan2 mereka semua terganggu akibat berisik suara televisi dikamarku, akhirnya kumatikan juga televisi diruang keluarga.

Dengan pelan (tapi pasti) aku melangkah menuju ke kamarku, menapaki anak tangga, lampu koridor nampak redup, hanya lampu2 kecil saja yang dinyalakan, lampu kristal ditengah ruangan sudah dimatikan, hingga hanya cahaya temaram saja yang menyinari seluruh ruangan. Selesai Melewati Tangga, beberapa langkah di depan sebelah kanan adalah kamar Tanteku, 'Loh kok kamarnya tidak ditutup ?', aku berjalan pelan melewati kamar tidur Tanteku itu, berat rasanya agar kepalaku tidak menoleh kedalam ruangan itu, berusaha untuk melawan kehendak untuk tidak mengarahkan mataku, namun apa daya, ada sesuatu yang mengarahkan kepala dan mataku, keinginan yang lebih kuat.

Ada celah kurang lebih 15 cm yang antara daun pintu dan kusen pintu, namun itu cukup membuatku dapat melihat setengah dari isi kamar, kulihat Tanteku tergolek di tempat tidurnya dengan kepala mengarah ke pintu, dan kaki diujung sana, dengan daster putih, tampak tertidur pulas, ah... mungkin beliau kecapekan, kulihat tv masih menyala dengan suara pelan. uhh.. aku terdiam sesaat dan tertegun menatap tonjolan dadanya dengan belahan yang tampak terlihat jelas menggunung.

Duh.. jadi bangun nih si dede, gak tahan aku melihat pemandangan seperti itu, dan mungkin juga agak takut aku, khawatir ada yang melihat aku berdiri di depan kamar Tanteku, ntar disangka mau ngapain lagi ? akhirnya aku kembali berjalan, menuju ke kamarku, kulihat kedua kamar sebelah kanan kiriku lampunya telah padam, mungkin mereka telah tertidur pulas. Segera aku merebahkan diri di ranjangku, entah mengapa bayangan Tanteku terus menempel di otakku, gak mau pergi... dan celakanya si otong gak bisa diajak kompromi, malah berdiri terus, otakku jadi ngeres... duh masa hari pertama gw musti colai (masturbasi/ngeloco) sih ? bisa2 besok pagi gw loyo...bisa kacau nih kerja hari pertama...

berusaha aku melupakan semua bayangan2 kotor tersebut .. sampai akhirnya tertidur pulas.... CHAPTER 2 : KHAYALANKU


Pagi hari, sudah tampak kesibukan dirumah itu, terbangun aku karena mendengar teriakan2 dari Mita dan Maya, biasa dirumah denger suara burung pagi2, disini malah dengar teriakan orang !, bangun aku dari ranjang, duduk, kulirik jam menunjukkan pukul 6.25, mataku menatap lurus ke arah cermin, “Set dah, jelek banget gw yak ? udah muka kucel, beminyak, rambut awut2an, bau lagi !.bisa2 kalo ketemu cewek2 dibawah, mereka pada melengos, kalo mereka jelek sih masih bisa cuek, kita bisa bales melengos lagi sambil buang dahak, nah ini kan cakep2, bisa makin minder kita.

Jadi inget kalo dirumah, bangun langsung ke dapur, bikin kopi. Sementara antri nungguin kamar mandi kosong, ngopi sambil ngudud sebatang, sukur2 ada singkong goreng atawa pisang goreng, begitu perut udah agak berat en pantat kaya ada yg pengen ngedesek keluar, buru2 masuk kamar mandi. Kalo bangun telat, nyeruput kopi punya babe, terus langsung masuk kamar mandi, pake baju, berangkat sambil ngisep rokok dah.

Selesai mandi dan berpakaian, aku menyiapkan tas dengan isi berkas2 yang sekiranya mungkin nanti diperlukan pada hari pertama kerjaku ini, setidaknya aku harus menimbulkan kesan pertama yang baik. Beberes kamar sekenanya, toh mungkin nanti bi iyem juga akan membereskannya lagi, yang penting gak keliatan berantakan banget.

Aku berjalan menuju lantai bawah, kulihat Bi Iyem sedang berdiri disamping meja makan, sambil memegang piring, dan menaruhnya dimeja (bukan lagi marah2 mo ngelempar piring !, emang bini elo, kalo curiga elo gak pulang semalaman !)

Kulihat Tante Mala sedang duduk dimeja makan, belum mandi tampaknya, masih pake daster yang semalam kulihat, kusapa beliau, “Pagi Tante”, kataku, “Pagi Fandi, kirain kamu belum bangun, baru aja Tante mau menyuruh bi Iyem bangunin kamu, kamu malah sudah rapi”, sahut tanteku. “emangnya kmu masuk jam berapa ?” tanya tanteku. “Masuk jam 8 Tan, cuma saya sekalian pengen ngukur waktu aja, takut telat. Kata Moza sih, waktu kami semalam ngobrol, sekitar setengah jam dari sini Tan, tapi jaga2 aja takut macet” jawabku lagi, “Ya udah, kamu sarapan aja dulu, masih lama kok, belum juga jam 7” kata tanteku lagi sambil menyuruhku duduk disebelahnya.

Sambil menarik kursi, selintas mataku melihat kearah tanteku, duh belum mandi kok cakep banget sih, malah menunjukkan penampilan aslinya. Segar, putih, mulus, jelas terpancar dari wajahnya, namun yang bikin aku ingin menatapnya lama-lama adalah belahan dadanya itu, ampun mak, rasanya pengen nyomot aja, jadi inget kue apem yang dijual mpok Ros di ujung gang rumahku. Cepat2 aku alihkan pandanganku darinya, menatap ke arah meja makan. Daripada nanti si Dede bangun, trus pamitan masih ngejendol gede celana gw, mendingan gw tahan dulu deh.

Begitulah awal cerita aku mengenal keluarga tanteku itu, hari demi hari kulalui, semuanya terasa biasa, kami menjadi semakin akrab. Tante Mala sudah menganggap aku sebagai anaknya, dan anak-anak Tante Mala juga sudah menganggap aku sebagai kakak mereka. Tak terasa 3 bulan sudah berlalu, Om Mirza pun sudah akrab denganku, kadang kami ngobrol soal keluarga, pekerjaan, hobby, dan apapun yang dirasa enak untuk dijadikan bahan pembicaraan.
Beliau serta merta juga memintaku untuk menjaga keluarganya, maklum, kalau beliau sedang pergi untuk urusan bisnis kadang sampai beberapa minggu, dirumah ini hanya akulah laki-laki satu2nya.

Keakrabanku dengan Tante Mala layaknya sebagai anak dan ibu, tak sungkan beliau memintaku untuk menemani dan mengantarnya ke tempat yang dia inginkan, hanya untuk sekedar belanja, atau ke rumah teman beliau, arisan. Begitu pula dengan anak2 mereka, kadang kami ngobrol di ruang keluarga beramai-ramai, saling cekakak-cekikik, saling menggoda satu sama lain. Bisa dibilang keberadaanku dirumah itu juga menambah suasana baru bagi keluarga Tante Mala.

Pekerjaan yang kujalani banyak menuntut waktu dariku, kadang aku pulang larut untuk mengejar deadline pekerjaan klien. Kadang aku juga bisa pulang cepat apabila pekerjaanku telah selesai sebelum deadline. Waktuku lebih banyak dihabiskan di kantor, apabila libur atau weekend, aku lebih sering berada dirumah, sekedar membantu beberes rumah, atau memperbaiki sesuatu yang dirasa lebih baik yang mengerjakannya adalah seorang lelaki.

Hari Jumat, jam 1 siang , aku pulang cepat, siang itu memang terik sekali, panas menerpa, malas rasanya aku mikir untuk mengerjakan tugas yang diberikan kantor, walaupun di ruanganku menggunakan AC sepertinya tidak mampu untuk menghalangi panasnya udara.
Tiba dirumah, kulihat rumah dalam keadaan sepi, kulihat hanya satu mobil terparkir digarasi, mobil tanteku, oh ya perlu diketahui, bahwa dirumah ini mobil semuanya ada 4, satu mobil dipakai Omku, yang memang jarang ada, satu tanteku, satu untuk Moza, satu dipakai Mita, sedangkan Maya karena masih SMA belum dibelikan ayahnya, walaupun tampaknya dia sudah mahir menyetir mobil. Sedangkan aku sendiri ?, ya ngangkotlah !, emang lu kira gw siapa ?.. hehehe.. tau dirilah dikit.

aku masuk lewat pintu samping yang langsung menuju dapur, melewati pintu dapur, sebelah kanan adalah kamar Bi Iyem, pintu kamar tertutup rapat, aku menuju meja makan, menaruh tasku dan membuka tudung saji untuk melihat menu masakan hari ini. Hmm.. enak nih... sahutku dalam hati. Aku kembali melangkah ke dapur, mengambil piring dan minum, begitu berbalik hendak kembali ke meja makan, bi iyem telah berdiri didepanku, “Duh Den, kirain siapa, ngagetin bibi aja den” sahutnya sambil mengelus2 dada, “Kirain bibi kucing atau siapa, kok tumben den udah pulang ?” katanya lagi, “Iya bi, lagi males kerja nih, capek kerja mulu“ sahutku sambil tersenyum padanya. “Ya udah bi, saya makan dulu, bibi lanjutin aja istirahatnya, biar saya sendiri aja” kataku lagi.

Bi iyem mengiyakan, keliatannya dia lelah sekali, maklumlah dirumah ini hanya dia sendiri yang melayani segala kebutuhan majikannya. Sebelum aku melangkah kembali, sempat aku menanyakan kepadanya, kemana orang-orang penghuni rumah ini. “Ibu ada diatas Den, mungkin sedang tidur siang, Non Moza baru berangkat jam 12 tadi ke kampus, Non Mita dan Non Maya belum pulang sekolah den”. Jawabnya.

Biasa deh, si Mita belom pulang, palingan juga dia jalan ma cowok barunya, biasalah anak kuliah, kalo gak ke Mall yang nongkrong dirumah salah satu temannya, memang kulihat si Mita akhir2 ini semenjak pacaran dengan cowok barunya, pulang selalu telat, nanti begitu dimarahin ma Mamanya, alesannya ada aja, yang bilang pelajaran tambahanlah, ekskul, belajar bersama, dsb.

Maya lain lagi, dengan badannya yang bongsor itu, ditambah dengan hobinya main basket, alesannya latihan, karena mau ada class-meeting disekolahnya, sekaligus mo ada kejuaraan antar sekolah, dah makin sore aja dia pulangnya, sekarang tuh anak kayaknya lagi kecentilan, pasti dia lagi naksir ma salah satu temen sekolahnya. Hmm, kalo mamanya tau, pasti dia dimarahin abis2an, “belom boleh pacaran kalo belum 17”, kata mamanya.

Selesai makan, aku bermaksud untuk istirahat, lumayan hari masih panjang, mungkin aku bisa tidur sampe sore nanti, sambil membawa tas yang aku taruh dimeja tadi, aku menaiki tangga menuju ruang kamarku diatas. Hendak melewati kamar tante Mala, kulihat pintu kamar terbuka lebar, memang aku tahu, bahwa Tante Mala, apabila Om Mirza tidak ada dirumah, Tanteku selalu tidur dengan pintu kamar terbuka, dan selalu teve dalam keadaan menyala, tidak siang tidak malam, alasannya takut. Dan lagi jika dia tidur, selalu pulas, seolah2 lepas beban, jangankan digoyang2 untuk dibangunkan, apalagi baru sebentar tidurnya, ada gempa bumipun dia belum tentu kebangun, sambil cengengesan si Maya pernah mengomentarinya.

Ya ampun, tertegun aku menatap kedalam kamar tante Mala, kulihat dia tidur dalam keadaan tanpa baju alias bugil, gil, hanya selimut tipis yang menutupi sebagian badannya, memang dirumah ini semua kamar tidak menggunakan AC, ya maklumlah dikota B ini, udaranya cukup dingin sehingga jarang sekali rumah2 penduduk disini menggunakan pendingin ruangan. Apabila dimusim kemarau seperti saat ini, perbedaan suhu antara siang dan malam cukup besar, siang hari udara panas menyengat namun dimalam hari suhu udara sangat dingin dengan angin yang cukup kencang.

Kuketahui dari pembicaraan sebelum berangkat kerja, beliau pagi ini hendak mengikuti senam pagi massal dan dilanjutkan dengan kegiatan sosial bersama ibu-ibu dilingkungan RW sini. Mungkin beliau tadi lelah dan kegerahan, sehingga dengan suhu udara yang cukup panas ini, untuk menyegarkan badan kembali, beliau mandi, mungkin malas memakai baju karena takut gerah kembali, maka beliau memutuskan untuk rebahan dulu, namun kebablasan pules. Celakanya, mungkin ini adalah hari baikku atau memang sedang Tante Mala yang lagi apes, baru sekali ini aku melihat dia dalam keadaan polos, kalo sekedar melihat belahan, selangkangan beliau, mungkin itu adalah santapan harian aku, kadang memang aku suka, malah sering, membayangkan tubuh polos tanteku ini. Dan hari inilah tanpa diduga dan disangka apa yang selama ini hanya berada dalam angan2ku tergambar jelas dimataku.

Entah apa yang ada diotakku saat itu, pemandangan itu membuatku berdebar, didalam hati mungkin ada rasa takut yang menghinggapi, mengajak aku untuk segera pergi dari situ, takut tanteku terbangun dan melihat aku sedang menatapnya dalam kondisi demikian, dan ada rasa lain yang melarang aku untuk pergi, serta menyuruh aku untuk menikmati pemandangan yang jarang aku lihat ini.

Sesuatu didalam celanaku semakin lama semakin membesar dan tegang, berat rasanya kakiku untuk pergi meninggalkan keindahan ini. Tangan kiriku yang sedang memegang tas kerjaku secara reflek mengarahkan tas untuk menutupi dan tangan kananku yang bebas, tanpa diberi komando sepertinya menjadi katalis untuk membantu reaksi kimia yang terjadi, dengan mengelus-elus burungku ini.

Beberapa saat semua ini kubiarkan terjadi, seperti ada keengganan untuk menghentikannya, namun tanpa diduga, kulihat badan Tante Mala bergerak, secara reflek dalam keterkejutanku aku menghindar cepat, supaya aku tidak terlihat olehnya. Bergegas aku menuju kamarku, dengan langkah tanpa suara.

Kututup pintu rapat2, dengan hati berdebar, menunggu apa yang selanjutnya terjadi, semenit... dua menit... tidak ada suara ataupun langkah2 mendekat, aku menghela napas, memikirkan semua yang baru terjadi, hmm, jangan2 Tante Mala tahu aku mengintipnya ? atau dia tidak tahu, badannya bergerak hanya sekedar merubah posisi tidur ?. ada keinginanku untuk segera kembali ke ruangan Tante Mala dan melihat bagaimana situasi terakhir, kalo beliau masih tidur kan aku bisa menikmati keindahan itu lagi ?, tapi kalo beliau sudah bangun dan melihatku dalam kondisi demikian, bisa2 aku malu !. Tapi bagaimana dengan pemandangan indah disana yang aku sia-siakan untuk tidak melihatnya ? makin memikirkannya makin tegang kembali dedeku.

Tanpa diperintah, otakku mulai menerawang jauh, menghayalkan bagaimana aku tiba2 dipanggil oleh Tante Mala, kemudian Tante Mala menyuruhku masuk kekamarnya, menyuruh aku untuk tutup pintu dan menguncinya, kemudian dia menghampiriku yang masih tertegun melihatnya bugil, memelukku, menciumi bibirku bertubi2, membuka kemejaku secara kasar, memeloroti celana dalamku, meremas2 buah zakarku, memegang batang kemaluanku, menciumi serta mengulumnya, kemudian menarikku ke atas ranjang, dan memelas kepadaku untuk segera menyetubuhinya.

Dengan telentang diatas kasur, sambil memegang dan meremas kedua payudaranya yang besar dengan tangan kirinya berganti2, dibukanya pahanya lebar-lebar, memperlihatkan lobang kemaluannya yang begitu indah, dengan diatasnya ditumbuhi hutan yang lebat, meraba dan mengelus2nya dengan tangan kanannya, menatapku dengan pandangan mata sayu dan memintaku dengan sangat untuk memasukkan kemaluanku kedalam vaginanya.
Membayangkan bagaimana kemaluanku keluar masuk kedalam vaginanya, tanganku mulai mengurut, makin lama makin kencang, selang beberapa lama kemudian, aku melepaskan semua hasrat birahiku, memuntahkan lahar panas, demi menuntaskan keinginan yang terpendam.Lemas.CHAPTER 3 : GODAAN AWAL

Bangun setelah tidur siang, jam 7 malam, kudengar sayup2 ramai pembicaraan orang dibawah, malas aku untuk mandi, “nanti aja ah” pikirku. Kubasuh mukaku dan segera menuju ruang bawah, lengkap sudah semua, Tante Mala, dan anak-anaknya. Sang tante tampak sedang berbicara, sedangkan ketiga anaknya nampak cuek, pura2 mendengarkan namun mata tak lepas dari televisi.
Duh, jangan2 mereka sedang dimarahi nih, kalo aku turun kebawah, jangan2 keadaan makin runyam, bisa2 malah aku ikutan disemprot !. ragu aku untuk meneruskan langkah kakiku, niatku adalah berbalik kembali kekamar, namun baru aku menghentikan langkahku, mata tanteku memandang ke atas, memandang ke arah diriku.

“Fan, duh kamu, akhirnya bangun juga...., sini Fan “ Sapa Tanteku dan sambil melambai kearahku, mau tak mau aku bergerak menuruni tangga dan menghampirimya, berdebar hatiku, jangan2 aku disidang nih, gara2 peristiwa melihat penampakan tadi. “Fan, kamu antar Maya yah, dia katanya minta diantar ke toko buku, ada buku yang harus dibeli, karena ada tugas yang harus dikerjakan”, kata Tanteku kemudian. “Mau nyuruh Moza, dia bilang cape, baru pulang, Si Mita sama aja, banyak alesan, lagian si Maya, bukannya dari kemaren2 bilangnya, malah ngedadak gini, tadinya mau sama Tante, tapi kayaknya Tante kurang enak badan nih Fan, kmu mau kan ?” sambungnya lagi. “Iya Tante, boleh” jawabku, dalam hati aku bersyukur, bukan peristiwa tadi yang jadi pokok pembahasan. “Kamu pake mobil aja “ katanya lebih lanjut.

Tanpa mandi, aku segera berangkat mengantar Maya menuju toko buku, mulanya aku hendak mandi dulu, tapi Maya mendesakku supaya segera berangkat, “takut tutup tokonya” katanya, memang disini biasanya mall2 atau toko2 tutup jam 9 malam, dari rumah jam 7 lewat, perjalanan kesana memerlukan waktu satu jam. Masuk akal. Tapi dengan resiko aku tidak mengantarnya masuk, hanya menunggu dimobil, daripada nanti ada cewek ketemu disana terus ke-bau-an ma aku ? gak la yau !. mendingan nunggu di mobil sambil ngudud.

Selama perjalanan pergi, tidak banyak kami berbicara, mungkin karena aku juga masih mengantuk, nyawa belum lengkap sedangkan Maya juga masih Bete, mungkin karena capek ngerayu mama dan kakaknya, keliatan dari mimik mulutnya yang masih manyun.
Keluar dari toko buku jam 9 lewat, udah nunggunya lama, alesannya nyari bukunya susah, trus sempet2nya dia minta mampir ke temennya sebentar buat ngambil fotocopy tugas!, lah.. emang di sekolah ngapain aja neng ? jangan2 cuman cekakak cekikik doang. Sambil lirik2 cowok. Boro2 nyimak pelajaran !.

“Cieeee, barusan cowok kamu ya May ?, bilang aja kangen, mo ketemu, pake pura2 ngambil fotocopy segala !” godaku tatkala dia baru duduk disampingku, “Ih Aa, sapa juga yang punya cowok ?, gak kaleeee” sahutnya sambil mencubit pinggangku, namun kulihat dari raut wajahnya tampak tersenyum malu, “Iya juga gpp kok, gak bakal deh diaduin ma mama” kataku sambil mengedipkan mata. “Cerita-cerita dong ? rahasia dijamin deh”, kataku lagi, “ngambil fotocopy kok lama bener, jangan2 ngapa2in dulu nih di dalem !” godaku sambil ngakak. “Yee... mo tauuu aja deh “ jawabnya sambil memonyongkan mulutnya dan berusaha memalingkan mukanya ke kaca mobil disebelahnya, padahal kulihat gelap keadaan diluar sana, mo liat apaan ?.

“Ah sini coba, Aa periksa badan kamu, biar Aa percaya “, kataku lagi sambil menggamit dagunya yang menghadap jendela, agar berpaling kearahku, “Ih, Aa,,, Apaan sih ? ” katanya sambil berusaha mengelak dari gamitanku.
“Tuh kan.... hayooo” kataku lagi menggodanya. “Tuh, bibirnya kenapa tuh ?, kok kaya yang sariawan ?” sambil menunjuk ke bibirnya. Pancinganku kena, maya mulai memegang bibirnya, dan memeriksanya, aku tertawa sambil melengos menjalankan mobil. “Ich Aa dasar nih... godain aja... “ katanya sambil cemberut dan memukul pundakku.

“May, Aa laper nih, kita cari makanan dulu yuk ?” ajakku kepadanya, memang sedari siang tadi aku belum makan lagi, tak terasa perutku udah membunyikan genderang perang, cacing2 diperutku tampaknya sudah berteriak minta pasokan upeti. Kalo dulu waktu SMA aku memang dikenal dikelompokku atau gengku sebagai jarkem yang artinya “Jarang Keme” alias jarang makan, gengku ada belasan orang, terdiri dari siswa2 berbagai kelas yang membentuk kelompok tersebut tanpa sengaja tentunya. Kalo misalnya ada dari salah satu anak mendapat kabar bahwa dikelasnya ada yang berulang tahun maka artinya semua diundang, padahal kagak.....hehehe..!
Maka berbondong-bondonglah kami kesana, dengan membawa slogan “Pasukan Berani Malu”, dengan harapan adanya perbaikan gizi. Begitu sampai disana tanpa tedeng aling2 biasanya kami langsung bergerak menuju ke tempat dimana tersedianya makanan, walaupun tanpa ada petunjuk panah yang bertuliskan “Konsumsi”, biasanya daya penciuman kami cukup handal. Sampe2 ada beberapa anak yang menjuluki geng kami sebagai GPK, yang artinya Gerakan Pengacau Konsumsi. Ngucapin selamet ultah mah, ntar ajah…

Maya semula menolak ajakanku, katanya takut kemalaman dan nanti gak bisa menyelesaikann tugasnya, tapi akhirnya dia setuju juga karena mungkin gak tega ngeliat Aa-nya yang memasang tampang memelas dan seolah2 mau pingsan. Aku membelokkan mobil menuju suatu daerah tempat dimana terkenal akan pusat jajanan di kota B ini, dan biasanya buka 24 jam. Yang sebelumnya telah disepakati oleh Aku dan Maya. Tempat itu merupakan daerah terbuka, dengan parkir luas, sebetulnya tempat itu lebih tepat merupakan lapangan, dengan kumpulan pedagang2 jajanan kaki lima yang berjejer di tepinya. Dan biasanya ditempat itu pada salah satu sisinya selalu diramaikan dengan adanya panggung yang menyuguhkan aneka musik khas anak muda.

Setelah susah mencari parkir, akhirnya aku dapat juga tempat parkir walaupun agak mojok. Aku turun dari mobil setelah berpesan pada Maya untuk menunggu sebentar, berkeliling sejenak mencari makanan mana yang kira2 cocok untuk perutku malam ini. Setelah memesan makanan akupun kembali menuju tempat dimana mobilku terletak, kulihat Maya duduk di jok sebelah belakang kanan dimobil, akupun menghampirinya dan menyenderkan badanku disebelahnya sambil mataku mengikuti pandangan mata Maya ke arah panggung. Tak lama pedagang makanan yang menunya kupesan pun datang menghampiri kami, tapi ya ampun, sambil garuk2 kepala, aku bilang pada Maya bahwa aku lupa untuk memesan minumannya. “Ya udah, aa makan aja duluan, biar Maya aja yg pesen minuman”, katanya serta beranjak dari mobil dan pergi menuju tempat dimana yang berjualan minuman berada. Aku menggantikan duduk dimana ia semula duduk, Sambil menunggu Maya, aku makan dengan beringasnya (hehe.. laper banget !) sampai makananku habis.

Mungkin sekitar 5 menit setelah selesai makan, Maya yang kutunggu sejak tadi barulah nongol, dengan cengengesan dan pasang muka tak berdosa sebelum kutanya mengapa ia lama, dia sudah menjawabnya dengan berkata “Sorry A lama, tadi ketemu temen Maya disana, jadi ngobrol dulu deh.. “, “Yee,,,, dasar, bukannya balik dulu kesini, Aa seret nih…” kataku sambil bersungut dan mengambil minuman yang disodorkannya. “Sorry A.. sorry…, Aa kan cakep dan baek “, katanya lagi merayu agar aku gak marah. “Ya udah, kamu makan aja dulu, tuh makanannya ntar keburu dingin “. Kataku sambil menunjuk piring yang dibelakangku.

“Ya udah, sini“, katanya lagi. Mulanya aku hendak membalikkan badanku dan mengambilkan Maya makanannya, namun tiba2 dia sudah mendahuluiku dengan mengangsurkan tangannya, melewati celah antara badanku dengan jok bangku depan, meraih piringnya dan mengambilnya. kontan aku memiringkan kepalaku untuk menghindari benturan kepalaku dengan kepalanya, dan hasilnya adalah sikuku menyenggol payudaranya. Empuk pisan….
Seolah tak menyadari hal itu, dan aku juga pura-pura tak sadar akan hal itu, Maya tiba2 mengambil posisi ditengah2 kedua pahaku, “Geseran dikit A, maya juga mo makan sambil nonton” katanya lagi. Dengan reflek aku membuka celah antara kedua pahaku, tanpa dipersilahkan maya mengambil posisi duduk diantara celah kedua pahaku itu. Awww…

Sambil menyuap makanannya, matanya tak mau lepas dari panggung yang menyuguhkan band, matanya sesekali menunduk melihat kearah piring dan kemudian kembali mengarahkannya ke depan, tak peduli dengan keberadaanku. Aku yang semula acuh dengan keberadaannya, malah ia sering kusebut sebagai anak kecil, kolokan atau yang sejenisnya, tapi entah mengapa, mungkin karena posisinya yang duduk mepet denganku sehingga otomatis bokongnya merapat kearah dimana posisi dedeku mengorbit. Posisi tangan kananku adalah memegang botol minuman ringan yang masih tersisa lebih dari setengahnya, sedangkan tangan kiriku yang memang bebas, seolah didorong oleh rasa yang entah darimana datangnya, dan entah sejak kapan, melingkar di pinggang adik sepupuku ini.

Selesai ia makan, aku melepaskan tanganku yang melingkar dipinggangnya dan berpindah ke dengkulnya, hal ini jelas aku maksudkan apabila dia hendak beranjak dari duduknya yg seperti ini, tidak terlihat keinginanku untuk menahannya. Tapi bukannya dia beranjak bangun dia malah menaruh piringnya dibawah kakinya, otomatis membuat dia membungkuk, saat itulah tanganku yang tepat berada diujung pahanya, berada dalam himpitan, antara pahanya dan dadanya, kenyal dan keras.

Duh…hal ini jelas membuat otakku jadi miring, pikiran jadi melayang, membayangkan bagaimana rasanya, melingkarkan tanganku dipinggangnya, memeluknya erat, memasukkan tanganku kedalam kemejanya, menelusup diantara celah kancingnya terus memasuki BHnya, meremas gundukan bukit kembar yang baru memperlihatkan tanda kedewasaannya itu dan menikmati sensasinya untuk beberapa saat…., tak terasa hal ini membuat sesuatu di dalam celanaku menjadi mekar dan keras. namun kubuang jauh2 pikiran itu.

“May, balik yuk ah..,udah malem nih, nanti mama nyariin”, kataku seraya berusaha bangun dan memintanya untuk berdiri. “Yah Aa, lagi nanggung nih, lagunya bagus, sebentar lagi ya A… Sebentaaaar aja…” katanya kepadaku. “Ya udah sebentar lagi ya ? ” kataku menuruti kemauannya dan bergerak kebelakang mobil, bersender di pinggir bagasi belakang yang akhirnya juga mengarahkan badan dan kepalaku ke arah panggung.

“Duh.. lagunya enak, tapi yang nyanyi gak keliatan nih !“ gumamnya entah kepada siapa ditujukan, memang dari posisinya duduk tidak begitu jelas terlihat, penyanyi maupun personel di panggung tersebut. Aku menoleh kepadanya sekilas, nampak iya bangun dari tempat duduknya dan berjalan ke arahku, aku seolah tak perduli dan melihat kembali ke arah panggung yang saat itu diisi oleh seorang penyanyi yang menurutku cukup cantik untuk dilihat.
Maya berdiri tepat didepanku, sebentar menghalangi pandanganku kearah panggung, kemudian dia mundur merapat ke badanku, menyenderkan badannya dibadanku, dengan posisi membelakangiku, memandang kedepan kearah panggung.

Dalam posisi seperti itu, tanganku yang semula berada didada bersidakap, kontan merubah posisi, menjatuhkan lengan kesamping dan membiarkan punggung Maya bersandar bebas didadaku, disusul kemudian dengan pantat Maya yang bersandar tepat didepan kemaluanku.
Naluri kelakianku laksana dibangunkan, sesuatu didalam celanaku yang beberapa menit lalu berusaha untuk diam menetralisir keadaan, berbalik bangkit kembali. Terhenyak aku menikmati sensasi yang datang tiba-tiba, tanpa disadari tanganku yang berada disamping, bergerak untuk menyambut keadaan tersebut, merengkuh badan Maya dengan memeluk mengelilingi pinggangnya.

Sepulang kerja tadi aku memang belum mengganti pakaian kerjaku, jelas pada saat itu aku masih memakai celana panjang katun, yang biasanya aku pakai untuk kerja. Begitu juga dengan Maya, saat itu dia mengenakan kemeja jeans dengan celana pendek jeans ketat pasangannya, pas. Otakku yang pada saat itu mungkin sedang error, atau memang ada sensasi lain, kurasakan kemaluanku seolah tepat berada dibelahan pantatnya, menyeruak mencari penetrasi lebih jauh.
Posisi kami parkir memang pada saat itu berada dipojok, sehingga jarang ada orang lalu lalang dekat kami, didepan kami ada mobil diparkir sejajar dengan mobil kami, nampaknya kosong, mungkin penumpangnya turun semua untuk menyantap hidangan disalah satu tenda makan disitu, apa peduliku.

Dipanggung terdengar jelas sang penyanyi menyanyikan lagu “Eternal Flame”nya The Bangles, yang menambah suasana semakin menjadi, entahlah. Aku semakin terhanyut, pelukanku terhadap Maya semakin kupererat, entah disadari atau tidak, Maya malah merebahkan kepalanya disamping kepalaku, bersandar pada bahuku, membuat jenjang lehernya terbuka, menunduk sedikit saja, bibirku pasti mengenai lehernya.

Pergerakan demikian jelas seolah mengundangku ingin menikmatinya lebih jauh, tanganku yang melilit pinggang dan perutnya, bergerak lebih keatas, punggung lenganku menyentuh bagian bawah payudaranya, tanganku bagaikan papan melintang yang bertugas menyangga sang payudara agar tak terjatuh. Maya seolah tak peduli dengan reaksiku, dia nampak serius menyimak lagu yang dibawakan penyanyi dipanggung itu, aku sendiri semakin tak perduli, pikiranku hanya satu, bagaimana menikmati sensasi ini, hingga terpuaskan.

Pantatku bergoyang seolah turut menikmati lagu yang dibawakan sang penyanyi tersebut, padahal kemaluanku berdenyut keras, mencari sensasi lain yang lebih nikmat, dalam pikiranku seakan Maya ikut menikmati sensasi yang kuberikan, ikut menggoyangkan pantatnya yang bulat dan besar, mundur kebelakang, memberikan lehernya untuk kucium dan mengarahkan tanganku untuk bergerak keatas menyentuh payudaranya yang ranum, semakin membesar dan mengeras serta memintaku untuk meremasnya. Maya seolah mengerti akan keinginanku, diraihnya pantatku dengan lengannya, menariknya dari belakang seolah menyuruhku untuk menempelkannya lebih rapat pada belahan pantatnya.

Entah apa yang dirasakan olehnya, fantasi liar yang mungkin telah kuberikan padanya seolah menghanyutkan dirinya, melirik mataku dengan pandangan sayu, antara menyuruhku terus untuk melanjutkan apa yang telah kumulai atau memintaku berhenti. Suara intermezo MC dipanggung seakan menyadarkanku atas apa yang terjadi, menghela napas yang tertahan, melepaskan semua napsu birahi yang menyengatku. Melepaskan pelukanku terhadapnya.

“May, lagunya sudah habis tuh, kita pulang yuk ?” kataku kepadanya.
Maya yang sepertinya enggan, namun menyadari bahwa hari telah larut, melangkahkan menjauhiku berputar menuju pintu depan kiri mobil, sekilas aku memandang sosok wanita muda bongsor dengan tubuh yang baru mekar ini, membuka pintu dan masuk kedalam mobil. Aku mengikutinya membuka pintu kiri mobil, duduk, menarik napas dalam-dalam dan melepaskannya sekaligus, menyalakan mobil, menekan gas serta mengarahkannya kembali kerumah.

Tak ada percakapan yang terjadi didalam perjalanan kami pulang, aku seolah tak berani memandang gadis ini, segala pikiran berkecamuk dalam otakku, mengharapkan bahwa semua yang baru saja terjadi tidaklah benar2 terjadi, sesekali aku melirik Maya, pandangan matanya menghadap kaca disampingnya melihat kegelapan, sesekali mengikuti arah lampu yang kulewati, seolah2 ingin melupakan apa yang terjadi.

Tiba di depan rumah, pas didepan gerbang, aku hendak menyuruhnya turun untuk membuka pintu gerbang, namun kulihat matanya terpejam. Dengan terpaksa aku turun untuk mendorong pintu gerbang, memasukkan mobil ke garasi, membangunkannya, memberitahukan bahwa telah sampai dirumah.

Maya terbangun, mengucek-ngucek matanya, membuka pintu mobil, terus melangkah gontai menyusuri pintu samping menuju keatas ke kamarnya. Melanjutkan tidur, bukannya ngerjain tugas.

CHAPTER 4 : KUSETUBUHI TANTE MALA


Memasuki rumah, kuarahkan pandanganku ke arah dalam, ruang keluarga nampak sepi, lampu tengah yang biasanya terang nampak telah dimatikan, hanya lampu yang menempel didinding yang hanya berkekuatan 5 watt, cukup untuk menuntun langkahku agar tak berbenturan dengan sisi meja. Kutaruh kunci mobil diatas buffet tempat dimana biasanya kunci2 berada, melangkah bergegas menuju tangga, menapakinya menuju ruang atas dimana kamarku berada, kulirik jam didinding ruang keluarga, jam 11 kurang 5 menit.

Tampak kamar tidur Tante Mala masih terang benderang, pintu terbuka lebar, ragu aku untuk melangkah melewatinya. Namun mau tak mau aku pasti melewatinya, melangkah aku dengan suara keras, berpura-pura mengeluarkan bunyi batuk pelan, mengharapkan Tante Mala mendengar kedatanganku, sehingga dia dapat bersiap apabila mengetahui keberadaanku. Siap apabila keadaannya tidak menguntungkannya, yang memberikan santapan kepada mataku, untuk segera membetulkannya.

“Fan, kok baru pulang ?, memang tadi mampir kemana dulu ?” terdengar suara Tante Mala seakan menghentikan langkahku ketika tepat melewati pintu kamarnya. Sejenak aku tertegun, mengarahkan badan menghadap pintu kamar, menatap ke arah sumber suara tadi. Kulihat Tante Mala duduk didepan meja rias, menghadap kaca, menyampingi diriku, memoles muka dengan kapas. Mengenakan baju tidur pendek warna putihnya, menampakkan keseksian seorang wanita dewasa yang mempesona.

Kaki kanannya diangkat, telapak kakinya ditaruhnya dibawah paha kirinya, seperti layaknya orang duduk bersila sebelah. Hal inilah yang membuat aku agak tercekat, dengan posisi seperti itu, baju tidur pendeknya jelas tidak dapat menutupi paha kanannya yang terlihat mulus, putih, dengan ditumbuhi bulu-bulu halus, jangankan mengelusnya, memandangnyapun membuat orang terangsang. Tangan kirinya diangkat memegang rambut panjangnya, agar tak menghalanginya memoles wajahnya itu.

Agak tergagap aku mencoba menjawab pertanyaannya, “Tadi abis dari toko buku, ngantar Mala ke tempat temennya dulu Tan, katanya ambil fotocopy, terus singgah makan dulu “ sahutku pelan sambil mencoba tersenyum, “Oh, ya udah, kirain kamu memang lama nunggu Mala, soalnya kebiasaan itu anak, kalo sudah pergi suka lupa waktu “, kata Tanteku melanjutkan dan tanpa melihat kepada diriku, “bener kamu sudah makan ?” katanya lagi. Aku mengangguk cepat, seolah ingin menyegerakan percakapan ini, padahal dalam hati ingin sekali aku menatap lebih lama pemandangan indah di depan mataku ini.

Kuarahkan kembali mataku kepadanya, kelihat tangan kirinya diturunkan, dan beliau mengangkat tangan kanannya untuk memegang rambutnya. Makin tertegun aku melihatnya, dari pintu dimana aku berdiri, kurang lebih 2 meter jaraknya dengan tante Mala duduk, terlihat jelas dari lubang lengan baju tidurnya, kuperhatikan lebih jelas, terlihat disana ketiak yang bersih tanpa ada bulu-bulu yang menghinggapinya, sisi kanan bagian payudaranya terlihat, menggantung anggun, tampak masih kencang dan menggairahkan.

Ada keinginan dari hatiku untuk segera berlalu dari situ, menepiskan segala pikiran-pikiran miring dari benakku, mengenyahkannya dari sebagian otakku. “Tan, kirain udah pulas, kok belum tidur ?” terlontar kata2 itu tanpa aku sadari, seolah terucap begitu saja, tanpa adanya perintah dari otakku. “Belum Fan... iya nih, tante belum ngantuk, padahal tadi siang memang capek banget !, lagian Tante Agak pusing nih” kata Tante Mala menyahuti pertanyaanku. “Mungkin Tante masuk Angin” kataku lagi, “Atau Tante tadi tidur siang kebanyakan kali, jadi belum ngantuk !”...... Dessss.. kalimat itu meluncur begitu saja dari mulutku, terhenyak aku begitu menyadari kata2 yang aku ucapkan barusan, Ya ampun, kok aku gak nyadar sih ?, dengan berkata begitu kan berarti aku mengingatkannya bahwa aku tadi siang melihatnya tidur tanpa baju !, menyaksikan kemolekan tubuhnya yang tergeletak di ranjang tanpa busana !. tanpa kusadari raut mukaku berubah semu, menunduk malu.

Untunglah Tanteku sepertinya tak melihat perubahan pada warna mukaku, tak melihat kearah tingkahku yang serba salah, “Iya kali Fan, sepertinya badan Tante agak pegal-pegal nih, agak ngilu” Jawab tante Mala kemudian, “Fan nanti tolong ambilkan Tante Obat ya ? Dibawah, didalam kotak obat, sekalian bawakan minyak gosoknya” Sahut Tanteku sambil berhenti mengusap wajahnya, menaruh kapas yang dipegangnya dalam bak sampah warna biru muda serta melihat kearahku, “Tapi lebih baik kamu ganti baju dulu gih sana, atau kamu mungkin mau mandi dulu “ katanya lebih lanjut.

“Iya tante, kayaknya saya mo mandi dulu, biar segar ” kataku lagi. Aku segera berlalu meninggalkannya, bergegas kekamarku, Mengambil handuk, dan segera memasuki kamar mandi.
Cuaca dingin malam hari tak begitu kurasakan, ditutupi oleh air hangat yang mengalir melalui pipa kran air kamar mandi. Sambil mengguyur badanku, pikiranku melayang mengingat-ngingat kejadian hari ini, “Duh, untung aku gak dimarahinya”, batinku berkata.

Selesai mandi, menggunakan seragam favorit tidurku, kaos buntung dan celana pendek hawai belel, aku bergegas keluar kamar, kedua kamar anak2 lampunya telah padam, menandakan bahwa penghuninya telah tertidur pulas. Melangkah pelan, sekilas kulihat Tante Mala sedang tidur2an dengan dada tertelungkup menghimpit bantal, ruangannya yang semula terang benderang dengan lampu utama, kini berganti dengan lampu tidur yang agak lebih redup, matanya menatap televisi yang berada didepan ranjangnya. Kulewati kamarnya dengan langkah cepat, menuruni tangga, mengarah ke dapur, menuju salah satu sisi dinding dimana biasanya kotak obat terletak. Setelah mencari beberapa saat, akhirnya aku mendapatkan obat yang dimaksud oleh Tante Mala, kembali kakiku melangkah menuju ruang atas.

Keketuk perlahan pintu kamar Tante Mala, “Tan, ini obat dan minyak gosoknya !” kataku sambil mengangsurkan benda yang kumaksud. Kulihat raut muka Tante Mala agak pucat, matanya agak sayu, berusaha bangkit. Dari posisinya yang tertelungkup, mengangkat badannya dengan mendorong kuat ranjang dibawahnya dengan tangannya, layaknya bayi yang berusaha merangkak. Namun saat itulah pemandangan yang benar2 indah terlihat, dengan bajunya yang berbelahan dada rendah, terlihat dari tempatku berdiri diseberang ranjangnya, dua buah bukit kembar menggantung indah, tanpa ada penghalang apapun, menghampiriku, menjuntai elok pada dada putih mulus pemiliknya.

“Duh, Fan, akhirnya, kamu datang juga, makasih Fan, Tante udah gak tahan nih, pusing banget,....tolong sekalian ambilkan minum tante di meja itu ya Fan” Kata Tante Mala sambil meraih obat yang kusodorkan serta menunjuk ke sebuah meja dimana terdapat gelas berisi air putih berada. Aku segera mengambilkan gelas yang dimaksudkannya, kembali menyodorkannya kepada tanteku yang langsung meminumnya.

Obat yang kuberikan, sepertinya adalah obat flu, sempat tadi kuperhatikan, kandungan didalamnya yang berisi paracetamol 500 Mg dan campuran lainnya. Kaget juga aku melihat Tante Mala minum obat tersebut, karena kuperhatikan beliau minum obat tersebut sekaligus 2 butir, itu terlihat dari sisa strip obat yang disodorkan kepadaku, tadi kulihat satu strip berisi 4 tablet, tapi kok sekarang tinggal 2 ?. “Tan, kok minumnya sekali 2, emangnya Tante gak takut ? kan kalo dosisnya berlebihan dapat menyebabkan kerusakan hati Tan ?” kataku sok tahu, padahal emang iya, suka aku baca kok dipetunjuk2 pemakaian obat, di dinding apotik, kalo lagi nunggu nebus obat (kok ditebus ? emang obat kita diculik trus apotekernya minta tebusan?), dan disebelahnya ada cewek cakep, kali aja bisa buat bahan modal kenalan.....pura2 serius baca itu tulisan, pasang mimik muka lagi mikir, pura2 mundur terus nyenggol tuh cewek, minta maaf dengan muka menyesal, trus ngajak kenalan deh....hehe..

“Gapapa Fan, udah biasa kok, kadang kalo cuma minum satu, suka gak berasa, soalnya Tante pusing banget nih !” kata Tanteku menjawab. “Oh ya udah, Tante tidurin aja, istirahat, mungkin besok bisa lebih segar” Kataku lagi dan bermaksud untuk keluar dan kembali ke kamarku. “Hmmm ... Fan, Tante bisa minta tolong sekali lagi gak ?”, berkata Tante Mala seolah mencegahku untuk keluar kamarnya begitu aku hendak berbalik melangkah. “Iya Tante, Boleh “ jawabku lagi sambil menengok kembali ke arahnya.
“Kamu sudah ngantuk belum ?” tanyanya lagi, “Tolong pijitin Tante dong Fan ?, kepala Tante pusing banget nih !, Mau ya ? soalnya tadi Tante mau nyuruh bi Iyem, dia udah pules, keliatannya dia capek sekali “, belum sempat aku menjawabnya, dia sudah menimpalinya lagi. Aku rasa ini adalah permintaan tegas yang lebih tepat dikatakan perintah halus, bukan merupakan suatu pertanyaan dimana yang bersangkutan bisa menjawabnya dengan kata “Tidak”.

Entah apa yang ada didalam pikiranku, sepertinya semuanya menjadi “Blank”, ada rasa keengganan untuk melakukannya, disisi lain ada pula rasa tidak enak untuk menolaknya. Enggan, karena biar bagaimanapun dia adalah seorang wanita yang bukan muhrimku, untuk memasuki kamarnya saja, sesungguhnya aku merasa sungkan. Kalo memang tidak terlalu penting, biasanya aku hanya sampai batas pintu kamarnya saja, kecuali ada orang lain didalam kamar tersebut yang kupikir dengan adanya orang ketiga, maka tidak akan menjadi fitnah diantara kami.

Tapi kali ini beda, saat ini didalam kamar hanya ada aku dan Tante Mala berdua, tidak ada orang lain di rumah ini yang masih dalam keadaan terjaga, haruskah aku membangunkan salah satu dari mereka untuk menjadi orang ketiga, sehingga dapat mencegah timbulnya fitnah ?. ataukah aku harus menolak permintaannya ? tapi dengan alasan apa ? tegakah aku menolaknya ?, sementara didepanku ada seorang wanita yang tampak terlihat menahan sakit memintaku menolongnya. Bukankah selama ini aku tinggal dirumahnya tanpa harus membayar apapun ?, Apa imbal balikku kepadanya ?, padahal ia hanya meminta kepadaku sekedar memijitnya ?.

“Ya udah tante, sini saya pijitin, tapi saya gak terlalu bisa mijit, kalo sekedar mijit biasa aja mungkin saya bisa Tan “ kataku meluncur begitu saja, dan kembali menghampiri sisi ranjang tempat tidurnya. Mulanya aku berpikir dia akan beringsut kesebelah tepi ranjang dimana aku berdiri, duduk diranjang, sementara aku memijit kepalanya sambil berdiri. Yang ada dibenakku adalah, bahwa Tante Mala saat ini sedang tidak enak badan, kepalanya pusing, jadi yang minta dipijit adalah kepalanya, bukan yang lainnya.

Namun yang terjadi adalah, bahwa Tante Mala saat itu tidak beringsut menggeserkan badannya menghampiriku, tapi hanya duduk berputar membelakangiku menghadap kaca riasnya. Hal ini tentu saja membingungkanku, bagaimana aku harus memijitnya ? sedangkan tanganku saja tidak sampai !. “Kamu naek aja ke tempat tidur Fan”, berkata Tante Mala sambil melirik kearahku seolah mengerti akan kebimbanganku. Setengah ragu aku mengangkat kakiku, menaiki ranjangnya dan seolah berjalan dengan kedua dengkulku menghampirinya.

Aku segera melakukan pijitan-pijitan halus dikepalanya, seperti yang sering dilakukan tetanggaku. Dalam posisi seperti ini, jelas agar dapat menggapai seluruh bagian kepala Tante Mala, aku harus bertumpu kepada kedua dengkulku (ini nih kali ya, yang dibilang modal dengkul !), aku memang kerap melihat tetanggaku melakukan adegan seperti ini (adegan ? emang syuting ?), kalo pagi menjelang siang, saat tetanggaku pulang dari “dinas malam”, ia sering mengatakan ini pada semua orang, biar keren katanya, padahal kerjanya cuma jadi hansip yang emang tugasnya jaga malam, palingan jaga siang kalo lagi pas ada warga yang hajatan aja, ntu juga kalo disediain kopi ma dikasih uang jaga, kalo enggak mendingan dia ngilang, alesan ada acara keluarga, atau badan lagi meriang !.
Ia suka minta tolong pada tetanggaku yang lainnya untuk memijitnya, asal ada bungkusan rokok (mo isi tinggal sebatang kek !) dan ada piring gorengan (kadang tinggal minyaknya doang !) tergeletak didepannya, pasti mau !. Biasanya kalo lagi begini suka banyak yang ikutan nimbrung, dengan alasan turut berbela sungkawa atas masuk anginnya sang hansip padahal pengen ikutan nyicip !. (jangan ketawa ato senyum, ntar mupenglo ilang !!!)

Kembali ke permasalahan mijit.

Aku berada tepat dibelakang Tante Mala, kulakukan pijitan-pijitan mulai dari tengah-tengah antara alisnya, biasanya manjur untuk orang yang sakit kepala, terus kebagian kening, pijitan-pijitan ini dilakukan dengan menekan-nekan jari dan seolah2 membuat lingkaran dengan melakukan putaran2 kecil. Kemudian berlanjut kesebelah pinggir diatas kuping, terus keatas dan kebelakang kepala, diurut secara halus searah. Ini dilakukan berulang-ulang. (kok jadi ngajarin mijit ?, ya udah untuk anda yang berminat serius mengenai ilmu permijitan, silahkan mencari guru yang tepat, atau anda dapat membaca gratis disudut2 toko buku mengenai masalah permijitan ini, dengan catatan bukunya tidak diplastikin !)

Dengan posisi berdiri diatas lutut, otomatis membuat aku lebih tinggi diatas Tante Mala, posisi kepala Tante Mala tepat dibawah daguku. Dari posisi ini, aku dapat melihat kesegala arah, tanpa sengaja, sambil memijit aku melihat ke arah depan tepat ke arah kaca rias. Kulihat kearah cermin sana, seraut wajah polos diriku sedang menatap, tersipu malu. Tanpa sengaja pandangan mataku turun kebawah, kulihat dibelakang cermin, tampak Tante Mala, dengan wajah cantik, seksi dengan rambut terurai, menunduk dengan mata sayu, sesekali terpejam, menikmati pijitanku.

Mataku sesaat terpaku, hentikan pijitan sejenak, dicermin sana tak sengaja pandanganku mengarah kebawah wajah Tante Mala, terlihat belahan dada tante mala, dengan baju tidur yang berdada rendah, begitu indah, memperlihatkan hampir seluruh garis yang membelah dadanya, bagaikan sungai yang mengalir membelah dua gunung kembar. Terlihat mungkin hampir dua pertiga dari bagian dadanya, bergayut mantap. Sesaat terpana menatap pemandangan seperti ini, berusaha mengalihkan pandangan, aku menunduk. Dan justru itu malah membuat pikiranku semakin melenceng.
Dengan baju tidur yang hanya mengandalkan 2 cm kain yang bergantung pada kiri kanan pundaknya, dengan posisi kepalaku disebelah kanan atas kepalanya, dalam tundukku, pandanganku malah melihat secara langsung dari atas kedua payudara indah itu !. Tampak didepan mataku, beberapa jengkal disana, bergayut indah, sepasang payudara, dengan dilapisi kulit nan putih, menanjak terjal, membuktikan bahwa sepasang payudara ini, masih kencang, walaupun tanpa ada penyangga, mampu berdiri kokoh. Terlihat relung jurang yang cukup dalam diantaranya, menandakan betapa besar dan megahnya 2 buah bukit kembar ini.
Tak berani aku memandangnya lama-lama, memalingkan pandangan berusaha menjauhkan pikiran kotor dari benakku, dan melanjutkan pijitan2. Untuk menghindari hal tersebut aku mulai mendudukkan pantatku diatas betisku, aku mulai melakukan pijitan2 kebagian leher dan bagian punggung Tante Mala.

Tapi entahlah, pikiran2 tersebut bukannya menghilang dari otakku, malah makin menguasaiku semakin jauh. Rasa penasaran yang menghinggapiku membuatku serasa ingin melihatnya lagi, dan terus ingin lagi. Sehingga bagaikan seorang pemijat profesional, sering aku melakukan adegan yang sama berulang2, layaknya ada sutradara yang menyuruhku.

Sesuatu yang berada di dalam celana pendek hawai tipis, belel, ini mulai terusik. Seperti ular yang terbangun dari tidurnya, yang semula diam, damai, tenang, tentrem kerto raharjo, mulai menggeliat waspada.
Entah darimana datangnya keinginan ini, dalam posisiku yang sedang memijit, kadang untuk memijit bagian depan kepala, tak sengaja badanku miring untuk menggapainya, awalnya tak sengaja Dedeku ini menekan punggung sang Tante. Ada sensasi yang kurasakan saat adanya tekanan dari badanku ke punggung Tante Mala. Kadang seperti ada yang menuntunku, membimbing tanganku untuk meraba bagian pinggir dada Tante Mala, beberapa cm dibawah ketiaknya, kadang lebih maju, hanya sekedar untuk meraba selintas. Kadang aku memijit bagian pundaknya dengan mengarahkan pijitan ke arah dadanya, membelai halus kaki gunung seolah memijit bagian itu merupakan keharusan, agar tak salah urat.

Hal ini terus terjadi berulang-ulang, dan jelas hal ini makin membuat sang ular menjadi terusik, sehingga semakin membesar tak terkendali. Menit demi menit berlalu, entah beberapa kali dalam beberapa menit kulakukan hal itu, aku sendiri antara sadar dan tak sadar mengulanginya, entah apakah dalam terpejamnya, Tante Mala menyadari akan hal itu, hingga.....
“Fan, cukup Fan, enak sekali pijitan kamu ”, katanya sambil menggerakkan tubuhnya menjauh dariku. Dengan gugup aku melepaskan kedua tanganku dari pundaknya, ada rasa takut melingkupiku, takut bahwa Tante Mala menyadari ada rasa tak nyaman akibat adanya tekanan dan gesekan dari dedeku dipunggungnya, dan berniat menyudahinya. Aku juga takut, karena dengan memiringkan tubuh menyampingiku dan menengokan muka kearahku, dedeku yang masih tegang mengakibatkan adanya tonjolan di celanaku dapat terlihat olehnya, salah tingkah aku jadinya. Untunglah aku menyadari hal itu, hingga dengan segera aku menurunkan tanganku dan menyilangkannya didepan lututku seakan2 menutupi adanya tonjolan dimataku.

“Fan, sekalian ya Fan, tolong kamu pijitin kaki dan badan tante, pegal banget Fan, gpp kan Fan ?” Duh, untunglah tante Mala tidak menyadari keadaanku, kalo seandainya dia tau apa yang kulakukan mungkin aku didampratnya, ditempelengnya aku, dan berteriak sambil menunjuk ke pintu, “Keluar, keluar kamu.. dasar anak kurang ajar !” serta merta mengusirku, menyuruhku pergi malam itu juga, duh, untung... untung.. batinku bersyukur....

Dalam kegugupanku aku hanya menjawab singkat “Ya Tante, Gpp”, sambil menatap sekilas kearah matanya, tampak sayu, mungkin beliau sudah ngantuk. “Tante sambil rebahan ya Fan, itu minyak gosoknya yang tadi kamu bawa, pake aja biar mijitnya licin, gak seret” sahutnya lagi sambil menunjuk ke arah sisi ranjang, serta membalikkan badannya dan langsung berbaring.

Aku menengok ke arah tempat minyak gosok itu berada, bergerak menggeser badanku untuk meraihnya, dan berbalik kembali ke arah ujung kaki Tante Mala berada. Tertegun aku, seakan melihat sesuatu yang mengherankanku, betapa tidak, didepanku saat ini, terbaring menelungkup sesosok tubuh, putih mulus, dengan kaki jenjang, layaknya kaki peragawati, meminta untuk dipegang, dibelai, disentuh halus. Dengan baju tidur yang menurutku terlalu pendek, seharusnya ada pasangannya, entah itu celana pendek atau panjang agar dapat menutupi bagian bawahnya.
Pakaian yang berfungsi menutupi tubuh putih mulus yang berada didepanku ini, kulihat kemampuannya hanya setengahnya saja, dari sebatas punggung, bawah ketiak, hanya sampai kurang lebih setelapak tangan saja dari pangkal pahanya. Seandainya saja aku menundukkan kepalaku sedikit saja, maka belahan pantatnya pasti terlihat jelas.

Aku beringsut mendekatinya, duduk bersimpuh disebelahnya, dekat lututnya, mengoleskan minyak gosok ditanganku, mulai memijit kaki kirinya, bagian telapak disusul kemudian betisnya, entah beberapa lama, kulihat Tante Mala tampak memiringkan wajahnya diatas bantal, dengan mata terpejam. Pijitanku berpindah ke kaki kanannya, sama seperti tadi, telapak tangan kemudian disusul betisnya hingga ke lutut. “Terus Fan, keatas” terdengar lirih suara Tante Mala, aku tidak menjawabnya, hanya mengiyakannya dalam hati, pada saat itu entah apa yang berada didalam otakku.

Aku meneruskan pijitanku ke atas, dari lututnya hanya sampai batas bawah baju tidurnya, paha putih mulus didepanku, yang beberapa bulan ini selalu kulihat, hingga kadang aku membayangkan untuk menyentuh dan membelainya, kini berada didepanku, tanpa kumintapun aku disuruh untuk memegangnya bahkan meremas-remasnya. Kesentuh paha jenjang yang menurutku cukup kencang, karena memang selalu dijaga oleh sang empunya dengan selalu berolah raga, semakin hanyut aku dengan terus menyentuhnya.

Sifat manusia memang tidak pernah merasa puas, ketika kita melihat postur tubuh bagus, sintal, proporsional dengan pakaian lengkap menutupi seluruh tubuh, kita selalu membayangkan bagaimana bila tubuh yang tertutup ini sedikit terbuka, sehingga timbul rasa penasaran kita. Namun apabila kita sedikit saja melihat tubuh terbuka, maka kita akan membayangkan seandainya saja tubuh itu terbuka semua. Begitu juga dengan aku, saat melihat tubuh mulus tanteku, aku membayangkan seandainya saja aku dapat menyentuhnya. Dan kini aku dapat menyentuhnya, merabanya, sampai sebatas paha, sudah puaskah aku ?

Jawabnya “Tidak” saudara-saudaraku, entah setan mana yang merasuk didalam diriku, ketika aku memijit dan mengurut paha Tante Mala, ada pikiran lain didalam diriku untuk melihat dan merabanya lebih jauh.
Kadang apabila kita dalam situasi bagaimanapun, otak kita masih sempat berpikir, segala cara dan taktik jitu kita pikirkan untuk memenangkan pertarungan, betapapun terjepitnya posisi kita. Itu yang aku alami, dalam rasa khawatir dan sedikit rasa takut, berpikir keras bagaimana caranya agar dapat menikmati “lebih”.

Kupandang sejenak wajah Tante Mala, dalam posisi kepala miring kekiri, dengan mata terpejam, kudengar dengkur halus. Otakku terus berpikir, apakah Tante Mala benar sudah tertidur ? Pulaskah tidurnya ? ataukah beliau hanya tidur2 ayam saja, memejamkan mata sambil menikmati pijatanku ?.... kucari jawabannya.

Otak iblisku mulai berjalan, kuangkat telapak kaki kirinya perlahan, kupijit buku jarinya dengan pelan dan semakin lama semakin keras, seolah mengikuti gaya pijit refleksi. Tidak ada reaksi dari Tante Mala, tidak ada erangan mengaduh ataupun jeritan kecil, hanya ada gerakan dari kakinya menyentak, reaksi reflek biasa. Kuangkat sedikit kaki kiri tersebut hingga sebagian pahanya ikut terangkat, kuletakkan menjauh dari kaki kanan, sehingga otomatis didepanku tergeletak sesosok tubuh tertelungkup dengan paha kencang, putih, mulus yang terbuka lebar !.

Dalam posisi seperti itu, aku beringsut mendudukkan diriku, ditengah, tepat diantara kedua lututnya. Kubalurkan minyak gosok dipermukaan paha nan mulus kencang itu, kulakukan pijitan2 halus dengan kedua tanganku, memijit kedua pahanya secara bersamaan, kudorong pelan menyusuri permukaannya. Dengan sengaja gerakan pijatanku makin kuarahkan keatas, mendorong pelan dan berulang2, centi demi centi baju tidur yang menutupi tubuh Tante Mala makin terdorong keatas, hingga ujung bawah baju tidur itu hanya menutupi bagian pantatnya setengah saja !.

Ada keheranan bercampur terkejut kurasakan, kulihat dan kuperhatikan, bahwa pantat Tante Mala yang putih, bulat, munjung itu, seperti layaknya bongkahan batu pualam. Dan yang menambah keterkejutanku adalah bahwa saat itu beliau tidak menggunakan celana dalam !!!.

Mulanya aku tidak menyadarinya, dalam benakku sama sekali tidak ada pikiran ataupun bayangan bahwa Tante Mala tidak menggunakan celana dalam. Terdiam aku untuk sesaat, kemudian meneruskan apa yang telah kulakukan tadi, ada rasa kekhawatiran seandainya aku menghentikan pijatanku malah itu justru membuat Tante mala terbangun.
Kelanjutkan proses pemijatan, dengan kedua tanganku, kuraba dan kudorong urat2 pada paha bagian belakang, mulai dari lutut hingga pantat seolah2 meluruskan urat2 yang kaku, ketika pijatanku mencapai belakang pantatnya kuremas-remas dan kutekan, ada sensasi yang kurasakan.
Kulakukan itu terus berulang-ulang, pikiranku makin jauh melayang.

Kuperhatikan lebih seksama, Tante Mala tampak terpejam, mungkin 15 menit telah berlalu dari saat aku mulai melakukan pijitan. Tampak beliau benar-benar tidur pulas, tapi biar bagaimanapun aku harus memastikannya. Kutekan pantatnya dengan kedua tanganku serta kuremas Tidak ada reaksi, tidak ada suara yang keluar dari mulutnya, untuk menyuruhku berhenti atau memintaku memijatnya didaerah tertentu, hanya kudengar suara dengkur halus diiringi dengan bunyi napas teratur.

Lagi, ada keinginan untuk mencari sensasi yang “lebih”, aku bangun, meletakkan kaki kananku disamping paha kanannya dan meletakkan kaki kiriku disamping kaki kirinya, seolah2 aku mengangkanginya, selanjutnya aku duduk diatas pantatnya, sedikit kebawah, sehingga memposisikan dedeku tepat menempel dibawah garis pantatnya, memajukan badanku seakan-akan kulakukan pijitan untuk menggapai punggung Tante Mala.

Kulakukan pijitan2 namun lebih tepat dikatakan, remasan-remasan pada pantat dan punggung Tante Mala, kurasakan dan kunikmati sensasi ini. Dedeku semakin membesar, mengeras tak terkendali, aku membayangkan seolah2 Dedeku melakukan tugas penyusupan ke celah garis yang membelah kedua pantat Tante Mala yang putih, mulus, bebas dempul bagaikan batu pualam.

Namun ada tembok penghalang berupa dua lembar bahan katun tipis dan itu berasal dariku, celana pendekku dan celana dalamku !.
Detik demi detik, menit demi menit berlalu, pikiranku semakin melenceng jauh. Kupegang dedeku, tegang mengeras, kuangkat pantatku perlahan, kuturunkan perlahan tali karet bagian depan celana hawai tipis belel sekaligus dengan celana dalam putih kusamnya, sampai kebawah buah zakarku yang menahannya untuk tidak kembali keatas menutup, sehingga dedeku melesat keluar, bagaikan ular yang keluar dari lobang tempatnya mengeram.

Kutempelkan batang dedeku, tepat menempel ditengah garis vertikal yang membelah dua bukit pantat nan indah itu. Terpejam kusesat menikmati fantasi liarku, tanganku kembali kuletakkan diatas pantat Tante Mala, kuraih ujung bawah baju tidurnya, kuangkat keatas, menutupi batang kemaluanku. Entah kenapa kulakukan ini, seperti ada rasa khawatir dan malu apabila orang ada yang mengetahui ulahku ini. Atau aku hanya berjaga saja apabila Tante mala terbangun, mengangkat kepalanya, menengok ke arahku dan melihat apa yang kulakukan.

Namun itu belumlah terjadi, kulakukan gerakan-gerakan memijat layaknya seorang profesional, namun gerakan2 itu sebenarnya hanyalah kamuflase belaka, dimana gerakan2 yang lebih utama adalah gerakan2 dari pantatku yang bergoyang pelan berusaha untuk menggesekkan batang kemaluanku ke pantat tante Mala.

Entah beberapa menit berlalu, belum ada sensasi yang lebih menggetarkan, ketika tiba2 kulihat gerakan dari kepala Tante Maya, tercekat aku menyadari akan adanya bahaya datang. Sejenak terdiam, namun seolah ada yang menuntunku, dengan reflek cepat aku segera mengangkat pantatku, menarik karet celanaku, melepaskannya hingga menutupi kemaluanku, mengangkat kaki kiriku dan meletakkannya disamping kaki kananku, sehingga apabila dia melihat aku dalam posisi seperti ini, aku seperti sedang jongkok di sebelah kanan Tante Maya, serius sedang memijitinya !!!.

Sejenak kuterdiam, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya, kulihat Tante Maya mengangkat kepalanya, tanpa membuka matanya, memiringkan tubuhnya kemudian membalikkannya sehingga posisinya saat ini adalah terlentang dihadapanku !.

Tertegun aku menatapnya, jantungku berdegup kencang, menyaksikan pemandangan yang baru pertama kali kulihat ini, kini didepanku, didepan mataku sendiri, berbaring sesosok tubuh wanita cantik dengan kulit putih, mulus, kaki jenjang, menantiku untuk melakukan sesuatu padanya. Dadaku semakin berdetak kencang, saat kuperhatikan bahwa baju tidur yang dikenakannya, telah tertarik keatas, hanya menutupi sebatas pinggulnya saja, memperlihatkan kemaluannya yang ditutupi rambut hitam yang cukup lebat. Kuperhatikan lagi keatas kearah dada, kulihat baju tidur dengan potongan dada yang rendah, memperlihatkan sebagian besar gunung kembarnya, hanya sepertiganya saja yang tertutup, yang mencegah agar putingnya tidak menyembul keluar.

Gugup aku melihat itu semua, gemetar menyaksikan indahnya pemandangan dihadapanku. Takut aku kalo seandainya Tante Mala sadar dan terbangun, serta menyaksikan aku berada disampingnya, takjub menatap dirinya. Entah apa yang ada dipikiranku saat itu.
Sadarkah Tante Maya dengan keadaan dirinya ? Apakah beliau memang benar2 tertidur pulas sehingga tidak menyadari bahwa ia tidur dengan posisi seperti itu dan tidak sadar bahwa aku ada disampingnya ? Apakah dia tidur seperti ini akibat obat yang tadi kuberikan dan diminum olehnya ? Seingat dan sepengetahuanku, memang bahwa biasanya obat flu dapat mengakibatkan efek mengantuk, namun kalo memang ini benar, dengan dosis 2 kali lipat dari yang dianjurkan, dapat mengakibatkan efeknya juga menjadi 2 kali lipat, seperti yang dialami oleh Tante Mala, ini sungguh yang luar biasa.
Belum lagi kalo kuperhatikan bahwa Tante Mala memang mempunyai sifat “pelor” yang artinya nempel molor, gampang sekali tertidur nyenyak seperti komentar Maya yang aku ingat, bahwa bila ibunya tidur, terutama bila tidurnya baru saja dimulai, jangankan digoyang-goyang ada gempa bumipun sang Mama belum tentu terbangun.

Ada keinginan yang bertolak belakang dihatiku, keinginanku yang pertama adalah beranjak bangun, turun dari ranjang itu, pergi segera keluar kamarnya, dan meninggalkannya tidur. Namun disisi lain ada keinginan untuk tetap berada disitu, menikmati apa yang disuguhkan kepadaku, dengan alasan bahwa ini adalah pengalaman pertama dan satu-satunya bagiku dan mungkin tidak ada kesempatan lain untuk menikmatinya. Entahlah aku tertegun sejenak, melihat kesekeliling, memastikan bahwa keadaan aman dan menatap cermin di samping kananku, tampak wajahku yang tadinya polos tersenyum kini terlihat semu dan ada sepasang tanduk yang tumbuh dikeningku, menyeringai penuh kemenangan.

Entah apa yang membuat keberanianku meningkat, aku melakukan hal seperti yang kulakukan saat awal aku memijit tante Mala, namun ini dilakukan dengan posisi tubuh Tante Mala terlentang. Kupegang kaki tante maya, memijitnya sejenak dan mengangkatnya serta menaruhnya menjauh, membuat posisi kakinya terbuka lebar. Aku beringsut duduk diantara celah kedua pahanya, mengambil posisi senyaman mungkin, tanpa melepaskan pijitan2 yang kuberikan diantara lutut dan pahanya bagian dalam.

Kutelusuri lurus bagian dalam paha Sang Tante, mulai dari lutut, pelan dan semakin pelan hingga pijitanku lebih terasa bagaikan rabaan, hingga mencapai pangkal paha dan berujung di pinggiran bukit kemaluannya. Saat aku mendorong urat bagian dalam pahanya untuk memijat, menggunakan telapak tangan, terus keatas, mencapai pangkal pahanya hingga menyentuh sudut segitiga didepannya, kugerakkan ibu jariku untuk menyentuh bagian dalam labium mayora-nya, menggeseknya, menggodanya untuk bereaksi, kutarik lagi tanganku mengurutnya dari lutut dan mendorongnya kembali keatas, menggodanya lagi.

Hal itu terus menerus kulakukan, sambil memperlihatkan sikap waspada, didepanku wajah sang tante, dengan mata terpejam, diiringi suara dengkuran halus dan dada tampak turun naik dengan napasnya yang terlihat semakin tak beraturan, tersenyum, seolah ikut menikmati sensasi yang kuberikan. Sampai beberapa menit kemudian, ketika kulihat dan kurasakan, vagina yang semula kering, kini mulai basah, seolah ada yang menyiramnya dengan cairan yang membuatnya jadi licin.

Kulirik ke cermin di sampingku, seolah meminta persetujuan atas apa yang akan kulakukan pada wajah diseberang sana. Entah apa lagi yang ada dipikiranku, kuangkat keatas kedua kaki Tante Mala bergantian, menaruhnya diatas pahaku, meluruskan kakiku, membuat posisi beliau sekarang adalah berbaring dengan lutut berada diatas, dengan kaki aku berada dibawah lututnya menyilang, aku duduk ditengah2nya, sehingga membuat dedeku berada dalam posisi rapat dengan vaginanya.

Kugesek-gesekkan bagian bawah batang dedeku dengan bagian luar vagina sang tante, ada rasa geli bercampur nikmat disitu. Kuberanikan diri, kujulurkan tanganku menggapai ke depan, menyentuh halus bagian atas dada Tanta Mala yang tidak tertutup oleh baju tidurnya, hanya menyentuhnya tanpa melakukan apapun.

“Aku ingin lebih !” seperti ada keinginan dari hatiku yang berteriak, kutarik karet celana pendekku berikut celana dalamnya dan menurunkannya kebawah, hingga bawah biji kembarku, kepegang dan kubimbing pelan Dedeku, kutempelkan lagi kepala dan batang kemaluanku dibagian bibir vagina Tante Mala, terdiam aku seakan menikmati sensasi yang timbul, ada perasaan nikmat disana. Kugesekkan lagi, pantatku seolah ikut bergoyang… terus .. terus….

Entah bagaimana bisa terjadi, mungkin akibat gesekanku atau akibat dari napsuku yang meledak, seakan memberikan persetujuan atas apa yang terjadi. Dedeku yang makin keras dan tegang, mencari jalan untuk mencapai kenikmatan lebih, dan tanpa kusadari, Tante Mala menggeserkan lutut dan pahanya keluar, sehingga membuat celah divaginanya semakin melebar. Tanpa disuruh dan diminta, dedeku yang semula hanya menggesek-gesekkan bagian luar vagina Tante Mala, menyeruduk masuk menuju lubang kenikmatan.

Ups, tercekat aku atas meluncurnya sang Dede diluar kendali dijalan yang licin, hendak kutarik segera, namun apabila aku menariknya dengan cepat, dan tanpa disengaja membuat gerakan yang mungkin nantinya akan membuat Tante Mala terbangun, bisa celaka aku dalam posisi seperti ini.

Kutahan, sambil aku menahan napas, menunggu reaksi selanjutnya, namun tidak ada reaksi yang signifikan dari yang empunya lahan, tidak ada tindakan representatif. Entah bagaimana, bukannya aku mencabutnya akan tetapi aku malah makin mendorongnya jauh lebih kedalam. Perlahan-perlahan sekali, melakukan infiltrasi kedaerah musuh tanpa ingin ketahuan.

Mungkin ini adalah insting yang dipunyai oleh manusia, karena tanpa disuruh dan diperintah, ada naluri untuk mencari kenikmatan sendiri, tanpa kuperintah pantatku bergoyang pelan, menarik sang penis dan mendorongnya kembali agar menimbulkan gaya gesekan.

Merasa bahwa yang kulakukan ini tidak mengganggu sang pemilik, ada rasa aman dan dorongan lain untuk mencari sensasi lebih jauh, kearahkan lagi tanganku ke dadanya, menyentuhnya perlahan, merabanya dan mengelus-elusnya. Kulihat ke arah wajah Tante Mala, tidak ada perubahan apapun, hanya kulihat dadanya turun naik menandakan desah napas tak beraturan.

Perlahan, bagian dada baju tidurnya yang menutupi sebagian kecil area payudaranya, kutarik dan kuturunkan, memaksa agar mengendur, meletakkannya dibawah payudaranya agar memperlihatkan semua bagian yang disembunyikannya.

Semakin banyak sensasi yang diberikan semakin banyak pula aku memintanya, aku yang semula hanya menempelkan batang penisku kebagian luar vagina sang Tante, akhirnya masuk kedalam, Aku yang mulanya hanya ingin menancapkannya dan menikmati sensasi kehangatan dalam ruangan, mulai menggesekkannya. Dan aku yang mulanya hanya menggesekkannya pelan, kini mulai menggesekkan secara cepat untuk menghasilkan panas yang timbul akibat adanya gaya gesekan. Aku yang mulanya hanya ingin meraba dan menyentuh payudaranya dengan halus, kini mulai menekan dan meremas remasnya. Bahkan kini aku mulai memijiti dan menjepit puting payudara Tante Mala.

Tidak seperti yang kubayangkan dan kubaca dalam cerita2 yang berbau seks. Banyak wanita berkulit putih selalu diceritakan berputing merah muda, tidak seperti yang sekarang kulihat, puting tante Mala tampak berwarna coklat kehitam-hitaman dengan dikelilingi lingkaran sewarna yang berdiameter sekitar 2 cm. entahlah apakah Tante Mala menyadari adanya kenikmatan yang kuberikan atau tidak, hanya kedengar erangan disertai dengkuran halus dengan ritme pernapasan yang cepat, mungkin beliau seakan bermimpi melakukan seks dengan sang suami.

“Hhhmmm…terus sayang, terus”, sambil memaju mundurkan pantatku, mendorong agar penisku mendapatkan kenikmatan lebih, aku terus meremas-remas payudara Tante Mala, yang tampaknya semakin mengeras dan putting yang semakin tegak mencuat. Otakku terus menerus memerintahkan aku untuk melakukan hal ini, seolah membenarkan diriku untuk “membantu” sang tante menyalurkan hasrat seksualnya, yang mungkin dalam beberapa minggu ini tidak tersalurkan akibat ditinggal pergi sang suami.

Memandang wajah cantik Tante Mala dan bibir indahnya, aku penasaran ingin mengecupnya. Sambil terus melakukan dorongan-dorongan lembut ke vaginanya, aku memposisikan tanganku di samping kanan kiri tubuh tante, kemudian aku menahan tubuhku seperti orang push up, agar aku tidak menindih secara langsung tubuhnya. Kemudian aku mendekatkan wajahku ke wajah tante. Bibirku kumajukan untuk mengecup bibirnya. Hmmmmmmmmmmm sensasinya luarr biasa. Apalagi tante dalam tidurnya juga membalas kecupanku ternyata. Setelah puas menikmati bibirnya aku menurunkan wajahku ke arah payudaranya. Kukecup dan kuhisap dengan lembut kedua putingnya bergantian. Hal itu makin membuat tante bergairah yang nampak dari wajahnya.

Menit demi menit berlalu, entah beberapa menit kemudian, mungkin karena memang Dedeku telah tegang dari beberapa jam sebelum ini, penetrasi yang kulakukan nampaknya akan segera berakhir, kurasakan diujung dedeku seakan ada sesuatu yang akan meledak. Secara otomatis gerakan badanku makin cepet, namun agak kutahan takut tente bangun nantinya. Akhirnya tidak dapat kutahan lagi, spermaku keluar dengan banyaknya ke dalam rahim tante Mala. Hmmm sungguh nikmat rasanya. Oooo beginilah sensasi menyetubuhi wanita. Aku pelan-pelan mencabut penisku dari vagina tante Mala. Tampak spermaku mengalir keluar dari belahan vagina tante. Aku segera melepas kaosku dan menampung lelehan spermaku, agar tidak jatuh ke sprei. Sisa-sisa sperma di bibir vagina tante juga aku lap pelan pelan. Karena merasa kurang bersih, aku menjilat-jilatnya.Kemudian aku terduduk lemas.
Ada perasaan menyesal setelah kulakukan ini, kuperhatikan wajah Tanteku, diam terpejam seolah tak menyadari apa yang telah kulakukan padanya. Masih tertidur pulas. Pelan aku beringsut beranjak bangun, melangkahinya dan turun dari ranjang, berjalan kearah pintu, menutup pintunya perlahan, melihat sekeliling, memastikan bahwa semua aman.

Masuk kedalam kamar, menghempaskan badan ke ranjang tempat tidur, melirik jam di dinding kamarku, terdengar jelas suara detaknya, jam 2 kurang 5 menit. Menatap langit-langit kamarku, mengingat2 akan apa yang baru saja terjadi, memikirkan mengapa semua ini bisa terjadi. Membayangkan akan apa yang akan terjadi besok.

Apakah Tante mala tahu apa yang kulakukan padanya ? Apa yang akan dilakukan Tante Mala kepadaku jika dia menyadari apa yang telah kulakukan ? Apakah Tante Mala akan memarahiku habis2an ? Mendampratku ? Mengusirku dan memberitahukan kejadian ini kepada keluargaku ? Apa yang akan dilakukan oleh Anak-anak tante Mala kepadaku jika mereka tahu apa yang kulakukan pada mamanya ?
Apa yang harus kulakukan ? Apakah aku harus pergi dari sini ? menghilang ? kabur ? kapan ? sekarang ? malam ini juga ? ataukah aku menunggu sampai besok ? menunggu untuk mengetahui apa yang akan terjadi besok ?

Entahlah, sejuta pertanyaan menyelimutiku...
Apabila memang besok ..ternyata Tante Mala mengetahui apa yang telah dilakukan olehku kepadanya, mungkin aku hanya akan berkata “Ampun Tante..... ampun.....!”

Dan jam dinding pun terus berdetak, mengantarku menjemput hari esok...!
HAPTER 5 : TAKUUT......


Aku menggeliat, sementara mataku terpejam, enggan untuk membuka mata, mengejangkan seluruh otot2 punggung dengan mendorongkan perut kedepan dan menarik dada kepunggung, melengkungkan tubuhku. Mendorong keatas kepala kedua lenganku, seakan menyuruhnya menarik otot2 punggungku, menarik napas dalam-dalam kemudian menghembuskannya perlahan, sambil menggeram layaknya beruang yang terbangun dari dari tidurnya.

Kupaksa membuka mataku, melirik jam yang terpaku di dinding sebelah atas kiri belakangku, menatap sekejap, “Ya ampun, sudah jam 10 lewat !” ujarku dalam hati, seraya bangun dari tidurku dan menjejakkan kaki kelantai kamar, enggan rasanya bangkit dari ranjangku, kembali aku duduk, menjuntaikan kaki dibibir ranjang dan terdiam sejenak.

Sinar matahari tampak menembus jendela kamarku, membuat tirai warna merah jambon itu seperti menyala, cahaya yang masuk melewati ventilasi atas menerangi seluruh isi kamarku, seakan memberitahukan bahwa walaupun tirai ditutup tapi hari telah menjelang siang.

Memikirkan kejadian semalam, ada perasaan yang membuat hatiku tak enak, ada rasa tak tenang, khawatir, serta takut menjadi satu yang menyelimuti dadaku ini. Berjuta pikiran melandaku, aku hanya berharap mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu apa seperti yang kutakutkan. Kubuka kedua telapak tanganku menutupi mukaku, kuusap dan kugosokkan diseluruh wajahku, menaikturunkan seolah kugunakan menutupi keteganganku, kemudian menariknya kesamping kepalaku, melewati kening dan mengurutnya kebelakang. Entahlah, aku harus menghadapinya, apapun yang terjadi.

Dengan berat kuangkat pantatku dari tempat tidur, berjalan kearah jendela kamar, membuka tirai yang menutupi kaca, sejenak mataku memicing, berusaha untuk menembus silaunya matahari. Terdengar kecipak air kolam renang dari bawah sana, seseorang tampak sedang mengarungi kolam renang dari sisi yang satu ke sisi yang lain, tak nampak jelas olehku siapa gerangan yang melakukan aktivitas di hari menjelang siang ini. Entahlah, aku tak tertarik.

Kubuka pintu kamarku yang tidak terkunci sejak semalam, melangkah keluar, berjalan ke lorong menuju tangga, melewati kamar2 dikiri kanannya. Kamar Moza tampak tertutup rapat, terus melewati kamar sesudahnya, tampak kamar Mita dan Maya terbuka sebagian, cukup bagiku untuk melihat kedalamnya, kosong tak berpenghuni, hanya terlihat isi kamar yang masih berantakan, tak peduli aku terus melangkah, menuju tangga dan ada kamar satu lagi yang harus kulewati, kamar Tante mala !.

Ragu dan takut menghinggapiku, berat untuk melangkah terus, bagaikan ada rantai besi dengan gandulan bola besi yang diikatkan ke kakiku. Kulihat disana kamar Tante Mala terbuka lebar, pikiranku semakin kalut, tapi aku terus melangkah.

Kutengok kamar dikiriku, tampak kosong, kutarik napas lega, “Aman !” kataku dalam hati. Kuarahkan mataku sebentar untuk meneliti keadaan isi kamar, tampak disana ranjang yang masih berantakan, seprei yang masih awut-awutan, bantal dan guling yang tergeletak saling silang, bibirku tersungging seolah tersenyum, melihat arena bekas tempat persetubuhanku semalam. Lanjut aku melangkah menuruni bawah, menuju dapur untuk membuat kopi, rutinitasku setiap hari. Lengang, rumah ini serasa telah ditinggalkan penghuninya, tak kulihat sesosok tubuhpun di ruang bawah, ke ruang makan, tak kulihat siapapun, hanya kulihat piring dan gelas yang tampak telah digunakan sisa sarapan tadi.

Kulangkah kakiku menuju dapur, menuju ruang dapur yang tak berpintu, menatap pintu diseberang ruangan itu yang setengah terbuka, kalo dilihat dari tempatku berdiri, dapur hanyalah sebuah ruangan antara ruang makan dan pintu belakang yang berhadapan lurus. Aku berbelok menuju rak piring, meraih gelas, dan menaruhnya di meja dapur. Sedikit membungkuk, mengambil kopi dan gula dalam topless yang berada dibaris kedua rak kayu yang memang dibuat khusus untuk ditempatkan di dapur, ada beberapa lemari, dan rak yg dibuat dan disusun sedemikian rupa sehingga dapur dirumah ini terlihat bagus, Kitchen Set, demikian yang kudengar istilah untuk peralatan ini.

Kalau dibandingkan dengan dapur rumahku disana, jauh lah jelas, dapur emakku jangankan pake kitchen set, dengan ruangan 2x2 aja dibelakang udah sukur ada tempat buat masak, lemari juga cuman atu, buat naro segala macem disitu, itu juga udah sukur, bisa ngamanin nasi ma lauk pala ikan, jangan sampe diembat ma kucing garong, jangankan pake lantai keramik seperti ini, dipelester aja udah bagus, disini pake kompor gas yang menyalakannya aja dengan pemantik khusus. Disana mah boro-boro, palingan juga pake kompor minyak tanah, yang kadang untuk menyalakannya musti pake lidi yang direndem minyak dulu sebentar, belum lagi nunggu lama sampai apinya naik ke permukaan kompor, kalo enggak, panci atau penggorengan pantatnya bisa item, kena muka yaa cemonglah muka kita, bisa2 disangka bedak model baru !.

Apesnya pas ada temen kita dateng, biasalah cowok kalo udah ngumpul mo siang mo malem, yang jelas musti ada kopi, dan kita musti inisiatip bikin gak lama setelah mereka datang, jangan sampe deh lagi enak2 ngobrol salah seorang dari teman kita ngelemparin korek api. Kita tanya “buat apaan korek ?, rokok gw masih nyala nih !”, dengan antusias mereka akan bilang, “buat nyalain kompor, udah seret nih tenggorokan ngomong mulu ma ngerokok, gak ada kopinya !”. Mau gak mau deh bergegas kita ngambil tuh korek dan nyalain kompor buat masak aer, mending kalo pas kita nyalain tuh kompor langsung nyala, nah ini malah sebaliknya, terpaksa deh kita lari terbirit-birit ke warung terdekat hanya sekedar buat beli minyak tanah seleter !.

Kuambil kopi dan gula dengan sendok kecil didalamnya, kutuangkan ke dalam gelas secukupnya, setelah dirasa cukup dengan racikan kopi layaknya Rudi Chaeruddin sedang demo masak, kutaruh kembali topless gula dan kopi ketempatnya semula. Kuambil termos yg terletak tak jauh dari meja dapur, menuangkan air panasnya kedalam gelas secukupnya, mengaduk dengan sendok hingga larut. (kok kaya baca petunjuk pemakaian ya ?). Kuangkat gelas, kudekatkan ke bibirku, kucicipi rasa kopi didalamnya, pas. Tidak kental dan tidak encer, kuangkat gelas kembali, hendak meminumnya lagi, ketika sekonyong-konyong kudengar suara menyebut namaku.

“Fan”, bagai petir disiang bolong, walaupun kudengar pelan, dibelakangku jelas ada suara memanggilku, dan itu adalah suara Tante Mala !. kupegang gelas dalam keterkejutanku, setengah bergetar, kaget, hingga membuatku menurunkan kembali tanganku yang mengangkat gelas. Deg, jantungku seperti hendak copot, Tante Mala !, ada rasa panik menghinggapiku, duh, jangan2 aku hendak didampratnya, dimarahinya aku habis2an, mengetahui apa yang telah kulakukan semalam terhadapnya. Beliau yang selama ini telah berlaku baik kepadaku, memberikan tumpangan untuk tinggal padaku, membagi makanan kepadaku tanpa meminta bayaran sedikitpun. Hanya sekedar meminta aku untuk memijitnya, dan ternyata aku malah menyetubuhinya dikala ia tertidur pulas !.

Dengan gugup aku membalikkan badan, mencari arah sumber suara tersebut. Kini kurang lebih 2 meter dihadapanku berdiri sesosok tubuh, kudongakkan kepalaku, memberanikan diri untuk menatapnya wajahnya, tampak tersenyum, jauh dari kesan sangat, menampakkan wajah amarah, malah kulihat ia memberikan senyuman, ceria, kulihat wajahnya yang cantik, tampak segar dengan rambutnya yang basah.

“Fan, duh kirain Tante siapa ?, kamu baru bangun toh ?” sapa tanteku, dalam keterkejutanku aku menatap matanya dan berusaha untuk menjawabnya secepat mungkin, “Duh Tante, Fandi juga kaget, kirain gak ada orang, loh barusan Tante renang ya ?, kirain sapa yang berenang, Fandi pikir moza atau mita yang renang “ sahutku cepat, “Bukannya Tante kurang sehat ?, kok malah berenang sih ?, Nanti malah sakit Tan !” kataku lagi menambahkan seolah tak membiarkan Tante Mala melihat rasa kepanikanku. Di dalam hatiku, sesungguhnya aku bersyukur bahwa yang selama ini kutakutkan tidaklah terjadi, duh seandainya tiba2 dia nongol di depanku dan langsung menghardikku, memarahiku dengan sengit, entahlah apa yang harus kulakukan.

“Gak pa pa Fan, Tante udah sehat kok sekarang, mungkin semalam tante capek aja, setelah minum obat dan tidur nyenyak semalam Tante merasa lebih segar kok Fan” jawabnya lagi, Tanpa sengaja aku tertunduk malu saat memandang wajahnya itu, tidak berani aku menatapnya lama.

Aku segera menundukkan kepala, betapa tidak, di depanku berdiri wanita paruhbaya, dengan rambut basah, tampak segar memancarkan sinar kecantikannya, dan yang lebih membuatku semakin tidak enak untuk memandangnya adalah, saat ini beliau mengenakan baju renang warna biru muda yang memang ketat, hanya dengan melilitkan handuk untuk menutupi bagian tubuhnya sebatas pinggul hingga beberapa centimeter diatas lutut. Tanpa menggunakan bra, keliatan sekali tonjolan putingnya, tercetak jelas di baju renangnya.

Ingatanku sekilas menerawang kembali ke kejadian semalam, dimana aku memijitinya, meraba2 semua bagian tubuhnya, dari ujung kaki, betis, paha, pantatnya yang indah, menempelkan dedeku keselangkangannya, menyentuh vaginanya, membuatnya basah, membelai serta meremas-remas payudaranya, dan akhinrnya memasukkan penis sekaligus sperma kedalam vaginanya. Kontan membuat dedeku yang semula tidur menjadi berdiri.

Untuk menutupi rasa kegugupanku, dan ingatan2 kejadian semalam yang membuat pikiranku semakin miring, aku mencoba menetralisirnya dengan menawarkan kopi kepadanya, “Tan, mau minum kopi, sini biar Fandi yang membuatkan !” kataku lebih lanjut sambil bergerak membalikan badan membelakanginya, berusaha untuk menutupi keadaan diriku yang semakin terlihat aneh.

“Hmm, boleh Fan, mungkin minum kopi hangat, badan Tante nanti makin segar, nanti kamu taruh aja di meja tengah ya Fan ? Tante mau ganti baju dulu “ kata tanteku lagi sambil berjalan meninggalkanku menuju tangga ke kamarnya. Aku menghela napas saat melihatnya melangkah menjauh, sepertinya ia tidak tahu dengan apa yang telah kulakukan, kuperhatikan lekuk tubuhnya, goyang pantatnya yang bulat dan indah itu, seolah mengajakku dan merayuku untuk mengulangi perbuatan seperti semalam.

Hari demi hari berganti, minggu demi minggu, bulan demi bulan telah kulewati, tak terasa aku telah hampir 8 bulan tinggal dirumah Tanteku ini, semakin lama aku tinggal di rumah ini semakin aku mengenal karakter para penghuninya. Tante Mala, Om Mirza dan ketiga putrinya, sudah kuanggap sebagai keluargaku sendiri, walau kadang ada perlakuan-perlakuan dari mereka kepadaku yang kadang kunilai berlebih, biar bagaimanapun aku adalah seorang lelaki normal yang mempunyai hasrat birahi yang dapat timbul sewaktu-waktu bila melihat sesuatu yang kuanggap dapat memancing libidoku. Kadang bila melihat mereka entah itu sengaja ataupun tidak, mempertontonkan sebagian dari anggota tubuh kewanitaannya, tentu hal ini dapat memancing rangsangan terhadap darah mudaku. Bila hal ini dapat kukendalikan tentulah tidak menjadi masalah, namun adakalanya hal ini tidak dapat terbendung, dan biasanya kusalurkan dengan caraku sendiri, bermasturbasi ria.

Pernah terjadi salah satu dari mereka mengganti pakaian didalam kamar yang tidak tertutup, dan tidak sengaja aku melihatnya dalam keadaan setengah telanjang, aku sempat terperanjat melihatnya, namun mereka seolah cuek akan hal itu dan menganggap biasa saja. Seolah menganggap aku tidak ada, padahal pikiranku menjadi pusing dibuatnya. Iman sih kuat, lah tapi imron ?

Kadang sikap mereka begitu cueknya terhadapku, kadang ikut nimbrung masuk ke kamarku, sekedar melihat keadaanku ataupun ngobrol ngalor ngidul, malah kadang mereka suka curhat denganku, meminta pendapatku tentang sekolahnya, kuliahnya, teman-temannya, atau apapun bila mereka bete. Kadang kami suka bercanda berlebih, pernah suatu kali mereka mengerjaiku, bercanda karena suatu hal dan mereka secara beramai-ramai menindihku sampai aku ngap-ngapan gak bisa napas. Kadang mereka suka memakai kamarku, entah sekedar menonton televisi, sampai ikutan rebahan. Kadang apabila mereka ada maunya, entah meminta tolong kepadaku mengerjakan sesuatu atau sekedar meminta aku mentraktirnya membelikan sesuatu, mereka suka merayuku berlebih, dengan cara apapun, kadang sambil memelukku. Tentu saja hal ini dapat membuat gairah kelaki-lakianku bergolak.

Tidak ada peristiwa peristiwa yang cukup menonjol yang dapat kuceritakan disini yang kiranya dapat kubagi kepada para pembaca sekalian. hingga....

CHAPTER 6 : MAYA, MITA DAN TEMANNYA

Sabtu senja itu aku kembali dari kantor, sengaja aku masuk dihari libur ini sampai sore hari, niatku adalah menyelesaikan lebih dini tugas yang diberikan kantor kepadaku walaupun tenggat waktu dari klien masih cukup lama, kami memberi istilah ini dengan sebutan kejar setoran, ini dimaksudkan agar aku dapat jatah libur yang cukup lama dari kantorku. Malah aku rencananya akan pulang malam, toh dirumah juga gak ngapa2in, lagian kan malu dong aku malam minggu harus dirumah sementara yang lainnya pada ngelayap entah kemana, tapi karena kulihat mendung telah bergelayut di langit, aku mengurungkan niatku semula, kuputuskan untuk pulang lebih cepat.
Tiba dirumah, dalam keadaan sepi, biasalah sabtu menjelang malam minggu begini, semua seolah2 berebut untuk meninggalkan rumah, tinggal aku sendiri yang seolah ditugaskan menjaga rumah, paling2 dengan bi Iyem yang kalo sepi matanya seolah gak mau lepas dari sinetron di tivi kamarnya.

Aku baru menyadari bahwa hari ini Tante Mala tidak ada dirumah, semalam dia berpesan kepadaku untuk menjaga dan mengawasi adik-adik sepupuku, beliau hendak terbang ke kota J untuk menyusul sang suami disana. Om Mirza meminta kepada Tante Mala untuk datang menemaninya karena beliau mendapat undangan pernikahan dari seorang pejabat disana, mungkin Tante Mala dan Om Mirza akan kembali hari senin lusa.

Saat memasuki rumah, tak sengaja aku melihat pemandangan 2 sosok mahluk cantik di ruang makan, kulihat didepanku sesosok wanita cantik berpenampilan sexy, baju coklat terusan dengan rok mini sewarna, mungkin sekilas aku memandangnya seperti layaknya wanita mengenakan daster, seandainya tidak ada ikat pinggang yang menempel dipinggangnya, dan pernak-pernik accessoris yang banyak menghinggapinya. Dengan riasan yang cukup mencolok bagi mata lelaki untuk memandangnya lebih dalam, entah siapa gerangan, aku baru kali ini melihatnya. Disebelahnya kulihat Mita tersenyum juga memandangku, dan membuatku terpana melihatnya, dengan kemeja putih lengan pendek, dipadu dengan rok hitam yang cukup mini, menampilkan kakinya yang jenjang bagaikan kaki jangkrik yang panjang, pahanya yang putih menantang seolah mengajak setiap pria untuk mengelus dan merabanya hingga keatas.

Tampak tersenyum kepadaku, aku memandangnya penuh tanda tanya dan berusaha membalas senyumnya. Seolah dapat membaca jalan pikiranku, bibir indahnya bergerak disusul kemudian dengan meluncurnya suara yang renyah “Sore Kak, baru pulang kerja ya ?” katanya, mungkin karena melihatku berpakaian kemeja dengan celana katun serta ditanganku ada tas kerja hitam menggantung. Aku tersenyum mengiyakan menjawab pertanyaannya dan berpaling ke arah Mita seolah untuk meminta penjelasan. “A Fandy, ditungguin juga dari tadi, kirain Aa pulang malam, ini temen Mita, namanya Ira, , kenalin A’, kita berdua mo ke ulang tahunnya Diah, eh kebetulan Aa Fandy pulang “ katanya meluncur begitu saja seolah memberikan keterangan kenapa dia memakai baju seperti itu.

Aku menjulurkan tanganku ketika dia kulihat hendak menjulurkannya, berjabat tangan, halus, putih dan mulus layaknya wanita2 yang berasal dari kota ini. Kulihat dia tersenyum, manis tapi matanya seolah memancarkan kegenitan, kutatap sekilas sambil kukatakan namaku kepadanya lirih. Duh, cewek model begini nih yang bikin deg-degan, dengan dandanan yang cukup berani dan gayanya yang kecentilan bukan mustahil ini adalah gambaran model cewek gampangan yang dengan beberapa lembar uang kertasan kita mudah untuk menikmati tubuhnya.

Aku mengambil tempat duduk di meja makan itu, kulihat kedua anak itu juga telah kembali duduk, sambil menikmati cheesecake didalam piring kecil yang tersedia dimeja, dengan duduknya yang terlihat sembrono, pahanya yang terbuka lebar seolah tak perduli aku duduk didepannya, seperti berusaha memancing aku untuk melihat jauh kebawah meja makan yang terbuat dari kaca ini.

Aku jadi terpancing untuk ikut menikmati kue yang ada dimeja, kuambil air putih segelas, meminumnya dan mencomot kue dipiring seakan aku ingin menikmati kue tersebut, padahal aku ingin melihat dan menikmati cara duduknya yang sembrono itu. Sambil berbasi basi sejenak menanyakan padanya kemana Moza dan Maya ?, ia menjawabnya dengan acuh tak acuh sambil terus berbicara kepada Ira dengan pembicaraan yang aku tak nyambung sama sekali. Ia bilang bahwa Moza belum kembali dari kuliah dan Maya ada dikamarnya, mungkin nonton televisi.

Tak lama kemudian Mita dan Ira mengangkat badannya dan berkata kepadaku, “A, Mita pamit dulu, mo berangkat “ sambil menoleh padaku dan memandangku ringan.

Kata-katanya yang bilang mau pamit bukan ijin, seakan mengatakan padaku bahwa ia tidak perlu minta ijin kepadaku, toh aku bukan kakak kandungnya yang harus minta ijin-ijin segala. Namun aku seolah tak rela, mengijinkannya pergi dengan pakaian yang seperti itu, bukan mustahil ada lelaki2 iseng yang mencoba untuk menggodanya, bahkan mencoba untuk menjamahnya.

Kupandang sejenak keduanya, dengan menarik napas, seolah2 ingin menunjukkan rasa wibawaku, “Oh, iya deh Mit, tapi hati2 ya ? dan pulangnya jangan terlalu malam”. Kataku perlahan seolah aku perduli padanya, khawatir dan ingin dia pulang dengan cepat dan utuh.

Mereka bergerak cepat, seolah2 tak ingin kehilangan moment yang sangat penting. Aku memperhatikan keduanya, duh cara berpakaian mereka terlalu berani, dengan lenggok tubuh yang aduhai dari keduanya bak peragawati yang berjalan diatas catwalk, dimana menyuruh aku untuk memandang dan memperhatikannya seolah aku akan memberinya nilai, berjalan centil menghilang dari balik pintu.

Aku berjalan meniti tangga keatas, menuju kekamarku, bermaksud untuk mandi agar badanku terlihat segar, kulewati kamar Tante Mala yang kini tampak tertutup dan terkunci. Melewati kamar Mita dan Maya, terbuka lebar, kulihat dikamar maya sedang duduk dibawah beralaskan karpet, dengan kepala menghadap televisinya, tidak menyadari bahwa aku memperhatikannya dari belakang. Dengan kaos dan celana pendek seperti biasanya, serius menonton acara di televisi.

Aku berjalan terus, melewatinya pintu kamarnya, menuju kamarku, membuka baju, mengambil handuk dan menuju kamar mandi, menyegarkan badanku, mengguyur kepalaku dengan air yang dingin, cukup memberikan kesegaran kedalam otakku, yang seharian kukerahkan untuk berpikir.

Selesai mandi, berganti pakaian dengan pakaian dinasku yang biasa, celana pendek belel dan kaos gombrang. Keluar kamar berencana kebawah untuk melihat menu dimeja dan makan malam.

Kulewati kamar Maya, pintu masih terbuka, dan kutengok kedalamnya, kulihat Maya masih serius dengan acara tivi di depannya. Entah timbul pikiran darimana, hendak kuisengi dia, aku menghampirinya perlahan, duduk pelan2 dibelakangnya tanpa suara, tanpa dia menyadarinya, aku memeluknya kencang dari belakang sambil berteriak mengagetkannya “Serius Amat !”.

Maya kaget bukan alang kepalang, sambil menjerit kencang, berusaha bergerak untuk melepaskan pelukanku terhadapnya, berusaha untuk meronta dan bangkit berdiri. Namun gerakannya itu ternyata berakibat fatal. Karena kencangnya pelukanku, malah membuatnya terdorong kedepan, dan membuatku ikut terbawa gaya tariknya, sehingga membuat kami berdua terguling. Posisi badanku kini berada dibelakangnya sambil rebahan, tanganku yang semula memeluk pinggangnya, kini telah pindah kedadanya, memegang payudaranya !.

“Ih Aa, iseng banget sih, ngagetin Maya aja !” katanya kepadaku sambil memperlihatkan mimik mukanya yang seolah-olah hendak marah, aku hanya cengengesan aja, dan menjawabnya ringan “Lagian serius banget, kalo yang masuk perampok gimana ?, ntar kamu diapa2in ma itu perampok gimana coba ?”, “Yee, biarin aja, gaklah, bodo amat” katanya sambil memonyongkan mulutnya. Aku tertawa ringan dan membalas perkataannya cepat, pura-pura tak menyadari bahwa tanganku sedang berada didadanya, menyentuhnya dan sepertinya ia tidak menyadarinya juga.

“Emang kamu lagi nonton apaan sih May ?, segitu seriusnya” kataku, dan Maya menjawabnya, “nonton sinetron, lagi seru-serunya nih !” katanya lagi, dan sepertinya ia menyadari keadaan kami, berusaha bangkit. Aku melihat situasi seperti itu, melepaskan tanganku kananku didadanya dan menaruhnya dipantatnya. Maya mengangkat badannya sejenak seolah memberi keleluasan buat tangan kiriku yang tertindih badannya di bawah ketiaknya untuk menariknya, Namun ia tidak bangkit bangun, malah menarik bantal didepannya dan menaruhnya dikepalanya, tetap tiduran dengan posisi memiringkan tubuh membelangiku. Aku menaruh tangan kiriku dibelakangnya sejajar badan miringnya, sementara tangan kananku tetap berada dipantatnya, Otak Iblisku mulai berjalan.

“Emang kamu gak ada rencana keluar May ?, kan sekarang malem minggu” begitu kata-kata yang meluncur keluar dari mulutku untuk membuka percakapan, Maya menjawabnya ringan, “Ngapain keluar, capek ah, males, mendingan nonton teve “, katanya, “Ya, kali aja jalan ma temen2 cewek kamu, kali aja nemu cowok dijalan, hehehehe” kataku menggodanya, “Yaa, Aa kayak gak tau aja, temen-temen Maya semuanya rata2 udah pada punya cowok, cuman Maya doang yang belum, tauk !” katanya sambil tetap manyun dan terus mengarahkan matanya ke televisi didepannya.

Dasar memang otak iblisku yang bekerja, sepertinya tanpa kuatur dengan pikiran jernihku, aku mengangkat tangan kiriku mengarahkannya untuk menopang kepalaku, dan tangan kananku kuarahkan untuk menaruhnya dikepalanya, serta mengelus-elus rambutnya.

Dengan posisi kepalaku yang terangkat ditopang oleh tangan kiriku, kini kepalaku tepat berada dibelakang kepalanya, lebih tinggi dari rebahan kepalanya, seolah ikut rebahan dan ikut menyaksikan acara televisi yang ditintinnya. Aku merapatkan badanku ke badannya, pantatku tanpa disuruh mulai bergeser untuk maju merapat kepantatnya, tepat mengarahkan dedeku yang berada dicelana dalam menyentuh garis belahan pantatnya. Maya seakan tak perduli dan mungkin tak menyadari akan hal ini, karena ini merupakan hal yang biasa sering aku lakukan.

“duh kesian, Ade Aa yang satu ini, belum punya cowok, jadi belum tau dong gimana enaknya pacaran !” kataku lagi. “hmmm..., Tauk Ah” hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Maya, dan seolah berusaha untuk tersenyum. “Biarin deh May, kita senasib”, kataku lagi sambil cengengesan, Maya tidak menjawabnya dan seakan2 tidak mendengar, ia tampak serius menyaksikan acara teve didepannya.

Aku seperti kehilangan akal, terdiam sejenak, kemudian segera memindahkan tanganku yang mengelus2 rambutnya meraih pinggangnya, dengan berpura2 serius ikut menyaksikan acara televisi didepannya. Aku memeluknya erat, seakan membantu badanku untuk makin merapat ke badannya. Dedeku semakin tegang dan mengeras.
Maya sepertinya diam tak bereaksi, namun kurasakan dia malah seakan menyorongkan pantatnya ke belakang, mempersilahkan dedeku untuk makin merapat dengan pantatnya. Aku yang mulanya hanya berusaha menempel ketat saja dengan hanya mengharapkan adanya tekanan terhadap Dedeku, tanpa disuruh mulai meningkatkan serangan.

Sambil pura2 ikut menyaksikan acara televisi, tanganku yang berada dipinggangnya mulai turun dan mulai mengelus2 bagian pinggangnya, pura2 untuk memijitnya, kadang memijit hingga kebelakang punggung dan perutnya.

Mungkin karena ada perasaan tak enak dan ada perasaan lain, karena kulihat maya tampak serius dengan acara di televisinya, setelah beberapa saat, aku akhirnya menghentikan kegiatanku, kurebahkan badanku, menarik pantatku, menarik tanganku yang menempel dibadannya.

“Yah A, kok berhenti sih, enak bener nih, Maya kan lagi pegel, mana perut maya lagi sakit nih, pijitin lagi dong A, terusin !” tiba2 kudengar Maya berkata kepadaku sambil berhenti menatap televisi dan memalingkan kepalanya ke arahku.

"Yee… kirain gak mao, gak taunya malah minta nambah” kataku sambil menggodanya, “Orang tadi Aa iseng doang, sambil ikutan nonton !, ya udah kamu berbalik lagi kaya tadi” kataku lagi dan mulai merapatkan lagi badanku ketika badannya sudah dalam posisi seperti awal tadi.

Entah darimana mulainya, aku memijit2 bagian punggung badannya, sambil tentu saja merapatkan dedeku ke pantatnya yang bahenol itu, dan pandangan mataku seolah turut menyaksikan acara tivi yang ditontonnya, padahal pikiranku menerawang entah kemana. Kadang pijitanku bergerak nakal, mencari daerah jajahan baru untuk dikuasainya.

Kadang aku memijit punggungnya, bergerak terus kebawah, kearah pinggangnya, menekan keras sampai ia menjerit lirih dan seakan bahwa yang aku pijit adalah daerah yang mengalami sakit cukup parah, sehingga memerlukan terapi yang khusus, aku mulai memberanikan menaikkan kaos yang dikenakannya hingga memperlihatkan pusarnya dan menurunkan tali celana pendeknya hingga beberapa centi kebawah. Membuat celana dalamnya yang berwarna pink terlihat.

Seperti yang sudah-sudah, bagaimanapun sifat manusia selalu kurang dalam mencari kepuasan, aku mulai berani menurunkan celana pendeknya hingga kebawah sekali nyaris mencapai batas bawah celana dalamnya itu, hingga jelas terlihat bahwa celana dalamnya seperti melorot kebawah. Maya sepertinya diam, tak perduli dengan keadaannya dan tampak menikmati pijitanku. Dan tanpa diketahuinya aku memelorotkan celana pendekku juga dan menempelkan celana dalamku ke celana dalamnya. Sehingga dedeku dan garis pantatnya hanya hanya dibatasi 2 lembar kain tipis saja.

Aku mulai berani memijit kearah depan pantatnya, seolah memberi pijitan, lebih tepat rabaan, kepahanya dan menyentuh pinggiran tonjolan daging didepannya. Memberinya tekanan, menyuruhnya lebih menekan lagi ke Dedeku. Entah mungkin akibat rabaan2 yang kulakukan terhadapnya, kelihatannya Maya mulai terpengaruh. Pada saat aku mengulanginya untuk keberapa kali, memijit pahanya dan menyentuh tonjolan dagingnya, kulihat matanya melirik kepadaku dengan tatapan lirih dan sayu.

Ia mulai terangsang. Entah berapa lama ini kulakukan, dedeku semakin tegang. Aku pura2 capek memijitnya, mulai melepaskan pijitan dipantatnya dan meraih pinggangnya dengan telapak tanganku menyentuh perutnya. Kurebahkan kepalaku dibantal dimana kepalanya juga berada disitu, terpejam.

Tanganku mulanya hanya menyentuh diperutnya, dengan jempolku diatas pusarnya. Mulai bekerja kembali, tidak memijitnya namun mengusap-usapnya bagaikan seorang ayah yang menenangkan bayi yang dikandung istrinya. Namun itulah yang mungkin justru membuat maya semakin terangsang. Ia mulai melenguh pendek, membiarkan tanganku diperutnya dan menarik kaosnya kedepan agar lebih longgar bagi tanganku didalamnya. Entah pikiran darimana, hal ini seakan memberikan lampu hijau kepadaku untuk lebih jauh.

Dengan mataku yang terpejam, sementara badanku merapat erat dibelakang badannya. Aku melancarkan seranganku terhadap maya semakin gencar, tanganku melewati pinggangnya, mengelus2 perutnya, mengelus bawah pusarnya, menelusup kedalam celana pendeknya, meraba tonjolan dagingnya, kurasakan bulu2 yang mengumpul bagaikan permadani yang terhampar, menyentuhnya sebentar seolah tanpa sengaja, menariknya kembali keatas. Maya seakan pasrah, tanpa perlawanan, seolah tak menyadari apa yang akan kulakukan terhadapnya. Aku mulai melebarkan rabaanku, mengelus perutnya berputar keatas pusarnya, menyentuh ujung batas bawah BH pinknya dengan jempolku, terus berputar meraba, diam sejenak menunggu reaksi maya terhadapku, apakah ia akan menghentikanku, meraih tanganku dan menyentakkannya keluar dari badannya ?.

Namun hal itu tidak terjadi, maya seolah menunggu aksiku untuk melangkah
lebih jauh, memindahkan tangannya yang semula menindih tanganku, menjadi berada diatas kepalanya menutupi kupingnya. Mataku tetap terpejam seolah yang kulakukan ini adalah mimpi, seakan aku mengigau melakukan sesuatu yang tak kusadari. Tanganku mulai keatas, meraba payudaranya yang tertutup bra merah jambu itu, menyentuhnya bebas seakan milikku dan tak ada seorangpun yang berhak melarangnya. Merabanya dan hanya menekannya sesaat, menunggu reaksi penolakan yang tak kunjung tiba. Giat aku mencari pemenuhan kepuasan, aku mulai meraba lebih jauh keatas, menyentuh buah dada yang tak tertutup oleh bra, mengelusnya pelan, memberikan rangsangan terhadap pemiliknya. Kebawah lagi, membelai dan menekan bra yang menempel, meremasnya perlahan, kudengar suara Maya seperti merintih tertahan, namun tetap membiarkan. Aku semakin buas menjamahnya, meremasnya bagaikan sobekan kertas, menarik BH-nya kebawah, membiarkan putingnya mencuat keluar. Kembali meremasnya, menjepit putingnya dengan telunjuk dan jari tengahku, memutar2kan telapak tanganku, memberinya sensasi yang mungkin belum pernah dirasakannya.

Kurasakan puting payudara Maya yang sebelumnya kecil dan lunak, kini semakin panjang dan mengeras, begitu juga dengan payudaranya, yang semula lembek dan seakan landai bagaikan lembah, kini bagaikan gunung yang menjulang tinggi. Namun aku tak berani melangkah lebih jauh, ingin aku membalikkan badannya yang miring itu, telentang dan aku menindih diatasnya. Remasan tangan kananku di payudaranya semakin tak terkendali, aku sangat menikmatinya, tak terasa Dedeku yang menempel erat di garis pantatnya seakan tak terkendali, seakan pantatku turut bergoyang untuk mengarahkan dedeku agar lebih menikmati sensasi yang ada. hingga kudengar dari mulut Maya suara yang lebih tepat dikatakan rintihan.... “Aa...” hanya itu kata yang keluar dari mulutnya. Namun itu cukup menyentakku dan menyadarkanku akan apa yang telah kulakukan.

Kuhentikan gerakanku, kutarik BH-nya dan kututupi kembali payudaranya, kuraih tanganku, diam sejenak. Kurebahkan badanku telentang, menjauhinya, mengatur napas agar normal, diam beberapa saat. Kusesali apa yang barusan terjadi, aku bangun berdiri, memperhatikannya sesaat, kutatap wajahnya, kulihat matanya terpejam seolah tertidur. Aku menarik napas dan menghembuskannya perlahan, tak ada gerakan apapun darinya, entah itu memprotes terhadap apa yang telah kulakukan kepadanya atau pun lainnya. Kubalikkan badanku, membelakanginya, meninggalkannya keluar ke arah kamarku.

Aku menghempaskan badanku, merebahkan diri dalam ranjang tempat tidur, mendengarkan suara rintik hujan yang datang, entah apa yang kurasakan, seolah pikiranku kosong seiring dengan air yang jatuh dari langit, melayang, menjemput impian.

Terjaga aku dalam nyenyakku, kurasakan dingin menyelimutiku, hingga kesumsum tulangku. Berusaha mencari kehangatan dengan meraba dalam kegelapan, mencari selimut. Namun rasa dingin menyergap dan semakin terasa, sepertinya tubuhku tak kuasa menahannya dengan perut laparku !. Kupaksakan diriku untuk bangun beranjak keluar dari ranjangku, kupicingkan mata dalam kegelapan, memandang kedinding untuk bertanya kepada sang waktu. Jam menunjukkan pukul 1 lebih 10 menit, lewat dari tengah malam, melangkah gontai aku berjalan keluar kamar, melangkah pelan, yang kutuju adalah ruang makan !.

Kuperjalan setengah terpejam, dalam keremangan lampu koridor, kulirik kamar Moza, sore tadi kamar yang kulihat gelap gulita, kini telah diselimuti lampu temaram, yang menandakan bahwa kamar itu telah berpenghuni, dan penghuninya mungkin telah tertidur pulas. Melewati kamar Maya, menengok ke arah dalam pintu yang terbuka lebar, sekilas diranjang sebelah kiri kulihat maya tertidur dengan posisi miring menghadap tembok, pulas. Aku tak melihat ranjang disebelah kanan, karena terhalang oleh daun pintu yang tertutup sebelah. Kuteruskan langkahku, meniti anak tangga, kebawah menuju ruang makan.

Kuhampiri meja makan, terdapat piring yang tertelungkup beberapa, kubuka tudung saji, meletakkannya disalah satu bangku, dan kubalikkan piring, mengambil nasi yang sudah menjadi dingin secukupnya mengambil lauk yang tersedia beberapa, mulai menyuapnya, mengunyahnya dan menelannya dengan terpaksa. Dalam keheningan malam, serasa hidup didalam hutan belantara, sendirian, melamun, menerawang sambil sedikit demi sedikit menjejalkan makanan mengisi rongga perutku.

Tiba-tiba dalam keheningan malam kudengar suara mobil, yang semula pelan, semakin keras dan menderu, mendekat. Berhenti seperti mendadak mengerem dengan decitnya, suara mesin terdengar seperti aku mengenalnya, hapal akan suaranya. Terdengar suara mesin menggerung seakan memastikan bahwa posisi kopling berada dalam posisi netral dengan diikuti injakan pedal gas yang dalam untuk memastikannya. Terperanjat aku melirik kearah ruang depan, seakan ada cahaya menyinari dari balik gorden, terang sesaat, menandakan bahwa mobil tersebut berhenti di depan rumah ini.

Segera aku bangun, bangkit dari kursi, meninggalkan nasi dalam piring yang sedikit lagi habis, bergerak menuju ke depan. Kunyalakan lampu ruang depan, sambil bertanya dalam hati, siapakah gerangan ?. saat lewat tengah malam begini rupa, mencoba menentramkan hatiku dengan mengira kalo itu adalah mobil Om atau Tanteku yang baru kembali dari luar kota dan memutuskan untuk pulang lebih awal. Kubuka perlahan gorden ruang tamu, mencoba tetap tenang namun tetap waspada, mengintip dari celah gorden yang tersibak. Terperanjat aku melihat ke arah luar !.

Tampak diisana, kulihat Mita sedang menutup pintu mobil sebelah kanan, lalu berjalan memutar mengelilingi mobil, membuka pintu mobil sebelah kiri, berbicara sejenak, tak lama kemudian kulihat temannya tadi siang yang bernama ira keluar, kulihat Mita meraihnya, merangkulnya dan memapahnya setelah menutup pintu mobil.

Bergegas aku bergerak ke arah pintu, memutar anak kunci pintu dan membukanya, menghampiri Maya yang terlihat berat memapah temannya, “Ya ampun Mit, darimana ? kok jam segini baru pulang sih ?”, namun sepertinya aku tak memperoleh jawaban, hanya kudengar suara seperti orang menggeram, atau melenguh, kuperhatikan wajahnya sesaat, tampak mukanya merah dengan sorot mata yang dipaksakan untuk membuka. Kulihat lagi wanita yang disebelahnya yang dipapahnya, berusaha keras untuk berdiri, juga dengan mata setengah terpejam, berusaha untuk berjalan. Kucium bau menyengat dari arah mulut keduanya, bau yang tak asing bagiku, minuman keras !.

Dengan mengambil posisi ditengah2 keduanya, kubimbing mereka menuju kedalam rumah, tangan mereka berdua berada dibahuku dan tanganku berada dibahu keduanya, berjalan pelan menuju ruang tamu, mendudukkan mereka.

Aku meninggalkan mereka sambil menggelengkan kepala, berjalan keluar, menutup garasi yang memang terbuka mungkin sejak sore, dan kembali kearah pintu masuk, menguncinya dan memastikannya bahwa rumah dalam keadaan safety. Pikiranku berputar keras, darimana mereka ? apa yang telah terjadi terhadap mereka ?, bukankah mereka tadi pamit kepadaku untuk menghadiri pesta yang diadakan temannya ? Kenapa Mita pulang2 tampak seperti mabuk ? giting, teler, namun ada yang lebih kucemaskan, seandainya terjadi hal-hal yang tak diinginkan, apa yang akan kulakukan ? bagaimana Mita dapat menyetir mobilnya dalam keadaan seperti itu ? Bagaimana bila terjadi kecelakaan menimpanya ?

Berjuta pikiran berkecamuk didalam otakku, memikirkan Mita, menyudutkanku, seolah aku tak peduli dengan adik sepupuku ini, membiarkannya terjadi, namun ini bukan seperti Mita yang kukenal, sepertinya ia terpengaruh oleh teman-temannya, biar dikatakan cewek gaul, ia mengikuti ajakan temannya untuk meminum minuman keras.

Memasuki ruang dimana kududukkan Mita dan Ira, kulihat mereka seolah tak perduli kepadaku, mereka saling memandang kemudian entah apa yang dibicarakan, seolah berbisik dan kemudian tertawa keras, sejenak kuperhatikan, dengan rok mini yang dipakai keduanya, tak peduli dengan keadaannya, duduk sembrono. Mita kulihat mengangkat kaki kanannya dan menyilangkannya ke salah satu sandaran tangan yang terletak dipinggiran kursi mebel, seolah tak perduli dengan posisinya, rok mininya seperti tertarik keatas pinggangnya, memperlihatkan selangkangannya yang ditutupi celana dalam warna putih.

Kulihat Ira lebih parah lagi, merebahkan kepalanya ke sandaran tangan mebel itu, kakinya yang kanan diletakkannya diatas, dan kaki kirinya dijulurkannya kebawah, kelantai, dengan posisi seperti itu, jangankan hanya selangkangannya, celana dalamnya pun terlihat sampai kebagian atas, celana dalam berwarna putih itu menampakkan bayangan hitam diatasnya. Kutertegun sejenak menatap mereka. Apa selanjutnya yang harus kulakukan ?

Aku berpikir sejenak, lalu kuputuskan untuk memindahkan mereka keruang atas, memikirkan situasi terburuk yang akan terjadi, seandainya sang kakak melihatnya dalam kondisi seperti ini, atau Bi iyem melihatnya, dan mungkin yang lebih parah lagi bila kedua orang tuanya melihatnya, aku takut memikirkannya seandainya Om Mirza atau Tante Maya pulang lebih awal dan melihat kondisi Mita seperti ini. Tentu semuanya akan berbalik kepadaku.

Kuangkat dan kupapah mereka, berusaha berjalan tertatih-tatih, pelan namun pasti, bergerak menuju lantai atas. Mereka menurut saja dengan apa yang kulakukan, mengikuti langkahku dengan berat. Kutarik napas panjang setelah selesai meniti anak tangga, terengah sejenak, lalu melangkah kembali, menuju kamar Mita. Kubuka perlahan daun pintu yang terbuka setengah, kulihat Maya tertidur, terlentang, tak sadar dengan apa yang terjadi, kulihat saking pulasnya, kaos bajunya terbuka keatas, memperlihatkan Bra-nya sebagian, mengingatkan aku dengan apa yang terjadi tadi sore.

Bingung kusesaat, dimana aku harus menaruh kedua wanita ini, kulihat dengan ukuran kamar yang sama besar denganku, terdapat 2 tempat tidur yang kecil, yang hanya cukup muat ditiduri oleh satu orang, sedangkan dibawahnya kulihat hanya terdapat karpet tipis kecil polos yang mungkin muat satu orang, namun banyak buku berserakan disana. Setidaknya aku harus membereskannya terlebih dahulu.

Aku berpikir cepat, entah darimana ide ini, aku bergerak balik keluar, kupapah keduanya melewati lubang pintu yang sama, bergerak kearah kamarku, kuputuskan untuk menaruh keduanya dalam kamarku, toh nanti setelah membaringkan keduanya dalam tempat tidurku yang cukup besar, yang mampu menampung dua orang atau malah cukup untuk tiga orang, aku dapat menumpang tidur dikamar Maya, diranjang tidur Mita.

Memasuki kamar, mungkin antara sadar dan tidak, Mita sepertinya sudah tak tahan untuk merebahkan dirinya, dan mungkin juga akibat kendornya peganganku terhadap Mita, kulepaskan Mita yang seolah hendak terjatuh kelantai, sambil memegang lengan bahuku, mencari tempat yang nyaman diatas karpet tebal di lantai kamarku. Setelah memastikan posisi tubuhnya aman, dia segera merebahkan dirinya.

Sementara Ira, masih dalam papahanku, kuraih tubuhnya dengan tangan kiriku yang semula memegang Mita, merangkulnya dan hendak mengangkatnya kepembaringan. Cukup berat memang mengangkat tubuh montok yang tingginya hampir sebaya denganku. Aku berusahan untuk mendudukkannya dipinggiran pembaringan, tangannya berada dibahuku, memeluk leherku, dengan mata berusaha membuka, berupaya melihat siapa yang berada didepannya. Aku tak peduli, kedorong tubuhnya untuk membiarkannya berbaring, dan celakanya dengan mendorongnya, karena tangannya masih melingkar dileherku, justru membuat badanku ikut terbawa, terhempas kedepan!.

Tertegun aku sejenak, posisi badanku kini menindih ira, kepalaku tepat diatas kepalanya dan kurasakan hembusan napasnya dihidungku, sangat dekat. Kulihat ira menatap mataku, saling menatap, sekilas. Entah siapa yang memulai, dan seakan insting membimbingku, padahal hati kecilku seakan menolak, kurengkuh kepalanya seakan menyuruhnya mendongak, kusentuh bibirnya dengan bibirku, lembut, dan entah bagaimana, seolah tangan yang berada dileherku seakan berpindah kebelakang kepalaku, menariknya agar lebih mendekat, merapatkan kedua wajah kami.

Kurasakan kedua bibir kami saling bertautan, saling mencengkram, berusaha mendahului satu sama lain, saling menguasai, berusaha untuk memonopoli. Merengkuhnya, melumatkan bibirnya, memainkan lidahku didalam rongga mulutnya. Posisi badanku mulai mencari tempat yang pas, dan Ira seperti mengerti akan keadaan, dia mengangkat kakinya, bergeser dan membuka pahanya agar lebih terbuka dan membiarkan aku berada ditengah2nya. Aku seakan memanjat tebing, berusaha menjalari tubuhnya, memposisikan diriku agar berada pas diatas badannya.

Bibirku bergeser ke pipinya menuju arah lehernya, menciuminya, memancing gairahnya yang mulai meledak, terus menuruninya, bergerak ke arah dadanya. Tanganku seolah mengerti akan tugasnya, kutarik dari belakang leher yang menimpanya, berusaha menjamah badannya, meraba sekujur tubuhnya dari mulai paha terus keatas, kepinggang, perut dan mengarah ke dada. Kutarik bagian atas bajunya yang menutupinya dadanya sebagian. Menariknya sehingga memperlihatkan tonjolan dadanya yang putih, dan ranum itu. Aku mencium dada bagian atasnya, mengecupnya perlahan dan memainkan tanganku di dadanya yang menggumpal. Menekannya, merabanya dan meremasnya perlahan, kulihat dari mulutnya terdengar suara lirih melenguh, dengan mata terpejam.
Aku mulai menuruninya, kuturunkan kepalaku, sesekali mulutku meraba tubuhnya, menciumi baju luarnya, terus kebawah, ke atas kemaluannya hingga mencapai pahanya. Kutarik keatas baju yang menutupinya, seolah mengerti akan kemauanku, diangkatnya pinggangnya, menyorongkannya ke depan, dan membuka ikat pinggang besar yang melingkari pinggangnya, menariknya dan melemparkannya kebawah.

Aku makin beringas dan seolah ikut tak sadarkan diri, kuciumi bagian bawah pahanya, merabanya dengan kedua tanganku, dan menggerakkan bibirku untuk menciumi selangkangannya dari luar CD-nya. Seakan tak puas atas apa yang telah kulakukan, dan menginginkanya lebih dari itu, dia memegang bagian bawah bajunya, menariknya keatas hingga keleher, diangkatnya kepalanya, disusul dengan mengangkat badannya, duduk dan meloloskan bajunya melewati kepala, menaruhnya disebelahnya dan kembali merebahkan badannya.

Kini dihadapanku tergolek tubuh setengah telanjang, hanya dengan Bra dan Celana dalam warna krem menutupinya, menatapku setengah terpejam, berharap aku untuk menyelesaikan apa yang telah kumulai. Aku melirik ke lantai, bawah ranjang, tampak tergolek disana tubuh Mita, tak mengetahui apa yang telah terjadi diatas ranjang ini. Sejenak kutatap wajahnya, kulihat lengannya menutupi matanya, seperti berusaha agar memejam. Kupikir saat itu situasi dalam keadaan aman terkendali. Kembali mataku menatap ke depan, menatap tubuh mulus yang tergolek setengah sadar.
Kuangkat kaos bajuku, mengeluarkannya lewat kepala, melemparkannya kebawah. Sesaat kemudian badanku menjalar, menindih tubuh didepanku. Menciuminya kembali bertubi-tubi, bibir sensualnya, lehernya, dadanya, menarik Bra hingga payudaranya menyembul keluar.
Seolah mengerti akan keinginanku dan mengharapkan lebih perlakuanku, ketika aku terus merabanya, menciuminya turun terus kebawah, kearah selangkangannya, Ira menyorongkannya badannya kedepan, menarik pengait BH dibelakangnya, melepaskannya, saat yang sama, aku menarik celana dalamnya, memelorotkannya kebawah lewat ujung kakinya.

Kuraba paha mulus, jenjang, putih dihadapanku, menundukkan wajahku ke arah selangkangannya, menghembuskan napas diatas dataran paha yang rata, licin tak berdempul itu, menciuminya sesaat dan mengarahkan bibirku ke vaginanya. Kuendus perlahan, terasa aroma yang sensasional, menggiringku untuk lebih mendekat, menjulurkan lidahku dibawah tonjolan bukit landai itu, merasainya. Kubelai permukaan celah sempit itu dengan lidahku, seolah mencicipi es cream saat pertama kalinya, dan menjulurkannya kembali, menjalarinya dengan lidah, mengecapnya berulang-ulang.

Kudengar rintih halus yang keluar dari mulut Ira, desahan-desahan lembut yang diiringi bunyi napas yang semakin tak beraturan, diikuti gelengan kepala kiri kanan yang semakin cepat. Tangannya diarahkannya ke belakang kepalaku, berusaha menekan kepalaku, berharap agar aku melakukan penetrasi lebih dalam, dan membuka jarak antara kedua pahanya semakin lebar, memberikan ruang kepadaku agar aku dapat memasukinya lebih dalam.

Tanganku tak tinggal diam, kuangsurkan keatas, mengarah ke dadanya. Kubelai pelan kedua buah dada yang kini telanjang itu, bulat, lonjong, kenyal. Merabanya, menekannya, merasakan kedua putingnya berada dalam rengkuhan telapak tanganku. Berusaha mengumpulkannya dalam genggaman, agar dapat merengkuhnya sekaligus. Meremasnya dengan lembut namun semakin lama semakin gemas. Desahan dan rintihan Ira semakin terdengar jelas, disusul oleh bunyi kecupan bibir dan lidahku, seprei yang semula rapih kini telah kusut dan tertarik kemana-mana. membuat kesan bahwa di kamar itu sedang terjadi aktifitas.

Sesaat pikiranku kosong, melayang entah kemana, menikmati sensasi yang ada, melupakan keadaan sekeliling, hanya terfokus pada satu keinginan, memuaskan segala hasrat yang terpendam.
Sesaat kehentikan segala aktifitas, terdiam sejenak ketika menyadari ada sesuatu yang lain. Kupalingkan wajah kearah belakangku, tak jauh dari pinggir ranjangku, kulihat Mita sedang berdiri, menatap ke arah kami berdua !.

Mita yang semula kukira tertidur pulas, dibawah, dilantai karpet kamarku, tampak telah berdiri dihadapan kami berdua, mita yang semula kukira tidur terpejam, berusaha menghilangkan rasa pusing akibat minuman keras yang diminumnya, berdiri, menatap tajam, memperhatikan segala gerakan yang kami lakukan. Terhenyak aku melihatnya, terkejut !

Namun rasa terkejutku tak lama, kulihat Mita yang berdiri memandangi kami berdua, membuka kancing baju kemejanya satu demi satu, terus menerus menatap kami tak bergeming seakan tak ingin kehilangan moment.
Ira begitu menyadari bahwa aktifitas yang kulakukan terhenti, mengangkat kepalanya berusaha mencari tahu apa yang terjadi. Dilihatnya aku terdiam sambil memalingkan wajah ke samping, ikut mengarahkan wajahnya ke arah pandanganku, dan dilihatnya Mita menatap kami berdua. Namun Ira seolah tak perduli akan adanya pihak ketiga, yang memperhatikan apa yang dilakukannya denganku. Dia mengangkat badannya, memelukku dan menarikku kedalam pelukannya, memintanya agar aku menindihnya, melanjutkan aktifitas yang sempat terhenti.

Aku memperhatikannya Mita dengan penuh tanda tanya, apa yang akan dilakukannya ?, karena kulihat Mita, mencopot semua kancing bajunya, mengarahkan tangannya ke punggungnya, dan tak lama kemudian kulihat ia telah memegang BH-nya disalah satu tangannya dan melepaskannya dilantai. Dengan kemeja yang kancingnya telah terbuka semua, jelas memperlihatkan hampir semua bagian payudaranya yang montok, melangkah dengan anggun, menghampiri ranjang kami.

Aku yang berada diatas tubuh Ira dengan posisi terduduk diatas pahanya, terdiam sejenak, memperhatikannya mengangkat kaki kanannya, dan menaruh lututnya di bibir ranjang, kaki kirinya menyusul kemudian, beringsut, menjejakkan pantatnya disamping pinggul Ira yang telentang, menatap wajahku dengan tatapan sayu.
Dipegangnya bahuku, direngkuhnya agar mendekat, yang membuat badanku miring kearahnya, memaksaku untuk memalingkan wajahku kearahnya, mendekatkan bibirku ke bibirnya, yang dengan segera melumatnya. Terpejam aku menikmati perlakuannya.

Seumur hidupku, jangankan membayangkan, bermimpipun aku tidak pernah mengalaminya, kini dihadapanku terdapat dua gadis manis, yang memintaku untuk mencumbunya, satu dibawahku telah terbujur polos menunggu untuk aku setubuhi dan satu disampingku dengan dada terbuka menunggu giliran berikutnya. Aku bergerak bangkit, mengangkat salah satu kakiku, melangkahi badan Ira, beringsut ke arah Mita.

Aku jongkok dihadapannya, memelorotkan celana pendek katunku, sekaligus dengan celana dalamku, menurunkannya perlahan melewati ujung kakiku dan bersimpuh dihadapan Mita, merengkuhnya, dan dibalas dengan Mita yang memelukku erat, menciumi bibirku dengan rakus, mengulumnya, memainkan lidahnya didalam rongga mulutku, dan kubalas dengan memainkan lidahku dimulutnya. Di dalam hatiku jelas aku lebih memilih sepupuku Mita dibandingkan dengan temannya Ira, dalam hal wajah Mita jauh lebih cantik, bodypun Mita lebih bagus, kulit putih, mulus, ditumbuhi bulu-bulu halus, dengan pantat yang diturunkannya dari sang ibu, dan dengan dada bulat, ranum, montok.

Ira tak tinggal diam, seakan tak rela, mainannya direbut oleh Mita, berusaha bangkit, duduk, dan memelukku dari belakang. Menjilati kupingku, menciumi leherku, dan mengusap-usap dadaku, dengan terus menekan payudaranya kepunggungku, menggoyangkan badannya seolah-olah punggungku sedang meremas payudaranya.

Aku menciumi leher Mita, tak perduli dengan apa yang dilakukan Ira terhadapku, kulihat Mita menengadahkan kepalanya, menikmati sensasi ciumanku, tangannya bergerak meraba payudaranya. Aku mengerti, kearahkan ciumanku ke dadanya, menelusuri lidahku disekeliling lingkaran merah kecoklatan putingnya. Dari payudara yang satu ke payudara yang lain, bergantian. Dan tak lama kemudian, cuimanku kuarahkan kembali ke leher dan bibirnya, tanganku merengkuh Mita, kumiringkan badanku, bergerak untuk mengambil posisi berbaring, mengajak Mita untuk menyusulku, berbaring disebelahku.

Mita mengerti akan keinginanku, tanpa melepaskan ciuman dibibirnya, mengikuti arah kepalaku, menciumiku yang kini terbaring telentang. Disisi lain kulihat Ira, yang melihatku akan berbaring, melepaskan pelukannya dipunggungku, tetap duduk diposisinya. Begitu aku terbaring, tanpa menunggu lama, kulihat ia telah memegang penisku. Menundukkan kepalanya dan mulai menciumi penisku. Dicicipinya sekujur batang penisku bagaikan anak kecil yang mendapat ice cream yang diidamkannya, membuatnya semakin keras dan menegang.

Sambil terus menikmati ciuman pada bibirku, dan aku membalas ciumannya, juga tanganku memberikan kenikmatan kepadanya dengan meremas-remas payudaranya, membuat payudaranya semakin mengeras dan putingnya semakin menegang. Mata Mita nampak terpejam sesekali terdengar lenguhan dari dalam mulutnya, rintihan, akan nikmatnya sensasi yang kuberikan.

Tak lama kulihat Mita, mengangkat pantatnya, menurunkan rok mini dan celana dalamnya, membuka bajunya, hingga tubuhnya polos tanpa ditutupi oleh sehelai benangpun. Aku terkesima menatapnya, bagian tubuh yang selama ini tertutup dan hanya kulihat bagian luarnya saja, walaupun kadang aku sering membayangkannya, dengan pakaian yang super mini yang suka dikenakan oleh pemiliknya ini, tapi saat ini aku diperlihatkannya semuanya.

Kembali ia mengarah padaku, menciumi dada, leher, dan bibirku, disusul keningku, kemudian melewati kepalaku, mengerti akan keinginanya ketika payudaranya berada diatas mulutku, kujulurkan lidah menggapainya, memainkan lidahku diputingnya, mengulumnya perlahan dan menghisapnya dengan keras untuk memberikan rasa yang lebih padanya. Sementara tangan kananku kuselusupkan ke selangkangan Mita dan memainkan jari-jariku di bibir vaginanya.

Kurasakan dipenisku ada getaran-getaran halus, kuturunkan mataku melirik Ira yang sedang memegang batang penisku, dan memasukkannya kedalam mulutku, ada rasa yang menyeruak ketika kuluman mulut ira hampir mencapai pangkal penisku dan menariknya dengan perlahan. Berulang-ulang terus sampai beberapa lama.

Aku ingin merasakan sensasi lain, lebih dari kepuasan yang ada sekarang. Aku ingin penisku merasakan sensasi baru, ingin memasukkannya ke salah satu vagina gadis-gadis ini. disaat yang genting ini ketika dirasakan ada desakan yang memuncak dari batang penisku, ketika rutinitas yang dijalani serasa belum memberikan kepuasan lebih. Kuhentikan semua gerakan, bangkit dari posisi berbaring, menarik Ira yang berada dibawahku, dekat penisku dan mengarahkannya agar menindihku.

Memahami keinginanku, Ira menindihku, kemudian menegakkan badan dan mengambil posisi duduk diatas pahaku, mengangkat pantatnya dan mengangkangiku, memegang penisku dan memasukkannya ke dalam vaginanya, pelan, pelan dan mantap menusuk.

Didalam hatiku sebenarnya aku ingin sekali memilih Mita sebagai alat pemuasanku, pemuas napsu birahiku, yang jelas aku memilih barang yang lebih bagus diantara dua pilihan, walaupun yang satu tidak kalah menariknya dari yang lain, namun otakku berpikiran lain, Mita biar bagaimanapun adalah sepupuku, masih saudara denganku, yang aku diminta untuk menjaganya, gadis lugu dan perawan yang saat ini mungkin dalam keadaan tidak sadar dengan apa yang dilakukannya. Tegakah aku untuk menodainya, ketika dirinya dalam keadaan mabuk dan tidak sadar dengan apa yang mungkin telah dilakukannya ?.

Namun Mita seolah sadar dengan pilihanku, dia tidak beringsut menjauh, duduk disampingku, menciumiku dan memberikan kepadaku dadanya untuk aku nikmati.

Ira memberikan sensasi kenikmatan kepadaku, merem melek aku dibuatnya, menikmati goyangan pantatnya, menahanya dengan lutunya, turun naik mengarahkan penisku keluar masuk vaginanya, sesekali aku mengikuti iramanya dengan menggoyang-goyangkan pantatku kekiri dan kekanan, dan kadang mengangkat keatas pantatku agar penetrasi yang ditimbulkan lebih dalam, hingga beberapa saat.

Bangkit aku menegakkan badanku, meminta Mita agar menggeserkan badannya menjauh, kurengkuh Ira, menariknya cepat, membalikkan dan memutar badannya, memintanya merebahkan badannya dan aku mengambil posisi diatasnya. Ira seakan mengerti akan keinginanku, dibukanya pahanya lebar-lebar agar posisi pantatku bisa memasuki selangkangannya. Aku arahkan penisku lurus menuju lubang kenikmatannya, memasukkannya cepat dan menusuknya perlahan hingga mencapai titik maksimum yang dapat kuberikan.

Diangkatnya pantatnya agar penetrasi yang kuberikan lebih dalam, kutarik lagi keluar penisku, sampai ujung kepala penisku, kumasukkan lagi perlahan, begitu terus hingga kulihat Ira memejamkan matanya menikmati sensasi ini.

Kulirik Mita yang terlihat sedang duduk bersandar pada sisi atas ranjang, dengan beralaskan bantal pada punggungnya, kulihat ia sedang memainkan jari-jarinya pada vaginanya, membelai bibir vaginanya serta menggosok-gosokannya perlahan dan semakin cepat, sementara matanya mengarah padaku seakan-akan aku yang memberikan sensasi itu padanya.

Aku terus memaju mundurkan pantatku, seakan menyuruh penisku untuk bergerak maju mundur, keluar masuk. Menatap wajah ira yang terpejam namun terus menggeleng-gelengkan kepalanya, Menatap Mita yang tampak makin terhanyut dengan aktifitas yang dilakukannya, membayangkan bahwa yang sedang kusetubuhi dibawah ini adalah Mita, Aku memacu dengan penuh semangat.

Terdengar lenguhan, desahan dan rintihan dari kami bertiga, tak perduli seandainya ada orang yang mendengar suara-suara yang datang dari arah kamar ini. Peluh bercucuran dimalam yang dingin ini, berlawanan dengan udara dingin setelah hujan yang menerpa sejak sore hingga tengah malam tadi.

Ketika kenikmatan telah mencapai puncaknya, ketika tujuan akan diraih dan ketika awal telah mencapai akhirnya, entah berapa kali kulihat Ira mencapai orgasmenya, namun ketika menjelang titik kulminasi akan menyerangku, sesaat setelah Ira mencapai orgasmenya, kukocok dengan cepat penisku, dan makin cepat, memuncratkan cairan hangat putih kental ke dalam rahim Ira.

Mengerang aku sesaat, demikian juga Mita, yang juga telah mencapai orgasme dengan mastursabiny, kurebahkan badanku disampingnya, memeluknya dengan erat, merangkulnya, membagi kebahagian dan kepuasan yang baru dialami. Ia memelorotkan tubuhnya, bergeser kearah Ira yang tampak telah terbaring dengan wajah penuh kepuasan dan mata terpejam, pulas. Aku mengikutinya, mensejajarkan tubuh kami bertiga, mencium keningnya, memejamkan mata sambil berbaring memeluknya. Tubuh indah yang semula hanya berada dalam bayanganku kini berbaring bugil tidur kelelahan disampingku.

Mataku terpejam mengingat sensasi yang baru saja terjadi, namun pikiranku menerawang jauh. Ada sedikit penyesalan yang kurasakan, rasa khawatir dan takut yang datang silih berganti. Memikirkan kejadian yang tak kuduga sama sekali, membuat mataku makin sulit terpejam.

Tak berapa lama, aku menegakkan badan, bangun dari posisi rebah, melirik ke arah kiriku, dua gadis cantik tanpa busana, tampak tertidur pulas. Menarik napas perlahan seakan tak ingin membangunkan keduanya, menurunkan kakiku menyentuh lantai.

Mataku menerawang dalam keremangan cahaya kamar, mencari benda yang kutuju, pakaianku, menggapainya, dan meraihnya serta mengenakannya. Melangkah pelan, menuju sisi penjuru kamar, mencari selimut yang biasa diletakkan disana, mengambilnya dan melebarkannya, menutupi dua tubuh bugil yang tertidur pulas.

Malangkah ke arah pintu kamar, melangkah pelan, kulirik jam yang saat ini hanya satu-satunya yang bersuara. Jam 3 lewat 37 menit, kupegang gagang pintu, memutarnya, membukanya dan melewatinya. Menutupnya kembali, berjalan gontai menuju kamar Maya, mendorong pintu yang sedikit terbuka, memasukinya, menutupnya rapat-rapat.

Kurebahkan badanku, diranjang yang biasanya dipakai tidur Mita, kurebahkan kepalaku dibantalnya, kupeluk guling dan tercium wangi harum dikeduanya, wangi yang sangat kukenal, wangi yang baru saja kunikmati. Namun wangi harum itu tidak dapat mengalihkan pikiranku, pikiran-pikiran yang membuat otakku menerawang, memikirkan dengan apa yang harus kulakukan besok, memikirkan seandainya Mita sadar dengan apa yang telah kami lakukan, menyesali yang telah diperbuatnya, memikirkan jika ia marah besar, dan mengadukan hal ini kepada saudara-saudaranya, atau bahkan kepada ibunya, apa yang nanti harus kujawab bila Tante Mala menanyakannya kepadaku, memarahiku, meminta tanggung jawabku atau bahkan mengadukan kepada orang tuaku. CHAPTER 7 : MERABA TANTE SANDRA
Hari berganti:
“Fan, kamu nanti antar Tante yah ?” Berkata Tante Mala padaku.
Terdengar kata-katanya begitu lembut namun tegas, mengagetkanku. Saat itu aku sedang menikmati kopi di beranda atas rumah, yang menghadap kolam renang. Pagi ini seperti biasa, bangun tidur, sebelum mandi, aku menghirup kopi, menikmati sinar matahari, menghirup asap rokok sambil melamunkan entah apa. Hari itu memang aku sedang mengambil dayoff dari kantorku, aku berencana mengambil libur beberapa hari, selain badanku agak letih setelah beberapa hari mengejar target setoran kerjaan, juga maksudku adalah untuk menenangkan pikiran, yah mengistirahatkan otakku lah, lumayan dari hari kamis sampai dengan minggu.

Semalam memang aku ngobrol dengan Tante Mala, dan bilang padanya bahwa beberapa hari ini aku akan libur, namun aku tak menyangka bahwa Tante Mala akan memanfaatkan waktu liburku ini. Dari perkataan Tante Mala yang meminta aku mengantarnya seolah tak menginginkan adanya penolakan dariku. “Nganter kemana Tan ? “ aku tak mengiyakan ataupun tak menolaknya, namun hal ini jelas memberikan asumsi kepada Tante Mala kalo aku tidak keberatan namun ada penekanan terhadap kejelasan dari permintaannya. Yang jelas aku kan males aja kalo seandainya disuruh nganter ke tempat arisan atau kumpulan ibu2 yang bikin aku bete.

“Kamu gak ada acara kemana2 kan Fan ?” begitu kata Tante Mala lagi melihat keraguanku muncul, sambil tersenyum seolah membujuk aku agar tak menolaknya. “Ini Fan, Tante ada urusan sama Ibu Sandra, kamu kenal kan ? Tante minta kamu antar dan ikut Tante... kami mau ada acara..ya nanti sore-sorean aja kali Fan, abis Tante malas kalo pergi sendirian...” begitu kata Tante Mala lagi.

Begitu mendengar nama Ibu Sandra disebutkan, kontan pikiranku membayangkan sesosok tubuh. Seorang wanita setengah baya, mungkin seumuran dengan Tanteku ini kurang lebih 36an tahun. Aku memang mengetahui wanita yang dimaksud Tanteku ini, beberapa kali ia datang ke rumah ini, dan aku hanya sebatas kenal saja, beberapa kali bertegur sapa, berbasa-basi dan hanya sebatas itu, tidak lebih. Aku hanya mengiyakan saja permintaan Tante Mala, mengangguk dan menyetujui permintaannya, karen toh menolak pun percuma, lagian aku juga gak ngapa2in ini.
Sebenarnya aku sungkan dan malas mengantar Tante Mala ke rumah Ibu Sandra. Yang membuat aku segan dan malas adalah bahwa biasanya ini menyangkut bisnis perempuan dan aku enggan untuk ikut campur. Kuketahui dari pembicaraan mereka berdua yang kadang tanpa sengaja kukupingi bahwa Tante Mala dan Ibu Sandra melakukan usaha patungan untuk memperdagangkan barang dagangan, namun aku kurang jelas dengan produk yang mereka perdagangkan. Namun yang kuketahui lagi bahwa Ibu Sandra bersuamikan seorang importir yang memasok barang2 dari luar negeri dan mereka berdua memasarkannya disini.

Ibu Sandra dan Tante Mala memang kulihat tampak sangat akrab, beberapa kali Ibu Sandra datang ke rumah ini, dan Ibu Sandra nampak tak sungkan dengan keadaan rumah ini. Seolah rumah ini sudah dianggap sebagai rumahnya juga, beberapa kali beliau kulihat makan bersama, kadang ikut tiduran di ruang keluarga, kadang ikut renang dan menumpang mandi disini. Aku baru mengetahui bahwa sebenarnya Tante Mala dan Ibu Sandra dulunya adalah teman satu sekolah, dan suami ibu Sandra juga adalah teman satu sekolah mereka.

Sore itu seperti yang telah disepakati, setelah aku cukup istirahat, lumayan ketiduran pules beberapa jam, aku pergi mengantarkan Tante Mala ke tujuan yang dimaksud, tentunya setelah aku mandi dan berdandan ala kadarnya, yang jelas aku usahakan agar aku berpenampilan tidak kelihatan ndeso, namun jika kubandingkan dengan Tante Mala, jelaslah aku kalah jauh. Seperti layaknya Tuan dan Majikan, hehehehe….kuperhatikan Tante Mala berdandan dengan dandanannya yang Wah, bikin ngiler. Dengan dandanannya yang kulihat seperti serba terbuka, nampak mempertontonkan keindahan tubuhnya. Aku tak menyangka bahwa Tante Mala kelihatan seperti gadis 20an tahun, jauh menggambarkan dari umur sebenarnya.

Dengan baju entah model seperti apa, hanya dengan tali sebelah yang menggantung di pundaknya, dengan belahan dada yang cukup rendah, dipadu dengan celana ketat, jelas menimbulkan hasrat bagi setiap lelaki yang melihatnya. Aku meliriknya sesaat saat menjalankan mobilnya, melintas dipikiranku seakan-akan aku membawa cewek yang menjadi pacarku dan sedang mengajaknya kencan.

Mobil kuarahkan menuju tempat yang dimaksudkan, tak banyak perbicangan yang terjadi selama kami berada dalam mobil, beliau hanya sesekali mengajukan pertanyaan yang tidak begitu penting, hanya sekedar basa-basi sambil menunjukkan ke arah mana aku harus berbelok.

Pikiranku menerawang saat sesekali melirik wanita yang berada disebelahku ini. Dia memang Tante Mala, wanita yang sangat cantik, berbody mulus, putih, halus, montok, sexy dan segala macam kata2 yang ada aku kira tidak dapat menggambarkan ke-perfect-an tubuhnya. Wanita yang sangat kukagumi akan kecantikan dan kemolekannya, yang aku sering membayangkan, dan selalu berharap dapat menjamahnya lagi. Pikiranku jadi malayang, mengingat kejadian-kejadian selama aku tinggal dirumahnya, kejadian2 yang membuat hati ku berdesir, membuat seolah perutku tertarik.

Aku membayangkan kejadian dimana aku memijitinya, meraba2 seluruh bagian tubuhnya, meremas2 payudaranya, dan memasukkan dedeku ke vaginanya, sementara beliau sedang tertidur pulas.


Pernah sering kali, saat beliau mungkin sedang ingin berbagi cerita dengan seseorang, beliau memasuki kamarku dan mengajakku ngobrol ketika aku sedang mengerjakan pekerjaan. Kadang ngobrol hingga jauh malam, hingga membuatnya tanpa sengaja tertidur pulas. Disaat itulah pikiran kotorku sering timbul, kubiarkan ia tertidur pulas dikamarku, dan beberapa lama kemudian, dengan sengaja dan pelan2 aku ikutan merebahkan badan disampingnya.

Dan seakan ada yang membimbingku, dan mengajariku bagaimana caranya mendapatkan sensasi, aku akan berpura2 tertidur juga disampingnya, berpura2 tanpa sengaja menaikkan dasternya hingga ke batas pinggulnya, sehingga membuat pahanya terlihat, membuat celana dalamnya terbuka, dan aku akan berpura2 tertidur pulas dengan memeluknya dari belakang, menempelkan dedeku diantar garis pantatnya, dan kadang mengeluarkan dedeku agar sekedar mendapat celah untuk menyelusup dan mendekam diselengkangannya. Sementara tanganku memeluknya dari belakang, berusaha meraih payudaranya, menyentuhnya pelan, kadang sampai meremas-remasnya, hingga berhasil mencapai kepuasan.

Setelah beberapa lama aku tinggal di rumah tanteku ini, memang kadang membuatku berpikir bahwa aku telah semakin rusak dan merusakkan. Aku yang dulu dididik oleh orang tuaku dengan pendidikan agama yang cukup ketat, lambat laun kini telah berubah. Kuakui bahwa dirumah inilah aku mengenal sex, merasakanya langsung. Selama ini kukenal sex hanya sebatas pengetahuan saja, dan merasakannya hanya dengan membayangkannya saja.

Aku mulai nekat ingin merasakan sex, ketika aku berada dirumah ini, ketika aku mulai melihat dengan mataku sendiri, wanita-wanita cantik di rumah ini, yang notabene adalah bukan muhrimku, yang sering memancing birahiku ketika aku melihat mereka dalam keadaan yang membuat kelaki-lakianku bangkit. Semakin lama aku tinggal di rumah ini, kurasakan bahwa aku semakin tidak dapat mengendalikan hawa napsuku. Aku semakin rusak, ketika malah sebaliknya, hawa napsukulah yang mengendalikan aku.

Sering aku membuat salah satu dari mereka, entah Tante Mala, Mita atau Maya yang menjadi bahan dari masturbasiku, mungkin hanya Mozalah yang selama ini belum pernah aku sentuh. Tante Mala sering kujadikan objek seksualku saat ia sedang terlelap, si bungsu Maya malah seolah belajar dari aku bagaimana caranya mendapat sensasi dalam urusan seks ini, tidak jarang sepertinya Maya mungkin sewaktu ada “keinginan” dan tidak tahu harus melakukan apa, meminta padaku untuk memuaskan keinginannya itu entah dengan cara memeluk-meluk aku dan membiarkan aku menjamah seluruh tubuhnya hanya sekedar ingin merasakan rangsangan yang memberinya kepuasan.

Mita anak keduanya, bahkan pernah hampir saja melakukan hubungan terlarang denganku, melakukan hubungan seksual denganku kalo saja aku tidak dapat menguasai dan mengendalikan napsuku, ia kulihat memang lebih berpengalaman dari saudara-saudaranya, ia yang mulanya sangat aku takutkan untuk mengadukan kejadian tersebut ternyata hanya berkata kepadaku untuk melupakan semua yang terjadi serta tidak membuka rahasia ini kepada siapapun, dan justru itu yang membuat aku merasa “aman”.

Pernah suatu ketika saat kami semua beramai-ramai berolah raga renang, hampir semua wanita2 dirumah ini mejadi objek seksualku, dari sekedar menyentuh, meraba seolah tanpa sengaja, hingga menempelkan dedeku dibagian tubuhnya. Hingga aku sempat merasakan kesan bahwa aku merusak mereka. Entahlah yang jelas mereka semua adalah menjadi objek atau bahan colai/masturbasi ku.

Aku semakin melamun, membuat aku yang sedang menyetir mobil tanteku ini, tidak dapat berkonsentrasi, membangunkan dedeku sehingga membuat celanaku menonjol keluar, kulirik ke sebelah, tampak tanteku sedang mengarahkan pandangan ke depan, melihat ke arah jalan yang kulewati. Aku membayangkan bahwa Tante Mala saat ini, sedang menggodaku, menurunkan baju merah ketatnya, memperlihatkan payudaranya, menyentuhnya, memancingku untuk melihatnya, memintaku untuk menyentuhnya, merabanya dan meminta aku untuk meremasnya.

Duh, seandainya yang disebelah kiriku ini adalah pacarku, mungkin aku sudah meng-apa-apain-nya sejak tadi, aku mungkin sudah menarik bajunya, menyembulkan payudaranya keluar, memegang dan meremas-remasnya sambil menyetir kendaraan ini, duh seandainya ia bukan Tanteku….

Tak terasa mobil yang kukendarai telah sampai di tempat tujuan, hari menjelang maghrib ketika ketepikan mobil di depan garasi sebuah rumah yang cukup asri, mungil namun memberi kesan bahwa rumah tersebut dimiliki oleh orang yang berkecukupan. Tante Mala turun dari mobil, dan memintaku untuk menyertainya turun. Mulanya aku enggan dan mengatakan padanya bahwa aku lebih baik menunggunya di mobil saja, namun Tante Mala mengatakan padaku bahwa kemungkinan akan lama dan meminta aku menyertainya.
Aku akhirnya mendampinginya untuk memasuki rumah itu, membuka pagar dan mengiringi langkah kaki Tante Mala masuk ke dalam rumah. Kulihat ada sebuah mobil terparkir digarasi dalam rumahnya, terus aku menghampiri pintu depan. Belum sampai kami di depan pintu dan hendak mengetuknya, kulihat pintu depan rumah terbuka, dan nampak dibalik pintu seraut wajah cantik dan ramah menyapa kami berdua.

“Hai, jadi juga rupanya kalian datang, sudah ditunggu tunggu sejak tadi, kirain gak pada jadi datang” sambutnya ramah, sambil membuka pintu lebar-lebar. Tante Mala tampak disambut gembira oleh Tante Sandra, keduanya berpelukan sembari cium pipi kanan dan pipi kiri, yang membuatku menjadi jengah, dan inilah yang membuat ku agak bersemu, tanpa sungkan2 Ibu Sandra, memberikan aku cipika-cipiki juga. “Eh Fandi, kmu ikut juga toh, gitu dong sekali2 maen ke rumah Tante “ katanya sembari mencium pipi ku. Aku hanya tersenyum mendapat perlakuannya, yang semula aku ingin memanggilnya dengan sebutan ibu, kini seolah mendapat penghargaan dengan disuruh untuk memanggilnya Tante.

Aku menjadi bersemu merah karena pada saat itu Tante Sandra mengenakan baju tipis, transparan warna kebiru-biruan, dengan bercelana santai , mungkin saat itu beliau baru selesai olehraga sore dan karena dirumah ini kulihat tidak ada siapa2 selain beliau seorang diri jadi mungkin Tante Sandra cuek saja dengan dandanannya.
Namun jelas ini membuat pikiranku miring, dan mukaku menjadi bersemu merah, bagaimana tidak, biar bagaimanapun aku adalah seorang lelaki yang jelas jika melihat pemandangan seperti ini membuat kelaki-lakianku bangun.

Rumah itu kulihat kecil saja, hanya terdapat ruang tamu, ruang keluarga dan hanya 2 kamar tidur, hanya terdapat foto Tante Sandra dan Suaminya yang belakanganan kuketahui bernama Om Herman, mereka telah menikah belasan tahun namun hingga kini belum dikaruniai anak. Kulihat di foto yang dipampang, tampak Om Herman dengan wajahnya yang bersih, ganteng layaknya Om Mirza, lelaki penuh kematangan dan kemapanan tersenyum dengan jas hitam.
Memasuki ruang tamu, aku diminta untuk terus ke ruang keluarga dan dipersilahkan duduk olehnya. Tante Mala tampak dirumah itu bagaikan rumahnya saja, sama seperti Tante Sandra dirumah kami, itu diperlihatkan dengan cara Tante Mala yang sepertinya sudah hapal dengan keadaan rumah itu, duduk di sofa sambil mengangkat kaki dan langsung merebahkan diri.

Tante Sandra tanpa basa-basi memintaku untuk tidak sungkan, untuk mengambil minum sendiri karena dirumah itu ia hanya seorang diri katanya, tanpa pembantu. Dan berkata kepada kami bahwa ia akan mandi, berdandan dan bersiap-siap. Aku hanya tersenyum dan mengiyakannya, kulihat Tante Mala, bangkit berdiri dan mengikuti Tante Sandra masuk ke Kamar Tante Sandra, mereka tampak berbicara didalam, kemudian kulihat Tante Sandra memasuki kamar mandi didalam ruang kamar tidurnya dan aku hanya menunggu di ruang keluarga dan sambil membaca buku yang tergeletak di meja dan sesekali melirik ke arah kamar yang tidak tertutup.

Tak berapa lama kulihat Tante Sandra selesai mandi, kulirik dari pintu yang tidak tertutup rapat, dengan seenaknya sambil berbicara dengan Tante Mala, Tante Sandra kulihat menggosok-gosokkan badannya dengan handuk, mengeringkan badannya, dan melemparkan handuk ke arah ranjang, tanpa menyadari bahwa aku melihat aktifitas yang dilakukannya. Aku hanya dapat menahan napas berusaha mengendalikan hawa panas dan jantung yang berdegup kencang, dan berusaha mengalihkan pandangan ke arah lain.

Tak berapa lama, kulihat kedua wanita itu telah keluar kamar, aku memandangnya sekejap, kulihat 2 wanita yang sama2 cantik, berdiri tak jauh dari tempatku duduk. Tante Mala dengan baju merahnya yang ketat, menampilkan sosok keindahan wanita yang elegan, dengan payudara yang padat merayap menonjolkan lekuk tubuh yang padat berisi, sementara disampingnya berdiri dengan gaun warna hitam wanita yang tak kalah seksi, dengan baju berbelahan rendah, memperlihatkan hampir duapertiga isinya, membuat laki-laki yang melihatnya menahan napas, berkacamata bening, menimbulkan kesan anggun. Aku hanya terpaku dan tersenyum melihat mereka berdua. Kalo saja mereka meminta pendapatku soal penampilan mereka, entahlah, apa yang harus kuucapkan, mungkin aku hanya dapat tersenyum saja dengan memasang tampang muka bego.

Kupikir tujuanku hanya sampai dirumah ini, namun akhirnya kuketahui bahwa, malam itu mereka akan mengadakan acara makan malam, Om Herman akan mengajak mereka makan malam. Mulanya yang akan di ajak makan malam adalah Tante Mala dan Suaminya, Om Mirza, namun karena Om Mirza kebetulan saat ini sedang sibuk2nya dengan proyek diluar kotanya, maka Tante Mala memutuskan untuk menyertakan aku, aku sempat mendengar bahwa Om Herman mengajak makan malam semua, karena Tante Mala dianggap berhasil memasarkan produk yang di import olehnya, yah itung-itung sebagai bonuslah, katanya.
Duh untung saja saat ini aku mengenakan pakaian yang cukup rapi, kemeja hitam lengan pendek dengan celana katun warna putih, sehingga keliatan macho lah dikit, walaupun tampangku masih keliatan ndeso, dan kalo soal itu mah, gak bakal deh bisa dirubah…. Hehehe..

Tepat jam 7, kami bertiga akhirnya pergi meninggalkan rumah Tante Sandra, dimana Tante Mala berada disampingku dan Tante Sandra jok kursi dibelakang menuju tempat dimana acara tersebut akan diadakan. Aku mulanya berpikir bahwa tempat makan yang kami tuju adalah dekat saja dari sini, namun ternyata adalah bahwa tempat itu letaknya cukup jauh mungkin sudah ke arah luar kota, ke arah pelabuhan yang jauh dari kota ini, dimana bisa 2 atau 3 jam perjalanan dari sini. Pantes saja Tante Mala mengajak aku, gerutuku dalam hati.

Jam 9 lewat kurang, aku telah sampai ditempat yang dituju, selama perjalanan aku hanya berdiam diri dan sesekali ikut nyeletuk dengan pembicaraan kedua wanita penumpangku. Tempat yang dituju adalah sebuah Tempat Peristirahatan dengan fasilitas hotel berbintang, walaupun tidak ada gedung bertingkatnya namun kulihat disitu nampak berjejer kamar-kamar dengan berbentuk bungalow, dengan fasilitas restoran, kolam renang dan segala macam fasilitas lain tersedia.

Om Herman menyambut kami dengan antusias, kelihatannya mereka bertiga sudah sangat akrab, dan aku hanya mengikuti mereka dengan malu-malu. Kami bertiga langsung diajak untuk mengikutinya, Om Herman nampak sangat ramah, beliau menanyakan kabar Om Mirza dan keluarga Tante Mala, bahkan beliau meminta kami, aku dan Tante Mala untuk menginap di tempat itu. Aku tak menjawabnya hanya tersenyum dan melirik Tante Mala, seolah mengatakan bahwa ini semua tergantung Tante Mala.

Baru berapa menit kami duduk, bahkan makanan pun belum kami pesan, tiba-tiba salah seorang pelayan menghampiri meja kami dan berbicara dengan Om Herman bahwa ada seseorang yang menghubunginya lewat telepon dimeja counter. Om Herman kemudian bangkit berdiri dan menuju kearah yang ditunjukkan oleh pelayan tersebut. Aku hanya memandang ke arahnya dan berpikiran kalo ternyata Om Herman cukup dikenal disini, mungkin karena bisnisnya yang sukses sehingga beliau banyak dikenal orang.

Tak lama kemudian Om Herman datang menghampiri kami, beliau mengatakan kepada kami bahwa ada sesuatu terjadi dan harus diurus saat itu juga. Ada salah satu kliennya yang mengirimkan barang terlambat datang, sedangkan barang tersebut adalah produk baru yang harus diperhatikan kualitas dan kuantitasnya dan beliau harus mengeceknya. Tampak sekali beliau bimbang dengan hal ini, sambil menjelaskan bahwa produknya ini adalah produk khusus untuk wanita, dan kelihatan sekali beliau ingin meminta istrinya untuk membantunya sedangkan apabila dilakukan besok maka pengiriman ke distributor akan terlambat pula.

Aku dan Tante Mala berpandangan bingung, sudah jauh2 kami kesini dan sekarang kami akan ditinggalkan, apakah Aku dan Tante Mala harus pulang?, dengan acara yang tiba2 saja batal ? Ataukah aku dan Tante Mala harus tetap tinggal dan bahkan harus menginap disini sementara menunggu Om Herman dan Tante Sandra selesai dengan pekerjaannya ? aku hanya diam tak berkomentar apapun.

Sejenak mereka berpikir, akhirnya diputuskan oleh Tante Mala, kalo aku dan Tante Mala akan ikut menginap disini, mengingat perjalanan yang cukup jauh, toh jika pun kami harus pulang tentu akan cukup melelahkan, dan diputuskan pula, bahwa agar tidak membuat kami kecewa, maka Tante Mala akan ikut membantu Om Herman untuk melakukan pengecekan terhadap barang tersebut, toh bisnis ini juga melibatkan Tante Mala. sedangkan Tante Sandra bertugas menemaniku sambil menunggu kedatangan keduanya dengan alasan bahwa Tante Sandra saat ini sedang tidak enak badan dan lebih baik menunggu di hotel saja.

Maka dengan tidak ada pikiran apapun, ditinggallah kami berdua, Aku dan Tante Sandra. Aku hanya lurus-lurus saja melihat kepergian mereka, kalaupun aku misalnya disuruh ikut dengan mereka sebetulnya aku juga tidak menolaknya, namun dengan kondisi yang cukup lumayan capek karena membawa mobil dalam perjalanan yang cukup jauh jelas menjadi pertimbangan tersendiri diantara kami. Akhirnya tinggalah aku berdua dengan Tante Sandra, sedangkan Tante Mala dan Om Herman berangkat menuju ke arah gudang pelabuhan menaiki mobil Om Herman.

Setelah memesan makanan yang kurasa dapat membangkitkan rasa laparku, dan sambil menunggu makanan itu tiba, aku bercakap-cakap dengan Tante Sandra, walaupun banyak percakapan yang hanya sekedar basa-basi namun pembicaraan kami berlangsung segar. Aku baru menyadari bahwa selain enak dilihat, tante Sandra juga orangnya sangat fleksible, ramah, dan bisa diajak bercanda. Kadang kami bercakap sambil tertawa dan sesekali Tante Sandra melayangkan cubitan ataupun tepukan ke bahuku apabila candaku cukup mengena. Kadang beliau menggodaku bahkan kerap menjahiliku bila percakapan menjurus ke arah persoalan perempuan dan hal-hal yang berbau seks.

Entah berapa lama kami menunggu dan melakukan pembicaraan, kulihat satu demi satu para tamu yang bersantap di restoran ini mulai menghilang. Dan malampun semakin larut, tak terasa. Kulirik jam ditanganku, telah menunjukkan hampir pukul 11, kulihat Tante Sandra matanya kerap berkedip menandakan kalo beliau sudah merasa ngantuk. Aku kemudian mengajak beliau untuk meninggalkan ruang itu, dan bermaksud untuk beristirahat dikamar yang telah disediakan oleh Om Herman. Tante Sandra menyetujuinya, sambil mengatakan kalau kami lebih baik menunggu dikamar saja.


Kami akhirnya meninggalkan ruang makan restoran tersebut, berjalan beriringan keluar, menuju kamar yang telah Om Herman sediakan untuk kami. Tempat itu aku perhatikan lebih merupakan sebuah tempat peristirahatan, layaknya sebuah komplek perumahan dengan bungalow-bungalow yang berjejer, dengan banyak fasilitas yang tersedia. Kulihat beberapa mobil berjejer di pelataran parkir tempat tersebut, menandakan bahwa saat ini tempat tersebut cukup banyak pengunjungnya.

Dalam keremangan lampu, aku dan Tante Sandra melangkah menyusuri tepi jalan menuju bungalow yang kami tuju yang sebelumnya telah ditunjukkan oleh resepsionis. Aku menundukkan kepala, berusaha memperhatikan jalan yang aku lewati, berusaha hati-hati agar tidak tersandung batu, sementara disebelahku berusaha mengikutiku, menggandeng memegang lenganku, tante Sandra, melewati beranda-beranda bungalow yang nampaknya beberapa telah terisi.

Sambil berjalan, kami bercakap lirih, memberi komentar terhadap keadaan tempat ini, dan kuketahui bahwa tempat ini merupakan tempat singgah favorit bagi Om Herman dan Tante Sandra. Saat kami melewati beberapa bungalow, kuperhatikan bahwa hampir semuanya mempunyai bentuk dan luas yang sama, masing-masing bungalow terpisah berjarak beberapa meter satu dengan yang lainnya, sungguh asri. Namun sebenarnya bukan itu yang menjadi pikiranku, saat melewati bungalow, kulihat lampu beranda menyala menandakan bahwa tempat tersebut berpenghuni, namun kadang lampu dalam ruangan kulihat ada yang menyala terang, redup ataupun gelap. Dan sewaktu kami melewati salah satu bungalow itu, seperti terdengar suara desahan dan rintihan yang keluar dari dalam ruangan dimalam yang sepi ini. Aku hanya tersenyum sambil memandang tante Sandra. Kulihat wajah Tante Sandra pun sedang memandang kearahku, aku jadi nyengir dan kemudian tertawa terbahak-bahak begitu juga dengan Tante Sandra.

Saat berjalan ini, tangan Tante Sandra yang memegang bahuku terasa semakin erat, entah hanya pikiranku saja, atau memang seperti itu adanya, namun kurasakan dilenganku sepertinya menyentuh payudara tante Sandra yang tak menggunakan Bra itu. Sepertinya pikiran ngeresku mulai datang menggoda, sambil berjalan aku membayangkan lenganku yang menyentuh payudara Tante Sandra, memainkan dan meremas-remasnya.

Aku agak heran mengapa Om Herman lebih senang menempati bungalow yang berada di pojok ini, memang kalo dilihat tampaknya tempat ini lebih tenang daripada yang lainnya, namun apabila kita perlu sesuatu setidaknya kita harus berjalan cukup jauh. Ada 2 bungalow yang telah kami sewa, aku melihat kunci yang diberikan, kulihat no yang tertera pada gantungannya, berarti aku dan Tante Mala menempati bungalow sebelah kiri dan Om Herman dan Tante Sandra sebelah kanannya. Aku melepaskan pegangan tangan Tante Sandra sambil mengacungkan kunci yang aku pegang, seolah memberitahukan padanya bahwa aku bermaksud langsung menuju bungalow yang disediakan untukku. Namun Tante Sandra seolah tak mau melepaskan pegangannya terhadapku dan berkata kepadaku bahwa sebaiknya aku menemaninya dahulu dibungalownya.

“Fan, kmu mau ngapain langsung ke Kamar ?, mending kamu di tempat Tante dulu, kamu belum ngantuk kan Fan ? sambil nunggu suami Tante dan Tante kamu, sebaiknya kamu temenin Tante Dulu ya ? kali aja kita bisa ngobrol dulu…” katanya kepadaku, sambil terus menggamitku ke arah bungalownya. Memang dari arah kami berjalan, posisi bungalow Tante Sandra lebih dekat dibandingkan bungalowku. Akhirnya dengan berat hati aku mengikutinya, melangkah menuju bungalownya, membukakan kunci untuknya.

Kulihat tempat ini cukup luas, beranda depan dengan dihiasi taman, terdapat 2 kursi dan 1 meja kecil, tampak menyenangkan. Di sebelah dalam kulihat terdapat satu ruangan yang cukup luas, tanpa penyekat terdapat juga 1 sofa panjang beserta meja mungil, dan 1 tempat tidur yang cukup besar dengan seprei warna putih. Kulihat diruangan berAC itu juga terdapat kulkas yang biasanya telah terisi dan sebuah televisi berukuran 21 inch.

Setelah menyalakan lampu dalam ruangan, aku mulanya hendak berbalik, biar bagaimanapun ada perasaan tak enak bila aku harus tetap didalam, karena yang sedang bersamaku disini adalah jelas seorang wanita bersuami, dan rasanya kurang pantas bila aku berada bersamanya didalam ruangan dimana cuma kami berdua saja didalamnya. Tapi seperti mengerti akan keraguanku, tante Sandra malah menyuruh aku tetap didalam, “Fan, kamu di dalam saja, diluar tidak enak, banyak angin, lagian tidak ada yang dilihat, kalo didalam kan kamu bisa menemani Tante sambil menonton Televisi” katanya kepadaku. Aku seperti sulit untuk menolaknya, memang seperti tadi saat kami berjalan, kurasakan angin yang menerpa sangat kencang, mungkin karena saat ini adalah sedang musim kemarau dan kebetulan daerah disini adalah daerah yang berdekatan dengan pantai.

Aku menghempaskan pantatku disalah satu ujung sofa panjang yang terdapat di dalam ruangan itu, kuperhatikan sekeliling tanpa mengucapkan sepatah katapun, seolah mencari sesuatu ide ataupun benda yang bisa aku jadikan bahan penghilang kebisuan, entah itu koran, majalah, ataupun sesuatu yang bisa menjadi bahan pembicaraan. Entah apa yang harus kukatakan untuk memecah kebisuan disini. Untunglah Tante Sandra seperti mengerti akan keadaan, beliau menghampiri kulkas disana sambil membukanya, melihat kedalam sebentar dan menawarkan minuman kepadaku, “Kamu mau minum Apa Fan ?, banyak minuman nih disini “ katanya. Aku menjawabnya dengan segera “Apa aja Tan, lagian saya belum haus kok, tadi kan baru “ kataku.

Tante Sandra seolah tak mendengar perkataanku, sibuk melihat seisi kulkas, kemudian dia berbalik ke arahku menyodorkan sekaleng minuman beralkohol kepadaku, “Ini aja Fan, lumayan buat menghangatkan tubuh” katanya lagi, aku mengambil kaleng minuman yang diangsurkannya, sebetulnya sejak lama aku tak pernah menyentuh dan merasakan minuman seperti ini, sewaktu masih di rumah orang tuaku dan masih senang nongkrong mungkin ini adalah minuman favorit aku. Namun semenjak aku tinggal di rumah Tante Mala, sekali pun aku belum menyentuhnya lagi.

Tante Sandra mengambil duduk disebelahku, karena memang di ruangan itu tidak ada tempat duduk lain selain disitu, kecuali kalau memang ingin duduk di sisi tempat tidur. Ia mengambil remote televisi dan menyalakannya. “Fan, kamu jangan pergi dulu ya, temani Tante sampai Om Herman dan Tante Mala datang, katanya sambil memandangku “Soalnya Tante kalo ditinggal sendiri disini, gak berani, kalo dirumah sih Tante berani, kan udah biasa” katanya lagi tanpa menunggu jawabanku. Aku hanya tersenyum, sambil melihat ke arah televisi.

Aku melihat kearah jam ditanganku, sudah menunjukkan pukul sebelas lewat sepuluh, aku melirik ke arah keluar pintu, yang memang sengaja aku tidak tutup, karena biar bagaimanapun aku tidak ingin orang menyangka yang tidak-tidak kepada kami, apalagi aku takut kalau saja tiba-tiba Om Herman dan Tante Mala datang dan mengetahui kami berdua didalam kamar yang tertutup.

Seperti mengetahui kegalauanku, Tante Sandra akhirnya berkata, “duh Fan, biasanya kalau sudah melakukan cek barang, paling sedikit Om Herman bisa 2 – 3 jam baru selesai, yah mungkin sebentar lagi beliau datang, ya udah kita santai-santai aja dulu, kamu kalo mo ngapain, ngapain aja dulu, terserah, pokoknya kamu jangan ninggalin Tante” begitu kata-kata meluncur dari mulutnya. Aku hanya memandangnya sambil tersenyum, dan mengatakan bahwa aku tidak keberatan, lagipula jika aku berada dikamar sendiri, toh juga mo ngapain, kataku kepadanya, palingan juga sama dengan disini.

Aku memandangnya, kulihat ia asyik melihat acara televisi sambil sesekali meneguk minuman. Duh wanita yang sangat seksi menurutku, dengan bajunya yang berdada terbuka, indah sekali memandangnya, bibirnya yang menurutku sangat sensual, terutama saat bergerak mengucapkan kata-kata, indah sekali dilihat. badannya yang sangat montok, kencang, mungkin karena beliau belum pernah melahirkan, hanya dadanya yang sudah agak sedikit turun menurutku, entahlah, apakah mungkin karena beliau jarang sekali menggunakan Bra atau mungkin sang payudara sering dipakai sebagai alat pemuas sang suami, sehingga agak tertarik ... hehehe...

Aku sepertinya lebih tertarik untuk melihat kearahnya daripada ke arah acara televisi, aku lebih banyak terdiam dan sesekali melirik ke arah luar, untuk melihat kalau-kalau Om Herman dan Tante Mala muncul. Pembicaraan antara aku dan Tante Sandra sesekali keluar, kadang terdiam cukup lama, kadang berbicara cukup panjang, tergantung pokok bahasan yang timbul. Entahlah, lambat laun kulihat beliau terlihat mengantuk, mungkin karena bosan ataupun memang saat itu sudah mendekati larut, Ia menguap dan berkata kepadaku “Fan, tante udah agak ngantuk nih, pokoknya kamu tetap disini, jangan tinggalin Tante, Tante rebahan dikasur dulu ya Fan, kamu terserah mo dimana, mo disini sambil nonton tipi, atau mo ikut rebahan dengan Tante, yang jelas kamu jangan keluar dari kamar ini”. Aku tertegun sejenak, menatapnya dan tersenyum “Iya Tante, Fandi tetep nemenin Tante kok, janji deh gak kemana2” kataku menjawabnya.

Tante Sandra bangkit dari duduk disebelahku, berjalan kearah tempat tidur, membelakangiku. Namun tiba-tiba ia memegang bawah bajunya, mengangkatnya keatas, yang jelas membuat aku kaget dan terpana. “Fan, maaf ya, tante buka baju, abis gerah nih, gak enak kalo dibawa tidur, mana Tante gak bawa salinan lagi. Besok baju kalo dipake lagi kan bau, katanya sambil membuka baju dan menaruhnya dipinggiran ranjang. Jelaslah mau gak mau aku memperhatikan beliau saat itu, hanya dengan bercelana dalam saja, dengan bertelanjang dada, beliau melangkah, mengangkat kakinya, menjejakkan, merebahkan badannya dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.

Aku menahan napas, berusaha menahan gejolak didadaku melihat pandangan seperti ini, pikiran ngeresku seolah mengaduk-aduk otakku, kulirik kembali pintu, memandang kearah luar, berjaga-jaga seolah-olah takut ada yang ikut menyaksikannya juga. Terdiam aku sejenak, berpikir keras, seakan mencari taktik jitu untuk melumpuhkan sang lawan. Mataku berkali-kali melirik ke arah depanku, kearah tubuh tante sandra yang tergolek, dan wajahnya mengarah ke tivi dan aku kemudian berpaling ke arah tivi untuk ikut melihat apa yang sedang di lihatnya, padahal pikiranku sedang kacau.

Semakin sering aku melihatnya, semakin membuatku kegerahan, sementara dedeku yang semula berusaha untuk tenang, menjadi terganggu dan berusaha berontak. Entah, dipikiranku yang kotor ini, sepertinya membayangkan, menghayalkan bahwa saat ini di depanku terdapat wanita paruh baya, yang cantik, montok, putih mulus berusaha menggodaku, membangkitkan hasrat seksualku. Berusaha membangkitkan kelaki-lakianku, memancingku untuk bersetubuh dengannya. Pandangan mataku semakin nanar, dan berkali-kali meneguk minuman beralkohol ditanganku, berusaha menetralisir keadaan dan minuman itu ternyata malah menimbulkan efek yang sebaliknya.

“Fan, kamu kalo ngantuk, rebahan aja disini, gak papa kok, sementara menunggu Om Herman dan Tante Mala datang” katanya sambil memandang ke arahku sekilas, mungkin karena melihat aku sepertinya akan rebahan dan sofa yang aku pakai tidak cukup muat untuk badanku berselonjor. Padahal niatku saat itu adalah menselonjorkan badan hanya sekedar untuk membetulkan dedeku yang salah orbit.

“Iya Tante, gampang, gak papa kok, saya sekedar meluruskan badan, agak pening nih, mungkin lumayan tadi bawa mobil kesini” kataku bergumam entah ia mendengar atao tidak, yang jelas aku berusaha untuk bersikap jaim padanya. Padahal sebetulnya aku mau sekali, namun hati kecilku sangat takut, takut dan khawatir seandainya nanti Om Herman datang dan melihatku berada diranjang berdua dengan istrinya, “ah gila ah” membatin aku.

Aku hanya diam, memandang ke langit-langit kamar ini, menutupi keningku dengan tangan kananku, sementara tangan kiriku tetap memegang kaleng minuman, melayangkan pikiran entah kemana.

Beberapa lama kemudian, tiba-tiba kudengar langkah kaki berjalan mendekat, aku sontak bangkit, mendudukkan tubuhku, kupandang ke arah pintu keluar. Langkah kaki tersebut sepertinya berhenti sesaat, aku bangkit berdiri, berjalan ke arah pintu, berusaha mengetahui siapa gerangan yang datang. Kulihat diujung jalan yang mengarah ke bungalow kaki, seorang petugas keamanan hotel berdiri, mengarahkan pandangan sejenak, berkeliling untuk memastikan keadaan aman, kemudian melangkahkan kakinya lagi, berjalan menjauh.

Aku menghela napas, ternyata hanya security sini aja, aku kira Om Herman dan Tante Mala yang datang, aku berbalik tak sengaja pandanganku mengarah ke ranjang, kulihat Tante Sandra tergolek, pulas, sementara tanpa disadarinya dadanya menyembul keluar, menampilkan pesona keindahan tersendiri bagi yang melihatnya.

Dadaku berdegup kencang, menyaksikan pandangan tersebut, pikiran kotor yang sejak tadi menyerang otakku, kini semakin membuat keruh. Kupegang daun pintu disebelahku, kegerakkan untuk menutupnya, namun masih ada rasa kekhawatiran menyelimutiku sehingga aku hanya menutupnya sedikit, menyisakan 10 cm tetap terbuka.

Kelangkahkan kakiku perlahan menuju ke arah pembaringan mematikan lampu tengah ruangan yang terang benderang, kemudian menyalakan lampu tidur disisi pembaringan yang redup dan menaruh kaleng kosong minuman yang kupegang dimeja sisi ranjangnya.

Kutatap wajah Tante Sandra, tampak pulas, namun keseksian dan kemulusan tubuhnya tetap memancar, wajahnya nan ayu dan cantik menggambarkan keanggunan yang mempesona. Berdegup kencang dadaku melihatnya. Kucoba untuk duduk disisi ranjang, tampak tidak ada gerakan sama sekali, seolah tak menyadari diriku yang berada didekatnya. Seakan-akan aku juga tak sanggup untuk menahan kantuk, kuarahkan pandanganku ke arah televisi yang menyiarkan acara entah apa, kurebahkan diriku disampingnya dan berpura-pura untuk tak perduli dengan keadaannya. Tante Sandra sepertinya terlelap layaknya bayi yang tertidur pulas.

Entah otakku yang semakin keruh dan miring atau hasratku yang semakin menggebu, sepertinya keadaan membuatku kalap. Kurebahkan sebentar badanku disisinya, memperhatikannya tergolek membelakangiku, timbul rasa isengku. Kudengar napas teratur yang keluar dibarengi dengan suara dengkuran halus, kugerakkan tanganku seolah-olah akan menggeliatkan tubuhku, dan dengan sengaja menyikut punggungnya untuk memastikan apakah Tante Sandra terjaga apabila ada gangguan. Dan ternyata hal itu berjalan dengan sukses.

Tante Sandra sepertinya tidak menyadari akan kehadiranku, kutarik selimut yang menutupi tubuhnya, memasukkan tubuhku kedalam selimutnya, seakan aku ingin ikut berlindung di dalamnya, bersamanya, menghindari angin malam dan rasa dingin yang menerpa.

Sepertinya beliau tidak sadar dengan apa yang terjadi, aku hanya terdiam, memikirkan langkah selanjutnya. Menarik napas perlahan, memasang telinga, mendengarkan kalau-kalau ada langkah mendekat.

Kegeser badanku merapat dengannnya, perlahan, tak ingin membangunkannya. Kurasakan bagian punggungnya yang bugil bersentuhan dengan lenganku. Tak ada gerakan menolak atau sikap menentang darinya. Pelan, keputar tubuhku kekanan menempel dengannya, seakan-akan aku juga tertidur pulas dan tak sadar menggelinjangkan tubuhku. Mengangkat lengan kiriku melewati punggungnya memeluknya dari belakang, perlahan melewati lengannya yang menyamping memegang guling. Sejenak aku menahan napas, telapak tanganku kini menyentuh payudaranya yang polos, dibalik selimut yang menutupinya.

Kesentuh payudara tersebut, hanya menyentuhnya, kemudian merabanya perlahan, mengusap-usapnya. Aku menunduk terpejam, tercium wangi harum dari lehernya yang menempel di hidungku. Seolah aku juga tertidur pulas dan tak menyadari apa yang kulakukan.

Aku tak tahu mengapa pikiran kotorku lebih banyak menguasaiku, apakah karena pancingan dari Tante Sandra yang mengena atau pengaruh minuman beralkohol yang kuminum.

Aku semakin beringas, aku yang mulanya hanya menyentuh, meraba payudaranya, kini mulai meremas-remas perlahan, menyentuh putingnya dengan jari telunjuk dan tengahku, menjepitnya dan memelintirnya. Membuatnya semakin keras dan memanjang. Dedeku yang berada didalam celanaku kini semakin tak terkendali berusaha berontak keluar, berusaha menempel ketat, sang empunya celana dalam.

Entah berapa lama ini terjadi, namun kedengar napas Tante Sandra semakin memburu, semakin tidak teratur, hingga tiba-tiba kusadari adanya gerakan darinya. Ia membalikkan badannya, yang semula berbaring menyamping membelakangiku, kini telah berbaring telentang. Aku terkaget dan diam sesaat. Tanganku yang semula sedang meremas-remas dadanya tehenti sejenak, namun aku tak mengangkatnya dari dadanya, apabila kuangkat dari dadanya aku takut mungkin ini malah membuatnya terbangun. “Hmmm...Mas...” kudengar suaranya lirih, seperti mengigau, dan tak lama kemudian membuka matanya mengedip-ngedipkan matanya untuk sesaat.

Aku dengan segera memejamkan mataku, kembali berpura-pura sedang tertidur pulas padahal hatiku deg-degan setengah mati. Aku yang sedang berbaring disebelahnya dan tangan kiriku yang sedang nemplok didadanya, tetap menempel, menyentuh lembah nan indah itu, terpaku, terdiam menunggu kemungkinan yang akan terjadi. Dalam terpejamku, kudengar napas menghembus perlahan, seolah mencoba mengetahui siapa yang berbaring disisinya namun tidak ada sesuatupun yang terjadi hingga beberapa lama.

Kucoba membuka mataku, melirik kesamping, untuk mengetahui kesadaran akan keberadaan, kulihat disebelahku, Tante Sandra, masih terpejam nampak semakin pulas, malah kini wajahnya menghadap diriku, dengan tangan kanannya keatas kepalanya, membiarkan tanganku menyentuh payudaranya. Aku kini semakin tenang, kembali memasang telinga, bersikap waspada. Kembali meraba dada putih dan montok itu, menekan-nekannya, meremasnya, membuatnya semakin kenyal dan mengeras.

Aku menghembuskan napasku, meniupnya kearah wajah nan cantik yang terpejam di depanku, seolah menginginkannya mengetahui keberadaanku. Aku semakin berani dan nekad. Kuangkat kepalaku, berusaha mendekati dada nan putih dan montok itu, berusaha untuk mendekatkan bibirku, menjulurkan lidahku untuk mengecup lingkaran merah kecoklatannya. Kini posisiku seperti menelungkup disebelahnya, menikmati dadanya. Kuangkat perlahan kain tebal yang menyelimutinya, berusaha berada dibawah memposisikan pahaku menyilang pahanya, seakan mencoba mendekati dedekku ke arah tonjolan dibawah perutnya yang hanya ditutupi oleh celana dalam hitamnya.

Kini posisiku tepat berada diatasnya, yang hanya terdiam dan tak sadar akan apa yang terjadi. Memposisikan penisku diatas selangkangannya. Aku menarik celana panjangku sekaligus celana dalamku, hingga tonjolan pantatku terbuka sampai batas paha bawahku. Menempelkan dedeku pada celah selangkangannya, bertumpu pada kedua tanganku disisi kiri kanan tubuhnya. Merasakan penisku menempel di celana dalamnya, diantara selangkangannya, diantara kedua pahanya yang terbuka lebar.

Aku menggesek-gesekkan penisku dibawah tonjolan daging tersebut, menikmati sensasi, menghayalkan seakan2 penisku masuk kedalam rongga vaginanya. Meleletkan lidah seakan2 memberikan kenikmatan kepada wanita cantik dibawahku ini, sesekali aku menundukkan kepala, mencium puting yang kelihatan semakin menonjol dan mengeras, mengulumnya. Dan menggoyangkan pantatku kembali untuk memberikan sensasi pada dedeku ini.

Hingga beberapa saat, ketika kurasakan akan ada desakan keluar dari ujung penisku, ketika kurasakan akan adanya cairan yang akan melesak keluar, kehentikan kegiatan sejenak. Kupejamkan mata, kukerenyitkan mataku, kutahan dan kubendung air bah yang akan tumpah mencoba untuk mencegahnya keluar. Seperti ada kepuasan tersendiri ketika sensasi akan mencapai puncaknya. Kuhela napas tertahan, menggapai kemenangan.

Pelan-pelan aku mengangkat kaki, bergeser menjauhinya ke tepi pembaringan, duduk sejenak, menyelimuti tubuh dengan kain tebal yang tadi sempat terobrak-abrik, melangkah pelan ke arah sofa, membaringkan tubuh sejenak, menghembuskan napas, lega.

Memang kepuasan yang kudapat belumlah mencapai puncaknya, namun aku jelas sedikitnya dapat menikmati tubuh yang kini terbaring diranjang depanku ini. Ada rasa penyesalan, khawatir, takut seandainya tadi, tiba2 saat aku menggerepe tubuh Tante Sandra, Om Herman dan Tante Mala datang. Namun untunglah setan berpihak kepadaku

CHAPTER 8: TANTE MALA KALI KEDUA

Kulirik jam ditanganku, jam 12 lewat 35, ada rasa asam dibibirku, kubuka kotak bungkus rokok dimeja untuk mengambil isinya, kosong. Menggerutu aku dalam hati, biar bagaimanapun aku harus berusaha mendapatkan alat bakar ini. Kubangkitkan tubuhku, berjalan mendekati pintu, melirik sejenak kebelakang, ketubuh wanita yang kini tertidur pulas, menutup pintu rapat-rapat, berjalan keluar menuju tempat dimana tadi kami makan malam, sambil berharap mudah2an ada merk rokok yang menjadi favoritku tersedia disana.

Kulangkahkan kakiku kembali di keremangan malam, menunduk untuk memastikan tidak menginjak sesuatu yang membuatku tersandung, melangkah cepat menuju ke arah gerbang, memastikan bahwa kepergianku tidak memakan waktu lama.

Beberapa meter menjelang sampai, kulihat sinar lampu mobil memasuki area pintu gerbang, berhenti sebentar, membelok ke arah parkiran, mendekati arah posisiku berada. Aku seperti mengenal mobil itu, terdiam aku sesaat, aku memang yakin sekali, itu adalah mobil Om Herman mobil yang sama, yang tadi dipakai pergi dengan Tante Mala.

Aku diam sejenak, ragu, apakah aku hendak meneruskan langkahku, menyambut mereka, atau diam dan menunggu mereka saja, atau kembali ke bungalow tempat kami menginap. Di tempatku berdiri memang cukup gelap, sehingga sulit bagi orang lain mengetahui keberadaanku disini. Sedangkan ditempat parkiran walaupun dengan lampu yang tidak begitu terang namun cukup bisa melihat kearah sana dengan jelas. Aku diam, berpikir sejenak dan akhirnya aku memutuskan untuk menyambut mereka walaupun aku merasa tidak enak bila nantinya ditanya mengapa aku meninggalkan Tante Sandra sendirian. Kuperhatikan mobil yang tadi masuk telah berada dalam posisi parkir, dengan hidung mobil menghadap keluar dan kini mesin mobil telah dimatikan. Aku perlahan dalam kegelapan berjalan menuju mobil tersebut, namun langkahku seperti tertahan sesuatu, mengagetkanku.

Kulihat kearah mobil tersebut, nampak didalam mobil, dibalik kaca depan, samar-samar namun cukup jelas, walaupun hanya diterangi oleh lampu parkir, Tante Mala dan Om Herman kulihat sangat mesra, kulihat keduanya berpelukan, berciuman dengan sangat panas, seakan tak menyadari dan tak peduli dengan keadaan sekitar, dadaku berdegup kencang, ada perasaan sakit, ada perasaan cemburu, melingkupiku.

Kulihat dengan mata kepalaku sendiri, tampak Om Herman, menciumi Tante Mala, meraba-raba dada tante Mala, menciumi payudaranya, dan sepertinya Tante Mala ikut menikmatinya.

Dadaku serasa panas, entah kenapa, mungkin merasa bahwa biar bagaimanapun wanita itu adalah Tante Mala, tante yang aku sayangi, yang aku harus lindungi. Namun keberanianku hanya sampai disini, seperti layaknya lelaki yang sedang jatuh cinta dan patah hati, melihat wanita yang dicintainya ternyata bermain cinta dengan wanita lain.


Aku membalikkan badan secepatnya, berbalik menuju bungalow, berjalan cepat, berusaha untuk tidak terlihat oleh keduanya. Entah apa yang ada didalam pikiranku saat itu, didadaku seperti sesak, tak rela, melihat Tante Mala berselingkuh dengan Om Herman. Sejuta pikiran berkecamuk didalam otakku, campur aduk, kakiku terus melangkah.
Tiba dikamar agak terengah-engah, berusaha mengatur napas, memiawirkan apa yang harus kulakukan selanjutnya. Kududuk di sofa yang berada didalam kamar, berpikir sejenak. Akhirnya kuputuskan untuk berbaring di sofa, berpura-pura untuk tertidur pulas, seakan tidak mengetahui apa yang terjadi.

Sengaja aku tak mengunci pintu kamar namun cukup hanya menutupnya rapat, seakan menunggu kedatangan tante Mala, memastikan bila beliau datang, beliau akan bisa masuk tanpa harus mengetuk pintu terlebih dahulu, memastikan agar kedatangannya tidak mengganggu tidurku.
Kutunggu beberapa saat, lampu kamar sengaja kunyalakan dengan cahaya redup, hanya lampu tidur yang menyala, mencoba membaringkan diri, menunggu apa yang akan terjadi.

Mungkin beberapa menit telah berlalu, kemudian kudengar langkah-langkah kaki mendekat, dan disusul kemudian pintu kamar diketuk, aku diam tak beranjak, agar orang yang diluar menyangka aku tertidur pulas, selanjutnya kudengar pintu kamar dibuka, Melihat kearah dalam, di mungkin melihatku tertidur disofa, terdengar pembicaraan tante Mala dan Om Herman, seperti mengucapkan selamat malam berpamitan, dan pintu kembali ditutup, kulirik dalam keremangan Tampak Tante Mala, memasuki kamar, menjinjing tas, menaruhnya di ranjang dan melihat ke arahku.

Aku berpura-pura kaget melihat kedatangannya, bersikap seolah baru bangun dari tidur, mengucek-ngucek mata, dan berkata padanya “Udah pulang Tan, udah lama ?, maaf ketiduran, gak tau Tante Mala pulang”, kataku sambil berpura-pura menguap, “Iya Fan, baru aja nyampe, tadi diketuk-ketuk, sepertinya kamu gak denger, jadi tadi Tante buka pintu, untung kamu gak kunci” katanya seperti menjawabku, “Fan, kamu tidur aja disini ama Tante, di sofa dingin, disini aja, biar bisa pake selimut “ katanya lagi kepadaku, aku mengiyakannya namun tidak menjawabnya dan seolah-olah akan melanjutkan tidur.

Kulihat tante Mala membuka tas yang ada di atas ranjang, aku menggerutu dalam hati, karena jelas ia mengeluarkan baju dari dalam tas tersebut, dan berjalan melangkah ke sisi salah satu ranjang untuk mengganti baju yang dinakakannya, aku meliriknya sekilas dan membalikkan badanku ke arah sandaran sofa, memalingkan muka seolah-olah tak ingin melihatnya berganti pakaian didepan mataku.

Dalam hati aku menggerutu, jelas aja beliau membawa pakaian salin, sedangkan aku, hanya bermodalkan baju yang menempel dibadanku saja, untung saja aku biasanya memaka celana double, dengan celana pendek didalam celana panjangku, kebiasaan dari kecil dulu, memakai celana lapis tiga, yaitu kolor, celana pendek dan celana panjang, sekalian untuk berfungsi menutupi tonjolan diselangkanganku dan ditambah baju lapis dua, baju daleman, singlet da kemeja, lumayanlah kalo keadaan genting seperti ini kadang bisa berguna, dibuka pakaian luarnya agar besok bisa dipakai lagi dalam keadaan tidak lecek atau kusut.

Memang aku mulanya tadi berencana untuk membuka pakaian luarku, namun dalam keadaan yang genting tadi, mana sempat, belum lagi udara pantai dengan angin yang cukup kencang membuatku kedinginan jika harus memakai celana pendek dan kaos singlet saja. Kudengar langkah kaki mendekatiku, memegang lengan bahuku, tangan tante Mala, “Fan, dingin… tidur di ranjang aja sama Tante” kudengar suara halus dikupingku, aku membalikkan badan “Iya Tante, gampang nanti Fandi tidur disana, sekarang disini aja dulu” kataku berusaha menampik ajakannya. “Iya ya Fan, nanti tidur disini..gpp kok, daripada kamu masuk angin kedinginan kan ditempat tidur bisa pake selimut berdua” katanya lagi. Aku mengiyakannya sambil tetap merebahkan badanku di sofa seakan malas untuk bangun.

Kulihat tante Mala berjalan menuju ranjang tempat tidur, dengan baju tidurnya yang berwarna merah, dengan belahan dada rendah, duduk disisi ranjang, aku melihatnya dalam keremangan lampu kamar, memacingkan mata untuk melihatnya agar lebih jelas. Aku menutupi mukaku dengan pergelangan tanganku seolah untuk menyembunyikan mataku agar beliau tidak tahu aku memperhatikannya. Seperti biasa kulihat beliau mengenakan baju tidurnya tanpa mengenakan bra bahkan mungkin juga tidak menggunakan celana dalam seperti biasa. Kulihat wajah beliau sepertinya lelah, melihat kearahku dan seperti orang yang sedang melamun.

Entah apa yang dipikirkannya, namun kulihat ia seperti orang yang bingung, merenung dengan kegalauan hati, melihat kearahku seperti mengharapkan aku bangun dan dapat berbicara dengannya. Aku diam seolah menunggu reaksinya, berpura-pura mendengkur halus.

Kulihat tante Mala membuka baju tidur bagian atasnya, melihat kearah dadanya dan seakan-akan memeriksa keadaan payudaranya yang indah itu. Aku bergumam dalam hati, pasti beliau memeriksa payudaranya untuk memastikan apakah ada lecet ataupun bekas-bekas yang menempel dipayudara beliau setelah tadi mungkin dijadikan mainan oleh Om Herman. Ada perasaan kesal dalam hatiku, entahlah.

Kulihat Tante Mala menghela napas beberapa kali, kemudian merebahkan badannya di ranjang. Memegang ujung selimut dibawah kakinya, kemudian menariknya keatas, menutupi tubuhnya. Padahal aku mulanya berharap beliau untuk tidak membawa baju salin dan tidur di ranjang itu tanpa busana, duh seandainya.

Beberapa lama aku terdiam, memikirkan semua kejadian-kejadian ini, dan kulihat tante Mala yang biasanya langsung tertidur pulas, apalagi dalam keadaan yang sangat capek dan letih, ternyata ini tidak. Kulihat beliau beberapa kali membalik-balikkan badannya, seperti orang gelisah dan tidak bisa tidur, aku memperhatikannya beberapa kali dan sampai berapa lama, dan mungkin karena kulihat seringnya beliau membolak-balikkan badannya, baju tidur yang dikenakannya sudah merayap keatas, sehingga kulihat badannya dari dada kebawah sudah terbuka polos.

Pemandangan yang kulihat sekarang sepertinya malah menggoda pikiranku, entah, diotakku kini malah menjadi kotor dan ngeres. Aku berpikir dan membayangkan kejadian tadi, aku dengan Tante Sandra yang kucoba untuk menyalurkan hasrat seksualku namun aku menahannya agar tidak keluar, dan aku membayangkan persetubuhan yang mungkin telah dilakukan oleh Tante Mala dan Om Herman, dan itu jelas membuat pikiranku semakin miring dan membuat dedeku makin menegang dan keras.

Setelah beberapa lama, kudengar bunyi napas teratur diiringi dengan dengkuran halus, pikiran iblisku seperti melesak kedalam otakku, membujukku untuk memanfaatkan kesempatan yang ada.
Aku terdiam beberapa saat, guna memastikan situasi dalam keadaan aman dan terkendali. Bangkit dari tidur, duduk sejenak di pinggiran sofa, dan kemudian berjalan menghampiri tempat tidur.
Berjalan pelan tanpa suara, seperti berjinjit, kuperhatikan dari sisi tempat tidur, tampak Tante Mala pulas, dia yang tadi kulihat gelisah menjelang tidur kini seperti bayi yang tampak tertidur pulas. Kulihat pakaiannya sudah kemana-mana, tampak pantat montok, putih mulus halus solah menantangku untuk mendekapnya.

Turun naik napasku melihat pemandangan indah didepan mataku, kutahan dan kuhembuskan napas sejenak, berpikir untuk memastikan bahwa situasi dibawah kendaliku. Aku duduk dipinggiran ranjang, memastikan dengan gerakan tubuhku tidak membuat mangsaku menjadi waspada. Aku melucuti pakaianku, membuka celana panjang, menariknya keluar, membuka kemeja dan kaosku, berurutan dan dengan hanya bercelana pendek aku merebahkan diriku disamping Tante Mala.

Aku berpikiran toh kalaupun Tante mala terbangun dan mendapati diriku tidur disampingnya, aku sudah mendapat lampu hijau darinya, jadi menurutku keadaan sudah aman dan terkendali, aku merapatkan diriku dibadannya, seakan ingin memberinya kehangatan dalam dinginnya malam. Seperti yang sudah-sudah aku mulai berani memepetkan dedeku di garis belahan pantatnya. Menempelkannya erat seakan ingin memberi sensasi yang lebih.
Entah darimana datangnya keberanianku seakan jauh melampaui, mungkin karena aku merasa bahwa aku adalah orang dekatnya, seharusnya aku mendapat jatah lebih dari pada yang didapatkan Om Herman.

Entah seakan pikiran gelap dan kosong tanpa ada rasa takut atau khawatir seperti yang sudah-sudah, aku berpikir apabila Tante Mala kusetubuhi sekalipun beliau tak akan menolaknya, walaupun beliau nanti marah, aku sudah mempunyai senjata untuk menghadapinya, mungkin aku akan mengadukan perselingkuhannya dengan Om Herman kepada Om Mirza. Dari pada hal tersebut diketahui oleh suaminya lebih baik beliau menuruti keinginanku. Senyum penuh kemenangan tampak tergambar diwajahku.

Perlahan aku membuka celana pendekku, sekaligus membuka celana dalamku, kini aku sudah dalam keadaan polos, bugil tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhku. Duduk aku disisinya, memandangnya, melihat kearah bongkahan pantat yang mulus dan montok di depanku, hanya tertutup sebagian oleh selimut, seolah mempersilahkan aku untuk menikmatinya.

Perlahan aku menghampiri pantat mulus itu, melihatnya, menganguminya, merabanya sejenak, seakan memberi tahu kepada pemiliknya untuk mengijinkan aku menikmatinya.

Aku menggeser pantatku, memasukkan kakiku agar ikut masuk kedalam selimut yang dipergunakannya, mengocok-ngocok penisku yang tadi menegang agar semakin tegang dan mengeras, menempelkannya kebelahan dalam didepannya, mencari celah agar dapat dimasukinya.
Pelan dan tanpa suara, kugapai rongga yang berada diselangkangannya, menempelkannya kedalam celah sempit diantaranya, menerobos masuk untuk menggapai kenikmatan yang lebih. Menggesek-gesekkannya perlahan, menahannya sebentar dan kembali menggesek-gesekkannya agar kenikmatan yang didapat lebih puas.

Tante Mala seakan tak terpengaruh oleh aktifitas yang dilakukan olehku, tetap tertidur pulas, namun sedikit kudengar ada napas memburu, tak teratur, seakan turut menikmati apa yang kulakukan, aku terus menggoyang-goyangkan pantatku mundur maju, seolah menyuruh penisku menikmati kesempatan, tanpa suara.
Namun aku membayangkan seakan-akan tante mala turut mengimbangi permainanku, turut bergoyang untuk mendapatkan kenikmatan yang kuberikan, kudesak-desak penisku agar lebih masuk kedalam rongga vaginanya yang telah basah, mungkin beliau saat ini bermimpi sedang bersetubuh dengan Om Mirza ataupun Om Herman, aku tak peduli, yang jelas saat ini, tubuh montok, halus, mulus, putih ini berada dalam dekapanku.

Kupeluk beliau dari belakang, sambil aku terus menggoyang-goyangkan badan agar penisku tetap menikmati kepuasan, memegang payudara montok, putih dan besar itu dari belakang, meraba-rabanya dan meremas-remasnya, pelan, perlahan, keras dan maki keras. Seolah-olah aku melakukan gaya doogy style seperti yang sering kulihat di film biru yang sering kusewa.

Namun dengan posisi seperti itu, aku merasa ada yang kurang, akhirnya kucabut penisku. Kemudian aku bangun dan duduk di ranjang. Pelan pelan aku atur posisi tubuh tante Mala agar terlentang. Kutempatkan dua kakinya saling menjauhi. Kemudian aku memposisikan tubuhku diatas tubuhnya seperti orang push up. Pelan pelan kuarahkan penisku ke belahan vaginanya dan mendorongnya pelan pelan. Hmmmm posisi seperti memang lebih nikmat dan mendebarkan, selain itu aku bisa menikmati bibir ranumnya serta tidak ketinggalan puting susunya kukecup kecup.

Entah berapa lama sensasi ini terjadi, beberapa belas menit kemudian, himpitan ke penisku kurasakan lebih mencengkeram. Belum lagi ditambah dengan kejadian sebelumnya, dengan Tante Mala yang sepertinya membuat spermaku sudah berada diujung, waktu terasa sangat cepat, membuatku ingin memuntahkan lava panas dari ujung penisku, tak kuasa aku menahannya. Kupercepat gerakan penisku di lubang kewanitaanya, ketika serasa ada denyut melanda batang kelaki-lakianku, segera kumuntahkan banjir spermaku kedalam vaginanya. Aku segera mengambil tissue dan membersihakan sisa-spermaku di liang vagina tante. Akhirnya untuk kedua kalinya aku berhasil menyetubuhi tanteku yang seksi ini.

Kuhembuskan perlahan napasku, seakan kenikmatan dan kepuasan telah aku raih, kulirik tante mala disebelahku, tampak tertidur pulas, namun kini beliau nampak bercahaya, seperti ada minyak yang mengkilati tubuhnya, mungkin sebagian keringatku menempel dibadannya. Aku tersenyum penuh kemenangan menatapnya. Perlahan aku mengambil celana pendek dan celana dalamku, memakainya, merebahkan kembali badanku disampingnya, memandang langit-langit kamar dengan pikiran kosong, dan tak berapa lama terlelap.
CHAPTER 9: TANTE SANDRA, AKHIRNYA KUMENIKMATI TUBUHMU..


Terbangun aku karena udara panas serasa menyengat tubuhku, menggeliat-geliatkan badan sejenak, berusaha melengkapi semua nyawaku agar tersadar dengan alam sekitar. Kukejap-kejapkan mataku, melihat ke arah dinding, jam 11 siang !, hampir tengah hari. Kulihat sekeliling, tak ada siapa-siapa, sambil menatap langit-langit kamar, kuingat-ingat kejadian semalam, tersenyum, dan itu mengingatkanku akan seseorang, kemana Tante Mala ?

Dengan kamar sebagus ini, rasanya sayang jika harus cepat-cepat meninggalkan ruangan, ingin rasanya aku kembali tidur, namun ada perasaan tak enak menyelimutiku, ingin mengetahui kemana gerangan Tanteku. Bangkit aku dari tempat tidur, duduk dipinggiran sofa, tak sengaja mataku menatap secarik kertas, ada tulisan disana, kuhampiri, kuambil dan kubaca “Fan, Tante pagi ini pergi ke kantor pelabuhan dengan Om Herman, kamu tunggu aja disini, temenin Tante Sandra. Mungkin Tante kembali sore, nerusin kerjaan yang semalam, T. Mala” demikian tulisan pada kertas putih kecil itu terbaca.

Aku mengdengus perlahan, mengingat kejadian semalam, dimana Tante Malaku dan Om Herman tampak sangat mesra, seprti layaknya orang yang berkasih-kasihan, ada rasa sebal, kesal bila mengingat semua itu, namun aku seperti layaknya anak kecil yang tak mampu berbuat apa-apa. Terdiam aku sejenak, namun akhirnya aku putuskan untuk menyegarkan badan, mandi.
Selesai mandi, mulanya aku memutuskan untuk diam saja seharian di kamar bungalow ini, mengistirahatkan badanku, menonton tivi, apa saja sambil menunggu kedatangan Tante Mala, namun karena kulihat hari masih panjang, ada rasa bosan menghampiriku, akhirnya aku memutuskan untuk keluar, ke bungalow sebelah, untuk melihat atau menengok keadaan Tante Sandra.

Hmm…, Tante Sandra, aku jadi ingat kejadian semalam, dimana aku menggerepe dan menggumuli badan Tante Sandra, ada rasa berdesir dihatiku, ingin merasakan lagi. Ada rasa takut dan khawatir jangan-jangan tante Sandra tahu apa yang kulakukan semalam terhadapnya. Namun dihati kecilku yang lain ada keyakinan bahwa hal itu aman-aman saja.


Dari pintu bungalowku, kulihat bungalow Tante Sandra tampak tertutup rapat, membuatku berpikiran, adakah orang didalamnya, namun rasa keingintahuan membuatku melangkahkan kaki, setelah mengunci pintu bungalowku. Kuketuk perlahan pintu kamar bungalow tersebut, tidak ada sahutan dari dalam, tapi sayup-sayup kudengar seperti ada suara air memancar, kupikir pastilah Tante Sandra sedang berada dikamar mandi, mungkin tidak mendengar ketukan pintu ini.

Kubuka perlahan pintu, benar, ternyata tidak dikunci, kupangggil-panggil nama Tante Sandra, “Tan.. Tan...” sambil melongokkkan kepalaku kedalam bungalow tersebut. Kulihat tak ada seorangpun disana, namun terdengar suara sahutan dari dalam, diiringi dengan suara air memancar. “Iya... Siapa ? Fandi ya ? .. Masuk aja Fan, Tante lagi mandi dulu” sahutnya. “Iya Tan, ini Fandi, ya udah tante mandi aja dulu, biar Fandi tunggu diluar” jawabku lagi, Aku memutuskan untuk menutup pintu kembali, dan menunggunya duduk dibangku luar bungalow, namun tiba-tiba kudengar lagi suara dari dalam. “Di dalam aja Fan, ga papa kok, Tante gak lama ini, kalau kamu mau minum atau apa, ambillah sendiri, diluar panas” kudengar suara Tante Sandra. Aku diam sejenak, dan akhirnya kuputuskan untuk menunggunya di sofa di dalam ruangan kamar tersebut.

Aku duduk, memandang keliling ruangan dalam tersebut, kulihat meja masih dalam keadaan acak-acakan, terdapat sisa-sisa minumanku semalam, nampaknya belum dirapihkan dan dibereskan, sama seperti ruangan bungalowku serta yang membuatku tersenyum adalah kulihat seprei nampak acak-acakan dan itu membuatku teringat akan kejadian semalam, hingga tanpa kusadari dedeku ikut tersenyum, manggut-manggut dan mengeras. Kuarahkan pandanganku kearah depan, ke arah sumber suara air, mataku seakan berhenti menatap, kulihat nampak pintu kamar mandi terbuka lebar, aku bertanya2 dalam hati, apakah Tante Sandra lupa untuk menutup pintunya atau memang sengaja ia buka, sehingga walaupun dari samping aku bisa melihat sedikit ke arah dalam, dan mungkin apabila aku bergeser sedikit saja, mungkin aku bisa melihat lebih jauh kedalam kamar mandi.

Pikiran isengku mulai timbul, ada rasa ingin tahu yang lebih mendalam, rasa penasaran, untuk melihat Tante Sandra mandi, entahlah seperti kakiku menyuruh melangkah, untuk melihat lebih jauh, daripada sekedar mendengar bunyi air memancar. “Tan, minta minum ya ?” teriakku, jelas kutujukan kepadanya, namun tak kudengar jawaban apa-apa, aku menghampiri sedikit pintu kamar mandi, dari arah samping, sedikit menengok ke arah dalam. Mataku sejenak terpaku, kulihat ke arah dalam tampak Tante Sandra sedang berdiri di atas bathtub, nampaknya beliau kulihat seperti sedang memutar keran dan menikmati air yang memancar ke tubuhnya. Terbelalak aku menyaksikan tubuh putih cantik, telanjang bulat, dengan cahaya yang cukup terang, sepertinya sengaja menyuguhkan kepadaku tontonan yang membuat hatiku deg-degan, dari tempatku berdiri, walaupun cukup jauh, namun terlihat jelas.

Tante Sandra seolah cuek dengan keadaanya, tak malu-malu untuk bugil meskipun beliau tahu ada orang lain di dekatnya, nampaknya beliau sudah terbiasa akan hal ini. Namun jelas buatku tidak, otomatis pikiran ngeresku keluar, seolah tak ingin melepaskan pemandangan indah ini. Di hatiku seakan ada dorongan kuat, untuk menerobos masuk, dan dihati lain ada rasa takut, jangankan menerobos masuk, ketahuan aku mengintipnya aja, ada rasa tak enak.

Akhirnya aku memutuskan untuk diam dan menunggunya, aku duduk dan menyalakan televisi, sengaja aku bergeser lebih ke dalam, sehingga dari tempatku duduk, dan melihat ke kaca ruangan, aku masih dapat mengintipnya mandi.

Sambil melihat ke arah televisi, aku melirik ke dalam kamar mandi, kulihat tampaknya beliau sudah selesai, menggosok-gosokkan badannya dengan handuk dan kemudian membungkusnya. Namun ada hal yang membuat aku aneh, adalah sepertinya beliau tidak peduli dengan payudaranya, Tante Sandra tidak menutupinya dengan handuk, beliau hanya melilitkan handuk sebatas pinggang kebawah saja, tidak seperti layaknya perempuan kebanyakan, jelas ini membuat mataku makin melotot.

Tante Sandra sepertinya sengaja memancing-mancing diriku untuk memperhatikannya, untuk memperhatikan dan menikmati buah dadanya yang indah, menggantung, besar. Seakan berkata kepadaku, “Fan, bagus gak tetek Tante, coba deh kamu pegang2, bagus dan masih kencang kan ?”, duh, seandainya dia berkata begitu, jangankan disuruh pegang, mencium, meremas dan melumatnya pun aku mau… hehehe… ngarep.

Tak lama beliau keluar dari kamar ganti, dengan cueknya, seakan-akan tidak ada aku disitu, beliau berjalan, melenggang, melewati depanku, tersenyum dan melangkah menuju kaca didekat pembaringan. Mengambil pakaian di koper, memakai Bh-nya, sambil terus menatap kaca didepannya, seolah tak perduli bahwa aku memandangi dan memperhatikannya. Rambut panjangnya yang lurus tergerai, basah, menggambarkan kesegaran dari yang empunya, membuatku makin bergairah, cantik dan seksi sekali Tante Sandra. Aku hanya menatapnya penuh takjub, ingin sekali aku menyentuhnya, merabanya dan memeluknya. Namun tak ada keberanian dari diriku. Aku membayangkan, bagaimana seandainya aku nekat untuk memeluknya, dengan paksa, mencium lehernya, menjamahnya, meraba2 payudaranya dan memaksanya untuk bersetubuh denganku, marah gak ya ?

aku hanya terdiam, tak ada keberanian untuk itu, berpaling ke arah televisi, kulihat Tante Sandra berdandan, cantik di siang bolong seperti ini, dan seperti ingin memecah kesunyian, aku berkata kepadanya, “Tan, maaf semalem Fandi ngantuk banget, jadi Fandi pindah ke sebelah “, kataku kepadanya. “Oh Ya Fan, gpp, lagian juga sama, Tante ngantuk banget, sampe gak Tau Om Herman pulang, kamu bangun jam berapa Fan ? tadi tante lihat kamu gak keluar-keluar..” jawabnya lagi dan sambil memandangku. Bertatapan dengan matanya membuatku malu, aku menundukkan kepala, seolah menghindari sorotan matanya, takut dia akan menanyakan kejadian semalam yang membuat dirinya basah. Aku menjawabnya bahwa aku sepertinya semalam lelah sekali, sehingga aku tidur terlelap, dan membuatku bangun kesiangan. Jelas aja, wong semalem aku kerja keras sendirian, heheheh…

Tante Sandra menanyakan kepadaku apa rencanaku hari ini, sambil menunggu Tante Mala dan Om Herman kembali, aku hanya mengangkat bahu dan mengatakan bahwa aku mungkin hanya tidur2an saja dikamar dan mungkin keluar untuk mencari baju salin sebagai pengganti bajuku yang mungkin sudah bau dan lecek ini. Beliau nampaknya antusias dengan jawabanku, Tante Sandra berkata kepadaku bahwa ia ingin ikut, sekalian melihat-lihat dan barangkali ada sesuatu yang dapat dibeli, dan aku mengiyakannya.

Selesai berdandan, beliau hari itu memakai baju kaos ketat, berbelahan dada sangat rendah, dengan rok mini ketat, layaknya seorang remaja, aku hanya tersenyum melihatnya, cantik dan seksi sekali, beliau mengatakan kepadaku bahwa berangkatnya setelah makan siang saja, mudah-mudahan sudah tidak panas katanya.

Seperti yang telah disepakati, akhirnya kami berangkat keliling kota, aku memang berniat mencari pakaian pengganti, terutama pakaian dalamku, yang dari kemaren aku tidak ganti, malah sekarang udah aku pakai Side-B nya, lumayanlah biar gak gatel. Kalo aku tidak menemukan penggantinya, wah parah nih, bisa balik ke Side-A lagi kaya kaset didengerin terus, biar cepet hapal.

Aku menggunakan mobil Tante Mala yang kupakai kemarin, karena kali ini kami berdua saja, maka Tante Sandra duduk disebelahku, duh, cantik sekali, dengan kaos warna coklat berbelahan rendah, jelas banyak orang yang menatap iri kepadaku, seperti pada saat kami makan di restoran tadi, jelas hal ini juga makin membuat otakku pusing tak karuan.

Kami berputar-putar mengelilingi pusat kota, ke pusat perbelanjaan yang tidak banyak disana, tidak ada mall seperti yang kubayangkan, hanya sebuah pasar tradisional, mulanya aku ragu untuk turun dan membeli keperluanku, aku takut kalo Tante Sandra ikut turun dan menjadi tontonan orang dengan pakaian seperti itu, mungkin akan banyak pria-pria iseng yang menggodanya, bersiul nakal. Namun akhirnya kekhawatiranku tidak terjadi, Tante sandra mengatakan kepadaku bahwa ia hanya akan menungguku dimobil saja, sementara aku berbelanja.

Setelah mendapatkan barang yang aku cari, aku kembali menuju mobil, kulihat Tante Sandra setia menungguku, padahal aku cukup lama juga mencari barang yang kuinginkan. Aku menanyakan kepadanya, kemana lagi kami menuju, hari masih siang sedangkan Om Herman dan Tante Mala mungkin akan kembali sore. Kami berpikir sejenak, hendak keliling lagi, sepertinya kota ini tidak ada apa-apa lagi yang enak untuk dikunjungi, mencari tempat makan, kami barusan aja makan, akhirnya setelah cukup lama berpikir, kami memutuskan untuk mengarahkan kendaraan menuju kantor Om Herman, mungkin kami bisa lihat-lihat kesana, dan membantu bila diperlukan.

Kulirik jam dipergelangan tanganku, waktu menunjukkan beberapa menit kurang dari jam 2 siang, perlahan aku melajukan mobil ke arah pelabuhan, tempat dimana gudang penyimpanan produk usaha Om Herman berada. Seperempat jam kemudian kami telah sampai, memasuki gerbang pelabuhan menanyakan dimana lokasi gudang berada, menyusuri pingiran laut dengan baunya yang khas tercium sejak kami memasuki lokasi ini. Kulihat sebuah gedung layaknya perkantoran disana, hari ini memang hari libur, jadi tidak banyak kegiatan disana, kulihat mobil Om Herman terparkir di salah satu pinggiran gedung. Heran aku dengan keadaaan sekitar, ada perasaan tak enak, karena tidak kulihat seorangpun yang berada di sekitar gedung tersebut.

Aku memarkirkan mobil agak jauh memang dari lobby gedung, karena hanya sebatas inilah mobil yang kukendarai harus berhenti, beberapa puluh meter dari pintu gedung. Dari parkiran mobil kami berjalan menuju ke lobby dan ke dalam gedung, untunglah Tante Sandra sering kesini dan mengetahui ruangan mana Om Herman biasanya bekerja. Tak ada seorangpun di lobby gedung, jadi kami terus saja melangkah menuju dimana ruangan Om Herman berada.

Berjalan melewati lorong-lorong, untunglah ruangan Om Herman berada dilantai bawah, jadi kami tak perlu capek-capek untuk menaiki tangga di hari yang panas ini. Didalam gedung serasa dingin menghantar, AC sentral yang terpasang diseluruh ruangan gedung, sepertinya tidak dimatikan, sehingga seluruh gedung terasa sejuk.
Beriringan aku dan Tante Sandra melangkah, tangan Tante Sandra seperti biasanya, bergelayut menggamit di lengan bahuku. Sepi sekali gedung ini, beberapa langkah kami mencapai pintu ruangan kerja Om Herman, kudengar seperti ada suara-suara berbicara. Tante Sandra menempelkan telunjuknya di bibirnya, memberi isyarat kepadaku agar tak bersuara, ia membisikkan kata-kata di telingaku bahwa ia akan mengagetkan keduanya, memberi surprise katanya.

Kami melangkah pelan, seperti berjinjit agar tidak bersuara, pelan2, kami berjalan menuju pintu yang dimaksud. Ketika beberapa langkah menjelang, suara-suara yang kudengar seperti orang berbicara tadi, sepertinya bukan merupakan rangkaian kata-kata layaknya orang berbicara, namun yang kudengar semakin jelas adalah bahwa itu merupakan suara desahan dan lenguhan halus dengan disertai jeritan-jeritan kecil.

Aku menghentikan langkahku, memegang lengan Tante Sandra, berusaha menghentikan langkahnya, menyuruhnya diam. Tante Sandra juga sepertinya menyadari akan hal ini, beliau diam, terpaku, sedikit pucat, berdiri mamatung.
Aku terdiam sejenak, berpikir cepat, dan ingin segera memastikan apa yang sedang terjadi diruang itu. Aku memandang Tante Sandra, memintanya untuk diam ditempat, sementara aku menghampiri ruangan itu, dengan melangkah pelan, berjinjit tanpa suara, aku menghampiri jendela yang tertutup gorden, berusaha mengintip dari celah-celah gorden untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.

Terbelalak aku melihat kedalam ruangan tersebut, dari celah gorden tempat aku berdiri mengintip, kulihat di sofa ruangan tersebut, tampak Tante Mala sedang duduk dipangku oleh Om Herman, kulihat Tante Mala duduk dengan mengangkangkan kakinya di kedua paha Om Herman, sepertinya keduanya sedang bercumbu hebat.

Terpana aku sesaat, kembali wajahku kuarahkan ke Tante Sandra, seolah ingin memberitahukan kepadanya apa yang terjadi, dan kulihat wajah Tante Sandra seperti menunggu kabar dariku. Aku kembali memalingkan muka, memandang ke arah celah gorden ruangan, melihat pemandangan dibalik kaca, memastikan apakah yang kulihat ini benar2 terjadi.

Kuperhatikan beberapa saat, tampak Tante Mala turun dari sofa, membuka bajunya, berbalik dan kembali duduk dipangkuan Om Herman, kali ini posisi duduknya adalah menghadapku, memunggungi Om Herman, duduk diatas pangkuannya. Pantatnya turun naik, sementara Om Herman tampak mendesis-desis sambil memegangi dan meremas payudara Tante Mala.

Sesaat aku terpana, ingin terus menyaksikan tontonan live ini, namun tanpa kusadari disebelahku telah berdiri Tante Sandra, berusaha mengintip dan ingin melihat apa sebenarnya yang terjadi.

Tersadar aku akan keadaan, ngeri jika memikirkan apabila tiba-tiba saja Tante Sandra melabrak masuk, mendobrak pintu, maka mungkin akan terjadi pertempuran besar. Aku bergegas menggamit lengan Tante Sandra, menariknya, melangkahkan kakiku menjauhi ruang tersebut. Berjalan cepat menuju luar gedung, menuju dimana mobil kami diparkir, menyuruhnya masuk kedalam mobil dan menjalankan mobil secepat yang aku bisa, menjauhi tempat itu.

Sepanjang perjalanan, aku hanya terdiam, memperhatikan Tante Sandra yang duduk disebelahku, terpejam dengan kepala tersandar. Ada rasa campur aduk tak karuan melihatnya, memikirkan apa langkah selanjutnya. Blank rasanya otakku, aku hanya terpaku menatap jalan di depanku, mengarahkan kendaraan melaju entah kemana, hati kecilku hanya dapat mengucap "Aduh Tante......Aduh....."


Kuparkir mobil di area pelataran parkir tempat peristirahtan itu, mencari tempat yang teduh yang aman dan nyaman, menyandarkan kepala sejenak ke sandaran jok. Yang terpikirkan padaku saat ini adalah kembali ke bungalow, mungkin disana kami dapat menenangkan pikiran sejenak. Kulirik Tante Sandra, tampak terpekur menunduk dengan mata terpejam, aku menyadari bahwa sebenarnya beliau tidak tidur, tapi mungkin kalut dengan pikiran-pikiran di otaknya.

Aku membuka pintu mobil, keluar, kembali menutupnya perlahan, kemudian melangkah, mengitari bagian depan mobil, menuju pintu kanan mobil, membuka dengan perlahan, menggamit lengan Tante Sandra seraya mengajaknya turun. Tante Sandra dengan muka lesu, mengikuti ajakanku. Aku membimbingnya berjalan keluar areal parkiran dan menuju bungalow tempat kami menginap.

Berjalan melangkah pelan, terdiam seribu bahasa, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut kami, menyusuri jalan berbatu yang tampak masih panas akibat sengatan matahari, menunduk, memikirkan apa yang terjadi dan apa yang harus kami lakukan.
Tante Mala dan Om Herman, aku sama sekali tidak menyangka bahwa mereka terlibat cinta terlarang. Ada perasaan kesal, sedih, sesak campur aduk di hatiku, aku yang sangat menghormati dan menyayangi Tante Mala, yang harus kulindungi dikala Om Mirza pergi, ternyata membuat perselingkuhan dengan Om Herman, teman bisnisnya. Namun disisi lain ada rasa cemburu dihatiku, kenapa harus dengan Om Herman ?, kalau memang hanya sekedar kebutuhan seks, kebutuhan akan birahi yang terpendam, kenapa harus dengan dia ? kenapa tidak dengan Aku ? aku mungkin juga sanggup untuk memuaskannya !. Memang Om Mirza, dengan segala aktifitasnya yang selalu keluar kota, mungkin ini menyebabkan akan tuntutan hasrat birahi Tante Mala kurang terpenuhi, yang jelas aku sangat menyayangkannya.

Kupapah Tante Sandra, membuka pintu bungalow yang terkunci, membiarkannya melangkah. Aku menutup pintu kamar bungalow itu, ikut masuk kedalam dan menutupnya kembali. Kulihat Tante Sandra melangkah pelan, duduk dipinggiran ranjang, menunduk, terdiam.
Aku hanya memperhatikannya, tak ada kata-kata yang keluar dari mulutku, baik untuk membuka percakapan ataupun berkata-kata untuk menenangkannya.

Tak lama kemudian, beliau bangkit berdiri, penuh tanda tanya aku memandangnya, ia seolah tak menyadari bahwa ada aku didalam kamar tersebut. Aku terperangah dibuatnya, melihat apa yang dilakukan oleh Tante Sandra. Kulihat Tante Sandra perlahan membuka bajunya, membuka kaos ketat coklatnya, disusul kemudian dengan rok mini ketatnya, berikut celana dalamnya. Aku semakin terperanjat.


Kulihat beliau berjalan melenggok, membelakangiku, menuju lemari pendingin yang ada di dekatnya, membungkuk mengambil minuman didalamnya. Kuperhatikan dari botol minuman tersebut, itu adalah jenis minuman beralkohol kadar tinggi, meneguknya beberapa kali, seakan-akan haus mendera, cukup untuk membuatnya mabuk, dan semua itu dilakukan didepanku tanpa busana.

Aku hanya terpaku melihat keadaannya, ada rasa iba, kasihan, namun aku tak tahu apa yang harus kulakukan, kulihat ia meneguk minuman dalam botol itu beberapa kali lagi, kemudian meletakkannya diatas meja kecil disamping tempat tidur, dengan muka tampak kusut dan pandangan kosong, seakan tak peduli aku ada disitu melihatnya, memandanginya, memperhatikan segala tingkah lakunya, dan seakan memancing birahiku untuk bangkit.

Menghampiri pembaringan, Tante Sandra mengangkat kakinya, menjejakkan lututnya merangkak ke atas tempat tidur, makin terpana aku dibuatnya. Paha putih, mulus, panjang, bulat, mantap membelakangiku, seolah ingin memberi tahukan kepadaku bahwa beliau mempunyai sesuatu yang sangat indah, menyesallah orang yang mengabaikannya. Menyesallah Om Herman dengan apa yang telah dimilikinya namun tidak dimanfaatkannya.


Tenggorokanku serasa tercekat, lidahku serasa kering, tak mampu mengeluarkan suara apapun, pandanganku semakin gelap dan nanar, melihat pemandangan yang disuguhkan kepadaku, otakku semakin butek, ngeres, sementara sang iblis berbisik-bisik ditelingaku untuk memanfaatkan kesempatan, seolah memberikan persetujuan dan pembenaran kepadaku untuk melakukan sesuatu.

Aku bergerak bangun, kuhampiri tempat tidur dimana badan Tante Sandra rebahan, Tante Sandra melihatku sekilas, memandangku dengan pandangan kosong, menatapku seakan memintaku untuk mengerti apa yang sedang terjadi padanya, mengetahui apa yang berada dalam pikirannya.
Aku menghampiri meja kecil disamping tempat tidur itu, mengambil sisa minuman yang tadi diminumnya, meneguknya beberapa kali hingga tandas tak tersisa.


Aku duduk disisi tempat tidur, didekat kakinya, memandangnya yang tidur tertelungkup, memperhatikan setiap lekuk tubuhnya. Kuperhatikan matanya menerawang entah kemana, seakan tak sadar akan keadaan dirinya. Terdiam, tak peduli aku duduk didekatnya. Entah apa yang ada di dalam pikirannya, kuperhatikan wajahnya, lesu, sendu, seperti hendak menangis, kemudian tersenyum sesaat, meringis, seolah akan berteriak namun tak terlaksana.


Tiba-tiba seakan terkaget, ia membalikkan badannya, telentang, menghadap keatas. Matanya kini memandangku dengan sayu, melihat kearah mataku dengan sorot matanya yang memelas.

Aku terpana menatapnya, ingin sekali aku memeluknya namun aku tidak mempunyai keberanian, aku hanya berani menatapnya, memandangnya saja. Tante Sandra mengangkat kedua tangannya, mengarahkannya ke kedua payudaranya, memegangnya. Aku hanya berani menatapnya, kulihat ia meraba-raba kedua payudara yang montok, besar, putih dan kencang itu, meremas-remasnya sendiri, meraba kedua putingnya. Aku hanya terpaku menatapnya.


Tak lama kemudian Tante Sandra mengangkat badannya, beringsut seakan menghampiri diriku, memindahkan posisi badannya, kini kepala beliau berada di dekatku. Tersenyum menatapku, seakan ingin mengajakku berbicara, namun tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Ia hanya menatapku tajam, menghampiri diriku yang terpaku didekatnya.

Didekatinya diriku, mendudukkan dirinya, dirangkulnya bahuku, mendekatkan wajahnya ke wajahku. Kurasakan hawa napas memburu di wajahku, hembusan napas tak teratur keluar dari hidung Tante Sandra, semakin dekat dan semakin panas. Entah aku harus bertindak apa, aku hanya diam terpaku, malah kini kurasakan bibirnya menyentuh bibirku, menempel dan mengecup perlahan. Aku membuka mulutku ketika kurasakan ada dorongan lidah keluar dari mulutnya, kumiringkan wajahku dan tanpa aku sadari aku membalas ciumannya.
Kami berciuman lama sekali, tanganku tanpa kusadari ikut bermain, memeluk punggungnya, mengarahkan kebelakang kepalanya, agar lebih menekannya untuk memberikan tekanan agar lebih merapat ke kepalaku. Entah dari mana datangnya keberanian aku memegang bahunya, mendorongnya kebelakang, jatuh terlentang, menjauh dariku.


Namun itu bukanlah penolakan dariku, aku kini malah menindihnya, memeluknya dengan kencang dan kembali menciumi bibirnya. Tante Sandra tampak terengah-engah, matanya kulihat semakin sayu. Aku memindahkan ciumanku dari bibirnya, kini kuarahkan kearah lehernya, menciuminya beberapa saat, dan kini aku memindahkan sasaran ciuman ketempat yang aku suka. Aku menciumi kedua payudaranya, perlahan berputar mengelilingi putingnya, dan kemudian mengecup kedua putingnya. Tampak wajah Tante Sandra makin tidak karuan, desahan-desahan halus terdengar, mengingatkanku akan desahan-desahan yang kudengar tadi di tempat kerja Om Herman, desahan Tante Mala.
Aku semakin meradang, kumainkan lidahku di ujung puting kanannya, sementara kedua tanganku meremas-remasnya, mengecupnya lagi dan kemudian kuhisap perlahan, perlahan, dan kesentakkan untuk menghisapnya secara keras. Terdengar lenguhan dari mulut Tante Sandra, sepertinya ia menikmati permainanku. Dan aku sepertinya ingin memberinya kenikmatan yang diinginkan, seolah ada rasa dendam dari diriku, ingin membalas perbuatan Om Herman terhadap Tante Mala, dengan menyetubuhi istrinya.


Kuhentikan sasaranku pada payudaranya, kini kuarahkan ciuman bertubi-tubi ke arah bawah dadanya, keperutnya, terus kebawahnya. Menuju gundukan yang menonjol diatas selangkangannya, ditumbuhi bulu-bulu halus yang cukup lebat. Aku merabanya, merasakan tonjolan daging tersebut, menciuminya perlahan, kuangkat kepalaku sebentar untuk melihat ekspresinya, kulihat ia mengengadahkan kepalanya memegang salah satu kepalanya dengan tangannya, seakan sangat menikmatinya.


Tampaknya Tante Sandra semakin terlena, sekarang kuciumi bagian dalam pahanya, menelusurinya dengan lidahku, menjilatinya. Bunyi napas tak teratur diiringi dengan suara lenguhan dan desahan-desahan semakin keras kudengar, dan semakin membangkitkan gairahku, penisku semakin keras dan tegang. Kurasakan gelinjang tubuh Tante Sandra, menggeliat-geliatkan kepalanya ketika lidahku menyentuh bagian dalam selangkangannya. Kurasakan ada cairan membasahinya, kuraba dengan jari-jariku, meraba-raba dan mengucek-uceknya perlahan, dan sedikit-sedikit kumainkan jariku disana.


“ahh.. ” kudengar suara desahan semakin jelas, tak ada rasa sungkan lagi untuk merasakan kenikmatan, tiba-tiba ia bangkit dari posisinya yang rebahan, mengangkat kepalnya dan mendorongku agar jatuh terlentang, aku kaget dan khawatir, sepertinya ia hendak menghentikan semua ini.
Namun kekhawatiranku tidak terbukti, kutatap wajahnya, ia menatapku balik, tak perduli, merangkak melewati kakiku, mendudukkan pantatnya di atas selangkanganku. Tanpa berkata apa-apa, ia mengangkat pantatnya dalam posisi jongkok, memegang penisku yang telah tegang dan mengeras sejak tadi. Rupanya Tante Sandra sudah tidak sabar, ingin segera mamasukkan penisku kedalam vaginanya.

Pelan tapi pasti, ia mengarahkan penisku kedalam vaginanya, aku hanya menatapnya, menunggunya. Meleset sekali, dua kali, dan tak lama kurasakan penisku seperti memasuki ruang yang sempit, perat mencengkeram dan basah licin, hangat. Dan tak lama kemudian kulihat tante Sandra mengangkat dan menurunkan pantatnya berulang-ulang, semakin kurasakan kenikmatan penuh sensasi ini.


Tante Sandra terus dan terus menaik-turunkan pantatnya, berulang-ulang, sesekali beliau tidak mengangkatnya namun memutar dan menggoyang-goyangkannya diatasku, kemudian diangkatnya lagi, terus dan terus. Kutatap keatas tampak wajahnya menengadah, seakan-akan sangat menikmatinya, payudaranya yang putih dan ranum dengan putingnya yang mengeras, coklat kemerah-merahan, memancingku untuk memegang dan meremas-remasnya, agar kenikmatan yang aku dan dia alami dapat lebih puas.

Beberapa menit berlalu, tampak Tante Sandra menjerit kecil, sepertinya beliau sudah mencapai orgasmenya, menjatuhkan badannya diatas dadaku, memelukku dan menciumiku sambil mengeluarkan suara desahan yang sulit keterjemahkan. Aku terdiam sambil membalas pelukannya, aku belum merasa puas, belum merasakan klimaks dari persetubuhan ini, dan aku ingin mendapatkan lebih.

Kebalikkan tubuh tante Sandra disisiku, kini berbalik aku berada diatasnya, Tante Sandra sepertinya berusaha mencegahku, mungkin merasa bahwa ia belum siap setelah orgasmenya tadi, namun aku tak perduli, segera saja kuarahkan moncong kejantananku ke lobang vaginanya.

Menerobosnya, selagi lubang itu masih dalam keadaan licin, kurasakan penisku lebih hangat dari sebelumnya, mendorongnya perlahan hingga kepangkalnya. Pelan-pelan kudorong, dengan menaikkan dan menurunkan pantatku, sehingga penisku otomatis keluar masuk, bergesek-gesek dengan vaginanya, semakin lama semakin cepat.

Tampaknya Tante Sandra mulai kembali lagi merasakan kenikmatan, kini desahan-desahan dan lenguhan-lenguhan mulai menghiasi lagi suara-suara yang keluar dari mulutnya, dengus napas tak teratur mulai terasa lagi, aku makin ganas, mengocok-ngocokan penisku didalam vaginanya. Membuatnya semakin terlena.

Aku menaik-turunkan pantatku, mengocok-ngocokkan penisku didalam vaginanya, cepat dan semakin cepat. Menindih badannya dengan badanku, memeluknya erat, diselingi ciuman-ciuman ganas disekujur tubuhnya, dibibirnya, dilehernya, didadanya. Kadang aku menyentuh, meraba payudaranya, meremas-remasnya, memainkan putingnya. Memelintirkannya dengan mulutku, dan kadang menggigit pelan keduanya, bergantian, dan itu jelas semakin membuatnya kalang kabut tak karuan. Menggelinjang-gelinjangkan badannya, menggeleng-gelangkan kepalanya kanan kiri.


Entah ide dari mana, ketika sedang asyiknya memaju mundurkan penisku, tiba-tiba aku menghentikan kegiatanku tersebut.


Tante Sandra memberikan reaksi dengan menjerit perlahan, seolah memprotes akan apa yang aku lakukan. Aku meringis melihat reaksinya, ia seolah memohon agar aku melanjutkan apa yang telah aku lakukan, menggenjotnya kembali. Aku mengiyakannya, namun aku memintanya untuk membalikkan badannya, menyuruhnya untuk menungging, mengangkat pantatnya membelakangiku dan aku akan mengarahkan penisku dari belakang, ke lobang vaginanya.


Ia menurutiku, membalikkan badannya, menungging, diam aku sesaat, memandang pantat bulat, montok, munjung ini dihadapanku, pantat indah yang semula hanya menggodaku, dan aku hanya bisa memandangnya saja, kini telah tersuguh dihadanku, malah menyuruhku untuk merasakannya, menikmatinya. Aku mengarahkan penisku tanpa menunggu lama, memasukkan kedalam vaginanya dengan segera, perlahan kudorong dan memasukkannya sekaligus. Tante Sandra menjerit tertahan, mungkin kaget merasakan sentakan dari penisku, aku tersenyum kemudian menariknya perlahan, tampak Tante Sandra terpejam menikmati gerakanku.

Aku memeluknya dari belakang, seakan aku ingin menikmati sekujur tubuhnya tanpa ada yang terlewatkan. Aku memaju-mundurkan pantatku, agar penisku yang berada didalam lobang vaginanya bergesekan keluar masuk. Memeluk sambil menciumi punggungnya, memegang payudaranya dari belakang, meremas-remasnya dengan kasar, dan tidak ada penolakan apalagi perlawanan dari Tante Sandra. Kadang tanganku menarik rambut panjangnya yang tergerai, berusaha memalingkan mukanya agar menghadap diriku, menyorongkan bibirku agar Tante Sandra merasakannya, menciumi bibirku, mengadu lidah dengannya.

Tante Sandra seakan mengerti keinginanku, beliau juga sepertinya ingin mendapatkan sensasi lebih, yang mungkin sering didapatnya dari suaminya namun tidak dapat memuaskannya. Entah berapa lama kami melakukan itu, kuakui memang bila dilakukan dari belakang, rasa cengkeraman lobang vagina terhadap penisku semakin keras, seperti berat untuk dimaju mundurkan, namun biar bagaimanapun ini harus cepat dilakukan, aku takut bila sewaktu-waktu, pada saat aku belum mencapai titik puncak kenikmatan, Tante Mala dan Om Herman datang, entah apa jadinya.

Aku mempercepat goyanganku, cepat, dan semakin cepat, tante Sandra mungkin tahu akan keinginanku, kulihat beliau juga sudah mendesah-desah tak karuan, seakan sedang menjelang orgasmenya lagi, ia semakin ganas, menggoyang-goyangkan pantatnya kekiri dan kekanan, agar cengkeraman terhadap dedeku mungkin menjadi-jadi, aku kadang menepuk-nepuk dan meremas-remas pantat besar dengan pinggang kecil ini, menciumi punggungnya lagi.
Aku kembali menarik kepala Tante Sandra, merengkuhnya agar aku dapat menciuminya lagi, mungkin kalau ada yang menyaksikan, aku sepertinya sedang menyiksa wanita ini. Tersenyum aku membayangkannya, sementara peluh sudah bercucuran membasahi tubuh kami berdua. Aku terus menggenjotnya… terus….dan terus….

Hinga beberapa waktu kemudian kurasakan denyutan diujung penisku, lava panas siap memancar, memuncratkan seluruh isinya, sementara Tante Sandra juga sepertinya akan mengalami hal yang sama. Namun kemudian kulihat Tante Sandra lebih dulu sampai pada puncak orgasmenya, beliau kulihat menengadahkan kepalanya, menjerit tertahan dan kemudian menundukkan kepalanya. Aku takut beliau akan segera menarik pantatnya dari tusukan penisku, aku memegang pinggangnya, seperti menyuruhnya untuk bersabar sesaat, memaju mundurkannya dengan cepat, cepat dan makin cepat. Tante Sandra memahamiku ia membiarkan pantatnya, menggoyang-goyangkannya, menunggu aku mencapai klimaksku.

Beberapa menit kemudian, kurasakan sesuatu akan melesak keluar dari lobang penisku, kupercepat gerakanku, untuk kemuntahkan muatannya ke dalam. Kupegang erat kukocok-kocokan sebentar, kemudian kumuntahkan cairan putih kental, ke rahimnya. Sesaat aku memandang cairan yang meleleh di pahanya, selanjutnya kurebahkan badanku, meraih tubuh Tante Sandra agar ikut rebah disampingku. Tante Sandra menempatkan kepalanya di dadaku, tersenyum kepadaku, mencium pipiku, seakan berterima kasih kepadaku karena telah memberikan kenikmatan kepadanya serta membalaskan perbuatan OM Herman.

Aku memandang wajahnya, membalas senyumannya, membayangkan bahwa baru kali ini aku mendapat kepuasan dari seorang wanita paruh baya, yang sangat cantik, dengan tubuh yang sangat menggiurkan bagi setiap laki-laki, yang mungkin hanya orang-orang kaya saja yang layak mendapatkan tubuh seperti ini. Namun hari ini, seorang wanita paruh baya, yang sangat cantik, bersuamikan seorang pelaku bisnis yang bonafid, menyerahkan tubuhnya kepadaku, seorang pria yang jauh dari tampan, dan boro-boro mapan. Terdiam dan melamun aku untuk sesaat, tiba-tiba kusadari bahwa apabila sekonyong-konyong Tante Mala dan Om Herman kembali dari perginya dan melihat keadaan kami berdua seperti ini, mungkin akan fatal dan menambah masalah semakin runyam. Aku menggeserkan badanku dari badan Tante Sandra, seolah meminta ijin kepadanya bahwa aku akan meninggalkannya, dan Tante Sandra sepertinya mengerti, membiarkanku turun dari ranjang.

Aku mengambil bajuku yang berceceran di tempat tidur itu, mengenakannya, memandang sekilas ke arah kaca, memastikan diri sudah rapi dan berjalan kearah pintu. Membuka pintu tersebut dan sekali lagi memandang wajah Tante Sandra, melihatnya tersenyum kepadaku, menutup pintunya dan berjalan kearah bungalowku.

Didalam kamar aku merenung membayangkan kejadian-kejadian tadi, masih terbayang jelas diwajahku, urutan-urutan kejadian dari semenjak kami datang hingga saat ini. Entahlah, pikiranku sepertinya kosong, aku berusaha memejamkan mataku, memaksakannya supaya hilang dari bayangan-bayangan tersebut. Kulihat dari celah-celah gorden, hari telah menjelang senja. Akhirnya kuputuskan untuk mandi, membersihkan sisa-sisa yang menempel ditubuhku, menyegarkan badan.

Beberapa menit aku berendam didalam bathtub, kadang aku melamun, memikirkan sesuatu, namun entah apa, kosong. Aku melanjutkan mandiku, menggosok-gosokan badan, dengan sabun dan shampoo yang telah disediakan oleh tempat itu, memastikan bahwa dibadanku tidak ada bekas-bekas pertempuran tadi. Cukup lama juga aku melakukan ritual ini. CHAPTER 10 : TANTE MALA LAGI

Selesai mandi, dengan hanya menggunakan celana pendek, yang emang telah biasa aku lakukan sejak dulu, jarang aku menggunakan handuk melilit ditubuhku bila selesai mandi, lebih nyaman bila aku memakai pakaianku sejak dari dalam kamar mandi. Aku keluar kamar mandi, terkejut aku sesaat, karena saat itu disofa telah duduk seorang wanita cantik, sangat cantik, dengan baju terusan warna hitam, seolah sengaja menungguku selesai mandi. Aku memang tadi tidak sengaja atau memang terlupa untuk mengunci pintu kamar bungalow ini, mungkin aku tidak mendengar ada ketukan ataupun panggilan dari luar, aku melihat kepadanya berusaha tersenyum agar tidak kelihatan kaget, namun tidak ada balsan senyuman diwajahnya, hanya memandangku, menunggu aku bertanya dan mengucapkan kata-kata.

“Loh Tan, udah pulang ?, kirain siapa “ kataku sambil tersenyum kepadanya, namun tidak ada balasan senyuman yang kudapat darinya, ia hanya melihatku dengan pandangan biasa saja, kemudian dari mulutnya keluar kata-kata “Fan, kita pulang sekarang, kamu siap-siap, sekarang juga kita pulang”. Aku terdiam sambil memandangnya, ada pertanyaan yang akan aku tanyakan kepadanya, namun sulit sekali aku mengucapkannya, karena kulihat wajah Tante Mala sepertinya tanpa ekspresi dan tampaknya ingin aku menurutinya tanpa banyak bertanya.

Aku bergegas merapikan bajuku, membereskan dandananku, tanpa banyak cakap, memeriksa seisi kamar takut-takut ada yang tertinggal atau terlewatkan. Setelah memastikan semua beres, aku membantu membawa tas kecil Tante Mala, mengatakan padanya bahwa semuanya telah siap, dan berjalan mengikutinya keluar.
Kuperhatikan Tante Mala, wanita cantik yang kukagumi, tampak bergegas melangkah. dengan dandanan baju hitamnya yang seksi, dengan baju terusan yang berbelahan rendah, aku hanya meliriknya sekilas sambil menelan ludah. Sambil melangkahkan kakiku, menuju areal pelataran parkir, banyak pertanyaan menghiasi otakku.

Didalam mobil yang kukendarai, beliau juga tidak banyak cakap, hanya sesekali bergumam, memastikan apakah mobil dalam keadaan laik jalan, sudah cek air, oli atau bensin cukup untuk digunakan sampai tujuan, dan aku hanya menjawabnya juga ala kadarnya. Ada apa dengan Tante Mala, ia terlihat tidak seperti biasanya, tidak ceria dan banyak tersenyum seperti Tante Mala yang kukenal selama ini. Apakah sebenarnya yang terjadi ? apakah beliau saat ini sedang berada dalam posisi yang tidak mengenakkannya ? apa yang telah terjadi saat aku mandi ? ataukah apa yang terjadi saat Tante Mala dan Om Herman dalam perjalanan pulang dari kantor Om Herman ? Apakah Tante Sandra melabrak Om Herman kemudian berimbas kepada Tante Mala ? Apakah Tante Mala mengetahui bahwa kami, aku dan Tante Sandra telah memergokinya berselingkuh dengan Om Herman ? Lalu mengapa Tante Sandra tidak ikut kembali dengan kami ? ada apa dengannya ? masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu dipikiranku, namun tak ada keberanian dari diriku untuk bertanya kepadanya.

Kulirik jam ditanganku, jam setengah delapan kurang, kalau perjalanan dari sini menuju kerumah sekitar 3,5 jam berarti kami akan tiba di rumah sekitar setengah sebelas, sedangkan perutku belum diisi sejak siang tadi, duh.. bisa-bisa cacing didalam perutku ngamuk, karena belum mendapat upeti. Tante Mala seperti mengerti akan pikiranku, beliau melihat aku melirik jam dan akhirnya mengajakku untuk nanti mampir di salah satu rumah makan bila kami melewatinya.

Sejam perjalanan yang kami lewati dengan keheningan, dimalam ini lalu lintas cukup ramai, mungkin karena bertepatan dengan weekend, sehingga banyak lalu lalang kendaraan dijalan yang kami lalui. Jarak dari tempat kami tadi memang cukup jauh, melewati perkebunan, sawah dan beberapa kota kecil, akhirnya ketika kami melewati sebuah kota yang cukup ramai, kami memutuskan untuk mencari rumah makan yang dirasa menurut kami cukup enak, aman dan nyaman.

Akhirya kami memutuskan untuk berhenti disebuah restoran yang kelihatan cukup mewah, karena menurut Tante Mala, tempat itu adalah tempat biasa ia makan, bila melewati kota ini. Memang kulihat tempat itu cukup bagus, banyak mobil-mobil mewah terparkir disana, dan kulihat disebelahnya juga terdapat hotel yang cukup bagus, mungkin kelas melati, namun cukup asri dan mewah untuk sekelas penginapan di kota kecil seperti ini.

Kami makan di restoran itu tanpa banyak berbicara, sampai saat ini aku tidak berani untuk menanyakan apa yang terjadi terhadapnya, aku hanya dapat mengira-ngira saja. Ada sedikit sesal dihatiku, mengapa Tante Mala berselingkuh dengan Om Herman, aku sangat menyayangkannya, aku selalu memperhatikan gerak-geriknya yang salah tingkah, beliau sepertinya saat ini agak sungkan kepadaku. Didalam hatiku ada kecurigaan, sepertinya Tante Mala mengetahui bahwa aku memergokinya saat tadi Aku dan Tante Sandra berkunjung ke Kantor Om Herman, mungkin Tante Sandra marah besar terhadap keduanya, sehingga Tante Mala berusaha menghindari keduanya dengan mengajakku pulang cepat. Aku tersenyum getir, untungnya Tante Sandra telah memuaskanku, memuaskan birahiku, sehingga setidaknya Om Herman telah membayar apa yang telah dilakukannya terhadap Tanteku telah dibayar oleh istrinya.

Dasar aku memang sial, jarang pergi sama cewek cakep, sekalinya pergi dengan wanita cantik sexy didepanku ini malah membuat aku grogi. Restoran yang kami datangi ini adalah restoran continental dengan berbagai macam menu masakan luar negeri. Kulihat sekeliling sepertinya eksekutif-eksekutif yang berpakaian necis, ganteng, dengan jas, dasi, sepatu mengkilap sedang makan malam disini, belum lagi kulihat, beberapa meja dipenuhi dengan keluarga-keluarga kaya yang turut bersantap.

Sepertinya cuma aku aja yang berani tampil beda, berani malu beda dari yang lainnya, cuma kemeja lengan pendek, dengan celana jeans belel, belum lagi muka yang lecek beminyak, yang membuat orang yakin, percaya dan berani taruhan gede2an kalo aku berpenghasilan gak lebih dari UMR. Sialan. Dan yang membuatku grogi adalah sepertinya semua mata memandang kami, Tante Mala yang berpenampilan cantik, sexy dengan berbelahan dada rendah, membuat mata mereka sepertinya sebentar-sebentar kembali melirik kami, jelas ini membuat aku semakin kikuk, jangan-jangan membuat mereka berpikir kalo aku ini adalah pembantunya, kuyaaaa.

Melihat menu restoran semakin membuat aku puyeng, makanan dengan bahasa yang tidak banyak kumengerti semakin membuat aku bingung dalam memilih. Masa aku mau memilih gado-gado atawa karedok ? ada sih emang, tapi bukannya itu nanti malah membuat mereka berpikir kalo aku biasa makan di emperor resto ? emperan trotoar !. gak la yau..

Akhirnya setelah da..de.. do... aku dengan tegas menunjuk menu makanan jepang shashimi, dengan harapan itu adalah makanan lezat khas jepang seperti di restorant cepat saji yang biasa aku lihat dibrosur2 yang disodori oleh SPG cantik di depan mall-mall, yang biasanya aku comot walaupun mereka tidak menyodorkan ke aku, (mungkin mereka menilai dari penampilanku yang dalam pikiran mereka aku gak bakal mampir, gak kuat bayar, padahal sih iya, lah wong aku Cuma ngarep di brosur itu mereka naruh nama dan no telp yang bisa aku kerjain, kali aja nyangkut... heheheh... !) .

Ada rasa kaget bercampur haru, kaget dan terperanjat ketika ternyata yang aku pesan adalah makanan ikan mentah diiris-iris dengan dimasukkan ke bumbu cair yang bau dan rasanya seperti air cuka tumpah dicomberan, dan terharu buat orang yang melihat aku salah mesen.... hiks. Terpaksa deh itu makanan aku makan juga, walau diselingi oleh coca-cola. Sehingga nanti kalo orang tanya bagaimana rasa shasimi aku akan cepat menjawabnya dengan jawaban “ikan mentah rasa coca cola” Hiks..

Kurang dari sejam kami selesai makan, tante Mala memberi isyarat padaku agar segera pergi untuk melanjutkan perjalanan setelah selesai membayar. Aku mengikutinya melangkah, namun aku agak kaget kupikir beliau akan menuju mobil untuk kami segera melanjutkan perjalanan menuju pulang, namun beliau malah melangkah kedalam gedung hotel disebelah, beliau memberi isyarat kepadaku untuk mengikutinya. Aku hanya memandangnya dan tanpa banyak bertanya aku bergerak mengikutinya.
“Fan, Tante agak pening nih, mungkin lebih baik kita menginap disini, besok aja kita melanjutkan perjalanan, kalo dipaksakan tante bisa sakit nih”, katanya kepadaku seolah ingin meyakinkanku. Aku hanya mengiyakannya, dan seakan bahwa ini tidak masalah buatku.

Setelah cekin dilobby, aku mengikutinya masuk kamar, jam menunjukkan kurang dari pukul 9 malam. Entah karena aku juga capek, letih atau apa, menyimpan tas yang kuambil tadi sebelum dimobil kami masuk, melemparkannya dan merebahkan diriku di ranjang, duh, pegel bener. Mengingat kejadian hari ini memang cukup membuatku letih, ada tambahan tenaga setelah makan tadi, namun aktivitas hari ini cukup membuatku menguras tenaga, kulihat tante mala, merebahkan dirinya di bangku yang tersedia dalam kamar, menyandarkan kepalanya sambil memejamkan mata.

Beberapa saat kami terdiam, aku melangkah bangun menyalakan televisi yang berada didalam kamar, menggunakan remote yang tersedia untuk mencari siaran yang kurasa enak ditonton dan kembali bermaksud merebahkan diri kembali di ranjang, namun langkahku terhenti, kulirik Tante Mala, dan berkata “Tan, Tante sakit ? tiduran aja dulu di ranjang, istirahat “ kataku, sambil melangkah mendekatinya. Tante Mala membuka matanya sambil tetap memegangi keningnya, “Iya deh Fan, tante mala istirahat dulu” katanya sambil bangun dan beranjak mendekati sisi tempat tidur.

Aku melihatnya, kami berganti posisi, kulihat beliau membaringkan tubuhnya di ranjang, menggunakan bantal dikepalanya dan berusaha memejamkan mata, aku hanya terdiam melihatnya, entah apa yang harus kulakukan, namun sepertinya aku dapat menduga apa yang terjadi padanya, mengalihkan pandangan darinya dan berusaha fokus pada televisi yang aku tonton.

Beberapa lama kami terdiam seperti ini, aku seperti membayangkan kejadian tadi siang, persis seperti yang dialami tante Sandra. Membuat perutku seperti mendesir, mengingat kejadian tadi siang dimana aku dan Tante Sandra melakukan persetubuhan, kembali aku melirik Tante Mala, membayangkannya bersetubuh denganku, dan ini membuat dedeku semakin tegang.

Berusaha menepiskan segala pikiran dari benakku, kembali memusatkan pikiran ke arah televisi, kulihat tante Mala, bangun dari ranjang, dan memandangku sambil berkata, “Fan, tante mo mandi dulu ah, mungkin nanti bisa lebih segar”, katanya. Aku memandangnya dan menganggukkan kepala seolah tak peduli namun seakan memberi persetujuan, namun aku tetap memandang televisi di kamar itu.

Kulihat beliau mengambil sesuatu dari tasnya, mengeluarkan beberapa barang, menaruhnya dekat kaca yang berada disisinya dan kemudian kulihat beliau melangkah ke arah pintu kamar mandi, sambil membawa sesuatu seperti pakaian, memasuki kamar mandi, dan menutup pintunya. Duh, padahal aku mengharapkan kalo beliau mandi dengan pintu terbuka seperti Tante Sandra.

Beberapa lama aku menunggunya mandi, sambil menonton televisi. Beliau keluar kamar mandi dengan muka tampak segar melangkah keluar, mengenakan penutup pakaian seperti kimono, warna putih, dan yang mebuatku deg-degan adalah, beliau mengenakan baju tersebut seperti tidak dikancing atau diikat pinggangnya dan jelas membuat payudaranya seperti hendak mencuat keluar.


Berjalan melangkah ke arah meja berkaca disebelah ranjang tempat tidur, mematut-matutkan diri sejenak. Kulihat beliau seperti mengambil sesuatu dari pinggiran meja tersebut, seperti strip obat, mengambil beberapa kemudian memasukkan ke dalam mulutnya dan meneguknya dengan air yang telah tersedia disisi lain meja itu. Aku memperhatikan dan Kemudian seperti tidak perduli ada diriku didekatnya, tanpa kuduga sama sekali, beliau memelorotkan baju putih tersebut, membelakangi diriku. Namun hal itu malah membuatku terbengong-bengong. Memang aku sering melihat dan memperhatikan Tante mala dalam keadaan polos tanpa busana, namun biasanya hal itu tanpa beliau sadar bahwa aku ada didekatnya dan atau bila aku mengintipnya, tapi kalau ini jelas beliau tahu aku ada disitu dan jelas-jelas melihatnya dari pantulan kaca didepannya.

Entah, jelas hal ini membuat aku terkesima, memandangnya terus seperti itu mungkin akan membuat aku gelap mata, berpikiran seolah-olah tante Mala memancing aku, merayu aku untuk menyetubuhinya, aku berusaha memalingkan pandanganku darinya, berusaha menepis bayang-bayang kotor yang kian menguasai pikiranku.
Rambutnya yang agak ikal panjang, disisir kebelakang, kemudian dengan menggunakan cairan yang ada didekatnya, mengusapnya ketelapak tangan, membasuhnya di rambut kepalanya, selanjutnya menyisir kembali kebelakang, sesekali kedua tangannya diangkat kearah kepala, memegang kedua rambutnya, dan hal ini jelas membuat kedua payudaranya seperti ditonjolkan keluar, seakan menyuruh aku untuk melihat, memegang dan meminta aku untuk memuji-mujinya betapa indahnya kedua bukit kembar tersebut.

Sering aku berpikiran, bahwa selama ini aku selalu dikelililngi oleh wanita wanita cantik dengan badan yang begitu indah, montok, putih, mulus dan tentu saja di anugrahi 2 buah bukit kembar yang juga montok, besar dan dengan bentuknya yang menggiurkan, entahlah kadang aku heran apakah dengan aku yang jelek, pendek, dengan tubuh yang pas-pasan ini selalu mendapat godaan yang rasanya sulit aku hindari.


Akhirnya tak berapa lama kemudian, beliau berbalik, masih tak melihat ke arahku, diambilnya baju dari dalam tasnya, mengepasnya sebentar dikaca, kemudian memakainya. Kali ini Tante Mala kulihat menggunakan Bh warna Pink, wow, begitu serasi dengan kulitnya yang putih, Bh yang kulihat seperti transparant, mengaitkannya perlahan, menarik talinya kemudian mengepasnya agar menutupi seluruh payudaranya.

Kemudian beliau mamakai baju tadi yang dipaskannya, mengangkat kaki kanannya, memasukkan baju tersebut dari bawah menahannya sebentar dipinggang. Kemudian menariknya keatas, serta memasukkan kedua tangannya agar tali bajunya berada tepat diatas pundaknya. Tante Mala, tampak cantik dan anggun dengan memakai baju tersebut. Kulihat beliau layaknya gadis yang masih duduk dibangku kuliah, tidak nampak bahwa usia beliau hampir mendekati kepala 4.


Aku baru sadar, ketika tante mala menyemprotkan cairan pewangi ke tubuhnya, Tante Mala sangat rapi dan cantik, dan hal itu jelas memberitahukan padaku bahwa Tante Mala saat ini berencana untuk pergi ke suatu tempat. Dan tanpa kucegah dari mulutku keluar kata-kata “Tan, mo pergi kemana ? lah kirain pusing, bukannya tadi katanya gak enak badan ? “ kataku seolah mengomentari penampilannya.

“Udah agak mendingan nih Fan, setelah mandi barusan” sahutnya menjawabku namun masih tetap memandangi wajahnya dicermin, kemudian membalikkan badannya dari cermin setelah memastikan bahwa penampilannya Ok. Aku tersenyum melihatnya, seperti melihat Moza, Mita atau Mala yang sering memintaku menilai pendapatnya kalau mereka akan pergi ke pesta atau akan jalan dengan temannya.


“Fan, kita jalan yuk, kita ke sebelah, kan disebelah ada cafe dan music lounge, yuk kita kesana, santai aja sebentar, mo gak ?” katanya sambil tersenyum kepadaku. Aku agak terkaget mendengarnya, kupikir beliau saat ini hendak kemana gitu, entah kesuatu tempat, keluar dari tempat ini atau sekedar berkunjung ke temannya. Tempat tujuan yang bosen aku disuruh olehnya. Namun kali ini berbeda, beliau mengajak aku ke tempat dimana aku tidak menyangkanya.
Aku hanya mengjawabnya singkat “boleh” dan tanpa banyak tanya aku mengikutinya berjalan, merapihkan bajuku satu-satunya yang melekat dibadan, agar kelihatan rapih memasukkannya kedalam celanaku.
Tempat itu memang tidak jauh dari ruang kamar kami, diseberang lahan parkir yang ada, agak kebelakang, mungkin saat ini waktu telah menunjukkan pukul 10 lewat sedikit, jadi kulihat areal parkir telah agak ramai dan penuh, lampu hias menyala silih berganti warna, seakan menjadi icon bahwa tempat itu adalah suatu arena hiburan.
Aku menurutinya, mengikutinya masuk, namun aku mendahuluinya ketika kami akan memilih tempat duduk, aku memeriksa ke sekeliling ruangan, bagaikan bodyguard yang akan melindungi tuannya, memastikan semuanya aman, aman dari gangguan dan godaan yang mungkin akan menimpa tante Malaku, memilih dan menuju salah satu meja yang kurasa aman dan nyaman untuk kami berdua.

Aku sengaja memilih posisi duduk yang agak pojok, yang agak gelap namun tidak jauh dari depan panggung, sehingga kami dapat menyaksikan grup pemusik yang akan beraksi di depan.
Seorang waitress menghampiri kami, cantik dengan kemeja warna putih dan celana jeans biru muda, menawarkan kami minuman. Mulanya aku hendak memesan minuman ringan saja, lumayanlah untuk mengisi suasana sambil mendengarkan alunan musik. Namun ketika kupandang tante Mala, kudengar kata-kata keluar dari mulutnya cukup jelas bahwa ia memesan salah satu minuman keras terbaik sambil menyebut salah satu merk terkenal dan memastikan bahwa pesananku sama dengannya. Tercengang aku mendengarnya !.

Aku hanya terdiam memandangnya, sambil memperhatikannya, aku berpikir, apakah tidak salah yang aku dengar dan lihat ? , apakah Tante Mala kini sudah berubah ? Tante Mala yang dalam kesehariannya aku tahu, apakah kini telah berubah liar ? apa yang membuatnya demikian ? apakah ada sesuatu yang sangat membuatnya seperti ini ? apakah beliau khawatir bahwa perselingkuhannya dengan Om Herman, diketahui oleh Tante Sandra dan akan membuat hal tersebut juga sampai ke telinga Om Mirza ? sehingga hal ini membuatnya stress ?

Satu demi satu lagu mengalir dibawakan oleh grup pemusik di depan sana, kulihat tante Mala, beberapa kali menengguk minuman itu, menghabiskan gelas pertama dengan cepat, kemudian menuangkannya kembali dari botolnya. Beliau sesekali menyuruhku minum, meminta sebatang cigaret dariku, menyalakannya dan menghisapnya perlahan, agak terbatuk pada hisapan pertama, membuat aku tertawa karena baru kali ini aku melihatnya merokok.
Teguk demi teguk, gelas demi gelas mengalir kedalam kerongkongan kami, seiring lagu demi lagu mengalir, tak terasa menit demi menit berlalu, mungkin 2 jam kami telah berada disini.
Kulihat wajah tante Mala telah berubah memerah, sepertinya beliau telah mabuk, aku sendiri memang merasa demikian juga, namun aku masih dalam keadaan sadar dan terkendali, ketika kulihat mata beliau sudah kelihatan seperti orang mabuk dan kadang berteriak sambil bertepuk tangan diiringi suara tertawa tak karuan, dan meminta lagu kearah depan dengan berteriak namun dengan suara tak jelas meracau, aku berpikir harus bertindak cepat. Kuraih Tante Mala dalam pelukannku, perlahan aku mengajaknya berdiri, memapahnya, meninggalkan sejumlah uang untuk membayar tagihannya dan menggiring tante Mala keluar.

Mulanya tante Mala menolakku, berkata kepadaku agak keras agar menunggu sebentar lagi, namun aku takut beliau akan semakin tak terkendali, sehingga dengan setengah memaksa aku memintanya untuk kembali ke kamar.
Akhirnya beliau menurutiku, dengan alasan yang kelihatannya masuk akal baginya, aku akhirnya berhasil memintanya kembali ke kamar, dengan diiringi tatapan mata sejumlah pengunjung dan pelayan cafe itu. Aku tak perduli.

Memasuki kamar, Tante Mala langsung merebahkan diri diranjang, wajahnya tersirat rasa kekesalan, namun entah apa yang membuatnya seperti ini. Kututup pintu, kukunci dengan maksud agar ia tidak keluar menyelinap kembali ke tempat tadi, kupandang ke arahnya, ia sepertinya berusaha memejamkan matanya, ditutupinya dengan pergelangan tangannya. Aku juga sepertinya setengah mabuk, kududukkan pantatku disofa, memandanginya, seakan menunggunya bereaksi, mataku kuusahakan juga terpejam.

Kulihat ada gerakan dari tante Mala, nampaknya ia berusaha bangun, turun dari ranjang, mengambil sesuatu dari tasnya, ternyata beliau hendak mengganti baju yang dikenakannya. Kulihat ia berdiri disisi ranjang, mencium baju merah yang dikenakannya, membaui ketiaknya, kemudian memelorotkannnya, melepas Bhnya, dan mengenakan baju tidur warna hitam. Dengan wajah agak merah, akibat pengaruh minuman yang diminumnya, namun itu jelas membuatnya tampak lebih cantik, sexy dan menggiurkan.

Aku melihatnya, memandanginya sejenak, dengan baju tidur warna hitam, tanpa bra, kulitnya yang putih, tampak agak kecoklatan karena pengaruh lampu ruangan yang agak temaram. Duduk disofa disebelahku, seolah menggodaku untuk menjamahnya, memancing darah lelakiku bergolak, memompa napsu birahiku.
Kusingkirka pikiran itu jauh-jauh, kulihat ia memandangku, menunggu reaksiku, namun aku tak bergerak, berusaha memejamkan mata, menepis bayang2 indah didepanku. Duh mudah2an aku kuat menghadapi cobaan ini, biar bagaimanapun, walaupun jelas dia bukan muhrimku, namun beliau adalah Tanteku, sepupu jauh dari ibuku.

Kulihat ia bangkit lagi dari sofa disisiku, melangkahkan kakinya kearah pembaringan, membuka lemari pendingin disebelahnya dan kulihat ia mengambil minuman disana, membuka kalengnya dan meneguknya. Aku memperhatikannya sejenak, ada rasa haus juga menerpa, segera aku bangkit menuju lemari pendingin, mengambil botol minuman yang kurasa cukup untuk menambah rasa peningku.

Kami berdua sepertinya malam ini sama-sama mempunyai persoalan, tapi entahlah, seolah kami tak ingin saling membantu untuk memecahkan persoalan itu. Seteguk demi seteguk, kuhabiskan minuman itu, membuat kepalaku semakin berat, bergerak limbung, merebahkan kembali tubuhku disofa. Kulihat Tante Mala telah tergolek kembali di ranjangnya, memutar-mutar tubuhnya, bolak-balik, layaknya orang yang resah. Kulihat pakaian tidurnya sudah tidak karuan, bagian dadanya sudah melorot kebawah, dan celakanya kulihat bagian bawahnya tidak menggunakan celana dalam, kini baju tidurnya hanya menutupi bagian pinggangnya saja !.

Tante Mala memandangku, dengan mata yang sayu, menatapku, “Fan, sini fan, temenin Tante Bobo, badan tante kok panas dingin begini ?” katanya kepadaku. Mataku kukejap-kejapkan, seolah hendak mengusir pening akibat pengaruh minuman yang kutenggak, memandangnya nanar, berusaha bangkit. Entahlah apa yang ada didalam pikiranku, seakan blank didalam otakku dan ada iblis yang membisiku untuk memanfaatkan peluang ini. Melangkah dengan nanar, kubuka baju kemejaku, celana panjangku, dengan hanya bercelana pendek, kurebahkan tubuhku disisinya, mensejajarkan dengan badannya, seakan ingin membuatnya tenang dan berbaring disebelahnya, terpejam.

Rasa pusing akibat minuman keras membuatku lupa diri, ingin tidur pulas namun seolah ada beban dipikiranku, kupejamkan mata dengan menutupinya dengan lenganku, berusaha menepis bayang-bayang kotor yang berkelebat. Beberapa menit berlalu, hingga.....kudengar sayup-sayup seperti orang menggumam ditelingaku. “Mas, maafkan aku ya ?, jangan marah ya Mas, aku gak akan mengulanginya lagi, Mas ... maafin ya mas ?”, entah ditujukan kepada siapa hal itu, Tante Mala tak mungkin memanggil aku dengan sebutan Mas, namun siapa lagi orang lain disini yang diajaknya berbicara selain aku.

Dalam kepeningkanku, tak kuhiraukan gumaman dan ocehan2 Tante Mala, aku tak peduli, yang jelas saat ini didalam otakku adalah berusaha untuk tidur dan berharap pening yang melanda otakku dapat segera hilang. Namun hal tersebut tak berlangsung lama, dalam kesadaranku yang tidak sepenuhnya, kurasakan disebelahku Tante Mala bangkit.

Entah apa yang akan dilakukannya, yang jelas saat ini aku hanya fokus pada rasa pusing yang melandaku, tapi ada rasa aneh melanda, aku berusaha membuka mataku yang semakin berat, berusaha melihat apa yang terjadi.

Tiba-tiba kurasakan celana pendekku seperti ada yang menarik, memelorotkannya kebawah, mengeluarkannya dari kakiku, hingga membuatku telanjang bulat, entahlah sepertinya aku tak kuasa untuk menahannya, seperti membiarkannya terjadi, serta menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Aku layaknya cowok lugu, yang tidak mengerti apa yang sedang dan akan terjadi, berusaha membuka mata, namun seakan ngeri untuk membayangkannya, dan berusaha memejamkan matanya kembali. Kulihat tante Mala sedang memegang penisku, membelai-belainya, memegang batangnya mengocoknya perlahan, membuat penisku yang semula rebah, bangkit, menegang dan membuatnya mengeras.

Ada rasa geli bercampur enak kurasakan, sulit untuk kubayangkan, karena sepertinya ini baru pertama kali terjadi padaku. Seorang wanita cantik memegang kemaluanku dan membuatnya bangkit, membuat darah kelaki-lakianku bergolak, yang biasanya aku lakukan sendiri, kini dilakukan oleh seorang wanita cantik yang selalu menjadi imajinasiku dalam bercinta.

Terhenyak aku ketika kurasakan rasa nikmat yang sangat, kutundukkan kepala untuk melihat kearah bawah selangkanganku, kulihat saat ini Tante Mala, layaknya seorang profesional, memegang penisku, mengarahkannya kepada payudaranya, mengocok-ngocoknya, menekan kepala penisku menyentuh puting payudaranya, kemudian beliau menaruh diantara keduanya, dibelahannya dan memaju-mundurkan badannya, seakan akan kedua payudara indah, putih, dan montok itu sedang mengurut-ngurut penisku.


Aku hanya bisa mendesah, merasakan kenikmatan yang sulit kubayangkan, penisku semakin menegang. Tak lama kemudian, seperti ada yang menarik penisku, agar lebih memanjang, mengurutnya perlahan, entah apa yang ada, kudengar lenguhan dan dengusan tante Mala, perlahan seolah menahan napas dan menghembusnya pelan, Tante Mala tampak sedang memasukkan penisku kedalam mulutnya !.

Aku menggelinjangkan badanku, merasakan sensasi yang baru pertama kali kurasakan, menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, merasakan kenikmatan yang penuh sensasi. Aku hanya dapat mengejap-ngejapkan mataku seakan memintaku untuk sadar, bahwa kenikmatan yang kualami ini adalah benar-benar suatu yang real, benar-benar terjadi.

Beberapa menit berlalu, penisku semakin menegang, ketika tiba-tiba penisku serasa dicengkeram, kurasakan Tante Mala seperti menaikiku, mengangkangkanku seakan ingin menaruh pantatnya diatas penisku, dalam pandangan nanarku kurasakan penisku dipegang dan diarahkan kekemaluannya. Perlahan namun pasti, Tante Mala mengarahkan penisku kelubang vaginanya, seolah akan mendudukinya, mencobloskannya, hingga seluruh batang penisku seakan masuk tertelan oleh rongga itu.

Ada rasa hangat dan basah ketika penisku masuk kedalamnya, dalam ketidaksadaranku, aku mencoba meraih tubuhnya, berusaha bangkit dari tidurku, namun aku seperti tak mempunyai tenaga untuk bangkit, tak berdaya, hanya bisa pasrah menerima perlakuan ini. Tak lama kemudian, kurasakan tante mala dengan bertumpu pada kedua kakinya, menaik turunkan pantatnya, sehingga penisku yang berada dibawahnya seakan-akan keluar masuk, aku hanya bisa mendesah keenakan dan sesekali ikut irama pantatnya dengan mengangkat pantatku. Pening yang melanda kepalaku seakan menjadi beban tersendiri, menyesal aku tadi banyak minum, sehingga apa yang terjadi saat ini tidak sepenuhnya berada dalam kesadaranku.

Tante Mala sepertinya juga tidak dalam keadaan sadar, entah apa yang dilakukannya itu, benar-benar terjadi seperti yang diinginkannya atau diluar kesadarannya. Desahan yang keluar dari mulutnya semakin tidak teratur, terengah-engah, dengan desisan disertai lenguhan dan kata-kata yang tak jelas, terdengar ditelingaku.

Menit demi menit, berlalu kurasakan tante Mala kulihat semakin liar tak terkendali, baru kudengar dan kualami sendiri, Tante Mala tampak menggoyang-goyangkan tubuhnya kekiri dan kekanan, menggoyang-goyangkan pantatnya naik turun, maju mundur, seakan hendak menggilas penisku dengan pantatnya, seakan kenikmatan yang tiada tara sedang melandanya. Memelukku, menindihkan badannya diatas tubuhku, sambil tak henti-hentinya menggoyang-goyangkan pantatnya, terus... terus.. dan terus....

Ketika kurasakan cengkraman pada penisku semakin keras, ketika kurasakan adanya goncangan dari tubuh Tante Mala, ketika kurasakan adanya jeritan dan rintihan yang keluar dari mulutnya, ketika kurasakan adanya getaran yang melanda tubuhnya. Entahlah mungkin ini sensasi yang pertama kali kurasakan, ada kenikmatan tersendiri ketika melihat raut wajah kepuasan tergambar dimatanya, ketika kulihat beliau menengadahkan kepalanya dengan menjerit dan merintih menandakan telah dicapainya titik klimaks yang diinginkannya.

Tak tahan aku menahan kenikmatan yang kurasakan juga, serasa sesuatu akan meledak dari ujung penisku, ingin mencapai titik kulminasi sama seperti yang dialaminya. Ketika cengkeramannya semakin ketat, kugapai tubuhnya, berusaha memeluknya. Beberapa saat kemudian kurasakan semburan panas melanda, memuncratkan seluruh isinya, didalam lubang kenikmatan tersebut.

Kurasakan kami berdua sama-sama lemas, tenaga kami seakan tersedot habis, aku hanya menatapnya, memandang wajahnya. Wajah tanteku yang cantik, yang selama ini hanya dapat kubayangkan, yang sering menjadi bahan imajinasiku dalam bercoli ria, yang selama ini hanya dapat kunikmati tanpa dirinya mengetahuinya, kini berbalik malah beliaulah yang menikmatiku, dalam keadaan diriku yang setengah sadar. Sosok cantik kini terbaring didalam pelukanku, rebah diatas tubuhku, dengan wajah terpejam, penuh kepuasan.

Aku mencoba menyadarkan diri, berusaha untuk bangun, mencubit diriku untuk meyakinkan aku bahwa yang kualami ini bukanlah mimpi. Berusaha meyakinkan diriku bahwa wanita yang kini dalam pelukanku ini adalah benar-benar beliau, benar-benar tante Mala.
Kupandangi langit-langit kamar, kucoba menerawang kejadian-kejadian yang terjadi pada diriku hari-hari terakhir ini. Kulihat wajah bersimbah peluh didadaku, menggeserkannya, memindahkannya, dan merebahkannya disampingku.

Kutatap wajah cantik polos disisiku, memiringkan tubuhku menghadapnya, tampak tante Mala terpejam, seperti tertidur pulas, wajahnya masih berona kemerah-merahan. Bunyi napas teratur seperti keluar dari mulutnya, dan tak lama kulihat matanya tampak terbuka sedikit, seperti diriku bertatapan aku dengan matanya. Namun tak kulihat ekspresi kaget atau apa, yang keluar tergambar dari wajahnya, sepertinya beliau sendiri belum sepenuhnya sadar dengan apa yang terjadi barusan.

Aku memandangi wajah cantik, putih dengan bibir sensual dihadapanku, menatapnya dan menuruni pandangan kebawah, keseluruh lekuk tubuhnya, mulai dari lehernya yang jenjang, dadanya yang membusung padat, lekuk pinggangnya dan perutnya yang ramping terjaga, memandangi rambut tipis kehitaman yang tumbuh dibukit kemaluannya, pahanya yang mulus dan dengan betis yang bentuknya bagaikan bulir padi. Namun sungguh tak kuduga sama sekali memandang hal ini membuat dedeku yang semula rebah, menjadi bangkit lagi !.

Entah dorongan dari mana, ingin sekali kupuaskan diriku lagi. Ingin merasakan tubuhnya lagi, sepuas-puasnya, seakan ada yang mengatakan kepada diriku bahwa mungkin ini adalah kesempatan satu-satunya, kesempatan pertama dan terakhir yang mungkin akan terjadi pada diriku.
Tak lama aku segera bertindak, berusaha membuat tegang dedeku, memegangnya dengan tanganku, mengurut dan mengocoknya perlahan, untuk membuatnya semakin tegang dan mengeras. Tanpa menunggu lama, aku bergerak menindih tubuh Tante Mala, menciumi wajahnya, bibirnya, dengan penuh napsu, mengulumnya, memainkan lidahku di dalam mulutnya.
Tak ada reaksi dari Tante Mala, ekspresi wajahnya seakan pasrah, seakan menyuruhku untuk memuasinya semampu yang aku lakukan.

Aku berpindah mengarahkan ciumanku ke arah lehernya, ketelinganya, memainkan lidahku dicuping telinganya, membuatnya tergetar dan kemudian mengarahkan ciumanku kearah dadanya. Kukecup pelan dada putih, besar dan montok itu, menciuminya, memainkan lidahku mengelilingi putingnya. Kulihat kepala beliau menengadah, menikmati kembali sensasi yang kuberikan. Aku hentikan sejenak, namun kulihat diwajahnya seakan memprotes diriku, memintaku untuk meneruskan apa yang kulakukan dan bahkan menginginkannya lebih. Aku memainkan lidahku kearah putingnya, memasukkan puting coklat kemerah-merahan itu kedalam mulutku, memainkannya dengan lidahku, kuhisap, kesedot dan sesekali kugigit perlahan. Kuremas payudara itu dengan tanganku berganti-ganti dengan hisapan dan mainan lidahku, membuatnya kelihatan seperti orang yang blingsatan.

Aku menuruni dadanya, mengarahkan ciumanku terus kebawah, mengecup seluruh tubuhnya, mulia dari bawah dada, perut hingga mencapai bukit indah dibawah. Kecium dan kumainkan lidahku disekitar paha dan kemaluannya, membuatnya menggelinjang karena geli tertahan. Membangkitkan gairahnya kembali, ketika kecupan akan kuarahkan ke selangkannya, kurasakan bagian itu telah basah kembali. Tak perduli dengan keadaan, kubuka kedua paha yang panjang itu agar terbuka lebar, kususupkan kepalaku diantara kedua pahanya, kumainkan lidahku di sana, dibibir kemaluannya.

Kutengadahkan kepalaku keatas, kepandang wajahnya, kulihat wajah Tante Mala sudah menggambarkan keinginan yang sangat. Keinginan agar kepuasannya terpenuhi. Kuhentikan sasaran lidahku pada area vaginanya, merangkak naik, meniti tubuhnya.
Kuarahkan penisku kelobang kenikmatan yang telah basah itu, perlahan kumasukkan dan kudorong masuk kedalamnya, sambil kupandangi wajahnya, kulihat Tante Mala memandangku dengan sayu, seperti tak sadar dengan siapa dirinya bersetubuh, berusaha mengerenyitkan matanya untuk mengetahui siapa sebenarnya diriku, namun disisi lain seolah meminta kepadaku agar segera melanjutkan apa yang telah aku mulai.


Kedesakkan penisku kedalam rongga kenikmatan itu, memaju mundurkannya perlahan, memegang kedua lututnya, seakan membantuku untuk menahan tubuhnya agar tak terdorong kedepan. Perlahan kudorong, dan kulesakkan tiba-tiba, seakan aku ingin menyentuh ujung rahimnya dengan kepala penisku, memberikannya sentakan yang membuatnya menjerit tertahan. Kemudian kutarik perlahan dan kusentakkan kembali mendorongnya, berkali-kali. Aku seakan ingin mengatakan kepadanya, inilah penis terbaik, penis yang mampu memberikan kenikmatan yang lebih baik dibandingkan penis yang dimiliki oleh Om Mirza dan Om Herman. Kugoyang-goyangkan pantatku kekiri dan kekanan, memberikan irama yang bervariasi kepadanya, memaju mundurkannya, perlahan , makin cepat, cepat, semakin cepat.


Dada tante Mala seolah ikut berguncang-guncang, payudaranya seakan terbawa arus, kepalanya menengadah keatas, beliau seakan berusaha menahan payudaranya agar tak ikut bergoyang, memegang denga kedua tangannya, namun hal ini malah membuat seolah-olah tangannya membantu untuk memberikan kepuasan kepada dirinya melewati remasan-remasan pada payudaranya. Indah sekali pemandangan yang kusaksikan ini, wajah cantik, body mulus dihadapanku, tersaji dengan siap sedia, memberikan kenikmatan kepadaku dengan tiada taranya.

Aku mendesah tak karuan menikmati sensasi yang kualami ini, sensasi yang biasanya kudapatkan tanpa perlawanan, kini terjadi sebaliknya, dimana wanita yang selama ini menjadi bahan hasrat seksualku kini melayaniku, dengan hasrat birahinya. Entah berapa lama ini terjadi, kulihat Tante Mala sudah mengerang tak karuan, merintih, mendengus, melenguh tak terkendali, kepalanya bergoyang ke kiri dan ke kanan seakan kenikmatan yang kuberikan sangat dahsyat. Aku memandang wajahnya dengan penuh napsu, tiada kata yang dapat kugambarkan saat ini, aku hanya dapat menggumamkan kata-kata “Ouugghh Tante..... Oouggghh...” sambil terus mendorong, menarik, memaju-mundurkan penisku kedalam vaginanya.

Bersamaan dengan jeritan dan erangan yang keluar dari mulut Tante Mala, kurasakan penisku seperti hendak kembali meledak, Ketika saat itu hendak terjadi, Tante Mala bangkit memelukku, seolah hendak memaksaku mengeluarkan cairan hangat kental itu didalamnya. Kudengar jeritan tertahan keluar dari mulutnya “Mas”, hanya itu yang sempat kudengar, namun fokus pikiranku berada diujung penisku, kurasakan sesuatu telah melesak keluar didalam vaginanya. Ooh……nikmatnya. Akhirnya untuk ke empat kalinya aku bisa menyetubuhi tante Mala.

Terhenyak aku dalam keterkejutan, terdiam, terduduk lemas, menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Kulihat Tante mala tampak memancarkan senyum kepuasan, mengatur napasnya yang tadi terengah-engah agar beraturan kembali. Meletakkan tangan kirinya diatas perutnya sementara tangan kanannya tergolek lemah disamping tubuhnya kepalanya tergolek kekanan, tersenyum dengan mata terpejam. Aku merebahkan diri disamping kirinya, mensejajarkan tubuhku dengan tubuhnya. Tubuh kami berdua serasa mandi peluh, merasakan hembusan hawa yang keluar pendingin ruangan, menunggu hingga tubuh kami mendingin.

Aku menarik selimut dibawah kaki kami, menutupi tubuh kami yang polos tanpa busana, membuatnya agar tetap hangat. Aku memejamkan mataku, berusaha untuk tertidur. Tak berapa lama kudengar dengkur halus disebelahku, diiringi bunyi napas teratur. Masih pening kepalaku, berusaha menerawang dan fokus ke satu pikiran, banyak bayangan berkelebat dalam kelopak mataku, semakin lama semakin gelap, gelap dan gelap.

Pagi hari, terbangun aku dengan kepala masih terasa berat, kulihat tante mala masih tertidur pulas, matahari mungkin telah meninggi, ada rasa mendesak yang ingin keluar dari ujung penisku, memaksaku melangkahkan kaki ke kamar mandi.
Kubuang air seni dengan derasnya kedalam toilet, kemudian kuputuskan untuk menyegarkan badanku dengan mengguyurnya dengan air, dingin menerpa seluruh badanku, segar.

Entah berapa lama aku melakukan ritual pembersihan badan ini, dari mulai berendam, menyabuninya, menggosok seluruh badan, hingga mengeruk daki yang menempel
Selesai mandi, kulihat tante Mala juga terbangun, kulihat beliau sama sepertiku ketika aku bangun tadi, layaknya orang linglung, aku mencoba tersenyum kepadanya, dibalasnya dengan senyuman juga, namun terasa hambar.
Dalam hatiku timbul pertanyaan, apakah Tante Mala sadar dengan apa yang telah kami lakukan semalam, apakah beliau sadar bahwa beliau semalam sangat liar sekali ketika bersetubuh denganku ? apakah beliau menyadari bahwa beliau semalam melakukannya dengan aku ? keponakannya ? Entahlah.

Kulihat Tante Mala menggeliatkan badannya, seolah berusaha menghilangkan rasa pegal yang melandanya, namun sesaat kemudian beliau seperti terpaku, duduk termenung. Entahlah, aku tak dapat membaca jalan pikirannya, saat ini yang kupikirkan adalah nasibku, bagaimana nasibku jika seandainya beliau tahu bahwa aku menidurinya ? apa yang harus kulakukan jika tiba-tiba saja Tante mala menyadarinya ? entahlah… berusaha aku melepaskan bayang-bayang itu, kulihat tante mala bangkit dari ranjang dan berjalan melangkah menuju kamar mandi.

CHAPTER 11 : MAAFKAN AKU MITA

Pagi itu, seperti biasanya selepas bangun, aku menikmati hisapan rokok dan segelas kopi kental, di beranda atas. Sambil menunggu bak kamar mandi yang kosong terisi air, aku duduk melamunkan entah apa, berbagai macam bayangan berkelebat, berusaha berpikir terfokus. Mencoba untuk mendalami apa yang sesungguhnya terjadi pada diriku.

Hisapan-hisapan asap dari rokok menyala yang kupegang seakan berusaha membantu untuk berpikir. Menarik napas panjang dan menghembuskannya cepat-cepat, seolah ada beban berat yang menimpaku. Tapi untuk saat ini memang seperti itulah adanya. Sejak kepulangan kami dari kota pelabuhan itu, Aku dan Tante Mala memang sepertinya jarang bertemu, seperti ada sesuatu diantara kami, aku yang memang akhir-akhir ini disibukkan oleh pekerjaan, hingga selalu pulang menjelang larut, namun kadang bila tidak ada pekerjaan pun, aku selalu berusaha pulang larut pula. Hingga bila aku tiba dirumah, jarang aku temui Tante Mala, biasanya beliau telah tidur, atau juga belum tiba di rumah, entahlah, seolah salah satu dari kami selalu menghindar. Ada rasa sungkan dan enggan bila aku harus bertatap muka atau berhadapan dengannya, padahal kami tinggal dalam satu atap.

Memang aku tahu bahwa akhir-akhir ini Tante Mala jarang sekali keluar, beliau saat ini sepertinya lebih banyak berada di dalam rumah, sepertinya beliau seperti sedang bertapa, malas untuk melakukan kegiatan apapun. Teringat aku akan peristiwa yang terjadi bulan lalu, peristiwa dan kejadian-kejadian saat aku dan Tante Mala bepergian keluar kota, peristiwa dimana akhirnya tanpa kami sadari, persetubuhan antara dua orang manusia yang berlainan jenis terjadi. Aku yang antara sadar dan tidak, mungkin begitu juga dengan Tante Mala, malam itu begitu liar, melepaskan gejolak birahi diantara kami berdua, meraih kenikmatan bersama, berpikir ke hal itu membuat perutku berdesir dan membuat gairahku bangkit.

Pagi hari setelah itu, Tante Mala seolah mengalami amnesia, seolah lupa dengan kejadian itu, mungkin diantara mabuknya, beliau tidak menyadari bahwa yang diajak bersetubuh olehnya adalah aku, Fandi, keponakannya. Kami pulang tanpa banyak bicara, seolah melupakan kejadian malam itu, seakan bahwa kejadian tersebut hanya mimpi, seakan meyakinkan kami berdua bahwa hal tersebut tidak benar-benar terjadi. Dan tidak ada seorangpun dari kami dapat membuktikan bahwa hal tersebut adalah nyata, dan menceritakan pada dunia, bahwa persetubuhan itu adalah hal yang besar yang menimpa kami, semuanya seolah tenggelam seiring dengan berjalannya waktu.

Aku merasa aneh, dengan keadaan ini, pengalaman seks yang aku alami, seolah beruntun. Bayangan demi bayangan menyergap otakku, Maya, Mita, Tante Sandra, Tante Mala, seakan menjadi guru bagi pengalaman seksku. Dan hal ini membuatku semakin rusak, makin ketagihan.

Ada rasa tak enak bila mengingat hal itu, aku berpikir keras, berpikir guna mengatasi keadaan, keadaan dimana bila keinginan sudah terasa menggelegak, bila dorongan napsu birahi sudah tak terhenti, dimana godaan-godaan sepertinya semakin mendera. Memang aku menyadari seperti yang sudah-sudah, ketika dorongan itu susah semakin sangat menguat, aku melampiaskannya dengan caraku sendiri, mengatasinya dengan berkhayal, bermasturbasi.

Aku terus melamun, menghisap asap rokok kuat-kuat, menengadahkan kepala, kearah matahari yang kelihatan sudah sepenggalah, seolah meminta ampun dan mengharapkan terlepas dari beban. Tiba-tiba kudengar suara seperti menegurku dari belakang “A…” kupalingkan kepala kearah belakang, kearah sumber suara, kulihat wajah cantik tersenyum, dengan bibirnya yang sensual, tangan kanannya bersandar memegang kusen pintu. Duh, memang wanita yang satu ini sungguh cantik, bisa dibilang menggairahkan, seksi, dengan umurnya yang baru 20an, tampak dewasa, penuh keanggunan, membuat para lelaki terpesona, menginginkannya hanya dalam satu kali melihatnya saja. Memimpikan bila wanita ini menjadi istrinya atau hanya sekedar menemaninya tidur.

Sementara diotakku berpikir, ada apa Moza pagi2 menegurku, tumben, tidak biasanya dia berlaku seperti ini, sesuatu yang sangat jarang terjadi, biasanya dia bangun, mandi, bergegas pergi. Tapi pagi ini, dia tampak tersenyum, maaanis sekali, cantik, walaupun belum mandi namun justru menampilkan kecantikan alami, kata orang lihatlah wanita saat dia tidak dalam keadaan dandan, masa sih ? itukan kata orang buat menilai wanita cantik, bedalah ma kata kita .. hehehe.. lagian juga, kan beda wanita yang terawat dan tidak terawat, yang terawat biarpun belom mandi, yang tetep aja enak diliat, beda ma yang gak terawat, belom mandi, udah rambut kucel beminyak, awut-awutan, iler udah kaya anak sungai, boro2 wangi, udah gitu bau topo (kain lap dapur) lagi, yang gak pernah dicuci 2 abad !.

Moza memandang wajahku, wajah yang kucel, belom mandi, rambut awut2an, gondrong kagak cepak kagak, dengan bau naga masih menyengat campur iler, tersenyum, walau siapapun juga tahu, ini adalah senyum terjelek sepanjang masa.

“Hey... ngelamun aja pagi-pagi...!” serunya lagi, mungkin karena melihatku termenung, kulihat senyumnya melebar, menampikan giginya yang kecil-kecil rapih berbaris, semakin indah dilihat.
“Biasa Moz, nunggu pup, tumben masih ada dirumah, biasanya udah ngacir pagi-pagi....” kataku sambil berusaha nyengir untuk menghilangkan kesan bahwa otakku saat ini sedang mupeng, apalagi bila melihatnya, bisa bahaya ! hehehehe......

“Iya nih A, libur kuliah kan, abis semesteran “ katanya lagi, sambil memandangku, kemudian melangkah mendekatiku, dan duduk tepat disisiku, duh kacau nih, nih cewek udah tau gw bau gini, mau-maunya lagi duduk deket-deketan ma gw, berabe, bisa-bisa dia bakalan ngacir nih, kayak yang udah-udah, duduk kelamaan deket-deket gw, tau-taunya muntah-muntah udahannya, bisa-bisa gw disangka ngehamilin dia, padahal mah boro-boro jangankan ML ma dia, nyentuh kulit tangannya aja kalo gak pura-pura gak sengaja, susah. Lagian kan muntah-muntah karena hamil sama muntah-muntah karena eneg nyium bau yang gak enak, beda !.

“Libur berapa hari Moz ? mang gak ada rencana jalan-jalan ? lumayankan kalo libur lama, jalan kemana gitu buat nenangin pikiran, istirahatin otak “ kataku sambil bergeser duduk seolah-olah mempersilahkannya duduk, padahal gw minder juga, kalo-kalo dia nyium bau badan gw, yang gw aja kalo nyium sendiri eneg.

“Itu dia A, Moza kan rencananya mo ikut ma temen-temen nginep di luar kota, di villa, tapi ma mama kayaknya gak boleh, soalnya katanya Tante Marissa mo kesini, terus mama minta aku sama Aa buat jemput ke bandara”, katanya lebih lanjut. “Ohh.. gitu, nah terus emang kapan Tante Marissa mo datang kesini ?”, kataku sambil memandang wajah cantiknya itu, tanpa sengaja mataku menatap belahan dada dibalik bajunya, berusaha menahan ludah agar tidak tertelan, malu ah.. masa liat belahan gitu aja pake nelen ludah, emang lagi puasa ngeliat minuman dingin pake es sehingga gelasnya berembun.... ademmm banget.. “Lusa“ jawabnya lagi, namun sepertinya ia melihat arah mataku yang tak sengaja mengarah ke tonjolan didadanya, dan secara reflek ia mengangkat tangan kanannya berusaha menutupi dadanya itu. Aku tersenyum, berusaha mengalihkan rasa malu dimukaku karena ketangkap basah, “Moz, Kayaknya Aa gak bisa deh, soalnya besok lusa Aa ada tugas kantor, gimana yah ?” kataku lagi sambil cepat-cepat memasang muka sedih.

“Yah, Aa, Moza kan males kalo harus berangkat sendiri ke Bandara, jauh tauk, perjalanan aja bisa 3-4 jam, bolak-balik bisa 7-8 jam, belom nunggu disananya, gimana doang A ? please ? kalo bukan mama yang nyuruh sih, moza juga gak mau !” katanya lagi sambil memasang muka yang lebih memelas, makin cantik aja. “Kalau Aa gak bisa, ya udah, nanti Moza bilang ma Mama, kalo Aa gak bisa jemput” sahutnya lagi. “Lagian mendingan juga moza pergi aja ma temen2, liburan”. Mendengar bahwa ia akan bilang ihwal penolakanku kepada mama nya, cepat-cepat aku menjawabnya lagi, “Hmm.. ya udah deh Moz, Aa usahain ikut, nanti Aa bilang ma kantor buat ambil libur”, “Nah gitu dong A..” kulihat senyum tersungging dibibirnya, kemudian ia mengangkat pantatnya, menuju ruang dalam. Kuperhatikan sosok tubuhnya berjalan meninggalkanku, duh.. makin cakep aja nih anak…jadi napsu…

Entahlah, inilah kelemahanku, bila ada cewek cantik memelas dihadapanku, sudah pasti aku tak dapat menolak keinginannya. Tersenyum aku memikirkannya, asyik juga kali ya jalan ma ce model moza ini, lumayan buat naek-naekin rating, selain bikin cowok-cowok yang laen pada ngiri, kali aja ada cewek cakep yang berusaha ngerebut gw dari tangan Moza, nyangka gw cowok tajir, banyak duit, buat dapetin cewek mana aja bisa, hehehe…

Sore hari satu hari menjelang keberangkatan, entah mengapa, biasanya aku selalu melambatkan diri untuk pulang, tapi hari ini sepertinya aku malas untuk berlama-lama dikantor, mengingat bahwa besok aku akan pergi dengan Moza untuk menjemput Tantenya, jam 7 sore, aku telah tiba di rumah, kulihat di garasi hanya ada 2 mobil, mobil Moza dan mobil Tante Mala, yang tidak ada hanya mobil Mita, aku hanya dapat menduga-duga, tumben Moza ada dirumah, sepertinya ia tidak keluar rumah hari ini, mungkin sedang menikmati liburannya di rumah aja, sedangkan Tante Mala, seperti yang sudah kuduga akhir-akhir ini sepertinya beliau sedang malas untuk beraktifitas diluar.

Aku melewati pintu ruang tamu yang sepertinya tidak dikunci, menuju ruang tengah, langsung mengarah ke tangga yang menuju ke ruang atas, setengah berlari aku menapaki anak tangga, berusaha tidak bersuara, kulirik kamar Tante Mala, entah apa yang ada di dalam hatiku, antara berharap dan tidak, berharap bahwa tante Mala sedang tiduran di ranjangnya dengan posenya yang seperti biasa, yang membuat hasrat birahiku timbul, dan juga mengharapkan ia diluar kontrol lagi, mengajakku untuk bersetubuh dengannya, huh tegang rasanya perutku mengingat hal itu, padahal ada keinginan didiriku yang semakin kuat dan menagih, apakah hal ini yang disebut dengan kecanduan seks ? entahlah. Kulirik kamar itu, yang biasanya selalu terbuka, namun kali ini kamar itu tertutup rapat, sekaligus memupus semua keinginan dan harapanku.

Aku memasuki kamarku, menghempaskan badanku ke ranjang, membiarkan kamarku tetap gelap, malas rasanya untuk mendekati saklar lampu, melepas kepenatan setelah seharian disibukkan oleh aktifitas kantor, berusaha memejamkan mataku, entah, mungkin karena memang tidak terbiasa untuk tidur disore seperti ini atau aku memang lagi banyak pikiran, sehingga mataku sepertinya sulit untuk terpejam.
Kudengar sayup-sayup suara kecipak air terdengar dari luar kamar, aku menduga-duga, siapa gerangan yang sedang melakukan aktifitas dikolam renang, ah mungkin moza atau tante mala sedang berenang pikirku, berusaha untuk tidak peduli, namun pikiranku seakan mengajak untuk berbuat sesuatu, yang akhirnya membuat aku berdiri, mendekati jendela yang masih terkuak gordennya, melihat kearah kolam renang, untuk mengetahui aktifitas yang terjadi disana.

“Busyet Dah !” hanya itu kata-kata yang terucap dari mulutku, terpana aku melihat kearah kolam renang disana, gugup, reflek aku memundurkan tubuhku, seakan berusaha untuk tidak terlihat. sepintas tadi disana, kulihat tante Mala dan Moza sedang berenang, dan tadi sepertinya mereka tidak mengenakan baju renang, rasa penasaran semakin menghinggapiku, ada rasa takut dan tidak enak apabila mereka memergokiku mengintip mereka sedang berbugil ria, namun rasa penasaran dan pikiran kotor meracuniku.

Berpikir sejenak, memandang sekeliling kamar, entah pikiran darimana, seolah ada yang menenangkanku, mana mungkin terlihat dari luar, kamarku dilantai atas, dan dalam keadaan gelap, disisi lain kaca jendela rayban dikamar ini pastilah menghalangi pandangan dari luar dimana jelas diluar lebih terang daripada di dalam kamar.


Nekad, bercampur deg-degan, memberanikan diri lagi menghampiri jendela, berusaha melihat keluar kearah kolam renang. Yap, sepertinya aman, kulihat mereka disana sedang asyik berenang atau mungkin lebih tepatnya berendam, dalam kolam tanpa menggunakan baju renang atau apapun untuk menutupi tubuh bagian atasnya, entah bagian bawahnya karena kulihat dari sini jelas bagian dada mereka tidak tertutup. Kuperhatikan dan kulihat tanpa mengedipkan mata barang sejenak, seolah rugi untuk melewatkan setiap moment yang ada. Pemandangan didepanku cukup jelas terlihat walau hanya diterangi oleh lampu taman dipinggir kolam.

Duh menonton mereka dalam keadaan seperti itu jelas membuatku gerah, membuat napsu birahiku bangkit, dan dedeku terbangun serta menegang, menyaksikan 2 tubuh wanita yang polos, putih, montok, dengan payudara yang indah, dengan bentuk pantat yang sangat bahenol dan mungkin baru kali ini aku melihat Moza dalam keadaan bugil seperti itu. Celaka, jelas ini malah membuatku horny, dan duh membuatku ingin segera melepaskan sesuatu. Sehinga tanpa kesadari, tanganku memegang dede-ku dan meremasnya perlahan-lahan, membayangkan kedua tubuh bagus dan indah itu berebut untuk aku setubuhi di kolam.

Cukup lama aku memperhatikan dan mengawasi mereka, hingga kulihat Moza mulai menaiki tangga sisi kolam, kuperhatikan tubuhnya, duh ternyata dia masih menggunakan celana dalamnya, entah dengan Tante Mala, apakah dia juga mengenakan celana dalam, atau dalam keadaan polos tanpa busana seperti biasanya bila berada dalam kamar. Tiba-tiba aku menyadari, bagaimana bila Moza atau Tante Mala mengetahui bila aku telah pulang ?, dan mungkin mereka menyadari bahwa aku mengintip mereka dari dalam kamar ? duh bisa-bisa aku malu atau mereka malu dan mungkin lebih parah lagi mereka marah padaku ?

Menyadari hal itu, aku berusaha berpikir cepat, seolah tak ingin mereka mengetahui, apa yang aku lakukan. Menyurutkan langkahku, bergerak kearah pintu, menutupnya perlahan, kemudian aku berjalan cepat, setengah berlari menuruni tangga, menyelinap, melewati pintu depan melangkah keluar pagar rumah.

Sialan, mana nanggung lagi, padahal sebentar lagi “keluar” nih, gerutuku dalam hati, namun aku tersenyum membayangkan semua itu, sambil berjalan menuju penghujung jalan raya disana, ke tempat warung rokok. Aman, mungkin mereka tidak menyadari kehadiranku, yang menyaksikan tingkah polah mereka, sehingga menghindari rasa malu mereka apabila kepergok olehku berenang dalam keadaan bugil, untung tak satupun orang dirumah itu menyadari kepulanganku.
Di warung rokok, seperti biasa aku membeli rokok dan mengobrol sekedarnya dengan Pak Mumu, cuma mungkin beliau kali ini agak heran, karena aku cukup lama nongkrong dan mengobrol dengannya namun beliau tak berani menanyakannya kepadaku. He …!

Mungkin sekitar setengah sampai satu jam aku melancarkan aksiku menunggu di warung rokok tersebut, setelah merasa aman dan terkendali barulah aku berniat kembali kerumah, untunglah saat ini aku masih mengenakan kemeja kantor, namun kakiku hanya beralaskan sandal jepit yang tadi asal aku sambar, ya gampanglah, gak bakal keliatan, kalopun menggunakan sepatu toh biasanya dilepas di garasi, atau di pintu samping.

Aku memasuki ruang pagar halaman dengan rasa dag dig duh juga, melangkah pelan memasuki pintu depan ruang tamu, tidak dikunci memasuki ruang tengah, kulihat tante mala duduk di sofa sedang menyaksikan acara televisi, mencoba aku tersenyum, mengenakan daster yang cukup menggiurkan (kalo sebutan sekarang lingerie kali ye ?), seperti biasa tampaknya, tanpa mengenakan bra. Beliau menegurku sekedar berbasa-basi dan aku menjawabnya, kemudian pamit kepada beliau untuk berganti pakaian.

Selesai berganti pakaian entah mungkin karena tertarik dengan pemandangan tadi yang disuguhkan oleh Tante mala, yang nampak segar dan menggairahkan, atau mungkin karena dorongan birahiku yang sempat menggelagak dan belum tersalurkan sejak melihat tontonan tadi, bergegas aku mengganti pakaian, males mandi, apalagi dimusim hujan yang lumayan membuat udara dingin. Buru-buru lagi ah… takut tontonan keburu abiss.. !

Kelewati kamar Moza, namun tertutup rapat, duh agak menyesal aku memandang pintu yang tertutup rapat itu, seandainya masih terbuka lebar, mungkin aku bisa menyapanya, sekedar berbasa-basi menanyakan keberangkatan besok dan mungkin kalo beruntung, moza mempersilahkan aku masuk, menyuruhku untuk memijitnya karena capek, masuk angin akibat terlalu lama telanjang diudara terbuka.. hehehe… ngarep.

Menuruni tangga, kulihat Tante Mala masih asyik di depan teve, entah mengapa bukankah di kamarnya ada televisi, ah mungkin beliau memang sedang ingin berada diluar. Aku tersenyum kembali menatapnya, menegurnya dengan menanyakan apa yang ditontonnya, beliau menyambutnya antusias, menceritakan sinopsis sinetron yang sedang ditekuninya, gak penting buatku, kemudian beliau menyuruhku untuk makan malam, aku menjawabnya bahwa saat ini aku belum lapar, mungkin nanti.

Aku duduk disofa yang berhadapan dengannya berusaha membuka percakapan, membuat suasana menjadi cair, bercerita apa saja, mulai dari kabar pekerjaanku, pekerjaannya dan kabar Om Mirza, serta keadaaan anak-anaknya, namun pembicaraan kami tidak sama sekali menyinggung mengenai hal yang terjadi beberapa minggu lalu itu, semuanya seolah terlupakan dan mengganggap bahwa hal tersebut tidak terjadi sama sekali.

Kami mengobrol cukup lama, ngalor ngidul, aku yang semula takut-takut untuk menemuinya kini mulai cair kembali dengannya, layaknya hubungan orang tua dan anak, kadang aku mencandainya, bermanja dengannya. Hingga waktu telah menunjukkan pukul 10 lewat, kulihat Tante Mala mulai mengantuk, aku tersenyum padanya ketika kulihat beliau nampak memerah matanya, aku menanyakan kesehatannya, dan seperti ada setan yang menuntunku, saat sepertinya kulihat beliau rada kurang sehat, kutawarkan kesembuhan alternatif…. Pijitanku !. Iya tersenyum menyetujuinya, namun ia menyuruhku untuk makan malam dahulu, kemudian memintaku menyusulnya ke kamarnya. Aku tersenyum mengiyakan !. eng.. ing.. eng…

Setelah kulihat ia berjalan ke atas, kulihat langkah kakinya dan tubuhnya yang jelas membuat jantungku berdegup dan membuat perutku kencang, aku mengalihkan pandanganku cepat, takut mupengku terlihat, berusaha bangkit juga menuju ruang makan, mengambil piring dan menyendok menu yang telah tersedia, jelaslah aku musti prepare, guna menghadapi segala kemungkinan yang terjadi, hihihihi.. jelaslah.. kalo mengenai masakan bi iyem, jelas tiada bandingannya.. lah wong mewah, enak dan gratis lagi…. !

Aku cepat-cepat makan, sepertinya tak sabar menghabiskan sisa makanan, tidak meresapi apa yang aku makan, mengunyah sambil memperhatikan acara televisi, pikiran seakan tidak terfokus, selalu terbayang tubuh Tante Mala yang sesaat lagi minta aku gerepe !.

Tiba-tiba kudengar deru mesin kendaraan memasuki rumah, tak lama kudengar mesin mobil digas kencang dalam posisi netral, kemudian mesin dimatikan dan tak lama kudengar pintu mobil dibanting agak keras, huh si Mita nih pulang, sapa lagi yang punya ciri khas seperti itu, wah, bisa kacau nih acara, kalo ada Mita ma Maya, bisa gagal nih !, dan benar tak lama kemudian kulihat 2 sosok gadis cantik memasuki ruangan, Maya Memasuki ruangan disusul dengan Mita yang nampak kelihatan lelah dan pucat, membanting tasnya ke sofa, kemudian membanting tubuhnya disebelahnya, menggerutu tak jelas. Maya dengan cerianya menghampiriku, lebih tepatnya menghampiri meja makan, memperhatikan isi meja, mencomot makanan dan mengunyahnya. Aku hanya tersenyum melihat kelakuannya, kemudian kutanyakan kepadanya, ada apa dengan Mita, apa lagi ada masalah sama cowoknya ?, Maya malah terkekeh dengan pertanyaanku, kemudian ia menjelaskan kepadaku bahwa Mita kakinya terkilir, dan tadi memaksakan menyetir mobil pulang, karena Maya tidak mau membawa mobil dengan alasan tidak punya SIM dan belum mahir.

Bergegas aku menyudahi makan, menghampiri Mita yang nampak meringis, kemudian aku menanyakan keadaannya, dan seperti yang sudah diduga, ia akan menampakkan wajah manjanya, memelas kepadaku untuk membantunya menghilangkan penderitaaannya.
“A…sakit nih.. tadi maen basket di kampus, jatuh.. kayaknya keseleo nih A.. tuh bengkak… pijitin dong a.. please !” katanya dengan mimik yang lebih memelas lagi. Aku tersenyum namun segera kuubah mimik mukaku menjadi sedikit cemas, ura-pura turut prihatin melihat kondisinya.

Aku meminta Maya untuk mengambilkan minyak gosok hangat, dan aku meminta Mita untuk merebahkan badannya, dikarpet bawah yang tebal, jelaslah biar lega, pan kalo lega enak mo ngapa2in juga !. Sambil menunggu Maya mengambil obat, aku pura-pura sibuk untuk mencari sesuatu di belakang, di dapur, obat atau apa, padahal obat apaan ? emang dokter ?.. lah aku haus.. abis makan belum minum, seret nih !

Selesai minum, kuhampiri Mita kembali, kulihat matanya terpejam, seperti menahan sakit. Kuperhatikan tubuhnya, duh tubuh muda yang bahenol ini, belum genap 20 tahun, namun bodynya sangat memikat, keturunan nyokapnya, putih, toket gede, badan ramping, mulus, paha panjang, sungguh sexy, mengingatkanku pada malam itu, hampir saja aku menyetubuhinya, duh seandainya aku tak mampu menahan napsu, tentu wanita ini sudah hilang keperawanannya olehku. Tak lama kemudian, Maya menghampiriku, menyerahkan obat yang aku minta, “Nih A, urut aja yang kenceng biar kapok” katanya sambil cengengesan, kemudian berbalik lagi keatas dengan centilnya, seolah tak perduli dengan keadaan kakaknya.
Kini di depanku tergolek wanita muda yang manis, cantik, dengan tubuh yang menggairahkan, belum lagi ditambah kebiasaannya yang suka menggunakan rok mini, jelas menambah kekaguman dan pikiran kotor bagi yang melihatnya, dengan payudara yang cukup besar, membuat setiap laki-laki ingin menjamahnya. Hmm malah jangan2 sering dijamah, jadi memuai, matang sebelum waktunya, kuakui bahwa Mita merupakan anak Tante Mala yang cukup berani dengan urusan cowok, semenjak SMA dia sudah berani pacaran, dan kudengar malah pacarnya dulu adalah seorang mahasiswa tingkat pertama dan jelas perbedaan umurnya cukup jauh, dan mungkin lebih berpengalaman darinya sehingga Mita bukan tidak mungkin berpacaran lebih berani dibandingkan saudara-saudaranya.

Kugeser tubuh Mita untuk berposisi terlentang dari yang semula miring, aku memegang ujung kakinya, merabanya, melihat daerah mana yang sakit. Kuperhatikan kakinya, nampaknya ada sedikit yang kebiru2an, tidak parah, mungkin terbentur sesuatu, Mita nampak meringis pelan ketika kuraba daerah itu, aku membalurkan minyak gosok kedaerah yang sakit tersebut, tersenyum aku ketika melihat kedalam rongga roknya, Celana dalam berwarna putih itu seperti menantangku, menggodaku untuk menjamahnya, duh, sepertinya setan-setan mulai mengomporiku, memanas-manasi aku untuk bereaksi lebih jauh.

Aku mulai melakukan pijitan-pijitan terhadap Mita, kumulai dari jari-jari kaki, hingga terus keatas, entah selama melakukan pijitan-pijitan ini, pikiranku mulai kacau, otakku mulai dialiri darah kotor, mengalir cc demi cc, aku yang semula memijit perlahan didaerah yang dirasa sakit, kini mulai menjalr kemana mana, dan kulihat tak ada nota protes yang dilayangkan oleh Mita, entahlah.

Aku yang semula hanya memijit bagian betisnya, kini mulai merambah keatas, ke bagian pahanya, yang semula memijit atau mengurutnya dengan tenaga kini hanya berupa usapan-usapan halus saja, mungkin kini lebih tepatnya dikatakan gerayang, mulai mendorong rok mininya hingga makin keatas, berusaha menyentuh bagian kewanitaannya dengan sentuhan cepat, namun tidak ada reaksi dari Mita, kulihat dia hanya terpejam dan terpejam seakan tiodak menyadari apa yang kulakukan. Pikiran jernihku mulai bekerja lagi, saat ini kami berada diruang tamu, dengan posisi dibawah karpet, namun tetap saja bahwa disini merupakan ruang keluarga terbuka, suatu saat kapanpun mungkin ada orang yang akan datang, entah itu Tante Mala, Mita, Moza ataupun Bi Iyem, sewaktu-waktu dapat memergoki kami. Mana Dedeku udah mulai tegang lagi nih, bisa bahaya !.

“Mit, udah mit, gimana udah enakan belom ?” sambil menghentikan pijitanku, kulihat Mita membuka matanya, berusaha bangkit, memeriksa kakinya. “Mendingan A, udah gak terlalu berasa sakitnya !” katanya. Aku tersenyum, “Ya udah, kmu istirahatin aja, tidur gih sana, biar kamu enakan “ kataku lagi. Mita bangkit dan berdiri, tiba-tiba ia berkata padaku “Duh A, kok pinggang Mita sakit yah ? sakit banget nih !” katanya sambil meringis. Aku mengikutinya bangkit dan berusaha melihat dan memeriksa bagian yang ditunjuknya, “Iyalah Mit, mungkin efek dari memar kamu, otot bagian pinggang kamu jadi tegang, mang mo aa pijitin lagi ?” kataku lagi. “Iya A, tolongin dong ! sakit banget nih “ katanya lagi sambil memelas.

“Ya udah, kamu aa pijitin di kamar aja yah ? biar leluasa, jadi kalo kamu ngantuk, kamu bisa langsung tidur “ entah darimana kata-kata itu meluncur dari mulutku, Mita menurutiku, dan berusaha melangkah segara aku membimbingnya, memapahnya untuk menaiki tangga menuju kamarnya. Ketika melewati kamar Tante mala, aku teringat akan pesannya untuk memijitnya, kulihat kedalam kamarnya yang sedikit terbuka, seperti biasa terlihat ia telah tertidur lelap, dengan posisi telentang, sungguh pemandangan yang menggairahkan, kupikir mungkin ditunda saja dulu pelayanan untuk Tante mala, jah pelayanan ? emang room service !.

Ketika tiba di depan kamar Mita, kulihat Maya juga telah lelap, memang kamar ini semenjak aku datang dan menjadi penghuni kamar ini, membuat Mita dan Maya menggunakan kamar yang sama. Entah ide darimana timbul, keluar dari mulutku begitu saja, “Mit, di kamar Aa aja yuk ?, disini tempat tidurnya kecil, biar leluasa mijitnya !” kataku kepadanya. Mita memandangku sesaat, seperti ada senyum diwajahnya, entah apa yang ada dipikirannya, “Beneran ya A ? jangan bohong, ntar gak dipijitin lagi !” katanya, Aku tersenyum melihatnya, iya suer, pokoknya dipijitin deh !” sahutku menimpalinya, “Kalo gitu Mita ganti baju dulu ya A, A tungguin di kamar, awas kalo tidur !” katanya dengan memasang mimik mengancam, aku terkekeh dan berjalan meninggalkannya menuju kamarku, menunggunya.

sengaja pintu kubiarkan terbuka, menunggu merupakan pekerjaan yang membosankan apalagi menunggu mangsa memakan umpan, semenit serasa seabad. Dengan napsu birahi yang menerpa sejak tontonan renang tadi Memikirkan sejenak apa yang harus aku lakukan untuk menuntaskan naspu birahiku ini, memikirkan taktik cara jitu untuk memenuhi gejolak birahi yang timbul dan jelas agar tidak menimbulkan efek samping dikemudian hari.

Ah jangan-jangan si Mita males nih, langsung tidur, ya udah berarti Mita gak dapet aku ke kamar Tante Mala, pikirku lagi setelah kira-kira beberapa menit menunggu. Namun kekhawatirkanku ternyata tidak terbukti, beberapa menit kemudian sesosok tubuh muncul dipintu kamarku Mita, aku segera bangun untuk menghampirinya. Mita tanpa basa-basi memasuki kamarku dan melewatiku dan melangkah mendekati tempat tidur.
“duh ah.. nyeri banget pinggang Mita, tolongin ya A.. “ begitu terdengar kata-kata Mita yang keluar dari mulutnya seperti bergumam, nyaris tak terdengar, namun di kenheningan malam itu rasanya cukup jelas ditelingaku. Ak hanya memandangnya, melihatnya menaiki tempat tidurku yang cukup rendah, ya ampun tuh anak, bukannya merangkak kek, lah ini malah berdiri di atas tempat tidur !, rubuh baru tau rasa .. hehehe..
“Kaya nenek-nenek aja kamu, sakit pinggang”, aku mengikik tertawa meledeknya, kuperhatikan dia, dengan baju dasternya, menunduk, mengangkat bawahan dasternya sehingga pantatnya menyembul keluar, amboi, mantab bener nih pantat, komentarku dalam hati, jelas ini membuat darahku semakin panas, (eh ntu buat orang berantem yak ? kalo orang horny, darahnya gimana) ? pokoknya bikin napsu gw naek dah, berasa sampe ke perut.

Aku membiarkannya, kulihat ia menurunkan tubuhnya, merangkak, dan kemudian tidur tengkurap, duh, aku membayangkannya seolah-olah ia memintaku untuk menyetubuhinya dalam posisi doggy, nikmat banget kali ya ? seandainya….
Aku menutup pintu dibelakangku, berjalan menghempirinya, duduk dibawah kakinya, meraba kakinya, mulai memijitnya perlahan, “Dari bawah dulu ya Mit, nanti baru ke pinggang, biar bawahnya kendor dulu” seolah memberitahukan kepadanya tanpa meminta jawaban darinya.

Aku mulai memijitnya perlahan kakinya yang terasa sakit, sampai beberapa lama, kemudian pindah ke kaki kanannya, hingga dengkul, beberapa saat. Hingga pikiranku mulai merambah kotor, kutelusuri tanganku hingga ke pahanya. Pijitanku rasanya bukan berupa pijitan lagi tapi merupakan rabaan. Sampai saat ini tak ada penolakan dari Mita, malah kurasa ia menikmatinya, kulihat matanya terpejam menikmati pijitanku, entah apa yang ada dibenaknya. Hingga kuingin mencoba untuk mengetestnya.

Kuarahkan pijitan tanganku ke arah belahan pantatnya, perlahan seolah-olah tak sengaja menyentuhnya seperti tadi. Tidak ada keluhan atau gerakan menolaknya, kulihat ia malah membuka celah pantatnya lebih lebar. Nah loe !
Beberapa saat aku terus melakukan ritme pijitan seperti itu, hingga kulihat ia sepertinya sangat menikmatinya, aku menghentikan gerakanku !

“Mit, pegel nih, sekarang pinggangnya deh, aku bergerak kesamping, kesisi sebelah kirinya, mulai memegang pantatnya, menaikkan bawahan daternya hingga ke pinggang, kini di depanku tergolek wanita cantik yang baru saja tumbuh dewasa, bukan anak baru gede lagi, namun wanita muda yang cantik, bertubuh indah, montok dan mungkin pengalaman seksnya lebh dari aku walaupun umurnya dibawahku, seandainya waktu itu aku tidak dapat mengendalikan diri, entahlah, apa yang terjadi.
Pikiranku jelas tidak berada pada pijitan2ku, tapi lebih tepat mencari akal agar napsu yang sudah berada diubun-ubunku terpenuhi, namun untuk bergerak memaksanya melakukan hubungan seksual denganku jelaslah tidak mungkin, jelas berbahaya.

“A, denger-denger besok mo jemput tante Marissa ya ma Kak Moza ?” tiba-tiba kudengar ia membuka percakapan dan jelas mengagetkanku, yang semula kukira tidur ternyata masih dalam keadaan sadar. Dengan agak gugup aku menjawabnya, “Iya, Mamah nyuruh Aa ma Moza buat jemput ke Bandara, emang kenapa ?“, “Duh kalo Mita gak ada kuliah pengen deh ikut jemput, ada kuliah sih, mana tiba-tiba badan begini lagi”, katanya lagi.
“Iya ya, coba Mita ikut, kan lebih seru dijalan, asyik, bisa mampir-mampir kemana-mana dulu !” kataku lagi, “Iya ih, daripada nunggu dirumah gak ada kegiatan, kan mendingan jalan !” katanya lagi, “Tapi kan kamu bisa ngajak cowok kamu jalan, lusa kan malem minggu Mit, nanti kalo kamu ikut, terus nginep-ngeinep dimana dulu, cowok kamu marah” kataku menggodanya, “Ih, apaan sih aa, Mita sekarang lagi kosong nih, lagi gak punya gebetan “, “Masa sih Mit “ lah bukannnya ka mu sering keluar jalan malem minggu, lah emang cowok kamu yang dulu mana ?” Kataku lagi berusaha memancingnya. “Tauk, udah kelaut !” katanya menjawab dengan cepat, seolah tak ingin aku untuk mengungkit-ungkitnya.

“Masa sih ?, kamu putus ma dia ? dih rugi banget tuh cowok ninggalin cewek bahenol model gini !” aku terkekeh sambil iseng tanganku menepuk pantatnya agak keras, lumayanlah, itung-itung sambil menyelam minum the botol, “yee.. Aa iseng ah !”, “he.. lagian punya pantat bikin napsu, sering ya diremes-remes ma cowoknya !” kataku sambil memijitnya dan menggodanya lagi. “Yeee… ya iya lah….kayak Aa gak pernah aja !” sahutnya mesem, balik menggodaku. Duh jadi makin konak aja nih.

“emang gak pernah”, kataku lagi, namun aku jadi teringat dimalam itu dimana saat itu Mita dan Temannya Ira, pulang dalam keadaan mabuk, saat itu mungkin kesempatan aku satu2nya dan mungkin hanya sekali-kalinya untuk menikmati tubuhnya, namun kesempatan itu tidak kuambil, aku hanya berani untuk menyutubuhi temannya, toh kalo temannya si ira itu jelas kulihat memang kecentilan dan sepertinya adalah cewek gampangan, entahlah dengan sepupuku ini, mudah2an ia bisa menjaga dirinya. “Aa,… cewek aa mana sih ? kok gak pernah dikenalin ma kita2 disini, ajak kenapa a sekali-sekali kesini”, katanya lagi. “cewek yang mana Mit, yang mau ma Aa, orang aa jelek gini, semua cewek juga kalo ngeliat aa pada berebut, Berebut ngindar !”, mendengar jawabanku Mita tertawa renyah duh makin cantik aja nih cewek, “si aa bisa aja, masa sih a ? gak ada yang mau ma aa, aa nya aja kali yang milih-milih nyari cewek” katanya lagi.

Aku tersenyum mendengar komentarnya, milih sih iya lah, masa gak milih-milih, emang kita nyari cewek kaya nyari laler di sampahan, modal plastik bekas es mambo bisa dapet banyak. Bisa-bisa kita putus mulu sehari bisa putus 4-5 kali. Lah iya lah gimana gak mo putus, tiap ketemu cewek di bus, naksir, kita ajak kenalan, dianya ogah, putus, ketemu lagi di angkot, kita colek ngajak ngobrol dianya melengos, putus !. loh kok itu diitung putus ? bukannya belom nyambung ??? …..udah ah. Ntar mupengloe ilang lagih ! becanda mulu !

“Sama dong kita nih mit, senasib “ cuman bedanya kalo kamu gampang dapet lagi, kalo Aa gampang digampar cewek lagi !” aku ngakak, diikuti dengan mita yang tertawa renyah. “Udah Ah Mit, pegel nih, mijitin kamu melulu, kamu yang keenakan aa yang pusing nih, liat pantat bahenol gini !” aku tersenyum dan berusaha duduk untuk merebahkan diri disampingnya. “Ih si Aa mah kalo kerja nanggung gini !, tanggung dong a, sekalian nih punggungnya !, biar tuntas, katanya lagi sambil bangkit, aku hanya tersenyum, tidur telentang disampingnya. Sambil memegang dan mengelus-ngelus punggungnya aku melanjutkan menjawabnya “gak ah, istirahat dulu, kesian nih si Dede, tuh bangun gara2 megangin body kamu terus, kesian ah..gak ada penyaluran “. Kataku lagi becanda, entah darimana kata-kata out meluncur begitu saja dari mulutku, sebetulnya aku juga kaget mendengar kata-kataku sendiri.

“Idih si aa, dasar...” hanya itu yang keluar dari mulutnya. Kemudian tanpa kusadari ia bangun dari posisi tidurnya, beranjak turun, duh sepertinya ia hendak meninggalkan ruanganku, namun apa yang terjadi kemudian ternyata diluar dugaanku.

Ia berdiri disamping tempat tidurku, menatapku sebentar, lalu kemudian ia melakukan gerakan yang sungguh tidak aku duga sama sekali, kulihat ia membuka dasternya perlahan mengangkatnya dan membukanya. Ya ampun, mo ngapain si Mita ?, kini dia hanya mengenakan bra dan celana dalamnya saja, dan tak lama kemudian ia membuka branya dengan cara menarik tali bar yang ada dipundaknya turun kesamping, menjaga seolah payudaranya yang montok itu tidak meluncur kebawah dengan kedua tanagannya, agar tak memperlihatkan susunya yang montok itu, mempertontonkannya dihadapanku !


Kulihat matanya seperti redup, apakah mungkin pijitan-pijitanku tadi talah membangkitkan birahinya ? apakah mungkin kini ia juga terangsang seperti diriku ? entahlah, dan kekagetanku tidak sampai disitu saja, kini kulihat ia mulai membuka celana dalamnya !. memelorotkannya dihadapanku, memperlihatakan bulu-bulu hitam lebat diantara selangkangannya, dan kini dihadapanku telah berdiri sesosok wanita cantik nan mempesona dengan keadaan bugil. Bermimpikah aku ?

Mita mengambil posisi disamping ranjang sebelah kiriku, duduk kemudian berkata lirih, “A.. mita jadi kepengen juga nih, tapi jangan dimasukin ya ? yang penting kita ada penyaluran “, entah aku harus berkata apa, tak ada kata-kata yang keluar dari mulutku, aku hanya mengangguk. Dan sepertinya ia tak menunggu jawabanku, segera ia menarik celana pendekku, sekaligus dengan celana dalamku, keluar melewati kakiku. Karena kulihat ia polos tanpa sehelai benangpun, aku segera membuka bajuku, masih shock dan kebingungan aku dengan apa yang terjadi ini.

Mita duduk disampingku, dan seolah ada yang membimbingku, tanganku tanpa disuruh segera memegang payudaranya, merabanya dan kemudian meremas-remasnya, meremas perlahan dan kemudian meremasnya kencang, seakan ingin membuatnya pecah, terdengar rintihan-rintihan dari Mita, kemudian tanpa diduga, ia menarik kepalaku, mendekatkannya ke dadanya, seakan meintaku untuk menghisapnya, aku menjulurkan mulutku ke dadanya, memainkan lidahku di putingnya, dan menghisapnya perlahan, dan kulihat ia menjadi blingsatan. Hingga beberapa saat kemudian, badannya bergerak.

Dari posisinya yang semula duduk disampingku, kini ia beringsut berbaring telentang, aku yang duduk menatapnya tanpa berkedip, sementara kulihat ia bersandar ke kepala tempat tidur, melebarkan kedua kakinya, menungguku untuk melakukan aksi selanjutnya
Aku tak ingin menunggu lama, kuhampiri Mita, kudekati selangkangannya, dan sepertinya kami sama-sama mengerti, aku memainkan jari-jariku disana untuk beberapa saat, meraba, mengelus-elusnya, dan tak berapa lama kemudian aku menyelusupkan wajahku diantara kedua selangkangannya, mungkin ini kali pertama aku melakukannya, kujulurkan lidahku diantara belahannya, Mita membukanya lebar-lebar, kujilati perlahan permukaan vaginanya, dan sepertinya ia semakin kehilangan kendali, menikmati sensasi yang kuberikan, labium mayoranya mulai basah, aku terus menjilatinya, seakan ingin memberikan kenikmatan yang ingin diraihnya. Hingga beberapa saat, sepertinya ia mulai mengalami orgasmenya yang pertama, kulihat ia menghentak-hentakkan badannya. Dan lenguhan lirih terdengar dari mulutnya, seakan melepaskan penat yang selama ini menghinggapinya.
Terdiam ia sesaat, kemudian menatapku sambil tersenyum dan berkata lirih “Gantian A !” ia mendorongku perlahan, hingga membuatku tersurut kebelakang, namun karena posisi kakiku berapa dibelakang, hingga membuat dengkulku terlipat, pantatku berada diatas telapak kakiku, kemudian mita menghampiriku.
Melihat mita menghampiriku, reaksi spontanku adalah mencoba untuk duduk untuk menyambutnya, namun mita segera meraih dedeku, memegangnya dengan tangan kanannya, mengocoknya perlahan, duh baru kali ini rasanya, penisku dipegang oleh tangan halus, membuat dedeku menjadi semakin keras dan menegang. Dan tak lama kemudian tanpa aku minta dan sepertinya dia sudah mahir dalam melakukan ini, ia mulai menjilati kepala penisku, entah bagaimana rasanya, sulit dijabarkan, yang jelas rasanya terasa sampai ubun-ubun kepalaku.

kemudian ia merebahkan badannya, melepaskan pegangannya dipenisku, namun dalam posisiku yang setengah berdiri ini ia terus menjilati penisku, dan bisa-bisanya dia tanpa melepaskan penisku dari permainan bibir dan lidahnya, yang jelas hak ini membuatku berdesah tak karuan.
Untuk beberapa lama hal tersebut dilakukan oleh mita, dan nampaknya ia sendiri sudah mulai terangsang lagi, aku mencoba untuk mengambil inisiatip lain.
“Kamu rebahan lagi Mit, Aa tempelin ke bawah kamu, pokoknya gak aa masukin deh “ kataku setengah berbisik kepadanya.


Aku beringsut menuju bawah badannya lagi, menuju area selangkangannya, dan menempelkan penisku dibelahannya itu, tepat dipermukaan vaginanya, menyentuh-nyentuhnya pelan, seakan-akan memberitahukan penisku bahwa disinilah seharusnya kamu berada, kemudian, aku menggosok-gosokkannya diseluruh permukaannya.

Namun lama-lama ada rasa tidak puas, kerena cuma bergerak di luar. Karena sudah sama-sama bergairah maka baik aku maupun Mita agak kurang menyadari bahwa pelan pelan ujung penisku membuka belahan vaginanya. Kami seperti kehausan seks, yang dicari adalah kenikmatannya. Sedikit-demi sedikit, karena gerakan maju mundurku, dan diimbangi dengan goyangan pinggulnya, kepala penisku pelan-pelan masuk, kemudian terbenam seluruhnya. Selanjutnya adalah pekikan pelan Mita ketika panisku menabrak sesuatu di liang vaginanya. “Dia telah kuperawani”, pikirku. Pikiranku panik, namun aku berpikir cepat, semua sudah terjadi, jangan sampai berakhir tenggung di sini. Aku harus membuat Mita sampai ke orgasme. Sambil mengawasi wajah paniknya, aku pelan-pelan memagut lembut bibirnya dan memainkan putting payudaranya, supaya Mita makin terangsang mengalahkan rasa sakitnya. Mita menyambut kecupanku, namun ada air mata yang meleleh dari sudut matanya.

Penisku masih kudiamkan di liang vagina, agar Mita bisa menyesuaikan diri. Kemudian setelah dirasa aman, aku gerakan pelan-pelan penisku. Lama-lama Mita juga membalas dengan menggoyangkan pinggulnya. Yang jelas, saat ini kami sama-sama mengalami sensasi kenikmatan, entah untuk berapa lama kami melakukan itu, detik demi detik berlalu, menit demi menit tak terlewatkan tanpa kami merasakan sensasi ini. Hingga mungkin karena ini dilakukan dengan perasaan was-was dan khawatir, tak berapa lama kemudian serasa ada sesuatu yang ingin melesak keluar dari lubang penisku, aku segera mengangkatnya cepat, jangan sampai aku menyemprotkan spermaku dan menghamili sepupuku ini, bisa berabe, dan tanpa di duga, Mita bangkit, meraih penisku dan memegangnya dengan tangan kanannya, menggosok-gosokkannya cepat, seakan-akan memberikan bantuan, dorongan, melesat, memuntahkan cairan panas, kental, putih ke dadanya dan kebagian perutnya, lepas.

Terduduk aku dalam lemas, memandang Mita, merasa bersalah dengan semua yang telah terjadi sehingga dia kehilangan keperawanannya, disisi lain Mita, walupun matanya masih berkaca-kaca nampak berusaha tersenyum, Kulihat ia terbaring lemas, nampak cairan sperma menempel di dada dan perutnya. Sedangkan di bibir vaginanya dan juga pangkal penisku, ada sedikit bercak darah, darah keperawanan Mita.
Dan beberapa saat kemudian, ia mengambil kertas tisu dan membersihkan cairan-cairan yang menempel ditubuhnya.

Tak berapa lama kemudian, ia bangkit, berdiri disamping ranjang, meraih baju dasternya, dan bra dan Celana dalamnya yang tergolek disana, dan kemudian mengenakan semuanya dengan cepat, kuamati semua gerakannya.
Kemudian ia berbalik menghadapku, “A.. rahasia yah, jangan bilang kesiapa-siapa, awas !” katanya sambil tersenyum sendu, aku hanya mengangguk dan membalas senyumannya. Kemudian ia berjalan ke arah pintu, membukanya perlahan dan menghilang dibalik pintu sana.
CHAPTER 12 : MENJEMPUT TANTE MARISSA

Sinar matahari yang menyelinap melewati kaca jendela di kamarku seakan menyadarkanku bahwa hari telah beranjak siang, mengejap-ngejapkan mataku, melirik ke arah jam sekilas, terkaget sesaat dan membuatku untuk segera bangkit, mengucek-ngucek mata dan meraih handuk dan segera bergegas ke kamar mandi.

Hari ini mengingatkanku bahwa aku dan Moza siang ini akan berangkat untuk menjemput Tante Marissa ke Bandara, dalam hati aku bertanya-tanya, seperti apakah adik Tante Mala ini, apakah secantik kakaknya, sebaliknya atau malah lebih cantik ? aku sendiri mungkin dulu pernah kenal dengan tante Marissa ini, mungkin, sewaktu aku kecil dulu, toh biar bagaimanapun dia juga sepupu jauh ibuku, tapi aku sudah lupa sama sekali, apalagi semenjak SMP aku paling malas apabila harus ikut-ikut keluargaku mengunjungi sanak saudara. Sambil mengguyur badanku dengan air dingin aku membayangkan bagaimana sebenarnya sosok tante Marissa tersebut.

Selesai Mandi, jam menunjukkan pukul 10 lebih seperempat, tumben aku bangun sesiang ini, mungkin karena aku terlalu lelah barangkali, atau …. Tiba2 aku tersenyum, mengingat kejadian semalam dengan Mita, duh mungkin karena aku telah membuang spermaku begitu banyak sehingga badanku butuh istirahat untuk memulihkan tenaga kembali.

Bergegas aku berpakaian, serapih mungkin, ya namanya juga jalan ma cewek cakep, musti lah.. minimal baju agak bersih, walaupun udah 4 taon yang lalu belinya, pake t-shirt berkerah, biar keliatan kayak esmud, eksekutip muda, bukan sendal musholla, cuman sayang gara2 keseringan naek angkot yang begitulah, kerah gak ada yang bersih… heheheh..
Setelah memilih2 baju layaknya lagi belanja di Dept store kelas 2, akhirnya kecomot juga, yang kira2 paling kinclong, mematut-matut sejenak di depan kaca, kemudian segera bergegas berjalan menuju ruang bawah.

Kulihat kamar Tante Mala agak sedikit terbuka, namun aku tak tertarik untuk melihat ke arah dalam, walau hanya sekilas, kepalaku seolah berat untuk menengok ke arah kamar tersebut. Namun yang jelas sepertinya aku merasa bahwa ada orang didalam kamar tersebut, mungkin Tante Mala pikirku. Yang jelas didalam pikiranku saat itu adalah Moza, yang jelas aku merasa kurang gentle apabila aku merasa bahwa Moza telah menungguku di ruang bawah, menunggu untuk keberangkatan kami.

Kupandangi ruang keluarga, ke arah sofa, namun tak kulihat sesosok tubuhpun, duh, ada rasa deg-degan menghinggapiku, jangan2 Moza telah pergi, menyangka aku malas menemaninya sehingga memutuskan untuk pergi sendiri atau dengan orang lain, celaka !
Namun kulihat jam belum menunjukkan pukul 11 siang, masih ada 20 menit, berarti belum lewat dari janjiku kemarin jam 11, berusaha menenangkan kegugupanku dan aku memutuskan untuk menuju meja makan dan mengambil sarapan yang mungkin telah dingin.

Sambil mengunyah sarapan, aku memandang tivi yang nampaknya telah menyala sejak tadi, melihat sekilas acara tivi yang menayangkan sinetron murahan tanpa mencernanya kedalam otakku, pikiranku hanya satu, Moza, seperti apa ia hari ini ? apakah ia akan tampil cantik seperti biasanya, apakah aku pantas untuk berjalan mendampinginya, ataukah orang-orang akan menganggapku seperti supir yang mengantarnya ? duh mak ! makin deg-degan aja nih !

Tak lama kemudian, telingaku seakan menangkap suara langkah kaki menuruni tangga, secara spontan kepalaku menengok mengadah menuju arah suara tersebut, dan tak lama kemudian mataku menangkap sesosok tubuh berjalan menuruni tangga, tak salah otakku segera menangkap sosok tubuh tersebut, Moza. berjalan dengan anggun, menampilkan kecantikannya !

Ia tersenyum memandangku, melangkah menghampiriku, duduk dimeja makan dihadapanku, kemudian berkata “Cieee Aa, udah rapih euy, kirain belom bangun .. hehehe..!” aku hanya tersenyum menatapnya tanpa berkata apa-apa. Kemudian tanpa kuduga ia berkata lagi, “A, kayaknya mamah mo ikut ! jadi kita bertiga berangkatnya !” kaget aku mendengar kata-katanya namun segera aku menutupi kekagetanku, “Loh, kirain mamah gak mo ikut !” kataku menyahutinya, “Bukannya mamah kelihatan kurang sehat ?” aku berkata lagi, “Jah Aa, kaya gak tau mamah aja, dia mah kalo namanya pergi mah sehat aja !, lagian semalem telp2-an ma Tante Marissa lama, kayaknya Tante Marissa datang sendiri gak sama suaminya, jadi kayaknya sehabis dari bandara kita gak langsung kesini, mungkin kita terus nginep di rumah nya Tante Marissa, di sana “, (sambil menyebut sebuah nama tempat bersuhu dingin).

Aku jadi bertambah kaget saja, duh, kok jadi berubah gini acara ?, bisa ancur nech rencana “penyesuaian” dengan Moza, sahutku dalam hati. “Lah terus gimana kita ?” tanpa kuduga aku melontarkan kata-kata itu, entah apa maksudnya, terlontar begitu saja, upss, jangan2 Moza menangkap ada maksud tertentu dibalik kata2 itu. “Gimana, gimana A ?” moza balik bertanya kepadaku tapi sukurlah sebelum aku menjawabnya Moza sudah menjawabnya terlebih duluan, “Yaa.. kita ikutan nginep, aa bawa baju sekalian ...! “ sambil terkekeh ia menatapku.

“Yah... lama dong ? “ kataku lagi, Moza nyengir kemudian ia berkata lagi, “Aa libur kan ?, lagian enak kok A dirumahnya Tante Marissa, gede, dingin udah kaya villa aja.. “, katanya lagi !, “Ohh ya udah, emang mo berangkat jam berapa sih ?”, kataku lagi. “Ya tungguin mamah aja, mamah kelar kita langsung berangkat, kan dari sini ke bandara sekitar 3-4 jam sampe sana jam 4an, masih ada sejam nunggu pesawat landing”, katanya lagi.

“Ya udah kalo gitu, Aa nyiapin baju dulu, kirain mo langsung kesini, Tante Marissa mo nginep disini “ kataku. “ya aa, mo tidur dimana nanti dia ? biasanya Tante Marissa dari dulu juga langsung ke rumahnya, bawa barang seabrek-abrek, nanti setelah dari rumah, biasanya ya langsung deh, keliling ke keluarga”, katanya lagi. Aku mengangguk-angguk seperti menyetujui perkataannya, kemudian aku beranjak dari bangku dan berkata kepadanya akan menyiapkan pakaian untuk keperluan menginap nanti, duh repot, aku pikir bolak-balik sehingga aku tak memerlukan pakaian salinan.

Bergegas aku ke kamar atas, tak enak rasanya bila aku bersantai ria, takut bila nanti ternyata mereka menungguku berkemas dan menampilkan muka cemberut bila kelamaan menungguku, he...gak lah !
Menapaki lantai atas kini pikiranku mulai penasaran, kepalakku seperti berat untuk tidak melirik kedalam kamar Tante Mala, kembali ada rasa penasaran untuk melihat ke arah dalam kamar, pelan aku melangkah, berusaha agar tidak terdengar langkah kakiku. Menoleh sejenak kedalam kamar yang pintunya terbuka setengah dan kulihat disana, tampak Tante Mala sedang berdiri di atas cermin, sedang berdandan, dengan hanya mengenakan Bra dan Celana Dalam, seolah tak perduli bahwa ada lelaki lain di rumah ini !

Aku menjadi terdiam melihat sosok Tante Mala, begitu cantik, badan bersih, putih, ramping dengan payudara yang cukup besar dan proporsional, kembali dadaku bergelegak, perutku seperti ada dorongan hawa, membuat darah kelaki-lakianku naik. Teringat aku akan suatu saat lalu, ketika dalam keadaan sadar dan tidak sadar kami melakukan hubungan intim, entahlah, apakah tante Mala menyadarinya, ataukah tidak ? ataukah ia sebetulnya sadar namun tidak ingin menyadarinya. Entahlah. Sepertinya mataku tidak ingin berkedip, namun ada rasa tak enak bila tiba2 nanti Moza menyusul ke lantai atas dan memergokiku sedang mengintip mamanya, bergegas aku melanjutkan langkahku menuju kamarku.

Setelah merasa cukup dengan pakaian sebagai salinanku nanti, memasukkannya kedalam tas, aku bergegas keluar kamar karena kudengar tadi seperti ada suara pintu ditutup, nampaknya Tante Mala telah siap, dan benar saja, kulihat kamar Tante Mala kini telah tertutup rapat, begitu juga dengan kamar Moza yang semula tadi terbuka kini juga tertutup. Nampaknya mereka telah menyiapkan segala sesuatunya sejak tadi atau mungkin sejak kemarin.

Aku melangkahkan kakiku dengan cepat, menuruni tangga dan menuju ke depan rumah ke arah garasi, kulihat mobil telah dinyalakan untuk dipanaskan mesinnya, dan nampak disana Moza sedang duduk di dalam mobil sedangkan tante Mala sedang memasukkan barang2 bawaan kedalam bagasinya mengatur posisi barang layaknya hendak pergi jauh.
Dan duh kulihat Tante Mala dengan dandanannya yang memang cukup aduhai, mungkin menurutnya ini adalah hal yang biasa saja, tapi menurut penglihatannku penampilan Tante Mala layaknya seperti seorang wanita yang hendak pergi kepesta saja. Cantik dan anggun !.

Aku menghampiri mereka, dan Tante mala tersenyum melihatku, ramah, layaknya melihat seseorang yang telah lama tak dilihatnya, “Fan, udah siap ?” katanya melihatku !, aku tersenyum membalasnya dan menghampirinya, kemudian aku memasukkan tasku kedalam bagasi mobil Tante Mala yang cukup besar, mengatur agar muat dan menyisakan ruang yang cukup.

Setelah dirasakan tidak ada yang tertinggal, aku melihat sekeliling memastikan semua berjalan sebagaimana mestinya, kulihat Tante Mala bercakap dengan Bi Iyem, mungkin untuk memastikan bahwa selama kepergian kami semuanya akan baik2 saja, dan berpesan untuk melakukan sesuatu selama beliau tidak ada. aku jadi ingat dengan keadaan di rumahku di sana, saat ibu dan ayahku akan bepergian, palingan beliau berpesan agar aku tidak lupa untuk mengangkat cucian, agar idak kehujanan, jah.. cucian kok di bikin khawatir, palingan sarung belel, ma celana panjang lusuh, paling banter kebaya yg udah ilang kelirnya,,, hehehe, lah kalo Tante Mala mah pantes, ninggalin pesen supaya jangan lupa begini, begitu. Hehehehe....

Dan tak lama kemudian, dengan Moza disebelah kiriku, dan Tante Mala duduk dibelakang, mobil kuarahkan ke arah luar kota, melewati Tol, ke arah bandara di luar kota nun disana.

Benarlah setelah kira-kira memakan waktu sekitar 4 jam, ditambah dengan waktu kami makan siang di sebuah perhentian, dimana yang jelas disana tadi banyak mata memandang kami, terutama mata lelaki yang kelihatan liar, siap menelan mentah-mentah 2 wanita yang bersamaku dan aku mencoba untuk menjaga mereka, seolah aku adalah seorang bodyguard yang siap menyelamatkan mereka walau hanya sekedar menjaga dari pandangan mata lelaki iseng. Padahal....

Jam 4 lewat kami tiba di bandara, waktu masih lama, karena setahu kami pesawat dari eropa biasanya tiba setelah jam 5an, dan itupun bila tidak delay. Dan memang setelah kami meninggalkan parkiran dan menuju aula kedatangan, tampak dilayar yang berada di ruang lobby tersebut, terdapat deretan no pesawat kedatangan, dan jelas bahwa pesawat yang ditumpangi Tante Marissa belum mendarat.

Kami mengobrol di ruang tungu bandara tersebut, ngalor ngidul, bercerita mengenai Tante Marissa yang biasanya 2 – 3 tahun balik ke indonesia, bersuamikan seorang eks patriat, dan dikaruanai 2 anak laki2 yang saat ini sudah duduk di bangku SMA dan SMP, biasanya mereka sekeluarga datang namun kali ini hanya Tante Marissa sendiri, mungkin karena kesibukan sang suami dan anak2 yang mungkin mempunyai acara sendiri sehingga mereka enggan untuk ikut sang Mama ke indonesia, ke kampung halamannya.

Entah berapa lama kami menungu, dilayar monitor masih belum ada kejelasan kapan pesawat akan mendarat, aku melihat lagi ke arah monitor, berulang-ulang, seakan ingin meninggalkan kejenuhan karena menunggu. Dan benarlah rasa khawatirku terbukti, kulihat di layar monitor kini tampak status pesawat adalah terlambat, tanpa diketahui kapan kedatangannya.

Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya kami memutuskan untuk mencari cafe dan memutuskan untuk disana. Sambil menghilangkan rasa lapar dan haus. Dan kami memutuskan untuk bergantian memonitor perkembangan kedatangan pesawat.

Entah berapa lama kami menunggu, sekitar jam 9 malam, baru ada kabar bahwa pesawat akan tiba dan mendarat, kami bergegas meninggalkan café dan segera menuju ruang kedatangan. Benarlah setelah menunggu kembali beberapa saat, nampak Tante Mala menunjuk kepada seseorang di arah pintu keluar sana, kulihat kearah yang ditunjuk, nampak disana sesosok wanita paruh baya yang cantik, dengan membawa beberapa koper berjalan pelan seolah keberatan dengan barang bawaannya, memalingkan kepala ke beberapa arah, seperti berusaha mencari seseorang. Dan tak lama kemudian pandangannya mengarah ketempat kami berdiri, tampak wanita itu tersenyum melebar dan bergegas menghampiri kami.

“Aduh, Teh, maaf lama ya nuggunya, tadi pesawat ditahan dulu di singapore, meni lama “ kata Tante Marissa sambil mencium pipi tante Mala, kemudian beliau berpaling ke Arah Moza, dan berkata antusias melihatnya “Moza, kamu meni udah gede pisan , duh udah jadi wanita cantik dan dewasa sekarang !” Katanya kepada moza, layaknya seperti sudah bertahun-tahun lama tidak bertemu. Memeluknya dan menciumi kedua pipi sang keponakan.

Kemudian beliau berpaling kepadaku, aku hanya tersenyum melihatnya, malu, deg-degan, takut dicium juga, dan lagi, takut banget disangka supir atau pembantu, padahal kalo ikut dicium yaa belom tentu nolak lah !, “Bentar, ini sapa Moz, calon suami kamu ?” katanya lagi sambil menunjuk kearahku dan berpaling ke arah Moza, aku terkaget-kaget mendengar perkataannya dan nyengir menahan malu, kulirik Moza disebelahku seolah memohon bantuan untuk menjelaskan dirinya siapa aku. Namun sebelum Moza menjawab, Tante Mala tanpa disuruh sudah menjawab pertanyaan Tante Marissa, “Ini Mar, putrana Teh ... (sambil menyebut nama ibuku) “ aku tersenyum mengangguk seolah mebenarkan ucapan Tante Mala, dan kemudian tanpa dinyana dan diduga Tante Marissa bergerak menghampiriku “Ya ampun ini teh Fandi Tea ?” duh.. udah berapa lama ya Tante gak pernah ngeliat kamu ? terakhir Tante Liat kamu waktu kamu masih SD mungkin ! waktu Tante Masih kuliah dulu !, ya ampun.. udah gede ya Fandi !” katanya antusias dan tanpa dinyana dan tanpa diduga beliau memelukku dan mencium pipiku, kanan kiri, pas !. (jangan ngiri loe, pembaca !)

Begitulah setelah berbasa-basi sejenak, aku menawarkan diri untuk membantu membawa barang2 Tante Marissa dan Moza juga turut membantuku, hingga akhirnya kami berempat dengan masing2 membawa barang, berjalan menuju arah mobil dimana mobil kami diparkir.

Setelah mengatur posisi barang di dalam bagasi mobil, Moza menanyakan kepadaku apakah aku lelah untuk menyetir dan bermaksud menggantikan aku untuk membawa mobil, namun aku hanya tertawa dan menyuruhnya untuk duduk disampingku dan membiarkanku untuk membawa mobil, setelah berbisik kepada Moza untuk memberitahukan kemana arah yang dituju, aku melesatkan mobil meninggalkan area bandara.

Sepanjang jalan aku kebih banyak hanya terdiam, mendengarkan ketiga wanita ini bercakap-cakap seolah serius dan fokus membawa mobil yang kukendarai. Sesekali aku menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Tante Marissa mengenai keadaan keluargaku, dan kadang pekerjaanku, namun pikiranku lebih banyak melamun, kadang aku melirik kearah kaca spion tengah didepanku, melihat kearah belakang, dan tanpa sengaja aku turut melihat wanita dibelakangku, yang kesemuanya cantik. Bila aku membandingkan kecantikan antara Tante Mala dan Tante Marissa rasanya sulit, sebab masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan sendiri, namun bila diberi nilai, maka hasilnya adalah seri !.

Daerah yang kami tuju adalah daerah lumayan jauh, mungkin waktu yang kami tempuh adalah sama dengan tadi, arah tadi kami datang adalah dari sebelah timur, maka kali ini kami lebih ke selatan, menuju daerah pegunungan yang berhawa cukup dingin. Entah sejak dimana tanpa kusadari semua penumpangku mulai tertidur.

Sekitar jam 1 lewat kami telah tiba di kota tersebut, saat memasuki pinggiran kota, aku membangunkan Moza untuk menanyakan arah rumah Tante Marissa, kulihat kota masih ramai dengan lampu yang menyala, rasa lapar menghinggapiku, saat aku membangunkan Moza, kurasakan Bahwa Tante Mala dan Tante Marissa juga ikut terbangun. Mungkin rasa lapar juga menghingapi kami semua, hingga tanpa dikomando Tante Mala menyuruhku untuk berhenti saat melihat ada warung sate dipinggir jalan yang masih buka.

Moza hendak turun untuk memesan sate, namun aku hendak mencegahnya karena kulihat banyak pemuda yang sedang nongkrong disana, tapi nampaknya aku terlambat, moza sudah turun dan menuju warung sate tersebut, aku bergegas turun untuk mendampinginya dan seakan ikut ambil suara dengan sate yang akan dipesannya.

Tampak kulihat mata2 jahil kembali menatap Moza, dan seperti ada efek protection, aku menghampiri Moza dan meraih bahunya, memeluknya dari samping, seakan ingin memberitahukan pada pemuda2 disitu bahwa ini adalah cewekku, jangan coba-coba kamu menggodanya. Aku memeluknya tanpa aku sadari.

Dan nampaknya Moza juga tidak melakukan perlawanan, mungkin karena hawa dingin dan dia hanya menggunakan t-shirt, sehingga dia tidak menolakku saat aku memeluknya, dan mungkin karena ada rasa kekeluargaan diantara kami, mungkin dia menganggap aku adalah kakaknya dan merasa aman bersamaku, sehingga dia malah menyandarkan punggungnya di dadaku. Duh mak, entahlah bagaimana kurasakan hatiku saat ini, yang jelas aku merasa bahwa Moza saat ini adalah seperti cewekku.

Entah sampai berapa lama hal ini kualami, yang jelas aku berharap selamanya, aku hanya berharap sate yang dibakar lama matengnya, ada keinginan situasi ini menjadi makin lama, makin lama makin asyik, namun sepertinya sang tukang sate tidak sehati denganku, karena sate tiga puluh tusuk yang kami pesan nampaknya sudah matang, dan kemudian beliau membungkusnya cepat dan memberikannya kepada Moza setelah moza membayarnya. Kami meninggalkan warung sate itu dengan diiringi pandangan ngiler dari lelaki2 yang memperhatikan kami, duh seandainya Tante Mala dan Tante Marissa yang turun, dengan baju yang dipakainya saat ini, dengan belahan rendahnya, mungkin mereka secara spontan akan coli ditempat.. hehehehe...

Kami masuk kembali kedalam mobil, menyalakannya kembali dan membawanya kearah yang ditunjuk oleh Moza. Dari jalan raya tempat kami membeli sate tadi, mobil kubelokkan ke arah jalan yang lebih kecil memasuki jalan yang lebih keatas, cukup hanya bisa dilewati oleh 2 mobil saja, pelan melewati jalan licin dan menanjak. Dan setelah berapa kilometer, jalan berakhir dijalan yang berbatu-batu yang aspalnya mungkin sudah rusak. Berjalan kembali beberapa ratus meter dan Moza menunjuk pintu gerbang disebelah kanan, aku menepikan dan menghentikan mobil, dan tanpa dikomando Tante Marissa turun dari mobil, kulihat moza ikut turun menghampiri gerbang dan berusaha untuk membuka gerbang yang terkunci itu. Nampaknya Pintu gerbang terkunci, namun setelah beberapa saat mengetok-ngetok gembok dengan membenturkannya ke tiang gerbang, nampak kulihat seseorang berlari perlahan menuju gerbang. Kulihat sesosok laki-laki tua berusaha membuka gerbang, dan tak lama kemudian pintu gerbang hitam itu terbuka lebar.

Saat aku memasukkan mobil kedalam halaman yang cukup luas itu, kulihat Tante Marissa bercakap-cakap dengan bapak tua tersebut, aku memajukan mobil terus kedalam halaman dalam. Mungkin dari pintu gerbang ke dalam pintu utama rumah bisa mencapai 400 meteran jaraknya. Wow, yang jelas ini bukan rumah, tapi mungkin lebih tepat seperti villa saja. Dalam gelap kuperhatikan sekeliling rumah, agak seram dengan pohon-pohon tinggi melingkup halaman rumah ini. Pandanganku hanya mampu melihat beberapa meter ke depan saja. Entahlah, bagaimana rumah ini pada siang hari.

Setelah mematikan mesin mobil, aku menurunkan barang-barang yang berada dibagasi mobil, Tante Mala turun dari mobil, memintaku menurunkan barang-barangnya juga dan membawanya keruang dalam, tak lama kemudian Tante Marissa dan Laki-laki tua itu, yang akhirnya kuketahui bernama Mang Darta, membantuku menurunkan barang-barang dan memasukkkannya kedalam rumah.

Rumah sebesar ini hanya di tunggui oleh Mang Dharta seorang, mang Dharta telah ikut menjaga rumah ini beberapa tahun lamanya, beliau asli orang sini, diusianya yang telah mencapai 70 tahun dengan badan yang masih tegap dan kekar, istrinya adalah juga asli orang sini, kadang sang istri menemaninya disini untuk turut membersihkan rumah, di dekat gerbang tadi kulihat memang ada sebuah rumah mungil, mungkin disanalah mang Dharta tinggal, sambil menjaga rumah ini.

Selesai menurunkan barang-barang, aku memasuki rumah tersebut, rumah yang besar ini sepertinya hanya mempunyai satu lantai saja. Rumah tampak apik dan asri, walaupun sang empunya rumah mungkin hanya sekali atau 2 kali beberapa kali saja dalam setahun datang, namun rumah ini seperti setiap hari ada yang meninggalinya. Namun rasa seram tetap saja ada, belum lagi ditambah hawa dingin yang melingkupi rumah ini.

Namun setelah lampu tengah dinyalakan, barulah sepertinya ada rasa hangat melingkup rumah ini, aku langsung merebahkan kakiku di sofa ruang tamu, koper dan barang2 bawaan sengaja kuletakkan di ruang tengah, seperti ada rasa lelah yang sangat, menghinggapiku. Setelah kurang lebih 13 jam diperjalanan. Berusaha memejamkan mata namun rasa lapar masih menghinggapiku, hingga kemudian Moza memanggilku, ke ruang tengah, disana kulihat 3 bidadari telah berada disana, Tante Mala dan Tante Marissa tampak sedang menyiapkan piring makanan, Moza kulihat sedang merebahkan diri juga karpet bawah, sepertinya ngantuk juga menderanya.

Tante Mala dan Tante Marissa menyuruh aku dan Moza untuk makan terlebih dahulu, sebelum tidur, dan tanpa disuruh 2 kali, aku beranjak bangun dan mengambil nasi beserta sate yang dihidangkan diatas meja. Tanpa banyak cakap aku menghabiskan nasiku, kulihat Moza hanya mengambil sedikit nasi dan beberapa tusuk sate, begitu juga dengan Tante Mala dan Tante Marissa, hmm, sepertinya masih banyak tersisa untukku nih... hehehe... dasar rakus !.

Selesai makan, Tante Marissa mempersilahkan aku untuk mengambil kamar dimana saja aku suka, rumah itu sangat besar, kulihat paling sedikit ada 5 kamar didalam, Tante Marissa dan Tante Mala dan mungkin juga Moza sepertinya tidur dalam satu kamar, kamar di ruang depan, kamar yang paling luas kulihat, dan mungkin aku juga berpikir, dengan rumah sebesar ini jangan2 ada penungunya nih selain Mang Dharta, maka kusimpulkan untuk mengambil kamar yang berdekatan dengan kamar mereka.

Namun sepertinya Moza ingin cepat tidur dan tanpa kuduga sebelumnya Moza mengambil kamar yang telah diincar olehku, ia mengambil kamar tepat disebelah kamar Tante Marissa, sepertinya ia sudah sering kesini dan biasa menempati kamar itu. Dan mungkin juga Moza akan tidur dengan sang Mama.

Entahlah selesai makan aku sangat mengantuk, kulangkahkan kakiku dengan gontai menuju kamar yang terletak disamping kamar yang ditempati oleh Moza, pamit untuk tidur duluan kepada Tante Marissa dan Tante Mala kemudian menuju kamar tersebut, meraih Tas di atas karpet membawanya kedalam kamar, melemparkannya kesudut kamar, merebahkan badan, menarik selimut yang berada dibawah kakiku, enggan untuk mencuci muka, dan tanpa diperintah lagi, kupejamkan mataku, melayangkan pikiran, semakin gelap dan terlelap.

Entah jam berapa saat kukejap-kejapkan mataku, mungkin hari telah menjelang siang, karena kulihat gorden kamar berwarna krem dikamar ini seperti berwarna kuning menyala. Menggeliatkan badan seakan hendak mengusir rasa pegal yang melanda, namun rasanya segar dan fresh badanku, mungkin karena suhu udara didaerah ini yang masih dingin walaupun hari telah siang.

Bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju keluar kamar, bermaksud langsung menuju ke kamar mandi, kuintip sebentar melongok keluar pintu kamar, waspada seandainya ada mahluk wanita memergokiku dalam keadaan yang jelas aku sendiri gak pengen diliat ... he.

Tampak sepertinya suasana masih sepi, kulihat diluar ruangan tak nampak seorangpun disana, mataku memperhatikan sekeliling, mencari letak kamar mandi, entah disebelah mana letak kamar mandi tersebut, namun jelas aku mengambil kesimpulan bahwa letak kamar mandi pasti di arah belakang rumah ini. Aku melangkahkan kakiku kearah kanan, menuju arah belakang dengan menenteng handuk dan perlengkapan lainnya yang telah kusiapkan.

Bermaksud berjalan cepat, menuju arah belakang, menilik-nilik dimana letaknya, akhirnya kupastikan bahwa kamar mandi yang kutuju berada disebelah kiri lorong ruangan, terlihat didepan salah satu pintu ruangan terdapat keset alas kaki, tersenyum aku, karena pencarianku berhasil. Ketika bermnaksud hendak berbelok dan meraih gagang pintu untuk membuka ruangan tersebut, hampir saja aku bertabrakan dengan sesosok tubuh, sekonyong-konyong pintu ruangan yang tertutup itu, terbuka. Upss ...dan seseorang keluar dari kamar mandi !

Tante Marissa !, terkaget aku, dan berusaha tersenyum, untuk menutupi kegugupanku, “Eh Tan, kirain gak ada orang !” kataku sambil menunduk. Tante Marissa membalas senyumanku dan kemudian berkata “Eh Fandi, sudah bangun Fan ?, gimana tidurnya semalam ? nyenyak ? pasti kamu capek !, tuh Teh Mala ma Moza masih pules ” beruntun kata-kata keluar dari mulutnya sambil tersenyum membalasku.

“Lumayan Tan, nyenyak banget sampe gak ingat apa2, loh Tante tidur Jam berapa ? kok udah bangun ?” Kataku lagi, karena seingatku semalam Tante Mala dan Tante Marissa masih bercakap-cakap asyik ketika aku memasuki kamar tidur.. Tante Marissa tersenyum, “Tante tadi udah tidur, tapi gak begitu nyenyak, cuman tidur biasa aja, mungkin masih pengaruh jetlag diperjalanan kemaren, lagian selama dipesawat Tante juga tidur terus kok “ katanya lagi menjawabku. Aku hanya mengangguk dan tersenyum menerima penjelasan darinya, “Ya udah Kamu mandi dulu aja Fan, tante Mau beberes di depan dulu, sekalian mo cuci mobil” katanya lagi.

Aku hanya mengangguk tanpa berani untuk membuka percakapan lebih lanjut, duh bagaimana tidak kalo aku perhatikan, Tante Marissa secantik Tante Mala, dengan tubuh proporsional, saat ini hanya dengan bercelana pendek warna putih dan hanya berbeha warna merah bermotif kembang atau kupu-kupu putih dengan cueknya berdiri dihadapanku, yang jelas bikin aku jadi blingsatan dan kebingungan sendiri. Kalo saja dihadapanku adalah Moza tentu dia telah blingsatan untuk menutupi belahan Bra-nya, mungkin sedari awal dia sudah menutupi dengan tangannya dan berlari menjauhiku. Namun untuk Tante Marissa ini adalah hal yang lumrah.

Aku membasahi tubuhku dengan air, duh dingin sekali layaknya diguyur air es, memang biasanya didaerah pegunungan seperti ini, semakin siang, suhu semakin panas, namun air lambat menaikkan suhunya, sehingga air yang kita rasakan akan semakin dingin. Selama membersihkan tubuhku, pikiranku melamun, melamun kotor dan semakin kotor, duh seandainya tadi Tante Marissa mengajakku untuk mandi bareng, hehehe.. semakin lama semakin kotor… hingga menimbulkan gairah sendiri yang tak terbendung.

Selesai Mandi, cukup lama kurasa, hanya dengan bercelana pendek dan bertelanjang dada, kembali ke kamarku, saat itulah kulihat pintu kamar Moza yang setengah terbuka, mungkin tidak ditutup, dan kulihat Tante Mala telah duduk ditepi ranjang, Kulihat beliau nampak telah terbangun, kulihat juga Moza masih tertidur pulas. Sepertinya Tante Mala dan Moza tidur berdua, sekilas keperhatikan Tante Mala, dengan berbaju tidur warna putihnya, dan seperti biasanya dengan belahan sangat rendah dan tanpa bra, mungkin sedang mengumpulkan nyawanya agar lebih sadar. kulihat jam di dinding telah menunjukkan pukul 11 lewat.

Hanya sekilas, dan sepertinya Tante Mala tidak menyadari bahwa aku memperhatikannya, dan setelah itu aku bergegas ke kamar, memakai kaos belel untuk menutupi badanku, menyisir rambut dan mematut-matut diri sejenak. Seperti niatku semalam, aku hendak berkeliling rumah ini, meneliti keadaan sekitar. Keluar ruangan, kulihat kamar Moza masih terbuka, namun tak kulihat Tante Mala, mungkin beliau sedang ke kamar Mandi, pikirku. Aku bergegas keluar menuju ruang depan.

Kubuka pintu menuju beranda, rumah yang besar ini, dengan desain model lama, tampak megah dan indah, dengan pemandangan yang asri, halaman yang sangat luas, mungkin beberapa ribu meter, jauh dari tetangga, segar dan indah sekali. Halaman samping dipenuhi rerumputan dan tanaman yang indah dan asri, dibelakang rumah dengan dikelilingi tembok cukup tinggi dengan pohon bambu yang melingkupinya, tampak sebuah kolam renang yang bersih karena terawat dengan airnya yang bening kebiru-biruan. Dengan kondisi seperti itu mustahil orang lain dapat melihat aktifitas di kolam renang dari luar.

Memandang kembali ke arah depan, kulihat di jalan masuk tampak Tante Marissa sedang mencuci mobil, masih dengan pakaian tadi dengan cueknya, bercelana pendek warna putih dan hanya mengenakan Beha warna merah bermotif putih. Tampak asyik sedang mencuci mobil, aku sendiri agak heran, karena jelas semalam aku tidak melihat mobil sedan terparkir disana, jelas bukan mobil Moza yang semalam aku kendarai, mungkin ini mobil beliau yang memang sengaja disimpan disini, memang mobil itu tampak agak kotor, yah mungkin karena tidak pernah dipakai dalam jangka waktu yang cukup lama.Yah toh mungkin ini sah-sah saja, karena jelaslah buat orang berada seperti beliau apa sih yang tidak mungkin ? dengan pikiran bahwa jika beliau sewaktu-waktu kembali ke indonesia, dan harus menggunakan mobil sewaan dan harus menginap di hotel dalam jangka waktu yang cukup lama, tentu hal ini cukup memboroskan, apakah tidak lebih baik jika beliau mempunyai tempat tinggal sendiri dan kendaraan sendiri yang kapan saja hendak digunakan.

Kuperhatikan Tante Marissa tampak mencuci dan membersihkan mobil tersebut, menggunakan ember dan selang yang ada, tampak asyik dan serius, duh kenapa dia tidak menyuruh Mang Dharta untuk membersihkannya ? pandanganku jadi berkeliling kembali, mencari sosok mang Dharta, dimanakah beliau gerangan ? tak nampak sosok yang aku cari. Akhirnya aku memutuskan untuk berjalan mendekati Tante Marissa, untuk menanyakan mengapa ia mencuci mobil sendiri ? dan mungkin aku dapat membantunya.

Tapi langkahku terhenti, rasanya ada langkah berat yang menahanku untuk membantunya, pikiran kotorku mulai datang, karena dari posisi disini, cukup jelas terlihat sosok indah itu, Tante Marissa dengan bodynya yang cukup aduhai dan menantang tampak seolah menggodaku untuk memperhatikannya lebih jauh. Duh, emang dasar aku mempunyai pikiran kotor, orang lagi mencuci mobilpun aku dengan mudah membayangkannya dengan hal yang ngeres !.
Apalagi pada saat beliau sedang berjongkok untuk membersihkanbagian bawah mobil , seolah aku dapat melihat jelas kedalam selah diantara celana pendeknya, bahwa saat ini beliau tidak menggunakan celana dalam… aduh !

Entahlah memang asyik melihat pandangan seperti ini dan makin lama rasanya aku semakin terperangkap, mulanya ada rasa ragu dan takut, namun hal ini seakan sudah menjadi biasa, dan lama-lama aku menganggapnya menjadi hal yang lumrah. Jadi ngaco nih !
Aku kembali masuk kedalam rumah, masih lelah sepertinya, ngantuk masih menyergapku, akhirnya aku kembali ke kamar, mencoba membaringkan kembali tubuhku, hingga rasa lapar menyergapku.

Tak banyak kegiatan dilakukan hingga sore hari, makan siang telah disiapkan oleh istri mang Dharta yang datang berkunjung setelah dijemput oleh suaminya, setelah itu Mang Dharta pergi mengantarkan sang istri dan berjanji akan kembali setelah malam. Hari hanya diisi oleh obrolan-obrolan hangat antara kami, Aku, Moza, Tante Mala dan Tante Marissa. Karena aku hanya laki-laki seorang dan rasanya tak enak berkumpul dengan para wanita cantik yang kadang bercanda tertawa terbahak pada saat menceritakan hal-hal lucu dengan diiringi tingkah laku yang kadang membuat aku jengah. Yah bagaimana tidak, dengan pakaiannya yang menurutku agak terbuka, Tante Marissa yang dengan hanya mengenakan Beha, Tante Mala yang mengenakan Daster Tipis Tanpa Beha dan Moza yang mengenakan T-shirt longgar dengan berbelahan rendah, jelas membuatku rada sungkan.

Tapi memang mungkin karena aku mudah untuk menyesuaikan diri dimana saja, dan kadang dengan sifatku yang ceria dan mudah memancing tawa orang, dan ini membuatku gampang diterima orang lain. Kadang sambil bercerita lucu dan celetuk2an yang membuat mereka tertawa terbahak, malah pernah tanpa kuduga Tante Marissa tertawa terbahak sambil memeluk aku ketika beliau ingin membeli makan malam ayam goreng kentucki (Baca: Kentaki) dan aku beri gurauan bahwa kentaki disini adalah artinya “Kenyang Tapi Keki”.

Beliau tertawa ngakak sambil memeluk aku dari belakang. dan jelas rasanya, payudaranya menyentuh punggungku, payudara nan besar dan kenyal itu seolah menempel ketat dibadanku, dan hal ini membuat pikiranku menjadi miring. Dan aku memutuskan untuk meninggalkan mereka kembali ke kamar, untuk rebahan.

Entah beberapa lama mataku terpejam, melayang sebentar dan kembali tersadar, demikian berulang-ulang, seperti gelisah, berusaha terlelap namun tak bisa terpejam, pikiran-pikiran kotor seakan tak mau hilang dari otakku. hingga sore menjelang.
Ketika aku tersadar, dari kamarku, sepertinya kudengar bunyi kecipak air dari kolam renang di sisi belakang rumah, entah siapa yang berenang dan bermain air disaat hari menjelang senja ini, namun seperti ada sesuatu yang menarikku untuk segera bangun dan melihat keadaan disana, entah kekuatan darimana yang membuat aku berusaha untuk berdiri dan bangkit, bergerak keluar dan menuju arah belakang rumah.

Waw... hanya itu yang dapat terucap dipikiranku, namun tak keluar dari mulutku, dari balik pintu belakang yang hanya terbuka kurang dari setengahnya, aku hanya berani melihatnya hanya dari balik pintu, tanpa berani walau sekedar melongokkkan kepala keluar, bagaimana tidak, kulihat Tante Mala hanya dengan kaos tipis dan bercelana dalam tampak duduk ditepi kolam, sementara kulihat di kolam, Tante Marissa sedang asyik berenang ria dan yang membuatku terpana adalah nampaknya Moza juga ikut menyeburkan diri ke kolam. Namun satu hal yang membuat aku agak terkejut adalah, Tante Marissa dan Moza saat ini berenang tidak dalam keadaan tertutup, alias keduanya berbugil ria ! duh ampun mak !

Gemetar lututku menyaksikan hal itu, layaknya Jaka Tarub sedang mengintip bidadari yang sedang mandi, sulit aku gambarkan bagaimana rasanya hatiku, deg-degan dan entah apa lagi. Kulihat tante Marissa asyik berenang kesana kemari, payudaranya yang besar dan indah seperti bergoyang mengikuti irama air yang berombak akibat kecipak tangannya. Dan yang membuatku terkesima adalah, Moza, baru kali ini aku melihat bentuk payudara indah, putih dan besar proporsional layaknya sang mama, dengan puting coklat kemerah-merahan, selalu terayun-ayun, Moza yang selama ini kukenal agak malu dan selalu menutupi tubuhnya kini sepertinya cuek, berenang kadang menyelam kedalam air, menikmati suasana sore yang menyegarkan.

Kulihat mereka tertawa, bercanda, entah apa yang mereka jadikan bahan obrolan dan candaan, namun ketika itu kulihat Tante mala sepertinya dipancing oleh tante Marissa dan Moza untuk segera terjun kedalam air. Dan benar saja tak lama kemudian, Tante Mala tampak menuruni kolam, merasakan dinginnya air kolam itu, dan tanpa melepaskan baju tipis yang menempel ditubuhnya, meluncur berenang.

Setelah beberapa kali bolak-balik kulihat Tante Mala kembali ketepian kolam, kini bajunya yang tipis telah basah kuyup, menggambarkan lekuk tubuhnya hingga kentara terlihat, membuat hatiku semakin tak karuan, membuatku teringat akan kejadian beberapa saat lalu, ingin rasanya aku mengulang kembali kejadian itu, menggauli dan menyetubuhi Tante Malaku !
Ya ampun, karena kulihat ia mengangkat bagian bawah baju tipisnya hingga keatas kelehernya, ia akan menanggalkan juga bajunya, ia akan berenang bugil juga... oh my god !

Namun rupanya dugaanku meleset, rupanya ia hanya memeriksa bagian dalam tubuhnya, mungkin karena ada sesuatu atau ia merasakan hal yang membuatnya tak nyaman, karena tak lama kemudian kulihat ia menurunkannya kembali, menutupi tubuhnya. Dan tak lama kemudian ia beranjak naik ke pinggir kolam. Duduk ditepian menyaksikan adik dan anaknya berenang.

Aku segera berbalik, tak enak rasanya bila mereka memergokiku sedang mengintipi mereka yang sedang tidak berbusana, aku cepat-cepat berbalik menuju kamarku, dan melanjutkan aksi melamunku.

Hingga hari menjelang gelap, kudengar suara air memancar dari kamar mandi, mungkin Tante Mala atau Moza sudah selesai melakukan aktifitas berenangnya, aku segera keluar kamar, seolah-olah baru bangun dari tidur. Dan benar karena pada saat aku melewati kamar Moza, kulihat dia sedang duduk ditepi ranjang, aku hanya melihat sekilas, kulihat dia yang masih mengenakan celana dalam warna merah dan kaos tipis berbelahan rendah.

Bergerak aku menuju ruang tengah, menuju sofa, menyaksikan televisi yang rasanya sudah menyala semenjak pagi. Mennudukkan diriku diatas sofa dan mengangkat kakiku menjulur, merebahkan badanku dan meraih remote untuk memilih acara yang entah apa ingin kusaksikan.

CHAPTER 13 : BOBO BARENG MOZA

Hari baru berangkat senja, ketika kurasa cacing-cacing didalam perutku mulai mengamuk, namun enggan rasanya aku menghampiri meja makan, saat ini pikiranku mungkin sedang dilanda hal yang “lain”. “Sialan… !” gerutuku dalam hati, gara2 melihat peristiwa tadi, pikiranku mulai kotor, perutku serasa kenyang dan sering mendesir, birahiku menjadi naik.

Pikiran-pikiran kotor itu terus menerus membayangiku, mataku yang sedari tadi menatap televisi, sepertinya hanya sekedar mengarahkan pandanganku saja, namun pikiranku jauh dari materi acara yang disajikan. Tanpa kusadari tanganku masuk kedalam celana pendekku, mengelusnya perlahan dan kemudian mengurutnya dengan lembut, pelan, cepat dan semakin cepat.

“A..!” kaget aku mendengar suara dibelakangku, buru2 aku tarik tanganku dari dalam celanaku, segera kupalingkan wajahku ke arah belakang menuju arah sumber suara, “Eh Moz”, dengan gugup aku menjawab Moza, aku bersyukur senderan sofa menghalangi pandangan Moza terhadap “Aktivitas” yang aku lakukan, aku mencoba tersenyum.

“A… kirain kemana, lagi nonton tivi Aa ?” katanya lagi dan menghampiriku, kemudian duduk disampingku, “Iya nih, Cuma gak ada yang rame !” sahutku sekenanya menjawabnya, sambil memegang remote dan memencetnya berulang-ulang, seperti mencari siaran acara tivi yang kiranya cukup menarik untuk ditonton.

Aku meliriknya sekilas, dengan baju putih pendek berbelahan dada rendah jelas memperlihatkan kakinya yang panjang, potongannya yang pendek membuat pahanya terlihat jelas hingga pantatnya yang munjung kebelakang terlihat jelas lekuknya, hal ini jelas membuatku menarik napas panjang, entah apa yg ada dipikiranku, senang karena ada pemandangan indah disebelahku namun sekaligus menyesalinya karena tidak berani untuk menyentuhnya. Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal, mencoba menahan napas untuk membuang jauh2 pikiran kotorku dan berusaha untuk menenangkan dedekku yang sesaat tadi mulai mengendur dan berusaha untuk bangkit kembali.

“Seger banget Moz,” kataku mengomentari penampilannya, “Iya nih tadi abis berenang ama Mama dan Tante Marissa, coba tadi aa ikutan berenang, tidur mulu sih “ katanya sambil tersenyum sumringah. Aku nyengir membalasnya, “Ngantuk banget Moz, emang sih tadi kayaknya enak buat berenang, coba kamu bangunin Aa” kataku lagi, padahal dalam hatiku, kalo aku tadi ikutan renang, wuih.. bisa kacau !.

“Mama ama Tante kemana Moz ?” tanyaku padanya, “Tau tuh, tadi sih abis renang masih dikamar, tidur kali ” katanya menjawabku, “Ohh.. “ aku hanya menyahutinya singkat, “Duh laper nih, kamu laper gak Moz ?”, “Laper sih, tapi nanti aja dulu, Aa kalo mau makan, makan aja duluan, tadi Bi Inah, istrinya mang Dharta udah masakin tuh”, katanya sambil menunjuk dengan dagunya kearah meja makan.

Aku yang memang sudah lapar sejak tadi tanpa menunggu lebih lama, segera bangkit dari dudukku, menghampiri meja makan, namun baru saja aku hendak mengambil piring yang terletak diatas meja disalah satu bangku yang terdekat dengan kami, pintu kamar ruang tidur Tante Mala tampak terbuka, dan dari sana keluarlah sesosok tubuh yang cantik dan segar, dan tak lama kemudian menyusul keluar pula sesosok tubuh yang tak kalah cantiknya. Aku terpana melihat mereka, dengan dandanan yang mengundang, seolah mereka hendak pergi ke suatu pesta.

“Waw”, aku hanya bisa melongo dan tak ada kata-kata lain yang terucap, duh, mereka bagaikan para dewi yang baru turun dari kahyangan, bagaikan anak muda yang hendak pergi ke pesta untuk pertama kalinya, kalo diliatin terus mungkin tanpa sadar dari mulutku bakal menetes liur.. hehehe..

“Wah, Mama ama Tante pada mau kemana nih ?” dalam rasa keterkejutanku yang belum hilang, terdengar suara Moza memecah kesunyian, “Hmm, jelaslah kita-kita mau ngeceng, emangnya kamu aja yang bisa ngeceng”, sahut Tante Mala menjawab pertanyaan Moza sambil tersenyum, seolah tak menganggap pertanyaan Moza penting. “Idiih Mama..!” sahut Moza protes karena pertanyaannya dianggap angin lalu oleh sang mama. “Ini loh Moz, Tante kan mo ada reuni temen sekolah waktu SMA Tante dulu, acaranya malam ini, jadi kita-kita mau kesana loh Moz, So gimana dandanan kita2 ?” Tanpa menunggu jawaban dari Tante Mala, Tante Marissa menjawab pertanyaan Moza sekaligus meminta komentar dari Moza mengenai penampilan mereka.

“Loh kok Mama Ikut ?” Sahut Moza seakan tidak memperdulikan penampilan mereka dan malah seakan memprotes keikutsertaan sang Mama, “Lah Mama kan masih satu SMA juga ma Tante, jadi ya mama ikut juga la Moz !” sahut sang Mama. Kemudian tanpa diduga sang Mama menghampiri aku dan Moza, kemudian berkata “Fan, Moz, gimana penampilan Tante, Bagus Gak ?” dan layaknya seorang model diatas catwalk, Tante Mala bergerak berputar2 mengelilingi meja makan. Aku yang tadinya memegang piring, segera meletakkan piring ditanganku dan segera memasukkan tanganku kedalam mulut dan bersuit nyaring.. “suit.. suit”

duh kalau diliat dari dandanan Tante Mala dan Tante Marissa, mereka layaknya gadis belasan tahun, terutama penampilan Tante Mala, yang kunilai lebih “berani”, dengan baju warna hitam, yang terbelah dari mulai bawah pinggul sampai ke kaki, jelas menampilkan keindahan pahanya yang putih, panjang dan mulus. kupikir disini akan ada protes dari sang anak melihat penampilan sang Mama, namun setelah kutunggu beberapa saat ternyata tidak, sepertinya Moza sudah paham dengan karakter sang Mama, karena kalaupun diprotes akan percuma saja, so let it, percumah !.

Namun tidak dengan Tante Marissa, kulihat beliau berpenampilan lebih sopan, dengan memakai terusan warna putih.

Entah bagaimana sepertinya ada perasaan dalam diriku yang sukar kugambarkan, seperti sayang, cemburu atau apa, melihat mereka mengumbar kecantikan mereka, untuk dinikmati oleh orang lain. Tapi untunglah saat ini mereka tidak seperti yang sudah-sudah, biasanya mereka berpenampilan dengan menonjolkan belahan atau lekuk payudara mereka, namun kali ini mereka sepertinya kompak untuk hanya sekedar memperlihatkan bahu mereka saja !.

“Moz, ikut aja sekalian, kali aja ketemu sama Om-om tajir temen Tante, kali ada yang nyangkut” kataku kepada Moza sambil tersenyum penuh arti, “Ogah, idih najis, mendingan tidur di rumah dari pada ketemu pemuda kolot “ katanya sambil memonyongkan mulutnya kepadaku, “Hahaha” aku tertawa lepas, seolah berhasil aku memancing emosi Moza.

“Ok deh Moz, Fan, kalian di rumah baik2 ya…? titip-titip rumah “ sambil melangkah ke beranda, mereka mengangkat tangannya kepada kami, menandakan selamat tinggal, kami memperhatikan kepergian mereka, dalam hatiku ada sedikit rasa was-was memperhatikan mereka, duh jangan sampe mereka melakukan hal-hal yang tidak-tidak, ada pikiran kotor dalam benakku, jangan2 mereka nanti ketemu pacar mereka waktu SMA dulu, kemudian bernostalgia dengan mereka dan untuk merayakan pertemuan mereka setelah sekian tahun tidak bertemu mereka melakukan pertemuan yang “itu” .. duh.. !

Aku memperhatikan Moza sekilas, kulihat dia asyik memencet-mencet remote, sepertinya cuek dengen kepergian Mama dan Tantenya, sambil mengmbil piring yang kuletakkan tadi, kuperhatikan Moza, duduk setengah berbaring pada sofa, dengan baju terlihat jelas belahan dadanya yang rendah dari arahku berdiri, duh bikin hatiku deg-degan dan seperti ada gelitikan serr di perutku, aku membayangkan menonton teve sambil memeluk moza dari belakang, menyentuh dan memainkan payudaranya sambil menekan-nekan dedeku menyentuh pantatnya saja rasanya susah selangit, heheheh…

Aku duduk didepan sofa, tepat di depan Moza, malas aku duduk di meja makan, mending duduk di karpet tebal, menghadap televisi membelakangi Moza, berusaha menghirup aroma wangi dari perempuan di belakangku, ya itung2 sebagai penambah selera makan. Namun justru yang terjadi sebaliknya, aku yang sejak tadi mupeng terus, malah berpikiran macam-macam, makanan asal telan, televisi boro-boro disimak, yang ada didalam pikiranku adalah, bagaimana memanfaatkan situasi dan kondisi disini sebaik-baiknya, dimana didalam rumah sebesar ini cuma ada kami berdua, mang Dharta sang penjaga rumah entah berada dimana, yang jelas pikiranku yang ada saat ini adalah bagaimana caranya agar aku dapat memperoleh keuntungan dari situasi ini, jelas selama ini aku memang “kurang dekat” dengan Moza, selama ini walau hanya satu rumah, namun jarang sekali terjalin “komunikasi dua arah” yang sangat akrab dari kami berdua.

Waktu berlalu sepertinya sangat lama, selesai makan, setelah meletakkan piring kotor didapur, aku tadinya hendak duduk disamping Moza, di sofa, namun kulihat sepertinya sofa itu tidak muat untuk kami berdua, moza telah mengambil space terbesar, sehingga tidak enak rasanya kalo aku ikut duduk disofa tersebut, kalo gak muat terus di usir ama Moza, kan bisa malu seumur-umur aku. Akhirnya dengan berat hati aku mengambil posisi sama seperti aku makan tadi.

Mulanya aku hendak mengucapkan sepatah dua patah kata guna memecahkan kesunyian, namun seolah pikiranku blank menghadapinya, sulit lidahku untuk mengucapkan kata-kata, apa yang hendak kukatakan ? masa nanya masalah kuliah mulu ? basi ah !. tapi kan gak enak juga kalo duduk bedua tapi gak ada obrolan sama sekali. Sambil menyalakan rokok dan menghisapnya perlahan, berharap dengan merokok ada ide untuk membuka mulut dan menghilangkan kegugupan.
Akhirnya dari acara siaran tivi yang gak rame, kubuka omongan dengan menanyakan acara tivi kesukaannya walaupun sekedar basa-basi, dan obrolan berlanjut terus dengan santai, mengalir, sejam dua jam mungkin telah berlalu, namun dilain pihak, otak kotorku mulai bergerilya, mencari cara !

Dan sepertinya setan-setan berpihak padaku, memang dasar kalo sudah rejeki enggak kemana, sedang asyik-asyiknya kami ngobrol, dengan serunya.. tiba-tiba.. pettt !, listrik mati !

Sontak obrolan kami terhenti, moza terpekik perlahan, aku kaget, dan bertanya “Kenapa Moz ?”, “Duh Aa, Moza takut nih !” katanya dan saat itu serasa ada tangan halus yang memegang lengan bahuku erat. Rupanya Moza tadi begitu listrik mati, melompat berusaha beranjak turun, menurunkan kakinya dan tanpa diduga dia menginjak asbak yang aku pakai. Jelas sisi asbak dari keramik itu membuat kakinya terpeleset, entah terkilir atau tidak namun yang jelas ini membuat kakinya nyeri.

Saat ini disampingku duduk Moza sambil tangannya setengah memelukku, aku bingung apa yang harus aku perbuat, disekelilingku gelap gulita, aku menyalakan korek yang kupegang tadi, kulihat dalam kegelapan sepertinya raut muka Moza setengah pucat, entahlah apakah pucatnya dia karena kesakitan akibat kakinya tadi atau dari ketakutan akan gelap yang terjadi saat ini, ada sedikit rasa bersalah, gara-gara aku menaruh asbak sembarangan.

“Bentar Moz , A mo nyari lilin dulu” kataku sambil beranjak bangun. Dengan rasa pesimis aku berusaha menggapai meja disekeliling ruangan mencari dengan korek gas ku, dengan sebentar2 kumatikan dan kunyalakan akibat ada rasa panas yang menjalar, “Cepetan A, dapet gak ?” kudengar suara Moza, seolah berharap-harap cemas, setelah sekian lama aku mencari, dan hasilnya adalah nihil !

“Gak ada moz, ya udah deh... Susah nyarinya, a kan gak tau dimana naruhnya, coba a keluar dulu, a cari mang dharta, mungkin beliau ada dan punya lilin”, kataku dan dengan bermodalkan korek gas ditangan, aku bergerak menuju keluar ke paviliun, “A.. moza ikut !” terdengar suara Moza dibelakangku, langkahku terhenti, aku berbalik menghadapnya, dalam keremangan cahaya korek gas, kulihat Moza telah berdiri, dan berjalan tertatih-tatih menuju kearahku.

Aku menggamit lengannya, kemudian memeluk pinggangnya, sedangkan moza memegang bahuku, duh jarang-jarang terjadi nih, kami jalan berdua, perlahan dan itu memang sangat aku nikmati, karena mau tidak mau, saat ini payudara Moza menempel padaku... ngiri dah pokoknya kalo elo-elo pada liat !

Aku berharap mudah2an Mang Dharta tidak ada, kalo beliau ada dan memberikan lilin atau patromak mungkin keadaannya akan berbeda, dan jelas kemesraan ini akan segera berakhir.sesampainya di beranda depan, cuaca memang saat ini kurang bersahabat, dengan angin yang agak kencang dan keadaan langit yang berawan, dan sepertiny hujan mulai turun rintik-rintik, dan mungkin ini sebabnya aliran listrik dimatikan oleh PLN, mungkin karena didaerah ini masih banyak pohon-pohon besar, sehingga PLN mematikan arus listrik guna menghindari keadaan atau resiko yang timbul akibat adanya arus pendek.

Sulit kulihat kearah rumah didepan sana, sepertinya juga tak ada kehidupan sama sekali, sedangkan kulihat hujan semakin deras, dan suara petir juga terdengar sesekali. Kalo keadaan terpaksa mungkin aku akan berlari kearah jalan menuju ke tempat mang Dharta tinggal, namun ketika kulirik Moza untuk meminta izin meninggalkannya guna mencari mang Dharta, Moza seolah mengerti akan keinginanku dan berkata “Udah A, gak usah disamperin, mungkin Mang Dharta juga belom balik dari rumahnya, lagian hujan begini, dari pada Aa basah2an, mana gak ada payung lagi !”. “ya udahlah Moz, kita tunggu aja disini, mungkin Mang Dharta, nanti juga kesini “ Kataku lagi menenangkannya.

Menit demi menit berlalu, namun yang ditunggu tidak kunjung datang, sementara hujan semakin deras, dan angin juga semakin kencang, dari teras tempat kami duduk, hujan seolah mengincar kami, menyuruh kami untuk masuk, tampiasannya semakin merajalela menerjang kami, aku mengira mungkin mang Dharta dari rumahnya yang cukup jauh diperkampungan terhalang hujan menuju rumah ini, akhirnya aku mengajak Moza untuk masuk kedalam.

Saat ini mungkin jam telah menunjukkan pukul 9 lewat, kami berusaha menuju kedalam rumah, huh, sambil memasuki rumah, aku menutup pintu rapat2, kemudian menguncinya, Heh, rumah segede gini, udah lama tidak ditempati, dalam keadaan gelap gulita, seram juga rasanya, dan itu juga mungkin yang dirasakan oleh Moza. Kembali ke ruang keluarga, aku mendudukkan Moza di sofa, dan akupun duduk disebelahnya.

Moza membaringkan kepalanya disandaran sofa, rebah, seolah lelah dan takut menghinggapinya, kakinya berada sisamping pahaku, dengan rasa yang entah bagaimana, aku berusaha memijit pergelangan kakinya, kaki yang kukira semula terkilir sepertinya tidak ada lagi rasa sakit yang dideranya, entah apa yang ada di dalam benak kami masing2, mungkin dipikiran kami saat ini hanya berharap mudah2an listrik segera menyala kembali.

Aku memperhatikan tubuh indah didepanku ini, heran padahal udara lumayan dingin pada saat ini, dengan bajunya yang tipis dan setengah terbuka, memperlihatkan paha mulus, yang tak tahan aku untuk tidak mengelus dan mengusapnya, sesekali saat kilat menyambar, terlihat ujung bawah pakaiannya hanya sampai sebatas pinggul bagian, memperlihatkan dengan jelas celana dalam warna putih yang melekat menutupi gundukan mungil didepanku.
Entah darimana datangnya sepertinya udara semakin dingin, angin seperti menerobos masuk kedalam, kulihat gorden bergerak-gerak tertiup angin, dan tiba-tiba suara petir seperti terdengar dahsyat di dekat kami, Moza terpekik sesaat, kaget, kemudian mengangkat kepalanya dan berbalik, kali ini dia sambil menutup kupingnya, menyandarkan kepalanya di pahaku. “Aku hanya nyengir melihatnya, “Ya ampun Moz, udah gede gini kok takut ma petir”, Kataku memecah kesunyian, “ah Aa, Moza takut nih, jangan gitu dong !” katanya seperti setengah merajuk ! memang kalo kulihat sekeliling, dari bayangan cahaya yang tapak diluar akibat kilat yang menyambar-nyambar, layaknya seperti film horror, membuat suasana semakin mencekam, namun sepertinya hal itu akan berlangsung lama, duh, pikiran kotor yang semula menghinggapiku kini juga dicampur oleh rasa horror yang menyelimuti kami berdua.

Rasanya seram juga kalo terlalu lama berada diruang keluarga yang cukup luas ini, akhirnya aku memutuskan untuk menuju kamar kami masing2, mungkin masuk kamar akan menyelamatkan kami dari rasa takut, “Moz, pindah ke kamar aja yuk ah, aa juga udah mulai ngantuk nih”, kataku padanya. Moza mengangkat kepalanya yang semula berbaring dipahaku, dan seperti mengikuti apa saja mauku, kami berdua berdiri, melangkah menuju kamar, seperti yang kuceritakan kamar kami memang bersebelahan, dari posisi kami berdiri kamar Moza adalah berada paling depan dibanding kamarku, maka aku antar dia menuju kamarnya, hingga mencapai pintu.

“Aa mo tidur dimana ?” Tanya moza begitu melihat aku hanya mengantarnya sampai depan pintunya, dan hendak berbalik menuju pintu disebelahnya. “Ya dikamar sebelahlah, masa mo tidur diluar “ Kataku tersenyum, “ Jangan dong A, aa tidur disini aja ma Moza, temenin Moza, serem nih, moza kan takut !” katanya, entah mimiknya seperti apa, namun dari suaranya terdengar seperti memelas, memohon aku untuk berada disampingnya. Nah Ini Dia, kataku dalam hati, ini yang aku harapkan !. Namun sepertinya ada rasa takut yang menghinggapiku, entah kenapa, sepertinya malam ini ada pikiran-pikiran sehat yang hinggap didalam otakku, sepertinya ada rasa sayang yang lebih terhadap Moza, lebih dari sekedar rasa napsu yang menyelimutiku, ada rasa takut kalo-kalo ada yang memergoki kami tidur berdua, bagaimana kalo tiba2 nanti Tante mala dan Tante Marissa pulang terus melihat aku tidur di kamar Moza, bisa2 aku nanti dituduh masu menyelinap ke kamar Moza dan menuduh aku macam2 dengannya. Kalo Tante mala mungkin sudah cuek, namun bagaimana dengan Tante Marissa, aku kan belum mengenalnya secara mendalam, bisa2 aku dimarahinya habis-habisan karena melihatku berada seranjang dikamar Moza ?. Tapi bagaimana aku menolaknya, menolak untuk menemaninya dikamar ?

“Yee...masa takut sih sendirian, biasanya kan kamu juga sendirian di rumah” kataku setengah meledeknya, dan ini mungkin adalah caraku, tanpa mengiyakan atau menolaknya, aku dengan cepat menghindarinya dengan menggerakkan badanku menuju pintu kamarku yang berada tepat disamping pintu kamarnya. “Aa....” setengah menjerit Moza berlari juga, mengejar aku, menuju pintu kamarku, “Pokoknya gak mau sendirian, kalo gak moza tidur dikamar Aa” katanya lagi, sambil memegang erat-erat lengan bahuku dna mengikutiku melangkah, Aku terkekeh melihat ulahnya namun mungkin ini adalah hari mujurku, kalo Moza tidur dikamarku mungkin ini persoalan lain, berarti kan moza dong yang menyusup kedalam kamar aku dan bukannya aku yang menyelinap ke kamarnya, hehehe...

Segera aku tutup pintu kamar namun aku tidak menguncinya, berabe ah, kalo tiba2 Tante Mala dan Tante Marissa datang dan melihat kami di dalam kamar yang terkunci, bisa berpikiran macem2 mereka. Dan tanpa dikomando, Moza merebahkan diri di atas ranjang, walaupun udara menurutku sangat dingin, namun dalam keremangan, kulihat moza sepertinya tidak menarik selimut yang berada dibawah kakinya, ia hanya memeluk guling, dan kemudian dia berkata “Awas loe A, jangan tinggalin Moza, kalo gak Moza tereak2 nih !” aku hanya menjawabnya singkat “Iya...!” sambil duduk dipinggiran ranjang. Dan sepertinya moza mengerti, ia membalikkan badannya, menggeser tubuhnya seolah mempersilahkan aku untuk tidur disampingnya dan guling yang semula dipeluknya kini dilepasnya seolah menjadi sebagai pembatas tidur kami berdua. Aku merebahkan diri disampingnya, kini pikiran-pikiran kotor itu datang kembali, kulihat tubuh mulus yang kini membelakangiku, paha yang kini menekuk itu seolah menyodorkan pantat yang bahenol dengan celana dalam warna putih yang hanya tertutup sebagian seakan terus menggodaku, aku berusaha mengalihkan perhatian dengan menutupi mataku dengan pergelangan tanganku, membuat mataku terpaksa terpejam seakan hendak mengusir pikiran-pikiran kotor dari dalam benakku.

Beberapa saat telah berlalu, namun mata ini seakan tidak mau terpejam, pikiran2 itu semakin menguasaiku, seperti ada yang membisikkanku untuk segara melakukan aksi.. “ayo Fan..cepat lakukan, toh ini yang kamu tunggu-tunggu sejak tadi... cepat Fan...situasi ama kok !”
Begitulah sepertinya terus terngiang-ngiang didalam benakku, dan seakan ada yang menggerakkan tanganku, aku mulai memindahkan guling yang memisahkan kami berdua ke sisi badanku yang lain, sehingga kini tak ada batas pemisah lagi yang ada hanya ruang antara saja.
Namun bagaimana aku menggeser tubuhku agar dapat menempel pada tubuhnya, jangan2 gerakkanku ini malah membuatnya merasa risih tidur berada disebelahku, kemudian memintaku untuk bergeser menjauh, kan malu ! duh..!

Kudengar hujan sepertinya belum ada tanda untuk berhenti, suara petir masih sesekali terdengar dikejauhan. Sejak tadi kulihat pada tubuh Moza tidak ada gerakan sama sekali, hanya dapat kulihat gerakan dadanya turun naik, mungkin dia telah tertidur pulas, lelah kali setelah melakukan renang sore tadi. Namun sampai disini belum ada keberanian bagiku untuk melakukan aktifitas lebih jauh. Hingga ...

Aku merasakan hawa semakin dingin, aku bermaksud untuk menarik selimut yang berada dibawah kaki kami berdua, dan mungkin itulah jalan untuk melakukan aksi lebih jauh, sambil menarik selimut aku menggeserkan badanku untuk segera merapat dengannya, kututupi tubuh kami berdua, seolah menyatakan bahwa selimut ini lebarnya hanya muat bila kami tidur merapat. Sambil bergerak seolah memastikan bahwa selimut telah menutupi seluruh badan Moza, aku menggerakkan tangannya, mengangkat dan memindahkannya, masuk kedalam selimut, serta untuk memastikan bahwa Moza telah tertidur pulas.

Tidak ada gerakan perlawanan, sepertinya moza benar-benar telah tertidur pulas, aku juga memasukkan seluruh tubuhku kedalam selimut, hingga kini hanya kepala kami berdua saja yang keluar dari selimut, otak kotorku kini semakin merajalela. Aku berbaring terlentang, sementara moza membelakangiku, untuk mengetes apakah moza benar-benar pulas atau ada protes terhadap apa yang aku lakukan, aku menaruh punggung tanganku diatas pantatnya yang diselimuti oleh celana dalamnya, menggosok-gosokkannya sejenak, dan menunggu reaksi atas apa yang kulakukan.

Tidak ada reaksi sama sekali, dan ini jelas membuatku semakin ingin melancarkan agresi, kugeser perlahan tubuhku, merapat ketubuhnya, berbalik, menghadapnya, kemudian seolah bahwa aku juga tertidur pulas, dan tidak menyadari apa yang aku lakukan, seolah menganggap bahwa didepanku adalah sebuah guling dan bukan seorang perempuan cantik, putih dan mulus, aku memeluknya. Hanya memeluknya tanpa ada aktifitas lain, menunggunya bereaksi.

Beberapa saat aku menunggu dan tidak ada reaksi sama sekali, seakan wanita cantik yang telah dewasa ini benar-benar telah tertidur pulas, mengingatkanku pada sang Mama yang kalau tertidur seperti mayat yang sulit untuk dibangunkan. dan didalam benakku semakin lama semakin terngiang, seperti ada yang menyuruhku untuk berbuat lebih.

Dan kini tangan kiriku yang memeluknya, mulai melancarkan aksi lebih jauh, bergerak seolah memindai seluruh area yang bisa dijangkaunya, aku meletakkan lenganku diatas pinggangnya yang melekuk bagaikan gitar spanyol, menyelipkan tanganku kebawah lengannya, berusaha untuk menjangkau bagian depan tubuhnya, dadanya, menyentuhnya perlahan, menekannya sesaat , menunggu kalau-kalau ada reaksi yang diberikan moza, dan aku dapat menariknya dengan cepat untuk menghindari segala kemungkinan.

Aku berusaha mencari, gundukan bukit indah, merabanya dan membayangkannya, entah berapa ukuran yang aku raba ini, mungkin 36 B, yang jelas gundukan besar dan halus ini kini berada dalam telapakku, aku mengelus-ngelusnya perlahan, dan kini dedeku yang berada dalam celana pendekku semakin mengeras dan menempel dengan ketat pada selangkangan Moza.

Dan seperti biasa, semakin kita minum air laut semakin dahaga kita, begitu juga denganku, mungkin kalau dalam keseharian tidak mungkin aku menyentuh payudara moza dan kini aku dengan bebas bisa menyentuhnya, namun menyentuh saja menurutku belum cukup dan aku menginginkannya lebih. Aku segera menarik tanganku yang memeluk Moza, tidak ada reaksi yang terjadi, menahan napas sejenak, memasukkannya kedalam celana pendekku, terus menelusup kedalam celana dalamku, mengelus-ngelusnya sesaat, mengocoknya perlahan, membuatnya semakin membesar dan membesar.

Ide gila baru demi menuntaskan hasrat birahi juga semakin menggelora, timbul dalam otakku, untuk mengeluarkan sang dede, menarik ristleting celanaku kemudian menurunkan celana dalamnya, hingga berada dibawah buah zakarku, kini sang dede, mencelat keluar, melewati lubang ritsleting, menjulang dengan perkasa. Entah apa yang merasukiku, membalikkan badanku, menghadap kearah Moza yang kelihatan semakin pulas tertidur. Kemudian aku menarik celana dalamnya, perlahan-lahan menurunkannya sampai sebatas paha, hingga kini didepanku tergeletak tubuh cantik, mulus dengan baju yang awut-awutan, mempertontonkan bagian kewanitaannya !.

Sambil memegang sang dede, kemudian mengarahkannya kedalam celah belahan bokong perempuan di depanku, ada sedikit rasa takut menghinggapiku, takut bila ada kemungkinan wanita di depanku ini terbangun karena ada sesuatu yang mengganjal dibelahan pantatnya.


Sepertinya menempelkannya pada bokong indah dan memasukkannya kedalam celah diantara selangkangannya sudah merupakan sensasi tersendiri yang kualami, seandainya perempuan yang tertidur pulas didepanku ini bukan merupakan perawan suci, mungkin aku akan bertindak lebih, ada rasa takut, rasa sayang yang kurasakan, otak murniku seolah mengatakan “cukup, cukup sampai sejauh ini saja, kamu jangan bertindak terlalu jauh !”.

Aku kembali memasukkan tanganku kearah depannya, memeluknya seolah tak ingin terlepas darinya, merasakan sensasi lebih, membayangkan seolah wanita dihadapanku rela dan pasrah aku lakukan apa saja terhadapnya. Memeluknya perlahan, menyentuh bagian belahan payudaranya, mengelus-ngelus tonjolannya dengan sabar dan halus, agar sang empunya tidak merasa terusik, namun semua itu serasa masih kurang, aku ingin lebih !.

Tanganku mulai bertindak lebih jauh, aku mulai menarik bagian yang menutupi payudaranya, menarik tali yang menyangkut dipundaknya, menurunkannya hingga sebatas lengan bahu, kini payudara putih mulus dan montok itu semakin terkuak terbuka. Dan ini yang membuatku terkejut, kukira Moza menggunakan Beha, ternyata gundukan bukit tersebut tidak dilapisi oleh pelindung apapun !. Dalam kegelapan, tanganku merayap, menelusuri bukit indah tersebut, mengelus seakan-akan menyentuh guci antik, yang jika diperlakukan kasar akan membuatnya lecet.

Detik demi detik berlalu, menit demi menit, aku menikmati sensasi yang diberikan, imaginasi semakin berkembang, aku seakan terhanyut, lepas, menikmati apa yang diberikan oleh otak mesumku !. imaginasiku semakin liar dan tak terkendali, dengan perlahan aku mulai memaju mundurkan pantatku, seakan dedeku meminta untuk digesek-gesekkan kedalam belahan pantat moza, sementara tanganku semakin agresif, dari yang semula hanya menyentuh, mengelus, dan meraba-raba, kini perlahan mulai menekan, dan sedikit memberikan remasan. Hingga...

Entah apa yang dirasakan oleh moza, mungkin dalam mimpinya, ada sesuatu yang membuatnya terusik, atau memang karena sang tubuh memberikan respon akibat adanya suatu aksi, tiba-tiba ia membalikkan badannya, tubuhnya yang semula membelakangiku, kini terbaring terlentang, sebelum itu terjadi, dengan cepat aku menarik tanganku, menarik pantatku, dan segera berbalik, membuat tubuhku terlentang, sejajar dengannya. Kini tubuh kami berdua terlentang, sama-sama menghadap ke atas.

Aku menunggu beberapa saat, ada rasa takut menghinggap, takut akan keadaan, bahwa Moza akan terbangun, sedangkan pada saat itu, tubuhnya yang berada dibawah selimut, mungkin telah acak-acakan dengan posisi baju yang melorot kebawah, dan payudara yang mencuat keluar, sedangkan celana pendek beserta celana dalamku telah melorot kebawah dengan posisi si dede mencelat keluar menjulang, namun untunglah saat ini tubuh kami berdua telah tertutupi oleh selimut.

Kudengar deru napas halus, kulirik kesamping dan kulihat Moza, nampak masih tertidur pulas, bibir merah delima, nampak terkatup rapat, hidung mancung dengan wajah yang menampilkan kecantikan dan kepolosan, seperti tersenyum. Keindahan yang kulihat dalam kegelapan saat ini benar-benar memukau diriku. Duh seandainya bibir itu dapat kusentuhnya dengan bibirku, memadukannya, merasakannya, mungkin tidak ada didunia ini yang dapat menyaingi keinginanku ini. Namun tak ada keberanian dalam diriku untuk melangkah sejauh itu.

Kepuasan mungkin tak akan pernah dapat terpenuhi sejauh manapun kita mencarinya, kita akan selalu mengharapkan lebih, begitu juga dengan diriku, kenikmatan yang tadi kudapat sepertinya belum mencapai puncaknya dan aku ingin semua ini tertuntaskan, setelah beberapa saat menunggu dan sepertinya tidak terjadi hal-hal yang kiranya dapat menggagu proses ritualku, kuangkat kembali tanganku, membalikkan badanku kembali kearah moza dan mulai menggerakkan kembali agresi militer ke jalur dada.

Moza sepertinya tidak terusik dengan ulahku, seakan terhanyut dengan mimpinya. Kuraba kembali bagian dadanya, menyentuh bukit lunak yang terbuka lebar, meraba, mengelus dan meremasnya perlahan, memainkan tonjolan kecil dipuncaknya dengan jari telunjuk dan tengahku, menelusuri lingkaran hitam disekelilingnya seakan membuat jalur lingkaran baru, kemudian menyentuh serta menjepit putingnya, seakan ingin memberikan sensasi kepadanya, dan membuat gunung kembar itu seperti semakin mengeras dan kencang, serta benda kecil dipuncaknya juga semakin keras dan menegang.

Dan seranganku semakin menjadi-jadi, aku kembali ingin merasakan sesuatu yang lebih dan baru, aku mengangkat kepalaku, menahan badanku dengan tangan kananku, menjulurkan leherku kearah dada Moza, kini aku mencoba mencicipi benda berwarna pink kecil yang menonjol diatas gundukan putih mulus, menjulurkan lidahku, memainkannya dengan ujung lidahku dan aku mencoba untuk menghisapnya secara perlahan. Dan seranganku semakin merajalela, seakan aku tak perduli dengan akibat yang ditimbulkan dari semua ini, sambil menghisap-hisap pelan putting dengan aroma tubuh yang khas ini, tanganku meraba bukit kecil dibawah, menelusurinya, meraba gundukan itu, menyentuhnya perlahan dan mengelus-ngelusnya merasakan bulu-bulu keriting halus yang serasa kasar bila diraba dari luar celana dalam, dan sampai sejauh ini Moza seakan tak terganggu dengan apa yang kulakukan.

Detik bergerak ke menit, entah sudah berapa lama waktu berlalu, tangan kiriku yang menyerang bagian bawah semakin agresif, seolah aku ingin mengetahui bagaimana reaksi yang terjadi bila penetrasi yang kulakukan semakin dalam dan jauh, dari hanya mengelus bagian luar celana dalam, hingga aku mulai menggeser celana dalam tersebut, menyingkapkannya, dan mulai memainkan jemariku didalam sana.

Perlahan aku mengelusnya dengan jari tengahku, kemudian mulai menekan-nekan belahan bibir bawahnya, mengusap-usapnya, terus.. terus… dan terus…. berulang-ulang kali kulakukan, dari bagian gundukan yang ditumbuhi bulu-bulu halus, hingga kebawah, dan tanpa diduga sepertinya ada reaksi dari apa yang kulakukan, kaki kanan moza secara mendadak bergerak, upss dengan cepat aku menghentikan serangan, sejenak, dan moza melebarkan kakinya, kini posisi paha moza seperti terbuka, dan bagian bawah belahannya tersebut semakin terbuka lebar !.

Aku membalikkan tubuhku, pegal kurasakan, kini aku berbaring sejajar dengannya, kini tanganku yang kanan bergerak menuju bagian tubuhnya, memegang gundukan mungil dibawah, entah apa yang ada dibenakku, seolah-olah menjadi gelap, aku melancarkan serangan semakin gencar. Meraba bagian selangkangannya, meraba bagian bawahnya, kini kurasakan bagian dalamnya semakin lembab dan semakin basah, sementara tangan kiriku memegang si dede, mengocoknya, mengikuti irama tangan kananku yang sedang menyentuh dan meraba bagian sensitif Moza.

Dalam dinginnya malam, sepertinya hanya terdengar deru napasku yang berat dan memburu dan ketika napasku kutahan, entah terdengar pula napas berat dan memburu yang terdengar halus sepertinya moza juga mengalami sensasi yang sama, walau mungkin dari mimpi ataupun alam bawah sadarnya.

Hingga… ketika ada dorongan yang sangat kuat untuk segera menuntaskannya segera, ketika sang birahi menyeruak mencapai puncak, menghentikan serangan pada daerah lawan, memfokuskan pada pertahanan diri, dari gempuran yang akhirnya tak dapat kutahan, memuntahkan seluruh amunisi, cairan panas dan kental kini bertumpahan dari pipa meriamku !. Menahan napas sesaat, lemas serasa seluruh badan.

Sesaat hening menyeruak, tanpa kusadari hujan telah berhenti, kurasakan deru napas halus yang memburu sepertinya terdengar dari sebelahku, namun sepertinya aku tak perduli, lemas kini yang kualami, setelah sensasi yang terjadi tadi, tak perduli ketika moza membalikkan badannya, membelakangi diriku kembali. Aku hanya menarik napas perlahan, terpejam, mencoba untuk membuat diriku tertidur.

Entah berapa menit berlalu, mataku seolah tak mau terpejam, tiba-tiba listrik yang semula padam, menyala, menerangi seluruh isi kamar, membuat mataku silau sesaat. Mengejap-ngejapkan mata, berusaha bangkit, haus mendera, duduk aku disisi moza, menatapnya sesaat. Tubuh cantik yang kini tergolek disampingku ini, terpejam tanpa beban. Duh seandainya yang tergolek ini adalah istriku, alangkah bahagianya diriku, menghayalkannya sesaat, dan seperti ada yang memerintahkan dalam diriku, kuangkat selimut yang menutupinya, menikmatinya sejenak kemudian membetulkan pakaiannya yang tak beraturan oleh ulahku, menatanya kembali ke keadaan semula, menarik tali pundak yang turun ke tempatnya semula, kemudian menutupinya dengan selimut.

CHAPTER 14 : DENGAN TANTE MARISSA

Aku keluar kamar dengan perasaan tak menentu, listrik yang telah menyala kembali, menerangi langkahku, mengarahkan kakiku kearah ruang makan, mengambil gelas, mengisinya dengan air, meneguknya cepat, seperti ada rasa haus yang mendera setelah sekian lama kerongkongan tidak dibasahi, walaupun udara dingin merasukiku sampai ke sendi tulang. Dan sepertinya kudengar dari arah depan layaknya suara ban yang melindas batu-batu kerikil, aku memasang telinga lebar-lebar, menatap kearah ruang depan. Kulirik kearah dinding, jam menunjukkan pukul 12 lewat, rasa keingintahuanku segera hilang, ketika kudengar suara mobil seperti menekan gas dalam-dalam, seolah untuk memastikan bahwa itu adalah hembusan yang terakhir yang terbuang, sebelum mematikan mesin. Tante mala dan Tante Marissa pulang !.
Kuarahkan kakiku kearah ruang depan dengan cepat, membukakan pintu yang tadi aku kunci, beruntung aku masih terbangun, seandainya pintu dalam keadaan terkunci seperti ini dan aku pulas dikamar dengan Moza, situasi bisa kacau, bukan tidak mungkin perempuan itu yang terbangun lebih dahulu dan membukakan pintu dalam keadaan bajunya yang berantakan, mungkin akan menjadi bahan pertanyaan bagi sang Mama dan Sang Tante dan mungkin yang lebih parah lagi adalah akan membuat amarah Moza tersulut.. ngeri ah ngebayanginnya !
“Hai Fan, belom bobo ?” seru Tante Marissa, saat melihatku membukakan pintu untuknya, hmm, sepertinya tercium hembusan napas yang beraroma minuman keras dari mulutnya, kulihat ia berjalan melewatiku terburu-buru, aku memandangnya wajahnya sekilas dan menjawabnya, “Belum Tan, belum ngantuk nih” kataku sekenanya, dan sepertinya beliau tak menunggu jawabanku, “Fan, liat tuh Tante Mala, tolong bantuin dia gih “ kata Tante Marissa lagi, sambil menunjuk kebelakangnya dan kemudian berusaha meneruskan langkahnya tanpa menunggu reaksiku. Aku melihat memalingkan mukaku kearah yang ditunjuknya, dan kulihat disana, ke arah mobil, tante Mala tampak duduk dikursi depan, pintu mobil terbuka namun beliau kelihatan masih duduk, berusaha dengan susah payah untuk turun dari mobil.
Aku melihat ke arah Tante Marissa seolah hendak menanyakan ada apa dengan Tante Mala. Dan sebelum aku keluar kata-kata dari mulutku, Tante Marissa melanjutkan perkataannya, “Hihihi, lagian gak biasa minum, pake ikut-ikutan minum, ya begitu deh “ kata tante Marissa sambil cekikikan, “Aduh tante kebelet nih, pengen pipis “ dan selanjutnya beliau melanjutkan langkahnya dengan tergesa-gesa.

Aku segera keluar menghampiri mobil di depan, kulihat Tante Mala, tampak memejamkan matanya, entah tertidur atau tidak, namun dengan perlahan aku meraih tangan beliau, menggamitnya, menarik keluar tubuh beliau, kulihat mata beliau terbuka, tersenyum seakan senang melihat kedatanganku, tersungging senyuman dari bibirnya, “Hai Fan “ hanya itu saja kata-kata yang keluar dari mulutnya. Pasrah, tak ada gerakan meronta atau melawan, ketika aku menarik tubuhnya, menaruh lengannya dibahuku, memapahnya menuju ruang dalam.
Entah sadar atau tidak, tante Mala menurut saja, dari mulutnya terdengar kata-kata meracau yang aku tidak mengerti, pikiranku hanya terfokus pada membawanya ke dalam rumah, entah sepertinya saat ini aku tidak memikirkan hal yang lain, walaupun kurasakan payudara Tante Mala menempel ketat pada badanku, mungkin kalo saja dilain kesempatan, itu merupakan hal yang selalu kuinginkan, membopongnya, mengambil kesempatan sambil meremas-remasnya, namun saat ini hal tersebut kubuang jauh-jauh dari pikiranku.

“Mabok bae… mabok bae….”jah kayak lagu aja, makanya bu, kalo mo mabok liat-liat dulu, untung ada Tante Marissa, coba kalo sendiri, mungkin dalam keadaan tidak sadarkan diri seperti ini, dan melihat pakaian yang dikenakannya, akan mengundang kaum adam untuk menyentuhnya, duh bisa diapa2in nih Tante, bisa-bisa diperkosa asal-asalan, hehehe..
Lagian apaan sih yang diminum ? Chivas, Vodka, Martini, Scotch, Apa Tomi, alias topi Miring ? kalo yang minum ini katanya topinya musti dimiringin biar keliatan jalannya lurus, yee walaupun gw orang kampung, gue juga tau nama-nama minuman keras, pan gw sering nonton pilem, jadi gak gaptek-gaptek amat soal gituan, minuman.
Emang elo sekali mo mabok, minuman apaan aja dicampurin, dioplos, mending minuman, lah kadang bukan minuman dicampurin, alkohol 70%, kratingdaeng, spirtus (yang ini bukan minuman bro, ini biasa gw pake buat nyalain patromak, lampu yang dipake mas kiwil buat dagang nasi goreng !), semuanya dah masukin, biar cepet fly, sekalian aja loe masukin, minyak tanah, obat merah, kunyit ama jahe, sekaligus buat ngobatin korenglo ! huakakak.
Eh sekalinya dibawa ke bar, bingung, gak tau mo mesen apaan, bingung ama nama yang aneh-aneh, takut salah, begitu ditanya mo pesen minum apaan, maen jawab aja, “Jeniper” kali ini bartender-nya yang bingung, perasaan dari deretan minuman sebanyak ini, gak ada deh yang namanya Jeniper, lah iyalah, jeniper yang dimaksud ‘kan “Jeruk Nipis Peres”, xixixixi

Perlahan, selangkah demi selangkah, tubuh mulus, sintal, bahenol ini kupapah menuju kamar, kamar tengah yang kosong, yang sebelumnya ditempati olehnya dan Moza. Kuletakkan tubuhnya di pinggir ranjang, mendudukkannya, kemudian merebahkannya, aku angkat kakinya, dan menaikkannya keatas.

Entah sepatunya terlepas dimana, yang jelas saat itu kakinya yang telanjang, dengan betis jenjang, kusejajarkan dengan tubuhnya yang sudah terbaring. Ada rasa aneh menghinggapi dadaku, mengingat kejadian malam dahulu, ketika tubuh mulus yang dimiliki wanita cantik ini menggoda imanku. Teringat akan kejadian dimana aku menikmati tubuh indah ini, melepaskan hasrat birahiku, menyentuh bagian-bagian yang selama ini tertutup dan menikmatinya.

Segera aku lepas bayang-bayang itu, membuangnya jauh-jauh, aku teringat akan wanita yang saat ini tidur dikamarku, Moza, ya, hanya wanita itulah saat ini yang ada dibenakku, hanya ada satu pilihan yang harus aku pilih, anaknya atau mamanya !
Aku melangkah keluar, meninggalkan Tante Mala tergolek sendiri dikamar, sesampai dipintu kulirik sekilas kearah ranjang dimana dia berada, betis jenjang dengan paha mulus dan putih layaknya Ken Dedes, membuat sedikit gejolak di dadaku, seandainya pikiran kotor masih memenuhi benakku, seandainya Moza tidak tidur dikamarku, seandainya hasrat birahiku yang tadi bergelora belum tertumpahkan dan seandainya Tante Marissa tidak ada disini atau sudah tenggelam dalam tidur nyenyaknya, mungkin ceritanya akan lain.

Dengan posisi, seperti itu, terlihat beliau tampaknya setengah sadar, mungkin akibat rasa pusing menderanya, sehingga, begitu tadi kuletakkan dan kubaringkan, dan sepertinya beliau langsung mencari posisi yang enak, berbalik, membuat pakaian bawahnya tersingkap hingga kebatas paha meperlihatkan celana dalamnya, serta mungkin tanpa disadarinya saat ia berbalik, membuat tali pakaian yang menyangga dipundaknya melorot, dan itu yang membuatku terhenyak, bagaimana tidak, hal tersebut membuat bagian atas bajunya melorot sebagian dan memperlihatkan buah dadanya yang mungkin semenjak tadi merasa sesak berada didalam baju yang dikenakannya dan itu sempat membuatku sedikit mupeng.

Kutinggalkan beliau, kututup pintu kamar rapat-rapat, dipikiranku terlintas, seandainya beliau terbangun dan kemudian bermaksud ke kamar kecil atau apalah yang membuat dia keluar kamar, tentu pintu kamar akan berbunyi ketika dibuka, dan itu cukup untuk membuatku bersiaga, ya minimal bila aku sedang “mengerjakan” sesuatu lagi terhadap Moza, aku bisa dengan cepat menutupinya… hehehe.. dasar !.
Lah iya dong, coba aja bayangin, seandainya dengan pintu yang tidak dikunci seperti tadi, melihat aku sedang khusyu dan serius, tiba-tiba dari pintu nongol Tante Mala, yang ada urusan bisa runyam, celaka !, bisa-bisa tengah malam aku dimaki-maki, diomelin, kaya tetanggaku dulu, diomelin ama bininya gara-gara pulang pagi, disangka ngapelin cewek RT sebelah. Baru sampe pintu, prang-prang, dilempar piring, besoknya dicengirin sama temen tongkrongan katanya “dirumah elu semalem ada UFO ya ?” alias piring terbang, kekekekek.
Ya sapa yang mau coba ?, kalo kaya gini kan minimal, begitu bunyi “krek”, artinya pintu kamar sebelah dibuka, aku bisa cepat-cepat narik celana, nutupin si dede atau minimal nutupin pake selimut, terus pura-pura tidur deh, sembari dingorok-ngorokin dikit, hehehe…aman.
Mulanya aku hendak kembali ke kamar tidurku, namun langkahku terhenti, sejenak seperti ada yang menahan langkahku, ya, terlintas dipikiranku bahwa ada seseorang dirumah ini, yang mungkin masih dalam keadaan sadar, Tante Marissa !, ya beliau memang kelihatannya belum tidur, bukankah barusan, sewaktu pulang, beliau langsung masuk kamarnya dan sepertinya beliau buru-buru langsung menuju kamar mandi yang berada didalam kamarnya. Dan satu lagi yang kuingat bahwa aku belum menutup pintu depan, saat membawa Tante Mala tadi, karena mungkin aku terfokus pada beban yang aku bawa sehingga aku tak sempat menutupnya.
Aku berbalik, melangkah kearah depan, menuju ruang tamu, bermaksud untuk menutup pintu dan sekaligus memeriksa bahwa keadaan aman, walaupun mungkin didepan sudah ada mang Dharta yang menjaga, tapi tetap saja kita harus menjaga segala kemungkinan kan ?. Beberapa langkah di depan, sebelah kiri, kulihat pintu kamar Tante Marissa terbuka sedikit, dan lampu masih menyala terang. Kulangkahkan kakiku, dan memang bila aku hendak ke ruang tamu disana, mau tak mau aku melewati kamarnya, dan sepertinya ada sesuatu yang mengarahkanku untuk menoleh kearah kamar Tante Marissa, langkahku yang tadinya cepat, seakan ada tembok didepanku yang menyuruhku untuk berhenti.
Kulihat di dalam kamar, Tampak Tante Marissa sedang menggunakan handuk, beliau sepertinya baru selesai membersihkan diri, atau mungkin beliau habis mandi, duh, diudara sedingin ini, mungkin kalo aku, jangankan mandi, cuci muka aja mungkin aku akan beku kedinginan, tapi kalo beliau, ya mungkin udara sedingin ini sudah biasa, karena di negara yang sekarang dia tinggali suhu udaranya lebih dari ini.

Keluar kamar, aku menuju ruang keluarga, melewati kamar Tante Marissa, pintu kamar terbuka sebagian, seperti instink saja, kepalaku menoleh ke arah dalam, dan upss..!
Di dalam kamar kulihat Tante Marissa tampaknya sedang mengganti pakaiannya, duh sepertinya beliau cuek saja, pintu tidak ditutup. Kulihat beliau sedang menanggalkan handuk, melemparkannya ke atas ranjang, mungkin beliau habis membersihkan diri dari kamar mandi, biasalah wanita, sebelum tidur biasanya membersihkan sisa make-up yang menempel diwajahnya, mandi ? masa sih ? kalo aku disuruh mandi tengah malam dingin dingin begini abis hujan, dibayar berapa juga aku masih mikir, tapi gak tau kalau beliau, mungkin udara seperti ini di negaranya sana dibilang panas kali. Tapi yang jelas, yang membuatku tercekat adalah, saat ini beliau seperti mematut-matut diri didepan kaca, dan tanpa mengenakan sehelai benangpun !.

padahalkan ada lelaki dirumah ini, mana udah tengah malam lagi, udara dingin begini, bikin yang melihat jadi mupeng ! tak enak rasanya kalo aku terlihat berdiri melongo didepan kamarnya, bisa-bisa si dede yang sekarang udah lemes tak bertenaga, beringas kembali, gak ah, mendingan aku pergi. Aku menuju ruang keluarga, dimana kulihat televisi menyala, mungkin karena tadi tidak dimatikan dan saat listrik hidup kembali, otomatis televisi juga hidup.
Aku duduk disofa, namun rasanya sofa berlapis seperti kulit yang aku duduki ini, sangat dingin, mungkin karena pengaruh suhu udara, sehingga aku memutuskan untuk menurunkan tubuhku, dan duduk di karpet tebal, kemudian merebahkan badan, mengusir rasa dingin dengan meringkukkan badanku, menutupinya dengan bantal besar yang ada, dan menatap acara televisi didepan.
Mataku memang mengarah ke televisi, namun aku tak menyimak acara yang ditayangkan, pikiranku jadi melayang entah kemana, membayangkan tubuh Moza, Tante Mala yang sedang mabuk, serta Tante Marissa yang berbugil ria dikamar, pikiran kotor kembali menerjangku, sepertinya saat ini aku bagaikan raja minyak, yang bingung untuk memilih wanita mana yang hendak kujadikan sebagai teman tidurku malam ini. Memikirkan itu malah membuat dedeku yang tadinya sudah lemas terkantuk-kantuk, ditambah hawa dingin yang menyengat membuatnya menjadi segar dan menegang kembali, duh… beberapa saat lamanya aku membayangkan, membayangkan bagaimana jika aku dikerubuti oleh para wanita ini, membayangkan bila mereka semua tidur satu kamar denganku, memperebutkanku, 4some, saling meminta untuk aku puasi, hehehehe, dan lamunanku sepertinya buyar, ketika…..
“Loh gak tidur Fan ?” terkaget aku mendengar suara dibelakangku, cepat aku menarik tanganku yang sedang berada didalam celanaku, untunglah saat itu bagian bawahku ditutupi oleh bantal besar yang tadi kupakai sebagai penghangat. Aku menengok kearah sumber suara, kulihat Tante Marissa, sudah berdiri beberapa langkah disampingku, melihat kearahku, menatapku ramah. “eh Tan, belum nih Tan, belum ngantuk, ini mata belom mau dirapetin, mungkin tadi gara-gara tidur siang kelamaan kali” kataku menjawabnya, sambil menggeser badanku, yang tadinya rebah, kini berusaha bangun dan duduk, tak enak rasanya berbicara dengan orang yang lebih tua, sambil tidur. Kulakukan untuk menghormatinya, padahal saat itu aku juga agak tercengang melihat Tante Marissa, yang hanya mengenakan baju tipis, malah dapat kubilang transparan. dengan bagian dadanya yang besar tanpa bra, seperti tercetak dengan jelas, putingnya yang kecoklat-coklatan, bisa dibilang beliau saat ini setengah telanjang, sepertinya hawa dingin bukan masalah baginya.
Ruangan keluarga yang hanya diterangi oleh lampu dinding yang hanya memancarkan sinar temaram, sepertinya tidak mampu untuk menutupi kemolekan tubuh Tante Marissa, duh seandainya lampu tengah yang menyala mungkin seluruh tubuh tante Marissa akan terlihat jelas, sayang sekali, sayang seribu sayang.
Kupikir dia menyapaku hanya sebatas say hello saja, kemudian meninggalkanku memasuki kamarnya, untuk tidur, namun ternyata tidak, beliau melangkah mendekatiku, kulirik beliau dengan sudut mataku, repot nih, jangan sampe dia menghampiriku, kemudian duduk disampingku, terus merayuku, kemudian mengajakku untuk melakukan ritual seks, membuat terkapar, setelah melampiaskan hasrat kami berdua, yeeee ngarep.
Dan sayang seribu sayang saudara-saudara, beliau ternyata duduk disofa, hehehe…buyar deh angan-anganku tadi !.

Aku yang duduk dibawah menggeser maju ke depan, gak enak rasanya dibelakangku, disamping sebelah kiriku duduk wanita cantik, sementara aku cuek didepannya, menghadap ke depan, ke arah televisi, seakan tak perduli ada Tanteku yang mungkin ingin bertatap muka denganku, bukankah selama ini aku belum pernah mengobrol dengannya ? maksudku mengobrol berdua saja dengannya, biasanya aku selalu mengobrol atau bercakap-cakap dengannya, dan pasti disitu ada orang lain lagi, entah Moza, Tante Mala, atau Mang Dharta. Sebetulnya bukan hanya itu juga, tapi kan sewaktu beliau duduk kemudian seperti hendak berbaring, beliau mengangkat kakinya, lah sapa yang mau, dengkulnya nyeruduk kepalaku, bisa-bisa puyeng kepalaku, kesamber dengkul, ya mendingan aku geser… he..! dan ….

Benar saja, malam itu aku bercakap-cakap dengan Tante Marissa, mulai dari acara yang didatanginya barusan, keluargaku, pekerjaanku, keluarga Tante Mala, anak-anaknya hingga persoalan-persoalan kecil, menyangkut kehidupan keluarga besar kami, setelah beliau tinggalkan ke luar negeri, malam semakin larut, mungkin karena bahan pembicaraan telah habis, ataupun pikiran kami blank sehingga mentok untuk memulai bahan pembicaran lain, terdiam kami berdua sesaat, hingga akhirnya mata kami hanya memandang kepada acara televisi, dan tanpa sengaja, ketika acara televisi mensensor adegan ciuman, beliau membandingkannya dengan acara televisi dinegara dimana dia menetap. Pembicaraanpun berlanjut lagi, hingga masalah seks dinegara dimana dia tinggal, mulai dari kehidupan remaja disana, dimana ia menghabiskan masa mudanya, perilaku seks mereka, hingga ke anak-anaknya yang katanya untung karena anak 2 dan laki-laki semua, beda dengan Tante Mala yang anaknya perempuan semua, hehehe…kalo disana punya anak perempuan dan umur diatas 15 wuih, bisa was-was melulu, ya ngertilah..

Entahlah sepertinya beliau sangat memahami permasalahan seputar seks, malah kalo boleh kutebak sepertinya beliau benar-benar sudah tidak indonesiani lagi ..,ya seperti menganut semacam faham seks bebas mungkin, namun katanya selama dilakukan secara aman, oleh dua insan yang saling menyukai, why not ?, begitulah kesimpulan yang kudapat dari pembicaraan dengannya. Dan satu lagi, kalo aku berbicara dengannya dan tanpa sengaja menatap kearahnya maka, kepala atas dan kepala bawahku semakin pusing ! hehehehe…
Beberapa saat percakapan berlanjut, malam semakin dingin, kulihat Tante Marissa sepertinya tidak merasakan dingin sedikitpun, mungkin karena terbiasa atau pengaruh minuman yang diminumnya tadi membuatnya tetap hangat, terlihat dari rona mukanya yang rada memerah, namun yang membuat aku heran adalah, sepertinya ia tidak ada tanda-tanda mengantuk sama sekali, malah kulihat dari mulutnya keluar kata-kata yang semakin lancar saja, hingga, aku memutuskan untuk merebahkan diri, dengan bantal besar satu-satunya yang ada diruangan ini, menyandarkan kepalaku diatasnya.
“Dingin Fan ?” katanya kepadaku, mungkin karena melihatku merapatkan kedua tangan lantas mengepitnya dengan pahaku, padahal memang selain untuk mengusir hawa dingin, sekalian juga untuk menutupi dedeku yang kelihatan semakin membesar, ya maklumlah, sapa juga yang kuat melihat lawan bicara seperti dia, udah cantik, seksi, molegh, dan dengan pakaiannya yang mengundang selera, duh seandainya dia …, mungkin sudah kuserang sedari tadi.
“Iya tan, lumayan nih !” jawabku sambil mataku menatap sekilas kepadanya, dan kemudian kembali mengarahkannya kepada acara televisi didepan, tak enak rasanya memandang terus kepadanya, bisa-bisa nanti aku dikiranya napsu melihat dia, padahal sih…. Iya…!
Dan tanpa kuduga, tante Marissa yang semula dalam posisi rebah dengan kakinya berada didekatku, dan kepalanya berada diujung sebelah sana, mengangkat badannya, bangun, yaaah, ada beberapa pikiran yang saat itu langsung menyelinap di otakku, ia bangun mungkin rasa dingin juga menyergapinya, sehingga ia bermaksud menyudahi percakapan kami dan bermaksud untuk masuk ke kamar, kedua mungkin ia merasa pegal karena dalam posisinya dengan kepala diujung sana, ia akan mudah melihat kepadaku saat bercakap-cakap, namun pada saat matanya mengarah ke televisi, maka membuat kepalanya harus menengok ke kiri, dan itu membuatnya pegal, sehingga ia harus bangun dan berganti posisi dengan kepalanya berada disebelahku, sehingga kali ini kalau mau pegal lagi maka kepalanya harus menengok ke kanan terus, hehehe..
Duh sepertinya sayang sekali kalau ia harus kembali ke kamar, padahal aku mengharapkan dia agar tertidur pulas disitu, disofa panjang itu, jadi kan kalo tiba-tiba ada acara televisi yang kiranya dapat membangkitkan rasa hornyku, mungkin, beliau dapat kujadikan sebagai bahan coli juga… hehehe, dan kalo ia berbalik, rasanya juga sedikit disayangkan, pandangan yang sedari tadi aku nikmati, saat menoleh kearahnya. Dalam cahaya ruang yang remang-remang seperti ini, sehingga bola mataku tak terdeteksi ke arah mana aku memandang, sehingga aku bisa dengan puas melihat kearah paha putih, panjang dan mulus itu, berikut isi-nya.
Dan ternyata perkiraanku semuanya salah……
Tante Marissa, dengan bertumpu pada telapak tangannya kini malah memerosotkan badannya, menjatuhkannya ke karpet dibawahnya, kini posisinya lebih dekat kepadaku, dan dengan duduk seperti itu posisi kepalanya tidak terlalu jauh denganku sehingga mungkin enak buat kami untuk melanjutkan percakapan tanda salah satu harus ada yang mendongak dan menunduk pada saat memandang. Namun ternyata keterkejutanku belum cukup sampai disini….!
Berada kurang lebih satu langkah disebelahku, beliau kini menggeser tubuhnya beringsut dan bergerak menghampiriku, mencari posisi pantatnya agar sejajar dengan posisi pantatku, mungkin ia hendak mengukur jarak antara tubuhnya dengan posisi bantalku, ia yang semula dalam posisi duduk kini merebahkan tubuhnya, merapat denganku, ikut menempelkan kepalanya pada bantal besar yang aku gunakan. Kaget aku karena tidak menyadari akan tindakannya dan secara reflek aku menggeser tubuhku, berusaha menjauh, namun sepertinya gerakan yang aku lakukan dianggapnya bukan untuk menjauhinya, tapi seolah mempersilahkannya, memberi ruang baginya untuk berbagi bantal dengannya !.

Terdiam aku beberapa saat, bingung harus melakukan apa, kalau aku saat ini bangun dan pindah, kemudian bermaksud kembali ke kamar, tentunya akan membuatku tak enak, ini mungkin akan menyinggungnya, ya iyalah, dia mungkin ingin aku terus bercakap-cakap dengannya kemudian mendekatiku dan aku malah meninggalkannya, gak enaklah, emang aku pergi karena merasa gak nyaman dekat dengannya, emang tante Marissa badannya bau ?, atau napasnya bau ?
Sementara mataku tetap mengarah ke televisi, punggungku merasakan ada sesuatu yang menempel, lengan bahu Tante Marissa, aku melihatnya sekilas dengan ujung mataku, sepertinya kurasakan Tante Marissa juga menatapku, seperti sedang memperhatikan seluruh tubuhku. Bingung aku, otak ini rasanya seperti blank, tak tahu apa yang harus kulakukan.
“Fan, kamu teh umur berapa sih ?” tanya Tante Marissa, mungkin ini dilakukannya untuk memecah kesunyian, memang tak enak rasanya bila berdua-duaan tapi tak ada komunikasi sama sekali, “23 Tan, hehehe… udah tua ya ” kataku menjawabnya sekaligus memberikan pernyataan dan pertanyaan yang kukira dapat memancing percakapan lebih jauh. “Ya Belum Atuh, Ngora Keneh” sahutnya lagi, maksudnya masih muda dalam bahasa sunda, biasalah dikeluarga kami, bahasa selalu dicampur adukkan, kadang bahasa indonesia campur sunda, kadang bahasa sunda campur indonesia, lah kok bukannnya sama aja ? hehe..yang jelas bukan bahasa sunda campur bahasa sunda, kalo itu mah sunda murni, hehehe…
“Eh Fan, ari kamu teh pernah ML belum ?” tanya Tante Marissa, yang jelas membuatku tersentak kaget, dan entah aku harus menjawabnya bagaimana, mungkin karena rasa terkejutku, aku membalikan badanku yang semula membelakanginya, kini terlentang, sejajar dengannya, dan tanpa sengaja sikutku menyentuh payudaranya, rasanya benda lunak itu, terasa kenyal dan kencang, kucoba untuk berpura-pura tak menyadarinya, dan berkata “Ih Tante, ada-ada aja nanyanya !” sahutku sambil pura-pura terkekeh.
“Halah… jangan bohong deh ma Tante, kamu udah belum ?” cecarnya kepadaku sambil senyam-senyum, “eh, tapi disini kan beda ya sama disana “ tukasnya lagi, maksudnya di indonesia, ya iyalah beda, masa sama, disini tau sendiri, ya kan ?, capek deh kalo musti gw jelasin, mending loe tanya aja ma pak RTloe sono !.
“Duh kasian banget tuh si Dede udah 23 taon masih dipake buat kencing doang !, hahahaha”, aku gak menjawabnya, hanya berkata dalam hati, “duh sialan nih tante”, sambil garuk-garuk gak gatal aku jadi berpikir lagi, “Udah belom ya ?” pikiranku jadi menerawang, ingat kejadian-kejadian dahulu, kalo aku ingat peristiwa aku dengan TanteSandra, Tante Mala, apakah itu dihitung ML ? kan mereka semuanya dalam keadaan tidak sadar, jadi aku melakukannya hanya satu arah, gak bidirectional, jadi dihitung gak nih ?, terus waktu dengan Ira temannya Maya, sepertinya aku gak menikmatinya, wong keliatannya juga si Ira ama Nita lagi teler, gimana ? dihitung gak ?, gak deh.. gak usah dihitung, ntar malah kena pajak lagi !
“Eh, tapi kan kalau self service kamu pernah kan ? hayoo !” yah, dia ngeledek aku, jelaslah, masa coli gak pernah sih, malah kalo dihitung-hitung, mungkin kalkulator udah gak cukup kali digitnya.. heheheh.. aku bingung harus ngomong apa, yang ada jadi blingsatan sendiri, aku cuma senyum and cengengesan aja, mungkin karena sunyinya, jadi cengengesanku terdengar jelas olehnya, sehingga rasanya itu cukup menjawab pertanyaannya bahwa hal itu pernah atau malah sering aku lakukan. “Tuh kan… yee… cengengesan, berarti iya !“ sahutnya tergelak, serasa memperoleh kemenangan.
“Eh Fan, kamu kalo self service gitu, apa yang kamu bayangin ?” sahutnya lagi, “Tante gak pernah tuh, jadi tante gak tau, ya cuma yang tante tau, sebagian besar kaum laki-laki tuh suka melakukan masturbasi ya?, trus kalau kamu sendiri apa yang kamu bayangin ?“ katanya lagi, kalo kulihat membicarakan tentang seks menurut beliau adalah hal yang wajar, mungkin karena beliau sudah lama tinggal di luar negeri sana, jadi sepertinya membicarakan perihal seks adalah seperti membicarakan bumbu masakan saja.
“Ya Tante, ya jelaslah bayangin perempuan, masa ngebayangin cowok !” aku tertawa, namun jelaslah tawaku garing, susah kan ngomong ma cewek masalah gituan, yang ada malah kitanya yang gugup. “Ye bukan, maksud Tante, kamu ngebayanginnya gimana ?, bagian tubuh wanita yang mana yang kamu suka ? trus ngapain ? kan kalo ML jelas gak perlu bayangin apa2… just do it !”, kata Tante marissa lagi, “Ah tau ah Tan !” aku ngeles sambil mengangkat tanganku pura-pura menutup mataku sekaligus kupingku, serasa ingin menyudahi percakapan ini. “Yee si Fandi, cuek aja atuh Fan, ama Tante ini, anggap aja ama temen kamu !” dan sepertinya iya tertawa, dan ia yang tadinya dalam posisi terlentang kini memiringkan badannya, menyanggah kepalanya dengan tangannya seolah ingin aku serius menanggapinya.
Dan dengan posisi seperti itu, otomatis payudaranya yang dengan belahannya itu kini menempel ketat dengan lengan bahuku, dan jelas itu membuat pikiranku semakin tak menentu, membuatku semakin salah tingkah, membuatku yang tadinya mungkin harus menjawab pertanyaan Sang Tante kini malah balik bertanya kepadanya.
“Emang kalau tante sendiri gimana ?”, entah darimana datangnya, mungkin karena capek aku ditanya melulu, tiba-tiba saja keluar kata-kata itu dari mulutku, “Gimana, gimana ? apanya yang gimana ?” jawab tanteku, yang jelas aku juga bingung sebenarnya apa sih yang ingin kukatakan atau kutanyakan, duh apaan ya ?.
“Ee….., gak, maksudnya, kalo Tante sendiri seberapa sering ML ?”, kataku lagi menjawab sekenanya, “Ya Seringlah, Tante ama suami Tante bisa seminggu dua kali, kadang tiga kali “ sahutnya lagi, dan mungkin karena aku iseng dan entah darimana keisenganku muncul hingga aku menyahutinya lagi “kalo dengan bukan suami ?” ujarku sambil terkekeh, “Yee, Fandi, aya-aya wae…” namun ternyata iya malah tergelak, kukira iya marah atau apa, menurutnya mungkin pertanyaanku ini lucu dan aku merasa kalau ia tak perlu menjawabnya. Tapi…..

“Sstt.. ini rahasia yah, kamu jangan cerita-cerita ama siapa-siapa, menurut kamu badan tante gimana Fan, bagus gak, kalo buat cowok single kira-kira masih laku gak ? “ aku tak mengerti arah pembicaraan beliau, namun ya iyalah, jelaslah, lah wong aku aja melotot ngeliat bodynya, tapi maksudnya itu apa ?, Emang sih beberapa saat yang lalu aku rasanya pernah menguping pembicaraan antar Tante Mala dan Tante Marissa, sekilas sepertinya Tante Mala menanyakan proses perceraian gitu, tapi aku gak tahu apakah yang dimaksud adalah proses perceraian Tante Marissa dengan suaminya atau siapa, gak taulah.
“Emang kenapa Tan ?, emang Tante mo nyari cowok single buat apaan ? buat maen badminton ? trus tante mo maen buat ganda campuran ?” aku tertawa kecil, namun rasanya ia tak memperdulikan komentarku, “Yee, si Fandi, ngabodor wae, menurut kamu gimana ?” aku terdiam sejenak, kemudian aku memalingkan mukaku kearahnya, seakan membuktikan padanya bahwa aku akan serius menyikapinya, “Ya iyalah Tan, badan tante masih bagus banget kok, masih kenceng, abis Tante kan masih sering olahraga, malah Fandi kira umur tante masih dibawah 30 tahun”, sahutku cepat seakan-akan ingin menyenanginya, sekilas aku melirik kearah dadanya, hanya sekilas, kulihat belahan dadanya seolah membelah dua gunung kembar putih, indah, seandainya aku berani menyentuhnya, mengelusnya kemudian meraba sambil menelusurinya perlahan dan mengatakan “Bagus banget nih Tan, putih, mulus, dan kencang kok”, kemudian aku mencoba untuk meremasnya pelan, hehe…

“Masa sih Fan ?, kamu jangan nyeneng-nyenengin tante deh, umur Tante kan udah 36, anak Tante aja yang besar udah SMA, masa sih, segitunya menurut kamu “, entah apa yang ada dipikiran tante Marissa, dikiranya aku menjawabnya sekenanya saja, karena aku menjawabnya tanpa memalingkan muka kearahnya, ya iyalah, kalo aku menjawabnya sambil berhadap-hadapan dengannya bisa kacau, udah muka kami sangat dekat sekali, trus pakaiannya yang jelas mengundang selera, kemudian dedeku tiba-tiba bangun dan membuat celanaku menonjol keluar, ini aja udah aku tahan, kan bisa berabe !. “Iya Taaan, serius, bener, saya gak bohong” sahutku lagi, dan kali ini aku menimpalinya tanpa menengok kearahnya.
“Fan, serius…” tiba-tiba saja, tangannya menarik tubuhku, membuat badanku berbalik, dan ini yang aku takutkan, kini mukaku menghadapnya, dan mau gak mau pandanganku kini mengarah ke mukanya !, “Apanya sih Tan ?, serius, bener, Tante kalo Fandi bilang sih, masihlah, masih kenceng, bahenol “ kataku sambil senyum, padahal pikiranku jadi agak error, apalagi waktu melihat kearah buah dadanya, yang sepertinya hendak meloncat keluar.

Dan mungkin karena melihat sorot mataku yang mengarah ke buah dadanya, ia mengangkat tangannya dan menggerakkannya kearah dadanya, seakan ingin menutupinya. Jelas ini membuatku agak malu, membuat kepalaku tertunduk, mungkin kalo dilihat pada cahaya yang terang, ada rona merah diwajahku. Tapi ternyata selanjutnya malah membuatku semakin terkejut, tante Marissa malah menarik bagian atas bajunhya, memelorotkannya ke bawah hingga bagian pakaian yang menutupi dadanya kini telah membuka dengan lebar !.
sejenak ia memegang putingnya, tampaknya bagian atas payudaranya itu telah menegang den mengeras !, mungkin ia menyadari bahwa ada yang salah dengan putingnya, mungkin karena pengaruh pembicaraan kami atau pengaruh minuman yang diminumnya, atau hawa dingin yang menerpanya hingga membuat putingnya mengeras.

Kini menyembullah, dua bukit kembar, besar dan putih itu, dengan bentuknya yang bulat, proporsional, jelas sungguh indah dipandang, dan malah seperti magnet yang membuat tangan lelaki, tertarik ingin memegangnya dan bahkan mungkin ingin meremas-remasnya, dan kalo bisa menyedotnya sampai kempes… hehehe.. emang balon isi aer !.. xixixixi..
Entah apa yang ada dipikiranku, dengan jarak sedekat ini, kalaupun aku ingin menyentuhnya, tanganku malah tak perlu menjulurkannya, ini aku malah harus menekukkan sikutku. Bingung apa yang harus aku lakukan, kalo aku memegangnya, jangan2 aku malah ditamparnya, padahal duh.. pengen sekali aku menjamahnya…. hiks.!

“Fan, gimana menurut kamu, dada tante masih bagus kan ?” katanya kemudian, dalam kebingunganku harus berkata apa, dan membuatku seperti merinding, “Masih kencang kan Fan ?” aku tak memberi jawaban apa-apa, seolah mulutku terkunci, tak tahu harus mengatakan apa, mulutku hanya mampu terbuka, melongo, dan kemudian tangannya membuat gerakan, meraba-raba, mengelus-ngelus payudaranya, menelusuri permukaan dadanya dengan tiga jari yang berada ditengahnya, dengan lembut, ya mungkin adegan seperti ini hanya dapat kusaksikan di filem-filem blue yang suka kupinjam dari temanku semasa SMAku dulu, tapi yang kulihat kini adalah liveshow, didepanku, hanya berjarak beberapa centimeter dari mataku saja.

“I..I…Iya Tan, ba…ba…bagus banget, kayaknya masih kenceng“ dengan tersendat aku menjawabnya, dan entah kenapa, suaraku sepertinya sedikit parau, seperti lama tak kena air, ya iyalah, pemandangan didepanku ini membuatku serasa ingin menelan ludah. Dan di dadaku sepertinya jantungku berdegup dengan kencang dan cepat !.
“Kok kayaknya sih, gimana ? masih bagus gak ? jujur dong ah, biar tante tau gimana pandangan lelaki, saat melihat dada Tante, Fan “ ia menghentikan gerakannya, sepertinya ia menatapku, sesaat, menatap bola mataku, sesaat bola mata kami beradu pandang, tak kuat aku menatapnya lebih lama, kualihkan pandangan mataku kearah yang lain.

    Sulit aku menjawabnya,sepertinya ia memperlihatkan payudaranya kepada laki-laki adalah hal yangbiasa, dan nampaknya kupikir ia hanya sekedar ingin memperlihatkannya padakusesaat saja, kemudian dengan segera menarik kembali bajunya, menutupinya dengansegera, namun yang terjadi malah ia semakin memainkan payudaranya tersebut,merabanya, mengelus-elusnya, meremas-remasnya dan kini ia memainkan putingnya,memilin-milinnya, memencetnya, dan membuat puting itu kini semakin tegang danmengeras, sementara aku hanya sanggup memelototinya, tertegun, hingga kulihatpada raut mukanya yang menatapku, tersungging senyuman, senyuman yang menurutkuagak gimana gitu, entah senyuman yang dilakukan untuk merayuku atau ada maksudlain didalamnya.
    Tiba-tiba saja dengan ujung dengkul kakinya iamembuat gerakan…., menyongsongkannya ke depan, meraba dengan dengkul danbetisnya, tanpa kusadar, menyentuh celanaku, seakan tahu dimana letak dedeku,yang sejak tadi telah terusik dari bangunnya.
    “Ups…Halah..Si Fandi, ternyata kamu gak tahanjuga, hihihi.. punya kamu udah bangun tuh ya ?, jangan – jangan dari tadi !”tante Marissa terkekeh, duh untung suaranya tertawanya pelan, seandainya ngakakkencang mungkin akan membuat tante Mala, dan Moza terbangun, dan ini akanmembuatku malu, jika saja mereka tahu bahwa aku sedang dikerjain oleh TanteMarissa. Dengan reflek aku membalikkan badanku, membelakanginya, berusahamenutupi celanaku yang memang ternyata semakin menonjol, Sialan, batinku memakidalam hati, sambil aku menggaruk-garuk perlahan kepalaku yang tidak gatal.
    “Ah Tante, ya iyalah Tan, berarti aku kan masihnormal”, kataku menjawabnya sekenanya, ya mau gimana lagi, lah aku kan jengahjuga, aku yang tadinya biasa-biasa saja, diperlihatkan sesuatu yang membuatgairah lelakiku bangkit, kemudian ternyata aku hanya dipermainkannya jelas ajalangsung membuatku ngedrop, mungkin kalo cahaya ruangan terang benderang akanterlihat mukaku yang memerah menahan malu, walaupun tidak langsung membuatdedeku lemas kembali, namun yang jelas dedeku yang semula sangat tegang, kinidipaksa untuk santai.
    Dalam posisi aku membelakanginya, darigerakannya kubayangkan sepertinya Tante Marissa, membetulkan kembalipakaiannya, mengangkat tangannya, menutupi kembali dadanya, karena kurasakanlengannya menyentuh punggungku, saat menariknya dari atas kemudian menurunkanlengannya, meletakkannya dibawah disamping tubuhnya. Namun, kembali akudikejutkan olehnya, tiba-tiba saja ia membalikkan badannya yang semulaterlentang, membalik kekanan menghadap kearahku, dan tangan kirinya kinimelewati badanku melewati pinggangku dan memelukku dengan kencang, sertatangannya kini mencoba untuk meraih celanaku di bagian depan !.
    “Eleuh… normal nih yaa, masa sih ?, coba sini,tante pengen tau“ terkaget aku, dan yang jelas sulit bagi aku karena prosesnyabegitu sangat cepat, untuk menghindarinya, aku harus memajukan badanku, namunsangat sulit bagiku, pada saat ini posisiku yang miring, membuat bahu danlenganku tertindih oleh badanku, dan satu-satunya cara untuk menghindarisergapannya adalah aku harus berguling ke depan, namun jelas itu tidaklahmungkin karena didepanku, saat ini terdapat kursi yang menghalangiku untukmelakukan putaran badan. Kalaupun itu terpaksa kulakukan maka resiko yangkuhadapi adalah badanku akan beradu dengan kursi itu, malah mungkin akanmembuatku cedera, belum lagi mungkin akan membuat kursi tersebut terpental,hingga bukan tidak mungkin akan menimbulkan kegaduhan yang akan membuat seisirumah terbangun !.
    Celaka, kini bukan itu lagi yang aku pikirkan,telapak tangan Tante Marissa tepat bersarang di celanaku bagian dalam,merengkuhnya seperti layaknya tangan macan yang mencengkeram mangsanya, adarasa sedikit sakit, yang kualami, sepertinya dedeku dicengkeram dan ditarikdengan ganas, aku memegang atas lengannya dengan tangan kiriku, berusahamenarik tangannya agar terlepas dari dedeku, dan mungkin karena sedikitbercampur kaget, dan aku menyadari kalau aku teriak mungkin malah akanmembangunkan seisi rumah, hingga aku hanya bisa terpekik perlahan, dan dengansuara tertahan disertai rengekan kecil aku hanya bisa bilang “Aduh, Jangan Tante…Jangan…” aku mencoba untuk mencegahnya.
    Namun akibatnya malah fatal, tangan kiriku yangmenyentak, menarik tangan tante Marissa, malah membuat dedeku semakin tertarikdan membuatku merasa semakin sakit, bagaimana tidak cengkeraman Tante Marissatidak hanya mencengkeram batang kemaluanku namun hingga kebuah zakarnya,auccchhh !. perutku serasa sakit, membuatnya serasa terpelintir, aku menjadilemas, hingga sepertinya tak ada tenaga lagi buatku untuk melakukan perlawanan.Yang ada kini tangan kananku hanya memegang tangan kirinya.
    “Hayoh, coba tarik lagi, orang Tante cumanpengen tau doang kok !” katanya lagi, sepertinya beliau tahu bahwa aku akanmerasakan sakit bila aku coba-coba meronta lagi, “hehehe.. lumayan juga punyakamu Fan, lumayanlah buat ukuran orang indonesia”, katanya lagi, duh, ni Tante,orang lagi kesakitan begini, sempet-sempetnya lagi ngukur punya aku, lagianpunyaku kan udah setengah lemes, ya ciutlah, lagian juga kalo lagi tegang, gakpanjang-panjang amat, palingan juga sekitar 12-13 cm, gak kaya punya suaminya,yang mungkin gedenya segede apaan tau, ya namanya juga orang bule.
    “Aduh.. sakit Tan… ampe lemes nih, tante sih..maen cengkram aja” kataku setengah menggerutu, sambil menarik napas dalam-dalamdan menghelanya dengan hentakan, layaknya orang habis berolah raga dan inginmemulihkan staminanya kembali. Aku melepaskan tanganku yang memegang telapaktangannya, terserah deh mo diapain juga, asal jangan diremas kayak tadi lagideh, kayaknya badanku lemas sekali, seperti kehilangan tenaga sama sekali.
    “Sakit ya… duh keciiian, sakit banget gak ?”,masa bodoh ah, dia mo ngapain kek, yang jelas, dengan badanku yang lemasseperti ini, mataku malah terpejam, dan aku tak memberikan jawaban maupunreaksi atas pertanyaannya. Dan mungkin dia merasakan, bahwa aku sepertinya takmemberikan reaksi apapun, reaksi balasan ataupun perlawanan terhadapnya. Dantanpa aku duga, tangannya yang mencengkeram dedeku, dilepaskannya dan kemudiania membelainya dengan telapak tangannya, pada bagian jari bawah jari tangannya,mengelus dedeku perlahan.
    Entah apa yang ada dipikiranku, mataku yangterpejam, sedikit terbuka, kulihat ke arah celanaku, tangan yang putih, halusitu sepertinya bergerak-gerak perlahan mengelus batang kemaluanku, dari luarcelanaku. Dan sepertinya dekapan Tante Marissa kurasakan semakin erat, bendabulat dan kenyal, sepertinya semakin menempel ketat pada punggungku, kurasakansepertinya putingnya semakin keras, mengganjal seperti ada kerikil yangmengganjal. Dan aku sepertinya tidak dapat melakukan apapun, seolah pasrahdengan apa yang terjadi.
    Hingga, beberapa saat kemudian tangan beliauditarik keatas celana pendekku hingga keatas pinggang, menarik keatas sedikitbagian bawah kaosku, mengusap perutku perlahan, membuatku tergelitik, namun sepertinyaini membuatku semakin nyaman, kemudian ia mengangkat karet pinggang celanapendek untuk memberi celah, kemudian ia menyelusupkan tangannya kedalam celanadalamku, perlahan. Pelukannya semakin erat, membuat badanku yang tadinya dinginserasa semakin hangat, dan aku hanya bisa terdiam, menunggu apa yang akandiperbuat Tante Marissa terhadapku,menunggu keisengan apa lagi yang akandilakukannya.
    Perlahan bulu-bulu halus yang berada di ataskemaluanku dirabanya, menyentuh kepala penisku, kemudian, seolah mengukurnya,jari-jarinya membuat kuncup yang mengelilingi bagian kepala yang menyerupaihelm itu, diam sesaat, dan selanjutnya meraba bagian batang penisku dengantelapak tangannya, menyentuh batas bawah kemaluanku, seakan beliau inginmengukur panjang penisku, dan kemudian beliau mengelusnya, meraba permukaanbagian bawah batang penisku, yang sepertinya juga pasrah dengan posisitelentang dengan kepala menengadah ke atas, seakan meminta persetujuanku bahwasaat ini dia sedang dipermainkan oleh tangan perempuan.
    “Masih sakit gak Fan ?” terdengar suara TanteMarissa, ditelingaku, setengah berbisik, mungkin dengan mataku yang terpejam,dikiranya aku masih merasakan sakit, atau mungkin ia menyangka bahwa akusetengah tertidur, dan ia tidak bermaksud membangunkanku. Entah aku harusmenjawabnya apa, namun rasa nikmat yang kurasakan sepertinya tak ingin segerakuakhiri, ingin rasanya aku melanjutkan ke tingkat level yang lebih tinggi,namun aku tak ingin kejadiannya seperti barusan, ternyata beliau memang hanya inginmengerjaiku saja, lah jelas aja aku gak mau dikerjain 2 kali, dengan wanitayang jelas lebih berpengalaman denganku dalam hal beginian.
    Aku tak menjawabnya, hanya bergumam sedikit,heehhhhhh, seolah aku masih merasa sakit.
    Dan tanpa kuduga, ia memegang sebelah kiri pahabagian dalamku, menariknya perlahan seakan ingin membuat pahaku bergeser,mencoba untuk membuka celah diantara kedua pahaku semakin melebar, ya tentusaja dalam posisiku yang miring ke kanan membelakanginya, apabila aku akanmelebarkan celah diantara kedua paha kiriku otomatis aku harus mengangkatnyakeatas, dan jelas mau tak mau akan membuat badanku yang semula miring, menjaditerlentang, karena aku harus memutar badanku. Sepertinya Tante Marissa sudahmengetahui hal ini, bdannya sepertinya bergeser mundur sedikit namun, tetapposisinya miring menghadapku. Kini aku kembali terlentang dengan posisi TanteMarissa berada disebelah kiriku, bahuku sepertinya menyentuh kulit dari bendabulat, halus dan kenyal, dan tanpa dikomando mataku melirik kearah samping, yaampun, kupikir ia telah menutup kembali dadanya, ternyata dada putih, bulat,besar dan ranum itu masih terbuka dengan seperti menantang untuk dijamah.
    Dan sepertinya Tante Marissa tahu kalo akumelirik kearah dadanya, dan kemudian tangannya yang mememegang dedekuditariknya, dilepaskannya, kemudian ia mendekatkan bibirnya ketelingaku danberkata setengah berbisik, “Kamu suka sama dada Tante Fan ?, kalo kamu suka danmau pegang, pegang aja, ga papa kok, boleh ” dan kemudian ia menarik badannya,membuatnya menjadi terlentang. Terkaget aku dan sepertinya otakku sudah gelap,tak ada pikiran apapun, seakan menjadi kosong, melupakan apa yang tadi terjadi,ditambah lagi dedeku semakin tegang akibat dari perlakuannya tadi. Aku menengokkearahnya, seakan meyakinkan bahwa yang aku dengar barusan adalah benar, benarkeluar dari mulut tante marissa, dari mulut yang dilingkupi bibir seksi ini,namun aku sepertinya tak ingin menunggu jawaban darinya, segera aku mencobameraih payudara montok itu.
    Aku mengangkat tangan kiriku, namun bilamenggunakan tangan kiriku, aku hanya bisa menyentuhnya dengan punggung tangankuini, tak mungkin aku memegang atau meraba dengan telapak tanganku, ini akanmembuat tanganku terpelintir, jadi aku hanya bisa merasakan buah dada yangputih, kenyal dan montok itu hanya dengan menyentuhnya saja dengan punggungtangan kiriku. Hmm.. mencoba aku menyentuhnya, merasakan kulit halus dari dadaputih tersebut, mengusap-usapnya dengan perlahan, menyentuh putingnya denganpunggung jari-jariku, lalu aku mencoba menjepit putingnya, menariknya perlahan,dan Tante Marissa sepertinya menikmati sentuhan punggung tanganku, kulihatmatanya seperti terpejam. Dan rupanya rasa ingin lebih kembali menerpaku, akusegera berbalik badan, dengan menggeser sedikit badanku, agar ada jarak buatkuuntuk berbalik badan, memiringkannya kearahnya, bermaksud untuk mengganti tugastangan kiriku dengan tangan kananku !.

    Kini di hadapanku, tepat di depan mataku,teronggok bukit indah, munjung, dengan kulit halus dan lembut, dalam cahayaremang seolah tidak memudarkan warna putih yang melingkupinya, pada puncakbukit tersebut, terdapat lingkaran kecil, berwarna coklat kehitaman, denganputingnya yang kelihatan sudah tegak, mengeras. Tak tahan aku untuk berlama-lamahanya dengan memandanginya, kurengkuh bukit itu dengan tangan kananku,perlahan, menyentuh permukaannya, mengelusnya, merasakan permukaan halus nanlembut itu, mengitari lingkaran berwarna dengan ujung jariku, dengan sesekalimenyentuh putingnya, dan menekannya, membuat remasan-remasan kecil, membuattante Marissa melenguh pelan, menikmati sensasi yang keberikan.

    Napas tante Marissa kelihatannya sudah takteratur, tarikan napas panjang, dengan hembusan napas yang rada menghentak,seakan menandakan bahwa beliau benar-benar menikmati perlakuan yang aku terima.Seingatku baru kali ini aku melakukan hal ini pada wanita yang benar-benardalam keadaan sadar, yang benar-benar menikmati apa yang kulakukan terhadapnya.Teringat aku akan apa yang aku pernah lakukan terhadap Tante Mala, Moza, Mita,Maya, dan tante Sandra, mereka semuanya biasanya “kukerjai” saat mereka hilangakan kesadaran, entah tertidur pulas, atau dalam keadaan mabuk, mungkin inilahyang disebut dengan istilah “Bidirectional” Hehe…
    Beberapa saat aku melakukan hal tersebut, darimulai, menyentuh, meraba, menekan, meremas dengan halus, memilin-milin ujungputingnya, hingga, meremasnya dengan gemas. Kutatap wajah tante Marissa,kulihat matanya, dan bola mata kami seakan beradu pandang, kulihat mata yangbening dan indah itu, seperti nanar, tanpa ekspresi, seolah pasrah, seolahberkata, bahwa ia sangat suka aku perlakukan seperti itu, dan terserah kamu mauapa, silahkan kamu nikmati apa yang aku berikan.
    Dan sepertinya aku mengerti apa yang iainginkan, aku menggeser badanku kebawah menurunkan kepalaku agar sejajar dengandadanya, dengan bertumpu pada lengan kiriku, aku menyorongkan wajahku agarlebih dekat dengan payudaranya, tercium bau harum khas wanita yang membuatgairah lelakiku semakin menggelora.
    Tante Marissa seakan mengerti apa yang hendakkulakukan, tangannya bergerak kearah payudara sebelah kanannya, merengkuhnya,dan membuat remasan, hingga bukit indah yang membusung itu terlihat semakinmembusung, dengan putingnya yang semakin menantang, menyodorkannya kepadakuuntuk segera aku nikmati.
    Kontan aku menjulurkan lidahku, bagaikan inginsegera mencicipi makanan lezat dihadapanku, kusentuh puting keras dan menjulangitu dengan ujung lidahku, mengecapnya seolah ingin merasakan apa yangterkandung padanya. Kumainkan ujung lidahku, membuat putaran-putaran kecil padaujung payudara itu, bagian permukaan lidah yang kasar seakan memberikan sensasiyang dahsyat pada Tante Marissa, napasnya semakin tak teratur, kulihat padasorot matanya, seakan menyuruh aku agar jangan menghentikan aksiku, haltersebut membuat gairahnya semakin tak menentu, melenguh panjang dan perlahan,buah dadanya semakin disorongkan kearahku, meremas dengan tangannya sendiridengan remasan yang kasar dan itu membuat buah dada yang besar, bulat, semakinmembusung, dan mengeras.
    Tangan kananku yang bebas kini juga mulaimelakukan aksinya, menyerang buah dada sebelah kirinya, tanpa didahului denganserangan halus, namun langsung dengan gencar melakukan serangan dahsyat,merengkuh, meremas-remas dengan kasar. “Oughhh “ setengah terkejut mungkindirasakan oleh Tante Marissa saat mendapat serangan lanjutan, pekikan tertahandisertai dengusan napas menghela, menyertai serangan yang kulancarkan.
    Suhu udara yang dingin menjadi tak terasa,bagian dada Tante Marissa seakan menjadi basah oleh keringat dan air liurku,serangan yang kulancarkan semakin gencar. Tanpa aku sadari tangan TanteMarissa, yang semula berada didepanku ditariknya dan meletakkannya dibelakangkepalaku seakan menyuruh aku untuk tidak menghentikan serangan sama sekali, dansemakin membenamkan kepalaku pada dua gunung kembar itu. Aku menerkam putingyang sedikit menjulang masuk kedalam mulutku, memainkan lidahku saat ia beradadidalam, mengulumnya, menghisap-hisapnya layaknya permen, seakan aku inginmenelannya. Beberapa saat telah berlalu, hingga…
    Tangan tante Marissa tiba-tiba menarik kepalaku,membuatku kepalaku terangkat, terkaget aku, segera aksiku kehentikan,kupandangi wajah Tante Marissa, memandangnya seolah bertanya, apa yang terjadi?. kukira ada sesuatu yang membuat aksiku dihentikan olehnya, jangan-janganTante Mala atau Moza terbangun dan keluar kamar, kemudian melihat aksi kamiberdua, duh.. mati aku !. dari posisiku ini jelas aku tak akan tahu, apa yangterjadi, saat aku tertelungkup, menikmati buah dada sang Tante, berarti posisikamar Tante Mala dan kamarku yang ditempati Moza berada dibelakangku, jadi akutidak akan tahu bila pintu kamar salah satu dari mereka tiba-tiba terbuka danmemergoki apa yang aku lakukan !,
    “Fan.. fan.. sudah fan…” begitu tiba-tiba keluarkata-kata dari mulut Tante Marissa,

kontan aku menyudahi seranganku, berbalik badanku seakan mencari tahu apa yang terjadi, dalam rasa terkejutku, posisiku yang semula bertelungkup, tengkurap, kini terlentang, bersiaga menghadapi apa yang akan terjadi selanjutnya. Memandang pintu di samping kananku, menatapnya, dan ternyata kedua pintu itu masih tertutup rapat “Duh sialan, lagi seru-serunya malah disuruh berhenti, kena lagi aku dikerjain !” gerutuku dalam hati, kuangkat kepalaku, kuarahkan kewajahnya, kuingin bertanya padanya, apa yang terjadi ?, apakah aku dikerjain lagi ?
Belum keluar kata-kata dari mulutku, tiba-tiba saja beliau bangkit dari posisi rebahnya, mengambil posisi duduk, kemudian beliau mengangkat badannya, menggeser pantatnya kearah bagian bawah tubuhku, berbalik memutar badan, hingga wajahnya menghadap kearahku, duduk seperti bersimpuh, mengangkat wajahnya, tersenyum kepadaku. Kemudian tanpa kuduga, beliau menaruh kedua tangannya dikedua pinggangku, kiri kanan. Belum hilang rasa terkejutku, tiba-tiba saja dengan cepat, beliau menarik celana pendekku berikut celana dalamnya, hingga kebatas dengkul !
Terkejut aku dengan apa yang dilakukannya, tak ada gerakan bertahan yang dapat aku lakukan, aku malah seolah membiarkannya terjadi, dan malah aku menjadi pasrah, ketika tangan beliau menarik kembali celana pendekku, aku malah mengangkat kaki kiriku, agar lubang celana pendekku berhasil melewati ujungnya.
Selanjutnya, aku lihat tante Marissa, menggeser kaki kiriku agar menjauh dari kaki kananku, membuat celah antara kedua kakiku semakin melebar, dan tiba-tiba saja beliau mengangkangiku, kulihat beliau seperti merangkak, menggeser dengkul kakinya, melewati kaki kiriku, dan kini beliau sudah berada ditengah-tengah diantara kedua kakiku. Dan entah apa yang harus kulakukan, beliau menatapku sejenak, sepertinya tersenyum melihatku, berkata kepadaku, “Sssttt….kamu diam aja Fan, ini Tante kasih sesuatu yang belum pernah kamu alami !”, aku hanya dapat memandangnya dengan pandangan yang sulit aku jelaskan.
Dan tiba-tiba saja beliau memegang batang penisku dengan tangan kirinya, batang penisku yang memang sudah menegang sejak tadi, dengan tegangan yang selalu naik turun seperti PLN, begitu dicengkeramnya, aliran darah yang melewatinya sepertinya semakin berdenyut kencang dan itu membuatnya semakin menegang.

Tante Marissa mulai mengurutnya perlahan, memaju-mundurkannya keatas kebawah, pelan seakan merabanya, ada sedikit rasa perih ketika kulit halus telapak tangannya menyentuh kulit penisku, terutama saat beliau memainkan dengan cepat, hingga ujung lubang penisku seperti berdecak-decak. Dan kemudian ia menurunkan kepalanya, dan tanpa kuduga, ia mencium kepala penisku, mencium dengan bibirnya yang mungil, sensual dan indah itu. Menjulurkan lidahnya, seperti ketika aku merasai putingnya, dan hap, tiba-tiba saja penisku sepertinya sudah tertelan masuk kedalam mulutnya.

Aku sepertinya menikmati sensasi yang benar-benar luar biasa, sukar untuk kulukiskan betapa nikmat apa yang kurasakan saat ini, kulihat kearah bawahku, tampak batang penisku seperti bersinar akibat air liur Tante Marissa yang membasahi seluruh permukaannya, sepertinya ia bekerja keras menaik turunkan kepalanya, mengulum ujung batang kemaluanku, menyedotnya, kemudian melepaskannya, sesekali beliau tampak memalingkan kepalanya ke kiri dan ke kanan seakan-akan ingin memelintir batang kemaluanku, mungkin juga dimaksudkan agar jangan sampai ada bagian yang terlewati.
Mata beliau melirik, melihat kearahku dengan alis mata yang lentik itu, seolah mengatakan bahwa apakah aku menikmati apa yang dilakukannya, inilah sensasi yang belum pernah engkau alami selama ini wahai fandi. Aku hanya terkesima melihatnya melakukan serangan balik terhadapku, aku hanya mampu menutupi wajahku dengan lenganku, hanya mampu melenguh panjang, manakala lidahnya yang nakal memainkan batang penisku tepat dibawah kepala helm penisku, membuatku menggelinjang menahan rasa nikmat yang amat sangat.
Rasanya aku ingin meraih payudara yang montok itu, yang menggelayut sempurna, layaknya ombak yang menghempas kapal karam kesana-kemari, namun tanganku tak mampu menjangkau payudara indah tersebut, aku hanya mampu menarik napas dalam-dalam, menahannya sesaat, kemudian melepasnya perlahan melalui mulutku disertai lenguhan panjang. Dan kemudian tanpa saat kenikmatan tiada tara tersebut tengah aku nikmati, ia melepaskan kuluman penisku dimulutnya.
Kemudian ia memajukan badannya menyorongkan dadanya sedikit kedepan, membawa buah dada yang rasanya sejak tadi ingin aku rengkuh dan rasakan, dengan kedua tangan yang memegang kedua buah dadanya tersebut, berusaha menjepit penisku !
Mungkin karena licin, dan penisku yang memang lebih miring kearahku, sehingga sepertinya penisku mencelat keluar dari himpitan kedua payudaranya, dan mungkin juga karena aku menyadari apa yang hendak dilakukannya, sehingga aku membantunya dengan mendorong sedikit penisku kearah dalam, hingga payudara putih, kenyal dan besar itu mampu menjepitnya.

Mungkin selama ini, inilah hal yang paling sangat aku ingin rasakan, tak pernah aku bayangkan sebelumnya, bahwa aku mengalami hal seperti ini, adegan yang mungkin selama ini hanya aku saksikan di dalam filem-filem porno, yang kerap aku tonton dirumah teman-temanku yang orang tuanya tergolong kaya dan mapan, ya gw mah dulu mana punya video player ?, (boro-boro video player, celana dalem aja ngepas ada 6 biji, warnanya sama semua, biar disangka gw punya 10 lusin dan maniak ama warna tertentu, loh kok ada 6, kan hari ada 7 ?, ya iyalah masa tuh CD gw mo nomorin pake nama hari ntar disangka punya 7 doang, hehehe.. ), yang tentu saja kami pinjam secara diam-diam dan ditonton dengan diam-diam pula, ya iyalah masa mo berisik dan teriak-teriak, kalo itu mah nonton bola, bukan nonton bokep, lah elo baca cerita ini aja diem-diem gak berisik, iya kan ?

“Ouggghhhh “ lagi-lagi aku hanya mampu mengeluarkan suara lenguhan agak parau, manakala pabrik susu yang besar itu mulai mengurut penisku, naik turun, menjepit penisku dengan kedua payudaranya, terlihat nampak seperti bergonjang-ganjing, naik turun, mendekap erat penisku pada belahan payudara tersebut, seakan tak membiarkannya terlepas dari jepitannya. Sesekali beliau menjulurkan lidahnya, menjilat kepala kemaluanku, dan kemudian mengulumnya, memasukkannya kedalam mulutnya.

Terus dan terus dilakukannya berulang-ulang, beberapa saat berlalu, kasihan juga aku melihat Tante Marissa, peluh sepertinya mengucur deras dari dahinya, membasahi punggungnya, menetes hingga kedadanya, udara malam yang dingin ini seakan tak membuat kami merasakannya, aku yang masih menggunakan kaos, mungkin masih merasakan dingin, namun kulihat Tante Marissa yang dadanya terbuka serasa berada di dalam ruangan yang panas.

Dedeku semakin tegang dan tegang, serasa aliran darahku terpompa kencang, aku hanya pasrah, melihat Tante Marissa memperlakukanku seperti boneka kesayangannya, tak ada kata-kata yang keluar dari mulutku untuk mencegah atau melarang tindakannya. Beberapa saat berlalu, dan sepertinya prosesi mengurut batang penisku seakan tak berujung, hingga tiba-tiba saja beliau menghentikan segala aksinya, dilepaskannya himpitan pada penisku oleh payudaranya dengan melepas tangan yang mencengkeram kedua buah dadanya, dan kemudian beliau yang saat itu berada pada posisi duduk membungkuk, kemudian menegakkan badannya, sepertinya ia akan menyudahi semuanya !.

Tersenyum ia kepadaku, “Gimana Fan udah gak sakit lagi kan ?, udah enakan kan ?” katanya lagi tatkala ia melepaskan jepitan payudaranya pada dedeku, membiarkan dedeku menegang sendiri, mengacung seolah memprotes kenapa ia menghentikan aksinya.
Aku hanya bisa memperhatikan tubuhnya yang kini telah berada dalam posisi duduk tegak, memandang wajahnya, dan tanpa aku sadari keluar kata-kata dari mulutku, “Tan lagi dong Tan, … masa cuma gitu doang !” entah apa maksudku, tapi nada dari kata-kata yang aku keluarkan itu terdengar seperti memelas atau lebih tepatnya seperti rengekan anak manja yang sedang meminta sesuatu.
“hihihihi…. Kan tante cuma ngilangin rasa sakit kamu doang, katanya tadi kamu sakit… hehehe, enak kan pijitan Tante ?” sahut Tante Marissa, sambil tertawa cekikikan, dan yang lebih menyebalkan lagi, ia mengatakan itu sambil mengedip-ngedipkan matanya, “Jah, kena lagi aku dibikin nanggung, kuya !…. “. Rupanya ia tahu bahwa aku kesal karena dipermainkannya, dan sambil tergelak beliau menjatuhkan badannya kebelakang, dengan bertumpu pada kedua tangannya yang menahan beban tubuhnya agar tak terjatuh sekaligus, dan serta merta merebahkannya.
“huh, lemes lagi deh dedeku “ aku menggerutu sambil menggaruk-garuk kepala bagian belakang telingaku, dan kulihat kearah bawah dari posisi kepalaku yang rebah, tante Marissa sepertinya kegirangan karena berhasil mengerjaiku lagi.
Namun, nampaknya ulahnya tidak sampai disitu saja, mungkin karena ia melihatku seperti kucing yang kelaparan yang sedang menunggu tuannya menyantap makanan, menunggu sang tuan berbelas kasihan melemparkannya sedikit ikan, dan sepertinya ia ingin menggodaku lebih jauh…
Mungkin beberapa saat setelah tawa cekikikannya reda, tanpa menunggu reaksiku yang sepertinya ngambek terhadapnya, tiba-tiba saja beliau bangkit dari rebahannya. Kupikir ia bangun dan hendak pergi meninggalkanku, kembali kekamarnya, namun yang kusaksikan ini malah kembali membuat hatiku berdebar-debar. Dalam posisinya yang berlutut, setengah berdiri, beliau kini malah menanggalkan pakaiannya !
“Mau ngapain lagi nih Tante ?, bodo ah, paling dia iseng mo ngerjain aku lagi” begitu yang ada dalam pikiranku, aku hanya terdiam, hanya melongo, terpana, melihat kearahnya, menunggu apa yang selanjutnya akan terjadi. Entah apa yang berada dipikiranku, namun saat ini didepanku kulihat Tante Marissa kini bertelanjang dada, dengan hanya menggunakan celana dalamnya saja.
dan kemudian beliau kembali merebahkan dirinya, memegang payudaranya, mengelus-elusnya dan melihat kearahku, tersenyum, seolah-olah mengatakan padaku, “hayoo sini fan, maju kalo berani !”

Mungkin karena aku takut dipermainkannya lagi atau mungkin aku bingung, tak tahu apa yang aku harus lakukan, hingga pada situasi ini, aku hanya terpaku saja melihatnya, melihat semua tingkah dan gaya Tante Marissa, layaknya sedang menyaksikan blue filmketika seorang wanita sedang melakukan pemanasan seorang diri. Kulihat beliau seperti tadi. memainkan payudaranya, mengelus-elusnya dan meremas-remas dengan tangannya sendiri,
Dan sepertinya beliau seolah-olah mengejekku, dengan menjulurkan lidahnya, mengangkat payudaranya dengan tangannya, dan menjilat putingnya. Dan tak lama kemudian tangan kanannya mulai memasuki celana dalamnya, memainkan tangannya didalam sana, seolah-olah mencari-cari sesuatu, bergerak-gerak dengan liar, menelusuri bagian vaginanya.
Aku hanya mampu menatapnya, berusaha agar tak tergoda, namun mengharapkan agar ia yang menarik diriku dan memperlakukannya seperti tadi. Sepertinya aku masih ragu untuk melakukan gerakan apapun, mungkin saat ini lebih tepatnya aku berlaku layaknya predator, menunggu saat yang tepat untuk menerkam mangsanya, bila salah-salah sedikit bukan mustahil sang mangsa akan kabur melarikan diri, atau mungkin ada sesuatu yang bisa mengakibatkan diriku terperangkap !.
Dan kulihat saat ini tante Marissa, seakan masih terus menggodaku, menatapku yang seakan tidak tertarik dengan tubuh mangsanya, seakan rasa lapar belum menyerangku, sehingga aku tidak tertarik sedikitpun dengannya, namun tatapan mataku seakan tak bergeming, seolah tak mau beranjak dari tubuhnya, masih terus menatap dan memperhatikannya. Hingga beberapa lama kemudian, kulihat ia menurunkan tangan kiri yang memegang payudaranya, menaruhnya pada pinggang dimana celana dalamnya melekat, dan selanjutnya tanpa kuduga, beliau menurunkannya, memerosotkan celana dalamnya hingga kebatas dengkul, melewati kedua paha putih dan mulus itu, membantu dengan kakinya agar celana dalam itu terdorong keluar !.
Dan kali ini tubuhnya kulihat polos tanpa sehelai benangpun !!!.

Kulihat ia tersenyum padaku manakala kulihat dengan pandanganku yang seperti terpaku, terkejut dengan apa yang dilakukannya. Hanya tersenyum sekilas sambil memandang diriku dan selanjutnya, ia kembali memainkan tangannya diantara belahan selangkangannya, memainkan jari jemarinya yang lentik, terus dan terus hingga kudengar napasnya semakin tidak teratur, lenguhan kecil sepertinya terdengar jelas dimalam yang dingin dan senyap seperti ini. Dan tanpa kusadari tanganku kini telah berada pada batang dedeku, yang sepertinya mengikuti irama jari gerakan tangan tante Marissa !.

Beberapa saat berlalu, aku seakan ikut menikmati live show didepanku, malah seolah-olah aku turut serta dalam aktifitas tersebut, hingga tiba-tiba saja Tante Marissa menghentikan aktifitasnya, bangkit dari posisinya semula, bangun, dan kemudian berjalan merangkak mendekatiku.

Ia menghampiriku, melangkahkan kakinya kesamping kananku, kedua kakiku yang masih mengangkang, terbuka lebar, dengan posisi dedeku yang masih berdiri tegak, mengacung !.
Kupikir ia akan memainkan dedeku seperti tadi, memainkan dengan tangannya, dengan mulutnya dan dengan payudaranya, menyelesaikan apa yang telah ia mulai tadi. Namun ternyata ia malah merebahkan dirinya disampingku.
Aku hanya meliriknya sekilas, seakan aku masih ngambek dengannya, cuek setelah apa yang dilakukannya padaku tadi. Dan mungkin sepertinya ia tahu apa yang terjadi pada diriku, ia yang semula merebahkan diri disampingku, kini membalikkan badannya dan kini badannya yang telanjang bulat menghadap diriku.
“Fan… mau lagi gak?” terdengar kata-kata tante Marissa ditelingaku, walaupun sepertinya beliau mengatakan dengan pelan namun aku jelas sekali mendengarnya, karena saat beliau mengatakan hal tersebut terdengar hembusan napas yang mengiringi kata-kata tersebut, mungkin kupingku dan mulutnya hanya berjarak beberapa centimeter saja. aku tak menjawabnya, mataku tak kupalingkan sedikitpun dari televisi didepanku.
“Faaaaan….” Tiba-tiba saja terdengar pekikan Tante Marissa, walaupun mungkin tak seberapa keras, namun karuan saja itu mengagetkanku, dan tiba-tiba saja beliau menarik badanku, hingga aku yang tadinya terlentang, kini badanku berbalik, menghadap kepada dirinya !
Kini wajah kami saling berhadap-hadapan, dan kini hanya beberapa sentimeter saja didepanku, kulihat wajah tante marissa, bertatapan langsung dengan wajahku. Sekilas tatapan mata kami saling beradu pandang, Kulihat sorot mata tante Marissa, lain dari biasanya, dengan sorot mata yang sayu, seolah menyiratkan suatu keinginan yang telah lama terpendam.
Beliau memandangku, menatapku mataku lekat-lekat, dan kemudian beliau berkata kepadaku “Fan, kamu mau gak tante kasih yang lebih dari tadi ?, tapi janji ya kamu jangan cerita ke siapa-siapa ?, pokoknya tante ajarin kamu sesuatu, kamu mau ?” aku tak menjawabnya, bingung harus menjawab apa, gugup aku dengannya, wanita cantik, putih dengan wajah yang mulus, kini berada dihadapanku, hanya beberapa centimeter saja dariku, tercium harum napas keluar dari mulutnya.
“Em…mang… appa ….” Belum selesai perkataanku, dan tanpa kusadari, tanpa menunggu jawabanku, tiba-tiba saja tangan tante Marissa telah meraih batang kemaluanku. Memang dalam jarak sedemikian dekat, tangan Tante Marissa tak perlu mengulur panjang, dengan posisinya tadi yang berada dibawah pinggangnya, mungkin hanya dengan satu gerakan saja, beliau sudah menangkap dedeku, kemudian dengan serta merta mengelus-elusnya, mengocoknya perlahan, membuat dedeku yang telah tegang kini semakin menegang.

Blingsatan aku jadinya, aku yang semula tenang kini mulai gerah kembali, tanganku kini mulai berani bermain, kupeluk dirinya, kumainkan dadanya dengan tanganku, sementara tangannya tak lepas dengan terus memainkan batang penisku. Dan rasanya hasrat birahiku kini telah benar-benar menggelora, hingga, seperti ada yang menyuruh aku untuk mencium dan melumat bibirnya yang hanya berjarak beberapa centimeter itu, saat aku memajukan wajahku dan hendak menarik kepalanya dengan tanganku, dan saat itu pula, tiba-tiba ia melepaskan tangannya dari dedeku dan menaruhnya dibibirnya untuk mencegahku melakukan hal itu…
“Sssttt… jangan fan, gak boleh, gak boleh cium bibir Tante, kalo kamu mau cium, cium yang lain aja !” dan dengan setengah berbisik ia mengatakan itu untuk melarang aku melakukannya, dan sepertinya agar aku tak kecewa, atau agar suasana yang baru saja dimulai ini selesai begitu saja, tiba-tiba saja ia memelukku dan merapatkan dadanya yang indah, besar dan kenyal itu ke dadaku, dan kemudian ia mengangkat kepalanya, melewati pundakku, dan menciumi leher belakang kepalaku serta menjilati belakang kupingku. Geli dan nikmat aku rasakan, dan manakala itu terjadi dadanya otomatis berada didepan mulutku, yang langsung aku sambar untuk aku cium dan jilati pula, dengan ditingkahi oleh hisapan-hisapan ringan pada putingnya.
Lama kami melakukan itu, saling cium dan jilat, membuat dedeku semakin tegang dan sepertinya menyodok-nyodok bagian bawah tante Marissa, seakan-akan mencari celah diantara kedua belahan pahanya, dan itu mungkin dirasakan oleh Tante Marissa, karena tiba-tiba saja iya menurunkan tangannya dan meraih penisku. Dipegangnya erat batang penisku, dikocoknya perlahan seakan hanya mengelus-elusnya saja, menambah napsuku yang sudah dipuncak menjadi semakin memuncak.
Tante Marissa tanpa kuduga tiba-tiba saja menghentikan pelukan dan ciumannya pada diriku dan tanpa kuduga, beliau merapatkan badannya pada diriku, menurunkan tangan yang satunya kebawah, dan kini kedua tangannya sepertinya berebut untuk memegang penisku !.

Dan tak lama kemudian, tante Marissa seakan mengarahkan penisku ke dataran tinggi dibawah perutnya, dataran yang sedikit memunjung, membentuk cangkupan menyerupai gundukan, dengan ditumbuhi hutan yang tidak seberapa lebat, seakan menuntun sang penis agar mendarat pada tempat yang tepat. kemudian beliau dengan menggunakan tangannya menarik dedeku, menggosok-gosokkan ujung kemaluanku pada bibir kemaluannya, dan kurasakan sepertinya pada bagian dalam bibir kemaluannya kini telah basah !.
Sulit sekali sepertinya pada posisi kami berbaring seperti ini, saling memiringkan tubuh dan berhadap-hadapan, sepertinya bibir kemaluannya tertutup rapat, sulit bagi kepala kemaluanku untuk menerobos masuk, hingga…..
Seolah mengerti akan keinginanku, Tante Marissa mengangkat kaki kanannya, seakan memberi peluang bagi dedeku untuk mendapat celah lubang dan menerobos masuk, dan sepertinya kesempatan itu tidak disia-siakan oleh dedeku, seakan atas inisiatip sendiri, pantatku membantunya, mendorong kedepan, sehingga amblaslah dedeku masuk kedalam lubang vaginanya dengan cepat.

Dan Tante Marissa seakan terkaget oleh aksi dari Dedeku, terhenyak sebentar, seakan menahan pekikan agar tak keluar dari mulutnya, namun sesaat kemudian sepertinya ia menerima penetrasi dari dedeku, bergumam lirih, seperti mengucapkan “hmmmm”, dan kemudian ia malah menggoyang-goyangkan pantatnya seakan menyuruhnya untuk maju mundur !. Dan sepertinya aku juga tidak tinggal diam, kuikuti irama dari pantatnya, namun aku membuatnya berlawanan arah, hingga apabila dia maju, aku ikut maju, dia mundur aku ikut mundur, dan itu jelas mengakibatkan gesekan yang luar biasa, karena membuat dedeku menjadi seperti keluar masuk vaginanya !.
Beberapa saat kami melakukan itu, detik–demi detik , menit demi menit, rasanya tak ingin aku menghentikan itu, ada yang berdegup kencang di dalam dadaku, ada rasa takut, takut jika ada yang menyaksikan kegiatan kami berdua, takut bila sekonyong-konyong muncul orang memergoki kami berdua, tante Mala atau Moza, yang mungkin terbangun. Aku seakan menikmati apa yang diberikan oleh tante Marissa dengan hati yang was-was, menikmati segala perlakuannya padaku sambil berwaspada mengamati situasi yang mungkin aku takutkan terjadi.
Tapi nampaknya tante Marissa seakan tak perduli dengan rasa khawatirku, beliau sepertinya menikmati sekali dengan apa yang kami lakukan, goyangan bagian bawah pinggulnya semakin menjadi-jadi, aku yang terpaksa harus meluruskan batang dedeku agar dapat mengimbangi posisi lubang kemaluannya, sepertinya rada tertarik dan membuatku merasa nyeri, wajahku sedikit meringis, dan sepertinya itu terlihat oleh Tante Marissa.
Tiba-tiba saja, ia mengangkat badannya, dan tanpa mencabut dedeku yang masih berada didalam vaginanya, dibantu oleh tangannya, mendorong tubuhku dengan tubuhnya, berguling, kini posisi kami berubah, tante Marissa kini berada diatasku.

Tante Marissa memelukku dengan erat, menindihku, seakan ingin menghentikanku bernapas, payudara putih dan montok itu kini berada ditengah-tengah dada kami, kenyal terhimpit, kurasakan putingnya yang telah tegang dan mengeras itu seperti menempel pada putingku.
“Gimana fan ? enak kan ?, sekarang kamu akan Tante kasih pelajaran kedua !” terlontar kata-kata itu dari mulutnya, “eh yang keberapa ya ? gak tau deh, kamu yang hitung, hihihi.. !” cekikikan tante Marissa, namun tak lama, karena setelah itu beliau malah menciumi bagian pipiku, dan setelah itu berlanjut ketelingaku. Dijilatnya pelan telingaku, memainkan lidahnya ditengkukku, kemudian beliau menciumi leherku dan tanpa kusadari, kini ia malah memainkan pantatnya, menaik-turunkan pantatnya dengan mulai perlahan serasa diayun kemudian dilakukannya cepat dan makin cepat.
Tak ada kata-kata yang kuucapkan untuk menjawabnya, seolah mulutku tertutup rapat, tak tahu apa yang harus kulontarkan, yang ada hanya ada rasa nikmat yang amat sangat, tatkala ia kembali menaikturunkan pantatnya, layaknya ulat yang sedang berjalan merambat batang ranting, dengan meliukkan tubuhnya menjalari tubuhku.
Dan sepertinya ia ingin memberikan aku sensasi dan pengalaman yang mungkin aku belum pernah alami, tiba-tiba saja ia menarik baju kaos yang masih menempel pada tubuhku, ditariknya ke atas hingga ke leher, dengan isyarat tangan ia memintaku untuk melepasnya. Aku menuruti kemauannya, kubiarkan ia melepas kaos tersebut, kuangkat tanganku untuk mempermudah ia melepaskannya.
Dan sesaat kemudian, aku juga telah polos tanpa ada kain yang menutupi tubuhku !.
Dan selanjutnya serangan berupa kecupan-kecupan dan jilatan-jilatan melanda tubuhku, mulai dari pipi, leher, hingga kedadaku, sepertinya ia hendak menciumi terus seluruh tubuhku hingga kebawah, namun nampaknya ia tak rela untuk mencabut vaginanya yang menancap pada penisku, hingga ciumannya hanya sebatas putingku saja. aku yang sedari tadi hanya pasif saja, menerima saja apa yang dilakukannya kini mulai bergerak aktif, tanganku yang semula tergeletak disamping badanku, kini mulai terangkat, menyentuh bagian bokongnya, seakan ingin membantunya naik turun, dan tanpa kusadari kini tanganku mulai meremas-remas bokongnya !.
Entah berapa lama kami melakukan itu, namun yang jelas, aku sangat menikmati apa yang dilakukannya terhadapku, payudara yang kenyal yang terhimpit diantara badanku dan badannya, tiba-tiba saja menimbulkan rasa yang membuat aku untuk melakukan sesuatu terhadanya, aku melepaskan tanganku yang berada pada bokongnya, kemudian menyelipkan diantar tubuh kami, kucengkeram benda putih, besar dan kenyal itu, kulakukan remasan-remasan padanya, dan nampaknya tante Marissa, menikmati apa yang kulakukan padanya. “Fan kalo sperm kamu mau keluar, keluarin aja ya ? jangan takut-takut, tante udah disteril kok “ kudengar bisikan tante Marissa pada kupingku, aku tak menjawabnya mungkin karena saking nikmatnya dengan penetrasi yang dilakukan oleh tante Marissa pada diriku, aku hanya dapat menjawabnya “He eh tan” disertai anggukan cepat, namun suaraku sepertinya hilang tertelan oleh deru napasku yang memburu.
Dan selanjutnya, ketika hasrat birahiku meluap-luap, ketika moment yang sepertinya sangat berharga ini tak ingin aku lepaskan, tiba-tiba saja Tante Marissa bangkit dari posisi rebahnya dibadanku, mengangkat kakinya dan menggesernya kedepan, sehingga kini posisinya seperti duduk setengah berjongkok dengan penisku yang menancap layaknya paku.

Dengan bertumpu pada kakinya, tante Marissa sepertinya semakin liar, beliau kini malah seperti bebas menggerak-gerakkan seluruh tubuhnya, menggoyang pantatnya kekiri kekanan, layaknya mengulek-ulek penisku agar hancur didalamnya. Kemudian berganti memaju-mundurkan pantatnya seolah akan menggerus apa yang berada dibawahnya.
Aku hanya mampu melenguh, menarik dan menghembuskan napasku dengan cepat sulit sekali mengikuti irama yang dilakukan oleh Tante marissa, kadang bila goyangannya kuikuti dan sejalan dengannya, tiba-tiba saja berubah, beliau mengubah pola goyangannya.
Yang jelas apa yang kurasakan saat ini memang aku baru mengalaminya, napasku seperti terengah-engah dibuatnya, Aku tidak dapat mengikuti irama permainannya, namun sensasi yang kurasakan begitu nikmatnya, goyangan-goyangan yang dilakukannya, begitu terasa pada seluruh kemaluanku, mulai dari kepala, batang hingga pongkol penisku begitu terasa, kadang aku ikut menggoyang pantatku, naik turun, seakan-akan membiarkan seluruh penisku amblas ke dalam vaginanya.

Saat tubuhnya bergoyang-goyang, aku menikmati pandanganku pada tubuh diatasku, payudara putih dan besar didepanku, bergonjang-ganjing bagaikan ada gempa yang menerpanya, terayun-ayun bagaikan hendak jatuh menimpaku, dan kemudian Tante Marissa menaruh tangannya pada kedua buah dada nan montok itu, meremas- remasnya, seakan memberi isyarat kepadaku agar melakukannya. Dan kuikuti kemauannya…..

Entah berapa lama kami melakukannya, waktu tak terasa, goyangan-goyangan liar yang dilakukannya, seakan melupakan kami akan waktu serta udara malam yang dingin menjadi tak terasa. Kurasakan batang penisku kini juga semakin tegang dan liar, seakan apa yang diberikan oleh Tante Marissa masih kurang, kadang kuangkat pantatku tinggi-tinggi, agar penetrasi penisku semakin dalam menerobos vaginanya.
Dan kulihat tante Marissa juga menikmati pelajaran yang diberikannya, entah sepertinya beliau begitu menghayatinya, kulihat mata beliau sepertinya terhanyut dengan apa yang kami lakukan, deru napas memburu diiringi desahan-desahan terdengar jelas walau halus.

Beberapa saat berlalu, ketika kurasakan jepitan pahanya pada tubuhku sepertinya semakin menghimpitku, goyangan yang dilakukan oleh tante Marissa terhenti sejenak, hingga kulihat seperti ada lenguhan dan hempasan napas diiringi tubuh yang bergetar, entahlah apa yang dirasakan oleh tante Marissa, namun kurasakan pada batang penisku semakin basah seakan ada benda cair menyiramnya. Mungkin ini yang dinamakan orgasme, karena kuperhatikan pada wajah Tante Marissa, dibalik peluh yang membasahinya, tampak seperti memperlihatkan tanda kepuasan.

Dan tiba-tiba saja penisku terlepas dari genggaman vaginanya, kulihat tante Marissa bangkit dari duduknya, berdiri bagaikan hendak mengakhiri permainan ini. Tentu saja jelas hal ini membuatku kaget, bagaimana tidak, aku yang sejak tadi dibuat nanggung olehnya, masa harus mengalami lagi seperti tadi, “Sialan” mengumpat aku dalam hati, jika saja tante Marissa benar-benar melakukannya lagi, mengerjaiku hanya sampai setengah jalan !.

Namun, nampaknya tante Marissa tak berhenti hanya sampai disini, beliau yang kini berdiri mengangkangiku, tiba-tiba saja menarik tanganku, menyusuhku untuk berdiri, bangkit dari posisi rebahku. aku sepertinya pasrah dengannya, menuruti ajakannya, ikut bangkit, mengikutinya !
Tante Marissa berbisik ditelingaku, “Fan, sekarang pelajaran berikutnya” dan kemudian ia seolah membimbingku, berbalik berjalan seraya menaruh tanganku diperutnya, dan seakan menyuruhku untuk memeluknya dari belakang, mengikutinya.

Entah apa maunya, dedeku yang masih tegak mengacung, kini menempel pada pantatnya yang munjung, songgeng, seakan hendak menyelinap diantara belahan pantatnya itu. Tanganku yang berada dipinggang, dengan telapak tangan menyentuh begian perutnya, membuat tekanan pada tubuh tante Marissa semakin erat menempel pada tubuhku. Hmm, kupikir tante Marissa akan mengajakku untuk pindah ke kamarnya, melanjutkan prosesi hubungan intim kami ditempat yang lebih aman. Namun perkiraanku ternyata meleset….
Ketika aku sedang menikmati saat-saat pergerakan kami tersebut, sensasi yang kurasa membuat gairah laki-lakiku kembali naik, tiba-tiba saja beliau memundurkan badannya, sehingga akupun memundurkan badanku dengan melangkahkan kakiku beberapa langkah kebelakang, dan beliau seketika berbalik, membalikkan badannya kearahku, dan sekonyong-konyong beliau mendorongku kebelakang, seakan hendak menolak aku, terhenyak aku, tak menyangka akan gerakannya, tanganku seakan reflek menahan tubuhku yang terjengkang, membuatku jatuh terduduk diatas sofa !.

Aku menatapnya dengan pikiran yang banyak menduga-duga, apa gerangan yang akan dilakukannya lagi terhadapku, kulihat beliau tersenyum, entah apa yang ada dipikirannya. Dan tanpa kuduga sama sekali, tiba-tiba tante Marissa menyusulku, menghampiriku, membalikkan badannya tepat didepanku. Kemudian seakan-akan mengambil ancang-ancang dimana letak penisku, dengan setengah membungkuk, beliau menempatkan kakinya berada ditengah-tengah kakiku, membuatku melebarkan kaki dan dengan perlahan-lahan beliau menurunkan pantatnya diantara belahan pahaku.
Mungkin karena aku dalam posisi tak siap, saat pantatnya mengarah kediriku, saat lubang vaginanya tertarik mencari penisku agar berada pada posisi yang pas, membuatnya tergelincir dan dan terpelintir, ada rasa sakit melandaku, dan otomatis aku mendorong tubuhnya, namun tante Marissa sepertinya sudah tahu dan mengerti, sehingga beliau melakukannya namun kali ini dengan pelan dan perlahan, menurunkan pantatnya mengarah kepada penisku.

Secara reflek aku membantunya dengan mengarahkan penisku. memasukkan penisku kedalam vaginanya dengan memgang pantatnya yang bulat, perlahan-lahan mulai dari kepalanya, batangnya, hingga semuanya seperti tertelan masuk kedalamnya.
Entah apa yang kurasakan, yang jelas saat ini aku merasakan hal yang benar-benar baru kualami, sukar kulukiskan dengan kata-kata, betapa penisku saat ini seperti tergenggam erat dengan benda hangat, dengan permukaan yang licin dan basah namun seakan-akan meremas-remas seluruh permukaan penisku dengan begitu lembut.

Aku hanya mampu melenguh pelan, seandainya dirumah ini tak ada lagi orang selain kami berdua, mungkin aku sudah bersuara keras, namun kusadari bahwa yang kami lakukan merupakan suatu hal yang hanya kami saja yang boleh tahu. Dari tempatku duduk memang saat ini aku dapat mengawasi kearah kamar dimana mereka berdua tidur, ya kamar tante Mala dan kamar Moza memang tepat berada di arah depanku, membuat merasa lebih aman, karena bila sewaktu-waktu pintu kamar tidur didepan itu terbuka, maka aku sapat dengan cepat mengantisipasinya.

Kupegang kiri kanan pantat yang indah dan bulat didepanku dengan kedua tanganku, seakan menyuruhnya untuk naik turun, menjaganya agar tetap berada dalam jangkauan penisku, seakan aku tak ingin ia lepas lagi. Dalam posisiku yang terduduk, sebetulnya tak ada yang dapat aku lakukan lebih dari sekedar memegang pantatnya saja, kendali sepenuhnya berada ditangan Tante Marissa. Beliau lebih banyak bergerak seakan tak mengenal lelah, menaik-turunkan pantatnya, dengan berpegang pada tangannya yang memegang kedua pahaku. Memang ada sedikit rasa sakit pada pahaku saat kedua tangannya menekan pahaku guna membuat pantatnya terangkat naik.

Dan lebih lebih lagi pada saat beliau menurunkan pantatnya perlahan-lahan, pahaku seakan ditekan dengan keras, namun itu tak kurasakan sama sekali, karena rasa nikmat yang amat sangat menyelimutiku, membuat seluruh tubuhku terasa bergetar sampai keubun-ubunku.
Beberapa saat berlalu, entah berapa lama kurasakan kenikmatan ini, sebetulnya aku sendiri merasa heran, mengapa dedeku yang biasanya hanya mampu bertahan beberapa menit saja, kini kurasakan cukup lama bertahan, apakah mungkin karena rasa takut ketahuan membuat pikiranku bercabang, sehingga ejakulasiku menjadi lebih lama dari biasanya, ataukah karena aku baru saja mengeluarkannya beberapa saat yang lalu ketika aku mencumbui moza sehingga dedeku perlu waktu untuk mengisi ulangnya. Entahlah, namun yang jelas pikiranku saat ini hanya terfokus bagaimana aku menikmati apa yang diberikan oleh Tante Marissa.
Tante Marissa sepertinya juga sangat menikmati dengan apa yang dilakukannya, kulihat beliau saat mendudukan pantatnya diatas kedua pahaku seperti ada yang membuatnya tergetar, kepalanya kadang digerakkannya kekanan dan kekiri, sementara pantatnya melakukan gerakan yang membuat dedeku seakan berputar, keatas, kekiri, kebawah dan kekanan, begitu terus.. dan terus… dan beliau seperti tadi, melakukan gerakan yang tak dapat kuduga, memang hal ini membuat dedeku terasa sakit namun seolah ditekuk tapi segera hilang ditutupi oleh rasa nikmat yang amat sangat.
Detik demi detik berlalu, menit demi menit kami lewati tanpa ada rasa nikmat terlewati, dan sejauh ini tante Marissa sepertinya memegang kendali penuh atas diriku, sesekali aku memeluknya dari belakang, menciumi bagian punggung hingga leher, sembari tanganku memegang payudaranya, meremas-remasnya, memainkan putingnya dan sesaat kemudian kembali meremas-remasnya dengan keras dan itu sepertinya cukup untuk menambah sensasi kenikmatan dari apa yang kami lakukan. Napas kami seperti sudah tak beraturan, kudengar desahan-desahan, dan racauan yang tak kumengerti yang keluar dari mulutnya, hingga dipenghujung malam ini kudengar seperti suara lenguhan panjang yang tertahan. Tubuh tante Marissa seperti bergetar dengan hebat, kepalanya tertarik kebelakang, genggaman vaginanya serasa mencengkeram dengan keras,dan beberapa saat kemudian cairan hangat sepertinya membanjiri batang penisku.

Tante Marissa menyandarkan tubuhnya pada tubuhku tanpa melepaskan penisku yang masih tetap berada dalam vaginanya, peluh membanjiri tubuhnya, dimalam yang dingin ini, tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya, hanya hembusan menyentak seakan melepaskan rasa lelah yang amat sangat. Matanya melirik kearahku, tersenyum sekilas, mungkin dalam hatinya ia merasa puas dan juga merasa heran, puas karena ia telah mencapai orgasmenya yang kedua, dan heran karena aku belum juga mencapai puncak ejakulasiku.
“Fan… sekarang pelajaran selanjutnya” setengah berbisik ia memandangku sambil mengelus pipi kiriku dengan tangannya, aku hanya terdiam memandangnya, tersenyum seakan menanti jurus berikut yang akan diturunkan oleh guru kepada muridnya.
Kemudian tiba-tiba saja tante Marissa bangun, melepaskan penisku yang masih tegang didalam vaginanya, tanpa melangkah beliau berguling ke kanan, dari atas badanku ke sofa, kemudian beliau mengangkat kakinya dan kemudian menunggingkan badannya, dengan posisi pantat berada didekatku dan kepalanya diujung sana.

Melirik kepadaku seolah menyuruhku untuk menuntaskan apa yang belum aku dapat, menyuruhku agar aku memegang kendali terhadapnya, menyorongkan pantatnya, mempersilahkan lobang vaginanya untuk aku manfaatkan, dengan meletakkan tangannya pada vaginanya seakan menunjukkan bahwa disitulah tempat dimana lubang kenikmatan yang harus aku manfaatkan sebaik-baiknya.

Tak kusia-siakan kesempatan yang mungkin langka ini, mungkin inilah yang selama ini kuimpikan, dari pembicaraan dengan teman-temanku yang sudah menikah, katanya posisi inilah yang paling nikmat, tapi entahlah, sepertinya semua posisi menurutku adalah sama, karena selama ini aku belum pernah melakukannya dengan siapapun, melakukan hubungan intim dengan wanita yang benar-benar rela dan sepenuhnya sadar dengan apa yang dilakukannya. Ya, selama ini aku melakukan dengan wanita hanya satu arah saja, sedangkan apa yang kualami saat ini adalah benar-benar nyata, benar-benar wanita dewasa yang cantik jelita, dengan tubuh yang sempurna, yang dengan rela menyerahkan tubuhnya kepadaku untuk aku nikmati.

Aku segera berputar badan, mengangkat kakiku ke sofa, menekuknya, kemudian aku berdiri dengan bertumpu pada kedua lututku, dan sekarang penisku mengarah pada pantatnya, tepat didepannya kini terpampang vagina tante Marissa !.
Perlahan aku mendorongkan penisku ke depan, tepat kepada lubang vaginanya yang mengangkang, memasukkannya perlahan, dan aku tersenyum, karena kini akulah yang memegang kendali terhadapnya. Perlahan aku masukkan bagian kepala penisku, mendorongnya pelan-pelan, kulihat kearah kepala Tante Marissa yang menengok kearahku, sepertinya beliau meminta aku agar dengan cepat aku memasukkanya kedalam vaginanya. Namun, sepertinya aku ingin membalasnya, ketika penisku sudah masuk sebagian, kulihat beliau sepertinya terhenyak, kemudian memejamkan matanya, memalingkan wajahnya dariku, lurus kedepan, seolah akan menikmati terobosan penisku.

Namun aku menahannya sebentar, dan kemudian tanpa ia duga, aku menariknya kembali dengan hanya meninggalkan kepala penisku didalamnya. Tante Marissa, menengok kembali kearahku seakan memprotes tindakanku, aku tersenyum sambil cekikikan pelan, “Kena” kataku perlahan, kemudian tanpa ia duga, aku mendorongnya keras-keras hingga membuatnya terpekik. “Fandi…!” katanya seolah menjerit dengan ditahan, nampaknya ia terkaget dengan yang aku perbuat. Namun aku seolah tak mendengar suara pekikannya, karena kemudian aku menariknya lagi dan mendorongnya lagi dengan cepat dan keras, membuatnya sedikit terpental.

Dan kemudian aku mendorong dan menariknya dengan cepat, seakan mengocok-ngocok penisku, yah, mungkin inilah yang ditanyakan Tante Marissa tadi, apa yang kubayangkan seandainya aku melakukan ritual coli, sesungguhnya inilah yang aku sering imaginasikan, dengan perempuan cantik yang nungging dengan pasrah menerima apa yang aku lakukan padanya.

Terus dan terus aku lakukan, menarik, mendorong penisku kedalam vaginanya, membuatnya terayun-ayun, kadang aku mendorong tubuhku agar dapat memeluknya, menjangkau payudara putih, indah dan kenyal yang bergoyang menggemaskanku, tanpa melepaskan penisku yang terus melakukan aktifitasnya disana. Kadang Tante Marissa juga menggoyang-goyangkan pantatnya kekiri dan kekanan, kadang seolah meliuk-liuk melakukan putaran, menambah sensasi kenikmatan yang kami lakukan.
Dari mulutnya juga keluar desahan-desahan halus dan deru napas yang kembali tidak teratur.
Entah timbul dari mana, dipikiranku terlintas ingin membalas lagi keisengannya tadi, saat sedang gencar-gencarnya, aku melakukan penetrasi padanya, saat sepertinya ia sedang asyik masyuk dengan apa yang aku lakukan, tiba-tiba aku hentikan gerakanku, diam, seakan aku sedang memasang telinga, melihat kearah pintu kamar Tante Mala atau Moza, seolah-olah menyatakan bahwa mereka keluar dari kamar.
Dan itu juga membuat tante Marissa terhenti, mengangkat kepalanya memandang kearah mana aku memandang, namun begitu ia menyadari bahwa tak ada sesuatupun yang terjadi, dan mengetahui bahwa ia sedang aku permainkan, keluar kata-kata “Fandi …kamu ah !” menyebut namaku seakan memprotes apa yang aku lakukan, dan aku terkekeh melihatnya, seraya melanjutkan apa yang tadi kulakukan, mendorong kembali penisku, menariknya, seakan mengocoknya dari perlahan, kemudian mempercepatnya dan semakin cepat.

Pantat tante Marissa yang bulat menantang, seperti yang selama ini selalu kubayangkan bila aku melakukan self service, kinibenar-benar nyata berada didepanku, sepertinya aku ingin menikmati semua menu yang tersedia didepanku, mulai dari pantatnya yang kuremas-remas, menepuk-nepuknya seperti adegan dalam film porno yang pernah aku saksikan, walaupun aku tak tahu apa yang dirasakan oleh Tante Marissa, namun sepertinya memang ada reaksi terhadapnya, kemudian memegang pinggulnya yang laksana gitar, menariknya kedalam ke arahku, seakan-akan ingin membuat ujung pantatnya menyentuh badanku, agar penetrasi penisku menjangkau semakin dalam vaginanya, terus menerus membuat bunyi seperti orang bertepuk tangan ketika pantatnya bersentuhan dengan bagian sebelah atas pahaku.

Beberapa saat berlalu, sepertinya tak puas-puasnya aku menyetubuhinya, begitu juga dengan Tante Marissa, sepertinya beliau juga menikmati dengan apa yang kulakukan. Kurasakan beliau juga sangat bersemangat melayaniku, melakukan perlawanan yang membuat pertarungan semakin seru dan panas, hingga saat kurasakan penisku semakin menegang dan mengeras, ketika tekanan dan genggaman vaginanya seolah-olah mencengkeram dengan beringas, ketika kurasakan diujung penisku sepertinya akan menembakkan peluru dengan hulu ledak cairan kental dan panas, kulihat dibawahku sepertinya tante Marissa juga merasakan hal yang sama, goyanganya semakin dipercepat, memaju mundurkan pantatnya, napasnya kelihatan seolah terengah-engah, kulihat ia sepertinya merapatkan pahanya, agar penisku semakin terjepit. Sepertinya dari mulutnya kudengar seruan pelan namun jelas “Hayo Fan !” seakan menyuruhku untuk berbarengan menuntaskan apa yang telah kami mulai.

Kudorong pantat putih, bulat, montok itu dengan kencang, kusentakkan dengan keras, kutengadahkan kepalaku kebelakang. Aku seakan ingin berteriak dengan kencang, ketikalendir nan wangi khas itu kumuntahkan, namun menyadari bahwa mungkin teriakanku akan mengundang orang, aku hanya mampu meneriakkan kata “aaaahhhrrrgggghhhhhh” dengan tertahan. Dan mungkin pada saat bersamaan sepertinya aku juga mendengar desahan dan lenguhan panjang mulut tante Marissa, sementara kepalanya menunduk, terkulai lemas, namun tubuhnya masih dalam posisi semula, tangannya masih menahan berat tubuhnya.

Kerebahkan badanku kedepan, memeluknya dari belakang, penisku berdenyut pelan, memuntahkan sisa-sisa cairan kedalam lubang vaginanya. Tak kusangka keringat mengucur deras dari badanku, bercampur ketika tubuh kami bersatu. Tante Marissa menjatuhkan badannya ke sofa dengan tubuhku masih menempel pada punggungnya. Letih dan lemas menyelimutiku, kutarik napasku dengan pelan dan kuhembuskan dengan cepat, seolah akan mengatur aliran napasku. Begitu juga dengan Tante Marissa, sepertinya melakukan hal yang sama, melepaskan lelah dengan mengatur jalur pernapasnya.
Pipi kami saling bersentuhan, saat helaan napas sepertinya sudah tak terdengar, kudengar suaranya jelas namun pelan, “Fandi, kamu Nakal !”, aku tersenyum mendengarnya, namun aku seakan enggan untuk menjawabnya, tak ada yang keluar dari mulutku. Saat ini aku hanya tak ingin melepaskan tindihan badanku pada badannya, seolah ingin terus menikmati apa yang kurasakan saat ini. Namun tiba-tiba sesuatu menyadarkanku, aku takut sepertinya ada yang memperhatikan kami berdua, ketika sepertinya ada yang menyuruhku untuk bangun, kucium dengan cepat, “Makasih ya Tan buat pelajarannya”, sambil aku mengangkat badanku, menjejakkan kakiku pada lantai, membungkuk untuk meraih pakaianku yang berserakan di lantai. Tante Marissa sepertinya juga melakukan hal yang sama, duduk, kemudian mengumpulkan pakaiannya yang berserakan.
Bergegas aku mengenakan pakaianku, namun saat mengenakannya, kulihat tante Marissa, setelah memastikan pakaiannya terkumpul semua, menaruhnya pada lengannya, mengepitnya ke tubuhnya, memastikannya tak terjatuh, tersenyum kepadaku sesaat, meninggalkanku dengan tubuh polosnya, berjalan menuju kamarnya.
Dan sepertinya aku juga tak ingin berlama-lama, udara dingin mulai kurasakan, kuraih remote yang tergeletak dilantai, mematikan televisi dan bergegas meninggalkan ruangan tengah itu, menuju kamar dimana seharusnya aku tidur.
Kutarik handle pintu dengan perlahan, memastikannya agar tak berbunyi ketika aku membukanya, tak ingin aku melihat Moza terbangun dan melihatku memasuki kamar, dan menanyakanku mengapa aku meninggalkannya, bertanya padaku apa yang telah aku lakukan.
Pelan, kuhampiri ranjang tempat dimana gadis cantik itu tertidur, meraih sisi tempat tidur, memastikan tubuh wanita itu tertidur pulas, memastikan aku tak mengganggunya dengan kedatanganku, kurebahkan badanku disisinya, tanpa bersuara, berusaha memejamkan mata. Pikiran-pikiran itu terus membayangiku, kupeluk tubuhnya tanpa rasa napsu lagi, namun kini seakan rasa sayang menggantikannya, seolah aku tak ingin melepaskannya, membuatku sedikit tenang, hingga membuatku tertidur pulas.

Apakah aku jatuh cinta sama Moza
Tapi...jujur saja aku ketagihan menyetubuhi Tante Mala, walau dalam keadaaan tak sadar sekalipun. Suatu saat aku akan melakukannya lagi
Tante Marissa, ada satu hal yang aku belum dapatkan darinya, ciuman dan kecupan bibirnya.... Penasaran juga kenapa dia rela menyerahkan tubuhnya namun tidka dengan bibirnya. Apa bibirnya hanya untuk pasangan syahnya? Besok aku harus mengatahuinya... kalo bisa mendapatkannya.
Mita, bagaimana sikapnya besok setelah aku perawani kemarin? Apa jaga jarak atau minta jatah lagi?
Lamunan berkecamuk, kualihkan dengan memeluk Moza, sebuah pelukan sayang............sampai aku terlelap.


Akhirnya kisah Fandi ini harus diakhiri....apakah akan ada Kisah Fandi Episode 2, 3 dst???? Tak taulah...
<the end>
Kisah Fandi, Pada: Kamis, Juli 30, 2015
Copyright © 2015 CERITA DEWASA Design by bokep - All Rights Reserved