Recent Posts Widget

Ternyata Suamiku Nakal

http://cerita-porno.blogspot.com/2015/07/ternyata-suamiku-nakal.html

Siapa yang tahu isi hati seorang.
Pepatah mengatakan dalam laut dapat ditebak dalam hati siapa yang tahu.
Begitulah kisah ini bermula siapa sangka suamiku yang begitu setia punya hasrat kepada wanita lain.
Apa salahku? Tidak. Aku sudah cukup sempurna.
Lalu apa?
Ah...ku pikir memang laki-laki semua sama.
Tapi suamiku tetaplah yang terbaik walau sudah berapa wanita yang dia tiduri aku tak peduli karena aku sadar aku tak benar-benar sanggup melayaninya sendiri atau memang suamiku yang terlalu perkasa.Yang pasti aku mencintainya.

Alkisah, pagi yang cerah di salah satu sudut Kota Jakarta.

“Selamat pagi, mama.”sapa suamiku

“Pagi Pah!”Jawabku.

“Gimana Mah udah siap?”tanya suamiku.

“Sebenarnya Mamah ragu Pah, tapi mau bagaimana lagi, Papah harus tugas ke sana ya Mama ikut aja.”jawabku sekenanya.

“Tiga hari lagi Papa pulang kok Ma.”balas Suamiku.

Tak beberapa lama taksi yang dipesan suamiku datang.

“Yaudah hati-hati yah Pa!”sambil ku lambaikan tanganku.

Ku lihat suamiku masuk ke dalam taksi dan segera berlalu dari hadapanku.

Hari ini memang adalah hari dimana suamiku harus pergi dinas ke luar pulau. Maklumlah sebagai salah satu Pejabat di kementrian sosial mengharuskan suamiku harus sering pergi ke daerah-daerah tertinggal.

Eit..sebelum lanjut lebih dalam, perkenalkan namaku Revita Sari Puspitasari, seorang istri dari seorang suami bernama Wijaya Saputra. Saat ini aku berumur 24 tahun masih mudakan? Selisih usia dengan suamiku terpaut tahun. Aku jelas masih sangat cantik dan tentu saja dengan PD aku bisa mengatakan bahwa aku dianugerahi tubuh dan wajah yang nyaris sempurna. Meski terlahir dari keluarga Jawa, aku memiliki kulit kuning langsat dan mulus serta onderdil yang bisa dibilang wow. Bokong seksi membulat dan payudara ukuran 36D dengan tinggi badan 172 cm,, berat badan idealah.

Suamiku sendiri bisa dibilang seorang lelaki yang tampan. Badannya kekar berotot. Tinggi badan 175 cm. Sebenarnya lebih cocok jadi model menurutku. Ssatu hal yang jelas aku selalu kangen dengan suamiku ini bukan hanya karena kehangatannya tapi karena layanan di ranjang benar-benar hebat ditambah dengan penis suamiku yang terbilang besar dan panjang menurutku. Pernah iseng selepas kami bercinta ku ukur penisnya panjangnya hampir 19 cm dan diameter 5 cm. Hmmm...benar-benar besar menurutku dibandingkan dengan beberapa penis yang pernah aku lihat di film-film porno.

“Yah harus sendirian lagi nih. Mana Bi Imah sedang pulang kampung.”gerutuku.

Mengenai kehidupan kami, kami merupakan orang yang cukup berpenghasilan. Namun, suamiku sendiri lebih suka hidup sederhana. Meskipun, dia bekerja sebagai pegawai di pemerintahan sebenarnya warisan keluarga suamiku sangat banyak ditambah aku sendiri sebenarnya juga mempunyai usaha butik di beberapa mall di Jakarta ini. Kami sendiri tinggal di sebuah perumahan di pinggiran Jakarta, tidak besar memang rumah berukuran 120 m persegi berlantai 2. 3 kamar dibawah 2 kamar seingkali tak terpakai 1 kamar merupakan kamar pembantu, kamar Bi Imah Sedangkan lantai atas terdapat 2 kamar serta balkon yang cukup lapang. Maklumlah kami berkeinginan punya banyak anak. Namun, menginjak usia kedua pernikahan, kami masih belum diberi momongan.

Tiga hari kemudian.

“Mama, Papa pulang!”suamiku berteriak dari luar rumah.

Memang suamiku punya kebiasaan seperti itu, sehingga seringkali aku malu dengan tetangga.

“Muach...”suamiku menciumku.

“Ih nakal deh.”sambil ku cubit perutnya.

“Aduduh...”jerit suamiku kesakitan.

“Sini Pah duduk dulu. Mama bikinin minum yah Pa.”kemudian aku segera ke dapur dan membuat minuman untuk suamiku.

Ku lihat suamiku kecapekan, dia duduk sambil merebahkan badannya di kursi sambil memegang remote mencari saluran TV yang cocok.

“Nih Pa.”Sambil ku uluran segelas es jeruk untuk suamiku.

Tanpa menunggu lama langsung diseruput bergitu saja.

“Ah...segar!”suamiku nampak puas.

“Mah, papa mau cerita deh.”ujar suamiku serius.

“Apaan sih Pa kayaknya serius banget?”tanyaku.

“Kemarinkan Papa tugas ke Lampung eh disana Papa ketemu Pak Dhe Jarwo, kakaknya Bapak.”cerita suamiku.

“Terus terus?”aku semakin kepo.

“Nah, diakan punya anak perempuan semata wayang baru lulus SMA rencananya mau kuliah di Jakarta. Aku minta aja dia tinggal disini daripada haris nge kos
atau kontrak lagian kita juga punya kamar kosongkan di bawah.”ujar suamiku.

“Mama sih gak masalah Pa, lagian Mama jadi ada temennya kalo Papa pergi dinas.”jawabku.

“Yaudah Papa sekarang mandi dulu udah sore nih, dan mmmm.....”sengaja aku berlama-lama.”

“Mmmmm....apa sih Ma?”tanya suamiku.

“Ada deh...”sambil mengerling nakal.

Suamiku sendiri sendiri paham maksudku tapi pura-pura tetep biasa saja.

“Iya entarlah lihat aja.”jawabnya.

Menjelang malam. Aku dan suamiku bersiap makan malam. Terdengar ada suara bel berbunyi.

“Ting tong ting tong.”

“Siapa yah Pa?”tanyaku.

“Bentar papa cek dulu deh Ma”jawab suamiku sambil segera menuju ke ruang depan.

Aku segera menyusul suamiku ke depan rupanya Bi Imah pulang.

“Eh rupanya Bi Imah, kirain tamu darimana. Ayo masuk sini saya bantu bawa barangnya. Papa ini gimana sih kok malah bengong?”

“Eh iya Mah sini papa bantu.”sambil meraih bawaan dari tanganku.

“Ndoro, saya mohon maaf, saya bawa cucu saya ke sini.”ujar Mbok Imah.

“Lho gapapa Mbok, mbokkan sudah seperti keluarga kami sendiri. Jadi, cucu Mbok ya keluarga kami juga.”jawabku.

Aku sendiri baru sadar rupanya di belakang Mbok imah berdiri sosok gadis remaja masih ABG. Terlihat sangat polos dimataku. Tanpa dandanan apapun, hanya memakai kaos oblong berlapis jaket sederhana dan rok sepanjang lutut.

“Sini Mar!”suruh Mbok Imah.

“Iya Mbok.”

“Ndoro ini cucu saya Marni. Terpaksa saya ajak kesini karena Bapak dan Ibunya meninggal 3 hari yang lalu kecelakaan.”cerita Mbok Imah.

“Kami turut berduka Mbok.”ujar suamiku.

“Marni, kenalkan saya Wijaya, ini istri saya Revita,”kata suamiku sambil mengenalkan aku kepadanya.

“Kamu gak usah sungkan anggap aja rumah sendiri.”imbuh suamiku.

“Ya sudah ayo masuk semuanya.”ajakku.

Malam itu, rumah kami jadi ramai sekali dengan datangnya satu lagi penghuni rumah ini. Aku sih tidak mempermasalahkan jika harus menampung 1 atau 2 orang
lagi karena memang kami serba berkecukupan. Kami berkumpul dan bercerita di ruang makan. Maklum kami tidak pernah membedakan pembantu dengan status kami.

“Marni, nanti kamu tidur di kamar yang itu yah.”sambil ku tunjuk sebuah pintu kamar di sebelah kanan.

“Iya Ndoro”jawab Marni.

“Duh Marni, jangan panggil Ndoro, mbak, tante atau gimana deh asal jangan Ndoro.”jawabku

“Iya Mbak.”jawab Marni kikuk.

Seusai makan malam. Kami beranjak ke tempat kami masing-masing. Aku dan suamiku segera beranjak ke kamar kami di lantai atas.

----

“Ssssshhhh....enak sekali Pa....”erang Revi Istriku.

Dengan gerakan semakin cepat jari-jariku semakin genjar ku kocok dalam vaginanya. Ku ciumi wajahnya dan tanganku satunya meremas-remas payudaranya
bergantian. Tidak berapa lama Istriku mengejang.

“Pa pa pa papa mamah sampai....”erangnya.

Tubuh istriku kaku mengejang kemudian melemah.

“Enakkan Ma?”tanyaku

“Pah enak banget...”jawabnya tersengal-sengal.

“Sini Pah, gantian.”

Istriku yang nampak lelah namun tetap menggairahkan segera meraih penisku. Mengocok- penisku pelan namun pasti. Penis itu nampak tak cukup dalam genggaman tangan Revi istriku. Sambil rebahan di ranjang ku biarkan istriku berbuat sesukanya. Ku rasakan kepala penisku hangat serasa lembab dan basah. Rupanya kulihat istriku sedang berusaha memasukkan penisku ke dalam mulutnya. Namun jelas dia kesulitan karena mulut istriku terlalu mungil untuk menerima penis besarku. Tapi dapat tetap ku rasakan sensasinya.

“Ah.... Ma lebih dalam lagi ma... ah...”. desahku menikmati blowjob istriku.

Melihat istriku semakin bernafsu menggumuli penisku aku tidak mau kalah ku tarik pinggang istriku hingga akhirnya kepalaku berada tepat di depan gua basahnya. Tanpa menunggu lama. Ku lijati bibir bawah istriku sambil sesekali ku sedot-sedot dan ku masukkan lidahku ke dalam vagina istriku. Istriku pun mendesah menggeliat-geliat meski mulutnya tersumpal penis besarku.

15 menit lebih ku rasa dalam posisi ini, terlihat istriku sudah mulai kelelahan.

“Ah ah sh shshs s...Pa... ca....pek nih penis.... Pa pa em...ang perkasa ah..... Mamah gak sanggup kalo harus gini terus.” Kata istriku sambil menoleh padaku yang masih asyik menjilati vaginanya sembil meremas bokong seksinya.

“Pa...pa...masu...kin.....aja...ah.....”tiba-tiba tubuh istriku mengejang lagi untuk kedua kalinya dan mukaku disemprot cairan kewanitaannya.

“Ah........”desah istriku puas. Pahanya mengapit kepalaku sehingga aku agak kesulitan bernafas.

Setelah jepitannya meregang segera ku balikkan badannya. Tanpa menunggu lama ku tempatkan kepala penisku tepat di bibir vagina istriku yang nampak sangat
kepayahan setelah mendapat dua kali orgasme. Pelan-pelan ku gosok kepala penisku ke bibir vagina istriku.

“Sh...ss.s.s.s.s.s.....”desahan demi desahan istriku.

Ku gosok lagi sesekali ku tekan dan ku tarik lagi bergitu berulang kali.

Desahan istriku semakin hebat.

“Ss...s....s...ss ah ah pa pa...ss ayo dima...suk...kan.....ah..”desah istriku.

Tangannya memegang pantatku seolah tidak ingin aku melepas penisku dari vaginanya dan sekali sentak amblas seluruh penisku ke dalam kemaluan istriku
disertai jeritan kecil istriku.

“Ah....”penisku tertancap sempurna.

Pelan-pelan dengan ritme pasti ku maju mundurkan penisku dalam kemaluan istriku. Sesekali ku tarik penisku hingga tinggal ujungnya saja tetap berada di
dalam vagina istriku. Kemudian ku sentak lagi hingga amblas. Hingga mentok ke dalam lebih dalam. Vagina istriku memang sempit sekali walau sudah berulang kali ku nikmati dan ke genjoti setiap saat. Namun, rasanya tetap masih sama seperti waktu pertama kali.

30 Menit dengan posisi misionary membuatku bosan, ku miringkan badan istriku, kemudian ku genjot lagi vaginanya dari samping sambil ku angkat sebelah kakinya. Ku genjot dengan frekuensi yang cepat.

“Ah....ah....ah.....”istriku mendesah.

“Ku ciumi lehernya dari samping dengan tetap menjaga frekuensi genjotanku sepuluh menit kemuadian ku rasakan ada yang mendesak keluar. Sepertinya aku sudah tidak tahan lagi. Tak beberapa lama ku semprotkan maniku ke dalam vagina istriku berbarengan dengan kejangnya istriku. Malam ini aku cukup puas. Ku peluk istriku dari belakang kemudian kami berciuman cukup lama dan akhirnya istriku tertidur.
Sementara aku sendiri seperti masih belum puas. Namun, ku lihat istriku sudah terlelap. Tidak mungkin aku tega melanjutkan lagi dengan istriku meski penisku masih ingin. Untuk menghilangkan keinginanku aku pun ke luar kamar ke lantai 1 bermaksud melihat tayangan TV di ruang tengah dengan hanya bercelana kolor tanpa CD. Aku tak mau mengganggu istriku yang terlelap jadi ku putuskan ke bawah meski pun kamar kami sendiri memiliki TV.
Ku pencat-pencet tombol remote namun tidak ada acara yang dapat menghiburku. Ku lihat jam di dinding rupanya sudah jam 01.17 pantas saja sudah sepi bergini. Pikiranku menerawang akhirnya timbul niat isengku.

“Bukankah disini ada gadis remaja cucu mbok Imah bukankah dia cukup cantik dan montok untuk ukuran anak desa seperti dia”.pikirku.

Ku matikan TV kemudian setengah berjingkat ku hampiri kamar Marni. Ku putar gagang pintu itu pelan tanpa menimbulkan suara. Aku hampir berteriak saat ku lihat Marni tidur tak berselimut dan hanya mengenakan BH dan Celana Dalam saja. Pantas saja mungkin dia gerah kepanasan karena ku lihat AC di dalam kamar tidak dinyalakan. Mungkin Marni tidak tahu cara menyalakan AC pikirku.

Ku perhatikan gadis itu dengan seksama, sempurna. Untung saja lampu tidur masih nyala sehingga dengan jelas dapat ku perhatikan lekuk-lekuk tubuh remaja ini. Dapat ku lihat dada Marni naik turun seiring dengan dia bernafas. Penisku pun mengeras lagi mengacung-ngacung ke atas hingga ke luar dari celana yang ku pakai.

Aku tak mau terburu-buru. Bisa konyol jadinya kalau samapi dia terbangun. Pelan pelan ku goyangkan badan Marni mencoba membangunkannya. Namun rupanya Marni tidak bergeming.

“Kesempatan nih.”pikirku.

Meskipun bisa dikatakan aku memiliki istri yang sempurna namun bagaimana pun aku laku-laki. Pelan-pelan ku pentangkan kaki Marni. Dalam posisi telentang tentu saja sangat mudah melakukannya. Aku segera melepas celana kolorku. Penisku seperti sudah ingin masuk ke dalam sarangnya. Namun, aku berusaha bersabar meski nafsu sudah diubun-ubun. Pelan dan pasti ku remas pelan payudara Marni yang sedang tumbuh berkembang itu. Ku naikkan BH nya tanpa melepaskannya hingga dapat ku lihat dengan jelas payudara membulat indah dengan puting susu mungil menghiasinya. Ku sedot pelan payudara Marni.

“Ah....Ss...”desah Marni

Aku sempat kaget ku pikir dia akan terbangun. Namun dugaanku salah. Marni hanya mendesah saja sesekali menggeliat. Pasti dia merasakan nikmat.
Bosan dengan payudara Marni ku geser CD marni ke samping dan hanya dapat ku lihat celah lembab dihiasi bulu halus yang sangat jarang.

“Masih perawan rupanya dia.”batinku.

Segera ku tempatkan kepala penisku di bibir kemaluan Marni. Pelan-pelan ku gosok-gosokkan kepala kemaluanku di bibir vagina Marni. Hasilnya Marni merintih dan mendesah tertahan. Untung saja Marni masih tertidur kalau tidak apa jadinya.
Ku dorong masuk ke dalam pelan. Ku lihat Marni meringis seperti kesakitan, ku dorong lagi sedikit demi sedikit akhirnya kepala penisku sudah tertanam dalam vagina Marni. Ku rasakan kepala penisku seperti di selimuti cairan. Terangsang juga dia pikirku. Akal sehatku masih menguasaiku. Sehingga aku tak melanjutkan aksiku lebih jauh.

Dengan kepala penis yang sudah dimakan vagina Marni segera ku maju mundurkan penisku hanya sampai kepalanya saja. Rasanya ternyata enak juga. Sang pemilik vagina pun ku rasa merasakan hal yang sama dengan yang ku rasa. 15 Menit aku merasa ada yang mau keluar. Baru kali ini ku rsakan sensasi seperti ini. Serasa memperkosa seorang gadis. Semakin ku percepat sodokanku dan tepat sebelum spermaku menyembur ku tarik penisku dari dalam vagina Marni dan spermaku menyemprot tepat ke perut Marni. Nasib masih dipihakku Marni masih terlelap mungkin karena masih capek jadi dia tetap terlelap. Segera ku bersihkan spermaku di atas perut Marni tapi dengan apa.

“Aha...ku ambil kolorku dan segera ku lap spermaku. Ku rapikan kembali BH dan CD Marni kemudian aku keluar dari kamar Marni tanpa memakai celana lagi dengan penuh kepuasan.

Aku berharap malam-malam berikutnya dapat ku rasakan lagi hal seperti ini. Aku segera masuk ke dalam kamar dan kemudian tertidur memeluk istriku.Semenjak kedatangan Marni suamiku seakan bertambah semangat. Apa yang terjadi padanya. Padahal ku lihat tak sekalipun Marni dan suamiku terlibat dalam sebuah percakapan yang intim/ Aku masih berpikir positif tak tahu apa yang telah dilakukan suamiku. Selama ini aku sangat percaya suamiku adalah orang yang sangat setia dan bertanggung jawab jadi tidak mungkin dia akan menghianatiku. Ah..mungkin dia mendapat hiburan karena sampai sekarang belum diberi momongan aku sendiri juga senang ada teman di rumah. Walau sebenarnya aku juga sibuk mengurus butik-butik ku.

Suamiku semakin sibuk pula dengan pekerjaannya selain bekerja sebagai pegawai pemerintahan orang tua suamiku juga menyuruh suamiku mengurus perkebunan kelapa sawit keluarga mereka. Jadilah suamiku semakin sibuk. Namun, dia tetap memberikan kepuasan batin padaku. Meski ku sadari sepertinya suamiku masih belum puas dengan pelayananku. Aku pun bertekad untuk lebih bisa memuaskan suamiku. Suamiku sendiri kemudian mengubah kamar lantai atas satunya untuk ruang kerja lengkap dengan perpustakaan dan multimedia. Beberapa kali aku lihat ke dalam ruang itu. Wow..suamiku benar-benar gila. Ruang itu benar-benar lengkap kecuali dapur tidak ada. Suamiku pun menyediakan ranjang di kamar itu. Sudahlah aku pikir suamiku ingin bekerja sambil bersantai.
Sudah sebulan lamanya Marni tinggal di rumah kami. Rasanya baru kemarin dia datang ke rumah kami. Hari ini Papa Suamiku bermaksud mendaftarkan Marni ke SMA, maklumlah Marni di desa hanya mampu mengenyam pendidikan hingga SMP saja. Aku bisa paham karena memang kehidupan keluarga Mbok Imah memang serba apa adanya. Untunglah suamiku juga bukan orang pelit. Selain, Marni suamiku punya beberapa anak asuh lainnya.

“Pa, papa, jadi mau daftarin Marni sekolah?”tanyaku.

“Jadilah Ma, kasihan jugakan anak masih umur 16 tahun harus putus sekolah. Seenggaknya sampai SMA lah Ma. Tapi kalau memang Marni punya potensi bias jadi
Papa bantu sampai kuliah.”Papar suamiku.

“Mama bangga deh sama Papa,”sambil ku kecup pipi Suamku.

---

Hari itu kami berdua mengantar Marni mendaftarkan sekolah. Tidak ada proses berbelit-belit karena suamiku termasuk orang yang cukup di kenal di sekolahan Marni mendaftar. Yayasan sekolah tersebut merupakan milik sahabat Ayah mertuaku, ayah suamiku. Selain itu, ini bukan pertama kalinya. Ku lihat Marni cukup cantik untuk gadis desa, perawakan yang kecil namun terlihat tubuh itu memiliki bentuk yang indah. Aku sendiri yakin 2-3 tahun lagi Marni akan tumbuh menjadi gadis yang cantik. Apalagi hari ini dia memakai rok di atas lutut dan baju yang serasi. Mungkin harus ku ajari berdandan pikirku.

“Maaf Ndoro Marni jadi ngrepoti!”ujar Marni.

“Lho kan sudah dibilangin jangan panggil saya Ndoro, panggil saja Mas, Kak, Abang atau Papa juga gapapa.”ku dengar obrolan suamiku dan Marni di dalam mobil.

“Iya nih Marni sering gitu lho Pa, masa Mama dipanggil Ndoro.”ujarku.

Ku perhatikan suamiku dari belakang. Nampak suamiku sesekali melirik paha Marni yang terekspos. Tapi biarlah namanya juga laki-laki.

“Tuhkan, dibilangin.” Tutur suamiku

“Gini aja deh Mar, kita buat kesepakatan gimana kamu mau panggil kami. Gimana Mar?”Tanya suamiku.

“Iya Mar.”aku pun menyetujui.

“Mmm....”tampak Marni berpikir.

Hingga belokan terakhir menuju rumah kami, kami masih belum mendapat jawaban dari Marni. Sementara suamiku masih fokus menyetir. Memang kami tidak punya sopir jadi suamiku sendiri seringkali menjadi sopir buatku karena memang aku lebih suka duduk di belakang. Sedangkan Marni ku biarkan duduk di sebelah suamiku.

Tiba-tiba Marni berujar,”Boleh saya Panggil Pak Wijaya dengan Papa, dan Ibu Revita Mama?”

Aku agak terkejut mendengarnya, ku rasa suamiku pun sama karena sempat suamiku menginjak rem mobil.Mungkin Marni masih menyimpan kesedihan karena kehilangan orang tuanya.

“Gimana Ma?”tanya suamiku.

“Boleh sih Pa, lagian kayaknya mama juga pengen cepet punya anak sendiri siapa tahu bisa jadi pancingan.”ujarku.

“Oke deh kalo begitu.”balas suamiku.

“Kamu boleh panggil Papa dan Mama ke kita, ya kan Ma.”tanya suamiku

Aku mengiyakan dengan isyarat anggukan kepala.

“Makasih Ndo,,,, eh Pa makasih Ma.”tutur Marni.

“Oh iya besok kamu sudah bisa masuk sekolah, Mar.”tutur suamiku.

“Ma seragamnya sudah adakan?”tanya suamiku.

“Sudah Pa, sudah Mama mintakan ke sekolah.”jawabku

Tidak lama kemudian mobil kami sampai di depan rumah. Suamiku membunyikan klakson mobil yang kemudian di sambut Mbok Imah. Sampai di rumah aku pun bergegas ke kamar Mandi, rasanya gerah lagian juga sudah sore. Ku nyalakan shower. Ku dinginkan kepalaku. Entah apa yang ku pikirkan. Aku rasa suamiku memiliki ketertarikan terhadap Marni. Tapi apa iya?

“Ma, mama, papa ikut mandi dong,”suamiku tiba-tiba nyelonong ke kamar mandi.

“Ih papa nakal.”ujarku merajuk manja.

Bagaimana tidak, tiba-tiba suamiku masuk ke kamar mandi dan langsung memelukku dari belakang sementara di bawah sana ku tahu Penis suamiku sudah menegang terjepit diantara sela pahaku.

“Aduh cantik bener nih, seksi lagi. Istri siapa sih?”rayu suamiku sambil memainkan payudaraku dengan tangannya.

“Ah papa, nanti dulu. Kita mandi dulu Pa.”cegahku tidak bersungguh-sungguh.

“Ah mama kelamaan Ma, Papa udah gak tahan nih.”kata suamiku sambil mengangkat satu pahaku sementara tangan yang lain memandu penisnya memasuki vaginaku
dari belakang.

Aku hanya dapat berpegangan pada dinding kamar mandi. Vaginaku memang sudah basah dari tadi. Ku akui aku memang cepat basah.

“Bless.”penis suamiku masuk ke dalam vaginaku.

Suamiku tidak buru-buru, di diamkan sejenak penis besar itu di dalam vaginaku. Aku semakin bernafsu, nafasku semakin tidak teratur. Tidak berapa lama suamiku mulai memaju mundurkan penisnya. Ditarik- didorong begitu pelan berulang-kali, kemudian semakin cepat dan semakin cepat. Tangan suamiku tidak tinggal diam begitu saja. Sementara penisnya bekerja, payudaraku menjadi sasaran, bibirnya pun ikut menjelajahi leher jenjangku.

“ah.....ssh...ah....ah...ah....ah....”desahku tak tertahan.

Untung saja kamar kami ada di lantai atas dan memang kamar mandi ini berada di dalam kamar. Jadi aku tidak terlalu risau jika ada yang mendengar jeritan dan desahanku.

“Ah....e...nak....Pa....”aku menceracau tak karuan penis itu benar-benar enak menggosok setiap inchi rongga vaginaku.
Aku merasa tidak tahan lagi.

“Pa...ma....ma...u..da...ma...u...sa...sam pe....”ujarku tertahan tahan.

“Ben...tar Ma...Pa...Pa ju..ga u...da...”

Belum sempat suamiku menyelasaikan kalimatnya, aku sudah mencapai puncak kenikmatan ku.

“Ah...................”aku mendesah panjang tubuhku mengejang di pelukan suamiku.

Tak berapa lama vaginaku mendapat serangan lagi. Suamiku tiba-tiba menghujamkan penisnya kuat-kuat ke dalam vaginaku.

“Crot....crot...crot....”sperma suamiku menyembur ke dalam lobang surgaku.

Kami berdua terengah-engah. Nafas kami tidak beraturan sementara aku sendiri sudah sangat letih. Cukup lama kami bersetubuh di kamar mandi. Suamiku masih memelukku sementara penisnya masih tertancap di vaginaku. Pertama kalinya kami bersetubuh di kamar mandi di bawah air shower. Sungguh luar biasa. Ku selesaikan acara mandi bersama suamiku.

“Makasih Pa...”ku kecup bibir suamiku.

----

Pukul tujuh Malam, setelah ritual seks di kamar Mandi dengan Istriku Revita. Seperti biasanya kami makan malam bersama, kecuali jika aku sedang dinas ke luar kota atau sedang ke perkebunan kelapa sawit di kalimantan.

“Ayo kita makan!”Ajakku.

“Tapi sebelum itu berdoa dulu yah.”sambungku lagi.

Sejenak suasana hening kami berempat, aku, istriku, marni dan Mbok Imah khusyuk berdoa.
Tidak lama terdengar suara kunyahan dan gigi-gigi beradu.

“Mbok,”ujarku membuka percakapan.

“Iya, Ndoro.”jawab Mbok Imah. Kalau untuk urusan Mbok Imah memanggil Ndoro itu adalah karena masalah kebiasan sejak lama jadi memang sudah jdi adat.

“Gini Mbok, Mbok gak usah kaget kalo misal Marni memanggil saya Papa atau manggil Revi mama. Kita sudah sepakat Mbok.”terangku.

“Iya Mbok lagian kita sudah seperti keluarga sendiri,”tambah Istriku.

“Iyakan Mar?”tanya Istriku.

“Iya Mah.”jawab Marni.

“Oh iya Mar nanti kamu ke kamar saya bentar yah. Mama mau kasih kamu baju buat tidur lagian masa kamu tidur pake baju kayak gitu.”Istriku lagi.

“Iya, Ma.”jawab Marni.

Aku ikut senang mendengarnya. Setelah acara makan malam selesai seperti biasa Mbok Imah kembali ke kamarnya dan seperti biasa Mbok Imah selalu sembahyang sebelum dia tidur dan berdoa sangat lama. Aku pernah sekali melihat Mbok Imah, ketika terjaga di dini hari sedang berdoa dan sembahyang dengan khusyuk sewaktu aku hendak mengambil air di dapur.

Aku sendiri biasanya akan duduk di depan TV di ruang tengah di lantai 1. Namun, hari ini aku ingin masuk ke ruang kerjaku yang baru di lantai 2. Ruang kerjaku sangat lengkap, mulai dari edukasi hingga entertainment ada semua. Sehingga aku sangat nyaman disini. Apalagi aku juga menyediakan ranjang yang cukup untuk satu orang. Alhasil ruang kerjaku memiliki banyak kegunaan. Satu hal yang tidak ku beritahu isteriku adalah di kamar ini aku dapat melihat segala aktivitas di rumah ini bahkan hingga ke luar rumah. Yah, berbarengan dengan renovasi kamar yang kemudian ku ubah menjadi ruang kerja aku memasang beberapa kamera CCTV yang tidak disadari oleh orang. Selain untuk keamanan aku punya tujuan lain.

“Klik.”ku tekan mouse komputerku.

Layar monitorku langsung menampilkan pemandangan di depan rumah. Cukup lengang pikirku. Aku pindah lagi ke belakang rumah. Aman. Oh iya monitor komputerku tidak hanya satu tapi ada tiga sehingga sangat mantap. Aku sendiri tidak khawatir jika nantinya istriku tahu jika rumah ini sudah ku pasang CCTV. Toh dia hanya bisa melihat CCTV di luar rumah dan di ruang tamu melalui komputer tersebut bila tidak memasukkan password tertentu dan cuma aku yang tahu.

Setelah memastikan keadaan sekitar aman, aku segera mengalihkan perhatianku kepada pekerjaanku. Lima belas kemudian aku sudah bosan dengan pekerjaanku. Ku lirik jam di monitor menunjukkan 19.45. Tiba-tiba terbersit sesuatu dalam pikiranku.

“Aha...aku mau lihat Marni dulu.”pikirku.

Segera ku buka monitor komputerku.

“Jebret.”gambar kamar tidur Marni terlihat jelas di layar.

“Lho kok gak ada?”pikirku kecewa.

Sejenak aku berpikir, bukankan dia sama Revita, coba cek dulu. Ku lihat lagi layar monitor. Terlihat kamar tidur kami.

Sungguh suatu kejutan. Aku lihat Marni sedang bertelanjang hanya memaki CD dan BH saja. Oh rupanya dia sedang mencoba-coba baju yang diberikan oleh istriku. Ku kira istriku hanya memberikan baju tidur saja ternyata baju lainnya pun diberikan dan Marni langsung mencobanya. Ku lihat di monitorku mereka berdua tertawa nampak bahagia. Bahkan kali ini ku lihat istriku ikutan membuka baju. Sungguh pemandangan yang luar biasa. Nampak, Marni sangat mungil di banding istriku. Kalau ditaksir mungkin Marni hanya setinggi pundak istriku.

Ah...benar-benar sempurna kedua bidadari ini. Ku lihat di monitor dengan jelas keduanya berpelukan ku lihat Marni menangis di pelukan istriku entah kenapa Marni menangis aku tidak mendengar apa pun karena memang aku tidka memasang perangkat audio untuk mendengar percakapan. Yang terlihat hanyalah istriku mengelus kepala Marni dan mendekap erat ke dadanya.

“Deg...”jantungku sempat terhenti ketika ku lihat di monitor istriku dan Marni kemudian berciuman seperti sepasang kekasih. Apakah istriku biseks, tanyaku sendiri.

Aku hanya bisa menahan gejolak hati. Kedua wanita itu masih asyik berciuman. Dua orang wanita yang keduanya hanya berpakaian dalam saja. Aku harus bagaimana. Apakah harus ku labrak atau ku biarkan saja. Aku mengalami pertarungan batin.
Cumbuan keduanya semakin panas. Ku lihat keduanya bergerak ke ranjang dan akhirnya keduanya rebahan sambil tetap berciuman mesra. Ku lihat di layar istriku mulai menggerayangi Marni, dia meremas-remas bokong Marni. Marni sepertinya memang masih polos nampak sekali dia pasif. Justru istriku yang mengarahkan tangan marni menuju selangkangan istriku.

Pemadangan ini benar-benar membuatku tidak tahan. Tanpa dikomando penisku sangat keras dan tegang bahkan tanpa permisi nongol keluar celana kolorku. Permainan Revita Istriku semakin memanas entah kapan keduanya melepas pakaian terakhir mereka yang pasti sekarang keduanya bugil dan saling menjilati vagina mereka. Sungguh tidak terduga ku lihat posisi enam sembilan dilakukan oleh dua orang wanita. Mereka nampak sangat bernafsu.
Ah...peduli setan aku nikmati saja pemandangan ini. Lagipula istriku tidak selingkuh dengan pria lain. Tidak lamaku lihat keduanya berganti posisi. Layaknya senggama dengan laki-laki keduanya saling menggesekan vagina satu dengan yang lain.

Tidak lama keduanya mengejang dan terkapar lemah di ranjang. Lalu 5 menit kemudian istriku beranjak ke kamar mandi sambil mengajak Marni. Entah apa yang mereka lakukan di kamar mandi. Yang jelas keduanya hilang dari monitor. Kenapa tidak ku pasang juga di kamar mandi pikirku.
15 menit berlalu, nampak dua tubuh bugil, dua sosok tubuh wanita. Satu memiliki wajah dan tubuh bagai bidadari dan satunya lagi masih mungil dan masih terus tumbuh namun sudah menampakkan pesonanya.

Keduanya, duduk di tepi ranjang dan terlihat sedang mengobrol, kemudian ku lihat istriku beranjak mengambil baju di lemari. Dia mengulurkan sebuah baju kepada Marni dan dai sendiri kemudian memakai daster. Rupanya istriku memberikan daster kepada Marni. Terlihat marni memakainya. Wow terlihat sangat cocok Marni dengan daster warna merah muda tanpa lengan dan hanya sebatas paha saja. Keduanya kemudian memakai celana dalam dan kemudian istriku merapikan kamar kami. Sedangkan Marni ke luar sambil membawa banyak baju.

“Eh sebentar. Marni gak pake BH dong.”aku bicara sendiri.

Malam itu selepas acara lesbi dengan Marni aku merasa sangat lelah apalagi suamiku sebelumnya telah menghajar vaginaku. Aku sendiri juga heran bagaimana bisa aku melakukan seks dengan sesama wanita. Tapi biarlah toh aku tidak berselingkuh dengan pria lain. Pukul 9 malam lewat aku merasa sangat ngantuk sekali. Aku sendiri tidak tahu apa yang sedang dilakukan suamiku di ruang kerja biarlah saja suamiku memang orang sibuk. Akan tetapi dia adalah pria yang bertanggung jawab, sekalipun aku punya penghasilan sendiri dia tetap memberiku nafkah baik secara materi maupun nafkah batin. Mataku terasa berat, entah sejak kapan aku telah terlelap.

--

Aku berjalan menuju lantai satu, aku mendengar suara-suara yang sedikit aneh. Seperti orang yang sedang dikejar-kejar sesuatu. Suara itu aku sangat yakin berasal dari kamar Marni. Semakin dekat semakin jelas bukan suara biasa tetapi suara desahan. Aku sangat yakin suara itu salah satunya Marni. Namun, suara satunya membuat jantungku sempat berhenti berdetak. Itu suara Suamiku.

“Yah...terus Marni...kamu...pinter banget.”suara suamiku

“Ah....ah...ah....e..nak...Pa.”suara Marni.

Pintu kamar Marni ku dekati dengan pelan-pelan tanpa menimbulkan suara. Pintu kamar itu tidak tertutup rapat sehingga dari luar masih dapat melihat apa yang terjadi dalam kamar itu. Untung saja pencahayaan di luar kamar Marni lebih gelah dibandingkan di dalam kamar itu.
Aku mengintip ke dalam celah pintu. Astaga. Ku lihat suamiku sedang menggenjot Marni dari belakang sedang tangannya sibuk meremasi payudara Marni. Aku masih shock dengan pemandangan itu. Aku hanya terdiam terpaku melihat persetubuhan suamiku dengan Marni. Sungguh, aku tak dapat berkata apapun. Aku hanya merasa ada yang aneh. Tubuhku serasa panas. Aku merasa ada yang merembes keluar dari celah pahaku. Rupanya pergulatan antara suamiku dengan Marni membuatku terangsang.

Pelan-pelan tanganku ku turunkan ke selangkanganku. Sambil menonton suamiku bersenggama dengan Marni ku rangsang diriku sendiri.

“Ah....Sssss.....”suaraku ku tahan.
Sementara tangan kananku sibuk menggosok vaginaku. Tangan kiriku meremas-remas payudaraku sendiri. Di dalam kamar rupanya sudah hampir mendekati klimaks.

Ku lihat suamiku sudah mulai menegang.

“Mar...Pa...pa...uda...ma...u ke..luar....”desah suamiku

“Mar...ni...ju...ja....pa.”balas Marni.

Tidak beberapa lama ku lihat keduanya menegang dan semenit kemudian mereka terengah-engah. Marni yang di setubuhi dalam posisi doggy style tengkurap di bawah badan suamiku yang masih erat memeluknya. Aku pun hampir mencapai puncakku.

“Ah........”aku melenguh merasakan kenikmatan.

Namun, sungguh fatal aku kehilangan keseimbangan. Aku pun mencari pegangan sialnya daun pintu kamar Marni yang jadi pegangan dan hasilnya.

“Gubrak!”aku terjatuh masuk ke dalam kamar Marni.

Suamiku dan Marni kaget. Tapi, aku lebih kaget mendengar suara suamiku.

“Mama.”

Aku pun terbangun dari tidurku. Ku dapati suamiku ada disampingku sementara ku lirik jam masih menunjukkan pukul 3 pagi. Tiba-tiba suamiku bertanya.

“Kenapa Mah, mimpi buruk?”tanya suamiku setengah sadar.

“Gak pah, Mama mimpi...mm.....”aku ragu.

“Mimpi apa Ma?”tanya suamiku

“Tapi Papa jangan marah ya.”

“Apaan sih Ma?”tanya suamiku lagi.

“Janji Papa gak marah”.

“Iya Ma.”

“Mama mimpi Papa selingkuh.”aku tidak bilang kalau itu dengan Marni.

“Ah Mama ada ada aja. Sudah tidur lagi.”

Suamiku kemudian memeluk tubuhku dan aku pun akhirnya terlelap lagi dengan perasaan agak-agak cemas.

--

Jam 3 pagi istriku terbangun dari tidurnya. Dia bilang dia bermimpi aku berselingkuh. Ah...apa ini firasat atau memang aku harus hati-hati. Terutama tindakan mesumku pada Marni. Untung saja istriku tidak tahu kenakalanku terhadap Marni. Aku sejenak memperhatikan istriku yang ku peluk. Rupanya dia sudah terlelap dalam tidurnya. Sejenak pikiranku menerawang apa yang telah ku lakukan tadi tengah malam.
Jam 11.30 malam yang lalu.

“Hehe sudah waktunya nih aku menjalankan rencanaku. Mama uda terlelap, Marni juga sudah tidur di rumah ini Cuma tinggal aku yang masih terjaga.”aku bicara sendiri.

Aku pun segera turun ke lantai 1 menuju kamar Marni. Aku ingin mengulangi perbuatanku tempo hari. Perbuatan nakal yang pernah ku lakukan dan ingin ku ulangi lagi. Pelan-pelan ku masuki kamar Marni dan seperti tempo hari kamar itu tidak terkunci seakan Marni memang sengaja.

Aku kemudian memasuki kamar Marni dan wow...ku dapati Marni tidur telentang dengan daster yang tersingkap hingga ke perutnya. Sementara bagian bawahnya hanya tertutup celana dalam. Aku tahu Marni tidak memakai BH juga karena semalam aku lihat setelah permainan panas dengan istriku dia hanya mengenakan celana dalam saja.

Sungguh beruntungnya aku malam ini. Pelan-pelan ku goyangkan badan Marni. Rupanya memang anak ini benar-benar susah dibangunkan. Apa memang kebiasaan atau karena dia kelelahan setelah main dengan istriku.

“Asyik. Malam ini aku bisa melakukannya lagi.”batinku.

Tanpa menunggu perintah lagi. Ku tanggalkan seluruh bajuku. Penisku yang sejak tadi menginginkan bertemu dengan vagina Marni menegang keras. Ku perhatikan Marni dengan seksama. Marni memang anak remaja yang cantik. Pastinya sebentar lagi dia tidak akan kalah cantik dibanding istriku. Ku perhatikan dadanya naik turun. Payudara Marni pun ikut bergerak seirama dengan hembusan nafasnya.

Aku benar-benar sudah tidak tahan. Pelan-pelan ku elus paha Marni. Mulu sekali. Dengan gerakan lembut ku pelorotkan celana dalam Marni dan akhirnya terlihat vagina mungil yang ku idam-idamkan, diatasnya dihias bulu-bulu halus yang masih jarang.
Seperti yang ku lakukan tempo hari. Ku renggangkan kedua paha Marni. Sehingga celah vagina Marni semakin terlihat merangsang birahi. Pelan-pelan ku gosok vagina Marni dengan jari-jariku. Sensasinya benar-benar luar biasa.

Ku dekatkan bibirku ke vagina Marni. Tercium bau khas kewanitaan. Ah....sungguh menggoda. Pelan-pelan ku cium bibir vagina Marni. Sang pemilik seolah merasakan sentuhan di bibir vaginanya. Ku jilat permukaan vagina Marni dan dengan lembut ku sisipkan lidahku di dalam celah goa lembab itu. Nikmat sungguh nikmat. Tanganku pun aktif merabai kedua paha mulus Marni. Aku tidak tahan lagi. Lubang vagina Marni semakin basah. Aku semakin tidak tahan. Segera ku tempatkan diriku.

Ku pegang batang penisku tepat di depan bibir vagina Marni. Pelan-pelan ku gosok bibir kemaluan Marni. Nampak Marni meringis keenakan dalam tidurnya.

“Ah....enak sekali.”batinku,

Kepala penisku ku gosok-gosokkan di celah vagina basah Marni. Setengah jongkok ku ciumi payudara Marni dari balik daster tipis yang membalut tubuhnya. Sementara penisku masih aktif menggosok-gosok vagina Marni. Pelan dan pasti kepala penisku mulai terjepit di bibir vaginanya. Ku lihat Marni semakin beringsut tak karuan. Betapa nikmatnya. Tak habis pikirku, kenapa Marni tidak juga bangun dari tidurnya. Apakah memang dia lelah atau memang sengaja. Ah sudahlah yang pasti ini benar-benar momen yang mengasyikkan.

Ku dorong pinggulku pelan. Aku tidak mau membuat Marni terbangun kaget, bisa habis aku. Kepala penisku sudah tertelan ke dalam lubang vagina Marni. Sejenak aku menimbang-nimbang apakah harus ku bobol keperawanan Marni.

“Tidak, tidak.”batinku. Aku masih waras.

Ku dorong penisku lebih dalam hingga ada sesuatu yang menghalangi. Cukup sampai disini saja. Pelan-pelan ku maju mundurkan pinggulku. Tangan kiriku tetap menjaga agar penisku tidak masuk lebih dalam.

Sensasi yang ku rasakan sungguh nikmat sekali. Sesekali ku lirik weker di samping ranjang Marni. Sudah cukup lama rupanya. Beberapa lama kemudian ku rasakan ada yang akan keluar dari dalam diriku. Aku benar-benar tidak tahan. Segera ku cabut penisku dari lubang vagina Marni.

“Ah.....”desahku tertahan ku semprotkan spermaku tepat di atas vagina Marni. Sebagian besar menempel di bulu kemaluan Marni. Ku nikmati momen itu. Setelah
reda aku lekas memakai bajuku dan berlalu dari kamar Marni. Ku peluk istriku dan akhirnya terlelap.

“Ada yang kelupaan.”pikirku. Tapi apa aku bertanya sendiri.

“Ya ampun spermaku belum ku bersihkan dan celana dalam Marni belum ku pakaikan.”aku tidak dapat tidur lagi dengan perasaan gelisah. Namun, ternyata aku salah. Tahu-tahu istriku sudah membangunkanku.

“Bangun Pa udah jam 6 lho.”sambil mengecup dahiku.

Aku masih terbayang-bayang kecerobohanku tapi biarlah.

--

Pagi hari ini langit nampak sangat cerah. Seperti biasa keluarga ini serasa sangat ramai. Papa Wijaya dan Mama Revita biasa aku memanggil kedua orang itu,
pasti lagi seru-serunya. Bukan ribut karena berantem tapi karena memang sudah jadi rutinitas. Semenjak kedatanganku ke rumah mereka aku merasa sangat nyaman, aku merasa seperti di rumah sendiri. Kesedihanku karena kehilangan orang tua sudah mulai dapat ku lalui. Simbok, nenekku sudah lama kerja di keluarga ini jadi memang sudah seperti sendiri. Beruntung aku memperoleh perlakuan yang cukup istimewa. Mungkin karena Papa dan Mama belum punya anak sendiri.

Pagi itu kami duduk di satu meja makan. Tidak ada hal yang istimewa semua merupakan rutinitas pagi hari. Hanya saja kali ini ada yang sedikit berbeda.

“Mar, sarapan yang banyak”kata Papa Wijaya.

“Nih Mar.”Mama Revita menyodorkan telur dadar ke piringku.

“Makasih Ma.”aku sudah tidak canggung lagi memanggil Papa dan Mama ke mereka.

Sarapan kami tetap diiringi obrolan ringan seputar diriku yang hari ini merupakan hari pertama masuk sekolah. Ah, siapa sangka gadis desa sepertiku dapat melanjutkan sekolah lagi.

“Mar, kamu sudah siap dengan hari pertama kamu?”tanya Papa.

“Udah Pa.”jawabku.

“Seragam itu cocok sekali buat kamu, iyakan Pa.”Mama Revita menyela.

“Iya Ma.”Jawab Papa Wijaya.

“Yaudah gih sarapan agak cepetan udah siang.”kata Mama

Aku pun segera menyelesaikan sarapanku. Segera setelah itu ku beresi semua. Jangan disangka aku jadi nona muda disana. Aku tetap cucu Simbok pembantu di rumah ini.Tapi bukan karena status itu tapi karena aku memang dari dulu sudah mandiri.

Aku ambil tas dan segera melangkah keluar. Namun, segera Mama Revita mencegah.

“Lho Mar, kok buru-buru gitu?”tanya Mama

“Takut telat Ma.”jawabku.

“Kamu bareng Papa aja. Lagian juga searah sama sekolah kamu.”kata Mama.

“Pa..pa..papa...buruan....Marni keburu telat.”

“Iyah Mah.”jawab Papa

Papa kemudian masuk ke mobil ke bagian kemudi, karena memang Papa sopirnya. Aku segera masuk ke belakang. Namun, tiba-tiba Papa mengatakan padaku untuk
pindah ke depan. Bukan apa-apa sih tapi aku merasa ada yang salah.

“Kamu ke depan sini dong Mar. Masa Papa dijadiin supir gini.”Canda Papa.

“Iya deh Pa, kirain Marni harus dibelakang. Kebiasaan naik angkot sih Pa.”jawabku

Pelan-pelan mobil meninggalkan pelataran rumah menuju jalanan. Cukup ramai pagi itu. Ku lirik sepintas Papa disebelah kananku. Memang Papa cukup tampan dan sangat serasi dengan Mama.

“Kenapa Mar ada yang salah?”tanya Papa.

“Gak, Gak kok Pa.”jawabku agak kaget. Rupanya Papa menyadari perbuatanku. Malu rasanya.

Pikiranku melayang kembali ke pagi hari ketika aku terbangun dari tidurku. Ku dapati cairan lengket di beberapa bagian tubuhku dan yang lebih mengagetkan celana dalamku sejak kapan terlepas. Aku yakin betul aku memakainya ketika aku keluar dari kamar Mama. Satu-satunya yang mungkin ku curigai hanya Papa. Satu-satunya laki-laki di rumah. Tapi aku tidak punya bukti apapun. Biarpun aku gadis desa aku tidak kolot-kolot amat. Beberapa temanku di desa sudah ada yang memiliki handphone yang bisa mengakses internet. Jadi, sangat wajar jika aku juga ikut kena imbasnya, termasuk urusan orang dewasa.
Tanpa ku sadari ada yang basah di bawah sana. Astaga, aku mengompol. Tapi tidak mungkin ini sangat berbeda. Rasanya aku ingin Papa mnyentuhku tapi apa mungkin. Sudahlah aku tidak tahu.

Beberapa menit kemudian kami sampai di depan sekolah. Aku cium tangan Papa kemudian berpamitan. Papa hanya mengatakan agar aku belajar serius.

--

“Curirut curirut.”HP ku berbunyi.

Rupanya ada pesan dari Papa. Dalam pesan itu Papa menanyakan apakah aku sudah pulang atau belum.

“Sdh plg blm Mar?”

“Blm Pa”

“Papa jemput ya. Papa udah kelar kerjaan di kantor”

“Iya Pa, tunggu Mar di dpn yah.”

Aku beruntung selain mendapat perhatian, biaya untuk sekolah aku juga diberikan fasilitas yang cukup. Handphone aku juga diberi walau bukan hp yang canggih-canggih banget.

Tidak lama kemudian ku lihat mobil Papa sudah ada di depan gerbang sekolah. Segera aku menyongsongnya.

“Ayo Pa kita pulang.”ajakku setelah masuk ke mobil.

“Yuk.”jawab Papa.

Aku pikir Papa agak terkejut dengan penampilanku. Secara pulang sekolah aku tidak lagi mengenakan seragamku. Memang hari ini, hari pertama aku masuk
sekolah dan hari ini pula aku ikut dalam ekskul basket. Jadi yah, hanya memakai kaos olahraga dan celana training. Jelaslah lekuk tubuhku terlihat menonjol. Aku sendiri sadar aku tidak seksi banget. Biarlah orang lain yang menilai. Sepintas ku lihat Papa melirikku bukan Cuma sekali. Beberapa kali. Apa mungkin Papa tertarik kepadaku.

“Pa Marni cantik gak Pa?”tanyaku

Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutku.

“Mmmm...cantik kok Mar”jawab Papa

“Serius Pa?”tanyaku meyakinkan

“Iya Papa serius.”tegas Papa.

“Seksi gak Pa?”tanyaku sambil membusungkan dada menghadap Papa Wijaya.

Sejenak Papa melirik melihatku, matanya kemudian kembali ke jalanan.

“Seksi lho. Coba 2 atau 3 tahun lagi. Mama Revi pasti kalah sama kamu Mar.”

Seneng juga aku mendengarnya, walau dibandingin sama Mama Revita yang memang sudah seksi. Aku hanya tersenyum sendiri. Tidak ada lagi obrolan lagi sampai
di rumah.

--

“Ah...apa benar semalam perbuatan Papa?”tanyaku sendiri.

“Ah sudahlah aku mandi saja.”

Aku segera melucuti seluruh baju yang aku kenakan. Sumpek, gerah rasanya. Mandi merupakan solusi yang bagus. Untung saja kamar di rumah ini masing-masing memiliki kamar mandi sendiri. Jadi, tidak akan ada kata antri. Istimewanya lagi ada pemanas air juga. Padahal biasanya di desa aku mandi di bilik yang serba apa adanya. Shower ku nyalakan dan segera membasahi tubuh telanjangku. Segar sekali rasanya. Sesekali ku sentuh daerah-daerah kewanitaanku. Rasanya enak. Pikiranku melayang jauh. Seandainya Papa. Ah tidak Papa sangat baik Padaku. Segera ku tepis keinginanku jauh-jauh. Ritual mandi pun selesai. Ku keringkan badanku dengan handuk. Kemudian ku lilit tubuh telanjangku dengan handuk.

“Tlebuk!”

“Aduh.......”aku mengaduh cukup keras. Aku terpeleset di depan kamar mandi kamarku.

“Tok tok tok.”ku dengar pintu kamarku di ketuk.

“Ada Mar?”ku dengar suara Papa.

Aku tetap saja hanya mengaduh pinggangku sakit. Tanpa mengunggu persetujuan dariku Papa masuk ke dalam kamarku.

“Ya ampun Marni.”Papa kaget melihatku masih mengaduh di lantai.

“Marni jatuh Pa, aduh pinggang Marni sakit ni.”keluhku.

Tanpa di duga Papa langsung membopong aku, kemudian di baringkan aku di ranjangku. Namun, rupanya tanpa aku sadari lilitan handukku sudah longgar dan akhrinya seluruh lekuk tubuhku terekspos.

Ku lihat Papa hanya bengong saja. Segera ku tutup badanku dengan handuk. Namun tidak dapat menutup sempurna. Aku malu juga bergairah ada dorongan dari dalam. Aku mau Papa Wijaya. Sejenak ku lihat Papa hendak beranjak pergi. Entah setan mana yang mendorongku ku cegah Papa keluar kamarku.

“Pa...”ku panggil Papa sambil tanganku memegang tangan Papa.

Satu tanganku memegang ujung handuk, satu tangan lain memegang tangan Papa.

“Kenapa Mar?”tanya Papa

“Marni....”suaraku tercekat.

Papa yang sudah duduk di tepi ranjang nampak kebingungan. Kesadaranku sudah hilang tanpa menunggu persetujuan dari Papa ku dekatkan wajahku dekat dengan wajah Papa. Ku cium bibir Papa. Papa hanya diam saja. Ku pikir Papa marah. Aku kemudian agak menjauh.

“Maaf Pa.”bisikku lirih.

Ku pikir Papa marah ternyata tidak. Papa justru menarik mukaku dan kemudian memberikan ciuman yang sangat-sangat panas kepadaku. Aku yang baru sekali ini merasakannya sempat kewalahan. Seakan aku kehabisan nafas. Namun, Papa Wijaya sudah berpengalaman. Semakin lama aku semakin menikmati ciuman Papa, lidah kami saling membelit saling hisap. Aku yang tadinya pasif semakin panas. Pertahananku jebol, kedua tanganku memeluk leher Papa. Ciuman yang sangat panas. Papa kemudian membaringkan tubuhku dengan tetap mencium bibirku. Aku setengah menjerit ketika ku rasakan kedua payudaraku disentuh tangan besar Papa. Rasanya enak.

“Hmmph....”hanya itu yang keluar dari bibirku.
Papa kemudian melepas pagutannya dan bibirnya turun menjelajah leherku. Enak. Geli. Panas. Semua campur aduk. Bibir itu kemudian bermain di atas payudaraku. Aku merasa melayang seakan-akan ada yang hendak keluar.

Ciuman Papa di kedua payudaraku semakin menjadi-jadi. Tangannya tidak kalah sibuk meremasi payudaraku yang masih tumbuh. Aku merintih-rintih dan mendesah-desah tak karuan. Lebih hebatnya lagi ku rasakan ada tangan yang menyentuh bibir vaginaku. Aku hampir....ya hampir seperti setengah mati ku rasakan kenikmatan ini. Aku pun tidak sadar sejak kapan Papa sudah telanjang bulat.

Ku rasakan ada benda lain. Benda tumpul menggesek-gesek vaginaku. Nikmat sekali rasanya. Vaginaku rasanya basah sekali.

“Ah...shshs....ssss....en...nyak Pa....”aku mendesah tak karuan.

Tiba-tiba.

“Tin...tin...tintin.”suara klakson mobil.

“Ya ampun Mama pulang.”Papa terperanjat. Aku pun demikian juga.u lihat suamiku membukakan gerbang depan rumah. Maklumlah rumah kami Cuma punya satu pembantu yaitu Mbok Imah. Lagipula kami memang tidak mau terlalu banyak pembantu. Ribet malah dan kebetulan Mbok Imah ikut bersamaku belanja bulanan.
Aku memakirkan mobilku tepat di belakang mobil suamiku. Sesaat kemudian kami sudah repot membawa belanjaan yang begitu banyak.

“Marni dimana Pa?”tanyaku Pada suamiku.

“Di kamar deh kayaknya tadi.”jawab Suamiku.

Lalu ku bisikkan pada suamiku sesuatu.

“Pa Mama punya kejutan.”kataku berbisik.

“Apaan sih Ma?”tanya Papa.

“Tunggu aja entar malam.”jawabku meninggalkan Suamiku yang masih kebingungan.

Malam ini akan ku berikan surprise pada suamiku. Biar saja sekarang dia bertanya-tanya.

--

Malam pun tiba. Setelah makan malam segera aku beranjak ke kamar bersiap memberikan kejutan untuk suamiku. Tidak berapa lama suamiku pun masuk ke kamar.
Suamiku kemudian bertanya kepadaku.

“Ma, ngapain sih Mama selimutan gitu? Katanya mau ngasih surprise?”tanya Papa.

“Ah Papa sini Pa.”Aku mengajak suamiku mendekat.

Pelan-pelan suamiku mendekat dan ku suruh dia masuk ke dalam selimut. Ku bimbing tangan Suamiku ke selangkanganku.

“Oh....”Suamiku Kaget.

“Gimana Pa?”tanyaku.

“Asyik nih.”kata suamiku.

Secepat kilat dibukanya selimut yang menutupi kami.

“Mama seksi banget. Papa jadi pengen nih.”

Tidak salah pilih aku. Kebetulan sewaktu belanja tadi aku sempat mampir ke toko pakaian dalam. Sengaja ku pilih Pakaian dalam satu set yang memang seksi menurutku.

“Tumben Mama pake G-String biasanya gak mau.”komentar suamiku.

“Jadi gak mau nih?”tanyaku menggoda.

“Ya mau dong.”jawab suamiku.

Kami akhirnya terlibat pergumulan birahi yang hebat. Suamiku memagut bibirku dengan ganas. Tangan suamiku menjelajah seluruh titik tubuhku. Aku mendesah, menggeliat menikmati setiap sentuhan di tubuhku. Suamiku memasukkan jari tengahnya ke dalam vaginaku tanpa melepas g-string yang aku pakai. Jari Suamiku bermain-main di lubang vaginaku, rasanya sungguh nikmat.

Rupanya suamiku tidak puas. Entah kapan suamiku membuka celananya kini penis kokoh suamiku sudah ada di depanku. Aku tahu apa yang dia mau. Posisi ini sangat nikmat. Kami saling menjilati kemaluan, mengulum dan saling menghisap.

“Ah...enak... Ma.”erang Suamiku.

“Papa juga enak....Shhhss”desahku kemudian ku hisap lagi penis Suamiku.

Posisi ini bertahan cukup lama hingga akhirnya aku merasa ada yang akan jebol. Sedetik kemudian.

“Ah..........”aku mengejang.

“Mama sampai Pa.”

Rupanya suamiku masih asyik menikmati cairan vaginaku. Aku merasa tenaga sudah cukup terhisap. Suamiku kemudian merebahkan tubuhnya di sampingku. Aku segera bangkit dan menempatkan diriku di atas tubuh suamiku.

Ku pegang penis suamiku yang besar dan panjang kemudian ku arahkan ke dalam lubang vaginaku. Pelan-pelan ku turunkan pantatku.

“Ah.....yeah....”begitu keseluruhan Penis suamiku amblas di dalam vaginaku.

Aku gerakkan naik turun badanku di atas tubuh suamiku. Setengah lemas memang karena sudah ku dapat orgasme pertamaku.

“Ayoh Ma lebih kenceng lagi..”suamiku menyemangatiku.

“Ah...ah...ah...ah....”aku semakin kesetanan dan kemudian tubuhku ambruk di tubuh suamiku.

Aku mendapat orgasme keduaku. Aku masih terengah-engah. Rasanya nikmat. Aku sendiri baru sadar kalau daritadi aku masih mengenakan BH dan G-string. Rupanya daritadi G-string itu hanya di sisihkan ke samping saja pantas aku merasa ada yang aneh.

Dengan penis yang masih tertancap di vaginaku suamiku kemudian pada posisi duduk dia menaik turunkan pantatku. Hasilnya aku ikut terbawa suasana. Aku kembali terangsang.

“Oh...Pa....nik....mat....”lenguhku.

Bagian tubuh bawah kami beradu. Ku rasakan tangan suamiku memeluk pundakku dan kemudian melepas BH yang ku kenakan. Kemudian dengan tetap memelukku,
Suamiku menyedot dan menghisap puting susuku. Enak sekali, rasanya sungguh luar biasa.

“Pa....ma...amma....ud...ahhhh....ham...pir...nyam ...pe....”aku merasa ada yang akan jebol lagi.

“Tunggu Mah....Ba...re...ngan...”

“Ah........”kami melenguh berbarengan. Ku rasakan ada yang menyemprot keras di dalam rahimku. Rasanya hangat. Aku lelah, capek, namun nikmat. Kami pun akhirnya terkulai dan tertidur. Sungguh nikmat. Penis suamiku masih bersarang di lubang vaginaku. Biarlah. Ku terlelap.

--

Aku terbangun dari tidurku. Ku dapati diriku memeluk istriku dan ku lirik jam menunjukkan pukul 12.13. Sungguh malam ini istriku Revita benar-benar hot. Aku puas sangat puas dengan pelayanannya malam ini. Dia sungguh sempurna. Pelan-pelan aku beranjak. Ku lepas pelukkan dan juga penisku dari vaginanya kemudian ku selimuti tubuh bidadariku ini.

Aku pun segera ke kamar mandi, membersihkan diri. Rasanya segar. Rasa lelahku sedikit terobati.Teringat dengan Marni tadi sore dan dengan permainan dengannya yang tertunda. Penisku berdiri lagi di bawah shower.

“Marni....marni...”aku panggil nama Marni dalam pIkiranku sambil menimbang-nimbang.

“Ah masa bodoh...malam ini aku mau ke kamar Marni lagi.”pikirku.

Segera ku sudahi acara mandi malamku. Ku kenakan celana kolorku dan kaos singlet saja. Aku keluar dari kamarku pelan-pelan takut membangunkan Revita Istriku. Nasib mujur masih di pihakku, kamar Marni memang tidak pernah terkunci, seakan dia mengundangku. Bedanya dengan malampmalam sebelumnya Marni tidak tahu bahwa aku sudah setengah menyetubuhinya. Malam ini, kalau pun dia bangun, aku yakin Marni tidak keberatan. Apalagi setelah sore tadi.
Ku lihat sejenak Marni, gadis kecil yang seksi dan mulus. Apalagi malam ini tubuhnya hanya di balut daster mini. Seperti malam sebelumnya ku goyangkan badan Marni. Tiba-tiba Marni terbangun.

“Papa....”

Aku sempat kaget juga. Namun, hanya sesaat. Kemudian tangan Marni menarikku ikut rebahan di ranjang. Marni membelakangiku sementara kedua tanganku memeluknya dari belakang. Marni kemudian bertanya kepadaku.

“Papa menginginkan Marni?”tanya Marni.

Aku terdiam tak berani menjawab.

“Marni uda lama nunggu Papa. Kirain Papa gak datang.”kata Marni

Aku serba salah juga mendengar perkataan Marni.

“Pa kok diem sih?”tanya Marni

“Gak, Papa sayang Marni". Ku pererat pelukanku ke Marni.

Marni kemudian beringsut berbalik arah. Kini kami saling berhadapan, nampak sekali Marni sudah dikuasai birahi. Nafasnya tidak teratur, matanya sayu.

“Pa cium Marni.”

Tanpa menunggu lama segera ku pagut bibir mungil Marni. Kami bagai kekasih yang lama tidak bertemu. Tanganku tidak tinggal diam ku remas bokong bulat
Marni. Kami berguling-guling tak karuan di ranjang. Kali ini permainan kami benar-benar panas.

Marni berada di posisi yang menguntungkan karena sekarang tubuhku di bawah Marni. Marni menduduki perutku. Sejenak Marni tersenyum kemudian melepas daster yang ia pakai. Dua buah payudara Marni seakan minta untuk segera disentuh. Tanpa menunggu lama,ku mainkan kedua payudara Marni dengan lidahku. Ku jilati dan ku hisap pelan puting susunya sesekali ku gigit kecil.

“Ah..enak Pa...”Marni merintih-rintih tidak karuan.

Ku balik badan Marni. Sekarang Marni ada dibawahku. Ku perhatikan sejenak tubuh mungil seksi itu. Benar-benar indah, semua ukuran pas dan proporsional. Ku dekatkan lagi bibirku ke payudara Marni. Ku hisap dan ku jilati lagi payudara muda itu. Marni mendesah-desah, menggeliat seperti cacing kepanasan. Tangan kananku segera merangsek masuk ke dalam celana dalam Marni. Ku gosok pelan dan ku tusuk-tusuk dengan jariku.

“Ah...Pa....enyak....”Marni semakin tidak karuan.

Ciumanku semakin turun, dari payudaranya ke pusar kemudian menuju lembah basah yang masih tertutup celana dalam. Dengan lembut ku tarik celana dalam itu. Marni sendiri membantu dengan menaikkan bokongnya. Nampak kini bibir basah yang sangat menggoda dengan sedikit bulu-bulu halus di atasnya. Tanpa menunggu lama ku jilati vagina Marni.

“Ah.....”Marni mendesah kedua tangannnya memegang kepalaku seakan membenamkan kepalaku ke dalam vagina Marni.

“Pa.....pa...papa........”tiba-tiba tubuh Marni mengejang dan ku rasakan ada yang menyemprot ke wajahku rasanya asin-asin gurih. Ku nikmati cairan Marni dan ku lahap semua hingga habis. Enak rasanya cairan perawan. Berangsur-angsur ketegangan Marni mereda nampak wajah puas tersirat.
Segera ku telanjangi diriku. Penisku sudah tidak kompromi lagi melihat tubuh remaja muda telanjang bulat siap untuk disantap. Sekilas nampak raut wajah kaget Marni melihat selangkanganku. Mungkin ini pertama kali bagi Marni melihat penis laki-laki dewasa.

“Ih...Pa gede banget...”kata Marni.
Aku hanya tersenyum.

“Kamu mau Mar?”tanyaku

“Mmma...u...Pa...pi apa muat di vagina Marni?”tanya Marni.

“Pasti muat kalo pelan-pelan. Sini kocokin dulu penis papa.”

Marni kemudian jongkok di depanku. Penisku tepat di wajah Marni.

“Ayo Mar kocok penis Papa. Dihisap sama diemut juga kayak kamu lagi makan es krim.”perintahku.

Pintar juga anak ini tanpa belajar dia sudah bisa melakukannya insting wanita pikirku. Cukup lama Marni mengoral penisku. Aku merasa sudah akan ada yang mendesak.

“Lebih cepat Mar....”

Tidak berapa lama. Spermaku menyembur kuat. Marni tersentak namun tak dapat berbuat banyak karena kepalanya ku pegang erat. Mau tidak mau Marni menelan spermaku. Marni tersedak dan terbatuk-batuk.

“Uhuk...Papa jahat.”kata Marni

“Maaf Mar, habis kamu enak.”kataku.

Ku lihat spermaku meleleh di celah bibir Marni.

“Apaan sih ni Pa, rasanya enak.”tanya Marni.

“Itu namanya Sperma Mar.”jelasku

“Oh begini toh rasanya, ternyata enak juga. Marni mau lagi dong Pa”.pinta Marni
Rupanya anak ini sudah ketagihan sperma.

“Iya nanti Papa kasih lagi.”

Marni tersenyum Manja.

“Pa kapan itu dimasukin kesini.”tanya Marni sambil menunjuk kemaluan kami.

“Kamu yakin Mar?”tanyaku.

“Yakin Pa, Marni rela keperawanan Marni buat Papa.”Jawabnya

Sungguh nasib baik. Sungguh keberuntungan masih bersamaku. Terus terang aku bukan laki-laki yang benar-benar baik. Entah sudah berapa perawan ku bobol dengan penisku. Tapi, terus terang semua ku lakukan tanpa memaksa.

“Kamu nungging deh Mar.”kataku.

Marni kemudian menunggingkan bokong seksinya. Aku malah sempat terpesona.

“Ayo Pa.”

“Iya Papa panasin dulu yah.”

Ku jilati lubang vagina marni dari belakang. Sapuan lidahku sesekali mengenai lubang anus Marni.

“Ah....Pa....enak....pa....”desah Marni.

Setelah ku rasa cukup basah. Segera ku tempatkan diriku. Ku gosokkan kepala penisku ke lubang vagina Marni.

“Ah....ssssss....sh....ss..s.sss.s.....enak Pa.”Desah Marni.

Dengan dibimbing tangan kananku kini kepala penisku sudah terjepit di dalam lubang vagina Marni. Ku pegang pinggul Marni dengan gerakan pelan ku dorong penisku.

“Ah.......enak.......Pa...”Marni semakin tidak karuan. Nampak jelas dia ikut menggerakkan bokong seksinya mundur.

Ku dorong semakin dalam dan ku rasakan ada penghalang disana. Selaput dara Marni pastinya. Sebentar lagi dengan sekali hentak aku akan memerawani Marni.
Kedua tanganku memegang pinggul Marni bersiap melakukan serangan.

“Ayo Pa....Marni enak......ah....”desah Marni sambil memutar-mutar bokong seksinya.

Aku sudah sangat bernafsu sekali. Seperempat penisku sudah tenggelam di telan vagina Marni. Sementara Marni nungging pasrah dengan kepala ditaruh di bantal dan bokong yang mencuat tinggi siap digempur. Tiba tiba....

“Papa!”


Malam itu, aku terbangun dari tidurku aku merasa sangat gerah, rasa-rasanya AC di kamarku tidak berfungsi. Suamiku? Semalam usai bercinta dia memelukku tapi sekarang entah dia dimana. Mungkin sedang sibuk di ruang kerjanya pikirku.

Sejenak ku ingat permainan suamiku tadi malam. Ah...puas sekali. Benar-benar tiada duanya. Ku nyalakan lampu di kamar, ku lihat sendiri tubuh telanjangku masih menyisakan banyak bekas cupang kemerah-merahan di payudaraku. Jadi, kepengen lagi. Sepintas ku lihat jam di dinding. Masih jam 01.23.

“Haus.”aku membatin segera ku kenakan daster tanpa pakaian dalam. Lagipula satu-satunya pria di rumah ini hanya suamiku saja.

Aku beranjak menuju dapur di lantai 1. Ketika ku ambil air dari kulkas aku mendengar desahan-desahan aneh dari kamar Marni. Seperti suara desahan orang sedang bercinta pikirku. Ku hampiri kamar Marni yang memang tidak jauh dari dapur.

“Aneh.”pikirku.

Ku dengar desahan-desahan semakin jelas ketika aku semakin dekat dengan pintu kamar Marni. Ku lihat ada cahaya keluar dari balik daun pintu kamar Marni. Untung saja penerangan kamar Marni jauh lebih terang daripada di luar kamar. Memang kami punya kebiasaan mematikan lampu-lampu utama dan hanya menggunakan
lampu tidur saja.

Pelan-pelan ku dekati pintu itu, agar tidak menimbulkan kekagetan. Astaga, apa ini. Ku lihat Marni sedang menggoyangkan bokongnya nungging.

“Ayo Pa....Marni enak......ah....”desah Marni.

“Papa!”

Suaraku tercekat.

Rupanya laki-laki yang sedang berdiri dibelakang menyetubuhi Marni adalah suamiku sendiri. Aku baru tahu ternyata suamiku nakal. Benar-benar nakal. Selama ini aku memang menutup mata perihal hubungan suamiku dengan wanita-wanita di luar rumah, selama perhatian dan kasih sayangnya tetap dicurahkan kepadaku. Tapi, apa yang ku lihat kini benar-benar menyesakkan. Gadis yang menjadi pelampiasan nafsu suamiku adalah Marni. Gadis yang selama ini ku kenal cukup baik. Apakah dia telah menjadi selingkuhan suamiku. Aku hanya menduga-duga. Entah siapa yang menggoda duluan. Entah, suamiku atau Marni yang memulai. Yang jelas kini ku lihat Marni dalam posisi nungging sementara suamiku dibelakang Marni memegang pinggul Marni. Bersiap-siap melakukan penetrasi lebih dalam.
Aku merasa jengah juga mengintip dari celah pintu yang terbuka. Ingin rasanya ku labrak, namun entah mengapa nyaliku ciut melakukannya. Apa yang bisa ku lakukan kini hanyalah menyaksikan suamiku menyetubuhi Marni.

“Ayo Pa, masukin lebih dalam...”Marni merajuk pada Suamiku.

Ku lihat suamiku hanya tersenyum saja. Nampak suamiku memegang batang penisnya dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya masih memegang pinggul Marni. Pelan-pelan suamiku menggerakkan bokongnya maju, kemudian mundur begitu seterusnya. Berkali-kali, hingga membuat Marni mendesah-desah tidak karuan. Aku yang menyaksikan pemandangan itu menjadi panas dingin. Terasa ada yang meleleh dari vaginaku, ya ampun aku terangsang melihat suamiku selingkuh di depan mataku.

“Ah...enak Pa...ah...shs...”Marni mendesah tidak karuan.

Aku sendiri menggosok vaginaku dengan jariku sambil tetap mengintip permainan suamiku dengan Marni.

“Ah..”aku mendesah tertahan saat jari-jariku menggesek kelentit vaginaku.

Aku hanya heran kenapa suamiku masih memegangi penisnya. Aku hanya menduga suamiku belum mau menjebol keperawanan Marni. Aku yakin itu. Beberapa menit berlalu. Suamiku mencabut batang penisnya dari vagina Marni, kemudian membalik tubuh Marni telentang.

Ku lihat Suamiku mementangkan kedua kaki Marni lebar-lebar. Sehingga nampak kini vagina tembem Marni begitu merangsang. Aku pun tidak kalah, ku masukkan jari tengahku ke dalam vaginaku sendiri.

“Ah...shsh....”aku hanya mendesah tertahan.

Kali ini, ku lihat suamiku sudah berjongkok menempatkan dirinya di antara paha Marni. Penis besar suamiku nampak gagah. Mengangguk-angguk mencari mangsanya. Marni sendiri nampak sudah pasrah.

Suamiku dengan lembut, menggosokkan kepala penisnya di bibir vagina Marni.

“Ssss....ashss....ss.sss....en...anyak....Pa....Sh shshsh...”Marni mendesah tak karuan.

Sementara aku semakin kelojotan merasakan sensasi masturbasi sambil mengintip. Apa aku kelainan? Tanyaku sendiri.
Kini bukan hanya gosokan lagi, Papah suamiku mulai mendorong penisnya.

“Clep”kepala penis suamiku sudah menancap di lubang vagina Marni.

“Egh...”Suara Marni tertahan.

Dengan posisi seperti itu, suamiku dengan mudah menggerakkan penisnya maju mundur. Marni sepertinya benar-benar sudah tidak tahan. Kedua kakinya mengapit pinggang suamiku seakan tidak rela melepas penis suamiku dari vaginanya.

“Ssss...sss...ah....ssss...”Marni terus mendesah tidak karuan.

Aku semakin banjir dan semakin panas dingin menyaksikan persetubuhan suamiku. Tidak berapa lama aku pun merasakan ada yang akan segera keluar.

“Ah........”aku mendesah lirih merasakan orgasmeku. Gila baru kali ini aku merasakan sensasi seperti ini.

Sementara di dalam kamar ku lihat tubuh Marni menegang. Tangan Marni memeluk erat suamiku. Kedua kaki Marni tampak mencengkram erat pinggul suamiku.

“Ah.....Pa...pa.....”Marni mendesah merasakan orgasmenya.

Beberapa saat kemudian, nampak tubuh Marni melemas, kedua kaki yang tadinya mencengkeram erat pinggul suamiku melemas, lepas dari pinggul suamiku.

Sementara disana aku yang sedikit lemas akibat orgasme hasil masturbasiku. Ku lihat jelas penis suamiku masih menegang dan hanya seperempatnya saja yang
tenggelam di dalam kemaluan Marni. Dugaanku benar, suamiku belum berani memerawani Marni. Terbukti dia tidak memasukkan seluruh penis besarnya ke dalam lubang vagina Marni.

Suamiku kemudian mencabut penisnya dari lubang vagina Marni, dengan setengah jongkok ku lihat suamiku mengocok sendiri penisnya dengan tangannya. Tidak beberapa lama suamiku mengangkangi wajah Marni.

“Astaga....”Batinku.

Marni menelan penis suamiku, menelan sperma suamiku. Nampak jelas bibir mungil Marni tidak dapat menampung penis besar suamiku. Hanya kepala penis suamiku yang masuk ke dalam mulut Marni. Ku lihat dengan jelas, dari bibir Marni menetes sperma suamiku. Suamiku pun nampak puas. Kemudian dia merebahkan tubuhnya di samping Marni. Keduanya kemudian berciuman sangat lama dan kemudian tubuh keduanya diam. Ku rasa mereka tertidur.
Aku benar-benar merasa cemburu, marah namun juga bergairah. Ingin rasanya aku melihat persetubuhan itu lagi.

“Ah sudahlah biar saja. Suamiku adalah orang yang bertanggung jawab.”pikirku.

Aku segera kembali menuju kamarku, setelah ku bersihkan vaginaku aku beranjak tidur lagi. Jam 3 pagi. Sudah hampir pagi. Aku memejamkan mata dengan sangat sulit namun akhirnya aku pun terlelap.

---

Ku dengar jam weker di kamarku berdering sangat keras. Aku masih telungkap di kasur, tanganku mencari-cari jam weker tersebut, dapat. Ku matikan alarmnya dan ku lirik jam weker itu. Sudah jam 6 pagi. Aku menggeliatkan badanku, dan ku lihat suamiku sudah ada di sampingku masih tertidur. Kapan dia pindah ya. Ku tatap wajah suamiku dengan masih tiduran di kasur. Sebel, gemas, cemburu, marah rasanya melihat wajah tanpa dosa suamiku ini.Padahal jelas-jelas semalam dia berselingkuh dengan Marni. Bisa-bisanya tidur disebelahku seolah tidak terjadi sesuatu. Dengan gemas ku cubit pipi suamiku.

“Aduduh.....Mam.....ma...mmama....”Suamiku mengaduh.

“Sakit Ma!”suamiku terbangun dengan nada kesal.


“Sudah pagi Papa, tuh lihat Matahari udah mau sarapan.”aku beralasan.

Sebelum suamiku beranjak ke kamar mandi sempat dia merayuku.

“Mama, semalem luar biasa deh, mau lagi dong.”rayu Suamiku.

“Ogah....”jawabku.

“Ah mama...”Suamiku agak ngambek.

“Minta aja sama yang lain weks...”aku ejek suamiku, sengaja menyindir tapi suamiku tetap bersikap biasa.

“Ya sudah deh Papa mandi aja. Huft.”suamiku beranjak ke kamar mandi.

--

Suamiku nampak ganteng dan gagah dengan baju kebesarannya siap berangkat ke kantor. Sementara aku masih mengeringkan rambut basahku. Hari ini aku ada pembukaan butik lagi di daerah Sudirman.

“Pa, papa sarapan dulu deh.”kataku pada suamiku.

“Iya deh Papa turun duluan yah Mah.”kata suamiku.

15 menit aku pun turun menuju ruang makan.

“Kok sepi Mbok, Papa sama Marni mana Mbok?”tanyaku pada Mbok Imah.

“Tadi habis sarapan terus ke depan Ndoro.”Jawab Mbok Imah.

Ku pikir Mbok Imah pun tak tahu hubungan cucunya dengan suamiku. Ku sambar segelas susu dan ku habiskan dengan cepat. Aku segera beranjak ke ruang depan. Ku lihat suamiku sedang memangku Marni. Suamiku maupun Marni tidak menyadari keberadaanku karena aku sengaja pelan-pelan mengendap-endap. Aku penasaran sampai dimana hubungan keduanya.

“Gila...”pikirku.

Rupanya bukan sebuah pangkuan biasa. Ku lihat rok Marni tersingkap dan penis suamiku berada tepat di vagina Marni. Aku yakin penis itu sudah masuk ke dalam sana. Tidak semuanya memang paling tidak kepalanya saja. Ku lihat Marni mendesah desah dalam pangkuan suamiku. Sungguh pemandangan yang menggairahkan melihat seorang remaja duduk di pangku seorang yang cocok di panggil Om.
Aku tidak akan membiarkan kali ini. Dengan sengaja ku panggil mereka berdua.

“Papa, Marni, cepat berangkat entar telat.”kataku.

Aku seakan-akan berjalan dari ruang tengah. Ku lihat suamiku membelakangiku. Marni sendiri membenahi rok seragamnya. Mereka berdua nampak salah tingkah.

“Sudah sana berangkat.”Aku menyuruh suamiku berangkat.

Aku sendiri sudah siap berangkat ke Butik. Tapi aku masih tidak menyangka suamiku senekat itu.

“Huft....sebel.”aku mengumpat sendiri.

Bagaimana tidak di satu sisi aku cemburu. Marah. Kecewa. Namun, di satu sisi aku sangat mencintai suamiku. Sejelek apapun kelakuan dia tetap dia suamiku.

---

Tidak terasa pembukaan Butik di daerah Sudirman cukup lancar. Jam 2 siang aku sudah sampai di rumah. Aku cukup lelah dan ketika aku hendak menuju kamarku. Mbok Imah mengagetkanku.

“Ndoro!”Mbok Imah heboh.

“Kenapa sih Mbok?”tanyaku kalem.

“Tadi ada cewek yang ngaku anaknya Bapak Sudjarwo datang kesini.”cerita Mbok Imah.

“Terus sekarang dimana Mbok?”tanyaku.

“Simbok suruh istirahat di ruang kerja Ndoro Wijaya. Lha wong kamar Marni di kunci, kamar satunya kuncinya Simbok lupa dimana. Maklum sudah tua Ndoro.”

“Ya sudah ga papa Mbok, dia sepupunya Papa Wijaya kok, adik sepupu. Lagian Papa juga aneh adik Bapaknya dipanggilnya Pak Dhe.”ceritaku memang suamiku agak aneh memanggil saudara muda Bapaknya Pak Dhe harusnya kan Om atau Pak Lik.

“Oh yawis Ndoro simbok ke belakang lagi.”ujar Mbok Imah.

Aku segera beranjak ke lantai dua. Ku tengok sebentar ruang kerja suamiku. Ku lihat sesosok gadis remaja seumuran Marni sedang tidur telentang di kasur yang ada di ruang kerja suamiku dia mengenakan rok hitam selutut di padu dengan atasan yang sesuai.

“Cantik.”pikirku.

Nampak, nafas gadis itu naik turun beraturan seirama dengan gerakan dadanya. Aku menatap payudaraku sendiri.

“Masih gedean punyaku.” Aku berbangga diri.

Aku kemudian beranjak ke kamarku, beristirahat melepas lelah.

--

Jam 4 sore, biasanya suamiku sudah pulang dari kantor kadang lebih cepat malah. Bukan makan gaji buta, tapi karena kebanyakan tugas lapangan jadi suamiku
bisa pulang lebih cepat kalau sudah selesai. Aku turun ke bawah, ku lihat suamiku, Marni dan Mbok Imah sedang duduk di meja makan sambil minum es jeruk, mereka bertiga.

Aku sambar Es jeruk suamiku ketika tangan suamiku akan menjangkaunya namun aku lebih cepat. Segera ku tenggak habis es jeruk suamiku.

“Ah...seger.”

“Mama...itukan punya Papa.”

“Eh siapa bilang. Bukannya punyamu punyaku juga dan punyaku tetap punyaku.”jawabku.

Marni dan Mbok Imah tertawa saja mendengar ucapanku. Sejenak aku maupun Mbok Imah lupa kalau ada tamu di rumah ini.

“Ma Papa ke atas dulu yah.”kata suamiku

“Marni, Bi Imah saya ke atas dulu.”sambung suamiku. Jangan heran kadang kami memanggil Mbok Imah dengan Bi Imah tapi lebih sering Mbok Imah sih.

Ketika suamiku sudah menghilang dari pandangan mataku. Aku baru ingat kalau ada tamu di ruang kerja suamiku. Suamiku sendiri lebih sering pulang langsung istirahat di ruang kerjanya.

Segera aku naik ke lantai 2. Aku segera membuka pintu ruang kerjanya. Ku lihat suamiku sedang menggesek-gesekkan penisnya di belahan vagina gadis yang masih terlelap itu.

“Heh Pa, ngapain?”tanyaku.

Ku tatap seorang gadis cantik sedang terbaring telentang dengan rok yang tersingkap hingga ke perut dan mengenakan sebuah dres yang serasi dengan warna rok yang dipakai. Ku kenali wajah gadis itu, Susan sepupuku, anak gadis Pak Dhe Jarwo.

Sudah sangat berbeda dengan terakhir kali aku bertemu dengannya. Kini dia telah tumbuh menjadi gadis cantik yang sangat seksi. Kedua paha Susan benar-benar mulus, ditambah dengan buah dada Susan yang nampak bergerak naik turun mengikuti setiap hembusan nafasnya. Aku masih laki-laki sama seperti yang lain.
Mumpung ada kesempatan, segera ku keluarkan penisku yang telah tegang terangsang melihat kemolekan tubuh Susan. Dengan hati-hati ku sibakkan celana dalam warna hitam Susan dan pelan-pelan ku gesek-gesekkan penisku ke vagina Susan. Namun, belum sempat ku nikmati momen itu.Tiba-tiba.....

“Heh Pa, ngapain?”.

Jantungku seakan copot mendengar suara Istriku dari belakang. Aku tidak tahu harus berkata apa. Kepalang tanggung dan ketahuan. Penisku yang tadinya menegang keras dan sempat ku gesekkan ke bibir vagina Susan sepupuku mendadak lemas. Segera ku masukkan penisku ke dalam celanaku dan ku tutup selangkangan Susan dengan roknya. Dengan kebingungan aku menjawab pertanyaan istriku.

“Eng...enggak Ma. Papa sedang....”jawabku gagu.

Susan pun rupanya terbangun mendengar suara berisik atau mungkin karena sudah lama dia tidur. Dengan penuh tanda tanya Susan mengucek matanya dan sempat menggeliat seksi di depanku.

“Hoam....”Susan menguap.

Raut wajahnya jelas dipenuhi tenda tanya melihatku dan juga istriku dalam satu ruangan dengannya. Namun, kemudian Susan memelukku erat dan mencium bibirku tepat di depan Istriku. Tiba-tiba, sebuah tangan menarik telingaku dan menyeretku keluar dari ruang kerjaku. Rupanya istriku benar-benar marah.

“Sakit Ma....”aku mengaduh kesakitan, namun Revita istriku terus saja menarik daun telinga kananku dan membawaku masuk ke kamar kami.

“Papa! Duduk!”perintah Istriku seraya kemudian melepas tangannya dari daun telingaku.

“Apa-apaan kelakuan Papa tadi? Papa jelasin sekarang!” istriku marah-marah sambil menunjuk-nunjuk ke arahku. Aku shock hingga terduduk di tepian ranjang.

“Bukankah Susan sepupu Papa!”Istriku menambahkan.

“Kenapa Pa, kenapa?!”Istriku kemudian melipat tangannya memalingkan mukanya seolah tidak mau melihatku lagi.

Aku kebingungan bagaimana aku harus menjelaskan kejadian tadi. Sudah jelas aku tertangkap basah sedang memainkan penisku di belahan vagina Susan. Apalagi
ditambah dengan Susan yang tiba-tiba memagut bibirku. Aku bingung. Aku hanya bisa duduk terdiam menyesali kecerobohanku.

“Pa, kok diem! Mana penjelasan Papa!”Istriku menagih penjelasan.

Sekilas ku tatap wajah Istriku, kemudian aku berdiri memandang Istriku kemudian memeluk erat Revita.

“Maafin Papa Mah.”

Istriku mencoba melepaskan diri dari pelukanku.

“Pa, lepasin Mama. Mama mau denger dulu penjelasan Papa!”kata Istriku.

Aku masih belum mau melepas pelukanku sekalipun Revita mencoba berkali-kali mendorong tubuhku.

“Tapi Mama janji dulu ya gak bakal ninggalin Papa.”kataku.

“Papa......”mendadak suara Istriku menjadi lembut seperti biasa.

“Sudah berapa lama kita bersama? Apa pernah Mama menyalahkan Papa? Apa pernah Mama marah? Apa pernah Mama berpikir ninggalin Papa?”kata Istriku balik
bertanya padaku.

Aku terkejut mendengar itu. Ku pikir Revita bakal membentak-bentak, marah dan kemudian minta cerai.

“Pah...Mama sebenarnya gak papa kalau memang Papa merasa belum cukup dengan pelayanan Mama, Mama sadar Pa, Mama gak pernah cukup mampu untuk muasin Papa.”tambah Revita.

Aku justru semakin mempererat pelukanku.

“Pah, sakit! Peluknya kenceng amat!”Istriku mengeluh sakit karena pelukanku.

Pelan-pelan ku longgarkan pelukanku dan kemudian ku lepas tubuh Istriku, namun tangannya tetap aku pegangi. Aku masih takut Revita bakal kabur.

“Jadi, Mama gak marah?”tanyaku agak ragu.

“Ya gak lah Pa. Cuma Mama mau tahu kenapa Susan juga Pa? Diakan sepupu Papa!”kata Revita Istriku.

“Gimana jelasinnya ya Ma...”aku kebingungan sambil menggaruk-garuk kepala.

“Jelasin ke Mama sekarang atau pulangkan saja Mama ke orang tua Mama!”Kata Istriku dengan nada marah.

“Jangan dong Ma, oke Papa jelasin!”

“Mmmmmm.....”aku masih bingung bagaimana menjelaskan.

“Gimana? Ya sudah Mama pulang ke rumah Mama di Bandung!”sambil mencoba melepas tangannya dariku.

“Jangan pergi, Papa jelasin sekarang. Jadi, sebenarnya Papa sama Susan udah gituan Ma.”

“Apa?!”Istriku kaget.

“Belum selesai Ma.”kataku.

“Jadi Papa dan Susan uda pernah petting. Waktu itu, Susan masih umur 12 tahun Ma. Waktu kuliahkan Papa pernah cerita ke Mama kalau Papa tinggal di rumah
Pak Dhe Jarwo di bandung.”

“Terus?”Istriku penasaran.

“Ya kan Papa disana selama 3,5 tahun. Selama disana Papa sering telanjang-telanjangan sama Susan.” Ceritaku berputar-putar karena aku memang bingung harus
cerita bagaimana.

“Oh jadi gitu Pa, kelakuan Papa selama ini? Pas waktu kita pacaran juga berarti?”tanya Istriku.

“I..i...iya Ma.”kataku.

“Lalu kan Pak Dhe Jarwo pindah Ma, sampai akhirnya Papa ketemu dua bulan lalu.”tambahku.

Istriku, sendiri kemudian malah tersenyum. Sungguh aneh, baru kali ini aku tahu ada seorang Istri yang menangkap basah suaminya kemudian mendapati suaminya
bermain dengan wanita lain, tapi tidak marah. Malah justru tersenyum. Ada apa dengannya, pikirku.

“Sudah Papa perawani juga Susan?”tanya Istriku.

“Ya belumlah Ma, Papa gak tega waktu itukan dia masih kecil.”

“Oh masih kecil. Kalau sekarang apa Papa masih mau merawani dia?”tanya Istriku.

“Gak, gak, gaklah Ma, diakan sepupu Papa.”jawabku sekenanya. Padahal sebenarnya aku memang ada niat kesana karena memang sekarang Susan benar-benar sudah
cantik, seksi dan menggiurkan, apalagi waktu dia tidur tadi pahanya benar-benar mulus, dadanya besar pas dengan postur tubuh Susan. Jadi keingetin waktu
dia masih umur 13 tahun, vaginanya masih gundul. Sekarang, aku yakin banyak laki-laki yang ingin menjamah tubuh Susan.

“Hayo, Papa bayangin apa? Susan? Atau..................”suara Istriku dipotong dengan sengaja membuat aku penasaran.

“Atau Papa mikirin Marni?”sambung Istriku Tidak habis pikir darimana Revita tahu.

Aku menelan ludah. Rupa-rupanya Istriku sudah tahu semua kelakuan nakalku. Harus bagaimana sudah kepalang basah.

“Gaklah Ma, papa lagi mikirin Mama kok. Istriku yang cantik dan seksi.”aku coba merayu.

“Halah, dasar laki-laki gombal. Mama sudah lihat sendiri kelakuaan mesum Papa. Mama baru tahu sekarang ternyata suamiku benar-benar nakal.”kata Istriku.

“Jadi Papa, apa Papa ada niat memerawani Marni dan Susan?”tanya Istriku.

“Niat sih ada Ma. Tapi, resikonya itu, bisa-bisa Papa diceraiin Mama. Papa gak mau.”kataku.

“Baiklah Papa, kali ini Papa Mama maafin tapi ada syaratnya.”kata Istriku.

“Kok pake syarat segala sih Ma.”protesku.

“Mau gak?”tanya Istriku.

“Ya sudah Papa mau.”kataku pasrah.

“Pertama, Papa harus nuruti semua kata Mama, gimana Pa?”ujar Revita, Istriku.

“Iya.”jawabku.

“Kedua, Papa harus bilang Mama kalau ada wanita selain Marni dan Susan.”

“Iya Ma.”jawabku sedikit lega. Artinya ada sinyal hijau.

“Yang ketiga, malam ini sampai besok pagi, Papa gak boleh keluar dari kamar.”

“Lho lho masa Papa disuruh di dalam kamar sih Ma?”

“Protes?”sambil menatap tajam ke arahku.

“Iya iya iya.”jawabku pura-pura ketakutan.

“Sekarang lepasin tangan Mama.”kata Istriku.

Kemudian tidak lama berselang istriku meninggalkanku di dalam kamar.

“Dah Papa......”Istriku melambaikan tangan di depan pintu.

“Cekrek..”rupanya pintu kamar dikunci dari luar. Aduh, aku terjebak dalam kamar. Tidak bisa kemana-mana lagi selain melihat tv di dalam kamar. Oh iya HP.

Aku baru kepikiran dengan handphoneku. Ku raba-raba saku celanaku namun hasilnya nihil. Aku kemudian teringat kalau handphonek ketinggalan di ruang kerja.
Aku teringat dengan hasil spy cam waktu aku main dengan Marni tempo hari. Pikiranku galau, takut kalau Revita, membuka handphoneku dan melihat video itu. Tapi, aku justru lebih takut kalau Susan yang membukanya.

Akhirnya aku rebahkan saja tubuhku di ranjang sambil menonton tanyangan TV Syfy. Sedikit aku bisa melupakan kejadian barusan. Namun, sial ternyata dalam adegan film ada adegan kissing yang cukup panas. Dasar laki-laki dimanapun sama. Otakku jadi ngeres, aku kepikiran lagi beberapa tahun silam ketika aku masih nebeng di rumah Pak Dhe Jarwo.

Beberapa tahun lalu, ketika Susan masih berumur 13. Waktu itu, Susan mendapat PR IPA dari gurunya untuk mempejari masalah reproduksi hewan.

“Bang Jay, bantuin Susan dong.”Susan memang memanggilku Jay.

“Bantuin apaan sih San?”tanyaku, aku sendiri sedang telungkap dalam kamar membaca majalah bisnis hanya berbalut celana kolor,dan kaos oblong tanpa pakaian
dalam.

Aku sendiri sempat melihat Susan yang hanya berbalut rok warna biru dengan tanktop. Baru pulang sekolah pikirku.

“Ini Susan ada PR IPA tentang reproduksi. Tapi Susan gak ngerti nih.”kata Susan polos.

“Ya sudah sini.”Akhirnya Susan ikut tengkurap disampingku.

“Nih, tadi Susan sempet pinjem buku ke temen Susan.”kata Susan sambil menunjukkan sebuah buku bersampul lambang pria dan wanita di depannya.

“Buku apaan tuh San?”tanyaku. Langsung ku rebut buku itu dari tangan Susan kemudian ku buka isinya. Astaga ini bukan buku pelajaran SMP tapi buku porno, isinya benar-benar vulgar. Berbagai posisi seks dan juga foto-foto alat kelamin pria dan wanita bertebaran di dalam buku itu.

“Ini namanya penis yang Bang?”tanya Susan sambil menunjuk gambar penis di buku.

Aku kaget ketika Susan mengatakan hal tersebut segera aku tutup buku itu.

“Jangan, buku ini bukan buat kamu yang belum cukup umur!”aku melarang Susan membuka buku itu.

“Susan udah lihat semua kok.”kata Susan polos.

“Biasa aja. Kayak Ayah sama Mama waktu malem-malem kemarin.”cerita Susan.

Ini bocah ternyata. Susan kembali merebut buku itu kemudian dia buka buku itu.

“Ini kata Ani, namanya ngentot. Bener gaksih Bang?”tanya Susan.

“Waduh, darimana kamu tahu kata macam gitu.?”tanyaku.

“Dari Ani Bang, Ani malah cerita kalau dia pernah di entot sama papanya lho.”ucap Susan.”

“Seriusan San?”tanyaku.

“Serius sumpeh”kata Susan sambil masih membuka buku itu, yang belakangan aku tahu kalau itu adalah buku Kamasutra.

Aku pun hanya terdiam membayangkan sosok gadis remaja umur 13 tahunan dientot oleh orang berusia setengah abad. Penisku mengeras dibawah sana. Apalagi kini
di sampingku ada sosok bidadari kecil yang cantik, Susan sepupuku.

“Bang Jay, Susan boleh lihat punya abang?”

Aku sempat kaget mendengarnya tapi juga kegirangan.

“Boleh sih tapi lihat aja yah.”aku kemudian berbalik badan telentang di ranjang kemudian ku plorotkan celanaku hingga selutut.

“Bang, ini to yang namanya burung.”Susan memperhatikan Penisku dengan seksama.

“Kok gede sih?”tanya Susan sambil kemudian memegang-megang penisku yang sudah ereksi seratus persen.

“Iya dong, apalagi dipegangin sama gadis secantik Susan.”aku merayu Susan.

“Ah Abang bohong, Susan kan masih anak-anak. Tetek Susan aja belum ada.”Susan nampak malu.

Aku malah merasa keenakan mendapat rabaan dari gadis kecil seperti Susan. Aku sendiri terus terang waktu itu, aku pacaran dengan Revita pun hanya sebatas
cium pipi. Namun, kini gadis kecil itu malah memegang-megang batang penisku.

Malah kemudian tanganku membimbing tangan Susan mengerakkan tangannya naik turun di batang penisku. Rasanya sungguh nikmat dan enak sekali. Baru kali ini aku merasakan sensasi kocokan tangan seorang gadis.

“Lho abang kok merem melek gitu? Geli yah Bang?”Susan bertanya dengan wajah polosnya.

“Iya San, habisnya enak.”kataku.

“Masa sih.”Susan kemudian malah semakin cepat mengocok penisku dengan tangan mungilnya yang tidak mampu menggenggam penuh batang penisku. Aku semakin
kegelian dan keenakan.

“Udah San, udah Abang gak tahan geli.”aku mencoba melepaskan tangan Susan dari batang penisku dan tanpa ku pikir lagi.

“San, emut dong burung Abang, kayak kamu ngemut es krim”permintaan yang aneh sebenarnya untuk gadis seusia Susan.

Alangkah senangnya aku ketika Susan mencoba memasukkan kepala penisku ke dalam bibir mungilnya.

“Bang Hak Hisa Massu....kehedean.”Susan ngomong tidak jelas karena bibirnya sudah melahap kepala penisku. Jelas saja gak bakal muat Penisku terlalu besar
untuknya.

Enak juga bibir Susan, sensasinya benar-benar membuatku melayang keenakan. Cukup lama Susan mengoral penisku bahkan tanpa ku tahu Susan sangat lihat
mengoral penisku. Entah dia belajar darimana.

“San kok kamu...ah...enaknya.”Aku semakin keenakan ketika Susan menjilati kedua biji pelerku.

Susan kemudian duduk disampingku yang masih telentang dengan celana terbuka. Penisku nampak mengkilap.

“Susankan pernah bilang lihat Ayah sama Mama. Mama jilati burung Ayah sampai Ayah merem melek gitu Bang”kata Susan polos.

Pikiranku sudah gelap, aku sudah dilanda birahi tanpa banyak kata ku terkam tubuh mungil itu.

“Ah...abang geli....”Susan menggeliat ketika lehernya aku ciumi dan aku jilati. Sedangkan tanganku sibuk mengelus-elus sekujur tubuhnya.

Sambil melepas celana yang masih nyangkut dilututku aku telanjangi Susan hingga benar-benar telanjang bulat. Kini di ranjang itu, nampak sosok gadis kecil dan seorang laki-laki dewasa dalam kondisi telanjang. Bedanya aku masih mengenakan kaos oblong. Aku perhatikan Susan yang kini telentang dibawahku, ku pandangi sejenak dan kemudian ku lepas kaosku. Susan nampak bingung dan malu, wajahnya merona. Entah malu atau bernafsu yang jelas penisku sudah mengangguk-angguk mencari pasangan.

Tanpa menunggu lama segera ku sosor bibir mungil Susan. Meskipun aku juga termasuk perjaka, dan minim pengalaman setidaknya pengalaman melihat film porno ku praktekan disini. Susan masih sangat pasif bahkan ketika kumainkan lidahku di dalam mulutnya Susan masih tidak bereaksi. Kaget mungkin, ku lepas pagutanku dan sejenak ku tatap wajahnya sambil membelai-belai rambutnya. Aku setengah merangkat di atas tubuh mungil Susan. Pelan-pelan kini bibirku beralih ke leher Susan. Susan menggeliat-liat kegelian.

“Bang...geli....”

Aku meneruskan permainan lidahku. Aku tidak bodoh dengan meninggalkan cupangan di leher Susan. Untung saja hari ini rumah sepi, hanya ada aku dan Susan
saja.

Ciumanku kemudian ku alihkan ke dadanya yang baru mulai tumbuh. Puting susu Susan masih sangat imut, berwarna merah kecoklatan. Aku hisap puting susu itu bergantian. Reaksi tubuh Susan benar-benar luar biasa.

“Aduh Bang, geli.....enak....”

Aku lihat tubuh Susan tidak saja menggeliat-liat. Tangan Susan meremas rambut kepalaku, bahkan sesekali menjambak rambutku. Sakit memang tapi aku benar-benar menikmatinya. Sesaat ku alihkan lidahku ke bagian dalam paha Susan, kiri dan kanan bergantian. Susan semakin merintih tidak karuan karena kegelian. Ciumanku akhirnya ku arahkan ke vagina mungil Susan yang mash gundul dan polos itu. Ku buka lebar kedua paha Susan hingga vagina Susan yang tadinya nampak hanya sebuah garis kini terlihat ada lubang mungil di dalamnya.

“Ah....abang geli....Sss.....enak...bang....”Susan merintih semakin keras ketika lidahku menjilati permukaan vaginanya.
Susan benar-benar telah terhanyut dalam nafsu birahi mendadak kepalaku dibenamkan ke dalam vaginanya hingga aku kesulitan bernafas dan Susan mendesah tubuhnya pun menegang.

“Ahhhhh........................”

Tiba-tiba ku rasakan cairan asin-asin gurih di lidahku, cairan itu semakin membanjir mau tidak mau ku hisap sekalian cairan itu. Beransgur-angsur tubuh mungil Susan melemah dan tangan Susan juga sudah lepas dari kepalaku. Ku tatap wajah Susan nampak lelah namun cukup puas sangat kelihatan sekali di matanya.
Penisku sendiri masih sangat tegang dan keras. Aku berpikir sejenak apakah harus ku renggut keperawanan Susan. Aku menimbang-nimbang sendiri dalam hati, di satu sisi aku memang ingin sekali merasakan vagina seorang wanita. Apalagi selama ini Revita hanya mengijinkanku untuk menciumnya saja. Tapi, Susan masih kecil, apa muat vaginanya, pikirku.

Aku mendapat ide lain. Ku buka lebar lagi kedua paha Susan. Kemudian ku arahkan kepala penisku tepat ke vagina Susan dan pelan-pelan ku bimbing kepala penisku di belahan bibir vagina Susan.

“Agh...Abang sakit.”Susan mengaduh ketika ku tekan penisku di depan liang vaginanya. Beberapa kali ku coba, namun Susan mengaduh kesakitan. Aku bisa memakluminya karena memang penisku cukup besar.

Akhirnya, yang dapat ku lakukan hanyalah menggesek-gesekkan saja kepala penisku di belahan bibir vagina Susan. Ku pikir rasanya akan berbeda. Namun, ternyata rasanya cukup nikmat juga. Beberapa lama masih kegesek-gesekkan penisku di vagina Susan. Susan pun kini sudah dapat menikmatinya juga.

“Asss...sh....ssss.....enak bang.....”desah Susan.

Mendengar Susan mendesah aku coba lagi menekan penisku ke dalam liang senggamanya, kali ini Susan masih diam, bahkan menikmati benda asing di dalam
vaginanya. Walaupun baru kepalanya saja yang masuk penisku seakan-akan diurut oleh dinding ketat vagina Susan. Aku benar-benar sudah tidak tahan lagi. Ku dorong maju mundur penisku di dalam vagina Susan, rasanya sangat enak sungguh nikmat. Kepala penisku ku dorong semakin dalam, namun tangan Susan mendorong pinggulku.

“Abang jangan dalam-dalam Susan sakit.”cegah Susan. Ku rasakan penghalang di dalam lubang vagina Susan.

“Ya sudah kalo gitu segini aja yah.”Aku sebenarnya tidak tahan tapi aku tidak mungkin menyakiti sepupuku ini. Akhirnya, seks pertamaku dengan Susan ku
lakukan dengan hanya menggesek-gesekkan kepala penisku di liang senggamanya.

“Yah...gitu Bang...enak Susan enak......”

Tidak berapa lama aku pun merasakan ada cairan yang akan keluar dari penisku. Segera ku pegangi penisku dan ku kangkangi Susan.

“Crot...crot...crot.....”spermaku tumpah menyemprot muka dan dada Susan sebagian mengenai rambut sebahu Susan.

“Ah...abang apaan nih......bau....”Susan mencium aroma sperma di wajahnya.

Aku lemas, dan kemudian berbaring di sampingnya.

“Itu....namanya sperma Sayang.”aku menjelaskan.

“Kalo masuk ke dalam sini, kamu bisa hamil.”terangku sambil memegang vaginanya.

“Masa sih bang, Susan bisa hamil dong?”tanya Susan.

“Ya gak lah kan tadi gak masuk.”jelasku.

Kami pun akhirnya tertidur pulas dalam keadaan bugil hingga malam tiba. Untungnya kami terbangun tepat sebelum orang rumah lainnya pulang. Aku dan Susan semenjak kejadian itu, seringkali melakukannya. Hingga akhirnya aku pun lulus kuliah dan diterima kerja di Jakarta. Setelah itu, kami jarang ketemu,
apalagi kemudian Pak Dhe Jarwo pindah rumah. Sudah hampir 10 tahun aku tidak ketemu.
Kenanganku dengan Susan, tiba-tiba buyar ketika pintu kamar itu terbuka.

“Cekretk...”

“Papa....”ternyata Istriku Revita datang. Anehnya, Revita sudah mengganti bajunya dengan t-shirt bertuliskan touch me, nampak puting susunya tercetak di
t-shirt itu, pasti dia tidak memakai BH. Payudaranya nampak bergoyang-goyang ketika Istriku menghampiriku. Tidak habis pikir bukannya t-shirt itu, aku yang
beli buat Marni. Sudahlah namanya juga keluarga bertukar baju hal wajar pikirku.

“Nih, Papa minum ini.”Revita menyodorkan sebotol minuman yang aku tak tahu apa sebenarnya.

“Apaan nih Ma?”tanyaku. Ku amati botol itu, tidak ada tulisan latin di situ, tapi sangat jelas aku kenal itu tulisan cina mandarin berwarna merah.

“Sudah minum aja, nanti Papa juga tahu.”kata Istriku.

“Papa kan laper nih Ma, masa yaiya malah disuruh minum mana cuma ada sandwich doang di kulkas.”aku menggerutu.

“Minum dulu aja. Entar mama kasih makan malam istimewa.”kata Istriku.

Aku tenggak habis minuman seukuran botol M150 itu. Rasanya manis agak pahit.

“Apaan sih ini Ma, rasanya aneh gini.”aku penasaran. Tubuhku menjadi panas dilanda birahi sesaat setelah ku tenggak minuman itu.

“Papa mandi sana udah malam.”kata Revita.

“Nanti Mama nyusul.”sambung Istriku sambil kemudian keluar kamar dan lagi-lagi pintu kamar di kunci. Aku pun penasaran juga dengan makan malam istimewa
yang dimaksud istriku.

Aku sempat menatap istriku dari belakang, bokong itu memang masih sama, masih terlihat menggoda di balut rok span warna abu-abu selutut. Ku biarkan Istriku berlalu, namun kini aku kelabakan sendiri penisku rupanya menggembung, semakin mengeras.

Entah apa yang ku pikirkan entah Marni, entah Susan, entah juga Revita. Apalagi ditambah bayangan tentang Susan, Enaknya vaginanya Marni dan Payudara istriku yang menggodaku. Segera aku menuju ke dalam kamar mandi di dalam kamar untuk meredam birahiku yang tiba-tiba meledak-ledak. Ku lepas semua bajuku dan sesaat kemudian aku sudah bertelanjang. Aku melepas penat dan beban pikiranku dengan menceburkan diriku ke dalam bathup. Penisku benar-benar telah menegang sempurna hingga muncul ke permukaan air bath up. Ku pegang dan ku elus-elus penisku sendiri. Tiba-tiba ada yang menutup mataku dari belakang dan ku rasakan gundukan yang sangat familiar menempel di kepalaku begitu kenyal dan empuk tidak salah lagi. Sepasang Payudara. Tapi, aku yakin sekali ini bukan payudara Istriku, aku hanya berspekulasi. Aku tahu persis payudara Istriku ukuran dan juga bentuknya.

“Papa kok main sendiri?”suara Istriku terdengar di telingaku.

“Mama.....ah Mama kok genit sih.....”kataku. Aku mencoba menebak.

Ku coba melepas tangan itu, namun ku dengar Istriku berkata.

“Eit..tunggu dulu.”suara Istriku.

Kemudian ku rasakan ada yang menjamah penisku. Ku pikir-pikir lagi bagaimana bisa mataku di tutup dengan dua tangan. Kalau yang menutup mataku adalah
istriku lalu siapa yang memegang penisku? Aku berspekulasi......

“Ini makan malam istimewa buat Papa.....”

POV REVITA (MAMA)

Singkat cerita ku tinggalkan suamiku di dalam kamar dengan keadaan pintu kamar yang terkunci. Aku kini sudah berkumpul dengan Marni dan Susan di kamar Marni. Kami bertiga sangat cepat akrab. Bahkan dalam waktu yang sebentar aku sudah dapat membongkar semua rahasia mereka dengan Suamiku Wijaya.

“Maafin Marni yah, Ma. Marni mencuri Papa dari Mama, padahal Marnikan bukan siapa-siapa di rumah ini. Marni merasa bersalah Ma.”nampak ada sedikit penyesalan di mata Marni.

“Susan juga yah Teh, waktu itu Susan penasaran Teh, tahunya jadi keterusan, tapi sumpah Teh, Susan masih perawan. Abang Jay belum sampai memerawani Susan. Susan minta maaf.”kata Susan sambil menundukkan kepala.

Ku tatap kedua gadis muda di depanku. Nampak raut muka mereka gelisah dan sedikit ketakutan. Aku sendiri bukan orang yang mudah marah, apalagi menyangkut suamiku. Bagiku apapun tindakan suamiku selama dia masih tetap mencintaiku aku tidak akan menyalahkannya. Semua karena sejak kami pacaran aku pernah berjanji pada suamiku tidak akan pernah menyalahkan dia untuk semua tindakannya asalkan dia tetap mencintai dan menyayangiku.

Ku raih kedua gadis itu ke dalam pelukanku, kemudian keduanya menangis di dadaku. Aku elus kedua rambut gadis itu. Kalau aku pikir-pikir lagi, sebenarnya
usia kami juga selisih tidak jauh. Marni 17 tahun, Susan baru masuk 23 dan aku sendiri sebentar lagi akan masuk usia 26. Ku rasakan dadaku semakin basah, dengan air mata kedua gadis itu. Aku sangat yakin keduanya benar-benar menyayangi suamiku juga seperti aku. Marni, bercerita kalau sampai detik ini sudah belasan cowok di sekolahnya yang dia tolak lantaran sudah terlanjur cinta kepada suamiku, bahkan rahasianya yang sebenarnya aku sudah tahu dia ungkapkan juga. Sementara Susan, mengakui semua perbuatan yang dilakukan dengan suamiku dulu. Susan mengungkapkan bahwa dalam hatinya tidak ada tempat lain selain untuk Suamiku.

Aku merasa gamang, serba salah sebenarnya. Sudahlah mungkin ini memang sudah suratan takdir. Suamiku memang punya kharisma, kalaupun dia mau bukan hanya aku, Susan atau Marni. Puluhan wanita lain di luar sana bahkan sangat mungkin ditaklukan suamiku dengan mudah.
Pikiranku menerawang teringat kembali sewaktu aku masih SMA kelas tiga dan Suamiku waktu itu baru saja diterima kerja di tempat dia kerja sekarang. Dengan penuh perhatian dia selalu memberikan kejutan-kejutan yang tidak pernah ku duga, entah bunga, coklat atau pun hal-hal kecil yang sebenarnya sangat berarti buatku. Bahkan teman SMA-ku Wulan pernah mengatakan kalau saja suamiku belum pacaran denganku, Wulan pasti akan mengejar-ngejar suamiku padahal Wulan adalah primadona di sekolah wakti itu jadi sangat mudah baginya mendapat cowok manapun. Masa pacaran kami memang tidak pernah kami habiskan dengan hal-hal mesum, mungkin inilah yang menjadikan Suamiku melampiaskan kepada sepupunya Susan yang baru saja aku ketahui dari mulut Susan secara langsung detail kejadiannya.

Beginilah hidup, terkadang ada rahasi-rahasia yang sebaiknya tidak kamu tahu. Ketika kamu mengetahuinya, hidupmu bukan lagi hanya milikmu. Akhirnya, ku putuskan hari itu juga, akan ku bagi suamiku dengan kedua gadis ini. Sementara, aku terhanyut dalam lamunan kedua gadis itu masih menangis dalam pelukku.

“Sudah, sudah, Mar, Mama gak marah kok. San, Susan, Teteh ngerti kok perasaan kamu.”

“Serius Teh?”Susan nampak mengusap air matanya.

“Mama, gak marah sama Marni?”Marni pun menanyakan hal yang sama.

Aku hanya menggelengkan kepalaku. Kedua gadis itu serempak memelukku.

“Makasih Ma....”Marni memelukku.

“Makasih Teh...”Susan pun demikian.

Aku merasa sesak di peluk begitu erat.

“Sudah...sudah...”sambil mencoba melepaskan diri dari pelukan kedua gadis itu. Wajah mereka sudah lebih ceria.

“Tuh, bajuku basah semua, gara-gara kalian nih.”

“Hihihihihi.....”kedua gadis itu malah cekikikan.

“Teh, Susan boleh manggil teteh Mama juga, habisnya Susan iri sama Marni?”tanya Susan kepadaku aku sempat kaget juga mendengarkanya. Tapi, aku maklum saja.

“Terserah Susan aja....”kataku.

“Ma...mama...”Susan memanggilku dengan nada manja. Lucu juga, belum hamil tapi kini aku punya dua anak.

“Ma, bajunya di lepas aja, basah gitu kok Ma...”kata Marni sambil beranjak mengambil t-shirt dari lemarinya.

“Pakai ini aja deh Ma, all size kok.”Kata Marni sambil menyodorkan t-shirt berwarna pink kepadaku bertuliskan touch me.

Ku lepas bajuku, di depan kedua gadis itu. Keduanya hanya melihat saja dengan wajah penasaran. Sesaat kemudian yang tersisa hanya BH berwarna merah yang
memang tidak mampu menampung seluruh payudaraku yang besar.

“Wow, Mam...Payudaranya gede banget.”Kata Susan terkagum.

“Berapa ukurannya Ma?”Tanya Susan. Aku mulai terbiasa dengan panggilan Mama dari Susan.

“Mmmm...terakhir sih Mama ukur 36D.”kataku.

Marni yang dari tadi berdiri disampingku tiba-tiba meraih payudaraku. Kedua tangan Marni memegang payudaraku kiri dan kanan.

“Oh pantes aja Marni ngerasa punya Mama gede banget.”kata Marni.

“Ih Marni apaan sih.”kataku mencoba melepas tangan Marni dari payudaraku yang masih berbalut BH.

“Ah Mama Marnikan udah tahu semua punya Mama, lepas aja sekalian deh Ma. BH Mama basah juga tuh.”kata Marni.

“Tapi lepas dong tangan kamu.”sambil ku raih pengait BH di punggungku.

“Sini Susan bantu.”tahu-tahu Susan sudah dibelakangku.

BH itu pun segera terlepas dari tubuhku, kini aku setengah telanjang hanya berbalut rok span selutut. Ku rasakan kini dari belakang Susan memainkan
payudara besarku.

“Ah...Susan geli......”perasaan enak melanda di kedua payudaraku. Marni pun tidak tinggal diam. Marni, berusaha mencium bibirku seperti tempo hari. Dengan

Sedikit berjingkat Marni meraih kepalaku dan kemudian kami berciuman. Lidah kami saling membelit. Sementara Susan menciumi tengkuk dan leherku. Bulu kudukku meremang, ku rasakan kegelian luar biasa, enak bercampur aduk. Aku benar-benar terangsang terhanyut dalam permainan Marni dan Susan. Aku masih normal, pikirku. Namun, aku akui ini benar-benar sensasi yang luar biasa. Kalau saja, Suamiku melihat kelakuan kami bertiga entah apa yang dia pikirkan.
Ku pejamkan mataku menikmati permainan mereka. Ku rasakan dua buah tangan menjamah pantatku dan ku rasakan rokku meluncur turun. Mereka benar-benar ingin menelanjangiku. Kini ku rasakan dua buah peyudara menempel di punggungku. Jelas sekali, bukan payudara Marni. Sementara, Marni masih berciuman mesra denganku, ku rasakan tangan Marni meremasi payudaraku begitu pula dengan ku ku remas payudara Marni entah kapan Marni menelanjangi dirinya. Tangan Susan tidak mau menganggur begitu saja. Ku rasakan belaian dan gosokan halus di vaginaku yang masih terbungkus celana dalam. Aduh aku tidak kuat lagi. Dengan posisi ditengah-tengah kedua tubuh. Tangan Susan mencoba masuk kedalam celana dalam ku dan aku sungguh tidak dapat menahan lagi ketika jari Susan memasuki lubang vaginaku yang sudah semakin basah.

Aku mendesah tidak karuan.

“Mam....ma...udah mau nyam....pe......”suaraku berakhir dengan keluarnya cairan kewanitaanku. Tubuhku menegang, hampir saja aku terjatuh, namun kedua gadis
itu menopang tubuhku.

“Gimana Ma, enakkan...?”tanya Susan dari belakangku.

Aku hanya mengangguk sambil menoleh, kemudian ku rasakan bibiku di pagut dengan mesra oleh Susan.

“Ayo ke ranjang aja”Ajak Marni.

Aku seperti terhipnotis mengikuti saja kemauan kedua gadis itu. Aku tidak tahu sejak kapan keduanya sudah telanjang bulat. Tinggal aku sendiri masih mengenakan celana dalam yang sangat basah ini. Kedua gadis itu kemudian berciuman bagai sepasang kekasih, mereka saling raba, saling meremas. Aku malah bengong di pinggiran ranjang.

“Loh Ma kok malah bengong?”tanya Marni.

“Celana dalamnya di lepas juga dong Ma, udah basah gitu.”kata Susan.

Kemudian keduanya saling memainkan jari di lubang vagina mereka bergantian.

“Aduh...S.ssss....San jangan dal....amm.....dalam Mar.....ni.....mass......perawan....”Kata Marni sambil mendesah merasakan jari-jari Susan semakin dalam.

“Aw.......en....ank Mar...............”ku lihat Susan menikmati permainan jari Marni di dalam lubang vagina Susan.
Sesaat kemudian tubuh kedua gadis itu menegang.

“Ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh................... ...”desahan panjang bersamaan terdengar dari kedua gadis itu. Aku hanya tersenyum melihat tingkah mereka.

“Ayo dong Ma...gabung......masa cuma lihat aja”kata Marni lirih masih menikmati sisa orgasmenya.

“Ayo Mah...”Susan sambil menarik tanganku.

Kini aku berada ditengah-tengah kedua gadis yang baru saja merasakan orgasme. Ku pehatikan wajah sayu mereka. Mereka berdua benar-benar dilanda birahi.
Memang ternyata aku sadari payudaraku memang yang paling besar, Marni ukurannya 32D aku pernah mengukurnya saat membelikannya baju dan lagi aku juga pernah terlibat permainan dengannya, Susan aku taksir berukuran 34C.

Aku berciuman bergantian dengan Marni dan Susan, tangan kami saling raba dan saling meremas. Sungguh sebuah permainan yang sungguh baru sekali ini ku rasakan, aku berada di antara dua perawan yang sudah di mabuk birahi.

Entah siapa yang mulai, mulutku kini sedang emncumbui vagina Susan. Sementara Susan mencumbui vagina Marni, marni sendiri mencumbui vaginaku. Sungguh pemandangan yang sangat menggairahkan, aku membayangan seandainya suamiku melihat kami bertiga dalam keadaan seperti ini aku yakin, dia tidak akan mampu menahan diri. Kami bertiga bagai mesin pencari nafsu, kamar Marni sekarang menjadi medan pertempuran birahi antara tiga wanita. Aku colok vagina Susan dengan jariku, Susan merintih tertahan karena mulutnya masih beradu dengan vagina Marni.

“Nghh.....”desah Susan.

“Agh.....”aku pun mendesah ketika jari Marni semakin dalam di dalam vaginaku, bahkan Marni sesekali mengocok jarinya di dalam vaginaku.

“Ah....Sssss.....”aku mendesah sambil memainkan lubang vagina Susan.

“Asss......enyak San.....”desah Marni.

Desahan demi desahan bergantian memenuhi ruangan kamar itu. Tidak lama kemudian ku rasakan kedua paha Susan menekan kepalaku. Sepertinya Susan sudah hampir mendapat orgasmenya. Aku pun juga hampir sampai. Dalam hitungan detik aku mendesah, disusul dengan desahan Susan dan juga Marni.

“Ah..........................”kami mengejan bersamaan disertai dengan desahan yang bersamaan pula.

Hari sudah semakin malam. Nampak di luar semakin gelap. Aku baru sadar kalau jendela kamar Marni terbuka tanpa penutup tirai. Untung saja pagar rumah kami
cukup tinggi sehingga orang yang lewat di jalan samping rumah kami tidak akan dapat melihat ke dalam rumah.

Kami bertiga, sama-sama lemas menikmati momen yang baru saja kami rasakan. Ku lirik jam di dinding kamar Marni. Jam 18.30. Cukup lama juga kami bermain hampir 1 setengah jam.

“Makasih yah Ma...”kata Marni.

“Thanks Mam.”kata Susan sambil mengecup bibirku yang masih menyisakan cairan kewanitaan Susan.

Aku pun tersenyum puas. Ini adalah pengalaman tak terlupakan sepanjang perjalanan seks dalam hidupku. Selain suamiku kedua gadis ini bisa memuaskanku juga, aku sampai 2 kali orgasme. Permainan tanpa penetrasi penis seorang lelaki.

“Mar, San...”aku membuka pembicaraan.

Mereka berdua menatapku lekat-lekat.

“Apakah kalian mencintai Papa.”tanyaku meyakinkan diri untuk membagi suamiku dengan mereka.

“Marni cinta Papa, Mah....”kata Marni penuh keyakinan.

“Susan juga Mam...”kata Susan.

“Mama ingin buat sebuah keputusan Mama harap kalian mau menerimanya.”kataku.

“Marni ikut kemauan Mama saja.”kata Marni.

“Terserah Mama baiknya gimana.”kata Susan lebih dewasa dari Marni.

“Begini, karena sekarang kita bertiga sudah slaing tahu rahasia masing-masing, ditambah pula semua rahasia Papa kita bertiga tahu. Mama, sudah memutuskan
untuk membagi Papa dengan kalian.”kataku penuh kesabaran.

“Mama yakin?”tanya Marni

“Mama serius Mar.”jawabku.

“Mama tidak bercandakan?”tanya Susan.

“Ya enggaklah Sayang.”jawabku.

“Sayang Mama.”kata Susan kemudian memelukku.

“Marni juga sayang Mama.”sambil ikut memelukku.

Kami berpelukan bertiga dalam keadaan telanjang. Entah berapa lama kami tertidur. Aku terbangun ketika ku dengar suara ketukan di pintu kamar Marni.

“Tok...tok....tok....”

“Ndoro, Marni sudah waktunya makan malam.”jelas itu suara Mbok Imah.

“Iya, Mbok bentar.”kataku.

Aku yakin Mbok Imah tidak akan memasalahkan aku berada di kamar Marni karena lumrahlah jika seorang Ibu angkat akrab dengan anak angkatnya. Mungkin yang tidak diketahui Mbok Imah apa yang kami lakukan di dalam kamar ditambah dengan adanya Susan juga.

Aku baru ingat, aku mengunci suamiku di dalam kamar dari tadi sore. Kelaparan tidak yah, aku rasa tidak aku masih menyisakan sandwich di kulkas kecil dikamar. Biar sajalah itung-itung hukuman buat suamiku yang nakal itu.

“Ayo bangun udah waktunya, makan malam.”

Kedua gadis itu kemudian terbangun dari tidur mereka. Wajah mereka nampak sedikit kelelahan.

“Capek Mam...”kata Susan.

“Yuk Mandi dulu terus makan.”ajakku.

Kami bertiga akhirnya Mandi bersama dalam kamar mandi kamar Marni yang sebenarnya tidak muat untuk kami bertiga, alhasil tubuh kami saling berhimpitan,
saling bergesekan.

“Udah ah Mama gak mau lagi. Mama mau main sama Papa aja.”kataku sambil ke luar kamar mandi meninggalkan Marni dan Susan yang tengah asyik bercumbu.

“Yah Mama curang.”kata Marni dan Susan serempak.

Kau keringkan badan basahku dengan handuk lalu ku baju-bajuku. Ketika ku temukan celana dalam dan BH ku rupanya sangat basah, aku tidak mungkin lagi mengenakan celana dalam dan BH ku yang sudah basah itu, bisa-bisa jamuran vaginaku. Kamar Marni tidak terlalu gelap karena cahaya penerangan di luar cukup bisa memberi sedikit penerangan. Segera ku tutup tirai kamar Marni dan ku nyalakan lampu kamar Marni. Aku pun segera mengenakan rok spanku dan memakai t-shirt warna pink dari Marni. Sesaat kemudian Marni dan Susan keluar kamar mandi berbalut handuk.

“Ma...Marni ikut dong main sama Papa.”rengek Marni.

“Hmmm.....gimana yah, papa kan punya Mama...”kataku sambil tersenyum.

“Yah Mama tadi bilangnya mau bagi Papa sama kita.”kata Marni sewot.

“Iya nih Mama gimana sih. Susan ikutan juga dong.”kata Susan.

“Memang kalian gak capek?”tanyaku.

“Capek sih Mam...tapikan....”kata Susan terpotong.

“Tapi apa?”tanyaku.

“Susan kangen burungnya Papa?”kata Susan dengan wajah memerah.

“Ih Susan cuma kangen sama burungnya Papa.”kata Marni meledek.

“Susan kangen sama Papa apa burungnya sih?”tanyaku menggoda Susan.

“Dua-duanya.”Kata Susan dengan wajah memerah.

“Marni juga, Marni juga.”Marni tidak mau kalah.

“Gampanglah yang penting kita makan dulu.”ajakku.

Mereka berdua kemudian berpakaian dan akhirnya kami bertiga makan ditemani Mbok Imah di ruang makan. Sedangkan suamiku ku biarkan dalam kamar untung saja Mbok Imah tidak menanyakannya.

“Mbok Imah gak makan?”tanyaku.

“Sudah Ndoro, daritadi saya nungguin Ndoro dan yang lain karena keburu lapar Simbok makan dulu.”kata Mbok Imah, aku tidak masalah dengan itu lagipula memang biasanya juga kalau kami belum datang ku suruh Mbok Imah makan dulu.

“Oh iya Mbok ini sepupu Papa, Susan.”kataku memperkenalkan Susan.

“Saya sudah kenalan tadi Ndoro.”kata Mbok Imah.

“Oh sudah saling kenal ya sudah.”kataku.

“Simbok ke belakang dulu Ndoro.”Mbok Imah kemudian mengundurkan diri dari ruang makan.

“Jadi gimana Mam....Susan ikut yah?”tanya Susan.

“Ikut apaan sih?”kataku pura-pura lupa.

“Itu Mam, main sama Papa. Susan udah lama nih gak ngerasain itu lagi.”kata Susan.

Marni menatap dengan pandangan mata elang ke arah kami.

“Pokoknya kalau Mama sama Susan main sama Papa, Marni ikut.”kata Marni penuh emosi.

“Iya tapi apa kalian tidak capek?”tanyaku.

“Kalau masalah itu tenang aja Mam. Susan ada solusinya. Bentar yah.” Susan kemudian meninggalkan kami berdua.

“Mau kemana sih, Susan.”tanya Marni. Aku hanya mengangkat bahuku kemudian melanjutkan makanku.

Selang beberapa menit kemudian Susan kembali dengan membawa 4 botol seukuran You C bertuliskan Cina. Sebuah berlabel merah, 3 lainnya berwarna biru.

“Apaan itu San?”tanyaku.

“Ini Susan dapet dari teman kuliah Susan yang kuliah di Aussie, anak Hong Kong. Ini obat penambah stamina seks.”kata Susan.

“Hah?”aku dan Marni terperanjat.

“Kayak gak pernah denger aja. Gini-gini Susan gaul tahu. Masa yaiya sarjana lulusan Ausie ketinggalan info.”kata Marni.

“Mah, Susan niat banget tuh Mah, pengen sama Papa.”kata Marni menyindir.

“Kamu mau gak?”tanya Susan ke Marni.

“Ya mau.”kata Marni.

“Nah, Susan jelasin dulu. Ini yang merah buat laki yang biru buat yang wanita. Berhubung kita bertiga jadi pas satu-satu.”kata Susan.

“San, kamu kok kepikiran sih?”tanyaku.

“Enggak sih Mam, Cuma temen Susan itu pacarnya bule nafsunya gede. Jadi dia cerita gimana cara ngimbangi cowoknya itu.”cerita Susan.

“Susan gak main sama Bule juga?”tanyaku.

“Gak mau, bule-bule rata-rata Cuma mau nikmati tubuh kita cewek asia terus kabur.”cerita Susan.

“Nih, Marni. Mama dan Ini buat Susan.”kata Susan sambil membagi-bagi ketiga botol berwarna biru.

“Aman gak nih San?”tanyaku.

“Aman kok Mam, gak bikin ketagihan.”kata Susan.

“Tapi reaksinya setengah jam setelah diminum lho.”Susan menambahkan.

“Trus yang merah diapaain San?”tanya Marni.

“Kasihin Papa aja deh. Kata temen Susan cowok yang minum ini bisa tahan seharian.”jelas Susan.

“Serius San?”tanyaku.

“Serius Mam...”kata Susan.

“Mama pikir Papa gak usah dikasih deh San, gak minum kayak gitu aja Papa kuat 2 jam lho.”aku menjelaskan.

“Yah Mama, sekarangkan ada tiga orang lawan Papa.”kata Susan.

“Lagian kan besok libur, Susan juga udah cukup istirahat tadi.”tambah Susan.

“Iya Mah, Marni pengen ngerasain punya Papa lagi....”tandas Marni.

“Kalian berdua kan masih perawan? Yakin pengen?”tanyaku.

“Iya Mam, apa sih yang gak buat Papa.”Kata Susan.

“Marni relain semua buat Papa.”kata Marni

“Ya sudah ya Mama gak tanggung jawab kalau kalian ketagihan. Ya sudah Mana.”aku ambil botol itu dan kemudian ku berikan kepada suamiku di dalam kamar.
Setelah yakin diminum oleh suamiku aku kunci lagi dia di dalam kamar.

“Sudah, Mama berikan ke Papa, San.”kataku kepada Susan.

“Terus gimana Mah?”tanya Marni.

“Ya kita tunggu aja setengah jam lagi.”kataku.

“Oh iya Mam, Susan lupa kalau buat cowok itu, reaksinya agak cepet, diminum langsung reaksi.”jelas Susan.

“Eh, serius? Pantes Papa langsung gelisah. Biar saja deh biar Papa menderita dulu hahahaha.....Ayo punya kita minum. Lagian Papa udah Mama suruh
Mandi.”kami pun menenggak obat penambah stamina itu. Malam ini, kami akan menghabiskan malam dengan bercinta.

“Ayo ke kamar Mama.”

Episode 8: Ternyata Istriku Nakal (Juga)
POV: Papa

Preview Last Episode

“Papa kok main sendiri?”suara Istriku terdengar di telingaku.

“Mama.....ah Mama kok genit sih.....”kataku. Aku mencoba menebak.

Ku coba melepas tangan itu, namun ku dengar Istriku berkata.

“Eit..tunggu dulu.”suara Istriku.

Kemudian ku rasakan ada yang menjamah penisku. Ku pikir-pikir lagi bagaimana bisa mataku di tutup dengan dua tangan. Kalau yang menutup mataku adalah istriku lalu siapa yang memegang penisku? Aku berspekulasi......

“Ini makan malam istimewa buat Papa.....”

--

Istriku benar-benar memberikan sesuatu yang sangat mengejutkan, aku tahu pasti dia tidak sendirian di dalam kamar mandi ini. Aku mencoba menebak, Marni atau Susan. Aku benar-benar penasaran. Penisku sudah menegang sangat keras daritadi apalagi setelah ku minum, sebotol minuman dari istriku entah apa. Apalagi ditambah dengan kocokan halus di batang penisku. Rasanya sungguh-sungguh nikmat.

“Sekarang Papa boleh buka mata Papa!”suara Istriku Revita memberi perintah.

Tangan yang tadinya menutup mataku pun akhirnya di lepas dan alangkah terkejutnya aku, ternyata Istriku sudah berada di depanku hanya memakai kaos bertuliskan Touch Me di bagian dada, puting susunya nampak menonjol, kelihatan sekali puting susu itu mengeras ditambah dengan vaginanya yang sepertinya sudah basah.

Marni, rupanya Marni sudah telanjang bulat sedang mengocok penisku di pinggiran bathup. Aku semakin terkejut ketika
menolehkan kepalaku ke belakang. Susan! Bagaimana bisa mereka bertiga ada disini. Tidak habis pikirku.

“Ini rencana Mama, Pa”Kata Marni kemudian mencaplok penisku.

“Ah...”aku mengerang kaget mendapat serangan mendadak.

Susan yang ada di belakangku pun tidak mau ketinggalan segera saja dia menjilati daun telingaku. Geli dan merinding seluruh urat syaraf di tubuhku. Revita sendiri belum ikut bergabung dengan kami, bayangannya menghilang dari depan mataku. Sambil ku nikmati permainan kedua gadis itu, aku mencari-cari Revita Istriku, namun sosoknya ternyata memang tidak ada di ruangan itu.

Marni semakin asyik dengan permainan mulutnya di batang penisku yang pangkalnya masih tenggelam di dalam air. Sementara Susan telah beradu mulut denganku, tangan Susan mengelus-elus dadaku gemricik air menjadi saksi kemesuman kami bertiga. Kemana Revita, apakah dia membiarkan saja suaminya berlaku nakal.

Aku semakin tidak karuan merasakan kenikmatan yang diberikan kedua gadis belia itu. Marni, yang sedang dalam masa pertumbuhan, payudara,pinggang dan pantatnya benar-benar seksi sekali. Susan sepupuku yang dulu ketika kecil belum memiliki payudara sekarang, aku dapat meremas payudara besarnya itu. Sungguh inikah surga dunia.

Aku benar-benar sudah tidak tahan dengan permainan mereka. Ku rasakan penisku mulai berkedut-kedut aku merasakan spermaku akan segera muntah keluar. Serangan keduanya semakin intens dan gencar membuat pertahananku semakin lemah.

“Ahmm...”aku mendesah bersamaan dengan melesatnya spermaku menembak di dalam rongga mulut Marni. Bibir kecil Marni
jelas tidak dapat menampung semua spermaku. Susan yang sudah tahu aku sudah memperoleh tembakan pertamaku segera menghampiri Marni yang masih membiarkan mulutnya berada di ujung penisku, seakan tidak mau menyisakan spermaku terbuang percuma.

Sungguh mengejutkanku Susan tiba-tiba menarik Marni dan mencium bibir Marni. Keduanya berbagi spermaku dengan mulut mereka. Sungguh gila, sungguh eksotis melihat dua bidadari sedang berciuman berbagi makanan, spermaku. Mereka berdua nampak tenggelam dalam birahi. Aku yang menyaksikan itu hanya tertegun dan sesekali menelan ludah. Barukali ini aku melihat secara langsung dua orang gadis dalam keadaaan sama-sama telanjang berciuman dengan mesra dan kini keduanya malah saling raba dan saling gesek.

Payudara Marni dan Susan kini beradu, keduanya sangat menikmati momen itu. Namun, sungguh menjengkelkan seorang laki-laki dengan penis yang mengacung keras dibiarkan begitu saja. Aku sebenarnya tidak ingin mengganggu kesenangan mereka namun, apa artinya aku sebagai lelaki.

“Ehmm...”aku berdehem sambil kemudian bangkit dari bathup dan segera meraih handuk menutupi selangkanganku yang masih membengkak.

Marni dan Susan terkejut keduanya nampak kebingungan, namun tiba-tiba tersenyum. Mereka berdua kemudian mengikutiku ke luar menuju ke kamar. Sebuah surprise lagi ku dapatkan di atas kasur pembaringan, sebuah tubuh indah dibalut dengan lingerie bermotif macan, yang sangat seksi, rupanya Revita benar-benar sudah menyiapkan segalanya. Yang aku tidak habis pikir adalah bagaimana cara dia membawa Marni dan Susan ke dalam permainan ini.

“Eit...Marni, Susan, keringin dulu badan kalian!”kata Istriku ketika kedua gadis itu ingin bergabung dengannya.

Revita kemudian mendekat ke arahku yang masih berdiri, bengong menyaksikan betapa liarnya dirinya. Ku pikir istriku benar-benar binal malam ini, aku baru tahu ternyata istriku nakal juga. Padahal selama ini dia yang ku kenal cukup alim dan kalem.

Istriku, berdiri di depanku mengarahkan tangannya ke depan seperti harimau, sambil mengaum-aum lucu. Justru, gairahku semakin meningkat dengan cepat ku terkam tubuhnya dan kami pun langsung terjatuh ke kasur bertindihan, ku tindih tubuh istriku tepat dibawahku. Penisku seakan-akan tergencet, lumayan sakit, namun hanya sesaat. Dengan setengah merangkak ku ciumi wajahnya dengan rakus, sementara tangan istriku sudah bergerak menyingkap handuk yang menyelimuti selangkanganku.

Handuk itu pun sudah terbang entah kemana. Kini aku sepenuhnya telanjang sedang menggumuli tubuh seksi dihadapanku. Revita nampak terengah-engah menghadapi seranganku, entah mengapa aku merasa sangat perkasa malam ini.
Ku rasakan penisku dijamah tangan halus dari belakang. Aku melihat sekilas rupanya Susan dan Marni sedang memperebutkan penisku. Mereka nampak sangat menggairahkan sekali, apalagi dengan balutan busana yang entah kapan mereka pakai. Marni dengan wajah polos cantiknya entah sejak kapan sudah memakai lingerie warna hitam, Susan pun tidak kalah seksi dalam balutan HEM warna putih tanpa pakaian dalam, karena semuanya tercetak jelas disana. Aku tahu pasti itu adalah baju kerjaku.

Aku sungguh-sungguh jadi seorang raja malam ini. Tiga tubuh wanita cantik akan menjadi makan malamku kali ini. Dua diantaranya ku tahu masih perawan. Namun, Revita Istriku bukan wanita sembarangan sekalipun sudah ku tusuk berkali-kali vaginanya memang tetap rapat seperti perawan.
Ku rasakan kini bahkan ketika ku jilati leher Revita, lubang anusku seperti dijilati sesuatu.

“Ah...”aku menggelinjang kegelian. Susan sedang mencumbui lubang analku. Tangannya meremas kuat-kuat pantat kekarku dan Marni asyik menyedoti penisku. Aku benar-benar tidak kuasa menghadapi semua ini. Benar-benar, sebuah permainan seks yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.

Aku benar-benar tidak tahan lagi aku bangkit dari kasur meninggalkan tubuh istriku yang masih terengah-engah sehabis menerima seranganku, lingerienya nampak sudah berantakan. Aku berdiri dengan angkuh menatap ketiga wanita yang sedang dilanda hawa nafsu. Aku merasa mereka seperti lebih liar-lebih panas dan lebih menggairahkan.

Ku tarik badan mungil Marni dalam pelukanku ku ciumi bibir dan lehernya hingga dia merintih-rintih kegelian. Susan memeluk tubuhku dari belakang menempelkan bukit indahnya ke punggungku sembari tangannya mempermainkan batang penisku dari belakang. Aku bagai sandwich diantara dua roti.

Tubuhku seakan-akan hilang keseimbangan hingga hampir saja kami bertiga menjatuhi tubuh istriku Revita yang masih tergeletak di kasur menanti kenikmatan selanjutnya. Istriku rupanya dengan cepat menghindar dan akhirnya kini aku berada diantara ketiga wanita seksi yang siap disetubuhi dengan batang penisku yang keras bagai tugu monas.

Susan yang bersebelahan dengan Istriku kemudian mendapat serangan dari Istriku Revita, untuk kedua kalinya aku melihat lagi. Dua wanita saling bercumbu dan saling merangsang satu sama lain. Aku sendiri tidak mau ketinggalan hanya menonton segera ku raih tubuh Marni dan segera ku lumat bibir Marni, suara desahan Marni semakin menjadi manakala kedua puting susunya ku pelintir keras. Desahan demi desahan semakin mewarnai ruangan itu. Lingerie marni sungguh sangat seksi dan sangat mudah sekali mengakses area-area vital di tubu Marni tanpa melepas ligerie itu. Aku lihat permainan Istriku dan Revita semakin panas, Susan mengangkangi wajah istriku, sementara istriku mencumbui vagina Susan, aku makin bergairah melihat permainan panas mereka. Tubuh Marni ku posisikan merangkak, dari belakang Marni aku jilati permukaan vagina Marni hingga terkadang menyentuh anusnya. Lubang vagina Marni, semakin basah dan menganga seakan-akan minta untuk segera disetubuhi. Ku tepiskan G-string yang masih menyangkut di selangkan Marni, sangat mudah melepas g-string basah itu. Dengan sigap ku posisikan diriku. Susan dan Revita, sempat berhenti sejenak melihatku yang siap menjebol lubang perawan Marni. Ku tempatkan kepala penisku tepat di depan lubang vaginanya, kali ini aku bersiap memetik keperawanan gadis itu.

Susan dan Revita, sempat tertegun namun keduanya kemudian tenggelam lagi dalam cumbuan mereka. Mereka berdua kini saling jilat dan saling hisap. Rintihan demi rintihan semakin riuh, ketika Marni ikut mendesah-desah karena penisku yang semakin menusuk ke dalam lubang vaginanya. Kepala penisku telah terjepit diantara bibir vaginanya, ku dorong lebih dalam dan lebih dalam, ku tarik keluar lagi. Ku tarik ulur penisku dalam vagina Marni yang sudah basah. Meskipun demikian Marni adalah seorang perawan tidak mudah bagi vagina Marni untuk langsung menerima penis besar di dalam vaginanya.

“Ayo Pa...Lakukan Pa...”Pinta Marni. Aku semakin bersemangat mendengar itu.
“Sak...kit..Pa...”jerit Marni ketika ku lesakkan lebih dalam penisku dalam vaginanya.
Nampaknya hal itu, mengganggu Susan dan Revita. Mereka berdua menghampiri kami dan dengan sigap Revita membentangkan bibir vagina Marni lebih lebar. Sementara Susan menyodorkan payudaranya kepada Marni. Penisku pelan-pelan bisa masuk lebih dalam dengan bantuan dari Istriku. Marni, mengurangi rasa sakitnya dengan menghisap puting susu Susan.

“Bless!”ku hentakkan penisku kuat, jebol sudah pertahanan Marni. Susan menjerit ketika Marni menggigit puting susunya bersamaan dengan amblasnya seluruh batang penisku. Penisku seakan menyentuh hingga ke rahim Marni. Nampak senyum puas di wajah Istriku. Revita kemudian menciumku. Ku balas ciumannya dengan tidka kalah mesra. Tangan kananku meremas payudara Revita dari luar lingerie tipisnya, sambil ku genjot penisku di dalam lubang vagina Marni.

“Ah....ah....ah....”Marni mendesah keenakan. Apalagi Susan kini sudah telentang di bawah Marni menghisapi dan mempermainkan payudara Marni.

“Enyak...”Marni menceracau.

Tetesan peluh membasahi tubuh kami berempat. Revita masih asyik bercumbu denganku. Susan pun masih asyik memainkan payudara Marni. Ku genjot terus penisku dalam vagina Marni yang sempit itu. Ku rasakan gesekan demi gesekan membuat pinggul Marni semakin liar.

Ku rasakan vagina Marni berdenyut menandakan dia akan segera mencapai klimaks. Aku semakin cepat memacu penisku hingga akhirnya tubuh Marni menegang.

“Ahhhh....”desahan panjang di sertai dengan semburan panas di dalam vagina Marni. Tubuh Marni ambruk ke samping, ku lihat darah bercampur mani Marni berceceran di selangkangan Marni. Untung saja Marni ambruk ke samping, Susan pasti akan tergencet tubuh Marni. Revita yang masih bergelayut padaku segera ku dorong kepalanya tepat jatuh diatas perut Susan. Jadilah perut Susan menjadi bantal. Dalam posisi itu, ku buka lebar paha Revita, ku rentangkan sangat lebar, celana dalam tipis yang dia kenakan aku tarik hingga sobek. Bret!

Revita sempat terkaget. Namun tak lama karena penisku tiba-tiba aku hujamkan sedalam-dalamnya tanpa peringatan. Revita mengerang keenakan, ketika bagai seorang kesetanan ku genjot vaginanya. Marni nampak mengambil nafas ada raut puas diwajahnya. Susan, aku tidakmembiarkan dia nganggur begitu saja. Tubuh telanjang Susan yang kini menjadi bantal bagi Istriku memudahkanku mempermainkan payudaranya yang besar meskipun punya Revita memang paling besar. Ku hisap dan ku jilati payudara Susan. Tangan kananku memainkan klitoris Susan. Sementara tangan kiriku ku gunakan sebagai tumpuan. Pinggulku dan pinggul Revita masih beradu. Cukup lama, bagiku untuk mengalahkan Revita, entah sejak kapan Istriku menjadi begitu kuat.

Hingga lima belas menit kemudian kaki istriku mengapit pinggangku erat dan kurasakan Susan membenamkan kapalaku di dalam dadanya dalam-dalam. Kedua wanita itu mengerang bersamaan.

“Arghh.....”Revita menjerit.

“Awh.....”Susan menjerit lebih gila. Cairan vaginanya menyemprot keras. Squirting! Baru kali ini ku lihat itu. Mereka berdua nampak puas sekali. Namun, aku masih belum terkalahkan, masih ada satu lubang perawan yang harus ku bobol malam
ini. Susan. Vagina Susan.

“Plop!”bunyi suara ketika penisku terlepas dari vagina Revita.
Nampaknya Revita paham dengan maksudku sehingga dia segera beringsut agak menjauh dari Susan ke dekat Marni yang masih meresapi kenikmatan yang baru saja ia rasakan.

Ku tarik kaki jenjang Susan, ku buka kedua paha mulus itu. Vagina Susan yang baru saja klimaks benar-benar membuatku terangsang. Ku cium vagina itu aromanya lebih kuat dibanding terakhir kali ku ingat. Ku mainkan vagina Susan dengan lidahku, begitu liar dan begitu ganas.

Tangan Susan menjambak-jambak rambutku, aku rasa Susan benar-benar menikmati permainan lidahku. Aku cukup puas memainkan vagina Susan dengan lidahku, namun aku tidak akan membiarkan keperawanan Susan terlalu lama.
Aku pun segera menempatkan diriku diantara kedua pahanya, dengan setengah jongkok ku bimbing kepala penisku mencari lubang kenikmatan Susan.

Ku rasakan vagina Susan begitu ketat seperti vagina Marni. Namun, karena vagina Susan sangat basah, aku tidak terlalu kesulitan memasukkan penisku lebih dalam. Ku dorong lebih dalam ketika penisku sudah sepertiganya masuk. Susan nampak menahan nafas ketika ku dorong semakin dalam. Tanpa aba-aba segera ku tusukkan dengan kuat penisku ke dalam vagina Susan, hingga ku rasakan robekan selaput tipis di dalam vagina Susan.

“Argh...Mmm...”Susan meraih bibirku ketika ku hujamkan penisku dalam-dalam.
Pelan-pelan ku biarkan Susan mengambil alih, rupanya Susan sudah terangsang hebat. Pinggulnya ia putar-putar sendiri mencari kenikmatan. Aku pun tidak mau membiarkan dia menderita sendiri, segera ku goyangkan pinggulku di dalam vaginanya.

“Plok...plok...plok...”suara pinggul kami beradu sama seperti ketika ku mainkan penisku di dalam vagina Marni dan Revita.

“Ah...ah...ah...ena...nak....Pa...”Aku dengar Susan memanggilku Papa, pasti kerjaan Revita, biarlah aku semakin bergairah mendapat sambutan itu. Tidak lama kemudian.

“Papa...Su...su...san...nyampe....Ah.....”Susan melenguh disertai cairan menyemprot kuat di dalam vaginanya. Panas. Aku merasakan penisku sangat panas, segera ku cabut saja penisku darinya dan cairan kewanitaan Susan menyemprot mukaku. Wajahku basah kuyup.

“Maaf...Pa...”kata Susan lirih.
Segera ku raih tubuh Istriku, dan kemudian ku masukkan penisku dalam vaginanya. Revita yang sudah cukup lelah, hanya pasrah saja tubuh seksinya menjadi bulan-bulananku. Hingga 15 menit kemudian ku semburkan spermaku dalam vagina Istriku.

Aku masih tanggung penisku masih sehat berdiri apa yang salah denganku, namun ketiga wanitaku sudah terkapar kelelahan padahal baru satu babak. Aku pikir mereka kehabisan tenaga karena terlalu bersemangat melayaniku. Aku kehausan ku cari minum di kulkas mini kamar namun ternyata airnya habis.

Ah..padahal aku masih ingin merasakan kenikmatan bersama mereka bertiga. Malam sudah agak naik sudah sekitar jam 11 malam, sudah cukup lama rupanya ketiga bidadarku ini, hampir 3 jam rupanya. Biarlah mereka istirahat sebentar, aku pikir tenaga mereka akan segera pulih. Ku tinggalkan sejenak mereka ke lantai satu menuju dapur. Aku malam itu hanya mengenakan boxer, penisku masih sangat keras dan tegang entah mengapa mungkin karena belum menembakkan sperma lagi. Suasana lantai 1 sudah sangat sepi. Jelas saja karena di lantai hanya ada satu orang saja yaitu Mbok Imah yang kini sudah lelap dalam mimpi. Dia tentu saja tidak tahu, cucunya sudah kehilangan keperawanannya di ujung penis tegangku ini.

Ku raih sebotol air dingin dari kulkas dan ku minum.

“Ah segar.”aku membatin.

“Tok...tok..tok...tok...”pintu ruang depan di ketuk-ketuk dengan kasar.

“Siapa malam-malam begini? Kasar amat sih”pikirku.

Aku pun segera menuju ke depan dan ku longok melalui jendela. Seorang gadis dengan pakain seksi, tubuhnya terbalut dres hitam tanpa lengan dengan belahan dada yang rendah, mengetuk-ngetuk pintu. Nampaknya wanita itu mabuk.

Ku dengar dia berkata,”Pa...bukain pintunya cepet!”

Pov: Papa (Lagi)

Preview Last Episode.

Aku pun segera menuju ke depan dan ku longok melalui jendela. Seorang gadis dengan pakain seksi, tubuhnya terbalut dres hitam tanpa lengan dengan belahan dada yang rendah, mengetuk-ngetuk pintu. Nampaknya wanita itu mabuk.
Ku dengar dia berkata,”Pa...bukain pintunya cepet!”

--

Namaku Wijaya Saputra, seorang lelaki muda yang sudah matang dan memiliki seorang Istri Bernama Revita Sari Puspitasari. Belakangan ini kenakalanku semakin menjadi apalagi setelah kedatangan Marni yang notabene adalah cucu Mbok Imah pembantu setia kami. Istriku Revita sepertinya menyadari gelagat nakalku hingga suatu hari ku lihat bagaimana Marni dan Istriku bercinta. Kali ini diperparah dengan datangnya Susan sepupuku. Masa lalu yang seharusnya menjadi rahasia akhirnya terkuak juga bahkan kini aku sudah bermain dengan mereka sekaligus di satu ranjang.

Malam belumlah berakhir ketika aku masih begitu ingin bermain cinta dengan mereka bertiga. Namun siapa sangka bila malam ini aku akan mendapatkan bonus. Wanita yang sedang mengetuk pintu rumahku jelas sedang mabuk dan aku begitu terpukau dengan potongan tubuhnya yang seksi dan juga mini dress yang dia pakai sungguh membuat penisku yang tadi setengah tegang mencuat keras di dalam celanaku. Penis 19 Cm dan diameter 5 cm yang tidak pernah mengecewakan selama ini.
Entah apa yang ada dalam pikiranku saat ini. Tanpa pikir panjang ku buka saja pintu rumahku. Eh...dia masuk begitu saja ke dalam dan segera masuk ke kamar Marni. Seribu tanda tanya menyesaki kepalaku. Ah...sudahlah. Eh tapi kok dia bisa masuk bukannya biasanya jam segini gerbang depan sudah dikunci, jangan-jangan dia hantu. Ah...tidak mungkin. Mana mungkin hantu secantik dan seseksi itu. Ku pikir aku perlu memeriksa pintu depan dan benar saja, ternyata gerbang depan belum terkunci. Mungkin Mbok Imah lupa, maklumlah sudah tua. Jadi, sudah jelas wanita yang masuk ke kamar Marni pasti manusia.

Pikiran mesum memasuki kepalaku. Segera aku beranjak masuk ke dalam apalagi di luar cukup dingin dan sepi sekali. Setelah memastikan semua aman, ku masuki kamar Marni dan surprise. Wanita itu sudah terlelap hanya mengenakan celana dalam dan BH saja. Sungguh rejeki nomplok. Mana ada kucing yang nolak dikasih ikan.

Ku amati tubuh wanita yang kini terlelap itu, nafasnya naik turun teratur. Dari ujung kaki hingga ujung kepala ku amati dengan seksama. Pusaka kebanggaanku yang telah menaklukan tiga lembah basah rupanya sudah tidak sabar lagi. Ku lepas saja celana kolor yang menjadi penghalang terakhir penisku.
Wanita ini cantik dan seksi. Kalau aku nilai secara fisik 8,5 ku berikan. Cukuplah karena buatku sekarang sudah ada tiga wanita yang secara fisik 9. Orang asing tidak akan aku nilai lebih. Ku dekati dengan hati-hati tubuh wanita berwajah cantik dan seksi ini. Ukuran payudaranya pas sangat proporsional dengan tubuhnya yang tidak lebih tinggi dari istriku, Revita. Bukan perkara sulit melepas penutup terakhir kewanitaannya. Wanita mabuk cenderung terhanyut dalam fantasi ketika mereka mabuk, bahkan saat mereka diajak main seks 80% tidak akan menolak sekalipun orang asing.
Tubuh itu kini sudah telanjang bulat, polos seperti bayi, bulu kemaluannya cukup lebat juga. Nafsunya pasti besar, begitu kata orang. Tanpa menunggu lama, langsung ku lahap payudara wanita itu. Puting susunya yang coklat kemerahan ku plintir-plintir hingga mengeras dan menegang. Wanita itu mendesah.

“Pa.....jangan siksa Nancy....”

Ternyata nama wanita yang kini sedang aku geluti ini Nancy. Mungkin dia pikir aku suaminya. Tangannya mendekap kepalaku dengan mesra. Bibirnya terus menggumam tidak jelas.

Suaminya? Aku terkejut sejenak. Hei...dia istri orang. Malaikat dalam hatiku mencegahku lebih jauh. Tapi penguasa nafsu lebih kuat. Apalagi pengaruh minuman itu masih terasa. Aku yakin dengan keadaan sekarang 5 wanita lagi aku masih sanggup. Ku hisap kuat puting susu itu, terkadang ku berikan cupangan-cupangan bergantian kiri dan kanan. Tangan kiriku tidak kalah sambil menindih tubuh Nancy ku gosok klitoris Nancy dengan jari-jari tanganku.

“Ah....SSssss.....”Nancy melenguh dan mendesah tak karuan.

Aku benar-benar sudah tidak tahan saja, ingin segera ku masuki tubuh Nancy. Tapi, aku tidak mau terburu-buru. Nafsuku serasa meleda-ledak. Rasanya ada yang lain denganku. Ku hentikan semua aktivitasku dan segera ku arahkan penisku ke arah gua lembab Nancy, dalam hitungan detik, kepala penisku sudah ditelan vagina Nancy.

“Ah...”Nikmatnya desahku.

“Angh....”Suara Nancy tertahan.

Entah mengapa aku ingin segera merasakan vaginanya, bukan karena dia cantik atau seksi. Akan tetapi, sepertinya aku keluar kendali. Dengan pasti ku hentakkan penisku. Bless...Penisku amblas seluruhnya.

“Papa...Penis papa kok gede banget sih Pa....enak....”Nancy menggumam. Untung saja dia masih memejamkan matanya.

Dalam posisi ini, aku dapat melihat dengan jelas wajah Nancy. Sepertinya tidak asing, sangat familiar malah. Aku tidak mau berpikir lama. Bagiku sekarang kenikmatanlah yang aku cari.

Ku pompa terus vagina Nancy. Vaginanya begitu sempit menjepit nikmat penisku.

“Argh...”Dia mengerang saat ku hujamkan penisku.

Sungguh nikmat rasanya, apalagi sensasi dari orang asing yang tidak ku kenal. Tubuh Nancy tiba-tiba menegang, ku rasakan cairan panas menyemprot mengenai
seluruh batang penisku yang sedang menjajah vaginanya. Sungguh sensasi yang luar biasa.

“Pa....Nancy uda dapet sekali..”bisik Nancy.

“Papa kok tumben lama...”imbuh Nancy.

Tubuh Nancy melemah setelah mendapat orgasme pertamanya. Aku tidak ambil pusing selama dia tidak menyadari bahwa aku bukan suaminya. Malah semakin membuat aku deg-degan saja. Bagaimana jika, bagaimana jika dia adalah istri tetanggaku. Ah..Fantasi macam apa. Terkadang sering ku baca cerita panas di salah satu forum, cerita tentang perselingkuhan yang terjadi karena kebetulan. Mungkin saja. Mungkin aku salah satu orang yang mengalaminya. Toh...bukan salahku juga. Ada kesempatan indah yang membuatku melakukannya.

Tubuh Nancy masih menyatu dengan tubuhku. Matanya setengah terpejam. Pelan-pelan ku lepaskan penisku dari vaginanya., kemudian aku berbaring miring disamping tubuhnya. Ku angkat sebelah kakinya. Bless...Penisku kembali mencocol vaginanya dari samping. Nancy mendesah.

“Ah...Papa....”

Kemudian tanpa perintah dan tanpa komando bagai seorang atlit olimpiade segera ku pacu penisku dalam vagina Nancy.
Astaga, vaginanya mencengkeram kuat, kontraksi di dalam vaginanya sungguh sesuatu yang sangat nikmat. Ku pacu terus vagina tembem Nancy, hingga ku rasakan seakan-akan ada yang menggempur dari dalam sana dibawah sana. Ku rasakan sebentar lagi aku akan mencapai klimaksku.
Ku percepat goyanganku dan ku rasakan sebentar lagi. Sungguh siapa sangka dan siapa kira ketika hampir ku raih klimaksku.

“Papa!”

EPISODE 10 : Perfect Dream
POV: Nancy

Hari ini aku bahagia sekali. Setelah 3 tahun saling mengenal satu sama lain kini kami telah resmi menjadi suami istri. Malam ini adalah 100 hari aku menikah dengan Mas Anton, aku benar deg-degan. Sejujurnya ini bukan yang pertama kali dan aku memang bukanlah gadis polos yang tidak tahu apapun tentang seks. Aku sudah sering melihat berbagai macam film biru. Mulai dari threesome, deepthroat, softcore dsb. Oh iya, Namaku Nancy Notonegoro,umur 25 tahun, profesi model. Sudahlah tak perlu membayangkan terlalu jauh. Aku tidak begitu cantik, tapi banyak yang bilang aku mirip dengan Mariana Renata.

“Ih Papa kok lama sih”batinku. Sudah sejam lebih aku dianggurin di kamar sendirian. Padahal sudah hampir jam 11 malam. Dasar laki-laki, tidak tahu saja kalau wanita dibiarkan terlalu lama mood-nya bakal hilang. Padahal sudah sedari tadi aku sudah siap, bahkan aku sudah ganti bajuku dengan lingerie merah yang sebenarnya aku risih memakainya. Sama saja tidak pakai baju karena tembus pandang. Tapi biarlah, toh ini juga bukan pertama kali Mas Anton Suamiku melihatku polos. Mas Anton sendiri lebih sering ku panggil Papa, alasannya simpel sih sebenarnya Cuma takut aja kalau nantinya punya anak aku dipanggil emak, kalau memanggil suamiku Mas atau Ayah.

“Tidur aja ah..”Aku ngomel sendiri kemudian menutup tubuhku dengan selimut. Jadi kalau ada yang bilang malam pertama itu sesuatu yang indah, ku pikir bukan buat aku.

Aku pun terlelap entah berapa lama. Ku rasakan dingin menerpa tubuhku. Aku menggelinjang ketika ku rasakan ada yang menghisap puting susuku. Rasanya nikmat, geli dan enak. Ku pikir pastilah Mas Anton. Biar sajalah, aku malu untuk membuka mata. Ku nikmati saja perlakuannya padaku.
Jelas sekali Mas Anton mempermainkan payudaraku. Aku merasa puting susuku mengeras dan menegang.
Aku hanya bisa merintih menikmati perlakuan Mas Anton.

“Pa.....jangan siksa Nancy....”

Serasa tersetrum kenikmatan 1000 volt ketika ku rasakan benda-benda yang ku tahu jari-jari tangan menyentuh vaginaku.

“Ah....SSssss.....”Aku melenguh dan mendesah tak karuan.

Namun, aku merasa kecewa ketika ku rasakan jamahan dan belaian itu terhenti. Sesaat kemudian kembali ku rasakan kenikmatan yang luar biasa ketika sebuah benda tumpul di gosok-gosokkan di bibir vaginaku

“Ah...”Mas Anton sepertinya menikmati pula.

“Angh....”Suaraku tertahan aku benar-benar sudah basah. Nafsuku sudah berada di ubun-ubun. Seketika ku rasakan benda itu menyeruak masuk ke dalam vaginaku dengan sukses. Aku tahu pasti itu adalah penis seorang pria, penis suamiku tercinta.

“Papa...Penis papa kok gede banget sih Pa....enak....”Aku menggumam sambil memejamkan mata, dalam hubungan seks pujian kepada pasangan dapat meningkatkan kualitas seksual.

Aku tidak tahu bagaimana ekpresi wajah Papa, Mas Anton suamiku. Aku sendiri bukan saja karena malu tapi juga karena terlalu menikmati seks dengan suamiku. Penis itu seakan terjepit dengan ketat di dalam vaginaku. Begitu hangat dan besar. Besar? Ah aku memang merasa lain dari biasanya. Ah mungkin karena aku terlalu bernafsu. Aku mengerang nikmat saat penis itu menusukku tadi. Kemudian dengan gerakkan yang sungguh terarah penis papa mempompa tubuhku. Aku terombang-ambing dalam lautan kenikmatan yang luar biasa. Belum apa-apa aku merasakan sesuatu yang nikmat. Vaginaku menyemprotkan cairan kenikmatan membanjiri liang kenikmatanku.

“Pa....Nancy uda dapet sekali..”bisikku.

“Papa kok tumben lama...”Biasanya Mas Anton memang tidak tahan lama karena memang masih amatir. Namun entah kenapa sekarang dia lain. Tubuh Nancy melemah setelah mendapat orgasme pertamanya. Aku berpikir mungkin orang yang sedang menyetubuhiku bukanlah suamiku. Bahkan ketika ku rasakan penis itu lepas dari vaginaku, rasa-rasanya lebih besar dan lebih penuh. Mataku setengah terbuka namun aku tidak dapat melihat dengan jelas, kepalaku agak pusing. Tiba ku rasakan sebuah serangan lagi.

“Ah...Papa....”Aku mendesah. Sudah tidak terpikir lagi siapa yang sedang menyetubuhiku ketika ku rasakan penis besar itu menyeruak masuk membobol vaginaku dari samping. Benar-benar sesuatu yang baru bagiku. Sebelah kakiku diangkat dan secepat kilat penis itu menjajaki lubang vaginaku. Vaginaku mencengkram kuat penis itu dan ku rasakan sebentar lagi aku akan merasakan klimaksku.

“Papa”

“Ah......”Aku mengejang. Otot kewanitaanku seakan meremas penis di dalamnya dan ku rasakan semburan panas menyusul orgasmeku. Begitu banyak tembakan sperma dalam vaginaku bahkan penis itu menusuk hingga rahimku. Sungguh nikmat, ku buka mataku dengan berat dan menoleh ke samping.

“Astaga!!!!”

“Ah...Papa....”Aku mendesah. Sudah tidak terpikir lagi siapa yang sedang menyetubuhiku ketika ku rasakan penis besar itu menyeruak masuk membobol vaginaku dari samping. Benar-benar sesuatu yang baru bagiku. Sebelah kakiku diangkat dan secepat kilat penis itu menjajaki lubang vaginaku. Vaginaku mencengkram kuat penis itu dan ku rasakan sebentar lagi aku akan merasakan klimaksku.

“Papa”

“Ah......”Aku mengejang. Otot kewanitaanku seakan meremas penis di dalamnya dan ku rasakan semburan panas menyusul orgasmeku. Begitu banyak tembakan sperma dalam vaginaku bahkan penis itu menusuk hingga rahimku. Sungguh nikmat, ku buka mataku dengan berat dan menoleh ke samping.
“Astaga!”
----
POV Orang ketiga
“Astaga!”

Marni menjerit meihat Papanya Wijaya sedang bergumul dengan wanita yang sama sekali tidak dia kenal.

“Papa!”Siapa sangka Revita juga berada di tempat tersebut.

Lebih parah lagi Susan pun menyaksikan kejadian itu. Namun, Susan memilih diam.

“Eh...Ma...Mar...San....”Wijaya nampak kebingungan akan menjelaskan darimana. Sedangkan Nancy hanya menatap sayu ketiga wanita yang nampaknya marah tersebut.

“Plop.”Bunyi penis Wijaya lepas dari kemaluan Nancy. Nampak cairan putih meleleh dari dalam sana. Tanpa menunggu penjelasan dari Wijaya. Revita menyeret Wijaya dalam keadaan telanjang dan membawa suaminya ke dalam kamar.

“Papa jelasin sekarang!”Revita membentak Wijaya. Belum pernah sekalipun Wijaya dimarahi oleh Revita.

Wijaya hanya dapat terdiam, dalam keadaan telanjang Wijaya diinterogasi istrinya. Wijaya diam terduduk tidak tahu harus bagaimana. Namun yang jelas penis Wijaya masih menegang keras padahal sudah beberapa kali dia bermain cinta malam itu. Revita tetap menghardik Wijaya minta penjelasan. Wijaya tetap diam hingga akhirnya Marni dan Susan datang.

“Pa, kita minta penjelasan!”Tutur Marni.

Akhirnya, Wijaya menceritakan bagaimana kronologi kejadiannya. Wijaya tidak habis pikir malam ini dia begitu bergairah dan ingin menyetubuhi semua wanita.

“Oh jadi gitu toh.”Kata Susan.

“Ya sudah maafin kita deh Pa. Salah kita ngasih obat ke Papa.”Terang Revita.

“Hah?”Wijaya terperanjat. Rupa-rupanya Istri dan dua selirnya sudah merencanakannya.

“Kalian!”Wijaya dengan sedikit emosi.

”Aku masih sanggup tanpa itu semua”. Wijaya bersungut-sungut.

“Sebagai hukumannya....”Dengan wajah mesum Wijaya segera mengejar ketiga wanita itu dan akhirnya Marni tertangkap. Untung saja, ketiga wanita itu masih mengenakan pakaian seksi mereka minus pakaian dalam tentunya.

“Ih..papa lepasin Marni. Geli.”Marni meronta-ronta saat Wijaya menjamahi seluruh lekuk tubuhnya.

“Sudah Pa sudah geli.”Marni berontak.

“Yah Papa..gak asyik”ujar Susan.

“Oh..iya Nancy gimana?”Wijaya tiba-tiba nerocos.

“Udah tidur dia Pa.”Kata Revita.

“Baru aja Mama tengok.”sambung Revita.

“Oh...”Kembali kemudian Wijaya mempermainkan tubuh mungil Marni. Entah bagimana Wijaya berhasil menelanjangi Marni.

“Ah...enak geli Pa...pi capek berdiri terus.”kata Marni terengah-engah.

Dengan sekali merengkuh Wijaya membopong tubuh Marni ke ranjang dan kemudian merebahkan tubuh Marni. Wijaya pun segera melanjutkan serangannya, di buka lebar kedua kaki Marni dan kemudian membenamkan wajahnya ke pangkal paha Marni.

“Aduh enak Pa...”Marni menggeliat tak karuan.

Sesaat kemudian dirasakan oleh Wijaya sepasang bola kenyal di punggungnya.

“Kita ikutan yah Pa.”Bisik Susan sambil menjilati kuping dan leher Wijaya. Sementara Revita entah sejak kapan sudah bersiap melahap penis besar Wijaya yang sedari tadi masih dalam keadaan tegang maksimal. Penis Wijaya dalam keadaan tegang mencapai 19 cm dan diameter 5 cm. Perempuan mana yang akan menolak penis besar Wijaya.

Permainan semakin panas. Wijaya sudah bersiap memasukkan penisnya ke dalam kemaluan Marni. Marni yang dalam keadaan telentang pasrah saja mendapati perlakuan tersebut. Wijaya bukanlah pemain seks amatir dengan pelan dan pasti Wijaya menggosok-gosok bibir kemaluan Marni dengan kepala penisnya yang berbentuk bagai jamur. Revita kemudian mengangkangi wajah Marni, menghadap ke arah Wijaya maksud hati hendak mencium bibir suaminya, malah tiba-tiba Susan menyosor bibirnya sambil menempatkan dirinya seakan menduduk perut Marni. Marni pun mengerti maksud Revita. Segera dijilatinya vagina Revita yang ternyata sudah basah. Kamar itu benar-benar menjadi kamar mesum. Seorang laki-laki dengan tiga wanita seksi.

Wijaya belum juga melesakkan penisnya ke dalam vagina Marni karena justru dia terpesona melihat bagaimana Susan dan Revita bercumbu. Gairah Wijaya semakin memuncak melihat pergumulan yang benar-benar luar biasa. Wijaya pun membayangkan seandainya Nancy juga ikut, apakh tidak mungkin dia akan jadi Raja Harem.

“Angh...”Marni terkejut menerima penis besar Wijaya karena masih asyik mencumbui vagina Revita. Susan tidak mau kalah, sambil bercumbu dengan Revita, Susan meremasi payudaranya dan juga memainkan vaginanya sendiri.

Sementara Wijaya sudah berhasil memasukkan seluruh penisnya ke dalam vagina Marni. Marni merasakan penis itu menusuk nikmat hingga ke dalam rahimnya. Dengan gerakan perlahan dan pasti Wijaya pun memompa penisnya dalam vagina Marni. Tidak mau membuat tangannya mengganggur Wijaya merengkuh tubuh Susan yang membelakanginya di depannya. Tangan kiri Wijaya meraih payudara Susan dan tangan kanannya menggantikan peran tangan Susan.

“Ah...enak.”Wijaya menggumam menikmati penisnya mengisi rongga dalam vagina Marni.

“Mphm...”Suara mulut Susan dan Revita beradu. Tiba-tiba kedua wanita itu berpelukan sangat erat. Cairan kenikmatan membasahi tangan Wijaya begitu pula dengan wajah Marni. Tidak lama kemudian Marni pun menegang.

“Arhg....”Marni mendapatkan klimaksnya. Namun Wijaya masih dalam stamina yang luar biasa. Tubuh Susan yang masih ada di depannya diraihnya. Revita segera mengerti dan segera merebahkan diri di samping Marni yang juga masih menikmati orgasmenya.

“Plop.”Penis vagina meninggalkan vagina Marni. Dengan lembut Wijaya mendorong Susan hingga seperti orang merangkak.

“Bless...”Penis Wijaya pun segera menyerang vagina Susan, layaknya doggy style. Sementara Marni yang masih berada di bawah Susan, dengan tatapn sayu dia menatap wajah Susan yang kini berhadap-hadapan dengannya. Nampak jelas Susan menikmati setiap sodokan penis Wijaya.

“Ah...ah...ah...”Susan mendesah.

Gairah Marni bangkir lagi, wajah Susan ia tarik kemudian dengan ganas Marni mencumbui Susan. Sementara Revita memainkan sendiri klitorisnya sambil menatap pejantannya menyetubuhi betina-betinanya. Kamar itu kini penuh dengan desahan dan rintihan nikmat. Sungguh Susan tidak sanggup bertahan lebih lama dan akhirnya tubuh Susan ambruk menimpa Marni. Penis Wijaya pun hampir saja terlepas dari vagina Susan. Namun, karena panjang penis Wijaya, kepala penisnya masih menancap di vagina Susan. Susan dan Marni pun akhirnya saling peluk dan saling mencumbu menikmati sisa-sisa orgasmenya.

Wijaya menatap Revita istrinya sedang bermasturbasi menatap dirinya seakan-akan ingin berkata cepat setubuhi aku.

Wijaya kemudian menempatkan dirinya di belakang Revita. Dengan gerakan yang sigap Wijaya mengangkat kaki kanan Revita sambil menempatkan penisnya tepat di lubang kenikmatan Revita.

“Ah..Papa...”Revita mendesah ketika penis Wijaya menelusup ke dalam lubang peranakannya. Wijaya kemudian memompa vagina Revita dengan lembut dan dengan penuh perasaan. Aneh pikir Wijaya biasanya dalam beberapa menit Revita akan takluk dan mencapai orgasme bila sudah dimasuki penisnya. Memang malam itu seakan-akan Revita wanita lain, staminanya begitu luar biasa. Selama 15 menit Wijaya masih memompa vagina Revita namun seakan-akan Revita tidak bergeming dan hanya menikmati gesekan-gesekan kelamin mereka dengan mendesah-desah dan menjerit-jerit keenakan.

“Mam..ma..tum..ben lama amat..”tanya Wijaya dengan nafas berat.

“En..nak..Pa...sodok terus...”pinta Revita.

Wijaya pun terus memompa penisnya ke dalam vagina Marni. 10 menit kemudian.

“Ma....Papa mau keluar...”

“Bentar Pa mama..ju..ga...”

“Argh...keduanya mengerang bersamaan. Mereka mendapati orgasme di waktu yang sama.

“Gak sah di cabut Pah biar aja.”Kata Revita. Sementara di depan Revita, Marni dan Susan sudah terlelap berpelukan dalam keadaan telanjang.

“Pa...”

“Hmmm...”jawab Wijaya.

“Nancy, Papa ambil juga yah. Kasihan baru 3 bulan nikah suaminya meninggal.”suara Revita.

“Tapi Ma...”

Belum sampai Wijaya menyelesaikan kalimatnya Revita memotong.

“Sudah Papa ikut saran Mama aja. Toh, kita udah punya segalanya aset kita dimana-mana sekalipun Papa duduk di rumah kita tetap bisa hidup kayak gini.”

“Bukan itu masalahnya Ma, apa kata orang Ma, masa iya punya istri sampai empat?”Wijaya menimpali.

“Ah Papa jangan kolotlah. Hidup ini milik kita. Biar saja apa kata orang. Lagian Nancy otu temen Mama kok, jadi Mama tahu persis gimana Nancy itu Pa.”Revita berucap.

“Papa ikut Mama aja.”dalam hati Wijaya bersorak kegirangan. Tapi, Wijaya berpikir bagaimana dia akan melayani empat wanita sekaligus.

“Loh kok malah sekarang diem?”Revita menoleh ke belakang.

“Pa, malah melamun.”mencoba menyadarkan Wijaya.

“Eh..apa Ma?”Wijaya gelapan.

“Kalau masalah seks gampang Pa, Mama tahu apa yang ada dibenak Papa. Nanti kita bagi saja berdasarkan nama. Berarti Marni hari senin, selasa sama Nancy, rabu sama Mama, Revita lalu kamis sama Susan. Jumat Papa istirahat. Sabtu kita main bareng. Hihihihihi....”tawa Revita cekikikan.

“Eh Pa jangan gerak-gerak ngilu. Mana punya Papa masih tegang gitu.”kata Revita.

“Salah Mama kasih obat juga, ini kayaknya bakal tegang terus deh.”Wijaya sok tahu.

“Oh iya Pa. Mama ada kabar baik nih.”

“Apa lagi sih Ma kok kayak nya seneng banget gitu.”Wijaya penasaran.

“Mama hamil Pa, udah tiga minggu. Hihi..surprise....”Sambil menoleh ke Wijaya.

Cup. Bibir Revita terkatup bibis Wijaya. Lalu Wijaya memeluk erat tubuh Revita.

“Jadi, kita akan punya banyak anak.”

Kedua makhluk itu kemudian terlelap menyusul Susan dan Marni yang sudah lebih dulu terlelap.

--
Sejak hari itu, secara resmi Wijaya memiliki empat orang wanita. Keempatnya juga resmi menyandang status Nyonya Wijaya. Dari Istri pertama Wijaya mendapat dua orang anak kembar perempuan. Istri keduanya memberikan 1 orang putra. Istri ketiga Wijaya memberikan 3 orang anak, 1 laki-laki dan 2 perempuan dan dari istri keempat seorang anak laki-laki. Kini, mereka hidup bahagia dan masih terus melakukan kegiatan mereka. Sepertinya akan ada anggota baru lagi.

----Tamat ----
Ternyata Suamiku Nakal, Pada: Kamis, Juli 30, 2015
Copyright © 2015 CERITA DEWASA Design by bokep - All Rights Reserved