Recent Posts Widget

Rasti, Mama Binal

http://cerita-porno.blogspot.com/2015/08/rasti-mama-binal.html

Episode 1

Namanya Rasti. Seorang ibu muda yang baru berusia 27 tahun. Wajahnya yang cantik dengan tubuh bersih terawat membuat semua pelanggannya enggan berpaling darinya. Pelanggan?? Benar! pelanggan! Karena Rasti berkerja sebagai seorang lonte. 

Terlebih lagi, dia sudah memiliki 7 orang anak! Dan dia tidak memiliki suami sama sekali. Keenam anaknya itu semuanya tidak jelas bapaknya siapa dan yang mana, karena saking banyaknya laki-laki yang dibiarkan membuahi benihnya. Dia doyan dihamili oleh laki-laki yang berbeda tanpa nikah! 

Hanya Tedi, anak pertamanya saja yang dia ketahui siapa bapaknya. Si sulung Tedi lahir saat Rasti baru berumur 13 tahun, kelas 1 SMP. Waktu itu dia tergoda dengan rayuan sopir tetangganya, hingga akhirnya merekapun berhubungan badan. Namun saat Rasti diketahui hamil, sopir itu malah kabur. Setelah itu hampir dua tahun sekali atau bahkan tidak lama sehabis melahirkan, Rasti sudah positif hamil lagi. Sampai saat usianya yang baru 27 tahun seperti sekarang ini, dia sudah mempunyai tujuh anak tanpa suami. 

Rasti menghidupi anak-anaknya dengan cara melacurkan diri, hal itu sudah dianggap biasa di keluarga mereka. Dia mengelola websitenya sendiri dan menerima tamu langsung di rumahnya, bahkan tidak jarang ia melayani tamunya dihadapan anak-anaknya.

“Kalian jangan nakal yah… Mama mau kerja dulu. Ntar kalau kalian diam, pasti papa bakal kasih kalian uang jajan juga, hihihi” ujar Rasti dengan entengnya berkata begitu pada anak-anaknya, bahkan menyebut si pria hidung belang ini ‘papa’ di depan mereka.
“Iya Ma…” jawab anak-anaknya polos.

Maka setelah itu digenjotlah Rasti di depan anak-anaknya. Dia tunjukkan adegan-adegan yang tidak pantas ditunjukkan seorang ibu. Dia bersetubuh dengan pria hidung belang saat anak-anaknya sedang bikin pe-er, atau saat anaknya sedang makan. Entah apa jadinya anak-anaknya ini besok kelak melihat kelakuan binal ibu mereka ini. Anak bungsunya yang sedang dalam tahap menyusui, sering harus berbagi air susu sang ibu dengan para pria hidung belang. Kadang anaknya sendiri tidak kebagian jatah karena tidak ada kesempatan menyusui karena Rasti asik melonte. Eh, si pria hidung belang ini malah keenakan mengentoti Rasti, dia pikir kapan lagi ada seorang ibu yang bisa dia entotin seenak hatinya di depan anak-anaknya. 

Di lingkungan sekitar, jelas dia menjadi bahan cibiran dan cemoohan tetangga terutama ibu-ibu, tapi dia cuek saja. Pak RT dan pejabat setempat juga membiarkan dia di situ, secara dia tidak melanggar hukum dan lebih-lebih lagi Pak RT dan pejabat-pejabat itu juga langganan setianya, tentu dengan diskon spesial hampir 100% 

Teman-teman anaknya, terutama teman-teman si sulung yang masih SMP bertiga orang itu, Riko, Romi dan Jaka sering bermain ke rumahnya, bahkan mereka sering main ke sana saat Tedi tidak ada di rumah. Mereka main memang cuma pengen menggoda ibu temannya yang seksi itu. Awalnya tentu saja mereka terkejut saat Tedi memperkenalkan ibunya. Tedi dengan entengnya menyebut ibunya lonte, dan ternyata memang benar.

Hampir beberapa hari sekali mereka pasti ke sana, seperti hari ini.
“Siang tante…” sapa mereka.
“Eh, kalian… yuk masuk” sahut Rasti sambil tersenyum manis.

Mereka terpana saat menyaksikan Rasti membukakan pintu hanya mengenakan handuk. Rambutnya terlihat basah, butiran air terlihat meluncur di kulitnya yang mulus. Membuat darah muda mereka bergejolak karenanya. Terang saja penis mereka langsung menegang. Dalam kondisi Rasti yang hanya dililit handuk begitu, merekapun berebut untuk mencium tangannya.

“Maaf yah lama, tante sedang mandi” kata Rasti menerima ciuman tangan mereka dengan ramah meski dia tahu mata mereka kelayapan kurang ajar melihat dirinya. Rasti tidak mempermasalahkan tingkah mereka yang sering curi-curi pandang ke arahnya. Dia sangat terbuka sekali di rumahnya. Tidak ada privasi sama sekali! 

Rasti cuek saja, cuma pake handuk kek, telanjang basah-basahan habis mandi kek, sedang menyusui kek. Dia tidak peduli cuma nutupi tubuh dengan selimut habis ngelayani tamu dan mengantarnya keluar sambil kecup-kecup di depan teman-teman anaknya ini. Tidak salah kalau sejak mereka mengenal Rasti, ibu muda lonte inilah yang selalu menjadi objek onani mereka tiap coli.

“Ngmm… tapi kalian jangan berisik yah, tante lagi ada tamu” kata Rasti kemudian sambil menempelkan telunjuk di bibirnya, lalu tersenyum dengan manisnya.
“I-iya tante” tentu saja mereka paham kalau yang dimaksud tamu oleh Rasti ini adalah pelanggannya, si pria hidung belang. Ya, Rasti saat itu sedang melayani tamunya saat teman-teman anaknya itu datang.

“Mumpung kalian ada di sini, tolong jagain anak-anak tante dulu yah… tante mau ngentot dulu. Kalau kalian lapar makan saja… Tuh ada nasi dan ayam goreng di meja makan” ujar Rasti ramah pada mereka. Rasti lalu masuk ke kamar meninggalkan mereka yang sedang mupeng berat terhadap dirinya. Ingin sekali sebenarnya anak-anak itu mengintip apa yang terjadi di dalam kamar, tapi mereka masih belum berani. Merekapun hanya menjaga anak-anaknya Rasti yang masih kecil selama Rasti ‘berkerja’. Berkali-kali mereka mendengar suara desahan dan erangan kenikmatan si ibu itu. 

Setelah menjaga anak-anak Rasti, mereka akan mendapatkan hadiah pemandangan Rasti yang telanjang dengan bebasnya di rumah. Dengan kondisi Rasti yang acak-acakan dan penuh keringat setelah bersetubuh, tentunya membuat nafsu mereka mentok di ubun-ubun. Rasti tentunya mengetahui hal itu.

“Hayooo… kalian ngaceng ya lihat tante telanjang? Horni ya? Sana lepasin nafsu kalian di kamar mandi… buang dulu peju kalian sana, gak baik dipendam-pendam terus, hihihi” suruh Rasti sambil tertawa melihat mereka gelisah. Mereka tentu semakin malu, meski akhirnya mereka turuti juga anjuran ibu temannya ini untuk mengocok di kamar mandi untuk membuang peju mereka.

Rasti memang sangat baik. Saat teman-teman anaknya itu ingin tahu lebih tentang pekerjaannya sebagai lonte, tarifnya dia, pelayanannya, bapak-bapaknya si anak, Rasti akan menjawabnya dengan enteng. Anak-anak itu bertanya banyak hal dan Rastipun bercerita banyak. Jika sudah begitu, mereka pasti ngobrol dengan asiknya.

“Terus, sedia main lewat pantat juga gak tante?” tanya mereka penasaran. Saat itu mereka asik mengobrol dimana Rasti masih telanjang bulat dan sedang menyusui bayinya! Rasti sendiri tahu kalau dia terus diperhatikan mata nakal anak-anak ini dari tadi. Tapi dia tidak ambil pusing dan terus saja menyusui bayinya dalam keadaan begitu.

“Anal maksudnya? hayo… Romi, kamu suka yang main-main belakang gitu yah?”
“Suka sih tante kalau liat di bokep, hehe” kata Romi mengakui.
“Iya tuh tante, si Romi kalau minta bokep sama aku nanyanya yang anal-anal mulu, hahaha” timpal Riko.

“Kalau digangbang pernah nggak tante?” kini Jaka bertanya.
“Pernah, tuh sehari sebelum Tedi kenalin kalian ke tante, tantenya digangbang di sini sama 5 cowok. Rumah tante jadi rame banget hari itu”
“Yah.. bro… si Tedi telat nih ngajak kita” ucap Jaka pada teman-temannya.

“Dasar kalian, pengen lihat tante digangbang yah? Kapan-kapan yah… hihihi” kata Rasti cekikikan. Dia menanggapi omongan mereka dengan riangnya.
“Pengen banget tante, hehe” jawab mereka, Rasti lagi-lagi tertawa geli.
“Terus anak-anak tante gimana tuh? Mereka ngelihat dong kemarin mama mereka dipake rame-rame?”
“Iya, anak tante yang kecil sampai nangis-nangis liat mamanya digituin rame-rame…” jawab Rasti tanpa merasa bersalah sama sekali.

“Wah… Enak yah si Tedi, punya mama kaya tante” ujar Riko.
“Hmm? Kenapa emang? Tedinya belum pernah macam-macam kok sama tante, paling cuma liatin mamanya ini ngentot doang…”
“Udah bisa liat adegan ngentot langsung aja udah enak benar tuh tante, benar gak bro?”
“Iya tante… kita juga pengen”

“Huuu… Dasar kalian ini” Rasti kemudian meletakkan bayinya yang sudah tertidur itu ke sebelahnya. Dia gunakan bantal kursi untuk menutupi buah dadanya. Tentu saja hanya seadanya saja yang tertutupi, malah hampir tidak ada gunanya sama sekali karena buah dada dan putingnya yang masih menetes-neteskan air susu itu dapat terlihat dengan jelasnya. Yang ada hanya makin membuat anak-anak remaja itu makin mupeng melihat pemandangan itu. Penis mereka yang tadi baru saja menumpahkan pejunya kini ngaceng kembali dibuatnya.

“Ayo, mau tanya-tanya apa lagi nih? tanya aja” kata Rasti yang memang tertarik ngobrol hal seperti ini dengan mereka.

“Itu… emangnya Tedi gak ada rasa pengen gituan yah tante?” tanya Jaka.
“Maksud kalian… ngentotin tante?”
“Iya tante, itu maksudnya, ngentotin mamanya sendiri, hehe”

“Hahaha, ada-ada aja sih pertanyaan kalian ini. Kalau itu kalian tanya langsung sama Tedi dong. Hmmm… tapi tante udah janji kok sama dia, kalau dia bisa masuk SMA favorit, tante bakal kasih dia hadiah boleh ngentotin tante” terang Rasti.

“Hah??” tentu saja mereka terkejut bukan main mendengarnya.
“Soalnya tante merasa gak enak juga sama Tedi, tuh anak tante yang nomor dua aja udah pernah berkali-kali” sambung Rasti lagi yang membuat mereka semakin terkejut.

“Maksudnya si Norman udah pernah ngentot sama tante? Yang masih kelas 5 SD itu?” tanya Romi tercengang.
“Iyaa… si Norman itu seharusnya udah kelas 2 SMP, tapi dia itu goblok dan sering gak naik kelas. Kalian lihat aja tuh kan kemarin gayanya, preman dan urakan banget. Susah tante ngatur anak tante yang satu itu. Pulang ke rumah cuma untuk minta duit, makan dan tidur doang”

“Kok bisa sih tante?” tanya Romi lagi, dia masih tidak menyangka kalau ternyata wanita ini juga pernah ngeseks dengan anak kandungnya sendiri.
“Iya, waktu itu dia pulang mabuk. Itu anak kebangetan banget, kecil-kecil udah ngerokok dan minum”

“Te..terus tante?”
“Ya itu, tante gak bisa ngelawan waktu dia mabuk dan memaksa minta ngentot, akhirnya tante kasih juga sekali. Gak tahunya sekali dikasih akhirnya dia minta terus. Ya tante pasrah saja digituin terus sama anak tante sendiri. Bandel banget kan dia?” 

“Kok bisa nakal gitu yah tante si Norman?”
“Duh, gak tahu juga tuh… keturunan bapaknya mungkin. Waktu itu tante hamil dia kan karena habis dikeroyok preman-preman pasar, mungkin nurunin sifat bapaknya tuh, hihihi” Sungguh binal, dengan santainya Rasti menceritakan hal segila itu sambil tertawa-tawa.

“Tapi kalau ntar tante hamil sama anak tante sendiri gimana tuh?” tanya Riko.
“Ya mau gimana lagi, terima aja… Berarti ntar mereka jadi ayah sekaligus kakak tuh…” ujarnya sambil tertawa, santai sekali Rasti mengatakannya. Dia seperti tidak menganggap hal itu masalah besar bila sampai dihamili oleh anak-anak kandungnya sendiri!

“Eh, kalian mau nginap di sini tidak? Besok hari minggu kan? Tedi lagi di rumah pamannya, jadi gak ada yang jagain tante” tanya Rasti, tentu saja mereka langsung menyetujuinya. Mana tahu bisa dapat durian runtuh nanti malam, soalnya mereka selama ini cuma bisa onani sendirian saja.

Tiba-tiba pintu depan terbuka. Norman, anak kedua Rasti yang bengal si calon preman itu pulang.

***
Norman ini betul-betul acak-acakan penampilannya. Rambut kusut yang sebagian diberi warna pirang makin membuat dirinya tampak seperti preman pasar. Berkali-kali dia ditegur di sekolahnya karena rambutnya yang panjang dan berwarna itu, tapi berkali-kali juga dia membandel. Rasti sendiri sudah capek mengingatkan anaknya ini, hingga akhirnya dia pasrah saja melihat tingkah Norman. Meski begitu dia masih tetap sayang padanya. Buktinya dia memang tidak menolak segala permintaan Norman, baik yang meminta uang jajan sampai permintaan ngentot dengannya. 

Dibesarkan tanpa seorang ayah, pemandangan ibunya yang melonte sehari-hari, serta pergaulan yang kacau membuat Norman menjadi seperti ini. Tedi yang abangnya saja bahkan banyak mengalah pada Norman.

“Udah pulang sayang? ” tanya Rasti pada Norman.
“Iya… Ma, minta uang jajan dong… mau beli rokok sama main warnet” pintanya seenaknya. Pulang-pulang langsung minta duit.

“Kamu ini… udah makan belum? Makan dulu gih…”
“Cerewet nih lonte… Gue udah makan di luar tadi. Kasih gue duit buruan!” hardiknya. Sungguh kurang ajar! Berbicara seperti itu pada ibu kandungnya sendiri. Memanggil hina ibunya sendiri dengan sebutan lonte. Meski itu benar adanya tapi tentunya sangat tidak pantas memanggil ibu sendiri seperti itu, tapi begitulah Norman. Teman-teman Tedi bahkan geleng-geleng melihatnya. Ingin sekali mereka menonjok mulut Norman karena geram. Uang yang diminta Norman jumlahnya gak tanggung-tanggung pula, 500 ribu! Entah apa yang akan digunakan Norman dengan uang sebanyak itu. Katanya cuma mau beli rokok dan main warnet, tapi kok sampai 500 ribu? Pasti bakal dipakai judi, pikir Rasti.

“Kamu ini kok kecil-kecil sudah butuh duit segitu banyak, kalau emang udah sebutuh itu mending kamu cari kerja. Toh sekolah juga udah gak mau…” ujar Rasti menolak. Bukan karena dia tidak punya duit, uang hasil melontenya jauh lebih dari cukup, tapi karena merasa itu tidak baik. Uang sebanyak itu bisa dipakai untuk kebutuhan adik-adiknya yang lain. 

Norman nyengir, “Gue udah dapat kerjaan, banyak orderan. Malam ini saja ada yang mau datang 2 orang ambil barangnya, hehe” jawabnya. 

“Emang kamu jualan apa?” tanya Rasti penasaran sekaligus senang karena ternyata anaknya punya kegiatan di luar.
“Jualan Mama… Nanti bagi Norman 50% ya Ma…” jawab Norman sambil nyengir, tentu saja Rasti kaget.

Awalnya Rasti terlihat tersinggung Norman menjual dirinya. Dia tampak kesal dan merasa terlecehkan, meminta jatah 50% untuknya pula. Tapi ternyata yang terjadi adalah Rasti dan Norman saling tawar menawar. Pembahasan antara ibu dan anak yang sangat ganjil. Mana adegan itu dilihat dan didengar langsung oleh teman-teman Tedi dan anak-anak Rasti yang masih kecil.

“Emang kamu jual mama berapa sayang?” tanya Rasti.
“Karena Norman masih baru, jadi Norman gak berani jual mahal. Promo-promo dulu lah… 100 ribu sekali ngentot. Karena mereka berdua, cukup bayar 150 ribu” terang Norman. Rasti benar-benar merasa direndahkan dengan harga semurah itu, tapi Norman sudah terlanjur menjualnya dengan harga segitu dan sudah deal dengan calon pelanggannya. Akhirnya Rasti mengalah, diapun setuju.

“Kamu ini… Konsultasi dulu dong sama mama kalau pengen bantu ngejual mama. Jadi soal harga kita bisa bicarakan. Jangan sampai menjatuhkan harga gitu. Bisa-bisa mama dimusuhin sama lonte-lonte yang lain” Katanya sambil mengusap-ngusap lembut rambut Norman.

“Dasar lonte! Gue udah capek-cepek cariin orang, hargain kek!” kata Norman kasar.

“Gak kamu bantu cariin juga pelanggan mama sudah banyak, mama sampai kewalahan” balas Rasti.

“Banyak pelanggan apaan?? Banyak yang mama kasih gratis gitu, dasar lonte murahan! Dientotin orang cuma-cuma saja mau!” makinya. Ya ampun anak ini…..

“Mereka itu kan bukan cuma pelanggan, tapi juga ada teman-teman mama. Lagian sekali-kali kasih gratis kan gak apa biar pelanggan mama tidak lari” kata Rasti membela diri.

"Ya sudah deh ma, nanti yang mau make mama itu teman-temannya Norman. Kita taruhan deh… Kalau temen Norman gak berhasil bikin mama ngecrot sampe 3 kali, duitnya buat mama. Tapi kalo berhasil, duitnya buat Norman semua, 100%" kata Norman. Sungguh gila! Bukan hanya menjual ibunya, tapi uang hasil ngelacur ibunya juga ingin diambil. Namun Rasti malah tertawa mendengarnya.

"Beneran ya? 2 orang kan? Oke deh, deal... Mama sanggup kok...” kata Rasti setuju. Siap memberikan tubuhnya pada dua orang hanya dengan seharga 150 ribu nanti malam.

Rasti lalu juga memberikan uang 500 ribu yang Norman minta tadi, yang entah akan digunakan untuk apa oleh anaknya itu, dia pasrah saja. Sungguh Ibu yang baik. 

Namun perangai buruk anaknya belum berhenti sampai di sana. Dia lalu minta ngentot dengan Rasti, memintanya di depan teman-teman Tedi pula. Dia juga menarik tangan ibunya dengan kasar. Sungguh anak yang biadab! Siapa sih bapaknya? Pikir teman-teman Tedi yang semakin geram.

“Nanti saja ya sayang… mama ada tamu…” kata Rasti berusaha menolak.
“Dasar Ibu doyan kontol! Gue pengen ngentot sama lu itu sekarang! Bukan nanti! Gak dengar apa gue ngomong?!” balas Norman sambil mengata-ngatai ibunya sendiri. Alhasil Rasti pun hanya bisa pasrah.

“Ya sudah, mama turuti permintaanmu… dasar anak nakal” kata Rasti mencubit hidung anaknya. Setelah diperlakukan kasar dan hina begitu Rasti masih saja berlaku baik pada Norman. 
“Bentar yah… tante mau dientotin dulu” ujar Rasti pamit pada teman-teman Tedi. Mereka bertiga hanya mengangguk, tertegun melihat semua perlakuan bejat Norman pada ibunya. Rasti lalu diseret anaknya itu ke kamar. 

Setelah beberapa saat, teman-teman Tedi mulai mendengar erangan dan rintihan si ibu. Mereka yang penasaran akhirnya mencoba mengintip apa yang ibu dan anak itu lakukan di dalam melalui celah pintu yang tidak tertutup sempurna. Rasti dan anaknya sedang berdoggy-ria! Jelas terlihat kalau Norman mengenjoti ibunya dengan kasar. Bagaimana dia menghujamkan penisnya bertubi-tubi ke liang vagina tempat dia dilahirkan dulu. 

Tentunya pemandangan yang sangat langka dan ganjil bagi teman-teman Tedi. Melihat orang bersetubuh secara langsung saja ini baru pertama kali, apalagi ini adalah pemandangan seorang ibu muda cantik, wanita dewasa dengan kulit bersih yang sedang digenjot kewanitaannya oleh seorang remaja tanggung lusuh yang tidak lain adalah anak kandungnya sendiri. Khayalan teman-teman Tedi yang menonton persetubuhan tabu ini sampai melayang-layang dibuatnya. Di antara mereka bahkan ada yang berandai-andai jika ibunya juga seorang lonte yang doyan kontol seperti tante Rasti. Sambil menonton, mereka tentu saja beronani mengocok penisnya masing-masing. Kapan lagi coba bisa melihat yang lebih hot dari film bokep kayak gini? Pikir mereka.

“Sshhh… sayang… pelan-pelan… sakit… argghhh” rintih Rasti karena Norman menggenjotnya dengan kasar.
“Biarin, padahal mama suka kan Norman giniin? Dasar lonte!” balas Norman.
“Dasar kamu ini bandel banget… aahhh… anak mama ini nakalnya gak ketolongan… sshhh”

Lebih dari setengah jam Rasti dan anaknya bersenggama. Meski dikasari, Rasti tetap melayani nafsu binatang anaknya itu dengan tulus dan penuh kasih sayang. Dia betul-betul menjadi ibu, kekasih sekaligus budak seks anaknya yang susah diatur itu. Bahkan membolehkan anaknya muncrat di dalam, mempersilahkan menyiram rahimnya dengan peju anak kandungnya. Entah apa jadinya bila dia benar hamil dari anaknya sendiri. 

“Dasar kamu… ibu sendiri dipejuin, liar banget sih?” ujar Rasti gemas mencubit hidung anaknya. Norman hanya cengengesan. Setelah puas menggenjot ibunya, dia lalu seenaknya ingin pergi keluar rumah. Dan seperti biasanya, dia baru akan pulang kalau sudah tengah malam.

“Sayang…” panggil Rasti kencang memanggil Norman yang sudah ada di teras. Rasti menyusul anaknya ke depan. 
“Nih, duit kamu kelupaan” kata Rasti sambil menyerahkan duit 500 ribu tadi. Rasti menyerahkannya di teras rumah, yang mana dia masih telanjang bulat dan bermandikan peluh.

“Hati-hati, jangan nakal, juga jangan berantam-berantam lagi…” ucap Rasti tulus. Norman lalu memagut bibir ibu kandungnya, yang dibalas Rasti dengan penuh sayang. Mereka berciuman selama beberapa saat. Mempertontonkan kemesraan mereka di depan teman-teman Tedi, bahkan karena melakukannya di teras rumah bisa saja perbuatan mereka itu juga terlihat oleh orang-orang. Beginikah keseharian mereka di rumah? Pikir Riko, Romi dan Jaka menyaksikan adegan demi adegan yang sangat ganjil dari tadi. Tapi semua hal ini malah semakin membuat nafsu mereka menaik. Jantung mereka berdegup dengan kencangnya.

…..

“Itu si Noman kok kurang ajar banget sih tante? Masa perlakukan tante sebagai ibu kandung kaya gitu?” tanya Riko setelah Rasti kembali ke tengah-tengah mereka. Rasti sudah mandi dan mengenakan daster sekarang. Dia sedang menyuapi makan anak kelima dan keenamnya saat ini sambil ngobrol dengan teman-teman Tedi. Anak ketiga dan keempatnya juga duduk di dekat mereka dan juga sedang makan, namun makan sendiri.

“Kalian ngintip ya?” tanya Rasti.
“Iya tante… hehehe” 

“Hmm… Ya mau gimana lagi… Norman ya kaya gitu. Kalau ngentoin tante pasti kasar, gak cuma mulutnya tapi sifatnya juga. Apalagi kalau gak tante turutin maunya, panjang deh urusannya. Meski gitu tante tetap sayang sama dia. Norman kan tetap anak tante. Kalau dia pengen minta duit tante kasih, kalau pengen ngentotin mamanya sendiri juga tante kasih. Tante cuma berharap anak-anak tante yang lain gak seperti dia. Terutama tedi, Tedi itu rajin dan baik, beda banget sama Norman” 

Rasti mengatakannya sambil menyuapi anaknya. Mungkinkah hal itu benar-benar terjadi? Bisakah anak-anaknya yang lain tidak meniru perilaku Norman bila mereka semua tetap dibesarkan dengan cara begini? Bahkan besar kemungkinan anak-anak gadisnya jika sudah gede akan mengikuti jejak sang ibu sebagai lonte. 

Mereka melihat bagaimana Rasti menyuapai anak-anaknya dengan kasih sayang. Tapi siapa sangka kalau setiap suapan nasi itu berasal dari hasil ngelacur si ibu.

“Kenapa kalian lihat-lihat? Pengen juga?” tanya Rasti tersenyum pada mereka. Senyum yang sangat manis. Sungguh sosok ibu yang sempurna. Muda, cantik, dan berkepribadian menarik. Siapa yang gak bakal gregetan bila dekat-dekat dengan Rasti. 

“Iya tante… kita kepengen nih… hehe” jawab mereka.

“Sini-sini tante suapin… Aaaa…” kata Rasti bergurau. Rasti tentu saja tahu kalau yang mereka maksud sebenarnya adalah pengen ngerasin bersenggama dengan dirinya, bukan pengen ikutan makan.

“Bu..bukan tante. Pengen yang itu… gitu-gituan, hehe” kata Riko.

“Huuu… Pengen, pengen. Dasar kalian sama aja mesumnya. Emang kalian sanggup bayar tante apa? hihihi” balas Rasti menggoda mereka.

“Be…berapaan tante? Kita patungan deh…” kata Jaka antusias mulai mengeluarkan recehan dari uang sakunya, teman-temannya yang lain juga ikutan. Mereka letakkan semua recehan lecek itu ke atas meja. Hanya 13 ribu jumlah uang mereka bertiga. Jauh tentunya dari harga yang seharusnya dibayar untuk dapat menikmati tubuh seindah dan secantik Rasti, bahkan untuk shorttime sekalipun.

“Hahahaha… Aduh… kalian ini. Segitu pengennya sih sampai patungan segala” Rasti ketawa lepas melihatnya. Bukan karena jumlah uang yang jauh kurangnya, tapi tingkah mereka yang ngebet banget pengen ngerasain ngentotin dirinya.

“Kurang yah tante?” tanya Jaka.
“Banget malah… hihihi. Sana, ambil lagi uang kalian. Ntar kalian gak ada ongkos pulang lagi, atau mending kalian tabung saja”

“Yaaaah….” Rungut mereka kecewa.
“Huuu… Kalian itu belum cukup umur. Gak boleh ngeseks sebelum 18 tahun… ngerti?” lanjut Rasti. 

“Kok gitu sih tante… Tante aja tadi barusan ngentot sama Norman” kata Romi. 
“Beda dong… kan sudah tante bilang tadi kenapa alasan Norman ngentotin tante”

“Iya… tapi kita kan mau juga”
“Dasar… Mending kalian coli lagi deh sana”
“Yah… masa coli lagi sih tante?” kata mereka malas.
“Terus? Mau tante coliin nih?” goda Rasti.

“Mau banget tante…”
“Huuu… mau kalian banget itu mah…. Dasar anak sekarang cepat gedenya” ujar Rasti tertawa-tawa sambil bangkit dari duduknya. Dia sudah selesai menyuapi anak-anaknya. Rasti letakkan piring itu ke dapur, lalu kembali duduk di antara mereka tidak lama kemudian.

“Emang kalian gak ada pacar?” tanya Rasti.

“Belum sih tante… gak ada yang cocok, hehe” jawab Riko.
“Gak ada yang cocok atau gak ada yang mau sama kalian nih?” goda Rasti yang membuat mereka malu, karena memang itulah kenyataannya. 

“Terus pelampiasan kalian cuma coli dong?”
“Mau gimana lagi tante. Tante sih… kami mau coba gak boleh… hehe”
“Kalian ini, Tedi saja juga masih rajin coli… masa kalian sih yang tante kasih duluan”

“Tante sendiri gak punya pacar? Gak pengen nikah?” tanya Romi. Rasti tersenyum kecil sebentar.
“Gak usah deh… tante bisa hidupin semua anak-anak tante sendiri. Lagian pilih mana, anak-anak tante cuma punya satu ayah atau punya banyak ayah? Hihihi… Iya kan sayang…” kata Rasti sambil ketawa memangku anak ke tiganya, seorang anak perempuan berusia 11 tahun yang masih kelas 5 SD, setingkat kelasnya dengan Norman yang bandel. Dia mirip mamanya, cantik dan berkulit bersih.

“Yang ini bapaknya siapa tante? Kok cakep sih?” tanya Jaka.
“Cindy? Tante gak ingat siapa bapaknya. Tapi yang jelas bukan bapaknya yang cakep, tapi cakep karena keturunan mamanya dong… hihihi“ kata Rasti tertawa memuji diri sendiri, tidak salah memang.

“Kakak-kakak ini mau nginap di rumah kita ya Ma?” tanya Cindy ke mamanya.
“Iya sayang”
“Mereka mau ngehimpit mama juga? Telanjang-telanjang sama mama kayak papa-papa yang lain?” tanya Cindy polos. Tentunya yang dimaksud Cindy ‘ngehimpit’ itu adalah ngentotin ibunya. 
“Hahaha… bukan Cindy sayang. Mereka bukannya pengen ngehimpit mama kayak papa-papa kamu, cuma nemenin mama saja kok…” balas Rasti. Yah… bukan, teman-teman Tedi tentunya berharap bisa benar-benar ngentotin Rasti.

“Cindy, kamu kalau udah gede mau jadi apa?” tanya Riko mencoba akrab.
“Mau jadi kaya mama…” jawab anak perempuannya polos. Mereka tentu terkejut mendengarnya. Entah anak perempuannya itu tahu atau tidak apa yang sebenarnya mamanya ini kerjakan. Gilanya, Rasti bahkan cekikikan mendengar jawaban polos anak perempuannya ini. Entah apa jadinya bila benar-benar terjadi.

“Hihihihi… kamu mau jadi kaya mama ya sayang?” tanya Rasti.
“Iya…”
“Gak pengen jadi dokter atau guru?” tanya Rasti lagi.
“Enggak. Bu guru jahat suka kasih banyak pe-er. Pak dokter juga sering nyuntik orang” jawabnya polos, Rasti kembali tertawa, teman-teman Tedi juga tertawa.

“Sudah sana kalian juga mandi dulu, kalian jadi pengen nginap di sini kan?” suruh Rasti kemudian pada Riko, Romi dan Jaka.

“Ja..jadi tante”
“Ya sudah, berarti sampai besok tante bakal jadi mama kalian. Berarti ditambah dengan kalian jadinya tante punya 10 anak dong ya…” kata Rasti tersenyum manis sambil membuka jari-jarinya seperti menghitung. Alangkah senangnya mereka waktu mendengar Rasti berkata seperti itu, wanita cantik ini akan menjadi ibu mereka sampai besok. Angan merekapun kembali terbang kemana-mana membayangkannya. Andai saja ibu mereka secantik dan semuda tante Rasti. Andai saja Rasti memang ibu mereka, pikir bocah-bocah itu.

“Sana mandi, nanti tante ambilkan bajunya Tedi untuk kalian pakai” ujar Rasti. Anak-anak itu nurut-nurut saja. Merekapun mandi sambil coli bareng, menghayal sedang ngentot dengan tante Rasti ibu teman mereka itu. “Oughh… tante Rasti…” erang mereka sahut menyahut. Hal itu tentu saja terdengar oleh Rasti dari luar kamar mandi, Rasti hanya tersenyum sendiri. Hingga akhirnya sperma merekapun muncrat-muncrat dengan hebatnya meski hanya bisa berimajinasi bersetubuh dengan Rasti, menghantam tembok kamar mandi si punya rumah dengan peju-peju muda mereka. 

Meski sudah coli pun bagaimana bisa nafsu akan turun bila terus berada di sini, pasti tidak lama bakal horni lagi. Saat Rasti mengantarkan handuk dan baju ke kamar mandi, penis-penis mereka kembali bangun hanya karena ada Rasti di dekat mereka. Mana Rasti menggoda mereka lagi, “Wah… udah coli kan? tapi kok masih gede aja… hihihi” kata Rasti sambil tersenyum manis. Makin gregetan lah para remaja itu. Rasanya mereka tidak ingin berhenti coli bila terus berada di sana. Seandainya mereka bisa dapat lebih dari sekedar coli sendiri, seandainya dicoliin tante Rasti, pikir mereka.

Sepanjang sore hingga malam itu, mereka asik ngobrol bersama. Mereka sangat akrab seperti benar-benar ibu dan anak. Rasti juga melakukan aktifitas di rumah seperti biasa. Menyapu, ngepel lantai, mencuci baju, membantu anak-anaknya bikin pe-er dan sebagainya. Untuk hal-hal yang seharusnya perlu dijaga privasinya pun Rasti tetap cuek, sehingga bebaslah para remaja itu melihat bagaimana dirinya ganti baju, menyusui bayinya, sampai melihat tante Rasti pipis. 

Kadang mereka hanya ngobrol hal-hal biasa, tapi lebih sering menyerepet ke hal-hal berbau porno. Lebih banyak membahas tentang pengalaman-pengalaman melontenya tante Rasti. Seperti sehari berapa kali ngentot dan berapa pemasukannya. Tentu saja dijawab semua oleh Rasti dengan ceria dan ramah. 

“Tante kalau dientotin pelanggan sukanya gaya apa?” tanya mereka.
“Hmm… apa ya… Yang penting apapun yang pelanggaan suka tante juga harus suka. Mau tante telentang kek, diatas kek, didoggy kek” jawabnya santai. 

“Ohh…”
“Emang kalian udah tahu gaya ngentot apa-apa aja? Sering nonton bokep ya kaliannya? Dasar” kata Rasti mencubit pelan salah satu dari mereka.
“Iya tante… sering. Tuh si Jaka yang paling banyak koleksinya”

“Hihihi… kalian ini. Oh iya… Tante kemarin ini dapat tawaran shooting film bokep, diterima atau nggak ya enaknya?” tanya Rasti berkonsultasi dengan teman-teman Tedi.
“Terima tante! Terima aja!” ujar mereka cepat. 

“Huuu… Dasar kalian itu maunya aja. Di negara kita hal begitu masih ilegal. Gimana kalau ketahuan terus tante dipenjara?”
“Iya ya… tapi kan keren tante… pasti bakal laku, hehe”

“Jadi tante terima saja nih?”
“Iya tante…”
“Ya sudah, kalau begitu nanti kalian masing-masing dapat vcd film tante deh…” ujar Rasti. Mereka tentunya semakin mupeng tidak sabaran, pasti bakal jadi film bokep terbaik yang pernah mereka tonton nantinya. Si Jaka yang sangat bersemangat bahkan berkata pengen jadi bintang film bokep tersebut, tapi tentu saja tidak mungkin. Rasti sampai cekikikan mendengar omongannya itu.

Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam. Semakin malam suasana semakin memanas. Pembahasan porno terus mengalir tanpa henti. Bahas onani lah, rasanya ngentot lah. Mereka juga kembali berkali-kali ‘menawar’ Rasti untuk dapat mereka setubuhi, tapi Rasti tetap tegas dengan prinsipnya, tidak boleh ngeseks sebelum 18 tahun! Semua obrolan dan pemandangan indah di depan mereka tentu saja membuat nafsu mereka terus meninggi, dan semakin meninggi. Rasanya penis mereka ingin menumpahkan pejunya lagi.

***

Meski mulai mengantuk, tapi Riko, Romi dan Jaka masih pengen terus ngecengin ibu temannya ini. Rasti tentu tahu kalau nafsu anak-anak remaja ini semakin menjadi-jadi padanya. Namun begitu, dia tetap meladeni obrolan dan candaan mereka yang selalu condong ke arah cabul itu dengan ramah. “Dasar abg, penasaran banget dengan yang namanya cewek. Bukannya pergi tidur…” gumam Rasti dalam hati.

Sedang asik-asiknya bercengkrama, tiba-tiba ada yang menggedor pintu. Rasti teringat kalau dia punya janji dengan para pelanggan. Tidak lain adalah teman-temannya Norman yang katanya akan memakainya malam ini. Rastipun segera bangkit. Dia sedikit merapikan daster dan rambutnya terlebih dahulu agar tampak cantik di hadapan calon pelanggannya, barulah kemudian membukakan pintu. Norman berdiri di sana, di belakangnya ada 3 orang pria yang terlihat lebih tua usianya dari Norman. Bukannya janjinya cuma 2 orang? Kok yang datang ada 3 orang sih? Rasti tentu saja protes.

“Sayang, kamu bawa 3 orang?” tanya Rasti.
“Iya Ma”
“Kamu ini gimana sih? Janjinya kan hanya 2 orang, kok bawa 3 orang gini sih?”

“Mau gimana lagi ma, tadi pas ngumpul-ngumpul ada satu teman gabung, padahal kita udah mau ke sini. Masa dia ditinggalin? Ya udah kita ajak saja” jawab Norman santai, sungguh seenaknya saja.

“Tapi kan…”
“Tapi apa sih ma?” potong Norman, “toh gak ada bedanya mau dua atau tiga atau sepuluh orang sekalian. Perek kok sok suci banget sih?” ucap Norman menghina. Rasti menghela nafas. Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi kalau sudah berhadapan dengan anaknya yang satu ini.

“Ya sudah sayang… mama layanin mereka. Tapi soal tarif gimana?”

“Mata duitan banget sih ma !? Udah dibilang kan kalau tadi mendadak banget. Dia tiba-tiba gabung waktu kita udah mau kesini. Ya udah langsung aja kita ajak, gak ada nego-negoan. Udah deh mama kasih gratis dulu, itung-itung buat promosi. Dia dekat sama kepala geng kita lho... Kalo mama bisa muasin dia, pasti dia bakal rekomendasiin ke banyak temen-temennya. Seneng kan memek mama bakal dipake terus? anggota geng kita banyak lho… hehe” 

Rasti lagi-lagi hanya bisa menghela nafas, dia cuma bisa pasrah. Padahal tanpa direkomendasikanpun sudah banyak pria hidung belang yang mencari-cari dia. Mulai dari mahasiswa sampai pejabat daerah. Ini malah anggota geng yang tidak jelas. 

“Udah ah sana, mama siap-siap deh dientot” suruh Norman.

“Iya sayang, mama udah siap dari tadi kok... Udah mandi, udah wangi, sini deh temen-temenmu mama puasin...” kata Rasti sambil tersenyum manis.

“Ingat ya ma, taruhannya tetep. Kalo mama dibuat ngecrot sampe lebih dari 3 kali, uangnya buat norman 100%!" kata Norman terkekeh.

“Iih... Kamu curang deh, kalo lawan 3 orang ya jelas mama bakal K.O, udah deh anggap aja mama udah kalah, ambil deh sana uangnya untukmu semua” kata Rasti mendengus manja. Norman makin terkekeh. Uang jualan ibu kandungnya betul-betul untuk dirinya semua malam ini! 

“Gitu dong mamaku sayang, itu baru lonte yang baik..." ujarnya sambil menowel susu Rasti. Lalu mengecup bibir ibunya sendiri. Rasti pura-pura menolak dan merajuk manja. 

“Udah sini suruh temenmu masuk” kata Rasti kemudian. Norman dan teman-temannyapun masuk. Teman-teman Tedi yang tadi mengantuk kini jadi melek kembali, mereka penasaran dengan apa yang akan terjadi di sini.

Rasti berkenalan dengan ketiga pelanggannya ini, Toyo, Baron dan Suib. Tampang mereka tentunya jauh dari kata tampan. Mereka tidak memiliki pekerjaan tetap, lebih sering hanya menagih uang setoran dari para pedagang pasar. Mereka adalah senior-senior di gengnya Norman. Norman sebenarnya ngasih ibunya supaya bisa diterima dengan posisi yang lebih baik di geng itu. 

Orang-orang yang sudah membuat rusak anaknya kini malah akan dilayani Rasti setulus hati menggunakan tubuhnya. Rasti yang memang sangat ramah bahkan menyuguhkan minuman kepada para berandal itu layaknya tamu istimewa. 

Sebelum masuk ke kamar, Rasti berpamitan pada teman-teman Tedi.
“Kalian tidur gih, udah malam… Tante mau dientotin mereka dulu”
“Be..belum ngantuk tante” jawab Riko, yang lain ikut mengangguk.

“Lho, kalian tadi kayaknya sudah ngantuk berat, tapi denger tante mau dientot kok kayaknya jadi melek begini...?” ujar Rasti tertawa.

“Tante mau digangbang ya?” tanya Jaka.
“Hihihi... Gak tau deh mereka mau menggilir tante atau mau langsung ngeroyok. Tante sih nurut-nurut aja mau diapain. Kenapa? pingin liat ya?”

“I..iya tante... kan tadi janji kapan-kapan boleh liat tante digangbang, hehe… Boleh ya tante? Please..." ujar mereka memohon. Tentunya akan menjadi pengelaman luar biasa bagi mereka bila bisa melihat ibu muda secantik Rasti dientotin rame-rame, di rumahnya sendiri pula.

“Duh… jangan dulu deh, kapan-kapan aja yah… Kalian kan tadi udah ngantuk berat, tidur aja gih. Jangan macem-macem lho…! nanti malah gak bisa tidur repot. Lagian ini kan pelanggan baru tante, tante gak tau gimana orangnya. Kalo tante sih dilihat mau aja, tapi kan belum tentu mereka mau? Pelanggan tu biasanya mintanya privasi... Udah deh kalian ini segitunya amat sih? besok tante ceritain deh..." 

“Yaahh tante…” sungut mereka kecewa. Rasti tersenyum saja sambil meninggalkan mereka, lalu masuk ke dalam kamarnya bersama ketiga pelanggannya. Malam itu Rasti tegas melarang teman-teman Tedi menonton dirinya. Teman-teman Tedipun pasrah, mereka akhirnya juga masuk ke dalam kamar mereka untuk tidur, tapi tetap saja mereka tidak bisa tidur karena membayangkan apa yang terjadi di kamar Rasti. Suara erangan serta rintihan nikmat Rasti menggema sampai ke kamar mereka. 

Jam 2 pagi anak bungsu Rasti yang masih bayi terbangun dan menangis keras. Teman-teman Tedi itu berebut mengintip keluar kamar ingin melihat apa yang akan terjadi. Mereka melihat si bungsu digendong oleh kakaknya, Bram, anak kelima Rasti yang masih berumur 5 tahun. Bram sambil terkantuk-kantuk mengetuk pintu kamar Rasti memanggil mamanya.

“Ma… mama…?”
Norman yang juga ikut terbangun karena terganggu suara tangisan Bobi dengan kesal mencegahnya, "Gangguin aja kamu dek, mama lagi kerja tau gak? Tuh suruh diem dulu, diminumin susu pake dot kek!”
“Susu di dotnya habis kak...”

Karena berisik dan tidak enak sama tamunya, Rasti pun keluar kamar dalam kondisi telanjang bulat. Melihat hal itu teman-teman Tedi langsung konak lagi. Rasti terlihat agak berantakan dengan rambut kusut dan badan berkeringat, namun hal itu malah semakin membuat Rasti terlihat menggairahkan.

“Bobi nangis ya?” tanya Rasti.
"Iya… Mama belum selesai dientotnya?" tanya Bram. Ternyata anak Rasti yang satu ini sudah hafal kata 'entot', tidak seperti Cindy yang menyebut mamanya sedang himpit-himpitan.

"Belum, masih nanggung nih sayang… Tuh teman-teman kakakmu nakal banget, Mama dikeroyok...”
“Masih lama ma?”

“Iya… kamu bisa gak kamu jagain adekmu dulu? Kayaknya dia bukannya mau nenen deh, paling kebangun aja. Coba deh kamu tidurin lagi..."

"Tapi ma..." Bram hendak memprotes, tapi salah satu teman Norman keluar dan menarik Rasti.
"Lama amat lu lonte... ngapain aja sih? ayo lanjut!" hardiknya sambil mengocok penis besarnya. Pria itu tidak mau peduli kalau anaknya Rasti sangat membutuhkan ibunya saat ini.

"Bisa kan ya sayang? Kamu gendong-gendong dulu ya... Ini papa-papamu belum puas ngentotin mama... Tolong ya… nanti mama kasih kamu tambahan uang jajan deh..." ujar Rasti cepat karna dia ngomong begitu sambil tangannya ditarik masuk kamar dengan kasar. Pintu kamar Rasti pun dibanting oleh pria itu, tepat di depan kedua anak Rasti. Si bungsu semakin keras saja tangisnya karena terkejut kerasnya suara bantingan pintu. Mau tak mau Bram harus mendiamkan adiknya bersama kakak-kakaknya yang lain yang juga ikut terbangun. Kecuali Norman yang kembali tidur ke kamarnya, semua anak-anak Rasti kini sedang sibuk mengurusi si kecil Bobi, sedangkan si ibu kewalahan melayani nafsu binatang para pria hidung belang.

Teman-teman Tedi kembali menghempaskan diri ke kasur. Pikiran mereka makin melayang-layang. Meski miris, namun kejadian itu juga membuat penis mereka bertiga ereksi maksimal. Mereka konak berat dan ingin beronani namun rasanya tidak ada tenaga. Meski merasa susah tidur karna terus terbayang-bayang, toh akhirnya tanpa sadar mereka tertidur juga.

……

Pagi-pagi mereka terbangun mendapati Rasti sedang menyusui bayinya. Rasti terlihat segar, tampaknya dia baru saja selesai mandi. Rasti menyapa mereka ramah,
“Udah bangun kaliannya? Mandi dulu gih sana, nih sarapannya udah tante siapin”

“I..iya tante” Mereka terkagum-kagum, Rasti benar-benar ibu yang hebat, pikir mereka. Setelah mandi mereka semua siap di meja makan. Rasti tampak baru hendak selesai menyusui bayinya.

"Duh, enaknya pagi-pagi sarapan susu segar" ujar Jaka nyeletuk. Romi dan Riko juga berkata hal yang sama.
Rasti tersenyum mendengarnya, “tuh kalian juga udah tante siapin susu," katanya menunjuk beberapa gelas susu di atas meja.

“Yaah, kan beda susunya tante...” 
"Hihihi… Kalau susu yang ini sih buat anak-anak tante aja... dasar kalian!" balas Rasti tertawa.

Tak disangka-sangka setelah si bungsu selesai menyusu, anak Rasti yang lain, Kiki, berlari dari dalam kamar dan menubruk Rasti lalu memeluknya, "Ma..." panggilnya. Mulutnya mencaplok susu Rasti dan mengenyotnya. Rasti tertawa dan melayaninya, membiarkan Kiki juga menetek padanya.

"Duh… anak mama yang satu ini sudah besar” ucap Rasti. Teman-teman Tedi terbelalak. Mereka terkejut bukan main. Anak itu mungkin kelas 1 atau 2 SD, seharusnya sih sudah tidak menyusu lagi pada ibunya, pikir mereka. Sungguh pemandangan yang ganjil, yang tentunya membuat mereka sangat konak!

Mereka semakin terheran lagi ketika anak-anak Rasti yang lain, Dion, Bram, bahkan Cindy juga datang dan minta nenen juga. 
“Sabar ya sayang... susu mama kan cuma dua..." ucap Rasti sambil tertawa. Dia kemudian dengan sabar menyusui anak-anaknya secara bergantian, 2 anak sekaligus dalam sekali waktu. Selesai 2 orang, segera diganti dengan 2 anak Rasti yang berikutnya. Mata teman-teman Tedi sangat dimanjakan dengan pemandangan ini. Sangat ganjil tapi begitu erotis. Apa Tedi si sulung juga masih menyusu ke ibunya? tanya mereka dalam hati. Sepertinya sih iya. Mereka sungguh iri pada anak-anak Rasti. Ingin sekali mereka ikutan, merasakan nikmatnya air susu segar dari sumbernya langsung.

"Ngapain kalian malah nontonin anak-anak tante sarapan? sarapan kalian tuh dianggurin, ayo dimakan! Nanti dingin... tante udah capek-capek masakin..." kata Rasti pura-pura merajuk.

"I..iyaa tante" jawab mereka tergagap. Mereka hampir lupa kalau sedang lapar. Karena saat ini yang mereka rasakan memang cuma satu, horni. Namun begitu mereka tetap menghabiskan sarapan mereka meski ada perasaan tidak nyaman dari balik celana.

Selesai sarapan, teman-teman Tedi membantu membereskan meja makan dan mencuci piring. Memang sepatutnya mereka sedikit membantu karena telah banyak diberikan banyak ‘kesenangan’ oleh Rasti.

“Duh, rajinnya… makasih ya..." ucap Rasti tulus sambil masih menyusui anaknya. Tinggal Bram yang masih asik menetek. Setelah selesai membereskan meja, teman-teman Tedi kembali ke meja makan dan asyik nontonin Rasti yang memanjakan anaknya dengan susu. Setelah beberapa lama, Bram pun melepaskan kulumannya dari buah dada sang ibu.

"Sudah sayang? sana sekarang mandi ya..." ucap Rasti pada anaknya itu. Bram masih saja bermanja-manja pada Rasti dan enggan beranjak dari pelukannya. Bibir dan pipi anaknya itu sesekali masih mengelus-ngelus ke puting buah dada Rasti. Teman-teman Tedi yang melihatnya masih juga berhayal, mereka ingin merekalah giliran selanjutnya.

“Sudah ya sayang… mandi dulu gih…” bujuk Rasti sekali lagi pada anaknya ketika salah seorang dari teman Norman, Baron, keluar kamar telanjang dada. Baron hanya memakai celana kolor. Rambutnya masih acak-acakan baru bangun tidur. Karena memang setelah menggangbang Rasti tadi malam, mereka kecapekan lalu tidur di kamar Rasti. 

Rasti tersenyum pada Baron, “Sudah bangun? mau sarapan?" tanyanya ramah. Melihat kondisi Rasti yang payudaranya masih terekspos, Baron lalu menghampiri Rasti. Mengelus payudaranya dan memagut bibir Rasti. Rasti melayaninya tanpa segan. Bibir mereka saling berpagutan, sementara anak Rasti masih berada di pelukan Rasti!

Baron berusaha menyingkirkan Bram dari pelukannya. Anak Rasti ini meski enggan menyingkir, tapi tenaganya tentunya kalah kuat. Rasti sendiri tidak mencegah anaknya dienyahkan dari pelukannya oleh Baron. Bram akhirnya terpaksa mengalah, hanya bisa melihat mamanya dicumbui Baron setelah dia disingkirkan seenaknya oleh pria hidung belang ini. Bram pun pergi mandi tidak lama kemudian.

Setelah memagut beberapa saat, Baron mengeluarkan penis besarnya dan menyodorkan pada Rasti. Rasti tersenyum dan melirik teman-teman Tedi yang melongo.
"Giliran tante yang sarapan nih..." ucapnya binal mengedipkan mata pada teman-teman Tedi.

Adegan blowjob pun terjadi tanpa tedeng aling-aling. Di depan teman-teman Tedi dan di depan anak-anak Rasti. Hanya saja, anak-anak Rasti sudah biasa dan tidak memperhatikannya. Mereka telah asik dengan kegiatannya masing-masing. Ada yg mandi, nonton TV, main, dan sebagainya. Ada juga yang berebut mainan dan hampir berkelahi. Rasti berhenti sejenak dari blowjobnya dan meneriaki anak yang mau berkelahi itu. 

"Hayooo jangan nakal ya... kakak ngalah sama adik... Pagi-pagi kok sudah ribut sih?" tukasnya kesal, kemudian melanjutkan nyepong sampai si Baron ngecrot di mulutnya. Rasti menelan peju kental itu, beberapa muncratan ada yang mengenai wajahnya dan ada yang meleleh keluar dari mulutnya. Dengan jari tangannya Rasti mengusap lelehan sperma itu, memasuk-masukannya ke mulutnya dan menelannya. Pemandangan yang sangat menggetarkan dada. Teman-teman Tedi cuma bisa menelan ludah dan menahan konak dibuatnya.

“Kalian lihat apaan? Kalau sarapan tante harus mengandung protein tinggi kayak gini nih, biar tante gak gendut.. biar tetep seksi, hihihi..." ucap Rasti pada teman-teman Tedi.

"Enak ya Ma?" tak disangka Cindy memperhatikan juga dari tadi. Rasti agak terkejut, lalu tersenyum menjawab pertanyaan anaknya sambil sedikit tertawa. "Enak dong sayang, tapi ini hanya untuk orang dewasa ya... Cindy belum boleh..." ucap Rasti. Cindy manggut-manggut polos. 

Baron sesudah puas menuntaskan birahinya ngeloyor begitu saja setelah mengecup Rasti. Dia pergi merokok di teras depan, yang mana tetangga-tetangga Rasti tentu bisa melihatnya dan tahu kalo dia adalah salah satu pria hidung belang yang baru saja ‘mempermak’ Rasti semalam. Tapi Rasti cuek saja tidak mencegahnya, si berandal hidung belang ini juga cuek.

“Tante, cerita dong ngapain aja semalam...” pinta salah satu teman Tedi. Rasti tersenyum kecil. 

“Iih, pagi-pagi sudah nagih cerita mesum aja... Ntar ya… Tante masih mau beres-beres rumah. Kalian bantu gih…" tolak Rasti halus yang membuat remaja ini semakin penasaran.

Pagi itu teman-teman Tedi sekali lagi melihat ketangguhan Rasti sebagai ibu rumah tangga dan single mother. Dia membereskan rumah, beberapa anaknya yang sudah cukup besar dikomando membantunya. Rasti bisa tegas memerintah mereka sehingga mereka menuruti segala yang diminta Rasti. Menyapu, membereskan kamar, dan sebagainya. Sementara anak-anaknya yg masih kecil sedang asik bermain dan menonton TV, kadang rewel. Di sela-sela kesibukannya Rasti meladeni kerewelan mereka dengan sabar dan sayang. Sementara Norman si calon preman dengan nikmatnya ngorok di kamarnya. Rasti membiarkannya saja. Yah… untuk Norman, Rasti memang tidak berdaya mengurusnya.

Teman-teman Tedi pun ikut membantu, tentu sambil cuci mata. Karena pemandangan ibu muda secantik Rasti yang sedang beres-beres rumah seperti ini sangat sayang untuk mereka lewatkan. Kadang Rasti harus basah-basahan mencuci, ngepel, dan sebagainya. Semua itu Rasti lakukan hanya mengenakan daster tipis minim dan tanpa dalaman sama sekali. Sehingga di beberapa bagian membuat lekuk tubuhnya tercetak, memperlihatkan apa yang ada di balik daster tipis itu, terutama buah dadanya.

Di tengah-tengah kesibukan beberes rumah, teman-teman Norman kini semua sudah bangun lalu memakan sarapan yang sudah dipersiapkan Rasti untuk mereka. Selesai sarapan, mereka lalu bersama-sama ngeloyor pulang setelah sebelumnya menjamahi Rasti dengan nakal. Rasti membiarkan saja perlakuan mereka, bahkan Rasti berinisiatif memagut bibir mereka sebagai salam perpisahan. Rasti biasa melakukannya pada semua hidung belang saat mereka hendak pamit. 

"Makasih ya, kalian puas kan? Datang lagi ya.... Kapanpun kangen ngegenjotin memek aku" ucap Rasti sambil kecup-kecup mesra di teras depan rumah, dan lagi-lagi hal itu dapat dilihat oleh tetangga-tetangganya.

Semua pekerjaan rumah kini sudah beres. Rasti menghela napas panjang agak capek. 
“Huuuh… capeknya” katanya sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan tangannya. Keringatnya bercucuran. Dia beranjak ke ruang tamu, membuka pintu lebar-lebar membiarkan angin masuk. Rasti melepaskan dasternya begitu saja hingga tubuhnya pun polos tanpa sehelai benang pun. 

Kemudian Rasti menghempaskan dirinya ke sofa di ruang tamu. Mengistirahatkan dirinya di situ sambil mengeringkan keringat dengan membiarkan angin dari luar membelai-belai tubuh bugilnya. Teman-teman Tedi menahan napas melihatnya. Penis mereka menegang sejadi-jadinya. Siapa yang tidak tahan melihat wanita secantik Rasti telanjang bulat? Apalagi bermandikan keringat begitu yang membuat tubuh Rasti menjadi mengkilap. Dengan malu-malu mereka menghampiri Rasti, ragu hendak ikut duduk di ruang tamu. 

"Hayo... udah mupeng lagi? Tante gerah tahu, pengen bugil... Sini duduk sini temenin tante telanjang..." ajaknya ramah sambil tersenyum manis pada mereka. Tanpa perlu disuruh dua kali mereka pun berebut duduk di kursi tamu, tapi tidak berani menjejeri Rasti karna salah satu anak Rasti, Dion, sudah mendahului menghampiri mamanya dan ngelendot manja di sampingnya, menyandarkan kepalanya di atas payudara Rasti yang terbuka. Rasti merangkul dan membelai-belai anaknya itu dengan penuh kasih sayang.

Teman-teman Tedi menghela napas. Hari masih pagi. Hari minggu ini masih panjang. Apa yang akan terjadi hari ini?

***

Suasana ini sungguh membuat tegang mereka bertiga. Dengan pintu terbuka lebar begitu, tentunya ketelanjangan Rasti bisa saja terlihat oleh orang lain. Jika orang itu menoleh ke dalam, pastinya akan terlihat seorang ibu muda cantik lagi berbugil ria. Namun teman-teman Tedi melihat tante Rasti ini sepertinya cuek saja, bahkan seakan menikmati ketelanjangannya. 

“Duh… Panasnya. Sayang… tolong arahkan kipas anginnya ke mama dong…” pinta Rasti pada anak-anaknya yang sedang asik nonton tv di sebelah sana yang langsung dituruti oleh mereka. Aahh.. kibasan rambut tante Rasti yang tertiup angin semakin membuatnya mempesona, pikir teman-teman Tedi.

Mata mereka rasanya tidak ingin beranjak dari sosok indah di depan mereka. Wajah memerah tante Rasti yang kepanasan, tubuh telanjang berkeringatnya, pokoknya semuanya. Apalagi terpaan sinar matahari pagi membuat tubuh berkeringat ibu muda itu tampak mengkilap yang semakin menambah erotis suasana. Perlahan keringat-keringat itu mulai mengering, namun masih menyisakan beberapa bulir yang masih mengalir di kulitnya yang mulus. Pemandangan yang membuat mereka tidak tahan. Ingin sekali rasanya mereka coli saat itu juga sambil menatapi ibu temannya ini.

Mereka melihat bagaimana tante Rasti asik bercengkerama dengan Dion. Aura kecantikannya semakin tampak dengan sifat keibuan yang dimiliki Rasti. Memang sejak hamil pertama kali saat mengandung Tedi, aura keibuannya sudah muncul meski waktu itu Rasti masih remaja. Dia tetap menyayangi anaknya sepenuh hati meski sang ayah kabur tak bertanggung jawab. 

Mereka melihat sorot mata Rasti yang penuh kasih sayang mendalam pada anaknya. Senyum manisnya, tertawa renyahnya. Sungguh wanita yang sempurna, baik sebagai seorang ibu, maupun sebagai tempat pelampiasan nafsu. Mereka semakin terobsesi saja pada wanita ini. 

“Lho? kok pada diam saja? mikirin apa sih?” goda Rasti membuyarkan lamunan bocah-bocah itu.
“Eh, ng..nggak kok tante” jawab mereka tersipu. Lagi-lagi mereka kedapatan sedang memperhatikan dirinya. Rasti tertawa, dia tentu tahu apa ang sebenarnya bocah-bocah itu pikirkan. “Dasar abg, masa sama ibu teman sendiri nafsu? Tapi wajar sih… Hihihi…” katanya dalam hati. Bagi Rasti sendiri, ditatapi penuh nafsu begitu juga membuat jiwa binal Rasti semakin bergejolak. Mana si Dion dari tadi terus mainin puting susunya lagi, dipegang-pegang, dicubit-cubit, namun tidak menyusu. Rasti sih tidak keberatan, tapi putingnya lama-lama jadi mengeras dibuatnya. Jelas saja Rasti terangsang. Teman-teman Tedi yang melihat puting Rasti mengeras juga dibikin tambah mupeng karenanya.

“Eeeh, kok dimainin sih sayang? Itu kan tempat minum kamu…” ucap Rasti pada Dion.
“Kok jadi kelas Ma?” tanya anaknya itu polos.

“Hihihi… itu tandanya mama teransang sayang…”
“Telancang?”
“Iya… teransang itu artinya mama pengen ditunggangi,” jawab Rasti santai. Teman-teman Tedi langsung tegang full mendengarnya.
“Ditunggangi?” 

“Iya…. ditunggangi kaya kuda, hihihi. Duh… siapa ya yang mau tunggangi mama? Papa-papa kalian lagi ga ada, kak Norman juga sedang tidur,” gumam Rasti pura-pura bingung. Rasti lalu melirik teman-teman Tedi sambil senyum-senyum. Terang saja mereka jadi blingsatan, jantung mereka berdetak cepat tidak karuan. Mereka berharap tante Rasti akan mengajak mereka gitu-gituan. Tapi tentu saja Rasti sebenarnya cuma sekedar menggoda mereka.

Melihat mereka jadi salah tingkah Rasti sampai tertawa terbahak-bahak. “Hahaha… mikirin apaan sih kalian? Jangan ngarep ya… sana coli,” ujar Rasti merasa puas mengerjai mereka, meskipun sebenarnya Rasti juga sedag terangsang saat ini.

“Tante… jangan php-in kita dong…” protes mereka bersungut-sungut. Padahal mereka sudah beranggapan bakal beneran dikasih ngentot oleh ibu teman mereka ini. Sial.

“Sorry deh... Kalian sih, ngelihatin mulu dari tadi,” kata Rasti sambil berusaha menahan tawa. 

Beberapa saat kemudian Norman keluar dari kamarnya, dia baru bangun. Sesudah semua orang capek-capek ngebersihin rumah baru dia bangun!! geram teman-teman Tedi kesal. Dengan wajah masih kusut, dia seenaknya langsung menyantap sarapan. 

Selesai sarapan, Normanpun ikut bergelayutan manja ke Rasti. Dia duduk di samping Rasti dan merebahkan diri di pelukan ibunya. Di luar dugaan teman-teman Tedi, kali ini Norman menampakkan sifatnya yang sangat kekanak-kanakan, sangat berbeda dengan sisi lainnya yang bandel dan susah diatur. Sebenarnya justru ini sisi yang normal sebagaimana harusnya seorang anak pada ibunya. Apalagi meski terlihat bongsor, Norman sendiri baru barusia 13 tahun. Sulit dipercaya di usia yang semuda itu dia sudah bisa berkali-kali menikmati indahnya seks, dengan wanita yang sangat sempurna pula!! Yang tidak lain adalah ibu kandungnya sendiri. 

Betul-betul iri teman-teman Tedi dibuatnya. Bagaimanapun Norman memang anaknya Rasti juga, sangat wajar bila ingin bermanja-manjaan dengan ibunya sendiri. Rasti juga mengelus-ngelus rambut anaknya itu dengan sayang. 

“Abang bau iih… belon mandi…” protes Dion yang saat itu juga masih di pelukan Rasti di sisi yang lain.

“Biarin!! Weee…!!!” cibir Norman sambil menjulurkan lidahnya. “Udah sana pergi!! Main kek, nonton tivi atau ngapain..!!” Norman malah mengusirnya. Dion mau tak mau menuruti omongan Norman, dengan bersungut-sungut Dionpun beranjak dari sisi Rasti. 

“Mama cantik” panggil Norman sambil mencium pipi Rasti dengan bibirnya yang masih berminyak.
“Iya… sayang… Duh, kamu ini gosok gigi dulu gih sana…”
“Ntar deh ma. Ma... mama kok cantik banget sih..?” gumam norman manja yang kemudian menciumi pipi ibunya lagi berkali-kali dengan gemas. Makin berminyaklah pipi dan bagian wajah Rasti lainnya gara-gara ulah Norman ini.

“Duh… anak mama ini. Kamu juga ganteng kok, cuma kamu ini bandelnya gak ketolongan… nakal ke ibunya juga…” balas Rasti mencium kening anaknya. Mereka pamer kemesraan di depan teman-teman Tedi. Namun sulit dibedakan antara mesra sebagai ibu dan anak dengan kemesraan sepasang kekasih. Sekali lagi mereka bertiga merasa iri, mereka sungguh ingin mempunyai ibu seperti Rasti. Norman nyengir-nyengir saja diomelin oleh Rasti, tampak jelas kalau Rasti tidak sungguh-sungguh memarahinya.

“Biarin, siapa suruh mama cantik begini…” ucap Norman gemas sambil meremas-remas buah dada ibunya.

“Uuuuh…” Rasti melenguh pelan, terdengar sangat indah di telinga semua remaja yang ada di sana. Dengan manja disingkirkannya tangan Norman dari dadanya. Tangan Norman yang disingkirkan turun kini malah mengelus-ngelus sambil menjambak-jambak kecil rambut kemaluan Rasti. Sesekali tangannya juga membelai bibir vaginanya. Tampak sekali kalau Norman sangat gemas dengan kesempurnaan tubuh ibu kandungnya itu. Hampir-hampir teman-teman Tedi lupa bernafas melihat pemandangan ini. Rastipun tidak kelihatan keberatan sama sekali. Sambil melakukan itu, kini Norman mengecup gemas bibir Rasti. Tidak sampai mengulumnya, hanya mengecupi saja.

“Mamaaah….” ucap Norman lagi dengan gemas.

“Apa sayang?”

“Mama kok cantiknya gak ketulungan sih?”

“Iiih… apaan sih kamu ngengombalin mama terus?” Rasti tersipu.
“Aawwhh…” tiba-tiba Rasti memekik pelan. Ternyata tangan Norman tengah memijit-mijit klirotisnya yang juga mengeras. Semua tampak jelas di depan mata teman-teman Tedi yang mulai kering kerontang tenggorokannya.

Setelah puas menciumi wajah ibunya, tiba-tiba Norman bangkit hendak ngeloyor pergi begitu saja. Rasti spontan menahan tangannya.
“Lho, kamu mau kemana sayang?”

“Ada apa sih Ma?” tanya Norman pura-pura bego.
“Eh… ng..nggak.. ng..ngentot yuk sayang…” pinta Rasti ragu dan malu-malu. Wow… Teman-teman Tedi jelas terperangah, kali ini Rasti yang meminta duluan untuk dientotin anaknya!!

“Hahaha… pagi-pagi udah nafsu ya ma? Dasar mama nakal… tapi Norman buru-buru nih… ada urusan,” tolak norman tak diduga, Norman lalu mencium bibir Rasti gemas. “Ga puas apa ma dikerjain teman-teman Norman semalam? Apa perlu Norman panggil lagi mereka ke sini? hehehe” lanjut Norman menggoda Rasti.

“Mmmhh..!!” Rasti mendengus kesal, Norman terkekeh lagi. “Kan kamu tuh yang bikin mama horni!!” protes Rasti sambil cemberut. Wajahnya yang merona makin membuat dirinya semakin cantik, tentunya juga semakin menggairahkan.

“Tuh, teman-teman bang Tedi kayaknya mau deh ngentotin mama…” ledek Norman lagi sambil melirik teman-teman Tedi yang langsung berbinar matanya.
“Wuahahahaha…!” Norman tertawa terbahak-bahak. “Muke-muke lu ngarep banget pengen ngentotin mama gue, kalau pengen nyicipin mama, lu pada harus bayar harga normal!! Hahahaha” cibirnya pada mereka bertiga.

“Hussshhh… nakal kamu ah! Udah sana kalau mau pergi…” ujar Rasti merengut manja. “Perlu uang jajan lagi gak kamunya?” tanya Rasti kemudian.
“Perlu dong Ma… hehehe”
“Dasar kamu ini… Kemarin kan uang ngejual mama kamu ambil semua, masa sekarang masih perlu lagi? Nih, segini aja yah untuk hari ini…” kata Rasti sambil menyerahkan uang dua puluh ribu pada Norman.

“Mama emang yang paling baik deh… iya gak?” tanyanya sambil melirik ke teman-teman Tedi, lalu ngeloyor pergi.

Rasti mengehela nafas. Dia benar-benar horni karena ulah Norman tadi, dia butuh pelampiasan. Tapi tidak mungkin dengan teman-teman Tedi.

“Tante beneran lagi horni ya?” tanya Riko yang masih berharap.
“Huuu… pengen tahu aja!!” jawab Rasti cuek. Rasti lalu bangkit dan mengenakan dasternya kembali, bertepatan dengan itu terdengar suara parau tukang sayur langganan Rasti.

“Tuh, ada tukang sayur. Minta ngentot aja sana sama dia, hehehe” ledek Jaka yang ikut menggoda Rasti. Ucapan yang sebenarnya terdengar sangat kurang ajar itu malah ditanggapi ramah oleh Rasti.

“Iiih… ogah. Masak tante dientotin tukang sayur… Emang dia mau bayar tante pake apa? Masa dibayar pake sayur-sayuran? Enak aja…”

“Emang tante gak pengen belanja? Gak pengen beli sayur? hehe”
“Hmm? Kenapa? Kalian nantangin tante?” ujar Rasti balik nanya, dia tahu apa yang mereka inginkan. Mereka ingin melihat dirinya menggoda tukang sayur. Namun tiba-tiba Rasti terpikir ide nakal untuk menuntaskan birahinya. Dia ingin bermasturbasi dengan sayur-sayuran.

“Ya udah, tante belanja deh… Tante perlu membeli sayur untuk masak makan siang,” setujunya akhirnya. 

“Baaang… beli bang!” Teriak Rasti lalu melangkah keluar.

“T…tante… cuma pakai pakaian itu aja?” seru teman-teman Tedi heran. Mengingat daster yang dipakai Rasti sangat-sangat minim, mengekspos paha dan juga belahan dadanya. Belum lagi daster itu sangat tipis, kecantol duri saja kayaknya bakal sobek. 

Rasti menjawab cuek, “duh, kalian ini… tante kan lonte… emang tante harus make apa? jilbab?” sahutnya geli lalu menghampiri tukang sayur. 

Teman-teman Tedi makin panas dingin. Mereka mengintip saja dari kejauhan apa yang akan terjadi. Tentunya tidak hanya mereka yang sedang berdegub kencang jantungnya saat ini, namun juga si tukang sayur. Si tukang sayur ini memang sudah sering juga menjual dagangannya pada Rasti. Setiap Rasti belanja padanya dia pasti ngaceng bukan main. Dia penasaran pengen merasakan tubuh Rasti. Hanya saja tempat tinggalnya tidak jauh dari sini. Bisa kena hajar bininya kalau dia sampai ketahuan.

“Masih seger kan bang sayur-sayurnya?” tanya Rasti.
“Ma..masih dong non… Non Rasti mau beli apa?”

“Tolong terong, timun dan parenya dong bang… eh, sama jagungnya sekalian. Pilihin yang gede dan panjang ya bang…” kata Rasti. Namun bukannya langsung mengambilkan pesanan, si tukang sayur itu malah terpaku melihat pemandangan di depannya ini. Puting Rasti tercetak dengan jelas, membuat si otong semakin keras. Oh… seandainya bininya gak mengawasi, mungkin dia udah make Rasti dari dulu. 

“Bang… kok bengong sih?”

“Eh, I..iya Non…” katanya tersadar lalu segera mengambilkan sayuran tersebut. 
“Mau masak apa non? Kok sayurnya panjang-panjang semua? hehe”

“Ya gitu deh bang…”
“Gitu gimana non maksudnya?”

“Pokoknya mau dibikin enak…”
“Oh… benar non… sayur itu emang enak, bikin sehat, apalagi kalau gede dan panjang. Tambah enak deh…” ujar tukang sayur itu menggoda. Otaknya mulai ngeres berpikir yang tidak-tidak.

Beberapa saat kemudian ada ibu-ibu tetangga yang ikut berbelanja. Ibu itu membawa anak laki-lakinya yang masih SD. Melihat Rasti berpakaian minim, ibu itu langsung menutup mata anaknya sembari memaki-maki.

“Dasar lonte! Cewek murahan! Gak bermoral! Kenapa sih perempuan ini dibolehkan tinggal di sini? Mengganggu saja!”

Tukang sayur itu mencoba menenangkan si ibu itu. Rasti sendiri tidak terlalu menanggapinya. Setelah Rasti membayar sayuran, dia lalu kembali ke dalam.

Rasti masuk rumah sambil nyengir-nyengir. Teman-teman Tedi heran.
“Tante gak marah dihina begitu?” 

“Lah, kan emang benar tante lonte? Kenapa musti marah?” jawab Rasti sambil meletakkan belanjaannya di atas meja ruang tamu.

“Tapi kan tante direndah-rendahkan begitu? Gak kesal tante? Balas dong…!” hasut Jaka.

“Iih… kalian ini, emang mau dibalas gimana coba? Jangan cari perkara deh…”

“Yaa… godain tukang sayur itu lebih hot lagi, biar ibu itu makin sewot, hehe”

“Dasar, kalian ini maunya ya…” ujar Rasti geleng-geleng kepala saja mendengar ide mereka.
“Sebenarnya tante kasihan sama ibu itu. Suaminya itu anggota DPR yang suka foya-foya, main perempuan, istrinya ada tiga. Sebagai istri pertama, ibu itu sering ditinggal pergi dan disia-siakan” terang Rasti.

“Suaminya suka main perempuan? Berarti suka mainin tante juga yah? hehe…” Teman-teman Tedi bertanya dengan nakal.

“Menurut loooh…..?” jawab Rasti sambil menjulurkan lidah. Mereka kemudian tertawa bebarengan. Tapi ternyata Rasti merasa tertantang juga. Di sini lain dia juga selalu merasa horny ketika harus menuruti fantasi teman-teman Tedi.

“Hmm…. Jadi kalian pengen nih lihat tante bikin kesal ibu-ibu itu lagi?”

“iya!! iya tante..!!” jawab mereka bersemangat.

“Dasar. Ya udah… Nih, tante wujudkan fantasi mesum kalian…” ujar Rasti sambil mengedipkan mata kirinya dengan nakal. Teman-teman Tedi menelan ludah dibuatnya.

Rasti lalu keluar lagi menemui penjual sayur. Dia cari-cari alasan ada yang lupa dibeli. Terang saja ibu-ibu tadi sewot dan mendelik.

“Ngapain lagi lu lonte? Dasar gak tahu malu…” makinya, Rasti cuek saja. Teman-teman Tedi yang mengintip dari balik pagar melihat Rasti diam-diam mengaitkan daster tipisnya pada sebuah paku yang menancap di gerobak sayur. Jantung mereka berdegup keras melihatnya. Mereka penasaran apa yang akan dilakukan ibu temannya ini. Rasti malah mengedipkan mata segala ke arah teman-teman Tedi, seakan memberitahu mereka untuk menyaksikan baik-baik apa yang akan terjadi.

Setelah selesai belanja, Rasti kemudian tampak berjalan pulang pura-pura lugu, dan “Breeett……!!” sobeklah daster tipisnya. Membuat daster itu terlepas dari tubuhnya yang tidak memakai apapun lagi di baliknya. Rasti bugil total di tengah jalan!! Tubuh indah dengan kulit putih mulusnya tidak tertutupi apapun di hadapan mereka. Tukang sayur itu melotot, sedangkan ibu-ibu itu merah padam mukanya, berusaha keras menutup mata anak laki-lakinya sementara si anak malah terlihat meronta berusaha melihat. 

Rasti pura-pura terkejut dan menutupi tubuhnya sebisanya dengan tangan dan kain sobekan dasternya. Tentu saja itu tidak cukup, vagina dan buah dadanya terpampang dengan jelas.

“aduuuh, maaf bang… Iih... paku nakal!!” kata Rasti.

Rasti kemudian berlari bugil masuk ke dalam rumah sambil menenteng belanjaan dan daster sobeknya. Di dalam rumah, Rasti dan teman-teman Tedi tertawa lepas. Puas sekali rasanya. Terlebih bagi Rasti, baru kali ini dia berbuat seperti itu. Apalagi dia berbuat demikian demi memuaskan fantasi teman-teman anaknya. Ada sensasi luar biasa yang dia rasakan.

“Tante gila ih!! Gimana kalau ada orang lain yang melihat??” seru teman-teman Tedi. 
“Huuu… kalian ini. Tadinya nantangin tante, kok sekarang malah protes sih?”

“Gak protes kok tante… kita suka malah, bikin tambah ngaceng. Cuma gak nyangka aja, hehe”

“Dasar kalian mesum!! Iya… kan biar makin sewot tuh ibu-ibu, hihihi… Gimana? Puas?”

“Puas tante… tapi si otong kayaknya belum puas nih, hehe” kata Jaka mengelus celana depannya sambil menatap tubuh Rasti yang masih bertelanjang bulat.

“Porno!! Coli lagi gih sana…” jawab Rasti senyum-senyum manja sambil melempar dasternya tadi ke arah Jaka. Jaka langsung memperhatikan daster itu, sobekannya sangat parah. Dia yakin ini bukan daster murahan dilihat dari bahannya yang halus dan lembut. Tapi ibu temannya ini mau saja merelakannya demi memuaskan fantasi mereka.

“Yaah… coli mulu… pelit”

“Biarin..!!”

“Tapi kasihan juga tuh tukang sayurnya, dia pasti makin horni sekarang pengen ngentotin tante. Kasih aja tante… siapa tahu nanti tante bakal hamil lagi, hamil anaknya tukang sayur, hehehe” ujar Jaka kurang ajar.

“Huuuu… dasar kalian ini pikirannya nakal, masa tante cantik-cantik gini dihamili tukang sayur sih?” balas Rasti cekikikan geli.
“Udah ah, tante mau mandi lagi nih… habis itu masak makan siang. Kalian di sini sampai sore kan nungguin Tedi pulang?”

“I..iya tante..”

“Kalau gitu tolong jagain anak-anak tante dulu ya… pokoknya nanti tante buatin makan siang yang enak deh buat kalian. Mau tante buatin pecel ayam? Mumpung sayurannya banyak nih buat lalapan…”

“Bo..boleh tante… makasih” jawab mereka serempak, Rasti hanya tersenyum manis. Dia lalu pergi ke kamar mandi. Baru beberapa langkah dia kembali berbalik badan mengambil isi bungkusan belanjaannya.

“Ups, kelupaan,” katanya dengan gaya nakal mengambil terong, timun, pare dan jagung masing-masing satu buah di depan teman-teman Tedi. 

Tentu saja mereka langsung berpikir yang tidak-tidak. Untuk apa membawa sayur-sayur itu ke dalam kamar mandi? Tapi mereka tidak menanyakannya secara langsung. Karena sepertinya mereka tahu apa yang akan ibu temannya itu lakukan dengan sayur-sayuran itu.

Rasti sendiri hanya senyum-senyum saja melihat mereka, seakan membenarkan apa yang sedang ada di dalam pikiran mereka saat ini. Seakan ingin memberitahu mereka kalau dirinya memang ingin bersenang-senang di dalam kamar mandi dengan sayuran itu. Rasti memang sudah sangat terangsang saat ini, apalagi setelah aksinya barusan.

Rastipun segera masuk ke kamar mandi, tidak sabaran ingin menuntaskan nafsunya yang tanggung tadi.

“Sekarang kalian tolong bantu puasin aku ya… papa anak-anak lagi gak ada, si Norman juga gak mau bantuin mamanya, jahat banget kan mereka biarin aku sendiri? makanya kalian temani aku ya…” kata Rasti mengajak bicara sayuran yang sudah dia susun berurutan dengan rapi di atas bak mandi. Mulai dari yang paling halus teksturnya yaitu terong, lalu timun, pare hingga jagung yang memiliki tekstur paling unik. Tentunya sayur-sayuran pilihan Rasti ini sudah dia pilah dulu. Tidak terlalu besar namun juga tidak terlalu kecil, yang dia kira-kira bakal pas di dalam vaginanya.

“Mulai dari kamu ya sayang… mau kan masuk ke sana? mau dong yah… hihihi” ucapnya sambil mengecup manja batang terong. Lalu mengarahkannya ke vaginanya.

Maka dimulailah aktifitas masturbasi Rasti di dalam kamar mandi. Dia gunakan sayur-sayur itu bergantian untuk mengganjal vaginanya yang sedari tadi sudah gatal untuk dimasuki. Rintihan kenikmatannya tidak sanggup dia tahan hingga sampai terdengar oleh anak-anaknya dan juga teman-teman Tedi yang ada di luar. Terang saja teman-teman Tedi makin mupeng. Tidak diragukan lagi kalau tante Rasti sedang bermasturbasi-ria sekarang. Bahkan terhadap sayuran seperti terong dan teman-temannya saja mereka iri. Mereka kalah beruntung dengan sayuran itu karena sayuran saja sudah bisa menikmati vagina ibu temannya yang cantik dan seksi ini.

“Ssssshhh… aaahhhhh…. Pelan-pelan dong nyodoknya…” racaunya. Dia sampai menungging-nungging dan kejang-kejang kenikmatan di atas lantai kamar mandi. Berkali-kali Rasti mendapatkan orgasme karena ulah sayur-sayur yang disodok-sodok ke rahimnya oleh tangannya sendiri.

“Nghh… Udah dapat bagian masing-masing kan kaliannya?” katanya ngos-ngosan sambil meletakkan kembali si jagung berjejer dengan teman-temannya yang lain. 

“Apa? masih kurang? Masih mau lagi? belum puas yah? Gak usah yah…”
“Ih… kok kalian maksa sih? beraninya keroyokan… huuuu”
“Ya udah… sekali lagi ya… dasar kalian nakal-nakal, hihihi”

Rasti bicara dan tertawa sendiri, seakan sayuran itu punya pikiran dan bisa ngomong. Tentunya bukan karena Rasti gila, dia merasa lucu saja dengan perbuatannya itu, mengecup-ngecup dan mengajak bercanda sayuran bagaikan mereka adalah makhluk yang menggemaskan. 

Diapun melakukannya sekali lagi. Rasti bener-benar terpuaskan, tubuhnya sangat lemas karena berkali-kali orgasme.

“Fiuh… makasih yah sayang-sayang… untung ada kalian,” ucap Rasti sambil mengecup kembali sayur-sayuran itu. Bedanya, baik terong, timun, pare hingga jagung kini sudah berlumuran cairan vaginanya. Barulah setelah itu Rasti benar-benar mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Letih yang dia rasakan lebih disebabkan oleh aksi masturbasinya barusan, bukan karena beres-beres rumah tadi.

Teman-teman Tedi yang dibikin horni akhirnya juga memutuskan untuk coli di kamar mandi, tentunya setelah Rasti selesai mandi. Ahh… seandainya tadi bisa coli barengan dengan tante Rasti, gumam mereka.

***

“Makan yang banyak ya... kalau kalian pengen nambah boleh kok…”

“Kayaknya enak banget, duh… pengen deh tinggal di sini terus, hehe” ujar Jaka.

“Ngmmhh… iya bro… masakan tante Rasti emang enak banget…” sahut Riko dan Romi setuju sambil mulai menyantap makan siang yang sudah disediakan Rasti. Rasti sendiri juga sedang sibuk menyuapi anak-anaknya.

“Kalian ini bisa aja mujinya… Tante gitu lho… Ya iyalah enak... kan sayurnya udah bercampur cairan tante… ups..!!”

“Hah….????”

****

“Kalian ini bisa aja mujinya… Tante gitu lho… hihihi, kan sayurnya udah bercampur cairan tante… ups..!”

“Hah….????”

Mereka yang terkejut dengan apa yang dikatakan Rasti tetap saja melanjutkan makan mereka. Justru tambah semangat bersantap siang, meski mereka sendiri tidak tahu benar apa tidak yang dikatakan Rasti, kalau sayur-sayuran itu sudah bercampur cairan vaginanya. Rasti juga hanya senyum-senyum sendiri membiarkan mereka berandai-andai.

Tidak ada kejadian mesum lainnya setelah makan siang itu. Mereka terus ada di sana sampai Tedi pulang. Setelah beberapa saat ngobrol dan bermain. Barulah ketiga remaja itu pamit. Tentunya dengan niat akan segera kembali lagi. Mereka tidak akan pernah bosan untuk sering-sering main ke sana. 

……….

Benar saja, hanya dua hari kemudian, Riko, Romi dan Jaka kembali datang main ke rumah Rasti. Katanya sih mau bikin PR bareng Tedi, tapi Rasti yakin kalau tujuan utama mereka datang ke sini untuk ngacengin dia saja. Bikin PR sih nomor dua. 

Tentu saja, siapa sih yang tidak mau menghabiskan waktu berlama-lama di rumahnya Rasti? Udah mama temannya itu sangat ramah, baik, cantik dan seksi pula. Tiap main ke sana perut mereka pasti selalu kekenyangan disuguhi makanan oleh Rasti. Mata mereka juga selalu dimanjakan oleh penampilan Rasti yang selalu berpakaian minim, bahkan kadang bertelanjang bulat.

“Udah selesai belum bikin Pe-Er nya? Udah malam lho… masak dari sore sampai malam gini belum selesai-selesai juga sih?” tanya Rasti sambil menyusui si bungsu.

“Eh, i..iya… bentar lagi selesai kok tante… iya kan Ted?”
“Iya Ma… ini bentar lagi selesai” jawab Tedi.

“Oohh… ya sudah. Bikin yang bener… jangan asik bergurau terus” 

“I..iya tante…” jawab mereka serempak. Mereka memang sengaja berlama-lama, rugi kalau cepat-cepat selesai dan pulang dari sini.

“Tok tok tok” tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu depan. Awalnya Rasti mengira kalau itu Norman, tapi setelah pintu dibuka ternyata tidak. Ada pak RT dan empat orang lainnya di depan pintu. Salah satunya dia kenali sebagai pak Rahmat, anggota dewan suami dari ibu-ibu tetangga yang dibikin kesal oleh Rasti beberapa hari yang lalu.

Rasti tidak tahu kalau aksi bugi di jalannya berbuntut panjang. Ibu tetangga itu tidak terima dan memprovokasi suaminya untuk bertindak. Tentu dengan ancaman akan membeberkan ulah suaminya ke media supaya suaminya itu menurut. 

“Malam non Rasti…” sapa pak RT.

“Malam pak, ada apa ya?” balas Rasti. Dia menemui mereka dengan pakaian yang minim seperti biasa. Membuat mereka mupeng dan tidak jadi to the point menyampaikan maksud kedatangan mereka ke mari.

“Eh… anu.. itu…” gagap pak RT tidak tahu bagaimana mengatakannya. Si anggota dewan malah langsung nyosor menciumi Rasti. Yang lain jadi saling berpandang-pandangan. Mencoba mengingatkan pak Rahmat sambil mencolek-colek.

“Pak… Gimana dengan tujuan kita?” bisik mereka.
“Haduh… habis ini saja, kita garap dulu ni lonte… mubazir amat, daging segar di depan mata,” bisik pak Rahmat.

“Tapi pak…”
“Daaaah… nurut aja lo semua, muna banget lo? Ga ngaceng apa? kalau kita to the point bisa jadi gak ada kesempatan lagi make ni lonte!” Akhirnya mereka nurut saja. Memang di antara mereka pak Rahmat lah yang paling berkuasa. Sehingga mereka segan bila tidak mematuhi keinginannya.

“Ada apa sih Pak bisik-bisik? Ada yang salah ya?” tanya Rasti heran.

“Hehe, gak ada kok sayang… boleh kita masuk?” pinta pak Rahmat.

“Boleh… silahkan bapak-bapak…” ujar Rasti. Baru saja mereka masuk, mereka langsung nyosor beramai-ramai menciumi Rasti di depan teman-teman Tedi dan anak-anaknya. Mereka lalu bergegas menyeret Rasti ke dalam kamarnya lalu menutup pintu. 

Rasti tidak dapat berbuat banyak karena langsung dikeroyok para pejabat bejat ini. Dientotin tiba-tiba seenaknya tanpa ngomong terlebih dahulu, padahal tadi si kecil Bobi belum selesai menyusu, terpaksa anaknya itu ditinggalkan begitu saja di atas sofa. Meskipun begitu, Rasti tetap melayani mereka sepenuh hati. Rasti digilir oleh mereka berlima. Namun tidak sampai satu jam kelima pejabat itu sudah K.O. semua. Satu orang paling lama hanya bertahan 10 menit. Pak Rahmat malah cuma 3 menit, udah badannya paling gede, paling bernafsu, tapi burungnya paling kecil dan yang paling cepat ngecrot pula, gumam Rasti dalam hati ingin tertawa.

Merekapun kembali ke ruang tamu setelah selesai mengosongkan isi kantong zakar mereka. Saat disuguhi air putih dingin oleh Rasti, barulah dengan kurang ajarnya mereka mengutarakan maksud, bahwa para ibu-ibu komplek tidak nyaman dengan adanya Rasti. Mereka meminta Rasti pindah dari situ.

“Lho? Kok gitu sh pak…!??” Rasti jelas tidak terima, dia membela diri. Dia yakin tidak melanggar hukum. Itu rumah miliknya secara sah. Rasti juga warga sah di daerah itu.

“Bukannya pak RT yang membuatkan saya semua surat-surat penduduk yang diperlukan, serta menjamin keberadaan saya aman di sini?” kata Rasti mengingatkan pak RT.

Pak RT diam saja tidak berani memandang wajah Rasti, begitupun yang lainnya. Semua kena damprat Rasti karena semua yang ada di sana pernah Rasti layani dengan cuma-cuma. 

“Benar kan pak? Jadi salahnya dimana?”

“Ya.. ya… itu non… Ibu-ibu banyak yang protes,” ungkap pak RT. 

“Memangnya ibu-ibu mana sih pak yang melapor?” tanya Rasti lagi. Rasti yakin ibu-ibu yang dimaksud tidak mewakili semua. Karena komplek ini memang komplek yang cukup mewah yang hampir semua penduduknya hedonis dan tidak peduli satu sama lain. Tedi dan teman-temannya yang dari tadi diam-diam menguping ikut merasa tegang dengan suasana pelik ini. 

Rasti bersikukuh bahwa dia tidak melanggar apapun. Dia tidak mau tahu. Semua orang itu akhirnya tidak bisa membantah Rasti dan bingung harus berbuat apa. Karena mereka dulu berjanji akan melindungi Rasti setelah dibayar dengan tubuhnya. Akhirnya merekapun hanya bisa mengalah dan pasrah, mereka berjanji akan tetap menjamin keberadaan Rasti untuk seterusnya di sini. 

“Ya sudah non… maaf mengganggu. Kami yang salah…” ujar mereka hanya bisa meminta maaf pada akhirnya. Mereka lalu berpamitan.

“Bentar pak… biaya servisnya??” tahan Rasti menagih biaya servisnya saat mereka hendak pulang. Rasti memang beberapa kali menggratiskan servisnya untuk mereka, tapi tidak untuk selamanya. Rasti juga punya gengsi, apalagi setelah kejadian barusan. Makin malulah mereka yang ternyata kebingungan karena tidak menyiapkan uang. Mereka saling menyalahkan karena memang tidak berencana memakai Rasti. Itupun setelahnya mereka beranggapan bakal dapat gratisan lagi karena mengira Rasti butuh pertolongan mereka untuk tetap bisa tinggal di komplek itu. Namun asumsi mereka keliru, dan betapa malunya ketika uang yang mereka bawa tidak cukup.

“A..anu… bo..boleh ngutang kan Rasti, hehe…” mohon pak Rahmat dan yang lainnya. 

“Huh, ya sudah, boleh deh… Pejabat kok ngutang sih? Giliran setor peju tunai…” ujar Rasti dengan nada mengejek, yang membuat mereka semakin malu dan garuk-garuk kepala. Akhirnya merekapun pulang dengan malu.

Rasti memang merasa lega karena merasa menang, tapi tetap saja itu mengganggu pikirannya. Setelah Rasti menutup pintu dan terduduk di sofa, Tedi sebagai anak laki-laki tertua menghampiri Rasti. Tedi mencoba mendiskusikan apa yang baru saja terjadi dan beberapa kemungkinan buruk lainnya. Teman-teman Tedi ikutan nimbrung, tapi cuma jadi pendengar setia.

“Gak apa kok sayang… udah… kamu gak usah khawatir…” ujar Rasti menenangkan Tedi. Meyakinkan putra sulungnya itu bahwa semua akan baik-baik saja.

“Mama malam ini jangan terima tamu dulu deh…” Saran Tedi. Rasti mengangguk. 

“Iya… ini mama cancel 2 tamu yang rencananya mau datang malam ini… Udah gih sana lanjutin bikin PR kalian”

***

Hari semakin malam, anak-anak Rasti selain Tedi sudah mulai tidur. Norman sendiri tampaknya tidak akan pulang malam ini. 

Gara-gara kejadian tadi, teman-teman Tedi mulai menanyakan beberapa hal lagi pada Rasti. Terutama mereka penasaran bagaimana awalnya Rasti bisa tinggal di komplek ini dan memperoleh surat-surat penduduk yang sah.

“Aduh… kalian ini minta didongengin lagi ya? Udah selesai belom PR-nya?” tanya Rasti.
“Udah kok tante…”

“Terus apa gak mau pulang? Ntar kemalaman lho… atau mau nginap lagi di sini?” tanya Rasti lagi.

“Gak boleh ya tante?”
“Tante sih gak papa, tapi gimana orangtua kalian?”

“Gak apa kok tante, udah biasa kalau aku” jawab Jaka.
“Kalau aku tadi udah bilang mau nginap di rumah teman tante” kata Riko.
“Aku juga…” ikut Romi.

“Hahaha… iya deh iya… Dasar, kalian emang udah niat pengen nginap di sini lagi ternyata” kata Rasti sambil tertawa renyah. “Sana, ganti dulu bajunya, masa dari tadi pake seragam sekolah terus, ntar kotor... Besok kalian sekolah kan? Ted, pinjamin mereka baju kamu ya sayang” suruh Rasti pada anak sulungnya.

“Iya ma…”

“Terus habis itu kalian tidur ya… kalau kemalaman ntar malah ngantuk besok pagi,” suruh Rasti kemudian.

“Yaahhh… ceritain dulu dong tante yang tadi…” pinta Romi.
“Cerita apaan sih?”

“Itu… gimana awalnya tante bisa tinggal di sini, ngurusin surat-surat, awal ngelonte di sini, hehehe” terang Romi mengingatkan.

“Ampun deh kalian ini, kalian ini mau tahu aja? atau mau tahu banget sih?”
“Ya penasaran aja tante… Pokoknya kami gak mau tidur sebelum tante cerita,” pinta mereka ngotot.

“Hah? Dasar… kok ngotot gitu sih? Ya sudah tante cerita, tapi habis itu kalian harus segera tidur ya? Besok kalian sekolah” kata Rasti akhirnya setuju. 

“Ceritanya di kamar kami aja tante… sambil pengantar tidur” pinta Jaka.

“Nah lho… kok di kamar sih? Hayo mau ngapain? Pasti pengen cari-cari kesempatan, ya kan?” tebak Rasti sambil senyum-senyum manis menggoda para remaja itu. 

“Ng..nggak ngapa-ngapain kok tante, cuma pengen dengar cerita tante aja kok…” jawab mereka tergagap. Mereka jadi salah tingkah. Memang benar tebakan Rasti, selain penasaran dengan cerita ibu teman mereka ini, mereka juga ingin coba-coba cari kesempatan, siapa tahu dapat.

“Iya deh iya… Yuk deh, tapi ganti baju dulu sana, baru tante bakal kasih dongeng sebelum tidur buat kalian,” ucap Rasti sambil tersenyum. Senyum yang amat sangat manis. Senyum yang juga membuat penis mereka tegang bukan main di balik celana. 

Mereka yang tidak sabaran langsung masuk ke kamar Tedi, berganti baju lalu menunggu Rasti. Namun Tedi sendiri tidak tidur di sana, dia memilih tidur di kamar lain bersama adek-adeknya. Tidak nyaman juga rasanya mendengar ibunya bercerita.

Saat Rasti masuk, mama temannya ini langsung merangkak ke tengah tempat tidur, lalu duduk bersandar. Dia senyum-senyum manis lagi pada mereka bertiga, tentu saja membuat mereka jadi tambah mupeng. Ooh… inikah sensasi saat ada wanita cantik menunggu di ranjang? gumam mereka dalam hati.

“Sini… katanya mau bobok…??” panggil Rasti sambil menepuk-nepuk ranjang sebagai isyarat agar mereka bertiga segera ikutan naik. Tentu saja mereka langsung nurut. Ibu muda cantik itu kini dikelilingi oleh ketiga teman anaknya. Rasti sendiri cuma memakai sehelai piyama tanpa ada apa-apa lagi di baliknya.

Teman-teman Tedi begitu senang, jantung mereka berdetak cepat, penis mereka ngaceng pol. Kapan lagi kan bisa tiduran seranjang dengan Rasti, ibu teman mereka yang super cantik dan hot ini. Tapi tentunya mereka tidak berpikir untuk berbuat macam-macam dulu saat ini, bisa-bisa mereka malah kena usir.

“Jadi gimana ceritanya tante?” tanya Jaka mulai mengambil posisi tidur, begitupun dua temannya. Rasti lalu mulai bercerita layaknya cerita pengantar tidur.

Waktu itu dia membeli rumah di situ karena memang berharap penduduk sekitar yang hedonis dan cuek tidak akan mempermasalahkan keberadaannya. Saat dia mulai menempati rumah itu, ia tidak langsung mengurus surat-surat, tapi sudah mulai melonte.

“Sama siapa tante pertama? Pak RT?” tanya Jaka menyela.
“Bukaaan… tante gak ingat siapa orangnya, tante cuma ingat kalau waktu itu dia muncratnya di dalam, hehe…” jawab Rasti nakal sambil memeletkan lidah. Duh, baru mendengar itu saja mereka sudah mupeng. 
“Tante baru ngurus KTP sama pak RT setelah 3 minggu di sini…” sambungnya lagi.

“Ooh… dia langsung ngentotin tante di depan anak-anak tante nggak?” kata Jaka lagi-lagi menyela.

“Ya nggak langsung gitu juga kali…. Ih, kamu ini. Kan tante yang datang ke tempatnya pak RT, bukan dia yang datang ke rumah tante”
“Ohhh… gitu”

Rastipun melanjutkan ceritanya lagi. Waktu itu dia ditanyai pak RT tentang keluarganya, pekerjaan, jumlah anak, dan yang lainnya.

…..

“Mmm maaf… non Rasti pekerjaannya apa ya…?” Tanya pak RT ketika itu ragu-ragu. 
“Wiraswasta pak…” 

“Ooh… mmm wiraswastanya apa ya…?” 
“Kenapa memangnya pak?” 

“Ng… nggak… soalnya bapak lihat… mm… Oh ya, suami non yang mana ya?” 
“Yang mana?” Rasti mulai kegelian dengan tingkah pak RT yang malu-malu. Dia bisa menebak arah pertanyaan pak RT. 

“Ya, yang mana? Soalnya saya lihat banyak laki-laki yang…” 
“Mmm, iya, semua bukan suami saya pak, saya ga punya suami” 

“Oooh… mm.. jadi…” 
“Saya lonte pak…” jawab Rasti santai. Pak RT langsung memerah mukanya mendengar jawaban Rasti yang terus terang. Rasti tertawa kecil melihatnya. Pak RT makin memerah, dia menengok kanan kiri memastikan ruangannya benar-benar sepi.

“Ja..jadi… untuk pekerjaannyaa…?” tanya pak RT setelah menengok kanan kiri memastikan ruangan benar-benar sepi.

“Ya, tulis saja di situ ‘lonte’ kalau memang bisa…?” Jawab Rasti geli menekankan kata lonte. Yang dimaksud adalah kolom pekerjaan di KTP. 

“Aduuh… jangan bu, eh, non… mm saya tulis wiraswasta aja yah…?” 

“Lha iya kan dari tadi saya sudah bilang itu pak...” Jawab rasti cekikikan geli. Pak RT hanya nyengir sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia benar-benar terlihat bingung dan salah tingkah bagaimana harus bereaksi. Akhirnya dia memilih untuk menganggapnya biasa saja. Setelah semua urusan selesai, Rastipun berpamitan ingin pulang.

“A..anu non… tadi serius?” tanyanya malu-malu.

“Apanya pak?”
“I..itu… soal lonte…”
“Ya serius dong pak, masa saya bercanda soal begituan…”
“Oh… ya..ya sudah… mmm…. Baik”

“Mari pak…”
“Ma..mari… eeh, anu non… sebentar”

“Ada apa lagi pak?”
“Mmm… a..anu.. be..berapa yah non?” tanya pak RT. Rasti tertawa lepas yang membuat pak RT makin merah padam mukanya.

“Kalau bapak mau silahkan datang aja malam ini… Bisa? Soal tarif nanti saja lah, masa diobrolin di sini, hihihi… Jangan khawatir pak… saya lagi promo kok… nanti diskon super spesial deh buat bapak…” jawab Rasti.

…..

“Nah… akhirnya malamnya tante dientotin pak RT deh,” ujar Rasti pada teman-teman Tedi. 

“Di depan anak-anak tante?” tanya Jaka lagi.

“Iya… seperti yang kamu bilang, tante dientotin di depan anak-anak tante, hihihi.. puas? Kok kayaknya kamu suka banget sih kalau dengar tante dientotin di depan anak-anak tante? Ngebayangin ya? Dasar!” tanya Rasti geli ke Jaka.

“Eh, ng..nggak kok tante… terus tante?”

“Ya… malam itu tante melayani pak RT dengan gratis, tentu dengan deal-deal tertentu. Terutama soal jaminan keamanan dan keberadaan tante di sini. Tapi karena tante masih butuh ngurus surat-surat lainnya, jadi tidak hanya dengan pak RT saja”

“Orang-orang yang tadi ya tante?” tanya Romi.

“Benar… Orang kelurahan, anggota dewan, dan orang-orang terkait lainnya. Semuanya harus tante layani sampai posisi tante di komplek ini benar-benar terjamin. Iya Jaka…. Mereka juga ngentotin tante di depan anak-anak tante kok… rame-rame pula, tuh silahkan kamu bayangin…” ujar Rasti cekikikan berkata lebih dulu sebelum Jaka bertanya. Membuat Jaka jadi cengengesan garuk-garuk kepala dibuatnya.

“Makanya tadi tante tidak terima waktu mereka tiba-tiba datang nyuruh tante pergi dari sini. Kalian setuju kan sama tante?” lanjut Rasti bertanya pada teman-teman Tedi.

“Iya tante… udah dikasih gratis padahal” ucap Riko mengiyakan.
“Duh… tapi enak banget yah bisa ngentotin tante gratis, hehe…” kata Jaka.

“Hayo… horni ya?” tanya Rasti menggoda. Selama bercerita tadi tangan mereka memang sudah masuk ke dalam balik celana. Mungkin bukan hanya karena cerita Rasti saja, tapi juga karena keberadaan Rasti yang bersama-sama dengan mereka di atas tempat tidur. Sebelumnya mana pernah mereka dekat-dekat dengan wanita cantik, di atas tempat tidur pula. Suara Rasti, ekspresi dan gaya berceritanya, serta aroma tubuhnya yang wangi, semuanya itu membuat mereka sangat konak. Peju mereka sudah terkumpul dan butuh segera untuk dikeluarkan.

“I..iya tante… horni, hehe…”

“Horni horni…. Kalian kan yang nagih cerita porno? Mulai mesum lagi tuh kan kaliannya? Tante ini mama teman kalian juga tau, masak horni sih? gak sopan namanya…” ujar Rasti cekikikan, mereka juga cengengesan.

“Tante, kenapa sih tante jadi lonte?” tanya Romi dengan lugu, membuat Rasti tertawa lagi mendengar pertanyaan itu.

“Kamu ini… ya karna tante suka banget dientot dong…” jawab Rasti binal. “Udah ah… tidur sana… Tante banyak pikiran nih…”

“Yaah tante, jam 11 malam kok baru…”

“Jam 11 malam kok baru, kalian besok sekolah tau! Awas lho kalo kalian jadi pengaruh buruk buat Tedi anak tante… Ga bakal tante bolehin main ke sini lagi!” ancam Rasti serius tapi tetap dengan senyum manisnya. 

“Hooaammm…” Rasti menguap. “Tuh, kan… malah tante yang ngantuk… kalian sih…” kata Rasti yang sudah kewalahan menyuruh mereka tidur.

"Hehehe, tante tidur sini aja sama kita-kita... kita kelonin deh..." ajak Riko untung-untungan.

"Huuh… dasar kalian nakal banget sih? Enak aja... ayo tidur ah sana, udahan ya..."
"Yaah janjinya kan cerita sampai kita tidur tante..." kata Jaka menahan.
"Iyaa, tapi kaliannya ngelunjak gak tidur-tidur..." cubit Rasti gemas pada Jaka.
“Kalau gitu cerita lagi dong tante, hehe”

“Cerita apa lagi sih?”

“Itu… Kenapa tante jadi lonte…?”

“Udah ya sayang… tante udah ngantuk… bersambung besok aja ceritanya…. Dasar kalian bandel, jelek!” sungut Rasti mulai kesal yang akhirnya membuat mereka diam. Namun Rasti tidak langsung beranjak dari situ. Dia memutuskan untuk tidur-tiduran sebentar. Sifat binalnyapun kembali datang. Dia menginginkan aksi nakal. Dia penasaran juga bagaimana rasanya tidur dikelilingi para remaja tanggung ini. Apa dirinya akan dicabuli beramai-ramai yah? pikirnya nakal. 

Akhirnya Rasti pura-pura ketiduran di situ. Dia coba memejamkan matanya yang memang juga sudah ngantuk. Walau demikian, dia tidak ingin benar-benar tidur. 

Mengira Rasti sudah ketiduran, mereka bertiga jadi berbisik-bisik.
“Wah bro, tante Rasti ketiduran, gimana nih?” tanya Jaka.
“Ya gimana emang? Emang lo berani macam-macam?” jawab Romi.
“Bener tuh… ntar kalau dia kebangun, marah, terus kita diusir dan gak boleh main ke sini lagi gimana coba? Gue gak mau,” sambung Riko.

Mereka betul-betul galau. Penasaran dengan tubuh wanita didekatnya tapi juga tidak berani untuk berbuat macam-macam meskipun sedari tadi batang mereka sudah sangat tersiksa butuh pelampiasan. Sedangkan Rasti yang masih terjaga berusaha menahan tawa mendengar bisik-bisik mereka. Dia menanti dengan deg-degan dengan apa yang akan dilakukan teman-teman Tedi padanya.

“Ahh… gak tahan gue..!” kata Jaka sambil menurunkan celana berserta celana kolornya.
“Gila lu! Mau ngapain lu?” seru kedua temannya kaget.

“Cuma pengen ngocok doang…” 
“Gila, tetap aja kan? Lu mau kena usir? Tapi gue juga udah gak taha sih…”

Begitulah, mereka terus saling berdebat apa yang mesti dilakukan. Mereka takut, tapi siksaan birahi pada penis mereka sangat kuat. Hingga akhirnya setan mesumlah yang menang. Mereka semua akhirnya nekat menurunkan celana berserta kolornya, lalu ngocok bareng-bareng di sana, di dekat ibu teman mereka yang mereka pikir tengah tidur. 

Meskipun perbuatan mereka sangat kurang ajar, Rasti sendiri tidak marah. Dia paham kenapa mereka sampai berbuat begitu. Lagian salahnya juga sampai mereka berbuat cabul seperti itu padanya. “Duh… kalian ini, horninya sampai segitunya amat,” gumam Rasti dalam hati. “Apa ku bantu ngocokin mereka saja ya?” Pikirnya semakin nakal. Tapi dia putuskan untuk terus menunggu apa yang akan mereka perbuat selanjutnya.

“Aaahh… tante…” Mereka semakin bernafsu mengocok penis mereka masing-masing sambil sesekali menyebut-nyebut tante Rasti. Mata mereka menatapi tubuh Rasti yang terbaring di depan mereka. Wajahnya, tonjolan payudaranya, pinggulnya, juga kaki Rasti mereka telanjangi dengan mata-mata nakal mereka. Setiap inci bagian tubuh Rasti sungguh membuat mereka bernafsu walaupun masih mengenakan piyama.

Sampai saat ini mereka masih tidak berbuat lebih jauh dari itu, namun malah itulah yang membuat Rasti sedikit kecewa. Dia ingin mereka sedikit menaikkan level perbuatan cabul mereka terhadapnya, tapi tak kunjung jua dia dapatkan. Tampaknya mereka masih terlalu sopan untuk tidak menggerepe-gerepe badan ibu teman mereka sendiri secara diam-diam, bahkan berkata-kata kotorpun tidak. “Apa aku harus pura-pura bangun saja? Lalu membantu mereka onani?” pikir Rasti. Sekarang malah Rastilah yang galau karena menginginkan aksi mesum. 

Rasti lalu menggeliat sambil menguap pura-pura terbangun. Terang saja teman-teman Tedi kaget bukan main. Mereka tertangkap basah, mereka tidak sempat menaikkan celana mereka. Yang sempat menaikkan celanapun sudah keduluan kelihatan oleh Rasti apa yang dia tadi lakukan. 

“Kalian ngapain??” tanya Rasti pura-pura terkejut.

“A…anu tante, ki..kita…” mereka tergagap tidak tahu harus berkata apa. Penis mereka jadi layu. Mereka takut Rasti memarahi dan mengusir mereka. Tapi tentu saja Rasti tidak akan melakukannya, dia malah menahan tawa karena melihat wajah pucat dan ekspresi mereka yang salah tingkah.

“Kalian coli ya? Ya ampun… segitunya banget sih? Makanya… siapa suruh dengar dongeng sebelum tidur, hihihi” kata Rasti kemudian mencairkan suasana.

“Ta..tante nggak marah?”
“Yaah… kesal juga sih, masa kalian tega cabuli ibu teman sendiri, kalau ketahuan sama Tedi gimana coba?” jawab Rasti, padahal dia memang berharap sebuah aksi cabul dari mereka.

“Ma..maaf tante…”
“Iya tante… kita minta maaf”

“Ya udah… gak apa, tante paham kok… Kalian pasti sudah menahan horni dari tadi, jadi kali ini tante bolehin deh kalau kalian emang masih pengen lanjut”

Bagai disambar geledek, mereka tidak menyangka tante Rasti akan berkata demikian. Mereka mengira tadinya akan dimarahi habis-habisan oleh tante Rasti. Namun apa yang mereka dengar barusan sungguh membuat penis mereka ngaceng kembali dengan maksimal.

“Kok bengong? Udah gak nafsu lagi? Ya udah tante balik ke kamar tante…” kata Rasti pura-pura akan pergi.

“Jangan…!” larang mereka serempak.

“Hihihi… Ya udah buruan, tante beneran udah ngantuk tau”

“I..iya tante…”

Ahhh… mimpi apa mereka semalam, akhirnya dibolehin beronani-ria di depan mama teman mereka yang super cantik dan seksi ini. Segera mereka bertiga ngelanjutin lagi acara mengocok yang sempat terhenti, tentunya dengan lebih bernafsu. Sensasinya sungguh berbeda dari yang tadi sewaktu tante Rasti tertidur. Kali ini Rasti sadar dan menatap mereka langsung! Pandangan mata tante Rasti menemani setiap ayunan tangan mereka pada penis mereka sendiri. Sungguh nikmat luar biasa!

Rasti sendiri juga merasakan sensasi yang luar biasa. Menyediakan dirinya sebagai objek onani teman-teman anaknya sendiri, melihat bagaimana para remaja ini berusaha meraih kenikmatan dengan mengocok penis mereka sambil menatap lekat-lekat dirinya.

“Ntar kalau udah mau keluar, buruan lari ke kamar mandi ya…” suruh Rasti ditengah-tengah keasikan mereka.

“I..iya tante… Gak boleh muncrat di sini ya? Ntar belepotan ya?” tanya mereka balik.

“Iya, masa muncrat di sini sih? Belepotan dong kasur Tedi kena sperma-sperma kalian. Tante ntar yang susah ngebersihinnya…”

“Kalau gitu muncrat ke badan tante aja…” kata Jaka kurang ajar, namun Rasti bukannya marah, malah tertawa geli menanggapinya.

“Hihihi, apaan sih porno banget… Kebanyakan nonton bokep nih kamunya… dasar! Udah cepetan…” suruh Rasti lagi. Mereka bertiga tertawa, memang mereka berharap bisa melakukan persis yang ada di film-film bokep pada ibu temannya ini.

“Hehe… Anu, tante… kalau boleh itu…”
“Itu apa sih?”

“I…tu… boleh pegang-pegang gak tante?”
“Tuh kan, kalian malah ngelunjak… nggak boleh ya…” tolak Rasti halus. Rasti sebenarnya tidak keberatan dengan permintaan mereka, tapi dia rasa cukup seperti ini dulu untuk saat ini. Biarlah mereka tetap penasaran, mungkin nanti ada waktu yang lebih pas untuk mewujudkan permintaan mereka itu.

“Ka..kalau gitu, boleh nggak kita lihat tante telanjang lagi?” pinta Romi.
“Hah? Lihat tante telanjang? Mau ngapain? jangan aneh-aneh deh… tante udah ngantuk”

“Nah, karena itu tante… kalau tante telanjang kan kita makin nafsu, jadi bisa lebih cepat keluarnya… habis itu tidur deh,” jawab Romi.

“Kamu ini, pandai banget cari-cari alasan. Tapi ya udah deh… kali ini aja tante turutin…” setuju Rasti akhirnya yang membuat mereka girang bukan main.

Rasti mulai melepaskan kancing piyamanya satu persatu. Semua itu bagaikan slow motion bagi mereka. Sungguh membuat mereka tergoda dan semakin horni. Apalagi Rasti melakukannya sambil sesekali berhenti lalu senyum-senyum manis menatap mereka. “Buka lagi?” tanyanya setiap akan membuka satu kancing. Siapa yang gak greget coba? Enak banget Tedi punya mama seperti ini, bisa dijadikan objek onani tiap coli, pikir mereka.

Kini seluruh kancing sudah terlepas, namun baju piyama itu masih menggantung di bahunya, hanya mengekspos kedua buah dada Rasti yang putih mulus, urat-urat hijau sampai terlihat karena saking beningnya buah dada itu. Rasti sengaja tidak langsung melepaskan bajunya untuk menggoda mereka.

“Lepasin yang benar dong tante…” pinta mereka akhirnya.

“Iya iya… dasar kalian ini banyak maunya” kata Rasti akhirnya melepaskan baju itu dari bahunya. Akhirnya dia kini sudah benar-benar topless di hadapan mereka. 

“Udah kan? Puas? Tapi cuma bajunya saja ya… cukup kan untuk bahan coli kalian?” ujarnya geli. Seluruh bagian atas tubuh Rasti kini terpampang dengan bebas. Semata-mata hanya untuk memanjakan mata-mata nakal para remaja ini. Aaah… pemandangan yang sangat indah, batin teman-teman Tedi.

“Buruan…” seru Rasti menyadarkan mereka yang terbengong, “padahal udah berkali-kali ngelihat juga” lanjutnya.

“Eh, i..iya tante…” walaupun sudah berkali-kali, tapi tetap saja ini pemandangan yang tidak akan pernah bikin bosan.

Merekapun lanjut mengocok lagi. Kali ini dengan nafsu yang semakin menggebu-gebu. Jaka yang merasa kurang nyaman dengan posisinya sebelumnya, kini berdiri tepat di depan Rasti yang sedang bersimpuh. Hanya berjarak sekitar tiga puluh senti dari dirinya. Posisinya seperti akan melakukan bukkake saja, sungguh mesum. Gilanya, Riko dan Romi malah mengikuti Jaka. Namun Rasti tidak mempermasalahkannya. Jadilah dia kini bersimpuh dikelilingi para remaja tanggung yang sedang mengocok bareng-bareng. 

“Ingat ya… kalau mau keluar, cepetan ke kamar mandi. Tante gak mau kalian muncrat sembarangan” kata Rasti mengingatkan. Mereka hanya mengangguk. Tidak ingin berkata-kata banyak karena nafsu mereka yang sudah diubun-ubun.

Hingga akhirnya Riko turun dari ranjang dan berlari keluar kamar menuju kamar mandi. 
“Ah… aku juga gak kuat” kata Romi ikutan beranjak. Sekarang hanya tinggal Jaka, si nafsunya paling gede dan yang paling ngotot.

“Kamu belum Jaka?” tanya Rasti pada Jaka.
“Be..bentar lagi kok tante…” jawab Jaka sambil terus mengocok. Rasti hanya balas tersenyum. Jaka memang menunjukkan tanda-tanda akan ejakulasi, namun dia tidak kunjung juga ke kamar mandi, malah tubuhnya semakin dia dekatkan ke arah Rasti, penisnya kini hanya berjarak sekitar lima belas senti dari wajah Rasti. Ini anak mau ngapain sih? batin Rasti makin deg-degan. Namun dia berusaha tetap tersenyum pada Jaka. 

“Ahhh… tante…” erang Jaka makin mempercepat kocokannya. Dada Rasti makin berdebar kencang, dia yakin kalau Jaka berniat menumpahkan spermanya ke tubuhnya, tepatnya ke wajahnya.

“Jaka, ingat, kalau mau keluar, keluarin di…”

“Crooooottt….” terlambat, belum selesai Rasti bicara, penis Jaka sudah menembakkan spermanya. Isi buah zakarnya muncrat bertubi-tubi menyemprot wajah cantik ibu temannya ini. 

“Jaka… kamu… ngghhh… jangan di muka…” erang Rasti berusaha mundur, tapi kini malah badannya yang terkena muncratan sperma Jaka, tepatnya buah dadanya, di tempat anak-anak Rasti biasa minum. Rasti tidak bisa berbuat banyak, dia pasrah saja tubuhnya akhirnya yang jadi sasaran tembak peju. Baru kali ini dia merasakan kulitnya diceceri peju muda selain milik Norman anaknya. Tedi saja belum pernah berbuat seperti ini padanya. Kalau Tedi tahu mungkin dia bakalan ngambek.

“Duh.. Jaka, kamu ini… udah tante bilang kan kalau mau keluar cepat ke kamar mandi” kata Rasti kemudian saat seluruh sperma Jaka yang tadi ada di kantong zakarnya, kini berpindah tanpa sisa ke tubuh ibu temannya. Wajah cantik Rasti, buah dadanya yang sekal, dan beberapa bagian tubuh lainnya berceceran sperma Jaka. bahkan ada yang mengalir turun menuju vaginanya.

“Maaf tante, khilaf…” ujar Jaka lemas. Jaka juga baru kali ini berejakulasi senikmat ini. 

“Udah sana… buruan ke kamar mandi. Nanti teman-temanmu malah cemburu kalau mereka tahu kamu ngepejuin tante. Ntar kalau mereka juga minta ngecrot di wajah tante kan repot juga, hihihi” suruh Rasti sambil mengelap wajah dan tubuhnya dengan tisu, lalu membasuh sebisanya dengan air yang ada di gelas di atas meja.

“I..iya tante…” Jakapun akhirnya turun dan menyusul teman-temannya ke kamar mandi, tapi dia ke sana hanya untuk mencuci barangnya saja. Untung saja teman-temannya tidak tahu karena ketika Jaka ke kamar mandi Riko dan Romi sudah selesai. 

…….

“Makasih tante… tante udah cantik, seksi, baik banget lagi… hehehe” goda mereka saat kembali ngumpul di dalam kamar. Rasti sudah mengenakan piyamanya kembali.

“Gombal! Iya… anggap aja itu tanda terima kasih tante karena udah banyak bantu-bantu di sini” jawab Rasti dengan senyum manisnya.

“Wah, kalau gitu kita mau dong bantu-bantu terus di sini, iya nggak bro?” ujar Jaka. Rasti melolot pada bocah itu. Padahal dia baru saja mendapat lebih dibandingkan teman-temannya, dasar.

“Huuu… maunya! Udah sana tidur. Tante juga mau tidur” kata Rasti.

“Tidur di sini aja deh tante…” pinta Jaka. Rasti menatap mereka, apa lagi sih yang mereka mau? belum puas apa? Baru coli juga. Tapi Rasti pikir tidak ada salahnya kalau cuma tidur bareng, setidaknya menemani mereka sampai tertidur saja. Kan nanti tengah malam dia bisa bangun dan pindah ke kamarnya sendiri, pikir Rasti.

“Hmm… iya deh iya… yuk tidur” ajak Rasti dengan senyum manis meluluhkan.
“Yeeee….” Sorak mereka kesenangan. 
“Hush…! Jangan berisik, ntar anak-anak tante kebangun!”
“I..iya, maaf tante…” jawab teman-teman Tedi senyum-senyum penuh harap.

“Aaaahhh… ini baru akan dimulai” batin mereka bertiga.

“Dasar abg, gak ada puasnya…” batin Rasti.

Riko, Romi dan Jaka niatnya ingin mengulangi lagi berbuat mesum pada Rasti, tapi ternyata mereka sudah terlalu ngantuk karena kelelahan akibat onani barusan. Akhirnya merekapun tertidur.

“Huh, pas tidur aja tampang mereka polos-polos semua. Kalau sudah bangun mulai lagi pornonya, hihihi” gumam Rasti tersenyum melihat mereka. Dia lalu bangkit dari sana untuk pindah tidur di kamarnya.

“Selamat tidur…”
“Klik…” suara kontak lampu dimatikan.

….

“Jadi kenapa tante jadi lonte?” tanya teman-teman Tedi di suatu hari kemudian ketika main lagi ke rumah Rasti. Lagi-lagi saat mereka berkunjung, Tedi sedang tidak ada di rumah. Saat itu cuma ada anak-anaknya Rasti yang masih kecil-kecil.

“Hihihi, kalian ini… masih ngingat-ngingat aja ya pertanyaannya. Kan sudah tante jawab, karena tante suka ngentot…” jawab Rasti.

“Masa gitu aja tante?”
“Hehehe, iya dong… duh kalian belum ngerasain sih ya enaknya ngentot. Duuuhh dijamin bakal ketagihan deh, seperti anak tante tuh si Norman…”

“Tante sih gak mau kasih…” kata Jaka.
“Yeee… maunya”

“Ta..tapi kan kalau suka aja kenapa harus jual diri?” tanya Romi penasaran.
“Maksud lo? Jadi tante harus ngasih gratisan ke semua laki-laki getoh??” ujar Rasti balik nanya dengan gaya anak abg.

“Ya nggak sih tante, maksudnya kan bisa pacaran aja gitu…”

“Hmm… Kalian gak pernah nonton film Batman ya? Tuh ada kata-katanya si Joker: ‘if you’re good at something, never do it for free.’ Jadi gak bisa kasih gratisan dong… tante kan ahli begituan, hihihi”

“Hah? Masak gituan aja pake keahlian?” tanya mereka polos, bingung dengan ucapan Rasti.

“Hahaha… kelihatan banget tuh kalian lugunya… awam sih kalian tentang seks. Hati-hati lho kalau kalau lugu begini bisa-bisa istri kalian besok kabur sama laki-laki lain lho… hihihi…” tawa Rasti menakuti mereka. “Ya jelas lah seks itu butuh keahlian, butuh teknik, skill, dan tante pinter banget di situ. Tante gak pinter yang lain-lainnya sepinter tante ngentot. Dulu di sekolah nilai tante jeblok terus. Hampir nggak ada pelajaran yang tante kuasai, yang tante pikirin cuma gituan aja sama pacar tante dulu…” terang Rasti kemudian.

“Waah, jadi tante dulu sempat sekolah dan pacaran juga?”

“Ya iya lah… cantik cantik gini tante juga sekolah dong…”

“Bukannya tante dulu waktu SMP udah drop out gara-gara hamil?”

“Iya sih…”

“Terus?” Mereka sungguh penasaran.

“Hmm… Kalian pengen tante berdongeng lagi nih ceritanya?” tanya Rasti.

“Iya tante… sambil bobok siang aja tante, hehe” pinta mereka mesum berharap dapat mengulangi kejadian waktu itu, bahkan berharap mendapatkan lebih.

“Huh! Maunya, nggak ah, enak aja.. Di sini saja deh… Duduk manis kaliannya kalau pengen dengar,” kata Rasti.

Mereka yang memang penasaran dengan cerita-cerita ibu teman mereka ini akhirnya duduk berjejer rapi. Siap mendengarkan kisah hidup tante Rasti.

“Hmmm… mulai dari mana ya ceritanya… Oke, dari awal saja” Rasti mulai bercerita. Bagaimana semuanya bermula. Bagaimana hidupnya bisa menjadi seperti sekarang ini. Rasti mengambil nafas panjang.
“Jadi gini…..”


******

Namanya Rasti Cahya Putri. Nama yang sangat indah. Tapi mungkin jalan hidupnya tak seindah namanya. Kebanyakan orang hanya mengenal Rasti sekarang sebagai wanita murahan, lonte doyan ngentot yang demen bikin banyak anak. Mereka tidak tahu apapun yang sudah dialaminya. Bagaimana dia menjalani hidupnya dulu. Bagaimana titik balik kehidupannya sehingga menjadi seperti sekarang ini.

Rasti muda hanyalah seorang gadis desa. Gadis belia periang yang ramah dan baik pada semua orang. Dia lahir dan dibesarkan di desa tradisional yang masih mempertahankan aturan-aturan adat, di kaki gunung di wilayah Bogor. Di sanalah Rasti dibesarkan dan tumbuh menjadi seorang gadis cantik. 

Dengan wajah cantik yang dimilikinya, dia memang selalu membuat pria manapun melirik ke arahnya. Tidak hanya teman-teman sebayanya saja, namun para bujangan dan para pria beristripun banyak yang menggoda, atau sekedar menarik perhatiannya. Namanya juga wanita, Rasti tentu senang bila dirayu dan dipuji-puji lelaki. Dia yang waktu itu telah beranjak remaja juga sudah mempunyai ketertarikan pada lawan jenis. 

Dari saking banyak pria yang menggodanya, ternyata Surya, si sopir kepala desalah yang akhirnya mendapatkan Rasti. Dia bisa mendapatkan Rasti setelah gadis ini banyak diiming-imingi dan dirayu mati-matian. Rasti yang dibuat jatuh cinta pada pria itu akhirnya memberikan segalanya, termasuk keperawanannya. Sebuah awal yang ternyata sangat mempengaruhi jalan hidupnya. 

Ya… Rasti jadi ketagihan dengan yang namanya bersenggama. Merekapun berkali-kali berhubungan badan hingga akhirnya Rasti diketahui hamil, padahal usianya waktu itu masih 13 tahun! Malangnya Rasti, saat pria itu tahu Rasti hamil, dia malah kabur tak bertanggung jawab. Rasti kebingungan, dia tidak menyangka akan jadi seperti ini. Bagaimanapun dia sudah hamil, dan dia tidak berniat menggugurkan kandungannya, sama sekali tidak. Hingga akhirnya perutnya semakin membuncit, hal itupun diketahui orang tuanya dan menyebar ke seluruh desa.

********************
“Tante masih 13 tahun waktu itu? Seumuran kita-kita dong…?” Tanya Riko. Romi dan Jaka mengangguk-angguk.

“Lha iya kan, itung aja sendiri, Tedi tuh anak pertama Tante, umurnya sudah hampir 14 tahun… Menurut kalian umur Tante sekarang berapa?” Tanya rasti sambil memasang wajah imut.

“Ng… 18 tahun Tante!” Celetuk Romi.
Rasti tertawa geli mendengarnya. “Gombal ih!” ujarnya.
“Iya bener Tante masih kayak belasan lho… masih keliatan muda, kulitnya masih kencang, putih mulus…” timpal Romi.

“Ih, gombal pasti ada maunya… dasar.” Cibir Rasti sambil menjawil hidung Romi yang langsung blingsatan dibuatnya. “Tante ini sudah 27 tahun tahu…!” Akhirnya Rasti menjawab sendiri pertanyaannya.

“Dua puluh tujuh tahun juga ga ada yang nyangka lho Tante… Kalo pun tahu ga bakal ada yang nyangka Tante sudah punya anak lho… Jaman sekarang di kota banyak perawan tua. Cewek-cewek pada maunya sekolah tinggi-tinggi, udah gitu ngejar karir…” Jaka ikut nimbrung.

“Yee, perawan tua kan pikiran kamu… mungkin perempuan jaman sekarang banyak yang belum nikah umur segini, tapi apa itu berarti belum ngeseks juga? Masih perawan juga? He he he… Belum tentu… Ih jadi anak lugu amat sih…” Rasti menanggapi sambil terkekeh.

“Yaaa… Tapi kan ga sampai punya anak Tante, ga kayak Tante…” Jaka membela diri. “Anaknya udah 7 lagi… iih Tante nakal amat sih…!” Riko dan Romi menimpali.

“Cereweet ah kalian… Jaman sekarang aborsi tu marak tahu! Tante nggak mau… Lagian coba kalo Tedi Tante aborsi, pasti kalian juga ga bakal kenal Tante. Ga bakal bisa mesum-mesumin Tante…!”

“He he he… Iyaa Tante… Say no to aborsi ya pokoknya!”
“Iyesss… hidup hamil!”
Mereka tertawa.

“Tapi, omong-omong orang tua Tante gimana tuh pas tahu Tante hamil?”

Rasti menghela napas. Sejenak berhenti mengatur napasnya dan meneguk minuman di meja. “Jadi mau kembali ke laptop lagi nih ceritanya…?” Tanyanya. Teman-teman Tedi cuma mengangguk cepat tanpa menjawab. Rasti menghembuskan napas lagi dan melanjutkan…

*****************************

“Dasar lonte! Bikin malu keluarga!” hardik ayahnya. Rasti dimarahi dan dicerca habis-habisan oleh orang tuanya, bahkan sampai diusir-usir. Namun dia bisa terus bertahan sampai melahirkan anak pertamanya. 

Setelah melahirkan Tedi, karena tak kuat menahan malu dari cibiran tetangga dan kemarahan orangtuanya sendiri yang tidak kunjung mereda, Rastipun memilih kabur ke Jakarta membawa bayinya. Dia pergi tanpa bekal apapun dan tidak jelas pula arah tujuannya. Hingga akhirnya di sebuah pasar dia bertemu dengan seorang pria yang mulanya baik dan bersimpati ingin membantu Rasti. Pria tersebut tentu saja heran melihat seorang gadis semuda Rasti sedang menggendong-gendong bayi di tengah pasar.

Tapi sungguh tak disangka, pria itu ternyata malah membawanya ke kios kosong yang ada di bagian pasar yang sepi. Dan di sana sudah menunggu lima pria lainnya yang tidak lain merupakan preman-preman pasar.

“Kok ke sini sih Pak? Kios bapak di sini?” tanya Rasti muda dengan lugunya.

“Hehehe… makanya jadi cewek tu jangan goblok! Kena entot deh lu… hahahaha” ujar pria itu disambut tertawaan mesum pria-pria lainnya.

Rasti ditarik paksa masuk ke dalam. Rasti ditelanjangi, diciumi, dan diraba-raba oleh mereka bersama-sama. Rasti sangat takut, tapi dia tidak bisa berbuat banyak. Mereka mengancam akan melukai bayinya bila Rasti berteriak dan melawan. Rasti terpaksa harus menurut, dia tidak ingin anak yang dicintainya terluka. 

*************************************
“Tante kenapa gak teriak aja??” Ujar Riko tiba-tiba.

Rasti terhenyak sebentar. Ditatapnya wajah Riko yang tampak tegang. Rasti bisa melihat dari raut mukanya, Riko tampak geregetan dan tidak terima. Seakan-akan kalau kejadian itu terjadi di depan matanya, ia pasti akan menolongnya tanpa ragu.

“Itu kan di pasar, pasti banyak orang yang dengar kalau misalnya Tante teriak…”
Rasti tersenyum mendengarnya. Dielusnya rambut Riko. “Waktu itu Tante takut sekali. Mereka juga mengancam akan melukai Tedi…”

“Tapi kaan…”
“Coba deh kalian di posisi Tante… Gini ya, Tante waktu itu masih kalut banget. Stress berat. Tante dihakimi, Tante merasa perbuatan Tante benar-benar salah… hina… Pokoknya Tante waktu itu bener-bener pingin low profile, ga mau ketemu orang, malu… Kalau Tante teriak misalnya… Katakanlah mereka gak bener-bener melukai Tedi. Tapi pasti Tante bakal dirubung orang, jadi sorotan, jadi perhatian, jadi perbincangan. Semua orang bakal bertanya-tanya, dan Tante harus menjelaskan…Terlalu banyak tekanan untuk itu. Tante gak mau…” Jelas Rasti panjang lebar.

“Jadi Tante lebih milih diperkosa??”

“Nggak…!”

“Lalu…?”

“Tante memilih… menikmati…”

Suasana hening sejenak. Pikiran Riko, Romi dan Jaka berkelana. “Mmmemangnya bisa semudah itu Tante…?” Jaka penasaran. Rasti tersenyum. “Ya nggak dong… Tapi paling nggak Tante gak ingin disakiti. Tante realistis aja waktu itu. Tante sadar bakal diperkosa, Tante gak mungkin lari apalagi melawan. Kalau melawan Tante pasti disakiti, entah diapain. Jadi, Tante mencoba kooperatif aja… Nurut gitu deh…”

“Nurut gimana tuh…?”

**************************************

Rasti benar-benar dilecehkan di sana. Bahkan mereka dengan bejatnya menyuruh Rasti agar memohon untuk disetubuhi supaya dia hamil lagi. Rasti juga dipaksa harus selalu tersenyum kesenangan selama dientotin seakan-akan menikmati perkosaan itu.

“Ayo memohon… yang benar ngomongnya” suruh mereka. 

“i..iya… A..abang-abang sekalian… tolong entotin aku dong… aku pengen hamil lagi…” ujar Rasti dengan desahan menggoda, walaupun sebenarnya dia mengatakannya karena terpaksa. 

“Hahaha… gitu dong baru mantap, huahaha”

Mana tahan pria-pria itu mendengar gadis cantik seperti Rasti berkata demikian. Rastipun langsung digilir oleh mereka, tubuh mungilnya dientotin seenaknya bergantian oleh para preman pasar. Sungguh pemandangan yang ganjil, 1 gadis belia cantik melawan 6 preman pasar kasar! Awalnya Rasti memang hanya berakting pura-pura kenikmatan sesuai suruhan mereka, namun akhirnya dia justru betul-betul menikmati. Ini sudah terjadi, tidak ada gunanya berteriak dan menangis, pikirnya waktu itu.

Setelah puas menikmati Rasti, preman-preman itupun ingin meninggalkannya begitu saja di sana, termasuk pria yang membawanya tadi. Rasti yang bingung harus kemana, akhirnya menahan pria itu dan minta ikut dengannya. 

******************************

“Tante bingung waktu itu mau ditinggalin gitu aja di pasar.” Rasti menerawang. Riko, Romi dan Jaka manggut-manggut mencoba membayangkan dan memahami bagaimana posisi Rasti saat itu.

“Tapi kenapa harus ikut sama mereka Tante?”
“Bukan mereka, tapi dia… Bapak-bapak yang ketemu Tante pertama itu… Tante tadinya pingin ikut dia aja. Ga sama yang lain…”

“Tapi kan jelas-jelas dia jahat Tante…”

“Aah nggak juga kok, hi hi hi… Bapak itu ngentotnya enak kok… hi hi hi…” Rasti tertawa nakal. Teman-teman Tedi langsung mupeng dibuatnya. “Kalo yang lain emang lumayan kasar sih ngentotin Tante… Tapi enak juga kok… Karna Tantenya gak ngelawan ya mereka ga sampe nyakitin Tante…”

Haaa… gemes sekali teman-teman Tedi dengan kenakalan Rasti. Tapi benarkah Rasti benar-benar menikmatinya, atau cuma berpura-pura supaya tidak dikasihani? Entahlah.

************************

“Pak…. Saya ikut yah sama bapak…” pinta Rasti mengiba.

Sungguh gila, padahal jelas-jelas pria itu bersama teman-temannya baru saja memperkosanya. Tapi Rasti tidak punya pilihan lain, dia tidak tahu harus kemana, dia kelaparan. Rasti hanya bisa memohon untuk minta ikut walau dia tahu resikonya dia akan jadi tempat pelampiasan nafsu.

Namun pria itu ternyata menolak karena sudah berkeluarga, gilanya dia malah menawarkan Rasti pada teman-temannya.

“Ayo, siapa yang mau nampung gadis ini? Lumayan lah bisa kita pake-pake lagi. Gimana lu Man? Lu kan masih bujangan…?” tanyanya kepada salah satu temannya si Risman.

“Aduh, ngawur aja lo, gue masih tinggal sama nyokap gue tau gak lo!”

“Alah… nyokap lo udah nenek-nenek gitu, mau ngapain dia emangnya!? Lo gimana Jo?” tanyanya pada yang lain.

“Ada istri gue, begok!”

“Atau gini… kita cariin dia kos-kosan aja. Ntar kalau kita pengen ngentotin dia kan gampang” usul yang lain.

“Ha? Lu punya duit apa!?”

*****************************

“Ya gitu deh… Tante malah dilempar sana-sini. Tante cuman diam aja ndengerin mereka diskusi tentang Tante mau ditaruh di mana, dan supaya bisa mereka entotin bareng terus kapan pun mereka mau. Tante sebenarnya gak terima juga, tadinya kan maunya cuma sama bapak yang pertama itu aja… Tapi ya gimana lagi, Tante waktu itu cuma bisa pasrah aja sih gimana nasib Tante ke depannya …” Rasti menghela napas dan menerawang, lalu beralih memandangi wajah teman-teman Tedi yang mengelilinginya.

“Hi hi hi… serius amat siih kalian…? Tegang di atas atau tegang di bawah nih…? He he he…” Godanya. Wajah anak-anak itu memerah.

“Atas bawah nih Tante…” Jawab Jaka balik menggoda.
“Ya udah kalo gitu tamat dulu yaah ceritanya… Tuh wajah kalian udah kayak kepiting rebus aja…”

“Yaah kok gitu Tante, belum maksimal nih tegangnya…” Romi ikut memberanikan diri ikut menggoda. Rasti tergelak mendengarnya. “Aduuh aduuh kalian ni nakal banget sih, anak-anak Tante aja ga pernah lho Tante ceritain kayak gini…” Ujarnya.

“Emangnya mau lebih tegang lagi…?”
“Mau Tante…”
“Ya udah Tante lanjutin ya, tapi bentar aja…”
“Ya… kan masih panjang Tante ceritanya…”

“Iih kamu ini emangnya Tante ga punya kerjaan apa? Udah gitu gerah tahu kalian kelilingin gini… mepet-mepet banget lagi, geser dikit ngapa?” Tukas Rasti bangkit dari sandaran sofa. Bergaya seperti orang kegerahan. Rasti menarik dan mengibas-ngibaskan bagian atas dasternya yang belahannya rendah. Walhasil payudara putihnya makin terekspos.

“Biar makin tegang buka dong dasternya Tante…!” Ujar Jaka melotot. 
“Hahaha… Terus Tante cerita sambil telanjang gitu?”
Riko, Romi dan Jaka mengangguk cepat. Antusias.

“Hmmm… Gimana kalo Tante buka dasternya, trus kita pindah ke kamar…? Kita lanjutin sambil tidur-tiduran…?” Lanjut Rasti dengan senyum nakalnya.

“Iyaa.. iyaa tante… Ayo…!”
“Maunya…!” Cibir Rasti sambil mencubiti mereka. Tentu bukan cubitan yang benar-benar berniat menyakiti. Sambil mengaduh-aduh, teman-teman Tedi malah tertawa-tawa menikmati keintiman mereka. Tapi dongkol juga rasanya karna ternyata Rasti cuma menggoda mereka.

“Tante nakal iih…”
“Lho kok Tante yang nakal? Gak kebalik tuh? Kalian ini yang kecil-kecil udah mesum. Mesumin ibu temen sendiri lagi?”

“Salah sendiri Tante cantik, binal lagi…” Gumam bersungut-sungut.
“Ih malah nggombal, mau lanjut gak nih ceritanya?”

“Iya Tante, terus jadinya Tante tinggal di mana tuh?” Tanya Jaka penasaran.

Rasti tersenyum dan kembali menyandarkan badannya. Ia menarik napas bersiap melanjutkan. “Ada satu bapak yang paling preman banget, paling kasar… Paling gede badannya…” Cerita Rasti mulai mengalir lagi dari mulutnya. “Tante sebenarnya paling takut sama bapak ini, walaupun di antara lainnya dia juga yang paling kuat ngentotnya sih. He he he…” Bukan Rasti namanya kalau tidak menyelip-nyelipkan kenakalan dalam ceritanya. Teman-teman Tedi diam mendengarkan, diam-diam tangannya mulai mengelus-ngelus lagi ‘daging tumbuh’ di balik celana mereka masing-masing. Mereka tidak tahu apakah Rasti bercerita sejujurnya atau sedikit mendramatisir. Mereka tidak peduli yang penting mereka bisa menikmati selama mungkin cerita dan kebersamaan dengan Rasti.

****************************************

Akhirnya salah seorang pria bersedia juga menampung Rasti. Pria yang sebenarnya paling tidak ingin Rasti tinggal bersama denganya, soalnya pria itu tadi yang paling kasar waktu menyetubuhinya dan yang paling kasar mulutnya, tapi Rasti tidak punya pilihan lain. Rastipun ikut bersama pria itu ke rumahnya. 

“Oke, sekarang lo tinggal di sini. Lo harus bersih-bersih rumah, memasak, dan tentu saja ngelayani gue di ranjang. Lo bersedia kan manis? Hehe…” Rasti hanya menjawab dengan anggukan dan senyuman.

“Ya udah sana mulai kerja, gak lihat lo dapur gue berantakan!? Dasar lonte cilik!” hinanya. Rastipun segera menuruti. Setelah meletakkan bayinya diapun mulai bersih-bersih rumah. Belum sempat dia beristirahat, dia sudah harus melayani nafsu pria itu. Sering pria itu memaki Rasti karena suara tangisan bayi Rasti yang menggangunya. Kalau sudah begitu biasanya dia akan mengentoti Rasti dengan kasar tanpa peduli bayinya sedang butuh mamanya. Memang awalnya dia merasa tidak nyaman karena selalu mendengar hinaan pria ini, namun lama-lama akhirnya dia mulai terbiasa. 

Setiap beberapa hari sekali, satu atau beberapa atau semua preman-preman itu akan ngumpul di sana, main judi, mabuk-mabukan, membagi jatah uang keamanan, dan… 

**************************
“Dan Tante digangbang lagi deeh…” Celetuk Romi tiba-tiba. Tangannya sudah menyelip di dalam celananya sendiri. Rasti tertawa geli melihatnya.

“Iih kamu ini kok seneng banget kelihatannya Tante digangbang… Tante itu diperkosa tahu…?”

“Kan katanya bisa menikmati…” ucap Romi lugu.

“Yaa, ngentot tu emang enak, Tante suka banget. Dan Tante gak nyesal juga ditampung di rumah bapak yang paling kasar itu. Karena tiap malam Tante digenjot dan bapak itu staminanya kuat banget. Jujur Tante suka. Tante mulai terbiasa, gak ketakutan lagi… Gak khawatir lagi. Tante udah kayak istrinya aja waktu itu… Kapan pun dia minta Tante harus siap deh digenjot.”

“Tuh kan Tantenya juga keenakan kan?”

“Yee.. Tapi Tante ini bukan mesin seks tau…?! Kalau mereka sudah ngumpul, trus Tante digangbang bisa sampai pagi ya Tante kewalahan juga . Bahkan sakit, capek…” Jelas Rasti sambil membelai rambut Romi.

“Oh ya, jadi bapak-bapak itu berenam, salah satunya bapak Norman ya…?” Tanya Riko teringat sekilas cerita Rasti sebelumnya.

“Kalo gitu gak sulit dong Tante tahu yang mana yang bapaknya Norman? Kan bisa diamati persamaannya… Pasti ada lah dikit-dikit...” Romi langsung nyambung.

“Eh, emangnya kamu kira cuma 6 preman yang waktu itu menggilir Tante?”

“Lho kan katanya…”

“Iya, awalnya mereka cuma berenam. Tapi tahu sendiri kan, preman itu pasti ada geng-gengnya. Mereka saling bersaing, berebut kekuasaan di pasar. Jadi gak mungkin geng mereka cuma berenam. Kalo pada ngumpul terus ngeliat Tante di situ, tahu sendiri dong…? Kalo cuma berenam sih Tante juga kuat kali…” 

“Ja… Jadi Tante ngentot sama semua anggota geng itu?” Jaka antusias.

“Hi hi hi… Gak tahu ya kalau itu sudah semua anggota geng. Tapi yang jelas semua yang pernah ngumpul di rumah itu, semua Tante layani. Tanpa kecuali.”

“Semua…? Berapa orang tuh Tante…?”

“Hi hi hi, semangat banget deh kamu… Emangnya Tante ngitung?” 
“Yaah… 10 orang ada Tante?”
“10? Dikit amat?” Jawab Rasti senyum-senyum nakal. Woow, makin gemas dan ngaceng mereka dibuatnya.

“15?”
“Hampirr… hi hi hi…”
“Iih katanya Tante gak ngitung?” Ucap Romi gemas.

“He he he, gak ngitung sih, tapi kira-kira ya… Hmmm… waktu itu si Bokir bawa 2 temen, terus besoknya si Joni berdua juga… Terus 4, mmm… yang malam itu 3… pas rame-rame yang baru lagi ada mmm 4 atau 5 ya… udah gitu malam tahun baru berapa yaa rame banget………” Rasti bergumam-gumam pelan mengingat-ingat sambil menerawang.

Sangat menggemaskan...

****************************

Ya, bukan hanya semalam 2 malam tempat itu dibuat nongkrong para preman.

“Wuih Jok, sapa tuh bening-bening seger…?”
“Wah, kok ada daun muda di sini lo gak bilang-bilang? Sapa tuh?”
“Anjrit, seksi Jok, ngaceng gue!”

Begitu kira-kira reaksi tiap preman yang datang ke situ. Rasti sendiri diam saja, kadang penasaran, kadang bangga, bahkan kadang malah horni, tapi tidak jarang juga dia takut dan cemas kalau pas yang datang terlihat sangat kasar dan sangar, apalagi kalau mabuk. Buruk rupa? hampir pasti!

“Ooh itu lonte gue, dah lama gue pelihara, lu mau? Entotin deh sono, bebas aja… Gratiss!” Jawab Joko si tuan rumah yang menampung Rasti. Benar-benar jawaban yang sangat melecehkan dan merendahkan Rasti. Tapi Rasti sudah seakan kebal dengan tiap kata-kata kotor yang ditujukan padanya. Gak ada ceritanya Rasti bisa menolak jika hendak disetubuhi. Jika satu atau dua pria tidak ada masalah bagi Rasti untuk menikmati juga persetubuhan itu. Tapi kalau sudah banyak preman dan menggangbang Rasti beramai-ramai. Rasti mau tak mau harus melayani mereka semua meski tidak bisa menikmatinya cukup lama. Kalau sudah dini hari Rasti sudah lelah bukan main, tapi preman-preman itu tidak jarang terus menggilirnya sampai fajar. Tidak jarang Rasti sampai pingsan dibuatnya. Kalau ditotal ada 17 preman yang rutin menggagahi Rasti selama dia tinggal di sana.

“Oke manis, waktunya lo kita gangbang, lo siap? Hahahaha” tanya salah satu mereka.

“Eh, i..iya…” jawab Rasti lemas membayangkan dirinya akan disetubuhi banyak pria sekaligus. Tapi apa daya, inilah yang bisa dia lakukan sebagai rasa terima kasih karena telah bersedia menampung dia dan bayinya. Dia harus merelakan dirinya dijadikan mainan seks para berandalan itu. 

“Jawab yang benar!” 

“I..iya… silahkan entotin aku sampai kalian puas, aku udah siap dari tadi kok mau kalian apakan saja….” jawabnya sekali lagi dengan nada manja.

“Haha, bagus… Tapi tunggu, minta izin juga dong sama anak lo, hehe” suruh pria yang lain. Mereka betul-betul mempermainkan Rasti! Tapi bagaimanapun Rasti tidak punya pilihan lain selain menuruti. 

“Te..tedi sayang… mama mau ngentot dulu ya sama papa-papa. Papa-papamu udah gak sabaran tuh pengen ngentotin memek mama. Kamu jangan berisik ya, jangan ganggu kita ngentot… ntar nggak mama kasih susu lho…” ujar Rasti sambil tertawa kecil. Dia mengatakan hal seperti itu semata-mata hanya ingin memuaskan mereka, bukan karena ingin. Tapi siapa sangka kalau akhirnya Rasti terbiasa berucap seperti itu pada anak-anaknya ketika akan melonte di kemudian hari.

Akhirnya untuk kesekian kalinya, Rasti dientotin seenaknya di depan bayinya. Tedi yang masih bayi tentu saja tidak mengerti apa-apa. Dia hanya bisa menyaksikan, bahkan tertawa-tawa melihat mamanya yang kewalahan disetubuhi beramai-ramai oleh para preman pasar.

Tubuh Rasti dinikmati oleh mereka sepuasnya. Menggenjot tubuh mungil Rasti dengan penis-penis mereka tanpa ampun. Mereka juga sangat rajin menumpahkan benih mereka ke rahim Rasti.

Setelah beberapa bulan tinggal di sana, akhirnya Rasti hamil untuk kedua kalinya akibat perbuatan preman-preman itu. Benar, salah satu dari ke tujuh belas orang itu adalah bapaknya Norman! 

Rasti kemudian diusir. Perut Rasti yang semakin membuncit membuatnya tidak bisa lagi dientotin karena hamil tua. Selain itu juga akan makin merepotkan bila nanti ada dua bayi di sana.

“Sorry ya kita gak bisa nampung lo lagi, tapi kita bakal terus ingat gimana rasa tubuh lo itu kok…” ujar mereka merendahkan. Rasti hanya bisa pasrah. Habis manis sepah dibuang. Begitulah nasib Rasti.

Rasti yang diusir dalam kondisi hamil tua dan menggendong Tedi yang masih bayi semakin bingung harus kemana. Satu-satunya harapan, mau tidak mau adalah kembali ke keluarga. Tapi apakah keluarganya mau menerima? Apalagi dia lagi-lagi hamil tanpa seorang ayah!

Akhirnya Rasti memutuskan untuk mengunjungi salah satu keluarga yang ada di Jakarta, yaitu Pakdenya, orangtua pamannya Tedi, paman Tedi itu adalah sepupunya Rasti. Sempat khawatir mendapat penolakan, namun ternyata Rasti diterima dengan baik oleh mereka. Walau keluarga itu kesal juga dengan ulah Rasti tapi mereka tetap merasa kasihan. Lagipula tinggal di kota besar seperti Jakarta membuat keluarga itu bisa memaklumi sesuatu yang bagi banyak orang desa masih sangat tabu, seperti hamil diluar nikah yang terjadi pada Rasti.

Rasti boleh tinggal di situ dengan satu syarat, dia harus sekolah. Harus masuk SMA. Rasti sih mau-mau saja, tapi dia tidak punya ijazah SMP karena waktu itu didrop out akibat hamil. Akhirnya Rasti dibantu dengan berbagai cara dan juga dengan pengaruh Pakdenya supaya bisa masuk SMA. 

***********************************
“Baik ya pakdenya Tante…” Gumam Riko.

“Jangan-jangan… ada maunya juga… Tante dientot juga sama pakd…… Adududuhh Tante…!” Jaka yang belum selesai menimpali sudah dijewer telinganya oleh Rasti. Kali ini Rasti kelihatan serius. “Kamu jangan nggak sopan ya? Pakde Tante itu orang baik-baik, dia gak macem-macem sama Tante!” Omel Rasti.

“Ma…maaf Tante…” Jaka bersungut-sungut. Riko dan Romi menahan tawa melihatnya.

“Tante ngelahirin Norman di rumah pakde, semua yang bantu pakde. Biaya dan segala macemnya. Pakde ga pernah memarahi Tante… Pakde cuma minta 1 hal, Tante harus sekolah. Pakde juga yang ngurusin semuanya. Tapi sayang Tante gak bisa sekolah di sekolah yang ideal sesuai keingingan pakde…”

Rasti mengambil napas sejenak lalu melanjutkan ceritanya mengenai kondisi SMA yang dia masuki.

*************************************

Apa daya, satu-satunya SMA yang kemudian bisa dimasuki Rasti adalah SMA yang ada di daerah pesisir pantai di tepi Jakarta, hampir di luar Jakarta, dekat perbatasan. SMA yang jauh dari kata bermutu. Murid-muridnya adalah anak-anak penduduk pesisir pantai yang kulitnya hitam legam dan rambutnya merah terbakar matahari. Kebanyakan murid di sana laki-laki dan bandel-bandel.

“Hai cewek… cakep bener, putih mulus… mandinya pake susu ya? Bagi dong susunya… hehe” goda salah satu murid cowok di sana.

“Duh mulutnya manis tuh kalau dicipok, apalagi kalau dicipok pake kontol abang…” ujar murid yang lain kurang ajar.

Rasti yang cantik, seksi, dan putih mulus tentunya menjadi pemandangan indah tersendiri di sekolah itu. Sejak hari pertama sudah banyak sekali cowok-cowok yang menggodanya. Dari yang sekedar kata-kata gombal dan kotor, sampai ke yang berani mencolek-colek tubuhnya. Meski suka dirayu dan digoda cowok-cowok di sana, tapi Rasti risih juga. Rasti pikir dia harus cari aman, dia mesti memacari salah satu cowok yang dia pandang paling berpengaruh di sekolah secepatnya. Kalau bisa hari itu juga.

Dia mulai memberi lampu hijau pada salah seorang yang dinilainya cocok. Agung namanya. Cowok yang penampilannya urakan, dekil, dan sering bikin repot guru inilah yang akhirnya dia pilih, salah satu cowok yang tadi ikut menggodanya dengan kata-kata vulgar. Gayung bersambut. Hari itu juga sepulang sekolah Agung menawarkan diri untuk mengantar Rasti pulang. 

“Masuk yuk Gung…” ajak Rasti menawari cowok itu untuk mampir setibanya di rumah.

“Emangnya gak ada orang? rumahnya gede gini…”

“Lagi sepi kok… Yuk masuk. Minum dulu, pasti haus kan? Jauh lho pulangnya, ntar dehidrasi lho kamunya, hihihi…” jawab Rasti manja. Rumah Pakdenya memang sedang sepi jam segini. Hanya ada seorang baby sitter tua yang menjaga anak-anak Rasti selama Rasti sekolah, sedangkan penghuni lainnya belum pulang kerja.

Akhirnya merekapun masuk, Rasti langsung mengajak cowok itu ke dalam kamarnya biar lebih enak ngobrolnya. Mereka saling bercerita, Agung ingin tahu banyak tentang Rasti dan Rastipun menceritakan semuanya dengan terbuka. Bagaimana dia sudah punya dua anak, bagaimana dia pernah diperkosa, pernah tinggal beberapa bulan bersama para preman sebagai budak seks mereka, dan cerita-cerita lainnya. 

Dasar Rasti binal, diapun akhirnya ngentot dengan cowok itu. Rasti tentu awalnya sekedar ingin pedekate saja. Namun dia tidak menyangka ‘kencan’ pertama itu akan terlalu jauh. Semuanya mengalir begitu saja dan jadilah mereka bercinta. Rasti disetubuhi oleh cowok yang bahkan belum sehari dia kenal! Di rumah Pakdenya pula yang sudah bersedia menampungnya. Salahnya juga sebenarnya, mana ada pria yang bisa tahan setelah diajak masuk kamar oleh gadis secantik Rasti, apalagi setelah mendengar kalau ternyata Rasti doyan ngeseks. Sepasang remaja itupun bersenggama dengan nikmatnya di dalam kamar Rasti.

Malangnya, setelah berhubungan beberapa hari ternyata Agung tidak juga menembak Rasti. Kayaknya dia tidak berminat pacaran sama Rasti. Toh tanpa pacaran, tubuh Rasti sudah bisa dia jamah sesukanya. Apalagi dia malah cerita ke banyak teman-teman lain di sekolah itu. Soal Rasti yang sudah ditidurinya lah, sudah punya anak tanpa suami lah, gampangan lah, dan sebagainya. Walhasil Rasti terkenal dengan reputasi ‘bitch’ di kalangan anak-anak bandel di sekolah itu. 

Selama beberapa minggu Rasti jalan dengan Agung tanpa status. Selama itu pula Rasti dengan mudahnya bisa dipake oleh cowok itu. Rasti sebenarnya kewalahan dengan reputasinya. Selalu digoda, selalu dijadikan bahan obrolan dan cibiran, dicolek-colek, sampai ada yang terang-terangan minta ngentot dan itu sangat banyak! Rastipun berinisiatif untuk menembak Agung duluan. Meski awalnya menolak, namun akhirnya cowok itu mau juga. 

Setelah jelas-jelas pacaran, hampir tiap hari Rasti bersetubuh dengan Agung. Bahkan cowok itu sering ngajak Rasti nginap di rumahnya. Hal ini membuat Rasti sering menelantarkan Tedi dan Norman yang masih bayi di rumah dan membuat Pakdenya kewalahan dengan ulah Rasti yang semakin binal dan susah diatur. Meski Pakdenya memaklumi seks bebas yang sudah lazim dilakukan para remaja masa kini, termasuk dengan apa yang sudah dilakukan rasti, tapi bukan berarti Pakdenya akan nyaman-nyaman saja terus dengan ulah Rasti yang bukannya tobat tapi malah semakin membenamkan diri dalam lembah seks bebas itu. 

Rumah Agung ada di sebuah perkampungan nelayan. Dekat pantura. Daerah yang keras dan kasar. Agung mengajak Rasti ke rumahnya karena ternyata keluarganya, termasuk hampir semua keluarga di perkampungan itu tidak menganggap tabu seks bebas. Bahkan banyak dari anak-anak gadis di situ, atau bahkan ibu-ibu mereka yang mencari sampingan dengan menjajakan diri. Maklumlah di situ memang jalur yang sering dilewati supir truk.

“Kenalin nih pacar aku, cantik kan?” ujar Agung dengan santainya memperkenalkan Rasti pada orangtua dan adik-adiknya.

“Duh, cantiknya pacarmu, hebat kamu bisa macarin cewek secantik dia,” puji orangtuanya. Setelah itu merekapun bisa ngentot dengan bebasnya di rumah tanpa perlu takut diganggu.

Tidak hanya pada keluarganya saja, Agung juga memperkenalkan Rasti pada teman-teman di lingkungan rumahnya. Ternyata inilah alasan Agung mempertimbangkan untuk mau macarin Rasti, biar Rasti bisa dipamerin di lingkungan rumahnya juga, bukan hanya di sekolah. Jelaslah banyak cowok-cowok di perkampungan itu yang jadi iri pada Agung.

Agung sangat sering mengajaknya menginap serta mengajaknya jalan-jalan di sekitar situ. Rasti merasa bahwa pacarnya ini sangat-sangat memamerkan dirinya. Di sinilah Rasti juga mulai ‘belajar’ eksib. Bakat eksibnya mulai tumbuh.

***********

“Daah aah…! Bersambung!” Tiba-tiba Rasti bangkit.

“Yaah tantee… baru mau mulai tegang lagi nih…!” Jaka protes.
“Iyya nih Tante…” Lainnya nyambung.

“Yee… kalian nih maunya. Pokoknya cukup. Tuuh, Tante mau nyusuin anak Tante…” Jawab Rasti tegas. Kebetulan suara tangis bayinya yang baru bangun terdengar kemudian, jadilah alasan kuat Rasti untuk menghentikan sesi ceritanya.

“Wah mau menyusui Tante…?” Mata Romi berbinar-binar.

“Iya, habis itu mau mandi siap-siap dientot sama tamu. Puass?” Jawab Rasti ngasal sambil tertawa dan mencibirkan lidahnya meninggalkan mereka. 


Terang saja mereka bertiga jadi gregetan. Cerita lagi seru-serunya malah di-pause. Rasti hanya tertawa geli melihat mereka bertiga yang tampaknya sangat mupeng dan penasaran dengan cerita selanjutnya. Tangan mereka yang dari tadi nyelip di balik celana mengelus barangnya masing-masing terpaksa dikeluarkan lagi.

Setelah mengambil bayinya, Rasti ternyata kembali duduk di antara mereka bertiga. Kali ini sambil menyusui. Dia cuek saja membuka bagian depan dasternya, mengeluarkan buah dadanya yang ranum, lalu menempelkan ujung buah dadanya ke mulut bayinya yang rewel sambil melirik ke arah mereka bertiga. Seakan sengaja makin membuat mupeng mereka.

“Iya cayang… laper yah? nih mimik cucu… minum yang banyak” ujar Rasti pada si kecil Bobi. Ahh… pemandangan yang luar biasa. Mereka memang tidak pernah bosan dengan pemandangan Rasti yang sedang menyusui, tentu saja mereka selalu menghayal kalau merekalah yang saat itu sedang menikmati nikmatnya air susu murni tante Rasti. 

“Ta..tante…” panggil Riko.

“Hmm? Apa? kamu juga laper? Makan gih sana… Jangan ngarep deh kalau minta tante susuin juga” jawab Rasti sambil memeletkan lidah.

“Eh, ng..nggak kok…”
“Terus?”

“I..itu… Lanjutin lagi dong tante ceritanya… nanggung banget tuh…” 

“Duh, kalian ini kenapa sih? Gak sabaran banget pengen dengar”

“Iya… habis kita penasaran sih…”

“Iya deh iya… tapi tunggu tante selesai nyusuin Boby dulu yah… Kalau tante cerita sambil nyusu gini yang ada kalian fokusnya malah ke yang lain, bukan ke cerita tante, ya kan?” ujar Rasti menggoda mereka. Mereka hanya cengengesan. Apa yang dikatakan Rasti memang benar adanya, tepat sasaran! Mereka memang niatnya pengen dengar cerita tante Rasti sambil melihat adegan menyusui itu. Kalau sudah kepergok duluan begini ya terpaksa mereka iyakan. Yah… setidaknya mereka masih bisa menatap puas-puas buah dada Rasti yang sedang deras-derasnya mengalirkan air susu ke mulut bayinya. 

“Gimana? Beneran mau tante lanjutin ceritanya?” tanya Rasti menyadarkan mereka bertiga dari lamunan setelah selesai menyusui dan meletakkan bayinya di sebelahnya.

“Eh, I..iya.. Mau tante…” jawab mereka tergagap. Mereka makin dibuat horni dengan adegan menyusui tadi. 

“Tuh… kalian kalau nggak fokus gitu mending tante nggak cerita deh…”

“Nggak kok tante… kita pengen banget dengar…” jawab mereka. Rasti tersenyum.

“Ya udah, gini…”

****************************

Meski Rasti merasa bahwa pacarnya ini sangat memamerkan dirinya, namun dia mulai menyukai hal tersebut. Awalnya memang membuatnya malu, tapi ternyata ada sensasi tersendiri yang dirasakannya. Dadanya selalu berdebar-debar setiap menuruti kemauan Agung.

Contohnya saja waktu Agung menyuruh Rasti ke sekolah tanpa mengenakan dalaman. Rasti yang awalnya terkejut dan menolak namun akhirnya mau juga menuruti. Ternyata rasanya sungguh luar biasa, sensasi takut ketahuan membuat vaginanya menjadi becek, bangku tempat duduk Rastipun jadi berlumuran cairannya. Tak jarang hal itu diketahui teman-teman cowoknya. Jika sudah begitu mereka pasti akan habis-habisan menggoda Rasti dengan omongan kotor mereka. 

“Gila nih cewek… gak pake dalaman coy! Nakal banget!” 

“Sini abang bantu pake kontol, udah gak tahan ya pengen dientot memeknya?” kata cowok lainnya sambil menyibak rok Rasti, Rasti reflek memukul tangan cowok itu dengan sebal.

Tapi Rasti bisa sedikit tenang karena mereka tidak berani berbuat terlalu jauh karena takut pada Agung, walaupun sering cowoknya itu hanya sekedar melihat dan tertawa saja ketika Rasti digoda dan dicolek teman-temannya. 

Akhirnya cowoknya itulah yang harus dia layani. Agung memang sering mengajak Rasti ngentot di sekolah baik ketika jam istirahat, setelah pulang sekolah, bahkan saat jam pelajaran. Rasti jadi harus meminta izin keluar kelas meninggalkan pelajarannya hanya untuk dientotin cowok itu. 

Biasanya mereka berdua akan bersetubuh di toilet cowok, tempat yang paling kotor dan bau di sekolah itu. Karena memang tidak ada tempat lain yang lebih aman selain di sana yang bisa dijadikan tempat ngentot, meskipun resiko ketahuan masih tetap ada.

Kini, di lingkungan tempat tinggal Agungpun, pacarnya ini juga ingin terus mengekploitasi Rasti. Rasti lagi-lagi diajak menginap oleh cowoknya. Malam itu, Rasti dan cowoknya jalan-jalan di pantai. Suasana yang gelap membuat Agung memaksa Rasti menanggalkan semua pakaiannya. Dia ingin Rasti bugil total di sana. 

“Bugil di sini? tapi kan yang…” tanya Rasti sedikit keberatan. Mengingat suasana malam pinggir pantai di perkampungan nelayan tentu bukannya sepi, banyak aktifitas di situ, tapi masing-masing orang disana memang sibuk dengan aktifitasnya masing-masing dengan penerangan mereka yang seadanya. Jarak sekitar 100 meter dari mereka saja ada seorang nelayan yang sedang menganyam jala di perahunya dengan penerangan neon. Jarak jangkauan cahayanya tentu tidak jauh, hanya sekitar 10 meter. 

“Udah… gak apa… cepat bugil” suruh Agung lagi. Rastipun menuruti, selain ingin memenuhi fantasi Agung, dia memang penasaran bagaimana rasanya bertelanjang bulat di ruang terbuka. Dengan dada berdebar dia lepaskan pakaiannya satu persatu sambil celingak-celinguk ke sekitar. 

“Tinggalkan aja bajunya di sini, ntar kita pulang kan lewat sini lagi…” suruh cowoknya lagi.

“Hah?” Rasti sedikit kaget, tapi dia juga semakin horni mendengarnya. Dadanya semakin berdebar, memeknya jadi becek. Jika dia tinggalkan pakaiannya di sini tentunya dia tidak bisa mengenakan pakaiannya dengan cepat bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Namun dia yang penasaran akan sensasinya akhirnya menuruti juga. Mereka lalu melanjutkan lagi jalan-jalan malam di tepi pantai, tentu dengan keadaan Rasti yang telanjang bulat yang bajunya dia tinggalkan begitu saja di sana. 

“Yang, kalau bajuku kebawa ombak gimana?” tanya Rasti.

“Ya kamu pulangnya bugil terus, hehe” jawab Agung enteng. 

“Ih, enak aja…” Rasti hanya tertawa kecil sambil mencubit cowoknya.

Selama jalan-jalan malam di sepanjang pantai itu, Rasti selalu berdebar-debar saat akan melewati nelayan yang sedang sibuk di perahunya meskipun orang itu tidak bisa melihat mereka karena gelap. Anehnya, Rasti malah ingin orang itu melihat ke arahnya, dia ingin kalau orang itu menyadari kalau dia sedang bugil saat ini.

“Kamu berani nggak kalau kita ngentot di sana?” tantang Agung menunjuk sebuah perahu kosong.

“Kenapa? Pengen ngentotin aku di tempat terbuka yah? Siapa takut…” jawab Rasti setuju. Malah dia terlihat antusias karena berinisiatif lebih dulu menarik tangan Agung ke sana. Rasti lalu masuk ke dalam perahu itu dan langsung mengambil posisi menungging, mempersilahkan cowoknya ini untuk menggenjotnya dari belakang.

Agung yang dibuat horni akhirnya langsung menggenjot Rasti dengan penuh nafsu. Mereka bersetubuh di ruang terbuka! Di gelap malam di tepian pantai. Hanya lampu-lampu neon para nelayan di sekitar mereka yang menemani. Sungguh sensasional! Rasti tidak segan-segan mengerang dan melenguh kenikmatan karena suaranya bisa diredam oleh suara ombak. 

Inilah yang membuat Rasti seringkali mau diajak menginap di rumah cowoknya itu. Rasti dibuat ketagihan. Siapa sih yang gak suka ngentot di ruang terbuka dengan aman? Sensainya itu lho, dan romantis banget juga tentunya. Tidak hanya di atas perahu kosong yang gelap, tapi di banyak lokasi lain, dan setiap kali semakin berani. 

Rasti dan cowoknya semakin lama semakin tidak puas dengan keamanannya itu. Mereka mulai berani jalan-jalan jauh. Mulai berani mencari tempat-tempat yang dekat keramaian tapi masih gelap. Mereka pernah ngentot di depan rumah kosong yang sedang ditinggal melaut. Pernah juga melakukannya di pinggir jalan yang sepi dibawah lampu penerangan, serta tempat-tempat lainnya. Pokoknya semakin nekat dan semakin menyerepet bahaya, semakin bergairah pula mereka bersenggama.

Tak jarang aksi mereka sering ketahuan oleh orang sekitarnya. Biasanya orang itu akan cuek saja, palingan hanya kena usir. ”Hush! Sana! Jangan ngentot di sini!” Biasanya orang juga tidak sampai mencoba ngeliat dengan jelas siapa yang sedang ngentot itu, hanya sekilas-sekilas saja. Yang ada di benak mereka palingan lonte dan si hidung belang. Anehnya, makin dipergokin Rasti malah semakin senang.

“Sekarang dimana yang?” tanya Rasti menanti-nanti apa yang akan dilakukan selanjutnya.

“Yuk ke sana” jawab Agung sambil menarik Rasti ke tepi pantai yang sangat terbuka. Dia ingin menggenjot Rasti di sana, padahal hanya 20 meter di depan mereka ada nelayan yang sedang sibuk di atas perahunya. Rasti dan cowoknyapun asik bersenggama di tepian pantai, badan mereka basah terkena ombak. Agung masih mending karena tetap mengenakan baju, tapi Rasti telanjang bulat. Sungguh menggairahkan keadaan Rasti waktu itu, seluruh tubuhnya basah oleh air laut serta pasir hitam pantai yang menempel. Kalau ada orang lain yang menyaksikan dengan seksama siapa cewek yang sedang dientotin ini, pasti mereka bakal minta ikutan juga. Siapa yang gak tahan coba dengan kecantikan, kemolekan dan keadaan Rasti saat itu? Untung saja keadaan gelap.

“Kenapa Rasti? Kok gelisah gitu?’ tanya Agung melihat Rasti tidak tenang.

“Gak enak nih… ngeganjal…”

“Apanya?”

“Mekiku kemasukan pasir…” ujar Rasti manja yang disambut gelak tawa Agung.

“Woooiii! Jangan ngentot di sana!” tiba-tiba terdengar teriak nelayan di dekat mereka yang akhirnya memergoki. Rasti dan cowoknyapun lari sambil tertawa cekikikan.

“Tadi baju aku diletakin dimana ya? Di sini bukan?” tanya Rasti bingung. “Tuh kan bener kebawa ombak…” rengeknya.

“Udah biarin aja, malam-malam gini gak bakal ada yang ngelihat kok…” ujar Agung enteng. Rasti tentu tetap gelisah, perjanan dari sini ke rumahnya Agung cukup jauh, bahkan harus melewati gang yang banyak lampu penerangannya. Agung malah seenaknya menyuruh Rasti berjalan duluan di depan. Rastipun berjalan celingak-celinguk dengan deg-degan, namun dia menyukai perasaan ini. 


Rasti yang semakin ketagihan berdengan sensasi bercinta di tempat terbuka bahkan pernah mengajak Agung bersetubuh di atas sampan kecil. Namun kali ini jauh lebih sensasional karena mereka melakukannya di tengah laut, terlebih waktu itu masih sore. Tetap sama, pakaian Rasti ditinggalkan begitu saja terlebih dahulu di tepi pantai. 

Mereka juga pernah numpang di kapal nelayan yang cukup besar yang hendak melaut. Pemilik dan awak kapalnya tidak keberatan karena sudah mengenal Agung. Setelah menemukan sudut yang pas, merekapun bercumbu dengan bebasnya, peluk-pelukan, cium-ciuman, gerepe-gerepaan sampai akhirnya ngentot. 

Awalnya Rasti risih saat ngentot di depan orang-orang, kalau nanti mereka jadi nafsu lalu minta ikutan, gimana coba? Masa sepanjang malam dientotin para nelayan di atas kapal? Tapi Rasti malah semakin menjadi-jadi menggoda mereka dan mengajak Agung pamer kemesraan. Mereka cuek saja ngentot di ruang yang tidak ada privasinya. Awak-awak kapal hanya bisa menatap dengan iri sambil bersiul menggoda, sebagiannya lagi tetap cuek dengan pekerjaan masing-masing walaupun sesekali mencuri pandang.

…..

Rasti makin sering menginap di sana, bahkan sampai tinggal di rumah cowoknya itu berhari-hari. Dia menelantarkan anak-anaknya begitu saja di rumah, sekolahnyapun mulai tidak beres. Semua karena Rasti keasikan ngentot. Cowoknya itu telah mengubah Rasti jadi semakin binal dan liar.

Akhirnya terjadilah kejadian yang betul-betul merubah Rasti. Suatu ketika perkampungan nelayan itu konflik dengan perkampungan nelayan tetangga. Ternyata di daerah seperti itu konflik antar kampung lazim terjadi bagaikan ritual rutin. Kadang masalahnya cuma berawal dari satu dua orang, kemudian merembet ke yang lainnya dengan dalih solidaritas. Biasanya akan berakhir dengan kerugian yang tidak sedikit bagi kedua belah pihak, kapal yang habis terbakar bahkan sampai nyawa yang hilang. Hanya saja kali ini beberapa sesepuh dan tokoh kedua kampung berusaha dengan kuat untuk meredam konflik supaya tidak terjadi tawuran, berusaha sejauh mungkin agar ada perdamaian antar kampung itu.

Di sinilah titik balik kehidupan Rasti. Dia jadi tumbal untuk perdamaian di situ. Kampung tempat tinggal cowok Rasti ditenggarai memulai konflik terlebih dahulu dan harus menyerahkan Rasti sebagai itikad baik meminta maaf dan meminta perdamaian. Rasti ternyata sudah lama dijadikan bahan obrolan, bukan hanya di kampung cowoknya tapi juga kampung-kampung tetangga. Ya… adanya gadis seelok Rasti yang berkeliaran di kampung seperti itu tentu dengan cepat diketahui dan dibicarakan, dan dengan cepat pula cerita menyebar. Rasti selama ini digosipkan sebagai lonte baru di sana, lonte tercantik tentu saja.

Rasti dan cowoknya ditemui beberapa tokoh dan sesepuh, mereka menceritakan kejadiannya dan menanyakan kesediaan Rasti. Kalau Rasti menolak tentu Rasti akan diusir dan tidak diperbolehkan lagi datang ke situ selamanya. 

“Bagaimana nak Rasti, nak Rasti bersedia?” tanya salah satu sesepuh.

“Jadi saya harus tinggal di sana selama dua hari Pak?” 

“Benar, nak Rasti juga harus melayani 5 orang tokoh di kampung itu, tidak terlalu berat kan?” 

Rasti melirik ke pacarnya. “Udah sayang… terima aja, lagian kan katanya kamu juga udah pernah tinggal berbulan-bulan sebagai budak seks, jadi gampang kan?” ujar cowoknya enteng ikut-ikutan memprovokasinya untuk bersedia, bukannya melindungi Rasti.

Kalau bagi gadis normal tentunya lebih mending diusir, tapi tidak bagi Rasti. Dia bersedia melakukannya. Ya… demi ingin melindungi kampung keluarga cowoknya! Cowoknya yang bahkan tidak pernah benar-benar melindunginya. 

“Iya pak, saya mau” jawab Rasti akhirnya bersedia. Hitung-hitung pengalaman seksnya semakin bertambah, dia juga bisa merasakan hal baru, pikirnya waktu itu, bahkan ada sedikit rasa rindu dijadikan budak seks lagi. 

Maka Rastipun dibawa ke kampung tetangga.

Namun kenyataannya sungguh berbeda. Rasti berada di sana lebih lama dari yang dijanjikan. Rasti tak kunjung dijemput, dan pihak kampung tempat Rasti tinggal sekarang tidak juga berniat mengantarkan Rasti kembali. Dia sudah berlarut-larut tinggal di kampung itu, sampai seminggu. Dan ternyata tidak hanya 5 orang saja yang kemudian harus dilayaninya. Parahnya, Rasti diharuskan melonte di sana, yang mana uang hasil menjual dirinya mesti diserahkan ke pihak kampung sebagai bentuk ganti rugi dan upeti dari kampungnya Agung. Rasti benar-benar diperalat. Rasti terpaksa mengikutinya. Setelah lebih seminggu di sana barulah Rasti dijemput cowoknya.

Berita tentang Rasti yang melonte di kampung sebelah telah tersebar sampai ke kampungnya Agung. Jadilah saat Rasti kembali, sudah banyak pria hidung belang yang menanti Rasti.

“Jadi pacar lu itu sudah jadi lonte sekarang? Jadi bisa dong kita-kita ikut nyicipin dia?” tanya banyak lelaki. 

Pria-pria di sana memang sudah lama mengidam-ngidamkan bisa menikmati moleknya tubuh Rasti, kini akhirnya mereka punya kesempatan. Namun cowoknya Rasti bukannya menyangkal dan membela, malah bilang, “terserah….”

“Jadi kamu ngebolehin aku melonte yang??” tanya Rasti terkejut mendengar ucapan Agung. 

Dia pikir setidaknya Agung akan menahannya kali ini, dia kan ceweknya, masa dibiarkan boleh berkali-kali dientotin pria lain? Apa gunanya dia selama ini berharap perlindungan sama cowok ini? Toh akhirnya sama saja ternyata.

Kejadian sewaktu harus jadi tumbal perdamaian mungkin bisa dia terima, begitupun cap ‘murahan’ yang melekat padanya di sekolah karena ulah Agung juga bisa dia maklumi. Tapi sampai-sampai dia juga dipersilahkan melonte begini….? 

Rasti yang sebal akhirnya benar-benar menunjukkan pada Agung kalau dia memang pantas dibayar untuk setiap pria yang ingin mencicipi tubuhnya. Walhasil selama 2 hari lagi Rasti sengaja masih tinggal di rumah cowoknya sambil menerima tamu. Dia tunjukkan pada cowoknya itu bagaimana pacarnya yang cantik dan molek ini sedang dientotin pria-pria lain, dibayar, tidak gratisan seperti yang cowoknya dapatkan selama ini. Diapun bisa mendapatkan uang 5 juta dari hasil melontenya. Gilanya, keluarga Agung malah meminta setoran karena sudah menyediakan tempat untuk Rasti melonte!

“Tuh! Lihat kan kalau aku memang pantas dibayar!” ujar Rasti kesal sambil melempar uang setoran yang diminta cowoknya, Agung dengan muka tebal menerima juga uang dari Rasti.

Merekapun putus setelah itu.

…..

Rasti yang kembali ke rumah Pakdenya tidak diterima dengan baik di sana. Pakdenya naik pitam. Rasti dimarahi habis-habisan karena sudah menelantarkan bayinya dan juga sekolahnya. Padahal sekolah adalah syarat bagi Rasti supaya bisa tinggal di rumah itu.

Rasti kembali diberi pilihan, melanjutkan sekolahnya atau pergi. Awalnya Rasti memilih tinggal dan melanjutkan sekolah. Selama beberapa minggu Rasti bertahan sampai dia mendapati dirinya….. hamil.

Bisa jadi itu adalah anaknya Agung, mungkin juga itu anaknya para nelayan dan para hidung belang yang berkali-kali menyemprotkan benihnya ke rahim Rasti baik di kampung tetangga maupun di kampungnya Agung. Yang jelas, salah satu di antara mereka adalah bapaknya Cindy. 

Ya… Umur 16 tahun, Rastipun hamil untuk ketiga kalinya….

Malu pada Pakdenya, Rastipun kemudian memilih pergi. Dia tinggalkan rumah pakdenya, sekolahnya. Dia berniat kembali ke tempatnya Agung meskipun mereka sudah putus. Malangnya nasib Rasti, ternyata Agungpun menolak ketika mengetahui Rasti sedang hamil. Sekali lagi… sekali lagi Rasti dicampakkan.

Rasti berusaha tegar. Dengan uang hasil melonte sebelumnya, Rasti lalu mengontrak rumah dan mulai memutuskan untuk jadi lonte. Dia pikir uangnya yang cuma beberapa juta dengan cepat akan habis untuk mengontrak rumah dan biaya hidup. Bagaimana dengan biaya persalinan kelak? Rasti sama sekali tidak berniat aborsi. Dia justru menanti-nantikan kehadiran buah hatinya yang ketiga, seraya berjanji tidak akan menelantarkan lagi anak-anaknya kelak. 

Ya… Setelah semua yang dia alami, yang dia sesalkan hanyalah bahwa dia telah menelantarkan Tedi dan Norman.

Sebelum perutnya membuncit, Rasti mulai menjajakan diri. Tak disangka, wajah cantik serta tubuhnya yang sempurna ditawar begitu tinggi. Kurang dari sebulan, Rasti kebanjiran pelanggan royal dan berhasil mengumpulkan tidak kurang dari 50 juta. Rasti mulai mantap berkarir sebagai lonte. Dengan begitu dia dan anak-anaknya bisa hidup dengan nikmat dan layak.

Setelah melahirkan Cindy, Rasti mulai hunting rumah. Lokasi-lokasi elit di-surveynya, hingga pilihannya jatuh ke rumah yang dia tinggali sekarang. Rumah yang saat itu seharga diatas 400 juta. Dengan entengnya dia menyanggupi cicilan 15 juta perbulan selama 3 tahun. Itupun akhirnya bisa dia lunasi kurang dari setahun. Benar-benar karir yang menjanjikan. Dan… Inilah Rasti sekarang.

……

“Jadi gitu ceritanya….” ujar Rasti menyudahi ceritanya yang terasa sangat panjang bagi teman-teman Tedi. Mereka bertiga terhenyak, tidak menyangka kalau kisah hidup Rasti sepelik itu. 

“Udah kan ceritanya? Yuk, makan dulu… pasti kalian lapar kan?” ajak Rasti ramah tersenyum manis. Dengan semua yang sudah dialaminya, dia kini bisa tersenyum. Dengan segala pengorbanannya, kini Rasti menuai hasilnya. Rasti memang seorang lonte, tapi di luar itu, Rasti adalah wanita dan ibu yang tangguh. 

“Kok bengong sih? Mau makan nggak nih? Hihihi”

“…..I..iya tante…”


***


Setelah mendengar cerita masa lalu Rasti, teman-teman Tedi masih saja terus menempel padanya. Mereka selalu saja penasaran dan tidak pernah bosan berada di dekat ibu teman mereka itu. Mereka terus berada di sana sampai Tedi pulang.

Meski Tedi sudah pulangpun, mereka ternyata masih juga menempel pada Rasti. Tanya inilah, tanya itulah. Mereka tidak ada puas-puasnya mendengar cerita-ceritanya Rasti yang memang selalu membuat penis mereka berdiri. 

“Emang tante gak takut kena penyakit?” tanya mereka lagi.

“Hmm… Nggak tuh.. kan tante udah punya dokter pribadi” jawab Rasti santai.

Rasti beruntung dari sekian banyaknya pria yang pernah menyetubuhinya sebelum ini tidak satupun yang membawa penyakit padanya. Sejak Rasti mantap memutuskan menjadi lonte dan mempunyai penghasilan yang besar, tentunya dia harus lebih berhati-hati. Rastipun menyewa jasa doker. Ya, Rasti adalah pelacur elit yang bekerja sendiri dan bisa memiliki dokter pribadi. Dokter bermasalah yang kehilangan ijin praktek gara-gara alkoholic. Dokter itu pernah menjadi tamunya Rasti dan akhirnya malah direkrut Rasti untuk menjadi gerbang utama yang harus dilewati tamu-tamu baru sebelum dapat meniduri Rasti. Meskipun begitu, tetap saja masih ada orang yang mendapat perlakuan khusus tanpa perlu ditest, seperti pak RT dan teman-teman Norman yang waktu itu. 

Dokter itu sering protes kalau Rasti hamil, karna kalau hamil jelas Rasti tidak bisa menerima tamu. Tapi Rasti cuek. Dia malah sangat menikmatinya. Rasti ingin hamil terus. Sampai sekarang dia sudah mempunyai tujuh orang anak. Yang mana empat anak terakhirnya, Kiki, Bram, Dion dan Boby, lahir dari kerjaannya sebagai lonte. Tentu tetap tidak jelas juga siapa bapak-bapaknya anak-anaknya itu. Pokoknya semua hidung belang yang datang memakai jasa tubuhnya bebas membuang benihnya ke rahim Rasti, bahkan sering Rasti sendiri yang meminta.

“Duh… Pengen deh bisa jadi bapaknya anak-anak tante, hehe…” ucap Jaka kurang ajar, padahal ada Tedi di situ.

“Dasar kalian ini… Tuh Ted, mereka pengen ngasih kamu adek tuh, hihihi… Boleh gak mama dihamilin mereka?” jawab Rasti yang malah tertawa cekikikan dan menggoda Tedi setelah mendengar ucapan Jaka tersebut. Tedi sendiri tidak menjawab, dia hanya cengengesan saja. Walau Tedi merasa tidak rela, dia juga deg-degan dibuatnya. Membayangkan ibunya dihamili oleh teman-temannya entah kenapa membuat darahnya berdesir dan horni.

“Kalau kalian mau, datang aja lagi ke sini kalau kalian sudah 18 tahun. Ntar tante kasih gratis deh untuk perdananya…” ujar Rasti lagi dengan senyum nakal. Terang saja mendengar hal itu mereka jadi ngaceng maksimal. Siapa sih yang tidak mau merasakan nikmatnya menggenjot tubuh wanita seperti Rasti? Apalagi sampai punya anak darinya. Tedi sendiri juga merasakan demikian walaupun dia tahu kalau wanita ini adalah ibunya sendiri.

“Be..beneran tante?” tanya mereka bertiga kesenangan.

“Iya… tanpa kondom dan boleh muncratin memek tante sepuas kalian, kamu juga Tedi sayang… Kalau tante hamil, tante pasrah kok…” kerling Rasti nakal yang makin membuat mereka blingsatan tidak karuan.

“Hihihi, kenapa? Udah ngebayangin ya? Udah gak tahan? Apa pengen sekarang aja?” goda Rasti lagi. Semakin mupenglah mereka mendengarnya.

“I..iya tante sekarang aja yuk” sahut mereka bersemangat.

“Huuu…. dasar kalian… Nggak! Harus 18 tahun baru boleh. Udah ah, tante mau mandi dulu…. Bentar lagi tante mau nerima tamu. Ted, ajak temanmu main gih, ntar mama betul-betul dientotin mereka lho… hihihi” 

“I..iya ma… Yuk bro main PS aja yuk di kamar” ajak Tedi pada teman-temannya. Mereka bertigapun hanya bisa berseru kecewa. Rasti tertawa geli saja melihat tingkah para remaja itu yang segitu penasarannya ingin merasakan tubuhnya, ngentotin ibu temannya sendiri. Merekapun akhirnya hanya bisa menghabiskan waktu di dalam kamar Tedi sambil main PS, dan lagi-lagi hanya bisa mendengar suara rintihan Rasti yang kenikmatan dientotin oleh para hidung belang. Sore menjelang malam, barulah mereka pulang. Mereka hanya pamit berteriak dari depan pintu kamar Rasti karena Rasti masih sibuk melayani tamunya.

“Nghhh…… Iyaaaahh…. Hati-hati ya kaliannya… Sering-sering ssh… main ke sini yah…” balas Rasti juga berteriak sambil terengah-engah.

***

Beberapa hari kemudian mereka lagi-lagi ingin main ke rumah Tedi. Mereka memang sudah berencana kalau sekurang-kurangnya 1 minggu sekali main ke rumah teman mereka itu. Apalagi kalau bukan untuk memuaskan nafsu mereka, ngacengin Rasti sampai akhirnya onani di sana. Bagi mereka tentunya lebih asik beronani sekalian di sana setelah melihat kebinalan ibu teman mereka itu daripada onani sendirian di rumah. 

Saat mereka datang, ternyata Rasti sedang didoggy Norman di dalam kamarnya. Pintu kamar yang terbuka lebar membuat mereka bisa dengan leluasa melihat aksi perzinahan ibu dan anak tersebut. Sungguh pemandangan yang membuat mereka ngaceng maksimal. Dan seperti yang pernah mereka lihat sebelumnya, Norman betul-betul menggenjot ibunya dengan ganas dan liar serta penuh kata-kata kotor.

“Ssh… Sayang… pelan dikit dong…” ujar Rasti merintih-rintih. Namun bukannya melambatkan genjotannya, Norman malah makin menjadi-jadi menghujamkan penisnya ke liang senggama Rasti, bahkan disertai kata-kata kotor.

“Berisik lo betina jalang! Ibu doyan kontol! Padahal lo keenakan kan? Lo suka kan dikasarin gini? Dasar lacur…” hina Norman sambil manarik-narik puting Rasti. Norman sendiri memang lagi kesal karena baru kalah taruhan bola, dan ia pun melampiaskannya dengan menyetubuhi ibunya dengan liar. 

“Ssh… kamu ini… Iya deh, terserah kamu deh pengen apakan mama… dasar anak bandel, ibu sendiri dientotin” 

“Mama sih lonte…”

“Iya, mama memang lonte, lontenya kamu saying” racau Rasti mengikuti saja permainan kasar anaknya itu, dia memang tidak keberatan sama sekali harus melayani nafsu binatang anaknya yang urakan itu. Rasti juga merasakan sensasi nikmat dengan permainan kasar dan ucapan-ucapan yang melecehkan dirinya. Sensasinya bahkan menjadi berkali-kali lipat karena menyadari bahwa anak kandungnya sendiri yang sedang menggenjotnya. Anaknya yang dia lahirkan dari benih-benih para pemerkosanya waktu itu, kini malah sedang asik menghujam liang vaginanya dengan beringas disertai kata-kata kotor yang menghinanya sebagai ibu kandungnya.

Rasti dan Norman terus saja asik bersenggama dan tidak menyadari kehadiran Tedi dan teman-temannya sama sekali. Hingga akhirnya tubuh Norman mengejang, dia menumpahkan seluruh spermanya ke dalam rahim Rasti.

“Hehe… kayaknya mama bakal hamil anakku deh ntar…” ucap Norman.

“Tau tuh, kamu sih…” balas Rasti yang terlihat cuek. Dia tidak ambil pusing jika nanti dia benar-benar akan hamil dari benih anaknya sendiri. Rasti bahkan jadi panas dingin dan menanti-nanti apa dia benar akan hamil anaknya Norman. Sungguh binal.

Setelah selesai bersenggama dan hendak keluar kamar, barulah Rasti sadar kalau ada teman-teman Tedi.

“Eh, kalian di sini? Udah dari tadi?” tanya Rasti.

“Iya tante, hehe…” 
“Ihh.. Tante mainnya heboh banget sih…”
“Hot banget tante ngentotnya, asik” jawab mereka bergantian.

Jelas mereka mupeng berat dengan apa yang baru saja dilihatnya. Termasuk Tedi, dia begitu iri dengan adiknya yang sudah bisa merasakan betapa nikmatnya tubuh ibunya yang molek itu. Tentu saja selama ini Tedi juga pernah meminta untuk bisa merasakan seperti apa yang Norman rasakan, tapi berkali-kali juga Rasti menolaknya. Rasti cuma berkata agar memaklumi kelakuan adiknya itu, yang bila tidak dituruti kemauannya bakal ngamuk tidak karuan. Akhirnya Tedipun baru akan dijanjikan boleh menyetubuhinya kalau sudah SMA.

“Kenapa kalian? Iri? Pengen ngerasain ngentot sama mama juga?” tanya Norman menggoda mereka, dia tahu kalau mereka termasuk kakaknya itu dari tadi menatap iri padanya.

“Sayang… jangan godain mereka gitu dong…” ujar Rasti sambil mengelus sayang kepala Norman.

“Biarin... Ma, bikinin minum dong… capek nih habis ngentot” suruh Norman seenaknya. Udah enak-enakan ngentot, minta dibikinin minum pula, tapi Rasti tetap menurutinya. Dia tidak keberatan sama sekali.

“Kalian juga mau minum kan?” tanya Rasti pada Tedi dan teman-temannya.

“Iya tante… makasih”

Rasti lalu berpakaian kembali, dia mengenakan kemeja putih dan celana legging hitam pendek. Tetap terlihat sangat seksi dan memancing nafsu. Bagaimana tidak? Soalnya Rasti tidak mengenakan apa-apa lagi dibaliknya, sehingga putingnya tercetak dari balik kemaja itu. Belahan Vaginanyapun terlihat dengan jelas dibalik legging ketat itu.

Setelah berpakaian, Rastipun ke dapur untuk membuatkan mereka minuman. Sedangkan Norman, Tedi dan teman-temannya duduk dengan santainya menunggu di sofa depan tv.

“Emang enak bener nih ngentot nih cewek. Udah cantik, putih mulus, bahenol, terus empotannya itu lho… gak tahan, huahahaha” ujar Norman lagi saat Rasti kembali dan duduk bersama dengan mereka. Ya, Norman memang sengaja ingin memanas-manasi mereka.

“Sayang… kamu udah dooong…” kata Rasti.

“Biarin aja napa sih Ma!? Lagian mereka ini goblok banget sih… Mau-maunya nurut harus nunggu 18 tahun dulu, padahal mama sendiri ngentotnya sejak umur 12 tahun, iya kan Ma?” lanjut Norman lagi.

“Iya memang, tapi seharusnya kan emang harus 18 tahun dulu baru boleh gituan. Kamu aja yang bandel jadi anak, mama sendiri dientotin pula, iya nggak Jaka?” ujar Rasti melirik pada Jaka.

“I..iya tante”

“Halaaah… apanya yang perlu nunggu 18 tahun! Teori darimana tuh? Asal udah bisa ngaceng ya sudah waktunya. Apalagi kalau barangnya udah tersedia gini dan siap pakai, ya tinggal embat aja. Goblok lu pada!” kata Norman lagi menghina mereka.

“Duuuh… sayang, kamu ini. Kalian jangan dengerin dia yaaah… bandel banget nih anak” balas Rasti sambil menutup mulut anaknya itu dengan tangannya. Tingkahnya Rasti itu sungguh menggemaskan. 

“Ng… tapi betul juga sih kata Norman tante” kata Riko.

“Hmm? Betul apanya?” tanya Rasti balik.

“Itu… kalau kita udah boleh ngentot, hehe”
“Iya tante… betul tuh, daripada cuma onani dan buang peju percuma, hehe” kata Jaka ikut-ikutan. Romi juga ikut mengangguk.

“Terus? Buang pejunya di memek tante gitu? Hihihi… Dasar kalian ini. Tuh, gara-gara kamu sayang, mereka jadi terprovokasi tuh” ujar Rasti melepaskan bekapan mulut Norman lalu mencubit manja hidung anaknya itu. Norman hanya tertawa cengengesan.

“Kamu sendiri gimana Tedi? Setuju kan kalau boleh gituan kalau udah cukup umur?” tanya Rasti kini pada Tedi. 

“Aku juga pengen sih ma. Masak Norman udah boleh tapi aku belum” jawab Tedi yang ternyata juga setuju dengan ucapan Norman tadi.

“Ampun deh kalian ini…” Rasti geleng-geleng kepala.

“Jadi gimana? Kalian pengen nunggu 5 tahun lagi? Atau kita perkosa aja nih cewek rame-rame sekarang? Huahahahaha” lanjut Norman lagi menggoda mereka.

“Hush! Enak aja perkosa… kalian rame gitu, ya jelas tante kalah” kata Rasti mencubit pelan paha Norman.

“Tuh kan Ma, Mama aja takut kita perkosa, berarti kita kan emang seharusnya udah bisa ngentot” kata Tedi.

“Iya udah bisa, tapi belum boleh…” ujar Rasti yang kewalahan menjawab argumentasi-argumentasi Norman dan tuntutan Tedi dan teman-temannya.

“Walau belum boleh tapi udah bisa kan Ma?”

“Bisa sih, aduh kalian ini…” Rasti betul-betul kewalahan. Mereka kini duduk berkeliling mengerubungi Rasti. Dimulai dari Norman, merekapun beramai-ramai menggerayangi Rasti.

“Kalian ini ngapain sih?” tanya Rasti namun masih membiarkan ulah mereka. Melihat Rasti tidak melawan membuat mereka semakin berani. Merekapun mulai mencoba membuka kancing kemeja Rasti, saat itulah baru Rasti mencoba melawan menghalau tangan-tangan jahil mereka.

“Hei hei! Kalian mau ngapain? Hayo ngapain!?” ucap Rasti sedikit berteriak. Tapi nafsu mereka sudah di ubun-ubun. Meski Rasti melawan, mereka tetap terus berusaha melepaskan kancing baju Rasti satu-persatu sampai seluruh kancing kemeja Rasti terbuka. Buah dada Rasti yang ranumpun terpampang di hadapan mereka yang membuat mereka semakin bernafsu. Rasti sungguh seksi dengan pose seperti itu, dengan kemeja yang masih menempel di bahunya.

“Duh, kalian ini… tolong deh… Maksa banget sih?” teriaknya lagi, namun mereka tetap tidak peduli. Tedi dan teman-temannya benar-benar ingin menelanjangi Rasti. Mereka lalu melepaskan kemeja itu dari tubuhnya, akhirnya sekarang Rasti bertelanjang dada. 

Rasti ditelanjangi sedikit demi sedikit beramai-ramai. Oleh anaknya serta teman-teman anaknya. Rasti tidak berdaya melawan nafsu mereka semua. Dia kalah jumlah. Meskipun dari tadi Rasti mencoba meronta, namun sebenarnya dia diam-diam menikmati juga ditelanjangi pelan-pelan. Dia melawan hanya buat manja-manjaan saja. Tapi justru itu membuat nafsu Tedi dan teman-temannya semakin tak terbendung.

“Lepasin…” pinta Rasti memohon. Dia mulai berkeringat. Dikelilingi beramai-ramai oleh mereka membuat suasana makin gerah. Tapi semakin tinggi pulalah nafsu mereka melihat keadaan Rasti tersebut. Tangan mereka semakin menjadi-jadi menggerayangi Rasti.

Mereka kemudian mencoba menarik celana legging pendek Rasti, tapi kesusahan karena Rasti terus meronta. Namun, “Brreeeeeetttt!” mereka menarik paksa legging tipis itu hingga sobek.

“Awh… gilak kalian!” teriak Rasti sambil menahan tawa. Para remaja itu makin horni saja melihat Rasti bertelanjang dada yang hanya mengenakan celana sobek. Merekapun menarik celana itu lagi lebih kuat hingga celana itu makin besar sobekannya dan terlepas seluruhnya dari tubuhnya. Sekarang akhirnya Rasti benar-benar telanjang bulat. Polos di hadapan mereka.

“Gilak kalian… Sampai sobek giniii… hahaha” Rasti tidak tahan lagi untuk tertawa. Dia betul-betul merasa lucu dengan tingkah bocah-bocah itu. 

“Apa lagi? Apa lagi hayo? Lanjut merkosa tante hah??” ujar Rasti yang malah menantang mereka. Tentu saja membuat mereka semakin gemas. Mereka betul-betul tidak kuat. Tedi dan teman-temannyapun kembali menggerayangi Rasti. Bagian sensitif tubuh Rasti seperti buah dadanya digerepe dan diremas habis-habisan oleh mereka. Tangan usil mereka juga mencoba menyentuh vagina Rasti, namun Rasti mencoba melawan dengan mengapitkan pahanya. Walau dengan bersusah payah, akhirnya ada juga yang berhasil membelai dan memainkan jarinya di sana. Vagina Rasti sudah sangat basah tentunya. Rasti memang sangat menikmati permainannya itu serta setiap perlakuan cabul mereka terhadapnya.

Ketika Rasti melihat mereka mulai membuka pakaian mereka masing-masing, barulah Rasti benar-benar ingin menghentikannya. 

“Udah ya! Stop! Stop! Keterusan tuh kaliannya!” ujar Rasti mengehentikan mereka. Rasti terlihat sangat serius. Meski Rasti terangsang, dia tetap keukeuh tidak mau melayani mereka. Dia harus bersikap tegas. Mereka yang melihat wajah serius Rasti akhirnya berhenti menggerayangi tubuhnya.

“Kalian ini, bandel banget! Geser-geser! Gerah nih…” ucap Rasti pura-pura kesal.

“Maaf tante... kita gak kuat”

“Iya tante tahu… tapi kan tante udah bilang kalau baru boleh gituan kalau udah umur 18 tahun. Kalian kok maksa gitu sih? Ntar gak tante bolehin main ke sini lagi lho… mau?”

“Yaahh… jangan tante…”

“Makanya, kalian mau kan jadi anak yang baik?”

“Mau tante”

“Bagus deh… jangan kayak anak tante itu, bandelnya gak ketulungan” ujar Rasti melirik Norman.

“Ah, cemen lo semua! Banci!” leceh Norman.

“Hush! Anak mama satu ini, jangan ngomong kayak gitu dong sayang… Lagian kamu itu emang bandel tau nggak! hihihi” seru Rasti sambil mendekap Norman. Rasti yang kembali horni akibat gerepean dan remasan-remasan mereka tadi, kini malah bermanja-manjaan dengan Norman. Mengelus-ngelus kepalanya, sampai akhirnya ia mencium bibir anak nomor duanya itu. Merekapun berciuman dengan panasnya.

Tedi dan teman-temannya kembali dibuat iri. Padahal tadi Rasti menyetop aksi mereka, tapi dia sendiri dan Norman tidak henti-hentinya bermesraan. Norman malah cengengesan dan melirik ke arah mereka ketika berciuman dengan Rasti, jelas membuat mereka makin panas dan tidak terima dibuatnya.

Rasti dan Norman terus bercumbu dengan asiknya. Tangan mereka saling menggerayangi. Norman dengan leluasanya bisa meraba buah dada dan vaginanya Rasti. Begitupun Rasti yang mengocok penis Norman dan membelai buah zakarnya.

“Lho tante? Kok malah nerusin sih?”
“Iya, kita disuruh berhenti, tapi tantenya sendiri gak berhenti”

“Mamaaaaa… ih, udah dong!” ucap Tedi juga.

“Lho, siapa suruh kalian gerayangi tante tadi… Mama kan terangsang lagi nih…” ucap Rasti manja lalu lanjut lagi berciuman dengan Norman di depan mereka.

“Iiih, kan tante sudah gituan dari tadi” kata Riko yang disambut anggukan mereka bertiga.

Normanpun akhirnya melepaskan ciumannya.
“Cerewet banget sih kalian! Namanya juga lonte, dientotin berkali-kali gak ada puasnya… becek terus memeknya!” cibir Norman.

“Iih, kamu ini” dengus Rasti.

“Gak percaya? Nih…” Tiba-tiba Norman mengangkat satu kaki Rasti ke pangkuannya. Dia kangkangkan kaki Rasti, memamerkan selangkangan ibunya itu dihadapan Tedi dan teman-temannya.

“Kyaaaa!” Rasti menjerit kaget, tapi toh tidak melawan sama sekali. Norman kemudian mencolok-colokkan jarinya ke vagina Rasti yang hanya bisa mengerang-ngerang keenakan. Wajahnya merah padam malu bercampur horni. Norman lalu menunjukkan jari-jarinya yang basah kuyup oleh lendir Rasti.

“Tuh kan lihat udah banjir aja… Udah minta disodok lagi nih memek” kata Norman. Tidak cukup begitu, Norman lalu menyibakkan kelentit Rasti yang sudah mengeras. Teman-teman Tedi yang belum pernah melihat vagina Rasti sedekat dan sejelas itu makin dibuat panas dingin karenanya.

“Nih lihat, ini namanya itil. Kalau udah keras begini tandanya…” Belum selesai Norman bicara, Rasti sudah menarik kakinya dan merapatkannya. Dia merasa Norman sudah cukup kelewatan. Rasti risih dan malu juga dibuatnya.

“Kamu ini… Udah ah! Gila! Dasar anak mama ini paling cabul, nakal!” Rasti menjewer Norman, tapi tentunya tidak serius. Norman terkekeh-kekeh saja. Rastipun mendengus manja.
“Udah ah, yuk ronde keempat. Masih bisa kan sayang?” ajak Rasti kemudian.

“Hah???” teman-teman Tedi ternganga mendengarnya.

“Iya nih, anak tante ini sejak pagi udah ngentotin mamanya sendiri. Sampai tadi kalian datang itu sudah ronde ketiga lho…” ucap Rasti tanpa malu-malu.

“Hehehe, ayuk Ma ronde keempat. Siap-siap ya lonte binal…” ujar Norman.

“Ayo… masih kuat kamu? Paling-paling 5 menit aja udah ngecrot, hihihi” goda Rasti menjawil hidung Norman.

“Anjrit nih lonte nantangin segala. Liat aja, taruhan deh kalo gue gak keluar sampe setengah jam, mama mau kasih apa?” ucap Norman. Teman-teman Tedi geleng-geleng kepala. Sungguh kurang ajar sekali Norman ini. Dia selalu memanggil ibunya dengan hina. Tapi mendengar ucapan-ucapan kurang ajarnya itu juga membuat mereka semakin horni.

“Kasih apa lagi? Kan kamu udah mama kasih segalanya sayang… Apa lagi sih? Tuh, abangmu yang belum dapat apa-apa, hihihi”

“Iya yah, si abang yang belum dapat apa-apa dari mama… Dia sih bodoh banget, punya mama lonte dianggurin. Padahal kan nikmat banget memeknya, sayang banget gak dientotin, dihamili juga gak masalah, iya kan ma? hehe”

“Hush! Kamu ini lagi-lagi nertawain abangmu” jewer Rasti lagi ke Norman. Namun tiba-tiba terdengar suara tangisan si kecil Bobi, anak bungsunya Rasti yang baru bangun tidur.

“Wah, si Bobi kebangun tuh sayang… jadi ronde keempatnya?” tanya Rasti yang bukannya langsung mengurus bayinya, malah menanyakan hal seperti itu dulu pada Norman.

“Ya jadi dong Ma… Bang, urusin tuh adek bungsu lo… Mama mau gue entotin dulu…” suruh Norman seenaknya pada Tedi.

“Yah mama…” protes Tedi, tapi Rastinya malah menyetujui.

“Duh, gak papa ya sayang… Tolong ya… Mama mau ngurusin adek kamu yang paling besar ini dulu nih, nakalnya minta ampun sih… Ya sayang? Kamu jagain adek kecil ya… biar mama jagain adek besar”

“Sono bang cepetan, ntar gue pasti bisa menang taruhan. Kuat setengah jam lebih, ntar hadiahnya buat lo deh…” ujar Norman ngasal.

“Iih.. hadiah apa sih?” protes Rasti.

“Lha, mama tadi nantangin, sekarang diminta ngasih hadiah gak mau. Mau nggak? Kalau gak ya udah deh, mama urusin adek aja, memeknya gak jadi Norman servis” kata Norman pura-pura jual mahal. 

“Iya sayang iya deh…” Rasti yang memang sedang horni akhirnya mengiyakan juga permintaan anaknya yang bandel itu. Dia lebih memilih untuk memuaskan nafsunya dulu ketimbang menengok bayinya di kamar. Toh si kecil bisa diurusin kakak-kakanya, dia bisa menyusul belakangan, tapi kalau nafsunya harus dituntaskan saat itu juga, pikir Rasti. Dia betul-betul pengen digenjot lagi memeknya. Siapa lagi kalau bukan oleh anaknya sendiri, si Norman.

“Tolong ya Tedi sayang… ntar mama kasih hadiah spesial deh buat kamu… tapi kalau Norman emang kuat sampai lebih setengah jam ya…” Rasti lalu membelai Tedi dan mengecupi pipinya. 
“Muah muah muaaaah… anak mama yang paling pinter, titip adek ya…”

“I..iya deh Ma” walau sedikit berat hati, tapi akhirnya Tedi turuti juga. 

“Yuk, ibuku, lonteku, kita ngentot lagi” ajak Norman.
“Ayo, anakku” sahut Rasti. Merekapun bergandengan tangan masuk ke kamar.

Tedi dan teman-temannyapun sibuk mengurusi si kecil Bobi. Sedangkan si ibu asik bersetubuh, berzinah ria dengan Norman anak kandungnya sendiri. Mereka hanya bisa mendengar suara rintihan-rintihan saja karena kali ini pintu kamar Rasti ditutup. Walaupun begitu, Tedi berharap dalam hati semoga Norman benar-benar akan lebih dari setengah jam menggenjot mamanya sehingga mamanya benar-benar akan memberi hadiah spesial unuknya nanti seperti yang dikatakannya tadi.

Rasti sendiri tentunya juga tidak masalah jika Norman akan lebih dari setengah jam menyetubuhinya. Makin lama makin bagus, dia juga makin terpuaskan. Kalaupun nanti akan memberi hadiah pada Tedi, rasanya bukan suatu masalah sama sekali. Tidak ada yang salah dengan memberi hadiah pada anak sendiri. Walaupun mungkin kali ini dia akan memberikan hadiah yang sedikit ‘nakal’ pada anak sulungnya itu.

Akhirnya memang demikian. Norman benar-benar lebih dari setengah jam menggenjot Rasti. Dan seperti janji Rasti tadi pada mereka, dia akan memberikan hadiah untuk anak sulungnya itu.

“Huahahaha, benar kan kata gue bang. Dapat hadiah kan jadinya lo sekarang” tawa Norman.

“Eh, iya… Jadi apa Ma hadiahnya?” Tanya Tedi penasaran. Teman-teman Tedi juga ikutan penasaran.

“Kamu maunya apa sayang?” Tanya Rasti balik.

“Ng… apa ya… bingung juga Ma”

“Hmm… gini aja, minggu depan kamu ulangtahun kan ya?” tanya Rasti pada Tedi.

“Iya mah”

“Gini aja deh, minggu depan saat ulang tahunmu. Kamu dan teman-temanmu itu boleh deh minta mama melakukan apapun”

“Hah? Maksud Mama?” tanya Tedi.

“Iya… kamu mau mama ngapain aja bakal mama turutin. Apapun deh, pokoknya bisa muasin fantasi kalian. Mau nggak?”

“Eh, i..iya Ma… Mau Ma, mau banget” sahut Tedi cepat bersemangat.

“Mau tante”
“Iya tante, mau” ujar teman-teman Tedi juga nggak kalah semangatnya.

“Hihihi, dasar kalian ini. Emang fantasi kalian apa aja sih tentang mama?” tanya Rasti dengan senyum manis menggoda. Rasti betul-betul ingin tahu seperti apa saja pikiran-pikiran nakal mereka semua terhadap dirinya.

“Belanja bugil di pasar!”
“Mama digangbang kuli-kuli!”
“Dibukkake 100 orang!”
“Main bokep!”
“Nari striptease ditonton banyak orang!”
“Mama ngentot sama tukang sampah!”
“Nyusuin anak-anak SMA!”
Rasti tertawa-tertawa saja mendengar berbagai ide cabul anaknya sendiri dan teman-temannya itu.

“Iih… masa kamu mikirin mama sampai secabul itu?”
“Iya ma… boleh kan?”
“Iya tante… Tante mau kan mewujudkannya? Katanya tadi apapun fantasi kita-kita?”

“Hihihi, tapi fantasi kalian bahaya-bahaya gitu… Jadi boleh dong mama nego-nego dikit. Ya udah deh liat aja besok ya… Minggu depan!”

“Iya deh Ma…”

****

Minggu depanpun tiba. Teman-teman Tedi di sekolah penasaran dan nanya-nanya ke Tedi, apa yang sudah dia minta ke mamanya. Tedi senyum-senyum saja. 
“Lihat saja nanti…” ucapnya misterius. 

Bel tanda sekolah usai akhirnya berbunyi. Seakan ribuan tahun menunggunya. Teman-teman Tedipun mengekor Tedi.

“Ayo cepat pulang Ted, kita ke rumahmu kan?” tanya Jaka. Tedi senyum-senyum saja.
“Gak usah, gue minta mama jemput ke sini kok…” jawab Tedi santai.

Akhirnya tidak lama kemudian terlihat mobil Rasti datang menjemput mereka. 
"Tuh mama udah datang, yuuk!" ajak Tedi pada teman-temannya sambil senyum-senyum. Dengan penuh rasa penasaran merekapun mengikuti Tedi. Alangkah terkejutnya mereka ketika menjumpai Rasti membuka pintu mobil, ternyata dia dalam keadaan telanjang bulat!

"Ayo cepetan masuk… keburu ada yang lihat!" suruh Rasti agar mereka cepat-cepat naik ke mobil.

“I..iya tante” sahut mereka. Jantung teman-teman Tedi berdetak kencang karena keadaan ini. Ternyata ini yang diminta Tedi pada mamanya.

“Kenapa kalian?” tanya Rasti melihat teman-teman Tedi yang terheran-heran dan mupeng berat.

“Ng… anu… tante nyetir telanjang bulat dari rumah?”

“Iya… dari rumah, Tedi tuh yang nyuruh tante jemput dia tapi gak boleh pake apa-apa. Dia juga gak ngebolehin tante bawa baju satupun juga”

“Hah? Gak bawa baju juga tante?” Tanya mereka terkejut. 

“Iya, nggak bawa… Cuma bawa Bobi aja, hihihi” jawab Rasti. Rasti memang membawa anak bungsunya itu, takut kenapa-kenapa. Anak-anaknya yang lain memang ia tinggal di rumah.

“Terus, kalau nanti ada apa-apa di jalan gimana tuh tante? Misalnya ada razia gitu…” tanya mereka masih tidak percaya.

“Tante juga gak tahu tuh, berdoa aja deh moga-moga gak terjadi apa-apa” ucap Rasti terlihat santai tapi sebenarnya sangat berdebar-debar. Teman-teman Tedipun juga tidak kalah deg-degan.

“Jadi mau kemana nih kita sekarang?" tanya Rasti yang walaupun tegang tapi excited juga.

"Hah? kita gak mau pulang nih?" tanya teman-teman Tedi. 

"Ya gak lah, kita muter-muter dulu dong... siap kan mama?" jawab Tedi. 

"Iya... terserah kamu deh, jadi mau kemana nih kita...?" tanya Rasti lagi. 

"Mmm kemana ya? Enaknya kemana nih teman-teman?" Tanya Tedi pada teman-temannya. Mereka saling pandang satu sama lain. Sebuah kesempatan yang sangat bagus. Mereka harus menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya untuk mewujudkan semua pikiran-pikiran cabul mereka selama ini pada Rasti, ibu temannya ini.

Kemanakah mereka akan berpetualang hari itu? Aksi binal apa saja yang akan Rasti tunjukkan pada mereka?

*****

Namanya Rasti. Seorang ibu muda yang baru berusia 26 tahun yang telah melahirkan tujuh orang anak tanpa suami. Dia menghidupi anak-anaknya dengan melacurkan diri. Miris memang melihat bagaimana Rasti memberi makan anak-anaknya dari hasil melonte, melayani pelanggannya di rumahnya sendiri, bahkan tidak jarang ia melayani tamunya di hadapan anak-anaknya. Namun itulah jalan hidup yang dipilihnya. Meskipun pekerjaannya dianggap menjijikkan bagi sebagian orang, dia tidak peduli, dia menikmatinya.

Rasti memang seorang lonte, tapi di luar itu, Rasti juga adalah wanita dan ibu yang tangguh. Betapa tidak, ia adalah single mother yang sukses mengasuh dan membesarkan 7 orang anak! Dengan segala pengorbanannya, dan dengan semua yang telah dilaluinya, Rasti kini menuai hasilnya. Dia dan anak-anaknya dapat hidup enak. 

Pria manapun yang melihat Rasti pasti dibuat terpesona dengan kecantikannya, aura keibuannya, serta sifat lembut dan ramahnya. Rasti dipuja-puja oleh semua lelaki, baik pelanggannya, anak-anaknya, serta suami tetangga. Begitupun dengan teman-teman anaknya. Teman-teman anak sulungnya, si Riko, Romi dan Jaka, sering bermain ke rumahnya. Mereka sangat penasaran dengan ibu teman mereka ini. Mereka ingin selalu berlama-lama di sana, dengan harapan dapat melihat dan menonton aksi-aksi Rasti yang membuat adik kecil dalam celana mereka berontak. Tidak jarang pula mereka menuntaskannya dengan beronani di kamar mandi rumah Rasti.

Dan kali ini mereka punya kesempatan yang sangat bagus untuk mewujudkan fantasi-fantasi nakal mereka lainnya. Rasti ingin memberikan hadiah pada Tedi dengan menuruti semua keinginan anaknya tersebut di hari ulangtahunnya. Teman-teman Tedipun kebagian imbasnya. Sungguh beruntung. 

Mereka sudah berada di dalam mobil Rasti, yang mana ibu teman mereka itu bertelanjang bulat duduk di kursi kemudi! Siap membawa mereka kemanapun yang mereka inginkan. Tedi dan kawan-kawan, plus si bungsu, semua duduk di belakang. Rasti sendirian di depan. Untungnya semua kaca mobil Rasti menggunakan kaca film sehingga mereka tidak perlu takut kelihatan orang dari luar.

“Jadi kita mau kemana dulu nih?” tanya Rasti pada Tedi dan teman-temannya. Mereka saling pandang, bingung mau memulainya dari mana. Apakah harus ke pantai, ke taman kota, ke kolam renang atau mungkin ke pasar. Melihat tingkah mereka yang kebingungan itu Rasti jadi tertawa dibuatnya.

“Hahaha… kalian ini, padahal kemarin kayaknya semangat banget”
“Kita semangat kok tante, semangat bangeeeet malah, hehehe”

“Terus? Kemana dong kalian maunya? Kalian bebas kok bilang maunya apa, asal gak gila banget aja yah, hihihi” pancing Rasti lagi.

“I..iya tante” jawab mereka serempak.
“Eh, Ted, lo bukannya pengen punya kamera DSLR? Minta sekarang aja sama mama lo!” usul Jaka. Tedi memang menyukai fotografi, teman-temannya tahu itu. Sebagai ibu, Rasti juga sudah lama tahu ketertarikan dan minat Tedi pada fotografi, dengan senang hati Rasti mau memenuhi permintaan anaknya itu. Ya, selain permainan fantasi ini, Rasti juga sudah janji akan membelikan hadiah ‘betulan’ buat Tedi. Apapun yang Tedi minta, berapapun harganya. 

“Benar juga tuh, kita ke mall dulu yuk Ma, beliin Tedi kamera.” setuju Tedi dengan usul Jaka.
“Ohh… Oke deh sayang. Kamu ingin beli sebagus dan semahal apapun pasti Mama beliin kok buat kamu.” ujar Rasti sambil tersenyum manis pada Tedi melalui spion depan.

“Makasih Ma, Mama memang paling baik deh.” puji Tedi.
“Iya.. emang enak banget punya Mama kayak Mama lo Ted, iri gue, duh…”

“Hahaha, kalian ini… Berangkat sekarang?” kerling Rasti pada mereka.
“Iya Mah…”
“Siap bos, meluncuuuur, hihihi…” ujar Rasti dengan riangnya. Sungguh Ibu yang sempurna. Betapa bahagianya Tedi dan adek-adeknya. Juga betapa beruntungnya Riko, Romi, dan Jaka bisa berteman dengan Tedi.

Mereka mulai meluncur ke mall terdekat. Tedi dan teman-temannya asik memperhatikan betapa seksinya Rasti yang nyetir sambil bugil. Rambut panjangnya diikat sehingga tengkuk dengan bulu-bulu halusnya terlihat menggoda. AC mobil berhembus pelan menyapu kulit putih mulus Rasti yang terbuka bebas. Sungguh mempesona. Tentunya sangat menyenangkan bagi mereka melihat gerak-gerak Rasti yang tetap gesit mengendalikan mobil dengan kondisi telanjang bulat begitu. Bagaimana kaki jenjang Rasti asik injak-lepas pedal, dan tangan Rasti yang lihai memainkan perseneling dan stir.

“Duh… jangan dilihatin terus. Tante jadi grogi nih nyetirnya” ujar Rasti sok manja, pura-pura risih diperhatikan oleh mereka.
“He he… Tante cantik banget sih, sayang dong kalo dilewatin…”
“Buka kacanya dong Tante…?” 
“Iih gila kalian ah… Nggak ah…” 

Tapi karena Tedi protes nagih janji bakal penuhi semua fantasi mereka, Rastipun nurut. Hanya kaca di jendela supir yang dibuka. Semua jendela lainnya tertutup rapat. Tedi dan kawan-kawan memilih untuk tidak terlihat.

“Curang ih kalian, dasar…” protes Rasti manja. Tapi to Rasti tetap menuruti kemauan mereka. Awalnya hanya buka sedikit-sedikit jendelanya, pas sepi barulah dibuka penuh. Kebetulan mobil Rasti jenis SUV yang besar, bukan jenis sedan. Jadi rasti berani nekat aja. Karna mobil jenis ini ground clearancenya tinggi, posisi kursi penumpangnya juga tinggi. 

Bahkan saat lampu merah Tedi dan teman-temannya melarang Rasti menutup kaca mobil. Beberapa kali Rasti nurut, karena paling banter mobil yang menjejerinya tidak lebih tinggi dari mobil mereka. Bahkan teman-teman Tedi punya ide, beberapa kali di lampu merah mereka minta Rasti pura-pura nanya jalan pada pengemudi kendaraan di sampingnya, baik mobil maupun motor! Dalam posisi itu Rasti yang hanya menaikkan sedikit kaca mobilnya memang hanya akan terlihat sebatas pundak. Tentunya sangat seksi sekali dilihat dari luar, Rasti akan tampak seperti telanjang, padahal memang benar! Tidak hanya itu, Tedi juga ikutan iseng mengerjai ibu kandungnya itu dengan menyuruh Rasti membeli koran ke pedagang koran di perempatan lampu merah. Sungguh sesuatu yang menegangkan namun juga menggairahkan bagi mereka maupun Rasti sendiri.

Merekapun akhirnya sampai ke mall. Tedi dan kawan-kawan sudah memakai baju ganti. Untuk Rasti sendiri, Tedi membawakan sebuah selendang. Walhasil Rasti cuma pakai selendang yang dililitkan pada tubuhnya dan dipeniti. Selendang yang dibawa Tedi juga sangat pendek, lebarnya sekitar 30cm dan panjangnya tidak sampai 2 meter. Hanya bisa dililitkan 3 kali, dan hanya menutupi area dada-paha atas. Jika sekilas, orang tidak akan memperhatikan bahwa yang dikenakan rasti hanyalah lilitan selendang, sekilas pakaian Rasti malah seperti pakaian yang dirancang desainer terkenal, karna motif selendang yang dibawa Tedi memang ngejreng warnanya, dan bahannya terbuat dari kain yang sangat halus dan lembut. Pasti bukan kain murah, pikir teman-teman Tedi. 
Mall itu adalah mall baru yang ada di kawasan apartemen baru yang elit. Jelas mallnya cukup mewah dan mentereng. Dirancang untuk jadi tempat belanja kalangan kelas atas, termasuk para selebritis. Jadi pakaian Rasti tidak akan terlalu menarik perhatian karna memang banyak yang berpakaian seksi dan terbuka seperti Rasti di mall itu. Dan lagi, karena mall ini baru, ada banyak toko yang kosong, belum laku, ataupun sudah laku tapi belum buka. Meski begitu tetap saja itu menegangkan bagi Rasti. 

Meskipun banyak wanita yang berpakaian seksi di dalam mall itu, tapi Rasti tetap yang paling menarik bagi Tedi dan teman-temannya. Bagi mereka Rasti adalah wanita paling cantik dan paling menarik di dunia. Apalagi dengan pakaian seperti itu, Rasti melenggang di dalam mall sambil menggendong si bungsu. Sebuah pemandangan yang sangat mencolok dan indah, Rasti benar-benar jadi pusat perhatian.

“Sayang…kamu jangan nakal yah… jangan minta mimik susu dulu yah, hihihi” ujar Rasti pada anak bungsunya. Tapi di dalam hati dia malah penasaran bagaimana rasanya menyusukan anaknya di tempat umum dengan pakaian seperti itu, dia berharap anaknya itu nanti bakal rewel minta nyusu padanya. Tedi dan teman-temannya yang mendengarnyapun juga berharap demikian.

Tujuan mereka langsung ke tempat penjualan kamera. Tedipun mendapatkan kamera impiannya. Kamera terbaru plus tambahan lensa untuk longshoot. Total harganya lebih dari 15 juta. Rasti dengan senang hati memenuhi permintaannya itu. 

“Spesifikasi kamera ini sudah cukup buat kamu sayang? Boleh kok kalo minta yang lebih canggih…” tanya Rasti yang betul-betul tidak mempermasalahkan harga. Tapi Tedi merasa cukup dengan kamera barunya ini. Rasti senang Tedi bukan anak yang royal, apalagi minat dan hobinya ini tentu sesuatu yang positif, Rasti mendukungnya 200%. Bahkan selain permintaan Tedi, diam-diam Rasti merencanakan hadiah ‘betulan’ lain yang dia siapkan sendiri untuk Tedi. Sungguh teman-teman Tedi dibuat iri dengan Tedi.

Di dalam toko kamera yang relatif masih sepi juga, pelayan toko yang semua pria jadi bisa melihat dan bahkan berkomunikasi dengan Rasti dari dekat. Beberapa kali mereka terlihat menelan ludah. Kelihatan sekali mupeng dan tidak konsen. Rasti yang menyadari putting susunya tercetak jelas, mencoba menutupinya dengan menggendong si bungsu di depan. 

“Duh sayang, kamu ni ngasih mama pakaian rawan banget gini siih…?” bisik Rasti setelah keluar dari toko kamera.
“He he he… tapi asyik kan Ma?”
“Hiih… Kamu ini…” ucap Rasti gemas. Tapi dalam hati Rasti sadar apa yang sedang mereka lakukan hari ini, dan dia bertekad untuk menikmatinya. 

Setelah membeli kamera mereka lalu mutar jalan-jalan di mall. Berkali-kali si bungsu yang berada dalam pelukannya rewel, membuat Rasti kewalahan menenangkannya. Suara rewelan Bobby malah semakin menarik perhatian pengunjung mall. Rasti berusaha cuek dengan tatapan mata orang-orang disekitarnya. Gilanya, teman-teman Tedi malah memprovokasi Rasti untuk netekin Bobi. 

“Gak mau ah, masak netekin Bobi di sini?” tolak Rasti.
“Bobinya kayaknya haus tuh tante, masak dibiarin aja, iya gak Ted?” 
“I..iya Ma… Bobi haus tuh.” jawab Tedi ikut-ikutan. Tapi Rasti tetap belum mau untuk netekin Bobi, tidak di tengah-tengah kerumunan orang-orang begini. Namun teman-teman Tedi malah semakin keras suaranya membujuk ibu teman mereka itu, membuat orang-orang semakin melirik ke arah mereka. Entah apa yang dipikirkan para pengunjung yang mendengar ocehan-ocehan teman-teman Tedi itu pada Rasti. 
“Ayo Tante buka susunya Tante…” 
“Iya buka dong Tante, cepetan…” 
Sungguh membuat Rasti semakin malu. Hampir-hampir Rasti mengalah karna Bobi yang memang rewel terus, susah banget disuruh diam.Untung saja saat Rasti sudah mulai mencari-cari tempat aman untuk menyusui Bobi, pada akhirnya Bobi malah mulai anteng sendiri tanpa harus disusui.

“Dasar kalian ini… Puas mainin mama?” ujar Rasti pura-pura kesal saat akhirnya mereka tiba di bagian sepi mall tersebut. Teman-teman Tedi hanya cengengesan. Tedi yang sedari tadi melihat mamanya dipermalukan juga ikut tertawa kecil, karena memang hal itu membuat penisnya ngaceng.

“Ma… aku mau fotoin mama boleh?” pinta Tedi kemudian. Dia tentunya juga harus menikmati momen ini sebaik-baiknya. Apalagi dia baru saja dibelikan kamera super canggih. 
“Kamu mau jadiin mama sebagai model kamu sayang? Boleh kok…”

Di dalam mall di sudut-sudut yang menarik dan diperbolehkan untuk mengambil gambar, Tedipun berulang kali meminta Rasti untuk berpose cantik. Rastipun tahu betul bagaimana caranya berpose bak model professional. Pose seksi, ekspresi imut, binal, dan sebagainya dipamerkannya. Baik sambil menggendong si bungsu maupun berfoto sendiri.

Di lantai atas yang hampir 50% tokonya masih belum terisi, kondisinya sangat sepi. Mereka menuju satu sisi yang pertokoannya masih kosong melompong. Entah belum mulai disewakan atau memang belum laku. Tedi meminta Rasti berpose pada pagar atrium. Sebagaimana banyak mall lain, arsitektur mall ini juga berbentuk atrium. Yaitu ruang tengah yang terbuka. Dari lantai-lantai atas bisa melihat ke bawah dengan pengaman pagar pembatas. Di situlah Rasti berpose, membelakangi ruang atrium, sehingga foto Rasti berlatar belakang atrium mall yang luas, dan para pengunjung mall yang berlalulalang, kebanyakan di lantai-lantai bawah. Tentunya Bobi sudah dititipkan pada temannya yang bergantian membantu menggendong.

“Ma… buka selendangnya dong…?” Pinta Tedi setelah beberapa jepret.
“Haah, gila ih… di tempat umum begini…?” 
“Gak dibuka semuanya Ma, dilepas aja 1 ikatan di dada… turunin dikit… tunjukin belahannya…”

“Ooh, kamu minta foto seksi ya, hi hi… gitu sih gapapa…” Setelah celingak celinguk, memastikan kondisi aman Rasti pun membuka peniti dan mengendorkan lilitan selendangnya. Setelah itu Rasti menyilangkan tangannya di bawah dadanya, menahan selendang itu melorot ke bawah dari dadanya. Rasti mengekspos belahan dadanya tapi bagian putingnya masih tertutup. 

“Nunduk Tante…”
“Ekspresinya yang nakal Tante…” Teman-teman Tedi sok-sokan ikut mengarahkan.
“Iya iya… Iih ternyata kamu pingin jadi fotografer model-model seksi ya? Malah Mama yang dijadikan eksperimen nih… iya deh mama turutin.” jawab Rasti sambil mengerlingkan matanya ke anaknya.

Namanya tempat umum, mereka tentunya tidak bisa dengan leluasa melakukan sesi foto erotis dadakan itu. Tiap satu jepret, mereka harus waspada melihat sekitar. Terutama Rasti. Tapi toh justru ini asyiknya. Sampai beberapa foto kemudian, “Buka lagi dong ma… tunjukin semuanya…”

“Hah, kamu nyuruh mama bugil di sini sayang? Gila kamu ah… jangan dong… Terlalu bahaya!” 
“Bugil sih nanti aja, he he he… kita masih punya banyak waktu. Pelan-pelan aja… tunjukin aja susunya ma…” jelas Tedi. Rasti penasaran juga. Ditengoknya kanan kiri. Ada orang berjalan ke arah mereka. Rasti malah menaikkan selendangnya lagi. Menutup rapat-rapat dadanya. 

“Aah mama… kok dipake lagi sih! Ayo buka…” protes Tedi.
“Bentar dong sayang, ada orang tuh! Kamu ini…” 
Meski Rasti kemudian tidak sedang berpose karna tegang mengawasi sekitar, Tedi tetap memotretnya beberapa kali. Sehingga beberapa orang yang hendak menuju ke arah mereka melihat dan mengira bahwa ada sesi pemotretan profesional dan mengurungkan niatnya. Lagi pula di area itu memang belum ada toko yang buka.

“Ayo tante buka…”
“Sudah aman tante…”
“Ayo maa…”
“Iyaa iyaa kalian ini…” Rasti kembali menurunkan selendangnya. Sebagian besar dadanya terekspos. 

“Buka semua ma… keluarin susunya…” pinta Tedi lagi.
“Duuh…” Rasti tengak-tengok lagi. 
“Aman ma…” Tedi mencoba meyakinkan. Dia lalu menyuruh teman-temannya berjaga-jaga mengawasi keadaan. Akhirnya Rasti nurut. Dadanya dikeluarkan semua, tapi selendangnya masih ditahan di bawah dadanya. Pemandangan yang erotis sekali bagi Tedi dan teman-temannya, meski sudah biasa melihat ketelanjangan Rasti, sensasi kali ini jelas beda. Berkali-kali mereka menelan ludah saking tergiurnya. 

Beberapa foto berhasil dijepret Tedi yang bergaya bak fotografer profesional. Rasti memang susah konsentrasi karna tegang dan was-was. Tapi ada juga sensasi kenikmatan yang dirasakan Rasti yang sebenarnya memang punya sisi eksibisionis. Aah ini sebenarnya kesempatan untuk berekspresi bagi Rasti, melampiaskan nalurinya. 
DIa menengok pada kawan Tedi yang berjaga, “Aman..?” tanyanya. 
“Aman kok tante… jangan khawatir…”
Rasti menarik napas panjang. Diturunkan lagi selendangnya hingga pinggul. Bagian atas tubuhnya benar-benar telanjang sekarang. 

“Cakep ma…!” puji Tedi.
“Dasar kalian ini. Untung mama perginya sama kalian, kalau sama Norman mungkin dia udah nekat genjotin mama sekarang, hihihi” ujar Rasti cekikikan. Rasti kemudian mencoba konsentrasi untuk berpose. Berbagai pose sensual binal berhasil diambil gambarnya oleh Tedi yang jadi semangat sekali. 

Sudah sangat banyak foto yang diambil Tedi. Dia sekarang sangat menikmatinya. Gilanya Rasti bahkan meminta menggendong Bobi lagi, berpose bersama bayinya yang mana dia masih tetap bertelanjang dada. 

“Kamu pengen nyusu sekarang sayang?” tanya Rasti pada bayinya sambil melirik pada Tedi. Sungguh membuat Tedi dan teman-temannya belingsatan dengan tingkah Rasti, dan Jepret! Sebuah momen yang tidak lazimpun terabadikan. Seorang ibu muda cantik yang bertelanjang dada menyusui bayinya dengan latar belakang mall!

Teman-teman Tedi yang berjaga malah ikut tergiur melihat pemandangan itu. Mereka lengah dibuatnya. Tidak sadar ada 2 orang security mall yang datang mendekati mereka. Baru sadar setelah dekat karena langkah sepatunya terdengar. Rasti yang panik menitipkan bayinya pada teman-teman Tedi lagi, lalu berusaha menaikkan kembali selendangnya, tapi tentu tidak sempurna karena selendang itu dipakai dengan cara dililitkan di tubuhnya. 

“Aduuh, penitinya dimana tadi ya sayang..?” 
“Lho, gak tau Ma, kan Mama yang pegang..?” Tedipun ikut panik. Namun teman-teman Tedi malah cengengesan seakan menikmati tontonan ibu dan anak yang sedang kebingungan itu.
“Aduh, ilang deh sayang, ga tau jatuh dimana… ada lagi?” 
“Ga ada lagi ma…” 

Mereka semakin panik seiring dengan derap langkah sepatu yang juga semakin mendekat. Hingga akhirnya…

“Sedang apa kalian!?” Tanya salah seorang security tegas. Ratno dan Adi, itu nama yang tertulis di seragam mereka. Ratno tampak sebagai seniornya Adi, lebih tua, berkumis tebal, rambut tipis, dan badan sedikit gempal. Sementara Adi terlihat lebih culun, usianya paling seusia Rasti atau malah di bawahnya. 

“Mm nggak pak cuma jalan-jalan aja… Yuuk…” Tedi mencoba menghindar dengan mengajak pergi. Tapi Rasti yang gak konsen malah sibuk memastikan selendang yang dipakainya sudah aman, karna tidak ada peniti, diapun menahannya dengan tangan. 

“Eeh, gimana?” tanya Rasti lugu.
“Ayook…” Tedi mendesak. 

“Tunggu dulu…” cegah Pak Ratno. “Kalian melakukan sesi pemotretan di sini? Boleh lihat ijinnya?” 

“Kami iseng aja kok pak, bukan profesional… Lagian kami gak motret-motret di area yang dilarang motret kok pak… Di sini boleh kan?” Elak Tedi. 

“Hmm, di sini memang belum dilarang… tapi kalo untuk tujuan komersil…”
“Kami bukan profesional pak..” 
“Hmm, iya, tapi tadi ada laporan pengunjung yang jadi enggan ke sini karena ada aksi kalian…”
“Tapi kan di sini belum ada toko yang buka pak?” Jaka ikut bicara. 
Adi membisiki Pak Ratno, mereka kemudian mencermati Rasti, Tedi, dan teman-temannya. Melihat si bungsu yang sedang digendong teman Tedi. Dia merasa agak aneh dengan rombongan ini. Empat anak yang tampaknya masih remaja, dengan seorang wanita muda cantik, dan seorang bayi. 

“Bayi siapa ini?”
“Eh, ba..bayi saya pak…” jawab Rasti. Kedua security itu berpandangan dan mengamati Tedi dan teman-temannya lagi. 
“Itu bayinya si non?” Tanya pak ratno penasaran. Rasti mengangguk. 

“Mana bapaknya…?” 
“Eee… bapaknya gak ada pak, ga tau deh di mana…?” jawab Rasti tersipu. 

“Kok ga tau gimana?”
“Tadi sedang jalan-jalan di bawah, sedang liat-liat gadget!” ujar Tedi berinisiatif berbohong. Dia melirik mamanya kesal. Mama nih jujur amat sih… pikir Tedi. 

Setelah saling berbisik lagi, Pak Ratno memutuskan membolehkan mereka pergi. 
“Ya udah, non pake bajunya… terus jangan di sini ya… ga boleh ada sesi pemotretan lagi!” Ujar Adi.

“Mm… saya cuma pake ini aja pak…” jawab Rasti lugu. Jawaban yang kemudian kembali membuatnya diamati terus oleh kedua security itu.
“Non ga bawa baju?” 
“Yaa iniii… baju saya…” jawab Rasti dengan entengnya. Pak Ratno dan Adi tampak terkejut dan saling berbisik lagi. 

“Kami pergi dulu pak… maaf…” Tedi yang mencium gelagat buruk merasa harus segera cabut. 
“Bentar!” sergah Pak Ratno lagi. “Kalian bukan professional? Dari tadi saya curiga. Ini modelnya cantik begini, pakaiannya sengaja berkostum begini…” 

“Bener pak kami bukan profesional” Tedi mulai tegang. Tidak mungkin mengatakan sejujurnya, serta mengatakan kalau perempuan itu adalah mamanya.
“Maaf non, coba tangannya disamping, kami harus periksa…” Ujar Adi yang melihat dari tadi Rasti menyilangkan tangan di depan dan memegangi selendangnya. 

“Aduh, periksa apa yah pak, saya ga bawa apa-apa kok” Rasti menengok ke sekitar. Di seberang atrium sana ada beberapa orang lalu lalang. Satu dua orang tampak memperhatikan mereka. 

“Sudah nurut saja… biar segera selesai urusannya!” tegas kedua security itu. Tedi panik. Tak tahu harus berbuat apa. Tapi Rasti yang tadinya panik, setelah menarik napas panjang kini berangsur-angsur lebih tenang. DIa dari awal sudah bertekad akan menikmati apapun yang terjadi. Ini momen yang langka. Ini saatnya mengekspresikan diri… Entah kesambet setan dari mana, tiba-tiba Rasti malah jadi excited. 

“Ba..baik pak… maaf ya…” Rasti menengok sekitar lagi. Ah, kondisi belum aman, dia melihat pengunjung yang memperhatikan mereka dari seberang atrium malah bertambah. Mungkin ada sekitar 5 orang. Pastinya mereka penasaran melihat sekelompok pengunjung bermasalah dengan security mall.

Rasti menghela napas dan menghitung dalam hati, satu dua tiga.. tangannya diturunkan ke samping. Sreett…! Selendang dari bahan halus yang melilit tubuhnya terlepas sepenuhnya dan merosot jatuh di kakinya. Rasti kini bugil! Telanjang bulat tanpa ada apapun yang menutupi!

“Haah…” Pak Ratno dan Adi langsung ternganga melihat pemandangan tak terduga ini.
“Woow…” bisik teman-teman Tedi. 
Terdengar juga sayup-sayup suara riuh di belakang mereka. Ya, beberapa pengunjung memang sedari tadi ikut mengamati, dan aksi Rasti itu surprise banget buat mereka. 
Mendengar suara riuh pengunjung itu kedua satpam yang salah tingkah tampak panik. Sebenarnya mudah saja Ratno tinggal menyuruh Rasti kembali memakai selendangnya, tapi dasar pria, dia juga tak mau cepat-cepat pemandangan ini hilang berlalu. Pak Ratno secepat kilat berinisiatif menggeser posisi berdirinya, mendorong kasar Adi di sebelahnya. Posisi mereka kini menutupi Rasti dari pandangan pengunjung mall yang lain. 
“Hei, ini bukan tontonan, maaf, tolong ya…!” Seru Ratno pada para pengunjung yang menonton, seraya menggerakkan tangannya menyuruh mereka bubar dan pergi. Tapi yang ada bukannya bubar, malah tambah ada pengunjung lain yang tadinya tidak tahu ada kejadian, malah jadi tahu dan penasaran ikut nonton, hanya saja memang mereka hanya berdiri di seberang pagar atrium, tidak ada yang berani mendekat. 

“Apa ini? Non hanya memakai selendang ini ke sini? dan kalian bilang ini bukan sesi foto profesional??” tanya Ratno kemudian setelah berhasil mengatasi salah tingkahnya. Tapi tetap saja dia tidak bisa menyembunyikan wajah mupengnya.

“Mm.. memang bukan kok pak…”
“Iya, saya bukan model profesional kok pak Ratno… mas Adi… Hi hi hi…” Rasti yang menyilangkan kedua tangan di dadanya mencoba ikut menjawab, tapi malah banyak ketawa ketiwinya. Upaya sia-sia Rasti untuk menutupi bagian vitalnya malah menjadi pose yang memiliki daya rangsang tersendiri. 

Adi yang belum bisa mengendalikan salah tingkahnya berbisik lagi pada pak Ratno, keduanya menengok ke belakang. Walah, pengunjung malah pada berkerumun di seberang. Malah ada yang mengambil gambar dengan HPnya. Ratno berteriak kesal sambil menggerakkan tangannya menyuruh mereka bubar. Tidak semudah itu tentunya menyuruh kerumunan itu bubar. Rasti sendiri malah berusaha melongok-longok melihat kerumunan itu. Edannya, Rasti malah kemudian melambaikan tangannya sambil melontarkan senyum pada kerumunan itu. Betul-betul jiwa lonte. 

“Suit suiitt…” Riuh suara para pengunjung dibuatnya. Ratno yang menyadari tingkah Rasti itu tanpa pikir panjang langsung menggaet lengan rasti, mencoba menggelandangnya menuju ruang pertokoan kosong di sisi itu. 

“Aduuh.. pak Ratno, jangan kasar-kasar dong…” ucap Rasti manja. “Saya mau dibawa kemana? Boleh saya pakai baju saya dulu?” Rasti melawan, mencoba bertahan di tempatnya untuk meraih kain selendangnya.

“Baju apaan?! itu cuma selembar kain… Kita ke balik toko-toko di sana, sembunyi dari pandangan orang-orang!” 
“Eeh, emang saya mau diapain pak…?” Ucap Rasti, terdengarnya lebih ke arah genit, ketimbang ketakutan. Pak Ratno makin gemas dibuatnya. “Sudah, ayo ikut…!” 

“Be… bentar pak…” Di tengah kepanikannya Tedi malah memberanikan diri menyela. Sementara teman-temannya yang lain diam membisu. Tegang sekaligus excited juga menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya. 

“Apa…?”
“Sebelum dibawa ke sana, boleh saya ambil fotonya dulu… sekalii aja…” pinta Tedi. 
“Apa maksudnya? Kamu mau motret kita!?” 
“Bu.. bukan, mau motret Ma.. eh, motret model saya aja…” Hampir saja Tedi berkata ‘mama’. “Ini momennya bagus banget, saya ingin ambil gambar model saya polos, dengan latar belakang kerumunan orang itu… boleh ya… Bapak minggir dulu?” jelas Tedi sambil menengok ke arah kerumunan pengunjung di seberang atrium sana. Tambah banyak yang berkerumun. Ini jelas momen yang tak boleh dilewatkan. Meskipun jumlahnya cuma sekitar belasan atau paling pol 20 orang, karna untung saja ini di lantai atas yang masih sepi, coba kalau di lantai bawah, pasti ratusan orang yang ngerumunin. Ya iyalah, sejak awal kan memang memilih foto-foto di lantai yang sepi ini. Gumamnya dalam hati. 

Pak Ratno dan Adi berbisik, menengok ke belakang untuk kesekian kalinya.
“Ga bisa! Enak aja kamu…” tegas pak Ratno.

“Duuh, kenapa sih? Boleh dong paak” Ucap Rasti. Tedi surprise juga, ibunya itu ternyata malah ikut membantu membujuk pak Ratno. 

“Gini ini kalian masih mengelak bukan professional??” Ucap security paruh baya itu geleng-geleng kepala.

Saat itu Tedi berpikir cepat sekaligus nekat. Tanpa menunggu persetujuan Tedi langsung saja mengambil jarak dan membidik mereka dengan kameranya.

“Eiitt… kamu…” pak Ratno dan Adi spontan menghindar dari ruang bidik kamera Tedi. Yes! Seru Tedi dalam hati, dapat juga gambar mamanya polos di dalam mall dengan latar belakang kerumunan pengunjung mall lain. Ini yang dia inginkan! Tapi momennya begitu cepat. Baik Tedi dan Rasti seolah punya koneksi batin, Tedi secepat mungkin menjepret Rasti beberapa kali, dan Rasti juga langsung sadar pose dan ekspresi. 

Momen itu hanya berlangsung 3 atau 4 detik saja, karna pak Ratno yang langsung setengah berlari ke arah Tedi sambil gusar mencoba untuk merebut kameranya. “Aduh maaf pak… Jangan pak…” Tedi memohon sambil mencoba mempertahankan kameranya. Rasti spontan juga berlari membantu Tedi dengan menarik tangan pak Ratno. 

“Jangan dong pak please… Ayoo, saya mau dihukum apa deh…” malah Rasti kini yang menarik pak Ratno menuju komplek pertokoan kosong sebagaimana tadi Rasti mau dibawa oleh pak Ratno ke situ.

“Ayoo pak…” Rasti ngotot, sambil berjalan lengan pak Ratno dipeluknya erat. Walhasil kulit lengan pak Ratno menyenggol dan bersentuhan langsung dengan kelembutan payudara Rasti yang telanjang. Seakan hilang kekuatan, mau tak mau pak Ratno mengikuti langkah Rasti. Penisnya yang dari tadi sudah nyut-nyutan kini menegang maksimal. Benar-benar pemandangan yang seru. Teman-teman Tedi dan Adi si security muda cuma bisa celingak-celinguk dan menelan ludahnya. 

“Huu…” Riuh pengunjung mall mengiringi ketika Tedi, Rasti, pak Ratno dan Adi kini menghilang di balik pertokoan. Sebelum menyusul, teman-teman Tedi berinisiatif mengambil selendang Rasti yang tergeletak. Tapi kemudian, entah siapa yang punya ide duluan, mereka saling berbisik dan sedikit berdebat, tapi kemudian tampak sepakat. Selendang Rasti mereka sembunyikan!

Di lorong pertokoan yang sepi itu, Rasti dan lainnya tersembunyi dari pandangan seluruh pengunjung mall. Pak Ratno dengan napas memburu langsung meremas payudara Rasti. Matanya dan mata Rasti saling menatap. Pandangan Rasti yang sayu dan tanpa perlawanan sama sekali semakin menaikkan libido pak Ratno. 
“Aah pak…” desah manja Rasti makin membuat birahi pak Ratno meluap-luap. 
Tedi dan Adi hanya mematung, tak tahu harus berbuat apa, terlebih bagi Tedi karena wanita itu adalah ibunya.

“Wow..” gumam teman-teman Tedi yang menyusul dan menjumpai pemandangan itu. 

“Bo.. bos…?” Ucap Adi ragu-ragu, dia tentunya tidak menyangka akan berakhir seperti ini. Pak Ratno dan Rasti masih saling memandang tanpa bicara. Entah kenapa lidah keduanya kelu. Hanya bahasa tubuh yang bicara. Remasan tangan pak Ratno pada payudara Rasti makin kencang. “Aaahh… Paak Ratno…” lenguh Rasti pelan. Lenguhan itu terdengar bagai perintah pada pak Ratno untuk terus mengeksplorasi tubuh Rasti. Jelas sekali keduanya kini sedang dilanda birahi yang tak terbendung. 

“Booss…” usik Adi lagi. Tampaknya dia makin panik saja melihat perkembangan yang terjadi ini.
“Berisik lo ahh…!” Hardik pak ratno. “Sana berjaga! Kalian juga ngapain di sini, sana pergi…!” Ujar Pak Ratno pada Adi dan Tedi dan kawan-kawan. Rasti melirik Tedi dan teman-temannya, kepalanya mengangguk tanda dia menyetujui pak Ratno. Rasti menginginkan anaknya juga menyingkir dari situ. 

“Cepetan… Adi, lo ngapain masih diam aja… Jaga di luar…! Jangan sampai ada orang kesini!” suruh pak Ratno. Dengan tergopoh-gopoh Adi beranjak. Sementara Tedi dan kawan-kawan masih ragu untuk pergi. 

“Ma… mama…” Ucap Tedi pelan, sebenarnya tidak jelas juga tujuan Tedi memanggil Rasti, dia tahu apa yang akan terjadi tak akan bisa dicegah. Dan memang Rasti dan pak Ratno sendiri sudah tidak menggubris, lidah mereka kini berpagutan. Panas…! 

Beberapa saat berpagutan, pak Ratno jengah juga melihat Tedi dkk yang belum juga beranjak. “Kalian juga pergi sana!” bentak Ratno mengusir mereka.
“Udah sayang… keluar dulu… jagain Bobi yah?” kata Rasti ikut-ikutan. Pak Ratno sempat bertanya-tanya mendengar Rasti memanggil Tedi dengan sebutan ‘sayang’. Tapi itu tidak dipusingkannya lebih jauh. 
Kata-kata Rasti jelas lebih ampuh buat Tedi. Terbukti Tedi dan teman-temannya langsung menyingkir kemudian. Tapi tetap saja, selain kemudian tetap berusaha mengintip pergumulan pak Ratno dan mamanya, Tedi juga ingin memotret mereka diam-diam. Pak Ratno dan Rasti yang juga menyadari itu kini sudah tak peduli lagi, ketimbang ngurusin ngusir Tedi dan kawan-kawan, mereka lebih memilih untuk konsentrasi dalam menikmati persetubuhan. Bagi teman-teman Tedi, ini adalah pemandangan yang mereka tunggu-tunggu. Mereka akhirnya bisa juga melihat secara langsung bagaimana ibu teman mereka yang cantik dan seksi ini disetubuhi.

Pak Ratno yang nafsunya sudah diubun-ubun langsung menurunkan celananya, lalu merebahkan tubuh Rasti di atas kardus lusuh. Dia ingin menikmati wanita cantik ini secepatnya. Tanpa menunggu apa-apa lagi diapun menghujamkan penisnya ke vagina Rasti. Tidak terlalu sulit karena vagina itu memang sudah banjir sejak tadi.

“Nghhh… pak….” Lenguh Rasti manja sambil memeluk erat tubuh pria itu. Pak Ratno sendiri sedang sangat menikmati betapa nikmatnya penisnya dijepit oleh vagina Rasti. Dia merasa seperti mimpi bisa menyetubuhi seorang model yang luar biasa cantik. Bagai ketiban durian runtuh.

Sambil penisnya asik keluar masuk vagina Rasti, tangan pak Ratno juga tidak mau diam menjelajahi bagian tubuh Rasti yang lainnya. Payudara Rasti diremas-remasnya, mulut Rasti dikobel-kobel pakai jarinya. Rasti juga terus memandang sayu pada pak Ratno, membuat pria itu jadi semakin bernafsu pada dirinya. Rasti benar-benar melayani pria itu sepenuh hati layaknya melayani pelanggan-pelanggan royalnya.

“Ugh… Mimpi apa gua semalam bisa ngentotin model cakep kayak non… siapa namanya tadi?” 
“Ngghhh… Rasti pak…” jawab Rasti terengah-engah.
“Non Rasti cantik banget, nafsuin, he he he…” 

“Mmhh… makasih Pak… tapi saya bukan model kok Pak…”
”Jadi benar non ini bukan model?”
“Iya… kan saya… sudah bilang dari tadi… ssshh… terus Pak…” Rasti menjawab dengan nafas terputus-putus sambil terus menikmati genjotan pak Ratno.

“Jadi non ini siapa?”
“Saya… saya lonte Pak… ngghhh…” jawab Rasti terang-terangan.
“Hah? Lonte? Terus mereka itu?”
“Anak saya dan teman-temannya pak…” 
“Hah?” alangkah terkejutnya Ratno mendengar jawaban Rasti. Dia tentunya tidak habis pikir kalau wanita secantik Rasti adalah seorang lonte, terlebih para remaja tadi yang ternyata adalah anaknya dan teman-teman anaknya. Namun mengetahui hal itu pak Ratno malah semakin menjadi-jadi menyetubuhi Rasti. 

“Terserah deh mau lonte atau apa, yang penting cakep.” ujar pak Ratno sambil membalikkan tubuh Rasti. Dia ingin menyetubuhi Rasti dengan gaya doggy. Gaya yang tidak pernah mau dilakukan istrinya. Betapa girangnya dia mendapati Rasti menurutinya. 

“Hihihi… ya udah pak dinikmati yah..” ucap Rasti manja. Merekapun lanjut bersetubuh dengan panasnya. Dengan gaya seperti itu pak Ratno terus-terusan meremas buah dada Rasti yang menggantung bebas. Sesekali mereka berciuman. Tedi benar-benar banyak mendapatkan momen yang luar biasa hot untuk diabadikan. Momen ibu kandungnya yag sedang digenjot security mall yang tampangnya tidak bisa dibilang ganteng.

Rasti juga sangat menikmati sensasi bersetubuh di tempat umum begini. Apalagi sambil ditonton oleh anaknya dan teman-teman anaknya, bahkan difoto segala. Dia merasa melayang-layang. Vaginanya terasa sangat basah mengapit penis hitam pak Ratno. Baik pak Ratno maupun Rasti betul-betul terbuai. Tanpa sadar mereka terus bersetubuh diringi suara tangisan Bobi yang kembali rewel.

“Itu bayinya non kan? Nangis tuh…”
“Iya Pak. Sayang… kalian tolong jagain Bobi bentar yah…” ujar Rasti pada Tedi dan teman-temannya yang ia tahu masih asik mengintip di sana. Rasti malah memilih untuk menuntaskan birahinya dulu. 

“I..iya ma.” sahut Tedi. Pak Ratno nyengir dibuatnya, dan makin semangat menggenjot Rasti. “Aah… Lonte…” Racaunya berkali-kali.

“Cepetan yah Pak…” ucap Rasti kemudian pada pak Ratno, dia tidak tega juga membiarkan bayinya rewel lama-lama. Pak Ratnopun benar merespon dengan makin mempercepat kocokan penisnya. Membuat tubuh Rasti makin melenting-lenting dalam pelukannya. Teman-teman Tedi sampai menahan napas menyaksikannya. Adegan yang fantastis!

“Gua a ahh sampai… terima nih peju… Lontee… Arggghhhh….” Menjelang klimaksnya pak Ratno makin dalam menancap vagina rasti, dan Rasti sama sekali tidak berupaya melepaskan diri. Justru pak Ratno merasa Rasti balas menekankan tubuhnya ke belakang seakan ingin penis pak Ratno menancap lebih jauh hingga ke rahimnya.
Crooootttt……. Tubuh pak Ratno kelojotan dilanda orgasme yang rasanya berkali-kali lebih nikmat dengan menyemburkan seluruh pejunya di liang Rasti.
“Shhhh… Pak….” Rasti memejamkan mata meresapi tiap tetes orgasme pak Ratno yang deras menerjang rahimnya.
Mereka klimaks bersamaan. Lagi-lagi Rasti menampung pria yang entah siapa begitu saja di dalam vaginanya. Benih-benih dari sang security menyemprot dengan bebasnya ke vagina ibunya Tedi itu, yang mungkin saja akan menjadi anak nantinya. Baik Tedi maupun teman-temannya dibuat terpesona melihat pemandangan ini. Hanya dengan menonton saja rasanya mereka ingin muncrat. Tedi tentunya tidak lupa untuk mengabadikan momen itu, terlebih ekspresi ibunya yang sedang dilanda orgasme.

“Ughhh… makasih yah non… bolehkan kapan-kapan lagi, hehe…” Ucap pak Ratno setelah mereda, namun masih sedikit terengah-engah.
“Kalau selanjutnya sih bayar pak, hi hi hi hi…”
“Ah, si non gitu… iya deh bayar, tapi kasih diskon yah non, kalau bisa 100% he he he,” ucap pak Ratno seenaknya. Rasti hanya tertawa cekikikan mengiyakan saja omongannya.

“Woi Di! Sini lo!” panggil pak Ratno pada Adi yang betul-betul melaksanakan tugasnya dengan baik menjaga keadaan di luar. 

“Ya bos?” sahut Adi sambil masuk ke dalam.

“Cicipin nih lonte cantik, mumpung gratis.” suruh pak Ratno sambil melirik Rasti. Pandangan mata Rasti tak menunjukkan keberatan sama sekali. Tapi Adi sendiri justru terlihat ragu-ragu dan takut. Dia tidak sebejat pak Ratno. Adi benar-benar takut ketahuan meskipun celananya juga sangat sesak karena mendengar suara lenguhan dan desahan sedari tadi.

Di luar dugaan Rasti malah mempersilahkan bahkan menyemangati pemuda itu. “Ayo mas Adi… kalau mau gapapa… Kapan lagi lho? Besok ga bisa gratis lho.. hi hi hi…” 

“Ayo, tolol lo rejeki ditolak… sok jaim banget sih lo, kapan lagi seumur hidup lo bisa ngerasain cewek secantik ini? Goblok lo…!” ujar pak Ratno kesal.
Justru Rasti kemudian yang beranjak dan menghampiri Adi, meraih tangannya dan menariknya pelan dan menggoda. “Yuuk mas Adi… pak, kayaknya mas Adi ini malu kalo diliat, pak Ratno gantian jaga deh…” goda Rasti lagi. Namun di luar dugaan Rasti, ternyata Adi benar-benar masih kuat imannya. Hal itu sungguh membuat Rasti kagum padanya. Dia tidak ingin memaksa juga.

“Goblok lo Di!” maki pak Ratno.

“Ya sudah kalau mas Adi gak mau, tapi kalau suatu saat mas pengen datang saja ya ke rumah saya… Nanti saya kasih layanan spesial gratis deh untuk mas Adi.” ujar Rasti kemudian. Dia lalu mengambil pena dari saku kemeja security itu dan menuliskan alamatnya di telapak tangannya. Namun justru yang semangat adalah pak Ratno. 
“Eh, jangan lupa diinfokan ke manager-manager mall juga, hi hi hi…” lanjut Rasti kemudian promosi. Tentunya kalau pada manager Rasti akan meminta bayaran.

“Eh, i..iya” jawab Adi gugup. Sungguh membuat Rasti gemas terhadapnya, sampai-sampai Rasti mencubit pipi Adi. 
“Ya udah.. mas Adi dan pak Ratno balik kerja gih sana.” 

“Iya non, ah.. lo goblok Di…” Pak Ratno masih saja kesal dengan sikap culun Adi. Kedua security itupun meninggalkan mereka. 
“Makasih ya pak Ratno… Rasti tunggu di rumah ya…” 

Fiuhh… Leganya Tedi. Rastipun juga ingin segera pegi dari sana. Bisa-bisa bakal ada orang lain lagi yang lewat, gak bakal ada habisnya nanti. 
“Sayang, ambilin selendang Mama dong…” Pinta Rasti. 
Namun Tedi tidak bisa menemukan selendangnya.

“Selendang mama tadi mana sih?”
“Hah? Emang ga ada tergeletak di situ… Duuh, kemana ya?”

“Hilang tante? Duh… gawat tuh…” ujar teman-teman Tedi pura-pura tidak tahu.



Escape from Mall………………………….. 

“Jadi gimana dong? Masa tante harus kembali ke parkiran telanjang bulat gini sih?”

“Ya mau gimana lagi tante… selendangnya gak ketemu sih…” ujar teman-teman Tedi santai masih berpura-pura tidak tahu. Mereka memang tidak punya niat untuk mengembalikan selendang itu. Mereka ingin mengisengi ibu teman mereka ini. Sungguh kurang ajar.

Rasti sendiri juga curiga kalau teman-teman Tedi itulah yang menyembunyikan selendangnya. Meskipun kalau memang merekalah pelakunya, Rasti malah memilih untuk mengikuti permainan mereka ini.

Mereka kemudian berembuk bagaimana mencari jalan keluar yang aman bagi Rasti. Sebagaimana banyak mall lain, tiap lantai di mall ini ada tempat parkir mobilnya. Di lantai tempat mereka berada, pintu keluar ke tempat parkir lantai itu hanya berjarak 10-15 meteran dari komplek pertokoan yang kosong itu. Akhirnya disepakati solusinya Rasti ditinggal di situ bersama Bobi, sedangkan Tedi dan teman-temannya turun mengambil mobil yang diparkir di basement untuk di bawa ke lantai atas. Untunglah Tedi sudah bisa nyetir.

Saat Tedi dan teman-temannya pergi, Bobi mulai rewel. “Cayaaangk… bentar ya kak Tedi sedang pergi ambil mobilnya buat jemput mama ke atas. Duh, kamu haus ya… maaf ya tadi susu mama masih dibuat mainan sama pak satpam. Hi hi hi… Yuk mimik susunya sekarang…” Sungguh cara seorang ibu becandain anak yang tidak lazim. Tapi bagaimana lagi, itulah Rasti yang sekarang merasa sexy sekali telanjang di situ sendirian, menyusui bayinya, sementara di seberang sana dia bisa mendengar sayup-sayup orang yang berlalu lalang. Ada desiran-desiran perasaan di dalam dadanya yg susah dideskripsikan. Berdebar-debar, waswas, tegang, excited, bangga, malu, sensual, dan sebagainya campur aduk menjadi satu. 

“Tedi sama teman-temannya kok lama sih… duh…” pikir Rasti gemas setelah 15 menit berlalu. “Pasti mereka sengaja berlama-lama... Paling ini juga bagian dari fantasi mereka. Dasar!” Tebak Rasti. Ya, Tedi memang sengaja meninggalkan ibunya sejenak bertelanjang bulat di tempat ramai sendirian. Teman-teman Tedipun terpuaskan fantasinya mengisengi ibu teman mereka yang seksi itu. Untunglah memang di situ sangat aman. Rasanya tidak akan ada pengunjung yang masuk ke kompleks pertokoan yang jelas-jelas masih kosong itu. 

Bobi cuma sebentar menyusu, dan kini dia sudah tertidur di gendongan rasti. Gara-gara Tedi tidak datang-datang, perasaan campur aduk yg dirasakan Rasti tadi makin menjadi-jadi. Rasti kemudian iseng-iseng jalan melenggak-lenggok di lorong pertokoan kosong itu bak peragawati. Berpose-pose di depan kaca toko yg besar-besar itu dengan gaya binal, mengekspos payudara dan selangkangannya sambil berkhayal jadi model porno. Rasti merasa geli sendiri dengan tingkah konyolnya itu. “Ah dasar kurang kerjaan,” cibirnya pada diri sendiri. 

“Duuh Tedi lama amat sih... tega banget sama mama... kalo mama ketahuan orang trus diperkosa rame-rame gimana coba? Iih jangan-jangan kamu malah kegirangan ya sama temen-temenmu? Dasar... kayak tadi kamu seneng kan mama diperkosa pak satpam?” Rasti mulai ngomong sendiri dalam hati. Membayangkan persetubuhan yang baru saja dilaluinya Rasti jadi senyam-senyum sendiri. Ah, malah jadi horni lagi dia sekarang. 

“Duh, Tedi.. mama dingin nih…” 
“Pak Ratnooo... sini dong entotin Rasti lagi... Hi hi hi……” Pikiran Rasti mulai liar tidak jelas, dan dia menertawakan dirinya sendiri juga. Rasti mengintip-ngintip ke seberang mall. Aah, sekarang di sana terlihat sepi juga... tidak dilihatnya pengunjung lalu lalang. Lantai atas ini memang pada dasarnya belum full beroperasi, jadi jarang pengunjung yang naik.

“Kayaknya asyik kali ya kalau jalan kesana, belanja-belanja sambil bugil. Pasti heboh banget, hi hi hi…” Rasti mulai berkhayal sambil melangkah keluar komplek pertokoan itu dengan bergaya, tapi... langsung lari masuk ke dalam lagi. 
“Hi hi hi... ga jadii...” Rasti excited sendiri kayak anak-anak sedang main petak umpet. Kemudian ngintip-ngintip lagi. “Kayaknya sepi deh... kayaknya kalo jalan keluar sampe atrium aman.” Rasti berjingkat keluar, tapi sudah sampai keluar setengah jalan menuju atrium, dilihatnya orang di seberang atrium, Rasti pun buru-buru lari masuk lagi. Tingkah dan ekspresinya yang malah kegirangan sungguh sangat menggemaskan. Ya, bagaimanapun Rasti memang masih sangat muda, masih suka main-main, bercanda, serta konyol-konyolan seperti remaja.

“Aah payah… Ah penakut... Ayo keluar...” 
“Gilaa Ah...” 
“Paling-paling dikira orang gila trus dilaporin satpam...” 
“Ketemu pak Ratno lagi dong?” 
“Iya...” 
“Dientot lagi dong...” 
“Ihh… asyik kan?”
“Aah nggak Ah, Pak Ratno mah jelek... mas Adi itu lho yg nggemesin.” 

Rasti malah jadi berdebat dengan diri sendiri. Konyol. Untung kegilaan Rasti cuma berakhir di khayalan yang ngaco gara-gara kurang kerjaan. Tapi membayangkan aksi itu memang menjadi keasyikan tersendiri bagi Rasti. Libidonya naik. 
“Huhh… puas kamu Tedi ngerjain mama kayak gini? Bandel deh kamu...”

Tiba-tiba, glek! 
Di tengah Rasti asyik mengintip dan berkhayal, dia melihat sesuatu yang membuat jantungnya berhenti sesaat. Gawat! Sekelompok orang datang dari bawah dan begitu sampai di lantai itu, mereka langsung berjalan menuju ke arahnya! Mereka bukan pengunjung mall! Tampaknya para tukang yang mengurusi pengerjaan pertokoan kosong yang memang tampak belum selesai itu. “Aah, kenapa mereka mulai ngerjainnya siang-siang begini? Aneh sekali...” Pikir Rasti panik. Tapi yang penting apa yang harus dia lakukan? Di tengah panik Rasti malah menghitung-hitung jumlah tukang itu. Duuh… Ada sekitar 9 orang! Darahnya berdesir. Tubuhnya seketika menghangat. Sungguh sensasi yang susah digambarkan. “Aduuh... gimana nih, Tediii... tolong Mama!”

Saat-saat genting Rasti akhirnya mempunyai ide. Dia akan pura-pura pingsan! 
“Ya…!”
“Haah, ide macam apa itu?” 
“Biarin... emang ada ide lain?” 
“Lari aja…?” 
“Lari ke mana?!” 
Lagi-lagi Rasti berdebat dengan diri sendiri. Secepat kilat Rasti ambil posisi di atas kardus tempatnya dientot oleh pak Ratno tadi, Bobi ditaruh di sebelahnya di lantai. 
“Maaf ya sayaang.. bentar aja kok.” Ujar Rasti pada bayinya. 

Para pekerja itu makin dekat dan akhirnya benar-benar masuk ke komplek pertokoan itu. Alangkah terkejutnya mereka mendapati sesosok wanita bertelanjang bulat tergeletak dengan bayi di sampingnya.

“Wow!”
“Wiih Siapa nih?”
“Kenapa dia?”
“Wuih cantik coy!”
“Buset bening...” 
“Itu bayinya?”
“Masih hidup nggak tuh??” Mereka berkomentar macam-macam melihat keadaan ini. Rasti hanya bisa mendengarkan sambil berdebar-debar. Dadanya serasa digedor-gedor dari dalam. Dia merasakan ada yang mendekat dan… Tiba-tiba dia merasakan kakinya diraba-raba. Seet… Rasti menelan ludahnya.

“Mulus bro...!”
“Gilee... ga nahan…” 
“Anjriitt, sumpah beneran cantik ternyata…!” Ujar si peraba itu yang kini menyibak rambut yang menutupi sebagian wajah Rasti. Dia kini melihat jelas wajah Rasti yang elok. Satu tangan lagi dirasakan Rasti meraba kulit mulus kakinya dan menjalar sampai ke paha Rasti. Benar-benar bimbang Rasti dibuatnya, detak jantungnya berdebar makin keras. Haruskah dia bangun sekarang? 

“Heeh apa ini??” tiba-tiba terdengar suara lain yang lebih berwibawa.
“Eeeh.. ng nggak bos… ii... Ini boos...”
“Hah? Siapa dia? Kenapa kok tergeletak disini...?”
“Yaa ga tau bos, kita datang udah kayak gini keadaannya...” 
“Itu bayinya?” 
“Ya kemungkinan... bayi siapa lagi? Gimana nih bos?”
“Ambil bayinya, gendong dulu... kasihan..."

Rasti lalu mendengar langkah kaki menghampirinya. Lalu... set, dia merasakan tubuhnya ditutupi dengan sesuatu kain! 
“Non... non...” ujar pria itu berusaha membangunkan Rasti. Inilah saatnya. Rasti harap rencananya berjalan lancar!

Rasti pura-pura terbangun dalam kekagetan, celingak-celinguk, kebingungan, ketakutan. 
“Aahh...! Kyaa...! Siapa kalian?? Ini dimana....?? Tolong...! Bo... bobiii... bobi...!” Pekik Rasti bersandiwara. 

“Tenang non, tenang… tenang… non aman...! Kami bukan orang jahat!” Si suara berwibawa yang dipanggil bos itu dengan sigap membekap mulut Rasti, tapi dia berusaha tidak sampai menyakiti Rasti. “Non aman! Tenang dulu.... siapa Bobi?” Ucapnya meyakinkan.
“Anak saya!” 
“Ini Bobi?” orang yang dipanggil bos itu kemudian menyodorkan Bobi pada Rasti. 
“Jangan khawatir.. Dia juga aman...” ucapnya menenangkan. 
“Bobii...!” Rasti meraih bobi dan mendekapnya. Otomatis kain yang menutupi tubuhnya yang ternyata adalah sebuah jaket terlepas dari tubuhnya. Rasti tidak peduli. Dalam hatinya Rasti sangat menikmati ini. Telanjang bulat dikerumuni banyak pria asing tak dikenal.
“Wow..” gumam para pekerja itu. Glek... jakun, mereka naik turun melihatnya. 
“Non kenapa disini? Telanjang begini, apa yg terjadi?” Kata si bos yang kini Rasti mencermati wajahnya. Kharismatik juga. Rasti cuma menggeleng-geleng cepat, pura-pura bingung. 
“Ambilin minum!” 
“Iya bos.. ini.. bos.” 
Rasti menerima minum yang ditawarkan. Saat Rasti minum, si bos menutupi tubuh Rasti kembali dengan jaketnya. 
“Non bisa ingat-ingat tadi sebelum pingsan, non sedang apa? Sama siapa?” Rasti celingak-celinguk berlagak bingung mencari sesuatu. 
“Kami tidak menemukan apa-apa bersama non di sini selain anaknya non... ee.. Bobi ya namanya...? Tapi tidak ada pakaian, tidak ada tas, atau apa pun lainnya...” 
Rasti makin terisak. 

“Duh, actingku lumayan juga. Hihihi, bakat nih” dalam hati Rasti memuji diri sendiri.

“Wah kasihan nih... kayaknya korban perkosaan dan perampokan...” 
“Gila... tega bener pelakunya...” 
“Tapi lumayan juga ya, si non nya cantik bener...” 
“Anjrit, beruntung pelakunya…”
“Hushh! Parah lo… denger tuh si non nya…!” terdengar para tukang itu berbisik-bisik. Rasti yang mendengarnya jadi geli-geli bangga dalam hati. Padahal barusan dia bukan diperkosa, tapi malah dia yang berinisiatif mengajak kedua satpam tadi bersenggama. Dia juga sangat senang dipuji-puji cantik oleh mereka. Dasar Rasti binal.

“Udah, panggil security! Suruh hubungi polisi sekalian!” Ujar si bos mengambil keputusan. Rasti yang mendengarnya jelas malah panik.
“Jangaan paak… please jangan! Ga usah...!” Cegah Rasti cepat. “Saya malu pak... sudah saya ga apa-apa...” Rasti mencoba berdiri masih sambil membawa Bobi di gendongannya. 
“Eit... pelan-pelan non... jangan bangun dulu...” Si bos berusaha mencegah tapi Rasti tetap ingin berdiri. Akibatnya jaket yang hanya diselampirkan di pundaknya itu melorot lagi. 
“Woow...” 
“Ihiiy…” 
“Ga bosen-bosen nih…” 
Riuh suara pekerja itu membuat si bos geleng-geleng kepala.

“Aduh,” keluh Rasti, tapi sejatinya di dalam hati teriak, “yes!” 
Si bos kemudian buru-buru memakaikan jaket itu lagi. Rasti pasif saja menuruti. 
“Aah si bos niih...” gumam para pekerja itu lagi kecewa, mereka tentunya ingin terus menikmati pemandangan indah tubuh Rasti yang polos.
Karna tangan rasti mendekap Bobi, jaket itu lagi-lagi hanya bisa ditaruh di pundak Rasti. Jadi bagian depannya masih terbuka, termasuk bulu-bulu halus di selangkangannya terlihat jelas. Bahkan cairan kental yang mengalir dari vaginanya juga disadari oleh para tukang. Sungguh seksi.

“Wah bener korban perkosaan nih... kasihan ya...” 
“Kasihan apa pengen?” 
"Gimana lagi coy... kasihan sih, tapi... seksi juga..." Di saat seperti ini Rasti malah semakin berbunga-bunga dibicarakan seperti itu.

Si bos yang mendengar ucapan mereka menghardik para pekerjanya. Dia lalu menyuruh salah satu dari mereka membelikan pakaian dan sisa pekerja lainnya dia suruh keluar. 
“Huuu...” koor protes para pekerja itu terdengar kompak. Si bos mendelik kesal pada tingkah anak buahnya itu tapi Rasti tertawa geli dalam hati. Puas sekali. Aah, andai bisa lebih lama. Bahkan Rasti membayangkan akankah dirinya akan dijadikan ajang pelampiasan nafsu oleh tukang-tukang itu? Brrr... menggigil sekaligus berdebar-debar Rasti membayangkan dirinya digangbang mereka semua. Rasti kemudian mengamati fisik si bos lagi. Kulitnya hitam penuh tatto, badannya kekar, kumis tebal menghiasi wajahnya menambah kesan macho. Meski beberapa uban tampak di rambutnya yang masih lebat, rasti menaksir umur si bos paling baru awal 40an. Wajahnya tidak tampan, tapi juga tidak jelek-jelek amat. Aah… Rasti jatuh hati pada si bos ini. Rasti memang gampang banget kesengsem pada pria. Dan kalo sudah kesengsem ya tubuhnya rela diberikan tanpa syarat, hihihi.

Singkat cerita Rasti kini di dalam sebuah ruangan salah satu toko kosong di situ, bersama si bos dan 2 orang pekerja lain yang tampaknya juga senior di antara yang lainnya. Tapi kedua pendamping bos itu lebih banyak diam. Para pekerja lain berada di luar ngintip-ngintip di balik kaca. Rasti diinterogasi, dia kini sudah memakai daster minim yang terbuka di bagian pundaknya, hanya menggunakan tali tipis yang diikat. Bahkan Rasti tidak dibelikan pakaian dalam sama sekali! Tadinya si bos memarahi orang suruhannya yang membelikan baju seminim itu. Tapi Rasti meyakinkannya bahwa dia tidak apa-apa dan mengucap terimakasih berkali-kali. 

Rasti cerita panjang lebar dengan cerita dan acting yang meyakinkan. Satu sisi mengiba, sisi lain berusaha menampakkan ketegaran. Dan si bos tampak sekali empati padanya. Rasti sendiri kaget dia bisa spontan mengarang cerita perkosaan dan perampokan fiktif itu dengan lancar. Dia jadi berulang kali memuji diri sendiri dalam hati. Rasti juga menceritakan alasannya kenapa dia tidak mau dilaporkan polisi. 
“Tapi saya benar-benar tidak ingin ada polisi pak… Benar… Pertama, saya sekarang sangat malu… Ta… tapi… ee, lagian saya bersyukur juga ga sampe disakiti pak…” 
Si bos yang mendengarkan manggut-manggut, tapi Rasti masih menangkap kegusaran nampak di wajahnya. Merasa belum cukup, Rasti pun melanjutkan argumennya, “Dan… ee, harta saya yang hilang tidak seberapa pak… Saya tidak membawa uang tunai banyak, tidak ada kartu kredit atau ATM, dan saya juga tidak memakai perhiasan… Ma… Makanya… Saya sangsi polisi akan berbuat banyak. Saya yakin juga polisi pasti tidak akan mampu menangkap orang yang… yang… mem… perkosa saya…” Ucap Rasti tersendat. Tenggorokannya tercekat. Meyakinkan! 

“Saya memilih melupakan semuanya pak…!” Pungkas Rasti sambil berusaha setragis mungkin. 

“Tapi.. non yakin…? Non rela? Pemerkosa itu harus dihukum… enak sekali dia bisa jalan bebas, pasti dia bakal nyari korban lain!” ujar si bos geram. 
“Mana ada perempuan yang rela diperkosa, tapi saya pesimis dengan kerja polisi pak… maaf, saya juga ga mau repot. Udah malu… ga ada hasilnya… apalagi kalo sampai masuk berita… memang kesal sekali pak, tapi ya mau gimana lagi… sudah nasib…!” ucap Rasti berkaca-kaca. Si bos manggut-manggut, sebagai mantan preman dia juga paham bagaimana cara kerja polisi yang memang tak bisa diharapkan untuk kasus-kasus ‘kecil’ seperti ini. Si bos benar-benar larut ke dalam cerita Rasti. 
“Ya udah kalo gitu non saya antar pulang…?” Tawarnya simpatik.
‘Duh mau bangeeet’, ucap binal Rasti dalam hati. Tapi tentu bibirnya berkata lain. 
“Ee ga usah pak, saya sebenernya ke sini sama anak saya yang lain dan teman-temannya. Tapi kami berpisah, mereka main-main sendiri tadi…” Rasti melirik jam dinding. 

“Mustinya sebentar lagi mereka akan ke atas mencari saya... Eee… Saya bawa mobil pak… Oh ya… pak… saya juga akan sangat malu kalau anak saya sampai tahu apa yang terjadi pada ibunya… kasihan juga... ee… ja di…” 
“Non ingin dirahasiakan ke anak non juga…?” 
“Iya pak, saya malu, anak saya juga pasti… dia pasti akan sangat terpukul… dan… ee…” Rasti pura-pura kalut dan kebingungan. Si bos yang melihat itu jadi makin iba, apalagi paras Rasti yang jelita membuatnya menaruh hati. 
“Oke non… saya paham. Menurut saya sekarang yang penting non pulang dan menenangkan diri dulu, kalaupun nanti non ingin mengambil keputusan atau langkah apapun, jika butuh bantuan saya siap membantu.” Ucapnya tulus. 

---------------------- 

Begitulah akhirnya Rasti lolos dari masalah itu. Rasti sebenarnya sudah siap mental jika harus kegangbang lagi oleh para tukang-tukang itu, tapi hidup bukanlah seperti cerita-cerita panas di forum cerpan 64.237.43.94 
Ya, ternyata ada si bos yang fisiknya preman tapi hatinya baik. Dan… Rasti jatuh hati padanya. 
“Ba.. bapak sudah menikah? Sudah punya istri…?” 
“Ee… ng.. saya sudah bercerai… kenapa tanya itu?” 
“Mm, ng..gak, soalnya bapak baik banget sama perempuan… makasih ya pak...” Rasti menghadiahkan senyum super manisnya. Laki-laki manapun pasti blingsatan mendapatkan senyuman Rasti yang dahsyat. Tak terkecuali si bos yang dari tadi sok cool ini, tapi sebenarnya dari awal juga sangat mupeng mengagumi kecantikan Rasti. 

Rasti memberi alamat dan nomor telepon pada si bos dan memintanya datang ke rumah kapan-kapan. Rasti berniat ingin ‘membalas’ kebaikannya, juga mengganti baju yang dia belikan. Meski si Bos berulang bilang bahwa baju itu tidak usah diganti, Rasti ngotot meminta dia datang ke rumah. Rasti ingin 'balas budi'.

Di sisi lain lantai itu, Tedi dan teman-temannya dari tadi sebenarnya sudah datang, tapi melihat banyak tukang berkerumun di komplek tempat Rasti sembunyi, mereka langsung ngumpet di pojok mall sambil mengintip penasaran. Ya, mereka bukan mengintip cemas akan apa yang terjadi pada Rasti saat itu, tapi lebih ke mupeng membayangkan Rasti sedang digangbang oleh para tukang itu. Mereka juga sibuk berpikir bagaimana caranya bisa ngintip lebih dekat supaya benar-benar bisa menyaksikan adegan yang saat itu hanya bisa mereka bayangkan sambil menahan konak. Setelah beberapa saat gelisah di pojok mall itu, mereka melihat Rasti keluar diantar oleh salah seorang tukang, kemudian Rasti membungkuk-bungkuk pada semua tukang, tampak seperti hendak pamit dan mengucapkan terima kasih. Makin mupenglah Tedi dan teman-temannya. Melihat pemandangan itu, dugaan mereka bahwa telah terjadi gangbang makin kuat. Tedi pun kemudian langsung lari menuju Rasti.

“Maa…” panggil Tedi. 
“Aah… itu anak saya dan teman-temannya pak… mari… te… terima kasih…!” ucap Rasti pada si bos dan para tukang yang lain lalu bergegas menghampiri Tedi sebelum Tedi sampai. Rasti memeluk Tedi erat karna berpikir bahwa si bos dan para tukang itu masih memperhatikan dirinya. Tedi sendiri kikuk dan bertanya-tanya kenapa Rasti tiba-tiba memeluknya erat. 

-------------------------------------------------------------- 

Kini, mereka semua sudah beranjak pergi dari mall itu dan kembali berkendara. Tapi Rasti masih memakai daster minim pemberian si bos tadi. Tedi dan teman-temannya pun tidak peduli, mereka seakan lupa bahwa seharusnya hari itu Rasti wajib bugil sepanjang perjalanan. Ya, kini pikiran mereka dipenuhi dengan pertanyaan apa tadi yang terjadi antara Rasti dan para tukang itu tadi di mall. 

“Ma...tadi itu gimana ceritanya?”
“Iya tante.. cerita dong...?” 
“Tante diperkosa sama tukang-tukang itu?” 
Tak tahan penasaran, beragam pertanyaan pun terlontar dari mulut Tedi dan ketiga temannya. 
Tanpa menjawab, Rasti senyum-senyum sendiri. Aah, bikin gemas mereka saja!

“Tante digangbang! Duuh sayang banget ga lihat…” celetuk Romi. Rasti tergelak, mencubit teman Tedi itu. “Dasar kamuu… mesum melulu pikiranmu itu lho.. parah…!” Cibir Rasti.
“Makanya cerita dong…?” ucap Romi nyengir. 
“Kalian sih nakal, ninggalin Tante sendirian di sana... Huuh...!” Rasti pura-pura merajuk, tapi sejurus kemudian mengerling pada mereka sambil tersenyum menggoda, “Emangnya mau tau aja atau mau tau banget?”
“Mau tau bangeeettt!” Keempat remaja itu menjawab kompak. 
Rasti tertawa.
“Hihihi, ya udah kalo gitu kita pulang ya? Nanti cerita di rumah…” Rasti tidak ingin merusak khayalan mereka kalau sebenarnya dia tidak diapa-apakan.

“Iih gak bisa gitu dong ma, petualangan kita belum selesai nih...” Protes Tedi. 
“Hihi, ya udah kalo gitu ceritanya nanti yah? Hmmm… Gimana sayang? Jadi ke tempat itu?” 
“Ya jadi lah ma... dah disiapin kan?” Jawab Tedi. Riko, Romi dan Jaka pun saling berpandangan. Tampaknya Tedi dan Rasti ternyata sudah merencanakan dan menyepakati tujuan keduanya ini sebelumnya, dan mereka tidak diberitahu. 
“Ted, kita kemana nih sekarang…?” 
“Lihat aja ntar…”



The slums old man……………………………………….... 

Mereka meluncur ke daerah pinggiran. Tidak terlalu jauh, sehingga waktu tempuhnya memang tidak lama. Tapi daerah yang dituju itu benar-benar sudah ‘pinggiran’ kondisinya. Ya, kumuh lingkungannya dan miskin penduduknya. Sebuah pemukiman di bantaran sungai yang sudah mendekati muara ke laut utara. Daerah ini hampir menuju desanya pacar Rasti semasa SMA dulu. Tapi daerah ini sangat miskin. Sebagian penduduknya ada yg jadi nelayan, tapi bukan pemilik kapal, hanya jadi awak kapal saja. Sebagian lainnya mengemis di jalan. Tidak jarang juga yang terjerumus kriminalitas, jadi maling sampai begal. Yang paling mending jadi kuli bangunan. Bagaimana dengan kaum perempuannya? Sebagian dari mereka melacur seperti Rasti, dan bagi keluarganya itu adalah mata pencaharian yang lumrah. Tapi jangan ditanya bagaimana kualitas pelacur di daerah ini. Dapat yang muda saja sudah untung, karna kebanyakan pelacur disini tua-tua! Tidak jarang usia kepala 4, bahkan ada yang kepala 5 Alias hampir jadi nenek-nenek! Ironis memang. Begitulah gambaran daerah kumuh ini.

Rasti dan Tedi sudah punya info tentang daerah ini sebelumnya, di desa ini mereka mengunjungi sebuah bangunan rumah yang difungsikan menjadi semacam panti jompo. Bukan hanya penampungan orang tua, tapi dulu tempat itu juga sebagai penyalur dana santunan, ada kalanya juga menjadi tempat penyuluhan dan pelayanan kesehatan, termasuk juga menangani kesehatan para lonte, mendidik mereka tentang PMS, obat-obatan, kontrasepsi, dan sebagainya. Dulu yang mendirikan adalah sebuah LSM, tapi karna minimnya dana, juga kucuran donatur yang mandeg, LSM itupun bubar dan rumah itu menjadi tak terurus. Sekarang terbengkalai, hanya ada 1 atau 2 mantan anggota LSM itu yang mengabdikan diri mengurusi rumah itu. Mereka rutin mengunjungi dan mengurusi segala keperluannya. Tapi terbatas sekali yang bisa mereka lakukan. Dan juga tidak bisa setiap hari mereka datang, paling banter seminggu sekali itu sudah untung. Pernah 2 bulan lebih tak ada kunjungan sama sekali. 
Rumah ini sampai sekarang masih digunakan, paling tidak sebagai base camp jika ada bantuan. Sehari-harinya rumah ini dijadikan tempat nongkrong para orang tua, main catur, kartu dan sebagainya. Tapi tidak hanya nongkrong, ada juga beberapa kakek yang tinggal di situ, menghabiskan masa tuanya. 

Dokter pribadinya Rasti termasuk yang pernah berhubungan kerja dengan LSM ini dulunya, Rastipun tahu info ini dari dokternya itu. Lalu apa yang direncanakan Rasti dan Tedi dengan mengunjungi tempat ini? Beramal! Itu ide Tedi, dan Rasti menyetujuinya dengan antusias. Ya, Rasti di sini bermaksud menyumbangkan sejumlah uangnya. Uang yang didapat sepenuhnya dari hasil menjajakan dirinya kepada para hidung belang. 
Di rumah itu Rasti menemui seorang bapak tua yang mewakili penghuni lainnya secara khusus dan penduduk desa pada umumnya. Pak Unang namanya. Rasti tentu sudah janjian sebelumnya dengan pak Unang ini yang usianya sudah 59 tahun ini. Jadi sudah tampak sangat tua. Dia menyambut Rasti dengan sumringah. Tak peduli giginya yang sdh tinggal 50% dia tertawa lebar memamerkannya. Kedatangan Rasti di situ jelas menarik perhatian warga. Mobil mewah, cewek cantik putih mulus. Pemandangan indah yang jarang mereka saksikan secara langsung. Rasti dikerumuni bagai artis, dan memang itulah yang mereka kira.

Di dalam rumah, Rasti ditemui pak unang dan rekan-rekannya yang sama-sama tua. Tidak tanggung-tanggung, Rasti berniat menyumbang uang 20 juta. Jumlah yang membuat penghuni rumah itu berdecak kagum dan berbinar-binar gembira. Rasti membawa semuanya tunai dalam sebuah tas hitam kecil, mirip tas pinggang. Kecil memang tas itu, karena Rasti membawa uang 20 juta itu dalam pecahan 50 ribuan. Artinya, tas itu hanya memuat empat bendel uang. 

Mereka kemudian saling berbincang dan bercerita-cerita. Obrolan yang ramah dan cair, tidak tampak seperti basa-basi membuat Tedi makin mengagumi Mamanya. Dia pun sibuk mengabadikan momen itu. Rasti yang dikelilingi pria-pria tua kumuh, benar-benar objek yang menarik baginya. Pesona Rasti seakan bertambah dua kali lipatnya. Pembawaan Rasti yang membumi, tidak canggung, tidak grogi, tidak eksklusif, selalu ramah, menebar senyum dan tawa, bahkan tangannya sering juga tidak sungkan menyentuh lawan bicara, tidak ada kesan jarak sama sekali. Rasti bagai bidadari yang diturunkan dari langit khusus untuk berada di tengah-tengah mereka. 
Tak bisa dielakkan, percakapan mereka kemudian menjurus ke pekerjaan Rasti yang sudah begitu dermawannya menyumbang uang sebesar itu. Tanpa malu Rastipun mengaku terus terang profesinya sebagai pelacur.

“Ooooh… Lonte……” 
“Se… Serius non Rasti?” 
“Hi hi hi… ya serius lah pak, emang kenapa?” Ucap Rasti senang melihat reaksi para orang tua itu mendengar pengakuannya. Reaksi yang kurang lebih sama dengan semua pria lain yang baru tahu profesinya. Reaksi yang selalu membuat Rasti berbunga-bunga tanpa pernah bosan. Ya, bukan Rasti namanya kalau tidak begitu.

“Nggak sih… Kirain non bintang film.” 
“Iya, non kan cakep, kenapa ngelonte?” 
“Lho, justru karena saya cantik kan makanya jual diri… Kalau jelek mah jual sayur aja di pasar. Hi hi hi…” Jawab Rasti geli. 
“I ya sih… Tapi cewek sini jelek-jelek juga pada ngelonte tuh…” 
Celetukan ini sukses memancing tawa semua yang mendengar, tak terkecuali Tedi dan ketiga kawannya yang sedari tadi hanya menjadi pendengar setia. 

"Wah anak saya juga kadang melonte, tapi ya hasilnya ga seberapa..." Ucap salah seorang. 
“Anak lo ngaca dong, tampang begitu laku berapa emangnya? Hua ha ha…!” Respon seorang yang lainnya. Beberapa orang lainnya ikut tertawa. 
“Kampret lo, masih mending anak gue ketimbang si Imah tuh! Tua bangka masih aja jual diri!” 
“Tapi si Imah penghasilannya lebih besar dari anak lo!” 
“Iya ya… kok bisa begitu ya…?” 
“Ya iya laah… empotannya Imah lebih josss tau gak lo!” 
“Udah pengalaman tuh! Lebih pinter muasin sopir trek. Ha ha ha…” 
Pecah tawa lagi di antara mereka. Obrolan tentang lonte sama sekali tidak dianggap tabu oleh mereka. Padahal ada juga satu dua orang ibu-ibu nimbrung di situ. Rasti sendiri yang mendengarnya hanya tersenyum simpul, kadang tertawa kecil sambil tangannya menutupi mulutnya. Sungguh cantik ekspresinya. 

"Wah kalo lontenya kayak non pasti pelanggan ngantri ya..." 
"He he he gue pun juga pasti ikut ngantri..." 
"Pala lo peyang! Emang lo punya duit dari mana?" 
"Iye, lonte kayak neng pasti mahal ya...?"
"Tapi neng baik banget sih... udah cantik, mau jadi lonte pula... udah gitu uangnya disedekahin..." 
Bahkan salah seorang ibu-ibu ada yang ikut berkomentar, "enak ya... kalo gue secantik eneng, pasti udah jual diri gue... ga perlu repot2 jadi tukang cuci..." 
Begitulah komentar-komentar yang ada sama sekali tidak menganggap tabu profesi Rasti. Bahkan memuji-muji Rasti dan kecantikannya tentu saja.

Setelah obrolan agak mereda, Tedi kemudian meminta ijin sesi foto khusus untuk Rasti dengan suasana rumah itu. Entah darimana keberanian Tedi muncul. Sebuah ide terlintas begitu saja di benaknya. Tedi memperkenalkan diri sebagai seorang fotografer model. Ia menjelaskan dengan percaya diri seakan-akan memang itu sudah menjadi salah satu agenda kunjungan mereka, bahwa akan ada sesi pemotretan resmi untuk sebuah majalah pria. Penuh percaya diri, berlagak seperti fotografer profesional, Tedi menjelaskan pada bapak-bapak tua disana bahwa Rasti adalah model yang dikontrak oleh majalahnya untuk tampil di edisi bulan depan. 
Bapak-bapak tua itu manggut-manggut mendengar penjelasan Tedi. Rasti baru ngeh bahwa dari tadi memang mereka belum memperkenalkan diri sebagai ibu-anak. 

"Bapak-bapak tetep disini aja ya seperti biasa. Jadi bapak-bapak ceritanya melakukan kegiatan biasa sehari-hari, yang nonton tv, main catur, dan sebagainya... nanti saya ambil gambarnya juga sebagai latar belakang. Nanti ceritanya model saya berperan jadi pelayan di sini, saya mau ambil gambarnya sedang menyapu, ngepel, nyuci, bikin minum, dan lain-lain. Oke ya pak...?" Terang Tedi panjang lebar memberi arahan.
Meski terkejut karna tak ada skenario sama sekali soal ini, diam-diam Rasti mengagumi anak sulungnya itu. Tedi tampaknya berbakat jadi fotografer profesional. Dalam hati, Rasti berniat menguliahkan Tedi ke jurusan fotografi. 
Ya, memang tidak ada perbincangan atau perencanaan sebelumnya antara Tedi dan Rasti. Jelas Tedi spontan punya ide ini, pikir Rasti. Ia pun tak keberatan sama sekali mewujudkan keinginan anaknya itu. Yang mana menyuruh ibu kandungnya sendiri mengerjakan pekerjaan pelayan di rumah lusuh yang dipenuhi pria-pira tua kumuh itu.

"Wah kalo pelayan begini… aiihh cakepnya..."
"Kayak film itu tuh… Inem Pelayan Seksi!” 
“Rasti Pelayan Seksi dong jadinya… Ha ha ha…” 
“Kalau ini sih bukan pelayan seksi lagi, tapi bahenol…!” 
"Ada adegan kita dimandiin nggak? Hi hi hi…" 
Celetukan demi celutukan antusias meluncur dari mulut-mulut keriput bapak-bapak tua di situ. Rasti malah menanggapinya dengan senyuman-senyuman manis yang mana makin membuat mereka blingsatan. 

Tedi kemudian meminta bapak-bapak itu kembali ke kegiatan masing-masing secara alami, ada yang ngobrol-ngobrol di ruang tamu, main catur, nonton tv, dan sebagainya. 
Seorang ibu dikenalkan pak Unang sebagai orang yang biasa mengurusi kerumahtanggaan tempat itu, dari bersih-bersih, masak dan sebagainya. Mpok Minah, begitu panggilannya. Ia lalu diminta untuk menyiapkan properti alat-alat seperti sapu, ember, dan kain pel. 
"Sore ini model saya yang akan bantu bersih-bersih di sini, mpok Minah istirahat aja… bapak-bapak, nanti selama model saya bekerja akan saya ambil gambarnya… Nah, bapak-bapak nanti alamiah saja ya, jangan lihat kamera, anggap saja saya nggak ada..." Ujar Tedi mengarahkan ulang.
"Kalo ngeliatin modelnya boleh nggak?"
"Kalo colek-colek modelnya boleh nggak?" 
Gak ada matinya celetukan mesum dari bapak-bapak itu. Rasti menanggapinya dengan senyum-senyum saja. Rasti kemudian meminta tolong mpok Minah menjaga dan mengurusi segala keperluan Bobi si bayi, termasuk memandikannya nanti. Tentu Rasti memberinya sejumlah uang. Mpok Minah berbinar melihat 3 lembar ratusan ribu yang diterimanya dari Rasti. “Siap non…” Jawabnya sumringah. 


----------------------------------------------------- 

"Sayang, ceritanya mama cosplay nih ya... jadi pelayan? pake kostum maid? Tapi emang kamu bawa kostumnya? Seksi ngga kostum maidnya? Hihihi... jangan seksi-seksi ya....?" tanya Rasti yang tampak bersemangat dengan permainan ini.

"Nggak lah ma, kan gak kepikiran... idenya spontan aja kok tadi... mau kan Ma? He he…"
"Hi hi, ya mau dong... apa sih yang nggak buat anak mama ini. Trus, mama pake daster begini aja?" tanya Rasti lagi. 
“Iya Ma… gak papa.” 
“Ya sudah… kamu ambil gambar-gambar mama yang bagus ya sayang…” ucap Rasti centil. “Kalian juga, tontonin tante puas-puas yah… kalian pasti suka deh… hi hi hi…” Sambung Rasti lagi mengerling nakal pada teman-teman anaknya itu.
“I..iya tante… pasti, he he.. Duh… asik nih…” 

Pecakapan itu membuat beberapa bapak tua saling berpandangan satu sama lain. Mereka bertanya-tanya dalam hati soal hubungan Rasti dan Tedi sebagai ibu anak. Tapi mereka tidak sampai mengutarakan pertanyaan itu pada rasti. 

Rasti sudah memegang sapu, rambutnya dikuncir kuda, diapun mulai menyapu lantai beneran di ruang TV di antara bapak-bapak tua yang sedang nonton TV. Salah satu bapak mengelus pantat Rasti. Jelas dia merasa mulus-mulus saja, tidak ada tonjolan celana dalam di situ.

"Wuih, ga pake daleman ya non?"
"He he cantiknya... non jadi pelayan terus aja disini, mau gak non?" Beberapa celetukan mesum dan kurang ajar lagi-lagi mengalir dari mulut bapak-bapak tua itu, seakan lupa Rasti adalah orang yang baru memberi mereka sumbangan 20 juta yang seharusnya mereka hormati. Tapi Rasti terus merespon semua itu dengan senyuman, bahkan saat bokongnya diremas, Rasti berpaling dan tersenyum centil pada bapak yang melakukan itu. Benar-benar binal!

"Aduh non, jantung saya empot-empotan, non mau bikin saya jantungan ya? Iih, cantik kok gak kira-kira sih non..." Ucap bapak tua itu sambil bertingkah menggelepar. Rasti tertawa geli melihatnya, dan itu membuat muka bapak tua itu merah padam, tersipu malu merasa berhasil mendapat perhatian Rasti. 

Plaak...! Pantat Rasti ditampar gemas.
“Aahh... Bapaak…” desah Rasti.
“Ha ha ha....” bapak-bapak tua itu seakan jadi lupa diri sekarang. Sedangkan Tedi terus mengambil gambar ibunya yang sedang bersih-bersih sambil menerima perlakuan yang sebenarnya sangat melecehkan bagi orang normal. Perasaan Tedi cukup campur aduk melihat kekurang ajaran para kakek itu pada Mamanya, tapi dia sendiri juga memang menikmati semua itu. 

"Gimana, bagus?" Tanya Rasti pada Tedi sambil terus menyapu. "Iih, ini lantainya kok kotor sih, Rasti jadi bersih-bersih beneran deh di sini…" Ucap Rasti genit.
"Ya maklum non, yang tinggal orang-orang tua.., jangankan lantai, kita-kita juga jarang dibersihin. Hehe... jarang mandi... Makanya nanti non Rasti mandiin bapak yah? He he…" 
“Maunyaa…” Rasti menjulurkan lidah menggoda. 

Tedi kemudian memberi kode pada Rasti, "Oke cukup, lanjut ya... mmm...” 
“Masih nyapu?” Tanya Rasti.
“Iya… mm... Tapi, sekarang dasternya dibuka ya..." 
"Duh, maksud kamu..?” 
“Yaa… dibuka… dilepas…” 
“Aah… Bugil dong...?”
“Iya…” 
“Haah...” Teman-teman Tedi tidak mengira Tedi akan senekat ini menyuruh mamanya bugil di situ. Tapi tampaknya suasananya memang memungkinkan. Mereka pun antusias. Berdebar kencang jantungnya menanti apakah Rasti akan memenuhi permintaan Tedi yang pastinya mewakili semua pria yang ada di ruangan itu. 

“Asiikk...” 
“Wow... beneran nih?” 
“Yuuk bugil yuukkk…!” 
Benarlah, hampir semua bapak tua yang ada di situ merespon antusias apa yang diminta Tedi pada Rasti. Mereka kemudian mulai saling menggumam satu sama lain. 

Rasti melihat sekeliling, menatap bapak-bapak tua yang tidak bisa menahan ekspresi kemupengan yang tercetak jelas di wajah-wajah keriput mereka. Benar-benar wajah yang penuh harap. Rasti yang tadinya menganggap ide Tedi terlalu bahaya, kini merasa bahwa hal itu memang bisa dilakukan di situ. Rasti kemudian berpaling pada Tedi lagi, “Serius nih…?” Bisiknya.
Tedi mengangguk cepat, “Ayo dibuka dasternya…” 
Rasti menggigit bibirnya dan memandangi bapak-bapak di sekitarnya lagi. 
“Ayo non…” 
“Jangan malu-malu non… buka aja… kita gak nggigit kok…” 
“Suit… suit…!” 

Sambil tersenyum genit, kemudian dengan gerakan pelan Rasti mengangkat tangannya menarik simpul tali daster di pundaknya. Gerakan Rasti yang mengindikasikan kepatuhannya pada instruksi Tedi benar-benar membuat semua pria yang ada di situ menahan napasnya, termasuk Tedi. Gerakan sederhana itu terlihat begitu seksi, ingin rasanya Tedi men-slow motion-kan gerakan itu. 

Setelah tali simpul daster di pundaknya terurai, Rasti mulai memelorotkan dasternya pelan sekali, seakan bisa membaca isi pikiran semua pria yang ada di situ. Rasti benar-benar menikmati menjadi pusat perhatian sekarang. Pandangan tajam dan liar semua mata yang tertuju padanya tanpa berkedip seakan terasa menusuk-nusuk jantungnya. Bukan tusukan yang menyakitkan, tapi tusukan nikmat yang getarannya sampai dia rasakan di liang kewanitaannya yang kini mulai basah. 

"Permisi ya bapak-bapak..." Desah Rasti. 
"Iyaa non....." beberapa bapak menjawab lirih, nafasnya memburu. Tenggorokannya tercekat, semua menelan ludah berkali-kali melihat pemandangan langka ini. 
Saat dasternya hampir turun melewati ujung payudaranya, Rasti menahan daster itu dengan menyilangkan tangannya, sehingga belahan dada yg sudah nyaris terbuka semuanya itu makin menonjol terekspos jelas menggoda. 

"Ups... he he he..." Rasti tersenyum genit sambil mengerling ke arah pintu. Bapak-bapak tua itu menengok ke arah pintu dan mendapati banyak anak kecil menggerombol di situ menonton! Ada juga kepala-kepala yang nongol di balik jendela. Sejak awal memang rumah itu dibiarkan terbuka saat menerima rombongan Rasti. Entah sejak kapan gerombolan ‘penonton ilegal’ itu ada di situ. 
‘Rame juga,’ Pikir Tedi. Dia menaksir anak-anak itu masih seusia anak SD. Tapi ada juga satu dua yang kayaknya sepantaran dengannya. Bagaimanapun juga, tampaknya mereka semua sudah bisa ngaceng melihat wanita cantik.

"Aduuhh bocah-bocah nakal...! Bubar sana bubaarr..." bentak pak Unang. Anak-anak itupun berhamburan sambil tertawa-tawa, "Wuuuu....!" Ada yg teriak protes sambil menjauh. 

Tapi tampaknya itu formalitas aja, karna tak ada upaya menutup pintu dan jendela setelahnya oleh pak Unang atau yang lainnya. 
"Mm... ga ditutup pintunya pak...?" Tanya Rasti. 
"Jangan," sergah Tedi. "Kalau ditutup nanti gelap. Ga cukup cahaya lampu... harus ada cahaya alami..." jelasnya. Rasti mendengus manja. 
"Dasar... Ya udah deh..." dengan satu gerakan, tangan Rasti membebaskan dasternya melorot ke bawah jatuh ke lantai. 
Prok… 
Rasti kini polos! 

"Waaw...!" 
"Aduuhai..." 
“Ajiiibbb!” Berbagai seruan girang mengalir deras dari mulut bapak-bapak tua itu, membahana di seluruh sudut ruangan itu. Belum cukup dengan ketelanjangannya, Rasti juga tebar pesona senyum manisnya, kuncir rambutnya dibuka dan rambut panjang indahnya dibiarkan tergerai kembali dengan gaya kayak iklan sampo.

Plok plok plok...! Sampai ada bapak yg tua banget tepuk tangan antusias. Rasti tertawa geli melihatnya. 
Aah… Puas dan plong sekali rasanya. 
Ya, Rasti juga excited dan sangat berdebar-debar. Darahnya berdesiran di seluruh tubuhnya menimbulkan sensasi aneh yang amat sangat dia nikmati. Intinya, semua senang di sini, Tedi dan kawan-kawan senang, Rasti juga senang, bapak-bapak tua dan para penonton yang nyuri-nyuri dari luar itu juga pasti jauh lebih senang. 

Rasti lalu memungut daster itu dan menyerahkannya pada salah satu bapak tua. 
"Titip ya paak... Hi hi hi… Jangan sampe ilang lho, nanti Rasti ga bisa pulang deh..."
"Wah kalo gitu bapak sembunyiin aja deh biar non ga pulang..." 
Sekali lagi Rasti meresponnya dengan tertawa geli seolah tidak masalah baginya.

...

The Special Gift Expo……………………….. 

Dari pemukiman kumuh itu Rasti ngebut pulang, sampai di rumah Rasti buru-buru masuk dan melirik jam. Ah, waktu sudah menunjukkan jam 8 malam. “Masih sangat sempat!” Pikirnya. Entah apa yang sudah direncanakannya. 
Rasti menidurkan Bobi dan menitipkannya pada seorang pembantu plus baby sitter yang memang direkrutnya khusus untuk hari-hari semacam ini dimana Rasti sibuk seharian. Hari itu di rumah Rasti ada 3 orang baby sitter professional yang bekerja menjaga, mengawasi dan mengurusi kebutuhan anak-anak Rasti seharian. Semua baby sitter itu adalah tenaga terdidik dari sebuah lembaga jasa swasta yang tarifnya cukup mahal. Rasti jarang menggunakan jasa baby sitter ini, tapi jika ada saatnya perlu, Rasti tidak segan mengeluarkan uang lebih untuk jasa yang berkualitas. 

Rasti bergegas mandi, berdandan, dan kemudian siap-siap hendak pergi lagi. Tedi dan teman-temannya sedang makan dengan nasi kotak yang dipesan dari restoran cepat saji.

“Ma, kita mau pergi lagi?” Tanya Tedi melihat Mamanya sudah wangi dan cantik kembali.
“Iya… Emang udahan kamunya ‘mainin’ Mama…? Cukup nih…? Puas? Hi hi hi…” Ucap Rasti yang kini sedang ikut duduk dan makan bareng mereka, meski di wajahnya tampak sedikit make up, tubuh Rasti masih hanya berbalut handuk. Seksi sekali kelihatannya. 

Tedi dan teman-temannya saling berpandangan. 
“Yah sebenarnya banyak fantasi kita yang belum terpenuhi sih Tante… Tapi sudah capek juga ya…” 
“Dasar kamu ini… memangnya ada fantasi apa lagi sih? Tante sudah kewalahan lho seharian ini, kalian suruh bugil di mall, ditinggal lagi… udah gitu bugil-bugilan di pemukiman kumuh… Tante udah dikerjain sama satpam mall, hampir diperkosa sama anak-anak di sungai, terus digangbang sama kakek-kakek! Hi hi hi… kurang apa lagi Tante ini??”

“Digangbang sama pekerja-pekerja di mall juga Tante…” 
“Oh iya, itu juga, hihihi…” 
“Jadi beneran Tante tadi siang sama pekerja-pekerja itu?” tanya mereka, Rasti hanya senyum-senyum penuh misteri. 
“Aahh… sial, kita nggak lihat, lo sih Ted, ambil mobilnya kelamaan…” 
Rasti tertawa. Tedi dan teman-temannya menganggap kalau Rasti memang digangbang oleh pekerja-pekerja mall itu.
“Ya udah, kita istirahat saja Tante sambil didongengin di kamar… kasihan nih si otong dari tadi cuma bisa tegang aja…” 
“Hihihi… kasihan banget sih, salah kalian sendiri lah mainin Tante. Sekarang mintanya Tante dongengin kalian sambil tidur-tiduran sambil kaliannya coli, begitu?” 
“Iya Tante… kan udah janji tadi.” 

“Hehe, maunya kalian ini lho… Tapi nanti ya, Tante masih ada satu ‘agenda’ lagi buat Tedi. Terserah deh kalian mau ikut atau tinggal di sini istirahat, atau mau pulang?” 
“Yaah… kita nginap di sini lagi ya Tante… Udah pamit kok sama orang rumah.” 
“Hihihi, ya udah sana tiduran… Tante mau pergi sama Tedi. Atau kalian mau ikut?” 
“Ma, kita mau pergi kemana sih…?” Tanya Tedi yang sejak tadi bingung. Ternyata agenda malam ini adalah rencana Rasti pribadi. Yah, hadiah kejutan yang sudah direncanakannya jauh hari buat Tedi, tentu Tedi sendiri tidak tahu apa rencana mamanya ini.
“Rahasia dong sayang… surprise deh buat kamu…” Ucap Rasti mengusap-ngusap rambut anak sulungnya itu. 
“Mmm… kami boleh ikut Tante…?”
“Ya dari tadi kan juga Tante tawarin, mau ikut atau tinggal…? Kalo mau ikut ya ayo…” 
Seakan mendapat tenaga baru, Riko, Romi dan Jaka yang tadinya sudah keliatan lemes jadi semangat lagi. 
“Pake baju yang bagus ya kalian… baju yang baru, sayang, kasih pinjam temen-temenmu baju yang bagus ya…” Komando Rasti di kamar Tedi saat Tedi dan teman-temannya sedang bersiap-siap.
“Makasih Tante… Tapi Tante sendiri kok belum pake baju? Mau pergi pake handukan aja? He he he…” Ucap Jaka melihat paras Rasti yang sudah cantik berdandan, tapi tubuhnya masih saja hanya berbalut handuk. 
“Dasar… Makanya cepetan kaliannya, habis ini ke kamar Tante.” jawab Rasti senyum-senyum.
“Ng… ngapain tante?”
“Mmmm… Mau kan pilihin baju buat Tante…?” desah Rasti manja. Wow! Antusias sekali mereka disuruh milih baju untuk dipakai Rasti. Mau banget!

------------------------------------------------------------ 
Semua kini telah berpakaian rapi. “Naah, udah ganteng-ganteng deh kaliannya…” Puji Rasti. 
“He he, kok harus rapi gini, udah gitu harus pake baju bagus. Tante mau ngajak kami ke mana sih?” 
“Eit, masih rahasia… yuuk…?” Rasti memberi kode pada mereka untuk mengikutinya, ia melenggang dengan seksi ke kamar. Dengan antusias mereka mengekor Rasti, pemandangan belakang tubuh Rasti yang melangkah bak peragawati dengan hanya mengenakan handuk mulai membuat mereka nafsu lagi. Pundak dan punggungnya yang putih mulus, bokongnya yang bulat kencang bergoyang-goyang seiring langkahnya, sungguh menggiurkan. 

“Woooww…” Terpana mereka memasuki kamar Rasti yang mewah, luas, sangat bersih, dan wangi. Sementara, Tedi yang sudah terbiasa ya tidak terlalu heboh, dia bergegas membuka lemari pakaian Rasti yang sangat besar dan juga mewah. Di dalamnya begitu banyak gaun mahal dan bermacam-macam pakaian. Tedi langsung fokus dan mulai memilih-milih pakaian, padahal ketiga temannya masih sibuk mengagumi suasana kamar Rasti, kasurnya lebar sekali, super empuk dan wangi. Memang, selama ini mereka hanya bisa melihat kamar ini dari luar saat Rasti sedang melayani tamunya dan lupa atau sengaja membiarkan pintu kamarnya terbuka. Termasuk juga saat Rasti dientot oleh Norman, yang mana memang Norman lebih suka jika pintunya tidak ditutup. 

Begitulah, apa yang bisa mereka lihat dari luar jelas tidak sama ketika mereka akhirnya benar-benar berkesempatan memasuki kamar ajang perzinahan ini. Aah, di kasur ini entah sudah ratusan atau ribuan kali persenggamaan cabul dilakukan, gumam teman-teman Tedi dalam hati, membayangkan sambil duduk-duduk di kasur Rasti yang super nyaman. Si Jaka malah langsung mencoba tiduran di situ. Duh nyamannya, apalagi kalau Tante Rasti jadi selimutnya, batinnya mengkhayal. 

Plok! Tiba-tiba sesuatu yang basah dan harum menimpa kepala Jaka. 
“Hayo, kamu kok malah tiduran sih…?” Ujar Rasti membuyarkan lamunan Jaka. Wow! Ternyata yang menimpa kepala Jaka adalah handuk yang tadinya melilit tubuh Rasti. Terpana Jaka melihat sosok Rasti yang sudah bugil lagi. Tiap pernik ulah Rasti benar-benar bisa merangsang penis-penis mereka dengan maksimal. Kali ini bukan hanya ketelanjangan Rasti, tapi Rasti yang melempar handuk yang baru dipakainya ke kepala Jaka itu yang membuat Jaka merasakan senut-senut di penisnya. “Hehehe… nyaman Tante… kok ranjangnya gede banget ya Tante?” Jawab Jaka. Dia bangkit dan bergabung dengan Riko dan Romi duduk di pinggiran bed mewah itu.

“Ya biar muat banyak orang dong… hi hi hi…” Jawaban yang sukses membuat semuanya berimajinasi lebih liar dan ngaceng berat! Dengan senyum-senyum nakal, Rasti malah ikut duduk di samping Jaka. “Kamu tuh, mupeng lagi… mupengan banget sih jadi orang? Bukannya udah biasa lihat Tante telanjang?” Ucapnya gemas menjawil hidung Jaka. 

“Emangnya kalo udah biasa jadi gak ngaceng lagi Tante? Gawat dong kalo gitu nanti tiap kali Tante pingin ngentot harus ada kontol baru terus, habisnya kontol lama ga bisa ngaceng lagi karna udah terbiasa...” Sahut Jaka vulgar. 

“Hi hi hi… iya juga ya… Tuh si Norman juga udah biasa, bahkan tinggal sama Tante… Tapi ngaceng terus bawaannya kalo sama Tante. Maunya ngentot terus. Hi hi hi…” Rasti menjawab tak kalah vulgar. “Mmm tapi… Mau juga sih Tante kalo bisa terus dapat kontol-kontol baru.” Lanjutnya makin vulgar. 
“Tante cantik banget sih… Ga bakal deh kami bosan. Duh, wangi lagi…” Jaka mengelus-elus dan mencium pundak Rasti. Romi yang duduk di sisi Rasti yang satunya ikut membelai kulit punggung Rasti, dari atas turun ke pinggang, dan turun lagi... Gemetaran tangannya merasakan sensasi kelembutan yang luar biasa. 

“Sshhh…” Desah Rasti lirih. Darah di dadanya berdesir merasakan usapan tangan kedua remaja ini di kulit telanjangnya. 
“Eehhmm… Eehhmmm! Duh mau pakaian yang mana ya?” ujar Tedi keras sambil pura-pura batuk. 
“Hi hi hi… Tuh…! Kalian ini, sana bantu Tedi milihin pakaian dong buat Tante… ayo cepetan, keburu makin malam nih…” 
Meski awalnya bersungut-sungut tak semangat, ternyata setelah ikut melihat-lihat pakaian di dalam lemari Rasti, mereka jadi antusias membantu Tedi memburu pakaian di lemari pakaian Rasti. Sekali lagi mereka terkagum-kagum dengan isi lemari itu. Sambil memilih-milih, mereka pun saling berdiskusi serius.

“Hi hi hi, ayo yang mana aja, jangan kelamaan dong… Serius amat sih… nanti kemaleman kita.” 
“Boleh yang mana aja nih Ma?” tanya Tedi.
“Iyaa… yang paling seksi juga boleh, yang buka-bukaan juga boleh, hi hi hi…” 
“Bikini boleh Tante?” Ujar Romi terkekeh sambil kedua tangannya membentangkan bikini top piece yang sangat minim kepada Rasti.
Rasti tergelak, “Ha ha ha… itu kan bikini Tante buat ke pantai… Duh, kamu ini, masa pake bikini? Tante masuk angin dong nanti…” 

“He he he, katanya apa aja boleh?” 
“Ya lihat-lihat konteksnya dong, kita kan gak mau renang atau ke pantai…” 
“Kan kita emang belum tahu mau kemana…”
“Hehe, iya ya… ya udah yang mana aja selain bikini ah…” ucap Rasti gemas. 
“Pake ini ma!” Tedi akhirnya melempar secuil pakaian ke atas kasur. 
“Duuh ini kan sama aja bikini dong…” 
“Hehehe, bukan dong, tetep aja itu bukan bikini… udah pake itu aja, nanti kemaleman lho…” balas Tedi membalikkan kata-kata Rasti. 

“Iih, kamu… oke deh mama nurut..” Rasti pura-pura protes, padahal suka. Pakaian yang diberikan Tedi adalah denim hotpants dan kaos mungil yang menutupi dadanya, dengan pundak dan perut yang terbuka. Hotpants yang sangat pendek. Garis bawahnya nyaris sejajar dengan garis pantat Rasti. Garis atasnya jauh di bawah pusar rasti. Sungguh hanya beda sedikit dengan celana dalam! Beginilah kira-kira penampilan Rasti dengan pakaian yang dipilihkan oleh Tedi pada malam itu. 



Singkat cerita, mereka pun udah on the way lagi. 
Tidak lama Tedi dan ketiga temannya bertanya-tanya kemana Rasti akan membawa mereka, karena tidak sampai setengah jam mereka telah sampai di tujuannya. Ternyata Rasti membawa mereka ke bilangan senayan. Sejak dua hari yang lalu ada Car Expo diadakan di JCC. Sebuah pameran mobil yang diadakan dengan cukup besar. Rasti sempat mendatangi pameran ini di hari pertama, dan ia berencana untuk mengajak Tedi malam ini. Untunglah semua petualangan hari ini tidak sampai berlarut-larut sehingga Rasti sempat juga merealisasikan rencananya. Car Expo ini memang dibuka hingga hampir tengah malam tiap harinya. Makin malam makin meriah acara pendukungnya, ada penampilan band hingga sexy dancer. Ya, Car Expo kali ini cukup prestisius, bahkan negara produsen dari mobil-mobil yang dipamerkan mengirim manajer-manajernya khusus dalam rangka event ini. Pantas dari tadi banyak wajah-wajah asing yang mereka jumpai di sini. Pantas pula Rasti berani memakai pakaian super sexy pilihan Tedi, karna di expo itu begitu banyak SPG SPG yang tampil tidak kalah sexynya. Benar-benar pemandangan yang memanjakan mata Tedi dan ketiga temannya.

“Hayo, jelalatan ya kaliannya… hi hi hi… Cantik mana, Mama sama mereka?” goda Rasti. 
Ah, Mama tetap yang paling cantik, gumam Tedi dalam hati. Justru dari tadi dia jelalatan itu justru karna secara spontan dia jadi membanding-bandingkan kecantikan Mamanya dengan para SPG itu. Mereka semua memang terlihat cantik menggoda, tapi Tedi melihat mereka lebih ke mengandalkan pakaian seksi dan make up tebal, plus asesoris yang beraneka macam, seperti bulu mata palsu, rambut palsu, perhiasan dan lain-lain. Ketika Tedi mencoba membayangkan mereka tanpa semua itu, ketahuanlah bahwa kecantikan mereka sungguh tidak ada apa-apanya dibanding Mamanya. Tanpa eye shadow dan bulu mata palsu, bentuk mata Mama sudah tajam dan bulu mata Mama memang sudah lentik menggoda, tanpa lipstick tebal, bentuk bibir Mama memang sudah indah, sensual dan merah merekah, tanpa make up tebal kulit Mama sudah putih alami mulus terawat tanpa sebutir pun jerawat dan setitik pun noda. Satu lagi, tanpa bedah silikon, payudara Mama sudah bulat dan kencang sempurna, meski anaknya sudah tujuh! Tidak ada bosannya Tedi mengungkapkan kecantikan Mamanya itu di dalam hati. Meski sebenarnya tak akan pernah cukup kata-kata untuk melukiskan kesempurnaan sosok Rasti di mata Tedi. 

Rasti bukanlah pesolek. Meski seorang pelacur high class yang kini hidup bergelimang kemewahan, sejatinya Rasti adalah gadis yang sangat sederhana. Pengetahuannya tentang dunia make up dan perhiasan sangat minim. Rasti tidak pernah neko-neko untuk hal ini. Jika ditengok di atas meja riasnya, teramat sedikit alat-alat rias yang dimilikinya. Tentu ini berbeda dengan kebanyakan wanita pada umumnya, apalagi yang sekaya Rasti. Tentu itu menjadi salah satu kekaguman tersendiri bagi Tedi pada Mamanya. 

Rasti lebih banyak menambah pengetahuan tentang perawatan asset-assetnya. Kulit, wajah, payudara dan yang terpenting, vaginanya. Ya, untuk hal-hal ini Rasti sangat peduli dan telaten melakukan perawatan. Bagaimana kulitnya harus tetap kencang, putih bersih dan wangi alami, halus dan lembut. Payudaranya adalah asset yang sangat penting dan butuh perawatan ekstra mengingat asset yang menjadi favorit bagi kebanyakan pria hidung belang ini sangat sering dijamah dan disedot-sedot oleh ketujuh anaknya. Dan itu tidak berhenti saat si anak tumbuh dewasa. Hanya Tedi saja kini yang tidak pernah meminum susunya, tapi keenam adiknya masih rutin menenen padanya. Maka asset yang satu ini harus dijaga tetap kencang, mengkal dan tidak turun. 

Asset terpenting adalah vaginanya yang juga tidak kalah perawatan ekstranya. Sangat penting karna selama 15 tahun terakhir dari liang ini sudah keluar tujuh orok buah dari percintaannya. Perlu upaya ekstra untuk membuatnya tetap rapat, kencang, wangi dan legit untuk dinikmati tiap hidung belang yang datang padanya. Untuk semua perawatan-perawatan ini, Rasti selalu menggunakan minyak atau ramuan-ramuan tradisional dan alami dari berbagai tabib-tabib yang reputasinya sudah tidak diragukan lagi. Bahkan tidak jarang Rasti harus mencarinya sampai ke luar negeri. Jadi dalam soal yang ini, bisa dibilang Rasti cukup royal. 

-------------------------- 

“Lho, kok sekarang malah ngeliatin Mama? Hi hi hi… Ayo sana lihat-lihat, foto-foto juga boleh…!” ujar Rasti membuyarkan lamunan Tedi. Ah, Tedi tidak sadar dia sibuk mengagumi mamanya, terpana hampir-hampir tanpa memalingkan muka sedikit pun. 

Tedi pun melihat sekelilingnya. 
Banyak sekali fotografer di pameran itu yang sibuk jepret sana-sini, entah professional, wartawan, atau pengunjung biasa. Semua dibebaskan mengambil gambar. Dan sasaran paling banyak adalah justru para SPG yang cantik-cantik dibandingkan dengan mobil-mobil yang dipamerkan itu sendiri. Para SPG pun seperti sudah terlatih peka terhadap berbagai kilatan kamera yang membidik dirinya. Senyum manis, lambaian tangan, pose seksi, semua diobral malam itu. 

Rasti pun tidak terkecuali, dengan pakaian yang sangat seksi, dia jadi sasaran jepretan foto dari sana-sini. Dan Rasti sama sekali tidak berusaha menghindar. Polahnya sama dengan para SPG, tebar pesona. Jelas dengan penampilan seperti itu hampir semua orang akan mengira bahwa Rasti adalah salah satu SPG di situ. 

“Sayang… Di sini kok kamu masih aja motret-motret mama, itu tuh banyak yang cantik-cantik, potret aja mereka gak usah malu…” Ucap Rasti pada Tedi yang masih saja memotretnya berkali-kali. 
“Aah nggak, Mama yang paling cantik!” Seru Tedi di tengah hingar bingar musik yang diputar keras di venue expo itu. 

“Idiiih, Mama sendiri digombalin…”
“Nggak gombal ma, temen-temen juga setuju kan?” 
“Ii..iya, Tante tetep paling cantik…!” 
“Ha ha ha, pujiannya tulus nggak tuh, jangan-jangan ada maunya?” goda Rasti. 
“Nggak Tante beneran!”
“Ooo… Jadi nggak ada mau lagi nih sama Tante, nggak pingin lagi?” 
“Yaa bukan begitu juga sih tante… Aduh Tante godain kita terus deh…” Ketiga teman Tedi bersungut-sungut sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Rasti tertawa renyah dibuatnya. 

“Ma, sebenarnya kita ke sini mau apa sih?” Tanya Tedi kemudian. 
“Ya kamu pilih aja dulu mana yang kamu suka…” Jawab Rasti tersenyum manis. 
“Mm… maksudnya, milih apa?” 
“Yaa mobil lah.. masa milih dodol. Ini kan pameran mobil. Ayo dipilih, kamu suka yang mana?” 
“Mm… Mama… mau beliin Tedi mobil??” Ucapan Tedi terbata, matanya berbinar-binar. Teman-temannya juga terpana. Wow, inikah hadiah kejutan Rasti buat Tedi…!? Sebuah mobil? Padahal Tedi baru kelas 3 SMP. Teman-teman Tedi benar-benar iri tingkat dewa. “Anjing anjing anjiing…!” Maki mereka dalam hati. Beruntungnya lo Tedi! Duuh, kenapa sih Papa gue dulu gak selingkuh sama Mamanya Tedi, siapa tahu gue lahirnya dari rahimnya Tante Rasti… huaa! Teriak teman-teman Tedi dalam hati. 

Rasti tertawa kecil, dielusnya rambut Tedi lembut. “Mama mau kasih kamu hadiah mobil…” Ucapnya. “Tapi……” Rasti menggoda dengan tidak melanjutkan kalimatnya.
“Tapi apa ma…?” 
“Entah beli atau tidak, belum tentu… Hi hi hi…” lanjutnya sambil mengerling nakal. 
“Mm… Maksudnya… Kalau nggak beli gimana…?” 
“Hi hi hi… ya beli juga sih, tapi kan bayarnya bisa beda…” Rasti mengedip pada teman-teman Tedi. “Makanya kamu pilih dulu sayang… jangan yang mahal-mahal yaaa… Hi hi hi…” 

Duh Tante baik, tante cantik, tante seksi, tante idamanku… Semurah-murahnya mobil baru, tetap aja harganya nyampe 200 jutaan kurang lebih. Pikir teman Tedi super gemas dan mupeng tingkat dewa. 
Ternyata tidak lama bagi Tedi untuk menentukan pilihan. Dia memilih hanya berdasar ketertarikan estetis,yaitu dari bentuk dan warnanya. Soal mesin, jelas Tedi masih blank. Tedi menunjuk sebuah mobil di salah satu stand mobil buatan Jepang yang namanya sudah tidak asing lagi.

“Ooo mau yang itu sayang…? Yakin…?” Rasti senyam-senyum, terlihat senang dengan pilihan Tedi. 
“I ya Ma… boleh kan? Gak tahu sih harganya…” Gumam Tedi sambil garuk-garuk kepala.
“Boleeh banget sayang… hi hi hi… kalo mobil itu ga nyampe 200 juta harganya, lagian… Kalo merk ini… He he, Mama ga usah beli, eh maksud Mama… Bayarnya bisa gak pake uang, hi hi hi… Yuuk…” Rasti terkikik senang mengedipkan matanya, lalu menggandeng Tedi melangkah menuju mobil yang dimaksud. Rasti tersenyum manis pada seorang sales representatif yang ada di showroom itu, lalu sejurus kemudian ia sudah terlibat obrolan serius tentang spesifikasi mobil itu dengan Sales yang memperkenalkan diri bernama Andi itu. Awalnya Andi yang agaknya masih sangat muda agak kikuk karna penampilan Rasti yang super menggoda. Jelas Andi tidak terkecuali dari orang lain, dia mengira Rasti adalah salah seorang SPG mobil lain di pameran itu. Setengah tidak percaya bahwa Rasti akan membeli mobil yang ditanya-tanyakannya itu. Tedi dan teman-temannya mendengar tapi tidak terlalu paham akan yang diobrolkan, mereka semua masih awam soal dunia permobilan. 

Terlihat serius, salah seorang pria necis yang tadinya hanya berdiri mengawasi kini ikut nimbrung. Dari penampilan dan pakaiannya, nampaknya bapak-bapak yang necis ini jabatannya lebih tinggi dari Andi, entah apa itu nama jabatannya, pikir Tedi sambil mengamati. Pria necis itu memperkenalkan namanya, Mike. Rasti kemudian menanyakan nama seseorang yang terdengar asing di telinga Tedi. Mendengar pertanyaan Rasti, raut wajah Mike berubah. Dia terlihat antusias, tersenyum, mengangguk-angguk. Tampaknya dia mengenal nama yang ditanyakan Rasti. Sejurus kemudian dia melangkah pergi meninggalkan Rasti. Kini Andi yang masih setengah percaya mempersilahkan Rasti melihat-lihat interior mobil, duduk di kabin, di kursi kemudi, sementara Andi mengulang penjelasan tentang fitur-fitur yang ada pada mobil itu.

Rasti memanggil Tedi, “Ayo sini sayang, coba deh kamu…” Dengan malu-malu Tedi mendekat, “Duuh, Tedi belum ngerti banget ma” 
“Aah cuma duduk aja, sini coba kamu nyaman nggak? Suka nggak interiornya?”
Saat Tedi mencoba duduk di kursi kemudi, Mike sudah datang kembali bersama seseorang. 
“Aahhh… hello beautiful!” Sapa pria sipit yang bersama Mike itu sumringah melihat Rasti. Bahasa inggrisnya terdengar masih kental dengan logat Jepang. Tedi mengamati Pria itu, terlihat belum terlalu tua dengan perut agak buncit, mungkin sekitar 40 tahunan. Rambutnya tipis dengan kening lebar. Tampangnya biasa-biasa. 

“Mori-San!” Sapa Rasti yang ikut sumringah menemui pria itu, lalu mereka pun cipika cipiki. Pria paruh baya yang dipanggil Mori-San oleh Rasti itu terlihat tengak-tengok sekitar, salah tingkah menemui Rasti, tampak sekali dia antusias untuk melakukan lebih dari sekedar cipika-cipiki, tapi di tempat umum itu dia tentu harus jaga image. Meski matanya nyaris tidak berkedip menjelajahi setiap jengkal tubuh Rasti yang sangat terbuka itu. 

“You look so… so……” Mori-San kesusahan menemukan kata yang tepat untuk mengungkapkan keindahan Rasti, karna ‘beautiful’ atau ‘sexy’ saja dirasa tidak cukup. 
“Guys, this is Rasti… the… the… the FINEST BITCH I ever FUCKED here in Indonesia!” Ucap Mori-San pada Andi dan Mike. Kedua orang itu terlihat surprise dan salah tingkah dengan vulgarnya ucapan Mori-san. Tapi Rasti sendiri malah tertawa geli tanpa menunjukkan rasa tersinggung sama sekali. 

"No.. no... not only in indonesia, but in the world!" Mori-San mengoreksi. Rasti tertawa lagi. 
"She's not just a whore, hooker, or anything like that... she's a... a... lover!" 
"Stop it, you're too much..." Rasti kini tersipu. 
"I’m not kidding my love… I’ve been around the world! And you look So... Ah, never mind, you're the best. My favourite... what are you doing here beautiful?" 
"I... want this car!" Rasti menunjuk mobil pilihan Tedi. 
"Aah, good choice... you got bored with the last one huh? He he he…" 
"No, the last one just fine, this one is for my kid here." jawab Rasti sambil menunjuk ke arah Tedi. 
"Your… kid? How old is he?" 
"Fifteen" jawab Rasti sambil mengangkat lima jari di tangan kanan dan satu jari di tangan kiri dengan gaya imut.

"Fifteen? I thouht you're fifteen. Hahaha!" Mori-San tertawa norak. Tidak ada hentinya dia memuji Rasti setinggi langit. Tapi Rasti memang tampak sangat muda. Jika dijejer dengan Tedi, orang akan mengira mereka kakak adik, bukan ibu dan anak. Bisa jadi orang malah akan mengira Rasti yang adiknya! 

“Stop it Mori, I’m twenty seven…” rajuk Rasti manja.
“Hahaha… see?” Mori-San berpaling ke Andy dan Mike, “She’s pregnant when she’s twelve! Mother i'd like to FUCK! hahaha... ” Ucap Mori tidak segan dengan kata vulgarnya. Kebetulan di stand itu memang sedang tidak ada orang lain di dekat mereka.

Andy dan Mike cuma mengangguk-angguk saja, sambil menengok ke Tedi, lalu ke Rasti lagi, lalu ke Tedi lagi. Kini Tedi yang jadi salah tingkah. “Fifteen… and he can legally drive? That’s why I love Indonesian market. Hahaha… the car is yours! It will be delivered tonight!” 

“Tonight? Wow that’s great… thank you!” Rasti sumringah sekali. 
“Tonight…? We never…” Andy menyela tapi ragu dengan apa yang ingin ia ucapkan. 
“Make it done!” tegas Mori-San. Dia minta Rasti menunggu sebentar, lalu dia dan 2 anak buahnya itu terlihat mendiskusikan sesuatu dan mengurus beberapa hal. Di tengah-tengah diskusi mereka, beberapa kali Mike atau Andy menoleh ke arah Rasti, lalu diskusi lagi. Rasti senyum-senyum saja merasa sedang diomongin. Saat Andy atau Mike menoleh ke arahnya, ia sambut dengan senyum manis. Mike dan Andy awalnya salah tingkah, tapi kemudian terbiasa, terutama Mike, beberapa kali dia membalas senyuman Rasti juga. Ekspresi Mike dalam memandang Rasti kini berbeda. Dari sorot mata dan gerakan bibirnya Tedi bisa merasakan Mike kini memandang Mamanya dengan rendah dan melecehkan. Tedi kesal sekali melihat itu. Penampilan Mike memang sangat tipikal sebagai playboy. Orang yang terbiasa dan suka mempermainkan wanita. Itu kalau Tedi ‘menjudge Mike by his cover’. 

Saat itu Tedi dan kawan-kawan menanyakan soal Mori-San. Rasti mejelaskan sekilas bahwa Mori-San ini salah satu pelanggan asingnya yang sangat royal dan juga seks maniak. Tedi tidak pernah tahu karna memang beberapa kali sebelumnya Rasti selalu dibooking di hotel mewah, atau di villanya. 

Teman-teman Tedi sendiri terkagum-kagum karna tidak menyangka Rasti bisa cukup fasih berbahasa Inggris. Ya, walaupun Rasti dari kampung dan dulu sekolahnya tidak lancar. Namun sejak melonte dia memang sengaja belajar bahasa Inggris, agar mudah berkomunikasi dengan para pelanggannya yang tak jarang merupakan orang asing seperti Mori-San.

-----------------------------------

Beberapa saat kemudian Mori-San menghampiri Rasti, “We’re done dear…!” Ucapnya sambil tersenyum lebar. Mike menyerahkan beberapa lembar dokumen untuk diisi dan ditandatangani oleh Rasti. Pandangannya masih tajam menusuk, seakan menelanjangi Rasti dan siap menyantapnya. Mori-san menjelaskan bahwa dia di Indonesia masih 3 Minggu lagi, selama 3 Minggu ini dia berhak atas Rasti sepenuhnya. Tapi malam ini dia ada acara penting, jadi nanti mobilnya akan langsung diantar oleh Andy dan Mike, dan mereka berdua juga yang akan mengambil 'uang muka' dari Rasti. 

Tedi dan teman-temannya tertegun melihat proses ini. Tampaknya deal-deal ini berlangsung begitu cepat dan mudah tanpa ada tawar menawar yang berarti. Baik Rasti atau pun Mori-San tidak terlihat ada perhitungan sama sekali. Keduanya sepertinya sudah berhubungan sejak lama dan saling mengerti satu sama lain. Sebuah mobil baru untuk ‘hak pakai’ tubuh Rasti selama 3 minggu. Entah siapa yang lebih diuntungkan secara material dalam hal ini, Tedi dan teman-temannya jadi mulai menghitung-hitung di dalam hatinya. Membanding-bandingkan harga mobil dan asumsi tarif Rasti. Taruhlah tarif normal Rasti yang termahal adalah 5 juta. Jika harga mobil 200 juta, maka berarti 40 kali persetubuhan. Jika dibagi 3 minggu yaitu 21 hari, maka sehari adalah 2 kali persetubuhan. Mungkinkah? Mungkin saja, bahkan ada peluang Mori-San memanfaatkan tubuh Rasti lebih dari 2 kali dalam setiap harinya, artinya jika begitu Rasti yang rugi. Begitulah kira-kira hitung-hitungan yang berputar di kepala Tedi dan ketiga temannya. Padahal baik Rasti maupun Mori-San sendiri sebagaimana terlihat tampaknya tidak ambil pusing sama sekali. Apakah Mori-San ini termasuk salah satu klien kaya raya yang royal sebagaimana sering diceritakan oleh Rasti? Tapi bukankah Mori-San adalah seorang pebisnis? Tidakkah dia adalah tipe-tipe orang yang akan selalu mempertimbangkan untung rugi? Aah, Tedi kini merasa konyol sendiri karna sibuk memusingkan hal ini. 

"Saya tunggu ya mas Andy, pak Mike..." ucap Rasti mengerling ketika semua proses sudah selesai tak lama kemudian. Rasti kemudian mengucapkan terimakasih dan membungkuk berpamitan pada Mori-San yang kemudian menyalami dan mencium tangan Rasti bak seorang lady. "I miss you so much, and now i'm missing you already... tomorrow you'll be mine...!" Rayunya yang membuat Rasti berbunga-bunga. Mori-San tampak pandai dan elegan sekali dalam memperlakukan Wanita, meskipun seorang lonte sekalipun seperti Rasti. Bahkan dia terlihat menyikut Mike, “have some respect!” tegurnya. Ternyata Mori-San juga bisa merasakan dan tidak nyaman dengan sifat pandangan Mike yang merendahkan Rasti. “Syukurin lo!” Batin Tedi senang sekaligus kagum pada Mori-San ini. 

“Yuuk sayang… eh, pamit dulu ke Mr. Mori… Bilang makasih ya, hi hi hi…” 
Tedi pun mengucapkan terima kasih dalam bahasa inggris dengan canggung. Dengan tangannya Rasti menyentuh punggung Tedi dan mengarahkan putranya itu untuk membungkukkan badannya. Tedi pun membungkuk kaku. Rasti tertawa kecil. “This is my kid… handsome yeah?” Ucap Rasti sambil menempelkan pipinya ke pipi Tedi yang masih berdiri canggung. 

“Enjoy the car kid…! I sure will enjoy your mommy…” kerling si Jepang itu.
Rasti dan Mori-San tertawa bebarengan. Tedi makin kikuk dibuatnya. Menyadari itu Rasti merasa tidak enak pada Tedi, dia pun menyegerakan untuk benar-benar mohon diri pada Mori-San. 


Bath the boys!

Agaknya petualangan hari ini pun berakhir di senayan. Setelah itu mereka benar-benar pulang ke rumah tanpa mampir-mampir lagi. Jarum pendek masih menunjukkan angka sebelas saat mereka sampai di rumah. Rasti bergegas mengecek semua anak-anaknya. Ternyata masih ada yang belum tidur, menangis karena kangen pada Rasti. Baby sitternya tampak kewalahan menenangkan dan menghibur Kiki selama Rasti pergi. Tampak benar wajah leganya melihat rasti pulang. Kiki, adik ketiga Tedi yang berumur 7 tahun. Kiki memang anaknya Rasti yang paling manja pada mamanya. 

“Sayang, maafin Mama ya…” Ucap Rasti memeluk dan mengecupi Kiki. Dengan gerakan wajah dan kedipan matanya, Rasti memberi kode ucapan terimakasih dan mempersilahkan si baby sitter beristirahat.
“Yuk ke kamar, Mama kelonin…” ajak Rasti. Ternyata Kiki rewel, tidak mau beranjak. Akhirnya Rasti mengeloninya di sofa besar di ruang TV. 

Saat Tedi dan teman-temannya keluar dari kamarnya setelah selesai ganti baju, mereka mendapati Rasti sedang menyusui Kiki. Meski sudah biasa, tetap saja menyaksikan anak umur 7 tahun yang masih menyusu pada mamanya adalah kesenangan tersendiri bagi teman-teman Tedi. Mereka pun duduk bergabung di ruang TV itu. Hanya menonton tanpa mengatakan apapun. Rasti yang menyadari hal itu, melirik dan tersenyum manis. Dengan lembut Rasti menyuruh mereka mandi lalu tidur. Mereka memang belum mandi. Tapi mereka tidak segera beranjak duduk di situ asyik menonton Rasti yang belum mengganti bajunya sama sekali. Hotpantsnya masih melekat, tapi kaosnya kini sudah dilepas, Rasti telanjang dada menyusui Kiki. Siapa juga laki-laki yang akan pernah bosan dengan pemandangan seperti ini? Rasti pun tidak memaksakan perintahnya. Dia biarkan saja para remaja tanggung itu memuas-muaskan diri menonton dirinya. 

“Tante nanti mau nerima tamu lagi ya?” Jaka angkat bicara. 
“Hmm…” Rasti cuma menggumam. 
“Ga capek Tante…?” 
“He he… Gimana lagi, tuntutan profesi…” Ucap Rasti. “Tadi kan Tante dikasih jamu-jamuan tuh di kampung tadi, sebenarnya Tante juga sudah biasa sih minum jamu-jamuan kayak tadi, buat stamina. Tapi jamu yang tadi kayaknya cespleng banget deh. Tante bukan hanya masih kuat, tapi juga pengen, hi hi hi…” 

Melihat reaksi Tedi dan teman-temannya yang mupeng mendengar ucapannya barusan, Rasti lanjut menggoda mereka lagi, “Hayo mupeng ya… ngaceng lagi denger gitu aja… hi hi hi… kalian ini, gampang banget sih digoda… Dah sana mandi terus bobo… Apa minta dikelonin juga?”

“He he he, kalo boleh Tante… tapi kan emang dari tadi kita belum keluar…” 
“Sambil didongengin Tante, tentang di mall tadi…” 
“Dongengin soal Mori-San juga Tante…” Pinta mereka tidak ada puasnya.
“Hi hi hi, aduuh kalian ini gak ada puasnya sama Tante. Besok-besok lagi yah… Seharian ini Tante buat kalian lho, ni sampai adek-adeknya Tedi kasihan nih kangen mamanya.” 

“Untung adeknya Tedi ‘yang satu itu’ gak ada ya Tante… he he...” lontar Jaka.
“Norman? Gak tau deh dia kemana… Udah sana mandi.” suruh Rasti lagi. Dia kemudian melihat Tedi seperti ingin menyampaikan sesuatu tapi ragu. 
“Ada apa sayang? Udah puas kan kamu seharian ini sama mama? Ada yang mau diomongin nih?” 
“A..anu Ma… mmm, ini kan masih hari ini… belum jam 12 malam… he he he…” Tedi senyum-senyum penuh maksud. 

“He eh… Nah lo, masih mau minta apa lagi dari Mama hayo…?” 
“Terakhir… Mmm… Mama mandiin kita-kita dong…” Ucap Tedi meringis untung-untungan. Kalaupun mamanya menolak dia juga akan maklum dan tidak memaksa. Tapi tetep aja dia ngarep. Teman-teman Tedi yang mendengar permintaan terakhir Tedi untuk hari yang spesial ini langsung terlihat berbinar-binar. “Wow, ide brilian Ted! Lo emang teman kita yang paling TOP! Benar-benar penutup hari yang sempurna!” Seru mereka kegirangan dalam hati. 

Meski hanya dalam hati, raut muka mereka yang antusias terbaca oleh Rasti yang tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala. Jadi salah tingkah teman-teman Tedi dibuatnya. Ya, Rasti tampak tidak terkejut sama sekali dengan permintaan itu. Dia bersikap biasa dan masih saja senyum manis tersungging di wajahnya yang sempurna. Rasti tidak segera menjawab, dia masih berkonsentrasi pada Kiki. Di sisi lain dia sengaja ingin menggoda mereka lagi dengan membuat anak-anak itu harap-harap cemas. 

Sedetik dua detik berlalu, terasa begitu lama bagi Tedi, Riko, Romi dan Jaka. 
Rasti melirik mereka. Satu lirikan saja cukup membuat hati mereka blingsatan tidak karuan. Rasti yang melihat raut-raut muka mupeng itu benar-benar geli dan tertawa kecil. Tak pelak lagi, tawa kecil Rasti makin membuat jantung mereka seakan mau pecah. “Jadi gimana nih…?” Tanya mereka, tapi di dalam hati. 

Rasti membuka mulutnya, hendak bicara tapi tak kunjung keluar suaranya. Malah memamerkan rekahan bibirnya yang seksi. 
Ya…? ya…? ya…? Tak sabar Tedi dan ketiga temannya itu memburu jawaban Rasti dalam hati.
“Habis Kiki tidur ya…?” jawabnya setelah beberapa saat sambil tersenyum. Suara yang sebenarnya biasa saja itu terdengar seperti desahan yang sangat syahdu di telinga teman-teman Tedi. 

“Iiiyyesss…!” Alangkah senangnya Tedi dan teman-temannya. 
“Makasiih Tantee…!” 
“Asyiik… Happy ending!” Seru Romi girang. 
Rasti tertawa. “Dasaaar… Seharian ini bukannya kalian memang happy melulu adanya? Hi hi hi…” 

Mereka menunggu Rasti dengan antusias, agak lama juga Rasti mengeloni Kiki yang memang sangat manja itu. Sebenarnya pemandangan Rasti dengan Kiki juga merupakan tontonan yang menyenangkan bagi mereka. Tidak melulu dalam suasana mesum, pemandangan itu mamancarkan sisi lain dari Rasti, yaitu aura keibuannya yang penuh kasih sayang kepada anak-anaknya. Meski begitu, mereka ingin Rasti cepat-cepat menidurkan Kiki. Rasti jadi tertawa-tawa sendiri melihat tingkah mereka itu.

“Pengen mandi sekarang?” tanya Rasti akhirnya setelah Kiki tertidur. 

“Iya Ma…”
“Iya tante, buruan dong…”
“Hihihi, ampun deh tante sama kalian. Iya deh iya, yuk yuk, pake kamar mandi di kamar tante saja ya…”
“I..iya tante!” jawab teman-teman Tedi. Kesenangan mereka bertambah dua kali lipat dengan diijinkan mandi di kamar mandi Rasti. 

“Kalian duluan yah… tante mau gendong kiki ke kamarnya dulu. Nih si Kiki pake tidur di sofa segala”

“Kuat tante? Mau kita bantuin?” tawar Jaka, tentunya tawaran dari Jaka itu karena dia sudah gak sabaran dan ingin cepat-cepat dimandikan oleh mama teman mereka ini.

“Kuat dong, masa gendong Kiki aja gak kuat, yang lebih gede aja sering tante gendongin, hihihi. Udah sana, ke kamar mandi duluan, nanti tante nyusul” jawab Rasti sambil tertawa kecil.

“Iya deh tante” Tedi dan teman-temannyapun pergi duluan ke kamar mandi.


Kamar mandi yang ada di kamar Rasti memang sangat bagus, bersih, dan harum. Ada shower dan tempat berendam di dalamnya. Kamar mandi itu memang tempat yang cukup penting bagi Rasti. Karena sebelum maupun sesudah ML, Rasti biasanya akan memandikan tamu-tamunya. Teman-teman Tedi sangat beruntung bisa merasakan dimandikan Rasti di dalam sana.

Tanpa disuruh, Tedi dan teman-temannya sudah buru-buru melepaskan pakaian mereka.
Sambil telanjang mereka mulai mengocok-ngocok pelan penis mereka masing-masing yang memang masih belum lemas sedari tadi. 
“Hi hi hi… mulai deh, mau mandi apa mau mesumin Tante nih… Hayo?” Canda Rasti geli melihat polah mereka. Semuanya terkejut dengan kehadiran Rasti. Rasti masuk ke kamar mandi dengan hanya berbalut 1 handuk tipis yang melilit tubuhnya.

“Yang utama jelas mesumin Tante! Kalo mandi mah cuma bonus aja…” Romi menjawab berani dan vulgar. Tentu saja berani, karena ia yakin pasti Rasti tidak akan marah. Dan benar saja, malah sambil menggoda Rasti meloloskan ikatan di handuknya dan dengan pelan menelanjangi dirinya. “Hi hi hi… Tante udah hafal mah maunya kalian, yuk ah buruan Tantenya dimesumin…” Tantangnya sambil menggabungkan diri di tengah-tengah mereka tanpa canggung. Seakan mau pecah jantung mereka rasanya. Belum pernah mereka sedekat dan secabul ini dengan Rasti, dan sebenarnya Rasti sendiri pun tidak seperti biasanya ia melayani tamu-tamunya, kali ini ada sedikit canggung yang ia rasakan. Faktor utama jelaslah karena ada Tedi, anak sulungnya di situ. 

Rasti menyalakan shower dan mengambil sejumput sabun cair di tangannya. “Ayo, ngocoknya nanti dulu, kasihan tu belum basah, belum licin… nanti lecet lho…” Ucapnya menggoda, bersiap menyabuni mereka satu persatu. Tidak disangka Jaka tiba-tiba menubruk tubuh Rasti dan memeluknya erat di bawah shower. 

“Tante…!” Ucap Jaka gemas. Jaka adalah yang paling pendek di antara mereka, tingginya tidak lebih dari pundak Rasti. Ya, dia sangat pendek sehingga dengan memeluk Rasti dari depan, kepalanya tepat di dada Rasti. Jaka pun membenamkan kepalanya di payudara Rasti yang sangat lembut dirasakannya. 

“Aduh Jaka sayaang…” Bukan hanya tidak keberatan, dengan tersenyum Rasti malah memanggil Jaka dengan sebutan sayang dan balas memeluknya, sambil mulai membalurkan sabun di tangannya ke punggung Jaka. Usapan tangan Rasti begitu lembut dirasakan Jaka yang juga mengusap-usap punggung Rasti. Ah, setiap jengkal kulit Rasti benar-benar terasa halus dan licin. Mulutnya kini mengecupi dan menjilat-jilat seluruh permukaan gunung kembar Rasti tanpa henti. Kepalanya digeleng-gelengkan saking gemasnya dengan kenyamanan payudara itu. Rasti tertawa kegelian karenanya, dan tawanya itu justru makin menggemaskan bagi Jaka. Seluruh darah di tubuh Jaka seakan tidak mau berhenti mengalir ke ujung penisnya yang sedari tadi sebenarnya sudah tegang mentok, walhasil rasanya benar-benar seakan ingin meledak alat vitalnya itu. Jaka pun mendesah-desah tak karuan. Ah, betapa baiknya Rasti yang mengijinkannya mengakses tubuhnya sejauh itu. Tapi tetap saja, Rasti menghalau penis Jaka yang menyundul-nyundul memeknya. Memang saking pendeknya tubuh Jaka, penisnya mengacung tepat di bawah selangkangan Rasti yang sudah basah. Karna Jaka memeluk tubuh Rasti erat, maka penisnya pun menyelinap di antara kedua paha Rasti, tepat di bawah liang vaginanya. Karna bentuk penisnya yang melengkung ke atas, ditambah dengan ketegangannya yang sedang maksimal penis Jaka pun seakan hendak dengan mudahnya menyeruak masuk ke lubang idaman milik Rasti itu. Jaka pun bisa merasakan kulit luar, belahan vagina Rasti di penisnya. Termasuk merasakan tekstur karna bulu-bulu halus yang menghiasinya. Tidak tergambarkan perasaan Jaka saat itu. Maka Rasti tidak mau ambil resiko, tangannya mengarah ke bawah untuk menghalau penis Jaka. 

“Wah, ternyata bisa segede ini ya…? Hi hi hi…” Ucap Rasti yang agak terkejut juga ketika berhasil menangkap penis Jaka yang ternyata penuh sekali di genggamannya. Jaka meringis melepaskan pelukannya dari tubuh Rasti untuk melihat bagaimana Mama temannya itu menggenggam dan memainkan penisnya. 

“Hi hi hi… Keras bangeet… panas lagi…?” Ucap Rasti gemas sambil mengerling manja. Tangannya kini mengocok-ngocok pelan penis Jaka yang mungkin seumur hidup inilah ketegangan paling puncak yang pernah dialami penis remaja tanggung ini. Begitu juga karna darah yang mengalir deras ke ujung penis itu membuatnya terasa panas. 

“Iih bener-bener kayak tongkat! Kerass!” Ucap Rasti girang seperti menemukan mainan baru. Ucapan Rasti itu benar-benar terdengar bagai pujian bagi Jaka. Wajahnya besemu merah, mulutnya mendesah-desah. Tangannya pun aktif meremas-remas payudara Rasti, dan Rasti tidak melarangnya. Justru remasan Jaka itu juga menaikkan libidonya lebih tinggi lagi. Dengan tatapan syahdu, Rasti menatap mata Jaka, bibirnya merekah mengeluarkan desahan tipis sementara tangannya masih sibuk mengocok penis Jaka pelan. Ini hanyalah salah satu jurus Rasti untuk membuat pria lawan mainnya belingsatan takluk pada pesonanya. Apalagi Jaka, jurus ini pun benar-benar ‘mematikan’ bagi dia. “Tantee… oohh…!” desahnya meninggi, gelombang klimaksnya mendekat. Tapi Rasti benar-benar lonte professional, dengan sigap dia melepas penis Jaka, tangannya beralih menggerayangi tubuh Jaka sebelum kemudian memeluknya lagi. 

“Sssttt… sayang….” Ucapnya mengecup bibir Jaka. Gelombang itu mereda. “Jangan keluar dulu… masih sore… hi hi hi…” goda Rasti. Ah sungguh menggemaskan, Jaka nekat mencaplok dan mengulum bibir Rasti. Betapa leganya gelombang orgasmenya bisa ditunda. Ya, ini belum lagi semenit! Apa jadinya kalau penisnya sudah ngecrot duluan. 

Rasti berpaling ke Riko dan Romi, “He he… Kalian kok diam aja?” Godanya tanpa melepaskan pelukannya pada Jaka. Wajah Riko dan Romi benar-benar ngenes sampai geli Rasti melihatnya. 
“Ha.. habis Tante langsung asyik sama Jaka…” Ucap Romi lugu. 
“Terus kaliannya ngapain tuh? Nunggu giliran? Hi hi hi…” Goda Rasti lagi masih geli. 
“Yyy… Yaa…” Riko menjawab ragu. 
Bagaimana dengan Tedi? 

“Aah kalian kalah set nih sama Jaka… Dia berani agresif duluan… Kalian sih tadi malu-malu. Tante kan sukanya sama cowok agresif.” Ucap Rasti, sambil sekali-kali mengecup Jaka yang kege-eran. Keduanya masih berpelukan, dan penis Jaka menyundul-nyundul memek Rasti lagi. “Tuh liat nih kontol temenmu ini dari tadi sudah ngetuk-ngetuk pintu memek Tante… Mmm kasih masuk gak ya…?” Duh nakal sekali Rasti, kalau sudah menggoda untuk masalah yang satu ini benar-benar menyiksa Jaka yang cuma bisa meringis. Jaka tidak mau terlalu antusias terpancing godaan Rasti ini. Dia tahu Mamanya Tedi ini tidak akan membiarkan dirinya dientot olehnya. Tapi penasaran dan teramat gemas juga mendengarnya. 

Riko dan Romi masih berdiri canggung bingung harus berbuat apa. Benar-benar seperti robot yang sudah terprogram, tangan kanan mereka dari tadi tidak henti melakukan coli sambil hanya menonton. 
“Kalau mau nunggu giliran ya selamat menunggu ya… Tante mau main terus sama Jaka. Masih lama nih. Jangan salahin Tante ya kalau kalian ngecrot duluan…” Ledek Rasti gemas melihat mereka. Duh, kita harus ngapain nih sama maunya Tante Rasti ini? Sama-sama bingung Riko dan Romi berpandangan. Sementara Rasti dan Jaka sudah mulai panas lagi berpagutan. 

“Aahh…” Setelah beberapa saat Rasti menyudahi lumatannya pada lidah Jaka. Capek juga berpagutan dengan pria yang lebih pendek darinya. Ha ha ha… Dasar Jaka pendek. Rasti kini merangkul kepala Jaka dan mengarahkannya lagi ke dadanya. Dengan antusias Jaka mencaplok putting susu Rasti yang mencuat menantang. “Oohh… Jaka… Jangan digigit, aduh… hi hi hi… Aah geli dong..” Desah Rasti menggelinjang-gelinjang. Benar-benar pemandangan yang memanjakan mata Riko dan Romi, tapi… duh, geregetan juga mereka melihatnya. Pengeenn…! Begitulah jeritan hati mereka.

“Kamu mau minum susu Tante sayang?” Tawar Rasti pada Jaka. 
“Bb.. boleh Tante?” 
“Hi hi hi… Makanya jangan digigit ya, coba deh disedot aja… kalo kamu suka, boleh kok minum sepuasnya… Gak akan habis kok…” 
Tanpa banyak kata, Jaka pun langsung mengenyot putting susu Rasti penasaran. Benarlah, air susu Rasti mengalir keluar deras ke rongga mulutnya dan tertelan olehnya. 
“Uhhuukk.. uhukk…” Konyol, saking semangatnya Jaka malah kaget dan tersedak. Jelas Rasti tertawa geli dibuatnya. Dipeluknya Jaka dan dielus-elus rambutnya. “Pelan-pelan dong sayang minumnya…” Ucapnya lembut bagai pada anaknya sendiri. Seiring dengan Jaka yang mulai menghisap susunya lagi dan terbiasa, Rasti menoleh gemas lagi pada Riko dan Romi. 

“Kalian ini… Hi hi hi… Masih betah nunggu?” 
Riko dan Romi tersipu, canggung harus menjawab apa. 
“Ayo dong, Tantenya diperebutkan! Kalian rela nih Jaka aja yang mesumin Tante dari tadi…?” Ucap Rasti gemas. Baru sadar Riko dan Romi dengan permainan Rasti ini. Meskipun begitu, sejenak ada keraguan untuk melangkah. Tapi sejurus kemudian, dengan gerakan yang bersamaan mereka menyerbu Rasti yang masih dicumbu oleh Jaka. Walhasil terjadilah adegan ‘perebutan piala’ yang seru. Inilah yang dimaui Rasti. Jaka yang sebagai ‘juara bertahan’ spontan mempererat pelukannya di tubuh Rasti, sementara Riko dan Romi saling menyikut berlomba merebut tubuh Rasti lebih dulu dari tangan Jaka. 

“Adduuhh.. aduuhh…! Aahh… Hi hi hi… Aah, pelan-pelan…!” Rasti menjerit-jerit manja dan girang. Karna tubuh nya dan tubuh Jaka sama-sama basah oleh air dan licin karna sabun, dengan mudah Riko yang lebih dulu berhasil menarik Rasti dari pelukan Jaka. Rasti pun menyambut memeluk Riko, tapi hanya sepersekian detiknya kini Romi merangsek, tidak tinggal diam Jaka memeluk Rasti dari belakang. Penisnya diselipkan ke jepitan pangkal paha Rasti, dan mulai mengocoknya. “Aauuw.. Aah Jaka… awas lho…!” Rasti mengingatkan khawatir sekali karna gerakan penis Jaka maju mundur dengan cepat tepat di bawah vaginanya. Kini posisi Jaka benar-benar terlihat seperti sedang ngentotin Rasti dari belakang. Dengan bentuk penis yang melengkung ke atas, berkali-kali ujung penis Jaka itu menyundul-nyundul bibir vagina Rasti. Dengan satu dorongan lebih jauh saja penis itu pasti dengan mudah menyeruak masuk ke dalamnya. Padahal Rasti kini sudah banjir deras. Klitorisnya yang mengeras dan mencuat kencang jadi sering tersentil-sentil oleh ujung penis Jaka. Rasti benar-benar horny berat dan merasakan gatal yang super di seluruh permukaan liangnya. Betapa nikmatnya jika penis Jaka itu masuk dan menggesek-gesek dinding vaginanya. Tapi Rasti berusaha keras menahan diri. Permainan untuk tetap membuat para remaja ini menunggu sampai 18 tahun lebih menarik bagi Rasti. Sekali lagi tangan Rasti menghalau penis Jaka dari selangkangannya dan mengocoknya pelan sebentar lalu melepasnya lagi.

Cuma Extra Story dari episode 11… ^_^ 

***

Esok paginya, Tedi dan teman-temannya benar-benar bangun pagi dan membantu membereskan rumah, bersih-bersih, serta membuat sarapan. Tiga orang baby sitter yang dipekerjakan Rasti sejak kemarin kontraknya hanya sampai pagi ini. Setelah para baby sitter itu selesai mengurus semua keperluan adik-adik Tedi, merekapun mohon diri pulang. Sebagaimana sudah diceritakan, tenaga professional yang jasanya biasa dipakai Rasti ini ada di bawah manajemen perusahaan swasta yang bonafit dan mahal. Semua tenaga mereka dilatih untuk bisa menjaga rahasia, tidak peduli, tidak bertanya, apalagi ikut campur dengan segala hal tentang kliennya, soal pekerjaannya, keluarganya, dan sebagainya. Klien perusahaan itu memang berasal dari berbagai kalangan orang kaya raya, dan orang kaya punya banyak rahasia. 

Kembali ke Tedi dan kawan-kawan. Di sela-sela pekerjaan rumah yang mereka lakukan, saat sedang mengepel lantai dan lewat di depan kamar Rasti, mereka mengintip ke dalam kamar Rasti yang lagi-lagi pintunya dibiarkan terbuka. Pemandangan yang mereka jumpai lagi-lagi membuat adik kecil mereka menggeliat bangun. Tampak di atas kasur Rasti sedang tidur pulas dalam posisi tengkurap dan telanjang bulat. Posisi Rasti ini benar-benar seksi bagi mereka. Benar-benar menonjolkan lanskap tubuhnya yang sempurna. Dari pundak dan punggung yang mulus, ada turunan yang dasarnya adalah bagian pinggangnya yang ramping, lalu tanjakan lagi mulai pinggul hingga puncaknya terbelah menjadi 2 bongkah bokong yang begitu bulat sempurna dan kencang kulitnya, putih mulus tanpa noda. Indah sekali! 

Rambut hitam Rasti yang panjang tergerai di punggungnya yang mulus, dan sedikit ada yang menutupi sebagian wajah cantiknya. Mike dan Andy sendiri sudah pergi subuh-subuh tadi. Melihat itu, Jaka melangkah ke dalam membawa tongkat pelnya. 

“Heh, ngapain lo masuk Jak?” Sergah Tedi. 
“Ya kamar mama lo kan juga perlu dipel Ted,” bisik Jaka beralasan. 
“Udah ntar aja… nanti ganggu,” sahut Tedi khawatir. 
“Gue ga bakal berisik.” Jaka tak mempedulikan Tedi dan terus melangkah masuk. Tak ayal lagi Tedi yang khawatir malah ikut mendekat dan masuk tapi tidak jauh berdiri di dekat pintu. Dia merasa perlu mengawasi Jaka. Riko dan Romi juga kemudian ikut mendekat dan melihat. Kalau mereka berdua jelas niatnya beda dengan Tedi. Sama seperti Jaka, mereka ingin mengamati Rasti dari dekat. 

Wajah Rasti yang tertidur pulas benar-benar innocent, membuat hati pria manapun ingin memiliki dan menjadi pelindungnya. Nafasnya berhembus pelan dan teratur, nyaris tak terdengar oleh mereka. Raut mukanya memancarkan kelelahan, menarik simpati untuk membelai dan mengecupnya, dan itulah yang dilakukan Jaka! 
“Set, ngapain lo Jak…” Seru Tedi berbisik ketika melihat Jaka mengulurkan tangannya ke arah wajah mamanya. 

Jaka tak memperdulikan Tedi, dia menyibak rambut Rasti yang tergerai di atas wajahnya. Jarinya membelai lembut wajah Rasti, dan… Jaka menundukkan wajahnya. Cup… Dia kecup pipi Rasti yang sudah tidak tertutup rambut. Tedi benar-benar berdebar dan panik melihat ulah temannya itu. 
“Ah lo Jak… bukannya ngepel…! Ngapain sih lo…??!” Makinya pelan. Entah kenapa Tedi menjadi sekesal dan sepanik itu, padahal dia cuma khawatir mamanya terusik dan terbangun, itu saja. 

Jaka lalu menoleh kepada Tedi dan teman-temannya yang lain sambil cengengesan. 
“Biasa aja kali lu Ted… Panik amat sih, gue kan cuma pingin mengekspresikan rasa sayang gue ke mama lo…” Ucapnya tanpa dosa. 
“Hiih, iya iyaaa… udah, sekarang keluar ayo!” Ujar Tedi dongkol. 
“Ngepelnya gimana? He he…” 
“Kagak usaahh… Ntar aja!” 

Namun tanpa diduga, saat Tedi selesai menghalau teman-temannya keluar dari kamar dan hendak menutup pintu, adik-adik Tedi yang masih kecil, Kiki, Dion, Cindy dan Bram, tiba-tiba berhambur masuk ke kamar itu. Mereka menarik-narik dan memanggil-manggil Rasti. 
“Mamaa… Mamaa.. Mama…”
Tedipun berusaha mencegah, “Aduh dek… jangan ganggu mama dulu ya, kasihan mama capek…” ucapnya. Tapi dasar adik-adiknya ini agak bandel dan susah dibilangin, mereka terus saja mengusik tidur mamanya, malah si Bram dengan cueknya naik ke atas ranjang. Rastipun jadi terbangun tapi masih terkantuk-kantuk. 

Rasti kemudian membalik badan. “Ngmmhh… apa sayang?” Gumam Rasti lirih pada mereka sambil tetap memejamkan mata meneruskan tidur.
Sepertinya anak-anaknya ingin bermanja-manjaan dengan mamanya pagi itu. Mereka kini ikut naik ke atas ranjang dan bermain-main di sana di samping Rasti, ada juga yang menghimpit dan menaiki tubuh Rasti. 

“Jangan ganggu mama dong kaliannya!” ucap Tedi lagi yang mulai kewalahan mencegah.
“Ngmhh… Biar aja Ted, gak papa…” ujar Rasti yang sambil tetap terkantuk-kantuk menyuruhnya membiarkan. Bahkan Rasti yang mengubah posisi tidurnya berusaha menangkap secara random salah satu dari mereka. Hap, tertangkaplah si Dion yang berada tepat di sampingnya. Rasti menarik dan memeluknya erat dengan gemas bagaikan guling, lalu dikecupinya. “Sinii sayaang… muuaah… muuaahh…” Ucap Rasti tanpa membuka matanya yang masih berat. 

“Kyaa… ha ha ha… Aahh Mama…” Ucap Dion Manja, lalu berontak kegelian dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Rasti. 
Rastipun melonggarkan pelukannya dan membiarkan Dion lepas. “Ngmmmh…” Lenguh Rasti menggeliatkan tubuhnya, lalu meneruskan tidur sambil membiarkan anak-anaknya bermain di situ. Walaupun anak-anaknya kadang usil memainkan rambutnya, menarik-narik tangannya, menaiki tubuhnya, bahkan ada yang meremas-remas payudaranya dan lalu menyusu, Rasti tetap tidak terusik sama sekali. Paling dia hanya bergumam-gumam sambil tetap memejamkan matanya. 

“Udaah, ayo kerjanya terusin, ntar Mama bangun harus udah bersih semua lho…” Tegur Tedi pada teman-temannya yang masih saja asik mengintip suasana di kamar Rasti. 

Hari pun bergulir. Semua pekerjaan mereka pun telah beres. Sementara yang lain beristirahat di ruang tengah sambil menikmati minuman dingin, lagi-lagi si Jaka yang masih saja penasaran dan berjingkat mengintip kamar Rasti lagi. Tedi yang melihat itu sudah malas mencegahnya, dia geleng-geleng kepala saja membiarkan Jaka. Lagipula dia kini sibuk menggendong Bobi adik bungsunya yang baru saja terbangun.
Saat ini Rasti sudah terbangun tapi masih belum beranjak dari kasur. Dia kini malah terlihat sedang bermain-main dan bercanda-canda di atas kasur bersama anak-anaknya. Berpeluk-pelukan, berguling-gulingan, hingga perang bantal! Rasti meladeni permainan mereka sambil tertawa-tawa bersama. Betapa seru dan cerianya suasana di dalam kamar itu. Tentu Rasti masih dalam keadaan telanjang bulat. Sungguh seksi luar biasa! Tertegun Jaka melihatnya. Menyaksikan adegan keakraban antara ibu dan anak-anaknya, tapi kontolnya malah ngaceng. 

“Kalian ini beraninya keroyokan!” ujar Rasti yang selama beberapa saat membiarkan dirinya terkena serangan bantal bertubi-tubi dari mereka. “Rasain nih! Hihihi” Ucapnya kemudian.
“Ampun Ma… ampun…” teriak manja anak-anaknya. 
“Hihihi, rasain weeek!” gemas Rasti. 

Rasti dan anak-anaknyapun terus berjingkrak-jingkrak bermain di atas ranjang hingga mereka kecapekan semua. 
“Mimik Ma…” Pinta Dion kehausan. 
Rasti pun memeluk dan menyusuinya. Tentu saja yang lain jadi ikut minta jatah semua, tidak peduli sudah pada gede-gede. Rasti memang dulu tidak pernah menyapih satu pun dari anak-anaknya. Kini diapun menyusui semuanya bergiliran dengan penuh kasih sayang. Pemandangan yang walaupun bukan pertama kalinya disaksikan oleh Jaka, tapi masih saja membuat ia meneguk ludah berkali-kali sambil mengelus selangkangannya. Dia benar-benar ingin coli saat itu juga, tapi enggan melakukannya karna merasa tidak nyaman juga jika coli dengan objek kasih sayang seorang Ibu yang sedang menyusui anak-anaknya. Sambil menghela napas, Jaka bergabung dengan Tedi dan yang lain di ruang tengah. 

Tidak lama kemudian Rasti akhirnya benar-benar bangun dan mandi. Dia keluar kamar mengenakan kaos longgar tanpa bawahan dan kemungkinan tanpa dalaman juga. Paling tidak di bagian atasnya yang jelas-jelas mengekspos satu bahu yang terbuka dan menampakkan cetakan pentil di kaosnya. Seksi abis seperti biasa. 

“Haii…” Rasti tersenyum manis menyapa Tedi dan teman-temannya yang lagi nonton TV. 
“Pagi Tante cantik…” Gombal Jaka. Rasti tersenyum-senyum saja mendengarnya, lalu memandangi sekitar. “Aduh sudah bersih semuanya ya…. Hi hi hi… Makasih ya… Kalian memang bisa diandalkan.” Puji Rasti. 
“He he iya dong Tante, kan udah janji kemarin…” 
“Iya, makasih yaa… Tante seneng deh. Udah makan kaliannya…?” Tanya Rasti sambil berlalu ke dapur. Lalu terlihat Rasti menyiapkan sesuatu untuk dimasak. 

“Udah sarapan kok Tante…” Jawab Romi. “Sarapan buat Tante ada juga tuh kami siapkan…” Sambungnya. 
“Tapi ya itu Tante… cuma nasi goreng pake bumbu instan.” Riko ikut menimpali. 
“Hi hi, iya, makasih ya… Tante belum lapar kok. Sedang nonton apa sih kalian?” Sahut Rasti menghampiri mereka. Tedi menjawab dengan menyebut satu judul film yang belum lama rilis DVD originalnya dan baru dia beli. Kebetulan Rasti juga sudah lama tertarik pada film ini. Dia pun menawarkan camilan untuk teman nonton. 

“Boleh Ma…”
“Wah mau banget Tante…” 
“Asik… Nonton film emang asiknya sambil ngemil nih…” 
“Ya sudah, kalian tunggu sebentar yah?” Rasti kembali ke dapur memasak sesuatu, tak lama tercium bau harum. Rasti datang membawa sebuah piring sambil tersenyum-senyum nakal. 

“Nih… Camilan spesial buat kalian. Habisin ya…” Ucap Rasti sambil menaruh piring berisi makanan yang baru saja dimasaknya itu. Empat buah sosis panggang. 

****

Apa yang dihadiahkan Rasti pada Tedi di hari ulang tahunnya rupanya membuat adik Tedi yang bengal itu iri berat. Ya, Norman ngamuk dan bahkan ngelunjak! Dia tidak terima kakaknya saja yang mendapat hadiah mobil. Dia merasa berhak untuk mendapatkannya juga meski tidak sedang berulang tahun. Rasti jelas kewalahan, apalagi ia memang sama sekali tidak berencana akan memberi mobil untuk Norman meski kelak dia berulang tahun. Ya, jelas Rasti tidak berpikiran kelak anak-anaknya harus memiliki mobil satu-satu. Ia tidak seroyal itu. Ia ingin Tedi bisa berbagi dengan adik-adiknya kelak. Jikapun nanti ada yang benar-benar membutuhkan mobil sendiri, itu soal lain. ‘Itu lihat nanti lah, soal waktu,’ pikir Rasti bijak. 

Rasti sebenarnya mencoba berargumentasi dengan mengatakan bahwa Norman sudah mendapatkan 'yang lain'. Tapi apalah arti argumentasi bagi Norman.

“Pokoknya gue juga mau mobil!”
"Ya sudah... Terus apa kamu mau tukeran sama kakakmu? Mobilnya buat kamu tapi kamu gak boleh ngentotin mama sampai kamu 18 tahun?” Tawar Rasti yang tentunya ditolak Norman mentah-mentah. Dia ingin semuanya. Sungguh seenaknya. 

Tapi kali ini Rasti tegas untuk tidak menuruti kemauan anaknya ini. Tidak semua yang Norman inginkan harus dia penuhi. Norman akhirnya melampiaskan kekesalannya dengan menyetubuhi Rasti habis-habisan. Tentu dengan penuh caci maki dan hinaan, sebutan-sebutan kotor dia lontarkan semua ke ibu kandungnya ini. Meskipun begitu, lagi-lagi Rasti meladeninya bagaikan profesional. 

Sedikit gambaran mengenai Rasti. Ia memang pelacur yang sangat istimewa. Rasti bisa menyesuaikan diri dengan semua model pria hidung belang pelanggannya. Ada yang suka romantis, Rastipun bisa jadi romantis. Ada yang suka bondage, Rasti siap sedia. Ada yang ingin berfantasi dengan kostum, misalnya ingin Rasti berperan jadi polisi sementara si hidung belang jadi penjahatnya, atau ada juga yang minta Rasti jadi ibu guru dan si hidung belang jadi muridnya, bahkan tidak sedikit pula yang minta Rasti jadi jilbaber, apapun itu pasti Rasti penuhi, dan Rasti bisa berakting memainkan peran-peran itu dengan baik. Tidak masalah bagi Rasti. Makanya ketika kemarin teman-teman Tedi berkesempatan melihat isi lemari Rasti, mereka mendapati lemari yang sangat besar itu berisi berbagai macam kostum. 

Pernah ada klien masih muda, mahasiswa semester awal anak seorang pengusaha yang kaya raya. Dia ingin Rasti berperan jadi kakak perempuannya. Tampaknya pelanggannya ini bernafsu pada kakak perempuannya sendiri tapi tentu tidak kesampaian, lalu dilampiaskan ke pelacur seperti Rasti. Ia meminta Rasti berganti nama menjadi nama kakaknya, menyuruhnya memakai baju-baju kakaknya yang dia curi dari lemari kakaknya, dan bertingkah laku seperti kakaknya. 

“Adeekk…! Ayo belajar… coba kakak test, sampai mana hapalan rumusnya… Hmm tiap ada rumus yang lupa bakalan kakak kasih hukuman ya?” 
“Si… siap kak…! Kalo gitu hukum aja kak… adek sudah lupa semua rumus-rumusnya…” 
“Iiihh kamu nakal banget sih dek! Awas lho nanti kakak bilangin papa mama! Ayo sekarang dibuka bajunya! Kakak hukum! Hihihi…” 

Contoh lain, ada juga kliennya yang seorangmahasiswa kaya, tapi yang ini sudah hampir lulus kuliahnya. Seorang nerd. Kutu buku, pemalu, culun, sering dibully dan tidak pernah punya pacar. Dia menjadi salah satu pelanggan setia Rasti, tapi uniknya dia ingin Rasti berperan jadi pacarnya. Jadilah Rasti seperti 'pacar bayaran' dan mereka benar-benar beracting seperti orang pacaran. Jika ingin ‘memakai’ Rasti -biasanya di malam minggu- mahasiswa itu datang bagaikan mengajak kencan, dia membawakan bunga untuk Rasti, mengajaknya nonton bioskop, romantic dinner, kemudian berujung pada pergumulan sex yang panas. Kadang di kosnya, kadang di hotel, tidak jarang juga di rumah Rasti. Dan Rasti benar-benar memainkan perannya dengan sepenuh hati! Dia seakan-akan menjadi pacar yang sesungguhnya, manja, penuh perhatian, cemburu, dsb. Bahkan Rasti sering berinisiatif mengirim sms semisal : ‘sedang apa yang?’, ‘Sudah maem belum?’, ‘Met bobo yah...?’, ‘Mimpiin aku ya...’, ‘Yang, Rasti kangen nih...’ dan sebagainya. Bahkan pernah suatu ketika mahasiswa itu jatuh sakit, Rasti berinisiatif datang menjenguknya.Rasti menjaganya, menyuapinya, sampai memandikannya. Kalau sudah begitu ujung-ujungnya sex, dan tidak jarang Rasti tidak menarik bayaran sama sekali. 

Malah pernah suatu ketika mahasiswa itu kehabisan uang karena biaya praktikum yang besar untuk tugas akhirnya. Meskipun kaya, gaya hidupnya membuat dia kehabisan uang sampai-sampai dia tidak bisa bayar uang kuliahnya. Tiga kali malam minggu dia tidak berkencan dengan Rasti. Di malam minggu ketiga itu, Rasti sampai mengirim sms, “Yang, kamu marah sama aku ya…? Kok ga pernah ngapel lagi?” Sms itu tidak dibalas. Rasti mengirim lagi, “Yang… Kangen nih, malam ini keluar yuk…?” Sms kedua ini pun tidak kunjung dibalas. Rasti mengirim sms ketiga, “Yang, kamu udah punya pacar baru lagi ya…? Yang, balas dong please…” Akhirnya sms ini dibalas singkat : “Maaf, jujur aku lagi ga ada uang ” Mendapat pesan itu Rasti malah membalas, “Jahat! Rasti gak butuh uangmu! Aku butuhnya kamu tuh ada buat aku… Pokoknya malam ini aku tunggu, jemput aku atau kita putus!” 
Benar-benar seperti pacar beneran! 

Begitulah, malam itu si mahasiswa culun menjemput Rasti dengan kikuk, dan disambut Rasti dengan ceria, dipeluk dan dicium. Dengan canggung mahasiswa itu minta maaf, tapi hanya direspon Rasti dengan cubitan gemas di hidungnya. Mereka kemudian berkencan, dan semua Rasti yang mentraktir! Dari nonton hingga makan malam. Tentu berujung pada sex yang panas di kamar kos mahasiswa itu. Belum cukup sampai di situ, Rasti masih menungguinya mengerjakan tugas akhirnya sampai pagi. Menjelang subuh, sebelum pergi Rasti mengajaknya bercinta lagi. 

Ya, itulah Rasti. Dia memainkan perannya terlalu baik sampai-sampai mahasiswa itu jatuh cinta berat pada Rasti. Sekarang mahasiswa itu sudah lulus dan bekerja di sebuah perusahaan pertambangan asing di indonesia, gajinya besar dan dia masih menjadi pelanggan setia Rasti hingga kini. Salah satu dari banyak pelanggan royal Rasti yang lain. Terakhir kali kencan, dia mengatakan tidak akan menikah, karna dia merasa tidak akan menemukan wanita sebaik Rasti yang mau padanya. Mendengar itu Rasti jadi salah tingkah harus menjawab apa, antara bangga sekaligus prihatin sebenarnya. ‘Biarlah waktu yang akan menjawab.’ Begitu pikir Rasti, dan dia pun mencumbu si mahasiswa sekali lagi dengan ganas. 

Rasti yang sekarang bukanlah pelacur yang akan bersetubuh karna terpaksa dan dimotivasi faktor ekonomi. Dia tidak terikat dengan germo atau mucikari manapun. Jadi jika tidak sedang ingin, maka Rastipun tidak akan menerima tamu. Tapi sebenarnya Rasti itu lebih banyak inginnya, apalagi Rasti sendiri memang seorang yang hypersex. Kalaupun tidak ingin, sebenarnya jika perlu moodnya bisa saja dengan mudah dibangkitkan. 

Nah, kembali ke Norman, pada anaknya sendiri inipun Rasti tidak memberikan pengecualian, meski Norman bukan kliennya, melainkan putranya sendiri. Ya, Rasti juga berperan dengan baik bagaimanapun Norman ingin memperlakukannya. Seperti saat ini yang mana Norman memperlakukan dirinya sebagai mama pelacur yang hina, betina jalang, lonte murahan, dan sebagainya. Rastipun memainkan peran itu. Maka inilah adegan yang kini hampir setiap hari terjadi di rumah Rasti. Norman melampiaskan kekesalannya dengan ngentotin Rasti hampir tiap hari, tak kenal waktu dan tak kenal tempat. Di dapur, di kamar mandi, di ruang tamu, bahkan di teras rumah! 

Kini tiga minggu sudah sejak Tedi mendapat mobil di hari ulang tahunnya itu. Seperti biasa, saat ini Riko, Romi dan Jaka sedang akan main ke sana. Kebetulan saat itu hari minggu, mereka pun datang sejak pagi. Saat datang, mereka menjumpai Rasti sedang melepas kepergian beberapa orang asing tamunya. Rasti terlihat segar habis mandi, seperti biasa dia melepas tamu-tamunya itu dengan mengobral ciuman dan senyum manis cerianya. 

“Don’t forget me… Whenever you come to Indonesia again… please call me…” 
(Jangan lupakan aku, kapanpun kamu datang ke Indonesia lagi, hubungi aku) Ucap Rasti manja, seperti melepas kepergian kekasih. 

“We will! I sure will…” 
(Tentu! Pasti…) ucap orang-orang asing itu hampir kompak. 
“Bye…!” Dadah Rasti masih mengobral senyumannya. 

“Eh, kalian… Yuk masuk.” Ucap Rasti kemudian dengan senyum manis pada teman-teman Tedi. 
“Duh, kayaknya semalam baru pesta nih Tante… Asyik nih”
“Hi hi hi… mereka itu yang berpesta,kalau Tante sih kerja!” Cibir Rasti. 

Mereka lalu duduk bersama bercengkerama di ruang tengah, Rasti dengan dua anaknya Kiki dan Dion yang bermanja-manjaan padanya, Tedi dan teman-temannya juga sedang asyik menimang-nimang Bobi yang sedang ceria dan lucu-lucunya pagi itu. Namun tiba-tiba Norman muncul dengan wajah kucel baru bangun tidur. 

"Lontee! Bikinin minum dong"Panggil Norman kurang ajar. Datang-datang langsung nyuruh-nyuruh mamanya, dengan panggilan yang tidak enak pula. Rasti tersenyum kecut, tapi dia beranjak juga memenuhi perintah Norman. 
"Sarapannya mana? Kok belum siap? Dasar lonte! Semalam nglembur ngemut kontol jepang ya? Kontol kecil aja doyan! Kayak gak ada kontol lain aja!"Maki Norman lagi.

“Semua udah sarapan sayang, kamu aja yang bangunnya kesiangan. Kalo Mama bikinin kamu sarapan tadi pasti sekarang udah dingin, pasti kamu gak mau. Jadi ya Mama nungguin kamu bangun aja…” 

“Iyee, bawel…” 
“Mau sarapan apa? Mama ceplokin telur ya sayang?” 
“Ya… Sama mie goreng! Eeiitt…..!” 
“Hmm? Kenapa?” 
“Siapa yang bolehin Mama pake baju? Buruan buka!” Bentak Norman.
Ya, Norman yang melampiaskan kekesalan dengan mencabuli Rasti melarang Mamanya itu mengenakan pakaian sama sekali setiap hari. Rasti wajib bugil terus di rumah. “Biar mudah dientotin, kalo pas ngaceng tinggal coblos!” Begitu kata Norman saat mempunyai ide untuk melecehkan mamanya beberapa hari yang lalu. Tentu Rasti tidak selalu memenuhinya, kalau Norman tidur atau pergi atau sedang lupa, maka Rasti pun cuek mengenakan pakaian sehari-harinya. Tapi kalau pas Norman lihat dan ingat, ya sudah deh seperti pagi ini, baju Rasti yang sebenarnya sudah minim itu disuruh buka semua. 

“Dasar lonte bandel, tiap gue lengah, pasti deh langsung nyolong-nyolong kesempatan pake baju! Lonte tu ga pantes pake baju tau nggak...” Tukas Norman bersungut-sungut. 
“Kalo mama telanjang terus ntar masuk angin dong sayang…” Rasti mencoba memberi alasan tanpa terlihat tersinggung sama sekali. 
“Bawel, buruan lepas. Yang ada bukan masuk angin, tapi masuk kontol!” balas Norman. "Iya sayang iya... Mama buka."Jawab Rasti sambil melucuti bajunya. "Nihh... dasar kamu..." ucap Rasti manja sambil melemparkan bajunya ke muka Norman yang terkekeh-kekeh. Norman kemudian ikut bergabung di ruang tengah sementara Rasti menyiapkan sarapannya di dapur tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya.

“Biarin deh lo dapet mobil, yang penting gue dapat kuda binal yangbisa gue tunggangin juga tiap hari! Hahaha!” ledek Norman pada kakaknya. Tedi sendiri mendiamkan saja omongan adiknya itu. Riko, Romi dan Jaka juga cuma bisa dongkol, meski begitu mereka curi-curi pandang juga ke arah dapur, melihat betapa seksinya ibu teman mereka ini yang memasak sambil bugil. 

“Kuda binal apaan kak?” Tanya Kiki lugu. 
“Hua ha ha ha ha… Kamu mau ikut nunggangin kuda binalnya kakak?” 
“Mau kak…” jawabnya polos.
“Ntar ya kalo udah gede kakak pinjemin… he he he…” 
“Emang kuda binalnya dimana kak?” 
“Wakakaka, ni anak… kuda binal itu ya mamamu itu lho yang lonteee, hahaha” 
“Man! Lo ini…” Tedi tak tahan untuk tidak menghardik Norman. 
“Ha ha ha… emang kenapa bang? Emang lonte…” Ucap Norman santai sambil menggaruk-garuk selangkangannya. “Anjrit gue ngaceng deh gara-gara lo!” Ujarnya lagi sambil mengacak-acak rambut Kiki, dia lalu ngeloyor begitu saja menuju dapur. 

Sejurus kemudian… 
“Kyaaa… Norman… Aahh…” 
“Berisik, kan udah gue bilang, gak bakal masuk angin tapi masuk kontol… Kemasukan kontol beneran kan… hehe” 
“Aduuhh… mama lagi masak sayang… buat sarapan kamu…. Uuhhh…” 
“Masak masak aja… masak kan pake tangan, ga pake memek! Ha ha ha…” 
Plok plok plok…! Langsung terdengar nyaring bunyi benturan antara paha dan pantat, yang sukses mengundang rasa penasaran teman-teman Tedi. Dengan mupengnya mereka langsung berebut mengintip ke arah dapur. Mereka melongok tanpa beranjak dari sofa di ruang tengah, kebetulan posisi dapur Rasti dapat terlihat dari tempat mereka duduk. Meski agak tertutup rak, dari yang tampak mereka sudah dapat punya gambaran jelas apa yang terjadi di dapur. 

Buset, Norman langsung menggenjot mamanya tanpa kompromi! 
“Sayaangg… ahhh… aduuhh… kamu ini… tumpah-tumpah deh…” 
“Berisik lo lonte! Gue udah ngaceng semaleman, ngalah sama jepang jepang sialan itu! Mama juga pasti belum puas kan sama kontol kontol kecil mereka? Jangan pura-pura nolak deh…!” 
“Aaahh iyaa sayaaang… memek Mama masih gateell… untung ada kontol besar kamu… terusshh, oohh…!” racau Rasti yang mulai terbawa suasana. 

Ya, Untungnya Norman tetap tahu diri kalau Rasti sedang kedatangan tamu-tamu jepang yang ‘wajib’ dia layani, Norman tidak mengganggunya. Karena sesuai perjanjian, selama 3 minggu Rasti bebas dipakai oleh Mori-San. Meski tidak full tiap hari selama 3 minggu itu, karna Mori-San sendiri sangat sibuk dan dia datang ke Indonesia untuk bekerja, bukan berwisata. Tapi, manajer salah satu perusahaan mobil Jepang ini juga bebas menyuruh Rasti melayani siapa saja yg dia kehendaki. Ini juga termasuk dari kewajiban yang harus ditunaikan oleh Rasti meski memang tidak ada detail kesepakatan yang menjelaskan hal itu, tapi mereka sudah sama-sama tahu. Beberapa malam terakhir ini Rasti melayani beberapa rekan bisnisnya Mori-San. Berapapun orangnya, Rasti siap melayani. Pada akhirnya, setelah 3 minggu ini, Mori-San sendiri hanya 5 kali malam memakai Rasti, sisanya dia lebih memanfaatkan Rasti untuk memuluskan lobi-lobi bisnisnya. Tidak kurang dari total 20 orang dari berbagai perusahaan dan jabatan yang Rasti layani untuk Mori-San. Semua itu untuk sebuah mobil yang Rasti berikan untuk Tedi.

Teman-teman Tedi terus mengintip untuk menonton adegan perzinahan ibu dan anak itu. Namun ternyata tidak hanya mereka saja yang penasaran, tapi juga anak-anak Rasti yang lain. Kiki bahkan langsung ngeloyor begitu saja menuju dapur mendatangi mereka.

“Ma…”
“Aahh… Eh, Ki… kiki? Kamu mau apa sayang?” tanya Rasti grogi. Meskipun Kiki sudah sering melihat dirinya bersetubuh, tapi tetap saja bersetubuh dengan Norman, kakaknya Kiki sendiri, merupakan hal yang ganjil.
“Mau minum. Mama sama abang Norman lagi ngapain??”
“Hehe, ini lho yang abang bilang tadi… Abang lagi nunggangin kuda binal.” jawab Norman sambil tetap menyetubuhi Rasti, tapi memelankan genjotannya pada vagina Rasti dari belakang. 

“Norman! Kamu ngajarin apa sih ke adekmu? Dasar ih…” protes Rasti manja.
“Ya benar tapi kan Ma? Kalau Mama emang kuda binalnya Norman… hehe heh…” ucap Norman terkekeh. Pundak Rasti lalu didorong ke depan oleh anaknya ini sehingga Rasti jadi sedikit membungkuk. Membuat Rasti benar-benar seperti ditunggangi Norman, dan itu dilakukan tepat di depan adiknya yang polos yang masih belum mengerti apa-apa.
“Auuhh Normaan…” Desah Rasti sambil melirik Kiki, mukanya memerah tersipu.
“Jawab dong Ma… benar kan kalau Mama itu kuda binalnya Norman? Kasih tahu Kiki Ma…” suruh Norman kemudian. 

“Dasar kamu ini. Iya sayang… Mama ini kuda binalnya abang Norman.” jawab Rasti tersenyum manis pada Kiki. Kiki hanya mengangguk-angguk saja, melihat abang dan mamanya yang tampak kenikmatan itu bahkan membuatnya jadi ingin mencoba merasakan menunggangi kuda binal. 
“Kata abang Norman kalau Kiki udah gede, Kiki boleh coba nunggangin mama juga ya?” tanya Kiki polos yang direspon tertawaan Norman. Terang Rasti melotot dan mencubit paha Norman. Putranya yang urakan ini benar-benar mengajarkan yang aneh-aneh pada Kiki. 

“Jawab dong Ma… boleh kan? hahaha” suruh Norman lagi.
“Iiihh… Ii… Iya sayang… boleh kalau udah gede ya…?” jawab Rasti mengiyakan saja.
“Asikkkk…!” girang Kiki. 
Rasti melirik lagi ke arah Norman.“Lihat tuh, kamu sih ngajar yang tidak-tidak ke Kiki.” bisiknya pada Norman yang hanya dibalas cengengesan. Tapi entah kenapa Rasti justru semakin terangsang dengan situasi ini. Menganggap dirinya kuda binal anaknya sendiri, serta mengakuinya di depan anaknya yang lain, bahkan menjanjikan anaknya yang masih 7 tahun itu untuk menyetubuhinya suatu hari nanti, semakin membuat birahinya terbakar. 

“Hahaha, dasar lonte… kuda binal jalang! Hahaha…!” Norman semakin menjadi-jadi melecehkan ibunya. Dia bahkan menjambak rambut Rasti ke belakang layaknya tali kekang. Betul-betul kurang ajar. Tapi dasar Rasti binal, dia malah menikmati setiap perlakuan anaknya itu. Mengetahui kalau dia sedang ditonton oleh anak-anaknya yang lain, serta ditonton teman-teman anaknya juga, semakin membuat Rasti bergairah. "Yihaaaa....! "Seru Norman keras bagaikan seorang koboi yang memacu kudanya. Bersamaan dengan itu dia juga memacu lagi genjotannya sampai membuat tubuh Mamanya terpelanting-pelanting hebat. "Aaaaahhhhhhh.... nikmaat sayang, kencengin lagi sayang...Ayooooo aaaahhhh...!"
"Hua ha ha... lonteeee...!"

***

Sebenarnya Norman tidak selalu berperilaku seperti ini ketika berhubungan sex dengan Rasti. Tidak jarang Norman memperlakukan Rasti dengan manis seperti kekasih. Persetubuhan mereka jadi penuh kemesraan. Norman memanggil mamanya dengan panggilan 'sayang' atau 'cintaku', menyetubuhi dan menciumi mamanya itu dengan lembut. Kalau seperti itu Rasti pun melayani Norman bagaikan kekasih. Tapi tidak kali ini. Norman benar-benar memperlakukan Rasti bagai budak sex karena dia sedang kesal.

Merekapun terus bersetubuh. Kocokan penis Norman di liang vagina ibunya semakin cepat. 
“Aaahhhh…. Mamaaah…” Erangnya. Dia seperti benar-benar ingin menunjukkan pada semua orang di sana kalau menunggangi Rasti betul-betul sangat nikmat. 
“Iyaahhh sayaang… Pelaan sayaang… Mama sampe…” Rasti tidak kalah meracau. 

“Keenakan ya lu lontee… Memeek! Enaak aaahh…” Selama ini bisa menyetubuhi Rasti, Norman jadi sudah sungguh sangat ahli dalam bercinta. Dia bisa mengatur orgasmenya supaya bebarengan dengan orgasme Rasti. Seperti saat ini yang dia lakukan, di tengah genjotan kasar dan cepatnya, begitu dia merasakan memek Mamanya itu berkedut-kedut kencang, dengan serta merta dia mengatur ritme genjotannya. 

“Ayo sayaang.. aahh…” Rasti yang merasa orgasmenya diulur kini menggoyang-goyangkan pinggulnya ke depan dan belakang, seperti menuntut pemuasan segera. 
“Aah pecun lo ma aah… gue belum…!” 
“Ayoo dong sayang, aahh ahhh… kamu nih…” 
“Bareng maah….” 
“Iyaa bareng, tapi kamunyaa… aah…” Agaknya Rasti tahu Norman ingin memperlama durasi persetubuhan mereka. Meski senang-senang saja, tapi tidak untuk kondisi seperti ini, yaitu di mana Norman sering sekali main entot saja di sembarang tempat. Apalagi sekarang sedang ada teman-teman Tedi, dan anak-anak Rasti yang lain sedang bermain dengan asiknya. Bagi Rasti ini adalah family time yang ingin ia lewati dengan berkualitas.

Ya, Norman memang cukup lihai dalam bercinta, tapi masih tidak ada apa-apanya dibanding Rasti yang jauh lebih lihai. Kali ini Rasti tidak membiarkan Norman pegang kendali. 
“Aahh… memeekk… sial… Mama pengen banget peju ya? Aarrhh… Niihh terima peju guee…! Lonteee….” Normanpun tak kuasa lagi menahan ejakulasi dan menumpakan semua spermanya di vagina Rasti, bersamaan pula dengan orgasme yang dialami Mamanya itu. Tubuh Rasti bergetar hebat. Ia mendongakkan kepala dan menegakkan badannya dan disambut dengan pelukan erat Norman dari belakang. Beberapa saat hening, hanya desahan nafas yang mengiringi getaran tubuh mereka berdua yang sedikit demi sedikit mereda. Norman memeluk Rasti dari belakang dan menciumi tengkuk Mamanya itu dengan gemas. Dari ruang tengah teman-teman Tedi bisa melihat Norman tengah membisiki suatu kalimat ke telinga Rasti, entah kalimat apa itu, yang jelas Rasti terlihat tersenyum dan mengangguk-angguk lalu membalik badannya. Ibu dan anak itu pun saling berpagutan bibir dan lidah beberapa saat. Setelah puas, Normanpun melepaskan tubuh Rasti dan pergi begitu saja kembali ke ruang tengah sambil mengancingkan celananya. Barulah setelah itu Rasti melanjutkan acara memasaknya yang sempat terganggu. 

"Eh lonteku, kira-kira bang Tedi boleh gak mobilnya dipinjamkan ke teman-temannya? Norman juga boleh pinjem gitu… Boleh gak?"Tanya Norman sambil sarapan mie gorengnya setelah selesai ngentot. 

"Ya itu terserah kakakmu dong sayang... itu kan punya dia. Tapi anak Mama ga boleh pelit ya…?” Ucap Rasti melirik Tedi. “Biar lebih manfaat boleh tuh mobilnya dipinjamin. Boleh kan sayang?" jawab Rasti lagi sambil bertanya ke Tedi. 
"Ya, boleh aja, asal yang minjem tanggung jawab…" Jawab Tedi enteng. Dia tidak menangkap maksud tertentu dari pertanyaan adiknya yang bengal itu.

"Hehe he... Kalo gitu Norman juga boleh dong minjemin kuda binalnya Norman ke temen-temen Norman? Temen-temen Norman banyak tuh yang pingin nunggangin kuda binal, he he he..." Norman terkekeh. Mendengar ini muka Tedi langsung berubah kecut. Rasti sendiri hanya tersenyum kecil mendengar omongan anaknya itu yang benar-benar menganggap dirinya, ibu kandungnya ini, seperti barang yang bisa dipinjamkan seenaknya.
“Dasar kamu ini” jawab Rasti menghela nafas. Tidak mengiyakan maupun menolak.
Gemas sekali teman-teman Tedi melihat bagaimana Rasti selalu membiarkan saja si Norman melecehkan dirinya. 

**

Omongan Norman ini ternyata bukan bercanda belaka. Beberapa hari kemudian, di suatu hari menjelang senja, Norman pulang membawa 6 orang teman gengnya ke rumah. 
“Ma, ada teman-temanku tuh di kamar.” panggil Norman pada Rasti yang sedang sibuk menyapu rumah. Rasti saat itu sedang telanjang bulat sesuai perintah Norman.
“Teman-temanmu? Ya sudah…”
“Lho kok ya sudah... Aku mau ngenalin Mama dong sama mereka. Tapi Mama tetap gak boleh makai baju yah.. hehe…
“Hah, masa gitu sih sayang? Mama gak mau ah…!” tolak Rasti. 
“Eit, ayo dong Mah... Gak boleh nolak!” Norman ngotot. Diapun menyeret Rasti ke kamarnya meski dia tahu ibunya itu tidak nyaman harus menemui orang dengan telanjang bulat. Entah kenapa kali ini Rasti merasa malu, dia grogi harus menemui teman-teman anaknya itu dengan bertelanjang bulat.

"Nih, lonte gue, cakep kan? Hehe…"ucap Norman.
“Anjrit!” Serempak keenam teman Norman terbelalak melihat Rasti yang telanjang bulat. 
“Ii… ini…?” Tanya salah satu teman Norman tergagap. 
“Iye! Kan udah gue bilang ini lonte! Ha ha ha…!” 
“Wuih... serius lo? Anjrit cakep!” Gumam teman Norman sambil celingak-celinguk. “Sepi rumah lo bro?” Tanyanya penasaran. 

“Ha ha ha, ga juga, kenapa emang?” Jawab Norman. Rumah Rasti yang besar didesain mempunyai beberapa ruang yang terpisah dari ruang utama. Seperti di ruangan ini, sebenarnya ruangan ini seperti ruang tamu, tapi posisinya di belakang rumah, menghadap langsung dengan taman belakang. Norman meminta ruangan ini untuk dijadikan kamar pribadinya. Rasti mengijinkannya, walhasil di ruangan ini juga ada kasur besar tempat tidur Norman. Juga ada televisi lengkap dengan DVD playernya yang kebanyakan kaset Norman adalah film BF. Ruang ini memang cukup nyaman untuk nongkrong-nongkrong tanpa harus terganggu anak-anak Rasti yang lain. Meski jarang, jika Norman mengajak teman-temannya main, pasti mereka akan menghabiskan waktunya di sini. Dengan begitu, obrolan mereka yang keras dan kasar, apalagi sambil merokok dan minum minuman keras, semua tidak akan terlihat langsung oleh keluarga Rasti. 

Kini Rasti benar-benar canggung berdiri di hadapan teman-teman Norman di ruangan ini dalam keadaan bugil. Meski ada perasaan senang juga karena sebagai lonte dia punya naluri eksibisionis. Dipandanginya keenam wajah teman Norman satu-persatu, tidak ada yang dikenalinya. Bukan 3 orang yang waktu itu pernah menggangbang dirinya. Entah Norman memperkenalkan dia sebagai ibunya juga atau tidak. Tampaknya sih tidak. Ya, keenam teman Norman ini sepertinya belum tahu cerita tentang dirinya. 

“Amboii… Ini beneran lonte lo Man?”
“Lonte buat… ngentot??” 
“Ya iya lah, namanya lonte ya buat ngentot!” 
“Asik benar lo!” Seru teman-teman Norman yang jelas saja membuat mereka nafsu berat karena melihat Rasti.
"Bikinin minum ya buat temen-teman Norman, habis itu siap-siap di kamar, gue pengen ngentot!" suruh Norman pada Rasti. Betul-betul seenaknya. Tapi lagi-lagi Rastipun menuruti. “Ingat, jangan pake baju!” Seru Norman seakan bisa membaca pikiran Mamanya itu. Ya, sempat terbesit di benak Rasti untuk memakai pakaian sebelum nanti kembali lagi untuk menghidangkan minuman. Rasti pun cemberut manja, lalu ngeloyor pergi. 

Saat Rasti kembali menghidangkan minuman, dia disuruh menata gelas yang bejumlah tujuh itu di meja, dihidangkan satu-satu untuk Norman dan teman-temannya. Walhasil saat melakukan itu Rasti jelas dilecehkan oleh teman-teman Norman. Dicolek pinggulnya dengan kasar. Ditabok pantatnya dengan gemas. Rasti mengaduh kecil sambil menggelijang manja. Tak ayal reaksinya itu malah membuat teman-teman Norman makin gemas. Sambil mengeluarkan kata-kata kasar dan melecehkan, mereka malah makin berani dan meremas buah dada Rasti saat Rasti membungkuk untuk menaruh minuman. “Aahh…” Desah Rasti pelan. Tubuhnya bergetar, satu gelas akhirnya jatuh dan tumpah airnya. “Aah goblok lu lonte, naruh gelas aja kagak becus lo…! Ngentot aja lu bisanya ya! Dasar lonte!” Parah sekali caci maki yang ditujukan pada Rasti, padahal gelas itu jatuh juga gara-gara ulah mereka yang mengganggu Rasti. 

"Woi! Main colek aja lu!Main grepe-grepe, kagak ijin sama yg punya! Nafsu ya lo pada?! Ha ha ha... ngaceng ngaceng deh lo!"Ujar Norman sambil terbahak-bahak. Ia kemudian menyuruh teman-temannya menunggu, "udah lo pada main duluan aja ya... santai, bebas aja di sini, ntar gue gabung. Gue mau ngentot dulu! Hehe..."Diapun menyeret Rasti keluar dari kamarnya.

“Sotoy lu man! Sisain woiii!” Seru teman-teman Norman yang mupeng berat. Norman membalasnya dengan terkekeh dan menjulurkan lidahnya sebelum kemudian menghilang keluar bersama Rasti. 

Sambil jalan ke kamar Rasti, Norman iseng mencolek-colek selangkangan Mamanya itu. 
“Iih sayaang…” protes Rasti manja. 
“He he he… Mama udah basah ya, iya kan…? Makanya ga usah jual mahal tadi, seneng kan Mama, Norman pamerin ke temen-temen Norman? Ha ha ha…” Norman lalu mendorong Rasti gemas hingga jatuh tengkurap di atas kasur. “Kyaa…!” Tanpa ba bi bu, Norman mengeluarkan sejatanya yang sudah tegang dan langsung mendoggy Rasti. 
“Aaahhh Normaannn…..” 

******* 

Setelah ngentot, perangai buruk Norman belum berhenti. Kini dia malah meminta uang 2 juta pada Rasti yang bahkan belum reda engah nafasnya setelah disetubuhi. 
"Haahh… haah…. Dua juta? Hahh….. Buat apa sih sayang?"Jawab Rasti di tengah engahan napasnya. 
"Pake nanya lagi, buat main kartu lah, sapa tau menang banyak, gue bisa beli mobil sendiri! Ga perlu duit hasil melacur Mama!" jawaban Norman benar-benar merendahkan, padahal modalnya minta Rasti juga 2 juta. Dasar tidak tahu diri. 
“Cepetan!” 
“Iyaa sayang…” Rasti buru-buru bangkit dari kasur dan mengambil dompetnya. "Ya sudah sana, moga-moga menang ya..." Sableng! Bukan hanya ngasih uang, tapi Rasti juga merestui. 

Begitulah, selama beberapa jam kemudian Normanpun main judi dengan teman-temannya di kamar Norman. Sementara Rasti melanjutkan harinya seperti biasa bersama anak-anaknya yang lain. Hari itu Tedi sedang pergi main bersama teman-temannya. Siapa lagi kalau bukan dengan Riko, Romi dan Jaka. Pamitnya sih mau pergi nonton konser, jadi kemungkinan bakal sampai tengah malam. 

Malamnya, meski belum terlalu malam, semua anak-anak Rasti sudah tidur setelah dibacakan dongeng oleh Mamanya. Saat itu Norman masuk ke kamar Rasti. Dia mendapati Mamanya sedang menyusui Bobi, si bungsu. 
"Cepetan neneninnya ma! Tu temen-temen Norman udah nunggu!"
"Hah? Nunggu apa?"
"Ya ngentot lah! Pake nanya...."
"Lho.. kok?"
"Udah... gak usah banyak mikir, Norman kalah main judinya! Modal Norman abis semua 2 juta. Norman masih pingin terus main, tapi ga punya duit buat dipasang, jadi Norman pasang Mama sebagai taruhan. Tapi Norman kalah terus! Sekarang mama siap-siap cepetan! Siap-siap dientot!"

"Duuh, Kamu ini seenaknya aja siih??"Tukas Rasti kesal. Meskipun kaget, sebenarnya sejak sore tadi Rasti sudah memikirkan kemungkinan akan disetubuhi teman-teman Norman. Betapa tidak, tadi dia sudah dipamerkan dalam keadaan bugil total di hadapan mereka. “Kamu kalah sama berapa orang sayang?” Tanya Rasti gusar karna dugaannya benar-benar terjadi. 
"Yaa semuanya, tuh ada 9 orang temen Norman."
"Iihhh! Semuanya?? Terus kok 9 orang? Bukannya tadi cuma 6?"
"Bawel amat sih?! Tadi datang lagi 3 orang!"
"Huuh, sama aja mama dientot bukannya dibayar malah mbayar 2 juta! Enak banget temen-teman kamu!" Ujar Rasti yang benar-benar kesal kali ini. Tapi tetap saja Rasti tidak punya pilihan lain selain menuruti Norman. Sejak selesai masa 3 minggu perjanjian dengan Mori San sampai sekarang Rasti belum pernah menerima tamu lagi. Jadi kali ini tidak terlalu berat baginya. Rasti minta melayani mereka di kamar Norman saja, dia tidak mau preman-preman kasar itu masuk ke kamarnya. Selesai menyusui dan menidurkan Bobi, Rasti pun bersiap sekadarnya dan bergegas menuju kamar Norman tanpa mengenakan busana sama sekali. 

Entah kenapa Rasti merasa agak deg-degan dan grogi kali ini. Tanpa mengetuk pintu dia melangkah masuk ke kamar Norman yang pintunya memang tidak ditutup. Suara riuh teman-teman Norman langsung menyambutnya, membuat Rasti makin grogi dan tersenyum canggung. 
“Wii ketemu lagi nih Mama Rasti…” Celetuk salah seorang. Rupanya mereka sudah diberitahu nama dan status Rasti sebagai ibundanya Norman yang lonte. Rasti tersenyum kecut sambil melirik Norman. Perasaan grogi dan malunya ini benar-benar tidak biasa, dan entah kenapa agak sulit mengenyahkan perasaan itu kini. Mungkin karena kesal harus melayani 9 orang preman yang bukannya membayar tapi malah dia yang mengeluarkan uang 2 juta. 

“Mantaapp! Sudah bisa dipake ni Man?” 
“Ni lonte daritadi sore gua liat kok malu-malu aja… Lonte beneran bukan sih?” 
“Ayo sini mama sayang… duduk sama kita-kita!” 
“Ayo sini mama cantik… Duuh manis banget sih mukanya kalo malu-malu gitu…” 
“Ayo sini, kita gak gigit kok… cuma nusuk doang! Ha ha ha!” 
“Ha ha ha, lo besok lagi kalo mau main pasang ni lonte lagi Man! Gue rela…! Ha ha ha…” 

Teman-teman Norman seakan berlomba untuk melontarkan kata-kata cabul pada Rasti. Salah seorang menghampiri dan menariknya dengan kasar ke tengah-tengah mereka. Rasti kini dikelilingi 9 orang yang mulai menelanjangi dirinya masing-masing. Rasti digerayangi dan diciumi dengan liar sebelum kemudian disuruh duduk bersimpuh. Dan 9 penis yang hitam-hitam dan dekil langsung disodor-sodorkan ke mukanya. “Yukk disepongin dulu kontolnya cantik…” Ucap salah seorang. Tanpa disuruh pun Rasti sudah tahu apa yang dia lakukan. Kini Rasti sudah agak rileks, mulutnya segera mencaplok penis yang berada tepat di depan mulutnya, sementara kedua tangannya menangkap dua penis di kiri dan kanannya secara random, lalu mengocoknya. Dengan ini dalam satu waktu 3 penis bisa diservisnya. Rasti melakukan ini berganti-gantian, tanpa terlalu memperhitungkan waktu dan giliran siapa. Biarlah para pemilik penis itu yang saling berebut mendapatkan jatah dan servis terbanyak dari Rasti. 

“Gue masuk dulu yah, mau tidur. Kalian nikmatin aja sampe puas… oke?” Rasti mendengar suara Norman berkata pada teman-temannya. Di tengah aktivitasnya memuaskan penis-penis yang terus mengerubutinya itu, Rasti pun berusaha melirik-lirik mencari keberadaan Norman. Matanya berhasil menangkap sekilas saja sosok Norman yang melangkah keluar begitu saja meninggalkannya tanpa mengucap sepatah kata apapun padanya. Sejenak terbesit pertanyaan dalam benak Rasti, apakah Norman menikmati memperlakukannya seperti ini atau tidak? Tapi pertanyaan itu mengalir begitu saja tanpa Rasti memusingkan jawabannya. 

Malam itu teman-teman Norman benar-benar memuaskan diri mereka mengerjai Rasti. Tidak kurang dari 3 jam Rasti digangbang dengan kasar dan liar. Satu orang ada yang menyetubuhinya berulang hingga 3 sampai 4 kali. Tapi ada juga yang baru sekali langsung K.O. Kali ini Rasti tidak menjadi lonte yang baik menurut standarnya sendiri. Ya, karna kebanyakan dia hanya pasif saja menerima segala macam perlakuan teman-teman Norman itu padanya. Rasti tidak mengeluarkan jurus dan trik apapun, tidak berakting binal, manja, atau menjadi apapun. Bahkan Rasti juga nyaris tidak bicara sepatah kata pun, kecuali hanya desahan-desahan. Tapi bagi teman-teman Norman begitu saja sudah sangat mengasyikkan buat mereka bisa ngentot dengan wanita secantik Rasti. Rasti sendiri juga bukannya tidak menikmati. Paling tidak dia mengalami 2 kali orgasme malam itu. 

Sebenarnya di tengah-tengah persetubuhan mereka itu, kira-kira setengah jam lewat tengah malam Tedi pulang disertai Riko, Romi dan Jaka. Saat mereka sampai di rumah, tentu mereka langsung ‘ngeh’ melihat beberapa motor terparkir di halaman. Hanya saja mereka bertanya-tanya melihat kondisi motor-motor yang terparkir itu. Butut, ga ada spionnya, protolan, dimodifikasi ekstrim, knalpotnya blombongan, dsb. Jelas profil pelanggannya Rasti tidak akan memiliki motor yang seperti ini. “Paling temen-temennya adik gue…” Gumam Tedi. 
“Norman?” 
“Siapa lagi?” 
Begitu mereka masuk rumah, sayup-sayup lenguh desah dari kamar Norman terdengar oleh mereka. Berbagai spekulasi dan bayangan-bayangan cabul langsung tergambar di benak teman-teman Tedi. Mereka langsung ngaceng dan mupeng. Wanita pujaan mereka sedang digangbang teman-teman Norman! Meski lelah, mereka langsung berniat untuk mengintip kamar Norman. Tapi… 

“Hayo lo pada mau ngapain?! Ga usah aneh-aneh lo… gue suruh pulang nih?” Hardik Tedi yang tidak suka dengan gelagat mereka yang kelihatan banget ingin mengintip Mamanya.
“Ee… nggak kok Ted…” Jawab Jaka mengkeret. Riko dan Romi terdiam. Mereka sadar, Tedi tidak suka dengan kelakuan Norman. Apalagi malam ini adiknya itu mengajak teman-temannya yang urakan itu untuk dilayani oleh Mamanya tersayang. Tedi sakit hati, dan dia merasa tersinggung ketika kejadian ini dianggap menarik sebagai objek fantasi cabul ketiga teman karibnya itu. Walhasil mereka digelandang Tedi masuk kamar, disuruh langsung tidur. Setelah dipikir-pikir oleh Riko, Romi dan Jaka, yah sebenarnya mereka sangat kesal juga sih sama si Norman. Tapi…. Ah sudahlah! Mereka pun tidur dengan harapan besok bisa ketemu lagi dengan Rasti sang pujaan hati.

Hampir jam 2 pagi Rasti melangkah keluar dari kamar Norman, meninggalkan 9 teman Norman yang tertidur kecapekan. Rasti juga capek, tapi dia ingin tidur di kamarnya sendiri. Ternyata Rasti mendapati Norman sedang tertidur pulas di atas kasurnya. Rasti pun naik ke ranjang dan berbaring di samping Norman. Sejenak dia pandangi wajah anaknya yang bengal itu dengan penuh kasih sayang. Saat tidur wajah Norman innocent juga, pikir Rasti yang lalu membelai rambut Norman dan mengecup pipinya. Entah apa yang dipikirkan Rasti tentang Norman saat itu. Yang jelas jauh dari rasa marah apalagi benci. Rasti pun tidur sambil memeluk Norman erat. 
“Mm… Maa…?” Ternyata Norman terjaga sambil masih terkantuk-kantuk. 
“Iya sayang?” Bisik Rasti. 
“Mmmhh.. udah selesai?” 
“Iya sayang… Sudah.” 
“Temen-temen Norman?” 
“Tidur tuh…” 
“Ooh…” 
Norman memiringkan badannya menghadap Rasti, balas memeluk Rasti dan mencium Mamanya itu. Rasti pun membalas ciumannya mesra. Mereka saling mengecup beberapa saat. 
“Maah… Norman bobo sini ya?” 
“Iya sayang… Bobo aja, mama kelonin…” 

Sungguh Rasti sosok ibu yang sangat penyayang. Malam itu Rasti tidur berpelukan dengan Norman. Rasti tidur sangat pulas. Dia tidak sadar menjelang pukul 4 pagi Norman bangun dan meninggalkannya. Ya, pagi itu Norman dan teman-temannya pergi dari rumah Rasti sebelum terbit matahari. Entah mau kemana dan apa yang hendak dilakukan oleh mereka? Tapi sebenarnya hal ini tidak aneh. Karena Norman dan gengnya memang ‘mahluk malam’. Mereka sering sekali begadang, melakukan aktivitas geng mereka sampai melewati malam dan baru tidur ketika matahari sudah hampir tinggi. Makanya, ketika Rasti terbangun di pagi hari dan mendapati Norman dan teman-temannya sudah pergi dari rumah, Rasti pun bersikap biasa saja. 

**************** 

"Tante, kenapa sih Tante biarin aja kelakuan si Norman?" Tanya teman-teman Tedi gemas pada siang hari itu. 
"Hihihi... ya mau gimana lagi?"
"Lho kok mau gimana lagi? Tante kan mamanya..."
"Iya sih, kalo kelakuannya Norman kayak gitu ke orang lain, ya pasti Tante sebagai mamanya akan negur.. tapi..."

"Tapi.. kenapa tante?"
"Tapi kalo kelakuannya kayak begitu pada tante sendiri yaa... sebagai lontenya, tante jadi harus ngikutin dia pinginnya tante jadi kayak apa?” 
“Yaaah… kok gitu?” Ujar mereka gemas plus nafsu sekali mereka mendengar Rasti mengatakan sendiri bahwa dalam hal ini dia lebih memilih berperan sebagai lontenya Norman, bukan sebagai Mamanya. 
“Hihihi... ga tau yah... sudah naluri tante kali, sebagai lonte."
“Duh, tante, kita jadi ngaceng nih…”
“Ya udah sana, ke kamar mandi lepasin, hihihi”
“Hehe, ntar aja deh Tante…” 
“Omong-omong, Tante kok pake baju, ga apa-apa nih… Ntar dimarahin Norman lho?” Goda Jaka. 

“Ha ha ha… Kamu ini sok ngasih tahu, padahal kamu sendiri yang pingin kan liat Tante telanjang?” Cibir Rasti lalu mencubit Jaka gemas. Tidak sakit tentunya. Jaka pun hanya tertawa-tawa aja. “Ga tau lho, ntar tiba-tiba Norman pulang, ngamuk ngeliat Tante gak nurut… gue nggak tanggung jawab…” Ucap Jaka. 
“Idiih, siapa juga yang nyuruh kamu tanggung jawab? Ya Tante sendiri yang tanggung jawab. Paling ngamuknya Norman ngentotin Tante lagi… Tante suka kok dientot Norman, wee…” Jawaban Rasti itu sukses membuat mereka makin senat-senut. Ah, betapa senangnya siang itu bisa mereka lewati dengan berakrab-akrab ria lagi dengan Rasti yang mereka puja. 

Hari ini, mereka asik main di rumah Rasti. Mereka nonton tv, main PSnya Tedi, juga bergurau dengan anak-anaknya Rasti yang masih kecil. Tentunya semua itu tetap diselingi memperhatikan gerak-gerik Rasti yang menggoda. Ibu teman mereka ini sedang sibuk mengerjakan berbagai pekerjaan rumahnya, mereka juga sesekali menggoda Rasti dengan pujian serta candaan.

Namun ketika mereka semua sedang asik-asiknya melewati hari, tiba-tiba datang laporan kalau Norman… ditahan polisi!


Episode 13

Berita ditahannya Norman membuat Rasti shock dan sedih bukan kepalang. Betapapun bengalnya, Norman adalah putranya juga. Rasti menjadi lebih tegang lagi ketika tahu penyebabnya adalah kekerasan yang terjadi di kompleksnya sendiri. Hari itu suasana ceria berubah menjadi serba canggung dan kelam. Teman-teman Tedi merasa tidak enak, mereka pun tahu diri dan segera pamit, sementara Rasti dan Tedi bersiap-siap hendak pergi ke kantor polisi. 

Di kantor polisi, Rasti dan Tedi mendapat informasi lebih lanjut. Teman-teman Norman menganiaya seorang satpam di kawasan kompleks tempat tinggal Rasti. Dan kejadiannya adalah dini hari menjelang fajar tadi setelah mereka meninggalkan rumah Rasti. Saat mereka hendak meninggalkan komplek, tampaknya salah seorang dari mereka ditegur oleh satpam komplek. Entah apa masalahnya, yang jelas teman Norman itu tidak terima, begitu juga teman-temannya yang lainnya. Akhirnya satpam itu dikeroyok 9 teman Norman sampai luka parah dan masuk ICU. 

Bagaimana dengan Norman? Norman sendiri sebenarnya mengaku tidak ikut menganiaya, dan Rasti percaya. Kepercayaan Rasti ini bukan semata pembelaan buta seorang ibu pada anaknya secara emosional, tapi memang Rasti tahu bahwa Norman sendiri kenal baik pada satpam di komplek ini. Norman sering nongkrong bareng mereka di pos, merokok bareng, main catur, dan sebagainya. Jadi sulit dipercaya kalau Norman ikut menganiaya. Tapi apa daya, semua yang ada waktu itu diciduk, dan demi solidaritas, Norman merasa tidak nyaman jika dia mengelak sendiri. 

Masalah ini kemudian berkembang di hari-hari berikutnya. Tidak hanya berhenti di Norman saja, tapi lebih runyam lagi bagi Rasti.Keberadaan Rasti di komplek perumahan itu jelas disorot lagi oleh penduduk sekitar. Dari yang paling benci, yang cuma nyinyir-nyinyir, sampai yang sekedar komentar. Semuanya bicara. Intinya Rasti dipergunjingkan. Dan semodern dan sebebas-bebasnya masyarakat di situ, sejauh ini yang ada paling pol hanyalah pembiaran. Bukan pembenaran, apalagi pembelaan. Selama ini Rasti mawas diri dan merasa cukup dengan sekedar pembiaran. Tapi kini, pembiaran yang sebenarnya tidak gratis itupun mulai hilang. Suara-suara sinis lebih sering terdengar, terlebih yang nyata-nyata membencinya, suaranya jelas yang paling lantang. 

“Ibunya lonte, anaknya preman! Sampah masyarakat! Udah usir saja, kalo perlu penjara sekalian ibunya!” 
“Tadinya sih gue cuek aja, tapi kalo udah nimbulin rusuh ya ga bisa dibiarin!” 
“Namanya juga lonte, gimana diarepin bisa ndidik anak dengan bener” 
“Sekarang pengeroyokan, bisa jadi besok-besok ngerampok. Siapa yang bisa jamin besok rumah kita aman? Satpamnya aja dipukulin! Gila gak tuh?” 
Semua suara-suara miring itu kali ini benar-benar tidak bisa dibendung. Rasti benar-benar tertekan dan sedih. Apakah dirinya sesalah itu?? Begitu hinakah dirinya menjadi seorang lonte??

Proses pengadilan dan pra penahanan Norman benar-benar melelahkan dan penuh tekanan. Tapi semua Rasti lalui dengan tabah dan sabar. Tentu dengan Tedi yang selalu mendampingi di sisinya. Pada akhirnya jatuhlah vonis pada Norman dan semua teman-teman gengnya. Ya, kasusnya berkembang hingga menyeret seluruh anggota geng yang diikuti Norman. Agaknya geng itu sudah memiliki banyak catatan kriminal dan menjadi target operasi. Berakhirnya proses ini cukup melegakan Rasti, meski dia tetap sedih karna Norman harus menjalani hukuman selama 3 tahun. Sebenarnya, Norman termasuk di bawah umur. Dalam aturan hukum banyak keringanan yang bisa didapatkan oleh Norman. Banyak proses yang bisa ditempuh Rasti untuk mengupayakan itu, dan Rasti pun menempuhnya demi Norman. Tapi pada akhirnya semua proses itu malah membuat perasaan Rasti makin tersiksa. Jelas keluarga Rasti bukanlah keluarga normal. Rasti adalah seorang lonte. Pelacur. Norman dan semua anak-anaknya lahir tidak jelas dan dibesarkan tanpa sosok seorang ayah. Rasti tidak punya pendidikan, dan dia pun tidak bisa mendidik Norman dengan baik, sampai Norman ikut geng dan melakukan premanisme. Dan sebagainya dan seterusnya. Intinya, semua cerita tentang Rasti yang melingkupi kondisi Norman saat itu membuat semua proses yang ditempuh Rasti menemui jalan buntu. Sudah begitu, kondisi Rasti malah makin terekspos dan Rasti makin dihujani dengan cibiran, caci maki dan hujatan-hujatan. 

Rasti benar-benar terpuruk saat itu. 
Untuk sementara waktu Rasti memutuskan untuk berhenti menerima tamu. Tedi juga melarang Riko, Romi dan Jaka untuk main ke rumahnya dulu untuk sementara waktu. Tentu ini berat bagi mereka, tapi mau bagaimana lagi, situasi memang tidak memungkinkan juga bagi mereka untuk terus mengharapkan kesenangan dari Rasti yang kini sedang dirundung duka dan masalah.

***



Hari demi hari berlalu, bagaimanapun Rasti tidak ingin terus menerus sedih dan terpuruk. Dengan dihibur Tedi dan juga melewati hari demi hari dengan lebih dekat pada anak-anaknya yang lain, sedikit demi sedikit Rasti pulih dan bisa ceria lagi. Meski begitu, Rasti memilih menghabiskan waktu selanjutnya bersama keluarganya saja untuk sementara waktu. Ya, Rasti masih tidak menerima tamu hidung belang. Riko, Romi dan Jaka pun masih dilarang Tedi untuk datang. Meskipun sebenarnya Rasti tidak keberatan dengan mereka ini. Bahkan Rasti pun sempat kangen dan menanyakannya pada Tedi. 

“Temen-temenmu kok ga pernah main lagi sayang?” 
“Emang Tedi suruh jangan main dulu ma…” 
“Lho emangnya kenapa sayang? Mama ga apa-apa kok…” 
“Ah mereka itu main ke sini ntar paling cuman pingin ngecengin Mama aja…” 
“Hi hi hi… jangan gitu sayang, Mama yakin kok mereka anak-anak baik kok, bisa lihat-lihat kondisi… Lagian mama juga suka kok dikecengin, he he he...Tingkah mereka itu jadi hiburan juga lho buat Mama…” 
“Yaa ntar deh coba Tedi tanya… Kalo mereka mau main nanti Tedi biarin…”
“Iyaa disuruh main aja sayang, mama sudah ga apa apa kok…” 

Beberapa hari kemudian Rasti minta diantar Tedi dengan mobilnya untuk menengok Norman ke penjara. Di penjara, Rasti dan Norman bercakap-cakap di suatu ruangan yang memisahkan antara pengunjung dan tahanan. Penjara atau lapas ini adalah bangunan baru yang sebenarnya diperuntukkan sebagai lapas khusus pelaku kriminal di bawah umur, alias anak-anak. Tapi sistem hukum yang masih kacau, dan juga fasilitas Negara yang masih terbatas, membuat lapas yang tidak terlalu besar ini dihuni tahanan-tahanan yang dewasa juga. 

Sejak ketemu, Rasti langsung menyadari sesuatu yang lain di wajah Norman. Ada sedikit lebam di pipi kirinya. Jelas Rasti langsung panik. Ia langsung menanyakan apa yang terjadi. Norman pun curhat bahwa di awal memang sempat ada pembully-an. Ia dimasukkan ke dalam sel bersama dengan 4 orang napi dewasa yang sudah mendekam di sana paling sebentar satu tahun. Sebagai anak baru, wajar Norman dibully. Tapi Norman menyuruh Mamanya tidak terlalu mengkhawatirkan hal itu. Meski begitu tetap saja Rasti gusar, ia beralih menanyai kabar anaknya itu, kesehatannya, makan teratur atau tidak, kesehariannya di sana, dan sebagainya, layaknya seorang ibu yang mengkhawatirkan putranya. Norman menjawab semua pertanyaan itu sekenanya saja. Terlihat sekali ia juga sedang risau akan suatu hal. Rasti pun jadi mengungkit soal pembully-an itu. 

“Iya kan keliatan banget kamu pasti tertekan di dalam sana… Walau wajar ya tetep ga bisa dibiarin kalo bullynya sampai pake kekerasan fisik begitu…!” 
“Yaelah Ma, namanya juga di penjara… ini bukan sekolahan Ma…” 
“Tapi kan kamu bisa lapor, Mama juga akan bantu ngurusin hal ini ke sipir… Pokoknya Mama akan ngelakuin apapun…”
“Udah Ma, semua bisa Norman atasi kok…” 
“Ah, tapi keliatan banget tu kamunya…” 

“Soal bully, Norman sudah atasi, pokoknya Norman ga bakal dibully lagi. Sekarang tu Norman kepikirannya sama hal lain!” 
“Kok bisa? Ngatasin gimana maksudnya? Trus kamu punya masalah lain apa?” 
“Ya caranya ada aja deh, nanti Mama juga tahu sendiri… Ini ada kaitannya sama masalah Norman itu.” 
“Iya, kamu kepikiran apa sayang?” 
“Menurut Mama apa? Ya Norman kangen sama Mama…!” 

Terdiam sejenak Rasti mendengar jawaban Norman. Wajahnya langsung tersipu. Pipinya merona merah, membuat Norman makin gemas memandanginya. “Duuh kamu ini… Ya iyalah, Mama juga kangen kamu sayang, tapi ya gimana lagi… kan Ma…” 
“Norman kangen, pingin ngentot!” Ujar Norman memutus kata-kata Rasti.
Terdiam lagi Rasti mendengar kata-kata anaknya itu. Kali ini agak kaget juga, Rasti gugup menengok kanan-kirinya takut ada yang mendengar. Ia benar-benar tidak menyangka Norman akan mengucapkan kalimat sevulgar itu. Rasti berpaling ke Norman lagi. Wajahnya tambah memerah.

“Iih, kamu ini kok sempat-sempatnya mikir gituan sih…? Dasar.” 
“Yaelah Ma, justru itu satu-satunya hal yang paling Norman pikirin sejak Norman ditahan. Norman ga takut sama penjara, tapi takut ga bisa ngentot sama mama lagi! Seminggu aja gak ngentotin Mama, Norman pusing… Apalagi kalau harus bertahun-tahun!” 
Rasti jadi salah tingkah. Sekali lagi dia tengok kanan kiri. “Udah ah jangan ngomongin itu…”
“Iya Ma, Norman juga ga mau ngomongin itu. Norman maunya langsung ngentot aja, yuk…” 
“Sayang… Bercandanya jangan gitu ah…” 
“Mama gak kangen sama Norman?” 

“Iih kamu… Iya deh sayang, mama juga kangen kok, tapi kan salahmu sendiri. Lagian bukannya ga bisa seterusnya kan? Nanti kalo kamu udah bebas kan bisa 'gituan' lagi sama mama...Ya udah deh sekarang kamu puasa kayak abangmu… Nunggu umurmu 18 tahun yah? He he he…” Akhirnya Rasti terbawa obrolan Norman, tapi belum berani mengucapkan ngentot dengan vulgar. Rasti benar-benar mengira Norman bercanda sampai kemudian Norman menegaskan dia tidak sedang bercanda. Ya, Norman benar-benar serius minta ngentot! Jelas Rasti bingung, mana mungkin mereka bisa melakukan hal seperti itu di sini. 

Tedi yang sejak tadi duduk di kursi tunggu dan tidak ikut ngobrol, kini melihat gelagat Mamanya yang berubah. Penasaran tentang apa yang diobrolkan Mama dan adiknya itu, dia pun berdiri dan mendekati Rasti. Walhasil dia jadi ikut mendengar hal di luar dugaan yang dijelaskan Norman kepada Rasti. Ternyata Norman sudah mengaturnya. Dia sudah kong kali kong dengan beberapa petugas penjaga lapas. Ada ruangan khusus yang bisa dipakai untuk melakukan ‘itu’. Dan hal itu memang sudah biasa di dalam penjara. Tapi untuk mengakses itu memang tidak gratis. Imbalannya? Awalnya memang uang yang diminta. Tapi begitu Norman menunjukkan foto Rasti pada penjaga, kompromi pun terjadi. Ya, apa lagi kalau bukan Norman menawarkan Rasti pada mereka? Dan jelas mereka mau! Ya, Norman sudah menjanjikan para sipir dan penjaga di sana untuk bisa ikut ‘nyicipin’ mamanya itu. Rasti hanya tertegun saja mendengar semua cerita Norman. Apalagi ternyata Norman belum selesai. Ia lalu melanjutkan, “Sama teman-teman sel Norman juga Ma... Tadi kan Norman udah bilang, soal bully Norman udah atasin. Makanya kan ini ada hubungannya juga sama itu, jadi… Asal Mama mau, Norman ga bakal dibully lagi deh sama mereka.” 

Rasti menelan ludah mendengar penjelasan terakhir Norman ini. Ya Rasti tahu arah pembicaraannya. Benar-benar tidak masuk akal. Rasti benar-benar gusar, bagaimana Norman bisa mengatakan semua itu dengan tenang dan datar, seolah itu hal yang biasa saja. Menawarkan Mamanya sendiri pada sipir penjara dan para napi!

“Kamu bercanda kan sayang?” Ucap Rasti masih tak percaya. Tedi sendiri di belakang Rasti jelas tidak habis pikir dengan apa yang barusan diceritakan adiknya. “Lo ga usah aneh-aneh deh Man…” Hardiknya kesal.
“Yee abang, gue serius. Lo sih ga tau rasanya di dalem sini. Norman serius Ma…!” 
“Jangan Ma...” Bisik Tedi. Rasti sendiri terlihat bimbang dan ragu. Sekali lagi dia tengok kanan-kiri, melirik ke dalam melihat petugas yang berjaga di balik pintu. Ternyata penjaga itu mengawasinya dari tadi. Dia tersenyum cabul memandangi Rasti, satu tangannya diangkat, tangan itu seolah sedang menggenggam sesuatu yang kemudian dimasukkan ke mulutnya, lalu lidahnya mendorong dinding pipinya dari dalam sehingga dari luar pipinya terlihat menggembung seolah benda yang digenggam tangannya itulah yang mendorong pipinya. Ya, penjaga itu memperagakan adegan blowjob dan menunjukkannya pada Rasti! Darah Rasti langsung berdesir melihatnya. Wajah ayunya merah padam malu, jantungnya berdebar. Gugup. 

“Ka… Kamu yakin sayang? Beneran bisa begitu?” Rasti malah bertanya lagi ke Norman. Selain karena masih ragu untuk melakukan hal seperti itu di sini, dia juga tidak percaya kalau Norman bisa bersepakat seperti itu dengan para penjaga.
Rasti menggenggam tangan Tedi yang masih terlihat sangat gusar. Dari sentuhannya Tedi mengerti Mamanya ingin ia menahan diri dari memarahi Norman. Tedi pun ngalah seperti yang sudah-sudah. 

“Iya Ma… ayuk dong… Norman kangen nih ngentotin mama, hehe…”
“Mama juga kangen sih. Tapi, duh… masa di sini sih sayang? Sekarang?”
“Iya sekarang, tapi gak di sini Ma”
“Terus?”
“Mama mau lihat tempatnya Norman nggak?”
“Hah? Maksud kamu… mama ikut kamu ke…”
“Hehe, ayo dong ma…” ucap Norman bangkit dari tempat duduknya lalu mengedipkan matanya pada penjaga di sana. Penjaga itu tersenyum dan berjalan menghampiri Rasti. “Ayo non…” Bisik penjaga itu sambil menunjuk ke arah pintu masuk. Rasti terlihat gugup. “Eehh… bentar… bentar…” ucapnya, lalu menarik Tedi menjauh dan mengajaknya duduk di kursi tunggu. Penjaga itu membiarkannya saja. Dia dan Norman saling tersenyum dan memberi kode. Norman pun lalu berlalu, kembali ke selnya dengan diantar seorang penjaga. 

“Mmm… Sayang……” Bisik Rasti pada Tedi. Dia ingin mengatakan sesuatu tapi bingung. Tedi sendiri masih terlihat gusar menunggu apa yang hendak dikatakan Rasti. Dia tahu mamanya itu cenderung pada memenuhi keinginan Norman lagi. 
“Kamu marah ya kalau Mama turutin adekmu lagi…?” Tanya Rasti.
Tedi membisu. Bingung dia harus menjawab sesuatu yang seharusnya sudah jelas. Tapi raut wajah Mamanya membuat Tedi trenyuh. 
“Maafin Mama ya sayang, kalau perlakuan Mama ke kalian beda. Kamu pasti kesal sekali ya sama Mama… Sama adikmu… Mama ga pernah bisa tegas ke Norman. Mama kasih Norman apa aja yang dia mau… Mama nggak adil, pilih kasih…” 
“Stop Ma… Jangan ngomong gitu…” 

“Mama sungguh nggak tahu sayang, yang jelas Mama sayang sama kalian semuanya tanpa kecuali! Mama ga tahu… Mama memang ga pintar ngurusin anak… Maafin Mama sayang…” 
Tedi sungguh menangkap raut wajah Mamanya yang kalut. “Udah Ma, kalo mau, masuk sana…” Bagaimanapun juga Tedi tetap kesal dan ketus. Sikap Tedi ini membuat Rasti makin bimbang. Dia hendak menjelaskan alasannya, betapa Norman dibully dan dipukuli di dalam sana, tapi Rasti sendiri sebenarnya tidak yakin dengan motivasinya. Apakah sebenarnya dia hanya kangen saja dientot oleh Norman? Mengingat belakangan ini selama beberapa hari dia tidak melakukan hubungan seks sama sekali. Ya, Rasti sendiri mengakui bahwa dia sudah ingin kembali. Menjadi lonte lagi. Memuaskan nafsu banyak laki-laki lagi. Binal lagi. 

Pada akhirnya Rasti mengatakan tegas pada Tedi. Jika Tedi melarang, Rasti janji akan menurutinya. Tedi yang disuruh menentukan, malah bingung dan salah tingkah, serba salah. Tapi setelah menimbang-nimbang, Tedi memutuskan untuk mengijinkan Mamanya. Wajah Rasti langsung sumringah. Ia pun memeluk dan mencium Tedi senang. Bertepatan saat itu, petugas lapas yang menungguinya menghardik kasar. “Lama amat lu ngobrolnya lonte?! Mau masuk nggak nih? Lonte aja pake diskusi, buang-buang waktu aja lo! Cepetan!” Kebetulan saat itu ruang sudah sepi, sudah tidak ada lagi pengunjung, pantaslah si penjaga berani mengucapkan kalimat vulgar seperti itu. Kalimat yang seharusnya menyakitkan hati, tapi malah membangkitkan karakter binal Rasti kembali. Yes, she’s back. 

Rasti menyuruh Tedi pulang duluan, tak perlu menunggu karna nanti Rasti bisa pulang naik taksi. Rasti lalu berdiri dan tersenyum manis pada penjaga, memberi kode bahwa ia telah siap. Penjaga yang tadinya menghardik Rasti dengan kasar itu ternyata kini malah gelagapan oleh pesona Rasti. Mupeng berat dengan hanya satu jurus senyuman maut saja. Rasti tertawa kecil melihatnya. “Ayo pak…” ucapnya genit. 

Rasti kemudian dituntun masuk ke dalam lingkungan penjara. Ia yang sebenarnya masih agak bingung dengan kata-kata terakhir Norman tadi, kini nurut-nurut saja mengikuti ke mana si penjaga akan membawanya. Memasuki bagian dalam bangunan lapas ini benar-benar seperti memasuki lingkungan yang angker. Mereka berpapasan dengan seorang penjaga lagi yang tadi mengantar Norman. Kini Rasti berjalan dikawal dua penjaga. Ternyata dugaannya benar. Dia akan dibawa ke selnya Norman! Gila, apakah ia akan melakukannya di sana? Deg-degan sekaligus antusias Rasti memikirkannya. 

Dalam bangunan lapas yang tidak terlalu besar itu ada sekitar 60-an sel yang masing-masing kapasitasnya 4 sampai 5 orang tahanan. Sel-sel itu terbagi ke beberapa sektor yang mengacu pada lorong-lorong yang ada di dalam bangunan ini. Pembagian sektor itu juga mengacu pada usia tahanan, tapi entah bagaimana pembagian dan berapa angka usia yang menjadi pembatasnya, yang jelas Norman yang berusia 14 tahun kini ada di Sektor C. Untungnya sektor ini cukup strategis letaknya sehingga untuk menuju ke sana Rasti tidak harus melewati sektor-sektor lainnya. Hanya saja, untuk menuju sel Norman yang ada di ujung lorong, jelas Rasti harus melewati sel-sel lain yang ada di sektor ini. 

Sampai di muka lorong Sektor C, jantung Rasti makin berdebar-debar. Apalagi dua orang penjaga yang mengantarnya kemudian berbisik-bisik, mereka berinisiatif menggoda dan mengerjai Rasti dengan tidak mengantarnya masuk. Dari luar lorong, penjaga itu hanya menunjukkan posisi sel Norman yang di ujung itu. Kedua penjaga itu menganggap pakaian Rasti begitu seksi. Padahal bagi Rasti itu pakaian yang sangat biasa, sama sekali tidak bitchy, bahkan cenderung elegan. Rasti mengenakan gaun satin terusan berwarna hitam polos. Memang gaun itu tanpa lengan dan bagian lehernya agak lebar, potongan bawahnya pun 20 cm di atas lutut, walhasil kulit putih bersih Rasti memang cukup terekspos menggugah selera. Lagipula sosok wanita secantik Rasti tetap adalah pemandangan indah yang sangat jarang atau bahkan tidak pernah ada di dalam sebuah bangunan penjara seperti ini. Dengan menyuruh Rasti masuk sendiri, penjaga itu ingin melihat seperti apa reaksi mupeng para napi dari balik selnya begitu melihat Rasti. 

“Ayo masuk ke sana Non… he he he…” 
“Hah, saya masuk sendiri pak?” 
“Iya Non, jangan takut, aman kok.” 
Rasti meneguk ludahnya, ia menatap ke dalam lorong itu dengan ragu-ragu. Lorong itu buntu, panjangnya mungkin sekitar 15 meter dan lebarnya sekitar 2 meter. DI kanan kirinya berderet sepuluh sel. Lima di kiri dan lima di kanan. Sel Norman ada di ujung sebelah kanan. Sungguh suasana baru bagi Rasti yang lagi-lagi terkesan sangat angker baginya. Terbesit perasaan prihatin memikirkan Norman harus tinggal di sini selama 3 tahun ke depan. 

“B... Baik pak, saya masuk ya… mmm, lalu kuncinya?” 
“Nanti kami buka dari sini, pake sistem non, he he he… Udah sana, kasihan udah pada nunggu tuh di sel. Ha ha ha…” 
Rasti pun melangkah masuk dengan perasaan berdebar-debar dengan diawasi dua orang penjaga yang cengengesan. Rasti melangkah pelan dan baris sel pertama pun dilewatinya. 
Sejurus kemudian terdengar satu suara lantang. “Wuih ada yang bening-bening nih… Cakep…!” Rasti menelan ludahnya. Dadanya makin berdebar. Dia terus berjalan tak berani menoleh ke arah suara. 
“Woy, liat nih coy, jangan tidur aja lo…!” Satu suara lagi terlontar. Terdengar suara berisik dan gumaman-gumaman, lalu kemudian setelah itu suara demi suara berikutnya langsung riuh bersahut-sahutan tanpa jeda. 
“Apaan??” 
“Anjrriiittt! Ada bidadari kesasar!” 
“Duuh, siapa namanya neng? Sini dong… mampir tempat abang!” 
“Duilee mulusssnya coy!” 
“Kok bisa ada cewek cakep di sini sih? Ada yang manggil lonte ya!?”
“Duh, gue udah lama gak ngentot nih… ngentot yuk neng!”
“Suiitt suiiittt!”

Hanya dalam sekejap lorong itu langsung dipenuhi seruan seruan cabul para penjahat di sana.Tangan para penghuni sel itu memukul-mukul teralis sel mereka membuat keributan. Sebagian besar tangan-tangan kasar mereka menjulur keluar juga berusaha meraih Rasti, tentu tangan mereka tidak cukup panjang untuk dapat menjangkau Rasti yang berusaha berjalan di tengah lorong selebar2 meter itu. Perasaan Rasti benar-benar campur aduk saat ini. Ini benar-benar sensasi yang belum pernah dirasakannya sebelumnya. Dia mulai berani menoleh dan melemparkan senyum ke kanan dan kirinya, Rasti sengaja berjalan pelan melewati lorong itu. Ya, kini dia malah tebar pesona! Ah, bangganya perasaan Rasti saat itu. Naluri binalnya kembali meluap-luap. 

“Aduh neng, manisnya…” 
“Sini dong neng…!” 
Seruan seruan kasar dan cabul terus dilontarkan para penghuni sel yang mupeng itu. 
Penjaga yang mengawasinya di depan lorong tertawa-tawa melihat dan mendengar semua reaksi yang sesuai dugaan mereka ini. Benar juga, kayak binatang peliharaan yang kelaparan gara-gara seminggu tidak dikasih makan! Hua ha ha ha, mupeng mupeng deh lo! Pikir mereka yang sebenarnya juga mupeng berat dari tadi. Tapi sesuai perjanjian memang giliran mereka baru setelah Norman. Yah, tak apa, toh tetap dapat jatah. Wanita secantik Rasti memang layak diantri. Rasti sendiri kini malah makin penasaran dan terangsang. Cairan pelumas di dalam memeknya bahkan sudah mulai membasahi dinding-dinding liangnya. Tiba-tiba timbul sifat iseng dari Rasti. Setelah sampai di barisan sel ketiga, terbesit di benaknya ingin mengerjai kedua petugas itu juga. Sambil menengok menebar senyum pada napi di sel sebelah kiri, langkahnya menjauh ke arah kanan. Benar-benar terlihat seperti tidak sadar Rasti melakukannya sehingga tubuhnya makin mendekat ke sel di sebelah kanannya. Penjaga yang melihatnya jadi panik.

“Aduuh, itu non… jangan dekat-dekat…!” Serunya tertahan. Terlambat, satu tangan kasar napi di sel keempat sebelah kanan berhasil meraih tangan Rasti. Tangan itu dengan cepat menarik Rasti, “Kyaaa…!” Pekik Rasti kaget, meskipun inilah yang diinginkannya. Tubuh mulus Rasti kini menempel rapat di jeruji sel yang dingin itu. Beberapa tangan dari dalam sel langsung sigap menahan tubuh Rasti sehingga Rasti tidak bisa melepaskan diri dan lari menjauh. Jadilah di situ Rasti langsung digerayangi berama-ramai dari dalam oleh tangan-tangan lainnya, tubuhnya dicium-cium oleh penjahat di sana. “Adduuh lepasin bang… toloong…!” Ucap Rasti sambil meronta. Pakaiannya bahkan ditarik-tarik hingga sobek! Benar-benar liar! Benar-benar seperti yang dipikirkan kedua penjaga tadi. Para napi bagai hewan liar di kebun binatang yang memperebutkan makanan dari dalam kandangnya.

“Jangan bang… Aduuhh… Jangan… Kyaa… sakit dong, aahhh… jangan disobek…!” Jerit Rasti sejadi-jadinya padahal sebenarnya dia menikmati keisengannya ini. Breeettt! Breett! Gaun Rasti sobek parah di bagian dada dan pahanya. Bahkan bra mahal Rasti dibetot dengan kasar hingga putus dan satu payudara Rasti jadi terekspos bebas. Walhasil payudara yang naas itu menjadi rebutan tangan-tangan liar para napi. “Aahhh sakit bang… Jangan… Aduuhh…!” Habis sudah payudara Rasti dIremas dan dicubit-cubit dengan gemas. Putingnya ditarik sampai Rasti merasa kesakitan. 

“Anjrriitt mulus abiss!” 
“Aduuh non cantiknya!” 
“Masuk sini non, bobo sama abang!” 
Kedua penjaga itu tepuk jidat, mereka panik, buru-buru masuk dan berusaha membebaskan Rasti dari tangan-tangan ‘ganas’ para penjahat yang mupeng itu. Seluruh lorong bergemuruh ribut, bersorak, sedangkan Rasti malah berteriak girang dalam hati. Dengan tongkatnya kedua penjaga itu memukul-mukul teralis sel keras-keras. “Traang! Traang!” 

“Woi lepasin! Lepasin sekarang juga! Dasar anjing kelaperan lo pada ya!” Bentak kedua penjaga itu, seraya memukuli tangan-tangan napi yang menggerayangi dan menahan tubuh Rasti. Tidak lama tubuh Rasti benar-benar lolos dari mereka. Dengan manja Rasti menggelayut di samping penjaga. 

“Aduh, makasih pak…” Ucapnya manja. 
Glek. Kedua penjaga itu menelan ludah berkali-kali melihat kondisi Rasti sekarang yang sebelah payudaranya sudah terekspos bebas. Meski tangan Rasti berusaha menutupinya, tetap saja itu jadi pemandangan yang luar biasa menggoda bagi mereka. “I… iya, non sih gak ati-ati… udah buruan masuk situ…” Ucap salah seorang penjaga gugup sekaligus kesal. Ia langsung menuntun Rasti ke depan sel Norman. Penghuni sel Norman yang dari tadi sudah mengintip berjejer dari selnya benar-benar terlihat tidak sabaran. 

“He he he, akhirnya dateng juga nih paket spesialnya, nyantol di mana sih tadi? Buruan pak dimasukin!” Ucap salah seorang yang paling jangkung di antara mereka. Norman sendiri sok cool dengan duduk tenang menunggu di atas tempat tidurnya. Rasti pun ‘dijebloskan’ ke dalam selnya Norman. “Ha ha ha… Selamat menikmati! Jangan pake lama…!” Ucap seorang penjaga sambil mengunci pintu sel mereka sebelum kemudian pergi meninggalkan Rasti di dalam situ. “He he, ga janji ya bos? Kalo ginian sih harus diabisin pelan-pelan nih…” Balas salah seorang teman Norman. 

“Sialan belagu lo… ya udah terserah… Paling juga ga tahan lama lo.” 
“Berisik woi!” hardik penjaga ke para tahanan di sel lain yang masih saja berteriak-teriak ribut. Tentunya hardikan penjaga itu tidak cukup untuk membuat mereka diam. Tapi toh penjaga itu tidak ambil pusing lebih lanjut dengan keributan itu. ‘Teriak teriak deh lo sepuasnya… Lo pikir dengan teriak bisa ngecrot…? Ha ha ha, goblok!’ Pikir si penjaga sambil berlalu pergi.

Di dalam sel, Rasti dan teman-teman satu sel Norman kini saling mengamati. Rasti dengan canggung melihat satu persatu wajah 4 teman Norman yang jauh dari standar ganteng. Secara usia, semua terlihat lebih tua dari Norman. “Duh, anakku yang paling cakep di sini,” batin Rasti geli. Sementara teman-teman Norman balik mengamati Rasti dari kepala sampai ujung kaki dengan tatapan ‘lapar’ yang seakan menelanjangi Rasti yang memang sudah setengah telanjang. Norman bangkit dan mendekati mamanya sambil tersenyum-senyum. Norman mengecup pipi mamanya itu dengan mesra, lalu merangkulnya dari samping seraya menghadap teman-temannya yang memandangnya iri. 

“He he he… Melotot aja mata lo pada…! Sampe mau copot tuh mata… Ha ha ha….! Gimana bro? Apa gue bilang? Cantik kan ni lonte…? Kenalin nih, nyokap gue!” Tanpa tedeng aling-aling Norman memperkenalkan Rasti sebagai Mamanya sekaligus lonte. 
“I… iya Man… aduh buset dah seumur-umur gue liat cewek mulus model begini cuma di tivi-tivi…!” 
“Beneran lonte lo ini Man?” 

Norman terbahak lagi lalu memperkenalkan temannya satu-persatu. Robi, Bari, Obet, dan Dimas. “Si Obet ini yang bikin pipi Norman lebam begini Ma… udah dia ga usah dikasih jatah aja…” Selorohnya.
“Duh jangan gitu dong bro… kan cuma bercanda aja, kita sekarang kan fren… iya kan bro?” Sahut si jangkung yang disebut Obet itu sambil salah tingkah. Rasti tertawa melihatnya yang ternyata juga lebam-lebam pipinya. Selain jangkung, Obet ini juga paling sangar dan kekar. Tapi tampaknya perkelahian mereka dua arah, bukan Norman saja yang dipukuli, tapi dia juga bisa melawan dan membalas. Malah terbesit sedikit rasa bangga Rasti pada Norman. 

“Duh pakaian Mama kok sobek-sobek begini, pasti Mama nakal ya tadi… udah dibuka aja ya semuanya…” Ujar Norman. Kalimat Norman itu langsung disambut antusias oleh teman-temannya. Cukup menggelikan juga tampang-tampang mupeng mereka yang langsung penuh harap itu. Benar-benar hiburan bagi Rasti yang sudah binal kembali. Teman-teman sel Norman seakan menjadi pengganti Riko, Romi dan Jaka yang beberapa waktu ini sudah jarang main ke rumah. Bedanya, kepada Robi, Bari, Obet dan Dimas ini, tampaknya Rasti harus memberi pelayanan all in. Full ngentot. Dag dig dug, berdesir perasaan aneh yang menyenangkan di dada Rasti yang berdebar-debar, membayangkan apa yang sebentar lagi akan terjadi padanya di sel ini. 

Norman memberi kode kepada teman-temannya. Mereka lalu dengan sigap mengambil kain selimut mereka di dipannya masing-masing lalu mereka gunakan untuk menutup sekedarnya teralis sel mereka. Meski tidak mungkin bisa tertutup sempurna, tetap saja suara koor protes langsung membahana dari 2 sel di depan seberang sel mereka. “Huuu…! Anjrit lo mau ngentot! Jangan ditutup woii! Ngentot lo pada, anjing!” Begitulah makian-makian yang sangat kasar yang mewakili rasa iri para tahanan di sel lain itu. Norman dan teman-temannya tak memperdulikan suara-suara itu. Sel-sel yang bersebelahan di lorong itu masing-masing terpisah oleh sekat tembok, sementara seluruh bagian depannya full teralis besi. Artinya, aktivitas di dalam sel bisa terlihat dari luar, atau dari depannya, tapi tidak bisa terlihat dari samping. Dengan kondisi seperti ini yang paling bisa melihat aktivitas di dalam sel Norman ya sel yang berada tepat di seberangnya, dan satu sel di sebelahnya. Maka tahanan di dalam dua sel inilah yang paling ribut berteriak-teriak protes. 

“Ayo dibuka Ma… Norman udah kangen beraat nih…” Ucap Norman pada Rasti yang masih mematung. 
“Eit bro… Mmm, boleh gak gue yang telanjangin ni lonte… Boleh ya, please?” Pinta Bari.
“Terserah lo aja…” 
“Wah gue juga mau dong…” Sahut Dimas yang langsung menggerayangi pakaian Rasti. 
“Woi, serobot aja lo… Bagian gue nih!” Protes Bari. Walhasil kedua orang itu kini berebut ingin merasakan sensasi menelanjangi wanita cantik. Padahal Bari ingin membuka pakaian Rasti dengan pelan sambil menikmati, tapi gara-gara Dimas ikut-ikutan, mereka jadi berebut dan akhirnya dengan kasar melucuti pakaian Rasti. “Kyaa… Aduh pelan-pelan…” Pekik Rasti manja. Breet…! Breett..! 

“Aduuhh tu kan sobek lagi…” 
“Ha ha ha… udah lo nanti bugil aja terus, ga usah pake baju lagi!” 
“Alamaak Norman… mulusnya lonte ini! Cantiikkk broo!” 
“Sumpah baru kali ini gue bersyukur masuk penjara! Di luar gue ga pernah ketemu ginian bro! Gila sempurnanya… Gue gak sedang ngimpi kan?” 

Rasti yang kini sudah bugil total benar-benar bangga mendengar semua pujian teman-teman Norman itu. Si Dimas lalu iseng, melempar pakaian dalam Rasti ke sel seberang. “Woi, mau cawet gak lo? Nihh… Ha ha ha… BH-nya sekalian nih, ambil semua!” Lima napi di sel seberang pun meneriakinya dengan penuh rasa iri. “Duh kok dilempar ke sana sih…?” Protes Rasti manja pada Dimas yang tertawa-tawa. Dengan tangannya dia menutupi payudara dan vaginanya. Bukan karena malu, tapi karena Rasti tahu pose ini bisa makin membuat gemas laki-laki yang melihatnya. 

“Aduh Tante cantik… gapapa lah buat amal…! Ha ha ha…” Tawa Dimas yang disambut oleh tawa teman-temannya yang lain. “Sompret lo, perempuan bening begini dibilang Tante.” 
“Iya dong, ni lonte kan Mamanya teman kita… Jadi kita harus hormat, panggil Tante…”
“Iya juga ya, ha ha ha… Eh Tante cantik, omong-omong siapa sih namanya?” 
“Tuh Ma, ditanya namanya…?” Bisik Norman yang kini memeluk Rasti dari belakang dan mulai mengecupi kulit telanjang Rasti dengan pelan. Punggungnya, tengkuknya, bahunya. Rasti mulai menggelinjang dan mendesah. Teman-teman Norman mupeng berat melihatnya. “Duuh enak bener ya lo Man…” Gumam Bari menelan ludah. 

“Aahh sayaang…” Desah Rasti lagi ketika tangan Norman mulai meremas-remas payudaranya. “Ayo Ma, tu ditanya namanya siapa? Tadi kan temen-temen Norman sudah memperkenalkan diri semua…” Bisik Norman lagi menggoda Mamanya. 
“I… Iya… R… Rasti… Aahh…” 
“Oo Tante Rasti aah…” 
“Rasti ajaa… ahh sayang…” 
“Rasti ajaa ah? Hi hi hi…” 
“Ihh terseraaahh….” 
“Ha ha ha ha… Gemesin banget ni lonte!” 
“He he he, lo mau nyentuh gak? Sentuh aja nih… ga bakal pecah kok…” Tawar Norman sambil mempermainkan payudara Rasti dari belakang. Posisinya seperti menyodorkan kedua bongkah gunung salju kembar itu pada keempat temannya yang berdiri di depan Rasti. 

“He he he, duuh… emang takut pecah gue bro… bening banget soalnya…” Sahut Bari yang terlebih dulu mengangkat tangannya dan mengelus payudara Rasti pelan. Norman tertawa, “Hua ha ha… jangan khawatir bro! Anti pecah… Gini lho!” Norman meraih tangan Bari dan menggenggamkannya di dada Rasti, tangannya mengarahkan tangan Bari untuk meremas payudara mamanya. “Sshhh….” Desis Rasti merasakan remasan tangan kasar Bari.

“Seettt… kenyal dan lembuutt bro!” Ucap Bari kegirangan. Tangannya kini meremas-remas payudara Rasti dengan gemas. 
“Aduuhh aduh, pelan Bar! Nanti rusak…!” Seru Dimas, disusul dengan tawa semuanya. 
“Mana mana… gue coba? Duh lecet deh gara-gara lo Bar! He he he…” 
“Sompret lo, mana bisa? Monyong!” Tukas Bari. 
“Duuuhh lembutnya susu tante Rastiii…” Keempat teman Norman benar-benar membuat payudara Rasti jadi mainan. Seakan itu adalah karya seni luar biasa yang harus diperlakukan dengan sangat hati-hati supaya tidak cacat. Tapi itu tidak lama, makin gemas mereka pun makin kasar menggerayangi tubuh telanjang Rasti dari ujung kepala sampai kaki. Rasti menggelinjang-gelinjang dan mendesah manja merasakan sentuhan demi sentuhan yang benar-benar menaikkan libidonya itu. Apalagi mulut keempat teman Norman itu tidak hentinya mengoceh, memuji-muji kesempurnaan tubuh Rasti. 

"Maknyesss... duuh, ngimpi apasih gue semalam?"
"Perasaan gue selama ini jadi anak nakal, gak nyangka gue bisa nyicipin bidadari sorga! Ha ha ha..."
"Indaaah... ni lonte tiap hari mandi susu ya bro??"
Perasaan Rasti benar-benar melambung mendengar semua itu. Norman membalikkan badan Rasti dan melumat bibirnya. Kini tangan teman-teman Norman menggerayangi bagian belakang tubuh Rasti. Meremas-remas dan memukul pantatnya dengan gemas sambil terus saja memuji-muji keindahannya. Rasti dan Norman terus berciuman sambil berpelukan sampai beberapa saat. Benar-benar pasangan ibu dan anak itu dilanda rasa rindu yang sangat besar satu sama lainnya, ibarat sepasang kekasih yang terpisah lama. 

Kecupan ganas Rasti dan Norman menimbulkan suara decak bibir dan lidah yang bersahut-sahutan erotis. “Gila lo Man, ganas bener lo ngelumatnya, jangan dimakan Man…! Ha ha ha…!” celetuk Obet mupeng. “Aahh…” Desah Rasti merasakan bibir vaginanya dijamahi oleh teman-teman Norman. “Banjir coy…” ucap Obet, yang kemudian diikuti oleh semuanya mencolek-colek liang Rasti dengan gemas. Rasti pun jadi menggelinjang-gelinjang karenanya. “Aahh.. Auuhh…” Geliat tubuh Rasti benar-benar seksi membuat mereka makin gemas. “He he he, kayaknya ni lonte udah kepanasan… buruan Man disodok… udah kegatelan tuh!” 

Dengan sigap Norman menggendong tubuh ibunya itu dan membaringkannya di atas alas koran di lantai sel mereka. “Aahh dingiin sayang….” Desah Rasti manja. “Bentar lagi Norman bikin anget Ma…!” Ucap Norman sambil menelanjangi dirinya. Nafsu Rasti benar-benar sudah di ubun-ubun. Dia menggigit bibirnya seksi, matanya nanar menatap tubuh kekar Norman yang bertato. ‘Duh, kok tubuh Norman jadi keliatan seksi banget begini...’ pikirnya. Meski sudah berkali-kali melihatnya, tapi di tempat ini serasa berbeda. Rasti seperti melihat anaknya itu dalam sosoknya yang baru. 

“Aaauuhhh….” Rasti melenguh keras ketika Norman mulai mempermainkan vaginanya dengan lidah dan tangannya. Paha Rasti dikangkangkan untuk memberi akses selebar-lebarnya pada Norman untuk mengeksplorasi wilayah paling intim miliknya. 

Norman sudah sangat lihai dalam urusan ini. Tidak seperti Tedi dan teman-temannya yang baru diajari Rasti di malam hari ulang tahunnya, Norman sudah lama diajari Rasti bagaimana memuaskan liang kewanitaannya. Lagi-lagi Rasti seakan merasakan hal yang berbeda dari Norman. Tidak pernah dia merasakan kenikmatan sebesar ini dari vaginanya hanya dengan dioral dan dikobel-kobel dengan tangan. Rasti pun mendesah dan menggeliat sejadi-jadinya. Desahan yang tak bisa dielakkan memenuhi seluruh lorong Sektor C hingga membuat semua tahanan di 9 sel yang lain berteriak-teriak kesal menahan mupengnya. Sangat berisik hingga terdengar juga ke beberapa sektor di dekatnya. Sudah pasti penghuni sektor lain itu semua bertanya-tanya, “Ada apa di sektor C?” Parahnya, hal itu tidak dirisaukan para penjaga. Mereka malah terkekeh-kekeh saja membiarkan suasana ini. 

Begitu juga dengan Norman dan teman-temannya. Mereka lebih tidak mempedulikan lagi keributan dari sel-sel lain itu. Hanya Rasti sajalah yang was-was dan berusaha keras mengatur suaranya supaya tidak terlalu keras terdengar. Tapi menyadari hal itu, Norman malah memainkan memek Rasti dengan lebih hebat lagi. Rasti yang terengah-engah menahan suaranya jadi tidak bisa mengontrol diri. Lenguhan keras dan panjangnya tidak terelakkan lagi. “Sayaanngg… hhh… pelaan…” Pintanya dengan mata nanar dan wajah pias. “He he he, ga usah ditahan-tahan Ma… Jerit aja sepuas-puasnya, jangan khawatir…” ucap Norman terkekeh. Sementara teman-teman Norman yang mengellinginya hanya bisa memandang dan menelan ludah berkali-kali melihat Rasti yang dari tadi menggelinjang-gelinjang keenakan. Penasaran mereka sedahsyat kenikmatan semacam apa sih yang dirasakan Rasti? 

“He he, mata lo tu ya kayak mau copot aja! Pada belum pernah ngeliat memek ya?” Ujar Norman. 
“Kalo gue udah sering bro! Tapi yang seindah ini mah bau kali ini! Sumpah, ni lonte cantik banget coy!” Sahut Obet yang paling senior. “Ni yang lain nih yang masih pada perjaka!” 
“Enak aja, timbang ngentot aja mah gue udah pernah, tapi emang yang kayak beginian jauh di atas level gue! Anjrit, tadi hanya ngeliat aja hampir-hampir ngecrot gue!” Timpal Bari. 
“Ha ha ha… Lo berdua gimana?” Norman berpaling pada Dimas dan Robi. 
“Gue udah pernah punya pacar sih… Tapi yaa paling ciuman doang.” Jawab Dimas. Robi sendiri yang paling pendiam hanya tersipu-sipu malu. Dia memang tidak pernah punya pacar. Usia Robi ternyata sepantaran dengan Norman, tampangnya culun meskipun terlihat lebih tua dari Norman. Yang jelas Robi tidak nampak seperti anak nakal sama sekali. Kebetulan saja dia apes, terjebak pergaulan yang ga bener gara-gara pencarian jati diri, dan kegrebek polisi pas dia dan beberapa temennya lagi pake narkoba. Jadilah dia ada di sini bersama-sama Norman dan lainnya. Selama ini mengutuki diri dipenjara, baru hari ini dia bersyukur luar biasa sudah masuk penjara. Ya, karna kalau di luar penjara barangkali mustahil dia bisa bertemu dengan lonte secantik Rasti. Dari tadi dia berpikir ingin sekali dikasih jatah Norman menggagahi Rasti. Tapi kalaupun tidak, hanya dengan begini saja dia sudah sangat senang. 

Alangkah terperanjatnya Robi, ketika Norman menyuruh semua bergantian mengoral Rasti, dan dia dapat giliran pertama! 
“Yah, kok si culun ini duluan bro?” Protes Obet. 
“He he, protes aja lo. Dia yang belum pernah nih… Harus gue ajarin dulu. Ayo Rob…” 
“Be… beneran Man?” 
“Yaelah, iya… nih gue ajarin caranya…” 
Norman lalu seakan menjadi mentor bagi teman-temannya, menjelaskan bagian-bagian kewanitaan Rasti. Benar-benar seperti dosen di laboratorium yang menerangkan kepada para mahasiswanya, dengan Rasti sebagai obyek penelitian. Rasti sendiri tertawa-tawa geli melihat tingkah Norman. Ada sensasi kenikmatan tersendiri dalam peran ini. 

“Oo ini yang namanya klitoris…” 
“He he, iya… di sini nih pusat kenikmatan wanita, coba disentuh…” 
Rasti langsung menggelinjang ketika klitorisnya disentuh-sentuh oleh jari Robi. 
“Ha ha ha… benar kan? Keenakan nih lonte…” Ujar Norman diiringi tawa semuanya. 
“Tapi kalo gitu aja malah kasihan ni cuma bikin gatel. Sekarang coba pake mulut!” 
“Haah…?” 
“Iya… kayak gue tadi! Pake gigi sama lidah lo ya…” 
Beberapa saat kemudian dengan arahan Norman satu-persatu temannya bergiliran mengoral vagina Rasti. Tanpa diajari, Robi juga sudah bisa berinisiatif menggunakan jemarinya. Tubuh rasti benar-benar dieksplorasi oleh keempat teman Norman. Saat yang satu mengoral vagina Rasti, yang lain menggerayangi dan mengecupi tiap inchi tubuh Rasti dengan gemas. Bagian yang paling diperebutkan tentu adalah dua gunung salju kembar yang membusung di dada Rasti. 

"Ini puting susu, di sekitarnya ini areola... ni bagian sensitif juga dari tubuh wanita..."
"Ahahaha, pentil aja gue mah tahu. buset ye montoknya... ini orisinil kan bro??"
"Dijamin original coy! Asli ciptaan Tuhan! Wakakaka...! Coba deh lo isep pentilnya..."
"Buseett... ada air susunya!"
"Wa ha ha, ni lonte kerjaannya emang beranak terus coy! Mantap kan? Lo haus kan tadi? Udah nenen aja sepuasnya."
"Ga enak dong gue minum jatah bayi..."

"Kalo doyan dinikmatin aja, persediaannya melimpah kok..." Rasti ikut angkat bicara sambil tersenyum-senyum menggoda. 
"B.. Bener tante?"
"Iya dong, hi hi..."
Begitulah dengan mudah Rasti beradaptasi dengan suasana baru ini, mengakrabkan diri menghilangkan canggung melayani teman-teman baru Norman yang baru dikenalnya beberapa menit yang lalu. Permainan mereka dalam sel itu makin panas. Tidak sejengkal pun tubuh Rasti yang luput dari eksplorasi. Teman-teman Norman secara acak bergantian menyusu di dada Rasti layaknya orang kehausan di padang tandus. Jari-jari tangan mereka pun berebut masuk ke liang kenikmatan milik Rasti. Hanya satu yang saat ini eksklusif untuk Norman saja, yaitu bibir Rasti. Norman terus mengecupi bibir Mamanya itu dengan gemas. Sesekali mereka saling berpandangan dengan syahdu, lalu saling memagut bibir lagi. Benar-benar seperti dua sejoli kekasih yang kasmaran. Di sela-sela itu tubuh Rasti terus menggeliat-geliat keenakan gara-gara bagian sensitif dari tubuhnya terus mengalami rangsangan dari teman-teman Norman. Wajah Rasti yang keenakan menjadi pemandangan yang menggemaskan bagi Norman. Wajah Rasti makin merah padam ketika dipandangi Norman saat dirinya keenakan, “Aahh sayaang…”dengan manja Rasti berusaha memalingkan kepala Norman. 

“He he, kenapa Ma…?” 
“Jangan ngeliatin muka Mama terus dong…” 
“Ha ha, pura-pura malu… Mama tambah cantik kok kalo sedang sange begini…” goda Norman lalu mengecupi wajah Rasti. 
“Aahh udah aah, ayo sayang…” 
“Ayo apa Ma…?” 
“Mmmhh! Ayo ngentot…” Ujar Rasti merengut. Rupanya dia sudah tidak tahan lagi. Norman pun mengambil posisi. Disodorkan penisnya yang sudah menegang ke mulut Rasti.
“Dimandiin dulu Ma si kecil... dah lama ga mandi nih..."
"Duh si kecil kok kayaknya tambah gede aja ya...? Sini mama mandiin, sabar ya, mau masuk rumah harus mandi dulu biar bersih..."ucap Rasti yang membuat penis teman-teman Norman melampaui batas ketegangannya selama ini. Mereka pun serempak menelanjangi dirinyamasing-masing. "Anjrit kontol gue rasanya pingin meledak bro... gantian Man..." ucap Obet sambil mengocok batangnya, tak tahan melihat Norman kelojotan diblowjob. 

"Sori bro, sekarang ni lonte milik gue dulu... gue mau ngentot, lo pada minggir... ngantri yang tenang!" Ujar Norman yang menyudahi sepongan Rasti pada kontolnya. Dia pun tidak sabar menggenjot tubuh ibunya itu. 
"Maa.... Aaahhh...." erang Norman ketika mulai memasukkan centi demi centi batangnya ke liang Rasti. "Gile mama kok bisa tambah pereeet... aahh, lonte pintarrr..."
"Iyaah sayang pelan dong, kontolmu juga udah tumbuh ya... aahhhh...." Rasti melenguh panjang seiring keberhasilan Norman menjebloskan semua batangnya. Blessss... 
"Kok jadi penuh gini sayaaang..."
"Mama pasti baru libur panjang ya... ha ha haahhh... Mantapaahh...!"Seru Norman sambil mulai menggenjot. Liang Rasti yang sudah banjir sejak tadi membuat penis Norman keluar masuk dengan lancar meskipun jepitan memek Rasti sangat rapat dirasakan oleh Norman. Gesekan batang Norman yang keras bertekstur urat di seluruh permukaan dinding liang Rasti Menimbulkan rasa nikmat teramat sangat yang membuat keduanya melayang. Mulut Rasti terus meracau tak karuan seakan hilang kontrol. Dia tak peduli lagi suaranya akan terdengar oleh semua tahanan di sektor C atau bahkan oleh seantero penghuni lapas ini sekalipun! 

"Sayaaanggg... terusshh kencengin lagi... Mama kangen genjotan kontolmu sayang. Ayo pacu terus kuda binalmu ini...! Nikmaat sayaang... aahhh aaahh..."
"Iyaaa... mamaku... lonteku sayaangg... Dasar perempuan jalang! Kuda binalku.. aahhh aahhhh....! Anjiiingg loo enaakhhh!"
Teman-teman Norman hanya bisa terpana menyaksikan pemandangan dahsyat ini. Semua norma dan ketabuan tiada lagi artinya bagi mereka. Tak peduli di depan mereka adalah persetubuhan ibu dan anak alias incest, yang tentu melampaui batas cabul bahkan bagi masyarakat yang paling liberal sekalipun. Mereka tidak peduli dan seakan tersihir dengan dahsyatnya adegan yang dipertontonkan ibu dan anak ini. Tangan-tangan mereka seakan terprogram untuk mengocok penisnya masing-masing. Mulutnya pun berkali-kali menelan ludah, tapi tenggorokannya terus saja kerontang. Norman benar-benar memonopoli Rasti untuk dirinya sendiri. Tak ada adegan gangbang di sini. Mulut Rasti juga tak dibiarkannya menganggur sehingga sempat mengoral penis teman-temannya yang sedang mengantri. Tidak. Norman terus saja melumat bibir dan lidah Rasti dengan ganas sembari menggenjot memeknya dengan konstan. Rasti yang tampaknya terengah-engah kepayahan terus saja menyambut mulut norman dengan tidak kalah ganasnya. 

Dahsyat. Norman benar-benar kuat. Entah energi dari mana ataukah ini hanya perasaan Rasti saja? Peluh mereka bercucuran deras, tubuh mereka serasa mendidih. Secara sel ini memang bukanlah kamar Rasti yang ber-AC. Untunglah ada kipas angin butut yang membantu mendinginkan suasana. 

Tanpa sekalipun penis Norman terpisah dari liang vagina Rasti, selama setengah jam mereka bersetubuh dengan berganti-ganti gaya. Dari woman on top, sampai doggy style yang merupakan posisi favorit Norman. Posisi doggy ini adalah puncak persetubuhan mereka. Norman mulai kelihatan lunglai. Pada posisi ini juga Norman mulai membiarkan teman-temannya baris di depan Rasti untuk mendapatkan servis oral pada penisnya masing-masing. 

"Maah... kapan sampe lagii... haaahhh..." ucap Norman kepayahan. Tiga kali sudah dia memberi Rasti orgasme, dia berniat klimaks bebarengan dengan orgasme keempat Rasti.
"Mmmpphh... Sedikit lagiii sayaaang... ayo semangaat, kita bareng yaahh..."
"Iyaa maah... ahh.. haaahh... gilak!"
"Kamu bisa sayaaaang..." Rasti ikut membantu memajumundurkan pinggulnya dengan cepat. 
"Norman ga tahan lagiii.... mau keluarrr..."
"Mama jugaaa... ayo bareengg..."
"Lonteee... jangan lama lamaahhh...!"
Rasti menegakkan badannya dengan cepat. Menekankan pinggulnya ke belakang bersamaan dengan Norman menekankan badannya ke depan seiring dengan dia merasakan kedutan dahsyat di liang vagina ibunya itu. Mereka merapatkan badannya serapat-rapatnya, dan Norman pun memeluk tubuh Rasti dari belakang seerat-eratnya. Rasti mendongakkan kepala dengan mata terpejam. Tubuhnya mulai kelojotan dengan hebat lagi, dan kali ini bebarengan dengan Norman yang menggigit-gigit gemas pundak dan tengkuknya yang berpeluh keringat.

"Aaaaaaahhhhhh.......!"Mereka orgasme bersamaan. Benar-benar dahsyat pemandangan ini di mata teman-teman Norman, seakan mereka bisa merasakannya pula. Dan memang begitu bagi Robi yang terrnyata ikut orgasme hanya dengan melihat saja. Dia ngecrot sejadi-jadinya, sampai pejunya menyemprot jauh membasahi perut ramping Rasti. 

"Hua ha ha... udah ngecrot aja lo!" Ejek teman-temannya yang lain. Robi sendiri hanya tersipu tanpa menjawab. Persetan, pikirnya. Yang tadi itu benar-benar nikmat. 
Norman dan Rasti sendiri tidak memperhatikan hal itu. Mereka sibuk meresapi sisa-sisa orgasmenya sampai titik terakhir. Liang Rasti masih berkedut-kedut, tubuhnya masih menggeliat-geliat. Engahan napas keduanya belum juga reda.
"Hhh... Lonteku, sayangku, Norman titip benih ya... tolong lahirin anak Norman..." Bisik Norman sambil mengecupi tengkuk dan belakang telinga Rasti sehingga mamanya itu kegelian dan mendesah-desah manja. Rasti membalikkan tubuhnya. Plop... akhirnya penis Norman terpisah juga dari vagina Rasti. Akibatnya liang yang dipenuhi cairan cinta, empat kali cairannya sendiri dan satu cairannya Norman, semuanya merembes keluar dan turun membasahi pahanya. Rasti dan Norman pun saling berpagutan bibir lagi. "Iya sayang, air manimu banyak banget keluarnya, semoga kali ini satu sel spermamu ada yang berhasil membuahi sel telur mama ya...?" Bisik Rasti. Norman jadi makin gemas melumat bibir ibunya itu. 

Setelah beberapa saat, Norman melepaskan tubuh Rasti, dan dia pun beringsut merebahkan diri di kasurnya kecapekan. Sisa-sisa engahan napasnya masih terdengar sesekali. 
Bagaimana dengan Rasti? Meski sama capeknya, belum waktu baginya untuk istirahat, karna Obet, Dimas dan Bari dengan sigap menahan tubuhnya dan mengelilinginya. Robi yang tadi sudah ngecrot duluan kiniduduk sambil mengocok penisnya yang sudah layu, berharap bisa tegak lagi. 

"He he he.. sekarang giliran kami manis..." Ucap Obet yang memimpin. Ia membelai-belai rambut dan pipi Rastiyang masih dibasahi keringat, lalu mengecupi bibir Rasti yang pasrah saja. Rasti melirik Norman yangkini sedang menenggak segelas air putihdi samping kasurnya. Lalu tanpa sedikitpun menoleh pada Rasti, Norman langsung kembali berbaring dan memejamkan matanya mencoba beristirahat tidur. Melihat sikap Norman ini, terbesit kembali pertanyaan yang muncul malam itu, sesaat sebelum Rasti digangbang 9 teman Norman sebagai kemenangan judi.Bagaimanapun, Rasti hanya bisa menghela napas. Kini dia harus konsentrasi memenuhi 'tugasnya'.Sebagai lonte, stamina Rasti jauh melebihi Norman. Bukan masalah berarti baginya jika masih harus melayani teman-temanNorman sekaligus. Bahkan di hari 'kembali'nya Rasti sebagai ibu binal ini, Rasti pun bersikap pro-aktif, bukannya pasif sebagaimana saat dia digangbang 9 teman Norman terakhir itu. Dia balas ciuman Obet dengan bergairah. Tangannya juga aktif menggerayangi penis Obetdan yang lainnya. Dalam hitungan detik Rasti sudah duduk berlutut mengoral penis mereka bertiga, membuat mulut-mulut mereka meracau keenakan tak karuan. Kata-kata tidak senonoh pun terus dilontarkan untuk Rasti.

"Aah... Mama Rasti, mulutnya jodoh banget nih ama kontol gue!"
"Lonte pintar... sepongannya ajiibb... anjirrr!"
Disekolahin di mana sih mulutnya kok pinter banget.. Emang lontee top... aahhh...!"
Sejenak Rasti berhenti dan menoleh pada Robi. "Kamu kok diam di situ? Ayo sinii..." senyum Rasti membuat Robi blingsatan. Sayang sekali penisnya masih saja lunglai. 

"Dia udah ngecrot duluan tadi, lo fokus aja ke kontol-kontol kita. Ha ha ha...!"
Tapi Rasti tidak mempedulikan kata-kata itu, dia beranjak dan menarik tangan Robi. "Sini serahin sama mama Rasti." Ucapnya sambil mengedipkan mata. Tanpa sempat Robi berkata-kata karna salah tingkah, Rasti sudah mulai mentreatment penis Robi sedemikian rupa. Bibir, lidah dan gigi serinya semua bekerja.Bahkan tangannya yang tampak bergerak random, sebenarnya dengan lihai memberi sentuhan-sentuhan pada titik-titik tertentu yang sensitif pada tubuh Robi. "Duh ni kontol tadi bener-bener dikuras ya? Kering begini. Hi hi hi..."Goda Rasti. Kini Rasti benar-benar unjuk keahliannya sebagai lonte. Dia terus beraksi, dan.. Robi mulai mendesah dan mengerang keenakan, pelan tapi pasti, penisnya mulai menegang kembali. "Aaahhh mama Rasti lonteee.. enak banget..!" Desah Robi takjub. 
"Woew.. tegang lagi! Kerja bagus, ga malu-maluin sebagai lonte! Ha ha ha!"
"Sialan, tau gini tadi gue crot-in juga ni lonte, nyesel gue..." ucap Dimas iri melihat Robi yang cengar-cengir aja.

Rasti sendiri tersenyum puas dengan hasil kerjanya. Dia mengerling genit kepada Obet, Bari, dan Dimas. Dengan jari telunjuknya ia memberi kode pada mereka untuk kembali merapat. Tak perlu disuruh dua kali mereka semua langsung berebut berdiri di depan Rasti. Sambil tertawa menggoda, Rasti menangkap 2 penis dengan tangannya dan dikocok pelan. "Hi hi hi... Ga usah berebut dong, semua dapat jatah kok." Ucapnya. Rasti lalu kembali beraksi. Seakan rakus iamencaplok satu demi satu penis-penis yang disodorkan padanya. Pelayanan Rasti sungguh luar biasa, all out. Rasti sendiri memang merasa ada kerinduan tersendiri dimana dia kembali dikelilingi para hidung belang yang menjadikannya sebagai obyek seksual. Peran yang selama beberapa minggu terakhir ini hilang dalam kehidupannya kini kembali harus dia mainkan. Saking excitednya Rasti, membuat keempat teman Norman itu kelojotan minta ampun. Hanya dengan oral seks saja rasanya sudah begitu 'tersiksa'. 

"Aahhh ngilu kontol gue... anjiirr... udah... aahh gue mau keluaaarr... jangan...!" Obet yang saat ini sedang dihisap, mendesah-desah tak karuan. Rasanya seperti dilolosi tulangnya, dia berontak demi merasakan orgasmenya sudah sampai ujung. Tapi Rasti tak mau melepaskannya. Obet kelojotan pasrah, dia tak mau ngecrot duluan, tapi benar-benar tak berdaya. Namun sungguh di luar perkiraannya, berkali-kali dia merasa pejunya sudah di ujung siap menyembur, tapi dengan kehebatan jurus Rasti, orgasme itu tak kunjung tiba. Seakan mau meledak penisnya dia rasakan. Ngilu luar biasa sekaligus nikmat yang tak pernah dia rasakan sebelumnya. 

"Gila ni lonte... Ganas abis! Pokoknya gue harus ngentotin memek lo! Anjirr hampir keluar gue tadi..."

"Hi hi hi, tapi ga keluar kan? Iya dong, mama Rasti kan juga maunya dientotin... awas lho kalo keluar duluan?" Goda Rasti binal. Di permainan berikutnya, Rasti bahkan menyuruh keempat anak itu meludahi mulutnya. Sungguh binal! Dengan antusias mereka pun menyumbangkan ludahnya satu-satu di mulut Rasti sambil tertawa-tawa."Entotin mulut mama dulu ya sebelum ke memek, yuuk..." pinta Rasti kemudian.

"Buset, ni lonte benar-benar pecun abis... Haus kontol! Makan nih!" Lagi-lagi Obet yang paling cepet menanggapi Rasti. Bukan dia yang paling nafsu, karena semuanya juga sama nafsunya, tapi Obetlah yang paling berani dan tidak ragu sama sekali untuk memperlakukan Rasti sebagai obyek pemuasnya. Sementara yang lain lebih banyak terpana dan terheran-heran dengan keliaran Rasti, seakan tak percaya hal ini benar-benar mereka alami, beda halnya dengan si Obet yang sebelum dipenjara memang sudah biasa main pelacur. Bedanya, Rasti benar-benar jauh di atas levelnya selama ini.

Lagi-lagi Dimas, Robi dan Bari dibuat tercengang dengan pemandangan yang mereka saksikan selanjutnya. Rasti dientot mulutnya dengan kasar oleh Obet. Adegan yang biasanya hanya mereka saksikan di film bokep kini tersaji live di depan mata mereka! Dan sikap Rasti sungguh luar biasa. Selama ini mereka mengira aksi mouthfuck ini tidak mengenakkan bagi pihak wanita. Apa yang mereka lihat di film bokep hanya akting belaka. Tapi kali ini mereka menyaksikan sendiri yang nyata. Rasti bahkan terlihat lebih buas dan rakus ketimbang bintang film bokep yang pernah mereka lihat. Memang tampaknya Rasti kepayahan di awal. Obet terlihat mendominasi. Kepala Rasti dipegangi sementara Obet memajumundurkan pinggulnya dengan cepat menyodok-nyodokkan penisnya di mulut Rasti. Sampai penuh dari ujung hingga pangkal penisnya menyeruak masuk memenuhi rongga mulut Rasti sampai kerongkongannya tanpa ampun. 
"Aaaahhh mulut loo enaakhhh!" Erang Obet keras. Hunjaman penisnya keluar masuk di mulut Rasti menimbulkan suara kecipak keras yang kostan. Air liur Rasti keluar membanjir. Tidak perlu waktu lama bagi Rasti untuk mengimbangi gerakan Obet. Mulutnya dengan cepat menyesuaikan diri sehingga mengambil alih kekuasaan atas penis Obet. Lagi-lagi Obet merasakan ngilu luar biasa. Tulang rahang Rasti kuat luar biasa, lidah dan pipinya mengempot dan menyedot-nyedot penis Obet, giginya mengatup seakan hendak menggigitnya. "Anjirr, empotan lu supeerrr... arrghh... ga nahann..." Obet makin mengerang dan menggeliat-geliat tak karuan. Dia memundurkan badannya, mencoba melepaskan diri. Plop.. begitu bunyi penisnya yang keluar dari cengeraman mulut Rasti. Air liur Rasti yang kental membasahi seluruh batangnya, ada gelembung-gelembung udara menghiasinya, dan masih teruntai air liur itu tak terputus seakan membentuk jembatan antara ujung penis Obet dan mulut Rasti. Erotis! 

"Aaahhh..." Rasti mengambil napas panjang, dan... hap! Dengan sigap mulutnya kembali mencaplok penis Obet. Sluurrrppp! Ia kembali melancarkan jurus empotan, hisapan dan gigitan mautnya. "Ohh tidaakk... aaahh ampunn mama!" Desah Obet memohon. Dia berusaha memundurkan badannya lagi. Plop..! Haap! Ploop..! Hap! Tiap batang penisnya keluar, mulut Rasti langsung memburu dan mencaploknya kembali. Padahal tiap Obet menarik penisnya keluar, sekujur batangnya harus mengalami gesekan dengan gigi seri Rasti yang mengatup rapat. Ini menimbulkan rasa ngilu yang luar biasa. Tubuh Obet bergetar hebat, sampai untuk kesekian kalinya lututnya benar-benar lemas dan tak mampu menopang tubuhnya. Obet jatuh terduduk ke belakang, dan Rasti terus memburunya tanpa ampun.

Rasti merangkak naik ke tubuh Obet dan mendorongnya hingga terbaring di lantai. Tangannya menahan tubuh Obet supaya tidak bisa bangkit, dan... hap! Sluurrrppp... mulutnya langsung mencaplok penis Obet yang berdiri bebas tanpa pertahanan, lalu menghisapnya sekuat tenaga. Seketika Obet menggelinjang-gelinjang lagi tak berdaya. "Ampuunn mamaaa...aahhhh... ngentot lo perek...!"
"Hi hi hi... payah ah kamu... baru gini aja.. Nyerah nih? Padahal keenakan kan?" Ucap Rasti geli melihat Obet yang kelojotan. 

"Ampuun mamaa.. enak banget, Sumpah... haahh haahh... Tapi gue ga kuat. Gilaa... Gue pingin ngentot aja please..." sahut Obet terengah-engah. Sambil tersenyum penuh kemenangan, Rasti merangkak naik lagi, lalu menempatkan selangkangannya tepat di atas penis Obet. Tangannya memegang penis Obet, nengarahkannya tepat pada liangnya. "Siaap...?" Goda Rasti mengerling. Obet langsung mengangguk cepat. Berdebar-debar tidak sabar merasakan penisnya menjelajahi liang kenikmatan milik Rasti. Dengan satu gerakan lambat, Rasti pun mulai menurunkan pinggulnya menduduki penis Obet yang berdiri tegak, dan blesss... sedikit demi sedikit penis itu amblas menyeruak ke dalam vaginanya. "Aaa... ahhhh..." desah lirih keduanya seiring dengan proses menyatunya tubuh mereka. Sampai Rasti terduduk sempurna, penis Obet telah masuk mentok hingga pangkalnya. Seluruh batang penisnya hilang ditelan liang vagina Rasti yang tanpa digerakkan liang itu sudah seperti memijit-mijit batang kemaluannya itu. Obet terbelalak dan mengerang tertahan saking nikmatnya dia rasakan. "Ayo dong digoyang, kamu dulu yang jadi nahkoda ya...?" Kerling Rasti, lalu sambil tetap menduduki penis Obet, dia menjulurkan kedua kakinya ke depan di atas tubuh Obet hingga kedua telapak kakinya menyentuh wajah Obet, seperti menginjaknya. Lalu kedua tangannya ke belakang bertumpu pada lutut Obet. Benar-benar posisi woman on top yang baru bagi Obet dan yang lainnya, dan yang ini jauh lebih menggairahkan. Setelah posisinya nyaman, Rasti kemudian menggoyang-goyangkan badannya dan mengusap-usap wajah Obet dengan kedua telapak kakinya. "Ayoo Obet sayaang..." desahnya menuntut Obet segera bergerak. Tapi sungguh Obet sebenarnya sudah terkapar lemas. Dengan sisa tenaganya Obet berusaha menggerakkan pinggulnya naik turun. Rasti yang melihatnya kepayahan juga membantu memajumundurkan pinggulnya di atas tubuh Obet. Dengan kombinasi gerakan keduanya ini sungguh maksimal kenikmatan yang ditimbulkan dari gesekan kedua kelamin mereka. Lenguh desah keduanya pun kembali bersahut-sahutan. Sungguh Obet belum pernah merasakan seks sedahsyat ini. Dia benar-benar tidak mengira akan sepayah ini. Dia menyerah pasrah. Hanya dengan satu gaya ini, tidak sampai lima menit gelombang orgasmenya kembali muncul, dan kali ini Rasti tidak menghadangnya. Begitu dia merasakan penis Obet berkedut-kedut di dalam vaginanya, Rasti malah makin cepat menggoyangkan badannya sampai Obet menggeleng-gelengkan kepala saking nikmatnya. Sesaat sebelum penis Obet muncrat, dengan sigap Rasti berdiri dan membiarkan sperma Obet meledak-ledak. Bagai letusan gunung api yang memuntahkan laharnya, sperma Obet membuncah keluar hingga jatuh menetes-netes dan meleleh di atas tubuhnya sendiri. "Oooooohhhh...." Obet melenguh panjang dan mengejang sepanjang orgasme terhebat yang pernah dia rasakan seumur hidupnya ini. Rasti sendiri belum merasakan orgasme sama sekali dari permainannya dengan Obet. 

Tanpa menghiraukan Obet yang sedang terengah-engah meresapi sisa-sisa orgasmenya itu, Rasti berdiri dan menarik tubuh siapapun yang ada di dekatnya. Kebetulan Dimas yang beruntung dengan tepat berada di samping Rasti. Tapi dia agak kaget juga ditarik langsung oleh Rasti, karna sebenarnya dia, Bari dan Robi sedang terpana menyaksikan Obet yang kelojotan orgasme. Mereka menelan ludah membayangkan kenikmatan macam apa yang sedang dialami senior mereka itu? Kini Dimas yang tak sempat mengucapkan apa-apa langsung dicumbu oleh Rasti dengan ganas. Mereka pun saling berpelukan dan berciuman bibir dengan panas. Dimas pun ingin menunjukkan sedikit keagresifan pada Rasti. Dia tidak ingin kalah dan takluk dengan mudahnya seperti Obet. Dimas melangkah mendesak Rasti ke arah pintu teralis selnya. Rasti pun membiarkan tubuhnya didesak hingga punggungnya menempel di teralis yang ditutupi dengan selimut sekedarnya itu. 

"Kamu siapa...?" Tanya Rasti mencoba mengingat-ingat. 

"D...Dimas Tante..." Jawab Dimas yang bagaimanapun juga tergagap menghadapi pesona Rasti. 

"Hi hi hi, panggil Mama aja ya... Mama Rasti..." ucap Rasti tersenyum menggoda sambil mengecupi bibir Dimas. 

"I.. Iya Mama..."

"Kamu lanjutin tugas kak Obet yang belum tuntas ya... nyodokin memek mama pake kontolmu... Mau ya? Siap kan?"

"I.. Iya ma... s.. siap!"

Gemas sekali Rasti melihat Dimas yang terus tergagap. Dikecupinya lagi bibir Dimas, mereka pun kembali berpagutan sesaat, sebelum kemudian Rasti membalikkan badannya. Rasti menungging menghadap pintu teralis dan membelakangi Dimas. Tangannya bertumpu pada teralis di depannya, lalu dia menoleh ke belakang memberi kode pada Dimas untuk segera mulai menusuknya. Dimas pun mengambil posisi di belakang Rasti. Penisnya diarahkan tepat di belahan vagina Rasti yang basah merekah. Kepala penisnya digesek-gesekkan sebentar ke belahan itu, jantungnya berdebar keras dan tangannya agak gemetaran ketika perlahan menusukkan penisnya ke dalam vagina Rasti. "Mamaa...ahhhh...."

"Iya sayang, masukin semuanya.. begitu...uhh..."

Begitu seluruh batang penisnya masuk tak tersisa, Dimas tidak langsung menggenjot Rasti. Dia terpana menyaksikan batangnya yang amblas ke dalam liang idaman semua pria itu. Dengan posisinya sekarang pemandangan itu jelas terlihat, ditambah dengan indahnya bongkahan pantat Rasti yang bulat kencang, kulit punggungnya yang mulus bersih tanpa cela dan pinggangnya yang ramping. Betapa keindahan yang luar biasa, dan kini semua itu ada di depannya, di dalam genggamannya, dan dia yang menguasainya! Tak ada bosan Dimas memandanginya. Kedua tangannya lalu membelai-belai punggung Rasti, meresapi kelembutannya, lalu beralih memegangi pinggang Rasti. Benar-benar dengan begini, seakan tubuh Rasti itu dalam kekuasaannya kini.

"Ayo Dimas... kok bengong... Mama gatel nih, jangan ditusuk aja... Digenjot dong?" Desah Rasti. 

"I.. iya tan... eh, ma... tubuh Mama indah banget... sempurna sekali. Dimas suka..."

"He he, ya udah dinikmati aja sepuasnya, semua milik kamu sekarang... bebas mau kamu apain aja... yuk..."

"Baik ma..." sahut Dimas cepat. Ia menarik penisnya keluar lalu menusukkannya lagi sampai penuh, mengeluarkannya lagi dan menusukkannya lagi. Tapi semua itu dia lakukan dengan pelan karna dia masih menikmati pemandangan keluar masuk penisnya itu dari liang vagina Rasti. Meski gemas, Rasti tersenyum dan membiarkan saja ulah Dimas itu. Dia bahkan menegakkan badannya dan menoleh, menatap Dimas syahdu dengan bibir merekah. Dimas tanggap dan menyambut bibir Rasti. Mereka saling mengecup bibir dan saling memandang mesra. Sementara itu secara otomatis gerakan keluar masuk penis Dimas terus bertambah cepat. Pada akhirnya Dimas menggenjot Rasti dengan kecepatan maksimal. "Uooohhh... yeesss....!"

"Iyyaaahh Dimas... terus begituu.. mama enaakh.. ahhh..."

"Iyyaa maa... aahhh... Dimas jugaa..."

Rasti memberi kebebasan pada Dimas untuk mengatur tempo genjotannya. Meski ingin ikut bergerak, ia menahan diri. Dibiarkannya Dimas memegang kendali. Plok plok plok! Suara benturan paha Dimas dan pantat Rasti nyaring terdengar konstan. Dimas benar-benar memaksimalkan tenaganya, akibatnya bisa diduga, dia tidak tahan lama. Gelombang orgasmenya dirasakan makin mendekat. Tapi Dimas cuek saja dengan terus menggenjot Rasti. 

"Dipelanin dulu sayaangg... aahh... nanti cepet keluar..."

"He he hee... hh.. hh, mama tenang ajaa.. hh..." jawab Dimas. Ia menoleh pada Bari dan Robi yang menunggu sambil mengocok penisnya pelan. 

"Ambil alih bro...!" Ujar Dimas. Bari maju duluan. "Siap bro...!" Sahutnya. 

"Aaarrhhh...!" Erang Dimas mengakhiri genjotannya sebelum orgasmenya sampai. Dengan cepat Bari menggantikan posisinya dan, blesss.... penis Bari melesak masuk dengan mudah ke dalam vagina Rasti yang memang sudah sangat licin. Tanpa pemanasan Bari langsung menggenjot Rasti dengan kecepatan penuh. "Aahhhh shiiit... kayaknya mudah banget tadi, licin masuknya... tapi pas udah di dalem nyengkeram juga ni memeek... aahh... enaakkhh..." Penis Bari memang sedikit lebih gemuk dari penisnya Dimas, tapi itu juga yang membuat dia tidak tahan lebih lama. Baru tiga menit dia sudah memberi kode pada Robi untuk mengambil alih. "Aaarhh... Ayo Rob, cepeett...!" Bari mundur dan Robi segera mengambil alih. Sama seperti Bari, Robi langsung menggenjot dengan kekuatan maksimal. "Aaahh.. hh... Curang kalian yaa.. main keroyokan. Hi hi hi..." Ucap Rasti girang karena memeknya jadi terasa enak sekali digenjot dengan kencang tanpa menurun temponya dan tanpa jeda sama sekali. "Aaahhh anak-anak mama hebaatt.... aaaaassshhh...." pada giliran Robi ini Rasti mencapai orgasmenya. Sssrrrrr..... Tubuh Rasti bergetar hebat, memeknya berkedut-kedut kencang menimbulkan sensasi tersendiri dirasakan oleh penis Robi yang sedang menggenjotnya. "Aaasshhh... maah..." Robi mengerang pelan merasakan penisnya seperti diremas-remas oleh liang Rasti. Hampir-hampir dia ikut mengalami orgasme, untunglah Dimas menangkap gelagat itu dan segera menariknya. "Gantian cepat...!" Ujar Dimas yang langsung menusukkan penisnya lagi begitu Robi mundur. "Aaaihhh... sayaaang.... aaahhhh..." Rasti mendesah panjang karena di tengah-tengah orgasmenya memeknya sudah langsung digilir penis lain yang langsung menggenjotnya dengan kencang lagi. "Yeesssshh...." Adegan ini terus berlangsung sampai tiga putaran kemudian tanpa merubah posisi sama sekali. Dimas-Bari-Robi terus bergiliran dengan urutan yang tertib. Rasti cukup kewalahan juga menghadapi gempuran tiga orang dewasa tanggung ini, tapi dalam hatinya sungguh Rasti berteriak girang. Dia sangat puas sejauh ini meski dia masih sanggup bermain lebih lama dan meraih orgasme lebih banyak lagi. Tiba-tiba timbul ide untuk membuat permainan ini lebih menarik lagi. 'Aah kenapa tak terpikir dari tadi?' Ucapnya dalam hati. Tangannya menarik semua selimut yang digunakan untuk menutupi teralis sel. Sreet... dengan satu tarikan pelan saja selimut itu lolos berjatuhan ke bawah. Kini adegan dalam sel itu terekspos tanpa penghalang lagi. Para tahanan di dua sel di depan sel mereka pun langsung berteriak-teriak lagi dengan riuh bersahut-sahutan. 

"Wooowww anjiing lo pada! Asuu.. ngentot dari tadi!"

"Bangsaaattt cakep lontenyaa anjiiir lo ya!"

"Bagi lontenya woiii! Kampret lo padaa!"

Rasti tersenyum-senyum saja sambil melambai kepada para napi mupeng itu. 
"Duuuhh mama kok selimutnya dilepas...?" Ucap Robi yang malu dan merasa risih. 
"Hi hi hi.. biarin sayaang...hh... hhh... gapapaaa..hh!" Jawab Rasti sambil mendesah-desah. 

"Ha ha haaa.. bener Rob biarin aja.. ha ha Haah... Ternyata lonte kita bener-bener jalang tulen..." timpal Bari senang. 

"Wa ha Haah hhh... pengen lo pada...?? Hahaahhh... anjing! ngentot enak bangeettt hhih niih niihh...!" Seru Dimas yang ikut excited, dia menghentak-hentakkan tubuhnya dengan keras ke tubuh Rasti. "Aaaaahhh...aaahh... Dimaassshh...!" Rasti menjerit-jerit keenakan. Tubuhnya yang mengkilap bersimbah peluh tergoncang-goncang hebat. "Ha Haah... mupeng mupeng deh lo.. asssshhh memek ni lonte bener-bener legit coyy... coli aja deh lo pada! Haahh haahh...!" Seru Dimas lagi.

"Woi anjing lo... awas ya lo ntar...!"

"Kampret loo.. asuuu! Gue perkosa mak lo anjing!"

Begitulah mereka saling bersahut-sahutan panas dan penuh kata-kata kotor dan kasar. Para tahanan di sel lain yang tidak bisa melihat langsung pun ikut berteriak-teriak penasaran. Seluruh sektor C itu pun kembali ribut lebih dari yang sebelumnya. Ulah Rasti benar-benar membuat heboh. Bukannya kapok, Rasti malah ikut-ikutan bersuara meramaikan suasana. 

"Baang aduuh baang... aashhh.. tolongin bang, Rasti diperkosa... hi hi hi... Rasti mau ke sel abang aja... tolong bangg.. jemput Rastii... aahhh.. haahh... hhh!" Sungguh binal! 

"Oiii neeng sini aja sama abang... abang bikin anget!"

"Ha ha ha, diperkosa apaan keenakan begitu! Dasar mama lonteee... cabuull...!" Seru Bari yang kini mengambil alih posisi Dimas menggenjot Rasti. 
"Aaaarrhhh abaaang... Rasti keluar baang... aassshh enaakhhh!" Jerit Rasti yang keenakan, saat itu juga dia mencapai orgasmenya lagi. Crraastt... Bari melepaskan penisnya supaya cairan orgasme Rasti yang mengalir deras muncrat keluar. 
"Ha ha ha.. liat ni lonte ngompol ngompol... banjirr..." Seru Bari memamerkan keberhasilannya membuat Rasti orgasme. 

Saking ributnya sektor itu, para penjaga pun berdatangan gusar. Kali ini datang empat orang, dua yang tadi mengantar Rasti ditemani dua penjaga lain. 
'Traang... traang..!' Penjaga itu memukul-mukulkan tongkatnya di sepanjang pintu teralis yang mereka lewati. "Diaam semua...! Brisik aja dari tadi woii!" Bentak salah seorang. Sudah bisa diduga, bukannya tenang, suasana malah makin riuh. Beberapa napi malah meneriaki keempat penjaga itu dengan sebutan 'germo'. Begitu tiba di depan sel Norman, dua penjaga yang tadi mengantar Rasti tertawa terbahak-bahak, sementara dua penjaga lainnya melongo sambil menahan konak. 

"Aahh... hhh... halo paakh... ketemu lagi. Hi hi hi..." Rasti malah menyapa dengan wajah tanpa dosa. 

"Ha ha ha... Jadi ini toh biang keributannya?! Kampret lo pada ga tahu malu! Kalo ngentot ditutup dong!" Ujar penjaga itu.

"Cerewet lo pak! Suka-suka kita dong ah, lonte lonte kita kok..." Cibir Dimas. 

"Iya nih bapak-bapak ngapain sih udah datang? Ga sqabar nunggu giliran ya? He he... udah bapak jadi penonton dulu, duduk yang manis ya... ha ha ha..." sambung Bari. 

"Kampret lo kecil-kecil ngentot! Ngelunjak ya... mau gue seret tu lonte keluar sekarang juga hah? Biar kentang lo pada!" Hardik salah seorang penjaga. 

"Yeee...maunya nyerobot! Jangan dong pak, kita nuntasin dulu dong..."

"Makanya cepetan! Gaya lo...! Eh itu si culun bisa ngentot juga ya? Ha ha ha....!" Ujar penjaga itu lagi. Yang dia maksud adalah Robi yang sekarang sedang gilirannya menggenjot Rasti. Robi sendiri yang disinggung tidak merespon sedikit pun. Dia konsentrasi pada genjotannya yang hampir membawanya ke puncak orgasme.

"Woi... sudah mau keluar lagi ya lo... cepetan gantian!" Tukas Dimas. 

"Gak bro... hh... hh... gue dah lemes bangeth.. mau ngecrot ajaa.. aarrhh..." jawab Robi tersengal-sengal lalu mengerang, tubuhnya menegang. Orgasmenya telah sampai. Memang entah sudah putaran keberapa sekarang, tak satupun di antara mereka yang menghitungnya. Pantaslah Robi sudah cukup kepayahan saat ini. "Aasshhh...." desisnya buru-buru mencabut penisnya yang mulai muncrat. Entah kesadaran darimana, tanpa disuruh Robi mencabut penisnya saat klimaks. Padahal sebagaimana biasanya, Rasti sendiri tidak keberatan sama sekali jika mereka crot di dalamnya. Sebagian peju Robi muncrat membasahi kaki jenjang Rasti sebelum dia didorong menjauh oleh Dimas. "Jangan kotorin lagi dong lonte kita, masih ada giliran gue sama Bari nih...!" Tukasnya yang tanpa banyak bicara lagi langsung menghunjamkan batang penisnya ke vagina Rasti. Dimas menggenjot Rasti dengan hebat. Dia sendiri sebenarnya tidak kalah capek, dan berniat mengakhirinya di putaran ini juga. Dengan sisa tenaganya, dia mencoba menggenjot Rasti lebih kencang lagi sampai-sampai Rasti yang juga sudah lemas terdorong ke depan hingga badannya tertekan ke pintu teralis di depannya. Agaknya ini memang akan jadi putaran terakhir bagi mereka di permainan kali ini. Persetubuhan keduanya makin panas dengan ditonton oleh para napi lain di dua sel di depannya, ditambah empat orang penjaga. Rasti dan Dimas seakan berpacu lenguh dan desah, tubuhnya sudah sangat basah oleh keringat sehingga kulit putihnya terlihat begitu mengkilap. Dimas terus mendesak Rasti sehingga tubuh Rasti makin tertekan ke depan, badannya makin tegak dan menempel di teralis dan tak ayal lagi kedua bongkah payudaranya menyembul keluar di sela-sela teralis sel itu. Hal ini tentu mengundang para penjaga untuk menjamahnya. "Wuiih... buah dada coy... ranum...!"

"Dingin dingin empuk! Ha ha ha..."

Begitu komentar-komentar mereka sambil menggerayangi payudara Rasti. Awalnya hanya mengelus-elus, berubah jadi remasan gemas, sampai mencubit-cubit dan menarik-narik puting susu Rasti. Salah seorang penjaga bahkan mencumbu payudara Rasti dengan mulutnya. Menjilat-jilat, menggigit dan mengenyot putingnya. Sungguh rangsangan luar biasa sehingga Rasti menggeliat-geliat sambil mendesah tak karuan. Saat Bari menggantikan posisi Dimas kemudian, Rasti mengalami orgasme lagi. Ia melenguh panjang dan menggelinjang-gelinjang. Kakinya sangat lemas sehingga dia merosot terduduk. Rasti membalikkan badannya dan bersandar di teralis dengan napas terengah-engah. Dia mendapati di hadapannya Bari dan Dimas mengocok penisnya yang diacungkan ke wajahnya. 

"Mamaa...aahhhh..hh...!" Keduanya mengerang bersamaan dan muncratlah sudah sperma yang sudah mereka tahan tahan sedari tadi. Tak luput tubuh, rambut, wajah cantik Rasti mereka hujani dengan peju. Bukan hanya pasrah, Rasti bahkan membuka mulut dan menjulurkan lidahnya untuk menampung sisa-sisa peju mereka dan menelannya. Belum cukup begitu, Rasti beranjak dan mengulum kedua penis mereka yang masih tegang. Menjilati dan menghisap-hisapnya seolah memastikan tak satu tetespun peju tersisa. Perlakuan Rasti sungguh memanjakan Dimas dan Bari yang kemudian terduduk lemas. Rasti juga kembali menghempaskan tubuhnya bersandar di pintu teralis. Mereka saling berpandangan sambil tersenyum-senyum puas. Kecantikan Rasti dengan keadaannya kini malah mempunyai pesonanya sendiri. Rambut acak-acakan, tubuh telanjang yang bersimbah peluh, mata sayu dan wajah yang masih dilelehi sisa-sisa peju. Menggemaskan dan menggairahkan! Tak bosan keempat teman Norman memuas-muaskan diri memandanginya. Apa yang baru mereka alami barusan bagaikan mimpi. Permainan mereka kali ini telah reda. Capai luar biasa membuat mereka tidak banyak mengoceh seperti sebelumnya. Mereka beristirahat menata napas sambil terus memandangi wajah Rasti yang tersipu dibuatnya. Tapi itu justru menambah kegemasan mereka pada kecantikan ibu muda itu. 

Ceklek! Suara kunci pintu teralis itu terbuka. Dua penjaga melangkah masuk sambil terkekeh. Rasti menoleh dan tersenyum kecut. Dia sadar, belum waktu baginya untuk istirahat. 

"He he, Aduh dasar anak-anak nakal, cantik-cantik kok sampe dibuat belepotan begini..."

"Ayuk non, ikut kami, mandi yang bersih di ruangan kami... biar wangi lagi, seger lagi... habis itu kami buat belepotan lagi deh... he he he..."

Tanpa menunggu, Rasti langsung ditarik untuk keluar dari sel itu. 

"Eeh... sebentar pak.. pakaian saya..." tahan Rasti.

"Alaa... pakaian udah sobek gitu... udah non bugil aja dulu... he he, cantikan ga pake baju kok.. ha ha ha... ayuk!

Rasti tidak berdaya selain mengikuti penjaga itu. Dia digelandang keluar sel tanpa sempat pamit pada Norman. 'Ah lagian Norman juga malah cuek tidur.' Pikirnya. Entah Norman beneran tidur atau cuma pura-pura? Sempat juga terlintas pertanyaan itu di benak Rasti yang benar-benar gemas pada anaknya yang satu itu. 

"Mama Rasti main sini lagi ya besok...?" Ucap Dimas melepas kepergian Rasti. 

"Mama mama pala lo...! Ha ha ha!" Cibir penjaga yang kemudian menggelandang Rasti pergi. Bagi wanita normal, keadaan Rasti itu sungguh sedang dilecehkan dan dipermalukan. Betapa tidak, ia digelandang dalam keadaan telanjang bulat dan berlumuran sperma. Rasti jadi bagaikan super model cabul dengan sepanjang lorong sektor C sebagai catwalknya. Sepanjang perjalanan yang terasa lambat itu, seruan-seruan kotor dan cabul terus ditujukan kepadanya tanpa henti. Toh Rasti bukannya malu tapi malah menikmatinya. Dia berjalan sambil menebar senyum dan lambaian tangan ke arah para napi mupeng di kanan dan kirinya itu. Geleng-geleng kepala keempat penjaga itu dibuatnya.

Keluar dari sektor C, ada tiga lagi penjaga yang menyambutnya dengan antusias dan terbelalak dengan keadaannya itu. Rasti tidak melihat penjaga lain lagi selain tujuh orang yang kini mengawalnya menuju sebuah ruangan yang tidak jauh dari sektor C itu. Ruangan itu seperti kamar peristirahatan yang cukup nyaman dan luas. Salah seorang penjaga menyodorinya handuk dan.menunjuk ke sebuah pintu di sudut ruangan. Agaknya itu pintu kamar mandi. "Mandi dulu sana, yang bersih ya... sampo, sabun, semua ada di situ...!" Suruh penjaga itu. Rasti pun menurutinya tanpa banyak bertanya. Di dalam kamar mandi yang untungnya cukup bersih itu, barulah Rasti sempat beristirahat sekaligus menyegarkan diri. Saat itu pula dia sempat berpikir dan bertanya-tanya tentang beberapa hal. Utamanya tentang kondisi lapas ini yang cukup parah. Rasti membayangkan kondisi para napi setelah bebas nanti, apakah akan lebih baik? Jelas sekali tidak ada pembinaan yang baik di sini. Para penjaganya juga parah begitu. Apakah cuma tujuh orang saja ataukah masih banyak lagi? Pastilah masih banyak lagi... tapi apakah semua kelakuannya sama? Tujuh orang itu, Siapa dan apa jabatan mereka itu? Seragamnya tampak sama semua di mata Rasti. Tak ada tanda yang menunjukkan perbedaan pangkat. Tapi pastilah salah satu ada yang jabatannya cukup penting sehingga bisa meloloskan dia di dalam lapas ini. Atau apakah kejadian seperti ini sudah lazim belaka? Bagaimana kalau tidak? Apakah ini ilegal? Bagaimana kalau ketahuan? Akankah dia berada dalam kesulitan? Bagaimana pula nasib Norman kalau begitu? Pertanyaan demi pertanyaan terus menggelayuti pikiran Rasti. Tapi lagi-lagi Rasti tidak mau terlalu jauh memusingkannya. Dia konsentrasi mempersiapkan diri untuk tugas selanjutnya. Disetubuhi Norman plus digangbang empat temannya, bagi Rasti itu belum seberapa. Melayani tujuh orang penjaga lagi bukan masalah besar baginya. Dia bertekad untuk menikmati hari ini, tapi tidak mau terlalu lama juga karena dia harus segera pulang kembali pada anak-anaknya di rumah. Bagai seorang pendekar, Rasti mengumpulkan tenaga dan mempersiapkan jurus-jurus mautuntuk 'pertarungan' selanjutnya yang akan segera dia hadapi. Dia harus mengalahkan tujuh orang penjaga itu. Setelah mengambil napas panjang, Rasti pun keluar dari kamar mandi dengan tubuh berlilitkan handuk. Di dalam ruangan dia mendapati ketujuh orang penjaga itu sudah siap tempur. Pakaian mereka sudah entah kemana, hanya tinggal celana dalam saja yang melekat di tubuh mereka. Rasti tertawa geli melihatnya, dia pun menebar senyum manisnya sebagai jurus pertama ke arah mereka semua. Jurus Rasti itu disambut dengan senyum mesum dan tatapan mata lapar nan liar siap memangsa dirinya. Rasti tidak gentar. "Cuma kalian saja nih? Mana yang lainnya?" Ucapnya menggoda. Ketujuh penjaga itu saling berpandangan dan terkekeh-kekeh. "Ha ha ha... Nantang ni lonte! Bener-bener jalang... Kali ini cukup kami bertujuh saja manis... besok-besok lo juga pasti bakal ketemu semua kontol dalam penjara ini...!" Sahut salah seorang dari penjaga itu. Rasti tersenyum senang. Memang dia sudah mengira hari ini bukan yang pertama dan terakhir. Akan ada hari-hari selanjutnya untuk Rasti sepanjang Norman mendekam di dalam penjara ini. Rasti pun merinding sekaligus antusias membayangkan kemungkinan besar dirinya akan melayani seluruh napi di sektor C kelak. Bahkan tidak tertutup kemungkinan juga sektor-sektor yang lainnya. Tapi dia tak boleh larut dalam bayangannya itu, karena kini dia sedang berhadapan dengan tujuh orang penjaga yang riil. 

"Hi hi hi, ya sudah kalau begitu, yuk dimulai...?" Ucap Rasti, dengan satu gerakan kecil yang menggoda, loloslah ikatan handuk yang menutupi tubuhnya, jatuh ke bawah kakinya meninggalkan tubuhnya kembali polos tanpa sehelai benang pun. 

*****

Sore itu Tedi sedang ngajarin Cindy main game di tabletnya ketika mendengar suara taksi dan gerbang dibuka. “Mama pulang…” Ucapnya. Tedi menengok jam dinding yang menunjukkan pukul empat sore. Tadi siang dia meninggalkan Mamanya di penjara sekitar pukul 11 lebih, atau menjelang tengah hari. ‘Empat jam lebih…’ Pikir Tedi gusar. Dia dan Cindy pun segera menghambur ke pintu depan menyambut Rasti. 

Tedi agak surprise menjumpai mamanya pulang mengenakan seragam napi yang kedodoran, tapi hanya atasannya saja, sedang bawahannya tidak mengenakan apa-apa. Karna ukurannya besar, bagian bawah pakaian itu pun menutupi sampai separuh lebih paha atas Rasti. Tedi menatap Mamanya yang tersenyum-senyum itu dengan gemas. Meskipun surprise, tapi Tedi sih tidak heran Mamanya pulang dengan kondisi seperti ini. Pikirannya pun sempat melayang membayangkan apa yang kira-kira terjadi di penjara. "Mama boros baju banget sih? Yang dipake tadi itu kan baju mahal... kalo main jangan kasar-kasar dong..." Gerutu Tedi menyindir Mamanya. Rasti tertawa saja mendengar sindiran putra sulungnya itu. Dipeluk dan dikecupinya pipi Tedi dengan gemas, lalu diangkat dan digendongnya Cindy. “Anak Mama yang paling cantiik… Gak nakal kan hari ini?” Ucap Rasti sambil mengecupinya juga. 

“Gak nakal dong… Cindy lagi diajari kak Tedi main game…” 
“Iih kok diajari main game sih? Diajarin bikin PR kek…” Sahut Rasti berlagak manyun. 

“Mmm… Kalo bikin PR sama Mama aja ah.” 
“Oo gitu… Boleh deh. Habis Mama mandi ya…?” 
“Emang Mama bisa bantuin Cindy bikin PR? Hi hi hi…” Goda Tedi. 

“Iihh menghina kamu… kalo PRnya Cindy aja sih Mama masih bisa, wee…!” Sahut Rasti gemas. Saking gemasnya Rasti kemudian terpikir untuk balas menggoda Tedi. “Pelajaran SMP sampe kelas dua Mama masih bisa… Mama kan doyan ngentotnya baru pas udah SMP…!” Ucapnya vulgar. Benar saja, Tedi langsung geregetan mendengar kalimat terakhir Mamanya itu. Apalagi ketika kemudian ketiganya sudah duduk di sofa, Cindy menimpali kalimat Rasti tadi dengan polosnya, “Kalo udah SMP Cindy mau ngentot juga…” Rasti dan Tedi jelas terperangah dengan ucapan Cindy ini. Entah Cindy sudah mengerti betul apa yang dimaksud ngentot atau tidak, karena sebelum ini biasanya dia menyebut aktivitas Mamanya itu dengan sebutan ‘himpit-himpitan’. Tedi tertawa, sementara Rasti malah salah tingkah. “Eeh ga boleh ya Cindy sayang…” Ujarnya gusar sambil melirik kesal ke Tedi yang malah makin terbahak. 

“Lho katanya Mama SMP suka ngentot…?” 
“Ii.. Iya sayang, mmm… jaman dulu memang… Duuhh, gimana ya… pokoknya jangan ya Cindy, nanti kalo sudah SMA aja deh boleh kalo mau himpit-himpitan…” 
“SMA itu kapan Ma…?” 

“Mmm… SMA itu… nih kalo kamu udah kayak kak Tedi, kakak udah mau masuk SMA nih…” Rasti menunjuk ke arah Tedi yang badannya sudah tinggi sedikit melebihinya. Cindy pun mengamati kakaknya itu sambil mengerutkan wajah. Mungkin dia membandingkan tubuhnya yang masih mungil dengan tubuh Tedi. “Masih lama dong sampe Cindy bisa segede kakak.” Gumamnya. 

“Iya, bentar lagi kakak udah boleh ngentot karna sudah SMA…” Ucap Tedi tersenyum-senyum penuh arti. 

“Ih, emangnya kamu mau ngentot sama siapa? Kamu kan jomblo… belum laku, wee… Makanya cari pacar dong.” Goda Rasti. 

“Sama Mama dong… Tedi males pacaran.” 
“Emangnya Mama bolehin?” Goda Rasti lagi. 
“Kalo ga boleh ya Tedi perkosa…!” Sahut Tedi gemas. 

“Ha ha ha… main perkosa aja kamu… Masak Mama sendiri diperkosa? Jangan dong, iya deh nanti Mama bolehin…” Kerling Rasti genit. 

“Udah ah, cepetan Mama mandi, trus buang bajunya ini… sebel Tedi ngeliatnya…” Gerutu Tedi sambil menarik bagian bawah pakaian tahanan yang dipakai Rasti sehingga paha Mamanya itu tersingkap. “Aahh kamu nih…” Ucap Rasti manja dan langsung menyingkirkan tangan Tedi. Wajahnya pun tersipu sambil tangannya menutupkan pakaiannya ke pahanya lagi. Ya, sesaat tadi Tedi bisa melihat dan menyadari bahwa Rasti tidak mengenakan apapun lagi di balik pakaian tahanan itu. Tedi langsung panas dingin dibuatnya. Apalagi kemudian Rasti tersenyum-senyum memandangnya. “Jangan dibuang dong, kan nambah koleksi kostum Mama… Lagian seksi kan?” Ucapnya. 

“Emang ini baju apa sih Ma? Mama dari mana sih?” Tanya Cindy nimbrung. Saat itu beberapa anak Rasti yang lain yang baru sadar akan kepulangan Mamanya itu langsung ikut mendekat dan menggelayut manja pada Rasti. 

“Hi hi hi… ini baju… bajunya penjahat sayang… Mama baru masuk penjara nih. Hi hi hi…” Jawab Rasti sambil mengusap-usap rambut Bram yang memeluknya dari samping. Gemasnya Tedi melihat entengnya Rasti mengucapkan itu seakan itu hal yang biasa saja sebagai bahan bercanda. 

“Masuk penjara? Sama abang Norman dong? Abang mana?” 
“Abang masih dipenjara sayang. Kalo Mama sudah boleh keluar…” 
“Kok bisa?” 

“Ya kan soalnya Mama bisa ngalahin para penjaga di sana, jadinya Mama bisa keluar deh. He he he… Eh, tapi nanti mungkin Mama mau masuk lagi deh… Hi hi hi…” 

Duh, gemasnya Tedi mendengar celotehan Rasti di depan adik-adiknya itu. Dasar Rasti, ibu binal! Rasti masih tertawa-tawa saja mendengar pertanyaan-pertanyaan anaknya yang lain yang lugu-lugu. Rasti melirik Tedi, dan menyadari putra sulungnya itu manyun. 

“Hi hi hi… udah ah sayaang, tanya-tanya terus. Tuh kak Tedi manyun tuh. Mama mau mandi dulu yaa… Eh, kalian juga belum pada mandi ya? Mau mandi sama Mama di kamar mandi Mama?” 

“Mauuu…” Jawab adik-adik Tedi kompak. 

“He he he, ya udah ayuuk…” Ajak Rasti beranjak dan menggandeng anak-anaknya itu masuk ke kamarnya. 

Tedi menghela napas melihat Mamanya berlalu. Pakaian tahanan yang dikenakan Rasti sudah agak berantakan gara-gara ditarik-tarik dan dimain-mainin oleh adik-adiknya tadi. Bagian bawahnya yang tadi cukup menutupi separuh pahanya kini jadi ada yang tertekuk dan terlipat ke atas sehingga lebih mengekspos sebagian besar paha mulusnya. Dari belakang, lenggak-lenggok langkah Rasti jadi lebih indah dipandang, ‘Yah, memang seksi sih…’ Pikir Tedi dengan jantung yang berdegup kencang. ‘Aduh, ngaceng lagi…! sial.’ Gerutunya pada diri sendiri, lalu dia pun ngeloyor masuk ke kamarnya. 

‘Percakapan keluarga’ singkat barusan membuat Tedi agak lega. Dia sama sekali tidak kesal atau marah pada Mamanya itu. Kini dia malah merasa senang melihat Mamanya sudah lebih ceria lagi daripada hari-hari sebelumnya. Meskipun keceriaan itu harus didapat dengan kembali menjadi ibu binal yang doyan dientot. 

***

Pada akhirnya kegiatan itu berlangsung terus. Setiap beberapa hari sekali Rasti mengunjungi Norman ke penjara, kadang sendiri, tapi lebih sering minta diantar jemput oleh Tedi. Aktivitas Rasti di penjara pun makin hari makin lama. Yang awalnya hanya empat jam itu, kini lebih sering Rasti diantar pagi dan dijemput sore. Pikiran Tedi selama itu terus dibuat gemas dan penasaran. Pernah Tedi berpikir untuk meminta Mamanya merekam aktivitasnya di penjara untuk kemudian ditontonnya di rumah, tapi tentu pemikirannya ini tidak pernah diutarakannya pada Rasti. Ya, dia malu. Tedi sebenarnya memang jarang bisa bicara vulgar dengan Mamanya. Pada dasarnya Tedi memang pemalu. Sekedar minta diceritain pun Tedi enggan, betapapun dia penasaran setengah mati. Tidak seperti teman-temannya yang mesum. Ya, siapa lagi kalau bukan Riko, Romi dan Jaka yang akhir-akhir ini mulai sering main ke rumahnya lagi. 

“Jadi Tante sekarang ngelonte di penjara?” 
“Kalo ngentot di dalam sel gitu?”
“Dibayar nggak Tante?” 
“Tante nggak takut?” 
“Digangbang nggak Tante sama tahanan-tahanan di situ?” 

Begitulah mereka selalu memberondong Rasti dengan pertanyaan-pertanyaan mesum setiap kali mereka datang. Kini keadaannya memang sudah agak normal sehingga mereka sudah berani ngecengin Rasti lagi di rumahnya. 

Pertama kali mereka tahu aktivitas Rasti selama ini, baru mendengar pengakuan Rasti yang bolak-balik penjara demi terus bisa melayani nafsu binatang Norman itu saja langsung membuat mereka ngaceng sejadi-jadinya. 

“Duuh tante, kok bisa ya…? Cerita dong…” Ucap Riko ngenes sambil mengelus selangkangannya. 

“Tapi belum diceritain aja gue udah ngaceng pol nih ngebayanginnya…” Timpal Jaka. 

Rasti tertawa-tawa saja melihat reaksi teman-teman Tedi ini. “Ya kalo sudah ngaceng, ga perlu Tante ceritain dong… langsung coli aja sana… Hi hi hi…” Ucapnya. 

“Yaa Tante, tetep diceritain dong…” Tuntut mereka kompak. Dan dari mulut Rasti pun kembali meluncur cerita-cerita mesum pengantar tidur favorit mereka. 

Dalam penjara itu, Norman malah menjadi semacam germo yang menjual Rasti pada para napi di sana. Jadi, Rasti memang melonte di penjara dan dibayar seperti biasanya. Hanya saja, harganya memang jauh di bawah standarnya selama ini. Ya, di dalam penjara ini Norman menetapkan tarif flat 300 ribu per-orang sekali ngentot dengan Rasti. Itu pun sudah di luar dugaan Rasti bahwa ternyata banyak juga tahanan remaja yang kaya sehingga bisa membayar harga itu. Bahkan ada beberapa remaja yang menjadi tahanan VIP karna mereka anak dari seorang pejabat, kebanyakan kasusnya adalah peredaran narkoba. Tahanan VIP ini bisa membayar lebih dan mendapatkan waktu extra dan ruangan yang lebih privat bersama Rasti, sebagaimana Norman dan para penjaga. Ya, para penjaga mendapat jatah khusus dan gratis dari Norman sebagai kompensasi kelancaran bisnisnya itu. Sekali-kali Obet pun mendapat jatah, sehingga dengan begitu dia pun menjadi semacam bodyguardnya Norman. Dengan itu kedudukan Norman menjadi terpandang dalam penjara itu dan tidak ada yang berani macam-macam dengannya. 

Rasti menjalani semuanya itu dengan senang-senang saja. Kembali melacur seperti sudah menjadi panggilan jiwanya. Dan ada sensasi tersendiri ketika melakukannya di dalam penjara dengan anaknya sendiri yang memanajerinya. Rasti bahkan mencoba lebih bersenang-senang lagi dengan sedikit bertualang di dalam penjara, memuaskan naluri eksibisonisnya. 

Berawal dari kejadian saat awal Rasti memasuki lorong Sektor C untuk menuju sel Norman. Para penjaga mendapat ide untuk ngiklanin Rasti. Kondisi sektor-sektor lain di dalam penjara ini kurang lebih sama dengan sektor C, yaitu berupa lorong-lorong yang di kanan-kirinya berderet sel-sel. Seperti yang terjadi di awal datangnya Rasti, lorong Sektor C bagaikan sebuah panggung catwalk yang sempurna untuk beraksi. Para penjaga pun melontarkan ide menyuruh Rasti berjalan berlenggak-lenggok dengan pakaian seksi di lorong semua sektor yang ada. Tentu tidak sekaligus, tapi satu sektor dalam satu waktu, karna Rasti harus memberi pertunjukan yang cukup buat para napi menonton dari dalam selnya. Ide ini disambut antusias Norman dengan syarat dia bisa ikut menonton bersama para penjaga. 

Saat Rasti menceritakan ini, wajah Riko, Romi dan Jaka benar-benar sudah seperti kepiting rebus saking ngacengnya. Mereka sudah berada dalam puncak konaknya hanya dengan membayangkan cerita itu. Rasti tertawa geli melihat ekspresi mereka. “Aduuh, sana dibuang dulu… ntar meledak lho kontolnya… Hi hi hi…”

“Trus Tante mau?” 
“Tante nggak malu? Nggak takut…?” 
Begitu mereka menghiraukan saran Rasti, dan langsung nyerocos dengan pertanyaan-pertanyaan. Lagi-lagi Rasti tertawa geli, “Yakin mau dilanjut ceritanya…?” 

“Yakin Tanteee…!” Jawab mereka kompak. 

Rasti memang awalnya menolak ide itu, saat Norman dan para penjaga menyampaikannya. Dengan membayangkannya saja dia sudah merasa malu dan grogi. Entah kenapa, Norman yang biasa memaksakan kehendaknya, kali ini dia membiarkan saja penolakan Rasti. Para penjaga pun kasak kusuk kecewa, dan Rasti pun merasa lega. Tapi diam-diam saat Rasti sudah pulang, Norman mengatakan pada para penjaga bahwa dia yakin Mamanya akan berubah pikiran dan meminta sendiri untuk merealisasikan ide itu. 

Benar saja, di rumah malah Rasti terus kepikiran akan ide itu. Panas dingin dia membayangkan dirinya jika harus melakukan hal itu. Duh, kenapa ditolak? Ya jelas karena malu dong! Tapi lonte masa malu-malu? Kalo gitu diterima aja? Tapi lebih malu lagi kalo gitu, karena udah terlanjur menolak! Halah, masa lonte gengsi? Begitulah seperti biasa Rasti seperti berdialog dengan dirinya sendiri, dan berakhir dengan keputusan bahwa dia akan melakukannya! 

“Mm.. Mama mau coba, tapi di satu sektor dulu ya…? Kalo Mama ga suka, ga usah dilanjut…” Ucap Rasti dengan wajah memerah di hadapan Norman dan beberapa penjaga. Menggemaskan sekali paras Rasti saat itu. Tak tahan, Rasti pun digilir sebelum ide itu direalisasikan. 

“Duuh digilir ya…?” Gumam Romi gemas memotong cerita Rasti. 
“Iya, Tante digilir dulu sama para penjaga. Tapi setelah digilir malah jadi enak kok, hi hi hi… Maksudnya Tante jadi rileks… Lega. Sebelumnya kan Tante tegang banget tuh…?” 

“Habis digilir, langsung pertunjukannya?” 
“Hi hi, ya nggak dong, mandi dulu, dandan lagi… Biar cantik.” 
“Ih... Iya, maksudnya setelah itu…” 

Ya, akhirnya pertunjukan pun dimulai. Dimulai dari sektor paling akhir, yaitu Sektor G. Di sektor ini hanya ada enam sel, berderet tiga-tiga di kanan kirinya. Jadi, lorong sektor yang berisi tahanan-tahanan dewasa ini tidak terlalu panjang. Tidak seperti di awal dulu, kali ini karena sudah dalam perencanaan, dan memang tujuannya adalah ‘iklan lonte’, salah seorang penjaga memberi pengaantar sebelum Rasti beraksi. Penjaga itu masuk dan berteriak minta perhatian, lalu dia mengumumkan dengan gaya bahasanya yang khas, berlagak seperti presenter sebuah acara tapi penuh kata-kata kotor dan kasar. Rasti agak geli melihat tingkah penjaga ini. 

“Ayo beri tepuk tangannya yang meriah buat lonte kita… Ha ha ha… Si seksi Rasti! Ha ha ha… Siapa yang tahan ga coli gue kasih hadiah rokok selinting. Ha ha ha…! Buruan masuk non…!” 

Meski tadinya sudah agak rileks, tiba-tiba rasa grogi itu muncul kembali. Tapi Rasti melawannya. “Ah Demam panggung biasa,” pikirnya sambil melangkah masuk bersamaan dengan keluarnya si penjaga yang memberi pengantar tadi. Saat itu Rasti lagi-lagi memakai seragam tahanan sama seperti ketika ia pulang di hari pertamanya di penjara ini. Seragam yang dia pakai sama kedodoran dan hanya atasannya saja, sama persis seperti waktu itu. Hanya saja, bedanya kali ini dia mengenakan dalaman bra dan celana dalam hitam yang kontras dengan kulitnya yang putih. Saat ini dalamannya tidak terlihat, karna Rasti mengancingkan semua kancing seragam tahanan itu dengan rapat dari atas sampai bawah. Tepuk tangan langsung bergemuruh, siul-siulan dan seruan-seruan cabul bersahut-sahutan keras menyambutnya. Rasti pun mulai menebar senyum dan pesonanya sambil berjalan pelan menyusuri lorong yang tidak panjang itu, sampai dia berbalik, berjalan lagi dan berhenti di tengah lorong. Rasti berputar-putar di situ dengan gerakan pelan memandangi sekelilingnya dengan ekspresi seperti perawan yang terjebak di sarang penyamun. Menggemaskan sekali. Para penjaga di luar lorong pun tepuk tangan dan berteriak menyemangatinya. “Ayoo non, digoyang…! Ha ha ha…!” Lalu mereka pun menyetel musik dangdut koplo. 

Rasti tersenyum kecut mendengar iringan musik norak yang tidak dia duga itu. “Iih inisiatif siapa sih?” Pikir Rasti gemas. Biar lonte begitu, selera musik Rasti cukup tinggi. Bahkan selama ini dia sangat suka ngentot di kamarnya dengan diiringi Beethoven. Tapi Rasti tak bisa protes. Tak urung, walau kagok, dia pun mulai menggoyangkan badannya mencoba mengikuti irama yang tidak dia nikmati itu. Suara sorak sorai yang meneriakinya pun makin menjadi. 

“Goyang non…!” 
“Buka dong…?” 
Dengan satu provokasi itu, sejurus kemudian teriakan para tahanan itu pun menjadi kompak. Mereka satu suara. 

“Iyaa! Ayoo dibuka…!” 

“Buka…! Buka…! Buka…! Buka…! Buka…!” Teriak mereka sambil memukuli teralis sel masing-masing. Gaduh sekali. Rasti pun pura-pura bimbang. Dia berputar dan memandangi sekelilingnya dengan mata sayu. Dengan tangannya dia memegang kerah baju yang dia pakai. Tanpa mengucap sepatah kata pun. dengan bahasa tubuh, tatapan mata dan ekspresinya, Rasti seolah bertanya “Apanya yang dibuka bang? Baju ini?” 

“Iyaaa… ituu, dibuka dong…” Sahut para tahanan yang bisa membaca bahasa tubuh Rasti. Masih dengan bahasa tubuhnya, Rasti menggeleng-gelengkan kepala dengan ekspresi manja yang sangat menggemaskan. Tangannya didekapkan di dadanya berlagak ketakutan. 

“Anjiing… lontee, ayo dibuka…?” 
“Buka…! Buka…!” 

Beberapa tahanan sudah tidak tahan dan tanpa malu-malu mengeluarkan penis dari balik celananya masing-masing dan mengocoknya. Bahkan satu dua orang malah mengacung-ngacungkan penisnya keluar dari teralis selnya. “Emut non…!” serunya cabul. Rasti pura-pura terkesiap melihat kontol-kontol besar berurat itu. Ya, meski besar, tapi bukan yang terbesar yang pernah dijumpai Rasti. Sudah sering Rasti melihat yang segitu, tapi demi menyenangkan mereka, dengan ekspresi super imutnya, Rasti pun pura-pura takut dengan kontol itu. 

“Ha ha ha… Jangan takut non… Ini udah jinak, nggak nggigit!” Sahut si pemilik penis girang dan kege-eran. Kini makin bertambah tahanan yang melakukan hal serupa. Rasti pun kembali berjalan pelan menyusuri lorong itu dan mulai berani mendekat dengan hati-hati. Dia merunduk dan mengulurkan tangannya mencoba memegang salah satu penis berukuran besar yang mengacung keluar. Tapi Rasti tidak menggenggamnya melain hanya menyentuhnya sedikit lalu dengan cepat menarik tangannya dan ditempelkan ke pipinya. Ekspresinya sungguh imut. Seperti anak kecil yang sedang memainkan binatang peliharaan, satu sisi gemas ingin memegangnya tapi di sisi lain takut digigit. Itulah gaya yang sedang dimainkan Rasti sekarang. Siapa yang tidak gemas dengan tingkah Rasti ini? Ya semuanya gemas bukan kepalang, bahkan kini hampir tidak ada penis yang tidak keluar dari sarangnya. Rasti melakukan itu di penis-penis lain, sehingga semua tahanan itu pun belingsatan berebut mengacungkan penisnya keluar dari teralis sel mereka. 

Setelah beberapa penis diperlakukan begitu, Rasti sedikit menaikkan levelnya. Dengan jari telunjuknya, dia menyentul-nyentul salah satu kepala penis sehingga penis itu mengangguk-angguk, dan Rasti pun mendongakkan wajahnya dengan tertawa-tawa antusias memandang si pemilik penis yang mupeng berat. Rasti melakukannya beberapa kali di penis-penis yang berbeda. Desahan-desahan gemas pun bersahut-sahutan, mereka menuntut Rasti segera memuaskan penis mereka. Tapi tentu Rasti hanya berniat menggoda. Rasti kini malah berdiri menjauh lagi sambil tersenyum-senyum menggoda. Desahan kecewa dan merasa kentang spontan dilontar-lontarkan padanya dengan bahasa yang kotor. Rasti tersenyum geli, lalu dengan imut Rasti menempelkan jari telunjuknya di depan bibirnya, memberi isyarat seperti seorang guru yang menyuruh murid-muridnya diam dan tenang. Tentu bukannya tenang, para napi itu malah semakin ribut. Masih berlagak seperti seorang guru yang kewalahan menangani murid-muridnya yang terus gaduh, Rasti pura-pura menggeleng-geleng dengan wajah kesal, lalu bergaya seperti orang yang sedang berpikir dan kemudian mendapatkan ide. 

Sambil melirik-lirik sekitarnya dengan binal, Rasti mulai menyentuhkan jari-jari tangannya ke kancing bajunya yang paling atas, dan meloloskannya. Trik ini agaknya berhasil, karna spontan suara gaduh itu hilang. Para napi itu terdiam, menelan ludah dan menahan napasnya. Dengan gerak lambat Rasti tangan Rasti turun meloloskan kancing kedua dan ketiganya. Dengan tiga kancing atas yang terbuka, itu sudah cukup untuk memperlihatkan belahan dada Rasti dan bra hitam yang dikenakannya. Walhasil, tenangnya para napi itu hanya bertahan sampai di sini saja, karena mulut-mulut mereka mulai mengoceh ribut lagi. Bukannya mencoba menenangkan mereka lagi, Rasti malah tertawa senang. Tangan kanannya menggenggam dan digerak-gerakkan seperti sedang onani dengan cepat. Ya, Rasti malah memberi isyarat mereka untuk mengocok penisnya lebih kencang lagi. Bagaikan robot yang sudah terprogram, itulah yang langsung dilakukan para napi itu. Mereka seakan berlomba mengocok penisnya masing-masing sambil melenguh-lenguh keras dan terus melontarkan kata-kata kotor. Rasti tertawa senang, dan seolah memberi hadiah karena perintahnya telah dipatuhi, Rasti pun menggoyang-goyangkan badannya dan menari dengan erotis. Ia tidak peduli apakah gerakannya sesuai dengan irama musik atau tidak. 

Rasti memberi suguhan tari striptease pada mereka. Pelan tapi pasti, satu-persatu sisa kancing bajunya dilolosi hingga terbuka semuanya. Sorak sorai dan tepuk tangan pun langsung membahana meski Rasti tidak langsung melepas bajunya itu. Bahkan Rasti menggoda dengan membuka tutupkan baju itu di tubuhnya. Hal itu dilakukannya berkali-kali sambil terus bergoyang menari. Benar-benar panas pertunjukan yang ditampilkannya. Rasti melakukannya dengan spontan. DIa membiarkannya mengalir alami, tanpa tahu sejauh mana dia akan melakukan adegan ini. Begitu menggairahkannya aksi Rasti sampai-sampai beberapa napi sudah ada yang mencapai orgasmenya di titik ini. Mereka melenguh keras sambil mengecrotkan spermanya keluar dari teralis sel mereka. Ada satu yang menyembur cukup kuat sampai-sampai mendarat di kaki Rasti dan meleleh membasahinya. Si pemilik peju pun tertawa kegirangan, puas dan bangga. “Terima tuh peju gua buat DP… Ha ha ha… Lonte, gue mau ngentotin lo abis ini…!” Serunya. “Kyaa..” Rasti memekik kecil dan menggeliat manja merasakan kaki nya disembur dengan sperma. Para napi pun menyorakinya gemas. Berlagak kesal, sambil memasang wajah ngambek nan imut, Rasti membuka bajunya, benar-benar melepaskan baju itu dari tubuhnya yang kini hanya berbalut bra dan celana dalam hitam yang mini dan sangat seksi. Sorak sorai pun makin membahana, ditambah dengan siulan-siulan dan suara teralis besi yang dipukul-pukul berisik. Semua itu sungguh membuat dada Rasti berdebar-debar merasakan sensasi yang luar biasa dari aksi eksibisionisnya ini. Rasti lalu menggunakan bajunya itu untuk membersihkan kakinya yang dibasahi peju tadi. “Ha ha ha… body lotion neng… biar makin kinclong kulitnya!” Seru seorang napi menertawai tingkah Rasti. 

Setelah kakinya bersih, Rasti melirik binal pada para napi di dalam sel yang berada tepat di depannya. Lirikan Rasti itu sukses membuat mereka blingsatan, apalagi kemudian Rasti melangkah mendekat. “Hayo, siapa tadi yang udah mejuhin Rasti?” Ucapnya genit sambil mengacungkan bajunya. Salah seorang napi menyambut baju itu dan menciuminya tanpa jijik. Memang hanya sedikit peju yang dilap dengan baju itu. Lebih banyak bau harum tubuh Rasti yang melekat di situ, sehingga baju itu pun diperebutkan di dalam sel. Rasti tertawa geli melihatnya. “Janji ya mau ngentotin Rasti nanti?” Ucapnya binal. 

“Hua ha ha… pasti non, lo bakal gue entotin sampai dengkul gue keropos! Ha ha ha…” 
“Janji?” Ucap Rasti lagi sambil dengan seksinya dia menungging membelakangi sel itu. Rasti menyodorkan pantatnya pada napi-napi beruntung itu. 

‘Plaak…!’ 
“Aahhh….” Desah Rasti pelan merasakan pantatnya ditabok dengan gemas oleh salah seorang napi. Bukannya menjauh, Rasti terus berada dalam posisinya ini memberi kesempatan pada napi lain untuk melakukan hal yang sama. 

‘Plaak… plak… plaaak…’ Dengan gemas para napi beruntung itu pun berebut menampar-nampar bongkahan mulus pantat Rasti yang membulat sempurna itu. Tiap tamparan yang mendarat di pantatnya, Rasti memekik-mekik dan mendesah pelan, membuat para napi itu tambah gemas. Setelah dirasa cukup, Rasti pun melangkah menjauh lagi ke tengah-tengah lorong sambil tersenyum-senyum ditengah sorak sorai dan seruan-seruan dari para napi di sel lain yang memintanya mendekati sel mereka juga. Dengan genit Rasti tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya menggoda mereka. Sorakan mereka makin jadi. Tapi di sinilah Rasti merasa pertunjukannya harus diakhiri. Ya, jelas. Rasti sadar, aksinya ini memang ibarat ‘iklan’ dan cuma teaser. Artinya dia tidak boleh terlalu jauh memberi pertunjukan. Meskipun begitu, Rasti berbaik hati memberi aksi terakhir. Kedua tangannya bergerak ke belakang punggungnya. Bisa ditebak apa yang akan dilakukan Rasti sehingga para napi itu pun terdiam menunggu dengan antusias. Ya, Rasti melepas branya dengan pelan. Dengan gerakan nakal, Rasti meyilangkan satu tangan di atas kedua payudaranya, sementara tangan satunya melolosi bra itu dari tubuhnya. Walhasil meski kemudian bra itu telah lepas dari tubuhnya, tak satu pasang mata pun dari para napi itu yang bisa melihat putting susu Rasti. Rasti cukup lihai melakukan gerakan ini sehingga para napi itu pun menyorakinya gemas. 

Sungguh aksi Rasti ini sangat menggoda dan memancing nafsu. Sampai akhirnya Rasti hanya menyerahkan branya itu ke salah satu sel dengan tangannya enggan berpindah dari atas dadanya. 

“Duuh itu tangannya yag satu nakal banget sih! Pengen gue cubit!” 
“Anjriitt non.. please itu tangannya suruh minggir…! Asuu…” 

“Hi hi hi… Dadaah abang… Rasti tunggu yaa…?” Ucap Rasti geli sambil melambaikan satu tangannya sambil berlalu pergi dengan langkah pelan dan melenggak-lenggokkan pantatnya. 

“Huuuuu….!” Suara koor protes memenuhi seluruh sektor itu mengiringi kepergian Rasti. 

Sambil tersenyum-senyum senang merasa aksinya sukses, Rasti melangkah keluar dari lorong sektor itu. Ternyata bukan hanya para napi yang panas dingin dan blingsatan tidak karuan menyaksikan aksi Rasti barusan. Para penjaga dan Norman pun terangsang berat dan sudah menunggu-nunggu Rasti dengan tidak sabar untuk segera mengentotinya lagi. 

“Hi hi hi… idiih… kok malah kalian yang jadi nafsu begitu? Hayoo… pedagang gak boleh makan dagangannya sendiri ya? He he he…” Seloroh Rasti ketika mendapati seluruh penjaga yang mupeng menungguinya. 

“Anjriit aksi lo tadi mantap abisss… Gue ngaceng berat!” 
“Pokoknya kita mau ngentotin lo dulu lagi, baru ntar kita terima orderan dari mereka!” 
“Iih kok gitu…?” Sahut Rasti cemberut dan melirik ke arah Norman. 

“Eiit, sekarang gue yang mau ngentot! Habis itu baru kalian, terus baru nerima order!” Sahut Norman yang merasa paling berkuasa. Lemaslah Rasti mendengar omongan Norman itu. Memang keliru besar jika Rasti mengharap Norman membuat keputusan bijak. Yang ada malah dia selalu mengikuti hawa nafsunya. Terbayang sudah kerja keras yang harus dilakukannya kali ini. Harus melayani Norman, ditambah melayani para penjaga lagi untuk kedua kalinya sebelum terakhir melayani ‘orderan’ dari para napi. Bisa-bisa sampai malam Rasti baru bisa pulang. 

Saat itu juga seorang penjaga mendata siapa saja dari para napi itu yang mau mengorder pelayanan Rasti. Dari total 29 napi di Sektor G, ada 8 orang yang saat itu juga mempunyai uang untuk membayar pelayanan Rasti. 

“Ha ha ha… dua juta lebih dalam sehari coy…! Enak bener lo ya cantik, jadi lonte duitnya moncer…!” Ujar seorang penjaga sambil mengipas-ngipaskan uang yang barusan dikumpulkannya. Rasti tersenyum kecut mendengarnya. ‘Capek tahu…!’ Gerutunya dalam hati. Lagipula nilai itu memang tidak seberapa dengan yang biasa diperolehnya selama ini. Sudah begitu, uang itu masih harus dipotong 30% untuk dibagikan kepada para penjaga. Tapi sudahlah, Rasti tidak mau mengeluhkan lebih lanjut konsekuensi dari pilihan yang sudah dibuatnya sendiri. 

*********** 

“He he he… Iiihh… kalian ini udah crot aja yaah…? Jorok Iih…!” Ucap Rasti gemas melihat Riko, Romi dan Jaka yang sudah terduduk lemas menyandar dengan penis yang mulai terkulai dan peju bercecer di mana-mana. Memang mereka tadi tanpa malu-malu ngocok sepanjang Rasti bercerita. “Kenapa gak ke kamar mandi siih… Jadi kotor deh semuanya… Dasar!” Tukas Rasti sambil mengacak-acak rambut Riko yang duduk di sampingnya. 

“Maaf Tante… nanti kami bersihin… Ga kuat sih Tante…” Jawab Jaka sambil cengar-cengir.
“Janji ya? Ayo dibersihin sekarang. Duh padahal ceritanya belum selesai lho… Masih ada yang lebih seru lagi. Hi hi hi…” 
“Ampuun Tantee… Kami nyerah dulu, besok dilanjut lagi ya Tanteee??” Ucap Jaka ngenes.
“Hi hi hi… gak janji yee…” Cibir Rasti genit sambil ngeloyor pergi. 
“Yaaah Tantee… besok yaa…?” 
Rasti hanya tertawa kecil sambil terus berlalu tanpa menjawab permintaan itu. 

*********** 

Malam itu Rasti memilih tidur di kamar anak-anaknya yang masih kecil. Di kamarnya sendiri Tedi sudah tertidur pulas sejak tadi. Sudah beberapa hari ini memang Tedi tidur bareng Rasti di kamarnya. Apalagi kalau ketiga temannya itu sedang main ke rumah. Karna mereka menempati kamarnya Tedi, maka Tedi tidur di kamar Rasti. Sebenarnya kamar Tedi cukp besar dan sangat cukup untuk mereka berempat. Tapi kalau teman-temannya itu sudah mulai minta ‘didongengin’ oleh Mamanya, Tedi memang selalu memilih untuk tidak ikut mendengarkan dan menyendiri di kamar Mamanya atau menemani adik-adiknya. 

Kamar adik-adiknya Tedi yang lain juga cukup besar. Bahkan kamar yang paling besar karena mereka semua tidur di satu kamar itu. Memang baru Tedi dan Norman yang sudah punya kamar sendiri. Rasti merebahkan diri di kasur Cindy yang sudah pulas juga seperti yang lain. Di samping Cindy ada Kiki, sementara Bram dan Dion tidur di kasur yang berbeda, dan si kecil Bobi anteng di dalam bed set khususnya. Rasti memandangi satu-persatu wajah anaknya dengan mata teduh khas seorang ibu. Dikecupnya Cindy, dan dibelainya rambut Kiki. Sejujurnya ada sedikit kegalauan di dada Rasti tentang kehidupannya yang dijalaninya selama ini. Tapi Rasti bukanlah perenung yang baik. Tiap kali dia merenung, renungannya itu seringkali berlalu begitu saja tanpa dipikirkan terlalu dalam apalagi disertai tindakan lebih lanjut. Seperti kali ini, Rasti hanya menghela napas panjang. Dia memilih mengosongkan pikirannya saja dan terus memandangi para buah hatinya dengan kepala yang sudah bebas dari beban pikiran apapun. Memang tidak ada bosan-bosannya memandangi wajah-wajah polos yang tengah tertidur pulas itu. Wajah-wajah polos yang dibesarkan tanpa seorang ayah. ‘Duh, kok jadi mikirin lagi sih..’ keluh Rasti dalam hati. 

Rasti mulai merebahkan diri lagi sambil menerawang. Memang apa yang dikatakan Rasti pada teman-temannya tadi itu benar. Bahwa masih ada cerita yang lebih seru lagi. Tapi sebenarnya, makin seru cerita Rasti, makin capek Rasti saat menjalani apa yang terjadi di dalam cerita itu. Cerita-cerita itu selalu dijadikan bahan fantasi dan coli teman-teman Tedi, tanpa mereka tahu sesungguhnya bagaimana berat Rasti saat melaluinya. Tapi anehnya, Rasti sendiri sangat senang menceritakannya pada mereka. Ya, Rasti tidak pernah merasa terpaksa saat bercerita. Makanya dalam hati saat ini Rasti agak menyesal juga karena tidak sempat menceritakan kejadian yang lebih seru itu tadi. “Iih kalian sih ngecrotnya kecepetan…! Dasar ejakulasi dini…” Rasti menggerutu sendiri di dalam hati. Padahal Riko, Romi dan Jaka yang digerutuinya itu sekarang sudah pulas di kamar Tedi. 

Ceritanya sama, yaitu tentang Rasti yang terus dipergilirkan oleh para penjaga untuk tampil ‘mengiklankan’ diri di dalam lorong tiap sektor tanpa kecuali. Ada tujuh sektor, dan Rasti mulai dari sektor G seperti yang diceritakannya tadi. Selanjutnya sektor F, E, dan seterusnya. Tiap kali beraksi, Rasti terus menaikkan levelnya. Seperti di sektor F, Rasti sudah telanjang dada di tengah-tengah tariannya tanpa merasa perlu repot menutup-nutupinya lagi dengan tangan. Di Sektor E, bukan hanya telanjang dada, Rasti bahkan sudah berani mendekat dan membiarkan payudaranya digerayangi oleh tangan-tangan lapar para napi di sana. Rasti memulai ketelanjangan total di Sektor D yang paling besar. Ada 12 sel di sektor itu, dan Rasti melucuti seluruh pakaiannya tanpa kecuali, hingga sepanjang pertunjukan Rasti berlenggak-lenggok menyusuri lorong Sektor D tanpa sehelai benang pun menutupi tubuhnya. Aksi itu terus berlanjut sampai berakhir di Sektor A yang tanpa Rasti sadari, para penjaga telah merencanakan sesuatu yang lain di Sektor A. 

Para penjaga itu sebenarnya makin gemas dengan aksi Rasti yang levelnya selalu naik lebih tinggi dibanding aksi sebelumnya. Mereka pun kasak-kusuk dengan Norman juga untuk mengendalikan level aksi Rasti di Sektor A sebagai sektor terakhir. Mengendalikan level bukan berarti menurunkan level, tapi justru menaikkan level sampai titik tertinggi. Tapi, tanpa diketahui para penjaga, diam-diam Norman membocorkan sedikit informasi tentang rencana para penjaga itu kepada Mamanya. Norman sebenarnya sangat menyetujui rencana para penjaga itu, namun ia tidak sampai hati jika harus dengan menjebak Mamanya. ‘Lagian ngapain dijebak? Diberitahu aja Mama pasti mau kok!’ Begitu awalnya keyakinan Norman. Namun pada akhirnya toh Norman ragu juga. Dia khawatir Mamanya akan menolak mengingat rencana itu cukup gila. Norman pun memutuskan untuk sekedar memperingati saja Mamanya akan adanya kejutan tanpa memberi informasi lebih jelas tentang apa yang akan terjadi dalam kejutan itu. Dan benar saja, meski was-was Rasti memutuskan untuk tetap beraksi di Sektor A. 

Seperti sudah dijelaskan sebelumnya. Tiap pintu sel di penjara ini sebenarnya memiliki sistem mekanisme yang sebenarnya sederhana tapi cukup canggih untuk ukuran penjara itu. Ya, sistem itu membuat pintu-pintu itu bisa dibuka dan dikunci secara otomatis dengan menekan suatu tombol di luar lorong tiap sektor. Ini sebenarnya tombol darurat yang hanya boleh ditekan jika ada kejadian khusus yang tidak diinginkan, seperti kebakaran, atau bencana yang lainnya. 

Saat Rasti sedang beraksi di dalam lorong Sektor A yang hanya terdiri dari delapan sel ini, diam-diam para penjaga mengunci pintu lorong itu secara manual. Rasti sendiri sudah waspada dan berdebar-debar menunggu kejutan yang dimaksud Norman. Hal itu membuat Rasti agak canggung dalam tarian stripteasenya. Rasti pun tidak ingin berlama-lama seperti sebelumnya karna dia sendiri sudah tidak sabar. Dengan cepat Rasti melucuti satu persatu pakaiannya diiringi sorak sorai para napi dari dalam selnya. Begitu Rasti mencopot celana dalam sebagai penutup tubuh terakhirnya, terdengar suara yang sudah familiar di telinganya. Rasti pun langsung berdebar membayangkan apa yang akan terjadi jika dugaannya benar. Ya, suara yang terdengar bersamaan tadi adalah suara kunci pintu sel yang terbuka. Pintu sel yang mana? Pikir Rasti panik. Suasana mendadak menjadi hening mencekam. Saat itu memang tidak ada napi yang langsung keluar dari selnya. Ternyata mereka pun juga ragu dan bertanya-tanya soal bunyi tadi. Mereka tahu itu bunyi kunci sel mereka yang terbuka, tapi mereka seakan tidak percaya. 

Tentu suasana hening itu tidak berlangsung lama. Begitu satu orang napi mencoba mendorong pintu selnya dan mendapati bahwa pintu itu benar-benar telah terbuka kuncinya, napi-napi lain bersorak-sorak di selnya masing-masing sambil mencoba membuka pintu sel mereka juga. Jadi pintu sel mana yang terbuka kuncinya? Ternyata semuanya! Rasti menelan ludah berkali-kali demi membasahi tenggorokannya yang mendadak kerontang. Dadanya berdebar kencang sekali melihat satu demi satu pintu sel yang ada di sektor itu terbuka dan satu demi satu napi di dalamnya melangkah keluar sambil terkekeh-kekeh dan bersorak kegirangan. Sejurus kemudian lorong itu sudah dipenuhi 37 orang napi ‘kelaparan’ yang mengelilingi Rasti dan siap memangsanya dengan buas. Rasti bergidik ngeri. ooh Inikah kejutan yang dimaksud Norman? “Duh, Norman anakku yang paling bandel… tega banget sih kamu sama Mama…? Nakal!” Pikiran Rasti berkecamuk, namun sebagai lonte professional dia harus cepat mengendalikan diri, dan tidak sulit memang bagi dia untuk melakukannya. Pada dasarnya Rasti tidak benar-benar ketakutan, karna di sisi lain antusiasmenya juga sangat besar membayangkan apa yang akan segera dia alami. Rasti cuma khawatir mempertimbangkan cukup tidaknya kemampuannya untuk bertahan. 

Digangbang 37 orang jelas merupakan level paling tinggi sejauh karir dia sebagai lonte dan ibu binal. Paling banyak dia digangbang hanya oleh belasan orang, dan itu pun sudah lama sekali. Namun bagaimanapun juga, yang akan terjadi tidaklah bisa Rasti elakkan. Rasti pasrah dan bahkan berpikir untuk memanfaatkan momen ini untuk mengukur sejauh mana ‘kehebatan’ dia sebagai seorang lonte! 

Siang itu Rasti dikunci di dalam Sektor A selama 3 jam lebih. Selama itu pula dirinya bergulat dahsyat melawan 37 orang yang semuanya benar-benar berebut untuk menyetubuhinya tanpa kecuali. Tidak satupun yang merasa puas jika hanya dengan melakukan onani. Memek Rasti serasa diaduk-aduk tanpa jeda. Dari kejadian itu Rasti pun bisa mengukur sejauh mana kemampuan dirinya karena baru saat itulah dia harus mengerahkan semua kekuatan dan jurus-jurusnya. Rasti sangat menikmati persetubuhan yang mungkin bahkan lebih liar dari yang bisa dilakukan binatang sekalipun. Rasti orgasme berkali-kali sampai tak terhitung lagi, tapi ternyata dia tidak ‘sesakti’ itu. Rasti sudah kehabisan tenaga di putaran ketiga. Saat itu dia sudah sangat lemas dan mulai merasakan sedikit sakit di vaginanya. Rasti pun K.O di tengah-tengah putaran ketiga itu. Untunglah putaran ketiga itu juga merupakan putaran terakhir bagi mereka semua. Ya, para napi itu pun juga bukan pejantan-pejantan yang sangat tangguh. Mereka bisa mengalahkan Rasti karena mereka mengeroyoknya habis-habisan. Setelah mereka mencapai orgasme masing-masing di akhir putaran itu mereka pun ambruk satu demi satu kecapaian. Benar-benar gila apa yang sudah terjadi di lorong yang kini menjadi begitu pengap oleh bau keringat. Para penjaga segera masuk ke dalam dan salah satunya keluar menggendong Rasti, sementara yang lainnya sibuk menggelandang para napi yang kepayahan itu untuk masuk kembali ke selnya masing-masing. Sungguh beruntung para napi di Sektor A itu. Tidak ada keistimewaan apapun pada diri mereka yang membuat mereka mendapat keberuntungan ini. Yah, mereka hanya sekedar beruntung karna kebetulan saja mereka ditahan di Sektor A. Itu saja. 

Rasti kini mengenang-ngenang bagaimana kemudian dia dimandikan dengan air hangat oleh dua orang penjaga. Dia dibaringkan di bathub berisikan air sabun yang hangat. Sungguh sangat nyaman saat itu dia rasakan. Ah sayang sekali semua itu tidak sempat dia ceritakan pada teman-teman Tedi tadi. Rasti kembali gusar memikirkan hal itu. Sebenarnya apa yang membuat Rasti begitu gusar dengan hal itu? Bukankah masih ada esok hari? Masihkah? Kegusaran Rasti ada hubungannya dengan sejumlah angka 12 digit yang muncul di layar HPnya ketika dia sedang menggunakan layanan SMS Banking sore tadi sebelum dia bercerita pada teman-teman Tedi. Tapi rasa kantuk yang mulai menyergapnya membuat kegusaran itu lenyap dengan sendirinya seiring dengan terpejamnya mata Rasti. 


Keesokan paginya Riko, Romi dan Jaka pamit pulang dari rumah Tedi saat Rasti masih pulas tidur bersama anak-anaknya. Mereka memang pergi pagi-pagi sekali karena hari itu bukanlah hari minggu dimana sekolah mereka libur. 

Seminggu kemudian mereka kembali main ke rumah Tedi setelah bermain basket di sekolah. Saat itu hari sudah sore dan mereka mendapati Tedi sedang memanaskan mobilnya bersiap hendak pergi. 

“Yuk ikut aja…” Tedi malah mengajak mereka.
“Kemana Ted?” 
“Jemput Mama…” 
“Jemput ke… penjara??” 
“Iya… ayo cepetan. Mau ikut nggak?”
“Iya iya mau, kita ikut kok” jawab mereka setuju menerima ajakan Tedi.

Sampai di penjara, yang biasanya Tedi hanya menunggu sebentar saja, kini ternyata harus menunggu lama, bahkan sampai malam. Untung ada teman-temannya sehingga Tedi tidak bosan. Tapi selama menunggu tentu mereka panas dingin membayangkan bagaimana keadaan Rasti di dalam sana. Apalagi beberapa petugas lapas mengajak ngobrol Tedi, ngobrol tentang Rasti dengan penuh kata-kata yang merendahkan dan melecehkan. Kemudian para petugas itu juga saling ngobrol satu sama lain mengenai pengalaman mereka dengan Rasti, semua di depan Tedi dan teman-temannya. 

“Kemarin gue dapat bo’olnya, wuih mantap!” 
“Anjrit… sama gue kok gak mau ya? Dasar lonte pilih-pilih kontol!” 
“Ha ha ha, bukan gitu coy! Itu kan gue maksa, dia nolak juga, ternyata bo’olnya emang masih perawan! Sempit abis! Wakakaka… Kesian juga sih, sempat nangis tu lonte… Jadi lo maklum aja coy, waktu giliran lo masih perih tu kayaknya. Ha ha ha!”


“Tapi gue gak puas aja sih kalo harus pake kondom!” 
“Iya, anjing tu lonte… gak mau kalo gak pake kondom! Dia pikir gue penyakitan apa!?” Ujar mereka menggunjingkan Rasti yang membuat miris Tedi dan teman-temannya mendengarnya, tapi tentu… ngaceng juga!

Hampir jam 9 malam, akhirnya barulah Rasti keluar. Penampilannya agak berantakan tapi tidak mengurangi kecantikannya sama sekali. Hanya perlu dirapikan sedikit saja Rastipun terlihat sempurna lagi.


“Sayang… nunggu lama ya? Maaf ya… Eh ada anak-anak” 

“Iya nih Tante… lama banget di dalam, ngapain aja?” 

“Hi hi hi… bukan ngapain aja, tapi diapain aja…” jawab Rasti sambil mengerlingkan matanya. Dasar Rasti, sudah dikerjain habis-habisan, sempat-sempatnya dia menggoda teman-teman Tedi. 

“Cerita dong Tante…” 
“Iihh kalian ini minta didongengin terus kaya anak kecil!” 

“Iya.. soalnya tadi ada petugas yang bisik-bisik katanya Tante nyuruh mereka semua pake kondom ya? Kenapa sih Tante…? Takut hamil ya?” 

“He he he ya nggak dong, Tante masih pingin hamil terus kok…” 

“Terus?”
“Oo aku tahu… Tante gak pingin anaknya keturunan penjahat!” 

“Hhmmm… nggak juga sih, tapi Tante memang sudah merencanakan yang spesial. Udah ya? Jangan nanya-nanya terus dong, Tante capek nih… Ted, kita cari makan dulu, terus anter temen-temenmu pulang ya?” 

“Duuh kita masih pingin main ke rumah Tante kok…” 

“Kalian pulang dulu ya malam ini sayang… Besok-besok main lagi, maaf ya… Tante capek nih… Kalian ngerti kan?” Ucap Rasti sambil memandangi Riko, Romi dan Jaka satu satu meminta pengertian mereka. Ketiga teman Tedi itupun menangkap raut wajah Rasti yang berbeda dari biasanya. Capek, jelas. Sedih…? Hmmm, nggak juga, tapi setelah semua yang dilaluinya belakangan ini, mestinya Rasti memang belum sepenuhnya bebas dari berbagai tekanan dan beban yang menderanya. Mungkin itulah yang nampak dari raut wajahnya saat ini. Bagaimanapun juga, Rasti tetap terlihat tegar dan masih menebar senyum. Cantik? Pasti. Kecantikannya tetap melekat tak memudar sedikitpun. Hanya nampak secuil keprihatinan yang membuat teman-teman Tedi empati. 

“I.. Iya Tante… Maaf...” Gumam mereka serempak. Ya, seharusnya bukan Rasti yang meminta maaf. 

Setelah makan di sebuah restoran, Tedi mengantar ketiga temannya satu persatu ke rumah mereka masing-masing. Tiap mereka juga mendapat kecupan selamat malam spesial dari Rasti. “Maaf ya, Tante belum bisa nemenin kalian lagi untuk saat ini… Selamat tidur, belajar yang rajin ya, jangan mikirin Tante terus lho… He he he...” Ucap Rasti kepada mereka semua. Ada firasat aneh menghinggapi kepala mereka, yang sukses membuat mereka semua gelisah sulit tidur pada malam itu. 

Keesokan harinya, di sekolah mereka bertiga saling bercerita dan mendapati bahwa ternyata mereka merasakan firasat yang sama semalam. Terlebih, hari itu Tedi tidak masuk sekolah. Meski bertanya-tanya mereka sepakat untuk tidak menghubungi atau mengunjungi Tedi dulu hari itu. Tapi keesokan hari, dan keesokan harinya lagi Tedi masih saja tidak masuk sekolah. 

“Wah, udah tiga hari nih… gue rasa kita perlu ke rumahnya nanti sepulang sekolah!” Ucap Jaka pada saat jam istirahat. 
“Gue juga penasaran banget sih, mana sms gue ga dibales lagi!” timpal Riko. 
“Tapi… apa sudah boleh ya kita ke rumahnya lagi sekarang… baru tiga hari juga” 
“Emang kita pernah dilarang ke rumahnya? Main aja kan gapapa?” 

“Udah deh, pokoknya gue siang ini mau ngedatengin rumahnya Tedi… Terserah lo berdua mau ikut apa nggak, gue tetep berangkat!” Tegas Jaka. 

“Yaa, gue ikut juga lah!” sahut Romi cepat. 
“Gue juga!” Riko juga mantap. 

Begitulah tiga sekawan sahabat setia Tedi itu bergegas naik angkot menuju rumah Tedi begitu sekolah usai. Selain penasaran kenapa sahabatnya itu tidak masuk sekolah beberapa hari ini, tentunya juga karena mereka sudah kangen dengan Rasti. Mereka sangat ingin bertemu dengannya lagi. Tapi…...

Alangkah kecewa dan hancurnya hati mereka, ketika mereka sampai di sana, mereka mendapati orang tidak dikenal di rumah Tedi siang itu. Rumah itu ternyata bukan milik Rasti lagi. Selama ini ternyata Rasti diam-diam memasang iklan menjual rumahnya di sebuah website penjualan property. Tedi sekeluarga sudah pindah entah kemana! Tak ada secuilpun pemberitahuan dari Tedi kepada mereka. 

Mereka bertiga diam terhenyak. Ternyata firasat mereka malam itu benar adanya. Yang mereka takutkan ternyata benar-benar terjadi. Rasti dan Tedi ternyata pergi meninggalkan mereka. Bingung, kecewa, kesal, sedih, itulah yang mereka rasakan saat ini. Tidak akan adakah lagi senyum manis Rasti? Tidak akan adakah lagi canda dan dongeng dari Rasti? Apakah mereka tidak akan pernah bertemu Rasti lagi?

Rasti, Mama Binal, Pada: Minggu, Agustus 02, 2015
Copyright © 2015 CERITA DEWASA Design by bokep - All Rights Reserved