Recent Posts Widget

XXX STORY : DINA

https://cerita-porno.blogspot.com/2012/06/xxx-story-dina.html

CHAPTER 1 - Beginning

Jreng...
Alunan gitar begitu syahdu di dengar, yah ini gue "Rakha" kelahiran kota ****** (sensor).
Cowok manis dan cakep kata mahasiswi - mahasiswi hehe..
Memiliki tinggi sekitar 175 cm, lumayan tinggi buat bagi postur tubuh orang indonesia, ideal,
kulit sawo matang dan rambut panjang

Gue Mahasiswa di kampus Brawij***, salah satu universitas ternama di kota malan*.
Gue anak yang suka sekali dengan yang berbau Art, dari itu gue memilih jurusan/fakultas Deskomvis (Desain Komunikasi Visual)
gue juga termasuk fesionista atau penggila style.
Ya dari sikap gue itu banyak di omongin para mahasiswa - mahasiswa yang lain. "norak lah, sok gaya, dll.
"ya mungkin dia iri kale haha"
"tapi gue cuek aja, yang penting gue tetep hargain mereka punya mulut hehe"
coz ada tokoh mengatakan:

"PENAMPILAN ITU BUKAN SEGALANYA, TAPI SEMUANYA BERAWAL DARI PENAMPILAN"
mantep dah!!

Jawab santai cowok berbintang Aries ini.

"suara lo lumayan juga ya?" Tanya seseorang di belakang gue
"eh lo din"

Dina adalah mahasiswa semester 6, 1 tahun diatas gue, fak ekonomi, gue kenal dia 1 bulan yang lalu,
pas gue lagi jalan ma sonny Sahabat gue di mall. Iseng iseng gue kenalan sama cewek itu yang ternyata dia dina.
Cantik,kulitnya putih,sexi karena di dulunya pernah ikut cherleader kampus,
tapi yang paling penting dia memiliki toket yang lumayan gede huhu. .

"heh Rakha kenapa lo diem, abis nelen karet lo?"ejek Dina
"sialan lo! Cari inspirasi aja hehe"
"bisa aja lo, mainin dong gitarnya." pinta dina lembut, dengan sedikit mengarahkan togenya kearah lengan gue..
Otomatis adik gue ngaceng huh..

Jrengg...

I remember how the first time I laid my eyes on you
It was on a day just like this
You were wearing your black dress
Can I call you tonight
Can we talk for a while
Im sick of living in black and white

I'm getting ready for my sanctuary
I'm feeling unsteady
I'm getting ready for my sanctuary
So hear me say

Something better is coming up
It caught my eyes
Something brighter is coming up
It hurt my eyes

I remember how the first time I laid my eyes on you
It was on a day just like this
I was wearing my black dress
The moment was golden when the days getting colder
so hear me say

I'm getting ready for my sanctuary
I'm feeling unsteady
I'm getting ready for my sanctuary
So hear me say

Something better is coming up
It caught my eyes
Something brighter is coming up
It hurt my eyes

I've been trying a thousand times
To let you know
To let you go
But the phone is dead
I can't reach you

Pee Wee Gaskins - on a day just like this

"suara lo enak juga din" puji Rakha
"bisa aja lo ka" tersenyum dengan lesum pipinya yang menambah manis raut wajahnya..
"eh din gue seneng banget"
"seneng kenapa ka?"
"toge lo tuh nempel ke lengan gue enak banget hahahaha
"canda gue dengan sedikit memejamkan mata
"Ianjrit lo!! Dasar Rakha mahasiswa yang di kenal cuek dan jaimnya Omes juga ya. ."
"omes apa an tuh??"
"OTAK MESUM!!"haha
"sialan lo hahaha"
sambil merangkul kepala dina..
"ka udahan ya, gue masih ada kelas ne"kata dini.
"yudh kita barengan aja gue juga ada kelas photograpy ni" balas gue sambil berjalan..

Makro fotografi, juga dikenal sebagai Macrophotography,
mengacu pada mengambil gambar dari hal-hal kecil dalam jarak dekat.
Meskipun fotografi makro secara tradisional disebut mengambil gambar dengan sebuah sensor yang lebih besar dibandingkan dengan subjek,
hal ini termasuk mengambil gambar di mana gambar tampak paling tidak sama besar seperti dalam kenyataan.
"yak bagus Rakha jawaban yang tepat" kata Mr. Alex dosen photography.

Tak lama jam photography pun selesai
"okee buat minggu depan kita akan praktek hunting foto makro, jangan lupa membawa kamera..
Pesan Mr. Alex.

Rakha pun beranjak dari kelas menuju kantin/pak jenggot itu kata sebutan gue..
Coz sonny udah nunggu di kantin..
"hay Rakha" kerumunan cewek menyapa Rakha.
Rakha cuma melemparkan senyum tipis..
Dasar Rakha mahasiswa yang di kenal cuek dan jaimnya ("kata penulis Leah_Dizon" hahahaha kenapa gue ikut2.")


sampai di kantin
"pak jenggot biasa kopi item + rokok sampoerna mild"
"oyi oyi" jawab pak jenggot singkat..

"son, wes suwe tah dek kene??"
"yo setengah jaman lah"
"kowe wes mangan a? Tanya gue
"durung lee aku yo ngenteni awakmu ben di bayari"
"oo. .Jiamput!! Yo wes ndang pesen kono.."

perut kenyang tenaga pun kembali normal.
"preman bacok an ketemu hansip, mari mangan gak rokok an kurang sip" hahahaha canda sonny

setelah 1 jam nongkrong di kantin bercanda sana sini..
"Hey Luna lo cantik deh kita pacaran yuk.."
Entah berapa cewek yang nongkrong di kantin selalu aja sonny kerjain..
Gue cuma ketawa aja dengan tingkah sonny yang gak punya malu ini..Hahaha. .

hahaha terdengar suara para kerumunan cewek di belakang, oh my Gosh!! Mata gue gak kedip melihat
1 Sosok wanita cantik di kerumunan itu.
Wanita yang belum pernah gue liat..
Putih,cantik,rambut bergelombang,dan memakai kaca mata min..
Siapakah dia??


Panas hari ini buat gue lelah, gue ambil motor metik mio soul gue menuju kos..Huh! Gue rebahkan tubuh gue di kasur..
Memejamkan mata,terpintas di pikiran gue siapa wanita berkaca mata itu??
Tiba2 Ringtone hp gue bunyi dengan alunan lagu skrillex - equinox
donwload lagunya gan!!
Bebuyarkan pikiran gue. .
"hallo iya din ada apa?"
"lo di mana ka"
"gue di kos din emang ada apa?"
"okee kalau gitu gue kesana"
"tapi din" belum gua bicara udah di tutup tut..tut..tut,sebenernya gue pengen istirahat huft..

30 menit kemudian tok tok tok..
"ka, ni gue dina"
"buka aja gak di kunci"jawab gue sambil tiduran.

Klek. .

"Lo gpp ka,? Kok muka lo kusut gitu."tanya dina dengan nada perhatian
"gak gue gpp, mungkin kecapean aja"
"lo dah makan?Udah minum obat?"sambil mengelus kening gue, Dina sedikit menunduk tepampang togenya dari belahan krahnya yang agak lebar.
Sekali togenya menyentuh dada gue, otomatis adik bagun dari tidurnya..Hehe

“Busyet.. lo harum amat, pake parfum apa nih?”
“Bukan parfum, lotion gue kali”
“Lotion apaan, bikin terangsang nih” canda gue
“Body Shop White Musk, kok bikin terangsang sih?” tanya dina sambil tersenyum kecil.
“Iya nih beneran, terangsang gue nih jadinya”
“Masa sih? berarti sekarang
udah terangsang dong”
Agak terkejut juga gue
mendengar pertanyaan itu.
“Jangan-jangan dia lagi
memancing gue nih..” pikir gue dalam hati.
“Emangnya lo nggak takut kalo gue terangsang sama lo?” tanya gue iseng.
“Nggak, memangnya lo kalo
terangsang sama gue juga
berani ngapain?”
“Gue cium lo ntar” canda gue.
Tanpa gue sangka dina mencium bibir gue Tanpa pikir panjang lagi gue segera mencium lembut bibirnya.
dina memejamkan matanya
ketika menerima ciuman gue.
Kumainkan ujung lidah gue pelan kedalam mulutnya untuk mencari lidahnya yang segera bertaut
dan saling memutar ketika
bertemu. Sentuhan erotis yang gue dapat membuat gue semakin bergairah dan langsung menghujani bibir lembut itu dengan lidah gue.
Sambil terus menjajah bibirnya, gue menuntun pelan Dina ke tubuh gue. Dengan mata masih terpejam.
Erangan halus yang didesahkan olehnya membuat gue semakin
bernafsu dan segera saja lidah gue berpindah tempat ke bagian leher dan turun ke area togenya.
Setelah meninggalkan bajunya,
kedua tangan gue yang
kususup kan ke punggungnya
sibuk mencari kaitan BH-nya dan segera saja gue lepas begitu gue temukan. Dengan satu tarikan saja terlepaslah penutup
dadanya dan dua bukit putih
mulus dengan pentil pink yang kecil segera terpampang indah di depan gue. Kuremas pelan dua
togenya yang besar dan kencang begitu kenyal.Puting susunya yang mungil tak luput dari serangan lidah gue.
Setiap gue jilati puting mungil tersebut, Dina mendesah pelan
dan itu membuat gue semakin terangsang saja. Entah bagaimana kabar penisku yang dari tadi telah tegak berdiri namun terjepit diantara celanaku
dan selangkangannya. Putingnya yang kecil dan berwarna pink memang
sedikit menyusahkan buat gue sewaktu menyedot bergantian dari toge kiri ke toge kanannya,
namun desahan serta gerakan-gerakan tubuhnya yang menandakan dia juga terangsang membuat gue tak tahan untuk
segera bergerilya ke perutnya yang sexi proporsional.
tangan gue mulai turun ke
pangkal pahanya. Dengan posisi masih menjilati
pusarnya, tangan gue membuka celana, lalu kuturunkan ke bawah. Secara naluriah dia ikut membantu menurunkan pula,
maka tinggal celana dalamnya yang berwarna
putih bersih yang masih
menghinggapi tubuhnya. Lalu gue cium meki nya yang masih ditutupi CD-nya, dia melenguh hebat, kemudian gue buka CD-nya.
Gue beralih menjilati bibir mekinya. Dengan bantuan
kedua jari gue, kusi bakkan bibir mekinya itu, tampak berwarna merah muda, tak berjembi.
Lalu gue julurkan lidah gue ke bagian klit-nya, gue goyang-goyangkan lidah gue.
”Aaahhh..,kaa.., enak sekali Saayaang..!”
jeritnya sambil kedua tangannya menjambak rambut gue. Gue masih
saja asyik memainkan mekinya, Kadang sekali kugigit bibir mekinya. Tidak berapa lama,
tubuh Dina mengejang, kepala gue makin ditekan oleh tangannya ke dalam mekinya.”Rakkhhaa..,
aakkhhh.., nikmat sekali
Sayang..!” katanya sambil
memejamkan matanya,tanda merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Gue masih saja asyik melumat
habis mekinya yang merah
merekah.”Udahhh ka.., udah
dulu Sayang..Gue masih perawan” katanya sambil menarik kepala gue ke atas.
"lo masih perawan Din?"tanpa mempedulikan ucapan gue.
kemudian dia cium bibir gue dengan ganas sekali. Lalu tubuh gue dia
balikkan, dia berada di atas gue sekarang. Dia condongkan badannya, kemudian dia mencium
kembali bibir gue, lalu mencium leher gue. Dia tegakkan badannya, dan dia geser sedikit ke bawah.
Sambil tersenyum dia lalu
membuka boxer gue,
kemudian dia buka celana
dalam gue, maka mencuatlah
adik gue yang dari tadi sudah tegak bagai tugu pahlawan.
"uh besar sekali konti lo ka.."
kata Dina manja, Dengan
lembut dia mengusap batang
konti gue, jempolnya mengusap helm konti gue.
“Aaakkhhh..,”
gue hanya bisa mendesah kenikmatan. Perlahan
dia tundukkan kepalanya, lalu mulai menjilati kepala
konti gue, kemudian dia
masukkan batang konti ke mulutnya. Dia hisap dengan
lembut. Gue hanya bisa
merasakan kenikmatan yang
diberikan oleh permainan mulut Dina.
“Aakkhhh Din.., terus Din..! Enak sekali..!”
Mungkin karena dari
tadi gue sudah menahan
nafsu gue,
”Din.., terus enak Din..,”
“Aaakkhhh..,”
gue hanya mengerang
kenikmatan. kemudian Dina lepaskan batang konti gue
dari mulutnya. Dengan tersenyum menahan birahi, dia mendekati wajah gue.
lalu mencium bibir gue.
"Din apa lo ingin terusin?"tanya gue
"iya Ka..Gue ikhlas lo ambil perawan gue, gue sayang lo Ka.."jawab Dina dengan wajah pasrah.
"lo yakin din??"
"yakin sayang"
Dengan posisi masih di atas,
tangannya kemudian memegang batang konti gue, lalu dibimbingnya ke lubang mekinya.
"pelan pelan Ka sakit banget meki gue" erang Dina.
"kalo lo gak kuat kita udahan aja Din, gud gpp kok" jawab gue.
Terus ka terus, setengah batang konti gue dah masuk dalam meki Dina. Dengan sekali sentakan, batangku sudah masuk seluruhnya.
“Uuuhhh.., sshhhh..!” Dewi
melenguh kesakitan air matanya mengalir di pipinya, saat selaput dara robek akibat konti gue. darah perawan keluar dari meki Dini.
Gue ambil tissu untuk membersihkan darah di meki Dini yang terus mengalir. sambil memejamkan matanya,
rambutnya tergerai, kepalanya diangkat mendongkak ke belakang. Diangkatnya pantatnya
perlahan, lalu diturunkannya
perlahan. Aku membantunya dengan batang konti gue. Makin lama gerakan Dini
semakin cepat, Gue juga semakin keras menekan batang
konti gue, tangan gue menelusuri tubuhnya yang sudah penuh
dengan keringat. Kadang kuremas kedua bukit togenya, sekali-kali aku pelintir kedua
putingnya. Dina terus saja
menggelinjangkan tubuhnya,
kulihat Dina meram melek juga dalam malakukan gerakannya itu. “Ooohhh.., Raakhhaa..! Enak sekali
Ka.., ssshhh..,” Dina mendesis
seperti ular.
“Lo sexi sekali Din.., Gue
suka tubuh lo..!” kata gue sambil menarik kepalanya untuk mendekati wajah gue.Lalu kucium bibirnya. Akibat gerakan-gerakan
yang dilakukan Dina, akhirnya aku tidak kuat juga.”Aaahhh..,
Din, gue hampir keluar Din..!”
kata gue.”Ssshhh.., aahh.., "gue juga Ka.., bentar lagi.., aakhh..
terus Sayanng.., terusss..!” ucap Dina sambil terbata bata menahan nafsu. Makin gue per cepat tempo
gerakan gue, yang pada akhirnya gue sudah tidak kuat lagi. Gue rangkul tubuhnya erat-erat,
tampaknya Dina juga sudah orgasme, yang akhirnya.”Aaahhh.., aakkhhh..,”
kami keluar bersamaan disertai
desahan yang panjang.Gue peluk
tubuh Dina dengan erat, begitu
juga dengan Dina sambil
menikmati sensasi-sensai yang tidak bisa dibayangkan. Kemudian
dengan posisi gue masih duduk di
kasur dan Dina di atasnya, kami berciuman kembali. Lama sekali sambil mengatakan kata-kata
indah.”Terima kasih ka.., gue sayang lo..!” kata Dina sambil mencium kening gue.” yang kemudian kami berciuman kembali.
Lalu gue rebahkan badan gue
dengan batang konti gue masih menancap di liang
mekinya, akhirnya kami
berdua tertidur lelap sekali. Esok harinya baru kuantar Dina menuju rumahnya.
################################################## ################################




CHAPTER 2 - class black mirror

Setelah mengantar Dina ke Rumahnya gue langsung menuju Kampus jam 06.30 ternyata
masih sepi banget. Sampai para
satpam bilang, “Kha mau ganti shift
lo? hehe…” Hal itu udah biasa
gu alamin, karena jarak kost
ke kampus lumayan jauh banget. Kantin pak jenggot jadi tempat ternyaman
setelah kelas siang ini. Mata
kuliah hari ini bener-bener
malesin, full teori. Untung yang masuk banyak, jadi yang senasib juga banyak, hehe…
"Pak kopi hitam & Rokok sampoerna mild, menu fav gue"
ternyata gue meleng
dan…”bruuk…duh!” waduh,
nyundul cewek nih, jatuh dia. Gue tolongin dia, “gila lo, liat-liatt donk klo jalan… Rakha!”, kok
kayak kenal, taunya si silvi.
Dia beda kelas sama gue,
cuma sering jalan bareng,
apalagi klo udah urusan Desain interior, gambar sketsa dan komputer, pasti gue berduaan terus sama dia
sampai sore bahkan cuma buat ngobrolin doank. “Sori, sori…Laper nih, sil milih yang
mana…” kata gue. “Ah, tumben amat lo milih-milih menu, lo kan
biasa kopi item ma rokok aja" kata Silvi
"gue kan juga mau makan sil" balas gue.
Akhirnya kita milih menu
barengan.
Sekedar info, Silvi itu
orangnya Bodynya, tingginya 170 cm, gak
kurus-kurus amat, cuma pantat & airbag-nya itu loh, sekal & kenceng bikin gemes, gak kayak ce yang laen, ngondoy
alias menggelayut, hiii…. Muka dia menarik dan cukup manis dengan rambut hitam ikal sebahu. Setelah makan siang,
gue pamitan duluan dan langsung masuk ke kelas. Ternyata kelas
kosong, soalnya pada demen
masuk rada telat sih, terus gue nanya akademis,
“dosennya ga masuk, Kha, tolong sekalian
kasih tau yang lain ya…” wah,
asik… Gue sms salah satu temen sekelas gw supaya nyebarin berita ini ke yang lain. Nah, sekarang mau kemana ya?
Baru jam 13.00 siang, panas pula, untung udah makan. Ah,
iseng aja ke kantin lagi,
sekalian beli kopi item lagi. Ternyata si bodatok (bokong-
dada-montok) dimeja
sambil sibuk dengan
laptopnya.“ alias Si Dini
Gue samperin deh
dia, “Tok, lagi paen?”. “Tak,
Tok, Tak, Tok… Asem lo!
Tugas gue banyak lagi ne,
tolongin donk…” keluhnya. Gue tolongin dia sambil gue jelasin letak masalahnya, gue lumayan encer soal komputer sih, hehe
bukan nyombong ya… Waktu
gue jelasin, kan dia disebelah gue
duduknya sambil fokus ngeliatin layar laptopnya, timbul ide iseng gue untuk mundurin sedikit kepala gue sambil tetap ngejelasin.
Wooow! Keliatan deh
tuh toket sebelah kirinya lewat celah kerahnya. Eh!? Koq bisa langsung keliatan gitu, waduh, nih anak plasplong toh alias gak
pake BeHa! Uhuuuy… Bikin
konak aja! Lagi asik-asiknya
ngintip barang bagus, tiba-tiba “Hoi! Dodol, jelasin ngalor ngidul!
Ngapain sih pake mundur- mundur segala sayang? Rakha pengen seperti kemarin malem ya” kata Dina dengan senyum manja.
“eh, oh, nggak kok biasa aja" balas gue.
"ih dasar jaimnya gak ketulungan dah" kata dini dengan sewot.
"hehe" singkat gue
"Kha gue mau tanya ma lo" kata Dina dengan wajah menunduk.
"Ya.. apa Din?"
"Setelah kejadian malem itu lo anggap gue apa? Gue sayang ma lo Kha, gue rela perawan lo ambil coz lo beda ma cowok laen, "
tanya Dina serius sambil memeluk lengan gue.
"serius Din gue juga gak tau sama perasaan gue, Apa gue cinta atau nafsu ma lo,
gue lebih nyaman kalo lo jadi kakak gue, memang gue ambil perawan lo tapi itu lo yang pinta kan?,
kalo aja malam itu lo gak terusin, gua fine kok." balas gue menyakinkan Dina tanpa menyakiti perasaannya.
"gue juga gak nyesel kok meskipun kita gak jadian,
tapi lo harus janji kalo lo entar punya cewek jgn lupa kenalin ke gue ya n jangan pernah lupain gue" Dina sambil mengeluarkan air mata.
"y pasti lah Din, dan lo juga gitu kalo entar punya cowok jangan lupa kenalin ke gue" balas gue
"iya Rakha ganteng" jawab Dina dengan mengecup pipi gue.”

Gak kerasa ternyata hari udah sore, jam 17.00! Itu juga jam wekernya pak jenggot kantin yang
udah kesel ga bisa beres-beres gara-gara nungguin kita pulang. Karena gak enak, kita pindah ke kelas terdekat (terjauh dari
gerbang depan). Waktu ada
satpam lewat, gue sempet
nanya, kok belum ditutup,
ternyata ada gladi resik buat
acara wisuda anak senior besok, jadi dibuka terus sampe besok. Gue nanya sama Silvi, “lo ga
pulang? udah malem lho…”
“Gak ah, ntar aja, lagian kost gua campur, jadi ga ada jam malamnya, lo klo mau pulang, duluan aja…” jawabnya. “Ng… Gak juga deh, lagian gue
udah males pulang jam segini, mending malem banget sekalian,
lagian besok kan kampus libur, ada wisuda” jawab gue enteng. Malam semakin larut, si otong
ternyata minta ke wc. Si Silvi
masih iseng didepan laptopnya.
Dari wc kantin, keliatan para
panitia yang lagi sibuk gladi
resik di dekat ruang aula. Selesai dari wc, gw jalan santai balik ke kelas tadi. Karena kelas itu menghadap kedalam dengan dinding kaca agak gelap
dibelakangnya, keliatan agak
jelas apa yang ada dibaliknya. Gue intip si Silvi. Lho dia kenapa, kayak masukkin tangannya yang satu ke kaosnya dan satunya lagi
kedalam celananya, dengan
kepala agak menunduk. Agak susah nyari sudut pandang yang jelas, sementara kedua tangan nutupin kiri-kanan muka
supaya bisa ngeliat jelas. Apa
yang gue liat bener-bener
ngebuat gue melotot. Silvi lagi nonton bokep sambil
masturbasi, mantaaaaap… Dia sepertinya nikmatin banget apa yang dia lakukan saat itu. Antara nikmat bermasturbasi,
an tegang plus takut klo aja ada yang mergokin. Diam-diam gue masuk, samperin
Silvi dari belakang. Pelan-pelan gue masukkin kedua tangan gue
ngegantiin tangannya yang
sedang meremas-remas
toketnya. Awalnya dia kaget, dan langsung memeluk gue, melumat bibir gue setelah dia tau ini gue.
Untung aja kelas itu ada di lantai atas dan
lampu yang nyala cuma sinar layar laptop. Cukup lama kita berpagutan, dengan tangan gue
yang aktif meremas
payudaranya dan memainkan
mekinyanya dari luar cdnya.
Ternyata Silvi gak mau kalah, dia langsung jongkok dan membuka resleting celana gue, ngeluarin penis gue yang sempat
membuatnya terdiam sebentar karena ukurannya yang cukup besar (18×5). Tanpa ngasih kesempatan gue untuk napas,
dia langsung mengulum penis gue dengan ganasnya. Rasanya bener-bener gokil! Kayaknya dia mahir karena sering liat bokep.
Terasa cukup ‘menyiksa’ si otong, gue berdiriin lagi Silvi terus gue sambar bibirnya lagi sambil gue gendong dia ke meja panjang didepan kelas.
Disana gue kerahkan semua kemampuan mulut gue dalam melumat meki
seorang gadis. Silvi
menggelinjang gak tentu,
mendesah dan melenguh sambil berteriak-teriak kecil
keenakan. “Akh… Akhhh… Ouuuh… Mmmh… Terrusss,
Khhaa… Oh yyeeeahh…” Gue gak mau klo gue yang minta
ML duluan jaim bro hehe , gue buat dia tersiksa rasa nikmat, sampai akhirnya
dia yang meminta duluan.
“Khaa… Udah… Ayyyooo
ddooonkk… Mmmasssukkinhh…” rintihnya membuat si otong
tambah ganas berdirinya.
“Apa, Vi? Gak
kedengeran…” bener-bener gue siksa dulu dia.
“Ahhh… Ooooh… Ayaaaannkkhh… Pleasssee…”
rengeknya memohon.
Gue buka lebar paha putih dan mulus luar biasa indahnya itu.
Lalu, sambil bertumpu dengan dua tangan, gue arahkan konti gw yang udah luar biasa tegangnya itu ke lubang mekinya yang sudah basah.
Dengan cara ini, rasanya lebih mantap, karena gak ada tangan yang ikut campur mengarahkan konti.
Kutegangkan lebih kuat sambil menekan mekinya. Tapi susah masuk, pasti Silvi masih perawan, Gue diam sejenak.
" kok diam kha ayo masukin gue udah gak kuat, meki gue gatal banget" rengek Silvi
"Gue gak mau Sil, apa lo gak nyesel.?
"Udah gak usah banyak cincong buruan Khaa"
ah, masabodo, dia yang
maksa minta toh,
Akhirnya gue berhasil masukkin kepala penis gue. “Ssssakkiit…Pelan-pelan donk, yannkkhh…”
rintihnya kesakitan, karena
ukuran penis gw yang memang besar untuk ukuran mekinya yang masih perawan itu. “Gak
apa-apa koq, Vi… Cuma
sebentar aja koq sakitnya,
lagian gue bakalan pelan-pelan koq, tahan yah…” gue berusaha menenangkannya.
Gue dorong lagi, pelan tapi pasti. Seret, rapet, anget, peret jadi satu plus nikmat luar biasa seperti disedot-sedot,
semakin dalam semakin kuat dan nikmat. Akhirnya, gue ngerasa seperti ada lapisan yang ngehalangin
mata bor perkasa gue, ini dia mahkotanya. Gue itung, 1…2…3…
Hup! Gue dorong agak keras
“Zzzlepp…”. “Ayyaaank, sssaaakkkiiiiittss…. Kammmu,
jahaattt… Kataaanyahh
peelannn…” rengeknya sambil menitikkan air mata.
Gue cium bibirnya mesra, dia
membalas dengan ciuman yang sangat nikmat. Saat itu baru setengah dari panjang penis gue yang baru masuk.
Sambil terus kucium dan kuremas toket, dengan sisa
tenaga awal, gue hujam dalam- dalam konti gue sampai
pangkalnya kedalam meki
Silvi. Pagutan bibirnya
mengencang dan air matanya lebih deras mengalir, tapi tetap
gak gue lepasin. Oh my Gosh! Bener-bener gak
bisa diukirkan dengan kata-
kata rasanya!
Perlahan gue tarik, lalu
kumasukkan lagi, Silvi masih meringis kesakitan. Terus- menerus dengan perlahan tapi pasti gue goyang pinggul gue.
Semakin lama, akhirnya
pinggulnya ikut nagih rasa yang sama seperti yang gue rasain dari mekinya. Genjotan gue makin lama makin agresif. Gue
ganti posisi-posisi yang gue
hapal dari kamus Kamasutra,
walaupun gak mungkin
semuanya. Gue sering baca
mengenai seks yang tahan lama, oleh karena itu Silvi
yang gue rasa udah multi
orgasme sebanyak lebih dari 5x sejak tadi, tapi gue masih belum sampai juga.
Akhirnya gue merasa kasihan juga ngeliat Silvi udah kewalahan mengimbangi kemampuan gue. Gue lepas
aturan napas, gue genjot mekinya
Silvi secara gak beraturan, dan semua yang bisa ngebuat
ejakulasi lebih cepat sampai.
Terasa kayak ada yang
ngedorong saluran dalam konti gw, gak bisa gw bedung lagi.
“Oh, Vii !”,
“Oh yeaaah, Vii, inside me
pleeaseeee!!!” Lalu, gue tancap dalam-dalam penis gue di mekinya, gue lepasin semua sperma gue kedalam rahimnya, banyak sekali.
“Ghhaaaah!!! Ouuhh…” betapa
nikmatnya.
“Oh…” Silvi
senang akan kehebatan gue.
Waktu udah nunjukkin jam 01.30 pagi, berarti tadi kita
udah bergumul selama 5 jam! Mantaaap… Setelah beres-beres dan
bersihin bekas-bekas sperma, keringat, dan darah
keperawanan Silvi. Gue papah dia menuju tempat kostnya. Gue tidurin Sil diranjangnya, dia nampak kecapean banget setelah gue bantai. Karena gue
juga udah cukup cape, gue tidur di karpet kamar kostnya, dengan tangan gue megang tangannya. Sekitar jam 06.00 gue pulang,
pamit lewat kertas yang gue
selipin dibantalnya karena diamasih belum bangun saking capenya. Dari situlah setiap gue ke kampus, gue maupun Silvi pasti
selalu ngajak untuk ‘bertempur’ lagi, tapi di tempat yang berbeda. Kadang di wc dosen (ga ada khusus co/ ce-nya soalnya),
kadang di kelas bawah, kadang di ruang lab, kadang di kostnya yang jadi tempat favorit kita. Untung Silvi rajin minum pil KB.
Jadi bisa menghindari Silvi dari
kemungkinan untuk hamil.
yah dia Silvi teman TTM gue (Temen tapi Mesum)

1 minggu berlalu siap menuju UTS, tugas kuliah gue pun menumpuk, gue bener bener sibuk sampai jarang gue kumpul ma temen temen gue.
melototi Macbook gue dengan banyak tugas Desain Interior,autocad,3D, dan memanipulasi foto menggunakan Photoshop.
Tapi si Dina sering mampir ke kos gua,yah alesannya temenin gue biar ga suntuk hhehehe perhatian banget si Dina ini.
ya sekali dia juga minta jatah pengen di entot..hehehe
tapi gue gak ceritain entar bakal panjang cerita gue..
kasian penulisnya
User Name : Leah_dizon
jadi lanjut ke CHAPTER 3 - most beautiful woman God ever created





CHAPTER 3 - most beautiful woman God ever created

----------------------------------------------------------------------------------------------------
HARI INI, hujan begitu derasnya. Menetesi setiap sudut terbuka. Meski telah reda,
tapi aroma tanah yang tersiram itu begitu menggoda. Harum, khas hujan. Sosok perempuan berkacamata itu,
dengan sweeter Putihnya, memilih berjalan-jalan merasakan angin basah itu. Dengan amat detil dia berjalan melewati gedung.
Tidak ada orang di sekitarnya, karena perempuan itu memang ingin sendiri. Berjalan perlahan melintasi jalanan taman.
Tangannya menyibak tetesan air di dedaunan. Dia berhenti sejenak.
“Ah, betapa menyenangkan tetesan air ini. Sejuk dan menyegarkan,” ucapnya dalam hati.
Dia melangkahkan kakinya ke arah palungan air. Dan berjalan di bawah naungan pohon Cemara yang tumbuh di taman Kampus.
Daunnya kuyub. Tapi indahnya tak tersesat.
Perempuan berkacamata itu, adalah

WOMAN GOD EVER CREATED.

Gue selalu terpesona melihatnya di taman itu. Gambaran dirinya membuat aku enggan pergi jauh dari tempat gue.
Rambutnya bergelombang, sebahu. Hitam dan menyenangkan dilihat. Senyumnya membuat gue ingin berada di sebelahnya.
Kulitnya lembut dan putih, ditopang kakinya yang jenjang. Tubuhnya tidak terlalu gemuk, kombinasi utuh dari keindahan dan keseimbangan.
Apa yang terjadi kemudian, perempuan berkacamata itu sendiri tak bisa menebaknya.
Semua menggambarkan kemurungan dan mendemonstrasikan hasrat yang tidak pernah dia sendiri tahu.

Taman itu memberinya ruang untuk berkomtemplasi. Memberinya udara untuk berefleksi.
Bahkan ketika mendung pun, perempuan berkacamata itu memilih taman ini sebagai tempatnya berteduh.
perempuan berkacamata itu memberikan wangi dan memancarkan kecantikan yang khusus.
Secara kontemporer, cantiknya hangat. Dan sering aku membayangkan berada di sebelahnya.


Gemintangnya seperti sketsa dari India.
Pada langit yang telah berubah menjadi musim dingin.
Kecantikanmu sederhana dan hangat. Kejujuranmu selalu melewati taraf menyakitkan.
Mencintaimu tak sekadar esoteric, tapi eklectika.
Dan biarkan cinta itu tetap bersenandung.
----------------------------------------------------------------------------------------------------


"WoooooYYYYYY!!!!"
suara menghentikan hayalanku pada sosok cewek berkaca mata itu.
yang teryata Sony.
"Ahhh kepet kowe son"bentak gue
"hahahahah laopo ngelamun le?, koyok wong edan ae.?
"iku lo penasaran bek wedok seng dek taman iku lo.." jawab gue..
"oalah le 'indah' toh.." kata SOny
"What INDAH!! kowe kok ngerti arek iku jenenge Indah jok ngarang tah"
"iyo iku indah koncone bojo ku Abel"jelas Sonny.
"kok gak ngomong kaet biyen kowe son son.." kata gue.
"aku yo ora ngerti lek kowe penasaran bek arek iku, kowe naksir ta le..?"
"agh..agh..gak gak mek penasaran ae" jawab gue terbata bata.
"siah ngomong ae lek naksir le..le.. ancene ayu arek e,akeh sing naksir arek iku
sak dosen dosenne pisan. tapi yo ngono ditolak kabeh, jarene Abel ngomong ngono" jawab sony
Tanpa banyak bicara gue langsung menuju taman meskipun masih gerimis.
"le kate nang ndi??" tanya Sony
"AKU ATE MARANI BIDADARIKU INDAHHH!!!" teriak gue sambil ketawa

gerimis tak menghentikan langkag gue untuk berkenalan pada sosok gadis berkaca mata
yang ternyanta dia INDAH.
dengan tidak mempedulikan sepatu Macbeth gue basah, gue bergegas bertemu dengan indah.
crachh crochh .....
melompat-lompat menghindari genangan air.
sesampainya di taman gue gak tau harus berkata apa,
rasa nervous, takut, senang bercampur aduk yang membuat gue tidak tenang.
seketika dia menoleh pada Gue, mungkin dalam pikirannya dia sosok orang bego lagi
bengong,dan Itu GUE.

(Versi AKU,KAMU)

"Ehh permisi boleh Aku berteduh disini" kata gue terbata bata.
"Iyaaaa mas" kata indah.
Oh My Gosh Suaranya lembut Banget dan kalem lagi sepintas
gue liat kepala indah tertunduk,dengan mata yang indah,kulit putih,bibirnya indah,
dengan baju sweter putih. ukuran toketnya tak tampak mungkin karena sweeter yang dikenakan itu ye heheh..

" Oya aku Rakha" salam gua sambil menjulurkan tangan.
"iya aku Indah"balas indah
tangannya halus banget gannn!!!
"suka ya berteduh di taman? tanya gue
"iya soalnya pemandangannya bagus disini, seger lagi" jawab indah senyum.
"Kamu anak bahasa ya temennya Abel kan?"
"iya kok tau" tanyanya.
"iya tau dari cowoknya Abel, si Sonny, habis penasaran banget siapa sih cewek cantik
yang berteduh di taman hehehe" jawab gue sambil garuk kepala
"emmm..gombal.kamu jurusan apa kha? tanya indah lembut.
"Deskomvis dah" singakat gue.
"emmm suka dengan yang berbau seni donk."
"suka baget" gue dengan nada lebay, spontan kita berdua tertawa haha
"alesan lo masuk jurusan Desain apa Kha?" tanya Indah serius
tanpa pikir panjang gue jawab.
"alesan aku masuk jurusan ini, aku balik tanya sama kamu, kalo kamu
bangun tidur yang pertama kamu lihat apa??" tanya gue balik
"emmm apa ya pintu,jam,lemari banyak dah..emang kenapa tanya itu?" jawab Indah kebingungan.
"Gini Dah,kumu gak nyadar kalo yang kamu liat semua itu adalah sebuah desain,jadi semua di dunia ini
butuh desain, termasuk Kacamata kamu itu,di desain agar para pemakai enak memakainya.hehehehe.."
jawab gue.
" Emm iya yah..bener katamu kha,semua butuh desain,"


Lamanya ngobrol, bercanda, tertawa saling ejek yang buat suasana jadi nyaman.
sekali gue elus elus rambut di keningnya, sekali juga dia mencubit perut gue.
"hujan gak reda reda nih" tanya dia

(Rakha bernyanyi)

"Kadang hari, mendung seakan tak mau pergi..
sinar slalu kan datang lagi
hujanlah hujan hari ini,
membuka ragu..
pacu langkahmu..
bersamaku...

jangan kau merasa sendiri (kau tak sendiri)
gapai tanganku
mereka kan bebaskan kita
percayalah
semua...

kadang hari
mendung seakan tak mau pergi
sinar slalukan datang lagi"

(Jinggel Sampoerna mild)

"ih rakhaaaaaaa bisa aja deh, itu kan lagunya iklan hahahahaha....."
"iya hahahaha"
"kha,mana cewek kamu?, entar dia marah lagi kita berduan gini.
"waduh" jawab gue dengan senyum bodo.
"kenapa?? Rakha jomblo yaaa hahaha? "tawa Indah sambil menutup mulutnya.
" ih sorry aku ini gak jomblo, but I'm single." jawab gue.
"yaaaa kan sama aja Kha, gimana sih"
"ya beda la Ndah...jomblo itu nasib,single itu prinsip,jadi gue single hahahahaha"
"ih dasar!! anak ini hahaha" tawa Indah
"dah entar malem kamu ada acara nggak" tanya gue
"nggak, emang kenapa Kha"
"kita jalan yuk?" pinta gue.
"Emm gimana ya...??"
"ayo dong plissss" pinta gue.
"oke deh" jawab Indah dengan senyum Indahnya oh indah "WOMAN GOD EVER CREATED".
################################################## ######################################
Bersambung..





CHAPTER 4 - Bonus

SONY STORY


Aku Sony, berumur 23 tahun. Ini cerita mengenai pengalamanku. Pertama-tama aku mau cerita soal diriku.
Aku saat ini kuliah di salah satu perguruan tinggi Brawi**** di Malan*. Di Malan*
aku tinggal dengan tanteku.
Tanteku orangnya masih muda, umurnya hanya selisih 3 tahun denganku. Itulah mengenai diriku, dan selanjutnya silakan ikuti pengalamanku ini.

Saat itu aku baru saja pulang kuliah, langsung saja kumasuk ke kamar. Ketika baru sampai di depan pintu kamar,
samar-samar kudengar tante sedang bicara dengan temannya di telpon. Aku orangnya memang suka jahil,
kucoba menguping dari balik pintu yang memang sedikit terbuka. Kudengar tante mau mengadakan pesta seks di rumah ini pada hari Sabtu.
Aku gembira sekali mendengarnya. Untuk memastikan berita itu, langsung saja aku masuk ke kamar tante. Setelah selesai telpon,
tante kaget melihatku sudah masuk ke kamarnya.

"Lho Son, Kamu udah pulang rupanya. Kamu ada perlu ama Tante, ya..?" katanya.
Aku langsung saja to the point, "Tante, Sony mau nanya.., boleh khan..?" kataku.
"Boleh aja keponakanku sayang, Kamu mau nanya apa..?" sambungnya sambil menyubit pipiku.
"Tapi sebelumnya Sony minta maaf Tante, soalnya Sony tadi nggak sengaja nguping pembicaraan Tante di telpon."
"Aduhh.. Kamu nakal ya Son, awas nanti Aku bilangin ama Mama Kamu lho. Tapi.. Oke dech nggak apa-apa.
Terus apa yang mau Kamu tanyakan, ayo bilang..!" katanya agak jengkel.
"Sony tadi dengar Tante ama teman Tante mau ngadain pesta seks disini, benar itu Tante..?" kataku pelan.
"Idihh.. jorok ach Kamu. Masak Tante mau ngadain pesta seks disini, itu nggak benar Son."
"Tapi tadi Sony dengar sendiri Tante bicara ama teman Tante, please donk Tante, jangan bohongin Sony.
Nanti Sony bilangin ama Om kalau Tante mau ngadain pesta disini." kataku agak mengancam.

"Apaa..! Aduhh.., Son, please jangan bilang ama Om Kamu. Iya dech Tante ngaku." katanya agak memohon.
"Nah, khan ketahuan Tante bohongin Sony." kataku senang.
"Terus Kamu mau apa kalau Tante ngadain pesta..?" katanya penasaran.
"Gini Tante, anuu.., anuu.., Sony.., pengen.. anuu.."
"Anu apa sih Son..? Ngomong donk terus terang..!" katanya tambah penasaran.
"Boleh nggak, Sony ikutan pestanya Tante..?"
Aduh tante melotot lagi sambil berkata, "Udah, ah, Kamu ini kayak orang kurang kerjaan aja."

Terus kurayu lagi, "Yaa.. Tante.. ya.. please..!"
"Tapi ini khan untuk orang dewasa lagi, Kamu ngaco dech. Lagian khan Kamu masih kecil." katanya agak kesal.
"Tapi Tante, Sony khan udah gede, masak nggak boleh ikut. Kalau nggak percaya, Tante boleh lihat punya Sony..!"
Lalu kulepaskan celana dan CD-ku. Lalu terlihatlah batang kemaluanku yang lumayan besar, kira-kira panjangnya 17 cm dengan diameter 10 cm.

Tante kaget sekali melihat ulahku lalu, "Wowww.., Sony sayang.., punya Kamu besar dan panjang sekali.
Punya Kamu lebih besar dari Om Kamu. Hhhmm.., boleh nggak Tante pegang kepala yang besar itu Sayang..?" katanya dengan genit.
"Tante boleh ngobok-ngobok kontolku, tapi Tante harus ngijinin Sony ikut pesta nanti..!" kataku agak mengancam.
"Ya dech, Sony nanti boleh ikut. Tapi Tante mau nanya ama kamu, Sony udah pernah ngeseks belom..?" tanyanya.
Lalu kukatakan saja kalau aku belum pernah melakukan seks dengan cewek, tapi kalau raba sana, raba sini,
cium sana, cium sini sih aku pernah melakukannya.

"Mau nggak Tante ajarin..?" katanya dengan genit.
Aku hanya terdiam. Lalu tiba-tiba tante meletakkan tangannya di pahaku. Aku begitu terkejut.
"Kenapa Kamu terkejut..? Tante hanya memegang paha Kamu aja kok..!"
Kemudian tante mengambil tanganku, lalu dia mulai menciumi tanganku. Aku merasakan barangku mulai bangun.

Tanteku mulai menciumi leherku, kemudian bibirku dilumat juga. Dia masukkan lidahnya ke dalam mulutku,
tanpa kusadari aku mengulum lidahnya. Nafasnya mulai tidak beraturan kudengar. Sementara kami asyik berciuman,
tangannya mulai meraba-raba batang kemaluanku. Dia meremas-remas pelan. Aku pun jadi mulai berani.
Kumasuki tanganku ke dalam bajunya untuk meraba payudaranya. Kumasukkan tanganku ke dalam bra-nya, terus kuremas-remas.
"Aaahh.." dia mulai mendesah.

Tidak lama aku disuruh duduk di tepi ranjang, sementara tante melepaskan bajunya step-by-step. Mataku tidak berkedip sedetik pun.
Aku tidak mau melepaskan pemandangan yang indah itu dari mataku. Kelihatan bra-nya yang berwarna hitam transparan,
sehingga payudaranya yang putih dengan putingnya yang merah kecoklatan samar terlihat.
CD-nya ternyata berwarna hitam transparan berenda. Kulihat belahan vaginanya yang tidak ada bulunya itu.
Lalu dia melepaskan bra-nya, payudaranya yang lumayan besar itu seperti loncat keluar dan mulai berayun-ayun,
membuatku tambah tegang saja. Kemudian dia melepaskan CD-nya. Kelihatan vaginanya begitu menarik, agak kecoklatan warnanya.
Lalu tante jalan menghampiriku yang duduk di tepi ranjang.

"Tante buka baju Kamu yaa.., Son..?" katanya genit.
Aku hanya mengangguk. Setelah aku telanjang total, tante langsung jongkok di depanku dan menyuruhku membuka kaki lebar-lebar.
Batang kejantananku yang sudah tegang itu tepat di depan wajahnya. Lalu dia mulai menjilati kakiku mulai dari jempol kakiku dan yang lainnya.
Dia naik ke betisku yang berbulu lebat, persis hutan di Kalimantan. Kemudian dia naik lagi ke pahaku, dielusnya dan dijilatinya,
setelah itu dia berpindah ke lubang anusku yang juga dicium dan dijilatinya. Tidak hanya itu,
ternyata dia memasukkan jari tengahnya ke lubang anusku. Ohh.., nikmatnya.
Lalu dia mulai mengelus-elus batang kejantananku dan tangan satunya memijat-mijat my twins egg-ku.

"Aaahh..!" aku mengerang kenikmatan.
Kemudian dia memasukkan batang kejantananku ke mulutnya, dia hisap penisku, terus diemut-emutnya senjata kejantananku.
Dia gerakkan kepalanya naik-turun dengan batang kejantananku masih di dalam mulutnya.
Terasa penis saya menyentuh tenggorokannya dan masih terus dia tekan. Masih dia tekan terus sampai bibirnya menyentuh badanku.
Semua batang penisku ditelan oleh tanteku, lidahnya menjilat bagian bawah penisku dan bibirnya dibesar-kecilkan,
sebuah rasa yang tidak pernah kubayangkan. Penisku kemudian dikeluar-masukkan, tapi tetap masuk seluruhnya ke tenggorokannya.

Setelah beberapa lama dihisap dan dikeluar-masukkan, terasa batang penisku sudah mau mengeluarkan cairan.
Sambil memeras biji kemaluanku dan tangan yang satu lagi dimasukkannya ke dalam lubang pantatku, kubilang sama tante, "Tante.., Aku mau keluar, ohh..!"
Dia keluarkan penisku dan bilang, "Go on come in My mouth. I want to taste and drink your cum, Sony. Hhhmm.."
Penisku dimasukkan lagi, dan sekarang dia memasukkan dengan lebih dalam dan dihisap lebih keras lagi.
Setelah beberapa kali keluar masuk, kukeluarkan spermaku di dalam mulut tante, dan langsung ke dalam tenggorokannya.
Terasa tengorokannya mengecil dan jari di lubang pantatku lebih ditekan ke dalam lagi sampai semuanya masuk.
Aku benar-benar merasakan nikmat yang sulit dikatakan.

Perlahan-lahan dia mengeluarkan batang penisku sambil berkata, "Punya Kamu enak Son.., Tante suka," katanya, "Sekarang giliran Kamu yaahh..!" pintanya.
Kemudian dia berbaring di tempat tidur dan kakinya dikangkanginya lebar-lebar.
Tante menyuruhku menjilat vaginanya yang kelihatan sudah basah. Baru pertama kali itu kulihat vagina secara langsung.
Dengan agak ragu-ragu, kupegang bibir vaginanya.
"Jangan malu-malu..!" katanya.
Kugosok-gosok tanganku di bibir kemaluannya itu. Mmmhh.., dia mulai mengerang. Lama-lama klitorisnya mulai mengeras dan menebal.
"Kamu jilat dong..!" pintanya.
Kemudian aku menunduk dan mulai menjilati liang senggamanya yang sudah merah itu.
"Mmmhh.., enak juga.." kupikir.

Aku semakin bersemangat menjilati vagina tanteku sendiri. Sedang asyik-asyiknya aku menjilati liang senggama, tiba-tiba badan tanteku mengejang.
Desahannya semakin keras, "Aaahh.., aahh..!"
Lalu muncratlah air maninya dari lubang senggamanya banyak sekali. Langsung saja kutelan habis cairan itu. Mmmhh.., enak juga rasanya.
Kemudian dia bilang, "Ohh.., God.. bener-bener hebat Kamu Son.. lemes Tante.. nggak kuat lagi dech untuk berdiri.., ohh..!"

Lalu dengan perlahan kutarik kedua kakinya ke tepi ranjang, kubuka pahanya lebar-lebar dan kujatuhkan kakinya ke lantai.
Vaginanya sekarang sudah terbuka agak lebar.
Nampaknya dia masih terbayang-bayang atas peristiwa tadi dan belum sadar atas apa yang kulakukan sekarang padanya.
Begitu tante sadar, batang kejantananku sudah menempel di bibir kemaluannya.
"Tante, Sony udah nggak tahan nich..!" kataku memohon.
Dia mengangguk lemas, lalu, "Ohh..!" dia hanya bisa menjerit tertahan.
Lalu selanjutnya aku tak tahu bagaimana cara memasukkan penisku ke dalam liang senggamanya.
Lubangnya agak kecil dan rapat. Tiba-tiba kurasakan tangan tante memegang batang kejantananku dan membimbing senjataku ke liang kenikmatannya.

"Tekan disini Son..! Pelan-pelan yaa.., punya Kamu gede buanget sih..!" katanya sambil tersenyum.
Lalu dengan perlahan dia membantuku memasukkan penisku ke dalam lubang kemaluannya. Belum sampai setengah bagian yang masuk,
dia sudah menjerit kesakitan.
"Aaa.., sakit.. oohh.., pelan-pelan Son, aduhh..!" tangan kirinya masih menggenggam batang kemaluanku,
menahan laju masuknya agar tidak terlalu keras.
Sementara tangan kanannya meremas-remas rambutku. Aku merasakan batang kejantananku diurut-urut di dalam liang kenikmatannya.
Aku berusaha untuk memasukkan lebih dalam lagi, tapi tangan tante membuat penisku susah untuk memasukkan lebih dalam lagi.

Aku menarik tangannya dari penisku, lalu kupegang erat-erat pinggulnya. Kemudian kudorong batang kejantananku masuk sedikit lagi.
"Aduhh.., sakitt.., ohh.. sshh.. aacchh.." kembali tante mengerang dan meronta.
Aku juga merasakan kenikmatan yang luar biasa, tak sabar lagi kupegang erat-erat pinggulnya supaya dia berhenti meronta,
lalu kudorong sekuatnya batang kemaluanku ke dalam lagi. Kembali tante menjerit dan meronta dengan buasnya.
Aku berhenti sejenak, menunggu dia tenang dulu lalu, "Lho kok berhenti, ayo goyang lagi donk Son..," dia sudah bisa tersenyum sekarang.
Lalu aku menggoyang batang kejantananku keluar masuk di dalam liang kenikmatannya.
Tante terus membimbingku dengan menggerakkan pinggulnya seirama dengan goyanganku.

Lama juga kami bertahan di posisi seperti itu. Kulihat dia hanya mendesis,
sambil memejamkan mata. Tiba-tiba kurasakan bibir kemaluannya menjepit batang kejantananku dengan sangat kuat,
tubuh tante mulai menggelinjang, nafasnya mulai tak karuan dan tangannya meremas-remas payudaranya sendiri.
"Ohh.., ohh.., Tante udah mo keluar nich.., sshh.. aahh.." goyangan pinggulnya sekarang sudah tidak beraturan,
"Kamu masih lama nggak, Son..? Kita keluarin bareng-bareng aja yuk.. aahh..!"
Tidak menjawab, aku semakin mempercepat goyanganku.
"Aaahh.., Tante keluar Son..! Ohh ennaakk..!" dia mengelinjang dengan hebat, kurasakan cairan hangat keluar membasahi pahaku.

Aku semakin bersemangat menggenjot. Aku juga merasa bahwa aku juga akan keluar tidak lama lagi.
Dan akhirnya, "Ahh.., sshh.. ohh..!" kusemprotkan cairanku ke dalam liang kewanitaannya.
Lalu kucabut batang kejantananku dan terduduk di lantai.
"Kamu hebat..! Sudah lama Tante nggak pernah klimaks.., oohh..!" katanya girang.
"Ohh.., Sony cape.., Tante!" kataku sambil tersenyum kelelahan.

Kami tidak lama kemudian tertidur dalam posisi kaki tante melingkar di pinggangku sambil memeluk dan berciuman.
Aku sudah tidak ingat jam berapa kami tertidur. Yang kutahu, ada yang membersihkan penisku dengan lap basah tapi hangat.
Ternyata tante yang membersihkan batang kejantananku dan dia sudah terlihat bersih lagi. Setelah selesai membersihkan penisku,
dia langsung menjilatinya lagi. Dengan tetap semangat, batang kejantananku dihisap dan dimasukkan ke dalam mulutnya.
Yang ini terasa lebih dalam dan lebih enak, mungkin posisi mulut lebih cocok dibandingkan waktu aku berdiri.
Dengan cepat batang keperkasaanku menjadi keras lagi dan dia bilang, "Son, sekarang Kamu kerjain Tante dari belakang ya..!"

Dia kemudian membelakangiku, pantat serta vaginanya terlihat merekah dan basah, tapi bekas-bekas spermaku sudah tidak ada.
Sebelum kumasukkan batang kejantananku, kujilat dulu bibir vaginanya dan lubang pantatnya.
Tercium bau sabun di kedua lubangnya dan sangat bersih. Cairan dari liang senggamanya mulai membasahi bibir kemaluannya,
ditambah dengan ludahku. Di ujung kemaluanku terlihat cairan menetes dari lubang kepala kejantananku.
Kuarahkan batang kemaluanku ke lubang vaginanya dan menekan ke dalam dengan pelan-pelan sambil merasakan gesekan daging kami berdua.
Suara becek terdengar dari batang kejantananku dan vaginanya, dan cukup lama aku memompanya dengan posisi ini.

Tante kemudian berdiri dan bersandar ke dinding di atas tempat tidur sambil membuka pahanya lebar-lebar.
Satu dari kakinya diangkat ke atas. Dari bawah, kemaluannya terlihat sangat merah dan basah.
"Ayo masukin lagi sekarang, Son..!" pintanya tak sabar.
Aku dengan senang hati berdiri dan memasukkan batang kejantananku ke liang senggamanya. Dengan posisi ini,
kumasuk-keluarkan batang kejantananku. Setiap kali aku mendorong batang penisku ke liang senggamanya, badan tante membentur dinding.
Sambil memelukku dan sambil berciuman, dia bilang, "Son, Tante mo keluar nich..!"
Kemudian kurasakan lubang senggamanya diperkecil dan memijat batang keperkasaanku dan bersamaan kami keluar dan orgasme.
Aku masih bisa juga keluar, walaupun tadi sudah keluar dua kali. Dan yang kali ini sama enaknya.

Kami terus rebahan di kasur sambil berpelukan. Kepala tante di dadaku dan tangannya memainkan penisku yang masih basah oleh sperma dan cairan vaginanya.
Dengan nakal tante menaruh jari-jarinya ke wajahku dan mengusap ke seluruh wajahku. Bau sperma dan vaginanya menempel di wajahku.
Dia tertawa waktu aku pura-pura mau muntah. Untuk membalasnya,
kuraba-raba vaginanya yang masih banyak sisa spermaku dan seluruh telapak tanganku basah oleh sperma dan cairan dia.
Pelan-pelan kutaruh di wajahnya, dan wajahnya kuolesi dengan cairan itu. Dia tidak mengeluh tapi justru jari-jariku dijilat satu persatu.

Setelah jari dan tanganku bersih, dia mulai menjilati wajahku, semua bekas sperma dan cairannya dibersihkan dengan lidahnya.
Selesai dengan kerjaannya, dia bilang, "Son, sekarang giliran Kamu yaahh..!"
Wow, tidak disangka aku harus menjilat spermaku sendiri. Karena tidak punya pilihan, aku mulai menjilati cairan di wajahnya,
dimulai dari bibirnya sambil kukulum keras-keras. Nafas tante terasa naik lagi dan tangannya mulai memainkan batang kejantananku.
Tidak disangka kalau aku bisa juga membersihkan wajahnya dan menjilat spermaku sendiri.

Tanganku diarahkan ke liang senggamanya dan digosok-gosokkan ke klit-nya. Kami saling memegang kira-kira 30 menit.
Terus kami berdua mandi untuk membersihkan badan kami.

CHAPTER 5 - Beautiful Girl



Hari ini bahagia sekali.Gue memikirkan kejadian tadi, Lalu kutelepon Indah
Kebetulan dia ada di rumah dan sehabis bicara basa-basi beberapa menit,
Kami janji di restoran Heise jam 19 :00. Sehabis telepon Indah,
gue memesan tempat duduk yang intim di restoran itu, supaya kami bisa enak makan dan bicara. Ternyata,
tempatnya masih ada. Pada jam 18 :50 aku tiba di restoran Heise dan Indah datang kira- kira 5 menit kemudian.
Wah, gue kagum melihat Indah, dia tambah cantik dan sensual! Dia memakai blus, rok dan sepatu gaya Itali.
Tasnya cocok dengan pakaiannya. Hati gue senang sekali melihat dia lagi. Dia orangnya 'Trendy Woman'.
Indah juga kagum melihat gue, "Woow, penampilanmu hebat,
Rakha! Kamu ganteng sekali," katanya. gue menjadi sedikit malu sambil tersenyum lebar.
Pelayan restoran menyambut kami dengan senyum yang ramah dan agak nakal, sepertinya dia sudah tahu apa yang akan terjadi nanti.
Restorannya lumayan besar, ada AC dan kami diantar ke ruang makan privat yang besar dan sejuk di lantai dua, dekat pintu darurat.
Sesudah kami lihat daftar makanan, kami memesan satu porsi ikan tiram, ikan gurami goreng saos Inggris,
nasi goreng dan cah brokoli pakai saos tiram. Minumannya, Fresh leci punch untuk Fresh berry punch.
Sambil menunggu makanan datang, Indah pergi ke toilet. Sesudah kira-kira 10 menit dia kembali dengan wajah yang Cantik.
Kusambut dia juga dengan senyum manis.
Indah melihat gue dengan mata yang sensual,
sepertinya dia mau berkata, "I want you as my dinner, Rakhaa!" Pada saat itu juga
gue tidak bisa berkata apa- apa, kecuali terima seluruh penampilannya saja. Sesudah kira-kira 20 menit,
pelanyan restoran mengantar makanan kami dan waktu dia sudah selesai membagi makanan itu, dia berkata sambil senyum lebar,
"Selamat makan dan nikmatilah kehidupan ini!" Kami serentak membalas,
"Terima kasih, Pak!" Indah mulai mengambil satu biji ikan tiram, lalu mendekatkan ke mulutnya.
Selama beberapa detik ujung lidahnya menjilat dan mengulum ikan tiram itu
seperti dia bermain dengan kemaluan laki- laki dan menelan seluruh ikan itu sambil bermain mata dengan gue.
Hatiku berdebar.
Sesudah makan gue pun mempunyai inisiatif menyanyikan 1 lagu buat indah di stage yang
sudah disiapin di restoran ini.
" Maaf para pengunjung saya Rakha, Saya mungin akan menggangu anda sekalian dengan suara saya,
1 lagu buat cewek yang da di pojok sana."

Jrengggg......

Beautiful girl, wherever you are
I knew when I saw you, you had opened the door
I knew that I’d love again after a long, long while
I’d love again.
You said “hello” and I turned to go
But something in your eyes left my heart beating so
I just knew that I’d love again after a long, long while
I’d love again.

Refrain : It was destiny’s game
For when love finally came on
I rushed in line only to find
That you were gone.

Whenever you are, I fear that I might
Have lost you forever like a song in the night
Now that I’ve loved again after a long, long while
I’ve loved again.

*Repeat Refrain

Beautiful girl, I’ll search on for you
‘Til all of your loveliness in my arms come true
You’ve made me love again after a long, long while
In love again
And I’m glad that it’s you
Hmm, beautiful girl

Beautiful Girl - Christian Bautista


Prok...Prok....prok.. Para pengunjung pun memberi tepuk tangan dengan meriahnya.
sejenak gue meninggalkan panggung dan kembali ke meja, Indah terseyum dengan wajah cantiknya
tanpak merah di bagian pipinya. mungkin dia seneng kali yeee......hehehe

" suara mu bagus Khaa" kata indah dengan senyum manisnya.
" ahh..gak juga, bagus karena di temenin cewek secantik kamu" puji gue.
" gombal" singkat indah dengan wajah memerah.


30 menit pun berlalu gue dan indah beranjak dari restoran dan Rumah Indah yang tidah terlalu jauh dari restoran itu.
memacu dengan kecepatan 40km/jam dengan mio soul gue.
peluk hangat tubuh indah bisa gue rasakan apalagi 2 buah gunung kembar menempel erat di tubuh gue.
sesampainya di Rumah Indah gue berhenti sejenak untuk mengobrol.
" ndah makasi yah kamu dah temenin aku"
" ih Rakha...aku juga seneng bisa jalan ma kamu, bisa di nyanyiin lagu deh.hehehe" canda indah dengan senyum
" Oya khaa mau minum apa,"tanya Indah kembali.
" ah gak usah repot Ndah,"
" yeee...gak kok...kalo kopi itam buatan indah mau, gak kalah dengan buatan kantin kampus kok hehehe"
" what kok tau seh kalo aku suka lopi itam" tanya gue.
" ya tau lah...secara Siapa yang gak kenal Rakha penunggu kantin" kata indah dengan sedikit canda.
" ouh berarti diam diam kamu memperhatikan aku yaaa hahahaha" jawab gue
" Ih gak ya..hahahahaha....ya deh aku buatin dulu ya.." sambil beranjak dia masuk, gue nunggu sambil liat hp
gue yang sepertinya ada sms ato tlp, emang sengaja gue silent biar gak ganggu dinner gue.
ternyata eh ternyata sms dan miss call dari Dina, ( lo dimana Khaa?) (lo sibuk ya, dimana sih lo?)
sengaja gue gak bales biar besok gue jelasin di kampus aja.
15 menit kemudian.
" Ini kopi itemya, silahkan diminum" kata Indah sambil tersenyum ke gue.
" Makasi dah, aku coba ya..sruuppp..ahhh jing..panas Ndah" kata gue dengan muka sedikit tolol.
" hahaha...yaiya lah itu masih panas, maen serobot aja haha" tawa indah.
" abisnya pengen cepet gue tes rasa kopi buatan cewek cantik sihhh..." puji gue sambil tersenyum melihat Indah.
" Yeee Gombal mulai deh hehehe...sini kha kopinya aku tiupin biar gak panas" serentah indah ambil kopi yang gue pengang dan meniupnya.
Oh my gosh cewek ini perhatian banget. perasaan gue dari suka berubah jadi sayang banget,belum pernah gue sayang ma cewek seperti
gue sayang ma Indah gini.
" nih udah agak dingin, ayo diminum"
"oh iya iya..sruuuppp... waw!!! rasa kopinya terasa banget Ndah enak banget, ternyata jagi juga ya hehehe" kata gue.
" iya donk sapa dulu Indah" kata indah dengan menepok di dadanya.
tak terasa malam ini larut sepertinya tetangga2 pun sepi. gue punya inisiatif cabut ah gak enak udah malem gak enak ma tetangga,
mencoba sok bijak.
" Ndah aku pamit pulang dulu ya udah malem nih" kata gue bijak.
" kok buru buru amat Rakha.."jawab indah dengan tampak wajah sedikit sedih.
" Udah malem Ndah gak enak ma tetangga, entar dikira kita lagi ngapain lagi, santai aku besok besok mampir
kesini lagi deh"
"okee beneran yah"

beranjak dari kursi gue lansung menuju sepeda dan menyetater, kupacu sepeda motor mio ku
alon alon seng penting mlaku hehehe..
dan menuju kost sweet kost.
Chapter 6 - miss college

Tersentak dari lamunan gue, ternyata tanpa sadar gue sudah berada di gedung kuliah, namun tidak berarti kesulitan gue terhenti sampai disini. Ruangan gue berada di lantai 6, sedangkan pintu lift yang sedari tadi gue tunggu tak kunjung terbuka.
Mendadak, dari belakang terdengar suara merdu menyapa gue. “Hai Rakha.!” gue pun menoleh, ternyata yang menyapa gue adalah Dina. “Hai juga” jawab gue sambil lalu karena masih dalam keadaan panik. “kemana aja lo gak pernah telepon, gak pernah sms, sms gue gak di bales?” tanya Dina sedikit kesal .
“Akkuuuu gakk punya pulsaaaaa” jawab gue sambil menirukan ucapan di iklan kartu as hehe..
“ah dasar lo hahaha ,Kerah baju lo terlipat tuh” kata Dina. Sadar, gue lalu membenarkan posisi kerah kemeja putih gue serta tak lupa mengecek kerapihan celana jeans Cheap Monday gue. “Udah, udah rapi kok. Hmm, pasti lo buru – buru ya?” kata Dina lagi. “Iya nih, biasa Pak Daru” jawab gue. “Mmh” Dina hanya menggumam.
Setelah pintu lift terbuka guepun masuk ke dalam lift. Ternyata Dina juga melakukan hal yang sama. Didalam lift suasananya sunyi hanya ada kami berdua, mata gue iseng memandangi tubuh Dina. Ternyata hari itu ia tampil sangat cantik. Tubuh putih mulusnya itu dibalut baju kaos Gucci pink yang ketat, memperlihatkan branya yang berwarna hitam menerawang dari balik bajunya. ukuran toket besar. Ia juga mengenakan celana blue jeans Prada yang cukup ketat. Rambutnya yang lurus sebahu terurai dengan indahnya. Wangi parfum yang kutebak merupakan merk Kenzo Intense memenuhi udara dalam lift, sekaligus seperti beradu dengan parfum Boss In Motion milik gue.

Tiba – tiba pintu lift membuka di lantai 4. Dina turun sambil menyunggingkan senyumnya kepada gue. Gue pun membalas senyumannya. Lewat pintu lift yang sedang menutup gue sempat melihat Dina masuk ke sebuah ruang studio di lantai 4 tersebut. Ruang tersebut memang tersedia bagi siapa saja mahasiwa yang ingin menggunakannya, AC didalamnya dingin dan pada jam pagi seperti ini biasanya keadaannya kosong. gue juga sering tidur didalam ruangan itu sehabis makan siang, abisnya sofa disana empuk dan enak sih. Hehehe…
Setelah itu lift pun tertutup dan membawa gue ke lantai 6, tempat ruang kuliah gue berada. Segera setelah sampai di pintu depan ruang kuliah gue seharusnya berada, gue tercengang karena disana tertempel pengumuman singkat yang berbunyi “kuliah Pak Daru ditunda sampai jam 12. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih. Ttd: Tata Usaha Departemen”
Sialan, kata gue dalam hati. Jujur saja kalau pulang lagi ke kostan gue malas, karena takut tergoda akan melanjutkan tidur kembali. Bingung ingin melakukan apa selagi menunggu, gue tiba – tiba saja teringat akan Dina. Bermaksud ingin membunuh waktu dengan ngobrol bersamanya, akupun bergegas turun kelantai 4 sambil berharap kalau Dina masih ada disana.
Sesampainya di lantai 4 ruang studio, aku tidak tahu apa Dina masih ada didalam atau tidak, karena ruangan itu jendelanya gelap dan ditutupi tirai. gue pun membuka pintu, lalu masuk kedalamnya. Ternyata disana ada Dina yang sedang duduk disalah satu sofa didepan meja ketik menoleh ke arah gue, tersenyum dan bertanya “Hai Rakha sayang, ngga jadi kuliah?” “Kuliahnya diundur” jawab gue singkat. Iapun kembali asyik mengerjakan sesuatu dengan laptopnya. gue memandang berkeliling, ternyata ruangan studio selebar 4X5 meter itu kosong, hanya ada suara gue, suara Dina, dan suara AC yang bekerja. Secara tidak sadar gue mengunci pintu, mungkin karena ingin berduaan aja dengan Dina.
Penasaran, gue segera mendekati Dina. “Dina, lagi ngapain sendirian disini?” “Oh, ini lagi ngerjain tugas. Abis dihimpunan rame banget sih ,jadi aku ga bisa konsentrasi.” “Eh, kebetulan lo, udah pernah ngerjain tugas gue kan?” Tanya Dina sambil memperlihatkan tugas di layar laptopnya.
gue mengangguk singkat. “Bisa ajarin gue ngga caranya, gue dari tadi gak ketemu cara ngerjainnya nih?” pinta Dina. Gue pun segera mengambil tempat duduk disebelahnya, sambil mengajarinya cara pengerjaan tugas tersebut. Daripada gue bengong, pikir gue. Mulanya saat gue ajari ia belum terlalu mengerti, namun setelah beberapa lama ia segera paham dan tak lama berselang tugasnya pun telah selesai.
“Wah, selesai juga. Ternyata gak begitu susah ya. Makasih banget ya Rakha, udah ngerepotin lo.” Kata Dina ramah. Iapun menutup laptop Toshibanya dan mengemasnya.
“ eh Din kemarin malem gue dinner ma cewek din hehehe” kata gue
“Ohhh yaaaa siapa Khaa? Anak mana?” Tanya Dina.
“namanya Indah anak kampus sini juga, kayaknya gue jatuh cinta deh ma dia”
“Sieeee cuit..cuit… ternyata Rakha bisa jatuh cinta juga ya..cemburu deh gue, gak ada yang temenin gue lagi entar hehe..” kata Dina sambil tersenyum.
“ ah elo ya gak lah..lo gue anggep kakak gue yang paling cantik n sexy hohoho..
Oya kalo lo lagi mupeng gpp kok minta ama adik Rakha hehe” kata gue genit.
“ih bisa aja lo…kapan mupengnya gue yaa..emmmuach” Dina mencium gue.
“ohh lagi minta jatah ne si mbak Dina”
, Dina pun merubah posisi duduknya sehingga ia duduk di atas paha gue dengan posisi berhadapan, daerah mekinya yang masih ditutupi oleh celana jenas menekan konti gue yang juga masih berada didalam celana gue dengan nikmatnya. Bagian toketnya seakan menantang untuk dicium, hanya berjarak 10 cm dari wajah gue. Kami berciuman kembali sambil tangan gue melingkar kepunggungnya dan memeluknya erat sekali sehingga tonjolan dibalik kaos ketatnya menekan dada gue. “mmhh.. mmmhh..” hanya suara itu yang dapat keluar dari bibir kami yang saling beradu.
Puas berciuman, gue pun mengangkat tubuh Dina sampai ia berdiri dan menekankan tubuhnya ke dinding yang ada dibelakangnya. Gue pun menciumi bibir dan lehernya, sambil meremas – remas gundukan toketnya yang terasa padat, hangat, serta memenuhi tangan gue. “Aaah, Rakha…” Erangannya yang manja makin membuat gue bergairah. Gue buka kaos serta branya sehingga Dina pun sekarang telanjang dada. Gue pun terbelalak melihat kecantikan toketnya. Besar, putih, harum, serta putingnya yang berwarna pink itu terlihat sedikit menegang. “Rakha…” katanya sambil menekan kepala gue kearah toketnya. Gue pun tidak menyia – nyiakan kesempatan baik itu. Tangan gue pun meremas, menjilat, dan mencium kedua belah toketnya. Kadang bibir gue mengulum putting toketnya. Kadang bongkahan toketnya kumasukkan sebesar mungkin kedalam mulut gue seolah gue ingin menelannya, dan itu membuat badan Dina menggelinjang. “Aaahh… SShhh…” gue mendongak keatas dan melihat Dina sedang menutup matanya sambil bibirnya mengeluarkan erangan menikmati permainan bibir gue di toketnya. Seksi sekali dia saat itu. Putingnya makin mengeras menandakan ia semakin bernafsu akan “pekerjaan gue” di dadanya.
Puas menyusu, gue pun menurunkan ciuman gue kearah pusarnya. Lalu ciuman gue makin mengalir turun ke arah selangkangannya. Gue pun membuka jeansnya, terlihatlah celana dalamnya yang hitam semi transparan itu, namun itu tak cukup untuk menyembunyikan gundukan mekinya yang begitu gemuk dari pandangan gue. Akupun mendekatkan hidung gue ke arah mekinya, tercium wangi khas yang sangat harum. Ternyata Si mbak satu ini sangat pintar dalam menjaga bagian kewanitaannya itu. Sungguh beruntung diri gue dapat merasakan miliknya Dina.
gue pun mulai menyentuh bagian depan celana dalamnya itu. Basah. Ternyata Dina memang sudah horny karena servis gue. Dengan cepat gue pun menjilati celana dalamnya yang basah tersebut. “Mmhhh… Ooggghh…” Dina mengerang menikmati jilatan gue. Ternyata rasa cairan kewanitaan Dina gurih, sedikit asin namun enak menurut gue. Setelah beberapa lama menjilati, ternyata cairan kewanitaannya makin banyak meleleh.
“Buka aja celana dalam gue” kata Dina. Mendengar restu tersebut guepun menurunkan celana dalamnya sehingga sekarang Dina benar – benar bugil, sedangkan gue masih berpakaian lengkap..mekinya terpampang jelas di depan mata gue , berwarna pink kecoklatan dengan bibirnya yang masih rapat. Bentuknya pun indah sekali dengan bulunya yang telah dicukur habis secara rapi. Bagai orang kelaparan, guepun segera melahap mekinya, menjilati bibir mekinya sambil sesekali menusukkan jari tengah dan jari telunjuk gue ke dalamnya. Berhasil..! gue menemukan G-Spotnya dan terus memainkannya. setelah itu Dina terus menggelinjang, badannya mulai berkeringat seakan tidak menghiraukan dinginnya AC di ruangan ini. “Emmh, please don’t stop” kata Dina dengan mata terpejam. "OOuucchh..." Rintih Dina di telinga gue sambil matanya berkerjap-kerjap merasakan nikmat yang menjalari tubuhnya."Ssshhh...Ahhh", balas gue merasakan nikmatnya mekinya Dina yang makin basah. Sambil terus meremas toket besarnya yang mulus, adegan menjilat itu berlangsung selama beberapa menit. Tangannya terus mendorong kepala gue, seolah menginginkan gue untuk menjilati mekinya secara lebih intens. Pahanya yang putih pun tak hentinya menekan kepala gue. Tak lama kemudian, “Uuuhhh.. Dina mau ke… lu… ar…” seiring erangannya mekinya pun tiba – tiba membanjiri mulut gue mengeluarkan cairan deras yang lebih kental dari sebelumnya, namun terasa lebih gurih dan hangat. Gue pun tidak menyia – nyiakannya dan langsung meminumnya sampai habis. “Slruuppp…” suaranya terdengar nyaring di ruangan tersebut. Nafas Dina terdengar terengah – engah, ia menggigit bibirnya sendiri sambil seluruh tubuhnya mengkilat oleh keringatnya sendiri. Setelah tubuhnya berhenti bergetar dan jepitan pahanya mulai melemah guepun berdiri dan mencium bibirnya, sehingga ia merasakan cairan cintanya sendiri.
“Mmhh, Rakha… makasih ya lo udah bikin gue keluar.” “lo malah belum buka baju sama sekali, curang” kata Dina. “Gantian sini.” Setelah berkata lalu Dina mendorong tubuh gue sehingga gue duduk diatas sofa. Iapun berjongkok serta melepaskan celana jeans serta celana dalam gue. Dina langsung mengulum kepala kontigue. Rasanya sungguh nikmat sekali. “mmh Din kamu nikmat banget…” katague. Iapun menjelajahi seluruh penjuru konti gue dengan bibir dan lidahnya, mulanya lidahnya berjalan menyusuri urat dibawah konti gue, lalu bibirnya yang sexy mengulum buah zakark gue. “aah… uuhh… ” hanya itu yang dapat kuucapkan. Lalu iapun kembali ke ujung konti gue dan berusaha memasukkan konti gue sepanjang – panjangnya kedalam mulutnya. Gue pun mendorong kepalanya dengan kedua belah tangannya sehingga batang konti gue hampir 3/4nya tertelan oleh mulutnya sampai ia terlihat hamper tersedak. Sambil membuka baju gue sendiri gue mengulangi mendorong kepalanya hingga ia seperti menelan gue sebanyak 5 – 6 kali.
Puas dengan itu ia pun berdiri dan duduk membelakangiku, tangannya membimbing konti guememasuki liang kemaluannya. “Rakha sayang, guemasukin ya..” kata Dina bergairah. Lalu iapun menduduki konti gue, mulanya hanya masuk 3/4nya namun lama – lama seluruh batang konti gue terbenam ke dalam liang mekinya.
Iapun terus menaik – turunkan mekinya sambil kedua tangannya bertumpu pada dada gue “Pak.. pak… pak.. sruut.. srutt..” bunyi paha kami yang saling beradu ditambah dengan cairan kewanitaannya yang terus mengalir makin menambah sexy suasana itu. Sesekali gue menarik tubuhnya kebelakang, sekedar mencoba untuk menciumi lehernya yang jenjang itu. Lehernya pun menjadi memerah di beberapa tempat terkena cupangan gue.
“Dina, ganti posisi dong” kata gue. Lalu Dina berdiri dan segera gue posisikan dirinya untuk menungging serta tangannya bertumpu pada meja. Dari posisi ini terlihat liang mekinya yang memerah tampak semakin menggairahkan. guepun segera memasukkan konti gue dari belakang. “aahh, pelan – pelan sayang” kata Dina. guepun menggenjot tubuhnya sampai toketnya berguncang – guncang dengan indahnya. “Aaahhkk...Rakha...Ooucchhhkgg..Ermmmhhh" suara Dina yang mengerang terus, ditambah dengan cairannya yang makin banjir membuat gue semakin tidak berdaya menahan pertahanan konti gue. “Ooohh...yeahh ! fu*k me like that...uuhh...i’m your bitch now !” erang Dina liar.
"Aduhh.. aahh.. gila Dina.. enak banget!" ceracau gue sambil merem-melek. "Oohh.. terus Rakha.. kocok terus" Dina terus mendesah dan meremas-remas dadanya sendiri, wajahnya sudah memerah saking terangsangnya. "Yak.. dikit lagi.. aahh.. Rakha.. udah mau" Dina mempercepat iramanya karena merasa sudah hampir klimaks. "Din.. Aku juga.. mau keluar.. eerrhh" geram gue dengan mempercepat gerakan.
"Enak nggak kha?" tanyanya lirih kepada gue sambil memalingkan kepalanya kebelakang untuk menatap mata gue. "Gila.. enak banget din.. terusin sayang, yang kencang.." Tangan gue yang masih bebas gue gerakkan kearah toketnya untuk meremas – remasnya. Sesekali tangan gue memutar arah ke bagian belakang untuk meremas pantatnya yang lembut.
“uuhh.. sshh.. Din, aku udah ga tahan nih. Keluarin dimana?” Tanya gue. “uuhhh.. mmh.. ssshh.. Keluarin didalam aja ya, kita barengan” kata Dina. Makin lama goyangan konti gue makin dalam dan makin cepat.. "Masukin yang dalem dooo...ngg...", pintanya. guepun menambah kedalaman tusukan konti gue, sampai pada beberapa saat kemudian. “aahh… Khaaa.. kita keluarin sekarang…” Dina berkata sambil tiba – tiba cekikan mekinya pada konti gue terasa sangat kuat dan nikmat. Iapun keluar sambil tubuhnya bergetar. Gue pun tak mampu membendung sperma pada konti gue dan akhirnya gue tembakkan beberapa kali ke dalam liang mekinyanya. Rasa hangat memenuhi konti gue, dan disaat bersamaan guepun memeluk Dina dengan eratnya dari belakang.
Setelah beberapa lama tubuh kami yang bercucuran keringat menyatu, akhirnya gue pun mengeluarkan konti gue dari dalam mekinya. gue menyodorkan konti gue ke wajah Dina dan ia segera mengulum serta menelan habis sperma yang masih berceceran di batang penis gue. gue menyandarkan tubuh gue pada dinding ruang studio dan masih dengan posisi jongkok dihadapan gue. Dina tersenyum sambil terus mengocok batang konti gue
Setelah selesai, kami pun berpakaian lagi.
Tanpa menghiraukan mata kuliah Pak Daru, Tak lupa gue mengucapkan terima kasih kepadanya, lalu gue pun pulang ke kostan setelah mengantarkan Dina ke kostannya menggunakan mio soul gue.
Chapter 7 – Sense of Photography (final)


Hoamz jam dinding menunjukkan pukul 8 pagi, hari ini gak ada kuliah rencana gue hunting hunting di sekitar kota, sekalian nambah referensi foto gue.
Lansung gue beranjak ke kamar mandi.
20 menit selesai mandi, langsung gue kenakan celana cheaps monday, atasan kaos merk quik silver, sepatu macbeth Mc Queen keluaran 2012 dan tidak lupa gue siapin camera Nikon D90 gue.
Sambil itu gue juga manasin si mio soul gue.
Semua perlengkapan sudah lengkap termasuk ipod gue hehe..

Brum..Brum..

Playlist 1
Kuhirup udara pagi ini
Dan hangat sinar mentari
Kicauan burung2
Kuucapkan selamat pagi

Kulangkahkan kaki kecilku
Susuri hari yang baru
Dengan segelas kopi susu
Dan nikmatnya roti sumbu

Lalu aku bergegas mandi
tidak lupa menggosok gigi
Cukur kumis jenggotku yang takkaruan
Biar tampak rapi

Ku kenakan kemeja putihku
Celana hitam dasi kupu kupu
Sepatu dari kulit lembu
Setelan pas untuk seleraku

Ku pacu sepeda motor tuaku
Alon alon sing penting mlaku
Ra sah ngece ra usah ngguyu
Yo wis ben wae iki karepku

Beginilah hari hariku
Biar kamu kamu semua tau
Esok lusa kalau kita bertemu
Coba sapa aku

Gerbang - cerpen

sesampainya di sekitar kota, gue parkirin sepeda gue dan mulai untuk mengambil gambar.
Klek..Klek.. Suara dari kamera.
taman2, gedung, human dan entah berapa banyak foto.

Kring..Kring rintone hp gue bunyi dan ternyata panggilan dari indah.
“ ya Ndah “
“ kamu dimana Kha..?”
“ Aku lagi di jalan ne, lagi hunting2, emang ada apa Ndah?
“ kerumah dong Khaa, kan udah janji mau kerumah, Indah butuh temen ngobrol ni bĂȘte dirumah sendiri”
“emm gitu…iya deh entar mampir”
“kok entar sih..Indah ganggu ya?”
“gak kok…iyah iyah aku mampir, tapi jangan lupa Ndah..”
“apaan?”
“ 1 cangkir kopi hitam hehehe”
“huuu dasar iyah aku buatin ntar, cepetan GPL”
Tuut…tuutt…
Tanpa gue piker panjang gue pacu sepeda motor gur menuju rumah Indah.
15 menit tok ..tok …tok..
Cklek…
“ih Rakha hehe..” kata Indah sedikit manis.
“masuk Kha..gak ada orang kok”
“lo emang ortu pada kemana?” Tanya gue.
“kerumah kakek” singkat Indah.
“”naik ke atas aja Kha agak seger udaranya disana” kata Indah sambil menarik tangan gue.

Kami naik ke lantai atas dan
masuk ke sebuah ruangan
berukuran kira2 8X6m.
Lantainya karpet abu2. Ruangan itu kosong, hanya
ada satu meja kerja & laptop
di pojok, sofa panjang dgn
satu meja di depannya, dan
lemari kecil disamping meja
kerja dgn seperangkat home- theatre di atasnya. Sebuah
kaca yg besar terpasang di
salah satu sisi dinding,
ukurannya hampir memenuhi
satu sisi dindingnya. Beberapa
lampu dinding tampak terpasang dan di langit2
terdapat 6 lampu sorot kecil.
Indah sekali, batin gue sambil
melihat sekeliling ruangan.
“Silahkan duduk, kha.. Aku
setel musik dulu ya” kata Indah sambil menyalakan DVD dan
alunan sensofon Kenny G mulai terdengar
sayup.
“Suka lagu2 gini kha?” kata
Indah sambil menyiapkan kopi hitam untuk kami
berdua.
“Suka.. Apalagi ndengerin
sambil cari inspirasi..” jawab gue
sambil meletakkan tas kamera gue.
“Wah, suka fotografi ya..?”
tanya Indah.
“Hobi aja sih, gak buat
profesi. Kalo ada yg pake sih
ga nolak.. Hehehe..” jawab gue sambil minum.
“Hobi kalo menghasilkan kan
bagus tuh..” kata Indah sambil
ikut minum.
Kami pun minum sambil
ngobrol kesana-kemari, bercanda dan kadang main
tebak2an. Mendadak dia bertanya
kepada gue “Kha, aku kasih job
foto mau?”
“Emmm…, gimana ya? Job
foto gimana? Kalo acara2
resmi atau wedding aku belum pernah sih..” jawab gue ragu.
“Foto aku..! Aku ingin difoto
sendiri, privat..!” kata Indah.
“Maksudnya kamu mau difoto
seperti model gitu..?”
tanya gue. “Iya, tapi khusus buat aku
pribadi lho.. Berapa harganya,
kha..?” balas Indah.
Wah, aku belum pernah dapat
job foto model gini, batin gue
bingung. “Gampang soal itu deh.. Kayak
sama siapa aja, lagian buat
eksperimen aku juga..”
jawab gue sekenanya.
“Bener nih..? Kalo iya, kita
mulai aja..!” kata Indah. “Sekarang? Lokasinya mau
dimana?” tanya gue.
“Disini aja, kira2 bagus gak
suasananya? Kalo diluar
berarti harus cari lokasi dulu
deh..” kata Indah. Gue melihat sekeliling ruangan.
Tampaknya layak juga untuk
foto session. Dinding, lampu
ruang yg bisa diatur, suasana,
semua oke sih.
“Oke, bisa kok disini kalo mau..” kata gue.
“Siiipp…! Sebentar, aku make-
up dan cari baju dulu ya..”
kata Indah sambil keluar
ruangan.
Gue segera menyiapkan kamera Nikon D90 DSLR-gue dan
perlengkapannya, lalu
mengambil sample seting
pencahayaan disitu (mirip
profesional? Hahaha..!) Tak beberapa lama Indah masuk
kembali, kali ini dia tampak
lebih cantik dengan
dandanannya. Dia memakai
celana jeans pendek sekali
dan t-shirt warna hitam. Pahanya yang mulus
semakin kelihatan jelas dan
rambutnya yang
bergelombang sebahu
dibiarkan terurai. Pundaknya
yg putih nampak terbuka sebagian karena t-shirtnya
yg lebar itu. Tidak nampak
adanya tali BH membuat gue
semakin penasaran. Pikiran gue
mulai melayang kemana-mana
nih.. “Kok melamun sih…? Gimana
penampilanku?” kata Indah
membuyarkan pikiran gue.
“eh.. mmm.. Bagus kok..”
jawab gue gugup.
“Keliatan sexy gak, kha..?” “Sexy kok, kamu juga
keliatan cakep..” jawab gue
polos.
“Ihh… Rakha jangan
ngeledek, ah..”
“Bener kok, Ndah.. You’re look so beautiful & sexy..!”
jawab gue.
“Kita mulai aja ya..” ajak Indah
sambil pasang gaya.
“Kita ambil sample dulu ya..”
jawab gue sambil mulai jepret dia beberapa kali.
Setelah sepakat dengan
hasilnya, kami melanjutkan
sesi foto kami. Indah nampak
luwes dalam bergaya. Dalam beberapa pose dia
nampak ingin tampil sexy
dengan menurunkan belahan
pundaknya, membuat gue makin
penasaran saja.
Akhirnya gue pun berkomentar juga “Yang lebih
menantang dong, Ndah…”
“Oke…” jawab Indah.
Kemudian dia memasukkan
tangan ke dalam t-shirtnya
lalu melempar sesuatu ke lantai. Wow..! itu tadi ternyata
BH tanpa talinya, Indah
sekarang tdk pakai BH. Gue
kembali melihatnya, tambah
kelihatan sexy karena
putingnya kelihatan menonjol dibalik t-shirtnya.
“Ready..?” tanya gue.
“Oke..” jawab Indah.
Indah mulai berpose lagi, kali ini
semakin berani. Dia mulai
melorotkan t-shirtnya sehingga nyaris kelihatan
toketnya, belum posenya
yg membuat laki2 bergetar.
Tak berapa lama Indah
membuka retsleting celananya
sehingga CD-nya yg berwarna hitam kelihatan. Dia terus
bergaya dengan pose yang
semakin menantang.
“T-shirtnya buka aja, Ndah..”
kata gue tanpa sadar.
“Malu, ah kha..!” jawab Indah. “Gak apa2.. kan ini cuma buat
pribadi aja…lagian ada siapa di sini” kata gue.
“Malu sama Rakha, tau..!”
kata Indah.
“Gak apa2 kok.. Kayak sama
siapa aja..” jawab gue semakin berani.
“Oke lah..” jawab Indah sambil
membuka t-shirtnya sambil
membelakangi gue.
“Ok, pose gitu ya.. Muka
noleh ke kamera dong..” kata gue.
Gue ambil gambarnya
beberapa kali dalam pose itu.
“Hadap samping, ndah..”
kata gue.
Indah pun berpose menghadap samping dengan tangan
menutupi dadanya dan wajah
ke kamera. Setelah beberapa
kali jepretan, gue memintanya
menghadap kamera. Indah pun
menurut dengan tangan tetap di dada. Uuhh… Membuat
semakin penasaran nih,
batin gue.
“Jangan ditutupi dong, Ndah..”
kata gue.
Indah tidak menjawab tapi langsung berpose dengan
berkacak pinggang.
Toketnya yang tidak
terlalu besar tapi kencang
dan bagus bentuknya dengan
puting pink menantang langsung kelihatan. Ini toket kesukaan gue. Aku sempat terpana
melihat pemandangan itu,
betul2 mantap.
“Udah, jangan melongo gitu
Kha..! Katanya suruh
kelihatan..” kata Indah sambil tersenyum.
“Ehh… i..i..iya..” jawab gue
gugup sambil siap untuk
memotret. Kurasakan adik
kecil gue mulai mengeras juga.
Wah, gawat nih.., batin gue. Setelah beberapa jepretan
kami lalu beristirahat dan Indah
mengenakan t-shirtnya lagi.
Kami melihat hasil jepretan gue
di kamera sambil duduk di
lantai karpet. “Kurang jelas kha, kecil2
banget..” kata Indah.
“Liat pake laptop aja, ntar
aku sambungin..” jawab gue.
Indah berdiri mengambil laptop
di meja, langsung gue sambung ke kamera dan gue
transfer foto2 tadi.
Kami melhat hasil dari awal
sambil saling berkomentar
hasilnya. Sampai pada foto
mantap tadi. Indah terdiam sambil mengamati satu persatu, gue
pura2 cuek aja.
“Mas, foto lagi yuk..”
mendadak Indah berkata
pada gue.
“Oke…” jawab gue. “Tapi….” kata Indah sambil
menatap gue, ada keraguan di
mata dan nada bicaranya.
“Kenapa, Ndah..?” tanya gue.
“Aku mau difoto naked,
telanjang..! Tapi yang kelihatan Art-nya gitu.. Kira2 gimana,
kha..?” jawab Indah.
Gue sempat kaget, bingung,
dan mungkin girang campur
aduk jadi satu.
“Eeee… bisa kok.. Lagian kamu punya tubuh yang
bagus, pasti ntar keliatan
Indah hasilnya..” jawab gue
sekenanya.
“Ah.. Mulai tuh gombalnya…”
kata Indah tersipu. “Suer… Bener kok.. Kamu
cakep, punya body bagus,
mulus.. Kurang apalagi coba..?”
kata gue sambil berharap
mudah2an dia jadi difoto.
“Oke lah… Ayuk, kita mulai..” kata Indah sambli berdiri. Yess..!!
Gue bersorak dalam hati.
Indah mulai melepas t-shirt,
celana pendeknya, lalu CD-nya
sambil membelakangi gue. Gue
langsung mengambil gambarnya dari posisi
belakang sambil mengarahkan
gayanya. Indah menurut saja
dengan arahan gue dari mulai
menghadap samping sampai ke
kamera tapi dengan pose tangan tetap menutupi dada
dan bagian bawahnya. Indah
nampak enjoy dengan
posenya yg semakin berani.
Adik kecil gue kembali terasa
tegang, tapi tidak gue hiraukan karena asyik memotret.
“Open semua aja, ..
Nanggung..” kata gue nekat.
Indah kembali tersenyum dan
perlahan melepas kedua
tangannya dari dada dan bawahnya. Wow..! Perfect..!
Body Indah proporsional
walaupun bisa dibilang agak
kurus. Toketnya tidak
terlalu besar tapi bagus
bentuknya, pantatnya pun sedang, meki pink gak berjembi. Aku masih
tertegun melihat
pemandangan itu ketika Indah
berkata “Tuh, kan.. Malah
melongo.. terusin gak nih..?!” “i..i..iya.. Terusin.. Habisnya
kamu perfect, Ndah..” jawab gue
tidak mau menyia-nyiakan
kesempatan ini. Lalu kami mulai lagi sesi
pemotretannya. Kali ini Indah
benar2 pose telanjang. Dia
nampak enjoy dengan
posenya, bahkan semakin lama
semakin berani dan menantang. Gue lihat sekilas dia
merasa horny juga. Gue pun
jadi semakin berani mengambil
gambar bagian2 vitalnya dari
dekat dan berbagai posisi.
Adik kecil gue terasa semakin berontak tapi gue tak peduli
sambil terus mengambil
gambar Indah. Setelah berapa puluh jepretan

kami pun kembali istirahat
duduk di lantai sambil melihat
hasil sesi kami. Kali ini Indah
tidak langsung mengenakan
bajunya, dia hanya menutup dadanya dengan t-shirtnya.
Gue disampingnya dengan
perasaan tidak karuan.
Bagaimana tidak? Ada mahluk
manis dan sempurna telanjang
bulat disebelah gue! Satu persatu dia mengamati
fotonya di laptop dengan
serius, seakan sedang menilai
bentuk tubuhnya sendiri.
“Sempurna, Ndah..” kata gue
tanpa sengaja terlepas. “Ah, Rakha bisa aja.. Biasa aja
kaleee..” kata Indah sambil
mencubit paha gue.
“Yakin, Ndah.. Ga bohong kok..”
jawab gue.
“iihhhhh, genit ah..!!” kata Indah merajuk sambil memukuli
paha gue.
“Kamu tuh yg jadi genit kalo
gini.. Cewek genit kan sukanya
gitu..” jawab gue.
“Tuhhhh kan… Malah ngeledek, awas lho..” Kata
Indah sambil memukuli pundak gue
dengan tangan satu karena
satunya memegangi t-shirt di
dadanya.
Gue tertawa sambil memegang tangan yg memukuli gue. Tanpa
sadar tangan satunya
berusaha memukul gue juga
sehingga t-shirtnya terlepas,
gue langsung terdiam melihat
toketnya. Melihat gue terdiam Indah langsung sadar
dan segera melepas
tangannya dan menutupi
dadanya sambil tersipu
melihat gue. Gue menatap
wajahnya yg tersipu itu, Indah nampaknya jadi salah tingkah
dan terdiam menatap gue juga. Perlahan gue memegang
kedua tangan yg menutupi
dadanya lalu gue lepas dari
dadanya. Indah diam saja sambil
kami bertatapan tapi wajah
kami semakin mendekat entah siapa yg duluan. Lalu gue kecup
bibir tipisnya, dia diam saja
sambil memejamkan matanya.
Kali ini gue cium bibirnya dan dia
mulai membalas ciuman gue,
akhirnya bibir kami saling bertaut. Tak berapa lama Indah
melepas tangannya dari
pegangan gue dan langsung
memeluk leher serta kepala gue.
Ciuman bibirnya bertambah
ganas, nafasnya pun jadi semakin cepat. Hmmm.. Indah
mulai naik nih.., batin gue. kami
pun saling berpelukan sambil
saling bermain mulut dan lidah. Tangan gue perlahan mulai
gerilya di dada Indah. Gue raba
dan gue elus toketnya
sambil sesekali memainkan
putingnya, kadang gue remas
perlahan. Indah semakin ganas mencium gue dan semakin erat
memeluk gue. Kemudian perlahan
gue rebahkan tubuhnya di lantai
karpet sambil kami tetap
saling berpagut.
Dengan posisi Indah yang rebah semakin memudahkan
tangan gue untuk menjelajahi
tubuh mulusnya. Sambil terus
berpagut bibir tangan gue mulai
memainkan toketnya,
kanan kiri bergantian. Kuremas perlahan dan
kumainkan putingnya yg makin
mengeras.
Lalu gue lepas bibir gue kemudian
mulut dan lidah gue mulai
menjelajahi leher Indah, setelah puas terus turun ke arah
toketnya. Gue kecup, jilat
dan hisap payudara Indah satu
persatu sementara tangan gue
mulai menjelajah ke
selangkangan Indah. Indah mulai mendesah dan menggeliat
merasakan naik birahinya
ketika tangan gue menyentuh
pintu meqinya. Gue terus
mempermainkan toket Indah
dgn mulut gue sementara jari gue memainkan pintu meqinya. Indah
semakin menggelinjang sambil
mendesah-desah dgn mata
tertutup menikmati permainan
ini. Kemudian perlahan gue arahkan
lidah gue turun ke arah perut
Indah, gue jelajahi bagian
perutnya dengan lidah dan
mulut sampai akhirnya
berhenti di dekat meqinya. Lalu gue beranjak dan duduk
di depan selangkangan Indah
dan segera kubuka lebar
kedua kakinya. Gue jilati mulut
meqinya yg mulai basah
perlahan sambil sesekali gue masukkan lidah gue kedalam
lubangnya. Ternyata meqi Indah sempit sekali tercium aroma perawan.
membuat gue
semakin asik memainkannya. Indah semakin menggelinjang
sambil memegang kepala gue,
mulutnya terus mengeluarkan
desahan2 kenikmatan
“oooohhhh… aaahhhhh..
kha memekku gatel banget… uuuuhhh….” Aku terus memainkan lidah gue
di meqi Indah yang semakin
basah oleh cairannya. Tak
berapa lama dia menggelinjang
hebat dan meqinya tampak
semakin membanjir oleh cairannya dan desahannya
semakin bertambah keras
“aaaahhhh…! uuuuuhhh…
Kha…! Diapain memek ku enak banget.Terusssss….!Aku pengen keluuaar..!
ooooouuughhhh…!!”
Rupanya dia sudah orgasme oleh lidah gue. Seketika itu juga
gue teringat pintu sudah
dikunci atau belum, kuatirnya
ada orang mendengar dan
masuk. Gue menghentikan
aktivitas gue dan bermaksud mengunci pintu. Indah ikut bangun menatap gue
dan berkata dengan nada
protes, “Kok berhenti sih..
Kenapa..?!”
“Pintu udah dikunci belum
tuh?” “Udah.. Tadi aku kunci kok..”
“oya Ndah, aku mau nanya sesuatu
boleh?” tanya gue pelan, gue
ingin yakin dia masih perawan
ato tidak. Kalo masih, aku gak
mau nerusin ini. Gue gak mau merusak dia juga.
“Nanya apa, kha..?” sahut
Indah sambil memegang
tangan gue.
“eemmmm.. Kamu masih virgin
gak?” “Emang kenapa kha?
Bedanya apa?”
“Aku gak mau merusak kamu
kalo kamu masih virgin, Ndah…”
jawab gue.
“Aku masih virgin kha, cuma kamu cowok pertama yang ngelihat aku telanjang gini” kata Indah.
" oh ya! " singkat gue.
" ya aku rela kha, aku mau hanya kamu cowok pertama dan terakhir buat aku, coz aku sayang kamu kha."
" kalo gue gak suka ma kamu gimana hahaha" canda gue.
" Ih serius a. . .Hahaha. ." balas indah.
" omong2 memek kamu kok becek gini, indah ngompol ya?? " canda gue lagi sambil gue arahin jari gue ke idung Indah.
" ih dasar ini gara2 kamu ngubek memek aku.. geli tau.."
" ih yaudh kalo gitu gak aku ubek2 lagi.." kata gue dengan sediki menjulurkan lidah.
" ih Rakha..." jawab Indah manja sambil
mulai mencium bibir gue dan
tangannya mulai membuka
kancing baju gue. Gue diam saja
menikmati cumbuan Indah
disekitar mulut gue sementara baju gue sudah mulai terlepas
semua. Indah terus turun ke
dada gue dan mulai menghisap
puting gue sambil gue elus pelan
rambutnya yg harum, semakin
membuat gue sangat ingin ‘meng Exe dia. Perlahan Indah mendorong gue
hingga rebah dilantai sambil
mulutnya terus mencium dan
menjilati dada gue serta
tangannya mulai meraba
kedalam celana gue, setelah tangannya medapatkan
konti gue langsung
dipegangnya dan dipijit-pijit
lembut. Kemudian Indah mulai
membuka retsleting celana gue,
tampak ujung konti gue menyembul dari balik CD-gue.
Tak berhenti sampai situ Indah
segera melorotkan celana dan
CD-gue, gue pun langsung
membantu melepasnya.
Sejenak Indah menatap konti gue yg sudah berdiri
tegak dan keras dgn
pandangan yg tak gue mengerti.
Ukurannya gede, mengacung
dgn sangat keras. Perlahan Indah mulai mengelus kontiku.
" gede banget aku jadi takut" kata Indah.
Ya maklum lah baru pertama liat konti gede kali ye..
" hehe justru yang gede yang enak Ndah " bales gue.
" tapi memekku masukin 1 jari aja masih sakit kha,.."
" iya soalnya kamu masih perawan ya masih sempit lah, ayo dong emutin kontiku" pinta gue.
kemudian Indah menjilatinya dengan
lembut, sangat nikmat sekali
jilatannya. Lalu Indah mulai
memasukkan konti gue ke
mulutnya memulai prosesi BJ- nya. Serasa sekujur tubuh gue
seperti kesetrum sampai
ubun2 menikmati BJ Indah,
perlahan tapi pasti mulutnya
maju-mundur mengulum
konti gue sambil sesekali dijilati dan dikocok pelan konti gue.
“oohhh, Ndah… Kamu hebat,
sayang…” kata gue disela-sela
desahan gue menikmati BJ-nya.
Lalu gue raih dan gue angkat
tubuh Indah yg sedang mem- BJ-gue naik ke atas tubuh gue
hingga posisi kami jadi 69,
posisi favorit gue saat lagi merawanin si Dina (chapter 1).
Meqi I kini
tepat di wajah gue dan segera
gue jilati, Indah kembali
menggelinjang diatas tubuh gue. Semakin kerap gue memainkan
meqinya dengan lidah gue Indah
semakin ganas dalam BJ-nya,
mungkin disebabkan karena
birahinya yg semakin tinggi.
Cukup lama kami dalam posisi itu hingga akhirnya Indah
kembali menggelinjang keras
sambil melenguh panjang dan
meqinya bertambah basah
menandakan dia mengalami
orgasme lagi. Konti gue yg sedang di BJ Indah pun semakin
merasakan sesuatu yg akan
keluar tapi gue masih
berusaha menahannya,
akhirnya gue hentikan
aktivitas gue dan berguling kesamping menurunkan tubuh
Indah. Kini dia tergeletak
pasrah di lantai, semakin
membuat gue ingin segera
meng Exe nya. Gue
merebahkan diri disampingnya dan kembali menjilati
putingnya sambil meremas-
remas toketnya. Tangan
Indah meraih konti gue lalu
meremas dan mengocoknya. Tak lama kemudian Indah
menarik tubuh gue untuk
menindihnya, rupanya dia
sudah ingin di Exe tapi
malu untuk mengatakannya.
Gue pun segera menindihnya tapi tidak gue masukkan konti gue
ke meqinya sambil gue tatap
Indah, tampak pandangannya
seperti sedang mengharapkan
sesuatu. Gue ciumi leher Indah
sambil menusuk-nusukkan konti gue ke permukaan
meqinya, sengaja tidak
gue masukkan dulu supaya dia
tambah penasaran. Rupanya
Indah sudah tidak tahan,
kakinya semakin lebar mengangkang membuka jalan
untuk gue. Perlahan kugenjot pinggang gue
dan masukkan konti gue ke
meqinya secara bertahap. Indah
memeluk gue erat ketika
perlahan meqinya dimasuki
konti gue. Meqi Indah terasa sempit sekali.
" ah pelan2 Rakha..Sakit sekali ahhhhh." teriak Indah.
Sulit sekali konti gue masuk ke meki Indah.
" tahan ya sayang, entar enak juga kok" jawab gue.
Akhirnya kutekan penuh
pinggangku sehingga konti gue
masuk semua ke meqinya.
“auuhh..Kha..aaaahhhh..
Sakit kha aahhh!!” desah Indah sambil menangis dan mempererat
pelukannya.
Gue diemin konti gue di dalam lubang meqinya agar otot2 di mekinya relex.
Aku mulai menariknya
perlahan, darah perawan mengucur dari meqi indah lalu gue ambil t- shirt Indah untuk mengelapi meqi indah.
" uhh darah perawan keluar ne" kata gue. Sambil mengusap air mata Indah.
" Kha aku udah gak perawan lagi, aku sayang banget ma kamu, jangan tinggalin aku ya kha" kata Indah.
" iyah Ndah aku juga sayang kamu, iah aku janji mau jadi cowok pertama dan terakhir buat kamu." jawab gue bijak, sekilas Indah pun tersenyum.
" siap di memeknya di etot" tanya gue.
" ya siap, tapi pelan2 sayang" jawab Indah.
Gue kembali megambil posisi, memasukan konti gue ke meqi Indah yang masih sempit.
Gue masukin perlahan2, maju mundur,
tambah cepat,
lalu pelan lagi, terus menerus.
Indah nampak merem-melek sambil terus mendesah
menikmati genjotan gue. Setelah
bosan posisi itu aku segera
bangkit dan gue cabut konti gue
lalu gue tekuk kaki Indah keatas.
Kemudian sambil jongkok gue masukkan konti gue lagi dan
kembali kugenjot.
“ooowhhh…punyamu keras
sekali khaa…aaahhh……uuuhh..” kata Indah disela
desahannya. “Punyamu juga enak, Ndah..”
jawab gue sambil terus
menggenjotnya. Toket Indah
bergerak naik-turun seiring
genjotan gue, segera gue raih
keduanya dan gue remas-remas perlahan. Indah jadi semakin
terangsang dan mendesah-
desah tak karuan. Beberapa lama kemudian
gue cabut konti gue dan
membalikkan badan Indah
supaya nungging.
Segera kumasukkan konti gue
lagi ke meqinya setelah Indah
dalam posisi nungging langsung
amblas ke dalam, Indah melenguh panjang
“uuuuuugghhhh…sayangg.. “.
Segera gue genjot Indah dalam
posisi doggy, dia tambah
mendesah-desah tak karuan.
Rupanya posisi ini memberikan sensasi yg hebat buat dia.
Benar saja, tak sampai 5
menit dia mengalami orgasme
lagi sampai wajahnya
tertelungkup ke lantai. Posisi
seperti ini membuat dia jadi lebih tinggi nunggingnya. Gue
pun berhenti dan berdiri.
Gue masukkan lagi konti gue ke
meqi Indah yg sedang nungging.
Bleeesss….. Langsung kugenjot
lagi dengan irama biasa dan lama2 menjadi cepat. Indah
kembali mendesah-desah tak
karuan. Dia nampaknya pasrah
mau dibuat seperti apa. Setelah puas gue lepas konti gue
lalu gue baringkan Indah lagi di
lantai. Gue tindih dia lagi dgn
posisi misionaris. Kembali
gue hujamkan konti gue kedalam
meqinya. Langsung gue genjot cepat karena gue sudah tidak
tahan ingin segera
menyemburkan sperma. Indah
rupanya paham dengan
maksud gue, kakinya segera
melingkar di pinggang gue dengan erat. Rasanya semakin
enak sekali meqi Indah. Terus
kupercepat genjotan gue sambil
berbisik ke Indah, “Keluarin
diluar atau dalam, Ndah..?”
“Terserah, Rakha aja…aku gak peduli." jawab Indah
sela deshan nafasnya yg
memburu. terus kugenjot lagi dia
dengan cepat. Indah semakin hebat menggelinjangnya
menandakan dia hampir
sampai orgasme. Semakin
kupercepat genjotan gue
karena kurasakan sesuatu
akan segera menyembur. “Khaa…Khaa…uuuhhh…aa
agghh..uuuhhhhhhhh.. .khaa
…!!!” Indah memekik tanda dia
sudah orgasme lagi.
Gue percepat lagi genjotan gue
sampai terasa klimak.
Aku sudah tidak tahan,
akhirnya..
“aaaahhhh… Ndah…aku keluarrrr…!!” dan..
Crot..crot..crot..crot.. Beberapa
kali aku menyemburkan
sperma gue di dalam rahim Indah.

Tak lama kemudian Indah
meraih t-shirtnya dan
membersihkan cairan sperma gue
di meqinya. Gue
pun berbaring di sisinya. Lalu
Indah memeluk gue sambil berkata, “Aku sayang Rakha, pengalaman ini indah
sekali…”
“Aku juga sayang Indah,"
balas gue.

Kamipun berpelukan dan tidur sejenak melepas lelah,
hari demi hari gue resmi mengikat janji setia pada kekasih gue Indah.
Gue bahagia banget memiliki kekasih se cantik dia, sungguh ini anugrah gue.

Di kampus, kantin kami selalu bersama.
Tak lupa juga gue kenalin ke sosok Dina yang rupanya juga dia udah punya cowok bahkan mau tunangan akhir semester ini hehe..
Si sony nampaknya juga dapet cewek baru entah siapa lagi.

"Gue memilih Indah, berharab Indah pada akhir cerita"
end
XXX STORY : DINA, Pada: Jumat, Juni 29, 2012
Copyright © 2015 CERITA DEWASA Design by bokep - All Rights Reserved