” Pagi, Non Joane.. ” Seperti biasanya, setiap pagi mang Supry menyapa aku, maupun teman-teman-ku yang bekerja ditempat ini,..
” Pagi juga mang Supry,.. ” Aku melangkah masuk ke tempat kerja-ku, kebetulan hari ini aku datang sendiri, Teman-ku Lilis berhalangan datang, Mank Supry sebenarnya sudah tak pantas dipanggil ‘Mang’ olehku, umur kami terpaut jauh, usianya mungkin sekitar 50tahunan lebih hampir 2 kali lipat usia-ku, namun orang-orang disini sudah terbiasa menyebutnya begitu, jadi aku hanya sekedar mengikuti saja,.
” Pagi juga mang Supry,.. ” Aku melangkah masuk ke tempat kerja-ku, kebetulan hari ini aku datang sendiri, Teman-ku Lilis berhalangan datang, Mank Supry sebenarnya sudah tak pantas dipanggil ‘Mang’ olehku, umur kami terpaut jauh, usianya mungkin sekitar 50tahunan lebih hampir 2 kali lipat usia-ku, namun orang-orang disini sudah terbiasa menyebutnya begitu, jadi aku hanya sekedar mengikuti saja,.
Mang Supry sebenarnya masih punya keluarga dikampung, namun entah
kenapa dia memilih tinggal disini, tubuhnya selaras dengan usianya,
kerutan sudah mulai tampak diwajahnya, rambutnya mulai memutih karena
uban, perawakannya pendek sedang, tidak gendut meski tidak bisa dibilang
kurus juga, kulitnya hitam legam terbakar matahari, yang menyedihkan
adalah penglihatannya yang tinggal separuh,.
Sedikit menyeramkan memang melihat perawakannya, namun bukan berarti
Mang Supri adalah orang yang serupa dengan penampilan fisiknya, Ramah,
mungkin itu ata yang bisa mencerminkan kepribadiannya, dia selalu bangun
pagi-pagi membuka pagar tempat ini, sementara para petugas jaga datang
sekitar jam 10an, demikian juga Mang Supri yang berjaga saat pagi hari
sekitar jam 2an sampai siang hari itu, ya Gaji seorang penjaga keamanan
disini rendah, hingga kami tak bisa berbuat banyak, beruntung ada mang
Supri yang mau dibayar serelanya menjaga tempat ini,..
Ya tempat ini, yang bisa dibilang mirip sebuah Lembaga
Pemasyarakatan, dengan dinding tua berwarna putih karena catnya yang
sudah mengelupas, serta pagar-pagar teralis besi yang tinggi menjulang
mengelilingi tempat ini, bukan, bukan sebuah penjara tapi sebuah panti
Rehabilitasi narkoba,..
Ya, benda yang benar-benar kubenci, benda yang telah banyak
menghancurkan kehidupan manusia dan keluarganya, jutaan keluarga
mungkin, termasuk keluarga-ku, bukan karena aku seorang mantan pemakai,.
Tapi pengalaman buruk yang menimpa keluarga-ku, Papah dan Adik-ku,
Yang pertama kali jatuh adalah Papah, Harusnya dia seorang WiraSwasta
yang cukup disegani di daerah ini, namun pergaulan yang salah ditambah
beberapa kegagalan Proyek yang sedang dikerjakannya membuatnya sedikit
frustasi, ditambah lingkungannya yang memang rusak membuat dia jatuh
kedalam palung Narkotika,,
Papah yang dahulu begitu menyayangi Keluarganya, Perduli, ramah,
mencintai, begitu menyayangi dan mencurahkan segenap perhatiannya pada
keluarga ini seakan berubah menjadi pribadi yang lain, menjadi orang
yang benar-benar berbeda, tertutup, pemarah hingga dia makin terjerat
pada barang haram itu,..
Bukan kami tak berusaha, berbagai usaha kami lakukan untuk melepaskan
Papah dari belenggu narkotika, namun segala upaya bisa dikatakan gagal,
Papah tetap saja tak terselamatkan, hingga belia sedemikian kurusnya
matanya seolah menyerah beberapa hari sebelum Papah meninggal dia hanya
bisa tergolek lemah diatas Ranjang, AIDS kata dokter,..
Belum sebelumnya, bahkan saat Papah masih menjalani terapinya,
Joseph, adik-ku yang terbiasa dengan kehidupannya yang bergelimangan
Materak, seakan mendapatkan pukulan hebat, dia bukan lagi seorang anak
pengusaha hebat, namun hanya anak seorang pecandu yang memiliki tumpukan
hutang, aku hanya seorang gadis muda, belum genap 21 tahun umurku saat
itu, bahkan belum sempat aku menyelesaikan kuliahku ini, hingga aku
bukan lah orang yang mampu untuk menjalankan kembali roda perusahaan
papah,..
Sedangkan Mamah, dan Ko Nico, Mamah harus selalu menjaga Papah, yang
hanya bisa tergolek tak berdaya diatas kasur kamarnya, tak mampu lagi
untuk sekedar mengunyah makanan-nya, sekedar berjalan kekamar mandi
untuk buang air kecil / besar,..
Ko Nico ?? Ko Nico masih di Jepang saat itu, dia sedang sibuk
berusaha menyelesaikan kuliah S-2nya, hingga akhirnya Koko mengalah
pada-ku, mengalah agar uang tabungan yang tersisa yang memang tak banyak
jumlahnya itu bisa digunakan untuk membiayai kuliahku sampai selesai,
membiayai biaya rumah tangga dan biaya pengobatan Papah,..
Jumlah yangtak banyak itu membuat Joseph seolah berontak, tak
terbiasa dengan kehidupan yang pas-pasan, batinnya memberontak, berusaha
melawan keadaan namun gagal membuatnya ikut terjatuh, jatuh kelubang
yang sama dengan Papah,..
Kesalahan-ku, kesalahan kami sebagai anggota keluarganya, 90% pemakai
karena kurangnya perhatian dari keluarga, demikian juga Joseph, ya aku
merasa bersalah karena telat menyadari bahwa adik-ku itu telah terjerat
kedalam jurang Narkotika,..
Aku seorang calon dokter, ya itu juga yang membuat aku merasa tak
memiliki kemampuan untuk mengurus Usaha keluarga, Namun aku ini tak
berguna, aku gagal menyadari perubahan sikap adik-ku, stock
obat-obatanya yang dicampur dalam kotak obat di rumah,..
Aku baru sadar, kami sekeluarga baru sadar saat Nico tak pulang 4
hari, saat kami berusaha mencarinya yang kami dapat adalah sesosok tubuh
tak berbusana, meninggal di sebuah kamar kostan teman wanitanya, 3
orang yang meninggal dalam pesta narkoba itu, OverDosis kata polisi,..
Tegar dan sebuah ketabahan, jelas itu sesuatu yang sangat dibutuhkan
kami sekeluarga, pukulan demi pukulan, belum lagi rasanya rasa sakit
kehilangan Papah, tak sampai 10 hari kemudian sebuah pukulan lain
datang, lebih kejam mengantam kami sekeluarga,.
Jelas Ko Nico sama terpukulnya, meski tak berurai air mata seperti
aku dan Mamah, namun rasa kecewa karena dia sedang mengusahakan segala
cara untuk mencari dana untuk kuliah Joseph tahun depan, Namun Ko Nico
berusaha tegar, sambil berjuang menggantikan Papah sebagai tulang
punggung keluarga ini, dan juga membiayai kuliahku,..
Sejak itu aku bertekad menyelesaikan kuliah kedokteran-ku secepatnya,
setahun kemudian aku berhasil menjawab harapan Mamah dan Ko Nico,
kuakui aku bukanlah seorang mahasiswi yang cerdas, hanya sedikit diatas
rata-rata, namun aku berhasil menyelesaikan kuliahku sama waktunya
dengan para Jenius yang lain,..
Rasanya bangga bisa berdiri sejajar dengan mereka, yang terlebih
adalah rasa bangga, rasa ingin untuk membantu mengubur luka dalam
setahun yang lalu, sedikit kebanggaan untuk Ko Nico, yang sudah demikian
baiknya pada-ku, dan juga Mamah..
Aku putuskan membantu usaha keluarga ini semampuku sebelum aku
mengambil perizinan agar bisa membuka praktek sendiri kelak, aku bukan
lagi anak seorang yang berkecukupan hingga bisa membeli izin praktek, Ya
kini kami sedang berusaha membangun kembali usaha keluarga, setahun
kami lewatkan hingga akhirnya usaha kami mulai membuahkan hasil belum
seperti dulu, namun mulai banyak proyek yang ditangani, Ko Nico mulai
berhasil membangun jaringan bisnis seperti Papah dulu,..
Sementara secara ekonomi kami mulai bangkit, namun bukan berarti tak
ada lagi penyesalan dalam hidupku, kali ini datang dari Vidy, pacarku,
padahal kami sudah berpacaran hampir 4 tahun lamanya, namun aku kembali
dihadapkan pada takdir yang sama, Vidy ternyata seorang pemakai, pecandu
malahan, padahal kupikir Vidy anak yang bersih namun ternyata dia sama
seperti Papah dan adik-ku,..
Bukan rasa benci yang timbul pada Vidy, seperti kebencian-ku pada
barang haram itu namun rasa Sakit dan penyesalan, penyesalan karena aku
bisa demikian bodohnya tak menyadari bahwa Vidy ternyata seorang
pemakai, namun juga karena keluarga Vidy yang seolah menyalahkan aku,
menyalahkan aku dan latar belakang keluargaku hingga anak kesayangan dan
semata wayang mereka terpengaruh narkoba,..
Aku berusaha bersabar, aku sempat merawat Vidy beberapa bulan, namun
aku mulai tertekan karena keluarganya yang terus menghina keluargaku,.
Aku bersabar dengan cacian mereka, namun lagi-lagi aku kecewa, mereka
membawa Vidy keluar kota 3 bulan aku tak mendapatkan kabar apapun,
bahkan aku terlambat 1 minggu mengetahui berita kematian Vidy itu pun
dari Steve sahabatnya,..
Aku masih ingat betapa banyaknya aku menangis hari itu, aku berusaha
datang ke rumahnya, aku ingin memastikan kebenaran kabar itu, namun
kembali hanya cacian dan tuduhan-tuduhan menyakitkan yang aku dapatkan
dari mereka, aku diam, aku sakit, aku menangis dalam hati,..
Namun jauh dilubuk hati-ku aku mulai ingin berteriak, ingin berbuat,
aku seorang dokter, namun aku hanya bisa diam melihat semua ini
terjadi,..
Sejak aku kehilangan Vidy aku mulai mencari, aku mulai belajar
tentang Narkoba hingga akhirnya disebuah Seminar aku bertemu dengan Kak
Handoyo, kakak angkatan-ku dulu di fakultas kedokteran, dari sana aku
mulai banyak belajar, hingga aku makin mantap meski aku tahu akan
mendapat banyak rintangan,..
Rintangan dari Mamah, dan Ko Nico, yang tampak begitu kaget saat
mendengar keinginaan ku itu, keinginan untuk menjadi seorang relawan
Narkoba, ya Mamah jelas kaget mendengar anaknya akan bersinggungan
begitu dekatnya dengan barang yang sudah membuatnya trauma
berat,..begitu juga Ko Nico,..
Hampir satu bulan lamanya mereka mendiamkan-ku, perang dingin, namun
aku bukan lagi anak kecil yang penurut, anak manja mereka, aku sudah
cukup dewasa, dan aku tahu apa pilihan-ku dan resikonya,..
Hingga akhirnya Mamah mau mengalah, malam hari saat itu Mamah, dan Ko
Nico berbicara, mereka mengatakan kekawatiran dan resiko yang mungkin
terjadi, ya kami banyak bertukar pikiran malam itu, hingga akhirnya
Mamah dan Ko Nico akhirnya rela aku berjuang dalam panti tempat Kak
Handoyo bekerja,..
Ya benar saja, apa yang dikatakan oleh Mamah dan Ko Nico, pandangan
diskriminasi mulai ada dalam masyarakat tiap kali melihat aku mengenakan
seragam anti narkoba, entah mengapa, mungkin yang ada dalam pikiran
mereka kalau kami ini semua sama, pecandu Narkoba,..
Cibiran mulai datang, untung pengalaman-ku dengan keluarga Vidy
membekaliku kesabaran yang lebih untuk menghadapi semua ini, lebih kuat
saat aku mulai terjun kelingkungan kemudian, cibiran dan hinaan serta
cacian dari keluarga para pecandu tiap kali kami mengadakan seminar, ya
itu seolah tak ada apa-apanya dibanding tudingan keluarga Vidy dulu,..
Meski memang dalam hati aku ingin berteriak, menangis terasa lelah
harus bergulat dengan mereka yang solah tak perduli, masyarakat yang
diskriminatif, ya bukan hanya para pecandu yang selalu dicap negative
oleh mereka, itu bodoh, itu salah, mereka dan juga kami butuh sesuatu,
sesuatu yang tampaknya demikian sulit dimata mereka, sesuatu yang
bernama Perhatian..
Bukan hanya itu, hal lain yang dikawatirkan Mamam mulai terjadi, ya
hubungan asmara-ku, bukan aku termasuk orang yang bangga dengan diriku
sendiri, namun memang aku bisa dikatakan cantik, aku cukup tinggi,
kulitku putih hingga banyak yang menyarankan-ku untuk meninggalkan
pekerjaan-ku dan menjdai seorang model saja, dengan tampilan fisik yang
seperti ini, harusnya bukan hal yang sulit untuk aku mencari pasangan
hidup,..
Namun itu kekawatiran Mamah, masyarakat Indonesia bukanlah sebuah
masyarakat yang bisa berfikiran terbuka, aku sedang berjuang membantu
orang lain, namun aku harus dihadapakan dengan dilemma, sebuah dilemma
dimana keluarga para pacar-ku mulai menolak aku, berfikiran negatife
kalau aku ini seorang mantan pecandu hingga bisa merusak anak mereka,
dan keluarga-ku nantinya,.
Yak aku paham, aku sadar dengan itu semua, aku harus bersabar
kehilangan orang-orang yang mulai menjadi ‘special’ dalam hidupku itu,
termasuk kehilangan Diaz, gak sich dia bukan orang yang tampan seperti
Vidy, gak kaya juga, tapi dia baik, baik sekali, rasanya begitu nyaman
saat bersamanya, namun lagi-lagi aku begitu egois,..
Diaz tak berdaya dalama tekanan orangtuanya yang tak menyetujui
hubungan kami, bekas pemakai, itu tudingan orang tuanya pada-ku, aku
hanya bisa pasrahsaja dikatakan demikian, aku tahu Diaz percaya pada-ku
itu saja sudah cukup,..
Cukup buatku namun tidak cukup untuk menjaga hubungan cinta kami,
pernah Diaz mengatakan agar aku meninggalkan pekerjaan-ku, namun aku
menolaknya, hingga akhirnya kami sepakat untuk mengakhiri hubungan
kami,..
” Kamu bukan seorang Juru Selamat, Sayang “
Ya itu kata-kata terakhir Diaz, agar aku mau meninggalkan
pekerjaan-ku ini, Ah, kenapa aku jadi mengingat-ingatnya kembali, aku
tahu aku bukan seorang juru Selamat, namun aku berusaha untuk menjadi
sekedar penolong mereka..
” Joane, Jo…!! ” , Seseorang memanggilku, tanpa kusadari aku sudah
duduk di ruang jaga kami, aku sedang menatap foto Diaz di meja-ku saat
kesadari seseorang memanggilku,..
” Jo, Kak Handoyo manggil, Mamet ngamuk lagi,.. ” Mishya ternyata yang memanggilku,..
Mamet itu pasienku, usianya sekitar 30 tahunan dan sudah 3 tahun
disini,..keluarganya cukup beruang hingga mampu membiayai terapinya
sekian lama, namun entah mengapa sepertinya Mamet belum mendapatkan
sedikitpun kemajuan,..
Aku langsung bengkit berlari mengikuti Mishya,..ke bangsal 4 yang ada
di sebelah kanan ruang jaga kami, didalamnya ada Junet dan Karel,
sesama relawan disini, mereka berdua bersama Kak Handoyo tampak sedang
begitu kesulitan menenangkan Mamet yang sedang mengamuk,..
” Kenapa ini ?? ” aku binggung,..
” Kayaknya dia Sakau lagi,.. ” Kak Hondoyo berpendapat, masuk akal terlihat dari matanya yang kurang fokus,..” Penenang?? ” Tanya kak Handoyo,..
” Kayaknya dia Sakau lagi,.. ” Kak Hondoyo berpendapat, masuk akal terlihat dari matanya yang kurang fokus,..” Penenang?? ” Tanya kak Handoyo,..
” Tapi baru 2 hari yang lalu kan ?? ” Aku kurang suka menggunakan obat bius,
” Tapi gak ada pilihan lain,.. ” Junet dan Karel tampak makin kesulitan menguasai Mamet yang makin Liar,..
” Tapi gak ada pilihan lain,.. ” Junet dan Karel tampak makin kesulitan menguasai Mamet yang makin Liar,..
Aku berfikir, ada rasa tak tega melihat tubuh mamet yang sudah
demikian kurusnya,.. namun aku harus bergerak cepat, kuambil jarum
suntikan, kucoba memberikan dosis serendah mungkin meski dengan
konsekuensi haru tepat di jalur darahnya agar efektif, agak sulit karena
Mamet demikian berontaknya, butuh hampir 10 menit sampai akhirnya aku
berhasil menyuntikan obat penenang itu,..
Tak lama Mamet mulai tenang dan tertidur, sementara Junet, Karel dan
kak handoyo sampai bersimbah keringat bergulat berusaha menenangkan
Mamet,..
Aku terpaku melihat sosok kurus itu, sedikit teringat kejadian masa
lampau saat kulihat dokter membius Papah tiap dia sakau, aku benci
melihat kelakuan dokter itu, namun aku sekarang malah mengulanginya,
membius pasien yang sakau,..
Kak Handoyo mengajak-ku keluar, setelah kupastikan mamet sudah tenang
dan mulai tertidur aku mengikuti mereka keluar dari bangsal
itu,.Kulanjutkan pekerjaan-ku selanjutnya, memeriksa keadaan, melakukan
terapi pada ke 25 pasien dibawah pengawasan-ku,..
” Kamu bukan seorang Juru Selamat, Sayang “
Entah kenapa, lagi-lagi aku teringat dengan kata-kata itu, saat aku
menyantap makan siang-ku, dan lagi aku lebih banyak melamun hari itu, ah
sudahlah, toh hari ini masih panjang, aku masih harus mengawasi terapi
sehabis makan siang ini,..
Tak terasa waktu berlalu sama dengan waktu selama 2 tahun ini, cukup
banyak pasien yang keluar dengan hasil memuaskan selama 2 tahun aku
bekerja ditempat ini, ya meski ada juga pasien-pasien yang tak
terselamatkan,..
” Hoy,..bengong mulu lu hari ini,.. ” Misyha menegurku, sambil
membereskan barang bawaannya, dibelakangnya ada Karel, mereka pacaran,
dulunya mereka beruda pecandu namun keduanya sembuh dan mulai bekerja
ditempat ini sebagai relawan,..
” Ngak, dah mau pulang ?? ” Tanya ku sambil tersenyum
” Iya nich, musti buru-buru, lu ga papa sendiri?? ” Tanya Mishya
” Gapapa, tar lagi juga grup malem dateng,..” Kataku meyakinkan,..
” Maap ya Jo, ga bisa temenin ada keperluan,.. ” Karel yang menjawab, dia tampak tak enak hati,..
” Udah Gapapa kadang-kadang kan lu bedua yang gue tinggal, gantian lah, gak masalah,..hehehe “
” Yawda Jo, kita pulang dulu ya,.. ” Misyha dan Karel pamit,..
” Oh iya Jo, jangan lewat belakang, lewat depan aja gelap loh, ngeri kalo sendirian, lu mau ke stasiun kan.. ” Karel mengingatkan-ku,..
” Iya, thanx ya Rel, ati-ati loh dijalan,.. “
” Iya nich, musti buru-buru, lu ga papa sendiri?? ” Tanya Mishya
” Gapapa, tar lagi juga grup malem dateng,..” Kataku meyakinkan,..
” Maap ya Jo, ga bisa temenin ada keperluan,.. ” Karel yang menjawab, dia tampak tak enak hati,..
” Udah Gapapa kadang-kadang kan lu bedua yang gue tinggal, gantian lah, gak masalah,..hehehe “
” Yawda Jo, kita pulang dulu ya,.. ” Misyha dan Karel pamit,..
” Oh iya Jo, jangan lewat belakang, lewat depan aja gelap loh, ngeri kalo sendirian, lu mau ke stasiun kan.. ” Karel mengingatkan-ku,..
” Iya, thanx ya Rel, ati-ati loh dijalan,.. “
Mereka berdua menghilang dibalik pintu, semnetara aku duduk di sofa,
menunggu group shift malam, tiap 2 bulan sekali shift ini diganti, aku
menunggu Bobby dan Rey kepla Group 2,..Gak biasanya mereka telat begini,
sampai suda sekitar setengah 7, mulai ada sedikit rasa khawatir,
masalahnya jam 7.10 kereta terakhir menuju rumahku,..
Tampaknya mereka berdua bisa saling mengerti, ya mungkin mereka
berasal dari latar belakang yang sama, sempat terfikir memang kalau kami
hanya bisa hidup bersama dengan sesame kami, karena itu juga aku hampir
saja mengiyakan Kak handoyo yang sempat mengungkapkan perasaanya
pada-ku, namun aku dengan berat hati menolaknya, aku takut Mamah dan kak
Nico tidak setuju..
Ku coba menghubungi ponsel keduanya tapi gak diangkat, harap-harap
cemas, apalagi tinggal aku sendirian, ya kami memang masih kekurangan
tenaga disini, aku khawatir ada pasien yang sakau dan tidak bisa aku
tanggulangi,..
Namun akhirnya kecemasan-ku terjawab, Bobby menepuk-ku dari belakang,
” Jo, maap ya telat,..ban motor gue pecah tadi,.. ” dibelakangnya Rey sedang menaruh helmnya di meja kerjanya,..
” Maap Jo, Fachrie juga telat ya ?? ” Rey menyapa-ku,..
” Gapapa koq, iya dia telat nich, gue cabut ya , ngejar kereta.. ” Aku langsung bersiap-siap pulang,..
” Jo, maap ya telat,..ban motor gue pecah tadi,.. ” dibelakangnya Rey sedang menaruh helmnya di meja kerjanya,..
” Maap Jo, Fachrie juga telat ya ?? ” Rey menyapa-ku,..
” Gapapa koq, iya dia telat nich, gue cabut ya , ngejar kereta.. ” Aku langsung bersiap-siap pulang,..
” Mau dianter Jo ?? ” Tanya Rey, bersemangat sekali, memang Rey seperti sedang melakukan pendekatan dengan-ku,..
” Ga dch, lu kan Cuma bedua doank, nanti ada pa-pa lagi repot,.. “
” Keburu ?? ” Tanya Bobby,..
” Keburu koq, udah ya gue cabut dulu ” Aku bergegas melangkah keluar pintu..
” Ati-ati loh Jo.. ” Ingat mereka berdua…
” Ok, kalian juga ya,.. “
” Ga dch, lu kan Cuma bedua doank, nanti ada pa-pa lagi repot,.. “
” Keburu ?? ” Tanya Bobby,..
” Keburu koq, udah ya gue cabut dulu ” Aku bergegas melangkah keluar pintu..
” Ati-ati loh Jo.. ” Ingat mereka berdua…
” Ok, kalian juga ya,.. “
Aku berjalan dengan langkah cepat, kulihat jam tangan-ku, sudah
hampir jam 7, aku bergegas melangkah, kulihat di samping pintu belakang
rehabilitasi terbuka, agak ragu namun kulihat lagi jam tangan-ku,
tampaknya tak ada pilihan lain selian memotong jalan,..
Aku melangkah perlahan menyelusuri lorong sempit itu, gelap benar,
namun yang lebih menakutkan adalah lorong-lorng disebelahnya yang
menyambung dengan perkampungan, takut-takut ada penodong atau pemabuk
yang sedang diam di gang itu, di sebelah kanan-nya ada gudang tua,milik
rehabilitasi,..
Kulihat sesosok tubuh bergerak masuk, sedikit mirip mang Supry, agak
ragu, namun kulihat ada seikit cahaya di dalam ruang gudang itu,..Entah
mengapa kaki-ku mulai melangkah mendekat, kudekati pintu gudang tua
itu,..
” Mang Supri ?? mang Supri ?? ” Tanya-ku penuh tanda Tanya, aku
melangkah masuk perlahan, kulihat di balik tumpukan dus-dus ada
cahaya,..aku berjalan mendekatinya, betapa terkejutnya aku dengan apa
yang kulihat kemudian,..
Mang Supri dan Mamet, sedang duduk di kursi yang terpisah oleh sebuah
meja Tua, diatas meja ituada sebuah senter sorot dan sebuah Bong, Mang
Supri tampak sedang menyalahkan Bong itu,..
” Mang Supri,.. ” Yang dipanggil sama kagetnya dengan diriku,..
” Non Joane?? ” Mang Supri tampak begitu kagetnya, demilian juga dengan diriku yang diam mematung, aku tak mengerti apa yang terjadi, namun otak-ku langsung berusaha mengira-ngira, apa Mang Supri memasok Barang Haram itu ke panti??
Atau ini juga yang menjadi jawaban, kenapa terapi Mamet tak kunjung membuahkan hasil,..Namun aku bertambah terkejut ketika tangan Mang Supri sudah membelenggu tangan-ku dari belakang,..
” Non Joane?? ” Mang Supri tampak begitu kagetnya, demilian juga dengan diriku yang diam mematung, aku tak mengerti apa yang terjadi, namun otak-ku langsung berusaha mengira-ngira, apa Mang Supri memasok Barang Haram itu ke panti??
Atau ini juga yang menjadi jawaban, kenapa terapi Mamet tak kunjung membuahkan hasil,..Namun aku bertambah terkejut ketika tangan Mang Supri sudah membelenggu tangan-ku dari belakang,..
Tangannya mencengkram tangan-ku kuat-kuat,..
” Mang Supri, awwww.. Apa-apaan sich.. ” Aku meringis kesakitan,..
Sedangkan kulihat Mamet yang sedang terpaku seolah tak mengerti apa yang sedang terjadi,..Reaksinya lambat karena Narkotika yang dikonsumsinya,..
” Mang Supri, awwww.. Apa-apaan sich.. ” Aku meringis kesakitan,..
Sedangkan kulihat Mamet yang sedang terpaku seolah tak mengerti apa yang sedang terjadi,..Reaksinya lambat karena Narkotika yang dikonsumsinya,..
” Dah non diem aja ?? Gak usah mikir aneh-aneh,.. “
” Lepasin Mang, Mang Supri tuch jahat ya.. ” Aku protes sambil menahan rasa sakit karena tangan-ku dipelintir dari belakang,..
” Lepasin Mang, Mang Supri tuch jahat ya.. ” Aku protes sambil menahan rasa sakit karena tangan-ku dipelintir dari belakang,..
” Ya, non boleh mikir apa aja, tapi non gak usah banyak omong.. ”
Mang Supri mengancamku sekarang, sedangkan Mmet masih duduk diam saja..
” Met ini Joane loh, yang lu bilang Cantik banget tapi jahat sama lu itu ” Mang Supri memanggil Mamet, Yang dipanggil mulai bereaksi.,..
” Met ini Joane loh, yang lu bilang Cantik banget tapi jahat sama lu itu ” Mang Supri memanggil Mamet, Yang dipanggil mulai bereaksi.,..
Mang Supri tiba-tiba mendorong-ku,..Aku terjatuh menabrak Mamet, Tiba-tiba tangan Mamet malah sudah memeluk-ku dari belakang,..
Aku demikian paniknya merasakan sebuah tangan mulai menyentuh
tubuhku, terutama dada-ku, baru kali ini dadaku disentuh oleh laki-laki,
kurasakan tangan Mamet mulai meremas payudara-ku yang masih terbalut
pakaian-ku,..
” Bener lu Met, ini dia yang bisa bikin dia diem,.. ” Entah mengapa
aku bergidik mendengarnya,..Tangan Mamet makin rajin meremas payudara-ku
itu, aku merintih, sakit meski ada sejenis sensasi lain,..Aku berusaha
memberontak namun Mang Supri kini sudah menduduki kaki-ku,..Mata tuanya
menatapku, bukan dengan tatapannya yang ramah, namun tatapan kemarahan
dengan sedikit rasa takut..
” Mang, lepasin saya mang.. ” Aku memohon, ” Ahhh,.. ” aku menjerit saat kurasakan tangan Mamet meremas payudaraku keras,..
” Non Joane, non kenapa sich usil banget.. ” Mang Supri tiba-tiba menciumku,..
Shock rasanya saat kurasakan bibirnya menempel dibibirku, sementara mang Supri hanya terkekeh saja,..
” Non Joane, non kenapa sich usil banget.. ” Mang Supri tiba-tiba menciumku,..
Shock rasanya saat kurasakan bibirnya menempel dibibirku, sementara mang Supri hanya terkekeh saja,..
” Mang, saya janji gak akan bilang-bilang, lepasin saya mang… ” Aku
ketakutan setengah mati,..wajah tuanya tampak berfikir sesaat,.
” Oughhm, ahhhh… ” Aku mendesah tiap kali tangan Mamet meremas
payudara-ku, aku pasrah saja, sementara aku tak bisa berbuat apa-apa
dalam kepungan mereka berdua,.tiba-tiba tubuhku menggelinjang, saat
kurasakan benda basah menyentuh pipiku dari belakang, kulihat Mamet yang
menjilati pipi-ku, tubuhku langsung merinding merasakan stimulasi
seperti itu,..
” Hehehehe..” Tiba-tiba, Mang Supri tertawa,” Iya, mamang percaya, non Joane gak akan cerita-cerita,.. “
” Iya mang, percaya sama saya,.. ” Aku memohon sambil menahan tangan Mamet yang masih mengerayangi payudaraku,
” Mang Supri percaya, tapi biar lebih yakin,.. ” Yang dilakukannya
selanjutnya benar-benar membuatku mati langkah, aku ketakutan setengah
mati, batin-ku ingin berteriak, tangan tua itu mulai membuka kancing
kemeja-ku satu persatu,.aku hanya bisa diam saja ingin berontak namun
Mamet ternyata masih cukup kuat membuat aku tak dapat melepaskan
cengkramannya,..
Aku hanya bisa pasrah melihat perlahan tubuhku makin polos, perlahan
kemejaku mulai terbuka, Mang Supri tampak memelototi tubuh-ku, sambil
tangan tuanya terus bekerja hingga melepas kancingku yang terakhir,..
Air mata-ku mulai turun, apalagi saat Mamet menciumku secara
tiba-tiba,.aku masih berusaha berontak, namun aku juga tak berdaya,
kurasakan lidahnya yang mulai berusaha masuk, namun kututup rapat-rapat
bibirku ini,..
” Ahhh,.. ” Aku tak bisa untuk tak mendesah, saat itujuga lidah Mamet
masuk, mulai berusaha meraih lidahku, menyentil-nyentil sambil berusaha
mengisi seluruh ruangan di mulut-ku itu,..
Aku benar-benar tak bisa untuk menutup mulutku, saat kurasakan
sensani aneh untuk pertama kalinya dalam hidupku, kurasakan mang Supri
menyentuh dada-ku dengan bibirnya yang tebal, ditambah lagi kumisnya
yang pendek menyentuh kulit-ku, membuat tubuhku menggelinjang tak
berdaya,..
Aku mulai membalas ciuman Mamet, sementara kurasakan lidah Mang Supri
mulai menyelusuri permukaan payudara-ku, tubuhku merinding merasakan
sensasi itu, aku tak lagi berusaha melawan, kurasakan Bra ku mulai
diangkat keatas, tangan Mang Supri langsung meremas payudara-ku
mengganti tangan Mamet, yang makin asyik mencium-ku,..
Tangan Mang Supri meremas dada-ku perlahan, berbeda dengan yang
dilakukan Mamet tadi, lebih nyaman entah mengapa, mungkin karena tidak
kasar, kurasakan tangan itu menutupi permukaan payudara-ku, aku pasrah
saja enak rasanya apalagi saat menyentuh putingku, memainkannya
perlahan, aku makin terbawa suasana, apalagi saat Mang Supri mencaplok
payudara-ku yang satunya, perlahan kurasakan lidahnya menyentil
putingku,..
Memainkanya, menyentil-nyentilnya sama dengan yang dilakuakan
tangannya di payudara-ku sebelahnya,..Aku menutup mata merasakan benda
basah itu memainkan putingku, yang membuatku makin tak berdaya adalah
saat tiba-tiba mulut itu menghisap dada-ku, aku seolah tersetrum
merasakan sensasi itu,..” Ahhhhh,.. ” aku mendesah sesaat,
Masih kupejamkan mataku, kursakan lidahnya menyentil-nyentil
putingku, memainkannya disaat mulut itu masih menghisapku
kuat-kuat,..aku melayani lidah mamet sekarang, kami berciuman selayaknya
seorang kekasih kurasakan giginya disela ciuman kami, giginya hancur
karena gemeretakan tiap kali dia sakau,..
Kupeluk wajahnya itu, kurasakan tulang wajahnya, tubuhnya yang begitu
kurus karena pengaruh narkotika,.sementara kurasakan kait braku mulai
dibuka oleh Mang Supri, aku diam saja tanganya masih meremasku, apalagi
lidahnya masih memainkan putingku membuatku hanya bisa pasrah saja
menikmatinya,.
Tanpa halangan bra-ku makin lancar saja mang Supri mengerayangi tubuhku, tangannya meremas seluruh permukaan payudaraku, sesekali dia melepaskan ciumannya di payudaraku, meremas payudaraku dengan kedua tangannya, mengarahkannya ketengah sambil menjepit puting susunya, nikmat sekali, yang lebih nikmat lagi saat kurasakan lidahnya bergantian memainkan puting susu-ku itu,..
Tanpa halangan bra-ku makin lancar saja mang Supri mengerayangi tubuhku, tangannya meremas seluruh permukaan payudaraku, sesekali dia melepaskan ciumannya di payudaraku, meremas payudaraku dengan kedua tangannya, mengarahkannya ketengah sambil menjepit puting susunya, nikmat sekali, yang lebih nikmat lagi saat kurasakan lidahnya bergantian memainkan puting susu-ku itu,..
” Ahhh, aahhhh, .. ” Aku hanya bisa mendesah diberikan kenikmatan
seperti itu,..Mang Supri tersenyum,sementara tangannya mulai merambat
turun, kurasakan tangannya membelai perutku, melewati pusarku,..
Aku tersadar saat tangannya meraih kancing celana Jeans-ku,.. Aku
berusaha memberontak saat itu, aku berusaha bangkit berdiri, kali ini
berhasil kututupi tubuhku dengan tanganku, menutupi payudaraku yang
sudah tak tertutup lagi,..Sementara Mang Supri terjatuh ke lantai kotor
itu,..
” Mang, lepasin saya mang,.. ” Aku berusaha melepaskan diri,..
Namun Mang Supri bangkit kembali merengsek maju, ditariknya rambut-ku,..
” Awwhhh.. lepasssin,,, ” Aku menangis kesakitan,..
Namun Mang Supri bangkit kembali merengsek maju, ditariknya rambut-ku,..
” Awwhhh.. lepasssin,,, ” Aku menangis kesakitan,..
” Non jangan ngelawan ya,.. ” Mang Supri mengancamku,..Mamet kini ikut berdiri mendekati-ku,..
Mang Suprimemebelakangi-ku, sementara Aku kini berada dalam pelukan Mamet,..Air mata-ku mengalir turun, kurasakan mulut Mamet yang kembali mencoba mencium-ku, kupejamkan saja mataku, tangan Mamet kini sudah kembali menempel di payudara-ku, meremasnya tak sekeras tadi aku diam saja tak berani memberontak,..
Mang Suprimemebelakangi-ku, sementara Aku kini berada dalam pelukan Mamet,..Air mata-ku mengalir turun, kurasakan mulut Mamet yang kembali mencoba mencium-ku, kupejamkan saja mataku, tangan Mamet kini sudah kembali menempel di payudara-ku, meremasnya tak sekeras tadi aku diam saja tak berani memberontak,..
Mang Supri mulai melucuti jaketku, membuka Kemejaku yang masih menggantung, juga membuang bra-ku,.
” Putih non, putih banget,.. ” Mang Supri menceracau,..
Lidahnya menjilati permukaan punggungku, sementara kurasakan tangannya bekerja, mulai melucuti kancing celana-ku,..sebelum akhirnya meloloskan resletingnya,.
” Putih non, putih banget,.. ” Mang Supri menceracau,..
Lidahnya menjilati permukaan punggungku, sementara kurasakan tangannya bekerja, mulai melucuti kancing celana-ku,..sebelum akhirnya meloloskan resletingnya,.
Kututup mata-ku dalam ketakutan, kurasakan celana-kumulai turun
sementara tangan Mang Supri menyentuh kulit-ku bersamaan dengan
celana-ku yang mulai meninggalkan tubuhku, Air mataku makin banyak yang
mengalir,..
Apalagi saat kurasakan tangan mang Supri menyentuh vagina-ku, masih
dibalik celana dalam-ku, kurasakan tangan itu menempel di vagina-ku,
sementara dia masih menciumi tengkuk-ku, memasukan lidahnya dalam
telinga-ku, membuatku menggelinjang,
Jemarinya bergerak kesana-kemari, seolah sedang mencari sesuatu, aku
merinding merasakan jemari itu menyentuh bagian paling pribadi-ku itu,
belum lagi saat kurasakan tangannya bergerak masuk, kurasakan tangan itu
menyentuh kulit-ku, kurasakan tangan itu bergerak turun membelai
bulu-bulu kemaluan-ku, sebelum berhenti didepan bibir vagina-ku,..
Tubuhku langsung bergetar, saat tangan itu menyelusup diantara
belahan vagina-ku, seolah mencari sesuatu sebelum berhenti di sebuah
gundukan kecil, memijitnya perlahan, menekan-nekannya seolah sedang
mencari sesuatu sambil bergerak-gerak tak beraturan, aku menutup mataku
lebih kuat,
Kaki-ku gemetaran, sensasi nikmat yang diberikan mang Supri pada
kemaluan-ku, ditambah lagi, remasan Mamet yang sesekali juga menyusu di
payudaraku membuatku tak berdaya, kaki-ku terasa lemas ditambah lagi ada
semacam rasa yang mulai tumbuh dalam benak-ku ini,.
Tubuhku bagaikan tersetrum, sementara kurasakan Vagina-ku mulai
basah, aku berusaha menahan cairan yang seolah ingin keluar, namun aku
tak berdaya kurasakan tangan Mang Supri yang menyentuh bibir vagina-ku,
mengambil cairan itu sebelum kembali menstimulasi tempat yang tadi,..
Aku mendesah tak karuan, sesekali tubuhku bergetar aku makin melayani
ciuman Mamet, tangannya pun sesekali menarik-narik puting payudara-ku,
memilinnya atau pun meremasnya, air mataku seolah mongering yang keluar
dari mulutku hanyalah desahan-desahan nikmat yang jelas bukanlah
penolakan atas kelakuan mereka,.
Tiba-tiba mang Supri mencabut tangannya dari vagina-ku, dia melucuti
celana pendek yang dikenakannya, kulihat penisnya yang sudah menegang
aku tak tahu ukuran standard penis, yang kulihat rasanya besar sekali,
aku bergidik melihat penis itu, ujungnya disunat, kepalanya sedikit
basah aku tak percaya saat Mang Supri memelorotkan celana dalam-ku
itu,..
Tubuhku kini plos, hanya sepasang sepatu skets yang masih menempel ditubuhku,..
” Met duduk sana !! ” Mang Supri memerintah Mamet, ” Buka celana Luh !! ” Entah mengapa Mamet begitu menurut,..Dia membuka celana nya, penisnya juga sudah menegang aku yakin lebih besar dari milik mang Supri meski memang tidak jauh selisihnya,.
” Met duduk sana !! ” Mang Supri memerintah Mamet, ” Buka celana Luh !! ” Entah mengapa Mamet begitu menurut,..Dia membuka celana nya, penisnya juga sudah menegang aku yakin lebih besar dari milik mang Supri meski memang tidak jauh selisihnya,.
Mamet pun duduk, sementara aku didorong Mang Supri mengikuti Mamet,
aku tak mengerti apa yang akan terjadi selanjutnya,..Aku mengikuti
kemauannya, sebelum aku disuruh menungging berhadapan dengan Mamet,
dibawah bangku-nya,..
” Nah gitu Non,.. ” , ” Karang pegang tuch kontolnya,.. “
” Hah,.. !! ” aku berusaha menolak,..
” Hah,.. !! ” aku berusaha menolak,..
Namun aku merasakan ketakutan saat melihat tatapan mata Mang Supri,
aku tak berani melawan, Matanya seolah mengancam-ku,..Kuraih penis Mamet
dalam gengaman-ku, aku tak mengerti apa yang harus kulakuan pada penis
itu yang kurasakan penis itu seolah berdenyut dalam gengaman-ku,..
” Nah, kocok non,.. “
” Kocok ?? ” aku benar-benar bingung,..
” Iya dikocok,. ” Perintah mang Supri
Setengah mengancam kurasakan dalam kata-katanya, sementara Mamet hanya mematung saja,..Perlahan kuturuti kemauannya, kugerakan tanganku perlahan mengocok penis itu, naik turun, wajah Mamet mulai berubah, seolah keenakan atas apa yang kulakuan,
” Kocok ?? ” aku benar-benar bingung,..
” Iya dikocok,. ” Perintah mang Supri
Setengah mengancam kurasakan dalam kata-katanya, sementara Mamet hanya mematung saja,..Perlahan kuturuti kemauannya, kugerakan tanganku perlahan mengocok penis itu, naik turun, wajah Mamet mulai berubah, seolah keenakan atas apa yang kulakuan,
Kususuri tangan yang kira-kira dua kali kepalan tangan-ku itu,
berotot dan begitu keras, kurasakan hangat dalam gengaman-ku, perlahan
kukocok penis itu, namun aku memekik tiba-tiba..
” Ougghhhh,.. ” Aku menjerit saat kurasakan penis Mang Supri diam di
depan kemaluanku, kurasakan sedikit menekan dibibir vagina-ku, perih
rasanya namun aku tak menyangkal ada kenikmatan dibalik itu semua,..
Namun rasa takut mengalahkan segalanya, aku menangis, memohon meronta,..
” Jangan mang, saya.. saya masih perawan…saya mohon… ” Aku memohon,..
” Perawan ?? “,” Bagus donk jadi non tutup mulut ya,.. ” Mang Supri menjawab sekenanya,..
” Jangan mang, saya.. saya masih perawan…saya mohon… ” Aku memohon,..
” Perawan ?? “,” Bagus donk jadi non tutup mulut ya,.. ” Mang Supri menjawab sekenanya,..
Yang kurasakan malah penis itu menekan makin dalam, aku sampai
meringis kesakitan, aku memejamkan mata-ku, sakit dan perih sekali,
namun aku tak berdaya apa-pun, aku tak bisa berbuat apa-apa sementara
kurasakan tangan Mang Supri mencengkram pinggangku dari belakang
erat-erat, ditambah lagi penisnya yang mulai merobek vagina-ku,..
Air mataku kembali mengalir, kurasakan penis itu masuk makin dalam,
percuma untuk berteriak digudang dalam gang sunyi ini, bahkan aku
khawatir ada orang mabuk yang datang dan menambah parah keadaan, aku
pasrah saja menerima ini semua,..
” Ahhh, gila beneran.. ” Mang Supri berkomentar,.Saat penisnya mentok
dalam vagina-ku, Kurasakan penis itu mulai masuk lebih dalam,.mulai
merobek kehormatan-ku,..tertahan, kurasakan penis itu ditarik keluar
dalam tangisan-ku,tanganku masih menggengam penis Mamet, sementara aku
mengigit bibirku menahan rasa sakit di kemaluan-ku itu,..
Aku diam saja, terlalu lemah untuk melawan,sementara kurasakan
penisnya kembali mendesak masuk, perlahan kembali masuk sambil merobek
selaput dara-ku, aku memekik tertahan saat penis itu berhasil merengut
kesucian-ku,..
Mang Supri tampak mengambil nafas panjang sambil menarik penisnya
keluar, sebelum kembali memasukannya lebih dalam, tubuhku seperti
terbelah, sementara kurasakan darah kegadisanku merembes keluar,.
Tak banyak sesuai dengan yang kupelajari di kedokteran, namun bukan
itu nilainya, kehormatan ku sebagai seorang gadis telah direbut secara
paksa oleh orang ini,.aku mulai membencinya,..
” Ough,,.. ” Aku menahan rasa sakit, sementara Penis Mang Supri tertanam dalam tubuhku,..
” Gila non, dikira bohong taunya beneran, enak banget non,.. ” Dia
berkomentar. Aku diam saja menhan rasa perih,..Hingga sebuah sentakan
kuat membuatku memekik kesakitan,..
” Aww… “,aku menjerit sementara Mang Supri malah mendesah keenakan,
merasakan bagaimana penisnya diremas oleh otot-otot vaginaku yang baru
saja dibobolnya,.
Air mata-ku mengalir, sementara mang Supri cengengesan membalasnya,..
” Enak Non ?? ” Dia tertawa sambil mulai memaju mundurkan penisnya dalam vagina-ku,..
” Enak Non ?? ” Dia tertawa sambil mulai memaju mundurkan penisnya dalam vagina-ku,..
Kupejamkan mataku, kurasakan penis itu keluar masuk sambil tangannya
terus-terusan meremas payudaraku, tak terasa beberapa menit berlalu,
rasa sakit itu mulai hilang berganti sedikit rasa nikmat yang tak ingin
kuakui,..
Penisnya makin lama makin lancar mengerjai-ku, aku pun mulai terbiasa dengan penisnya itu,..
” Non kasian Mamet, ayo kaya tadi lagi,..”
” Oughh, gila peret banget,hmmm,.. “
Mang Supri terus menceracau seperti itu sembari terus memacuku,..Aku mulai mengikuti keinginanya, aku mengocok penis Mamet perlahan, perlahan juga penis itu mulai berkedut-kedut,
” Non kasian Mamet, ayo kaya tadi lagi,..”
” Oughh, gila peret banget,hmmm,.. “
Mang Supri terus menceracau seperti itu sembari terus memacuku,..Aku mulai mengikuti keinginanya, aku mengocok penis Mamet perlahan, perlahan juga penis itu mulai berkedut-kedut,
” Non isepein,.. ” Mang Supri makin keterlaluan,..
” Gak, ahhhh ” Aku menolak disela desahan-ku,..
Mang Supri membalasnya dengan menampar-nampar bokong-ku, hentakannya makin kuat membuat aku tak lagi mampu menolaknya apalagi kuakui aku mulai merasa nyaman, sensasi nikmat meski masih terasa sedikit sakit,..
” Gak, ahhhh ” Aku menolak disela desahan-ku,..
Mang Supri membalasnya dengan menampar-nampar bokong-ku, hentakannya makin kuat membuat aku tak lagi mampu menolaknya apalagi kuakui aku mulai merasa nyaman, sensasi nikmat meski masih terasa sedikit sakit,..
” Iya, jangan tamper lagi awww,.. ” Aku menuruti kemauannya,..
Kuangkat wajahku, kulihat wajah Mamet yang masih tampak keenakan, aku mulai membuka mulutku, kepala penisnya bau sekali, ditambah lagi ukurannya yang besar hampir sebesar diameter bibirku yang mungil ini,..
Kuangkat wajahku, kulihat wajah Mamet yang masih tampak keenakan, aku mulai membuka mulutku, kepala penisnya bau sekali, ditambah lagi ukurannya yang besar hampir sebesar diameter bibirku yang mungil ini,..
Aku berusaha menelan penis itu, perlahan kutahan rasa jijik yang
menjalari tubuhku, ku masukan perlahan penis itu, sementara Mang Supri
terus memompaku dari belakang, mulutnya terus menceracau, aku mendesah
dalam kulumanku pada penis Mamet, aku diam saja sementara penis itu
mulai kumasukan lebih dalam,..
Kuselusuri penis itu dalam kuluman-ku, perlahan aku memasukan penis
itu lebih banyak, sebelum kucabut kembali penisnya dari mulutku, kuganti
mulutku dengan lidahku menyelusuri penisnya, menyelusuri penis itu
hingga kepangkalnya yang berbulu lebat sekali itu, ataupun memainkan
kepala penisnya,..
” Awhhhh,.. ” Mamet mendesah keenakan, kumasukan penis itu kembali
dalam mulutku, tubuhku terasa makin terbakar karena pacuan Mang Supri,
aku tak ingat lagi, tak sadar kalau aku ini sedang diperkosa,..
Kuhisap kepala penisnya, yang membuat Mamet tambah gelisah,
kutambahlagi dengan kocokan pada batang penisnya, aku tak sadar
melakukan itu semua, karena ada semacam semburan birahi yang makin
tinggi dalam tubuhku,..
Ditambah lagi Mang Supri yang menambah stimulasinya dengan memainkan
clitorisku dengan jempolnya, perlahan memang memijat clitorisku namun
cukup untuk membuat tubuhku bergetar keenakan,..
Tubuhku mulai berkeringat, aku masih terus mengoral penis Mamet,
sementara aku merasakan bagaimana lidah Mang Supri menjilati punggungku,
aku makin tak karuan, sensasi itu naik makin tinggi sementara aku hanya
pasrah saja menikmati itu semua, vagina ku yang kian basah, seirama
dengan pacuan Mang Supri yang makin menggila,..
Makin cepat Mang Supri mengerjai-ku, makin liar juga aku mengocok
penis Mamet,.Ku ciumi penis itu, sampai kepangkalnya, kujilati buah
zakarnya, terbakar birahi yang makin tinggi saja, aku memejamkan mata,
sambil terus mendesah nikmat,..
Aku tahu aku menuju puncak kenikmatan-ku, aku tak mampu bertahan
lagi, apalagi mang supri juga mengocok-ku makin cepat, hingga akhirnya
aku meledak, pertama kalinya dalam hidupku kurasakan sensasi Organsme,
rasanya bagaiakan tersamabr, tubuhku bergetar hebat, otot-otot tubuhku
mengeras sementara aku meremas penis Mamet kuat-kuat, tubuhku bergetar,.
” Ahhhhh,.. “
Aku melolong hebat,..vaginaku langsung basah oleh cairan cinta-ku,
vagina-ku kuat meremas penis Mang Supri yang berada didalamnya,.Mang
Supri ikut bergetar hebat merasakan jepitan vaginaku yang menguat itu,,.
” Ahhh,.. Non,.. ” Mang Supry mengeletar,..
Dicabutnya penisnya dari vagina-ku, penisnya berdenyut-denyut saat dicabut keluar, aku terdiam sementara dia mengocok-kocok penisnya diatas tubuh-ku, sebelum akhirnya penisnya itu meledak, spermanya muncrat ketubuhku, aku hanya menutup mata melihat kebiadabannya itu,..
Dicabutnya penisnya dari vagina-ku, penisnya berdenyut-denyut saat dicabut keluar, aku terdiam sementara dia mengocok-kocok penisnya diatas tubuh-ku, sebelum akhirnya penisnya itu meledak, spermanya muncrat ketubuhku, aku hanya menutup mata melihat kebiadabannya itu,..
Nafasku tersengal-sengal, demikian juga dengan Mang Supri yang
langsung duduk id bangku sebelahku, aku tak lagi mengoral penis
Mamet,.namun Mang Supri tak sependapat dengan-ku,..
” Sekarang giliran Mamet non,.. ” Mang Supri memerintahku,..
Jelas aku menolaknya, namun Mang Supri mengangkat tubuhku,..
” Ayo, jangan ngelawan, tadi keenakan begitu ” Hina-nya,..
” Ayo, jangan ngelawan, tadi keenakan begitu ” Hina-nya,..
Dia menyuruhku memegang penis Mamet, sementara aku berdiri
mengangkang dalam pangkuan Mamet, Mang Supri menyuruhku mengarahkan
penisnya ke bibir vagina-ku, aku mengikutinya,..perlahan dia menekan
tubuhku turun, aku menutup mataku menahan rasa yang muncul,..
Kurasakan penisnya mulai masuk, kugigit bibirku menahan sakit,..penis
itu mulai masuk, Mang Supri masih menekan bahuku, penisnya terkulai
lemas diselangkangannya, namun kebusukannya masih saja seperti seorang
bajingan tengik,..
Mamet melenguh lenguh merasakan jepitan vagina-ku,..aku mendesah
nikmat, kurasakan penis itu masuk makin dalam,.Mamet memeluk-ku sambil
berusaha mendesak-desakan penisnya dalam vagina-ku..
” Owhhh,.. ” aku mendesah, kurasakan penis itu makin dalam masuk,..
Kini bukan lagi aku yang harus menekan penis itumasuk, namun Mamet sudah mendesak-desakan penisnya kuat-kuat,..dia menyusu pada payudaraku sementara pinggulnya masih berusaha mendesakan penisnya masuk ke vagina-ku,..
Kini bukan lagi aku yang harus menekan penis itumasuk, namun Mamet sudah mendesak-desakan penisnya kuat-kuat,..dia menyusu pada payudaraku sementara pinggulnya masih berusaha mendesakan penisnya masuk ke vagina-ku,..
Aku mulai menjawab permainan-nya aku ikut menggerakan pinggulku naik
turun, tak terasa aku bergoyangkesana-kemari, Aku dan Mamet mendesah,
penis dalam Vaginaku lebih terasa daripada sebelumnya, lebih nikmat dan
hangat, sementara orang yang mengerjaiku pun jauh lebih bertenaga,..
Mang Supri terkekeh melihat ‘peliharaannya’ mengerjaiku, tiba-tiba
Mamet bangkit berdiri, sambil mengangkat tubuhku keatas meja, mengangkat
satu kakiku ke pundaknya, sementara dia makin cepat saja mengerjaiku,
rasanya sakit didesak demikian, namun juga enak, aku memejamkan mata
menikmati bagaimana penisnya menyetubuhiku,..
Makin cepat, desahan kami pun makin membahana, Sementara Mang Supri
mulai mengenakan kembali celananya, namun jemarinya masih sempat bermain
dengan payudara-ku, memainkan putingnya sambil meremas-remasnya,..
Kembali tubuhku diterpa sensasi yang sama, tubuhku bergetar hebat,
namun lebih dahsyat dari sebelumnya, apalagi Mamet malah makin cepat
mengerjaiku, aku sampai kegilaan rasanya dikerjai sedemikian rupa,
sesekali mamet juga menyusu di payudara-ku,..
Beberapa menit Mamet terus mengerjai-ku, menyetubuhi-ku sementara dia
terus melenguh-lenguh keenakan, nafasku tersengal-sengal, sementara
Mamet tampak masih asyik menyetubuhiku,..
Namun perlahan perubahan terasa dari penisnya yang terasa makin
membesar, gerakannya makin kacau, sementara penisnya seolah
bergetar-getar,..Apa dia mau meledak ?? Aku bertanya-tanya,…
Namun tak lama aku mendapatkan jawabannya, aku mememikik, bukan cuma
rasa nikmat, namun juga rasa takut saat sperma Mamet mulai merembes
dalam vagina-ku, aku sempat berorgansme kecil merasakan semburan
spermanya dalam vagina-ku, smeentara dia sendiri langsung memeluk-ku,..
Kurasakan bagaimana penisnya mulai mengecil dalam vagina-ku sebelum
akhirnya terlepas dengan sendiri,..kupejamkan mataku, tubuhku lelah,..
” Udah puas Mamet ?? ” Mang Supri menuntun Mamet menjauh dari tubuhku
yang tergolek diatas meja,.sebelum mang Supri menurunkan-ku
kebawah,..mengambil lampu senter di meja, menggantinya dengan lilin
kecil yang ditaruh dipojok ruangan,
” Non, saya sudah pegang kartu non, jadi jangan coba-coba buka mulut,
kalu gak mau saya permalukan,.. ” Aku diam saja menanggapinya
Mang Supri menuntun Mamet keluar sementara diatas dus bekas aku
terbaring lemah, masih kurasakan sperma mang Supri di tubuhku, masih
kurasakan Sperma Mamet yang merembes keluar dari kemaluan-ku,.
Tubuhku tergolek lemah, aku menatap langit-langit yang gelap di gudang itu,..Air mataku mengalir,..
Ku ingat lagi kata-kata Diaz
” Kamu bukan seorang Juru Selamat, Sayang “
” Kamu bukan seorang Juru Selamat, Sayang “
Ya benar, aku bukan seorang penyelamat, aku seorang manusia biasa
yang berusaha, namun semua usahaku dihancurkan oleh mereka yang tak
bertanggung jawab, bukan kau tak mau berusaha, aku bukan ingin
menyerah,..
Aku tahu bukan Mamet yang salah, mungkin Mang Supri yang salah, atau
juga Mang Supri juga tidak bersalah, mungkinkah kami semua hanyalah
korban, aku tak berani menerka, kututup mataku, kuhapus air mataku,
meski kembali mengalir..
Apa aku menyesal ?? Namun yang kutahu selama dunia masih seperti ini,
dimana banyak orang yang memanfaatkan keadaan, tak ada tempat yang
nyaman buat kami, para relawan dan para pecandu, terlalu banyak yang
masih memanfaatkan mereka,.
Bukan seorang penyelamat yang dibutuhkan, namun seorang yang mau
perduli pada mereka, perduli pada kami, perduli kalu bukan hanya kami
yang harus jadi penyelamat, namun juga kalian,..
Ya setidaknya itu pendapatku, sementara tubuhku terasa sangat lelah,
mataku terasa berat sama dengan lilin dipojok ruangan yang mulai redup
