Pada suatu hari sekitar pukul 3 sore di salah satu SMU swasta terkenal
Siswi kelas 2 SMU itu segera bersiap-siap untuk pulang setelah
praktikum berakhir. Tiba-tiba ada sms masuk. Ternyata dari papanya yang
memberitahu kalau sore itu mendadak mobil harus masuk bengkel. Jadi, ia
harus menunggu kira-kira 30 menit lagi sebelum mobil jemputan datang.
Dengan agak kesal, ia menunggu di dalam kompleks sekolah sambil menonton
murid sekolah siang yang sedang olahraga.Kira-kira 30 menit kemudian,
ada sms masuk lagi. isinya,
“Papi ada urusan mendadak. Kamu pulang naik taxi aja ya. Daripada nunggu nanti takutnya kemalaman.”
Huh, lagi-lagi naik taxi, gerutunya. Kalo tahu gini, kenapa nggak bilang dari tadi, jadi ia bisa nebeng ikut temannya.
Sebenarnya ia sama sekali tak keberatan naik taxi karena telah beberapa kali ia naik taxi sendirian. Karena taxi disini cukup aman, bahkan untuk gadis muda seperti dia yang naik sendirian. Namun yang tidak menyenangkannya adalah ia harus mencegat taxi di jalan besar yang berjarak beberapa ratus meter dari sekolahnya. Dan untuk kesana ia harus melewati STM yang jam segini suka bergerombol cowok-cowok murid STM yang suka iseng dengan cewek-cewek yang lewat, apalagi kalau ceweknya cakep. Mungkin karena mereka jarang bergaul dengan cewek. Dan telah beberapa kali ia jadi sasaran korban celotehan-celotehan dan pandangan-pandangan iseng mereka. Hal yang membuat risih dirinya. Dan ternyata perkiraannya benar. Saat ia melewati STM itu, ada beberapa cowok yang duduk bergerombol di depan, lagi asyik ngobrol dan tertawa-tawa. Saat ia lewat, seketika perhatian mereka semua langsung tertuju ke dirinya.
“Papi ada urusan mendadak. Kamu pulang naik taxi aja ya. Daripada nunggu nanti takutnya kemalaman.”
Huh, lagi-lagi naik taxi, gerutunya. Kalo tahu gini, kenapa nggak bilang dari tadi, jadi ia bisa nebeng ikut temannya.
Sebenarnya ia sama sekali tak keberatan naik taxi karena telah beberapa kali ia naik taxi sendirian. Karena taxi disini cukup aman, bahkan untuk gadis muda seperti dia yang naik sendirian. Namun yang tidak menyenangkannya adalah ia harus mencegat taxi di jalan besar yang berjarak beberapa ratus meter dari sekolahnya. Dan untuk kesana ia harus melewati STM yang jam segini suka bergerombol cowok-cowok murid STM yang suka iseng dengan cewek-cewek yang lewat, apalagi kalau ceweknya cakep. Mungkin karena mereka jarang bergaul dengan cewek. Dan telah beberapa kali ia jadi sasaran korban celotehan-celotehan dan pandangan-pandangan iseng mereka. Hal yang membuat risih dirinya. Dan ternyata perkiraannya benar. Saat ia melewati STM itu, ada beberapa cowok yang duduk bergerombol di depan, lagi asyik ngobrol dan tertawa-tawa. Saat ia lewat, seketika perhatian mereka semua langsung tertuju ke dirinya.
Cowok yang tampangnya paling jelek dari ketiganya memulai dengan godaannya.
“Wah, ada cewek cakep lewat.”
“Suitt suiittt.”
“Mau pergi kemana Non?”
“ayuk, aku aku bonceng naik motor, mau?”
“Kayaknya mending dipangku di depan deh.”
“Hahahahahaaaa.”
Mereka semua tertawa-tawa sambil menggodanya. Semuanya memelototi wajah dan seluruh tubuh cewek itu. Memang ia adalah cewek yang cakep dan berpenampilan menarik. Baju seragamnya tertata rapi di dalam roknya. Kulitnya putih. Dan body-nya juga sexy. Pinggangnya ramping dan pantatnya cukup berisi. Tak heran kalau cowok-cowok liar itu jadi makin ganas menggoda cewek ini.
“Suiit, suiiittt.”
“aduuh, cantiknya.”
“Putih lagi.”
“Mulusnya ga ketulungan.”
“Sexy.”
“Kayak aktris Jepang.”
“Wah, maen film apaan yah?”
“ah, pura-pura kaga tau loe. Yang pasti gua mau dah jadi aktornya.”
“Huahaahahahaaa”
“Wah, ada cewek cakep lewat.”
“Suitt suiittt.”
“Mau pergi kemana Non?”
“ayuk, aku aku bonceng naik motor, mau?”
“Kayaknya mending dipangku di depan deh.”
“Hahahahahaaaa.”
Mereka semua tertawa-tawa sambil menggodanya. Semuanya memelototi wajah dan seluruh tubuh cewek itu. Memang ia adalah cewek yang cakep dan berpenampilan menarik. Baju seragamnya tertata rapi di dalam roknya. Kulitnya putih. Dan body-nya juga sexy. Pinggangnya ramping dan pantatnya cukup berisi. Tak heran kalau cowok-cowok liar itu jadi makin ganas menggoda cewek ini.
“Suiit, suiiittt.”
“aduuh, cantiknya.”
“Putih lagi.”
“Mulusnya ga ketulungan.”
“Sexy.”
“Kayak aktris Jepang.”
“Wah, maen film apaan yah?”
“ah, pura-pura kaga tau loe. Yang pasti gua mau dah jadi aktornya.”
“Huahaahahahaaa”
Memang cewek itu kulitnya putih dan wajahnya oriental. Cakepnya ga
kalah dengan artis-artis Mandarin atau Jepang. Dan body-nya juga sexy.
Namun, meskipun punya daya tarik seksual yang tinggi tapi cewek ini
nampak seperti cewek baik-baik. Tampangnya cakep tapi innocent jadi
bikin makin menggemaskan mereka. Dan ternyata, komentar mereka menjadi
makin kurang ajar.
“ayo mampir sini dulu, yuk. Kita main pangku-pangkuan yuk.”
“Mending maen dokter-dokteran aja.”
“Huuuuuuuuu.”
“Yuk, kita mandi sama-sama.”
“Huaaahahaha.”
“eh, cewek ini body-nya sexy juga ya. Liat. Dadanya boleh juga tuh.”
“Hahahaha.”
Memang bagian dadanya nampak menonjol, tanda bahwa gadis belia ini telah mencapai usia dewasa. apalagi saat itu tas sekolahnya dicangklongkan di bahunya dan talinya diselempangkan secara diagonal dan menekan diantara belahan dadanya, sehingga tonjolan payudaranya nampak makin jelas saja.
“Hehehehehe.”
“eh, doi kayaknya masih polos tuh. Masih perawan ya? Hehehehe.”
“ah, masa sih? Bukannya kemarin sudah gua dicicipin.”
“Hahahahaha.”
“Kalo masih perawan, bisa diperawanin dong.”
“Hahahahaha”.
“Mau perawan mau nggak, gue juga kagak nolak koq.”
“Hahahahaha.”
“Loe kaga nolak, tapi dianya yang nolak.”
…..
“ayo mampir sini dulu, yuk. Kita main pangku-pangkuan yuk.”
“Mending maen dokter-dokteran aja.”
“Huuuuuuuuu.”
“Yuk, kita mandi sama-sama.”
“Huaaahahaha.”
“eh, cewek ini body-nya sexy juga ya. Liat. Dadanya boleh juga tuh.”
“Hahahaha.”
Memang bagian dadanya nampak menonjol, tanda bahwa gadis belia ini telah mencapai usia dewasa. apalagi saat itu tas sekolahnya dicangklongkan di bahunya dan talinya diselempangkan secara diagonal dan menekan diantara belahan dadanya, sehingga tonjolan payudaranya nampak makin jelas saja.
“Hehehehehe.”
“eh, doi kayaknya masih polos tuh. Masih perawan ya? Hehehehe.”
“ah, masa sih? Bukannya kemarin sudah gua dicicipin.”
“Hahahahaha.”
“Kalo masih perawan, bisa diperawanin dong.”
“Hahahahaha”.
“Mau perawan mau nggak, gue juga kagak nolak koq.”
“Hahahahaha.”
“Loe kaga nolak, tapi dianya yang nolak.”
…..
Mendengar komentar yang makin kurang ajar itu, langsung cewek ini
jadi merah padam dan hampir menangis dibuatnya. Namun ia cuma bisa
mendiamkan saja sambil cepat-cepat berjalan meninggalkan mereka.
untunglah, meski menggodanya dengan kata-kata dan pandangan kurang ajar,
mereka tidak sampai berbuat kurang ajar atau menyentuh secara
fisik. Akhirnya sampailah ia di jalan besar dan tak lama kemudian ia
memanggil taxi yang mengantarnya sampai di rumah dengan selamat.
Siapakah cewek itu? Cewek cakep itu namanya Liani. usianya 17 tahun
lewat beberapa bulan. ia anak kelas 2 IPA di SMU favorit di kotanya itu.
ia adalah siswi terkenal di sekolah itu. Dan memang, boleh dikata ia
adalah cewek yang memiliki segalanya. Selain cantik dan penampilannya
yang menarik, ia termasuk salah satu siswi berprestasi di sekolahnya.
Dua kelebihan yang jarang terjadi. Ditambah lagi ia berasal dari
keluarga kaya. Bokapnya adalah pengusaha yang kaya dan sering muncul di
koran-koran. apalagi ia adalah cewek yang pandai membawa diri karena
memang sejak kecil orang tuanya cukup keras mendidiknya untuk
berperilaku dengan baik dan sopan santun. oleh karena itu pula, ia
termasuk cewek yang polos dan innocent. Tidak hanya wajahnya saja yang
innocent, tapi kelakuannya juga tanpa cela sesuai dengan wajahnya. Tidak
pernah ada gosip-gosip miring tentang dirinya. Bahkan sampai sekarang,
ia belum pernah pacaran. Padahal banyak banget teman cowoknya yang suka
kepadanya sejak SMP.
——————————————————————-
Beberapa hari setelah itu, sekitar pukul 4.30 sore
Liani berjalan keluar dari sekolahnya. Hari itu lagi-lagi ia pulang
dengan naik taxi. Saat itu langit nampak mendung gelap. Dan tak lama
kemudian, turunlah hujan dengan lebatnya. untungnya ia selalu membawa
payung kecil di dalam tasnya. Saat itu tidak ada anak STM yang suka
menggodanya, mungkin karena hujan lebat. Namun ia menghadapi masalah
lain. Telah beberapa saat lamanya ia menunggu di tepi jalan hendak
mencegat taxi yang kosong. Namun entah karena hujan atau sebab lain,
saat itu tidak ada taxi kosong yang lewat. Sementara kalau menunggu
mobil jemputan, bisa-bisa hari sudah gelap baru mobilnya datang.
Sedangkan kini dirinya telah mulai basah karena payung kecilnya tak
mampu melindungi dari hujan yang disertai angin cukup kencang. Saat ia
kebingungan, tiba-tiba, ada sepeda motor besar dan butut yang mendekat
dan berhenti di depannya. Pengemudinya membuka helmnya.
“Hai, hujan-hujan berdiri disini. Lagi tunggu jemputan ya?” tanyanya.
Liani mengenal cowok itu. ia termasuk salah satu cowok STM yang suka menggodanya yang tampangnya paling jelek itu. oleh karena itu ia tidak menghiraukan cowok itu.
“Mau aku antar pulang ga?”
Liani tidak menghiraukan cowok itu.
“Serius nih, mau ga? Mending aku antar pulang daripada kamu berdiri disini kehujanan kayak gini.”
“Nggak usah deh. aku bisa naik taxi,” katanya singkat.
“Hujan-hujan gini nggak gampang dapet taxi lho. Lagian sebentar lagi bakalan gelap. Kalo nggak dapat taxi sampai malam nanti gimana?”
“Nggak mungkin. Sebentar lagi pasti ada taxi,” kata Liani namun dalam hati ia takut kalo apa yang dikatakan cowok itu bakalan terjadi.
“Sudahlah, tidak perlu malu-malu. Mending aku antar kamu pulang aja.. Daripada nunggu disini kehujanan, apalagi kalo sudah gelap nggak aman buat cewek sendirian”.
Kali ini Liani tak bisa menyangkal lagi, karena dalam hati ia juga mulai gelisah.
“Nih, kamu boleh pake ini supaya nggak basah,” kata cowok itu sambil melepas jas hujannya dan memberikan ke cewek itu. Sehingga kini cowok itu jadi langsung basah kuyup kehujanan.
“Hai, hujan-hujan berdiri disini. Lagi tunggu jemputan ya?” tanyanya.
Liani mengenal cowok itu. ia termasuk salah satu cowok STM yang suka menggodanya yang tampangnya paling jelek itu. oleh karena itu ia tidak menghiraukan cowok itu.
“Mau aku antar pulang ga?”
Liani tidak menghiraukan cowok itu.
“Serius nih, mau ga? Mending aku antar pulang daripada kamu berdiri disini kehujanan kayak gini.”
“Nggak usah deh. aku bisa naik taxi,” katanya singkat.
“Hujan-hujan gini nggak gampang dapet taxi lho. Lagian sebentar lagi bakalan gelap. Kalo nggak dapat taxi sampai malam nanti gimana?”
“Nggak mungkin. Sebentar lagi pasti ada taxi,” kata Liani namun dalam hati ia takut kalo apa yang dikatakan cowok itu bakalan terjadi.
“Sudahlah, tidak perlu malu-malu. Mending aku antar kamu pulang aja.. Daripada nunggu disini kehujanan, apalagi kalo sudah gelap nggak aman buat cewek sendirian”.
Kali ini Liani tak bisa menyangkal lagi, karena dalam hati ia juga mulai gelisah.
“Nih, kamu boleh pake ini supaya nggak basah,” kata cowok itu sambil melepas jas hujannya dan memberikan ke cewek itu. Sehingga kini cowok itu jadi langsung basah kuyup kehujanan.
Mula-mula Liani ragu, namun karena terdesak situasi dan cowok itu
terus memaksa, akhirnya ia mau juga membonceng ke sepeda motor cowok
itu. Daripada menunggu sampai gelap dan diganggu orang jahat atau jalan
kaki di jalan dengan pakaian basah kuyup dan mengundang perhatian semua
orang, mending diantar pulang rumah oleh cowok berandalan ini, pikirnya.
Kalau pun cowok itu berniat jahat, ia bisa berteriak minta tolong di
jalanan, pikirnya. Dan siapa tahu kalau cowok ini memang berniat tulus.
Akhirnya ia mengenakan juga jas hujan itu untuk menutupi tubuhnya
supaya ia tidak jadi perhatian orang-orang di jalanan karena baju
seragam putihnya yang basah kuyup melekat di badannya. Kini melajulah
sepeda motor butut itu melintasi kemacetan kota, dengan penumpangnya dua
anak muda berlawanan jenis yang kontras sekali perbedaannya. Hati cowok
itu tentu gembira bisa membawa cewek cakep murid SMU favorit yang
sangat kontras dengan dirinya yang hitam jelek, hanya sekolah STM serta
ugal-ugalan. Sengaja ia beberapa kali mengerem mendadak supaya bisa
bersentuhan dengan tubuh cewek itu. Sesampainya di tujuan, langit telah
mulai cerah dan hujan hanya turun rintik-rintik…
“oh, jadi ini rumah kamu,” kata cowok itu dalam hati mengagumi kemegahan rumah cewek ini.
“eeh, terima kasih ya,” kata Liani dengan perasaan tidak enak. ia melepas jas hujan itu dan memberikannya kepada pemiliknya. Dirinya kini benar-benar basah kuyup karena jas hujan itu ternyata tidak waterproof. Ya karena itu adalah jas hujan murahan.
“ok, nggak masalah. omong2, sorry ya waktu itu gue ngegodain loe.”
“oh, jadi ini rumah kamu,” kata cowok itu dalam hati mengagumi kemegahan rumah cewek ini.
“eeh, terima kasih ya,” kata Liani dengan perasaan tidak enak. ia melepas jas hujan itu dan memberikannya kepada pemiliknya. Dirinya kini benar-benar basah kuyup karena jas hujan itu ternyata tidak waterproof. Ya karena itu adalah jas hujan murahan.
“ok, nggak masalah. omong2, sorry ya waktu itu gue ngegodain loe.”
Liani hanya diam saja karena ia merasa tidak enak masalah itu disebut-sebut oleh cowok ini.
“Tapi bukan gua yang sampe ngomong yang nggak-nggak itu, tapi teman-teman gua. Memang kadang mereka kelewatan. Beneran lho. Gua cuman yang mulai aja.”
“Ya, sudahlah nggak usah diomongin lagi,” kata Liani tidak ingin membicarakan hal itu lagi.
“oh ya, boleh tahu nama kamu? aku biasa dipanggil Dodo,” katanya sambil mengulurkan tangannya.
“Liani,” kata Liani sambil mau tak mau menyambut juga tangan Dodo.
“Sorry, aku masuk dulu ya. Terima kasih sudah diantar. Sorry banget, kamu jadi basah kuyup,” kata Liani tak mau berlama-lama. Meski sudah diantar, tapi ia merasa risih juga terlalu lama bersama dengan cowok berandalan yang tak dikenalnya itu. apa kata tetangga kalau mereka melihatnya.. Berduaan dengan cowok ini aja sudah aneh. apalagi dalam keadaan sama-sama basah kuyup seperti ini. Kini baju seragam putihnya yang dari kain agak tipis telah menempel di tubuhnya yang putih, membuatnya nampak seperti setengah telanjang aja.
“oh, nggak apa-apa. aku sudah terbiasa koq kena hujan seperti ini. Yang penting sekarang kamu selamat sampai di rumah.”
Liani hanya diam saja. Dalam hati ia berpikir, meski tampangnya kayak berandalan gini, cowok ini ternyata cukup baik juga.
“eh, Liani, kapan-kapan aku boleh mampir khan?”
“ehm, boleh saja sih, tapi aku jarang di rumah,” kata Liani berusaha mengelak.
“Hmm, ok, tak apa-apa,” kata Dodo dengan agak kecewa. Meski begitu, ia terkesima dengan pandangan yang ada di depan matanya itu. Rambut Liani yang basah kuyup dan wajahnya yang juga basah makin menambah kecantikannya. Tidak hanya cantik, tapi juga sexy! Karena Liani saat itu boleh dikata seperti setengah telanjang saja. Bagian tubuh atasnya tercetak dengan jelas. untung bra-nya cukup tebal sehingga mampu menutupi payudaranya yang indah. Namun lekuk liku dan tonjolan ‘body curve’ cewek itu nampak jelas sekali membuat Dodo bisa dengan mudah mengira-ngira besarnya ukuran payudara Liani. Sementara bra-nya berwarna biru tua nampak jelas sekali tercetak dan kontras dengan warna baju seragam dan kulitnya yang putih. Melihat itu, tanpa dicegah lagi penis Dodo langsung menegang. Sambil berbicara, beberapa kali ekor matanya mencuri-curi pandang ke arah dada Liani.
“Tapi bukan gua yang sampe ngomong yang nggak-nggak itu, tapi teman-teman gua. Memang kadang mereka kelewatan. Beneran lho. Gua cuman yang mulai aja.”
“Ya, sudahlah nggak usah diomongin lagi,” kata Liani tidak ingin membicarakan hal itu lagi.
“oh ya, boleh tahu nama kamu? aku biasa dipanggil Dodo,” katanya sambil mengulurkan tangannya.
“Liani,” kata Liani sambil mau tak mau menyambut juga tangan Dodo.
“Sorry, aku masuk dulu ya. Terima kasih sudah diantar. Sorry banget, kamu jadi basah kuyup,” kata Liani tak mau berlama-lama. Meski sudah diantar, tapi ia merasa risih juga terlalu lama bersama dengan cowok berandalan yang tak dikenalnya itu. apa kata tetangga kalau mereka melihatnya.. Berduaan dengan cowok ini aja sudah aneh. apalagi dalam keadaan sama-sama basah kuyup seperti ini. Kini baju seragam putihnya yang dari kain agak tipis telah menempel di tubuhnya yang putih, membuatnya nampak seperti setengah telanjang aja.
“oh, nggak apa-apa. aku sudah terbiasa koq kena hujan seperti ini. Yang penting sekarang kamu selamat sampai di rumah.”
Liani hanya diam saja. Dalam hati ia berpikir, meski tampangnya kayak berandalan gini, cowok ini ternyata cukup baik juga.
“eh, Liani, kapan-kapan aku boleh mampir khan?”
“ehm, boleh saja sih, tapi aku jarang di rumah,” kata Liani berusaha mengelak.
“Hmm, ok, tak apa-apa,” kata Dodo dengan agak kecewa. Meski begitu, ia terkesima dengan pandangan yang ada di depan matanya itu. Rambut Liani yang basah kuyup dan wajahnya yang juga basah makin menambah kecantikannya. Tidak hanya cantik, tapi juga sexy! Karena Liani saat itu boleh dikata seperti setengah telanjang saja. Bagian tubuh atasnya tercetak dengan jelas. untung bra-nya cukup tebal sehingga mampu menutupi payudaranya yang indah. Namun lekuk liku dan tonjolan ‘body curve’ cewek itu nampak jelas sekali membuat Dodo bisa dengan mudah mengira-ngira besarnya ukuran payudara Liani. Sementara bra-nya berwarna biru tua nampak jelas sekali tercetak dan kontras dengan warna baju seragam dan kulitnya yang putih. Melihat itu, tanpa dicegah lagi penis Dodo langsung menegang. Sambil berbicara, beberapa kali ekor matanya mencuri-curi pandang ke arah dada Liani.
“eh, Liani,” kata Dodo tiba-tiba.
“ada apa lagi?” tanya Liani menoleh ke belakang sambil memiringkan tubuhnya sehingga dadanya nampak lebih menonjol.
“Boleh minta no HP kamu?”
“ehmmm, nomorku xxxxxxx15,” Liani mula-mula ragu, namun akhirnya ia memberikan nomornya juga kepada Dodo. Setelah itu ia langsung masuk ke dalam rumah.
Begitu masuk ke dalam rumah, ia segera masuk ke kamar mandi. Setelah sebelumnya kedinginan gara-gara kehujanan, kini ia ingin merendam seluruh tubuhnya di dalam bath tub jacuzzi yang besar dengan air hangat. Tak lama kemudian ia sedang asyik merendam tubuhnya yang telanjang bulat di dalam air hangat sambil merasakan semprotan air di bak jacuzzi yang mengenai beberapa bagian tubuhnya. Sambil ia membayangkan peristiwa yang barusan terjadi. itu adalah pengalaman baru baginya. Seumur-umur ia tak pernah naik motor besar dan butut seperti itu apalagi dengan membonceng cowok tak dikenal dan kelas rendahan yang mirip berandalan. Sementara ia dari kalangan keluarga kaya dan elit. ada mixed feeling di dalam dirinya. Di satu sisi ia merasa malu kalau sampai ketahuan orang, namun disisi lain ia merasa excited apalagi saat membayangkan reaksi papanya kalau tahu akan hal ini. Pasti papanya jadi sewot habis. Memang sejak dari kecil ia terlalu dituntut oleh orangtua maupun keluarga dekatnya untuk berprestasi dan untuk berperilaku dengan baik dan tepat. Sehingga diam-diam timbul semangat pemberontak di dalam hatinya, terutama sejak ia melewati masa puber. Namun hal itu hanya bisa dipendamnya di dalam hati. Membayangkan reaksi papanya, ia jadi makin excited, malah ia jadi membayangkan kalau seandainya tiba-tiba pintu kamar mandinya terbuka dan cowok itu masuk ke dalam dan melihat dirinya yang telanjang bulat di dalam air. ah, gila kamu ya! Kok jadi mikir yang nggak-nggak gini, pikirnya dengan malu.
“ada apa lagi?” tanya Liani menoleh ke belakang sambil memiringkan tubuhnya sehingga dadanya nampak lebih menonjol.
“Boleh minta no HP kamu?”
“ehmmm, nomorku xxxxxxx15,” Liani mula-mula ragu, namun akhirnya ia memberikan nomornya juga kepada Dodo. Setelah itu ia langsung masuk ke dalam rumah.
Begitu masuk ke dalam rumah, ia segera masuk ke kamar mandi. Setelah sebelumnya kedinginan gara-gara kehujanan, kini ia ingin merendam seluruh tubuhnya di dalam bath tub jacuzzi yang besar dengan air hangat. Tak lama kemudian ia sedang asyik merendam tubuhnya yang telanjang bulat di dalam air hangat sambil merasakan semprotan air di bak jacuzzi yang mengenai beberapa bagian tubuhnya. Sambil ia membayangkan peristiwa yang barusan terjadi. itu adalah pengalaman baru baginya. Seumur-umur ia tak pernah naik motor besar dan butut seperti itu apalagi dengan membonceng cowok tak dikenal dan kelas rendahan yang mirip berandalan. Sementara ia dari kalangan keluarga kaya dan elit. ada mixed feeling di dalam dirinya. Di satu sisi ia merasa malu kalau sampai ketahuan orang, namun disisi lain ia merasa excited apalagi saat membayangkan reaksi papanya kalau tahu akan hal ini. Pasti papanya jadi sewot habis. Memang sejak dari kecil ia terlalu dituntut oleh orangtua maupun keluarga dekatnya untuk berprestasi dan untuk berperilaku dengan baik dan tepat. Sehingga diam-diam timbul semangat pemberontak di dalam hatinya, terutama sejak ia melewati masa puber. Namun hal itu hanya bisa dipendamnya di dalam hati. Membayangkan reaksi papanya, ia jadi makin excited, malah ia jadi membayangkan kalau seandainya tiba-tiba pintu kamar mandinya terbuka dan cowok itu masuk ke dalam dan melihat dirinya yang telanjang bulat di dalam air. ah, gila kamu ya! Kok jadi mikir yang nggak-nggak gini, pikirnya dengan malu.
Sementara itu disaat Liani sedang asyik merendam tubuh mulusnya yang
telanjang bulat di kolam air panas, pada saat yang sama, melajulah motor
butut itu kembali melintasi kemacetan kota dengan pengendaranya seorang
diri yang basah kuyup dan menggigil kedinginan. Memang kontras sekali
perbedaan diantara keduanya….Sejak pertemuan itu, Dodo begitu gencar
mencoba menjalin hubungan lebih dekat dengan Liani. Namun ia tak
mendapat tanggapan berarti. Memang ia menyadari perbedaan yang sangat
kontras antara Liani dan dirinya. Liani adalah tipe cewek kelas satu
sedangkan dirinya dari kelas yang sama sekali nggak masuk hitungan. ia
dari keluarga pas-pasan yang broken home. ia cuma sekolah di STM yang
tak bermutu, itu pun beberapa kali ia tak naik kelas sehingga kini
umurnya telah 20 tahun padahal ia masih kelas 3. Dan tampangnya juga
termasuk jelek, kulitnya coklat kehitaman karena dari sononya ditambah
lagi karena seringnya terbakar matahari. Rambutnya yang keriting
dibiarkan gondrong awut-awutan. Penampilannya kayak berandalan karena
memang ia cowok liar dan ugal-ugalan. urusan berantem, kebut-kebutan di
jalan, atau mabuk-mabukan bukanlah hal asing baginya. Bahkan ia telah
beberapa kali berhubungan intim dengan beberapa tetangganya yang
kebetulan janda berumur 30-an. Mungkin janda-janda itu suka dengan dia
karena merupakan daun muda yang liar dan gagah perkasa. Sementara
janda-janda itu mengajarinya bermacam teknik bercinta yang membuatnya
ketagihan. Dan sekarang, sejak ia mendapat kesempatan berdekatan dengan
Liani, ia jadi bernafsu terhadapnya dan berpikir keras bagaimana caranya
bisa membuat Liani mau bertekuk lutut sama seperti janda-janda yang
sering ditidurinya itu. Bukan perkara yang mudah. Namun ia jadi makin
terobsesi untuk mendapatkan Liani.
Sementara Dodo terus menghubungi Liani, cewek itu terus berusaha
menghindar.. Namun karena terus-menerus tak kenal menyerah dan lama-lama
tak enak menolaknya terus-menerus, pada suatu hari akhirnya Liani
memperbolehkan Dodo datang ke rumahnya. Sore itu Dodo sengaja memakai
pakaian terbaik yang dimilikinya. Karena ia telah janjian untuk datang
ke rumah Liani. Sesampainya di depan pintu pagar rumah Liani, ia segera
menekan bel. Ding Dong..Tak lama kemudian, pintu segera terbuka,
keluarlah seorang pria setengah baya. Tentu ini bokapnya si Liani, pikir
Dodo.
“Sore, oom. Saya….
“Mau apa lagi? Khan uang iuran sampah bulan ini sudah dibayar.”
(Sialan, masa gua dipikir tukang sampah, pikir Dodo!)
Memang tak heran, karena ia memakai baju hem butut dengan warna norak serta celana jins belel dan sepertinya lama nggak dicuci. Sekilas, pakaiannyanya memang mirip dengan pakaian tukang sampah yang sering datang kesitu. Dan itu adalah baju terbaik yang dimilikinya!
“oh, bukan begitu oom. Saya mau ketemu Liani.”
“Mau apa kamu ketemu Liani?” tanyanya curiga kok orang dengan tampang begini mau ketemu dengan putrinya.
“Saya temannya Liani oom. Kita sudah janji, saya mau pinjam buku catatannya..”
“Kamu bisa kenal Liani dari mana?” katanya dengan nada penuh curiga.
“anu oom, saya kenal karena sekolah saya dekat dengan sekolah Liani..”
“ooh, begitu. Hmm. Tunggu sebentar yah,” jawabnya sambil masuk ke dalam.
“Nik, di luar ada yang nyari kamu. Katanya temanmu tapi tampangnya kok kayak berandalan. Kok kamu bisa temenan sama orang kayak gitu sih?” tanya bokapnya Liani.
“oh, itu temannya teman,” kata Liani berbohong. Tentu ia tak bisa menjelaskan kalau kenalnya karena sebelumnya pernah berboncengan naik motor dengan cowok itu.
“Tampangnya kayak berandalan gitu kok ya kamu bolehin datang ke rumah sih.”
“Hihi, iya ya Pi. Tampangnya kayak preman. Tapi dia bukan teman dekat Nonik sih, Pi. Cuman pernah ngobrol sekali aja,” kata Liani tanpa berbohong namun juga tak menceritakan keseluruhannya.
“Sore, oom. Saya….
“Mau apa lagi? Khan uang iuran sampah bulan ini sudah dibayar.”
(Sialan, masa gua dipikir tukang sampah, pikir Dodo!)
Memang tak heran, karena ia memakai baju hem butut dengan warna norak serta celana jins belel dan sepertinya lama nggak dicuci. Sekilas, pakaiannyanya memang mirip dengan pakaian tukang sampah yang sering datang kesitu. Dan itu adalah baju terbaik yang dimilikinya!
“oh, bukan begitu oom. Saya mau ketemu Liani.”
“Mau apa kamu ketemu Liani?” tanyanya curiga kok orang dengan tampang begini mau ketemu dengan putrinya.
“Saya temannya Liani oom. Kita sudah janji, saya mau pinjam buku catatannya..”
“Kamu bisa kenal Liani dari mana?” katanya dengan nada penuh curiga.
“anu oom, saya kenal karena sekolah saya dekat dengan sekolah Liani..”
“ooh, begitu. Hmm. Tunggu sebentar yah,” jawabnya sambil masuk ke dalam.
“Nik, di luar ada yang nyari kamu. Katanya temanmu tapi tampangnya kok kayak berandalan. Kok kamu bisa temenan sama orang kayak gitu sih?” tanya bokapnya Liani.
“oh, itu temannya teman,” kata Liani berbohong. Tentu ia tak bisa menjelaskan kalau kenalnya karena sebelumnya pernah berboncengan naik motor dengan cowok itu.
“Tampangnya kayak berandalan gitu kok ya kamu bolehin datang ke rumah sih.”
“Hihi, iya ya Pi. Tampangnya kayak preman. Tapi dia bukan teman dekat Nonik sih, Pi. Cuman pernah ngobrol sekali aja,” kata Liani tanpa berbohong namun juga tak menceritakan keseluruhannya.
“Lha trus, kenapa kok dibolehin datang. Dari penampilannya Papi sudah nggak suka.
“Soalnya dia maksa terus, pengin pinjam catatan Nonik. Sudah beberapa kali ditolak, tapi dia maksa terus, jadinya nggak enak dong Pi.”
“Hati-hati lho. Bisa-bisa dia suka sama kamu.”
“Ya biarin aja Pi.”
“Lho kok biarin gimana? Masa Papi biarin anak cewek Papi pacaran sama cowok kayak gitu. Jangankan pacaran, kamu temenan aja Papi sudah nggak suka.”
“orang suka masa nggak boleh Pi? Yang penting khan Nonik nggak mau sama dia.. Memang Papi kirain aku mau sama dia?” kata Liani sambil merajuk.
“Ya udah. asal kamu hati-hati aja. Lagian ingat, kamu harus hati-hati dalam berteman. Jangan bergaul dengan orang sembarangan. Nanti apa kata saudara-saudara dan teman-teman Papi, kalo mereka tahu anak Papi berteman dengan anak berandalan. Dan karena kamu anak cewek, kalo mesti bisa menjaga nama baik kamu. Jangan sampai nama kamu rusak gara-gara temenan sama orang yang nggak benar. Mengerti? “
“iih, Papi mulai deh kuliahnya,” kata Liani merajuk.
“Kamu dinasehati orang tua kok malah begitu jawabnya.”
“Soalnya Papi selalu deh, ngebedain anak cowok dan cewek.”
“Ya udah, cepat kamu temuin dia dan jangan lama-lama, kalo sudah selesai, segera suruh dia pulang.”
“oK, boss,” kata Liani dengan agak kesal karena merasa Papinya mulai membedakan perlakuan dirinya dengan saudara cowoknya.
“Soalnya dia maksa terus, pengin pinjam catatan Nonik. Sudah beberapa kali ditolak, tapi dia maksa terus, jadinya nggak enak dong Pi.”
“Hati-hati lho. Bisa-bisa dia suka sama kamu.”
“Ya biarin aja Pi.”
“Lho kok biarin gimana? Masa Papi biarin anak cewek Papi pacaran sama cowok kayak gitu. Jangankan pacaran, kamu temenan aja Papi sudah nggak suka.”
“orang suka masa nggak boleh Pi? Yang penting khan Nonik nggak mau sama dia.. Memang Papi kirain aku mau sama dia?” kata Liani sambil merajuk.
“Ya udah. asal kamu hati-hati aja. Lagian ingat, kamu harus hati-hati dalam berteman. Jangan bergaul dengan orang sembarangan. Nanti apa kata saudara-saudara dan teman-teman Papi, kalo mereka tahu anak Papi berteman dengan anak berandalan. Dan karena kamu anak cewek, kalo mesti bisa menjaga nama baik kamu. Jangan sampai nama kamu rusak gara-gara temenan sama orang yang nggak benar. Mengerti? “
“iih, Papi mulai deh kuliahnya,” kata Liani merajuk.
“Kamu dinasehati orang tua kok malah begitu jawabnya.”
“Soalnya Papi selalu deh, ngebedain anak cowok dan cewek.”
“Ya udah, cepat kamu temuin dia dan jangan lama-lama, kalo sudah selesai, segera suruh dia pulang.”
“oK, boss,” kata Liani dengan agak kesal karena merasa Papinya mulai membedakan perlakuan dirinya dengan saudara cowoknya.
Tak lama kemudian, muncullah pembantu yang membukakan pintu dan
menyilahkan Dodo duduk di ruang tamu. Wah, enak bener nih sofanya, malah
lebih empuk dibanding ranjang di rumahnya. Maklumlah, karena ia memang
orang kampung yang tak pernah merasakan sofa senyaman itu. Setelah
beberapa saat, muncullah Liani. ia memakai baju kaos berlengan warna
putih tanpa krah dan celana selutut berwarna biru. Diam-diam Dodo
mengamati ukuran payudara Liani yang nampak cukup menonjol di balik kaos
putihnya. Serta tak lepas dari perhatiannya branya berwarna coklat
tanpa tali di bahunya di balik kaosnya. Wah, gila nih cewek. Begitu
muncul langsung bikin gue ngaceng abis dah, katanya dalam hati. Memang
tak salah kalau bokapnya Liani nggak suka dengannya karena memang
diam-diam ia memendam nafsu birahi terhadap putrinya yang masih polos
dan perawan itu.
“eh, sori ya, nunggu agak lama,” kata Liani.
“oh, nggak apa-apa kok.”
Mereka tak sempat ngobrol lama, karena beberapa kali bokap Liani memanggilnya untuk urusan ini itu sepertinya untuk mengingatkannya untuk segera menyuruh tamunya pergi. Tak lama kemudian akhirnya ia pamit pulang sambil membawa buku catatan itu. Namun ia sempat melihat bagian atas dada Liani dari balik kausnya yang sedikit terbuka saat ia sedang duduk dan membungkuk untuk menjelaskan catatannya. ah, lumayanlah, mampir beberapa menit bisa ngeliat gunung kembarnya, pikirnya.
“eh, sori ya, nunggu agak lama,” kata Liani.
“oh, nggak apa-apa kok.”
Mereka tak sempat ngobrol lama, karena beberapa kali bokap Liani memanggilnya untuk urusan ini itu sepertinya untuk mengingatkannya untuk segera menyuruh tamunya pergi. Tak lama kemudian akhirnya ia pamit pulang sambil membawa buku catatan itu. Namun ia sempat melihat bagian atas dada Liani dari balik kausnya yang sedikit terbuka saat ia sedang duduk dan membungkuk untuk menjelaskan catatannya. ah, lumayanlah, mampir beberapa menit bisa ngeliat gunung kembarnya, pikirnya.
Sejak saat itu, makin lama mereka jadi sering ketemuan, meski awalnya
Liani selalu mencoba mengelak. Dan tentu kebanyakan ketemuannya disaat
sang bokap nggak ada. Malah Liani jadi sering curhat dengannya tentang
Papinya yang sibuk dengan bisnisnya dan lebih mementingkan saudara
cowoknya dibanding dirinya. Hmm, bagus, semakin dekat menuju sasaran,
pikirnya. Sebenarnya Liani juga merasa kalau Dodo belakangan ini jadi
makin sering mendekatinya. Meski tahu kalau Dodo tipe cowok berandalan
dan adanya perbedaan yang besar diantara mereka, namun tak disangkal ia
menyukai kepribadiannya yang macho dan apa adanya walau seringkali
konyol. Sehingga dalam hal tertentu (misalnya curhat tentang Papinya
atau keluarganya) ia merasa bisa ngobrol lebih terbuka dengan Dodo
dibanding dengan teman dekatnya atau saudaranya. Karena terhadap mereka,
ia harus menjaga citranya sebagai anak baik di keluarga. Sementara
dengan Dodo ia bisa lebih bebas bicara atau bertindak semaunya.
Lagipula, tidak ada yang mengenal Dodo. oleh karena itu, meskipun tahu
kalau Dodo adalah dari kalangan rendahan, namun ia tetap mau berhubungan
dengannya. Kalau bokap tahu aku sering ketemu sama dia, bisa sewot dia,
pikirnya. Hihihi. Membayangkan dirinya melakukan hal yang dilarang
bokapnya dengan sembunyi-sembunyi membuatnya excited. ah, biarin aja,
pikir Liani, yang penting khan gua nggak ada apa-apa sama dia. Jadi
sebenarnya gua nggak melanggar aturan, pikirnya. Dan memanglah betul.
Meski keduanya makin sering bertemu, namun mereka tak berpacaran. Karena
Dodo memang tak pernah mengungkapkan hal itu. Baginya hal itu bukan
tujuan utamanya. Yang lebih penting adalah bagaimana caranya supaya bisa
membuat Liani yang polos tapi sexy itu bertekuk lutut kepadanya. Dan
semakin lama ia makin percaya diri bahwa ia semakin dekat dengan
mangsanya.
Naluri Dodo memanglah betul. Karena belakangan ini semakin sering
Liani membayangkan kalau seandainya ia ingin melakukan hal gila-gilaan,
ia akan melakukannya dengan Dodo. apalagi citranya sebagai cewek
baik-baik yang kontras banget dengan Dodo yang cowok berandalan.
Perbedaan yang kontras itu makin membuatnya excited. Tapi itu hanyalah
berandai-andai saja. Karena ia masih sadar akan status dirinya sebagai
seorang cewek baik-baik yang harus menjaga dirinya dan nama baiknya.
Meskipun kadang timbul keinginan aneh untuk melakukan sesuatu yang
ekstrem yang bertolak 180 derajat dengan citranya sebagai anak baik-baik
sejak dari kecil dulu. Hal itu dipendamnya dalam-dalam di dalam
hatinya. Tanpa disadarinya hal itu ibarat pegas yang tertekan semakin
kuat seiring dengan waktu. Dalam keadaan normal, di permukaan kelihatan
tenang-tenang saja. Namun apabila sampai terlepas dari penahannya,
pegas itu akan melesat dengan kuat dan cepat tanpa ada yang mampu
menahannya.
menahannya.
—————————————————————————
Sore itu kembali Dodo datang ke rumah Liani. Liani memakai kaus kuning tanpa lengan dan celana abu-abu selutut.
“Kok nggak kedengeran suara bokap. apa dia masih di kantor?
“Nggak. Sudah sejak 4 hari lalu ia pergi ke aussie menjenguk Ko andi (kakak Liani) yang sekolah disana.”
“Wah jadi sendirian dong.”
“iya. Cuman sama si Minah doang. Nyebelin deh.”
Minah adalah pembantunya yang umurnya sekitar 50-an.
Saat itu mereka duduk bersebelahan. Diam-diam Dodo memperhatikan dada Liani.. Karena belahan kausnya agak rendah dan karena dia lebih tinggi dari Liani, jadi ia dapat melihat belahan dadanya, terutama kalau lagi menunduk. Seketika ia jadi terangsang. apalagi tercium olehnya aroma tubuh Liani yang harum.
“Ya udah, lupain aja. Khan sekarang ada gue,” kata Dodo,” Terus sekarang mau ngapain?”
“Terusin aja belajarnya. Masih ada yang mau lu tanyain ga?” tanya Liani.
Memang sejak belakangan, Liani jadi lebih sering menjelaskan matematika kepada Dodo.
“oh, ya ada dong. Gua ada pertanyaan yang mau gua tanyain ke loe.”
“apa itu?”
“Kok hari ini loe tambah cakep dibanding biasanya?”
“ah, ngaco loe! Jangan ngomong sembarangan ah,” kata Liani.
Sore itu kembali Dodo datang ke rumah Liani. Liani memakai kaus kuning tanpa lengan dan celana abu-abu selutut.
“Kok nggak kedengeran suara bokap. apa dia masih di kantor?
“Nggak. Sudah sejak 4 hari lalu ia pergi ke aussie menjenguk Ko andi (kakak Liani) yang sekolah disana.”
“Wah jadi sendirian dong.”
“iya. Cuman sama si Minah doang. Nyebelin deh.”
Minah adalah pembantunya yang umurnya sekitar 50-an.
Saat itu mereka duduk bersebelahan. Diam-diam Dodo memperhatikan dada Liani.. Karena belahan kausnya agak rendah dan karena dia lebih tinggi dari Liani, jadi ia dapat melihat belahan dadanya, terutama kalau lagi menunduk. Seketika ia jadi terangsang. apalagi tercium olehnya aroma tubuh Liani yang harum.
“Ya udah, lupain aja. Khan sekarang ada gue,” kata Dodo,” Terus sekarang mau ngapain?”
“Terusin aja belajarnya. Masih ada yang mau lu tanyain ga?” tanya Liani.
Memang sejak belakangan, Liani jadi lebih sering menjelaskan matematika kepada Dodo.
“oh, ya ada dong. Gua ada pertanyaan yang mau gua tanyain ke loe.”
“apa itu?”
“Kok hari ini loe tambah cakep dibanding biasanya?”
“ah, ngaco loe! Jangan ngomong sembarangan ah,” kata Liani.
Memang kadang ia suka bercanda yang aneh-aneh atau ngomong hal-hal yang nggak jelas juntrungannya dengan Dodo.
“iya bener. Gua serius nih. Belum pernah gua liat loe secakep ini,” kata Dodo dengan muka serius.
“iih, gombal dah loe. udah ah jangan ngomong kayak gini lagi,” kata Liani namun diam-diam ingin tahu apa kelanjutan yang bakal dilakukan Dodo.
“Beneran! Ngapain gua bohong. Malah loe adalah cewek paling cakep yang pernah gua temuin,” kata Dodo dengan wajah makin serius.
“Masa sih?”
“Dan nggak cuman itu, loe juga cewek paling menarik yang pernah gua tahu. Lihat nih, kulit loe halus,” kata Dodo langsung memegang tangan Liani. Melihat Liani tak bereaksi apa-apa, ia jadi semakin berani.
“Dan muka loe juga halus,” kata Dodo sambil mengelus pipinya,” Pasti semua cowok pada tertarik sama loe.”
“omong2, loe tahu ga apa yang ada di pikiran gua sekarang?” kata Dodo.
“iih loe ada-ada aja,” kata Liani, “udah ah jangan kayak gini,” kata Liani lagi sambil berusaha melepaskan dirinya dari Dodo.
Namun Dodo tak menanggapi lagi ucapan Liani, malah tiba-tiba ia merengkuh Liani dan berusaha mencium bibirnya. Liani kaget dengan reaksi mendadak Dodo.. Karena gerakan Dodo yang tiba-tiba dan ia tak bisa melawannya, mau tak mau ia membiarkan bibirnya diciumi Dodo. ia berusaha berontak, namun malah Dodo semakin bernafsu dengan ciumannya. Sampai-sampai dengan berat tubuhnya ia mendorong Liani sehingga terbaring. Lalu dengan penuh nafsu Dodo menciumi leher Liani yang putih mulus. Setelah itu kembali ia mengunci dan melumat habis bibir Liani sampai-sampai Liani dibuatnya bernapas terengah-engah.
“iya bener. Gua serius nih. Belum pernah gua liat loe secakep ini,” kata Dodo dengan muka serius.
“iih, gombal dah loe. udah ah jangan ngomong kayak gini lagi,” kata Liani namun diam-diam ingin tahu apa kelanjutan yang bakal dilakukan Dodo.
“Beneran! Ngapain gua bohong. Malah loe adalah cewek paling cakep yang pernah gua temuin,” kata Dodo dengan wajah makin serius.
“Masa sih?”
“Dan nggak cuman itu, loe juga cewek paling menarik yang pernah gua tahu. Lihat nih, kulit loe halus,” kata Dodo langsung memegang tangan Liani. Melihat Liani tak bereaksi apa-apa, ia jadi semakin berani.
“Dan muka loe juga halus,” kata Dodo sambil mengelus pipinya,” Pasti semua cowok pada tertarik sama loe.”
“omong2, loe tahu ga apa yang ada di pikiran gua sekarang?” kata Dodo.
“iih loe ada-ada aja,” kata Liani, “udah ah jangan kayak gini,” kata Liani lagi sambil berusaha melepaskan dirinya dari Dodo.
Namun Dodo tak menanggapi lagi ucapan Liani, malah tiba-tiba ia merengkuh Liani dan berusaha mencium bibirnya. Liani kaget dengan reaksi mendadak Dodo.. Karena gerakan Dodo yang tiba-tiba dan ia tak bisa melawannya, mau tak mau ia membiarkan bibirnya diciumi Dodo. ia berusaha berontak, namun malah Dodo semakin bernafsu dengan ciumannya. Sampai-sampai dengan berat tubuhnya ia mendorong Liani sehingga terbaring. Lalu dengan penuh nafsu Dodo menciumi leher Liani yang putih mulus. Setelah itu kembali ia mengunci dan melumat habis bibir Liani sampai-sampai Liani dibuatnya bernapas terengah-engah.
Tiba-tiba dengan kekuatan yang tak disangka-sangka Liani mampu
mendorong tubuh Dodo sehingga ia terlepas dari sergapan Dodo. Napas
Liani masih terengah-engah dan ia masih setengah terbaring, ketika
tiba-tiba, plakkkk, sebuah tamparan keras mendarat di pipi Dodo. Ketika
Liani ingin menampar pipi Dodo yang satunya lagi…namun kali ini
tangannya berhasil ditangkap Dodo.
“Jangan sembarang main tampar Non, sakit. Mending kayak gini deh,” kata Dodo yang kemudian kembali mencium bibir Liani, sepertinya ia ingin membalas tamparannya yang keras tadi.
Kali ini Liani berusaha mengelak namun karena kalah tenaga dan ia dalam posisi yang kalah (ia dalam posisi terbaring sementara Dodo duduk dan satu tangannya terpegang), lagi-lagi bibir Dodo berhasil menyentuh bibir Liani. Liani berusaha meronta-ronta, sesekali ia berhasil melepaskan diri dari ciuman Dodo, namun ia masih dalam posisi tertindih. akhirnya Dodo melepaskan tangan Liani dan kini kedua tangannya memegang kedua pipinya sehingga kini kepala Liani tak bisa bergerak lagi. Lalu dengan bebasnya kini ia bisa memagut bibir Liani sepuas hatinya. Bahkan bibirnya kini melumat habis bibir gadis yang ditindihnya itu. Mula-mula Liani berusaha memberontak, kedua tangannya memukul-mukul punggung Dodo. Namun apa daya, rupanya Dodo tak bergeming. Sepertinya pukulan-pukulan Liani malah merupakan pijitan di punggungnya. Makin lama pukulan Liani melemah, sampai akhirnya ia menghentikan sama sekali, entah karena menyadari kalau tidak ada hasilnya atau karena ia mulai merasakan nikmatnya ciuman bibir Dodo. Sampai akhirnya tubuh Liani melemas dan pasrah saja menikmati apa yang dilakukan Dodo terhadapnya. Merasakan bahwa Liani telah menghentikan perlawanannya, Dodo juga melepaskan kedua tangannya dari pipi Liani. Kini dengan bebasnya ia menciumi dan melumat habis seluruh bibir Liani. Sementara Liani kini ikut larut dalam irama permainan Dodo dan sesekali terdengar lenguhannya.
“Jangan sembarang main tampar Non, sakit. Mending kayak gini deh,” kata Dodo yang kemudian kembali mencium bibir Liani, sepertinya ia ingin membalas tamparannya yang keras tadi.
Kali ini Liani berusaha mengelak namun karena kalah tenaga dan ia dalam posisi yang kalah (ia dalam posisi terbaring sementara Dodo duduk dan satu tangannya terpegang), lagi-lagi bibir Dodo berhasil menyentuh bibir Liani. Liani berusaha meronta-ronta, sesekali ia berhasil melepaskan diri dari ciuman Dodo, namun ia masih dalam posisi tertindih. akhirnya Dodo melepaskan tangan Liani dan kini kedua tangannya memegang kedua pipinya sehingga kini kepala Liani tak bisa bergerak lagi. Lalu dengan bebasnya kini ia bisa memagut bibir Liani sepuas hatinya. Bahkan bibirnya kini melumat habis bibir gadis yang ditindihnya itu. Mula-mula Liani berusaha memberontak, kedua tangannya memukul-mukul punggung Dodo. Namun apa daya, rupanya Dodo tak bergeming. Sepertinya pukulan-pukulan Liani malah merupakan pijitan di punggungnya. Makin lama pukulan Liani melemah, sampai akhirnya ia menghentikan sama sekali, entah karena menyadari kalau tidak ada hasilnya atau karena ia mulai merasakan nikmatnya ciuman bibir Dodo. Sampai akhirnya tubuh Liani melemas dan pasrah saja menikmati apa yang dilakukan Dodo terhadapnya. Merasakan bahwa Liani telah menghentikan perlawanannya, Dodo juga melepaskan kedua tangannya dari pipi Liani. Kini dengan bebasnya ia menciumi dan melumat habis seluruh bibir Liani. Sementara Liani kini ikut larut dalam irama permainan Dodo dan sesekali terdengar lenguhannya.
Setelah puas menciumi Liani, Dodo melepaskan ciumannya. Liani
mendapat kesempatan untuk duduk. Lalu ia berkata,” Yang loe lakukan tadi
benar-benar brengsek! Loe benar-benar cowok brengsek!!”
Namun tak diduga-duga, setelah selesai mengatakan itu, tiba-tiba Liani mencium bibir Dodo dan melumatnya. Hal yang tak disangka-sangka ini tentu membuat Dodo membalas lumatan Liani. Sehingga kini keduanya dengan liar saling berciuman dan berpagutan di atas sofa yang empuk itu. Bahkan kedua lidah mereka beberapa kali saling bersentuhan. Beberapa saat setelah itu, tiba-tiba Liani melepaskan dirinya dari Dodo. “Sebentar. Mending kita “belajar” di kamar gua aja yuk. Gua nggak mau ketahuan Minah,” kata Liani. (Sebenarnya ia tak perlu takut ketahuan Minah, karena Minah berada di dalam kamarnya terus dan sama sekali nggak tahu akan perbuatan nona majikannya itu. Malah ia tidak tahu ketika Dodo datang karena ia tertidur saat Dodo datang).
Tapi yang jelas, memang lebih nikmat untuk melakukannya di dalam kamar. apalagi ranjang Liani yang empuk dan berukuran besar. Dan lagi, bercinta dengan Liani, anak gadis orang kaya di dalam kamarnya yang mewah, tentu merupakan sensasi tambahan bagi Dodo. Tentu hati Dodo jadi berbunga-bunga mendengar kata-kata indah itu. apalagi setelah mereka masuk, Liani langsung mengunci kamarnya. Tentu itu adalah suatu isyarat yang tak perlu dijelaskan lagi maknanya. Kini hanya mereka berdua saja di dalam kamar yang terkunci rapat. Tak ada yang bisa mencegah apa yang akan dilakukannya. ia benar-benar mengagumi isi kamar itu. Semuanya tertata rapi dan mewah. Sementara ranjangnya ukuran king size yang empuk. Namun, ia tak mau lama-lama menghabiskan waktu mengagumi kamar Liani, mending fokus ke penghuninya.
Namun tak diduga-duga, setelah selesai mengatakan itu, tiba-tiba Liani mencium bibir Dodo dan melumatnya. Hal yang tak disangka-sangka ini tentu membuat Dodo membalas lumatan Liani. Sehingga kini keduanya dengan liar saling berciuman dan berpagutan di atas sofa yang empuk itu. Bahkan kedua lidah mereka beberapa kali saling bersentuhan. Beberapa saat setelah itu, tiba-tiba Liani melepaskan dirinya dari Dodo. “Sebentar. Mending kita “belajar” di kamar gua aja yuk. Gua nggak mau ketahuan Minah,” kata Liani. (Sebenarnya ia tak perlu takut ketahuan Minah, karena Minah berada di dalam kamarnya terus dan sama sekali nggak tahu akan perbuatan nona majikannya itu. Malah ia tidak tahu ketika Dodo datang karena ia tertidur saat Dodo datang).
Tapi yang jelas, memang lebih nikmat untuk melakukannya di dalam kamar. apalagi ranjang Liani yang empuk dan berukuran besar. Dan lagi, bercinta dengan Liani, anak gadis orang kaya di dalam kamarnya yang mewah, tentu merupakan sensasi tambahan bagi Dodo. Tentu hati Dodo jadi berbunga-bunga mendengar kata-kata indah itu. apalagi setelah mereka masuk, Liani langsung mengunci kamarnya. Tentu itu adalah suatu isyarat yang tak perlu dijelaskan lagi maknanya. Kini hanya mereka berdua saja di dalam kamar yang terkunci rapat. Tak ada yang bisa mencegah apa yang akan dilakukannya. ia benar-benar mengagumi isi kamar itu. Semuanya tertata rapi dan mewah. Sementara ranjangnya ukuran king size yang empuk. Namun, ia tak mau lama-lama menghabiskan waktu mengagumi kamar Liani, mending fokus ke penghuninya.
Kembali Dodo mencium bibir Liani. Liani kali ini tidak menolak malah
ia membalas dengan ciuman yang tak kalah hangatnya. Sejenak mereka
berpagutan sambil melakukan french kissing, bibir bertemu bibir, lidah
bertemu lidah. Setelah puas, lalu Dodo menciumi leher Liani sambil
mengecup-ngecup. Karena terlalu bernafsu, Dodo menekan tubuh Liani
sampai akhirnya ia tertidur ke atas ranjangnya. Kini dengan leluasa Dodo
menindihnya dan terus mengecup-ngecup leher Liani bergantian kiri dan
kanan. Sampai di lehernya membekas kemerahan bekas kecupan Dodo. Setelah
itu mulai tangan Dodo bergerilya meraba-raba seluruh bagian tubuh
Liani, terutama paha dan dadanya. ia meraba dan meremas-remas dengan
lembut kedua dadanya bergantian. Tak puas sebelum betul-betul meraba
kulit tubuh Liani, tangan Dodo menuju ke pinggang, meraih sabuk yang
dikenakan dan seketika melepaskannya. Segera ia membuka retsleting
celana Liani dan meloloskannya sehingga nampaklah pahanya yang putih
mulus dan celana dalamnya berwarna coklat muda menutupi bagian
rahasianya. Tak puas dengan itu, ia membuka kaus kuning yang dikenakan
Liani. Tanpa perlawanan sama sekali, ia berhasil melakukan itu. Kini
nampaklah di depannya tubuh Liani yang putih mulus yang bagian-bagian
terpentingnya masih tertutup. Bra-nya juga berwarna coklat muda yang
coraknya sama dengan celana dalamnya. akan tetapi ini tak berlangsung
lama. Karena sesaat kemudian ia membangunkan Liani dan tanpa basa basi
lagi segera tangannya merengkuh punggung Liani untuk melepaskan kait
bra-nya. Sekali lagi, tanpa perlawanan, ia berhasil melakukan itu dan
dengan agak terburu-buru ia menjauhkan bra tersebut dari tubuh Liani,
sehingga kini dengan bebasnya ia dapat melihat payudara Liani. Hmm,
sungguh indah. ukurannya 34c. Bentuknya sempurna dan kencang berdiri
dengan tegaknya. Wilayah areolanya tidak terlalu besar namun putingnya
menonjol. Kulit dadanya yang putih mulus kontras dengan kedua putingnya
yang merah muda. Sementara Liani dengan wajahnya yang innocent menatap
dengan pasrah.
Segera ia mencoba kekenyalan payudara Liani itu. Kedua tangannya
merengkuh kedua payudaranya, meraba-rabanya, dan meremas-remasnya dengan
lembut. Hmm, benar-benar kenyal dan padat. Benar-benar masih segar dan
muda. Tubuh gadis usia belasan tahun sungguh berbeda dengan janda
berumur 30-an tahun. apalagi gadis ini bukanlah gadis biasa namun dari
keluarga berada yang rajin merawat tubuhnya dari sejak kecil. Ditambah
pula belum pernah sebelumnya ia beginian dengan cewek yang sekelas
Liani ataupun dengan cewek berwajah oriental dan berkulit putih seperti
ini. Sungguh semuanya ini adalah sensasi yang sungguh nikmat bagi Dodo.
Membuat hormon kejantanannya bereaksi dengan kuatnya dan membuatnya
merasa lebih macho. Sementara itu, tindakan Dodo yang meraba-raba
payudaranya ini juga membuat Liani terangsang. Bagaimana pun, ia adalah
gadis normal yang tentunya menjadi terangsang dengan sentuhan-sentuhan
erotis seperti itu dari seorang cowok. apalagi cowok macho seperti Dodo
yang tak mengenal sopan santun. ia mulai mendesah-desah ketika Dodo
meraba-raba dan meremas-remas payudaranya yang sungguh kencang, kenyal
dan padat berisi. Dodo segera menyambutnya dengan ciumaan di bibirnya
yang juga dibalas oleh Liani. Liani jadi makin terangsang, lebih-lebih
lagi ketika jari-jari Dodo bergeser-geser diatas putingnya. Karena
putingnya sangat sensitif dan payudaranya adalah titik nyala seksnya.
Setelah beberapa saat Dodo melakukan ini, kini tanpa dapat dicegah
vaginanya menjadi basah oleh cairan. Beberapa saat lamanya Dodo
menikmati bibir dan payudara Liani. Sementara Liani juga menikmati
sentuhan-sentuhan kurang ajar (tapi sungguh nikmat) dari Dodo terhadap
dirinya. Setelah itu Dodo melepaskan tangannya dan menuju ke celana
dalamnya. Sekali lagi, tanpa basa basi lagi, ia menurunkan celana dalam
coklat tersebut menuruni paha, lutut, kaki bagian bawah, sampai telapak
kaki, dan akhirnya ia melemparkan ke lantai. Hal itu dilakukan tanpa ada
perlawanan sama sekali dari Liani. Sepertinya diam-diam ia juga
mengharapkan Dodo melakukan hal itu..
Seluruh baju yang semula dikenakan Liani kini nampak berserakan di
lantai. Dari sabuk, baju atasan, celana luar, bra, dan juga cd-nya.
Pandangan Dodo kini terfokus ke vagina Liani. Bulu-bulu kemaluannya
termasuk lebat apalagi kalau diingat bahwa cewek itu masih muda, umurnya
antara 17-18 tahun. Sungguh tak disangka-sangka bahwa Liani, cewek
dengan tampang polos dan innocent itu ternyata mempunyai bulu kemaluan
yang lebat. Vaginanya yang kemerahan nampak rapat. untuk dapat melihat
vaginanya dengan lebih jelas, Dodo sengaja membuka kedua kaki Liani
lebar-lebar. Nampak terlihat vaginanya yang masih tertutup rapat serta
klitorisnya. Vaginanya berwarna kemerahan segar, dibawah bulu vaginanya
yang lebat. Dan Liani membiarkan Dodo melihat vaginanya tanpa berusaha
menutup kedua kakinya. Sepertinya kini Liani telah pasrah dan urat
malunya telah putus dihadapan Dodo. ia membiarkan saja apa pun perlakuan
Dodo terhadapnya. Setelah itu giliran Dodo membuka seluruh pakaiannya.
Liani nampak kaget saat melihat penisnya. Karena selain ia tak pernah
melihat penis cowok dewasa sebelumnya. Dan juga karena penis Dodo kini
berdiri dengan tegaknya. Warnanya nampak lebih hitam dibanding kulit
tubuhnya. ukurannya pun cukup besar dan nampak berurat berdiri tegak.
Nampak lekukan di leher penisnya dan kepalanya yang disunat terlihat
lebih besar dibanding dengan badannya. Dodo tak memberi kesempatan Liani
lebih lama untuk melihat penisnya, karena ia telah terbungkus oleh
nafsu birahi yang menggelora menyaksikan tubuh putih mulus Liani yang
telanjang bulat. ia menindih tubuh Liani dan menciumi bibirnya. Bibirnya
merasakan nikmatnya bibir Liani, dadanya yang hitam namun tegap
menempel ke payudara Liani yang padat berisi dengan putingnya yang
kemerahan. Sementara penisnya menempel di bulu-bulu vagina Liani yang
lebat, seakan bagaikan bantal empuk yang menyangga penisnya yang
menegang sangat keras itu. Dan sebagian buah pelirnya menempel ke lubang
vagina Liani.
Kedua tangan Liani yang putih memeluk punggung Dodo seolah tak ingin
melepaskannya. Sejenak sepasang cowok dan cewek muda yang berbeda
segalanya itu saling memagut, saling meraba dan merangsang bagian-bagian
sensitif lawan jenisnya. Nampak kontras perbedaan fisik mereka. Liani
yang putih halus ditindih Dodo yang hitam legam. Liani yang berambut
lurus sementara Dodo berambut keriting. Liani yang cantik, Dodo yang
jelek rupanya. Liani yang berwajah polos innocent, Dodo yang berwajah
berandalan. Dodo kembali bergerilya ke tubuh Liani, kali ini dengan
menggunakan mulutnya. ia mulai mengecupi leher dan kedua pundak Liani.
Namun yang menjadi sasaran utamanya adalah payudaranya, karena ia ingin
merasakan nikmatnya rasa payudara cewek putih mulus ini. Mula-mula
dikecupinya bagian pangkal payudaranya, setelah itu bergerak makin ke
atas sampai akhirnya sampai di putingnya. Kedua putingnya yang kemerahan
membuat gemas dirinya. Segera dikecupinya, dikenyot-kenyot dan
dijilat-jilat, awalnya lidahnya melingkar-lingkar di sekeliling
putingnya, kemudian benar-benar kedua putingnya yang dijilat-jilat oleh
gerakan lidah Dodo yang lincah itu sambil sesekali diselingi oleh
kecupan-kecupan hangat. Kehangatan kecupan Dodo yang menyedot-nyedot
putingnya dan kelincahan lidah Dodo yang memainkan kedua putingnya,
menggerak-gerakkannya kesana kemari, membuat Liani menggelinjang
kegelian. Membuatnya jadi makin terangsang. Tanpa sadar ia mengeluarkan
suara mendesah-desah dengan cukup keras, “ohhh ahhhhh ahhhhhh”, yang
membuat Dodo makin bernapsu memainkan payudaranya. Sementara vagina
Liani jadi basah kuyup dibuatnya.
“ahhhh, ahhhhhhh, emmhhhhhh”, desah Liani sambil kedua tangannya memeluk erat tubuh Dodo dan tanpa sadar membuka kakinya lebar-lebar dan mendesak-desakkan vaginanya ke badan Dodo.
“ahhhh, ahhhhhhh, emmhhhhhh”, desah Liani sambil kedua tangannya memeluk erat tubuh Dodo dan tanpa sadar membuka kakinya lebar-lebar dan mendesak-desakkan vaginanya ke badan Dodo.
Dodo yang mengerti akan body language Liani segera memulai gerilyanya
ke bawah. Mula-mula dikecupinya pahanya terutama bagian pangkalnya.
Setelah itu tangannya bergerak ke tengah menuju ke antara kedua pahanya.
Vaginanya diraba-raba, klitorisnya sengaja digesek-geseknya.
“ohhhhh, Dodo, ohhhhhhhh, ohhhhhhhhh”
Dodo merasakan tangannya yang jadi berlendir. Dalam hati ia tersenyum gembira. Rupanya cewek ini sudah terangsang hebar sehingga tidak mempedulikan hal-hal lainnya. Namun ia tidak langsung melakukannya. Toh tinggal masalah waktu saja, pikirnya. Lalu ia menjilati vaginanya, menyedot-nyedotnya, dan memainkan lidahnya di sekitarnya. Sampai lalu ia menjilati klitorisnya yang tentu saja membuat vagina Liani jadi makin basah kuyup. ia tidak selalu mau berbuat begini. Namun terhadap Liani yang putih bersih ini, ia sama sekali tak keberatan melakukan itu. apalagi ia punya dugaan kuat kalo Liani masih perawan. Sementara tangan Dodo tak mau ketinggalan segera merengkuh payudara Liani, meremas-remasnya dan kembali memainkan jari jemarinya ke kedua putingnya.
“ahhhhh, ahhhhhhh, ohhhhhh, aaahhhhhhhhhhhhh.”
Tubuh Liani jadi menggelinjang-gelinjang kenikmatan. Akhirnya Dodo menghentikan aksinya. ia membuka kaki Liani lebar-lebar. Rupanya ia telah siap dengan hadiah utamanya. Kemudian ia memposisikan penisnya ke antara kedua paha Liani. Sementara Liani telah sangat terangsang sehingga ia sudah tidak peduli lagi dengan apa yang akan dilakukan Dodo. ia telah pasrah total dengan apapun yang dilakukan Dodo. Melihat gayung bersambut, segera Dodo menempelkan penisnya ke mulut vagina Liani. Dan kemudian mendorong dirinya ke depan, memasukkan penisnya ke dalam vagina Liani. uggh, sempitnya. Namun dengan dorongan yang kedua yang lebih kuat sebagian kepala penisnya berhasil masuk ke dalam. Dorong sekali lagi, kini seluruh kepala penisnya amblas ke dalam vagina Liani. Dan, Bleessh. Sekali dorong lagi memasukkan seluruh penisnya ke dalam vagina Liani. Setelah berhasil memerawani Liani, lalu, cleeb, cleeeb, cleeeb, dengan gaya missionaris segera ia memaju mundurkan penisnya, mengocoknya di dalam vagina Liani, merasakan jepitan vagina Liani yang sempit.
“ohhhhh, Dodo, ohhhhhhhh, ohhhhhhhhh”
Dodo merasakan tangannya yang jadi berlendir. Dalam hati ia tersenyum gembira. Rupanya cewek ini sudah terangsang hebar sehingga tidak mempedulikan hal-hal lainnya. Namun ia tidak langsung melakukannya. Toh tinggal masalah waktu saja, pikirnya. Lalu ia menjilati vaginanya, menyedot-nyedotnya, dan memainkan lidahnya di sekitarnya. Sampai lalu ia menjilati klitorisnya yang tentu saja membuat vagina Liani jadi makin basah kuyup. ia tidak selalu mau berbuat begini. Namun terhadap Liani yang putih bersih ini, ia sama sekali tak keberatan melakukan itu. apalagi ia punya dugaan kuat kalo Liani masih perawan. Sementara tangan Dodo tak mau ketinggalan segera merengkuh payudara Liani, meremas-remasnya dan kembali memainkan jari jemarinya ke kedua putingnya.
“ahhhhh, ahhhhhhh, ohhhhhh, aaahhhhhhhhhhhhh.”
Tubuh Liani jadi menggelinjang-gelinjang kenikmatan. Akhirnya Dodo menghentikan aksinya. ia membuka kaki Liani lebar-lebar. Rupanya ia telah siap dengan hadiah utamanya. Kemudian ia memposisikan penisnya ke antara kedua paha Liani. Sementara Liani telah sangat terangsang sehingga ia sudah tidak peduli lagi dengan apa yang akan dilakukan Dodo. ia telah pasrah total dengan apapun yang dilakukan Dodo. Melihat gayung bersambut, segera Dodo menempelkan penisnya ke mulut vagina Liani. Dan kemudian mendorong dirinya ke depan, memasukkan penisnya ke dalam vagina Liani. uggh, sempitnya. Namun dengan dorongan yang kedua yang lebih kuat sebagian kepala penisnya berhasil masuk ke dalam. Dorong sekali lagi, kini seluruh kepala penisnya amblas ke dalam vagina Liani. Dan, Bleessh. Sekali dorong lagi memasukkan seluruh penisnya ke dalam vagina Liani. Setelah berhasil memerawani Liani, lalu, cleeb, cleeeb, cleeeb, dengan gaya missionaris segera ia memaju mundurkan penisnya, mengocoknya di dalam vagina Liani, merasakan jepitan vagina Liani yang sempit.
Tubuh Liani yang putih mulus ditindih dan dikocok-kock oleh Dodo yang
hitam dan kasar, sementara kedua tangan Liani yang putih memeluk
punggung Dodo yang hitam. Payudaranya bergerak berputar-putar akibat
kocokan Dodo. akhirnya Dodo merasa gemas juga untuk meremas-remasnya.
Liani jadi meracau tak karuan ia sudah lupa segalanya. Sungguh ia
menikmati penis Dodo yang menembus keperawanannya dan mengocok vaginanya
. Dan, inilah kelakuan cewek yang terkenal “alim” itu yang masih kelas 2
SMU!! Setelah petting yang dilakukan sebelumnya, rupanya tak perlu
waktu lama lagi buat Dodo untuk membuat Liani orgasme. Tubuh Liani jadi
menggelinjang-gelinjang. Sementara Dodo mengocoknya terus beberapa saat
dengan irama yang tetap. Tubuh Liani berguncang-guncang. Payudaranya
jadi bergerak berputar-putar mengikuti arah maju mundur hunusan
penisnya. Sampai akhirnya tanpa dapat dicegah lagi,
“oHhhhhhhh, aahhhhhhhh, ooohhhhh, yesssssss, ahhhhhhhhhhhh, Dodooo, ahhhhhhhhhhhhh”
Liani mencapai orgasmenya. Sementara Dodo tetap terus mengocok penisnya, membiarkan Liani menikmati turunnya ritme setelah puncak orgasmenya sambil ia merasakan nikmatnya jepitan liang vagina Liani yang sempit. Setelah Liani jadi mulai tenang, segera Dodo menghentikannya dan menarik penisnya keluar. ia masih belum selesai dan belum cukup puas menikmati Liani yang baru saja diperawaninya dan dibuatnya orgasme itu. ia melihat adanya sedikit darah dari vagina Liani. Sungguh bangga hatinya karena berhasil menikmati keperawanan gadis cantik dengan tampang innocent itu. Setelah itu kembali ia “menghajar” tubuh mulus Liani dengan menyetubuhinya ala doggy style. Penisnya yang gagah menembus maju mundur liang vagina Liani. Membuat seluruh tubuh Liani terguncang keras dan payudaranya bergerak-gerak dengan lebih hebat lagi. Kini malah seluruh ranjang jadi ikut bergoyang-goyang.
“ahhh, ahhhhhhhhhhhh, ahhhhhhhhhhhh,” Liani mendesah-desah.
“oHhhhhhhh, aahhhhhhhh, ooohhhhh, yesssssss, ahhhhhhhhhhhh, Dodooo, ahhhhhhhhhhhhh”
Liani mencapai orgasmenya. Sementara Dodo tetap terus mengocok penisnya, membiarkan Liani menikmati turunnya ritme setelah puncak orgasmenya sambil ia merasakan nikmatnya jepitan liang vagina Liani yang sempit. Setelah Liani jadi mulai tenang, segera Dodo menghentikannya dan menarik penisnya keluar. ia masih belum selesai dan belum cukup puas menikmati Liani yang baru saja diperawaninya dan dibuatnya orgasme itu. ia melihat adanya sedikit darah dari vagina Liani. Sungguh bangga hatinya karena berhasil menikmati keperawanan gadis cantik dengan tampang innocent itu. Setelah itu kembali ia “menghajar” tubuh mulus Liani dengan menyetubuhinya ala doggy style. Penisnya yang gagah menembus maju mundur liang vagina Liani. Membuat seluruh tubuh Liani terguncang keras dan payudaranya bergerak-gerak dengan lebih hebat lagi. Kini malah seluruh ranjang jadi ikut bergoyang-goyang.
“ahhh, ahhhhhhhhhhhh, ahhhhhhhhhhhh,” Liani mendesah-desah.
Lalu berganti posisi, ditelentangkan Liani di atas ranjang dan
diangkatnya kedua kakinya ditaruh di pundaknya sendiri. Kemudian
dimasukkan penisnya ke vagina Liani dan dikocok-kocoknya di dalamnya.
Dodo ingin Liani memainkan penisnya. Digunakan tangan Liani yang mungil
meraih batang penisnya Dodo, mulai dari buah zakarnya sampai ke ujung
kepala penisnya. Rupanya cewek ini walaupun pemula namun cukup
“berbakat” untuk hal kayak ginian. Terbukti tak lama kemudian
jari-jemarinya bergerak sendiri dengan cekatan mengelus-elus dan
memijit-mijit seluruh bagian penis Dodo. Sepertinya ia sangat menyayangi
penis Dodo yang hitam besar yang sebelumnya telah memberikan kepuasan
tiada tara kepadanya. Jari-jarinya yang halus dan mungil kini
bergerak-gerak disekelilin leher penis Dodo, dilanjutkan dengan ibu jari
dan telunjuknya yang meraba-raba kepala penis Dodo yang membesar dan
tak disunat itu. Kemudian ia mengocok-ngocok dengan tangannya,
meremas-remasnya, sampai-sampai membuat Dodo menahan supaya tidak
keluar. Tak puas dengan itu rupanya Dodo ingin supaya Liani, yang
beberapa saat sebelumnya masih perawan itu, untuk meng-oral penisnya.
Namun sebelum itu, dijepitnya penisnya diantara payudara Liani.
Digosok-gosok penisnya di tengah-tengah dada kenyal Liani. Digerakkan
maju mundur di antara dua bukit itu. Setelah itu, didekatkannya penisnya
yang basah ke dekat mulut Liani. Mula-mula Liani menolaknya. Namun Dodo
tetap menyuruhnya untuk “mencobanya”, “anggap aja seperti jamur”
katanya sambil mengelus-elus rambut Liani. akhirnya Liani mau juga
mengulum “jamur yang hitam besar itu”. Dan rupanya, ia tak perlu terlalu
lama diajari urusan kayak gini. Membuat Dodo merasakan kenikmatan luar
biasa saat penisnya dikulum di dalam mulut gadis berwajah oriental itu.
Lidahnya di dalam mulut dengan lincahnya bermain-main di sekitar leher
penis Dodo. Tampangnya yang innocent dengan polosnya menatap Dodo,
sementara mulutnya sedang asyik mengulum penis Dodo yang sebelumnya
telah menembus vaginanya untuk pertama kali dan memberikan orgasme
kepadanya. Sementara kedua tangan Dodo tak mau menganggur, segera
meremas-remas buah dada Liani. Sehingga keduanya saling merangsang satu
sama lain.
Wajah Liani yang innocent dengan polosnya menatap Dodo ketika mulut
dan lidahnya sibuk memainkan penisnya. Sungguh kontras sekali
pemandangan itu! Sehingga menggemaskan hati Dodo. Sampai akhirnya ia tak
bisa menahan lebih lama lagi. Dengan memberi isyarat kepada Liani untuk
mengocok penisnya dengan tangannya di luar mulutnya, akhirnya tak lama
kemudian:
“Crrooot, crooottt, croooot…”
Dengan perasaan penuh kepuasan, muncratlah sperma Dodo dalam jumlah yang banyak. Sebagian besar mengenai wajah Liani, sebagian lagi ke rambutnya yang dicat kepirangan. Sehingga wajah Liani kini jadi belepotan dibuatnya. Namun Liani dengan patuh terus mengocok penis Dodo sampai seluruh spermanya habis keluar. Sebagian spermanya mengalir ke bawah membasahi leher dan dada Liani. Sesaat setelah “pertempuran” itu, mereka berdua nampak berbaring dengan napas masih terengah-engah. Hati Dodo penuh rasa puas karena akhirnya berhasil memerawani Liani di dalam kamar tidurnya sendiri. Sementara Liani, meskipun tak menduga kalau bakal sampai terjadi sejauh ini, namun tak dapat disangkalnya bahwa malam itu ia mendapatkan kepuasan luar biasa dari Dodo. Pada saat itu Dodo sedang membelai-belai rambut Liani dan tangan yang satunya meraba-rabai payudara Liani. Tiba-tiba HP Liani berbunyi. Karena masih rada kecapean, awalnya Liani enggan mengangkatnya. Namun karena HP-nya berbunyi terus menerus, dengan terpaksa ia mengangkatnya.
“Halo.”
“Halo Nik, ini Papi. Papi pulang hari ini. Sekarang lagi mampir beli bihun goreng di restoran XXX (restoran di deket rumah mereka), kamu mau nitip apa?”
“Lho! Kok Papi sudah pulang? Bukannya harusnya pulangnya hari Minggu?”
“iya soalnya tadi pagi customer Papi telpon, meeting-nya diubah besok. eh, kok napas kamu ngos-ngosan sih Nik?”
“i-iya Pi, lagi asyik treadmill nih, trus Papi telpon.”
“ooh, makanya tadi nggak diangkat-angkat. Kirain lagi mandi tadi. Gimana, mau nitip makanan nggak?”
“ehhm, boleh deh. Kwetiauw goreng deh Pi. Pake telor ya.”
“oK deh. Papi beliin. Bentar lagi juga nyampe rumah kok.”
“oK deh Pi. Byee.”
“Bye.”
“Crrooot, crooottt, croooot…”
Dengan perasaan penuh kepuasan, muncratlah sperma Dodo dalam jumlah yang banyak. Sebagian besar mengenai wajah Liani, sebagian lagi ke rambutnya yang dicat kepirangan. Sehingga wajah Liani kini jadi belepotan dibuatnya. Namun Liani dengan patuh terus mengocok penis Dodo sampai seluruh spermanya habis keluar. Sebagian spermanya mengalir ke bawah membasahi leher dan dada Liani. Sesaat setelah “pertempuran” itu, mereka berdua nampak berbaring dengan napas masih terengah-engah. Hati Dodo penuh rasa puas karena akhirnya berhasil memerawani Liani di dalam kamar tidurnya sendiri. Sementara Liani, meskipun tak menduga kalau bakal sampai terjadi sejauh ini, namun tak dapat disangkalnya bahwa malam itu ia mendapatkan kepuasan luar biasa dari Dodo. Pada saat itu Dodo sedang membelai-belai rambut Liani dan tangan yang satunya meraba-rabai payudara Liani. Tiba-tiba HP Liani berbunyi. Karena masih rada kecapean, awalnya Liani enggan mengangkatnya. Namun karena HP-nya berbunyi terus menerus, dengan terpaksa ia mengangkatnya.
“Halo.”
“Halo Nik, ini Papi. Papi pulang hari ini. Sekarang lagi mampir beli bihun goreng di restoran XXX (restoran di deket rumah mereka), kamu mau nitip apa?”
“Lho! Kok Papi sudah pulang? Bukannya harusnya pulangnya hari Minggu?”
“iya soalnya tadi pagi customer Papi telpon, meeting-nya diubah besok. eh, kok napas kamu ngos-ngosan sih Nik?”
“i-iya Pi, lagi asyik treadmill nih, trus Papi telpon.”
“ooh, makanya tadi nggak diangkat-angkat. Kirain lagi mandi tadi. Gimana, mau nitip makanan nggak?”
“ehhm, boleh deh. Kwetiauw goreng deh Pi. Pake telor ya.”
“oK deh. Papi beliin. Bentar lagi juga nyampe rumah kok.”
“oK deh Pi. Byee.”
“Bye.”
“Wah, gawat. Papi sudah mau nyampe rumah. Yuk, kita mesti buruan
beres-beres,” kata Liani sambil buru-buru mengambil pakaiannya yang
berserakan di lantai dan wajah serta dadanya masih dibasahi sperma Dodo.
“Tunggu dulu. Kita mesti bicara dulu. Sorry ya atas perbuatan gua tadi. Gua bener-bener lupa daratan.”
“ah, udahlah. Sudah kejadian kok, mau diapain lagi.”
“Loe nggak marah sama gua?”
“Kenapa mesti marah? Lagian..lagian, gua tadi juga mau kok,” kata Liani sambil mukanya memerah.
“Jadi kalo gitu, ntar kapan-kapan mau lagi donk?”
“iiih, elu malah ngelunjak ya,” kata Liani yang mukanya makin memerah.
“eh, gua nggak nyangka lu bisa jadi cewek brengsek juga,” kata Dodo menirukan kata-kata Liani sebelumnya.
“idiih, elu deh,” kata Liani sambil memerah mukanya, “ini semua gara-gara loe, tahu.” “awas, lu jangan bilang siapa-siapa ya.”
“Siip deh, asal jangan lupa “iuran hariannya” aja.”
“iiih, elu dech.., kata Liani kehilangan kata-kata.
Namun tiba-tiba Liani tersadar kembali.
“eh, yuk kita mesti cepat-cepat beres-beres dan keluar. entar keburu Papi datang. Kalo ketahuan Papi bisa gawat deh,” kata Liani sambil mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai satu persatu.
“Loe kalo mau bersihin muka buruan deh. ayo cepat, kita mesti ke luar sebelum Papi datang,” kata Liani lagi.
“oK.” Kata Dodo mengiyakan. ia juga tak mau tertimpa masalah kalau sampai bokap cewek yang baru diperawaninya itu tahu apa yang barusan dilakukan terhadap anak gadisnya. Bisa berabe ntar gue, pikirnya. ia lalu membersihkan dirinya dan buru-buru mengenakan pakaiannya sambil matanya tak lepas memandangi Liani yang buru-buru mengenakan pakaiannya lagi. Sepertinya matanya ingin menikmati keindahan tubuh Liani sampai saat-saat terakhir.
“Tunggu dulu. Kita mesti bicara dulu. Sorry ya atas perbuatan gua tadi. Gua bener-bener lupa daratan.”
“ah, udahlah. Sudah kejadian kok, mau diapain lagi.”
“Loe nggak marah sama gua?”
“Kenapa mesti marah? Lagian..lagian, gua tadi juga mau kok,” kata Liani sambil mukanya memerah.
“Jadi kalo gitu, ntar kapan-kapan mau lagi donk?”
“iiih, elu malah ngelunjak ya,” kata Liani yang mukanya makin memerah.
“eh, gua nggak nyangka lu bisa jadi cewek brengsek juga,” kata Dodo menirukan kata-kata Liani sebelumnya.
“idiih, elu deh,” kata Liani sambil memerah mukanya, “ini semua gara-gara loe, tahu.” “awas, lu jangan bilang siapa-siapa ya.”
“Siip deh, asal jangan lupa “iuran hariannya” aja.”
“iiih, elu dech.., kata Liani kehilangan kata-kata.
Namun tiba-tiba Liani tersadar kembali.
“eh, yuk kita mesti cepat-cepat beres-beres dan keluar. entar keburu Papi datang. Kalo ketahuan Papi bisa gawat deh,” kata Liani sambil mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai satu persatu.
“Loe kalo mau bersihin muka buruan deh. ayo cepat, kita mesti ke luar sebelum Papi datang,” kata Liani lagi.
“oK.” Kata Dodo mengiyakan. ia juga tak mau tertimpa masalah kalau sampai bokap cewek yang baru diperawaninya itu tahu apa yang barusan dilakukan terhadap anak gadisnya. Bisa berabe ntar gue, pikirnya. ia lalu membersihkan dirinya dan buru-buru mengenakan pakaiannya sambil matanya tak lepas memandangi Liani yang buru-buru mengenakan pakaiannya lagi. Sepertinya matanya ingin menikmati keindahan tubuh Liani sampai saat-saat terakhir.
———————————————————————————–
Tak lama kemudian, kedua orang itu telah keluar dari kamar dan Liani
menyuruh Dodo duduk di ruang tamu sementara dia akan mandi dulu supaya
tampangnya kembali segar.
“Bi Minaaah!”
Tak ada jawaban.
“Bi Minaaaah!”
tak ada jawaban.
“Bi Minaaaaah!”
“iya, iya Non. ada apa?”
“Lama bener sih. Lagi tidur ya? Bi, ada tamu datang. Tolong suguhkan minuman. aku mau di kamar dan mandi dulu.”
“Baik Non.”
Nah, ini adalah strategi Liani. Mulanya ia ingin menyuruh Dodo langsung pulang, sebelum Papinya datang. Namun hal itu dibatalkannya, karena ia tidak tahu kapan saat Papinya datang. apalagi rumah makan yang didatanginya sudah dekat dengan rumahnya. Kalau sampai berpapasan dengan Dodo yang meninggalkan rumah itu, tentu akan menimbulkan kecurigaan. Kemana lagi Dodo di daerah situ kalau nggak mampir ke rumahnya. Sejak kapan Dodo datang? Padahal sebelumnya ia bilang sedang treadmill. Lebih baik diatur seolah-olah ketika ia sedang treadmill, Dodo datang. Sementara Dodo menunggu di ruang tamu, ia mandi dulu sehabis threadmill. Habis itu baru ia menemui Dodo. Pada saat itu, sudah tidak menjadi masalah lagi apakah Papinya sudah datang ataupun belum. apalagi sekarang dia ada “saksi” Bi Minah yang menyuguhkan minuman kepada tamu yang “baru datang.” inilah akal bulus Liani. Tak salah kalau ia termasuk salah satu siswi cerdas di sekolahnya. Karena memang otaknya encer dan banyak akal bulusnya.
“Bi Minaaah!”
Tak ada jawaban.
“Bi Minaaaah!”
tak ada jawaban.
“Bi Minaaaaah!”
“iya, iya Non. ada apa?”
“Lama bener sih. Lagi tidur ya? Bi, ada tamu datang. Tolong suguhkan minuman. aku mau di kamar dan mandi dulu.”
“Baik Non.”
Nah, ini adalah strategi Liani. Mulanya ia ingin menyuruh Dodo langsung pulang, sebelum Papinya datang. Namun hal itu dibatalkannya, karena ia tidak tahu kapan saat Papinya datang. apalagi rumah makan yang didatanginya sudah dekat dengan rumahnya. Kalau sampai berpapasan dengan Dodo yang meninggalkan rumah itu, tentu akan menimbulkan kecurigaan. Kemana lagi Dodo di daerah situ kalau nggak mampir ke rumahnya. Sejak kapan Dodo datang? Padahal sebelumnya ia bilang sedang treadmill. Lebih baik diatur seolah-olah ketika ia sedang treadmill, Dodo datang. Sementara Dodo menunggu di ruang tamu, ia mandi dulu sehabis threadmill. Habis itu baru ia menemui Dodo. Pada saat itu, sudah tidak menjadi masalah lagi apakah Papinya sudah datang ataupun belum. apalagi sekarang dia ada “saksi” Bi Minah yang menyuguhkan minuman kepada tamu yang “baru datang.” inilah akal bulus Liani. Tak salah kalau ia termasuk salah satu siswi cerdas di sekolahnya. Karena memang otaknya encer dan banyak akal bulusnya.
Dan ternyata, persis seperti perkiraan Liani, tak lama setelah Liani
masuk ke kamar mandi, Papinya datang. Mula-mula ia heran melihat motor
butut di halaman depan, namun Bi Minah menerangkan kalau itu motor teman
Liani yang baru datang. Sementara Liani sekarang sedang mandi saat ia
menyuguhkan minuman buat tamunya yang baru datang. ia sebenarnya kurang
senang melihat Dodo, namun tetap menyapanya sebagai basa-basi.
“ooh, baru datang ya? ayo silakan diminum dulu.”
“Makasih oom. oom baru datang juga ya?”
“Saya baru sampai dari australia. Kamu sudah makan?”
“Belum oom.”
“Kamu tunggu disini dulu ya. Liani masih sibuk di dalam. Tapi dia sudah tahu kok kalo kamu datang. Nanti kalau urusannya sudah selesai, dia pasti keluar nemuin kamu. Sorry ya, oom sudah lapar, mau makan dulu.”
Dalam hati ia membatin,”Rasain lu, ngapain malam-malam kesini. Sekarang siap-siap aja nunggu lama disini. Belum tahu kalo Liani itu mandinya lama banget. Biar kapok lu supaya jangan kesini lagi.”
“oh, silakan oom. Nggak apa-apa saya tunggu disini. Lama juga nggak masalah..”
Dalam hati Dodo membatin,”Lagi sibuk apaan sih? Hehehe, pasti lagi sibuk bersihin mukanya yang barusan gua semprot ama peju”.
Tak lama kemudian, keluarlah Liani dengan wajahnya yang innocent dengan senyum manisnya. Rupanya ia barusan mandi dan keramas. ia memakai t-shirt berkerah warna biru tua dengan rok bawahan warna putih.
“eh, Papi udah datang.”
“iya. Makanannya ada di meja tuh. oh ya, ada temanmu tuh di depan. udah lama nunggunya.
“ooh, baru datang ya? ayo silakan diminum dulu.”
“Makasih oom. oom baru datang juga ya?”
“Saya baru sampai dari australia. Kamu sudah makan?”
“Belum oom.”
“Kamu tunggu disini dulu ya. Liani masih sibuk di dalam. Tapi dia sudah tahu kok kalo kamu datang. Nanti kalau urusannya sudah selesai, dia pasti keluar nemuin kamu. Sorry ya, oom sudah lapar, mau makan dulu.”
Dalam hati ia membatin,”Rasain lu, ngapain malam-malam kesini. Sekarang siap-siap aja nunggu lama disini. Belum tahu kalo Liani itu mandinya lama banget. Biar kapok lu supaya jangan kesini lagi.”
“oh, silakan oom. Nggak apa-apa saya tunggu disini. Lama juga nggak masalah..”
Dalam hati Dodo membatin,”Lagi sibuk apaan sih? Hehehe, pasti lagi sibuk bersihin mukanya yang barusan gua semprot ama peju”.
Tak lama kemudian, keluarlah Liani dengan wajahnya yang innocent dengan senyum manisnya. Rupanya ia barusan mandi dan keramas. ia memakai t-shirt berkerah warna biru tua dengan rok bawahan warna putih.
“eh, Papi udah datang.”
“iya. Makanannya ada di meja tuh. oh ya, ada temanmu tuh di depan. udah lama nunggunya.
“Sorry ya, lama nunggunya.”
“oh, nggak apa-apa kok,” kata Dodo sambil mengedipkan matanya. Melihat Liani dengan wajah segar dan baju baru dengan dadanya yang menonjol membuatnya jadi ngaceng kembali. Namun kini ia boleh berbangga diri karena barusan ia telah menjadi saksi hidup betapa indahnya payudara yang menonjol di balik t-shirt birunya. Dan betapa nikmatnya bercinta dengan cewek cakep dan sexy yang ada di depannya ini.
“Nik, kamu mau makan jam berapa? Teman kamu apa mau dibeliin makanan juga?”
Dodo membatin,” Sialan, mau ngusir secara halus, pake basa-basa segala. Kalo memang mau beliin makanan kenapa ga dari tadi-tadi? Tapi sialan, kenapa sih loe pulang cepat? Kalau nggak khan gua bisa dapet ronde kedua.”
“Makasih deh. Nggak usah repot-repot oom. Saya sudah mau pulang. Badan saya agak cape, soalnya dari tadi “naik turun bukit dan menerobos gang sempit”.”
“Soalnya rumah kamu jauh ya dan masuk gang pula. untung saja motor kamu nggak mogok.”
“oh kalo itu pasti nggak deh oom. Soalnya gitu-gitu “motor” saya kuat lho oom.”
Batin Dodo,” Sekarang loe kaga ngerti khan apa yang gue maksud. Heheheheheh.. Kalo pengin tau, tanya tuh sama anak cewek loe. Dia barusan udah ngerasaain kuatnya “motor” gue.”
“Biiik, tolong bukain pintu. Tamunya Nonik sudah mau pulang.”
Batinnya,” akhirnya pulang juga loe.”
“Permisi oom, saya pulang dulu.”
“Liani, yuk gua pulang dulu. Thank you banget ya”, katanya sambil mengedipkan matanya.
“oh, nggak apa-apa kok,” kata Dodo sambil mengedipkan matanya. Melihat Liani dengan wajah segar dan baju baru dengan dadanya yang menonjol membuatnya jadi ngaceng kembali. Namun kini ia boleh berbangga diri karena barusan ia telah menjadi saksi hidup betapa indahnya payudara yang menonjol di balik t-shirt birunya. Dan betapa nikmatnya bercinta dengan cewek cakep dan sexy yang ada di depannya ini.
“Nik, kamu mau makan jam berapa? Teman kamu apa mau dibeliin makanan juga?”
Dodo membatin,” Sialan, mau ngusir secara halus, pake basa-basa segala. Kalo memang mau beliin makanan kenapa ga dari tadi-tadi? Tapi sialan, kenapa sih loe pulang cepat? Kalau nggak khan gua bisa dapet ronde kedua.”
“Makasih deh. Nggak usah repot-repot oom. Saya sudah mau pulang. Badan saya agak cape, soalnya dari tadi “naik turun bukit dan menerobos gang sempit”.”
“Soalnya rumah kamu jauh ya dan masuk gang pula. untung saja motor kamu nggak mogok.”
“oh kalo itu pasti nggak deh oom. Soalnya gitu-gitu “motor” saya kuat lho oom.”
Batin Dodo,” Sekarang loe kaga ngerti khan apa yang gue maksud. Heheheheheh.. Kalo pengin tau, tanya tuh sama anak cewek loe. Dia barusan udah ngerasaain kuatnya “motor” gue.”
“Biiik, tolong bukain pintu. Tamunya Nonik sudah mau pulang.”
Batinnya,” akhirnya pulang juga loe.”
“Permisi oom, saya pulang dulu.”
“Liani, yuk gua pulang dulu. Thank you banget ya”, katanya sambil mengedipkan matanya.
Tak lama kemudian melajulah Dodo dengan motor bututnya di jalan,
dengan naik turun bukit dan menerobos gang sempit. Kali ini dalam arti
sebenarnya. Sementara itu Liani dan Papinya asyik menikmati makanannya.
Kembali Papinya menguliahinya supaya tidak bergaul apalagi sampai
pacaran dengan Dodo.
“Malam-malam kesini. Papi yakin dia ada maunya sama kamu, Nik. Jangan sampai anak Papi pacaran sama berandalan kayak gitu.”
Dalam hati Liani membatin, “ah, sudahlah, jangan banyak kasih petuah. Memangnya aku nggak tahu kalo Papi punya simpanan di luar.”
Namun ia tidak mengungkapkan hal itu. ia cuma berkata,”iya, iya, Pi.. Nonik sudah tahu. Papi nggak usah kuatir, nonik nggak bakalan mau pacaran sama dia.”
Lalu Papinya melanjutkan lagi,”iya, Papi juga tahu itu. Tapi bagaimana pun, kamu mesti hati-hati lho, Nik. Kadang orang bisa berbuat nekat. Dan kalau sampai ada apa-apa, yang rugi juga kamu sendiri. Soalnya kamu khan cewek. Mending jangan temenan atau ketemu sama anak itu lagi. Mengerti?”
“Yah, kalo itu sih udah telat, Pi. Tapi aku nggak merasa rugi kok,” kata Liani di dalam hati.
Dalam hati Liani membatin, “ah, sudahlah, jangan banyak kasih petuah. Memangnya aku nggak tahu kalo Papi punya simpanan di luar.”
Namun ia tidak mengungkapkan hal itu. ia cuma berkata,”iya, iya, Pi.. Nonik sudah tahu. Papi nggak usah kuatir, nonik nggak bakalan mau pacaran sama dia.”
Lalu Papinya melanjutkan lagi,”iya, Papi juga tahu itu. Tapi bagaimana pun, kamu mesti hati-hati lho, Nik. Kadang orang bisa berbuat nekat. Dan kalau sampai ada apa-apa, yang rugi juga kamu sendiri. Soalnya kamu khan cewek. Mending jangan temenan atau ketemu sama anak itu lagi. Mengerti?”
“Yah, kalo itu sih udah telat, Pi. Tapi aku nggak merasa rugi kok,” kata Liani di dalam hati.
========================
Resepsi peresmian perusahaan itu berlangsung meriah. Banyak karangan
bunga dipajang di sana yang dikirim oleh orang-orang penting. Semua tamu
berpakaian rapi dan necis. Selain kerabat-kerabat, turut diundang pula
sejumlah rekan bisnis, staf-staf penting, pejabat pemerintah setempat,
dan tamu-tamu penting lainnya. Bahkan ada pula beberapa orang wartawan
yang datang meliput. Kini tiba saatnya acara simbolis peresmian itu
yaitu pemotongan pita. Saat itu seluruh pandangan mata tertuju ke arah
seorang pria setengah baya yang tampan, rapi dan sukses yang sedang
berbicara. Ia adalah pemilik perusahaan tersebut.
Dengan wajah ceria ia berkata,”Sekali lagi saya mengucapkan terima
kasih sebesar-besarnya atas kehadiran bapak-bapak dan ibu-ibu disini.
Untuk pemotongan pita ini, saya akan diwakili oleh putri saya yang
cantik, yaitu Liani!”
Di tengah-tengah tepuk tangan orang-orang itu, majulah seorang gadis muda dan cantik ke depan. Ia mengenakan gaun pesta warna merah jambu yang sungguh pas di tubuhnya. Dengan senyum mengembang di wajahnya, tangannya yang mungil menggerakkan gunting itu untuk memotong pita tersebut. Para juru foto tak melewatkan kesempatan itu untuk melakukan aksinya. Sekali lagi, terdengar tepuk tangan yang meriah dari para hadirin. Entah apa yang ada di benak para juru foto itu saat mereka sibuk memotret. Apakah mereka memotret melulu untuk upacara pemotongan pita itu, ataukah juga karena kecantikan gadis muda itu.
Di tengah-tengah tepuk tangan orang-orang itu, majulah seorang gadis muda dan cantik ke depan. Ia mengenakan gaun pesta warna merah jambu yang sungguh pas di tubuhnya. Dengan senyum mengembang di wajahnya, tangannya yang mungil menggerakkan gunting itu untuk memotong pita tersebut. Para juru foto tak melewatkan kesempatan itu untuk melakukan aksinya. Sekali lagi, terdengar tepuk tangan yang meriah dari para hadirin. Entah apa yang ada di benak para juru foto itu saat mereka sibuk memotret. Apakah mereka memotret melulu untuk upacara pemotongan pita itu, ataukah juga karena kecantikan gadis muda itu.
Ya, gadis itu adalah Liani. Ia menghadiri upacara pembukaan anak
perusahaan milik Papinya. Penampilannya sangat menarik dengan gaun pesta
merah jambu tanpa lengan itu. Selain karena wajahnya yang cakep dari
sononya, apalagi dengan make up dan dandanannya malam itu, membuatnya
tak kalah cantik dan menarik dibanding bintang film Hongkong. Juga
kulitnya putih bersih. Usianya masih muda sekali,17 tahun lewat hampir
18 tahun, dan ia masih kelas 2 SMU. Bodi tubuhnya juga menarik kalau tak
boleh dikatakan menggiurkan (terutama untuk para mupengers). Apalagi
gaun pesta mahal dengan kualitas kain sangat bagus yang dikenakannya
begitu pas menempel di tubuhnya. Nampak terlihat lekuk liku body curve
yang nyaris sempurna di balik gaun mahal yang dikenakannya. Pinggangnya
ramping, pinggulnya menonjol. Dadanya juga nampak menonjol dan berisi.
Sementara potongan gaunnya berleher agak rendah yang memperlihatkan
sebagian kecil belahan payudaranya. Membuat penasaran para lelaki yang
ingin melihat lebih banyak lagi. Upacara peresmian malam itu berlangsung
dengan sukses. Sementara kehadiran Liani malam itu berhasil mencuri
perhatian banyak orang. Banyak yang mengaguminya, karena kecantikannya,
penampilannya, kepercayaan dirinya, maupun juga prestasinya di sekolah,
dan lain-lainnya. Banyak orang yang tahu bahwa ia adalah siswi
berprestasi di sekolah favorit di kota itu. Banyak pula orang tua yang
diam-diam iri karena anaknya kalah segalanya dari Liani. Ada pula
beberapa rekan bisnis Papinya yang ingin menjodohkan anaknya dengan
Liani.. Dan banyak pula cowok-cowok muda yang tertarik kepadanya. Namun
juga diam-diam banyak lelaki – muda maupun tua – yang berpikiran kotor.
Yah, namanya juga cowok. Dimana pun dan siapa pun sama saja kalo ngeliat
cewek muda, cantik, dan sexy. Tapi tentu semua pikiran itu hanya
disimpan di dalam hati masing-masing.
—@@@@@@@—–
Keesokan harinya…
Liani sedang asyik menonton tv dengan masih memakai seragam SMU putih
abu-abunya. Memang ia baru pulang dari sekolahnya. Begitu selesai makan
siang, ia langsung duduk di sofa sambil menonton tv. Wajahnya tampak
segar. Mungkin karena hari itu jam pelajaran sekolah cuma 3 jam. Oleh
karena paginya ada rapat yang melibatkan semua guru, maka jadwal sekolah
dimulai lebih siang dari biasanya. Liani, semenjak diperawani oleh Dodo
waktu itu, telah beberapa kali melakukan hal yang sama lagi. Meski
sadar bahwa itu adalah perbuatan terlarang, namun tetap saja
dilakukannya karena ia juga menikmatinya. Apalagi melakukannya sambil
sembunyi-sembunyi sehinga menambah ketegangan dan sebagai tambahan bumbu
kenikmatan. Kini ia jadi semakin mahir dalam hal gituan, mungkin karena
memang pada dasarnya “punya bakat tinggi” dalam hal ini ditambah lagi
Dodo yang memang lebih berpengalaman mengajaknya melakukan berbagai
macam variasi. Selain Dodo dan Liani sendiri, tidak ada orang lain yang
tahu akan hal ini. Karena, ini hebatnya Liani, ia tetap saja masih bisa
mempertahankan prestasinya di sekolah (malah ranking-nya tambah naik).
Sehingga tak ada orang yang menyangka atau merasakan adanya perubahan
dalam diri Liani. Sementara Dodo sendiri juga bisa menjaga rahasia.
Mungkin bagi dia yang lebih penting adalah asalkan Liani mau melayaninya
kapan pun ia mau. Untuk mencegah supaya tidak hamil, diam-diam Liani
menyimpan pil anti hamil yang mujarab. Ia berhasil mendapatkan informasi
tentang itu dengan memancing salah satu tantenya yang telah menikah.
Tanpa curiga sama sekali, tantenya itu berhasil dipancingnya untuk
memberitahu dan menjelaskannya secara lengkap dan detail.
Saat itu tiba-tiba ada sms masuk dari Dodo yang bilang kalo sebentar
lagi ia sampai kesana. Liani langsung kaget karena saat itu Papinya lagi
di rumah.. (Papinya punya kantor sendiri untuk usaha bisnisnya. Namun
selain itu, ada satu kamar di rumah itu yang khusus dipakai sebagai
kantor kerjanya. Letaknya di bagian belakang rumah. Sebagai gambaran,
memang rumah Liani ini cukup besar dan luas serta mempunyai beberapa
kamar). Sehingga kadang Papinya kerja di rumah seperti hari ini. Karena
takut ketahuan, ia langsung menelpon Dodo memberitahu agar jangan datang
saat itu. Namun rupanya Dodo tak menggubrisnya karena tak lama kemudian
ada sms masuk dari Dodo yang isinya,”Gua udah di depan pintu rumah
loe!” Awalnya Liani berniat menyuruhnya pergi. Namun dipikirnya lagi,
biasanya Papinya kalo lagi kerja gitu bisa sampe sore di dalam ruangnya.
Saat itu Dodo tidak membawa motornya. Ia naik kendaraan umum. Akhirnya,
tanpa sepengetahuan siapa pun, diajaknya Dodo masuk ke dalam dan mereka
duduk di sofa di ruang tamu depan (yang jaraknya agak jauh dari ruang
kerja Papinya). Begitu melihat Liani yang masih memakai seragam dengan
rapi, seketika Dodo langsung terangsang. Terbayang-bayang tubuhnya yang
putih mulus dan sexy yang sudah pernah ia rasakan sebelumnya namun makin
lama makin membuatnya ketagihan itu. Apalagi dengan memakai seragam SMU
gini, Liani makin kelihatan seperti cewek baik-baik dan innocent. Tentu
enak sekali rasanya kalau bisa menikmati cewek kayak gini. Membuat Dodo
makin gemas dibuatnya. Begitu duduk berdua di sofa, Dodo segera memulai
aksinya. Tangannya langsung menggerayangi tubuh Liani. Diraba-rabanya
dada Liani dan disusupkannya tangannya di dalam rok abu-abunya. Lalu
sejenak mereka berciuman bibir. Kemudian kedua tangannya mulai melucuti
pakaian gadis itu.
Tak perlu waktu lama, pakaian seragam Liani yang sebelumnya rapi jadi
amburadul. Baju seragam dan branya masih menempel di tubuhnya, tapi
sudah tak berfungsi sebagaimana mestinya. seluruh kancing bajunya telah
terlepas dan baju seragamnya terbuka lebar. Bra warna hijau muda yang
harusnya berfungsi menutupi payudara gadis putih mulus itu malah telah
terbuka kaitan depannya. Sehingga kini dadanya yang putih dan padat
berisi terbuka telanjang di depan mata Dodo. Kedua putingnya yang
kemerahan nampak menonjol dan menggairahkan. Rok abu-abunya tersingkap
keatas. Nampak pahanya yang putih mulus. Hanya celana dalamnya saja,
yang juga berwarna hijau muda, yang masih berada di posisi sebagaimana
mestinya. Namun itu pun tak lama. Karena sesaat kemudian, Dodo
meloloskan celana dalam itu dari tubuh cewek itu. Kini Liani dalam
posisi duduk dengan sebagian besar pakaiannya masih menempel di ubuhnya,
akan tetapi sudah tak berfungsi menutupi bagian-bagian tubuh seorang
gadis yang seharusnya tidak diperlihatkan kepada cowok, apalagi cowok
kelas rendahan seperti Dodo gini. Kini nampak jelas bUlu-bulu vaginanya
yang lebat dan hitam, kontras banget dengan kulit tubuhnya yang putih.
Tak heran kalau Dodo jadi bernapsu melihat Liani dalam keadaan seperti
itu. Segera diciuminya cewek putih itu dengan penuh napsu. Kedua
tangannya yang hitam merengkuh dan meraba-raba payudaranya yang terbuka
bebas. Ketika ia sedang asyik meraba-raba payudara Liani dan
memilin-milin kedua putingnya yang kemerahan itu dengan kedua jari
telunjuknya, tiba-tiba:
“Lianiii!,” terdengar suara Papinya memanggilnya.
“Lianiii!,” terdengar suara Papinya memanggilnya.
Bagi Liani, suara itu bagaikan guntur yang menggelegar.
“Kamu dimana?” tanya Papinya dari kejauhan.
“Anu, Liani di sofa ruang tamu depan, Pi,” kata Liani agak lega karena dari jarak suaranya ternyata Papinya masih di dekat ruang kerjanya (sehingga masih jauh dari dirinya).
“Ngapain kamu disana?”
“Eh, anu, aku lagi tiduran disini,” katanya agak gelagapan karena pada saat itu payudaranya yang telanjang berada dalam genggaman Dodo dan diremas-remasnya.
“Memang kenapa Pi?”
“Kamu mau sup jamur nggak? Papi mau nyuruh Bi Minah untuk manasin.”
“Nggak deh Pi. A-aku masih kenyang koq.”
“Beneran kamu nggak mau?”
“Beneran Pi. Nanti kalo aku mau, aku langsung kesana deh. Sekarang Papi terusin aja kerjanya,” kata Liani sementara payudaranya masih terus diremas-remas Dodo.
“OK deh kalo gitu,” katanya sambil masuk ke ruangannya.
Setelah Papinya masuk ke ruang kerjanya kembali, mereka berdua jadi bebas merdeka. Kini Liani dalam posisi menungging. Dodo memasukkan kepalanya di dalam rok Liani. Didalamnya, mulutnya sedang asyik menjilati dan menghisap-hisap vagina Liani. Lidahnya menari-nari merangsang klitorisnya. Sementara kedua tangannya meraba-rabai sekujur tubuh Liani.
“Ehhmm, ehmmmm, ehmmmm,” Liani mulai mendesah-desah. Tak lama kemudian vaginanya mulai basah.
Kemudian ia melakukannya dengan berganti posisi. Liani dalam posisi berdiri.. Dodo berlutut di depannya. Kepalanya masuk di dalam rok abu-abunya. Dijilatinya bulu-bulu vagina serta vagina cewek itu dari depan. Vagina Liani dibuat basah kuyup karenanya.
“Ooh…ohhh….ohhhhh,” Liani mendesah-desah lirih.
“Kamu dimana?” tanya Papinya dari kejauhan.
“Anu, Liani di sofa ruang tamu depan, Pi,” kata Liani agak lega karena dari jarak suaranya ternyata Papinya masih di dekat ruang kerjanya (sehingga masih jauh dari dirinya).
“Ngapain kamu disana?”
“Eh, anu, aku lagi tiduran disini,” katanya agak gelagapan karena pada saat itu payudaranya yang telanjang berada dalam genggaman Dodo dan diremas-remasnya.
“Memang kenapa Pi?”
“Kamu mau sup jamur nggak? Papi mau nyuruh Bi Minah untuk manasin.”
“Nggak deh Pi. A-aku masih kenyang koq.”
“Beneran kamu nggak mau?”
“Beneran Pi. Nanti kalo aku mau, aku langsung kesana deh. Sekarang Papi terusin aja kerjanya,” kata Liani sementara payudaranya masih terus diremas-remas Dodo.
“OK deh kalo gitu,” katanya sambil masuk ke ruangannya.
Setelah Papinya masuk ke ruang kerjanya kembali, mereka berdua jadi bebas merdeka. Kini Liani dalam posisi menungging. Dodo memasukkan kepalanya di dalam rok Liani. Didalamnya, mulutnya sedang asyik menjilati dan menghisap-hisap vagina Liani. Lidahnya menari-nari merangsang klitorisnya. Sementara kedua tangannya meraba-rabai sekujur tubuh Liani.
“Ehhmm, ehmmmm, ehmmmm,” Liani mulai mendesah-desah. Tak lama kemudian vaginanya mulai basah.
Kemudian ia melakukannya dengan berganti posisi. Liani dalam posisi berdiri.. Dodo berlutut di depannya. Kepalanya masuk di dalam rok abu-abunya. Dijilatinya bulu-bulu vagina serta vagina cewek itu dari depan. Vagina Liani dibuat basah kuyup karenanya.
“Ooh…ohhh….ohhhhh,” Liani mendesah-desah lirih.
Setelah itu gantian giliran Liani membuka retsleting celana panjang
Dodo dan dibukanya celana berikut celana dalamnya. Batang penisnya yang
hitam (lebih hitam dari kulitnya) menegang keras. Kepalanya besar telah
basah karena cairan pre-cum yang keluar karena terangsang sejak ia
menggrepe-grepe tubuh Liani. Dengan bersimpuh di depan Dodo yang sedang
duduk, Liani mendekatkan mulutnya diantara kedua paha Dodo kemudian
meng-oral penis hitam besar dan berurat milik Dodo itu. Bagaikan gadis
manis yang patuh, disepongnya penis Dodo dengan konsentrasi penuh. Kini
Liani sudah lebih pandai dalam melakukan hal ini. Dikulum dan
diemut-emutnya penis hitam berurat itu. Di dalam mulutnya, dimainkannya
lidahnya terutama di bagian kepala dan leher penis Dodo yang nampak
Seperti jamur itu. Rambut Liani yang panjang agak keriting dan berwarna
kecoklatan itu menyentuh dan menggelitik paha dan sebagian perut Dodo,
membuatnya makin keasyikan. Dodo yang sedang duduk di sofa itu jadi
keenakan menikmati penisnya disepong oleh Liani. Betapa kontras dan
kontradiktif pemandangan itu. Cowok yang hitam jelek dari kalangan
rendahan duduk santai di sofa mahal sementara di depan kakinya duduk
bersimpuh anak cewek dari keluarga kaya yang putih cakep dan sexy yang
dengan asyiknya mengulum penisnya yang hitam besar dan berurat itu.
Liani, anak pengusaha kaya yang malam sebelumnya tampil mempesona
seluruh tamu, kini dengan sukarela dan sepenuh hati melakukan pelayanan
oral sex kepada Dodo, cowok kelas rendahan! Kondisi pakaiannya pun juga
amburadul. Dan hebatnya lagi, semua itu dilakukan dibalik punggung
bokapnya yang sedang berada di dalam rumah itu juga. Sungguh ini adalah
peristiwa langka dan aneh! Beberapa saat kemudian Dodo menghentikan aksi
Liani. Biarpun ia sangat menikmati kejadian kontradiktif itu, namun
kalau begini terus-terusan nggak lama lagi bisa keluar spermanya. Rugi
kalau belum menikmati tubuh cewek putih mulus itu. Setelah “cooling
down” sejenak, segera diatur posisi tubuh Liani supaya vaginanya di atas
penisnya sendiri. Supaya bisa, bleesss, masuklah penisnya yang hitam di
dalam liang vagina Liani. Berat tubuh Liani membuat penis Dodo jadi
masuk seluruhnya ke dalam vagina gadis putih itu (hukum gravitasi,
man!). Meski begitu, vaginanya masih sempit dan seret. Setelah itu Liani
menggerakkan dirinya naik turun, membuat penis Dodo yang keras dan
hangat menembusi dan mengocok-ngocok vaginanya.
Dodo menjilati dan menyedot-nyedot kedua putingnya. Ekspresi wajah
Liani sungguh nampak kalau ia sangat menikmati itu. Apalagi ia juga
mendesah-desah dengan erotis meski harus dengan menahan suaranya. Pada
saat itu, terdengar suara pintu kamar kerja Papinya terbuka dan Papinya
berkata,
“Liani, sup jamurnya Papi taruh di meja makan. Nanti kalo kamu mau, langsung dimakan aja.”
“Ehmm, ehmm, OK deh, Pi,” kata Liani sementara ia juga lagi asyik-asyiknya merasakan nikmatnya “jamur” Dodo mengocok vaginanya.
“Buruan lho makannya, ntar keburu dingin nggak enak.”
“Oh, oh, OK, OK, Pi,” kata Liani agak terengah-engah sambil tetap meneruskan irama naik turun tubuhnya di atas penis Dodo.
Pada saat Liani berbicara itu, Dodo kembali menjilati dan menghisap-hisap puting payudara Liani. Matanya memandang ke wajah Liani yang mengekspresikan kenikmatan luar biasa saat ia menggoyang tubuhnya sendiri di atas penis Dodo, sambil sesekali menjawab pertanyaan Papinya.
“Oh ya, abis ini Papi mau telpon sama client, jadi kamu jangan masuk ke kamar Papi ya,” kata Papinya.
“Ok, OK,” katanya sambil tubuhnya terus bergoyang-goyang dan menatap Dodo.
“Beneran lho. Papi nggak mau diskusi Papi diganggu.”
“Iya, Iya. Pi. Aku udah ngerti ga perlu diulang-ulang gitu. Udah sekarang Papi kerja aja lagi. Aku juga ga bisa konsentrasi kalo diganggu gini terus,” kata Liani mulai kesal dengan terus menggoyang tubuhnya.
“Ooh, kamu lagi belajar tho. Ya udah Papi masuk dulu. Kamu terusin aja belajarnya,” katanya sambil masuk ke dalam ruang kerjanya.
“Liani, sup jamurnya Papi taruh di meja makan. Nanti kalo kamu mau, langsung dimakan aja.”
“Ehmm, ehmm, OK deh, Pi,” kata Liani sementara ia juga lagi asyik-asyiknya merasakan nikmatnya “jamur” Dodo mengocok vaginanya.
“Buruan lho makannya, ntar keburu dingin nggak enak.”
“Oh, oh, OK, OK, Pi,” kata Liani agak terengah-engah sambil tetap meneruskan irama naik turun tubuhnya di atas penis Dodo.
Pada saat Liani berbicara itu, Dodo kembali menjilati dan menghisap-hisap puting payudara Liani. Matanya memandang ke wajah Liani yang mengekspresikan kenikmatan luar biasa saat ia menggoyang tubuhnya sendiri di atas penis Dodo, sambil sesekali menjawab pertanyaan Papinya.
“Oh ya, abis ini Papi mau telpon sama client, jadi kamu jangan masuk ke kamar Papi ya,” kata Papinya.
“Ok, OK,” katanya sambil tubuhnya terus bergoyang-goyang dan menatap Dodo.
“Beneran lho. Papi nggak mau diskusi Papi diganggu.”
“Iya, Iya. Pi. Aku udah ngerti ga perlu diulang-ulang gitu. Udah sekarang Papi kerja aja lagi. Aku juga ga bisa konsentrasi kalo diganggu gini terus,” kata Liani mulai kesal dengan terus menggoyang tubuhnya.
“Ooh, kamu lagi belajar tho. Ya udah Papi masuk dulu. Kamu terusin aja belajarnya,” katanya sambil masuk ke dalam ruang kerjanya.
Setelah itu mereka mengubah posisi ke doggy style, dimana penis Dodo
menyodok-nyodok vagina Liani dari belakang. Sementara kedua tangannya
menepuk-nepuk dan meremas-remas payudara Liani yang tergantung bebas
diantara baju seragamnya yang terbuka. Setelah itu mereka berganti
beberapa posisi. Meski sempat terganggu beberapa kali, akhirnya Liani
bisa mendapatkan orgasme-nya saat Dodo menyetubuhinya dalam posisi ia
tiduran dan kedua kakinya ditekuk keatas (nggak tahu apa nama posisi
ini). Semuanya itu dilakukan dengan baju seragamnya masih melekat di
tubuhnya. Ia sengaja tidak mau melepas baju seragamnya dari tubuhnya,
supaya di saat emergency (apabila Papinya datang ke tempatnya), ia bisa
langsung cepat membereskan pakaiannya. Sementara bagi Dodo, hal ini
membuat diri Liani jadi semakin menggairahkan. Belum pernah sebelumnya
ia menggarap cewek yang putih cakep dan sexy dengan masih memakai
seragam sekolah. Sesaat setelah Liani orgasme, Dodo juga sudah ingin
segera memuntahkan seluruh isi penisnya. Ia menidurkan Liani di sofa
empuk itu, membuka kedua pahanya lebar-lebar, lalu ia segera akan
memasukkan penisnya ke dalam vagina Liani, ketika tiba-tiba,
“Liani!”
“Ada apa lagi sih, EHHH…Pi?” Pada saat Liani mengeluarkan suara “EHHH” itu adalah saat dimana Dodo dengan tak sabar lagi memasukkan penisnya ke dalam vagina Liani.
Liani sedang menatap Dodo yang mengocok penisnya di dalam vaginanya, ketika ia mendengar Papinya berkata,”Ada yang mau Papi omongin ke kamu. Papi kesitu bentar ya.”
“Eh! Jangan Pi. EHHH. Aku aja yang ke tempat EHHH Papi. Tunggu bentar deh Pi EHHH,” kata Liani panik mendengar Papinya akan kesana sementara itu Dodo lagi asyiknya menggoyang tubuhnya.
Liani memukul-mukul lengan Dodo, memberi isyarat supaya menghentikan aksinya, namun Dodo yang sudah hampir keluar ogah menghentikannya malah dengan cuek terus saja menggenjot dirinya.
“Nggak apa-apa Papi aja yang kesana. Cuman mau ngomong sebentar aja kok,” katanya sambil berjalan ke depan menuju ke sofa.
Liani mulai panik ketika ia mendengar langkah kaki Papinya mendekati dirinya.
“Nanti aja, Pi.” (Cleeb, cleeeb, cleeeb, sementara penis Dodo terus mengocok vaginanya)
Namun suara langkah kaki itu semakin mendekatinya…
Ah, sudah terlambat, pikirnya pasrah. Sekarang sudah tak sempat lagi beresin pakaian. Apalagi posisi dirinya yang “dikunci” oleh Dodo seperti ini.
Mati deh, gua.
Udah deh pasrah nasib aja, batin Liani dengan lemas.
Suara langkah Papinya semakin dekat aja…sementara penis Dodo masih berada di dalam vaginanya dan menggenjotnya.
Persis pada saat Papinya hendak melangkah masuk ke ruang tamu itu dan Liani sudah bisa melihat bayangan Papinya dari lantai…
Tiba-tiba,
“Kriiiinngg, Kriiinnngg,” telepon Papinya di ruang kerjanya berbunyi.
“Ah, itu pasti client Papi lagi. Sebentar ya Papi terima telpon dulu,” kata Papinya sambil setengah berlari berbalik ke ruang kerjanya.
Aduuuh, leganya, batin Liani seolah terbebas dari himpitan beban puluhan ton. Sementara itu, Dodo terus mengocok penisnya di dalam tubuh Liani, sampai akhirnya memuntahkan seluruh spermanya di dalam vagina Liani. Entah ikutan tegang atau exciting, ia mengeluarkan sperma dalam jumlah yang amat banyak. Setelah mengeluarkan seluruhnya akhirnya melemaslah penis Dodo dan dikeluarkannya dari vagina Liani. Sementara itu Liani merasakan vaginanya berdenyut-denyut rasanya karena masih fresh baru dikocok oleh Dodo apalagi dikocok abis seperti itu.
“Liani!”
“Ada apa lagi sih, EHHH…Pi?” Pada saat Liani mengeluarkan suara “EHHH” itu adalah saat dimana Dodo dengan tak sabar lagi memasukkan penisnya ke dalam vagina Liani.
Liani sedang menatap Dodo yang mengocok penisnya di dalam vaginanya, ketika ia mendengar Papinya berkata,”Ada yang mau Papi omongin ke kamu. Papi kesitu bentar ya.”
“Eh! Jangan Pi. EHHH. Aku aja yang ke tempat EHHH Papi. Tunggu bentar deh Pi EHHH,” kata Liani panik mendengar Papinya akan kesana sementara itu Dodo lagi asyiknya menggoyang tubuhnya.
Liani memukul-mukul lengan Dodo, memberi isyarat supaya menghentikan aksinya, namun Dodo yang sudah hampir keluar ogah menghentikannya malah dengan cuek terus saja menggenjot dirinya.
“Nggak apa-apa Papi aja yang kesana. Cuman mau ngomong sebentar aja kok,” katanya sambil berjalan ke depan menuju ke sofa.
Liani mulai panik ketika ia mendengar langkah kaki Papinya mendekati dirinya.
“Nanti aja, Pi.” (Cleeb, cleeeb, cleeeb, sementara penis Dodo terus mengocok vaginanya)
Namun suara langkah kaki itu semakin mendekatinya…
Ah, sudah terlambat, pikirnya pasrah. Sekarang sudah tak sempat lagi beresin pakaian. Apalagi posisi dirinya yang “dikunci” oleh Dodo seperti ini.
Mati deh, gua.
Udah deh pasrah nasib aja, batin Liani dengan lemas.
Suara langkah Papinya semakin dekat aja…sementara penis Dodo masih berada di dalam vaginanya dan menggenjotnya.
Persis pada saat Papinya hendak melangkah masuk ke ruang tamu itu dan Liani sudah bisa melihat bayangan Papinya dari lantai…
Tiba-tiba,
“Kriiiinngg, Kriiinnngg,” telepon Papinya di ruang kerjanya berbunyi.
“Ah, itu pasti client Papi lagi. Sebentar ya Papi terima telpon dulu,” kata Papinya sambil setengah berlari berbalik ke ruang kerjanya.
Aduuuh, leganya, batin Liani seolah terbebas dari himpitan beban puluhan ton. Sementara itu, Dodo terus mengocok penisnya di dalam tubuh Liani, sampai akhirnya memuntahkan seluruh spermanya di dalam vagina Liani. Entah ikutan tegang atau exciting, ia mengeluarkan sperma dalam jumlah yang amat banyak. Setelah mengeluarkan seluruhnya akhirnya melemaslah penis Dodo dan dikeluarkannya dari vagina Liani. Sementara itu Liani merasakan vaginanya berdenyut-denyut rasanya karena masih fresh baru dikocok oleh Dodo apalagi dikocok abis seperti itu.
Ia mendengar Papinya telah selesai bicara di telepon dan kembali
berjalan menuju ke arahnya. Kali ini, tak mau ketangkap basah, buru-buru
ia merapikan pakaiannya. Dikaitkannya kembali branya, dikancingkan
seluruh kancing bajunya. Sebelum Papinya sampai ke tempatnya, ia
cepat-cepat mendahului keluar dari ruang tamu itu. Ia sudah tak sempat
lagi memakai celana dalamnya yang saat itu tergeletak di atas meja kecil
di dekat sofa (yang biasanya untuk menaruh minuman buat tamu). Biarin
aja nggak usah pake celana dalam. Kalo mesti pake celana dalam lagi,
salah-salah entar ga keburu. Toh gini juga Papi nggak akan tahu kalau
sekarang aku nggak pake celana dalam, pikirnya.
“Memang Papi mau ngomong aja sih ke Liani,” tanya Liani kepada Papinya yang seketika menghentikan langkahnya begitu melihat Liani muncul. Hati Liani deg-degan dan waswas kalau-kalau Papinya tahu apa yang baru dilakukannya. Tapi ia sok pede aja. Saat itu jarak diantara keduanya kira-kira 4 meter.
“Papi ada urusan bisnis mendadak dan harus keluar kota besok pagi-pagi. Papi perlu pergi kira-kira seminggu. Karena itu Papi minta Tante Frida untuk nenemin kamu selama Papi nggak ada. Nggak baik anak cewek ditinggal lama-lama cuma dengan pembantu. Jadi nanti kamu mesti nurut sama omongan Tante Frida, ok?
“OK, nggak masalah Pi,” kata Liani tanpa berpikir banyak.
Sementara ia sedang berbicara itu, Liani merasa vaginanya masih berdenyut-denyut mungkin akibat baru selesai dikocok habis-habisan oleh Dodo. Oleh karena sperma yang dimuntahkan di dalam vaginanya cukup banyak, ia merasakan kalau vaginanya kini “dripping” yaitu mengeluarkan sebagian sperma di dalamnya seirama dengan denyutan-denyutan yang dirasakan di vaginanya itu. Apalagi dalam posisinya yang berdiri begini dan tidak memakai celana dalam. Ia merasakan ada lelehan sperma yang keluar dari vaginanya menetes turun ke bawah membentuk anak sungai mengalir ke bawah membasahi bagian dalam pahanya di balik rok abu-abunya, bahkan ada yang turun ke bawah sampai kakinya dan diresap oleh kaus kakinya.
“Memang Papi mau ngomong aja sih ke Liani,” tanya Liani kepada Papinya yang seketika menghentikan langkahnya begitu melihat Liani muncul. Hati Liani deg-degan dan waswas kalau-kalau Papinya tahu apa yang baru dilakukannya. Tapi ia sok pede aja. Saat itu jarak diantara keduanya kira-kira 4 meter.
“Papi ada urusan bisnis mendadak dan harus keluar kota besok pagi-pagi. Papi perlu pergi kira-kira seminggu. Karena itu Papi minta Tante Frida untuk nenemin kamu selama Papi nggak ada. Nggak baik anak cewek ditinggal lama-lama cuma dengan pembantu. Jadi nanti kamu mesti nurut sama omongan Tante Frida, ok?
“OK, nggak masalah Pi,” kata Liani tanpa berpikir banyak.
Sementara ia sedang berbicara itu, Liani merasa vaginanya masih berdenyut-denyut mungkin akibat baru selesai dikocok habis-habisan oleh Dodo. Oleh karena sperma yang dimuntahkan di dalam vaginanya cukup banyak, ia merasakan kalau vaginanya kini “dripping” yaitu mengeluarkan sebagian sperma di dalamnya seirama dengan denyutan-denyutan yang dirasakan di vaginanya itu. Apalagi dalam posisinya yang berdiri begini dan tidak memakai celana dalam. Ia merasakan ada lelehan sperma yang keluar dari vaginanya menetes turun ke bawah membentuk anak sungai mengalir ke bawah membasahi bagian dalam pahanya di balik rok abu-abunya, bahkan ada yang turun ke bawah sampai kakinya dan diresap oleh kaus kakinya.
Karena takut Papinya memperhatikan adanya cairan yang mengalir dari
selangkangannya itu, ia merapatkan kedua kakinya sehingga sperma yang
selanjutnya keluar tertahan oleh pahanya. Ia menggunakan rok seragam
abu-abunya untuk meresap cairan itu. Sehingga kini rok abu-abunya
menjadi basah berlendir di bagian belakangnya. Namun rupanya Papinya
tidak memperhatikan hal itu. Karena tak lama setelah itu, Papinya
kembali masuk ke ruang kerjanya.
“Sialan lu! Lu bikin gua ketakutan setengah mati tadi. Udah tahu mau jalan kesini, bukannya berhenti malah sengaja diterusin,” kata Liani sewot sambil memukul tubuh Dodo dengan tangannya.
“Ya gimana ya, soalnya tanggung sih,” kata Dodo cengengesan, “Udah hampir keluar masak kok diputus di tengah jalan.”
“Untung tadi ada telpon, kalo sampe ketauan Papi gimana?,” kata Liani masih sewot.
“Ga bakalan lah. Buktinya barusan ga ketauan khan?” kata Dodo dengan enteng..
“Kacau dah lu. Lain kali jangan gitu deh.”
“Udaah, jangan marah terus. Khan sekarang udah aman. Lagian tadi gimana, enak khan?” kata Dodo sambil senyum-senyum.
Liani masih cemberut, di dalam hati mengakui kalau pengalaman barusan sungguh menegangkan dan menakjubkan.
“Jangan lupa, ini dipake lagi,” kata Dodo sambil menyodorkan celana dalam hijau muda ke arah cewek itu,”Nanti kasihan tamu bokap lu jadi kaget ngeliat ada cd lu tergeletak disini,” katanya cengengesan.
“Gokil deh lu,” kata Liani sambil segera merebut celana dalam miliknya itu dari tangan cowok itu.
Tak lama kemudian Dodo meninggalkan rumah itu. Sehingga tidak ada orang lain yang tahu selain mereka berdua kalau saat itu Dodo menyusup masuk ke dalam rumah itu (dan juga menyusup masuk ke dalam vagina anak cewek penghuni rumah itu).
“Sialan lu! Lu bikin gua ketakutan setengah mati tadi. Udah tahu mau jalan kesini, bukannya berhenti malah sengaja diterusin,” kata Liani sewot sambil memukul tubuh Dodo dengan tangannya.
“Ya gimana ya, soalnya tanggung sih,” kata Dodo cengengesan, “Udah hampir keluar masak kok diputus di tengah jalan.”
“Untung tadi ada telpon, kalo sampe ketauan Papi gimana?,” kata Liani masih sewot.
“Ga bakalan lah. Buktinya barusan ga ketauan khan?” kata Dodo dengan enteng..
“Kacau dah lu. Lain kali jangan gitu deh.”
“Udaah, jangan marah terus. Khan sekarang udah aman. Lagian tadi gimana, enak khan?” kata Dodo sambil senyum-senyum.
Liani masih cemberut, di dalam hati mengakui kalau pengalaman barusan sungguh menegangkan dan menakjubkan.
“Jangan lupa, ini dipake lagi,” kata Dodo sambil menyodorkan celana dalam hijau muda ke arah cewek itu,”Nanti kasihan tamu bokap lu jadi kaget ngeliat ada cd lu tergeletak disini,” katanya cengengesan.
“Gokil deh lu,” kata Liani sambil segera merebut celana dalam miliknya itu dari tangan cowok itu.
Tak lama kemudian Dodo meninggalkan rumah itu. Sehingga tidak ada orang lain yang tahu selain mereka berdua kalau saat itu Dodo menyusup masuk ke dalam rumah itu (dan juga menyusup masuk ke dalam vagina anak cewek penghuni rumah itu).
—@@@@@@@—–
Beberapa hari kemudian
Beberapa hari kemudian
Malam itu Liani sedang tiduran di atas ranjang. Ia memakai pakaian
tidur warna merah muda. Baju tidurnya seperti hem tangan panjang yang
tipis kainnya.. Ia tidak memakai rok atau celana bawahan. Bajunya cukup
panjang untuk menutupi celana dalamnya, meski tak cukup panjang untuk
menutupi pahanya yang putih mulus. Karena posisi tidurnya yang
telungkup, sehingga lekukan pinggulnya tampak menonjol. Rambutnya yang
panjang diikat dengan gelang rambut sehingga nampak jelas lehernya yang
putih. Sebagian gundukan payudaranya terlihat di balik celah kerah
bajunya dalam posisinya yang telungkup itu. Ia nampak asyik membaca
majalah remaja dan membolak balik halamannya. Sesekali ia mengubah
posisi tubuhnya dengan memiringkan tubuhnya sehingga sesekali nampak
tonjolan putingnya di balik bajunya yang tipis. Karena ia memang tidak
memakai bra. Ia turun dari ranjangnya dan berjalan ke meja riasnya.
Payudaranya ikut bergerak-gerak di balik bajunya seiring dengan
langkahnya. Ia mengambil segelas air putih dan meminumnya. Payudaranya
nampak lebih jelas lagi di saat ia berdiri seperti ini. Setelah selesai
minum ia menatap refleksi dirinya dari kaca meja riasnya. Ia melihat
apakah ada jerawat di mukanya. Namun tidak ada dan mukanya sama sekali
mulus. Lalu ia merapikan rambutnya. Di usianya yang hampir 18 tahun, ia
benar-benar seorang gadis muda dengan daya tarik seksual yang tinggi.
Wajahnya cantik dan putih bersih. Tubuhnya juga sexy. Makin nampak sexy
aja dengan baju tidur yang tipis begini. Kainnya yang tipis mengikuti
lekuk liku dan tonjolan payudaranya. Kedua putingnya tercetak cukup
jelas. Kedua pahanya putih mulus. Dan pinggulnya menonjol di balik
bajunya. Ia nampak santai dan cuek dengan pakaian seadanya seperti itu.
Karena memang tidak ada orang lain di dalam kamarnya itu.
Pada saat ia sedang menatap dirinya di meja riasnya, tiba-tiba
terdengar suara sms masuk. Segera ia mengambil handphone-nya dan melihat
sms itu. Ternyata dari Dodo. Bunyi pesannya,”Gua pengin mampir kesana
besok sore. Situasi aman?” Lalu ia membalas,”Jangan!!! Disini lagi ada
nenek sihir.” Nenek sihir yang dimaksud Liani adalah Tante Frida,
saudara sepupu Papinya. Ia adalah seorang perawan tua karena usianya
sudah 45 tahun dan belum menikah. Tampangnya judes dan cara berbicaranya
ketus. Ia selalu memakai kacamata berbingkai warna hitam. Ia tidak
terlalu suka dengan tantenya ini karena orangnya kolot dan suka sok
mengatur. Apalagi terhadap gadis muda seperti dirinya yang dianggapnya
harus dikekang dan dimonitor terus. Ditambah lagi ia dianggapnya terlalu
berani dalam hal cara berpakaian. Menurut tantenya, seorang wanita
apalagi gadis muda seumur Liani tidak seharusnya berpakaian dengan
menampilkan daya tarik seksualnya. Sungguh sial bagi Liani, kali ini ia
harus tinggal bersama tantenya itu selama hampir seminggu. Papinya ada
urusan bisnis yang mengharuskannya keluar kota selama seminggu. Oleh
karena itu ia meminta Tante Frida untuk tinggal di rumah itu selama ia
keluar kota. Supaya Liani ada temannya dan tidak sendirian di rumah
hanya dengan pembantu. Namun hal itu malah menjadi siksaan bagi Liani.
Karena tantenya itu selalu menasehatinya hal yang sama terus menerus.
Dan tantenya ini selalu berkomentar negatif mengenai pakaian yang
dipakainya. Bahkan baju seragamnya pun juga tak lepas dari kritik,
menurutnya kain bajunya terlalu tipis dan roknya terlalu pendek. Namun
apa daya, karena Papinya selalu mempercayai saudara sepupunya untuk
mengawasinya. Mungkin karena Tante Frida adalah satu-satunya saudaranya
yang single. Sehingga lebih mudah untuk diminta tinggal disana. Setelah
membalas sms Dodo, ia balik lagi meneruskan bacaannya sambil tiduran.
Beberapa saat kemudian, ia hendak mengambil sesuatu di luar. Ia tahu
kalau tantenya melihatnya pasti pakaiannya dikomentarinya. Namun
dilihatnya lampu di ruang tengah sudah gelap. Pertanda bahwa tantenya
dan pembantunya telah masuk ke kamarnya. Lalu ia keluar dari kamarnya
dengan cuek. Akan tetapi selagi ia sedang di ruang tengah, tiba-tiba
tantenya keluar dan menyalakan lampu. Begitu melihat tantenya keluar,
Liani menyapanya, “Eh, Tante belum tidur?”
Namun tantenya malah menguliahinya,”Aduh Lianiii. Sudah berapa kali tante bilang. Pakaian kamu itu lho. Nggak siang nggak malam sama aja. Masa anak gadis kok pakaiannya seperti itu.”
“Ya khan nggak apa-apa kalo di rumah sendiri, Tante.”
“Biarpun di rumah sendiri tetap aja nggak pantas, Liani. Sebagai anak gadis kamu harus selalu berpakaian sopan dan tertutup biar pun didalam rumah sekalipun. Bukannya pamer paha pamer dada seperti sekarang ini. Kalo ada cowok yang ngintip gimana?”
“Memang siapa yang ngintip, tante? Disini khan cuman ada tante dan Bi Minah..”
“Ya bisa aja kacung di rumah sebelah ngintip dari atas tembok. Memang kamu mau diintip sama kacung atau sopir sebelah? Masa kamu nggak malu?”
“Iih, kok tante ngomongnya begitu sih.”
“Dan lagi kamu itu kalo Tante kasih nasihat selalu nggak digubris. Coba lihat pakaian kamu itu. Kayak hampir telanjang aja. Kalo nanti kepergok tukang sampah gimana? Apalagi kamu nggak pake bra gini. Senang ya kamu diliatin sama tukang sampah. Jangan-jangan kamu sekarang juga nggak pake celana dalam kali.”
“Tante kok jadi ngomongnya gitu sih. Khan Liani memang juga sudah mau tidur.. Dan lagi juga nggak ada siapa-siapa disini selain tante dan Bi Minah. Kalo ada orang juga Liani nggak akan keluar kamar pake pakaian kayak gini doang. Liani juga ngerti tante.”
“Kamu dari dulu bisanya selalu membantah aja kalo dinasehati orang tua. Jangan-jangan kamu memang suka ya dilihat telanjang sama cowok? Iya?! Kalo memang gitu, kenapa nggak sekalian aja lepasin baju kamu semua lalu keluar di jalanan! Biar jadi tontonan hansip dan kuli bangunan!! Atau sekalian kamu pengin digilir rame-rame?!”
“Iiih. Tante kelewatan deh!” kata Liani dengan mata memerah.
Namun tantenya malah menguliahinya,”Aduh Lianiii. Sudah berapa kali tante bilang. Pakaian kamu itu lho. Nggak siang nggak malam sama aja. Masa anak gadis kok pakaiannya seperti itu.”
“Ya khan nggak apa-apa kalo di rumah sendiri, Tante.”
“Biarpun di rumah sendiri tetap aja nggak pantas, Liani. Sebagai anak gadis kamu harus selalu berpakaian sopan dan tertutup biar pun didalam rumah sekalipun. Bukannya pamer paha pamer dada seperti sekarang ini. Kalo ada cowok yang ngintip gimana?”
“Memang siapa yang ngintip, tante? Disini khan cuman ada tante dan Bi Minah..”
“Ya bisa aja kacung di rumah sebelah ngintip dari atas tembok. Memang kamu mau diintip sama kacung atau sopir sebelah? Masa kamu nggak malu?”
“Iih, kok tante ngomongnya begitu sih.”
“Dan lagi kamu itu kalo Tante kasih nasihat selalu nggak digubris. Coba lihat pakaian kamu itu. Kayak hampir telanjang aja. Kalo nanti kepergok tukang sampah gimana? Apalagi kamu nggak pake bra gini. Senang ya kamu diliatin sama tukang sampah. Jangan-jangan kamu sekarang juga nggak pake celana dalam kali.”
“Tante kok jadi ngomongnya gitu sih. Khan Liani memang juga sudah mau tidur.. Dan lagi juga nggak ada siapa-siapa disini selain tante dan Bi Minah. Kalo ada orang juga Liani nggak akan keluar kamar pake pakaian kayak gini doang. Liani juga ngerti tante.”
“Kamu dari dulu bisanya selalu membantah aja kalo dinasehati orang tua. Jangan-jangan kamu memang suka ya dilihat telanjang sama cowok? Iya?! Kalo memang gitu, kenapa nggak sekalian aja lepasin baju kamu semua lalu keluar di jalanan! Biar jadi tontonan hansip dan kuli bangunan!! Atau sekalian kamu pengin digilir rame-rame?!”
“Iiih. Tante kelewatan deh!” kata Liani dengan mata memerah.
Demikianlah dua perempuan berbeda generasi itu bertengkar. Tak lama
kemudian, masuklah tantenya ke dalam kamarnya dengan menutup pintunya
dengan keras.. Liani pun juga mengikuti langkahnya dengan masuk ke dalam
kamar sendiri dan menutup pintunya dengan tak kalah kerasnya.
Demikianlah Liani dan tantenya yang tak pernah bisa akur dari sejak dulu
dan terutama beberapa tahun terakhir ini. Sebenarnya tidak semua
nasehat tantenya 100% salah. Namun Liani sukar menerimanya karena
tantenya terlalu mendikte dan otoriter. Dan, diam-diam ada rasa iri di
dalam diri tantenya terhadap Liani apalagi sejak Liani menginjak masa
remaja. Karena Liani semakin tumbuh berkembang menjadi gadis yang cantik
dan menarik, sementara ia sendiri semakin memasuki usia tua bagaikan
bunga yang memasuki masa layu. Padahal ia masih single. Oleh karena itu,
ia berusaha meredam daya tarik kewanitaan Liani. Ia tak suka kalau
keponakannya itu menarik perhatian para cowok. Dan perasaan iri tantenya
itu bisa dirasakan oleh Liani. Ia menganggap kalau tantenya itu
pura-pura bermaksud baik menasehatinya padahal sebenarnya ingin
membuatnya mengikuti jejaknya, yaitu menjadi perawan tua dengan sama
sekali tak pernah berhubungan dengan pria. Selain itu juga ia nggak suka
dengan kata-kata tantenya yang pedas dan kasar itu, seperti kalimatnya
yang terakhir. Hal ini yang menjadi salah satu penyebab mengapa ia
mempunyai keinginan terpendam untuk menjadi bad girl, untuk melakukan
sesuatu yang bertolak belakang dengan apa yang diajarkan keluarganya
selama ini. Sejak kecil ia sering mendapat petuah-petuah maupun
ajaran-ajaran dari orang tua maupun kerabat-kerabat dekat lainnya:
“Kamu harus begini.”
“Kamu tidak boleh begitu.”
“Kamu harus kesana.”
“Kamu tidak boleh kesitu.”
“Anak baik tidak melakukan itu.”
“Anak papi harus rajin belajar.”
“Kamu harus patuh terhadap orang tua.”
“Kalo kamu nggak berbuat begitu, Papi nggak sayang sama kamu.”
“Kamu harus sekolah di sekolah X dan harus berprestasi.”
dst, dst, dst.
Sejak kecil ia tumbuh dan dibentuk sesuai dengan keinginan orang tua dan kerabat dekatnya supaya mereka bisa menggunakannya sebagai sarana untuk membanggakan diri kepada teman-temannya. Sementara hal itu mengorbankan dirinya karena ia sama sekali tidak mendapatkan kebebasan untuk mengeluarkan pendapat atau berekspresi sesuai dengan keinginannya. Satu hal lagi yang tak kalah pentingnya yang menyebabkan ia menjadi bad girl adalah…KEMUNAFIKAN! Kebanyakan keluarga dan kerabatnya sering memberi petuah-petuah dan nasehat-nasehat yang bagus-bagus. Namun mereka sendiri tidak menjalankannya, malah melanggar kata-katanya sendiri. Contohnya yang paling jelas adalah Papinya sendiri. Papinya sok moralis dalam hal memberi nasehat tapi ia sendiri malah diam-diam mempunyai istri simpanan, tidak hanya satu tapi beberapa. Dan banyak lagi contoh yang lain. Oleh karena hal seperti itu menumpuk terus menerus dari sejak kecil dan hanya bisa dipendam di dalam hatinya, akhirnya diam-diam timbul benih-benih pemberontakan di dalam dirinya. Itu sebabnya mengapa tak ada resistensi yang cukup berarti dari dirinya saat Dodo ingin melaksanakan kehendaknya untuk memerawaninya. Perbuatannya dengan Dodo itu sungguh merupakan cara pemberontakannya dengan skala yang hebat. Image-nya selama ini sebagai seorang gadis yang sopan, alim, cantik, pintar, menarik, dari keluarga terpandang, dll, dsb. Cara terhebat untuk memberontak dari citra yang sedemikian tinggi adalah dengan menyerahkan kegadisan dan kehormatannya kepada cowok ugal-ugalan, apalagi yang berbeda jauh dan kelasnya jauh lebih rendah di bawah standar keluarganya. Demikianlah, meskipun dari luarnya Liani nampak seperti memiliki segalanya, namun sebenarnya ia tidak mempunyai pegangan hidup. Kini jadilah ia sebagai seorang gadis dengan image begitu tinggi namun punya sisi lain kehidupan yang parahnya sungguh di luar batas imaginasi yang paling liar sekalipun. After all, ia hanya meng-copy kelakuan dan kemunafikan orang-orang dewasa di sekitarnya. Beruntunglah Dodo yang mengenal Liani disaat yang tepat sehingga ia menjadi cowok pertama yang beruntung bisa mencicipi kegadisannya dan selanjutnya menikmatinya lagi, lagi, dan lagi.
“Kamu harus begini.”
“Kamu tidak boleh begitu.”
“Kamu harus kesana.”
“Kamu tidak boleh kesitu.”
“Anak baik tidak melakukan itu.”
“Anak papi harus rajin belajar.”
“Kamu harus patuh terhadap orang tua.”
“Kalo kamu nggak berbuat begitu, Papi nggak sayang sama kamu.”
“Kamu harus sekolah di sekolah X dan harus berprestasi.”
dst, dst, dst.
Sejak kecil ia tumbuh dan dibentuk sesuai dengan keinginan orang tua dan kerabat dekatnya supaya mereka bisa menggunakannya sebagai sarana untuk membanggakan diri kepada teman-temannya. Sementara hal itu mengorbankan dirinya karena ia sama sekali tidak mendapatkan kebebasan untuk mengeluarkan pendapat atau berekspresi sesuai dengan keinginannya. Satu hal lagi yang tak kalah pentingnya yang menyebabkan ia menjadi bad girl adalah…KEMUNAFIKAN! Kebanyakan keluarga dan kerabatnya sering memberi petuah-petuah dan nasehat-nasehat yang bagus-bagus. Namun mereka sendiri tidak menjalankannya, malah melanggar kata-katanya sendiri. Contohnya yang paling jelas adalah Papinya sendiri. Papinya sok moralis dalam hal memberi nasehat tapi ia sendiri malah diam-diam mempunyai istri simpanan, tidak hanya satu tapi beberapa. Dan banyak lagi contoh yang lain. Oleh karena hal seperti itu menumpuk terus menerus dari sejak kecil dan hanya bisa dipendam di dalam hatinya, akhirnya diam-diam timbul benih-benih pemberontakan di dalam dirinya. Itu sebabnya mengapa tak ada resistensi yang cukup berarti dari dirinya saat Dodo ingin melaksanakan kehendaknya untuk memerawaninya. Perbuatannya dengan Dodo itu sungguh merupakan cara pemberontakannya dengan skala yang hebat. Image-nya selama ini sebagai seorang gadis yang sopan, alim, cantik, pintar, menarik, dari keluarga terpandang, dll, dsb. Cara terhebat untuk memberontak dari citra yang sedemikian tinggi adalah dengan menyerahkan kegadisan dan kehormatannya kepada cowok ugal-ugalan, apalagi yang berbeda jauh dan kelasnya jauh lebih rendah di bawah standar keluarganya. Demikianlah, meskipun dari luarnya Liani nampak seperti memiliki segalanya, namun sebenarnya ia tidak mempunyai pegangan hidup. Kini jadilah ia sebagai seorang gadis dengan image begitu tinggi namun punya sisi lain kehidupan yang parahnya sungguh di luar batas imaginasi yang paling liar sekalipun. After all, ia hanya meng-copy kelakuan dan kemunafikan orang-orang dewasa di sekitarnya. Beruntunglah Dodo yang mengenal Liani disaat yang tepat sehingga ia menjadi cowok pertama yang beruntung bisa mencicipi kegadisannya dan selanjutnya menikmatinya lagi, lagi, dan lagi.
—@@@@@@@—–
Untuk mengurangi waktunya di rumah, Liani lebih banyak pergi dengan
teman-teman cewek sekelasnyanya. Itupun juga tak lepas dari kritikan
tantenya.
“Aduuh Liani. Masa rok kamu sependek itu. Nanti kalo naik eskalator, celana dalam kamu bisa diliat orang.
“Aduuh Liani. Masa rok kamu sependek itu. Nanti kalo naik eskalator, celana dalam kamu bisa diliat orang.
“Atau,
“Baju kamu itu terlalu ketat dan sexy. Lehernya terlalu rendah. Lihat dadamu sampe keliatan gitu.
dll, dll.
Saat itu ia ikut-ikutan temannya memotong rambutnya sampai pendek. Sehingga kini rambutnya pendek seperti cowok. Namun hal itu tak mengurangi daya tarik dan kecantikannya. Selama hampir seminggu Liani tersiksa dengan kehadiran Tante Frida. Dan selama itu pula ia benar-benar melarang Dodo untuk datang meskipun beberapa kali ia memaksa ingin datang. Ia tidak mau mengambil resiko karena Tante Frida orangnya lebih teliti dan lebih suka ngurusin bahkan dibanding Papinya sekalipun. Namun, akhirnya kesampaian juga niatnya mengelabui tantenya. Pada hari terakhir tantenya tidak enak badan dan ia banyak tiduran di kamarnya. Melihat hal itu, Liani nekat memperbolehkan Dodo datang ke sana dan segera dimasukkan di dalam kamarnya. Bagi Dodo tentu kebetulan karena sudah lama juga ia tak menikmati diri Liani. Beruntunglah Liani, karena saat Dodo datang, tantenya masih tidur di dalam kamarnya. Diam-diam ia memasukkan Dodo ke dalam kamarnya. Sehingga tanpa diketahui orang lain termasuk tantenya yang jeli, mereka berdua “adu gulat” dan bersenang-senang di atas ranjangnya di dalam kamarnya. Apalagi Dodo, melihat Liani sekarang berambut pendek, menjadi tambah bernafsu. Ia ingin mencicipi “rasanya” Liani dengan rambut pendek dan membandingkannya dengan saat berambut panjang. Dan hasilnya ternyata nggak mengecewakan. Malah kini ia bisa melihat lebih jelas bagian-bagian tertentu tubuhnya (leher, bahu, dan dadanya) yang sebelumnya tertutup rambutnya. Dan Liani juga mendapatkan kepuasan tersendiri. Karena selain Dodo (yang lagi-lagi) mampu membuatnya orgasme, pada akhirnya ia berhasil mengelabui tantenya. Saat itu sempat tantenya mengetuk kamarnya dan mengajaknya berbicara dari luar, yang dijawabnya dari dalam kamar. Padahal saat berbicara dengan tantenya itu, tangannya sedang mengocok penis Dodo. Dirinya dalam keadaan telanjang bulat dan payudaranya lagi diremas-remas oleh Dodo. Dan tantenya sama sekali tidak tahu hal itu sampai akhirnya Dodo meninggalkan rumahnya.
“Baju kamu itu terlalu ketat dan sexy. Lehernya terlalu rendah. Lihat dadamu sampe keliatan gitu.
dll, dll.
Saat itu ia ikut-ikutan temannya memotong rambutnya sampai pendek. Sehingga kini rambutnya pendek seperti cowok. Namun hal itu tak mengurangi daya tarik dan kecantikannya. Selama hampir seminggu Liani tersiksa dengan kehadiran Tante Frida. Dan selama itu pula ia benar-benar melarang Dodo untuk datang meskipun beberapa kali ia memaksa ingin datang. Ia tidak mau mengambil resiko karena Tante Frida orangnya lebih teliti dan lebih suka ngurusin bahkan dibanding Papinya sekalipun. Namun, akhirnya kesampaian juga niatnya mengelabui tantenya. Pada hari terakhir tantenya tidak enak badan dan ia banyak tiduran di kamarnya. Melihat hal itu, Liani nekat memperbolehkan Dodo datang ke sana dan segera dimasukkan di dalam kamarnya. Bagi Dodo tentu kebetulan karena sudah lama juga ia tak menikmati diri Liani. Beruntunglah Liani, karena saat Dodo datang, tantenya masih tidur di dalam kamarnya. Diam-diam ia memasukkan Dodo ke dalam kamarnya. Sehingga tanpa diketahui orang lain termasuk tantenya yang jeli, mereka berdua “adu gulat” dan bersenang-senang di atas ranjangnya di dalam kamarnya. Apalagi Dodo, melihat Liani sekarang berambut pendek, menjadi tambah bernafsu. Ia ingin mencicipi “rasanya” Liani dengan rambut pendek dan membandingkannya dengan saat berambut panjang. Dan hasilnya ternyata nggak mengecewakan. Malah kini ia bisa melihat lebih jelas bagian-bagian tertentu tubuhnya (leher, bahu, dan dadanya) yang sebelumnya tertutup rambutnya. Dan Liani juga mendapatkan kepuasan tersendiri. Karena selain Dodo (yang lagi-lagi) mampu membuatnya orgasme, pada akhirnya ia berhasil mengelabui tantenya. Saat itu sempat tantenya mengetuk kamarnya dan mengajaknya berbicara dari luar, yang dijawabnya dari dalam kamar. Padahal saat berbicara dengan tantenya itu, tangannya sedang mengocok penis Dodo. Dirinya dalam keadaan telanjang bulat dan payudaranya lagi diremas-remas oleh Dodo. Dan tantenya sama sekali tidak tahu hal itu sampai akhirnya Dodo meninggalkan rumahnya.
—@@@@@@@—–
Demikianlah, Liani yang sebelumnya adalah cewek yang benar-benar
alim, sejak mengenal Dodo, kini menjadi cewek yang “alim”. Tanpa terasa
beberapa bulan telah lewat dan mereka tetap berhubungan seperti itu.
Sampai akhirnya terjadilah peristiwa menyakitkan yang menyebabkan mereka
akhirnya berpisah. Awalnya dimulai dengan keinginan Dodo untuk berusaha
“memamerkan” Liani kepada teman-teman geng-nya. Semenjak ia berhasil
memerawani Liani dan terus menerus melanjutkan hubungan terlarangnya,
beberapa kali ia membual kepada teman-temannya bahwa ia telah menikmati
keperawanan dan menjalin hubungan dengan “cewek cakep yang digodain
waktu itu”. Teman-temannya semuanya pada mentertawakannya dan
menganggapnya membual. Untuk membuktikan kepada teman-temannya sekaligus
untuk meningkatkan ego maskulinnya, ia berusaha mencari cara untuk bisa
membuktikan kepada teman-temannya. Namun segala upayanya selama ini
selalu kandas, karena Liani cukup berhati-hati dalam menjaga supaya
rahasianya tidak diketahui orang. Liani memang selalu menuruti kemauan
Dodo dalam masalah seks dan ia cenderung dalam posisi yang pasif dan
“nrimo” aja. Namun dalam hal menjaga rahasianya dan reputasinya, ia
betul-betul orang yang berbeda. Sehingga sukar bagi Dodo untuk bisa
melaksanakan
tujuannya. Apalagi dalam hal kepandaian dan kecerdikan, Liani jauh lebih pandai dan cerdik dibanding Dodo. Oleh karena gagal terus, akhirnya timbul perasaan kesal Dodo terhadap Liani. Kini ia mulai merasa bahwa selama ini dirinya dikendalikan dan dimanfaatkan oleh Liani.
tujuannya. Apalagi dalam hal kepandaian dan kecerdikan, Liani jauh lebih pandai dan cerdik dibanding Dodo. Oleh karena gagal terus, akhirnya timbul perasaan kesal Dodo terhadap Liani. Kini ia mulai merasa bahwa selama ini dirinya dikendalikan dan dimanfaatkan oleh Liani.
Perasaan itu timbul semakin kuat setelah beberapa kali ia merasa
diabaikan oleh Liani. Yang paling utama adalah saat Liani merayakan
ulang tahunnya yang ke-18, ia mengharapkan Liani mengundangnya. Namun
apa lacur, ternyata Liani sama sekali tak mengundangnya. Hal itu
membuatnya sakit hati. Sementara bagi Liani, adalah sulit baginya untuk
mengundang Dodo. Pertama, apa alasannya mengundang Dodo di tengah-tengah
teman-teman dekat dan kerabat-kerabatnya? Tentu orang-orang akan heran
kalau tahu ia berteman dengan orang seperti Dodo. Tidak mungkin ia
mengatakan kepada mereka bahwa ia berteman akrab dengan Dodo. Dan,
kedua, ia sengaja tidak mau mencampurkan Dodo dengan kenalan maupun
kerabatnya karena ia tidak mau Dodo kelepasan bicara mengenai hubungan
terlarangnya kepada mereka. Sementara bagi Dodo, ia membutuhkan
pengakuan serta keinginan untuk membanggakan “prestasinya” sebagai
bagian dari ego maskulinnya. Dan banyak lagi kejadian-kejadian yang
seperti
ini. Dengan adanya friksi-friksi itu mereka jadi sering saling tidak bicara. Dan hal itu terjadi semakin lama semakin sering. Namun di sela-sela pertengkaran mereka itu, ada pula saat-saat dimana mereka berbaikan kembali dan kembali melakukan hubungan seperti dulu. Pada suatu hari setelah mereka saling tidak berbicara, akhirnya mereka baikan lagi. Selanjutnya mereka janjian untuk ketemuan lagi. Pada waktu seharusnya mereka bertemu, tiba-tiba Liani membatalkannya. Karena ia mendadak harus menghadiri salah satu acara bisnis Papinya. Hal ini membuat Dodo menjadi kecewa dan merasa dilecehkan. Sampai akhirnya timbul perasaan marah, benci, dan dendam terhadap Liani. Diam-diam ia berniat membalas dendam terhadap cewek itu. Ia menyusun rencana untuk betul-betul bisa menghina dan merendahkan cewek itu. Sampai akhirnya muncullah ide bagus yang pelaksanaanya harus menunggu waktu dan situasi yang tepat…
ini. Dengan adanya friksi-friksi itu mereka jadi sering saling tidak bicara. Dan hal itu terjadi semakin lama semakin sering. Namun di sela-sela pertengkaran mereka itu, ada pula saat-saat dimana mereka berbaikan kembali dan kembali melakukan hubungan seperti dulu. Pada suatu hari setelah mereka saling tidak berbicara, akhirnya mereka baikan lagi. Selanjutnya mereka janjian untuk ketemuan lagi. Pada waktu seharusnya mereka bertemu, tiba-tiba Liani membatalkannya. Karena ia mendadak harus menghadiri salah satu acara bisnis Papinya. Hal ini membuat Dodo menjadi kecewa dan merasa dilecehkan. Sampai akhirnya timbul perasaan marah, benci, dan dendam terhadap Liani. Diam-diam ia berniat membalas dendam terhadap cewek itu. Ia menyusun rencana untuk betul-betul bisa menghina dan merendahkan cewek itu. Sampai akhirnya muncullah ide bagus yang pelaksanaanya harus menunggu waktu dan situasi yang tepat…
—@@@@@@@—–
Pada suatu hari, Dodo menelpon Liani dan mengajaknya melakukan
“sesuatu yang lain daripada yang lain.” Belakangan ini hubungan mereka
lagi bagus-bagusnya. Karena memang Dodo sengaja berusaha menarik hati
Liani. Sungguh beruntung bagi Dodo. Liani yang biasanya cukup hati-hati,
pada hari itu sungguh lengah. Sehingga akhirnya ia menuruti kemauan
Dodo dan berhasil dibawanya ke suatu tempat. Dengan mengendarai
motornya, Dodo membawa Liani ke satu gudang tempat besi tua. Ternyata ia
mengajak Liani untuk bermain seks di tempat yang kumuh itu..
Dikatakannya bahwa hal itu akan memberikan sensasi yang berbeda. Dan
tempat itu aman karena hanya dijaga oleh pamannya yang saat itu lagi
tidak bertugas. Memang keadaan disana sepi. Tidak ada orang lain selain
mereka. Di salah satu ruang, ada tikar dan sofa yang bakal jadi tempat
“bertempur” mereka. Saat itu Liani memakai celana jins dan jaket.
Sesampainya disana, dilepaskannya jaketnya. Dan didalamnya ia memakai
kaus tanktop ketat warna ungu dengan belahan dada cukup rendah. Dadanya
nampak menonjol di balik kaus ketat dan tampak lupa belahan dada bagian
atasnya. Tak perlu berlama-lama, Dodo segera memulai aksinya.
Diraba-rabanya tubuh cewek putih yang dibalut kaus ketat itu. Sampai
akhirnya dilucutinya pakaian gadis itu satu persatu sampai akhirnya ia
telah bugil seluruhnya di dalam gudang tua itu. Sementara ia sendiri
juga telah melepaskan seluruh pakaiannya sampai telanjang bulat. Nampak
penisnya yang ngaceng berdiri dengan tegaknya menyaksikan Liani yang
putih mulus dalam keadaan telanjang bulat juga itu. Pada saat itulah
Dodo mengajaknya maen dengan mata ditutup.
“lu belum pernah khan disetubuhi dengan mata tertutup. Cobain yuk.”
“Emang apa enaknya.”
“Kalo pengin tahu seperti apa rasanya, ya cobain aja. Khan lu suka hal-hal yang aneh-aneh dan nggak umum. Makanya lu gua ajak kesini.”
Akhirnya Liani menuruti saran Dodo dan sehingga ia tak bisa melihat apa-apa karena matanya ditutup kain hitam.
“lu belum pernah khan disetubuhi dengan mata tertutup. Cobain yuk.”
“Emang apa enaknya.”
“Kalo pengin tahu seperti apa rasanya, ya cobain aja. Khan lu suka hal-hal yang aneh-aneh dan nggak umum. Makanya lu gua ajak kesini.”
Akhirnya Liani menuruti saran Dodo dan sehingga ia tak bisa melihat apa-apa karena matanya ditutup kain hitam.
Kemudian di atas tikar di lantai itu, Dodo menggenjot Liani yang
dalam keadaan mata tertutup. Kalau biasanya ia mengenjot-enjot cewek
putih mulus ini di atas ranjang yang empuk, kini ia melakukannya di atas
tikar yang keras. Namun hal ini tak mengurangi kenikmatannya. Sementara
Liani sendiri juga nggak masalah ditindih tubuh Dodo yang hitam dan
digoyang-goyang diatas tikar yang keras itu. Terbukti ia terus
mendesah-desah dan mengerang-erang dengan erotis.
“Tadi khan kita sudah maen di tikar, sekarang yuk kita maen di sofa
ini. Tapi sebelumnya temukan dulu gua.” Kemudian Dodo menyalakan radio
yang ada di ruangan itu supaya Liani tak bisa mendengar langkah kakinya.
Liani yang matanya tertutup mencoba menggapai-gapai Dodo,” Eh, lu dimana sih”, tanyanya.
“Gua ini di depan lu,” katanya sambil menjawil payudara Liani.
Kemudian Liani maju ke depan dan mencoba mencari-cari Dodo lagi,”Dimana sih lu,” katanya sambil tangannya menggapai-gapai ke depan.
“Gua disini lagi,” katanya di sebelah kanan Liani sementara payudaranya kena diremas. Liani berusaha menangkap tangan iseng itu, namun ia kalah cepat.
“Aah, lu curang pindah-pindah tempat gitu,” kata Liani sambil merajuk. Selain matanya yang tertutup, seluruh badannya tidak ditutupi selembar benang pun. Ia berjalan kesana kemari dalam keadaan telanjang bulat.
“Hehehehe. Kacian deh lu. Ayo coba cari dimana gua,” katanya dan tak lama kemudian ada lidah iseng yang menjilat putingnya yang kemerahan.
“Iih, gokil deh lho.
“Ayo lagi,” katanya sambil meraba punggung Liani yang putih mulus dan meremas pantatnya. Namun saat hendak menangkapnya, lagi-lagi Liani kalah cepat.
Liani yang matanya tertutup mencoba menggapai-gapai Dodo,” Eh, lu dimana sih”, tanyanya.
“Gua ini di depan lu,” katanya sambil menjawil payudara Liani.
Kemudian Liani maju ke depan dan mencoba mencari-cari Dodo lagi,”Dimana sih lu,” katanya sambil tangannya menggapai-gapai ke depan.
“Gua disini lagi,” katanya di sebelah kanan Liani sementara payudaranya kena diremas. Liani berusaha menangkap tangan iseng itu, namun ia kalah cepat.
“Aah, lu curang pindah-pindah tempat gitu,” kata Liani sambil merajuk. Selain matanya yang tertutup, seluruh badannya tidak ditutupi selembar benang pun. Ia berjalan kesana kemari dalam keadaan telanjang bulat.
“Hehehehe. Kacian deh lu. Ayo coba cari dimana gua,” katanya dan tak lama kemudian ada lidah iseng yang menjilat putingnya yang kemerahan.
“Iih, gokil deh lho.
“Ayo lagi,” katanya sambil meraba punggung Liani yang putih mulus dan meremas pantatnya. Namun saat hendak menangkapnya, lagi-lagi Liani kalah cepat.
“Ayo, gua di kiri lu sekarang,” katanya. Saat Liani menggapai-gapai
ke arah kiri, ada tangan yang merogoh vaginanya dari belakang. Ia sempat
menjepit tangan itu dengan kedua kakinya, namun tangan itu berhasil
lepas dari jepitannya sebelum tangannya berhasil menangkap tangan jahil
itu.
“Aah, cape ah gini terus. lu nya curang,” kata Liani berhenti di tempat.
“Ok deh, gua disini, say. Jangan ngambek gitu donk, kata Dodo. Ia berdiri persis di belakang Liani. Tubuhnya yang hitam menempel ke tubuh Liani yang putih mulus. Tangannya yang satu menggerayangi dadanya dan yang satunya lagi meraba-raba paha dan bulu vaginanya. Sementara kepalanya didekatkan di leher Liani yang putih itu dan menciuminya.
“Oooh emmmhhh,” desah Liani.
Kemudian Dodo membalikkan tubuh Liani dan menciumi bibirnya. Sambil berdiri mereka saling berpelukan erat. Tubuh keduanya melekat satu sama lain. Dada Dodo menempel di payudara Liani. Demikian pula dengan perut, paha, dan kaki. Warna kulit keduanya kontras banget. Setelah itu Dodo membimbingnya ke sofa dan mendudukkannya. Satu kakinya dinaikkan ke tempat sandaran sofa sehingga posisi kakinya terbuka lebar-lebar. Tak lama kemudian dirasakannya mulut Dodo yang menjilati vaginanya. Sementaranya tangannya meremas-remas payudaranya dan memainkan kedua putingnya dengan jari-jarinya.
“Oooh, oooohh, oooohhh,” desah Liani merasakan nikmatnya. Apalagi ia merasakan teknik jilatannya berbeda dengan sebelum-sebelumnya membuat vaginanya jadi basah kuyup.
Lalu bibir Dodo berpindah ke payudaranya. Dihisap-hisap dan dikenyot-kenyotnya payudara yang putih dan padat berisi itu bergantian. Ujung lidahnya dengan lincah menari-nari di sekitar puting Liani yang kemerahan.
“OOOooooOhhhhhh, desah panjang Liani.
“Aah, cape ah gini terus. lu nya curang,” kata Liani berhenti di tempat.
“Ok deh, gua disini, say. Jangan ngambek gitu donk, kata Dodo. Ia berdiri persis di belakang Liani. Tubuhnya yang hitam menempel ke tubuh Liani yang putih mulus. Tangannya yang satu menggerayangi dadanya dan yang satunya lagi meraba-raba paha dan bulu vaginanya. Sementara kepalanya didekatkan di leher Liani yang putih itu dan menciuminya.
“Oooh emmmhhh,” desah Liani.
Kemudian Dodo membalikkan tubuh Liani dan menciumi bibirnya. Sambil berdiri mereka saling berpelukan erat. Tubuh keduanya melekat satu sama lain. Dada Dodo menempel di payudara Liani. Demikian pula dengan perut, paha, dan kaki. Warna kulit keduanya kontras banget. Setelah itu Dodo membimbingnya ke sofa dan mendudukkannya. Satu kakinya dinaikkan ke tempat sandaran sofa sehingga posisi kakinya terbuka lebar-lebar. Tak lama kemudian dirasakannya mulut Dodo yang menjilati vaginanya. Sementaranya tangannya meremas-remas payudaranya dan memainkan kedua putingnya dengan jari-jarinya.
“Oooh, oooohh, oooohhh,” desah Liani merasakan nikmatnya. Apalagi ia merasakan teknik jilatannya berbeda dengan sebelum-sebelumnya membuat vaginanya jadi basah kuyup.
Lalu bibir Dodo berpindah ke payudaranya. Dihisap-hisap dan dikenyot-kenyotnya payudara yang putih dan padat berisi itu bergantian. Ujung lidahnya dengan lincah menari-nari di sekitar puting Liani yang kemerahan.
“OOOooooOhhhhhh, desah panjang Liani.
Tak lama kemudian Dodo memasukkan penisnya ke dalam vagina Liani yang
memang sudah cukup terangsang untuk disetubuhi itu, dan mengocoknya
dengan keras sampai payudaranya berputar-putar dan seluruh tubuhnya
berputar-putar.
“Oooh, ahhhhhh, ahhhhhhhh.”
“emmmh, emmmhhh, emmmhhhhhh.”
Kemudian ia mencabut penisnya dan mendekatkannya ke mulut Liani dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
“Shleeb, shleeeb, shlleeeb.”
Dengan mahir Liani mengemut-emut, menyedot-nyedot, dan mengulum penis yang ada di dalam mulutnya itu. Kemudian ia kembali menikmati tubuh Liani dengan menyetubuhinya dalam posisi doggy style diatas sofa itu. Setelah itu giliran Liani yang ada diatas. Dipangkunya Liani diatas sofa itu kemudian diatur supaya penisnya masuk menembus vaginanya kemudian terjadilah gerakan naik turun yang membuat sofa itu bergetar-getar, disertai dengan desahan-desahan erotis Liani. Kemudian berbalik badan. Kalau sebelumnya Liani menghadap dirinya, sekarang memunggungi dirinya. Namun intinya tetap sama, yaitu Liani menggerakkan tubuhnya naik turun menikmati keperkasaan penis hitam yang menembus di dalam vaginanya.
“Ahhh, ahhhh, ahhhhhhh.”
“Ooooh, DOdooo, ohhhhhh.”
“Emhhhh, emhhhhhh, emmmmhhhhh.”
Demikianlah Liani meracau terus dengan liar, seliar gerakan tubuhnya. Entah kenapa hari itu ia merasakan sensasi yang sungguh berbeda saat Dodo menyetubuhinya dalam berbagai posisi dengan mata tertutup seperti itu. Sepertinya penisnya bisa berselang-seling berubah bentuk! Mungkin karena pengaruh sensasi matanya yang tertutup yang berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Dan tak perlu menunggu lama, akhirnya Liani nggak tahan lagi. Cewek yang di sekolahnya dikenal sebagai cewek innocent itu, kini mengalami orgasme hebat akibat penis yang membobol dan mengocok-ngocok di dalam vaginanya.
“Oooh, ahhhhhh, ahhhhhhhh.”
“emmmh, emmmhhh, emmmhhhhhh.”
Kemudian ia mencabut penisnya dan mendekatkannya ke mulut Liani dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
“Shleeb, shleeeb, shlleeeb.”
Dengan mahir Liani mengemut-emut, menyedot-nyedot, dan mengulum penis yang ada di dalam mulutnya itu. Kemudian ia kembali menikmati tubuh Liani dengan menyetubuhinya dalam posisi doggy style diatas sofa itu. Setelah itu giliran Liani yang ada diatas. Dipangkunya Liani diatas sofa itu kemudian diatur supaya penisnya masuk menembus vaginanya kemudian terjadilah gerakan naik turun yang membuat sofa itu bergetar-getar, disertai dengan desahan-desahan erotis Liani. Kemudian berbalik badan. Kalau sebelumnya Liani menghadap dirinya, sekarang memunggungi dirinya. Namun intinya tetap sama, yaitu Liani menggerakkan tubuhnya naik turun menikmati keperkasaan penis hitam yang menembus di dalam vaginanya.
“Ahhh, ahhhh, ahhhhhhh.”
“Ooooh, DOdooo, ohhhhhh.”
“Emhhhh, emhhhhhh, emmmmhhhhh.”
Demikianlah Liani meracau terus dengan liar, seliar gerakan tubuhnya. Entah kenapa hari itu ia merasakan sensasi yang sungguh berbeda saat Dodo menyetubuhinya dalam berbagai posisi dengan mata tertutup seperti itu. Sepertinya penisnya bisa berselang-seling berubah bentuk! Mungkin karena pengaruh sensasi matanya yang tertutup yang berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Dan tak perlu menunggu lama, akhirnya Liani nggak tahan lagi. Cewek yang di sekolahnya dikenal sebagai cewek innocent itu, kini mengalami orgasme hebat akibat penis yang membobol dan mengocok-ngocok di dalam vaginanya.
“Aduuuh, Dodo. Enak banget rasanya. Kenapa lu ga ngajak begini dari
dulu-dulu,” kata Liani dengan napas terengah-engah. Ia benar-benar
merasakan nikmat yang luar biasa.
Sementara Dodo masih belum puas karena ia masih belum ejakulasi. Sebagai intermezzo, ia menyuruh Liani memijiti dirinya dengan menggunakan payudaranya.. Sehingga kini payudara Liani yang putih dengan putingnya yang kemerahan menjelajahi seluruh tubuh Dodo yang coklat kehitaman. Sungguh nikmat sekali dipijat oleh payudara cewek putih bersih dan cakep ini. Apalagi cewek ini masih sangat muda, 18 tahun. Dan lagi, cewek ini adalah anak orang kaya! Namun bersedia melayani cowok rendahan seperti dirinya. Kemudian Dodo menyuruh Liani menungging lagi di sofa.
Sementara Dodo masih belum puas karena ia masih belum ejakulasi. Sebagai intermezzo, ia menyuruh Liani memijiti dirinya dengan menggunakan payudaranya.. Sehingga kini payudara Liani yang putih dengan putingnya yang kemerahan menjelajahi seluruh tubuh Dodo yang coklat kehitaman. Sungguh nikmat sekali dipijat oleh payudara cewek putih bersih dan cakep ini. Apalagi cewek ini masih sangat muda, 18 tahun. Dan lagi, cewek ini adalah anak orang kaya! Namun bersedia melayani cowok rendahan seperti dirinya. Kemudian Dodo menyuruh Liani menungging lagi di sofa.
Kali ini ia bertanya ke Liani,”Kepala atau ekor?”
“Apa sih maksud lu?”tanya Liani.
“Sudah pilih aja. Ga usah mikir.”
“Kepala.” Kemudian Dodo berpindah tempat ke depan, mendekatkan dan memasukkan penisnya ke dalam mulut Liani.
“shleeb, shleeeb, shleeeb.” Mulut Liani mengenyot-kenyot penis di dalam mulutnya itu.
Setelah mencabut penisnya, Dodo bertanya lagi,” Kepala atau ekor?”
Dan dijawab,”Ekor”, yang mengakibatkan,”Ahhhh, Ahhhhhh, AHhhhhhhh” suara Liani yang mendesah-desah karena vaginanya dikocok-kocok oleh penis Dodo dari belakang.
Lagi-lagi dicabut penisnya, dan bertanya, “Kepala atau ekor?”
Tergantung jawaban Liani, ia berpindah tempat, either ke mulut atau vagina Liani. Hal ini dilakukan berulang-ulang, sampai:
“Koq lu ga pernah minta “atau” sih? Habis ini ya,” kata Dodo.
“Emang kalau “atau” gimana? tanya Liani penasaran.
“Hehehe, makanya coba donk,” kata Dodo.
“OK, sekarang, Kepala atau ekor?” tanya Dodo.
“Atau!”
Dodo berpindah tempat ke depan, dimasukkan penisnya ke dalam mulut Liani dan digerak-gerakkan penisnya di dalam mulut Liani.
“shleeb, shleeeb, shleeeb,” Liani lagi-lagi menyepong penis yang ada di depannya itu.
“Apa sih maksud lu?”tanya Liani.
“Sudah pilih aja. Ga usah mikir.”
“Kepala.” Kemudian Dodo berpindah tempat ke depan, mendekatkan dan memasukkan penisnya ke dalam mulut Liani.
“shleeb, shleeeb, shleeeb.” Mulut Liani mengenyot-kenyot penis di dalam mulutnya itu.
Setelah mencabut penisnya, Dodo bertanya lagi,” Kepala atau ekor?”
Dan dijawab,”Ekor”, yang mengakibatkan,”Ahhhh, Ahhhhhh, AHhhhhhhh” suara Liani yang mendesah-desah karena vaginanya dikocok-kocok oleh penis Dodo dari belakang.
Lagi-lagi dicabut penisnya, dan bertanya, “Kepala atau ekor?”
Tergantung jawaban Liani, ia berpindah tempat, either ke mulut atau vagina Liani. Hal ini dilakukan berulang-ulang, sampai:
“Koq lu ga pernah minta “atau” sih? Habis ini ya,” kata Dodo.
“Emang kalau “atau” gimana? tanya Liani penasaran.
“Hehehe, makanya coba donk,” kata Dodo.
“OK, sekarang, Kepala atau ekor?” tanya Dodo.
“Atau!”
Dodo berpindah tempat ke depan, dimasukkan penisnya ke dalam mulut Liani dan digerak-gerakkan penisnya di dalam mulut Liani.
“shleeb, shleeeb, shleeeb,” Liani lagi-lagi menyepong penis yang ada di depannya itu.
Namun ia menghentikan aksinya dan protes,”Memang apa bedanya dengan kepala?”
“Ooh, beda donk. Ayo lu terusin deh emutan lu sebentar lagi lu bakal tahu bedanya,” kata Dodo sambil memasukkan penisnya ke dalam mulut Liani lagi yang segera dipatuhinya.
“Nah, sekarang lu sendiri yang minta dan pengin tahu bedanya khan? Nah bedanya ini nih….” kata Dodo
…..
…..
…..
Belum selesai Dodo bicara, tiba-tiba
Bleesss, Bleeess, Bleeesssss.
Ada penis yang dengan perkasa menembus vagina Liani dari belakang dan mengocok-kocoknya dengan keras membuat tubuh Liani jadi terdorong dan semakin keras emutannya ke penis Dodo.
Lho?! Kok bisa ada dua penis yang masuk ke dalam dirinya?
Oleh karena heran dan terkejut, Liani membuka penutup matanya, dan dilihatnya Dodo berdiri di depannya. Penisnya berada di dalam mulutnya. Lalu penis siapa yang menembus dan mengocok-ngocok vaginanya? Ia melepaskan penis Dodo dari mulutnya dan menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya ia melihat ternyata ada cowok berkulit hitam lain dan berbadan kekar di belakangnya lagi asyik menikmati vaginanya dari belakang! Sehingga kini ia dinikmati oleh dua orang cowok sekaligus! Oleh karena cowok itu sedang asyik menggenjot-genjot dirinya, sehingga tubuhnya ikut terdorong maju mundur seiring dengan gerakan cowok itu.
“Lho! Koq….koq….,” Liani keheranan dan tak tahu harus berkata apa.
“Heheheheh, bingung ya? Tanya sama cowok lu tuh,” kata cowok di belakang itu dengan wajah sinis terkekeh-kekeh.
“Ayuk, terusin dulu say emutannya, tanggung nih. Ngomongnya ntar aja ya,” kata Dodo sambil memasukkan penisnya ke dalam mulut Liani lagi. Sementara sodokan penis cowok di elakangnya itu otomatis membuat mulut Liani ikut bergerak maju mundur mengemut penis Dodo.
“Bagus. Ayo, dorong terus yang kenceng Mas, supaya yang di depan ikutan enak juga,” kata Dodo kepada cowok itu sambil tersenyum puas. Kedua tangannya memegang rambut Liani dan ikut mendorong-dorong kepalanya.
“Beress. Wah, gila! Betul-betul mantap nih cewek. Putihnya itu lho, bikin kagak tahan. Apalagi memeknya masih sempit banget. Lu bisa dapet cewek kayak gini darimana, Do?” kata cowok di belakang. Kedua tangannya mulai merengkuh payudara Liani yang menggantung itu. Diremas-remasnya payudara putih dan kenyal di dalam genggamannya itu.
“Gimana rasanya, enak ya disodok depan belakang.”
“Jadi dobel dah enaknya.”
“Hehehehehe.”
“Hahahahahaa.”
“Ooh, beda donk. Ayo lu terusin deh emutan lu sebentar lagi lu bakal tahu bedanya,” kata Dodo sambil memasukkan penisnya ke dalam mulut Liani lagi yang segera dipatuhinya.
“Nah, sekarang lu sendiri yang minta dan pengin tahu bedanya khan? Nah bedanya ini nih….” kata Dodo
…..
…..
…..
Belum selesai Dodo bicara, tiba-tiba
Bleesss, Bleeess, Bleeesssss.
Ada penis yang dengan perkasa menembus vagina Liani dari belakang dan mengocok-kocoknya dengan keras membuat tubuh Liani jadi terdorong dan semakin keras emutannya ke penis Dodo.
Lho?! Kok bisa ada dua penis yang masuk ke dalam dirinya?
Oleh karena heran dan terkejut, Liani membuka penutup matanya, dan dilihatnya Dodo berdiri di depannya. Penisnya berada di dalam mulutnya. Lalu penis siapa yang menembus dan mengocok-ngocok vaginanya? Ia melepaskan penis Dodo dari mulutnya dan menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya ia melihat ternyata ada cowok berkulit hitam lain dan berbadan kekar di belakangnya lagi asyik menikmati vaginanya dari belakang! Sehingga kini ia dinikmati oleh dua orang cowok sekaligus! Oleh karena cowok itu sedang asyik menggenjot-genjot dirinya, sehingga tubuhnya ikut terdorong maju mundur seiring dengan gerakan cowok itu.
“Lho! Koq….koq….,” Liani keheranan dan tak tahu harus berkata apa.
“Heheheheh, bingung ya? Tanya sama cowok lu tuh,” kata cowok di belakang itu dengan wajah sinis terkekeh-kekeh.
“Ayuk, terusin dulu say emutannya, tanggung nih. Ngomongnya ntar aja ya,” kata Dodo sambil memasukkan penisnya ke dalam mulut Liani lagi. Sementara sodokan penis cowok di elakangnya itu otomatis membuat mulut Liani ikut bergerak maju mundur mengemut penis Dodo.
“Bagus. Ayo, dorong terus yang kenceng Mas, supaya yang di depan ikutan enak juga,” kata Dodo kepada cowok itu sambil tersenyum puas. Kedua tangannya memegang rambut Liani dan ikut mendorong-dorong kepalanya.
“Beress. Wah, gila! Betul-betul mantap nih cewek. Putihnya itu lho, bikin kagak tahan. Apalagi memeknya masih sempit banget. Lu bisa dapet cewek kayak gini darimana, Do?” kata cowok di belakang. Kedua tangannya mulai merengkuh payudara Liani yang menggantung itu. Diremas-remasnya payudara putih dan kenyal di dalam genggamannya itu.
“Gimana rasanya, enak ya disodok depan belakang.”
“Jadi dobel dah enaknya.”
“Hehehehehe.”
“Hahahahahaa.”
Sementara kedua cowok itu terkekeh-kekeh menikmati aksinya, Liani
merasa marah dan sakit hati terhadap Dodo. Namun ia tak bisa berbuat
apa-apa saat itu karena ia telah terlanjur disetubuhi begitu. Apalagi
posisinya yang terjepit diantara keduanya. Lagi pula tak mungkin ia
dapat melawan dua orang cowok yang jauh lebih bertenaga dibanding
dirinya. Sehingga ia hanya bisa pasrah saja.
Tak lama kemudian,
“Ehhhhmm, ahhhhhh, ahhhhhhhhhh,” Dodo bersuara ketika ia akhirnya ejakulasi dan memuntahkan seluruh spermanya ke dalam mulut Liani. Sungguh puas rasanya bisa menumpahkan seluruh spermanya di dalam mulut cewek itu sekaligus membalas dendam terhadap cewek itu. Setelah Dodo selesai mengeluarkan penisnya,
“Nah, ayo, sekarang ganti posisi ya,” kata cowok asing itu sambil menidurkan Liani di sofa. Lalu penisnya yang besar kembali menerjang vagina Liani dan menyodok-nyodoknya. Sementara tangannya meremas-remas payudara Liani.
“Wahh, muluuss dan bening lagi. Hahahaha. Kulit dan body-nya pun sangat terawat. Kamu pasti anak orang kaya ya,” kata cowok itu sambil “memompa” Liani..
“Belum pernah gue nyicipin anak orang kaya. Rasanya beda nih. Apalagi tampang lu cakep. Gua suka deh. Hehehehehe.”
“Ayo Do, jangan bengong aja, rekamannya diterusin lagi,” perintah cowok itu kepada Dodo.
“Ok, deh Mas,” kata Dodo mengambil beberapa foto dan video pemandangan itu dengan handphone cowok itu.
Tak lama kemudian,
“Ehhhhmm, ahhhhhh, ahhhhhhhhhh,” Dodo bersuara ketika ia akhirnya ejakulasi dan memuntahkan seluruh spermanya ke dalam mulut Liani. Sungguh puas rasanya bisa menumpahkan seluruh spermanya di dalam mulut cewek itu sekaligus membalas dendam terhadap cewek itu. Setelah Dodo selesai mengeluarkan penisnya,
“Nah, ayo, sekarang ganti posisi ya,” kata cowok asing itu sambil menidurkan Liani di sofa. Lalu penisnya yang besar kembali menerjang vagina Liani dan menyodok-nyodoknya. Sementara tangannya meremas-remas payudara Liani.
“Wahh, muluuss dan bening lagi. Hahahaha. Kulit dan body-nya pun sangat terawat. Kamu pasti anak orang kaya ya,” kata cowok itu sambil “memompa” Liani..
“Belum pernah gue nyicipin anak orang kaya. Rasanya beda nih. Apalagi tampang lu cakep. Gua suka deh. Hehehehehe.”
“Ayo Do, jangan bengong aja, rekamannya diterusin lagi,” perintah cowok itu kepada Dodo.
“Ok, deh Mas,” kata Dodo mengambil beberapa foto dan video pemandangan itu dengan handphone cowok itu.
Liani sungguh tak menyangka kalau dirinya telah ditipu mentah-mentah
dan dikhianati oleh Dodo. Ia baru mengerti sekarang kenapa matanya
ditutup dan kenapa Dodo menyalakan radio keras-keras. Supaya ia tidak
melihat atau mendengar adanya orang lain dan supaya ia tidak mendengar
bunyi “klik” kamera handphone itu. Kini ia merasa dirinya terhina.
Apalagi sampai dirinya bisa disetubuhi oleh cowok tak dikenal tanpa
seijin dan sepengetahuannya. Kini ia baru menyadari kalau ia telah
disetubuhi oleh kedua orang ini secara bergantian sejak saat matanya
tertutup tadi. Oleh karena itu kenapa penis “Dodo” seperti selang-seling
karena memang ia dan cowok asing itu bergiliran menggenjot dan
menikmati dirinya. Matanya merah seperti menahan tangis namun ia tak
dapat berbuat apa -apa. Ia hanya menatap ke arah Dodo sementara tubuhnya
berguncang-guncang digenjot oleh cowok itu. Cowok yang tak dikenalnya,
bahkan namanya pun ia tak tahu! Meski tak mengatakan apa-apa, pandangan
matanya menunjukkan bermacam-macam perasaan yang sedang berkecamuk di
dalam hatinya, ada rasa bingung (kenapa Dodo sampai tega melakukan itu),
amarah, terhina, tak berdaya, sedih, takut, dll. Dodo awalnya merasa
puas karena akhirnya kesampaian niatnya memperdayai dan membalas dendam
terhadap Liani. Namun semenjak ia berejakulasi tadi, rasa puas karena
berhasil membalas dendam itu seketika sirna. Kini pandangan mata Liani
yang menatap lekat-lekat ke arahnya, membuat dirinya jadi terguncang.
Kepuasan membalas dendam itu kini lenyap tak berbekas malah berubah
menjadi rasa kasihan dan malu terhadap gadis itu. Kini ia menyadari
kalau pembalasannya ini sungguh sangat keterlaluan. Seharusnya ia merasa
bersyukur karena selama ini Liani telah bersedia melayani dirinya. Ia
membayangkan Liani yang tadinya begitu happy dan excited namun kini
dalam kondisi yang terpuruk. Sungguh kontras sekali perbedaannya. Dan
semuanya itu akibat perbuatannya!
Kemudian, timbul perasaan aneh yang menjalar ke tubuhnya. Ia merasa
hatinya disayat-sayat saat melihat senior di geng-nya itu menyetubuhi
Liani di depan matanya. Apalagi lagak serta cara dia menyetubuhi cewek
itu seperti layaknya orang yang menghina seseorang yang lebih rendah
daripada pembantu. Setelah perasaan dendamnya menguap habis, baru
sekarang ia menyadari kalau sebenarnya ia telah mencintai cewek ini!
Malah kini ia menduga-duga, mungkinkah Liani diam-diam juga mencintai
dirinya? Ah, sungguh bego diriku! pikirnya.. Ia telah mengorbankan cewek
yang dicintainya itu demi sebuah pembalasan dendam yang tanpa makna.
Namun kini semuanya telah terlambat. Sekarang ia tidak punya keberanian
untuk mencegah Darsono, senior di geng-nya itu untuk mempermainkan dan
menghina Liani, cewek yang dicintainya itu.
“Ayo terusin, ambil beberapa foto lagi,” kata Darsono yang adalah
senior Dodo di geng-nya. Namun Dodo tak sanggup melakukannya lagi.
Tak lama kemudian, cowok itu mengeluarkan penisnya dan mengocoknya diatas tubuh Liani. Spermanya muncrat cukup banyak membasahi leher, dada, dan perut Liani. Kemudian, seperti di film bokep, ia mengusap spermanya itu ke seluruh tubuh Liani sehingga basah dan mengkilap dibuatnya.
“Gila benar-benar asyik nih cewek. Udah cakepnya kayak bintang film Mandarin. Putih mulus. Body-nya pun ok banget. Tapi begonya itu, hahahahaha. Nah, sekarang jadi mengkilap dah lu sekarang,” katanya dengan pandangan menghina dan tersenyum sinis.
“Oh ya, omong-omong, kenalin, nama gua Darsono. Dodo adalah anak buah gua di geng kami,” kata cowok itu.
“Lu benar-benar cewek gaul dah. Belum kenalan sudah boleh menggauli duluan,” kata Darsono sambil memencet-mencet payudara Liani.
“Gimana, enak ya genjotan gua. Kapan-kapan gua pake lagi ya. Hahahahahaha.”
Tak lama kemudian, cowok itu mengeluarkan penisnya dan mengocoknya diatas tubuh Liani. Spermanya muncrat cukup banyak membasahi leher, dada, dan perut Liani. Kemudian, seperti di film bokep, ia mengusap spermanya itu ke seluruh tubuh Liani sehingga basah dan mengkilap dibuatnya.
“Gila benar-benar asyik nih cewek. Udah cakepnya kayak bintang film Mandarin. Putih mulus. Body-nya pun ok banget. Tapi begonya itu, hahahahaha. Nah, sekarang jadi mengkilap dah lu sekarang,” katanya dengan pandangan menghina dan tersenyum sinis.
“Oh ya, omong-omong, kenalin, nama gua Darsono. Dodo adalah anak buah gua di geng kami,” kata cowok itu.
“Lu benar-benar cewek gaul dah. Belum kenalan sudah boleh menggauli duluan,” kata Darsono sambil memencet-mencet payudara Liani.
“Gimana, enak ya genjotan gua. Kapan-kapan gua pake lagi ya. Hahahahahaha.”
“Sekarang lu boleh pake bajumu lagi dan pulang ke rumah. Kayaknya habis ini lu perlu mandi sampai bersih. Hehehehehehe.”
“Nanti kalo gua pengin sama lu lagi, gua tinggal panggil lu lagi. Lu punya no telponnya khan, Do. Nanti jangan lupa sms ke gua,” perintahnya.
“Dan luu harus menurut,” ancamnya kepada Liani lagi,”Ingat, foto-foto dan video lu ada disini dari sejak mata lu ditutup sampai sekarang,” katanya sambil mengangkat handphone-nya.
“Kalo lu tidak patuh, jangan salahkan gua kalo foto-foto dan video body mulus lu sampai tersebar ke semua orang. Hahahahaha.”
“Lain kali gua pengin bersenang-senang dengan lu di dalam rumah lu, di atas ranjang yang lu tidurin setiap malam.”
Dodo mencoba membantu Liani berdiri, namun ditepisnya dengan keras.
“Hahahahaha, kayaknya cewek lu ini lagi marah. Tapi jangan kuatir, kapan pun lu pengin sama dia, tinggal ngomong ke gua. Karena semua ada disini. Hahahahahaha,” kata Darsono memegang handphone-nya, “Sekalian nanti kita kenalin dia ke teman-teman yang lain. Supaya ada pemacu semangat buat mereka. Huahahahahahahaha!”
Hati Dodo menjadi pilu mendengar hal itu. Namun apa daya, ia tidak berani menghadapi Darsono yang jauh lebih senior dan punya pengaruh besar di dalam geng-nya. Kalau sampai berani melawan, bisa-bisa ia yang hancur sendiri.
“Nanti kalo gua pengin sama lu lagi, gua tinggal panggil lu lagi. Lu punya no telponnya khan, Do. Nanti jangan lupa sms ke gua,” perintahnya.
“Dan luu harus menurut,” ancamnya kepada Liani lagi,”Ingat, foto-foto dan video lu ada disini dari sejak mata lu ditutup sampai sekarang,” katanya sambil mengangkat handphone-nya.
“Kalo lu tidak patuh, jangan salahkan gua kalo foto-foto dan video body mulus lu sampai tersebar ke semua orang. Hahahahaha.”
“Lain kali gua pengin bersenang-senang dengan lu di dalam rumah lu, di atas ranjang yang lu tidurin setiap malam.”
Dodo mencoba membantu Liani berdiri, namun ditepisnya dengan keras.
“Hahahahaha, kayaknya cewek lu ini lagi marah. Tapi jangan kuatir, kapan pun lu pengin sama dia, tinggal ngomong ke gua. Karena semua ada disini. Hahahahahaha,” kata Darsono memegang handphone-nya, “Sekalian nanti kita kenalin dia ke teman-teman yang lain. Supaya ada pemacu semangat buat mereka. Huahahahahahahaha!”
Hati Dodo menjadi pilu mendengar hal itu. Namun apa daya, ia tidak berani menghadapi Darsono yang jauh lebih senior dan punya pengaruh besar di dalam geng-nya. Kalau sampai berani melawan, bisa-bisa ia yang hancur sendiri.
—@@@@@@@—–
Tak lama kemudian, berpisahlah mereka bertiga mengambil jalan sendiri-sendiri.
Liani
Liani yang sebelumnya datang kesini bersama Dodo, menolak untuk
diantar pulang olehnya. Bahkan ia sama sekali tidak mau berbicara dengan
Dodo yang mencoba meminta maaf kepadanya. Dengan mata yang merah
menahan tangis, ia mencegat taxi di jalan dan pulang ke rumahnya.
Hatinya sungguh hancur dan dirinya betul-betul terpuruk. Seumur hidup
tak pernah ia dihina oleh orang sampai separah itu. Tak disangkanya Dodo
bisa menipu dan mengkhianatinya sampai seperti itu. Kini, tak bisa
dibayangkan kalau dirinya seumur hidup akan menjadi budak seks geng
mereka dan setiap saat dibutuhkan, ia harus mematuhinya. Kalau sampai
menolak, mereka akan membocorkan foto dan video telanjang dirinya serta
adegan seks yang dilakukannya. Lalu apa kata orang-orang di sekitarnya
kalau hal ini sampai di telinga mereka? Kondisi dirinya saat ini sungguh
kontras dengan saat di awal cerita dimana ia menjadi pusat perhatian
dan semua orang begitu mengagumi dirinya.
Dharsono
Berbeda jauh dengan Liani yang dalam kondisi memilukan, Darsono naik
mobilnya dengan hati gembira. Sungguh puas ia hari itu karena bisa
menikmati diri Liani yang sebelumnya adalah “out of touch” baginya untuk
mencicipi cewek-cewek seperti tipikal Liani gini. Ditambah lagi, ia
memegang kartu as yang akan menjamin cewek itu bersedia menuruti apa pun
kemauannya kapan pun ia mau. Bahkan ia berpikir untuk menjadikan cewek
itu sebagai sumber penghasilan dengan menjualnya kepada pria-pria yang
ingin mencicipi cewek seperti Liani dan sanggup membayar mahal. Sungguh,
cewek seperti itu tentu menarik banyak peminat. Ia tersenyum dan
tertawa puas di dalam mobilnya.
Namun, sungguh nasib orang susah diduga. Pada saat ia membayangkan
keuntungan yang bakal didapat dari pikiran jahatnya itu, ia menjadi
lengah. Dalam perjalanan pulang, ia berhenti di suatu tempat dan disana
ia berhasil dicegat oleh beberapa anggota geng musuhnya. Oleh karena
dikeroyok, ia kalah dan dipukuli sampai babak belur. Mobilnya pun
dirusak. Kacanya dipecahin dan keempat bannya dikempesin. Barang-barang
miliknya yang berharga dirampas sementara yang tidak berharga dibuang ke
sampah. Akhirnya, boro-boro mendapatkan keuntungan, ia malah harus
dirawat di rumah sakit dan kehilangan materi dalam jumlah cukup besar.
Sementara handphone itu hilang entah kemana.
Dodo
Sementara Dodo sendiri bernasib lebih naas lagi. Oleh karena perasaan
bersalahnya yang besar terhadap Liani dan perasaan tak berdaya
menghadapi Darsono, ia menjadi frustasi. Sebagai pelampiasannya, ia
mengendarai motornya dengan sangat kencang. Malang baginya, ia terlambat
mengerem dan menabrak orang yang menyeberang sampai meninggal seketika.
Oleh karena takut akan perbuatannya, ia berusaha melarikan diri. Namun
ia berhasil ditangkap dan dipukuli rame-rame oleh orang-orang disekitar.
Selain babak belur, ia masih harus meringkuk di penjara karena terbukti
bersalah melakukan tabrak lari sampai orangnya meninggal. Total waktu
yang harus dilalui di penjara adalah beberapa tahun, karena vonis
pertamanya ditambah beberapa kali melakukan pelanggaran di dalam penjara
( mungkin karena rasa frustasinya dengan kehidupan barunya di dalam
penjara).
Demikianlah nasib yang dialami ketiga orang tersebut hari itu, yang semuanya berakhir dengan tragis.
—@@@@@@@—–
Sementara itu…
Cowok itu bagaikan disengat seratus kalajengking saat melihat isi
handphone yang ada di tangannya itu. Tak disangkanya didalamnya ada
foto-foto dan video bugil cewek putih dan cakep bahkan juga ada saat
cewek itu sedang disetubuhi dalam berbagai posisi. Cewek itu begitu
nyata dan original dan semuanya baru diambil pada hari itu juga. Ia tak
habis pikir bagaimana ceritanya sampai foto dan video cewek ini bisa ada
di dalam handphone Darsono.
Setelah kejadian di gudang tua itu berakhir, Darsono pulang ke
rumahnya dengan senyum licik mengembang di mulutnya selama di sepanjang
jalan. Karena sore itu ia telah menemukan “gua kenikmatan” sekaligus
“gua tambang emas” yang bisa menjadi alat pemuas nafsu seksnya sekaligus
sumber penghasilan tetapnya. Memang ia adalah seorang bajingan sejati
yang tak segan-segan menghancurkan hidup orang lain demi keuntungan
pribadinya. Namun, sungguh nasib tak berpihak kepadanya. Di tengah jalan
secara tak terduga-duga ia dicegat oleh geng musuhnya dan dipukuli
rame-rame. Ia termasuk orang yang sangat dibenci oleh musuh-musuhnya
karena ia tak segan-segan menggunakan taktik kotor dan menghalalkan
segala cara. Pada saat seluruh anggota geng itu sibuk memukuli Dharsono,
salah seorang anggota geng itu malah memecah kaca jendela mobil
Darsono. Saat itulah dilihatnya handphone yang ditaruh di bangku depan.
Segera dikantunginya handphone itu sebelum ia melanjutkan aksi
pengrusakannya yang segera diikuti oleh teman-temannya yang lain setelah
Darsono babak belur tak bisa bergerak lagi. Demikianlah aksi
pengrusakan itu berlanjut, namun si penemu handphone itu, yang tak lain
dan tak bukan adalah Rohim, sama sekali tak memberitahu teman-temannya
mengenai handphone itu. Sehingga kini hilanglah kesempatan Dharsono
melakukan niat jahatnya. Handphone itu tak pernah kembali ke tangannya
dan ia malah harus dirawat di rumah sakit untuk waktu yang cukup lama.
Setelah keluar dari rumah sakit ia malah menjadi agak linglung.
—@@@@@@@—–
Malam itu Rohim sibuk memencet-mencet handphone yang sore itu ditemukannya. Besok ia berniat menjual handphone itu sebagai tambahan uang saku. Oleh karena itu, sebelum dijualnya, ia memeriksa isi handphone itu untuk melihat apakah ada informasi yang penting sehubungan dengan permusuhan antar geng-nya itu. Namun apa yang ditemukannya membuatnya bagaikan disengat seratus kalajengking. Tak disangkanya disitu ada foto-foto dan video cewek putih dan cakep melakukan adegan seks dalam berbagai posisi. Cewek itu begitu nyata dan original dan semuanya baru diambil pada hari itu juga. Ia tak habis pikir bagaimana ceritanya sampai Darsono bisa mendapatkan foto dan video cewek itu. Ah, kalo sama cewek kayak gini, gua juga mau, pikirnya. Walaupun wajah cowok yang menyetubuhi cewek putih itu tak terlihat jelas, namun dari suaranya ia menduga itu adalah Dharsono bersama dengan satu orang temannya. Ia sungguh tak mempercayai apa yang dilihatnya saat itu. Kok bisa-bisanya cewek secakep dan sekelas ini mau dengan sukarela digilir oleh Darsono dan temannya? Padahal cewek ini seperti cewek baik-baik dan kelihatannya seperti anak orang kaya. Sementara Darsono adalah pentolan geng yang ugal-ugalan. Kalau mau tentu cewek ini bisa memilih cowok lain yang lebih cakep dan kaya atau setara dengannya untuk melakukan hal seperti ini. Ah, masa bodoh dengan itu, pikirnya. Kini otaknya memikirkan keuntungannya sendiri. Kalo gua bisa menemukan identitas cewek ini, gua pasti bisa menikmati cewek ini. Walaupun cewek ini kelihatannya cewek elit, tapi kalo digilir berdua oleh Darsono aja mau, kenapa nggak mau dengan gua, pikirnya. Apalagi videonya ada di tangan gua. Kapan lagi ada kesempatan sebagus ini, pikirnya. Kini ia memutuskan untuk menunda dulu menjual handphone itu sampai ia menemukan identitas cewek itu. Ia sengaja tak memberitahu anggota geng lain atau siapapun mengenai temuannya yang tak disangka-sangka itu.
Malam itu Rohim sibuk memencet-mencet handphone yang sore itu ditemukannya. Besok ia berniat menjual handphone itu sebagai tambahan uang saku. Oleh karena itu, sebelum dijualnya, ia memeriksa isi handphone itu untuk melihat apakah ada informasi yang penting sehubungan dengan permusuhan antar geng-nya itu. Namun apa yang ditemukannya membuatnya bagaikan disengat seratus kalajengking. Tak disangkanya disitu ada foto-foto dan video cewek putih dan cakep melakukan adegan seks dalam berbagai posisi. Cewek itu begitu nyata dan original dan semuanya baru diambil pada hari itu juga. Ia tak habis pikir bagaimana ceritanya sampai Darsono bisa mendapatkan foto dan video cewek itu. Ah, kalo sama cewek kayak gini, gua juga mau, pikirnya. Walaupun wajah cowok yang menyetubuhi cewek putih itu tak terlihat jelas, namun dari suaranya ia menduga itu adalah Dharsono bersama dengan satu orang temannya. Ia sungguh tak mempercayai apa yang dilihatnya saat itu. Kok bisa-bisanya cewek secakep dan sekelas ini mau dengan sukarela digilir oleh Darsono dan temannya? Padahal cewek ini seperti cewek baik-baik dan kelihatannya seperti anak orang kaya. Sementara Darsono adalah pentolan geng yang ugal-ugalan. Kalau mau tentu cewek ini bisa memilih cowok lain yang lebih cakep dan kaya atau setara dengannya untuk melakukan hal seperti ini. Ah, masa bodoh dengan itu, pikirnya. Kini otaknya memikirkan keuntungannya sendiri. Kalo gua bisa menemukan identitas cewek ini, gua pasti bisa menikmati cewek ini. Walaupun cewek ini kelihatannya cewek elit, tapi kalo digilir berdua oleh Darsono aja mau, kenapa nggak mau dengan gua, pikirnya. Apalagi videonya ada di tangan gua. Kapan lagi ada kesempatan sebagus ini, pikirnya. Kini ia memutuskan untuk menunda dulu menjual handphone itu sampai ia menemukan identitas cewek itu. Ia sengaja tak memberitahu anggota geng lain atau siapapun mengenai temuannya yang tak disangka-sangka itu.
Namun ia ingin menikmati dulu satu-satu foto dan video cewek itu.
Harus diakui bahwa cewek ini sangat menggairahkan baginya. Tampangnya
begitu polos tapi tak disangka bisa melakukan perbuatan seperti itu.
Ditambah lagi kulitnya yang putih mulus dan tubuhnya yang sungguh sexy.
Apalagi ia tak pernah bercinta dengan cewek yang kulitnya putih seperti
dia. Hanya satu sayangnya, matanya tertutup sehingga ia tak bisa melihat
wajahnya dengan jelas. Setelah itu ia berusaha mencari identitas cewek
itu. Ia yakin nomor cewek itu pasti tersimpan di dalam handphone itu.
Namun sayang, hal itu ternyata tak semudah seperti yang dikira
sebelumnya. Telah berhari-hari ia mengutak-atik handphone itu. Ia
mencatat semua nama cewek yang ada di Phonebook. Kemudian melalui
telepon umum, ia menelpon mereka satu-satu dan memancing-mancing
mengenai kejadian di gudang hari itu. Namun hasilnya: 100% negatif. Lalu
ia mengobrak-abrik isi handphone itu, dari incoming call, outgoing
call, missed call, notes, dll. Tapi hasil akhirnya tetap sama: Nol
besar. Memang di handphone itu sama sekali tidak ada record nomor hp
Liani. Dodo lah yang tahu no hp-nya. Dan Dodo belum sempat memberikannya
ke Dharsono sampai keduanya mengalami nasib tragis pada hari itu. Telah
lewat beberapa hari bahkan seminggu, usahanya tak membuahkan hasil
juga. Namun, ibarat pepatah, pucuk dicinta ulam tiba, tiba-tiba terkuak
secuil harapan secara tak terduga-duga. Beberapa hari kemudian Pak Sarip
pamannya memintanya untuk menggantikan tugasnya sebagai pesuruh sekolah
di salah satu SMU favorit di kota itu. Karena ia dan istrinya ada
keperluan di desanya dan harus pergi selama beberapa minggu. Sedangkan
masa sekolah akan segera dimulai sehingga harus ada orang yang
membersihkan kelas.
Tiba-tiba lampu terang menyala di benaknya. Dilihat dari tampangnya,
cewek itu kayaknya masih anak SMU. Nah, siapa tahu cewek itu juga
bersekolah disana. Paling nggak, nggak ada salahnya dicoba. Toh dengan
melakukan itu, ia mendapatkan gaji. Akhirnya disetujuilah permintaan
pamannya. Sekolah itu sebenarnya bukan tempat asing baginya, karena
beberapa tahun sebelumnya ia pernah sekolah disana. Tapi ia tak pernah
bisa mengikuti “irama” sekolah itu, baik dari segi pergaulan maupun
pendidikan. Dari segi pergaulan, karena murid-murid disana kebanyakan
anak orang kaya atau paling nggak dari keluarga mampu. Sementara dirinya
dari keluarga yang sungguh pas-pasan. Dari segi pendidikan, karena mutu
sekolah itu cukup tinggi, sementara otaknya tak mencukupi. Dan memang
sebenarnya ia bisa masuk sekolah itu gara-gara mendapat fasilitas khusus
sebagai keponakan Pak Sarip, pesuruh sekolah yang telah mengabdi selama
puluhan tahun. Akhirnya ia menjadi orang yang “terpinggirkan” di
sekolah itu. Setelah tak naik kelas dua kali, akhirnya ia harus keluar
dari sana. Sehingga ia sekolah di SMU yang ditempati sekarang. Rohim
sendiri saat itu kelas 3 SMU, namun umurnya sudah 21 tahun. Karena ia
beberapa kali tak naik kelas. Di sekolahnya yang baru itu ia jadi
pentolan gerombolan anak-anak nakal yang disegani. Memang ia adalah anak
jalanan yang liar dan jago berkelahi. Penampilannya pun sangar dan
rambutnya dibiarkan gondrong. Tampangnya memang termasuk amburadul.
Walau begitu ia sering gonta ganti cewek dan bahkan sampai melakukan
hubungan intim dengan mereka. Selama Rohim membantu di sekolah itu ia
diperbolehkan tinggal di rumah tempat tinggal Pak Sarip yang terletak di
dalam kompleks sekolah. Tugas sehari-harinya adalah membersihkan ruang
kelas.
—@@@@@@@—–
Sejak hari pertama ia bekerja di sekolah itu, ia langsung melakukan
misi rahasianya yaitu melakukan “tugas penyelidikan” sekaligus cuci mata
mengawasi murid-murid cewek di sekolah itu. Harus diakui, agak sulit
baginya untuk menemukannya. Karena, pertama, siswi-siswi disana banyak
yang cakep-cakep dan berkulit putih. Kedua, jumlah kelas dan murid yang
sangat banyak. Ketiga, ia tak tahu nama cewek itu. Seandainya tahu tentu
lebih mudah mencarinya. Keempat, ia tidak seharian terus menerus di
sekolah itu. Karena ia masih harus sekolah juga. Kelima, ini yang paling
susah, ia tidak tahu secara persis wajah cewek itu karena sebagian
besar foto dan videonya dalam keadaan matanya tertutup. Hanya sedikit
saja yang matanya terbuka, di bagian-bagian akhir. Namun sudut
pengambilannya tidak begitu tepat dan kameranya bergoyang-goyang saat
perekaman. Justru tubuhnya lebih jelas dibanding wajahnya, termasuk
bagian-bagian rahasia dari seorang gadis yang seharusnya tertutup rapat.
Yang seharusnya terlihat malah nggak kelihatan, yang seharusnya nggak
boleh kelihatan malah terbuka jelas. Kadang di dunia ini memang terjadi
hal-hal yang aneh. Dari segi kemupengan, hal itu memang menguntungkan.
Tapi untuk proses penyelidikannya ini, hal itu tak membantu sama sekali.
Karena tak mungkin ia membuka pakaian siswi-siswi disana untuk
memeriksa paha atau dadanya dan mencocokkannya dengan yang ada di
handphone, tanpa berurusan dengan pihak yang berwajib. Satu hal yang
bisa dilakukannya adalah mengamati wajah, kulit tubuh, tinggi, gemuk
kurusnya, serta ukuran payudaranya. Untuk yang terakhir ini ia hanya
bisa mengira-ngira. Jadilah ia kini mengamati murid-murid cewek disana
dengan tampang mupeng. Tanpa terasa seminggu lebih telah lewat namun ia
masih bisa belum menemukan cewek misterius itu.
Sementara itu, kerjaannya mengamati siswi-siswi disana selama ini,
tak luput dari perhatian seseorang. Selain membuat risih sejumlah siswi
disana karena merasa dipelototin payudaranya, perbuatannya itu tak lepas
dari pengamatan Pak Rahman, guru olahraga di sekolah itu. Telah
beberapa kali ia mendapati mata Rohim jelalatan ke arah murid-murid
cewek, terutama yang cakep dan berkulit putih. Memang ia jadi mupeng
sendiri melihat mereka. Seandainya ada satu saja diantara mereka yang
bersedia melayani kebutuhan nafsunya, ia tak akan meneruskan usahanya
menemukan cewek misterius tersebut yang sepertinya tidak akan membuahkan
hasil. Pak Rahman adalah suami dari Bu Retno, kepala sekolah sekolah
itu. Keduanya adalah orang Jawa. Umur Pak Rahman awal 40-an atau akhir
30-an. Namun karena ia rajin berolahraga, badannya cukup kekar dan masih
gagah. Sebagai suami dari kepala sekolah dan sebagai seorang guru
disana, ia berkepentingan untuk menjaga suasana di sekolah itu tetap
aman dan kondusif dan tidak terjadi hal-hal yang tak menyenangkan. Dari
sejak awal sebenarnya ia kurang suka dengan Rohim. Sehingga beberapa
kali ia menyempatkan diri untuk mengawasi Rohim secara khusus. Pada
suatu hari, setelah untuk kesekian kalinya ia mendapati mata Rohim
jelalatan ke arah empat orang siswi yang berjalan bersama, ia mendatangi
Rohim. Setelah menggiringnya ke pojok yang sepi, tanpa tedeng
aling-aling ia langsung menegurnya,
” Hei! Kamu harus ingat, tugasmu disini adalah membantu. Jadi kamu jangan sampai bikin masalah disini!”
“Apa maksud Bapak? Saya nggak bikin masalah kok.”
“Kamu jangan pura-pura. Sudah beberapa kali saya lihat kamu selalu memelototin murid-murid cewek disini. Kalo kamu masih mau tetap disini, kamu harus menghentikan perbuatanmu itu.”
“Saya cuma melihat aja kok.”
“Itu bukan melihat tapi melotot. Begini, saya tak mau buang waktu lama-lama dengan kamu. Tapi ingat, kalo sampai ada siswi yang complain tentang kamu atau kamu berani berbuat kurang ajar terhadap mereka, maka kamu akan berhadapan dengan saya!” kata Pak Rahman dengan garang.
” Hei! Kamu harus ingat, tugasmu disini adalah membantu. Jadi kamu jangan sampai bikin masalah disini!”
“Apa maksud Bapak? Saya nggak bikin masalah kok.”
“Kamu jangan pura-pura. Sudah beberapa kali saya lihat kamu selalu memelototin murid-murid cewek disini. Kalo kamu masih mau tetap disini, kamu harus menghentikan perbuatanmu itu.”
“Saya cuma melihat aja kok.”
“Itu bukan melihat tapi melotot. Begini, saya tak mau buang waktu lama-lama dengan kamu. Tapi ingat, kalo sampai ada siswi yang complain tentang kamu atau kamu berani berbuat kurang ajar terhadap mereka, maka kamu akan berhadapan dengan saya!” kata Pak Rahman dengan garang.
“Mengerti kamu?”
Meskipun ia sendiri jago berkelahi, namun berhadapan dengan Pak Rahman nyalinya ciut juga. Karena selain badannya yang kekar, ia tahu kalau Pak Rahman adalah jagoan karate. Juga ia kalah wibawa.
“Me-mengerti Pak.”
“Ok. Sekarang kamu boleh pergi. Tapi ingat kata-kata saya!”
Setelah mendapat peringatan itu, Rohim masih melanjutkan pencariannya, namun kini ia makin berhati-hati. Tapi sungguh sial baginya. Beberapa hari kemudian ia kembali ketangkap basah oleh Pak Rahman saat matanya jelalatan seolah menggerayangi seluruh tubuh seorang murid cewek yang cakep. Membuat cewek itu jadi risih. Sementara ia adalah anak seorang penyandang dana yayasan sekolah itu. Kali ini Pak Rahman memberi peringatan terakhir kepadanya. Sejak saat itu Rohim jadi tak berani macam-macam. Kini Rohim telah mulai pesimis. Apalagi waktunya di sekolah itu hanya seminggu lagi. Akhirnya ia memutuskan kalau sampai seminggu ia tak dapat menemukan cewek itu juga, ia akan menjual handphone itu. Karena ia tak tahu bagaimana mencari satu orang di tengah jutaan manusia. Paling tidak ia bisa mendapat uang beberapa juta dari handphone itu.
Meskipun ia sendiri jago berkelahi, namun berhadapan dengan Pak Rahman nyalinya ciut juga. Karena selain badannya yang kekar, ia tahu kalau Pak Rahman adalah jagoan karate. Juga ia kalah wibawa.
“Me-mengerti Pak.”
“Ok. Sekarang kamu boleh pergi. Tapi ingat kata-kata saya!”
Setelah mendapat peringatan itu, Rohim masih melanjutkan pencariannya, namun kini ia makin berhati-hati. Tapi sungguh sial baginya. Beberapa hari kemudian ia kembali ketangkap basah oleh Pak Rahman saat matanya jelalatan seolah menggerayangi seluruh tubuh seorang murid cewek yang cakep. Membuat cewek itu jadi risih. Sementara ia adalah anak seorang penyandang dana yayasan sekolah itu. Kali ini Pak Rahman memberi peringatan terakhir kepadanya. Sejak saat itu Rohim jadi tak berani macam-macam. Kini Rohim telah mulai pesimis. Apalagi waktunya di sekolah itu hanya seminggu lagi. Akhirnya ia memutuskan kalau sampai seminggu ia tak dapat menemukan cewek itu juga, ia akan menjual handphone itu. Karena ia tak tahu bagaimana mencari satu orang di tengah jutaan manusia. Paling tidak ia bisa mendapat uang beberapa juta dari handphone itu.
—@@@@@@@—–
Dimanakah Liani berada?
Selesai kejadian hari itu, Liani pulang ke rumahnya dengan hati dan
pikiran yang terpuruk. Tak disangkanya Dodo bisa mengkhianati dirinya
seperti itu. Dan kini, ada Darsono yang memegang foto-foto dan video
dirinya. Ia tak bisa membayangkan kalau dirinya sampai menjadi boneka
yang diperlakukan semaunya oleh Darsono. Ia tak tahu harus berbuat apa.
Apakah ia harus mengadu kepada Papinya? Tak bisa dibayangkan betapa
marahnya dia. Ataukah ia harus menghubungi Dodo dan memohon kepadanya
untuk membantunya? Ah, kalau memang ia bersedia membantu, ia tidak akan
mendiamkan saja hal itu terjadi. Dan Dodolah orang yang menyebabkan ini
semua terjadi. Lalu apa gunanya minta bantuan dia? Lagipula kini ia
sangat membenci orang itu!! Ataukah ia harus memohon langsung kepada
Darsono untuk menghancurkan foto dan video dirinya? Tak mungkin, Darsono
adalah orang yang jahat yang justru mengambil keuntungan diatas
penderitaan orang lain. Bisa-bisa nanti malah ia lebih
dipermainkannya. Karena tak tahu apa yang harus dilakukan sore dan malam itu ia menangis sesenggukan di dalam kamarnya sampai akhirnya tertidur sendiri. Beruntung baginya, saat itu adalah masa liburan sekolah. Sehingga ia tak harus pergi ke sekolah dengan kondisi yang terpuruk seperti itu. Keesokan harinya, seharian hatinya deg-degan mengantisipasi adanya telpon atau sms masuk dari Darsono atau Dodo. Ia sungguh takut membayangkan dirinya diperintah Darsono untuk melayaninya kapan pun ia mau, atau lebih parah lagi, kalau ia dijual untuk melayani orang yang tak dikenalnya sebagai pelacur! Seharian itu ia menunggu dan seharian itu ia tersiksa. Menurut perkiraannya, Darsono seharusnya pasti akan segera memanfaatkan dirinya, karena ia adalah orang yang amat jahat. Namun kenyataannya, ketakutan yang diantisipasi itu tidaklah datang, paling nggak untuk hari itu.
dipermainkannya. Karena tak tahu apa yang harus dilakukan sore dan malam itu ia menangis sesenggukan di dalam kamarnya sampai akhirnya tertidur sendiri. Beruntung baginya, saat itu adalah masa liburan sekolah. Sehingga ia tak harus pergi ke sekolah dengan kondisi yang terpuruk seperti itu. Keesokan harinya, seharian hatinya deg-degan mengantisipasi adanya telpon atau sms masuk dari Darsono atau Dodo. Ia sungguh takut membayangkan dirinya diperintah Darsono untuk melayaninya kapan pun ia mau, atau lebih parah lagi, kalau ia dijual untuk melayani orang yang tak dikenalnya sebagai pelacur! Seharian itu ia menunggu dan seharian itu ia tersiksa. Menurut perkiraannya, Darsono seharusnya pasti akan segera memanfaatkan dirinya, karena ia adalah orang yang amat jahat. Namun kenyataannya, ketakutan yang diantisipasi itu tidaklah datang, paling nggak untuk hari itu.
Hari kedua juga tak terjadi apa-apa. Begitu pula hari ketiga,
keempat, dst. Pikirannya mulai bertanya-tanya. Apa yang terjadi? Apakah
Dodo diam-diam telah membantunya? Ataukah Darsono langsung menyebar foto
dan video dirinya itu ke Internet? Ia jadi bergidik memikirkan itu. Ah,
tapi tak mungkin, pikirnya. Tidak ada untungnya bagi Darsono untuk
melakukan hal itu saat ini. Karena justru itulah senjata andalannya
untuk memerasnya. Hal itu baru akan dilakukannya apabila ia berani
menolak permintaanya. Darsono adalah orang yang selalu mengambil langkah
yang paling menguntungkan dirinya tanpa peduli akan orang lain. Oleh
karena itu, adalah hal yang aneh kalau sampai sekarang tidak ada
tindakan apa-apa darinya. Satu-satunya kemungkinan yang dipikirkannya
adalah, Dodo yang membantu dirinya. Ya, mungkin pada akhirnya ia memilih
melakukan perbuatan baik terhadap dirinya. Tapi kenapa ia tak
menghubunginya? Setelah mula-mula ragu, akhirnya ia menelpon Dodo. Namun
ia tak dapat menghubunginya. Karena orang yang menerimanya sama sekali
tak kenal dengan orang bernama Dodo. Ia sungguh heran dengan semua
ini. Hari demi hari berlalu tanpa kejadian apa-apa sampai liburan
sekolah berakhir. Kini pikirannya mulai lebih tenang. Karena apa yang
ditakutkan sampai sekarang tak terjadi. Kini ia mencoba melupakan hal
itu dan kembali ceria seperti sebelumnya. Namun di dalam hatinya tetap
saja ada rasa waswas kalau tiba-tiba ada telepon dari Darsono atau orang
lain. Bagaimanapun ia tidak akan bisa hidup tenang kalau tidak
mengetahui apa yang terjadi sesungguhnya. Untuk itu ia berusaha mencari
tahu apa yang terjadi dan yang lebih penting lagi, bagaimana caranya
untuk mendapatkan handphone itu supaya foto-foto dirinya tak tersebar.
Tapi bagaimana caranya? Sungguh suatu hal yang amat sulit dan tak tahu
bagaimana memulainya. Tetapi ia tak putus asa, bukankah pepatah
mengatakan, “Tak ada sesuatu yang mustahil apabila kita benar-benar
percaya.”
Dan ternyata, nasib berpihak kepadanya karena tak lama setelah itu terjadi peristiwa yang tak terduga-duga. Namun justru peristiwa itulah yang membuka jalan sehingga harapannya itu akhirnya tercapai.
Dan ternyata, nasib berpihak kepadanya karena tak lama setelah itu terjadi peristiwa yang tak terduga-duga. Namun justru peristiwa itulah yang membuka jalan sehingga harapannya itu akhirnya tercapai.
—@@@@@@@—–
Sore itu Liani menyadari kalau buku catatan kimianya tak ada di
tasnya. Ah, mungkin ketinggalan di kelas, pikirnya. Keesokan harinya ia
mencari Pak Sarip di tempatnya. Namun disana ia melihat ada cowok
berkulit hitam yang sedang membelakangi dirinya dan sibuk melakukan
sesuatu.
“Maaf Mas, Pak Saripnya ada?” tanya Liani ke cowok itu, yang tak lain adalah Rohim.
Mendengar ada suara cewek di belakangnya, Rohim langsung terkesiap kaget.
Suara itu!!!
Suara itu sungguh familiar {“Aah, loe curang pindah-pindah tempat gitu”} {“Emang kalau “atau” gimana?”}.
Lalu ia buru-buru membalikkan badannya, dan ia tertegun melihat cewek yang berdiri di depannya itu.
“Ooh, maaf kalo ngagetin,” kata Liani sambil tersenyum manis.
“Oh, nggak…. nggak apa-apa kok,” kata Rohim yang belum hilang rasa terkejutnya. Ia kelihatan terbengong-bengong. Ia seperti tersihir oleh kecantikan cewek ini yang sedang tersenyum manis kepadanya ini. Belum pernah ada cewek secantik ini tersenyum kepadanya. Namun juga pikirannya terpecah dengan menimbang-nimbang apakah betul cewek ini adalah cewek misterius yang dicarinya selama ini? Pada saat ia mulai melupakan pencariannya, tak disangka-sangka justru cewek itu yang menemukan dirinya!
“Maaf Mas, Pak Saripnya ada?” tanya Liani ke cowok itu, yang tak lain adalah Rohim.
Mendengar ada suara cewek di belakangnya, Rohim langsung terkesiap kaget.
Suara itu!!!
Suara itu sungguh familiar {“Aah, loe curang pindah-pindah tempat gitu”} {“Emang kalau “atau” gimana?”}.
Lalu ia buru-buru membalikkan badannya, dan ia tertegun melihat cewek yang berdiri di depannya itu.
“Ooh, maaf kalo ngagetin,” kata Liani sambil tersenyum manis.
“Oh, nggak…. nggak apa-apa kok,” kata Rohim yang belum hilang rasa terkejutnya. Ia kelihatan terbengong-bengong. Ia seperti tersihir oleh kecantikan cewek ini yang sedang tersenyum manis kepadanya ini. Belum pernah ada cewek secantik ini tersenyum kepadanya. Namun juga pikirannya terpecah dengan menimbang-nimbang apakah betul cewek ini adalah cewek misterius yang dicarinya selama ini? Pada saat ia mulai melupakan pencariannya, tak disangka-sangka justru cewek itu yang menemukan dirinya!
Liani hanya tersenyum menyaksikan sikap Rohim yang sepertinya salah tingkah itu, sepertinya ia memakluminya.
“Pak Saripnya ada, Mas?” ulangnya lagi.
“Ooh, Pak Sarip lagi pulang ke desa. Ada yang bisa saya bantu?” katanya sambil kini ia mulai bisa menguasai diri.
“Saya mencari buku catatan kimia saya, bukunya ukuran segini dan warnanya merah muda dengan gambar Hello Kitty, mungkin tertinggal di kelas kemarin,” kata Liani menjelaskan.
“Apakah ada ditemukan buku seperti itu?”
“Setahu saya tidak ada. Tapi sebentar saya liat dulu,” kata Rohim sambil masuk ke dalam.
Di dalam rumah, ia menimbang-nimbang apakah betul cewek yang menemuinya ini adalah cewek di dalam handphone itu. Dari tampangnya sungguh ia seperti cewek baik-baik yang tak mungkin melakukan hal seperti itu. Apalagi dengan orang seperti Dharsono. Tapi suara dan gaya bicaranya sama dengan suara cewek yang ada di handphone itu. Ia telah hafal dengan suara itu karena ia telah mendengarnya mungkin ratusan kali.
Ah, kalo bener dia adalah cewek itu, hidup betul-betul sulit ditebak.
Gua susah payah mencarinya tapi ga ketemu-ketemu. Sekarang malah orangnya datang sendiri. Gua susah payah mencari berdasarkan wajah dan bentuk fisik tubuhnya. Tapi ketemunya malah dari suaranya. Memang jalan hidup kadang misterius. Seketika terbayang tubuh putih mulus dan sexy itu dalam keadaan telanjang bulat. Ehh, tapi tunggu dulu! Gue harus 100% yakin dulu sebelum bertindak. Apalagi gue udah diancam sama Pak Rahman. Kalo sampe salah sasaran, bisa mampus gua. Dari wajah, gua nggak terlalu pasti apakah ini orangnya. Tapi dari suara gua hampir 100% yakin kalo dia orangnya. Ahh, ya, kenapa ga gua rekam aja suaranya trus gua bandingin?
“Pak Saripnya ada, Mas?” ulangnya lagi.
“Ooh, Pak Sarip lagi pulang ke desa. Ada yang bisa saya bantu?” katanya sambil kini ia mulai bisa menguasai diri.
“Saya mencari buku catatan kimia saya, bukunya ukuran segini dan warnanya merah muda dengan gambar Hello Kitty, mungkin tertinggal di kelas kemarin,” kata Liani menjelaskan.
“Apakah ada ditemukan buku seperti itu?”
“Setahu saya tidak ada. Tapi sebentar saya liat dulu,” kata Rohim sambil masuk ke dalam.
Di dalam rumah, ia menimbang-nimbang apakah betul cewek yang menemuinya ini adalah cewek di dalam handphone itu. Dari tampangnya sungguh ia seperti cewek baik-baik yang tak mungkin melakukan hal seperti itu. Apalagi dengan orang seperti Dharsono. Tapi suara dan gaya bicaranya sama dengan suara cewek yang ada di handphone itu. Ia telah hafal dengan suara itu karena ia telah mendengarnya mungkin ratusan kali.
Ah, kalo bener dia adalah cewek itu, hidup betul-betul sulit ditebak.
Gua susah payah mencarinya tapi ga ketemu-ketemu. Sekarang malah orangnya datang sendiri. Gua susah payah mencari berdasarkan wajah dan bentuk fisik tubuhnya. Tapi ketemunya malah dari suaranya. Memang jalan hidup kadang misterius. Seketika terbayang tubuh putih mulus dan sexy itu dalam keadaan telanjang bulat. Ehh, tapi tunggu dulu! Gue harus 100% yakin dulu sebelum bertindak. Apalagi gue udah diancam sama Pak Rahman. Kalo sampe salah sasaran, bisa mampus gua. Dari wajah, gua nggak terlalu pasti apakah ini orangnya. Tapi dari suara gua hampir 100% yakin kalo dia orangnya. Ahh, ya, kenapa ga gua rekam aja suaranya trus gua bandingin?
Lalu ia mengambil handphone itu dan mengaktifkannya untuk merekam suara setelah itu dibawanya keluar.
“Eehh, maaf saya nggak liat buku seperti itu. Mungkin terselip di tempat lain. Saya cari dulu ya. Kamu anak kelas berapa dan nama kamu siapa? Nanti kalo ketemu saya antar kesana.”
“Nama saya Liani. Saya kelas 3 IPA 1. Saya duduk di baris kedua meja ketiga,” kata Liani.
Saat itu Liani melihat handphone yang dipegang Rohim itu. Ia tertegun beberapa saat. Ia tahu handphone itu modelnya sama persis dengan yang dipake Darsono waktu itu. Seketika muncul perasaan waswas dalam dirinya, kalau-kalau Darsono akan segera menghubunginya untuk memaksanya melakukan sesuatu yang tak diinginkannya. Rohim memandang Liani yang sedang dalam keadaan ‘hang’ sejenak itu. Liani rupanya tersadar kalau pesuruh sekolah yang menggantikan Pak Sarip itu memperhatikan dirinya yang melamun sejenak. Tiba-tiba ia balik menatap ke Rohim dan berkata,”
“OK, nanti kalo sudah ketemu, tolong antarkan ke kelas ya,” kata Liani sambil melanjutkan,”Terima kasih,” lalu ia berbalik pergi.
“Tunggu dulu, apa ada tanda-tanda khusus di buku kamu?” tanya Rohim sengaja untuk menambah “data” buat analisanya ntar.
“Ada nama saya di halaman depannya,” kata Liani.
“Ok, nanti saya cari dan kalo sudah ketemu saya antar.”
“Terima kasih.”
“Oh, terima kasih sama-sama,” kata Rohim seolah ia yang mendapat pertolongan.
Lalu Liani membalikkan badan dan berjalan menjauhinya.
“Eehh, maaf saya nggak liat buku seperti itu. Mungkin terselip di tempat lain. Saya cari dulu ya. Kamu anak kelas berapa dan nama kamu siapa? Nanti kalo ketemu saya antar kesana.”
“Nama saya Liani. Saya kelas 3 IPA 1. Saya duduk di baris kedua meja ketiga,” kata Liani.
Saat itu Liani melihat handphone yang dipegang Rohim itu. Ia tertegun beberapa saat. Ia tahu handphone itu modelnya sama persis dengan yang dipake Darsono waktu itu. Seketika muncul perasaan waswas dalam dirinya, kalau-kalau Darsono akan segera menghubunginya untuk memaksanya melakukan sesuatu yang tak diinginkannya. Rohim memandang Liani yang sedang dalam keadaan ‘hang’ sejenak itu. Liani rupanya tersadar kalau pesuruh sekolah yang menggantikan Pak Sarip itu memperhatikan dirinya yang melamun sejenak. Tiba-tiba ia balik menatap ke Rohim dan berkata,”
“OK, nanti kalo sudah ketemu, tolong antarkan ke kelas ya,” kata Liani sambil melanjutkan,”Terima kasih,” lalu ia berbalik pergi.
“Tunggu dulu, apa ada tanda-tanda khusus di buku kamu?” tanya Rohim sengaja untuk menambah “data” buat analisanya ntar.
“Ada nama saya di halaman depannya,” kata Liani.
“Ok, nanti saya cari dan kalo sudah ketemu saya antar.”
“Terima kasih.”
“Oh, terima kasih sama-sama,” kata Rohim seolah ia yang mendapat pertolongan.
Lalu Liani membalikkan badan dan berjalan menjauhinya.
Rohim memandang Liani yang berjalan menjauhinya. Baju seragamnya yang
rapi di dalam roknya. Pinggangnya yang ramping. Pinggulnya nampak agak
menonjol dibalik rok seragamnya yang rapi. Di balik baju seragam
putihnya yang tipis dan agak tembus pandang, nampak tali bra warna
coklat muda melintang di horizontal di punggungnya serta di bahunya.
Rambutnya yang panjang diputar-putar dan diikat dengan karet rambut
sehingga nampak pendek. Tampak jelas lehernya yang putih dan anak-anak
rambut yang halus yang menempati diantara leher dan kepalanya. WoW!
Begitu putih dan begitu sexy, batinnya. Seperginya Liani, pikirannya
masih terbayang akan dua hal dari diri Liani yang dilihatnya dari
pertemuan singkat barusan: Wajah Liani yang cantik dan polos yang sedang
tersenyum manis serta dadanya yang menonjol di balik baju seragam dan
bra coklat muda yang sempat diliriknya. Saat ia membayangkan keduanya
digabung seketika penisnya langsung mengeras.
Cut! Cut! Sekarang bukan waktunya mikirin gituan. Sekarang waktunya untuk bekerja!
Kini ia larut dalam analisa penyelidikannya. Dibandingkannya suara rekaman yang baru dibuatnya dengan yang sudah ada dan diputarnya berulang-ulang sampai benar-benar yakin. Lalu dibayangkannya wajah Liani yang barusan dilihatnya dengan yang ada di handphone itu. Hasil analisanya, bentuk bibir, hidung, dan pipinya serta raut wajahnya tidak ada yang bertentangan dengan wajah cewek yang ada di handphone itu (saat matanya ditutup). Justru yang matanya terbuka malah susah untuk dibandingkan (karena sudut pengambilannya nggak pas, posisi kamera yang bergoyang-goyang, juga pada saat itu ekspresi wajah Liani tidak seperti biasanya karena berbagai macam pikiran dan emosi berkecamuk di dalam dirinya). Sementara tubuhnya yang di dalam handphone terlihat jelas telanjang bulat itu malah tak bisa dipakai sama sekali untuk alat perbandingan, karena data yang ada tidak mencukupi. Hmm, untuk yang ini harus melalui penyelidikan yang tuntas dan menyeluruh serta eksplorasi jengkal demi jengkal dan harus memakan waktu cukup lama, pikirnya. Biarlah sisakan yang ini untuk nanti saja. Namun secara garis besar, bentuk tubuh Liani sungguh masuk akal kalau disamakan dengan cewek yang di handphone itu.. Selain itu, ia juga memperhatikan reaksi Liani yang tiba-tiba melamun saat melihat handphone di tangannya itu, sepertinya ada sesuatu yang mengganggu hatinya.
Kini ia larut dalam analisa penyelidikannya. Dibandingkannya suara rekaman yang baru dibuatnya dengan yang sudah ada dan diputarnya berulang-ulang sampai benar-benar yakin. Lalu dibayangkannya wajah Liani yang barusan dilihatnya dengan yang ada di handphone itu. Hasil analisanya, bentuk bibir, hidung, dan pipinya serta raut wajahnya tidak ada yang bertentangan dengan wajah cewek yang ada di handphone itu (saat matanya ditutup). Justru yang matanya terbuka malah susah untuk dibandingkan (karena sudut pengambilannya nggak pas, posisi kamera yang bergoyang-goyang, juga pada saat itu ekspresi wajah Liani tidak seperti biasanya karena berbagai macam pikiran dan emosi berkecamuk di dalam dirinya). Sementara tubuhnya yang di dalam handphone terlihat jelas telanjang bulat itu malah tak bisa dipakai sama sekali untuk alat perbandingan, karena data yang ada tidak mencukupi. Hmm, untuk yang ini harus melalui penyelidikan yang tuntas dan menyeluruh serta eksplorasi jengkal demi jengkal dan harus memakan waktu cukup lama, pikirnya. Biarlah sisakan yang ini untuk nanti saja. Namun secara garis besar, bentuk tubuh Liani sungguh masuk akal kalau disamakan dengan cewek yang di handphone itu.. Selain itu, ia juga memperhatikan reaksi Liani yang tiba-tiba melamun saat melihat handphone di tangannya itu, sepertinya ada sesuatu yang mengganggu hatinya.
Ia menulis di secarik kertas hasil kesimpulan analisanya.
Hasil analisa:
Suara : persis (probabilitas: 100%)
Wajah : tidak ada yang menyimpang (probabilitas: 90%)
Wajah : tidak ada yang menyimpang (probabilitas: 90%)
Bentuk tubuh : sesuai (probabilitas: 80%)
Catatan penting lainnya:
1. Reaksi Liani saat melihat handphone sungguh aneh. Apakah ia teringat kalau itu adalah handphone yang digunakan untuk merekam dirinya?
2. Liani sungguh cewek yang sexy dan menggairahkan!
1. Reaksi Liani saat melihat handphone sungguh aneh. Apakah ia teringat kalau itu adalah handphone yang digunakan untuk merekam dirinya?
2. Liani sungguh cewek yang sexy dan menggairahkan!
Kesimpulan: cewek di handphone itu adalah: Liani!
Baru saat itu ia menyadari kalau pencariannya berdasarkan wajah dan
tubuh, memang sukar untuk menemukan orangnya. Wajah dan tubuh itu baru
bisa dipakai sebagai bukti pendukung untuk mencocokkan setelah orangnya
ditemukan. Jadi selama ini ia mencari dengan cara yang salah, tak heran
kalau ia tak bisa menemukannya. Namun satu hal yang masih membuatnya
terheran-heran adalah, cewek itulah yang “menemukan” dirinya, bukan
dirinya yang menemukan cewek itu. Kini setelah analisanya menunjukkan
hasil positif, ia memikirkan cara yang aman namun ampuh untuk memancing
Liani. Setelah mendapat ancaman dua kali, kini ia harus extra hati-hati.
Akhirnya muncullah ide bagus yang diilhami oleh film yang pernah
ditontonnya. Ia tersenyum puas dengan idenya itu. Setelah mempersiapkan
segala sesuatunya, ia buru-buru menuju ke kelas Liani.. Namun, ia
terlambat. Karena Liani tak ada disitu dan sebagian besar murid telah
meninggalkan kelas. Ia terlalu lama dalam proses analisanya sehingga jam
pulang sekolah telah lewat 5 menit. Ia mencoba mencarinya di halaman
sekolah, namun tak terlihat adanya Liani disana. Memang saat itu Liani
langsung pulang ke rumah dengan mengendarai mobilnya. Sungguh kecewa
dirinya. Namun ia menepis keinginan untuk melihat tubuh telanjang di
handphone itu. Gua nggak akan lihat itu lagi. Karena sekarang, I want to
see the REAL THINGS! Apalagi sore itu ia mendapat informasi kalau cewek
yang bernama Liani itu adalah cewek favorit dan siswi teladan di
sekolah itu. Biarlah gua tunggu hari Senin aja, pikirnya. Malamnya,
untuk menambah efek dramatis, ia pergi ke toko buku membeli buku yang
mirip seperti yang dideskripsikan Liani tadi.
—@@@@@@@—–
Namun rupanya kadang untung bisa datang tanpa diduga-duga. Rohim tak
perlu menunggu terlalu lama sampai hari Senin. Karena keesokan harinya,
hari Sabtu pagi, ia melihat Liani datang ke sekolah dan segera bergabung
dengan beberapa temannya. Rupanya hari itu ada kegiatan informal atau
sekedar kumpul-kumpul karena semuanya berpakaian bebas. Seketika penis
Rohim menegang saat melihat Liani. Bukan, bukan disebabkan karena
pakaian Liani terlalu sexy. Malah sebaliknya pakaian yang dikenakannya
hari itu termasuk konservatif atau paling tidak biasa saja untuk ukuran
jaman sekarang. Liani memakai rok warna putih yang panjangnya beberapa
senti diatas lutut. Sementara atasannya kaus berlengan yang
bergaris-garis horizontal. Kausnya itu menempel di tubuhnya tapi tak
terlalu ketat juga tak terlalu longgar. Bagian dadanya nampak menonjol
dibalik bra warna biru tua (tak terlihat dari luar) dengan tali di kedua
bahunya. Rambutnya digulung naik ke atas seperti hari sebelumnya,
nampak seolah cewek itu berambut pendek. Ia menegang karena membayangkan
meskipun cewek itu saat itu memakai pakaian yang tertutup dan sopan,
namun ia mempunyai senjata untuk membuat cewek itu bersedia menanggalkan
seluruh pakaiannya di hadapannya. Sungguh suatu hal yang luar biasa,
melihat cewek baik-baik yang semula berpakaian tertutup dan sopan sampai
akhirnya telanjang bulat tanpa mengenakan apa-apa. Apalagi mengingat
perbedaan status diantara dirinya dan cewek itu. Cewek itu adalah cewek
populer di sekolah itu karena memang cakep dan sexy dan dari keluarga
kaya. Sementara ia adalah orang rendahan, cuma pengganti pesuruh
sekolah. Tampangnya juga nggak bisa dibilang cakep. Sungguh kontras
sekali perbedaan diantara keduanya. Namun ia memiliki kartu as yang
bakal membuat cewek populer dan beberapa tingkat di atas kelasnya itu
bakalan bertekuk lutut. Begitulah pikiran cowok. Semakin tinggi ia
memandang seorang cewek, semakin puas hatinya kalau ia bisa menikmati
tubuhnya.
Dengan sabar Rohim menunggu kesempatan untuk bisa memberikan sesuatu
kepada Liani. Ia menunggu saat yang pas dimana tak ada orang lain di
dekatnya. Ia tak perlu waktu lama. Cukup beberapa menit saja. Karena itu
ia juga tak perlu terburu-buru. Apalagi saat melihat Liani pagi ini, ia
merasa yakin tidak lewat hari ini semua jerih payahnya akan berujung
kepada hasil yang sangat manis. Sungguh nasib Rohim betul-betul
beruntung pagi itu. Mungkin dewi fortuna berpihak kepadanya karena
segala usaha yang telah ia lakukan selama ini. Karena tak lama kemudian,
keluarlah Liani seorang diri menuju ke kamar kecil. Rohim sengaja
membiarkan cewek itu masuk ke kamar kecil. Biarlah ia menyelesaikan
urusannya dulu. Tak perlu terburu-buru. Buat apa terburu-buru kalau
segala sesuatunya sudah pasti ada di tangan. Begitulah sikap orang yang
percaya diri. Tak perlu terburu-buru! Apakah Rohim akan menyergap Liani
begitu pintu kamar mandi dibuka lalu dikuncinya dari dalam supaya ia
bisa memperkosanya? Tentu tidak! Pertama, ia bukan tipe pemerkosa yang
suka menggunakan kekerasan. Kedua, ia memegang kartu as jadi buat apa
menggunakan kekerasan kalau segala sesuatu bisa didapatkan dengan cara
halus? Ketiga, sekalipun ia ingin memperkosa dengan cara seperti itu,
kemungkinan berhasilnya sangat kecil. Karena seseorang yang sedang
terancam pasti akan melawan habis-habisan. Dan sekali cewek itu
berteriak, habislah sudah. Lagipula, siapa tahu kalau saat ini ada orang
yang diam-diam telah mengawasi tindak-tanduknya. Oleh karena itu, tak
perlu terburu-buru. Toh semuanya juga sudah digariskan.
Beberapa menit kemudian, keluarlah Liani dari kamar mandi itu. Saat
itu terdengar suara yang datang dari samping memanggil namanya. Suara
yang tak terlalu keras namun mantap.
“Liani.”
Liani menoleh ke samping, ternyata pesuruh sekolah pengganti Pak Sarip yang ditemui kemarin itu.
“Ya, ada apa?” tanyanya heran, kenapa orang itu memanggil dirinya.
“Saya mau mengembalikan ini, buku kamu,” kata Rohim.
“Oh, itu bukan buku saya. Buku saya nggak seperti itu. Lagi pula buku itu sudah dikembalikan. Ternyata terbawa oleh teman saya,” kata Liani sambil berjalan meninggalkan Rohim.
“Tapi coba tolong pastikan dulu. Paling tidak buka halaman pertama untuk memastikan kalau ini bukan buku kamu. Maaf, ini adalah bagian dari tugas saya,” kata Rohim.
Liani sungguh yakin bahwa itu bukan bukunya. Karena bukunya secara tak sengaja terbawa oleh Cindy, teman sekelasnya, dan sudah dikembalikan. Namun kalau cuma sekedar melihat halaman pertama saja, ya nggak masalah, pikirnya.
Secara sambil lalu diambilnya buku itu dan dibukanya.
Saat dibuka, ternyata ada tulisan besar dengan spidol merah:
“Liani.”
Liani menoleh ke samping, ternyata pesuruh sekolah pengganti Pak Sarip yang ditemui kemarin itu.
“Ya, ada apa?” tanyanya heran, kenapa orang itu memanggil dirinya.
“Saya mau mengembalikan ini, buku kamu,” kata Rohim.
“Oh, itu bukan buku saya. Buku saya nggak seperti itu. Lagi pula buku itu sudah dikembalikan. Ternyata terbawa oleh teman saya,” kata Liani sambil berjalan meninggalkan Rohim.
“Tapi coba tolong pastikan dulu. Paling tidak buka halaman pertama untuk memastikan kalau ini bukan buku kamu. Maaf, ini adalah bagian dari tugas saya,” kata Rohim.
Liani sungguh yakin bahwa itu bukan bukunya. Karena bukunya secara tak sengaja terbawa oleh Cindy, teman sekelasnya, dan sudah dikembalikan. Namun kalau cuma sekedar melihat halaman pertama saja, ya nggak masalah, pikirnya.
Secara sambil lalu diambilnya buku itu dan dibukanya.
Saat dibuka, ternyata ada tulisan besar dengan spidol merah:
I KNOW WHAT YOU DID LAST MONTH!…DI GUDANG TUA ITU!
Ia tersentak kaget melihatnya. Mukanya seketika pucat pasi. “Lho, apa ini?” tanyanya dengan gemetar.
“Ah, itu khan sekedar tulisan di dalam buku ini. Kalau bukan buku kamu, mungkin milik orang lain,” kata Rohim dengan tenang sambil mengambil buku itu.
“Tunggu,” kata Liani, “Memang kamu ini siapa? Dan siapa yang menyuruh kamu?”
“Saya adalah saya sendiri,” kata Rohim seperti sengaja ingin mempermainkan cewek itu,”Tidak ada yang menyuruh saya. Dalam hal ini saya bekerja sendiri.. Walau untuk pekerjaan lain saya biasa disuruh oleh Pak Suwanto. Karena, seperti yang kamu tahu, saya ini khan pesuruh sekolah.
“Lalu apa mau kamu?” tanya Liani yang sudah mulai bisa mengendalikan dirinya.
“Hehehe, ada sih. Tapi nggak disini. Mending kamu ke tempat saya sekarang. Tahu khan tempatnya? Dan sebaiknya kamu datang sendirian. Kalau tidak, nanti bisa ada hal yang tak seharusnya diketahui orang jadi diketahui orang. Mengerti khan maksud saya?” kata Rohim.
“Kamu juga sendirian?” tanya Liani, sepertinya ia masih trauma dengan kejadian waktu itu.
“Tentu. Buat apa dibagi ke orang lain kalo semuanya bisa didapat sendiri,” kata Rohim tersenyum penuh arti.
“Tapi kamu jangan kuatir. Handphone itu aman di tangan saya, hanya saja ada harga yang mesti dibayar untuk menebusnya. Dan saya juga tidak sejahat Dharsono,” kata Rohim.
“OK, sebentar lagi saya kesana. Beri saya waktu paling lama 30 menit sampai pertemuan selesai,” kata Liani buru-buru sambil menoleh ke kiri kanan. Ia tak mau orang ini terlalu banyak bicara dan ada orang lain yang mendengarkan. Saat itu tidak ada orang lain di dekat mereka yang bisa mendengarnya.
“OK, saya tunggu,” kata Rohim sambil berjalan ke arah belakang. Sementara Liani juga berjalan kembali ke tempat pertemuannya. Apalagi saat itu ia melihat kedua temannya, Henny dan Fanny, baru muncul dari belokan dan berjalan menuju ke arahnya.
“Ah, itu khan sekedar tulisan di dalam buku ini. Kalau bukan buku kamu, mungkin milik orang lain,” kata Rohim dengan tenang sambil mengambil buku itu.
“Tunggu,” kata Liani, “Memang kamu ini siapa? Dan siapa yang menyuruh kamu?”
“Saya adalah saya sendiri,” kata Rohim seperti sengaja ingin mempermainkan cewek itu,”Tidak ada yang menyuruh saya. Dalam hal ini saya bekerja sendiri.. Walau untuk pekerjaan lain saya biasa disuruh oleh Pak Suwanto. Karena, seperti yang kamu tahu, saya ini khan pesuruh sekolah.
“Lalu apa mau kamu?” tanya Liani yang sudah mulai bisa mengendalikan dirinya.
“Hehehe, ada sih. Tapi nggak disini. Mending kamu ke tempat saya sekarang. Tahu khan tempatnya? Dan sebaiknya kamu datang sendirian. Kalau tidak, nanti bisa ada hal yang tak seharusnya diketahui orang jadi diketahui orang. Mengerti khan maksud saya?” kata Rohim.
“Kamu juga sendirian?” tanya Liani, sepertinya ia masih trauma dengan kejadian waktu itu.
“Tentu. Buat apa dibagi ke orang lain kalo semuanya bisa didapat sendiri,” kata Rohim tersenyum penuh arti.
“Tapi kamu jangan kuatir. Handphone itu aman di tangan saya, hanya saja ada harga yang mesti dibayar untuk menebusnya. Dan saya juga tidak sejahat Dharsono,” kata Rohim.
“OK, sebentar lagi saya kesana. Beri saya waktu paling lama 30 menit sampai pertemuan selesai,” kata Liani buru-buru sambil menoleh ke kiri kanan. Ia tak mau orang ini terlalu banyak bicara dan ada orang lain yang mendengarkan. Saat itu tidak ada orang lain di dekat mereka yang bisa mendengarnya.
“OK, saya tunggu,” kata Rohim sambil berjalan ke arah belakang. Sementara Liani juga berjalan kembali ke tempat pertemuannya. Apalagi saat itu ia melihat kedua temannya, Henny dan Fanny, baru muncul dari belokan dan berjalan menuju ke arahnya.
“Ada apa kok tadi gua liat lu ngobrol dengan pesuruh sekolah itu?” tanya Fanny.
“Iya, dia balikin buku gua ini,” kata Liani.
“Ooh, makanya gua heran, koq lu bisa-bisanya ngobrol sama orang itu,” kata Henny.
“Iya, apalagi gua denger dia pernah ditegur sama Pak Rahman, gara-gara ketauan suka ngeliatin cewek-cewek disini,” kata Fanny.
“Iiih, amit-amit dah,” kata Henny bergidik,” Tapi dia kaga ngapa-ngapain lu khan?”
“Ya nggak lah. Cuman ngasih buku dan ngomong bentar untuk mastiin ini buku gua. Abis itu lu datang ini.”
“Ya ok lah kalo gitu. Eh, anak-anak pada mau makan bareng trus nonton katanya. Lu bisa ikut khan?” kata Henny.
“Wah sorry deh, hari ini gua nggak bisa deh. Ada urusan penting,” kata Liani,” Ntar gua bilang juga ke anak-anak deh.”
“Idiih. Urusan penting nih yee. Jangan-jangan teman kita ini diam-diam sudah ada yang nemenin malem mingguan lagi,” kata Fanny menggodanya.
“Ngaco ah lu. Gua mesti ke tempat saudara gua lagi,” kata Liani. Ia memang tak berbohong dalam hal ini. Tetapi itu adalah untuk malam hari, bukan sekarang.
—@@@@@@@—–
“Iya, dia balikin buku gua ini,” kata Liani.
“Ooh, makanya gua heran, koq lu bisa-bisanya ngobrol sama orang itu,” kata Henny.
“Iya, apalagi gua denger dia pernah ditegur sama Pak Rahman, gara-gara ketauan suka ngeliatin cewek-cewek disini,” kata Fanny.
“Iiih, amit-amit dah,” kata Henny bergidik,” Tapi dia kaga ngapa-ngapain lu khan?”
“Ya nggak lah. Cuman ngasih buku dan ngomong bentar untuk mastiin ini buku gua. Abis itu lu datang ini.”
“Ya ok lah kalo gitu. Eh, anak-anak pada mau makan bareng trus nonton katanya. Lu bisa ikut khan?” kata Henny.
“Wah sorry deh, hari ini gua nggak bisa deh. Ada urusan penting,” kata Liani,” Ntar gua bilang juga ke anak-anak deh.”
“Idiih. Urusan penting nih yee. Jangan-jangan teman kita ini diam-diam sudah ada yang nemenin malem mingguan lagi,” kata Fanny menggodanya.
“Ngaco ah lu. Gua mesti ke tempat saudara gua lagi,” kata Liani. Ia memang tak berbohong dalam hal ini. Tetapi itu adalah untuk malam hari, bukan sekarang.
—@@@@@@@—–
Kira-kira dua puluh menit kemudian, suasana di sekolah itu menjadi
sepi. Karena murid-murid tadi telah meninggalkan sekolah. Sementara
Liani memastikan semua temannya telah pergi dan tidak ada orang yang
melihatnya, setelah itu ia berjalan ke belakang menuju ke rumah Pak
Sarip. Hatinya berdebar-debar. Entah apa yang akan terjadi setelah ini,
pikirnya. Sesampai di depan pintu rumah kecil itu, tiba-tiba pintu itu
terbuka. Rupanya Rohim telah siap menunggunya. Liani melihat sekeliling,
memastikan tidak ada orang sama sekali. Bahkan Rohim pun juga melakukan
hal yang sama, memastikan tidak ada orang sama sekali. Setelah itu
masuklah Liani ke dalam rumah kecil itu. Rumah Pak Sarip memang kecil,
hanya satu ruangan yang menyatu semuanya. Dan disitu terlihat sama
sekali tak ada orang. Di dalam ruangan itu ada dua bangku sofa yang
saling tegak lurus di depan meja kecil. Rupanya sofa itu ber-dwifungsi
sebagai ranjang tempat tidur. Karena tak ada ranjang tempat tidur
disitu. Mereka berdua duduk di dua bangku yang berbeda. Masing-masing
duduk di bagian tengah bangku. Liani duduk sambil menyilangkan kaki
kanannya diatas kaki kirinya dan menempelkan kaki kirinya di dudukan
sofa. Dari sudut pandang Rohim, sebagian kecil pahanya terlihat karena
roknya yang beberapa senti diatas lutut. Tak lepas juga dari
perhatiannya, dadanya yang menonjol dan rambutnya yang ternyata digulung
seperti yang dilihatnya kemarin. Rohim saat itu memakai kaus biasa dan
celana jeans. Ia duduk dengan kedua kaki terbuka.
“OK, langsung aja,” kata Liani, “Apa yang kamu tahu sebenarnya dan kamu mau apa?”
“Sebelum kesana, perkenalkan dulu, nama gua Rohim. Gua keponakan Pak Sarip. Rasanya lu perlu tahu dulu nama gua sebelum melangkah lebih jauh ke hal yang lain,” kata Rohim seperti menyindir kejadian di gudang tua waktu itu.
“OK,” kata Liani dengan suara tenang namun mukanya agak memerah,”Sekarang silakan diteruskan.”
“Gua dapet ini,” kata Rohim mengeluarkan handphone itu dari saku celananya,”Ini handphone harganya cukup mahal tapi waktu diliat isinya, ternyata isinya jauh lebih berharga dibanding handphone-nya sendiri.”
“OK, langsung aja,” kata Liani, “Apa yang kamu tahu sebenarnya dan kamu mau apa?”
“Sebelum kesana, perkenalkan dulu, nama gua Rohim. Gua keponakan Pak Sarip. Rasanya lu perlu tahu dulu nama gua sebelum melangkah lebih jauh ke hal yang lain,” kata Rohim seperti menyindir kejadian di gudang tua waktu itu.
“OK,” kata Liani dengan suara tenang namun mukanya agak memerah,”Sekarang silakan diteruskan.”
“Gua dapet ini,” kata Rohim mengeluarkan handphone itu dari saku celananya,”Ini handphone harganya cukup mahal tapi waktu diliat isinya, ternyata isinya jauh lebih berharga dibanding handphone-nya sendiri.”
Gaya bicara Rohim kini berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Sekarang
jadi lebih berani dan tanpa sungkan-sungkan. Mungkin dipikirnya, buat
apa bicara sungkan-sungkan lagi, toh sebentar lagi bakalan intim. Muka
Liani jadi berubah melihat handphone di tangan Rohim itu.
“Gua bersedia menyerahkan isi dalamnya, tapi harus dengan harga yang pantas,” kata Rohim,” Dan Harga yang pantas menurut gua adalah..
“Sebentar, sebelum kesana, bagaimana handphone ini bisa jatuh di tangan lu? Apakah lu kaki tangan Darsono?”
“Bukan. Gua dapet ini karena gua rampas dari dia. Dia adalah musuh gua. Sekarang mungkin dia masih di rumah sakit.”
“Kapan lu dapet handphone itu?”
“Gua dapetnya tak lama setelah beberapa foto dan video dibikin didalamnya. Dia mengalami nasib sial bertemu dengan kita setelah sebelumnya sepertinya ia melakukan kegiatan yang sangat menguras tenaga,” kata Rohim menyindir lagi.
Muka Liani jadi memerah mendengarnya.
“Jadi lu langsung mengambilnya hari itu juga?”
“Betul,” kata Rohim.
“Lalu siapa aja yang pernah ngeliat isinya?” tanyanya dengan bergetar.
“Dalam hal ini, lu betul-betul beruntung, karena nggak ada seorang pun yang tahu kalo gua punya handphone ini.”
“Oh,” terdengar napas lega dari Liani. Sungguh ia merasa beruntung dengan semua hal ini. Sekarang ia telah siap membicarakan transaksi pokoknya.
“Tadi lu bilang bersedia menyerahkan isinya dengan harga yang pantas. Memang apa harga yang pantas itu?” tanya Liani dengan tenang.
“Gua bersedia menyerahkan isi dalamnya, tapi harus dengan harga yang pantas,” kata Rohim,” Dan Harga yang pantas menurut gua adalah..
“Sebentar, sebelum kesana, bagaimana handphone ini bisa jatuh di tangan lu? Apakah lu kaki tangan Darsono?”
“Bukan. Gua dapet ini karena gua rampas dari dia. Dia adalah musuh gua. Sekarang mungkin dia masih di rumah sakit.”
“Kapan lu dapet handphone itu?”
“Gua dapetnya tak lama setelah beberapa foto dan video dibikin didalamnya. Dia mengalami nasib sial bertemu dengan kita setelah sebelumnya sepertinya ia melakukan kegiatan yang sangat menguras tenaga,” kata Rohim menyindir lagi.
Muka Liani jadi memerah mendengarnya.
“Jadi lu langsung mengambilnya hari itu juga?”
“Betul,” kata Rohim.
“Lalu siapa aja yang pernah ngeliat isinya?” tanyanya dengan bergetar.
“Dalam hal ini, lu betul-betul beruntung, karena nggak ada seorang pun yang tahu kalo gua punya handphone ini.”
“Oh,” terdengar napas lega dari Liani. Sungguh ia merasa beruntung dengan semua hal ini. Sekarang ia telah siap membicarakan transaksi pokoknya.
“Tadi lu bilang bersedia menyerahkan isinya dengan harga yang pantas. Memang apa harga yang pantas itu?” tanya Liani dengan tenang.
“Gua langsung to the point aja. Sorry kalo nggak sopan. Gua akan
serahin isi handphone ini ke lu sekarang asalkan lu ngasih uang 5 juta
ke gua plus gua minta pelayanan khusus sama seperti yang ada di dalam
sini,” kata Rohim mengangkat handphone itu. “Lu ngerti khan maksud gua,”
kata Rohim sambil mengedipkan matanya,” Mengenai uang, gua yakin bagi
lu itu hal kecil. Jadi kalo lu ga bawa uang segitu, lu bisa ngasih
setelah ini. Tapi untuk yang “itu” gua minta pembayarannya” sekarang
juga. Setelah itu baru gua kasih handphone-nya ke lu. Setelah itu, tak
ada hutang piutang diantara kita. Gimana, fair khan?”
“Hah?! Mengenai uang nggak ada masalah. Tapi keterlaluan kalo lu minta “itu”,” sergah Liani,”Gua kasih dobel deh uangnya.”
“Wah, sorry, hehehehe. Ada hal-hal tertentu yang nggak bisa diukur dengan uang. Dan “itu” adalah satu contohnya,” kata Rohim.
“Yah, tapi, tapi…, mana bisa begini. Lu khan pesuruh sekolah. Masa gua mesti “begituan” sama pesuruh sekolah?”
“Memang pesuruh sekolah ga boleh pengin sama murid yang cakep kaya lu gini? Gua khan juga cowok normal, hehehe. Wajar dong kalo gua napsu sama lu yang putih bening gini,” kata Rohim sambil memajukan badannya supaya tangannya bisa menyentuh ke paha cewek itu.
“Lagian kapan lagi gua dapat kesempatan bagus kayak gini, hehehe,” kata Rohim sambil mengusap-usap paha cewek itu.
Namun bagaimana pun bagi Liani hal itu merupakan suatu penghinaan untuk melakukan hubungan intim dengan pesuruh sekolahan. Rohim sepertinya bisa membaca pikiran cewek itu. “Memang dalam satu peristiwa, ada yang merasa terhina, tapi ada yang merasa terhormat. Kalo disatuin, jadi impas khan? Hehehe. Lagian, lu mesti sadar dengan posisi lu sekarang.”
“Hah?! Mengenai uang nggak ada masalah. Tapi keterlaluan kalo lu minta “itu”,” sergah Liani,”Gua kasih dobel deh uangnya.”
“Wah, sorry, hehehehe. Ada hal-hal tertentu yang nggak bisa diukur dengan uang. Dan “itu” adalah satu contohnya,” kata Rohim.
“Yah, tapi, tapi…, mana bisa begini. Lu khan pesuruh sekolah. Masa gua mesti “begituan” sama pesuruh sekolah?”
“Memang pesuruh sekolah ga boleh pengin sama murid yang cakep kaya lu gini? Gua khan juga cowok normal, hehehe. Wajar dong kalo gua napsu sama lu yang putih bening gini,” kata Rohim sambil memajukan badannya supaya tangannya bisa menyentuh ke paha cewek itu.
“Lagian kapan lagi gua dapat kesempatan bagus kayak gini, hehehe,” kata Rohim sambil mengusap-usap paha cewek itu.
Namun bagaimana pun bagi Liani hal itu merupakan suatu penghinaan untuk melakukan hubungan intim dengan pesuruh sekolahan. Rohim sepertinya bisa membaca pikiran cewek itu. “Memang dalam satu peristiwa, ada yang merasa terhina, tapi ada yang merasa terhormat. Kalo disatuin, jadi impas khan? Hehehe. Lagian, lu mesti sadar dengan posisi lu sekarang.”
Liani menggeser posisi duduknya menjauhi Rohim sehingga pahanya kini
terlepas dari rabaan tangannya, namun hal itu malah mengundang Rohim
untuk berdiri dan pindah duduk di sampingnya.
“Iih, lu malu-malu deh, katanya sambil menjawil dagu Liani.
“Eh, apa-apaan ini,” protesnya.
“Sudahh, lu jangan pura-pura deh. Gua udah liat aksi-aksi lu yang hot itu. Gua juga minta lu melakukan hal yang sama sekarang. Dan gua jamin deh,” kata Rohim sambil cengengesan, “Gua nggak kalah jrengg sama si bangsat Dharsono itu. Lu bakalan suka deh. Sama-sama enak kenapa nggak mau. Yukk”
“Ehh sebentar dulu,” kata Liani menghindar dari Rohim yang berusaha menciumnya.
“Lu janji cuma sekali ini ya.”
“Iya betul, cuma sekali ini. Plus uang 5 juta.”
“OK, plus uang 5 juta. Trus abis itu lu kasih handphone itu ke gua?”
“Ya betul.”
“Lalu gimana gua tahu kalo lu benar-benar megang barang bukti yang gua mau?”
“Lu ga percaya sama gua? OK, supaya lu ga penasaran, bentar gua tunjukin,” kata Rohim bangkit dari duduknya, mengambil handphone itu dari laci dan menyerahkannya ke Liani.
“Lu boleh cek dulu kalo ga percaya.”
Liani segera memegang handphone itu dan melihatnya sebentar. Wajahnya memerah, apalagi saat ia menjalankan video yang mengeluarkan suara desahannya. Ia buru-buru mengecilkan volumenya.
“Iih, lu malu-malu deh, katanya sambil menjawil dagu Liani.
“Eh, apa-apaan ini,” protesnya.
“Sudahh, lu jangan pura-pura deh. Gua udah liat aksi-aksi lu yang hot itu. Gua juga minta lu melakukan hal yang sama sekarang. Dan gua jamin deh,” kata Rohim sambil cengengesan, “Gua nggak kalah jrengg sama si bangsat Dharsono itu. Lu bakalan suka deh. Sama-sama enak kenapa nggak mau. Yukk”
“Ehh sebentar dulu,” kata Liani menghindar dari Rohim yang berusaha menciumnya.
“Lu janji cuma sekali ini ya.”
“Iya betul, cuma sekali ini. Plus uang 5 juta.”
“OK, plus uang 5 juta. Trus abis itu lu kasih handphone itu ke gua?”
“Ya betul.”
“Lalu gimana gua tahu kalo lu benar-benar megang barang bukti yang gua mau?”
“Lu ga percaya sama gua? OK, supaya lu ga penasaran, bentar gua tunjukin,” kata Rohim bangkit dari duduknya, mengambil handphone itu dari laci dan menyerahkannya ke Liani.
“Lu boleh cek dulu kalo ga percaya.”
Liani segera memegang handphone itu dan melihatnya sebentar. Wajahnya memerah, apalagi saat ia menjalankan video yang mengeluarkan suara desahannya. Ia buru-buru mengecilkan volumenya.
“Jadi gimana sekarang? Sudah percaya?” tanya Rohim sambil tersenyum-senyum.
Liani mengangguk, tapi lalu dia berkata,” Tapi bagaimana gua tahu kalo lu nggak bikin copy-nya?”
Tiba-tiba Rohim berubah serius,” Dengar Non, walaupun gua orang rendahan, tapi gua bukan tipe pemeras. Gua ga mau nyusahin orang, karena itu gua jamin kalau yang ada disini cuma satu-satunya. Setelah semuanya selesai, ini gua kasih ke lu. Ehm, mungkin gua cuma minta sekali lagi deh, katanya jujur.
“Jadi lu mintanya sekali atau dua kali?”
“Ehmm, sekarang ini plus satu kali lagi deh,” katanya cengengesan,” Tapi nggak lebih. Gua janji itu.”
“OK,” kata Liani sambil tersenyum sementara ia masih memegang dan memencet-mencet handphone itu. Ia percaya Rohim tak akan membuat copy-nya. Karena ia tahu Rohim bukan tipe pemeras seperti Dharsono. Ia mungkin mupeng abis dengannya tapi dia nggak akan sampai melakukan perbuatan yang bakal menghancurkan hidupnya seperti Dharsono. Selain itu, ia adalah tipe orang yang seandainya mencuri pun, masih ingat dengan takarannya. Diam-diam ia merasa beruntung bahwa handphone itu jatuh ke tangan Rohim. Kalau di tangan Dharsono atau orang lain, dirinya akan lebih susah. Tiba-tiba kini dirasakannya, melakukan hubungan intim dengan pesuruh sekolah ini sekali atau dua kali untuk menebus kebebasan dari pikiran khawatir seumur hidup sepertinya bukan sesuatu yang sangat berat. Apalagi, apalagi, apalagi…hmm, cowok ini kelihaannya “perkasa” juga.
Liani mengangguk, tapi lalu dia berkata,” Tapi bagaimana gua tahu kalo lu nggak bikin copy-nya?”
Tiba-tiba Rohim berubah serius,” Dengar Non, walaupun gua orang rendahan, tapi gua bukan tipe pemeras. Gua ga mau nyusahin orang, karena itu gua jamin kalau yang ada disini cuma satu-satunya. Setelah semuanya selesai, ini gua kasih ke lu. Ehm, mungkin gua cuma minta sekali lagi deh, katanya jujur.
“Jadi lu mintanya sekali atau dua kali?”
“Ehmm, sekarang ini plus satu kali lagi deh,” katanya cengengesan,” Tapi nggak lebih. Gua janji itu.”
“OK,” kata Liani sambil tersenyum sementara ia masih memegang dan memencet-mencet handphone itu. Ia percaya Rohim tak akan membuat copy-nya. Karena ia tahu Rohim bukan tipe pemeras seperti Dharsono. Ia mungkin mupeng abis dengannya tapi dia nggak akan sampai melakukan perbuatan yang bakal menghancurkan hidupnya seperti Dharsono. Selain itu, ia adalah tipe orang yang seandainya mencuri pun, masih ingat dengan takarannya. Diam-diam ia merasa beruntung bahwa handphone itu jatuh ke tangan Rohim. Kalau di tangan Dharsono atau orang lain, dirinya akan lebih susah. Tiba-tiba kini dirasakannya, melakukan hubungan intim dengan pesuruh sekolah ini sekali atau dua kali untuk menebus kebebasan dari pikiran khawatir seumur hidup sepertinya bukan sesuatu yang sangat berat. Apalagi, apalagi, apalagi…hmm, cowok ini kelihaannya “perkasa” juga.
Namun bagaimana pun ia adalah seorang gadis, dan sudah dari “sononya”
bagi cewek untuk mempertahankan kehormatannya. Sementara itu di dalam
handphone itu terdapat foto dan video dirinya dalam keadaan bugil dan
melakukan adegan seks. Tentu ia sangat berkepentingan untuk memusnahkan
informasi itu. Ia sedang berpikir mencari cara untuk itu, apakah ia akan
menghapus semuanya satu-satu? Ah, itu terlalu lama dan dia bisa curiga.
Atau harus membanting handphone itu sampai hancur ataukah menerobos
lari keluar dengan membawa handphone itu? Akan tetapi sepertinya Rohim
dapat membaca pikirannya. Karena ia berkata,”Seandainya lu mencoba kabur
dari sini, jangan dikira lu bisa keluar. Salah-salah malah lu gua
perkosa nanti. Lagian, lu tadi nggak ngeh, begitu lu masuk, pintu keluar
sudah gua gembok.”
Liani menoleh ke pintu tadi dan seketika dirinya menjadi lemas melihat ternyata memang benar ada gembok kecil dalam posisi terkunci. Untuk membukanya perlu kuncinya dan hanya Rohim yang memegang kuncinya. Sehingga kini tak ada jalan keluar sama sekali bagi dirinya.
“Hmmmm,” kata Liani menghela nafas.
“Kayaknya memang gua nggak ada pilihan lagi sekarang,” kata Liani menyerah sambil meletakkan handphone itu di meja kecil.
“Sepertinya memang begitu. I’m sorry for that,” kata Rohim dengan penuh simpatik. “
“Kalau sudah gini, tunggu apa lagi…” kata Liani lemah dan pasrah.
“Well, if you don’t mind…..” kata Rohim. Kadang kala Rohim juga tahu bagaimana bersikap sebagai seorang gentleman sejati di tengah aksinya sebagai seorang bajingan.
Liani menoleh ke pintu tadi dan seketika dirinya menjadi lemas melihat ternyata memang benar ada gembok kecil dalam posisi terkunci. Untuk membukanya perlu kuncinya dan hanya Rohim yang memegang kuncinya. Sehingga kini tak ada jalan keluar sama sekali bagi dirinya.
“Hmmmm,” kata Liani menghela nafas.
“Kayaknya memang gua nggak ada pilihan lagi sekarang,” kata Liani menyerah sambil meletakkan handphone itu di meja kecil.
“Sepertinya memang begitu. I’m sorry for that,” kata Rohim dengan penuh simpatik. “
“Kalau sudah gini, tunggu apa lagi…” kata Liani lemah dan pasrah.
“Well, if you don’t mind…..” kata Rohim. Kadang kala Rohim juga tahu bagaimana bersikap sebagai seorang gentleman sejati di tengah aksinya sebagai seorang bajingan.
Namun seorang bajingan tetaplah bajingan walaupun sesekali bersikap
gentleman. Karena setelah itu, tanpa sungkan-sungkan lagi segera
direngkuhnya cewek yang innocent namun sungguh merangsang itu, dan
diciumnya bibirnya.
“Mmmhhh.” Dilumatnya bibir cewek itu dengan penuh nafsu. Dijelajahinya seluruh bagian bibirnya.
“Mmmmhhhh.”
Sementara Liani hanya pasrah membiarkan bibirnya dilumat oleh Rohim, pengganti pesuruh sekolahnya itu namun juga bisa dikatakan penolongnya itu, tergantung dari sudut mana ngelihatnya. Matanya terpejam seolah tak ingin melihat cowok rendahan yang menciumi bibirnya itu atau mungkin agar bisa lebih menikmatinya? Entahlah. Lalu lidah Rohim dengan liar menari-nari di dalam mulut Liani dan saling beradu dengan lidah gadis itu. Sambil mereka berciuman, tangan Rohim segera meraba-raba tubuh Liani. Diraba-rabainya seluruh punggungnya yang masih tertutup rapat dan dirasakannya tali bra dibalik kausnya. Ah, sebentar lagi semua ini akan terlepas semua, batinnya. Kemudian tangannya mengalir ke kedua tangannya. Dirasakannya kulit tangan Liani yang putih mulus. Lalu ke pinggangnya, pahanya. Diraba-rabanya rok gadis itu, kemudian turun ke bawah menyentuh kulit tubuh gadis itu di bagian paha bawahnya. Sambil asyik menikmati seluruh jengkal bibir cewek itu, tangan Rohim asyik menggerayangi tubuh Liani. Tangannya yang kiri meraba-raba tubuh Liani, dari perut lalu naik ke atas sampai menyentuh payudaranya dan bergerak disekitar situ agak lama. Meraba-rabanya. Mengelus-elusnya. Yang kiri maupun yang kanan. Tangan kanannya menyusup masuk ke balik rok putihnya. Menyentuh kulit pahanya yang halus, meraba-rabainya, dari bagian bawah naik ke pangkalnya, dari bagian luar menuju ke bagian dalam. Sehingga kini tangan di balik rok itu mengelus-elus bagian dalam pangkal paha kiri dan kanan Liani. Merasakan betapa halus dan mulusnya paha itu….
“Mmmhhh.” Dilumatnya bibir cewek itu dengan penuh nafsu. Dijelajahinya seluruh bagian bibirnya.
“Mmmmhhhh.”
Sementara Liani hanya pasrah membiarkan bibirnya dilumat oleh Rohim, pengganti pesuruh sekolahnya itu namun juga bisa dikatakan penolongnya itu, tergantung dari sudut mana ngelihatnya. Matanya terpejam seolah tak ingin melihat cowok rendahan yang menciumi bibirnya itu atau mungkin agar bisa lebih menikmatinya? Entahlah. Lalu lidah Rohim dengan liar menari-nari di dalam mulut Liani dan saling beradu dengan lidah gadis itu. Sambil mereka berciuman, tangan Rohim segera meraba-raba tubuh Liani. Diraba-rabainya seluruh punggungnya yang masih tertutup rapat dan dirasakannya tali bra dibalik kausnya. Ah, sebentar lagi semua ini akan terlepas semua, batinnya. Kemudian tangannya mengalir ke kedua tangannya. Dirasakannya kulit tangan Liani yang putih mulus. Lalu ke pinggangnya, pahanya. Diraba-rabanya rok gadis itu, kemudian turun ke bawah menyentuh kulit tubuh gadis itu di bagian paha bawahnya. Sambil asyik menikmati seluruh jengkal bibir cewek itu, tangan Rohim asyik menggerayangi tubuh Liani. Tangannya yang kiri meraba-raba tubuh Liani, dari perut lalu naik ke atas sampai menyentuh payudaranya dan bergerak disekitar situ agak lama. Meraba-rabanya. Mengelus-elusnya. Yang kiri maupun yang kanan. Tangan kanannya menyusup masuk ke balik rok putihnya. Menyentuh kulit pahanya yang halus, meraba-rabainya, dari bagian bawah naik ke pangkalnya, dari bagian luar menuju ke bagian dalam. Sehingga kini tangan di balik rok itu mengelus-elus bagian dalam pangkal paha kiri dan kanan Liani. Merasakan betapa halus dan mulusnya paha itu….
Posisi Liani yang sebelumnya sedang duduk tegak tak bersandar di
sandaran sofa itu, kini jadi terdorong ke belakang oleh gerakan tubuh
Rohim yang cukup bernafsu itu. Sehingga kepalanya kini bersandar di
sandaran sofa itu. Namun saat itu tiba-tiba Liani melakukan gerakan maju
ke depan. Entah tak menyadari atau tak peduli kalau tangan kanan Rohim
waktu itu sedang menempel di pangkal pahanya. Akibatnya, saat ia
melakukan itu, tangan Rohim jadi menyentuh bagian vitalnya!
“Ahhhh” Liani jadi mengeluarkan seruan tertahan. Sungguh kebetulan bagi Rohim. Setelah itu, tentu tak disia-siakan olehnya. Tangan yang berada di dalam rok itu mulai menjelajahi sekitar vaginanya. Diraba-rabai celana dalam bagian bulu-bulu vaginanya. Lalu dipencet-pencetnya. Dirasakannya daerah disitu empuk-empuk. Pertanda bulu vaginanya cukup lebat. Sementara tangan yang satunya mulai meremas-remas payudaranya bergantian kiri dan kanan dengan lembut. Dari bulu vagina, tangannya berpindah ke bawah, tepat di tengah-tengah, persis di liang vaginanya!
“Ohhhh. Ohhhhhh. Ohhhhhh.”
Rohim kini berpindah menciumi leher Liani yang putih halus. Dirasakannya kulit lehernya yang halus dan mulus. Mmmmmh. Sungguh nikmat sekali menciumi leher putih itu. Apalagi rambutnya diikat keatas, sehingga nampak kelihatan rambut-rambut halus yang tumbuh di antara leher dan kepalanya itu. Liani yang semula pasif dan sepertinya agak tidak rela dirinya dinikmati oleh pesuruh sekolah itu, kini mulai bereaksi aktif. Mungkin menyadari tidak ada jalan keluar atau mungkin jadi terangsang akibat sentuhan-sentuhan Rohim. Dimajukan lagi tubuhnya ke depan. Rupanya ia ingin duduk di lantai. Kedua kakinya terbuka lebar. Lalu ia memeluk tubuh Rohim. Kemudian gilirannya menciumi bibir Rohim. Kedua tangannya memegang leher Rohim erat-erat. Sementara kedua tangan Rohim memeluk tubuh Liani erat-erat. Rohim pun membalas ciuman cewek itu. “Mmmmhh, mhhhhhhh, mmmhhhhh” mereka kini berciuman dengan hebat.
“Ahhhh” Liani jadi mengeluarkan seruan tertahan. Sungguh kebetulan bagi Rohim. Setelah itu, tentu tak disia-siakan olehnya. Tangan yang berada di dalam rok itu mulai menjelajahi sekitar vaginanya. Diraba-rabai celana dalam bagian bulu-bulu vaginanya. Lalu dipencet-pencetnya. Dirasakannya daerah disitu empuk-empuk. Pertanda bulu vaginanya cukup lebat. Sementara tangan yang satunya mulai meremas-remas payudaranya bergantian kiri dan kanan dengan lembut. Dari bulu vagina, tangannya berpindah ke bawah, tepat di tengah-tengah, persis di liang vaginanya!
“Ohhhh. Ohhhhhh. Ohhhhhh.”
Rohim kini berpindah menciumi leher Liani yang putih halus. Dirasakannya kulit lehernya yang halus dan mulus. Mmmmmh. Sungguh nikmat sekali menciumi leher putih itu. Apalagi rambutnya diikat keatas, sehingga nampak kelihatan rambut-rambut halus yang tumbuh di antara leher dan kepalanya itu. Liani yang semula pasif dan sepertinya agak tidak rela dirinya dinikmati oleh pesuruh sekolah itu, kini mulai bereaksi aktif. Mungkin menyadari tidak ada jalan keluar atau mungkin jadi terangsang akibat sentuhan-sentuhan Rohim. Dimajukan lagi tubuhnya ke depan. Rupanya ia ingin duduk di lantai. Kedua kakinya terbuka lebar. Lalu ia memeluk tubuh Rohim. Kemudian gilirannya menciumi bibir Rohim. Kedua tangannya memegang leher Rohim erat-erat. Sementara kedua tangan Rohim memeluk tubuh Liani erat-erat. Rohim pun membalas ciuman cewek itu. “Mmmmhh, mhhhhhhh, mmmhhhhh” mereka kini berciuman dengan hebat.
“Lu benar-benar cowok jantan!” kata Liani menatap mata Rohim sambil
mengalungkan kedua tangannya di leher cowok itu,” Gua benar-benar sukaaa
banget deh,” katanya sambil tersipu malu. Mendengar itu, Rohim terasa
bagaikan naik ke atas awang-awang! Cowok mana yang nggak besar hati
disebut cowok jantan oleh cewek cakep. Apalagi yang mengatakan itu
adalah siswi favorit sekolah sementara ia adalah pesuruh sekolah!
Sungguh bukan main rasanya! Sehingga kini ia jadi ingin lebih
menunjukkan kejantanannya kepada Liani! Segera direngkuhnya wajah Liani
yang dalam keadaan terduduk di lantai itu. Kembali diciuminya wajah ayu
itu, sementara Liani juga membalas ciuman Rohim. Kedua tangannya memeluk
punggung Rohim. Sampai akhirnya, bibir bertemu bibir, saling memagut
menjadi satu. Mereka berciuman dengan dahsyat, jauh lebih dahysat dari
sebelumnya. Liani sesekali membiarkan Rohim mendominasi dirinya, namun
kadang juga melayani kebuasannya. Bagaikan layang-layang yang tahu saat
menarik dan mengulur. Membuat Rohim semakin terangsang. Sungguh nikmat
sekali cewek satu ini! Tampangnya begitu polos, namun sungguh mampu
membuat cowok jantan (dirinya) tergila-gila dibuatnya! Dan ini masih
baru tahap pemanasan!! Pada saat cewek cakep memuji cowok setinggi
langit, pada saat itu sang cowok merasa di atas awang-awang. Seolah-olah
ia adalah manusia yang paling penting di dunia ini bagi cewek itu.
Namun di saat itu jugalah biasanya sang cowok menjadi lengah. Apabila
sang cewek ingin bertindak jahat atau melakukan tipu muslihat, saat
itulah yang paling tepat. Demikian pula pada saat sang cowok sedang
asyik menikmati cewek cakep apalagi cewek itu dianggapnya jauh lebih
tinggi dibanding dirinya dan merupakan suatu kebanggaan besar kalau bisa
menikmatinya, dan sang cewek menanggapinya sedemikian rupa sambil
memeluk punggungnya sampai cowok itu lupa segalanya. Seharusnya cowok
itu waspada terhadap cewek itu, karena ia tak tahu apa yang dilakukan
kedua tangan halus di balik punggungnya. Apabila sang cewek ingin
bertindak jahat atau melakukan tipu muslihat, saat itulah yang paling
tepat.
Bahkan menurut desas desus, Genghis Khan, sang penakluk yang gagah
perkasa dari bangsa Mongol itu, meninggal dunia gara-gara pendarahan
hebat yang dialami saat menyetubuhi seorang putri raja, yang berhasil
ditawan setelah kerajaannya berhasil dikalahkan dan dihancurkan. Kalau
memang betul, sungguh akhir yang tragis dari seorang yang tak
terkalahkan di medan perang. Demikian pula yang terjadi saat itu. Dikala
Rohim dengan penuh nafsu menciumi dan mendekap tubuh Liani, apalagi
mencium aroma tubuh cewek itu yang harum, ia tidak memperhatikan kalau
kedua tangan Liani sedang asyik melakukan sesuatu di balik punggungnya.
Dengan cekatan kedua tangan Liani melakukan itu namun ia tidak
menyadarinya sebelum semuanya terlambat. Apa yang dilakukan Liani? Tentu
Liani tidak akan membunuh atau melukai cowok itu. Ia bukan tipe cewek
berdarah dingin seperti itu. Lagipula sungguh tidak ada untungnya ia
melakukan itu. Karena bisa saja apa yang dikatakan kepada Rohim barusan
sungguh betul adanya. Kalau memang betul, tidakkah ia juga ingin
merasakan bagaimana kejantanan Rohim menembus ke dalam tubuhnya… sampai
tetes-tetes penghabisan? Pada saat Rohim sedang nafsu-nafsunya menciumi
Liani, tiba-tiba keasyikannya itu dihentikan oleh gerakan tiba-tiba
Liani yang memberontak dan mendorong Rohim sehingga terlepas dari
dirinya. Membuat Rohim terkejut dengan gerakan tiba-tiba itu. Namun ia
lebih terkejut lagi saat melihat apa yang ada di kedua tangan Liani.
Dengan wajah polos, mata yang membesar memandang Rohim dan senyum manis
di bibir yang baru saja dilumatnya habis itu, tangan kirinya memegang
handphone yang sebelumnya ada di meja sementara tangan kanannya memegang
memory card handphone itu, namun kini telah patah menjadi empat bagian!
“Hey! Apa yang lu lakukan!” sergah Rohim sambil merebut handphone itu dari tangan kiri Liani.
Namun tindakan itu sudah terlambat dan sungguh tak ada gunanya. Karena seluruh data foto dan video ada di dalam memory card itu! Ia sungguh marah dan kesal dengan kejadian itu. Tak disangkanya Liani yang kelihatannya penurut dan kooperatif ini ternyata diam-diam melakukan sesuatu yang merugikannya dibalik punggungnya tanpa diketahuinya. Apalagi ia menunjukkan perbuatannya itu sambil tersenyum manis kepadanya! Karena sebenarnya ia tak berniat memberikan handphone itu kepada cewek itu saat itu. Ia ingin menundanya sampai cewek itu betul-betul mau melayaninya dua kali atau mungkin tambah sekali lagi. Rohim bukannya ingin memeras Liani seperti Dharsono, namun hal itu dilakukan purely karena perasaan mupengnya kepada cewek itu. Berbeda dengan Dharsono, ia juga tidak akan memaksa Liani untuk melayaninya apabila cewek itu benar-benar tak mau. Akan tetapi selama handphone itu ada di tangannya, sedikit banyak Liani mau tak mau akan menurut kepadanya. Namun kini, ia tak bisa mengontrol Liani lagi kecuali saat sekarang itu aja. Sementara Liani sendiri bukan gadis bodoh tentu ia tak suka hidupnya dikendalikan orang lain. Selama handphone itu masih di tangan orang lain, seberapa baiknya orang itu, tetap saja ia masih tergantung olehnya. Ia tahu kalau Rohim tidak akan menyerahkan handphone itu dengan segampang itu. Sementara juga ia tidak bisa lari dari tempat itu. Oleh karena itu ia berusaha mencari jalan lain untuk menghancurkan bukti itu. Oleh karena itu tadi ia pura-pura pasrah dan menyerah supaya Rohim tidak curiga. Dan ternyata betul, Rohim sama sekali tak curiga sehingga ia tak terpikir untuk menyimpan handphone itu. Apalagi ia sudah kadung mupeng abis terhadap dirinya! Saat Rohim mulai menciuminya tadi, posisi duduknya agak jauh sehingga ia tak bisa meraih handphone itu. Oleh karena itu ia menunggu beberapa saat.
Namun tindakan itu sudah terlambat dan sungguh tak ada gunanya. Karena seluruh data foto dan video ada di dalam memory card itu! Ia sungguh marah dan kesal dengan kejadian itu. Tak disangkanya Liani yang kelihatannya penurut dan kooperatif ini ternyata diam-diam melakukan sesuatu yang merugikannya dibalik punggungnya tanpa diketahuinya. Apalagi ia menunjukkan perbuatannya itu sambil tersenyum manis kepadanya! Karena sebenarnya ia tak berniat memberikan handphone itu kepada cewek itu saat itu. Ia ingin menundanya sampai cewek itu betul-betul mau melayaninya dua kali atau mungkin tambah sekali lagi. Rohim bukannya ingin memeras Liani seperti Dharsono, namun hal itu dilakukan purely karena perasaan mupengnya kepada cewek itu. Berbeda dengan Dharsono, ia juga tidak akan memaksa Liani untuk melayaninya apabila cewek itu benar-benar tak mau. Akan tetapi selama handphone itu ada di tangannya, sedikit banyak Liani mau tak mau akan menurut kepadanya. Namun kini, ia tak bisa mengontrol Liani lagi kecuali saat sekarang itu aja. Sementara Liani sendiri bukan gadis bodoh tentu ia tak suka hidupnya dikendalikan orang lain. Selama handphone itu masih di tangan orang lain, seberapa baiknya orang itu, tetap saja ia masih tergantung olehnya. Ia tahu kalau Rohim tidak akan menyerahkan handphone itu dengan segampang itu. Sementara juga ia tidak bisa lari dari tempat itu. Oleh karena itu ia berusaha mencari jalan lain untuk menghancurkan bukti itu. Oleh karena itu tadi ia pura-pura pasrah dan menyerah supaya Rohim tidak curiga. Dan ternyata betul, Rohim sama sekali tak curiga sehingga ia tak terpikir untuk menyimpan handphone itu. Apalagi ia sudah kadung mupeng abis terhadap dirinya! Saat Rohim mulai menciuminya tadi, posisi duduknya agak jauh sehingga ia tak bisa meraih handphone itu. Oleh karena itu ia menunggu beberapa saat.
Saat pertama kali badannya maju, ia lupa kalau satu tangan Rohim
berada di pangkal pahanya. Akibatnya gerakannya tertahan oleh tangan
Rohim itu. Namun justru itu
membuat Rohim makin mupeng dan lupa diri. Sehingga pikiran Rohim betul-betul tercurah penuh terhadap dirinya dan sama sekali melupakan handphone di meja itu. Setelah itu ia sengaja duduk di lantai supaya tangannya bisa meraih handphone itu dengan leluasa, lalu melepas memory card-nya dan menghancurkannya di balik punggung Rohim. Sungguh suatu akal bulus yang bagus sekali. Kini terkabullah harapannya. Sekarang ia merasa bebas dari perasaan was-was yang mengganggunya selama ini. Namun sekarang ia masih harus menghadapi Rohim yang marah. Seorang yang kasar dan jujur seperti Rohim, apabila marah kadang bisa menakutkan. Demikian pula yang terjadi sekarang. Apalagi Rohim kini sadar kalau ia hanya punya kesempatan sekali ini saja untuk menikmati dirinya. Oleh karena itu tentu Rohim bertekad untuk menikmatinya sepuas mungkin. Kini Rohim bagaikan singa jantan kelaparan yang siap menerkam kijang muda yang tak bisa lari kemana-mana lagi. Dan kijang muda itu adalah dirinya! Sungguh suatu pertempuran yang tak seimbang, kalau tak boleh disebut sebagai pembantaian!
“You’re bitch!” seru Rohim. Sungguh aneh, seorang pesuruh sekolah memaki seperti itu kepada siswi favorit satu sekolah. Padahal semua teman-teman cowoknya bahkan para guru di sekolah itu pada menghormatinya. Namun itu belum seberapa. Apa yang bakal dilakukan pesuruh sekolah itu setelah ini akan membuat mereka semua jadi iri hati, sakit hati, bahkan patah hati. Seandainya saja mereka tahu, sudah pasti pesuruh sekolah kurang ajar itu akan dihajarnya ramai-ramai. Tapi apa mau dikata, ceweknya sendiri mau kok.
“Gua ngaku salah deh. Tapi gimana lagi, kalo lu nggak mau nyerahin ke gua, trus kalo nanti jatuh ke tangan Dharsono lagi gimana coba? Apa lu nggak kasihan dengan gua,” kata Liani.
membuat Rohim makin mupeng dan lupa diri. Sehingga pikiran Rohim betul-betul tercurah penuh terhadap dirinya dan sama sekali melupakan handphone di meja itu. Setelah itu ia sengaja duduk di lantai supaya tangannya bisa meraih handphone itu dengan leluasa, lalu melepas memory card-nya dan menghancurkannya di balik punggung Rohim. Sungguh suatu akal bulus yang bagus sekali. Kini terkabullah harapannya. Sekarang ia merasa bebas dari perasaan was-was yang mengganggunya selama ini. Namun sekarang ia masih harus menghadapi Rohim yang marah. Seorang yang kasar dan jujur seperti Rohim, apabila marah kadang bisa menakutkan. Demikian pula yang terjadi sekarang. Apalagi Rohim kini sadar kalau ia hanya punya kesempatan sekali ini saja untuk menikmati dirinya. Oleh karena itu tentu Rohim bertekad untuk menikmatinya sepuas mungkin. Kini Rohim bagaikan singa jantan kelaparan yang siap menerkam kijang muda yang tak bisa lari kemana-mana lagi. Dan kijang muda itu adalah dirinya! Sungguh suatu pertempuran yang tak seimbang, kalau tak boleh disebut sebagai pembantaian!
“You’re bitch!” seru Rohim. Sungguh aneh, seorang pesuruh sekolah memaki seperti itu kepada siswi favorit satu sekolah. Padahal semua teman-teman cowoknya bahkan para guru di sekolah itu pada menghormatinya. Namun itu belum seberapa. Apa yang bakal dilakukan pesuruh sekolah itu setelah ini akan membuat mereka semua jadi iri hati, sakit hati, bahkan patah hati. Seandainya saja mereka tahu, sudah pasti pesuruh sekolah kurang ajar itu akan dihajarnya ramai-ramai. Tapi apa mau dikata, ceweknya sendiri mau kok.
“Gua ngaku salah deh. Tapi gimana lagi, kalo lu nggak mau nyerahin ke gua, trus kalo nanti jatuh ke tangan Dharsono lagi gimana coba? Apa lu nggak kasihan dengan gua,” kata Liani.
Sekali lagi, sungguh aneh, cewek favorit se-sekolahan ngaku salah ke pesuruh sekolah?!
Dalam hati Rohim membenarkan juga argumen cewek itu. Ada kemungkinan untuk itu memang. Namun ia tak mau mengalah begitu saja di depan cewek ini.
“Tapi ingat janji lu. Lu masih punya “hutang” sama gua.”
“Oh, kalo itu sih, tergantung dengan hasil hari ini gimana. Kalo memuaskan, kenapa nggak? Bahkan sepuluh kali sekalipun juga siapa yang bisa menolak?”
Sungguh sulit dipercaya, omongan seperti itu bisa keluar dari mulut cewek sepolos ini.
“Hmm, kalo itu sih nggak usah kuatir,” kata Rohim,”Tapi lu jangan pura-pura bersikap manis terus berusaha menipu gua lagi ya!”
“Memang gua mau menipu apa lagi?” Memang ia berkata jujur, setelah menghancurkan bukti dirinya itu, kini tidak ada lagi yang ingin didapat dari Rohim dengan cara menipu.
“Boro-boro menipu, sekarang aja gua mau lari kemana pun juga nggak bisa,” tambahnya lagi. Memang betul sekali perkataannya itu, saat ini ia tidak bisa lari kemana pun. Namun seandainya bisa pun, mungkin juga ia tidak akan lari.
“Memang betul, lu nggak bisa lari kemana-mana. Karena sekarang ini lu harus menerima hukuman atas perbuatan lu sebelumnya!”
“Asal jangan terlalu berat aja hukumannya.”
“Mengenai itu gua nggak bisa janji deh….”
“AAAhhhhhhh,” teriak Liani karena Rohim langsung menerkamnya sampai tubuhnya terkapar di atas sofa.
Kembali diciuminya gadis itu. Kali ini diciuminya dengan nafsu menggebu-gebu. Karena sebelumnya ia setengah tertipu olehnya, kini ia membalasnya dengan menciuminya penuh nafsu. Diciuminya seluruh bagian wajahnya. Sehingga kini wajah putih Liani yang cakep itu kini habis diciuminya.
“AAhhhhhhhhhhhh,” teriak Liani sambil memukul-mukul tubuh Rohim. Namun apa daya. Tenaganya sungguh tak berarti untuk memukul tubuh kekar itu.
“AHhhhhhh……Ehhmmmmmm,” kini suaranya berubah karena bibirnya dikunci oleh Rohim. Bibir Rohim yang hitam melumat habis bibir Liani yang kemerahan itu. Sampai-sampai terdengar suara kecapan-kecapannya.
Dalam hati Rohim membenarkan juga argumen cewek itu. Ada kemungkinan untuk itu memang. Namun ia tak mau mengalah begitu saja di depan cewek ini.
“Tapi ingat janji lu. Lu masih punya “hutang” sama gua.”
“Oh, kalo itu sih, tergantung dengan hasil hari ini gimana. Kalo memuaskan, kenapa nggak? Bahkan sepuluh kali sekalipun juga siapa yang bisa menolak?”
Sungguh sulit dipercaya, omongan seperti itu bisa keluar dari mulut cewek sepolos ini.
“Hmm, kalo itu sih nggak usah kuatir,” kata Rohim,”Tapi lu jangan pura-pura bersikap manis terus berusaha menipu gua lagi ya!”
“Memang gua mau menipu apa lagi?” Memang ia berkata jujur, setelah menghancurkan bukti dirinya itu, kini tidak ada lagi yang ingin didapat dari Rohim dengan cara menipu.
“Boro-boro menipu, sekarang aja gua mau lari kemana pun juga nggak bisa,” tambahnya lagi. Memang betul sekali perkataannya itu, saat ini ia tidak bisa lari kemana pun. Namun seandainya bisa pun, mungkin juga ia tidak akan lari.
“Memang betul, lu nggak bisa lari kemana-mana. Karena sekarang ini lu harus menerima hukuman atas perbuatan lu sebelumnya!”
“Asal jangan terlalu berat aja hukumannya.”
“Mengenai itu gua nggak bisa janji deh….”
“AAAhhhhhhh,” teriak Liani karena Rohim langsung menerkamnya sampai tubuhnya terkapar di atas sofa.
Kembali diciuminya gadis itu. Kali ini diciuminya dengan nafsu menggebu-gebu. Karena sebelumnya ia setengah tertipu olehnya, kini ia membalasnya dengan menciuminya penuh nafsu. Diciuminya seluruh bagian wajahnya. Sehingga kini wajah putih Liani yang cakep itu kini habis diciuminya.
“AAhhhhhhhhhhhh,” teriak Liani sambil memukul-mukul tubuh Rohim. Namun apa daya. Tenaganya sungguh tak berarti untuk memukul tubuh kekar itu.
“AHhhhhhh……Ehhmmmmmm,” kini suaranya berubah karena bibirnya dikunci oleh Rohim. Bibir Rohim yang hitam melumat habis bibir Liani yang kemerahan itu. Sampai-sampai terdengar suara kecapan-kecapannya.
Setelah itu bibirnya beralih mengecupi lehernya yang putih mulus.
Kali ini ia melakukannya dengan penuh nafsu dan menghisap kuat-kuat.
Sehingga disana sini membekas kemerahan akibat kecupan-kecupan Rohim
itu.
“Ahhhh….Ahhhhhhh…..AHhhhhhh”, Liani mendesah-desah merasakan nikmatnya kulit lehernya yang sensitif itu dikecup-kecup dan di sedot-sedot oleh Rohim. Sementara itu, kedua tangan Rohim masuk ke dalam baju atas Liani yang bergaris-garis itu. Kini ia mulai merasakan halusnya kulit tubuhnya. Diraba-rabanya perutnya, iganya, makin lama makin ke atas, sampai menyentuh branya. Dipegangnya dan diremas-remasnya dengan lembut. Dirasakan kekenyalannya.
“Ohhhhh, ohhhhhhhhh.”
Namun tak lama, karena tujuannya setelah itu didudukkan Liani dengan menggunakan tangannya yang berada di dalam bajunya. Lalu digerakkannya tangannya keatas. Otomatis bajunya itu ikut terangkat naik. Sampai akhirnya mentok sampai di pundaknya. Lalu diloloskannya baju atasan itu melewati pundak, leher, kepala, dan kedua tangannya sampai terlepas dari tubuhnya. Nampak bra berwarna biru tua yang menutup payudara Liani. Lalu dibukanya retsleting roknya, kemudian dipelorotkannya rok itu sampai terlepas dari tubuh Liani. Setelah itu dilepaskan kedua kaus kaki merah muda Liani. Sehingga kini ia duduk di sofa itu hanya memakai pakaian dalam saja.. Bra biru tua yang dipakainya itu begitu kontras dengan kulitnya yang putih. Nampak bagian atas belahan payudaranya yang tak tertutup oleh bra itu. Belahan itu nampak begitu sempurna membentuk celah lekukan yang sungguh menggairahkan. Celana dalamnya juga berwarna biru tua.
“Ahhhh….Ahhhhhhh…..AHhhhhhh”, Liani mendesah-desah merasakan nikmatnya kulit lehernya yang sensitif itu dikecup-kecup dan di sedot-sedot oleh Rohim. Sementara itu, kedua tangan Rohim masuk ke dalam baju atas Liani yang bergaris-garis itu. Kini ia mulai merasakan halusnya kulit tubuhnya. Diraba-rabanya perutnya, iganya, makin lama makin ke atas, sampai menyentuh branya. Dipegangnya dan diremas-remasnya dengan lembut. Dirasakan kekenyalannya.
“Ohhhhh, ohhhhhhhhh.”
Namun tak lama, karena tujuannya setelah itu didudukkan Liani dengan menggunakan tangannya yang berada di dalam bajunya. Lalu digerakkannya tangannya keatas. Otomatis bajunya itu ikut terangkat naik. Sampai akhirnya mentok sampai di pundaknya. Lalu diloloskannya baju atasan itu melewati pundak, leher, kepala, dan kedua tangannya sampai terlepas dari tubuhnya. Nampak bra berwarna biru tua yang menutup payudara Liani. Lalu dibukanya retsleting roknya, kemudian dipelorotkannya rok itu sampai terlepas dari tubuh Liani. Setelah itu dilepaskan kedua kaus kaki merah muda Liani. Sehingga kini ia duduk di sofa itu hanya memakai pakaian dalam saja.. Bra biru tua yang dipakainya itu begitu kontras dengan kulitnya yang putih. Nampak bagian atas belahan payudaranya yang tak tertutup oleh bra itu. Belahan itu nampak begitu sempurna membentuk celah lekukan yang sungguh menggairahkan. Celana dalamnya juga berwarna biru tua.
Pahanya yang putih mulus sungguh menggelorakan hati. Sehingga kini
Rohim meraba-raba dengan kedua tangannya. Sungguh halus dan mulus
sekali! Dan warnanya nampak Kontras sekali. Tangannya yang hitam
meraba-raba paha cewek berkulit putih mulus itu. Diciuminya bibirnya
yang indah itu. Bibir yang tersenyum dengan manis saat ia menunjukkan
akibat perbuatannya yang mematahkan memory card handphone itu, kini
kembali dilumat habis oleh bibir Rohim yang hitam. Seakan ia hendak
memberi pelajaran kepada cewek itu. Bahwa sebelumnya ia telah berbuat
kesalahan. Oleh karena itu sekarang saatnya untuk dihukum! Setelah puas
dengan itu, Rohim menghentikan ciumannya. Kini tangannya meraih tali
pengait bra-nya yang ada di punggung. Rupanya ia sudah tidak sabar lagi
untuk segera melihat sendiri keranuman dan keindahan payudara siswi
favorit itu yang telah tumbuh dengan sempurna. Tentu bukan hal yang
sulit baginya melakukan ini karena ia telah cukup berpengalaman dalam
hal itu. Dengan kedua tangan bergerak bersamaan, lepaslah pengait bra
itu. Segera diloloskannya bra itu dari bahunya. Dan, WOW! Begitu indah
payudara yang menggantung dengan bebasnya itu. Sampai Rohim pun dibuat
terkesima melihatnya. Belum pernah ia menyaksikan payudara seindah
payudara Liani ini. Begitu segar dan ranum. Serta padat berisi.
Ukurannya sungguh pas dengan tubuhnya. Tidak terlalu besar juga tak
terlalu kecil. Ukuran bra nya adalah 34C. Belahannya sungguh sempurna.
Warna kulitnya yang putih membuat semakin indah. Begitu bersih. Begitu
putih. Begitu mulus. Begitu menggairahkan. Namun yang
paling indah adalah kedua putingnya. Kedua putingnya mencuat di tengah-tengah gundukan gunung kembar putih itu. Warnanya kemerahan sungguh nampak segar menggairahkan. Apalagi bagi Rohim, belum pernah sebelumnya ia melihat langsung sepasang gunung kembar putih dengan putingnya yang kemerahan. Sejenak ia memandangi pemandangan indah di hadapannya itu tanpa melakukan apa-apa.. Membuat Liani, yang payudaranya terbuka dan diliatin terus begitu, menjadi tersipu malu.
paling indah adalah kedua putingnya. Kedua putingnya mencuat di tengah-tengah gundukan gunung kembar putih itu. Warnanya kemerahan sungguh nampak segar menggairahkan. Apalagi bagi Rohim, belum pernah sebelumnya ia melihat langsung sepasang gunung kembar putih dengan putingnya yang kemerahan. Sejenak ia memandangi pemandangan indah di hadapannya itu tanpa melakukan apa-apa.. Membuat Liani, yang payudaranya terbuka dan diliatin terus begitu, menjadi tersipu malu.
Hal itu membuat Rohim semakin gemas. Namun ia tetap tak akan lupa
untuk menghukum cewek ini! Namun sebelum itu, karena tanggung, segera
tangannya beralih turun ke bawah, menuju ke celana dalam biru itu.
Sementara Liani hanya pasrah saja, meski ia tahu sebentar lagi ia akan
ditelanjangi bulat-bulat oleh pesuruh sekolah itu. Sementara mata Rohim
masih jelalatan memandang ke dada Liani. Sungguh indah sekali, batinnya.
Ia tak sabar ingin segera menikmatinya. Oleh karena itu ia buru-buru
memelorotkan celana dalam biru itu ke bawah. Yang pertama kali terlihat
tentu bulu vaginanya yang ternyata cukup lebat. Gila! Cewek ini
betul-betul hebat body-nya, pikir Rohim. Ia memang paling suka cewek
dengan bulu vagina lebat. Apalagi Liani yang tampangnya polos gini
ternyata memiliki bulu yang lebat. Sungguh kontradiktif dan merangsang!
Kemudian diloloskannya celana dalam biru tua itu. Sehingga kini Liani
betul-betul tak menggunakan selembar kain pun untuk menutupi tubuhnya
yang mulus dan sexy. Saat itu Rohim ingin membuka kedua kaki Liani
lebar-lebar. Ia ingin melihat liang vaginanya dengan jelas sebelum
menggarapnya. Namun sepertinya Liani masih malu-malu. Ia menolak membuka
kakinya lebar-lebar. Malah kini ia menutup kedua kakinya dengan rapat.
Membuat bulu vaginanya terkumpul di tengah-tengah. Ia tak ingin memaksa
gadis itu, untuk saat ini. Kemudian ia melepas pakaiannya sendiri, baju
kaus dan celana jins nya. Namun setelah itu ia meraih tangan Liani dan
mendekatkannya ke celana dalamnya yang terlihat adanya tonjolan besar.
Liani segera mengelus-elus tonjolan di celana dalam itu dengan kedua
tangannya yang putih halus. Kemudian Rohim memberi isyarat untuk berdiri
yang dipatuhinya. Kemudian kedua tangannya yang halus meraih celana
dalam Rohim dan memelorotkannya ke bawah. Sehingga nampaklah penis Rohim
warna hitam yang besar berdiri dengan tegak. kepala penisnya yang
disunat nampak mencuat keatas.
Saat Liani melakukan itu, ia membungkukkan badannya, sehingga
payudaranya mendekat ke arah Rohim. Rohim tak kuasa menahan dirinya
lagi. Segera direngkuhnya sepasang gunung kembar yang menggairahkan itu
dengan kedua tangannya. Di saat tangan halus Liani mengelus-elus penis
Rohim yang berdiri tegak dengan perkasanya, kedua tangan hitam itu
menempel di kedua gunung kembar putih yang menggairahkan itu. Kini,
setelah payudara putih Liani berada dalam genggaman tangannya, Rohim
merasakan sendiri kekenyalan dan kehalusannya. Sungguh padat berisi. Ia
menciumi leher Liani, menghisap-hisap kulitnya yang putih. Tangannya
meremas sepasang gunung kembar yang indah itu. Dirasakannya kedua
putingnya yang menonjol menyentuh telapak tangannya. Sementara kedua
tangan Liani juga tak kalah sibuknya. Tangan kirinya mengelus-elus buah
zakar Rohim dan tangan kanannya mengocok-ngocok batang penis yang hitam
besar dan mengusap-usap kepalanya yang disunat dengan jari-jarinya.
Penis hitam Rohim yang menegang dengan keras dan perkasa sepenuhnya
berada dalam genggaman kedua tangan Liani yang putih dan lembut. Setelah
itu mereka berpelukan sambil berdiri. Kedua tangan Rohim memeluk erat
punggung Liani. Membuat tubuh gadis itu menempel erat ke tubuhnya. Kulit
putih menempel dengan Kulit hitam. Payudara Liani yang putih dan montok
menempel di dada Rohim yang hitam dan bidang. Perut menempel dengan
perut. Paha menempel dengan paha. Penis Rohim yang mengaceng ke atas
menempel di bulu vagina dan perut Liani. Bulu-bulu kemaluan keduanya
saling bertemu. Dan kedua tangan Liani memeluk erat pinggang Rohim.
Keduanya saling berciuman bibir dengan penuh nafsu. Terutama Rohim yang
menciumi cewek itu dengan buas seolah ingin melampiaskan rasa marahnya
sebelumnya dengan menghisap seluruh kenikmatan yang ada pada diri cewek
itu semaksimal mungkin.
Lidah bertemu dengan lidah. Perbedaan warna kulit keduanya nampak
kontras sekali. Kedua tangan hitam Rohim menempel di punggung Liani yang
putih mulus. Dan kedua tangan Liani yang putih halus menempel di
punggung Rohim yang hitam. Setelah itu kedua tangan hitam Rohim memegang
pinggul putih Liani yang menonjol itu dan meremas-remasnya. Inilah
perpaduan sempurna antara yin dan yang, feminin dan maskulin, beauty and
the beast, siswi teladan dan pesuruh sekolah! Kemudian Rohim melepaskan
dekapannya. Penisnya menegang dengan keras. Lalu ia memegang kepala
Liani dan mendorongnya ke bawah sampai Liani berlutut di depannya dan
kepalanya sejajar dengan penisnya. Liani dengan wajah polosnya memandang
ke Rohim. Tapi Rohim mendekatkan wajah Liani ke penisnya…Sehingga kini
siswi teladan itu mau tak mau jadi menyepong penis Rohim. Dipegangnya
pangkal penis itu dengan tangan kanannya. Sementara mulutnya
dimaju-mundurkan mengemut penis Rohim. Rohim sungguh menikmati sepongan
Liani pada batang kejantanannya itu. Hatinya puas sekali. Inilah salah
satu hukumannya terhadap gadis yang telah berani menipunya itu! Apalagi
sepongan Liani betul-betul nikmat rasanya. Bahkan Liani menggunakan
ujung lidahnya untuk menyapu kepala penis itu yang berada di dalam
mulutnya. Oleh karena terangsang, kini penis Rohim mengeluarkan lendir
pre-cum-nya. Tentu saja mau tidak mau Liani harus merasakannya dan
menelannya. Karena lidahnya telanjur menempel di ujung kepala penis
Rohim. Sementara Rohim tak membiarkan cewek itu untuk berhenti
menyepongnya sebelum dirinya betul-betul puas. Guru menghukum murid
adalah hal yang biasa. Itupun, bentuk hukumannya biasanya adalah dengan
menyuruhnya berdiri di depan kelas. Namun seorang pesuruh sekolah
menghukum siswi favorit sekolah adalah hal yang luar biasa. Apalagi
hukumannya dengan menyuruh siswi itu telanjang bulat dan berlutut untuk
menyepong penisnya!
Setelah puas “menghukum” Liani dengan cara itu, kini ia meneruskan
dengan hukumannya yang lain. Setelah Liani berdiri kembali, didorongnya
cewek itu ke belakang sehingga tertidur di atas sofa. Bagaikan binatang
buas menerkam mangsa, ia menerkam cewek itu dan menindihnya.
“AAHhhhhhhhhhh,” Liani berteriak.
Kemudian terjadilah adegan pembantaian berikutnya. Ditindihnya Liani di atas sofa itu. Diciuminya bibir Liani dengan buas dan penuh nafsu. Diciumi leher yang putih mulus itu. Dikecup-kecupnya seluruh bagian leher dan bahu putih itu. Dirasakan bau harum semerbak aroma tubuh gadis yang telanjang bulat itu. Ciuman Rohim turun ke bawah lagi, kali ini yang menjadi sasaran apa lagi kalo bukan dada Liani yang putih montok menggairahkan itu. Diciuminya dada putih yang padat menggairahkan itu. Diciumi seluruh bagian dadanya. Lidahnya bergerak menjilat-jilat lembah diantara kedua gundukan daging itu. Lalu lidahnya bergerak mengelilingi lereng gunung sebelah kanan. Lalu bergerak melingkar naik makin ke atas dan makin ke tengah. Tangan kanannya meraih dada yang satunya lagi, meraba-rabanya, mengusap-usapnya, meremas-remasnya… Liani hanya merintih-rintih perlahan tanpa perlawanan sedikitpun. Karena memang ingin melawan pun juga ia tak akan mampu karena Rohim saat itu bagaikan orang kelaparan menikmati hidangan yang amat lezat. Tapi mungkin memang ia juga tidak ingin melawan.Akhirnya sampailah lidahnya di puncak gunung putih itu. Dijilatinya puting kemerahan yang segar dan sangat menggairahkannya itu. Ujung lidahnya melingkar-lingkar mengelilingi puting kemerahan yang mencuat menonjol itu.
“Ahhhh, ahhhhhh,” Liani tak kuasa menahan dirinya karena itu memang adalah titik sensitif baginya apalagi saat lidah Rohim menerabas putingnya berkali-kali baik horizontal maupun vertikal dan menyentuh-nyentuhkan ujung lidahnya di bagian atas dari putingnya. Inilah titik paling sensitif dari payudaranya!
“AAHhhhhhhhhhh,” Liani berteriak.
Kemudian terjadilah adegan pembantaian berikutnya. Ditindihnya Liani di atas sofa itu. Diciuminya bibir Liani dengan buas dan penuh nafsu. Diciumi leher yang putih mulus itu. Dikecup-kecupnya seluruh bagian leher dan bahu putih itu. Dirasakan bau harum semerbak aroma tubuh gadis yang telanjang bulat itu. Ciuman Rohim turun ke bawah lagi, kali ini yang menjadi sasaran apa lagi kalo bukan dada Liani yang putih montok menggairahkan itu. Diciuminya dada putih yang padat menggairahkan itu. Diciumi seluruh bagian dadanya. Lidahnya bergerak menjilat-jilat lembah diantara kedua gundukan daging itu. Lalu lidahnya bergerak mengelilingi lereng gunung sebelah kanan. Lalu bergerak melingkar naik makin ke atas dan makin ke tengah. Tangan kanannya meraih dada yang satunya lagi, meraba-rabanya, mengusap-usapnya, meremas-remasnya… Liani hanya merintih-rintih perlahan tanpa perlawanan sedikitpun. Karena memang ingin melawan pun juga ia tak akan mampu karena Rohim saat itu bagaikan orang kelaparan menikmati hidangan yang amat lezat. Tapi mungkin memang ia juga tidak ingin melawan.Akhirnya sampailah lidahnya di puncak gunung putih itu. Dijilatinya puting kemerahan yang segar dan sangat menggairahkannya itu. Ujung lidahnya melingkar-lingkar mengelilingi puting kemerahan yang mencuat menonjol itu.
“Ahhhh, ahhhhhh,” Liani tak kuasa menahan dirinya karena itu memang adalah titik sensitif baginya apalagi saat lidah Rohim menerabas putingnya berkali-kali baik horizontal maupun vertikal dan menyentuh-nyentuhkan ujung lidahnya di bagian atas dari putingnya. Inilah titik paling sensitif dari payudaranya!
“Ahhh, ahhhh, ahhhhh, ahhhh, ahhhh, ahhhhh…………”
Sementara itu jari-jari tangannya yang memegang dada kiri juga tak tinggal diam untuk dimainkannya di putingnya. Jarinya menggerak-gerakkan puting yang sensitif itu. Sambil sesekali menempel-nempelkan ujung kelingkingnya di bagian atas putingnya.
Liani mulai “naik” dibuatnya. Kini ia bersikap semakin pasrah saja membiarkan Rohim melakukan semaunya terhadap dirinya. Dan sekarang mulutnya mengemut dan menghisap-hisap puting kemerahan itu.
“Ahhhhh, ahhhhh, ahhhhhh, ………”
Liani tak tahan untuk tidak mendesah-desah saat putingnya yang sangat sensitif itu diemut oleh Rohim. Dirasakan kehangatannya saat payudaranya disedot-sedot di dalam mulut Rohim. Ditambah rasa geli-geli enak saat lidah Rohim dimainkan di putingnya. Apalagi saat putingnya digigit-gigit kecil!
“Oohhhh, ohhhhhhh, ohhhhhh, ohhhhhh, ohhhhhhhhh…….”
Rohim sendiri juga menikmati saat melakukan itu. Baru kali ini ia bisa memainkan payudara sedemikian indah dan putih apalagi putingnya yang kemerahan sungguh menggairahkan. Oleh karena itu mulut dan lidahnya bermain-main agak lama di sana, lidahnya dengan buas menjilat-jilat dan menggerak-gerakkan puting yang sungguh menggelorakan hatinya itu. Apalagi saat mendengar Liani mulai mendesah-desah dan merasakan reaksi tubuh cewek itu yang menegang pertanda cewek itu juga terangsang oleh perbuatannya. Sungguh puas hatinya saat itu ia bisa menikmati payudara sedemikian indah milik gadis muda yang menjadi siswi favorit di sekolah itu dimana ia bekerja sebagai pesuruh sekolah..Setelah itu, diulangi lagi semua itu dengan berganti posisi. Kali ini mulut dan lidahnya mempermainkan dada sebelah kiri dan tangan serta jarinya menggarap dada kanan cewek itu.
Sementara itu jari-jari tangannya yang memegang dada kiri juga tak tinggal diam untuk dimainkannya di putingnya. Jarinya menggerak-gerakkan puting yang sensitif itu. Sambil sesekali menempel-nempelkan ujung kelingkingnya di bagian atas putingnya.
Liani mulai “naik” dibuatnya. Kini ia bersikap semakin pasrah saja membiarkan Rohim melakukan semaunya terhadap dirinya. Dan sekarang mulutnya mengemut dan menghisap-hisap puting kemerahan itu.
“Ahhhhh, ahhhhh, ahhhhhh, ………”
Liani tak tahan untuk tidak mendesah-desah saat putingnya yang sangat sensitif itu diemut oleh Rohim. Dirasakan kehangatannya saat payudaranya disedot-sedot di dalam mulut Rohim. Ditambah rasa geli-geli enak saat lidah Rohim dimainkan di putingnya. Apalagi saat putingnya digigit-gigit kecil!
“Oohhhh, ohhhhhhh, ohhhhhh, ohhhhhh, ohhhhhhhhh…….”
Rohim sendiri juga menikmati saat melakukan itu. Baru kali ini ia bisa memainkan payudara sedemikian indah dan putih apalagi putingnya yang kemerahan sungguh menggairahkan. Oleh karena itu mulut dan lidahnya bermain-main agak lama di sana, lidahnya dengan buas menjilat-jilat dan menggerak-gerakkan puting yang sungguh menggelorakan hatinya itu. Apalagi saat mendengar Liani mulai mendesah-desah dan merasakan reaksi tubuh cewek itu yang menegang pertanda cewek itu juga terangsang oleh perbuatannya. Sungguh puas hatinya saat itu ia bisa menikmati payudara sedemikian indah milik gadis muda yang menjadi siswi favorit di sekolah itu dimana ia bekerja sebagai pesuruh sekolah..Setelah itu, diulangi lagi semua itu dengan berganti posisi. Kali ini mulut dan lidahnya mempermainkan dada sebelah kiri dan tangan serta jarinya menggarap dada kanan cewek itu.
Setelah puas memainkan dan menikmati payudara, kini mulut Rohim
bergeser ke bawah. Diciumi dan dikecupi bagian perut, pinggang, samping
tubuh, paha, dan selangkangan cewek itu. Lalu tangannya digunakannya
untuk meraba-raba dan mengusap-usap bulu-bulu vaginanya yang lebat.
Jari-jarinya meraba-raba dan dibenam-benamkan di tengah-tengah bulu
vaginanya yang empuk. Sungguh membanggakan hati bisa melihat langsung
bulu-bulu vagina cewek cakep yang ternyata sungguh lebat itu. Apalagi
kalau bisa meraba-rabanya! Lalu tangannya turun ke bawah mengelilingi
bagian pribadinya itu. Digesek-gesekkan jarinya di pangkal paha Liani
dan juga di liang vaginanya. Setelah itu dibentangkannya kedua kaki
Liani lebar-lebar supaya ia bisa melihat dengan jelas bentuk vaginanya.
Dan kali ini cewek itu tidak menolak sama sekali. Mula-mula
dijilat-jilatnya bagian pangkal paha dan daerah sekeliling vaginanya.
Ini saja sudah cukup membuat Liani mulai menggeliat kegelian. Lalu Rohim
mulai menjilat-jilati mengelilingi vaginanya sambil sesekali
menerabasnya kiri kanan dan menjilati secara bertikal mengikuti lipatan
liang vaginanya.
“Oohhhh, ohhhhhhh, ohhhhhh, o0hhhhhh, oohhhhhhhhh…….”
Kini Rohim mulai merasakan adanya lendir pada lidahnya. Tak puas dengan itu, dibukanya lipatan liang vagina Liani dengan jari-jarinya. Bagian dalam vaginanya berwarna kemerahan. Lalu dimasukkan lidahnya disitu dan dijilat-jilatnya bagian yang super sensitif itu.
“Ooohhhh, ooohhhhhhh, oohhhhhh, o0hhhhhh, oohhhhhhhhh…….”
Tak lama kemudian vaginanya menjadi basah berlendir.
“Oohhhh, ohhhhhhh, ohhhhhh, o0hhhhhh, oohhhhhhhhh…….”
Kini Rohim mulai merasakan adanya lendir pada lidahnya. Tak puas dengan itu, dibukanya lipatan liang vagina Liani dengan jari-jarinya. Bagian dalam vaginanya berwarna kemerahan. Lalu dimasukkan lidahnya disitu dan dijilat-jilatnya bagian yang super sensitif itu.
“Ooohhhh, ooohhhhhhh, oohhhhhh, o0hhhhhh, oohhhhhhhhh…….”
Tak lama kemudian vaginanya menjadi basah berlendir.
Dibentangkannya lipatan vagina bagian atasnya, sampai kelihatan
klitorisnya yang seperti biji kacang berwarna merah. Dan
dijilat-jilatnya…Tanpa dicegah lagi Liani langsung mendesah-desah sambil
tubuhnya menggeliat-geliat.
“Oooh!” “Oooh!” “Oooh!” “Oooh!” “Oooh!”
Tangannya memegang rambut Rohim, sementara kedua pahanya menjepit kepalanya.. Seolah tak ingin cowok itu menghentikan kegiatannya itu. Akibatnya sekarang jadi makin basah saja….Rupanya ia menyukai juga kebuasan Rohim menikmati dirinya. Mungkinkah ia tadi sengaja membuat Rohim marah supaya membuat cowok liar itu jadi semakin buas menggarap dirinya? Setelah merasa cukup merangsang cewek itu, dihentikannya aksinya itu. Kini giliran penisnya yang minta bagian, pingin memakan korban cewek putih cakep itu. Didekatkan penis hitamnya yang menegang keras itu di depan liang vagina cewek putih itu. Lalu dengan gerakan mendorong ke depan,
“Shleeb” “Ahhhh!”
“Shleeb” “Ahhhh!”
Masuklah penis itu seluruhnya ke dalam vagina Liani. Lalu,
“Shleeb” “Shleeb” “Shleeb” “Shleeb” “Shleeb” “Shleeb”
Dimaju-mundurkan penisnya di dalam vagina Liani. Dirasakannya vaginanya yang sempit menjepit penisnya membuatnya merasakan kenikmatan yang luar biasa. Apalagi mengingat cewek yang disetubuhinya ini bukanlah cewek sembarangan.
“Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!”
Wajah cakep Liani langsung mengeluarkan suara mendesah-desah begitu penis Rohim menghunjam-hunjam di dalam vaginanya. Seluruh tubuhnya bergoyang-goyang dibuatnya. Terutama payudaranya yang terguncang-guncang dan berputar-putar.
“Oooh!” “Oooh!” “Oooh!” “Oooh!” “Oooh!”
Tangannya memegang rambut Rohim, sementara kedua pahanya menjepit kepalanya.. Seolah tak ingin cowok itu menghentikan kegiatannya itu. Akibatnya sekarang jadi makin basah saja….Rupanya ia menyukai juga kebuasan Rohim menikmati dirinya. Mungkinkah ia tadi sengaja membuat Rohim marah supaya membuat cowok liar itu jadi semakin buas menggarap dirinya? Setelah merasa cukup merangsang cewek itu, dihentikannya aksinya itu. Kini giliran penisnya yang minta bagian, pingin memakan korban cewek putih cakep itu. Didekatkan penis hitamnya yang menegang keras itu di depan liang vagina cewek putih itu. Lalu dengan gerakan mendorong ke depan,
“Shleeb” “Ahhhh!”
“Shleeb” “Ahhhh!”
Masuklah penis itu seluruhnya ke dalam vagina Liani. Lalu,
“Shleeb” “Shleeb” “Shleeb” “Shleeb” “Shleeb” “Shleeb”
Dimaju-mundurkan penisnya di dalam vagina Liani. Dirasakannya vaginanya yang sempit menjepit penisnya membuatnya merasakan kenikmatan yang luar biasa. Apalagi mengingat cewek yang disetubuhinya ini bukanlah cewek sembarangan.
“Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!”
Wajah cakep Liani langsung mengeluarkan suara mendesah-desah begitu penis Rohim menghunjam-hunjam di dalam vaginanya. Seluruh tubuhnya bergoyang-goyang dibuatnya. Terutama payudaranya yang terguncang-guncang dan berputar-putar.
Mendengar desahan Liani itu, Rohim makin bersemangat mengocok
penisnya di dalam vagina cewek itu. Ia sungguh puas menyaksikan cewek
yang tadi secara diam-diam berani menipunya itu kini tak berkutik
dibuatnya. Malah kini jadi mendesah-desah tak karuan. Itulah akibat dari
perbuatannya yang menipunya tadi. Kini ia harus menjalani hukuman
dengan cara disetubuhi! Melihat payudara ranum yang bergerak-gerak itu
seolah menantang dirinya, Rohim tak tahan untuk tidak merengkuh keduanya
dengan tangannya. Begitu berada dalam genggamannya, payudara yang penuh
dan hangat itu segera diremas-remasnya.
“Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!”
Setelah itu dikeluarkannya penisnya. Posisi Liani sedikit diubahnya dengan dibentangkannya kaki kirinya dan dinaikkan di atas sandaran sofa, dan kemudian…kembali disodok-sodoknya vagina cewek itu dengan penisnya yang masih perkasa. Setelah itu dimiringkannya tubuh Liani yang tidur di atas sofa. Lalu ia tidur di sebelahnya menempel ke tubuh gadis itu. Diciuminya punggung yang putih mulus itu. Mulai dari leher, yang karena rambutnya digulung dan diikat ke atas, jadi nampak jelas kulitnya yang putih, lalu turun ke bahu, punggung, pinggang, dan pinggulnya. Dijelajahinya seluruh jengkal tubuh gadis itu seolah tak ada yang terlewat. Ditempelkannya penisnya yang hitam di antara kedua pinggul Liani yang putih. Lalu disusupkan tangannya yang hitam di tengah-tengah kedua paha Liani yang putih mulus. Kini tangannya kembali memainkan vagina Liani dan meraba-raba bulu-bulu vaginanya. Setelah itu, diangkatnya satu kakinya ke atas. Sehingga kini ada celah untuk masuk ke vaginanya. Kemudian disusupkan penisnya di antara kedua kakinya, dan…..
“Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!”
Lagi-lagi disetubuhinya Liani dalam posisi miring begitu. Sementara satu tangannya memegang bagian depan tubuh Liani. Tentu bagian yang paling banyak diusapnya adalah payudaranya. Dimainkan dan diremas-remasnya payudara putih ranum milik gadis itu. Diciuminya dan dijilatinya tengkuk putih gadis itu dan bagian belakang telinganya! Dan diciumnya harum tubuh Liani yang aromanya semakin kuat itu. Rohim sungguh nggak mau rugi dalam menikmati diri Liani saat itu.
Betul-betul dinikmatinya seluruh bagian tubuh gadis itu semaksimal mungkin.
“Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!”
Setelah itu dikeluarkannya penisnya. Posisi Liani sedikit diubahnya dengan dibentangkannya kaki kirinya dan dinaikkan di atas sandaran sofa, dan kemudian…kembali disodok-sodoknya vagina cewek itu dengan penisnya yang masih perkasa. Setelah itu dimiringkannya tubuh Liani yang tidur di atas sofa. Lalu ia tidur di sebelahnya menempel ke tubuh gadis itu. Diciuminya punggung yang putih mulus itu. Mulai dari leher, yang karena rambutnya digulung dan diikat ke atas, jadi nampak jelas kulitnya yang putih, lalu turun ke bahu, punggung, pinggang, dan pinggulnya. Dijelajahinya seluruh jengkal tubuh gadis itu seolah tak ada yang terlewat. Ditempelkannya penisnya yang hitam di antara kedua pinggul Liani yang putih. Lalu disusupkan tangannya yang hitam di tengah-tengah kedua paha Liani yang putih mulus. Kini tangannya kembali memainkan vagina Liani dan meraba-raba bulu-bulu vaginanya. Setelah itu, diangkatnya satu kakinya ke atas. Sehingga kini ada celah untuk masuk ke vaginanya. Kemudian disusupkan penisnya di antara kedua kakinya, dan…..
“Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!” “Ahhhh!”
Lagi-lagi disetubuhinya Liani dalam posisi miring begitu. Sementara satu tangannya memegang bagian depan tubuh Liani. Tentu bagian yang paling banyak diusapnya adalah payudaranya. Dimainkan dan diremas-remasnya payudara putih ranum milik gadis itu. Diciuminya dan dijilatinya tengkuk putih gadis itu dan bagian belakang telinganya! Dan diciumnya harum tubuh Liani yang aromanya semakin kuat itu. Rohim sungguh nggak mau rugi dalam menikmati diri Liani saat itu.
Betul-betul dinikmatinya seluruh bagian tubuh gadis itu semaksimal mungkin.
Liani sendiri nampak begitu menikmati disetubuhi dalam posisi begitu.
Apalagi miring begitu, sensasinya sungguh berbeda. Sementara tangan
hitam Rohim yang terus menerus merangsang payudaranya. Dan ciuman lidah
Rohim yang menggelitik tengkuk dan bagian belakang telinganya! Apalagi
tubuhnya menempel di tubuhnya sendiri mendekap dirinya. Membuat dirinya
bisa mencium aroma kejantanan yang keluar dari tubuh Rohim. Apalagi dari
tadi penisnya tak henti-hentinya menghantam-hantam di dalam tubuhnya.
Betul-betul jantan dan perkasa! Kini, seiring dengan bersatunya kedua
tubuh yang berlainan jenis itu, bercampur pula aroma tubuh maskulin
Rohim dengan aroma tubuh feminin Liani. Pada saat itulah,
“Ooooohhhhhhhhhhhhhhhhhh” “Oooooooooohhhhhhhhhhhh” “Oooooooooohhhhhhhhhhhhhh”
Sementara Rohim sibuk menghunjam-hunjam penisnya di dalam tubuh Liani untuk melampiaskan seluruh nafsunya terhadap cewek ini, saat itulah Liani mengalami orgasme. Akhirnya, setelah dihunjam-hunjam begini terus menerus, sampailah titik dimana ia tidak dapat menahan lagi. Dan pada saat itu, bagaikan air bah yang dahsyat menerjang, langsung bobollah tanggul itu dan airnya meluap hebat.
“Aaaaahhhhhhhhhhhhh aaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh”
Sungguh saat itu Liani merasakan kenikmatan yang luar biasa! Kali ini keperkasaan Rohim betul-betul membuatnya bertekuk lutut! Namun Rohim terus meneruskan aksinya karena ia masih jauh dari selesai. Ia masih belum puas menikmati gadis itu, yang sungguh menggairahkan dan merangsang sekaligus menggemaskan dirinya itu. Sengaja ia tidak cepat-cepat mengubah posisi, untuk membiarkan Liani menikmati orgasmenya dan menenangkan dirinya. (Memang seperti dikatakan diatas, kadang ia bisa bersikap sebagai gentleman sejati di tengah aksi bajingannya)..
“Ooooohhhhhhhhhhhhhhhhhh” “Oooooooooohhhhhhhhhhhh” “Oooooooooohhhhhhhhhhhhhh”
Sementara Rohim sibuk menghunjam-hunjam penisnya di dalam tubuh Liani untuk melampiaskan seluruh nafsunya terhadap cewek ini, saat itulah Liani mengalami orgasme. Akhirnya, setelah dihunjam-hunjam begini terus menerus, sampailah titik dimana ia tidak dapat menahan lagi. Dan pada saat itu, bagaikan air bah yang dahsyat menerjang, langsung bobollah tanggul itu dan airnya meluap hebat.
“Aaaaahhhhhhhhhhhhh aaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh”
Sungguh saat itu Liani merasakan kenikmatan yang luar biasa! Kali ini keperkasaan Rohim betul-betul membuatnya bertekuk lutut! Namun Rohim terus meneruskan aksinya karena ia masih jauh dari selesai. Ia masih belum puas menikmati gadis itu, yang sungguh menggairahkan dan merangsang sekaligus menggemaskan dirinya itu. Sengaja ia tidak cepat-cepat mengubah posisi, untuk membiarkan Liani menikmati orgasmenya dan menenangkan dirinya. (Memang seperti dikatakan diatas, kadang ia bisa bersikap sebagai gentleman sejati di tengah aksi bajingannya)..
Setelah Liani mulai tenang, ia kembali melanjutkan aksinya. Mereka
berganti posisi lagi. Kini Liani dalam posisi menungging. Dan Rohim
menyodok vagina gadis itu dengan penisnya dari belakang. Posisi doggy
style! Dalam posisi ini Rohim kembali menghunjam-hunjam penisnya di
dalam tubuh Liani, menghentak-hentak tubuhnya dengan kuat. Posisi inilah
yang paling kuat hentakannya terhadap tubuh Liani. Seluruh tubuhnya
bergetar-getar. Payudaranya mengguncang-guncang dibuatnya. Sampai-sampai
sofa itu juga ikut bergetar-getar. Kedua tangan Rohim dengan sigap
menyangga payudara itu, menggoyang-goyang, meremas-remas, dan
menepuk-nepuknya. Dan pada posisi inilah Rohim merasakan kebanggaan
paling besar dimana kejantanannya mengoyak-ngoyak tubuh ramping Liani.
Kini keduanya dalam posisi berdiri. Tubuh Rohim menempel di belakang
tubuh Liani. Sementara ia menciumi tengkuk Liani, kedua tangannya
meraba-raba payudara dan vagina Liani. Di tengah-tengah aksinya itu,
Rohim membuka pengikat yang mengikat rambut Liani ke atas. Sehingga,
tersibaklah rambut Liani terurai bebas ke bawah. Sehingga kini kepala
Rohim berada di tengah-tengah rambut Liani yang terurai bebas. Hmm,
betapa harum rambutnya. Segera diciuminya rambutnya. Kemudian ia
membalik tubuh Liani. Kini nampak Liani dengan rambut panjangnya yang
terurai bebas. Sebagian menutupi dadanya terutama bagian atasnya.
Wajahnya sedikit berbeda dengan rambutnya yang terurai begini. Namun tak
kalah cantik dan menggairahkan. Apalagi ia dalam keadaan telanjang
bulat! Segera Rohim ingin mencicipi bagaiman rasa Liani yang berambut
panjang ini. Untuk itu didekatkan penisnya di depan tubuh Liani.
Dibentangkan sedikit salah satu kaki Liani. Dan, ooohhhh!, dimasukkannya
penisnya ke dalam liang vagina Liani dalam keadaan berdiri begitu! Dan
disodok-sodoknya!
“Ooohhhh, oooohhhh, oooohhhhhhh.”
Sungguh nikmat sekali rasanya baik bagi Rohim maupun Liani.
“Ooohhhh, oooohhhh, oooohhhhhhh.”
Sungguh nikmat sekali rasanya baik bagi Rohim maupun Liani.
Kembali mereka beraksi di sofa. Kali ini Rohim tiduran telentang di
sofa itu. Sementara Liani duduk diatas tubuh Rohim. Tentu tak hanya
sekedar duduk, namun dengan memasukkan penis Rohim yang menegang ke atas
ke dalam vaginanya. Kini giliran Liani yang “berolahraga”. Cowgirl
position! Kali ini Liani dengan aktif menaik turunkan tubuhnya. Seluruh
tubuhnya bergerak-gerak. Rambutnya juga. Apalagi payudara yang
tergantung bebas itu, juga bergerak naik turun seiring dengan irama
gerakan tubuhnya.
“Ooohhh, ohhhhhh, ohhhhhh, ohhhhhh.”
Kini ia mulai “menanjak” lagi, sehabis orgasme tadi. Sementara itu Rohim juga menikmati gerakan-gerakan tubuh Liani itu yang membuat penisnya terjepit di dalam vagina Liani dan dikocok-kocok. Sambil sesekali ia meremas-remas payudara ranum di depannya itu. Setelah itu ganti posisi lagi, Reverse Cowgirl! Kembali Liani menggoyang-goyang tubuhnya dalam posisi ini. Sungguh nikmat sekali baginya karena ia bisa mengatur irama goyangannya sesuai dengan yang diinginkannya. Sementara sensasinya berbeda dengan posisi sebelumnya. Kali ini giliran Liani kembali telentang di sofa itu. Kedua kakinya ditekuk ke atas. Lalu, penis hitam besar itu kembali masuk menembus vaginanya yang terbuka bebas.
“Ooohhh, ohhhhhh, ohhhhhh, ohhhhhh.”
Kini ia mulai “menanjak” lagi, sehabis orgasme tadi. Sementara itu Rohim juga menikmati gerakan-gerakan tubuh Liani itu yang membuat penisnya terjepit di dalam vagina Liani dan dikocok-kocok. Sambil sesekali ia meremas-remas payudara ranum di depannya itu. Setelah itu ganti posisi lagi, Reverse Cowgirl! Kembali Liani menggoyang-goyang tubuhnya dalam posisi ini. Sungguh nikmat sekali baginya karena ia bisa mengatur irama goyangannya sesuai dengan yang diinginkannya. Sementara sensasinya berbeda dengan posisi sebelumnya. Kali ini giliran Liani kembali telentang di sofa itu. Kedua kakinya ditekuk ke atas. Lalu, penis hitam besar itu kembali masuk menembus vaginanya yang terbuka bebas.
“Shleeeb, shleeeb, shleeeb.”
Kali ini Rohim menyodok-nyodok penisnya sambil memegangi kedua kaki Liani. Ia mengubah-ubah irama gerakan penisnya, kadang cepat, kadang lambat. Namun setelah itu ia melakukannya dengan irama konstan, sambil menjilati payudara Liani terutama bagian putingnya. Jadilah Rohim dari tadi sibuk “membolak balik” tubuh gadis ini dan menikmatinya dari berbagai sudut. Memang ia seolah ingin menghisap seluruh saripati kenikmatan yang ada pada diri gadis itu.
Kali ini Rohim menyodok-nyodok penisnya sambil memegangi kedua kaki Liani. Ia mengubah-ubah irama gerakan penisnya, kadang cepat, kadang lambat. Namun setelah itu ia melakukannya dengan irama konstan, sambil menjilati payudara Liani terutama bagian putingnya. Jadilah Rohim dari tadi sibuk “membolak balik” tubuh gadis ini dan menikmatinya dari berbagai sudut. Memang ia seolah ingin menghisap seluruh saripati kenikmatan yang ada pada diri gadis itu.
Karena disodok-sodok terus begini dalam waktu cukup lama apalagi
payudaranya juga ikut dirangsang oleh cowok itu, lama-lama Liani jadi
nggak tahan juga. Akibatnya kini tubuh Liani jadi
menggelinjang-gelinjang akibat penis Rohim yang terus mengocok-ngocok
vaginanya. Sampai akhirnya ia mendapatkan orgasmenya yang kedua. Tak
lama setelah Liani mengalami orgasme kedua, Rohim juga sudah ingin
segera melampiaskan seluruh nafsunya yang tertahan kepada gadis ini.
Untuk itu, ia akan memberikan hukuman yang terakhir kepada Liani hari
itu. Kini Rohim mencabut penisnya. Lalu ia berdiri. Sementara Liani yang
telanjang bulat duduk di depannya. Kemudian Liani segera mengulum penis
Rohim yang basah mengkilap itu. Disepongnya penis itu di dalam mulut
cewek bertampang innocent itu. Kepalanya mengangguk-angguk saat
menyepong penis hitam di dalam mulutnya itu. Sementara kedua tangan
Rohim memegang di kiri kanan kepala Liani. Dan di dalam mulutnya, Liani
menggunakan lidahnya untuk menjelajahi seluruh bagian kepala dan leher
penis yang disunat itu. Bagian-bagian yang sangat peka rangsangan.
Kemudian Rohim mengeluarkan penisnya dari mulut Liani dan kini tangan
Liani yang mungil mengocok-ngocoknya di depan wajahnya! Sampai akhirnya,
croot, croot, croottt! Muncratlah sperma dari penis Rohim dengan kuat
ke wajah Liani. Sampai-sampai ada pula yang mendarat di rambutnya.
Sehingga wajah yang cakep innocent itu jadi belepotan karena sperma.
Sementara Liani malah mengulum penis Rohim, sepertinya ia
sungsung-sungguh ingin menghisap seluruh cairan dari penisnya sampai
tetesan terakhir. Setelah penis itu mengecil dan melemas, baru ia
melepaskan dari mulutnya. Sperma yang sebelumnya mendarat di wajah dan
rambutnya itu, kini mengalir turun ke dagu, leher, dan dada. Ada yang
turun bagaikan sungai mengalir, ada pula yang langsung “loncat” dari
dagu ke payudaranya. Ada pula yang masih “menggantung” di dagunya.
Sehingga kini wajah, bagian atas tubuh, dan jari-jari tangan kanannya
jadi belepotan oleh sperma Rohim. Rohim sungguh puas akhirnya bisa
menikmati Liani secara total hari itu. Dan itulah hukuman dari seorang
pesuruh sekolah terhadap siswi favorit.
Bagi Liani, itulah tebusan yang harus dibayar untuk membebaskan dirinya. Sambil mendapatkan kenikmatan yang luar biasa.
Bagi Liani, itulah tebusan yang harus dibayar untuk membebaskan dirinya. Sambil mendapatkan kenikmatan yang luar biasa.
—@@@@@@@—–
“Lu kalo mau membersihkan badan, bisa pake kamar mandi itu. Ada handuk juga disana,” kata Rohim.
“OK,” kata Liani. Ya, memang saat itu ia perlu membersihkan diri. Wajahnya belepotan penuh sperma Rohim. Rambutnya pun juga tak luput dari semprotan sperma Rohim. Leher, dada, serta perutnya juga basah karena sperma di wajahnya sebagian mengalir ke bawah. Selain itu ia juga harus membersihkan bagian pribadinya. Saat itu ia berjalan ingin mengambil seluruh pakaiannya yang berserakan di lantai. Namun Rohim berkata,”Lu kesana nggak usah bawa pakaian.”
“Nggak apa-apa, gua bawa aja sekalian.”
“Nggak usah.”
“Memang kenapa sih nggak boleh?”
“Soalnya tempatnya nggak cukup. Ntar pakaian lu jadi basah semua. Lagian, gua juga masih pengin lihat lu telanjang abis ini.”
“Dasar lu.”
Tak lama kemudian keluarlah Liani dengan badan bersih dan segar dengan handuk melilit di tubuhnya. Pakaiannya yang tadi berserakan telah dikumpulkan dan ditaruh di meja kecil.
“Nah kalo gini khan asyik pemandangannya,” kata Rohim yang sedang tiduran santai di sofa matanya memandang ke arah Liani yang melepas handuk di tubuhnya itu.
“Iih, sialan lu,” kata Liani mukanya memerah melihat cowok itu memandangi dengan serius tubuhnya yang telanjang bulat. Buru-buru ia memakai pakaiannya satu persatu. Tak lama kemudian gantian Rohim yang ke kamar mandi.
“Lu kalo mau membersihkan badan, bisa pake kamar mandi itu. Ada handuk juga disana,” kata Rohim.
“OK,” kata Liani. Ya, memang saat itu ia perlu membersihkan diri. Wajahnya belepotan penuh sperma Rohim. Rambutnya pun juga tak luput dari semprotan sperma Rohim. Leher, dada, serta perutnya juga basah karena sperma di wajahnya sebagian mengalir ke bawah. Selain itu ia juga harus membersihkan bagian pribadinya. Saat itu ia berjalan ingin mengambil seluruh pakaiannya yang berserakan di lantai. Namun Rohim berkata,”Lu kesana nggak usah bawa pakaian.”
“Nggak apa-apa, gua bawa aja sekalian.”
“Nggak usah.”
“Memang kenapa sih nggak boleh?”
“Soalnya tempatnya nggak cukup. Ntar pakaian lu jadi basah semua. Lagian, gua juga masih pengin lihat lu telanjang abis ini.”
“Dasar lu.”
Tak lama kemudian keluarlah Liani dengan badan bersih dan segar dengan handuk melilit di tubuhnya. Pakaiannya yang tadi berserakan telah dikumpulkan dan ditaruh di meja kecil.
“Nah kalo gini khan asyik pemandangannya,” kata Rohim yang sedang tiduran santai di sofa matanya memandang ke arah Liani yang melepas handuk di tubuhnya itu.
“Iih, sialan lu,” kata Liani mukanya memerah melihat cowok itu memandangi dengan serius tubuhnya yang telanjang bulat. Buru-buru ia memakai pakaiannya satu persatu. Tak lama kemudian gantian Rohim yang ke kamar mandi.
Setelah keduanya berpakaian rapi kembali,
“Gimana, meski gua pesuruh sekolah, not bad juga khan buat siswi favorit,” kata Rohim.
“Ah, sialan lu,” Liani mukanya memerah.
“Omong-omong,” kata Rohim,” Gua masih nggak habis pikir. Gua susah payah nyari lu nggak bisa ketemu, eh malah akhirnya lu yang nyamperin gua.”
“Iya ya. Padahal buku gua itu nggak ketinggalan di kelas seperti yang gua kira. Jadi seharusnya gua nggak perlu ketemu lu waktu itu.”
“Mungkin karena motivasi gua lebih gede untuk menemukan handphone itu dibanding motivasi lu untuk menemukan gua,” kata Liani mengajukan pendapatnya.
“Bukan gitu,” kata Rohim,” Tapi karena motivasi lu lebih gede untuk bercinta dengan gua.”
“Iiih,” kata Liani sambil mencubit Rohim.
“Jadi ini gua bawa ya,” kata Liani mengambil potongan-potongan memory card dan handphone itu. Ia tak mau mengambil resiko. Ia berniat membakar semuanya itu.
“OK, nggak masalah,” kata Rohim. Handphone itu kini sama sekali tak berguna baginya. Bahkan seandainya memory-nya tidak rusak pun.
“Jangan lupa janji lu ya. Lu masih ada utang satu sama gua.”
“Kalo gua nggak ingat gimana,” kata Liani menggodanya.
“Jadilah gua kena tipu cewek cakep. Tapi gua nggak takut soalnya nanti cewek cakepnya itu yang bakal nyari gua.”
“Ih, enak aja. Siapa bilang.”
Namun akhirnya Liani memberikan juga nomor handphone-nya kepada cowok itu, disamping menyerahkan 5 juta sebagai bagian dari transaksi mereka.
“Gimana, meski gua pesuruh sekolah, not bad juga khan buat siswi favorit,” kata Rohim.
“Ah, sialan lu,” Liani mukanya memerah.
“Omong-omong,” kata Rohim,” Gua masih nggak habis pikir. Gua susah payah nyari lu nggak bisa ketemu, eh malah akhirnya lu yang nyamperin gua.”
“Iya ya. Padahal buku gua itu nggak ketinggalan di kelas seperti yang gua kira. Jadi seharusnya gua nggak perlu ketemu lu waktu itu.”
“Mungkin karena motivasi gua lebih gede untuk menemukan handphone itu dibanding motivasi lu untuk menemukan gua,” kata Liani mengajukan pendapatnya.
“Bukan gitu,” kata Rohim,” Tapi karena motivasi lu lebih gede untuk bercinta dengan gua.”
“Iiih,” kata Liani sambil mencubit Rohim.
“Jadi ini gua bawa ya,” kata Liani mengambil potongan-potongan memory card dan handphone itu. Ia tak mau mengambil resiko. Ia berniat membakar semuanya itu.
“OK, nggak masalah,” kata Rohim. Handphone itu kini sama sekali tak berguna baginya. Bahkan seandainya memory-nya tidak rusak pun.
“Jangan lupa janji lu ya. Lu masih ada utang satu sama gua.”
“Kalo gua nggak ingat gimana,” kata Liani menggodanya.
“Jadilah gua kena tipu cewek cakep. Tapi gua nggak takut soalnya nanti cewek cakepnya itu yang bakal nyari gua.”
“Ih, enak aja. Siapa bilang.”
Namun akhirnya Liani memberikan juga nomor handphone-nya kepada cowok itu, disamping menyerahkan 5 juta sebagai bagian dari transaksi mereka.
Setelah itu Liani keluar dari sekolah yang sunyi senyap itu.
Sesampainya di rumah, dibakarnya handphone itu di pekarangan belakang
rumah. Sejak saat itu, legalah hatinya karena terlepas dari beban
pikiran yang sebulan terakhir ini terus menghantuinya. Kejadian dengan
Dharsono waktu itu adalah lembaran hitam di dalam hidupnya. Dengan
dibakarnya handphone itu, maka ikut terbakarlah lembaran hitam itu.
Sehingga kini ia benar-benar kembali menjadi Liani yang sebelumnya…plus
pengalaman dan jam terbang yang bertambah tentunya. Sementara itu Liani
dan Rohim masih melanjutkan pertemuannya. Rohim yang sebelumnya meminta
cuma sekali, lalu diralatnya menjadi dua kali, pada akhirnya meminta
berkali-kali. Sebagian besar permintaan itu diluluskan oleh Liani,
kecuali kalau ia memang berhalangan atau betul-betul tidak mood.
Sebenarnya saat itu Rohim sedang menjalin hubungan cukup serius dengan
cewek sekelasnya yang bernama Ratih. Pada mulanya ia tidak ingin
mengkhianati kekasihnya itu. Tapi godaan untuk menikmati diri Liani
sungguh besar. Apalagi saat itu adalah kesempatan bagus untuk bisa
bercinta dengan cewek sekelas Liani. Kapan lagi ia mendapat kesempatan
sebagus ini. Memang janji setia cowok susah dipegang kalau udah
berhubungan dengan nafsu birahi terhadap cewek lain. Setelah satu kali,
ia tak dapat menahan diri untuk tidak melakukannya lagi, lagi, dan lagi.
Sehingga kini meski ia tetap menjalin hubungan cintanya dengan Ratih
namun sesekali ia juga melakukan hubungan “pertemanan plus plus plus”
dengan Liani. Hal itu berlangsung terus sampai Liani lulus SMU. Karena
setelah itu Liani melanjutkan kuliahnya di kota lain. Setelah itu pun
kadang keduanya masih berhubungan lewat email melanjutkan pertemanannya
(tentu tanpa plus plus plus). Setelah lulus SMU, Rohim melanjutkan
sekolahnya dengan masuk ke akademi kepolisian. Setelah lulus, ia
menjalin profesi sebagai detektif polisi khusus bagian penyelidikan
masalah-masalah kriminal. Beberapa tahun kemudian, Rohim melangsungkan
pernikahannya dengan Ratih.
====================================
Pada suatu hari di salah satu SMU swasta terkenal di kota S….
Pukul 14.10…
Saat itu kegiatan belajar mengajar murid siang sedang berlangsung. Sementara murid pagi telah pada meninggalkan sekolah.
Namun ternyata ada seorang siswi pagi yang masih berada di lingkungan
sekolah. Ia berjalan menuju ke bagian belakang sekolah. Ia sebenarnya
mengenakan seragam putih abu-abu biasa. Namun apabila diperhatikan
dengan jeli, baju seragam yang sekarang dipakainya nampak baru; tidak
sama dengan yang dipakainya pagi tadi. Bahkan bra yang dikenakan dibalik
baju seragamnya pun juga beda. Selain modelnya, warnanya pun juga beda.
Pagi tadi ia mengenakan bra warna coklat, sekarang biru tua. Wajahnya
segar seperti baru mandi kurang dari sejam yang lalu dan ujung rambutnya
pun sebagian masih rada basah. Tak jelas apa keperluan cewek ini datang
balik ke sekolah siang-siang gini. Padahal sebelumnya ia telah
meninggalkan sekolah seusai pelajaran terakhir selesai pukul 12.30.
Siswi itu berjalan menuju ke arah belakang sekolah. Bisa jadi ia
balik ke sekolah dari rumahnya karena ada barangnya yang cukup berharga
yang ketinggalan (handphone, misalnya). Dan sepertinya barangnya itu
ketinggalan di kantin karena kini ia berjalan menuju kesana.
Saat siswi itu berjalan tak jauh dari kantin, muncullah seorang siswa
yang juga memakai seragam SMU dari dalam kantin. Namun dari emblem di
baju seragamnya serta penampilannya, ia bukanlah murid SMU itu. Cowok
itu berambut keriting dan gondrong. Tampangnya liar. Dua kancing atas
bajunya terbuka. Bajunya diluar celana panjangnya. Umurnya nampak
terlalu dewasa untuk anak SMU, yang kelas 3 sekalipun. Seandainya tidak
memakai seragam SMU, penampilannya lebih mirip anak berandalan atau
preman. Kulitnya coklat kehitaman seperti terlalu sering berjemur di
matahari.
Saat melihatnya, cowok itu menatap lekat-lekat siswi itu dengan
pandangan kurang ajar dari ujung rambut sampai ujung kaki seperti seolah
ingin menelanjanginya. Lalu ia bersuit-suit dengan matanya masih
jelalatan ke arah siswi itu.
“Suitt….Suiiitttt”
“Suitt….Suiiitttt”
Siswi itu menoleh ke arah cowok itu. Mungkin ia heran dengan tingkah
laku cowok itu. Sepertinya ia tak sadar kalau ia mempunyai daya tarik
seksual yang tinggi yang selalu menarik perhatian cowok. Karena memang
cewek ini luar biasa cakep. Walau saat itu ia tidak memakai make-up. Dan
cakepnya tipe innocent yang menunjukkan kalau ia adalah cewek
baik-baik. Rambutnya panjangnya kira-kira di pertengahan antara bahu dan
sikunya. Rambutnya agak berombak dan dicat agak kecoklatan. Kulitnya
putih. Wajahnya oriental dan tak kalah menarik dibanding bintang film
Korea atau Mandarin.
Gayanya pun elegan. Kelihatan kalau ia berasal dari keluarga yang cukup berada. Memang ia mengendarai mobil sendiri ke sekolah.
Bodi tubuhnya proporsional. Bentuk tubuhnya juga oke. Meski wajahnya
innocent, namun sepertinya ia tahu bagaimana cara berdandan dan
berpakaian untuk membuat mupeng cowok tua maupun muda. Bahkan disaat
memakai seragam pun, ia mampu menampilkan daya tarik kewanitaannya. Baju
seragam yang dipakainya sungguh pas dengan bentuk tubuhnya. Pinggangnya
kelihatan ramping. Rok abu-abunya panjangnya beberapa senti di atas
lutut. Roknya tak terlalu ketat namun cukup untuk memperlihatkan bentuk
pantatnya yang cukup berisi. Baju seragam putihnya berada di dalam
roknya dan tertata dengan rapi. Bahannya terbuat dari kain halus yang
mengikuti bentuk tubuhnya sehingga bagian dadanya nampak menonjol. Baju
seragam putihnya tak terlalu tipis, tapi cukup untuk membuat bra di
baliknya terlihat terutama karena warnanya yang biru tua. Memang kadang
ia suka memakai bra warna gelap yang begitu kontras dengan baju seragam
dan kulitnya yang putih. Dan saat ini pun ia memakai model bra yang
tanpa tali di bahunya sehingga membuatnya nampak semakin sexy.
Tak heran kalau cowok liar itu menjadi nafsu melihat cewek ini.
Apalagi ia sedang berjalan sendirian dan suasana sekolah saat itu sepi
banget. Karena memang cewek ini adalah cewek favorit di sekolah itu.
Nama cewek ini adalah Liani, seorang siswi kelas 3 IPA. Di usianya yang
18 tahun lewat beberapa bulan, ia telah menjadi gadis muda yang cakep
dengan daya tarik yang tinggi buat kaum cowok. Tanpa disadarinya, ia
sering membuat banyak murid cowok (dan juga para guru) jadi mupeng
dibuatnya. Meski begitu, ia adalah cewek baik-baik dengan reputasi yang
bersih. Tak pernah terdengar isyu-isyu yang negatif akan dirinya. Bahkan
ia termasuk salah satu murid pandai yang selalu menduduki ranking 3
besar di kelasnya. Oleh karena itu ia dijuluki “The Sweet Young and
Innocent Girl”.
Namun Liani sama sekali tak menanggapi cowok itu. Ia segera berjalan
terus dan ternyata ia tidak masuk ke dalam kantin. Sementara cowok itu
memandangi bagian belakang tubuh indah Liani yang berjalan menjauhinya.
Siapakah sebenarnya cowok itu? Apakah ia betul-betul anak SMU ataukah orang yang menyusup ke dalam sekolah?
Cowok itu adalah Rohim. Ia adalah keponakan Pak Sarip, pesuruh
sekolah yang telah lama mengabdi di sekolah itu. Pekerjaan utamanya
adalah membersihkan ruang kelas setelah proses belajar mengajar selesai.
Karena telah puluhan tahun mengabdi disana, yayasan sekolah menyediakan
rumah tinggal kecil buat dia dan istrinya di dalam kompleks sekolahan,
tepatnya di ujung belakang. Saat itu ia dan istrinya lagi cuti pulang
kampung beberapa minggu mengunjungi anak perempuannya. Sementara pulang
kampung, Pak Sarip menyuruh Rohim menggantikan pekerjaannya yang telah
digaji oleh pihak sekolah, sehabis ia pulang sekolah. Selama itu, pihak
sekolah membolehkan Rohim untuk tinggal di tempat Pak Sarip.
Rohim sendiri sebenarnya bukan murid sekolah itu. Dulunya memang iya
karena yayasan sekolah memberi fasilitas khusus buatnya sebagai
keponakan Pak Sarip. Namun dasar otaknya tidak mencukupi dan tidak ada
kemauan untuk belajar, akhirnya ia tidak naik kelas dua kali sampai
terpaksa harus keluar dari sekolah itu.
Sekarang ia duduk di kelas 3 di SMU yang kualitasnya tidak jelas.
Disana ia jadi pentolan gerombolan anak-anak nakal yang disegani. Memang
ia adalah anak jalanan yang liar dan jago berkelahi. Ditambah lagi
usianya yang termasuk senior untuk ukuran murid kelas 3 SMU, yaitu 21
tahun. Ia dua kali tidak naik kelas waktu SMU dan satu kali sewaktu SD.
Meski orangnya dan juga tampangnya amburadul, namun ia cukup sering
gonta ganti cewek dan sudah sering melakukan hubungan intim dengan
beberapa teman ceweknya. Namun tentu cewek-cewek yang pernah
dikencaninya berbeda jauh kelasnya dan bukan tipe seperti Liani ini.
Jadi tak heran kalau ia jadi penasaran dan mupeng dengan Liani.
Pukul 14.20…
Beberapa saat setelah pertemuan singkat itu, suasana sekolah kini benar-benar sepi lengang. Selain kegiatan di dalam kelas, sepertinya sama sekali tidak ada aktifitas berarti lainnya di luar kelas.
Beberapa saat setelah pertemuan singkat itu, suasana sekolah kini benar-benar sepi lengang. Selain kegiatan di dalam kelas, sepertinya sama sekali tidak ada aktifitas berarti lainnya di luar kelas.
Benarkah sama sekali tidak ada aktivitas di luar kelas?
Ternyata tidak benar!
Ternyata tidak benar!
Karena di ujung belakang sekolah, tepatnya di dalam rumah Pak Sarip
pesuruh sekolah, terdapat sepasang cowok dan cewek yang sedang asyik
berciuman. Dua-duanya masih memakai seragam sekolah. Cowok itu berambut
gondrong dan tampangnya liar. Kulitnya hitam. Ternyata ia adalah Rohim
yang tadi. Rupanya ia memanfaatkan situasi dimana Pak Sarip dan istrinya
lagi mudik, untuk membawa ceweknya masuk ke dalam rumah untuk bisa
bebas berbuat apa saja.
Namun yang aneh adalah, ternyata cewek yang bersamanya itu bukanlah
pacarnya. Diah, ceweknya yang sekarang, berambut pendek dan berkulit
sawo matang. Sementara cewek ini berambut panjang dan berkulit terang.
Dan ternyata…cewek itu adalah Liani! Liani yang tadi juga, yang barusan berpapasan!!!
Sungguh ini betul-betul kejutan yang tak disangka-sangka. Liani dan
Rohim berduaan??! Sungguh setan pun tidak akan menduga. Karena mereka
bagaikan Beauty and the Beast, dalam arti yang sebenar-benarnya!! Selain
penampilan keduanya bagai bumi dan langit, juga kontras sekali
perbedaan diantara mereka. Yang cewek berasal dari kelas elit orangnya
kalem dan pandai, sementara yang cowok orangnya liar, berandalan dan
hanyalah pesuruh sekolah.
Bagi Rohim, tentu adalah hal yang lumrah kalau ia tertarik dengan
Liani. Cowok mana yang nggak tertarik dengannya. Namun yang sulit
dipercaya adalah kok bisa-bisanya Liani mau berduaan gini dengan Rohim.
Malah kelakuan mereka seperti layaknya orang yang berpacaran saja.
Padahal Liani biasanya tidak sembarangan bergaul terutama dengan cowok
yang kelasnya jauh dibawahnya. Ditambah lagi reputasinya selama ini
sebagai cewek baik-baik. Namun kenyataannya, sekarang mereka asyik
berduaan dan kini lagi berciuman bibir dengan Rohim!
Tak berapa lama kemudian, suasananya jadi makin heboh lagi. Kondisi
pakaian mereka kini telah amburadul, yang membuat kejadian ciuman tadi
(yang sebenarnya sudah cukup menghebohkan) jadi seperti hal kecil yang
tak berarti.
Saat itu keduanya sedang berdiri. Baju seragam putih Liani yang
sebelumnya tertata rapih di dalam rok abu-abunya, sekarang telah berada
di luar rok abu-abunya. Dan seluruh kancingnya telah terbuka! Bra biru
tua yang tadi dikenakannya kini entah kemana, sudah tak melekat di
badannya lagi!! Baju seragam putihnya terbuka lebar, tersibak dan
tertahan di samping kiri dan kanan payudaranya. Sehingga payudaranya
yang indah dan sering menjadi obyek fantasi banyak cowok itu kini telah
terbuka dengan bebasnya. Tentu orang paling beruntung saat itu adalah
Rohim yang dengan bebas merdeka bisa memandanginya dalam jarak dekat.
Payudara Liani ternyata cukup berisi juga. Keduanya berdiri dengan tegak
dan kencang dan tidak sagging ke bawah. Sementara kedua putingnya juga
berdiri dengan kencang tegak lurus dengan payudaranya dan tidak turun ke
bawah. Kedua payudaranya betul-betul simetri, bagai pinang dibelah dua.
Ukuran bra-nya ditaksirnya 34C. Sementara kedua putingnya berwarna
kemerahan nampak menonjol di tengah payudaranya yang putih. Keduanya
nampak segar dan menggairahkan dan sepertinya adalah titik sensitif bagi
cewek ini. Sementara itu rok abu-abunya masih melekat di tubuhnya namun
celana dalamnya telah melorot sampai ke bawah kaki menyentuh sepatu dan
kaus kakinya!
Betul-betul gila! Liani, cewek yang innocent itu nurut aja ditelanjangin kayak gitu oleh Rohim??
Sementara kondisi pakaian Rohim juga tak kalah amburadul. Celana
seragam berikut celana dalamnya telah melorot ke bawah. Dua kancing baju
atasnya terbuka (memang ia tidak pernah mengancingkan dua kancing baju
atasnya). Nampak penisnya yang besar dan hitam berdiri dengan tegaknya
menembus di antara potongan baju seragamnya.
Setelah itu adegannya berlanjut dengan lebih gawat lagi. Karena Rohim
tak menyia-nyiakan kesempatan emas di depan mata itu untuk memulai
aksinya. Ia mengulum payudara telanjang cewek murid kelas 3 SMU yang
cakep itu dibarengi dengan satu tangannya meraba-raba payudara yang
satunya lagi, sementara tangannya yang lain berada di dalam rok Liani.
Sementara Liani nampak dengan sukarela menikmatinya. Tidak hanya itu,
malah kemudian ia “membalas budi” Rohim dengan tangannya yang putih dan
halus memegang-megang dan mengocok penis Rohim.
Demikianlah kenyataan yang sulit dipercaya. Liani, The Sweet Young
and Innocent Girl dengan tak disangka-sangka ternyata bisa berbuat
seperti ini. Dan melakukannya dengan Rohim pula. Dan ia sama sekali tak
canggung melakukan itu. Sepertinya ini bukan kali pertama ia melakukan
itu.
Pagi harinya pukul 10.07…
Tiba-tiba ada sms masuk ke HP Liani yang pesannya berikut, “Say, jam 1
nanti gue balik ke sekolah.” Ternyata pengirimnya adalah Rohim.
Lalu ia membalasnya,” Lalu???”.
“Loe datang ke tempat biasa donk. Gue pengin melakukan itu lagi dengan loe.”
“Lihat nanti deh. Tapi gue nggak janji.”
“Wah jangan gitu donk. Gue selalu terbayang-bayang sama loe yang sexy putih mulus dan menggairahkan itu.”
Tak ada balasan dari Liani.
“Ayo donk say, dijamin loe pasti bakalan puas deh.”
Akhirnya Liani membalas, “Ya udah lihat nanti deh. Sudah jangan sms terus. Gue jadi nggak bisa konsen nih.”
“OK ini terakhir. Tapi nanti siang gue tunggu ya.”
Tak ada balasan dari Liani.
Lalu ia membalasnya,” Lalu???”.
“Loe datang ke tempat biasa donk. Gue pengin melakukan itu lagi dengan loe.”
“Lihat nanti deh. Tapi gue nggak janji.”
“Wah jangan gitu donk. Gue selalu terbayang-bayang sama loe yang sexy putih mulus dan menggairahkan itu.”
Tak ada balasan dari Liani.
“Ayo donk say, dijamin loe pasti bakalan puas deh.”
Akhirnya Liani membalas, “Ya udah lihat nanti deh. Sudah jangan sms terus. Gue jadi nggak bisa konsen nih.”
“OK ini terakhir. Tapi nanti siang gue tunggu ya.”
Tak ada balasan dari Liani.
Pukul 12.40…
Ternyata setelah selesai jam belajar mengajar pukul 12.30, Liani malah pulang balik ke rumahnya. Namun setelah makan siang dan mandi, rupanya ia berubah pikiran. Ia balik lagi ke sekolah dengan mengenakan baju seragam yang baru.
Ternyata setelah selesai jam belajar mengajar pukul 12.30, Liani malah pulang balik ke rumahnya. Namun setelah makan siang dan mandi, rupanya ia berubah pikiran. Ia balik lagi ke sekolah dengan mengenakan baju seragam yang baru.
Pukul 14.05-14.16…
Liani sampai di sekolah dan berjalan ke belakang sekolah menuju ke
arah kantin yang juga searah dengan rumah Pak Sarip. Saat itu Rohim
sedang di dalam kantin dan melihatnya datang. Segera ia keluar dan
dengan iseng bersiul ke arah dirinya. Penis Rohim seketika menegang
begitu ia melihat Liani. Ia langsung membayangkan diri Liani yang cakep
dan sexy itu yang tak lama kemudian akan bisa segera dinikmatinya.
Namun rupanya Liani tidak mau menanggapi keisengan Rohim apalagi di
tempat terbuka seperti ini. Karena ia ingin jaga image dirinya dan tidak
ingin ada orang yang mengetahui hubungan tak semestinya itu. Karena itu
ia pura-pura tidak kenal dengan Rohim dan meninggalkannya begitu saja.
Akan tetapi ia ternyata berjalan memutar sebelum akhirnya menuju ke
arah tempat Pak Sarip / Rohim. Saat itu Rohim telah sampai duluan
disana. Karena saat itu begitu sepi dan sama sekali tidak ada orang,
maka buru-buru Liani segera masuk ke tempat Rohim.
Pukul 14.17 dan seterusnya…
Begitu Liani masuk, segera pintu depan dikunci. Tanpa menunda-nunda lagi, Rohim segera menciumi Liani dengan liar yang dibalas dengan tak kalah liarnya. Bibir bertemu bibir, membuat mereka saling berpagutan bagaikan dua ular cobra yang sedang marah. Rohim menciumi seluruh wajah cakep Liani, sementara Liani juga tak mau kalah. Segera ia menciumi wajah Rohim yang hitam itu. Sehingga wajah keduanya jadi basah karena alir liur di beberapa tempat.
Begitu Liani masuk, segera pintu depan dikunci. Tanpa menunda-nunda lagi, Rohim segera menciumi Liani dengan liar yang dibalas dengan tak kalah liarnya. Bibir bertemu bibir, membuat mereka saling berpagutan bagaikan dua ular cobra yang sedang marah. Rohim menciumi seluruh wajah cakep Liani, sementara Liani juga tak mau kalah. Segera ia menciumi wajah Rohim yang hitam itu. Sehingga wajah keduanya jadi basah karena alir liur di beberapa tempat.
Lalu Rohim mengunci bibir Liani dengan bibirnya. Sejenak mereka
berciuman bibir, merasakan kehangatan bibir pasangan masing-masing. Yang
segera dilanjutkan Liani dengan melakukan frenching ke dalam mulut
Rohim yang juga dibalas hal serupa. Aksi keduanya begitu liar. Terutama
Liani yang mengingatkan akan aksi Zhang Zhiyi dalam film Crouching
Tiger, Hidden Dragon yang langsung menjadi liar saat bertemu dengan
pacar gelapnya. Rupanya tanpa sepengetahuan siapa pun, Liani diam-diam
menjalin hubungan terlarang yang tanpa batas dengan Rohim. Tentu saja
Rohim sama sekali tidak berkeberatan dengan rejeki nomplok ini.
Setelah puas berciuman, Rohim melanjutkan inisiatif dengan melepaskan
diri dari Liani. Lalu kedua tangannya mulai membukai kancing baju
seragam Liani. Nampak terlihat dua gundukan dadanya yang terbalut bra
warna biru tua. Nampak kontras sekali dengan kulit tubuhnya yang putih.
Nampak terlihat belahan dada bagian atasnya yang putih dan sexy serta
bahunya yang putih mulus terbuka bebas karena bra-nya tanpa tali di
bahu. Rohim melanjutkan aksinya dengan mengeluarkan baju seragam putih
Liani dari dalam rok abu-abunya. Dalam hati ia gembira dengan pilihan
bra yang dikenakan cewek ini karena dapat segera dibukanya dengan mudah.
Segera kedua tangannya menggapai pengait bra di punggung Liani. Ooops.
Ternyata tak ada disana. Segera kedua tangannya merengkuh bagian tengah
depan branya. Dan dengan sekali goyang, terbukalah pengait bra biru tua
itu. Diloloskannya cup sebelah kanan payudara Liani dan didorongnya ke
belakang. Sementara tangan satunya menariknya dari sisi yang lain.
Dengan mudah segera terlepaslah bra biru tua itu dari tubuh Liani.
Segera dilemparnya bra itu ke lantai. Lalu ia sengaja menyibakkan baju
seragam putih Liani lebar-lebar sehingga tertahan di sisi kanan kiri
payudaranya. Sehingga kini kedua payudara Liani terbuka lebar-lebar dan
ia bisa melihatnya dengan bebasnya.
Memang payudara Liani betul-betul berkualitas tinggi dan indah
menggoda. Keduanya begitu menantang untuk diraba-raba dan diremas-remas.
Sementara kedua putingnya berwarna kemerahan nampak segar menantang
untuk dikulum. Sejenak ia memandangi diri Liani, wajah cantiknya yang
innocent namun dengan dadanya yang terbuka bebas, sungguh suatu
pemandangan yang kontradiktif! Dan cewek ini bukan sembarangan cewek,
tapi adalah siswi SMU kelas 3 IPA yang jadi idaman seluruh cowok di
sekolah itu dan anak orang kaya pula! Sementara ia hanyalah dari
golongan rendahan yang menjadi pengganti pesuruh sekolah disitu. Dan
tampangnya sendiri jauh dari cakep, sementara cewek ini luar biasa
cakepnya. Hatinya sungguh bergelora memikirkan ini semua.
Namun rupanya Liani tak mau membiarkan dirinya dipandangi begitu
saja. Karena ia segera mengambil inisiatif. Kembali diciuminya bibir
Rohim dan mereka berdua melakukan frenching, lidah bertemu lidah dan
saling bertautan. Keduanya saling merasakan hangatnya lidah pasangannya.
Setelah puas, Rohim kembali mengambil inisiatif dengan memasukkan
kedua tangannya ke dalam rok abu-abu Liani dan meraba-raba dalamnya.
Tentu paha Liani yang putih mulus itu habis diraba-rabainya. Serta
jari-jemarinya menggesek-gesekkan vagina cewek putih itu yang masih
tertutup oleh cd-nya.
Lalu ia segera menyingkap rok Liani, sehingga terbukalah paha Liani
yang putih mulus dan sexy itu. Namun fokusnya tidak ke pahanya, tapi ke
cd biru tua itu. Segera kedua tangannya merengkuh cd itu dan dengan
bersamaan kedua tangannya menariknya ke bawah. Sehingga kini terlepaslah
cd itu sampai kaki bawah Liani yang tertahan oleh sepatu yang ada di
kakinya.
“Gila. Brutal banget sih loe”, kata Liani, namun ia sama sekali tak protes.
Malah aksi liar Rohim itu dibalas dengan aksi yang tak kalah liarnya.
Yang sungguh tak cocok dengan citranya sebagai cewek innocent selama
ini. Karena ia sekarang melucuti celana Rohim. Pertama dilepaskannya
sabuk di pinggang Rohim. Lalu tanpa canggung-canggung lagi, dibukanya
retsleting celana panjangnya, kemudian diturunkan celana panjangnya
berikut celana dalamnya sekalian.
Sehingga kini kelihatan penis Rohim yang besar telah berdiri tegak
menembus diantara belahan baju seragamnya. Kulit tubuhnya coklat
kehitaman. Namun penisnya lebih hitam lagi dibanding bagian tubuh
lainnya.
Sementara Liani menelanjangi tubuh bagian bawah Rohim, baju
seragamnya yang tadi tersingkap ke samping jadi kembali ke posisi normal
dan sebagian rambutnya kini ada di depan dadanya. Sehingga ini menutupi
pandangan Rohim ke payudaranya. Segera Rohim menyibakkan seluruh rambut
Liani ke belakang dan “membetulkan” posisi baju itu dengan
menyingkapkannya lagi ke samping.
“Nah, gini baru lebih pas. Pas susunya,” katanya cengengesan.
“Sialan loe. Nggak mau rugi banget,” komentar Liani namun ia membiarkan Rohim melakukan itu. Karena ia segera sibuk memegang-megang penis itu dengan tangannya yang putih dan halus. Ia sama sekali tidak canggung ataupun jijik dengan penis hitam dan besar milik Rohim. Malah dengan cekatan tangannya yang putih halus memijit-mijit dan mengocok penis Rohim. Dan inilah rupanya kegiatan ‘ekstrakurikuler’ dari siswi cakep yang ‘innocent’ itu.
“Nah, gini baru lebih pas. Pas susunya,” katanya cengengesan.
“Sialan loe. Nggak mau rugi banget,” komentar Liani namun ia membiarkan Rohim melakukan itu. Karena ia segera sibuk memegang-megang penis itu dengan tangannya yang putih dan halus. Ia sama sekali tidak canggung ataupun jijik dengan penis hitam dan besar milik Rohim. Malah dengan cekatan tangannya yang putih halus memijit-mijit dan mengocok penis Rohim. Dan inilah rupanya kegiatan ‘ekstrakurikuler’ dari siswi cakep yang ‘innocent’ itu.
Sementara kedua tangan Rohim kini mulai meraba-raba kedua payudara
Liani. Payudara Liani yang kencang dan lumayan besar itu kini keduanya
berada dalam genggaman kedua tangan Rohim. Diremas-remasnya keduanya
dengan tangannya yang hitam itu. Dirasanya kulit gadis itu begitu halus
namun payudaranya cukup kenyal. Dipencet-pencet dan digoyang-goyangnya
kedua puting berwarna kemerahan itu dengan jari-jarinya. Dan ternyata
terbukti benar bahwa payudaranya terutama putingnya adalah titik-titik
sensitif Liani. Karena kini ia mulai mengeluarkan desahan-desahan erotis
dari mulutnya.
“Ohhh, ooohhhh, ooohhhhh.”
“Ohhh, ooohhhh, ooohhhhh.”
Rohim melanjutkan aksinya memainkan payudara milik gadis idaman
sekolah itu dengan mulutnya. Mula-mula dijilatinya seluruh bagian
payudaranya, dari bagian luar melingkar makin ke tengah. Sampai akhirnya
dijilati salah satu puting Liani dengan lidahnya, sementara tangannya
meremas-remas payudara yang satunya lagi dan menggoyang-goyangkan
putingnya dengan jari-jarinya. Tangannya yang satu lagi mulai bergerilya
ke bawah, masuk ke dalam rok seragam abu-abu Liani. Tangannya itu
meraba-rabai rambut kemaluan Liani dan dilanjutkan dengan jarinya
menggesek-gesekkan vagina Liani.
Sementara Liani makin mengeluarkan desahan-desahan nikmat. Namun
tangannya juga terus bekerja dengan mengocok-ngocok batang penis Rohim.
Terutama bagian kepalanya yang besar dan disunat itu diraba-rabainya
dengan jari-jari tangannya yang halus.
“Wah, gede banget sih, Him, punya loe. Dan item banget lagi.”
“Justru itu yang enak, Lian. Loe sukanya sama yang gede dan item gini khan. Kalo gua sukanya yang putih mulus dan kemerah-merahan gini,” kata Rohim menatap wajah Liani sambil tangannya meremas payudara Liani serta memainkan putingnya yang kemerahan,”Dan juga yang dibawah ini,” katanya sambil tangannya menggesek-gesekkan dinding vagina Liani,” “Trus juga yang ini enak diisep-isep juga,” katanya sambil menghisap puting Liani yang satunya lagi. Kali ini dihisap dan dikenyot-kenyotnya lalu mulutnya berpindah ke payudara yang satunya. Diemut-emutnya. Lidahnya bergerak melingkari puting yang sensitif akan rangsangan itu.
“Oooh. Oohhhh. Gila Loe, Him. Aduuuh. Enaaakk.”
“Lebih enak lagi kalo ntar barang gue yang kata loe gede dan item ini masuk ke tubuh loe yang putih mulus.”
“Oooh. OOOOhhhhh. AAHhhhhh.”
Liani tak menjawab perkataan Rohim karena ia sibuk mendesah-desah merasakan nikmatnya Rohim menyentuh ketiga titik paling sensitifnya.
Sementara Liani makin mendesah-desah kenikmatan. Vaginanya telah mulai basah tak tahan oleh rangsangan Rohim. Sementara tangannya sendiri masih terus memainkan penis Rohim.
“Wah, gede banget sih, Him, punya loe. Dan item banget lagi.”
“Justru itu yang enak, Lian. Loe sukanya sama yang gede dan item gini khan. Kalo gua sukanya yang putih mulus dan kemerah-merahan gini,” kata Rohim menatap wajah Liani sambil tangannya meremas payudara Liani serta memainkan putingnya yang kemerahan,”Dan juga yang dibawah ini,” katanya sambil tangannya menggesek-gesekkan dinding vagina Liani,” “Trus juga yang ini enak diisep-isep juga,” katanya sambil menghisap puting Liani yang satunya lagi. Kali ini dihisap dan dikenyot-kenyotnya lalu mulutnya berpindah ke payudara yang satunya. Diemut-emutnya. Lidahnya bergerak melingkari puting yang sensitif akan rangsangan itu.
“Oooh. Oohhhh. Gila Loe, Him. Aduuuh. Enaaakk.”
“Lebih enak lagi kalo ntar barang gue yang kata loe gede dan item ini masuk ke tubuh loe yang putih mulus.”
“Oooh. OOOOhhhhh. AAHhhhhh.”
Liani tak menjawab perkataan Rohim karena ia sibuk mendesah-desah merasakan nikmatnya Rohim menyentuh ketiga titik paling sensitifnya.
Sementara Liani makin mendesah-desah kenikmatan. Vaginanya telah mulai basah tak tahan oleh rangsangan Rohim. Sementara tangannya sendiri masih terus memainkan penis Rohim.
Namun rupanya Rohim tak mau membiarkan cewek itu memainkan penisnya
terlalu lama. Mungkin karena ia tak mau “habis” duluan. Rugi kalo ia
“habis” duluan dan nggak sempat menggoyang tubuh cewek putih mulus ini,
yang cakepnya nggak kalah dengan bintang film Mandarin.
Segera ia melepaskan dirinya dari Liani. Kini gilirannya memainkan
vagina Liani, bukan dengan tangannya tapi dengan lidahnya! Untuk itu
dicopotnya kedua sepatu putih Liani berikut kaus kaki warna putih dan
pink itu. Kemudian dikeluarkannya cd-nya yang terkait di kaki bawahnya.
“Nah, gini nih biar bebas gerakan loe.”
“Nah, gini nih biar bebas gerakan loe.”
Lalu ia berlutut di depan Liani, kepalanya dimasukkan ke dalam rok
cewek ini, kemudian dijulurkan lidahnya untuk menjilati memek cewek
“innocent” ini dengan lidahnya.
“Ooooh. OOHHHHH. Aduuhh. Enaak gilaa!”
Liani, anak kelas 3 SMU yang cakep dan innocent itu yang jadi idaman seluruh cowok di sekolah itu, kini dibuat jadi tak berkutik dan mendesah-desah makin tak keruan oleh cowok pesuruh sekolahan itu.
Apalagi sekarang kedua tangan Rohim meraih keatas menggenggam dan meremas-remas masing-masing satu payudara Liani.
“Oooh. AAAHHHHHH. AAAAHHHHHHHH. AAAAAHHHHHHHHH.”
“Ooooh. OOHHHHH. Aduuhh. Enaak gilaa!”
Liani, anak kelas 3 SMU yang cakep dan innocent itu yang jadi idaman seluruh cowok di sekolah itu, kini dibuat jadi tak berkutik dan mendesah-desah makin tak keruan oleh cowok pesuruh sekolahan itu.
Apalagi sekarang kedua tangan Rohim meraih keatas menggenggam dan meremas-remas masing-masing satu payudara Liani.
“Oooh. AAAHHHHHH. AAAAHHHHHHHH. AAAAAHHHHHHHHH.”
Jilatan Rohim itu benar-benar ampuh. Sampai-sampai membuat Liani,
cewek dengan reputasi tanpa cela itu, sekarang jadi basah kuyup
vaginanya dibuatnya. Wajah Rohim pun jadi ikutan basah pula kena tetesan
cairan dari vaginanya. Namun dengan liar ia terus menjilati vagina
basah Liani sehingga jadi makin kuyup aja.
Demikianlah permainan antara Rohim dan Liani. Awalnya keduanya
sama-sama agresif dan saling mengimbangi. Namun makin lama Rohim semakin
memegang kendali permainan sampai akhirnya kini Liani benar-benar
pasrah dan mengikuti saja seluruh permainan Rohim. Hal ini menunjukkan
bahwa Rohim jauh lebih berpengalaman dibanding Liani.
Kini Rohim mengeluarkan kepalanya dari dalam rok SMU Liani.
Dilepaskannya baju seragam putih SMU Liani dari tubuhnya. Kini ia
menyaksikan Liani dengan tubuh bagian atas yang sama sekali bugil namun
masih mengenakan rok abu-abu meski tanpa cd di dalamnya. Wajahnya yang
cakep dan innocent dengan payudaranya terbuka bebas, sungguh
kontradiktif dan menggairahkan. Ditambah lagi ia tahu betul cewek ini
adalah cewek elit dan cewek idaman se-sekolahan.
“Ayuk, sekarang loe duduk ya,” kata Rohim sambil menyuruh Liani duduk
setengah tiduran di kursi sofa. Sementara ia melepaskan seluruh pakaian
yang melekat di tubuhnya. Hingga sekarang Rohim telanjang bulat.
Lalu disingkapnya rak abu-abu Liani ke atas dan kedua pahanya dibentangkan lebar-lebar. Sehingga kini Liani dalam kondisi duduk setengah tiduran dengan dadanya yang telanjang. Sementara rok abu-abunya tersingkap ke atas dan kedua kakinya terbuka lebar sehingga nampak jelas rambut kemaluannya dan liang vaginanya. Rambut kemaluannya ternyata cukup lebat juga diantara kedua pahanya yang halus dan putih mulus itu. Rohim segera meraba-raba paha putih mulus itu. Ia merasakan halusnya kulit tubuh Liani yang putih bersih itu.
Lalu disingkapnya rak abu-abu Liani ke atas dan kedua pahanya dibentangkan lebar-lebar. Sehingga kini Liani dalam kondisi duduk setengah tiduran dengan dadanya yang telanjang. Sementara rok abu-abunya tersingkap ke atas dan kedua kakinya terbuka lebar sehingga nampak jelas rambut kemaluannya dan liang vaginanya. Rambut kemaluannya ternyata cukup lebat juga diantara kedua pahanya yang halus dan putih mulus itu. Rohim segera meraba-raba paha putih mulus itu. Ia merasakan halusnya kulit tubuh Liani yang putih bersih itu.
Lalu ia kembali menjilati vagina Liani dalam posisi terduduk setengah
tiduran begitu. Sehingga kini Liani merasakan sensasi yang berbeda.
“AAAHHHHHHHH. Aduuuhhhh. Ahhhhhhhh. Enakkkk. Ehhhmmmmm.
“AAAHHHHHHHH. Aduuuhhhh. Ahhhhhhhh. Enakkkk. Ehhhmmmmm.
“Nah sekarang tiba saatnya barang hitam gue menembus ke dalam tubuh loe yang putih mulus.”
Bersamaan dengan itu didekatkan ujung penisnya ke liang vagina Liani
yang kemerahan. Kepala penisnya nampak begitu besar sementara liang
vagina itu begitu sempit. Namun sekali sodok, cleeep, kepalanya berhasil
masuk sebagian ke vagina Liani. Lalu didorongnya sekali lagi dengan
lebih kuat
“Oooooooooooh,” desah panjang Liani.
Dan blesss, hampir seluruh penis Rohim masuk ke dalam memek Liani. Dan sekali lagi, sleeeep, masuklah seluruh penis hitamnya ke dalam tubuh Liani.
“Oooooooooooh,” desah panjang Liani.
Dan blesss, hampir seluruh penis Rohim masuk ke dalam memek Liani. Dan sekali lagi, sleeeep, masuklah seluruh penis hitamnya ke dalam tubuh Liani.
Begitu di dalam vagina Liani, segera dikocoknya penisnya yang hitam besar itu.
“Aaaahhh. Aahhhhhh. Aaaahhhhh.”
“Oooohhh. Ohhhhhh. Ohhhhhhhh.”
Seluruh tubuh Liani jadi berguncang-guncang dibuatnya. Kedua payudaranya jadi berputar-putar mengikuti gerakan sodokan Rohim.
Liani yang sebelumnya telah basah kuyup, rupanya tak bertahan lama. Hanya kurang dari satu menit disetubuhi oleh Rohim, ia akhirnya mengalami orgasme dengan teriakan-teriakan panjangnya yang erotis. Membuat Rohim semakin bersemangat untuk terus mengocoknya.
“OHHHHHHHH. EHHHHHHHHH. EHHHHHHHHHH. OHHHHHH. YEEESSSS. AHHHHHHHH.”
“Aaaahhh. Aahhhhhh. Aaaahhhhh.”
“Oooohhh. Ohhhhhh. Ohhhhhhhh.”
Seluruh tubuh Liani jadi berguncang-guncang dibuatnya. Kedua payudaranya jadi berputar-putar mengikuti gerakan sodokan Rohim.
Liani yang sebelumnya telah basah kuyup, rupanya tak bertahan lama. Hanya kurang dari satu menit disetubuhi oleh Rohim, ia akhirnya mengalami orgasme dengan teriakan-teriakan panjangnya yang erotis. Membuat Rohim semakin bersemangat untuk terus mengocoknya.
“OHHHHHHHH. EHHHHHHHHH. EHHHHHHHHHH. OHHHHHH. YEEESSSS. AHHHHHHHH.”
Dan Rohim memang masih jauh dari selesai. Karena memang ia ingin
menikmati tubuh gadis dengan wajah oriental ini semaksimal mungkin.
Untuk itu ia terus memompa penisnya di dalam tubuh Liani, membuat tubuh
cewek cakep itu jadi berguncang-guncang.
Akhirnya dilepaskannya rok abu-abu seragam Liani. Kini keduanya
betul-betul telanjang bulat. Lalu di bangku sofa itu kembali kontolnya
merasakan nikmatnya jepitan vagina Liani yang sempit. Kali ini dalam
posisi doggy style. Kedua tangannya memegang pinggang Liani supaya ia
bisa dengan leluasa mengenjot-enjot tubuh cewek ini. Payudara Liani yang
menggantung ke bawah jadi berguncang-guncang dibuatnya.
Kini mereka berubah posisi. Sekarang giliran Rohim yang duduk di atas
kursi sofa itu. Penisnya mengacung ke atas dengan tegaknya. Lalu ia
membimbing Liani untuk memangkunya di atas kedua kakinya dengan
menghadap ke arahnya. Setelah mengatur posisi, akhirnya penis Rohim
masuk ke dalam tubuh Liani. Kini gantian Liani yang menggoyang tubuhnya
naik turun. Mengocok penis Rohim di dalam vaginanya. Kedua tangan Rohim
meraba-raba payudara Liani.
Sungguh hebat sekali pemandangan itu. Betul-betul kontras sekali
perbedaannya. Yang satu cewek cakep dengan kulit putih dan tampang
innocent, sementara yang cowok tampangnya jelek, kulitnya hitam, dan
tampangnya liar kayak preman. Namun cewek innocent itulah yang justu
aktif menggerakkan tubuhnya naik turun, membiarkan vaginanya ditembusi
oleh penis besar cowok liar itu.
“Ooohhhh, ooohhhhhh, ooohhhhhhhhh.”
“Ooohhhh, ooohhhhhh, ooohhhhhhhhh.”
Setelah berganti posisi, kini Rohim membuat Liani telentang. Kakinya
dibentangkan lebar-lebar, dengan salah satu kakinya ditaruh diatas
sandaran sofa itu. Sehingga vaginanya kini terbuka bebas. Dalam posisi
satu kaki terangkat begitu, Rohim memasukkan penisnya ke dalam vagina
Liani dan kembali mengocoknya. Liani dengan pasrah menikmati kocokan
penis Rohim di dalam vaginanya yang mengguncang-guncang seluruh
tubuhnya. Tubuhnya jadi ikut menggelinjang-gelinjang dibuatnya, seirama
dengan rintihan-rintihan dan desahan-desahannya yang terdengar sangat
erotis. Ternyata cewek cakep yang tampangnya innocent ini diam-diam
doyan juga dengan penis cowok. Padahal bisa dipastikan hampir seluruh
orang mengira cewek ini masih polos dan perawan.
Rohim terus mengocok penisnya di dalam tubuh Liani. Jepitan vagina
Liani sungguh nikmat rasanya. Sambil menikmati pemandangan indah tubuh
Liani yang putih mulus berguncang-guncang serta payudara Liani yang
bouncing gara-gara ulahnya itu. Sungguh puas rasanya menyetubuhi cewek
yang cakepnya seperti Liani gini. Membuatnya serasa melayang di
awang-awang. Sungguh puas hatinya menyaksikan ekspresi wajah cantik
Liani saat itu. Ditambah lagi wajahnya yang innocent kini mengeluarkan
“musik” desahan-desahan erotis yang menggelorakan hati itu. Apalagi
kalau mengingat bahwa cewek yang sekarang sedang dinikmati itu adalah
cewek yang kelasnya jauh diatasnya dan menjadi incaran para cowok. Namun
sekarang justru dialah cowok beruntung yang sedang menikmati cewek
idaman ini secara mutlak.
Tak lama kemudian Liani mendapatkan orgasme yang keduanya, dalam
posisi satu kaki terangkat begitu. Setelah itu Rohim menghentikan
kocokannya di dalam vagina Liani. Kini ia pun juga sudah mau keluar.
Setelah puas menikmati tubuh Liani dan membuatnya orgasme dua kali, kini
giliran ia melampiaskan seluruhnya. Namun ia tidak akan mengeluarkannya
di dalam vagina Liani. Kini giliran ia menagih “imbalan” dari cewek
itu.
Penisnya yang hitam besar kini mengkilap karena cairan pre-cum nya
bercampur dengan cairan vagina Liani. Didekatkannya penisnya ke wajah
Liani yang masih tiduran di bangku sofa itu dengan napas terengah-engah.
Liani menjilati kedua pelirnya dan batang kontolnya sampai ke kepala
penisnya juga. Kemudian dikulumnya kepala penis yang besar itu. Dan
didalam mulutnya lidahnya saling beradu kontak dengan kepala penis Rohim
itu. Seluruh bagian kepala penis Rohim habis dijilatinya, termasuk
lehernya yang sangat sensitif itu.
Sampai akhirnya membuat Rohim tak tahan lagi. Sesaat sebelum
ejakulasi, dikeluarkannya penisnya dari dalam mulut Liani. Dan akhirnya
ia mengalami ejakulasi dengan memuntahkan sperma yang cukup banyak, yang
mendarat di beberapa tempat di wajah Liani. Ada pula yang sampai ke
rambutnya. Setelah itu spermanya mengalir ke bawah membasahi leher dan
dadanya. Kedua tangan Rohim mengusap-usap seluruh payudara Liani,
sehingga spermanya kini tersebar di seluruh bagian payudara Liani. Tubuh
Liani terutama dadanya jadi basah dan mengkilap karena sperma Rohim
yang bercampur dengan keringatnya sendiri.
“Wah, gila. Benar-benar mantap deh loe. Memang beda deh. Rasanya
kayak menikmati bintang film Mandarin. Betul-betul gua cowok beruntung
bisa ngerasain cewek secakep loe. Pokoknya loe the best dah.”
“Awas, loe jangan bilang-bilang ke siapa-siapa ya.”
“Berees. Asal jangan lupa ‘iurannya’ aja. Lagian, loe juga suka khan meskipun gua cuman pesuruh sekolah.”
“Aah, sialan loe.”
Dan selesailah sudah “pertempuran” antara Rohim, cowok liar pesuruh sekolah dengan Liani, cewek top yang jadi favorit seluruh cowok di sekolah itu.
“Awas, loe jangan bilang-bilang ke siapa-siapa ya.”
“Berees. Asal jangan lupa ‘iurannya’ aja. Lagian, loe juga suka khan meskipun gua cuman pesuruh sekolah.”
“Aah, sialan loe.”
Dan selesailah sudah “pertempuran” antara Rohim, cowok liar pesuruh sekolah dengan Liani, cewek top yang jadi favorit seluruh cowok di sekolah itu.
Pukul 16.08…
Liani dengan baju seragamnya yang tampak rapi di tubuhnya berjalan
keluar menuju pintu depan sekolah. Saat itu para murid siang baru
selesai istirahat dan mereka telah kembali ke kelas masing-masing.
Sehingga suasana sekolah menjadi sepi.
Tak lama kemudian ia masuk ke mobilnya dan men-staternya. Dan meluncurlah mobil itu meninggalkan sekolah menuju ke rumahnya.
Demikianlah cerita tentang Liani, siswi kelas 3 IPA dengan reputasi
yang bersih, gadis berumur 18 tahun yang cantik dan innocent, anak
pengusaha kaya yang pandai.
Liani, “The Sweet Young and Innocent Girl” yang ternyata “not so innocent” itu.
Liani, “The Sweet Young and Innocent Girl” yang ternyata “not so innocent” itu.
========================================
Sore itu Liani sedang duduk ngobrol dengan tiga teman ceweknya di
dalam sebuah mal. Mereka sedang asyik-asyiknya ngobrol dan saling
bercanda sambil memesan minuman dan makanan ringan. Saat itu mereka
semua masih memakai pakaian seragam tapi bukan seragam putih abu-abu
biasa, namun seragam dengan corak seperti batik untuk bajunya. Memang
sekolahnya ini punya dua jenis seragam, seragam biasa dan seragam ini.Di
hari-hari tertentu seragam inilah yang digunakan. Saat mereka sedang
seru-serunya bercandaan, ada seorang cowok yang sedang memandangi empat
anak cewek yang cakep-cakep itu dengan tampang mupeng. Cowok ini adalah
anak smu juga tapi beda sekolah dengan Liani. Cowok ini memang sering
datang ke mal itu, kadang sendirian kadang bareng teman-temannya. Mereka
adalah cowok-cowok berandalan yang datang ke mal dengan dua tujuan.
Kalau nggak cuci mata dan godain cewek-cewek terutama cewek-cewek smu
yang putih dan cakep-cakep itu, ya memalak anak-anak sd atau smp yang
main game di dekat bioskop. Hari ini kebetulan ia lagi sendirian. Saat
itu empat cewek itu tetap asyik ngobrol tanpa sadar ada cowok yang
menatap mupeng ke arah mereka. Semuanya cakep-cakep dan putih-putih.
Namun diantara keempatnya, cowok itu paling sering memandangi Liani.
Karena memang Liani yang paling cakep diantara mereka berempat. Apalagi
posisi Liani saat itu sungguh pas menghadap ke arahnya. Namun yang bikin
cowok itu makin mupeng dengan Liani, saat itu posisi duduk cewek itu
agak serampangan. Kedua kakinya agak terbuka dan roknya sedikit tertarik
ke atas sehingga cowok itu bisa melihat paha putih Liani yang terbuka,
apalagi posisi cowok itu sungguh strategis.
Liani seperti tak menyadari sedari tadi ada cowok yang memperhatikan
pahanya. Ia tetap tidak mengubah posisi duduknya itu. Sehingga cowok itu
sungguh beruntung bisa memandangi paha Liani yang sungguh putih mulus
itu selama beberapa saat lamanya. Matanya berpindah-pindah antara wajah
yang polos tapi cantik itu dan pahanya yang terbuka. Namun itu masih
belum apa-apa. Setelah itu, Liani becanda agak kelewatan dengan salah
satu temannya. Sampai temannya itu ingin mencubit dirinya. Tentu ia tak
ingin dicubit begitu saja dan berusaha menghindar. Saat ia berusaha
menghindari cubitan itu, tanpa sadar ia membuka kakinya terlalu lebar
sampai celana dalamnya kelihatan dari sudut pandang cowok itu. Apalagi
cd yang dipakainya saat itu warna hitam, yang mana sungguh kontras
dengan kulitnya yang putih. Tentu cowok itu jadi melongo dibuatnya saat
mendapat rejeki nomplok itu. Mimpi apa semalam bisa ngeliat celana dalam
cewek smu yang cakep dan putih itu. Dan itu terjadi nggak hanya sekali
tapi ada tiga atau empat kali. Akibatnya cowok itu kini jadi mupeng abis
dengan Liani! Beberapa saat kemudian, bubarlah mereka berempat dari
kumpul-kumpul itu. Namun saat itu Liani tidak langsung pulang. Ia ingin
melihat-lihat pakaian dulu. Saat itulah ia berjalan melewati cowok itu
yang berdiri di dekatnya. Langsung saja mata cowok itu jelalatan menatap
diri Liani dari atas ke bawah. Terutama dada cewek itu yang menonjol di
balik baju seragam batiknya. Baju seragam itu tak termasuk tipis jadi
tak ada yang kelihatan tembus pandang. Namun tetap menarik untuk dilihat
karena kelihatan menonjol, pertanda payudara cewek ini tentu lumayan
padat berisi. Saat itu Liani lagi dalam keadaan rasa isengnya muncul,
sehingga dilabraknya cowok itu. Memang Liani adalah cewek yang agak
aneh. Disaat cewek lain takut, ia malah berani.
“Hey! Ngapain lu liat-liat gua terus? Lagi mupeng ya?”
Namun kini ia kena batunya, karena cowok itu malah menantang balik,
“Kalo memang iya kenapa?”
“Enak aja mupengin orang sembarangan. Terus sekarang maunya apa?”
“Maunya apa? ML yuk!”
Rupanya saat itu Liani lagi kambuh penyakit isengnya, sehingga omongan usil orang itu malah ditanggapi dengan tak kalah badungnya.
“Sekarang berani nggak? Di toilet,” katanya.
“Boleh. Ayo sekarang! Kebetulan gua udah mupeng abis sama elo.”
“Ayo ikut gua kalo berani. Jangan cuman ngomong doang,” kata Liani meninggalkan cowok itu dan berjalan menuju ke toilet cewek.
Dan cowok itu, entah karena sama gilanya atau sudah kadung mupeng abis dengan Liani, omongan cewek itu ditanggapi beneran. Ia berjalan mengikutinya. Sesampai di depan toilet cewek, Liani menoleh ke cowok itu dan berkata,” Ayo masuk.” Dan cowok itu nggak mikir panjang, ikutan masuk ke toilet cewek! Kebetulan toilet itu lagi kosong sehingga tak ada orang yang melihat cowok itu masuk ke toilet cewek. Dan saat Liani masuk ke salah satu kamar, cowok itu pun ikut masuk ke dalam kamar dan menguncinya. Sehingga di dalam kamar toilet yang sempit itu, kini Liani dan cowok itu berduaan didalam! Begitu di dalam, segera cowok itu tak menyia-nyiakan kesempatan langka itu. Tanpa berkata apa-apa lagi, cowok itu langsung menubruk tubuh Liani dan menciuminya. Kapan lagi ia bisa dapat kesempatan ML sama cewek smu yang cakep kayak gini. Apalagi dari seragam yang dikenakan, cewek ini dari sekolah favorit yang bagus di kota itu. Kapan lagi bisa beginian sama cewek kayak gini. Langsung diciuminya bibir Liani dan bagian lagi wajahnya. Liani bukannya protes malah mendiamkan saja. Mungkin ia tak mengira cowok ini bakal senekat itu, atau mungkin ia juga jadi ikutan pengin apalagi belum pernah ia berbuat segila ini di tempat umum. Cowok itu jadi tambah nafsu melihat Liani membiarkan saja. Kembali ia menciumi bibir Liani. Sementara Liani kini malah menanggapi aksi cowok itu. Bibirnya juga ikutan aktif mencium bibir cowok itu. Akhirnya keduanya saling berpagutan di dalam kamar toilet itu. Kedua lidah mereka saling bertemu dan “bersilat lidah”.
“Hey! Ngapain lu liat-liat gua terus? Lagi mupeng ya?”
Namun kini ia kena batunya, karena cowok itu malah menantang balik,
“Kalo memang iya kenapa?”
“Enak aja mupengin orang sembarangan. Terus sekarang maunya apa?”
“Maunya apa? ML yuk!”
Rupanya saat itu Liani lagi kambuh penyakit isengnya, sehingga omongan usil orang itu malah ditanggapi dengan tak kalah badungnya.
“Sekarang berani nggak? Di toilet,” katanya.
“Boleh. Ayo sekarang! Kebetulan gua udah mupeng abis sama elo.”
“Ayo ikut gua kalo berani. Jangan cuman ngomong doang,” kata Liani meninggalkan cowok itu dan berjalan menuju ke toilet cewek.
Dan cowok itu, entah karena sama gilanya atau sudah kadung mupeng abis dengan Liani, omongan cewek itu ditanggapi beneran. Ia berjalan mengikutinya. Sesampai di depan toilet cewek, Liani menoleh ke cowok itu dan berkata,” Ayo masuk.” Dan cowok itu nggak mikir panjang, ikutan masuk ke toilet cewek! Kebetulan toilet itu lagi kosong sehingga tak ada orang yang melihat cowok itu masuk ke toilet cewek. Dan saat Liani masuk ke salah satu kamar, cowok itu pun ikut masuk ke dalam kamar dan menguncinya. Sehingga di dalam kamar toilet yang sempit itu, kini Liani dan cowok itu berduaan didalam! Begitu di dalam, segera cowok itu tak menyia-nyiakan kesempatan langka itu. Tanpa berkata apa-apa lagi, cowok itu langsung menubruk tubuh Liani dan menciuminya. Kapan lagi ia bisa dapat kesempatan ML sama cewek smu yang cakep kayak gini. Apalagi dari seragam yang dikenakan, cewek ini dari sekolah favorit yang bagus di kota itu. Kapan lagi bisa beginian sama cewek kayak gini. Langsung diciuminya bibir Liani dan bagian lagi wajahnya. Liani bukannya protes malah mendiamkan saja. Mungkin ia tak mengira cowok ini bakal senekat itu, atau mungkin ia juga jadi ikutan pengin apalagi belum pernah ia berbuat segila ini di tempat umum. Cowok itu jadi tambah nafsu melihat Liani membiarkan saja. Kembali ia menciumi bibir Liani. Sementara Liani kini malah menanggapi aksi cowok itu. Bibirnya juga ikutan aktif mencium bibir cowok itu. Akhirnya keduanya saling berpagutan di dalam kamar toilet itu. Kedua lidah mereka saling bertemu dan “bersilat lidah”.
Merasa diberi angin, cowok itu jadi makin liar aksinya. Kini
dibukanya kancing baju seragam Liani satu persatu. Sudah sejak tadi ia
penasaran ingin “mengecek” dada cewek itu. Sehingga terbukalah baju
seragam Liani dan tampaklah kulit tubuhnya yang putih mulus. Dadanya
terbungkus oleh bra warna hitam.. Dengan penuh nafsu dilepasnya bra itu.
Tangan cowok itu merogoh ke punggung Liani mencari pengait branya untuk
dibukanya. Setelah dibukanya, diangkatnya bra itu, sehingga nampaklah
payudara yang putih mulus serta padat berisi itu. Seketika cowok itu
jadi nafsu melihat dada yang putih menggiurkan itu. Segera dipegangnya
kedua dada Liani dengan kedua tangannya. Diraba-rabanya dada yang berada
dalam genggamannya itu, digoyang-goyangnya, dan diremas-remasnya. Kedua
jari-jarinya memilin-milin puting payudara Liani yang segar kemerahan
itu. Sementara toilet yang tadinya sepi tak ada orang sama sekali itu,
tiba-tiba jadi banyak orang. Malah telah terjadi antrian sampai 5 orang
yang menunggu. Apalagi barusan kedatangan serombongan ibu-ibu ke toilet
itu, yang baru saja selesai makan dan ngobrol di food court (entah
mereka disana lagi arisan atau sekedar kumpul-kumpul). Saat itu ada
seorang ibu yang mengeluh ke temannya,
“Aduuh, lama bener ya. Sudah nggak tahan nih.”
“Iya nih, lama bener. Apalagi yang ini nih,” kata seorang ibu yang berdiri paling depan menunjuk ke kamar yang dipakai Liani,” Dari tadi nggak keluar-
keluar.”
“Iya. Kamar yang lain sudah ganti dua tiga orang, ini orang satu masih belum keluar juga,” kata ibu lainnya.
“Mbak, mbak,” kata seorang ibu yang lain sambil mengetuk-ngetuk kamar Liani,” masih lama nggak ya? Kita semua sudah pada kebelet nih.”
“Iya dari tadi lama bener, ngapain aja sih?”
“Iya, iya, sebentar, sabar kenapa sih,” kata Liani dari dalam sementara saat itu payudaranya lagi diremas-remas cowok itu.
“Soalnya situ di dalam sudah lama bener. Yang mau pake toilet bukan cuman situ doang.”
“Pake kamar yang lain napa sih?” seru Liani sebelum bibirnya dikunci oleh cowok itu yang sambil terus meremas-remas dadanya.
“Yaelah ini orang. Kamar yang lain juga penuh Bu. Pengertian sedikit kenapa sih.”
“Situ lagi ngapain sih di dalam?”
“Lagi beranak kali ya di dalam. Lama bener.”
Namun ibu-ibu itu hanya bisa ngedumel saja sambil ngantri. Tak lama kemudian toilet jadi sepi kembali. Tiga kamar yang lain telah dipake banyak orang, tapi yang satu itu masih terus tertutup.
“Aduuh, lama bener ya. Sudah nggak tahan nih.”
“Iya nih, lama bener. Apalagi yang ini nih,” kata seorang ibu yang berdiri paling depan menunjuk ke kamar yang dipakai Liani,” Dari tadi nggak keluar-
keluar.”
“Iya. Kamar yang lain sudah ganti dua tiga orang, ini orang satu masih belum keluar juga,” kata ibu lainnya.
“Mbak, mbak,” kata seorang ibu yang lain sambil mengetuk-ngetuk kamar Liani,” masih lama nggak ya? Kita semua sudah pada kebelet nih.”
“Iya dari tadi lama bener, ngapain aja sih?”
“Iya, iya, sebentar, sabar kenapa sih,” kata Liani dari dalam sementara saat itu payudaranya lagi diremas-remas cowok itu.
“Soalnya situ di dalam sudah lama bener. Yang mau pake toilet bukan cuman situ doang.”
“Pake kamar yang lain napa sih?” seru Liani sebelum bibirnya dikunci oleh cowok itu yang sambil terus meremas-remas dadanya.
“Yaelah ini orang. Kamar yang lain juga penuh Bu. Pengertian sedikit kenapa sih.”
“Situ lagi ngapain sih di dalam?”
“Lagi beranak kali ya di dalam. Lama bener.”
Namun ibu-ibu itu hanya bisa ngedumel saja sambil ngantri. Tak lama kemudian toilet jadi sepi kembali. Tiga kamar yang lain telah dipake banyak orang, tapi yang satu itu masih terus tertutup.
Sementara di dalam, mereka lagi seru-serunya. Liani tak mau kalah
dengan cowok itu, ia juga ikutan aktif. Dibukanya retsleting celana
panjang cowok itu dan diturunkannya. Nampak tonjolan besar di celana
dalamnya. Langsung dibukanya celana dalam itu dan diturunkannya. Nampak
penis hitam yang disunat kepalanya. Ukurannya biasa saja namun telah
menegak dengan keras. Segera penis cowok itu dipegang dan dipijit-pijit
oleh tangannya yang halus. Sementara cowok itu makin bernafsu. Ia
mendekat ke samping Liani, kedua tangannya terus meremas-remas payudara
putih itu dan kini mulutnya mulai mengemut-ngemut puting payudara yang
kemerahan itu. Dengan rakus diemut-emutnya puting merah yang segar itu.
Sementara tangan halus Liani kini mengelus-ngelus kepala penis yang
disunat itu. Namun tiba-tiba, Crooot, croott, crooottt, keluarlah sperma
cukup banyak dari penis cowok itu. Semprotan yang pertama meloncat
cukup jauh sampai mendarat di tempat duduk kloset. Setelah itu makin
lama makin berkurang tekanannya. Rupanya ia nggak bisa nahan lagi saat
kepala penisnya dielus-elus oleh Liani. Apalagi ia terlalu bernafsu
dengan payudara Liani yang putih dan montok apalagi dengan putingnya
yang segar kemerahan.
“Yah, cuman kayak gini doang.”
Tangannya kini belepotan penuh dengan sperma cowok itu.
“Badan gede, ngomongnya galak, tapi loyo,” ejek gadis itu sambil mengelap tangannya yang penuh dengan sperma ke baju cowok itu.
Roknya bahkan masih sangat rapi belum tersentuh sama sekali!
Sementara cowok itu kini menghentikan aksinya dan melepas pegangannya dari dada Liani. Mukanya merah padam.
Liani segera mengaitkan bra-nya lagi dan mengancingkan bajunya.
“Udah ah, gua pulang dulu,” katanya sambil membuka pintu kamar toilet itu dan setelah tidak ada orang segera meninggalkan toilet itu.
“Yah, cuman kayak gini doang.”
Tangannya kini belepotan penuh dengan sperma cowok itu.
“Badan gede, ngomongnya galak, tapi loyo,” ejek gadis itu sambil mengelap tangannya yang penuh dengan sperma ke baju cowok itu.
Roknya bahkan masih sangat rapi belum tersentuh sama sekali!
Sementara cowok itu kini menghentikan aksinya dan melepas pegangannya dari dada Liani. Mukanya merah padam.
Liani segera mengaitkan bra-nya lagi dan mengancingkan bajunya.
“Udah ah, gua pulang dulu,” katanya sambil membuka pintu kamar toilet itu dan setelah tidak ada orang segera meninggalkan toilet itu.
Sementara cowok itu segera memakai celana dalam dan celana panjangnya. Setelah itu segera keluar dari toilet itu. Namun,
“AAAHHHHHHHHHHHH! Toloooong. Ada cowok disini!” teriak seorang ibu setengah baya dengan histeris.
Saat itu akan masuk seorang tante gendut dengan temannya.
“Jangan masuk Bu, ada cowok di dalam!” teriak ibu tadi.
“Kurang ajar kamu ya! Ngapain kamu kesini,” maki tante gendut tadi sambil memukul-mukulkankan tasnya ke kepala cowok itu.
“Satpaaam! Mana satpam. Panggil satpam kemari! Satpaaam!!”
Dan akhirnya, dengan baju masih basah dengan spermanya sendiri, digiringlah cowok itu oleh satpam mal yang berkumis sangar.
Sungguh malu dua kali ia hari itu. Pertama karena dicokok satpam dan ditonton orang banyak. Kedua, malu dengan cewek cakep tadi.
Dan oleh satpam, cowok itu dianggap bersalah karena masuk ke toilet cewek dan melakukan onani di dalam.
Sementara Liani melihat itu dari kejauhan dengan tertawa-tawa terpingkal-pingkal.
“AAAHHHHHHHHHHHH! Toloooong. Ada cowok disini!” teriak seorang ibu setengah baya dengan histeris.
Saat itu akan masuk seorang tante gendut dengan temannya.
“Jangan masuk Bu, ada cowok di dalam!” teriak ibu tadi.
“Kurang ajar kamu ya! Ngapain kamu kesini,” maki tante gendut tadi sambil memukul-mukulkankan tasnya ke kepala cowok itu.
“Satpaaam! Mana satpam. Panggil satpam kemari! Satpaaam!!”
Dan akhirnya, dengan baju masih basah dengan spermanya sendiri, digiringlah cowok itu oleh satpam mal yang berkumis sangar.
Sungguh malu dua kali ia hari itu. Pertama karena dicokok satpam dan ditonton orang banyak. Kedua, malu dengan cewek cakep tadi.
Dan oleh satpam, cowok itu dianggap bersalah karena masuk ke toilet cewek dan melakukan onani di dalam.
Sementara Liani melihat itu dari kejauhan dengan tertawa-tawa terpingkal-pingkal.
—@@@@@@@—–
Bagian 2 – Sex in the Movie Theatre
Liani baru saja memarkir mobilnya dan masuk ke dalam mal itu. Saat
itu datang sms di handphone-nya. Bunyinya,”Sorry, tadi gua salah ketik.
Ketemuannya bukan jam 2 tapi jam 4.” Sms itu datang dari Herlina teman
sekolahnya. Mereka janjian untuk ngumpul dan makan bareng dengan
beberapa temannya. Ah, sialan, gerutu Liani. Kenapa nggak bilang dari
tadi-tadi? Tahu gitu gua pulang dulu ke rumah. Padahal saat itu pun
masih kepagian untuk jam 2. Karena ia langsung jalan dari sekolah.
Sekarang malah ternyata janjiannya dimundurin ke jam 4. Tapi kalo mau
pulang rumah dulu, tanggung. Sedangkan kalo nunggu bengong sendirian 2
jam lebih juga bosan. Malah-malah nanti bisa digangguin cowok iseng
kayak waktu itu. Akhirnya diputuskan mending nonton aja.. Meski
sendirian tapi masih mendingan daripada bengong aja. Lalu ia naik ke
tempat bioskop. Saat itu lagi sepi, karena memang bukan jam umum untuk
nonton. Sementara ia melihat-lihat film yang ada dan yang pas jamnya,
ada seorang cowok yang ngeliatin dia terus. Cowok ini adalah anak smu
juga yang biasanya datang ke mal itu untuk dua tujuan. Kalau nggak cuci
mata dan godain cewek-cewek terutama cewek-cewek smu yang cakep-cakep
dan putih-putih itu, ya memalak anak-anak sd atau smp yang main game di
dekat bioskop. Kebetulan cowok itu habis memalak anak SMP “gemuk” yaitu
anak orang kaya yang dikasih duit jajan banyak. Setelah merasa
penghasilannya hari itu cukup, kini ia ingin menikmati sisa hari itu
dengan nonton. Dan saat itulah ia melihat Liani yang juga datang
sendirian.
Saat melihat cewek cakep apalagi sendirian, ia tak bisa menahan mulut usilnya itu.
“Suitt, suitt,” siulnya dengan usil sambil matanya menggerayangi seluruh tubuh Liani,” Muluss.”
Saat itu Liani memakai baju seragam batiknya. Sehingga ia bisa lolos dari satpam yang kadang tidak memperbolehkan anak-anak SMU berseragam putih abu-abu masuk. Ia jadi mupeng dengan Liani karena selain cakep dan kulitnya putih banget, body-nya pun ok. Pandangannya seketika mengarah ke dada Liani yang nampak menonjol di balik baju seragam batiknya. Baju seragam itu tak termasuk tipis jadi tak ada yang kelihatan tembus pandang. Namun tetap menarik untuk dipelototi karena kelihatan menonjol, pertanda payudara cewek ini tentu lumayan padat berisi.
“Sendirian ya? Mau ditemenin ga?” tanya cowok itu cengengesan.
Liani tidak menghiraukan cowok itu. Ia tidak merasa perlu menanggapi cowok-cowok semacam itu, yang kerjaannya cuman nggodain cewek kayak dirinya. Lagian, ditanggapi pun juga percuma. Kayak waktu itu. Ngomongnya aja kayak jagoan tapi belum apa-apa langsung keok. Setelah itu Liani mendatangi loket dan membeli satu tiket. Setelah cewek itu pergi, cowok itu juga mendatangi loket itu dan berkata ke penjual karcisnya,”Sebelahnya cewek tadi, Mbak.”
Tak lama kemudian masuklah Liani ke dalam gedung bioskop. Ia membeli tiket tempat duduk di baris paling belakang di tengah-tengah. Gedung bioskop saat itu sangat sepi penonton. Tak lama kemudian masuklah cowok tadi dan nomor kursinya memang betul di sebelah Liani.
“Suitt, suitt,” siulnya dengan usil sambil matanya menggerayangi seluruh tubuh Liani,” Muluss.”
Saat itu Liani memakai baju seragam batiknya. Sehingga ia bisa lolos dari satpam yang kadang tidak memperbolehkan anak-anak SMU berseragam putih abu-abu masuk. Ia jadi mupeng dengan Liani karena selain cakep dan kulitnya putih banget, body-nya pun ok. Pandangannya seketika mengarah ke dada Liani yang nampak menonjol di balik baju seragam batiknya. Baju seragam itu tak termasuk tipis jadi tak ada yang kelihatan tembus pandang. Namun tetap menarik untuk dipelototi karena kelihatan menonjol, pertanda payudara cewek ini tentu lumayan padat berisi.
“Sendirian ya? Mau ditemenin ga?” tanya cowok itu cengengesan.
Liani tidak menghiraukan cowok itu. Ia tidak merasa perlu menanggapi cowok-cowok semacam itu, yang kerjaannya cuman nggodain cewek kayak dirinya. Lagian, ditanggapi pun juga percuma. Kayak waktu itu. Ngomongnya aja kayak jagoan tapi belum apa-apa langsung keok. Setelah itu Liani mendatangi loket dan membeli satu tiket. Setelah cewek itu pergi, cowok itu juga mendatangi loket itu dan berkata ke penjual karcisnya,”Sebelahnya cewek tadi, Mbak.”
Tak lama kemudian masuklah Liani ke dalam gedung bioskop. Ia membeli tiket tempat duduk di baris paling belakang di tengah-tengah. Gedung bioskop saat itu sangat sepi penonton. Tak lama kemudian masuklah cowok tadi dan nomor kursinya memang betul di sebelah Liani.
“Hi,” sapa cowok itu.
“Hi,” kata Liani.
“Nonton sendirian ya?”
“Iya.”
“Sama dong. Gua juga sendirian. Aneh ya, kok kebetulan duduknya bisa sebelahan?”
“Khan lu yang minta tadi sama Mbak-nya.”
“Hah! Masa sih? Kok gua nggak inget?”
“Udahlah lu ga usah pura-pura. Dikira gua nggak tahu.”
“Hehehe, iya sih,” katanya cengengesan. “Oh ya, nama lu siapa? Nama gua Boy..”
“Rika,” kata Liani asal-asalan.
Dan cowok itu selanjutnya berusaha melakukan pendekatan ke arah kemupengan. Sementara Liani kini jadi timbul semangat badungnya. Sebelum cowok tadi masuk dan duduk di sebelahnya pun, ia telah membayangkan, situasi sepi-sepi gini, kayaknya jadi asyik deh kalo gituan. Gituan di dalam gedung bioskop! Oleh karena itu kini ia bersikap wait and see aja terhadap cowok yang ngaku namanya “Boy” ini. Ia sendiri ragu cowok kayak gini bisa punya nama sebagus itu. Tapi, masa bodolah. Yang penting bukan namanya keren apa nggak nya. Karena Liani tidak menolak, cowok itu jadi makin lama makin berani. Kini dipegangnya tangan Liani. Dan cewek itu diam saja. Lalu diraba-rabanya tangan yang halus itu. Kemudian ia memegang rambut Liani. Cewek itu diam saja. Kini dipeluknya cewek itu dan diciumnya pipi cewek itu. Masih diam saja. Kini cowok itu jadi tambah berani. Diciumnya bibir cewek itu. Liani awalnya mendiamkan saja. Namun kini dirasakan, ciuman cowok itu not bad juga. Jadi ia mulai menanggapinya. Ia mulai ikut mencium cowok itu. Tak lama kemudian mereka berdua berciuman saling berpagutan di dalam bioskop. Lidah mereka saling beradu di dalam mulut yang saling melekat itu. Tak jelas siapa mendominasi siapa. Karena keduanya sama-sama aktif.
“Hi,” kata Liani.
“Nonton sendirian ya?”
“Iya.”
“Sama dong. Gua juga sendirian. Aneh ya, kok kebetulan duduknya bisa sebelahan?”
“Khan lu yang minta tadi sama Mbak-nya.”
“Hah! Masa sih? Kok gua nggak inget?”
“Udahlah lu ga usah pura-pura. Dikira gua nggak tahu.”
“Hehehe, iya sih,” katanya cengengesan. “Oh ya, nama lu siapa? Nama gua Boy..”
“Rika,” kata Liani asal-asalan.
Dan cowok itu selanjutnya berusaha melakukan pendekatan ke arah kemupengan. Sementara Liani kini jadi timbul semangat badungnya. Sebelum cowok tadi masuk dan duduk di sebelahnya pun, ia telah membayangkan, situasi sepi-sepi gini, kayaknya jadi asyik deh kalo gituan. Gituan di dalam gedung bioskop! Oleh karena itu kini ia bersikap wait and see aja terhadap cowok yang ngaku namanya “Boy” ini. Ia sendiri ragu cowok kayak gini bisa punya nama sebagus itu. Tapi, masa bodolah. Yang penting bukan namanya keren apa nggak nya. Karena Liani tidak menolak, cowok itu jadi makin lama makin berani. Kini dipegangnya tangan Liani. Dan cewek itu diam saja. Lalu diraba-rabanya tangan yang halus itu. Kemudian ia memegang rambut Liani. Cewek itu diam saja. Kini dipeluknya cewek itu dan diciumnya pipi cewek itu. Masih diam saja. Kini cowok itu jadi tambah berani. Diciumnya bibir cewek itu. Liani awalnya mendiamkan saja. Namun kini dirasakan, ciuman cowok itu not bad juga. Jadi ia mulai menanggapinya. Ia mulai ikut mencium cowok itu. Tak lama kemudian mereka berdua berciuman saling berpagutan di dalam bioskop. Lidah mereka saling beradu di dalam mulut yang saling melekat itu. Tak jelas siapa mendominasi siapa. Karena keduanya sama-sama aktif.
Lalu cowok itu mulai menggerayangi tubuh Liani. Diraba-rabanya dada
cewek itu. Dirasakannya payudaranya yang lumayan berisi juga. Begitu
dapat kesempatan memegang payudara, seketika nafsunya langsung naik.
Kemudian cowok itu menciumi leher putih Liani. Dikecup-kecupnya leher
yang putih halus itu. Dan dibukanya kancing baju seragam Liani satu
satu. Samar-samar nampak kulit tubuhnya yang putih mulus. Hmmm, sungguh
indah. Ia sudah lama sering membayangkan cewek yang putih kayak Liani
gini. Tapi baru kali ini ia merasakannya. Samar-samar kelihatan gundukan
dada bagian atas yang tak tertutup oleh bra cewek ini. Lalu dibukanya
bra itu. Diulurkan tangannya ke punggung cewek itu. Namun ternyata
kaitannya tak disitu. Sehingga tangannya berpindah ke depan. Dengan
sekali tarik, dilepasnya kaitan di bagian depan branya itu. Kemudian
dibukanya bra itu. Dan, ia sungguh terpana menyaksikan dada yang putih
dan indah milik Liani. Meski samar-samar, namun sungguh menggairahkan!
Segera direngkuhnya dada itu. Diraba-rabanya. Dan diusap-usapnya kedua
putingnya yang menonjol dan sensitif itu dengan ibu jarinya. “Ooh” keluh
Liani saat kedua putingnya diusap-usap cowok itu. Kemudian cowok itu
meremas-remas dengan lembut payudara yang padat berisi dan kenyal itu.
Oh, sungguh puas rasanya bisa memegang dan meremas-remas payudara
telanjang cewek yang cakep dan putih kayak gini! Cewek ini betul-betul
sexy sekali. Apalagi dengan dada yang telanjang gini. Apalagi dengan
dadanya yang ada dalam genggaman tangannya gini! Cowok itu makin
merapatkan dirinya ke cewek itu. Kini kepalanya turun ke dada cewek itu.
Mulutnya segera mencium payudara cewek itu. Lalu menjilati. Dan
menyedot-nyedot kedua putingnya kiri kanan bergantian. Oooh! Liani mulai
“naik” dengan aksi cowok itu. Apalagi ia cukup jago dalam merangsang
payudaranya. Termasuk saat menjilati dan menghisap putingnya. Ditambah
lagi, tubuhnya yang sejak tadi agak kedinginan karena ac bioskop itu,
kini “dihangatkan” oleh kecupan-kecupan cowok itu terutama di
payudaranya. Dadanya terasa hangat saat cowok itu menghisap-hisap dan
mengenyot-ngenyot putingnya.
Liani juga ikutan beraksi. Tangannya menggerayangi tubuh cowok itu.
Memegang dadanya yang bidang. Lalu tangannya turun ke bawah. Ke perut.
Dan turun lebih bawah lagi. Tangannya merasakan ada benda keras di dalam
celana cowok itu. Kini ia ingin menguji ketahanan cowok itu. Kalo nggak
mampu, mending diketahui sekarang daripada tahunya belakangan.
Ditaruhnya tangannya di selangkangan cowok itu. Ia memegang-megang
bagian pangkal paha cowok itu. Sampai akhirnya disentuhnya batang yang
mengeras di dalam celana itu. Sementara cowok itu jadi kaget dengan
reaksi Liani ini. Tak disangka-sangkanya cewek yang cakep dan tampangnya
sedemikian polos bisa melakukan ini. Tak disangkanya cewek ini rupanya
sudah punya cukup pengalaman juga. Ia jadi makin senang. Dibiarkan cewek
ini berbuat semaunya. Termasuk setelah itu dilepasnya sabuk celananya.
Dibukanya retsleting celana panjangnya. Dan…tangan yang putih mungil itu
menyusup masuk ke celana dalamnya. Memegang batangnya yang telah
mengeras sejak tadi-tadi. Tak hanya sekedar memegang saja, tapi tangan
mungil itu mengocok-ngocok batangnya dan jari-jarinya mengusap-usap
kepala dan leher penisnya. Oooh! Hampir meloncat ia rasanya karena
nikmatnya tak terbayangkan saat penisnya dikocok-kocok dan diusap-usap
oleh cewek cakep di sebelahnya ini. Oleh karena itu, tentu ia tak mau
kalah dengan cewek ini. Tindakan cewek itu dibalasnya dengan setimpal.
Dibukanya rok seragam cewek itu. Samar-samar terlihat pahanya yang
sungguh putih itu. Diraba-rabanya paha mulus itu terutama pangkalnya.
Lalu tangannya dimainkan di atas celana dalam cewek itu. Jari-jemarinya
menggelitik daerah sekitar vaginanya. Oooh, oohhhh. Cewek itu mulai
mendesah-desah. Apalagi saat jarinya kini dimainkan di liang vaginanya.
Bahkan jarinya itu ditekan-tekan ke dalam liang itu, sampai akhirnya
masuk sedikit. OOHhhhhh! Liani secara spontan mendesah. Lalu tangannya
ikut-ikutan dengan yang dilakukan cewek itu tadi, yaitu… disusupkannya
di dalam celana dalam cewek itu.
Ouw! Dirasakannya tangannya mengenai bulu-bulu di daerah tersembunyi
itu. Sungguh lebat sekali bulu-bulunya! Lalu tangannya turun ke bawah
dikit. Kini tangannya mencapai daerah terlarang dari cewek ini. Namun
cewek ini diam saja saat tangannya mencapai daerah terlarangnya. Malah
ia menikmatinya! Segera tangannya dimainkan di daerah vagina cewek itu.
Cewek itu makin mendesah-desah. Apalagi saat tangannya menemukan dan
merangsang klitoris cewek itu. Dilihatnya cewek itu merintih-rintih dan
mendesah-desah serta tubuhnya menggelinjang-gelinjang. Hanya suara
desahannya saja yang ditahannya. Sehingga ia mendengar desahan-desahan
pelan cewek itu. Apalagi setelah mulutnya kini kembali mengenyot-ngenyot
dada cewek itu. Dirasakannya vagina cewek itu basah berair. Demikianlah
Liani yang tadinya agak memandang rendah cowok ini dan bermaksud
“mengetest”nya kini ternyata tidak hanya cowok itu lulus ujian tapi juga
mampu membuatnya lupa diri. Ia lupa dengan niatnya ingin mengetestnya
karena sekarang malah ia jadi menggelinjang-gelinjang kenikmatan sudah
lupa akan segalanya. Namun ternyata cowok itu tidak berhenti sampai
disitu saja dalam hal “memanaskan” dirinya. Karena cowok itu kini
berjongkok di depan Liani, membuka kedua kakinya lebar-lebar.
Dan….mulutnya menjilati vaginanya. Oooohhhh! Liani jadi makin tak tahan
lagi untuk tidak menggeliat-geliatkan tubuhnya. Apalagi teknik jilatan
cowok itu lumayan juga. Paling tidak cukup untuk membuatnya jadi basah
kuyup. Oleh karena di dalam gedung bioskop yang ruang geraknya terbatas,
mereka tak mau berlama-lama. Begitu tahu Liani telah siap, segera
dilepaskannya celana dalam cewek itu. Ia harus melepas sepatu cewek itu
dan meloloskan celana dalam itu dari tubuh cewek itu. Supaya lingkup
geraknya lebih bebas. Kemudian ia menurunkan celananya berikut celana
dalamnya. Dan, dengan menunggingkan tubuh Liani, bleesss! dimasukkannya
penisnya ke dalam vagina cewek itu dalam posisi doggy style.
Disodok-sodoknya vagina itu yang dirasakannya amat sempit itu. Kedua
tangannya memegang payudara cewek itu. Ditepuk-tepuk dan
diremas-remasnya. Akhirnya cewek itu berhasil disetubuhinya juga. Cewek
yang di luar tadi mengacuhkan dia dan memandang rendah dirinya. Namun
sekarang keadaannya sungguh berbeda. Kini dirinya berada di dalam tubuh
cewek itu, dan menikmati cewek itu!
Sementara Liani sungguh menikmati genjotan penis cowok itu di dalam
tubuhnya. Ia dengan lirih mendesah-desah saat penis cowok itu
menyodok-nyodok di dalam dirinya. Apalagi ditambah ketegangan bahwa
kegiatan itu berlangsung di tempat umum, di dalam bioskop! Sementara
cowok ini ternyata sungguh perkasa mengocok-ngocok vaginanya. Setelah
itu mereka berganti posisi. Kini cowok itu duduk dibangku bioskop itu.
Sementara Liani duduk di pangkuannya. Tapi sebelum itu, rupanya Liani
ingin menelanjangi bagian bawah cowok itu, sama seperti cowok itu yang
sebelumnya melepas celana dalamnya. Dilepasnya celana panjang dan celana
dalam cowok itu dari tubuhnya sehingga kini bagian bawah cowok itu
telanjang. Sementara, cowok itu menyingkap rok seragamnya yang
dikenakannya itu, sehingga kini pantat dan bulu kemaluannya terbuka
bebas. Seandainya gedung itu tidak gelap dan ada orang yang menoleh ke
belakang, tentu orang itu bisa melihat kedua paha dan bulu kemaluannya
dengan jelas! Kini Liani duduk dengan manis di pangkuan cowok itu. Namun
tentu bukan sekedar pangkuan biasa. Tapi penis cowok itu masuk menembus
ke dalam vaginanya. Setelah itu, giliran Liani yang menggoyang tubuhnya
sendiri naik turun. Sementara kedua tangan cowok itu memainkan
payudaranya.
“Oooh….ohhhhh……ohhhhhh…….ohhhhhhh”
Ia terus mendesah-desah. Dan ia terus menggoyang tubuhnya naik turun. Beberapa saat lamanya. Sampai akhirnya,
“Uuuuuhhhhhhhhhhhhh…..uuuuuhhhhhhhhhhhhhhhhhh….uuuuuuuhhhhhhhhhhhhh”
ia melenguh-lenguh panjang, saat ia mengalami orgasme. Orgasme di dalam gedung bioskop karena disetubuhi oleh cowok tak dikenal! Oleh cowok yang awalnya dipandang rendah!
“Oooh….ohhhhh……ohhhhhh…….ohhhhhhh”
Ia terus mendesah-desah. Dan ia terus menggoyang tubuhnya naik turun. Beberapa saat lamanya. Sampai akhirnya,
“Uuuuuhhhhhhhhhhhhh…..uuuuuhhhhhhhhhhhhhhhhhh….uuuuuuuhhhhhhhhhhhhh”
ia melenguh-lenguh panjang, saat ia mengalami orgasme. Orgasme di dalam gedung bioskop karena disetubuhi oleh cowok tak dikenal! Oleh cowok yang awalnya dipandang rendah!
Setelah Liani orgasme, ia melepaskan tubuhnya dari penis cowok yang
masih mengeras itu. Kemudian cowok itu menyuruh Liani untuk mengulum
penisnya.
“Sekarang giliran lu yang isep dong say.”
“OK, tapi jangan dikeluarin ya. Kalo mau keluar, bilang ya.”
“Beres dah,” kata cowok itu.
Segera Liani dengan patuh mengemut buah zakar cowok itu. Lidahnya menjilat-jilat buah zakar cowok itu. Lalu mulutnya mengulum dan menghisap-hisap batang penis itu.
“Shleeb..shleeeb…shleeeb…”
Seperti mengemut ice lolipop saja Liani saat itu. Cuman bedanya ini lebih besar.
Lalu ujung lidahnya digunakan untuk menjilat batang penis itu dari pangkal dekat buah zakar, terus naik ke atas sampai ke ujung kepala penis yang disunat itu. Lidahnya menjilati leher penis itu, dan mengitarinya, sampai tiga kali. Lalu seluruh bagian kepala penis itu disapunya dengan ujung lidahnya.
Setelah itu, balik lagi disepong-sepongnya batang penis itu. Seperti ice lolipop tadi.
“Shleeb..shleeeb…shleeeb…”
Kemudian Liani mengeluarkannya dari mulutnya. Ia takut kalau-kalau isinya akan segera keluar.
Tapi saat itu tiba-tiba cowok itu mengocok penisnya, saat penis itu tepat berada di depan mukanya. Dan….
tiba-tiba, Crooot, croott, crooottt.
Penis itu memuncratkan seluruh isinya, membasahi muka Liani! Membuat mukanya kini jadi belepotan penuh sperma cowok itu!
Karena cowok itu menahan kepalanya dan tak memberinya kesempatan untuk menghindar. Ia memang sengaja ingin memuntahkan isi penisnya itu ke muka cewek ini!
“Sekarang giliran lu yang isep dong say.”
“OK, tapi jangan dikeluarin ya. Kalo mau keluar, bilang ya.”
“Beres dah,” kata cowok itu.
Segera Liani dengan patuh mengemut buah zakar cowok itu. Lidahnya menjilat-jilat buah zakar cowok itu. Lalu mulutnya mengulum dan menghisap-hisap batang penis itu.
“Shleeb..shleeeb…shleeeb…”
Seperti mengemut ice lolipop saja Liani saat itu. Cuman bedanya ini lebih besar.
Lalu ujung lidahnya digunakan untuk menjilat batang penis itu dari pangkal dekat buah zakar, terus naik ke atas sampai ke ujung kepala penis yang disunat itu. Lidahnya menjilati leher penis itu, dan mengitarinya, sampai tiga kali. Lalu seluruh bagian kepala penis itu disapunya dengan ujung lidahnya.
Setelah itu, balik lagi disepong-sepongnya batang penis itu. Seperti ice lolipop tadi.
“Shleeb..shleeeb…shleeeb…”
Kemudian Liani mengeluarkannya dari mulutnya. Ia takut kalau-kalau isinya akan segera keluar.
Tapi saat itu tiba-tiba cowok itu mengocok penisnya, saat penis itu tepat berada di depan mukanya. Dan….
tiba-tiba, Crooot, croott, crooottt.
Penis itu memuncratkan seluruh isinya, membasahi muka Liani! Membuat mukanya kini jadi belepotan penuh sperma cowok itu!
Karena cowok itu menahan kepalanya dan tak memberinya kesempatan untuk menghindar. Ia memang sengaja ingin memuntahkan isi penisnya itu ke muka cewek ini!
Yah, sudah dibilang, jangan dikeluarin kayak gini, batin Liani,
sekarang jadi belepotan dah muka gua. Di dalam gedung bioskop lagi. Mana
abis ini gua mau ketemu sama teman gua lagi.
Sialan betul nih cowok, sudah dikasih enak malah ngerjain orang.
Sementara cowok itu nampak puas menumpahkan isi penisnya ke wajah cakep Liani. Ia tersenyum cengengesan melihat wajah cewek itu sekarang jadi belepotan karena spermanya.
Karena Liani tidak ingin sperma yang membasahi wajahnya itu turun ke bawah ke tubuhnya, segera ia mengambil apa yang ada di dekatnya untuk mengelap mukanya itu. Dan akhirnya digunakannya celana panjang cowok itu untuk mengelap mukanya.
Sialan, dua kali main di dalam mal, momen “crott” nya nggak ada yang bener, gerutunya dalam hati.
Cowok itu sebenarnya tidak ingin Liani menggunakan celana panjangnya untuk mengelap mukanya itu. Namun dalam hal ini ia kalah cepat dengan cewek itu. Karena saat itu ia terlena karena puas menyaksikan wajah cewek itu belepotan. Tak lama kemudian, Liani mengaitkan kembali branya dan mengancingkan baju seragamnya.
“Gua ke toilet dulu ya,” kata Liani, karena ia ingin cuci muka. Saat ia ingin membawa celana dalamnya, cowok itu tidak memberikannya.
“Lu pakenya disini aja. Nanti sehabis lu balik dari toilet,” kata cowok itu.. Karena setelah ini ia masih ingin menggrepe-grepe cewek ini.
“Lu bawa ini aja. Ke toilet sekalian tolong bersihin ini,” kata cowok itu sambil menyodorkan celana panjangnya yang basah kena spermanya sendiri itu,” Tolong lu bilas dengan air supaya nggak bau.”
Sialan cowok ini, pikir Liani. Habis mainin orang, sekarang malah main nyuruh aja. Emang pikirnya gua pembantunya. Enak aja suruh orang nyuci celananya. Namun Liani tidak membantah. Dibawanya celana panjang milik cowok itu ke dalam toilet.
Sialan betul nih cowok, sudah dikasih enak malah ngerjain orang.
Sementara cowok itu nampak puas menumpahkan isi penisnya ke wajah cakep Liani. Ia tersenyum cengengesan melihat wajah cewek itu sekarang jadi belepotan karena spermanya.
Karena Liani tidak ingin sperma yang membasahi wajahnya itu turun ke bawah ke tubuhnya, segera ia mengambil apa yang ada di dekatnya untuk mengelap mukanya itu. Dan akhirnya digunakannya celana panjang cowok itu untuk mengelap mukanya.
Sialan, dua kali main di dalam mal, momen “crott” nya nggak ada yang bener, gerutunya dalam hati.
Cowok itu sebenarnya tidak ingin Liani menggunakan celana panjangnya untuk mengelap mukanya itu. Namun dalam hal ini ia kalah cepat dengan cewek itu. Karena saat itu ia terlena karena puas menyaksikan wajah cewek itu belepotan. Tak lama kemudian, Liani mengaitkan kembali branya dan mengancingkan baju seragamnya.
“Gua ke toilet dulu ya,” kata Liani, karena ia ingin cuci muka. Saat ia ingin membawa celana dalamnya, cowok itu tidak memberikannya.
“Lu pakenya disini aja. Nanti sehabis lu balik dari toilet,” kata cowok itu.. Karena setelah ini ia masih ingin menggrepe-grepe cewek ini.
“Lu bawa ini aja. Ke toilet sekalian tolong bersihin ini,” kata cowok itu sambil menyodorkan celana panjangnya yang basah kena spermanya sendiri itu,” Tolong lu bilas dengan air supaya nggak bau.”
Sialan cowok ini, pikir Liani. Habis mainin orang, sekarang malah main nyuruh aja. Emang pikirnya gua pembantunya. Enak aja suruh orang nyuci celananya. Namun Liani tidak membantah. Dibawanya celana panjang milik cowok itu ke dalam toilet.
Cowok itu lagi duduk dengan santai menonton film bioskop itu. Baru
saat inilah ia menonton film di layar depan itu. Ia agak kecapean juga
setelah barusan maen dengan cewek itu. Gila bener hari ini. Mimpi apa
gua bisa maen sama cewek kayak dia itu. Cakepnya dan putihnya kayak
gitu. Apalagi ternyata dia cukup jago juga maennya. Hatinya benar-benar
puas! Tapi lama kelamaan kakinya terasa kedinginan juga. Makin lama ac
bioskop itu rasanya makin dingin. Apalagi orang di dalam gedung itu
hanya segelintir. Lama bener sih cewek itu nggak balik-balik, pikirnya.
Lho! Saat itu ia baru sadar ternyata celana dalamnya nggak ada disitu.
Rupanya terbawa waktu cewek itu membawa celana panjangnya. Ingin rasanya
ia memburu cewek itu ke toilet memintanya untuk cepat-cepat kembali.
Namun itu tidaklah mungkin karena saat ini ia tak bercelana. Biarlah gua
tunggu cewek itu datang aja. Namun ternyata cewek itu nggak
datang-datang juga. Sampai akhirnya filmnya berakhir dan lampu gedung
dinyalakan.
Sesaat kemudian…
“Eh, lu tahu nggak,” kata Herlina kepada Liani,” Barusan ada cowok yang digiring satpam. Gara-garanya ia keluar dari gedung bioskop nggak pake baju. Bajunya digunakan untuk menutupi selangkangannya. Soalnya cowok itu nggak pake celana. Dan, tahu nggak, hihihi, ternyata cowok itu pake celana dalam cewek, warnanya merah muda lagi.”
“Lu baru dateng sih, jadi nggak ngeliat. Orang-orang pada heboh. Cewek-cewek yang di deketnya pada teriak-teriak. Tapi abis itu pada ketawa semua. Kayaknya orang gila deh itu.”
Liani hanya tersenyum geli membayangkan itu. Biar tahu rasa, cowok nggak tahu diri. Sudah dikasih enak malah ngelunjak. Saat cowok itu menyuruhnya membersihkan celana panjangnya, sekaligus diam-diam dicomotnya juga celana dalam cowok itu. Setelah ia membersihkan mukanya, ia langsung keluar kompleks bioskop itu. Tentunya dengan menyembunyikan celana itu di dalam tasnya. Supaya nggak ketahuan orang. Setelah itu ia beli celana dalam yang langsung dipakainya di dalam toilet. Dan celana cowok itu dibuangnya di tempat pembuangan sampah yang sepi dan agak jauh dari mal itu. Setelah itu, baru ia balik lagi ke mal itu.
“Eh, lu tahu nggak,” kata Herlina kepada Liani,” Barusan ada cowok yang digiring satpam. Gara-garanya ia keluar dari gedung bioskop nggak pake baju. Bajunya digunakan untuk menutupi selangkangannya. Soalnya cowok itu nggak pake celana. Dan, tahu nggak, hihihi, ternyata cowok itu pake celana dalam cewek, warnanya merah muda lagi.”
“Lu baru dateng sih, jadi nggak ngeliat. Orang-orang pada heboh. Cewek-cewek yang di deketnya pada teriak-teriak. Tapi abis itu pada ketawa semua. Kayaknya orang gila deh itu.”
Liani hanya tersenyum geli membayangkan itu. Biar tahu rasa, cowok nggak tahu diri. Sudah dikasih enak malah ngelunjak. Saat cowok itu menyuruhnya membersihkan celana panjangnya, sekaligus diam-diam dicomotnya juga celana dalam cowok itu. Setelah ia membersihkan mukanya, ia langsung keluar kompleks bioskop itu. Tentunya dengan menyembunyikan celana itu di dalam tasnya. Supaya nggak ketahuan orang. Setelah itu ia beli celana dalam yang langsung dipakainya di dalam toilet. Dan celana cowok itu dibuangnya di tempat pembuangan sampah yang sepi dan agak jauh dari mal itu. Setelah itu, baru ia balik lagi ke mal itu.
—@@@@@@@—–
Liani duduk di kursi belakang mobil bersama Papinya. Sementara
sopirnya mengendarai mobil itu. Mereka baru pulang dari acara resepsi
pernikahan putra rekan bisnis Papinya. Pada saat itulah Liani berkata,”
Aduh, kok kepalaku agak pusing dan perut mual ya.”
“Apa mungkin karena pengaruh makanan tadi,” tanya Papinya.
“Bisa jadi. Sebelumnya aku nggak apa-apa kok.”
“Memang kamu demam?”
“Nggak sih, aku nggak ngerasa demam. Cuman pusing dan mual aja.”
“Mau mampir ke dokter dulu?”
“Boleh deh.”
Akhirnya mereka mampir ke dokter praktek yang sejalan dengan rumahnya. Sesampainya di tempat dokter, mereka harus menunggu di ruang tunggu kira-kira 15 menit. Saat itulah ada seorang bapak-bapak dan dua cowok muda yang sejak kehadiran Liani, jadi melirik-lirik ke arahnya. Tak perlu heran. Karena memang kehadiran Liani begitu mencolok disitu. Ibaratnya dunia ini hitam putih sebelum kehadirannya. Sejak kehadirannya, menjadi penuh warna. Karena memang cewek itu sungguh cakep dan menarik. Bentuk tubuhnya pun juga indah. Kulitnya putih. Ditambah lagi saat itu ia menggunakan parfum mahal dan berdandan penuh karena menghadiri pesta pernikahan. Wuaahh! Tentu saja ia langsung menarik perhatian orang-orang disana dan mereka yang punya pikiran kotor (seperti tiga orang tadi) seketika jadi langsung mupeng membayangkan wajahnya yang cakep dan tubuhnya yang sexy menggairahkan. Gaun pesta yang dikenakannya saat itu berwarna putih dari bahan kain yang cukup tebal dan sungguh pas dengan tubuhnya. Tidak kekecilan dan tidak kebesaran, betul-betul pas menempel di tubuhnya. Sehingga terlihat jelas keindahan bentuk tubuhnya. Pinggangnya yang ramping, pinggulnya yang menonjol, dan juga dadanya yang menonjol di balik gaun tebal yang membalut tubuh indah itu. Ditambah pula, belahan dada atas yang sedikit kelihatan. Maklumlah, namanya juga gaun pesta cewek. Biarpun tidak bisa dikatakan sangat terbuka, namun tetap saja menunjukkan ke-sexy-an pemakainya. Apalagi kalau pemakainya adalah Liani! Membuat orang sakit pun dibuat jadi mupeng dan lupa akan sakitnya, seperti tiga orang tadi.
“Apa mungkin karena pengaruh makanan tadi,” tanya Papinya.
“Bisa jadi. Sebelumnya aku nggak apa-apa kok.”
“Memang kamu demam?”
“Nggak sih, aku nggak ngerasa demam. Cuman pusing dan mual aja.”
“Mau mampir ke dokter dulu?”
“Boleh deh.”
Akhirnya mereka mampir ke dokter praktek yang sejalan dengan rumahnya. Sesampainya di tempat dokter, mereka harus menunggu di ruang tunggu kira-kira 15 menit. Saat itulah ada seorang bapak-bapak dan dua cowok muda yang sejak kehadiran Liani, jadi melirik-lirik ke arahnya. Tak perlu heran. Karena memang kehadiran Liani begitu mencolok disitu. Ibaratnya dunia ini hitam putih sebelum kehadirannya. Sejak kehadirannya, menjadi penuh warna. Karena memang cewek itu sungguh cakep dan menarik. Bentuk tubuhnya pun juga indah. Kulitnya putih. Ditambah lagi saat itu ia menggunakan parfum mahal dan berdandan penuh karena menghadiri pesta pernikahan. Wuaahh! Tentu saja ia langsung menarik perhatian orang-orang disana dan mereka yang punya pikiran kotor (seperti tiga orang tadi) seketika jadi langsung mupeng membayangkan wajahnya yang cakep dan tubuhnya yang sexy menggairahkan. Gaun pesta yang dikenakannya saat itu berwarna putih dari bahan kain yang cukup tebal dan sungguh pas dengan tubuhnya. Tidak kekecilan dan tidak kebesaran, betul-betul pas menempel di tubuhnya. Sehingga terlihat jelas keindahan bentuk tubuhnya. Pinggangnya yang ramping, pinggulnya yang menonjol, dan juga dadanya yang menonjol di balik gaun tebal yang membalut tubuh indah itu. Ditambah pula, belahan dada atas yang sedikit kelihatan. Maklumlah, namanya juga gaun pesta cewek. Biarpun tidak bisa dikatakan sangat terbuka, namun tetap saja menunjukkan ke-sexy-an pemakainya. Apalagi kalau pemakainya adalah Liani! Membuat orang sakit pun dibuat jadi mupeng dan lupa akan sakitnya, seperti tiga orang tadi.
Akhirnya dipanggillah nama Liani. Dan masuklah Liani kedalam ditemani
oleh Papinya. Memang pantas kalau Papinya masuk mendampinginya. Anak
gadis umur 18 tahun tentu tidak baik dibiarkan masuk sendirian ke dalam
kamar tertutup berdua dengan dokter cowok yang usianya dalam masa puber
kedua. Apalagi kalau anak gadisnya secantik dan se-sexy Liani. Lagipula
hal itu bisa membuat orang mupeng yang sedang menunggu di ruang tunggu
jadi melayang-layang pikirannya membayangkan kejadian yang nggak-nggak
di dalam ruangan itu (betul nggak sih? hehehe). Dokter yang memeriksanya
adalah dokter Suprapto. Usianya 40 tahun lebih. Wajahnya kebapakan dan
tutur bahasanya sungguh sopan sepertinya ia berasal dari kalangan
priyayi. Ia mendengarkan dengan penuh pengertian sambil memandang Liani
dengan serius. Namun tampangnya sungguh sulit ditebak apakah ia
mendengarkan serius keluhan Liani ataukah diam-diam juga mupeng dengan
cewek itu? Setelah mendengar keluhan Liani, ia akan memeriksanya di
ruang periksa.. Ruang periksa adalah ruangan kecil di dalam ruang
konsultasi itu yang dibatasi oleh swinging door yang tak ada kuncinya.
Liani masuk ke ruang periksa itu bersama dokter Suprapto tanpa diantar
papinya. Mungkin papinya tak ikutan masuk karena ia tak ingin melihat
saat Liani membuka bajunya. Lagipula situasinya cukup aman karena ruang
periksa itu hanya dibatasi swinging door yang tak ada kuncinya. Hal itu
juga dijelaskan oleh dokter Suprapto karena ia tidak ingin orang
berpikiran yang bukan-bukan kalau ia punya niat jelek terhadap putrinya.
Apalagi ia sadar kalau Liani itu adalah cewek muda yang luar biasa
cakepnya dan sexy pula.
Di dalam ruangan itu, seperti biasa dokter Suprapto akan memeriksa dengan alatnya. Untuk itu ia berkata dengan sopan,
“Maaf dik, bajunya tolong dibuka sebentar ya.”
“Wah, kalau begini saja apa nggak bisa, dok?”
“Takutnya kurang jelas, tapi ok, saya coba dulu ya.”
“Waduh, maaf, mungkin baju kamu ini terlalu tebal, jadi saya nggak bisa mendengar.”
Tiba-tiba Liani menjadi kelihatan gelisah.
“Waduh gimana ya…”
“Cuman sebentar aja kok,” kata Dokter Suprapto dengan senyum pengertian seolah ia maklum akan keresahan gadis ini. Ia mengerti bahwa gadis muda seperti dia, tentulah risih kalau disuruh membuka bajunya di depan seorang pria berumur seperti dirinya. Biarpun kepada seorang dokter sekalipun.
“Saya hanya ingin memeriksa bagian perut kamu yang mual itu. Nggak lama kok.. Paling juga beberapa menit.”
“Apa nggak ada jalan lain, dok?”
“Ya nggak ada. Kalo kamu mau sembuh ya mesti diperiksa,” katanya mulai tidak sabar. Ia merasa sedikit tersinggung karena dikiranya tentu gadis ini mengira ia punya pikiran yang bukan-bukan.
“Ehmmm….ok deh,” kata Liani dengan ragu.
Namun yang dilakukan Liani setelah itu sungguh aneh. Seharusnya ia membuka retsleting gaun di punggungnya. Namun yang dilakukan justru ia mengangkat rok gaunnya itu dan menaikkannya ke atas sampai ke pangkal pahanya. Baru kemudian disadarinya bahwa gaun itu bagian pinggangnya cukup ketat. Sehingga tak mungkin ia mengangkatnya terus sampai ke perutnya. Sehingga akhirnya gaunnya diturunkan kembali. Tapi ia terlanjur memamerkan pahanya yang putih mulus serta celana dalam warna coklat mudanya di depan dokter Suprapto.
“Maaf dik, bajunya tolong dibuka sebentar ya.”
“Wah, kalau begini saja apa nggak bisa, dok?”
“Takutnya kurang jelas, tapi ok, saya coba dulu ya.”
“Waduh, maaf, mungkin baju kamu ini terlalu tebal, jadi saya nggak bisa mendengar.”
Tiba-tiba Liani menjadi kelihatan gelisah.
“Waduh gimana ya…”
“Cuman sebentar aja kok,” kata Dokter Suprapto dengan senyum pengertian seolah ia maklum akan keresahan gadis ini. Ia mengerti bahwa gadis muda seperti dia, tentulah risih kalau disuruh membuka bajunya di depan seorang pria berumur seperti dirinya. Biarpun kepada seorang dokter sekalipun.
“Saya hanya ingin memeriksa bagian perut kamu yang mual itu. Nggak lama kok.. Paling juga beberapa menit.”
“Apa nggak ada jalan lain, dok?”
“Ya nggak ada. Kalo kamu mau sembuh ya mesti diperiksa,” katanya mulai tidak sabar. Ia merasa sedikit tersinggung karena dikiranya tentu gadis ini mengira ia punya pikiran yang bukan-bukan.
“Ehmmm….ok deh,” kata Liani dengan ragu.
Namun yang dilakukan Liani setelah itu sungguh aneh. Seharusnya ia membuka retsleting gaun di punggungnya. Namun yang dilakukan justru ia mengangkat rok gaunnya itu dan menaikkannya ke atas sampai ke pangkal pahanya. Baru kemudian disadarinya bahwa gaun itu bagian pinggangnya cukup ketat. Sehingga tak mungkin ia mengangkatnya terus sampai ke perutnya. Sehingga akhirnya gaunnya diturunkan kembali. Tapi ia terlanjur memamerkan pahanya yang putih mulus serta celana dalam warna coklat mudanya di depan dokter Suprapto.
“Nggak perlu begitu dik,” kata dokter Suprapto rupanya ia heran juga
dan mulai curiga jangan-jangan cewek ini cakep cakep tapi perkembangan
otaknya agak nggak beres.
“Saya cuman mau periksa perut kamu di bagian sini yang tadi kamu bilang agak sakit itu,” katanya sambil menunjuk bagian atas perutnya sendiri dengan harapan supaya Liani mengerti maksudnya tanpa perlu mengatakannya secara eksplisit.
“OK,” kata Liani dengan lemah. Rupanya akhirnya Liani mengerti juga. Karena ia mulai membuka retsleting gaunnya di punggungnya. Kemudian setelah sempat ragu-ragu sejenak, diturunkannya gaun itu sampai sebatas perut.
“Ahh!”
Dokter Suprapto secara spontan berseru kaget dan matanya terbelalak. Karena kini bagian atas tubuh Liani telanjang tanpa ada penutup sehelai benang pun! Sehingga ia bisa melihat jelas payudara indah milik gadis muda yang menggairahkan terutama bagi pria seumur seperti dirinya itu. Sejak tadi ia sudah agak-agak mupeng dengan kecantikan dan ke-sexy-an cewek ini. Apalagi sekarang disuguhi pemandangan indah seperti itu dalam jarak begitu dekat! Payudara putih itu nampak padat berisi dan kencang dengan kedua puting mungilnya yang segar kemerahan menonjol ke depan. Apalagi ac ruangan yang agak dingin, membuat puting payudara Liani jadi makin perky dan menonjol. Dokter Suprapto sudah belasan tahun menjadi dokter dan ia sudah cukup sering memeriksa pasien perempuan. Namun saat itu jantungnya berdegup kencang juga melihat payudara indah dan segar terpampang jelas di depan matanya. Dan itu bukan dada seorang ibu-ibu setengah umur yang bodinya sudah nggak karuan, tapi itu dada milik gadis muda yang cakep!
“Saya cuman mau periksa perut kamu di bagian sini yang tadi kamu bilang agak sakit itu,” katanya sambil menunjuk bagian atas perutnya sendiri dengan harapan supaya Liani mengerti maksudnya tanpa perlu mengatakannya secara eksplisit.
“OK,” kata Liani dengan lemah. Rupanya akhirnya Liani mengerti juga. Karena ia mulai membuka retsleting gaunnya di punggungnya. Kemudian setelah sempat ragu-ragu sejenak, diturunkannya gaun itu sampai sebatas perut.
“Ahh!”
Dokter Suprapto secara spontan berseru kaget dan matanya terbelalak. Karena kini bagian atas tubuh Liani telanjang tanpa ada penutup sehelai benang pun! Sehingga ia bisa melihat jelas payudara indah milik gadis muda yang menggairahkan terutama bagi pria seumur seperti dirinya itu. Sejak tadi ia sudah agak-agak mupeng dengan kecantikan dan ke-sexy-an cewek ini. Apalagi sekarang disuguhi pemandangan indah seperti itu dalam jarak begitu dekat! Payudara putih itu nampak padat berisi dan kencang dengan kedua puting mungilnya yang segar kemerahan menonjol ke depan. Apalagi ac ruangan yang agak dingin, membuat puting payudara Liani jadi makin perky dan menonjol. Dokter Suprapto sudah belasan tahun menjadi dokter dan ia sudah cukup sering memeriksa pasien perempuan. Namun saat itu jantungnya berdegup kencang juga melihat payudara indah dan segar terpampang jelas di depan matanya. Dan itu bukan dada seorang ibu-ibu setengah umur yang bodinya sudah nggak karuan, tapi itu dada milik gadis muda yang cakep!
Gaun pesta Liani itu memang bukan gaun yang beli jadi melainkan gaun
yang khusus dibuat untuk dirinya. Maka itu gaun itu begitu pas di
tubuhnya. Apalagi Liani termasuk cewek yang sungguh perhatian dalam hal
merawat tubuhnya sehingga ia tidak kegemukan semenjak gaun itu dibuat.
Dan di bagian depan gaun itu telah ada semacam bra yang menempel menjadi
satu dengan gaun itu. Sehingga pemakainya tak perlu memakai bra lagi.
Tentu untuk membuat gaun seperti ini tidaklah gampang karena harus
diukur betul-betul akurat supaya pas dipakai oleh si pemakai. Tak heran
kalau gaun itu mahal harganya dan pembuatnya pun adalah seorang penjahit
top (omong-omong, penjahitnya cewek bukan cowok). Itulah sebabnya
kenapa sedari tadi Liani nampak ragu untuk menurunkan gaunnya. Karena
untuk membuka bagian perut tentu harus melewati dada. Sementara ia tak
memakai bra yang terpisah dari gaunnya itu. Dengan diturunkannya gaun
itu tentu otomatis dadanya jadi terbuka bebas. Sebelumnya
dikiranya dokter bisa memeriksa dirinya tanpa ia perlu membuka gaunnya. Kalau tahu begini, tentu ia tidak akan ke sini sebelum pulang ke rumah dan ganti pakaian dulu. Tapi karena sudah terlanjur sampai disini dan masuk ke ruang periksa dan takut dokter itu tersinggung, jadi ya apa boleh buat, terpaksa direlakan dadanya dilihat dokter itu. Toh itu demi kesehatan dirinya. Yang tak jelas adalah seruan kaget dokter Suprapto tadi adalah betul-betul kaget ataukah karena terkagum-kagum oleh payudara gadis muda ini?
Namun dokter Suprapto rupanya tahu bagaimana cara bersikap secara profesional. Karena setelah sejenak kaget dan secara spontan menatap payudara indah itu, ia segera memalingkan wajahnya 30 derajat saat menempel-nempelkan alatnya itu di beberapa tempat di perut Liani. Tapi, sebenarnya, apalah artinya memalingkan wajah seperti itu, karena toh ia masih bisa melihat dengan jelas sekali dalam posisi seperti itu. Karena jaraknya memang begitu dekat. (Tapi memang kalau tidak bisa melihat sama sekali, justru lebih bahaya. Kalau salah tempat malah lebih gawat lagi.)
dikiranya dokter bisa memeriksa dirinya tanpa ia perlu membuka gaunnya. Kalau tahu begini, tentu ia tidak akan ke sini sebelum pulang ke rumah dan ganti pakaian dulu. Tapi karena sudah terlanjur sampai disini dan masuk ke ruang periksa dan takut dokter itu tersinggung, jadi ya apa boleh buat, terpaksa direlakan dadanya dilihat dokter itu. Toh itu demi kesehatan dirinya. Yang tak jelas adalah seruan kaget dokter Suprapto tadi adalah betul-betul kaget ataukah karena terkagum-kagum oleh payudara gadis muda ini?
Namun dokter Suprapto rupanya tahu bagaimana cara bersikap secara profesional. Karena setelah sejenak kaget dan secara spontan menatap payudara indah itu, ia segera memalingkan wajahnya 30 derajat saat menempel-nempelkan alatnya itu di beberapa tempat di perut Liani. Tapi, sebenarnya, apalah artinya memalingkan wajah seperti itu, karena toh ia masih bisa melihat dengan jelas sekali dalam posisi seperti itu. Karena jaraknya memang begitu dekat. (Tapi memang kalau tidak bisa melihat sama sekali, justru lebih bahaya. Kalau salah tempat malah lebih gawat lagi.)
Tak lama kemudian, ia berkata,” OK, sudah selesai,” sambil memandang
wajah Liani. Tentu saat itu pun ia bisa melihat payudaranya dengan jelas
sekali tanpa perlu menatapnya langsung. Namun setelah itu malah
pandangan matanya melirik ke payudara telanjang itu, sebelum akhirnya
ditutup kembali dengan gaun itu.
Setelah dengan rapi Liani menutup gaunnya kembali, Dokter Suprapto berkata,” Seharusnya kalau tahu begitu tadi kamu nggak perlu diperiksa. Bisa langsung saya kasih obat saja.” (Sungguh aneh, kenapa ngomongnya baru sekarang ya??)
Setelah itu kembalilah mereka ke ruang konsultasi itu.
“Bagaimana dok?”
“Ooh, nggak apa-apa kok. Bukan masalah serius. Mungkin karena salah makanan saja,” katanya sambil senyum-senyum. Entah apa maksud senyumannya itu.
“Apalagi putri bapak badannya sungguh sehat dan masih begini muda. Sehingga sakit apa pun juga cepat sembuhnya. Oh ya, omong-omong, putrinya umur berapa?”
Aneh juga dokter ini, ngapain nanya umur segala?
“18 tahun.”
“Ooh, masih muda sekali. Badan juga masih segar. Pasti cepat sembuh. OK, ini saya kasih resepnya.”
“Terima kasih dok.”
“Terima kasih dok.”
“Sama-sama. Nanti kalo belum sembuh juga, jangan sungkan-sungkan mampir kesini lagi.”
“Dan ingat,” tambahnya, “Kesehatan tubuh itu penting sekali.”
Setelah dengan rapi Liani menutup gaunnya kembali, Dokter Suprapto berkata,” Seharusnya kalau tahu begitu tadi kamu nggak perlu diperiksa. Bisa langsung saya kasih obat saja.” (Sungguh aneh, kenapa ngomongnya baru sekarang ya??)
Setelah itu kembalilah mereka ke ruang konsultasi itu.
“Bagaimana dok?”
“Ooh, nggak apa-apa kok. Bukan masalah serius. Mungkin karena salah makanan saja,” katanya sambil senyum-senyum. Entah apa maksud senyumannya itu.
“Apalagi putri bapak badannya sungguh sehat dan masih begini muda. Sehingga sakit apa pun juga cepat sembuhnya. Oh ya, omong-omong, putrinya umur berapa?”
Aneh juga dokter ini, ngapain nanya umur segala?
“18 tahun.”
“Ooh, masih muda sekali. Badan juga masih segar. Pasti cepat sembuh. OK, ini saya kasih resepnya.”
“Terima kasih dok.”
“Terima kasih dok.”
“Sama-sama. Nanti kalo belum sembuh juga, jangan sungkan-sungkan mampir kesini lagi.”
“Dan ingat,” tambahnya, “Kesehatan tubuh itu penting sekali.”
—@@@@@@@—–
Liani sedang mengendarai mobilnya menuju ke tempat fitness. Ia mulai
rajin berolahraga karena ingin supaya badan tetap fit. Selain itu juga
untuk menjaga supaya berat dan bentuk badan tetap bagus. Juga supaya
otot-otot tubuh tetap kenceng. Terutama bagian payudaranya. Ia khawatir
kalau payudaranya akan cepat mengendur atau sagging. Apalagi belakangan
ini mulai sering diremas-remas dan juga terguncang-guncang akibat benda
tumpul. Ia tidak ingin payudaranya jadi mengendur dan jelek setelah umur
30-an atau akhir 20-an. Oleh karena itu ia rajin berolahraga sejak dari
sekarang. Sebelum semuanya terlambat. Walaupun masih muda, tapi ia
cukup wise juga rupanya. Setelah memarkir mobilnya, tak lama kemudian
masuklah ia ke tempat fitness itu. Disana cukup banyak orangnya. Ada
yang tua maupun yang seumuran dia atau lebih tua sedikit. Baik cowok
maupun cewek. Saat itu Liani memakai celana pendek putih yang cukup
pendek. Sehingga nampak jelas pahanya yang putih mulus. Sementara
atasannya ia memakai kaus tanktop cukup ketat tanpa lengan warna kuning.
Nampak jelas dadanya yang menonjol di balik kaus tanktopnya itu. Dan
nampak sedikit belahan bagian atas dadanya karena kaus yang dikenakan
itu berleher rendah. Rambutnya digulung-gulung dan diikat. Supaya tidak
mengganggu saat berolahraga. Ia saat itu bersiap mengikuti kelas
aerobik. Di dalam ruangan itu ada beberapa cowok dan bapak-bapak yang
sejak semula mencuri-curi pandang kearahnya. Tak lama kemudian,
dimulailah latihan aerobiknya. Selama satu jam penuh Liani
berkonsentrasi penuh dengan exercise-nya itu. Namun yang kasihan
cowok-cowok dan para bapak disitu karena banyak yang terpecah
konsentrasinya. Setelah selesai aerobik, tubuh Liani menjadi basah penuh
dengan keringat dan napasnya terengah-engah. Kaus tanktop-nya kini jadi
basah kuyup karena keringatnya. Sehingga jadi basah menempel di
tubuhnya. Dan bra yang dikenakan di dalamnya jadi tercetak dengan jelas,
terutama karena warnanya yang agak gelap. Ia tidak langsung mandi di
shower tapi menunggu sampai dirinya cooling down dan tubuhnya kering
terlebih dahulu. Ia melepas ikatan rambutnya sehingga kini rambutnya
terurai bebas. Rambutnya pun jadi agak basah karena keringat di
kepalanya.
Saat itu ia berjalan menuju ke bagian lain, ke tempat latihan
mengencangkan otot dengan menggunakan alat. Tidak banyak orang yang
berolahraga disana saat itu. Saat itu ia melakukan sesuatu, yang apabila
orang melihatnya, pasti dibuat mupeng abis oleh tindakannya itu. Karena
tiba-tiba ia melepas kaus tanktop yang melekat basah di badannya itu.
Yang melihatnya agak kecele karena di dalamnya bukan bra biasa yang
tipis dan sexy tapi sport bra. (Sport bra adalah bra khusus digunakan
untuk olahraga jadi bentuknya lebih besar dan kuat dibanding bra biasa.
Fungsi utamanya selain menutupi dada juga untuk melindungi payudara dari
guncangan saat melakukan olahraga yang sifatnya “high impact”, seperti
aerobik barusan). Sebenarnya untuk sajam sekarang adalah hal yang cukup
normal cewek hanya memakai atasan sport bra doang di tempat fitness.
Tapi tetap saja ada yang mupeng dibuatnya karena bagaimana pun
menyaksikan pemandangan cewek melepas bajunya, biarpun di dalamnya masih
ada lapisan yang menutupi tubuhnya, tentu merupakan pemandangan yang
sungguh merangsang bagi cowok. Apalagi kalau ceweknya cakep dan tubuhnya
putih mulus dan sexy seperti Liani. Saat Liani sedang berjalan-jalan
dan melihat-lihat orang yang berolahraga disitu, tiba-tiba ada suara
yang memanggilnya. Suara yang tak asing baginya.
“Liani?! Lho kok kamu ada disini?”
Liani segera menoleh ke arah datangnya suara,
“Eh, Pak Rahman. Lho, kok bapak juga ada disini?”
“Saya khan part-time instructor disini. Kamu sudah lama fitness disini?”
“Baru bulan lalu joinnya.”
“Bagus sekali kamu ikut fitness disini. Karena olahraga itu penting sekali bagi kesehatan tubuh. Dan kesehatan tubuh itu penting sekali artinya,” kata Pak Rahman.
“Setuju Pak. Oleh karena itu sekarang saya olahraga dengan teratur. Supaya badan tetap sehat,” kata Liani.
Selanjutnya mereka berbincang-bincang sejenak.
“Liani?! Lho kok kamu ada disini?”
Liani segera menoleh ke arah datangnya suara,
“Eh, Pak Rahman. Lho, kok bapak juga ada disini?”
“Saya khan part-time instructor disini. Kamu sudah lama fitness disini?”
“Baru bulan lalu joinnya.”
“Bagus sekali kamu ikut fitness disini. Karena olahraga itu penting sekali bagi kesehatan tubuh. Dan kesehatan tubuh itu penting sekali artinya,” kata Pak Rahman.
“Setuju Pak. Oleh karena itu sekarang saya olahraga dengan teratur. Supaya badan tetap sehat,” kata Liani.
Selanjutnya mereka berbincang-bincang sejenak.
Pak Rahman adalah guru olahraga di sekolah Liani. Di usianya yang
akhir 30-an atau awal 40-an itu, ia termasuk seorang dengan stamina yang
cukup tinggi dan fisik yang kuat. Maklum, ia adalah orang yang rajin
berolahraga berbagai macam. Badannya kekar. Kulitnya sawo matang.
Rambutnya dipotong cepak dan berkumis, membuat tampangnya kelihatan
garang. Pak Rahman adalah suami dari Bu Retno, kepala sekolah di sekolah
itu. Meski badannya kekar, namun Pak Rahman tergolong sebagai suami
takut istri. Mungkin karena Bu Retno adalah atasannya di sekolah. Atau
mungkin karena Bu Retno lebih tinggi penghasilannya. Atau mungkin karena
Bu Retno berasal dari keluarga cukup kaya. Atau mungkin karena Bu Retno
orangnya sangat cerewet. Sehingga dalam kehidupan sehari-hari Pak
Rahman lebih banyak menurut dan tak berani melawan istrinya. Hanya satu
saja Bu Retno selalu menurut dan takluk dengan suaminya, yaitu ketika di
atas ranjang. Dalam hal ini, Bu Retno sungguh puas dengan “performance”
suaminya itu. Sementara saat mereka berbincang-bincang itu, diam-diam
penis Pak Rahman jadi mengeras juga. Biasanya ia melihat Liani di
sekolah saat ia selalu memakai pakaian seragam yang rapi dan sopan. Ia
tahu cewek ini selalu memakai pakaiannya dengan rapi. Bahkan melihatnya
memakai pakaian olahraga sekolah pun juga jarang sekali atau mungkin
malah tidak pernah. Karena ia adalah guru olahraga untuk murid cowok.
Sedangkan guru olahraga untuk murid cewek adalah Bu Yuli. Dan olahraga
untuk cowok dan cewek selalu dipisahkan. Namun kini Liani sungguh
berbeda. Ia nampak begitu sexy dengan pakaian yang minim melekat di
tubuhnya. Ia melihat Liani yang tubuhnya hanya dibalut sport bra dan
celana pendek sport yang benar-benar pendek dan lumayan ketat. Sementara
sebagian besar tubuhnya ter-ekspos dengan jelas.
Dalam jarak begitu dekat ia bisa melihat dengan jelas daya tarik
seksual anak didiknya itu yang begitu menggairahkan dan membangkitkan
nafsu setiap lelaki normal, termasuk dirinya saat itu. Wajahnya yang
cantik innocent. Tubuhnya yang basah mengkilap penuh dengan keringat.
Rambutnya yang juga agak basah karena keringat, terurai dengan bebas.
Kulitnya yang putih mulus. Dadanya yang menonjol dibalik sport branya.
Belahan atas payudaranya yang terbuka seolah menggoda untuk membuat para
cowok termasuk dirinya penasaran ingin tahu seperti apa bentuknya
secara keseluruhan. Perut dan kedua tangannya yang telanjang. Pahanya
yang putih mulus terlihat jelas sampai hampir pangkalnya. Pinggulnya
yang menonjol dibalik celana sport yang pendek dan ketat itu. Sehingga
Pak Rahman, yang di sekolah selalu bersikap sopan, kini jadi mupeng juga
dengan Liani, cewek favorit sekolah itu. Setelah itu Pak Rahman membawa
Liani berkeliling sambil menunjukkan beberapa alat olahraga. Tujuan
baiknya tentu menjelaskan manfaat alat-alat itu ke anak didiknya. Namun
ia juga punya tujuan tersembunyi, yaitu untuk cuci mata menikmati tubuh
Liani yang sexy dan mulus itu. Mumpung ia dapat kesempatan sangat bagus
hari itu. Belum tentu ia mendapat kesempatan seperti ini lagi.
—@@@@@@@—–
Liani memakai kaus olahraga tanpa lengan dengan celana pendek yang
ketat. Kali ini ia berolahraga melatih otot tubuhnya terutama bagian
tubuh depannya.. Saat itu ia sedang dibimbing oleh Pak Rahman. Rupanya
ia sengaja mencari kesempatan supaya bisa “membimbing” Liani berolahraga
secara benar. Dan hari itu akhirnya ia mendapat kesempatan yang
diidam-idamkan itu. Saat itu Liani sedang duduk di alat fitness itu.
Kedua tangannya bergerak membuka dan menutup sambil memegang bagian dari
alat itu (nggak tahu apa nama alat ini. Tapi alat ini selalu ada di
tempat fitness). Sementara Pak Rahman di sebelahnya memperhatikannya.
Apa yang diperhatikannya? Memperhatikan exercise yang dilakukan Liani
tentunya. Namun sungguh sulit dipercaya kalau sedari tadi ia tidak juga
sambil memperhatikan paha Liani yang putih mulus itu. Juga dadanya yang
menonjol di balik baju olahraganya. Apalagi saat Liani membuka
tangannya, membuat dadanya nampak lebih terbuka dan membusung. Dan
posisinya yang berdiri lebih tinggi dibanding Liani yang sedang duduk,
membuatnya bisa melihat lebih banyak lagi gumpalan daging payudara
Liani. Setelah itu Liani latihan sit up. Pak Rahman memotivasinya untuk
sanggup melakukannya 40 kali. Sampai akhirnya Liani berhasil juga
melakukannya 40 kali. Setiap kali Liani membungkuk ke depan dan
mengangkat tubuhnya, Pak Rahman selalu berusaha mengintip gundukan
payudara bagian atas cewek itu yang terlihat dari celah bajunya.
Sehingga ia bisa melihatnya sebanyak 40 kali juga. Setelah itu Liani
tiduran telungkup di atas matras yang agak tinggi. Sementara Kakinya
dikaitkan ke alat fitness dengan diberi beban. Kemudian kakinya
digoyangnya naik turun dan ditekuk untuk mengangkat beban itu.
Pak Rahman mengawasinya sambil mengelilingi di samping, belakang, dan
depan. Sehingga ia bisa memberi nasehat serta memotivasi anak didiknya
itu. Sementara matanya tentu juga jelalatan memandangi tubuh sexy yang
sedang telungkup itu. Apalagi ia bisa dengan bebas memelototinya tanpa
resiko ketahuan terutama saat di samping dan dibelakang. Saat di
samping: ia bisa memelototi dengan jelas pinggul Liani yang menonjol
yang terbalut celana pendek yang ketat dan sexy itu. Juga bisa melihat
punggung cewek yang sedang telungkup itu secara keseluruhan. Saat di
belakang: ia bisa menatap pahanya yang putih mulus dan juga pinggul
serta bagian vaginanya yang tertutup celana pendek itu. Saat di depan:
ia bisa melihat gundukan payudara bagian atas yang terlihat dari belahan
leher bajunya. Terakhir Liani latihan mengangkat tubuhnya. Kedua
tangannya meraih dua ring di atas kepalanya. Kemudian berusaha
mengangkat tubuhnya ke atas. Ini sangat berat sekali. Sehingga Pak
Rahman membantu mengangkatnya ke atas dengan memegang pinggangnya dan
juga kaki serta pahanya. Saat memegang pinggang, tentu ia tidak memegang
bajunya tapi kulit pinggangnya. Karena memegang bajunya tentunya akan
licin. Selain pinggang juga kadang ia membantu mengangkat tubuh Liani
dengan memegang paha cewek itu. Bahkan sempat pula ia melingkarkan kedua
tangannya di paha Liani sambil ia berdiri di belakangnya dengan jarak
sangat dekat. Sampai-sampai kepalanya hampir menyentuh pinggul gadis
itu.
“Bagaimana rasanya, Liani,” tanya Pak Rahman setelah sesi latihan itu selesai.
“Wah, cape banget dan badan jadi pegal-pegal sih Pak. Tapi rasanya enak sekali. Apalagi nanti malem, bisa tidur enak deh,” kata Liani.
“Memang olahraga itu penting bagi kesehatan tubuh,” kata Pak Rahman.
Apalagi olahraga yang juga memberikan kepuasan batin, kata Pak Rahman dalam hatinya.
“Bagaimana rasanya, Liani,” tanya Pak Rahman setelah sesi latihan itu selesai.
“Wah, cape banget dan badan jadi pegal-pegal sih Pak. Tapi rasanya enak sekali. Apalagi nanti malem, bisa tidur enak deh,” kata Liani.
“Memang olahraga itu penting bagi kesehatan tubuh,” kata Pak Rahman.
Apalagi olahraga yang juga memberikan kepuasan batin, kata Pak Rahman dalam hatinya.
Tak lama kemudian…
Liani sedang telanjang bulat di dalam kamar mandi fitness itu. Ia menyiram sisa-sisa sabun di tubuhnya dengan air hangat yang keluar dari shower. Pak Rahman juga telah berdiri telanjang bulat di dekatnya. Jarak antara keduanya paling sekitar 1/2 meter saja. Tentu saja penisnya pun juga telah ikutan “berdiri”. Tapi meski begitu keduanya tak bisa saling melihat. Karena seorang berada di ruangan khusus cewek dan yang lain lagi di ruangan khusus cowok yang pintu masuk keduanya berjauhan. Hanya saja kebetulan saat itu keduanya mengambil tempat di ujung. Sehingga kalau diukur dengan GPS, keduanya berdiri sangat berdekatan. Akan tetapi ada tembok pemisah yang tebal.
Liani sedang telanjang bulat di dalam kamar mandi fitness itu. Ia menyiram sisa-sisa sabun di tubuhnya dengan air hangat yang keluar dari shower. Pak Rahman juga telah berdiri telanjang bulat di dekatnya. Jarak antara keduanya paling sekitar 1/2 meter saja. Tentu saja penisnya pun juga telah ikutan “berdiri”. Tapi meski begitu keduanya tak bisa saling melihat. Karena seorang berada di ruangan khusus cewek dan yang lain lagi di ruangan khusus cowok yang pintu masuk keduanya berjauhan. Hanya saja kebetulan saat itu keduanya mengambil tempat di ujung. Sehingga kalau diukur dengan GPS, keduanya berdiri sangat berdekatan. Akan tetapi ada tembok pemisah yang tebal.
Malamnya,
Pak Rahman tampil luar biasa di atas ranjang, sampai-sampai Bu Retno istrinya yang biasanya cerewet saat itu jadi “jinak” dan begitu penurut kepadanya.. Dan demikianlah keadaan seterusnya. Pada hari-hari dimana Pak Rahman “membimbing” Liani berolahraga secara benar, malamnya ia selalu tampil dengan lebih perkasa.
Pak Rahman tampil luar biasa di atas ranjang, sampai-sampai Bu Retno istrinya yang biasanya cerewet saat itu jadi “jinak” dan begitu penurut kepadanya.. Dan demikianlah keadaan seterusnya. Pada hari-hari dimana Pak Rahman “membimbing” Liani berolahraga secara benar, malamnya ia selalu tampil dengan lebih perkasa.
—@@@@@@@—–
Matahari baru saja terbenam. Hari telah berubah menjadi gelap.
Suasana sekolah itu tampak telah sunyi dan tak terlihat seorang pun.
Apabila orang melihat dari luar, tentu mereka mengira bahwa di dalam
kompleks sekolah yang besar itu tidak ada seorang manusia pun. Namun hal
itu tidaklah benar. Karena ada rumah Pak Sarip yang terletak di bagian
belakang sekolah yang dihuni oleh penghuninya, yaitu Pak Sarip dan Bu
Sarip. Tapi di bagian depan kompleks sekolah, seharusnya sudah tidak ada
orang sama sekali. Apalagi pintu gerbang yang menghubungkan bagian
depan dan belakang sekolah telah dikunci dari depan. Sehingga Pak Sarip
pun juga tak bisa masuk ke daerah ini. Seandainya ia ingin keluar
kompleks, ia harus keluar lewat pintu belakang sekolah. Selain mereka,
seharusnya tidak ada orang lain di dalam kompleks sekolah itu..
Tapi…ternyata nggak benar juga. Karena di dalam satu ruangan tertutup,
tepatnya di dalam aula olahraga di bagian depan sekolah, sebagian lampu
menyala dan terdengar suara-suara aneh di dalamnya. Hantukah itu???
Ternyata bukan hantu. Di dalam aula itu terdapat dua orang yang semuanya
serba berlainan, yaitu berlainan jenis kelamin, berbeda generasi,
perbedaan warna kulitnya kontras sekali, namun keduanya sedang asyik
melakukan satu kegiatan olahraga secara bersama-sama. Dan olahraga yang
dilakukan itu bukan olahraga biasa. Karena cewek muda dan putih itu
nampak sedang mendesah-desah. Dirinya sedang ditindih oleh bapak
berkulit sawo matang yang usianya sekitar 40 tahunan. Keduanya telanjang
bulat. Penis bapak itu telah menyodok-nyodok ke dalam vagina cewek
putih tadi. Ternyata cewek itu adalah Liani, siswi favorit sekolah itu.
Dan bapak yang sedang menindihnya itu adalah Pak Rahman, guru olahraga
sekolah itu.
Untuk itu marilah flashback sebentar…
Sore itu selesai praktikum, Liani tidak langsung pulang ke rumah. Ia
bermain-main dengan beberapa temannya, bergantian melempar bola basket
ke dalam ringnya. Di ujung satunya juga ada beberapa murid dari kelas
lain melakukan hal yang sama. Selain itu ada pula beberapa murid yang
sedang duduk-duduk sambil ngobrol dan bercanda. Sementara itu, di bagian
lain ruangan, Pak Rahman sedang mengajar olahraga kepada murid kelas
siang. Olahraga yang diajarkan saat itu adalah senam matras, seperti
roll depan, roll belakang, dll. Setelah jam pelajaran olahraga selesai,
Pak Rahman mendatangi anak-anak yang sedang bermain-main basket itu
kemudian ia memberi contoh dan masukan-masukan kepada mereka. Setelah
itu ia mengobrol dengan murid-murid yang sedang duduk-duduk itu. Tak
lama kemudian Pak Rahman bersama tiga murid cowok berjalan ke arah
matras yang sebelumnya dipakai buat olahraga itu dan berbicara mengenai
olahraga matras disana. Tak lama kemudian Liani merasa cukup
bermain-main. Ia hendak segera pulang. Setelah pamitan dengan
teman-temannya ia berjalan ke arah pintu keluar aula itu. Namun saat itu
ia melihat Pak Rahman dan beberapa murid itu yang sedang mengobrol
seru. Karena ingin tahu, ia ikutan nimbrung, sampai agak lama.. Tentu
tiga murid cowok tadi bagai kejatuhan rejeki nomplok, tiba-tiba bisa
ngobrol bareng dengan Liani. Mereka ngobrol agak lama, sehingga akhirnya
teman-teman mainnya yang tadi malah pulang duluan. Tak lama kemudian,
tiga cowok yang sedang mengobrol bersamanya pamitan pulang juga. Karena
mereka pulang, Liani ikut pamitan juga. Tapi sesaat kemudian Pak Rahman
mengajaknya bicara tentang olahraga fitness. Karena pada dasarnya suka
ngobrol, akhirnya ia asyik ngobrol dengan Pak Rahman. Saat itu ia tak
terlalu kuatir karena diliriknya masih ada beberapa murid yang tak
dikenalnya sedang melempar-lempar bola ke ring basket. Jadilah ia dan
Pak Rahman keasyikan ngobrol macam-macam tentang olahraga. Malahan Pak
Rahman memberi beberapa contoh tentang olahraga matras. Sementara Liani
sibuk memperhatikannya dan bercakap-cakap dengan Pak Rahman.
Tak terasa telah lewat setengah jam mereka mengobrol. Tiba-tiba Liani
tersadar kalau saat itu ruangan aula telah sepi. Semua orang telah
pergi. Hanya ia dan Pak Rahman saja yang masih tinggal di aula itu. Saat
itu ia merasa agak risih berdua sendirian dengan Pak Rahman di dalam
ruangan yang luas namun lengang itu. Lagipula saat itu ia berada dalam
jarak cukup dekat dengan Pak Rahman. Sementara ia telah mendapati
beberapa kali Pak Rahman memandangi dirinya seolah seperti menggerayangi
tubuhnya saja. Ditambah lagi ia melihat adanya tonjolan cukup besar di
balik celana training yang dikenakan Pak Rahman. Karena itu ia segera
pamitan pulang,”Wah, sudah mau gelap nih. Saya mesti pulang dulu deh
Pak.”
Namun Pak Rahman malah berkata, “Wah, sekarang lagi hujan, Liani. Kalau kamu pulang sekarang, begitu keluar pagar depan juga pasti basah kuyup. Lagipula, satpam yang tugas jaga di depan hari ini adalah Pak Sudin. Dia orangnya suka nyebar gosip. Saya nggak mau dia ngelihat kita keluar berdua lalu nyebar gosip yang nggak-nggak ke anak-anak. Hal itu tidak baik buat saya tapi lebih tidak baik lagi buat kamu, anak gadis yang masih perawan. Bagaimana kalau kita tunggu dulu beberapa saat? Sepuluh / lima belas menit lagi sudah waktunya jam pulang baginya. Dan siapa tahu saat itu hujan telah reda,” katanya menasehati.
“Dan kamu tak perlu khawatir, saya akan menunggu dan menjaga kamu disini sampai kamu pulang,” tambahnya lagi.
Entah mungkin karena sifat bitchy dalam dirinya diam-diam mulai muncul, atau sekedar iseng ingin tahu apa yang akan dilakukan Pak Rahman selanjutnya, atau memang karena takut kehujanan dan digosipin, atau karena kena pengaruh wibawa Pak Rahman, saat itu Liani menuruti saja kata-kata gurunya itu. Sejenak ia nampak ragu, namun akhirnya ia berkata, “Ehmmm, baiklah kalo cuma sepuluh menit.”
Namun Pak Rahman malah berkata, “Wah, sekarang lagi hujan, Liani. Kalau kamu pulang sekarang, begitu keluar pagar depan juga pasti basah kuyup. Lagipula, satpam yang tugas jaga di depan hari ini adalah Pak Sudin. Dia orangnya suka nyebar gosip. Saya nggak mau dia ngelihat kita keluar berdua lalu nyebar gosip yang nggak-nggak ke anak-anak. Hal itu tidak baik buat saya tapi lebih tidak baik lagi buat kamu, anak gadis yang masih perawan. Bagaimana kalau kita tunggu dulu beberapa saat? Sepuluh / lima belas menit lagi sudah waktunya jam pulang baginya. Dan siapa tahu saat itu hujan telah reda,” katanya menasehati.
“Dan kamu tak perlu khawatir, saya akan menunggu dan menjaga kamu disini sampai kamu pulang,” tambahnya lagi.
Entah mungkin karena sifat bitchy dalam dirinya diam-diam mulai muncul, atau sekedar iseng ingin tahu apa yang akan dilakukan Pak Rahman selanjutnya, atau memang karena takut kehujanan dan digosipin, atau karena kena pengaruh wibawa Pak Rahman, saat itu Liani menuruti saja kata-kata gurunya itu. Sejenak ia nampak ragu, namun akhirnya ia berkata, “Ehmmm, baiklah kalo cuma sepuluh menit.”
“OK, kalau begitu, untuk mengisi waktu, saya tunjukkan beberapa kegiatan olahraga yang berguna,” kata Pak Rahman.
“Olahraga itu penting sekali untuk menjaga kesehatan tubuh, lho, Liani.”
“Dan kesehatan tubuh itu penting sekali artinya dalam kehidupan kita,” demikian ceramah singkat Pak Rahman kepada Liani.
Sambil berkata, ia berjalan ke dalam menjauhi pintu keluar. Liani mengikuti langkah kaki Pak Rahman itu. Namun saat Liani berjalan menuju ke tengah ruangan itu, sesaat kemudian malah Pak Rahman berbalik arah dan menutup pintu keluar itu serta menguncinya. Sehingga kini tak ada seorang pun yang tahu mereka berdua ada di dalam, dan tak ada seorang pun yang bisa membuka pintu itu dari luar kecuali yang memiliki kuncinya. Dan Bu Yuli, guru olahraga cewek yang juga memegang kunci telah pulang sejak tadi, begitu jam pelajaran olahraga selesai.
“Sini, saya tunjukkan bagaimana kamu bisa menggunakan alat ini untuk kesehatan tubuh kamu,” kata Pak Rahman. Ia berjalan menuju ke pipa besi horizontal yang disangga oleh dua pipa besi vertikal di pinggirnya (yang biasa digunakan untuk senam di olimpiade). Lalu ia memberi contoh. Ia melompat meraih palang horizontal itu dengan kedua tangannya. Kemudian ia menarik tubuhnya keatas beberapa kali. Sungguh hebat sekali! Meski usia sudah atau hampir kepala empat, tapi ia sanggup melakukannya beberapa kali tanpa membuat napasnya ngos-ngosan.
“Nah, sekarang giliran kamu mencoba.”
“Wah, saya nggak bisa Pak. Itu berat sekali. Khan dulu sudah pernah coba di tempat fitness,” kata Liani.
“Nggak apa-apa coba lagi. Siapa tahu malah bisa. Ayuk, mari saya bantu naik, maaf,” kata Pak Rahman. Meski mulutnya mengucapkan kata “maaf” namun ia tak memberi kesempatan cewek itu menolak. Karena saat itu ia langsung memegang pinggang cewek itu dan mengangkatnya. Sehingga kini mau tak mau Liani harus memegang palang besi itu dengan kedua tangannya kalau tidak mau dirinya dipegang terus oleh Pak Rahman.
“Olahraga itu penting sekali untuk menjaga kesehatan tubuh, lho, Liani.”
“Dan kesehatan tubuh itu penting sekali artinya dalam kehidupan kita,” demikian ceramah singkat Pak Rahman kepada Liani.
Sambil berkata, ia berjalan ke dalam menjauhi pintu keluar. Liani mengikuti langkah kaki Pak Rahman itu. Namun saat Liani berjalan menuju ke tengah ruangan itu, sesaat kemudian malah Pak Rahman berbalik arah dan menutup pintu keluar itu serta menguncinya. Sehingga kini tak ada seorang pun yang tahu mereka berdua ada di dalam, dan tak ada seorang pun yang bisa membuka pintu itu dari luar kecuali yang memiliki kuncinya. Dan Bu Yuli, guru olahraga cewek yang juga memegang kunci telah pulang sejak tadi, begitu jam pelajaran olahraga selesai.
“Sini, saya tunjukkan bagaimana kamu bisa menggunakan alat ini untuk kesehatan tubuh kamu,” kata Pak Rahman. Ia berjalan menuju ke pipa besi horizontal yang disangga oleh dua pipa besi vertikal di pinggirnya (yang biasa digunakan untuk senam di olimpiade). Lalu ia memberi contoh. Ia melompat meraih palang horizontal itu dengan kedua tangannya. Kemudian ia menarik tubuhnya keatas beberapa kali. Sungguh hebat sekali! Meski usia sudah atau hampir kepala empat, tapi ia sanggup melakukannya beberapa kali tanpa membuat napasnya ngos-ngosan.
“Nah, sekarang giliran kamu mencoba.”
“Wah, saya nggak bisa Pak. Itu berat sekali. Khan dulu sudah pernah coba di tempat fitness,” kata Liani.
“Nggak apa-apa coba lagi. Siapa tahu malah bisa. Ayuk, mari saya bantu naik, maaf,” kata Pak Rahman. Meski mulutnya mengucapkan kata “maaf” namun ia tak memberi kesempatan cewek itu menolak. Karena saat itu ia langsung memegang pinggang cewek itu dan mengangkatnya. Sehingga kini mau tak mau Liani harus memegang palang besi itu dengan kedua tangannya kalau tidak mau dirinya dipegang terus oleh Pak Rahman.
Setelah Liani meraih palang itu, baru Pak Rahman melepaskan pegangannya. Lalu ia berkata,
“Nah, sekarang coba angkat badan kamu,” kata Pak Rahman.
“Wah, saya nggak kuat Pak. Berat sekali,” kata Liani yang cuma bisa menggeser tubuhnya ke atas beberapa senti saja.
“Kalau begitu, mari saya bantu,” kata Pak Rahman sambil ia berjongkok di depan cewek itu dan memegang pergelangan kakinya.
“Huuahhh,” serunya saat mengangkat kedua kaki Liani keatas.
“Kamu coba angkat tubuh kamu lebih tinggi lagi, sudah saya bantu nih,” kata Pak Rahman sambil menengadahkan kepalanya ke atas. Sungguh ia adalah orang yang pandai memanfaatkan kesempatan. Padahal saat itu Liani mengenakan rok abu-abu yang panjangnya beberapa senti di atas lutut! Tentu saat itu Pak Rahman bisa melihat pemandangan indah di atas kepalanya itu. Paling tidak, paha putih mulus itu pasti kena dilihatnya. Semakin tinggi Liani mengangkat tubuhnya, semakin banyak pula yang dipihatnya. Bahkan mungkin celana dalam cewek itu juga berhasil diintipnya sekalian. Namun setelah itu malah lebih kurang ajar lagi.
“Sebentar, tahan dulu ya……Nah sekarang saya bantu lagi.”
Dan…dipegangnya pantat cewek itu yang nampak sedikit menonjol di balik rok abu-abunya itu.
Liani merasa pantatnya dipegang gurunya itu, tentu jadi risih. Namun ia tak bisa berontak dalam posisi seperti itu. Akhirnya yang bisa dilakukan hanyalah melepas pegangannya itu supaya bisa mendarat di lantai lagi. Saat ia melakukan itu tentu tubuhnya langsung turun ke bawah sampai kakinya menyentuh lantai lagi. Namun yang tak disangkanya, saat ia menjatuhkan dirinya itu, Pak Rahman tidak melepaskan pegangannya malah ia berusaha menangkap tubuhnya. Akibatnya…kini kedua tangan pak Rahman jadi menempel di tubuhnya, dan….kedua tangannya persis menempel di kedua buah dadanya! Tentu ini sungguh kejutan yang tak disangka-sangka bagi Pak Rahman. Ibarat pepatah, maksud hati memeluk gunung, apa daya tiba-tiba “gunungnya” sudah berada di dalam genggaman tangan duluan. Dirasakannya buah dada Liani yang empuk dan nyaman itu. Liani seketika memerah mukanya mengetahui kedua tangan Pak Rahman yang hitam dan berotot itu tepat mendarat di dadanya.
“Nah, sekarang coba angkat badan kamu,” kata Pak Rahman.
“Wah, saya nggak kuat Pak. Berat sekali,” kata Liani yang cuma bisa menggeser tubuhnya ke atas beberapa senti saja.
“Kalau begitu, mari saya bantu,” kata Pak Rahman sambil ia berjongkok di depan cewek itu dan memegang pergelangan kakinya.
“Huuahhh,” serunya saat mengangkat kedua kaki Liani keatas.
“Kamu coba angkat tubuh kamu lebih tinggi lagi, sudah saya bantu nih,” kata Pak Rahman sambil menengadahkan kepalanya ke atas. Sungguh ia adalah orang yang pandai memanfaatkan kesempatan. Padahal saat itu Liani mengenakan rok abu-abu yang panjangnya beberapa senti di atas lutut! Tentu saat itu Pak Rahman bisa melihat pemandangan indah di atas kepalanya itu. Paling tidak, paha putih mulus itu pasti kena dilihatnya. Semakin tinggi Liani mengangkat tubuhnya, semakin banyak pula yang dipihatnya. Bahkan mungkin celana dalam cewek itu juga berhasil diintipnya sekalian. Namun setelah itu malah lebih kurang ajar lagi.
“Sebentar, tahan dulu ya……Nah sekarang saya bantu lagi.”
Dan…dipegangnya pantat cewek itu yang nampak sedikit menonjol di balik rok abu-abunya itu.
Liani merasa pantatnya dipegang gurunya itu, tentu jadi risih. Namun ia tak bisa berontak dalam posisi seperti itu. Akhirnya yang bisa dilakukan hanyalah melepas pegangannya itu supaya bisa mendarat di lantai lagi. Saat ia melakukan itu tentu tubuhnya langsung turun ke bawah sampai kakinya menyentuh lantai lagi. Namun yang tak disangkanya, saat ia menjatuhkan dirinya itu, Pak Rahman tidak melepaskan pegangannya malah ia berusaha menangkap tubuhnya. Akibatnya…kini kedua tangan pak Rahman jadi menempel di tubuhnya, dan….kedua tangannya persis menempel di kedua buah dadanya! Tentu ini sungguh kejutan yang tak disangka-sangka bagi Pak Rahman. Ibarat pepatah, maksud hati memeluk gunung, apa daya tiba-tiba “gunungnya” sudah berada di dalam genggaman tangan duluan. Dirasakannya buah dada Liani yang empuk dan nyaman itu. Liani seketika memerah mukanya mengetahui kedua tangan Pak Rahman yang hitam dan berotot itu tepat mendarat di dadanya.
“Kamu nggak apa-apa, Liani?” tanya Pak Rahman dengan kurang ajar
karena kedua tangannya masih aja menempel, seakan enggan melepas gunung
kembar milik cewek itu.
“Oh nggak, sa-saya nggak apa-apa, Pak,” kata Liani masih belum hilang rasa terkejutnya itu. Ia memundurkan dirinya melepaskan dadanya dari tangan Pak Rahman. Namun tiba-tiba malah Pak Rahman mendekatkan diri ke dirinya dan…mmphhhh!…segera dicium dan dikuncinya bibir cewek itu dengan bibirnya, yang karena gerakan cepatnya, cewek itu tak sempat (atau tak mau??) menghindar. Bibirnya dicium begitu tentu Liani berusaha berontak. Namun Pak Rahman terlalu kuat untuk dilawannya. Atau mungkin karena ia melakukannya dengan setengah hati saja? Yang jelas kini malah dirinya jadi didekap erat-erat oleh Pak Rahman, membuat dirinya sama sekali tak bisa berkutik! Kini Pak Rahman dengan leluasa melumat habis bibir gadis itu. Ia nampak bernafsu sekali dengan Liani. Dijelajahi seluruh bibirnya. Dirasakannya bibir Liani yang sungguh segar dan nikmat itu. Sementara Liani yang tak bisa melawan di dalam dekapan itu berusaha meronta. Namun tak jelas apakah itu hanyalah rontaan tipu-tipuan saja ataukah memang betul-betul tak berkutik. Mungkin ia setengah meronta namun juga setengah menikmati. Setengah berontak tapi setengah pasrah. Saat itu Liani ibarat kucing malu-malu yang sepertinya ingin melepaskan diri, tapi sebenarnya ingin terus dibelai-belai. Yang jelas bagi Pak Rahman saat itu sungguh membuatnya terangsang hebat kepada kucing betina
muda yang manja tapi malu-malu itu. Apalagi ia merasakan harum tubuh dan harum rambut Liani yang begitu jelas. Juga dirasakannya tubuhnya yang hangat yang menempel pada tubuhnya sendiri. Bahkan kedua dada cewek itu kini juga melekat ditubuhnya! Sementara cewek itu, meski berusaha meronta-ronta, namun sepertinya malah pasrah bibirnya diciumi oleh pak gurunya. Sungguh kontradiktif sekali! Betul-betul seperti kucing. Saat ingin didekati, berusaha kabur. Namun begitu kena di tangan, mau saja sekujur tubuhnya dibelai-belai.
“Oh nggak, sa-saya nggak apa-apa, Pak,” kata Liani masih belum hilang rasa terkejutnya itu. Ia memundurkan dirinya melepaskan dadanya dari tangan Pak Rahman. Namun tiba-tiba malah Pak Rahman mendekatkan diri ke dirinya dan…mmphhhh!…segera dicium dan dikuncinya bibir cewek itu dengan bibirnya, yang karena gerakan cepatnya, cewek itu tak sempat (atau tak mau??) menghindar. Bibirnya dicium begitu tentu Liani berusaha berontak. Namun Pak Rahman terlalu kuat untuk dilawannya. Atau mungkin karena ia melakukannya dengan setengah hati saja? Yang jelas kini malah dirinya jadi didekap erat-erat oleh Pak Rahman, membuat dirinya sama sekali tak bisa berkutik! Kini Pak Rahman dengan leluasa melumat habis bibir gadis itu. Ia nampak bernafsu sekali dengan Liani. Dijelajahi seluruh bibirnya. Dirasakannya bibir Liani yang sungguh segar dan nikmat itu. Sementara Liani yang tak bisa melawan di dalam dekapan itu berusaha meronta. Namun tak jelas apakah itu hanyalah rontaan tipu-tipuan saja ataukah memang betul-betul tak berkutik. Mungkin ia setengah meronta namun juga setengah menikmati. Setengah berontak tapi setengah pasrah. Saat itu Liani ibarat kucing malu-malu yang sepertinya ingin melepaskan diri, tapi sebenarnya ingin terus dibelai-belai. Yang jelas bagi Pak Rahman saat itu sungguh membuatnya terangsang hebat kepada kucing betina
muda yang manja tapi malu-malu itu. Apalagi ia merasakan harum tubuh dan harum rambut Liani yang begitu jelas. Juga dirasakannya tubuhnya yang hangat yang menempel pada tubuhnya sendiri. Bahkan kedua dada cewek itu kini juga melekat ditubuhnya! Sementara cewek itu, meski berusaha meronta-ronta, namun sepertinya malah pasrah bibirnya diciumi oleh pak gurunya. Sungguh kontradiktif sekali! Betul-betul seperti kucing. Saat ingin didekati, berusaha kabur. Namun begitu kena di tangan, mau saja sekujur tubuhnya dibelai-belai.
Lalu Pak Rahman membelakangi Liani. Dipegangnya kedua tangan cewek
itu dari belakang. Dirasakannya kedua tangannya yang hangat.
Diraba-rabanya. Kini ia sungguh menyadari betapa halus kulit tangan
cewek itu. Sementara itu, hidungnya mencium rambut Liani, mencium bau
harum semerbak. Diciuminya rambut itu. Kemudian ia mencium tengkuk leher
gadis itu. Hmmm, begitu putih dan halus. Liani tergerak tubuhnya saat
Pak Rahman menciumi tengkuknya. Kumis tipisnya menggelitik tengkuk
lehernya yang putih halus. Membuat dirinya menggeliat kegelian.
“Emhh” Liani mendesah perlahan.
Hal itu membuat Pak Rahman makin berani. Terus diciuminya tengkuknya sambil bahunya dipegang. Setelah itu ia mendekatkan wajahnya ke wajah cewek itu. Mendekatkan pipinya dengan pipi cewek itu. Sementara kedua tangannya mulai menggerayangi tubuh cewek itu. Dirabanya seluruh tangan cewek itu dari lengan turun ke bawah. Dirabanya pinggangnya. Sementara diciumnya pipinya. Dirabanya perutnya dan kedua tangannya terus bergerak naik ke atas. Dan mulutnya bergeser mencium ujung bibir dan pipinya. Kini kedua tangannya memegang dadanya. Diciumnya bibir cewek itu. Karena Liani malah menoleh ke samping seakan membiarkan bibirnya diciumi oleh gurunya yang berumur 40 tahunan itu. Kini dadanya kembali berada dalam dekapan kedua tangan yang perkasa itu. Kedua tangan itu meraba-raba dadanya. Menggoyang-goyangnya. Meremas-remasnya…..Sambil Pak Rahman terus menciumi bibirnya. Kini Pak Rahman sudah tak memikirkan apa pun selain nafsu birahi yang memuncak. Untuk masalah kayak gini khan memang biasanya “sikat dulu, yang lain urusan belakangan”. Apalagi kalo cewek yang akan disikat sekaliber Liani gini.
“Emhh” Liani mendesah perlahan.
Hal itu membuat Pak Rahman makin berani. Terus diciuminya tengkuknya sambil bahunya dipegang. Setelah itu ia mendekatkan wajahnya ke wajah cewek itu. Mendekatkan pipinya dengan pipi cewek itu. Sementara kedua tangannya mulai menggerayangi tubuh cewek itu. Dirabanya seluruh tangan cewek itu dari lengan turun ke bawah. Dirabanya pinggangnya. Sementara diciumnya pipinya. Dirabanya perutnya dan kedua tangannya terus bergerak naik ke atas. Dan mulutnya bergeser mencium ujung bibir dan pipinya. Kini kedua tangannya memegang dadanya. Diciumnya bibir cewek itu. Karena Liani malah menoleh ke samping seakan membiarkan bibirnya diciumi oleh gurunya yang berumur 40 tahunan itu. Kini dadanya kembali berada dalam dekapan kedua tangan yang perkasa itu. Kedua tangan itu meraba-raba dadanya. Menggoyang-goyangnya. Meremas-remasnya…..Sambil Pak Rahman terus menciumi bibirnya. Kini Pak Rahman sudah tak memikirkan apa pun selain nafsu birahi yang memuncak. Untuk masalah kayak gini khan memang biasanya “sikat dulu, yang lain urusan belakangan”. Apalagi kalo cewek yang akan disikat sekaliber Liani gini.
Lalu dibalikkan tubuh Liani menghadap ke arahnya. Kemudian kedua
tangannya meraih kancing baju seragam putih Liani yang paling atas.
Namun Liani mencegah tangan gurunya itu membuka kancing seragamnya.
“Jangan, Pak.”
“Kenapa Liani? Udah kamu jangan malu-malu. Saya nggak akan bilang ke siapa pun. Biar ini jadi rahasia kita berdua.”
“Tapi saya takut Pak,” kata Liani sambil menundukkan kepalanya.
“Kenapa takut? Ooh, saya tahu. Kamu belum pernah melakukan ini ya?”
Liani hanya mengangguk sambil tetap menundukkan kepalanya.
“Justru karena kamu belum pernah itu maka saya ingin nyobain. Lagian enak kok. Kamu juga pasti suka. Saya jamin deh.”
Liani tadi bukannya berbohong. Maksudnya mengangguk tadi, karena ia belum pernah melakukan dengan beast yang segarang Pak Rahman begini dan yang umurnya sudah kepala empat.
Namun setelah itu ia diam saja saat Pak Rahman membuka kancing bajunya paling atas. Entah takut atau pasrah atau memang mau. Demikian pula saat dilepasnya kancing di bawahnya. Dan satu lagi. Lagi… Sampai akhirnya terbukalah baju seragam putih yang dikenakan Liani itu. Sehingga terlihatlah sebagian dada Liani yang putih yang sungguh menggairahkan itu. Setelah seluruh kancing bajunya terbuka, dikeluarkannya baju seragam putih itu dari rok abu-abunya.
“Jangan, Pak.”
“Kenapa Liani? Udah kamu jangan malu-malu. Saya nggak akan bilang ke siapa pun. Biar ini jadi rahasia kita berdua.”
“Tapi saya takut Pak,” kata Liani sambil menundukkan kepalanya.
“Kenapa takut? Ooh, saya tahu. Kamu belum pernah melakukan ini ya?”
Liani hanya mengangguk sambil tetap menundukkan kepalanya.
“Justru karena kamu belum pernah itu maka saya ingin nyobain. Lagian enak kok. Kamu juga pasti suka. Saya jamin deh.”
Liani tadi bukannya berbohong. Maksudnya mengangguk tadi, karena ia belum pernah melakukan dengan beast yang segarang Pak Rahman begini dan yang umurnya sudah kepala empat.
Namun setelah itu ia diam saja saat Pak Rahman membuka kancing bajunya paling atas. Entah takut atau pasrah atau memang mau. Demikian pula saat dilepasnya kancing di bawahnya. Dan satu lagi. Lagi… Sampai akhirnya terbukalah baju seragam putih yang dikenakan Liani itu. Sehingga terlihatlah sebagian dada Liani yang putih yang sungguh menggairahkan itu. Setelah seluruh kancing bajunya terbuka, dikeluarkannya baju seragam putih itu dari rok abu-abunya.
Kemudian disibakkan baju seragam itu dan diloloskannya baju itu dari
kedua tangannya. Sehingga baju seragam putih itu jatuh ke lantai. Kini
tubuh bagian atas Liani sebagian besar telah terbuka di depan Pak
Rahman. Sementara bra yang dikenakannya itu berwarna ungu! Dan model bra
yang tanpa tali di bahunya. Wow! Sungguh sexy sekali. Lekukan atas
dadanya nampak kelihatan di balik bra ungu yang menutup payudara gadis
muda itu. Sementara seluruh bahunya yang putih telah terbuka. Warna bra
ungu itu sungguh sexy sekali dipakai oleh Liani yang berkulit putih.
Setelah itu giliran rok abu-abu cewek itu yang dibuka kaitan dan
retsletingnya dan dilepaskannya. Sehingga rontok jugalah rok abu-abu itu
ke lantai. Kini nampak tubuh Liani yang hampir telanjang dibalut bra
dan celana dalam doang. Sungguh anak smu yang putih cakep dan innocent
itu kini nampak sexy sekali dengan bra dan celana dalam doang, yang
keduanya berwarna ungu. Kini nampak jelas kemulusan tubuh Liani yang
putih di depan mata Pak Rahman. Apalagi celana dalamnya yang dipakainya
itu agak mini modelnya. Setelah itu Pak Rahman membimbing gadis itu
untuk melepas kedua sepatunya. Lalu ia berlutut di dekat kakinya melepas
kedua kaus kakinya. Pandangannya persis mengarah ke ujung bawah celana
dalam cewek itu. Setelah itu ia berdiri, dan…kedua tangannya merengkuh
ke belakang punggungnya. Tentu yang dituju adalah kaitan bra cewek itu.
Segera dibukanya kaitan itu. Sehingga seketika bra itu menjadi longgar
dan payudaranya jadi bergerak sedikit. Diloloskannya bra itu dari kedua
tangannya dan dijatuhkannya bra itu ke lantai dengan tanpa melihatnya.
Karena kini tentu pandangannya terfokus ke payudara cewek itu. Dan Pak
Rahman nampak terpana melihatnya dengan penuh kekaguman sekaligus penuh
kemupengan. Hatinya menggelora karena kini ia sedang menatap buah dada
milik Liani, yang di sekolah itu terkenal sebagai The Innocent Girl itu.
Buah dada yang telanjang. Buah dada yang padat berisi. Buah dada yang
berdiri tegak dan kencang. Buah dada dengan putingnya yang kemerahan.
Buah dada yang sungguh menggairahkan yang membuat nafsunya langsung naik
ke ubun-ubun.
Sementara Liani nampak tertunduk malu saat kedua mata Pak Rahman
dengan lebar menatap dadanya yang telanjang itu. Apalagi mengingat saat
itu ia telanjang di aula olahraga sekolah yang besar dan luas. Aula
tempat biasa ia berolahraga di sekolah. Namun kini jadi tempat dimana
dirinya ditelanjangi dan pakaian seragamnya dibelejeti satu-satu oleh
Pak Rahman, guru olahraganya. Namun Pak Rahman tak puas hanya sampai
disitu saja. Kini akan diloloskannya penutup tubuhnya yang terakhir.
Dipegangnya ujung celana dalam itu dengan kedua tangannya. Namun Liani
malah memegang bagian tengahnya dengan kedua tangannya. “Yang ini jangan
deh Pak,” katanya lirih sambil tetap menunduk. Pak Rahman tidak
meneruskan aksinya itu. Ia memaklumi gadis itu yang masih malu-malu.
Kini ia memegang bahu telanjang Liani yang kedua tangannya masih
memegang celana dalamnya sendiri, seakan masih ingin melindungi agar
penutup bagian rahasia dirinya itu tidak dilepas. Lalu kembali diciumnya
bibir Liani sebentar. Kemudian kedua tangannya tak tahan untuk tak
merengkuh payudara yang terbuka lebar itu, masing-masing satu.
Diraba-rabanya, dirasakan kekenyalannya. Diusap-usapnya kedua putingnya.
Diremas-remasnya gunung kembar indah yang kenyal dan padat berisi itu.
Pak Rahman membuka kaus training-nya. Sehingga kini telanjang dada.
Dadanya sungguh tegap dan bidang dan berwarna hitam. Sungguh kontras
berbeda dengan milik Liani yang ramping namun membusung dan putih. Lalu
ia membuka tali pengikat celana trainingnya. Sehingga kini melorot ke
bawah. Nampaklah kulit tubuh Pak Rahman yang coklat sawo matang.
Sementara celana dalamnya dengan ketat menutup sebagian kecil tubuhnya
itu. Membentuk tonjolan cukup besar di tengahnya. Sementara kepala
penisnya sudah “mengintip” keluar seakan ingin ikutan menyaksikan tubuh
mulus telanjang Liani. Lalu ia melepas sepatu dan kaus kakinya. Ia
sengaja tidak membuka celana dalamnya itu sekarang. Ia takut membuat
cewek itu kaget.
Pak Rahman mendorong punggung cewek itu diajaknya menuju ke matras.
Sambil ia mengagumi keindahan lekuk punggung telanjang Liani.
Diraba-rabanya punggung telanjang yang putih mulus itu. Sampai di
matras, ditidurkannya cewek itu di atas matras dengan telentang. Yang
paling menarik perhatiannya tentu payudara indah menggairahkan itu.
Namun diciumi dulu leher gadis itu. Diciumi dengan penuh nafsu. Leher
kiri, leher kanan, maupun leher tengah. Lalu turun ke bawah. Ke bagian
atas dadanya. Turun sedikit. Sampailah di tengah-tengah belahan dadanya.
Dijilatnya belahan dada yang putih itu. Lidahnya menjulur-julur di
antara belahan kedua gunung itu. Lalu lidahnya turun ke bagian bawah
payudaranya. Dijilatinya bagian itu. Lalu bergerak ke tengah. Dan
dijelajahinya seluruh bagian payudara putih itu dengan lidah dan
jari-jarinya. Namun ia menyisakan bagian yang paling enak dan paling
sensitif bagi Liani paling akhir. Kedua puting yang kemerahan itu!
Bagian itu jadi santapan terakhirnya. Santapan yang paling lezat.
Apalagi puting Liani berwarna segar kemerahan yang sungguh membuatnya
makin gemas, mungkin karena berbeda dengan yang biasa dilihatnya tiap
malam. Juga payudaranya secara keseluruhan yang masih kencang. Juga beda
dengan yang biasa dilihatnya tiap malam. Demikian pula kulitnya yang
putih mulus. Dan usia gadis itu yang masih belia, 18 tahun. Lagi-lagi
beda dengan yang biasa dilihatnya tiap malam. Dengan penuh nafsu
dijilati dan diemut-emutnya puting mungil yang menonjol itu. Ahh! Begitu
nikmat rasanya! Puting yang segar! Puting yang indah.
Dikenyot-kenyotnya terus puting itu. Puting yang kemerahan! Puting yang
menggairahkan! Dimain-mainkan lidahnya di kedua puting Liani bergantian.
Sehingga kini seluruh bagian payudara Liani The Innocent Girl itu telah
habis dikenyot-kenyotnya. Tak ada yang tersisa. Tak ada bagian yang
terlewat, tidak satu milimeter pun! Liani menggeliat-geliat dan
mendesah-desah kecil saat payudaranya dijilat-jilat dan dikenyot-kenyot
oleh Pak Rahman. Terutama saat kedua putingnya dimainin. Karena memang
Pak Rahman sangat berpengalaman dan tahu bagaimana cara membangkitkan
gairah cewek. Apalagi kumis tipisnya itu menempel dan menggelitik
payudara Liani yang sensitif. Membuat Liani jadi makin kegelian.
Sehingga ia telah lupa dengan rasa malunya.
“Ahhh…ahhhhh….aduuuhhh…geli pak….ahhhhh…uuuhh…”
“Ahhhh… ahhhhhh….ahhhhhh.”
Liani mulai “naik”.
Setelah itu Pak Rahman memainkan lidahnya di sekitar pahanya. Terutama pangkal pahanya. Frekuensi desahan Liani mulai meningkat saat kumis Pak Rahman menggelitik pangkal pahanya yang putih mulus. Ia semakin menjadi-jadi saat lidah Pak Rahman kini menari-nari di atas celana dalamnya, di wilayah sekitar vaginanya. Ia menjilat-jilat liang vagina cewek itu dari balik celana dalamnya. Sehingga kini mulai ada rembesan cairan yang membasahi celana dalam itu, yang makin lama makin melebar dan meluas. Pak Rahman tersenyum puas menyaksikan aksinya itu mengakibatkan cewek yang terkenal innocent itu kini jadi hilang rasa malunya dan berekspresi secara bebas dengan mendesah-desah. Setelah itu ia mencoba melepas celana dalam hijau muda itu. Kali ini cewek itu tidak menahannya. Sehingga dengan sekali tarik, bereslah sudah. Kini terbukalah semuanya. Liani, The Innocent Girl itu, kini terbuka sudah semuanya. Dan telentang telanjang bulat di depannya! Ia sungguh takjub menyaksikan betapa bulu-bulu vagina Liani ternyata lebat sekali. Kalau tak melihatnya sendiri sekarang ini, sungguh ia tak menyangka cewek bertampang polos ini bisa mempunyai bulu sedemikian lebat! Dan keindahan tubuhnya sungguh menakjubkan apalagi dalam keadaan telentang telanjang bulat begini. Betul-betul menggairahkan! Terutama bagi orang setengah baya seperti dirinya. Sungguh suatu kesempatan langka yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin! Setelah akhirnya membuka celana dalam Liani, kini dibukanya kedua kaki cewek itu lebar-lebar. Sehingga liang vagina Liani terpampang lebar di hadapannya. Lalu, ia menjilati vagina muda dan segar itu. Liani merintih-rintih nikmat. Dibukanya lipatan liang vagina yang sempit itu. Dijilatinya liang itu terutama dinding bagian dalamnya. Lalu dibukanya vagina bagian atasnya. Sampai ditemukannya klitoris cewek itu. Kini, dijilat-jilatnya klitoris itu. Sampai membuat cewek itu menggelinjang-gelinjang dan mendesah-desah. Liani nampak sudah makin terangsang. Apalagi karena kumis tipis Pak Rahman yang makin menggelitik vaginanya. Sampai desahan-desahannya jadi makin liar. Dan vaginanya benar-benar jadi kuyup.
Akhirnya dirasanya kini tibalah saatnya untuk menikmati gadis innocent itu. Kondisi gadis itu telah siap untuk menerima penisnya. Sehingga dibukanya celana dalamnya. Nampak penis hitam ukuran king size mengacung ke atas. Dan penis itu sungguh besar! Membuat Liani pun diam-diam jadi agak kaget dibuatnya. Apalagi kepala penisnya yang disunat itu nampak lebih besar lagi. Gila! Penis sebesar itu akan masuk ke dalam liang vagina sempit dirinya, pikirnya! (Catatan penting: Sebagian dari posisi-posisi seks berikut berpotensi menyebabkan cedera. Jadi mohon jangan ditiru tanpa pengalaman yang memadai atau konsultasi dengan Pak Rahman. Resiko cedera ditanggung pelaku!!!).
Kembali dibukanya kedua kaki Liani. Dan didekatkannya penisnya ke liang vagina gadis itu. Dan, didorongnya…Ugh! Alangkah sempitnya. Pak Rahman merasakan bahwa penisnya itu belum masuk ke dalam vagina sempit Liani itu. Lalu dicobanya lagi,emmhhhhh, emhhhhhh, emmhhhhh, setelah beberapa kali didesak ke dalam dan dengan agak dipaksanya, akhirnya masuklah kepalanya ke dalam vagina Liani.
“OH!! jerit Liani.
“OOHH!!
Dan, bleesss, akhirnya penis raksasa itu masuk juga seluruhnya ditelan di dalam vagina Liani.
Dalam posisi terduduk itu, ia mengocok-ngocok penisnya di dalam vagina Liani sambil memegang kedua kaki Liani.
“Ooohhh, ohhhhh, ohhhhhhh.”
“Aaahhhhh…..ahhhhhhhh…..ahhhhhhh”
Mula-mula saat penis itu pertama kali menembus vaginanya, ia merasa sakit dan perih. Namun setelah itu jadi perih-perih enak. Lama-kelamaan jadi tinggal enaknya doang. Karena setelah itu Liani mendesah-desah dan merintih-rintih.
“Ahhh…ahhhhh….aduuuhhh…geli pak….ahhhhh…uuuhh…”
“Ahhhh… ahhhhhh….ahhhhhh.”
Liani mulai “naik”.
Setelah itu Pak Rahman memainkan lidahnya di sekitar pahanya. Terutama pangkal pahanya. Frekuensi desahan Liani mulai meningkat saat kumis Pak Rahman menggelitik pangkal pahanya yang putih mulus. Ia semakin menjadi-jadi saat lidah Pak Rahman kini menari-nari di atas celana dalamnya, di wilayah sekitar vaginanya. Ia menjilat-jilat liang vagina cewek itu dari balik celana dalamnya. Sehingga kini mulai ada rembesan cairan yang membasahi celana dalam itu, yang makin lama makin melebar dan meluas. Pak Rahman tersenyum puas menyaksikan aksinya itu mengakibatkan cewek yang terkenal innocent itu kini jadi hilang rasa malunya dan berekspresi secara bebas dengan mendesah-desah. Setelah itu ia mencoba melepas celana dalam hijau muda itu. Kali ini cewek itu tidak menahannya. Sehingga dengan sekali tarik, bereslah sudah. Kini terbukalah semuanya. Liani, The Innocent Girl itu, kini terbuka sudah semuanya. Dan telentang telanjang bulat di depannya! Ia sungguh takjub menyaksikan betapa bulu-bulu vagina Liani ternyata lebat sekali. Kalau tak melihatnya sendiri sekarang ini, sungguh ia tak menyangka cewek bertampang polos ini bisa mempunyai bulu sedemikian lebat! Dan keindahan tubuhnya sungguh menakjubkan apalagi dalam keadaan telentang telanjang bulat begini. Betul-betul menggairahkan! Terutama bagi orang setengah baya seperti dirinya. Sungguh suatu kesempatan langka yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin! Setelah akhirnya membuka celana dalam Liani, kini dibukanya kedua kaki cewek itu lebar-lebar. Sehingga liang vagina Liani terpampang lebar di hadapannya. Lalu, ia menjilati vagina muda dan segar itu. Liani merintih-rintih nikmat. Dibukanya lipatan liang vagina yang sempit itu. Dijilatinya liang itu terutama dinding bagian dalamnya. Lalu dibukanya vagina bagian atasnya. Sampai ditemukannya klitoris cewek itu. Kini, dijilat-jilatnya klitoris itu. Sampai membuat cewek itu menggelinjang-gelinjang dan mendesah-desah. Liani nampak sudah makin terangsang. Apalagi karena kumis tipis Pak Rahman yang makin menggelitik vaginanya. Sampai desahan-desahannya jadi makin liar. Dan vaginanya benar-benar jadi kuyup.
Akhirnya dirasanya kini tibalah saatnya untuk menikmati gadis innocent itu. Kondisi gadis itu telah siap untuk menerima penisnya. Sehingga dibukanya celana dalamnya. Nampak penis hitam ukuran king size mengacung ke atas. Dan penis itu sungguh besar! Membuat Liani pun diam-diam jadi agak kaget dibuatnya. Apalagi kepala penisnya yang disunat itu nampak lebih besar lagi. Gila! Penis sebesar itu akan masuk ke dalam liang vagina sempit dirinya, pikirnya! (Catatan penting: Sebagian dari posisi-posisi seks berikut berpotensi menyebabkan cedera. Jadi mohon jangan ditiru tanpa pengalaman yang memadai atau konsultasi dengan Pak Rahman. Resiko cedera ditanggung pelaku!!!).
Kembali dibukanya kedua kaki Liani. Dan didekatkannya penisnya ke liang vagina gadis itu. Dan, didorongnya…Ugh! Alangkah sempitnya. Pak Rahman merasakan bahwa penisnya itu belum masuk ke dalam vagina sempit Liani itu. Lalu dicobanya lagi,emmhhhhh, emhhhhhh, emmhhhhh, setelah beberapa kali didesak ke dalam dan dengan agak dipaksanya, akhirnya masuklah kepalanya ke dalam vagina Liani.
“OH!! jerit Liani.
“OOHH!!
Dan, bleesss, akhirnya penis raksasa itu masuk juga seluruhnya ditelan di dalam vagina Liani.
Dalam posisi terduduk itu, ia mengocok-ngocok penisnya di dalam vagina Liani sambil memegang kedua kaki Liani.
“Ooohhh, ohhhhh, ohhhhhhh.”
“Aaahhhhh…..ahhhhhhhh…..ahhhhhhh”
Mula-mula saat penis itu pertama kali menembus vaginanya, ia merasa sakit dan perih. Namun setelah itu jadi perih-perih enak. Lama-kelamaan jadi tinggal enaknya doang. Karena setelah itu Liani mendesah-desah dan merintih-rintih.
Setelah beberapa saat penis Pak Rahman
menembus masuk, vaginanya jadi melentur. Kemudian disodok-sodoknya
penisnya di dalam vagina sempit itu, menikmati tubuh muridnya.
Benar-benar seret dan kuat cengkeramannya. Sungguh beda dengan yang
dirasakannya selama ini. Saking seret dan sempitnya, sampai-sampai saat
Pak Rahman mencabut penisnya, liang vagina Liani jadi agak menganga. Dan
ia juga melihat ada darah yang menetes dari vagina Liani menodai kain
matras itu! (Kadang memang ada cewek yang bisa mengeluarkan darah lebih
dari satu kali. Dan Liani adalah salah satu cewek seperti itu. Mungkin
saat pertama kali diperawani, masih ada sebagian selaput dara yang tidak
robek. Sebaliknya, ada pula cewek yang masih perawan tapi tidak
mengeluarkan darah saat disetubuhi pertama kali). Kini Pak Rahman menindih tubuh Liani diatas matras itu. Setelah itu Pak Rahman yang gagah kekar itu menindih tubuh Liani yang ramping dan putih itu. Kembali ia menyetubuhi gadis itu. Penisnya dimasukkan ke dalam vaginanya. Kali ini lebih mudah masuknya meski masih seret. Dan kembali dikocoknya penisnya itu maju mundur. Liani kembali mendesah-desah lagi karena kocokan itu. Kini desahannya itu terdengar cukup keras. Apalagi desahannya itu jadi menggema di dalam aula yang luas dan kosong itu. Sementara tubuhnya bagaikan berdentam-dentam dihantam benda tumpul besar bertubi-tubi. Namun kini ia lebih siap karena vaginanya telah beradaptasi. Kini penis Pak Rahman yang besar itu merangsang bagian-bagian dalam vaginanya yang peka terhadap rangsangan.. Pak Rahman dengan perkasa terus mengocok dirinya beberapa saat lamanya, sampai akhirnya ia tidak tahan lagi dan mencapai orgasme. Itu orgasmenya yang pertama.
“oooohhhhh…..oooooohhhhhh…..ooooohhhhhhhhh…..ooooohhhhhhhhhhhhhhh.”
mengeluarkan darah saat disetubuhi pertama kali). Kini Pak Rahman menindih tubuh Liani diatas matras itu. Setelah itu Pak Rahman yang gagah kekar itu menindih tubuh Liani yang ramping dan putih itu. Kembali ia menyetubuhi gadis itu. Penisnya dimasukkan ke dalam vaginanya. Kali ini lebih mudah masuknya meski masih seret. Dan kembali dikocoknya penisnya itu maju mundur. Liani kembali mendesah-desah lagi karena kocokan itu. Kini desahannya itu terdengar cukup keras. Apalagi desahannya itu jadi menggema di dalam aula yang luas dan kosong itu. Sementara tubuhnya bagaikan berdentam-dentam dihantam benda tumpul besar bertubi-tubi. Namun kini ia lebih siap karena vaginanya telah beradaptasi. Kini penis Pak Rahman yang besar itu merangsang bagian-bagian dalam vaginanya yang peka terhadap rangsangan.. Pak Rahman dengan perkasa terus mengocok dirinya beberapa saat lamanya, sampai akhirnya ia tidak tahan lagi dan mencapai orgasme. Itu orgasmenya yang pertama.
“oooohhhhh…..oooooohhhhhh…..ooooohhhhhhhhh…..ooooohhhhhhhhhhhhhhh.”
Setelah Liani orgasme, Pak Rahman mencabut penisnya dari dalam tubuh
cewek itu. Tubuh Liani dihadapkan ke bawah dalam posisi doggy style.
Kemudian ia menjilati vagina Liani yang basah kuyup itu. Setelah itu Pak
Rahman tidak menghajarnya dari belakang. Namun ia menyusup di bawah
Liani untuk kemudian memainkan payudara Liani yang menggantung itu.
Kedua tangannya menggoyang dan meremas-remas payudara yang kelihatan
makin besar karena menggantung itu.. Sambil sesekali payudara itu
ditepuk-tepuknya. Plok, plok, plok. Kedua tangannya yang hitam menempel
di payudara putih Liani, digenggam dan diremas-remasnya. Kepalanya
berada di bawah payudara Liani. Lalu dibenamkannya kepalanya di payudara
Liani. Bagaikan bantal saja ibaratnya. Kepalanya digesek-gesekkan di
payudara Liani. Dan dengan rakus ia menjilati payudara putih yang
menggantung itu dengan bibir dan lidahnya. Setelah puas memainkan
payudara, diarahkannya penisnya persis di dekat lubang vagina Liani, dan
didorongnya penisnya masuk ke dalam vagina Liani. Setelah itu sambil pegangan kedua lengan Liani, tubuhnya digeser maju mundur dan naik turun untuk mengocok vagina cewek itu. Posisi ini perlu mengeluarkan tenaga karena harus menahan pantatnya agak naik ke atas. Apabila pantatnya menempel di matras, tentu penisnya terlepas dari vagina Liani. Namun Pak Rahman adalah orang yang sering berolahraga sehingga staminanya cukup kuat untuk melakukan ini. Bahkan saat ini pun ia bisa dikatakan berolahraga yaitu menahan berat tubuhnya sambil sekaligus menyetubuhi Liani. Inilah yang dinamakan sexercise, sex dan exercise jadi satu. Setelah itu Pak Rahman menyuruh Liani untuk menggerakkan tubuhnya 90 derajat sehingga kini tubuh Liani tegak vertikal. Lalu Pak Rahman menurunkan pantatnya bersamaan dengan Liani juga menurunkan pantatnya sehingga kini ia duduk di atas Pak Rahman. Sehingga posisi mereka kini berubah jadi Cowgirl Position. Kali ini tentu lebih mudah bagi Pak Rahman karena ia tinggal tiduran di matras. Namun perlu dicatat bahwa semua gerakan merubah posisi ini dilakukan dengan penis Pak Rahman tetap berada di dalam vagina Liani. Artinya tubuh mereka tetap menjadi satu walaupun posisi tubuh mereka berubah. Lalu Pak Rahman menyuruh Liani untuk menggerakkan tubuhnya naik turun, yang segera dipatuhinya. Dengan manis Liani “olahraga duduk di tempat” dengan menggerakkan tubuhnya naik turun. Payudaranya ikut bergoyang-goyang seirama dengan gerakan tubuhnya itu.
didorongnya penisnya masuk ke dalam vagina Liani. Setelah itu sambil pegangan kedua lengan Liani, tubuhnya digeser maju mundur dan naik turun untuk mengocok vagina cewek itu. Posisi ini perlu mengeluarkan tenaga karena harus menahan pantatnya agak naik ke atas. Apabila pantatnya menempel di matras, tentu penisnya terlepas dari vagina Liani. Namun Pak Rahman adalah orang yang sering berolahraga sehingga staminanya cukup kuat untuk melakukan ini. Bahkan saat ini pun ia bisa dikatakan berolahraga yaitu menahan berat tubuhnya sambil sekaligus menyetubuhi Liani. Inilah yang dinamakan sexercise, sex dan exercise jadi satu. Setelah itu Pak Rahman menyuruh Liani untuk menggerakkan tubuhnya 90 derajat sehingga kini tubuh Liani tegak vertikal. Lalu Pak Rahman menurunkan pantatnya bersamaan dengan Liani juga menurunkan pantatnya sehingga kini ia duduk di atas Pak Rahman. Sehingga posisi mereka kini berubah jadi Cowgirl Position. Kali ini tentu lebih mudah bagi Pak Rahman karena ia tinggal tiduran di matras. Namun perlu dicatat bahwa semua gerakan merubah posisi ini dilakukan dengan penis Pak Rahman tetap berada di dalam vagina Liani. Artinya tubuh mereka tetap menjadi satu walaupun posisi tubuh mereka berubah. Lalu Pak Rahman menyuruh Liani untuk menggerakkan tubuhnya naik turun, yang segera dipatuhinya. Dengan manis Liani “olahraga duduk di tempat” dengan menggerakkan tubuhnya naik turun. Payudaranya ikut bergoyang-goyang seirama dengan gerakan tubuhnya itu.
Lalu mereka sedikit mengubah posisi. Disaat penisnya masih di dalam
vagina Liani, ditidurkannya tubuh Liani mendekat kepadanya. Sehingga
kini mirip posisi missionaris tapi bedanya ceweknya ada di atas.
Sehingga lagi-lagi Lianilah yang lebih banyak melakukan pergerakan. Kali
ini ia bergerak maju mundur, mengocok penis hitam besar di dalam
vaginanya. Atau mengocok vaginanya terhadap penis hitam besar yang
stasioner itu. Tergantung dari sudut mana melihatnya. Namun yang jelas,
hasilnya sama. Vagina Liani disodok-sodok oleh penis Pak Rahman yang
perkasa dan Liani jadi mendesah-desah dibuatnya. Setelah itu tubuh Liani
diangkat kembali ke posisi semula yang tegak vertikal dan Pak Rahman
juga mengangkat tubuhnya sehingga kini tubuh keduanya kembali berdekatan
namun dalam posisi tegak. Kembali tubuh Liani naik turun sementara Pak
Rahman meremas-remas kedua payudara Liani. Kemudian Kedua kaki Liani
yang sebelumnya ditekuk kini diluruskan. Sehingga kedua pahanya yang
putih menempel di pinggul Pak Rahman yang sawo matang dan paha Pak
Rahman yang sawo matang menempel di pinggulnya yang putih, dan penis Pak
Rahman yang sawo matang kehitaman masih tetap di dalam vagina Liani.
Sementara Liani terus menggerakkan tubuhnya turun naik sambil Pak Rahman
menciumi dan menjilati payudara Liani. Nampak begitu kontras perbedaan
warna kulit tubuh keduanya yang melekat menjadi satu itu. Dan berbeda
pula tubuh mereka. Pak Rahman badannya gagah dan berotot. Sementara
Liani badannya ramping namun sexy. Dada Pak Rahman sungguh bidang dan
kekar. Sementara dada Liani, hmm, sungguh putih dan sexy. Tak heran
kalau Pak Rahman dengan ganas menikmati payudara gadis itu, terutama
menjilati dan menyedot-nyedot kedua putingnya yang kemerahan.
Demikianlah mereka melakukan proses persetubuhan dalam lima posisi yang
berbeda tanpa putus. Setelah itu urutan posisinya dibalik. Dari posisi
lima, balik ke posisi 4, 3, 2, dan 1, juga secara berkesinambungan.
Sehingga total mereka melakukan sepuluh posisi persetubuhan yang proses
perubahannya dilakukan secara tanpa putus artinya penis Pak Rahman terus
berada di dalam vagina Liani dari sejak posisi 1 sampai posisi 5 lalu
balik ke posisi 1 lagi. Sehingga mereka berdua seperti melakukan senam
saja. Namun tentu itu bukan senam biasa namun senam sexercise.
Setelah itu barulah mereka memisahkan tubuh mereka. Kini mereka main
pangku-pangkuan. Pak Rahman duduk di atas matras itu sambil ia memangku
Liani yang membelakangi dirinya. Namun bukan sekedar pangkuan biasa
karena penisnya dimasukkan ke dalam vagina Liani. Dan, lagi-lagi Liani
kembali menaik turunkan tubuhnya sehingga penis di bawahnya itu
menghunjam-hunjam masuk di dalam tubuhnya. Sementara Pak Rahman menciumi
punggung Liani yang betul-betul putih mulus itu dan tangannya ke depan
untuk meremas-remas payudara gadis itu. Oleh karena sejak tadi mereka
kebanyakan main dalam posisi dimana ia harus aktif menggoyang tubuhnya,
kini tubuh Liani mulai berkeringat. Sehingga kini ia juga termasuk
melakukan sexercise, olahraga dan seks secara bersamaan. Yang memberikan
rasa cape sekaligus nikmat. Apalagi tak lama kemudian di posisi itu ia
kembali mendapatkan orgasme. Itulah orgasmenya yang kedua. Demikianlah
Liani yang awalnya innocent dan malu-malu dan
berhati-hati, kini sudah berubah menjadi cewek liar yang sejak tadi terus mendesah-desah dan merintih-rintih malah kini dirinya telah bobol dua kali karena tak tahan akan keperkasaan Pak Rahman. Skor 2-0 untuk Pak Rahman! Setelah itu mereka melakukan posisi yang lebih aneh lagi. Saat itu sepertinya Pak Rahman mengajar Liani melakukan posisi kayang. Karena ia menyuruh cewek itu melakukan kayang sambil diperhatikan dan dibantunya. Sampai akhirnya Liani berhasil juga mengangkat tubuhnya yang telanjang bulat dengan kedua kakinya terbuka lebar. Itulah posisi kayang yang sempurna. Saat itu nampak jelas liang vaginanya yang terbuka menganga diantara kedua paha mulusnya yang terbuka lebar. Bulu-bulu vaginanya yang lebat nampak menyembul keatas. Membuat Pak Rahman segera mengelus-ngelus bulu-bulu lebat yang menyembul ke atas itu. Siapa yang tidak mau mengelus-ngelus bulu kemaluan Liani, cewek innocent itu. Dan ternyata latihan kayang tadi bukan cuma olahraga doang. Karena Pak Rahman setelah itu menumpuk-numpuk sejumlah bantal di bawah tubuh Liani untuk menyangga tubuh cewek itu. Kemudian, dengan kedua tangannya yang memegang tubuh gadis itu, dimasukkannya penisnya ke dalam liang
vagina Liani yang menganga lebar itu. Sehingga disetubuhinya gadis itu selagi ia sedang dalam posisi kayang sempurna itu.
“Ohhh…ohhhhhhh.ohhhhhhhhh…..ohhhhhhhhh.”
Sungguh mantap sekali! Benar-benar sensasi yang hebat. Cape berkeringat karena olahraga, namun juga nikmat dikocok-kocok!
berhati-hati, kini sudah berubah menjadi cewek liar yang sejak tadi terus mendesah-desah dan merintih-rintih malah kini dirinya telah bobol dua kali karena tak tahan akan keperkasaan Pak Rahman. Skor 2-0 untuk Pak Rahman! Setelah itu mereka melakukan posisi yang lebih aneh lagi. Saat itu sepertinya Pak Rahman mengajar Liani melakukan posisi kayang. Karena ia menyuruh cewek itu melakukan kayang sambil diperhatikan dan dibantunya. Sampai akhirnya Liani berhasil juga mengangkat tubuhnya yang telanjang bulat dengan kedua kakinya terbuka lebar. Itulah posisi kayang yang sempurna. Saat itu nampak jelas liang vaginanya yang terbuka menganga diantara kedua paha mulusnya yang terbuka lebar. Bulu-bulu vaginanya yang lebat nampak menyembul keatas. Membuat Pak Rahman segera mengelus-ngelus bulu-bulu lebat yang menyembul ke atas itu. Siapa yang tidak mau mengelus-ngelus bulu kemaluan Liani, cewek innocent itu. Dan ternyata latihan kayang tadi bukan cuma olahraga doang. Karena Pak Rahman setelah itu menumpuk-numpuk sejumlah bantal di bawah tubuh Liani untuk menyangga tubuh cewek itu. Kemudian, dengan kedua tangannya yang memegang tubuh gadis itu, dimasukkannya penisnya ke dalam liang
vagina Liani yang menganga lebar itu. Sehingga disetubuhinya gadis itu selagi ia sedang dalam posisi kayang sempurna itu.
“Ohhh…ohhhhhhh.ohhhhhhhhh…..ohhhhhhhhh.”
Sungguh mantap sekali! Benar-benar sensasi yang hebat. Cape berkeringat karena olahraga, namun juga nikmat dikocok-kocok!
Setelah Pak Rahman membantu Liani keluar dari posisi kayangnya, ia
bergerak menuju ke pipa besi yang digunakan untuk olahraga angkat tubuh
tadi. Ia menyusun beberapa balok yang ditumpuk di bawah pipa besi itu.
Kedua orang itu berdiri di atas tumpukan balok itu. Dalam posisi berdiri
itu, Pak Rahman kembali menyetubuhi Liani dalam posisi berdiri. Saat
ini, karena berdiri di atas balok, Liani dapat dengan mudah meraih pipa
besi horizontal itu dengan kedua tangannya. Setelah itu Pak Rahman
menyuruh Liani untuk berolahraga angkat tubuh lagi. Yaitu ia harus
mengangkat tubuhnya dengan kedua tangannya.. Pada saat ia mengangkat
tubuhnya tentu rasanya seperti penis Pak Rahman akan keluar dari
vaginanya. Namun belum sampai keluar, ia kembali menurunkan tubuhnya
yang rasanya seperti penis itu masuk kembali menghunjam ke dalam
vaginanya. Jadi di saat Liani melakukan olahraga angkat tubuh itu, penis
Pak Rahman seakan mengocok-ngocok tubuhnya, meski Pak Rahman sendiri
berdiri stasioner tak bergerak. Sehingga Liani jadi makin giat
mengangkat tubuhnya. Dan dalam hal ini ia mencapai kemajuan yang luar
biasa yang sulit ditandingi bahkan oleh atlit kelas olimpiade sekalipun.
Sebelumnya ia berhasil mengangkat tubuhnya cuma beberapa senti saja.
Namun kini ia mencapai kemajuan hampir sepuluh kali lipat! Karena
sekarang ia berhasil mengangkat tubuhnya sampai hampir dua puluh senti!
Dan itu kira-kira sama dengan panjang penis Pak Rahman. Setelah cape
tapi puas melakukan itu, Liani menghentikan exercise-nya itu. Kini
tinggi balok itu diatur sedemikian rupa supaya mereka bisa bertukar
posisi dengan pas. Liani berdiri di balok itu. Kali ini giliran Pak
Rahman yang melakukan exercise. Ia harus mengangkat tubuhnya supaya
penisnya bisa masuk ke dalam vagina Liani. Dan, Pak Rahman sungguh
hebat! Ia sanggup melakukan itu sampai lebih dari 20 kali! Saat itu Pak
Rahman adalah orang yang melakukan exercise, namun justru Liani yang
sedang “menonton” persis di depannya yang menjerit dan mendesah-desah
tiap kali Pak Rahman berhasil mengangkat tubuhnya. Sungguh ia adalah
seorang suporter yang hebat, karena jeritan dan desahan itu jadi membuat
Pak Rahman makin bersemangat. Hal ini membuktikan bahwa fungsi suporter
sangatlah penting dalam suatu kegiatan olahraga.
Sehabis itu malah lebih hebat lagi. Karena Liani sambil memeluk leher
Pak Rahman, mengangkat kedua kakinya dan ditekuknya di bagian atas
pinggul Pak Rahman. Sehingga kini Pak Rahman selain harus mengangkat
tubuhnya juga harus mengangkat tubuh Liani! Sehingga Liani kini jadi
lebih aktif menaik-turunkan tubuhnya sambil memeluk Pak Rahman. Jadi
kedua orang itu kini sama-sama aktif melakukan sexercise. Namun yang
hebat adalah Pak Rahman yang mampu mengangkat tubuhnya plus tubuh Liani
yang menempel di tubuhnya. Dan penisnya yang sedari tadi mengoyak dan
mengocok-ngocok vagina Liani dengan gagah perkasa, masih belum juga
terlihat tanda-tanda ejakulasi. Betul-betul ia adalah seorang dengan
otot kawat tulang besi penis perkasa!! Setelah puas olahraga angkat
tubuh, mereka ganti posisi yang lebih “membumi”. Liani dalam posisi
push-up. Namun ia tidak melakukan push up karena Pak Rahman mengangkat
kedua kakinya dari belakang. Diangkatnya kedua kaki Liani dan ia maju
terus mendekati tubuh gadis itu sampai berhasil dipegangnya pangkal
pahanya. Sampai ia bisa mendekatkan penisnya ke vagina Liani, lalu
dimasukkannya penisnya ke dalam tubuh mulus cewek itu dari belakang.
Penisnya mengocok-ngocok menembus vaginanya dari belakang.
Sodokan-sodokan Pak Rahman itu sungguh kuat, sehingga saat ia menyodok,
saat itu pula badan Liani terdorong ke depan dan ia otomatis
menggerakkan satu tangannya maju ke depan.. Sementara Pak Rahman tentu
ingin terus menikmati vagina Liani yang sempit dengan terus
memaju-mundurkan penisnya berulang-ulang. Hal itu dilakukannya terus
menerus. Dan setiap kali Pak Rahman mendorong penisnya ke depan, saat
itu pula Liani menggerakkan tangannya ke depan bergantian sehingga
tubuhnya maju selangkah demi selangkah. Hal itu berlangsung terus
menerus sampai akhirnya tanpa terasa mereka telah membuat satu putaran
mengelilingi lapangan basket. Dan di sepanjang perjalanan Liani terus
mendesah-desah pertanda nikmat dan Pak Rahman pun tentu juga puas
hatinya. Memang begitulah olahraga seharusnya dilakukan, berkeringat dan
mengeluarkan banyak tenaga namun waktu lewat dengan cepat tanpa terasa
karena begitu enjoy dikala melakukannya.
Setelah itu Pak Rahman menggendong Liani. Tubuh Liani yang putih
mulus dan telanjang bulat itu digendong oleh gurunya yang kulitnya sawo
matang. Namun, itu bukan sekedar gendong-gendongan biasa, karena saat
Liani digendong itu, vaginanya tertembus oleh penis hitam Pak Rahman.
Kemudian Pak Rahman menggerak-gerakkan tubuh Liani naik turun, dan Liani
pun juga ikut menggerakkan tubuhnya naik turun di dalam gendongan Pak
Rahman. Lagi-lagi Liani mendesah-desah dibuatnya. Setelah itu mereka
melakukan itu dengan Pak Rahman berjalan dan berjalan sampai ke
tengah-tengah aula itu. Setelah itu malah Pak Rahman berlari sambil
menggendong Liani yang terus menggerak-gerakkan tubuhnya! Sampai dua
kali bolak balik. Sementara dada Liani kini jadi berguncang-guncang
dengan hebat. Pertama karena gerakan lari, kedua karena disodok-sodok
penis yang besar dan hitam itu. Tentu semua orang tahu pepatah “guru
kencing berdiri, murid kencing berlari”. Namun pepatah itu sudah kuno
ketinggalan jaman. Karena sekarang ini jadi “guru dan murid barengan
lari sambil orgasme”. Karena Liani jadi tak tahan lagi vaginanya
disodok-sodok penis Pak Rahman sekaligus digendong sambil dibawa lari
begitu, sehingga akhirnya ia, orgasme lagi. Itulah orgasmenya yang
ketiga! Dan vaginanya jadi basah kuyup. Dan tak lama setelah itu, Pak
Rahman pun juga akhirnya tak bisa menahan lebih lama lagi dan ia
mengalami ejakulasi. Ditumpahkannya seluruh spermanya yang banyak sekali
keluarnya di dalam vagina Liani. Namun setelah ejakulasi pun, penisnya
masih mengeras. Karena itu, ditelentangkan Liani di matras, lalu ia
kembali menusuk-nusuk vagina Liani. Sepertinya ia ingin menghisap dan
menyerap sari madu gadis itu sampai betul-betul tak bisa diserap lagi.
Sampai akhirnya penisnya melembek, baru ia menghentikan
tusukan-tusukannya itu. Jadi skor akhir: 3-1 untuk Pak Rahman.
Setelah itu, barulah Pak Rahman mencabut penisnya dari dalam tubuh
Liani. Penis hitam perkasa yang tadi begitu keras itu pun kini mulai
melembek. Setelah itu ia membantu cewek itu berdiri. “Kamu bisa berdiri,
Liani?” tanyanya.. Gadis itu tak menjawab hanya menganggukkan
kepalanya. Dirasakannya vaginanya agak nyeri dan berdenyut-denyut. Pak
Rahman melihat sebagian sperma yang sebelumnya ditumpahkan di dalam
vagina cewek itu kini meleleh keluar, bagaikan anak sungai mengalir
turun di pahanya yang putih. Ia sungguh puas hatinya bahwa Liani yang
innocent, cakep, sexy, dan putih mulus itu akhirnya dibuatnya menjadi
bukan perawan lagi. Karena ia menganggap dirinyalah yang telah
memerawani Liani yang tentu sekarang nggak bisa disebut innocent lagi.
Ia melihat adanya darah di vagina gadis itu saat penisnya pertama kali
menembus vaginanya. Dan ia merasakan betapa sempitnya vaginanya.
Ditambah lagi karena cewek ini belum pernah pacaran, jadi tentu
dianggapnya masih perawan. Karena itu ia sungguh bangga bahwa penisnya
yang perkasa akhirnya berhasil menembus dan mengoyak vagina siswi
teladan itu untuk kali pertama. Selain berhasil memerawani cewek itu, ia
juga merasa aman dengan kariernya serta hubungannya dengan istrinya.
Karena ia yakin Liani tidak akan melaporkan kejadian itu, meski ia
melakukan pelanggaran seksual terhadap diri siswi itu. Terutama setelah
cewek itu juga mendapat orgasme tiga kali! Sehingga ia tidak dapat
dikatakan telah memaksanya atau memperkosanya. Masa diperkosa kok malah
orgasme tiga kali! Sementara ia sendiri juga tidak akan membocorkan hal
itu, demi karier dan takut dengan istri karena istrinya lebih
dominan. Setelah itu tanpa berkata sepatah pun keduanya mengenakan
pakaian masing-masing. Kemudian mereka berjalan keluar kompleks sekolah
itu tanpa ada satu orang pun. Saat itu Liani merasakan vaginanya agak
nyeri sehingga ia harus berjalan sambil kedua kakinya agak dibuka
melebar. Tak lama kemudian suasana sekolah itu jadi betul-betul sunyi
senyap di tengah kegelapan malam. Namun apa yang dialami oleh para
pelaku setelah itu tidaklah sesunyi seperti tempat kejadian itu.
Tadi dikatakan untuk urusan ginian biasanya “sikat dulu, yang lain
urusan belakangan”. Nah, “yang lain” ini muncul saat Pak Rahman tiba di
rumahnya. Istrinya agak curiga dengan suaminya itu. Apalagi pulang
telat sampai hari gelap. Ia curiga kalau suaminya baru “jajan” di luar.
Apalagi suaminya langsung membasahi serta merendam celana dalamnya.
Suatu hal yang tak biasa. Ia curiga, apakah itu untuk menghilangkan
jejak sisa-sisa sperma sehabis pertempuran di luar? Untuk itu malamnya
ia mengetest suaminya di ranjang. Dan hasilnya? Sungguh spektakuler!
Karena istrinya itu dibuatnya berkejab-kejab sambil merem melek! Memang
hebat Pak Rahman ini. Sorenya baru menghajar Liani sampai tiga kali,
malamnya masih bisa membuat istrinya menggelepar-gelepar dan megap-megap
kayak ikan mas kekurangan air. Namun bagaimana pun ia adalah manusia
biasa yang tak bisa melawan proses alam. Ia tak bisa menipu istrinya
yang jeli bagai anjik pelacak itu. Istrinya curiga karena volume sperma
yang keluar jauh lebih sedikit dari biasanya. Untung istrinya tidak
mendesaknya lebih lanjut. Seandainya ia terpaksa harus mengaku pun, ia
bertekad tidak akan memberitahukan identitas sesungguhnya cewek yang
disetubuhinya saat itu. Itu sudah menjadi komitmen pribadinya terhadap
Liani. Istrinya hanya bisa curiga saja tapi ia tak punya bukti nyata.
Namun semenjak itu hidup Pak Rahman jadi semakin menderita di bawah
ketiak istrinya. Karena Bu Retno jadi semakin ketat mengontrol suaminya.
Setelah hari itu, ia tak mendapat kesempatan untuk mengulangi hal yang
sama lagi dengan Liani atau cewek mana pun, karena kontrol super ketat
dari istrinya, termasuk pengecekan reguler isi botol dari pengosongan
yang illegal. Yah, paling tidak aku sudah pernah menikmati Liani, cewek
idaman satu sekolah, katanya menghibur diri. Tak lama setelah kejadian
itu, Liani lulus SMU dan pindah ke kota lain untuk melanjutkan
kuliahnya.
Sementara Liani malam itu sedang tiduran di kamarnya. Badannya
pegal-pegal. Seperti sehabis melakukan exercise. Tapi juga puas. Karena
itu bukan exercise biasa melainkan Sexercise. Belum pernah ia merasakan
seperti yang barusan dialami. Pak Rahman memang hebat. Tiga kali ia
dibuatnya orgasme! Sekarang vaginanya sudah tidak nyeri lagi. Tapi
rasanya perlu waktu untuk istirahat paling tidak berhari-hari, setelah
barusan dihajar bertubi-tubi dari berbagai posisi oleh penis raksasa Pak
Rahman yang hitam perkasa itu. Kini memang saat untuk pemulihan
otot-otot tubuh terutama otot vaginanya agar kembali ke posisi semula
dan rapat kembali. Ada waktunya exercise (atau Sexercise), ada pula
waktunya istirahat. Karena kesehatan tubuh memang penting. Olahraga
penting bagi kesehatan tubuh. Apalagi olahraga yang memberikan kepuasan
batin kayak gini, pikirnya. Sekarang waktunya tidur deh. Ia bangkit dari
ranjangnya untuk mematikan lampu kamarnya. Tak lama kemudian ia tidur
dengan nyenyak di dalam kamarnya yang gelap.
Di sekolah…
Liani sedang sibuk mengemasi tas sekolahnya. Ia memasukkan semua buku-buku pelajarannya ke dalam tasnya. Karena saat itu proses belajar mengajar telah berakhir. Tiba-tiba ada tangan yang memegang bahunya dari belakang dan berkata,”Gimana, nanti sore jadi khan?”
Liani agak terkejut dan seketika menoleh ke belakang,”Ah, elu. Bikin kaget orang aja,” serunya. Ternyata Henny, salah satu teman dekat Liani yang sekelas juga dengannya.
“Hihihi, makanya jangan melamun aja. Gimana jadi nggak?”
“Gua sih ok ok aja, tapi Fanny gimana? Dia bisa nggak?”
“Justru dia suruh gua tanya lu. Gua barusan udah ngomong sama dia. Dianya sih ok.”
“Kalo gitu ya udah dijadiin aja.”
“Sip deh. Ntar gua bilangin ke Fanny. Kalo gitu sampai ketemu ntar jam 3 ya.”
“OK.”
Tak lama kemudian Fanny menghampiri mereka berdua. Dan kini mereka bertiga berjalan pulang meninggalkan kelas itu bersama-sama. Sambil bercanda dan tertawa-tawa seperti umumnya gadis muda seusianya mereka. Tak lama kemudian berpisahlah mereka bertiga. Liani dan Fanny berjalan ke arah mobilnya masing-masing. Sementara Henny membuka pintu kursi belakang mobilnya yang supirnya telah menunggu sejak sepuluh menit yang lalu.
—@@@@@@@—–
Di kolam renang…
Di antara sekian banyak pengunjung kolam renang saat itu, ada tiga cewek yang sedang berenang sambil sesekali bercakap-cakap di tepi kolam. Mereka adalah Liani dan dua teman sekelasnya tadi yaitu Fanny dan Henny. Tadi siang di sekolah mereka janjian untuk berenang bersama disini. Setelah beberapa saat berenang dan merendam tubuh di dalam kolam, akhirnya naiklah ketiganya dari kolam renang untuk duduk-duduk sambil ngobrol di tepi kolam. Saat mereka bertiga naik dari kolam renang itu, beberapa pasang mata memandangi mereka. Tentu mereka yang memandangi adalah cowok-cowok, baik muda maupun agak tua, yang tak mau melewatkan pemandangan indah tiga cewek muda yang keluar dari dalam kolam renang. Karena ketiganya sama-sama cakep, sama-sama putih, dan sama-sama sexy dengan daya tarik yang khas masing-masing. Apalagi tubuh mereka hanya dibalut dengan pakaian renang yang melekat di tubuh. Membuat lekuk liku figur tubuh mereka tercetak dengan jelas. Sementara seluruh bagian tangan dan kaki termasuk sampai ke pangkal paha, yang biasanya tertutup pakaian kini terbuka jelas semuanya. Bagian pinggul dan dada mereka nampak menonjol, yang meski berbeda-beda ukurannya, namun ketiganya sungguh membuat mupeng cowok-cowok itu. Membuat mereka membayangkan dan menduga-duga bagian tubuh penting yang masih tertutup baju renang itu.
Liani memakai baju renang warna hitam dengan corak warna warni yang kontras dengan kulitnya yang putih. Wajahnya cantik khas oriental dan innocent. Nampak ia seperti cewek alim yang baik-baik. Rambutnya dicat agak kecoklatan dan sedikit berombak panjangnya kira-kira sebahu, namun tak kelihatan karena ia memakai topi renang. Sementara bodi tubuhnya cukup sexy. Dadanya nampak menonjol, memang ukuran bra-nya 34C. Membuat cowok yang melihatnya menjadi gemas. Ingin rasanya untuk menikmati ke-innocent-annya dan membuatnya tidak innocent lagi. Wajah Fanny juga cakep. Namun kecantikannya berbeda dengan Liani. Ia sepertinya adalah cewek keturunan Chinese juga tapi dengan ada sedikit campuran Arab (mungkin 1/8 kali). Matanya lebar, hidungnya cukup mancung dan garis wajahnya agak “tajam” membuat kecantikan wajahnya nampak eksotis. Bodinya juga sexy, bahkan pinggul dan dadanya paling menonjol dari ketiganya. Mungkin ukuran dadanya 34D. Tampangnya sungguh
menggairahkan. Rambutnya yang ikal bergelombang seharusnya agak panjang, kira-kira sama panjang dengan rambut Liani, namun rambutnya itu digulung dan diikat di kepalanya. Diantara ketiganya, Henny mempunyai tubuh yang paling “datar”. Namun tak berarti ia tidak sexy dan menarik. Wajahnya yang putih dengan bibirnya indah dengan tahi lalat di bawah bibir sebelah kiri, membuatnya tampak manis. Tampangnya juga menunjukkan kalau ia cewek baik-baik meski wajahnya tak sepolos Liani. Rambutnya dipotong pendek, sehingga ia tak perlu menutup atau mengikat rambutnya. Nampak tonjolan di dadanya yang tak sebesar milik kedua temannya. Kira-kira ukuran dadanya 34B. Tentu ia adalah seorang gadis cantik dengan daya tariknya tersendiri. Apalagi wajahnya menunjukkan sepertinya ia adalah tipe cewek yang “patuh” dengan apa pun kemauan cowoknya di ranjang. Tentu banyak cowok yang suka dengan tipe cewek seperti ini.
Setelah ketiga cewek itu naik ke atas dan sampai di tempat duduk di bawah payung besar yang mengembang itu, sebagian besar cowok yang tadinya menatap mereka, kini mulai melanjutkan aktivitasnya masing-masing. Namun ada dua orang bapak-bapak umur 40 atau awal 50-an yang sedang duduk di dekat mereka, nampak cool dengan kacamata hitamnya. Namun sebenarnya sejak tadi pandangan mata keduanya menatap mereka bertiga terus-menerus. Bahkan sampai sekarang, pandangan matanya jelalatan dengan bebasnya seperti menggerayangi sekujur tubuh mulus ketiga cewek itu. Sementara itu ketiga cewek itu sepertinya tak tahu atau tak mempedulikan dua orang bapak-bapak itu. Saat itu Fanny dan Henny telah duduk di kursi, sementara Liani masih berdiri di dekat kursinya. Liani melepas topi renangnya, dan terurailah rambutnya yang panjang berombak yang basah itu. Lalu ia menyibakkan rambutnya dengan kedua tangannya. Pada saat melakukan itu, tentu otot dadanya tertarik dan dadanya nampak makin menonjol. “Wow, bukan main. Lihat itu Pak,” bisik seorang bapak itu kepada temannya dengan mata melotot dan tampang mupeng memandang Liani. Saat itu Liani telah duduk dan mengobrol dengan kedua temannya. Kedua tangannya dilipat di bawah dadanya, membuat payudaranya agak tertekan ke atas dan terlihat makin menonjol. Sementara kedua kakinya disilangkan.
“Ckckck..mulusnya,” bisik bapak yang tadi berbicara. “Sepertinya hari ini saya butuh teman nih, Pak Tono,” katanya sambil menoleh ke rekannya dengan tersenyum mesum.
“Wah, Pak Miskan lagi mupeng rupanya. Baik, saya akan segera telpon Pak A-lok minta supaya disediakan yang sesuai dengan selera Bapak. Buat nanti malam Pak? Atau sore ini?” tanya bapak yang dipanggil Pak Tono tadi.
“Bukan. Kamu salah mengerti maksud saya. Saya tidak ingin disuguhi ayam-ayam kampus kelas rendahan itu. Saya tertarik sama cewek itu. Bisa tolong di-arrange, Pak Tono? Saya ingin booking cewek itu,” katanya sambil jarinya menunjuk ke Liani.
“Hah? Wah, Bapak bercanda rupanya. Cewek kayak gitu mana bisa di-booking. Dia sepertinya bukan cewek booking-an. Kalau nggak nanti saya minta A-lok untuk nyediain yang lebih tinggi kelasnya. Bapak maunya seperti apa? Yang “panlok” seperti dia juga ada, atau mau panda impor? Apa yang dari Uzbekistan?”
“Saya nggak mau yang professional seperti mereka. Sudah bosan saya. Saya mau yang masih fresh dan muda seperti dia. Atau kedua temannya juga boleh. Bilang sama A-lok, kalo nggak bisa nyediain yang seperti itu, nanti saya laporkan ke Pusat mengenai penyimpangan kredit perusahaannya. Mengerti?”
“Iya, iya. Baik Pak. Nanti saya suruh A-lok sediain yang bagus buat Bapak. Tapi nggak harus mereka khan Pak? Yang setara dengan mereka juga boleh khan? Yang penting saya catat kemauan Bapak, bukan yang professional. Nanti saya kasih tahu A-lok. Tapi mungkin nggak bisa hari ini Pak. Tolong kasih waktu beberapa hari. Gimana Pak?”
“Ah, kamu ini bagaimana sih. Kok service-nya seperti ini.”
“Soalnya kita harus cari informasi dulu, apakah cewek itu bisa di-booking. Kalau nggak, harus cari penggantinya yang setara. Khan Bapak maunya yang bagus? Kita sediain yang bagus buat Bapak, karena itu butuh sedikit waktu Pak,” kata Pak Tono setengah memohon.
“Hmm, baiklah. Saya disini sampai hari Sabtu pagi. Jadi kamu ada waktu dua hari untuk nyediain yang bagus buat saya. Bilang sama A-lok kalau dia nggak becus nanti saya laporkan penyimpangan perusahaannya. Dan ingat, kalau itu yang terjadi, kamu juga ikutan kena. Mengerti?”
“Iya, ba-baik Pak,” kata Pak Tono.
“Dan ingat,” katanya lagi,” Saya maunya sama cewek yang pake baju renang hitam dan duduk menghadap saya itu. Itu preference utama saya. Kalau nggak bisa, temannya pun juga boleh. Kalau nggak bisa juga, saya minta yang setara. Ras tidak masalah, tapi saya mau yang high class. Juga yang masih muda anak SMU atau baru kuliah gitu, yang cantik, dan juga sexy seperti mereka. Tapi ingat, jangan sampai-sampai berani ngasih yang professional atau yang low class ke saya. Mengerti? Nah, untuk malam ini kalau nggak bisa nyediain yang seperti itu, boleh kasih dulu yang professional. Saya mau yang Uzbek. Tapi harus yang cakep dan sexy.”
“Siap Pak. Ditanggung beres Pak.”
Sementara dua bapak tadi membicarakan transaksi kotor yang menyangkut diri mereka, ketiga cewek tadi sedang asyik berbincang-bincang. Namun naluri wanita rupanya cukup peka juga. Meski tak bisa mendengar tapi bisa merasakan juga. Karena saat itu Henny tiba-tiba menukas,
“Eh, lu orang ngerasa nggak sih, dua bapak itu kok sepertinya memandangi kita sambil berbisik-bisik.”
“Iya, gua juga ngerasa gitu dari tadi,” kata Fanny.
“Iya sama, gua juga. Tapi kata gua sih, cuekin aja lah. Selama nggak ngeganggu kita,” kata Liani.
Saat itu Pak Miskan masih jelalatan matanya di balik kacamata hitamnya. Pandangannya bolak-balik menatap ketiga cewek itu terutama Liani. Sementara Pak Tono telah melepas kacamatanya. Dan sama dengan rekannya, matanya juga memandangi mereka. Namun bedanya, Pak Tono berusaha menangkap pandangan mata mereka.
“Nggak ngegangguin gimana, matanya memelototi kita begitu. Hiih, mengerikan,” kata Henny sambil tubuhnya bergidik.
“Iya, nih. Mungkin kiranya kita cewek gampangan kali,” kata Fanny dengan suara agak keras dan pandangan agak kesal,” Yuk, kita cabut aja dari sini. Jangan-jangan ntar nyamperin dan kita ditawar lagi.”
“Ah, masa sih sampai begitu. Kita cuekin aja lah,” kata Liani paling tenang diantara mereka.
“Bukan begitu. Ntar orang jadi mikir yang nggak-nggak ke kita. Kalo gitu khan kita sendiri yang rugi, meskipun kita nggak ngelakuin kayak gitu,” kata Fanny.
“Iya gua setuju sama Fanny. Yuk kita cabut aja dari sini,” kata Henny.
“Kalo lu berdua mau cabut, ok deh gua nurut aja,” kata Liani akhirnya.
Tak lama kemudian berdirilah ketiga cewek itu dan meninggalkan tempat itu sambil membawa handuk dan barang-barang lainnya. Saat itu Pak Tono juga ikutan berdiri. Ah, sayang sekali, gumamnya. Sebenarnya ia ingin nyamperin mereka, tapi ternyata mereka keburu kabur duluan. Rupanya mereka pergi beli minuman dulu sebelum akhirnya berjalan masuk ke ruang mandi dan ganti cewek. Di saat mereka sedang duduk dan minum, mereka tak menyadari kalau ada yang mengambil foto-foto diri mereka dari jarak agak jauh.
Tak lama kemudian mereka bertiga masuk ke ruang ganti cewek. Saat itu mereka bertiga dalam keadaan telanjang bulat sedang asyik-asyiknya mandi, sementara di luar sana ada orang yang berbicara melalui telepon. Rupanya adalah Pak Tono.
“Pak A-lok. Ada masalah penting yang perlu dibicarakan.”
“Ah Pak Supartono. Bagaimana Pak, semuanya lancar? Dia setuju?”
“Sebenarnya sudah setuju Pak. Tapi si Boss mendadak ada permintaan tambahan nih Pak. Makanya ini saya telpon Pak A-lok.”
“Ooh, permintaan apa Pak?”
“Apa lagi kalo bukan cewek.”
“Ooh itu, gampang. Biar nanti saya suruh Purwanto yang beresin aja. Tinggal bilang aja mau minta yang seperti apa.”
“Eh, tapi ini lain Pak. Si Boss barusan liat satu cewek muda dan cakep di sini dan dia mau “pake” cewek itu. Padahal kalo saya lihat, dia bukan tipe cewek booking-an. Malah kayaknya dia masih SMU dan anak baik-baik juga sepertinya dia dari keluarga kaya. Mana bisa dipake gitu.”
“Yah, tapi penampilan kadang bisa menipu, Pak. Coba Pak Tono kalau bisa ambil fotonya, lalu kirim ke saya, nanti saya suruh orang saya selidiki background-nya. Siapa tahu bisa dipake atau syukur-syukur malah bisa dipake ga usah dibayar.”
“Sudah Pak. Sudah saya ambil foto-fotonya. Sebenarnya tidak hanya satu Pak, tapi tiga orang. Setelah ini akan saya kirim ke Bapak semuanya. Yang saya kirim pertama nanti adalah prioritas utama si Boss. Tolong saya ya Pak, kalau nggak Boss ngancam mau melaporkan penyimpangan ke Pusat katanya,” kata Pak Tono agak panik.
“Hah! Sungguh kurang ajar si Miskan itu. Main ancam segala. Sudah “dipelihara” sejak dulu, masa satu masalah ini saja langsung mengancam mau lapor segala. Kalo mau main buka-bukaan dan hancur-hancuran, saya juga punya beberapa “kartu”,” kata A-lok dengan geram.
“Wah, jangan begitu Pak. Kalau begitu nanti kita semua jadi sama-sama kena Pak,” kata Pak Tono dengan panik.
“OK, Pak Tono jangan panik. Saya cuman becanda kok. Nanti akan saya bereskan semua.”
“Terima kasih Pak. Oh ya, sebenarnya si Boss ga masalah kalau sama cewek lain, asalkan bukan professional dan betul-betul high class. Tapi prefer-nya yang satu itu atau dua temannya. Nanti saya kirim deh foto-fotonya. Tolong ya Pak.”
“OK jangan kuatir Pak. Tolong kirim ke no yang sama. Oh ya, kalau cewek itu masih disana, Pak Tono boleh coba dekatin cewek itu dan pancing-pancing, siapa tahu bisa di-booking. Jadi kita tak perlu repot-repot. “
“OK, pak. Saya coba dekati nanti. Sampai jumpa.”
“Sampai jumpa juga.”
“Haiyaa, selalu ada aja masalah dengan si Miskan sialan itu,” keluh A-lok. “Pak Purwanto, cepat datang ke kantor saya,” kata A-lok melalui interkom.
“Baik, siap Pak,” kata suara dari interkom itu.
“Pak Pur, sebentar lagi Pak Tono akan mengirim foto-foto cewek ke handphone ini,” kata A-lok sambil mengeluarkan satu handphone dari laci mejanya. “Coba Pak Pur selidiki latar belakang cewek-cewek itu. Karena Pak Miskan ingin check-in dengan satu diantara cewek-cewek itu. Kalau itu tidak memungkinkan, tolong cari cewek lain yang masih muda dan kerja part time tapi yang betul-betul high class. Tolong Pak Pur urus ini dengan segera, kerjaan lain boleh ditinggal dulu. Uang berapa pun tak masalah. OK? Nah, Pak Pur bawa dulu handphone ini. Ingat, deadline-nya hari Jumat!,” perintah A-lok kepada Purwanto orang kepercayaannya ini.
“Siap Pak,” kata Purwanto.
“OK, sekarang Pak Pur bisa mulai bekerja,” kata A-lok menyilahkan Purwanto keluar dari kantornya.
Setelah keluar dari kantor boss-nya, Pak Purwanto mengeluh pelan,”Aduh biyung, aku iki bekas pensiunan tentara bagian intelejen, saiki kerjo karo wong Cino, lha kok kerjaane akehe malah dadi germo (aku ini pensiunan tentara bagian intelejen, sekarang kerja kepada orang China, lha kok kerjaannya kebanyakan malah jadi germo).
Sementara itu Liani, Fanny, dan Henny telah selesai mandi dan berganti pakaian. Kini mereka bertiga keluar bersama dari ruang ganti itu dan berjalan masuk ke tempat jual makanan. Fanny dan Henny memesan makanan, sementara Liani menunggu di meja. Saat itulah ia didatangi seorang bapak-bapak. Ia tak lain adalah Pak Supartono yang begitu selesai telpon tadi langsung ganti baju dan menunggu ketiga cewek itu. Mula-mula ia ragu-ragu untuk “menodong” Liani, karena seumur-umur ia tak pernah mendatangi cewek tak dikenal dan menawarnya untuk menjual diri. Apalagi cewek yang kelihatannya classy seperti Liani gini. Tapi karena pada dasarnya ia ingin mencari muka ke Pak Miskan tadi dan barusan disemangati oleh A-lok, kini diberanikan dirinya untuk menyapa Liani.
“Maaf dik, saya baru datang ke kota ini. Tolong tanya, kalo hotel XYZ (hotel bintang lima di kota itu) itu jauh nggak dari sini?”
“Oh, itu agak jauh Pak,” kata Liani,” Kalau mau kesana bapak harus naik taxi.”
“Oh, begitu. Saya ingin ketemu seorang bos di hotel itu. Dia kenal dekat dengan model agency yang terkenal. Omong-omong, adik tertarik untuk jadi model?”
“Wah, saya masih sekolah Pak. Nggak tertarik untuk jadi model.”
“Justru itu, kita lagi butuh seorang gadis muda yang masih usia sekolah yang cantik dan menarik seperti adik untuk jadi model. Masa adik tidak tertarik? Bayarannya tinggi lho dan adik bisa jadi orang terkenal dalam waktu singkat.”
“Wah, maaf, model bukan bidang saya. Tapi, omong-omong, memang bayarannya bisa sampai berapa sih Pak?” tanya Liani ingin tahu.
Nah, ini kesempatan bagus, pikir Pak Tono. Cewek ini nanyain tentang uang, berarti sudah buka pintu.
“Oh, kalo itu bervariasi dan tak tentu sih. Kenapa adik bertanya? Apakah adik perlu tambahan uang saku?
“Yah saya ingin tahu saja sih Pak,” jawab Liani.
Ah, ini anak malu-malu kucing, pikir Pak Tono. Rupanya benar juga kata A-lok tadi, penampilan bisa menipu. Biarlah aku langsung buka kartu aja. Khan dia tadi sudah nanya-nanya tentang uang. Artinya cewek ini pengin punya duit lebih. Kalo sudah gini, lebih baik langsung diomongin aja, pikirnya lagi.
“Kalo adik ingin yang pasti, sebenarnya ada sih yang lebih gampang dan cepat. Sebenarnya bos saya itu lagi sendirian di hotel. Jadi kalo sore atau malam ini adik mau datang kesana, bos saya pasti akan senang sekali. Karena sejak tadi beliau memang sudah mengagumi kecantikan adik. Jadi begini, kalau adik mau “short time” saya berani kasih 2 juta tunai, kalo semalaman 5 juta. Dan saya jamin, hal ini akan menjadi rahasia karena bos saya itu adalah wakil rakyat dari pusat sehingga ia juga berkepentingan untuk menjaga rahasia ini. Jadi lumayan khan buat tambahan uang saku tanpa harus merusak reputasi adik,” kata Pak Tono yang begitu buka kartu langsung nyerocos sampai ke tujuan akhirnya. “Jadi, bagaimana menurut adik?”
Muka Liani seketika jadi merah padam. Ia tak menyangka mendengar tawaran kurang ajar seperti ini. Sesaat itu ia tak bisa berbicara.
“Yah, yang saya sebut tadi sih bukan harga mati, masih bisa nego sedikit. Tolong adik jangan malu-malu kalau menurut adik harga segitu terlalu rendah,” kata Pak Tono menganggap cewek ini entah masih sok jaim atau ingin harga lebih tinggi,” Jadi bagaimana?” tantangnya lagi. Ia mengharapkan cewek itu mengatakan “iya” dan mengenai uang ia bisa membicarakannya dengan A-lok. Seandainya cewek itu minta dua kali lipat dari itu pun, juga pasti disanggupinya.
“Akan lebih bagus lagi kalo adik bisa mengajak teman-teman adik juga nanti. Kalau begitu nanti adik saya kasih komisi tambahan lagi.”
Namun tak disangka-sangka, ternyata Liani bukannya menyanggupinya, tapi malah meninggalkan dirinya dengan matanya memerah. Ia berlari menghampiri Fanny yang lebih dekat dengan dirinya dan menangis sesenggukan di pundak sahabatnya itu.
“Lho kenapa lu??”
“O hik orang hik i-itu hik kurang ajar se-kali,” kata Liani terbata-bata di sela-sela tangisnya.
“Orang yang mana?” tanya Fanny sambil menoleh ke tempat duduk Liani tadi. Namun ia tak melihat ada orang di situ.
“O-orang itu yang hik yang tadi duduk di dekat kita hik.”
“Memang apa yang diomongin?”
….
….
“Ah kurang ajar banget tuh orang,” kata Henny dengan geram sesaat setelah mereka bertiga duduk di meja itu kembali.
“Iya betul,” jawab Fanny dengan muka marah,”Apa gua bilang tadi? Melihat gelagat tadi, orang-orang itu pasti punya maksud ga baik dan mau nge-booking kita. Ciih! Kurang ajar sekali. Enak aja mikir kita mau jual diri! Bokap gua pengusaha kaya. Gua ga perlu jual diri demi duit 5 juta.” Memang bokap Fanny adalah seorang pengusaha kaya dari luar pulau.
“Iya, gua juga,” kata Henny sambil bergidik,”Enak aja mikir kita bisa di-booking. Jangankan 5 juta, dikasih 5 milyar pun gua juga ga mau sama orang kayak gitu. Emang kita cewek apaan mau sama orang-orang seperti mereka. Gua sih punya standard tinggi. Orang-orang gitu ga masuk hitungan. Hiiih!” Henny memang adalah anak pengusaha kaya.
….
….
Sementara itu begitu melihat gelagat yang tidak baik, Pak Tono buru-buru ngacir dari situ. Ah, sialan, gerutunya. Kerjaanku seharusnya cukup terhormat, yaitu manager bagian kredit dari salah satu bank pemerintah. Mimpi apa sampai aku mesti jadi mucikari kambuhan yang gagal kayak gini, keluhnya. Ya, sebenarnya Pak Supartono adalah manager bagian kredit di bank pemerintah yang memberikan kredit kepada A-lok, seorang pengusaha lokal. Kredit yang diberikan itu agak bermasalah dan terlalu besar, sementara sebagian dari dana kredit itu diberikan balik kepadanya, tentunya masuk ke personal account. Sehingga kini posisinya jadi terbalik, ia yang sebelumnya dalam posisi lebih tinggi karena memberikan kredit, kini jadi harus setengah memohon kepada A-lok supaya ia bisa terus membayar uang cicilan per bulannya. Oleh karena itu ia mau tak mau harus “berbagi tanggung jawab” dengan A-lok dalam hal menyenangkan hati Pak Miskan, seorang wakil rakyat dari pusat yang bertugas melakukan inspeksi dan audit secara reguler ke daerah atas kemungkinan adanya penyelewengan kucuran kredit bank-bank pemerintah. Selama ini, Pak Miskan berhasil “dipelihara” oleh A-lok dan Pak Supartono yang diam-diam juga didukung oleh atasan Pak Supartono baik yang di daerah maupun di pusat. Sehingga, inilah KKN yang melibatkan semua orang, dimana maling dan polisi duduk satu meja berpesta bersama. Tetapi itulah kenyataan di dunia bisnis di negara itu. Kalau tidak ada uang pelicin, roda perekonomian tidak berjalan. Apabila roda perekonomian tidak berjalan, akibatnya rakyat kecil jugalah yang akan lebih sengsara.
Malam itu, disaat hati Liani, Henny, Fanny, A-lok, Supartono, dan Purwanto sedang gundah karena satu dan lain hal, Pak Miskan sedang asyik mengocok penisnya di dalam vagina cewek Uzbekistan yang cakep dan sexy itu, yang mengaku bernama Zamira, sehingga payudara Zamira yang sungguh montok itu jadi berguncang-guncang dan berputar-putar dibuatnya.
—@@@@@@@—–
Di rumah…
Keesokan sorenya, Liani sedang duduk di ruang tengah sambil asyik menonton TV. Ia sesekali tertawa geli menyaksikan film kartun itu. Saat itu hatinya sedang gembira. Sedikit banyak ia telah melupakan kejadian kemarin sore itu. Memang pada dasarnya Liani adalah cewek yang riang dan mudah melupakan segala kesulitan dan masalah yang telah berlalu. Demikian pula saat itu.
Sore itu Papi Liani lagi-lagi bekerja dari rumah. Karena selain bekerja untuk bisnisnya, ia juga mengawasi pekerjaan Sarmin, kacung honorer yang disewa beberapa hari untuk membersihkan atap genteng rumah, memperbaiki pipa saluran air di salah satu kamar mandi yang tersumbat, membersihkan gudang, serta beberapa pekerjaan kasar lainnya yang tak bisa dikerjakan oleh beberapa pembantu perempuan yang tinggal permanen di rumah itu. Apalagi ia tak puas dengan hasil kerjaan Sarmin, yang dinilainya lamban. Telah beberapa hari disewanya, sehari kerja dari jam 9 pagi sampai jam 6 sore. Namun hasil kerjaannya tak jelas terlihat. Saat itu kembali ia menanyai Sarmin mengenai kerjaannya dengan agak kesal,
“Dari pagi sampai sekarang, kamu ngerjain apa aja?”
“Anu, Tuan, tadi pagi saya membuat semen dan menyemen tembok yang tuan suruh kemarin lalu siang ini saya naik ke atas genteng bersihin daun-daun disana.”
“Lalu semennya sudah selesai?”
“Belum Tuan. Soalnya tadi hujan deras, jadi semen yang saya buat jadi kena air hujan. Jadi mesti diulang lagi.”
“Ah, kamu ini gimana sih. Sudah tahu hujan, kenapa ngerjain itu. Seharusnya khan kamu ngerjain yang di dalam ruangan.”
“Iya, Tuan.”
“Lalu gentengnya gimana, sudah bersih?”
“Sebagian sudah Tuan. Tapi masih banyak yang mesti dibersihin.”
“Ah, kamu ini. Sudah tiga hari disini, tapi hasilnya tidak jelas. Kenapa kamu kerjanya tidak langsung diselesaikan tapi kerja ini dikit kerja itu dikit. Jadinya malah nggak kelihatan hasilnya.”
“Iya, Tuan.”
“Selain itu juga banyak kerjaan kamu yang mesti diulang-ulang terus. Contohnya ya semen itu. Kalau tahu hujan, seharusnya kamu jangan bikin semen di tempat terbuka.”
“Iya, Tuan.”
“Jangan iya iya saja, yang penting kerjaannya cepat dibereskan.”
“Iya, Tuan.”
“Ah, kamu ini. Lalu gudang sudah kamu bersihkan?”
“Belum Tuan.”
“Belum sama sekali?”
“Iya, Tuan.”
“Kamu itu gimana sih, khan sudah saya bilang kalo itu mesti cepat dibereskan.”
“Iya, Tuan.”
“Lalu, pipa air wastafel di kamar mandi di dalam kamar no. 3 sudah diberesin?”
“Belum Tuan.”
“Kenapa belum? Khan saya sudah bilang sejak hari pertama kamu kesini.”
“Saya sudah lihat dan periksa Tuan. Untuk betulin itu nggak perlu waktu lama. Tapi setelah itu saya sibuk ngerjain yang lain dulu Tuan.”
“Ah, kamu ini. Padahal sudah sempat periksa, kenapa nggak sekalian dibenerin, gitu loh? Perlu berapa lama kamu untuk beresin itu?”
“Eeer, paling sejam Tuan.”
“Ya udah kalo gitu, hari ini juga kamu beresin. Kalo belum beres, saya nggak akan kasih bayaran hari ini, sampai kamu selesai beresin. Mengerti?”
“Iya, Tuan.”
“OK, kalo gitu kamu kerjain sekarang juga.”
“Ehm, anu Tuan, saya sedang gergaji kayu yang Tuan suruh kemarin pagi. Saya terusin itu dulu ya. Tanggung soalnya. Biar selesai seperti yang Tuan bilang tadi.”
“Hah?! Yang itu belum juga selesai? Ah, kamu ini betul-betul payah kerjanya! Ya udah kamu boleh kerjain itu dulu, tapi ingat, pipa air wastafel harus beres hari ini juga. Mengerti?”
“Iya, Tuan.”
“Ya udah kamu kerja sekarang juga.”
“Iya, Tuan.”
“Sebentar. Kalo kamu betulin pipa air di kamar itu, sekalian juga kamu bersihkan kamar itu kalau-kalau ada jaring laba-laba yang menempel di atap. Mengerti?”
“Iya, Tuan.”
Kemudian Sarmin meninggalkan ruangan kerja itu dan berjalan menuju ke tempat ia menggergaji kayu itu. Saat itu ia berjalan melintas ruang tengah dimana Liani berada. Saat ia melewati Liani yang sedang duduk nonton TV, ia berkata,” Permisi, Non.” Kemudian ia berjalan ke tempat penggergajian itu dan mulai menggergaji.
Saat itu Liani merasa terganggu dengan suara gergajian itu, sehingga setelah film kartun yang ditontonnya habis, ia meninggalkan ruang itu dan duduk di ruang tamu depan. Sesaat setelah itu, ia ingin merendam tubuhnya di bak jacuzzi. Apalagi saat itu sedang hujan deras. Sehingga dingin-dingin begini, tentu enak sekali merendam tubuh di air panas sambil tubuhnya dipijit-pijit semprotan air jacuzzi itu. Sehingga masuklah ia ke kamarnya. Lalu ia mengisi bak jacuzzinya itu. Sambil menunggu agak penuh, ia duduk dulu di kursi yang besar dan empuk sambil menonton TV.
Setelah itu diintipnya kedalaman air bak jacuzzi-nya itu. Setelah dirasa cukup penuh, segera ia menanggalkan seluruh pakaiannya. Namun sebelum itu, tentu dikuncinya terlebih dahulu pintu kamarnya itu. Ia masuk ke dalam kamar mandi itu. Tubuhnya telanjang bulat. Puting payudaranya nampak menonjol. Bulu-bulu vaginanya yang lebat nampak menyembul di antara kedua pahanya. Ia membuka kran shower untuk membilas tubuhnya dulu sebelum masuk ke dalam bak jacuzzi. Ia sengaja menggunakan air dingin. Brrr, dirinya agak gemetaran karena kedinginan. Sampai-sampai kedua putingnya yang kemerahan jadi perky banget dan makin menonjol karena terkena suhu air yang dingin itu. Bulu-bulu vaginanya yang sebelumnya menyembul saat kering, kini jadi mengempes dan menempel ke kulit tubuhnya karena terkena siraman air shower itu. Setelah cukup merasa kedinginan, lalu ia memasukkan satu kakinya ke dalam bak itu, diikuti dengan kaki satunya lagi. Setelah itu ia duduk di dalam bak besar itu sehingga kini tubuhnya terendam semua sampai sebatas leher bagian bawah. Hmm, sungguh nikmat sekali perubahan sensasi dari rasa kedinginan langsung menjadi hangat. Dan semprotan air jacuzzi itu menyemprot ke beberapa tempat di pinggang dan punggungnya yang putih bersih. Hmm, nikmat sekali rasanya, bagaikan dipijit-pijit. Beberapa saat lamanya ia berendam dalam posisi itu. Setelah itu ia membalikkan tubuhnya. Kini bagian depan tubuhnya yang terkena semprotan jacuzzi itu, yang mengenai beberapa bagian di perut dan payudaranya. Hmm, asyik deh. Kemudian ia menaikkan tubuhnya sehingga dalam posisi berlutut di depan semprotan jacuzzi itu. Kini semprotan itu mengenai bagian bawah tubuhnya, kedua pahanya serta perut bagian bawahnya. Tentunya dadanya yang telanjang kini di atas permukaan air. Sewaktu direndam di air panas tadi, puting payudaranya agak mengempes masuk ke dalam. Namun setelah kini terkena udara bebas yang lebih dingin dari sebelumnya, kedua putingnya kembali jadi perky lagi dan lebih menonjol dibanding sebelumnya. Setelah itu ia kembali merendam seluruh tubuhnya di bawah permukaan air. Kali ini dimatikan semprotan jacuzzi itu dan dibiarkan permukaan air stabil dan suhu air itu secara perlahan-lahan menjadi dingin. Sesekali ia mengangkat tubuhnya keluar dari permukaan air. Setelah itu menurunkannya kembali ke bawah permukaan air. Sehingga kedua payudaranya itu bagaikan dua pulau yang timbul dan tenggelam beberapa kali di tengah-tengah laut. Saat tubuhnya diangkat di atas permukaan air, butiran-butiran air nampak menempel membasahi kulit tubuhnya yang putih mulus. Demikian pula bulu-bulu vaginanya juga timbul dan tenggelam di tengah-tengah air hangat itu. Saat di batas transisi permukaan air, bulu-bulu yang lebat itu bagaikan hutan bakau saja layaknya.
Liani membuang sebagian air yang ada dan mengisinya dengan yang baru, untuk menambah kehangatan air panas yang makin lama makin dingin itu. Setelah dirasanya pas hangatnya, ia mematikan airnya lagi. Diambilnya masker penutup mata dan dikenakannya. Lalu ia memejamkan matanya dan tiduran telentang di dalam bak besar itu. Hanya kepalanya saja yang berada di atas permukaan air. Sehingga kini ia bisa tiduran sambil merendam tubuhnya di dalam air hangat tanpa matanya harus silau karena cahaya. Oleh karena terbuai hangatnya air yang merendam tubuhnya itu tak terasa Liani menjadi ketiduran di dalam bak jacuzzi yang kini permukaannya tenang itu. Sementara itu, Sarmin akhirnya selesai juga menggergaji kayu itu. Kini ia akan membetulkan pipa air yang mampet di wastafel di dalam kamar mandi di dalam kamar yang kosong itu, seperti yang diharuskan oleh Tuannya tadi yang juga adalah Papi Liani. Dibukanya pintu kamar no. 3 yang kosong itu. Lalu didorongnya pintu kamar mandi di dalam kamar itu. Dan…
Astaganaga!!!
Seketika jantung Sarmin seolah berhenti berdetak saat ia melihat di dalam Liani sedang telanjang bulat tiduran telentang di dalam bak jacuzzi!!!
Kenapa kok bisa salah kamar gini? Ternyata hal itu bukan karena kesengajaan Sarmin. Tapi yang terjadi adalah suatu kebetulan dan kesalahpahaman belaka yang tentu hasil akhirnya sungguh menguntungkan Sarmin. Rupanya saat itu memang Liani sedang berendam di bak jacuzzi yang ada di dalam kamar no 3. Karena bak jacuzzi disini lebih besar dibanding yang di dalam kamar mandi di dalam kamarnya sendiri. Dan ia tak salah melakukan itu karena sebenarnya kamar no 3 itu boleh dikata sebagai “kamar keduanya”. Oleh karena kamar itu tak terpakai, sehingga kadang ia memakai kamar itu. Dan ia tadi juga tak salah sama sekali saat memasuki kamar ini, karena ia telah mengunci kamar itu sebelum ia melepas pakaiannya. Sedangkan ia tak mengunci dan menutup kamar mandi di dalam kamar itu, hanya mendorongnya dalam posisi tertutup tapi tak sampai dijepretnya. Karena buat apa, toh pintu kamar di luar kamar mandi telah terkunci. Satu hal yang tak diketahuinya adalah Papinya menyuruh Sarmin membereskan pipa air wastafel di kamar mandi itu saat itu juga. Karena dikiranya, tentu pipa air itu telah beres sejak kemarin-kemarin. Dan ia sama sekali tak menyangka kalau kunci kamar itu bahkan telah diberikannya kepada kacung Sarmin. Sehingga ia bisa dengan bebas membuka kamar itu. Dan Papinya Liani juga tak menyangka kalau putrinya itu bakal memakai jacuzzi di kamar itu. Karena selain kamarnya sendiri telah ada jacuzzi yang mirip juga beberapa hari sebelumnya ia telah memberitahukan kepada putrinya tentang pipa air yang rusak. Sementara Sarmin juga tak salah. Ia masuk ke sini atas dasar perintah Papinya Liani yang memarahinya karena ia masih belum juga membereskan pipa air di dalam kamar mandi yang sekarang dipakai Liani. Saat ia ingin masuk ke kamar itu, posisi pintunya terkunci. Namun ia mempunyai kunci kamar itu yang telah diberikan oleh Papinya Liani kepadanya beberapa hari lalu. Segera dibukanya kunci pintu kamar itu. Saat itu dilihatnya ada bra dan celana dalam cewek tergeletak di atas ranjang yang langsung diketahui tentu adalah milik Liani. (Tak mungkin pembantu menaruh barang-barangnya di dalam kamar itu. Lagipula milik pembantu tentu tak seindah dan sehalus itu). Namun ia tak berpikir kalau orangnya ada di dalam situ. Sampai saat ia mendorong pintu kamar mandi yang tak terkunci, dan…terlihatlah olehnya pemandangan indah yang tak seharusnya dilihatnya itu.
Kini ia bisa melihat dengan jelas Liani, anak gadis tuannya itu, dalam keadaan telanjang bulat. Wah, betul-betul untung aku. Barusan dimarahi Tuan, eh sekarang malah bisa ngelihat anak perawannya Tuan telanjang bulat kayak gini. Ah, terima kasih Tuan!! batinnya Seandainya ia tak dimarahi dan disuruhnya segera membetulkan pipa air itu, tidak akan ia mendapat rejeki seperti ini. Saat itu Liani sedang asyik ketiduran dengan penutup mata yang masih dikenakannya. Seluruh tubuhnya kecuali kepalanya terendam di bawah air. Namun permukaan air itu cukup tenang karena Liani tak bergerak sama sekali. Sehingga apa yang ada di bawahnya nampak jelas terlihat semuanya. Kulit tubuhnya yang putih mulus. Payudaranya yang indah menggiurkan berikut kedua putingnya yang kemerahan. Bulu-bulu vaginanya yang lebat itu. Dan posisi kaki Liani yang agak terbuka, sehingga Sarmin juga bisa melihat cukup jelas liang vagina Liani dan lipatan kulit di sekitarnya. Seketika hatinya dag-dig-dug dan badannya berasa panas dingin. Ia sungguh terpana menyaksikan itu. Tak pernah sebelumnya ia menyaksikan tubuh cewek telanjang secara langsung begini, apalagi ceweknya cakep seperti Liani gini! Ada beberapa menit ia menyaksikan itu. Dirinya tak berani bergerak pergi karena takut ketahuan cewek itu tapi juga tak mau bergerak pergi karena ingin lebih lama menikmati
keindahan tubuh Liani itu. Setelah itu Liani sedikit menggerak-gerakkan tubuhnya, menaik turunkan tubuhnya. Yang mana membuat Sarmin makin mupeng karena payudara Liani ikut bergerak-gerak. Namun setelah itu karena takut ketahuan kalau gadis itu mendadak bangun dan mendapati dirinya memelototinya, akhirnya ia meninggalkan kamar mandi itu dan menutupkan kembali pintunya ke posisi semula. Dan ia segera menutup kembali pintu kamar itu dan menguncinya.
“Sarmiiiin!”
“Iya, Tuan.”
“Kamu sudah selesai menggergaji kok nggak langsung membetulkan pipa air mau tunggu apa lagi?”
“Eh, anu, anu, Tuan..”
“Anu, anu apa? Mau alasan apa lagi kamu, hah?”
“Eh, itu, di-didalam ada..”
“Udah jangan banyak alasan. Ayo cepat kerjakan!”
“Ba-baik, Tuan.”
Sarmin kembali membuka kunci kamar itu dan masuk ke dalamnya. Ia ragu apakah ia masuk ke dalam kamar mandi itu yang mana ia tahu pasti saat itu Liani sedang berada di dalam dalam keadaan bugil. Akhirnya ia tak jadi masuk dan membersihkan atapnya dari jaring laba-laba. Apalagi saat itu ia mendengar ada suara di dalam kamar mandi itu. Sehingga tentunya Liani sudah bangun dari tidurnya. Saat itu ia dalam keadaan serba salah. Demi sopan santun, ia ingin keluar dari dalam kamar itu. Namun demi kemupengan ia juga ingin melihat pemandangan indah itu lagi, kalau pun nggak semuanya paling tidak sebagian. Lagipula khan ia disini karena disuruh oleh tuannya. Jadi bukan salahnya juga. Selagi ia berpikir itu, saat itulah pintu kamar mandi terbuka, dan keluarlah Liani. Namun ternyata Liani keluar dari kamar mandi itu dalam keadaan tanpa selembar benang pun!
“EEhhh!” seru Liani kaget melihat Sarmin ada di dalam kamar itu sementara dirinya telanjang bulat. Ia berusaha menutupi bagian-bagian penting tubuhnya. Namun sempat ada jeda sejenak dimana Sarmin bisa lagi-lagi melihat seluruhnya, kali ini lebih jelas lagi karena dipisahkan oleh udara bukan air. Setelah itu Liani menutupi tubuhnya sebisanya sambil berkata,
“Keluar kamu!”
“Iya Non,” katanya tapi tak bergerak karena terpana.
“Ayo cepat!”
“I-iya Non. Ma-maaf,” katanya terbata-bata sambil turun dari tangga dan keluar dari kamar itu.
Liani segera mengunci pintu kamar itu setelah Sarmin keluar, dan mengenakan kembali pakaiannya satu-satu.
Setelah itu ia memanggil Sarmin kembali. Sebenarnya ia merasa malu luar biasa karena kacung itu baru saja melihatnya telanjang bulat. Apalagi ia curiga jangan-jangan kacung itu juga telah mengintipnya sejak tadi-tadi dimana ia sedang ketiduran di dalam bak jacuzzi itu. Dan ia juga takut jangan-jangan kacung itu telah memotretnya saat dirinya telanjang. Karena itu, ia harus mengetahui kejadian sebenarnya sehingga rasa malu itu ditahannya.
“Sarmin, sini kamu,” katanya.
“I-iya Non.”
“Kamu kok bisa ada di dalam kamar tadi?”
“Eh, anu Non, saya tadi disuruh Tuan membetulkan pipa air di wastafel dalam kamar mandi. Saya dikasih kunci kamar ini. Dan saya nggak tahu kalo di dalam ada Non. Kirain kamar ini kosong.”
“Kamu sudah berapa lama masuk tadi?” selidiknya.
“Eh, anu Non, sa-saya baru saja masuk tadi.”
“Kamu jangan bohong!”
“Eh, i-iya Non beneran kok.”
“Kamu tadi masuk ke kamar mandi ya?” selidiknya lagi.
“Ng-nggak Non. Saya barusan dateng waktu ngeliat Non keluar tadi.”
Muka Liani seketika jadi merah mendengar itu. Ia merasa malu sekali. Tapi ditahannya sekuat tenaga.
“Beneran kamu tadi nggak masuk ke kamar mandi?”
“Iya, beneran Non.”
“Ya udah, aku percaya. Tapi kamu jangan bilang siapa-siapa ya. Awas kalo kamu bilang.”
“I-iya baik Non.”
“Terutama jangan bilang ke Papi. Kalo sampai tahu, kamu bisa dicincangnya habis, tahu.”
“Iya, saya ngerti Non.”
“ya udah, sekarang kamu boleh ngerjain di dalam kamar mandi.”
“Baik Non.”
##################
Beberapa saat kemudian…
“Tuan, wastafelnya sudah dibetulin,” kata Sarmin.
“Nah, gitu dong kalo kerja. Masa tiap kali harus dipaksa.”
“Ini, upah kamu hari ini, sekarang kamu boleh pulang.”
“Oh, terima kasih, Tuan,” kata Sarmin. Hari itu ia serasa mendapat upah ganda.
Sejak hari itu Sarmin masih bekerja di rumah itu dua hari lagi namun ia tak pernah melihat Liani lagi. Sepertinya Liani sengaja menghindari tak ingin bertemu dengannya. Tentunya ia masih malu karena dirinya dilihat dalam keadaan telanjang bulat oleh kacung itu. Apalagi ia tak begitu yakin kalau sebelumnya Sarmin tidak masuk ke kamar mandi dan melihatnya lebih lama saat ia tidur dalam keadaan bugil itu.
Yang pasti malam itu si Sarmin menggesek-gesek penisnya, sampai akhirnya, crottzz. Yang dibayangkannya siapa lagi kalo bukan Liani!
—@@@@@@@—–
Di kantor A-lok…
“Bagaimana Pak Pur, sudah mendapat informasi tentang ketiga cewek itu?” tanya A-lok kepada Purwanto,” Waktu kita tinggal hari ini. Kalau sampai malam ini kita tidak berhasil menyuguhkan “barang” yang disukai Pemeras Miskan itu, bisnis kita bisa kacau balau.”
“Tidak perlu khawatir Pak A-lok. Saya sudah menyuruh orang-orang yang handal untuk menyelidiki tentang ketiga cewek muda itu. Dan, hasilnya sungguh menggembirakan. Karena satu diantara tiga cewek itu ternyata kehidupannya tidak sebersih seperti apa yang terlihat. Dan kita bisa memanfaatkan cewek itu untuk disuguhkan kepada Si Pemeras itu. Sehingga kita bisa menyenangkan hati Si Pemeras itu sambil sekaligus kita buat Si Pemeras itu menjadi takluk di tangan kita sehingga ia tidak akan berani bersikap mentang-mentang seperti sekarang ini.”
“Wah, bagus, bagus. Tapi betul-betul akuratkah sumber informasi Pak Pur itu? Ingat, operasi ini harus berhasil. Kalau kita sampai kecolongan, sekalipun si Pemeras itu tidak melakukan ancamannya, tapi kepercayaannya terhadap kita jadi pudar. Akibatnya sungguh tidak bagus bagi bisnis kita di masa depan. Oleh karena itu tidakkah sebaiknya Pak Pur siap-siap menghubungi semua mucikari top yang ada, untuk berjaga-jaga kalau-kalau sampai kita tidak berhasil memakai yang satu itu.”
“Hmm, menurut saya hal itu sama sekali tidak perlu,” kata Pak Purwanto sambil tersenyum. “Orang yang melakukan penyelidikan ini betul-betul bisa diandalkan dan informasi yang saya dapatkan ini betul-betul akurat dari sumber pertama yang sangat bisa dipercaya. Oleh karena itu, serahkan semuanya kepada saya. Bapak tinggal tahu beres saja. Dan kalau berhasil, saya harap Bapak jangan lupa memberikan bonus khusus kepada saya.
“Hahaha, beres, beres. Untuk hal itu Pak Pur tak perlu khawatir. Anda telah mengenal saya sekian lama. Tentu anda tahu bahwa saya adalah seorang yang murah hati terhadap orang-orang yang berjasa besar. Tinggal Pak Pur sebutkan saja apa yang anda minta. Hehehe.”
“Hahaha, ya saya tahu Pak A-lok adalah orang yang sangat murah hati. Oleh karena itu, saya juga senang bekerja dengan Pak A-lok. Mengenai hadiah apa yang saya minta, lebih baik saya sebutkan nanti saja, setelah operasi ini berhasil.”
“Bagus, bagus, kalau begitu, saya tidak perlu khawatir lagi. Saya tahu Pak Pur tidak seperti Supartono gebleg itu. Hmm, omong-omong, ketiga cewek ini sama-sama cantik, sexy, dan menggairahkan, dengan daya tariknya yang khas masing-masing. Tapi semuanya kelihatan seperti cewek baik-baik dan dari golongan elit. Karena itu, saya jadi penasaran, cewek yang mana yang menurut Pak Pur bisa “dipake” itu?”
“Ini…” kata Pak Purwanto sambil menunjuk foto cewek itu.
“Hah? Benarkah?!”
Pak Purwanto menggangguk dengan penuh percaya diri sambil tersenyum.
“Kalau begitu, tolong sekalian Pak Pur arrange buat saya sendiri tiga hari lagi. Kalau mau, Pak Pur boleh memakainya besok atau lusa.”
—@@@@@@@—–
Di berbagai tempat yang berbeda…
Handphone Liani tiba-tiba berbunyi, ternyata ada sms masuk. Bunyi pesannya singkat saja,”Nanti malam jam 7. Confirm.” Segera Liani membalasnya dengan lebih singkat lagi,”OK”.
Henny membuka pintu mobil dan duduk di bangku belakang mobilnya yang dikendarai oleh supirnya, Kosim. “Langsung pulang ke rumah Non?” tanyanya.
“Mampir ke hotel dulu,” kata Henny.
Fanny mencoba gaun pesta mahal yang baru dibelinya. Saat itu handphone-nya berdering. Kemudian terdengar ia berkata,”Sip deh, jangan kuatir. Gua pasti datang. Gua udah beli gaun buat pesta lu kok.”
—@@@@@@@—–
Di kantor A-lok…
“Pak A-lok, semuanya sudah confirm. Dia akan datang tepat jam 7 malam di hotel XYZ kamar 777 tempat Pak Miskan menginap. Selain itu ada permintaan khusus dari Pak Miskan yaitu DIA harus memakai pakaian pesta yang mewah dan elegant, yang juga sudah saya sampaikan ke dia. Di samping itu juga saya sampaikan pesan rahasia ke dia, khusus untuk menjebak si Pemeras itu. Jadi Bapak jangan kuatir. Semuanya sudah diatur beres,” kata Purwanto melapor ke bossnya.
—@@@@@@@—–
Di hotel XYZ…
Saat itu pukul 6.50 petang. Di lobby hotel itu banyak orang-orang yang memakai pakaian resmi untuk kaum cowoknya dan pakaian pesta untuk ceweknya. Karena mereka akan menghadiri resepsi pernikahan di hotel bintang lima itu, yang di undangannya ditulis pukul 19.00. Namun namanya pesta seperti ini, tentu mulainya juga molor. Pada saat itu lift dari tempat parkir mobil berbunyi dan pintunya terbuka. Sehingga keluarlah beberapa orang dari lift tersebut masuk ke ruangan lobby. Diantara mereka ada seorang gadis cantik mengenakan pakaian pesta yang elegant dan sepertinya harganya pun juga cukup mahal sambil membawa tas bawaan yang juga bikinan merk mahal dan terkenal. Pada saat gadis itu memasuki ruangan lobby, banyak pandangan orang-orang yang beralih menatap gadis itu. Karena ia memang seorang gadis yang cantik. Apalagi dengan dandanan yang juga elegan namun tidak kampungan itu. Dan usianya pun juga masih muda sekali, sekitar 18 tahun. Sehingga ia adalah bagaikan bunga harum semerbak yang masih segar karena baru saja mekar. Kulitnya putih. Bentuk tubuhnya pun juga indah. Pakaian pestanya yang terbuat dari bahan tipis dan halus membuatnya mengikuti lekuk liku tubuhnya. Tubuhnya langsing. Pinggangnya ramping. Pinggulnya nampak menonjol. Demikian pula dadanya. Apalagi belahan lehernya agak rendah, menunjukkan belahan atas payudaranya, yang sungguh membuat penasaran kaum cowok. Gaun pestanya itu, bagian pinggul ke bawah agak tipis menerawang. Sehingga samar-samar nampak siluet indah kedua kakinya di balik gaun itu. Gerak-geriknya pun juga santun dan elegan. Ia tersenyum manis sambil berkata,” Thank you,” saat tadi seorang cowok bule menahan pintu lift dan memberinya jalan untuk keluar terlebih dahulu. Sungguh ia adalah seorang gadis yang cantik sekaligus sexy menggairahkan. Dan gadis ini adalah si DIA yang dikirim oleh A-lok untuk memuaskan dahaga birahi Pak Miskan demi bisnisnya.
Gadis itu masuk ke toilet dulu, memeriksa segala sesuatunya. Tak lama kemudian ia keluar dari toilet itu. Saat itu pukul 6.55. Kemudian ia menuju ke tempat in-house phone. Diangkatnya gagang telpon itu, dan ia minta disambungkan ke kamar 777. Tedengar suara Pak Miskan dari ujung sana.
“Selamat malam Pak. Saya sudah di lobby. Saya tidak bisa naik ke atas karena lift-nya perlu access card.”
“Oh, silakan minta bantuan front desk, biar saya yang bicara dengan mereka.”
Tak lama kemudian, salah seorang petugas hotel membantu gadis itu naik lift dengan memasukkan access card dan menekan angka 7. Lift itu berhenti di lantai 7. Dan keluarlah gadis itu. Ia berjalan menuju ke kamar 777. Sesampainya di depan pintu, ditekannya bel di dekat pintu masuk.
Ting-tong.
Terdengarlah suara kunci dibuka dan, terbukalah pintu itu. Pak Miskan berdiri sambil mengenakan piyama tidur yang disediakan di kamar hotel tersebut.
“Oh, ternyata kamu! Mari silakan masuk. Saya sudah menunggu kamu sejak tadi,” kata Pak Miskan.
Setelah gadis itu masuk, Pak Miskan segera menutup pintu itu dan menguncinya kembali. Sehingga kini ia hanya berdua bersama dengan gadis idamannya itu. Sebelumnya ia telah diberitahu bahwa satu diantara ketiga gadis itu akan datang dan “menghiburnya”. Namun ia sengaja tak ingin diberitahu, siapa diantara ketiga gadis itu yang akan datang. Hal itu untuk menambah excitement suasana yang tentu nantinya akan berimbas positif ke atas ranjang. Apalagi baginya, ketiga gadis itu punya daya tarik yang berbeda satu dengan lainnya sehingga siapa pun diantara ketiga gadis itu tidaklah terlalu jadi masalah. Namun kini, melihat gadis ini yang datang, sungguh gadis inilah yang paling tepat untuk menemaninya malam ini. Ia membayangkan permainan yang bakalan berlangsung seru!
—@@@@@@@—–
Di kantor A-lok…
“Saya masih penasaran, bagaimana Pak Pur bisa memastikan bahwa cewek itu ternyata bispak? Lalu bagaimana dengan kedua cewek lainnya?”
“Hahaha. Baik, karena Pak A-lok penasaran. Akan saya jelaskan semuanya. Pak A-lok tentu kurang lebih mengenal cewek ini,” kata Pak Purwanto menunjuk satu foto.
“Ah siapa ya, sepertinya saya pernah lihat cewek ini.”
“Coba perhatikan baik-baik. Memang foto ini kurang jelas. Dan pengambilannya pun kurang baik. Sehingga foto ini jauh lebih jelek dibanding orang aslinya. Tapi kita pernah bertemu langsung dengan dia. Ia adalah putri pengusaha kaya.”
“Ah ya, saya ingat sekarang. Bukanlah dia adalah Liani, putri Pak …?”
“Betul sekali.”
“Tapi kenapa Pak Pur sekarang membahas dia. Bukankah sebelumnya Pak Pur menunjukkan yang ini?” tanya A-lok menunjuk foto cewek lain. “Lalu yang mana yang benar, apakah Liani atau dia?” tanyanya lagi.
“Maksud saya menunjuk Liani ini untuk menjelaskan bahwa ia adalah betul-betul putri pengusaha kaya raya. Maaf Pak, terus terang, perusahaan ayah Liani ini lebih besar dibanding kita. Sehingga tentu ia harus dicoret dari daftar cewek yang mau dibayar untuk dipake gituan. Dan, for your info Pak, waktu itu, Si Supartono tolol itu main tembak langsung ke Liani ini. Untung hal ini tak menjadi insiden yang berkelanjutan. Seandainya hal ini sampai ke telinga ayahnya tentu kejadian itu bakal menyulitkan kita semua.”
“Memang Supartono itu orangnya kurang bisa diandalkan,” kata A-lok agak geram,”Ok balik lagi ke hal tadi, bagaimana Pak Pur bisa membujuk cewek itu untuk menemani Pak Miskan?”
“Bagaimana saya bisa membujuknya? Hehehe. Hal itu sama sekali tak perlu Pak. Karena cewek ini memang kerjaannya adalah cewek panggilan! Tapi ia bukanlah cewek panggilan biasa. Namun cewek panggilan yang super high class. Ia bekerja secara part time karena sehari-hari ia adalah murid SMU … (SMU yang terkenal di kota itu). Jam kerjanya pun juga ia yang tentukan sendiri. Sehingga tidak ada yang menyangka kalau ia adalah cewek panggilan kelas atas. Apalagi prestasi sekolahnya juga cukup menonjol. Ditambah lagi ia berkedok sebagai anak pengusaha kaya. Padahal sebetulnya orang tuanya bukanlah orang kaya. Ia mendapatkan uang banyak ya dari penghasilan kerja part time-nya itu. Karena tarif standardnya untuk short time adalah 10 juta dan 20 juta untuk overnight. Sehingga hanya orang-orang kelas atas saja yang bisa memakai jasanya. Namun ia cukup professional dalam bekerja. Sekali ia commit untuk transaksi, maka ia akan melayani orang itu dengan sungguh-sungguh termasuk datang tepat waktu. Sehingga tingkat kepuasan orang yang pernah memakai jasa dia tinggi sekali. Untuk transaksi malam ini, kita membayar dia 15 juta untuk sekali kencan (short time) dengan Pak Miskan, alasannya karena pemberitahuan yang terlalu mendadak, ditambah adanya permintaan khusus. Plus 40 juta untuk menjalankan misi rahasia kita. Karena ia tahu bahwa kita bisa mendapat keuntungan ratusan juta atau malah milyaran dengan hal itu.”
“Wah, betul-betul dia adalah cewek dengan naluri bisnis yang tinggi. Tak heran kalau ia tergolong sukses dengan profesinya, apalagi usianya masih sangat muda,” kata A-lok meski agak kecut mengeluarkan uang sebanyak itu untuk transaksi semalam yang tak dinikmatinya tapi mau tak mau memuji kelihaian cewek muda itu,” Tapi Pak Pur masih belum menceritakan, bagaimana tahunya kalau ia adalah cewek panggilan?”
“Sekitar dua tahun lalu saat cewek itu berumur 16 tahun, ia mulai dipelihara oleh seorang konglomerat terkenal di ibukota. Saat itu segala kebutuhannya dicukupi, dari rumah, mobil, uang saku, baju, dll. Namun belakangan konglomerat itu makin jarang datang ke dia. Sehingga kini, selain ia masih jadi peliharaan konglomerat itu, juga ia bekerja sambilan secara part time. Jadi ia punya dua sumber penghasilan yang cukup besar. Nah, kebetulan, saya punya kontak dengan mantan sopir konglomerat itu dan seorang pelanggan yang pernah menggunakan jasa dia. Jadi saya tahu persis kalau dia adalah cewek panggilan yang bisa dipake asalkan harganya tepat,” kata Pak Purwanto.
“Wah, anda betul-betul hebat. Sungguh saya kagum dengan hasil kerja Pak Pur. Hahahaha,” kata A-lok sambil tertawa.
“Dan cewek ini,”lanjut Purwanto sambil menunjuk salah satu foto cewek itu,”Namanya adalah Henny. Ia adalah putri seorang pengusaha juga, yaitu Pak …. Sama seperti Liani, cewek ini tak bisa dibayangkan mau dibayar untuk melakukan gituan. Sehingga kalau Pak Miskan bermimpi untuk tidur dengan satu dari dua cewek ini, sebaiknya ia terus menerus bermimpi. Karena kedua cewek ini betul-betul bersih.
“Sementara cewek panggilan kita ini bernama Fanny. Ia berkedok bahwa orang tuanya adalah pengusaha kaya dari luar pulau. Padahal sebenarnya ayahnya adalah seorang pegawai biasa. Dia inilah yang kini sedang menemani Pak Miskan.
—@@@@@@@—–
Di hotel XYZ…
Memang cewek yang menemui Pak Miskan itu adalah Fanny
adanya. Saat itu ia duduk di tepi ranjang yang lebar itu. Dan Pak Miskan
duduk di sebelahnya. “Iih, kamu cantik sekali deh,” kata Pak Miskan
sambil memegang dagu Fanny.
“Aiihh, Bapak bisa aja,” kata Fanny dengan manja.
“Betul saya nggak bohong. Ditambah kamu juga menggairahkan sekali,” kata Pak Miskan tertawa dengan jelek sambil meraba tubuh cewek itu.
“Ah, Bapak,” kata Fanny tersipu malu.
Pak Miskan saat itu sungguh terangsang banget dengan Fanny. Wajahnya yang cantik eksotis, tubuhnya yang sexy dengan dadanya yang menonjol seolah menantang kejantanan dirinya. Penampilannya yang elegan dengan riasan wajah dan pakaian pesta yang dikenakan cewek itu memberikan kesan bahwa cewek itu tentu putri anak orang kaya yang bukan cewek sembarangan. Namun kini, cewek itu bakal dilahap dan dikuasainya bulat-bulat. Sehingga ia merasa sebagai orang yang super hebat. Karena hanya pria hebatlah yang bisa menaklukkan cewek sekelas Fanny begini. Setelah itu ia tak memberi kesempatan Fanny untuk bersantai-santai, karena ia langsung take action. Direngkuhnya tubuh Fanny disebelahnya dan diciumnya bibirnya. Fanny tentu tak melawan. Dibiarkannya bapak setengah tua yang berwajah jelek dan berkulit hitam itu menikmati bibirnya. Pak Miskan yang merasakan hangatnya bibir Fanny jadi makin nafsu. Dijelajahi seluruh bagian bibir Fanny. Sementara kedua tangannya meraba-raba sekujur tubuh Fanny.
Setelah puas menikmati bibir Fanny, Pak Miskan menghentikan ciumannya. Tangan kirinya memeluk bahu Fanny. Tangan kanannya bergerilya kesana-kemari. Pak Miskan mulai meraba dada Fanny yang menonjol itu. Jarinya bergerak mengikuti belahan leher gaunnya. Sehingga jarinya meraba-raba bagian atas dada cewek yang putih itu. Lalu jarinya berhenti di tengah-tengah. Tepat di lekukan diantara belahan dadanya. Kini jarinya bergerak naik turun mengikuti celah lekukan itu. Setelah itu turun lebih ke bawah lagi. Sampai jari-jari tangannya itu menyusup masuk ke dalam gaun pestanya. Di dalam gaun itu, jari-jari tangannya meraba dan meremas-remas dada kiri dan kanan Fanny. Kemudian ia menikmati bibir Fanny sambil tangannya terus memainkan payudara cewek itu. Pak Miskan melepas ciumannya. Tangannya dikeluarkan dari gaun cewek itu, dan berpindah ke paha cewek itu. Sambil meraba-raba paha cewek itu makin lama makin naik ke atas, disusupkannya di balik rok gaun itu. Sampai tangannya meraih apa yang diinginkannya, yaitu daerah vagina cewek itu. Diraba-rabanya celana dalam gadis itu. Terutama di bagian tengah diantara kedua paha, tempat liang vagina cewek itu. Tepat disitu, jarinya ditekan ke dalam sampai agak masuk ke dalam.
“Aah,” Fanny mengeluarkan seruan tertahan.
Dan bagian itu digesek-geseknya.
“Ahh….ahhh…..ahh…..”
“Enak sayang?” tanya Pak Miskan sambil terus menggesek-gesekkan jarinya di balik gaun pesta mahal itu. Ia makin mendekatkan tubuh cewek itu ke dirinya, sehingga tangan kirinya yang tadi memeluk bahu cewek itu kini bisa merengkuh dada cewek itu. Kembali ia meraba-raba dan meremas-remas dada Fanny. Sambil menciumi leher putih dan rambut ikal panjang serta harum itu. Sembari terus menggesek-gesek liang vagina gadis itu dengan tangan kanannya.
Setelah itu Pak Miskan melepaskan grepe-grepeannya. Ia menyuruh Fanny berdiri dan melepas sepatu pestanya yang mahal itu. Ia sendiri juga berdiri. Tangannya merengkuh punggung gadis itu. Dibukanya retsleting gaun itu. Kedua tangan Fanny dikeluarkan dari gaun itu. Dan, gaun indah yang sebelumnya begitu elegan menempel di tubuh sexy gadis itu, seketika melorot ke bawah, dan kini hanya jadi seonggok kain yang tergeletak di lantai di sekitar telapak kaki gadis itu. Dan kini, yang nampak adalah tubuh sexy Fanny yang semakin jelas ke-sexy-annya. Apalagi bra dan celana dalam yang dikenakan gadis itu berwarna merah menyala. Sungguh kontras dengan kulit tubuhnya yang putih. Dan warna merah menyala itu semakin membakar nafsu kejantanan Pak Miskan. Hal itu terbukti dengan tindakannya yang langsung merogoh bra merah itu dan segera melepaskan kaitannya. Tanpa basa basi lagi, diloloskannya bra merah itu dari tubuh gadis putih mulus itu. Dan, wow! Pak Miskan terpana dengan payudara Fanny yang terbuka bebas itu. Keduanya membusung dan padat berisi serta menantang. Putingnya berwarna coklat muda. Keduanya menonjol nampak begitu sensitif. Dengan penuh nafsu direngkuhnya dada yang terbuka menantang itu dengan kedua tangannya. Segera tangannya meremas-remasnya, meraba-rabainya terutama putingnya. Lalu dengan rakus mulutnya menjilati payudara putih Fanny. Dihisap-hisapnya, terutama putingnya. Dikenyot-kenyotnya. Saking nafsunya sampai suara kecapan mulutnya terdengar cukup keras. Ujung lidahnya menggerak-gerakkan puting coklat muda itu. Lalu diemut-emut lagi payudara putih itu. Sambil tangan kanannya menyusup ke dalam celana dalam merah Fanny. Dirasakan bulu vaginanya yang cukup lebat. Lalu tangannya merayap ke bawah lagi, diantara kedua paha. Jarinya digesek-gesekkan di liang vagina cewek itu. Lalu celana dalam merah itu diturunkannya dengan kedua tangannya. Sehingga kini Fanny telanjang bulat. Kecuali kalung emas dengan mata kalung batuan Ruby yang besar serta arloji di tangan kirinya, tidak ada lagi apapun yang melekat di tubuhnya.
Pak Miskan melepas ikatan pakaian tidur yang dipakainya dan segera melepaskannya. Kulit badannya sawo matang. Ia hanya memakai celana dalam saja. Nampak ada tonjolan besar di dalamnya. Lalu ia menunjuk bagian bawah tubuhnya itu kepada cewek itu. Fanny tentu mengerti isyarat itu. Segera ia berlutut di depan Pak Miskan. Kedua tangannya yang halus meraih celana dalam Pak Miskan dan menurunkannya. Penisnya yang hitam dan besar seketika mengacung ke atas. Mulut Fanny mengemut buah zakar Pak Miskan. Lidahnya ditekan-tekan ke buah zakar itu. Lalu diemut-emut lagi. Kemudian lidahnya merayap naik, menjilat batang penisnya, dari pangkalnya sampai ke ujung. Ehmm! Dijilatnya lagi, lagi, dan lagi.
Ohh! Pak Miskan melenguh nikmat .
Lalu Fanny mengulum batang penis itu dan mengocok di dalam mulutnya.
Shleeb shleeb shleeeb.
Lidahnya menjilat-jilat melingkar-lingkar di kepala penisnya yang tersunat.
Emhhh! Emhhhh! Pak Miskan merasakan nikmat luar biasa saat gadis muda dan cakep itu berlutut di depannya dan mengemut-ngemut penisnya. Hampir saja ia “keluar” kalau tidak cepat ditahannya. Lalu mereka berdua duduk di tepi ranjang. Kembali mulut Pak Miskan menikmati payudara Fanny. Kedua tangannya meraba-raba tubuh putih dan mulus itu. Dirasakannya betapa halusnya kulit tubuh cewek itu. Kembali ia menyuruh Fanny bersimpuh di depannya supaya cewek itu meng-oralnya. Yang segera dilakukan Fanny dengan patuh. Ia bersimpuh di depan Pak Miskan. Tubuhnya membungkuk, kepalanya bergerak naik turun, mulutnya mengulum-ngulum penis hitam Pak Miskan. Pak Miskan memegang rambut kepala Fanny dan menggerak-gerakkan kepala cewek itu supaya ia terus mengulum-ngulum penisnya.
Pak Miskan menyuruh Fanny berbaring di ranjang, telentang. Kembali Pak Miskan memainkan dada cewek itu dengan tangannya, dilanjutkan dengan mulutnya mengenyot-ngenyot dan menyedot-nyedot payudara yang menggiurkan itu. Sambil tangannya juga menggesek-gesek vagina cewek itu. Setelah itu gantian Pak Miskan yang telentang di ranjang. Dan ia menyuruh Fanny mengemut penisnya. Sehingga lengkaplah Pak Miskan mengenyot-ngenyot payudara Fanny dalam posisi berdiri, duduk, dan tidur. Demikian pula sebaliknya, penisnya diemut-emut oleh Fanny dalam posisi berdiri, duduk, dan kini tidur. Setelah itu Fanny menghentikan emutannya. Pak Miskan menyuruhnya untuk “naik” diatas tubuhnya. Fanny mendekatkan vaginanya di atas penis Pak Miskan. Lalu, dengan menggunakan berat tubuhnya, bleeess, kini penis Pak Miskan telah berada di dalam vagina Fanny. Kini Fanny menaik-turunkan tubuhnya.
“Oohhh, ohhhhh, ohhhhhh….” Fanny mendesah-desah seiring dengan gerakan tubuhnya itu.
Payudaranya bergoyang-goyang naik turun. Tangan Pak Miskan merengkuh payudara itu meremasnya dan meraba-rabanya.
“Oohhh, ohhhhh, ohhhh, ohhhhhh…..”
Pak Miskan menghentikan gerakan cewek itu. Kini berubah posisi. Fanny dalam posisi telentang. Giliran dia yang menyetubuhi gadis itu dalam posisi missionaris.
“Ooohhhh, ohhhhh, ohhhhhh, ohhhhhh….”
Setelah itu ganti posisi ke doggy style. Disuruhkan Fanny menungging di depan cermin besar. Dan, disodoknya cewek itu dari belakang.
“aaahhh, ahhhhhh, aaahhhhh……”
Dari pantulan cermin terlihat payudara Fanny berguncang-guncang akibat sodokan-sodokannya itu. Kedua tangan Pak Miskan meremas-remas payudara montok yang terguncang-guncang itu.
Setelah itu keduanya duduk di atas ranjang. Fanny duduk dipangku diatas paha Pak Miskan dan saling berhadapan. Vagina Fanny kembali ditembus penis Pak Miskan. Fanny menaik-turunkan tubuhnya sambil mengerang-erang.
“Oohhhhhh, ohhhhhhh, ooohhhhhhhhhhh…”
Dan setelah itu berganti posisi. Fanny tiduran dalam posisi miring. Kakinya yang satu dibuka lebar-lebar ke atas. Dalam posisi itu Pak Miskan menyodoknya dari depan. Penisnya masuk menembus vagina Fanny dalam posisi saling silang tegak lurus. Itulah Gaya Gunting, yang mana sungguh berbeda sensasinya bagi keduanya.
“Ooohhhhhhhh, ohhhhhhh, ohhhhhhhhhhhhh……”
Fanny mendesah-desah dibuatnya.
Setelah itu Pak Miskan tiduran telentang. Fanny juga tidur telentang di atas Pak Miskan. Pak Miskan memasukkan penisnya ke dalam vagina cewek itu. Dan kembali Fanny menggerak-gerakkan tubuhnya yang telentang, mengocok penis Pak Miskan yang berada dalam vaginanya. Setelah puas dengan itu, Pak Miskan menyuruh Fanny tidur telentang. Lagi-lagi disetubuhinya gadis mulus itu dengan posisi missionaris. Dan, dipompanya penisnya di dalam vagina gadis itu.
“Oohh…oohhhhh….ohhhhhh…oooohhhhh….”
Dan setelah itu, tiba-tiba kedua kaki Fanny menjepit kedua kaki Pak Miskan sehingga tak bisa lepas. Itu adalah Jepitan Maut. Menurut desas desus, jurus ini adalah keahlian khusus dari Madura sejak jaman dahulu. Bagi pria yang telah dijepit seperti itu, hanya satu yang bisa dilakukan, yaitu menyetubuhi cewek di bawahnya dengan makin cepat dan makin semangat. Sehingga tak lama setelah itu….
Crottttz, croott, crott,…
Seluruh sperma Pak Miskan tumpah di dalam vagina Fanny. Setelah itu terkulailah ia dengan lemas di atas ranjang. Namun hatinya sungguh puas telah menikmati Fanny.
Beberapa saat kemudian, keluarlah Fanny dari kamar itu. Sesampainya di bawah, ia menelpon Pak Purwanto,”Sudah selesai Pak.”
“Gimana hasilnya?”
“Sepertinya dia puas sekali dengan service saya.”
“Bagus, bagus. Lalu tugas kamu yang satunya gimana?”
“Hal itu juga sudah saya lakukan. Ia tak tahu saya melakukan itu.”
“Hebat! Kamu betul-betul hebat. Kalau begitu, kamu tunggu saya di lobby. Sepuluh menit saya sampai disana.”
—@@@@@@@—–
Di lobby…
“Nah, ini saya kembalikan ke Bapak,” kata Fanny melepas arloji mahal di pergelangan tangannya.”Silakan diperiksa hasilnya.”
Pak Purwanto menerima arloji itu namun pandangan matanya mengarah ke dada Fanny. Dada itu begitu indah dengan bagian atas yang terbuka. Sementara itu persis di tengah-tengah gundukan gunung kembar itu terdapat mata kalung berupa batuan Ruby warna merah yang besar, yang sungguh pas dipakai gadis itu.
“Wah, betul-betul hebat. Sesuai dengan yang saya inginkan.”
“Jadi saya bisa dapatkan sisanya sekarang juga?”
“Oh, tentu, tentu. Nah ini dia, silakan diperiksa. Jumlahnya pas khan?” kata Purwanto menyerahkan selembar cek kepada gadis itu.
“Ya betul sekali. Jadi transaksi selesai? Kalau gitu saya akan pulang sekarang.”
“Oh tentu. Silakan….Oh ya, omong-omong besok malam saya perlu jasa kamu lagi.”
“Baik. Buat dia lagi?”
“Bukan. Buat saya sendiri.”
Setelah itu berpisahlah mereka. Purwanto tersenyum puas. Misinya telah berhasil dengan sukses. Pertama, ia berhasil dalam menyenangkan hati Pak Miskan. Kedua, ia berhasil membuat Pak Miskan tergantung karena tentu ia ingin menikmati Fanny lagi di kemudian hari. Ketiga, ia berhasil menjebak Pak Miskan. Di dalam kamar tadi beberapa kali Fanny mengambil foto Pak Miskan yang telanjang bulat dan sedang menyetubuhi dirinya dengan menggunakan arloji itu. Arloji itu adalah arloji canggih yang juga berfungsi sebagai kamera mini yang khusus dipinjamkan ke Fanny untuk misi itu. Meski dalam foto-foto itu tak terdapat wajah ceweknya, namun sudah cukup menunjukkan kalau Pak Miskan berbuat affair dengan wanita lain. Hal itu bisa digunakan sebagai kartu as untuk membuat Pak Miskan betul-betul tunduk terhadapnya dan A-lok. Dan keempat, ia bakalan menikmati diri Fanny yang cantik dan menggairahkan itu. Saat itu ia betul-betul puas dengan prestasi dirinya, yang dalam waktu singkat bisa dengan tepat menyelidiki dan mengatur segalanya. Sehingga kini semuanya aman dan terkendali. Setelah itu ia memberi laporan kepada A-lok bossnya itu. A-lok mendengarkan laporannya dengan gembira. Kini semuanya telah berada dalam kontrolnya. Ia sungguh puas dengan prestasi Pak Purwanto yang capable dan selalu mampu menyelesaikan hal-hal yang rumit seperti ini. Sungguh ia pantas menjadi orang kepercayaannya. Di sisi lain, ia tak ragu dengan kesetiaan Pak Purwanto. Karena, pertama, Pak Purwanto diberinya saham perusahannya cukup besar secara cuma-cuma. Dan kedua, ia memegang kartu as tentang rahasia keluarga Pak Purwanto yang adalah jaminan mutu bahwa tangan kanannya itu tak akan mengkhianatinya. Sehingga kini kedua orang itu betul-betul puas hatinya.
Namun benarkah Pak Purwanto sama sekali tak membuat kesalahan? Ternyata tidak! Karena ternyata ia membuat beberapa kesalahan. Yang pasti, hasil penyelidikannya tentang Liani kurang menyeluruh. Mungkin ia benar bahwa Liani adalah anak orang kaya yang tak bisa dibeli dengan uang. Namun, seperti yang telah kita ketahui, Liani pun juga bukan cewek yang betul-betul “bersih”. Tetapi, kekurangan penyelidikannya itu bisa dimaklumi dan dimaafkan. Karena memang tidak ada narasumber yang bisa dipercaya ditambah bukti otentik yang membuktikan kalau cewek itu “tidak bersih”. Lagipula, buat apa susah-susah menyelidiki Liani yang sukar dijangkau, sementara ada Fanny yang bisa dijangkau, asalkan harganya tepat. Kesalahan yang lebih fatal yang seharusnya tak dilakukan justru dilakukannya terhadap Fanny. Sesampainya di rumah, Fanny menaruh gaun pesta yang baru dikenakan itu dengan hati-hati. Besok akan di-laundry-nya. Ia membeli gaun itu, selain untuk memenuhi keinginan khusus Pak Miskan kliennya tadi juga untuk dipakainya di pesta ulang tahun teman dekatnya minggu depan. Setelah itu ia mengecek sebuah rekaman video dan akhirnya sampailah ia di bagian akhir, yaitu bagian dimana adanya percakapan dua orang. Percakapan itu adalah sebagai berikut,
“Nah, ini saya kembalikan ke Bapak…Silakan diperiksa hasilnya.”
“Wah, betul-betul hebat. Sesuai dengan yang saya inginkan.”
“Jadi saya bisa dapatkan sisanya sekarang juga?”
“Oh, tentu, tentu. Nah ini dia, silakan diperiksa. Jumlahnya pas khan?”
“Ya betul sekali. Jadi transaksi selesai? Kalau gitu saya akan pulang sekarang.”
“Oh tentu. Silakan….Oh ya, omong-omong besok malam saya perlu jasa kamu lagi.”
“Buat dia lagi?”
“Bukan. Buat saya sendiri.”
Ia tersenyum puas. Tak seorang pun yang mengira bahwa mata kalung batu Ruby itu adalah camcoder mini.
—@@@@@@@—–
Di apartemen…
“Ahhh, ahhhhh, ahhhhh.”
“plokk, plookkk, plookkk.”
“Ahhh, ahhhhh, ahhhhh.”
“plokk, plookkk, plookkk.”
Kedua suara yang berbeda itu menyatu dalam waktu yang hampir bersamaan. Itu adalah suara cewek yang mendesah-desah karena disetubuhi. Dan suara yang lain adalah suara beradunya bagian depan tubuh cowok dengan pinggul cewek, karena cowok itu mengocok penisnya ke dalam vagina cewek itu dengan cukup kencang dalam posisi doggy style. Dengan jantan cowok itu meng”overpower” cewek itu yang hanya menuruti saja apa yang dilakukan cowok itu terhadapnya. Membuat cowok itu makin bernafsu untuk menguasai cewek itu dengan mutlak. Kini tangannya meraba-raba payudara cewek itu yang menggantung ke bawah itu. Kedua tangannya menepuk-nepuk payudara cewek itu. Sehingga bertambah lagi paduan suara itu,
“plekk, plek, plekk.”
Apartemen itu adalah apartemen khusus untuk kegiatan short time seperti ini. Cara kerjanya sungguh professional dan praktis. Beberapa apartemen itu berdiri berderet. Apabila pintu garasi terbuka, artinya apartemen itu kosong dan setiap mobil yang ingin check-in bisa langsung masuk. Begitu mobil masuk garasi, petugas apartemen itu langsung menutup rolling door garasi itu. Pemilik mobil langsung membayar ke petugas itu, berapa jam yang ingin ia pakai. Setelah membayar, bisa langsung masuk ke dalam kamar dan memulai “pertempuran”. Di dalam kamar itu ada kamar mandi yang bisa dipakai dan biaya pemakaiannya telah termasuk di dalam uang sewa kamar tadi. Di kamar itu juga disediakan dua botol air mineral, kopi dan teh serta alat air panas dalam teko listrik yang gratis. Setelah selesai “bertempur”, petugas tadi membereskan ranjang, seprei, dll untuk pemakai berikutnya. Setelah itu hitungan lagi mengenai waktu pemakaian dan pembayaran. Setelah semuanya beres, rolling door dibuka, mobil keluar, dan apartemen itu siap menerima customer berikutnya.
Siapakah cewek itu? Ternyata…ia adalah Henny. Namun yang
mengejutkan adalah cowok yang menyetubuhinya di belakangnya itu, karena
ia adalah Kosim, supirnya! Rupanya diam-diam, Henny, putri pengusaha
kaya itu telah menjalin hubungan gelap dengan Kosim, supirnya. Dan
apartemen itu adalah tempat biasa mereka berkencan, seperti yang
dilakukan saat ini. Entah apa yang membuat Henny tertarik kepada Kosim.
Padahal ia adalah seorang cewek yang manis, lemah lembut, dan penurut.
Ditambah pula ia dari keluarga kalangan berada. Sementara Kosim hanyalah
seorang supir. Wajahnya tak bisa disebut cakep. Kulitnya sebenarnya
sawo matang namun kini jadi makin hitam, karena sebelumnya ia pernah
jadi kuli bangunan. Sehingga kontras sekali kalo dibandingkan dengan
kulit tubuh Henny yang putih. Padahal di sekolahnya cukup banyak
cowok-cowok cakep dan dari kalangan berada yang suka dengan dirinya. Dan
hubungan gelapnya itu tak hanya sekedar main peluk atau cium saja, tapi
kini terbukti telah melangkah jauh bagaikan suami istri saja. Padahal
usia Henny baru 18 tahun. Cewek muda cantik lemah lembut dari kalangan
berada bisa jatuh ke tangan seorang supir?! Apalagi Kosim sudah hampir
30 tahun. Dan sebenarnya ia telah berkeluarga. Namun anak dan istrinya
tinggal di desa. Bisa beginian dengan Henny, tentu hal itu sungguh
pelampiasan yang hebat akan hasrat seksual yang telah lama terpendam.
Namun bagi Henny? Seorang anak gadis berusia 18 tahun menyerahkan
dirinya dengan sukarela kepada seorang supir? Dan bagaimana kelanjutan
hubungan terlarang mereka itu? Tentulah serba salah. Karena tidak
mungkin Henny menikah dengan Kosim. Masa gadis muda yang cantik dan
putri pengusaha kaya menjadi istri kedua seorang supir? Namun suka tak
suka, kini Kosim telah mencemari putri majikannya itu. Bahkan dirinya
jugalah yang telah merenggut keperawanan gadis itu. Hebatnya semuanya
itu dilakukan bukan dengan paksaan, tapi gadis itu menyerahkannya secara
sukarela dan menikmatinya juga. Dan pertempuran mereka hari itu
diakhiri dengan Kosim berejakulasi dan menumpahkan seluruh spermanya di
dalam mulut Henny yang seluruhnya ditelan oleh gadis itu. Malah setelah
itu ia masih mengulum kepala penis Kosim yang disunat itu dan
membersihkan sisa-sisa sperma yang menempel disana. Demikianlah
kenyataan yang sebenarnya. Mulutnya boleh berkata bahwa ia punya
standard tinggi mengenai cowok. Namun pada kenyataannya diam-diam Henny,
gadis muda cantik anak pengusaha kaya itu ternyata telah menjadi gundik
supirnya!
—@@@@@@@—–
Di rumah…
Pukul 7 lewat sepuluh menit, ada sms masuk di handphone Liani, isinya,” Gua dah ada di depan.” Liani diam-diam membuka pintu pagar depan rumahnya, dan secara diam-diam pula memasukkan cowok itu ke dalam rumah. Tidak hanya itu, namun juga memasukkan cowok itu ke dalam kamar, yaitu kamar no. 3 yang wastafelnya baru dibetulin. Siapakah cowok itu? Ternyata dia adalah Rohim!
“Kok tiba-tiba lu sms gua tadi memang kenapa?” tanya Liani.
“Ya sehari-hari makan nasi gudeg, boleh dong sekali-sekali makan siomay.”
“Iiih, lu bisa aja deh,” kata Liani.
“Iya nih, gua udah lama ga makan siomay, makanya pengin banget sekarang.”
Anehnya, di dunia ini kadang bisa terjadi hal-hal secara kebetulan. Karena,
“Lianii,” terdengar suara Papinya memanggil dari luar. Untung mereka berdua telah masuk ke dalam kamar.
“Iya Pi.”
“Kamu mau siomay goreng nggak? Papi mau telpon untuk suruh anter.”
“Eh, boleh deh Pi. Aku mau dua biji.”
“OK. Kamu dimana?”
“Aku ada di dalam kamar sini.”
“Ya udah, ntar kalo udah dateng nanti Papi panggil kamu.”
“Eh, nggak usah deh Pi. Aku mau jacuzzi dulu nih. Nanti aku keluar sendiri deh.”
“OK.”
Saat itu Papinya memang sedang di rumah itu juga, ia lagi kerja di ruang kerjanya.
Setelah itu Liani mengisi air di bak jacuzzi-nya itu. Sementara itu, selagi menunggu airnya penuh…Tanpa ba-bi-bu lagi, Rohim menghampiri Liani, memeluknya dan mencium bibirnya. Liani yang memang telah mengenal cowok ini luar dalam dan telah beberapa kali melakukan hubungan intim dengannya, membiarkan saja tindakan cowok itu. Ia membiarkan cowok itu dengan penuh nafsu menjelajahi seluruh bagian bibirnya. Begitu pula saat lidah cowok itu bermain-main di dalam mulutnya. Cukup lama mereka berdiri sambil berpelukan seperti itu, sementara bibir Rohim memagut dan mengunci bibir Liani. Saat itu Liani memakai daster terusan yang tipis kainnya dan agak longgar dan punggung bagian atas terbuka. Saat Rohim memeluk punggung Liani, kedua tangannya menyentuh tali bra di punggung itu. Sambil iseng ia menggerakkan tangannya untuk melepas pengait bra di punggung cewek itu. Dan, seketika terbukalah pengait itu. Saat itu ia masih sedang asyik menciumi bibir Liani juga. Setelah ia menghentikan ciumannya dan melepaskan pelukannya dari Liani, otomatis bra yang telah terbuka kaitannya itu jadi longgar. Rohim menggoyang daster Liani satu kali…namun ternyata cukup ampuh, karena berkat goyangannya itu bra di dada Liani itu terlepas dan langsung turun jatuh ke lantai, hal ini terjadi di dalam daster longgar itu. Rohim tersenyum-senyum melihat itu.
“Wah, kok bisa gitu ya?! Hebat, hebat.”
“Apanya sih yang lucu?” kata Liani cemberut karena cowok itu seperti sengaja mempermainkan dirinya.
Namun wajah Liani yang cemberut itu makin menambah kecantikannya, apalagi kini ia sudah tidak memakai bra. Daster tipis itu mana bisa menutupi payudaranya yang indah. Di kain tipis itu tercetak kedua putingnya yang menonjol dan dadanya yang bergerak-gerak. Cewek bertampang cakep innocent namun tidak memakai bra?! Sungguh itu adalah hal yang kontradiktif dan jaminan mutu cowok yang melihatnya sudah pasti mupeng abis. Apalagi bagi cowok seperti Rohim, yang masih menganggap Liani cewek high class yang lebih tinggi derajatnya dibanding dirinya.
Saat itu Liani hendak protes dan mengatakan sesuatu, namun Rohim tak memberinya kesempatan. Karena ia segera kembali mengunci bibir cewek itu dengan bibirnya sambil tangannya mulai meraba-raba tubuh cewek itu. Sampai akhirnya disentuhnya payudara Liani. Diraba-rabanya payudara indah cewek itu yang sampai sekarang masih membuatnya tergila-gila itu. Meski tangannya masih di luar daster, tapi ia bisa merasakan kulit tubuh cewek mulus itu. Demikian pula ia bisa merasakan degup jantung cewek itu yang berdetak makin kencang. Dengan lembut diusap-usapnya dada cewek itu. Lalu tangan Rohim menyusup masuk ke dalam daster Liani. Ia melepas celana dalamnya. Kemudian ia membuka celananya sendiri dan melepas celana dalamnya juga. Lalu ia menyuruh Liani berbaring di ranjang. Namun dengan halus Liani menolaknya, ia berkata,
“Eh, airnya kayaknya udah penuh sekarang.”
“OK,” kata Rohim sambil melepas seluruh bajunya. Liani agak tersipu melihat penis cowok itu yang hitam telah menegak dengan keras. Lalu Rohim hendak melepas daster yang masih melekat di tubuh Liani. Namun Liani memprotesnya,
“Kita kesitu dulu aja,” katanya sambil menunjuk ke arah kamar mandi.
“Iya memang kita kesitu dulu. Tapi khan daster lu ini harus dilepas dulu,” katanya sambil kedua tangannya langsung berusaha menanggalkan daster itu dari tubuh cewek itu.
Kali ini Liani tak menolak. Dibiarkannya cowok itu melepaskan daster yang menjadi penutup tubuhnya itu. Saat itu Rohim berdiri di belakang Liani saat ia menanggalkan daster itu. Namun ia melakukan itu di depan cermin meja rias yang besar. Sehingga ia bisa melihat sedikit tubuh putih mulus Liani saat terkuak sedikit demi sedikit, sampai akhirnya, gadis itu telanjang bulat tanpa selembar benang pun melekat di tubuhnya. Semuanya itu bisa dilihatnya dari pantulan cermin itu. Setelah itu ia memegang punggung gadis itu dan mendorongnya menuju ke kamar mandi. Nampak kontras sekali perbedaan tubuh keduanya. Tubuh Liani yang putih halus. Badan Rohim yang hitam dan kasar. Tubuh Liani yang ramping namun bagian-bagian tertentu menonjol dengan indah. Badan Rohim yang tegap namun rata. Puting Liani yang kemerahan di puncak payudaranya sungguh indah sekali. Bagaikan buah ceri yang ditaruh diatas ice cream vanilla. Mmmhh, sungguh lezat rasanya.
Ternyata memang benar, air jacuzzi itu telah cukup penuh. Sehingga keduanya masuk ke dalam bak besar itu untuk merendam tubuh di dalam air hangat itu. Untuk beberapa saat mereka merendam dirinya dan menikmati hangatnya air dan semprotan air jacuzzi itu, tanpa aksi apa-apa. Malah sempat penis Rohim mengendur dan kembali ke posisi “tidur”. Namun setelah itu kembali mereka berdua melakukan aksi-aksi yang hot, terutama Rohim yang dengan mudah menjadi terangsang melihat tubuh indah Liani yang telanjang bulat di dalam air. Kembali ia menciumi bibir Liani dengan penuh nafsu, dan kali ini Liani juga membalasnya dengan tak kalah hot-nya. Mereka berdua saling berpagutan di dalam kolam jacuzzi itu, dan mereka saling berciuman diatas permukaan air dan juga di bawah permukaan air. Kemudian ciuman Rohim turun ke bawah, ke leher Liani yang putih, dan turun ke bawah lagi, ke dadanya! Ia menciumi kedua dada cewek itu dengan nafsu. Apalagi Liani sengaja menaik-turunkan tubuhnya, sehingga kadang Rohim menjilati dan mengenyot-ngenyot payudaranya di bawah air. Setelah itu Rohim malah turun ke bawah, melewati perut, paha, sampai akhirnya di sekitar vagina Liani. Kembali ia menjilat-jilat liang vagina serta klitoris Liani. Dengan mudah ditemukannya klitorisnya karena sudah tak asing lagi bagi cowok berpengalaman seperti dirinya. Lagi-lagi kepala Rohim menyelam di bawah permukaan air untuk menjilati vagina Liani. Sambil secara periodik Liani mengangkat tubuh bagian bawahnya ke atas permukaan air sehingga Rohim mampu mengambil nafas, sebelum ia kembali menurunkan tubuhnya ke bawah permukaan air. Sehingga beberapa saat lamanya Rohim melakukan itu, lidah dan mulutnya tak pernah terlepas dari vagina Liani.
Kini giliran Liani yang membalas budi. Kali ini Lianilah yang mengulum-ngulum, menyedot-nyedot, dan menjilati penis Rohim. Sambil menikmati penisnya di dalam mulut Liani, Rohim memegangi kepala gadis itu. Seolah untuk memastikan cewek itu untuk terus “membahagiakan” penisnya. Sesekali kepala Liani muncul ke atas permukaan air untuk mengambil nafas, setelah itu menyelam ke dalam lagi. Namun pernah juga Liani ingin mengangkat kepalanya, namun tangan Rohim tetap memegang kepala gadis itu. Seolah memaksa cewek itu untuk terus meng-oral penisnya. Sampai akhirnya Liani memberontak dengan keras dan akhirnya berhasillah ia mengangkat kepalanya dengan napas tersengal-sengal. Demikian hal itu berlangsung beberapa kali. Rupanya Rohim sengaja menggodanya. Namun sesekali melihat Liani tersengal-sengal begitu, ia membantunya dengan memberikan napas bantuan dengan mulutnya. Setelah itu mereka berpindah posisi. Kali ini Rohim sudah tak sabar lagi untuk melahap menu utamanya. Ditidurkannya Liani telentang di dalam bak itu. Kepalanya bersandar di dinding bak itu tentunya di atas permukaan air. Sementara kedua kakinya dibuka lebar di bawah air. Lalu ia mendekatkan dirinya ke Liani yang telentang, didekatkan penisnya di depan liang vaginanya, dan bleesssh, dimasukkannya penisnya ke dalam vagina Liani di bawah permukaan air. Kemudian dikocok-kocoknya penisnya mengoyak-ngoyak vagina Liani.
“Oooh….ohhhhh…..ohhhhh…..ohhhhh….” Liani langsung mendesah-desah dibuatnya.
Lalu dicabutnya penisnya. Kedua kaki Liani diangkat keatas dan dibuka lebar-lebar, sehingga membentuk huruf V, lalu kembali dimasukkan penisnya ke dalam vagina gadis itu di bawah permukaan air dan dikocoknya tubuh gadis itu.
“OOhhhh….ohhhhhhhhh…..ooooohhhhhh……oohhhhhhhhh….” Liani mendesah-desah semakin keras. Karena dalam posisi itu, rasanya penis Rohim jadi menghunjam masuk makin dalam ke dalam vaginanya. Rohim yang melihat Liani mendesah-desah makin keras dan makin tinggi itu jadi semakin semangat menghunjam-hunjamkan penisnya. Dan gerakannya itu semakin cepat dan kuat. Sehingga seluruh tubuh Liani jadi bergoyang-goyang dibuatnya, baik yang di bawah permukaan air maupun yang di atas.
“AAhhh….aaahhhh…..ahhhhhh..aaaahhhhh…..”
“Aaahhh…aaahhhhhh….aaaahhhhhh……aaaaahhhhhh….”
Sementara pada saat itu, Papinya Liani mengetuk-ngetuk pintu kamar itu.
“Lianii,” Tok-tok-tok.
“Lianii,” Tok-tok-tok.
Namun Liani tak mendengar itu karena ia sedang asyik di dalam kolam jacuzzi itu.
“Aaahhh…aaahhhhhh….aaaahhhhhh……aaaaahhhhhh….”
Sementara Rohim juga tak mendengar itu karena ia sedang asyik-asyiknya menyetubuhi Liani yang sexy dan menggairahkan itu.
“Ah, lagi ngapain sih tuh anak, masa diketuk-ketuk dan dipanggil-panggil keras-keras gini juga nggak kedengeran,” kata Papinya Liani sambil akhirnya meninggalkan kamar itu.
Tentu Liani tak mendengar ketukan dan panggilan itu, karena justru saat itu ia akhirnya mengalami orgasme, orgasme yang pertama dialaminya di bawah permukaan air!
Mengetahui Liani telah mendapat orgasmenya, Rohim jadi tersenyum puas. Sungguh cewek ini bisa membuat cowok seperti dirinya bangga, padahal ia sendiri masih belum setengah jalan. Lalu ia memijiti tubuh Liani yang membuat cewek itu keenakan, apalagi saat bagian-bagian sensitifnya dipijit-pijit. Setelah itu gantian Liani yang memijiti Rohim. Namun Rohim tidak ingin Liani memijiti dirinya dengan kedua tangannya. Ia menyuruh Liani memijiti tubuhnya dengan menggunakan payudaranya! Sehingga kini payudara Liani yang putih menempel dan memijit-mijit hampir seluruh tubuh Rohim yang hitam. Terakhir Rohim menyuruh Liani memijit penisnya yaitu dengan menggesek-gesekkannya di tengah-tengah belahan dadanya. Pada saat mereka berdua saling memijit itu, Liani menuangkan sejumlah sabun cair. Sehingga kini bak jacuzzi itu jadi lebih licin dan diatas permukaan air muncul busa sabun yang membumbung cukup tinggi.
Setelah itu Liani membuang air di dalam bak itu sehingga bak itu kini jadi kosong dan keduanya membilas tubuh mereka yang penuh dengan sabun. Setelah tubuh keduanya bersih, kembali Rohim menyetubuhi Liani, kali ini dalam posisi missionaris. Namun bak itu masih agak licin, sehingga tubuh Liani yang berada di bawah jadi tergerak mundur setiap kali Rohim menyodoknya. Lalu ganti posisi ke Cowgirl Position. Rohim tidur telentang di dasar bak, dan Liani duduk dan naik di atas penis Rohim yang menembus vaginanya. Dan, Liani mengocok-ngocok tubuhnya naik turun. Setelah itu, Rohim mengajak Liani pindah tempat ke kamar, tepatnya di atas ranjang, yang dituruti oleh Liani. Setelah keduanya mengeringkan tubuh dengan handuk, keduanya masuk ke dalam kamar dengan masih telanjang bulat, dan penis Rohim masih tetap terus menegang sepanjang jeda itu. Mula-mula mereka melakukan posisi Doggie Style, di atas ranjang empuk itu. Setelah itu Rohim mengajak melakukan posisi yang unik, yang belum pernah dilakukan sebelumnya, dan sekarang ingin dipraktekkan terhadap Liani, yaitu posisi Butterfly. Liani tidur telentang dengan pinggulnya pas berada di tepi ranjang. Rohim mengangkat kedua kaki Liani ke atas sehingga tubuh Liani ditekuk 90 derajat seperi huruf L dengan pinggulnya sebagai titik temunya. Sehingga liang vagina Liani terbuka di tengah kedua kakinya. Rohim segera memasukkan penisnya ke vagina Liani dan mengocok-ngocok penisnya. Sementara kedua kaki Liani yang naik ke atas kini disandarkan di dada dan bahu Rohim. Sehingga nampaklah pemandangan indah perpaduan antara yin dan yang, Liani yang bertubuh putih menyatu dengan Rohim yang bertubuh hitam. Saat Rohim memaju-mundurkan pinggulnya untuk mengocok penisnya di dalam vagina Liani, tubuh Liani jadi berguncang-guncang, terutama payudaranya yang jadi berputar-putar dibuatnya. Liani ingin mendesah keras-keras, karena posisi itu sungguh memberikan sensasi yang berbeda. Namun ia ingat kalau saat itu ia di dalam kamar, yang tentunya bisa terdengar oleh Papinya. Karena itu ia hanya berani melenguh-lenguh pelan. Namun ekspresi wajahnya menunjukkan kalau ia merasakan kenikmatan yang luar biasa.
Pada saat itu,
“Lianii.” Tok-tok-tok
Ah sialan, gerutu Liani, mengganggu saja.
“Lianiii.” Tok-tok-tok
Ah, cuekin ajalah, batin Liani.
“Lianiii.” Tok-tok-tok
(“ahh..ahhh..ahhh…”) Liani mengeluarkan ekspresi wajah yang mendesah-desah karena saat itu Rohim masih terus menyetubuhi dirinya, namun tanpa suara karena takut ketahuan Papinya yang saat itu berdiri di depan pintu kamarnya.
Dan untunglah, itulah ketukan dan panggilan yang terakhir, karena ia mendengar suara langkah kaki yang berjalan menjauhi pintu kamarnya. Sehingga kini ia bebas merdeka.
(“ahh..ahhh..ahhh…”)
….
….
Namun ternyata kali ini Liani salah perhitungan. Karena saat itu Papinya kembali mendatangi kamarnya. Dan kali ini tanpa mengetuk atau memanggilnya lagi, terdengar suara kunci yang dimasukkan di dalam knob pintu kamar itu, diputar..dan, klik, terbukalah kuncinya.
Dengan panik Liani berteriak,” Papiii, jangan masuk, aku lagi nggak pake baju!!”
Namun terlambat! Karena saat ia tengah bicara, knob pintu itu telah diputar, terbukalah pintu kamar itu, dan Papinya Liani melangkah masuk!!
Padahal saat itu Liani sedang telentang telanjang bulat di atas ranjang dan sedang disetubuhi oleh Rohim dalam posisi Butterfly!!!
“Papi jangan kesini! Aku lagi telanjang bulat!!” teriak Liani lagi histeris. Memang ia tak bohong dalam hal ini. Namun tak bisa dibayangkan betapa kagetnya Papinya melihat putri kesayangannya itu sedang telanjang bulat karena sedang disetubuhi cowok rendahan dan tak dikenal!
Tapi, untunglah, Papinya tak sampai melihat itu. Karena pintu kamar itu membuka ke arah tembok. Sehingga meski Papinya telah membuka pintu dengan cukup lebar dan ia telah melangkahkah satu kakinya ke dalam kamar, namun ia tak sempat melihat apa yang terjadi di tengah kamar itu karena pandangannya terhalang pintu itu. Ia masih sempat menghentikan langkahnya saat Liani pertama kali berteriak mengatakan kalau dirinya tidak memakai baju. Tentu ia tak ingin melihat putrinya sendiri dalam keadaan telanjang, apalagi telanjang bulat seperti yang dikatakan setelahnya.
“OK, OK, Papi nggak akan masuk. Kenapa dari tadi kamu nggak menjawab waktu Papi panggil? Khan Papi jadi khawatir kalo kamu ada apa-apa di dalam. Makanya Papi membuka pintu kamar pakai kunci.”
“Tadi aku di kamar mandi berendam sambil dengerin musik, Pi, jadi nggak kedengaran.”
“OK, kamu nggak apa-apa khan?”
“Ya nggak apa-apa lah Pi. Eh, Papi, ngomongnya nanti aja deh dan pintunya tolong ditutup lagi dong. Nggak enak nih. Khan aku lagi nggak pake baju.” Liani khawatir juga kalau-kalau Papinya melongok ke dalam. Ibaratnya, untuk kesana hanya perlu satu langkah kaki lagi. Pada saat itu ia tak takut Papinya melihatnya telanjang bulat. Tapi ia sungguh takut Papinya melihat dirinya dalam posisi Butterfly itu! Sementara Rohim kini diam tak bergerak, artinya penisnya masih masuk menembus di dalam vaginanya. Karena kalau ia bergerak, salah-salah malah menimbulkan suara yang mencurigakan. Sehingga seandainya Papinya saat itu melangkahkan satu kakinya ke depan lagi, maka tamatlah riwayat Liani!
“OK, sorry, sorry,” kata Papinya lagi,” Ya udah Papi tutup dan kunci lagi ya pintunya,” katanya sambil melangkah balik, mengunci knob pintu itu dan menutupnya kembali.
Oh, leganya, batin Liani.
Dan, (“ahh..ahhh..ahhh…”) kembali Liani melanjutkan mendesah-desah tanpa suara karena setelah itu Rohim kembali melanjutkan aksinya.
Sehingga kini Liani betul-betul bebas dari gangguan.
….
(“ahh..ahhh..ahhh…”)
(“ahh..ahhh..ahhh…”)
(“ahh..ahhh..ahhh…”)
….
….
Setelah itu mereka berganti posisi. Liani berbaring telentang di tengah ranjang. Kedua kakinya ditekuk ke atas. Sementara Rohim duduk bersimpuh di depannya, kedua kakinya ditekuk. Kedua kaki Liani disandarkan di bahu Rohim. Kedua tangannya memegang pantat Rohim. Sementara kedua tangan Rohim memegang bahu Liani. Lalu dalam posisi itu, ia memasukkan penisnya ke dalam tubuh Liani.
Shleeb…shleeeb…shleebb
(“Ooohhhh…ohhhhhhhh….ohhhhhh)
….
….
Rohim terus menerus mengocok penisnya dalam posisi ini. Sampai akhirnya tibalah orgasme kedua Liani setelah dikocok-kocok beberapa menit lamanya dalam posisi agak unik itu. Setelah itu Rohim mencabut penisnya. Kini Liani duduk di tepi ranjang. Rohim mendekatkan penisnya ke wajah Liani. Liani mengulumnya kembali beberapa saat lamanya. Sampai setelah akan ejakulasi, Rohim mengeluarkan penisnya dan, crottzzz, crottz, crotz…menyemprotkan air maninya itu yang mendarat ke berbagai tempat di rambut dan wajah Liani. Sehingga mukanya yang cakep dan innocent kini jadi belepotan sperma Rohim. Apalagi banyak yang kemudian mengalir turun ke bawah membasahi pipi lalu turun ke leher dan dadanya. Sementara rambutnya yang terkena cipratan air mani itu kini jadi basah dan lengket-lengket. Tak lama kemudian, Liani membersihkan wajah, rambut, dan tubuhnya dari sperma Rohim. Setelah itu, ia dengan sembunyi-sembunyi mengeluarkan Rohim dari rumahnya tanpa sepengetahuan siapa pun. Sehingga akhirnya keluarlah Rohim dengan selamat dengan hati yang sungguh puas karena malam itu ia berhasil menikmati “siomay” yang diincarnya. Sementara Liani pun juga puas karena Rohim telah membuatnya orgasme dua kali. Setelah itu, barulah ia memakan siomay goreng itu karena saat itu dirinya telah cukup lapar.
—@@@@@@@—–
Di airport…
Orang itu dengan semangat menggebu-gebu menjelaskan saat diwawancarai oleh wartawan,
“Saya mendukung UU Pornografi dan Pornoaksi! Karena negara kita telah makin rusak akhlaknya. Banyak sekali generasi muda kita yang karena pengaruh budaya Barat yang negatif, melakukan hubungan seks bebas pra nikah, juga banyak sekali gadis-gadis muda yang hamil diluar nikah, atau pun yang terlibat di bisnis prostitusi. Dengan UU itu maka harkat dan martabat wanita akan dijunjung tinggi. Oleh karena itu saya sangat mendukung UU ini.”
“Selain itu saya juga mendukung pemberantasan KKN sampai ke akar-akarnya. Karena KKN hanya menguntungkan segelintir orang tapi menyusahkan rakyat banyak.”
“Dan untuk memperbaiki keadaan negara yang bobrok ini, demi rakyat banyak, saya akan mencalonkan diri menjadi presiden di pemilu yang akan datang.”
Dan orang itu adalah Pak Miskan.
—@@@@@@@—–
Di sekolah…
Liani, Henny, dan Fanny lagi ngumpul bareng sambil makan baso. Pada saat itu ada seorang cowok yang sedang mencuri-curi pandang ke arah mereka bertiga. Ia adalah Dadung, yang meskipun murid SMU situ juga, tapi berbeda golongan dengan mereka bertiga. Ia termasuk golongan rendah baik dari segi pergaulan, tampang, latar belakang keluarga, juga prestasi sekolah. Bahkan bisa jadi ia masuk ranking lima besar dari bawah.
“Eh, lu perhatiin ga, tuh cowok dari tadi ngeliatin kita terus,” kata Fanny.
“Iya gua juga ngeliat. Anak kelas berapa sih dia?” tanya Liani.
“Mana gua tahu. Emang gua pikirin,” kata Henny,” Cowok kayak gitu mah,” katanya dengan nada merendahkan.
“Nggak kelas ya Hen, dengan kita-kita,” kata Fanny.
“Iya dong. Jelas itu,” kata Henny.
“Yuk ah, kita pergi aja dari sini,” kata Liani.
“Eh, lu orang kemarin malam ngapain aja?” tanya Henny ke dua orang temannya saat mereka berjalan balik menuju kelas.
“Semalem gua nemenin bokap,” kata Fanny,” Dia dateng kesini kemarin sore. Lumayan, gua dikasih uang saku cukup banyak.”
“Wah, enak banget lu. Kalo gua semalem merendam diri di bak jacuzzi gua setelah itu makan siomay goreng yang enak banget,” kata Liani.
“Kalo lu sendiri ngapain?” tanya Fanny kepada Henny.
“Ah, gua sih kayaknya paling boring dibanding lu berdua deh. Semalem gua cuman tiduran aja di kamar.”
Demikianlah cerita yang menyangkut tentang cewek-cewek dan orang-orang yang kelihatannya alim, namun ternyata semuanya tidak ada yang benar. Cerita-cerita tentang kenikmatan, yang terjadi di balik kealiman dan kemunafikan.
END
Liani sedang sibuk mengemasi tas sekolahnya. Ia memasukkan semua buku-buku pelajarannya ke dalam tasnya. Karena saat itu proses belajar mengajar telah berakhir. Tiba-tiba ada tangan yang memegang bahunya dari belakang dan berkata,”Gimana, nanti sore jadi khan?”
Liani agak terkejut dan seketika menoleh ke belakang,”Ah, elu. Bikin kaget orang aja,” serunya. Ternyata Henny, salah satu teman dekat Liani yang sekelas juga dengannya.
“Hihihi, makanya jangan melamun aja. Gimana jadi nggak?”
“Gua sih ok ok aja, tapi Fanny gimana? Dia bisa nggak?”
“Justru dia suruh gua tanya lu. Gua barusan udah ngomong sama dia. Dianya sih ok.”
“Kalo gitu ya udah dijadiin aja.”
“Sip deh. Ntar gua bilangin ke Fanny. Kalo gitu sampai ketemu ntar jam 3 ya.”
“OK.”
Tak lama kemudian Fanny menghampiri mereka berdua. Dan kini mereka bertiga berjalan pulang meninggalkan kelas itu bersama-sama. Sambil bercanda dan tertawa-tawa seperti umumnya gadis muda seusianya mereka. Tak lama kemudian berpisahlah mereka bertiga. Liani dan Fanny berjalan ke arah mobilnya masing-masing. Sementara Henny membuka pintu kursi belakang mobilnya yang supirnya telah menunggu sejak sepuluh menit yang lalu.
—@@@@@@@—–
Di kolam renang…
Di antara sekian banyak pengunjung kolam renang saat itu, ada tiga cewek yang sedang berenang sambil sesekali bercakap-cakap di tepi kolam. Mereka adalah Liani dan dua teman sekelasnya tadi yaitu Fanny dan Henny. Tadi siang di sekolah mereka janjian untuk berenang bersama disini. Setelah beberapa saat berenang dan merendam tubuh di dalam kolam, akhirnya naiklah ketiganya dari kolam renang untuk duduk-duduk sambil ngobrol di tepi kolam. Saat mereka bertiga naik dari kolam renang itu, beberapa pasang mata memandangi mereka. Tentu mereka yang memandangi adalah cowok-cowok, baik muda maupun agak tua, yang tak mau melewatkan pemandangan indah tiga cewek muda yang keluar dari dalam kolam renang. Karena ketiganya sama-sama cakep, sama-sama putih, dan sama-sama sexy dengan daya tarik yang khas masing-masing. Apalagi tubuh mereka hanya dibalut dengan pakaian renang yang melekat di tubuh. Membuat lekuk liku figur tubuh mereka tercetak dengan jelas. Sementara seluruh bagian tangan dan kaki termasuk sampai ke pangkal paha, yang biasanya tertutup pakaian kini terbuka jelas semuanya. Bagian pinggul dan dada mereka nampak menonjol, yang meski berbeda-beda ukurannya, namun ketiganya sungguh membuat mupeng cowok-cowok itu. Membuat mereka membayangkan dan menduga-duga bagian tubuh penting yang masih tertutup baju renang itu.
Liani memakai baju renang warna hitam dengan corak warna warni yang kontras dengan kulitnya yang putih. Wajahnya cantik khas oriental dan innocent. Nampak ia seperti cewek alim yang baik-baik. Rambutnya dicat agak kecoklatan dan sedikit berombak panjangnya kira-kira sebahu, namun tak kelihatan karena ia memakai topi renang. Sementara bodi tubuhnya cukup sexy. Dadanya nampak menonjol, memang ukuran bra-nya 34C. Membuat cowok yang melihatnya menjadi gemas. Ingin rasanya untuk menikmati ke-innocent-annya dan membuatnya tidak innocent lagi. Wajah Fanny juga cakep. Namun kecantikannya berbeda dengan Liani. Ia sepertinya adalah cewek keturunan Chinese juga tapi dengan ada sedikit campuran Arab (mungkin 1/8 kali). Matanya lebar, hidungnya cukup mancung dan garis wajahnya agak “tajam” membuat kecantikan wajahnya nampak eksotis. Bodinya juga sexy, bahkan pinggul dan dadanya paling menonjol dari ketiganya. Mungkin ukuran dadanya 34D. Tampangnya sungguh
menggairahkan. Rambutnya yang ikal bergelombang seharusnya agak panjang, kira-kira sama panjang dengan rambut Liani, namun rambutnya itu digulung dan diikat di kepalanya. Diantara ketiganya, Henny mempunyai tubuh yang paling “datar”. Namun tak berarti ia tidak sexy dan menarik. Wajahnya yang putih dengan bibirnya indah dengan tahi lalat di bawah bibir sebelah kiri, membuatnya tampak manis. Tampangnya juga menunjukkan kalau ia cewek baik-baik meski wajahnya tak sepolos Liani. Rambutnya dipotong pendek, sehingga ia tak perlu menutup atau mengikat rambutnya. Nampak tonjolan di dadanya yang tak sebesar milik kedua temannya. Kira-kira ukuran dadanya 34B. Tentu ia adalah seorang gadis cantik dengan daya tariknya tersendiri. Apalagi wajahnya menunjukkan sepertinya ia adalah tipe cewek yang “patuh” dengan apa pun kemauan cowoknya di ranjang. Tentu banyak cowok yang suka dengan tipe cewek seperti ini.
Setelah ketiga cewek itu naik ke atas dan sampai di tempat duduk di bawah payung besar yang mengembang itu, sebagian besar cowok yang tadinya menatap mereka, kini mulai melanjutkan aktivitasnya masing-masing. Namun ada dua orang bapak-bapak umur 40 atau awal 50-an yang sedang duduk di dekat mereka, nampak cool dengan kacamata hitamnya. Namun sebenarnya sejak tadi pandangan mata keduanya menatap mereka bertiga terus-menerus. Bahkan sampai sekarang, pandangan matanya jelalatan dengan bebasnya seperti menggerayangi sekujur tubuh mulus ketiga cewek itu. Sementara itu ketiga cewek itu sepertinya tak tahu atau tak mempedulikan dua orang bapak-bapak itu. Saat itu Fanny dan Henny telah duduk di kursi, sementara Liani masih berdiri di dekat kursinya. Liani melepas topi renangnya, dan terurailah rambutnya yang panjang berombak yang basah itu. Lalu ia menyibakkan rambutnya dengan kedua tangannya. Pada saat melakukan itu, tentu otot dadanya tertarik dan dadanya nampak makin menonjol. “Wow, bukan main. Lihat itu Pak,” bisik seorang bapak itu kepada temannya dengan mata melotot dan tampang mupeng memandang Liani. Saat itu Liani telah duduk dan mengobrol dengan kedua temannya. Kedua tangannya dilipat di bawah dadanya, membuat payudaranya agak tertekan ke atas dan terlihat makin menonjol. Sementara kedua kakinya disilangkan.
“Ckckck..mulusnya,” bisik bapak yang tadi berbicara. “Sepertinya hari ini saya butuh teman nih, Pak Tono,” katanya sambil menoleh ke rekannya dengan tersenyum mesum.
“Wah, Pak Miskan lagi mupeng rupanya. Baik, saya akan segera telpon Pak A-lok minta supaya disediakan yang sesuai dengan selera Bapak. Buat nanti malam Pak? Atau sore ini?” tanya bapak yang dipanggil Pak Tono tadi.
“Bukan. Kamu salah mengerti maksud saya. Saya tidak ingin disuguhi ayam-ayam kampus kelas rendahan itu. Saya tertarik sama cewek itu. Bisa tolong di-arrange, Pak Tono? Saya ingin booking cewek itu,” katanya sambil jarinya menunjuk ke Liani.
“Hah? Wah, Bapak bercanda rupanya. Cewek kayak gitu mana bisa di-booking. Dia sepertinya bukan cewek booking-an. Kalau nggak nanti saya minta A-lok untuk nyediain yang lebih tinggi kelasnya. Bapak maunya seperti apa? Yang “panlok” seperti dia juga ada, atau mau panda impor? Apa yang dari Uzbekistan?”
“Saya nggak mau yang professional seperti mereka. Sudah bosan saya. Saya mau yang masih fresh dan muda seperti dia. Atau kedua temannya juga boleh. Bilang sama A-lok, kalo nggak bisa nyediain yang seperti itu, nanti saya laporkan ke Pusat mengenai penyimpangan kredit perusahaannya. Mengerti?”
“Iya, iya. Baik Pak. Nanti saya suruh A-lok sediain yang bagus buat Bapak. Tapi nggak harus mereka khan Pak? Yang setara dengan mereka juga boleh khan? Yang penting saya catat kemauan Bapak, bukan yang professional. Nanti saya kasih tahu A-lok. Tapi mungkin nggak bisa hari ini Pak. Tolong kasih waktu beberapa hari. Gimana Pak?”
“Ah, kamu ini bagaimana sih. Kok service-nya seperti ini.”
“Soalnya kita harus cari informasi dulu, apakah cewek itu bisa di-booking. Kalau nggak, harus cari penggantinya yang setara. Khan Bapak maunya yang bagus? Kita sediain yang bagus buat Bapak, karena itu butuh sedikit waktu Pak,” kata Pak Tono setengah memohon.
“Hmm, baiklah. Saya disini sampai hari Sabtu pagi. Jadi kamu ada waktu dua hari untuk nyediain yang bagus buat saya. Bilang sama A-lok kalau dia nggak becus nanti saya laporkan penyimpangan perusahaannya. Dan ingat, kalau itu yang terjadi, kamu juga ikutan kena. Mengerti?”
“Iya, ba-baik Pak,” kata Pak Tono.
“Dan ingat,” katanya lagi,” Saya maunya sama cewek yang pake baju renang hitam dan duduk menghadap saya itu. Itu preference utama saya. Kalau nggak bisa, temannya pun juga boleh. Kalau nggak bisa juga, saya minta yang setara. Ras tidak masalah, tapi saya mau yang high class. Juga yang masih muda anak SMU atau baru kuliah gitu, yang cantik, dan juga sexy seperti mereka. Tapi ingat, jangan sampai-sampai berani ngasih yang professional atau yang low class ke saya. Mengerti? Nah, untuk malam ini kalau nggak bisa nyediain yang seperti itu, boleh kasih dulu yang professional. Saya mau yang Uzbek. Tapi harus yang cakep dan sexy.”
“Siap Pak. Ditanggung beres Pak.”
Sementara dua bapak tadi membicarakan transaksi kotor yang menyangkut diri mereka, ketiga cewek tadi sedang asyik berbincang-bincang. Namun naluri wanita rupanya cukup peka juga. Meski tak bisa mendengar tapi bisa merasakan juga. Karena saat itu Henny tiba-tiba menukas,
“Eh, lu orang ngerasa nggak sih, dua bapak itu kok sepertinya memandangi kita sambil berbisik-bisik.”
“Iya, gua juga ngerasa gitu dari tadi,” kata Fanny.
“Iya sama, gua juga. Tapi kata gua sih, cuekin aja lah. Selama nggak ngeganggu kita,” kata Liani.
Saat itu Pak Miskan masih jelalatan matanya di balik kacamata hitamnya. Pandangannya bolak-balik menatap ketiga cewek itu terutama Liani. Sementara Pak Tono telah melepas kacamatanya. Dan sama dengan rekannya, matanya juga memandangi mereka. Namun bedanya, Pak Tono berusaha menangkap pandangan mata mereka.
“Nggak ngegangguin gimana, matanya memelototi kita begitu. Hiih, mengerikan,” kata Henny sambil tubuhnya bergidik.
“Iya, nih. Mungkin kiranya kita cewek gampangan kali,” kata Fanny dengan suara agak keras dan pandangan agak kesal,” Yuk, kita cabut aja dari sini. Jangan-jangan ntar nyamperin dan kita ditawar lagi.”
“Ah, masa sih sampai begitu. Kita cuekin aja lah,” kata Liani paling tenang diantara mereka.
“Bukan begitu. Ntar orang jadi mikir yang nggak-nggak ke kita. Kalo gitu khan kita sendiri yang rugi, meskipun kita nggak ngelakuin kayak gitu,” kata Fanny.
“Iya gua setuju sama Fanny. Yuk kita cabut aja dari sini,” kata Henny.
“Kalo lu berdua mau cabut, ok deh gua nurut aja,” kata Liani akhirnya.
Tak lama kemudian berdirilah ketiga cewek itu dan meninggalkan tempat itu sambil membawa handuk dan barang-barang lainnya. Saat itu Pak Tono juga ikutan berdiri. Ah, sayang sekali, gumamnya. Sebenarnya ia ingin nyamperin mereka, tapi ternyata mereka keburu kabur duluan. Rupanya mereka pergi beli minuman dulu sebelum akhirnya berjalan masuk ke ruang mandi dan ganti cewek. Di saat mereka sedang duduk dan minum, mereka tak menyadari kalau ada yang mengambil foto-foto diri mereka dari jarak agak jauh.
Tak lama kemudian mereka bertiga masuk ke ruang ganti cewek. Saat itu mereka bertiga dalam keadaan telanjang bulat sedang asyik-asyiknya mandi, sementara di luar sana ada orang yang berbicara melalui telepon. Rupanya adalah Pak Tono.
“Pak A-lok. Ada masalah penting yang perlu dibicarakan.”
“Ah Pak Supartono. Bagaimana Pak, semuanya lancar? Dia setuju?”
“Sebenarnya sudah setuju Pak. Tapi si Boss mendadak ada permintaan tambahan nih Pak. Makanya ini saya telpon Pak A-lok.”
“Ooh, permintaan apa Pak?”
“Apa lagi kalo bukan cewek.”
“Ooh itu, gampang. Biar nanti saya suruh Purwanto yang beresin aja. Tinggal bilang aja mau minta yang seperti apa.”
“Eh, tapi ini lain Pak. Si Boss barusan liat satu cewek muda dan cakep di sini dan dia mau “pake” cewek itu. Padahal kalo saya lihat, dia bukan tipe cewek booking-an. Malah kayaknya dia masih SMU dan anak baik-baik juga sepertinya dia dari keluarga kaya. Mana bisa dipake gitu.”
“Yah, tapi penampilan kadang bisa menipu, Pak. Coba Pak Tono kalau bisa ambil fotonya, lalu kirim ke saya, nanti saya suruh orang saya selidiki background-nya. Siapa tahu bisa dipake atau syukur-syukur malah bisa dipake ga usah dibayar.”
“Sudah Pak. Sudah saya ambil foto-fotonya. Sebenarnya tidak hanya satu Pak, tapi tiga orang. Setelah ini akan saya kirim ke Bapak semuanya. Yang saya kirim pertama nanti adalah prioritas utama si Boss. Tolong saya ya Pak, kalau nggak Boss ngancam mau melaporkan penyimpangan ke Pusat katanya,” kata Pak Tono agak panik.
“Hah! Sungguh kurang ajar si Miskan itu. Main ancam segala. Sudah “dipelihara” sejak dulu, masa satu masalah ini saja langsung mengancam mau lapor segala. Kalo mau main buka-bukaan dan hancur-hancuran, saya juga punya beberapa “kartu”,” kata A-lok dengan geram.
“Wah, jangan begitu Pak. Kalau begitu nanti kita semua jadi sama-sama kena Pak,” kata Pak Tono dengan panik.
“OK, Pak Tono jangan panik. Saya cuman becanda kok. Nanti akan saya bereskan semua.”
“Terima kasih Pak. Oh ya, sebenarnya si Boss ga masalah kalau sama cewek lain, asalkan bukan professional dan betul-betul high class. Tapi prefer-nya yang satu itu atau dua temannya. Nanti saya kirim deh foto-fotonya. Tolong ya Pak.”
“OK jangan kuatir Pak. Tolong kirim ke no yang sama. Oh ya, kalau cewek itu masih disana, Pak Tono boleh coba dekatin cewek itu dan pancing-pancing, siapa tahu bisa di-booking. Jadi kita tak perlu repot-repot. “
“OK, pak. Saya coba dekati nanti. Sampai jumpa.”
“Sampai jumpa juga.”
“Haiyaa, selalu ada aja masalah dengan si Miskan sialan itu,” keluh A-lok. “Pak Purwanto, cepat datang ke kantor saya,” kata A-lok melalui interkom.
“Baik, siap Pak,” kata suara dari interkom itu.
“Pak Pur, sebentar lagi Pak Tono akan mengirim foto-foto cewek ke handphone ini,” kata A-lok sambil mengeluarkan satu handphone dari laci mejanya. “Coba Pak Pur selidiki latar belakang cewek-cewek itu. Karena Pak Miskan ingin check-in dengan satu diantara cewek-cewek itu. Kalau itu tidak memungkinkan, tolong cari cewek lain yang masih muda dan kerja part time tapi yang betul-betul high class. Tolong Pak Pur urus ini dengan segera, kerjaan lain boleh ditinggal dulu. Uang berapa pun tak masalah. OK? Nah, Pak Pur bawa dulu handphone ini. Ingat, deadline-nya hari Jumat!,” perintah A-lok kepada Purwanto orang kepercayaannya ini.
“Siap Pak,” kata Purwanto.
“OK, sekarang Pak Pur bisa mulai bekerja,” kata A-lok menyilahkan Purwanto keluar dari kantornya.
Setelah keluar dari kantor boss-nya, Pak Purwanto mengeluh pelan,”Aduh biyung, aku iki bekas pensiunan tentara bagian intelejen, saiki kerjo karo wong Cino, lha kok kerjaane akehe malah dadi germo (aku ini pensiunan tentara bagian intelejen, sekarang kerja kepada orang China, lha kok kerjaannya kebanyakan malah jadi germo).
Sementara itu Liani, Fanny, dan Henny telah selesai mandi dan berganti pakaian. Kini mereka bertiga keluar bersama dari ruang ganti itu dan berjalan masuk ke tempat jual makanan. Fanny dan Henny memesan makanan, sementara Liani menunggu di meja. Saat itulah ia didatangi seorang bapak-bapak. Ia tak lain adalah Pak Supartono yang begitu selesai telpon tadi langsung ganti baju dan menunggu ketiga cewek itu. Mula-mula ia ragu-ragu untuk “menodong” Liani, karena seumur-umur ia tak pernah mendatangi cewek tak dikenal dan menawarnya untuk menjual diri. Apalagi cewek yang kelihatannya classy seperti Liani gini. Tapi karena pada dasarnya ia ingin mencari muka ke Pak Miskan tadi dan barusan disemangati oleh A-lok, kini diberanikan dirinya untuk menyapa Liani.
“Maaf dik, saya baru datang ke kota ini. Tolong tanya, kalo hotel XYZ (hotel bintang lima di kota itu) itu jauh nggak dari sini?”
“Oh, itu agak jauh Pak,” kata Liani,” Kalau mau kesana bapak harus naik taxi.”
“Oh, begitu. Saya ingin ketemu seorang bos di hotel itu. Dia kenal dekat dengan model agency yang terkenal. Omong-omong, adik tertarik untuk jadi model?”
“Wah, saya masih sekolah Pak. Nggak tertarik untuk jadi model.”
“Justru itu, kita lagi butuh seorang gadis muda yang masih usia sekolah yang cantik dan menarik seperti adik untuk jadi model. Masa adik tidak tertarik? Bayarannya tinggi lho dan adik bisa jadi orang terkenal dalam waktu singkat.”
“Wah, maaf, model bukan bidang saya. Tapi, omong-omong, memang bayarannya bisa sampai berapa sih Pak?” tanya Liani ingin tahu.
Nah, ini kesempatan bagus, pikir Pak Tono. Cewek ini nanyain tentang uang, berarti sudah buka pintu.
“Oh, kalo itu bervariasi dan tak tentu sih. Kenapa adik bertanya? Apakah adik perlu tambahan uang saku?
“Yah saya ingin tahu saja sih Pak,” jawab Liani.
Ah, ini anak malu-malu kucing, pikir Pak Tono. Rupanya benar juga kata A-lok tadi, penampilan bisa menipu. Biarlah aku langsung buka kartu aja. Khan dia tadi sudah nanya-nanya tentang uang. Artinya cewek ini pengin punya duit lebih. Kalo sudah gini, lebih baik langsung diomongin aja, pikirnya lagi.
“Kalo adik ingin yang pasti, sebenarnya ada sih yang lebih gampang dan cepat. Sebenarnya bos saya itu lagi sendirian di hotel. Jadi kalo sore atau malam ini adik mau datang kesana, bos saya pasti akan senang sekali. Karena sejak tadi beliau memang sudah mengagumi kecantikan adik. Jadi begini, kalau adik mau “short time” saya berani kasih 2 juta tunai, kalo semalaman 5 juta. Dan saya jamin, hal ini akan menjadi rahasia karena bos saya itu adalah wakil rakyat dari pusat sehingga ia juga berkepentingan untuk menjaga rahasia ini. Jadi lumayan khan buat tambahan uang saku tanpa harus merusak reputasi adik,” kata Pak Tono yang begitu buka kartu langsung nyerocos sampai ke tujuan akhirnya. “Jadi, bagaimana menurut adik?”
Muka Liani seketika jadi merah padam. Ia tak menyangka mendengar tawaran kurang ajar seperti ini. Sesaat itu ia tak bisa berbicara.
“Yah, yang saya sebut tadi sih bukan harga mati, masih bisa nego sedikit. Tolong adik jangan malu-malu kalau menurut adik harga segitu terlalu rendah,” kata Pak Tono menganggap cewek ini entah masih sok jaim atau ingin harga lebih tinggi,” Jadi bagaimana?” tantangnya lagi. Ia mengharapkan cewek itu mengatakan “iya” dan mengenai uang ia bisa membicarakannya dengan A-lok. Seandainya cewek itu minta dua kali lipat dari itu pun, juga pasti disanggupinya.
“Akan lebih bagus lagi kalo adik bisa mengajak teman-teman adik juga nanti. Kalau begitu nanti adik saya kasih komisi tambahan lagi.”
Namun tak disangka-sangka, ternyata Liani bukannya menyanggupinya, tapi malah meninggalkan dirinya dengan matanya memerah. Ia berlari menghampiri Fanny yang lebih dekat dengan dirinya dan menangis sesenggukan di pundak sahabatnya itu.
“Lho kenapa lu??”
“O hik orang hik i-itu hik kurang ajar se-kali,” kata Liani terbata-bata di sela-sela tangisnya.
“Orang yang mana?” tanya Fanny sambil menoleh ke tempat duduk Liani tadi. Namun ia tak melihat ada orang di situ.
“O-orang itu yang hik yang tadi duduk di dekat kita hik.”
“Memang apa yang diomongin?”
….
….
“Ah kurang ajar banget tuh orang,” kata Henny dengan geram sesaat setelah mereka bertiga duduk di meja itu kembali.
“Iya betul,” jawab Fanny dengan muka marah,”Apa gua bilang tadi? Melihat gelagat tadi, orang-orang itu pasti punya maksud ga baik dan mau nge-booking kita. Ciih! Kurang ajar sekali. Enak aja mikir kita mau jual diri! Bokap gua pengusaha kaya. Gua ga perlu jual diri demi duit 5 juta.” Memang bokap Fanny adalah seorang pengusaha kaya dari luar pulau.
“Iya, gua juga,” kata Henny sambil bergidik,”Enak aja mikir kita bisa di-booking. Jangankan 5 juta, dikasih 5 milyar pun gua juga ga mau sama orang kayak gitu. Emang kita cewek apaan mau sama orang-orang seperti mereka. Gua sih punya standard tinggi. Orang-orang gitu ga masuk hitungan. Hiiih!” Henny memang adalah anak pengusaha kaya.
….
….
Sementara itu begitu melihat gelagat yang tidak baik, Pak Tono buru-buru ngacir dari situ. Ah, sialan, gerutunya. Kerjaanku seharusnya cukup terhormat, yaitu manager bagian kredit dari salah satu bank pemerintah. Mimpi apa sampai aku mesti jadi mucikari kambuhan yang gagal kayak gini, keluhnya. Ya, sebenarnya Pak Supartono adalah manager bagian kredit di bank pemerintah yang memberikan kredit kepada A-lok, seorang pengusaha lokal. Kredit yang diberikan itu agak bermasalah dan terlalu besar, sementara sebagian dari dana kredit itu diberikan balik kepadanya, tentunya masuk ke personal account. Sehingga kini posisinya jadi terbalik, ia yang sebelumnya dalam posisi lebih tinggi karena memberikan kredit, kini jadi harus setengah memohon kepada A-lok supaya ia bisa terus membayar uang cicilan per bulannya. Oleh karena itu ia mau tak mau harus “berbagi tanggung jawab” dengan A-lok dalam hal menyenangkan hati Pak Miskan, seorang wakil rakyat dari pusat yang bertugas melakukan inspeksi dan audit secara reguler ke daerah atas kemungkinan adanya penyelewengan kucuran kredit bank-bank pemerintah. Selama ini, Pak Miskan berhasil “dipelihara” oleh A-lok dan Pak Supartono yang diam-diam juga didukung oleh atasan Pak Supartono baik yang di daerah maupun di pusat. Sehingga, inilah KKN yang melibatkan semua orang, dimana maling dan polisi duduk satu meja berpesta bersama. Tetapi itulah kenyataan di dunia bisnis di negara itu. Kalau tidak ada uang pelicin, roda perekonomian tidak berjalan. Apabila roda perekonomian tidak berjalan, akibatnya rakyat kecil jugalah yang akan lebih sengsara.
Malam itu, disaat hati Liani, Henny, Fanny, A-lok, Supartono, dan Purwanto sedang gundah karena satu dan lain hal, Pak Miskan sedang asyik mengocok penisnya di dalam vagina cewek Uzbekistan yang cakep dan sexy itu, yang mengaku bernama Zamira, sehingga payudara Zamira yang sungguh montok itu jadi berguncang-guncang dan berputar-putar dibuatnya.
—@@@@@@@—–
Di rumah…
Keesokan sorenya, Liani sedang duduk di ruang tengah sambil asyik menonton TV. Ia sesekali tertawa geli menyaksikan film kartun itu. Saat itu hatinya sedang gembira. Sedikit banyak ia telah melupakan kejadian kemarin sore itu. Memang pada dasarnya Liani adalah cewek yang riang dan mudah melupakan segala kesulitan dan masalah yang telah berlalu. Demikian pula saat itu.
Sore itu Papi Liani lagi-lagi bekerja dari rumah. Karena selain bekerja untuk bisnisnya, ia juga mengawasi pekerjaan Sarmin, kacung honorer yang disewa beberapa hari untuk membersihkan atap genteng rumah, memperbaiki pipa saluran air di salah satu kamar mandi yang tersumbat, membersihkan gudang, serta beberapa pekerjaan kasar lainnya yang tak bisa dikerjakan oleh beberapa pembantu perempuan yang tinggal permanen di rumah itu. Apalagi ia tak puas dengan hasil kerjaan Sarmin, yang dinilainya lamban. Telah beberapa hari disewanya, sehari kerja dari jam 9 pagi sampai jam 6 sore. Namun hasil kerjaannya tak jelas terlihat. Saat itu kembali ia menanyai Sarmin mengenai kerjaannya dengan agak kesal,
“Dari pagi sampai sekarang, kamu ngerjain apa aja?”
“Anu, Tuan, tadi pagi saya membuat semen dan menyemen tembok yang tuan suruh kemarin lalu siang ini saya naik ke atas genteng bersihin daun-daun disana.”
“Lalu semennya sudah selesai?”
“Belum Tuan. Soalnya tadi hujan deras, jadi semen yang saya buat jadi kena air hujan. Jadi mesti diulang lagi.”
“Ah, kamu ini gimana sih. Sudah tahu hujan, kenapa ngerjain itu. Seharusnya khan kamu ngerjain yang di dalam ruangan.”
“Iya, Tuan.”
“Lalu gentengnya gimana, sudah bersih?”
“Sebagian sudah Tuan. Tapi masih banyak yang mesti dibersihin.”
“Ah, kamu ini. Sudah tiga hari disini, tapi hasilnya tidak jelas. Kenapa kamu kerjanya tidak langsung diselesaikan tapi kerja ini dikit kerja itu dikit. Jadinya malah nggak kelihatan hasilnya.”
“Iya, Tuan.”
“Selain itu juga banyak kerjaan kamu yang mesti diulang-ulang terus. Contohnya ya semen itu. Kalau tahu hujan, seharusnya kamu jangan bikin semen di tempat terbuka.”
“Iya, Tuan.”
“Jangan iya iya saja, yang penting kerjaannya cepat dibereskan.”
“Iya, Tuan.”
“Ah, kamu ini. Lalu gudang sudah kamu bersihkan?”
“Belum Tuan.”
“Belum sama sekali?”
“Iya, Tuan.”
“Kamu itu gimana sih, khan sudah saya bilang kalo itu mesti cepat dibereskan.”
“Iya, Tuan.”
“Lalu, pipa air wastafel di kamar mandi di dalam kamar no. 3 sudah diberesin?”
“Belum Tuan.”
“Kenapa belum? Khan saya sudah bilang sejak hari pertama kamu kesini.”
“Saya sudah lihat dan periksa Tuan. Untuk betulin itu nggak perlu waktu lama. Tapi setelah itu saya sibuk ngerjain yang lain dulu Tuan.”
“Ah, kamu ini. Padahal sudah sempat periksa, kenapa nggak sekalian dibenerin, gitu loh? Perlu berapa lama kamu untuk beresin itu?”
“Eeer, paling sejam Tuan.”
“Ya udah kalo gitu, hari ini juga kamu beresin. Kalo belum beres, saya nggak akan kasih bayaran hari ini, sampai kamu selesai beresin. Mengerti?”
“Iya, Tuan.”
“OK, kalo gitu kamu kerjain sekarang juga.”
“Ehm, anu Tuan, saya sedang gergaji kayu yang Tuan suruh kemarin pagi. Saya terusin itu dulu ya. Tanggung soalnya. Biar selesai seperti yang Tuan bilang tadi.”
“Hah?! Yang itu belum juga selesai? Ah, kamu ini betul-betul payah kerjanya! Ya udah kamu boleh kerjain itu dulu, tapi ingat, pipa air wastafel harus beres hari ini juga. Mengerti?”
“Iya, Tuan.”
“Ya udah kamu kerja sekarang juga.”
“Iya, Tuan.”
“Sebentar. Kalo kamu betulin pipa air di kamar itu, sekalian juga kamu bersihkan kamar itu kalau-kalau ada jaring laba-laba yang menempel di atap. Mengerti?”
“Iya, Tuan.”
Kemudian Sarmin meninggalkan ruangan kerja itu dan berjalan menuju ke tempat ia menggergaji kayu itu. Saat itu ia berjalan melintas ruang tengah dimana Liani berada. Saat ia melewati Liani yang sedang duduk nonton TV, ia berkata,” Permisi, Non.” Kemudian ia berjalan ke tempat penggergajian itu dan mulai menggergaji.
Saat itu Liani merasa terganggu dengan suara gergajian itu, sehingga setelah film kartun yang ditontonnya habis, ia meninggalkan ruang itu dan duduk di ruang tamu depan. Sesaat setelah itu, ia ingin merendam tubuhnya di bak jacuzzi. Apalagi saat itu sedang hujan deras. Sehingga dingin-dingin begini, tentu enak sekali merendam tubuh di air panas sambil tubuhnya dipijit-pijit semprotan air jacuzzi itu. Sehingga masuklah ia ke kamarnya. Lalu ia mengisi bak jacuzzinya itu. Sambil menunggu agak penuh, ia duduk dulu di kursi yang besar dan empuk sambil menonton TV.
Setelah itu diintipnya kedalaman air bak jacuzzi-nya itu. Setelah dirasa cukup penuh, segera ia menanggalkan seluruh pakaiannya. Namun sebelum itu, tentu dikuncinya terlebih dahulu pintu kamarnya itu. Ia masuk ke dalam kamar mandi itu. Tubuhnya telanjang bulat. Puting payudaranya nampak menonjol. Bulu-bulu vaginanya yang lebat nampak menyembul di antara kedua pahanya. Ia membuka kran shower untuk membilas tubuhnya dulu sebelum masuk ke dalam bak jacuzzi. Ia sengaja menggunakan air dingin. Brrr, dirinya agak gemetaran karena kedinginan. Sampai-sampai kedua putingnya yang kemerahan jadi perky banget dan makin menonjol karena terkena suhu air yang dingin itu. Bulu-bulu vaginanya yang sebelumnya menyembul saat kering, kini jadi mengempes dan menempel ke kulit tubuhnya karena terkena siraman air shower itu. Setelah cukup merasa kedinginan, lalu ia memasukkan satu kakinya ke dalam bak itu, diikuti dengan kaki satunya lagi. Setelah itu ia duduk di dalam bak besar itu sehingga kini tubuhnya terendam semua sampai sebatas leher bagian bawah. Hmm, sungguh nikmat sekali perubahan sensasi dari rasa kedinginan langsung menjadi hangat. Dan semprotan air jacuzzi itu menyemprot ke beberapa tempat di pinggang dan punggungnya yang putih bersih. Hmm, nikmat sekali rasanya, bagaikan dipijit-pijit. Beberapa saat lamanya ia berendam dalam posisi itu. Setelah itu ia membalikkan tubuhnya. Kini bagian depan tubuhnya yang terkena semprotan jacuzzi itu, yang mengenai beberapa bagian di perut dan payudaranya. Hmm, asyik deh. Kemudian ia menaikkan tubuhnya sehingga dalam posisi berlutut di depan semprotan jacuzzi itu. Kini semprotan itu mengenai bagian bawah tubuhnya, kedua pahanya serta perut bagian bawahnya. Tentunya dadanya yang telanjang kini di atas permukaan air. Sewaktu direndam di air panas tadi, puting payudaranya agak mengempes masuk ke dalam. Namun setelah kini terkena udara bebas yang lebih dingin dari sebelumnya, kedua putingnya kembali jadi perky lagi dan lebih menonjol dibanding sebelumnya. Setelah itu ia kembali merendam seluruh tubuhnya di bawah permukaan air. Kali ini dimatikan semprotan jacuzzi itu dan dibiarkan permukaan air stabil dan suhu air itu secara perlahan-lahan menjadi dingin. Sesekali ia mengangkat tubuhnya keluar dari permukaan air. Setelah itu menurunkannya kembali ke bawah permukaan air. Sehingga kedua payudaranya itu bagaikan dua pulau yang timbul dan tenggelam beberapa kali di tengah-tengah laut. Saat tubuhnya diangkat di atas permukaan air, butiran-butiran air nampak menempel membasahi kulit tubuhnya yang putih mulus. Demikian pula bulu-bulu vaginanya juga timbul dan tenggelam di tengah-tengah air hangat itu. Saat di batas transisi permukaan air, bulu-bulu yang lebat itu bagaikan hutan bakau saja layaknya.
Liani membuang sebagian air yang ada dan mengisinya dengan yang baru, untuk menambah kehangatan air panas yang makin lama makin dingin itu. Setelah dirasanya pas hangatnya, ia mematikan airnya lagi. Diambilnya masker penutup mata dan dikenakannya. Lalu ia memejamkan matanya dan tiduran telentang di dalam bak besar itu. Hanya kepalanya saja yang berada di atas permukaan air. Sehingga kini ia bisa tiduran sambil merendam tubuhnya di dalam air hangat tanpa matanya harus silau karena cahaya. Oleh karena terbuai hangatnya air yang merendam tubuhnya itu tak terasa Liani menjadi ketiduran di dalam bak jacuzzi yang kini permukaannya tenang itu. Sementara itu, Sarmin akhirnya selesai juga menggergaji kayu itu. Kini ia akan membetulkan pipa air yang mampet di wastafel di dalam kamar mandi di dalam kamar yang kosong itu, seperti yang diharuskan oleh Tuannya tadi yang juga adalah Papi Liani. Dibukanya pintu kamar no. 3 yang kosong itu. Lalu didorongnya pintu kamar mandi di dalam kamar itu. Dan…
Astaganaga!!!
Seketika jantung Sarmin seolah berhenti berdetak saat ia melihat di dalam Liani sedang telanjang bulat tiduran telentang di dalam bak jacuzzi!!!
Kenapa kok bisa salah kamar gini? Ternyata hal itu bukan karena kesengajaan Sarmin. Tapi yang terjadi adalah suatu kebetulan dan kesalahpahaman belaka yang tentu hasil akhirnya sungguh menguntungkan Sarmin. Rupanya saat itu memang Liani sedang berendam di bak jacuzzi yang ada di dalam kamar no 3. Karena bak jacuzzi disini lebih besar dibanding yang di dalam kamar mandi di dalam kamarnya sendiri. Dan ia tak salah melakukan itu karena sebenarnya kamar no 3 itu boleh dikata sebagai “kamar keduanya”. Oleh karena kamar itu tak terpakai, sehingga kadang ia memakai kamar itu. Dan ia tadi juga tak salah sama sekali saat memasuki kamar ini, karena ia telah mengunci kamar itu sebelum ia melepas pakaiannya. Sedangkan ia tak mengunci dan menutup kamar mandi di dalam kamar itu, hanya mendorongnya dalam posisi tertutup tapi tak sampai dijepretnya. Karena buat apa, toh pintu kamar di luar kamar mandi telah terkunci. Satu hal yang tak diketahuinya adalah Papinya menyuruh Sarmin membereskan pipa air wastafel di kamar mandi itu saat itu juga. Karena dikiranya, tentu pipa air itu telah beres sejak kemarin-kemarin. Dan ia sama sekali tak menyangka kalau kunci kamar itu bahkan telah diberikannya kepada kacung Sarmin. Sehingga ia bisa dengan bebas membuka kamar itu. Dan Papinya Liani juga tak menyangka kalau putrinya itu bakal memakai jacuzzi di kamar itu. Karena selain kamarnya sendiri telah ada jacuzzi yang mirip juga beberapa hari sebelumnya ia telah memberitahukan kepada putrinya tentang pipa air yang rusak. Sementara Sarmin juga tak salah. Ia masuk ke sini atas dasar perintah Papinya Liani yang memarahinya karena ia masih belum juga membereskan pipa air di dalam kamar mandi yang sekarang dipakai Liani. Saat ia ingin masuk ke kamar itu, posisi pintunya terkunci. Namun ia mempunyai kunci kamar itu yang telah diberikan oleh Papinya Liani kepadanya beberapa hari lalu. Segera dibukanya kunci pintu kamar itu. Saat itu dilihatnya ada bra dan celana dalam cewek tergeletak di atas ranjang yang langsung diketahui tentu adalah milik Liani. (Tak mungkin pembantu menaruh barang-barangnya di dalam kamar itu. Lagipula milik pembantu tentu tak seindah dan sehalus itu). Namun ia tak berpikir kalau orangnya ada di dalam situ. Sampai saat ia mendorong pintu kamar mandi yang tak terkunci, dan…terlihatlah olehnya pemandangan indah yang tak seharusnya dilihatnya itu.
Kini ia bisa melihat dengan jelas Liani, anak gadis tuannya itu, dalam keadaan telanjang bulat. Wah, betul-betul untung aku. Barusan dimarahi Tuan, eh sekarang malah bisa ngelihat anak perawannya Tuan telanjang bulat kayak gini. Ah, terima kasih Tuan!! batinnya Seandainya ia tak dimarahi dan disuruhnya segera membetulkan pipa air itu, tidak akan ia mendapat rejeki seperti ini. Saat itu Liani sedang asyik ketiduran dengan penutup mata yang masih dikenakannya. Seluruh tubuhnya kecuali kepalanya terendam di bawah air. Namun permukaan air itu cukup tenang karena Liani tak bergerak sama sekali. Sehingga apa yang ada di bawahnya nampak jelas terlihat semuanya. Kulit tubuhnya yang putih mulus. Payudaranya yang indah menggiurkan berikut kedua putingnya yang kemerahan. Bulu-bulu vaginanya yang lebat itu. Dan posisi kaki Liani yang agak terbuka, sehingga Sarmin juga bisa melihat cukup jelas liang vagina Liani dan lipatan kulit di sekitarnya. Seketika hatinya dag-dig-dug dan badannya berasa panas dingin. Ia sungguh terpana menyaksikan itu. Tak pernah sebelumnya ia menyaksikan tubuh cewek telanjang secara langsung begini, apalagi ceweknya cakep seperti Liani gini! Ada beberapa menit ia menyaksikan itu. Dirinya tak berani bergerak pergi karena takut ketahuan cewek itu tapi juga tak mau bergerak pergi karena ingin lebih lama menikmati
keindahan tubuh Liani itu. Setelah itu Liani sedikit menggerak-gerakkan tubuhnya, menaik turunkan tubuhnya. Yang mana membuat Sarmin makin mupeng karena payudara Liani ikut bergerak-gerak. Namun setelah itu karena takut ketahuan kalau gadis itu mendadak bangun dan mendapati dirinya memelototinya, akhirnya ia meninggalkan kamar mandi itu dan menutupkan kembali pintunya ke posisi semula. Dan ia segera menutup kembali pintu kamar itu dan menguncinya.
“Sarmiiiin!”
“Iya, Tuan.”
“Kamu sudah selesai menggergaji kok nggak langsung membetulkan pipa air mau tunggu apa lagi?”
“Eh, anu, anu, Tuan..”
“Anu, anu apa? Mau alasan apa lagi kamu, hah?”
“Eh, itu, di-didalam ada..”
“Udah jangan banyak alasan. Ayo cepat kerjakan!”
“Ba-baik, Tuan.”
Sarmin kembali membuka kunci kamar itu dan masuk ke dalamnya. Ia ragu apakah ia masuk ke dalam kamar mandi itu yang mana ia tahu pasti saat itu Liani sedang berada di dalam dalam keadaan bugil. Akhirnya ia tak jadi masuk dan membersihkan atapnya dari jaring laba-laba. Apalagi saat itu ia mendengar ada suara di dalam kamar mandi itu. Sehingga tentunya Liani sudah bangun dari tidurnya. Saat itu ia dalam keadaan serba salah. Demi sopan santun, ia ingin keluar dari dalam kamar itu. Namun demi kemupengan ia juga ingin melihat pemandangan indah itu lagi, kalau pun nggak semuanya paling tidak sebagian. Lagipula khan ia disini karena disuruh oleh tuannya. Jadi bukan salahnya juga. Selagi ia berpikir itu, saat itulah pintu kamar mandi terbuka, dan keluarlah Liani. Namun ternyata Liani keluar dari kamar mandi itu dalam keadaan tanpa selembar benang pun!
“EEhhh!” seru Liani kaget melihat Sarmin ada di dalam kamar itu sementara dirinya telanjang bulat. Ia berusaha menutupi bagian-bagian penting tubuhnya. Namun sempat ada jeda sejenak dimana Sarmin bisa lagi-lagi melihat seluruhnya, kali ini lebih jelas lagi karena dipisahkan oleh udara bukan air. Setelah itu Liani menutupi tubuhnya sebisanya sambil berkata,
“Keluar kamu!”
“Iya Non,” katanya tapi tak bergerak karena terpana.
“Ayo cepat!”
“I-iya Non. Ma-maaf,” katanya terbata-bata sambil turun dari tangga dan keluar dari kamar itu.
Liani segera mengunci pintu kamar itu setelah Sarmin keluar, dan mengenakan kembali pakaiannya satu-satu.
Setelah itu ia memanggil Sarmin kembali. Sebenarnya ia merasa malu luar biasa karena kacung itu baru saja melihatnya telanjang bulat. Apalagi ia curiga jangan-jangan kacung itu juga telah mengintipnya sejak tadi-tadi dimana ia sedang ketiduran di dalam bak jacuzzi itu. Dan ia juga takut jangan-jangan kacung itu telah memotretnya saat dirinya telanjang. Karena itu, ia harus mengetahui kejadian sebenarnya sehingga rasa malu itu ditahannya.
“Sarmin, sini kamu,” katanya.
“I-iya Non.”
“Kamu kok bisa ada di dalam kamar tadi?”
“Eh, anu Non, saya tadi disuruh Tuan membetulkan pipa air di wastafel dalam kamar mandi. Saya dikasih kunci kamar ini. Dan saya nggak tahu kalo di dalam ada Non. Kirain kamar ini kosong.”
“Kamu sudah berapa lama masuk tadi?” selidiknya.
“Eh, anu Non, sa-saya baru saja masuk tadi.”
“Kamu jangan bohong!”
“Eh, i-iya Non beneran kok.”
“Kamu tadi masuk ke kamar mandi ya?” selidiknya lagi.
“Ng-nggak Non. Saya barusan dateng waktu ngeliat Non keluar tadi.”
Muka Liani seketika jadi merah mendengar itu. Ia merasa malu sekali. Tapi ditahannya sekuat tenaga.
“Beneran kamu tadi nggak masuk ke kamar mandi?”
“Iya, beneran Non.”
“Ya udah, aku percaya. Tapi kamu jangan bilang siapa-siapa ya. Awas kalo kamu bilang.”
“I-iya baik Non.”
“Terutama jangan bilang ke Papi. Kalo sampai tahu, kamu bisa dicincangnya habis, tahu.”
“Iya, saya ngerti Non.”
“ya udah, sekarang kamu boleh ngerjain di dalam kamar mandi.”
“Baik Non.”
##################
Beberapa saat kemudian…
“Tuan, wastafelnya sudah dibetulin,” kata Sarmin.
“Nah, gitu dong kalo kerja. Masa tiap kali harus dipaksa.”
“Ini, upah kamu hari ini, sekarang kamu boleh pulang.”
“Oh, terima kasih, Tuan,” kata Sarmin. Hari itu ia serasa mendapat upah ganda.
Sejak hari itu Sarmin masih bekerja di rumah itu dua hari lagi namun ia tak pernah melihat Liani lagi. Sepertinya Liani sengaja menghindari tak ingin bertemu dengannya. Tentunya ia masih malu karena dirinya dilihat dalam keadaan telanjang bulat oleh kacung itu. Apalagi ia tak begitu yakin kalau sebelumnya Sarmin tidak masuk ke kamar mandi dan melihatnya lebih lama saat ia tidur dalam keadaan bugil itu.
Yang pasti malam itu si Sarmin menggesek-gesek penisnya, sampai akhirnya, crottzz. Yang dibayangkannya siapa lagi kalo bukan Liani!
—@@@@@@@—–
Di kantor A-lok…
“Bagaimana Pak Pur, sudah mendapat informasi tentang ketiga cewek itu?” tanya A-lok kepada Purwanto,” Waktu kita tinggal hari ini. Kalau sampai malam ini kita tidak berhasil menyuguhkan “barang” yang disukai Pemeras Miskan itu, bisnis kita bisa kacau balau.”
“Tidak perlu khawatir Pak A-lok. Saya sudah menyuruh orang-orang yang handal untuk menyelidiki tentang ketiga cewek muda itu. Dan, hasilnya sungguh menggembirakan. Karena satu diantara tiga cewek itu ternyata kehidupannya tidak sebersih seperti apa yang terlihat. Dan kita bisa memanfaatkan cewek itu untuk disuguhkan kepada Si Pemeras itu. Sehingga kita bisa menyenangkan hati Si Pemeras itu sambil sekaligus kita buat Si Pemeras itu menjadi takluk di tangan kita sehingga ia tidak akan berani bersikap mentang-mentang seperti sekarang ini.”
“Wah, bagus, bagus. Tapi betul-betul akuratkah sumber informasi Pak Pur itu? Ingat, operasi ini harus berhasil. Kalau kita sampai kecolongan, sekalipun si Pemeras itu tidak melakukan ancamannya, tapi kepercayaannya terhadap kita jadi pudar. Akibatnya sungguh tidak bagus bagi bisnis kita di masa depan. Oleh karena itu tidakkah sebaiknya Pak Pur siap-siap menghubungi semua mucikari top yang ada, untuk berjaga-jaga kalau-kalau sampai kita tidak berhasil memakai yang satu itu.”
“Hmm, menurut saya hal itu sama sekali tidak perlu,” kata Pak Purwanto sambil tersenyum. “Orang yang melakukan penyelidikan ini betul-betul bisa diandalkan dan informasi yang saya dapatkan ini betul-betul akurat dari sumber pertama yang sangat bisa dipercaya. Oleh karena itu, serahkan semuanya kepada saya. Bapak tinggal tahu beres saja. Dan kalau berhasil, saya harap Bapak jangan lupa memberikan bonus khusus kepada saya.
“Hahaha, beres, beres. Untuk hal itu Pak Pur tak perlu khawatir. Anda telah mengenal saya sekian lama. Tentu anda tahu bahwa saya adalah seorang yang murah hati terhadap orang-orang yang berjasa besar. Tinggal Pak Pur sebutkan saja apa yang anda minta. Hehehe.”
“Hahaha, ya saya tahu Pak A-lok adalah orang yang sangat murah hati. Oleh karena itu, saya juga senang bekerja dengan Pak A-lok. Mengenai hadiah apa yang saya minta, lebih baik saya sebutkan nanti saja, setelah operasi ini berhasil.”
“Bagus, bagus, kalau begitu, saya tidak perlu khawatir lagi. Saya tahu Pak Pur tidak seperti Supartono gebleg itu. Hmm, omong-omong, ketiga cewek ini sama-sama cantik, sexy, dan menggairahkan, dengan daya tariknya yang khas masing-masing. Tapi semuanya kelihatan seperti cewek baik-baik dan dari golongan elit. Karena itu, saya jadi penasaran, cewek yang mana yang menurut Pak Pur bisa “dipake” itu?”
“Ini…” kata Pak Purwanto sambil menunjuk foto cewek itu.
“Hah? Benarkah?!”
Pak Purwanto menggangguk dengan penuh percaya diri sambil tersenyum.
“Kalau begitu, tolong sekalian Pak Pur arrange buat saya sendiri tiga hari lagi. Kalau mau, Pak Pur boleh memakainya besok atau lusa.”
—@@@@@@@—–
Di berbagai tempat yang berbeda…
Handphone Liani tiba-tiba berbunyi, ternyata ada sms masuk. Bunyi pesannya singkat saja,”Nanti malam jam 7. Confirm.” Segera Liani membalasnya dengan lebih singkat lagi,”OK”.
Henny membuka pintu mobil dan duduk di bangku belakang mobilnya yang dikendarai oleh supirnya, Kosim. “Langsung pulang ke rumah Non?” tanyanya.
“Mampir ke hotel dulu,” kata Henny.
Fanny mencoba gaun pesta mahal yang baru dibelinya. Saat itu handphone-nya berdering. Kemudian terdengar ia berkata,”Sip deh, jangan kuatir. Gua pasti datang. Gua udah beli gaun buat pesta lu kok.”
—@@@@@@@—–
Di kantor A-lok…
“Pak A-lok, semuanya sudah confirm. Dia akan datang tepat jam 7 malam di hotel XYZ kamar 777 tempat Pak Miskan menginap. Selain itu ada permintaan khusus dari Pak Miskan yaitu DIA harus memakai pakaian pesta yang mewah dan elegant, yang juga sudah saya sampaikan ke dia. Di samping itu juga saya sampaikan pesan rahasia ke dia, khusus untuk menjebak si Pemeras itu. Jadi Bapak jangan kuatir. Semuanya sudah diatur beres,” kata Purwanto melapor ke bossnya.
—@@@@@@@—–
Di hotel XYZ…
Saat itu pukul 6.50 petang. Di lobby hotel itu banyak orang-orang yang memakai pakaian resmi untuk kaum cowoknya dan pakaian pesta untuk ceweknya. Karena mereka akan menghadiri resepsi pernikahan di hotel bintang lima itu, yang di undangannya ditulis pukul 19.00. Namun namanya pesta seperti ini, tentu mulainya juga molor. Pada saat itu lift dari tempat parkir mobil berbunyi dan pintunya terbuka. Sehingga keluarlah beberapa orang dari lift tersebut masuk ke ruangan lobby. Diantara mereka ada seorang gadis cantik mengenakan pakaian pesta yang elegant dan sepertinya harganya pun juga cukup mahal sambil membawa tas bawaan yang juga bikinan merk mahal dan terkenal. Pada saat gadis itu memasuki ruangan lobby, banyak pandangan orang-orang yang beralih menatap gadis itu. Karena ia memang seorang gadis yang cantik. Apalagi dengan dandanan yang juga elegan namun tidak kampungan itu. Dan usianya pun juga masih muda sekali, sekitar 18 tahun. Sehingga ia adalah bagaikan bunga harum semerbak yang masih segar karena baru saja mekar. Kulitnya putih. Bentuk tubuhnya pun juga indah. Pakaian pestanya yang terbuat dari bahan tipis dan halus membuatnya mengikuti lekuk liku tubuhnya. Tubuhnya langsing. Pinggangnya ramping. Pinggulnya nampak menonjol. Demikian pula dadanya. Apalagi belahan lehernya agak rendah, menunjukkan belahan atas payudaranya, yang sungguh membuat penasaran kaum cowok. Gaun pestanya itu, bagian pinggul ke bawah agak tipis menerawang. Sehingga samar-samar nampak siluet indah kedua kakinya di balik gaun itu. Gerak-geriknya pun juga santun dan elegan. Ia tersenyum manis sambil berkata,” Thank you,” saat tadi seorang cowok bule menahan pintu lift dan memberinya jalan untuk keluar terlebih dahulu. Sungguh ia adalah seorang gadis yang cantik sekaligus sexy menggairahkan. Dan gadis ini adalah si DIA yang dikirim oleh A-lok untuk memuaskan dahaga birahi Pak Miskan demi bisnisnya.
Gadis itu masuk ke toilet dulu, memeriksa segala sesuatunya. Tak lama kemudian ia keluar dari toilet itu. Saat itu pukul 6.55. Kemudian ia menuju ke tempat in-house phone. Diangkatnya gagang telpon itu, dan ia minta disambungkan ke kamar 777. Tedengar suara Pak Miskan dari ujung sana.
“Selamat malam Pak. Saya sudah di lobby. Saya tidak bisa naik ke atas karena lift-nya perlu access card.”
“Oh, silakan minta bantuan front desk, biar saya yang bicara dengan mereka.”
Tak lama kemudian, salah seorang petugas hotel membantu gadis itu naik lift dengan memasukkan access card dan menekan angka 7. Lift itu berhenti di lantai 7. Dan keluarlah gadis itu. Ia berjalan menuju ke kamar 777. Sesampainya di depan pintu, ditekannya bel di dekat pintu masuk.
Ting-tong.
Terdengarlah suara kunci dibuka dan, terbukalah pintu itu. Pak Miskan berdiri sambil mengenakan piyama tidur yang disediakan di kamar hotel tersebut.
“Oh, ternyata kamu! Mari silakan masuk. Saya sudah menunggu kamu sejak tadi,” kata Pak Miskan.
Setelah gadis itu masuk, Pak Miskan segera menutup pintu itu dan menguncinya kembali. Sehingga kini ia hanya berdua bersama dengan gadis idamannya itu. Sebelumnya ia telah diberitahu bahwa satu diantara ketiga gadis itu akan datang dan “menghiburnya”. Namun ia sengaja tak ingin diberitahu, siapa diantara ketiga gadis itu yang akan datang. Hal itu untuk menambah excitement suasana yang tentu nantinya akan berimbas positif ke atas ranjang. Apalagi baginya, ketiga gadis itu punya daya tarik yang berbeda satu dengan lainnya sehingga siapa pun diantara ketiga gadis itu tidaklah terlalu jadi masalah. Namun kini, melihat gadis ini yang datang, sungguh gadis inilah yang paling tepat untuk menemaninya malam ini. Ia membayangkan permainan yang bakalan berlangsung seru!
—@@@@@@@—–
Di kantor A-lok…
“Saya masih penasaran, bagaimana Pak Pur bisa memastikan bahwa cewek itu ternyata bispak? Lalu bagaimana dengan kedua cewek lainnya?”
“Hahaha. Baik, karena Pak A-lok penasaran. Akan saya jelaskan semuanya. Pak A-lok tentu kurang lebih mengenal cewek ini,” kata Pak Purwanto menunjuk satu foto.
“Ah siapa ya, sepertinya saya pernah lihat cewek ini.”
“Coba perhatikan baik-baik. Memang foto ini kurang jelas. Dan pengambilannya pun kurang baik. Sehingga foto ini jauh lebih jelek dibanding orang aslinya. Tapi kita pernah bertemu langsung dengan dia. Ia adalah putri pengusaha kaya.”
“Ah ya, saya ingat sekarang. Bukanlah dia adalah Liani, putri Pak …?”
“Betul sekali.”
“Tapi kenapa Pak Pur sekarang membahas dia. Bukankah sebelumnya Pak Pur menunjukkan yang ini?” tanya A-lok menunjuk foto cewek lain. “Lalu yang mana yang benar, apakah Liani atau dia?” tanyanya lagi.
“Maksud saya menunjuk Liani ini untuk menjelaskan bahwa ia adalah betul-betul putri pengusaha kaya raya. Maaf Pak, terus terang, perusahaan ayah Liani ini lebih besar dibanding kita. Sehingga tentu ia harus dicoret dari daftar cewek yang mau dibayar untuk dipake gituan. Dan, for your info Pak, waktu itu, Si Supartono tolol itu main tembak langsung ke Liani ini. Untung hal ini tak menjadi insiden yang berkelanjutan. Seandainya hal ini sampai ke telinga ayahnya tentu kejadian itu bakal menyulitkan kita semua.”
“Memang Supartono itu orangnya kurang bisa diandalkan,” kata A-lok agak geram,”Ok balik lagi ke hal tadi, bagaimana Pak Pur bisa membujuk cewek itu untuk menemani Pak Miskan?”
“Bagaimana saya bisa membujuknya? Hehehe. Hal itu sama sekali tak perlu Pak. Karena cewek ini memang kerjaannya adalah cewek panggilan! Tapi ia bukanlah cewek panggilan biasa. Namun cewek panggilan yang super high class. Ia bekerja secara part time karena sehari-hari ia adalah murid SMU … (SMU yang terkenal di kota itu). Jam kerjanya pun juga ia yang tentukan sendiri. Sehingga tidak ada yang menyangka kalau ia adalah cewek panggilan kelas atas. Apalagi prestasi sekolahnya juga cukup menonjol. Ditambah lagi ia berkedok sebagai anak pengusaha kaya. Padahal sebetulnya orang tuanya bukanlah orang kaya. Ia mendapatkan uang banyak ya dari penghasilan kerja part time-nya itu. Karena tarif standardnya untuk short time adalah 10 juta dan 20 juta untuk overnight. Sehingga hanya orang-orang kelas atas saja yang bisa memakai jasanya. Namun ia cukup professional dalam bekerja. Sekali ia commit untuk transaksi, maka ia akan melayani orang itu dengan sungguh-sungguh termasuk datang tepat waktu. Sehingga tingkat kepuasan orang yang pernah memakai jasa dia tinggi sekali. Untuk transaksi malam ini, kita membayar dia 15 juta untuk sekali kencan (short time) dengan Pak Miskan, alasannya karena pemberitahuan yang terlalu mendadak, ditambah adanya permintaan khusus. Plus 40 juta untuk menjalankan misi rahasia kita. Karena ia tahu bahwa kita bisa mendapat keuntungan ratusan juta atau malah milyaran dengan hal itu.”
“Wah, betul-betul dia adalah cewek dengan naluri bisnis yang tinggi. Tak heran kalau ia tergolong sukses dengan profesinya, apalagi usianya masih sangat muda,” kata A-lok meski agak kecut mengeluarkan uang sebanyak itu untuk transaksi semalam yang tak dinikmatinya tapi mau tak mau memuji kelihaian cewek muda itu,” Tapi Pak Pur masih belum menceritakan, bagaimana tahunya kalau ia adalah cewek panggilan?”
“Sekitar dua tahun lalu saat cewek itu berumur 16 tahun, ia mulai dipelihara oleh seorang konglomerat terkenal di ibukota. Saat itu segala kebutuhannya dicukupi, dari rumah, mobil, uang saku, baju, dll. Namun belakangan konglomerat itu makin jarang datang ke dia. Sehingga kini, selain ia masih jadi peliharaan konglomerat itu, juga ia bekerja sambilan secara part time. Jadi ia punya dua sumber penghasilan yang cukup besar. Nah, kebetulan, saya punya kontak dengan mantan sopir konglomerat itu dan seorang pelanggan yang pernah menggunakan jasa dia. Jadi saya tahu persis kalau dia adalah cewek panggilan yang bisa dipake asalkan harganya tepat,” kata Pak Purwanto.
“Wah, anda betul-betul hebat. Sungguh saya kagum dengan hasil kerja Pak Pur. Hahahaha,” kata A-lok sambil tertawa.
“Dan cewek ini,”lanjut Purwanto sambil menunjuk salah satu foto cewek itu,”Namanya adalah Henny. Ia adalah putri seorang pengusaha juga, yaitu Pak …. Sama seperti Liani, cewek ini tak bisa dibayangkan mau dibayar untuk melakukan gituan. Sehingga kalau Pak Miskan bermimpi untuk tidur dengan satu dari dua cewek ini, sebaiknya ia terus menerus bermimpi. Karena kedua cewek ini betul-betul bersih.
“Sementara cewek panggilan kita ini bernama Fanny. Ia berkedok bahwa orang tuanya adalah pengusaha kaya dari luar pulau. Padahal sebenarnya ayahnya adalah seorang pegawai biasa. Dia inilah yang kini sedang menemani Pak Miskan.
—@@@@@@@—–
Di hotel XYZ…
![]() |
| Fanny |
“Aiihh, Bapak bisa aja,” kata Fanny dengan manja.
“Betul saya nggak bohong. Ditambah kamu juga menggairahkan sekali,” kata Pak Miskan tertawa dengan jelek sambil meraba tubuh cewek itu.
“Ah, Bapak,” kata Fanny tersipu malu.
Pak Miskan saat itu sungguh terangsang banget dengan Fanny. Wajahnya yang cantik eksotis, tubuhnya yang sexy dengan dadanya yang menonjol seolah menantang kejantanan dirinya. Penampilannya yang elegan dengan riasan wajah dan pakaian pesta yang dikenakan cewek itu memberikan kesan bahwa cewek itu tentu putri anak orang kaya yang bukan cewek sembarangan. Namun kini, cewek itu bakal dilahap dan dikuasainya bulat-bulat. Sehingga ia merasa sebagai orang yang super hebat. Karena hanya pria hebatlah yang bisa menaklukkan cewek sekelas Fanny begini. Setelah itu ia tak memberi kesempatan Fanny untuk bersantai-santai, karena ia langsung take action. Direngkuhnya tubuh Fanny disebelahnya dan diciumnya bibirnya. Fanny tentu tak melawan. Dibiarkannya bapak setengah tua yang berwajah jelek dan berkulit hitam itu menikmati bibirnya. Pak Miskan yang merasakan hangatnya bibir Fanny jadi makin nafsu. Dijelajahi seluruh bagian bibir Fanny. Sementara kedua tangannya meraba-raba sekujur tubuh Fanny.
Setelah puas menikmati bibir Fanny, Pak Miskan menghentikan ciumannya. Tangan kirinya memeluk bahu Fanny. Tangan kanannya bergerilya kesana-kemari. Pak Miskan mulai meraba dada Fanny yang menonjol itu. Jarinya bergerak mengikuti belahan leher gaunnya. Sehingga jarinya meraba-raba bagian atas dada cewek yang putih itu. Lalu jarinya berhenti di tengah-tengah. Tepat di lekukan diantara belahan dadanya. Kini jarinya bergerak naik turun mengikuti celah lekukan itu. Setelah itu turun lebih ke bawah lagi. Sampai jari-jari tangannya itu menyusup masuk ke dalam gaun pestanya. Di dalam gaun itu, jari-jari tangannya meraba dan meremas-remas dada kiri dan kanan Fanny. Kemudian ia menikmati bibir Fanny sambil tangannya terus memainkan payudara cewek itu. Pak Miskan melepas ciumannya. Tangannya dikeluarkan dari gaun cewek itu, dan berpindah ke paha cewek itu. Sambil meraba-raba paha cewek itu makin lama makin naik ke atas, disusupkannya di balik rok gaun itu. Sampai tangannya meraih apa yang diinginkannya, yaitu daerah vagina cewek itu. Diraba-rabanya celana dalam gadis itu. Terutama di bagian tengah diantara kedua paha, tempat liang vagina cewek itu. Tepat disitu, jarinya ditekan ke dalam sampai agak masuk ke dalam.
“Aah,” Fanny mengeluarkan seruan tertahan.
Dan bagian itu digesek-geseknya.
“Ahh….ahhh…..ahh…..”
“Enak sayang?” tanya Pak Miskan sambil terus menggesek-gesekkan jarinya di balik gaun pesta mahal itu. Ia makin mendekatkan tubuh cewek itu ke dirinya, sehingga tangan kirinya yang tadi memeluk bahu cewek itu kini bisa merengkuh dada cewek itu. Kembali ia meraba-raba dan meremas-remas dada Fanny. Sambil menciumi leher putih dan rambut ikal panjang serta harum itu. Sembari terus menggesek-gesek liang vagina gadis itu dengan tangan kanannya.
Setelah itu Pak Miskan melepaskan grepe-grepeannya. Ia menyuruh Fanny berdiri dan melepas sepatu pestanya yang mahal itu. Ia sendiri juga berdiri. Tangannya merengkuh punggung gadis itu. Dibukanya retsleting gaun itu. Kedua tangan Fanny dikeluarkan dari gaun itu. Dan, gaun indah yang sebelumnya begitu elegan menempel di tubuh sexy gadis itu, seketika melorot ke bawah, dan kini hanya jadi seonggok kain yang tergeletak di lantai di sekitar telapak kaki gadis itu. Dan kini, yang nampak adalah tubuh sexy Fanny yang semakin jelas ke-sexy-annya. Apalagi bra dan celana dalam yang dikenakan gadis itu berwarna merah menyala. Sungguh kontras dengan kulit tubuhnya yang putih. Dan warna merah menyala itu semakin membakar nafsu kejantanan Pak Miskan. Hal itu terbukti dengan tindakannya yang langsung merogoh bra merah itu dan segera melepaskan kaitannya. Tanpa basa basi lagi, diloloskannya bra merah itu dari tubuh gadis putih mulus itu. Dan, wow! Pak Miskan terpana dengan payudara Fanny yang terbuka bebas itu. Keduanya membusung dan padat berisi serta menantang. Putingnya berwarna coklat muda. Keduanya menonjol nampak begitu sensitif. Dengan penuh nafsu direngkuhnya dada yang terbuka menantang itu dengan kedua tangannya. Segera tangannya meremas-remasnya, meraba-rabainya terutama putingnya. Lalu dengan rakus mulutnya menjilati payudara putih Fanny. Dihisap-hisapnya, terutama putingnya. Dikenyot-kenyotnya. Saking nafsunya sampai suara kecapan mulutnya terdengar cukup keras. Ujung lidahnya menggerak-gerakkan puting coklat muda itu. Lalu diemut-emut lagi payudara putih itu. Sambil tangan kanannya menyusup ke dalam celana dalam merah Fanny. Dirasakan bulu vaginanya yang cukup lebat. Lalu tangannya merayap ke bawah lagi, diantara kedua paha. Jarinya digesek-gesekkan di liang vagina cewek itu. Lalu celana dalam merah itu diturunkannya dengan kedua tangannya. Sehingga kini Fanny telanjang bulat. Kecuali kalung emas dengan mata kalung batuan Ruby yang besar serta arloji di tangan kirinya, tidak ada lagi apapun yang melekat di tubuhnya.
Pak Miskan melepas ikatan pakaian tidur yang dipakainya dan segera melepaskannya. Kulit badannya sawo matang. Ia hanya memakai celana dalam saja. Nampak ada tonjolan besar di dalamnya. Lalu ia menunjuk bagian bawah tubuhnya itu kepada cewek itu. Fanny tentu mengerti isyarat itu. Segera ia berlutut di depan Pak Miskan. Kedua tangannya yang halus meraih celana dalam Pak Miskan dan menurunkannya. Penisnya yang hitam dan besar seketika mengacung ke atas. Mulut Fanny mengemut buah zakar Pak Miskan. Lidahnya ditekan-tekan ke buah zakar itu. Lalu diemut-emut lagi. Kemudian lidahnya merayap naik, menjilat batang penisnya, dari pangkalnya sampai ke ujung. Ehmm! Dijilatnya lagi, lagi, dan lagi.
Ohh! Pak Miskan melenguh nikmat .
Lalu Fanny mengulum batang penis itu dan mengocok di dalam mulutnya.
Shleeb shleeb shleeeb.
Lidahnya menjilat-jilat melingkar-lingkar di kepala penisnya yang tersunat.
Emhhh! Emhhhh! Pak Miskan merasakan nikmat luar biasa saat gadis muda dan cakep itu berlutut di depannya dan mengemut-ngemut penisnya. Hampir saja ia “keluar” kalau tidak cepat ditahannya. Lalu mereka berdua duduk di tepi ranjang. Kembali mulut Pak Miskan menikmati payudara Fanny. Kedua tangannya meraba-raba tubuh putih dan mulus itu. Dirasakannya betapa halusnya kulit tubuh cewek itu. Kembali ia menyuruh Fanny bersimpuh di depannya supaya cewek itu meng-oralnya. Yang segera dilakukan Fanny dengan patuh. Ia bersimpuh di depan Pak Miskan. Tubuhnya membungkuk, kepalanya bergerak naik turun, mulutnya mengulum-ngulum penis hitam Pak Miskan. Pak Miskan memegang rambut kepala Fanny dan menggerak-gerakkan kepala cewek itu supaya ia terus mengulum-ngulum penisnya.
Pak Miskan menyuruh Fanny berbaring di ranjang, telentang. Kembali Pak Miskan memainkan dada cewek itu dengan tangannya, dilanjutkan dengan mulutnya mengenyot-ngenyot dan menyedot-nyedot payudara yang menggiurkan itu. Sambil tangannya juga menggesek-gesek vagina cewek itu. Setelah itu gantian Pak Miskan yang telentang di ranjang. Dan ia menyuruh Fanny mengemut penisnya. Sehingga lengkaplah Pak Miskan mengenyot-ngenyot payudara Fanny dalam posisi berdiri, duduk, dan tidur. Demikian pula sebaliknya, penisnya diemut-emut oleh Fanny dalam posisi berdiri, duduk, dan kini tidur. Setelah itu Fanny menghentikan emutannya. Pak Miskan menyuruhnya untuk “naik” diatas tubuhnya. Fanny mendekatkan vaginanya di atas penis Pak Miskan. Lalu, dengan menggunakan berat tubuhnya, bleeess, kini penis Pak Miskan telah berada di dalam vagina Fanny. Kini Fanny menaik-turunkan tubuhnya.
“Oohhh, ohhhhh, ohhhhhh….” Fanny mendesah-desah seiring dengan gerakan tubuhnya itu.
Payudaranya bergoyang-goyang naik turun. Tangan Pak Miskan merengkuh payudara itu meremasnya dan meraba-rabanya.
“Oohhh, ohhhhh, ohhhh, ohhhhhh…..”
Pak Miskan menghentikan gerakan cewek itu. Kini berubah posisi. Fanny dalam posisi telentang. Giliran dia yang menyetubuhi gadis itu dalam posisi missionaris.
“Ooohhhh, ohhhhh, ohhhhhh, ohhhhhh….”
Setelah itu ganti posisi ke doggy style. Disuruhkan Fanny menungging di depan cermin besar. Dan, disodoknya cewek itu dari belakang.
“aaahhh, ahhhhhh, aaahhhhh……”
Dari pantulan cermin terlihat payudara Fanny berguncang-guncang akibat sodokan-sodokannya itu. Kedua tangan Pak Miskan meremas-remas payudara montok yang terguncang-guncang itu.
Setelah itu keduanya duduk di atas ranjang. Fanny duduk dipangku diatas paha Pak Miskan dan saling berhadapan. Vagina Fanny kembali ditembus penis Pak Miskan. Fanny menaik-turunkan tubuhnya sambil mengerang-erang.
“Oohhhhhh, ohhhhhhh, ooohhhhhhhhhhh…”
Dan setelah itu berganti posisi. Fanny tiduran dalam posisi miring. Kakinya yang satu dibuka lebar-lebar ke atas. Dalam posisi itu Pak Miskan menyodoknya dari depan. Penisnya masuk menembus vagina Fanny dalam posisi saling silang tegak lurus. Itulah Gaya Gunting, yang mana sungguh berbeda sensasinya bagi keduanya.
“Ooohhhhhhhh, ohhhhhhh, ohhhhhhhhhhhhh……”
Fanny mendesah-desah dibuatnya.
Setelah itu Pak Miskan tiduran telentang. Fanny juga tidur telentang di atas Pak Miskan. Pak Miskan memasukkan penisnya ke dalam vagina cewek itu. Dan kembali Fanny menggerak-gerakkan tubuhnya yang telentang, mengocok penis Pak Miskan yang berada dalam vaginanya. Setelah puas dengan itu, Pak Miskan menyuruh Fanny tidur telentang. Lagi-lagi disetubuhinya gadis mulus itu dengan posisi missionaris. Dan, dipompanya penisnya di dalam vagina gadis itu.
“Oohh…oohhhhh….ohhhhhh…oooohhhhh….”
Dan setelah itu, tiba-tiba kedua kaki Fanny menjepit kedua kaki Pak Miskan sehingga tak bisa lepas. Itu adalah Jepitan Maut. Menurut desas desus, jurus ini adalah keahlian khusus dari Madura sejak jaman dahulu. Bagi pria yang telah dijepit seperti itu, hanya satu yang bisa dilakukan, yaitu menyetubuhi cewek di bawahnya dengan makin cepat dan makin semangat. Sehingga tak lama setelah itu….
Crottttz, croott, crott,…
Seluruh sperma Pak Miskan tumpah di dalam vagina Fanny. Setelah itu terkulailah ia dengan lemas di atas ranjang. Namun hatinya sungguh puas telah menikmati Fanny.
Beberapa saat kemudian, keluarlah Fanny dari kamar itu. Sesampainya di bawah, ia menelpon Pak Purwanto,”Sudah selesai Pak.”
“Gimana hasilnya?”
“Sepertinya dia puas sekali dengan service saya.”
“Bagus, bagus. Lalu tugas kamu yang satunya gimana?”
“Hal itu juga sudah saya lakukan. Ia tak tahu saya melakukan itu.”
“Hebat! Kamu betul-betul hebat. Kalau begitu, kamu tunggu saya di lobby. Sepuluh menit saya sampai disana.”
—@@@@@@@—–
Di lobby…
“Nah, ini saya kembalikan ke Bapak,” kata Fanny melepas arloji mahal di pergelangan tangannya.”Silakan diperiksa hasilnya.”
Pak Purwanto menerima arloji itu namun pandangan matanya mengarah ke dada Fanny. Dada itu begitu indah dengan bagian atas yang terbuka. Sementara itu persis di tengah-tengah gundukan gunung kembar itu terdapat mata kalung berupa batuan Ruby warna merah yang besar, yang sungguh pas dipakai gadis itu.
“Wah, betul-betul hebat. Sesuai dengan yang saya inginkan.”
“Jadi saya bisa dapatkan sisanya sekarang juga?”
“Oh, tentu, tentu. Nah ini dia, silakan diperiksa. Jumlahnya pas khan?” kata Purwanto menyerahkan selembar cek kepada gadis itu.
“Ya betul sekali. Jadi transaksi selesai? Kalau gitu saya akan pulang sekarang.”
“Oh tentu. Silakan….Oh ya, omong-omong besok malam saya perlu jasa kamu lagi.”
“Baik. Buat dia lagi?”
“Bukan. Buat saya sendiri.”
Setelah itu berpisahlah mereka. Purwanto tersenyum puas. Misinya telah berhasil dengan sukses. Pertama, ia berhasil dalam menyenangkan hati Pak Miskan. Kedua, ia berhasil membuat Pak Miskan tergantung karena tentu ia ingin menikmati Fanny lagi di kemudian hari. Ketiga, ia berhasil menjebak Pak Miskan. Di dalam kamar tadi beberapa kali Fanny mengambil foto Pak Miskan yang telanjang bulat dan sedang menyetubuhi dirinya dengan menggunakan arloji itu. Arloji itu adalah arloji canggih yang juga berfungsi sebagai kamera mini yang khusus dipinjamkan ke Fanny untuk misi itu. Meski dalam foto-foto itu tak terdapat wajah ceweknya, namun sudah cukup menunjukkan kalau Pak Miskan berbuat affair dengan wanita lain. Hal itu bisa digunakan sebagai kartu as untuk membuat Pak Miskan betul-betul tunduk terhadapnya dan A-lok. Dan keempat, ia bakalan menikmati diri Fanny yang cantik dan menggairahkan itu. Saat itu ia betul-betul puas dengan prestasi dirinya, yang dalam waktu singkat bisa dengan tepat menyelidiki dan mengatur segalanya. Sehingga kini semuanya aman dan terkendali. Setelah itu ia memberi laporan kepada A-lok bossnya itu. A-lok mendengarkan laporannya dengan gembira. Kini semuanya telah berada dalam kontrolnya. Ia sungguh puas dengan prestasi Pak Purwanto yang capable dan selalu mampu menyelesaikan hal-hal yang rumit seperti ini. Sungguh ia pantas menjadi orang kepercayaannya. Di sisi lain, ia tak ragu dengan kesetiaan Pak Purwanto. Karena, pertama, Pak Purwanto diberinya saham perusahannya cukup besar secara cuma-cuma. Dan kedua, ia memegang kartu as tentang rahasia keluarga Pak Purwanto yang adalah jaminan mutu bahwa tangan kanannya itu tak akan mengkhianatinya. Sehingga kini kedua orang itu betul-betul puas hatinya.
Namun benarkah Pak Purwanto sama sekali tak membuat kesalahan? Ternyata tidak! Karena ternyata ia membuat beberapa kesalahan. Yang pasti, hasil penyelidikannya tentang Liani kurang menyeluruh. Mungkin ia benar bahwa Liani adalah anak orang kaya yang tak bisa dibeli dengan uang. Namun, seperti yang telah kita ketahui, Liani pun juga bukan cewek yang betul-betul “bersih”. Tetapi, kekurangan penyelidikannya itu bisa dimaklumi dan dimaafkan. Karena memang tidak ada narasumber yang bisa dipercaya ditambah bukti otentik yang membuktikan kalau cewek itu “tidak bersih”. Lagipula, buat apa susah-susah menyelidiki Liani yang sukar dijangkau, sementara ada Fanny yang bisa dijangkau, asalkan harganya tepat. Kesalahan yang lebih fatal yang seharusnya tak dilakukan justru dilakukannya terhadap Fanny. Sesampainya di rumah, Fanny menaruh gaun pesta yang baru dikenakan itu dengan hati-hati. Besok akan di-laundry-nya. Ia membeli gaun itu, selain untuk memenuhi keinginan khusus Pak Miskan kliennya tadi juga untuk dipakainya di pesta ulang tahun teman dekatnya minggu depan. Setelah itu ia mengecek sebuah rekaman video dan akhirnya sampailah ia di bagian akhir, yaitu bagian dimana adanya percakapan dua orang. Percakapan itu adalah sebagai berikut,
“Nah, ini saya kembalikan ke Bapak…Silakan diperiksa hasilnya.”
“Wah, betul-betul hebat. Sesuai dengan yang saya inginkan.”
“Jadi saya bisa dapatkan sisanya sekarang juga?”
“Oh, tentu, tentu. Nah ini dia, silakan diperiksa. Jumlahnya pas khan?”
“Ya betul sekali. Jadi transaksi selesai? Kalau gitu saya akan pulang sekarang.”
“Oh tentu. Silakan….Oh ya, omong-omong besok malam saya perlu jasa kamu lagi.”
“Buat dia lagi?”
“Bukan. Buat saya sendiri.”
Ia tersenyum puas. Tak seorang pun yang mengira bahwa mata kalung batu Ruby itu adalah camcoder mini.
—@@@@@@@—–
Di apartemen…
“Ahhh, ahhhhh, ahhhhh.”
“plokk, plookkk, plookkk.”
“Ahhh, ahhhhh, ahhhhh.”
“plokk, plookkk, plookkk.”
Kedua suara yang berbeda itu menyatu dalam waktu yang hampir bersamaan. Itu adalah suara cewek yang mendesah-desah karena disetubuhi. Dan suara yang lain adalah suara beradunya bagian depan tubuh cowok dengan pinggul cewek, karena cowok itu mengocok penisnya ke dalam vagina cewek itu dengan cukup kencang dalam posisi doggy style. Dengan jantan cowok itu meng”overpower” cewek itu yang hanya menuruti saja apa yang dilakukan cowok itu terhadapnya. Membuat cowok itu makin bernafsu untuk menguasai cewek itu dengan mutlak. Kini tangannya meraba-raba payudara cewek itu yang menggantung ke bawah itu. Kedua tangannya menepuk-nepuk payudara cewek itu. Sehingga bertambah lagi paduan suara itu,
“plekk, plek, plekk.”
Apartemen itu adalah apartemen khusus untuk kegiatan short time seperti ini. Cara kerjanya sungguh professional dan praktis. Beberapa apartemen itu berdiri berderet. Apabila pintu garasi terbuka, artinya apartemen itu kosong dan setiap mobil yang ingin check-in bisa langsung masuk. Begitu mobil masuk garasi, petugas apartemen itu langsung menutup rolling door garasi itu. Pemilik mobil langsung membayar ke petugas itu, berapa jam yang ingin ia pakai. Setelah membayar, bisa langsung masuk ke dalam kamar dan memulai “pertempuran”. Di dalam kamar itu ada kamar mandi yang bisa dipakai dan biaya pemakaiannya telah termasuk di dalam uang sewa kamar tadi. Di kamar itu juga disediakan dua botol air mineral, kopi dan teh serta alat air panas dalam teko listrik yang gratis. Setelah selesai “bertempur”, petugas tadi membereskan ranjang, seprei, dll untuk pemakai berikutnya. Setelah itu hitungan lagi mengenai waktu pemakaian dan pembayaran. Setelah semuanya beres, rolling door dibuka, mobil keluar, dan apartemen itu siap menerima customer berikutnya.
![]() |
| Henny |
—@@@@@@@—–
Di rumah…
Pukul 7 lewat sepuluh menit, ada sms masuk di handphone Liani, isinya,” Gua dah ada di depan.” Liani diam-diam membuka pintu pagar depan rumahnya, dan secara diam-diam pula memasukkan cowok itu ke dalam rumah. Tidak hanya itu, namun juga memasukkan cowok itu ke dalam kamar, yaitu kamar no. 3 yang wastafelnya baru dibetulin. Siapakah cowok itu? Ternyata dia adalah Rohim!
“Kok tiba-tiba lu sms gua tadi memang kenapa?” tanya Liani.
“Ya sehari-hari makan nasi gudeg, boleh dong sekali-sekali makan siomay.”
“Iiih, lu bisa aja deh,” kata Liani.
“Iya nih, gua udah lama ga makan siomay, makanya pengin banget sekarang.”
Anehnya, di dunia ini kadang bisa terjadi hal-hal secara kebetulan. Karena,
“Lianii,” terdengar suara Papinya memanggil dari luar. Untung mereka berdua telah masuk ke dalam kamar.
“Iya Pi.”
“Kamu mau siomay goreng nggak? Papi mau telpon untuk suruh anter.”
“Eh, boleh deh Pi. Aku mau dua biji.”
“OK. Kamu dimana?”
“Aku ada di dalam kamar sini.”
“Ya udah, ntar kalo udah dateng nanti Papi panggil kamu.”
“Eh, nggak usah deh Pi. Aku mau jacuzzi dulu nih. Nanti aku keluar sendiri deh.”
“OK.”
Saat itu Papinya memang sedang di rumah itu juga, ia lagi kerja di ruang kerjanya.
Setelah itu Liani mengisi air di bak jacuzzi-nya itu. Sementara itu, selagi menunggu airnya penuh…Tanpa ba-bi-bu lagi, Rohim menghampiri Liani, memeluknya dan mencium bibirnya. Liani yang memang telah mengenal cowok ini luar dalam dan telah beberapa kali melakukan hubungan intim dengannya, membiarkan saja tindakan cowok itu. Ia membiarkan cowok itu dengan penuh nafsu menjelajahi seluruh bagian bibirnya. Begitu pula saat lidah cowok itu bermain-main di dalam mulutnya. Cukup lama mereka berdiri sambil berpelukan seperti itu, sementara bibir Rohim memagut dan mengunci bibir Liani. Saat itu Liani memakai daster terusan yang tipis kainnya dan agak longgar dan punggung bagian atas terbuka. Saat Rohim memeluk punggung Liani, kedua tangannya menyentuh tali bra di punggung itu. Sambil iseng ia menggerakkan tangannya untuk melepas pengait bra di punggung cewek itu. Dan, seketika terbukalah pengait itu. Saat itu ia masih sedang asyik menciumi bibir Liani juga. Setelah ia menghentikan ciumannya dan melepaskan pelukannya dari Liani, otomatis bra yang telah terbuka kaitannya itu jadi longgar. Rohim menggoyang daster Liani satu kali…namun ternyata cukup ampuh, karena berkat goyangannya itu bra di dada Liani itu terlepas dan langsung turun jatuh ke lantai, hal ini terjadi di dalam daster longgar itu. Rohim tersenyum-senyum melihat itu.
“Wah, kok bisa gitu ya?! Hebat, hebat.”
“Apanya sih yang lucu?” kata Liani cemberut karena cowok itu seperti sengaja mempermainkan dirinya.
Namun wajah Liani yang cemberut itu makin menambah kecantikannya, apalagi kini ia sudah tidak memakai bra. Daster tipis itu mana bisa menutupi payudaranya yang indah. Di kain tipis itu tercetak kedua putingnya yang menonjol dan dadanya yang bergerak-gerak. Cewek bertampang cakep innocent namun tidak memakai bra?! Sungguh itu adalah hal yang kontradiktif dan jaminan mutu cowok yang melihatnya sudah pasti mupeng abis. Apalagi bagi cowok seperti Rohim, yang masih menganggap Liani cewek high class yang lebih tinggi derajatnya dibanding dirinya.
Saat itu Liani hendak protes dan mengatakan sesuatu, namun Rohim tak memberinya kesempatan. Karena ia segera kembali mengunci bibir cewek itu dengan bibirnya sambil tangannya mulai meraba-raba tubuh cewek itu. Sampai akhirnya disentuhnya payudara Liani. Diraba-rabanya payudara indah cewek itu yang sampai sekarang masih membuatnya tergila-gila itu. Meski tangannya masih di luar daster, tapi ia bisa merasakan kulit tubuh cewek mulus itu. Demikian pula ia bisa merasakan degup jantung cewek itu yang berdetak makin kencang. Dengan lembut diusap-usapnya dada cewek itu. Lalu tangan Rohim menyusup masuk ke dalam daster Liani. Ia melepas celana dalamnya. Kemudian ia membuka celananya sendiri dan melepas celana dalamnya juga. Lalu ia menyuruh Liani berbaring di ranjang. Namun dengan halus Liani menolaknya, ia berkata,
“Eh, airnya kayaknya udah penuh sekarang.”
“OK,” kata Rohim sambil melepas seluruh bajunya. Liani agak tersipu melihat penis cowok itu yang hitam telah menegak dengan keras. Lalu Rohim hendak melepas daster yang masih melekat di tubuh Liani. Namun Liani memprotesnya,
“Kita kesitu dulu aja,” katanya sambil menunjuk ke arah kamar mandi.
“Iya memang kita kesitu dulu. Tapi khan daster lu ini harus dilepas dulu,” katanya sambil kedua tangannya langsung berusaha menanggalkan daster itu dari tubuh cewek itu.
Kali ini Liani tak menolak. Dibiarkannya cowok itu melepaskan daster yang menjadi penutup tubuhnya itu. Saat itu Rohim berdiri di belakang Liani saat ia menanggalkan daster itu. Namun ia melakukan itu di depan cermin meja rias yang besar. Sehingga ia bisa melihat sedikit tubuh putih mulus Liani saat terkuak sedikit demi sedikit, sampai akhirnya, gadis itu telanjang bulat tanpa selembar benang pun melekat di tubuhnya. Semuanya itu bisa dilihatnya dari pantulan cermin itu. Setelah itu ia memegang punggung gadis itu dan mendorongnya menuju ke kamar mandi. Nampak kontras sekali perbedaan tubuh keduanya. Tubuh Liani yang putih halus. Badan Rohim yang hitam dan kasar. Tubuh Liani yang ramping namun bagian-bagian tertentu menonjol dengan indah. Badan Rohim yang tegap namun rata. Puting Liani yang kemerahan di puncak payudaranya sungguh indah sekali. Bagaikan buah ceri yang ditaruh diatas ice cream vanilla. Mmmhh, sungguh lezat rasanya.
Ternyata memang benar, air jacuzzi itu telah cukup penuh. Sehingga keduanya masuk ke dalam bak besar itu untuk merendam tubuh di dalam air hangat itu. Untuk beberapa saat mereka merendam dirinya dan menikmati hangatnya air dan semprotan air jacuzzi itu, tanpa aksi apa-apa. Malah sempat penis Rohim mengendur dan kembali ke posisi “tidur”. Namun setelah itu kembali mereka berdua melakukan aksi-aksi yang hot, terutama Rohim yang dengan mudah menjadi terangsang melihat tubuh indah Liani yang telanjang bulat di dalam air. Kembali ia menciumi bibir Liani dengan penuh nafsu, dan kali ini Liani juga membalasnya dengan tak kalah hot-nya. Mereka berdua saling berpagutan di dalam kolam jacuzzi itu, dan mereka saling berciuman diatas permukaan air dan juga di bawah permukaan air. Kemudian ciuman Rohim turun ke bawah, ke leher Liani yang putih, dan turun ke bawah lagi, ke dadanya! Ia menciumi kedua dada cewek itu dengan nafsu. Apalagi Liani sengaja menaik-turunkan tubuhnya, sehingga kadang Rohim menjilati dan mengenyot-ngenyot payudaranya di bawah air. Setelah itu Rohim malah turun ke bawah, melewati perut, paha, sampai akhirnya di sekitar vagina Liani. Kembali ia menjilat-jilat liang vagina serta klitoris Liani. Dengan mudah ditemukannya klitorisnya karena sudah tak asing lagi bagi cowok berpengalaman seperti dirinya. Lagi-lagi kepala Rohim menyelam di bawah permukaan air untuk menjilati vagina Liani. Sambil secara periodik Liani mengangkat tubuh bagian bawahnya ke atas permukaan air sehingga Rohim mampu mengambil nafas, sebelum ia kembali menurunkan tubuhnya ke bawah permukaan air. Sehingga beberapa saat lamanya Rohim melakukan itu, lidah dan mulutnya tak pernah terlepas dari vagina Liani.
Kini giliran Liani yang membalas budi. Kali ini Lianilah yang mengulum-ngulum, menyedot-nyedot, dan menjilati penis Rohim. Sambil menikmati penisnya di dalam mulut Liani, Rohim memegangi kepala gadis itu. Seolah untuk memastikan cewek itu untuk terus “membahagiakan” penisnya. Sesekali kepala Liani muncul ke atas permukaan air untuk mengambil nafas, setelah itu menyelam ke dalam lagi. Namun pernah juga Liani ingin mengangkat kepalanya, namun tangan Rohim tetap memegang kepala gadis itu. Seolah memaksa cewek itu untuk terus meng-oral penisnya. Sampai akhirnya Liani memberontak dengan keras dan akhirnya berhasillah ia mengangkat kepalanya dengan napas tersengal-sengal. Demikian hal itu berlangsung beberapa kali. Rupanya Rohim sengaja menggodanya. Namun sesekali melihat Liani tersengal-sengal begitu, ia membantunya dengan memberikan napas bantuan dengan mulutnya. Setelah itu mereka berpindah posisi. Kali ini Rohim sudah tak sabar lagi untuk melahap menu utamanya. Ditidurkannya Liani telentang di dalam bak itu. Kepalanya bersandar di dinding bak itu tentunya di atas permukaan air. Sementara kedua kakinya dibuka lebar di bawah air. Lalu ia mendekatkan dirinya ke Liani yang telentang, didekatkan penisnya di depan liang vaginanya, dan bleesssh, dimasukkannya penisnya ke dalam vagina Liani di bawah permukaan air. Kemudian dikocok-kocoknya penisnya mengoyak-ngoyak vagina Liani.
“Oooh….ohhhhh…..ohhhhh…..ohhhhh….” Liani langsung mendesah-desah dibuatnya.
Lalu dicabutnya penisnya. Kedua kaki Liani diangkat keatas dan dibuka lebar-lebar, sehingga membentuk huruf V, lalu kembali dimasukkan penisnya ke dalam vagina gadis itu di bawah permukaan air dan dikocoknya tubuh gadis itu.
“OOhhhh….ohhhhhhhhh…..ooooohhhhhh……oohhhhhhhhh….” Liani mendesah-desah semakin keras. Karena dalam posisi itu, rasanya penis Rohim jadi menghunjam masuk makin dalam ke dalam vaginanya. Rohim yang melihat Liani mendesah-desah makin keras dan makin tinggi itu jadi semakin semangat menghunjam-hunjamkan penisnya. Dan gerakannya itu semakin cepat dan kuat. Sehingga seluruh tubuh Liani jadi bergoyang-goyang dibuatnya, baik yang di bawah permukaan air maupun yang di atas.
“AAhhh….aaahhhh…..ahhhhhh..aaaahhhhh…..”
“Aaahhh…aaahhhhhh….aaaahhhhhh……aaaaahhhhhh….”
Sementara pada saat itu, Papinya Liani mengetuk-ngetuk pintu kamar itu.
“Lianii,” Tok-tok-tok.
“Lianii,” Tok-tok-tok.
Namun Liani tak mendengar itu karena ia sedang asyik di dalam kolam jacuzzi itu.
“Aaahhh…aaahhhhhh….aaaahhhhhh……aaaaahhhhhh….”
Sementara Rohim juga tak mendengar itu karena ia sedang asyik-asyiknya menyetubuhi Liani yang sexy dan menggairahkan itu.
“Ah, lagi ngapain sih tuh anak, masa diketuk-ketuk dan dipanggil-panggil keras-keras gini juga nggak kedengeran,” kata Papinya Liani sambil akhirnya meninggalkan kamar itu.
Tentu Liani tak mendengar ketukan dan panggilan itu, karena justru saat itu ia akhirnya mengalami orgasme, orgasme yang pertama dialaminya di bawah permukaan air!
Mengetahui Liani telah mendapat orgasmenya, Rohim jadi tersenyum puas. Sungguh cewek ini bisa membuat cowok seperti dirinya bangga, padahal ia sendiri masih belum setengah jalan. Lalu ia memijiti tubuh Liani yang membuat cewek itu keenakan, apalagi saat bagian-bagian sensitifnya dipijit-pijit. Setelah itu gantian Liani yang memijiti Rohim. Namun Rohim tidak ingin Liani memijiti dirinya dengan kedua tangannya. Ia menyuruh Liani memijiti tubuhnya dengan menggunakan payudaranya! Sehingga kini payudara Liani yang putih menempel dan memijit-mijit hampir seluruh tubuh Rohim yang hitam. Terakhir Rohim menyuruh Liani memijit penisnya yaitu dengan menggesek-gesekkannya di tengah-tengah belahan dadanya. Pada saat mereka berdua saling memijit itu, Liani menuangkan sejumlah sabun cair. Sehingga kini bak jacuzzi itu jadi lebih licin dan diatas permukaan air muncul busa sabun yang membumbung cukup tinggi.
Setelah itu Liani membuang air di dalam bak itu sehingga bak itu kini jadi kosong dan keduanya membilas tubuh mereka yang penuh dengan sabun. Setelah tubuh keduanya bersih, kembali Rohim menyetubuhi Liani, kali ini dalam posisi missionaris. Namun bak itu masih agak licin, sehingga tubuh Liani yang berada di bawah jadi tergerak mundur setiap kali Rohim menyodoknya. Lalu ganti posisi ke Cowgirl Position. Rohim tidur telentang di dasar bak, dan Liani duduk dan naik di atas penis Rohim yang menembus vaginanya. Dan, Liani mengocok-ngocok tubuhnya naik turun. Setelah itu, Rohim mengajak Liani pindah tempat ke kamar, tepatnya di atas ranjang, yang dituruti oleh Liani. Setelah keduanya mengeringkan tubuh dengan handuk, keduanya masuk ke dalam kamar dengan masih telanjang bulat, dan penis Rohim masih tetap terus menegang sepanjang jeda itu. Mula-mula mereka melakukan posisi Doggie Style, di atas ranjang empuk itu. Setelah itu Rohim mengajak melakukan posisi yang unik, yang belum pernah dilakukan sebelumnya, dan sekarang ingin dipraktekkan terhadap Liani, yaitu posisi Butterfly. Liani tidur telentang dengan pinggulnya pas berada di tepi ranjang. Rohim mengangkat kedua kaki Liani ke atas sehingga tubuh Liani ditekuk 90 derajat seperi huruf L dengan pinggulnya sebagai titik temunya. Sehingga liang vagina Liani terbuka di tengah kedua kakinya. Rohim segera memasukkan penisnya ke vagina Liani dan mengocok-ngocok penisnya. Sementara kedua kaki Liani yang naik ke atas kini disandarkan di dada dan bahu Rohim. Sehingga nampaklah pemandangan indah perpaduan antara yin dan yang, Liani yang bertubuh putih menyatu dengan Rohim yang bertubuh hitam. Saat Rohim memaju-mundurkan pinggulnya untuk mengocok penisnya di dalam vagina Liani, tubuh Liani jadi berguncang-guncang, terutama payudaranya yang jadi berputar-putar dibuatnya. Liani ingin mendesah keras-keras, karena posisi itu sungguh memberikan sensasi yang berbeda. Namun ia ingat kalau saat itu ia di dalam kamar, yang tentunya bisa terdengar oleh Papinya. Karena itu ia hanya berani melenguh-lenguh pelan. Namun ekspresi wajahnya menunjukkan kalau ia merasakan kenikmatan yang luar biasa.
Pada saat itu,
“Lianii.” Tok-tok-tok
Ah sialan, gerutu Liani, mengganggu saja.
“Lianiii.” Tok-tok-tok
Ah, cuekin ajalah, batin Liani.
“Lianiii.” Tok-tok-tok
(“ahh..ahhh..ahhh…”) Liani mengeluarkan ekspresi wajah yang mendesah-desah karena saat itu Rohim masih terus menyetubuhi dirinya, namun tanpa suara karena takut ketahuan Papinya yang saat itu berdiri di depan pintu kamarnya.
Dan untunglah, itulah ketukan dan panggilan yang terakhir, karena ia mendengar suara langkah kaki yang berjalan menjauhi pintu kamarnya. Sehingga kini ia bebas merdeka.
(“ahh..ahhh..ahhh…”)
….
….
Namun ternyata kali ini Liani salah perhitungan. Karena saat itu Papinya kembali mendatangi kamarnya. Dan kali ini tanpa mengetuk atau memanggilnya lagi, terdengar suara kunci yang dimasukkan di dalam knob pintu kamar itu, diputar..dan, klik, terbukalah kuncinya.
Dengan panik Liani berteriak,” Papiii, jangan masuk, aku lagi nggak pake baju!!”
Namun terlambat! Karena saat ia tengah bicara, knob pintu itu telah diputar, terbukalah pintu kamar itu, dan Papinya Liani melangkah masuk!!
Padahal saat itu Liani sedang telentang telanjang bulat di atas ranjang dan sedang disetubuhi oleh Rohim dalam posisi Butterfly!!!
“Papi jangan kesini! Aku lagi telanjang bulat!!” teriak Liani lagi histeris. Memang ia tak bohong dalam hal ini. Namun tak bisa dibayangkan betapa kagetnya Papinya melihat putri kesayangannya itu sedang telanjang bulat karena sedang disetubuhi cowok rendahan dan tak dikenal!
Tapi, untunglah, Papinya tak sampai melihat itu. Karena pintu kamar itu membuka ke arah tembok. Sehingga meski Papinya telah membuka pintu dengan cukup lebar dan ia telah melangkahkah satu kakinya ke dalam kamar, namun ia tak sempat melihat apa yang terjadi di tengah kamar itu karena pandangannya terhalang pintu itu. Ia masih sempat menghentikan langkahnya saat Liani pertama kali berteriak mengatakan kalau dirinya tidak memakai baju. Tentu ia tak ingin melihat putrinya sendiri dalam keadaan telanjang, apalagi telanjang bulat seperti yang dikatakan setelahnya.
“OK, OK, Papi nggak akan masuk. Kenapa dari tadi kamu nggak menjawab waktu Papi panggil? Khan Papi jadi khawatir kalo kamu ada apa-apa di dalam. Makanya Papi membuka pintu kamar pakai kunci.”
“Tadi aku di kamar mandi berendam sambil dengerin musik, Pi, jadi nggak kedengaran.”
“OK, kamu nggak apa-apa khan?”
“Ya nggak apa-apa lah Pi. Eh, Papi, ngomongnya nanti aja deh dan pintunya tolong ditutup lagi dong. Nggak enak nih. Khan aku lagi nggak pake baju.” Liani khawatir juga kalau-kalau Papinya melongok ke dalam. Ibaratnya, untuk kesana hanya perlu satu langkah kaki lagi. Pada saat itu ia tak takut Papinya melihatnya telanjang bulat. Tapi ia sungguh takut Papinya melihat dirinya dalam posisi Butterfly itu! Sementara Rohim kini diam tak bergerak, artinya penisnya masih masuk menembus di dalam vaginanya. Karena kalau ia bergerak, salah-salah malah menimbulkan suara yang mencurigakan. Sehingga seandainya Papinya saat itu melangkahkan satu kakinya ke depan lagi, maka tamatlah riwayat Liani!
“OK, sorry, sorry,” kata Papinya lagi,” Ya udah Papi tutup dan kunci lagi ya pintunya,” katanya sambil melangkah balik, mengunci knob pintu itu dan menutupnya kembali.
Oh, leganya, batin Liani.
Dan, (“ahh..ahhh..ahhh…”) kembali Liani melanjutkan mendesah-desah tanpa suara karena setelah itu Rohim kembali melanjutkan aksinya.
Sehingga kini Liani betul-betul bebas dari gangguan.
….
(“ahh..ahhh..ahhh…”)
(“ahh..ahhh..ahhh…”)
(“ahh..ahhh..ahhh…”)
….
….
Setelah itu mereka berganti posisi. Liani berbaring telentang di tengah ranjang. Kedua kakinya ditekuk ke atas. Sementara Rohim duduk bersimpuh di depannya, kedua kakinya ditekuk. Kedua kaki Liani disandarkan di bahu Rohim. Kedua tangannya memegang pantat Rohim. Sementara kedua tangan Rohim memegang bahu Liani. Lalu dalam posisi itu, ia memasukkan penisnya ke dalam tubuh Liani.
Shleeb…shleeeb…shleebb
(“Ooohhhh…ohhhhhhhh….ohhhhhh)
….
….
Rohim terus menerus mengocok penisnya dalam posisi ini. Sampai akhirnya tibalah orgasme kedua Liani setelah dikocok-kocok beberapa menit lamanya dalam posisi agak unik itu. Setelah itu Rohim mencabut penisnya. Kini Liani duduk di tepi ranjang. Rohim mendekatkan penisnya ke wajah Liani. Liani mengulumnya kembali beberapa saat lamanya. Sampai setelah akan ejakulasi, Rohim mengeluarkan penisnya dan, crottzzz, crottz, crotz…menyemprotkan air maninya itu yang mendarat ke berbagai tempat di rambut dan wajah Liani. Sehingga mukanya yang cakep dan innocent kini jadi belepotan sperma Rohim. Apalagi banyak yang kemudian mengalir turun ke bawah membasahi pipi lalu turun ke leher dan dadanya. Sementara rambutnya yang terkena cipratan air mani itu kini jadi basah dan lengket-lengket. Tak lama kemudian, Liani membersihkan wajah, rambut, dan tubuhnya dari sperma Rohim. Setelah itu, ia dengan sembunyi-sembunyi mengeluarkan Rohim dari rumahnya tanpa sepengetahuan siapa pun. Sehingga akhirnya keluarlah Rohim dengan selamat dengan hati yang sungguh puas karena malam itu ia berhasil menikmati “siomay” yang diincarnya. Sementara Liani pun juga puas karena Rohim telah membuatnya orgasme dua kali. Setelah itu, barulah ia memakan siomay goreng itu karena saat itu dirinya telah cukup lapar.
—@@@@@@@—–
Di airport…
Orang itu dengan semangat menggebu-gebu menjelaskan saat diwawancarai oleh wartawan,
“Saya mendukung UU Pornografi dan Pornoaksi! Karena negara kita telah makin rusak akhlaknya. Banyak sekali generasi muda kita yang karena pengaruh budaya Barat yang negatif, melakukan hubungan seks bebas pra nikah, juga banyak sekali gadis-gadis muda yang hamil diluar nikah, atau pun yang terlibat di bisnis prostitusi. Dengan UU itu maka harkat dan martabat wanita akan dijunjung tinggi. Oleh karena itu saya sangat mendukung UU ini.”
“Selain itu saya juga mendukung pemberantasan KKN sampai ke akar-akarnya. Karena KKN hanya menguntungkan segelintir orang tapi menyusahkan rakyat banyak.”
“Dan untuk memperbaiki keadaan negara yang bobrok ini, demi rakyat banyak, saya akan mencalonkan diri menjadi presiden di pemilu yang akan datang.”
Dan orang itu adalah Pak Miskan.
—@@@@@@@—–
Di sekolah…
Liani, Henny, dan Fanny lagi ngumpul bareng sambil makan baso. Pada saat itu ada seorang cowok yang sedang mencuri-curi pandang ke arah mereka bertiga. Ia adalah Dadung, yang meskipun murid SMU situ juga, tapi berbeda golongan dengan mereka bertiga. Ia termasuk golongan rendah baik dari segi pergaulan, tampang, latar belakang keluarga, juga prestasi sekolah. Bahkan bisa jadi ia masuk ranking lima besar dari bawah.
“Eh, lu perhatiin ga, tuh cowok dari tadi ngeliatin kita terus,” kata Fanny.
“Iya gua juga ngeliat. Anak kelas berapa sih dia?” tanya Liani.
“Mana gua tahu. Emang gua pikirin,” kata Henny,” Cowok kayak gitu mah,” katanya dengan nada merendahkan.
“Nggak kelas ya Hen, dengan kita-kita,” kata Fanny.
“Iya dong. Jelas itu,” kata Henny.
“Yuk ah, kita pergi aja dari sini,” kata Liani.
“Eh, lu orang kemarin malam ngapain aja?” tanya Henny ke dua orang temannya saat mereka berjalan balik menuju kelas.
“Semalem gua nemenin bokap,” kata Fanny,” Dia dateng kesini kemarin sore. Lumayan, gua dikasih uang saku cukup banyak.”
“Wah, enak banget lu. Kalo gua semalem merendam diri di bak jacuzzi gua setelah itu makan siomay goreng yang enak banget,” kata Liani.
“Kalo lu sendiri ngapain?” tanya Fanny kepada Henny.
“Ah, gua sih kayaknya paling boring dibanding lu berdua deh. Semalem gua cuman tiduran aja di kamar.”
Demikianlah cerita yang menyangkut tentang cewek-cewek dan orang-orang yang kelihatannya alim, namun ternyata semuanya tidak ada yang benar. Cerita-cerita tentang kenikmatan, yang terjadi di balik kealiman dan kemunafikan.
END


