Pak Wijaya adalah pengusaha sukses berusia 46 tahun yang belakangan
ini bisnisnya makin menanjak pesat. Beliau juga dikenal sebagai orang
yang dermawan. Singkat kata, ia adalah contoh figur pengusaha keturunan
Chinese yang dikagumi masyarakat karena kepiawaiannya berbisnis serta
jiwa sosial yang tinggi. Sebuah kombinasi yang amat langka karena
biasanya pengusaha hanya memikirkan keuntungan bisnis semata. Meski
sibuk dengan bisnis dan kegiatan sosial, Pak Wijaya masih meluangkan
waktu bagi putrinya. Bahkan sejak perceraiannya yang terakhir (sepanjang
hidupnya telah beberapa kali kawin cerai), ia tak menikah lagi. Apabila
ditanya, alasannya selalu sama: ia ingin mencurahkan seluruh perhatian
dan kasih sayangnya kepada putrinya yang kini telah beranjak dewasa.
Urusan bisnis dan lain-lain telah menyita banyak waktunya, ia tak ingin
perhatian kepada putrinya semakin terpecah dengan berbini lagi.
Perhatiannya ke putrinya membuat banyak orang semakin kagum dengannya.
Jarang pengusaha sukses yang masih sempat memperhatikan anaknya.
Biasanya mereka hanya memberikan uang tapi minus perhatian dan kasih
sayang. Membuat mereka merasa malu dengan diri sendiri karena mereka
juga kurang memperhatikan keluarga dengan alasan sibuk. Padahal
kesibukan mereka tak ada apa-apanya dibanding kesibukan Pak Wijaya. Sama
seperti bapaknya, anak gadisnya itu juga tak kalah mentereng dan
sama-sama mengundang decak kagum semua orang…untuk sebab yang lain.
Bulan lalu gadis ini mendampingi ayahnya di acara gala dinner yang
diliput banyak wartawan; sebuah event untuk mengumpulkan sumbangan bagi
para korban bencana alam. Penampilan gadis muda ini sungguh tak
terlupakan oleh semua orang, apalagi sebagian besar pengunjung adalah
kaum pria. Di usianya yang baru lewat 19 tahun, ia telah tumbuh menjadi
gadis belia dengan wajah yang amat cantik. Apalagi, sebagai putri
tunggal anak orang kaya tentu pakaian dan penampilannya begitu menawan
dan high class. Wajahnya sungguh cantik dengan light make-up sewajarnya.
Rambutnya panjang dan indah. Kulitnya putih bening. Postur tubuhnya
sungguh ideal. Gaunnya begitu anggun dan serasi dipakainya. Dadanya
terlihat sedikit menonjol di balik gaunnya. Meskipun payudaranya tak
terlalu besar, namun penampilannya secara keseluruhan sungguh mempesona
dengan aura daya tarik yang terpancar kuat dari dirinya. Membuat banyak
cowok dibikin berdebar-debar hatinya saat berada di dekatnya, terutama
mereka yang masih single. Apalagi dengan senyum manisnya serta pembawaan
dirinya yang penuh percaya diri dan sophisticated. Diam-diam banyak
cowok membayangkan seandainya dirinya bisa dating dengan gadis ini,
tentu akan menjadi cowok paling bahagia di dunia. Bagaimana tidak.
Selain bakal kecipratan kehidupan mewah juga bisa bermesraan dengan
cewek kaliber tinggi seperti dia. Tapi… mimpi kali yeee. Hanya
orang-orang tertentu saja yang sanggup mengencani cewek secanggih ini,
batin mereka yang seketika merasa dirinya bagaikan pungguk merindukan
bulan. Itulah citra Pak Wijaya, pengusaha sukses dan putri tunggalnya
yang cantik dan menarik.
–@@@@–
Pak Heru
Pak Heru adalah pejabat instansi pemerintah yang cukup tinggi dan
strategis (baca: “basah”) posisinya. Usianya 48 tahun. Awalnya ia adalah
pemuda miskin dari desa di Jawa. Berkat kepandaian dan keuletannya ia
sanggup merangkak dari bawah sampai kini mencapai posisinya sekarang.
Meski menduduki posisi basah, namun tak pernah terdengar hal negatif
mengenai dirinya. Sebaliknya, justru beberapa peristiwa menunjukkan
betapa beliau adalah orang yang jujur dan bersih. Pernah terjadi seorang
stafnya yang ingin naik pangkat mencoba menyuap dengan menyuguhkan
perempuan muda. Hasilnya? Orang itu langsung dipecat! Hal itu lalu
dijadikannya sebagai contoh supaya tidak ada lagi yang meniru perbuatan
tercela itu. Ada kejadian lain dimana seorang pengusaha mengirim parcel
ke kantornya. Ia langsung menyuruh sekretarisnya untuk mengembalikannya.
Padahal nilai parcel itu tak lebih dari 2 juta, namun ia tetap tak
pandang bulu. Demikian contoh kejujuran dan kelurusannya. Sungguh
perbuatan teladan yang amat langka yang membuatnya dikagumi banyak
orang. Beliau adalah sosok ideal pejabat pemerintah yang bersih, loyal,
dan capable. Tiga sifat mulia yang jarang terdapat di lingkungan pejabat
pemerintahan negeri ini, karena umumnya mereka hanya mempunyai maksimal
dua dari tiga sifat di atas. Selain lurus hatinya, Pak Heru juga
dikenal sebagai orang yang dermawan serta taat beragama bahkan sering
muncul di berbagai acara keagamaan. Kehidupan keluarga Pak Heru juga
patut diacungi jempol karena selalu terlihat harmonis.
Istrinya adalah seorang putri keraton Jawa. Tubuh dan wajahnya begitu
terawat berkat berbagai jamu tradisional yang hanya khusus tersedia
untuk para putri keraton saja. Bahkan di usianya yang telah diatas 45
tahun, masih tergurat kecantikan dan keanggunan di wajahnya. Tak heran
kalau Pak Heru begitu menyayangi istrinya, terbukti dengan kemesraan
yang selalu terlihat di setiap acara publik. Membuat semua orang yang
melihatnya menjadi iri sekaligus kagum dengan kuatnya cinta pasangan
yang telah menikah lebih dari dua puluh tahun itu. Pasangan suami istri
harmonis itu mempunyai dua anak. Yang sulung cowok berusia 22 tahun,
yang bungsu cewek berusia 20 tahun. Anak cowoknya begitu gagah dan
bertubuh atletis karena ia cukup aktif di kegiatan olahraga beladiri.
Penampilannya terlihat macho dengan kumis tipis dan rambut cepak. Meski
begitu, ia nampak santun dan hormat di depan orangtuanya. Sementara anak
ceweknya begitu cantik, mirip dengan ibunya. Kecantikannya tak kalah
dengan artis-artis muda sinetron. Rambutnya panjang dan ikal. Matanya
indah. Senyumnya yang manis sungguh begitu menawan. Kulit tubuhnya
kuning langsat. Postur tubuhnya sungguh tak mengecewakan, meski lekuk
likunya tak terlalu jelas terlihat karena tertutup oleh pakaiannya yang
konservatif dan berlapis. Aura aristokrat yang menurun dari ibunya
membuat banyak pria mengagumi kecantikan dirinya sekaligus
menghormatinya. Apalagi penampilan alimnya membuat segan kaum pria untuk
berpikir yang nggak-nggak terhadapnya. Kesuksesan, kejujuran,
kesalehan, dan keharmonisan rumah tangganya membuat semua orang
mengagumi Pak Heru. Membuat beliau jadi sumber panutan dan teladan
masyarakat luas, mulai dari karier, rumah tangga, kiat sukses,
kesalehan dalam beragama, dan sebagainya. Beliau dan istri sering
diwawancarai dan fotonya dimuat di berbagai majalah keluarga, sebagai
figur pasutri ideal dan keluarga yang harmonis. Itulah potret diri Pak
Heru, sosok pejabat pemerintah yang ideal dalam banyak hal. Kini tentu
orang bertanya-tanya bagaimana suasana rumah tangga beliau
sehari-harinya?
–@@@@–
Rumah itu terlihat begitu asri dan teduh. Meski tak terlalu besar,
namun rumah itu begitu rapi dan indah. Halaman depan rumah itu dihiasi
oleh berbagai macam tanaman indah. Dari luar, terdengar suara kicauan
merdu beberapa burung indah yang begitu dirawat di dalam sangkar.
Membuat suasana di depan rumah itu jadi semakin damai dan teduh. “Inilah
rumah Pak Heru, orang hebat itu. Sungguh bangga aku tinggal se-kawasan
dengan beliau, “kata seorang pria setengah baya yang sedang berjalan
melewati trotoir rumah itu dengan bangga kepada temannya. Sementara
itu……
“Bangsat, sungguh kau adalah seorang lelaki tak tahu diri!” maki seorang wanita setengah baya dengan wajah amat marah.
“Siapa? Aku? Heh! Justru kaulah wanita jalang!” bentak pria itu dengan tak kalah keras.
“Apa??” Kau berani mengatakan aku wanita jalang? Kau yang memulai ini
semua! Dan ingat, kalau bukan karena jasa Bapak, tidak akan kau bisa
berhasil seperti sekarang. Harap kau ingat baik-baik itu!” bentak
wanita itu dengan muka merah padam.
…
Dan, semakin sengitlah pertengkaran dua orang itu.
Siapakah mereka? Uh-oh. Ternyata mereka adalah Pak Heru dan istri!
Nah lho! Bagaimana ini bisa terjadi? Bukankah katanya mereka keluarga
harmonis? Kok bisa bertengkar dengan hebat seperti itu? Dan yang lebih
mengejutkan lagi, kata-katanya. Karena sepertinya bukan hanya sekedar
makian namun memang kenyataan yang terjadi. Rupanya kehidupan rumah
tangga Pak Heru nampak harmonis dan ideal hanya saat di depan kamera dan
lampu sorot saja. Kenyataan sesungguhnya justru amat bertolak belakang.
Hal ini tertutama disebabkan karena ulah Pak Heru. Berbeda dengan citra
jujur alim yang selama ini ditunjukkan, ia adalah bandot hidung belang
yang luar biasa parah. Ia punya sejumlah “anak-anak asuh” dari keluarga
miskin yang dibiayainya sekolah. Sebagian besar mereka adalah anak SMA
dan kuliah, meski ada juga beberapa anak SMP. Seluruh “anak asuhnya”
adalah perempuan karena sebenarnya mereka adalah gadis-gadis simpanan
Pak Heru. Ia sengaja mencari gadis-gadis ayu dari keluarga tak mampu
yang tak punya banyak pilihan dalam hidup. Kepada mereka ia bertindak
sebagai “bapak penolong” yang membiayai sekolah mereka. Tentu,
ujung-ujungnya ia meminta “imbalan tertentu” dari gadis-gadis muda yang
innocent itu. Hebatnya, “hak asuh” ini ia peroleh atas dasar persetujuan
orangtua gadis-gadis itu sendiri. Daripada putus sekolah, yang nantinya
bakal berujung menjadi PSK atau TKW yang dibayar murah dan dijadikan
budak seks di luar negeri, tentu masih lebih baik dan jauh lebih
terhormat menjadi simpanan pejabat kaya. Apalagi semua itu dilakukan
secara diam-diam.
Pak Heru sendiri sama sekali tak merasa bersalah karena hal ini
terjadi atas persetujuan bersama tanpa ada unsur paksaan atau
intimidasi. Justru ia merasa sebagai dewa penolong mereka. Pada akhirnya
masing-masing pihak akan sama-sama untung dengan “win-win solution”
ini. Oleh karena itu kini ia punya tim khusus yang rajin memantau dan
mencari “bibit-bibit unggul” yang “perlu dibantu”. Saat muda, dengan
jurus rayuan mautnya ia menggaet putri keraton yang selain cantik juga
orangtuanya kaya raya meskipun wajahnya pas-pasan. Sejak awal hubungan
mereka ditentang abis-abisan oleh ortu ceweknya. Namun saking hebat
jurus mautnya, gadis itu dibuat betul-betul takluk dengannya bahkan
berani menentang ortunya dengan berhubungan backstreet. Akhirnya gadis
itu hamil (satu hal yang memang disengaja oleh Pak Heru). Tentu
orangtuanya mencak-mencak bagai kebakaran jenggot. Namun mereka tak bisa
berbuat apa-apa selain menyetujui pernikahan mereka. Di jaman itu,
hamil diluar nikah adalah sebuah aib yang tabu terutama di kalangan
konservatif keraton. Setelah menikah, istrinya mendesak ayahnya untuk
membantu kariernya karena ayahnya memang punya pengaruh besar di dalam
pemerintahan. Sehingga Pak Heru bisa begitu cepat naik pangkat dan
melompati banyak orang. Apalagi ia termasuk orang yang pandai mencari
muka dan jago bermain politik kotor. Semakin tinggi jabatannya semakin
gede korupsinya. Namun ia tak pernah tertangkap basah atau dicurigai.
Karena ia pandai mencari muka dan memberi upeti kepada orang-orang
penting di atas, sambil tak lupa membagi-bagi juga ke bawahan. Sementara
itu ia secara perlahan namun sistematis terus menyerap harta kekayaan
warisan keluarga istrinya. Setelah mertuanya meninggal, tingkah polahnya
semakin menjadi-jadi. Ia mulai sering pulang malam dan main perempuan
sampai akhirnya ketahuan istrinya. Namun sudah terlambat karena Pak Heru
terlanjur menguasai sebagian besar harta keluarganya. Apalagi istrinya
takut bercerai karena tak mau jadi gunjingan orang. Akhirnya dengan
pasrah ia mengalah dan tutup mata dengan kelakuan suaminya, selama
nafkah untuk keluarga tetap berjalan. Hal ini membuat Pak Heru jadi
semakin buas merajalela karena merasa telah mendapat “persetujuan”
istrinya. Kalau ia begitu doyan perempuan, kenapa ia menolak gadis muda
yang disuguhkan anak buahnya waktu itu? Jawabannya sederhana saja.
Karena itu adalah pelacur murahan. Ia nggak doyan dengan yang kelas
kambing kayak gini. Demikian pula dengan parcel itu. Untuk apa barang
murahan seperti itu diterima? Baginya adalah perbuatan “tercela”
menerima barang-barang rongsokan seperti itu. Mending ia mem-blow-up
kejadian itu untuk meningkatkan citra dirinya sebagai orang yang saleh,
jujur dan lurus.
Kalau selama ini Pak Heru telah cukup mendapat stock gadis-gadis
Indonesia asli, baik gadis desa yang masih lugu dan polos maupun cewek
kota yang lebih liberal, kini kepada para pengusaha terutama yang
keturunan, ia minta disediakan cewek-cewek keturunan chinese yang
putih-putih dan mulus-mulus itu. Ia sengaja memanfaatkan mereka untuk
menyediakan panlok-panlok high class bagi baginya. Hal itu adalah syarat
tak tertulis untuk memenangkan tender, di samping tentu uang upeti yang
juga harus sesuai jumlah nol-nya. Namun ia tak mau sembarang panlok.
Apalagi pelacur reguler yang asalnya dari tempat-tempat miskin.
Panloknya harus high class dan high quality. Lebih bagus kalo yang
masih perawan. Dengan licin Pak Heru mampu mengendalikan situasi dan
memperalat pengusaha-pengusaha itu. Sehingga kini ia bisa mendapat
suguhan tak terhitung banyaknya panlok yang cakep, bening, dan sexy itu
dari berbagai pihak secara GRATIS. Padahal pemenang tender hanya satu
company. Akibatnya banyak para pengusaha itu yang gigit jari karena
sudah cape-cape melobi, keluar duit banyak, abis banyak waktu, bahkan
juga korban perasaan, pada akhirnya tak mendapat apa-apa. Walaupun ia
seorang bandot tengik yang gemar mempermainkan gadis-gadis muda, ia amat
protektif dan keras dalam menjaga kehormatan anak gadisnya. Dalam hal
ini ia adalah orang yang tak mau rugi. Ia sendiri suka menikmati dada
dan paha mulus gadis-gadis muda, namun ia menjaga ketat putrinya dan
menyuruh istrinya juga ikut mengawasi dan mengontrol putrinya mulai dari
cara berpakaian yang harus sopan dan tertutup, jam main dan jam pulang
rumah, teman mainnya, dan lain sebagainya. Hal ini amat penting untuk
menjaga citra keluarga yang taat menjalankan aturan agama dan citra
gadis alim. Ia tak terlalu mengontrol pergaulan anak cowoknya asalkan
tak terlalu parah yang bisa merongrong citra dirinya. Juga ia tutup
mata dengan kelakuan istrinya, rupanya masih ada rasa segan dan bersalah
kepadanya. Sehingga ia membiarkan saja asalkan semuanya dilakukan
secara tertutuutp dan tak merongrong kewibawaannya sebagai kepala
keluarga. Lagipula, ia telah bosan dan hampir tak pernah menyentuh
istrinya yang telah stw. Itulah gambaran diri Pak Heru sesungguhnya. Di
balik citranya sebagai pegawai pemerintahan yang bersih, ia adalah
seorang korup yang amat licin. Di balik citranya sebagai pengabdi
masyarakat yang loyal, rupanya ia hanya loyal demi keuntungan perut dan
“bawah perut”nya. Di balik citranya sebagai pejabat yang capable, ia
amat capable dalam hal korupsi, bukan dalam urusan membangun negara. Di
balik citranya sebagai kepala keluarga dan suami yang baik, ia adalah
seorang bandot sejati. Di balik citranya sebagai orang yang saleh dan
taat beragama, ia adalah seorang tukang peras kelas atas yang licik.
Demikianlah, semua kebusukan dirinya dengan cerdik disembunyikannya di
balik topeng indah untuk membuat semua orang terkagum-kagum terhadap
dirinya.
–@@@@–
“Papi, aku tidur dulu ya,” kata gadis Chinese berkulit putih bersih
yang cantik itu. “Besok pagi-pagi aku mesti kuliah,” katanya lagi.
“OK. Good night.”
“Good night Papi,” balas gadis itu lalu berjalan ke kamar tidurnya.
{Hmm, tak dapat dipungkiri, kini ia telah tumbuh dewasa dan menjadi
seorang gadis yang begitu cantik}, gumam Pak Wijaya memandang sosok
putrinya berjalan menjauh sampai akhirnya masuk ke kamarnya. Aroma tubuh
gadis itu masih tercium harumnya sampai sekarang. Dibayangkannya wajah
putrinya yang begitu muda, segar, dan cantik tadi. Juga kulitnya yang
putih bening. Barusan gadis ini memakai baju atasan putih yang cukup
terbuka, menampakkan kulit putih leher, pundak dan seluruh bagian
tangannya. Selain itu juga cukup jelas kalau ia tak memakai bra meskipun
putingnya tak sampai menembus bajunya karena kainnya yang cukup tebal.
Wajah Pak Wijaya kini nampak penasaran dan tak tenang. Mengapa? Apakah
ia mupeng dengan putrinya sendiri? Barusan tadi bahkan ia sempat melihat
puting payudara putrinya saat gadis itu menghampiri dirinya dan
membungkuk di dekatnya untuk menunjukkan sesuatu di majalah yang
dibawanya. Saat itu jaraknya amat dekat sampai sebagian rambut
panjangnya mengenai dirinya. Namun yang lebih parah lagi kain baju di
dadanya juga ikut turun saat membungkuk. Sehingga di antara celah yang
menganga, terlihatlah sebagian besar payudara kanannya termasuk
putingnya. Tapi, tidak. Bukan karena itu dirinya penasaran. Meski
penisnya tadi sempat mengeras, namun hal itu adalah reaksi fisik
spontan. Sesaat kemudian ia bisa mengendalikan pikirannya dan meredam
benih-benih kemupengan dalam benaknya. Buktinya ereksinya setelah itu
menurun dengan sendirinya. Bagaimana pun ia masih ingat kalau gadis itu
adalah putrinya sendiri. Juga ia tak terlalu menyalahkan cara berpakaian
putrinya karena ini cuma terjadi di dalam rumah saja dimana hanya ada
dirinya dan beberapa pembantu cewek. Ia selalu memakai pakaian lengkap
saat keluar rumah atau saat tamu datang, termasuk saat cowoknya datang.
Sebagai ayahnya tentu ia tak akan melakukan tindakan tak senonoh
terhadap dirinya. Mungkin itu pikirannya sehingga ia agak nyantai dalam
berpakaian di dalam rumah. Lalu apa yang membuat penasaran Pak Wijaya?
Sejak lima enam tahun terakhir, seiring dengan bertambahnya usianya,
semakin cantik saja putrinya ini. Hal ini membuat ia semakin penasaran
karena makin lama gadis ini menjadi terlalu cantik untuk menjadi
putrinya. Maklum, ia adalah pria yang sama sekali tak cakep. Saat gadis
itu masih kecil, sebenarnya ia telah curiga. Namun, ibu gadis ini, istri
pertamanya, selalu bertindak seolah gadis kecil itu adalah putri
kandungnya. Apalagi gadis itu begitu lucu saat kecil, membuat ia mampu
melupakan semua dugaan negatifnya. Namun semakin tumbuh dewasa, wajah
cantik gadis itu makin mirip dengan wajah tampan teman dekat istrinya
dimana ia pernah menjalin hubungan gelap dengannya.
Akhirnya kecurigaannya itu sungguh terbukti saat mantan istrinya
mengakui kalau cewek itu bukan putrinya. Selama ini ia menipunya demi
uang tunjangan, mengingat ia adalah pengusaha kaya yang amat mendambakan
buah hati. (Ibu gadis ini adalah istri pertama Pak Wijaya yang kemudian
bercerai. Uniknya, mereka kembali menjalin hubungan gelap saat Pak
Wijaya telah menikah dengan wanita lain. Dari hasil affair itu lahirlah
gadis ini yang dikatakan oleh ibunya sebagai anak Pak Wijaya. Sementara
wanita itu dari dulu sampai sekarang menjalin affair dengan banyak
pria). Beberapa tahun lalu ia berhasil menggaet dan menjadi simpanan
pentolan boss triad Hongkong dan pindah kesana. Saat itulah akhirnya
rahasia puluhan tahun itu dibongkarnya karena ia merasa tak perlu
mempertahankannya lagi. Mendengar itu semua tentu Pak Wijaya sakit
hatinya. Namun ia tetap menyimpan rahasia itu bahkan terhadap gadis itu.
Pertama karena ada rasa kasihan. Biar bagaimana pun ia telah terlanjur
menganggapnya sebagai anak sejak bayi. Namun alasan yang lebih utama ia
tak ingin membuka rasa malu dirinya yang telah dibodohi selama puluhan
tahun. Oleh karena itu ia tetap bersikap biasa, bahkan di depan publik
ia semakin menunjukkan sikap penuh perhatian terhadap gadis itu. Namun
tak dapat dipungkiri kalau hatinya masih sakit menghadapi kenyataan ini.
Setiap kali melihat putrinya, pikirannya selalu terpecah dua. Awalnya
bangga dan bahagia karena putrinya yang dulu masih bayi itu kini telah
menjelma menjadi gadis dewasa yang sempurna. Namun sesaat kemudian
berubah menjadi perasaan getir yang amat dalam karena tak peduli
seberapa cantik dan hebatnya, gadis ini tetap bukan putri kandungnya.
Sering ia berandai-andai, kalau saja ia putri kandungku, apa pun akan
kukorbankan bahkan untuk mati pun rela demi membuat dirinya bahagia.
Semakin ia memikirkan itu, semakin getir dan kecewa dirinya karena ia
tak bisa mengubah kenyataan yang ada. Kemarahan terpendam ini
menimbulkan niat kuat untuk membalas dendam atas penipuan besar-besaran
terhadap dirinya. Apalagi makin lama ia juga makin kecewa dengan sikap
gadis itu yang makin tak menurut kepadanya. (Sebenarnya kalau mau jujur,
itu adalah kesalahannya sendiri karena ia terlalu sibuk bekerja
sehingga tak ada waktu memperhatikan gadis itu. Juga ia tak pernah
benar-benar secara tulus menyayanginya karena pikiran curiganya terus
menghantui dirinya.
Demikianlah sifat manusia, tak mau mengakui kesalahan diri tapi malah
menunjuk kesalahan orang lain). Juga ia tahu kalau putrinya hanya
menurut di depannya saja namun dibelakang punggungnya melakukan semua
yang tak dikehendakinya. Termasuk membawa masuk cowoknya ke dalam kamar
di belakang punggungnya. Hal ini terjadi bukan hanya dengan cowoknya
sekarang namun juga dengan mantan cowok-cowoknya sebelumnya. (Dalam hal
ini, lagi-lagi ia punya andil besar sekali karena ia sendiri memberi
contoh yang tak benar dengan kelakuannya yang suka main perempuan. Dan,
seandainya ia tak mengundang dukun itu datang, bisa jadi putrinya tak
akan bertindak separah sekarang. Sekali lagi inilah contoh ego manusia
yang suka menunjuk kesalahan orang lain dan menganggap dirinya benar).
Kini ia menganggap sikap pembangkangan gadis itu disebabkan karena
penolakan otoritas dirinya sebagai ayah. Hal itu membuat Pak Wijaya
semakin marah dan semakin kuat niatnya untuk membalas dendam. Dari sisi
gadis itu sendiri – yang bernama A-mei – sejak kecil ia tak mempunyai
panutan hidup, karena orangtuanya baik yang resmi maupun tak resmi, tak
ada yang sungguh-sungguh menyayanginya. Sehingga ia tumbuh menjadi gadis
kesepian yang mendambakan kasih sayang orangtua yang tak pernah
didapatkannya sejak kecil. Tak heran kalau kini ia berusaha mencarinya
di luar. Mungkin sudah suratan nasibnya, saat berusia 17 tahun terjadi
peristiwa dimana ia ditipu oleh seorang dukun sakti sampai dukun itu
berhasil merenggut keperawanannya (baca cerita Mbah Sukro Si Dukun
Sakti, atau search saja “Mbah Sukro” di blog ini). Meskipun hanya
terjadi sekali, namun hal itu sungguh membekas dalam dirinya karena ia
merasakan adanya “cinta kasih” saat melakukan hubungan intim dengan
lelaki, meski hanya sesaat. Sehingga sejak itu ia terus berusaha mencari
dan mencari kebahagiaan melalui hal itu. Kini di usianya yang belum 20
tahun, ia telah berpacaran paling tidak dengan lima orang cowok, yang
mana semuanya telah pernah tidur dengannya. Meski semua cowoknya adalah
tipe yang cukup sepadan dengan dirinya dan bukan tipe “beast”.
–@@@@–
Amei
Mata Pak Wijaya berkejap-kejap karena ia baru saja mendapat ide
brilyan untuk membalas dendam hatinya sambil sekaligus memajukan
bisnisnya. Kalau selama ini gadis itu selalu melanggar aturannya, maka
kini ia akan membalasnya dengan setimpal.
Idenya itu diilhami oleh insiden kecil yang terjadi kemarin malam.
Pak Heru terpaksa menginap di rumahnya karena hampir seluruh bagian kota
banjir akibat hujan deras. Sebelumnya ia tak pernah mengundang Pak Heru
ke rumahnya karena ia tak ingin mencampurkan urusan bisnis dan pribadi.
Apalagi mengingat sifat Pak Heru yang begitu ganas akan gadis muda
sementara ia sendiri punya anak gadis yang baru dewasa. Namun kemarin ia
tak punya pilihan karena hampir seluruh kota lumpuh oleh banjir dan Pak
Heru sendiri telah menelponnya minta bantuan. Tak ingin mengecewakan
pejabat penting itu di saat dalam kesulitan, akhirnya ia menawarkan
untuk menginap di rumahnya. Kebetulan rumahnya dekat dengan airport dan
tak terkena banjir. Sebelum pergi Pak Wijaya telah memberitahu A-mei
kalau malam itu bakal ada tamu. Maksudnya tentu supaya A-mei
memperhatikan pakaiannya. Namun ada kesalahpahaman diantara mereka. Pak
Wijaya hanya bicara singkat tanpa penjelasan karena ia mesti buru-buru
menjemput Pak Heru. Sementara A-mei mengira kalau tamu itu hanya datang
berkunjung tapi tak menginap. Apalagi selama ini selain saudara sendiri
tak ada orang luar yang menginap. Kesalahpahaman itu diperparah lagi
dengan kecenderungan sikap pembangkangan A-mei terhadap ayahnya. Ia
merasa aneh dengan bokapnya yang menyuruh untuk sebisa mungkin tak
keluar kamar semalaman tanpa keterangan jelas. Sehingga omongan aneh
bokapnya itu akhirnya diabaikan sama sekali. Saat larut malam A-mei
keluar dari kamarnya dan kebetulan bertemu dengan Pak Heru bersama
ayahnya. Saat itu ia memakai daster halus tanpa bra di dalamnya. Ia
sendiri juga kaget, tak menyangka ada tamu malam-malam gini. Namun sudah
terlambat baginya untuk pergi karena Pak Heru terlanjur melihat dan
menyapanya. Sehingga ia tak bisa berbuat lain kecuali bersikap pura-pura
cuek seolah semuanya normal-normal saja. Karena ia juga bingung.
Seandainya ia menutupi dadanya dengan kedua tangannya justru akan
membuat semakin mencolok dan aneh saja. Sebaliknya mata Pak Heru jadi
berbinar-binar menyaksikan gadis muda ini. Apalagi kedua putingnya
“mengintip” di balik daster halusnya. Pak Wijaya yang melihat itu semua,
wajahnya berubah merah padam melihat putrinya dimupengin oleh seorang
bandot. Apalagi ia tahu kegemaran Pak Heru selama ini adalah gadis-gadis
chinese muda yang putih dan cakep seperti putrinya ini. Namun ia tak
bisa berbuat apa-apa. Kalau bersikap terlalu intrusif tentu akan
menyinggung pejabat penting yang amat mempengaruhi bisnisnya ini.
Malam itu ia amat kuatir kalau-kalau Pak Heru akan mengutarakan
hasratnya terhadap putrinya. Posisinya akan serba salah. Tak mungkin ia
mengorbankan putrinya sendiri demi bisnis. Meskipun sebenarnya A-mei
bukan putri kandungnya namun semua orang terlanjur menganggapnya
demikian. Akibatnya tentu ia akan ditertawakan dan kehilangan muka.
Namun, kalau tak diluluskan bisa jadi Pak Heru bakal sakit hati
kepadanya. Padahal ia telah dengan susah payah membina hubungan
dengannya sampai bisa seperti sekarang. Untungnya malam itu Pak Heru
sama sekali tak menyinggung insiden barusan bahkan ia sama sekali tak
membicarakan tentang A-mei satu patah kata pun. (Mungkin karena telah
kecapean sibuk bekerja seharian). Tapi kini ia tak perlu kuatir dengan
dilema yang dihadapinya karena ia telah mendapatkan solusi brilyan namun
sederhana. Dan solusi itu tepat berada di dalam akar permasalahan itu
sendiri. Yaitu ia akan sengaja mengumpankan A-mei ke Pak Heru.
{Yesterday’s incident is today’s blessing}, batinnya dengan puas karena
ia bisa menembak dua burung dengan sekali timpuk. Sungguh efisien dan
cost effective. Kini ia memikirkan segala sesuatunya sehubungan dengan
hal ini karena ia harus super hati-hati. Salah langkah sedikit bisa
memukul balik merugikan bahkan mempermalukan dirinya. Sebelumnya Pak
Heru telah bertemu putrinya dua kali. Namun pertemuan yang hanya terjadi
sesaat di acara yang dihadiri banyak orang. Sifatnya hanya sekedar
perkenalan dan basa-basi. Sehingga jarak antar keduanya cukup jauh.
Apalagi dengan kenyataan bahwa A-mei adalah putrinya, tentu membuat Pak
Heru juga tak terlalu memikirkan gadis itu. Namun pertemuan kemaren,
walau sebentar tapi cukup personal dan intens. Tentu kini bayang-bayang
diri A-mei mulai menggoda pikiran mesum Pak Heru. Apalagi A-mei adalah
tipe cewek yang selama ini jadi favoritnya. Namun A-mei adalah anak Pak
Wijaya (atau paling tidak itulah anggapan Pak Heru). Tapi ia adalah
orang yang terbiasa berkuasa dan dilayani. Apa pun keinginannya selama
ini selalu berhasil didapatnya. Tentu kini terjadi konflik di dalam diri
Pak Heru. Ingin mencicipi A-mei tapi tak bisa. Ingin menggunakan
pengaruh kekuasaannya tapi juga disisi lain ingin membina hubungan baik
yang menguntungkan dengan Pak Wijaya. Solusi normal untuk masalah ini
adalah dengan menjauhkan A-mei dari Pak Heru dan mengaturnya supaya tak
ketemu secara personal lagi. Pada akhirnya Pak Heru akan bersikap
rasional dan melupakan A-mei, asalkan“supply logistiknya” terus
berjalan. Karena ia bisa merasakan kalau Pak Heru mulai menganggap
penting dirinya.
Namun tentu ia tak memilih solusi normal. Sebaliknya, ia akan
mengatur supaya Pak Heru “secara tak sengaja” makin sering bertemu
A-mei. Pertemuan biasa yang selalu juga melibatkan dirinya. Hal ini
tentu membuat Pak Heru semakin terobsesi oleh A-mei. Apalagi bagi Pak
Heru, A-mei adalah cewek “untouchable”. Bisa melihat tapi tak bisa
menyentuh. Dekat di mata tapi jauh dari raihan. Disini Pak Wijaya akan
memanfaatkan ego lelaki dalam diri Pak Heru. Di sisi lain, meski A-mei
adalah anak yang suka berbuat semaunya, namun ia telah mengenal karakter
gadis itu luar dalam. Sehingga tak sulit baginya mengontrol segala
sesuatunya untuk berjalan sesuai keinginannya. Kini ada dua hal penting
yang perlu diperhatikan. Pertama adalah timing. Apabila dilakukan
terlalu cepat, efeknya tak akan begitu dahsyat. A-mei hanyalah menjadi
just another girl yang sekedar dipake Pak Heru. Ia harus membangkitkan
obsesi Pak Heru terlebih dahulu. Membuatnya sampai tak terlalu berselera
dengan gadis lain lagi karena kini ada seorang cewek yang tak bisa
ditaklukkannya meskipun dirinya orang yang berkuasa. Pada saat obsesinya
itu meningkat sampai hampir “meledak”, itulah timing yang tepat. Hal
itu akan memberikan efek psikologis yang dahsyat sekali ke Pak Heru. Ia
akan merasa lucky dan merasa di atas angin karena pada akhirnya berhasil
menaklukkan cewek yang sebelumnya “untouchable” baginya. Sehingga
secara bawah sadar ia akan bersikap murah hati bahkan cenderung berusaha
untuk membalas budi. Hal kedua yang perlu diperhatikan adalah caranya.
Ia tak boleh membuat Pak Heru tahu atau curiga kalau ia yang mengatur
semuanya. Hal itu amat sungguh fatal karena Pak Heru akan dengan cepat
kehilangan respek atas dirinya. Pada saat itu ia akan kehilangan
power-nya dan saat itu “kartu truf A-mei” juga tak akan berguna lagi.
After all, sebagian daya tarik A-mei bagi Pak Heru, selain sex appeal
gadis itu sendiri juga disebabkan karena statusnya sebagai putrinya.
Apabila Pak Heru tak menganggap dirinya, A-mei pun juga akan segera
menjadi cewek bispak biasa. Karena itu ia harus memakai cara yang amat
halus dan transparan, sehingga tak ada orang yang menyadari, terutama
A-mei dan Pak Heru, kalau ia adalah Master Mind di balik semua ini. Ini
semua adalah permainan psikologis. Apa yang mudah didapat akan segera
membuatnya bosan. Apa yang susah didapat akan dihargainya. Apa yang tak
bisa didapat akan terus diidam-idamkannya. Ia tahu persis watak manusia
terutama ego laki-laki.
Hal penting yang juga perlu diperhatikan adalah….tiba-tiba ia
teringat dengan mantera aji-ajian yang terpasang di rumahnya (baca
cerita Mbah Sukro Si Dukun Sakti). Untuk “mengelabui” mantera itu ia
harus mengatur supaya rencana busuknya itu terjadi atas dasar suka sama
suka. Apabila itu terjadi, tak ada yang dicelakai dan tak ada yang
disakiti. Sehingga tak ada yang melanggar mantera aji-ajian itu. Itulah
yang dilakukan Pak Wijaya malam itu. Seorang pengusaha sukses yang
bersih dan dermawan serta sosok ayah yang amat menyayangi putrinya,
malam itu berpikir keras menyusun rencana detail mengorbankan putrinya
ke pria yang tak sepantasnya. Di balik topeng indah yang dikenakannya
selama ini, ia menyusun sebuah rencana super busuk yang sama sekali tak
diduga orang. Tapi anehnya, meskipun rencana itu amat busuk, namun
memberikan keuntungan bagi semua pihak yang terlibat. Tak hanya
keuntungan tunggal namun keuntungan ganda. Akhirnya, rencana yang busuk
tapi brilyan itu berhasil dijalankan dan berlangsung secara mulus,
semulus tubuh A-mei yang akhirnya berhasil juga dinikmati oleh Pak Heru.
(Baca cerita Sama Sama Untung, Feb 2008).
–@@@@–
Petang itu, untuk kesekian kalinya selama beberapa bulan terakhir,
Pak Heru mampir ke rumah Pak Wijaya. Tujuan eksplisitnya untuk memberi
bocoran mengenai tender yang akan datang. Tujuan implisitnya, tentu kita
semua telah tahu sendiri. Saat mereka lagi seru-serunya bicara, A-mei
muncul sejenak dan berkata ke ayahnya,
”Papi, besok aku nggak jadi kuliah pagi. Barusan Vincent (cowoknya)
kirim sms, katanya Pak Yopi (dosennya) ada urusan keluarga mendadak ke
luar kota. Jadi besok pagi aku mau pergi sama dia,” katanya.
“OK, OK. Udah kamu masuk dulu. Papi lagi ngomong serius sama Oom
Heru,” kata Pak Wijaya yang kurang senang dengan kemunculan putrinya.
Saat itu A-mei memakai celana amat pendek yang tingginya jauh di atas
lutut sehingga nampak sekali pahanya yang putih halus. Sementara
atasannya kaus tanktop putih tanpa lengan. Nampak tonjolan kedua bukit
di dadanya apalagi bajunya cukup ketat. Sementara bra biru tua nampak
jelas dipakai gadis itu di balik kaus putihnya. Membuat Pak Heru jadi
berbinar-binar matanya. {Hmm, nggak salah aku datang kesini}, batinnya.
Petang ini ia sengaja membatalkan janji acara kunjungan ke kampung untuk
pemberian uang bantuan kepada orang-orang miskin. {Ngapain kesana, udah
capek di jalan, nggak ada wartawan yang meliput lagi, dan
pemandangannya sepet semua. Mending disini, bisa ngeliat yang bening dan
segar kayak gini, hehehehe}, batinnya sambil memandangi gadis Chinese
putih bening anak temannya ini. “Ayo, A-mei, kamu masuk dulu,” tukas Pak
Wijaya dengan tak sabar karena putrinya tak segera masuk. Sebaliknya
Pak Heru tersenyum-senyum terus. Ia bisa merasakan sikap tak senang Pak
Wijaya karena seandainya itu terjadi pada dirinya ia juga akan bersikap
sama. Namun kini ia tak peduli karena gadis ini bukan anaknya dan
dirinya adalah pihak yang diuntungkan. {Sungguh bodoh kalau menolak
pemandangan indah seperti ini}, batinnya sambil tak berusaha mengalihkan
pandangannya dari A-mei. {Lumayan sudah dapet apetizer-nya. Padahal
baru jam segini. Hehehee}. Setelah A-mei balik ke kamarnya, giliran Pak
Heru yang kesal. Oleh karena itu ia langsung menohok teman baiknya itu.
“Kau tadi kelihatan kesal? Rupanya kau punya pikiran negatif
terhadapku,” sindirnya. “Ah, nggak, nggak kok,” kata Pak Wijaya
pura-pura. “Omong-omong, aku bisa kasih komisi lebih banyak, yah paling
tidak 5% lebih banyak dibanding proyek sebelumnya,” kata Pak Wijaya
mengalihkan pembicaraan yang membuatnya tak nyaman itu.
“Ah, itu bisa dibicarakan nanti. Tapi sekarang aku mau nanya satu
pertanyaan penting secara terus terang. Selama ini kau selalu berusaha
menjauhkan anakmu dariku. Sepertinya kau takut kalau-kalau aku bakal
tertarik dengan putrimu dan “memakannya”. Bukankah begitu?” tanya Pak
Heru tanpa tedeng aling-aling lagi. Membuat Pak Wijaya seperti mendapat
pukulan jab telak ke wajahnya.
“Ah, tidak, tentu saja tidak,” katanya sambil menggoyang-goyangkan tangannya.
“Hmm, kau jangan berbohong. Aku bisa merasakan sikapmu tadi,” kata
Pak Heru dengan senyum sinis. “Dan ini bukan pertama kalinya kau
bersikap demikian.” Posisinya kini tentu jauh di atas angin dibanding
tuan rumahnya.
“Ahhh,” desah Pak Wijaya sambil menundukkan kepalanya. Ia tak tahu harus menjawab apa.
“Well?”
“Rupanya Pak Heru adalah orang yang amat lugas. Bahkan terhadap
sahabat baiknya yang sedang kebingungan dan diam-diam memohon pengertian
dan belas kasihannya.”
“Hahahaa,” Pak Heru tertawa terbahak-bahak. Hanya Pak Wijaya seorang
yang mampu mengubah suasana tak enak menjadi cair kembali. “Ah, Pak
Wijaya begitu merendah. Orang hebat seperti kau, tak perlu belas kasihan
orang kampung rendahan seperti aku.”
“Ah, sepertinya Pak Herulah yang merendah. Karena kini jelas sekali
kalau kau berhasil membuat orang hebat seperti katamu tadi dalam posisi
kesulitan dan serba salah.”
“Hahahaha,” Pak Heru kembali tertawa. Ia amat senang mendengar jawaban Pak Wijaya.
“Tetapi, kau belum menjawab pertanyaanku tadi,” desaknya.
“Sepertinya Pak Heru tak akan menyerah dalam hal ini,”kata Pak
Wijaya,”Bahkan permohonanku untuk dikasihani juga tak dikabulkan.”
“Ah menurutku dalam hal ini kau tak perlu belas kasihanku. Kau adalah
orang yang begitu cerdik, dengan mudah kau selalu bisa keluar dari
kesulitan dan tantangan apapun. Justru sebaliknya, aku ingin belajar
satu dua hal darimu.”
“Sepertinya aku tak bisa kemana-mana sekarang,” kata Pak Wijaya sambil menghela napas.
Setelah terdiam sejenak akhirnya ia berkata, “Terus terang, memang
kadang aku takut dengan hal itu. Untuk itu maafkan aku kalau ada
perbuatanku yang menyinggung dirimu. Kau dan aku sama-sama punya anak
cewek. Tentu kau mengerti perasaanku. Kuharap kau bisa mengerti dalam
hal ini,” kata Pak Wijaya dengan tenang.
“Tetapi…” protes Pak Heru dengan wajah tak terima, namun segera dipotong oleh Pak Wijaya dengan kata yang sama,
“Tetapi…” kata Pak Wijaya sambil menggunakan tangannya seolah memberi tanda untuk tidak menginterupsi kalimatnya.
“Sebenarnya aku juga tahu kalau kau TAK MUNGKIN melakukan itu.
Tetapi, namanya ayah, kadang takut terjadi hal-hal buruk terhadap anak
gadisnya. Meskipun sebenarnya hal-hal itu tak perlu ditakutkan karena
tak mungkin terjadi. Kalau ada perbuatanku yang menyinggung perasaanmu
itu semua karena ketakutanku yang tak berdasar itu, sama sekali bukan
karena perbuatanmu. Karena aku tahu kau TAK MUNGKIN melakukan itu
terhadapku, teman baikmu,” kata Pak Wijaya mengulangi lagi kata-katanya.
“Untuk itu, maafkan aku kalau ada perbuatanku yang menyinggungmu, “ kata Pak Wijaya dengan sungguh-sungguh.
“Ah, ya ya, aku mengerti,” kata Pak Heru akhirnya melunak. “Yah,
memang kuakui, kata-katamu itu benar sekali. Aku pun juga kadang
mengkuatirkan ini itu terhadap anak-anakku meski sebetulnya buat
orang-orang sukses seperti kita sebenarnya tak ada yang perlu
dikuatirkan.”
“Tapi perlu kau ketahui dan mungkin sebaiknya kutegaskan kepadamu
kalau aku, yang namanya Heru…., nggak bakalan mengganggu anakmu. Meski
kuakui kalau anakmu itu cakep, putih, dan… sexy. Tapi mengingat ia
adalah anakmu, aku tak akan mengganggu sehelai rambutnya pun. Aku berani
bersumpah untuk itu!” kata Pak Heru tegas.
“Ya, aku percaya dengan kata-katamu itu,” kata Pak Wijaya menatap lawan bicaranya.
“Hmm, bagus kalau begitu. Kuharap kau tidak ragu-ragu lagi dengan
niatku dan supaya kau tidak bertindak yang kurang rasional lagi terhadap
anakmu,” kata Pak Heru menyindir Pak Wijaya.
“Nah, sekarang setelah ada gentlemen agreement diantara kita, tadi
kau bilang kalau aku tak mungkin melakukan itu. Bolehkah aku tahu apa
alasanmu yang mendasari itu? Ini sekedar wacana diskusi diantara kita
saja.”
“Pertama, kau tahu persis hal itu akan merusak hubungan kita karena
aku tentu tak akan menyerahkan putriku begitu saja. Maafkan aku dalam
hal ini, tapi ia adalah putriku, kata Pak Wijaya tegas. “Kedua, kau juga
tahu, anakku itu suka bertindak semaunya sendiri. Seandainya aku
menyetujui pun juga tak ada gunanya. Ketiga dan yang terpenting, kau
adalah pria berkeluarga yang juga punya anak dan kau adalah orang yang
bermartabat tinggi. Tentu kau tak akan sampai melakukan hal serendah itu
ke teman baikmu.”
“Hahahaha. Hebat. Kau betul-betul hebat. Sungguh kau tahu persis apa
yang ada dalam pikiranku. Tak heran kalau kau begitu sukses dalam
hidupmu,” kata Pak Heru memuji lawan bicaranya.
Memang ia juga mengakui, meski Pak Wijaya lebih membutuhkan dirinya
dibanding sebaliknya, bagaimana pun ia juga berkepentingan menjaga
hubungan baik dengannya. Mencari rekan KKN yang saling menguntungkan
sekaligus cerdik, ulet, dan penuh akal seperti Pak Wijaya tidaklah
gampang. Sebaliknya, bermusuhan dengan orang seperti ini adalah hal
terakhir yang ingin dilakukannya. Dari pengalamannya selama ini, Pak
Wijaya selalu berhasil mendapat jalan untuk mencapai tujuannya meski
awalnya susah payah. Sebagai rekan KKN ia betul-betul menguntungkan,
namun sebagai musuh orang ini amatlah berbahaya. Juga hatinya amat
senang ketika Pak Wijaya memuji moralitas dirinya. Demikianlah sifat
orang munafik. Disinggung sedikit saja mengenai perbuatan jeleknya, maka
ia akan protes dan marah besar. Sebaliknya semakin dipuji
kemunafikannya, akan semakin berbunga-bungalah dirinya.
“Dan keempat,” kata Pak Wijaya lagi,” Kini aku semakin yakin lagi
denganmu karena seandainya kau mempunyai pikiran negatif terhadap
putriku, tentu kau tak akan membicarakannya seterbuka ini dengan
ayahnya.”
“Hahahaha. Hebat! Sungguh hebat sekali analisamu! Aku betul-betul
kagum terhadapmu!” kata Pak Heru manggut-manggut memuji lawan
bicaranya.
“Terima kasih atas kebaikan Pak Heru,” kata Pak Wijaya lagi.
Dalam hati Pak Heru membatin {hahahaha, sungguh kau adalah orang yang
pinter keblinger. Makan tuh analisamu. Justru aku sengaja membicarakan
secara terbuka supaya kau tak mencurigaiku. Secerdik-cerdiknya Wijaya,
rupanya kau masih kalah cerdik denganku. Dan, OH, masih ada satu alasan
lagi, alasan kelima. Aku tak perlu membicarakan apa-apa denganmu lagi
karena selama ini diam-diam aku telah berhasil menikmati anak gadismu
yang cantik itu. Inilah alasan yang sebenarnya. Hahahaha. Tentu kau tak
menyangka kalau anak gadismu yang kelihatannya alim itu rupanya bersedia
kutiduri dan kunikmati dengan sukarela. Muwahahahaha}.
“Aku percaya dengan semua niat baikmu. Tetapi, ada satu hal yang kukuatirkan,” kata Pak Wijaya memecah lamunan Pak Heru.
“Apakah itu?”
“Saat ini anakku itu suka bertindak semaunya dan seenaknya. Omongan
ayahnya suka tak digubrisnya. Yang aku khawatirkan adalah kalau dia
sendiri yang mendekatimu, sungguh aku tak tahu apa yang akan kaulakukan.
Akankah kau memberi sedikit muka ke temanmu yang malang ini?”
Wajah Pak Heru seketika berubah. “Huahahahaaaa. Ada-ada aja kau ini.
Memang kau pikir, orang tua jelek dan berperut buncit seperti aku gini
punya kesempatan untuk menarik hati anakmu? Bahkan ngelirik pun kurasa
ia tak sudi,” kata Pak Heru sambil menutupi keterkejutannya.
Ia merasa tersindir dan tak ingin membuat lawan bicaranya curiga.
Bagaimana pun ia harus terus menjaga hubungan baik dengan orang ini.
(Omong-omong, mengenai perut buncit tadi, memang belakangan ini tubuhnya
makin subur dan tambun saja terutama perutnya yang semakin membuncit.
Padahal sebelumnya ia termasuk pria bertubuh tegap dan langsing menurut
standard pria seusianya).
“Ah, anak jaman sekarang, kelakuannya sungguh tak terduga. Dan,
omong-omong, heii, kau terlalu merendahkan diri. Justru menurutku
seandainya kau ingin mengambil hatinya, kurasa hal itu tak terlalu sulit
kau lakukan dan kurasa ia tak akan mampu menolaknya.”
“Kau jangan meremehkan dan merendahkan anakmu sendiri,” kata Pak Heru.
“Aku sama sekali tak merendahkannya. Namun sehebat-hebatnya dia,
apabila orang yang dihadapinya jauh lebih hebat, bagaimana aku, ayahnya,
tidak kuatir? Oleh karena itu, aku tetap memohon belas kasihanmu.”
“Hahahahaaa…. Kau betul-betul kocak sekali,” kata Pak Heru sambil
tertawa. Namun dalam hati ia merasa bangga karena memang terbukti ia
telah berhasil membuat A-mei bertekuk lutut kepadanya yang hitam jelek
dan berperut buncit ini.
“Lagi-lagi terima kasih atas pujianmu. Namun aku masih tetap memohon
belas kasihanmu demi anakku,” kata Pak Wijaya balik ke topik semula.
“Wah, hahahah, Kali ini rupanya aku yang tak bisa kemana-mana.”
“Hmm baiklah. Kuakui kalau putrimu itu memang putih, cakep, sexy, dan
masih muda. Dan kuakui kalau ia adalah tipe cewek kegemaranku. Akan
tetapi, yang namanya keinginan, hasrat bahkan nafsu berahi sebenarnya
bisa dikendalikan. Semua tergantung pikiran kita. Biarpun aku mengagumi
kecantikan anakmu, tak berarti aku akan menyentuh atau mengganggu
dirinya. Biar katakanlah, maaf, ia telanjang bulat di depanku sekalipun!
Karena ia anakmu maka bisa dibilang ia adalah keponakanku. Masa aku
mengganggu keponakan sendiri?” tanya Pak Heru beretorika. “Kau bisa
pegang omonganku ini!” katanya tegas.
“Baik, baik. Aku percaya dengan kata-katamu. Ah, kau jangan terlalu
serius begitu. Aku cuma bercanda kok. Aku juga tahu kau tak akan
mengganggu anakku.”
“Baiklah kalo gitu, mari kita bicarakan hal-hal yang lain saja. Tak
baik kita membicarakan ini, apalagi kalau sampai terdengar anakmu,” kata
Pak Heru yang ingin cepat-cepat mengalihkan pembicaraan yang membuat
kurang nyaman dirinya itu.
“Omong-omong, aku bangga punya seorang teman yang selain cerdik juga
punya prinsip hidup seperti kau. Semua kesuksesanmu kau raih tanpa harus
merendahkan martabatmu. Itulah beda seorang bernama Wijaya dibandingkan
orang-orang lain, terutama mereka yang dengan gampang menjual anak
gadisnya,” katanya merujuk ke para orang tua “anak-anak asuhnya” itu.
Dari percakapan ini kini terbukti kalau Pak Heru juga tak terlalu
menghargai mereka (meskipun banyak diantara mereka yang sebelumnya masih
perawan), karena ia terlalu gampang mendapatkannya. Rupanya betul
pikiran Pak Wijaya tadi, apabila terlalu mudah mendapatkan akan mudah
pula untuk melupakan dan mencampakkan. Setelah itu mereka ngobrol lagi
tak sampai 10 menit sebelum Pak Heru akhirnya pura-pura pamitan pulang
namun sebenarnya menggunakan alasan cape, mengantuk, dll supaya sang
tuan rumah menawarkannya untuk menginap. Sesuai harapannya, sang tuan
rumah segera menawarkannya untuk menginap.
“Ah, tetapi aku takut kalau kau masih mencurigaiku punya niat tersembunyi.”
“Oh, come on, jangan sensi gitu donk Pak. Jangan bikin saya merasa tak enak hati.”
“OK, OK. Tetapi, terima kasih, sebaiknya saya pulang saja. Sekalipun
kau tak keberatan, tetap aku merasa tak enak dengan anakmu. Apalagi
belakangan ini sudah terlalu sering aku menginap disini.”
“Ah, biarkan saja dia punya dunianya sendiri. Sudahlah Pak Heru
menginap aja disini. Besok pagi aku suruh Mbok Yem masakin makanan
kesukaan Pak Heru.”
“Yah, kalau Pak Wijaya memaksa, apa boleh buat….,”
“Hahaha…ayolah, mari aku antar Pak Heru ke kamar,” kata Pak Wijaya
sambil langsung berdiri dan membawa tamunya ke kamar tidur khusus tamu.
Demikianlah percakapan dua orang yang sama-sama terpandang dan
sama-sama memiliki reputasi tak tercela itu disudahi. Sebuah percakapan
artifisial dari dua orang dengan topeng masing-masing, yang isi
percakapannya sungguh bertolak belakang dengan apa yang sesungguhnya ada
di dalam hati. Lucunya, niat hati sesungguhnya yang tak diucapkan dari
dua orang itu sungguh serasi, sejalan, selaras, dan harmonis. Dua orang
yang sama-sama bertopeng malaikat, namun isi dalamnya amat busuk, jauh
lebih busuk dibanding potret Dorian Gray.
–@@@@–
Sesampai di kamar, Pak Heru buru-buru mandi dan berganti pakaian
tidur. Setelah itu ia langsung menyelinap keluar ke ruang tengah yang
telah gelap dan berjalan menuju kamar A-mei yang masih menyala terang…
Dokk..dokk..dokk. Diketuknya pintu kamar A-mei dengan perlahan supaya
tak ketahuan orang. Tak lama kemudian terbukalah pintu kamar itu.
“Hi, A-mei,” sapa Pak Heru dengan tersenyum. Penisnya telah menegang.
“Eh, Oom Heru rupanya. Ada apa Oom malam-malam gini?” tanya A-mei yang hanya mengeluarkan kepalanya dengan datar.
“Ah, Oom pengin nanya sesuatu ke kamu sebentar,” jawab Pak Heru. Namun,
“Mau nanya apa sih Oom? Malam-malam gini?” kata A-mei yang kelihatan
sekali kalau ia kurang senang dengan kedatangan Pak Heru. Padahal
pikiran Pak Heru telah melompat jauh memikirkan urusan seks. Sungguh
jurang perbedaan yang besar sekali.
“Ehmm, anu, eh, Oom mau minta pendapat ke A-mei karena Oom mau ngasih
hadiah ke anak cewek Oom yang kira-kira seumur A-mei,” kata Pak Heru
mengarang-ngarang cerita. “Kira-kira hadiah apa yang……” belum selesai
Pak Heru bicara, tiba-tiba…
Clingg! Terdengar bunyi sms masuk di handphone A-mei dari dalam kamar.
“Sebentar, Oom,” potong A-mei tiba-tiba langsung menutup pintu kamarnya di depan hidung Pak Heru.
Pak Heru, sebagai orang yang berkuasa, merasa dilecehkan oleh sikap
gadis ini. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa karena memang menurut
aturan sungguh tak pantas kalau ia menyerobot masuk ke kamar seorang
gadis apalagi malam-malam gini. Bisa-bisa ia dianggap melakukan
percobaan perkosaan. Saat itu memang A-mei sama sekali tak ada pikiran
untuk ngeseks apalagi dengan Pak Heru. Pikirannya saat itu lebih
tercurah ke kencan dengan cowoknya besok. Memang terkadang sikap A-mei
seperti ini. Bukan pertama kali Pak Heru menghadapi keadaan ini.
Terhadap gadis ini ia tak bisa terlalu memaksanya. Karena ia bukan gadis
simpanannya, bukan pacar gelapnya, juga bukan cewek bayaran yang
prinsipnya ada uang ada service. Sebaliknya, ia adalah anak pengusaha
kaya yang kadang suka berbuat semaunya namun juga tak bisa dipaksa. Ia
tak ingin sampai gadis ini jadi marah dan sakit hati lalu mengadu ke
ayahnya. Ia tak ingin bermusuhan dengan ayah gadis ini. Tapi masalahnya
kini, ia terlanjur mupeng dengan gadis ini. Tentu ia ingin menyalurkan
kemupengannya itu saat ini juga. Ia adalah orang yang berkuasa. Tak
seharusnya seorang gadis muda menolak kehendaknya, biarpun ia anak
pengusaha kaya sekalipun! Dua pilihan yang biasa dilakukannya saat gadis
itu bad mood adalah dengan merayunya dengan harapan mood-nya berubah
atau dengan sedikit memaksa (tapi nggak boleh terlalu keras). Biasanya
cara-cara itu bisa membuat gadis ini takluk kepadanya. Oleh karena kini
hatinya agak kesal dengan gadis itu karena sikap tak sopannya tadi, maka
ia akan menggunakan pendekatan “show of force” kepadanya.
A-mei telah membuka pintu kamarnya kembali.
“Sorry, Oom. Baca sms dulu. Oom tadi nanya apa ya? A-mei lupa,” katanya dengan wajah polos tanpa merasa bersalah.
“Oom mau ngasih hadiah ke anak Oom. Tapi gini aja deh, biar lebih
gampang…Papi A-mei sedang ada tender proyek Oom yang nilainya puluhan
milyar. A-mei pengin hadiah apa dari Papi, KALO TENDERNYA MENANG?” tanya
Pak Heru dengan penekanan intonasi yang jelas. Perkataan Pak Heru ini
kasarnya kurang lebih: Kau harus tahu diri! Papimu sedang ikut tender.
Kalau pengin menang, kau harus menuruti kemauanku!
“Yuk Oom. Ngomongnya di dalam aja,” kata A-mei dengan ramah sambil
membuka pintu lebar-lebar dan menarik tangan Pak Heru untuk masuk ke
dalam kamarnya.
Sikap A-mei terlihat jelas berubah drastis. Bahkan wajahnya nampak berseri-seri.
{Hmmm. Akalku berhasil. Rupanya kau cukup tahu diri juga. Bagus}.
“Duduk Oom,” A-mei dengan ramah mempersilahkan Pak Heru duduk.
“Omong-omong, Oom tahu nggak siapa yang barusan ngirim sms?” tanya
A-mei, yang berbeda dengan sikap dingin sebelumnya, kini justru ia yang
memulai pembicaraan.
“Cowok kamu?” tanya Pak Heru.
“Salah Oom. Barusan Papi yang sms,” katanya dengan mata berbinar-binar.
“Oh ya? Kok malem-malem gini.”
“Nah itulah Papi, Oom, kadang suka aneh. Tapi Oom tahu, apa yang ditulis Papi tadi?”
“Apa?”
“Dia bilang kalo Oom Heru malam ini nginap disini. Jadi dia nyuruh
A-mei besok pagi mesti pake pakaian yang sopan. Pake lima tanda seru
lagi,” kata A-mei dengan pandangan jenaka. “Nih Oom, liat sms-nya,” kata
A-mei mendekatkan diri untuk menunjukkan isi sms itu ke Pak Heru.
“Memang maksudnya sopan itu seperti apa sih?” kata A-mei yang kini
berdiri di depan Pak Heru. “Kalo pakaianku sekarang ini termasuk sopan
khan Oom?” kata A-mei dengan wajah polos menarik kaus tanktop putihnya
itu ke bawah dengan kedua tangannya.
Glek! Pak Heru tertegun dan menahan ludahnya. Untuk sesaat ia tak
bisa bicara. Karena ulah A-mei itu membuat bajunya semakin menempel di
tubuhnya. Akibatnya kedua putingnya jadi tercetak jelas di kaus putih
itu. Karena rupanya gadis ini tak memakai bra! Juga leher kausnya jadi
turun ke bawah sehingga dada A-mei semakin banyak bagian yang terlihat.
Ukuran payudaranya memang tak begitu besar, namun sanggup mengangkat
“meteran” Pak Heru langsung, toiingg!, melonjak ke posisi max. Wajah
gadis ini begitu alim. Namun kelakuannya…sungguh amit-amit!
“Gimana Oom?” tanya A-mei lagi dengan polos.
“Ya, sopan kok itu….sopan. Kamu kelihatan cantik dan sexy dengan baju ini,” jawabnya sambil matanya menatap ke dada gadis itu.
“A-mei pengin pijit nggak? Mau Oom pijitin bentar?” Pak Heru yang
telah cukup mafhum menghadapi gadis ini. Biasanya cara ini selalu
berakhir dengan “happy ending”.
“Ah, kebetulan Oom. A-mei juga lagi pengin dipijit-pijit. Punggung ya
Oom, ” kata A-mei sambil tidur telungkup di ranjang. Segera Pak Heru
duduk di sebelah gadis itu dan memijit-mijit punggungnya. Sementara
A-mei memejamkan matanya menikmati pijitan di punggungnya. Setelah
membuat nyaman gadis itu, tangannya mulai menyusup masuk ke balik baju
A-mei. Dirasakannya betapa halus kulit punggung putih gadis mulus ini.
Membuat ia semakin jauh menyusup ke dalam baju putih gadis itu sampai
seluruh punggung gadis itu telah habis diraba-rabainya. “Bajunya
diangkat dikit ya, biar lebih kerasa pijitannya,” katanya sambil
menaikkan baju tanktop A-mei ke atas. Mulutnya berkata “dikit” tapi
kenyataannya baju itu diangkatnya sampai mentok ke atas. Bahkan bagian
depannya juga ikut ditariknya ke atas. Dan A-mei pun bereaksi positif.
Sambil terus memejamkan mata ia sedikit menaikkan tubuhnya sehingga
bajunya berhasil diangkat sampai ke lehernya. Sehingga dada gadis itu
sebenarnya telah telanjang hanya saja ia masih telungkup. Pak Heru kini
memijit-mijit dan meraba-raba seluruh bagian punggung yang putih mulus
bening ini. Sambil ia mengintip gundukan payudara gadis itu yang sedikit
terlihat dari samping.
“Sekarang tangan deh Oom,” kata A-mei sambil terus memejamkan mata.
“Tapi sebentar, tangan kayaknya lebih enak dipijit kalo aku balik
badan deh,” tambahnya, yang langsung membuat Pak Heru menahan napas.
A-mei membuka matanya. Ia membalikkan badannya sampai telentang. Namun
sebelum itu ia meraih bantal di dekatnya dan memiringkan tubuhnya dengan
memunggungi Pak Heru sambil ditempelkannya bantal itu di dadanya. Pada
saat telentang bantal itu telah berada di atas tubuhnya menutup dadanya.
Sehingga Pak Heru tak sempat melihat payudara telanjangnya. Sepeertinya
ia sengaja mempermainkan Pak Heru, nggak ngerti kalau bandot ini telah
begitu mupeng terhadap dirinya. Kini Pak Heru mulai memijit dan
meraba-raba tangannya. “Sekarang kaki ya,” kata Pak Heru sambil
berpindah memijit-mijit kaki gadis itu, mulai dari bawah lalu semakin
merayap naik. Kini ia memijit-mijit bagian paha A-mei yang tak tertutup
oleh celana pendeknya, cukup atas raihannya karena celana A-mei itu
super pendek.
“Abis kaki pundak ya Oom, nanti aku duduk kalo pijit pundak. Tapi
nanti, setelah selesai kedua kaki.” Saat itu terjadi “kemunduran” bagi
Pak Heru. Karena saat ia memijit kakinya, A-mei menurunkan kembali kaus
putihnya di bawah bantal. Sehingga kaus itu kini menutup tubuhnya
kembali.
Wajah Pak Heru nampak kecewa. Ia berpikir, jangan-jangan cewek yang
sudah kadung membikin mupeng dirinya ini cuma pengin pijit aja. Abis ini
aku disuruh keluar. Rugi dong. Hmm, rupanya mesti dilakukan show of
force lagi, pikirnya. Sambil memijit kini ia kembali menyinggung tentang
tender proyek itu untuk mengingatkan gadis ini supaya bersikap “tahu
diri”. Pada saat itu handphone A-mei berbunyi. Segera ia bangkit menuju
meja kecil tempat handphonenya berada.
“Ah, Papi!” serunya dengan muka jutek. “Ada apa lagi sih.”
Sementara Pak Heru memperhatikan dengan gembira. {Hmm, bagus. Kini giliran terhadap papinya ia bersikap jutek}.
“Belum! Mana bisa tidur? Digangguin telpon Papi ini,” kata A-mei dengan cemberut. “Mengganggu ketenangan orang aja.”
“Sms tadi yang mana sih? Kapan Papi kirim sms. Nggak ada! Nyangkut
kali sms-nya.” “Idih. Papi! Ngomongin itu aja mulu. Iya, iya aku udah
tahu. Udah ah, aku mau tidur dulu,” dan dipencetnya handphone itu dan
dimatikannya.
“Malam-malam telpon cuma ngasih tahu tentang baju lagi. Huh! Sebel.
Tapi….nggak tahu dia kalo saat ini Oom ada disini. Hihihihii.” Membuat
bandot ganas yang mendengar itu jadi tersenyum-senyum gembira. {Hehehe.
Lihat ulah anakmu ini. Hahaha}.
“Ayo Oom terusin pijitnya lagi ya,” kata Pak Heru sambil memegang pundak dan menggiring gadis itu kembali ke arah ranjang.
“Ayo kamu duduk disini. Kali ini Oom pijitin pundak kamu,” kata
bandot tengik ini sambil memegang-megang pundak mulus A-mei. Tak ingin
kehilangan momentum ia terus memijit sambil meneruskan ceritanya tentang
proyek yang akan datang itu. Dan, tak sampai dua menit kemudian,
tiba-tiba A-mei berkata,
“Sebentar Oom….. Sudah ah, aku nggak perlu malu lagi sama Oom.
Bajuku aku lepas aja deh. Supaya lebih kerasa pijitannya,” kata A-mei
yang saat itu duduk membelakangi pak Heru dengan cuek meloloskan kaus
putih itu dari tubuhnya.
Dilemparkannya kaus itu ke lantai. Jantung Pak Heru berdetak makin
kencang melihat gadis ini kini telah melepas bajunya. Kulit punggungnya
yang bening mulus betul-betul menggoda iman. Juga rambutnya yang terurai
bebas nampak indah menempel di punggung putih gadis itu. Namun itu
semua belum seberapa dibanding bayangan keindahan bagian depannya.
{Ah, dikasih yang kayak gini, gimana bisa nolaknya? Jadi, maafkan
daku beribu maaf deh. Dengan amat terpaksa kulanggar janjiku tadi.
Habis, kagak bisa nahan sih. Apalagi, aku memang penggemar tipe
cewek-cewek seperti anakmu ini. Hahahaha. Tapi jangan kuatir, aku tak
akan menyakitinya. Sebaliknya, aku akan memberikannya kepuasan tiada
tara sampai anakmu ini bakal merem melek. Hahahahaha}.
“Betul sekali. A-mei nggak perlu malu-malu buka baju, karena A-mei
punya tubuh yang amat indah dan sexy,” kata Pak Heru merasakan betapa
mulus dan beningnya A-mei ini. Tentu, Pak Heru adalah orang munafik yang
ingin untung sendiri dan tak mau rugi. Ia bisa melakukan semaunya ke
anak gadis orang. Sebaliknya, ia mendidik amat konservatif terhadap
putrinya. Termasuk juga melarangnya memakai pakaian ketat dan terbuka
yang menampilkan ke-sexy-an tubuhnya. Sebaliknya, ia menyuruh putrinya
memakai pakaian yang begitu tertutup dan berlapis-lapis. Kini bandot
munafik itu duduk di samping A-mei supaya bisa melihat payudaranya
putihnya. Keduanya nampak simetri dan segar menggairahkan. Apalagi
putingnya berwarna pink dan cukup menonjol ke depan di tengah-tengah
gundukan daging putih. Kini ia tak sungkan-sungkan lagi mendelik menatap
dada gadis itu lekat-lekat. Apalagi A-mei bukannya berusaha menutupi
dadanya malah ia memejamkan matanya.
{Hehehe, inilah anak gadismu yang berusaha kau lindungi mati-matian
tadi}, batinnya sambil menatap lekat-lekat payudara A-mei. {Kini
terbukti upayamu itu gagal total. Sebentar lagi anakmu yang alim ini
bakal kulumat dan kugarap habis-habisan}.
“Oom lanjutin dengan body-to-body massage ya,” kata Pak Heru. A-mei
tak mengiyakan namun juga tak menolak secara eksplisit. Memang gadis ini
masih suka bersikap jaim. Namun justru itu yang membuatnya suka.
Alim-alim nakal. Polos-polos menggairahkan. Apalagi bagi dirinya, tak
menolak artinya mau.
“Mending bajunya dibuka semuanya ya,” katanya sambil membuka
retsleting celana A-mei, ditariknya ke bawah sampai lolos dari tubuhnya.
Kini celana dalam sexy warna pink itu yang jadi sasarannya. Namun
tangan A-mei langsung memegang celana dalamnya, membuat Pak Heru
akhirnya tak memaksanya. Ia melepas seluruh bajunya sendiri sampai hanya
tersisa celana dalamnya. Namun akhirnya celana dalamnya itu juga
dilepasnya. Kini seluruh tubuh sawo matang pejabat bandot itu telanjang
bulat di depan gadis putih bening berwajah oriental ini. Sementara
matanya menatap ke tubuh mulus telanjang A-mei lekat-lekat.
“Sebaiknya A-mei yang di atas aja soalnya badan Oom lebih besar dan
berat. Takutnya nanti kamu kesakitan kalau lama-lama. Sini kamu tidur di
atas Oom,” kata Pak Heru yang telah berbaring dengan penis hitamnya
yang disunat itu menegang keras.
Ia mengatur tubuh A-mei supaya tidur telungkup menempel di atas
tubuhnya. Ahhh! A-mei berseru kaget ketika merasakan batang Pak Heru
yang mengeras itu terasa begitu tebal menekan pangkal pahanya. Sementara
Pak Heru juga merasakan betapa mulusnya tubuh gadis itu menempel di
tubuhnya sendiri. Juga ia menyadari betapa putih bening gadis ini yang
amat kontras banget saat menempel di kulit tubuhnya yang coklat sawo
matang. Membuat hatinya menggelora. Inilah yang disukainya. Apalagi
dirasakan payudara mungil gadis ini menempel di dadanya.
“Sekarang, ayo, kamu gerak-gerakin tubuh kamu, digesek-gesek dengan
tubuh Oom,” kata Pak Heru sambil tangannya meraba-raba punggung halus
A-mei dan mendorong-dorong tubuh putih gadis berambut panjang ini. Oooh,
desis Pak Heru nikmat saat A-mei menuruti kata Pak Heru dan mulai
menggesek-gesekkan tubuhnya. Apalagi kena dada gadis ini. Memang ini
adalah akal-akalan Pak Heru saja yang ingin dipijit-pijit oleh gadis
putih mulus ini. Namun tentu bukan pijit biasa karena gadis itu memijiti
tubuhnya dengan payudaranya. Pak Heru dibuat merem melek menikmati
gesekan payudara putih gadis oriental ini beradu dengan tubuhnya yang
coklat sawo matang. Apalagi kedua puting A-mei ini, meski bagian
areolanya dan juga payudaranya secara keseluruhan tak begitu besar,
cukup menonjol keluar. Sehingga kedua putingnya yang “tajam” itu
menggelitik tubuh tambunnya. Rambut panjang gadis ini juga ikut menerpa
tubuhnya dan menggelitiknya. Kini tak jelas siapa yang memijit siapa.
Yang pasti pijit “setrikaan” ala A-mei itu terus berkelanjutan. Karena
ia sendiri juga ikut merasa enak saat payudara dan putingnya
menyentuh-nyentuh tubuh Pak Heru. Membuatnya semakin giat
menggesek-gesekkan tubuh putih mulusnya bergerak maju mundur di atas
tubuh sawo matang Pak Heru. Membuat Pak Heru merem melek merasakan
nikmatnya sensasi saat tubuhnya bergesek-gesek dengan tubuh gadis cakep
anak pengusaha kaya yang baru berumur 19 tahun ini. Ditambah lagi, gadis
chinese belia ini adalah putri temannya sendiri. Gerakan maju mundur
A-mei ini secara otomatis juga ikut menggesek-gesek bagian bawah
tubuhnya. Pahanya sendiri bergesek-gesek dengan paha gadis putih mulus
ini. Mr. P nya menggesek-gesek Ms. V gadis ini yang masih tertutup
celana dalam. Pak Heru kini tak mau tinggal diam terus. Kedua tangannya
meraba-raba sekujur tubuh A-mei. Ia membelai kepala, rambut, leher,
serta punggung dan pinggang A-mei. Juga tak ketinggalan pantat membulat
gadis ini yang dengan rakus diremas-remas. Sementara A-mei melakukan
pijit susu kepadanya, ia juga terus merangsang gadis itu dengan
meraba-rabai dan memijit-mijit seluruh bagian tubuh gadis itu. Kini
mereka mengubah posisi. Kali ini mereka saling menggesek-gesekkan tubuh
mereka dalam keadaan duduk. Namun kurang lebih intinya sama, yaitu dada
Pak Heru menggesek-gesek payudara A-mei, atau payudara A-mei
menggesek-gesek dada Pak Heru. (Anyway, mau dibolak-balik seperti apa
toh juga hasilnya sama). Dalam posisi duduk itu Pak Heru mulai mengecup
sedikit bibir A-mei. Melihat reaksi gadis itu yang tak melawan, langsung
dilumatnya bibir gadis itu yang sama sekali tak melawan, hanya
memejamkan mata saja. Beberapa saat kemudian ia mulai berani
membalasnya. Kini mereka berdua saling menempelkan tubuh dan saling
berpagutan antara bibir ketemu bibir.
Pak Heru membalikkan tubuh A-mei hingga telentang. Kini giliran ia
menindih gadis yang menggemaskan hatinya itu. Diciuminya lehernya yang
putih halus itu dengan penuh nafsu. Sementara A-mei mengeluarkan
rintihan-rintihan dan gerakan-gerakan tubuh pertanda kalau ia juga
menikmatinya. Dikecupi dan disedot-sedotnya kedua sisi leher A-mei
dengan ganas sampai-sampai terdapat bekas-bekas cupang merah di sana
sini. Setelah itu kembali ia melumat bibir A-mei dan dinikmati
kehangatannya dengan buas sampai-sampai A-mei kesulitan bernapas.
Setelah itu ciumannya turun ke bawah menuju ke dada A-mei.
Dicium-ciumnya sepasang payudaranya itu bergantian. Lidahnya
dijulur-julurkan bagai ular beludah menyentuh-nyentuh kedua puting gadis
itu. Sampai-samapi membuat puting A-mei jadi semakin kaku mengeras.
Dalam hati ia tersenyum gembira melihat reaksi fisik puting gadis ini.
Apalagi ia mafhum kalau inilah titik kelemahan gadis ini. Dan
sentuhan-sentuhan berkala seperti ini rupanya memang menaikkan gairah
seksual A-mei. Membuat bandot itu semakin ganas menjilati kedua puting
yang fresh cute pinky itu bergantian kiri kanan. Karena memang ia juga
penggemar puting cute milik gadis berwajah cute ini. Setelah
menjilat-jilat dan menyentuh-nyentuh, kini ia mengulum puting itu.
Keduanya dikulum dan dihisap-hisap secara bergantian.
OOOHHHH…..OOOHHHH….OOOOHHHHH. A-mei tak dapat menahan diri lagi untuk
tak mendesah-desah saat merasakan kehangatan di ujung payudaranya saat
berada di dalam emutan mulut Pak Heru. Membuat Pak Heru tambah
bersemangat mengenyot-ngenyotnya, menikmati seluruh bagian puting mungil
gadis ini. Kini diemut-emutnya seluruh bagian dada putih itu dengan
rakus. Sambil sesekali kedua putingnya yang kaku dan mengeras itu terus
dijilati. Sambil sesekali ujung lidahnya bergerak melingkari kedua
puting gadis itu. Lalu kembali dikenyot-kenyotnya. Disentuh-sentuhnya.
Lalu diemut-emut. Digerak-gerakkan dengan lidahnya. Lalu diseruput dan
dikenyot-kenyot lagi. Begitu dilakukan berulang-ulang. Membuat A-mei
jadi mengerang-ngerang dan tubuhnya menggelinjang tak keruan. Semakin
lama semakin liar gerakannya. Kalau tadi ia masih bersikap malu-malu dan
jaim, kini ia sudah tak peduli dengan hal-hal lainnya selain merem
melek merasakan rangsangan-rangsangan nikmat di payudaranya. Juga, ia
tak peduli lagi dengan keadaan fisik dan status pria yang sedang
menikmati dirinya saat ini. Seandainya ada orang yang melihat mereka
bedua saat itu, tentu bakal merasa heran, takjub, mungkin iri, dan yang
pasti aneh. Memang perbedaan keduanya begitu besar dan nyata. Pria itu
jelas orang Jawa asli berkulit sawo matang agak gelap. Ceweknya
keturunan Chinese berkulit putih bening. Pria itu berusia setengah baya.
Ceweknya belum genap 20 tahun. Wajah sang pria termasuk jelek,
sementara ceweknya sungguh menarik. Tubuh pria itu nampak kedodoran
dengan timbunan lemak disana-sini, terutama perutnya yang membuncit.
Cewek itu begitu langsing dan terawat tubuhnya, sama sekali tak terlihat
adanya timbunan lemak yang tak sedap dipandang. Pria itu bertampang
mesum, sementara cewek itu begitu alim dan polos. Menurut kalkulasi
normal, tentu cewek seperti ini kecil kemungkinan bisa (atau mau)
dekat-dekat pria bandot setengah baya seperti itu. Namun kenyataannya
kini cewek ini malah tidur telentang telanjang ditindih oleh pria
setengah baya itu yang begitu bernapsu mengenyot-ngenyot payudara gadis
muda ini. Semua itu terjadi secara sukarela, mau sama mau, tanpa kesan
adanya unsur paksaan sedikitpun. Inikah tanda kalau jaman telah berubah,
dimana aturan-aturan lama sudah tak berlaku lagi, dan logika-logika
lama semuanya jadi terbalik?
Pak Heru turun ke bawah meraba-raba paha A-mei yang begitu putih dan
mulus terawat. Tangannya terus menari-nari dan merangsek naik makin ke
atas dan ke bagian dalam paha gadis itu. Melihat reaksi gadis itu yang
begitu menikmati aksinya, Pak Heru langsung membuka paha A-mei
lebar-lebar. Kini ia bisa melihat lipatan liang yang membekas di celana
dalam tipis A-mei. Bahkan ia melihat pula ada perubahan warna di
tengahnya. Artinya gadis ini telah mulai basah. Segera ia menggunakan
bibirnya untuk semakin merangsang gadis itu. Lidahnya mulai
menjilat-jilat pangkal paha gadis ini terutama bagian dalamnya. Ia tahu
bagian-bagian yang sensitif dari seorang wanita. Dengan menggunakan
pengalamannya yang segudang, kini ia siap memuaskan gadis ini. Sementara
ia menjilati pahanya, tangan Pak Heru kembali beraksi di atas dengan
merengkuh buah dada A-mei dan meraba-raba serta meremas-remasnya. Kedua
jari-jari tangannya kembali memainkan putingnya. Membuat A-mei
mendesah-desah semakin keras. Pak Heru melihat celana dalam gadis itu
jadi semakin basah. Ia melihat adanya cairan yang keluar dari liang
vagina gadis ini dan semakin merembes membasahi celana dalamnya. Kini ia
jadi semakin berani. Tanpa permisi lagi ia mulai merangsang vagina
gadis itu dengan mulutnya. Dijilat-jilatnya celana dalam gadis itu dan
mulutnya mengeluarkan suara yang menyedot-nyedot persis di lubang vagina
A-mei. Ooohhhhhhh…….oooohhhhhhhhhh……..ooohhhhhhhhhh…… keluh A-mei
dengan panjang. Membuat vaginanya semakin kuyup. Dan Pak Heru pun
semakin asyik menjilat-jilatnya. Bahkan lidahnya ditekan-tekannya di
liang vagina A-mei yang kini nampak jelas bagian tengahnya mencekung ke
dalam. Pak Heru tentu senang melihat gadis ini telah begitu
terangsangnya gara-gara perbuatannya. “Dibuka aja ya punyamu ini,”
katanya sekedar ngomong namun tanpa menunggu jawaban A-mei segera kedua
tangannya memelorotkan celana dalam tipis A-mei. Dan terbukalah penutup
tubuh terakhir A-mei. Nampak bulu-bulu vaginanya yang tak terlalu lebat
dan tertata rapi itu. Membuat Pak Heru makin mupeng, menyaksikan
bulu-bulu A-mei yang begitu cute dan lutchu itu. Segera tangannya
meraba-rabanya dan mengelus-elus bulunya untuk beberapa saat. Dalam hati
ia tertawa geli saat mengingat ia berkata ke ayah gadis ini tadi kalau
ia tak akan mengganggu seujung “rambut” gadis ini. {Maafkan aku, kawan.
Hehehe}. Setelah itu ia membentangkan kedua kaki A-mei lebar-lebar.
Sehingga kini vaginanya terpampang begitu jelas di hadapannya, termasuk
lipatan-lipatan dan liangnya. Begitu mulus, segar, merah, dan
menggairahkan. Hehehehe. Dijilatinya lipatan vagina A-mei itu dengan
lidahnya yang begitu mahir. Tanpa kesulitan ia menemukan G-spot gadis
ini dan menjilatinya sampai agak lama.
Aaaahhhhh…..aahhhhhhhhhh……aaaaaahhhhhhhhhhhh. A-mei tak dapat menahan
diri. Ia berteriak-teriak dengan keras dibarengi dengan keluarnya cairan
dari dalam gua cintanya itu. Pak Heru melanjutkan aksinya yang dengan
lihai terus merangsang bagian-bagian super sensitif A-mei itu.
“Oooohhh…Ooom….oooohhhh………..”
“Aaahhh….aaahhhhhh…….”
A-mei jadi tak terkendali lagi.
Namun Pak Heru tak berhenti sampai situ. Karena setelah itu ia
membuka lipatan vagina A-mei dengan jari-jarinya. Nampak tonjolan
sebesar biji kacang. Itulah klitoris gadis ini. Dan….dijilat-jilatnya
bagian super sensitif gadis ini. Sementara kedua tangannya sibuk
meremas-remas payudara dan memilin-milin puting A-mei.
Membuat tubuh A-mei kali ini bergetar-getar dan
menggelinjang-gelinjang. Kedua kakinya yang tadinya terbuka lebar, kini
keduanya menjepit kepala Pak Heru dengan kuat. Ia juga mendesah-desah
tak keruan. Merasakan nikmat yang tak terkira. Sementara Pak Heru
merasakan semakin banyak cairan yang keluar.
“Ooohhhhh……..aaaahhhhhhh…..Ooomm Heru…..aaaahhhhhh…….aaahhhhhh….aku
sudah nggak tahan lagi…..” ceracaunya tak karuan sambil matanya merem
melek dan tubuhnya terus menggelepar-gelepar. Bahkan kini bagian
selangkangannya ikut digerak-gerakkannya.
Membuat Pak Heru makin bersemangat melahapnya. Akibatnya gerakan
tubuh A-mei semakin liar, demikian pula dengan desahan-desahannya.
Aaahhhhhhh…..aaaaahhhhhhhh…….aaaaaahhhhhhhhhhhhh…..aaaahhhhhhhhhh.
Akhirnya, tanpa penetrasi pun, A-mei mengalami orgasme. Ia terus
mendesah-desah dan berteriak-teriak. Bahkan ia juga meracau tak karuan
saat orgasme dengan kata-kata yang tak jelas yang tak dimengertinya.
Setelah membuat gadis ini orgasme, Pak Heru kembali menciumi wajah dan
lehernya. Sementara A-mei membiarkan saja dirinya dijadikan “boneka”
oleh pria Jawa seumuran ayahnya itu. Begitu pula saat Pak Heru
mendekatkan penisnya ke dadanya dan menjepitnya di tengah-tengah kedua
gunung kembarnya yang mungil dan lalu menggesek-gesekkannya naik turun.
Ia sama sekali tak melawan. Sementara Pak Heru menggunakan bukit kembar
A-mei untuk mengonani penisnya yang hitam dan berurat itu. Sebelum dapet
vaginanya, harus mainin pake susunya dulu, pikir Pak Heru. Penis hitam
yang berurat itu kepalanya tepat berada di tengah-tengah payudara A-mei.
Dan perbedaan kontrasnya begitu luar biasa. Bagaikan dua keping roti
sandwich putih yang menjepit sosis gosong. Apalagi, penis Pak Heru ini
lebih hitam dibanding kulit tubuhnya yang lain. Sebaliknya, payudara
A-mei ini lebih putih dibanding bagian tubuh lainnya. Membuat nampak
aneh saja penis hitam berurat dengan kepalanya yang disunat membesar
milik pria setengah baya bisa dijepit dan diesek-esek di tengah-tengah
bukit kembar putih gadis belia ini.
Setelah puas memakai payudara gadis itu, kini tiba saatnya untuk
menikmati menu utama. Ia menjepitkan penisnya di pangkal paha A-mei.
Membuat A-mei merasakan ada benda keras hangat diantara kedua pahanya.
Lalu dibukanya kembali kedua kaki A-mei. Dilihatnya liang vagina yang
nampak begitu sempit dari gadis itu. Didekatkannya penisnya sampai
persis di depan liang vagina itu. Dan, tanpa permisi atau apa, Pak Heru
segera mendorong penisnya itu kuat-kuat untuk menembus liang kenikmatan
putri temannya itu. Ughh! Liang vagina A-mei memang amat sempit. Meski
telah sering dipenetrasi, namun tetap sempit karena selain usianya masih
belia juga gadis ini rajin menjaga tubuh termasuk otot-otot di sekitar
bagian pribadinya itu. Namun, sesempit-sempitnya akhirnya tak juga
sanggup menahan dorongan kuat penis Pak Heru yang perkasa.
Dan….bleesshh! Akhirnya masuklah kepala penisnya ke dalam liang vagina
gadis itu. Dan….emmhhhhh! Didorongnya lagi ke depan sampai seluruh sisa
penisnya amblas masuk ke dalam gadis itu. Lalu……
“Uuuhhhh….uhhhhhh……uhhhhhhh………..uuuuhhhh…….” A-mei mendesah-desah
merasakan rasa nikmat yang tak terkirakan saat penis Pak Heru maju
mundur mengocok-ngocok di dalam vaginanya. Seluruh tubuhnya jadi
berguncang-guncang karena kocokan penis Pak Heru di dalam vaginanya.
Bahkan payudaranya yang tak terlalu besar itu turut terguncang-guncang
dan berputar-putar juga. Sementara Pak Heru terus menyodok-nyodok dan
mengobrak-abrik vagina sempit gadis belia ini dengan penisnya yang
perkasa.
“Emmhh….emmhhh…..eeemhh…..eemmhh….eemmhh…eeemmhhh….eemmhhh.”
Pak Heru terus menyodok-nyodok penisnya di dalam vagina A-mei,
menyetubuhi gadis itu dengan hati dan semangat yang begitu menggelora.
Karena, saat itu, ia telah berhasil menaklukkan cewek “freelance” yang
super super super high class, yang levelnya jauh melebihi gadis-gadis
super high class lainnya yang pernah diganyangnya. Bahkan bisa jadi
cewek yang sedang dinikmatinya sekarang adalah cewek dengan “bayaran
termahal” di seluruh dunia! Mengapa ia beranggapan demikian? Karena
awalnya tadi gadis ini sama sekali nggak mood bahkan responnya begitu
asem terhadap dirinya. Namun setelah ia “mengingatkan” gadis ini supaya
sedikit tahu diri dengan menyinggung tender proyek ayahnya, akhirnya
gadis ini menyerah. Saat peringatan pertama, gadis itu langsung
menyilakannya masuk ke dalam kamar. Peringatan kedua, membuat gadis ini
rela melepas bajunya, membuatnya telanjang dada di depannya. Dan
sekarang???
{Hehehehe… gadis ini betul-betul bertekuk lutut kepadanya! Inilah
nikmatnya orang yang berkuasa}, batin Pak Heru sambil terus menyetubuhi
dan menggedor-gedor liang tubuh A-mei. {Saking berkuasanya aku, bahkan
anak cewek satu-satunya pengusaha chinese kaya yang muda cakep dan sexy
seperti ini pun akhirnya bertekuk lutut kepadaku}, batinnya dengan rasa
puas, sambil terus dengan aksinya menggenjot tubuh gadis ini. {Demi
sebuah proyek puluhan milyar rupiah, akhirnya gadis ini mau menjual
dirinya. Oleh karena itu, kini ia adalah gadis dengan bayaran termahal
untuk tarif short time. A-mei, anak gadis Pak Wijaya pengusaha sukses
itu, rupanya kini menjadi cewek bayaran juga. Namun, hanya AKU yang
sanggup membayarnya. Huahahahahaa……}, batinnya lagi sambil penisnya
terus menyodok-sodok vagina gadis belia yang usianya kurang dari
setengah umurnya ini, yang membuat gadis itu mendesah-desah dan
menjerit-jerit lupa segalanya.
“Emmhh….emmhhh…..eeemhh…..eemmhh….eemmhh…eeemmhhh….eemmhhh.”
A-mei terus mendesah-desah sambil mengulum telunjuknya dan memejamkan matanya.
Pak Heru kini menekuk kedua kaki A-mei dan menempelkannya di
tubuhnya, sehingga tubuh gadis itu agak menggulung ke atas. Vaginanya
yang terekspos itu dibentangkannya dengan ibu jari dan telunjuknya.
Penisnya diarahkan ke liang vagina yang kini menganga itu. Dan,
shleebbb, dimasukkan penisnya sampai masuk seluruhnya ke dalam tubuh
gadis itu. Dengan sedikit memajukan tubuhnya kini kedua tangannya bisa
memegang kedua pundak gadis itu. Setelah itu disetubuhinya A-mei dengan
lebih ganas dibanding sebelumnya.
“Ahhhh…aaaahhhh….aaaahhhhhh…..aaaahhhhhh……aaaahhhhhh…ahhhh….aaahhhhh”
Tak ayal lagi, gadis putih berwajah polos itu kembali mendesah-desah
sementara tubuhnya yang langsing ikut tergerak-gerak maju mundur seiring
dengan sodokan penis Pak Heru. Sementara sodokan Pak Heru tak berhenti,
bahkan berlangsung makin kuat di dalam tubuh gadis itu. Pak Heru
menatap wajah polos yang sedang mendesah-desah itu dengan mata
menyala-nyala dengan hati puas. {Inilah nasib kaum yang ditaklukkan.
Biarpun kau dari kalangan keluarga pengusaha kaya tapi tetap saja aku
lebih berkuasa, lebih kuat, dan lebih hebat! Terbukti dengan keadaanmu
sekarang. Aku bisa membolak-balik dirimu, menggojlok dan menikmatinya
sepuas hati, sementara kau sama sekali tak bisa melawan. Hehehehee..
Sementara, Papimu yang “hebat” itu, hahahaha, bahkan ia tak bisa berbuat
apa-apa untuk mencegahku menggasakmu, menikmati dirimu sekarang ini},
batinnya sambil terus menggenjot A-mei dan menikmati keperetan vaginanya
yang menjepit penisnya.
{Tentu, menaklukkan cewek kalangan atas sepertimu jauh lebih nikmat
rasanya. Apalagi pada dasarnya aku paling suka menikmati cewek chinese
yang putih mulus dan cakep sepertimu}, batin bandot ini sambil menatap
dengan puas reaksi wajah gadis yang sedang disetubuhinya itu, yang saat
ini memang tak berdaya dan tak bisa berbuat apa-apa selain ditindih dan
disetubuhi, selain mendesah-desah dan menikmati tusukan bertubi-tubi
senjata Pak Heru yang menembus dan mengoyak-ngoyak kehormatan dan harga
dirinya.
Setelah puas menyetubuhi dalam posisi tadi, Pak Heru ingin
menyetubuhi gadis elit yang kini telah menjadi budak nafsu syahwatnya
itu dengan posisi yang berbeda. Untuk itu gadis ini dibuatnya
menungging. Lalu vaginanya ditembusnya dalam posisi doggy style.
Dipompanya vagina A-mei dalam posisi itu, membuat tubuh gadis itu jadi
terdorong-dorong ke depan. Sementara payudaranya, karena pengaruh
gravitasi, jadi nampak semakin bulat dan berguncang-guncang kesana
kemari. A-mei pun jadi berteriak-teriak dan mendesah-desah makin keras.
Apalagi dirasakannya batang penis Pak Heru begitu besar menembus
dirinya. Dengan jantannya penis perkasa itu mengocok-ngocok dirinya,
merangsang dinding vaginanya yang sensitif untuk membuatnya mengeluarkan
cairan vagina semakin banyak. Membuat penisnya di dalam jadi semakin
licin. Sementara payudara A-mei yang nampak bergoyang-goyang dari
bayangan cermin, mengundang kedua tangan Pak Heru untuk menepuk-nepuk
dan meremas-remasnya. Sambil penisnya terus mengocok dan mengobok-obok
vagina A-mei. “Aaahhhhhhh…..aaahhhhhhhh…..aaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhh…….”
Lama-lama akhirnya A-mei tak tahan juga oleh kejantanan Pak Heru itu.
Sehingga akhirnya ia mengalami orgasme lagi yang kedua. Mengetahui
A-mei telah mendapatkan orgasme lagi, akhirnya Pak Heru pun juga tak
ingin berlama-lama lagi. Dan akhirnya, crott, crottt, croootttss, ia
menumpahkan seluruh spermanya di dalam vagina A-mei, sambil berkata
dalam hati, {Hahahaha, inilah anak gadismu yang kaubangga-banggakan itu,
Wijaya}, batinnya mentertawakan temannya saat menumpahkan spermanya di
dalam vagina A-mei. Wajahnya nampak puas sekali. Dan sengaja ia terus
menyetubuhi A-mei, mengocok-ngocok penisnya untuk menguras habis seluruh
isinya di dalam vagina gadis itu. Hanya setelah penisnya mengendur
saja, baru akhirnya ia mencabutnya mengeluarkan dari dalam tubuh A-mei.
–@@@@–
“Gimana, A-mei, rasanya? Enak khan. Puas? Hehehehe,” kata Pak Heru
beberapa saat kemudian sambil mengelus-ngelus rambut gadis itu.
A-mei yang tubuhnya menempel di atas tubuh Pak Heru tak menjawab namun mukanya memerah.
“Hahahahaaaa” Pak Heru tertawa puas sambil tangan yang satu terus
membelai-belai rambut A-mei sementara tangannya yang lain meraba-raba
seluruh punggung mulus A-mei yang rasanya begitu licin. Sementara dada
A-mei menempel di dada Pak Heru.
“Omong2, kamu tahu nggak sih kalo kamu ini sexy banget,” kata Pak Heru cengengesan sambil terus membelai tubuh A-mei.
“Ah, bisa aja Oom ini,” kata A-mei tersipu. Semua cewek pasti suka
dibilang sexy oleh pasangannya, tak peduli ia jelek atau cakep, setelah
selesai hubungan seksual, apalagi kalau ceweknya mendapat orgasme.
“Lho iya bener. Bahkan kamu ini cewek paling sexy yang pernah Oom temuin.”
“Iih, Oom genit deh,” kata A-mei dengan manja. “Nanti aku bilangin
Papi lho kalo Oom genit,” kata A-mei sambil menatap wajah Pak Heru.
“Kamu ini memang nakal ya!” kata Pak Heru geli melihat wajah A-mei
yang begitu cantik jadi berseri-seri saat mengatakan itu. “Tapi juga
menggairahkan.”
“Aku laporin ke Papi besok. “Papi, Papi, kata Oom Heru aku sexy dan menggairahkan.””
“Hah! Kurang ajar! Kapan dia bilang gitu ke kamu?” suara A-mei yang menirukan suara papinya.
“Kemarin Pi. Abis kita selesai make love. Xixixixixi….,” kata A-mei sambil tertawa geli.
“Ah. Kamu ini….” Pak Heru namun ia juga ikut tertawa mendengarnya.
Dalam hati ia berkata, {inilah polah anak gadismu yang sebenarnya,
Wijaya. Hahahaha. Bahkan demi menyenangkan dan memuaskan hatiku ia rela
melakukan apa saja, termasuk menyerahkan tubuhnya dan mengejekmu
setelahnya. Hahahahaaa. Anak gadismu ini kini telah betul-betul berada
dalam kekuasaanku}.
Kemudian A-mei bangkit dari tidurnya. Rambutnya yang panjang nampak
agak tak teratur menempel di kulit tubuhnya yang putih. Payudaranya
nampak begitu sexy menggairahkan.
“Rambutku jadi kusut semua nih, gara-gara Oom, “kata A-mei dengan cemberut sambil memegang-megang rambutnya.
“Kamu betul-betul cantik dan menggairahkan sekali, A-mei,” kata Pak Heru memandang wajah cantik dan tubuh mulus gadis itu.
“Dan, dadamu ini, iiiih, bikin Oom napsu lagi sama kamu,” kata Pak
Heru sembari kedua tangannya langsung mendekap payudara A-mei.
“Aaahhh,” jerit A-mei kaget berusaha melepaskan tubuhnya dari kedua tangan Pak Heru.
Namun Pak Heru tak mau melepaskan payudara gadis putih itu malah kini
kedua ibu jarinya menempel di kedua puting merah segar itu dan
digerak-gerakkannya.”
“Aaah…ohhhh….Enak Oom…..Emmhhhh,” lenguh A-mei lirih saat jari-jari
Pak Heru memainkan payudaranya lagi. Matanya kini tertutup dan ia
mendesah-desah perlahan sama sekali tak melawan….
….
Sampai akhirnya….terjadilah satu ronde lagi yang ditutup dengan oral
performance A-mei. Dengan patuh dan penuh perhatian gadis itu
menyepong-nyepong penis hitam Pak Heru dengan begitu dalam. Sampai
akhirnya penis itu memuntahkan seluruh isinya ke wajah gadis itu,
membuat wajah polos A-mei kena ciprat dan jadi lengket-lengket oleh peju
Pak Heru. Sementara itu di leher dan dada gadis itu banyak bekas-bekas
merah akibat kecupan-kecupan ganas Pak Heru. {Hahahahaa. Rasain kau.
Hitung-hitung ini untuk membalas kenakalanmu tadi yang berani
membanting pintu di depanku. Juga atas sikap ayahmu yang membuatku tak
bisa cuci mata ngeliatin kamu. Suatu usaha yang tak ada guna, karena kau
sendiri malah rela menyerahkan segalanya kepadaku. Kini, lihatlah,
vagina anak gadismu satu-satunya ini kubuat bolong dan wajah manisnya
aku “facial” dengan pejuku. HUAHAHAHAHA………}. Sikap gadis itu tadi yang
dingin dan jutek serta sikap ayahnya yang kurang simpatik tadi, kini
dibalasnya dengan membuat wajah cakep gadis ini belepotan oleh pejunya.
Kini hati Pak Heru betul-betul puas!
–@@@@–
“Gimana semalam, enak tidurnya?” tanya Pak Wijaya ke Pak Heru saat mereka bertiga makan pagi.
“Ah, luar biasa!! Sungguh nikmat sekali. Bahkan lebih enak dibanding rumah sendiri.”
“Ah, benarkah? Kenapa bisa begitu?”
“Mungkin karena ranjangnya yang begitu hangat dan empuk jadi badanku
serasa dipijit-pijit. Lalu selimutnya juga bikin tubuh hangat,” kata Pak
Heru sambil tersenyum-senyum dan melirik ke arah A-mei. Wajah A-mei
agak tersipu merah saat mendengar itu. Seketika ia menundukkan
kepalanya. Saat itu sikapnya begitu alim. Pakaian yang dikenakannya juga
tebal dan tertutup dengan kerah menutupi lehernya. Rupanya ia berusaha
menutupi bekas-bekas merah akibat perbuatan Pak Heru. Malam kemarin
sehabis cuci muka untuk membersihkan sisa-sisa sperma yang menempel di
wajahnya, ia nampak begitu kuatir melihat bekas-bekas merah di tubuhnya.
Memang aksi Pak Heru barusan cukup buas. Apalagi dengan kulit tubuhnya
yang putih, membuat bekas-bekas merah seperti itu semakin mudah
terlihat. Padahal besok ia bakal pergi dengan cowoknya, dan bisa jadi
mereka akan make love. Lalu bagaimana ia menjelaskan semua ini kepada
cowoknya. Untungnya pagi tadi sebelum mandi, dilihatnya bekas-bekas
merah di tubuhnya telah hilang semua. Sehingga ia merasa lega. Namun
saat keluar barusan ia tetap mengenakan baju serba tertutup. Mungkin ia,
somehow, takut perbuatannya kemarin ketahuan Papinya. Wajahnya saat itu
begitu manis dengan rambut lurusnya yang terurai dengan bebas. Orang
yang melihatnya saat itu tentu tak akan pernah membayangkan bahkan dalam
mimpi paling liar sekalipun kalau cewek seperti ini telah sering
bermain seks dengan pria apalagi dengan Pak Heru!!! Namun, justru karena
inilah yang membuat Pak Heru merasa bangga. Yang pasti, penampilan
A-mei saat itu merupakan sebuah topeng yang begitu manis dan sangat
meyakinkan. Tak lama kemudian gadis ini segera meninggalkan mereka
karena ia mau siap-siap diri sebelum dijemput Vincent, cowoknya.
Sementara Pak Heru yang kemarin memperoleh kepuasan tiada tara dari diri
gadis itu merasa amat bangga diri. Ia tahu A-mei bukan cewek
sembarangan. Namun di hadapannya, cewek elit ini jadi bispak juga
dengannya. Semalam ia berhasil menikmati dirinya habis-habisan sebelum
hari ini pergi dengan cowoknya. Ibaratnya, ia mengambil dulu sari
madunya. Sementara bahkan cowoknya sendiri cuma mendapat jatah bekas
sisa dirinya. {Biar tahu rasa kau, hehehe. Biarpun cowoknya sekalipun,
kau harus menunggu giliran. Setelah AKU selesai dan puas, baru kau boleh
menikmati sisanya}. Selain hal itu, Pak Heru juga puas karena diam-diam
semalam berhasil menelikung Pak Wijaya dari belakang dengan menyikat
anak gadisnya.
Sementara itu, sepeninggal A-mei, kedua pria itu membicarakan hal-hal
ringan, mulai dari sepakbola, urusan politik, dan lain-lain.
Beberapa saat kemudian,
“Papi aku pergi dulu ya. Yuk Oom, jalan dulu,” kata A-mei sambil
buru-buru berlari keluar karena cowoknya telah menunggu di depan. Ia tak
menunggu jawaban keduanya.
“Yah, begitulah Pak, anak jaman sekarang,” keluh Pak Wijaya setelah
A-mei meninggalkannya. “Begitu ada jadwal kosong sedikit, langsung pergi
pacaran aja terus. Nanti pulang baru malam hari. Kalau anak-anak Pak
Heru sendiri gimana?”
“Dua anakku itu sifatnya berbeda. Kalau yang besar, kurang lebih sama
seperti anakmu malah lebih parah. Sukanya keluyuran, jarang di rumah,
dan suka pulang larut malam. Tapi kalau yang kecil nggak suka keluyuran.
Ia keluar kalau ada kuliah atau les, tentunya. Kadang pergi sama
teman-temannya ceweknya memang tapi teman-teman yang itu-itu saja yang
sudah kita kenal baik dan mereka semua alim-alim. Yang pasti dia nggak
pernah pulang malam. Sebelum makan malam ia pasti sudah balik rumah.
Dan, saat ini ia masih belum punya cowok. Nanti kalau sudah tingkat
akhir baru mulai cari atau kita carikan,” kata Pak Heru.
“Ah, kalau anak cowok sih suka keluyuran atau agak nakal dikit juga
nggak masalah Pak. Tapi Pak Heru sungguh beruntung. Punya anak cewek
yang betah di rumah dan nggak suka keluyuran.”
Pak Heru tersenyum lebar mendengarnya karena merasa bangga. Dalam
hati ia berkata, {yah memang betul sekali kata-katamu. Anakku alim.
Dalam berpakaian ia tak seterbuka anakmu. Namun yang paling penting,
anakku masih perawan. Beda dengan anakmu yang sudah bolak-balik aku
“permak” abis-abisan. Hehehehe}.
“Wah, Pak Heru kelihatannya gembira sekali hari ini,” tiba-tiba Pak Wijaya memecah lamunannya.
“Ah, ya betul. Karena abis ini aku bakal menikmati masakan Mbok Yem
yang nikmat itu. Bagaimana aku tidak boleh gembira? Apalagi semalam aku
habis tidur dengan begitu enak sekali. Hehehehe…”
“Setelah selesai makan siang nanti, baru aku pamit pulang,” katanya lagi.
“Ah, kenapa buru-buru Pak? Nggak dilanjutin makan sore sekalian? Atau
kalau Pak Heru mau, nanti malam kita bisa diterusin ke “tempat biasa”,”
kata Pak Wijaya.
“Soalnya siang ini aku mesti pulang rumah. Harus jemput istri untuk
dandan dan persiapan segala, karena sore dan petang nanti ada dua
session photo dan wawancara. Yang satu mengenai penerapan ajaran agama
untuk menepis godaan dalam kehidupan sehari-hari dan kedua, wawancara
dengan majalah keluarga untuk contoh pria sukses dalam karier dan rumah
tangga yang sanggup menahan godaan WIL. Jadi, untuk “yang itu”,
di-arrange besok aja pak. Aku pengin nih di-sandwidch lagi oleh Felicia
dan Evelyne duo cewek kembar yang cakep dan putih mulus itu. Hehehehe.”
“Oh, baik, baiklah kalau begitu.”
“Memang kita harus memberikan tauladan kepada masyarakat, Pak,” kata
Pak Heru. “Kita boleh sekali-sekali bermain-main dengan wanita muda,
hehehe, dan punya uang banyak, tapi tetap kita wajib memberikan contoh
yang baik kepada orang banyak. Apa salahnya kalau kita bisa menikmati
kekayaan, kekuasaan, dan perempuan sambil sekaligus dihormati orang
banyak karena teladan yang kita berikan ke masyarakat? Salah besar kalau
dua itu hal yang bertolak belakang. Kita bisa mendapatkan keduanya
kok. Yang penting bagaimana kita dengan pintar memanfaatkan semua
peluang sambil mengatur image positif diri kita kepada masyarakat.”
Dalam hati Pak Wijaya membatin dengan geram, {hmm rupanya kau adalah
orang yang paling munafik diantara semua yang munafik! Baru malam
kemarin kau janji tak akan menyentuh anakku, namun setelah itu kau
mendatangi kamarnya dan meniduri anakku. Hari ini kau memasang muka alim
memberi ceramah tentang kehidupan rumah tangga dan agama segala, supaya
semua orang mengira kau adalah orang yang alim, jujur, bersih dan
soleh. Lalu besok malam kau maen “sandwich” dengan dua anak kuliah.
Dasar kau adalah seorang bajingan sejati. Sekarang pasti diam-diam kau
mentertawakanku karena mengira berhasil menelikungku dari belakang dan
meniduri anakku. Namun kau jangan berbangga diri. Semua itu bukan melulu
karena prestasi dirimu. Kalau bukan karena aku yang mengatur semuanya,
jangan harap kau bisa menikmati A-mei. Lagipula, gadis itu sebenarnya
bukan anakku}.
Sementara pada saat yang sama Pak Heru membatin, {inilah nikmatnya
orang yang berkuasa. Uang, kekuasaan, wanita, reputasi, penghormatan
dari orang lain, semua itu bisa dengan mudah kuperoleh. Bahkan orang
seperti Wijaya pun bisa menjadi kacungku yang setia untuk memberikan
upeti uang dan menyediakan cewek-cewek cakep yang kusukai. Sekarang
meskipun ia jelas tahu semua belangku namun ia tak akan berani
membocorkan ke orang lain. Karena apa? Karena aku orang yang berkuasa!
Bahkan saking berkuasanya AKU, bahkan AKU berhasil membuat putri
kandungnya yang cantik itu bertekuk lutut di hadapanku. Hmm, jangan
dikira anakmu itu adalah cewek yang tak bisa dibeli hanya karena kau
seorang pengusaha kaya. Kau salah besar! Kalau kau ingin tahu cewek yang
tak bisa dibeli, anakkulah orangnya. Karena aku mengontrol ketat
dirinya. Tak akan aku membiarkannya memakai pakaian seperti anakmu.
Apalagi keluyuran dengan cowok atau tidur dengan pria sembarangan
seperti anakmu. Selain itu, sejak kecil ia telah mendapat pendidikan
moral dan agama yang kuat. Sehingga kini dengan sendirinya ia menjadi
anak yang alim dan taat}.
Meskipun Pak Heru bersikap ramah, namun dalam hati ia mentertawakan
Pak Wijaya, dan juga sebaliknya. Demikianlah hubungan dua pria sukses
itu. Di balik topeng keramahan dan keakraban yang ditunjukkan, di
dalamnya ternyata mereka saling menghujat, saling mencaci, dan saling
mentertawakan.
–@@@@–
Beberapa saat kemudian, saat mereka sedang bicara ngalor ngidul, tiba-tiba blackberry Pak Wijaya berbunyi.
“Ah serius amat, Pak Wijaya. Itu message dari simpanannya yang nomor
berapa Pak, hahahaha,” canda Pak Heru melihat sikap Pak Wijaya yang
begitu konsentrasi membalas message itu.
“Ah, Pak Heru bisa saja, “ kata Pak Wijaya sambil senyum-senyum namun
tak menyangkal. Karena isi balasan message-nya yang dikirim adalah:
“Ah, ya boleh kita r’vouz. Km bisa jam brp? I’ll book the place.”
“Yah, namanya juga kita sama-sama laki-laki. Apalagi Pak Wijaya yang duda begini…”
“Ah, biarpun duda tapi saya masih kalah dengan Pak Heru yang statusnya bukan duda. Hahahaha…..”
“Hahahahaa……”
Pak Wijaya tertawa renyah, demikian pula dengan Pak Heru. Memang kalau urusan cewek, keduanya sungguh klop dan cocok sekali.
Sementara itu datang message baru di blackberry Pak Wijaya, sehingga ia kembali mengetik membalasnya.
“Shangrilla, 2.30 pm?”
“Sepertinya blackberry dan handphone jaman sekarang ini termasuk
barang pribadi yang harus kita jaga betul, seperti paspor dan rekening
bank kita, ya Pak,” komentar Pak Heru.
“Karena banyak sekali rahasia-rahasia bisnis maupun pribadi yang
tersimpan didalamnya. Kalau sampai hilang atau jatuh ke tangan orang
yang tak bertanggung jawab, wah bisa berabe kita,” tambahnya.
“Betul sekali Pak. Nanti sama seperti skandal-skandal artis yang
muncul belakangan ini,” balas Pak Wijaya sambil memasukkan
blackberry-nya di saku bajunya.
Pada saat itu ada message lagi yang masuk. Pak Wijaya mengambilnya dari kantungnya dan melihatnya sekilas.
“Wah, rupanya dugaan saya tadi nggak salah. Jadi rendezvouz dimana nanti Pak? Hahahaha.”
“Ah, Pak Heru sungguh tajam sekali instingnya untuk hal-hal beginian.
Hahahaha.” tawa Pak Wijaya. Kepada sohibnya ini ia tak perlu
menutup-nutupi hal-hal seperti ini.
“Kalau urusan begituan khan kita nomor satu di dunia. Hahahaha.
Anyway, selamat menikmati deh Pak. Semoga “tahan lama”. Dan salam hangat
saya buat dia. Kalo Pak Wijaya sudah bosan, boleh nanti dicobakan ke
saya. Hahahahaaaa.”
“Hahahaha. Ah, Pak Heru bisa saja. Tapi omong-omong, masalah “tahan
lama” itu tak perlu diragukan lagi Pak. Karena kita telah sama-sama
terlatih. Huahahahaa….,” jawab Pak Wijaya sambil tertawa.
“Nah, ini masakannya sudah datang, ayo kita makan dulu, Pak,” kata
Pak Wijaya begitu melihat Mbok Yem datang dari dapur sambil membawa
sepiring besar ayam goreng yang dimasak ala tradisional.
Pak Wijaya memasukkan blackberry-nya ke saku bajunya lagi. Namun
sebelumnya ia sempat melihat lagi isi pesan yang datang terakhir yang
isinya cuma singkat saja,”ok, c u muachhh”. Selain itu juga terlihat
nama pengirimnya yang juga singkat, yaitu Dina S. Siapa pun dia, dengan
bertukar message seperti itu ke Pak Wijaya, tentu ia termasuk kumpulan
orang-orang yang bertopeng juga. Namun yang menarik, nama itu mirip
dengan inisial anak bungsu Pak Heru yang tadi dibangga-banggakan itu,
Dina Setyorini.
%$#%@$….. Jangan-jangan???
