Recent Posts Widget

xXx STORY : A Fallen Heart, A Broken Heart : Cerita Bokep

https://cerita-porno.blogspot.com/2012/06/xxx-story-misteri-villa-forest-garden-4.html

–@@@@–
 Seorang pria berjalan memasuki hotel bintang satu di pinggiran kota. Penampilannya agak di bawah standard, begitu pula gayanya. Nampak kalau ia bukan orang berpendidikan. Tampangnya seperti tukang becak, kuli bangunan, atau maksimal seorang supir.
“Bisa saya bantu, Pak?” tanya pria muda resepsionis yang ganteng dan berpakaian rapi itu dengan sikap acuh dan asal-asalan.
Paling-paling ini orang datang buat minta sumbangan, pikirnya. Namun sikapnya seketika berubah menjadi pandangan penuh keheranan karena pria itu diikuti oleh gadis cantik yang langsung berdiri di dekat pria tadi. Selain putih dan cantik penampilannya juga high class. Usia gadis ini masih sangat muda, sedangkan pria itu hampir 30 tahun.  
“Minta kamar semalam!” kata pria itu dengan suara keras dan gaya bicara kasar. “Baik, tunggu sebentar” kata resepsionis itu dengan sopan meski hatinya penasaran.
Dilihatnya lagi gadis itu sekilas. Baru kali ini ada cewek se-high class dia mampir di hotel ini. Dan anehnya, ia tidak datang dengan keluarganya padahal hari sudah malam. Tapi justru dengan pria yang lebih tua dan penampilannya sungguh jomplang banget dengan dirinya. Seandainya ia datang dengan cowoknya, itu masih bisa dimaklumi karena jaman sekarang banyak anak muda yang suka “check-in”. Namun pria ini sama sekali nggak ada tampang untuk jadi cowoknya. Dibilang saudara juga kayaknya nggak mungkin. Cewek itu begitu cakep putih bening berpenampilan high class. Sedangkan pria itu selain nggak cakep sama sekali, berkulit sawo matang kehitaman, juga penampilan dan gayanya begitu low class. Pokoknya sama sekali nggak ada mirip-miripnya dengan gadis itu. Kalo dibilang mucikari dan ayamnya, masa seh cewek bening high class kayak gini sampe jadi ayam? Apalagi ayam kelas ecek-ecek yang diasuh pria kusut macam gini dan beroperasi di hotel ini. Kalo dibilang ayam dan pelanggannya lebih aneh lagi, mana mungkin pria kayak gitu sanggup membayar cewek ini? Hmm, mungkin gadis ini anak orang kaya yang kabur dari rumahnya, entah karena alasan apa; dan ia menyuruh supirnya untuk mengantarnya, batinnya sambil berusaha menenangkan hatinya. Itulah penjelasan yang paling masuk akal baginya. 
“Baik,” katanya akhirnya setelah mencek daftar kamarnya…,” Jadi kamar semalam buat adik satu orang ya?” tanya resepsionis itu sambil memandang ke gadis muda itu, seperti ingin mendapatkan kepastian atas pikirannya tadi.
“Bukan untuk dia saja, tapi untuk KITA BERDUA,” justru pria di sampingnya itu yang menjawab dengan suara keras dan dengan penekanan dua kata terakhir.
Resepsionis itu terkejut dengan apa yang dilihat dan didengarnya. Barusan ia bisa melihat sikap gadis itu yang jadi serba salah dan tak bisa segera menjawab. Ditambah dengan sikap serta jawaban pria itu, membuat semua ini sungguh amat tak masuk akal. Namun ia langsung tersenyum dan menjaga profesionalitas pekerjaannya.
“Baik. Kebetulan kita masih ada beberapa kamar kosong. Jadi saya kasih kamar di lantai satu buat adik dan kamar di lantai dua buat bapak,” kata resepsionis itu sambil memandang lagi ke arah gadis itu tanpa mempedulikan pria kucel di sebelahnya sama sekali.
Bagaimana pun ia adalah cowok normal. Tentu ia mudah terpikat oleh gadis secantik ini, meski mungkin masih terlalu muda baginya. Sebaliknya, ia sama sekali tak bisa menerima kalau pria yang “spesifikasinya” jauh lebih rendah darinya ini bisa ada something dengan gadis ini.
“Goblok kamu! Tentu SATU KAMAR buat KITA BERDUA, Bego!” bentak pria lecek itu tanpa sopan santun lagi, rupanya ia merasa dipermainkan dan dilecehkan oleh resepsionis muda ini. 
“Maaf Pak. Boleh saya tahu apa hubungan Bapak dengan adik ini?” tanya resepsionis itu menantang balik. “Hotel kami hanya menerima pasangan suami istri yang sah saja atau saudara dekat.”
Tentu ia berbohong, karena hotel itu sering dijadikan tempat nginap gadis-gadis muda yang datang dengan cowoknya atau cewek-cewek bookingan dengan pria-pria berumur. Namun mereka semua memang cewek-cewek bispak atau bisyar. Saat ini kasusnya sungguh beda. Gadis ini begitu high class sementara pria yang mendampinginya begitu low class. Tentu itu mengundang kecurigaan dalam dirinya, apalagi dalam dirinya telah timbul bara-bara api cemburu. Sungguh aneh sekali, pikirnya. Tak mungkin mereka pacaran. Cewek kayak gini bisa dengan gampang mendapatkan cowok seumuran yang jauh lebih keren dan bermodal. Hanya ada satu jawaban, tentu cewek ini abis kena gendam di jalan lalu kini akan dinikmati oleh bangsat ini, pikirnya. Oleh karena itu kini ia bersemangat untuk menolong gadis ini. Apalagi sejak pertama kali ngeliat, seketika langsung timbul rasa suka dalam dirinya. Kini ia membayangkan dirinya menjadi pangeran penolong, yang membebaskan gadis ini dari penjahat yang ingin mencabulinya. Setelah itu, gadis yang berhutang budi kepadanya akhirnya menyerahkan hatinya dan menjadi pacarnya. Sementara kedua orangtuanya yang merasa berterima kasih kepadanya juga  menyetujui hubungan mereka. Sehingga tak lama kemudian ia akan diangkat jadi menantu. Pada saat itu, ia tak perlu lagi bekerja di hotel bulukan ini dan berurusan dengan para pelacur rendahan.
“Bangsat! Anjing kamu! Memang kamu kira aku tak pantas punya istri dia, hah? Kau kira aku cuma supir rendahan, begitu?” bentak pria itu marah dengan suara begitu keras sampai terdengar ke bagian dalam dan gadis itu seketika menundukkan wajahnya.
Saat itu muncullah manager hotel dari dalam ruangannya.
“Faisal, ada apa ini?” tanyanya kepada resepsionis itu.
“Pak, Bapak ini ingin menginap satu kamar. Untuk itu saya ingin memastikan identitas mereka. Namun Bapak ini malah jadi marah-marah,” kata resepsionis muda itu agak emosi juga. 
“Ooh, maafkan anak buah saya, Pak,” kata manager itu sambil tersenyum ramah. “Tetapi mohon pengertiannya juga. Dia hanya menjalankan prosedur normal. Tentu Bapak dan adik boleh menginap satu kamar. Namun sebelumnya, bisa saya lihat KTP-nya Pak?” tanyanya. “Dan KTP adik juga,” katanya menatap gadis itu.
Sama seperti anak buahnya, dalam hati ia juga merasa aneh dengan pemandangan di depan matanya. Namun ia berusaha bersikap lebih professional dibanding stafnya.
“Maaf, Pak. Tetapi alamat Bapak dan adik ini jelas sekali berbeda,” kata manager itu setelah melihat alamat rumah gadis itu begitu hebat mentereng sementara pria itu tinggal di gang kumuh. “Tanpa ada bukti saudara dekat atau suami istri, mohon maaf Pak, kami tak bisa memberikan satu kamar untuk berdua,” kata manager itu yang meski suaranya sopan namun tegas.
Ia juga merasa kalau ada yang nggak beres disini. Apalagi dilihatnya umur gadis ini sesuai KTP-nya baru 18 tahun.
“Jadi kalian nggak percaya kalau kita suami istri, hah?” dengus pria itu dengan sikap begitu menyebalkan, terutama di mata Faisal. “Ayo, tunjukkan surat nikahnya,” perintahnya ke gadis muda itu.
Tanpa berkata apa-apa, dengan patuh gadis itu membuka tas Louis Vuitton coklatnya dan mengeluarkan secarik kertas.
“Nah, lihat ini. Silakan periksa sendiri!” kata pria itu menaruh kertas sambil menggebrak meja di depannya.
Faisal dan managernya segera mengecek surat dan KTP mereka itu dengan seksama. Wajah keduanya langsung berubah, terutama Faisal yang masih muda, single dan belum punya pacar. Ia berkali-kali melihat dan mencocokkan. Wajahnya berubah merah padam. Surat itu adalah bukti pernikahan mereka yang sah, dengan nama dan foto mereka di surat itu, KTP, serta wajah mereka berdua begitu cocok dan seusai. Manager itu mengangguk-angguk. Namun Faisal masih penasaran. Ia bertanya ke gadis itu untuk memastikan secara eksplisit,
”Jadi betul adik adalah istri Bapak ini?” tanyanya.
Gadis itu menganggukkan kepalanya. “Betul Mas,” jawabnya dengan suara halus.
“Kapan adik menikah dengan… eh, Bapak ini?” tanyanya lagi.
“Siang tadi,” jawab gadis itu.
Jadi mereka adalah pengantin baru yang ingin melewatkan malam pertama. Melihat bukti dokumen sah yang ada dan mendengar jawaban langsung dari mulut gadis itu sendiri, akhirnya manager itu tak bisa berbuat apa-apa selain memproses satu kamar untuk mereka berdua.
“Ayo, cepat! Kita sudah pengin masuk kamar nih,” kata pria itu tak sabar dengan gayanya yang menyebalkan sambil memeluk bahu gadis itu di depan mereka.
“Baik Pak. Maafkan kami karena tadi kami perlu melakukan pengecekan dulu,” kata manager itu.
“Biayanya 150 ribu dan depositnya juga 150 ribu. Mau dibayar sekarang atau nanti? Pakai cash atau  kartu kredit?”
“Bayar aja sekarang,” kata pria kucel itu tak sabar sambil memberi isyarat kepada gadis itu.
Gadis itu membuka dompet Gucci-nya dan mengeluarkan kartu kredit.
….
“Eh, maaf, kartu kreditnya di-reject. Ada kartu kredit lain mungkin?”
“Udah, langsung bayar cash aja kenapa sih,” tukas pria itu lagi dengan tak sabar kepada gadis itu. Tanpa mengucapkan apa-apa, gadis itu kembali membuka dompetnya dan mengeluarkan tiga lembar 100 ribuan. Meski sama-sama merasa aneh, namun baik Faisal dan manager itu tak berkata apa-apa. Setelah pria dan gadis itu meninggalkan mereka dan masuk ke kamarnya…
“Anjritt! Nggak cocok bener,” kata Faisal langsung.
“Ya, betul. Hehehe. Seumur-umur kerja di hotel, baru kali ini ngeliat yang aneh kayak gini. Ceweknya bening gitu, cowoknya kusam banget. Kalo nggak ngeliat sendiri, nggak akan percaya aku,” timpal managernya.
“Kok mau sih ceweknya?” kata Faisal. Cewek cakep gitu…. dan masih muda banget, sungguh sayang bisa jatuh ke tangan orang kayak gitu.”
“Hahaha… Sepertinya kamu sirik nih,” canda managernya.
“Kalo cowoknya keren muda cakep atau kaya, ok lah aku masih bisa memaklumi. Lha kalo orang itu….apa yang dilihat darinya sih? Daripada sama orang kayak gitu mending sama aku aja,” kata Faisal terang-terangan mengakui. “Jelas-jelas aku lebih muda dan cakep. Meski aku nggak kaya tapi jelek-jelek gini sarjana S1. Aku curiga, kayaknya cewek itu kena pelet deh.”
“Mungkin kamu benar cewek itu kena pelet. Tapi ini sama sekali bukan urusan kita!” kata manger itu menegur Faisal.
“Tapi kalau memang benar, tentu harus kita laporkan polisi Pak, untuk menolong gadis itu… apalagi tentu kedua orangtuanya khawatir mencari-carinya. Gadis itu masih sangat muda. Sungguh sayang kalau masa depannya hancur berantakan gara-gara kena pelet bangsat kurang ajar itu!”
“Hussh…kamu jangan bicara keras-keras. Belum tentu juga kena pelet. Bagaimana pun mereka adalah tamu hotel yang harus kita hormati. Dan kamu harus bersikap profesional, jangan ikuti hatimu seenaknya. Tak bisa disangkal kalau  mereka adalah pasangan suami istri yang SAH. Diluar itu, urusan tamu sama sekali bukan urusan kita. Nggak usah lapor ke polisi segala. Kalo memang bener kena pelet dan kawin lari, bisa-bisa jadi berita masuk koran pagi. Kalo udah gitu nanti kita sendiri yang bakal repot. Hotel ini bakal sering kena razia polisi. Padahal sebagian besar tamu kita hanya untuk check-in semalam. Jadi gini, asalkan mereka nggak berbuat aneh-aneh, sebaiknya kita juga diam-diam saja. Tapi besok, kalau mereka ingin extend kamar, bilang aja semua kamar penuh. Supaya mereka segera pergi dari sini. Lain kali, jangan terima pasangan yang aneh-aneh lagi. Mengerti kamu?”
“Baik, Pak.”
“Nah, sekarang ayo kamu kembali bekerja,” kata manager itu meninggalkan Faisal yang hatinya masih penasaran memikirkan gadis itu.
–@@@@–
“Dasar anak tolol! Bodoh! Kok ditaruh disitu sih. Kenapa kamu ini selalu aja bikin masalah??!”    
“Udah, Pi. Sabar,” kata wanita berusia 40 tahunan itu menyabarkan suaminya. 
“Gimana bisa sabar. Anakmu itu gobloknya nggak ada habis-habisnya!”
“Sudah, kamu nggak usah ikut pergi!” bentak pria itu yang membuat dirinya terkejut dan seketika menatap ayahnya. Ia tak percaya dengan pendengarannya sendiri. Ia menatap ayahnya dengan pandangan bertanya-tanya dan berharap semoga semua ini hanyalah guyonan saja. 
“Ayo, masuk ke kamarmu sana. Cepat!!” teriak ayahnya bergemuruh bagaikan palu godam raksasa yang menghancurkan kristal-kristal harapan dalam dirinya. Rupanya ayahnya sama sekali tidak main-main. Namun ia masih belum putus asa. Ia menatap ke ibunya. Timbul secercah harapan di hatinya. Karena wajah ibunya begitu lembut menatapya dengan penuh simpati. Saat ibunya mulai menggerakkan bibirnya, ia memandangnya dengan tersenyum manis penuh harapan. 
”Ayo turuti perintah Papi. Masuk ke kamarmu sekarang, gih.” Suara ibunya itu begitu halus dan lembut, namun serasa pisau tajam yang menusuk hatinya. Bantuan yang tadinya diharapkan ternyata justru menyerang balik dan menghancurkan harapan terakhirnya. Kini ia terbengong-bengong saking shock-nya.
“AYO MASUK!!!” teriak ayahnya dengan kasar bagaikan membentak anjing bulukan saja.
Dengan lunglai akhirnya ia berdiri dan berjalan ke kamarnya. Matanya merah dan basah. Padahal ia telah secara khusus berdandan dengan cantik dan memakai pakaiannya yang paling indah untuk acara malam itu. Bahkan sejak siang tadi ia begitu ceria tak sabar menunggu saat-saat indah malam ini. Namun kini harapan indahnya itu hancur lebur. Dan semua ini gara-gara ia cuma salah menaruh gelas! Ya. Hanya sebuah gelas minum biasa!
“Sudah gede masih tetap aja dipelihara gobloknya. Kapan sih kamu bisa pintar?” pria itu terus mengata-ngatai dirinya.
“Sudah, sudah, sudah, sabar Pi. Khan dia sudah jalan masuk tuh.”
“Ini semua gara-gara salah kamu juga. Gara-gara terlalu dimanjain. Sudah tahu goblok masih juga dimanjain! Ngeliat anakmu itu bikin mataku sakit aja,” ayahnya terus memaki-maki dirinya dan baru berhenti setelah ia betul-betul masuk ke dalam kamarnya.
Begitu sampai di kamar, ia langsung jatuh terduduk di dekat pintu dan menangis sesenggukan. Riasan wajahnya yang sebelumnya begitu cantik kini jadi berantakan karena linangan air mata yang terus mengalir di pipinya. Bahkan bagian atas gaun indahnya juga menjadi basah. Namun ia tak peduli akan itu semua. Karena baginya kini semuanya sudah tak berarti lagi.  
–@@@@–
Dua gadis berseragam SMA itu sedang duduk berdua dan asyik berbincang-bincang. Keduanya sama-sama putih dan sama-sama cakep, meskipun tipe wajah mereka berbeda. Yang satu nampak ceria dengan wajah innocent. Yang satunya lagi berwajah kalem dan melankolis.
“Kemarin malam lu ngapain aja?” tanya gadis berwajah innocent dan ceria itu.
“Kemarin gua makan di resto jepang sama bokap nyokap dan keluarga teman bokap,” jawab gadis melankolis itu dengan tersenyum manis.
“Wah, kayaknya bonyok lu sayang banget ya sama lu,” jawab gadis innocent itu dengan nada iri.
“Iya memang bonyok gua sayang banget ama gua, terutama bokap,” timpalnya dengan bersemangat.
“Wah, enak ya lu punya bonyok yang perhatian dan sayang banget ama lu. Nggak kayak gua,” kata gadis berwajah innocent yang tadinya ceria itu jadi agak kusut tampangnya.
“Memang lu kemaren ngapain?” tanya balik gadis melankolis itu.
“Aah biasa ajalah, boring,” jawab gadis innocent itu dengan singkat.
“Non Liani, mie pangsit dan mie basonya sudah selesai,” suara Kasman, penjaga warung sekolah memanggilnya.
“Udah gue aja yang ambil,” kata Liani yang berwajah innocent itu langsung berdiri.
“Buat Non Liani dan Non Henny yang baik-baik dan cantik-cantik, aku kasih bonus masing-masing satu baso dan satu pangsit,” kata Kasman sambil tersenyum dan melihat ke kedua gadis itu bergantian.
“Wah, makasih lho, Mas,” jawab Liani dengan ramah. Sementara Henny yang mendengarnya juga tersenyum manis.
Setelah itu pembicaraan mereka berlanjut…   
“Nanti setelah lulus sekolah, bonyok bakalan ngajak gua jalan-jalan ke Amrik,” kata Henny meneruskan pembicaraannya.
“Iiih, asyiknya. Jangan lupa ntar oleh-olehnya ya,” kata Liani. “Wah, tapi saat itu…mungkin kita sudah nggak ketemu lagi ya,” katanya dengan agak cemberut.
“Iya nih. Kita nggak bisa ketemuan lagi,” kata Henny yang berwajah melankolis itu ikutan sedih.
“Gua ada ide…. gimana kalo kita kuliah bareng,” tiba-tiba wajah Liani berubah ceria lagi. “Jadi kita bisa terus temenan!”
“Ah ya, betul. Kita bisa kuliah bareng nanti. Yuk, kita janjian ya? Hihihi….” kata Henny sambil tertawa ceria. Wajahnya begitu manis sekali. 
“OK, deal. Nanti gua ngomong ke Papi kalo gua mau kuliah bareng Henny.” “Dan nanti sambil kuliah kita sama-sama cari cowok bareng ya. Xixixixxi,” tambah Liani sambil tertawa agak malu-malu.
“Eh, jangan salah. Sekarang udah ada cowok yang PDKT sama gua lho,” kata Henny dengan muka agak merah.
“Oh ya? Wah, kok lu kagak bilang-bilang sih. Siapa orangnya? Pasti keren donk. Trus tanggepan lu gimana?” tanya Liani bertubi-tubi. “Ah, ngeliat muka lu jadi merah gini, pasti lu-nya juga mau deh,” goda Liani. 
Kedua gadis itu kini larut dalam pembicaraan mereka yang penuh canda dan kegembiraan, sambil membayangkan masa depan yang penuh dengan harapan-harapan indah.
“Ya, nanti kita belajar sama-sama dan juga pergi kencan sama-sama ya. Hihihi…,” kata Henny.
Memang masa SMA adalah masa yang paling indah. Saat dimana kita baru tumbuh dewasa dan memandang dunia luas dengan penuh rasa optimis. Tak terasa bel tanda istirahat berakhir telah berbunyi.
“Berapa semuanya Mas?” tanya Liani.
“Udah kali ini gua yang bayar aja,” kata Henny sambil mengeluarkan dompetnya.
Setelah itu dua gadis muda yang sama-sama cantik dan penuh rasa gembira itu berjalan keluar meninggalkan kantin dan juga Kasman, yang saat itu sedang melamun ke arah mereka yang berjalan menjauh…   
–@@@@–
Bukk! Pyyarrrr!
“Goblok! Liat jadi pecah gini!” bentak pria itu membentak anak gadisnya yang berdiri menunduk dengan ketakutan.
“Ma-maaf Pi. Aku nggak sengaja.”
“Kalo jalan pake mata, goblok! Vas bunga ini harganya mahal tahu!”
Seperti malam sebelumnya, lagi-lagi gadis itu kena marah lagi karena urusan sepele. Padahal vas yang dikatakan “mahal” itu harganya tak lebih dari tiga ratus ribu, sebuah harga yang sama sekali tak berarti bagi keluarga kaya seperti mereka. Namun sepertinya pria itu lebih berat kepada vas bunga seharga tiga ratus ribu dibanding dengan hati putrinya yang seharusnya tak ternilai itu. Ia sama sekali tak peduli kalau ia telah (lagi-lagi) membuat hati putrinya hancur berkeping-keping, sama hancurnya seperti vas bunga itu.
“Henny! Sini kamu!” bentak ayahnya menyuruhnya mendekat.
Dan, begitu gadis berseragam SMA itu berdiri dekat dengannya….
Plakkk! Plaakk!
Tangannya langsung menampar kedua pipi Henny dengan keras sampai membuat ia menjerit kesakitan. Henny langsung memegang kedua pipinya yang terasa panas dan merah itu.
“Lain kali kalo jalan buka matamu!” katanya sambil mendorong jidat putrinya dengan telunjuknya. setelah itu baru ia berjalan meninggalkannya.
“Ada apa sih Pi, kok ribut-ribut lagi?” tanya istrinya yang muncul dari kamarnya.
“Anakmu tuh lagi-lagi bikin masalah.”
“Sudahlah Pi, sabar. Khan malu didengar sama tetangga dan juga pembantu. Gimana pun dia itu khan anakmu juga.”
“Memangnya kenapa, hah? Biar aja semua orang tahu kalo anak sial itu betul-betul goblok. Pembantu aja masih lebih pintar dari dia. Semua ini salahmu, kenapa ngelahirin anak yang goblok dan membawa sial kayak gini!” kini giliran ayah Henny memaki istrinya.
“Henny!” bentak ibunya. “Lain kali kalo jalan hati-hati donk. Jangan ceroboh kayak gini terus. Kamu ini memang selalu bikin masalah, selalu bikin Papi marah,” kata ibunya yang rupanya kesal karena dimarahin suaminya, kini gilirannya memarahi anaknya sebagai pelampiasan. “Tolong donk, kamu jadi pintar sedikit gitu loh,” tambah maminya “menasehatinya”. Sementara Henny hanya menundukkan kepalanya sambil menahan isak tangis.
“Ah, percuma aja. Dinasehati nggak ada guna. Sudah putus asa aku sama dia,” kata papinya sambil secara demonstratif menghela napas dan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Siim! Kosiim!” teriak papinya memanggil supir keluarga.
“Iya Tuan.”
“Ayo mobilnya dikeluarin dulu. Abis ini kita berangkat.”
“Baik Tuan.”
“Kalo kamu ceroboh gini terus, mana ada cowok yang mau sama kamu,” kata maminya meneruskan pelampiasan hatinya lagi.
“Ah, anak kayak gini….HAH, mana ada yang mau. Paling juga nanti dapet jodohnya sama kacung atau supir!”
“Iiih! Papi! Kok ngomongnya kayak gitu sih!” seru Henny dengan tangis tertahan. Biasanya ia tak berani melawan, namun kali ini rupanya ia tak bisa menahan hatinya lagi.
“Memang kenapa? Hah! Berani melawan kamu sekarang ya! Apa liat-liat! Minta ditampar lagi ya!” bentak papinya yang amarahnya meluap melihat anak gadisnya yang biasanya penurut itu kini berani menantang dirinya dan memandang balik ke arahnya.
Plakkk! Plakkk!! Kembali gadis itu ditamparnya. Dan.. dijambaknya rambut Henny dengan kasar dan dipukul kepalanya!!
Aduuhh!! Henny menjerit kesakitan dan secara spontan berusaha memberontak.
“Mau melawan kamu Hah! Melawan iya! Dasar bangsat! Anak sial!” katanya dengan emosi sambil terus memukuli anaknya dan terakhir didorongnya Henny dengan kasar sampai terjatuh ke lantai. Semua ini terjadi saat Kosim masih disana sehingga ia bisa melihat semuanya. Termasuk saat gadis majikannya itu jatuh terjengkang ke lantai, sehingga rok seragamnya tersingkap dan kedua kakinya terbuka sehingga ia bisa melihat dengan jelas paha mulus Henny berikut celana dalamnya.
“Sudah, sudah deh Pi. Sabar,” kata maminya mencegah suaminya yang rupanya masih tak terima dan ingin menghampiri Henny, entah ingin menendangnya atau apa. Sementara Henny saat itu terduduk sambil menangis dan sama sekali tak peduli dengan keadaan di sekelilingnya. “Kosim, ayo kamu keluar dulu!” tukas ibunya menyuruh supir itu segera keluar. “Baik, Nyonya,” kata supir itu sambil berjalan beringsut-ingsut keluar.
“Ingat ya Henny! Papi yang ngasih makan kamu! Kamu harus bersyukur Papi masih baik hati nggak ngusir kamu keluar! Kalo nggak, kamu jadi gelandangan di jalan. Ingat baik-baik itu!” kata ayahnya dengan marah sebelum pergi.
–@@@@–
Henny
Henny
Henny adalah putri kandung Pak Kusuma dan istrinya. Meski ia putri tunggal dan mereka adalah keluarga kelas menengah yang secara keuangan cukup mapan, namun nasibnya jauh dari bahagia. Bahkan sejak ia lahir hidupnya cukup memprihatinkan. Hal ini disebabkan karena ayahnya yang emosinya tak stabil. Orangnya pemarah dan suka memukuli istri dan anaknya. Ia sama sekali tak mempedulikan perasaan orang lain, termasuk ke istri dan anaknya. Yang lebih sial lagi, tak lama setelah Henny lahir, ayahnya mendapat kecelakaan. Sehingga Henny dianggapnya sebagai “anak pembawa sial”. Sementara ayahnya begitu membencinya, ibunya bersikap ambivalen terhadapnya. Saat mereka hanya berdua, sebenarnya ibunya selalu menunjukkan sikap menyayanginya. Namun di depan ayahnya, ibunya selalu berbeda 180 derajat. Ia selalu pro dan  menjadi antek setia suaminya, tak peduli perbuatannya itu menghancurkan hati putrinya. Seperti kejadian kemarin malam dan barusan. Hal-hal seperti itu telah sering terjadi sejak Henny lahir sampai sekarang. Sehingga, meski di luarnya ia tampak seperti gadis manis dari keluarga berada, di dalamnya hatinya begitu rapuh dengan kepercayaan diri yang begitu rendah. Henny, meski pada kenyataannya ayahnya tak menyukainya dan ibunya juga tak bisa dibilang secara tulus mencintainya, selalu berusaha menunjukkan hal yang sebaliknya kepada teman-temannya termasuk berbohong ke sahabat paling dekatnya, Liani. Seperti siang tadi, ia sengaja berbohong mengatakan pergi makan malam bersama di resto jepang. Padahal kemarin ia dihukum dengan sewenang-wenang tak boleh ikut pergi oleh ayahnya. Sebenarnya baik Henny dan Liani keduanya hampir senasib, sama-sama tak bahagia di dalam rumah. Bedanya, Liani lebih mau berbicara apa adanya, paling tidak ke sahabat dekatnya. Sementara Henny orangnya amat sangat tertutup. Semuanya disembunyikan rapat-rapat. Kini, setelah semuanya pergi, Henny masih terduduk dan menangis. Ucapan ayahnya barusan begitu menyakiti hatinya. Apalagi seharusnya kemarin malam mereka makan malam di resto jepang dengan  teman dekat ayahnya sesama pengusaha yang bisnisnya jauh lebih besar dari ayahnya. Status sosial dengan segala atributnya tak begitu penting bagi dirinya. Namun yang membuat hatinya berdebar-debar dan begitu antusias dengan makan malam itu adalah kehadiran Edward anak teman ayahnya itu. Ia telah bertemu Edward beberapa kali dan cowok itu pernah dua kali datang ke rumahnya. Ia bisa merasakan sikap Edward yang begitu spesial dan sedang melakukan PDKT terhadap dirinya. Sementara diam-diam ia juga tertarik dengan cowok itu. Karena meski kaya, cowok itu tak sombong, dan juga pintar, dan gagah dan cakep. Pokoknya Edward adalah cowok ideal baginya. Sementara itu baik ayah maupun ibu Edward juga suka kepadanya dan bersikap baik. Bahkan ibunya pernah bilang kalau pihak keluarga sana ingin berusaha mendekatkan Edward dengan dirinya. Tentu hatinya girang mendengarnya. Apalagi ayahnya yang jarang-jarang bersikap baik terhadap dirinya juga setuju dengan itu.
Saat itu dunia seolah jadi milik Henny. Cowok yang diam-diam disukainya juga menyukai dirinya. Sementara orangtua dari kedua belah pihak juga sama-sama menyetujui seandainya hubungan mereka berlanjut lebih jauh. Tentu ini adalah kondisi ideal bagi gadis muda yang sedang tumbuh benih-benih cinta dalam hatinya. Sehingga ia menunggu momen-momen yang bakal membahagiakan dirinya itu dengan penuh antusias. Namun rupanya mimpi indahnya itu akhirnya hancur berantakan. Hanya gara-gara salah menaruh gelas saja, ayahnya dengan begitu kejam menjatuhkan “vonis mati” terhadap dirinya, seolah dirinya tak berarti apa-apa. Ia tak bisa membayangkan apa yang dikatakan ayahnya tentang dirinya kepada mereka. Mereka semua telah sama-sama tahu kalau kemarin ia bakal ikut. Kini tentu ayahnya mengatakan hal-hal yang amat jelek tentang dirinya kepada mereka…seperti yang biasa dilakukannya. Kini ia merasa malu untuk bertemu mereka. Apalagi barusan ayahnya mengata-ngatai dirinya dengan begitu rendah. Kini ia mengerti semuanya. Ayahnya memang sedari awal tak ingin ia ikut. Mungkin karena malu punya putri seperti dirinya. Kini rasanya seperti mimpi saja bisa bersanding dengan cowok hebat seperti Edward. Karena memang ia pantasnya hanya dengan kaum kacung dan supir saja, batinnya sambil menangis terisak-isak. Sebenarnya Henny adalah seorang gadis muda yang cantik yang nilainya jauh di atas rata-rata. Anaknya juga pada dasarnya baik. Penampilan fisik oke banget. Wajahnya selain cakep juga kalem dan  menunjukkan kalau ia adalah tipe cewek yang baik dan setia. Tentu tidak sedikit cowok yang suka dengan cewek seperti ini. Selain itu juga sebenarnya ia bukan termasuk cewek bodoh. Hanya karena sering dimarah-marahin dan dikata-katain goblok, bego, dll sajalah, maka di dalam rumah ia sering melakukan kesalahan-kesalahan sepele terutama di depan bokapnya. Padahal di luar rumah ia bisa bergaul dengan wajar. Namun satu kekurangan besar dalam dirinya, yaitu ia punya rasa kepercayaan diri yang amat rendah. Mungkin itu terjadi karena ia sehari-harinya selalu dimaki-maki dan direndahkan oleh orangtuanya sendiri dan juga sering dipukul secara fisik selama hampir seumur hidupnya. Menurut penelitian seorang ahli, sebenarnya tak susah membuat anak bahagia. Dengan mencintainya secara tulus dan menerimanya secara apa adanya, maka jiwanya akan bahagia. Apabila jiwanya bahagia, dengan sendirinya ia akan tumbuh menjadi orang yang mencintai dirinya sendiri sehingga ia juga akan   mencintai orang-orang lain dan kehidupan di sekitarnya. Namun yang terjadi pada Henny justru hal sebaliknya. Sejak kecil ia terus-menerus dimarah-marahi, direndahkan, dan dipukuli. Benih-benih kehebatan dalam dirinya telah dibunuh secara sistematis oleh kedua orangtuanya sendiri. Akibatnya kini meski tampak luarnya ia seorang gadis cantik dari keluarga elit dengan berbagai atribut indah lainnya, namun kondisi internal sesungguhnya amatlah memprihatinkan. Ia merasa tak pantas jadi ceweknya Edward. Sikap ini disebabkan oleh rasa kepercayaan dirinya yang amat rendah. Padahal sesungguhnya ia punya modal yang jauh dari cukup untuk membuat Edward dan juga banyak cowok lain jatuh hati kepadanya… seandainya saja ia punya kepercayaan diri yang cukup. Namun tentu membangkitkan kepercayaan diri sendiri setelah selama belasan tahun direndahkan dan ditekan habis-habisan oleh orangtuanya sendiri bukanlah hal mudah (meski juga tak mustahil). Idealnya orangtua seharusnya melindungi dan menyemangati anaknya untuk tumbuh hebat, bukannya malah mengecilkan dan membunuh benih-benih kecemerlangannya. Dengan kondisi seperti ini, bagaimana ia bisa menghadapi serigala-serigala ganas di dunia luar?
Di dunia ini hanya A-ma (demikian ia memanggil ibunya ibunya) orang yang menyayangiku, batin Henny dengan pilu. Meski A-ma bukan orang kaya namun ia begitu tulus menyayanginya. Namun pikiran itu hanyalah ilusi yang makin membuatnya larut dalam kesedihan karena A-ma telah meninggal dunia cukup lama. Sehingga kini asumsinya semakin kuat bahwa tak ada orang yang menyayanginya. Kini ia mengingat kejadian saat ia umur 6 tahun. A-ma memberi hadiah ulang tahun sebuah boneka lucu yang dibuat dan dijahit dengan tangannya sendiri. Ia begitu gembira saat menerimanya. Dunia seolah jadi milik Henny kecil. Kemana-mana ia selalu membawa boneka itu. Karena boneka itu adalah hadiah dari A-ma yang begitu mencintainya. Bahkan ia jauh lebih menyayangi boneka itu dibanding hadiah ulang tahun mahal yang dibelikan orangtuanya. Satu hal yang membuat kesal ayahnya. Pada suatu hari, ayahnya memarahinya karena satu hal. Namanya anak kecil, saat itu ia tak terlalu memperhatikannya karena sedang sibuk bermain dengan “sahabatnya” yaitu bonekanya. Melihat itu ayahnya jadi murka. Segera dirampasnya boneka itu dengan paksa dari tangan gadis kecil itu. Membuat ia jadi terkejut dan terbelalak ketakutan melihat “sahabatnya” itu berada dalam genggaman kasar tangan ayahnya. Namun yang terjadi selanjutnya jauh lebih hebat lagi. Karena boneka itu segera ditarik dan dirobek-robek kedua kaki dan tangannya sampai terbelah jadi empat bagian! Kapas yang mengisi tubuh boneka itu jadi keluar berantakan. Dalam waktu sekejab, boneka lucu hadiah dari A-ma kini menjadi robekan-robekan kain dan seonggok kapas yang tak berarti. Masih belum puas dengan itu, ayahnya menginjak-injak sisa-sisa boneka itu dengan sandalnya. Mata Henny kecil terbelalak ketakutan menyaksikan itu semua. 
“Ayo ambil semuanya dan buang di tempat sampah di luar!” perintah ayahnya kepadanya.
Ia ingat persis kejadian itu, meski telah terjadi lebih dari 10 tahun. Karena ia begitu membenci dirinya saat itu, yang karena ketakutan mematuhi perintah ayahnya. Ia mengambil sisa-sisa bonekanya dan dibuangnya di tong sampah luar yang berisi sisa-sisa makanan, buah-buahan busuk, dan barang-barang kotor lainnya. Melihat itu, ayahnya tertawa terbahak-bahak “memuji” dirinya sebelum meninggalkannya. Kemudian tong sampah itu dibawa pembantunya yang berjalan keluar menuju pagar depan. Ia langsung berlari keluar untuk melihat apa yang terjadi dari jendela depan. Rupanya tong itu diserahkan ke tukang sampah. Ia melihat tukang sampah itu menuang seluruh isi tong ke gerobaknya; setelah itu mendorong gerobak sampahnya meninggalkan rumahnya. Kini boneka sahabatnya itu telah pergi untuk selamanya dan tak kembali lagi. Ia membenamkan wajahnya di gorden jendela. Berjam-jam lamanya gadis kecil itu berdiri seperti itu dan terus menangis sesenggukan, membuat gorden itu jadi basah oleh air matanya. Sejak itu ia selalu takut dan merasa bersalah tiap kali bertemu A-ma. Ketika A-ma akhirnya menanyakan boneka itu, ayahnya langsung menjawab kalau Henny telah membuangnya ke tempat sampah dan mengaduk-aduknya dengan sisa-sisa makanan dan buah-buahan busuk. Kini ia kembali menangis saat teringat raut wajah A-ma yang menjadi sedih dan kecewa mendengar itu semua. Beberapa bulan kemudian A-ma meninggal dunia.  
–@@@@–
“Hey! Nngelamun aja. Mikirin apa sih,” seru Liani tiba-tiba.
“Eh, nggak, nggak kok,” kata Henny buru-buru.
“Gimana perkembangan do’i? Udah jadian ya?” 
“Siapa maksud lu? Ah, nggak kok,” tukas Henny cepat.
“Iiih, jangan pura-pura gitu donk. Apa, jangan-jangan sudah jadian ya. Hihihihi. Makanya belakangan ini lu cenderung menutup diri. Kenalin dong ke kita,” goda Liani lagi.
“Apa sih maksud lu?” tanya Henny dengan nada agak tinggi.
“Itu tuh, cowok anak teman bokap lu yang pernah lu bilang waktu itu,” jawab Liani tak bercanda lagi karena ia merasa tak enak dengan sikap Henny yang tak seperti biasanya itu.
“Kok lu bisa tahu?”
“Lha khan lu pernah bilang ke gua.”
“Ooh, ya biasa aja lah,” jawab Henny datar.
Liani tak berkomentar lagi karena ia tak tahu harus berkata apa. Untuk pertama kalinya, kedua sahabat itu berada dalam situasi percakapan yang kikuk.  
“Belum ada perkembangan lagi. Dia lagi keluar kota,” kata Henny akhirnya, memecah suasana diam yang tak biasa diantara mereka. “Nanti pasti gua kasih tau lu deh kalo ada update-nya,” kata Henny sambil tersenyum.
“OK deh. Jangan lupa sama teman ya,” kata Liani sambil tersenyum juga. Namun ia tak melanjutkan topik itu lagi. Bahkan ia merasa lega karena setelah itu bel tanda istirahat berakhir telah berbunyi. Hmm, save by the bell, gumamnya saat berjalan balik ke kelas.
Di sisi lain, Henny juga merasa lega Liani tak mendesaknya lebih lanjut. Karena sebenarnya ia telah membuang Edward jauh-jauh dari pikirannya, meski dalam hatinya sebenarnya ia menaruh hati terhadap cowok itu. Karena di balik rasa ketertarikannya kepada cowok tersebut, terdapat rasa ketakutan yang jauh lebih besar dalam dirinya. Selain merasa tak pantas bersanding dengannya, ia tak ingin dirinya sakit hati saat Edward meninggalkannya nanti setelah mengetahui semua “kekurangan besar” dirinya. Sejak kejadian itu ia sengaja menghindari Edward. Ia bersikap negatif saat cowok itu menelponnya. Begitu pula ia jarang membalas sms cowok itu. Secara spontan / bawah sadar Henny berbuat seperti itu dengan dalih ia tak ingin dirinya nanti sakit hati. Ironisnya, tindakannya sendiri itu justru malah menyebabkan ia patah hati. Karena Edward yang awalnya gencar mendekatinya akhirnya menyerah juga dengan sikap irrasional Henny. Kini tak ada telpon atau sms Edward lagi. Sampai akhirnya dua minggu lalu, hatinya seketika remuk redam melihat Edward di mal bergandengan tangan dengan seorang gadis cantik. Apalagi jauh di lubuk hatinya ia tahu sebenarnya ia bisa mendapatkan cowok ini. Namun akibat kesalahannya sendirilah yang membuat semuanya terlepas. Kini ia semakin menyalahkan dirinya sendiri dan membuat kondisinya semakin terpuruk.
–@@@@–
Kosim, si sopir
Kosim, si sopir
“Udah Non, jangan terlalu dimasukkan dalam hati.” Kosim, supir keluarga yang mengantarkan Henny itu terus menghiburnya.
Rupanya pagi itu ia habis dimarahi lagi. Kata-kata Kosim itu sungguh bermakna sekali bagi Henny saat itu. Di saat hatinya terpuruk dan tak memiliki siapa-siapa, sikap simpati Kosim itu amat begitu terasa baginya. Penghiburan Kosim itu bagaikan air sejuk yang menyirami bunga yang hampir layu kekeringan. Sejak pagi itu Henny jadi semakin akrab dengan Kosim. Setiap hari ia makin sering berbicara dengan Kosim, termasuk berbicara cukup bebas mengenai uneg-unegnya di dalam rumah. Satu hal yang tak pernah dan tak bisa dilakukan dengan orang lain bahkan dengan Liani, sahabat terdekatnya sekalipun. Karena bagaimana pun Liani adalah orang luar, dimana ia perlu bersikap jaim dan memakai “topeng” indah. Sementara ia bebas bicara apa saja dengan Kosim. Statusnya yang lebih rendah sebagai supir membuat ia lebih rileks dan tak harus jaim segala. Juga Kosim telah mengetahui semuanya dan ia sendiri juga kadang mendapat marah dan makian dari tuannya, meski tak separah Henny. Sehingga antara supir dan anak majikan itu ada perasaan senasib. Kadang mereka saling mengolok dan bercanda setelah salah satunya kena marah. Kini Henny malah merasa lebih dekat kepada supirnya itu dibanding kedua orangtuanya. Mula-mula mereka hanya sebagai teman curhat biasa. Namun, dengan latar belakang yang mendukung,  dengan kesempatan berdua yang cukup sering, dan dengan adanya rasa saling tertarik antara kedua belah pihak, akhirnya hanya masalah waktu sajalah untuk mengubah hubungan keduanya menjadi lebih dari sekedar teman curhat. Di sisi Henny, ia terpikat dengan perhatian yang begitu tulus kepadanya. Sementara di sisi Kosim, ia terpikat oleh kecantikan dan tergiur oleh kemolekan gadis itu. Diam-diam kini di dalam rumah itu terjadilah hubungan percintaan yang tak lazim antara Kosim dan Henny. Satu hal yang secara eksternal kelihatan aneh namun sebenarnya secara internal sungguh amat masuk akal untuk terjadi. Secara psikologis, Henny adalah gadis yang rapuh dan labil. Membuat ia mudah terkesan dengan Kosim yang selalu memuji-muji dirinya. Baginya, Kosim adalah satu-satunya orang yang bisa dipercaya yang menghargainya secara tulus. Sementara Kosim sendiri, pada awalnya memang ia tulus berusaha menghibur dan menenangkan hati Henny. Namun, melihat sasaran empuk di depan mata, ia mulai mengambil ancang-ancang. Apalagi reward-nya kelas unggulan. Sejak awal diam-diam ia telah tergiur oleh kecantikan dan daya tarik gadis ini. Apalagi pada dasarnya ia adalah orang yang BT (berahi tinggi) sementara istrinya ada di desa.  Kapan lagi bisa dapet kayak gini. Bagi orang rendahan seperti Kosim, bisa ngedapetin dan ngerasain cewek bening kelas atas seperti Henny tentu suatu kebanggaan luar biasa. Apalagi… mana ada dalam sejarah orang desa yang nggak lulus SD, yang pernah jadi kuli bangunan, supir truk, sekaligus preman seperti dia bisa membuat takluk cewek kelas atas yang begitu cakep, muda, bening, dan berpendidikan.
Sementara itu, hehehe, meski kualitas tinggi namun rasanya nggak sulit menaklukkan gadis ini. Sebaliknya, tentu “dosa besaar” kalau berkah di depan mata seperti ini tak diambil. Apalagi, ia punya niatan mulia, yaitu ingin membahagiakan gadis ini. Ia menyadari kalau orangtua gadis ini tentu nggak akan menyetujui hubungan putrinya dengannya. Untuk ini ia punya solusi jitu. Ia akan mengencani gadis ini secara gelap, sambil mencari-cari kesempatan untuk menidurinya. Apabila ia telah meniduri gadis ini berkali-kali, tentu peluangnya sungguh besar untuk membuat mereka berdua akhirnya mau nggak mau menyetujui hubungan mereka. Apalagi kalau sampai gadis ini hamil. Tentu mau nggak mau, suka nggak suka, ia akan menjadi menantu. Demi mencapai ini semua, terpaksa aku mengambil jalan yang tak semestinya. Namun semua ini demi satu tujuan “mulia” yaitu untuk membahagiakan gadis itu, untuk mengayomi serta mengangkat harkat dan martabatnya. Mengingat Henny adalah putri tunggal, tentu ia bakal mewarisi seluruh harta kekayaan orangtuanya. Pada akhirnya harta kekayaan istri barunya itu akan jatuh di tangannya. Sehingga ia akan menjadi orang terpandang dan dihormati. Apabila ia mendapat uang banyak, ia berjanji akan meningkatkan pula derajat kehidupan keluarganya di desa. Sehingga sebenarnya, misinya ini adalah misi “mulia” bagi orang banyak. Sementara itu ia juga tak bisa dikatakan mengkhianati anak istrinya. Karena istrinya tak ada disini; sementara ia sebagai pria normal tentu punya hasrat birahi yang butuh pelampiasan. Sementara pada akhirnya mereka juga bakal kecipratan hidup mewah tanpa perlu melakukan apa-apa.  Sehingga ia tak menyalahi istrinya. Justru sebaiknya, istrinya harus bangga karena suaminya yang nggak makan bangku sekolahan ini bisa menggaet cewek yang bening muda dan cakep anak pengusaha kaya seperti Henny. Demikianlah pembenaran di dalam pikiran Kosim mengenai semua ini. Henny yang telah mabuk kepayang oleh perasaan cintanya terhadap Kosim, begitu mempercayainya. Ia sama sekali tak pernah menanyakan status dirinya. Ia cuma tahu kalau usia mereka berbeda jauh karena supir yang kini jadi cowoknya itu sudah hampir 30 tahun. Namun ia tak peduli akan hal itu. Sama juga ia tak peduli dengan pekerjaannya, perbedaan status sosial, perbedaan tingkat pendidikan, perbedaan cara pandang hidup, perbedaan ras, dan perbedaan lain-lainnya. Baginya, Kosim adalah segalanya di dunia ini.
–@@@@–
“Gimana nanti sore jadi?” tanya Liani menghampiri Henny saat bubaran sekolah. 
“Jadi dong.”
“OK, kalo gitu nanti lu gua jemput deh. Jam lima. Ntar gua sms lu kalo mau berangkat.”
“OK deh sampai ketemu ntar.”
“Byee.”
–@@@@–
Kriiingggg! Jam weker di kamar Liani berbunyi. Jam 3.30. Segera ia bangun dari tidur siangnya dan langsung menyuruh supirnya memanaskan mobil. Setelah itu ia langsung mandi karena tak ingin terlambat dengan janjinya ketemu Henny jam 5. Selang 30 menit kemudian keluarlah ia dari kamar mandi dengan handuk melilit tubuhnya. Wajahnya cakep dan segar dengan sebagian ujung rambutnya masih basah. Tubuhnya begitu putih mulus. Sebagian pahanya dan sebagian dadanya tak tertutup handuk. Cowok yang melihat keadaan dirinya saat itu tentu seketika langsung mupeng. Apalagi handuknya agak tipis. Membuat tonjolan kedua putingnya tercetak dengan jelas di baliknya. Dan handuk tipis itu tak sanggup menyembunyikan gerakan-gerakan payudaranya yang cukup berisi saat ia berjalan mendekati meja rias.
“Non, mobilnya sudah selesai dipanasin,” kata Pak Sripto supirnya kepadanya.
“OK, makasih lho Pak, ” jawab Liani sambil tersenyum manis.
Saat itu ia bergerak sedikit yang menyebabkan kaitan kecil handuk di dadanya terlepas. Sehingga handuk itu langsung melorot ke bawah, membuat dirinya dalam sekejab menjadi polos tanpa selembar benang pun.
“Gimana, ada yang perlu dicek lagi Non?” tanya Pak Sripto ke nona majikannya itu sambil tersenyum-senyum. Pandangannya menatap lekat-lekat ke bodi mulus dengan lekuk-lekuk indah di depan matanya itu. 
“Ehm, eh, tolong dicek juga bannya. Ada yang kempes nggak. Aku nggak mau kejadian kayak dulu lagi tiba-tiba kempes di tengah jalan,” kata Liani seperti biasa namun ia langsung membalikkan badannya dan berjalan menuju ke lemari pakaian.
“Oh, jangan kuatir Non. Sudah saya cek semuanya. Depan bagus, belakang pun juga bagus. Hehehe,” kata Pak Sripto sambil menatap bodi belakang nan mulus di hadapannya itu. “Begitu pula dengan yang lain-lainnya, semuanya sudah saya periksa lengkap,” jawabnya sambil ia berjalan mengitari untuk menatap bodi indah di depan matanya itu dari posisi 360 derajat. Sementara si pemilik bodi mulus itu tak bergerak sama sekali. “Pokoknya sudah siap sedia untuk DIPAKE, kok. Heheheheee,” kata Pak Sripto tertawa terkekeh-kekeh saat ia meraba-raba kemulusannya di sejumlah tempat.
“Oh, begitu. Ya udah kalo gitu bentar lagi aku keluar. Makasih ya Pak,” kata Liani mengakhiri pembicaraan dengan supirnya dan melempar handphone-nya ke ranjang supaya ia bisa mengenakan pakaiannya. Sementara di garasi depan, Pak Sripto memasukkan handphone di saku lalu balik lagi mengagumi mobil mulus yang baru dicucinya bersih itu sambil memeriksa semuanya sekali lagi sebelum benda mulus ini dipake oleh gadis majikannya.
–@@@@–
Suasana rumah itu sungguh sunyi dan teduh. Hampir semua penghuni rumah itu tak berada di tempat. Namun di ruang tamu depan yang nampak sepi dan agak gelap, terdengar suara bisik-bisik dua orang yang sedang asyik pacaran. Gadis itu duduk dipangkuannya. Tubuhnya yang putih dipeluk oleh supir berkulit sawo matang kehitaman itu. Dibelai-belainya rambut gadis itu. Ia bisa mencium aroma wangi tubuh gadis itu yang begitu harum. Diraba-raba dan dirasakannya betapa putih dan halus kulit gadis itu. Rambut indahnya dibelai-belai, sebelum ia mengubah posisi tubuh gadis itu, membuatnya kini memeluk dirinya secara frontal dengan kedua tangannya melingkar di punggungnya. Batangnya yang sebelumnya telah mengeras kini jadi semakin keras. Karena tubuh mereka semakin dekat menempel. Bahkan dada gadis ini menempel di dadanya sendiri. Ia terus membelai-belai rambut gadis itu dan meraba-raba  punggung dan sekujur tubuhnya. Pikirannya telah penuh dengan kemupengan. Sementara gadis itu juga memeluk supirnya erat-erat sambil memejamkan matanya. Menikmati setiap belaian hangat pria itu terhadap dirinya. Tiba-tiba suasana tenang keduanya itu terganggu dengan adanya bunyi telpon masuk di handphone dalam saku gadis itu. Henny segera terkesiap karena teringat akan janjinya dengan Liani. Dan memang Lianilah yang menelponnya. Saat itu pukul 4.30.     
“Hen, gua ini baru keluar dari rumah, setengah jam lagi nyampe tempat lu,” kata Liani. Namun kini Henny sama sekali nggak mood pergi bareng Liani. Juga ia sama sekali nggak mengharapkannya datang. Bahkan, ia merasa terganggu dengan phone call-nya sekarang.
“Eh, sorry. Gua kok tiba-tiba nggak enak badan. Gua pengin istirahat neh.”
“Yah, kenapa lu kaga bilang dari tadi. Gua udah terlanjur keluar nih,” kata Liani.
“Ya sorry, sorry. Tapi gua betul-betul nggak bisa. Lu jangan mampir ke sini deh, soalnya gua mau istirahat tidur,” kata Henny buru-buru. Tak biasanya ia bersikap aneh seperti itu. 
“Ya udah deh gapapa. Gua balik lagi,” terdengar suara Liani dari telpon dengan nada kecewa.
Namun Henny tak terlalu mempedulikan itu. Sebaliknya ia lega karena Liani tak jadi datang ke rumahnya. Sementara Kosim juga gembira hatinya mendengar cewek ini membatalkan janjinya. Artinya ia bisa terus bermesraan dengannya. Apalagi ia baru menjemput ayah gadis ini nanti malam karena ada rapat. Begitu pula ibunya juga sedang ada arisan sehingga mereka berdua baru pulang agak malam. Inilah saat yang tepat, batin Kosim.
“Kamu hari ini kok cantik banget sih, heran aku,” kata Kosim mengeluarkan jurus rayuannya.
“Idih, Mas mulai deh,” rajuk Henny pura-pura marah.
“Dan pipi kamu ini, iiih, halus lembut,” kata Kosim tak mempedulikan rajukan gadis itu dengan melanjutkan aksinya meraba-raba pipi Henny yang berubah jadi memerah itu. “Aku sayang sama kamu, Hen,” bisik Kosim lembut di dekat telinga gadis itu.
“Aah, Mas….” kata Henny lirih sambil memeluk Kosim erat-erat. Kosim terus mendekap dan mengelus-elus rambut panjang gadis ini. Henny memejamkan mata menikmati belaian lembut terhadap dirinya. Sementara Kosim tersenyum gembira menyaksikan sikap gadis ini yang telah jatuh ke dalam pelukannya. Segera ia mengeluarkan jurusnya lagi,
“Alangkah nikmatnya kalau kita bisa bebas berpacaran tanpa ada sekat-sekat pembatas di antara kita, sayang. Sayang sekali, kita tak bisa seperti pasangan-pasangan yang lain.”
Henny semakin mempererat pelukannya seolah tak ingin melepaskan Kosim.
“Seperti sekarang ini, biarpun kita bisa pacaran, namun agak riskan kalo ketahuan Surti dan Murni (pembantu lain yang saat itu ada di dalam rumah itu).” keluh Kosim sambil menghela napas.
“Memang betul, Mas,” kata Henny mengiyakan karena ia juga agak ketakutan kalau-kalau pembantunya mendapati dirinya sedang asyik berpelukan dengan Kosim dan melapor ke orang tuanya.
“Ah, aku ada ide. Yuk, kita masuk ke kamar aja,” katanya dengan lugu. “Mereka nggak akan berani masuk atau nyariin aku. Sementara kalo Mas dicari nggak ada, bisa aja bilang lagi nongkrong di pos satpam depan.”
“Ah, jangan,” kata Kosim. “Aku nggak mau nanti dikira mau berbuat yang nggak-nggak. Apalagi aku tulus mencintaimu, Hen.”
“Ah, nggak kok. Aku percaya dengan ketulusan hati Mas,” kata Henny dengan cepat. “Apalagi setelah kata-kata Mas barusan. Aku percaya sepenuhnya dengan Mas.”
“Beneran nih, kamu nggak apa-apa?” tanya Kosim gembira pancingannya mengena.
“Betul, Mas. Asal Mas janji, nggak akan berbuat yang aneh-aneh,” kata Henny dengan polos menatap wajah Kosim.
“Tentu aku janji nggak akan menyakiti dirimu, sayang,” kata Kosim dengan rayuannya sambil mencium pipi Henny.
“Ah, Mas….” jantungnya berdebar-debar mendengar bisikan mesra Kosim.
Tak lama kemudian mereka berdua berjalan menuju ke kamar tidur Henny sambil bergandeng tangan. Henny yang berjalan di depan membuka pintu kamar, sementara Kosim di belakang menutup pintu itu sambil diam-diam dikuncinya. Kini orang luar tak bisa masuk ke dalam. Sehingga tak ada yang akan  mengganggu mereka berdua. Handphone juga telah dimatikan. Mereka duduk berdekatan di ranjang. Bagi Kosim, baru kali ini ia masuk ke kamar Henny. Sungguh kesempatan yang tak boleh disia-siakan. Apalagi kedua bonyoknya juga lagi sibuk di luar.  Begitu di dalam kamar Kosim langsung duduk merapat ke gadis ini. Kemudian dikecupnya bibir gadis manis ini. Henny memejamkan matanya. Membiarkan bibirnya dikecup Kosim. Juga ia sama sekali tak menolak saat Kosim melanjutkan melumat bibirnya, menikmati manis dan hangatnya bibir gadis itu. “Kamu sungguh cantik sekali, Hen,” bisik Kosim yang membuat gadis ini semakin melumer. Ia tersipu dan menunduk malu. Sikap Henny yang innocent ini semakin menambah daya tariknya dan semakin membangkitkan gairah birahi Kosim untuk segera menyantap gadis ini. Tangannya meraih kancing baju Henny untuk melepaskannya satu persatu. Kancing pertama telah dilepas. Begitu pula yang kedua. Saat ia ingin melepas yang ketiga, tiba-tiba Henny berontak.
“Jangan Mas,” katanya sambil tangannya memegangi bajunya.
Namun Kosim terlanjur mupeng. Apalagi ia telah melihat sebagian payudara putih gadis ini.
“Kenapa? Nggak apa-apa kok. Jangan takut,” katanya sambil berusaha memindahkan tangan Henny dari dadanya. Namun gadis itu masih menaruh tangannya disitu.
“Ayo, lepasin,” kata Kosim tak sabar sambil memaksa memindahkan tangan gadis itu.
Tiba-tiba mata Henny mendelik dan berkata,“Mas jahat!” “Aku nggak nyangka rupanya Mas punya pikiran kotor,” serunya dengan mata mulai basah berair.
“Eh, sorry, sorry. Maafkan aku sayang,” kata Kosim buru-buru. “Maafkan Mas sayang. Barusan Mas khilaf. Maafkan aku ya,” kata Kosim buru-buru. Sementara Henny terus menangis sesenggukan. Serta merta Kosim memeluk sambil berusaha menenangkannya dengan mengelus-ngelus rambutnya dan mengucapkan kata-kata mesra. Membuat gadis itu akhirnya luluh juga. Ia membiarkan dirinya terus dipeluk oleh Kosim. Demikian pula saat Kosim mencium bibirnya lagi, dengan memejamkan mata ia tak melawan sama sekali. Kini kembali Kosim menikmati bibir Henny. Begitu lamanya ia menciuminya, membuat gadis itu akhirnya terlarut juga dan melupakan kesedihannya. Kini ia melakukan french kissing. Lidahnya beradu dengan lidah gadis itu. Lagi-lagi Henny tak berontak. Malah ia juga mulai menggerakkan lidahnya untuk saling beradu dengan lidah Kosim. Kosim bisa merasakan sikap gadis itu yang telah melumer. Kosim menghentikan ciumannya. Ia menatap diri Henny. Sebagian dada putih Henny yang menonjol kecil nampak terlihat karena dua kancing bajunya itu masih terbuka. Membuat Kosim makin bernapsu ingin melihat keseluruhan tubuh sexy gadis itu. Namun sebelumnya ia sengaja membuat gadis itu terlena terlebih dulu. Kembali ia menciumi wajah gadis itu dengan mesra, mulai dari pipi, bibir, hidung, alis, dagu, mata, dan telinganya. Kemudian direbahkannya gadis ini di atas ranjang, dan kembali diulangi lagi ciuman-ciuman di seluruh wajahnya, sebelum akhirnya ditutup dengan kembali melumat bibirnya dan “bersilat lidah” dengan gadis ini. Setelah itu giliran lehernya yang putih yang diciumi dan dikecupinya. Membuat Henny jadi menggelinjang kegelian. Gerakan-gerakan tubuh Henny membuat Kosim semakin terangsang sehingga ia makin buas mengecupinya. Dada Henny jadi semakin naik turun oleh napas yang memburu. Membuat Kosim lagi-lagi makin terangsang. Apalagi sebagian bajunya telah terbuka. Saat itu pikirannya telah dirasuki nafsu apalagi gadis itu sedang memejamkan matanya. Kini segera dibukanya kancing baju Henny satu persatu. Kali ini sama sekali tak ada penolakan dari gadis itu sampai akhirnya seluruh kancing bajunya terlepas semua. Segera Kosim menyibakkan bajunya ke samping kiri kanan tubuh Henny, membuat bra gadis itu jadi terekspos secara terbuka. Bra itu begitu indah (karena memang mahal harganya) berwarna biru tua. Setelah itu Kosim mulai menciumi bagian dadanya yang telah terekspos. Membuat Henny mengeluarkan rintihan-rintihan kecil. Kemudian ia membangkitkan gadis itu untuk membuatnya terduduk. Bajunya yang telah terbuka itu langsung dilepaskan dari tubuhnya. Setelah itu ia meraba-raba tubuh setengah telanjang Henny sambil menciumi lagi disana sini, sekaligus mencari tahu gesper bra-nya di punggung atau di depan. Rupanya ada di punggung. Dengan hati berdebar kedua tangannya merengkuh gesper itu dan melepaskannya. Ternyata pertaruhannya berhasil. Karena Henny tak memberikan reaksi penolakan sama sekali.
Begitu gesper dilepas, segera ia meloloskan bra biru tua itu dari tubuh mulus gadis putih ini. Segera ditatapnya payudara telanjang gadis majikannya itu lekat-lekat. Keduanya tak terlalu besar, ukurannya 34B. Namun putihnya sungguh merangsang hati. Apalagi kedua putingnya agak menonjol berwarna segar kemerahan. Membuatnya seketika jadi mupeng abis. Kini giliran payudara Henny yang segera dimainkannya dengan cara seksama dan dalam tempo yang selama-lamanya. Karena ia ingin menikmatinya semaksimal mungkin dengan berbagai cara. Mula-mula matanya yang jelalatan menikmati keindahan pemandangan bukit kembar itu. Setelah itu kedua tangannya yang hitam mulai meraba-raba payudara putih itu. Punggung tangannya menyentuh sekujur payudara Henny. Setelah itu diikuti dengan jari-jari dan telapaknya yang meraba-raba dan seluruh bagiannya sambil sesekali meremas-remas dengan lembut. Membuat Henny jadi mendesah-desah sambil terus memejamkan matanya. Apalagi saat jari-jari Kosim mulai menyentuh-nyentuh putingnya. Membuat desahannya semakin liar tak terkendali. Selanjutnya Kosim melanjutkan memainkan payudara Henny itu dengan mulutnya menyapu seluruh bagiannya. Termasuk puting kemerahan itu  tak luput dijilat-jilatinya. Lidahnya dilelet-leletkan di kedua puting gadis itu bergantian, bergerak-gerak melingkarinya, dan juga menyentuh-nyentuh bagian sensitif payudara gadis itu secara random, membuat Henny melupakan rasa malunya tadi dan kini menggelinjang-gelinjang secara erotis sambil mengerang-erang. Setelah itu mulutnya mengenyot-ngenyot payudara mungil Henny, kedua putingnya disedot-sedot bergantian. Nampak ia begitu ganas menyusu payudara Henny, dengan suara kecipakan emutannya yang seringkali terdengar cukup keras. Payudara Henny yang terus menerus dirangsang itu jadi semakin kencang dan putingnya semakin mengeras. Membuat Kosim pun semakin nafsu untuk terus mengemutinya. Akibatnya semakin membuat Henny makin terangsang. Saat ia akhirnya selesai menikmati payudara Henny, nampak bekas merah-merah di seluruh bagian payudara gadis itu akibat buasnya Kosim mengganyangnya. Kini giliran rok Henny yang dilepasnya. Kali ini Henny yang telah terlena sama sekali tak melawan. Begitu pula saat Kosim melucuti celana dalamnya. Ia juga tak berontak sedikit pun. Kini Kosim bisa melihat bulu-bulu vaginanya yang tertata rap. Ia melucuti seluruh bajunya sampai ia juga telanjang bulat, menunjukkan penisnya yang besar dan bersunat itu telah berdiri dengan keras secara gagah perkasa di depan gadis putih mulus yang juga telanjang bulat itu. Kulitnya yang sawo matang kehitaman nampak kontras dengan tubuh putih mulus Henny. Setelah meraba-raba paha mulus Henny sebentar, Kosim membentangkan kedua kakinya lebar-lebar, untuk melihat liang vagina gadis itu secara frontal. Nampak lipatan liang vagina yang segar kemerahan di bawah bulu-bulu yang rapi tertata dan agak jarang itu. Hatinya menggelora menyaksikan vagina perawan gadis itu yang begitu sempit dan rapat, yang akan segera dinikmatinya itu. Kosim mulai meraba-raba paha mulus Henny, terutama bagian pangkalnya. Pengalamannya dengan istrinya membuat ia tahu bagian-bagian sensitif wanita. Dan pengetahuannya itu kini dipraktekkan  terhadap Henny. Dan ternyata, manjur sekali hasilnya. Sedari tadi Henny sama sekali tak memberontak. Padahal awalnya tadi ia menolak saat ingin dibuka kancing bajunya, tapi sekarang gadis itu telah berhasil ditelanjangi bulat-bulat oleh Kosim tanpa sedikitpun reaksi perlawanan. Kini Kosim mulai merangsang sekitar vaginanya, membuat gadis lugu itu kini jadi terlarut menikmati permainan supir itu. Ia sama sekali tak melawan terhadap apapun yang dilakukan terhadap dirinya.
Kosim semakin merangsang vaginanya, dengan menggunakan tangan dan jari-jarinya yang mengelus-elus dan mengusap-usap untuk me-masturbasi Henny. Setelah itu ia menghisap-hisap dan menjilati bagian luar dan isi dalam vaginanya, termasuk klitoris dan G-spot gadis itu. Membuat vagina Henny jadi basah kuyup dan dirinya pun mendesah-desah dengan keras tak terkendali. Apalagi Henny adalah gadis yang masih betul-betul hijau dalam hal ginian. Sebelumnya ia tak pernah disentuh laki-laki, bahkan ciuman pun tak pernah. Akibatnya perbuatan Kosim terhadap dirinya langsung membuatnya “fly” dan lupa diri. Setelah puas mengerjai dan merangsang Henny, kini ia juga ingin mendekatkan penisnya ke tubuh putih mulus menggairahkan itu. Ia menjepitkan penisnya di antara kedua paha Henny, membuatnya terasa enak saat dijepit paha nan putih dan mulus itu. Setelah itu ia mendekatkan penisnya ke payudara Henny yang berukuran 34B itu dan penis hitamnya dijepitkan di tengah-tengah payudara putih gadis itu. Ia jadi semakin terangsang melihat penisnya yang hitam legam itu begitu kontras warnanya dijepit di antara kedua bukit kecil gadis berkulit putih ini. Setelah itu dikocok-kocoknya penisnya di antara kedua gunung kembar Henny, membuat penisnya seperti di-masturbasi oleh payudaranya. Dan terakhir, penisnya berkenalan dengan puting kemerahan gadis itu dengan ia menempel-nempelkan ujung kepalanya dengan kedua puting gadis itu. Kini saatnya untuk proses eksekusi. Ia yakin liang vagina Henny telah cukup basah untuk itu. Meski ia membayangkan, tentu awalnya akan susah masuk ke liang sempit yang masih perawan itu. Didekatkannya penisnya sampai menempel persis di depan liang vagina Henny. Dan, didorongnya penisnya ke depan.
“Aaah!” Henny berteriak. Namun penisnya masih belum masuk. Dicobanya sekali lagi. “Aaah!” lagi-lagi Henny berteriak. Namun juga masih belum berhasil masuk. Sambil memejamkan matanya Kosim mendorong penisnya dengan lebih kuat lagi. “Uugh!” sambil ia berteriak saat mendorong penisnya ke depan. Dan, “AAHH!” Henny menjerit amat keras karena akhirnya bobol juga pertahanannya dengan masuknya sebagian kepala penis Kosim dalam tubuhnya. Dan…Uuggh!, lagi-lagi Kosim berteriak sambil mendorong penisnya kuat-kuat.
“AAHHH”, Henny kembali menjerit. Dirasakan kepala penisnya masuk semakin dalam. Dan… “AAHHH”, akhirnya penis Kosim masuk ke dalam seluruhnya! Uugh! Seru Kosim dengan lega. Tadinya kepala penisnya agak kesulitan masuk karena begitu rapetnya vagina gadis ini. Tapi kini jerih payahnya telah terbayarkan karena akhirnya batang kejantanannya telah amblas masuk seluruhnya ke dalam tubuh gadis majikannya ini. Ia menatap ke bawah melihat vagina Henny yang telah membuka untuk menampung penis besarnya di dalamnya. Ia tersenyum menyaksikan  vagina gadis itu mengeluarkan darah. Darah perawan Henny yang tumpah di seprei ranjang. Ia mencabut penisnya. Liang vagina Henny kini jadi agak terbuka dibanding sebelumnya. Darah masih mengalir keluar. Segera dimasukkan kembali penisnya. Kali ini juga masih peret banget, meski tak sesulit sebelumnya. Setelah itu… dikocoknya penisnya di dalam vagina gadis muda yang baru saja diperawaninya itu.
“Ugh…ughh…ughh…”
Kosim mengocok-ngocok penisnya sambil mengeluarkan suara karena merasakan sensasinya yang begitu nikmat menggagahi gadis ini. Sementara Henny dibuat mendesah-desah sambil mengernyit kesakitan saat penis tebal Kosim menyetubuhi dirinya.
“Aahhh….ahhhh…aahhh……” Henny terus menjerit-jerit kesakitan bercampur mendesah-desah nikmat. Rasanya perih-perih enak! Enak-enak perih! Sementara darah terus mengucur dari vagina Henny.
“Aahhh…aduhhh….aaaahhh…..adduu..aaaahhh……” Henny terus menjerit sambil mendesah-desah.
Namun semakin lama rasa perih yang dirasakan itu semakin hilang. Sebaliknya, rasa nikmat yang mula-mula amat jarang terasa itu kini mulai dominan dirasanya. Sampai akhirnya, kini hanya rasa nikmat saja yang tersisa ketika penis Kosim terus dengan perkasa menghunjam-hunjam di dalam dirinya. Kini darah perawannya akhirnya berhenti keluar dari vaginanya. Namun di seprei ranjangnya terlihat noda darah yang cukup besar karena banyaknya darah yang keluar dari dalam dirinya. Kosim terus memompa penisnya, menikmati keperetan vagina gadis itu menjepit batangnya. Kini ia harus membuat gadis itu orgasme untuk membuat gadis itu ketagihan nantinya. Menyadari kalau gadis ini sama sekali tak berpengalaman, kini adalah tugasnya “membimbingnya” dan membawanya mencapai surga kebahagiaan duniawi. Ia meneruskan penyetubuhannya sambil memeluk gadis ini dan menciuminya dan diselingi dengan bisikan-bisikan mesra di dekat telinga gadis itu. Membuat gadis itu terasa di awang-awang. Sehingga vaginanya juga  semakin banjir bandang. Setelah terus disetubuhi non-stop oleh supirnya sampai hampir 20 menit lamanya, sambil dipeluk, diciumi, dan dibisiki rayuan gombal kata-kata mesra, akhirnya Henny mencapai orgasme juga. Saat orgasme badannya kejang-kejang dan menjerit-jerit tak karuan. Payudaranya jadi lebih keras dan kencang dibanding sebelumnya, terutama putingnya. Setelah membuat gadis itu orgasme, kini Kosim ingin menikmati gadis ini dalam berbagai posisi. Pertama ia menggarap gadis ini dalam posisi doggy style. Gadis itu disuruhnya nungging di tepi ranjang. Ia berdiri di belakangnya dan disetubuhinya vagina Henny dari belakang sambil kedua tangannya menepuk-nepuk payudaranya. Setelah itu ganti posisi ke posisi gunting, dimana tubuh Henny dimiringkan lalu kedua kakinya dibentangkan lebar-lebar ke kiri dan kanan saat ia berdiri di tepi ranjang dan mengeksekusi vaginanya. Kemudian posisi lotus. Kosim naik lagi ke ranjang dan duduk dengan melipat kedua kakinya ke bawah. Sementara penisnya tentu mengacung ke atas. Kemudian Henny juga duduk dengan posisi serupa di hadapannya….tentunya dengan vaginanya ditembus oleh penis Kosim. Payudara putih Henny kini menempel di dada hitam Kosim. Dalam posisi ini Henny mendapat pengalaman pertama untuk mengambil inisiatif karena kini ia yang harus menggoyang tubuhnya. Mula-mula ia agak malu melakukannya. Sambil tersenyum-senyum gembira melihat reaksi malu gadis polos itu, Kosim beberapa kali menyuruhnya untuk goyang badan. Akhirnya ia mau juga. Mula-mula agak canggung dan masih segan-segan. Namun lambat laun ia jadi terbiasa juga dan mulai hilang rasa malunya. Mungkin karena ia sendiri merasakan kenikmatan luar biasa saat tubuhnya naik turun vaginanya ditembus-tembus batang kejantanan Kosim. Sementara selangkangan mereka beradu, mereka juga saling berciuman. Sehingga kini penis Kosim beradu di dalam vagina Henny, payudara Henny menempel di dada Kosim, dan mulut mereka saling berpagutan melakukan french kissing. Membuat gerakan tubuh Henny makin lama makin liar. Namun Kosim tak ingin gadis itu orgasme lagi secepat itu.
Untuk itu ia sengaja menyuruh gadis itu melepaskan diri, karena ia ingin mengekse Henny dengan posisi lain, yaitu cowgirl. Kini ia tiduran telentang dengan penis mengacung ke atas. Dan ia membimbing Henny membuat gadis itu duduk di selangkangannya dengan vaginanya kembali ditembus oleh penisnya. Lalu Henny yang telah punya pengalaman sebelumnya, kini tahu apa yang mesti dilakukan, ditambah juga tentunya ia pengin meneruskan kenikmatan yang tanggung tadi. Tanpa harus di-komando-in lagi, ia langsung menaik-turunkan tubuhnya, mengocok-ngocok vaginanya ke penis Kosim, atau juga bisa dikatakan mengocok penis Kosim di dalam vaginanya, karena toh sama saja. Saat melakukan itu kembali Henny mendesah-desah dengan liar lagi. Rambutnya yang panjang bersemu kecoklatan bergerak naik turun. Tak perlu waktu terlalu lama bagi Henny untuk menaikkan “tensi”nya lagi. Membuat Kosim semakin bernafsu melihat keliaran gadis yang beberapa saat sebelumnya masih perawan dan malu-malu itu. Apalagi melihat payudaranya ikut bergerak-gerak. Membuat dirinya yang merasa gemas segera menangkap keduanya dan meremas-remasnya. Henny semakin liar dan cepat gerakannya. Sambil merasakan kenikmatan keperkasaan penis Kosim dalam vaginanya, juga payudaranya enak sekali diremas-remas dan dikenyot-kenyot Kosim. Akhirnya ia menyerah juga dan mendapatkan orgasme lagi. Setelah itu mereka balik lagi ke posisi missionaries dimana Kosim kembali menindih Henny sambil menyetubuhinya. Kali ini ia mengekse Henny sambil mulutnya tak henti-hentinya mengenyoti payudara gadis itu bergantian kiri dan kanan. Sampai akhirnya, ia mengalami ejakulasi dengan menyemprotkan seluruh spermanya di dalam vagina Henny. Membuat keduanya jadi terkulai lemas namun bahagia, terutama Kosim. Akhirnya dapat juga, hehehehe…., batin Kosim dengan hati bergelora. Awalnya gadis ini menolak, namun gampang sekali dikelabui olehnya yang amat berpengalaman, sehingga akhirnya dapet juga kegadisannya. Sementara di wajah Henny nampak seperti ada rasa penyesalan karena sebenarnya ia tak ingin berhubungan sampai sejauh ini. Namun oleh karena terbuai oleh bujukan Kosim yang lihai itu, akhirnya semuanya telah terjadi dan tak bisa dibalikkan lagi. Keesokan harinya Henny masuk sekolah seperti biasa. Tak ada seorang pun yang tahu kalau telah terjadi perubahan besar dalam diri gadis itu dibanding hari sebelumnya. Tak ada seorang pun yang menyangka kalau gadis berwajah melankolis yang alim dan lemah lembut itu telah berhubungan intim dengan cowok, bahkan dengan seorang supir. Tak ada seorang pun yang menyangka kalau ia sudah bukan perawan lagi. Tak juga kedua orangtuanya. Tak juga Liani, sahabat paling dekatnya, meski Liani tahu kalau kemarin sahabatnya itu telah menipunya.   
–@@@@–
Sejak berhasil memerawani Henny, Kosim terus menerus mengeksekusinya lagi dan lagi. Hampir tiap hari. Tak hanya di kamar tidur. Tapi juga di sofa, di kamar mandi, di atas kursi besar, di dalam air di bathtub, di bawah pancuran air shower, di garasi, di dapur, di gudang, bahkan juga pernah di atas rumput di taman belakang saat malam-malam. Tak hanya di dalam rumah. Tapi juga di mobil, di apartemen sewaan, di bioskop, di dalam toilet, di hotel, di parkiran, dll. Berbagai macam posisi telah dicobanya karena biasanya mereka nonton JAV dulu sebelum meniru adegannya. Membuat Henny yang semula adalah gadis polos dan tak tahu apa-apa mengenai seks, kini jadi kenyang makan asam garam oleh kursus kilat namun intensif dari Kosim. Meski status resmi Kosim di rumah itu hanyalah seorang supir, namun kini ia merasa seperti sebagai penguasa rumah itu saja karena telah berhasil menikmati “benda paling berharga” dalam rumah itu.  Sore itu, Henny yang masih memakai seragam SMA putih abu-abu tiba-tiba didekati Kosim yang langsung memegang pundaknya.
“ML yuk,” katanya tanpa basa-basi dan sungkan-sungkan lagi kepada gadis majikannya itu.
“Apa?” kata Henny tak menyangka,” Tapi Papi Mami ada disini….”
“Ah, mereka nggak tahu. Mereka lagi sibuk ngurusin tanaman di halaman belakang tuh. Makanya… buruan. Yuk…” kata Kosim sambil menggrepe-grepe baju seragam putih Henny.
“Tapi….” belum selesai bicara, bibirnya langsung dilumat Kosim. Henny berusaha berontak. Tangannya berusaha mendorong Kosim. Namun ia kalah tenaga; sementara Kosim tak ingin melepaskan ciumannya. Mmmmpphhhhh…. kedua tangan Henny menggapai-gapai tak berdaya. Sementara bibirnya terus dilumat Kosim. Kedua tangan supir itu meraba-raba punggungnya. Dan, dengan cekatan langsung dibukanya pengikat bra gadis itu. Henny semakin berusaha memberontak, namun semakin ia meronta semakin kuat cengkeraman Kosim terhadap dirinya.
“Udah, kamu nurut aja. Yuk, cepat sebelum mereka masuk,” kata Kosim. “Aku tahu kamu pasti suka dengan yang menegangkan seperti ini, hehehe,” Kosim tertawa terkekeh sambil tangannya membuka kancing seragam Henny satu persatu.
“Kurang ajar kamu ya. Dasar sopir kurang ajar!” maki Henny kepada supirnya.
“Hahahaha. Abis, kamunya cantik banget sih…. Dan putih mulus lagi,” kata Kosim cengengesan menatap tubuh bening Henny yang kini hanya tertutup bra coklat itu. Sreeettt…
“Yuk, ini dilepas juga,” kata Kosim yang langsung membuka retsleting rok abu-abu gadis itu.
“Eeh, kamu ini,” protes Henny yang kini roknya telah turun ke bawah.
“Ayo copot semua,” kata Kosim melucuti sisa-sisa baju gadis itu dan dilanjutkan dengan membuka seluruh pakaiannya sendiri.
Kini keduanya telah telanjang bulat. Nampak kontras banget perbedaan keduanya. Seketika itu langsung Kosim menyergap tubuh putih bening yang menggairahkan itu. Diciuminya wajah gadis itu dengan penuh nafsu, sambil tubuh mulusnya dipeluk erat-erat menempel ke tubuhnya sendiri. Kedua tangannya meraba-raba sekujur tubuh bagian belakang gadis muda itu. Setelah itu mulutnya turun menciumi leher putih Henny. Dan turun ke bawah lagi. Kini payudara Henny yang jadi sasaran kecupan-kecupannya. Ia mengemut-ngemut dan menyeruput seluruh bagian dadanya. Membuat Henny akhirnya jadi mendesah-desah. Kedua putingnya yang merah tentu jadi sasaran utama untuk di kulum-kulum, dijilat-jilat, dan dikenyot-kenyot. Saat Kosim telah selesai dengan buah dadanya, nampak bekas merah-merah di sana-sini. Setelah memainkan dadanya, kini Kosim menyedot-nyedot daerah vagina Henny. Membuat vaginanya jadi basah kuyup.
Setelah gadis itu siap, tanpa menunda-nunda lagi langsung dimulai acara pengeksekusian. Bagian atas tubuh Henny telungkup di meja tulis besar, kedua tangannya memegang pinggirnya, membuat ia dalam posisi agak menungging. Lalu, Kosim mengeksekusi vaginanya dari belakang. Shleep…shlleepp…shleepp…..shleep…. Demikianlah tusukan bertubi-tubi penis Kosim ke dalam vagina Henny. Setelah itu kedua tangan hitamnya disusupkan di bawah payudara gadis itu, supaya kini ia bisa meremas-remas dada gadis itu sambil terus mengeksekusi vaginanya. Kemudian mereka berganti posisi. Henny tidur telentang di atas meja besar itu. Kedua kakinya terbuka lebar. Dan, Kosim juga ikutan naik ke atas meja itu. Dimasukkannya penis besarnya ke dalam vagina sempit Henny. Dan, lagi-lagi dinaikilah gadis itu sambil penisnya dikocok-kocok di dalam tubuhnya. Membuat seluruh meja itu ikutan bergoyang-goyang. Sambil Kosim menyetubuhi gadis itu, mulutnya dengan buas menikmati dada mulus Henny. Kemudian ia menaikkan tubuhnya untuk sengaja melihat ekspresi wajah Henny saat penisnya menggedor-gedor vaginanya. Mulut Henny nampak seperti mendesah dan merintih-rintih seiring dengan gerakan irama penis Kosim di dalam tubuhnya. Namun sama sekali tak mengeluarkan suara. Rupanya ia takut terdengar orang terutama orangtuanya. Walaupun ia juga tak menolak untuk diekse Kosim saat itu. Demikianlah proses pengeksekusian anak majikan itu terus berlanjut. Di saat kedua orangtuanya sedang asyik mengurus tanamannya di halaman, di saat itu si anak gadis dieksekusi oleh supir terus menerus sampai orgasme. Sebuah orgasme dalam kebisuan karena Henny sama sekali tak berani bersuara sementara ekspresi wajahnya menunjukkan secara jelas kalau ia sedang merasakan kenikmatan yang luar biasa. Begitu pula dengan geliat gelinjangan tubuhnya. Juga payudaranya terutama puting merahnya yang jadi semakin keras. Setelah berhasil membuat orgasme gadis itu, Kosim mengocok penisnya semakin cepat. Saat hampir mencapai ejakulasi, penisnya dikeluarkan dan….crutt cruttt crutt…… Penisnya menyemprotkan seluruh isinya dan tumpah ke dada, leher, dan sebagian wajah cakep Henny. Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka!
“Henny!” terdengar suara ayahnya yang baru masuk dari halaman belakang..
Buru-buru keduanya turun dari meja itu dan mengemasi pakaiannya, terutama Henny.
“Henny…. Ayo bantuin kesini,” kembali suara ayahnya memanggil.
Terdengar suara langkahnya berjalan melangkah masuk. Seketika Henny jadi pucat pasi. Saat itu dirinya masih telanjang bulat bersama Kosim. Bahkan semprotan sperma masih menempel di berbagai tempat di wajah dan payudaranya.
“Ayo, masuk kesana!” bisik Henny tiba-tiba sambil menarik tangan Kosim masuk ke kamar mandi di dekat situ. Keduanya membawa pakaian masing-masing. Namun… rupanya celana dalam Henny warna merah darah terjatuh di lantai.
“Udah biarin aja,” kata Kosim kepada Henny saat gadis itu ingin mengambilnya. Buru-buru mereka berdua masuk ke dalam dan segera dikuncinya pintu kamar mandi itu. Oohhh! Seru Henny dengan lega sambil dadanya masih terengah-engah. Gadis berkulit putih dan pria bertubuh sawo matang kehitaman yang keduanya telanjang bulat itu berdiri berdekatan di dalam.
“Celana dalamku gimana?” tanya Henny dengan khawatir sambil berbisik.
“Aah, tenang aja,” kata Kosim enteng. “Kalo ketahuan, bilang aja tadi jatuh, atau kamu pake tapi … melorot,” kata Kosim sambil senyum-senyum.
“Awas lu ya!” kata Henny dengan wajah cemberut. “Hehehe, jangan cemberut donk. Masih untung celana dalam kamu yang jatuh. Kalo celana dalamku, lebih sulit lagi jelasinnya, hehehehe..”
“Iiiih…” kata Henny sambil mencubit supirnya itu.  
“Hennyy! Dimana sih kamu?” terdengar suara tak sabar Papinya di luar.
“Papi.. aku lagi di kamar mandi,” teriak Henny yang sedikit mengeluarkan kepalanya. “Nanti kalo dah selesai aku ke sana.”
Kini keadaan mereka untuk sementara aman, namun mereka tak berani langsung keluar karena tak tahu situasi di luar sana. Jangan-jangan pada lagi nungguin di depan. Oleh karena terjebak disana dan tak bisa ngapa-ngapain lagi, akhirnya mereka berdua mandi bareng. Keduanya saling menyabuni satu sama lain, sebelum mereka berendam bersama di dalam bath tub dengan Henny dipangku di atas oleh Kosim. Hal ini membuat Kosim mulai naik lagi gairahnya apalagi dari tadi terus-terusan melihat dari jarak dekat dan terus meraba-raba tubuh mulus telanjang gadis ini. Selang beberapa saat, ketika Henny akan melangkah keluar dari bath tub, tiba-tiba tangannya dipegang Kosim.
“Eh, mau kemana kamu?
“Ayo, kita harus buru-buru pake baju dan keluar dari sini. Nanti Papi curiga aku kelamaan disini atau seandainya nyariin kamu tapi nggak ketemu.”
“Bentar, kita main dulu sekali disini. Aku pengin lagi sama kamu.”
“Hah?! Lagi?” Seru Henny heran, sudah dapet jatah harian masih minta tambah lagi. Saat ia membalikkan badan,“Oh my gosh!” Penis Kosim telah menegang secara full seperti sebelumnya. Kini mau tak mau ia harus melayani nafsu birahi supirnya itu sekali lagi sebelum keluar dari sana.
Segera Kosim meraba payudara Henny lagi. Di pinggir bath tub itu ia menggrepe-grepe abis tubuh mulus menggairahkan ini terutama bagian dada, paha, dan vaginanya. Setelah itu ia meng-ekse gadis ini dalam posisi doggy style dilanjutkan dengan posisi gendong dan terakhir posisi berdiri saat spermanya akhirnya muntah kembali di dalam vagina gadis itu. Setelah selesai, akhirnya mereka mengenakan pakaiannya masing-masing. Mula-mula Henny keluar terlebih dahulu. Setelah situasi dilihatnya aman, ia memberi isyarat ke Kosim untuk segera keluar. Akhirnya keluarlah mereka ke arah berlawanan.
“Lama banget sih kamu di dalam!” kata ayahnya dengan ketus. “Maunya disuruh bantuin, sekarang jadi sudah selesai semuanya,” gerutunya lagi. Henny hanya diam saja tak menjawab. Ayahnya ingin mengatainya lagi saat dilihatnya Kosim berjalan di dekat situ.
“Kosim! Ngapain kamu disini?” hardiknya ke supir itu. 
“Eh, anu Tuan, saya dari halaman samping mau numpang lewat ke belakang. Permisi Tuan.” 
“Lain kali kamu jangan masuk ke dalam kalau nggak dipanggil. Kalo mau ke belakang, lewat halaman luar sana. Mengerti?” hardik tuannya lagi.
“Baik, Tuan. Baik,” katanya sambil berjalan ngeloyor pergi karena tak ingin mendengar makian tuannya lebih lanjut.  
Ayah Henny itu sama sekali tak menyangka kalau supirnya baru selesai mengeksekusi anak gadisnya. Padahal saat itu penis Kosim masih belum kering oleh sperma. Juga ia kurang jeli melihat keanehan sikap putrinya saat itu. Untung saja mami Henny tak ada disana. Seandainya ada, tentu ia bisa mencium gelagat tak beres dengan putrinya. Karena saat itu Henny tak memakai celana dalam di balik rok seragam abu-abunya. Jalannya juga agak aneh karena vaginanya masih berdenyut-denyut rasanya setelah baru saja selesai dieksekusi secara perkasa oleh penis ukuran besar. Sementara sebagian sperma Kosim juga mengalir turun ke luar dari vaginanya, membuat rok bagian belakangnya menjadi basah. 
–@@@@–
“Asyik juga ya nganterin dan nunggu di sekolah ini. Bisa cuci mata. Murid-murid ceweknya cakep-cakep. Hehehehe….” kata supir itu yang diikuti dengan tawa canda para supir lainnya. Kebetulan saat itu ada dua murid cewek sekolah siang berjalan masuk, yang seketika langsung jadi santapan mata para supir yang sedang nongkrong itu. Memang sekolah Liani dan Henny itu termasuk sekolah elit yang hampir seluruh muridnya dari kalangan atas, baik yang kalangan Indonesia asli maupun yang Chinese. 
“Tapi lebih beruntung lagi kita-kita yang punya anak majikan cewek. Hehehe. Sesekali bisa dapet rejeki ngeliat pemandangan indah,” timpal seorang supir lain. “Seperti beberapa hari lalu, aku beruntung ngeliat Non Farida pake baju senam. Badannya sexy, bok. Anaknya cantik lagi. Hitam manis. Wajahnya mirip artis siapa itu… Aura Kasih.”
“Ah, nggak cuma kamu aja,” timpal supir lain tak mau kalah. “Aku juga. Minggu lalu aku ngeliat Liani pake celana pendek banget dan kaus ketat. Keliatan lekukan dadanya. Rupanya dia kaget waktu ngeliat aku, tapi ya apa mau dikata hehehe. Lha wong aku udah terlanjur ngeliat. Tapi sumpah, kulitnya itu, aduuh, mulus banget. Jadi gemes rasane aku,” kata supir Liani yang tentunya tak lain adalah Pak Sripto. “Apalagi ngeliat wajahnya yang polos gitu, jadi pengin molosin tubuhnya juga. Hahaha.”
“Ah! Itu sih nggak seberapa. Yang kalian lihat cuma bagian luarnya. Sedangkan aku, kemarin aku ngeliat Felicia turun dari mobil roknya terbuka. Jadilah kelihatan pahanya yang putih mulus dan celana dalamnya warna merah. Hehehehe.”
“Kalian semua masih kalah sama aku. Dua hari lalu nih, pas aku lagi nyiram tanaman, aku ngeliat dari jendela, Non Firda ganti baju. Tahu nggak, baju atasnya itu dibuka semua, termasuk BH-nya. Jadi aku bisa ngeliat susunya. Gede lho. Masih kenceng lagi. Dan lumayan lama juga ngeliatnya. Hehehe.”
“Oh ya?” seru supir yang lain dengan kagum atas rejeki temannya itu.
“Firda itu yang mana sih?”
“Itu tuh yang anaknya kurus tinggi dan cakep.”
“Yang bokapnya jenderal bukan?”
“Betul.”
“Wah, gila juga lu. Berani main-main sama anaknya jenderal. Kena gaplok bapaknya tahu rasa.”
“Ah, khan bapaknya kaga tahu. Hehehe. Tapi mau digaplok juga nggak apa-apa, kalo boleh ngeliat susunya. Huahahaaa….”
Demikianlah percakapan “kaum bawah” para supir. Ternyata, di balik sikap hormat yang ditunjukkan kepada majikan, diam-diam mereka memendam rasa mupeng juga terhadap anak majikan masing-masing yang muda dan cantik-cantik itu.  
“Nah, ini dia jagoan kita datang. Gimana kabarmu, Sim,” tanya seorang supir kepada Kosim yang baru datang.
“Wah, kamu ketinggalan kereta. Kita tadi ngomongin anak majikan kita yang cantik-cantik sexy-sexy dan mulus-mulus itu. Hahaha. Kamu sendiri gimana, ada pengalaman asyik dengan anak cewek juraganmu yang cantik itu?”
“Tadi Sripto pernah ngeliat Liani dengan pakaian minim. Usep ngeliat Farida pake baju senam. Wawon ngeliat celana dalam Felicia. Aku ngeliat susunya Firda dari luar jendela,” kata supir itu dengan bangga karena dirinya yang paling “menang” diantara yang lain. “Nah, kamu sendiri gimana? Jangan-jangan cuman nganter jemput doang. Hahahaha.”
“Aaah! Semua yang kalian ceritain itu… kagak laku! Kamu yang cuman ngeliat susunya dari jauh aja udah bangga. Apaan tuh! Kayak aku donk,” kata Kosim sambil menepuk dadanya. “Yang namanya Henny anak majikanku tuh, sudah aku bikin kagak perawan dari sejak kapan-kapan. Kemarin aku baru ngentotin dia lagi. Nggak cuman sekali, tapi dua kali. Sekali di ruang tengah. Sekali di kamar mandi. Padahal kedua majikanku ada di dalam rumah. Dan kalian semua tahu sendiri khan, Henny itu cakepnya kayak gimana. Tapi dia sudah kenyang aku bolongin terus menerus. Malah dianya jadi ketagihan juga. Mau posisi apa aja, sudah pernah aku jalanin. Malah batangku ini sudah sering disepongin sama dia… sampe muncrat kemana-mana di wajahnya. Atau kalo nggak, disesep abis sama dia. Tapi yang paling berkesan tuh, waktu aku perawanin pertama kali. Waktu itu darahnya keluar banyak banget menodai spreinya. Heheheh…. pertanda kalau sudah pernah aku nodai,” kata Kosim sambil terkekeh-kekeh penuh kebanggaan. “Sudah anaknya cakep. Kulitnya putih mulus. Bisa memerawani pula. Itu baru prestasi!”
“Yang paling bikin aku paling gemes, pentilnya itu loh. Warnanya kemerahan. Asyik banget dimainin. Huahahaaa…..”
“Nah, itu dia, yang punya pentil merah sudah datang. Yuk, aku jalan dulu. Abis ini mau langsung ngenyot-ngenyot sambil ngentotin dia lagi. Byeee,” kata Kosim saat melihat Henny berjalan keluar, meninggalkan kumpulan supir itu yang mulutnya semua pada menganga mendengar ceritanya.
–@@@@–
Tak terasa waktu berlalu hampir 3 bulan lamanya sejak Kosim memerawani Henny. Sehingga telah 3 bulan pula hampir setiap hari Henny dieksekusi oleh Kosim kecuali saat menstruasi. Bahkan total-total tentu telah lebih dari 100 kali banyaknya pengeksekusian itu terjadi karena beberapa kali supir itu mengeksekusi gadis majikannya lebih dari sekali dalam sehari. Sementara itu kini sekolah telah libur untuk persiapan ujian akhir. Seharusnya masa-masa liburan itu digunakan untuk belajar. Namun bagi Henny, justru masa-masa ini ia semakin gencar dieksekusi oleh Kosim karena sehari-harinya ia berada di rumah terus. Sementara, ia jadi nggak konsen untuk belajar. Malam itu kembali Kosim mendekatinya secara diam-diam untuk mengajaknya bermain seks. Lagi-lagi Henny memenuhi permintaan Kosim. Tak lama kemudian keduanya telah telanjang bulat di sofa. Segera Kosim menindih dan menciumi Henny sambil merangsangnya. Setelah itu segera gadis cantik itu dieksekusinya. Saat itu ruangan telah gelap karena para penghuninya telah pada tidur semua (kecuali mereka berdua tentunya). Saat itu Henny mengeluarkan suara mendesah-desah saat dieksekusi Kosim dalam kegelapan. Tiba-tiba terjadilah peristiwa yang mengejutkan semua orang. Karena lampu di ruang tamu itu tiba-tiba menyala dan….terdengar suara orang menghardik dengan keras,
“HENNY! Apa yang kamu lakukan!!” suara ayahnya begitu menggelegar membuat mereka berdua terkejut.
Namun ayahnya juga tak kalah terkejutnya melihat putrinya dalam keadaan telanjang bulat bersama Kosim yang juga telanjang bulat. Apalagi saat ia melihat penis Kosim sedang berada di dalam vagina Henny! Mula-mula ayah Henny dengan marah berusaha menghajar Kosim.
“Bajingan kamu!” desisnya sambil tinjunya menghantam pipi Kosim.
Setelah itu serangan berikutnya berhasil ditangkis Kosim. Sambil menangkis, ia melanjutkan gerakan penisnya maju mundur mengobok-obok anak gadisnya, membuat ia semakin marah. Sementara Henny yang melihat ayahnya muncul tiba-tiba langsung menjerit dan berusaha menutupi tubuh telanjangnya. Padahal saat itu ia dalam keadaan setengah “fly” karena hunjaman penis Kosim yang gagah perkasa di dalam tubuhnya. Situasinya sungguh kacau balau. Plokk! Kembali tonjokan ayah gadis itu mengenai lengannya.
“Ayo, lepaskan bangsat!” teriaknya.
“Papiii!” jerit Henny, dan… “Ahhh… ahhhh….ahhhh….” suara Henny sesaat kemudian.
Karena…, shleeb…shlebb…shleebb… Kosim masih terus menyetubuhinya.
“Aduuh, Henny! Apa yang kau lakukan Nak,” suara ibunya yang juga muncul sambil menangis terisak-isak.
“Mamiii…” teriak Henny melihat ibunya tiba-tiba shock.
Bukk! Anjing! Bangsat!!
“Aduuh Henny… Kok bisa-bisanya kamu pacaran sama supir… Gimana masa depanmu nak? Masa mau kawin sama supir? Apalagi dia sudah punya anak istri.”
… %#$&#%@*
Apa yang terjadi setelah itu semakin kacau dan tak terkendali. Akhirnya Kosim mencabut juga penisnya dari dalam tubuh Henny karena mau tak mau ia harus membela diri. Setelah barusan menyetubuhi anak gadisnya kini ia beradu pukul dengan bokapnya. Sementara Henny menjerit-jerit. Dan ibunya teler melihat itu semua. Malam itu Kosim langsung diusir dari rumah itu dengan badan babak belur. Sementara ibu Henny masih shock melihat putrinya main gila dengan supir. Ayahnya juga agak babak belur. Ia yang mula-mula bersikap garang juga merasa hancur dan malu karena tak menyangka perbuatan putrinya. Sedangkan Henny juga depresi berat, akibat campur aduk rasa marah, sedih, malu, takut, dan lain-lainnya. Kejadian malam itu sugguh suatu malapetaka besar  bagi semuanya. Rupanya Henny kalah cerdik dibanding sahabatnya. Seandainya Liani yang melakukan itu, tak akan sampai tertangkap basah secara konyol seperti ini, dimana pada akhirnya hanya menyulitkan semua orang saja, baik yang tertangkap basah maupun yang menangkap basah. 
–@@@@–
Dua hari kemudian, Henny kabur tanpa pamit dari rumahnya sambil membawa barang-barangnya dan sejumlah uang dan benda berharga lain. Ia hanya meninggalkan secarik surat yang isinya:
Kepada Mami dan Papi,
Maafkan Henny yang telah kabur dari rumah. Namun aku telah memutuskan semuanya. Aku meninggalkan rumah ini karena tak bisa hidup tanpa Mas Kosim. Dia adalah orang yang paling baik di dunia ini. Aku mencintainya sepenuh hati. Aku tak peduli dengan masalah sara, golongan, umur, pekerjaan, latar belakang, dan semuanya yang Mami dan Papi omongin tentang dia. Yang penting dialah orang yang bisa membahagiakan Henny. Bahkan seandainya benar ia telah beranak istri, aku rela menjadi istri keduanya dan mengurus anaknya. Karena aku sungguh mencintainya. Kemana pun ia pergi akan kuikuti. Apapun tantangannya, semua resiko akan aku hadapi, selama ada Mas Kosim yang  selalu melindungiku dan mencintaiku.
Sebaliknya, aku sungguh muak dan benci dengan kehidupan di dalam rumah ini. Karena Mami adalah orang yang munafik dan Papi adalah orang yang sama sekali tak punya perasaan! Apapun yang kukerjakan selalu salah. Jadi, maafkan Henny kalau akhirnya Henny memutuskan untuk mengikuti Mas Kosim dan meninggalkan Mami dan Papi. Mungkin kepergianku ini justru membuat Mami dan Papi jadi bahagia, karena kini tak perlu lagi melihat anak pembawa sial yang bodoh dan tolol yang bikin mata sakit.
Kepergianku ini juga membuktikan kalau aku tak perlu hidup tergantung uang Papi dan Mami lagi. Aku juga bisa menerima dengan lapang hati seandainya Papi dan Mami yang karena marah dengan Henny tak ingin mengakui anak lagi.

Tambahan buat Papi:
-         Kali ini Henny nggak akan melakukan kesalahan yang sama seperti dulu, nurutin perintah Papi ngebuang bonekaku. Kali ini aku memilih mengikuti kata hatiku sendiri, yaitu pergi dari rumah neraka ini untuk hidup bebas bersama Mas Kosim.
-         Aku harap Papi bahagia membaca ini karena harapan Papi akhirnya terkabul dengan aku mendapat jodoh seorang supir.

Semoga Mami dan Papi sehat selalu.

Salam,
Henny.

–@@@@–
“Ah, Mas, aku senang sekali bisa ketemu dengan Mas lagi,” bisik Henny kepada Kosim yang memeluk bahunya. Mereka berjalan berdua sambil berpelukan, tanpa mempedulikan tatapan mata banyak orang yang memandang dengan aneh. Bagi Henny, dunia seolah milik mereka berdua. Sementara Kosim menatap balik kepada orang-orang yang memandangi mereka itu dengan penuh rasa bangga. Terutama kepada cowok-cowok yang memandang dengan rasa iri, cewek berwajah oriental secakep ini kok bisa-bisanya mau dengan pria jelek dan agak tua yang tampangnya amburadul seperti tukang becak itu. Untuk memperkuat kalau gadis cantik ini adalah “aset miliknya”, Kosim sengaja secara demonstratif memeluk lebih erat gadis ini dan meraba-raba pinggang dan pantat gadis ini di depan orang banyak itu sambil sesekali mencium rambut panjangnya. Namun Henny tak menyadari itu semua. Karena ia terhanyut oleh perasaan bebasnya dari masa lalu dan harapan indahnya untuk masa depan. Mungkin malam itu adalah saat paling indah sepanjang hidupnya kalau dibandingkan dengan masa lalunya, dan mungkin juga dengan masa depannya.
–@@@@–
Henny tak muncul ke sekolah saat hari pertama Ujian Akhir Nasional. Begitu pula hari kedua, dan seterusnya. Guru wali kelas yang berusaha menghubungi rumahnya, tak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Demikian pula teman-temannya yang berusaha menghubunginya, termasuk Liani yang paling sibuk mencarinya. Keluarga Henny cuma memberitahu kalau Henny telah melanjutkan sekolah ke luar negeri. Hanya itu informasi yang didapat. Setelah itu, mereka cenderung menutup diri. Tak seorang pun teman Henny yang menduga, di saat mereka sedang sibuk mencari-cari dirinya, ia sedang mengikuti upacara pernikahan kilat dan diam-diam dengan Kosim tanpa kehadiran seorang pun anggota keluarganya. Kini ia telah sah menjadi istri Kosim bekas supirnya, atau tepatnya istri keduanya.
–@@@@–
Begitu check-in di hotel bintang satu itu, Kosim langsung berkata,” Melihat reaksi orang-orang rasis tadi, bikin aku makin napsu aja untuk ngentotin kamu. Padahal mereka juga sama-sama pribumi. Tapi rupanya mereka iri sama aku, nggak terima ada kaumnya yang bisa menikahi cewek cina seperti kamu. Yuk, aku naikin kamu sekarang, aku udah pengin banget nih. Sekarang waktunya kamu melakukan kewajibanmu sebagai istri,” katanya sambil melucuti pakaian Henny. Rupanya ia tak ingin menunggu lama-lama lagi untuk segera menikmati surga dunia dengan bini barunya. Meski kini ia harus melupakan mimpinya untuk mendapatkan harta keluarga gadis ini, namun paling tidak ia masih bisa menikmati kemolekan tubuhnya. Dengan gagah perkasa, penisnya bergerak maju mundur mengoyak-ngoyak tubuh vagina gadis berusia 18 tahun itu. Sementara Henny terus mendesah-desah dengan nada tinggi saat suaminya dengan penuh kemupengan terus menyetubuhinya sambil mengenyot-ngenyot buah dadanya yang putih mulus menggairahkan itu. Saat sudah hampir tak tahan lagi, Kosim mengeluarkan penisnya dan dimasukkan ke dalam mulut istrinya. Setelah disepong-sepong…penisnya yang perkasa itu akhirnya memuntahkan lava hangatnya di dalam, yang sebagian besar tertelan oleh gadis itu. Dan aksi permainan ranjang mereka ditutup dengan Henny menggunakan lidahnya menjilati ujung penis Kosim yang besar itu, membersihkannya dari sisa-sisa sperma yang keluar belakangan. Setelah betul-betul puas dengan permainan lidah istri barunya itu, dan setelah penisnya terkulai lemah, barulah Kosim menariknya keluar dari mulut Henny. Ia duduk terengah-engah, sambil hatinya puas menyaksikan istri elitnya sedang tidur telanjang bulat telentang dengan sebagian spermanya mengalir keluar dari mulutnya, membasahi pipi, leher, dan rambutnya yang disemir kecoklatan. Menyaksikan itu semua, dirinya bagai di atas awang-awang.
Henny setelah bersetubuh dengan Kosim
Henny setelah bersetubuh dengan Kosim
–@@@@–
Malam itu Henny mendapat mimpi aneh. Dalam mimpinya, ia menjadi sebuah boneka kecil yang cantik dan lucu yang selalu dibawa dan disayang-sayang oleh seorang gadis kecil. Namun tiba-tiba gadis itu membencinya dan membanting-banting serta menginjak-injak dirinya sampai dirinya jadi kotor dan tak karuan bentuknya. Setelah itu ia dibuang oleh gadis itu ke tong sampah yang kotor dan bau. Lalu ayah Henny membawa tempat sampah yang berisi dirinya itu untuk diserahkan ke tukang sampah.
“Nih, buang semua isinya,” terdengar suara ayahnya berkata.
“Semuanya? Termasuk boneka itu?” tukang sampah itu bertanya.
“Ya, semuanya termasuk itu.”
Henny berusaha memberontak saat tong sampah tempat dirinya berada itu dituangkan ke gerobak sampah besar yang baunya amat busuk dan penuh dengan lalat, namun bagaimana mungkin seorang boneka kecil yang tak berdaya seperti dirinya mampu melawan kekuatan besar itu? Kini ia merasakan gerobak sampah mulai berjalan menjauhi rumahnya.
“Tidak! Tidak! Jangan bawa pergi aku!” teriak Henny sekuat tenaga sambil berusaha keluar dari gerobak itu.
“Henny! Henny! Jangan pergi kesana! Ayo kembali kesini!” tibat-tiba suara A-ma memanggilnya.
“A-ma! Tolong aku A-ma!” teriak Henny ketakutan. Sementara gerobak itu berjalan semakin cepat.
“Henny! Tunggu. Tunggu. A-ma akan mengambilmu kembali.” Dilihatnya A-ma berjalan mendekatinya.
“Hehehehe…. Kau tak akan bisa kemana-mana!” kata tukang sampah itu mengejeknya sambil tertawa terkekeh-kekeh. Dan ia semakin mempercepat jalannya. Sehingga A-ma yang sudah tua tak bisa mengejarnya.
“Hehehehe…. Kau tak akan bisa kemana-mana!” lagi-lagi tukang sampah itu berkata.
“A-ma!! A-ma! Tungguuuuuuu!! Huhuhuhuhu……” Henny menangis tersedu-sedu melihat A-ma  ketinggalan makin lama makin jauh. “Stop Pak! Stop! Stop!” ia memohon kepada tukang sampah itu. Sebuah permohonan yang sia-sia karena tukang sampah itu justru makin berlari. Membuat A-ma kini hanya menjadi sebuah bayang-bayang saja yang semakin mengecil sampai akhirnya lenyap dari pandangannya sama sekali. “A-maaaaaaaaaaaaaaa!!!”
“Sekarang kau adalah milikku… Huahahahahaaa…..,” tukang sampah itu menatapnya dengan bengis dan mentertawai dirinya yang amat ketakutan itu. Ia tak bisa melihat wajah tukang sampah itu karena posisi matahari yang tepat di belakang orang itu membuat matanya silau. Kini tukang sampah itu berlari semakin cepat membuat ia tak bisa melihat apa-apa selain bayangan-bayangan tak jelas bentuknya yang begitu cepat berkelebat.
“Tidaaakkkkkkkk! Tidaaakkkkkkkk! Tidaaakkkkkkkk,” Henny berteriak sekuat tenaga sambil meronta-ronta.
Namun tak ada yang mendengarnya karena meski ia berteriak sekuat tenaga, namun teriakannya makin lama makin kecil sampai akhirnya ia berteriak dalam kebisuan. Kini tubuhnya terguncang-guncang karena gerobak itu melewati jalan berbatu cadas besar-besar dengan kecepatan tinggi. Juga ia menjadi sesak napas. Entah kenapa, ia sulit sekali bernapas.
….
….
“Henny! Bangun Henny! Bangun!” terdengar suara orang memanggilnya dan mengguncang-guncang badannya.
“Henny! Bangun! Tenang sayang. Jangan berteriak-teriak begitu!” kata orang itu yang satu tangannya masih mengguncang-guncang dirinya sementara tangan satunya menutup mulutnya.
Akhirnya Henny mulai tenang dan tak berteriak lagi. Kini ia mulai sadar. Tubuhnya terasa lemas. Keringat membasahi dirinya. Henny secara berangsur mulai pulih kesadarannya.
“Tenang sayang. Kamu tadi hanya mimpi buruk. Tapi kini kamu sudah bangun jadi tak perlu takut lagi,” kata orang itu.
Saat itu kedua mata Henny telah terbuka, namun karena baru bangun jadi masih belum beradaptasi secara normal sehingga ia belum bisa melihat fokus. Karena itu ia tak bisa melihat jelas wajah orang di dekatnya itu. Apalagi di belakang orang itu ada lampu meja yang menyala terang yang membuatnya silau, seperti sinar matahari yang menyilaukan matanya di dalam mimpinya tadi. Namun saat orang itu berbicara ia seketika langsung mengenali orang itu melalui suaranya. Dan seketika seluruh tubuhnya menjadi tegang karena suara itu sama persis dengan suara tukang sampah tadi!
“Kamu nggak perlu takut akan mimpi buruk, manis. Karena sekarang ada aku yang akan selalu tidur bersamamu,” kata orang itu sambil meraba-raba dagu dan bahu putih Henny. Mata Henny yang secara berangsur-angsur pulih kembali kini bisa melihat jelas wajah Kosim suaminya!
Copyright © 2015 CERITA DEWASA Design by bokep - All Rights Reserved