–@@@@–
Seorang pria berjalan memasuki hotel bintang satu di pinggiran kota.
Penampilannya agak di bawah standard, begitu pula gayanya. Nampak kalau
ia bukan orang berpendidikan. Tampangnya seperti tukang becak, kuli
bangunan, atau maksimal seorang supir.
“Bisa saya bantu, Pak?” tanya pria muda resepsionis yang ganteng dan berpakaian rapi itu dengan sikap acuh dan asal-asalan.
Paling-paling ini orang datang buat minta sumbangan, pikirnya. Namun
sikapnya seketika berubah menjadi pandangan penuh keheranan karena pria
itu diikuti oleh gadis cantik yang langsung berdiri di dekat pria tadi.
Selain putih dan cantik penampilannya juga high class. Usia gadis ini
masih sangat muda, sedangkan pria itu hampir 30 tahun.
“Minta kamar semalam!” kata pria itu dengan suara keras dan gaya
bicara kasar. “Baik, tunggu sebentar” kata resepsionis itu dengan sopan
meski hatinya penasaran.
Dilihatnya lagi gadis itu sekilas. Baru kali ini ada cewek se-high
class dia mampir di hotel ini. Dan anehnya, ia tidak datang dengan
keluarganya padahal hari sudah malam. Tapi justru dengan pria yang lebih
tua dan penampilannya sungguh jomplang banget dengan dirinya.
Seandainya ia datang dengan cowoknya, itu masih bisa dimaklumi karena
jaman sekarang banyak anak muda yang suka “check-in”. Namun pria ini
sama sekali nggak ada tampang untuk jadi cowoknya. Dibilang saudara juga
kayaknya nggak mungkin. Cewek itu begitu cakep putih bening
berpenampilan high class. Sedangkan pria itu selain nggak cakep sama
sekali, berkulit sawo matang kehitaman, juga penampilan dan gayanya
begitu low class. Pokoknya sama sekali nggak ada mirip-miripnya dengan
gadis itu. Kalo dibilang mucikari dan ayamnya, masa seh cewek bening
high class kayak gini sampe jadi ayam? Apalagi ayam kelas ecek-ecek yang
diasuh pria kusut macam gini dan beroperasi di hotel ini. Kalo dibilang
ayam dan pelanggannya lebih aneh lagi, mana mungkin pria kayak gitu
sanggup membayar cewek ini? Hmm, mungkin gadis ini anak orang kaya yang
kabur dari rumahnya, entah karena alasan apa; dan ia menyuruh supirnya
untuk mengantarnya, batinnya sambil berusaha menenangkan hatinya. Itulah
penjelasan yang paling masuk akal baginya.
“Baik,” katanya akhirnya setelah mencek daftar kamarnya…,” Jadi kamar
semalam buat adik satu orang ya?” tanya resepsionis itu sambil
memandang ke gadis muda itu, seperti ingin mendapatkan kepastian atas
pikirannya tadi.
“Bukan untuk dia saja, tapi untuk KITA BERDUA,” justru pria di
sampingnya itu yang menjawab dengan suara keras dan dengan penekanan dua
kata terakhir.
Resepsionis itu terkejut dengan apa yang dilihat dan didengarnya.
Barusan ia bisa melihat sikap gadis itu yang jadi serba salah dan tak
bisa segera menjawab. Ditambah dengan sikap serta jawaban pria itu,
membuat semua ini sungguh amat tak masuk akal. Namun ia langsung
tersenyum dan menjaga profesionalitas pekerjaannya.
“Baik. Kebetulan kita masih ada beberapa kamar kosong. Jadi saya
kasih kamar di lantai satu buat adik dan kamar di lantai dua buat
bapak,” kata resepsionis itu sambil memandang lagi ke arah gadis itu
tanpa mempedulikan pria kucel di sebelahnya sama sekali.
Bagaimana pun ia adalah cowok normal. Tentu ia mudah terpikat oleh
gadis secantik ini, meski mungkin masih terlalu muda baginya.
Sebaliknya, ia sama sekali tak bisa menerima kalau pria yang
“spesifikasinya” jauh lebih rendah darinya ini bisa ada something dengan
gadis ini.
“Goblok kamu! Tentu SATU KAMAR buat KITA BERDUA, Bego!” bentak pria
lecek itu tanpa sopan santun lagi, rupanya ia merasa dipermainkan dan
dilecehkan oleh resepsionis muda ini.
“Maaf Pak. Boleh saya tahu apa hubungan Bapak dengan adik ini?” tanya
resepsionis itu menantang balik. “Hotel kami hanya menerima pasangan
suami istri yang sah saja atau saudara dekat.”
Tentu ia berbohong, karena hotel itu sering dijadikan tempat nginap
gadis-gadis muda yang datang dengan cowoknya atau cewek-cewek bookingan
dengan pria-pria berumur. Namun mereka semua memang cewek-cewek bispak
atau bisyar. Saat ini kasusnya sungguh beda. Gadis ini begitu high class
sementara pria yang mendampinginya begitu low class. Tentu itu
mengundang kecurigaan dalam dirinya, apalagi dalam dirinya telah timbul
bara-bara api cemburu. Sungguh aneh sekali, pikirnya. Tak mungkin mereka
pacaran. Cewek kayak gini bisa dengan gampang mendapatkan cowok
seumuran yang jauh lebih keren dan bermodal. Hanya ada satu jawaban,
tentu cewek ini abis kena gendam di jalan lalu kini akan dinikmati oleh
bangsat ini, pikirnya. Oleh karena itu kini ia bersemangat untuk
menolong gadis ini. Apalagi sejak pertama kali ngeliat, seketika
langsung timbul rasa suka dalam dirinya. Kini ia membayangkan dirinya
menjadi pangeran penolong, yang membebaskan gadis ini dari penjahat yang
ingin mencabulinya. Setelah itu, gadis yang berhutang budi kepadanya
akhirnya menyerahkan hatinya dan menjadi pacarnya. Sementara kedua
orangtuanya yang merasa berterima kasih kepadanya juga menyetujui
hubungan mereka. Sehingga tak lama kemudian ia akan diangkat jadi
menantu. Pada saat itu, ia tak perlu lagi bekerja di hotel bulukan ini
dan berurusan dengan para pelacur rendahan.
“Bangsat! Anjing kamu! Memang kamu kira aku tak pantas punya istri
dia, hah? Kau kira aku cuma supir rendahan, begitu?” bentak pria itu
marah dengan suara begitu keras sampai terdengar ke bagian dalam dan
gadis itu seketika menundukkan wajahnya.
Saat itu muncullah manager hotel dari dalam ruangannya.
“Faisal, ada apa ini?” tanyanya kepada resepsionis itu.
“Pak, Bapak ini ingin menginap satu kamar. Untuk itu saya ingin
memastikan identitas mereka. Namun Bapak ini malah jadi marah-marah,”
kata resepsionis muda itu agak emosi juga.
“Ooh, maafkan anak buah saya, Pak,” kata manager itu sambil tersenyum
ramah. “Tetapi mohon pengertiannya juga. Dia hanya menjalankan prosedur
normal. Tentu Bapak dan adik boleh menginap satu kamar. Namun
sebelumnya, bisa saya lihat KTP-nya Pak?” tanyanya. “Dan KTP adik juga,”
katanya menatap gadis itu.
Sama seperti anak buahnya, dalam hati ia juga merasa aneh dengan
pemandangan di depan matanya. Namun ia berusaha bersikap lebih
professional dibanding stafnya.
“Maaf, Pak. Tetapi alamat Bapak dan adik ini jelas sekali berbeda,”
kata manager itu setelah melihat alamat rumah gadis itu begitu hebat
mentereng sementara pria itu tinggal di gang kumuh. “Tanpa ada bukti
saudara dekat atau suami istri, mohon maaf Pak, kami tak bisa memberikan
satu kamar untuk berdua,” kata manager itu yang meski suaranya sopan
namun tegas.
Ia juga merasa kalau ada yang nggak beres disini. Apalagi dilihatnya umur gadis ini sesuai KTP-nya baru 18 tahun.
“Jadi kalian nggak percaya kalau kita suami istri, hah?” dengus pria
itu dengan sikap begitu menyebalkan, terutama di mata Faisal. “Ayo,
tunjukkan surat nikahnya,” perintahnya ke gadis muda itu.
Tanpa berkata apa-apa, dengan patuh gadis itu membuka tas Louis Vuitton coklatnya dan mengeluarkan secarik kertas.
“Nah, lihat ini. Silakan periksa sendiri!” kata pria itu menaruh kertas sambil menggebrak meja di depannya.
Faisal dan managernya segera mengecek surat dan KTP mereka itu dengan
seksama. Wajah keduanya langsung berubah, terutama Faisal yang masih
muda, single dan belum punya pacar. Ia berkali-kali melihat dan
mencocokkan. Wajahnya berubah merah padam. Surat itu adalah bukti
pernikahan mereka yang sah, dengan nama dan foto mereka di surat itu,
KTP, serta wajah mereka berdua begitu cocok dan seusai. Manager itu
mengangguk-angguk. Namun Faisal masih penasaran. Ia bertanya ke gadis
itu untuk memastikan secara eksplisit,
”Jadi betul adik adalah istri Bapak ini?” tanyanya.
Gadis itu menganggukkan kepalanya. “Betul Mas,” jawabnya dengan suara halus.
“Kapan adik menikah dengan… eh, Bapak ini?” tanyanya lagi.
“Siang tadi,” jawab gadis itu.
Jadi mereka adalah pengantin baru yang ingin melewatkan malam
pertama. Melihat bukti dokumen sah yang ada dan mendengar jawaban
langsung dari mulut gadis itu sendiri, akhirnya manager itu tak bisa
berbuat apa-apa selain memproses satu kamar untuk mereka berdua.
“Ayo, cepat! Kita sudah pengin masuk kamar nih,” kata pria itu tak
sabar dengan gayanya yang menyebalkan sambil memeluk bahu gadis itu di
depan mereka.
“Baik Pak. Maafkan kami karena tadi kami perlu melakukan pengecekan dulu,” kata manager itu.
“Biayanya 150 ribu dan depositnya juga 150 ribu. Mau dibayar sekarang atau nanti? Pakai cash atau kartu kredit?”
“Bayar aja sekarang,” kata pria kucel itu tak sabar sambil memberi isyarat kepada gadis itu.
Gadis itu membuka dompet Gucci-nya dan mengeluarkan kartu kredit.
….
“Eh, maaf, kartu kreditnya di-reject. Ada kartu kredit lain mungkin?”
“Udah, langsung bayar cash aja kenapa sih,” tukas pria itu lagi
dengan tak sabar kepada gadis itu. Tanpa mengucapkan apa-apa, gadis itu
kembali membuka dompetnya dan mengeluarkan tiga lembar 100 ribuan. Meski
sama-sama merasa aneh, namun baik Faisal dan manager itu tak berkata
apa-apa. Setelah pria dan gadis itu meninggalkan mereka dan masuk ke
kamarnya…
“Anjritt! Nggak cocok bener,” kata Faisal langsung.
“Ya, betul. Hehehe. Seumur-umur kerja di hotel, baru kali ini ngeliat
yang aneh kayak gini. Ceweknya bening gitu, cowoknya kusam banget. Kalo
nggak ngeliat sendiri, nggak akan percaya aku,” timpal managernya.
“Kok mau sih ceweknya?” kata Faisal. Cewek cakep gitu…. dan masih
muda banget, sungguh sayang bisa jatuh ke tangan orang kayak gitu.”
“Hahaha… Sepertinya kamu sirik nih,” canda managernya.
“Kalo cowoknya keren muda cakep atau kaya, ok lah aku masih bisa
memaklumi. Lha kalo orang itu….apa yang dilihat darinya sih? Daripada
sama orang kayak gitu mending sama aku aja,” kata Faisal terang-terangan
mengakui. “Jelas-jelas aku lebih muda dan cakep. Meski aku nggak kaya
tapi jelek-jelek gini sarjana S1. Aku curiga, kayaknya cewek itu kena
pelet deh.”
“Mungkin kamu benar cewek itu kena pelet. Tapi ini sama sekali bukan urusan kita!” kata manger itu menegur Faisal.
“Tapi kalau memang benar, tentu harus kita laporkan polisi Pak, untuk
menolong gadis itu… apalagi tentu kedua orangtuanya khawatir
mencari-carinya. Gadis itu masih sangat muda. Sungguh sayang kalau masa
depannya hancur berantakan gara-gara kena pelet bangsat kurang ajar
itu!”
“Hussh…kamu jangan bicara keras-keras. Belum tentu juga kena pelet.
Bagaimana pun mereka adalah tamu hotel yang harus kita hormati. Dan kamu
harus bersikap profesional, jangan ikuti hatimu seenaknya. Tak bisa
disangkal kalau mereka adalah pasangan suami istri yang SAH. Diluar
itu, urusan tamu sama sekali bukan urusan kita. Nggak usah lapor ke
polisi segala. Kalo memang bener kena pelet dan kawin lari, bisa-bisa
jadi berita masuk koran pagi. Kalo udah gitu nanti kita sendiri yang
bakal repot. Hotel ini bakal sering kena razia polisi. Padahal sebagian
besar tamu kita hanya untuk check-in semalam. Jadi gini, asalkan mereka
nggak berbuat aneh-aneh, sebaiknya kita juga diam-diam saja. Tapi besok,
kalau mereka ingin extend kamar, bilang aja semua kamar penuh. Supaya
mereka segera pergi dari sini. Lain kali, jangan terima pasangan yang
aneh-aneh lagi. Mengerti kamu?”
“Baik, Pak.”
“Nah, sekarang ayo kamu kembali bekerja,” kata manager itu
meninggalkan Faisal yang hatinya masih penasaran memikirkan gadis itu.
–@@@@–
“Dasar anak tolol! Bodoh! Kok ditaruh disitu sih. Kenapa kamu ini selalu aja bikin masalah??!”
“Udah, Pi. Sabar,” kata wanita berusia 40 tahunan itu menyabarkan suaminya.
“Gimana bisa sabar. Anakmu itu gobloknya nggak ada habis-habisnya!”
“Sudah, kamu nggak usah ikut pergi!” bentak pria itu yang membuat
dirinya terkejut dan seketika menatap ayahnya. Ia tak percaya dengan
pendengarannya sendiri. Ia menatap ayahnya dengan pandangan
bertanya-tanya dan berharap semoga semua ini hanyalah guyonan saja.
“Ayo, masuk ke kamarmu sana. Cepat!!” teriak ayahnya bergemuruh
bagaikan palu godam raksasa yang menghancurkan kristal-kristal harapan
dalam dirinya. Rupanya ayahnya sama sekali tidak main-main. Namun ia
masih belum putus asa. Ia menatap ke ibunya. Timbul secercah harapan di
hatinya. Karena wajah ibunya begitu lembut menatapya dengan penuh
simpati. Saat ibunya mulai menggerakkan bibirnya, ia memandangnya dengan
tersenyum manis penuh harapan.
”Ayo turuti perintah Papi. Masuk ke kamarmu sekarang, gih.” Suara
ibunya itu begitu halus dan lembut, namun serasa pisau tajam yang
menusuk hatinya. Bantuan yang tadinya diharapkan ternyata justru
menyerang balik dan menghancurkan harapan terakhirnya. Kini ia
terbengong-bengong saking shock-nya.
“AYO MASUK!!!” teriak ayahnya dengan kasar bagaikan membentak anjing bulukan saja.
Dengan lunglai akhirnya ia berdiri dan berjalan ke kamarnya. Matanya
merah dan basah. Padahal ia telah secara khusus berdandan dengan cantik
dan memakai pakaiannya yang paling indah untuk acara malam itu. Bahkan
sejak siang tadi ia begitu ceria tak sabar menunggu saat-saat indah
malam ini. Namun kini harapan indahnya itu hancur lebur. Dan semua ini
gara-gara ia cuma salah menaruh gelas! Ya. Hanya sebuah gelas minum
biasa!
“Sudah gede masih tetap aja dipelihara gobloknya. Kapan sih kamu bisa pintar?” pria itu terus mengata-ngatai dirinya.
“Sudah, sudah, sudah, sabar Pi. Khan dia sudah jalan masuk tuh.”
“Ini semua gara-gara salah kamu juga. Gara-gara terlalu dimanjain.
Sudah tahu goblok masih juga dimanjain! Ngeliat anakmu itu bikin mataku
sakit aja,” ayahnya terus memaki-maki dirinya dan baru berhenti setelah
ia betul-betul masuk ke dalam kamarnya.
Begitu sampai di kamar, ia langsung jatuh terduduk di dekat pintu dan
menangis sesenggukan. Riasan wajahnya yang sebelumnya begitu cantik
kini jadi berantakan karena linangan air mata yang terus mengalir di
pipinya. Bahkan bagian atas gaun indahnya juga menjadi basah. Namun ia
tak peduli akan itu semua. Karena baginya kini semuanya sudah tak
berarti lagi.
–@@@@–
Dua gadis berseragam SMA itu sedang duduk berdua dan asyik
berbincang-bincang. Keduanya sama-sama putih dan sama-sama cakep,
meskipun tipe wajah mereka berbeda. Yang satu nampak ceria dengan wajah
innocent. Yang satunya lagi berwajah kalem dan melankolis.
“Kemarin malam lu ngapain aja?” tanya gadis berwajah innocent dan ceria itu.
“Kemarin gua makan di resto jepang sama bokap nyokap dan keluarga
teman bokap,” jawab gadis melankolis itu dengan tersenyum manis.
“Wah, kayaknya bonyok lu sayang banget ya sama lu,” jawab gadis innocent itu dengan nada iri.
“Iya memang bonyok gua sayang banget ama gua, terutama bokap,” timpalnya dengan bersemangat.
“Wah, enak ya lu punya bonyok yang perhatian dan sayang banget ama
lu. Nggak kayak gua,” kata gadis berwajah innocent yang tadinya ceria
itu jadi agak kusut tampangnya.
“Memang lu kemaren ngapain?” tanya balik gadis melankolis itu.
“Aah biasa ajalah, boring,” jawab gadis innocent itu dengan singkat.
“Non Liani, mie pangsit dan mie basonya sudah selesai,” suara Kasman, penjaga warung sekolah memanggilnya.
“Udah gue aja yang ambil,” kata Liani yang berwajah innocent itu langsung berdiri.
“Buat Non Liani dan Non Henny yang baik-baik dan cantik-cantik, aku
kasih bonus masing-masing satu baso dan satu pangsit,” kata Kasman
sambil tersenyum dan melihat ke kedua gadis itu bergantian.
“Wah, makasih lho, Mas,” jawab Liani dengan ramah. Sementara Henny yang mendengarnya juga tersenyum manis.
Setelah itu pembicaraan mereka berlanjut…
“Nanti setelah lulus sekolah, bonyok bakalan ngajak gua jalan-jalan ke Amrik,” kata Henny meneruskan pembicaraannya.
“Iiih, asyiknya. Jangan lupa ntar oleh-olehnya ya,” kata Liani. “Wah,
tapi saat itu…mungkin kita sudah nggak ketemu lagi ya,” katanya dengan
agak cemberut.
“Iya nih. Kita nggak bisa ketemuan lagi,” kata Henny yang berwajah melankolis itu ikutan sedih.
“Gua ada ide…. gimana kalo kita kuliah bareng,” tiba-tiba wajah Liani berubah ceria lagi. “Jadi kita bisa terus temenan!”
“Ah ya, betul. Kita bisa kuliah bareng nanti. Yuk, kita janjian ya?
Hihihi….” kata Henny sambil tertawa ceria. Wajahnya begitu manis
sekali.
“OK, deal. Nanti gua ngomong ke Papi kalo gua mau kuliah bareng
Henny.” “Dan nanti sambil kuliah kita sama-sama cari cowok bareng ya.
Xixixixxi,” tambah Liani sambil tertawa agak malu-malu.
“Eh, jangan salah. Sekarang udah ada cowok yang PDKT sama gua lho,” kata Henny dengan muka agak merah.
“Oh ya? Wah, kok lu kagak bilang-bilang sih. Siapa orangnya? Pasti
keren donk. Trus tanggepan lu gimana?” tanya Liani bertubi-tubi. “Ah,
ngeliat muka lu jadi merah gini, pasti lu-nya juga mau deh,” goda
Liani.
Kedua gadis itu kini larut dalam pembicaraan mereka yang penuh canda
dan kegembiraan, sambil membayangkan masa depan yang penuh dengan
harapan-harapan indah.
“Ya, nanti kita belajar sama-sama dan juga pergi kencan sama-sama ya. Hihihi…,” kata Henny.
Memang masa SMA adalah masa yang paling indah. Saat dimana kita baru
tumbuh dewasa dan memandang dunia luas dengan penuh rasa optimis. Tak
terasa bel tanda istirahat berakhir telah berbunyi.
“Berapa semuanya Mas?” tanya Liani.
“Udah kali ini gua yang bayar aja,” kata Henny sambil mengeluarkan dompetnya.
Setelah itu dua gadis muda yang sama-sama cantik dan penuh rasa
gembira itu berjalan keluar meninggalkan kantin dan juga Kasman, yang
saat itu sedang melamun ke arah mereka yang berjalan menjauh…
–@@@@–
Bukk! Pyyarrrr!
“Goblok! Liat jadi pecah gini!” bentak pria itu membentak anak gadisnya yang berdiri menunduk dengan ketakutan.
“Ma-maaf Pi. Aku nggak sengaja.”
“Kalo jalan pake mata, goblok! Vas bunga ini harganya mahal tahu!”
Seperti malam sebelumnya, lagi-lagi gadis itu kena marah lagi karena
urusan sepele. Padahal vas yang dikatakan “mahal” itu harganya tak lebih
dari tiga ratus ribu, sebuah harga yang sama sekali tak berarti bagi
keluarga kaya seperti mereka. Namun sepertinya pria itu lebih berat
kepada vas bunga seharga tiga ratus ribu dibanding dengan hati putrinya
yang seharusnya tak ternilai itu. Ia sama sekali tak peduli kalau ia
telah (lagi-lagi) membuat hati putrinya hancur berkeping-keping, sama
hancurnya seperti vas bunga itu.
“Henny! Sini kamu!” bentak ayahnya menyuruhnya mendekat.
Dan, begitu gadis berseragam SMA itu berdiri dekat dengannya….
Plakkk! Plaakk!
Tangannya langsung menampar kedua pipi Henny dengan keras sampai
membuat ia menjerit kesakitan. Henny langsung memegang kedua pipinya
yang terasa panas dan merah itu.
“Lain kali kalo jalan buka matamu!” katanya sambil mendorong jidat
putrinya dengan telunjuknya. setelah itu baru ia berjalan
meninggalkannya.
“Ada apa sih Pi, kok ribut-ribut lagi?” tanya istrinya yang muncul dari kamarnya.
“Anakmu tuh lagi-lagi bikin masalah.”
“Sudahlah Pi, sabar. Khan malu didengar sama tetangga dan juga pembantu. Gimana pun dia itu khan anakmu juga.”
“Memangnya kenapa, hah? Biar aja semua orang tahu kalo anak sial itu
betul-betul goblok. Pembantu aja masih lebih pintar dari dia. Semua ini
salahmu, kenapa ngelahirin anak yang goblok dan membawa sial kayak
gini!” kini giliran ayah Henny memaki istrinya.
“Henny!” bentak ibunya. “Lain kali kalo jalan hati-hati donk. Jangan
ceroboh kayak gini terus. Kamu ini memang selalu bikin masalah, selalu
bikin Papi marah,” kata ibunya yang rupanya kesal karena dimarahin
suaminya, kini gilirannya memarahi anaknya sebagai pelampiasan. “Tolong
donk, kamu jadi pintar sedikit gitu loh,” tambah maminya
“menasehatinya”. Sementara Henny hanya menundukkan kepalanya sambil
menahan isak tangis.
“Ah, percuma aja. Dinasehati nggak ada guna. Sudah putus asa aku sama
dia,” kata papinya sambil secara demonstratif menghela napas dan
menggeleng-gelengkan kepalanya. “Siim! Kosiim!” teriak papinya memanggil
supir keluarga.
“Iya Tuan.”
“Ayo mobilnya dikeluarin dulu. Abis ini kita berangkat.”
“Baik Tuan.”
“Kalo kamu ceroboh gini terus, mana ada cowok yang mau sama kamu,” kata maminya meneruskan pelampiasan hatinya lagi.
“Ah, anak kayak gini….HAH, mana ada yang mau. Paling juga nanti dapet jodohnya sama kacung atau supir!”
“Iiih! Papi! Kok ngomongnya kayak gitu sih!” seru Henny dengan tangis
tertahan. Biasanya ia tak berani melawan, namun kali ini rupanya ia tak
bisa menahan hatinya lagi.
“Memang kenapa? Hah! Berani melawan kamu sekarang ya! Apa liat-liat!
Minta ditampar lagi ya!” bentak papinya yang amarahnya meluap melihat
anak gadisnya yang biasanya penurut itu kini berani menantang dirinya
dan memandang balik ke arahnya.
Plakkk! Plakkk!! Kembali gadis itu ditamparnya. Dan.. dijambaknya rambut Henny dengan kasar dan dipukul kepalanya!!
Aduuhh!! Henny menjerit kesakitan dan secara spontan berusaha memberontak.
“Mau melawan kamu Hah! Melawan iya! Dasar bangsat! Anak sial!”
katanya dengan emosi sambil terus memukuli anaknya dan terakhir
didorongnya Henny dengan kasar sampai terjatuh ke lantai. Semua ini
terjadi saat Kosim masih disana sehingga ia bisa melihat semuanya.
Termasuk saat gadis majikannya itu jatuh terjengkang ke lantai, sehingga
rok seragamnya tersingkap dan kedua kakinya terbuka sehingga ia bisa
melihat dengan jelas paha mulus Henny berikut celana dalamnya.
“Sudah, sudah deh Pi. Sabar,” kata maminya mencegah suaminya yang
rupanya masih tak terima dan ingin menghampiri Henny, entah ingin
menendangnya atau apa. Sementara Henny saat itu terduduk sambil menangis
dan sama sekali tak peduli dengan keadaan di sekelilingnya. “Kosim, ayo
kamu keluar dulu!” tukas ibunya menyuruh supir itu segera keluar.
“Baik, Nyonya,” kata supir itu sambil berjalan beringsut-ingsut keluar.
“Ingat ya Henny! Papi yang ngasih makan kamu! Kamu harus bersyukur
Papi masih baik hati nggak ngusir kamu keluar! Kalo nggak, kamu jadi
gelandangan di jalan. Ingat baik-baik itu!” kata ayahnya dengan marah
sebelum pergi.
–@@@@–
Henny
Henny adalah putri kandung Pak Kusuma dan istrinya. Meski ia putri
tunggal dan mereka adalah keluarga kelas menengah yang secara keuangan
cukup mapan, namun nasibnya jauh dari bahagia. Bahkan sejak ia lahir
hidupnya cukup memprihatinkan. Hal ini disebabkan karena ayahnya yang
emosinya tak stabil. Orangnya pemarah dan suka memukuli istri dan
anaknya. Ia sama sekali tak mempedulikan perasaan orang lain, termasuk
ke istri dan anaknya. Yang lebih sial lagi, tak lama setelah Henny
lahir, ayahnya mendapat kecelakaan. Sehingga Henny dianggapnya sebagai
“anak pembawa sial”. Sementara ayahnya begitu membencinya, ibunya
bersikap ambivalen terhadapnya. Saat mereka hanya berdua, sebenarnya
ibunya selalu menunjukkan sikap menyayanginya. Namun di depan ayahnya,
ibunya selalu berbeda 180 derajat. Ia selalu pro dan menjadi antek
setia suaminya, tak peduli perbuatannya itu menghancurkan hati putrinya.
Seperti kejadian kemarin malam dan barusan. Hal-hal seperti itu telah
sering terjadi sejak Henny lahir sampai sekarang. Sehingga, meski di
luarnya ia tampak seperti gadis manis dari keluarga berada, di dalamnya
hatinya begitu rapuh dengan kepercayaan diri yang begitu rendah. Henny,
meski pada kenyataannya ayahnya tak menyukainya dan ibunya juga tak bisa
dibilang secara tulus mencintainya, selalu berusaha menunjukkan hal
yang sebaliknya kepada teman-temannya termasuk berbohong ke sahabat
paling dekatnya, Liani. Seperti siang tadi, ia sengaja berbohong
mengatakan pergi makan malam bersama di resto jepang. Padahal kemarin ia
dihukum dengan sewenang-wenang tak boleh ikut pergi oleh ayahnya.
Sebenarnya baik Henny dan Liani keduanya hampir senasib, sama-sama tak
bahagia di dalam rumah. Bedanya, Liani lebih mau berbicara apa adanya,
paling tidak ke sahabat dekatnya. Sementara Henny orangnya amat sangat
tertutup. Semuanya disembunyikan rapat-rapat. Kini, setelah semuanya
pergi, Henny masih terduduk dan menangis. Ucapan ayahnya barusan begitu
menyakiti hatinya. Apalagi seharusnya kemarin malam mereka makan malam
di resto jepang dengan teman dekat ayahnya sesama pengusaha yang
bisnisnya jauh lebih besar dari ayahnya. Status sosial dengan segala
atributnya tak begitu penting bagi dirinya. Namun yang membuat hatinya
berdebar-debar dan begitu antusias dengan makan malam itu adalah
kehadiran Edward anak teman ayahnya itu. Ia telah bertemu Edward
beberapa kali dan cowok itu pernah dua kali datang ke rumahnya. Ia bisa
merasakan sikap Edward yang begitu spesial dan sedang melakukan PDKT
terhadap dirinya. Sementara diam-diam ia juga tertarik dengan cowok itu.
Karena meski kaya, cowok itu tak sombong, dan juga pintar, dan gagah
dan cakep. Pokoknya Edward adalah cowok ideal baginya. Sementara itu
baik ayah maupun ibu Edward juga suka kepadanya dan bersikap baik.
Bahkan ibunya pernah bilang kalau pihak keluarga sana ingin berusaha
mendekatkan Edward dengan dirinya. Tentu hatinya girang mendengarnya.
Apalagi ayahnya yang jarang-jarang bersikap baik terhadap dirinya juga
setuju dengan itu.
Saat itu dunia seolah jadi milik Henny. Cowok yang diam-diam
disukainya juga menyukai dirinya. Sementara orangtua dari kedua belah
pihak juga sama-sama menyetujui seandainya hubungan mereka berlanjut
lebih jauh. Tentu ini adalah kondisi ideal bagi gadis muda yang sedang
tumbuh benih-benih cinta dalam hatinya. Sehingga ia menunggu momen-momen
yang bakal membahagiakan dirinya itu dengan penuh antusias. Namun
rupanya mimpi indahnya itu akhirnya hancur berantakan. Hanya gara-gara
salah menaruh gelas saja, ayahnya dengan begitu kejam menjatuhkan “vonis
mati” terhadap dirinya, seolah dirinya tak berarti apa-apa. Ia tak bisa
membayangkan apa yang dikatakan ayahnya tentang dirinya kepada mereka.
Mereka semua telah sama-sama tahu kalau kemarin ia bakal ikut. Kini
tentu ayahnya mengatakan hal-hal yang amat jelek tentang dirinya kepada
mereka…seperti yang biasa dilakukannya. Kini ia merasa malu untuk
bertemu mereka. Apalagi barusan ayahnya mengata-ngatai dirinya dengan
begitu rendah. Kini ia mengerti semuanya. Ayahnya memang sedari awal tak
ingin ia ikut. Mungkin karena malu punya putri seperti dirinya. Kini
rasanya seperti mimpi saja bisa bersanding dengan cowok hebat seperti
Edward. Karena memang ia pantasnya hanya dengan kaum kacung dan supir
saja, batinnya sambil menangis terisak-isak. Sebenarnya Henny adalah
seorang gadis muda yang cantik yang nilainya jauh di atas rata-rata.
Anaknya juga pada dasarnya baik. Penampilan fisik oke banget. Wajahnya
selain cakep juga kalem dan menunjukkan kalau ia adalah tipe cewek yang
baik dan setia. Tentu tidak sedikit cowok yang suka dengan cewek
seperti ini. Selain itu juga sebenarnya ia bukan termasuk cewek bodoh.
Hanya karena sering dimarah-marahin dan dikata-katain goblok, bego, dll
sajalah, maka di dalam rumah ia sering melakukan kesalahan-kesalahan
sepele terutama di depan bokapnya. Padahal di luar rumah ia bisa bergaul
dengan wajar. Namun satu kekurangan besar dalam dirinya, yaitu ia punya
rasa kepercayaan diri yang amat rendah. Mungkin itu terjadi karena ia
sehari-harinya selalu dimaki-maki dan direndahkan oleh orangtuanya
sendiri dan juga sering dipukul secara fisik selama hampir seumur
hidupnya. Menurut penelitian seorang ahli, sebenarnya tak susah membuat
anak bahagia. Dengan mencintainya secara tulus dan menerimanya secara
apa adanya, maka jiwanya akan bahagia. Apabila jiwanya bahagia, dengan
sendirinya ia akan tumbuh menjadi orang yang mencintai dirinya sendiri
sehingga ia juga akan mencintai orang-orang lain dan kehidupan di
sekitarnya. Namun yang terjadi pada Henny justru hal sebaliknya. Sejak
kecil ia terus-menerus dimarah-marahi, direndahkan, dan dipukuli.
Benih-benih kehebatan dalam dirinya telah dibunuh secara sistematis oleh
kedua orangtuanya sendiri. Akibatnya kini meski tampak luarnya ia
seorang gadis cantik dari keluarga elit dengan berbagai atribut indah
lainnya, namun kondisi internal sesungguhnya amatlah memprihatinkan. Ia
merasa tak pantas jadi ceweknya Edward. Sikap ini disebabkan oleh rasa
kepercayaan dirinya yang amat rendah. Padahal sesungguhnya ia punya
modal yang jauh dari cukup untuk membuat Edward dan juga banyak cowok
lain jatuh hati kepadanya… seandainya saja ia punya kepercayaan diri
yang cukup. Namun tentu membangkitkan kepercayaan diri sendiri setelah
selama belasan tahun direndahkan dan ditekan habis-habisan oleh
orangtuanya sendiri bukanlah hal mudah (meski juga tak mustahil).
Idealnya orangtua seharusnya melindungi dan menyemangati anaknya untuk
tumbuh hebat, bukannya malah mengecilkan dan membunuh benih-benih
kecemerlangannya. Dengan kondisi seperti ini, bagaimana ia bisa
menghadapi serigala-serigala ganas di dunia luar?
Di dunia ini hanya A-ma (demikian ia memanggil ibunya ibunya) orang
yang menyayangiku, batin Henny dengan pilu. Meski A-ma bukan orang kaya
namun ia begitu tulus menyayanginya. Namun pikiran itu hanyalah ilusi
yang makin membuatnya larut dalam kesedihan karena A-ma telah meninggal
dunia cukup lama. Sehingga kini asumsinya semakin kuat bahwa tak ada
orang yang menyayanginya. Kini ia mengingat kejadian saat ia umur 6
tahun. A-ma memberi hadiah ulang tahun sebuah boneka lucu yang dibuat
dan dijahit dengan tangannya sendiri. Ia begitu gembira saat
menerimanya. Dunia seolah jadi milik Henny kecil. Kemana-mana ia selalu
membawa boneka itu. Karena boneka itu adalah hadiah dari A-ma yang
begitu mencintainya. Bahkan ia jauh lebih menyayangi boneka itu
dibanding hadiah ulang tahun mahal yang dibelikan orangtuanya. Satu hal
yang membuat kesal ayahnya. Pada suatu hari, ayahnya memarahinya karena
satu hal. Namanya anak kecil, saat itu ia tak terlalu memperhatikannya
karena sedang sibuk bermain dengan “sahabatnya” yaitu bonekanya. Melihat
itu ayahnya jadi murka. Segera dirampasnya boneka itu dengan paksa dari
tangan gadis kecil itu. Membuat ia jadi terkejut dan terbelalak
ketakutan melihat “sahabatnya” itu berada dalam genggaman kasar tangan
ayahnya. Namun yang terjadi selanjutnya jauh lebih hebat lagi. Karena
boneka itu segera ditarik dan dirobek-robek kedua kaki dan tangannya
sampai terbelah jadi empat bagian! Kapas yang mengisi tubuh boneka itu
jadi keluar berantakan. Dalam waktu sekejab, boneka lucu hadiah dari
A-ma kini menjadi robekan-robekan kain dan seonggok kapas yang tak
berarti. Masih belum puas dengan itu, ayahnya menginjak-injak sisa-sisa
boneka itu dengan sandalnya. Mata Henny kecil terbelalak ketakutan
menyaksikan itu semua.
“Ayo ambil semuanya dan buang di tempat sampah di luar!” perintah ayahnya kepadanya.
Ia ingat persis kejadian itu, meski telah terjadi lebih dari 10
tahun. Karena ia begitu membenci dirinya saat itu, yang karena ketakutan
mematuhi perintah ayahnya. Ia mengambil sisa-sisa bonekanya dan
dibuangnya di tong sampah luar yang berisi sisa-sisa makanan,
buah-buahan busuk, dan barang-barang kotor lainnya. Melihat itu, ayahnya
tertawa terbahak-bahak “memuji” dirinya sebelum meninggalkannya.
Kemudian tong sampah itu dibawa pembantunya yang berjalan keluar menuju
pagar depan. Ia langsung berlari keluar untuk melihat apa yang terjadi
dari jendela depan. Rupanya tong itu diserahkan ke tukang sampah. Ia
melihat tukang sampah itu menuang seluruh isi tong ke gerobaknya;
setelah itu mendorong gerobak sampahnya meninggalkan rumahnya. Kini
boneka sahabatnya itu telah pergi untuk selamanya dan tak kembali lagi.
Ia membenamkan wajahnya di gorden jendela. Berjam-jam lamanya gadis
kecil itu berdiri seperti itu dan terus menangis sesenggukan, membuat
gorden itu jadi basah oleh air matanya. Sejak itu ia selalu takut dan
merasa bersalah tiap kali bertemu A-ma. Ketika A-ma akhirnya menanyakan
boneka itu, ayahnya langsung menjawab kalau Henny telah membuangnya ke
tempat sampah dan mengaduk-aduknya dengan sisa-sisa makanan dan
buah-buahan busuk. Kini ia kembali menangis saat teringat raut wajah
A-ma yang menjadi sedih dan kecewa mendengar itu semua. Beberapa bulan
kemudian A-ma meninggal dunia.
–@@@@–
“Hey! Nngelamun aja. Mikirin apa sih,” seru Liani tiba-tiba.
“Eh, nggak, nggak kok,” kata Henny buru-buru.
“Gimana perkembangan do’i? Udah jadian ya?”
“Siapa maksud lu? Ah, nggak kok,” tukas Henny cepat.
“Iiih, jangan pura-pura gitu donk. Apa, jangan-jangan sudah jadian
ya. Hihihihi. Makanya belakangan ini lu cenderung menutup diri. Kenalin
dong ke kita,” goda Liani lagi.
“Apa sih maksud lu?” tanya Henny dengan nada agak tinggi.
“Itu tuh, cowok anak teman bokap lu yang pernah lu bilang waktu itu,”
jawab Liani tak bercanda lagi karena ia merasa tak enak dengan sikap
Henny yang tak seperti biasanya itu.
“Kok lu bisa tahu?”
“Lha khan lu pernah bilang ke gua.”
“Ooh, ya biasa aja lah,” jawab Henny datar.
Liani tak berkomentar lagi karena ia tak tahu harus berkata apa.
Untuk pertama kalinya, kedua sahabat itu berada dalam situasi percakapan
yang kikuk.
“Belum ada perkembangan lagi. Dia lagi keluar kota,” kata Henny
akhirnya, memecah suasana diam yang tak biasa diantara mereka. “Nanti
pasti gua kasih tau lu deh kalo ada update-nya,” kata Henny sambil
tersenyum.
“OK deh. Jangan lupa sama teman ya,” kata Liani sambil tersenyum
juga. Namun ia tak melanjutkan topik itu lagi. Bahkan ia merasa lega
karena setelah itu bel tanda istirahat berakhir telah berbunyi. Hmm,
save by the bell, gumamnya saat berjalan balik ke kelas.
Di sisi lain, Henny juga merasa lega Liani tak mendesaknya lebih
lanjut. Karena sebenarnya ia telah membuang Edward jauh-jauh dari
pikirannya, meski dalam hatinya sebenarnya ia menaruh hati terhadap
cowok itu. Karena di balik rasa ketertarikannya kepada cowok tersebut,
terdapat rasa ketakutan yang jauh lebih besar dalam dirinya. Selain
merasa tak pantas bersanding dengannya, ia tak ingin dirinya sakit hati
saat Edward meninggalkannya nanti setelah mengetahui semua “kekurangan
besar” dirinya. Sejak kejadian itu ia sengaja menghindari Edward. Ia
bersikap negatif saat cowok itu menelponnya. Begitu pula ia jarang
membalas sms cowok itu. Secara spontan / bawah sadar Henny berbuat
seperti itu dengan dalih ia tak ingin dirinya nanti sakit hati.
Ironisnya, tindakannya sendiri itu justru malah menyebabkan ia patah
hati. Karena Edward yang awalnya gencar mendekatinya akhirnya menyerah
juga dengan sikap irrasional Henny. Kini tak ada telpon atau sms Edward
lagi. Sampai akhirnya dua minggu lalu, hatinya seketika remuk redam
melihat Edward di mal bergandengan tangan dengan seorang gadis cantik.
Apalagi jauh di lubuk hatinya ia tahu sebenarnya ia bisa mendapatkan
cowok ini. Namun akibat kesalahannya sendirilah yang membuat semuanya
terlepas. Kini ia semakin menyalahkan dirinya sendiri dan membuat
kondisinya semakin terpuruk.
–@@@@–
Kosim, si sopir
“Udah Non, jangan terlalu dimasukkan dalam hati.” Kosim, supir keluarga yang mengantarkan Henny itu terus menghiburnya.
Rupanya pagi itu ia habis dimarahi lagi. Kata-kata Kosim itu sungguh
bermakna sekali bagi Henny saat itu. Di saat hatinya terpuruk dan tak
memiliki siapa-siapa, sikap simpati Kosim itu amat begitu terasa
baginya. Penghiburan Kosim itu bagaikan air sejuk yang menyirami bunga
yang hampir layu kekeringan. Sejak pagi itu Henny jadi semakin akrab
dengan Kosim. Setiap hari ia makin sering berbicara dengan Kosim,
termasuk berbicara cukup bebas mengenai uneg-unegnya di dalam rumah.
Satu hal yang tak pernah dan tak bisa dilakukan dengan orang lain bahkan
dengan Liani, sahabat terdekatnya sekalipun. Karena bagaimana pun Liani
adalah orang luar, dimana ia perlu bersikap jaim dan memakai “topeng”
indah. Sementara ia bebas bicara apa saja dengan Kosim. Statusnya yang
lebih rendah sebagai supir membuat ia lebih rileks dan tak harus jaim
segala. Juga Kosim telah mengetahui semuanya dan ia sendiri juga kadang
mendapat marah dan makian dari tuannya, meski tak separah Henny.
Sehingga antara supir dan anak majikan itu ada perasaan senasib. Kadang
mereka saling mengolok dan bercanda setelah salah satunya kena marah.
Kini Henny malah merasa lebih dekat kepada supirnya itu dibanding kedua
orangtuanya. Mula-mula mereka hanya sebagai teman curhat biasa. Namun,
dengan latar belakang yang mendukung, dengan kesempatan berdua yang
cukup sering, dan dengan adanya rasa saling tertarik antara kedua belah
pihak, akhirnya hanya masalah waktu sajalah untuk mengubah hubungan
keduanya menjadi lebih dari sekedar teman curhat. Di sisi Henny, ia
terpikat dengan perhatian yang begitu tulus kepadanya. Sementara di sisi
Kosim, ia terpikat oleh kecantikan dan tergiur oleh kemolekan gadis
itu. Diam-diam kini di dalam rumah itu terjadilah hubungan percintaan
yang tak lazim antara Kosim dan Henny. Satu hal yang secara eksternal
kelihatan aneh namun sebenarnya secara internal sungguh amat masuk akal
untuk terjadi. Secara psikologis, Henny adalah gadis yang rapuh dan
labil. Membuat ia mudah terkesan dengan Kosim yang selalu memuji-muji
dirinya. Baginya, Kosim adalah satu-satunya orang yang bisa dipercaya
yang menghargainya secara tulus. Sementara Kosim sendiri, pada awalnya
memang ia tulus berusaha menghibur dan menenangkan hati Henny. Namun,
melihat sasaran empuk di depan mata, ia mulai mengambil ancang-ancang.
Apalagi reward-nya kelas unggulan. Sejak awal diam-diam ia telah tergiur
oleh kecantikan dan daya tarik gadis ini. Apalagi pada dasarnya ia
adalah orang yang BT (berahi tinggi) sementara istrinya ada di desa.
Kapan lagi bisa dapet kayak gini. Bagi orang rendahan seperti Kosim,
bisa ngedapetin dan ngerasain cewek bening kelas atas seperti Henny
tentu suatu kebanggaan luar biasa. Apalagi… mana ada dalam sejarah orang
desa yang nggak lulus SD, yang pernah jadi kuli bangunan, supir truk,
sekaligus preman seperti dia bisa membuat takluk cewek kelas atas yang
begitu cakep, muda, bening, dan berpendidikan.
Sementara itu, hehehe, meski kualitas tinggi namun rasanya nggak
sulit menaklukkan gadis ini. Sebaliknya, tentu “dosa besaar” kalau
berkah di depan mata seperti ini tak diambil. Apalagi, ia punya niatan
mulia, yaitu ingin membahagiakan gadis ini. Ia menyadari kalau orangtua
gadis ini tentu nggak akan menyetujui hubungan putrinya dengannya. Untuk
ini ia punya solusi jitu. Ia akan mengencani gadis ini secara gelap,
sambil mencari-cari kesempatan untuk menidurinya. Apabila ia telah
meniduri gadis ini berkali-kali, tentu peluangnya sungguh besar untuk
membuat mereka berdua akhirnya mau nggak mau menyetujui hubungan mereka.
Apalagi kalau sampai gadis ini hamil. Tentu mau nggak mau, suka nggak
suka, ia akan menjadi menantu. Demi mencapai ini semua, terpaksa aku
mengambil jalan yang tak semestinya. Namun semua ini demi satu tujuan
“mulia” yaitu untuk membahagiakan gadis itu, untuk mengayomi serta
mengangkat harkat dan martabatnya. Mengingat Henny adalah putri tunggal,
tentu ia bakal mewarisi seluruh harta kekayaan orangtuanya. Pada
akhirnya harta kekayaan istri barunya itu akan jatuh di tangannya.
Sehingga ia akan menjadi orang terpandang dan dihormati. Apabila ia
mendapat uang banyak, ia berjanji akan meningkatkan pula derajat
kehidupan keluarganya di desa. Sehingga sebenarnya, misinya ini adalah
misi “mulia” bagi orang banyak. Sementara itu ia juga tak bisa dikatakan
mengkhianati anak istrinya. Karena istrinya tak ada disini; sementara
ia sebagai pria normal tentu punya hasrat birahi yang butuh pelampiasan.
Sementara pada akhirnya mereka juga bakal kecipratan hidup mewah tanpa
perlu melakukan apa-apa. Sehingga ia tak menyalahi istrinya. Justru
sebaiknya, istrinya harus bangga karena suaminya yang nggak makan bangku
sekolahan ini bisa menggaet cewek yang bening muda dan cakep anak
pengusaha kaya seperti Henny. Demikianlah pembenaran di dalam pikiran
Kosim mengenai semua ini. Henny yang telah mabuk kepayang oleh perasaan
cintanya terhadap Kosim, begitu mempercayainya. Ia sama sekali tak
pernah menanyakan status dirinya. Ia cuma tahu kalau usia mereka berbeda
jauh karena supir yang kini jadi cowoknya itu sudah hampir 30 tahun.
Namun ia tak peduli akan hal itu. Sama juga ia tak peduli dengan
pekerjaannya, perbedaan status sosial, perbedaan tingkat pendidikan,
perbedaan cara pandang hidup, perbedaan ras, dan perbedaan lain-lainnya.
Baginya, Kosim adalah segalanya di dunia ini.
–@@@@–
“Gimana nanti sore jadi?” tanya Liani menghampiri Henny saat bubaran sekolah.
“Jadi dong.”
“OK, kalo gitu nanti lu gua jemput deh. Jam lima. Ntar gua sms lu kalo mau berangkat.”
“OK deh sampai ketemu ntar.”
“Byee.”
–@@@@–
Kriiingggg! Jam weker di kamar Liani berbunyi. Jam 3.30. Segera ia
bangun dari tidur siangnya dan langsung menyuruh supirnya memanaskan
mobil. Setelah itu ia langsung mandi karena tak ingin terlambat dengan
janjinya ketemu Henny jam 5. Selang 30 menit kemudian keluarlah ia dari
kamar mandi dengan handuk melilit tubuhnya. Wajahnya cakep dan segar
dengan sebagian ujung rambutnya masih basah. Tubuhnya begitu putih
mulus. Sebagian pahanya dan sebagian dadanya tak tertutup handuk. Cowok
yang melihat keadaan dirinya saat itu tentu seketika langsung mupeng.
Apalagi handuknya agak tipis. Membuat tonjolan kedua putingnya tercetak
dengan jelas di baliknya. Dan handuk tipis itu tak sanggup
menyembunyikan gerakan-gerakan payudaranya yang cukup berisi saat ia
berjalan mendekati meja rias.
“Non, mobilnya sudah selesai dipanasin,” kata Pak Sripto supirnya kepadanya.
“OK, makasih lho Pak, ” jawab Liani sambil tersenyum manis.
Saat itu ia bergerak sedikit yang menyebabkan kaitan kecil handuk di
dadanya terlepas. Sehingga handuk itu langsung melorot ke bawah, membuat
dirinya dalam sekejab menjadi polos tanpa selembar benang pun.
“Gimana, ada yang perlu dicek lagi Non?” tanya Pak Sripto ke nona
majikannya itu sambil tersenyum-senyum. Pandangannya menatap lekat-lekat
ke bodi mulus dengan lekuk-lekuk indah di depan matanya itu.
“Ehm, eh, tolong dicek juga bannya. Ada yang kempes nggak. Aku nggak
mau kejadian kayak dulu lagi tiba-tiba kempes di tengah jalan,” kata
Liani seperti biasa namun ia langsung membalikkan badannya dan berjalan
menuju ke lemari pakaian.
“Oh, jangan kuatir Non. Sudah saya cek semuanya. Depan bagus,
belakang pun juga bagus. Hehehe,” kata Pak Sripto sambil menatap bodi
belakang nan mulus di hadapannya itu. “Begitu pula dengan yang
lain-lainnya, semuanya sudah saya periksa lengkap,” jawabnya sambil ia
berjalan mengitari untuk menatap bodi indah di depan matanya itu dari
posisi 360 derajat. Sementara si pemilik bodi mulus itu tak bergerak
sama sekali. “Pokoknya sudah siap sedia untuk DIPAKE, kok. Heheheheee,”
kata Pak Sripto tertawa terkekeh-kekeh saat ia meraba-raba kemulusannya
di sejumlah tempat.
“Oh, begitu. Ya udah kalo gitu bentar lagi aku keluar. Makasih ya
Pak,” kata Liani mengakhiri pembicaraan dengan supirnya dan melempar
handphone-nya ke ranjang supaya ia bisa mengenakan pakaiannya. Sementara
di garasi depan, Pak Sripto memasukkan handphone di saku lalu balik
lagi mengagumi mobil mulus yang baru dicucinya bersih itu sambil
memeriksa semuanya sekali lagi sebelum benda mulus ini dipake oleh gadis
majikannya.
–@@@@–
Suasana rumah itu sungguh sunyi dan teduh. Hampir semua penghuni
rumah itu tak berada di tempat. Namun di ruang tamu depan yang nampak
sepi dan agak gelap, terdengar suara bisik-bisik dua orang yang sedang
asyik pacaran. Gadis itu duduk dipangkuannya. Tubuhnya yang putih
dipeluk oleh supir berkulit sawo matang kehitaman itu. Dibelai-belainya
rambut gadis itu. Ia bisa mencium aroma wangi tubuh gadis itu yang
begitu harum. Diraba-raba dan dirasakannya betapa putih dan halus kulit
gadis itu. Rambut indahnya dibelai-belai, sebelum ia mengubah posisi
tubuh gadis itu, membuatnya kini memeluk dirinya secara frontal dengan
kedua tangannya melingkar di punggungnya. Batangnya yang sebelumnya
telah mengeras kini jadi semakin keras. Karena tubuh mereka semakin
dekat menempel. Bahkan dada gadis ini menempel di dadanya sendiri. Ia
terus membelai-belai rambut gadis itu dan meraba-raba punggung dan
sekujur tubuhnya. Pikirannya telah penuh dengan kemupengan. Sementara
gadis itu juga memeluk supirnya erat-erat sambil memejamkan matanya.
Menikmati setiap belaian hangat pria itu terhadap dirinya. Tiba-tiba
suasana tenang keduanya itu terganggu dengan adanya bunyi telpon masuk
di handphone dalam saku gadis itu. Henny segera terkesiap karena
teringat akan janjinya dengan Liani. Dan memang Lianilah yang
menelponnya. Saat itu pukul 4.30.
“Hen, gua ini baru keluar dari rumah, setengah jam lagi nyampe tempat
lu,” kata Liani. Namun kini Henny sama sekali nggak mood pergi bareng
Liani. Juga ia sama sekali nggak mengharapkannya datang. Bahkan, ia
merasa terganggu dengan phone call-nya sekarang.
“Eh, sorry. Gua kok tiba-tiba nggak enak badan. Gua pengin istirahat neh.”
“Yah, kenapa lu kaga bilang dari tadi. Gua udah terlanjur keluar nih,” kata Liani.
“Ya sorry, sorry. Tapi gua betul-betul nggak bisa. Lu jangan mampir
ke sini deh, soalnya gua mau istirahat tidur,” kata Henny buru-buru. Tak
biasanya ia bersikap aneh seperti itu.
“Ya udah deh gapapa. Gua balik lagi,” terdengar suara Liani dari telpon dengan nada kecewa.
Namun Henny tak terlalu mempedulikan itu. Sebaliknya ia lega karena
Liani tak jadi datang ke rumahnya. Sementara Kosim juga gembira hatinya
mendengar cewek ini membatalkan janjinya. Artinya ia bisa terus
bermesraan dengannya. Apalagi ia baru menjemput ayah gadis ini nanti
malam karena ada rapat. Begitu pula ibunya juga sedang ada arisan
sehingga mereka berdua baru pulang agak malam. Inilah saat yang tepat,
batin Kosim.
“Kamu hari ini kok cantik banget sih, heran aku,” kata Kosim mengeluarkan jurus rayuannya.
“Idih, Mas mulai deh,” rajuk Henny pura-pura marah.
“Dan pipi kamu ini, iiih, halus lembut,” kata Kosim tak mempedulikan
rajukan gadis itu dengan melanjutkan aksinya meraba-raba pipi Henny yang
berubah jadi memerah itu. “Aku sayang sama kamu, Hen,” bisik Kosim
lembut di dekat telinga gadis itu.
“Aah, Mas….” kata Henny lirih sambil memeluk Kosim erat-erat. Kosim
terus mendekap dan mengelus-elus rambut panjang gadis ini. Henny
memejamkan mata menikmati belaian lembut terhadap dirinya. Sementara
Kosim tersenyum gembira menyaksikan sikap gadis ini yang telah jatuh ke
dalam pelukannya. Segera ia mengeluarkan jurusnya lagi,
“Alangkah nikmatnya kalau kita bisa bebas berpacaran tanpa ada
sekat-sekat pembatas di antara kita, sayang. Sayang sekali, kita tak
bisa seperti pasangan-pasangan yang lain.”
Henny semakin mempererat pelukannya seolah tak ingin melepaskan Kosim.
“Seperti sekarang ini, biarpun kita bisa pacaran, namun agak riskan
kalo ketahuan Surti dan Murni (pembantu lain yang saat itu ada di dalam
rumah itu).” keluh Kosim sambil menghela napas.
“Memang betul, Mas,” kata Henny mengiyakan karena ia juga agak
ketakutan kalau-kalau pembantunya mendapati dirinya sedang asyik
berpelukan dengan Kosim dan melapor ke orang tuanya.
“Ah, aku ada ide. Yuk, kita masuk ke kamar aja,” katanya dengan lugu.
“Mereka nggak akan berani masuk atau nyariin aku. Sementara kalo Mas
dicari nggak ada, bisa aja bilang lagi nongkrong di pos satpam depan.”
“Ah, jangan,” kata Kosim. “Aku nggak mau nanti dikira mau berbuat yang nggak-nggak. Apalagi aku tulus mencintaimu, Hen.”
“Ah, nggak kok. Aku percaya dengan ketulusan hati Mas,” kata Henny
dengan cepat. “Apalagi setelah kata-kata Mas barusan. Aku percaya
sepenuhnya dengan Mas.”
“Beneran nih, kamu nggak apa-apa?” tanya Kosim gembira pancingannya mengena.
“Betul, Mas. Asal Mas janji, nggak akan berbuat yang aneh-aneh,” kata Henny dengan polos menatap wajah Kosim.
“Tentu aku janji nggak akan menyakiti dirimu, sayang,” kata Kosim dengan rayuannya sambil mencium pipi Henny.
“Ah, Mas….” jantungnya berdebar-debar mendengar bisikan mesra Kosim.
Tak lama kemudian mereka berdua berjalan menuju ke kamar tidur Henny
sambil bergandeng tangan. Henny yang berjalan di depan membuka pintu
kamar, sementara Kosim di belakang menutup pintu itu sambil diam-diam
dikuncinya. Kini orang luar tak bisa masuk ke dalam. Sehingga tak ada
yang akan mengganggu mereka berdua. Handphone juga telah dimatikan.
Mereka duduk berdekatan di ranjang. Bagi Kosim, baru kali ini ia masuk
ke kamar Henny. Sungguh kesempatan yang tak boleh disia-siakan. Apalagi
kedua bonyoknya juga lagi sibuk di luar. Begitu di dalam kamar Kosim
langsung duduk merapat ke gadis ini. Kemudian dikecupnya bibir gadis
manis ini. Henny memejamkan matanya. Membiarkan bibirnya dikecup Kosim.
Juga ia sama sekali tak menolak saat Kosim melanjutkan melumat bibirnya,
menikmati manis dan hangatnya bibir gadis itu. “Kamu sungguh cantik
sekali, Hen,” bisik Kosim yang membuat gadis ini semakin melumer. Ia
tersipu dan menunduk malu. Sikap Henny yang innocent ini semakin
menambah daya tariknya dan semakin membangkitkan gairah birahi Kosim
untuk segera menyantap gadis ini. Tangannya meraih kancing baju Henny
untuk melepaskannya satu persatu. Kancing pertama telah dilepas. Begitu
pula yang kedua. Saat ia ingin melepas yang ketiga, tiba-tiba Henny
berontak.
“Jangan Mas,” katanya sambil tangannya memegangi bajunya.
Namun Kosim terlanjur mupeng. Apalagi ia telah melihat sebagian payudara putih gadis ini.
“Kenapa? Nggak apa-apa kok. Jangan takut,” katanya sambil berusaha memindahkan tangan Henny dari dadanya. Namun gadis itu masih menaruh tangannya disitu.
“Kenapa? Nggak apa-apa kok. Jangan takut,” katanya sambil berusaha memindahkan tangan Henny dari dadanya. Namun gadis itu masih menaruh tangannya disitu.
“Ayo, lepasin,” kata Kosim tak sabar sambil memaksa memindahkan tangan gadis itu.
Tiba-tiba mata Henny mendelik dan berkata,“Mas jahat!” “Aku nggak
nyangka rupanya Mas punya pikiran kotor,” serunya dengan mata mulai
basah berair.
“Eh, sorry, sorry. Maafkan aku sayang,” kata Kosim buru-buru.
“Maafkan Mas sayang. Barusan Mas khilaf. Maafkan aku ya,” kata Kosim
buru-buru. Sementara Henny terus menangis sesenggukan. Serta merta Kosim
memeluk sambil berusaha menenangkannya dengan mengelus-ngelus rambutnya
dan mengucapkan kata-kata mesra. Membuat gadis itu akhirnya luluh juga.
Ia membiarkan dirinya terus dipeluk oleh Kosim. Demikian pula saat
Kosim mencium bibirnya lagi, dengan memejamkan mata ia tak melawan sama
sekali. Kini kembali Kosim menikmati bibir Henny. Begitu lamanya ia
menciuminya, membuat gadis itu akhirnya terlarut juga dan melupakan
kesedihannya. Kini ia melakukan french kissing. Lidahnya beradu dengan
lidah gadis itu. Lagi-lagi Henny tak berontak. Malah ia juga mulai
menggerakkan lidahnya untuk saling beradu dengan lidah Kosim. Kosim bisa
merasakan sikap gadis itu yang telah melumer. Kosim menghentikan
ciumannya. Ia menatap diri Henny. Sebagian dada putih Henny yang
menonjol kecil nampak terlihat karena dua kancing bajunya itu masih
terbuka. Membuat Kosim makin bernapsu ingin melihat keseluruhan tubuh
sexy gadis itu. Namun sebelumnya ia sengaja membuat gadis itu terlena
terlebih dulu. Kembali ia menciumi wajah gadis itu dengan mesra, mulai
dari pipi, bibir, hidung, alis, dagu, mata, dan telinganya. Kemudian
direbahkannya gadis ini di atas ranjang, dan kembali diulangi lagi
ciuman-ciuman di seluruh wajahnya, sebelum akhirnya ditutup dengan
kembali melumat bibirnya dan “bersilat lidah” dengan gadis ini. Setelah
itu giliran lehernya yang putih yang diciumi dan dikecupinya. Membuat
Henny jadi menggelinjang kegelian. Gerakan-gerakan tubuh Henny membuat
Kosim semakin terangsang sehingga ia makin buas mengecupinya. Dada Henny
jadi semakin naik turun oleh napas yang memburu. Membuat Kosim
lagi-lagi makin terangsang. Apalagi sebagian bajunya telah terbuka. Saat
itu pikirannya telah dirasuki nafsu apalagi gadis itu sedang memejamkan
matanya. Kini segera dibukanya kancing baju Henny satu persatu. Kali
ini sama sekali tak ada penolakan dari gadis itu sampai akhirnya seluruh
kancing bajunya terlepas semua. Segera Kosim menyibakkan bajunya ke
samping kiri kanan tubuh Henny, membuat bra gadis itu jadi terekspos
secara terbuka. Bra itu begitu indah (karena memang mahal harganya)
berwarna biru tua. Setelah itu Kosim mulai menciumi bagian dadanya yang
telah terekspos. Membuat Henny mengeluarkan rintihan-rintihan kecil.
Kemudian ia membangkitkan gadis itu untuk membuatnya terduduk. Bajunya
yang telah terbuka itu langsung dilepaskan dari tubuhnya. Setelah itu ia
meraba-raba tubuh setengah telanjang Henny sambil menciumi lagi disana
sini, sekaligus mencari tahu gesper bra-nya di punggung atau di depan.
Rupanya ada di punggung. Dengan hati berdebar kedua tangannya merengkuh
gesper itu dan melepaskannya. Ternyata pertaruhannya berhasil. Karena
Henny tak memberikan reaksi penolakan sama sekali.
Begitu gesper dilepas, segera ia meloloskan bra biru tua itu dari
tubuh mulus gadis putih ini. Segera ditatapnya payudara telanjang gadis
majikannya itu lekat-lekat. Keduanya tak terlalu besar, ukurannya 34B.
Namun putihnya sungguh merangsang hati. Apalagi kedua putingnya agak
menonjol berwarna segar kemerahan. Membuatnya seketika jadi mupeng abis.
Kini giliran payudara Henny yang segera dimainkannya dengan cara
seksama dan dalam tempo yang selama-lamanya. Karena ia ingin
menikmatinya semaksimal mungkin dengan berbagai cara. Mula-mula matanya
yang jelalatan menikmati keindahan pemandangan bukit kembar itu. Setelah
itu kedua tangannya yang hitam mulai meraba-raba payudara putih itu.
Punggung tangannya menyentuh sekujur payudara Henny. Setelah itu diikuti
dengan jari-jari dan telapaknya yang meraba-raba dan seluruh bagiannya
sambil sesekali meremas-remas dengan lembut. Membuat Henny jadi
mendesah-desah sambil terus memejamkan matanya. Apalagi saat jari-jari
Kosim mulai menyentuh-nyentuh putingnya. Membuat desahannya semakin liar
tak terkendali. Selanjutnya Kosim melanjutkan memainkan payudara Henny
itu dengan mulutnya menyapu seluruh bagiannya. Termasuk puting kemerahan
itu tak luput dijilat-jilatinya. Lidahnya dilelet-leletkan di kedua
puting gadis itu bergantian, bergerak-gerak melingkarinya, dan juga
menyentuh-nyentuh bagian sensitif payudara gadis itu secara random,
membuat Henny melupakan rasa malunya tadi dan kini
menggelinjang-gelinjang secara erotis sambil mengerang-erang. Setelah
itu mulutnya mengenyot-ngenyot payudara mungil Henny, kedua putingnya
disedot-sedot bergantian. Nampak ia begitu ganas menyusu payudara Henny,
dengan suara kecipakan emutannya yang seringkali terdengar cukup keras.
Payudara Henny yang terus menerus dirangsang itu jadi semakin kencang
dan putingnya semakin mengeras. Membuat Kosim pun semakin nafsu untuk
terus mengemutinya. Akibatnya semakin membuat Henny makin terangsang.
Saat ia akhirnya selesai menikmati payudara Henny, nampak bekas
merah-merah di seluruh bagian payudara gadis itu akibat buasnya Kosim
mengganyangnya. Kini giliran rok Henny yang dilepasnya. Kali ini Henny
yang telah terlena sama sekali tak melawan. Begitu pula saat Kosim
melucuti celana dalamnya. Ia juga tak berontak sedikit pun. Kini Kosim
bisa melihat bulu-bulu vaginanya yang tertata rap. Ia melucuti seluruh
bajunya sampai ia juga telanjang bulat, menunjukkan penisnya yang besar
dan bersunat itu telah berdiri dengan keras secara gagah perkasa di
depan gadis putih mulus yang juga telanjang bulat itu. Kulitnya yang
sawo matang kehitaman nampak kontras dengan tubuh putih mulus Henny.
Setelah meraba-raba paha mulus Henny sebentar, Kosim membentangkan kedua
kakinya lebar-lebar, untuk melihat liang vagina gadis itu secara
frontal. Nampak lipatan liang vagina yang segar kemerahan di bawah
bulu-bulu yang rapi tertata dan agak jarang itu. Hatinya menggelora
menyaksikan vagina perawan gadis itu yang begitu sempit dan rapat, yang
akan segera dinikmatinya itu. Kosim mulai meraba-raba paha mulus Henny,
terutama bagian pangkalnya. Pengalamannya dengan istrinya membuat ia
tahu bagian-bagian sensitif wanita. Dan pengetahuannya itu kini
dipraktekkan terhadap Henny. Dan ternyata, manjur sekali hasilnya.
Sedari tadi Henny sama sekali tak memberontak. Padahal awalnya tadi ia
menolak saat ingin dibuka kancing bajunya, tapi sekarang gadis itu telah
berhasil ditelanjangi bulat-bulat oleh Kosim tanpa sedikitpun reaksi
perlawanan. Kini Kosim mulai merangsang sekitar vaginanya, membuat gadis
lugu itu kini jadi terlarut menikmati permainan supir itu. Ia sama
sekali tak melawan terhadap apapun yang dilakukan terhadap dirinya.
Kosim semakin merangsang vaginanya, dengan menggunakan tangan dan
jari-jarinya yang mengelus-elus dan mengusap-usap untuk me-masturbasi
Henny. Setelah itu ia menghisap-hisap dan menjilati bagian luar dan isi
dalam vaginanya, termasuk klitoris dan G-spot gadis itu. Membuat vagina
Henny jadi basah kuyup dan dirinya pun mendesah-desah dengan keras tak
terkendali. Apalagi Henny adalah gadis yang masih betul-betul hijau
dalam hal ginian. Sebelumnya ia tak pernah disentuh laki-laki, bahkan
ciuman pun tak pernah. Akibatnya perbuatan Kosim terhadap dirinya
langsung membuatnya “fly” dan lupa diri. Setelah puas mengerjai dan
merangsang Henny, kini ia juga ingin mendekatkan penisnya ke tubuh putih
mulus menggairahkan itu. Ia menjepitkan penisnya di antara kedua paha
Henny, membuatnya terasa enak saat dijepit paha nan putih dan mulus itu.
Setelah itu ia mendekatkan penisnya ke payudara Henny yang berukuran
34B itu dan penis hitamnya dijepitkan di tengah-tengah payudara putih
gadis itu. Ia jadi semakin terangsang melihat penisnya yang hitam legam
itu begitu kontras warnanya dijepit di antara kedua bukit kecil gadis
berkulit putih ini. Setelah itu dikocok-kocoknya penisnya di antara
kedua gunung kembar Henny, membuat penisnya seperti di-masturbasi oleh
payudaranya. Dan terakhir, penisnya berkenalan dengan puting kemerahan
gadis itu dengan ia menempel-nempelkan ujung kepalanya dengan kedua
puting gadis itu. Kini saatnya untuk proses eksekusi. Ia yakin liang
vagina Henny telah cukup basah untuk itu. Meski ia membayangkan, tentu
awalnya akan susah masuk ke liang sempit yang masih perawan itu.
Didekatkannya penisnya sampai menempel persis di depan liang vagina
Henny. Dan, didorongnya penisnya ke depan.
“Aaah!” Henny berteriak. Namun penisnya masih belum masuk. Dicobanya
sekali lagi. “Aaah!” lagi-lagi Henny berteriak. Namun juga masih belum
berhasil masuk. Sambil memejamkan matanya Kosim mendorong penisnya
dengan lebih kuat lagi. “Uugh!” sambil ia berteriak saat mendorong
penisnya ke depan. Dan, “AAHH!” Henny menjerit amat keras karena
akhirnya bobol juga pertahanannya dengan masuknya sebagian kepala penis
Kosim dalam tubuhnya. Dan…Uuggh!, lagi-lagi Kosim berteriak sambil
mendorong penisnya kuat-kuat.
“AAHHH”, Henny kembali menjerit. Dirasakan kepala penisnya masuk
semakin dalam. Dan… “AAHHH”, akhirnya penis Kosim masuk ke dalam
seluruhnya! Uugh! Seru Kosim dengan lega. Tadinya kepala penisnya agak
kesulitan masuk karena begitu rapetnya vagina gadis ini. Tapi kini jerih
payahnya telah terbayarkan karena akhirnya batang kejantanannya telah
amblas masuk seluruhnya ke dalam tubuh gadis majikannya ini. Ia menatap
ke bawah melihat vagina Henny yang telah membuka untuk menampung penis
besarnya di dalamnya. Ia tersenyum menyaksikan vagina gadis itu
mengeluarkan darah. Darah perawan Henny yang tumpah di seprei ranjang.
Ia mencabut penisnya. Liang vagina Henny kini jadi agak terbuka
dibanding sebelumnya. Darah masih mengalir keluar. Segera dimasukkan
kembali penisnya. Kali ini juga masih peret banget, meski tak sesulit
sebelumnya. Setelah itu… dikocoknya penisnya di dalam vagina gadis muda
yang baru saja diperawaninya itu.
“Ugh…ughh…ughh…”
Kosim mengocok-ngocok penisnya sambil mengeluarkan suara karena
merasakan sensasinya yang begitu nikmat menggagahi gadis ini. Sementara
Henny dibuat mendesah-desah sambil mengernyit kesakitan saat penis tebal
Kosim menyetubuhi dirinya.
“Aahhh….ahhhh…aahhh……” Henny terus menjerit-jerit kesakitan bercampur
mendesah-desah nikmat. Rasanya perih-perih enak! Enak-enak perih!
Sementara darah terus mengucur dari vagina Henny.
“Aahhh…aduhhh….aaaahhh…..adduu..aaaahhh……” Henny terus menjerit sambil mendesah-desah.
Namun semakin lama rasa perih yang dirasakan itu semakin hilang.
Sebaliknya, rasa nikmat yang mula-mula amat jarang terasa itu kini mulai
dominan dirasanya. Sampai akhirnya, kini hanya rasa nikmat saja yang
tersisa ketika penis Kosim terus dengan perkasa menghunjam-hunjam di
dalam dirinya. Kini darah perawannya akhirnya berhenti keluar dari
vaginanya. Namun di seprei ranjangnya terlihat noda darah yang cukup
besar karena banyaknya darah yang keluar dari dalam dirinya. Kosim terus
memompa penisnya, menikmati keperetan vagina gadis itu menjepit
batangnya. Kini ia harus membuat gadis itu orgasme untuk membuat gadis
itu ketagihan nantinya. Menyadari kalau gadis ini sama sekali tak
berpengalaman, kini adalah tugasnya “membimbingnya” dan membawanya
mencapai surga kebahagiaan duniawi. Ia meneruskan penyetubuhannya sambil
memeluk gadis ini dan menciuminya dan diselingi dengan bisikan-bisikan
mesra di dekat telinga gadis itu. Membuat gadis itu terasa di
awang-awang. Sehingga vaginanya juga semakin banjir bandang. Setelah
terus disetubuhi non-stop oleh supirnya sampai hampir 20 menit lamanya,
sambil dipeluk, diciumi, dan dibisiki rayuan gombal kata-kata mesra,
akhirnya Henny mencapai orgasme juga. Saat orgasme badannya
kejang-kejang dan menjerit-jerit tak karuan. Payudaranya jadi lebih
keras dan kencang dibanding sebelumnya, terutama putingnya. Setelah
membuat gadis itu orgasme, kini Kosim ingin menikmati gadis ini dalam
berbagai posisi. Pertama ia menggarap gadis ini dalam posisi doggy
style. Gadis itu disuruhnya nungging di tepi ranjang. Ia berdiri di
belakangnya dan disetubuhinya vagina Henny dari belakang sambil kedua
tangannya menepuk-nepuk payudaranya. Setelah itu ganti posisi ke posisi
gunting, dimana tubuh Henny dimiringkan lalu kedua kakinya dibentangkan
lebar-lebar ke kiri dan kanan saat ia berdiri di tepi ranjang dan
mengeksekusi vaginanya. Kemudian posisi lotus. Kosim naik lagi ke
ranjang dan duduk dengan melipat kedua kakinya ke bawah. Sementara
penisnya tentu mengacung ke atas. Kemudian Henny juga duduk dengan
posisi serupa di hadapannya….tentunya dengan vaginanya ditembus oleh
penis Kosim. Payudara putih Henny kini menempel di dada hitam Kosim.
Dalam posisi ini Henny mendapat pengalaman pertama untuk mengambil
inisiatif karena kini ia yang harus menggoyang tubuhnya. Mula-mula ia
agak malu melakukannya. Sambil tersenyum-senyum gembira melihat reaksi
malu gadis polos itu, Kosim beberapa kali menyuruhnya untuk goyang
badan. Akhirnya ia mau juga. Mula-mula agak canggung dan masih
segan-segan. Namun lambat laun ia jadi terbiasa juga dan mulai hilang
rasa malunya. Mungkin karena ia sendiri merasakan kenikmatan luar biasa
saat tubuhnya naik turun vaginanya ditembus-tembus batang kejantanan
Kosim. Sementara selangkangan mereka beradu, mereka juga saling
berciuman. Sehingga kini penis Kosim beradu di dalam vagina Henny,
payudara Henny menempel di dada Kosim, dan mulut mereka saling
berpagutan melakukan french kissing. Membuat gerakan tubuh Henny makin
lama makin liar. Namun Kosim tak ingin gadis itu orgasme lagi secepat
itu.
Untuk itu ia sengaja menyuruh gadis itu melepaskan diri, karena ia
ingin mengekse Henny dengan posisi lain, yaitu cowgirl. Kini ia tiduran
telentang dengan penis mengacung ke atas. Dan ia membimbing Henny
membuat gadis itu duduk di selangkangannya dengan vaginanya kembali
ditembus oleh penisnya. Lalu Henny yang telah punya pengalaman
sebelumnya, kini tahu apa yang mesti dilakukan, ditambah juga tentunya
ia pengin meneruskan kenikmatan yang tanggung tadi. Tanpa harus
di-komando-in lagi, ia langsung menaik-turunkan tubuhnya,
mengocok-ngocok vaginanya ke penis Kosim, atau juga bisa dikatakan
mengocok penis Kosim di dalam vaginanya, karena toh sama saja. Saat
melakukan itu kembali Henny mendesah-desah dengan liar lagi. Rambutnya
yang panjang bersemu kecoklatan bergerak naik turun. Tak perlu waktu
terlalu lama bagi Henny untuk menaikkan “tensi”nya lagi. Membuat Kosim
semakin bernafsu melihat keliaran gadis yang beberapa saat sebelumnya
masih perawan dan malu-malu itu. Apalagi melihat payudaranya ikut
bergerak-gerak. Membuat dirinya yang merasa gemas segera menangkap
keduanya dan meremas-remasnya. Henny semakin liar dan cepat gerakannya.
Sambil merasakan kenikmatan keperkasaan penis Kosim dalam vaginanya,
juga payudaranya enak sekali diremas-remas dan dikenyot-kenyot Kosim.
Akhirnya ia menyerah juga dan mendapatkan orgasme lagi. Setelah itu
mereka balik lagi ke posisi missionaries dimana Kosim kembali menindih
Henny sambil menyetubuhinya. Kali ini ia mengekse Henny sambil mulutnya
tak henti-hentinya mengenyoti payudara gadis itu bergantian kiri dan
kanan. Sampai akhirnya, ia mengalami ejakulasi dengan menyemprotkan
seluruh spermanya di dalam vagina Henny. Membuat keduanya jadi terkulai
lemas namun bahagia, terutama Kosim. Akhirnya dapat juga, hehehehe….,
batin Kosim dengan hati bergelora. Awalnya gadis ini menolak, namun
gampang sekali dikelabui olehnya yang amat berpengalaman, sehingga
akhirnya dapet juga kegadisannya. Sementara di wajah Henny nampak
seperti ada rasa penyesalan karena sebenarnya ia tak ingin berhubungan
sampai sejauh ini. Namun oleh karena terbuai oleh bujukan Kosim yang
lihai itu, akhirnya semuanya telah terjadi dan tak bisa dibalikkan lagi.
Keesokan harinya Henny masuk sekolah seperti biasa. Tak ada seorang pun
yang tahu kalau telah terjadi perubahan besar dalam diri gadis itu
dibanding hari sebelumnya. Tak ada seorang pun yang menyangka kalau
gadis berwajah melankolis yang alim dan lemah lembut itu telah
berhubungan intim dengan cowok, bahkan dengan seorang supir. Tak ada
seorang pun yang menyangka kalau ia sudah bukan perawan lagi. Tak juga
kedua orangtuanya. Tak juga Liani, sahabat paling dekatnya, meski Liani
tahu kalau kemarin sahabatnya itu telah menipunya.
–@@@@–
Sejak berhasil memerawani Henny, Kosim terus menerus mengeksekusinya
lagi dan lagi. Hampir tiap hari. Tak hanya di kamar tidur. Tapi juga di
sofa, di kamar mandi, di atas kursi besar, di dalam air di bathtub, di
bawah pancuran air shower, di garasi, di dapur, di gudang, bahkan juga
pernah di atas rumput di taman belakang saat malam-malam. Tak hanya di
dalam rumah. Tapi juga di mobil, di apartemen sewaan, di bioskop, di
dalam toilet, di hotel, di parkiran, dll. Berbagai macam posisi telah
dicobanya karena biasanya mereka nonton JAV dulu sebelum meniru
adegannya. Membuat Henny yang semula adalah gadis polos dan tak tahu
apa-apa mengenai seks, kini jadi kenyang makan asam garam oleh kursus
kilat namun intensif dari Kosim. Meski status resmi Kosim di rumah itu
hanyalah seorang supir, namun kini ia merasa seperti sebagai penguasa
rumah itu saja karena telah berhasil menikmati “benda paling berharga”
dalam rumah itu. Sore itu, Henny yang masih memakai seragam SMA putih
abu-abu tiba-tiba didekati Kosim yang langsung memegang pundaknya.
“ML yuk,” katanya tanpa basa-basi dan sungkan-sungkan lagi kepada gadis majikannya itu.
“Apa?” kata Henny tak menyangka,” Tapi Papi Mami ada disini….”
“Ah, mereka nggak tahu. Mereka lagi sibuk ngurusin tanaman di halaman
belakang tuh. Makanya… buruan. Yuk…” kata Kosim sambil menggrepe-grepe
baju seragam putih Henny.
“Tapi….” belum selesai bicara, bibirnya langsung dilumat Kosim. Henny
berusaha berontak. Tangannya berusaha mendorong Kosim. Namun ia kalah
tenaga; sementara Kosim tak ingin melepaskan ciumannya. Mmmmpphhhhh….
kedua tangan Henny menggapai-gapai tak berdaya. Sementara bibirnya terus
dilumat Kosim. Kedua tangan supir itu meraba-raba punggungnya. Dan,
dengan cekatan langsung dibukanya pengikat bra gadis itu. Henny semakin
berusaha memberontak, namun semakin ia meronta semakin kuat cengkeraman
Kosim terhadap dirinya.
“Udah, kamu nurut aja. Yuk, cepat sebelum mereka masuk,” kata Kosim.
“Aku tahu kamu pasti suka dengan yang menegangkan seperti ini, hehehe,”
Kosim tertawa terkekeh sambil tangannya membuka kancing seragam Henny
satu persatu.
“Kurang ajar kamu ya. Dasar sopir kurang ajar!” maki Henny kepada supirnya.
“Hahahaha. Abis, kamunya cantik banget sih…. Dan putih mulus lagi,”
kata Kosim cengengesan menatap tubuh bening Henny yang kini hanya
tertutup bra coklat itu. Sreeettt…
“Yuk, ini dilepas juga,” kata Kosim yang langsung membuka retsleting rok abu-abu gadis itu.
“Eeh, kamu ini,” protes Henny yang kini roknya telah turun ke bawah.
“Ayo copot semua,” kata Kosim melucuti sisa-sisa baju gadis itu dan dilanjutkan dengan membuka seluruh pakaiannya sendiri.
Kini keduanya telah telanjang bulat. Nampak kontras banget perbedaan
keduanya. Seketika itu langsung Kosim menyergap tubuh putih bening yang
menggairahkan itu. Diciuminya wajah gadis itu dengan penuh nafsu, sambil
tubuh mulusnya dipeluk erat-erat menempel ke tubuhnya sendiri. Kedua
tangannya meraba-raba sekujur tubuh bagian belakang gadis muda itu.
Setelah itu mulutnya turun menciumi leher putih Henny. Dan turun ke
bawah lagi. Kini payudara Henny yang jadi sasaran kecupan-kecupannya. Ia
mengemut-ngemut dan menyeruput seluruh bagian dadanya. Membuat Henny
akhirnya jadi mendesah-desah. Kedua putingnya yang merah tentu jadi
sasaran utama untuk di kulum-kulum, dijilat-jilat, dan dikenyot-kenyot.
Saat Kosim telah selesai dengan buah dadanya, nampak bekas merah-merah
di sana-sini. Setelah memainkan dadanya, kini Kosim menyedot-nyedot
daerah vagina Henny. Membuat vaginanya jadi basah kuyup.
Setelah gadis itu siap, tanpa menunda-nunda lagi langsung dimulai
acara pengeksekusian. Bagian atas tubuh Henny telungkup di meja tulis
besar, kedua tangannya memegang pinggirnya, membuat ia dalam posisi agak
menungging. Lalu, Kosim mengeksekusi vaginanya dari belakang.
Shleep…shlleepp…shleepp…..shleep…. Demikianlah tusukan bertubi-tubi
penis Kosim ke dalam vagina Henny. Setelah itu kedua tangan hitamnya
disusupkan di bawah payudara gadis itu, supaya kini ia bisa
meremas-remas dada gadis itu sambil terus mengeksekusi vaginanya.
Kemudian mereka berganti posisi. Henny tidur telentang di atas meja
besar itu. Kedua kakinya terbuka lebar. Dan, Kosim juga ikutan naik ke
atas meja itu. Dimasukkannya penis besarnya ke dalam vagina sempit
Henny. Dan, lagi-lagi dinaikilah gadis itu sambil penisnya dikocok-kocok
di dalam tubuhnya. Membuat seluruh meja itu ikutan bergoyang-goyang.
Sambil Kosim menyetubuhi gadis itu, mulutnya dengan buas menikmati dada
mulus Henny. Kemudian ia menaikkan tubuhnya untuk sengaja melihat
ekspresi wajah Henny saat penisnya menggedor-gedor vaginanya. Mulut
Henny nampak seperti mendesah dan merintih-rintih seiring dengan gerakan
irama penis Kosim di dalam tubuhnya. Namun sama sekali tak mengeluarkan
suara. Rupanya ia takut terdengar orang terutama orangtuanya. Walaupun
ia juga tak menolak untuk diekse Kosim saat itu. Demikianlah proses
pengeksekusian anak majikan itu terus berlanjut. Di saat kedua
orangtuanya sedang asyik mengurus tanamannya di halaman, di saat itu si
anak gadis dieksekusi oleh supir terus menerus sampai orgasme. Sebuah
orgasme dalam kebisuan karena Henny sama sekali tak berani bersuara
sementara ekspresi wajahnya menunjukkan secara jelas kalau ia sedang
merasakan kenikmatan yang luar biasa. Begitu pula dengan geliat
gelinjangan tubuhnya. Juga payudaranya terutama puting merahnya yang
jadi semakin keras. Setelah berhasil membuat orgasme gadis itu, Kosim
mengocok penisnya semakin cepat. Saat hampir mencapai ejakulasi,
penisnya dikeluarkan dan….crutt cruttt crutt…… Penisnya menyemprotkan
seluruh isinya dan tumpah ke dada, leher, dan sebagian wajah cakep
Henny. Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka!
“Henny!” terdengar suara ayahnya yang baru masuk dari halaman belakang..
Buru-buru keduanya turun dari meja itu dan mengemasi pakaiannya, terutama Henny.
“Henny…. Ayo bantuin kesini,” kembali suara ayahnya memanggil.
Terdengar suara langkahnya berjalan melangkah masuk. Seketika Henny
jadi pucat pasi. Saat itu dirinya masih telanjang bulat bersama Kosim.
Bahkan semprotan sperma masih menempel di berbagai tempat di wajah dan
payudaranya.
“Ayo, masuk kesana!” bisik Henny tiba-tiba sambil menarik tangan
Kosim masuk ke kamar mandi di dekat situ. Keduanya membawa pakaian
masing-masing. Namun… rupanya celana dalam Henny warna merah darah
terjatuh di lantai.
“Udah biarin aja,” kata Kosim kepada Henny saat gadis itu ingin
mengambilnya. Buru-buru mereka berdua masuk ke dalam dan segera
dikuncinya pintu kamar mandi itu. Oohhh! Seru Henny dengan lega sambil
dadanya masih terengah-engah. Gadis berkulit putih dan pria bertubuh
sawo matang kehitaman yang keduanya telanjang bulat itu berdiri
berdekatan di dalam.
“Celana dalamku gimana?” tanya Henny dengan khawatir sambil berbisik.
“Aah, tenang aja,” kata Kosim enteng. “Kalo ketahuan, bilang aja tadi
jatuh, atau kamu pake tapi … melorot,” kata Kosim sambil senyum-senyum.
“Awas lu ya!” kata Henny dengan wajah cemberut. “Hehehe, jangan
cemberut donk. Masih untung celana dalam kamu yang jatuh. Kalo celana
dalamku, lebih sulit lagi jelasinnya, hehehehe..”
“Iiiih…” kata Henny sambil mencubit supirnya itu.
“Hennyy! Dimana sih kamu?” terdengar suara tak sabar Papinya di luar.
“Papi.. aku lagi di kamar mandi,” teriak Henny yang sedikit mengeluarkan kepalanya. “Nanti kalo dah selesai aku ke sana.”
Kini keadaan mereka untuk sementara aman, namun mereka tak berani
langsung keluar karena tak tahu situasi di luar sana. Jangan-jangan pada
lagi nungguin di depan. Oleh karena terjebak disana dan tak bisa
ngapa-ngapain lagi, akhirnya mereka berdua mandi bareng. Keduanya saling
menyabuni satu sama lain, sebelum mereka berendam bersama di dalam bath
tub dengan Henny dipangku di atas oleh Kosim. Hal ini membuat Kosim
mulai naik lagi gairahnya apalagi dari tadi terus-terusan melihat dari
jarak dekat dan terus meraba-raba tubuh mulus telanjang gadis ini.
Selang beberapa saat, ketika Henny akan melangkah keluar dari bath tub,
tiba-tiba tangannya dipegang Kosim.
“Eh, mau kemana kamu?
“Ayo, kita harus buru-buru pake baju dan keluar dari sini. Nanti Papi
curiga aku kelamaan disini atau seandainya nyariin kamu tapi nggak
ketemu.”
“Bentar, kita main dulu sekali disini. Aku pengin lagi sama kamu.”
“Hah?! Lagi?” Seru Henny heran, sudah dapet jatah harian masih minta
tambah lagi. Saat ia membalikkan badan,“Oh my gosh!” Penis Kosim telah
menegang secara full seperti sebelumnya. Kini mau tak mau ia harus
melayani nafsu birahi supirnya itu sekali lagi sebelum keluar dari sana.
Segera Kosim meraba payudara Henny lagi. Di pinggir bath tub itu ia
menggrepe-grepe abis tubuh mulus menggairahkan ini terutama bagian dada,
paha, dan vaginanya. Setelah itu ia meng-ekse gadis ini dalam posisi
doggy style dilanjutkan dengan posisi gendong dan terakhir posisi
berdiri saat spermanya akhirnya muntah kembali di dalam vagina gadis
itu. Setelah selesai, akhirnya mereka mengenakan pakaiannya
masing-masing. Mula-mula Henny keluar terlebih dahulu. Setelah situasi
dilihatnya aman, ia memberi isyarat ke Kosim untuk segera keluar.
Akhirnya keluarlah mereka ke arah berlawanan.
“Lama banget sih kamu di dalam!” kata ayahnya dengan ketus. “Maunya
disuruh bantuin, sekarang jadi sudah selesai semuanya,” gerutunya lagi.
Henny hanya diam saja tak menjawab. Ayahnya ingin mengatainya lagi saat
dilihatnya Kosim berjalan di dekat situ.
“Kosim! Ngapain kamu disini?” hardiknya ke supir itu.
“Eh, anu Tuan, saya dari halaman samping mau numpang lewat ke belakang. Permisi Tuan.”
“Lain kali kamu jangan masuk ke dalam kalau nggak dipanggil. Kalo mau
ke belakang, lewat halaman luar sana. Mengerti?” hardik tuannya lagi.
“Baik, Tuan. Baik,” katanya sambil berjalan ngeloyor pergi karena tak ingin mendengar makian tuannya lebih lanjut.
Ayah Henny itu sama sekali tak menyangka kalau supirnya baru selesai
mengeksekusi anak gadisnya. Padahal saat itu penis Kosim masih belum
kering oleh sperma. Juga ia kurang jeli melihat keanehan sikap putrinya
saat itu. Untung saja mami Henny tak ada disana. Seandainya ada, tentu
ia bisa mencium gelagat tak beres dengan putrinya. Karena saat itu Henny
tak memakai celana dalam di balik rok seragam abu-abunya. Jalannya juga
agak aneh karena vaginanya masih berdenyut-denyut rasanya setelah baru
saja selesai dieksekusi secara perkasa oleh penis ukuran besar.
Sementara sebagian sperma Kosim juga mengalir turun ke luar dari
vaginanya, membuat rok bagian belakangnya menjadi basah.
–@@@@–
“Asyik juga ya nganterin dan nunggu di sekolah ini. Bisa cuci mata.
Murid-murid ceweknya cakep-cakep. Hehehehe….” kata supir itu yang
diikuti dengan tawa canda para supir lainnya. Kebetulan saat itu ada dua
murid cewek sekolah siang berjalan masuk, yang seketika langsung jadi
santapan mata para supir yang sedang nongkrong itu. Memang sekolah Liani
dan Henny itu termasuk sekolah elit yang hampir seluruh muridnya dari
kalangan atas, baik yang kalangan Indonesia asli maupun yang Chinese.
“Tapi lebih beruntung lagi kita-kita yang punya anak majikan cewek.
Hehehe. Sesekali bisa dapet rejeki ngeliat pemandangan indah,” timpal
seorang supir lain. “Seperti beberapa hari lalu, aku beruntung ngeliat
Non Farida pake baju senam. Badannya sexy, bok. Anaknya cantik lagi.
Hitam manis. Wajahnya mirip artis siapa itu… Aura Kasih.”
“Ah, nggak cuma kamu aja,” timpal supir lain tak mau kalah. “Aku
juga. Minggu lalu aku ngeliat Liani pake celana pendek banget dan kaus
ketat. Keliatan lekukan dadanya. Rupanya dia kaget waktu ngeliat aku,
tapi ya apa mau dikata hehehe. Lha wong aku udah terlanjur ngeliat. Tapi
sumpah, kulitnya itu, aduuh, mulus banget. Jadi gemes rasane aku,” kata
supir Liani yang tentunya tak lain adalah Pak Sripto. “Apalagi ngeliat
wajahnya yang polos gitu, jadi pengin molosin tubuhnya juga. Hahaha.”
“Ah! Itu sih nggak seberapa. Yang kalian lihat cuma bagian luarnya.
Sedangkan aku, kemarin aku ngeliat Felicia turun dari mobil roknya
terbuka. Jadilah kelihatan pahanya yang putih mulus dan celana dalamnya
warna merah. Hehehehe.”
“Kalian semua masih kalah sama aku. Dua hari lalu nih, pas aku lagi
nyiram tanaman, aku ngeliat dari jendela, Non Firda ganti baju. Tahu
nggak, baju atasnya itu dibuka semua, termasuk BH-nya. Jadi aku bisa
ngeliat susunya. Gede lho. Masih kenceng lagi. Dan lumayan lama juga
ngeliatnya. Hehehe.”
“Oh ya?” seru supir yang lain dengan kagum atas rejeki temannya itu.
“Firda itu yang mana sih?”
“Itu tuh yang anaknya kurus tinggi dan cakep.”
“Yang bokapnya jenderal bukan?”
“Betul.”
“Wah, gila juga lu. Berani main-main sama anaknya jenderal. Kena gaplok bapaknya tahu rasa.”
“Ah, khan bapaknya kaga tahu. Hehehe. Tapi mau digaplok juga nggak apa-apa, kalo boleh ngeliat susunya. Huahahaaa….”
Demikianlah percakapan “kaum bawah” para supir. Ternyata, di balik
sikap hormat yang ditunjukkan kepada majikan, diam-diam mereka memendam
rasa mupeng juga terhadap anak majikan masing-masing yang muda dan
cantik-cantik itu.
“Nah, ini dia jagoan kita datang. Gimana kabarmu, Sim,” tanya seorang supir kepada Kosim yang baru datang.
“Wah, kamu ketinggalan kereta. Kita tadi ngomongin anak majikan kita
yang cantik-cantik sexy-sexy dan mulus-mulus itu. Hahaha. Kamu sendiri
gimana, ada pengalaman asyik dengan anak cewek juraganmu yang cantik
itu?”
“Tadi Sripto pernah ngeliat Liani dengan pakaian minim. Usep ngeliat
Farida pake baju senam. Wawon ngeliat celana dalam Felicia. Aku ngeliat
susunya Firda dari luar jendela,” kata supir itu dengan bangga karena
dirinya yang paling “menang” diantara yang lain. “Nah, kamu sendiri
gimana? Jangan-jangan cuman nganter jemput doang. Hahahaha.”
“Aaah! Semua yang kalian ceritain itu… kagak laku! Kamu yang cuman
ngeliat susunya dari jauh aja udah bangga. Apaan tuh! Kayak aku donk,”
kata Kosim sambil menepuk dadanya. “Yang namanya Henny anak majikanku
tuh, sudah aku bikin kagak perawan dari sejak kapan-kapan. Kemarin aku
baru ngentotin dia lagi. Nggak cuman sekali, tapi dua kali. Sekali di
ruang tengah. Sekali di kamar mandi. Padahal kedua majikanku ada di
dalam rumah. Dan kalian semua tahu sendiri khan, Henny itu cakepnya
kayak gimana. Tapi dia sudah kenyang aku bolongin terus menerus. Malah
dianya jadi ketagihan juga. Mau posisi apa aja, sudah pernah aku
jalanin. Malah batangku ini sudah sering disepongin sama dia… sampe
muncrat kemana-mana di wajahnya. Atau kalo nggak, disesep abis sama dia.
Tapi yang paling berkesan tuh, waktu aku perawanin pertama kali. Waktu
itu darahnya keluar banyak banget menodai spreinya. Heheheh…. pertanda
kalau sudah pernah aku nodai,” kata Kosim sambil terkekeh-kekeh penuh
kebanggaan. “Sudah anaknya cakep. Kulitnya putih mulus. Bisa memerawani
pula. Itu baru prestasi!”
“Yang paling bikin aku paling gemes, pentilnya itu loh. Warnanya kemerahan. Asyik banget dimainin. Huahahaaa…..”
“Nah, itu dia, yang punya pentil merah sudah datang. Yuk, aku jalan
dulu. Abis ini mau langsung ngenyot-ngenyot sambil ngentotin dia lagi.
Byeee,” kata Kosim saat melihat Henny berjalan keluar, meninggalkan
kumpulan supir itu yang mulutnya semua pada menganga mendengar
ceritanya.
–@@@@–
Tak terasa waktu berlalu hampir 3 bulan lamanya sejak Kosim
memerawani Henny. Sehingga telah 3 bulan pula hampir setiap hari Henny
dieksekusi oleh Kosim kecuali saat menstruasi. Bahkan total-total tentu
telah lebih dari 100 kali banyaknya pengeksekusian itu terjadi karena
beberapa kali supir itu mengeksekusi gadis majikannya lebih dari sekali
dalam sehari. Sementara itu kini sekolah telah libur untuk persiapan
ujian akhir. Seharusnya masa-masa liburan itu digunakan untuk belajar.
Namun bagi Henny, justru masa-masa ini ia semakin gencar dieksekusi oleh
Kosim karena sehari-harinya ia berada di rumah terus. Sementara, ia
jadi nggak konsen untuk belajar. Malam itu kembali Kosim mendekatinya
secara diam-diam untuk mengajaknya bermain seks. Lagi-lagi Henny
memenuhi permintaan Kosim. Tak lama kemudian keduanya telah telanjang
bulat di sofa. Segera Kosim menindih dan menciumi Henny sambil
merangsangnya. Setelah itu segera gadis cantik itu dieksekusinya. Saat
itu ruangan telah gelap karena para penghuninya telah pada tidur semua
(kecuali mereka berdua tentunya). Saat itu Henny mengeluarkan suara
mendesah-desah saat dieksekusi Kosim dalam kegelapan. Tiba-tiba
terjadilah peristiwa yang mengejutkan semua orang. Karena lampu di ruang
tamu itu tiba-tiba menyala dan….terdengar suara orang menghardik dengan
keras,
“HENNY! Apa yang kamu lakukan!!” suara ayahnya begitu menggelegar membuat mereka berdua terkejut.
Namun ayahnya juga tak kalah terkejutnya melihat putrinya dalam
keadaan telanjang bulat bersama Kosim yang juga telanjang bulat. Apalagi
saat ia melihat penis Kosim sedang berada di dalam vagina Henny!
Mula-mula ayah Henny dengan marah berusaha menghajar Kosim.
“Bajingan kamu!” desisnya sambil tinjunya menghantam pipi Kosim.
Setelah itu serangan berikutnya berhasil ditangkis Kosim. Sambil
menangkis, ia melanjutkan gerakan penisnya maju mundur mengobok-obok
anak gadisnya, membuat ia semakin marah. Sementara Henny yang melihat
ayahnya muncul tiba-tiba langsung menjerit dan berusaha menutupi tubuh
telanjangnya. Padahal saat itu ia dalam keadaan setengah “fly” karena
hunjaman penis Kosim yang gagah perkasa di dalam tubuhnya. Situasinya
sungguh kacau balau. Plokk! Kembali tonjokan ayah gadis itu mengenai
lengannya.
“Ayo, lepaskan bangsat!” teriaknya.
“Papiii!” jerit Henny, dan… “Ahhh… ahhhh….ahhhh….” suara Henny sesaat kemudian.
Karena…, shleeb…shlebb…shleebb… Kosim masih terus menyetubuhinya.
“Aduuh, Henny! Apa yang kau lakukan Nak,” suara ibunya yang juga muncul sambil menangis terisak-isak.
“Mamiii…” teriak Henny melihat ibunya tiba-tiba shock.
Bukk! Anjing! Bangsat!!
“Aduuh Henny… Kok bisa-bisanya kamu pacaran sama supir… Gimana masa
depanmu nak? Masa mau kawin sama supir? Apalagi dia sudah punya anak
istri.”
… %#$&#%@*
Apa yang terjadi setelah itu semakin kacau dan tak terkendali.
Akhirnya Kosim mencabut juga penisnya dari dalam tubuh Henny karena mau
tak mau ia harus membela diri. Setelah barusan menyetubuhi anak gadisnya
kini ia beradu pukul dengan bokapnya. Sementara Henny menjerit-jerit.
Dan ibunya teler melihat itu semua. Malam itu Kosim langsung diusir dari
rumah itu dengan badan babak belur. Sementara ibu Henny masih shock
melihat putrinya main gila dengan supir. Ayahnya juga agak babak belur.
Ia yang mula-mula bersikap garang juga merasa hancur dan malu karena tak
menyangka perbuatan putrinya. Sedangkan Henny juga depresi berat,
akibat campur aduk rasa marah, sedih, malu, takut, dan lain-lainnya.
Kejadian malam itu sugguh suatu malapetaka besar bagi semuanya. Rupanya
Henny kalah cerdik dibanding sahabatnya. Seandainya Liani yang
melakukan itu, tak akan sampai tertangkap basah secara konyol seperti
ini, dimana pada akhirnya hanya menyulitkan semua orang saja, baik yang
tertangkap basah maupun yang menangkap basah.
–@@@@–
Dua hari kemudian, Henny kabur tanpa pamit dari rumahnya sambil
membawa barang-barangnya dan sejumlah uang dan benda berharga lain. Ia
hanya meninggalkan secarik surat yang isinya:
Kepada Mami dan Papi,
Maafkan Henny yang telah kabur dari rumah. Namun aku telah memutuskan semuanya. Aku meninggalkan rumah ini karena tak bisa hidup tanpa Mas Kosim. Dia adalah orang yang paling baik di dunia ini. Aku mencintainya sepenuh hati. Aku tak peduli dengan masalah sara, golongan, umur, pekerjaan, latar belakang, dan semuanya yang Mami dan Papi omongin tentang dia. Yang penting dialah orang yang bisa membahagiakan Henny. Bahkan seandainya benar ia telah beranak istri, aku rela menjadi istri keduanya dan mengurus anaknya. Karena aku sungguh mencintainya. Kemana pun ia pergi akan kuikuti. Apapun tantangannya, semua resiko akan aku hadapi, selama ada Mas Kosim yang selalu melindungiku dan mencintaiku.
Sebaliknya, aku sungguh muak dan benci dengan kehidupan di dalam rumah ini. Karena Mami adalah orang yang munafik dan Papi adalah orang yang sama sekali tak punya perasaan! Apapun yang kukerjakan selalu salah. Jadi, maafkan Henny kalau akhirnya Henny memutuskan untuk mengikuti Mas Kosim dan meninggalkan Mami dan Papi. Mungkin kepergianku ini justru membuat Mami dan Papi jadi bahagia, karena kini tak perlu lagi melihat anak pembawa sial yang bodoh dan tolol yang bikin mata sakit.
Kepergianku ini juga membuktikan kalau aku tak perlu hidup tergantung uang Papi dan Mami lagi. Aku juga bisa menerima dengan lapang hati seandainya Papi dan Mami yang karena marah dengan Henny tak ingin mengakui anak lagi.
Tambahan buat Papi:
- Kali ini Henny nggak akan melakukan kesalahan yang sama seperti dulu, nurutin perintah Papi ngebuang bonekaku. Kali ini aku memilih mengikuti kata hatiku sendiri, yaitu pergi dari rumah neraka ini untuk hidup bebas bersama Mas Kosim.
- Aku harap Papi bahagia membaca ini karena harapan Papi akhirnya terkabul dengan aku mendapat jodoh seorang supir.
Semoga Mami dan Papi sehat selalu.
Salam,
Henny.
–@@@@–
“Ah, Mas, aku senang sekali bisa ketemu dengan Mas lagi,” bisik Henny
kepada Kosim yang memeluk bahunya. Mereka berjalan berdua sambil
berpelukan, tanpa mempedulikan tatapan mata banyak orang yang memandang
dengan aneh. Bagi Henny, dunia seolah milik mereka berdua. Sementara
Kosim menatap balik kepada orang-orang yang memandangi mereka itu dengan
penuh rasa bangga. Terutama kepada cowok-cowok yang memandang dengan
rasa iri, cewek berwajah oriental secakep ini kok bisa-bisanya mau
dengan pria jelek dan agak tua yang tampangnya amburadul seperti tukang
becak itu. Untuk memperkuat kalau gadis cantik ini adalah “aset
miliknya”, Kosim sengaja secara demonstratif memeluk lebih erat gadis
ini dan meraba-raba pinggang dan pantat gadis ini di depan orang banyak
itu sambil sesekali mencium rambut panjangnya. Namun Henny tak menyadari
itu semua. Karena ia terhanyut oleh perasaan bebasnya dari masa lalu
dan harapan indahnya untuk masa depan. Mungkin malam itu adalah saat
paling indah sepanjang hidupnya kalau dibandingkan dengan masa lalunya,
dan mungkin juga dengan masa depannya.
–@@@@–
Henny tak muncul ke sekolah saat hari pertama Ujian Akhir Nasional.
Begitu pula hari kedua, dan seterusnya. Guru wali kelas yang berusaha
menghubungi rumahnya, tak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Demikian
pula teman-temannya yang berusaha menghubunginya, termasuk Liani yang
paling sibuk mencarinya. Keluarga Henny cuma memberitahu kalau Henny
telah melanjutkan sekolah ke luar negeri. Hanya itu informasi yang
didapat. Setelah itu, mereka cenderung menutup diri. Tak seorang pun
teman Henny yang menduga, di saat mereka sedang sibuk mencari-cari
dirinya, ia sedang mengikuti upacara pernikahan kilat dan diam-diam
dengan Kosim tanpa kehadiran seorang pun anggota keluarganya. Kini ia
telah sah menjadi istri Kosim bekas supirnya, atau tepatnya istri
keduanya.
–@@@@–
Begitu check-in di hotel bintang satu itu, Kosim langsung berkata,”
Melihat reaksi orang-orang rasis tadi, bikin aku makin napsu aja untuk
ngentotin kamu. Padahal mereka juga sama-sama pribumi. Tapi rupanya
mereka iri sama aku, nggak terima ada kaumnya yang bisa menikahi cewek
cina seperti kamu. Yuk, aku naikin kamu sekarang, aku udah pengin banget
nih. Sekarang waktunya kamu melakukan kewajibanmu sebagai istri,”
katanya sambil melucuti pakaian Henny. Rupanya ia tak ingin menunggu
lama-lama lagi untuk segera menikmati surga dunia dengan bini barunya.
Meski kini ia harus melupakan mimpinya untuk mendapatkan harta keluarga
gadis ini, namun paling tidak ia masih bisa menikmati kemolekan
tubuhnya. Dengan gagah perkasa, penisnya bergerak maju mundur
mengoyak-ngoyak tubuh vagina gadis berusia 18 tahun itu. Sementara Henny
terus mendesah-desah dengan nada tinggi saat suaminya dengan penuh
kemupengan terus menyetubuhinya sambil mengenyot-ngenyot buah dadanya
yang putih mulus menggairahkan itu. Saat sudah hampir tak tahan lagi,
Kosim mengeluarkan penisnya dan dimasukkan ke dalam mulut istrinya.
Setelah disepong-sepong…penisnya yang perkasa itu akhirnya memuntahkan
lava hangatnya di dalam, yang sebagian besar tertelan oleh gadis itu.
Dan aksi permainan ranjang mereka ditutup dengan Henny menggunakan
lidahnya menjilati ujung penis Kosim yang besar itu, membersihkannya
dari sisa-sisa sperma yang keluar belakangan. Setelah betul-betul puas
dengan permainan lidah istri barunya itu, dan setelah penisnya terkulai
lemah, barulah Kosim menariknya keluar dari mulut Henny. Ia duduk
terengah-engah, sambil hatinya puas menyaksikan istri elitnya sedang
tidur telanjang bulat telentang dengan sebagian spermanya mengalir
keluar dari mulutnya, membasahi pipi, leher, dan rambutnya yang disemir
kecoklatan. Menyaksikan itu semua, dirinya bagai di atas awang-awang.
Henny setelah bersetubuh dengan Kosim
–@@@@–
Malam itu Henny mendapat mimpi aneh. Dalam mimpinya, ia menjadi
sebuah boneka kecil yang cantik dan lucu yang selalu dibawa dan
disayang-sayang oleh seorang gadis kecil. Namun tiba-tiba gadis itu
membencinya dan membanting-banting serta menginjak-injak dirinya sampai
dirinya jadi kotor dan tak karuan bentuknya. Setelah itu ia dibuang oleh
gadis itu ke tong sampah yang kotor dan bau. Lalu ayah Henny membawa
tempat sampah yang berisi dirinya itu untuk diserahkan ke tukang sampah.
“Nih, buang semua isinya,” terdengar suara ayahnya berkata.
“Semuanya? Termasuk boneka itu?” tukang sampah itu bertanya.
“Ya, semuanya termasuk itu.”
Henny berusaha memberontak saat tong sampah tempat dirinya berada itu
dituangkan ke gerobak sampah besar yang baunya amat busuk dan penuh
dengan lalat, namun bagaimana mungkin seorang boneka kecil yang tak
berdaya seperti dirinya mampu melawan kekuatan besar itu? Kini ia
merasakan gerobak sampah mulai berjalan menjauhi rumahnya.
“Tidak! Tidak! Jangan bawa pergi aku!” teriak Henny sekuat tenaga sambil berusaha keluar dari gerobak itu.
“Henny! Henny! Jangan pergi kesana! Ayo kembali kesini!” tibat-tiba suara A-ma memanggilnya.
“A-ma! Tolong aku A-ma!” teriak Henny ketakutan. Sementara gerobak itu berjalan semakin cepat.
“Henny! Tunggu. Tunggu. A-ma akan mengambilmu kembali.” Dilihatnya A-ma berjalan mendekatinya.
“Hehehehe…. Kau tak akan bisa kemana-mana!” kata tukang sampah itu
mengejeknya sambil tertawa terkekeh-kekeh. Dan ia semakin mempercepat
jalannya. Sehingga A-ma yang sudah tua tak bisa mengejarnya.
“Hehehehe…. Kau tak akan bisa kemana-mana!” lagi-lagi tukang sampah itu berkata.
“A-ma!! A-ma! Tungguuuuuuu!! Huhuhuhuhu……” Henny menangis
tersedu-sedu melihat A-ma ketinggalan makin lama makin jauh. “Stop Pak!
Stop! Stop!” ia memohon kepada tukang sampah itu. Sebuah permohonan
yang sia-sia karena tukang sampah itu justru makin berlari. Membuat A-ma
kini hanya menjadi sebuah bayang-bayang saja yang semakin mengecil
sampai akhirnya lenyap dari pandangannya sama sekali.
“A-maaaaaaaaaaaaaaa!!!”
“Sekarang kau adalah milikku… Huahahahahaaa…..,” tukang sampah itu
menatapnya dengan bengis dan mentertawai dirinya yang amat ketakutan
itu. Ia tak bisa melihat wajah tukang sampah itu karena posisi matahari
yang tepat di belakang orang itu membuat matanya silau. Kini tukang
sampah itu berlari semakin cepat membuat ia tak bisa melihat apa-apa
selain bayangan-bayangan tak jelas bentuknya yang begitu cepat
berkelebat.
“Tidaaakkkkkkkk! Tidaaakkkkkkkk! Tidaaakkkkkkkk,” Henny berteriak sekuat tenaga sambil meronta-ronta.
Namun tak ada yang mendengarnya karena meski ia berteriak sekuat
tenaga, namun teriakannya makin lama makin kecil sampai akhirnya ia
berteriak dalam kebisuan. Kini tubuhnya terguncang-guncang karena
gerobak itu melewati jalan berbatu cadas besar-besar dengan kecepatan
tinggi. Juga ia menjadi sesak napas. Entah kenapa, ia sulit sekali
bernapas.
….
….
“Henny! Bangun Henny! Bangun!” terdengar suara orang memanggilnya dan mengguncang-guncang badannya.
“Henny! Bangun! Tenang sayang. Jangan berteriak-teriak begitu!” kata
orang itu yang satu tangannya masih mengguncang-guncang dirinya
sementara tangan satunya menutup mulutnya.
Akhirnya Henny mulai tenang dan tak berteriak lagi. Kini ia mulai
sadar. Tubuhnya terasa lemas. Keringat membasahi dirinya. Henny secara
berangsur mulai pulih kesadarannya.
“Tenang sayang. Kamu tadi hanya mimpi buruk. Tapi kini kamu sudah bangun jadi tak perlu takut lagi,” kata orang itu.
Saat itu kedua mata Henny telah terbuka, namun karena baru bangun
jadi masih belum beradaptasi secara normal sehingga ia belum bisa
melihat fokus. Karena itu ia tak bisa melihat jelas wajah orang di
dekatnya itu. Apalagi di belakang orang itu ada lampu meja yang menyala
terang yang membuatnya silau, seperti sinar matahari yang menyilaukan
matanya di dalam mimpinya tadi. Namun saat orang itu berbicara ia
seketika langsung mengenali orang itu melalui suaranya. Dan seketika
seluruh tubuhnya menjadi tegang karena suara itu sama persis dengan
suara tukang sampah tadi!
“Kamu nggak perlu takut akan mimpi buruk, manis. Karena sekarang ada
aku yang akan selalu tidur bersamamu,” kata orang itu sambil meraba-raba
dagu dan bahu putih Henny. Mata Henny yang secara berangsur-angsur
pulih kembali kini bisa melihat jelas wajah Kosim suaminya!
