Recent Posts Widget

xXx STORY : Parto : Cerita Bokep

https://cerita-porno.blogspot.com/2012/06/xxx-story-hadiah-ulang-tahun-yang.html

Day 1
Lelaki berkulit sawo matang bertampang amburadul dan berpakaian kusut itu memencet bel di depan pintu gerbang rumah yang besar sekali itu. Beberapa saat kemudian muncul pembantu cewek stw dari dalam rumah itu.
“Lho, Parto! Kok kamu bisa kesini?”
“Ceritanya aku nyari kerja di Jakarta, Mbak. Tapi sudah jauh-jauh kesini, sampai   seminggu masih belum dapet kerjaan juga. Sekarang duitku abis Mbak.”
“Aduh, Parto, Parto, dari dulu kamu itu nggak pernah berbuat benar. Nggak dipikir dulu, nekat ke Jakarta. Ngabis-ngabisin duit aja.”
“Yah gimana lagi Mbak. Semua ini gara-gara si bangsat Tarjo itu. Kata dia di Jakarta enak, kerjaan kantoran dapet duit banyak. Ternyata sampe disini, aku ga dapet kerjaan. Dan dia ternyata cuma jadi kuli bangunan.”
“Trus sekarang maumu apa?”
“Eh, anu..aku mau minta duit, Mbak. Dan aku pengin kerja di rumah ini. Wah, rumahnya gede dan bagus. Pasti yang punya kaya banget ya Mbak.”
“Enak aja. Pikirmu Mbakmu ini punya duit banyak. Dan kamu jangan mimpi bisa diterima kerja disini. Lha wong kamu ga punya kepandaian apa-apa gitu.”
“Siapa tahu disini butuh tenaga kasar Mbak. Jadi kuli atau kacung pun aku mau daripada pulang ke desa. Malunya itu lho.”
“Salah sendiri, kenapa kamu nekat ke Jakarta. Huh, jangan harap kamu tinggal disini. Tuan nggak akan menerima kamu kerja apalagi membolehkan tinggal disini.”
“Kok dari tadi Mbak yakin banget aku ga bakalan diterima disini?”
“Soalnya Tuan khan punya anak gadis yang baru dewasa. Mana mungkin dia membolehkan kamu tinggal disini.”
“Lho aku khan pengin kerja beneran bukan mau ngapa-ngapain. Lagipula mana mungkin aku berani godain anak majikan. Coba tanyain dulu Mbak. Kalo memang ga boleh ya udah aku pulang. Tapi kasih duit buat ongkosnya donk.”
Entah karena kegigihan Parto yang memaksa atau karena ia tak mau memberikan uang,  akhirnya ia mengalah.
“Ya udah aku coba tanyain ke Tuan dulu. Kamu tunggu disini, jangan kemana-mana.”
Tak lama kemudian, pembantu cewek tadi muncul lagi sambil membuka pintu pagar.
“Kamu betul-betul mujur. Kebetulan Tuan butuh orang untuk mencabuti rumput liar dan mengerjakan pekerjaan kasar lainnya. Tapi kamu disini cuma sementara. Sekarang hari Senin. Hari Jumat pagi nanti, sebelum Tuan pergi ke kantor, kamu sudah harus pergi. Gajimu 5 hari disini cukup untuk ongkos pulang. Tapi awas, disini kamu jangan bikin malu Mbak ya!” katanya memperingatkan adik bungsunya.
“Baik Mbak,” kata Parto sambil menghela nafas. Ah, kalau cuma kerja 5 hari nyabutin rumput, ngapain aku jauh-jauh ke Jakarta, keluhnya.
–@@@@– 
Parto
Parto
Parto adalah pemuda malas yang tinggal di desa di Jawa Timur. Meski usianya sudah 21 tahun, ia masih luntang lantung tanpa kerjaan dan bergantung ke orangtuanya. Ia tak mau bekerja karena merasa tak punya tanggungan apa-apa. Sementara biaya hidup orangtuanya ditunjang oleh saudara-saudaranya termasuk pembantu cewek tadi yang bernama Mbok Minah. Ia adalah kakak sulungnya. Meski pengangguran, tak berarti kehidupan Parto susah. Malah sebaliknya, tiap hari ia menghabiskan waktu berjudi maen gaple dan kartu sambil menggodai gadis-gadis desa yang lewat. Ia juga sering menggerombol dengan pemuda-pemuda berandalan lainnya sambil minum-minum tuak. Kalau duitnya habis, ia tinggal minta ke orangtuanya. Orangtuanya tak bisa menolak karena sejak kecil memang ia amat dimanja. Sehingga semua saudara-saudaranya jadi sebal dengan Parto. Sementara itu, ibunya beberapa kali mencoba ingin mengawinkan dia dengan gadis sedesanya yang seumuran. Namun semua pinangannya itu selalu ditolak, baik oleh gadisnya sendiri dan juga keluarganya. Karena reputasi Parto terkenal buruk. Apalagi belakangan ini timbul isyu santer kalau dia ada hubungan gelap dengan Sutinah, janda kembang muda yang cantik. Beberapa orang menjumpai dirinya keluar dari rumah Sutinah. Kebetulan atau kebetulankah? Yang jelas reputasi Parto semakin hancur di desanya. Oleh karena itu, saat Tarjo teman kecilnya balik dari Jakarta dan membual tentang hidup enak di Jakarta, dengan nekat ia pergi ke Jakarta. Inilah jalanku, pikirnya sambil membayangkan orang-orang yang kini memandang rendah dirinya, nantinya pada terkagum-kagum melihat keberhasilannya hidup di Jakarta. Namun apa lacur, kenyataan sungguh jauh berbeda  dibanding angan-angannya. Sungguh beruntung ia sebelumnya mencatat alamat rumah tempat kakak sulungnya bekerja, sehingga kini bisa didatanginya. 
–@@@@–
Begitu selesai memberikan instruksi kepada Parto, Pak Sutanto pemilik rumah itu segera pergi ke kantor. Sementara Parto mulai bekerja mencabuti rumput liar di taman yang luas.  Karena memang malas, belum setengah jam ia mulai mengeluh. Namun karena tak ada pilihan lain, ia terpaksa melakukan pekerjaannya itu dengan terus-terusan mengeluh. Tak terasa hari pun telah berubah menjadi sore dan kini ia telah berhenti bekerja. Saat itu ia sedang berbincang-bincang dengan kakak sulungnya yang usianya terpaut 20 tahun itu, ketika tiba-tiba terdengar bunyi klakson mobil.
“Sebentar, aku bukain pintu dulu,” kata Mbok Minah langsung meninggalkan Parto. 
Tak lama kemudian, masuklah mobil merah ke dalam rumah itu. Ternyata pengendaranya seorang gadis yang masih sangat muda. Wajahnya putih cakep dan berambut panjang. Ia memakai baju seragam yang lengkap dan tertata rapi di tubuhnya.
Cewek itu tersenyum manis kepada Mbok Minah.   
“Kok Non Fey Chen jam segini baru pulang?” tanya Mbok Minah.
“Soalnya tadi ada latihan buat upacara 17 Agustus, Mbok. Aku kepilih jadi pembawa bendera. Makanya pake baju seragam lengkap gini,” jawab Fey Chen dengan ramah sambil menutup pintu mobilnya.
Fei Chen dalam seragam sekolah
Fei Chen dalam seragam sekolah
Sementara Parto yang melihatnya dari kejauhan sungguh terkesima dengan cewek cakep itu apalagi saat dia tersenyum manis. Kesannya putih bersih dan high class gitu loh. 
Belum pernah ia melihat cewek semenarik itu. Usianya masih sangat muda. Kulitnya putih bersih. Wajahnya sungguh cantik menawan. Ditambah lagi rambutnya yang panjang dicat agak kecoklatan. Sungguh bening sekali, beda dengan gadis-gadis desa yang biasa dilihatnya.
“Oh ya Non, yang disitu itu Parto adik Mbok yang baru datang dari desa. Tadi pagi ia datang kesini dan Tuan mau mempekerjakan dia disini sampe Jumat,” katanya sambil menunjuk Parto yang berdiri agak kejauhan itu. Rupanya Mbok Minah tidak ingin cewek itu kaget melihat ada cowok rendahan yang tak dikenal berada di dalam rumah.
“Ooh, begitu,” komentar cewek itu singkat tanpa sedikitpun menoleh ke arah Parto. ”Oh ya, Mbok, tadi Papi bilang nggak pulangnya jam berapa?”
“Tadi Papi pesan kalo pulangnya agak malaman, jadi kalau sudah lapar, Non makan duluan aja katanya.”
Sementara Parto yang dari tadi sudah kesengsem dengan gadis itu, merasa berbunga-bunga saat dirinya dikenalkan oleh Mbok Minah. Ia pengin jual tampang dikit ke cewek itu. Segera ia berjalan mendekati mereka. Lumayanlah kalo bisa salaman sama dia juga, pikirnya.
“Oh begitu. Ya udah aku masuk kamar dulu deh Mbok,” kata Fey Chen.
Sementara itu Parto yang berjalan mendekat sambil terus memandang Fey Chen lekat-lekat, menganggukkan kepalanya sambil menyodorkan tangannya dan berkata,” Saya Parto, Non.”
Namun sial baginya, karena bersamaan pada saat itu Fey Chen telah keburu membalikkan badannya dan berjalan ke dalam. Pada saat yang sama Fey Chen berbicara ke Mbok Minah tanpa menoleh,”Tolong makanannya dipanasin sekarang ya Mbok, sementara aku mandi dulu.” Sehingga ia tak mendengar suara Parto. Jadilah kini Parto berdiri salah tingkah sementara tangannya masih terjulur ke depan. Mukanya merah padam. Sementara Mbok Minah tertawa mengikik melihat adegan lucu itu. 
“Hahahaha. Makanya jadi orang jangan sok pengin nampang. Level kamu nggak nyampe. Nggak dianggap kamu sama dia. Makanya jadi orang tahu diri dikit napa sih. Ayo kamu  balik nyabutin rumput sana,” kata Mbok Minah sambil tertawa setelah Fey Chen masuk ke dalam rumah.
“Itu tadi siapa sih, Mbak?” tanya Parto penasaran saat keduanya berjalan masuk.
“Ooh, dia itu Non Fey Chen, anaknya Tuan. Kalo Tuan manggil dia Chen-Chen. Kalo kamu harus panggil dia Non, jangan panggil namanya! Dan ingat, kamu jangan kurang ajar sama dia. Mengerti?”
 “Wah, anaknya cantik banget ya Mbak. Kulitnya putih lagi. Memang cewek Cino akeh sing ayu-ayu yo Mbak (cewek Chinese banyak yang cakep ya Mbak), tapi dia ini betul-betul istimewa.”
“Hushh! Sudah dibilang jangan kurang ajar kok kowe ngomong gitu!” sergah Mbok Minah.
“Lho iya beneran Mbak. Ga pernah aku ketemu cah wedhok sing ayune koyok ngono (Nggak pernah aku ketemu dengan cewek yang cakepnya seperti itu).”
“Kowe kalo ngomong jangan sembarangan. Ingat, disini kamu cuma numpang sementara. Kamu harus sopan sama tuan dan terutama sama Non, mengerti?”
“Yo ngerti ngerti Mbak. Tapi mbayangno di dalam hati khan boleh-boleh aja. Lha wong cakep dan putihnya kayak gitu, heheheh,” kata Parto sambil membayangkan wajah Fey Chen tadi. Apalagi ia mendengar gadis itu tadi bilang kalau ia akan mandi dulu sebelum makan. Dasar pikirannya memang kotor, ia langsung membayangkan Fey Chen yang cakep itu tentu kini sedang telanjang bulat. Seketika batangnya langsung mengeras  membayangkan itu.
“Heh! Ngelamunin apa kamu? Ayo sini bantuin Mbak bawa panci ini ke dalam untuk makan malam Non,” seru Mbok Minah.
“Omong2, dia umur berapa sih Mbak? Masih sekolah ya.”
“Ngapain kamu nanya umurnya segala? Itu bukan urusanmu tahu. Urusanmu disini cuma kerja kasaran, bukan ngurusin umurnya Nonik. Ngerti kowe?”
“Ya ngerti, Mbak. Tapi ngomong antar kita sendiri khan nggak apa-apa. Aku cuma pengin tahu aja. Kok keliatannya masih muda banget.”
“Memang dia baru ulang tahun ke-18, dia masih sekolah kelas 3 SMA.”
“Ooh, makanya tadi Mbak bilang anaknya Tuan baru dewasa.”
“Wis, wis jangan ngomongin dia lagi. Ayo taruh panci itu disini,” perintah Mbok Minah kepada Parto.
“Wah, wis cakep, sexy, putih, masih muda, anak orang kaya lagi,” kata Parto membatin sambil menelan ludahnya. Ia masih terbayang-bayang akan wajah cakep Fey Chen.
Tak berapa lama keluarlah Fey Chen dari kamarnya. Wajahnya nampak segar. Ujung-ujung rambutnya masih terlihat basah. Pertanda ia baru saja selesai mandi. Parto cukup beruntung saat itu. Tadi ia hanya bisa melihat wajah cantik Fey Chen saja, sementara tubuhnya tertutup rapat oleh baju seragam hitam yang lengkap dan berlapis-lapis. Namun kini ia melihat Fey Chen memakai pakaian rumah yang sifatnya informal yang tak se-tertutup dan berlapis-lapis seperti baju seragamnya tadi. Seketika mata Parto jelalatan  menyaksikan putih mulusnya dan keindahaan bentuk tubuh gadis itu.
“Wah, makanannya sudah selesai ya. Makasih ya Mbok,” kata Fey Chen dengan wajah ceria. Daster tanpa lengan warna abu-abu dengan motif bunga itu sungguh cocok sekali   dikenakannya. Fey Chen sama sekali mengacuhkan kehadiran Parto. Sebaliknya Parto menatap gadis itu sampai melongo. 
Pandangan mata Parto tak bisa melewatkan “benda bening” di depan matanya itu. Daster yang dipakai Fey Chen itu termasuk “heboh” buat ukuran orang desa seperti Parto. Karena daster tanpa lengan itu menunjukkan jelas-jelas ke-sexy-an tubuh pemakainya. Bahu dan seluruh tangan gadis itu begitu terbuka dan terlihat jelas. Sungguh putih mulus kulitnya. Pinggulnya nampak padat berisi. Dadanya nampak menonjol di balik daster itu apalagi kalau dari samping, pertanda payudara gadis itu telah tumbuh sempurna. Tepat di ujung belahan leher daster itu, terlihat sedikit belahan payudaranya. Tak heran kalau sebentar-sebentar Parto selalu melirik ke arah Fey Chen. Sementara itu Mbok Minah seolah berperan sebagai polisi yang mengawasi jelalatan mata adiknya itu. Ia beberapa kali memelototkan matanya ke arah Parto memberi isyarat untuk meninggalkan cewek itu. Dengan terpaksa akhirnya Parto meninggalkan ruangan tengah itu dan pergi ke kamarnya di ujung belakang. Sebagai hiburan di dalam kamar, ia mendengarkan lagu dangdut dari radio kecil yang dibawanya. Inilah satu-satunya hiburanku, pikirnya. Sampai akhirnya ia pun tertidur lelap apalagi hari itu ia cukup kecapean karena mencabuti rumput. 
–@@@@–
Day 2
Pagi-pagi, Parto terbangun saat Mbok Minah memanggil-manggil namanya, padahal ia masih mengantuk.
“Ayo cepat bangun. Tuan ingin bicara sama kamu!”
Hari itu, selain mencabuti rumput, Pak Sutanto menyuruhnya untuk membetulkan genting yang bocor di bagian belakang rumah. Setelah itu, Pak Sutanto berangkat ke kantor. Sementara ia tak melihat Fey Chen pagi itu karena anak itu telah berangkat ke sekolah sejak pagi-pagi tadi. Setelah itu Parto melanjutkan mencabuti rumput. Siangnya ia naik ke atas membetulkan genting yang bocor. Kira-kira agak sorean ia mendengar suara Pak Sutanto dan Fey Chen. Rupanya mereka telah sama-sama pulang ke rumah. Namun ia sama sekali tak mendapat kesempatan cuci mata, karena ia harus bekerja di atas genting.
Saat itu Parto ingin beristirahat setelah “bekerja keras seharian”. Ia menuruni tangga dan menuju ke belakang. Sambil bertelanjang dada ia menggotong tangga itu. Karena masih asing dengan rumah yang besar itu, rupanya ia salah jalan. Ia menuju ke sisi rumah yang selama ini belum pernah didatangi. Namun sungguh tak rugi ia salah jalan. Karena ia melihat dari arah samping, Fey Chen yang sedang asyik berjalan-jalan sambil ber-jogging menikmati angin sore yang sejuk. Sementara Fey Chen tidak melihatnya. Buru-buru ia bersembunyi dan mengintip di balik dinding bata yang berlubang-lubang. Ia ingin menikmati lebih lama pemandangan indah itu tanpa ketahuan gadis itu. Karena saat itu Fey Chen memakai pakaian yang minim sekali. Bahkan di mata orang desa seperti dirinya, itu termasuk kategori telanjang. Kini ia dengan bebas memelototi ke-sexy-an Fey Chen tanpa diketahui gadis itu. Rupanya saat itu Fey Chen sedang asyik sendiri sehingga ia tak memperhatikan kalau ada cowok di balik dinding sedang asyik mengagumi kemulusan tubuhnya. Namun sial bagi Parto, karena Fey Chen kini membelok ke arahnya. Rupanya gadis itu ingin melihat bunga-bunga merah yang merambat di dinding dari jarak dekat. Sementara ia tak sadar kalau Parto berdiri di belakangnya, juga sedang memperhatikan “bunga berjalan” yaitu dirinya. Parto berdiri kaku di belakang Fey Chen. Ia merasa tegang. Sekali gadis itu menoleh ke belakang, habislah ia sudah. Namun ia juga terpana oleh pemandangan indah bagian belakang tubuh Fey Chen. Bentuk tubuhnya sungguh proporsional. Kedua lengan dan pahanya begitu putih mulus. Pantatnya begitu padat menonjol di balik rok mini ketatnya. Namun rupanya naluri kewanitaan Fey Chen merasakan ada sesuatu yang janggal di balik punggungnya. Karena secara tiba-tiba gadis itu membalikkan badannya. Dan, kelihatan kalau ia amat terkejut sampai-sampai dirinya tersentak dan mengeluarkan seruan tertahan. Entah ia kaget karena tiba-tiba ada cowok rendahan macam Parto di belakangnya tak jauh dari tempatnya berdiri dan sedang menatap dirinya lekat-lekat. Ataukah karena jengah melihat tubuh kekar cowok berkulit sawo matang yang hanya terbalut celana pendek saja. (Atau mungkin karena keduanya?) Sementara Parto juga kaget tiba-tiba cewek itu menoleh ke arah dirinya. Ia jadi serba salah. Saat itu ia bagaikan murid yang ketahuan nyontek oleh gurunya. Setelah berhasil menguasai dirinya, akhirnya Fey Chen membuka pembicaraan.
“Mas namanya Parto ya?…” tanya Fey Chen dengan pandangan menyelidik.
“Iya Non,” kata Parto menjadi grogi dan tak berani memandang balik cewek itu.
“Ngapain kamu disini?” tanya gadis itu dengan pandangan tajam.
Fei Chen saat menegur Parto
Fei Chen saat menegur Parto
“Eh, anu Non, saya mau naruh tangga ini disini,” kata Parto sambil berusaha menyandarkan tangga itu ke dinding bata tempat ia berdiri.
“Tangga itu pasti bukan disini tempatnya. Dan pasti kamu salah jalan kesini,” kata Fey Chen sambil menaruh kedua tangannya di depan dadanya seolah ingin menutupinya dari pandangan Parto. 
“Eh, iya. Anu, maaf, saya tadi salah jalan Non,” katanya sambil melirik sebentar ke tubuh sexy di depannya itu. 
“Iya, kamu pasti salah jalan. Nggak seharusnya kamu masuk kesini. Jalan keluarnya lewat sana tuh,” kata Fey Chen sambil menunjuk dengan satu tangannya sementara tangannya yang lain masih menutupi dadanya. 
“Baik. Permisi Non,” kata Parto sambil berjalan ngeloyor pergi.
“Tunggu,” seru gadis itu tiba-tiba.
“Eh, ada apa Non.”
“Itu tangganya dibawa keluar juga,” kata Fey Chen,” Dan ingat, kamu jangan kesini lagi. Mengerti?” 
“Oh, i-iya Non. Permisi Non,” kata Parto sambil tergopoh-gopoh membawa tangga itu. Ia tak berani menoleh ke belakang lagi.
Fey Chen akhirnya lega begitu Parto meninggalkan tempat itu. Ia sendiri merasa risih berbicara terlalu lama dengan Parto barusan. Pertama, ia menyadari pakaiannya cukup minim untuk “konsumsi” orang seperti Parto ini di tempat sunyi seperti itu. Dan kedua, ia jengah melihat Parto yang bertelanjang dada dan hanya memakai celana pendek yang sangat pendek. Ia bahkan tak berani melihat ke tanah, karena takut melihat bagian bawah tubuh Parto yang hanya tertutup celana yang amat pendek.
Tak lama kemudian muncullah Mbok Minah.
“Ada apa Non, kok tadi Mbok denger Non bicara sama orang.”
“Iya, sama Mas Parto, Mbok. Dia tadi nyasar ada disini.”
“Ooh, memang geblug itu anak. Padahal Mbok sudah bilang ga boleh ke tempat ini karena ini tempat Non Fey Chen. Maafin deh Non. Dia memang orangnya agak-agak bego,” kata Mbok Minah berusaha melindungi supaya Fey Chen tidak berpikiran yang negatif terhadap Parto.
“Iya memang kayaknya sih memang dia rada-rada telmi gitu Mbok. Bukannya menghina ya. Masa tangga mau ditaruh di dinding sini. Padahal tingginya jelas-jelas nggak cukup,” kata Fey Chen sambil tersenyum geli. 
“Iya memang dari dulu juga begitu tuh anak. Nanti Mbok kasih tahu lagi deh Non. Maaf ya kalo tadi ngeganggu Non.”
–@@@@–
Malamnya…
Parto berdiam di dalam kamarnya terus. Atau tepatnya “bersembunyi” disana. Ia merasa takut kalau-kalau Fey Chen mengetahui pikiran kotornya terhadap gadis itu dan melaporkan kejadian sore tadi ke Papinya. Untuk menenangkan pikirannya, ia ngendon di dalam kamar terus sambil mendengarkan radionya. Setelah sampai malam tak ada teguran yang ditakutinya, kini dirinya merasa lega.   
–@@@@–
Saat larut malam…
Pikiran Parto kembali membayangkan pertemuannya dengan gadis itu tadi. Tubuhnya berkeringat. Penisnya menegang keras. Jantungnya berdetak lebih kencang. Perasaannya bercampur antara rasa grogi dan terangsang. Antara takut dan nafsu birahi……… 
–@@@@–
Saat lewat larut malam…
Suasana rumah sunyi senyap. Namun di dalam kamar gelap yang dingin ber-AC itu terdengar suara sayup-sayup, suara seorang cowok dan cewek.
“Ooohh….ohhhh…ohhhhhh, “ terdengar suara cewek itu mendesah-desah perlahan seperti layaknya sedang disetubuhi cowok.
Lalu terdengar suara cowok,
“Ayo, sekarang isep kontolku…Nah, ya gitu dong, aahhh, ahhhh, ahhhhh, seru suara cowok itu. Rupanya penisnya telah mulai didalam kuluman cewek tadi.
Tak lama kemudian,
“Oohhh, ohhhh, aaahhhhh, aaahhhhhhhhhh,” serunya penuh rasa puas saat seluruh spermanya meleleh di dalam mulut cewek tadi.
Tak lama kemudian, lampu di dalam kamar itu dinyalakan. Yang cowok masih terkapar dengan telanjang bulat. Napasnya terengah-engah memandangi cewek di dekatnya yang juga telanjang bulat. Di dekat mulut cewek itu masih terdapat sisa-sisa sperma yang mengalir keluar dari mulutnya.  
“Wah, makin lama kamu makin asyik aja maennya, Nah,” kata Pak Sutanto kepada Mbok Minah,” Kamu nggak kalah sama cewek-cewek muda 20 tahunan. Yang pasti kamu lebih hebat dibanding Nyonya.”
“Ah, bisa aja Tuan,” katanya tersipu.
(Sungguh aneh. Kok bisa-bisanya Pak Sutanto kepincut sama Minah. Padahal dengan kekayaannya ia bisa mendapatkan banyak cewek-cewek muda yang jauh lebih cakep dan seksi. Sementara Minah sendiri meski body-nya bahenol tapi sudah stw dan tak bisa dikategorikan cakep. Mungkinlah karena ia jago bermain di ranjang, sehingga Pak Sutanto dibuatnya takluk? Ataukah ada alasan lain? Atau keduanya?)
“Iya betulan. Besok malam lagi ya, mumpung Nyonya nggak disini. Aku pengin ngenyot-ngenyot susumu yang montok ini lagi,” kata Pak Sutanto dengan senyum mesum sambil meremas-remas payudara Minah yang montok.
“Iih, Tuan genit deh,” katanya berusaha menepis tangan nakal majikannya itu, tapi pada akhirnya tangan majikannya itu masih terus melekat di dadanya.
“Udah aku balik ke kamar dulu. Besok mesti bangun pagi-pagi nyiapin buat Non Fey Chen,” kata Minah sambil berdiri dan mulai mengenakan seluruh pakaiannya.
“Ya udah kamu balik sekarang. Tapi ingat, besok jam yang sama kamu kesini lagi untuk begini lagi ya,” kata Pak Sutanto sambil menyelipkan ibu jarinya di antara telunjuk dan jari tengahnya.
“Kalo itu tergantung, ininya banyak nggak,” kata Minah sambil menggerakkan tiga jarinya.
“Itu sih beress. Nih buat malam ini,” kata Pak Sutanto mengambil segepok Rupiah dan menyelipkannya ke balik bra Minah dan meremasnya. “Besok aku tambah deh persenannya.”
“Makasih tuan. Yuk, aku balik dulu,” katanya sambil mengerling genit dan memajukan bibirnya seolah mencium, sebelum membalikkan badan dan keluar dari kamar tuannya.
–@@@@–
Saat lewat lewat larut malam, menjelang subuh…
Terdengar bunyi kresek-kresek di dalam rumah itu namun di kamar yang berbeda. Kali ini di kamar Parto. Parto yang telanjang bulat sedang menindih tubuh Fey Chen yang juga telah telanjang bulat. Keduanya menempel menjadi satu. Dan ternyata penis Parto telah berada di dalam vagina Fey Chen. Dan, Parto mengocok-ngocok penisnya di dalam tubuh gadis itu.
“Ooohh, oohhhh,  ohhhhhh…….
Suara keduanya bercampur menjadi satu seiring dengan kocokan penis Parto di dalam tubuh Fey Chen.
“Ahhhh, Fey Chen, ahhhhhh, ahhhhhh
(To be continued next day)
–@@@@–
Day 3
“Ooohh, ohhhh, ohhhh.”
Shleeb, shleeb, shleeb
Mmmpphh
Aaahh, aaahhhh, aaahhhh, aaahhhhhh…
Dokk, dokk, dokk!
Dokk, dokk, dokkkk!
Dokk, dokk, dokkkkkk!
Terdengar suara pintu yang digebrak-gebrak makin keras.
“Partooo!!”                                                                       
“Partooo!!”
Parto yang sedang asyik, jadi sangat terkejut.
“Iya, iya, “ serunya tergopoh-gopoh.
“Ayo buka pintunya, lagi ngapain aja kamu sih. Dipanggil-panggil dari tadi nggak dijawab,” suara Mbok Minah. “Kamu ini maunya kerja atau apa?”
“Iya, iya bentar. Ah ngeganggu keasyikan orang aja,” gerutu Parto.
“Ada apa sih Mbak, pagi-pagi ngagetin orang.”
“Ini sudah jam 6 pagi. Kamu harus bangun!”
Ah sialan, padahal ini udah ampir ngecrott, memang Mbak Minah ini ngerusak kesenangan orang aja. Lagi asyik-asyik sama “Fey Chen” dikagetin kayak gini. Padahal tiap malem dia sendiri “disasak” Pak Sutanto, gerutunya.
“Ayo cepat kamu mandi dan bangun. Jangan bikin malu aja.”
“Iya, iya, ini aku mandi,” kata Parto keluar dari kamarnya sambil menuju ke kamar mandi.
Sementara itu, sebelum Parto bangun, pagi-pagi Fey Chen telah meninggalkan rumah itu berangkat ke sekolah. Hari ini ia tak membawa mobil namun ia dijemput temannya. 
–@@@@–
Saat siang hari dikala Mbok Minah dan Parto sedang makan bareng, tiba-tiba Parto membuka pembicaraan.
“Aku heran karo kowe Mbak. Kerja jadi pembantu kok bisa beli pakaian dan perhiasan yang mahal-mahal. Memang sebulan dikasih gaji berapa sih?”
“Ah, selain gaji bulanan aku khan sering dapet duit tambahan dari Non Fey Chen dan juga tuan. Soalnya semua urusan Non Fey Chen khan aku yang beresin semua, dari nyuci baju, nyiapin makanan, mijitin dia, bahkan juga dia suka curhat tentang cowoknya.“
“Ooh, dia sudah punya cowok tho,” kata Parto dalam hati agak-agak iri hati.
“Iya lah, cewek cakepnya kayak gitu, cowok mana yang ga suka sama dia. Sudahlah To, kamu jangan mikirin dia terus. Mbok ya kamu ngaca. Jangan mikirin yang nggak-nggak. Mending abis ini kamu pulang kampung, kerja yang bener trus kawin gitu lho.”
“Bukan gitu, Mbak. Aku cuma mikir aja, kirain dia belum punya cowok gitu lho.”
“Eh, omong2, kok disini nggak ada Nyonya-nya Mbak. Memang kemana?”
“Ooh, nyonya itu juga orang sibuk. Maklum kedua majikan kita ini sama-sama orang bisnis. Jadi sering pergi sendiri-sendiri. Sekarang dia pas nggak ada disini.”
“Ooh gitu. Makanya sekarang Mbak “ngegantiin fungsi nyonya” ya,” sindir Parto.
“Lho maksudmu apa To??”
“Hehehe. Aku sekarang tahu Mbak dapet duit banyak karena tiap malem Mbak mijitin Tuan, tapi pijit-pijit plus plus plus,” kata Parto sambil nyengir kuda.
“Anak gila! Kowe ngomong jangan sembarangan ya!” kata Mbok Minah marah.
“Sudahlah Mbak jangan pura-pura. Rahasiamu telah terbongkar. Sekarang Mbak nggak mau khan kalo aku bongkar rahasia ini. Hehehe,” Parto tersenyum penuh kemenangan.
“Sembarangan kamu ngomong. Memangnya aku orang ga bener sama kayak kamu yang main gila sama janda muda itu?” sergah Mbok Minah.
“Sudahlah jangan munafik Mbak. Mbak sengaja ngerayu Pak Sutanto supaya dapet duit banyak. Ya khan? Dari dulu sifat Mbak sudah ketahuan, mata duitan tapi pelit! Kalo ga gitu masa mau kawin sama Mas Parno yang sudah tua bangka itu.”
“Tadi malam aku ga bisa tidur, jadi ke kamar Mbak. Tapi aku gedor-gedor kok ga dijawab. Aku kirain sudah tidur. Tapi aku jadi curiga jangan-jangan di dalam nggak ada orang. Diam-diam aku sembunyi. Gak lama kemudian, Mbak dateng sambil ngitung uang ratusan ribu di tangan. Malam-malam gini, bisa dapet duit banyak, kemana lagi kalo ga habis dari kamar juragan asem itu.”
“Ya udah sekarang maumu apa?” tanya Mbok Minah dengan muka merah padam. “Ingat ya sebagian uang dari berbuat gini, dipake untuk ngirim duit ke desa. Dan kamu juga makan dari duit itu. Jadi kamu jangan bertindah bodoh dalam hal ini.”
“Itu Mbak ga usah kuatir. Tapi, boleh khan kalo aku dapet tambahan langsung dari Mbak? Heheheh.”
“Dasar anak haram jadah. Ya udah berapa maumu?”
“Ya paling nggak pipti-pipti lah Mbak.”
“Edan kamu. Udah aku kasih sepertiga aja.”
“OK terima kasih Mbak. Hehehe.”
“Ayo sekarang balik kerja lagi.”
“Tapi aku masih penasaran satu hal Mbak.”
“Apa lagi?”
“Aku heran kok Mbak bisa ngerayu Tuan Sutanto. Memang apa sih kelebihan Mbak sampe dia jadi tergila-gila sampe gitu. Padahal dia orang kaya, bisa gampang dapetin cewek-cewek yang lebih muda dan cakep-cakep. Pasti Mbak punya ilmu pelet ampuh.  Kalo Mbak mau ngebagi, hehehe, siapa tahu aku bisa bikin Non Peicen (Parto menyebutnya “Peicen” karena ia tak bisa ngomong “f”) kepincut sama aku. Hehehe.” “Kamu gila ya To?!!! Tapi ketahuilah, biarpun kamu pake pelet ini, tetap aja ga cukup kuat buat orang kayak kamu untuk memelet Non.”
“Ha! Jadi Mbak benar-benar punya ilmu pelet ya.”
“Memang iya,” akhirnya ia mengakui. “Tapi ini ga boleh dipake sembarangan. Dan, yang Mbak bilang tadi, pelet ini ga cukup kuat kamu pake untuk memelet Non Fey Chen. Jadi sudahlah, kamu jangan berharap yang muluk-muluk. ”
“Lho kenapa ga kuat Mbak?”
“Seandainya kamu ini cewek dan Non Fey Chen itu cowok, kemungkinan pelet ini bisa berhasil. Ilmu pelet ini lebih gampang dipake oleh cewek untuk memelet cowok dibanding sebaliknya.”
“Kenapa bisa begitu Mbak?”
“Soalnya cewek lebih punya daya tarik seksual di mata cowok dibandingkan sebaliknya. Lain cerita kalo status cowoknya lebih tinggi dibanding ceweknya atau minimal ga beda-beda jauh lah. Lha kalo kamu sekarang, statusmu dan dia bagai bumi dan langit. Sudah pasti ga bakalan jalan. Salah-salah malah ketahuan, wah gawat, Mbak bisa kehilangan pekerjaan bagus disini.”
“Dan juga kehilangan bonus “plus plus” nya ya Mbak”, sindir Parto.
“Ah, tapi masa Mbak ga mau bantuin aku. Aku ini khan adikmu sendiri Mbak,” kata Parto penasaran.
“Memang maumu apa?”
“Ya apa lagi kalo bukan memelet Non Peicen supaya dia nurut sama aku. Sampe dia mau aku ajak “gituan”. Kalo bisa kayak Mbak, tiap malem “maen” sama dia khan asyik banget. Heheheheh.”
“Edan kamu! Pikiranmu betul-betul gendheng! Tapi, NGGAK! Mbak nggak akan melakukan hal yang bakal  merusak masa depan Non Fey Chen. Mbak cukup banyak mendapat kebaikan dari keluarga sini. Oleh karena itu aku nggak bakalan melakukan hal yang menyakiti keluarga sini, terutama yang merusak Non!” kata Mbok Minah tegas. “Biarpun orang yang minta bantuan itu adalah kamu, adik Mbak sendiri!” tambahnya lagi. 
“Aku tahu kenapa Mbak nggak mau bantu aku. Soalnya mereka bisa ngasih duit lebih banyak dibanding aku, ya khan? Sekarang baru terbukti, Mbak memang orang mata duitan. Lebih berat sama uang dibanding saudara sendiri,” tuduh Parto dengan tajam.
“Hey! Dengar Parto, Mbak nggak akan melakukan perbuatan hina itu. Urusan Mbak memelet Pak Sutanto, itu karena memang Mbak rela ditiduri sama dia demi uang. Tapi yang kamu minta ini lain cerita. Non Fey Chen adalah anak gadis baik-baik yang belum menikah. Jadi Mbak nggak bakalan membantu kamu merusak dirinya demi memuaskan pikiran bejatmu itu. Kamu boleh melakukan itu terhadap janda Sutinah di desa. Tapi Non Fey Chen adalah lain cerita. Titik!!” kata Mboh Minah berjalan meninggalkan Parto.
Sambil tersenyum licik, Parto berkata,”Ah, Mbak salah kalo berpikiran seperti itu.”
“Salah dimana? Sudah jelas sekali niat kamu ini dilandasi nafsu bejatmu yang ingin meniduri dia. Sudahlah, kamu yang tahu diri gitu lho. Mending kamu ikuti nasehat Mbak: cepat pulang ke desa, kerja yang benar, terus kawin gitu. Jadi kamu nggak nyusahin orang terus.”
“Mengenai aku kepingin meniduri dia, kuakui itu memang betul. Karena belum pernah aku ketemu cewek yang cakep dan sexy serta punya daya tarik seksual yang sekuat dia. Wajar dong kalo aku pengin tidur sama dia, aku khan juga cowok normal. Tapi ada satu hal lain yang perlu Mbak ketahui. Kalo Mbak membantu aku, justru Mbak akan mendapatkan keuntungan banyak dari sini.”
“Apa yang bisa kamu berikan ke Mbak?” tanya Mbok Minah dengan sinis namun ia  menghentikan langkahnya.
Parto tersenyum penuh arti karena pancingannya mengena.
“Seandainya aku berhasil menguasai dirinya, sudah pasti aku akan menikmati dirinya.  Tapi selain itu, aku juga akan porotin duitnya, sama seperti Mbak morotin Bapaknya. Nah, kalo aku berhasil morotin dari dia, tentu Mbak bakal kebagian juga. Aku mau berbagi pipti-pipti sama Mbak. Apakah Mbak nggak tertarik dengan itu? Lagipula siapa tahu aku bisa morotin duit lebih banyak dari dia dibanding Mbak dari Bapaknya.”
“Tapi tetap saja, Mbak nggak bisa membantu kamu melakukan itu. Itu adalah perbuatan yang sungguh keterlaluan. Sudah ngerusak anak gadis baik-baik masih diporotin lagi duitnya. Mbak nggak akan melakukan itu,” kata Mbok Minah. Namun kini nada bicaranya tak setegas sebelumnya.
“Sudahlah Mbak ga usah munafik dan sok bermoral. Aku tahu Mbak bukan orang seputih itu. Karena itu aku ga percaya kalau Mbak ga mau bantu aku karena alasan Mbak sayang ke Non Peicen atau merasa berhutang budi terhadap keluarga sini. Menurutku Mbak ga mau bantu aku, karena seperti yang Mbak bilang tadi, ilmu pelet Mbak ga cukup ampuh untuk menaklukkan Non Peicen. Oleh karena itu Mbak nggak mau ngambil resiko.”
“Tapi sekarang coba Mbak pikir lagi, kalo ada cara ampuh untuk menaklukkan cewek itu, CARA AMPUH YANG PASTI BERHASIL, masa Mbak tetap nggak mau membantu aku. Apakah Mbak nggak mau dapet uang tambahan dari “penghasilanku”? Sudahlah sama aku Mbak ga usah malu-malu dan ga usah sok suci kayak penggede-penggede itu.”
“Memang cara ampuh seperti apa sih yang kamu punya?” tanya Mbok Minah yang kelihatan telah bergoyah pendiriannya.
“Begini nih Mbak,” kata Parto sambil membisikkan rencananya secara detail ke telinga Mbok Minah. 
…………………………. 
“Wah!! Betul-betul anak setan kamu! Aku nggak nyangka kamu bisa punya akal sehebat itu!” Puji Mbok Minah yang terkagum-kagum. Memang Parto adalah pemuda malas yang asal-asalan. Namun kalau menyangkut hal-hal yang menguntungkan dirinya, ia kadang bisa punya ide-ide brilyan yang jenius.  
“Namun untuk melaksanakan rencanamu itu perlu timing yang betul-betul tepat. Karena ilmu pelet ini juga ada ketergantungan dengan waktu. Aku masih ragu apakah akalmu itu bisa jalan atau nggak,” kata Mbok Minah ragu. Meski ragu, namun kelihatan jelas bahwa tanda-tanda perubahan “arah angin” telah mulai nampak. 
“Kenapa nggak Mbak coba jelasin dulu gimana cara kerja ilmu pelet itu. Supaya aku bisa bantu mikirin juga,” kata Parto yang tak ingin kakaknya berubah pikiran lagi.
Lalu berceritalah Mbak Minah kepada Parto tentang ilmu pelet itu. Ia mendapatkan ilmu pelet itu dari seorang dukun sakti yang tinggal di seberang sungai di desanya. Ceritanya waktu ia berumur 16 tahun, sepulang dari mencuci baju, diam-diam ia mendatangi rumah dukun itu. Ia ingin mendapatkan suami kaya. Yang diincarnya adalah Pak Parno, orang kaya di desanya yang suka gadis-gadis muda. Ia ingin dijadikan istri mudanya. Dukun itu, yang bernama Mbah Durgo, bersedia membantunya asal dengan syarat mutlak, yaitu ia harus menyerahkan keperawananannya kepadanya. Setelah ia menyerahkan keperawanannya, sesuai janjinya Mbah Durgo membantu sampai ia dipinang oleh Pak Parno dan akhirnya menjadi gundik favoritnya. Sementara itu, setelah diperistri Pak Parno, ia masih tetap menjalin hubungan gelap dengan Mbah Durgo sambil  merayunya untuk mengajarkan ilmu pelet yang ampuh itu sampai akhirnya ia betul-betul menguasainya dan tak tergantung kepada Mbah Durgo. Setelah itu “ditendangnya” Mbah Durgo. Demikian pula Pak Parno, setelah harga kekayaannya habis diserap, juga ditendangnya. Sejak saat itu ia melakukan ilmu pelet itu ke banyak orang, sampai terakhir ke majikannya yang sekarang yaitu Pak Sutanto. Cara penggunaan pelet itu, yaitu orang itu harus mengucapkan mantera terus menerus sampai 34 kali sambil membayangkan orang yang ingin dipeletnya. Selama mengucapkan mantera itu ia tak boleh mendengar suara orang lain, termasuk orang yang ingin dipelet. Namun setelah pengucapan mantera itu selesai, ia harus langsung mendengar suara orang yang ingin dipeletnya itu. Apabila suara orang lain yang didengarnya pertama kali, maka mantera itu jadi tak berguna.
Parto mendengar cerita kakak perempuannya itu sambil tersenyum getir. Tak disangkanya ternyata kakak sulungnya itu dari sejak berusia akil balik telah rela menyerahkan diri dan kehormatannya demi harta. Namun disisi lain ia gembira karena kini mendapat kesempatan menikmati Fey Chen yang mulus bening itu. 
“Kalau begitu aturannya, berarti kita mesti tunggu timing yang betul-betul tepat, tidak ada gangguan, dan suasana rumah yang sepi. Tapi sekarang Mbak mau membantu aku khan?,” tanya Parto sambil “melempar bola”. “Ingat Mbak, kalo aku untung, Mbak dapet untung juga,” katanya mengingatkan lagi.
“Hmm. Baiklah. Mbak bersedia membantu kamu,” kata Mbok Minah akhirnya,”Tapi ingat, aku yang pegang kendali disini. Aku akan cari cara dan waktu yang tepat untuk melaksanakan itu. Dan kamu harus nurut semua perkataan Mbak. Sementara ini kamu duduk tenang saja dulu. Jangan bergerak sebelum aku kasih tanda. Mengerti? Dan ingat lagi, sebisa mungkin jaga supaya matamu itu jangan jelalatan ngeliatin dia. Atau lebih baik lagi kalo kamu nggak ketemu dia. Aku nggak mau dia jadi curiga sampai nanti rencana kita jadi berantakan. Atau lebih parah lagi, aku dipecat dari sini. Kalo itu terjadi, bisa aku bunuh kamu. Mengerti?” seru Mbok Minah sambil matanya berkilat-kilat. Rupanya kini dapat dipastikan bahwa arah angin telah berbalik arah. 
“Baik Mbak.”
“Dan satu lagi, ingat janjimu itu, kalau sudah berhasil: fifty-fifty. Kalau nggak, nanti ilmu pelet itu ga bakalan tahan lama.”
“Baik Mbak.”
“Nah sekarang, ayo kamu balik kerja lagi. Supaya kamu nggak dimarahi Tuan.”
–@@@@–
Kira-kira pukul 3 di saat Parto sedang mencabuti rumput di halaman depan, sebuah BMW model terbaru yang mengkilap berhenti di depan rumah itu. Ternyata Fey Chen. Ia masih mengenakan seragam sekolah. Namun gadis itu tidak sendirian. Ia diantar oleh seorang cowok. Namun yang membuat Parto semakin iri adalah cowok itu kemudian menggandeng tangan Fey Chen. Cowok itu adalah Roger, pacar Fey Chen yang juga adalah anak teman Papanya. Kini Parto dapat melihat secara langsung cowok Fey Chen. Sungguh pasangan yang amat serasi. Karena cowok itu juga keren dan cakep dan dari keluarga kaya pula, cocok untuk bersanding dengan Fey Chen. Setelah itu kedua muda mudi ini masuk ke dalam, sementara Parto hanya bisa manyun sambil berjongkok meneruskan mencabuti rumput. Namun hatinya tak tertuju di pekerjaannya. Karena hatinya penuh dengan rasa iri dengki. Pada saat menjelang maghrib, Mbok Minah, yang hati dan pikirannya kini telah penuh dengan racun hitam, memulai misinya mendekati Fey Chen. Akhirnya ia masuk ke dalam kamar Fey Chen untuk memijiti gadis itu. Di dalam kamar, sambil memijiti punggung Fey Chen yang putih telanjang itu, ia memancing-mancing tentang hubungannya dengan  Roger. Seperti layaknya hubungan cinta anak SMA, tentu ada naik turunnya. Mbok Minah memancing Fey Chen untuk menceritakan lebih banyak saat-saat dimana mereka bertengkar. Dengan licin, ia menghasut Fey Chen dengan membuat seolah-olah cowoknya adalah cowok yang egois dan nggak setia. Pada saat kedua tangannya dengan lembut memijiti punggung Fey Chen, mulutnya terus mengeluarkan kata-kata yang memanaskan hati. Tangannya adalah tangan malaikat, namun mulutnya adalah mulut setan. Fey Chen terhanyut bagaikan air sungai yang mengalir menikmati pijitan Mbok Minah, namun makin lama api amarah berkobar-kobar semakin besar di dalam hatinya. Apalagi pada dasarnya Fey Chen adalah gadis yang lugu yang tidak paham akan intrik-intrik tersembunyi. Ditambah juga ia amat mempercayai Mbok Minah yang sering membantunya dan selalu dijadikan tempat curhat itu. Sementara Mbok Minah tahu betul sifat Fey Chen sejak kecil dan perasaan gadis muda itu. Akhirnya Fey Chen sungguh termakan hasutan Mbok Minah. Oleh karena termakan emosi, begitu pijitan Mbok Minah selesai, ia langsung menelpon Roger dan menuduh cowok itu selama ini tak setia dan tak menyayangi dirinya. Roger  kebingungan mendengar ceweknya yang tiba-tiba sewot tanpa sebab. Dan ia menyangkal semua tuduhan ceweknya itu.
Sebuah kesalahan fatal dari cowok itu, karena hal itu hanya membuat Fey Chen semakin terbakar emosinya dan  semakin percaya bahwa ia adalah cowok egois. Mbok Minah mendengarkan percakapan telepon dua anak muda itu dengan senyuman iblis tersungging di bibirnya. Ah, darah muda…sungguh mudah ditebak, batinnya. Dan, percakapan dua muda-mudi yang sedang dilanda cinta itu berubah jadi amat buruk. Sungguh bertolak belakang dengan siang tadi dimana hubungan mereka lagi bagus-bagusnya. Apalagi setelah emosi Roger juga naik karena tuduhan-tuduhan tak berdasar yang dilemparkan oleh Fey Chen. Ia menyerang balik Fey Chen dengan mengatai gadis itu sebagai cewek yang susah dimengerti dan sangat tidak masuk akal. Namun yang paling parah adalah ia menuduh balik cewek itu sengaja cari gara-gara karena ia memang ingin putus hubungan karena ada cowok lain. Pada saat telpon itu diputus, Fey Chen tak kuasa menahan air matanya. Perasaan marah, sedih, menyesal, dan takut kini betul-betul menguasai dirinya.
“Bagaimana ini Mbok? Ternyata betul terbukti dia nggak sungguh-sungguh mencintaiku, ” tanyanya disela-sela tangisannya. “Kok, tega-teganya ia melakukan itu kepadaku. Padahal aku sungguh mencintainya.” Kedua tangan Mbok Minah kembali bekerja seolah berusaha menyejukkan hati gadis itu. Namun kata-kata yang keluar dari mulutnya semakin membuat gadis itu terbakar emosinya. “Bagaimana kalau betul-betul ada cewek lain selama ini? Aku takut kalo kehilangan dia, Mbok.”
“Tenang Non…yang sabar ya,” katanya sambil mengelus-ngelus punggung gadis itu. “Sebenarnya Mbok tahu ada cara yang bisa membuat cowok Non itu menyayangi Non. Tapi Mbok nggak tahu apakah Non percaya dengan hal-hal seperti itu.”
“Apa itu Mbok? Coba ceritakan dong.”
“Begini Non,
…                                                                               
Lalu diceritakannya tentang ilmu pelet itu ke gadis itu. Tentu ia tak menyebutnya sebagai “pelet” dan ia mengubah versi ceritanya disana sini untuk memberi kesan tidak terlalu mengandung misteri. Dan Fey Chen pun mempercayainya. 
–@@@@–
“Bagaimana Mbak?” tanya Parto bersemangat.
“Wah idemu memang hebat, To. Dia sudah kena perangkap. Hehehe,” tawa Mbok Minah dengan senyum licik.
“Wah! Jadi bisa malam ini ya Mbak? Waktunya kapan? Sekarang?”
“Sabar dulu, To. Dia memang sudah kena jerat kita, tapi malam ini bukan waktu yang tepat. Nanti malam bakal ada tamu Tuan yang datang kesini. Biasanya mereka pulang agak larut malam. Kamu tahu sendiri khan persyaratan ilmu pelet ini, semakin banyak orang semakin susah dilaksanakan. Dan Mbak nggak yakin omongan Mbak tadi sudah cukup membuat dia mau melakukan itu. Jadi besok mesti Mbak komporin lagi. Jadi kamu sabar dulu sampai besok.”
“Ah!” seru Parto dengan kecewa. “Tapi besok adalah hari terakhirku disini. Gimana kalo gagal?”
“Ah, tenang. Kowe sabar kenapa. Yang penting alon alon asal kelakon. Kalo masalah itu, gampang, bila perlu aku ngomong sama Tuan minta waktumu disini diperpanjang beberapa hari. Kalo cuma beberapa hari, pasti dia setuju. Tapi aku yakin kowe bakal bisa menikmati cewek idamanmu itu besok. Lagipula aku punya akal supaya besok Tuan pulang agak malam sehingga Non Fey Chen sendirian di rumah,” kata Mbok Minah. Kini ia tak ragu-ragu lagi mengorbankan Fey Chen, karena angin keberuntungannya telah berbalik arah.  
“Yah, aku kecewa banget Mbak. Kirain malam ini sudah bisa aku sikat dia.”
“Tenang aja. Anggap ini adalah ujian kesabaran buatmu. Kalo pengin dapet hadiahnya, kamu mesti sabar. Ingat, kamu jangan terburu-buru berbuat hal-hal yang bodoh. Jangan sampai sesuatu yang hampir di tangan jadi terlepas. Mengerti? Dan jangan lupa ya janjimu, kowe nanti mesti bagi-bagi hasil.”
“Itu beres lah Mbak. Ya aku ngerti Mbak.”
“Tadi waktu mijitin di dalam, apa dianya telanjang juga Mbak?”
“Ya iya lah, wong namanya orang dipijat. Bagian atasnya dibuka semua.”
“Waduuh. Enak bener Mbak. Badannya mulus banget ya Mbak. Trus teteknya gede nggak? Bagus nggak?”
“Ya baguslah. Sudahlah jangan banyak nanya, aku mesti kerja lagi, nyiapin makanan buat tamu Tuan.”
“Wah, bikin aku penasaran aja Mbak. Yang dipijit tadi apanya aja Mbak? Susunya  juga?”
“Sudahlah jangan banyak tanya lagi. Mbak mesti masak sekarang. Besok kamu bisa liat  dan pijit-pijit sendiri sambil sekaligus nyusu sana.”
“Ah, Mbak tahu aja maunya orang,” kata Parto cengengesan.
–@@@@–
Malamnya memang betul ada dua orang tamu yang datang, yaitu Pak Burhan dan Pak Abdul. Keduanya adalah oknum militer yang terlibat KKN dengan Pak Sutanto. Pak Abdul adalah orang Jawa Timur juga yang logat bicaranya sama seperti Parto. Sementara itu Fey Chen sempat muncul keluar mengobrol sebentar basa-basi dengan mereka sebelum akhirnya balik ke dalam kamarnya. Meski kedua tamu itu telah berusia setengah baya dan telah berkeluarga, namun Parto bisa merasakan kalau kedua bandot tua juga tertarik terhadap Fey Chen. Dan malam itu adalah malam penuh penderitaan bagi Parto. Pikirannya terus terbayang-bayang akan diri Fey Chen. Apalagi sebelumnya ia punya harapan tinggi bakal “mendapatkan” gadis itu malam ini. Namun ia mengikuti saran kakaknya yaitu berusaha sabar. Sehingga kini ia mau tak mau melewatkan malam itu dengan manyun seorang diri.
–@@@@–
Day 4
Parto bangun pagi dengan sendirinya tanpa perlu dibangunkan. Karena memang sebenarnya ia nggak bisa terlalu tidur. Pikirannya masih diliputi rasa kecewa terutama karena harapan sebelumnya yang begitu tinggi. Ini adalah hari terakhirku disini. Besok pagi-pagi aku sudah harus meninggalkan tempat ini. Jadi hari ini harus berhasil, pikirnya. Pagi itu ia sempat membukakan pintu untuk Fey Chen saat gadis itu ke sekolah. Setelah seluruh pemilik rumah pergi, kedua pembantu itu berdiskusi untuk merampungkan rencananya. Kini Parto takut rencana itu tak kesampaian.
“Gimana kalau rencana ini ga berhasil, Mbak?” tanyanya.
Sebaliknya Mbok Minah yang kemarinnya ragu-ragu kini malah lebih yakin.
“Tenang aja,” katanya,” Pokoknya malam ini Non Fey Chen yang mulus itu pasti akan jatuh ke tanganmu.”
“Benarkah itu? Tapi bagaimana kalau meleset?”
“Tenang aja. Hari ini semuanya bakal beres. Karena aku sudah mengatur semuanya.”
–@@@@– 
Fei Chen dalam pakaian renang
Fei Chen dalam pakaian renang
Hari itu Fey Chen pulang lebih awal karena hari itu hari Jumat dan ia tak ada kegiatan ekstra kurikuler. Begitu nyampe, tak lama kemudian Fey Chen bilang ke Mbok Minah kalau ia ingin berenang. Rupanya di dalam rumah itu terdapat kolam renang di ruang tertutup. Hebat juga pemilik rumah ini, pikir Parto, kolam renang aja ada. Sementara Mbok Minah menemani Fey Chen berenang, Parto bersembunyi di tempat yang aman namun strategis untuk mengintip Fey Chen berenang. Setelah Fey Chen selesai berenang, diam-diam Parto mendatangi Mbok Minah.
“Aduuh Mbak. Aku sudah nggak kuat lagi. Sampe kapan mesti nahan kayak gini terus. Tolongin dong, laksanakan sekarang juga! Kalo gini terus bisa gila aku rasanya,” keluh Parto.
“Hihihi, tenang, abis ini semuanya beres. Tunggu Non Fey Chen selesai mandi, setelah itu aku pijitin dia sambil aku bisiki lagi. Sementara kamu siap tunggu aba-aba dariku, ok?”
Setelah itu Mbok Minah menelpon Pak Sutanto.
“Tuan masih ingat dengan permintaan saya kemarin malam. Jangan lupa tolong belikan kembang 4 warna. Tapi harus Tuan sendiri yang beli, nggak boleh nyuruh orang lain. Kembang ini dijual di pasar kembang antara jam 5 – 6 doang.”
“Memang kamu yakin ini betul-betul efektif?”
“Betul Tuan. Dengan pake kembang ini, Nyonya nggak bakalan tahu tentang hubungan kita. Bahkan semisal ia tidur di ranjang yang sama pun, ia akan terus tertidur lelap. Asalkan setelah itu Tuan membuang bunga-bunga kecil itu di Ancol SATU PERSATU.”
“Hahaha. Mbak pintar. Membuang bunga itu satu persatu bisa berjam-jam lamanya.”
“Eh jangan salah, tapi bunga itu betul-betul ada khasiatnya lho.”
“Hah, memang khasiat bunga itu memang betul seperti yang Mbak bilang??”
“Bukan, tapi khasiat bunga itu sebenarnya untuk kamu. Bunga itu akan membuat penghuni rumah ini menyetujui usul Mbak supaya kamu tinggal lebih lama disini. Sehingga kamu bisa dengan leluasa menggauli Non Fey Chen tiap hari, sekaligus supaya kamu bisa morotin duitnya sebanyak mungkin.”
“Wah, aku nggak nyangka ternyata Mbak begitu hebat. Ya, kalo aku sih setuju-setuju aja Mbak. Hehehe.”
“Nah, sekarang bapaknya sudah dibereskan. Tinggal sekarang ngurus anaknya. Kamu diam tenang dulu. Tunggu isyaratku, ok? 
“Beres, Mbak.”
–@@@@–
Fey Chen sedang tiduran di ranjang menikmati asyiknya dipijit-pijit oleh Mbok Minah. Sembari memijit, Mbok Minah memulai pembicaraan mengenai  ilmu pelet kemarin. Dengan cerdik ia membuat Fey Chen penasaran dulu, sampai akhirnya gadis itu bersedia mencoba hal itu.
“Baiklah, sekarang Non inget baik-baik kalimat ini.”
Mbok Minah membacakan mantera ilmu pelet itu kepada Fey Chen. 
“Sudah Non ingat baik-baik? Nah, begini cara kerjanya. Pertama, Non sebut dulu nama cowok Non sambil membayangkan orangnya. Lalu Non baca kalimat tadi sebanyak 34 kali sambil konsentrasi membayangkan cowok lain. Non bebas pilih sendiri cowok ini. Dia boleh siapa saja asalkan bukan cowok Non. Karena dia hanyalah sebagai pemancing supaya cowok Non merasakan kalau dalam pikiran Non ada cowok lain. Nah, karena ia merasakan adanya kehadiran cowok lain, maka ia akan jadi lebih sayang kepada Non. Ada dua syarat buat cowok pemancing tadi. Pertama, cowok itu sama sekali nggak ada hubungan keluarga sama Non. Kedua, cowok Non pernah bertemu dengan cowok itu ”
“Tapi mungkin nggak nanti jadi salah alamat sehingga cowok yang aku pikirin itu malah jadi suka sama aku. Atau lebih gawat lagi, aku yang jadi suka sama cowok itu?”
“Itu sih nggak mungkin Non, karena fungsi cowok itu adalah pemancing belaka. Yang penting Non jangan salah menyebut nama cowok Non sambil membayangkan orangnya sebelum memulai membaca kalimat tadi.”
“Oh ya, Mbak lupa bilang satu hal. Pengaruh cowok pemancing itu akan lebih kuat terhadap cowok Non apabila cowok itu sekarang berada dekat dengan tempat Non sekarang. Semakin dekat semakin balik. Nah sekarang Non pikir dulu, setelah menemukan orangnya baru Non bisa mulai.”
“Cowok yang paling dekat sama tempatku sekarang adalah Parto. Dia memenuhi dua syarat  tadi karena dia nggak ada hubungan keluarga sama aku. Dan kemarin cowokku pernah liat dia waktu si Parto bukain pintu pagar. Tapi apakah ada syarat bahwa cowok pemancing ini harus orang yang kira-kira cocok jadi cowokku. Soalnya aku khan sudah pasti ga mungkin jadian sama Parto. Kalo aku milih dia sebagai cowok pemancing, apakah itu bakal efektif membuat cowokku merasakan adanya saingan?”
“Itu sih nggak masalah, Non. Asalkan cowok dan memenuhi dua syarat tadi.”
“OK deh. Kalo gitu aku pake Parto, Mbok.”
“Baiklah. Dan Non ingat, setelah Non selesai membaca kalimat tadi, untuk beberapa waktu Non tidak boleh berbicara ke siapa pun, bahkan lewat telpon juga. Oleh karena itu sebaiknya telpon Non dimatikan. Setelah waktunya selesai, nanti Mbok akan ketuk pintu kamar. Setelah itu Non bebas berbicara. Ini nggak lama kok, paling cuma beberapa menit.”
“Non mengerti khan? Nah, sekarang silakan Non sebut dalam hati nama cowok Non, kalau sudah silakan Non menganggukkan kepala.”
Fey Chen menganggukkan kepalanya.
“Nah, sekarang silakan Non mulai membaca kalimat itu dan membayangkan cowok pemancing tadi.”
Fey Chen segera memejamkan matanya sambil membaca mantera itu. Sementara Mbok Minah tersenyum puas menyaksikan betapa mudahnya gadis cantik itu diperdayanya. Penyebutan nama cowok di saat awal hanyalah tipuan belaka yang sama sekali tak ada artinya. Yang berarti justru cowok yang dibayangkan sambil membaca mantera itu. Sengaja ia mengarahkan supaya Fey Chen memilih Parto sebagai “cowok pemancing”. Kini sudah jelas-jelas pasti ilmu pelet itu akan berhasil dengan sukses, karena sekarang  justru Fey Chen lah yang memelet Parto!! Sementara khasiat pelet itu juga berlaku bagi si pemelet. Artinya, si pemelet juga akan menjadi makin suka terhadap orang yang dipeletnya. Hal ini sangat masuk akal. Bukankah alasan orang memelet adalah karena ia suka terhadap orang yang dipeletnya? Semua ini adalah akal Parto yang jitu dan dilaksanakan dengan sukses oleh Mbok Minah. Kini terbukti omongan Parto tentang sifat Mbok Minah. Demi harta, ia tidak segan-segan mengorbankan gadis yang telah dirawatnya sejak masih SD. 
Diam-diam Mbok Minah keluar dari kamar Fey Chen. Segera ia menemui Parto dan berkata sambil berbisik,
“Sudah beres. Sekarang kamu boleh memulai membaca mantera itu juga.”
“Hah, jadi dia sudah mulai membaca mantera itu? Jadi semuanya berjalan sesuai rencana?”
“Betul. Akalmu itu betul-betul busuk. Tapi memang jitu. Abis ini silakan kamu bersenang-senang abis dengan dia.”
 “Ya, aku juga nggak sabar lagi pengin ngerasain madunya. Kapan lagi dapat kesempatan seperti ini. Selama ini Mbak dijadikan pelampiasan nafsu bandot tengik itu demi uang. Kini keadaannya dibalik. Giliran aku, adikmu ini, yang melampiaskan nafsunya ke anak gadisnya. Kalo Mbak dipake bapaknya, kini aku gantian make anaknya. Ini baru adil, ya nggak Mbak. Apalagi, hehehe, anaknya cakep banget dan ngegemesin gitu, pasti enak kalo diesek-esek di ranjang. Hehehe.”
“Setelah itu, kita sama-sama porotin duitnya. Mbak morotin bapaknya, aku morotin anaknya. Hahahaha…”
“Nah, sekarang ajarin aku mantera itu donk, Mbak.”
Setelah Mbok Minah memberitahu mantera itu, Parto segera membacanya sebanyak 34 kali dengan pikiran yang terkonsentrasi penuh ke Fey Chen.
–@@@@–
Kamar Fey Chen,
Saat itu meski malam belum datang, namun hari sangat gelap karena langit sedang mendung gelap pekat. Sehingga suasana kamar itu juga gelap kecuali di ranjang tempat Fey Chen duduk saja yang ada lampu penerangan. Saat itu Fey Chen telah selesai mengucapkan mantera itu 34 kali. Kini ia membuka matanya. Dirasakannya hawa AC kamar lebih dingin dibanding sebelumnya, mungkin karena pengaruh udara luar yang mendung pekat disertai angin kencang. Ia tak melihat Mbok Minah disitu. Iia menunggu dengan sabar.  Beberapa menit kemudian terdengar suara ketukan. ‘Dokk-dokk-dokk.’ Pertanda bahwa ia sudah boleh bicara.
Segera ia menjawabnya,”Iya, masuk Mbok.”
Dan terdengar suara jawaban dengan keras,”BAIK NON!”
Namun itu suara Parto, bukan Mbok Minah! Sebelumnya Fey Chen mengucapkan mantera itu sambil membayangkan Parto dan kini ia mendengar suara Parto. Sebaliknya, Parto tadi mengucapkan mantera itu sambil membayangkan Fey Chen dan kini ia mendengar suara Fey Chen. Jadi syarat ilmu pelet itu telah terpenuhi dan kini menjadi aktif secara dua arah, dari Fey Chen ke Parto dan dari Parto ke Fey Chen! Dua orang yang saling memelet! Bisa dibayangkan seperti apa akibatnya. Tentu keduanya bakal NEMPEL terus kayak perangko, seperti apa yang akan terjadi sekarang ini. Kini Fey Chen ibarat tikus yang telah terjerat di dalam jebakan, tak bisa (dan juga tak mau) lari kemana-mana. Sementara Parto adalah kucing yang akan membuka pintu jebakan itu untuk menggerogotinya. Parto membuka pintu kamar Fey Chen. Ia baru menyadari betapa besar sekali kamar gadis ini. Bahkan berkali-kali lebih besar dibanding rumahnya di desa! Saat itu suasana kamar tempat ia berdiri cukup gelap. Hanya ada satu sampu penerangan yaitu di dalam ranjang Fey Chen yang tertutup kelambu. Ia melihat figur indah tubuh Fey Chen yang sedang duduk di atas ranjang di balik kelambu. Seketika penisnya menegang melihat siluet bentuk tubuh yang indah itu. Lalu ia berjalan mendekati tempat gadis itu duduk.
Fey Chen merasa heran mendengar suara cowok. Dan suasana saat itu amatlah gelap. Ia segera menyalakan lampu di sekeliling ranjangnya serta membuka pintu otomatis yang menuju ke taman kecil di dalam kamarnya dengan remote control. Sementara Parto yang telah sampai di tepi ranjang itu, segera menyingkap kelambu dan masuk ke dalamnya, bagaikan seorang pengantin pria yang mendekati pengantin wanita saat malam pertama. Seketika ia terpesona melihat kecantikan yang memancar dari tubuh Fey Chen. Sementara Fey Chen berteriak terkejut ketika melihat ternyata adalah Parto yang masuk ke dalam kamarnya dan berdiri di tepi ranjangnya.
“Kenapa kamu bisa kesini?” tanyanya.
“Karena aku ingin membuka kelambu ranjang Non,” katanya asal-asalan sambil membuka seluruh kelambu itu.
Fey Chen yang masih keheranan bertanya lagi tanpa mengubah posisi duduknya. “Kenapa kamu membuka semua kelambu ini?”
Ia terpana akan kecantikan Fey Chen yang begitu natural. Namun pandangan Parto segera beralih ke paha putih Fey Chen yang agak terbuka karena posisi duduk gadis itu.
Parto yakin kalau gadis ini telah terkena pengaruh ilmu pelet. Dengan nekat ia menjawabnya,” Karena aku ingin melihat wajah Non yang cantik itu. Aku suka sama Non,” kata Parto tanpa sungkan lagi.
Fey Chen segera menundukkan kepalanya. Terlihat rona-rona merah di pipinya yang putih. Parto jadi semakin berani.
“Dari semula melihat Non, aku langsung jatuh cinta sama kamu Non,” kata Parto sambil duduk di ranjang itu. Ia meraih tangan kanan Fey Chen dan meremas-remasnya dengan lembut. Melihat cewek itu diam saja, tangan yang satunya meraih rambut Fey Chen dan membelai-belai rambut yang panjang dan indah itu. Fey Chen menunduk sambil memejamkan matanya, membiarkan rambutnya dibelai-belai Parto. Parto segera mendekatkan kepala Fey Chen ke dirinya dan direbahkannya kepala gadis itu di dadanya sambil tangannya terus membelai-belai rambut gadis itu. Fey Chen membiarkan dirinya bersandar di dada Parto yang bidang, merasakan aroma kejantanan yang kuat dari tubuh Parto. Sementara Parto merasakan aroma kewanitaan yang harum semerbak dari rambut dan tubuh gadis berpakaian putih itu. Bagaikan bunga yang mekar harum semerbak. Pada saat itu waktu seakan berhenti berjalan bagi keduanya.
Parto memandang wajah cantik Fey Chen. Kemudian ia mendekatkan bibirnya ke bibir indah gadis itu. Pada saat bibir keduanya akan bertemu, Tiba-tiba Fey Chen menjauhkan dirinya dari pelukan Parto. Ia bangkit dan berjalan meninggalkan Parto. Perhatiannya tertuju ke satu benda di lantai di dekat ranjang.  Ternyata handphone-nya yang sebelumnya di-Silent, kini layarnya berubah berwarna warni, pertanda ada telepon masuk.
“Halo.”
“Kenapa lu telpon?”
Sementara Parto mendengarkan dengan waswas. Ia telah bisa menduga siapa si penelpon itu.
“Eh, tunggu dulu. Gua cuman mau bilang….”
“Sorry, sekarang gua lagi nggak pengin bicara sama elu. Nanti aja, ok?”
Klik! Telepon itu langsung diputus oleh Fey Chen. Kemudian disingkirkannya handphone itu.
“Cari gara-gara aja,” gerutu Fey Chen. Kemudian ia tidur berbaring di atas ranjang yang besar itu sambil memejamkan matanya.
“Udah lupain aja dia. Sekarang khan ada aku disini, sayang,” kata Parto memegang punggung Fey Chen dan meraba-rabanya. Tangannya yang hitam nampak kontras dengan gaun putih gadis itu. Dan tangan satunya mengelus-ngelus rambutnya.
“Ehhh” Fey Chen bereaksi dengan sedikit menggeliatkan tubuhnya. “Kok saat ini gua jadi ngerasa aneh ya.”
“Itu gara-gara cowok sialan tadi. Sekarang dia sudah pergi. Tinggal sekarang kita berdua sayang.”
“Iya tapi aku masih bingung sebenarnya kamu ini siapa sih?
“Aku adalah pacarmu, sayang.”
“Ah, ya betul. Mas adalah pacarku,” kata Fey Chen mengubah posisi tidurnya supaya ia bisa menatap wajah “Mas Parto-nya”. Tangannya memegang tangan Parto.
“Badanku kok agak lemas ya. Mas, tolong donk ambilin aku air disana, “kata Fey Chen sambil menunjuk kulkas besar di dalam kamar itu.
Segera Parto bangkit, mengambil segelas air putih yang dingin dan segar, dan menyerahkannya ke gadis itu.
“Aaahhh, segarnya!” seru gadis itu dengan gembira sambil mengangkat kedua tangannya. “Sekarang badanku jadi segar kembali. Dan kini ingatanku pulih kembali. Kamu adalah Mas Parto adik Mbok Minah yang baru datang itu khan?” 
Parto agak waswas dengan perkembangan itu.
Namun,
“Mas, aku senang deh punya cowok kayak Mas,” kata Fey Chen dengan matanya yang polos memandang Parto.
“Kenapa?” tanya Parto dengan hati lega.
“Karena badan Mas kekar, apalagi waktu di taman waktu itu,” Fey Chen menundukkan kepalanya.
“Kesannya macho gitu loh,” tambahnya.
“Aku juga suka punya cewek kayak kamu,” jawab Parto.
“Kenapa?”
“Karena kamu cantik dan putih. Juga kamu sexy banget apalagi pake baju putih gini.”
“Iih, Mas memang suka ngerayu deh.”
“Beneran aku ga bohong. Bahkan saat ini pun aku juga bersedia jadi suamimu, sayang.”
“Eh, Mas Parto, kamu betul-betul mencintaiku?”
“Iya donk, aku betul-betul mencintaimu, Non.”
“Kalo gitu jangan panggil aku Non donk. Meski Mas adalah adiknya Mbok Minah yang bekerja disini, tapi masa Mas manggil ceweknya Non gitu. Panggil aku Fey Chen aja, ok?”
“OK non. Eh, Peicen.”
“Hihihi, mas Parto lucu deh. Bilang katanya cinta, tapi manggil namaku yang bener aja nggak bisa,” kata Fey Chen sambil tersenyum geli.
“Itu nggak ada hubungannya Non, eh Peicen.”
“Lalu yang ada hubungannya apa?”
“Yang ada hubungannya ini nih,” kata Parto sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Fey Chen. Kemudian disentuhnya bibir gadis itu dengan bibirnya. Lalu dikecupnya.
Hmmmpphhhhh…gadis itu membiarkan bibirnya dicium. Lalu Parto melumat bibir indah itu dan dijelajahinya setiap milimeter, seolah tak ingin melewatkan satu pun butir-butir kenikmatan yang ada pada pada bibir gadis itu. Dinikmatinya bibir Fey Chen lama sekali.
Dan Fey Chen membiarkan bibirnya dinikmati Parto sambil ia memejamkan matanya. Sepertinya ia juga tak kalah menikmati ciuman itu. Mmmmpphhhhh. Parto mendorong tubuh Fey Chen sampai ia terbaring di ranjang sambil terus menciumi bibirnya. Wajahnya yang hitam kini menindih wajah cakep gadis itu. Sementara kedua mulut mereka masih saling bertautan. Ciuman itu telah berubah menjadi nafsu birahi yang berkobar-kobar membakar dua sejoli yang berbeda segalanya itu. Dan nafsu birahi itu kini menjalar ke seluruh bagian tubuh mereka, terutama pada Fey Chen. Kedua tangan Parto memegangi wajah Fey Chen. Seolah ia ingin mematek gadis itu supaya tak bisa bergerak sehingga ia bisa dengan bebas melakukan deep kissing. Kini lidah keduanya saling bertemu dan beradu di dalam mulut. Mereka melakukan french kissing dengan seru. Sambil menciumi, tangan Parto mulai bergerilya menggerayangi tubuh Fey Chen. Kedua tangannya menjelajahi kedua tangan putih Fey Chen yang tak tertutup oleh daster putih itu. Kini ia bisa merasakan langsung kehalusan kulit tubuh Fey Chen. Lalu tangan kanannya merabai tubuh Fey Chen. Disentuhnya perut gadis itu. Hmm, sungguh rata seperti tak berlemak sama sekali. Tangannya naik ke atas. Diraba-rabanya dada dan tangan Fey Chen. Cewek itu bereaksi dengan menggeliatkan tubuhnya. Pertanda ia suka dengan sentuhan-sentuhan Parto. Terutama saat tangan Parto melewati dadanya. Kini Parto semakin berani. Semakin sering diraba-rabanya payudara Fey Chen dengan lembut. Membuat Fey Chen semakin ganas menciumi Parto. Kini lidahnya dengan lincah menari-nari di dalam mulut Parto, saling beradu dengan lidah Parto. Dan ciuman bibirnya juga semakin ganas. Membuat Parto juga semakin aktif dalam melakukan aksinya meremas payudara Fey Chen. Sungguh ia tak menyangka, gadis dengan wajah sepolos ini bisa beraksi seganas itu. Kini gantian kedua tangan Fey Chen memegang leher Parto, seolah tak ingin ciuman itu terlepas.
Tangan Parto menuruni sekujur tubuh Fey Chen. Diraba-rabanya paha mulus gadis itu yang sejak dilihatnya tadi telah membuatnya ngiler. Sementara ciuman Parto kini beralih turun ke leher gadis itu. Dikecupinya leher yang putih halus itu dengan bibir hitamnya sampai terdengar suara-suara kecupannya. Membuat Fey Chen mulai mendesah-desah perlahan. Apalagi pada saat yang sama tangan Parto telah  merayap masuk ke dalam dasternya. Diraba-rabainya pangkal paha Fey Chen yang putih mulus dan lembut bagaikan sutera itu. Rupanya bagian ini juga termasuk bagian yang sensitif bagi Fey Chen. Terbukti tubuhnya semakin menegang-negang seiring dengan sentuhan-sentuhan jari-jari nakal Parto. Jari jemari Parto dengan lincah menari-nari di sekitar pangkal paha Fey Chen. Bahkan sesekali menyentuh-nyentuh bagian rahasia gadis itu. Parto semakin buas mengecupi leher kiri dan kanan Fey Chen. Sembari ia menciumi harum rambut panjang Fey Chen. Memang Parto sengaja menciumi leher gadis itu  supaya lehernya yang putih jadi penuh dengan cupang-cupang merah yang membekas. Dan Fey Chen sendiri sepertinya tak peduli dengan itu, karena ia juga merasakan kenikmatan yang luar biasa. Ia melenguh-lenguh kecil sambil gerakan-gerakan tubuhnya yang mengejang menjadi semakin sering, membuatnya semakin erotis di mata Parto. Sementara tangannya di dalam daster putih itu kini semakin sering memegang-megang celana dalam cewek itu. Jarinya menekan-nekan daerah vaginanya dan telunjuknya ditempel-tempelkannya persis di liang vagina gadis itu. Setelah puas menggrepe-grepe Fey Chen saat mengenakan daster putih, kini tiba saatnya untuk menelanjangi gadis itu. Dibangunkannya gadis itu sampai terduduk di ranjang. Lalu satu persatu diturunkannya kedua pengait daster di bahunya ke bawah. Fey Chen nampak sexy sekali dengan kedua pundaknya yang kini terbuka. Lalu Parto menurunkan daster putih itu sampai ia berhasil mengeluarkan kaitan daster itu dari tangan Fey Chen.
Semakin turun daster itu, semakin terlihat belahan payudaranya yang indah dan berisi. Kini kira-kira sepertiga payudaranya telah terbuka. Parto segera menurunkan dasternya ke bawah lagi supaya ia bisa segera membuka bra di balik daster itu. Ia sudah tak sabar lagi ingin melihat dada telanjang Fey Chen. Namun pada saat ia melakukan itu, alangkah kagetnya dirinya ternyata Fey Chen sama sekali tak memakai bra. Rupanya di daster itu ada mini bra yang melekat yang berfungsi melindungi supaya kedua putingnya tak kelihatan menonjol keluar. Parto langsung melongo menyaksikan pemandangan indah di depannya itu. Meski saat selagi berpakaian tak terlalu terlihat menonjol, namun begitu dilihat langsung secara telanjang begini, ternyata payudara Fey Chen cukup padat berisi juga. Keduanya nampak simetris. Putingnya berwarna merah. Nampak begitu segar dan muda. Kedua putingnya kecil namun nampak menonjol keluar. Fey Chen nampak tersipu malu dan menundukkan kepalanya saat Parto tak bergerak menatap lekat-lekat dadanya yang telanjang. Kedua tangan hitam Parto kembali beraksi di tubuh putih mulus yang setengah telanjang itu. Sasarannya mana lagi kalo bukan payudara Fey Chen. Ia segera meremas-remas sepasang gunung kembar yang indah menantang itu. Diusap-usapnya “lereng gunung” yang putih itu. Makin lama makin ke tengah. Sampai akhirnya mencapai “puncaknya”. Kedua telunjuknya bergerak melingkari kedua puting Fey Chen. Lalu ujung dua puting yang menonjol itu disentuh-sentuhnya dengan ujung telunjuknya, yang mana membuat geli Fey Chen. Tanpa dapat dicegah ia menggerak-gerakkan tubuhnya karena geli. Semakin gadis itu menggerakkan tubuhnya, semakin aktif jari telunjuk Parto menekan-nekan kedua putingnya yang membuat gerakan tubuh gadis itu semakin tak terkendali. Kini kedua jarinya kemudian juga menggerak-gerakkan kedua puting yang sejak tadi menggemaskan dirinya itu baik dari arah horizontal dan juga vertikal. Parto mendorong tubuh Fey Chen sehingga ia tertidur ke atas ranjang. Ia kembali menciumi leher Fey Chen sambil meneruskan meremas-remas payudaranya. Kemudian mulutnya yang agak tonggos itu turun ke bawah dan kini menciumi pundak putih gadis itu. Dan turun makin ke bawah lagi sampai akhirnya mendarat di lekukan di tengah gunung kembar gadis putih itu. Diselipkannya lidahnya di tengah-tengah dua gunung kembar gadis itu. Lalu digerak-gerakkannya naik turun sambil lidahnya menjilat-jilat “lereng gunung putih kembar” itu.
Sementara Fey Chen jadi melenguh-lenguh dibuatnya sambil kedua tangannya memegang kepala Parto. Aksi spontan gadis itu membuat Parto jadi kian semangat. Lidahnya semakin aktif bergerak kesana kemari di payudara Fey Chen dan dilanjutkan dengan gerakan melingkari puncak gunung itu. Kemudian ia sengaja menyentuh-nyentuhkan lidahnya mengelilingi kedua puting segar kemerahan itu bergantian, mula-mula payudara kiri gadis itu dan lalu diulangi lagi aksinya itu di payudara kanannya. Sambil sesekali menyentuh-nyentuhkan ujung lidahnya ke ujung puting kemerahan yang tegak menonjol di atas dada membusung gadis putih berwajah oriental itu. Sementara gadis itu tanpa malu-malu lagi mulai mendesah-desah pertanda ia merasakan kenikmatan yang luar biasa. Parto sungguh puas sekali menyaksikan reaksi gadis itu. Apalagi mengingat saat pertama kali ketemu, cewek ini sama sekali tak menggubrisnya bahkan melihat pun tidak. Sungguh arogan sekali cewek ini. Namun kini ia puas bisa memberi pelajaran kepada cewek arogan ini! Sementara Fey Chen saat itu betul-betul dibuatnya terangsang. Karena memang payudaranya terutama putingnya adalah bagian yang amat sensitif. Kedua tangannya memegang erat-erat kepala Parto, seolah tak ingin cowok itu menghentikan aksinya. Saking terangsangnya sampai ia kini sudah tak peduli lagi bahwa Parto adalah kacung rendahan yang sungguh amat tak pentas melakukan itu terhadap gadis elit seperti dirinya. Sementara Parto masih belum puas memainkan “susu” Fey Chen ini. Kini lidahnya menjilat-jilat dan menggerak-gerakkan puting kemerahan itu ke kiri…ke kanan…ke atas…ke bawah…ditekannya dengan ujung lidahnya ke dalam…dan digigit-gigitnya dengan lembut dan ditarik-tariknya keatas dengan giginya yang tonggos. Setelah puas dengan yang kanan, Parto berpindah ke yang kiri. Kini  mulut Parto sedang asyik mengulum payudara Fey Chen. Wajahnya yang berwarna sawo matang menempel di dada putih gadis cakep oriental itu, karena ia sedang asyik mengenyot-ngenyot puting payudara gadis itu. Terdengar suara kecupan-kecupan mulut Parto yang sedang asyik menikmati payudara ranum gadis belia itu.
Dan Fey Chen menjadi bertambah liar terutama semenjak cowok berkulit coklat itu menciumi dadanya yang telanjang. Sementara cowok itu mengenyot-ngenyot payudaranya, kini ia malah mendekapkan kepala cowok itu ke dadanya sambil kedua kakinya terbuka lebar-lebar. Seolah tak ingin cowok itu buru-buru menghentikan aksinya yang seharusnya tergolong perbuatan amat sangat kurang ajar dari seorang kacung terhadap putri majikannya. Namun apa mau dikata kalau ternyata putri majikannya kini  malah membiarkan hal itu bahkan menikmati saat dirinya “digerogoti” oleh Parto. Setelah beberapa saat, dekapan Fey Chen mulai mengendur meskipun aksi Parto terhadap dirinya tak berkurang dahsyatnya. Dan kini kedua tangan Fey Chen mulai bergerak meraba-raba punggung Parto. Bahkan kedua tangannya dimasukkan ke dalam baju kaus Parto. Tangan yang putih mulus itu meraba-raba kulit sawo matang tubuh Parto. Dan juga mulai menarik kaus Parto keatas sehingga bagian atas tubuh Parto hampir seluruhnya terbuka. Parto sungguh tak menyangka kalau gadis kinyis-kinyis seperti Fey Chen bisa menjadi seliar ini di atas ranjang. Sungguh hatinya tersenyum gembira karena keliaran gadis itu diarahkan kepadanya. Kini Parto menghentikan kenyotannya untuk memberi kesempatan gadis itu beraksi. Dan Fey Chen terus melanjutkan aksinya. Dilepaskannya baju kaus Parto sehingga bisa dilihatnya dada bidang dan kekarnya. Kemudian ia merebahkan kepalanya ke dada bidang cowok berkulit sawo matang itu.  Tercium oleh Parto bau harum gadis itu yang memancar dari tubuh dan rambutnya. Rambut panjang dan lebat Fey Chen menempel di tubuhnya. Parto mengelus-ngelus kepala dan rambut gadis itu. Dan payudara putih Fey Chen menempel ke tubuh Parto. Nampak kontras perbedaan warna kulit keduanya. Namun mereka berdua nampak bagaikan sepasang kekasih yang sedang memadu cinta. Sejenak mereka berdua berdiam menikmati saat-saat tenang itu. Setelah itu Fey Chenlah yang memulai melakukan gerakan. Bibirnya yang indah itu kini mulai mengecupi dada kekar Parto. Sampai kemudian giliran ia mengecup dan menjilati puting dada Parto. Nampak Parto juga menikmati kecupan gadis feminin itu. Apalagi, seolah tak mau kalah dengan aksi gadis itu, kedua tangannya kini mulai merengkuh dan meraba-raba serta meremas-remas  payudara putih Fey Chen yang sejak awal bertemu telah menjadi obsesinya.               
Fey Chen menghentikan aksinya dan ia menjauhkan dirinya dari Parto. Namun, hanya supaya ia bisa membuka kancing dan retsleting celana jins Parto! Dikeluarkannya celana jins belel itu dari tubuh Parto. Nampak tonjolan penisnya yang besar di balik celana dalam warna biru tua. Sementara bulu kemaluan dekat penis Parto nampak keluar di sekitar celana dalamnya. Rupanya Fey Chen tak terlalu canggung dengan hal itu dan rupanya ia cukup cekatan di ranjang karena selama ini ia telah sering melakukannya dengan Roger, cowoknya. Terbukti bahwa kini tangan putih mulus itu menarik celana dalam biru tua itu ke bawah sampai akhirnya diloloskannya dari tubuh Parto. Sehingga terlihatlah penis Parto yang hitam besar dan berurat. Kepalanya yang tak disunat nampak cukup besar. Sementara Parto yang telah ditelanjangi gadis itu sampai telanjang bulat tentu tak mau kalah. Ia pun juga menarik daster tidur putih Fey Chen turun ke bawah sampai terlepas dari kakinya. Nampak kedua paha yang putih mulus dan celana dalam warna putih. Ia tak tahan untuk tak meraba-raba paha putih di depan matanya itu. Sambil sesekali menyentuh-nyentuh bagian paling rahasianya. Disadarinya bahwa celana dalam  gadis itu telah agak basah. Rupanya gadis itu sungguh terangsang hebat saat ia memain-mainkan payudaranya. Tanpa menunggu lama-lama segera diloloskannya celana dalam putih itu dari tubuh Fey Chen. Sehingga kini kedua orang yang berlainan jenis dan warna kulitnya berbeda kontras itu sama-sama telanjang bulat di atas ranjang putih itu. Nampak penis Parto berdiri dengan super tegak menyaksikan tubuh putih mulus Fey Chen yang polos tanpa selembar benang pun. Sementara vagina Fey Chen yang berbulu rapi itu nampak agak basah. Seolah hati mereka telah saling menyatu, pada saat bersamaan keduanya saling meraih “benda pusaka” milik lawan jenisnya. Tangan Parto didekapkan di vagina Fey Chen. Ibu jarinya meraba-raba bulu rapi kemaluannya, sementara keempat jari lainnya menggesek-gesek vaginanya, terutama jari tengahnya yang persis berada di liang vaginanya.
“Ooooh, oohhhhh, oohhhhhh,” desah Fey Chen.
Tangan Parto yang satunya segera meraba-raba tubuh putih halus Fey Chen terutama paha dan dadanya.
Fey Chen menggeliat-geliat sambil terus mendesah-desah.
“Ooohh, ohhhhh, ohhhhhh,” desahnya sambil tangannya asyik mengocok penis hitam Parto. Telunjuk dan ibu jarinya yang mungil meraba-raba kepala dan leher penis Parto, membuat cowok itu mengerang-ngerang karena nikmat. Apalagi menyadari bahwa yang melakukan itu adalah cewek yang super cakep dan sexy. 
Tentu Parto tak ingin “keluar” di tangan gadis itu. Untuk itu ia menjauhkan dirinya dari Fey Chen. Kini dibukanya kedua kaki Fey Chen lebar-lebar. Nampak liang vaginanya yang masih tertutup rapat. Lalu didekatkan kepalanya ke vagina cewek itu dan mulailah ia menjilat-jilat vagina yang kemerahan itu. Kedua jarinya membuka liang vagina Fey Chen sampai ditemukannya klitoris gadis itu. Lalu dijilatinya klitorisnya. Membuat Fey Chen jadi menggelinjang-gelinjang sambil berteriak mendesah-desah.
“Aaahhhhh, AAAHHHHH, AAAAHHHHHHH.”
Parto memang sengaja ingin supaya gadis itu “naik” hampir sampai ke puncaknya. Oleh karena itu ia meneruskan jilatannya, apalagi ia sendiri juga menikmati menjilati vagina gadis yang bersih ini. Ia ingin membuat gadis itu jadi “kuyup” sebelum akhirnya “dieksekusinya”. Vagina Fey Chen dibukanya semakin lebar. Lidahnya dimasukkan ke daerah G-spot gadis itu. Dan, gadis itu semakin liar gerakan tubuh dan desahannya. Sementara itu vaginanya kini betul-betul jadi basah kuyup. Kini ia mulai menjilati lendir cinta yang keluar dari vagina Fey Chen. Setelah beberapa saat membuat gadis itu betul-betul kuyup, kini tiba saatnya menikmati hidangan utama tubuh gadis itu. Ditatapnya liang vagina Fey Chen yang kelihatan jelas di tengah kedua kakinya yang mengangkang. Nampak vagina itu tertutup rapat kembali. Lalu didekatkannya penisnya ke depan liang vagina Fey Chen sambil tubuhnya menindih di atas tubuh Fey Chen yang tidur telentang di tengah-tengah ranjang. Setelah menarik napas, lalu…..eggh…dipaksanya masuk ujung kepala penisnya ke dalam vagina sempit Fey Chen. Meskipun terasa sempit sekali, namun pada akhirnya, bleessssh!… masuk juga penisnya ke dalam vagina gadis itu. Dan,” OOOhhhhh,” Fey Chen secara spontan berteriak saat benda tumpul itu masuk menembus ke dalam vaginanya. Kemudian Parto meneruskan mendorong tubuhnya sehingga penisnya amblas masuk seluruhnya ke dalam vagina Fey Chen. Lalu…dikocoknya penisnya di dalam tubuh Fey Chen.
“AAAHH, AAHHHH, AAHHHHH….”
Fey Chen mendesah-desah sambil tubuhnya bergerak-gerak maju mundur saat dirinya disetubuhi oleh Parto.
Dua sejoli yang berbeda warna kulit itu nampak asyik menikmati saat itu. Parto semakin terangsang untuk terus mengocok penisnya di dalam tubuh Fey Chen, menyerap seluruh sari madu gadis itu. Sementara Fey Chen membiarkan dirinya “dibolongi” oleh Parto, cowok yang berbeda ras dan status sosialnya sungguh jauh di bawah dirinya. Inilah hubungan seks interracial ala Indonesia, yang terjadi atas dasar suka sama suka, mau sama mau, dan saling menikmati. Terbukti bahwa Fey Chen memejamkan matanya sambil terus mendesah-desah menikmati tusukan-tusukan penis Parto yang menembus vaginanya. Apalagi saat Parto melakukan itu sambil menindih tubuhnya dan mengecupi lehernya. Setelah puas mencicipi gadis kelas 3 SMA ini dalam posisi konvensional, Parto ingin merasakannya dalam posisi yang berbeda. Untuk itu ia mencabut penisnya dari vagina Fey Chen. Dilihatnya lipatan liang vagina Fey Chen yang agak terbuka dibanding sebelumnya. Namun yang membuatnya sungguh terkejut namun amat membanggakan hati adalah dilihatnya vagina gadis itu berdarah. Sampai darah itu membasahi seprei putih di sekitarnya. Artinya, gadis ini sebelumnya masih perawan! Dan ialah cowok pertama yang menikmati keperawanan gadis Chinese yang cakep dan kinyis-kinyis ini!!! Sungguh hal ini diluar dugaannya. Pantas tadi begitu seret. Rupanya selama ini Fey Chen telah sering melakukan petting dengan cowoknya. Namun hubungan mereka itu tak sampai sejauh seperti yang dilakukannya barusan. Perasaan bangga yang menggelora itu makin membuatnya bernafsu untuk mengobok-obok lebih banyak lagi.
Kini ia tidur telantang di atas ranjang. Sementara Fey Chen yang baru saja diperawaninya itu diarahkan untuk duduk diatas tubuhnya. Tepatnya di atas penisnya yang mengacung ke atas. Rupanya gadis itu telah mengerti kemauan Parto. Segera ia mendekatkan vaginanya ke atas penis Parto. Dan dengan berat tubuhnya, bleeesss, tubuhnya turun ke bawah sampai bulu-bulu kemaluannya menempel di bulu kemaluan Parto. Lalu ia menggerakkan tubuhnya naik turun sambil tangan Parto mulai beraksi. Karena ia tak mau membiarkan payudara yang bergoyang-goyang naik turun itu “sia-sia”. Kedua tangannya meremas-remasnya sambil jari-jarinya memainkan kedua putingnya. Rupanya posisi ini sungguh efektif bagi cewek untuk bisa mengatur ritmenya supaya ia bisa orgasme. Hal ini terbukti karena Fey Chen menggerakkan tubuhnya dengan ritme kadang cepat kadang lambat. Dan tak lama setelah itu tubuhnya mengejang sambil ia mengerang di saat ia memainkan tubuhnya naik turun. Rupanya ia mencapai orgasmenya. Hati Parto sungguh puas saat menyaksikan ekspresi gadis cakep berwajah oriental itu saat orgasme karena ditembus penisnya yang perkasa! Setelah orgasme, napas Fey Chen agak terengah-engah dan ia menghentikan gerakan tubuhnya. Pertanda ia agak kecapean. Untuk itu Parto mengubah posisinya. Kali ini dibiarkannya gadis itu yang tiduran di ranjang. Fey Chen tidur dengan posisi miringdengan kepalanya ditaruh di atas tangannya (mirip seperti sebelumnya yang ada di foto). Cuma bedanya kini dirinya telanjang bulat. Meski ia sedang tiduran, namun bukan berarti Parto membiarkannya untuk beristirahat. Karena ia masih belum selesai, tentu ia ingin melanjutkan melampiaskan nafsu lelakinya itu terhadap gadis ini. Kali ini ia akan melakukannya dengan membelakanginya. Diangkatnya satu kaki Fey Chen. Sehingga kini mengangalah liang vagina cewek itu. Lalu dengan posisi tubuhnya yang juga miring di belakang Fey Chen, didekatkannya penisnya di antara kedua kaki Fey Chen. Dan dimasukkannya penisnya ke dalam vagina Fey Chen dan “dipompanya” dari belakang. Parto melakukan itu sambil menatap wajah cakep Fey Chen yang jadi mendesah-desah lagi. Tangannya ikutan main dengan meraba-raba sekujur tubuh bagian depan Fey Chen. Kali ini Fey Chen merasakan sensasi kenikmatan yang berbeda dibanding posisi sebelumnya. Ia merasakan vaginanya yang sempit diobok-obok oleh benda tumpul yang rasanya lebih besar dibanding sebelumnya. Hati Parto sungguh puas menyaksikan gadis Chinese ini lagi-lagi mendesah-desah karena desakan-desakan penisnya.
Setelah puas menyetubuhi Fey Chen di posisi itu, kali ini Parto akan kembali mengganyang gadis itu dengan posisi doggy style. Kali ini Fey Chen disuruhnya menungging ke depan. Dan sengaja ia menyuruhnya menungging di depan kaca rias yang besar. Parto membelakangi Fey Chen, mengarahkan penisnya yang menegang ke liang vaginanya. Dan, bluuusshh, dimasukkannya penis hitamnya ke dalam tubuh putih mulus itu. Lalu, shleeb, shleeeb, shleeebb…dengan gagah disodok-sodoknya vagina gadis itu dari belakang. Saking kerasnya sampai-sampai seluruh tubuh Fey Chen ikut terdorong-dorong dan bergoyang-goyang dibuatnya. Terutama payudaranya yang menggantung jadi ikut terguncang-guncang pula. Parto menyaksikan bayangan mereka dari pantulan cermin.Kulit tubuh dirinya dan Fey Chen sungguh berbeda kontras sekali. Tubuhnya sendiri kesannya gelap dan dekil. Tubuh Fey Chen putih mulus. Namun kini tubuh keduanya menjadi satu. Penis Parto terus dengan perkasa memompa dan menggoyang Fey Chen. Parto bisa menyaksikannya dari cermin, tubuh Fey Chen termasuk payudaranya terguncang-guncang gara-gara perbuatannya itu. Kemudian Parto mencabut penisnya dari dalam tubuh Fey Chen. Dan kembali dibaringkannya gadis itu. Namun kini kedua kakinya ditekuknya sambil dibuka lebar. Lalu ia memajukan tubuhnya diantara kedua kaki gadis itu. Kembali ia mengarahkan penisnya ke depan vagina cewek itu. Dan, lagi-lagi dihajarnya vagina Fey Chen dengan dentaman penisnya yang bertubi-tubi. Sampai-sampai seluruh tubuh Fey Chen kembali terdorong-dorong. Parto semakin terangsang dan buas saat melihat payudara Fey Chen bergerak berputar-putar karena sodokan-sodokan penisnya yang mengocok habis vagina gadis itu. Cukup lama Parto menikmati vagina cewek itu dalam posisi itu. Sambil diselingi variasi dimana ia menciumi bibir dan leher cewek itu dengan penuh nafsu. Atau juga meremas-remas payudara yang bergoyang-goyang itu dan juga mengenyot-ngenyot dan menjilati payudaran gadis itu. Sampai akhirnya Fey Chen tak tahan lagi. Dan sampailah ia meracau tak karuan dengan suara-suara yang merintih-rintih pertanda ia sampai ke orgasme keduanya.
Parto sengaja membiarkan Fey Chen menikmati orgasmenya itu. Sementara penisnya masih berada di dalam tubuh gadis itu. Setelah gadis itu mulai cooling down, ia mencabut penisnya yang masih menegang. Lalu ia mendekatkannya ke wajah cakep Fey Chen dan disuruhnya gadis itu mengemut penisnya. Dengan patuh Fey Chen menuruti permintaan cowok itu. Setelah terlebih dahulu ia mengikat rambut panjangnya yang kini agak awut-awutan, lalu penis hitam tegak dan berlendir itu akhirnya masuk ke dalam mulutnya. Dikulumnya penis itu lalu ia mengocoknya dengan mulutnya.
“Bleep..bleep…bleep…..”    
Ia begitu patuh mengulum dan memaju-mundurkan mulutnya. Sementara itu di dalam mulut, lidahnya juga ikut menari-nari di seluruh bagian leher dan kepala penis Parto. Kemudian Fey Chen mengeluarkan penis itu dari mulutnya. Kini ia mengemut-ngemut buah zakar Parto. Tersengar suara kecupan-kecupannya.
“Cleep, cleep, cleeep….”
Dan lidahnya menjilati batang penis Parto mulai dari dasarnya di buah zakar sampai ke ujung kepalanya. Lalu kembali lidahnya menari-nari di seluruh leher dan kepala penisnya. Sampai akhirnya Parto tak dapat menahan lagi, dan….
crooootttt, crrrrrrrrrrrruttttttt, crruuuuooooottt, crooott, crooottt,…. akhirnya penis Parto akhirnya menyemburkan sperma dengan volume begitu banyak secara tak beraturan. Ada yang kencang dan jauh semprotannya, ada yang dekat, namun makin lama semprotannya semakin lemah dan sedikit. Sampai akhirnya penis Parto tidak mengeluarkan cairan sperma lagi. Namun semburan “lava” sperma tadi sebagian besar mendarat di wajah cakep Fey Chen. Sehingga kini wajahnya jadi belepotan. Di hidungnya menempel sperma kental yang menyembur dengan kuat saat pertama kali. Sementara itu di pipinya juga terdapat cipratan sperma disana-sini. Di bibirnya pun juga terdapat cairan kental warna putih keruh. Alisnya pun juga tak luput dari semburan liar tadi. Bahkan di rambutnya pun juga ada cairan putih kental yang mendarat kesana. Lalu Parto menyuruh gadis itu kembali mengemut penisnya yang masih sedikit menegang. Dengan lidahnya, dibersihkannya penis itu dari sisa-sisa lendir yang menempel. Setelah penisnya terkulai lemas, barulah ia mencabutnya dari dalam mulut Fey Chen.
Penisnya menjadi licin bersih. Sungguh hatinya sangat puas sekali akhirnya ia berhasil menikmati tubuh gadis cakep itu bahkan mendapatkan keperawanannya. Sementara Fey Chen kini nampak begitu amburadul. Rambutnya yang tadi diikat telah dilepas oleh Parto saat gadis itu sedang mengulum penisnya. Rambutnya itu nampak awut-awutan dan sperma Parto “mendarat” di dua tempat di rambutnya. Wajah cakepnya yang kinyis-kinyis kini jadi basah belepotan karena semprotan sperma Parto tadi yang kini telah agak mencair. Dan cairan itu sebagian turun ke bawah bagaikan anak-anak sungai membasahi dagu, leher, dan payudaranya. Di leher dan dadanya, selain basah karena sperma disana sini, juga nampak bekas-bekas cupang merah disana sini akibat kecupan-kecupan buas Parto tadi. Sementara di vagina dan pangkal pahanya masih ada sisa-sisa darah yang telah mengering. Sesaat kemudian, Parto tidur telentang dengan tenaga yang telah terkuras. Meskipun secara fisik kecapean, namun hatinya puas sekali. Sementara tangannya mengelus-ngelus rambut panjang Fey Chen yang tertidur lemas diatas dadanya. Ia bisa merasakan gerakan napas gadis itu karena dadanya menempel di tubuhnya.    
“Aku mencintaimu sayang,” bisik Parto ke telinga Fey Chen.
“Aku juga mencintaimu sayang,” bisik Fey Chen tak kalah mesra sambil menatap Parto. “Oleh karena itu aku rela menyerahkan segalanya kepadamu.”
“Benarkah Mas sungguh-sungguh mencintaiku?” tanya Fey Chen.
Parto menganggukkan kepalanya.
Dan Fey Chen tersenyum sambil merebahkan kembali kepalanya ke dada Parto.
Dan Parto kembali mengelus-ngelus rambutnya sambil senyum tersungging di bibirnya.
–@@@@–
Parto memakai pakaiannya kembali sambil memandangi Fey Chen yang masih tiduran di ranjang. Dengan hati puas ia menyaksikan tubuh mulus telanjang gadis cantik yang barusan dinikmatinya itu. Dan Fey Chen, kontras dengan sikapnya di hari-hari sebelumnya yang sama sekali tak memandang Parto, kini ia tak merasa risih dirinya yang masih telanjang bulat itu ditatap oleh Parto. Apalagi setelah apa yang barusan terjadi. Dan kini cara bicara dan cara pandang Parto tentu tak lagi menunjukkan rasa hormat seperti layaknya seorang pembantu pria terhadap nona majikannya.
“Wah ga nyangka, ternyata kamu hebat juga ya di ranjang. Aku benar-benar puas telah “menikmatimu” sayang. Sekarang aku keluar dulu ya. Nanti kita “gituan” lagi. Hahahaha.”
Pada saat ia melangkah, kakinya tersandung sesuatu. Ternyata handphone tadi. Diambilnya benda itu dan dilihatnya. Ternyata layarnya menyala, tanda ada telpon masuk. Dilemparnya benda itu ke ranjang dan mendarat dekat Fey Chen,
”Nih, punya kamu.” Fey Chen mengambil handphone itu, ternyata lagi-lagi Roger menelponnya lagi.
“Halo.”
Terdengar suara cowok dari ujung sana, rupanya speaker phone-nya kepencet.
“Say, kok lu marah-marah mulu sih. Sampe gua telpon terus ga diangkat-angkat. Gua kaga tau apa salah gua ke elu. Tapi kalo elu marah sama gua, apa pun alasannya, gua minta maaf deh. Gue sayang banget sama elu. Tapi plisss, tolong jangan cuekin gua kayak gitu donk,” suara cowok itu terdengar memelas sekali.
“Aaaahh, ngapain lu telpon gua lagi….kini semuanya sudah terlambat..” kata cewek itu lemah.
“Loh, apa maksud elu Chen?….Halo….Haloo….Halo….????”
Klik!
Parto tersenyum puas mendengar semua itu. Kemudian ia keluar dari kamar itu, meninggalkan Fey Chen yang masih tiduran sambil termenung-menung.
“Bagaimana? Wah, tampangmu senyum-senyum gitu dan baru muncul sekarang, kayaknya sukses besar yah!” bisik Mbok Minah. 
“Bener-bener gini nih,” kata Parto sambil mengangkat kedua jempolnya dan mengedipkan matanya,” Pokoknya top markotop dah! Luar biasa!”
“Hah, jadi beneran kamu sudah berhasil meniduri Non Fey Chen?” serunya kagum dan gembira. Hebat juga adiknya yang cuma cowok pengangguran dari desa bisa mencicipi anak gadis majikannya.
“Iya donk Mbak. Dan, waah, tubuhnya putih muluuuss. Susunya montok lagi. Pentilnya merah, Mbak. Bener-bener asik pokoknya. Aku kenyot-kenyot abis deh susunya  tadi.”
“Dan, puas banget rasanya waktu ngeliatin wajahnya yang kinyis-kinyis tadi sampe mendesah-desah ga karuan waktu diesek-esek. Hehehe.”
“Tapi yang paling hebat nih, Mbak, ternyata dia itu masih perawan lho. Jadi akulah cowok pertama yang memerawani Peicen.”
“Oh ya?”
“Iya Mbak. Kalo ga percaya, nanti lihat aja sendiri seprei ranjangnya. Pasti tahu deh. Non Peicen itu memang cakep tapi sudah “bolong”. Sudah jadi barang bekas dia sekarang. Hahahahahahaaaaaa!”
“Hush. Jangan keras-keras tertawanya,” katan Mbok Minah sambil menoleh ke kiri kanan. “Nanti terdengar orang lho. Dan namanya adalah Fey Chen, F-E-Y  C-H-E-N,   bukan “Peicen”. Gimana sih, sudah meniduri orangnya tapi masih nggak bisa manggil namanya dengan benar.” 
“Ah, terserahlah mau apa namanya. Itu ga penting. Yang penting bisa menikmati orangnya sambil mendapatkan duitnya. HEHEHEHEHEEE.”
–@@@@–
Di dalam kamar itu, Fey Chen telah membersihkan dirinya dan ia telah memakai kembali pakaian dalam dan gaun tidur putihnya. Ia duduk melamun di atas ranjang untuk waktu yang lama sekali. Pandangan matanya menerawang jauh. Dari luar, nampak tak ada sesuatu yang berbeda pada dirinya. Namun ia tahu persis bahwa dirinya kini telah berbeda dibanding saat sebelumnya. Dan banyak hal-hal lain yang juga telah berbeda. Termasuk seprei putih yang didudukinya itu. Karena seprei itu kini sudah tak betul-betul putih lagi.  
Pada suatu hari, saat menjelang sore…


Fey Chen sedang duduk sambil membaca majalah khusus cewek. Ia baru selesai olahraga jogging.  Namun wajahnya saat itu begitu segar dan cantik. Karena ia baru selesai mandi sehabis jogging tadi. Bahkan beberapa ujung rambutnya saat itu masih menempel dan terlihat basah. Saat itu ia memakai baju putih dan celana pendek merah dengan dadanya kelihatan menonjol di balik baju putihnya. Sementara celana merahnya itu cukup pendek sehingga menampakkan sebagian besar pahanya yang putih mulus. Selain pendek juga termasuk ketat sampai-sampai pantatnya terlihat begitu menonjol. Saat ia sedang asyik membaca, tiba-tiba muncul ayahnya yang keluar dari dalam kamar. Segera ia menghampiri dan berbicara ringan dengan putrinya sejenak. Setelah itu ia berkata dengan serius,
“Chen, sebaiknya untuk sementara ini kamu jangan memakai baju yang terlalu terbuka atau terlalu pendek. Kamu harus ingat, di dalam rumah kita saat ini ada adik Mboh Minah, yang namanya…siapa itu…Parjo atau Warto. Kamu harus sadar kalau sekarang kamu sudah besar. Papi nggak mau nanti kamu  diliatin sama dia yang akhirnya bikin kamu sendiri nggak nyaman. Kemarin khan Papi juga sudah bilang.”
“Ah, tapi khan dia selalu di luar, Pi. Sedangkan aku di dalam. Lagian ini khan rumah kita juga, kok sekarang malah aku yang mesti menyesuaikan diri gara-gara kita ada kedatangan seorang kacung. Masa aku mesti ngalah sama kacung.”
“Ya biar bagaimana pun khan namanya tinggal dalam satu rumah khan pasti suatu saat bisa ketemu. Sementara dia itu khan cowok dan kamu cewek. Kamu harus mengerti tentang masalah ini,” kata Papinya,” Lagian, Papi nggak mau nanti terjadi apa-apa kalau tiba-tiba dia jadi kurang ajar sama kamu, misalnya.”
“Ah, Papi terlalu mengada-ada. Lha aku jarang ketemu dia koq. Apalagi disini khan banyak pembantu cewek, ada Mbok Minah, Wati, Suminten, dll ditambah Papi disini. Masa dia berani macam-macam. Apalagi Mbok Minah adalah kakaknya.”
“Ya tetap saja kemungkinan itu ada, Chen. Kamu ini kalau dinasehati selalu aja membantah. Sudah sebaiknya kamu ikuti nasehat Papi. Kamu jangan pakai celana yang pendek seperti itu kalau keluar kamar. Sebaiknya sekarang kamu ganti dengan yang lebih panjang. Dan ingat, jangan lupa selalu kunci pintu kamarmu!”
Saat itu rupanya Parto berada di taman di luar ruang tempat mereka berada. Namun posisinya tak jauh dari situ. Sehingga ia bisa mendengar semua percakapan itu. Dalam hati ia mentertawakan nasehat tuannya itu kepada Fey Chen, anak gadisnya.
“Ah, pake nasehat macam-macam. Itu semua nggak guna. Hehehehe. Lha wong anakmu itu sudah kadung aku bikin nggak perawan kok. Hahahahaa.” Dan penisnya seketika mengeras saat membayangkan itu. “Sekarang aja di depan lu dia sok alim. Nanti malam di belakang lu, heheheheee, bakal abis-abisan dah. Hahahahaa.”  
Sementara di dalam, Fey Chen yang mendengar nasehat ayahnya, akhirnya bangkit berdiri. Parto, yang mengetahui cewek itu kini berdiri dan posisi ayahnya kini berjalan menjauh dari putrinya, berusaha mengambil kesempatan dalam kesempitan. Paling nggak sore itu ia mencoba mencuri dulu paha ayam muda dari penjagaan ayahnya. Untuk itu ia berdiri di depan pintu dan mengambil posisi yang pas supaya bisa melihat Fey Chen yang sedang berdiri dan membetulkan celananya  itu, namun tak terlihat oleh bokapnya yang berdiri tak jauh dari sana.
“Suitt, suit, aduuhh sexy-nya,” katanya tentu dalam hati.
Dengan mata jelalatan dilahapnya pemandangan indah itu. Dilihatnya pantat menonjol “ayam muda” Fey Chen yang sexy itu. Juga pahanya yang putih mulus terlihat sampai ke pangkalnya. Karena memang betul perkataan ayah gadis itu, celana pendek merah yang dikenakannya itu sungguh pendek, sampai-sampai pahanya yang putih mulus terlihat sampai ke pangkalnya. Dan juga begitu ketat, sampai-sampai pantat Fey Chen terlihat bulat menonjol. Tentu hal seperti ini sebetulnya memang tak pantas dilihat oleh kacung rendahan seperti dirinya terhadap anak cewek majikannya yang telah berusia dewasa. Namun tentu bagi Parto hal seperti ini termasuk “rejeki” baginya. Wow! Mangstaff! Parto berdecak kagum dalam hati menyaksikan pemandangan indah itu. Apalagi bentuk figur tubuh Fey Chen memang indah dengan tubuh langsing, tinggi-berat yang proporsional dan payudara yang cukup menonjol di balik kaus putih yang dikenakan gadis itu. Dan wajah gadis itu juga begitu segar dan cantik. Ujung-ujung rambutnya yang masih basah dan menempel, membuat “ayam muda” itu jadi semakin sexy dan maknyuss sekali. Wajahnya yang cakep dan kinyis-kinyis seperti boneka + tubuh proporsional + rambut indah + paha putih mulus + pantat bulat menonjol + dada membusung = mupengs abisz!
Fei Chen
Fei Chen
Kini ia membayangkan….celana pendek merah itu digesernya supaya penisnya yang telah menegang itu bisa diselipkan ke dalam untuk masuk menembus liang vagina gadis itu dalam-dalam. Lalu penisnya maju mundur mengocok-ngocok vagina gadis berwajah oriental berkulit putih itu…hmmmm maknyoeszz-nya!! Selagi Parto berdiri menatap Fey Chen lekat-lekat dan berkonsentrasi penuh ke fantasinya itu, tiba-tiba…
“HEY! Ngapain kamu berdiri disana!!” sergah ayah Fey Chen tiba-tiba yang membuat Parto menjadi terkejut sampai-sampai ia hampir melompat. Wajah pria setengah baya itu merah padam. Nampak jelas kalau ia begitu marah karena melihat Parto kacung rendahan itu ternyata diam-diam sedang memelototi putrinya dengan tampang mupeng abis.
“Ayo balik ke belakang!!” bentaknya dengan keras sambil berdiri di tengah pintu. Rupanya ia beniat menghalangi pandangan Parto supaya tak bisa melihat putrinya. Jadi kini pandangan Parto jadi sepet karena terhalang tubuh pria setengah baya ini. Apalagi orang ini sedang marah terhadap dirinya.
“Ma-maaf Tuan. Iya. Eh, anu, tadi, saya kebetulan lewat,” kata Parto kepada tuannya.
“Sudah cepat, pergi sana!!”teriaknya. “Fey Chen, ayo cepat kamu masuk ke dalam!” katanya sambil memalingkan kepalanya ke dalam.
Dalam hati Parto mendongkol juga karena pemandangan indahnya tiba-tiba sirna, malah kini ia mendapat hardikan dan makian dari tuannya. Sementara Fey Chen segera langsung menghilang masuk ke dalam kamarnya. Ah, sialan, ngerusak kesenangan orang aja! Batinnya dalam hati. Namun ia tak berani mengucapkannya. Selama ini ia melakukan hubungan terlarang dengan Fey Chen secara diam-diam, karena ia tak ingin diusir dari rumah itu. Ia tak ingin kehilangan sumber uang tetap yang didapatnya dari gadis itu, juga lebih-lebih lagi ia tak mau kehilangan “hak istimewa”nya yaitu bisa menikmati kemulusan tubuh gadis majikannya itu terus berulang-ulang-ulang dan berulang-ulang terus. Sementara itu, insiden tadi tak hanya berhenti disitu saja. Karena beberapa saat setelah ia ke belakang dan masuk ke kamarnya, tiba-tiba terdengar suara kakaknya berteriak memanggilnya. Mula-mula ia tak ingin menjawabnya. Namun semakin lama teriakan itu semakin keras. Bahkan kini kakaknya itu menggedor-gedor pintu kamarnya sambil berteriak memanggilnya.
Parto
Parto
“Parto! Ayo keluar kamu!” perintah Mbok Minah. “Partooo!!!” bentak kakaknya itu.
“Iya, iya. Sebentar aku keluar, “ kata Parto akhirnya.
“Ada apa sih Mbak, teriak-teriak gitu?”
“Kamu ini! Dasar muke gile loe ya! Udah Mbak bilang berkali-kali. Disini kamu harus sopan terhadap Tuan dan Non. Ayo keluar!” kata Mbok Minah sambil menarik Parto ke depan.
“Mau ngapain Mbak?”
“Kamu harus minta maaf sama Tuan! Ayo cepat ikut aku!”
“Nah, ini orangnya Tuan,” kata Mbok Minah yang terus menarik Parto akhirnya berhenti saat bertemu dengan ayah Fey Chen, Pak Sutanto.
“Parto, ayo kamu minta maaf sama Tuan. Cepat!”
“Eh..”
“Ayo, cepat!!”
“Maaf, Tuan. Tadi saya nggak sengaja lewat,” kata Parto perlahan sambil menundukkan kepala. Dalam hati ia amat dongkol. Sialan, pikirnya!
“Ingat ya! Aku tidak ingin hal seperti ini terulang lagi!” kata Pak Sutanto sambil menatap tajam ke arah Parto.
“Iya, Tuan,” kata Parto sambil menundukkan kepalanya. Namun dalam hatinya…awas, rasain, tunggu pembalasanku nanti!
“Minah!”
“Ya Tuan,” kata kakaknya sambil membungkuk, yang membuat Parto jadi semakin sebal dengan sikap carmuk kakaknya itu.
“Hanya karena mengingat dia adalah adikmu, maka dia nggak langsung aku usir. Tapi ingat, sekali lagi terjadi, dia harus pergi! Mengerti kamu?”
“Iya, baik Tuan. Terima kasih Tuan.”
“Dan satu lagi, kamu harus bisa mendidik adikmu ini supaya mengerti sopan santun. Mengerti?”
“Mengerti Tuan. Sekali lagi maaf Tuan. Dan, tolong sampaikan permintaan maaf saya ke Non juga.”
“Baiklah, sekarang kamu boleh pergi,” kata Pak Sutanto kepada Parto.
“Parto! Ayo kamu bilang terima kasih dulu ke Tuan,” kata Mbok Minah.
“Eh, terima kasih Tuan,” kata Parto dengan terpaksa. Huh! Gerutunya dalam hati.  
“Ayo, sekarang kamu kembali ke belakang,” perintah Mbok Minah.
“Dasar ular berkepala dua”, batin Parto saat berjalan ke belakang. “Di depannya membungkuk-bungkuk tapi di belakang ceritanya lain. Sekarang aku disuruh ke belakang, pasti kamu pengin ngentotan sama tuan sialan itu!” Gerutunya dalam hati karena hatinya kesal. Bahkan kakakku sendiri bukannya ngebelain adik sendiri malah carmuk dengan orang luar. Abis ini pasti “lama deh baliknya”.
Sementara itu, begitu Parto meninggalkan mereka…
“Perbuatan adikmu itu sungguh tak bisa diterima,” kata Pak Sutanto yang rupanya masih kesal dengan kejadian tadi. .
“Ya, maafkan dia, Tuan. Dia itu memang orang goblok, nggak berpendidikan. Jadi maklum kalau tindakannya konyol. Tapi dia nggak akan berani berbuat macam-macam kok, apalagi setelah kumarahi tadi.”
“Baik, kau harus bisa mendidik adikmu itu.”
“Baik Tuan. Eh, omong-omong….Tuan cape? Pengin aku pijit nggak?” tanya Minah dengan melirik genit.
“Gila kamu. Masa sekarang…masih sore gini.”
“Ah, nggak apa-apa Tuan. Apalagi Non Fey Chen khan sudah masuk ke kamarnya. Dan disini sekarang lagi nggak ada orang,” kata Minah memegang tangan tuannya sambil mengedipkan matanya. “ Sekalian untuk menurunkan emosi Tuan yang barusan naik.”
“Ah, ya, ya, memang pintar sekali kamu dalam urusan ginian. Hehehe,” kata tuannya tanpa basa-basi lagi. Bahkan kini tuannya itu tanpa sungkan lagi meraba-raba dagu dan pipinya. Bahkan setelah itu tangannya turun ke bawah memegang-megang dada Minah.
“Memang sekarang kamu harus melayaniku dengan baik. Tadi adikmu itu bikin darahku naik. Nah, sebagai obatnya, sekarang Mbak-nya wajib memberikan “ongkos gantinya” Hehehee…”, katanya sambil kini kedua tangannya meremas-remas buah dada Minah.
“Iiih, Tuan jangan begitu ah!” kata Minah pura-pura menolak.
“Yuk, masuk ke dalam kamar aja….” kata tuan yang telah mata gelap karena nafsu itu sambil memeluk Minah dan membawanya masuk ke dalam kamar…..
–@@@@–
Sementara di dalam kamar Parto…

“Huh! Sialan”, gerutu Parto.
Ia masih kesal karena harus minta maaf kepada tuannya yang pada dasarnya tak terlalu disukainya. Dan ia makin dongkol karena Mbak-nya juga turut memarahinya di depan tuannya. Dan kini, Mbak-nya tak kunjung datang. Tentu mereka sedang asyik di dalam kamar. Ah, sungguh bangsat bener tuan ini. Anaknya baru diliatin gitu aja sudah sewot setengah mati. Padahal dia sendiri dengan seenaknya mainin cewek. Tiba-tiba dirinya jadi bergairah. Ah, ngapain kesal. Sekarang adalah saat yang bagus. Selagi kau asyik menggarap Mbakku, akan kugarap pula anakmu yang bening itu. Heheheh… Apalagi sejak tadi memang anakmu itu telah bikin aku ngaceng. Kini Parto semakin bergairah lagi karena rasa mupengnya kini bertambah dengan keinginan membalas dendam terhadap tuan yang memarahi dirinya itu. Sekalian ini adalah sebagai ganti rugi karena si bangsat itu juga kini sedang menggarap Mbakku, pikirnya. Namun ganti rugi ini adalah ganti rugi plus plus plus yang sangat menguntungkannya, karena Fey Chen jauh lebih muda, lebih cakep, lebih sexy, daya tarik seksualnya jauh lebih tinggi…pokoknya kelasnya jauh diatas Mbaknya yang sudah stw. Nah, rasain kau! Batinnya.
Kupelototin anakmu, kau marah.
Kau berani pelototin anakku, kugarap kakakmu!
Kau garap kakakku, kugarap pula anakmu!
Dan, akulah yang akhirnya menang. Hehehehee….
–@@@@–
Fey Chen sedang duduk di ranjang di dalam kamarnya. Ia masih memakai baju yang sama seperti tadi, yaitu atasan kaus putih dan celana merah yang begitu pendek. Pahanya yang putih mulus sebagian besar terbuka dan terlihat jelas. Namun kali ini di atas pahanya yang putih itu terdapat tangan hitam yang meraba-raba paha mulusnya. Tangan itu adalah tangan Parto, kacungnya! Tanpa sungkan-sungkan lagi terhadap gadis ini, tangan Parto merayap kesana-kemari, menggerayangi seluruh bagian paha Fey Chen yang terekspos dan membuatnya mupeng sejak tadi. Seandainya ada orang luar yang melihat kejadian itu, tentu mereka semua tak habis pikir. Sungguh kejadian yang langka bin ajaib, seorang kacung rendahan yang kere dan sama sekali nggak ada cakep-cakepnya bisa berduaan di dalam kamar dengan anak gadis majikan dari keluarga Chinese elit. Padahal ceweknya sungguh bening dan cakep luar biasa. Malahan dengan sukarela gadis majikan ini menurut saja dirinya digrepe-grepe oleh kacungnya itu. Tentu kacung itu tak menyia-nyiakan “daging empuk” di depan matanya itu. Sementara tangannya yang satu terus meraba-raba paha mulus Fey Chen, tangannya yang lain memeluk bahu sambil bibirnya asyik menciumi bibir gadis itu. Mmmphhhhhh! Dengan ganas dilumatnya bibir Fey Chen. Parto merasa aman untuk melakukan apa pun yang diinginkan sesuka hatinya terhadap anak majikannya itu saat itu. Karena “anjing bulldog” yang menjaganya telah dijinakkan oleh Mbak-nya. Sehingga kini ia bisa dengan leluasa memakan “anak ayam” yang kinyis-kinyis ini. Memang saat itu di kamar yang lain, Pak Sutanto sedang asyik menggrepe-grepe Minah yang meski sudah 40-an tahun tapi tubuhnya masih cukup kenceng. Tentu ia tak sadar kalau pada saat yang sama Parto juga sedang asyik menggrepe-grepe anak gadisnya yang tadi bahkan baru dipelototi aja sudah protes berat. Sekarang malah lebih hancur-hancuran..Saat itu Fey Chen yang pahanya sedang digerayangi sambil bibirnya diciumi Parto sama sekali tak melawan, malah ia memejamkan matanya sepertinya menikmati juga perlakuan kacungnya itu terhadap dirinya. Padahal awalnya tadi ia tak ingin membuka pintu saat Parto mengetuk kamarnya dan dilihatnya melalui kaca kecil di pintu ternyata yang terlihat adalah mulut tonggos Parto. Ia tentu tak ingin perbuatan skandalnya itu ketahuan Papinya. Namun Parto terus mengetuk malah ketukannya makin keras. Tindakan Parto yang baginya sungguh nekat itu kini membuatnya semakin takut. Sehingga mau tak mau akhirnya ia membuka pintu kamarnya sedikit. Maksudnya menyuruh Parto untuk segera pergi dan tidak mengetuk kamarnya lagi. Namun begitu pintu terbuka sedikit, Parto langsung menerobos masuk ke dalam. Belum sempat ia bicara, tiba-tiba kacungnya itu langsung mendekap dan mencium bibirnya!

“Mmmpphhhhh.” Fey Chen berusaha berontak, namun Parto tidak mau melepaskan bibir nikmat gadis majikannya itu. Ia terus menciumi bibir gadis muda ini dengan penuh nafsu. Setelah tadi kena marah dan dipermalukan oleh ayah gadis ini, kini saatnya ia membalas dendam dengan menguasai dan menggagahi putrinya! Apalagi ia sungguh suka dengan cewek ini karena putih bening, cakep, dan sexy banget. Ditambah lagi wajahnya yang oriental sungguh menggairahkan dirinya! Apalagi selama ini ia jarang bahkan nggak pernah bergaul dengan cewek-cewek keturunan. Kapan lagi ia bisa menikmati cewek Chinese seperti sekarang. Cowok mana yang nggak pengin menikmati barang bagus seperti ini! Ditambah faktor kejadian tak menyenangkan tadi serta bayangan bokap cewek ini yang sedang menggarap kakaknya, membuat nafsunya semakin menggelora bagaikan ombak Laut Selatan yang ditiup angin topan. Sehingga kini mulutnya yang tonggos itu menyapu seluruh bagian bibir gadis Chinese yang berwajah polos ini
tanpa ada satu bagian pun yang terlewat. Fey Chen membiarkan saja perbuatan Parto yang sebetulnya tergolong amat kurang ajar terhadap dirinya itu. Karena ia telah betul-betul masuk ke dalam jerat perangkap pelet yang disusun oleh Mbok Minah sebelumnya (baca: Parto, Orang Desa Yang Cari Rejeki Di Kota, di folder bulan Aug 2009). Jadi kini ia betul-betul jatuh ke tangan (atau tepatnya, penis) Parto secara mutlak. Malah kini ia juga mendambakan belaian kasih Parto terhadap dirinya. Demi Parto, ia rela menyerahkan segalanya termasuk kehormatan dirinya. Terbukti sebelumnya telah ia serahkan keperawanannya untuk direnggut Parto. Ia sama sekali tak peduli dengan kenyataan bahwa Parto adalah kacungnya! Juga ia tak peduli dengan perbedaan diri mereka yang begitu besar dalam hal segalanya, termasuk ras, status sosial, kekayaan, pangkat, warna kulit, latar belakang keluarga, pendidikan, prospek masa depan, dan lain sebagainya. Juga ia tak peduli dengan wajah Parto yang jelek dan penampilannya yang amburadul. Dalam pandangannya, Parto adalah pangeran idamannya. Begitulah hebatnya khasiat ilmu pelet itu!
Kini Fey Chen mulai membalas ciuman Parto. Bibirnya yang lembut bergerak menjelajahi bibir Parto yang hitam tonggos. Keduanya kini saling berciuman dengan hangat. Bahkan di dalamnya, lidah keduanya juga saling bertemu dan beradu. Sambil menciumi Fey Chen, kedua tangan Parto menggerayangi bagian belakang tubuh gadis itu sampai akhirnya keduanya mendarat di celana merah gadis Chinese itu. Dipegang-pegang dan diremas-remasnya pantat Fey Chen yang menonjol di balik celana ketatnya. Sesuatu yang tadinya tak boleh dilihat, sekarang malah bebas untuk digrepe-grepe. Sementara badan Fey Chen menempel di tubuh Parto. Sambil terus menciumi bibir dan menggrepe-grepe pantat Fey Chen, ia merasakan dada empuk gadis itu yang menempel di dadanya. Aaaahhhhh. Begitu nikmatnya hidup ini, gumam Parto dalam hati. Meski gua nggak suka dengan pemilik rumah ini, tapi kalo disuguhi yang kayak gini ya kagak nolak deh. Setelah puas berciuman, Parto menuntun Fey Chen ke ranjang. Setelah gadis itu duduk di ranjang, makin jelas saja pahanya yang putih mulus. Sehingga, tangannya langsung meraba-raba paha gadis itu. Dan kali ini Fey Chen mengambil inisiatif dengan mulai menciumi Parto lagi. Sambil memejamkan mata, bibir indahnya menempel di bibir tonggos Parto, lalu dikecupnya, dan dikecupnya lagi. Kembali   bibirnya menempel dan menggamut bibir Parto. Membuat Parto jadi merem melek merasakan nikmatnya dicium gadis Chinese majikannya yang cakep ini. Satu tangannya memeluk bahu Fey Chen, membuat gadis itu merasa disayangi. Namun tangan satunya begitu liarnya menggerayangi paha Fey Chen. Malah tangan itu mulai menyentuh-nyentuh bagian pribadi gadis itu. Membuat Fey Chen semakin “on” saja dan makin nafsu menciumi Parto. Tangan Parto kemudian lanjut menggerayangi baju putih gadis itu. Sasaran utamanya tentu tak lain adalah dadanya. Tangannya bergerak liar kesana kemari tak
jauh dari sekitar payudara gadis itu. Sambil terus menciumi, Fey Chen mengeluarkan lirihan-lirihan kecil. Apalagi Parto juga ikutan ganas dalam menciuminya. Beberapa saat mereka berciuman dengan asyik. Seolah waktu berhenti berputar….Parto kini sudah tak sabar lagi ingin melihat kemulusan tubuhnya. Apalagi ia masih mengingat tadi saat  dibentak bokapnya hanya cuma sekedar melihat gadis ini dari kejauhan. Kini selain bisa melihat dari jarak close-up, juga bisa melihat gadis ini dalam keadaan polos, mulus, tanpa busana sama sekali! Segera ia menghentikan ciumannya. Kedua tangannya memegang ujung baju putih Fey Chen. Segera ditariknya baju itu ke atas. Semakin ditarik ke atas, semakin terekspos kulit tubuh gadis itu yang begitu putih dan halus. Sampai akhirnya Parto berhasil meloloskan baju putih itu dari kepala dan rambut Fey Chen dan kemudian melewati kedua  tangan putih Fey Chen.
Dilihatnya gadis itu memakai bra warna putih juga. Nampak belahan dadanya yang sexy di atas branya. Sementara baju Fey Chen yang ada di tangannya langsung dilemparkan ke belakang dan mendarat di lantai. Kini ia tak cukup puas hanya sekedar melihat cleavage Fey Chen. Kedua tangannya langsung mengarah ke punggung Fey Chen. Diraihnya tali bra gadis itu dan dengan sekali gerakan terbukalah kaitan bra itu. Segera tangannya dengan cepat melucuti bra putih itu dari tubuh putih Fey Chen. Dalam waktu singkat bra Fey Chen telah berada di tangannya. Kini terbukalah dada Fey Chen tanpa penutup apa pun di depan mata Parto. Lagi-lagi Parto melemparkan bra itu ke belakang dan tali bra itu menggantung di ujung meja rias Fey Chen. Melihat Fey Chen yang telanjang dada, dalam diri Parto langsung terasa syuurrr! Penisnya semakin menegak kencang. Matanya melotot memandanginya. Mulutnya yang tonggos terbuka karena  terpana. Meski telah melihatnya berulang-ulang kali, namun buah dada Fey Chen ini tak pernah gagal membuatnya terangsang abis sampai ke tulang sumsum. Sejenak ia melupakan celana pendek merah yang masih melekat di tubuh gadis itu. Karena kedua tangannya sudah tak sabar ingin merengkuh sepasang gunung kembar indah yang terbuka di depannya ini. Apalagi wajah gadis ini begitu innocent dan kinyis-kinyis. Membuatnya sungguh kontradiktif melihat gadis bertampang baik-baik seperti dia namun dadanya telanjang. Kedua tangan Parto kini memegang masing-masing buah dada Fey Chen. Sungguh pas sekali. Payudara Fey Chen dengan C cup yang cukup menonjol dan padat berisi itu begitu pas berada dalam genggamannya.  Dan ia meraba-raba payudara gadis ini yang berukuran 34C itu. Sungguh kontras sekali perbedaan warna kedua tangannya yang hitam dengan tubuh gadis itu. Membuat Parto semakin menggebu nafsunya meraba-rabai dan menggoyang-goyang payudara Fey Chen yang putih mulus itu. Sementara itu Fey Chen sama sekali tak memberontak saat payudaranya digenggam dan diraba-raba oleh kacungnya ini. Malah ia memejamkan matanya seakan begitu menghayati akan nikmatnya dirinya saat diraba-raba dan diremas-remas oleh Parto. Sehingga Parto pun juga makin bernafsu. Kini payudara gadis itu diremas-remasnya sambil kedua putingnya disentuh-sentuhnya dengan kedua telunjuknya. Sambil ia menatap wajah polos Fey Chen. Nampak ekspresi kepuasan tersirat dari wajah cakep gadis itu, membuatnya nampak semakin cantik saja. Membuat nafsu Parto semakin menggelora. Setelah cukup merangsang payudara Fey Chen, kini tangannya mulai menggeser-geser celana merah  gadis itu. Fey Chen pun bersikap kooperatif sehingga tak lama kemudian celana merah itu pun juga terlepas dari dirinya. Parto melemparkannya ke belakang dan kali ini mendarat di kursi kecil di depan meja rias.
Saat itu Fey Chen memakai celana dalam warna pink yang berukuran agak mini. Oleh karena ikut tertarik ke bawah saat Parto menurunkan celana pendek Fey Chen tadi, maka bagian atas bulu-bulunya kini terlihat di atas celana dalam itu. Tangan hitam Parto langsung menyusup masuk ke dalam celana dalam gadis itu. Ia meraba-raba bulu-bulu vagina gadis itu. Selanjutnya tangannya itu turun ke bawah lagi di tengah-tengah selangkangan gadis itu, mengobok-obok bagian dalamnya. Entah kenapa, bagi Parto ada kepuasan dan sensasi tersendiri memasukkan tangannya ke balik celana dalam cewek. Dan tangannya langsung mengobok-obok bagian pribadi gadis ini. Rupanya ia telah
cukup berpengalaman dalam hal ini sehingga bahkan gadis berwajah se-innocent Fey Chen pun dibuatnya merem melek dan mendesah-desah, membuat Parto semakin puas hatinya. Sampai akhirnya saat ia mengeluarkan tangannya kembali, tangannya telah menjadi basah. Setelah itu celana dalam pink itu dipelorotkannya ke bawah. Kini seluruh bulu vagina Fey Chen yang begitu rapi dan indah itu nampak jelas terlihat. Sementara liang vaginanya juga sedikit kelihatan  karena posisi pahanya yang agak terbuka. Sementara celana dalam pink yang halus itu kini juga dilemparkannya ke belakang. Kali ini celana dalam Fey Chen mendarat di atas meja rias, jatuh menutupi bingkai foto kecil dengan foto Fey Chen lagi berduaan dengan Roger, cowoknya. Setelah berhasil melucuti seluruh pakaian Fey Chen dan kini pakaian gadis itu berserakan di mana-mana, giliran Parto melepas pakaiannya sendiri satu persatu. Sampai akhirnya ia juga sama-sama telanjang bulat. Tubuhnya nampak begitu hitam dan sungguh kontras kalau dibandingkan dengan tubuh Fey Chen. Parto berdiri di depan Fey Chen yang duduk di tepi ranjang. Ia meraih tangan Fey Chen dan menaruhnya di batang penisnya yang berdiri tegak ke atas.  Wajah polos Fey Chen menatap Parto sejenak. Setelah itu ia mulai memijit-mijit penis kacungnya itu. Sambil tangan satunya lagi kini memegang buah zakar Parto dan mengelus-elusnya. Ia terus mengocok-ngocok batang penis Parto yang besar hitam dan berurat itu. Sementara wajah kinyis-kinyis Fey Chen tertuju ke penis yang di-massage-nya itu. Ia nampak begitu konsentrasi dengan pekerjaannya itu. Membuat Parto jadi semakin terangsang. Apalagi kini ibu jari dan telunjuk Fey Chen juga meraba-raba dan memencet-mencet kepala penisnya yang membesar dan disunat itu.   
Orang-orang yang mengenal Fey Chen semuanya mempunyai kesan kalau ia adalah cewek baik-baik dan alim karena wajahnya yang cakep dan polos seperti boneka. Namun sungguh tak dinyana, dibalik kepolosan wajahnya itu, ternyata ia telah sering bermain-main dengan penis kacungnya. Sementara ia sendiri “dijadikan boneka” oleh kacungnya itu di atas ranjang. Demikian pula dengan saat itu. Ia nampak begitu mahir dan cekatan dalam urusan memainkan penis cowok. Terbukti kini Parto jadi mengerang-ngerang dan merem melek karena perbuatan gadis berwajah alim ini. Untunglah Parto termasuk cowok yang kuat dan perkasa dalam hal esek-esek sehingga ia bisa terus menikmati rangsangan Fey Chen tanpa mengalami ejakulasi dini. Malah kini dengan tenang ia memberi perintah ke cewek itu untuk menyepong kontolnya.
“Yuk, sekarang diemut, Chen,” perintahnya tanpa ada rasa hormat dan sopan santun sama sekali ke gadis majikannya ini.
Hebatnya, Fey Chen langsung menanggapi permintaan kacungnya itu. Segera tangannya menghentikan kocokannya. Wajah polosnya menatap Parto sebentar saat kacung itu berkata,” Ngemutnya pake lidah ya,” sambil ia memegang rambut gadis itu. Sembari menatap Parto, Fey Chen menganggukkan kepalanya. Saat itu wajahnya sungguh polos seperti boneka. Namun perbuatannya sungguh kontradiktif. Karena sesaat kemudian ia menjalankan perintah Parto itu dengan penuh rasa kepatuhan.
Shleebpp…shleebbp…shleebppp….
Penis Parto yang hitam besar dan perkasa itu kini telah masuk ke dalam mulut Fey Chen. Kepala Fey Chen bergerak naik turun mengangguk-angguk saat menyepong penis Parto. Terdengar suara-suara kecipakan saat mulutnya bergerak naik turun itu. Sementara Parto mengerang-erang menikmati rangsangan mulut Fey Chen terhadap penisnya. Apalagi di dalamnya, lidah gadis itu bergerak-gerak kesana kemari menjelajahi setiap jengkal kepala penisnya yang disunat itu.
Bagi Parto, lidah Fey Chen yang menari-nari di kepala penisnya itu terasa hangat. Dan Fey Chen sepertinya cukup jago juga dalam melakukan ini. Seluruh bagian kepala penis Parto tak ada yang terlewat oleh lidahnya yang hangat. Bahkan leher penisnya juga tak luput dari sapuan lidah cewek itu. Di dalam mulut Fey Chen yang hangat, lidah gadis itu bergerak melingkari leher penisnya sampai 360 derajat. Dan gadis itu melakukannya secara variatif, kadang searah jarum jam, kadang berlawanan, kadang berpindah-pindah
tempat. Membuat Parto jadi berkelojotan karena nikmatnya yang luar biasa. Bagi orang yang tak berpengalaman tentu akan langsung ejakulasi diperlakukan seperti itu. Namun hal itu tak berlaku bagi Parto. Ia bisa terus menikmati sepongan dahsyat Fey Chen untuk waktu yang cukup lama. Bahkan satu tangannya ikut memegang rambut Fey Chen dan menggerak-gerakkan kepalanya. Maksudnya supaya gadis itu tak berhenti melakukan aksinya. Sementara tangannya yang lain berkacak di pinggangnya. Sementara ia terus menatap wajah polos Fey Chen saat melakukan oral service yang hebat itu. Lagak Parto saat itu mirip seperti boss gede saja. Padahal sebenarnya ia hanyalah seorang kacung rendahan biasa sementara justru cewek yang sedang mengoral dirinya ini adalah anak seorang boss gede. Setelah itu tangan Parto mulai menggerayangi tubuh mulus Fey Chen. Sambil terus menikmati sepongan cewek itu di penisnya, kedua tangannya meraba-raba dan memencet-mencet payudaranya terutama kedua putingnya yang dimain-mainin dengan jarinya. Sehingga birahi Fey Chen pun juga jadi semakin tinggi, akibatnya ia makin aktif dalam melakukan sepongannya. Namun tak lama kemudian tiba-tiba Fey Chen justru menghentikan aksinya.
“Eeh, kenapa kok berhenti,” protes Parto,” Ayo terusin lagi.”
“Ganti posisi donk,” kata Fey Chen dengan muka agak memerah. “Aku juga pengin..”
“OK, OK,” kata Parto tersenyum-senyum sambil membatin, kalo punya anak majikan kayak gini siapa yang nggak kerasan kerja disini. Apalagi ceweknya cakep lagi. Kapan lagi bisa nyicipin cewek bening kayak gini.
“Yuk, kita di ranjang aja,” kata Parto. “Kamu telentang ya.”
Fey Chen tak menjawab karena sebenarnya ia agak malu minta ke Parto. Tapi ya gimana lagi, soalnya dirinya sudah terangsang…
Tanpa berkata apa-apa ia tiduran telentang di atas ranjang.
“OK, kamu terusin disana, aku main disini,” kata Parto sambil menindih tubuh Fey Chen.
Namun dalam posisi terbalik alias 69. Ia menggeser tubuhnya sedikit supaya penisnya tepat di atas mulut Fey Chen sementara mulutnya bisa menyedot-nyedot vagina gadis itu. Sementara payudara Fey Chen terlihat menempel di perut Parto. Nampak kontras sekali perbedaan keduanya terutama warna kulitnya. Putih bening di bawah, hitam butek di atas. Tubuh Fey Chen begitu mulus halus, sementara tubuh Parto kasar. Yang cewek berwajah tipikal chinese oriental, sedangkan cowoknya amat jelas bertampang Jawa. Rambut Parto hitam pendek dan agak keriting, sementara rambut Fey Chen panjang lurus dan disemir kecoklatan. Dan terakhir, kalau Fey Chen begitu cakep dan menarik, wajah Parto sama sekali nggak ada cakep-cakepnya. Meskipun begitu besar perbedaan fisik mereka, namun kini mereka berdua sama-sama merasakan kenikmatan luar biasa. Keduanya sama-sama berkejab-kejab, sama-sama mengerang dan mendesah-desah, sama-sama menggelinjang. Terutama Fey Chen yang sejak tadi haus akan sentuhan-sentuhan, kini nafsu itu begitu menggelora bagaikan luapan air sungai yang siap meledakkan tanggul. Tubuhnya terutama bagian pinggulnya bergoyang-goyang. Karena Parto begitu cekatan merangsang dan menjilati klitorisnya. Sambil terus melakukan sepongannya, gerakan pinggulnya itu semakin liar. Sementara vaginanya kini telah banjir. Membuat ia tak mau kalah dan semakin mengeluarkan kemampuannya dalam mengemut dan menyedot-nyedot penis Parto. Sehingga Parto pun juga merasakan kenikmatan luar biasa. Setelah beberapa saat, mereka ganti posisi. Kali ini Parto yang di bawah sementara Fey Chen berada di atasnya. Posisi ini buat Parto lebih nikmat dan menggairahkan dirinya karena ia bisa melihat dan meraba-raba punggung Fey Chen yang putih halus. Juga payudara Fey Chen jadi lebih terasa menempel di tubuhnya karena pengaruh gravitasi. Apalagi sejak bertukar posisi, sepongan Fey Chen jadi semakin menggila saja. Kini ia merasa ejakulasinya hanya tinggal menunggu waktu saja. Sehingga ia juga semakin bersemangat mengenyot-ngenyot dan menjilati klitoris dan G-spot Fey Chen. Rupanya ia tak ingin kehilangan muka karena kalah “keluar duluan” dibanding cewek itu. Sebaliknya Fey Chen pun demikian. Ia penasaran ingin membuat cowok itu keluar duluan karena selama ini ia selalu kalah darinya.
Rupanya diam-diam diantara keduanya terdapat persaingan terselubung. Masing-masing pihak berusaha membuat pihak lain mencapai klimaks duluan. Sehingga kini keduanya saling merangsang dan saling dirangsang. Tinggal menunggu saja, siapa yang nggak tahan dulu….
“Uuuhhh…Ooohhh….”
“Ooohhhh….aaahhhhh…”
“Shleebb…shleebb…”
“Cleebb..clepp….”
Dan akhirnya….
“Aaaahhhhhh…..aaaaahhhhhhh…..aaaaahhhhhhhhhh……..”
“Aaaahhhhhhhh…….aaaaaahhhhhhh…………”
Terdengar suara desahan-desahan panjang dan keras dengan nada tinggi. Suara Fey Chen! Karena tak tahan lagi digituin terus-terusan oleh Parto, akhirnya… bobollah tanggulnya sehingga kini ia mengalami orgasme yang sungguh nikmat sekali. Saat itu ia sama sekali tak ingat lagi dengan keadaan sekitar sehingga ia langsung meracau tak karuan sambil mendesah-desah dengan keras, dengan tubuhnya  menggelinjang-gelinjang dengan hebat. Sementara vaginanya mengeluarkan cairan yang cukup banyak. Membuat wajah Parto jadi ikutan basah. Parto dalam hati merasa bangga karena lagi-lagi ia akhirnya  berhasil “menaklukkan” gadis majikannya ini secara mutlak dan telak. Dijilatinya vagina Fey Chen sambil terus merangsang titik-titik sensitif di daerah vaginanya yang telah diketahui rahasianya. Membuat Fey Chen semakin kuyup dan semakin liar gelinjangan tubuhnya. Sehingga skor saat ini Parto vs Fey Chen adalah 1-0 untuk Parto. Sementara itu Parto sendiri saat itu juga sudah hampir nggak tahan lagi. Apalagi mulut Fey Chen terus melakukan jurus “sepongan maut”-nya secara kontinu. Kini, setiap tarikannya jadi begitu berarti untuk secara drastis memperpendek “usia hidup” penis Parto. Sampai akhirnya kurang dari lima tarikan….
“Crottttt—-crotttttttt-crott–crotttt—–crottt——crott—-crottt———–”
Meledaklah gunung berapi yang memuntahkan seluruh lavanya. Penis Parto berejakulasi mengeluarkan sperma dalam volume yang banyak. Dan kejadian itu berlangsung saat penisnya masih di dalam mulut Fey Chen! Sehingga hampir seluruh “protein kocok” yang dimuntahkan penis Parto itu terminum oleh Fey Chen. Hanya sedikit sisa-sisanya terutama yang keluar belakangan yang kini masih tersisa di penis Parto. Sisanya terminum semuanya oleh gadis itu.
Sementara Parto nampak senyum-senyum cengengesan setelah berejakulasi. Sungguh puas sekali bisa bercinta dengan gadis secakep dan se-aduhai Fey Chen. Apalagi mengingat status sosial gadis itu yang jauh di atasnya. Ditambah lagi kulitnya yang putih bersih dan wajahnya yang oriental. Sungguh amat membanggakan ia bisa bercinta dengan gadis seperti ini. Dan kini, ia berhasil membuat gadis ini menenggak pejunya! Setelah itu Parto tiduran di ranjang dengan kepalanya ditaruh di tumpukan bantal. Lalu ia menyuruh Fey Chen membersihkan sisa-sisa sperma di penisnya itu dengan mulutnya sampai betul-betul bersih. Sampai akhirnya penisnya menjadi mengkilap dan licin kembali. Parto kini tiduran berbaring sebentar karena kecapean, sambil nonton LCD TV layar lebar yang terpasang di dalam kamar Fey Chen. Sementara sambil nonton, tangannya meraba-raba tubuh Fey Chen yang berbaring di sebelahnya. Setelah itu, tiba waktunya untuk massage. Kacung tengil ini kini menyuruh anak majikannya itu untuk me-massage punggung dan dadanya. Namun bukan sekedar massage biasa. Karena pijitan itu sama sekali tidak menggunakan tangan, tapi menggunakan payudara gadis itu. Jadi kini Parto sedang enak-enakan tiduran sambil merasakan sensasi nikmat punggungnya dipijit-pijitin oleh payudara gadis majikannya itu. Tak lama kemudian mereka berdua ke kamar mandi untuk shower. Sementara Fey Chen menyabuni tubuh Parto yang berkulit sawo matang, Parto menyabuni seluruh tubuh putih gadis mulus itu. Saat itu penis Parto telah berdiri dengan tegaknya seperti saat sebelumnya tadi. Akhirnya mereka berdua keluar dari kamar mandi. Fey Chen hanya memakai handuk saja. Sedangkan Parto sama sekali telanjang bulat. Penisnya terlihat masih menegang dengan kuat. Tanpa permisi lagi Parto melepaskan kaitan handuk di depan dada Fey Chen, membuat handuk itu otomatis terlepas dan jatuh dari tubuh gadis itu. Mata Parto menatap ke payudaranya. Lalu ia mencium bibir Fey Chen. Sementara tangannya kini merayap dan mengusap-usap payudara gadis itu. Kemudian kembali mereka melakukan petting sebagai pemanasan untuk menu utamanya. Setelah puas saling merangsang dan, lagi-lagi, membuat basah vagina Fey Chen, Parto berdiri di belakang gadis itu. Ia menyuruh cewek itu menungging sementara tangannya berpegangan di tepi ranjang. Sehingga vagina Fey Chen jadi terbuka. Kemudian dijilat-jilatinya sebentar vagina gadis itu. Sebelum akhirnya didekatkannya penisnya ke vagina Fey Chen, sambil ia memegang kedua pantat gadis itu, dan…didorongnya tubuhnya ke depan sampai tubuh gadis itu juga ikut terdorong ke depan. Fey Chen menjerit saat Parto ikut mendorong tubuhnya ke depan. Karena pada saat itu masuklah penisnya ke dalam vagina Fey Chen sampai seluruhnya sampai-sampai tak kelihatan lagi.
Dan, setelah itu,
“Aaahhh…aahhhhhh…….aaahhhhhhh……..”
Fey Chen dibikin mendesah-desah saat penis Parto maju mundur di dalam vaginanya. Sementara mulut tonggos Parto ikut bergerak-gerak saat ia konsentrasi penuh “memompa” gadis itu. Sambil memegang pantat Fey Chen, penisnya terus bergerak maju mundur. Dengan gagah perkasa ia menunggang “kuda betina putih” yang mulus ini. Penisnya menghunjam-hunjam mengoyak-ngoyak vagina Fey Chen.
“Aaaaahhh…aahhhhhh…….aaaahhhhhhhh……..”    
Fey Chen semakin keras mendesah-desah. Tubuhnya ikutan bergerak maju mundur seiring dengan irama Parto mengocok penisnya itu. Sementara payudaranya jadi bergoyang-goyang terguncang-guncang dibuatnya. Membuat Parto bernafsu untuk segera menyangganya dengan kedua tangannya, menepuk-nepuk dan meremas-remasnya. Kini sambil terus menggenjot Fey Chen itu, Parto juga sibuk meremas-remas susunya dari belakang. Di-massage-nya payudara gadis itu sambil terus penisnya maju mundur di dalam tubuh gadis itu. Parto melepaskan tangannya. Ia menghentikan kocokannya bahkan mencabut penisnya keluar dari tubuh gadis itu. Ia memegang kedua kaki Fey Chen dan tiba-tiba diangkatnya keduanya. Sehingga kini Fey Chen hanya berpegangan pada tepi ranjang saja. Parto mendekatkan dirinya ke depan. Lalu, sambil menahan kedua paha Fey Chen dengan tangannya, ia memasukkan penisnya ke dalam vagina Fey Chen kembali. Dan kembali disetubuhinya gadis itu dalam posisi seperti kuli bangunan yang sedang mendorong kereta dorong beroda satu. Mungkin Parto teringat saat ia bekerja sebagai kuli bangunan membawa kereta dorong berisi batu bata di tengah pasar. Namun bedanya kali ini yang ia “dorong-dorong” bukanlah kereta dorong tapi adalah Fey Chen. Sementara penisnya terus menusuk-nusuk masuk ke vagina Fey Chen. Membuat seluruh tubuh gadis itu lagi-lagi terdorong-dorong ke depan. Rambut Fey Chen yang tadinya tersisir rapi kini jadi berantakan. Dan payudaranya berguncang-guncang tak
beraturan. Membuat Parto jadi bernafsu melihat itu sehingga ia makin kuat menyodok-nyodok vagina Fey Chen. Sehingga kini bahkan ranjang king size besar yang tepinya dipegang Fey Chen itu juga ikut bergoyang-goyang.
Saat itu di dalam kamar itu benar-benar sedang terjadi gempa setempat yang begitu hebat! Untuk beberapa saat lamanya Parto bagaikan seorang cowboy menunggangi “kuda putih” berambut panjang ini. Ia terus-menerus dengan perkasa menggoyang-goyang tubuh gadis keturunan Chinese ini sambil penisnya terus menyodok-nyodok di dalam vaginanya. Kini Parto menidurkan Fey Chen di ranjang dan dimiringkannya tubuh gadis itu. Lalu diangkatnya satu kakinya ke atas. Dalam posisi agak serong, disetubuhinya gadis itu kembali. Posisi menyerong begini sungguh memberikan sensasi yang berbeda. Dirasakannya penisnya dijepit dengan kuat oleh otot vagina Fey Chen yang memang usianya masih muda dan vaginanya masih seret itu. Dikocoknya gadis itu terus menerus. Satu tangan Parto kini meraba-raba payudara Fey Chen. Sementara Fey Chen rupanya juga suka dengan posisi ini. Terbukti wajah cakepnya itu terus  mengeluarkan suara desahan-desahan yang erotis. Bahkan setelah itu Fey Chen memejamkan matanya membiarkan tubuhnya bergerak-gerak disetubuhi Parto. Seolah ia sungguh menikmati dan begitu menghayati saat dirinya disetubuhi seperti itu oleh Parto.
“Emmhh…mmmhhh…mmmhhhh……,” demikianlah desahan-desahan tertahan Fey Chen yang sungguh erotis saat dirinya disetubuhi Parto sambil ia mengemut jari telunjuknya sendiri. Menyaksikan reaksi gadis yang sedang disetubuhinya itu, Parto terus-menerus mengocok-ngocok penisnya, untuk membombardir vagina gadis itu. Setelah itu posisi mereka berganti lagi. Parto duduk di tepi ranjang, dengan penisnya begitu perkasanya berdiri mengacung tegak ke atas. Dipangkunya Fey Chen yang putih mulus itu. Diraba-rabai kedua pundak gadis itu. Dirasakannya kulit tubuhnya begitu halus dan bersih. Sambil ia menciumi rambut dan leher gadis itu. Diciumnya bau harum menebar dari tubuh gadis itu. Diciuminya rambut lurus gadis itu. Lalu ia mengecup-ngecup leher yang putih halus itu. Membuat Fey Chen kegelian sehingga tubuhnya menggeliat-geliat sambil ia mendesah perlahan dengan mata terpejam. Diciuminya punggung gadis itu yang begitu mulus dan begitu putih. Sambil tangannya meraba-raba paha gadis itu yang sama putih, sama mulusnya, dan sama-sama membangkitkan gairah birahi itu. Lalu Parto kembali menciumi rambut dan leher gadis itu. Dadanya yang hitam menempel di punggung gadis itu, yang makin memperjelas perbedaan warna kulit keduanya dengan begitu kontras. Namun bagi Parto hal itu semakin membangkitkan gairah birahinya karena ia bisa mencium harum aroma tubuh Fey Chen.
Sambil terus menciumi rambut dan leher gadis itu, Parto kini meraba-raba payudara Fey Chen sambil meremas-remasnya. Kedua putingnya dimainkan dengan jari-jarinya. Apalagi puting Fey Chen cukup menonjol sehingga bisa digerak-gerakkan dengan jari tangannya. Tak lama kemudian Parto mengangkat tubuh Fey Chen sedikit, dimundurkannya sedikit dan, bleesshhh!, kini masuklah penisnya ke dalam vagina Fey Chen berbarengan dengan turunnya tubuh gadis itu ke pangkuannya. Kini giliran Fey Chen yang “menunggang” penis Parto. Digerak-gerakkannya tubuhnya naik turun, mula-mula perlahan tapi makin lama makin cepat iramanya. Sambil ia mendesah-desah. Seluruh tubuhnya bergoyang-goyang, terutama payudaranya yang ikutan bergerak naik turun bahkan sambil berputar-putar saat ia semakin cepat menggoyang tubuhnya mengocok penis Parto.
“Aaaaahhh…aahhhhhh…….aaaahhhhhhhh……..,” tanpa bisa menahan dirinya lagi Fey Chen mendesah-desah dengan suara cukup keras.
Sementara Parto di belakang juga merem melek menikmati goyangan tubuh gadis majikannya ini karena penisnya jadi dikocok-kocok oleh vaginanya yang terasa begitu sempit menjepit penisnya. Sambil menikmati “tunggangan” Fey Chen ini, ia menatap wajah polos Fey Chen yang kini sedang terangsang hebat itu melalui pantulan kaca rias. Memang Parto sengaja duduk dengan posisi menghadap meja rias, sehingga selain bisa menikmati mulusnya punggung Fey Chen, juga ia tak kehilangan pemandangan indah tubuh bagian depan Fey Chen dan juga reaksi wajah cakepnya saat sedang disetubuhinya. Sungguh menggairahkan sekali melihat tampang cakep Fey Chen yang kinyis-kinyis itu sedang dalam keadaan “high”. Apalagi “high”nya itu disebabkan karena menunggangi penisnya. Dan gadis itu terus menggoyang tubuhnya naik turun. Membuat rambut
gadis itu mengenai wajah dan kepalanya dengan tak beraturan. Sehingga kini Parto membenamkan wajahnya di rambut gadis itu sambil menciumi bau harumnya sambil tangannya terus memainkan payudaranya, menyentuh-nyentuh dan menggerak-gerakkan putingnya, juga melingkar-lingkarkan jarinya di sekeliling putingnya. Sementara Fey Chen semakin cepat dan tak terkendali menggerak-gerakkan tubuhnya naik turun sambil terus mendesah-desah dan berteriak-teriak. Dunia seolah berhenti berputar bagi dua sejoli berlainan jenis yang sedang asyik main “roller-coster roller-costeran” itu. Setelah itu Fey Chen menghentikan gerakannya. Namun tak lama. Karena ia hanya membalikkan badannya.
Kini ia menghadap Parto sementara tubuh putih mulusnya hampir menempel ke tubuh hitam Parto. Dan lagi-lagi…bleeesshh, penis Parto amblas masuk ke dalam vaginanya. Lalu, kembali ia memulai permainan “roaler-coster” itu lagi. Kini tubuhnya bergerak naik turun mengocok penis Parto sambil mereka saling berciuman bibir dengan hangat. Setelah itu bibir Parto turun ke bawah leher putih gadis itu. Lalu turun lagi untuk menciumi payudara gadis itu bergantian kiri dan kanan. Kedua puting  Fey Chen yang menonjol dan berwarna merah segar itu langsung dikenyot-kenyot dan disedot-sedot. Membuat Fey Chen makin liar. Ia terus menaik-turunkan tubuhnya, mengocok vaginanya dengan penis Parto di dalamnya. Sementara Parto terus mengemut-ngemut puting Fey Chen yang segar kemerahan itu. Sambil mengemut, lidahnya juga dijulur-julurkan menyentuh-nyentuh ujung puting yang amat sensitif itu. Sementara Fey Chen terus menggoyang tubuhnya, membiarkan penis Parto terus menyodok-nyodok liang vaginanya sampai akhirnya, Fey Chen mencapai klimaksnya dan mendapatkan orgasmenya yang kedua. Setelah itu ia menghentikan gerakannya dan melepaskan dirinya dari penis Parto. Namun rupanya penis Parto masih berdiri tegak! Sehingga kini skor Parto vs Fey Chen menjadi 2-0. Fey Chen terpana melihat penis Parto masih tegak dengan perkasanya, karena kini ia sadar apa yang mesti dilakukan selanjutnya sebagai “balas budi” untuk penis Parto. Apalagi Parto saat itu telah memberi instruksi jelas kepadanya, “Ayo emut donk!” katanya ke gadis majikannya itu sambil menunjuk penisnya. Kini mau tak mau Fey Chen harus melakukannya. Sambil duduk bersimpuh di depan kaki Parto, kini Fey Chen mengemut-ngemut penis kacungnya.
“Shleebb…shleeebb….shhleebbb….” demikian bunyi mulut Fey Chen saat menyepong penis Parto. Kepalanya terus mengangguk-angguk dengan penis hitam milik kacungnya itu bergerak keluar masuk mulutnya. Sementara Parto memejamkan matanya. Mulutnya yang tonggos itu bergerak-gerak seiring dengan irama sepongan Fey Chen yang bersimpuh di kakinya itu. Sungguh ia menikmati sepongan Fey Chen yang begitu nikmat.
Dan akhirnya, Parto menyuruh Fey Chen berhenti dan dikeluarkannya penisnya dari dalam mulut gadis itu. Nampak penisnya telah basah mengkilap karena cairan pre-cum nya bercampur dengan ludah gadis itu. Kini dikocoknya penisnya itu persis di depan wajah Fey Chen. Sampai tak lama kemudian akhirnya,
Crotttttttt—crottss—crotttzz–crottt–crott—–crott———-Muntahlah sperma Parto ke wajah cakep Fey Chen. Sehingga wajah putih cakep dan kinyis-kinyis seperti boneka itu kini jadi belepotan oleh semprotan sperma si kacung tengil ini. Alis Fey Chen, hidungnya, pipinya, dagunya, dan bibirnya, semuanya mendapat bagian kena semprotan sperma Parto. Bahkan ada juga sperma “nyasar” yang mendarat di rambut Fey Chen. Melihat itu sungguh Parto merasa puas sekali. Hatinya begitu bergelora menyaksikan itu semua. Karena cowok mana yang nggak suka menyemprotkan spermanya ke wajah cakep seorang gadis muda. Apalagi kalau gadis itu adalah anak majikannya!  Beberapa saat kemudian…
“Yuk ah, aku cabut dulu,” kata Parto yang berdiri dari duduknya. Saat itu Fey Chen juga telah berdiri dan berjalan untuk mengambil tissue di atas meja rias. Namun Parto langsung menyelanya,
“Mau ngapain kamu?”
“Mau bersihin muka, sebelum nanti meleleh.”
“Jangan dibersihin,” perintah Parto. “Nanti saja setelah aku keluar. Sekarang ayo, kamu tiduran di ranjang donk dan berpose dulu yang sexy. Hehehehee…,” katanya sambil mengenakan celana dalamnya Parto tertawa terkekeh sambil menatap tubuh mulus Fey Chen yang telanjang itu. “Ayo buka pahamu lebar-lebar. Cepat!”
“Hahahaaa. Bagus, bagus,” katanya saat melihat Fey Chen menuruti perintahnya dengan patuh dan berpose menantang sambil membentangkan kedua kakinya dengan lebar. “Suitt…suitt….,” mulut usil Parto bersuit-suit sambil ia mengenakan seluruh pakaiannya. Sementara matanya tak lepas menatap  liang vagina dan bulu-bulu kemaluan Fey Chen yang terbuka jelas di depan matanya itu.
“Terus dadamu asyik juga loh. Segar merangsang, padat berisi dan kenyal. Putingmu yang merah itu…cocok bener untuk diisep-isep. Hehehee…” katanya sambil menatap ke buah dada Fey Chen yang putih dan padat berisi dengan puting kemerahan yang menonjol itu.
Lalu Parto berjalan ke meja rias Fey Chen. Dibukanya tas Lous Vuitton warna hitam yang ada disana. Dikeluarkannya dompet didalamnya yang juga LV merknya dan dibukanya. “Ini aku ambil semua ya,” katanya sambil menguras habis seluruh duit yang ada disana dan dimasukkan ke kantong celananya.
“Hehehee. Liat tuh, wajahmu yang cakep sekarang jadi belepotan gitu,” katanya sesaat sebelum pergi. Saat itu memang wajah Fey Chen menjadi basah di beberapa tempat karena spermanya itu telah mencair dan mengalir turun. Bahkan sebagian leher dan dadanya kini juga ikutan basah karena sperma cair yang turun dari dagu dan pipinya. Sementara rambut panjangnya yang terurai nampak awut-awutan. Tapi Parto justru puas menyaksikan Fey Chen dalam keadaan hancur-hancuran saat itu. Juga hatinya puas karena telah merusak gadis majikannya ini untuk kesekian kalinya. “Wah kapan-kapan Papimu harus ngeliat keadaanmu seperti ini. Biar shock dianya. Hahahaaaaa……..”. Lalu keluarlah Parto dari kamar itu meninggalkan Fey Chen yang masih dalam pose yang sama seperti tadi sambil termenung-menung sendirian di dalam…
–@@@@–
(Continue reading at your own risk!)

Di ruang kantor yang acak-acakan dan penuh dengan asap rokok itu duduk saling berhadapan dua orang lelaki yang usianya terpaut cukup jauh. Lelaki berambut gondrong dan dikuncir yang duduk di belakang meja itu berusia sekitar 40 tahunan. Tampangnya galak seperti kepala preman. Badannya penuh tato dan kulitnya amat hitam karena sering terbakar matahari. Sementara lelaki yang duduk di hadapannya usianya baru sekitar 21-22 tahun. Tampangnya jelek dan penampilannya amburadul. Gaya bicaranya begitu tengil namun sikapnya penuh rasa kebanggaan diri.
“Demikianlah ceritanya, Pak,” kata lelaki yang lebih muda itu sambil menyeringai dan tersenyum penuh kebanggaan.
“Bagaimana menurut Bapak, hebat bukan?” katanya lagi sambil kepalanya ditegakkan untuk menatap lawan bicaranya yang umurnya lebih tua itu.
“Ya, kamu betul-betul HEBAT,” puji lawan bicaranya itu dengan intonasi yang kuat saat ia mengatakan kata HEBAT. “Sungguh LUAR BIASA sekali!” tambahnya lagi dengan suara penuh kekaguman, sehingga membuat lelaki muda, yang tak lain dan tak bukan adalah Parto, itu jadi semakin bangga dan berseri-seri.
“Tapi itu masih belum selesai, Pak Badrun. Masih ada lagi terusannya,” kata Parto makin bersemangat karena ekspresi kekaguman lawan dengarnya kini begitu jelas terlihat.
“Oh ya? Apalagi tuh?”
“Sejak itu cewek anak majikan saya itu tak henti-hentinya saya entotin terus-menerus. Tidak peduli musim kemarau atau hujan badai, pagi, siang, sore, malam… pokoknya cewek itu udah kenyang deh aku mainin. Hahahahaaaa…” kata Parto, yang mulut tonggosnya itu tertawa terkekeh-kekeh untuk beberapa saat. “Sementara aku menikmati orangnya, duitnya terus aku porotin, Pak. Sampai akhirnya aku bisa beli motor dan lain-lain.”
“Tapi setelah hampir setahun, lama-lama akhirnya aku mulai bosan sama dia. Apalagi anunya itu mulai nggak peret lagi, mungkin karena udah keseringan dipake ya. Hahahaaa. Juga bodinya nggak sebagus dulu lagi. Dadanya mulai kendor dan turun, mungkin karena gara-gara keseringan aku remes-remes dan aku goyang-goyang waktu mengetubuhinya. Hehehe. Lalu duitnya juga nggak sekenceng dulu karena mulai dibatasi oleh bokapnya gara-gara pengeluaran yang terlalu banyak. Pokoknya disana udah nggak oke lagi. Jadi akhirnya aku tinggal pergi cewek itu. Dan lucunya, kalau dulu awalnya dia yang sama sekali nggak menganggap diriku, sementara aku begitu mendambakan dia. Tapi sekarang jadi terbalik. Waktu aku tinggalin, malah dia yang memohon-mohon sambil berlutut dan nangis-nangis supaya aku tetap tinggal. Tapi akunya yang sudah nggak mau sama dia lagi. Heheheee.”
“Saat itu ceritanya aku baru keluar dari kamarnya sehabis ngentotin dia. Rupanya bokapnya ada di dekat situ. Melihat aku berjalan dari arah kamar anaknya, rupanya ia curiga dan langsung bertanya
dengan gaya bicara yang nggak enak,
“Ngapain kamu ada disini? Tempat kamu seharusnya di belakang, bukan disini!” kata bangsat itu dengan marah.
“Langsung aku jawab dengan cuek “karena aku baru keluar dari kamar Peicen, habis selesai ngentot sama dia!” kataku sambil nantangin ngeliat dia balik.”
“Bangsat! Kamu berani ngomong kurang ajar ya! Dasar kacung rendahan nggak ngerti aturan! Sekali lagi ngomong seperti itu aku tampar kamu! Ayo kamu pergi dari rumah ini! Sekarang juga!!” bentaknya dengan marah.
“Oh, hahaha. Lu nggak percaya ya?” kataku sambil berjalan mendekati kamar Peicen. Kalo lu nggak percaya boleh tanya langsung ke anakmu tuh!” kataku sambil langsung kubuka pintu kamar Peicen   lebar-lebar.
“Dasar lagi beruntung, waktu kamarnya kubuka, rupanya Peicen pas menghadap pintu. Dan saat itu ia masih dalam keadaan kacau balau. Rambutnya awut-awutan seperti baru bangun tidur. Tapi yang hebatnya adalah: dirinya masih telanjang bulat dan…mukanya masih belepotan peju! HAHAHAHAHA!!”
“Ia berteriak kaget saat pintu kamar tiba-tiba terbuka. Lebih-lebih lagi saat berhadapan dengan bokapnya! Namun bokapnya malah lebih kaget lagi ngeliat keadaan putrinya. Tak disangka kalau putrinya dalam keadaan bugil. Dan anehnya, kok aku bisa tahu? Hehehe. Ditambah lagi ngeliat wajah cakepnya dan payudaranya yang belepotan peju sampai basah mengkilap! HUAHAHAHAHAAA. Ia langsung shock melihat itu. Kini setelah melihat sendiri tentu ia tahu kalau semua itu gara-gara ulahku. Ia jadi terbengong-bengong.”
“Sungguh puas hatiku ngeliat itu semua. Aku bicara dengan nada amat sinis, “Nah, tuh liat sendiri dan tanya sendiri sama anakmu. Kirain anakmu masih perawan, iya? Padahal memeknya sudah aku jebol beratus-ratus atau ribuan kali. Malah sekarang ia jago nenggak peju. Hahahahaa. Sekarang anakmu itu  perlu ganti nama, bukan Peicen lagi, tapi Peicun! Huahahahaaaa…” Aku gituin bokapnya, sampai dia  nggak bisa ngomong apa-apa dan terbengong-bengong.”
“Setelah puas memaki-maki bokapnya, lalu aku mengejek cewek itu abis-abisan, sebelum akhirnya kutinggal pergi. Saat aku melangkah pergi, cewek yang tak tahu malu itu malah menahanku sambil memohon-mohon dan menangis-nangis untuk tak meninggalkannya. Bahkan ia sampai bersimpuh di depanku dan memegangi kakiku. Membuatku jadi jijik apalagi bau peju yang begitu menyengat dari tubuhnya.”
“Sementara itu bokapnya jadi semakin shock dan teler melihat itu semua. Apalagi cewek itu masih dalam keadaan telanjang bulat saat ia berlari mengejar dan memegangi kakiku. Tapi aku tetap tak tergerak. Dengan tegas ia kubentak,”Enyahlah! Soalnya sekarang kamu sudah nggak ada harganya lagi!” Setelah itu aku meninggalkan rumah itu untuk tak pernah kembali lagi selamanya.”
“Belakangan aku dengar hidup mereka jadi hancur berantakan dan mereka jatuh kere. Bokapnya jadi stress dan usahanya bangkrut abis. Rumah itu habis disita. Mereka tinggal di rumah kontrakan kecil di kampung kumuh. Untuk menyambung hidup, anaknya jadi WTS kelas rendah yang mejeng di pinggir jalan. Dan yang menjadi langganannya adalah para preman, kuli bangunan, dan supir angkot,” kata Parto mengakhiri cerita panjangnya selama berjam-jam itu dengan hati puas.
“Ah, masa? Benarkah sampai sedrastis itu? Sungguh buruk sekali nasib mereka,” kata Pak Badrun yang raut wajahnya terlihat berubah karena terkejut dan heran. “Dari mulanya kelas pengusaha kaya yang elit dan mentereng lalu jatuh hancur sampai anak gadisnya kini jadi pelacur jalanan. Bukan main! Sungguh ironis!” katanya sambil menggelengkan kepalanya.
“Ya, betul Pak. Tapi itulah pembalasan yang setimpal bagi orang yang tidak lurus dan berhati busuk! Pria itu sungguh pantas menerimanya karena selama ini ia terlalu sering mempermainkan cewek, termasuk kakak saya,” jawab Parto dengan tegas.
“Ya, ya,” kata Pak Badrun sambil manggut-manggut. “Mungkin yang kaukatakan itu ada betulnya. Tetapi gadis itu, sungguh malang sekali nasibnya karena sebenarnya ia tak bersalah apa-apa.”
“Ah, nggak juga Pak. Ia pantas menerima itu karena sikapnya yang begitu sombong. Saat pertama kali ketemu, bahkan cewek itu sama sekali tak melirikku,” kata Parto dengan nada meninggi. “Aku masih ingat saat pertama kali ketemu aku ajak dia salaman, malah dia tinggal pergi!”
“Tapi kini, ia jadi pecun betulan. Hahahaaaa,” Parto tertawa terbahak-bahak.
“Hmm, ok, ok,” kata Pak Badrun manggut-manggut dan tak berkomentar lagi. Namun terlihat di wajahnya kalau ia masih agak terbawa emosinya dengan cerita Parto itu. Keadaan saat itu sungguh kontradiktif. Karena bahkan seorang kepala preman kelas kakap yang telengas seperti dia pun jadi  miris hatinya mendengar perubahan drastis kehidupan keluarga Fey Chen dan Fey Chen sendiri. Sebaliknya sikap Parto malah cuek, sama sekali tak ada rasa kasihan atau simpati sedikit pun. Menurutnya nasib amat buruk itu amat pantas diterima mereka.
“Lalu apa yang kamu lakukan setelah meninggalkan rumah itu?” tanya Pak Badrun akhirnya memecah kebisuan yang berlangsung beberapa saat.
“Sejak itu….”
Dokk! Dokk! Dokk!
Tiba-tiba ada suara ketukan pintu.
“Sebentar,” kata Pak Badrun memberi isyarat kepada Parto.
“Ada apa?” teriak Pak Badrun.
“Pak Soleh tukang soto langganan Abang lagi lewat sini. Bang Badrun mau pesan makan?”
“Boleh, boleh…pesankan dua mangkok, Cok! Kuah campur ya.”
“Baik Bang.”
“Aah, dari tadi kamu sudah bercerita selama berjam-jam. Ayo, kita makan dulu, setelah itu dilanjutkan lagi”, kata Pak Badrun kepada Parto. Dan untuk beberapa saat mereka break makan siang…
–@@@@–
(Last warning! Continue reading at higher risk!! You have been warned!!)
“OK, sekarang boleh kamu lanjutkan, eeeGG…., lagi, maaf,” Pak Badrun menggelegak karena kekenyangan.
“Setelah itu, aku pindah kerja ke keluarga-keluarga kaya lain. Sengaja aku nyari keluarga yang punya anak gadis yang masih muda. Sekarang ini, hehehe sudah tak terhitung berapa banyak cewek-cewek cakep dan manis-manis yang telah saya tiduri. Tak peduli anak pejabat, anak konglomerat, anak jenderal, bahkan artis muda pun pernah saya sikat. Mau Cina, Jawa, Sunda, Indo, India, bahkan Arab dan bule pun semuanya pernah saya sikat!”
“Dan semua itu adalah berkat pelet mujarab itu Pak. Dan kini, pelet itu bisa Pak Badrun miliki dengan menyerahkan uang 25 juta saja!” kata Parto sambil menatap ke Pak Badrun lawan bicaranya itu.
“Apa?!!” Pak Badrun berseru kaget mendengar kalimat Parto terakhir itu.
“Jadi, tujuanmu kemari menemui saya dan bercerita panjang lebar selama berjam-jam sampai ada part 1 part 2 segala….semua itu karena kamu ingin menjual ilmu pelet itu ke saya. Begitu?”
“Betul Pak,” jawab Parto dengan cepat. “Tadi Pak Badrun memuji saya orang hebat, kini Pak Badrun pun juga bisa jadi orang hebat seperti saya….dengan ilmu pelet itu.”
“Ooh. Hohohoho……Hahahaaaaa……….,” Pak Badrun tiba-tiba tertawa terbahak-bahak tanpa kendali lagi, sampai seluruh tubuhnya bergoyang-goyang, bahkan meja kayu di depannya juga ikut bergoyang. Sementara Parto tak tahu harus berbuat apa karena ia sungguh tak menyangka reaksi Pak Badrun akan seperti itu.
“Parto, Parto…sungguh hebat sekali kamu. Kamu betul-betul orang yang luar biasa!” puji Pak Badrun disela-sela ketawanya.
“Pak Badrun pun juga bisa jadi orang yang luar biasa seperti saya,” kata Parto tersenyum-senyum cengengesan. “Semua itu bisa Bapak dapatkan dengan cuma 25 juta saja. Tidak mahal,” kata Parto dengan mantap.
“Ah, ya ya betul. Memang harga segitu tak mahal,” kata Pak Badrun menggumam.
“Jadi, kita sepakat Pak? “kata Parto sambil mengulurkan tangannya. “Bahkan saya bisa mengatur supaya bapak bisa menikmati gadis yang saya ceritakan tadi sepuas hati, sebagai bonus tambahan. Tapi satu hal, saya minta dibayar cash Pak. Setelah itu, Bapak akan menjadi orang hebat seperti saya.”
“Ya, ya, ya,” Pak Badrun mengangguk sambil menyalami Parto. “Memang kamu HEBAT sekali,” kata Pak Badrun.
“Namun….bukan prestasimu yang hebat tapi BUALANMU itu yang hebat!” kata Pak Badrun dengan keras sambil tiba-tiba memelintir tangan Parto.
“Aduuhhh!! Sakit Pak!” teriak Parto meringis kesakitan dengan hati amat terkejut. Meskipun usianya jauh lebih muda, namun tenaganya kalah jauh dengan Pak Badrun yang telah berpuluh-puluh tahun berkecimpung di  dunia hitam. Selain kalah tenaga juga ia kalah wibawa jauh dibanding pria setengah baya yang merupakan tokoh pentolan dunia hitam itu.
“Kamu ingin menipu saya mentah-mentah ya?! Bangsat! Kau kira aku segoblok itu, hah!”
“Aduuh, ampun Pak. Mana berani saya menipu Bapak. Sungguh, sumpah mati Pak!”
“Anjing bangsat! Masih berani menyangkal! Kamu kira bisa menipu aku, Badrun jagoan ibukota   dengan menggunakan cerita bualan yang sungguh tak masuk akal seperti itu, hah!” sergah Pak Badrun yang semakin marah dengan jawaban Parto itu. Sambil terus memelintir, ia menarik tangan Parto dengan keras sehingga tubuh anak muda itu tertarik ke depan. Dan,
Plakk! Plakk! Ia menampar kedua pipi Parto dengan sekuat tenaga.
“Aduuhh!” Teriak Parto.
Tiba-tiba Pak Badrun mengeluarkan pisau lipat dari sakunya.
“Kau datang kemari mau menipuku 25 juta dengan menggunakan cerita seperti itu…hmmm, rupanya kamu sudah bosan hidup ya! Kalau ingin menipu, tolonglah menipu dengan cara yang lebih canggih. Hahahaha…. Sesungguhnya, ketahuilah, kau adalah orang paling goblok yang pernah kutemui di sekolong jagat ini. Ketahuilah, aku, yang namanya Badrun, jagoan ibukota, kagak pernah percaya ilmu pelet dan hal-hal gaib kayak gituan.”
“Dan ceritamu itu… hah!” seru Pak Badrun sambil mengejek. “Sungguh tak masuk di akal. Kalau memang betul peletmu itu manjur, ngapain kamu datang kemari dan menjualnya dengan harga “cuma” 25 juta? Seharusnya kamu bisa dapet uang lebih dari segitu dari cewek-cewek anak orang kaya menurut ceritamu itu. Dan satu lagi, ingat baik-baik ya dan sebaiknya kamu ngaca dulu, penampilanmu kayak gini sama sekali nggak sesuai dengan ceritamu,” kata Pak Badrun dengan pandangan melecehkan. “Kalo betul kamu memang dapet duit banyak, mana mungkin penampilanmu sekarang cuman cocok jadi kernet angkot!”
“Nyaho kamu?” Plak-plakk-plakk. Pak Badrun kembali menampar mulut tonggos Parto.
“Dan ada satu lagi, hahahaaa, dengan tampang begomu seperti celeng ngongos gini, biar pake pelet 10 kali juga kaga bakal bisa menggaet pembantu. Boro-boro anak orang kaya yang tinggal di rumah gedongan.”
“Sekarang… ayo ngaku, bukankah kamu berniat menipu saya?” bentak Pak Badrun sambil memelintir tangan Parto lebih keras lagi.
“Am-ampun, ampun, Pak,” kata Parto dengan gemetar,” Lepaskan, Pak.” Ia meringis kesakitan sambil memegangi tangannya yang akhirnya dilepas juga oleh Pak Badrun.
“Ayo bicara!” perintah kepala preman itu sambil memain-mainkan pisau lipatnya.
“Be-benar Pak. Saya mengaku. Memang saya berniat mendapatkan 25 juta dari Bapak dengan cara , eh…, menipu. Harapan saya, bapak percaya dengan cerita saya lalu langsung memberi saya uang 25 juta. Setelah itu saya akan langsung kabur dari sini untuk kembali ke desa. Tak disangka Pak Badrun mengetahui kebohongan saya, padahal tadi saya sudah senang, kirain Pak Badrun terkena tipuan saya,” kata Parto dengan polos.
“Hahahahaaa. Hebat, hebat! Baru kali ini aku menemui orang SEGOBLOK kamu! Huahahahaaa!”
“Tapi sungguh betul saya pernah kerja di rumah itu, Pak. Mereka sungguh keluarga kaya dan sumpah mati, anak ceweknya itu betul-betul cantik. Dan putih mulus gitu lho. Jadi begini Pak rencana saya, saya cukup tahu isi dalam rumah itu jadi saya bisa menunjukkan jalan kesana. Sementara Bapak bisa mengerahkan anak buah Bapak untuk menyatroni rumah itu, untuk merampok hartanya, lalu menculik dan memperkosa anak gadisnya. Bapak boleh mengambil seluruh hartanya, sementara cewek itu untuk saya,” kata Parto menawarkan idenya. Rupanya ia masih begitu penasaran dengan cewek dalam ceritanya itu. “Bagaimana Pak, bagus khan usulan saya ini?”
“Bangsatt!!” maki Pak Badrun sambil menggebrak meja. “Memang kamu siapa berani-beraninya main perintah ke Badrun, hah?! Buat apa kita semua mengadu nyawa melakukan tindakan yang berbahaya dan bodoh hanya demi…..
“Ah, aku mengerti,” kata Parto sambil tersenyum tiba-tiba memotong kata-kata Pak Badrun. “Maafkan kesalahanku tadi, maksudku tadi, kalau memang mau Bapak boleh memperkosa gadis itu terlebih dahulu, setelah Bapak puas baru serahin ke saya. Bagaimana, Pak?”
“Anjing hina!! Kaukira kami orang-orang berpikiran bejat sepertimu, hah! Dengar baik-baik! Biarpun aku bermain di dunia hitam, tapi aku dan orang-orang disini  adalah professional. Kita bukan kumpulan orang-orang berjiwa rendah yang hanya sekedar melampiaskan nafsu semata, seperti kamu. Lagipula, hah..dasar bego. Mulutmu asal jeplak aja nggak pake otak. Kau kira segampang itu masuk ke rumah orang, apalagi rumah orang kaya seperti ceritamu itu. Nanti urusannya bisa panjang, tolol! Lalu, kamu menyuruhku mengorbankan nasib teman-teman hanya sekedar untuk melampiaskan nafsu binatangmu itu?!! Huh! Dasar, kau betul-betul manusia berakhlak rendah! Bahkan dari ceritamu tadi, sudah menunjukkan kalau kau adalah manusia yang tak tahu diri, tak tahu diuntung, dan sungguh-sungguh tak bermoral!” kata Pak Badrun dengan sinis mengejek Parto yang hanya bisa menundukkan kepalanya.
“Sebenarnya, Pak, apa yang saya ceritakan tadi tidaklah benar,” kata Parto membela diri karena ia tak terima juga dikatakan manusia tak bermoral dan berakhlak rendah segala. “Semua itu adalah karangan saya saja, supaya Bapak makin percaya dengan khasiat ilmu pelet itu dan mau membelinya. Sebenarnya saya juga bukan orang serendah itu,” kata Parto yang mukanya kini jadi merah padam.
“Kau sungguh memalukan!” ejek Pak Badrun ke Parto. “Kalau mendengar ceritamu tadi, lagakmu seperti jagoan tapi rupanya kemampuanmu cuma sampe segitu saja! Bisanya cuma menggoda perempuan tak berdaya saja. Huh! Memalukan!”
Parto hanya diam saja tak berani bersuara.
“Tadi kaukatakan dongenganmu barusan tidak benar. Lalu apa yang sebetulnya terjadi disana?” tanya Pak Badrun dengan nada mengejek. Sebetulnya ia tak perlu membuang-buang waktunya menanyakan hal itu. Tapi rupanya ia masih kesal berusaha ditipu dengan cara yang amat goblok oleh Parto tadi karena hal itu seolah meremehkan kepandaian otaknya. Oleh karena itu kini ia ingin mempermainkan anak muda yang nekat tapi tak berotak ini untuk beberapa saat sebelum mengusirnya. “Kau kerja disana sebentar lalu diusir dengan tidak hormat dari rumah itu karena berusaha berbuat kurang ajar terhadap anak cewek pemilik rumah itu, begitu khan yang terjadi?” tanyanya dengan senyum mengejek.  
“Betul Pak,” kata Parto sambil menghela napas mengakuinya,” Tapi itu semua karena…”
“Aku tahu,” potong Pak Badrun. “Kejadiannya pasti waktu kamu ngeliat cewek itu seperti yang kamu cerita barusan, saat cewek itu pake baju putih dan celana pendek itu. Itu adalah hari keduamu disana. Lalu kamu nggak bisa nahan napsu bangormu itu terus berusaha mendekati cewek itu. Tapi rupanya kamu nggak sadar kalau bokapnya ada disana. Terus kamu langsung diusir dari rumah itu. Sementara itu Mbakmu masih bisa tinggal disana karena tiap malam menjual diri ke pemilik rumah itu. Betul khan seperti itu? Hahaha! Dasar keluarga rendah semuanya! Yang cowok jadi penipu, yang cewek bisanya cuman jadi pelacur. Huh!” jengek Pak Badrun dengan sengaja melecehkan Parto.
Tapi lain kali boleh kauajak kakakmu itu datang kemari untuk menghibur Ucok dan kawan-kawan. Hahahahaaaa….”
Parto hanya diam saja tak berani bicara. Meski mukanya kini begitu merah padam. Namun ia tak berani melawan.
“Baik, sekarang apa maumu?” tanya Pak Badrun akhirnya.
“Eh, anu, kalau boleh saya pergi dari sini Pak,” kata Parto setengah memohon.
“Hahahaaa… Lalu 25 jutanya, nggak jadi?” ejeknya.
“Ehmm, eh, kalau dikasih ya…eh…..”
“Hahahahaaaa. Kau betul-betul bocah menakjubkan.”
“Tetapi, hmmm,“ wajah Pak Badrun kini berubah menjadi ramah,” bagaimana pun juga aku harus salut dengan keberanianmu. Berani masuk ke kandang macan tanpa modal cukup. Hahaha. Kau adalah orang yang suka maen hantam saja tanpa terlalu banyak mikir. Untuk itu, maukah kau bekerja untukku?”
“Apa?” tanya Parto kaget.
“Ya, maukah kau bekerja untukku? Tentu organisasiku ini butuh orang-orang dengan watak seperti kamu,” kata Pak Badrun sambil tersenyum ramah.
“Oh, ya, ya. Tentu saja. Saya bersedia bekerja untuk Pak Badrun,” kata Parto dengan gembira karena saat ini memang ia masih luntang lantung tanpa kerjaan jelas.
Pak Badrun tersenyum mendengarnya. “Bagus, bagus,” katanya. Dalam hati ia memang butuh orang seperti Parto begini, yang apa-apa main seruduk tanpa banyak mikir karena memang otaknya nggak nyampe. Orang seperti ini pasti ada manfaatnya bagi organisasi mafianya. Ibaratnya kalau dalam peperangan, orang seperti ini cocok untuk ditempatkan di barisan paling depan. Kalau mati, mati duluan, tapi paling nggak sudah menyebabkan kerusakan yang cukup berarti kepada lawannya.
“Terima kasih Pak Badrun, karena bersedia menerima saya. Saya akan bekerja dengan sungguh-sungguh,” kata Parto dengan semangat menggebu-gebu karena ia tak pernah menyangka sebelumnya akan mendapat tawaran itu. Bahkan ia sempat kuatir tak bisa meninggalkan tempat itu dengan selamat.
“Tapi omong-omong, apa kerjaan saya disini, Pak?” tanya Parto.
Pak Badrun termenung sejenak untuk memikirkan akan ditempatkan di mana sebaiknya si Parto ini. Namun tiba-tiba ia menengadahkan kepalanya dan menatap tajam ke arah Parto. Wajahnya berubah serius dan sikapnya menjadi tegang. Tiba-tiba ia menyadari kesalahan yang telah diperbuatnya! Ia merasakan adanya sesuatu yang amat janggal mengenai ini semua, yang mana ia hampir kelupaan dan terkecoh! Padahal kejanggalan itu kini sungguh nampak jelas terlihat di depan mata. Untunglah kini ia menyadarinya. Di dalam dunia hitam yang keras dan penuh tipu daya, satu kejadian janggal kadang bisa menjadi masalah hidup dan mati. Untuk itu kini ia bersikap super waspada.   
“Siapa yang mengirimmu kemari!” tanya Pak Badrun tiba-tiba dengan tenang namun dingin. Apabila ia bersuara seperti itu, itu tandanya ia dalam keadaan siap membunuh karena merasa terancam! Hal itu juga tanpa sadar mempengaruhi psikis Parto karena tiba-tiba ia menjadi gentar menghadapi orang ini. Ia tahu kalau orang ini sedang mencurigainya, meski ia tak tahu karena apa.
“Hah?! A-apa maksud bapak?” tanya Parto agak gemetaran.
“Kau!” kata Pak Badrun sambil mengacungkan pisau lipatnya ke wajah Parto,” Siapa yang menyuruhmu kemari? Ada kejanggalan besar antara dirimu dan ceritamu tadi. Pasti ada orang yang mengirimmu kemari untuk menyusup ke organisasiku! Ayo sekarang katakan, SIAPA!” desis Pak Badrun sambil tiba-tiba dengan gerakan luar biasa cepat ia menerjang Parto dan menempelkan ujung pisaunya ke leher cowok apes itu!
“Sa-saya tidak a-a-ada yang mengirim…saya datang atas ke-kemauan saya sss-sendiri,” kata Parto tergagap-gagap dan gemetaran karena ketakutan,” kk-kkarena ss-saya ingin me-menipu u-uang 25 juta. “Sumpah mm-mati!” kata Parto saking gemetarnya hampir saja ia kencing di celananya.
Pak Badrun masih menempelkan pisaunya itu di leher Parto namun sebenarnya saat itu hatinya ragu karena ia tak tahu mana yang benar mana yang salah. Ia telah malang melintang puluhan tahun di dunia hitam, sehingga ia tahu banyak mengenai karakter dan psikis berbagai tipe orang. Sejak pertama kali ketemu Parto, ia bisa membaca bahwa Parto adalah jenis orang yang rendahan yang kasar. Ia adalah tipe orang yang dalam bertindak tak memikirkan resiko dan cenderung main hantam tanpa banyak berpikir karena memang daya pikirnya amat terbatas. Hal ini terbukti dengan kedatangannya kesini untuk membual tentang ilmu pelet itu dan pengalamannya dengan cewek cakep itu yang jelas-jelas tak masuk di akal. Ia berani melakukan itu karena dengan naif mengira orang lain tentu percaya dengan bualannya. Dan mengenai hal itu, penilaiannya tak perlu diragukan lagi karena Parto sendiri telah mengakui kalau ia memang berniat menipu dirinya untuk mendapatkan 25 juta. Namun kini ia menemukan satu kejanggalan aneh antara cerita yang secara detail diceritakan Parto itu dengan karakter orang yang menceritakannya. Cerita Parto tentang peristiwa di dalam rumah itu, termasuk cara kerja pelet itu dan cara menjerat cewek itu (yang semuanya adalah bohong belaka itu)  terlalu rumit dan detail untuk dikarang oleh orang dengan kepandaian terbatas seperti Parto. Bagaimana mungkin Parto bisa mengarang cerita serumit itu? Oleh karena itu, hanya ada satu kemungkinan, yaitu ada otak di belakang layar yang mengatur kedatangan Parto menemuinya saat ini. Dan otak inilah yang mengarang seluruh cerita ini dan menyuruh Parto menceritakannya ke dirinya. Tujuannya supaya dirinya merekrut Parto sehingga Parto bisa menjadi mata-mata bagi orang itu. Akan tetapi kini ia jadi ragu dengan dugaannya ini melihat sikap ketakutan Parto yang tak dibuat-buat. Ditambah lagi, Parto bukan tipe orang yang bisa menjadi mata-mata, karena tadi, tingkat
intelegensianya yang amat terbatas.
Selain itu juga dugaannya tadi ada kelemahan yang ketiga. Sangat jelas sekali adanya kejanggalan antara kerumitan cerita Parto itu dengan tingkat kepandaian Parto. Sehingga dalam waktu tak terlalu lama, pasti ia akan menyadari hal ini, seperti yang terjadi sekarang. Pada saat itu tentu ia akan langsung mencurigai adanya orang di balik layar yang mengatur ini semua. Pada saat itu terjadi, keberadaan Parto tak akan membawa manfaat apa-apa bagi orang itu karena ia telah mencurigainya. Jadi, untuk apa orang itu susah-susah mengarang cerita seperti itu, mengirim Parto menemuinya, dan sebagainya sementara pada akhirnya semua itu tak terlalu memberikan manfaat apa-apa baginya. Melihat reaksi dan sikap Parto selama ini, ia menilai kalau Parto datang atas niatnya sendiri karena memang ia adalah orang yang bodoh, seorang yang plain stupid. Tapi kini tingkat kecurigaan Pak Badrun yang begitu kuat akan segala hal di sekitarnya itu kini mulai bekerja. Ia jadi curiga dengan penampilan Parto. Jangan-jangan orang dihadapanku ini adalah orang yang luar biasa cerdik dan amat pandai berpura-pura. Penampilan bloonnya itu memang sengaja dilakukan untuk menipuku, pikirnya. Demikianlah pembawaan Pak Badrun. Karena terlalu lama berkecimpung di dunia hitam yang keras, ia selalu penuh waspada, berhati-hati, dan mudah curiga. Kini diam-diam timbul rasa cemas dalam dirinya. Jangan-jangan ia adalah seorang pembunuh bayaran ulung yang dikirim untuk membunuhku. Untuk itu ia buru-buru melepaskan pisaunya dari leher Parto supaya ia bisa menjauhkan dirinya sejauh mungkin dari anak muda itu, sambil ia mengawasi kedua tangan Parto. Saat itu memang ia tak
melihat ada sesuatu yang berbahaya dalam diri Parto. Namun tetap ia melakukan tindakan berjaga-jaga. Segera ia duduk kembali di belakang mejanya. Diam-diam digengggamnya pistol di dalam laci mejanya. Pistol yang berisi peluru panas! Dan ia bersiap memanggil anak buahnya masuk. Namun ia mengurungkan niatnya memanggil anak buahnya masuk. Ia percaya kalau ia bisa mengatasi Parto sendiri. Karena nalurinya mengatakan kalau Parto memang seorang yang bodoh, plain stupid, bahkan  ia bisa melihat rasa ketakutan luar biasa yang terpancar dari kedua bola matanya. Namun tetap ia ingin menguak rahasia kejanggalan yang dirasakannya itu. Untuk itu ia bertanya lagi ke Parto,
“Tadi kau berusaha menipuku dengan ceritamu tentang ilmu pelet dan pengalamanmu dengan cewek itu dan hal itu telah kau akui sendiri. Tapi sekarang pun rupanya kau juga masih berusaha menipuku. Ceritamu yang panjang lebar tadi, terlalu rumit untuk dikarang oleh orang bodoh seperti kamu. Bagaimana kamu bisa mendapatkan cerita serumit itu? Pasti ada orang yang membuatkan cerita itu dan menyuruhmu kemari? ” tanya Pak Badrun memancing jawaban Parto sambil menatap tajam ke arahnya. Sementara tangannya di bawah meja telah siap beraksi apabila ada satu langkah mencurigakan dari anak muda di depannya itu. 
Mendengar pertanyaan Pak Badrun ini, entah mengapa kini timbul rasa ketenangan dalam diri Parto. Kini ia tak gemetar lagi. Bahkan ia bisa berbicara dengan tenang. Ia menjawab pertanyaan Pak Badrun itu dengan tenang namun pasti. Dan, jawaban Parto itu amat mengejutkan Pak Badrun karena ia sama sekali tak menyangkanya.
“Pak Badrun, sesungguhnya tidak ada yang mengarangkan cerita itu dan tidak ada orang yang menyuruh saya kemari. Saya bisa bercerita panjang lebar tadi karena hampir seluruh kejadian yang saya ceritakan itu BETUL-BETUL TERJADI! Saya akui, ada beberapa hal disana-sini yang saya ubah dan saya lebih-lebihkan supaya lebih dahsyat. Namun saya berani mengatakan bahwa ilmu pelet itu bukan omong kosong belaka tapi memang BETUL-BETUL ADA. Dan ilmu itu sungguh BERKHASIAT dan bekerja dalam diri cewek itu! Untuk hal ini saya berani sumpah mati sampai tujuh turunan sekalipun!”
“Kau bicara jangan sembarangan! Sekarang kau berusaha mangkir dan balik ke bualanmu yang tadi lagi, hah!” hardik Pak Badrun dengan marah karena merasa dipermainkan oleh Parto.
“Dalam keadaan sekarang, Pak, untuk apa saya bicara bohong?” tanya Parto dengan tenang. “Salah-salah, nyawa saya bisa melayang,” tambahnya.  
“Jadi kalau aku kasih kamu 25 juta, aku bisa memakai ilmu pelet itu, begitu?” tanya Pak Badrun sambil tersenyum sinis.
Tanpa mempedulikan ejekan Pak Badrun, Parto menjawab dengan tenang, “Ilmu pelet itu memang ada, Pak. Tapi untuk SAAT ITU. Namun kini lain ceritanya. Seandainya Pak Badrun membelinya dari saya sekarang, itu sama saja dengan saya menipu Bapak karena ilmu pelet itu kini sudah tak berkhasiat lagi,” kata Parto dengan jujur dan sungguh-sungguh.
“Ah, benarkah? Benarkah memang ada ilmu pelet dan ilmu gaib seperti itu di dunia ini?” tanya Pak Badrun agak susah menerima penjelasan Parto itu karena memang pada dasarnya ia sama sekali tak percaya akan hal-hal begituan. Namun kini melihat sikap Parto yang sungguh-sungguh, dirinya jadi terbawa sehingga ia tak lagi bersikap sinis.  
“Lalu, bagaimana dengan cewek cakep dalam ceritamu tadi? Apakah kamu sungguh-sungguh telah menidurinya?” tanya Pak Badrun lagi.
“Dan, apa maksudmu, dengan dulu berkhasiat sekarang tidak lagi? Mengapa khasiatnya bisa hilang kalau memang dulunya betul-betul berkhasiat?” tanyanya bertubi-tubi.
Sikap Pak Badrun kini berubah, dari awalnya curiga kini jadi penasaran. Apalagi melihat sikap Parto yang tiba-tiba jadi serius, membuat dirinya tertarik untuk mengetahui hal yang sebenarnya.
“Mengenai hal-hal itu, Pak, sebenarnya tadi saya sudah ingin mengatakannya namun Pak Badrun membuat saya takut sehingga akhirnya saya tak berani mengatakan apa-apa.”
“Akan tetapi, kini, apabila Pak Badrun ingin mengetahui keseluruhan hal yang terjadi,” kata Parto dengan tenang, “Maka, saya bisa menceritakan lagi semuanya secara apa adanya.” Wajah Parto saat itu begitu serius dan sungguh-sungguh. Seolah-seolah ia akan menceritakan satu bagian penting dari pengalaman hidupnya.  
“Tunggu,” kata Pak Badrun sambil mencari sesuatu dari lacinya. Tangannya yang tadinya tersembunyi di dalam laci kini dikeluarkannya sambil memegang sebungkus rokok kretek kesukaannya. Ia menyodorkannya ke Parto, namun Parto menolaknya dengan sopan. Saat itu ia terlalu serius dan sungguh-sungguh. Sementara Pak Badrun menyulut rokoknya dan menaikkan kakinya ke atas meja. “Baik, sekarang silakan kau mulai,” kata Pak Badrun sambil menghembuskan rokok yang dihisapnya itu.
Dan mulailah Parto bercerita mengenai seluruh kejadian itu. Kali ini ia menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi….
xXx STORY : Parto : Cerita Bokep, Pada: Jumat, Juni 29, 2012
Copyright © 2015 CERITA DEWASA Design by bokep - All Rights Reserved