Recent Posts Widget

Kisah Seorang Ayah

http://cerita-porno.blogspot.com/2015/08/kisah-seorang-ayah.html

Dear para suhu dan agan. Ini cerita ane kedua di Kolom ini. Cerita ini masih satu timeline dari cerita Anak Nakal. Kerangka karangan udah ada tinggal dieksekusi untuk ditulis. Kali ini ceritanya agak unik.

Warning, cerita ini hanya fiksi. Tak ada kejadian nyata, sekedar fantasi. Just enjoy.


Seorang Ayah

Bab I

Lelaki Yang Baik Hati

Namanya adalah Pak Udin. Dia hidupnya bersahaja. Dia seorang petani. Setiap hari kerjaannya ya ke sawah, ke ladang, memanen tanaman-tanamannya dan macem-macem. Satu hal yang dikenal oleh seluruh penduduk adalah dia ini lelaki yang baik hati. Usianya sudah 40 tahun tapi dia bersedia menampung anak-anak cewek yang bermasalah. Dan rata-rata mereka semua masih ABG. Pak Udin juga tidak keberatan mereka tinggal di rumahnya. Seluruh penduduk mengenal Pak Udin sebagai orang yang baik bahkan anak-anak asuhnya pun lambat laun berubah menjadi baik.

Mereka semua anak-anak gadis yang punya masalah. Mulai dari masalah narkoba, kabur dari rumah, hikikomori, autis, kebutuhan ekonomi dan lain-lain. Bahkan entah ajaibnya Pak Udin ini mampu menyembuhkan seorang anak gadis yang punya kecenderungan bunuh diri. Bahkan karena hal inilah ia diundang beberapa kali untuk diwawancarai di tv dan radio. Namun siapa sangka Pak Udin ini punya sisi kelam yang tidak diketahui oleh siapapun. Inilah ceritanya.

Di rumah ini ada 12 cewek. Mereka semua rata-rata masih muda. Hari itu mereka semua berkumpul di ruang makan yang sederhana. Hari ini panen dan Pak Udin yang memasak. Suasananya sangat gembira. Itu semua terlihat dari wajah semua anak asuhnya. Hanya saja cuma terlihat enam cewek. Mereka adalah Aliya, Naomi, Aki, Leni, Nurmala, dan Lulu.

"Ayo yang banyak makannya!" kata Pak Udin. "Ini semua hasil kebun lho."

"Wah ayah, kayaknya enak nih," kata Aliya. Dia cewek yang cukup manis. Ndak terlalu tinggi tapi chubby.

"Iya dong, tentu saja," kata Pak Udin.

"Sayang Febi ndak ada, masih sibuk sekolah," kata Leni. Ia cewek yang paling tinggi di antara mereka berenam.

"Pedas nggak?" tanya Aki yang memang tak suka pedas. Rambutnya dikepang dua.

"Nggak koq, Ayah tahu selera Aki," kata Pak Udin.

Nurmala dan Lulu mengambil makanannya dengan membisu. Sementara itu Naomi menunggu semua orang mengambil bagiannya masing-masing, baru kemudian dia mulai mengambil bagiannya.

"Lulu, bagaimana dengan sekolahmu? Baik-baik saja?" tanya Pak Udin.

Lulu termasuk anak yang imut, tapi pendiam. Ia berambut pendek. Sekalipun pendiam ia sebenarnya sangat cerdas. Bahkan paling cerdas di antara semua teman-temannya di sini. Ia sedikit tersenyum.

"Baik-baik saja ayah, tahun ini aku bisa lulus sepertinya," kata Lulu.

"Haaa??" semua orang terkejut mendengarnya.

"Bagaimana mungkin?" tanya Leni.

"Dia kan ikut kelas akselerasi, jadi wajar kalau tahun ini lulus. Dua kali lebih cepat dari kita. Dasar kutu buku," kata Nurmala tanpa ekspresi. Ia satu-satunya cewek di ruangan itu yang disemir merah rambutnya.

Semuanya mengangguk-angguk.

Naomi memberikan sebagian ikan miliknya kepada Lulu. "Semangat ya, semoga cepat lulus!"

Lulu tersenyum, "Terima kasih."

"Ayo, ayo, ayo, dihabiskan. Habis ini ayah mau bersih-bersih," kata Pak Udin.

Acara makan yang cukup akrab itu pun berakhir setelah lima belas menit kemudian. Mereka semua pergi. Pak Udin membereskan meja makan yang berantakan. Ia sendiri yang mencuci piring kemudian menanak nasi untuk anak-anaknya nanti setelah pulang. Ketika ia bersih-bersih tampak seseorang datang.

"Permisi?" sapa orang itu. Pak Udin buru-buru ke pintu depan.

"Oh, pak RT ada apa pak?" tanya Pak Udin.

"Ini pak Udin, bukti PBB tahun ini," kata Pak RT. Orangnya sebaya dengan Pak Udin. Kumisnya cukup tebal dan tambun. "Sepi ya pak rumahnya?"

"Iya, semuanya pergi sekolah, makasih ya pak," kata Pak Udin menerima lembaran PBB yang diberikan oleh Pak RT.

"Saya masih salut dan kagum ama Pak Udin, bisa menampung mereka semua dan merubah mereka. Saya juga kepingin belajar dari bapak," kata Pak RT.

"Saya tak ada ilmu khusus pak RT, bahkan saya sebenarnya tak punya rahasia apa-apa. Hanya saja mereka perlu diajak bicara, itu aja," kata Pak Udin.

"Ya sudah, saya masih mau membagikan lembaran-lembaran ini ke tetangga-tetangga," kata Pak RT.

"Silakan saja pak, saya masih beres-beres," kata Pak Udin. "Hidup tanpa istri ya seperti ini."

"Ya cari istri sajalah pak, atau mau saya carikan?" tanya Pak RT menawari.

"Tidak Pak, terima kasih. Saya sudah cukup bahagia dengan anak-anak ini," kata Pak Udin.

"Ya sudah, mari," Pak RT permisi.

Pak Udin lalu menutup pintu kembali ke dalam rumah. Ia lalu ke kamar anak-anak asuhnya. Kamarnya sangat besar. Dan mereka tidur di bawah semua, beralaskan tatami dan kasur. Kasur-kasur tidur tampak digulung di pinggir ruangan. Hanya saja ada satu kasur yang masih ada di sana. Dan seorang cewek kira-kira berusia 16 tahun masih tergeletak di sana. Pak Udin menggelengkan kepalanya. Ia menghampiri cewek itu.

"Hei, Ratri! Bangun, udah siang ini. Kamu ndak sekolah?" tanya Pak Udin.

"Hmmm...males ayah, Ratri capek!" kata dara manis itu. Wajahnya cukup manis. Ia masih memakai piyama tidurnya.

"Emang ada apa sampai kamu ndak mau bangun?" tanya Pak Udin.

"Ratri masih ngantuk, tadi malam ngerjain tugas sampai malem. Males juga mau ke sekolah. Biarin deh bolos sehari aja," katanya.

"Eeehh...jangan begitu. Ayo bangun!" Pak Udin menggoyang-goyang tubuh Ratri. Tapi gadis ini ndak bergerak.

Pak Udin kesal. Lalu ia punya cara untuk membangunkan putri angkatnya ini kalau sudah begini. Ia mencium pipi Ratri, lalu mencium bibirnya. Ratri masih tak menyahut. Lidah Pak Udin membasahi bibir Ratri. Ratri pun mulai merespon dengan mempertemukan lidahnya. Pak Udin mengisap-isap ludah Ratri yang masih basin itu. Tapi rasanya lebih nikmat dari permen manapun.

"Kalau kamu tak mau bangun, ayah bangunin lho," kata Pak Udin.

"Hmm,...," hanya itu jawaban Ratri.

Pak Udin kemudian membuka satu per satu kancing baju Ratri. Dibukanyalah baju Ratri. Tampak ada BH yang menutupinya. Pak Udin kemudian mengangkat tubuh Ratri sedikit untuk melepaskan kaitan branya. Dan tuing! Kedua buah dada yang sekal, tak terlalu besar sih sewajar buah dada gadis remaja dengan puting berwarna merah kecoklatan sebesar butir kacang terekspos. Pak Udin meremas-remas kedua buah dada ranum itu. Bibirnya maju dan menjilati kedua puting susu yang masih ranum. Orang tua ini menghirup harumnya bau khas toket gadis.

Ratri mulai mendesah. Walaupun ia masih mengantuk, tapi tak bisa menolak birahi yang diberikan oleh ayah angkatnya ini. Pak Udin terus mengempeng seperti bayi. Ia pun mengambil keputusan sejenak bahwa baju Ratri itu mengganggu. Akhirnya dilepaskanlah piyama Ratri bagian atas, demikian juga branya. Sejenak ia pandangi tubuh mulus Ratri. Betapa beruntungnya dia. Kemudian tak cukup baju atasan, celananya pun dipelorotkan. Kini Ratri hanya memakai celana dalam. Pak Udin tak ingin ketinggalan, ia pun melepas seluruh bajunya. Terpampanglah sebatang penis coklat, besar dan sudah mengacung. Pak Udin kemudian menggosok-gosok kemaluan Ratri dari luar celana dalamnya.

Ratri kembali mendesah. Pak Udin kemudian menciumi bibir Ratri. Ratri mulai menanggapi panggutan lelaki ini. Lelaki inilah yang dulu pernah memerawaninya ketika pertama kali ada di rumah ini. Dan ia sudah terbiasa dikerjai oleh lelaki yang juga ayah angkatnya ini. Mulanya ia takut tapi entah kenapa ia juga ketagihan dientot ayah angkatnya ini. Selain penisnya yang bisa memberikan kepuasan, perlakuan ayah angkatnya ini sangat lembut. Lebih lembut dari cowok manapun. Bahkan tak pernah marah kepadanya, berbeda ketika ia masih berada di rumahnya dulu. Ratri termasuk dari keluarga broken home. Ia pergi dari rumah tiga tahun yang lalu. Tak punya tempat tinggal kemudian Pak Udin yang menolongnya. Pak Udin berjanji akan menjaganya asalkan ia mau tidur dengannya dan sewaktu-waktu dibutuhkan. Awalnya Ratri agak menolak, tapi ia tak punya tempat tinggal lain, apalagi saudara-saudaranya di sini pun membujuknya agar mau. Dan meyakinkan dia bahwa Pak Udin orangnya baik. Setelah itulah kehidupannya pun akhirnya berubah. Ia menjadi anak angkat sekaligus "istri" dari Pak Udin, karena kapan pun Pak Udin mau ia harus mau melayaninya dan kapan pun juga Ratri butuh, maka mau tak mau Pak Udin rela untuknya. Mereka saling membutuhkan. Memang ini hubungan yang aneh.

Ratri masih lemes karena memang masih mengantuk. Sementara Pak Udin sudah membuat kemaluannya basah sekali. Pak Udin kemudian melepaskan celana dalam anak asuhnya itu. Kemudian Pak Udin ke bawah tubuhnya. Dibukanya pahanya. Wajah Pak Udin sangat dekat dengan kemaluannya lalu saat lidah pak Udin menyapu belahan memeknya, Ratri menggelinjang. Kemudian belahan berwarna pink dan ranum itu menjadi santapan Pak Udin. Lidahnya mengusap, mulutnya menghisap setiap cairan yang keluar dari memek Ratri yang bulunya tidak begitu lebat tapi rapi itu. Paha Ratri kemudian bertumpu di pundak Pak Udin. Pak Udin menyibakkan memeknya lalu lidahnya masuk ke dalam dan bergerak-gerak di dalam. Ratri mendapatkan kenikmatan yang tak bisa dilukikan.

"Ohh...ayah....enak....iyaa...disitu...ohhh," kata Ratri.

Pak Udin kemudian mengulum klitoris Ratri. Hal itu membuat Ratri mengejang. Apalagi gerakan mulut Pak Udin yang bervariasi membuatnya makin melayang. Cairan makin banyak keluar dari liang senggama Ratri. Makin lama makin banyak. Ratri tak sanggup lagi menahan luapan orgasme yang akan keluar.

"Yaaahh...Ratri keluar yaaaahh....!" Ratri menaikkan pantatnya. Pak Udin menyudahinya. Ia melihat anak asuhnya itu squirt. Tiga kali semprotan cairan bening keluar dari memek Ratri. Kaki Ratri yang jenjang itu sungguh mempesona. Pak Udin menciumi paha Ratri. Kemudan ke perut, kembali lagi ke buah dada Ratri.

Pak Udin bangkit. Ia sekarang jongkok di depan wajah Ratri. Ratri mengerti keinginan ayah angkatnya itu. Ia menerima kepala penis milik lelaki itu di mulutnya. Pak Udin merasakan hangat mulut Ratri. Terlebih Ratri yang sudah belajar banyak berapa kali bercinta dengan Pak Udin tahu bahwa lelaki separuh baya ini suka kalau kepala penisnya digelitiki oleh lidahnya. Sambil sesekali sebagian penisnya masuk ke mulutnya. Pak Udin memaju mundurkan pantatnya sambil sesekali merem melek menikmati kontolnya yang dimainkan oleh anak angkatnya. Ratri membuat variasi dengan meremas-remas buah peler ayah angkatnya.

"Udah Ratri, udah, ayah ingin masukin ya?" tanya Pak Udin.

Ratri diam saja. Matanya kini membuka. Menyaksikan Pak Udin bergeser dan memposisikan selakangan mereka berhadapan. Sekali lagi penis yang ia rindukan itu akan masuk lagi ke liang senggamanya. Pak Udin menggesek-gesek palkonnya. Meresapi lendir-lendir yang keluar dari kemaluan Ratri, kemudian ia mendorongnya pelan.

"Ohhh...ayaahh...penis ayah masuuuukkk!" keluh Ratri.

Pak Udin bertumpu dengan kedua tangannya. Ia pun menggoyang pantatnya maju mundur. Ratri sudah terbangun dan menerima kocokan lembut orang tua ini. Walaupun sudah berusia 40 tahun, tapi wajah pak Udin masih tampan menurutnya. Rambut Pak Udin sudah memutih, tapi wajahnya berwibawa. Badannya masih tegap, tak ada tonjolan lemak sedikit pun malah. Lengan Pak Udin kekar, tapi perlakuannya kepada tubuhnya sangatlah lembut. Ratri mulai menggoyang-goyang pantatnya menyeimbangi gerakan dari ayah angkatnya ini. Mereka berdua untuk sesaat terlena dalam rengkuhan birahi. Padahal niat Ratri tak ingin bangun dulu karena ia capek, setelah semalam mengerjakan tugas sampai pagi. Tapi entah bagaimana, perlakuan ayahnya ini membuat ia bisa punya tenaga untuk meladeni nafsu sang ayah.

Lalu Ratri diangkat oleh Pak Udin. Tangan Ratri memeluk leher Pak Udin. Kedua kemaluan mereka belum berpisah. Pak Udin tenaganya cukup kuat, ia menggendong Ratri. Keduanya berhadap-hadapan. Ratri lalu menaik turunkan pantatnya sementara pantatnya ditumpu oleh tangan Pak Udin. Keduanya merengkuh kenikmatan lagi.

"Ohh...ayah,...enak ayah..." lagi-lagi dan lagi-lagi Ratri merancau. Keperkasaan penis Pak Udin sangat membiusnya.

Pak Udin kemudian menurunkan anak angkatnya. Ratri sekarang disuruh untuk menungging. Kemudian Pak Udin menyodoknya dari belakang. Diremas-remasnya pantat Ratri. Ratri memaju mundurkan pantatnya. Ia pun ingin kembali merasakan sodokan penis Pak Udin. Pak Udin menggoyang pantatnya dengan lembut. Memek Ratri sangat becek. Entah ia tadi sudah orgasme berapa kali ketika disodok oleh penis Pak Udin. Pak Udin meremas-remas toket Ratri. Putingnya dimainkan dipelintir-pelintir. Keringat mulai keluar dari kedua insan ini.

"Ayah....Ratri ndak kuat, Ratri ndak kuaaattt....aaahhkkk!" Ratri menghentikan goyangan pantatnya. Ia mengejang dan ambruk ke kasurnya. Pahanya bergetar. Sepertinya ia orgasme lagi. Pak Udin seolah tak ingin membiarkannya menikmati orgasmenya, ia langsung membalikkan tubuh Ratri yang tengkurap.

Pak Udin lalu menindih Ratri. Bless...penisnya masuk lagi.

"Ohh...ayah...ayah belum keluar ya?" tanya Ratri.

Pak Udin tak menjawab ia memberikan ciuman kepada Ratri. Mereka berdua berpanggutan. Pak Udin memeluknya erat. Kedua dada mereka beradu. Karena tubuh Ratri lebih pendek, jadinya Pak Udin bisa menguasai Ratri dengan mudah. Kocokan Pak Udin makin cepat. Buah pelernya berkali-kali menyentuh vagina Ratri. Ratri makin keenakan. Dan tampaknya ia akan keluar lagi. Penis Pak Udin makin mengeras, nafasnya makin memburu.

"Ratri...ohhh.....ayah keluar...aaahhhkkk!" dan Pak Udin pun bergerak makin cepat dan ketika kepala penisnya menyemburkan benih-benih anaknya, ia benamkan sedalam-dalamnya batang penisnya yang coklat itu. Ratri pun sepertinya orgasme lagi. Ia menatap langit, mendongak seperti ada sesuatu yang sangat nikmat masuk menyirami rahimnya. Penis lelaki itu berkedut-kedut berkali-kali di dinding memek Ratri yang rapet itu. Batang kontolnya seperti diremas-remas, suatu kenikmatan yang tak bisa dilukiskan.

Pak Udin diam sejenak. Ia melihat Ratri yang sudah bangun. Mereka berdua berciuman sesekali.

"Memek kamu nikmat sekali Ratri," kata Pak Udin.

"Ayah juga, penisnya enak," kata Ratri.

"Bangun yah?" tanya Pak Udin.

"Iya, Ratri mau mandi dulu," kata Ratri.

Pak Udin kemudian mencabut penisnya. Ratri merasa geli ketika penis itu keluar dari lubangnya. Ia segera bangkit. DIlihatnya vaginanya mengeluarkan cairan kental berwarna putih. Ia berlari-lari kecil menuju kamar mandi. Sementara itu Pak Udin terkapar di atas kasur Ratri menikmati kepuasan yang baru saja ia raih.

Begitulah. Hampir setiap hari kalau ada waktu Pak Udin pasti ngentot dengan salah satu dari anak-anak angkatnya.


Elok Sang Pecandu

Sedikit flashback ke masa lalu. Cerita ini beberapa tahun sebelum Elok, salah seorang anak angkat Pak Udin ikut berada di rumah itu. Elok merupakan anak yang nakal. Pembangkang orang tua, ndak pernah terurus, bahkan awal pertama kali dia ikut ngedrug adalah karena diajak teman-temannya. Pertama ia mencoba putawu, ganja, ekstasi dan setelah itu nyoba juga kokain. Ia adalah anak orang kaya. Siapa sangka dibalik gelamornya kehidupannya, uang yang tak terbatas, sebenarnya di dalam dirinya ada sifat-sifat yang rusak.

Sejak SMP dia sudah menyemir rambutnya. Dari mulai warna biru, hijau, merah, pirang, pink dan lain-lain. Berkali-kali juga ia dipanggil kepala sekolah karena buruk. Tapi sebenarnya ia anak yang cerdas. Ia sangat mudah menangkap penjelasan guru, bahkan selalu ranking di sekolahnya. Tanpa menyogok seorang guru pun. Hanya saja ia senang membolos, sering ijin, kadang hampir sebulan ndak pernah masuk sekolah.

Kehidupan Elok pun berlanjut ke dunia malam. Ia terkadang bercanda hahahihi dengan teman-teman gengnya di pub, bar, diskotik. Setiap malam pasti madat. Entah pakai ganja, ektasi ataupun pakai kokain. Tapi satu yang ia jaga sampai saat itu adalah keperawanannya. Memang pacarnya yang juga pemadat itu sering petting dengannya, tapi ia sama sekali tak pernah mengijinkan kontol siapapun masuk ke dalam liang senggamanya. Bahkan ia putus dua kali gara-gara pacarnya kepengen banget buat masuk ke dalam memeknya. Tapi keteguhan Eloklah yang membuat ia selalu selamat. Syaratnya pacaran ama Elok cukup sederhana, "Mau menerima dia apa adanya dan jangan pernah minta merawanin dia"

Sebelum itu sebenarnya pengalamannya beserta pacar barunya yang membuat ia bete seperti itu. Iya siapa lagi kalau bukan pacarnya. Nama pacarnya itu adalah Rudi. Ganteng sih, tapi sama aja. Kepengennya ngontolin cewek. Entah berapa cewek yang jadi korbannya.

Malam itu setelah dari pub, Elok digrepe-grepe olehnya. Mereka berciuman hangat. Lidah bertemu lidah. Saling menghisap. Senjata Rudi sudah diremas-remas dari luar celananya oleh Elok. Elok juga demikian, roknya dinaikkan oleh Rudi dan tangannya menggesek-gesek kemaluan Elok. Kemudian ia menurunkan celana dalam Elok. Elokpun membantu Rudi dengan menggeser sedikit bokongnya. Rudi makin bernafsu dan tangan satunya meremas-remas toket Elok. Beberapa orang yang melintas di dekat mobil mereka menyaksikan itu ketawa sendiri. Tapi kedua insan ini tak peduli. Rudi memijat-mijat dan memilin-milin puting Elok.

Elok lalu membuka resleting Rudi. Cukup cepat untuk bisa mengeluarkan batang penis dengan ukuran normal itu. Tak begitu panjang ataupun pendek. Cukup digenggam dan panjangnya sepanjang jari tengahnya lebih tinggi sedikit beberapa centi. Elok mengocok pelan benda yang sudah keras itu. Rudi sudah merem melek dibuatnya. Tentu saja Elok sudah pro untuk urusan blowjob, handjob ataupun titjob. Hanya saja ia tak pernah dikontolin oleh lelaki manapun.

"Hisep sayang!" kata Rudi.

Tak perlu waktu lama Elok sudah memasukkan palkon Rudi di mulutnya. Lidah sudah menyapu seluruh permukaan palkon. Digelitikilah benda yang bentuknya seperti jamur itu. Elok gemas untuk menyedot dan mengisap-isap. Kepalanya sudah aktif naik turun. Rudi juga sudah benar-benar tak kuasa, ia lemes ketika penisnya dipermainkan oleh cewek nakal ini. Elok pun tak peduli lagi dengan tangan Rudi yang dari tadi meremas-remas toketnya. Bahkan Elok melakukan hal itu tanpa malu-malu ketika beberapa orang menoleh ke arah mobil yang sedang mereka naiki.

"Di hotel aja non!" seru seseorang yang melintas.

Elok langsung mengacungkan jari tengahnya ke arah orang itu tanpa melihat orang yang mengejeknya tadi. Orang itu tertawa terbahak-bahak. Toh dia juga di mobil sedang dikulum juga kontolnya oleh pacarnya.

Elok benar-benar sudah mahir. Ia membuat batang Rudi sudah basah oleh lendirnya. Buah peler Rud yang berkerut-kerut tak lepas dari hisapan dan jilatan. Di kejarnya buah peler itu, Rudi lemes banget. Rudi dari tadi memejamkan mata menikmati oral yang dilakukan oleh Elok. Elok lalu kembali mengocok penis Rudi dengan mulutnya.

"Ohh..yaannggg...mau keluar yaangg...minum ya yang?" kata Rudi.

Elok tak peduli. Ia tahu bahwa sebentar lagi pacarnya ini akan muncrat. Penis Rudi sudah tegang dan benarlah. Rudi mengeluh keras. Pantatnya diangkat dan dari lubang kencing Rudi memancarlah cairan putih kental ke dalam mulut Elok. Elok mengambil tissue. Mulutnya masih menampung penis Rudi hingga tak ada lagi sperma yang keluar. Lalu ia memutahkan sperma Rudi ke tissue.

"Anjrit, makan apa sih loe, banyak banget. Amis lagi," kata Elok.

"Ndak tau tadi udah habis bakso semangkok," kata Rudi.

"Gantian sekarang!" kata Elok.

"Iya sayang," kata Rudi.

Mereka menurunkan kursi mobil. Kemudian Elok naik ke kursi dan mengakangkan pahanya. Tissue bekas sperma tadi dibuang keluar mobil. Rudi tanpa babibu langsung menyosor ke memek Elok yang ditumbuhi bulu lumayan tebal tapi rapi. Lidah Rudi menyibak belahan vagina Elok, cairan kemaluan Elok langsung mengucur. Mulut Rudi mencium dan menghisapi klitoris. Elok serasa melayang. Mulut Rudi ini benar-benar mampu menggelitik dan memberikan kepuasan di seluruh syaraf-syaraf kenikmatan yang ia rasakan.

Elok kegirangan. Pantatnya pun kini ikut bergoyang. Makin lama ia makin cepat. Lidah Rudi pun makin aktif dan terus bergerak menggelitiki vagina Elok. Dan akhirnya Elok pun orgasme. Ia mengangkat pantatnya. Mulut Rudi kebanjiran cairan. Cowok ini pun bangkit ia memelorotkan celananya dan tanpa diaba-aba, ia sudah menempelkan palkonnya di belahan vagina Elok. Mungkin pikirnya Elok pun membutuhkan kenikmatan lebih. Ketika memek Elok disentuh oleh palkon Rudi. Segera Elok menendang Rudi. Rudi pun terdorong ke belakang.

"Bajingan! Lo kira gua wanita murahan apa? Seenaknya aja mau ngontolin!" Elok langsung mencari CD-nya. Ia lalu memakai cd itu.

"Sayang tunggu, maaf! Maaf, aku khilaf. Aku sudah bernafsu tadi. Plis jangan gitu dong!" kata Rudi.

"Dasar muka palkon, makan tuh kontol!" Elok lalu keluar mobil dan membanting pintunya. Rudi serba salah. Ia lalu duduk sambil memukul dashboard. Ia membetulkan resletingnya dan memasukkan pusakanya.

Elok kembali lagi, "Kita putus!"

Rudi kaget. Elok lalu buru-buru pergi dengan wajah cemberut. Rudi buru-buru keluar mobil mengejar Elok. Tapi rasanya apa yang sudah dikatakan Elok tak bisa ditariknya lagi.

Setelah itu cerita berlanjut ke Elok sedang jalan sendiri sepulang sekolah. Ia sangat mencolok dengan rambutnya yang berwarna pink. Ia juga mulai melakukan body piercing di telinganya. Ada tiga macam benda yang melubangi daun telinganya baik sebelah kanan maupun sebelah kiri. Ia memakai gelang karet berwarna hitam dan putih. Sepatu ketsnya diseret, seret sepertinya ia sedang suntuk. Beberapa kali ia melihat sepeda motor ataupun angkot yang hilir mudik. Siapa tahu ada teman-temannya di sana. Alhasil sampai berada di depan pagar rumahnya, tak ada satupun yang ia jumpai kecuali pak satpam penjaga rumah. Namanya Darto. Satpam ini sudah lama bekerja kepada ayahnya. Mungkin seumur hidup Elok. Sebab sejak kecil Elok sudah mengetahui bahwa Pak Darto sudah bekerja di rumah itu.

"Sudah pulang non? Koq tumben jalan? Ndak ada yang nganter?" tanya Pak Darto.

"Iya, baru putus. Kenapa? Ngeledek ya?" Elok tampak kesal dan mencibir pria paruh baya itu.

"Ndaklah non, kan cuma tanya," kata Darto yang buru-buru membuka pagar.

Elok berlari-lari kecil memasuki halaman rumah dan membuka pintu. Di ruang tamu tampak mamanya yang sedang memeriksa tagihan-tagihan. Melihat Elok pulang, mamanya sama sekali tak menoleh ke arah putrinya.

"Sudah pulang sayang?" tanya mamanya.

"Udah ma," jawab Elok. Ia pun tak melihat mamanya, langsung naik ke lantai atas ke kamarnya.

Selalu seperti ini. Tak pernah mamanya melihat dia. Agaknya memang Elok ini menganggap kedua orang tuanya tak lagi menyayanginya. Ia membanting sepatunya ke rak sepatu. Teman-teman sepatu ketsnya adalah beberapa sepatu yg kalau diukur harganya sangat mahal. Ada sepatu hak tinggi, sepatu kets lagi dan beberapa sepatu warna-warni. Ada sebuah sepatu yang biasa digunakan untuk naik gunung. Ia pun punya. Elok membuka semua bajunya. Dibuang begitu saja seluruh bajunya, ia telanjang di kamar. Matanya melihat ke arah cermin. Tubuhnya terpampang sexy di cermin itu. Dadanya 32B. Cukup besar untuk remaja seukuran dirinya. Tubuhnya pun tak ada lipatan lemak sedikit pun. Ia berputar dan memuji tubuhnya sendiri.

"Seperti ini tak ada cowok tertarik itu aneh sekali," gumamnya. Tapi melihat kenyataan dia sudah putus berkali-kali dengan banyak cowok akhirnya ia mendesah. Diambilnya handuk dan menutupi tubuhnya dengan handuk. "Tapi sayang, mereka cuma inginkan tubuh ini, bukan hatinya. Persetan cowok-cowok itu, mati ajalah sana!"

Elok lalu masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Dinyalakanlah air bathup dan ia berendam di sana. Air hngat bathup dan busa membuat ia sedikit lega dan bisa menghilangkan stress.

Elok malam itu berencana keluar. Ia sudah sakau. Tujuannya kali ini cuma satu yaitu di Diskotik Raiser. Di sana ada seorang pengedar namanya Jacky. Dan Elok merupakan langganannya sudah lama. Stok kokain Elok sudah habis. Ganja habis. Ekstasi sudah habis. Dan ia belum beli stok lagi karena uang jajannya baru saja dipotong oleh papanya. Sehingga sekarang ia bokek berat. Udah bokek diputusin pacar. Klop dah.

"Halo, Zeni?" Elok menelpon sahabatnya. Namanya Zeni. Ia juga teman satu sekolahnya.

"Ada apa mpok?" tanya Zeni. Elok memang biasa dipanggil mpok, Zeni juga demikian. Mereka sudah akrab satu sama lainnya karena dari SD, SMP sampai SMA satu sekolah terus.

"Lagi sakau nih mpok, jemput aku yah?" tanya Elok.

"Duh, aku ntar malem nganter nyokap," jawab Zeni.

"Yaelah, aku sakau nih. Udah anterin aja deh sebentar habis itu kamu balik ke rumah buat nganter nyokap," kata Elok.

"Duh, gimana ya? Yaudah deh, siap-siap aja dari sekarang kalau gitu. Biar nanti ndak kemaleman nganternya," kata Zeni.

Elok senang sekali mendengarnya, "Ok deh, gitu dong."

"Eh tapi balikin duitku yang kamu pinjem dulu!" kata Zeni.

"Iya, ntar aku balikin!" kata Elok.

Elok segera ganti baju. Ia pakai baju lengan panjang ketat, celana pendek, dan membawa tas kecil. Ia memakai sepatu hak tinggi. Uang sakunya sudah ditransfer lagi ke rekeningnya oleh sang ayah. Sepertinya hukumannya sudah selesai. Dari ponselnya Elok bisa melihat uangnya sudah bertambah dengan nominal 5 juta.

Elok buru-buru turun ketika mamanya berteriak, "Eeell...dicariin Zeni, udah di luar!"

"Iya maaa," teriak Elok.

Begitu sampai di depan mamanya Elok mencium pipi ibundanya itu. Mamanya tampak kaget dan risih. "Tumben, emang ada apa ya?"

"Nggak ada apa-apa koq ma, wajarkan seorang anak mencium mamanya sendiri?" ujar Elok. "Bye ma, aku nanti pulang pagi kayaknya kan besok libur."

"Stay in contact with mom!" kata mamanya.

"Beres!" kata Elok.

Di luar gerbang tampak sebuah city car warna merah sudah menunggu. Seorang cewek berambut pendek tampak tersenyum kepada Elok sambil melambai-lambai di dalam mobil. Elok segera masuk ke dalam mobil itu. Mereka cipika-cipiki sesaat lalu mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.

"Gile, kamu itu padahal anak orang kaya. Koq ndak minta dibeliin mobil aja ama papa kamu?" tanya Zeni.

"Udah, papa minta aku lulus ujian SIM dulu. Nah itu. Aku ndak pernah lulus," jawab Elok sambil menggerutu.

"Hahahaha....rasain, dasar anak bandel," kata Zeni.

Setelah berputar-putar selama kurang lebih satu jam karena macet. Mereka akhirnya sampai di depan Diskotik Raiser.

"Udah nyampe nih!" kata Zeni sambil menunjuk ke bangunan gemerlap dengan lampu-lampu itu.

"Thanks ya?" kata Elok. Ia segera turun dari mobil.

"Woi, mana duitku?" tanya Zeni.

"Oh iya, eh berapa nomor rekeningmu? Aku transfer sekarang deh," kata Elok.

"Anjrit, lupa. Udah deh ntar aku SMS," kata Zeni.

"Ok, sekali lagi thx yaa?!"

"Iya, iya, ati-ati jangan sampe kegrebek!"

Elok mengacungkan jempolnya. Ia segera buru-buru masuk ke dalam diskotik. Salah seorang penjaga diskotik mengenalinya.

"Non Elok?" sapa penjaga itu.

"Eh, iya. Ada apa mas?" tanya Elok yang juga mengenalinya. Tentu saja, Elok langganan di sini.

"Sebaiknya jangan masuk non!" kata penjaga itu.

"Lho, kenapa?" tanya Elok.

"Di dalem sedang ada penggerebekan. Mereka menarget Jacky. Jacky sekarang terperangkap di dalam," jelas penjaga itu.

"Waduh? Trus gimana?" tanya Elok.

"Tunggu aja di ruang biasa. Belum 'ngefly' kan?"

Elok menggeleng.

"Berarti nanti kalau ditest urine bakal selamat. Udah sana!" penjaga itu menyuruh Elok segera masuk.

Elok masuk ke dalam. Lampu kerlap-kerlip tampak masih menyala di sana sini. Saat itulah ada dua orang petugas polisi yang menahannya untuk tidak boleh masuk.

"Siapa?" tanya petugas polisi berseragam itu. Dari kejauhan Elok bisa melihat Jacky tertunduk di depan sebuah meja. Di depan meja itu ada sekantong kokain, ganja dan beberapa pil. Dan sepertinya polisi sedang panen malam itu. Beberapa orang tampak ditangkap.

"Ss..saya sedang mencari teman," kata Elok.

"Maaf, sementara tak boleh masuk. Selain petugas tidak boleh masuk. Silakan keluar," kata polisi.

Beberapa orang berjalan meninggalkan diskotik itu karena tak bisa masuk. Elok pun kemudian berjalan ke pintu samping. Ternyata tak dijaga. Ia segera masuk ke sana, lalu ke sebuah tempat yang ada terhubung dengan sebuah lorong. Beberapa karyawan diskotik hilir mudik di sana. Elok lalu masuk ke sebuah ruangan yang dimaksud penjaga tadi. Ruangan ini biasanya dijadikan Jacky untuk transaksi. Saat itulah Elok terkejut karena di ruangan itu sudah ada petugas polisi di dalam sana. Tampak beberapa petugas polisi dan polwan menoleh ke arahnya. Elok tahu siapa lagi yang ada di ruangan itu. Pak Valen, pemilik diskotik.

"Sini, sini! Kamu pasti mau transaksi bukan?" seorang polwan menggelandang Elok.

"Tidak, tidak, saya cuma ingin mencari teman saya," kata Elok.

"Tidak mungkin, kamu bohong. Ini itu ruangan khusus karyawan. Kamu bukan karyawan. Geledah dia sersan!" kata salah seorang perwira.

"Siap Ndan!" polwan tadi langsung menggeledah Elok.

Sial bagi Elok. Ia lupa membuang bekas bungkus kokain di tasnya. Saat polwan itu menemukannya ia pun mengacungkannya ke wajah Elok.

"I..itu bukan punya saya!" kata Elok.

"Kata-katamu akan didengar di pengadilan nanti ayo ikut!" polwan itu pun menggelandang Elok. Elok meronta-ronta ia bersikeras bahwa plastik bekas bungkus kokain itu bukan miliknya. Saat itulah sesuatu terjadi kepadanya.

Kepalanya sangat pusing, badannya serasa gatal-gatal, nafasnya tampak sesak. Ia mulai sakau. Tapi Elok tak bisa berbuat apa-apa kecuali menahan diri.

"Kenapa tidak ditest urine? kenapa saya langsung dibawa?" tanya Elok.

"Nanti di kantor polisi!" kata sang polwan.

Elok kemudian dimasukkan ke luar diskotik. Ia dan beberapa orang lainnya pun dibawa dan dimasukkan ke sebuah mobil van seperti sebuah mobil tahanan. Elok digelandang dan disuruh naik. Ia sekarang seperti seorang tersangka. Apes, apes sekali, pikirnya. Orang-orang yang berada satu mobil dengannya tak ada satupun yang dikenalinya. Dua polisi berjaga-jaga di luar mobil. Elok pun pasrah. Sementara itu perutnya melilit dan dadanya seperti disayat-sayat. Hampir sekujur tubuhnya serasa gatal. Ia berkali-kali menggaruk-garuk kepalanya sendiri dan meremas dadanya.

"Mbak sedang sakau ya?" tanya salah seorang yang ada di dalam mobil itu.

"I..iya," kata Elok.

"Udah berapa hari?" tanyanya.

"Sudah empat hari," kata Elok.

Semuanya menoleh ke arah Elok. Elok kini benar-benar tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia sudah benar-benar tersiksa. Tak berapa lama kemudian mobil pun tiba-tiba ditutup oleh dua polisi tadi. Mesin dinyalakan dan mobil mulai melaju. Elok makin kebingungan. Ia sakau dan dibawa ke kantor polisi. Bagaimana ini? Lagipula tangannya diborgol, ia tak bisa berbuat banyak.

Di saat itulah mungkin memang benar kalau orang berdo'a dengan sungguh-sungguh maka akan dikabulkan saat itu juga. Elok berkata kepada dirinya sendiri, "Papa, mama, kakak, maafkan Elok. Ya, Elok salah selama ini. Elok ingin berubah. Tapi Elok ndak boleh ke kantor polisi. Elok tidak mau jadi orang jelek. Elok berjanji akan memberikan keperawanan Elok kepada siapapun yang menolok Elok."

Entah bagaimana, tiba-tiba mobil tahanan itu tiba-tiba oleng. Seluruh penumpang yang ada di mobil itu berteriak, menjerit histeris. Ternyata ban mobilnya meledak. Ledakannya sangat jelas terdengar. Mobil tahanan itu berguling kekiri, seluruh orang-orang yang ada di dalamnya pun seperti diaduk-aduk di dalam sebuah mixer. Mobil yang berguling itu berguling lagi ke pinggir jalan dan terus sampai masuk ke jurang. Terakhir mobil pun masuk ke sungai.

Elok ternyata masih sadar. Ia melihat beberapa penumpang lainnya sudah tak sadar. Tapi posisinya memang sangat tidak nyaman. Ia seolah-olah seperti dilindungi oleh seluruh penumpang yang ada di dalam mobil itu untuk tidak menghantam badan mobil. Akibatnya Elok sama sekali tak terluka. Dan sekarang air mulai masuk ke dalam mobil. Elok berusaha mengambil nafas. Ia tendang pintu mobil agar ia bisa segera keluar dari tempat itu. Dengan penuh perjuangan Elok pun akhirnya bisa keluar dari mobil yang tenggelam itu. Untunglah ia bisa berenang. Arus sungai yang deras sempat membuat ia terpelanting. Tidak mudah berenang dengan tangan terborgol, tapi ia pun bisa menuju ke permukaan untuk mengambil nafas.

Ia memang bisa berenang. Namun karena arus sungai yang deras ia pun ikut terhanyut di bawa arus sungai. Elok sudah lelah, ia tak mampu lagi berpikir. Ia hanya ingin terus menjaga agar dirinya tetap berada di atas permukaan. Air sungai pun membawanya ke jalur sungai yang lain. Sungai itu pun mulai menyempit dan ia terus berenang hingga sampai ke tepi.

Elok merayap menuju ke tepian sungai. Kini bajunya basah kuyup ditambah lagi dengan lumpur yang menempel di bajunya. Elok kelelahan, tapi ia harus berjalan. Dibuangnya sepatu hak tingginya yang melelahkan itu. Tanpa alas kaki Elok terus berjalan hingga jauh dari sungai. Ia menerobos semak belukar. Duri-duri menusuk kakinya, Elok mengaduh berkali-kali. Kulitnya yang mulus kini mulai berdarah. Beberapa luka mulai menghiasi betis dan kakinya. Ia pun akhirnya menjumpai jalan raya, tapi jalanan itu sepi sekali. Ia sudah lelah. Dari kejauhan tampak cahaya lampu dari sebuah mobil. Elok ingin melambai minta tolong. Tapi tenaganya sudah habis. Ia pun pingsan.

Elok tak ingat apapun. Tapi sesosok lelaki menolongnya. Tubuhnya diperlakukan dengan lembut. Bahkan Elok meraung berkali-kali saat rasa sakit membelit dirinya. Efek sakau itu masih terasa. Lelaki itu lalu membopongnya dan masuk ke sebuah rumah. Ia tak jelas suara-suara yang ada di telinganya. Elok hanya tahu lelaki itu berusaha menolongnya.

Lelaki itu kemudian mengambil obeng dan pisau lipat, kemudian dibuka borgol yang membelenggunya. Tangan Elok pun terbebas. Bekas-bekas kemerahan pada pergelangan tangannya tampak jelas. Besi borgol itu pun dibuang.

Lelaki itu kemudian menyeka seluruh tubuhnya. Tampak matanya diperiksa seorang dokter, suara-suara mereka terlihat jauh. Elok pun tertidur lumayan lama.

****

Elok terbangun. Hal yang pertama kali dilihatnya adalah dua orang gadis yang sedang duduk melihatnya. Sontak keduanya langsung berteriak histeris, "Ayaaah....dia sudah siumaaan!!"

Elok terkejut. Ia tak pernah melihat bangunan ini sebelumnya. Ia berada di sebuah kasur. Ia dapati bajunya sudah berganti. Dan ia tak merasa sakit lagi.

"A..aku di mana?" tanya Elok. "Siapa kalian?"

"Kenalkan, aku Aliya, ini Eva. Kamu selamat sekarang. Keadaanmu kritis sebelum ini. Kamu ditolong oleh ayah kami. Kita ada di rumah ayah sekarang," kata Aliya. Dengan pipinya yang agak chubby Aliya tersenyum. Hal itu menimbulkan lesung pipit.

Eva sepertinya masih berusia 14 tahun. Ia kemudian membawa ember bekas kompres keluar kamar. Tak berapa lama kemudian. Sesosok lelaki dengan badan kekar, otot bisep dan trisepnya bisa terlihat. Perutnya yang six pack pun mengindikasikan lelaki ini sangat terlatih. Rambutnya putih. Dari wajahnya sudah diketahui ia sepertinya berusia empat puluhan pikir Elok. Dialah Pak Udin.

"Sudah siuman? Bagaimana perasaanmu sekarang? Siapa namamu?" tanya Pak Udin.

"Sss...aya sudah baikan, aku Elok. Aku ada di mana?" tanya Elok.

"Ini di rumahku. Kamu tinggal di mana. Biar aku mengantarmu pulang," kata Pak Udin.

"Jangan! Jangan! Aku tak mau pulang!" kata Elok.

Aliya dan Pak Udin berpandangan.

"Kenapa?" tanya Pak Udin.

"Pokoknya jangan, biarkan aku di sini dulu kalau boleh. Nanti aku bayar," kata Elok.

"Mau bayar pakai apa? Kamu ndak punya uang sama sekali, sudahlah. Kalau kamu ingin tinggal di sini silakan. Aku tak melarangnya. Lagipula ini adalah tempat penampungan untuk gadis-gadis seperti dirimu. Empat hari yang lalu aku menemukanmu pingsan di pinggir jalan. Maka dari itu kamu aku tolong," jelas Pak Udin.

"Hah? Empat hari?" Elok sepertinya merasakan sesuatu yang mengganjal di pantatnya.

"Oh iya, aku memakaikan pampers, kan ya tidak lucu kalau kamu be'ol atau pipis begitu saja," kata Pak Udin. "Kalau begitu, aku tinggal dulu. Masih banyak pekerjaan di sawah. Aliya kamu bisa temani dia."

Elok tampak masih shock. Tapi ia tak merasakan sakit lagi. Apakah rasa sakaunya sudah hilang? Aliya pun menemani Elok. Tapi Elok masih belum bisa berpikir jernih. Kepalanya masih pusing.

Sejak pembalutnya dilepas Elok mulai bisa ke belakang sendiri. Selama itu pula ia berkenalan dengan beberapa anak asuh Pak Udin selain Aliyah dan Eva. Seperti Lulu, Naomi, Febi, Ratri, Aki dan Nurmala. Elok melihat mereka semua pribadi-pribadi yang ajaib dan unik.

Sudah seminggu Elok berada di sana. Dan akhirnya ia mulai kerasan. Apalagi Pak Udin. Sangat baik sekali kepadanya. Entah kenapa pria separuh baya ini malah membuat Elok tertarik. Walaupun sudah tua, tapi Pak Udin ini termasuk orang yang kekar. Tonjolan otot-otot Pak Udin di sekujur tubuhnya itu tak mengindikasikan ia sudah berumur, kecuali rambut dan wajahnya yang memang tak bisa disembunyikan.

Elok beberapa kali memergoki Pak Udin dengan tubuh bertelanjang dada membawa hasil panen. Dibandingkan dengan badan cowok-cowoknya dulu, entah kenapa Elok jadi kepingin disentuh oleh lelaki paruh baya ini. Hari itu ia mulai berani untuk membantu Pak Udin.

"Biar saya bantu pak?" kata Pak Udin.

"Makasih neng, tapi Pak Udin masih kuat koq. Nih lihat, ototnya masih kekar bukan?" katanya sambil tertawa.

Malam itu Barulah Elok bisa melihat seluruh anak asuh Pak Udin. Mereka semua makan malam. Total ada 11 dan kalau ia masuk berarti ada dua belas. Mereka adalah Aliya, Eva, Febi, Ratri, Aki, Nurmala, Lulu, Leni, Naomi, Yuki dan Tina. Pak Udin tampak bahagia ketika makan semeja itu. Entah kenapa dalam hati Elok malah jatuh cinta kepada lelaki yang telah menolongnya ini. Iya, ia tahu perbedaan usia mereka sangat jauh, tapi entah kenapa debar-debar jantungnya mengisyaratkan lain. Tiba-tiba ia teringat terhadap apa yang ia katakan sebelum mobil tahanan itu berguling. Iya, ia bersumpah akan memberikan keperawanannya kepada orang yang menolongnya. Dan ia pun mantab ingin memberikan keperawanannya kepada lelaki ini.

"Pak Udin, kalau boleh, setelah ini saya ingin bicara sebentar," kata Elok.

"Oh, ada apa ya?" tanya Pak Udin.

"Sebaiknya kita bicara berdua saja," kata Elok.

Akhirnya setelah acara makan malam selesai dan seluruh anak-anak asuh masuk kamar. Pak Udin mengundang Elok ke kamarnya. Pak Udin sudah memakai baju kimono. Elok kemudian masuk ke kamar Pak Udin.

"Ada apa kalau boleh bapak tahu?" tanya Pak Udin.

"ANu...sebenarnya, begini. Saya dulu telah bersumpah. Siapapun yang bisa menolong saya, maka saya akan berikan keperawanan saya. Kalau bapak mau, saya akan berikan sekarang," kata Elok.

Pak Udin terkejut. Namun tangannya langsung terangkat, "Tidak, tidak. Aku tak bisa melakukannya."

Elok bingung, "Kenapa pak? Saya tahu bapak selama ini butuh istri bukan? Saya bisa memberikannya. Saya akan jadi istri bapak."

"Bukan begitu Elok, bukan begitu. Bapak tak bisa menikah," kata Pak Udin.

"Maksud bapak? Bapak Gay?"

"Bapak masih normal, hanya saja saya sudah berjanji kepada mendiang istri untuk tidak menikah lagi. Namun, saya juga tidak mau kalau misalnya engkau memberikan keperawanan ini karena terpaksa," kata Pak Udin.

Elok mengangguk mengerti. Ia lalu mendekatkan diri ke Pak Udin. "Saya sudah rela pak, ikhlas."

Elok perlahan-lahan melepaskan piyamanya. Kancing demi kancing baju dilepas. Kemudian celananya pun di lepas. Pak Udin menelan ludah. Kini di hadapannya ada seorang bidadari yang sangat mulus, dadanya cukup besar, dan kemaluannya berbulu lebat.

"Aku tahu pak Udin sangat perkasa, itu bisa Elok lihat dari tubuh Pak Udin yang kekar. Dan aku tak tahu seberapa kuat Pak Udin diranjang, tapi terimalah hadiah spesial ini," kata Elok.

Pak Udin menarik nafas panjang. Elok tahu dari kimononya Pak Udin burung lelaki ini sudah berdiri.

"Satu saja syarat dari bapak, maka bapak akan melakukannya," kata Pak Udin.

"Apa itu?"

"Sebenarnya aku juga melakukan hal ini kepada anak-anak asuhku, tapi mereka juga menerimaku. Kalau kau tak keberatan dengan itu, aku akan melakukannya sekarang," kata Pak Udin.

Elok kaget mendengar itu. Tapi sudah seminggu ini ia ada di tempat ini. Ia tahu ketulusan Pak Udin. Ia juga tahu bagaimana anak-anak asuh Pak Udin sangat senang tinggal di sini. Bahkan Elok pun mulai menyukai sisi kekeluargaan mereka. Pak Udin adalah seorang sosok ayah bagi seluruh anak-anak asuh di sini. Tapi, apakah itu bisa diterima oleh Elok? Ia sudah bersumpah dan ia pantang mencabut lagi kata-katanya itu. Akhirnya ia pun mendesah.

"Saya terima pak, lakukanlah sekarang! Saya tak bisa mencabut lagi kata-kata saya," kata Elok.

Pak Udin pun melepaskan kimononya. Elok menarik nafasnya. Ia menyaksikan sesosok tubuh macho, kekar, atletis dan batang penisnya sudah mengacung. Besar dan panjang. Elok membandingkan batang penis itu dengan kepunyaan pacar-pacarnya yang dulu, sungguh tak ada apa-apanya. Ia pun bimbang, bagaimana kalau batang itu merobek kemaluannya. Terlalu besar.

Tapi Pak Udin sudah merengkuhnya. Bibir mereka sudah bertemu dalam hitungan detik. Panggutan keduanya menimbulkan suara. Desahan dan dengusan nafas keduanya membuat syaraf-syaraf di bibir mereka menjadi horni. Elok penasaran dengan batang kontol Pak Udin yang besar itu. Ia pun memegangnya. Urat-uratnya sangat berotot dan keras. Elok mengelus-elus batang itu. Pak Udin juga meremas-remas dada perawan itu. Perlahan-lahan Elok pun duduk, lalu berbaring.

Kepalanya miring ke kanan, Pak Udin langsung menciumi leher Elok. Lelaki itu memberikan hisapan dan cupangan di leher sang gadis. Elok merinding, tak pernah pacar-pacarnya melakukan ini. Pak Udin menggelitiki telinga Elok dengan lidahnya. Elok meremas-remas rambut Pak Udin. Bibir Pak Udin pun turun ke dadanya, diciumi aroma tubuh Elok yang semerbak seperti mawar yang belum pernah dipetik.

Sesaat Pak Udin takjub melihat sekalnya buah dada perawan yang ada di hadapannya. Ia dengan sekali gerakan sudah melumat puting susu Elok dan menghisapnya kuat-kuat. Elok menggelinjang. Ia pun melenguh. Pak Udin mengisapi puting Elok kiri dan kanan, bergantian. Ia sangat gemas dengan dua bukit kembar itu. Diremponnya, diurut seperti pemijat profesional. Tapi juga Pak Udin mencupangi dan menciumi dengan ganas. Seakan-akan ia tak pernah menikmati perawan sebelumnya.

Lumatan bibir Pak Udin pun berjalan ke bawah. Ke perut Elok yang rata. Nikmat dan manis yang dirasakan oleh Pak Udin. Seluruh jenjang tubuh Elok sangatlah manis. Bahkan Elok makin terangsang ketika lidah Pak Udin sudah bermain di liang senggamanya. Menyibak dan membelah kemaluannya yang berwarna pink kecoklatan itu. Pak Udin bagai di nirwana. Ia merasakan lagi cairan memek seorang perawan. Dijilatinya cairan yang keluar itu, makin lama makin banyak, setiap kali lidah itu menyentuh klitoris Elok, maka akan keluar cairan lagi. Elok bagai terhipnotis. Beda sekali dengan perlakuan pacar-pacarnya dulu. Mungkin pacar-pacarnya dulu ingin cepat-cepat mengakhiri dan sekedar melihat Elok puas, tapi tidak dengan Pak Udin. Elok pun orgasme dengan perlakuan Pak Udin itu. Tapi Pak Udin tak pernah puas. Ia terus menjilati memek perawan itu. Elok meronta-ronta agar dihentikan.

"Pak Udah..saya udah keluar berkali-kali...!" kata Elok. Nafasnya tersengal-sengal. Ia seperti baru saja lari maraton. Pak Udin menyudahinya.

"Aku belum apa-apa lho," kata Pak Udin. Ia lalu berlutut di depan kepala Elok. Penis besar Pak Udin sudah ada di hadpaan Elok Benda besar dan panjang itu menyentuh bibir Elok.

Elok lalu membuka mulutnya. Pak Udin pun memaju mundurkan pantatnya. Kini ia seperti memasukkan penisnya ke memek. Elok beberapa kali tersedak, tapi ia tetap harus memberikan kenikmatan juga kepada orang yang telah menolongnya ini. Ia pun membantu dengan mengocok batang kemaluan Pak Udin dengan cepat, sesekali ia menjilati palkon Pak Udin. Pak Udin memegang kepala Elok. Sesekali lelaki paruh baya itu mengatur rambut Elok yang berantakan. Mendapatkan perlakuan seperti itu Elok serasa melayang ke udara. Karena penis Pak Udin terlalu besar, Elok tak bisa memasukkan sepenuhnya walaupun ia sangat ingin.

Setelah puas, Pak Udin pun siap akan memerawani Elok. "Kamu siap?"

Elok menggeleng, "Saya tidak siap pak, tapi tolong bantu saya untuk siap."

"Tentu saja sayang," kata Pak Udin. Bibir mereka pun menyatu. Pak Udin menaikkan dan melebarkan paha Elok. Kepala penis Pak Udin sudah ada di belahan vagina Elok. Sedikit demi sedikit mulai masuk.

Elok memeluk Pak Udin dengan erat. Ia menggigit bibir bawahnya, "Paaakk...sakiittt...heegghh...!"

Pak Udin tahu bagaimana seorang cewek sakit ketika keperawanannya untuk pertama kalinya dijebol. Baru kepala penisnya saja sudah perih. Ia tahu bagaiamana dulu anak-anak asuhnya diperawani semuanya olehnya. Walaupun memek sesempit milik Lulu pun sudah ia jebol, ia pun tahu rasanya memek seperti Elok ini. Elok lebih dewasa daripada Lulu, tapi sekalipun begitu, rapet sekali. Memek Elok berkedut-kedut seperti menolak milik Pak Udin. Pak Udin mendiamkan beberapa saat. Membiarkan Elok leluasa menerima batang penisnya. Perlahan-lahan ditariknya dan didorongnya, selalu berirama seperti itu. Elok memejamkan mata. Ia sadar keputusannya ini tak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.

Pak Udin kembali menciumi Elok. Ciuman mereka ini dibuat Elok agar bisa melupakan perihnya dimasuki benda tumpul itu. Perlahan-lahan Pak Udin kembali mendorong. Pantat Elok bergetar ketika batang itu makin dalam masuknya. Pak Udin keenakan. Ia seperti dicengkram oleh lilitan tali tampar yang sangat kuat. Remasan-remasan itu tak membuat Pak Udin menyerah walaupun membuat batang kontolnya ngilu.

"Sedikit lagi Elok, sedikit lagi," ujar Pak Udin.

"Iya pak," kata Elok sambil meringis.

Pak Udin mendiamkan sesaat, kemudian dimajukan lagi pantatnya. SREETTT. Robeklah selaput dara yang selama ini dijaga oleh Elok. Elok merasakan rasa ngilu dan perih. Tapi sepertinya penis Pak Udin tak bisa maju lagi. Mentok. Sudah menyentuh rahim Elok. Sensasi kenikmatan ini dinikmati dulu oleh Pak Udin. Ia menarik pantatnya sebentar, lalu maju lagi. Kini tanpa ada halangan. Akhirnya ia memaju mundurkan pantatnya dengan ritme sedang. Pak Udin memeluk tubuh Elok sambil berpanggutan. Keduanya kini dimabuk asmara.

Elok sudah tak sakit lagi. Kini sekujur tubuhnya merasakan nikmat, hingga ke ubun-ubun. Setiap gesekan penis Pak Udin, membuat ia melayang. Kalau tahu rasanya ngentot seperti ini, mungkin ia tak akan mencoba obat-obatan terlarang itu. Bahkan rasa fly yang sering ia rasakan saat memakai ganja, kokain ataupun ekstasi sama sekali tak ada bandingannya daripada entotan Pak Udin. Pak Udin makin cepat pompaannya.

"Ohhh...Elok, Bapak mau keluar. Di dalem aja ya?" tanya Pak Udin.

"Iya pak, semprotin rahim Elok. Elok ingin merasakannya," jawab Elok.

Pak Udin bersemangat. Ia goyang dengan cepat pantatnya. Batang penisnya keluar masuk walaupun tidak begitu penuh, tapi itu sudah cukup membuatnya puas. Makin cepat, makin cepat, kepala Elok menoleh kiri kanan. Ia merasakan nikmat yang luar biasa. Memeknya diobok-obok penis asing. Benda berotot kekar itu kini sudah akan memuntahkan lahar panasnya. Pantat Elok sudah tak terkontrol, ia bergerak kiri kanan, memutar seperti seolah-olah ingin mengoyak penis Pak Udin. Pak Udin sudah terasa amat geli, ujung kontolnya sudah tak bisa dikendalikan lagi dan disaat orgasme hebat itu, ia memeluk tubuh perawan itu dengan erat. Elok pun demikian, kedua kakinya merapat ke pinggang pak Udin. Pak Udin memberikan panggutan dan menghisap ludah Elok. Elok pun orgasme. Memeknya berkedut-kedut merasakan semprotan demi semprotan sperma yang keluar dari lubang kencing Pak Udin.

Untuk beberapa saat mereka berpelukan. Pak Udin perlahan-lahan bangkit, mencabut penisnya. Di batang penisnya, Pak Udin melihat sebercak darah. Sementara itu lelehan sperma yang bercampur darah perawan Elok mengalir di pantat gadis itu. Pak Udin lalu berbaring di sebelah Elok. Kasur yang cuma seukuran satu orang itu kini serasa luas sekali dengan keduanya saling berpelukan dalam satu selimut. Sebelum tidur, keduanya masih berciuman satu sama lain.

Misteri Kitab Hitam

Di sebuah tempat yang berada di lereng Gunung Lawu, terdapat sebuah tempat yang dijadikan aliran hitam berkumpul di sana. Pemimpin mereka bernama Tung Wongso. Tung Wongso dikenal sebagai sesosok misterius yang mendirikan aliran ini. Entah berapa usianya sekarang. Yang jelas seluruh pengikutnya sudah 4 generasi, tapi dia masih kelihatan muda. Ia melihat satu demi satu pengikutnya mati, entah dimakan usia atau yang lain. Dan semenjak hidupnya ia tak pernah mengeluh sakit flu, atau pun sakit-sakit yang lain. Apa rahasianya? Tak ada orang yang tahu.

Mereka melakukan pemujaan-pemujaan yang aneh. Berbagai tulisan-tulisan dan simbol-simbol setan ada di sana. Aliran hitam ini sudah menjadi rahasia umum di kalangan mereka yang berduit banyak tapi tak tahu duitnya darimana. Bahkan beberapa pejabat pun ikut aliran ini. Ada yang memang mereka korupsi tapi ada yang mendukun. Siapapun yang mengikuti aliran ini pasti akan dapat kekayaan entah dari mana. Sesuatu yang tak lazim. Bahkan hampir seluruh posisi strategis di pemerintahan ada pengikut-pengikutnya.

Tung Wongso mengaku sebagai utusan tuhan, maka dari itulah ia tak pernah bisa disalahkan oleh para pengikutnya. Bahkan ia tak segan-segan untuk menghabisi siapapun yang tak sesuai dengan keinginannya.

Siapa sangka Udin muda dulu ternyata pernah berada di tempat ini. Dan ini adalah cerita awal bagaimana Pak Udin bisa hidup sendirian bersama 12 orang anak asuhnya namun punya kondisi prima. Kita flashback sejenak.

Hani adalah nama ibunya. Bapaknya bernama Sumitro. Mereka berdua sebenarnya hidup dari keluarga yang berkecukupan. Sumitro adalah juragan petani. Tanahnya berhektar-hektar. Punya buruh tani ratusan. Ternaknya pun dari sapi hingga kambing ada ratusan ekor. Ia juga tak pernah ada yang namanya kekurangan harta. Semua harta pasti datang entah dari mana. Udin kecil tak pernah tahu tentang darimana harta ayahnya. Ia hanya mengetahui sang ayah selalu membaca sebuah buku hitam yang tulisannya aneh dengan simbol-simbol pentagram.

Ketika ia masih berumur 7 tahun. Kedua orang tuanya mengajaknya ke tempat pemujaan Tung Wongso. Mereka memakai baju-baju hitam dan jubah. Entah mereka merapal mantra apa. Setiap dimulainya upacara mereka harus meneguk anggur. Kemudian setelah berdo'a entah dengan bahasa apa, Tung Wongso mulai berpidato. Udin sama sekali tak menyimak pidato itu, ia seperti tersihir oleh sesuatu yang menyebabkan ia sama sekali tak pernah berada di tempat itu. Ia seperti berada di tempat lain. Ia tak sadar bahwa ketika berada di tempat itu sesuatu kekuatan sedang melindungi dia. Sesuatu kekuatan aneh. Tung Wongso menyadari akan hal itu. Mata batinnya bisa melihat bahwa Udin ini anak spesial. Maka dari itulah setelah pidatonya selesai Tung Wongso mengajak Hani dan Sumitro untuk tinggal terlebih dahulu setelah semuanya pulang.

Setelah do'a penutup selesai. Mereka menutup acara ini dengan persembahan. Tung Wongso memanggil siapa saja yang ingin maju untuk persembahan. Seorang wanita masih belia tampak maju. Di depan mereka ada sebuah altar. Entah bagaimana wanita itu seperti tersihir. Wajahnya cukup cantik. Wanita itu perlahan-lahan duduk di altar, kemudian berbaring. Tung Wongso membuka baju wanita itu. Udin yang masih kecil itu melihat hal itu tak berkedip. Udin memang sering melihat ibunya telanjang karena kadang mandi bareng, tapi hal ini lain. Ia melihat perempuan lain telanjang.

Kemudian Tung Wongso melepaskan pakaiannya. Walaupun wajahnya sedikit lebih tua, tapi badan Tung Wongso tampak kekar. Kulitnya hitam, namun otot-ototnya tak membohongi bahwa orang ini benar-benar melatih tubuhnya. Dan sesuatu yang mengejutkan adalah sebuah batang penis yang besar dan panjang mengacung.

Tung Wongso mencium wanita itu. Bibirnya dihisapi, mulut mereka saling memberikan rangsangan. Berpanggut, menghisap, lidah dengan lidah. Tung Wongso meremasi toket wanita yang cukup besar itu. Tetek itu diremas-remasnya sambil putingnya dipijati. Mereka yang berkerumun mengitari altar itu melihat adegan sex. Dan inilah ritual puncak aliran hitam ini. Dan Udin menyaksikan itu semua, entah kenapa dadanya berdesir. Ia dewasa sebelum waktunya.

Tung Wongso kemudian menciumi leher si wanita. Wanita itu bisa terangsang. Ketika lelaki tua itu menghisap lehernya ia pun menggeliat. Tung Wongso beralih ke toketnya, dihisapnya tetek yang sudah mengacung itu. Tung Wongso menenggelamkan diri dalam gundukan gunung susu yang kenyal. Ia sungguh beruntung malam itu mendapatkan wanita yang seksi. Ditambah lagi mekinya dipenuhi bulu tebal dan belum dicukur. Lelaki tua ini tak sabar lagi ingin merasakan memek si wanita itu. Ia pun tak lama-lama di tubuh bagian atas.

Disibaknya bulu memek si wanita, kemudian dia menjulurkan lidahnya dan menjilati sepanjang garis memek si wanita. Wanita itu menggeliat. Ia seakan-akan tak pernah diperlakukan seperti itu. Beberapa kali ia harus mendongakkan kepalanya ataupun melihat apa saja yang dilakukan si tua bangka ini di bawah sana. Ia makin terangsang ketika mengetahui Tung Wongso menghisap dan menjilati apapun yang ada di memeknya. Terlebih ketika klitorisnya sudah menjadi santapan kunyahan Tung Wongso. Paha wanita itu menjepit kepala Tung Wongso hingga bandot tua itu tak bisa bernafas.

Rangsangan demi rangsangan Tung Wongso, akhirnya bisa menimbulkan efek yang luar biasa. Wanita itu bergetar hebat. Sulur-sulur orgasme telah bereaksi ke seluruh tubuhnya. Ia hanya bisa menjerit saat cairan kenikmatan keluar dari kewanitaannya. Tung Wongso menghisap semuanya dan menelan cairan itu. Lelaki tua ini kemudian bangkit. Ia maju ke arah wajah si wanita. Penisnya yang sudah mengacung itu di tempelkan di mulut sang wanita, sementara tangan yang satunya mencolok-colok lubang meki wanita itu.

Penis besar dan berotot itu mulai masuk ke mulut si wanita. Wanita ini tak sanggup untuk bisa memasukkan seluruh batang itu ke mulutnya. Serasa sesak, tapi Tung Wongso tak peduli. Gerakan maju mundur tapi lembut pantat Tung Wongso telah menyetubuhi mulutnya. Tung Wongso memejamkan mata menikmati lidah yang menggelitiki kepala penisnya. Sementara itu memek si wanita terus dikocok membuat sang wanita ini kembali merasakan kenikmatan-kenikmatan. Tak melulu dikulum daging berotot itu juga dijilati dan dihisapi buah pelernya. Tung Wongso sangat puas. Dan ketika Tung Wongso mempercepat kocokannya di memek si wanita. Wanita itu mengerang. Dan sebentar lagi orgasme kedua akan dialami olehnya.

Setelah itu Tung Wongso mempersiapkan sajian utama. Ia menggesek-gesekkan kepala penisnya di belahan memek si wanita. Si wanita itu bersuara lirih merintih. Sodokan pertama pun masuk. Udin tak berkedip menyaksikan itu. Ia baru tahu kalau selama ini penis laki-laki bisa masuk ke tempat sesempit itu. Penis Tung Wongso tak bisa masuk semuanya karena terlalu panjang. Hanya 3/4, itu sudah mentok dan si wanita itu sudah merem melek. Lelaki tua ini pun mulai maju mundur menyodokkan kemaluannya. Tentu saja lelaki tua ini kenikmatan, karena memek si wanita ini ternyata mencengkram kuat penisnya.

"OHhhh...yeaahh....bagaimana? Enak bukan?" tanya Tung Wongso.

Sang wanita hanya bisa memegang dadanya sendiri dan meremas-remas sambil mengangguk. Tung Wongso bersemangat untuk menggenjot wanita itu di atas altar. Gesekan demi gesekan kemaluan mereka menimbulkan suara kecipak. Kedua paha si wanita itu terangkat dan melingkar di pinggang Tung Wongso. Pantatnya pun bergoyang-goyang kesetanan, menimbulkan efek yang sangat enak baginya.

Tung Wonso benar-benar kuat. Mereka sudah bersenggama seperti itu lama tapi dia tak keluar juga. Tapi sang wanita tahu bahwa Tung Wongso ini harus dipuaskan, maka dari itu ia pasrah. Setelah Tung Wongso puas dengan gaya misionari. Maka dibaliknya tubuh wanita itu disuruh untuk menungging. Lagi-lagi posisi doggy style membuat kenikmatan baginya. Sang wanita memohon-mohon untuk terus disetubuhi lagi dan lagi. Udin yang masih kecil lagi-lagi mendapatkan pelajaran secara live. Bagaikan menonton pertandingan sepak bola, ia bisa mempelajari bahwa permainan itu seperti ini dan itu. Tung Wongso menampar pantat si wanita berkali-kali. Dan di tengah jalan, tiba-tiba ia mencabut penisnya. Lalu di arahkan ke dubur si wanita. Si wanita menjerit, ia tak menyangka Tung Wongso juga akan menyetubuhi duburnya. Tung Wongso perlahan sekali menggerakkan kepala penisnya menerobos liang tahi sempit yang belum pernah dipake.

Awalnya ia cuma menusuk-nusuk, tapi lama-kelamaan tusukannya berubah menjadi sedikit cepat. Sedikit lebih cepat lagi dan akhirnya separuh batang penisnya yang besar itu bisa masuk. Si wanita itu awalnya merasa sakit. Tapi lama kelamaan berubah menjadi merasa nikmat. Tung Wongso kembali bergoyang. Ngilu penisnya sudah tak bisa lagi dirasa. Kenikmatan demi kenikmatan terus ia gapai. Toket si wanita itu tak dibiarkan saja menggantung, ia juga sesekali meremas dan memilin putingnya keras.

Tak berapa lama kemudian dimiringkanlah tubuh si wanita yang dijadikan pemujaan itu. Kemudian ia sodok memek si wanita dengan posisi miring. Dikocoklah penisnya itu di memek si wanita. Sang wanita itu hanya bisa memejamkan mata menikmati lagi sodokan kontol besar si lelaki tua ini. Boleh jadi ia tak pernah merasakan batang sebesar ini selama hidupnya, tapi ia benar-benar merasakan kenikmatan yang tak pernah dirasakan sebelumnya. Tung Wongso makin cepat mengocok. Kedua testisnya serasa sudah penuh. Ia akan benar-benar menyemprotkan sperma. Dan goyangannya makin cepat lagi.

"Ohh..aku keluar...aku....keluaaaaaarrrr!!" semburan sperma hangat membasahi rahim si wanita ini. Tung Wongso menghujamkan sedalam-dalamnya kemaluannya ke rahim si wanita. Serasa lama. Berkali-kali, mungkin sampai belasan kali. Si wanita matanya memutar. Ia tak pernah merasakan orgasme sebegini dahsyat. Tung Wongso pun mencabut penisnya, tampak cahaya obor di beberapa sudut tempat membuat penisnya mengkilat. TUng Wongso turun dari altar.

"Silakan bagi yang ingin mencobanya!" kata Tung Wongso.

Kemudian beberapa orang maju. Mereka pun menggilir si wanita itu setelah Tung Wongso.

Setelah acara selesai. Hani, Sumitro dan Udin di ajak ke sebuah pondok yang tak jauh dari tempat itu. Tung Wongso kemudian mempersilakan mereka masuk. Ternyata pondok yang juga rumah dari Tung Wongso ini cukup lain. Dia tak terlihat seperti dukun atau semacamnya. Berbagai produk modern seperti kulkas, tv LCD dan lain-lain ada di sini. Beberapa kepala binatang tampak menghiasi dinding-dinding rumahnya serta sebuah sofa empuk bisa dijadikan tempat yang nyaman baik untuk tidur atau sekedar duduk. Perabotannya semuanya mahal-mahal.

"Duduklah! Anggap rumah sendiri," kata Tung Wongso.

Hani dan Sumitro pun duduk.

"Ada perlu apa Ki Wongso mengajak kami ke sini? Koq rasanya spesial sekali," kata Sumitro.

"Yang spesial itu anakmu!" kata Tung Wongso.

Hani dan Sumitro berpandangan, kemudian melihat ke Udin.

"Bagaimana bisa?" tanya Hani.

"Sejak tadi aku bisa melihat sesuatu yang spesial dari dirinya. Auranya beda. Ia bakal jadi penerusku suatu saat nanti. Sebab aku tak punya penerus karena mandul," jelas Sumitro. "Ini adalah kutukan karena memang butuh pengorbanan untuk bisa menguasai kitab hitam."

"Ki, tapi dia masih kecil," kata Hani.

"Justru itu, kaulah yang harus mengajarkannya!" kata Tung Wongso. "Sering ajak dia ke sini. Tidak perlu pas acara ini, tapi mampir aja seperti main biasa. Aku akan memberikan seluruh ilmuku kepadanya. Apa kalian tak mau?"

"Mau Ki, mau!" kata Sumitro dengan wajah sumringah. "Sebuah kehormatan bisa mendapatkan ilmu langsung dari Ki Wongso."

"Di dalam anak ini ada naga yang sedang bersemedi. Kalau ia diganggu sedikit saja, akan jadi petaka. Maka dari itu, naga ini akan bangun nanti ketika ia sudah berusia 17 tahun. Selama itu jaga dia baik-baik. Kau tak akan tahu akan jadi apa dia nanti kalau dewasa," jelas Tung Wongso. "Aku tadi melakukan ritual terakhir agar bisa dilihat oleh anak ini, biar naga di dalam tubuhnya bangun, tapi ternyata tidak berhasil. Artinya, suatu saat nanti kemampuannya akan melebihi diriku."

***

Hani dan Sumitro sangat bangga sekali dengan apa yang dikatakan oleh guru spiritual mereka. Mereka pun mendidik Udin dengan baik. Mereka juga sesekali berkunjung ke rumah Tung Wongso untuk sekedar bermain. Dan Tung Wongso mengajarkan hal-hal yang tidak biasa kepada Udin. Yaitu ilmu kebatinan. Umur 10 tahun Udin sudah bisa melihat hal-hal yang tak bisa dilihat oleh manusia. Dan Udin menjadi anak spesial di sekolah. Tung Wongso sebenarnya punya maksud lain. Ia ingin bisa menguasai kekuatan naga yang ada di dalam tubuh Udin. Ia juga bingung, bagaimana anak kecil ini bisa ada naga di dalam tubuhnya.

Ia pun membongkar kitab-kitab kuno untuk tahu caranya agar bisa menaklukkan sang naga. Tapi sayangnya caranya cuma satu. Yaitu dengan menaklukkan 13 perawan. Barulah sang naga akan terbangun. Tung Wongso pun kebingungan. Bagaimana caranya untuk bisa mendapatkan ke-13 perawan?? Kitab-kitab hitam kuno miliknya diobrak-abrik lagi, tapi tak mendapatkan cara lain. Hanya saja untuk bisa memerawani 13 orang gadis itu tidak mudah. Sebab ke-13 gadis itu harus rela dan pasrah mengorbankan keperawanannya. Tanpa paksaan. Hal ini membuat Tung Wongso makin pusing 7 keliling. Akhirnya ia hanya bisa berharap suatu saat nanti ketika bertemu dengan Udin, naga itu sudah terbangun.

Namun, ia mengajari sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh anak-anak sekecil Udin. Yaitu tentang sex. Oleh karena itulah Udin pun selain diajarkan ilmu untuk menghipnotis dan mempengaruhi orang juga diajarkan ilmu untuk bersetubuh. Awalnya Udin senang-senang aja mempelajarinya. Bahkan ia termasuk anak yang sangat pintar. Baru sedikit belajar ia sudah banyak menguasai banyak ilmu. Baik ilmu kebatinan atau pun yang lain. Di kelas Udin sangat menonjol, seluruh mata pelajaran mendapatkan nilai yang bagus dan tentu saja ia disukai oleh semua anak-anak dan guru-guru.

Ketika ia ditanya apa cita-citanya, ia selalu menjawab ingin menjadi orang yang bisa menolong orang lain. Naga yang ada di dalam tubuh Udin ini ternyata selalu menyuruhnya untuk berbuat baik. Berbeda dengan keinginan Tung Wongso. Maka dari itulah Tung Wongso kebingungan sekarang bagaimana caranya untuk bisa mendapatkan kekuatan sang Naga.

Pada usianya yang ke-15, Udin sudah jarang ke tempatnya Tung Wongso, walaupun orang tuanya menyuruhnya. Menurutnya ia sudah tak tertarik lagi untuk belajar dengan Tung Wongso. Karena dunia ini luas. Ia butuh banyak belajar dari dunia. Ternyata lagi-lagi sang nagalah yang memberikan sugesti itu kepada Udin. Dari sinilah terpisahnya Tung Wongso dengan Udin untuk beberapa saat.

Ada yang menarik dari Udin. Naga itu benar-benar mengajaknya untuk berbuat kebaikan. Dan naga itu selalu melindunginya di dalam tubuhnya. Udin bahkan beberapa kali bertemu dengan naga itu. Dan naga itu berkata untuk menjauhi Tung Wongso karena hanya memanfaatkan Udin saja. Suatu saat nanti ia harus melakukan sesuatu dengan kitab hitam Tung Wongso tapi belum saatnya. Mengetahui bahwa ada naga yang bersemayam di dalam tubuhnya Udin semakin faham tujuan Tung Wongso mengajaknya ke rumah adalah karena ingin kekuatan sang naga. Naga itu benar-benar melindungi Udin dari berbagai hal, seperti ketika tak sengaja ia akan ditabrak oleh mobil, malah mobil yang menabraknya penyok sendiri. Atau ketika ada ular yang akan mematuknya. Ular itu tiba-tiba saja berhenti dan kabur.

Sang naga itu tak pernah memberitahu siapa dia sebenarnya dan sejak kapan berada di dalam tubuh Udin. Hanya saja sang naga berkata, "Kau akan tahu suatu saat nanti, sekarang ini aku hanya akan melindungi kamu dari orang-orang seperti Tung Wongso."

Suatu malam Udin dibisiki oleh naganya lagi.

"Aku akan menceritakan kepadamu sesuatu tentang kitab hitam," kata sang naga. Saat itu kesadaran Udin masih terjaga. Ia masih berada di kamarnya sedang bersiap untuk tidur.

"Ada apa naga? Apa yang ingin engkau sampaikan?" tanya Udin.

"Suatu saat nanti akan ada masanya aku akan keluar. Aku akan memberitahukan kepadamu namaku yang sebenarnya. Namaku adalah jelmaan dari Dewi Sekartaji. Ada alasan kenapa aku ada di dalam tubuhmu, nanti aku akan menceritakannya. Aku ingin engkau mengetahui sesuatu tentang sebuah kitab yang dimiliki oleh Tung Wongso.

"Dia ini bukan orang biasa. Dia sudah hidup selama 5 abad dan tidak pernah menua. Sebuah kitab hitam berisi ritual-ritual setan telah ia kuasai. Dan sekarang ketika ia mengetahui kamu aku lindungi ia juga ingin kekuatan itu. Aku sekarang ini hanya bisa memberikanmu energi-energi untuk melindungimu, tapi sayangnya engkau tak bisa menyerang balik. Aku akan mengajarimu sesuatu untuk bisa melawan kekuatan mereka, karena mereka adalah sekte yang sangat berbahaya semenjak zaman majapahit dulu."

Udin terkejut. Ia tak menyangka naga yang ada di dalam tubuhnya adalah seorang perempuan. Sebab selama ini mereka hanya berbicara melalui benak mereka.

"Tujuan mereka adalah untuk menguasai negeri ini. Mereka adalah sebuah sekte yang ingin membalas dendam terhadap negeri ini. Dulu majapahit bisa menumpas mereka bersih, tapi setelah majapahit runtuh, mereka mulai bangkit lagi. Dan sekarang sekte ini sudah punya banyak pengikut yang tidak sedikit. Aku akhirnya menemukanmu karena suatu alasan. Engkaulah satu-satunya yang bisa memusnahkan mereka. Sekte ini tak bisa diampuni, karena mereka berbuat kerusakan. Pembunuhan, perzinaan, perampasan, perampokan, konspirasi, dan sayangnya sekarang mereka telah masuk ke pemerintahan. Aku ingin engkau melaksanakan tugas mulia ini, apapun yang terjadi rebut kitab hitam yang mereka jadikan acuan. Semuanya berawal dari sana. Kitab itu tidak bisa dihancurkan begitu saja. Dekati kedua orang tuamu, karena merekalah satu-satunya yang dekat dengan Tung Wongso. Tapi jangan sampai membuat mereka curiga," kata sang naga yang tak lain adalah Dewi Sekartaji.

"Lalu kenapa kau tidak keluar saja dari tubuhku dan berurusan sendiri dengan Ki Wongso?" tanya Udin.

"Aku bisa saja, tapi persyaratannya sangat berat. Bahkan aku tak sanggup untuk mengatakannya," kata Dewi Sekartaji.

"Apa?" tanya Udin.

"Engkau harus mendapatkan 13 perawan dan engkau setubuhi aku, baru akan keluar dan menampakkan tubuhku," kata Dewi Sekartaji.

Udin menelan ludah, "Aku mana mungkin bisa melakukannya?"

"Kau pasti bisa. Hanya inilah satu-satunya cara agar aku bisa menampakkan diri dan kau mendapatkan kekuatanku sepenuhnya," kata Dewi Sekartaji. "Aku akan memberitahukanmu nanti apa yang sebenarnya terjadi kalau kau sudah mendapatkan ke-13 perawan itu."

"Lalu apa yang aku lakukan sekarang?" tanya Udin.

"Kamu harus mendekati orang tuamu dan mengorek informasi tentang Kitab Hitam. Jangan sampai mereka tahu tujuanmu. Tung Wongso pun jangan sampai tahu. Kalau kau sudah mendapatkan kitab itu, hancurkan dan bakar. Karena itu adalah sumber kekuatan dari Tung Wongso," kata Dewi Sekartaji.


Dahaga

Hani dan Sumitro bangga punya anak Udin. Selain pintar, anaknya juga tumbuh menjadi seorang yang tampan. Sekarang umurnya sudah 17 tahun. Pasti banyak cewek-cewek di sekolahnya yang tergila-gila kepadanya. Tapi melihat perilaku Udin, tak ada sama sekali pertanda bahwa Udin ini punya pacar. Beberapa kali Hani menyelidiki, tapi ketika ditanya Udin selalu menghindar. Mungkin memang anaknya kebingungan milih pacar, pikir Hani.

Namun siapa sangka, dibalik keharmonisan rumah tangga Hani dan Sumitro. Sebenarnya ada perkara kecil yang harus diselesaikan. Burung Pak Sumitro tak bisa berdiri setelah ia terkena stroke. Dan itu sudah kejadian lama. Tepat lulus SD, burung Udin disunat. Karena orang desa sudah pasti ndak cuma acara khitanan saja. Mereka terkenal kalau ada anak mereka yang berkhitan pasti akan menggelar pertunjukan semalam suntuk, entah dangdut, wayang kulit dan lain-lain. Dan kalau tidak melakukannya bisa gengsi. Hal itu pun menjadi sebuah adat tersendiri yang sebenarnya cukup memberatkan. Tapi hal itu tidak bagi keluarga Pak Sumitro. Ia orang kaya. Semuanya serba ada. Hanya saja ia melakukan kesalahan fatal hari itu.

Pak Sumitro tak pernah memeriksakan tensi darahnya. Ketika khiatan Udin, ia mabuk. Hal itu karena ia diajak teman-temannya untuk main judi sambil nenggak miras. Alhasil ia tiba-tiba lunglai dan terjatuh. Malam itu juga ia dibawa ke rumah sakit dan dokter memvonis ia terkena stroke. Setelah perawatan selama setahun lamanya, ia akhirnya bisa normal lagi. Dari awalnya lumpuh sekarang bisa berjalan, bisa berdiri dan sekarang sudah normal. Hanya satu yang tidak normal. Burungnya tak bisa berdiri.

Sudah banyak cara dicoba, mulai dari diet ketat, olahraga, bahkan sampai diurut dan sebagainya tetap tak mau berdiri. Akhirnya Bu Hani pasrah. Ia menerima nasibnya. Dan setiap saat ketika ia butuh, Pak Sumitro selalu membantunya dengan jari. Bahkan Pak Sumitro pun membelikan dildo paling tidak hal itu bisa meredam kebutuhan sex dari Bu Hani.

Udin seperti yang disuruh oleh Dewi Sekartaji sang naga di dalam dirinya untuk terus berbakti kepada kedua orang tuanya agar bisa mendekati Tung Wongso. Suatu ketika ia melihat ibunya merenung seorang diri. Melihat itu sebagai anak yang berbakti Udin pun sekedar bertanya, "Sedang melamunkan apa bu?"

Ibunya terkejut, "Ah, tidak ada apa-apa. Ibu cuma mikirin sawah aja."

"Sawahkan sudah diurus ayah, emangnya mau nambah tanah lagi? Atau ada buruh tani yang bermasalah?" tanya Udin menyidik.

"Ah, tidak ada apa-apa koq, sungguh. Ndak usah dipikirkan le," kata Hani.

"Ayolah ibu, katakan saja. Udin kepingn tahu. Siapa tahu Udin bisa memberikan solusi," kata Udin.

Hani melihat putranya. Dulu waktu kecil ia masih lucu. Semenjak Tung Wongso memberitahu bahwa anaknya spesial. Ia jadi makin sayang kepadanya. Sekarang berkat latihan, juga gemblengan Tung Wongso, ia sekarang menjadi pemuda yang gagah, badanya kekar, atletis, ia bahkan tak tahu ilmu apa saja yang dipelajari oleh anaknya ini. Ia pernah memergoki putranya sedang bertelanjang dada ketika mengangkut karung-karung beras. Benar-benar lelaki sejati, berotot, entah kenapa saat itu ia langsung masuk kamar, mengambil dildonya dan membayangkan putranya. Ia tahu yakin yang dibayangkan. Memang ajaran sektenya tak melarang hubungan incest, tapi ia masih punya norma-norma kesusilaan setempat. Toh ia juga masih orang jawa. Hal ini pun menjadikan dia gundah.

Hal inilah yang menjadikan lamunan bagi dirinya tadi. Dan lamunan itu dibuyarkan oleh pertanyaan putranya. Ia pun menjadi bingung.

"Sungguh tidak ada apa-apa koq ngger. Cuma persoalan pekerjaan saja, kamu ndak ada kegiatan hari ini?" tanya Hani.

"Sebenarnya ada sih PMR, cuma Udin ndak ikut. Lagi capek," jawab Udin.

"Ya, sudah. Bapakmu sudah pulang tuh, bantu angkat barang-barangnya!" kata Hani.

Dari pagar rumah tampak sebuah traktor masuk ke halaman rumah. Traktor itu mengangkut beberapa hasil panen dalam karung-karung gabah. Sumitro mengemudikan benda itu hingga terparkir di dekat pintu samping rumahnya. Setelah itu mesin dimatikan. Udin segera bergegas untuk mengangkat karung-karung itu lagi. Ia mencopot kaos oblongnya, saat itulah lagi-lagi perasaan berdesir di dalam dada Hani. Otot-otot itu kembali terpampang di hadapannya. Keringat Udin yang terkena sinar matahari benar-benar telah membuatnya basah. Entah kenapa, memeknya berkedut-kedut. Ia pun sekarang pusing.

"Udin, sepertinya aku merasakan sesuatu," bisik Dewi Sekartaji di dalam benaknya.

Udin tak menjawab. Ia bisa saja menjawab dengan benaknya. Hanya saja ia sekarang sedang mengangkut karung-karung gabah ke dalam gudang untuk dijemur besok.

"Sepertinya ibumu menyukaimu," kata sang naga di dalam benak Udin..

Udin hampir saja terjatuh mendengarnya, "Koq bisa? Kamu bercanda!?"

"Tidak, aku tidak bercanda. Aku bisa merasakan tatapan mata ibumu kepadamu. Paling tidak ini sudah kesekian kalinya ia menatapmu seperti itu," kata sang naga di dalam benak Udin.

Udin menoleh ke arah ibunya yang sedang berdiri di pintu samping rumah. Kalau dilihat-lihat ibunya memang memandangnya dengan pandangan aneh. Seperti pandangan tertarik. Dari sorot matanya bisa diketahui, bahwa wanita ini tak melihat Udin sebagai anaknya lagi. Terlebih sekarang ibunya telah menggosok-gosok lengannya sendiri sambil sesekali menyentuh payudaranya. Ketika Udin melihatnya, Hani buru-buru masuk ke dalam rumah.

"Aku tak yakin ibuku menyukaiku. Akukan anaknya?" tanya Udin dengan benaknya.

"Kau lupa ya bahwa mereka itu adalah sekte tertentu. Ayah dan ibumu pengikut Tung Wongso. Mereka tak akan kenal yang namanya norma-norma asusila seperti itu. Mereka punya norma sendiri. Kau sendiri ketika kecil melihatnya bukan? Bagaimana mereka melakukan persembahan dengan bersetubuh. Aku punya rahasia sebenarnya. Mungkin kau belum tahu, kalau ibumu dulu juga pernah jadi persembahan," kata Dewi Sekartaji.

"Yang bener?!" tiba-tiba Udin berseru. Sumitro menoleh kepadanya.

"Ono opo le?" tanya ayahnya.

"Ah, tidak ada apa-apa pak. Udin cuma kepikiran ama pelajaran di kelas. Apa bener persoalan rumus-rumusnya seperti yang dipikirkan Udin," jawab Udin.

"Ealah, bapak kira apa. Kalau capek istirahat saja. Bapak bisa koq ngangkut karung-karung ini," kata Pak Sumitro.

"Nggak apa-apa koq pak, sudah terbiasa," kata Udin.

Setelah itu Udin buru-buru menyelesaikan pekerjaannya dan pergi ke pinggir sungai. Di pinggir sungai ini ada sebuah batu besar yang biasa untuk dia nongkrong ketika ingin sendiri. Di sini juga ia berlatih ilmunya. Udin makin hari makin sakti. Hanya saja ia pandai menyembunyikan kesaktiannya. Untuk perkelahian ia tak tertandingi tentunya, apalagi soal kebatinan. Ia bisa saja menggendam siapa pun, hanya saja ia tak pernah melakukan itu. Biasanya ia gunakan ilmunya untuk mensugesti orang dengan hal-hal positif. Dan ia juga membantu orang untuk menyembuhkan penyakit.

Di sinilah ia biasa berbicara dengan Dewi Sekartaji.

"Katakan Dewi, apakah benar yang kau katakan tadi?" tanya Udin.

"Tentu saja benar. Apa kau tak yakin?" tanya Dewi Sekartaji.

"Aku masih ragu. Kalau memang benar, bejat juga tuh Tung Wongso," kata Udin. "Trus apa yang harus kita lakukan?"

"Mau tak mau kau harus ikuti permainan ini," kata Dewi Sekartaji. "Saat ini ibumu sedang birahi. Kau bisa dapatkan apapun kalau kau bisa memuaskan dia."

"Tapi, itu tak mungkin. Dia ibuku sendiri!"

"Tak masalah. Kau ingin negeri ini hancur oleh mereka? Saat ini satu-satunya penyelamat adalah kamu!"

Udin pun berpikir keras. Ia tak pernah memikirkan kejadian hari ini. Memang ia pernah melihat tubuh ibunya telanjang, tapi tak pernah terpikirkan kalau harus menyetubuhi ibunya sendiri. Namun apa yang dikatakan sang naga di dalam tubuhnya itu tak mungkin bohong. Sebab ia selalu jujur selama ini. Sekarang ketika ia jadi satu-satunya harapan, Udin pun menghela nafas panjang.

"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Udin.

"Kau cuma menunggu di sini sampai matahari tenggelam. Setelah itu pulanglah mereka pasti akan mengatakan sesuatu kepadamu," jawab Dewi.

"Bagaimana kau bisa tahu?"

"Sebab menurut penerawanganku sekarang mereka sedang berdiskusi, berdiskusi hal yang sangat-sangat tabu bagimu," kata Dewi.

Sementara itu Hani dan Sumitro sedang melakukan diskusi. Mereka tampak serius.

"Pak, bapak tau kan selama ini ibu selalu gundah," kata Hani.

"Soal ranjang?" tanya Sumitro.

"Iya, sejak bapak kena stroke itunya kan ndak bisa berdiri. Bapak sudah berusaha membantu ibu selama ini, entah dengan tangan atau pakai dildo. Hanya saja, sepertinya ibu ndak cukup pak kalau harus begitu terus. Selama ini ibu tersiksa," kata Hani.

"Ya mau bagaimana lagi bu. Aku tawarkan untuk bercerai kamu tidak mau," kata Sumitro.

"Bapak ini lho, ibu ini masih cinta ama bapak. Ibu ndak mau kehilangan bapak," ujar Hani.

Mereka terdiam sejenak. Merenungi kegundahan yang dialami Hani selama ini. Sumitro sekarang ini sedang bingung juga. Tak mungkin ia menyewa gigolo untuk memuaskan istrinya, apalagi nanti kalau misalnya gigolo itu membawa penyakit kelamin. Bisa berabe.

Benak Sumitro kini dipenuhi pikiran-pikiran yang kusut. Bagaimana cara dia agar bisa membahagiakan istrinya. Tapi selain itu ia juga tak ingin terluka. Dia pun teringat dengan Udin. Bagaimana kalau anaknya saja yang menggantikan posisi dia selama ini. Pikiran ini agak gila, bagaimana mungkin istrinya bisa setuju? Tapi perlu dicoba.

"Bune, bapak juga cinta ama bune. Tapi, sekarang ini bapak hanya punya satu solusi. Bagaimana kalau bune melakukannya dengan Udin?" tanya Pak Sumitro.

Wajah Hani langsung kaget, "Bapak ini lho, koq mikirnya segitu. Dia itu anakku pak. Anak kita. Masa' harus begituan dengan anak sendiri. Tabu!"

"Lho, emangnya selama ini kepercayaan kita melarang? Kalau misalnya kepercayaan kita tidak melarang ya tidak mengapa toh. Jelas adat jawa melarang hal ini, tapi mau bagaimana lagi. Bapak ndak mau ibu jajan, juga bapak tetap cinta ama ibu. Satu-satunya yang bisa menyelesaikan persoalan ini adalah Udin. Bapak rela koq kalau ibu melakukannya dengan dia. Daripada dengan orang lain?" jelas Sumitro.

Hani pun bersandar di sofa, memejamkan mata dan memegang keningnya, "Pusing aku pak."

Sumitro lalu mendekat ke istrinya. Dikecupnya kening istrinya. Ia merangkul istrinya, "Untuk hal ini bapak ijinkan. Coba saja, kita akan ngomong ke Udin. Ibu ndak perlu khawatir. Ini soal bapak yang mencintai ibu dengan tulus. Kalau ini sampai terjadi ya memang inilah waktunya."

"Nanti kalau hamil gimana?" tanya Hani.

"Ya nggak apa-apa toh? Tahu bapaknya siapa. Daripada ibu selingkuh, daripada ibu jajan diluar kena penyakit?"

Hani mendesah. Ia bimbang sekarang. Namun di dalam hatinya ada tergelitik perasaan tentang tubuh putranya. Gagah, macho, kekar. Ia teringat kulit coklat putranya yang mengkilat karena keringat tadi siang. Otot-otot itu, entah kenapa tiba-tiba berpikir tentang Udin membuatnya basah. Apakah ia sudah jatuh cinta kepada anaknya sendiri. Tak terasa perasaan bimbangnya mengalirkan air mata menetes di pipinya.

"Udahlah bune, bapak rela. Bapak ikhlas. Kita tunggu saja Udin pulang dan membicarakan tentang masalah ini," kata Sumitro.

Setelah Udin semedi sejenak di tepi sungai. Ia kemudian disuruh oleh sang naga untuk pulang. Sebab waktunya sudah tepat. Udin sampai di rumah sudah malam. Di rumah itu hanya ada ibunya saja. Ketika mengetahui putranya pulang Hani langsung menyuruh Udin untuk segera mandi saja karena makan malam sudah disiapkan. Udin tak begitu mengerti tapi mungkin juga ia sedang dalam kondisi di mana sebentar lagi akan ada pilihan sulit yang harus ia pilih. Perasaannya mengatakan demikian.

Setelah mandi dan makan malam. Ibunya kemudian mengunci semua pintu rumah.

"Udin, hari ini ibu kepingin membicarakan sesuatu kepadamu," kata Hani.

"Ada apa bu?" tanya Udin.

"Begini, kamu sudah dewasa. Sekarang pun kamu sudah tumbuh menjadi pemuda yang tampan. Dan mungkin kamu sudah mengerti tentang persoalan orang dewasa. Ceritanya seperti ini..." kemudian Hani menceritakan semuanya tentang masalah sex yang dia hadapi. Juga dengan kejujuran bahwa dia sekarang sedang membutuhkannya. Dan ia ingin agar Udinlah yang akan memberikannya.

"Tapi, bu.. itukan tidak boleh? Aku anakmu!" kata Udin. "Aku tak bisa melakukan ini."

"Iya, ibu juga berpikir begitu. Kamu tak akan mau. Ya sudahlah. Ibu tak memaksa," kata Hani sambil mendesah. Ia menghela nafas panjang.

Udin pun mengingat-ingat lagi tentang sikap ibunya tadi siang. Ia juga sebenarnya sudah menerawang benak ibunya tanpa sepengetahuan siapapun. Tapi Udin belum siap. Atau ia takut? Akhirnya ia pun berperang dengan benaknya sendiri. Melihat wajah ibunya yang sedih, ia tak tahu harus bagaimana. Apalagi ketika ibunya bilang ayahnya sudah mengijinkannya. Tapi itu tidak masuk akal. Bagaimana mungkin ia akan memasuki liang yang sama dengan yang ayahnya masuki? Namun sekali lagi kesedihan di raut wajah ibunya tak bisa dihilangkan. Udin pun serba salah.

"Bahagiakan saja ibumu!" kata sang naga.

"Tapi...itu salah Dewi!" kata Udin dengan benaknya.

"Ini semua sudah terjadi. Dan kau patut bersyukur bahwa kau akan melakukannya dengan orang yang paling kamu cintai sekarang ini. Dan bisa jadi dengan engkau melakukan ini, kau bisa mengetahui rahasia kitab hitam. Ingatlah, kau mungkin menganggap cara ini salah, tapi ini adalah satu-satunya cara agar bisa berhasil. Bayangkan kalau ibumu malah mendapatkan kepuasan dari Tung Wongso!" kata sang naga.

"Tidak! Aku tidak rela!" kata Udin. "Baiklah, aku belum pernah melakukan hal itu. Tapi aku akan mencobanya."

"Kau tak perlu khawatir. Ibumu pasti akan mendapatkan kepuasan dari sini. Dan engkau bisa melangkah lebih jauh lagi," kata sang naga. "Aku akan selalu menjagamu."

"Bapak kemana bu?" tanya Udin.

"Bapak, eee...dia sedang keluar. Pulang besok pagi," kata Hani berbohong. Sebenarnya Pak Sumitro pergi karena ingin agar ibu dan anak ini bisa leluasa melakukan hal itu.

"Sebenarnya Udin tak ingin melihat ibu bersedih," kata Udin. Ia pun mendekat di sebelah ibunya.

"Kalau kamu tak ingin, maka ibu tak memaksa ibu tahu perasaanmu nak," kata Hani.

"Terus terang Udin tak pernah melakukan hal ini sebelumnya. Kalau ibu sesedih ini, Udin tak tahu lagi harus berbuat apa. Udin siap. Hari ini keperjakaan Udin akan Udin berikan buat ibu," kata Udin.

Mendengar itu perasaan Hani serasa meleleh. Entah kenapa tiba-tiba ia membayangkan akan terjadi pegumulan dengan anak semata wayangnya ini. Ia menelan ludah, tapi terasa sulit. Udin memegang jemari ibunya yang lembut. Entah disengaja atau tidak Hani memakai daster tipis. Yang mana tonjolan toketnya sangat tampak, bahkan putingnya yang mengerasa dan mengacung tergambar jelas. Ia benar-benar horni. Horni karena melihat anaknya, horni sekali ingin disetubuhi oleh anaknya.

"Kita ke kamar aja!" kata Hani.

Hani kemudian berdiri dan menggandeng Udin. Bagai kerbau dicokok hidungnya, Udin menurut saja. Di kamar Hani mereka lalu berpelukan. Udin yang sekarang lebih tinggi dari ibunya. Ketika perlahan bibir mereka menyatu, Hani berjinjit. Ibunya menyedot-nyedot mulut anaknya. Mereka berciuman, french kiss, rasanya manis. Lidah Udin dan ibunya bertemu, saling mengusap, saling menjilat dan saling menyedot.

"Kamu sudah pernah diajari seperti ini kan?" tanya Hani.

Udin mengangguk.

"Saatnya mempraktekkan itu semua nak," kata Hani. "Puaskan dahaga ibu malam ini!"

Udin mengangkat daster ibunya, sedikit demi sedikit terpampanglah tubuh mulus ibunya yang tidak memakai pakaian dalam itu. Tangan ibunya membantu melepaskan dasternya. Ketika telanjang itulah Udin tak pernah menyangka kalau ibunya sangat seksi. Tak ada cacat sedikit pun. Hani yang sudah terangsang berat itu, membantu melepaskan baju anaknya. Satu persatu baju Udin dilepas, hingga kepada bagian kolornya Hani pun berlutut.

Sebuah benda panjang, batang berotot berwarna coklat mulai bangkit dan mengacung. Otot-otot kekarnya menampakkan bagaimana kejantanan Udin ini sangat luar biasa. Hani tak bisa membayangkan benda itu bisa-bisa merobek memeknya. Dan bau khas batang penis langsung menyeruak ke hidungnya. Penis anaknya ini sangat besar dan panjang. Tak pernah ia menyangka ini sebelumnya. Tubuh anaknya yang atletis, perutnya yang rata, penis yang berotot dan rambut kemaluannya yang menggairahkan, sebentar lagi akan dinikmatinya. Tanpa malu-malu. Hani mencium kepala penis Udin.

"Ohh...ibu...!" penis Udin berkedut saat disentuh oleh bibir Hani.

"Kalau kau merasa enak, jangan ditahan! Semburkan saja. Ibu ingin merasakan rasa pejuhmu sayang!" kata Hani.

Mulutnya pun membuka, lidahnya terjulur. Tangan kiri Hani meremas-remas buah peler Udin. Perasaan sensasi nikmat dari bocah ingusan ini menjalar ke seluruh tubuhnya. Hani makin gemas dengan penis anaknya. Ia pun menjilati batang dari ujung sampai pangkalnya. Ia pun mampir merasakan beberapa helai rambut yang tumbuh di telur anaknya. Dijilati dan dihisapi. Seolah-olah apa yang ada di hadapannya ini adalah sebuah es krim coklat yang sangat ia suka.

Daging berotot yang sudah tegang itu kini mengkilat oleh ludah Hani. Dan Hani pun sampai kepada hidangan pembuka. Mulutnya kini sudah melumat kepala penis anaknya. Udin mengerang nikmat. Entah bagaimana kepala ibunya sudah dipegangi. Rambut ibunya yang digelung itu pun dilepasnya sehingga terurailah rambut wanita paruh baya yang masih punya badan bagus itu. Pantat Udin pun maju mundur seiring maju mundurnya kepala Hani. Udin menyetubuhi mulut ibunya dan sang ibu pun tak menolaknya bahkan ingin minta lebih lagi. Ia menggelitik kepala penis anaknya, stimulus-stimulus dari lidah ibunya itu kini menggelitik syaraf-syaraf yang ada di sekitar perut Udin.

"Ohh...ibu...ibu...enak...Udin enak banget digituin," kata Udin.

Hani tak perlu bersuara. Ia cukup konsentrasi memberikan kepuasan oral kepada anaknya. Ia tak perlu menyuruh anaknya untuk berhenti berfantasi. Kini tangan sang ibu mengusap-usap dan membelai perut anaknya yang rata itu. Dan tangan Hani yang satunya sudah berada di memeknya, menggosok-gosok itilnya yang gatal. Semerbak bau memek Hani mulai tercium. Menambahkan fantasi Udin kian menjadi. Tapi Udin tahu ia akan klimaks. Ibunya terlalu pro.

"Bu...Udin mau sampe, gatel banget....ndak kuaattt!" kata Udin. Ditahannya kepala ibunya dan ia menekan kuat-kuat penisnya di dalam mulut ibunya. Ibunya sampai gelagapan. Semprotan sperma perjaka untuk pertama kali dimuntahkan di mulut seorang wanita yang dicintainya. Dan mungkin sekarang bukan lagi sebagai ibunya. Tapi sebagai pacar atau istri atau apapun yang ingin kalian sebut.

Hani menyedot seluruhnya. Setiap tetes tak ingin ia lewatkan. Entah kenapa ia pernah merasakan rasa sperma suaminya juga Tung Wongso. Tapi rasa sperma anaknya ini sungguh gurih, nikmat, manis. Ia pun bahkan mengecap dan menjilati semuanya sampai ujung tongkol Udin benar-benar kering dan Udin memejamkan mata menikmati sensasi yang dirasakan olehnya barusan. Hani menelan habis pejuh anaknya. Ia bahkan menjilati beberapa yang tumpah di dagu dan tangannya.

Hani bangkit lalu berbaring di atas ranjang. Ia cukup takjub melihat penis Udin yang masih tegang. Tipikal penis perjaka yang belum puas kalau belum menyemprot berkali-kali. Hani jadi teringat bagaimana dulu ia dan suaminya melakukan malam pertama sampai beronde-ronde. Dan sepertinya hal ini akan terulang lagi. Ia sudah melihat Udin sebagai suaminya, ia lupa bahwa Udin adalah anaknya. Dan Udin menganggap wanita yang ada di hadapannya ini adalah seorang bidadari.

Udin benar-benar tak sabar. Ia langsung berada di atas tubuh sang ibu. Penisnya sudah berkedut-kedut ingin masuk ke liang senggama yang selama ini sudah melahirkannya. Tangan Hani menuntun batang perkasa itu ke lubangnya. Mulanya kepala penisnya masuk tanpa hambatan. Udin menahannya ketika setengah batangnya masuk. Memek ibunya berkedut-kedut penisnya serasa diremas-remas. Kuat sekali. Udin mendorong pelan-pelan. Ia mengira penisnya tak bisa masuk semua, tapi salah. Ketika ibunya juga mendorong pantatnya ke depan, perut Udin pun bertemu dengan perut ibunya. Kini mereka menyatu. Penis sang anak masuk sepenuhnya bahkan Hani bisa merasakan buah peler anaknya menyentuh selakangannya.

Kenikmatan yang sangat luar biasa. Hani melingkarkan tangannya di leher Udin. Dan Udin menelisipkan tangan ke punggung ibunya. Kedua paha Hani dilingkarkan ke pinggul anaknya. Ia tak ingin penis itu lari.

"Sebentar sayang, sebentar! Jangan digoyang dulu. Biarkan ibu menikmatinya," kata Hani.

Kemaluan itu sudah menyatu, tapi yang dirasakan Hani benar-benar berbeda. Kemaluannya benar-benar gatal dan berkedut-kedut. Kalau sedikit saja Udin bergerak jebollah pertahanannya. Ia sudah horni dari tadi siang, ditambah lagi bayangannya pun jadi kenyataan. Udin pun bersabar ia menunggu sampai ibunya menyuruhnya untuk bergerak. Kening Hani mulai muncul peluh, suasana malam yang dingin kini berubah menjadi panas. Semilir-semilir angin yang masuk dari angin-angin pun tak bisa memberikan kesejukan.

Udin melihat puting susu ibunya. Puting yang berwarna coklat, mengacung. Ia jadi gemas dan ingin menyedotnya. Bibirnya pun mulai menciumi buah dada ibunya. Hani menggelinjang saat lidah anaknya mulai aktif menggelitiki area vital di buah dadanya. Udin menyedot, menghisap sehingga bekas-bekas cupangan terpampang jelas di buah dadanya. Udin sangat gemas sekali, ia pun menyusu dan menyedoti puting susu yang dulu ia pernah rasakan.

"Ohhh...anak ibu menyusu lagi....Ohhhh...Udinnn...hhhhmmmhh....iya nak, terus nak, aduh...jjjangan digoyang dulu....ahhhhkkk....ohh..naakk....ibu nyampeeee...!!!" Hani tak kuasa ketika sedikit saja Udin menggesekkan kemaluannya jebollah pertahanannya. Ia orgasme pertama kali. Kemaluan Udin serasa diremas lebih kuat lagi dan dibanjiri cairan.

Udin berhenti sebentar. Melihat ibunya orgasme ia mendiamkanya. Ia ciumi pipi dan leher jenjang ibunya. Belitan kaki ibunya pun mengendor. Kini ibunya hanya membuka lebar pahanya dalam keadaan lemas. Kemudian Udin menggoyang lagi setelah nafas ibunya sudah teratur. Pelan sekali tapi Udin menghayatinya. Ketika ditarik, penisnya hampir saja keluar semua dari liang senggama, tapi tak sampai kepala penisnya keluar Udin mendorongnya lagi ke dalam sampai mentok. Terang saja Hani menggelinjang. Nikmat sekali.

Suara rintihan Hani yang merasa nikmat itu memenuhi kamar yang biasa ia pakai bersama suaminya. Sekarang anaknyalah yang memberikan kenikmatan ini. Setiap gesekan kemaluan itu benar-benar menghipnotis Hani. Terlebih lagi Udin pandai memberikan rangsangan di titik-titik vitalnya. Tak butuh waktu lama untuk Hani orgasme kedua kalinya. Udin hanya menggenjot memeknya beberapa menit. Hani orgasme lagi.

"Udiiin....ibu nikmat bangeett....rasanya kepingin diginiin terus," kata Hani.

"Ibu....ohhh... Udin juga nikmat banget. Baru kali ini Udin merasakan seenak ini," kata Udin.

Mereka berdua kemudian berciuman hangat. Lagi-lagi Udin menggenjot memek ibunya, kini mulai sedikit lebih cepat. Hani belingsatan. Matanya memejam, bibir mereka melekat dan lagi-lagi baru beberapa kali genjotan pantat Hani bergetar. Ia orgasme lagi. Seakan-akan tak percaya, Hani memeluk anaknya dengan erat. Pantatnya pun menekan erat pinggul Udin.

Penis Udin pun berkedut-kedut. Cairan kemaluan Hani makin banyak yang keluar. Menimbulkan efek becek. Suara kecipaknya serta erangan-erangan mereka berdua makin membuat suasanya menjadi panas. Hani sadar ia telah banjir dan ia sangat malu sekali bisa sebanjir itu apalagi di hadapan anaknya. Tapi ia tak ingin mengakhiri ini begitu saja.

"Naak, kamu belum keluar?" tanya Hani.

Udin menggeleng, "Belum ibu. Udin belum keluar. Ibu sudah?"

"Udah berkali-kali. Kontolmu enak banget, goyang ibu nak. Yang cepat yah, keluarin semuanya di dalam. Hamili saja ibumu ini, tak apa-apa, ibu rela, ayo!" kata Hani.

"Tak apa-apakah bu? Nanti ayah bagaimana?" tanya Udin.

"Tak apa-apa ia sudah mengerti, ayo sayang. Kamu emang cah bagus, ibu tak menyesal ngentot ama kamu. Hamili ibu nak, ibu ingin sekali merasakan rahim ibu disiram pejumu!" kata Hani.

"Udin mau saja menghamili ibu, tapi dengan syarat bu," kata Udin.

"Apa itu nak?" tanya Hani.

"Ibu jangan lagi melakukan itu dengan Tung Wongso. Udin tak rela ibu ngentot ama dia," kata Udin.

"Ohh...kamu juga tahu hal itu? Baiklah ibu berjanji," kata Hani.

"Satu lagi, aku ingin bisa menikahi ibu. Aku ingin ibu menjadi istriku," kata Udin.

Hani terdiam. Tapi karena dorongan penis anaknya ia pun sudah kalut, "Iya, anakku. Nikahi saja ibumu ini. Entotin sepuasmu. Ayo..!!"

Udin pun tak ragu-ragu lagi. Ia percepat goyangan pantatnya naik turun. Dipeluknya erat tubuh ibunya. Lima menit kemudian perasaan menggelitik di buah zakarnya mulai terasa. Ia akan keluar, penisnya mulai berkedut-kedut dan menegang. Ketegangan batang penis itu bisa dirasakan oleh Hani. Anaknya akan membuahinya. Betapa bahagianya Hani, ia mengangkat pantatnya ke atas dan menekan penis Udin hingga mentok ke rahimnya lalu CROOOOTTTT.....CROOOOTTT.....CROOOTTT....tembakann ya tak begitu banyak tapi sepertinya seluruh isi buah zakarnya telah habis ditembakkan semua. Hani memejamkan mata, matanya berputar merasakan orgasme yang datang lagi saat rahimnya disiram oleh peju hangat milik anaknya.

Udin membenamkan wajahnya di samping kepala Hani. Ia menghisap leher ibunya kuat-kuat hingga terlihat cupangan di leher ibunya. Mereka bercinta luar biasa. Nafas yang memburu itu membuktikan bahwa mereka benar-benar menikmati kelelahan dari hubungan intim ini. Perlahan-lahan Udin mencabut penisnya, perasaan geli menendang Hani di memeknya. Mulutnya menganga sedikit. Udin pun merebahkan diri di sampingnya. Sang ibu kini telah dientot oleh anaknya, dan kepuasan yang selam ini ingin diraihnya sekarang telah ia rasakan.

Ternyata Udin belum capek. Baru sebentar beristirahat. Udin sudah bergerilya. Ia menggerayangi tubuh ibunya sendiri. Diciumi ketek ibunya yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Dihisapnya keringat-keringat asin di tubuh Hani. Ciuman Udin di punggung Hani membuat Hani terangsang lagi. Ia terus menyaksikan anaknya menciumi dan menjilati setiap jengkal kulit tubuhnya. Udin pun mengulum jempol kaki ibunya. Itu adalah titik tervital bagi Hani. Terang saja Hani menggeliat tak kuasa dan memohon agar Udin tak melakukannya, tapi Udin terus melakukannya hingga Hani tak kuat lagi. Ia gesek-gesek vaginanya dan muncratlah lendir dari kemaluannya. Ia orgasme lagi.

"Udin...jangan nakal dong. Ibu ndak kuat kalau digituin," kata Hani.

Udin membalikkan badan ibunya. Seakan tahu keinginan putranya, kemudian Hani menungging. Tak perlu susah payah bagi Udin untuk menemukan lubang memek ibunya dari belakang. Penisnya sudah keluar masuk. Bokong dan perut mereka sudah saling bertumbuk mencari kenikmatan. Hani girang bukan main, ia yang selama ini dahaga karena suaminya telah impoten, sekarang serasa mendapatkan mainan baru.

Lagi, lagi dan lagi Hani orgasme lagi. Ia menjerit keras ketika kenikmatan itu sampai puncaknya lagi. Memeknya sekarang serasa ngilu. Udin membalikkan lagi badan Hani, lalu ia angkat ibunya untuk dipangku. Dan mereka lagi-lagi bergoyang. Udin puas, puas sekali bisa ngentot. Pengalaman pertama yang tak akan terlupakan baginya. Ia tahan cukup lama berada di atas ranjang. Kali ini anak dan ibu berhadapan lagi. Tapi kali ini Hanilah yang aktif menggerakkan pantatnya yang bahenol dan mulus itu naik turun.

"Ohhh...suamiku....Udiiin....enak banget," kata Hani.

"Ohh...bojoku....Hani....kontolku akan muncrat lagi sayang!" kata Udin.

Hani langsung merebahkan diri. Udin pun menindihnya. Pantat Udin makin cepat bergoyang menggenjot kemaluan Hani. Keduanya berpelukan lagi dengan erat. Dada Hani naik turun memberikan pemandangan seksi. Udin menghimpit dada itu, bibirnya kemudian melekat di bibir Hani.

"Terimalah pejuku Hani, terimalah....oohhh...iniiiiii.....AAKKKHHH!!!" Udin menembakkan pejunya lagi. Tak sebanyak yang tadi, tapi cukup untuk dirasakan menyiram rahim Hani.

Hani pun lemas. Kedua insan ibu anak ini telah mendapatkan kepuasan masing-masing. Tak terasa, mereka cukup lama juga bercinta. Mereka bermandikan peluh, sprei yang mereka pakai pun sudah basah oleh keringat dan pejuh. Udin berbaring di samping ibunya. Dipeluknya tubuh seksi ibunya itu dari belakang. Mereka lalu terlelap dalam selimut, tak ada penyesalan pada raut wajah mereka.

Namun persoalannya tidak berhenti sampai di sini saja.

****


Lari

Hari-hari berikutnya Udin dan Hani seperti pengantin baru. Hampir tiap malam mereka habiskan dengan bercinta. Bahkan Sumitro pun mulai memaklumi perilaku dan tingkah mereka berdua. Dan tiap malam juga Sumitro tidak tidur di rumah. Ia tidur di salah satu rumah penjaga di dekat sawah dan kebunnya. Rumah itu memang ia bangun untuk pekerjanya beristirahat.

Udin kini menjadi orang yang lebih dewasa lagi. Tapi di sekolah ia tak menampakkan diri sebagai orang yang menonjol. Tetap seperti Udin biasanya. Setiap pergi ke sekolah, ia sekarang sudah tidak lagi cium tangan. Melainkan mencium bibir Hani. Melumatnya dan melakukan french kiss. Sumitro pun menasehati Udin agar jangan sampai membuat ibunya capek. Udin pun menurut. Ketika Hani sedang capek karena aktivitasnya, ia tak pernah meminta untuk ditiduri.

Kedekatan aktivitasnya dengan ibunya ini membuat Udin sedikit banyak tahu tentang kitab hitam yang dipunyai Tung Wongso.

"Ini kitab yang ditulis Ki Wongso, kamu sudah pernah melihatnya bukan?" tanya Hani.

Udin mengangguk, "Iya bu, hanya saja sepertinya lebih tebal daripada ini."

"Tentu saja, ki Wongso hanya memberikan kepada kita sepertiga bagian saja. Sedangkan sisanya dibaca ketika ritual. Sepertiganya lagi disimpan sendiri. Dan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melihatnya," kata Hani.

"Kalau yang aku baca, buku yang ada di kita ini berisi filsafat-filsafat. Aku sudah puluhan kali membacanya. Ini ajaran sekte kita. Hanya saja, aku tak tahu isi yang sisanya," kata Udin.

"Kamu jarang ke ritual, makanya ndak tau ketika dibacakan kitabnya. Besok kalau pas waktu acara ritual, ikut saja," kata Hani.

Akhirnya Udin ikut tepat hari di mana mereka setiap sebulan sekali melakukan ritual ke lereng Gunung Lawu. Kali ini Udin berbeda dari yang dulu. Ia ingin menyelidiki isi dari kitab hitam milik Tung Wongso. Perjalanan menghabiskan waktu seharian. Dan tepat pada malam harinya mereka sudah sampai. Sumitro, Hani dan Udin segera memakai baju yang biasanya sekte mereka pakai ketika perkumpulan. Sebuah jubah hitam lengkap dengan hoodie.

Mereka berkumpul seperti biasa. Di sebuah altar. Semuanya berbaris melingkar. Tung Wongso merasakan kehadiran Udin. Ia merasakan Udin sudah lebih kuat dari sebelumnya. Tapi lagi-lagi ia tak merasakan sang naga itu sudah bangun. Masih berada di dalam tubuh Udin. Artinya Udin belum mendapatkan ke-13 perawan. Tung Wongso tak kecewa. Ia tinggal mencari cara yang lain.

Di pertemuan itu Tung Wongso membaca kitab hitam bagian keduanya. Udin mendengarkan dengan seksama. Ternyata bagian kedua juga berisi nasehat, petuah-petuah dan filsafat. Serta beberapa tatacara peribadatan yang aneh, yang tak pernah diajarkan oleh ajaran manapun. Ajaran yang nyeleneh ini sebenarnya juga membuat dia kehilangan keperjakaannya. Tapi ia tak pernah menyesalinya. Sebab ia juga mencintai ibunya sendiri. Dan sekarang kepada puncak ritualnya.

"Kali ini kepada puncak ritual, siapakah yang ingin melakukan persembahan?" tanya Tung Wongso.

Tung Wongso memberikan aba-aba. Seketika itu ada 13 orang maju. Penutup kepala mereka dibuka. Tampaklah oleh mereka gadis-gadis yang sangat cantik. Udin mengerutkan dahi.

"Hari ini aku ingin mempersembahkan ketiga belas dara ini untuk seorang muridku yang sangat spesial. Silakan maju Udin!" kata Ki Wongso.

Seluruh mata tertuju kepada Udin. Ia sekarang kebingungan.

"Celaka! Ia memancingku untuk bangkit. Jangan Udin! Jangan maju! Kau tak boleh melakukannya!" kata Dewi Sekartaji di dalam benaknya.

"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Udin.

"Lawan dia!" kata Dewi.

"Aku tidak mau Ki," kata Udin kepada Tung Wongso.

Hani tampak terkejut atas sikap putranya itu. "Ngger kenapa?"

"Aku tak ingin melakukan itu," kata Udin. Ia mencari-cari alasan yang tepat. "Aku sudah menemukan orang yang aku sukai dan aku cintai."

"Oh, siapa dia?" tanya Tung Wongso.

"Dia ibuku sendiri," kata Udin.

Seluruh orang yang berada di tempat itu tertawa terkekeh-kekeh. Sumitro jadi sedikit malu.

"Oh, ternyata muridku sudah melakukan hal yang tabu. Bagus, bagus sekali itu. Justru itu, aku ingin memberikan tambahan dan apresiasi. Ketiga belas perawan ini ingin dipuaskan olehmu. Lihatlah mereka semua!" Tung Wongso kemudian melepaskan baju para gadis itu, satu per satu hingga tak ada sehelai benang pun yang menempel di tubuh mereka. Tubuh mereka sangat mulus, bening, puting mereka kecil, dada mereka tak begitu besar. Mereka benar-benar masih gadis yang polos.

"Ngger, ndak baik menolak ajakan Ki Wongso. Nggak apa-apa, ke sana aja gih!" kata Hani.

Udin sekarang dilema. Ia tak tahu harus melawan perintah ibunya atau harus melawan Tung Wongso. Ia pun bertanya kepada Dewi Sekartaji sang naga. "Aku tahu waktuku sedikit, tapi tolong beritahu aku kenapa aku harus mendapatkan kitab hitam itu?"

"Tung Wongso dapat kekuatan dari mempelajari buku hitam itu. Apa yang ditunjukkan oleh ibumu sebagai klaim sebagian kitabnya aku meragukannya. Aku dulu pernah melihatnya ketika pertama kali kitab itu dibuat, maka aku tak akan salah tangkap mengenai isinya," kata Dewi Sekartaji. "Di dalamnya juga terdapat mantra-mantra khusus, serta ajian-ajian khusus yang hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu saja. Tung Wongso ini induk dari seluruh masalah, kalau kau bisa mengalahkan dia. Maka cabang-cabangnya akan mudah dikalahkan!"

"Tapi kalau aku menurutinya sekarang, maka kau akan terbangun nantinya," kata Udin.

"Benar, dan ini tak bisa dibiarkan. Saranku adalah engkau lari sekarang!" kata Dewi Sekartaji. "Satu-satunya jalan adalah engkau harus bersabar untuk menungguku lebih kuat dari keadaanku yang sekarang ini. Suatu saat nanti kita akan balas Tung Wongso. Untuk sekarang, pergi dari sini!"

"Kemana?" tanya Udin. "Aku tak bisa membiarkan orang tuaku di sini!"

"Ajak ibumu dan ayahmu sekarang! Kalau kau tak cepat mereka akan memaksamu di sini!" kata Dewi Sekartaji.

Udin tiba-tiba bergerak cepat, ia melepaskan pakaiannya. Sehingga baju ritualnya terlepas dan terlempar. Ia bingung harus memilih antara ibu atau bapaknya yang akan ikut. Akhirnya ia memilih ibunya. Pergelangan tangan Hani segera dipegang erat, sejurus kemudian digelandangnya tangan ibunya. Hani tentu saja terkejut. Terlebih anaknya lari dengan sangat cepat.

"Kejar DIA!" teriak Tung Wongso.

"Udin! Apa yang kamu lakukan?" tanya Hani. Ia mencoba mengimbangi larinya Udin sampai terantuk beberapa kali tapi masih bisa berlari. "Kenapa kau tinggalkan bapak le?"

Udin tak menjawab. Mereka terus berlari menerobos semak-semak, menerobos hutan, jalanan menurun. Beberapa kali mereka berguling. Hani tak tahu apa yang terjadi, tapi sebagai orang tua, ia hanya harus mengikuti naluri untuk dekat dengan anaknya. Ia sudah tak ingat lagi dengan suaminya yang masih tertinggal. Dari belakang orang-orang mulai mengejarnya. Mereka juga ternyata berlari sangat cepat, sepertinya punya ilmu kanuragan yang tinggi.

"Maaf bu, tapi aku harus menggendong ibu sekarang. Naiklah ke punggungku!" kata Udin.

"Udin, ibu tak bisa ninggalin bapak!" kata Hani.

"Bu, bapak sudah tak tertolong lagi. Nanti aku ceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi sekarang kumohon percayalah kepada anakmu ini!" Udin mengusap pipi Hani dengan lembut. Perasaan Hani serasa meleleh. Ia pun menurut saja kepada suami barunya ini. Yang telah memberikan kehangatan kepadanya tiap malam.

Hani naik ke punggung Udin. Pria ini pun menggendong ibunya. "Hati-hati ngger!"

"Maaf bu, Udin akan menggunakan ajian seipi angin! Hanya ini yang bisa membuat mereka tak akan sanggup lagi mengejar kita," kata Udin. "Pegangan yang kencang!"

Kaki Udin menghantam bumi. Serasa beberapa ratus gelombang getarannya membuat sebuah daya dorong yang dahsyat ke seluruh tubuhnya. Ilmu kebatinan yang dipelajarinya dari Sang naga juga dari Tung Wongso, berguna kepada saat seperti ini. Tubuh Udin melompat dari satu tanah ke tanah yang lain seperti berjalan ringan. Tapi sebenarnya gerakannya sangat cepat. Secepat kereta api lokomotif gajayana.

Hani tak mengira bahwa putranya sesakti ini. Ia makin erat memegang leher putranya. Kedua insan ini membelah hutan melewati semak-semak, orang-orang yang mengejarnya makin tertinggal jauh, walaupun mereka juga punya ajian yang sama. Tapi tenaga dalam mereka tak seperti yang dimiliki Udin yang selalu diasahnya setiap hari. Udin dan Hani telah menghilang di telan gelapnya malam.

Sementara itu Tung Wongso marah luar biasa. Sumitro tak sanggup bicara apa-apa. Bahkan ketika kepalanya telah lepas dari tubuhnya dan ditaruh di tengah altar. Darah mengucur deras dari leher Sumitro. Tung Wongso kesetanan. Ia benar-benar murka. Seluruh orang yang ada di tempat itu segera membungkuk dengan sangat rendah hingga bersujud. Mata Tung Wongso memerah. Ia benar-benar dilanda amarah.

"Awas kamu wahai Naga. Kekuatanmu akan aku miliki suatu saat nanti! Dan Udin, akan aku lumat hingga hancur!" Tung Wongso menjerit keras. Jeritannya itu hingga terdengar ke seluruh pelosok Gunung Lawu. Para penduduk pun ketakutan mendengarnya bahkan mereka buru-buru masuk ke dalam rumah dan menutup jendela dan pintu.

****

Udin cukup pintar kali ini. Ia berjalan mengikuti arus sungai. Ia melompat dari satu batu ke batu yang lain. Hal ini agar tak ada yang mengetahui jejaknya lagi. Hingga akhirnya mereka berdua tercebur ke sungai. Sekalipun tercebur, Hani tetap mendekap erat tubuh Udin. Udin berusaha berenang melawan arus tapi tak bisa. Akhirnya mereka pun terombang-ambing arus hingga tak menyadari bahaya di depan mereka. Sebuah air terjun! Udin tak bisa melihat ke depan tapi mendengar sesuatu yang deras di depan sana ia pun sadar akan menghadapi air terjun.

Tangan Udin dengan rapat memegang pergelangan tangan ibunya. Dan tubuh mereka berdua meluncur mengikuti arus yang deras. Kepala Udin menghantam batu kali. Ia serasa pusing, kepalanya pun berdarah. Ia kehilangan keseimbangan tapi tak ingin melepaskan ibunya begitu saja. Mereka berdua pun sampai di bibir air terjun. Mereka berdua terjun bebas, bersamaan jatuhnya air terjun. Kemudian suara jatuhnya mereka cukup keras. Udin menarik tubuh ibunya dan terus menggapai permukaan. Mereka berdua pun secara ajaib masih hidup. Sekali lagi tubuh Udin menabrak bebatuan, kali ini cukup keras. Tapi ia masih sanggup bertahan karena latihan fisik yang ia lakukan setiap hari agaknya berguna untuk sekarang ini.

Ia dan Hani akhirnya menepi ke sebuah bebatuan besar di dekat air terjun. Melihat pemandangan di sekitar air terjun, Udin cukup kenal dengan tempat ini. Air terjun Jarakan. Kalau misalnya ia salah terjun tadi, pasti akan mengenai bebatuan yang ada di sekitar air terjun. Udin melihat ibunya terbatuk-batuk mengeluarkan air yang masuk ke paru-parunya.

"Ibu, ibu tak apa-apa?" tanya Udin.

Ibunya tak menjawab. Permasalahan satu sudah selesai. Sekarang bagaimana cara mengeringkan baju di kegelapan malam seperti ini? Tanpa api. Tapi dari kejauhan Udin melihat cahaya yang terang. Berarti tak jauh dari tempat itu ada perkampungan.

"Ibu, ayo ada perkampungan di dekat sini. Ini tempat wisata pasti ada yang bisa kita mintai tolong," kata Udin.

"Udin, sebentar! Jelaskan dulu kepada ibu apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Hani.

"Nanti, kalau kita sudah selamat, Udin akan ceritakan semuanya," jelas Udin.

Hani hanya mendesah. Ia pikir anaknya benar. Kalau berdebat sekarang tak akan ada gunanya. Mereka bisa mati beku di tempat ini. "Tapi tolong panggil aku Hani saja. Bilang kepada orang-orang kalau aku istrimu. Mengerti?"

Udin mengangguk. Ia minta ijin menggendong ibunya lagi. Dengan ajian seipi angin ia pun melompat dari satu batu ke batu yang lain. Secepat itu dan ia akhirnya sampai ke tepi. Ada jalan setapak yang menghubungkan air terjun itu dengan perkampungan.

Di dekat tempat itu ternyata ada tempat pemandian yang memang disediakan bagi para wisatawan. Saat itu ada penjaganya seorang wanita paruh baya. Melihat dua insan basah kuyup ia segera menyambut mereka.

"Lho, koq basah semua?" tanya perempuan itu.

"Iya, saya lagi ngidam bu, kepingin mandi di air terjun," kata Hani. Ia berbisik ke Udin, "Udah ikuti saja!"

"Ealaaahh....ayo ayo aku pinjemi baju!" kata perempuan tersebut.

Malam itu mereka ditampung di rumah perempuan yang berprofesi sebagai penyedia tempat bilasan, pemandian umum dan ganti baju. Baju yang dipakai Hani lumayan pas, sedangkan yang dipakai oleh Udin cukuplah. Mereka minta ijin untuk bisa menginap sejenak satu malam di tempat itu. Udin pun membayarnya dengan beberapa lembar uang lima puluh ribuan. Perempuan sang penjaga itu pun tak banyak bertanya, mereka disediakan sebuah kamar yang memang kosong. Sambil menunggu baju-baju mereka kering tentunya, mereka harus beristirahat di tempat ini sementara waktu.

Mereka masih menggigil kedinginan. Melihat ibunya yang menggigil kedinginan, akhirnya Udin pun menelusup ke tubuh ibunya. Sehelai selimut berwarna loreng satu-satunya alat penghangat bagi diri mereka, tentunya selain kedua tubuh mereka saling berpelukan. Hani bersandar di dada anaknya. Rasanya nyaman sekali. Padahal ia hampir tiap malam bersandar di situ.

"Bu, emangnya ibu sekarang hamil?" tanya Udin.

"Entahlah, tapi ibu telat. Bisa jadi hamil," jawab Hani. "Tapi lihat aja kalau sebulan ndak ada lampu merah ya berarti hamil. Kenapa?"

"Yaaa....tidak apa-apa," kata Udin.

"Sekarang ceritakan kepada ibu apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Hani.

Udin kemudian menceritakan sedikit demi sedikit ceritanya. Tentang sang naga, tentang perilaku Tung Wongso dan sekte gelap mereka. Ibunya mendengarkan dengan seksama keinginan Tung Wongso untuk menguasai Udin dan kekuatannya, karena ia ingin menjadi lebih dan lebih. Satu-satunya kekuatan yang bisa mengalahkan Tung Wongso adalah kekuatan naga yang sekarang sedang tertidur di dalam tubuhnya. Dan malam ini Tung Wongso ingin memancing kekuatan itu keluar dengan memerawani ke-13 orang gadis. Untuk itulah Udin melakukan itu semua. Mendengar penjelasan itu Hani sedikit bingung sekarang.

"Tapi ngger, Tung Wongso itu selama ini baik sama kita. Ibu ndak percaya kalau sampai terjadi hal seperti ini," kata Hani.

"Yakinlah ibu, bapak sekarang sudah tidak selamat lagi di sana. Ibu mendengar sendiri bukan bagaimana jeritan Tung Wongso ketika marah tadi?" kata Udin.

Air mata Hani tak terbendung lagi. Agaknya benar apa yang dikatakan putranya. Ia telah kehilangan seseorang yang dicintainya. Ia benamkan wajahnya ke dada Udin. Udin pun mendekap ibunya dengan erat. Merasakan kesedihan ibunya, tapi ia juga sedih harus kehilangan bapaknya.

***

"Ke mana kita sekarang?" tanya Hani.

"Kita tak bisa pulang. Udin juga tak bisa sekolah lagi. Mereka ada di mana-mana. Nyawa kita sedang diujung tanduk," kata Udin.

"Trus?"

Udin kemudian dibisiki oleh Dewi Sekartaji, "Pergilah ke kaki Gunung Wilis!"

"Kenapa harus kesana?" tanya Udin.

"Kau akan tertolong kalau sampai ke sana!" jawab Dewi Sekartaji.

"Tapi itu jaraknya jauh!" tanya Udin dengan benaknya.

"Tanya saja kepada ibumu. Ada apa di kaki Gunung Wilis, ia lebih tahu daripada aku," kata Dewi Sekartaji.

"Ibu, ada apa di kaki Gunung Wilis? sang naga bertanya kepada ibu" tanya Udin.

Hani terkejut, "I..itu..., tidak itu hanya pilihan terakhir. Kenapa harus ke sana?"

"Aku bertanya ada apa?" tanya Udin.

Hani menghela nafas. "Itu tempat kakekmu."

Udin mengerutkan dahi. Selama ini, ia tak pernah berbicara atau bertemu dengan kakeknya. Yang ia ketahui ia tak punya kakek ataupun nenek, baik dari ibunya maupun dari bapaknya. Tapi dari sifat penolakan ibunya ia pun penasaran sebenarnya apa yang terjadi.

"Ada apa sebenarnya, bu? Ceritakan kepada Udin. Udin telah cerita semuanya ke ibu," ujar Udin memaksa.

"Ada satu hal yang membuat ibu pergi dari rumah. Itu karena kelakuan kakekmu. Awalnya ia sangat sayang kepada ibu. Sayang sekali. Kami hidup bahagia. Kakekmu ini seorang yang kaya raya di kampung sana. Hanya saja, ia melakukan perbuatan keji kepada ibu. Kakekmu itu biadab. Ia memperkosa ibu pada malam hari. Setelah itu ibu pergi, lari dari rumah dan tak pernah kembali lagi," jelas Hani. Ia menangis kali ini.

"Bapak tahu?" tanya Udin.

Hani mengangguk. Udin menarik nafas panjang. Dipeluknya lagi ibunya. Mereka berdua terdiam cukup lama.

"Mau tak mau kita harus ke sana. Ibu akan aku lindungi dari kakek. Itu pun kalau si tua bangka itu masih hidup," kata Udin dengan penuh amarah.

Entah kenapa perasaan nyaman menyelimuti Hani. Ia memang telah kehilangan Sumitro, tapi tak ada rasa beban kehilangan berlebih. Terlebih ketika Udin telah melindungi dia selama ini. Mereka berdua pun beranjak dari tempat mereka. Menuju Gunung Wilis. Cukup jauh juga. Tapi untunglah dompet Udin masih dibawa walaupun isinya basah semua. Sehingga mereka tetap bisa bertahan hidup walaupun tak banyak.


Di Perjalanan

Hani bercerita banyak tentang masa lalunya kepada Udin. Masa lalu yang kelam sebenarnya. Hani merupakan anak seorang yang kaya raya. Mempunyai ternak lebah madu, dan berhektar-hektar sawah dan ladang. Semenjak kecil Hani selalu dididik oleh ibunya, hingga suatu ketika ibunya meninggal. Setelah ibunya meninggal, mulailah kenakalan ayahnya dimulai. Ayahnya bernama Sugito. Seorang yang cukup sukses menjadi seorang saudagar.

Semenjak kehilangan istrinya Sugito sedikit demi sedikit menjadi orang yang aneh. Ia tertarik kepada putrinya. Dan Hani tak tahu kalau ayahnya ini setiap saat selalu membayangkan dia dientot dengan tubuh kecilnya itu. Lambat laun ciuman ayahnya bukan sekedar ciuman seorang tua kepada anaknya, tapi lebih kepada orang yang disuka. Tepat ketika Hani lulus SD, dimulailah malam yang tak akan terlupakan itu.

Hari itu hujan lebat. Malam sudah larut. Sugito duduk di bale-bale. Hani baru saja pulang main dari rumah temannya. Gadis kecil itu kehujanan. Walaupun tubuhnya kecil, tapi payudaranya mulai membentuk. Tipikal anak yang masuk ke masa puber. Ia baru haidh bulan kemarin. Itu adalah haidhnya yang pertama kali. Dan Sugito yang nafsunya juga belum ada pelampiasan, menelan ludahnya. Ia seakan tak percaya bahwa apa yang dilihatnya ini adalah putrinya. Cantik, imut, dengan celana pendeknya bisa terlihat paha yang mulus. Persis seperti ibunya.

"Hani, bapak mau kasih kamu hadiah, kamu kan lulus hari ini," kata Sugito.

"Beneran pak? Asiiikk!" kata Hani kegirangan.

"Sekarang kamu mandi dan siapin makan!" kata Sugito.

Tak ada yang curiga dengan sikap Sugito. Hani melakukan aktivitas seperti biasa. Sugito kemudian menyuruh Bagio penjaga kebunnya untuk libur, juga beberapa pesuruh lainnya, sehingga rumah benar-benar sepi. Sugito sudah merasa aman. Ia lebih awal mengunci semua pintu, kemudian akhirnya menemani anaknya makan malam.

"Setelah ini kamu mau sekolah di mana? Bapak akan masukin kamu ke sekolah yang kamu mau," kata Sugito.

"Hmmm...ke SMP negeri aja pak," kata Hani.

"SMP Negeri ya? Tapi itu di kota. Perlu turun gunung," kata Sugito.

"Tapi gak apa-apa kan? Hani bisa dianter ama Pak Bagio kalau mau ke sana," jawab Hani.

"Ya iya sih," kata Sugito. Memang Bagio setiap hari mengantarkan hasil panen ke kota. "Ya udah, setelah makan ikut bapak ya?" kata Sugito.

Setelah makan malam Sugito mengajak Hani ke kamarnya. Di kamarnya ini ada foto ibu Hani yang sudah meninggal.

"Bapak akan menghadiahkanmu semua ini," kata Sugito.

Hani tampak tertegun. Semua barang-barang peninggalan ibunya ada di sini. Mulai dari baju, perhiasan, semuanya.

"Bapak kepingin kamu menjadi ibu kamu, Hani," kata Sugito.

Hani yang masih polos dan lugu itu tak mengerti. Ia hanya mengangguk saja, "Hani sayang sama ibu dan bapak. Tentunya kalau menjadi seperti ibu Hani mau aja."

"Setiap hari ibu selalu menemani bapak. Apa kamu mau?" tanya Sugito.

Hani mengangguk, "Iya, tentu saja."

"Tapi ada yang lain, tidur ibu tidak biasa," kata Sugito.

Kening Hani berkerut, ia heran, "Tak biasa kenapa?"

"Ibumu kalau tidur tidak pakai baju, sama seperti bapak juga tidak pakai baju. Apa kamu mau?" tanya Sugito.

Hani agak ragu menjawab, "Memangnya seperti itu ya?"

"Iya, kalau kamu kepengen jadi ibumu ya harus seperti itu," kata Sugito.

Hani tak menjawab. Ia berpikir. Ternyata ibunya punya kelainan seperti itu. Tapi ia merenung kembali tentang ibunya yang selalu sayang kepadanya, selalu menjaganya, mengajarinya banyak hal. Kebaikan-kebaikan dari ibunya membuat ia kemudian sangat ingin seperti ibunya. Kalau memang bapak dan ibu tidur tanpa busana, maka ia juga harus memberikan hal itu kepada bapaknya. Sebab ia tahu kalau bapaknya sangat kehilangan ibunya.

"Baiklah pak, Hani juga akan lakukan seperti apa yang ibu lakukan," kata Hani.

"Ya sudah, bapak juga tidak memaksa," kata Sugito. "Bapak mau tidur dulu, sudah malam."

Hani masih berdiri mematung saat bapaknya melepaskan baju satu per satu. Dia bisa melihat kemaluan bapaknya yang sudah tegang. Mungkin karena sudah terlalu lama berfantasi tadi. Niat bejat Sugito sudah tertata rapi. Tinggal sedikit lagi ia bisa memerawani anak semata wayangnya. Sugito pun naik ke ranjangnya dan menendang selimutnya.

"Lho, katanya kamu ingin seperti ibumu. Ayo sini!" ajak Sugito.

Hani agak ragu. Namun benaknya entah mengapa menurut saja seperti apa yang dikatakan bapaknya. Hani mulai membuka bajunya satu per satu. Tubuhnya yang masih hijau itu membangkitkan gairah Sugito. Dan penisnya kian tegang melihat pemandangan itu. Memek Hani yang belum ditumbuhi bulu itu sangat menggairahkan. Kalau Sugito tidak mampu menahan diri, mungkin sekarang ia sudah menarik anaknya dan disetubuhi saat itu juga. Tapi ia tak ingin melakukan itu terlebih dahulu.

Hani kemudian masuk ke selimut. Ia masih bingung. Selimut itu masih terasa dingin. Namun tiba-tiba kehangatan mulai datang ketika Sugito mulai memeluknya. Hani masih polos, ia tak mengerti semua itu. Baginya pelukan itu adalah pelukan biasa seorang bapak kepada anaknya. Tapi bagi Sugito tidak. Itu adalah pelukan birahi. Sugito memiringkan badan putrinya itu sehingga sekarang tubuh Hani berada dalam pelukannya. Dada anak itu sekarang menempel di dada bapaknya.

Berdebar jantung Sugito. Ia mengecup kening anaknya. "Bapak sayang sama kamu nduk."

"Hani juga pak," kata Hani.

Kemaluan Sugito makin tegang. Hani agak tidak nyaman dengan penis besar yang mulai berkedut-kedut menempel di perutnya. Sugito makin erat memeluk anaknya. Dan Hani pun juga makin erat memeluk ayahnya. Kehangatan mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Desir-desir aneh mulai merasuk ke dadanya.

"Hani, bisa minta tolong?" tanya Sugito.

"Ada apa pak?" tanya Hani.

"Coba kamu pegang itunya bapak! Trus kamu urut ya," kata Sugito.

Hani melirik ke bawah. Ia bisa rasakan rambut yang lebat tubuh di sekitar kemaluan bapaknya. Hani perlahan-lahan mulai memegang batang yang terasa keras itu.

"Keras banget pak?" kata Hani.

"Iyo nduk, keras banget," kata Sugito. "Biasanya kalau malam, ibumu sering ngurut. Coba kamu yang ngurut sekarang!"

Hani menurut. Ia mengurut batang ayahnya itu perlahan-lahan disertai dengan remasan-remasan. Betapa melayangnya perasaan Sugito sekarang. Fantasinya sekarang sudah menjadi kenyataan. Penisnya sekarang dengan lembut dibelai anaknya, dan diurut sampai ke pangkalnya. Hani sama sekali tak mengetahui permainan apa yang dimainkan oleh Sugito. Sugito malam ini bertekad untuk mendapatkan keperawanan Hani. Dibelainya rambut Hani, setan kini sudah meracuni otak Sugito. Ia mulai mencium anaknya itu, dibibir.

Hani agak aneh dengan perlakuan ayahnya ini.

"Kamu nggak usah bingung. Ibumu juga seperti ini tiap malem. Kamu diam saja ya nduk," kata Sugito.

Hani diam saja. Ia hanya bisa menerima ciuman dari Sugito. Ciuman-ciuman itu entah kenapa makin lama makin terasa enak. Lidahnya pun kini sedang dihisapi oleh Sugito. Inilah awal mula Hani merasakan ciuman. Dan awal mula dia bersenggama tentu saja. Karena terlalu keenakan ketika bibir Hani berpisah dengan bibir Sugito, ia kaget. Matanya sedari tadi memejam, tapi tangannya masih terus aktif mengurut penis Sugito.

"Bapak mau nyusu ke kamu nduk, tahan ya!" kata Sugito.

Hani melihat bapaknya mencaplok pentilnya. Perasaan geli menjalar Hani sampai ke ubun-ubun. Tak cuma itu saja. Bahkan ia mencengkram kuat penis Sugito begitu bagian-bagian sensitifnya disentuh oleh lelaki bejat ini.

"Pak, geli pak!" kata Hani.

Sugito makin buas mengelamuti dada anaknya yang baru tumbuh itu. Entah sejak kapan ia menjadi pedofilia. Tapi yang pasti nafsunya ini karena sudah lama ia tak mendapatkan hal tersebut dari istrinya yang sudah meninggal. Hani berusaha menahan rasa geli ini, ia takut kalau ayahnya marah ketika diberhentikan. Hani tahu tabiat ayahnya kalau marah. Ia tak mau itu terjadi.

Sugito makin bernafsu dan ia pun sekarang sudah berada di atas tubuh Hani. Diciumnya kembali Hani. Bibir mereka kembali menyatu walaupun begitu Hani masih pasif. Ia tak mengerti bahwa ini adalah french kiss. Tubuh Hani yang kecil itu entah kenapa bisa menahan berat badan Sugito. Dan sesuatu menggelitik di memeknya. Ya, memeknya mulai basah dan ia tak tahu apa sebabnya. Sementara tangannya masih mengurut penis Sugito, Sugito makin bersemangat dan ia lalu sedikit berlutut.

"Nduk, bapak ingin masukin ini ke sini," kata Sugito sambil menunjuk kepala penisnya dan memek Hani.

"Tapi pak, apa bisa?" tanya Hani.

"Bisa dong, awalnya agak sakit tapi nanti kamu bakal terbiasa," kata Sugito.

Hani tak dapat berbuat apa-apa, Tak butuh waktu lama Sugito sekarang memainkan kepala penisnya ke bibir vagina Hani yang masih kecil. Sugito cukup sabar dan telaten menggesek-gesek hingga Hani benar-benar banjir di bawah sana. Cairan kewanitaan perawan milik Hani mulai membasahi kepala penis Sugito. Cairan itu mengkilat terkena cahaya lampu kamar. Hani melirik ke lukisan dan foto ibunya. Ia memang mengagumi ibunya dan ingin sepertinya, tapi apakah dengan cara ini juga ia harus menjadi ibunya? Melayani ayahnya.

Sugito lalu mulai menekan kepala penisnya untuk masuk.

"Ahhkk...bapaaakk...sakit paaak!" teriak Hani.

Kepala penis Sugito masuk. Sugito didera rasa nikmat yang luar biasa. Ia benar-benar akan memerawani anaknya malam itu. Hani menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit, ngilu dan perih. Memeknya yang selama ini ia jaga telah dimasuki benda asing. Dan benda itu berkedut-kedut. Memeknya pun membalas dengan kedutan-kedutan yang makin lama menambah rasa kenikmatan kepada batang Sugito. Sugito sendiri menahannya, ia takut kalau memek putrinya bakal robek menerima penisnya begitu saja. Maka ia cukup sabar menunggu memek Hani terbiasa.

"Sing sabar yo nduk, tahan. Kalau sakit bilang, biar bapak tidak gerak," kata Sugito.

Hani mengangguk.

Kemudian setelah beberapa saat Hani tidak mengeluh lagi, Sugito menekan lagi. Hani mencengkram lengan Sugito dan membekaskan cakaran di sana. Sugito langsung mencium bibir Hani. Pantat Sugito menekan lagi dan saat itulah rasa sakit yang amat sangat diterima oleh Hani. Selaput daranya pecah. Dan penis Sugito langsung meluncur tertelan oleh cengkraman liang senggama Hani yang sempit. Penisnya berkedut-kedut, tanpa digoyang pun rasanya sangat nikmat. Memek Hani makin mencengkram penis Sugito keras sekali.

"OOhh...nduuukk...nonokmu uwenak!" rancau Sugito.

"Paaak...sakiiit...udah ya pak?" kata Hani.

Seakan tak mendengarkan permohonan putrinya, Sugito pun kemudian menarik penis dan memasukkannya lagi. Kini ia benar-benar menyetubuhi Hani. Digenjotnya memek perawan itu. Hani kesakitan. Ia histeris. Penis bapaknya kini benar-benar telah merobek memeknya. Darah keperawanan itu pun menjadi pelicin dari gesekan kedua kemaluan yang berbeda ukuran itu. Mata Hani mengeluarkan air mata. Entah kenapa perasaan dari dalamnya merasa bersalah. Memang ia masih lugu dan tak tahu kalau ini namanya bersetubuh. Dan ia bingung apa yang harus dilakukannya. Sementara ia melihat wajah bapaknya yang serasa dilanda nikmat tiada tara.

Sugito makin kesetanan menggenjot memek perawan itu. Hingga entah kenapa ia ingin mengeluarkan benih-benih anaknya saat itu. Mungkin karena saking nikmat dan saking birahinya. Ledakan sperma terbanyak yang pernah ia semprotkan ke rahim wanita. Bahkan istrinya dulu pun tak pernah mendapatkan sperma sebanyak ini di rahimnya. Mata Sugito terpejam menikmati orgasme yang dahsyat. Sementara itu Hani pun merasakan perasaan geli dan hangat di dalam rahimnya. Ia bingung antara merasa sakit dan enak. Namun ingatannya tak tertuju kepada rasa enak, tapi kepada rasa sakit. Hani bahkan mengingat ketika penis itu masuk, sakitnya luar biasa. Sugito lalu mencabut penisnya perlahan-lahan.

Lelaki ini bisa melihat penisnya bercampur antara lendir dan darah. Melihat darah itu Hani kaget. Ia pernah mendengar percakapan dari teman-temannya tentang selaput dara yang akan sobek ketika malam pertama. Ia tak tahu apa itu selaput dara tapi yang pasti setiap orang yang menikah pasti akan melakukannya. Hani pun tersadar sekarang, ia sedang diperkosa. Diperkosa ayahnya.

"Bapak, apa itu...? Kita sebenarnya sedang ngapain?" tanya Hani.

"Bapak sedang ngentot nduk, bapak barusan ngentot, ngentot ama kamu," jawab Sugito.

"Ngentot itu seperti yang dilakukan suami istri kah?" tanya Hani.

"Iya nduk," kata Sugito.

"Jadi...jadi bapak? Bapak barusan....TIDAAAKK!!" menangislah Hani. Tangisannya pecah. Ia pun ingin bangkit. Tapi Sugito langsung menyambar lengannya. Hani mulai sadar, adegan-adegan ini semuanya pernah ia lihat di tv-tv. Adegan perkosaan. Tapi sekarang ini yang dihadapi bukan pria asing, melainkan bapaknya sendiri.

Tubuh Hani yang masih kecil itu ringan sekali. Sugito tak perlu banyak tenaga agar gadis itu masih bisa dalam pengaruhnya. Dibantinglah tubuh Hani ke atas ranjang. Pipinya kemudian ditampar. Seketika itu dunia serasa berputar. Hani tak sadar. Sugito kini kesetanan. Penisnya yang masih keras itu kembali mengobel memek putrinya. Tubuh putrinya dibolak-balik, digenjot entah sampai berapa kali sperma itu keluar dari batang penisnya.

Setelah beberapa jam kemudian Hani tersadar. Ia merasakan badannya lengket semua. Lendir-lendir sperma tampak mulai mengering di beberapa bagian tubuhnya. Memeknya sangat perih, entah berapa kali bapaknya menyetubuhinya malam itu. Dengan langkah terseok-seok ia mencoba bangkit dan berjalan meninggalkan kamar bapaknya. Sekarang ketika ia melihat wajah ibunya di foto ia merasa malu, malu sekali.

Hani mengambil pakaian seadanya. Ia masih menoleh ke arah Sugito yang terkapar puas. Kemaluan Sugito sudah mengecil tapi di sana masih ada bercak darah keperawanan Hani. Hani memakai bajunya, ia bertekad untuk pergi, pergi jauh. Ia menjadi takut berada di rumah.

Hujan turun makin deras. Hani kemudian keluar dari rumah. Ia menangis sejadi-jadinya. Dengan bertelanjang kaki ia pergi. Saat itulah Pak Bagio penjaga kebunnya memergoki dia. Melihat kondisi Hani berdarah-dara di sekitar kemaluannya. Pak Bagio segera menolongnya, ia hendak bermaksud membawa Hani balik ke rumah. Tapi Hani bercerita tentang apa yang terjadi. Pak Bagio termasuk orang yang baik, ia sangat terkejut terhadap apa yang terjadi. Segera saja ia membawa Pak Bagio ke rumahnya.

"Kumohon pak jangan bawa aku ke rumah lagi, aku takut, aku takut!" kata Hani histeris.

"Iya, tenang saja. Kamu aman di sini. Besok bapak akan mengirim kamu ke teman bapak. Ia bisa menolongmu," kata Pak Bagio.

Malam itu Hani tinggal di rumah Pak Bagio. Istri Pak Bagio segera menolongnya dan membesarkan hatinya. Ia mengobati luka-luka Hani. Selama tinggal di rumahnya Pak Bagio, Hani dirawat oleh istrinya Pak Bagio. Pak Bagio tutup mulut terhadap keberadaan Hani. Sedangkan Sugito kebingungan. Putrinya kabur. Ia bahkan bingung kalau sampai ditemukan polisi, maka ia pasti akan diseret ke bui karena tindakannya itu. Akhirnya ia pun pusing mencari Hani ke sana kemari.

Pak Bagio pun melarikan Hani ke tempat lain, yang sangat jauh dari rumahnya. Dia pun menjamin agar jangan sampai Sugito menemukannya lagi. Di sana Hani diberi identitas baru untuk mengawali kehidupan barunya. Sayangnya hal itu adalah kontak terakhir dia dengan Pak Bagio. Ada kabar bahwa dia kemudian diketahui telah menolong Hani sehingga cacat karena dihajar oleh Sugito, tapi itu hanya kabar angin.

****

Setelah Hani menceritakan masa lalunya kepada Udin, Udin pun menjadi tahu masa lalu ibunya yang kelam itu. Jadi akhirnya ia pun mengerti tentang bagaimana perasaan ibunya kalau kembali ke rumahnya. Faktanya sekarang adalah Udin mencintai ibunya itu. Ia bisa merasakan rasa gemetaran di badan Hani. Dipeluknya tubuh Hani dengan erat. Seolah-olah mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Mendapat perlakuan itu, Hani mulai sedikit lebih lega.

Mereka berdua nebeng di sebuah truk pengangkut barang yang tujuannya dekat dengan Gunung Wilis. Paling tidak untuk sampai ke tujuan tidak terlalu lama. Tapi walaupun begitu mereka bakal semalaman berada di bak truk.

"Tak ada yang perlu ditakutkan, naga di dalam tubuhku berkata bahwa Tung Wongso dan anak buahnya tidak akan mengejar kita sampai di sana. Sebab mereka tak tahu bahwa sebenarnya ibu sebenarnya berasal dari sana. Untuk sementara kita bisa aman, sampai nanti keadaan sudah membaik kita akan balas mereka," kata Udin.

"Bagaimana membalas Tung Wongso? Sedangkan mereka orangnya kuat-kuat," tanya Hani.

"Aku akan cari cara agar naga ini bisa bangkit sehingga kekuatannya akan bisa membantuku bu," jawab Udin.

"Dan untuk itu tidaklah mudah. Mencari 13 orang perawan itu bukan perkara yang enteng," kata Hani. "Lagipula, kamu tak pernah dekat dengan wanita manapun bukan? Ibu saja tak pernah tahu kalau kamu pacaran dengan teman wanitamu."

Udin merasa kata-kata ibunya ini telak.

"Hanya ibu satu-satunya wanita yang engkau cintai bukan? Udin, cah bagus...kalau boleh ibu ingin hidup tenang. Bukan pelarian seperti ini," kata Hani.

Mendengar kata-kata ibunya Udin pun tersentuh. Memang benar, selama ini ibunyalah satu-satunya wanita yang ia cintai. Dan oleh karena itu, mengabulkan keinginan orang yang dicintai tentulah salah satu cara yang tepat untuk saat ini.

"Yah, semoga kita memang dapat jawaban di Gunung Wilis," kata Udin.

Perjalanan ini menghabiskan waktu cukup lama dari yang diperkirakan. Mereka tiba di Desa Kelir ketika hari sudah sangat siang. Panas matahari yang terik membuat tenggorokan Udin kering. Tak ada bekal uang. Uang mereka habis untuk membayar sopir truk tadi. Hani lupa-lupa ingat jalan pulang ke rumahnya.

Terpaksa mereka mengikuti jalan berbatu, mendaki. Melewati hutan pinus. Lasa lapar dan dahaga mulai menyerang. Mereka terus mendaki dan mendaki, melewati jalan yang berkelok-kelok, hingga kemudian sampai ke sebuah desa. Itulah Desa Kelir. Desa ini ada di bagian Gunung Wilis. Di sini ada tempat outbond yang biasa dipakai oleh anak-anak sekolah dan mahasiswa untuk melaksanakan kegiatan mereka, biasanya ospek.

Hani teringat lagi akan masa kecilnya. Dia sepertinya pernah melewati jalanan itu. Karena sangat hafal, ia seperti dituntun untuk sampai ke sebuh jalanan setapak yang membelah hutan. Agak jauh dari tempat itu Hani melihat sebuah rumah dengan pekarangan yang tak begitu luas. Pekarangan itu ditumbuhi pohon jeruk, mangga dan durian.

"Ini rumah Pak Bagio, penjaga kebunku," ujar Hani.

Udin dan Hani pun akhirnya tiba di depan rumah. Hani mengetuk. Tak ada jawaban. Ia mengetuk lagi, tak ada jawaban. Ia pun akhirnya pergi dari rumah itu.

"Aneh, kemana mereka?" gumam Hani.

"Kita langsung saja bu, ke rumah ibu dulu," kata Udin.

Tiba-tiba Hani mencengkram lengan Udin. Agaknya mendengar kata rumahnya membuat Hani ketakutan.

"Sudah, semua akan baik-baik saja. Toh belum tentu juga si tua bangka itu masih hidup," kata Udin sedikit menghibur.

Hani kemudian menunjukkan jalan ke arah rumahnya. Rutenya tak jauh dari tempat itu. Hingga kemudian mereka bertemu dengan pekarangan yang sangat luas sekali. Beberapa tumbuhan bunga mawar, dahlia, edelweis serta bunga matahari menghiasi pekarangan itu. Di pintu masuknya terdapat tulisan "Flower Garden Ternak Lebah". Pekarangan itu ada bagian yang mencolok yaitu sebuah pohon yang sangat besar. Entah sudah berapa tahun usianya. Pohon ini seakan menjadi penanda kediaman Sugito.

Mereka berdua berjalan perlahan hingga sampai di mulut pagar. Hendak saja mereka akan membuka pintu tampak dari kejauhan seseorang berjalan dengan tongkat menghampiri mereka. Hani tampak mengenali orang itu.

"Pak Bagio??!!" seru Hani.

Orang yang pincang itu terkejut. Matanya tampak berkaca-kaca, ia sangat mengenal betul Hani, walaupun mungkin sekarang usianya sudah tidak muda lagi. Tongkatnya pun terjatuh. Hani langsung memeluk Pak Bagio, orang yang menyelamatkannya dulu.

"Kemana saja kamu neng? Bapak sudah bilang jangan kembali," kata Bagio.

Mereka berdua pun kemudian melepas kerinduan seperti anak dan orang tuanya. Ketika ditanya ia bersama siapa, Hani berbohong, "Itu suamiku."

Pak Bagio pun kemudian mengangguk-angguk. Dari wajahnya yang tua itu muncul keceriaan.

"Bapak akan bercerita sedikit tentang juragan Sugito," kata Pak Bagio. "Tapi sebaiknya masuk saja ke rumahmu!"

"Tapi...nanti....," Hani ingin melanjutkan tapi dipotong oleh Sugito.

"Tidak, tidak apa-apa. Orangnya sudah mati bertahun-tahun yang lalu," kata Pak Bagio. "Dia jadi gila, lalu mati. Sedangkan ahli warisnya tak ada, jadi hartanya aku kelola sendiri. Aku sudah merasa bahwa suatu saat nanti neng Hani akan datang."

"Lalu bapak sendiri? Kenapa bisa sampai seperti ini?" tanya Hani.

"Ini karena aku berusaha melindungimu. Aku dianiaya oleh juragan Sugito hingga seperti ini. Keluargaku dibantai, hingga aku sendirian. Tapi aku berhasil menolongmu. Aku tak menyangka kamu punya suami setampan ini," kata Pak Bagio dengan mata yang berbinar. "Rasanya baru kemarin aku menolongmu dari dia, sekarang kamu juga sudah jadi wanita yang cantik."

Mereka kemudian masuk ke dalam rumah. Ketika masuk, Hani melihat segalanya banyak yang berubah. Perabot-perabotnya tidak seperti dulu lagi. Ternyata semuanya diganti oleh Pak Bagio, agar pembawaan sial dari Sugito tidak ikut ada. Sugito sendiri mati setelah mengalami depresi. Kuburannya tidak di sekitar tempat ini, tapi dikuburkan di kota, dekat dengan rumah sakit jiwa. Banyak yang diceritakan oleh Pak Bagio, dan yang terakhir seluruh kekayaan Sugito pun akhirnya diserahkan langsung kepada ahli waris satu-satunya yaitu Hani.

Dari sinilah kehidupan Udin dan Hani berubah. Mereka pun mendapatkan kekayaan dari warisan Sugito. Udin pun kemudian beternak lebah, mengurusi kebun dan ladang hingga ia punya usaha sendiri sekarang. Dan Hani sekarang menjadi istri yang baik bagi Udin anaknya sendiri.

Sekelumit perjalanan ini untuk sementara terhenti sesaat di sini. Niat Udin untuk membahagiakan ibunya pun tercapai. Mereka tidak lagi diburu orang, tidak lagi dikejar-kejar orang. Bahkan ketika kelompok hitam pimpinan Tung Wongso ikut dalam kerusuhan Mei 1998 Udin sama sekali tak tahu. Ia cuma melihat dari berita televisi dan mendengar dari radio berita presiden Soeharto lengser. Tapi ia sudah menduga ada campur tangan konspirasi besar terhadap kekacauan pemerintahan ini. Terlebih korban-korban yang tidak terhitung hal itu menandakan ada sesuatu dari peristiwa ini yang tidak diketahui oleh publik.

****

Hari ini genap satu tahun mereka tinggal di tempat itu. Udin baru saja selesai memeras madu dan dimasukkan madu itu ke dalam kendi-kendi yang sudah ia siapkan untuk dikirim ke kota. Ia melihat Hani sedang melipat baju. Hani tampak cantik dengan balutan daster pendek. Bahkan Udin bisa melihat kemulusan paha Hani. Ia pun duduk di kursi rotan yang berada di depan istrinya itu.

Melihat suaminya yang menontonnya, Hani sedikit risih.

"Apa sih? Lihat-lihat terus?" goda Hani.

Udin pun balas menggoda, "Aku penasaran, bune ini sebenarnya bisa hamil ndak sih?"

"Ya bisalah, tiap sebulan sekalikan mens, masih bisa hamil," kata Hani.

"Kan pasti juga aku semprotkan di dalam, koq belum hamil-hamil juga ya?" tanya Udin.

Hani tertawa terkekeh-kekeh, "Kamu ini, lugu. Kalau kepingin hamil ya jangan digarap tiap hari atuh. Dijaga itu kantong spermanya biar matang, trus lakukan pada hari yang pas. Yaitu pada masa subur. Lha, selama ini kamu garap aku tiap ada kesempatan. Ya mana bisa jadi??"

Udin tersenyum, "Iya ya. hihihi..."

"Naah...kalau udah begini pasti merencanain sesuatu," kata Hani.

"Dua hari ini, aku akan puasa dulu, kan sepertinya pas ama masa suburnya bune," kata Udin.

"Koq kamu tahu?" tanya Hani.

Udin lalu beranjak kembali ke luar, "Akukan juga punya kalender."

Hani mencoba ingin melihat seberapa sungguhkah Udin berpuasa. Eh ternyata beneran. Hari ini ia tak minta jatah. Besok juga tak minta jatah. Udin pun lebih banyak makan semangka dan buah-buahan. Sudah pasti produksi spermanya bakal banyak kalau sampai ia bersetubuh dengannya nanti. Dan entah kenapa Hani pun juga mulai horni.

Kemudian waktu dua hari pun habis. Udin tampak sarapan dengan lahapnya. Hani senang sekali melihat anaknya ini bisa makan selahap itu. Setelah makan kemudian Udin membantu Hani untuk bersih-bersih.

"Tumben bantu-bantu, ada maunya nih kayaknya," goda Hani.

"Yang menggoda ini mau nanggepin ndak?" tanya Udin.

Hani berusaha mengalihkan perhatian. Ia mencuci perabotan dapur. Tiba-tiba Udin sudah berada di belakangnya. Pantat bahenol Hani berhimpitan dengan penis Udin. Udin mengusapi lengan Hani, Hani yang sudah terangsang dari tadi pun akhirnya tak kuasa. Diserahkanlah leher jenjangnya kepada Udin. Udin pun mencium leher itu, dicipoknya, disedotnya hingga membentuk cupangan merah.

"Ohh...suamiku....hhmmmhh...," keluh Hani.

Udin menaikkan daster Hani. Sekali menarik ke atas terpampanglah susu ibunya yang montok. Hani memang sudah siap untuk digarap oleh anak sekaligus suaminya itu. Ia sama sekali tak berpakaian dalam. Dia juga tahu kalau Udin sudah benar-benar menunggu hari ini. Hani pun membantu melepaskan kaos dan kolor Udin. Sekejap saja mereka sudah telanjang bulat. Udin langsung melahap bibir sensual ibunya.

Hani langsung melompat untuk digendong oleh Udin. Udin menangkapnya dan membopongnya hingga ke matras yang berada di ruang tamu. Mereka berguling-guling, kedua bibir mereka menempel, saling menjilat, menghisap dan menelan ludah lawan mereka. Udin menatap mata Hani. Kedua mata mereka beradu mengisyaratkan kehangatan. Tubuh mereka bersentuhan, kulit mereka seakan benar-benar melekat.

Hani yang tadi sudah horni sekarang berada di atas. Ia menaikkan pantatnya sedikit dan memposisikan kepala penis Udin untuk masuk ke liang senggamanya. Ia pun menurunkan pantatnya, Udin langsung mendapatkan kenikmatan ini. Ia mengeluh juga.

Besar dan panjangnya penis Udin membuat Hani tak bisa bergerak naik turun. Ia pun menggoyang penis Udin yang sudh di lubangnya itu maju mundur. Hal itu membuat sensasi yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata kepada Udin. Ia meremas-remas toket Hani. Kedua insan ini lalu berpelukan. Lagi-lagi mereka berpanggutan, sementara pantat Hani terus maju mundur. Makin lama makin cepat.

Gerakan menjepit dan maju mundur ini benar-benar membuat Hani tak bisa mengontrol diri. Ia pun terkulai lemas setelah ledakan dahsyat orgasme yang ia terima. Setelah orgasmenya, Hani masih berada di posisinya. Ia mengatur nafas sejenak.

"Koq udahan?" tanya Udin.

"Aku sudah horni dari tadi," jawab Hani.

"Padahal aku nggak ngapa-ngapain lho," kata Udin.

Hani tertawa kecil. "Ayo suamiku, keluarkan pejuhmu yang banyak itu. Semprot rahimku. Ayo!"

Udin berguling ke kanan. Ia sekarang menguasai Hani. Penisnya tak tercabut, masih menempel. Udin memeluk tubuh ibunya. Ia benar-benar menghimpit ibunya dan hanya diberikan kebebasan untuk bergeser di bawah sana. Begitu ia naik turunkan pantatnya Hani merancau.

"Ohh....iyaaa...cah bagguuuuusss...hhhmmm...terusss....yang cepat!" kata Hani.

Udin benar-benar bergerak cepat. Pantatnya naik turun membuat suara kecipak di antara kemaluan mereka semakin terdengar. Hani merem melek, menikmati sensasi genjotan Udin. Udin makin cepat dan dibantu dengan menyusu kepada Hani, ia tak berhenti walau sedetik.

"Ohh.....Hani...eeehhkkk...enak bang...ngeeett!!!" seru Udin.

"Iya, Diiiinn.....aku juga enak sayang.....ohhh.....koq beda ya....seperti sebelum-sebelumnya. Ini lebih...lebih enak.....!!!" kata Hani.

Padahal tak ada yang istimewa dengan peristiwa ini. Mereka sering bercinta seperti ini. Tapi itu semua karena mereka punya satu cita-cita yang sama dan masing-masing punya cinta. Oleh karena itulah gaya percintaan mereka boleh dibilang sangat hot. Mereka lebih senang kelenjar-kelenjar syaraf terus menstimulus otak mereka. Memberikan kenikmatan setiap gesek kulit kemaluan.

Udin terus bergoyang hingga buah pelernya menepuk-nepuk belahan vagina Hani. Hani makin merasakan bahwa penis Udin makin mentok di dalam sana. Ia bisa merasakan bagaimana penisnya diremas-remas, dan sepertinya ia juga akan keluar. Produksi spermanya mulai bekernya. Penisnya makin keras. Kerasnya benda ini bisa dirasakan oleh Hani. Dan Hani tahu bahwa putranya dan juga suaminya ini sebentar lagi sampai.

"Buu...ohhh....aku.....keluaaaaarrr!" jerit Udin.

Inilah saat-saat yang ditunggu oleh Hani, semprotan hangat sperma anaknya. Sekali, dua kali, tiga, empat, limat enak, tujuh, delapan. Ia bisa merasakan kemaluannya meremas-remas batang penis anak yang seharusnya ia didik dengan baik.

"Ohh...ahkk...," Hani memeluk erat Udin. Erat sekali seakan tak mau lepas.

"Enak ya bu kalau rahimnya disemprot begitu?" tanya Udin.

"Iya, nikmat pokoknya. Udah ah, ambilin bantal sejenak," kata Hani.

Udin mengambil bantal kecil yang ada di sebelah matras. Ia mencabut penisnya dari liang senggama Hani. Hani mengangkat sedikit pinggulnya dan meletakkan bantal itu ke pinggangnya.

Udin agak kebingunan dengan tingkah ibunya ini.

"Kata orang biar cepet punya anak harus begini setelah disemprot," kata Hani.

Udin tersenyum. Menurutnya hubungan intim yang baru saja dia lakukan tak ada variasi. Tapi, entah kenapa ia cukup puas. Hani yang sekarang tidak seperti Hani yang dulu. Ibunya sudah 'klimaks to the top'. Sukar diungkapkan dengan kata-kata. Udin kemudian menyelimuti Hani dengan selimut yang sudah ada di tepi matras.

"Tidur dulu ya bu, Udin mau ke ladang sebentar," kata Udin.

Hani mengangguk. Mereka berciuman hangat sebelum berpisah.

Kelahiran Devita

Perut Hani makin membesar. Kehamilan ini tentu saja disambut gembira olehnya. Akhirnya hamil juga, walaupun mungkin ada resiko karena usia Hani sudah terlalu tua untuk kehamilan. Oleh karena itulah kehamilan ini benar-benar dijaganya. Udinlah yang selalu siaga. Apapun yang diinginkan oleh istrinya pasti dituruti. Istrinya nggak boleh capek, nggak boleh nyuci, nggak boleh pekerjaan yang berat-berat. Hani pun makin cinta ama suaminya itu.

Seperti pada hari itu, ketika kehamilan sudah masuk bulan ke tujuh. Perut Hani makin besar. Udin menciumi perut istrinya itu. Anak yang mereka tunggu-tunggu akan lahir dua bulan lagi. Perut Hani bergerak-gerak, sepertinya jabang bayi yang ada di dalam sana menendang-nendang.

"Bu, anak kita menendang," kata Udin begitu senangnya.

"Hehehe, iya. Aku bisa merasakannya," kata Hani. Udin kemudian berdiri. Ia lebih tinggi dari ibunya sekarang. Bahkan cenderung lebih tinggi.

"Aku ingin tahu rasanya bercinta dengan wanita hamil," kata Udin. Ia selama ini tak pernah menyentuh Hani semenjak tahu Hani hamil.

"Yakin? Perasaan hari-hari kemarin takut banget," kata Hani.

"Tapi entah kenapa melihatmu rasanya seksi sekali," kata Udin.

Hani meraba tonjolan di dalam celana Udin. "Oh...udah on ya? Yakin?"

Udin agak bingung juga, "Bingung."

"Kalau kamu takut nggak apa-apa, aku bisa servis dirimu seperti biasanya," kata Hani.

Udin menggeleng. "Nggak bu, aku ingin....beneran. Sekali ini saja. Aku ingin merasakannya."

"Aku sih nurut apa kata suamiku," jawab Hani.

Udin pun mulai mendekatkan wajahnya ke ibunya. Perutnya terhalang perut Hani yang membusung. Mereka berdua bertemu bibir dengan bibir. Hani tak memakai baju yang susah dilepas. Ia memakai daster hamil, sehingga dengan sedikit ditarik daster itu sudah lepas. Terpampanglah tubuh mulus Hani yang hanya dibalut pakaian dalam dengan perut yang sudah membusung.

"Susu ibu mulai besar ya?" kata Udin.

"Iya, kan mulai ada ASInya," jelas Hani.

Udin mengulurkan tangannya ke punggung wanita itu untuk melepaskan pengait branya. Dengan satu gerakan bra yang membungkus toket yang sudah berisi itu terlepas, hingga terpampanglah sepasang buah dada. Bagian aerolanya membesar, warnanya pun lebih gelap. Itu pertanda bahwa memang ada isinya di dalamnya. Tak butuh waktu lama untuk Udin segera menyusu ke tempat dulu ketika kecil ia menyusu.

"Ohh....suamiku," desahan Hani. Ia memeluk kepala Udin yang membenamkan wajahnya ke toketnya. Hani pun mundur ke belakang dan duduk di sofa. Udin terus mengenyot dan menyedoti air susunya. Rasanya sedikit getir dan asin. Mungkin memang karena anaknya belum lahir. Tapi ada rasa-rasa gurih yang dirasakan ketika air itu memenuhi mulutnya.

Udin membantu melepaskan celana dalam Hani. Di belainya perut wanita hamil ini. Kulitnya mulus, kencang dan Udin bisa merasakan sesekali perut itu bergerak. Janin yang ada di dalamnya sepertinya ikut juga merasakan bagaimana ibunya terangsang. Mereka berdua bergumul dengan berbalut udara. Kulit mereka bersentuhan, menstimulus getaran-getaran listrik yang menegakkan bulu roma.

Udin meraba kemaluan Hani. Tak perlu lagi ia dituntun untuk mengetahui mana lubang kenikmatan seorang wanita. Mudahnya ia membelah vagina wanita hamil ini. Pelicin yang sudah keluar setiap kali rangsangan demi rangsangan yang diberikan Udin makin dengan mudahnya meloloskan tangan Udin untuk masuk menggelitik rongga vagina. Sesekali sebuah butiran seperti kacang yang berada di atas bagian kemaluan Hani tergelitik. Suara becek miss V yang menggairahkan menyebarkan bau semerbak. Udin tampaknya puas sekali telah menelan beberapa tegukan air susu ibunya. Ia pun sudah tak sabar untuk bisa menyarangkan batang perkasanya yang suda on.

Dibukanya paha Hani yang masih mulus tanpa cacat. Udin menikmati paha itu, diusapnya, sensasi tangan Udin kembali menimbulkan efek yang membuat cairan pelumas keluar lebih banyak lagi. Kepala penis Udin diarahkan ke mulut vaginanya, semetara jari yang ia buat untuk mengobok-obok vagina ibunya diperlihatkan kepada wanita itu.

"Lihatlah, ibu sudah sebasah ini," kata Udin.

Hani menangkap tangan itu dan memasukkan jari itu ke mulutnya. Udin tak kuat lagi. Dia pun perlahan-lahan memasukkan batang yang sudah mengeras. Satu dorongan kecil membuat Hani menaikkan lehernya. Hangat, licin, panas, dan berkedut.

"Ohh...suamiku, nikmatnya. Pelan-pelan, ya?" katanya.

Udin sebenarnya takut untuk bercinta dengan wanita hamil. Ini kali pertama ia melakukannya. Takut kalau nanti janinnya terganggu. Tangannya mengusap-usap perut Hani. Kedua tangan Udin menyatukan jemarinya dengan kedua tangan Hani. Gerakan-gerakan lembut sambil menekan itu membuat batang keperkasaan Udin makin masuk ke dalam. Ia seperti menyentuh rahim Hani. Entah sudah berapa kali mereka bercinta, tapi tidak seperti ini. Kalau biasanya mereka bercinta dengan brutal, sekarang lebih pelan dan lebih untuk dinikmati. Tak terburu-buru.

"Enak suamiku?" tanya Hani.

"Iya, nikmat banget," jawab Udin.

Suara sofa yang beradu dengan gerakan kedua pantat mereka, memberikan suasana yang sedikit aneh. Sofa itu bukan dibungkus dengan kain seperti yang sofa klasik. Tapi merupakan perpaduan kulit, sehingga setiap kali seseorang duduk di sofa itu, terdengar suara seperti orang kentut. Apalagi dengan keringat keduanya yang mulai mengucur, sepertinya gerakan-gerakan di atas sofa itu membuatnya tambah lebih terdengar seperti orang yang sedang menggergaji kayu. Tapi hal itu tidak masalah buat keduanya, karena mereka sedang dilanda nafsu.

Kulit kemaluan Udin basah oleh lendir. Hani sangat banjir, ia ternyata juga terangsang. Bukan saja karena ia diperlakukan seperti itu oleh Udin, tapi usia kehamilan 7 bulan itu adalah saat-saat di mana sang wanita haus akan sex. Libidonya sedang memuncak. Gesekan antar kulit saja bisa membuat ia ingin disetubuhi. Apalagi penis suaminya yang sudah bersarang di dalamnya, seolah-olah bercerita, "Ini aku datang lagi ke tempatku semula." Bayangannya tentang Sumitro sudah tidak ada lagi. Dan ia bernafsu kepada Udin, kepada putra semata wayangnya.

"Sebentar, kita ubah posisi yuk?" kata Hani.

Udin mengangguk. Ia melepaskan batangnya sejenak. Membiarkan ibunya ini bangun. Kemudian Hani membalikkan badan. Udin dipertontonkan pemandangan indah, bokong mulus, padat, berisi dengan memek yang berlendir. Udin kemudian berlutut di atas sofa. Kemaluannya yang basah karena lendir, mulai masuk lagi ke tempatnya semula. SLEEBBB...aliran listrik lima ribu watt membuat Hani sedikit menjerit.

Batang itu kembali menyetubuhinya. Udin meremas-remas bongkahan pantat bahenol ibunya. Seakan-akan ingin agar memek ibunya menjepit penisnya. Dan akibat perlakuan Udin, Hani makin kelonjotan ingin digesek lebih keras lagi. Pantatnya pun maju mundur ingin Udin percepat gesekannya.

"Suamikuu....ini terlalu enak, ibu...sebentar lagi nyampe...!" kata Hani.

Semprotan cairan demi semprotan terus membasahi kemaluan Udin. UDin pun tahu bahwa dengan meningkatkan ritme, ia bisa membuat istrinya ini klimaks. Penisnya sudah pada fase di mana produksi-produksi sperma yang selama tertahan akan tertumpahkan semua.

"Iya Hani, aku juga mau keluar...keluar banyak banget!" kata Udin.

Hani makin cepat bergoyang. Keduanya menghentak-hentak. Anak di perut Hani tampaknya juga suka. Ia menahan kencangan tendangan anaknya ditambah kenikmatan sodokan suaminya. Ia bingung antara rasa sakit di perut dan kenikmatan yang dirasakan. Kayaknya ia akan jadikan ini sebagai obat. Kepala Hani mulai mendongak, kemaluannya makin berkedut, sedikit lagi ia akan merasakan ledakan kenikmatan yang benar-benar dahysat. Kemaluan Udin pun sudah on maksimal. Kantong testisnya meremas-remas, sepertinya ini akan jadi klimaksnya. Bercinta dengan wanita hamil ternyata tak buruk juga, bahkan kenikmatan gesekan kemaluannya lebih merangsang.

"Udin....oh...ibu nyampe....!!!" Hani terdiam. Pantatnya berhenti bergerak. Bersamaan dengan itu Udin menghujamkan senjatanya dalam-dalam ke rahimnya. Ia mentok seperti menyentuh sesuatu. Pandangan mereka berdua blur. Otak mereka seperti tersiram air es. Semprotan sperma berkali-kali dari lubang kencing Udin memenuhi ruang rahim Hani. Mereka pun mematung untuk beberapa detik. Beberapa kali pantat Udin bergerak maju, seiring semprotan spermanya. Banyak sekali.

Udin kemudian mencabut kemaluannya. Langsung saja sperma yang tak bisa membuahi rahim Hani itu ikut keluar beberapa tetes. Hingga mengalir ke paha ibunya. Udin bisa melihat vagina ibunya berkedut-kedut mengeluarkan setetes-demi-setetes mani berwarna putih. Ibunya kemudian tidur miring di sofa. Menikmati sisa-sisa orgasmenya.

Udin membelai wajah ibunya yang kecapekan.

"Ibu mau tidur di sini?" tanya Udin.

"Iya, biarin ibu di sini sebentar," jawab Hani.

"Baiklah," kata Udin. "Terima kasih."

Udin mengecup kening Hani kemudian pergi.

****

Singkat cerita 2 bulan kemudian jabang bayi lahir. Untungnya lahir dengan selamat baik ibu dan anaknya. Anaknya perempuan, mereka menamainya Devita. Entah kenapa tapi sepertinya bagus nama itu. Udin pun makin keras bekerja. Usahanya menjual sayuran ke kota pun mulai besar. Hampir tiap hari ia mengirim berbagai produk sayuran ke kota. Juga madu-madu yang ia hasilkan. Sepertinya rejeki yang ia dapatkan lebih baik kali ini.

Udin tidak waspada. Ia tak menyadari kalau mata-mata dari sekte sesatnya Tung Wongso sudah menyebar ke mana-mana. Dan mereka mempunyai foto Udin dan ibunya. Akibatnya ada seseorang yang mengenali Udin. Hanya saja orang ini tidak berani gegabah. Ia ingin meyakinkan diri apakah benar dia ini Udin.

Di pasar Udin sudah punya pemasok sayur. Rata-rata dari langganan kakeknya dulu. Kwalitas bahan makanan yang diberikan Udin lebih baik dari pada yang lain. Jadi sudah pasti mobil pickupnya habis muatannya. Kurang lebih pukul 09.30 ia sudah harus balik lagi. Sepertinya pemuda ini tak sadar kalau selama itu ia bergerak, ia diikuti oleh orang lain. Bahkan hingga Udin melajukan mobilnya naik gunung.

Baru setelah beberapa saat ke jalan yang mendaki, yang tidak setiap kendaraan berjalan dengan kecepatan tinggi, Udin mulai curiga.

"Sepertinya ada yang mengikuti!" kata Udin.

"Orangnya sudah mengikutimu dari tadi," kata Dewi Sekartaji.

"Koq kamu tidak bilang?" tanya Udin.

"Aku belum yakin soalnya," jawab Dewi Sekartaji.

Udin pun tak mungkin mengemudikan kendaraannya sampai rumah. Ia harus memutar, melewati jalan lain. Udin membelokkan kendaraannya ke arah lain. Mobil itu masih mengikutinya. Sebuah mobil SUV berwarna merah. Udin tiba-tiba melajukan kendaraannya lebih cepat, memutar di jalan yang menurun. SUV itu tentu saja terkejut melihat tiba-tiba Udin mempercepat laju kendaraannya. Udin telah mengenal seluruh jalanan di gunung ini, ia tahu kapan harus cepat kapan harus pelan. SUV itu terus mengejarnya. Kedua mobil yang kucing-kucingan ini tak menyadari kalau di pinggir mereka ada jurang yang dalam.

Tepat ketika mereka sampai di bibir jurang, Udin tiba-tiba membalikkan mobilnya. Pick up itu berdecit di atas aspal, beberapa kerikil terlempar ke jurang. SUV yang mengikutinya juga dengan kecepatan tinggi itu terkejut. Sang sopir mengerem mendadak, namun ia bingung apa harus menabrakkan SUV-nya ke pickup Udin ataukah menabrakkan diri ke pepohonan sebelah kiri jalan atau ia banting stir ke kanan, tapi sang sopir tak sadar kalau di sebelah kanan itu jurang.

"Bangsaaaatt!!" pekik sang sopir. Rem diinjak dengan kuat. Tapi Udin malah memaju gas untuk bisa menabrak SUV. Otomatis SUV itu membelok, karena panik sang sopir memutar kemudi ke kanan. SUV pun terpelanting, berputar laksana seorang atlit loncat indah berguling-guling di udara. Mobil sang pengejar itu masuk ke jurang. Suara dentumannya dengan tanah sangat keras. Bedebum. Jangan pikirkan mobil meledak setelah masuk jurang. Itu hanya ada di film-film. Mobil itu ringsek. Udin menghentikan mobilnya. Ia buru-buru ke luar dan melongok ke dalam jurang.

Melihat bagian depan dan kemudi ringsek, ia memperkirakan si sopir tidak selamat. Tapi juga untuk turun ke jurang sangatlah tidak mungkin. Sekalipun dengan ajian seipi angin ia tak akan kuat nafasnya untuk langsung naik ke atas sini tanpa memutar melewati lembah yang letaknya berada di sungai.

Akhirnya Udin bergegas kembali ke mobilnya untuk pulang. Ia ingin mengecek apakah orang itu mati atau tidak.

Tentu saja melihat Udin pulang memarkir mobilnya dan kemudian segera berganti baju membuat Hani keheranan.

"Ada apa?" tanya Hani.

"Anak buah Tung Wongso tadi mengikutiku. Aku berhasil membuat mobilnya jatuh ke jurang. Tolong jaga Devita. Aku akan memeriksa apakah dia masih hidup atau tidak," kata Udin.

"Hati-hati!" ujar Hani.

Udin segera keluar. Ia tak memakai alas kaki. Ia ingin bisa cepat bergerak. Dengan ajian seipi angin ia sudah melesat melewati pepohonan. Ia menuruni lembah. Mungkin kalau orang-orang melihat Udin sekarang mereka akan merasa melihat hantu di siang bolong. Karena kelebatan bayangannya benar-benar cepat. Udin sampai di sungai, ia ikuti aliran sungai itu hingga sampai ke tempat di dekat mobil SUV yang jatuh ke jurang. Benar-benar perjalanan panjang dan memutar.

Beberapa ekor binatang sepertinya terganggu dengan kelebatan Udin. Beberapa ular terbangun dan mendesis. Monyet-monyet, Lutung dan beberapa ekor tupai bersuara. Burung-burung pun ribut. Angin berdesir seakan menandakan bahwa ada seorang pendekar yang sedang lewat.

Kurang lebih setengah jam kemudian setelah melompat dari satu pijakan ke pijakan lain, berlari menyusuri jalanan berliku, naik turun bukit Udin sampai pula di tempat kejadian. Mobil itu terlihat ringsek. Atapnya menjorok ke dalam. Bau amis pun mulai semerbak tercium dari jauh. Tak jauh dari situ, segerombolan serigala berbulu hitam tampak mengawasinya. Udin menoleh ke arah kawanan serigala yang juga mencium bau darah itu.

Udin mendekat ke mobil. Ia mendapati dua orang bersimbah darah, dengan posisi tubuh tertekuk aneh. Kepala mereka tampak tergencet. Tangan sang sopir terjulur keluar. Udin memasang kuda-kuda, kemudian memegang atap mobil yang ringsek itu, ia mengumpulkan seluruh kekuatan. Sang naga pun membantunya memberikan tenaga. Sekali dorong atap mobil itu terbuka semuanya. Sangat luar biasa. Udin saja tak percaya ia punya kekuatan seperti itu.

"Aku tak percaya aku bisa melakukannya," kata Udin.

"Iya, aku melihatnya juga. Tapi kau tak perlu bingung," kata Dewi. "Semua kekuatan ini dari aku. Kau akan mendapatkan yang lebih kalau bisa membangkitkan aku."

Udin melihat orang-orang yang sudah jadi mayat itu. Ia periksa apakah ada orang lain. Ternyata cuma dua orang. Ia juga tak menemukan jejak langkah orang-orang yang berada di dekat itu. Udin membiarkan atap mobil terbuka.

"Kalian ingin makan bukan? Makanlah, silakan berpesta!" kata Udin kepada gerombolan serigala yang tak jauh dari tempatnya.

Ia kemudian berlari pergi dari tempat itu. Dan gerombolan serigala itu segera mengerumuni kedua mayat yang bersimbah darah. Beberapa menit kemudian tubuh kedua mayat itu sudah tercabik-cabik, bau anyir darah makin membuat hewan-hewan buas kelaparan mendekati tempat itu. Semoga saja tak ada orang lain yang masih hidup, pikir Udin.



Kunoichi

Fumiko berlari di antara pepohonan bambu. Agaknya keberadaannya telah diketahui oleh para pemburu. Klan Bayangan Merah merupakan klan yang paling bengis di antara kelompok Ninja yang ada di Gunung Fuji. Apalagi gulungan yang ia bawa sangat penting. Tidak percuma sebenarnya ia menjadi istri dari Gouken, pimpinan tertinggi klan Ninja Bayangan Merah. Hanya saja dalam misinya kali ini lawan yang dihadapi sangat tangguh. Gouken sebenarnya melarang tapi ia bersikeras. Akhirnya Fumiko harus didampingi oleh adik iparnya Rei.

"Rei, mereka masih mengejar!" kata Fumiko.

"Iya, tidak sia-sia mereka dijuluki pasukan Hitam Sogunate," kata Rei.

"Kita tak mungkin bisa sampai ke rumah. Ini, bawalah gulungan ini Rei!" kata Fumiko sambil melempar gulungannya dengan berlari.

Rei menangkap gulungan itu, "Tidak! Tugasku adalah melindungimu, aku tak akan pergi!"

"Rei, gulungan itu lebih penting daripada nyawaku. Cepatlah, aku akan menahan mereka selagi kau bisa berlari dan meninggalkan jejak!" kata Fumiko.

"Tapi....!" Rei ragu.

"Kau jangan meremehkan Ninja es!" kata Fumiko. "Di Gunung Fuji ini tak ada yang bisa mengalahkan aku!"

Rei berteriak, "AAARRGHH!! Baiklah, jangan mati!"

Dengan cepat Rei kembali berlari, menghilang di balik pepohonan. Suaranya pun menghilang. Kini hanya Fumiko saja yang berada di tempat itu. Dari kejauhan tampak beberapa orang bercadar dengan katana terhunus dan juga tombak mendekati Rei. Beberapa di antaranya pun membawa cakar panjang. Pengejar itu berjumlah puluhan.

Salah seorang pengejar tampak memakai jubah dan topeng iblis berjalan dengan tenang, tapi kecepatannya seperti merambat dan cepat. Speertinya ia adalah pimpinan dari Pasukan hitam ini.

"Fumiko, lama kita tidak berjumpa," kata sang pemimpin.

"Hanaguma!" kata Fumiko.

"Kau masih mengenaliku rupanya, baiklah. Berikan gulungan itu atau aku akan berlaku sangat nakal kepadamu!"

"Coba saja!" kata Fumiko sambil bersiap menerima serangan.

Beberapa pasukan segera maju untuk menyerang Fumiko, tapi gerakan Fumiko sangat cepat, dengan mudahnya katananya bisa menebas beberapa pasukan yang menyerangnya. Seketika itu, tubuh mereka membeku menjadi es. Hanaguma diam, tak terkejut.

"Seperti biasa, aku takjub dengan permainan pedang esmu, tapi aku sudah berlatih bertahun tahun untuk bisa bertemu kepada saat-saat seperti ini. Kau tinggal minta pengampunan saja dariku," kata Hanaguma.

Fumiko diam saja.

"Ah, aku mengerti kau menolak. Seperti biasa," Hanaguma melepaskan topengnya. "Lihatlah akibat ulahmu! Separuh wajahku tak punya kulit. Kulitnya mengelupas karena engkau bekukan. Tapi aku sekarang punya penawarnya. Dan aku ingin kau saksikan dengan mata kepalamu sendiri bagaimana aku akan mencabik-cabik tubuhmu."

Hanaguma memperlihatkan wajahnya yang rusak separuh. Dari mulai rambut sampai pipi. Tak ada kulit sehingga terlihatlah otot-otot wajah dan kulit jangatnya. Bau darah menusuk hidung Fumiko. Fumiko sudah bersiap kalau sampai ia mati saat itu. Beberapa prajurit menyerangnya lagi. Tapi dengan mudah Fumiko melumpuhkan mereka semua. Tebasan dan lemparan shuriken seketika itu juga membuat beku para pasukan itu.

"Hentikan! Biar aku yang meladeninya sekarang," kata Hanaguma.

Ia mengeluarkan katananya. Dan sesuatu yang tak biasa keluar dari katananya. Api. Api yang menyala-nyala.

"Pedang itu! Pedang ayahku!!" ujar Fumiko.

"Bagus kalau kau masih ingat. Dan dengan pedang ini pula aku menghabisinya," kata Hanaguma.

"Hanagumaaaaaa!" Fumiko kalap. Ia pun menyerang Hanaguma. Hanaguma pun meladeninya, dentuman pedang membuat suara nyaring, pijaran api dan es muncul dari benturan kedua pedang itu. Hanaguma terus terdesak dengan serangan-serangan Fumiko. Tapi sebenarnya ia masih bisa meladeni serangan wanita itu. Istri Gouken ini tak memberikan kesempatan bagi Hanaguma untuk menyerang balik.

"Kubunuh kau!!!" emosi Fumiko makin menjadi ketika ia teringat dengan ayahnya yang memiliki pedang api ini. Ayahnya mempunyai dua pedang. Pedang api dan pedang es. Dialah yang mendapatkan warisan dari leluhurnya. Sedangkan sang ayah dengan pedang apinya adalah ninja yang tak terkalahkan. Hanya saja Hanaguma berlaku licik dengan menembakkan panah beracun sehingga membuat Ayah Fumiko tak bisa bergerak.

Hanaguma menghindar, lagi dan lagi. Fumiko makin frustasi. Ia tak tahu kalau Hanaguma sudah merencanakan rencana jahat dan licik. Si wajah buruk rupa itu memberikan kode kepada para prajuritnya, mereka kemudian memasang jebakan. Dipersiapkannya tali temali, kemudian Hanaguma menggiring Fumiko ke tempat yagn sudah disiapkan. Hingga secara tiba-tiba, tubuh Fumiko berhenti. Ada yang aneh, ia tak bisa bergerak.

Tiba-tiba kedua tangan dan kaki Fumiko terikat dan ia terlentang di udara. Hanaguma menghampiri Fumiko yang tak bisa bergerak. Ia seperti patung. Hanya matanya saja yang bisa melirik kiri dan kanan.

"Kau tahu Fumiko, emosi itu bisa dikalahkan dengan kecerdasan!" Hanaguma meraih pedang Fumiko, lalu dilemparkannya. Hanaguma mencabut sebuah jarum di perut FUmiko. Ternyata ia terkena lemparan jarum beracun yang membuat tubuhnya langsung berhenti bergerak. "Ini adalah racun katak kuning. Engkau tak akan bisa bergerak dalam waktu 2 jam. Dengan ini pula aku mengalahkan ayahmu dan merebut pedangnya serta memenggal lehernya. Tak kusangka trik ini berlaku juga untuk anaknya."

Fumiko hanya melotot, ia tak bisa bergerak.

"Aku ingin menghancurkan hidupmu, semuanya. Sebelum kau kubunuh, bagaimana kalau kita bersenang-senang sejenak?" Hanaguma mengambil sebilah pisau. Baju Fumiko adalah kimono yang dilapisi oleh sebuah rompi berlapis. Dengan mudah Hanaguma merobek baju-baju itu, hingga tak butuh waktu lama Fumiko sudah tak memakai sehelai benang pun. Ia telanjang bulat.

"Kau tak membawa gulungan itu. Tak masalah, aku bisa mengejar gulungan itu nanti, sekarang bagaimana kalau kita habiskan waktu sejenak di sini Fumiko?"

Fumiko matanya melotot, ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia tahu ia akan diperkosa. Tapi ini keterlaluan. Ia tak bisa bergerak. Mulutnya tak bisa bergerak, tapi ia bisa merasakan semuanya. Ketika tangan Hanaguma menyentuh payudaranya yang membusung itu, ia sudah pasrah. Tak akan bisa berbuat apa-apa. Nafasnya memburu, untuk bisa menolak sentuhan-sentuhan dan rangsangan yang dilakukan oleh Hanaguma. Wajahnya yang jelek itu bisa saja membuat orang ilfil, tapi entah nanti apa yang akan dilakukan oleh bajingan ini.

Hanaguma melepaskan pakaiannya satu per satu, hingga tak ada satupun yang tersisa. Ia pun dengan wajahnya yang rusak itu mulai mengelamuti puting susu Fumiko. Fumiko tak bisa bicara, ia hanya mendesah. Walaupun tak bisa bergerak ataupun jijik dengan wajah Hanaguma, ia bisa merasakan dirinya terangsang. Puting susunya digelitiki oleh Hanaguma. Beberapa anak buah Hanaguma mulai mendekat, mereka juga sepertinya kepingin mencoba. Satu persatu dari mereka melepaskan bajunya dan ikut menggeranyangi tubuh Fumiko.

Fumiko memejamkan matanya. Ia tak kuasa melihat ini semua. Penis-penis para lelaki ini digesek-gesekkan ke seluruh bagian tubuh Fumiko, ketiak, bibir, leher, perut, kaki dan lain-lain. Hanaguma mulai bekerja menjilati memeknya, lidahnya mencolok-colok kemaluan Fumiko, seketika itu bibir vaginanya basah oleh cairan. Iya, Fumiko terangsang tentu saja. Ia masih normal dan ia masih bisa memberikan keturunan.

Rangsangan-rangsangan yang diterima Hanaguma dan anak buahnya tak bisa ia tolak. Melihat Fumiko banjir Hanaguma tampak merasa menang.

"Hahahaha, dasar jalang! Terangsang juga kamu!" kata Hanaguma.

Hanaguma berdiri, ia sudah tak sabar ingin memasukkan batang penisnya yng sudah mengacung dari tadi ke liang senggama Fumiko. Fumiko pun mau tak mau harus menerimanya. Dan SLEB..lancar masuknya, tapi rasanya sempit. Penis Hanaguma serasa dicengkram dengan sangat kuat.

"Aaahhhh...nikmatnya," kata Hanaguma. Ia pun menggoyang pantatnya dengan kasar. Tubuh Fumiko yang ditarik ke empat sudut dengan tali itu bergoyang-goyang karena hentakan dari Hanaguma.

Fumiko menahan sakit yang amat sangat. Memeknya dipaksa untuk diterobos oleh penis sebesar itu. Ia selama ini diperlakukan lembut oleh Gouken tapi ini tidak. Matanya masih terpejam.Ia tak bisa bicara, berteriak, atau mengeluh. Hanya suara "Hhnngg...." saja yang keluar dari mulutnya. Terlebih lagi mulutnya kini sudah jadi tempat oral sebuah penis dari prajuritnya Hanaguma.

Hanaguma kesetanan. Ia makin cepat menggoyangkan pantatnya.

"Ahhh....enak sekali, bangsat peret! Aku akan membuahimu Fumiko, rasakan ini!" kata Hanaguma. Ia mengujamkan penisnya dalam-dalam. Sperma pun muncrat dari penisnya. Setelah tak menembak-nembak lagi, ia cabut penisnya. Kini giliran anak buahnya yang lain memasukkan kemaluannya ke liang senggama Fumiko.

Hari itu Fumiko digilir oleh semua orang yang ada di tempat itu. Hingga vaginanya sangat ngilu. Berbagai ukuran penis dicoba oleh memek Fumiko. Bahkan ia pun menerima semprotan sperma di dadanya dan di wajahnya. Sperma-sperma itu seperti lelehan lendir atau sus yang biasanya dipakai oleh para chef untuk membuat kue.

Tapi ternyata Hanaguma termasuk orang yang tak puas-puas. Ia pun menusuk kemaluannya di lubang pantat Fumiko. Lengkap sudah Fumiko diperkosa. Mulutnya pun dengan terpaksa menerima sperma para lelaki ini. Ia menelannya dengan sangat susah, karena lidahnya bergerak dengan terbatas.

Hanaguma menggenjot buritnya dengan ganas pula. Fumiko bisa merasakan saki di duburnya. Penis sebesar itu menggesek lubang duburnya tentulah sangat sakit, apalagi hal itu tak pernah dilakukan oleh Gouken.

"Bagaimana Fumiko? Enak bukan?" tanya Hanaguma. Fumiko tak menjawab tentu saja. Ia merasakan sakit, sakit sekali. Tapi ia pun tak bisa berbuat apa-apa.

Pantat Hanaguma kembali bergerak cepat. Ia juga mau keluar lagi. Dan keluarlah semprotan sperma itu berkali-kali ke dalam lubang anusnya. Ketika dicabut, spermanya meleleh dari lubang pantat FUmiko, bercampur dengan cairan kuning dan darah. Hanaguma tampak puas. Para lelaki yang lain juga terlihat puas.

Hanaguma memungut pedangnya.

"Sayang sekali, aku bisa saja menjadikanmu budakku Fumiko, tapi aku tak mau budak yang harus aku beri racun setiap harinya," Hanaguma menaruh ujung pedangnya tepat di tengah payudara Fumiko. "Sayonara!"

Pedang api Hanaguma perlahan-lahan menembus tubuh Fumiko. Fumiko tentu saja merasakan sakitnya. Ia tak menyangka hidupnya akan berakhir dengan sangat tragis. Katana milik Hanaguma menembus tubuh FUmiko. Tubuh Fumiko bergetar hebat. Darah keluar dari mulutnya juga dari lukanya. Hanaguma mencabut pedangnya. Ia hanya menyaksikan tubuh Fumiko menggelepar hebat. Racun paralize itu mulai hilang, FUmiko mulai bisa sedikit bergerak, tapi sia-sia. Darah banyak keluar dari lukanya. Pedang itu tepat menembus paru-paru hingga tulang punggungnya, sehingga kemungkinan hidup sangat kecil. Tak berapa lama kemudian Fumiko menghembuskan nafas terakhirnya. Hanaguma tersenyum puas. Ia kembali berpakaian dan meninggalkan tempat itu bersama anak buahnya.

****

Gouken dan Rei sampai juga ke tempat di mana Rei terakhir kali bersama Fumiko. Gouken pun tak berdaya melihat kondisi tubuh Fumiko. Bau amis darah bercampur dengan bau sperma. Rei tak sanggup melihat Fumiko. Gouken menghampiri mayat istrinya yang menggantung di udara. Dipotongnya tali-tali yang mencencang tubuh Fumiko, ia lalu menangkap tubuh Fumiko yang sudah tak bernyawa itu.

Rei mengambil pedang Fumiko yang tergeletak tak jauh dari tempat itu. Pedang itu tampak meninggalkan bekas terbakar. Rei sepertinya tahu lawan Fumiko.

"Pemilik pedang api, tak mungkin bukankah ayah Fumiko telah tewas?" tanya Rei.

"Iya, Hanaguma. Aku tak akan memaafkan dia. Aku akan cabik-cabik tubuhnya. Rei, kita kubur dia sekarang," kata Gouken.

Tubuh Fumiko ditutupi oleh jubah dan dibawa oleh Gouken ke istana Bayangan Merah. Klan ninja ini bersedih, karena mereka kehilangan orang yang dianggap paling tinggi di klan itu. Apalagi Gouken. Ialah yang selalu bersama dengan Fumiko. Setidaknya lebih sakit kehilangan istrinya dengan kondisi yang mengenaskan.

Fumiko di kubur di tempat kuburan keluarga, bersanding dengan ayahnya. Hari itu menjadi hari berkabung bagi klan Ninja Bayangan Merah. Seorang Kunoichi telah pergi meninggalkan mereka.

***

3 tahun berlalu.

"Rei, bagaimana dengan gulungan itu?" tanya Gouken.

"Masih aku simpan di tempat biasa," jawab Rei.

"Kamu tahu sejarah leluhur kita?" tanya Gouken.

Rei mengangguk.

"Leluhur kita telah ditolong oleh seseorang yang berasal dari daratan yang banyak gunung berapinya. Dan itu adalah janji yang tak akan bisa kita lupakan. Aku ingin membalaskan dendamku dulu kepada Hanaguma, setelah itu aku akan pergi ke Indonesia. Ke pulau jawa tepatnya. Di sana aku akan mencari seseorang yang memiliki aura naga. Gulungan itu harus sampai kepadanya, apapun yang akan terjadi. Kalau misalnya aku mati ketika balas dendam. Aku ingin kau menggantikanku untuk membawa gulungan itu kepada dia," kata Gouken.

"Lalu klan ini?" tanya Rei. "Siapa yang akan memimpin?"

"Kau tak perlu khawatir, pamanmu Yugi masih ada. Ia yang selanjutnya memimpin," jelas Gouken.

"Tapi, paman Yugi sudah tua," kata Rei. "Bagaimana mungkin ia bisa memimpin klan sebesar ini?"

"Kalau memang klan ini harus hancur, biarkan saja yang penting aku harus membalaskan dendamku!" kata Gouken. Sebuah tamparan mendarat di pipi Gouken.

"Kau bodoh! Mengorbankan klanmu hanya untuk balas dendam!" kata Rei. "Aku tak setuju. Dan aku tak akan pergi."

"Jangan bodoh Rei, kirim gulungan itu kalau aku tidak ada, ini perintah!" kata Gouken.

Tiba-tiba Rei melepas kimononya. Ia lepas seluruh bajunya hingga tak berpakaian lagi. Hal itu membuat Gouken terkejut.

"Kamu mau apa?"

Rei lalu menubruk kakaknya.

"Kalau kakak sudah tidak memikirkan diri sendiri mati, maka setidaknya berikanlah aku keturunan agar aku bisa meneruskan klan ini!" jelas Rei.

"Tapi kau adikku, aku tak bisa melakukannya!" kata Gouken.

"Lakukan, aku tak peduli kau kakakku atau bukan, klan ini harus hidup dan aku ingin keturunanmulah yang meneruskannya!" jelas Rei.

Gouken kalut, bibirnya diserang oleh Rei. Lidah Rei menelusup ke dalam mulut Gouken. Kimono GOuken terlepas, terlebih lagi tanpa ditunggu seluruh bajunya terlepas semua. Gouken berdebar-debar. Memang dia tak pernah bercinta lagi semenjak istrinya pergi, dan kali ini apakah harus adiknya sendiri? Gouken tak diberi kesempatan berpikir, karena tiba-tiba puting susu Rei sudah berada di mulutnya.

"Hisap kak!" bisik Rei. "Lakukanlah, sebelum yang lain tahu!"

Gouken seperti terhipnotis. Ia pun mengenyot payudara adiknya yang masih membusung dan kencang itu. Ia peluk Rei, erat, seakan tak mau lepas. Penisnya sudah mengeras dan menyentuh perut Rei. Gouken mengenyoti dada adiknya kiri kanan. Menghisap dan menjilat-jilat putingnya. Rei merem melek, ia melingkarkan lengannya ke leher GOuken.

GOuken pun menghisapi leher Rei, kini ia lupa kalau gadis yang disetubuhinya saat ini masih perawan, dan juga adiknya. Rei menggeliat. Mereka berdua lalu berguling-guling di atas tatami. Lelaki ini pun menggelitiki ketiak Rei yang basah oleh keringat. Rei makin terangsang apalagi saat jari telunjuk Gouken sudah menggelitik memeknya yang berbulu.

Gouken sama sekali tak berbicara, ia terus bekerja menjelajahi tubuh Rei. Memek Rei makin basah dan ia pun mengejang hebat. Memeknya menyemprotkan sesuatu. Gouken yang faham bahwa gadis ini orgasme langsung saja ia pasang palkonnya ke tempat liang senggama Rei. SLEBBB....

"AAAHHH....!" Rei menjerit. Gouken lupa kalau adiknya ini masih perawan. Palkonnya susah untuk maju dan hanya terbenam begitu saja di memek Rei. "Kak pelan-pelan!"

Gouken mendorongnya lagi. Penisnya benar-benar bertenaga, tiga tahun tak pernah dilampiaskan inilah yang akan terjadi. SRETT BREETT....penisnya pun merobek sesuatu di dalam vagina Rei. Rei lemas, ia menerima seluruh batang penis milik kakaknya. Pinggul Rei bergetar hebat. Gouken melihat penisnya sudah masuk semua, liang senggama Rei seperti meremas-remas batang itu. Kemudian ia pun menggoyang maju mundur. Awalnya dirasakan oleh Rei perih sekali. Tapi ketika ia melihat kakaknya keenakan rasa perih itu malah ia nikmati, bahkan kini tidak lagi terasa. Malah kenikmatan yang terasa.

Gouken terus menggenjot adiknya itu sperti tak ada waktu lagi. Pantatnya naik turun. Kemudian ia memeluk Rei, dipeluknya dan dada mereka saling berhimpitan. GOuken menciumi bibir Rei. Mereka berdua tenggelam dalam lautan birahi. Gesekan-gesekan kulit kemaluan kakak beradik ini makin menggairahkan. Buah zakar Gouken mulai bekerja. Membentuk sel-sel sperma dengan memanggil seluruh saripati makanan yang berad di dalam darah dan tulang sungsum.

"Ohh...ohh...Rei...maafkan aku, aku akan keluar, aku akan menghamilimu," kata Gouken.

"Terus kak, teruskan....hamili aku, buat klan ini hidup terus!" kata Rei.

Keluarlah sperma dari batang kemaluan Gouken. Tiga tahun, sperma tiga tahun yang terkumpul menjadi satu di dalam rahim Rei. Tubuh kedua insan ini menegang. Menghantarkan bulir-bulir kepuasan ke otak mereka. Dari sinilah Naomi lahir, bagaimana Naomi bisa sampai bersama Udin? Ceritanya masih berlanjut dan makin seru.


BAB IX

Kisah Ande-Ande Lumut, Pangeran Panjalu Panji Asmoro Bangun dan Putri Jenggala Galuh Candra Kirana

Dewi Sekartaji menceritakan tentang masa lalunya kepada Udin. Masa lalu yang kelam. Yang ia berharap tak ada orang lagi yang menerima nasib seperti dia. Inilah kisah di mana semuanya berawal. Tentang seorang Dewi Sekartaji Putri Kerajaan Kediri. Kalau pernah mendengar cerita Panji Asmoro Bangun dan Galuh Candra Kirana, maka tak asing lagi dengan cerita ini. Kisah ini ternyata punya banyak versi sekarang, baik dari versi Jawa sendiri berbagai versi, versi sunda, versi thailand dan versi Filipina. Sejatinya ceritanya adalah sebagai berikut.

Kisah Panji Asmoro Bangun dan Galuh Candra Kirana telah melegenda di mana-mana. Kita mengenalnya dengan cerita Ande-ande Lumut. Siapa sangka ternyata Panji Asmoro Bangun ini adalah Sri Kamesywara salah satu raja Kediri pada pemerintahan awal sebelum Airlangga. Dan Galuh Candra Kirana ini adalah permaisurinya. Dialah yang kemudian dikenal dengan Dewi Sekartaji. Mereka hidup bahagia dan memerintah kerajaan Kediri dengan adil dan damai.

Namun ternyata hal itu bukanlah akhir dari segalanya, tapi merupakan awal dari segalanya. Kerajaan Kediri awalnya tidak dikenal dengan nama itu. Namanya adalah Kerajaan Panjalu. Nama Kediri sendiri baru terkenal setelah Raja Airlangga berkuasa. Pernikahan Pangeran Panji Asmoro Bangun dan Galuh Candra Kirana merupakan pernikahan terbesar abad itu. Para undangan dari China dan kerajaan-kerajaan dari Sumatra dan Bali diundang. Dan merupakan pesta termegah dalam sejarah pernikahan seorang putra mahkota. Setelah menikah Panji Asmoro Bangun naik menjadi raja Panjalu dengan gelar Sri Kamesywara sedangkan Galuh Candra Kirana bergelar Dewi Sekartaji.

Jauh dari tempat itu, ada seseorang yang sangat dengki terhadap Prabu Kamesywara yang telah menikahi Dewi Sekartaji. Orang ini adalah Tung Galesung. Ia adalah seorang yang biasanya bekerja menyeberangkan orang-orang melewati sungai. Dalam cerita Ande-ande Lumut dia ini adalah Yuyu Kangkang. Suka main perempuan dan terkenal sering memperkosa gadis-gadis. Namun dengan keberanian Galuh, dia bisa dilumpuhkan. Tapi ceritanya bukan seperti yang ada pada dongeng sebenarnya.

Galuh adalah putri kerajaan Jenggala. Dia juga termasuk seorang yang punya kanuragan yang tinggi. Putri kerajan Jenggala ini dilatih oleh seorang yang sakti mandraguna. Namanya Mpu Galunggung. Mpu Galunggung selain mengajari putri Galuh dengan ilmu-ilmu sastra, juga mengajari tentang ilmu kebatinan dan kanuragan. Sehingga pada usianya yang baru 17 tahu. Galuh merupakan seorang gadis yang sakti mandraguna. Tak ada satupun orang yang bisa mengalahkan dia. Bahkan para prajurit, para pendekar tak ada yang bisa mengalahkannya. Galuh mempunyai tenaga dalam yang luar biasa. Ayahnya Raja Jenggala pun tak segan-segan memberikan 1.000 pasukan kepada Galuh. Sebab memang Galuh piawai dalam pertempuran, politik, perang semuanya ia ketahaui dari Mpu Galunggung.

Sebelum pernikahan antara keduanya, awalnya Raja Sri Jayabhaya berniat ingin menaklukkan Jenggala. Karena pada masa pemerintahan Airlangga kerajaan ini terpecah menjadi dua. Yaitu Panjalu dan Jenggala. Niat Sri Jayabhaya adalah untuk bisa mempersatukan Panjalu dan Jenggala disambut baik oleh banyak pihak. Akhirnya Sri Jayabhaya mengirimkan utusan kepada Raja Jenggala untuk perdamaian. Dengan rencana menyatukan Panjalu dan Jenggala. Namun hal itu ditolak oleh Raja Jenggala. Ia lebih baik mati daripada bersatu.

Akhirnya terjadilah perang. Perang besar ini membelah Jawa menjadi 2 bagian. Jawa Barat dan Jawa Timur (dulu tidak dikenal Jawa Tengah). Peperangan besar pun terjadi. Tapi kerajaan Jenggala sangat kuat, terlebih Galuh menjadi komandan pasukannya, sehingga tak terkalahkan. Saat itu Pangeran Panji dan Galuh belum pernah bertemu sebelumnya. Secara tak sengaja mereka bertemu ketika Galuh sedang membersihkan badannya di sungai.

"Siapa itu?" teriak Galuh.

Pangeran Panji yang saat itu juga ingin mandi kaget melihat ada seorang wanita memakai kemben berada di sungai. Ia memang tak seperti pangeran pada umumnya, karena memakai baju biasa. Pangeran Panji memang senang berbaur dengan masyarakat. Melihat Pangeran Panji sedang berada di tempat itu dan dilihatnya bukan prajurit, Galuh mengira Pangeran Panji orang biasa, masyarakat sekitar.

"Maaf nimas, saya tak tahu kalau ada orang!" Pangeran Panji membalikkan badan.

Galuh diam saja. Ia juga hanya memakai pakaian gadis desa pada umumnya, jadi tak terkesan seperti putri bangsawan. Galuh kemudian mentas dari sungai dan mengambil pakaiannya.

"Ya sudah, kalau mau mandi, mandi sana!" kata Galuh.

Panji berbalik, saat itulah ia jatuh cinta pada pandangan pertama. Jantungnya berdebar-debar, darahnya serasa dipompa lebih cepat dari biasanya. Ia pun menelan ludah. Tampak di depannya seorang wanita yang sangat cantik. Rambutnya panjang dan basah (tentu saja). Kulitnya putih, tak seperti kulit gadis desa pada umumnya. Saat itulah Pangeran Panji jatuh cinta. Tapi kalau ia mengaku dirinya sebagai pangeran, mungkin gadis ini bakalan terkejut dan lari. Hal itu pun diurungkannya.

"Lho, koq bengong? Mandi sana!" kata Galuh.

"Eh..ii..iyaa," kata Pangeran Panji.

Galuh pun demikian sebenarnya. Ia tak pernah melihat lelaki tampan seperti Panji. Hatinya pun berdesir ketika melihat otot-otot Panji yang kekar. Dan Galuh merasa kalau dia seorang pangeran bisa-bisa wanita manapun bakal takluk olehnya. Tapi melihat Pangeran Panji adalah orang biasa, perasaannya agak tenang. Sebab mana mungkin ia pangeran Panjalu. Tapi melihat Pangeran Panji bengong hal itu membuat Galuh sedikit lebih senang, bukti bahwa sekalipun ia sedikit tomboy, tapi masih ada lelaki yang suka kepadanya.

"Sebentar nimas, kalau boleh tahu, siapa namamu?" tanya Panji.

Galuh berpikir sejenak. Kalau ia bilang "Putri Galuh" maka bisa berabe. Maka ia pun memikirkan sebuah nama, "Klenting Kuning"

"Klenting Kuning, nama yang bagus," puji Panji. "Aku.....Ande Ande Lumut."

Galuh ketawa kecil, "Namamu lucu."

Panji sedikit protes, "Lho, emangnya lucu seperti apa?"

"Lumut, hidupnya menempel di batu. Ataukah kamu memang ndak pernah mandi sampai berlumut?" Galuh ketawa.

Panji juga tertawa.

Galuh mulai meninggalkan Panji.

"Kita bisa bertemu lagi?" tanya Panji.

"Aku ada di sekitar sini. Kalau kau beruntung besok kita bisa ketemu," kata Galuh sambil memberikan senyumannya kepada Panji yang saat itu sedang kasmaran.

Panji hanya melihat Galuh pergi meninggalkan sungai dan hilang dari balik pepohonan.

***

Pangeran Panji sebenarnya pun punya ilmu kanuragan yang tinggi. Dia adalah murid dari Ki Ageng Blambangan, juga murid dari Mpu Waraka dan Mpu Panuluh. Mereka adalah guru Panji dalam semua bidang ilmu, perang, politik, sastra dan kanuragan. Karena berguru dengan ketiga guru. Maka diusianya yang sudah dua puluh tahun ini Panji adalah seorang tokoh yang tak tertandingi kepiawaiannya. Hanya saja saat ini Pangeran Panji sedang dirundung masalah cinta.

Ibunya sang Ratu Panjalu pun kebingungan dengan tingkah polah putranya yang sering melamun.

"Le, ngger? Ada apa? Koq beberapa hari ini sering melamun?" tanya sang ibu.

"Maafkan hamba Bunda Ratu, saat ini hamba sedang jatuh cinta," jawab Pangeran Panji.

"Hah? Wah, siapa wanita yang beruntung itu?" tanya sang ratu.

"Namanya....Klenting Kuning," jawab Pangeran Panji.

"Kalian ketemu di mana?"

"Ketika mandi di sungai."

"Ajak dia kemari!"

"Itulah masalahnya bu, aku tak tahu di mana rumahnya."

"Lho, koq ndak tau? Kan bisa kita kasih sayembara aja," kata ratu.

Pangeran Panji menggeleng. "Tidak bu, aku ingin agar dia menerimaku sebagai rakyat jelata. Aku ingin menyembunyikan identitasku sebagai bangsawan. Aku ingin dia benar-benar sungguh mencintaiku apa adanya."

Sang Ratu tersenyum, putranya makin dewasa, "Terserah kamu ngger"

***

Pangeran Panji kembali jalan-jalan di sekitar tempat pertemuannya dengan Galuh. Saat itulah secara tak sengaja, ia bertemu lagi dengan Galuh. Gadis itu tampak sedang bercanda dengan beberapa gadis desa lainnya. Galuh tampak lebih menonjol. Karena rambutnya sangat indah terurai dan kulitnya paling bersih di antara gadis-gadis yang lain. Jantung Panji berdegup lagi.

"Apakah ini yang namanya cinta?" gumam Panji.

Melihat Panji dari kejauhan. Galuh tersenyum, ia sedikit menundukkan wajahnya.

"Sampai nanti ya?" kata gadis-gadis yang lain.

Mereka berpisah dengan Galuh. Saat itulah Panji pun mendekati Galuh. "Klenting Kuning?"

Jantung Galuh berdebar saat Panji hanya tiga langkah saja di depannya. Galuh menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah.

"Kita bertemu lagi nimas, apakah ini yang namanya jodoh?" tanya Panji.

Galuh ingin melewati Panji tapi Panji menghalangi.

"Aku ingin tahu rumahmu, ijinkanlah aku tahu rumahmu," kata Panji.

"Ayahku galak, kakang Lumut," kata Galuh.

Panji lalu menyembunyikan tangannya. Galuh pun bisa melewati Panji. Setelah beberapa langkah berjalan, Galuh berbalik, "Tapi kalau kakang kepingin ketemu, kita bisa bertemu besok di sini."

"Baiklah, besok kita bertemu di sini," kata Panji.

****

Cerita pun berlanjut. Sri Jayabhaya telah mendesak dan berhasil merebut beberapa benteng kerajaan Jenggala. Hal itu membuat Raja Jenggala gusar, karena memang benteng-benteng itu adalah benteng-benteng yang sangat penting. Maka Raja Jenggala memperkuat pertahanannya. Ia memerintahkan beberapa panglima untuk menjadi mata-mata kekuatan dari kerajaan Panjalu. Telik sandi yang diutus pun segera memasuki kota Daha. Di antara Telik Sandi itulah ada Galuh. Dan Panji bertemu dengan Galuh.

Galuh dan Panji menjalin hubungan sekarang. Mereka sering bertemu, bercanda, dan kadang bermesraan. Tapi keduanya masih tidak tahu jati diri mereka. Sementara itu Galuh masih menyelidiki kekuatan sejati dari kerajaan Panjalu. Dari kabar orang-orang diketahui bahwa Pangeran Panji adalah seorang pangeran yang mempunyai ilmu kanuragan yang tinggi dan tak terkalahkan. Mendengar berita itu Galuh jadi penasaran. Siapa pangeran Panji dan seperti apa ilmunya.

Suatu hari Galuh ingin bisa masuk ibu kota Kerajaan Panjalu yaitu Daha. Satu-satunya jalan ke sana adalah dengan menyeberang sungai brantas. Hanya saja ada dua jalan. Jalan pertama adalah dengan melintasi jembatan yang dijaga oleh banyak prajurit. Tak mungkin dia seorang gadis desa tanpa ada maksud apa-apa masuk ke kota Daha. Hanya satu jalan yaitu ia menyeberang melalui jembatan gantung atau rakit yang biasanya disewakan oleh orang-orang. Galuh mencari orang yang mempunyai rakit itu. Hingga kemudian ada seseorang yang bernama Tung Galesung. Dia memang terkenal sebagai orang yang mempuyai rakit yang bisa menyeberangkan orang. Tapi rasanya aneh kalau Galuh seorang diri menyeberang. Maka dari itu ia pun mengajak gadis-gadis yang lain untuk menyeberang.

"Klenting Kuning, yakin kamu mau ke Daha?" tanya Saritem.

"Iya, kayaknya Kakang Lumut tinggal di kota Daha," jawab Galuh.

"Tapi, kota kan sekarang dijaga ketat. Ndak bakalan kita diijinkan masuk," kata Srintil.

"Aku ingin memberikan kejutan kepada Kakang Lumut, itu saja sih. Mungkin nanti kalau keluar kota tidak susah, aku bisa nebeng Kakang Lumut," kata Galuh.

"Trus rencanamu apa?" tanya Ratih.

"Kita naik rakit aja, kudengar ada yang punya rakit," jawab Galuh.

"Wah, apa ndak berbahaya kalau ketahuan?" tanya Ratih.

"Aku tak tahu. Katanya orang-orang juga sering nyebrang ke sana," kata Galuh. "Kalau soal uang aku punya koq. Tenang saja."

Akhirnya mereka berempat menuju ke tempat Tung Galesung. Tung Galesung adalah seorang bandot tua. Usianya sudah 50 tahun. Ia tampak sedang duduk di tepi. Hari sudah mulai gelap. Dan memang sengaja mereka memilih hari yang gelap agar tak ketahuan oleh para prajurit. Tung Galesung terkejut ketika melihat empat gadis cantik menghampiri dia.

"Lho, ada apa nona-nona ke sini?" tanya Tung Galesung.

"Saya ingin pergi ke sana ki," jawab Galuh.

"Semuanya?" tanya Tung Galesung.

"Iya, semuanya," jawab Ratih.

Tung Galesung menelan ludah melihat kecantikan Galuh. Apalagi sudah lama juga ia tak melampiaskan nafsunya. Tung Galesung pun punya rencana. "Baiklah, tapi masalahnya rakitnya cuma satu dan ukurannya kecil, bagaimana ini?"

Tung Galesung memperlihatkan rakit kecilnya. Memang, hanya muat dua orang.

"Tidak apa-apa, kita gantian saja!" kata Galuh. "Berapapun akan saya bayar, segini cukup?"

Tung Galesung pun gembira sekali melihat sekantong kepeng uang. Ia pun menimbang kantong kepeng uang itu. Berat. "Cukup, cukup, mari siapa duluan?"

"Aku duluan aja, kamu terakhir Galuh!" kata Saritem.

"Iya, baiklah," kata Galuh.

"Tapi, aku nanti harus bicara sama prajurit di seberang sana agar kalian berdua diloloskan, bagaimana?" tanya Tung Galesung.

Galuh berpikir sejenak. Kalau sampai orang ini macam-macam bisa saja saat itu juga ia akan menghabisinya. "Baiklah, kasih tanda kalau kamu sudah sampai di sana ya?!"

"Aku akan nyalakan obor nanti di sana dan melambai," kata Saritem.

Akhirnya Tung Galesung dan Saritem menyebrangi sungai dengan rakit. Malam itu bulan terlihat separuh. Cukup untuk penerangan. Karena kalau pakai obor, mereka akan ketahuan dari jauh. Tung Galesung cukup mengetahui medan, sehingga dalam lima kali kayuh mereka sudah sampai. Saritem segera melompat ke daratan. Diikuti oleh Tung Galesung. Karena malam dan jaraknya jauh, Galuh tak tahu apa yang terjadi di seberang sana. Mereka menunggu sedikit lama.

Tung Galesung ini bergelar Yuyu Kangkang karena ia sering mencabuli gadis-gadis desa. Dan ia akan menikmati empat gadis malam ini. Tung Galesung juga punya ilmu kanuragan. Jadi ketika Saritem lengah ditotoklah aliran darah gadis itu. Saritem tak bisa bergerak. Bandot tua itu kemudian sembunyi di semak-semak. Ditelanjangilah tubuh Saritem yang molek itu.

"Wah, nduk, nduk awakmu koq uayu temen, montok. Tak entot ya?" kata Tung Galesung alias Yuyu Kangkang.

Si Tung Galesung ini nafsunya sudah diubun-ubun. Ia menciumi tubuh Saritem. Pakaian Saritem telah terbuka semuanya. Saritem tak mampu menjerit. Ia hanya bisa menerima cumbuan dari Yuyu Kangkang ini. Dihisapnya leher Saritem, mulut tua bangka ini walaupun kasar ternyata memberikan efek menggelitik bagi Saritem. Gadis desa ini pun tak kuasa ketika lidah Yuyu Kangkang sudah menjelajahi payudaranya, mengenyot bagian tubuhnya yang kenyal itu. Puting Saritem menegang. Tidak hanya karena dinginnya malam, tapi juga karena perlakuan Yuyu Kangkang. Entah kenapa ada rasa pasrah dan menyerah pada diri Saritem.

Tak ada perlawanan, ia sepertinya terlena dengan perlakuan Yuyu Kangkang. Yuyu Kangkang makin ke bawah, menggerayangi gundukan memek yang ditumbuhi bulu.

"Jembutmu koq akeh nduk? Sepertinya malam ini aku bakal terpuaskan oleh kalian semua. Hahahaha," ujar Yuyu Kangkang.

Kini Si cabul Yuyu Kangkang sudah mempersiapkan batang kontolnya yang mengacung. Sadar bahwa Saritem masih gadis ia lebih ngiler lagi ditindihnya tubuh Saritem. Memek Saritem entah kenapa bisa banjir seperti itu karena perlakuan Yuyu Kangkang. Si tua bangka ini memang sengaja mensugesti gadis ini agar terangsang olehnya, maka dari itulah Saritem sangat terangsang dan kepingin dientot.

Kepala kontolnya sudah masuk, sempit. Tipikal gadis desa yang lugu. Wajah Saritem meringis, ia memejamkan mata. Menerima benda asing ke dalam tubuhnya. Gesekan kulit kemaluan itu membuat Yuyu Kangkang mendesah tertahan. Kemaluannya serasa diremas-remas oleh memek Saritem. Yuyu Kangkang menekan lagi hingga robeklah selaput dara Saritem. Saritem ingin menjerit tak bisa. Jalan darahnya ditotok, sehingga pita suaranya tak bisa keluar. Ia hanya bisa bilang "Ah" dan "uh" itu pun berbisik. Gemercik arus sungai pun menelan seluruh suaranya, ditambah binatang malam yang saling bernyanyi malam ini.

Yuyu Kangkang tampaknya puas sekali dahaga sexnya telah tuntas akhirnya. Ia menggenjot tubuh Saritem dengan sangat bersemangat. Ia harus cepat agar paling tidak, jangan sampai membuat yang lainnya curiga. Genjotan Yuyu Kangkang makin cepat, dan ia pun klimaks. Cepat sekali. Mungkin karena ia sudah bernafsu atau karena jepitan rapat memek Saritem. Setelah pejuhnya di keluarkan di rahim Saritem, Yuyu Kangkang kemudian mencabut kemaluannya dan berdiri. Ia merapikan lagi bajunya membersihkan bau sperma yang ada di kontolnya agar tak ada yang curiga. Ia melihat lendir yang meleleh di kemaluan Saritem, bercampur bercak darah.

"Malam ini bakal dapat 4 perawan. Asyiiikk!!" gumam Yuyu Kangkang gembira. Ia pun menyalakan obor dan melambai. Untuk memberikan kabar sisa 3 gadis yang ada di seberang.

Galuh dan yang lainnya lega.

Yuyu Kangkang kembali naik rakit untuk ke seberang. Galuh merasakan ada yang aneh dengan lelaki tua ini. Ada getaran tenaga dalam di tubuh kakek ini.

"Aku ya berikutnya," kata Srintil.

"Hati-hati Sri!" kata Galuh.

"Iya, tenang saja. Akukan juga bisa silat!" kata Srintil.

Tung Galesung sedikit mengamati tubuh Srintil. Apakah benar gadis ini bisa silat? Ah, paling juga ilmunya tak seberapa dibandingkan dia. Galuh makin curiga karena dengan mata batinnya ia bisa melihat aliran tenaga dalam di tubuh Tung Galesung, si Yuyu Kangkang. Tung Galesung tak mengira bahwa Galuh ini gadis yang punya ilmu kanuragan tinggi.

Akhirnya menyeberanglah lagi Yuyu Kangkang dan Srintil. Sesampainya di seberang, Srintil ditotok oleh Yuyu Kangkang. Ia tak bisa bergerak.

"Bajingan lepaskan!" kata Srintil.

"Oh, kamu bisa ilmu silat ternyata. Pantas pita suaramu tidak bisa aku totok," kata Yuyu Kangkang.

"K..kamu ini siapa?" tanya Srintil.

"Aku adalah Yuyu Kangkang, orang akan mencabuli seorang gadis lagi...hahahahah!"

"Bajingan! Ggg..gggh..." Srintil tak bisa bersuara lagi. Mulutnya disumpal dengan baju Saritem oleh Yuyu Kangkang.

Srintil yang tak bisa bergerak itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saat si bandot tua ini melucuti pakaiannya. Yuyu Kangkang menelan ludah saat melihat susu Srintil yang montok. Ia tak pernah melihat susu seindah ini. Segera saja ia menyosor susu itu, dihisap dan diemutnya susu Srintil. Srintil tak bisa apa-apa, ia diam saja menerima perlakuan Yuyu Kangkang. Ia tak mengira hari ini ia kan diperkosa oleh lelaki bajingan ini.

Yuyu Kangkang terus menyerangnya, dihisapnya seluruh kulit Srintil. Bau sabun sirih semerbak menusuk hidung Yuyu Kangkang membuat ia sangat bersemangat. Dilepasnyalah kain jarik yang membalut pinggang Srintil, kemudian ditariknya cawat gadis itu. Yuyu Kangkang melihat pemandangan yang menakjubkan. Memek yang mulus, sedikit bulu dan harum. Mulut lelaki tua ini pun tak sabaran langsung menjilati memek Srintil.

Srintil hanya bisa bilang "Hmmmmm...hhmmmmmm...!!" Ia ingin memanggil Galuh tapi tak bisa. Sementara itu Yuyu Kangkang telah menggelitik seluruh syaraf-syaraf birahinya. Membuat dirinya makin terbang ke langit. Ia pun akhirnya menikmati perkosaan ini. Buah kacang yang ditemukan oleh Yuyu Kangkang akhirnya membuat ia Srintil tak bisa apa-apa. Gadis desa itu pasrah ketika lidah tua bangka ini menggelitik tempat itu. Cairan pun keluar dari lubang memeknya.

"Ahh...nduk, enak banget memekmu. Tapi aku tak mau berlama-lama. Masih ada dua yang menunggu, hehehehe...siap-siap ya, pecah perawanmu nduk!" kata Yuyu Kangkang.

Penis tua bangka ini sudah tegang dari tadi. Melihat kemolekan tubuh Srintil membuatnya sangat haus akan sex. Maka tak ayal lagi Kepala penis itu mulai menerobos liang senggama Srintil. Srintil memekik tertahan, merasakan sakitnya dorongan dari kepala penis Yuyu Kangkang. Seret bagi Yuyu Kangkang. Ia sangat beruntung bisa mendapatkan dua perawan malam ini. Sama-sama seret, sama-sama meremas-remas batang tongkolnya. Yuyu Kangkang terus mendorong hingga selaput dara Srintil robek. Setelah itu licinlah gesekan kemaluan mereka.

Srintil yang awalnya meronta itu pun tak kuasa menahan gesekan kulit kemaluan mereka. Ia akhirnya menikmati goyangan dari Yuyu Kangkang. Tua bangka ini pun memeluk Srintil. Dikenyotnya lagi susu Srintil, dada perawan itu kini penuh cupangan. Pantat Yuyu Kangkang makin cepat menggenjot. Walaupun cepat tapi pejunya lama sekali keluarnya, mungkin karena ia barusan keluar. Yuyu Kangkang sedikit bersabar untuk menggenjot perawan yang satu ini.

Galuh makin cemas.

"Ratih, sebaiknya setelah ini biar aku yang menyeberang," kata Galuh. "Perasaanku tak enak."

"Udahlah Klenting Kuning, tak perlu khawatir emangnya kenapa?" tanya Ratih.

"Aku merasa ada yang aneh dengan kakek-kakek itu," kata Galuh.

"Maksudmu?" Ratih bingung.

"Sebaiknya kamu di sini saja menungguku, aku khawatir terjadi apa-apa dengan Saritem dan Srintil," kata Galuh.

Ratih mengalah, "Baiklah. Hati-hati kalau begitu."

Dari seberang sungai tampak obor menyala. Pertanda sudah aman.

Saat itu Srintil meneteskan air mata. Memeknya baru saja disemprot oleh lelaki asing. Kakek-kakek pula. Yuyu Kangkang sangat senang. Ia kembali membersihkan penisnya. Ia puas malam itu menggagahi dua gadis.

"Aku jemput teman-temanmu ya nduk, hari ini aku berpesta. Hahahaha," kata Yuyu Kangkang.

Tung Galesung ini kembali menaiki rakit. Ia kemudian sampai di seberang.

"Siapa setelah ini?" tanya Yuyu Kangkang.

"Aku!" kata Galuh.

"Ayo silakan!" kata Yuyu Kangkang.

Setelah naik rakit, Yuyu Kangkang mengayuh dayungnya. Ratih melambaikan tangannya kepada Galuh. Galuh mengangguk. Galuh sudah bersiaga, ia mempersiapkan seluruh panca inderanya. Sehingga ia bisa merasakan nyamuk-nyamuk yang berterbangan di antara mereka. Refleknya dinaikkan, ia bahkan tahu ada ikan yang sedang berenang-renang di dalam sungai, ia juga tahu arus sungai yang deras di bawah sana.

Tung Galesung mengamati tubuh Galuh yang sintal. Pantat bahenol, rambut panjang, kulitnya kuning langsat. Mulus. Parasnya cantik. Tak ada cacat.

Sesampainya di seberang. Galuh melompat ke darat. Diikuti oleh Tung Galesung. Mereka berjalan beriringan, saat itulah Tung Galesung alias Yuyu Kangkang akan menotoknya. Galuh yang sudah bersiap tahu bahwa ia akan diserang. Segera ia menghindar cepat menjauh beberapa tombak dari Yuyu Kangkang.

"Kurang ajar, aku tahu ada yang aneh, tenyata kau benar-benar biadab!" kata Galuh.

Melihat Galuh bisa kanuragan, Yuyu Kangkang terkejut. Ia tak mengira Galuh telah waspada. Galuh melirik kiri dan kanan. Tak jauh dari tempat itu di semak belukar. Ia mendapati tubuh telanjang kedua sahabatnya. Melihat itu geramlah Galuh.

"Dasar tua bangka. Aku akan membunuhmu, terimalah kemarahanku!" kata Galuh.

Ia pun menyerang Yuyu Kangkang. Kakek-kakek itu bertahan dan menghindar. Pukulan Galuh sangat keras, membuat tulang lengan yang menahan pukulan gadis itu serasa nyeri. Kembali Galuh mendesak Yuyu Kangkang dengan ilmu kanuragannya. Ia kelihatannya salah dalam berurusan. Ilmu gadis ini sangat tinggi. Yuyu Kangkang terdesak. Ia akan berlari tapi bajunya dicengkram oleh Galuh dan ditariknyalah lengan kakek cabul ini lalu dipatahkan.

Menjeritlah Yuyu Kangkang, "Ampuuuunnn....AAARRRHHH!"

Tak cukup sampai di situ, Galuh memutar tubuh kakek-kakek ini dan menendang kemaluannya. Ngilunya Yuyu Kangkang. Sepertinya telurnya pecah. Dengan satu tangan ia memegangi kemaluannya. Galuh tak puas, ia pun mematahkan kaki kanan Yuyu Kangkang. Si cabul ini pun menjerit kesakitan.

"Kau salah berurusan denganku, aku adalah Putri Galuh Candra Kirana, juga panglima tertinggi Kerajaan Jenggala. Kau tak akan aku ampuni karena ini!" kata Galuh. Ia melirik ke arah teman-temannya yang telanjang. Niatnya untuk menghabisi si jahanam ini pun diurungkan. Ia pun segera menolong teman-temannya. Dilepaslah totokan mereka dan diberi pakaian.

Srintil dan Saritem menangis tersedu-sedu.

"Sudah, sudah, jangan nangis seperti ini. Kalian berdua sebaiknya pergi. Ambil rakit itu dan bilang ke Ratih apa yang sebenarnya terjadi," kata Galuh.

"Tapi, aku tak tahu kalau engkau adalah tuan Putri Jenggala, ampun tuan putri," kata Saritem sambil menangis.

"Sudah tak apa-apa, kalian tetap sahabatku. Aku ingin menemui Kangmas Lumut. Aku akan jujur kepadanya siapa aku, kalian berdua harusnya tidak ikut. Aku yang salah. Pergilah menemui Ratih, diseberang sana. Setelah itu ini bawa ini," Galuh menyerahkan sebuah plakat. "Ini adalah plakat Jenggala, kau akan diperlakukan baik kalau menunjukkannya kepada prajurit Jenggala. Jangan sampai ketahuan oleh prajurit Panjalu karena akan terjadi petaka kalau sampai tahu aku ada di sini."

"Baik tuan putri!" kata Srintil dan Saritem.

"Udah, jangan begitu. Panggil aku Klenting Kuning seperti kemarin. Ya?" Galuh memeluk Srintil dan Saritem.

Kemudian keduanya dengan langkah tertatih-tatih meninggalkan Galuh sendirian. Tidak jauh dari situ terdengar suara langkah kaki. Galuh dengan jurus meringankan tubuhnya melesat meninggalkan tempat itu. Sementara itu Yuyu Kangkang tergeletak tak sadarkan diri. Ternyata ada prajurit yang datang memeriksa karena mereka mendengarkan suara jeritan Yuyu Kangkang.

Galuh naik ke tembok dan merapat ke rumah-rumah penduduk. HIngga ia pun sampai di keramaian. Ada pasar malam sepertinya. Galuh mulai mencari-cari orang yang dicintainya. Hingga secara tak sengaja ia melihat Panji sedang berada di sebuah toko senjata. Ia melihat-lihat. Orang-orang tampak menyeganinya. Mereka tahu bahwa itu adlah sang Pangeran Panji Asmoro Bangun. Saat itulah Galuh mencolek dia.

Panji kaget, "K..klenting Kuning, apa-apaan kau ke sini?"

"Kejutan, ku ingin buat kejutan," jawab Galuh.

"Sini sini!" Panji kemudian menggelandang Galuh untuk meninggalkan keramaian. Mereka menyelinap di antara rumah dan gang-gang.

Galuh langsung memeluk Panji, "Kakang Lumut, aku rindu sekali kepadamu. Kumohon jangan pergi. Apa kakang akan pergi berperang?"

"Ini sudah tugasku. Kutak bisa tidak patuh terhadap ayahku," kata Panji.

"Aku akan kehilangan kakang nanti," kata Galuh. Ia tak pernah takluk kepada lelaki, tapi kepada Panji sepertinya lain. Ia serasa nyaman bermanja-manja seperti ini.

"Tidak akan, aku berjanji. Oh iya, aku ingin kamu ikut aku sejenak. Menemui orang tuaku," kata Panji. "Aku akan jujur kepadamu, siapa aku."

"Oh ya?" Galuh sangat senang sekali.

"Ayo ikut!" kata Panji.

Mereka berdua kemudian berjalan menyusuri jalanan di kota Daha. Galuh tak tahu kalau kota ini sangat besar, seluruh persenjataan untuk peperangan sudah dipersiapkan. Pasukan-pasukan sudah bersiap untuk perang. Galuh semakin masuk ke kota Daha, ia melewati alun-alun kemudian sampai di sebuah istana. Hatinya berdebar-debar. Siapa sebenarnya Ande Ande Lumut ini? Kenapa setiap orang yang melewatinya selalu menghormat kepadanya.

Panji pun akhirnya masuk ke dalam istana yang dijaga ketat dengan pintunya yang besar. Di dalam istana itu tampak beberapa pengawal yang menjaga. Mereka masuk ke lorong-lorong istana. Galuh tak menyangka istana Panjalu sangat besar. Ornamen-ornamennya sangat bagus. Lukisan dan relief terpampang di tembok istana. Beberapa patung Dewa Ganesha dan Siwa tampak terpampang di sebuah ruangan yang mereka singgahi. Panji dan Galuh masuk ke ruangan yang mana di sana ada seorang wanita yang sedang duduk didampingi dayang-dayang. Melihat Panji datang, dayang-dayang itu disuruh pergi olehnya.

"Hormat kepada beliau, beliau adalah ibuku. Ratu Panjalu Dewi Sendang Biru," kata Panji.

Betapa terkejutnya Galuh. Ia tak menyangka apa yang dikatakan oleh Panji.

"Ibu, kenalkan inilah Klenting Kuning yang aku ceritakan," kata Panji.

Melihat keanggunan Ratu Panjalu, hal itu membuat Galuh teringat kepada ibunya permaisuri Ratu Jenggala yang sudah meninggal. Tampak ia berkaca-kaca, tak menyangka bahwa Panji adalah seorang pangeran.

"Cantik sekali, pantas saja anakku bisa tergila-gila kepadamu cah ayu," kata ibu ratu. "Kamu berasal dari mana?"

"Kahuripan, ratu. Hamba mohon maaf lancang masuk ke sini. Hamba tidak tahu kalau kakang Ande Ande Lumut ini seorang pangeran. Maafkan hamba karena telah menyukainya. Hamba tak pantas," jawab Galuh dengan menunduk sambil mengatupkan tanga.

Ibu ratu tertawa. "Jangan begitu, urusan mencintai dan dicintai itu tak ada hubungannya dengan kasta. Kalau pun kamu bukan bangsawan tapi anakku suka itu tidak masalah, bukan begitu le?"

"Maafkan hamba ibu ratu, hamba tak bisa. Maaf, permisi!" Galuh berbalik dan pergi meninggalkan ruangan itu.

Panji agak bingung dengan sikap Galuh. Ibu Ratu memberi isyarat untuk mengejarnya. Segera saja Panji mengejar Galuh. Tak susah untuk mengejar Galuh hingga kemudian Panji memegang tangan Galuh.

"Nimas ingin kemana?" tanya Panji.

"Maaf kakang, aku tak bisa. Hubungan kita tak akan bisa," jawab Galuh.

"Kenapa?" tanya Panji.

Galuh menoleh ke arah Panji, mata Galuh berkaca-kaca. Ia menangis. Ia tak menyangka orang yang ia cintai selama ini adalah pangeran Panjalu. Musuh negaranya. "Aku...aku tak bisa mencintaimu."

"Iya, jelaskan kenapa?" tanya Panji.

"Aku adalah Galuh Candra Kirana, putri Jenggala. Dan kerajaan kita bermusuhan. Aku tak bisa kakang," kata Galuh sambil menangis. "Kenapa, kenapa kita harus bertemu?"

"Tapi aku mencintaimu, aku tak peduli siapa kamu, aku tak peduli engkau dari mana. Aku mencintaimu tulus nimas," kata Panji. Ia pun langsung mendekap Galuh.

Galuh sebenarnya bisa untuk menolak Panji dengan dekapannya itu. Tapi Galuh serasa tak punya kekuatan untuk melawan Panji. Sepertinya seluruh tenaga dalamnya lenyap begitu saja. Seluruh ilmu kanuragannya menjadi tak ada. Panji memeluk Galuh.

"Aku adalah Pangeran Panji Asmoro Bangun, pangeran Panjalu. Kalau memang harus meninggalkan kerajaan ini demi dirimu, aku akan lakukan nimas, tapi jangan kamu pergi dariku," kata Pangeran Panji.

Galuh sekarang bingung. Ia lalu mendorong Pangeran Panji. Ia lalu berlari pergi meninggalkan Pangeran Panji seorang diri. Pangeran Panji memanggil-manggil namanya, tapi Galuh sama sekali tidak menoleh.

*****

Malang tak bisa berganti, nasib tak bisa diuji, takdir tak bisa kembali. Mungkin inilah hal yang tepat bagi Putri Galuh dan Pangeran Panji. Keduanya berada di medan perang. Keduanya sama-sama memimpin pasukan. Tampak Pangeran Panji memakai baju perangnya. Kali ini perasaannya sangat galau. Ia tak menyangka akan berhadapan dengan orang yang sangat ia cintai. Demikian juga Putri Galuh, matanya menyiratkan perasaan takut, galau, sedih semuanya jadi satu. Antara memilih ayahnya Raja Jenggala atau orang yang dicintainya. Satu persatu dayang-dayang membantunya untuk memakai baju perang.

Dari benteng yang menjadi pertahanan kerajaan Jenggala itu sejauh sepuluh mil ke depan, tampak pasukan Kerajaan Panjalu sudah siap untuk menyerang. Tinggal menunggu aba-aba saja, pasukan yang berjumlah 10.000 orang itu sudah siap menghancurkan pasukan Kerajaan Jenggala yang sekarang sedang bertahan di benteng pertahanan.

Pangeran Panji sudah siap dengan pedang terhunus. Ia telah memilih kuda terbaik, berwarna putih. Sementara itu di pintu benteng Putri Galuh pun sudah bersiap. Ia juga sudah membawa pedang terhunus. Matahari mulai muncul setelah kegelapan mulai menghilang, terompet ditiup, seketika itu teriakan sang Pangeran membahana ke seluruh pasukan. Sang Putri pun demikian. Pasukan-pasukan itu saling maju, menerkam, menerjang.

Berbenturannya kedua kekuatan. Pangeran Panji melumpuhkan banyak prajurit, demikian juga Putri Galuh. Mereka mengayunkan pedang mereka kiri dan kanan, menumpas prajurit-prajurit yang menghalangi jalan mereka. Dan takdir pulalah yang akhirnya mengantarkan mereka sampai bertemu.

"Nimas, kumohon jangan melawanku," kata Panji.

"Kakang, aku tak bisa," kata Galuh.

Kedua insan yang saling mencintai ini pun membenturkan pedang mereka. Kilatan cahaya memancar dari kedua belah pedang itu. Bunga-bunga api seperti berhamburan ke mana-mana. Pangeran Panji dan Putri Galuh sama-sama sakti mandraguna. Mereka menggunakan kekuatan kanuragan mereka, jurus demi jurus berpadu, saling menghantam. Tapi sama sekali keduanya tak ingin melukai satu sama lain. Bahkan Pangeran Panji pun tak tega untuk memukul kekasihnya itu, Galuh pun tak tega mendaratkan satu pukulan pun ke Pangeran yang dicintainya itu.

"Kenapa kita harus seperti ini?" tanya Galuh. Air matanya pun berderai. Panji akhirnya mengakhiri pertempuran ini. Ia mundur. Pertempuran berhenti ketika malam tiba. Tak terasa mereka bertempur seharian ini. Semua kekuatan telah dikerahkan. Pertahanan Kerajaan Jenggala sangat kuat. Kerajaan Panjalu belum bisa menembusnya.

Esoknya dimulai lagi peperangan yang memilukan itu. Pangera Panji dan Putri Galuh kembali bertemu. Mereka sudah berusaha menghindar tapi tidak bisa. Apa yang bisa dilakukan oleh Pangeran Panji? Tidak ada. Keduanya hanya saling berhadap-hadapan tak bergerak.

"Kakang, seranglah aku. Kalau kau tak menyerang akulah yang akan menyerang!" kata putri Galuh.

"Aku tak bisa nimas, bagaimana mungkin aku menyakiti orang yang aku cintai?" kata Pangeran Panji.

"Tapi, kita dalam perang. Engkau patuh kepada titah raja, aku pun patuh kepada titah raja. Engkau menyerang kami dan kami bertahan," kata Putri Galuh.

"Kalau kau mengijinkan, aku akan taklukkan seluruh prajurit dan kulumpuhkan benteng ini, kecuali engkau. Aku tak akan melawanmu," kata Pangeran Panji. "Aku tak ingin engkau terluka."

"Aku tak bisa melakukannya," kata Putri Galuh.

"Aku akan melakukannya," kata Pangeran Panji.

Sang pangeran ini dengan ilmu kanuragannya pun tiba-tiba pergi menjauh dari Putri Galuh. Putri Galuh mengejarnya. Mereka kejar-kejaran. Pangeran Panji menumpas banyak pasukan dan mendesak masuk ke benteng sambil menghindar dari kejaran Putri Galuh. Hingga kemudian benteng pun jebol. Namun bersamaan dengan itu matahari sudah mulai tenggelam. Terompet dibunyikan pertanda pertempuran harus berakhir.

Namun hari itu adalah hari kekalahan Jenggala. Benteng mereka telah rusak. Kesaktian Pangeran Panji telah menghancurkan pintu benteng tersebut. Panji dan Galuh berhadap-hadapan. Kedua kerajaan telah bersepakat untuk tidak saling menyerang ketika malam tiba. Inilah aturan perang yang terjadi pada zaman itu. Pangeran Panji berbalik dan kembali ke tempatnya. Putri Galuh lagi-lagi menitiskan air mata. Ia tak sanggup menghadapi momen itu.

Ketika Panji balik ke tendanya ia mendapati ayahnya Prabu Sri Jayabhaya sedang senang menunggu kabar baiknya. "Masuklah anakku masuklah, ngger!"

"Sendiko dawuh Romo," kata Pangeran Panji.

"Hari ini kita menang, benteng mereka berhasil engkau rusak. Cita-citaku untuk mengembalikan Panjalu seperti jaman Airlangga tinggal selangkah lagi. Aku ingin menemui Prabu Jenggala besok sebelum matahari muncul. Kita akan mendengarkan apa yang akan mereka pilih," kata Prabu Sri Jayabhaya.

"Ampun Romo, paduka ananda punya permintaan," Panji bersimpuh di hadapan ayahnya.

"Katakan!"

"Hamba, selama ini jatuh cinta kepada Putri Galuh Candra Kirana. Ananda mengusulkan agar kita berdamai dengan kerajaan Jenggala, toh mereka sudah tak punya kekuatan lagi karena benteng terakhir telah kita lumpuhkan. Pertempuran besok pun akan menjadi sia-sia. Kalau ananda bisa menikah dengan Putri Galuh, maka kerajaan ini akan terselamatkan semuanya bisa kembali bersatu seperti di jaman Airlangga," ujar Panji.

Prabu Sri Jayabhaya tentu saja terkejut mendengarnya. Ia selama ini tak menyangka anaknya seperti itu. Tapi usul yang diucapkan oleh anaknya menurutnya boleh juga.

"Lalu apa rencanamu anakku?" tanya ayahnya.

"Ananda akan pergi ke sana sendirian, tunggu kabar dari ananda," kata Pangeran Panji.

****

Esoknya sebelum matahari terbit, Pangeran Panji membawa bendera putih di punggungnya. Ia berjalan sendirian menghampiri benteng pertahanan Jenggala. Beberapa prajurit mengunuskan tombak mereka menolaknya untuk masuk.

"Aku ingin bertemu dengan paduka dan tuan PUtri Galuh," kata Pangeran Panji.

Para prajurit saling berpandangan. Mereka tak tahu harus berbuat apa.

"Pergilah, kalian tahu aturan perangnya bukan? Aku tak membawa senjata, kalau kalian membunuhku karena tak bersenjata, maka kalian harus menerima akibatnya," kata Pangeran Panji.

Kemudian para prajurit menurunkan tombaknya. Pangeran Panji masuk ke benteng. Seluruh orang memberi jalan kepadanya. Mereka tahu siapa yang sedang mereka hadapi saat ini, putra mahkota kerajaan Panjalu.

Pangeran Panji masuk ke sebuah ruangan besar. Di sini ada banyak para panglima yang masih bertahan. Beberapa di antaranya terluka. Di ujung ruangan di singgasana, tampak seorang dengan mahkota emas di kepalanya. Dialah Raja Jenggala. Duduk di sebelahnya, seorang yang ia sangat kenal, rambutnya panjang terurai. Matanya tampak tak bisa menyembunyikan keterkejutannya melihat Panji.

"Prabu Jenggala, aku datang kemari dengan damai," kata Pangeran Panji.

"Apa maumu?" tanya Raja Jenggala.

"Aku menawarkan perdamaian," kata Pangeran Panji. Seketika itu seluruh ruangan langsung gaduh. Mereka berbisik-bisik.

"Apa ini? Engkau mau menghinaku?" tanya Raja Jenggala gusar.

"Tidak paduka, aku kemari karena tiga alasan. Dan kuharap engkau mendengarkan semuanya baik-baik," kata Pangeran Panji.

Raja Jenggala kini raut mukanya seriu, "Katakan alasan-alasanmu!"

Pangeran Panji melirik ke arah Putri Galuh. "Pertama, karena niat ayahku menaklukkan Jenggala adalah ingin menyatukan lagi Panjalu dan Jenggala yang telah lama berpisah karena perang saudara. Ayahku ingin membangun kerajaan besar yang akan terdengar sampai ke seluruh dunia. Di luar sana ada Sriwijaya, yang seluruh Sumatra dan Melayu telah mereka kuasai. Kalau kita tetap berperang seperti ini, bukan tidak mungkin mereka akan menghabisi kita suatu saat nanti.

"Kedua, kita sama-sama banyak kehilangan. Prajurit, harta, benda, nyawa bahkan mungkin ada anak-anak kita yang tewas di dalam pertempuran ini. Istri-istri yang kehilangan suaminya di medan perang. Kita bisa akhiri itu dengan perdamaian. Ayahku akan dengan senang hati menerimamu menjadi saudaranya kembali. Tak akan ada yang dilukai, seluruh orang-orang Jenggala akan aman, tak akan ada pajak, tak akan ada perbudakan semuanya bebas. Panjalu adalah milik kalian, kalian boleh tinggal di sana. Sebaliknya kami pun berharap tinggal di Jenggala pun aman.

"Dan yang ketiga.....," Pangeran Panji memejamkan matanya. Ia diam sejenak.

"Apa yang ketiga?" tanya Raja Jenggala.

"Yang ketiga," Pangeran Panji menoleh ke Putri Galuh. "Putri Galuh Candra Kirana dan aku saling mencintai. Aku ingin mempersunting dia dengan mas kawin persatuan Panjalu dan Jenggala."

Gegerlah seluruh ruangan. Tak pernah terpikirkan Pangeran Panji akan berkata seperti itu. Raja Jenggala apalagi ia terkejut, Galuh tak bersuara. Ia menunduk, entah malu, atau emosi. Tapi ia tak bisa menyembunyikan rasa cintanya kepada sang Pangeran.

"Putriku?!" panggil Raja Jenggala.

Galuh tidak berani untuk mendongakkan wajahnya. Ia sangat malu. Malu untuk menatap wajah ayahnya.

"Putriku Galuh!" Raja Jenggala berdiri ia lalu menghampiri putrinya dan mengangkat dagu anaknya itu.

Tampak derai air mata membasahi pipih Galuh. Putri Galuh pun kemudian memeluk ayahnya, "Maafkan ananda paduka, maafkan ananda, maafkan ananda......"

Raja Jenggala tak bisa berbuat apa-apa. Ia tak tega melihat anak semata wayangnya ini menderita. Akhirnya Raja Jenggala menyetujui perdamaian yang diusulkan oleh Pangeran Panji. Perang hari itu pun berakhir dengan kemenangan Kerajaan Panjalu. Seluruh prajurit bersorak-sorai. Dengan adanya perdamaian antara Panjalu dan Jenggala, maka kedua kerajaan ini pun bersatu.

Kerajaan Panjalu dan Jenggala kembali bernama menjadi Kediri seperti namanya dulu ketika dipimpin oleh leluhur mereka raja Airlangga. Seminggu kemudian dilaksanakan pernikahan antara dua kerajaan, Pangeran Panji dengan Putri Galuh.

****

Pernikahan antara Pangeran Panji dan Putri Galuh sangat meriah, rakyat berpesta selama seminggu penuh. Karena inilah untuk pertama kalinya daratan Jawa bersatu. Para pujangga pun menulis bait-bait syair tentang hubungan antara Pangeran Panji dan Putri Galuh. Mereka membuat-buat cerita dan sastra tentang Ande Ande Lumut, sebagian yang sudah kita kenal sekarang. Cerita sastra itu pun terkenal ke berbagai daerah, karena dibawa oleh para sarjana yang belajar ke kerajaan Kediri, lalu menyebar ke Sumatra, Ayothaya (Thailand), Singapura, Vietnam, hingga Filiphina.

Pangeran Panji masuk ke kamarnya. Inilah malam pengantin yang dinanti-nantinya. Di tempat tidurnya yang sudah ditaburi bunga dan kasur dengan bulu angsa yang empuk ada seorang putri berparas cantik jelita sedang duduk melamun. Putri Galuh Candra Kirana menerawang jauh, entah apa yang dipikirkannya.

Pangeran Panji melepas bajunya hingga hanya memakai kain jarik yang membelit pinggangnya. Putri Galuh mulai menampilkan sisi feminisnya. Ia tak pernah seperti itu kepada lelaki manapun selain kepada Pangeran Panji. Ia pun memejamkan mata ketika tangan Pangeran Panji mulai mengusap pundaknya.

"Kamu kenapa? Melamun? Takut?" tanya Panji.

"Aku terbayang ibuku, kakang," jawab Galuh.

"Pasti beliau sangat sayang kepadamu," kata Panji.

"Sangat, beliau sangat sayang kepadaku. Barangkali apa yang diajarkan oleh ibuku bahwa aku harus menjadi wanita yang baik agar bisa menjadi istri yang baik dan ibu yang baik bagi anak-anakku kelak. Namun beliau pergi terlalu awal. Akhirnya aku dididik ayahku untuk menjadi prajurit, diajari ilmu kanuragan, perang, politik, aku jadi rindu kepada ibuku," kata Galuh.

"Nimas," Panji mengangkat dagu Galuh. "Tentunya ibumu sekarang bangga melihatmu. Sebentar lagi engkau akan menjadi ratuku. Permaisuriku."

"Oh, Kakang," Galuh kemudian memeluk Panji.

Panji menciumi telinga Galuh. Seketika itu hantaran listrik menggelitik bulu roma sang putri raja. Tangan Panji mulai perlahan membuka kemben sang putri. Terpampanglah dua buah dada yang padat, putih, mulus dengan puting mengacung. Panji seumur hidupnya tak pernah melihat payudara seindah ini. Galuh merebahkan dirinya di atas ranjang. Panji mengejarnya, memberikan kecupan lembut di bibir Galuh. Inilah ciuman pertama mereka, ciuman pertama di malam pengantin. Lidah mereka saling berebut ludah. Saling menghisap, memanjakan antara satu dengan yang lain.

"Kakang, aku baru pertama kali dicium oleh laki-laki," ujar Galuh.

"Nimas, bibirku ini pun baru pertama kali menyentuh bibir perempuan," kata Panji.

"Gombal, bukannya banyak wanita yang tergila-gila kepadamu?" tanya Galuh.

"Ada tentunya, tapi aku tak suka mereka yang menyukaiku karena aku adalah seorang pangeran. Aku menyukai seorang wanita yang menyukaiku karena aku bukan pangeran," kata Panji.

"Oh...kakang," Galuh kembali mencium pangerannya ini.

Mereka pun hanyut dalam pelukan cinta. Cinta yang tulus, cinta yang selama ini mereka inginkan. Panji pun aktif menghisapi leher istrinya ini. Ia pun memberikan hadiah cinta di sana, dua tanda merah merona di leher jenjang Galuh. Wajah Panji dibenamkan di belahan dada Galuh.

"Kakang...ohh...!!" Galuh memeluk kekasihnya itu. Panji menghirum bau tubuh Galuh yang harum semerbak bunga melati.

Sungguh beruntung Panji mendapatkan gadis seperti Galuh. Ia bisa merasakan tubuh kekasihnya itu seperti selimut yang hangat. Kulitnya yang mulus, dadanya yang kenyal, semuanya dia dapatkan. Kenikmatan surgawi yang tak ada bandingannya. Lidah Panji sudah berada di puting susu Galuh. Ia tak pernah merasakan kenikmatan seperti nikmatnya menyusu kepada gadis perawan. Galuh melenguh. Ia memeluk punggung suaminya itu. Kedua pahanya menjepit pinggul Panji.

"Kakang, ohh....Galuh enak kakang, teruskan Kakang Panji," kata Galuh.

Panji tak usah diperintah, ia sudah tahu bahwa setiap hisapan-hisapan yang dilakukannya membuat nyaman tubuh Galuh, bahkan setiap gelitikan di payudara Galuh adalah sebuah rasa kenikmatan sendiri. Lidah Panji menari-nari di tubuh Galuh yang halus. Ia kembali membenamkan mulutnya di buah dada Galuh. Galuh telah melepaskan kekuatannya. Ia pun lupa kalau ia bisa saja sekarang ini menerbangkan Panji dengan ilmu kanuragannya, tapi entah mengapa malam itu ia lupa segala-galanya. Galuh lupa bahwa dirinya adalah Putri Raja, ia hanya ingat bahwa dirinya adalah seorang pecinta yang ingin dicintai oleh orang yang dicintainya. Mereka tenggelam dalam lautan asmara. Membawa perasaan ruh mereka ke nirwana.

Panji pun makin penasaran dengan tubuh istrinya. Ia mulai menciumi perut istrinya yang rata. Dan dilihatnyalah sebuah rumput hijau dengan bau sirih. Namun keharuman itu malah membuat Panji mabuk kepayang. Ia menciumi tempat pribadi milik istrinya itu.

"Ohh...kakang menyentuhkuu...kakangku ohh...!" Galuh mengangkat pantatnya sedikit ketika bibir Panji menggelitik bibir memeknya yang merekah merah. Galuh memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya.

Panji mencium dan menjilati rasa gurih yang dirasakannya di bawah sana. Sapuan lidahnya membuat Galuh benar-benar mabuk kepayang. Ia takluk kepada Panji. Galuh tak sanggup lagi untuk terus bertahan dari rangsangan Panji. Terlebih pemuda ini menyentuh bagian butiran kacang yang merupakan titik tersensitif yang ia punyai. Galuh banjir. Dan tiba-tiba pantatnya pun naik, sehingga kepala Panji tertekan. Galuh menjerit. Ia menutup mulutnya, berusaha agar suaranya tak keluar lagi. Matanya terpejam dan ia merasakan plong yang luar biasa di memeknya. Baru saja ia merasakan orgasme untuk yang pertama kali.

"Kakang Panji ....!" Galuh menutupi wajahnya.

Panji mengelus-elus lengan Galuh, ia membuka kain penutup pinggangnya dan kini kedua insan itu telanjang. Kemaluan Panji sudah tegang. Malam inilah saat perjaka dan perawan bertemu. Galuh membuka sedikit tangannya. Dilihatnya suaminya yang gagah itu mulai menindihnya lagi. Kini batang tongkol Panji sudah berada di depan liang senggamanya, sudah siap untuk menerobos. Galuh kemudian memegang kemaluan suaminya itu dipijatnya.

"Ohh....nimas," keluh Panji.

"Punya kakang...besar, apa cukup masuk ke tempat Galuh?" tanya Galuh.

"Katanya akan terasa sakit, tapi akang tak tahu. Kalau misalnya memang sakit dan kamu tak bisa menerima akang tak akan meneruskan," kata Panji.

Galuh menggeleng, "Biar rasa sakit ini akan Galuh tahan, inilah pengorbanan kakang. Masuklah, sayangku!"

Panji dituntun oleh tangannya Galuh. Kepala penisnya sudah tepat di depan lubang senggama Galuh, perlahan-lahan batang tongkol besar itu mulai mendesak masuk. Galuh serasa perih. Kemaluannya berkedut-kedut menolak batang kemaluan Panji. Ia mencoba untuk tenang, batang itu makin ditekan perlahan-lahan. Galuh bisa menyembunyikan ekspresi kesakitannya agar tak mengganggu konsentrasi suaminya yang sekarang ini sedang menerobos masuk ke dalam dirinya.

Panji benar-benar didera rasa kenikmatan yang luar biasa. Inilah untuk pertama kali di dalam hidupnya ia merasakan penisnya diremas-remas oleh liang senggama. Ia berusaha menahan diri agar tidak klimaks terlebih dulu, walaupun mungkin untuk susah. Dibuku yang ia pelajari yaitu Kamasutra, seorang laki-laki harus bisa menahan diri hingga pasangannya bisa mendapatkan kepuasan terlebih dahulu. Bagaimana ia bisa bertahan? Kulit mulus Galuh, pahanya putih, paras cantik, dadanya sekal, padat, dan sekarang memeknya menggairahkan. Mungkin pemuda jaman sekarang yang mendapatkan putri raja pun tak akan bisa menahan diri untuk ngecret padahal belum sampai keperawanan mereka jebol. Sebab memang anggota kerajaan terlebih putri raja punya cara untuk mempercantik diri.

Panji dimabuk kebayang, ia pun akhirnya menuntaskan batang penisnya ke dalam liang senggama sepenuhnya. Galuh tersentah, ketika ia merasakan perih yang luar biasa. Kemaluannya benar-benar mencengkram kuat batang Panji. Seakan tak percaya ia pun melirik ke bawah. Benar-benar masuk semua. Perut mereka berhimpit, Panji pun kemudian memeluk kekasihnya itu. Payudaranya kini bertemu dengan dada Panji.

"Kakang...ohh...,"

"Sakitkah nimas?"

Galuh membelai wajah Panji, "Sedikit..., kakang rasanya bagaimana?"

"Luar biasa, punyaku ngilu...,"

"Sakit?"

"Tidak, justru nikmat."

"Aku tak pernah merasakan perih seperti ini sebelumnya, tapi dengan kakang di sini rasa perih itu hilang...ouuchhh!" tiba-tiba Panji menggesek kemaluannya.

"Kenapa nimas?"

"Tak apa-apa kakang sayang, Galuh merasa nikmat," kata Galuh. Ia pun melingkarkan kakinya ke pinggang Panji.

Panji bersemangat lagi, pantatnya naik turun perlahan. Kedua insan ini pun tenggelam dalam lautan birahi. Mereka tak ingat lagi berada di mana. Jeritan-jeritan kecil Galuh saat ia menerima rangsangan Panji membahana di ruangan ini. Pelukan Panji makin erat saat ia mulai menghantarkan diri mereka kepada titik puncak persenggamaan. Kocokan kemaluan Panji di dalam liang senggama Galuh makin cepat, Galuh hampir klimaks lagi. Makin lama makin banjir kemaluan Galuh. Mereka berdua berciuman, saling menghisap ludah mereka. Galuh malu sekali terhadap apa yang terjadi di kamar ini. Seorang gadis yang selalu menjaga kehormatannya, seorang putri raja. Kini ia harus merelakan kehormatannya kepada seorang pangeran dan juga kekasihnya. Ia memeluk Panji dengan erat seakan tak ingin berpisah untuk selama-lamanya. Panji pun demikian.

Tanda-tanda Panji akan keluar pun mulai dirasakannya. Penisnya menegang hebat, berkedut-kedut. Panji sudah tak mampu lagi menahan air maninya. Testisnya sudah bekerja, sperma sudah diproduksi sangat banyak. Testisnya sudah berkerut, ujung kemaluannya pun mulai gatal. Dan Panji menekan kuat-kuat hingga penisnya tenggelam semua, mentok di rahim Galuh.

"Ohhh....nimas....kakang ndak kuat lagi....!"

"Kang mas Panji....aaaahhkkk!"

Kedua insan ini saling menekan pantat mereka. Semburan cairan kental hangat keluar dari batang Panji membasahi ruang rahim Galuh. Ledakan orgasme itu pun menghantarkan mereka kepada puncak kenikmatan yang tak pernah mereka rasakan sebelumnya. Rahim itulah yang nantinya akan melahirkan raja-raja Kerajaan Kediri selanjutnya. Kisah Panji dan Galuh akan abadi sepanjang jaman.

Namun, itu tak berlangsung lama......

****


Yuyu Kangkang berhasil selamat. Mendengar peristiwa pernikahan Putri Galuh Candra Kirana dengan Pangeran Panji Asmoro Bangun dan kerajaan Panjalu dan Kerajaan Jenggala bersatu, membuatnya geram. Dia pun mengatur cara untuk balas dendam. Tung Galesung pergi ke sebuah padepokan di Puncak Gunung Kawi. Ia membawa dirinya dan luka-lukanya.

Di sana ia bertemu dengan seseorang Mpu yang kesaktiannya tak bisa diremehkan. Dia juga adalah guru dari Tung Galesung. Namun karena Tung Galesung seorang murid yang durhaka karena telah menggarap istri dari gurunya, maka dia pun terusir. Sang Guru lalu mengutuknya bahwa ia akan jadi mata keranjang dan tukang cabul seumur hidupnya sampai ia kembali lagi kepada gurunya. Dan kutukan itupun terjadi.

Setelah perjalanan berminggu-minggu akhirnya sampailah Tung Galesung ke padepokan Gagak Ireng. Mpu Gagak Ireng mengetahui kedatangan Tung Galesung, ia sudah berada di teras menyaksikan murid durhakanya itu berjalan terseok-seok tanpa punya kesaktian yang berarti lagi.

"Aku tahu kau akan datang suatu saat nanti, murid durhaka!" kata Mpu Gagak Ireng.

"Guru...maafkan aku guruu....!" Tung Galesung pun bersimpuh, tersungkur dan membenamkan wajahnya ke tanah. Ia pun menangis sejadi-jadinya.

"Sekarang apa maumu?" tanya gurunya.

"Aku ingin balas dendam guru, aku ingin balas dendam," kata Tung Galesung.

"Siapa orangnya?"

"Putri Jenggala, Galuh Candra Kirana."

Betapa kagetnya Mpu Gagak Ireng mendengarkan penuturan Tung Galesung. "Punya urusan apa kamu dengan Putri Jenggala? Apa dia yang membuatmu seperti ini?"

Tung Galesung mengangguk.

Mpu Gagak Ireng tertawa terbahak-bahak. "Ternyata kutukanku benar-benar terjadi kepadamu. Sekarang, kamu masih mata keranjang lagi? Masih suka main wadon?"

"Tidak guru, aku bertobat, aku bertobat. Rambutku sudah memutih, aku sudah tak ingin lagi. Tapi sebelum aku mati, aku ingin membalaskan dendamku! Kumohon guru, tolonglah aku ini permohonan terakhirku, setelah itu kau boleh membunuhku atau mencampakkan aku," kata Tung Galesung.

Melihat kesungguhan Tung Galesung, Mpu Gagak Ireng kemudian bangkit dan berjalan mendekati muridnya itu. Ia mengusap tangan Tung Galesung yang patah. Satu tarikan dan tangannya pun sembuh. Tung Galesung tak merasa sakit sama sekali. Hal yang sama dilakukan kepada kaki bandot tua itu.

"Berdiri! Ikut aku!" kata Mpu Gagak Ireng.

Tung Galesung berdiri, ia tak menyangka bisa berjalan dengan normal lagi. Mpu Gagak Ireng kemudian mengajaknya ke dalam rumahnya. Di dalam rumah itu tampak empat buah bijih besih tertata rapi di atas altar dengan taburan bunga. Empat bijih besi berbentuk kotak itu tampak memiliki aura yang aneh.

"Ini apa guru?" tanya Tung Galesung.

"Ini adalah cikal bakal pusaka. Setiap pusaka punya benihnya, mereka ada yang dibuat dari besi biasa kemudian ditempa jadi senjata, baru diisi. Tapi aku tidak membuat seperti itu. Empat bijih besi ini akan menjadi pusaka dengan cara yang lain. Aku menyebutnya penjelmaan," kata Mpu Gagak Ireng. "Kalau yang kamu inginkan dibalaskan dendamnya adalah Putri Galuh Candra Kirana, maka aku sangat senang sekali. Bijih besi ini akan aku berikan kepada Mpu Gandring, Mpu Ranubhaya, Mpu Waringin dan Mpu Paneleh. Mereka akan mendapatkan pusaka-pusaka yang berisi naga. Dan naga-naga ini hidup di dalam pusaka-pusaka tersebut. Hanya saja untuk membuat naga-naga itu aku harus melakukan ritual-ritual khusus. Mereka adalah Naga Putih, Naga Biru, Naga Kresna dan Naga Pasa.

"Sudah terkumpul tiga naga, kurang satu. Kesemua naga itu adalah raja dan ratu di tanah Jawa. Kalau memang kau ingin Putri Galuh yang menjadi salah satu dari pusaka ini, maka tunggu dia sampai jadi ratu. Lalu bawa kemari. Karena kalau ia menjadi ratu kekuatan pusaka ini sangat luar biasa," ujar Mpu Gagak Ireng.

****

Tung Galesung tentu saja benar-benar bersemangat. Ia memang ingin membalas dendam. Tak lama setelah Prabu Sri Jayabhaya wafat dan digantikan oleh Pangeran Panji yang bergelar Sri Kamesywara, Tung Galesung memulai rencana liciknya. Ia mengumpulkan jawara-jawara untuk menculik Galuh Candra Kirana yang sekarang bergelar Ratu Kediri Dewi Sekartaji.

Selama pemerintahan Jayabhaya Kerajaan ini besar hingg diakui sebagai salah satu kerajaan besar di bumi selain Sriwijaya dan Arab. Saat itu di arab sedang masa bani Abbasiyah. Ketika Sri Kamesywara menggantikan ayahnya, kerajaan Kediri makin besar lagi dan berkembang dalam ilmu sastra. Banyak dihasilkan pararaton, serat, dan berbagai kesenian lainnya pada masa ini. Anak-anak Prabu Kamesywara pun makin banyak. Dari rahim istrinya mereka mempunyai tujuh orang anak. Tiga perempuan dan empat laki-laki. Dari pangeran-pangeran kecil ini nantinya lahir Kertajaya yang merupakan akhir dari Kerajaan Kediri setelah itu mulai dikuasai oleh Singasari.

Tung Galesung menyelidiki tentang kebiasaan ratu yang selalu setiap seminggu sekali ke Candi Tudungwongso untuk melakukan ritual keagamaan. Di sinilah Tung Galesung dan para anak buahnya menyergap. Tentu saja hal ini membuat kaget semua orang. Namun Sepertinya walaupun sudah menjadi ratu Dewi Sekartaji tak kehilangan kesaktiannya. Ia mampu dengan mudah mengalahkan seluruh perusuh itu. Hanya saja ia tak menyadari kalau Mpu Gagak Ireng ikut membantu Tung Galesung dengan menembakkan jarum beracun akhirnya Ratu Kediri Dewi Sekartaji tak sadarkan diri lalu diculik.

Tentu saja hal ini membuat geram Raja Kediri. Seluruh prajurit diperintahkan untuk menangkap hidup atau mati para penculik itu. Namun upaya mereka tak kunjung hasil. Raja Sri Kamesywara pun bersedih. Ia seperti kehilangan separuh nyawanya dan ia pun meninggal dalam keadaan sakit karena tak pernah lagi bertemu dengan istrinya. Setelah anak-anaknya menggantikannya timbullah perebutan kekuasaan karena ayahnya tak jelas kepada siapa kerajaan ini diserahkan setelah ia pergi.

Mpu Gagak Ireng dan Tung Galesung berhasil menculik Dewi Sekartaji. Mereka kemudian sampai juga di padepokan Gagak Ireng. Segera tubuh Ratu Kediri itu dimasukkan ke dalam kuali besar. Kedua orang ini melakukan ritual. Dalam ritual ini aura kegelapan mulai menyelimuti sang Ratu. Dalam keadaan itu, Dewi Sekartaji sadar.

"Di mana aku?" gumamnya. Tapi ia tak bisa menggerakkan tubuhnya.

"Tak perlu bergerak Ratu Kediri," kata Tung Galesung.

Melihat wajah Tung Galesung, Dewi Sekartaji naik pitam. Ia tak menyangka orang yang dibiarkannya hidup dulu bisa melakukan hal ini.

"Kau tak perlu panik, sebentar lagi hidupmu akan berubah," kata Tung Galesung.

Mpu Gagak Ireng pun selesai melakukan ritualnya. Kemudian entah dari mana, tiba-tiba tubuh Dewi Sekartaji terbungkus oleh asap hitam. Dewi Sekartaji pun menjerit, ia tak bisa apa-apa, tubuhnya terasa sakit, sakit semua, hingga kemudian setelah asap hitam itu menghilang tampak di depan Mpu Gagak Ireng dan Tung Galesung sesosok yang tak pernah mereka lihat sebelumnya. Seekor naga, bersisik dengan tubuh berwarna keemasan.

"Tak mungkin, aku tak pernah menyaksikan seperti ini," kata Tung Galesung.

"Ini sihir penjelmaan, ia telah terkutuk seumur hidupnya menjadi naga. Ia akan hidup di pusaka-pusaka dan untuk bisa keluar dari kutukannya ia harus memenuhi persyaratan berbeda-beda. Naga Putih ia harus bisa membunuh seorang bapak atau anak selama tujuh turunan, baru ia akan terbebas dari kutukannya. Naga Biru ia harus memerawani 13 orang perawan tanpa ada paksaan. Naga Kresna ia harus mengalirkan seratus ribu darah manusia dengan pedangnya dalam sekali cabut. Naga Pasa ia harus membunuh sepuluh raja untuk bisa hilang kutukannya. Namun sekali kutukan itu hilang, maka kesaktian sang naga akan berpindah kepada pemiliknya. Mereka akan kembali jadi manusia normal, tapi tanpa kesaktian sama sekali," kata Mpu Gagak Ireng.

"Jadi mereka akan hidup di sebuah pusaka?" tanya Tung Galesung.

"Tidak juga, apabila pusaka itu rusak atau terbuang dan tak punya tuan. Maka ia akan mencari sendiri tuannya dan bersemayam di tubuh tuannya itu hingga saatnya tepat keluar lagi. Tapi sang naga yang bersemayam di tubuh tuannya tak akan bisa berbuat banyak, terkecuali yang memang punya tenaga dalam besar," jelas Mpu Gagak Ireng. "Sampai seluruh kesaktiannya keluar dan diberikan kepada tuannya ia tak bisa apa-apa."

"Kau dengar Dewi? Tak bisa apa-apa," Tung Galesung tertawa puas.

Kemudian Mpu Gagak Ireng dengan mantra-mantranya tiba-tiba membungkus naga itu dengan lingkaran-lingkaran energi. Dan Naga Dewi Sekartaji itu pun masuk ke dalam sebuah bijih besi.

Setelah itu bijih besi itu pun dikirim ke para Mpu untuk dijadikan pusaka. Pusaka-pusaka itu terkenal sampai sekarang mereka adalah Keris Mpu Gandring, Pedang Naga Puspa Kresna, Pedang Naga Pasa dan Keris Kembar Naga Sari Naga Sasra. Hanya satu pusaka saja yang berisi naga kembar yaitu Naga Sari dan Naga Sasra. Karena mereka dibuat dari bijih besi yang sama.

Dari situlah Dewi Sekartaji bersemayam di dalam Keris Mpu Gandring yang ditempa oleh Mpu Gandring sendiri. Kemudian ia melihat dunia dari situ. Selama itu juga Dewi Sekartaji bersedih. Ia mengetahui bagaimana keadaan suaminya ketika meninggal, masih merindukan dan mencarinya. Ia juga bersedih melihat kehancuran Kediri karena perang saudara. Harapannya pun pupus untuk bisa menghilangkan kutukan yang terlalu berat baginya. Di tangan Ken Arok, Dewi Sekartaji bisa membantu Ken Arok merebut Kediri dan menjadi Raja Singashari.

Setelah itu pusakanya berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain. Ia juga melihat Majapahit, mengetahui sekte-sekte gelap yang dibuat oleh Mpu Gagak Ireng dan Tung Galesung. Mereka ditumpas habis dan tinggal pengikut-pengikut kecilnya. Setelah itu dalam kesedihannya itu ia masih teringat dengan suaminya abad demi abad, zaman demi zaman hingga suatu ketika Keris Mpu Gandring terbuang, terjatuh di kedalaman laut.

Hal itu terjadi ketika keris dibawa oleh salah satu panglima perang yang melawan penjajah Belanda di Laut Jawa. Keris itu terjatuh dan tenggelam di sana. Tak ada yang mengetahuinya. Dewi Sekartaji menangis siang dan malam. Tak tahu lagi harus bagaimana, tapi seiring waktu ia pun akhirnya harus tegar menghadapi kenyataan. Zaman sudah berubah. Dunia sudah berubah. Dan ia pun keluar dari keris itu mencari-cari tubuh yang pas. Hingga kemudian ia mendapati seseorang yang mirip dengan Pangeran Panjinya. Dialah Udin, yang ternyata darahnya masih ada hubungan dengan Raja Kediri walaupun ia tak sadar akan hal itu. Akhirnya ketika Udin yang kecil itu tidur, Dewi Sekartaji menyusup ke dalam raganya dan memberikan perlindungan kepada Udin hingga sekarang.


Kisah Seorang Ayah, Pada: Minggu, Agustus 02, 2015
Copyright © 2015 CERITA DEWASA Design by bokep - All Rights Reserved