Recent Posts Widget

Papa Pulang Bawa Oleh Oleh

http://cerita-porno.blogspot.com/2015/08/papa-pulang-bawa-oleh-oleh.html

Pelaku peran:

Damarto--------(Damar/40) = suami Ratna.
Ratna-----------------(36) = isteri Damarto.
Didit------------------(17) = putera tunggal Damarto & Ratna.
Warni Ningsih---(Nining/34) = ibunya Naning & Neni.
Naning----------------(19) = kakak dari Neni.
Neni------------------(15) = adik dari Naning.
Rinawati----------(Rina/15) = teman sekelas Neni sewaktu SMP.
Rani Astuti-------(Rani/15) = teman sekelas Neni sewaktu SMP.
Murni Atika-------(Atik/42) = bidan resmi untuk 7 dusun.
Suripman---------(Urip/44) = supir pribadi pak Damarto.

Bagian 1 - Sambil Menyelam, Minum Air

Bungalow yang ditempati pak Damarto beserta Naning dan Neni kakak-beradik dirasakan cukup nyaman ber-AC, apalagi dilengkapi dengan sebuah spring bed berukuran extra king size, kiranya tidak terlalu sempit bagi mereka bertiga untuk tidur bersama.

Perawakan pak Damarto, pria hampir paruh baya ini cukup tampan dan tegap dibanding dengan pria yang seumuran dengannya, umur 40 tahun, tinggi 175 dan berat badan 70, tidak terlalu gemuk dan jauh daripada kurus, sedang-sedang saja begitu.

Naning yang berbaring disebelah kiri pak Damarto, berumur 19 tahun, tinggi 158 cm dan berat badan 52 kg, kelihatan agak gemuk tapi tidak terlalu 'chubby' sekali serta mempunyai ukuran payudara 36A, nah ini dia... asset berharga milik Naning inilah membuat pandangan mata pak Damarto rada jelalatan bila menatap 'area terlarang' itu.

Neni yang adiknya Naning, berbaring disebelah kanan pak Damarto dan dibatasi oleh tembok kamar disebelah kanan tubuh muda belianya, berumur 15 tahun, tinggi 155 cm dan berat badan 44 kg, kelihatan agak kurus tapi tidak terlalu sekali serta ukuran payudara belianya 34B, sampai-sampai mata pak Damarto bila menatap ke arah payudara Neni itu, suka bertanya-tanya dalam hati... seperti apa ya... bentuknya bila dilihat dalam keadaan telanjang... dipandang dengan mata telanjangnya yang rada usilan itu.

Hari semakin larut malam saja, jam dinding telah menunjukkan waktu pukul 23:20 tengah malam.

Neni terlihat sudah tertidur pulas sejak satu jam yang lalu, sedangkan Naning yang kakaknya Neni, berusaha keras berbaring pada posisi tidur tertentu diupayakannya agak lamaan, agar tidak kentara bahwa dia belum bisa tidur dan hanya memejamkan kedua pelupuk matanya saja. Tapi berbaring dengan posisi tertentu selalu gagal saja untuk dibuat tetap tenang. Sebentar dia terlentang lalu sebentar kemudian tidur miring menghadap kekiri. Yang pasti Naning tidak punya keberanian untuk tidur miring kearah kanan... menghadap pada tubuh pak Damarto.

Pak Damarto yang tahu semuanya ini, akhirnya tidak kuasa juga menahan dirinya untuk tidak terlalu dekat dengan tubuh Naning yang tengah berbaring gelisah. Ditengok sebentar kearah Neni yang terlentang masih tidur dengan pulas dan terlihat dari gerak turun-naik dadanya yang bernapas secara teratur. Dengan perlahan dan berusaha tidak menimbulkan guncangan pada spring bed itu, akhirnya berhasil juga mendekat dan lekat pada punggung Naning yang berbaring miring menghadap kekiri.

Naning yang tahu sentuhan pada punggungnya, langsung berbaring kaku dan mendengar suara bisikan pak Damarto yang penuh birahi pada telinga kanannya yang polos tidak memakai anting-anting. "Belum bisa tidur ya... Ning? Sama dong dengan bapak...". Naning berpura-pura tidak mendengar dan berusaha keras berbaring miring kekiri tetap diam dengan susah payah, jantungnya mulai berdetak lebih kencang. Tapi pak Damarto tidak mau menyerah begitu saja, melanjutkan bisikannya, "Jari-jari tangan bapak sudah mendekati pinggangmu nih! Eeeng-iiing-eeeng...!".

Mendengar itu, dengan seketika Naning membalikkan badannya, tidur terlentang kembali sembari melancarkan protes keras. "Iiihhh... bapak... jangan curang dong...! Selalu memanfaatkan kelemahan Naning nih!", sembari menengok kearah pinggangnya sebelah kanan, tapi tidak ada jari-jari tangan pak Damarto disana. "Eh... kirain... bapak ternyata suka bohong juga ya... hi-hi-hi... ma'afkan Naning ya pak! Tapi... hi-hi-hi...!", kata Naning sambil tertawa tidak bisa menahan tawanya.

Mana punya keberanian lagi pak Damarto menggelitik pinggang Naning, setelah dia dinasehati panjang lebar oleh bu Ratna, isterinya. Memang pak Damarto sangat penurut sekali terhadap isterinya yang cantik dan berperasaan halus itu, hampir tidak pernah ia membantah perkataan isteri cantik yang sangat dicintainya itu.

"Kamu mau cepat tidur pulas nggak... Ning?", tanya pak Damarto dengan penuh nafsu, penisnya sudah tegang sedari tadi, panjangnya 18 cm cukup panjang tapi belum termasuk kategori sebagai penis sangat panjang sih... tapi lingkaran penisnya itu lho... sebesar lingkaran pergelangan tangan Naning, buat ukuran penis umumnya, ini sangat gemuk. Memang penis pak Damarto kalau lagi 'ngamuk' sungguh gede dan panjang!

"Ya pak... emangnya seperti apaan tuh pak?", tanya Naning mulai tertarik.

"Dengarkan bapak dulu... pertama kamu harus memejamkan kedua matamu barang sejenak... jangan dipaksakan... lakukan dengan santai saja...", kata pak Damarto bernafsu, begitu melihat Naning menurut dengan patuh apa saja yang disuruhnya... langsung saja mencipok bibir merah muda itu dengan penuh hawa birahi yang meluap-luap. Sedangkan Naning tahu bibirnya 'disergap' oleh mulut pak Damarto secara refleks berusaha meronta dan menghindar. Tetapi mana mungkin? Setengah bagian tubuhnya, yaitu seluruh bagian atas tubuhnya sudah ditindih oleh badan pak Damarto yang tegap.

Dirasakan oleh Naning yang mulai pasrah, lidah pak Damarto menyusup kedalam mulutnya mencari-cari lidah Naning begitu tersentuh langsung saja membelit lidah Naning. Gadis muda ini akhirnya ikut-ikutan juga cara yang digunakan pak Damarto... jadilah kedua lidah itu saling berkutatan... saling membelit didalam rongga mulut Naning. Inilah FK perdana bagi Naning.

Akhirnya terlepas juga tautan lidah itu dan segera saja Naning memberitahu, "Jangan disini pak, nanti goyangan tempat tidur ini... bisa membangunkan Neni".

Pak Damarto buru-buru menengok kearah Neni yang masih saja tertidur nyenyak.

"Ayo sayang... kita lakukan diatas karpet lantai saja", kata pak Damarto sambil menyambar selimut yang masih terlipat rapi yang belum sempat dipakai dan langsung digelar menutupi karpet lantai itu.

Mereka berciuman kembali sembari berlutut, pak Damarto begitu merasa Naning ingin merebahkan badannya terlentang langsung dicegah oleh pak Damarto sambil berkata pelan, "Kita buka dulu semua pakaian kita...".

Naning yang sekarang menjadi patuh dan ikut-ikutan bernafsu, buru-buru melepas seluruh pakaian, blus atas, gaun bawah, BH dan CD-nya.

"Lain kali kalau mau tidur, jangan lagi memakai BH, agar supaya pertumbuhan payudara-mu bisa sehat dan tidak belang warna kulitmu pada bagian itu. Kalau CD sih... terserah, mau dipakai atau tidak. Tetapi saran bapak sih... sebaiknya tidur tanpa CD saja".

Dengan bertelanjang bulat mereka berbaring kembali, tubuh pak Damarto menindih diatasnya, berdua melanjutkan FK yang sempat tertunda tadi. Tangan kiri pak Damarto bergerak kebawah dan memegang penisnya yang sudah panjang dan tegang oleh kobaran gejolak gairah yang membara... mengarahkan palkonnya... ingin segera menembus vagina segaris tipis dan klimis milik Naning. Palkon yang kelihatan rada 'galak' dan 'bermata satu' seakan dapat melihat posisi tepat untuk menyusup masuk menuju 'lubang nikmat' vagina gadis muda itu.

"Aduuhh... pak! Pelan-pelan dong! Entar malah robek memek Naning deh jadinya...", pinta Naning menjerit kecil.

"Oh... maafkan bapak... sayang...", jawab pak Damarto yang wajahnya 'terpaksa' menjauh dari wajah ayu Naning yang kelihatannya sudah pasrah menghadapi segala gempuran seks pemain 'old crack' yang berpengalaman ini, tubuh pak Damarto bangun dan mundur sedikit dan... ngedeprok ditengah-tengah dekat vagina segaris tipis dan klimis vagina Naning.

Rupanya terobosan penis kakek (bapak dari ayahnya) yang tidak terlalu panjang dan rada kisut itu tidak mampu meninggalkan bekas pada vagina gadis muda ini, kalau dilihat dari luar. Tidak sedikitpun bagian celah dari vagina itu yang terlihat melebar. Hanya selaput dara didalam vagina gadis itu sudah tidak ada bekasnya sama sekali, akibat digauli beberapa bulan oleh kakeknya yang bejat itu... sudah habis 'terkikis' oleh penis kisut sang kakek.

Dengan cekatan serta kepiawaian seorang 'old crack' mendekap mesra tapi penuh nafsu birahi dengan mulut pak Damarto pada vagina mungil itu, serta ujung lidah yang kesat-nya berseluncur-ria diatas permukaan kelentit sang gadis muda.

Akibatnya... segera bisa dilihat. Terlonjak-lonjak pinggul mulus Naning sembari menggeleng-gelengkan kepalanya kekiri dan kekanan... dan mendesis, "Aduuuhhh... pak! Mau-maunya sih... gituin punya Naning... ternyata kok... enaaakkk sekali...! Uudaaah... pak! Oh-ooohhh... banjir deh... punya Naning...!". Dikuti dengan... <seerrr...!> <Seerrr...!> <Seerrr...!> terhenyak tubuh sintal Naning jadinya.

"He-he-he... memang begitu tujuannya! Supaya punya bapak bisa leluasa bertandang kedalam...", kata pak Damarto tertawa senang. Sedangkan penisnya mengangguk-angguk tegang... rupanya setuju dengan pemiliknya.

Tidak pake buang waktu... mumpung vagina Naning lagi banjir-banjirnya... entar keburu surut lagi... bisa berdua sama-sama lecet jadinya... Tubuh tegap pak Damarto sudah berpindah keatas... menindih penuh tubuh sintal Naning yang masih dalam suasana orgasme. Palkon besarnya sudah menerobos masuk tanpa permisi lagi... sampai juga didepan mulut 'gua nikmat' vagina Naning yang legit. Dengan ditambah sentakan maju tidak terlalu pakai tenaga... <bleeesss...!> masuk sudah seluruh batang penis pak Damarto yang sangat tegang itu, meng-invasi seluruh 'gua nikmat' itu... dilanjutkan dengan pompaan-pompaan senggama penis gagah pak Damarto. Ayunan pinggulnya yang kekar bergerak... turun-naik... turun-naik... turun-naik... tidak terlalu grasa-grusu... kalem saja... kecepatannya sedang-sedang saja tapi konstan, seakan pak Damarto ingin meresapi kenikmatan yang didapat dari persetubuhannya dengan Naning, gadis muda yang ayu dan sintal ini...

Persetubuhan antara sepasang insan yang berbeda usia 21 tahun ini, berlangsung tenang tapi penuh rasa nikmat bagi kedua pelakunya. Rupanya Naning gadis muda ini telah menjadi spesialis sebagai pasangan nge-seks untuk pria yang sangat lebih tua darinya.

Yang tidak diketahui oleh pasangan yang lagi asyik-masyuk ini adalah... Neni yang sudah terjaga dari tidurnya... dengan disiplin tinggi tanpa hore-hore... serius menonton dengan tenangnya... melihat Naning, kakaknya sedang digauli oleh pak Damarto, dilihatnya tangan kakaknya memeluk mesra tubuh tegap yang masih saja sibuk mengayun-ayunkan pinggul kekarnya itu... turun-naik... turun-naik... turun-naik...

Neni, gadis muda belia yang baru beranjak dewasa ini, sudah biasa melihat Naning... bertelanjang bulat sedang disetubuhi... dulu oleh kakek mereka sendiri! Sekarang oleh pak Damarto, kelihatannya Neni lebih senang melihat adegan yang tengah berlangsung didepan matanya, penilaiannya... ini lebih seru bahkan kelihatan berlangsung lebih mesra... ketimbang melihat kakaknya, Naning digauli oleh kakek mereka sendiri... sang bandot tua itu!

Takut ketahuan oleh mereka yang sedang asyik nge-seks penuh kenikmatan itu, Neni mengulirkan tubuhnya lagi, berguling pelan ketempat dia berbaring tadi. Sekarang dia berbaring miring kekanan menghadap tembok. Tangan kanannya masuk menyusup kedalam CD-nya dan jari-jari lentik sibuk bermain-main dengan kelentit mungil dari vagina yang masih perawan ting-ting... Neni ber-masturbasi dengan pikiran masih dipengaruhi tontonan 'live show' tadi... Tidak memerlukan waktu lama, apa yang diinginkan tubuhnya itu... cukup dalam waktu 5 menit saja, tubuh muda belianya sudah terhentak-hentak pelan... mencapai klimaks-nya, yang langsung mengantarkannya kembali tertidur pulas dengan wajah ceria dan puas...

***

15 menit kemudian terlihat dua orang pasangan 'tua-muda' berdiri lalu melangkah menuju kamar mandi saling menopang dengan merangkulkan tangan pada tubuh pasangannya masing-masing... sangat mesra tampaknya, walaupun mereka sendiri belumlah sejoli. Beberapa tetes sperma jatuh keatas karpet kamar, rupanya pak Damarto sangat banyak menyemprotkan air maninya pada ML barusan tadi... mengantarkan orgasme pertama untuk pak Damarto dan orgasme untuk ke-dua kalinya bagi Naning.

Sesampainya didalam kamar mandi itu, eh... penis pak Damarto yang sangat setia sekali dengan pikiran ngeres 'boss'-nya ini... mulai membesar dan tegang kembali, orang-orang biasa menyebut keadaannya ini dengan satu kata pendek saja, yaitu: ngaceng!.

Pak Damarto langsung mendekap tubuh sintal Naning, gadis muda ayu yang bisa bikin para pria sangat bernafsu apalagi memandangnya dalam keadaannya yang bertelanjang bulat...

Pak Damarto berbisik pelan dekat bagian belakang telinga sang gadis, "Ning... sayang... tanganmu, coba berpegang erat pada pinggiran bathtub, kita... main lagi yuukk...!".

Jadilah Naning mengikut saja apa yang dikehendaki pak Damarto itu sambil berpikir. 'Sebenarnya... mau ngapain lagi sih...??!'.

Rupanya pak Damarto ingin menikmati nge-seks dengan Naning lagi, tapi kali ini dengan gaya ML, doggie style. Sambil memegang penisnya yang ngaceng hampir sempurna, palkon-nya langsung 'menyeruduk' masuk dan sampai kedalam gua nikmat vagina mulus Naning, yang terheran-heran... ternyata nge-seks bisa juga dilakukan dengan cara begini. 'Baru tahu aku... kayak guguk lagi ngewek aja...!', kata Naning dalam hati yang masih patuh saja dengan segala apa yang diinginkan kekasih barunya yang 2X lebih tua dari usianya sendiri...

ML kali ini tidak memerlukan waktu yang lama, hanya 10 menit-an saja... sudah cukup mengantarkan pak Damarto pada orgasme-nya yang ke-dua dan orgasme ke-tiga bagi Naning, sang gadis muda yang ayu.

***

Waktu sudah pukul 7:00 pagi hari. Pak Damarto sudah berpakaian rapi kembali, kemeja panjang, pantalon dan berdasi. Mandi pagi yang segar tadi, membuat tubuh tegap pak Damarto menjadi 'fit' kembali.

<Brrr...!> <Brrr...!> <Brrr...!> RBT getar dari HP pak Damarto berbunyi. Segera pak Damarto mengangkatnya dan menempelkan pada telinga kirinya.

<"Ya halo...! Siapa nih...!?">, tanya pak Damarto mengawali pembicaraan lewat sambungan telekomunikasi cellular ini.

<"Hi-hi-hi... bekas pacar mas yang pertama dan satu-satunya... ini lho! Apa kabarnya disana... mas?">, jawab riang bu Ratna sambil bertanya balik.

<"Oh... kamu toh Rat... baik-baik saja sayang... mana tuh... jagoan remaja kita... sayang...">, kata pak Damarto.

<"Ini ada... lagi bobo pulas diatas tempat tidur kita...">.

'Kok bisa...? Jangan-jangan ada hubungan dengan apa yang diucapkan Ratna dengan nada bahagia kedengarannya kemarin itu... -semoga...-, sayang... selalu lah ingat! Kebahagiaanmu adalah kebahagianku juga... takkan berubah sampai akhir hayat...', kata pak Damarto dalam hati, yang sangat teguh dan selalu setia dengan segenap jiwa-raga... mencintai isterinya yang cantik jelita ini.

<"Eh... mas! Halo...! Yuuu-huuu...! Kok jadi bengong begini sih...? Dan... itu lho... mas... asyik ya mas...? Hi-hi-hi...">, kata bu Ratna menggoda suami tercintanya.

Agak kelabakan juga pak Damarto bila bercakap dengan Ratna, isterinya yang dikasihinya dengan sepenuh hati ini.

<"Apaan yang... 'asyik' itu sayang...?">, tanya pak Damarto sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal... kebiasaan buruk yang akhir-akhir ini mulai sering dilakukan tanpa disadarinya. Tapi kebiasaan buruk yang belum terlalu 'parah' ini sudah lama terpantau oleh Ratna, isterinya yang penuh perhatian dan pengertian.

<"Eh...! Mulai lagi ya... sayang? Mas... sekarang garuk-garuk kepala lagi ya? Padahal kepala mas tidak gatal... kan...?!">, kata bu Ratna.

<"Kok kamu tahu sih...?? Mas sungguh-sungguh sangat heran...!">.
'Seperti seorang... clairvoyant saja. Jangan-jangan memang Ratna, isteriku ini memang mempunyai talenta seperti itu... seseorang yang penglihatan matanya dapat melihat menembus tempat dan waktu, salah satu dari sekian banyak talenta bawaan manusia yang penuh dengan misteri', pak Damarto kagum campur heran... bertanya-tanya dalam hatinya.

<"Mas... suami tersayangku seorang...! Jangan berpikiran macam-macam dong...! Kebiasaan buruk mas ini... sudah terpantau oleh mataku... sudah cukup lama lho...! Ingat lho...! Mas sekarang... bukan saja sebagai bapak keluarga, tapi juga... sebagai bapak buah... dari anak-buah mas yang lumayan banyak itu. Cobalah berusaha... ketika mas merasa heran akan sesuatu... pikiran mas tetap fokus mengendalikan tangan-tangan mas... agar anggota tubuh mas itu tidak... mampir di kepala mas dan... menggaruk-garuk disana! Padahal kepala mas kan tidak ketombean kan... berarti tidak gatal dong! Jangan sampai kebiasaan buruk mas ini... dijadikan untuk bahan berpantomim-ria oleh anak buah mas... meskipun aku tidak punya prasangka buruk apapun pada anak-buah mas... bukankan kita lebih baik menghindari hal semacam itu...? Yang mungkin disuatu hari kelak bisa merugikan mas sendiri... Aku tidak pernah berniat menggurui mas... tapi yakinlah karena... aku sangat mencintaimu mas...!">, kata bu Ratna mengakhiri penjelasannya yang panjang lebar ini.

Agak termangu juga sesaat mendengar penjelasan isterinya tercinta... sudah cantik jelita... bijak lagi... Buru-buru pak Damarto bicara menanggapi perkataan isterinya itu, maklum... khawatir disangka bengong lagi... padahal sih... iya juga sih...!

<"Benar sayang... tidak terpikirkan olehku... kamu Rat... selain sebagai ibu rumahtangga yang baik, juga... merupakan penasihat pribadi mas yang sangat... bijak. Terimakasih ya... sayang!">, kata pak Damarto mengomentari perkataan isterinya dengan penuh kasih-sayang.

<"Eh... mas! Gimana...? Sukses ya meng-'eksekusi' mereka berdua, hi-hi-hi... kalau sukses, isterimu ini mengucapkan selamat deh... bercape-ria... hi-hi-hi....!">, kata bu Ratna mulai menggoda suaminya lagi.

<"Ratna-Ratna... isteriku sayang...! Tidak berubah-ubah banyolanmu itu sayang... emangnya suamimu ini seorang algojo apa? He-he-he...">, jawab pak Damarto sembari tertawa.

<"Wah gimana toh ini...? Ditanya malah tertawa...?!", tanya bu Ratna masih penasarannya saja.

<"Begini sayang... mas mengakui telah ML dengan Naning tadi malam... malah sampai 2X... Cuma untuk ML dengan adiknya Naning, si Neni... mas tidak sampai hati... dia masih belia sekali dan... perawan ting-ting loh! Dan aku ada usulan padamu Rat... terserah sepenuhnya pada penilaian dan persetujuanmu, karena mas pikir mereka akan lebih lama berdekatan denganmu... ketimbang denganku yang sering keluar rumah... bahkan sekarang aku lebih banyak keluar kota. Seperti kamu ketahui... aku mempunyai kerabat sangat sedikit sekali... yaa itu... gara-gara gen itu! Seperti kesepakatan kita bersama... kita berniat mencari PRT barang satu atau dua orang... tetapi setelah aku berpikir-pikir cukup lama... kok kayaknya seperti aku bukan menemukan PRT, melainkan... seakan aku telah menemukan kerabatku sendiri... misalnya dari daerah... begitu! Bagaimana pendapatmu tentang hal ini... sayang?">, kata pak Damarto dengan harap-harap cemas.

Kali ini justru bu Ratna membutuhkan waktu beberapa detik untuk mengolah makna perkataan dan usulan pak Damarto, suami tercintanya. Dan dengan penuh kesabaran, pak Damarto menunggu tanggapan isterinya tentang hal ini.

<"Wooww... keren! Inilah berita yang paling membahagiakanku mas...! Tak kusangka, ternyata mas punya ide sangat cemerlang! Dari lubuk hatiku yang paling dalam... aku berbahagia sekali jadinya... terimakasih mas... cintaku seorang...!">, kata bu Ratna terharu.

Sedang yang diujung 'sana' mendengarkannya sebagai sedu-sedan penuh bahagia... datang dari mulut sexy sang isteri yang jelita...


Bagian 2 - Kasih Antara Ibu Dan Anak

Sekarang hari Minggu pukul 10:00 pagi. Dirumah kediaman pak Damarto sekeluarga.

Seperti biasanya setiap pagi pada jam-jam segini, bu Ratna sudah duduk diatas sofa, diujung sebelah kanan sambil memegang remote control TV serta matanya yang indah berpinggir pelupuk berbulu lentik itu... menatap ke layar kaca TV didepannya.

Didit dari meja makan usai sarapan pagi, berjalan menuju ruang TV untuk menemani ibunda tercinta yang sedang duduk diatas sofa sambil menonton TV. Mulutnya tidak henti-hentinya mengeluarkan suara, <uuughhh-haaa...!> <Uuughhh-haaa...!> <Uuughhh-haaa...!>.
Sesampainya di sofa langsung duduk diujung sebelah kiri, matanya ikut-ikutan menonton TV, <uuughhh-haaa...!> <Uuughhh-haaa...!>.

"Itu lagu baru ya Dit?", tanya bu Ratna sambil menahan senyum didalam hati.

"Lagu baru apaan... ma?", <uuughhh-haaa...!> Didit bertanya balik pada ibunya.

"Itu yang barusan... yang kamu lantunkan dari mulutmu... hi-hi-hi...", akhirnya keluar juga suara tawa dari mulut sexy bu Ratna.

"Wahh... mama! Pagi-pagi gini sudah ngeledekin Didit lagi... ini bukan lagu baru... tau! Didit kepedesan... tadi waktu sarapan tertuang banyak sekali cabe super hot... minta ampun pedesnya...! Tapi merdu... ya ma? He-he-he...!", jawab Didit cukup lancar walau sedang merasa sangat kepedasan.

"Hi-hi-hi... sering-sering aja... tuh bibir jadi merah muda... sexy seperti bibir seorang gadis remaja! Hi-hi-hi...", kata bu Ratna tertawa sambil menatap bibirnya Didit.

"Nggak mau jawab aahhh... mendingan juga menikmati rasa pedes ini... huuuhhh...! Kenapa dikau pedes sekali sih...?!", <uuughhh-haaa...!> Didit berkata sendiri.

"Hi-hi-hi... sana minum air hangat mendekati agak panas... biar rasa pedesmu itu jadi hilang! Setelah itu... balik lagi kemari... ada yang ingin mama ceritakan padamu... tidak usah khawatir... ini berita sangat menggembirakan... buruan ya... tidak pake lama... lho!", kata bu Ratna selanjutnya.

***

Didit setelah minum segelas air putih yang suhunya diatas hangat mendekati panas, segera kembali lagi menuju sofa. Walaupun matanya basah agak berair, gara-gara 'siksaan' sejenak takkala minum air putih itu... sekarang keadaannya tidak lagi bersenandung kepedesan lagi. Begitu kembali ke sofa, langsung duduk diujung sebelah kiri dan berkata. "Bener-benar hebat mama-ku ini...! Begitu minum air putih agak panas seperti saran mama tadi, bukan main... rasa pedesnya langsung menghilang seketika...! Mama-ku sayang... bener-bener hebat dan banyak ilmu simpanannya yang ampuh... terimakasih mama...", kata Didit mengucapkan terimakasih dengan caranya sendiri.

"Hi-hi-hi... yang jelas terimakasih-mu ini tidak mama kembalikan, tapi mama simpan didalam hati. Dari itu kalau lagi nge-browsing di internet... jangan situs-situs bokep melulu... tapi imbangi juga dengan meng-akses situs-situs knowledge lainnya yang bermanfaat", kata bu Ratna menasehati Didit.

"Katanya... mama mau memberitahukan kabar gembira, mana... dong?", tanya Didit menagih janji pada ibunda tersayang.

"Baiklah kalau kamu memang sudah siap ingin mendengarkannya. Tapi perkataan mama nanti... jangan dipotong-potong ya... kecuali kalau memang dirasa perlu atau memang kamu ingin bertanya... paham ya sayang... dan satu lagi... harus konsens dan pikiranmu jangan ngelantur kemana-mana... OK?!", kata bu Ratna.

"Siap boss!", jawab Didit singkat dan mengambil ancang-ancang serius mulai mendengar.

***

"Begini sayang... seperti yang telah kamu ketahui, bahwa papa-mu dan mama telah bersepakat mencari PRT untuk membantu mama ala kadarnya... agar mama tidak terlalu keteteran...", kata bu Ratna mengawali apa yang disebutnya sebagai berita yang sangat menggembirakan itu.

Didit sangat antusias sekali mengikuti dan mendengarkan dengan serius uraian ibunya itu.

"Mama memang senang melakukan pekerjaan beres-beres... baik didalam rumah maupun diluar sekitar rumah. Mama tahu kamu selalu ingin membantu mama dalam hal ini... tapi dalam penilaian mama... kayaknya kamu lebih tertarik pada tubuh mama-mu sendiri... Awal-awalnya sih... berniat membantu bersama-sama untuk beres-beres pekerjaan yang ada didalam rumah, tetapi... selalu berakhir di... tempat tidur! Sorry ya sayang... hi-hi-hi...!", kata bu Ratna sambil tertawa mengikik geli.

"Eehh... mama! Didit lagi serius begini kok... malahan mama sendiri yang memotong perkataan mama sendiri, lagipula jangan buka rahasia Didit dong...! Taaa-ppiii... nikmat kan?! He-he-he...!".

"Huuusshh... dasar otak ngeres...! Siapa yang nyuruh kasih komentar? Udah... aah! Entar malah keburu datang orang yang lagi kita bicarakan ini...", lanjut bu Ratna sambil menarik napas dalam-dalam agas supaya kalimat yang akan diucapkan... rada panjangan dikit.

Didit mendengarkan sambil menahan keinginan untuk bertanya... apakah yang diomongin bakalan datang hari ini? Jam berapa? Siapa saja namanya? 'Lebih baik, aku mendengarkan perkataan mama lebih dahulu...', kata Didit didalam hati,

"Ternyata papa-mu bukannya mendapat tenaga PRT, eeehh... malahan bertemu dengan kerabatnya yang tinggal ditempat dimana papa-mu sedang mencari informasi tentang adanya kemungkinan bertemu dengan satu atau dua orang tenaga PRT yang memang sedang dibutuhkan oleh keluarga kita... dirumah ini".

Bu Ratna diam sejenak, dilihatnya Didit masih fokus mendengarkan perkataannya, setelah menarik napas lagi dalam-dalam... melanjutkan lagi perkataannya.

"Mereka... yang mama maksudkan adalah dua orang gadis remaja... atau lebih tepatnya adalah satu gadis berusia 15 tahun, baru saja lulus SMP, dan satu gadis muda berusia 19 tahun sudah 4 tahun tidak bersekolah lagi, berkorban demi pendidikan adiknya yang umur 15 tahun itu. Jadi mereka adalah kakak-beradik, hidup bersama ibunya, sedang ayah mereka... meninggalkan mereka hanya untuk kawin lagi... dengan alasan ingin mempunyai anak lelaki... na'if sekali orang itu... huh! Mereka berdua akan tinggal dirumah kita, disini... meramaikan rumah ini yang selalu sepi...".

Spontan Didit bersorak gembira! "Horeee...! Asyik kalau begitu, jadi Didit tidak kesepian lagi... jadi sama dong... dengan teman-teman Didit yang mempunyai banyak saudara. Tapi... ma! Usahakan niat mereka jangan sampai dibatalkan... telepon deh... papa sekarang juga, supaya jangan sampai terjadi suatu pembatalan... wah... kalau itu terjadi bisa kecewa berat nih... Didit...!", kata Didit yang malah jadi kuatir kalau-kalau adanya suatu pembatalan.

"Anak kesayangan mama satu ini, bener-bener deh... terlalu spontanitas, sangat ekspresif sekali, dan... hi-hi-hi... dan... seorang pencinta yang ulung...! Hi-hi-hi...", bu Ratna mengomentari kegembiraan Didit ini.

Didit yang mendengarkan ini, berpikir dalam hati, 'Waduuuhhh...!? Gawat nih... kelihatan mama kok... jadi horny kayaknya?!'. Kata Didit selanjutnya, "Terserah deh... apa kata mama... yang penting lanjutkan dong... berita yang katanya sangat menggembirakan itu... ya mama-ku tersayang...!".

"Pake ngerayu lagi... tidak dirayu juga... mama akan menyampaikannya sampai selesai, ingat... yang paling gembira adalah mama duluan, kan... mama yang lebih dulu mengetahuinya, hi-hi-hi... kacian deh kamu... kali ini rayuanmu hilang tertiup angin lalu... hi-hi-hi...", kata bu Ratna meledek Didit, anak kesayangannya itu.

Sambil berpura-pura menengok kiri-kanan, Didit berkata, "Emangnya ada angin yang lewat... apa? Didit lagi serius nih ma! Please... lanjutkan dong...".

"Baiklah mama ulangi lagi, habis tadi terlalu banyak 'intermezzo' sih... Calon adik perempuan-mu itu bernama Neni, berusia 15 tahun, wajahnya... yang pasti lebih cantik dari wajahmu hi-hi-hi... dan calon kakak perempuan-mu, bernama Naning, berusia 19 tahun, wajahnya, hhmmm... yang pasti lebih muda dari mama. Mereka berdua akan tinggal bersama kita selama mereka masih betah... Neni akan bersekolah disini dan... yang pasti akan jadi adik kelas-mu juga. Sedang Naning akan bersama-sama dengan mama mengurus dan membereskan rumah supaya selalu rapi dan bersih. Sampai disini dulu sayang... ada pertanyaankah?", bu Ratna rehat sejenak.

"Ada ma... ibu mereka apa nggak kasian tuh... ditinggal sendirian?", tanya Didit.

"Ooh itu... kamu tidak usah khawatir, bahkan kedua anak ceweknya itu juga tidak usah mengkhawatirkannya. Karena disana... dekat kediaman mereka, ada seorang bidan resmi yang kabarnya cakupan wilayah kerjanya sekarang sudah mencapai 7 dusun disekitarnya, yang juga selama ini membantu keluarga mereka... telah mengangkat ibu cewek-cewek itu menjadi asisten-nya dan tinggal bersama dirumah bu bidan yang sangat baik hati itu. Sedangkan rumah kecil yang selama ini mereka tempati... dikembalikan kepada pemiliknya, yaitu... kakek dari cewek-cewek itu sendiri.

Sungguh mama sangat terkesan dengan pertanyaanmu ini... sayang! Ibu orang lain saja kamu perhatikan dengan seksama... apalagi mama yang sebagai ibu-mu... mama sungguh berbahagia mempunyai anak, sepertimu... sayang...", jawab bu Ratna dengan mata agak berlinang... terharu dan bahagia.

"Kan tadi Didit sempat mendengar bahwa mama khawatir kalau mereka keduluan datang kerumah ini... berarti mereka datangnya hari ini dong...?! Kira-kira... jam berapa itu... ma?", tanya Didit lagi penuh antusias.

"Kamu bener-bener tidak sabaran ya... tapi mama kagum juga akan ketelitianmu menyimak perkataan mama. Memang mereka akan datang hari ini, tapi harus diingat... disana adalah desa kecil... tidak ada bandara... yang pasti akan mengendarai mobil papa-mu dan yang menjadi supirnya adalah pak Suripman (44). Lagipula... apa kamu lupa akan kebiasaan papa-mu sendiri? Pastilah mereka akan mampir dulu ke mall untuk membeli segala sesuatu yang akan menjadi kebutuhan mereka masing-masing... itu sudah pasti! Mama tahu persis kebiasaan papa-mu ini... kamu sudah seharusnya berbangga dan bersyukur memiliki seorang ayah yang penuh perhatian akan sesuatu hal apapun... seperti papa-mu ini... Jadi dengan memperhitungkan segalanya... mama berpendapat... mereka akan datang kira-kira... sore hari menjelang malam", kata bu Ratna mengakhiri perbincangan dengan anaknya seraya bangkit dari sofa dan melangkah menuju dapur, tapi... saat lewat depan Didit yang masih duduk... seketika bu Ratna membungkukkan tubuhnya dengan sigap mencekalkan tangan kirinya pada celana pendek jeans yang dikenakan Didit dan kelihatannya agak menggelembung pada tengah-tengah pangkal paha Didit.

"Eh... jalan-jalan kemana tuh... 'peliharaan'-mu itu sayang". Ternyata kali ini keliru meng-antisipasi keadaan. Memang begitulah kalau mengenakan jeans... suka menggelembung dengan sendirinya... walaupun yang ditutupi tidak dalam keadaan ngaceng...

"Mama ketahuan yaa...! Tangannya suka celamitan... mama-ku sayang... horny lagi yaa... ma? He-he-he....", Didit jadi ketawa cengegesan.

"Enak aja! Kamu kali yang pengen...! Lihat tuh... jam sudah menunjukkan pukul 11:50, mama mau menyiapkan makan siang kita... tahu nggakk...!", kata bu Ratna berkelit agak malu... ketahuan kondisi libido-nya saat ini.

"Bagaimana ma... kalau setelah istirahat seusai makan nanti...?", pinta Didit yang mengandung daya tawar yang sangat tinggi itu.

"Auh-ah... g'lap!", jawab singkat bu Ratna melangkah menuju dapur.

"Eh-eh... mama-ku sayang... jangan gitu dong...", kata Didit menghiba pada ibunda tersayang.

Bu Ratna sambil tetap melangkah, menjawab, "Satu piring... satu ronde, dua piring... dua ronde, tiga piring... pasti kamu ketiduran... hi-hi-hi...".

"Wah harus susun strategi yang jitu nih...", kata Didit sambil melangkah menuju kamarnya sendiri.

***

Jam dinding menunjukkan waktu pukul 13:15.

Mereka sudah duduk berhadap-hadapan, malah hampir menyudahi makan siang mereka.

Bu Ratna memperhatikan Didit yang tengah memasukkan suapan terakhirnya kedalam mulutnya. Sampai dilihat bu Ratna kunyahan pada mulut Didit berhenti, dan menunggu sesaat lagi, kemudian menegur anaknya itu.

"Tidak mau dua ronde apa...? Hi-hi-hi...", kata bu Ratna sambil tertawa.

"Wah... terimakasih ma... atas makanan enak ini, tapi... kayaknya rongga perut Didit... diisi dengan sepiring nasi beserta lauk-pauknya... sudah cukup penuh. Soal ronde sih... Didit teringat tarung laganya Mike Tyson... satu ronde-nya ada yang ber-durasi cuma beberapa detik saja lho... ma! Didit sih memilih satu ronde saja, tapi... yang ber-durasi waktu lama... gitu lho!".

"Emangnya... kamu mau bertarung tinju dengan siapa sih...? Hi-hi-hi...", tanya bu Ratna berlagak pilon tidak tahu.

"Kadang-kadang ngomong sama mama... susah-susah... sulit, mendingan langsung action saja... tingkat keberhasilannya bisa diatas 99% deh...!", kata Didit mengambil gelas airnya dan langsung menenggaknya sampai habis.

"Kalau lagi kesel... air minum jangan 'dihajar' sampai habis dong... hi-hi-hi...", bu Ratna masih saja menggoda anaknya itu.

"Tau-aah... t'rang!", kata Didit singkat, bangkit dari kursi makannya ingin melangkah menuju sofa, tapi... tiba-tiba mengurungkan niatnya, membalikkan badannya dan berkata pada ibunda tercinta. "Ma... Didit boleh bantu cuci piring ya? Please deh...", kata Didi meminta sangat pada ibunya.

"Wah kalau itu sih... mama tidak menolak, 'swear' deh...!", jawab ibunya dengan senang hati.

***

Jam dinding menunjukkan waktu pukul 14:00.

<Kriieeett...> bunyi suara pintu kamar Didit terdengar dibuka penghuninya. Didit mendekati area ruang TV dan ingin mendampingi ibunda tersayangnya sekaligus yang digandrunginya itu... tapi tidak ada disana. Didit kembali lagi kedalam kamarnya dan... dengan cepat mengganti pakaian yang dikenakan dengan hanya T-shirt ditambah celana Hawaii yang sedikit longgar tanpa memakai CD lagi.

Dengan langkah pasti dan sedikit dipercepat... menuju kekamar tidur ibunya. Didit rupanya khawatir bila ibunya malah tertidur beneran.

Dengan perlahan menekan handel pintu kamar kebawah dan mendorong daun pintuya dengan perlahan, ternyata... pintu itu memang tidak dikunci lagi oleh ibunya.

Didit mendekat pada tubuh ibunya yang berbaring terlentang dan tertutup oleh selembar selimut yang lebar. Rupanya AC ruangan di hidupkan dan di-stel pada posisi thermostat maksimum, maklum saja cuaca diluar rumah... sangat terik sekali pada siang hari ini.

Bu Ratna terlentang sesantai mungkin, ingin menguji ketahanan tubuhnya dalam menghadapi Didit, putera tunggalnya... remaja sang pencinta ulung. Mengatur pernafasan dengan teratur serta mengatupkan pelupuk matanya sewajar mungkin.

Dirasakan hembusan napas hangat Didit menerpa wajahnya yang cantik rupawan. Tapi wajah Didit menjauhi bibir sexy-nya, eh... malah dahinya yang mulus, justru mendapatkan kecupan sangat mesra disertai bisikan tulus yang jauh dari aroma nafsu. "Mama-ku sayang... mama-ku sungguh sangat cantik sekali. seandainya saja... mama juga mempunyai anak perempuan, pasti secantik mama dan... Didit yang jadi kakaknya pasti kewalahan menjaganya dari godaan cowok-cowok nakal, yang... tidak bisa melihat yang bening-bening tanpa melakukan sesuatu...".

Terenyuh jadinya hati bu Ratna yang berperasaan halus itu, hampir saja dia meneteskan airmata, untung dia berusaha mencegahnya dengan sekuat hatinya. 'Sudah sayang... mama ML denganmu tanpa kontrasepsi... malahan mama lagi subur-suburnya. Semoga keinginanmu, keinginan mama sendiri, keinginan keluarga kita bisa terwujud... anggap saja Neni, adikmu yang sekarang sebagai pemancing akan datangnya anggota baru keluarga, yang kita nanti-nantikan itu. Besok mama akan mengetes kehamilan mama... sendiri, Pregnancy Test-nya sudah dibeli dan... sudah ada didalam laci lemari pakaian mama...', jawab bu Ratna dalam hatinya. 'Hayooo... sayang! Action...! Action...! Action...! Action...!', seakan sedang melafalkan kata mantera didalam hati, yang biarpun setenang bagaimanapun tubuhnya... dia takkan bisa tertidur lagi, kalau tidak melewati proses 'action' yang dimaksudkannya itu.

Didit diam sejenak, diperhatikannya dengan seksama tubuh cantik ibunya disekitar dadanya walaupun masih tertutup oleh selimut yang lebar. 'Alunan dada mama... kok tidak teratur layaknya seseorang kalau lagi tertidur pulas. 'Jangan-jangan mama cuma berpura-pura tidur saja nih...?!'. Ditolehkannya wajahnya gantengnya menatap dengan seksama pelupuk mata ibunya... tidak ada gerakan atau kedutan sekecil apapun juga. Tapi dia yakin bahwa ibunya belumlah tertidur pulas...!

Kembali Didit menoleh ke dada montok ibunya, diperhatikannya dengan seksama... puncak-puncak gundukan yang tertutup rapat dengan selimut itu. Kayaknya... mama tidak mamakai daleman nih! Rupanya mama ingin menguji Didit atau malah ingin menguji dirinya sendiri? Otak cerdasnya mengolah semuanya ini... Kemudian dengan tersenyum renyah dan yakin, segera melucuti pakaiannya yang cuma 2 potong itu, yaitu T-shit dan celana Hawaii yang kedodoran. Langsung saja dengan bertelanjang bulat manaiki tubuh jelita ibunya dan menindih sepenuhnya, mengecup lembut bibir sexy ibunya sekilas dan mendekatkan mulutnya pada telinga kanan dan berkata tanpa berbisik lagi, "Sudah ma...! Jangan terlalu keras menguji diri mama sendiri... sudah tidak ada gunanya...! Lebih baik kita 'action' bersama!".

Seketika bu Ratna menyemburkan tawanya, "HI-HI-HI... kok dugaan kamu bisa tepat sih, maafkan mama ya sayang...!".

Dijawab Didit dengan nada yakin, "Itu bukan dugaan ma! Tapi Didit memperhitungkan dengan matang. Sebab ulah mama ini cuma mempunyai 2 tujuan, yaitu menguji Didit, atau... mama memang ingin menguji diri mama sendiri dengan sekuat tenaga... Dan perhitungan Didit lebih memilih kemungkinan yang kedua itu, he-he-he... pecinta ulung kok... pengen diuji... he-he-he...! Ingat ma... gelar itu... mama sendiri yang memberikan pada Didit, he-he-he...!".

"Iyaaa... deh mama ngaku salah dan kalah", kata bu Ratna tersipu malu. Agar supaya rasa malu-nya tidak berlangsung terlalu lama dan berlarut-larut, langsung saja bu Ratna berkata agak keras, "Yang penting ACTION dong...", tapi kata-katanya terhenti dengan tiba-tiba begitu bu Ratna merasakan pentil-pentil susunys yang indah dan menggairahkan sedang di-emut-emut, buahdadanya diremas-remas diselingi dengan plintiran ibu jari dan telunjuknya, baik yang kiri maupun yang kanan. Terlonjak-lonjak bagian atas tubuh jelita ini. Tanpa disadari oleh bu Ratna, tubuh telanjang bulatnya sudah tidak tertutup dengan selimut lebar itu lagi.

Dirasakan batang penis Didit yang ngaceng penuh sedang memompa dengan sengit gua nikmat dalam vagina seretnya. Saking nikmatnya terlontar kata-kata yang berasal dari dalam hatinya. "Oooh nikmatnya... sungguh-sungguh nikmat... HAMILI MAMA SAYANG...!", disertai dengan... <seerrr...!> <Seerrr...!> <Seerrr...!> <Seerrr...!>. Tersentak-sentak tubuh jelita bu Ratna mendapatkan orgasme yang nikmat... persembahan anak tunggalnya, yang... masih terus memompa penis tegangnya, masuk-keluar... dorong-tarik... menyelusup masuk dan meng-invasi seluruh permukaan dinding gua nikmat dalam vagina-nya yang otot-ototnya berusaha mencekal ketat disekeliling batang penis Didit yang tanpa henti-hentinya bergerak terus...

Bagian 3 - Remaja Dengan 3 Bidadari

Jam dinding menunjukkan pukul 19:30. Bu Ratna dan Didit, putera tunggalnya duduk-duduk diatas sofa ruang tamu. Seperti biasanya bu Ratna duduk di ujung kanan sofa dan Didit duduk di ujung sebelah kirinya. Sofa itu menghadap ke depan dengan posisi agak menyamping kekiri dari arah pintu utama rumah.

Mereka telah menyelesaikan makan-malam setengah jam lalu, serta keadaan dapur sudah rapi kembali oleh tangan-tangan lentik bu Ratna yang selalu tidak pernah mau menunda pekerjaan sampai bertumpuk. Apalagi Didit juga ikut membantunya mencuci piring.

Bu Ratna mengambil sebuah majalah wanita dari rak dibawah daun meja tamu yang terbuat dari kaca bening setebal 1 inci (= 2,54 cm). Bu Ratna sambil membuka-buka lembar majalah itu sambil lalu saja dan melirik kearah Didit yang duduk gelisah. Sebenarnya kedua ibu-anak ini juga sama-sama gelisahnya, maklum saja sedang menunggu kehadiran 2 orang yang belum dikenal secara fisik yang akan menjadi anggota baru keluarga ini. Cuma saja bu Ratna dapat menyembunyikan kegelisahannya meskipun tidak terlalu baik sekali dengan membuka-buka lembaran majalah, sedangkan Didit yang bertemperamental sangat ekspresif sekali itu... kelihatannya sangat gelisah sekali duduknya.

"Daripada duduk bengong begini, mendingan...", belum juga Didit menyelesaikan perkataannya sudah dipotong oleh ibunya.

Bu Ratna segera menimpali perkataan Didit. "A quickie ML... maybe? Hi-hi-hi...!".

Jadi melongo Didit mendengarnya dan melihat wajah cantik rupawan sang bunda, "Iihh... mama! Horny ya ma...?".

"Eh... maafkan mama sayang... nggak tau nih! Mama jadi teringat saat awal membawa-bawa kamu dalam kandungan, pengennya begituuaaann... melulu...! Papa-mu jadi kewalahan jadinya... Jangan-jangan sekarang 'jadi' kali! Ini tidak mungkin disebabkan oleh karya papa-mu, karena meskipun kondisi tubuh papa-mu normal tak kurang apapun, tetap dia tidak bisa membuahi sel telur mama, penyebabnya ya... gen papa-mu itulah yang membawa faktor keturunan keluarga besarnya...", kata bu Ratna menjelaskan duduk perkara yang dialami tubuhnya saat ini.

"Jadi gimana dong nih...?", kata Didit yang sangat simpati akan keadaan yang dialami ibunda tercintanya. "Kan... papa sebentar lagi mau datang...".

"Udah... nggak usah terlalu dikhawatirkan! Malam ini tugas papa-mu yang melakukannya, hi-hi-hi...!", kata bu Ratna, sekarang malah dia yang menenangkan kekhawatiran anak kesayangannya itu.

"Wahhh...! Didit malam ini, bakalan... tidak bisa tidur deh!", kata Didit yang jadi mengeluh sekarang.

"Sudah... jangan khawatir dulu dong sayang... hadapi saja segala sesuatunya nanti... step-by-step! Jangan terlalu meremehkan kemampuan mama-mu ini sayang...", kata bu Ratna masih tetap berusaha menenangkan Didit yang khawatir akan semuanya hal itu.

"Kemampuan apa itu... ma?", Didit ingin segera mengetahui secara jelas kemampuan apa yang dimaksudkan oleh ibunya itu, ya... wajar saja, memang para remaja seusianya pada umumnya bertemperamental seperti begitu adanya.

"Tepatnya mana mama mengetahuinya sekarang...?! Kan 'nanti' bukanlah 'sekarang'! 'Nanti' itu adalah sama dengan 'sekarang' ditambahkan proses waktu yang selalu berjalan maju", kata bu Ratna. Nah solusi yang tepat akan didapat adalah pada saat proses itu berlangsung...", kata bu Ratna berfilsafat yang membuat mumet kepala Didit mendengarkannya. "Intinya adalah... percayakan soal itu pada mama-mu sayang...".

Terhenyak tubuh Didit bersandar kebelakang pada sandaran sofa jadinya... mencoba menenangkan dirinya. Dan berkata singkat, "Que Sera Sera!".

Kemudian Didit bangkit dari duduk, ingin pergi kekamarnya dan berpamitan dulu dengan ibunya, "Ma... kalau begitu, Didit ingin menyiapkan segala sesuatu untuk sekolah besok". Didit mendekati ibunya dan mendekap dan mencium sekilas dengan rambut dibagian belakang kepala ibunya sambil berkata, "Mama juga jangan gelisah dong, Didit lihat sedari tadi, tuh... majalah cuma dibolak-balik saja tanpa dibaca...".

"Hi-hi-hi... kamu memperhatikan mama juga ya...? OK... nanti kalau mereka datang, akan mama beritahu kamu deh! Bye sayang...!", kata bu Ratna memberi semangat pada anaknya.

***

Waktu telah menunjukkan pukul 22:00.

<Kriieeett...!> bunyi suara pintu kamar Didit terdengar dibuka dari luar kamar.

Sedangkan si empunya kamar, Didit tidur terlentang dan terlibat dalam impiannya yang syur... dinegeri antah-berantah...
Penisnya kelihatan sangat tegang bila dilihat dari tonjolan pada dorongannya depan celana pendek Hawaii yang dikenakannya.

3 wanita bak bidadari jelita telah berdiri berderet menyamping menghadapi tubuh Didit yang sedang sedang tidur terlentang itu. Ketiga 'jelmaan' bidadari itu mempunyai paras dan tubuh indah dengan kecantikan khas masing-masing, umur mereka adalah berturut-turut: 36, 19 dan 15 tahun.

Bu Ratna menyapa Didit yang masih tertidur, dengan suara lembut. "Dit! Didit... sayangku...! Nih... adik sama kakakmu telah datang. Kan tadi kamu gelisah sekali menunggunya...", sapa bu Ratna tanpa mengejutkan anak lekakinya itu.

Sempat juga Didit bangun terduduk dan sekilas memandang didepannya samar-samar, lalu merebahkan kembali dirinya terlentang diatas tempat tidurnya, sambil bergumam agak keras, "Orang... lagi sange juga...! Pake mimpi ketemu 3 bidadari cantik lagi... uuuh... aahh-heemmm!" <zzz...> <zzz...>.

Gumaman Didit yang agak keras dan terdengar jelas di kuping para wanita cantik didalam kamar itu, menggelitik dan memicu tawa cekikikan mereka.

"HI-HI-HI... Hi-Hi-Hi... hi-hi-hi...!", bagaikan koor dari 3 bidadari yang melantunkan suara merdu mereka, seakan... menarik lembut bahu Didit untuk duduk kembali diatas tempat tidurnya. Kali ini kesadaran Didit sudah pulih seperti sedia kala kembali.

"Eeehh... maafkan Didit ya?! Hai adikku... halo kakakku... selamat bertemu...! Dan... mama-ku tersayang, ternyata mama tidak lupa janjinya tadi untuk membangunkan Didit, terimakasih yaa... ma!", kata Didit menyapa semua 3 wanita cantik itu tanpa terkecuali...

Bu Ratna diam-diam mendorongkan tangannya dengan lembut pada bahu bagian belakang Neni, sambil berbisik pelan didekat kuping sebelah kiri gadis belia berumur 15 tahun itu, "Sayang... sapa kakakmu, Didit... tidak usah takut, kan ada mama disini...".

Neni menuruti perkataan ibu barunya ini, dan seketika menyodorkan tangan mungilnya, mengajak Didit untuk bersalaman.

Didit buru-buru berdiri di pinggir tempat tidurnya dengan tidak menghiraukan sodoran tangannya Neni, malahan memberikan kecupan mesra di pipi sebelah kanan, bahkan... berusaha memberi satu tanda cupangan dengan mengenyotnya agak keras dan lama.

Terlonjak kaget Neni jadinya dan seketika memundurkan dirinya sambil menutupi pipi kanan yang tadi 'di-ngok' dengan telapak kanannya, serta menjauhi Didit yang ingin juga mengecup pipinya yang sebelah kirinya.

Sedangkan Didit kembali duduk di pinggir tempat tidurnya sambil membungkukkan sedikit tubuh bagian atas sambil tertawa kecil cengegesan serta menggosok-gosokkan cepat kedua telapak tangannya. "Asyik kan... kecupan mesra dari kak Didit...? He-he-he... ya nggak... adikku yang manis...?!".

Tapi begitu Naning, yang sudah didaulat ibunya sebagai kakak barunya, menyodorkan tangannya untuk bersalaman. Didit menyambut tangan Naning dengan menciumnya punggung telapak tangan Naning serta kemudian menempelkan pada jidatnya yang nong-nong dengan penuh rasa hormat dan tanpa sebuah kata apapun. Sebagaimana mesti layaknya sang adik menghormati kakaknya.

Terharu sekali jadinya perasaan Naning diperlakukan penuh hormat oleh 'adik-barunya', seakan sekujur tubuhnya diguyur dengan perasaan bahagia yang belum pernah dirasakan Naning sebelumnya!

Sementara itu bu Ratna hanya diam saja mengawasi seluruh ulah tingkah-polah anak-anaknya dengan perasaan bahagia yang baru pertama kali ini dirasakannya.

Neni setelah melihat 'acara salam kenal' Naning dan Didit selesai, segera dia mendekat pada Naning, kakaknya itu seraya menyodorkan pipi kanannya yang habis 'di-ngok' oleh kakak-barunya, Didit. "Kak Naning... somplak nggak pipi Neni... ini lho yang sebelah kanan", tanya Neni dengan rasa khawatir.

Naning yang tersenyum dalam hati dengan berpura-pura serius memeriksa pipi kanan itu, kemudian membandingkannya dengan pipi sebelah kirinya, kemudian berkata kagum agak keras, sehingga membuat kaget hati adiknya itu. "Wah... kok jadi bagus... dik! Ada merah-merahnya... persis seperti apel udah mau mateng, kayaknya... kalau kakak memandangmu dari arah kananmu...". Naning berpindah ke sebelah kanannya Neni dan meneruskan perkataannya yang terputus tadi. "Woiihhh... cantiknya! 2 tingkat diatas daripada sebelumnya...!".

Bu Ratna yang melihat semua itu, menjadi tertawa didalam hati melihat ulah Naning berupaya meyakinkan adik perempuannya itu.

Sedangkan Didit yang terus dengan seksama melontarkan komentar singkat, "He-he-he... asyik kan... itu sampel dari kak Didit, adikku sayang...".

Neni lalu mendekat pada Didit. "Ya... udah deh kak! Nih satu lagi yang kiri... digituin lagi kayak yang tadi...", kata Neni pasrah sambil menyodorkan pipi kirinya untuk 'di-ngok' oleh kakak-barunya ini.

"He-he-he... ini dia baru... asyik! Yang pertama tadi kan kakak sudah katakan sebagai sampel... alias gratis! Tapi untuk yang kedua ini... sudah masuk waktu 'promosi' tapi diskon-nya sangat besar, sehingga adik cukup membayar dengan ini nih...", kata Didit mengacungkan telunjuk kirinya... menunjuk ke pipi kirinya. "Dan... ini...", sambung Didit sambil mengacungkan telunjuk kanannya yang menunjuk pipi kanannya.

Bu Ratna memberi komentar keras, "Sejak kapan... kamu jadi komersil begini, huh...!", katanya pada Didit dengan nada gregetan.

Didit menjawab komentar ibunya dengan santai saja, "Yaa... sejak Didit ketemu Neni, adikku yang imut-imut... manis sekali ini".

Naning ikut nimbrung sambil tertawa, "Emangnya Neni... gulali apa? Pake imut-imut dan manis! Hi-hi-hi...".

"Ya sudah deh... kak Didit, sini Neni sun pipi kiri dan sun pipi yang kanan...!", kata Neni pasrah. Tapi ketika dia melihat kakak-barunya itu sudah memejamkan kedua matanya... bersiap-siap menerima kecupan di pipi kiri-kanannya, Neni menjadi ragu karena sempat berpikir tentang sesuatu, malah menarik wajahnya, dan pasang aksi bersiap untuk 'di-ngok' pipi kirinya terlebih dahulu oleh Didit, kakak-barunya itu. 'Masak sih... bayar duluan, dimana-mana juga... barangnya duluan dong..!', kata Neni dengan mantap didalam hatinya.

Jadilah ada suatu pemandangan lucu dengan momen yang sangat jarang bisa ditemui dan... langka!

Takut kehilangan momen yang sangat berharga ini, bu Ratna buru-buru mengabadikannya dengan camera-internal HP-nya yang cukup canggih. Rencana beliau, gambar dari foto ini akan diperbesar sampai ukuran 1 m X 1 m, kalau memungkinkan lebih besar lagi.
Dan akan dipajang sebagai gambar kenangan yang termanis untuk keluarga ini.

<Click... brrrplassttt...!>

Terkejut Didit karena kedua pelupuk matanya yang masih terpejam itu terkena 'sapuan' kilatan cahaya blitz itu... langsung membuka matanya dan memandang dengan sangat heran... pada sikap Neni yang berdiri tegak dan berdiam diri dan dengan kedua matanya masih terpejam sambil seakan menyodorkan pipi kirinya siap untuk 'di-ngok' itu.

"Pantesan...! Nggak nyampe-nyampe tuh kecupan... untung nggak ditunggu sampai pagi! Bisa-bisa... tidur berdiri... kali!", kata Didit rada keki dan ngedumel pelan saja... hampir menyerupai bisikan saja sambil mendekati Neni dan berdiri didepan gadis manis muda belia itu. Segera melancarkan cupangan pada pipi kiri yang masih putih bersih itu, setelah selesai... Didit mundur selangkah sambil mengawasi 'hasil karya'-nya itu, lalu berkata dengan mantap. "Sudah selesai... adikku manis! Perlihatkan pada kak Naning untuk dinilai, he-he-he... asyik kan dik...?!", kata Didit dengan senang... bisa ngerjain adik-barunya ini.

Dengan berpura-pura pasang mimik muka yang serius tingkat tinggi, mengawasi dengan seksama kedua pipi Neni... lalu berkata, "Beres dik! Ternyata kamu jauh lebih cantik dari kak Didit-mu itu... hi-hi-hi...!".

"Aaah... kak Naning, kok dibandingkan dengan cowok sih...!", kata Neni protes.

Bu Ratna buru-buru mendekat pada Neni dan mencium mesra jidat mulus gadis itu, dan berkata, "Sudah-sudah... sayang, ingat...! Besok adalah hari pertama kamu masuk sekolah. Besok kamu akan jadi siswi SMU kelas 1, Berangkat bersama-sama papa dan kakakmu, Didit yang duduk dikelas 2. Setelah pulang dari sekolah, barulah kita semua bersama-sama membereskan kamar yang jadi kamarmu untuk seterusnya. Tapi malam ini kamu akan tidur bersama-sama papa dan mama".

Naning yang ingin ikut keluar dari kamar Didit, dicegah oleh bu Ratna. "Ning, kamu tunggu saja disini, nih... duduk disini sebentar... nanti mama akan balik lagi kesini 5 menit lagi", kata bu Ratna sambil menuntun tangan Naning dan menyuruhnya duduk ditepi tempat tidur Didit yang sebelah kanan, sementara sekarang Didit sudah kembali duduk ditepi tempat tidurnya yang sebelah kiri. Kemudian bu Ratna berlalu melangkah keluar kamar itu dan sambil merangkulkan tangan kanannya melingkar pada bahu Neni dengan mesra serta melangkah bersama menuju kamar tidur utama, dimana sudah ada tubuh pak Damarto yang sudah terbaring pulas kelelahan ditengah-tengah spring bed yang lapang itu.

Didit yang ditinggal berduaan dengan Naning, masih sempat-sempatnya berpikir, 'Apa ini yang dimaksudkan mama tentang solusi yang didapat dari proses waktu yang selalu berjalan maju itu...?'. Didit tidak mau membuat pikirannya menjadi mumet dengan memikirkannya terlalu lama. Baginya yang penting hadapi saja apa yang ada didepan kita, prinsip yang dipakainya sementara waktu ini.

Didit memecah kebisuan diantara mereka berdua dengan meluncurkan gombalan pada Naning yang masih saja berpikir-pikir apa yang diinginkan bu Ratna, 'mama baru'-nya dengan menempatkannya berdua dengan Didit, 'adik baru'-nya ini.

"Eheeeem... kak... eeh... jangan marah ya kak...!? Didit ingin bertanya... kakak harus menjamin bahwa kakak tidak marah atas pertanyaan Didit berikut ini... bagaimana dong kak...?", tanya Didit takut dimarahi oleh 'kakak baru'-nya mendengarkan segala gombalannya nanti.

Berdegup kencang detak jantung Naning jadinya... 'Apa Didit sudah mengetahuinya? Perselingkuhanku dengan ayahnya. Ooh... bagaimana aku menjawabnya...', Naning jadi berdebar-debar hatinya dan... merasa ketakutan sendiri.

Tapi Didit adalah seorang remaja yang tidak terlalu memikirkan soal jaminan segala... apalagi kalau ragu-ragu memberikannya. 'Fun must go on!' Itulah prinsip yang dipakai Didit guna menghadapi Naning yang serba ragu-ragu ini.

Terhenti napas Naning sejenak ketika melihat Didit membuka mulutnya... ingin bicara, 'Oooh... inilah saatnya... mama kemana sih nggak nongol-nongol...!', pikir Naning sangat khawatir, padahal paling baru 10 detikan saja ditinggal oleh bu Ratna. Akhirnya Naning memejamkan matanya... pasrah.

"Kak Naning, sebenarnya... makannya apa sih...? Sampai secantik begini...?! He-he-he.... jangan marah lho, kakak kan sudah memberikan jaminan tidak marah dalam hati kakak, iya kan? Buktinya tadi Didit melihat kakak memejamkan kedua mata kakak, he-he-he...!", kata Didit sambil tertawa cengegesan dan melanjutkan bokisannya yang ditelan bulat-bulat oleh Naning yang tanpa tahu bahwa dia sedang dikerjai Didit dengan seenak hatinya.
"Kalau disini, memejamkan dua mata, artinya adalah 'free to go!' dan kalau memejamkan mata sebelah saja, terserah mau kanan saja atau yang kiri saja, itu artinya adalah 'no go!', he-he-he... apa dong jawaban kakak atas pertanyaan Didit tadi, he-he-he...", kata Didit girang bisa ngerjain 'kakak baru'-nya sambil tetap tertawa cengegesan.

Tapi yang tidak diperhitungkan oleh Didit adalah... sebenarnya Naning tidaklah bodoh-bodoh amat! Kesalahan Didit yang fatal dalam menghadapi Naning adalah... Didit terlalu berbicara panjang-lebar, inilah yang menimbulkan kecurigaan dalam diri Naning.

'Dasar adikku yang ganteng tapi nakal... persis sama dengan papa-nya... pake ngegombalin aku lagi! Hi-hi-hi...!', Naning tertawa dalam hati.

Tapi persis Naning baru mau membuka mulut, ingin menjawab pertanyaan Didit, sudah keburu datang bu Ratna yang langsung masuk kekamarnya Didit dan langsung mengunci kamar dari dalam. Tanpa banyak bicara lagi, bu Ratna yang sudah bersalin pakaian tidur suteranya, cukup dengan mengendorkan simpul yang ada pada gaun tidur itu sudah menyebabkan gaun itu merosot kebawah tapi dengan sigap buru-buru memegangnya agar tidak menyentuh lantai dan segera melipat-lipat gaun itu, kemudian ditaruhnya diatas meja belajar Didit yang cukup lebar.

Terheran-heran Naning melihat perbuatan bu Ratna itu semua, dan... jadi terkagum-kagum dia oleh kejelitaan ibu-barunya ini yang begitu cantik mempesona, bahkan kemulusan tubuh bu Ratna mengalahkan kemulusan tubuh Naning sendiri.

Naning masih mengagumkan keseluruhan tubuh elok didepannya itu. Bu Ratna mengetahuinya, dan membiarkannya untuk beberapa saat.

Sedang Didit sudah bertelanjang bulat, mengikuti ibunya. Penisnya... sudah tidak perlu dipertanyakan lagi... sangat tegang dan berdiri menyusuri perutnya yang rata.

'Bukan main 'mama baru'-ku ini, bagaikan memiliki tubuh bidadari, buahdadanya yang sangat montok serta masing-masing ber-'topping' puting yang tidak terlalu melebar, berwarna maroon sangat muda hampir mendekati warna pink... Vagina... yang garis vertikal tidak terlalu tebal serta... klimis seperti vagina Naning. Tetapi Naning mengakui bahwa vagina 'ibu baru'-nya jauh lebih mulus.

Bu Ratna mendekati Naning dan menegornya, "Hei... sayang! Jangan bengong saja, buka semua pakaianmu semuanya dan... bantu mama menghadapi cowok nakal ini... yang telah ngerjain Neni dan kamu barusan...".

Didit yang mendengarkannya, menjawab dengan santai saja. "Siapa yang takut...? Lihat nih 'senjata-ampuh' sudah dikokang dan sudah siap-siaga menghadapi gempuran... apalagi dari cuma 2 bidadari cantik, he-he-he...", sambil memainkan otot-otot pada batang penisnya, akibatnya terlihat seperti penis itu mengangguk-angguk tegang seakan-akan menyatakan persetujuannya pada semua perkataan sang pemilik.

Bisik bu Ratna bergetar saking nafsunya pada telinga kiri Naning, "Biarkan mama yang ML dulu sayang... tidak lama kok! Mama sudah terlalu amat sange sedari sore tadi... sebelum kedatanganmu... habis itu tunjukkan kebolehanmu... agar supaya Didit tidak selalu besar kepala dengan nafsunya itu".

Segera bu Ratna menelentangkan dirinya disamping putera tunggalnya dan berkata, "Let's action... lover!".

Begitu tubuh Didit yang telanjang menindih penuh tubuh ibu kandung tersayangnya yang juga telanjang, tangan lentik ibunya mencekal batang penis Didit yang amat sangat kerasnya, serta mengarahkan palkon-nya pada pintu masuk gua nikmat vagina-nya, dan... <bleeesss...!> masuk sudah seluruh batang penis putera tunggalnya yang sangat tegang itu, meng-invasi seluruh 'gua nikmat' itu... dilanjutkan dengan pompaan-pompaan senggama yang intens tapi stabil speed-nya. Ayunan pinggul remajanya bergerak... turun-naik... turun-naik... turun-naik... Tidak perlu waktu yang lama bagi bu Ratna yang sudah sangat sange, hanya dalam waktu dibawah 10 menit atau tepat 7 menit lebih beberapa detik, mengantarkan bu Ratna pada orgasme yang dasyat...<seerrr...!> <Seerrr...!> <Seerrr...!> <Seerrr...!>.

"Ooh nikmatnya...! Pencinta ulungku yang unggul...! Terimakasih ya sayangku...!'. Bu Ratna menolehkan wajahnya pada Naning yang terdiam dan terkagum-kagum menyaksikan persetubuhan antara sang ibu dengan putera tunggalnya itu.

Sampai-sampai Naning gelagapan mendengar teguran bu Ratna pada dirinya.

"Ayooo Naning, sayang... kesini dong! Teruskan 'action' ini dengan adikmu... ingat apa yang mama bisikkan padamu barusan!", kata bu Ratna memberi semangat pada Naning. Setelah dirasakan pengaruh orgasme telah sirna, buru-buru bu Ratna turun dari tempat tidur dan langsung mengenakan lagi gaun tidurnya, memutar anak kunci kamar dan mendorong pelan daun pintu kamar, melangkah keluar dan menutup kembali pintu itu dan segera melangkah menuju kamar tidur utama...

Bagian 4 - Kisah Kasih Kakak Dan Adik

Dikamar Didit sekarang, tinggal yang empunya kamar dan Naning... berdua saja, setelah ditinggal oleh bu Ratna yang kembali ke kamar tidur utama.

Didit yang belum mencapai orgasme-nya sendiri dari ML tadi... yang dinikmati 'sepihak' oleh ibundanya tersayang, tetap tenang-tenang saja, walaupun penisnya belum merasa senang... buktinya masih tetap tegang, dan... kadang-kadang tersentak-sentak 'kesal'.

Sekarang Didit, seperti kebiasaannya yang lalu, mengambil posisi berbaring terlentang serta kedua telapak tangannya yang kiri dan kanan ditaruh dibawah tengkuknya, kedua kakinya terentang lebar dan tidak lupa... menggoyang-goyang kedua telapak kakinya... menggeleng-geleng kekiri dan kekanan. 'Cool' betul anak muda ini kelihatannya.

Biasanya sang cewek akan merasa rada keki melihatnya atau bagi cewek yang kadung sange sedari tadi, pasti akan langsung 'menghajar' Didit dengan WOT-nya atau paling sedikit 'mencaplok' dengan gaya BJ penis Didit ini yang bikin gregetan sang cewek.

Naning terdiam sejenak duduk diatas tempat tidur, didalam hatinya sedang menimbang-nimbang tindakan apa yang tepat untuk menghadap 'adik baru'-nya yang terlihat sangat cuek ini. Memang Naning agak bingung juga jadinya, maklumlah ini adalah sesuatu hal yang baru baginya. Pengalamannya yang sudah berbulan-bulan yang selalu jadi bulan-bulanan pelampiasan nafsu seks kakeknya selalu menempatkan dirinya pada posisi sebagai pasangan-seks yang pasif, yaitu... terlentang... ngangkang dan diterjang... oleh penis pasangan ngeseks-nya itu. Demikian juga ketika dia ML dengan pak Damarto yang tidak lain adalah 'papa baru'-nya itu tatkala mereka menginap di bungalow.

Didit dengan santainya memberi komentar meniru gaya bicara bu Ratna sang ibunda ketika melihat Naning sang 'kakak baru' yang lagi kebingungan kelihatannya.

"Eeh-hmm...! Eeh-hmm...! Kakakku ini... sudah cantik... botoh... sekal dan mana montok lagi entuannya tuh... tapi sayang... suka bengong atau lagi kebingungan ya...?! Chk-chk-chk... kacian deh...! Sini kakakku sayang... nenen sama adik...!".

Melonjak keki Naning jadinya, sambil melototkan mata indahnya berkata dengan nada kesal. "Emangnya! Apa yang mau dinenenin...!? Uughhh... dasar!".

Didit membalas perkataan sengit dari Naning dengan santai saja. "Dasar masih... eehh... nggak ding...! Maksud daku... kakakku sayang... pilihan nenennya lumayan... banyak kok! Lihat nih!", kata Didit mengacungkan telunjuk tangan kanannya menunjuk ke pentil rata yang ada dipermukaan dadanya sebelah kanan. "Nih...!", kata mengacungkan telunjuk tangan kirinya menunjuk ke pentil rata yang ada dipermukaan dadanya sebelah kiri. "Dan... ini nih...!", kata Didit dengan mantap, sembari kedua telunjuknya kiri dan kanan berbarengan menunjuk kearah penisnya yang masih ngaceng saja. Segera dimainkannya otot-otot dalam batang penisnya, akibatnya terlihat penisnya seakan-akan mengangguk-angguk. "Tuh! Lihat tuh... kak! Penisku setuju sekali denganku, buktinya... lihat dong! Lagi mengangguk-angguk tanda setuju banget! He-he-he...!", kata Didit yang mulai lagi dengan tertawa cengengesannya, bagi cewek yang mendengarnya seakan sebagai ejekan saja kedengarannya.

Naning yang sedari tadi mau marah malahan jadi tertawa lepas melihat tingkah-laku Didit yang rada konyol ini. 'Hi-hi-hi... adik...! Adikku sayang...! Bener-bener deh, kakak jadi kewalahan menghadapi kamu... habisnya... harus gimana dong kakak? Sayang", akhirnya terlontar juga kata-kata penyerahannya... pasrah.

"Biarpun Didit lebih muda dari kakak, tetapi soal teori dan praktek nge-seks... cukuplah, tidak terlalu malu-maluin banget! OK deh Didit yang menuntun kakak, tapi... kakak jangan tersinggung ya? Didit lagi serius nih...!", kata Didit mulai memberi pengarahan pada Naning 'kakak baru'-nya.

"Iya deh... kakak tidak bakalan tersinggung... yang penting jadi cepat 'urusan'-nya, kan... kamu harus bangun pagi... pergi bersekolah bersama Neni dan papa ke sekolah? Iya... nggak?! Atau... gimana kalau kakak yang usulkan... kamu aja yang diatas, setuju nggak...?", kata Naning harap-harap cemas... agar segalanya menjadi cepat selesai.

Usulan Naning ini langsung ditolak mentah-mentah oleh Didit dengan berkata, "Tidak-tidak... kakakku sayang... tidak ada nilai tambahnya... baik untuk Didit dan untuk kakak! Katanya kakak mau mendengarkan saran Didit... gimana sih...?!".

"Oh... iya! Maafkan kakak, sayang... lagipula ini kan cuma usulan saja... iya toh", kata Naning bersemu malu, khawatir dipandang ingkar oleh 'adik baru'-nya ini.

"Begini kak... pakai saja gaya WOT, kepanjangan dari 'Woman On Top', jadi kakak jongkok dan menduduki penis Didit... apa mau tahu tentang reaksi penis Didit ini? Hai pen! Elo setuju nggak... kalo digituin sama kakakku ini?", Didit berpura-pura bertanya pada penisnya sembari memain-mainkan otot-otot didalam penisnya, akibatnya... ya terlihat penisnya mengangguk-angguklah jadinya.

"Hi-hi-hi... dasar kamu dik! Ngebanyol terus sih! Hi-hi-hi...!", Naning spontan tertawa jadinya.

Tanpa membuang-buang waktu lagi, Naning dengan sigap dan nekat langsung jongkok diatas kedua pinggul remaja Didit, dan... menyambarkan penis tegang Didit dengan mencekalkan kelima jari tangan kanannya melingkari batang penis Didit yang sangat keras dirasakan oleh Naning. 'Bukan main deh... nih barang! Keras amat sih...! Pantesan mama tadi jadi cepat nyampe duluan...!', kata Naning dalam hati, sangat kagum dengan penis yang tengah digenggamnya itu. Langsung saja mengarahkan palkon penis itu berada di pintu masuk gua nikmat vagina legitnya dan dilanjutkan dengan menurunkan pinggulnya. "Aduh! Sakit...!", jerit kaget seketika Naning oleh aksi sendirinya... begitulah pengalaman pada WOT perdana-nya ini. Penis Didit belumlah bisa masuk menerobos gua nikmat miliknya itu, kalau dipaksakan... akibatnya bisa fatal... organ vital masing-masing akan sama-sama lecetnya. Maklum saja jalan masuk dalam vagina Naning masih kering... belumlah basah yang bisa melicinkan lorong-lorong sempit itu.

Dengan cepat Didit meletakkan kedua telapak tangannya menopang pinggul Naning mencegah jangan sampai turun menekan kebawah.

'Uuugghhh! Dasar pemula...', keluh Didit dalam hati, ikut merasakan sakit pada palkon-nya. Dan berkata lagi pada Naning, "Udah deh kak! Bawa deh memek kakak mendekat pada mulut Didit...".

Kalau yang beginian sih, Naning tahu akan maksud dan tujuan perkataan Didit. Hampir mirip kejadiannya dengan yang di bungalow sana, yang membedakannya adalah... kalau dulu (di bungalow) Naning dibawah dan pak Damarto diatas... kalau sekarang Naning diatas dan Didit dibawah.

Segera Naning menempelkan permukaan vagina-nya pada mulut Didit, yang disambut dengan ujung lidah Didit yang kesat... langsung mengulek-ulek kelentit mungil milik Naning yang menyebabkan tersentak-sentak pinggulnya merasakan nikmatnya rangsangan pada kelentit-nya itu. "Oohhh... nikmatnya! Terus dik... sayang! Pintar sekali kamu!", tersentak-sentak perkataan Naning keenakan.

Kedua tangan Didit juga tidak mau tinggal diam... ikut berperan serta meramaikan suasana yang beraroma penuh nafsu birahi itu. Semakin gelagapan saja Naning merasakan 'gempuran' nikmat ini, bagaimana tidak? Kesepuluh jari-jari tangan Didit bergerak serentak mengalun-alun, serempak meremas-remas buahdada montok dan sekal... asset indah milik Naning, sesekali diselingi dengan plintiran jari telunjuk dan jempol kiri dan kanan tangannya Didit, ikut membuat suasana bertambah semarak saja.

"Enaknyaaa...! Nikmat sekaliii...! Terus dik jangan berhenti!".

Jangankan disuruh terus... disuruh berhenti pun Didit akan tetap terus melancarkan aksi nikmatnya ini.

Ada kedutan-kedutan kecil didalam vagina Naning, semprotan awal cairan pelicin telah membasahi seluruh permukaan dinding dalam lorong-lorong nikmat vagina Naning... melumasi sempurna bagi kunjungan penis sang 'pecinta ulung' alias Didit si remaja yang doyan nge-seks ini.

"Ingat kak! Kalau mau dimasukkan kembali, jangan main amblas saja! Pertama masuk sedikit saja, kemudian angkat sedikit lalu tekan kebawah, kemudian angkat lagi... begitu seterusnya kak, supaya lumasan ini merata dan menyebabkan licin untuk seluruh dinding lorong nikmat vagina kakak...", kata Didit memberi pengarahannya pada 'kakak baru'-nya yang kurang begitu berpengalaman nge-seks secara benar dan ber-variasi itu.

Sebenarnya sih... kalau dilihat lamanya mengenal seks pastilah Naning, yang praktis sudah berbulan-bulan menjadi sasaran tembak air mani kakeknya, tapi... dengan gaya yang monoton dan pasif. Sedangkan Didit juga mengenal seks sudah cukup lama, juga berbulan-bulan, tapi teoritis tapi variatif di internet... ditambah praktek singkat baru 2 hari, tapi sangat intensif dan penuh variasi serta sangat dinamis sekali. Secara kualitas, Didit lah yang lebih berpengalaman nge-seksnya, apalagi sang ibunda tersayang telah memberi gelar padanya sebagai seorang pencinta yang ulung!

'Kalau terus dibiarkan begini, bisa-bisa aku nyampe duluan nih! Hampir sama saja kejadiannya dengan bu Ratna 'ibu baru'-nya tadi'. Sedang bagi Naning belum dimasukin penis keras Didit, sudah klimaks duluan, ini tidak diinginkan Naning karena ingin juga merasakan klimaks ketika batang penis keras milik Didit... yang mulai didambakannya itu masih berada didalam vagina-nya. Apalagi bukankah ini kesempatan emas baginya... untuk pertama kali dalam hidupnya... merasakan kehebatan penis muda? Dengan pertimbangan itu, Naning segera melepaskan diri dari sergapan mulut dan jari-jari tangan Didit dengan memundurkah tubuh indahnya, dan... kembali pada posisi awal.

Dengan sentakan mantap dari pinggulnya menekan kebawah <bleeesss...!> tanpa ampun lagi masuk sudah seluruh batang penis muda milik Didit yang sangat tegang itu, menerobos masuk 'gua nikmat' dalam vagina legitnya Naning. Terdiam sejenak Naning oleh sensasi nikmat yang tengah dirasakannya ini.

Naning memulai ayunan pinggul mulusnya, yang mengakibatkan otot-otot dalam vaginanya mencengkeram kencang sekeliling dan sepanjang batang penis kerasnya Didit. Naning sudah terlalu lama mengalami sange dari sejak bu Ratna bersama anak tunggalnya, Didit terlibat ber-aktivitas incest tadi.

"Kakak sudah tidak tahan lagi... terlalu sangat nikmat untuk merasakannya lebih lama lagi... ooh... sayang! Aku mau nyampe nih...!".

<Seerrr...!> <Seerrr...!> <Seerrr...!>

Terhempas tubuh sintal Naning jadinya kedepan menindih tubuh Didit... oleh kenikmatan orgasme yang sedang dialaminya ini. Napasnya jadi satu-satu dan... terengah-engah serta detak jantungnya bergemuruh kencang.

Didit membiarkannya menunggu sampai keadaan Naning pulih kembali seperti sediakala.

Kemudian menggulirkan tubuh mereka, sehingga sekarang Didit yang menindih tubuh muda jelita Naning. Segera memompakan penisnya sejenak agar upaya penisnya yang sempat mulai melunak karena dibiarkan diam terlalu lama... mengeras kembali dan tegang.

Mengecup lembut dan mesra bibir sensual Naning... melepaskan tautannya pada bibir merah itu, dan sekarang beralih sasaran pada puting indah milik Naning dengan mengulum-ngulumnya dengan tidak terlalu keras tetapi cukup lembut saja dan mesra.

'Oohh... adikku sayang... kalau memperlakukanku terus seperti ini dengan lembut dan mesra... bisa-bisa kakak jatuh cinta padamu dik...! Nikmat dan syahdu sekali...!', terbuai Naning oleh aksi lembut Didit ini.

Tapi Naning keliru menilai perilaku Didit, sang remaja si pecinta ulung ini. Didit dalam melakukan kegiatannya seks-nya, tidaklah dalam rangka mencari calon isteri melainkan hanya berkeinginan meraup sebanyak-banyaknya kenikmatan seks dan memberikan kenikmatan semaksimal mungkin bagi pasangan seks-nya semata... tidak ada tujuan lain! Didit terlalu sangat muda untuk memikirkan seorang yang bakal kelak jadi pasangan hidupnya!

Didit menghentikan sejenak enjotannya pada vagina Naning untuk mengatur posisi yang lebih nyaman, tapi penis kerasnya tetap masih mendekam didalam gua nikmat vagina Naning... terhimpit dan dicekal ketat oleh otot-otot dalam vagina legit itu. Setelah dirasakan oleh Didit, posisinya cukup nyaman, kembali mengecup dan FK sebentar dan menyudahi FK itu, mendekatkan mulutnya pada telinga kanan Naning yang polos tidak memakai anting-anting.

"Kak... kakakku sayang... peluk Didit yang erat dan kencang, kita akan melanjutkan ML ini ke tingkat action yang lebih serius... biar kita sama-sama mendapatkan orgasme bersamaan waktunya...!".

Maka dimulailah action yang sesungguhnya... Didit mulai memompakan penis kerasnya disepanjang lorong nikmat dalam vagina legit sang 'kakak baru', Naning. Pinggul remajanya bergerak turun-naik turun-naik turun-naik... semakin lama semakin cepat saja. Sedangkan yang sedang dienjot, Naning sudah tidak mampu lagi berkata-kata... perhatian dan pikirannya fokus dan tertuju semata dalam meresapi kenikmatan yang bertubi-tubi datangnya yang melanda dan menerpa sekujur tubuhnya... tanpa henti akibat aksi seks si pecinta ulung ini.

Ini berlangsung hampir limabelas menitan, ya... tepatnya kurang 3 menitan deh... dengan enjotan nikmatnya, stabil, dan... powerful!

Akhirnya keluar juga kata-kata dari Didit yang diucapkannya agak terbata-bata, "Kakakku sayang...! Aduh nikmatnya vagina kakak nih...! Terimalah... persembahan... semprotan sperma Didit... aahhh...!".

<CROTTT...!> <Crottt...!> <Crottt...!> menyembur-menyembur sperma Didit didalam vagina Naning... bahkan semprotan pertama yang sangat kuat... langsung memicu vagina Naning mendapatkan orgasme keduanya... <Seerrr...!> <Seerrr...!> <Seerrr...!>.

Terkulai sudah... kedua tubuh-tubuh pasangan muda nge-seks ini, masih menikmati orgasme masing-masing... Tak lama kemudian terdengar lemah dari mulut Naning... <zzz...> <zzz...> <zzz...> rupanya perempuan muda ini sudah berada di negeri antah-berantah... tertidur pulas dengan wajah cantiknya yang merona merah muda dan tersenyum puas tanpa bersuara... menambah suasana keheningan malam, jam di dinding kamar Didit telah menunjukkan waktu pukul 23:55... 5 menit lagi waktu akan berganti ke hari yang baru...

Tak lama kemudian Didit turun dari tempat tidurnya, melangkah kekamar mandi yang ada didalam kamar tidurnya, untuk membersihkan diri ala kadarnya... keluar kembali dengan membawa ember kecil yang berisi air hangat dan handuk yang tidak terlalu besar (didalam kamar mandi Didit ada kran air panas), mendekati tubuh Naning yang telentang masih bertelanjang bulat... agak mendekat ke tembok. Segera Didit dengan lembut dan telaten... menyeka dahi mulus Naning yang agak berkeringat karena kegiatan ngeseks-nya dan Didit juga tidak lupa membersihkan permukaan kulit putih mulus diseputar vagina segaris vertikal dan masih cukup klimis dan terakhir menyelimuti tubuh telanjang 'kakak baru-nya dengan selimut baru cukup lebar. Didit juga sudah mulai mengenakan seragam tidurnya, 2 potong pakaian saja, yaitu celana pendek Hawaii dan T-short longgar yang polos.

5 menit kemudian, terdengar dengkur lembut yang bersahut-sahutan dari 2 orang anak manusia ini...


agian 5 - Threesome, Belah Duren Sukses 2 Jempol

Seminggu telah berlalu semenjak rumah ini kedatangan anggota baru keluarga pak Damarto. Selama itu pula suasananya menjadi penuh canda-tawa dan rasa bahagia meliputi kepelosok seantero dalam rumah ini.

Sekarang hari Senin, jam dinding dikamar Didit menunjukkan waktu pukul 21.30 malam. Didit duduk sendirian di kursi depan meja belajarnya, dia baru saja selesai belajar yang selalu rutin dilakukannya setiap harinya. Didit tidak pernah berambisi untuk jadi siswa ranking 1 ataupun sebagai runner-up, baginya adalah minimal dia tidak mendapat kesulitan apapun ketika menghadapi ulangan rutin mingguan di kelasnya... itu saja dulu. Didit sadar, kebiasaan belajarnya setiap hari harus semakin ditingkatkan sampai kelak dia naik (mudah-mudahan) ke kelas 3. Ini penting karena p*m*r*nt*h telah mengeluarkan keputusan lewat departemen terkait bahwa ujian nasional telah dihapus, sehingga kelulusan seorang siswa dari tingkat jenjang pendidikan SMU tergantung sepenuhnya dari / atas kebijakan yang diambil oleh sekolah masing-masing.

Sekolah mereka (Didit & Neni) tidaklah terlalu jauh dari rumah kediaman mereka, hanya memerlukan 3 menit lebih sedikit dengan mengendarai sepeda motor yang berkecepatan hanya 30 km/jam saja.

Memang gedung sekolah itu masih terletak didalam kawasan properti perumahaan yang sangat luas itu. Jalan aspal rata yang terletak didepan rumah kediamam keluarga pak Damarto adalah batas paling barat dari kawasan properti itu. Sedangkan tanah yang keseluruhannya 1.600 meter persegi yang ditempati keluarga pak Damarto, dahulunya adalah milik penduduk asli daerah itu yang dibeli oleh pak Damarto terlebih dahulu, jauh sebelum perusahaan pengembang properti di kawasan itu memulai proyeknya.

Sambil duduk bersandar kebelakang, Didit teringat kejadian tadi siang usai sekolah mereka, disaat Didit bergandengan tangan dengan Neni, 'adik baru'-nya berjalan bersama menuju ke tempat parkir motor di sekolahnya.

'Hai Dit...! Disebelah lo itu... adik elo ya? Kok beda jauh ya...", sapa Burhan teman sekelas Didit yang cukup akrab dengannya. "Kok cantikan adik lo... kemana-mana... whe-whe-whe...!", Burhan menertawai ucapannya sendiri.

"Dasar pale lo peyang...! Isinya cuma ngebayangin cewek mulu...!', jawab Didit sambil lalu tanpa tertawa.

<Duukkk...!> "Aduh! Sialan nih tiang... lo cemburu apa sama si Neni yaa!", kata Burhan yang berbadan agak tambun ini, ngomelin tiang lampu taman dipelataran depan halaman sekolah. Gimana nggak kebentur tiang kepalanya, habis... sambil melangkahkan kakinya, mata genitnya tak putus-putus memandang Neni, si gadis ayu... manis sekali!

Sedang Didit dan Neni tidak mau mengomentari 'nasib malang' yang menimpa Burhan itu... malah semakin mempercepat langkah-langkah kaki mereka mendekati motor milik Didit yang diparkir disana.

***

Besok (hari Selasa) Didit akan berperan lagi sebagai 'the man and only of the house', karena pada subuh-subuh sekali pak Damarto akan berangkat kembali ke proyeknya yang berdekatan dengan desa tempat domisili-nya bu bidan Atik. Kali ini cukup lama mungkin bisa sampai 1 bulanan, karena proyek yang dikerjakan perusahaan milik pak Damarto telah mendapatkan persetujuan untuk diperluas sampai 3 X dari yang sekarang! Pak Damarto akan mengendarai mobilnya yang akan disupiri oleh pak Suripman, sopir pribadi pak Damarto.

***

Sedang bu Ratna sekarang sedang ngelonin Neni yang tidak mau tidur sendirian ditinggal oleh kakaknya Naning, yang katanya sedang diberi wejangan oleh pak Damarto, apa saja yang harus dikerjakan Naning sepeninggalnya pak Damarto pergi keluar kota.

Tadi siang bu Ratna telah menggunakan Pregnancy Test, dan... ternyata beliau positif hamil!

Seperti kebiasaan yang lalu-lalu, pak Damarto sebelum keesokan paginya berangkat keluar kota, selalu melakukan ML dengan isterinya yang tercinta. Tapi tadi begitu diberitahu oleh bu Ratna bahwa dia telah positif hamil, pak Damarto minta ijin pada isterinya tersayang yang lagi hamil muda itu, agar supaya kegiatan ML itu diwakilkan pada Naning saja. Pak Damarto berdalih bahwa dia memikirkan mengenai embryo awal yang telah terbentuk dalam rahim isterinya itu masih belum kuat dan stabil posisinya. Bu Ratna setuju saja karena dia sangat berkepentingan dengan kehamilan ini, karena pada usianya yang 36 tahun sekarang ini, adalah saat yang sangat aman untuk melahirkan anaknya daripada nanti pada tahun-tahun berikutnya. Seperti juga pada proses kelahiran Didit dahulu melalui 'caesarean' (kelahiran seorang satu atau lebih bayi lewat pembedahan di perut), proses kelahiran bayi yang sedang dikandungnya, rencananya juga dengan proses 'caesarean'. Bekas-bekas 'caesarean' yang pertama sudah tidak terlihat samasekali, karena telah dirapikan kembali dengan sempurna melalui bedah plastik yang ditangani langsung oleh ahli kondangnya.

Jadi tadi sekitar jam 22:00, ketika Naning dan Neni telah memasuki kamar, bu Ratna mendatangi Naning dan memintanya untuk menemani 'ayah baru'-nya untuk malam ini, sedangkan bu Ratna menggantikan posisi Naning untuk menemani tidur Neni.

Jadi sekarang ini bu Ratna bersama Neni berada dikamarnya Neni sebenarnya. Sedangkan kamar Naning yang sesungguhnya berada disebelah kanannya. 2 kamar itu adalah sebenarnya kamar-kamar tamu, karena itu masing-masing mempunyai kamar mandi & closet sendiri didalamnya.

Sementara Neni yang belum terbiasa tidur sendiri, yang dari dulunya (di rumah lamanya) selalu ditemani Naning, kakaknya untuk tidur bareng, sampai nanti Neni berani tidur dikamarnya sendirian.

"Ma...!", kata Neni ketika mereka berdua (bu Ratna dan Neni) telah membaringkan badan mereka terlentang berdampingan. "Kenapa sih papa sama mama... bahkan kak Naning membohongi Neni sih...? Neni tau kok... kak Naning lagi gituan kan... sama papa sekarang!".

Tercekat bu Ratna jadinya mendengat perkataan Neni yang 'to the point' itu. 'Benar juga seperti yang telah lama kuduga sebelumnya, pasti Neni mengetahui segalanya, Neni adalah seorang gadis belia yang cerdas, bukankah dia selalu menjadi ranking satu di kelasnya!?'. Akhirnya bu Ratna buka suara, "Benar sayang apa yang kau duga itu, apalagi kau dengan kakakmu Naning kan selalu tidur bersama sejak dirumah yang lama dulu, maafkan mama yang telah menyepelekanmu, mama harap kamu juga mau memaafkan papa dan Naning, kakakmu ya sayang... mulai detik ini mama akan bicara apa adanya tanpa menutup-nutupinya lagi... tiada lagi kebohongan diantara kita bahkan untuk hal yang sekecil apapun...!".

"Ma... gituan itu... enak nggak sih? Cerita teman-teman Neni sewaktu di SMP sana... untuk pertama kali katanya cukup sakit tapi tidak terlalu amat sih, kemudian... enaknya seterusnya...! Sewaktu di penginapan bungalow disana seminggu yang lalu... Neni pengen minta sama papa... tapi Neni tidak berani mengucapkannya...".

"Itulah gunanya mama memberimu sebuah buku catatan pribadi atau diary untuk mencatat hari-hari apa saja dan tanggal berapa kamu mendapatkan haidmu. Nanti setelah data dalam diary-mu sudah mama anggap cukup barulah mama bisa menghitung dan menentukan tanggal-tanggal 'subur' dan 'tidak subur' dirimu. Ini disebut sebagai sistim kalender KB. Pada sekarang-sekarang ini kamu hendaknya jangan melakukannya... sebab enaknya cuma sekejap dan kalau lagi tidak beruntung... ya tidak beruntung terus selama hidupmu! Sebab kalau kamu terlanjur melakukannya dan... menjadi hamil karenanya... kamu tidak boleh menggugurkan kandunganmu itu, karena itu melanggar hukum dan berbahaya bagi keselamatanmu. Pokoknya mama tidak mau mendukung aborsi biar sekecil apapun juga!".

"Berapa lama lagi Neni harus menunggunya... ma?", tanya Neni masih penasaran saja pada 'ibu baru'-nya ini.

"Enam bulan lebih dari sekarang...", jawab bu Ratna singkat saja.

"Aduh mama...! Itu lama sekali...!", keluh Neni dan raut wajahnya menjadi sangat kecewa kelihatannya.

"Memang sih banyak cara lainnya, tapi ingat...! Tidak ada satu cara pun yang 100% aman. Satu-satunya yang paling aman dan tidak dapat dipungkiri keamanannya 100%, yaitu... dengan tidak melakukannya samasekali!".

"Emangnya tidak ada cara lainnya lagi ma...??", kata Neni yang masih saja bersikukuh penasaran.

'Waahhh... gawat deh nih...! Libido-nya rupanya sudah tumpah-ruah agaknya. Hal ini bisa menimbulkan sesuatu yang bakal merugikan... apa itu? Tidak ada satu orang pun yang dapat melakukan prediksi awal... berbentuk apa itu nantinya, juga aku tanpa daya mengatasi itu semua. Ini adalah akibat kesalahan orang-orang disekitar Neni selama ini, yang terlalu memandang sepele akibat yang ditimbulkan pada gadis muda belia ini'.

"Baiklah... tetapi mama tanya sekali lagi padamu sayang... benar yakin kamu ingin sekali merasakannya?", tanya bu Ratna yang sebenarnya pertanyaan ini justru untuk meyakinkan dirinya sendiri, agar tidak keliru mengambil langkah untuk mengatasi hal ini.

"Benar mama! Neni sudah siap kok...!".

"OK kalau begitu ikut dengan mama sekarang", kata bu Ratna, tetapi sebelumnya dia membuka laci pada meja rias yang ada didekatnya lalu merogoh dibagian atasnya, begitu dia mengeluarkan tangannya... didalam genggaman tangannya itu ada sekotak kondom bersegel dan masih baru, berisi 6 sachet yang masing-masingnya berisi 1 buah kondom.

Ketika langkah mereka melewati saja kamat tidur utama dan terus melalui ruang TV... menuju kamarnya Didit. Ini mengundang protes dari Neni.

"Ma! Kok kesini sih...?", tanya Neni yang jantungnya mulai berdetak lebih kencang.

"Pertama... jangan mengganggu kesenangan seseorang... kedua... tidaklah mungkin kamu mendapatkan 'itu' dengan papa-mu... mau tahu, kenapa...? Kamu masih ingat kan lingkaran pergelangan tangan kakakmu, Naning?", kata bu Ratna menjelaskan sekaligus bertanya pada Neni.

"Iya... pasti tahulah ma...! Dia kan kakak Neni...!", jawab Neni dengan pasti.

"Nah... sebesar itu pulalah penis papa-mu yang kamu damba-dambakan itu!", kata bu Ratna.

"Apa?! Sampai sebesar itu punyanya... papa?! Mana bisa masuk kedalam memek Neni... sedang telunjuk Neni saja susah sekali masuknya kedalam lubang memeknya Neni...!", jawab Neni kaget dan merasa ngeri juga.

"Papa-mu itu... sangat bernafsu sekali ingin ML denganmu, tapi papa-mu tahu diri dan sadar akibatnya, yaitu hal itu hampir tidak mungkin dilakukan... kalau tetap dipaksakan... itu akan menyakitkanmu dan... papa-mu juga! Tidak ada setitik pun rasa nikmat yang akan dapat kamu rasakan juga bagi papa-mu, yang kamu rasakan cuma rasa sakit yang amat sangat dan... begitu juga yang akan dialami papa-mu...! Neni... sayangku... percayakan semuanya pada mama-mu ini nak...", kata bu Ratna berusaha menyakinkan Neni.

Sampai didepan pintu kamar Didit, bu Ratna mengetuk pelan pintu itu. "Didit sayang... boleh mama masuk?".

Didit yang mendengar ketukan di pintu dan suara ibunya yang tersayang dan memang sangat ditunggu-tunggu kedatangannya. 'Jadi juga olahraga sehat malam ini he-he-he... wah bakalan aku bisa tidur nyenyak nih... nanti!', kata Didit didalam hatinya dan sungguh sangat senang jadinya.

"Masuk aja mama-ku sayang... pucuk dicinta... mama pun tiba...! He-he-he...!", Didit tertawa senang dan... penisnya pun ikut-ikutan girang... ndut-ndutan dan mengangguk-angguk tegang...

"Huuusshh... dasar otak ngeres...!", kata bu Ratna masuk kedalam kamar mendekati Didit yang sudah berdiri menghadapinya. Langsung saja melancarkan aksi FK dan tangan kirinya kebawah dan mencekal penis tegang milik Didit.

Neni yang mengikuti bu Ratna dari belakang jadi terhenti langkahnya seketika melihat aksi yang dilakukan 'ibu baru'-nya ini. 'Bukan main! Nafsuan banget sih... mama-ku ini... yang mau ML... mama, apa... aku sih?!', Neni terpesona melihatnya dan... vagina muda-nya langsung basah jadinya... ikut-ikutan bernafsu rupanya.

Bu Ratna melepaskan tautan FK-nya, kesempatan dipergunakan sebaik-baiknya oleh Didit dengan bertanya, "Mama horny ya...?! Asyik dong...! Udah 2 hari nih... tidak olahraga yang bisa menyehatkan luar-dalam he-he-he...!", kata Didit sambil mulai lagi tertawa cengengesan yang agak menyebalkan bagi orang yang mendengarkannya.

"Huuusshh... dasar otak ngeres...!", kata bu Ratna kembali sambil melototkan mata indahnya pada Didit. "Tuh lihat...! Siapa yang ada dibelakang mama sekarang?!".

Didit mendongakkan kepalanya melewati bahu kanan ibunda tercinta. "OMG...! Maafkan kakak sayang", katanya kaget bersipu malu pada Neni yang masih melongo saja... "Tau nih...! Mulut kakak... suka usilan dan ngomong ngaco...!", kata Didit lagi sambil menutupi mulutnya dengan telapak kanan dan diikuti segera dengan gerakan telapak kiri tangannya yang menampar keras punggung telapak kanannya... <plaaakkk..!> "Dasar mulut kurang ajar! Ngomong sembarangan!".

Neni yang masih melongo... mendengarkan tamparan keras itu... tercekat kaget jadinya, "Iiihhh... kakak! Bikin kaget Neni saja...!", katanya jadi kesal sama 'kakak baru'-nya itu.

"Yang bangor itu adalah... otak ngeresmu sendiri sayang... pencinta ulung mama...! Hi-hi-hi...!", timpal ibunya lagi.

"Bener-bener... minta ampun deh! Ngomong sama mama... kalau lagi horny, susah-susah... sulit!", kata Didit kewalahan ngadepin ulah sang ibundanya tercinta. Saking kesalnya, Didit langsung menarik turun celana Hawaii kombornya, dan... terpampang sudah... bebas hambatan... penis Didit lagi garang-garangnya terlihat... tegang, kencang dan menjulang... segera saja Didit 'bertanya' pada penisnya sembari memainkan otot-ototnya. "Gimana pendapat lo... pen? Setuju nggak...?". Segera terlihat penis itu mengangguk-angguk kencang...

"HI-HI-HI... hi-hi-hi...!", tersentak kaget bu Ratna dan Neni melihatnya dan tak kuasa menahan gelak tawanya lagi.

"Lihat tuh... ulah konyol kakakmu, Nen...! Sanggup nggak kamu menjinakkan penis nakal kakakmu ini? HI-HI-HI...! Ayooo... jawab dong! Mama ingin mendengarkanmu jawabanmu...?! Suaranya yang mantap dan lantang!", tanya bu Ratna pada puteri remaja belia ini.

"Sapa... yang takut...!??", jawab Neni agak gemetaran dan takut-takut... mencoba memberanikan dirinya yang tiba-tiba menjadi ciut nyalinya itu.

"He-he-he... uuughhh! Ecel...! Baru juga cuma dua cewek cantik...! Let's ACTION... darlings! He-he-he...!", kata Didit dengan pongah sambil tertawa dan menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya.

(NB: ecel = mudah, gampil, gampang).

Mendengar perkataan Didit si pecinta ulungnya, segera saja bu Ratna melucuti pakaiannya sendiri sambil menoleh sekilas pada Neni. "Ayooo... Neni sayangku! Lepaskan semua pakaianmu, mari kita wujudkan keinginanmu... malam ini!", kata bu Ratna mengajak Neni dengan suara mantap.

Didit dengan cekatan menelanjangi dirinya sendiri. Tinggal Neni, gadis ayu muda belia rada gemetaran melucuti pakaiannya sendiri.

Terlihatlah jelas didalam kamar itu seakan ada satu pagelaran cerita Yunani kuno... Adonis muda dengan kedua wanita, setengah baya dan remaja belia, pengagum dirinya...

"Ayooo... Neni sayangku... naik ke tempat tidur... berbaring terlentang saja ditengah-tengah... agak renggangkan kedua pahamu... yaa... sedikit lagi... ngangkang begitu...!', instruksi bu Ratna pada Neni, gadis muda belia... pendamba seks. Kemudian bu Ratna membuka lemari pakaian milik Didit dan mengambil sebuah handuk bersih berukuran medium, dan segera naik ketempat tidur... meminta Neni untuk mengangkat sedikit pinggul mulusnya, segera menaruh handuk itu dibawah pantatnya Neni. "Ya sudah... turunkan pantatmu kembali dan tekuk kedua lututmu keatas sayang... yaaa benar begitu. Kok kelihatan kamu jadi ragu-ragu sih...? Berusaha berbaring tenang... kenapa?!". Sedang Neni sudah tidak mampu lagi berkata-kata hanya menunggu pasrah... apa yang akan dihadapinya nanti...

Bu Ratna turun lagi dari tempat tidur, mendekati Didit dan mendekap erat tubuh anak lelaki satu-satunya ini dan berbisik mesra didekat kuping sebelah kanan Didit. "Sayangku... mama benar-benar sangat nafsu sekali padamu... mama kepengen ngentot denganmu malam ini!".

Tercekat hatinya mendengar ibunya itu mulai mengeluarkan kata-kata vulgar... begitu ulah ibunya kalau lagi sangat 'tinggi' nafsunya.

Tanpa melepaskan dekapan eratnya pada tubuh Didit, bu Ratna mendorong dan mengarahkan tubuh Didit pada posisi yang diinginkannya. Kemudian mendorongnya kebelakang yang menyebabkan tubuh Didit jatuh terlentang dan melintang diatas tempat tidur, dan posisi wajah gantengnya dekat dengan vagina klimis imut-imutnya Neni dan kaki-kaki Didit menjuntai kebawah pada pinggiran tempat tidur.

"Oral seks... adikmu sayang!". Tanpa membuang-buang waktu lagi, bu Ratna berlutut didepan penis Didit yang ngaceng, langsung mencekalkan batang penis itu dengan jari-jari lembut dan lentik tangan kanannya serta mengarahkan palkonnya menyentuh mulut sexy-nya. Segera saja bu Ratna mengulum-ngulum intens palkon Didit itu. Tidak terlalu lama sih... hanya semenit kurang saja, kemudian menghentikan kulumannya itu, berbaring telentang seperti Didit dan berkata pada Didit yang lagi sibuk berat melakukan oral-seks pada Neni, dengan nada bergetar diselimuti hawa-nafsunya penuh gejolah gairah birahi berkobar-kobar. "Sekarang Dit... sayangku! Entot mama-mu sekarang... semprotkan sperma-mu kedalam nonok mama... cepat...!".

Didit segera menghentikan oral-seks pada vagina Neni sambil berkata, "Lanjutkan dengan tanganmu dik... kalau bisa sampai klimaks biar memek-mu jadi licin... jangan khawatir, nanti akan tiba giliranmu, percaya deh... ini tidak akan lama...!".

Didit bergegas bangkit dari tempat tidur dan berdiri tegak didepan vagina ibunya yang sudah membasah dan lagi ndut-ndutan itu.

Bu Ratna dengan sigap mencekal batang penis Didit yang lagi ngaceng sempurna... dan menempelkan palkon Didit pada labia-mayora pas didepan pintu masuk gua nikmat vaginanya. "Ayoo... tancap... full-speed sayang!", instruksi bu Ratna yang mabuk dengan nafsu birahi.

Mulailah 'the young mothefucker' ini memenuhi hasrat seks ibunda yang mendesak, memompa intens vagina legit ibu kandungnya, maju-mundur... maju-mundur... maju-mundur...

Aksi incest ini tidak terlalu memakan waktu lama... mungkin malah telah memecahkan rekor dari persetubuhan-persetubuhan yang mereka lakukan selama ini... dengan rekor paling cepat! Hanya 3 menit saja... hebat! Apa... apa ya...?

"Oooh pecinta ulung mama yang ganteng... mama sampai!", dikuti dengan... <seerrr...!> <Seerrr...!> <Seerrr...!> <Seerrr...!>.

5 detik kemudian menyusul giliran Didit, "Dasar vagina mama yang super legit... Didit semprot nih pake sperma Didit... oh nikmatnya... mama-ku sayang...!".

<CROTTT...!> <Crottt...!> <Crottt...!> menyembur-menyembur sperma Didit didalam vagina ibunya... bahkan semprotan pertama yang sangat kuat... langsung memicu lagi vagina ibunya mendapatkan orgasme keduanya... <Seerrr...!> <Seerrr...!> <Seerrr...!>.

Nah ini baru hebat namanya, 2 X orgasme dalam waktu hanya 3 menit saja... Rekor baru telah diciptakan oleh pasangan incest, bu Ratna dengan putera kandungnya, Didit sang pecinta ulung muda...

Bahkan Neni yang melotot sambil melongo menyaksikan aksi seru gituannya Didit dengan ibunya... ikut-ikutan mendapatkan klimaks nya yang dirasakan Neni inilah masturbasi yang paling nikmat yang pernah dia rasakan...!

Terdiam mereka bertiga sejenak, merasakan kenikmatan atas klimaks yang mereka dapatkan masing-masing.

"Ayo Dit... pecinta ulung mama yang tersayang, mulai persiapan memerawani adikmu ini, yang udah kebelet udah pengen banget digituin...! Sayangku Neni... say goodbye to your virginity...!", kata bu Ratna pelan masih lemas, tapi... puas.

Dan buru-buru turun dari tempat tidur dan dengan agak sempoyongan mengambil 1 sachet kondom yang tadi ditaruh diatas meja belajarnya Didit dan langsung merobek bungkusnya. Meminta Didit duduk sebentar dipinggir tempat tidur. Sambil memegang kondom siap pakai itu ditangan kirinya, mulai melakukan kuluman-kuluman pada palkon Didit. Belum juga sampai 30 detik, penis Didit sudah ngaceng lagi dengan sempurna. Buru-buru memasangkan kondom itu menyarungi seluruh permukaan batang penis yang keras... selesai sudah pemasangan kondom itu.

"Langsung tancapkan saja kedalam memeknya Neni, pelan-pelan saja... tidak usah grasa-grusu... apa perlu mama mengulangi lagi urutan-urutannya?", tanya bu Ratna pada Didit yang mau melaksanakan eksekusi 'pendobrakan' selaput dara Neni, gadis belia yang amat sangat mendambakan kunjungan nikmat sebuah penis tegang mampir di lorong gua nikmat dari vagina-nya yang klimis dan imut-imut, yang labia mayora-nya masih merapat ketat itu.

"Terimakasih ma! Kayaknya Didit bisa melakukannya deh... tolong mama mengawasi dan meralat cepat apabila Didit salah melakukannya dengan benar...". Kemudian berkata pada 'adik baru'-nya ini, "Come on Neni... my beloved sister... welcome to the fucking-world...!".

Didit segera menindih tubuh mungil Neni, langsung melakukan FK... lembut saja dan mesra kelihatannya dimata bu Ratna yang mengawasi dengan seksama gerak-gerik si pecinta ulung muda ini dalam melakukan semua aksinya.

Didit melepaskan tautan FK-nya dan berbisik mesra pada telinga kanan Neni dan berbisik, "Peluk erat tubuh kakakmu ini sayang...". Kemudian melanjutkan selusuran mulutnya pada pentil muda yang belum terlalu menonjol keluar, dan membelai-belainya dengan ujung lidahnya yang agak basah bergantian dari yang kanan lalu yang kiri... balik lagi yang kanan... begitu seterusnya, sementara jari-jari tangan dengan lembut meraba buahdada Neni yang sudah terbentuk indah itu, pelan saja rabaannya bergantian yang kiri dan yang kanan... tidak lupa meremas-remas lembut kedua susu indah milik Neni.

Tak terkira nikmatnya yang dirasakan Neni, gadis muda belia ini... baru pertama kali dalam hidupnya diperlakukan sangat lembut serta rangsangan-rangsangan yang menimbulkan gejolak gairah birahi ini pada bagian-bagian tubuhnya yang sensitif.

Sementara bu Ratna yang masih bertelanjang bulat ikut membantu eksekusi ini, dipegangnya dengan lembut batang penis Didit yang super keras, dan... menggosok-gosokan palkon Didit pada permukaan kelentit mungil yang berada dibagian atas vagina Neni.
Tersentak-sentak kaget dan merasakan sensasi nikmat pada seluruh bagian tubuh sang gadis belia ini.

"Ooh mama-ooh kakak-ooh mama... kok enak sekali sih...! Pantesan teman-teman cewek SMP Neni yang dulu... seneng banget menceritakannya... Aduh mama... ooohhh...! Neni mau pipis nih...!", dikuti dengan... <serrr...!> <Serrr...!> <Seerrr...!>.

Segera bu Ratna menempatkan palkon Didit di mulut gua lorong nikmat vagina Neni. "Ayo Dit! Ini saatnya...! Action sayang!", bu Ratna memberikan aba-aba finalnya.

Begitu mendengarkan intruksi ibunya itu, Didit langsung menekan kebawah penisnya... belum bisa masuk! Ditarik lagi... lalu menekan lagi kebawah penisnya dengan ditambah sedikit saja tenaga dorongan... <bleesss...!> masuk sudah seluruh palkonnya Didit... tapi belum sampai dengan batang penisnya yang kerasnya ampun deh. Didiamkan sejenak, lalu ditekan lagi... masuklah 1 cm batang penis itu, ditarik lagi 1 cm keatas, kemudian ditekan lagi kebawah... masuklah 2 cm batang penis Didit menyusup kedalam lorong nikmat vagina Neni yang super legit. Ditariknya 2 cm keluar batang penisnya... Inilah momen yang ditunggu-tunggu gadis muda belia itu yang masih setengah sadar diselimuti suasana klimaks yang barusan.

Dengan ditambah sentakan maju tidak terlalu pakai tenaga... <bleeesss...!> masuk sudah seluruh batang penis Didit yang sangat keras itu, meng-invasi seluruh 'gua nikmat' itu... dilanjutkan dengan pompaan-pompaan senggama penis keras si pencinta ulung muda ini. Ayunan pinggul remajanya bergerak... turun-naik... turun-naik... turun-naik... tidak terlalu cepat santai saja... kecepatannya sedang-sedang saja tapi konstan.

Keluar juga keluhan nikmat Neni "Aduh nikmatnya... nyengkal banget nih rasanya memek Neni, gede banget sih penis nakal kakak ini, uuughhh... tapi... enaknya minta ampun deh...! Ayoo dong kak...! Diterobos saja perawannya...! Neni sudah siap kok!", tanpa mengetahui bahwa dia sudah tidak perawan lagi.

Tersenyum bu Ratna dan Didit mendengarkan ocehan nikmatnya Neni, Didit menolehkan wajah ganteng kearah ibundanya, langsung ditimpali bu Ratna dengan kata-kata pelan saja. "Terus saja Dit... enjot terus! Speed-nya tergantung dari jepitan otot-otot dalam memek adikmu... pada rasa nikmat di palkon-mu...!", kata bu Ratna sambil mengacungkan kedua jempol tangannya keatas... yang menandakan sekaligus memberitahu Didit yang masih sibuk mengayun-ayunkan pinggul remajanya, bahwa Didit sudah sukses besar memerawani kegadisan 'adik baru'-nya tanpa disadari oleh gadis muda belia ini.

Persetubuhan pasangan muda belia ini sudah berlangsung 15 menit, maklum saja baik Didit maupun Neni telah mendapat orgasme tadi... inilah menyebabkan persetubuhan ini berlangsung lumayan lama!

Semakin lama semakin cepat saja enjotan pinggul remaja Didit, dan... mulailah keluar keluhan, desahan, bisikan nikmat dari mulut mereka, herannya juga keluar dari mulut sexy bu Ratna, oh... rupanya dengan melihat persetubuhan diantara sesama anaknya ini, bu Ratna juga sibuk sendiri ber-masturbasi...!

Neni: "Oh nikmatnya... udah deh Neni nggak tahan pengen nyampe lagi nih...!".

Didit: "Ini baru nge-seks dengan perawan namanya... ampun deh... nikmatnya,
semoga kondomnya dapat menampung sperma kakak... yang rasanya
bakalan banyak nih...!".

Bu Ratna: "Auh-ahh g'lap! Terserah kalian mau ngomong apa, emangnya kalian
saja yang bisa... mama sebentar lagi juga... mau nyampe...!".

Demikianlah komentar nikmat yang keluar bersahutan dari mulut ketiganya.

<Crottt...!> <Crottt...!> <Crottt...!>
<Seerrr...!> <Seerrr...!> <Seerrr...!>
<Seerrr...!> <Seerrr...!> <Seerrr...!>

Semprotan cairan nikmat dari organ vital ketiganya, juga ikut-ikutan keluar... bersahut-sahutan...!


Bagian 6 - Memenuhi Hasrat Terpendam Bu Bidan

Pak Damarto sampai di mess yang dibangun sementara proyek sekitar pukul 22:00 hari Selasa, merasa kelelahan karena perjalanan daratnya dengan mengendarai mobil yang disetir oleh pak Suripman, sopir pribadinya, lagipula telah mengisi perutnya diperjalanan tadi... pak Damarto tertidur pulas tanpa sempat mandi dahulu.

Keesokan pagi harinya (hari Rabu), setelah membersihkan dan merapikan dirinya, dia menyantap sarapannya berupa bubur gandum (yang konon katanya bisa melarutkan lemak yang berlebih didalam tubuh). Jam 9:00 tepat, mengadakan rapat dengan anak buahnya yang menjabat sebagai Pimpro (Pimpinan Proyek) dan beberapa staf lainnya untuk meng-evaluasi dan mengatur kembali penjadwalan kerja dan lain sebagainya yang memang perlu dibahas, agar proyek bisa ditingkatkan operasi kerjanya dengan lancar dan tepat waktu. Jam 11:00, rapat itu selesai dengan sukses.

Segera pak Damarto pergi, diantar dengan mobil yang disetir pak Uripman, ingin bertandang ke rumah kediaman bu Murni Atika alias bu bidan Atik, sekalian membuktikan dengan mata kepalanya sendiri apa benar bu Warni Ningsih atau biasa dipanggil sebagai bu Nining saja, yang tak lain dan tak bukan adalah ibu kandung dari Naning dan Neni... tinggal bersama bu bidan Atik dirumahnya. Perjalanan dengan mengendarai mobil ini tidaklah dirasakan pak Damarto sebagai jarak yang jauh, karena hanya memakai waktu sekitar 30 menit saja.

Sesampainya ditempat yang dituju, dia bertemu dengan bu bidan Atik.

Setelah mengawali perbindangan dan basa-basi yang membuat perbincangan menjadi rada kikuk dan risih. Akhirnya sang nyonya rumah, bu bidan Atik berkata dan mengusulkan tanpa tedeng aling-aling lagi.

"Begini pak Damar, kalau boleh... saya ingin tahu... berapa umur pak Damar sekarang?", tanya bu bidan Atik terus terang tapi penuh hormat.

"Ooh itu toh bu...? Saya masih belum lupa dengan umur saya... bu, umur saya 40 tahun dan isteri saya berumur 36 tahun... masih muda kan bu...? He-he-he...", jawab pak Damarto berusaha mencairkan suasana yang kaku ini dengan tawanya yang renyah.

"Masa sih bisa lupa dengan umurnya sendiri, ini tidak mungkin kan? Hi-hi-hi...", kata bu bidan Atik. Tawa pencair suasana dibalas dengan tawa serupa. Lanjut bu bidan Atik lagi, "Biarpun muda dan ganteng dengan umurnya 40 tahun ini... dik Damar sebaiknya memanggil saya dengan panggilan mbak saja... tidak percuma mbak Atik berumur 42 tahun... berarti menang 2 tahun kan? Hi-hi-hi... tidak menolak kan! Hi-hi-hi... kapan lagi bisa mendapatkan adik yang gagah... mana ganteng dan baik budinya lagi... hi-hi-hi...!".

"Wahh! Ini suatu kebahagiaan baru untukku, mbak! Seperti diketahui sanak keluargaku sedikit sekali! Terimakasih mbak...!", jawab pak Damarto dengan perasaan sangat bahagia sekali, refleks tanpa disadarinya, dia segera mendekap erat tubuh 'mbak baru'-nya disertai kecupan lembut pada kedua pipi bu bidan Atik, kemudian segera melepaskan kembali dekapannya.

Yang didekap dan diciumi pipi kiri-kanannya, kelihatannya memegang pipi kiri dengan telapak tangan kirinya dan memegang pipi kanan dengan telapak tangan kanannya, sembari berucap bagaikan mengambang. "Ini satu hal baru juga bagi mbak, dik...! Lagipula ini bukanlah kebiasaan orang-orang di dusun ini! Jangan marah ya... dik, kalau boleh... mbak usulkan hal serupa ini harusnya dilakukan... bagaimana... kalau setiap hari saja... hi-hi-hi... habis enak sih...! Hi-hi-hi...", kata bu bidan Atik sambil tertawa lepas.

Tadinya hati pak Damarto sempat keburu ciut jadinya mendengar komentar awal atas perbuatan spontannya itu, tapi begitu mendengar tawa tulus yang lepas dari 'mbak baru'-nya, hatinya menjadi gembira lagi disertai senyumannya yang sumringah.

"Dengan senang hati mbak, pada pagi hari, siang hari atau ditambah juga dengan pada malam hari... gimana mbak? Pake bonus deh... he-he-he...!", jawab pak Damarto lega dan mulai mulai berani melancarkan canda perdana-nya disertai tertawanya yang kalau didengar dengan seksama... ada nada-nada genitnya.

'Wah... udah tampan... genit lagi. Tapi memang pada dasarnya genit... ya tetap genitlah! Tapi aku lebih suka pria ganteng yang genitnya terbuka, daripada... pria ganteng yang santun, tapi... tertutup!', begitulah penilaian yang mantap bu bidan Atik yang telah kepincut hatinya dengan keterbukaan 'adik baru'-nya ini yang spontan tanpa tedeng aling-aling lagi.

"Pake bonus segala...? Emangnya apaan tuh?", tanya bu bidan Atik ingin tahu.

"Maaf mbak masih rahasia tuh...! Ini aja mbak yang tidak ada rahasianya...", jawab pak Damarto, segera mengambil dari dalam tas pikniknya, yaitu 1 set BB cellular dalam kotak yang masih baru dan bersegel.

"Oohh... HP baru toh, dik? Buat apa dik...", kata bu bidan Atik menolaknya secara halus. "Lagipula... mbak sudah mempunyai HP, walaupun tipe lama tapi mbak nyaman memakainya. Kalau yang baru seperti itu kan... mbak harus mempelajari lagi cara-cara penggunaannya, iya toh...?".

"Jangan khawatir mbak... nanti aku akan mengajari secara mudah dan gamblang... yang penting-penting saja dahulu secara bertahap... dan pulsanya akan ditanggung aku deh... lagian selain untuk kepentingan mbak sendiri, ini kan juga memudahkan Naning dan Neni menghubungi mbak demi kepentingan mereka... siapa tahu kedua anak itu ingin menyampaikan sesuatu atau ingin sekedar berbicara dengan mbak... untuk melepaskan rindu, iya nggak...? Pasti... dan aku yakin mbak akan bisa mengetahui segala sesuatu dalam hal penggunaan BB ini dengan cepat! Aku akan berada lumayan lama ditempat proyek disini... sebulan... bahkan mungkin lebih... mbak!", kata pak Damarto meyakinkan 'mbak baru'-nya yang kelihatan rada ragu-ragu atas kemampuannya sendiri untuk menyerap teknologi cellular modern ini.

"Begitu toh...? Tapi ini lebih penting untuk dik Nining... itu lho... ibu kandungnya Naning dan Neni... ya nggak...!", kata bu bidan Atik lagi.

"Itu sih urusannya lain mbak! Untuk mbak Nining...", perkataan pak Damarto berhenti seketika karena dipotong oleh 'mbak baru'-nya.

"Tidak-tidak...! Jangan panggil dia dengan sebutan 'mbak'... kasihan dia... sudah lagi keadaan susah, nanti... malah tambah tua lagi dengan sebutan itu. Nining baru berumur 34 tahun dik! Pada usia 15 tahun dia telah melahirkan Naning yang sekarang sudah berusia 19 tahun malah! Dia menikah pada umur 14 tahun, pada saat itu... di dusun ini... usia gadis sebegitu, sudah dianggap layak dan cukup umur untuk dinikahkan! Meskipun setelah hampir 2 dekade (= 20 tahun) belakangan ini, kebiasaan yang kurang baik itu sudah tidak lagi dilakukan disekitar dusun-dusun disini. Bahkan Nining masih lebih muda 2 tahun dari usia isteri dik Damar sendiri seperti yang dik Damar telah memberitahukannya tadi berumur 36 tahun, ya kan...?", kata bu bidan Atik.

"Hebat juga ingatan mbak... BB untuk dik Nining sudah ada mbak, tuh... didalam tas!", kata pak Damarto.

"Kalau soal ingatan sih... memang harus dijaga dik... apalagi menghadapi dik Damar yang ganteng ini hi-hi-hi... kata neneknya mbak sih... itu bisa berbahaya lho... hi-hi-hi...", kata bu bidan Atik menggoda pak Damarto.

"Tidak usah khawatir mbak! Aku sudah jinak kok... He-he-he...!', kata Damarto yang sekarang membalas candaan bu bidan Atik. Disambung dengan pertanyaannya pada bu bidan Atik. "Dik Nining... kemana mbak, kok sedari tadi tidak kelihatan?".

"Baru saja berangkat, kira-kira 5 menitan lah sebelum kedatangan dik Damar, bakal pulangnya lama dik... soalnya dia pergi ke pasar panen yang terletak dipinggiran dusun ini, dan... pasar ini tidak setiap hari diselenggarakan... hasil panennya bagus-bagus... murah lagi harganya...", jawab bu bidan Atik menjelaskan.

"Kebeneran dong nih...!", kata pak Damarto menarik napas panjang dahulu sebelum melanjutkan perkataanya.

'Kebeneran buat apaan...?', pikir bu bidan Atik jadi tercekat hatinya dan diikuti dengan... <seerrr...!> ada semprotan kecil yang keluar dari dalam vagina-nya yang langsung melicinkan sebagian besar permukaan pada lorong gua nikmat dalam vagina-nya itu...

Perawakan bu bidan Atik boleh dikatakan prima bila dibandingkan dengan wanita-wanita seumuran di dusun ini. Dari semua wanita disini, bu bidan Atik adalah seorang wanita yang berpendidikan paling tinggi. Dia lulus sekolah tinggi pendidikan ilmu kebidanan dan telah mendapatkan ijazah resmi D3 untuk itu dan ditempatkan disini sebagai bidan resmi sejak 15 tahun yang silam bahkan dia telah diangkat dari instansi terkait sebagai bidan resmi untuk 7 dusun sekitarnya. Dia mempunyai kewenangan penuh untuk mengangkat satu atau lebih tenaga wanita sebagai asistennya. Karena itulah, dia mengangkat Warni Ningsih (bu Nining) dan langsung menjadi pegawai negeri sipil kabupaten setempat dan mendapat gaji tiap bulannya dari instansi itu.

Bu bidan Atik yang belum begitu terlalu tua dengan umurnya 42 tahun sekarang, berkulit bersih kuning langsat, tinggi 162 cm dengan berat badan 57 kg sangat ideal dan sangat montok... bagaimana tidak?! Payudaranya 38B, sekal dan sangat indah apalagi dimata seorang pemahat, memang... dia ideal juga sebagai model untuk para pematung yang khusus mematung tubuh wanita tanpa busana...

Dia telah dicerai oleh suaminya 10 tahun lalu karena sang suami tidak sabaran ingin punya turunan... terserah gendernya mau laki atau perempuan pun jadi. Inilah yang menyebabkan dia menutup rapat-rapat pintu hatinya untuk segala perhatian para pria yang selalu meneguk air liurnya tatkala memandang tubuh idealnya itu. Apa lagi bila menatap payudaranya yang ukuran 38B itu ('ancur... minah!' kata engkongnya si polan). Barulah setelah bertemu dan berkenalan dengan pak Damarto yang ganteng, disertai anggapannya bahwa pria satu ini cukup jenaka dan... rada genit, tapi selalu santun sewaktu mengungkapkannya.

Kerja bu bidan Atik yang sekarang santai-santai saja adalah berkat usaha kerja keras pelayanannya selama 15 tahun itu! Serta dalam rangka mensukseskan program KB untuk menekan laju pertambahan jumlah penduduk. Memang masih ada beberapa wanita muda hamil, itu wajar saja... karena hal itu terjadi pada keluarga yang baru satu atau 2 tahun menikah.

Pak Damarto berdehem pelan, "Eehh-heeemm...!".

"Apa-apaan sih, dehem-deheman segala... dik?!", kata bu bidan Atik tersadar seketika dari lamunannya.

"He-he-he... ingat pacar lama yaa... mbak?! He-he-he...!", canda pak Damarto mulai lagi menggoda 'mbak baru'-nya ini.

"Enak aja... sembarangan! Ingat pacar baru lah... eh... maksud mbak ingat calon pacar baru dong... gitu loh...!", jawab bu bidan Atik dengan santai.

"Gini lho mbak... mumpung dik Nining pulangnya masih lama, kita manfaatkan waktu ini dengan mempelajari BB ini, yaa...? Sembari menunggu dik Nining pulang begitu... setuju ya mbak...?", kata pak Damarto tanpa menunggu jawaban, membuka kotak BB baru itu dan memasang sana dan sini seperlunya, kemudian dengan memegang BB baru ini menaruhnya ditelapak tangan kirinya pas didepan bu bidan Atik serta pak Damarto menempatkan dirinya dibelakang bahu kiri bu bidan Atik, kalau dia bicara menerangkan segala sesuatunya mengenai BB itu, tidak perlu terlaku keras berbicaranya... karena mulutnya berada didekat telinga kirinya bu bidan Atik.

Kemudian keduanya terlihat asyik terlibat dalam hal menerangkan dan diterangkan, menjelaskan dan dijelaskan... singkat kata bu bidan Atik yang memang tidaklah 'telmi' (telat mikir) sudah menguasai hampir 99% dari segala hal-ikhwal BB itu.

Sesaat kemudian, bu bidan Atik menunggu penjelasan selanjutnya dari 'adik baru'-nya untuk melengkapi pengetahuannya tentang BB itu agar menjadi sempurna 100%... tapi kok tak kunjung tiba penjelasan itu... 'Kenapa yaa...?', tanya bu bidan Atik dalam hatinya sambil melirikkan matanya keatas rada kebelakang tanpa menggerakkan kepalanya sedikitpun. Yang dilihatnya adalah mata 'adik baru'-nya sedang nanar penuh konsentrasi memelototi kearah buahdadanya yang besar dan montok dan telanjang bila dilihat dari atas! Maklumlah meskipun dia memakai blus tebal... tapi kan tidak memakai BH!

"Eehh-heeemm...!", sekarang bu bidan Atik yang mendehem. Menyadarkan pak Damarto dari inspeksi khusyuk matanya yang memandang penuh gairah pada seluruh permukaan buahdada montok yang telanjang itu. "Asyik kan...?! Cukup jelas nggak... melihatnya hi-hi-hi...", kata bu bidan Atik pasrah tanpa berusaha menutupi bagian dadanya yang terbuka itu. Habis... kadung terlihat semuanya, ya sudah... biarkan saja!

"Mulus dan montok...!", jawab pak Damarto tanpa menyadarinya sekilas, sesaat kemudian baru menyadari kekurang-ajarannya itu. Berkata terbata-bata, "Eh... maafkan aku mbak...! Dasar... mataku diluar kendali nih...!". Buru-buru pak Damarto bangkit berdiri, langsung meregangkan pinggangnya memutar kekiri <krrttek...!> lalu kekanan <krrttek...!>

"Tidak apa-apa, kan dilihat sama adik mbak sendiri! Ya... hitung-hitung... amal deh...! Hi-hi-hi...!", tawa bu bidan Atik dengan renyah. "Tadi kedengarannya tuh pinggang kiri-kanan pada bunyi bergemeretakan, sini deh mbak urut... sebentar ya mbak ambil minyak urut dulu yaa...". tapi langsung ditahan oleh pak Damarto.

"Jangan pake minyak urut deh mbak, pake tangan kosong aja deh...", pinta pak Damarto menghadang bu bidan Atik yang mau melangkahkan kakinya menuju dapur yang berada lumayan jauh dibelakang rumah.

Sekilas pandangan mata bu bidan Atik tertuju pada tonjolan didepan pantalon 'adik baru'-nya itu. 'Besar amat tuh tonjolannya! Pasti nggak salah lagi... gede dan panjang penis adikku ini! Ampun deh! Nggak boleh lihat yang montok-montok... langsung pengen nyodok aja lagi tuh barang! Hi-hi-hi...!', kata bu bidan Atik dalam hati disertai... <seerrr...!> untuk kedua kalinya ada semprotan kecil yang keluar dari dalam vagina-nya yang langsung melicinkan sempurna permukaan yang belum dilumasi pada semprotan kecil yang pertama tadi pada lorong gua nikmat dalam vagina-nya itu...

Bu bidan Atik mengulurkan tangan kirinya dan mengandeng tangan kanan 'adik baru'-nya melangkah bersama menuju kamar tidurnya, setelah berdua berada dialam kamar, dia mendorong asal saja pintu itu kembali menutup tapi tidak rapat ada celah sekitar 4 cm dari tiang kosen pintu itu.

Pak Damarto memberanikan dirinya (nekat bener pria ini!) mendekap mesra tubuh 'mbak baru'-nya ini dari belakang punggungnya dan berbisik dekat telinga kiri bu bidan Atik dan berbisik penuh nafsu birahi, "Mbak Atik sudah cantik... badannya indah dan mulus sekali! Sampai-sampai... aku jadi...". Langsung saja disambung oleh 'mbak baru'-nya.

"Sange... begitu! Tuh pentungan kayu... jangan dibawa kemana-mana kenapa?! Hi-hi-hi...!". Sambil mengulurkan tangan kirinya kebelakang meraba-raba, dan... ketemu! Langsung saja tangannya mencekal mantap penis pak Damarto yang lagi ngaceng sempurna. Tersentak kaget dan tercekat hatinya sambil berkata, "Ampun deh... gede amat sih...! Adik pinjam... punyanya... kuda yaaa...?! Hayo jawab mbak! Sayang...!", kata 'mbak baru'nya pak Damarto, yang merajuk rada manja.

"Tidak pake pinjam... mbak! 'Swear' deh... kalau mau lihat buka aja sendiri... juga tidak mengapa kok... Hitung-hitung untuk membayar pemandangan yang indah tadi...! He-he-he...", kata pak Damarto disertai tawanya yang sekarang tidak bernada genit lagi, tapi.... penuh gairah birahi yang sekonyong-konyong tumbuh menjadi besar bak... 'magic bean' yang ditanam di tanah saja layaknya...

"Wahhh...! Ini sih benar-benar kebetulan, dik! Tidak baik untuk ditolak... tuman...! Mbak-mu ini sudah hampir-hampir lupa akan bentuk punyanya orang lelaki... gitu lho!", jawab bu bidan Atik penuh dengan keinginan-tahu disertai... gairahnya yang mulai beranjak melonjak tinggi. Segera saja melucuti pantolan beserta CD-nya sekali. Dan... 'Aduh... mak! Besar sekali!'. Bukan panjang penis yang sedang ditatapnya itu, tetapi... gemuknya itu lho... 'Besar sekali...! Apa bisa masuk ke memekku... Uuughhh... mengerikan sekali... tapi sekaligus... membuatku jadi penasaran! Bagaimana rasanya yaaa... digituin seperti punya kuda ini...?!'.
Dengan nekat mencekal batang penis yang lagi ngaceng itu, diperhatikan sesaat palkon yang licin bulat dengan seksama. Dikecupnya berkali-kali dengan gaya seperti mentotol-totolkan mulutnya pada palkon 'adik baru'-nya, yang kemudian mengundang protes dari sang 'adik baru'.

"Aduuuhhh... mbak! Jangan digituin terus dong...! Dikenyot apa sekali-sekali...! Entar kuda yang punyanya... ngamuk lho!".

"Ah! Nggak takut...! Nama kudanya saja... mbak tau kok! Yaitu... Da-mar.... to! Hi-hi-hi...!".

Tak sabar sudah pak Damarto jadinya, segera melucuti kemejanya sendiri... kemudian menarik tubuh 'mbak baru'-nya itu keatas untuk berdiri, dengan cepat menelanjanginya bulat-bulat... Kemudian mulai melakukan FK seru pada wanita ayu paruh baya ini. Melepaskan tautan FK-nya, dengan mendekap erat sambil tak henti-hentinya mengenyoti pentil dari buahdada yang besar montok itu. Dengan perlahan menggeser posisi mereka mendekati tepian tempat tidur yang lumayan besarnya itu dan mendorong tubuh 'mbak baru'-nya terjatuh terlentang diatas tempat tidur dengan kedua kakinya masih menjuntai dipinggiran tempat tidur.

Pak Damarto berlutut dilantai yang berkarpet warna hijau, menghadapi vagina klimis ('Rupanya mbakku ini termasuk komunitas cewek ber-vagina klimis toh?!'), dengan labia mayora-nya yang rada tembem itu. Tidak membuang-buang waktu lagi, mulut dan lidah pak Damarto mulai menggarap vagina tembem itu. Terlonjak-lonjak jadinya pinggul bu Atik dan tidak malu-malu lagi memberi komentar dengan agak keras suaranya.

"Aduuuhh dik! Itu kan jorok namanya... aaahhh... kenapa enak banget ya...? Udah-udah... dik... aduh... gimana sih nih...! Enaknyaaa...! Nyampe deh... mbak jadinya! Oooh...!", keluh desah bu Atik, menyambut orgasme-nya yang sepuluh tahun terakhir ini belum menyentuh tubuhnya... <seerrr...!> <Seerrr...!> <Seerrr...!> <Seerrr...!>.

Belepotan jadinya wajahnya dengan sedikit cipratan cairan nikmat klimaksnya bu Atik. Segera dia merogoh saku pantolannya yang masih tergeletak diatas karpet hijau itu. Setelah menyeka wajahnya dengan saputangan yang dirogoh dari sakunya itu, kembali berlutut lagi menghadapi vagina bu Atik lagi.

Bu Atik yang masih sedikit terlena oleh nikmat orgasme itu dan mengawasi dengan pasrah gerak-gerik 'adik baru'-nya jadi terkesiap seketika. "Eh-eh-eeehhh... dik! Mau ngapain lagi sih...! Jauh-jauh dong dari situ... adikku sayang...!", kata bu Atik memelas, takut di-oral lagi vagina-nya oleh 'adik baru'-nya yang ternyata rada usilan tingkah-lakunya kalau lagi nge-seks...!

"He-he-he... nikmat kan... mbak? Kalau tidak mau aku gitukan seperti tadi... he-he-he... mbak buruan deh... berbaring terlentang ditengah-tengah... tempat tidur... bagaimana...?".

Buru-buru bu Atik beringsut ketengah-tengah tempat tidur, walaupun tubuhnya masih lemas. Dengan bertelanjang bulat dan menelentangkan tubuhnya serta mengangkangkan paha mulusnya selebar mungkin. 'Jadi juga deh...! Ngerasain juga punyanya lelaki mampir ke memekku... setelah absen selama 10 tahun...!'.

Tidak salah dugaan bu Atik, segera 'adik baru'-nya menaiki tubuh telanjangnya dan menindih. Setelah mencium lembut bibir ranumnya, diam sebentar... palkon 'adik baru'-nya sudah menerobos labia mayora dan 'melongok-longok' didepan mulut gua nikmatnya. Rada ciut hati bu Atik merasakan palkon pak Damarto berusaha menyeruak masuk... tetapi ada perlawanan dari otot-otot sekitar pintu masuk lorong nikmat dalam vagina bu Atik.

Segera pak Damarto berbisik dengan suara mesra menenangkan kegelisahan 'mbak baru'-nya ini. "Santai saja mbak... rileks-kan dahulu otot-otot vagina mbak, biar punyaku mudah masuknya. Nanti... kalau sudah masuk semua, barulah... terserah mbak mau memain-mainkan lagi otot-otot itu... atau tidak".

"Mbak tidak memain-mainkannya kok... itu bergerak dengan sendirinya...!", jawab bu Atik yang mulai jantungnya berdetak kencang saking nafsu gairahnya muncul lagi lebih besar dari yang tadi.

"Oke deh... kalau begitu...!", segera pak Damarto memundurkan tubuhnya dan mengambil ancang-ancang ingin melakukan oral-seks lagi...

Bu Atik yang tahu gelagatnya keinginan 'adik baru'-nya itu buru-buru membujuk dan memintanya agar jangan melakukan itu lagi. "Aduh dik... jangan lagi dong! Biar enak rasanya, tapi... itu lho... ngilunya minta ampun deh rasanya... nggak bisa ditahan! Langsung saja mbak disodok kenapa... pelan-pelan dulu... entar juga masuk...! Mbak janji deh... entar kalau dik Nining datang... mbak bujuk deh dia untuk kita main bertiga... biar adikku sayang jadi... tambah puas...!".

Segera pak Damarto menindih lagi, setelah mencium lembut dengan mesra bibir ranum 'mbak baru'-nya, lalu berbisik, "Rileks saja mbakku yang cantik".

Yang tidak diketahui pak Damarto adalah bahwa tangan kanan bu Atik dengan nekat sudah memegang erat batang penisnya keras dan menempatkan palkonnya pada pas di mulut pintu masuk gua nikmatnya.

"Haayooo dik! Tekan deh pinggulnya", kata bu Atik dengan tabah.

Mendengar itu pak Damarto langsung menuruti apa yang dikatakan 'mbak baru'-nya sementara itu dengan waktu berbarengan bu Atik menekan keatas pinggul mulusnya keatas!

<Bleeesss...!> masuk sudah seluruh batang penis pak Damarto yang sangat tegang itu, meng-invasi seluruh 'gua nikmat' itu... dilanjutkan dengan pompaan-pompaan senggama penis gagah pak Damarto. Ayunan pinggulnya yang kekar bergerak... turun-naik... turun-naik... turun-naik... tidak terlalu grasa-grusu... kalem saja... kecepatannya sedang-sedang saja tapi konstan, seakan pak Damarto ingin meresapi kenikmatan yang didapat dari persetubuhannya dengan bu Atik, 'mbak baru'-nya yang sangat menggairahkannya ini.

Baru juga berjalan 10 menit, bu Atik sudah merengek-rengek minta dihentikan sejenak pompaan nikmat dari penis tegang 'adik baru'-nya ini. Tapi yang punya penis pura-pura tidak mendengarnya.

"Nikmat sekali...! Ya sudah terusin aja deh... Ooohhh... sayang mbak nyampe...!", seru bu Atik penuh kepuasan menyambut orgasme yang ke-dua. <Seerrr...!> <Seerrr...!> <Seerrr...!> <Seerrr...!>.

Tapi pak Damarto tidak mau lagi menunda gerakan nikmat ini. Sedang bu Atik belum bisa mengajukan protes, karena dia belum tersadar penuh, masih... diliputi suasana penuh kenikmatan dari orgasme ke-dua ini, yang dirasakan sensasi-nya jauh melebihi orgasme pertamanya tadi.

5 menit lagi telah lewat, bu Atik sudah penuh kesadarannya kembali, bu Atik merengek-rengek lagi manja agar dia diberi kesempatan rehat barang sejenak, alasannya adalah rasa ngilu yang dirasakannya sudah tidak tertahankan lagi.

Pak Damarto dengan kalem, berbisik dekat telinga kanan bu Atik. "Mbakku yang ayu... cantik dan menggairahkan! Kalau mbak merasakan sangat ngilu sekali... peluk erat tubuhku... sekuatnya yang bisa mbak lakukan, pokoknya... kenikmatan nanti bakal kita dapatkan bersama... pasti sangat nikmat... percaya deh padaku!".

Begitu dirasakan pak Damarto akan pelukan erat yang kuat dari kedua tangan bu Atik, langsung saja pak Damarto... tancap gas! Pompaan penis yang menyodok-nyodok seantero lorong nikmat dalam vagina legit bu Atik... semakin intens dan dahsyat!

Ini berlangsung selama 10 menitan, dan... akhirnya sampai juga mereka di penghujung jalan...

<CROTTT...!> <Crottt...!> <Crottt...!> menyembur-menyembur sperma pak Damarto membanjiri lorong nikmat vagina bu Atik, orgasme pertama yang penuh dengan kenikmatan akhirnya menerpa juga disekujur tubuh tegap pak Damarto.

Berbarengan dengan waktu bersamaan, bu Atik mendapatkan orgasme yang ke-tiga... <Seerrr...!> <Seerrr...!> <Seerrr...!>.

Buru-buru pak Damarto mengulirkan tubuhnya, berbaring telentang disamping tubuh kekasihnya yang paling anyar ini.

Bagian 7 - Tawaran Yang Menggugah Hasrat

Saat mereka berdua (bu Atik beserta 'adik baru'-nya, pak Damarto) sudah berada didalam kamar mandi setelah agak berkeringatan... atas dan bawah tubuh mereka, usai berolahraga sehat 'luar-dalam' barusan tadi, bukannya membersihkan tubuh mereka malah memulai lagi babak tambahan... betul-betul keduanya prima sekali stamina tubuh mereka. Kali ini mereka melakukan dengan cara... bu Atik membungkukkan tubuhnya yang masih bertelanjang bulat, kedua kakinya agak meregang kesamping serta kedua tangannya berpegangan erat pada tepian bak penampungan air untuk mandi, sedangkan pak Damarto berdiri tegak malah agak doyong kebelakang sedikit, masih bertelanjang bulat juga, dibelakang tubuh telanjang bu Atik. Sedangkan penis tegang pak Damarto sudah mengubrak-abrik disepanjang lorong gua nikmat didalam vagina temben tapi legit milik bu Atik. Persetubuhan gaya semi Doggie ini berlangsung seru, tapi tidak memakan waktu terlalu lama... paling sekitar 10 menit lebih sedikit mereka telah selesai menuntaskan babak tambahan ini. Tubuh keduanya bukannya tambah lemas malah terlihat puas dan... tambah bersemangat pula.

Setelah membersihkan diri mereka, dan mulai berpakaian rapi lagi, kemudian mereka duduk-duduk diruang tengah rumah bu Atik sambil minum teh manis hangat yang memang telah disiapkan bu Atik dengan cepat dan praktis saja tadi dan ditaruh diatas meja didekatnya.

***

Sekitar jam 12 siang, ada suara dari satu atau lebih gadis muda belia berucap salam didekat pintu depan rumah bu bidan Atik.

Begitu mendengar salam itu, langsung saja bu bidan Atik memberi komentar ditujukan pada 'adik baru'-nya, pak Damarto yang lagi duduk didekatnya.

"Waahhh... kok tahu yaa?! Ada semut mendatangi gula...?", kata bu Atik sambil lalu mengomentari suara salam itu. Yang didengar oleh pak Damarto dengan keheranan... memang dia tidak tahu apa maksud kata-kata 'mbak baru'-nya ini.

"Siapa semut-nya dan siapa pula gula-nya... mbak? Aku kok tidak mengerti... apa yang dimaksud mbak ini... yaaa?!".

Memang inilah sebenarnya sifat asli dari bu Atik sepuluh tahun yang silam... ketika suami yang dikasihinya itu masih berada disisinya. Ceria, ramah, supel dan... penuh canda tawa. Hanya dengan pak Damarto inilah, yang dinilai bu Atik sebagai pria ganteng yang baik hati... memang sih rada genit tapi terbuka dan santun dalam bertutur kata... melenyapkan segala derita dan luka hatinya yang telah ditanggungnya selama 1 dekade ini dengan sangat tabah!

Sekarang kalau bu Atik berbincang dengan pak Damarto bagaikan bicara sama adik kandungnya saja layaknya, dan... bila mereka berdua bermain seks bagaikan pasangan sejoli yang sangat serasi!

"Rupanya dik Damar pengen tahu yaa...? Yang jadi semut-nya adalah gadis-gadis muda belia didepan sana... Kalau yang jadi gulanya... ini dia orangnya... hi-hi-hi...!", kata bu Atik sambil menunjuk kearah pak Damarto dengan ibu jari tangan kanannya. "Gede lagi... hi-hi-hi...!", meledak lepas tawanya yang senada dengan tawa Atik dikala masih sebagai seorang wanita lebih muda... sepuluh tahun yang silam...

"Wahh! Jangan aku jadi gula-nya dong... dimana-mana juga gula yang manis itu selalu menjadi perumpamaan kata bagi para wanita...!", kata pak Damarto rada protes.

"Oh... jadi mau jadi semut-nya toh...? Tidak masalah! Dik Damar yang jadi semut rangrang-nya deh! Hi-hi-hi...!", jawab bu Atik sambil tertawa.

'Kok pake rangrang segala sih? Semut saja... kenapa?!', protes pak Damarto dalam hati serta langsung berkata lagi. "Gula-nya... siapa?".

"Seperti kata dik Damarto... tentu saja gadis-gadis muda belia didepan sana... jadi gula biangnya, hi-hi-hi...!", tertawa senang bu Atik jadinya.

(NB: Semut Rangrang [Oecophylla smaragdina] yang larva-nya sebagai bahan dasar pembuatan 'kroto', pakan burung kicauan dan walet serta sebagai umpan mancing, biasa hidup diatas pohon besar yang bergetah, misalnya pohon mangga, dukuh, dsb. Koloni semut besar yang berwarna agak oranye dan rada galak ini membuat sarang dengan cara melengkungkan daun yang lebar, yang dilakukan secara bergotong-royong, dan kantung daun inilah akan dijadikan sarang mereka. Jangan sampai tangan atau bagian tubuh kita lainnya, tersengat oleh semut rangrang ini, rasanya nyelekit dan... disekitar sengatan itu... dijamin deh... pasti membengkak!)

Sesaat kemudian muncullah 2 ABG masih berseragam sekolah SMU, kedua gadis belia ini dulunya adalah teman sekelasnya Neni pada waktu mereka masih di kelas-3 di sekolah SMP didekat sini, berjalan menuju dapur agak jauh dibelakang rumah sambil berceloteh riang dengan temannya, sama seperti yang dilakukan ABG umumnya yang seumuran dengan mereka dikala berjalan bersama teman akrabnya. Menyusul dibelakangnya bu Nining, wanita yang muda, berumur 34 tahun, ibunda dari Naning dan Neni.

Ketiga perempuan itu, baik yang ABG-nya maupun yang lebih tua masing-masing membawakan barang belanjaannya bu Nining dari pasar panen tadi. Mereka tidak janjian tetapi kebetulan bertemu saja di pasar panen itu.

Kedua ABG itu sudah pasti seumuran dengan Neni yang 15 tahun. Yang rada montokan (payudara remajanya... gitu loh!), bernama Rinawati, biasa dipanggil dengan Rina saja serta yang rada kurang montokan, sedikit saja sih perbedaannya, bernama Rani Astuti, biasa dipanggil Rani saja. Keduanya sangat manis dan ayu paras wajahnya, modal dasar kelak menuju... menjadi wanita lebih dewasa yang pasti akan mempunyai paras wajah yang cantik sesuai dengan ke-khas-an wajah mereka masing-masing. ABG yang bernama Rani memang agak centil tapi tidak terlalu dan rada berani untuk memulai bicara, kedua ABG ini sopan santunnya sangat mereka jaga dengan baik.

Melewati ruang duduk keluarga (ruang tengah), begitu melihat bu Atik yang ditemani oleh seorang bapak-bapak muda yang lumayan ganteng menurut penilaian mata ABG mereka, serentak memberi ucapan hormat layaknya ketika sang murid bertemu dan menyapa bu gurunya.

"Selamat siang... bu bidan Atik!", kata mereka serentak serta menoleh pada pak Damarto yang sudah berdiri dari duduk-duduk santainya. Dengan agak ragu kedua ABG ini menyapa pak Damarto, "Selamat siang pak bidan...! Hi-hi-hi...! Eehhh... maafkan kami pak...! Hi-hi-hi...!".

"Selamat siang juga... adik-adik manis! Kalau ada diantara kalian yang mau memeriksakan diri... kebetulan bapak lagi banyak luang waktu... kok!".

"Emangnya... apanya yang mau diperiksa pak... badan kami oke-oke saja kok... hi-hi-hi...!", jawab kedua ABG ini yang selalu dimotori dahulu oleh siapa lagi kalau bukan oleh Rani, ABG ayu, calon wanita yang cantik nantinya!

'Bukan main... deh! Memang bener kalau sudah genit, yaa... tetap genitlah'. "Selamat siang juga nona-nona manis, hi-hi-hi...! Pak Damarto ini bukanlah seorang pak bidan... tapi sebagai adiknya ibu... Kalau memang diantara kalian ada yang mau memeriksakan dirinya... ibu tidak keberatan kok! Terlebih adik ibu ini... pasti dengan senang hati melakukannya... hi-hi-hi...", kata bu Atik ceria, yang memang lagi senang-senangnya bisa ngerjain 'adik baru'-nya ini, mumpung dia masih disini yang menurut penuturannya sendiri bisa untuk sebulan bahkan mungkin lebih.

Hampir saja pak Damarto ingin menggaruk-garukkan kepalanya yang tak berkutu, sekilas terbayang wajah yang jelita dari isteri tercinta... yang ada dirumah sana. Memang jadi 'mati kutu' pak Damarto menghadapi 'serangan' dari seorang wanita paruh baya dan 2 gadis remaja belia ini.

"Nona-nona manis keduanya, ibu bidan mau ngasih tahu nih! Bukan pengumuman dari sekolah kalian berdua, tapi tentang teman akrab kalian, yaitu Neni, puteri bungsu bu Nining... dia sekarang telah diangkat anak... dan sekarang Neni sudah duduk dikelas satu SMU... sama dengan kalian berdua!", demikian isi pengumuman 'resmi' dari bu bidan Atik.

"Horeee...! Jadi juga sama-sama duduk dibangku SMU...! Selamat yaa... Neni! Dan terimakasih bagi bapak angkatnya... yang baik hatinya!", seru kedua gadis ABG ini spontan dan terharu bahagia. Sedangkan ABG yang rada montokan, Rina tak kuasa menahan jatuhnya setetes airmatanya yang terharu berbaur dengan rasa bahagianya untuk teman akrab mereka yang beruntung... nun jauh disana...

"Hei...! Elo kok jadi nangis sih Rin...?", tanya Rani pada temannya Rina yang lagi terharu bahagia.

"Ini bukannya menangis... tau! Aku lagi terharu bahagia untuk Neni... sahabat kita itu lho! Payah deh lo, perasaanmu coba di-amplas sedikit dong, biar... rada halusan gitu...!", kata Rina berkelit, takut disangka sebagai gadis yang penangis.

"Enak aja...! Pake diamplas segala lagi...! Ini juga udah rada halusan dibanding dari pada...", jawab Rani keki sambil pandangan matanya yang tajam 'menunjuk' kearah dada montok Rina.

"Sudah-sudah... sahabat karib tidak boleh bertengkar... apa lagi demi hal-hal yang sepele saja... Setiap pribadi masing-masing dari seseorang... adalah tidaklah sama dalam hal mengungkapkan perasaan dari dalam hati mereka. Cukuplah sekali ini saja kalian mempertengkarkan hal sepele ini! Agar tidak menjadi ganjalan yang akan terus membesar diantara persahabatan tulus kalian berdua... Mau tahu tidak...? Siapa yang jadi bapak angkatnya Neni... sahabat 'satu geng' kalian itu...?", kata bu bidan Atik, berhenti sejenak menunggu reaksi dari Rina dan Rani.

Benar saja... keduanya ABG ini seketika menghentikan silang pendapat diantara mereka... sekarang kedua pasang mata jeli berlentik indah dari ABG ini memandang tajam pada bu bidan Atik... menunggu dengan rasa keingin-tahuan yang besar... penjelasan selanjutnya dari mulut bu bidan Atik. Bu Atik melirikkan matanya sekilas pada 'adik baru'-nya, yang dilirik yaitu pak Damarto tahu apa yang diinginkan 'kakak baru'-nya ini... yaitu agar dia bisa bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan... misalnya akan adanya pertanyaan-pertanyaan atau lain sebagainya dari kedua ABG yang tidak lain dan tidak bukan adalah sahabat kental anak-angkatnya sendiri, Neni.

"Ayah angkat Neni, sahabat karib kalian itu... telah berdiri didepan kalian sekarang... dari tadi malah...!", bu bidan Atik menuntaskan pemberitahuannya.

Seketika kedua ABG itu saling bertatapan mata, kemudian masing-masing mengeluarkan pendapat, dimulai dari Rani yang memang cekatan untuk angkat bicara terlebih dahulu.

Kata Rani sangat tercengang. "Apaaa...! Pak bidan...? Eh-ehh... maafkan Rani... ya! Terimakasih banyak yaa... pak..!", Rani tak kuasa melanjutkan kata-katanya, karena... tanpa bisa ditahan lagi beberapa tetes airmata haru dan bahagia berhamburan keluar dari matanya yang indah. Buru-buru dia mengambil sehelai saputangan dari dalam tas sekolahnya yang disandang menyilang di bahunya.

Sedang Rina dengan sekuat hatinya berusaha menahan rasa harunya... dan berhasil, tapi akibatnya... perkataan yang keluar dari mulutnya yang mungil itu menjadi... sangat pelan sekali, seakan berbicara dengan dirinya sendiri. "Terimakasih banyak ya pak... adiknya bu bidan Atik, Rina sungguh bahagia mendengarkannya...!", kata Rina tidak sanggup melanjutkan perkataannya lagi.

Kemudian kedua ABG yang bersahabat ini berdiam diri sejenak. Pak Damarto membiarkannya lagi untuk beberapa detik, kemudian berkata, "Memang benar apa yang telah disampaikan oleh bu bidan Atik, Neni telah menjadi puteri kami, tepatnya menjadi puteri bungsu yang disayang dan dicintai seluruh anggota sekeluarga... sebelumnya kami sekeluarga telah mempunyai anak lelaki, Didit namanya, sekarang berusia 17 tahun yang duduk di kelas-2 SMU dan juga... sekarang menjadi kakak kelasnya Neni yang duduk di kelas-1 SMU pada sekolah yang sama... letaknya tidak jauh dari kediaman kami sekeluarga. Jangan ditanya perasaan Didit yang menjadi sangat bahagia sekali. Hal ini telah berlangsung selama seminggu ini sampai sekarang... dan saya... sekeluarga baru... juga jangan dilupakan bahwa... Naning adalah puteri sulung kami ingin mengucapkan banyak terimakasih pada ibunda dari Naning dan Neni dan titip salam sayang pada ibundanya, bu Nining...", kata pak Damarto menyudahi perkataanya serta menyodorkan tangan kanannya ingin bersalaman dengan tangan mulus dan halus dari bu Nining.

Rani dan Rina yang menyaksikan serius dengan kedua mata-kepalanya apa yang terjadi dihadapan mereka sekarang.

Rani yang mudah sekali untuk angkat bicara, apalagi bila lagi tergelitik hatinya... memberi komentarnya yang asal. "Nanti Rani mau SMS Neni aaahh...! Bahwa Rani telah menyaksikan semuanya... cuma kok... penyampaian 'salam sayang' Neni pada ibundanya tercinta lewat jabatan tangan saja...! Harusnya pake peluk-cium dong... ya nggak Rin...!", kata Rani berlagak jadi 'announcer' sekalian meminta dukungan yang positif dari temannya, Rina.

"Hi-hi-hi... bisa aja kamu... Ran! Tapi Rina mendukungnya dengan sepenuh hati', jawab Rina dengan mantap.

Tidak pake lama, seketika terdengar 'applause' meriah yang gempita disertai yell-yell yang seru. "Hi-hi-hi...! Horeee...! Cium-cium-cium...! Horeee...! Hi-hi-hi... Horeee...! Cium-cium-cium...! Horeee...! Hi-hi-hi...". Pelaku soraknya bukan hanya 2 ABG itu, tetapi bertiga bersama bu bidan Atik yang ikut serta dan yang paling keras suaranya dengan bersemangat. Atik yang asli sudah... kembali...! Ceria, ramah, supel dan... penuh canda tawa...!

Bu Nining dan pak Damarto tidak bisa berkutik lsgi karena desakan 'publik' ini... dengan bermula memiringkan tubuhnya kekanan dan kekiri dahulu, pak Damarto langsung 'menyergap' dan mendekap tubuh bu Nining dengan erat serta dilanjutkan dengan kecupan bibir di pipi kiri bu Nining lalu diteruskan dengan kecupan bibir di pipi kanannya disertai dengan bisik rayuan perdana-nya khusus untuk bu Nining seorang. "Cantik dan ayu sekali kamu... dik...!", kemudian segera melepaskan dekapannya, takut... mengundang protes dari 'publik' didekatnya ini...

Ada sekitar beberapa detik lamanya, hening sepi diruang tengah dirumah kediaman bu bidan Atik ini dan yang sekarang juga menjadi tempat tinggal barunya bu Nining... mereka masing-masing masih menyelami suasana bahagia, yang menyentuh perasaan hati mereka yang paling dalam...

Tiba-tiba suara Rani memecah suasana sepi ini, yang didengar semua yang ada diruang ini bak suara nyaring yang agak mengagetkan mereka dan menjadi tersadar dari lamunan masing-masing.

Kata Rani dengan malu-malu kucing, "Boleh nggak...? Rani nitip selamat dan salam sayang untuk Neni... hmmm... boleh yaaa... pak...!". Yang langsung ditimpali seketika oleh Rina, teman akrabnya Rani itu, yang seakan tahu apa yang akan dibuatnya pada ayah angkatnya Neni ini.

"Iiihhh... kamu Ran! Malu... atuuh! Ganjen amat sih... kamu Ran...!", kata Rina sambil memelototkan mata indahnya pada Rani.

Rani yang jarang mau mengalah, balik bertanya pada Rina. "Emangnya 'ganjen' itu apa ayooo... artinya? Kalau tidak tau jangan dikit-dikit ngomong 'ganjen' dong... payah deh kamu... Rin...!".

Rina karena didesak oleh Rani, mulai mencoba (dengan ragu-ragu sih... sebenarnya!) menerangkan arti kata 'ganjen' itu. "Ganjen itu... artinya-artinya-artinya... apa yaa...? Udah deh Rina nyerah... Rina tarik lagi kata-kata tadi disertai permintaan maaf... boleh ya... Ran? Kan... kita sahabat karib... iya kan...?!", kata Rina pasrah dan merasa bersalah.

Rani yang merasa 'menang diatas angin', menjawab, "Sudah pasti Rin... tidak percuma kita berteman akrab sudah lama lho... sejak dari SD! Permintaan maaf lo... aku terima dengan tangan terbuka, aku maafin deh elo... 'swear' deh...! Tapi kata yang sudah terucap tidak mungkin ditarik lagi... sudah kadung didengar oleh kita semuanya!".

"Kalau gitu apa dong artinya 'ganjen' itu sebenarnya... ayo...!", Rina mulai berkelit dan mencoba memojokkan Rani. Yang dijawab santai saja oleh Rani...

"Mana aku tahu... lagi! Dari itu aku tidak pernah ngatain orang dengan kata 'ganjen' itu... hi-hi-hi...", kata Rani puas karena malah dia yang bisa memojokkan Rina dengan pertanyaannya sendiri.

"Sudah-sudah... kok mulai lagi sih...?!", kata bu bidan Atik, yang kemudian menoleh pada 'adik baru'-nya. "Dik...!", kemudian menengok pada kedua ABG itu, keduanya sedang memperhatikannya.

Pak Damarto yang tahu gelagat, segera mengerti, dengan berdehem yang mengundang perhatian Rina dan Rani, sekarang kedua ABG itu menolehkan pandangan mata mereka padanya, dan kemudian menyelusuri pandangan mata mereka pada wajah ganteng pak Damarto.

Kesempatan ini dipergunakan sebaik-baiknya oleh bu Atik yang segera membuka mulutnya serta menjulurkan lidahnya dan memutar-mutarkannya sembari menyentuhkan lidahnya pada bibirnya, disertai ucapan. "Yang satu dulu dik, yang momor dua minta membantu dan... mbak bersama dik Nining ingin memasak dahulu... untuk makan-siang kita bersama...!".

Lalu mengandeng dengan lemah lembut kedua tangan ABG itu, Rani disebelah kiri dan Rina disebelah kanan disamping tubuhnya dan bersama melangkah menuju kamar tidurnya yang lumayan besar. Ketika mereka sampai didalam kamar itu, bu Atik berkata lagi, "Nah disini kan... lebih aman dan... nyaman lagi! Duduk saja dipinggir tempat tidur... empuk kok! Nanti kalian akan dijelaskan arti sebenar kata 'ganjen' oleh ayah angkatnya Neni, pokoknya biar lebih jelas dan cepat... ikuti saja apa yang akan dikata oleh pak Damar... tidak usah khawatirkan lainnya! Sedangkan bu bidan bersama ibunya Neni akan memasak makan siang kita. Asal kalian tahu saja, bu Nining sungguh pintar memasak... buktikan sendiri nanti... pada waktu kita makan siang bersama. Nanti setelah ibu keluar kamar ini, kamu Rani... tutup saja pintunya kembali, tapi... jangan dikunci ya...".

Bu Atik menoleh pada pak Damarto, yang sedari tadi diam saja berdiri, mengawasi semuanya. "Be success my beloved little brother!", kata bu Atik sembari memicingkan matanya sebelah, lalu berlalu dari kamar tidur itu, langsung melangkahkan kakinya menuju dapur dimana bu Nining sudah sibuk menyiapkan bahan-bahan, sayur-mayur dan lainnya untuk segera dimasak...

***

Sepeninggal bu Atik, pak Damarto mulai mengambil ancang-ancang untuk melalukan 'action' (kata ini sering sekali diucapkan oleh isteri tercintanya yang cantik jelita itu, dikala dia lagi keadaan 'tinggi').

Pak Damarto mendekati Rina yang lagi berdiam diri berdiri kikuk didekatnya. Didekapnya tubuh seksi gadis belia yang montok ini ('semok' kata kalangan orang gaul disana...), dikecupnya lembut pipi kiri Rina diteruskan dengan kecupan bibir pada pipi kanannya serta berbisik pelan agar Rani tidak bisa mendengarkannya. "Santai saja... sayang... tidak usah khawatir... ini kan masih didalam rumahnya bu bidan Atik toh...", kata pak Damarto membujuk Rina yang rada gelisah ini.

Yang dibisiki sih... tidak terlalu fokus pada kata-kata pak Damarto, tetapi lebih tertuju atas perlakuan pria ganteng ini pada dirinya. 'Ooohh... jadi juga aku merasakan dicium cowok... pantes teman-teman cewek-ku tidak bosan-bosannya membicarakannya, sampai... malah aku menjadi bosan mendengarkan celotehan mereka begitu-begitu saja, jadinya...!'.

Pak Damarto kemudian mencium lembut dan melakukan FK sebentar saja pada Rina... 'Apa ini yang disebut ciuman yang sesungguhnya? Oooh ternyata... menyebabkan aku jadi mabuk kepayang... nih...! Ooohhh.. pak Damar lakukan sesuka hatimu, sayang... aku akan menerimanya dengan... pasrah...! Mana susu-ku pake tersenggol-senggol oleh badan tegapmu...' <seerrr...!> ada semprotan kecil yang keluar dari dalam vagina-nya yang langsung melicinkan sebagian besar permukaan pada lorong gua nikmat dalam vagina-nya itu...

Pak Damarto 'menggiring' tubuh sintal Rina yang masih dalam dekapannya menuju pinggir tempat tidur dan... kemudian mendorong dengan lembut tubuh gadis belia ini sehingga terjatuh dengan pelan... terlentang diatas tempat tidur dan kaki-kaki mulusnya masih menjuntai kebawah ditepian ranjang itu. Pak Damarto ikut berbaring tetapi tidak menindih tubuh Rina, melainkan berbaring miring kekanan menghadapi Rani. Sembari mengecup lembut pipi kiri Rina dan berbisik. "Sayang...! Santai saja... tenangkan hatimu... dengan memejamkan mata indahmu ini, dan... percayalah kamu nanti akan merasakan sensasi nikmat yang belum pernah kamu rasakan...! Percayalah...! Bapak akan ngomong sebentar sama Rani... yang kelihatannya lebih gelisah darimu...".

Segera pak Damarto ingin bangun... tapi keburu lengannya dipegang oleh tangan mungil Rina. "Pak... jangan lama-lama ya... kan sekarang gilirannya Rina... sudah nggak tahan lagi nih... pengen ngerasain digituin...!", kata Rina manja dan pasrah.

Setelah melepas pegangan tangannya pada lengan pak Damarto, Rina kembali berbaring telentang pasrah sambil memejamkan pelupuk matanya kembali sambil... menunggu kelanjutan apa yang terjadi atas dirinya nanti... Rina yang sudah dirundung birahi ini... dengan pasrah!

Pak Damarto sekarang mendekati Rani, dilihatnya 2 buah kancing atas pada baju seragam sekolahnya sudah dibuka dengan sengaja oleh Rani sendiri, mempertontonkan bagian atas payudara remajanya dan BH tipis yang berwarna pink muda bergaris-garis merah. Rani memang agak centil tetapi dia bukanlah termasuk tipe gadis yang genit apalagi sebagai wanita yang exhibitionist. Ini dikarenakan Rani terlalu mudah sekali ikut larut dalam suasana disekitarnya, itu saja... Kalau dia tidak pintar-pintar mengendalikan emosi negatif-nya ini, kelak... malah merugikan dirinya sendiri!

(NB: exhibitionist = suka memamerkan bagian tubuh yang telanjang)

Segera pak Damarto mendekap mesra tubuh sintal ABG ini sambil melancarkan FK yang lumayan seru... yang disambut Rani tanpa canggung... atau berusaha tidak terlalu canggung kelihatannya. Pak Damarto jadi terkesiap hatinya, menerima sambutan sangat hangat dari ABG ini.

"Rupanya... kamu sudah ada pengalaman ya... sayang...?!', setelah melepaskan tautan FK-nya sejenak dan berbisik pelan di telinga kanan Rani.

"Tidak juga pak...", jawab Rani masih terengah-engah napasnya. "Ini pengalaman Rani untuk pertama kalinya...! Tadi malam Rani ikut nonton filem bokep dirumah temannya Rani... tetapi bukan si Rina loh...!", kata Rani yang menghentikan perkataannya, eh... malah dia yang nyosor duluan dan mengajak pak Damarto untuk melanjutkan FK seru yang dihentikan tadi.

'Wah... gawat nih... kok Rani jadi agresif sekali sekarang...?!'. Pak Darmato mengikuti apa yang diinginkan ABG ini, untuk 10 detik lagi dan segera melepaskan tautan bibirnya dan berbisik lagi di telinga Rani. "Ran... nanti kamu bantu bapak untuk... melucuti CD-nya Rina, setelah itu bila situasi-nya memungkinkan... tolong buka baju seragam Rina... pokoknya sampai Rina bertelanjang dada seutuhnya...! Bisa kan... sayang...?", bisik pak Damarto, membujuk Rani untuk membantunya.

"Apa yang pak Damar inginkan... akan Rani jalankan, tetapi pak... Rani duluan deh... yang 'digituin'! Rani sudah keburu nafsu nih... sedari malam tadi... gara-gara nonton filem bokep tuh...!", pinta Rani penuh nafsu birahi remaja ting-ting dan... penuh dengan harap-harap cemas!

"Oke jangan khawatir sayang...! Lebih baik Rina duluan, kan... bakalan dibantu kamu, sebab kalau kamu yang duluan, bisa-bisa... Rina kabur keluar dari kamar ini, melihat... kita lagi berasyik-masyuk seru, betul nggak...?!", kata pak Damarto terus membujuk rayu Rani yang keburu sange ini.

Mereka berdua (pak Damarto dan Rani) berjalan mendekati Rina yang berbaring terlentang dengan pasrah. Segera pak Damarto berbisik dekat kuping sebelah kiri Rina, "Kamu sudah tenang kan sayang... pokoknya kamu diam saja... terima nikmat saja! Biar... bapak yang melakukan itu semuanya... untukmu!". Pak Damarto memberi kode pada Rani untuk memulai aksi bantuannya. Kemudian pak Damarto berbisik lagi pada Rina, "Angkat pinggul mulusmu keatas sebentar sayang...". Rina mengangkat pinggulnya keatas.

Dengan cekatan Rani melucuti CD Rina dengan menarik CD itu kebawah serta meloloskannya lewat kaki-kakinya Rina. Sedetik kemudian CD itu sudah dilempar Rani ketengah-tengah diatas tempat tidur.

Pak Damarto sudah berlutut didepan vagina mulus segaris vertikal halus dan masih klimis, rupanya bulu pubis-nya agak telat bertumbuhnya. 'Kebetulah...!', pikir pak Damarto senang dan memandang kagum pada vagina mungil yang mulus milik Rina ini... mana kulitnya yang bersih berwarna kuning langsat serta warna labia mayor (bibir luar vagina) mulus sekali berwarna maroon sangat muda... indah sekali... membangkitkan gairah birahinya seketika.

Tanpa membuang waktu lagi, segera pak Damarto membuka tautan labia mayor-nya yang langsung memperlihatkan kelentit mungil Rina yang sekarang sudah terlihat jelas... bebas dari segala hambatan! Disapukanya ujung lidah kesatnya pada sekujur permukaan kelentit mungil itu. Terlonjak-lonjak pinggul mulus sang gadis perawan ini merasakan sensasi nikmat yang baru pertama kali dalam hidupnya, disertai desahan pasrah penuh birahi dan protes kecil yang tidak terlalu serius diucapkan... hanya asal dan sambil lalu saja.

"Aduuuhhh pak! Geli... eeh... bukan ding...! Kok bisa enak sekali sih...? Itu kan jijik... pak! Aaahh... enakk... bener! Aah... sebodoh amat aahhh! Pokoknya Rina sudah kasih tahu... terus pak...!".

Ini telah berlangsung dan mulai memasuki menit yang ke-7.

Pak Damarto tidak berkeinginan memberi komentar, sebab kalau dia berbicara maka harus dihentikan sejenak oral-seks ini, dan sensasi nikmat yang lagi dirasakan sekarang oleh Rina, akan terputus... ini yang tak diinginkan pak Damarto samasekali! Terserah Rina mau mengeluh, mendesah bahkan mau menjerit sekalipun tidak jadi masalah... yang pasti oral-seks tidak akan berhenti, sampai... mencapai tujuan yang dikehendaki oleh semua pihak yang terlibat didalamnya, yaitu...

"Udah-udah... udah deh pak! Rina mau kencing nih jadinya! Pak... sayang...! Dengar nggak sih...! Aaahh...", Rina menghentikan celotehnya seketika, karena dilanda rasa amat sangat nikmatnya! Nikmat yang yang baru pertama kali dirasakannya, walaupun dia termasuk gadis yang suka sekali bermasturbasi... hampir setiap harinya... kecuali kalau pikirannya lagi fokus ke hal-hal yang lainnya dahulu. Terhenyak sudah tubuhnya lemas bagaikan tak bertulang... Rina mendapatkan orgasme perdana-nya di siang hari ini...!

Sekarang pak Damarto mengalihkan perhatiannya pada Rani... "Oooh... bukan main!", terlontar perkataan pak Damarto seketika... spontan saja. Terkesiap hatinya... bagaiman tidak...?! Rani yang cekatan, sudah berbaring terlentang mengikuti posisi posisi tidur Rina, teman akrabnya. Yang menjadikan pak Damarto tercekat hatinya, adalah... Rani berbaring terlentang bertelanjang bulat! 'bukan main... deh! Indah sekali tubuh telanjang Rani ini, si perawan ting-ting... yang nekat! Terserah mau diapakan tubuh telanjangnya ini... dia akan menerimanya dengan sangat pasrah...!

Beruntung bagi Rani sebenarnya... pak Damarto bukanlah tipe orang yang suka memperkosa wanita... baik yang muda maupun yang perawan ting-ting sekalipun...! Kalau tidak... 5 menit kemudian Rani sudah dapat dipastikan, Rani sudah tidak bisa menyandang gelarnya lagi, yaitu 'perawan ting-ting'...!

Pak Damarto adalah tipe orang pemuja kenikmatan bagi semuanya yang terlibat ngeseks dengannya...!

Langsung saja pak Damarto menindih dengan lembut tubuh sintal perawan ting-ting yang bertelanjang bulat dan pasrah 100% ini. Terjadi lagi FK yang lebih seru di siang hari ini... diatas tempat tidur milik bu bidan Atik... Melepaskan tautan lidahnya dan menghentikan FK ini untuk memberi kesempatan pada mulutnya yang gasang ini menyelusuri tubuh indah ABG ini, dan ngetem sebentar didekat puting mungil berwarna maroon muda, yang terletak dipuncak bukit mulus payudara Rani di bagian dada sebelah kanan. Habis sudah bukit indah yang mengerucut pada puncaknya ini, menjadi ajang untuk berselancar ria ujung lidah pak Damarto yang kesat ini. Sensasi nikmat yang baru pertama kalinya dalam hidupnya dirasa oleh Rani... mengundang desahan-desahan lirih dari mulutnya mungil. "Ooohhh pak... sayangku... nikmat sekali... ayooo dong pak...! Dimasukin aja! Seperti dalam filem bokep yang Rani tonton kemarin malam itu... Nikmat sekali! Pokoknya rela deh... kehilangan keperawanan Rani... sodok aja jangan ragu-ragu, ya paak...!", celoteh nekat sang ABG ting-ting.

Pak Damarto tidak menghiraukan keluh desah penuh kenikmatan dari Rani ini... malah mulutnya menyelusuri kearah bagian tubuh bawah sang ABG pasrah ini. Sambil selusurannya bergerak kebawah, dia hanya menjawab Rani dalam hatinya. 'Seandainya saja kau tahu apa akibatnya dari permintaan nekatmu sayang... kau akan kesakitan dan aku juga akan merasakan sakitnya juga... seandainya aku ikut-ikutan menjadi bodoh menuruti segala permintaanmu yang konyol ini...! Kau bahkan akan trauma kelak bila diajak ngesek dengan kekasih hatimu kelak. Pokoknya nikmati saja ngesek aman bersamaku... seperti ini...!'.

Sampai juga selusuran mulut gasang pak Damarto, sempat-sempatnya juga 'mampir' sejenak di pusar indah pada perut datar, mulus kuning langsat itu. Segera membuka sedikit tautan labia mayora vagina klimis milik Rani membangkit gejolak gairah yang mulai membara... Rupanya vagina mungil ini sudah membasah sedari tadi rupanya. Proses oral-seks pun dimulai, Rani hanya bisa menggoyang-goyang pinggul remajanya tanpa mampu lagi mengeluarkan keluh desahnya... Rani hanya diam saja merasakan nikmat akibat mulut gasang pak Damarto yang dipandang Rani sebagai pria mateng yang ganteng ini.

Oral seks ini hampir tidak berbeda jauh dengan durasi oral seks yang dilakukannya sama Rina barusan tadi. Dan oral seks ini sudah berlangung sekitar 7 menitan lebih sedikit. Keluar juga seruan nikmat, yang dilantunkan lewat mulut mungil ABG ini... "Pipis... deh aku jadinya! Aaah...", diikuti dengan semprotan kecil cairan klimaksnya... <seerrr...!> <Seerrr...!> Rani mendapatkan orgasme perdana-nya akibat ulah nakal lidah sang pecinta 'old crack' ini, mengantarkannya sejenak ke alam antah-berantah di siang hari ini...

Pak Damarto mengambil saputangan dari saku pantalonnya dan menyeka wajahnya yang basah. Dia menolehkan wajahnya kearah... Rina... 'Ya... ampun! Rina sudah bertelanjang bulat juga!'.

Tahu bahwa dia tengah dipandangi oleh kekasih 'old crack'-nya, Rina buru-buru berbaring terlentang, agak ketengah tempat tidur, sehingga kaki-kaki tidak menjuntai lagi. Bahkan Rina mengangkang dengan cara melebarkan regangan pahanya sejauh mungkin kesamping. Rupanya Rina menyaksikan dengan diam-diam tadi sampai selesai... Rani mendapatkan orgasme perdana-nya.

Dalam pikiran Rina sekarang adalah... kini saatnya dia akan digituin! 'Selamat jalan perawan-ku...!', pikir Rina pasrah.

Segera saja pak Damarto memulai ronde ke-2 yang proses dan urutannya sama dengan ronde pertama tadi. Kurang lebih 7 menitan berlalu... Rina mendapatkan orgasme-nya untuk ke-2 kalinya, kali ini lebih hebat efeknya... langsung mengantarkan Rina ke alam antah-berantah... mudah-mudahan pada negeri yang sama dengan dimana Rani berada sekarang...

Kaku sudah otot-otot rahangnya setelah melakukan 3 kali proses oral seks komplit secara berturut-turut tanpa henti, buru-buru pak Damarto keluar dari kamar tidur ini, meninggalkan kedua ABG yang bertelanjang bulat dan sedang tidur dengan raut wajah penuh kepuasan seks...

Pak Damarto tiba diruang tengah dan duduk melepaskan penat sembari minum teh manis yang sudah mendingin sedari tadi...

Bagian 8 - Berduaan Dengan Nining, Ibundanya Neni

Bu Atik, bu Nining, pak Damarto, Rani dan Rina, baru saja menyelesaikan makan siang mereka.

Seperti biasanya pasti Rani yang pertama angkat bicara, apalagi kalau perut rampingnya telah terisi penuh... kekenyangan, setelah menarik napas yang dalam, mulailah Rani bersuara. "Benar kata bu bidan Atik tadi... ikannya benar-benar... ikan! Eh! Maksud Rani ikannya... segar sekali dan... enak! Terimakasih bu Nining atas masakan yang enak ini, 'tul nggak Rin?", ujar Rani sambil meminta dukungan suara dari teman akrabnya, Rina.

"Bener sekali, setuju!", jawab Rina singkat saja.

"Kok segitu doang jawabannya sih...?", tanya Rani yang masih kurang puas dengan dukungan suara Rina yang singkat itu.

"Begini Ran...! Rina baru pertama kalinya makan sebanyak ini... pake nambah lagi...! Terimakasih banyak ya bu Nining dan bu bidan Atik... ini sungguh makan siang yang enak... makanannya enak dan suasananya pun sungguh enak sekali...!", kata Rina bebas lepas perkataannya, maklum saja lagi... kekenyangan!

"Suasananya, apa... makanannya sih yang enak...?", tanya Rani lagi pada Rina, ingin memastikan ketegasan pendapat Rina ini.

"Dua-duanya...", jawab Rina santai saja sambil menyandarkan tubuhnya kebelakang.

"Kok cuma bu Nining dan bu bidan Atik saja yang diberi ucapan terimakasih sih...?!", kata bu Atik menggoda kedua gadis remaja itu.

Seketika Rani dan Rina saling berpandangan. Jawaban kedua sangat mengherankan... selalu kata-kata mereka keluar secara bersamaan. Rupanya aba-abanya dilakukan dengan gerakan sandi... hanya anggota geng mereka saja yang mengetahuinya.

"Terimakasih pada pak bidan... eh pak Damar untuk yang tadi... tuh! Hi-hi-hi...!", serentak mereka tertawa tersipu-sipu.

Pak Damarto menjawab sambil lalu saja, "Sudah lupa tuh! Apaan... ya?!".

Kedua gadis remaja itu memerah pada paras cantik mereka, tidak berani menjelaskannya secara detail.

"He-he-he... ya terima kasih kembali! He-he-he...", jawab pak Damar tertawa terkekeh-kekeh, langsung mengusap-usap kedua rahangnya yang kiri dan kanan... masih terasa pegal saja otot-ototnya.

Melihat ini, spontan bu Nining bertanya, "Waktu tadi makan tertusuk tulang ikan gurame ya mas?!".

"Tidak juga, dik. Masakannya sungguh enak sekali! Kalau kami sekeluarga rindu dengan makanan sejenis ini, dan makan di rumah-makan didalam mall-mall yang dekat sekitar rumah kami, wah... rogohan koceknya untuk membayar itu semua... sungguh dalam sekali!", kata pak Damar menjelaskan pada bu Nining yang agak kurang enak hatinya. "Kalau soal rahang ini sih... bukannya sakit tertusuk tulang ikan, tapi... rasanya pegal saja... Kalau ingin tahu jelasnya... tanya saja sama Rani dan Rina, pasti mereka bisa menjelaskannya dengan gamblang, he-he-he... gitu lho!".

Bu Nining menoleh pada kedua gadia remaja, meminta penjelasan.

Langsung dibantah oleh Rani dengan tegas walaupun wajahnya memerah karena malu.

"Iihh... pak bidan! Jangan gitu dong...! Masak sih... 'lempar batu, sembunyi tangan'... pak Damar kok tidak adil sih! Rina 2X masak sih Rani cuma sekali! Hutang 1X ya pak sama Rani... hi-hi-hi...", kata Rani sangat lancar.

"Setuju!", timpal Rina singkat.

Wajah bu Nining jadi termangu-mangu, mengolah perkataan Rani tadi... jadi bingung dan terheran-heran, tak mengerti apa makna sesungguhnya dibalik itu semua.

Bu Atik buru-buru mendekati bu Nining dan... berbisik pelan padanya. Tersentak kaget bu Nining mendengarkan semua penjelasan itu, seketika mata indahnya membelalak, lalu mata itu meredup kembali. Komentarnya pelan saja, "Mau dong...! Eh... ya benar kok... hi-hi-hi...!", akhirnya bu Nining tertawa juga mengalahkan rasa malunya... "Hi-hi-hi... nekat aja deh... habis... kapan lagi?!".

"Bu Nining... pengen juga tuh... hi-hi-hi...", timpal Rani spontan.

Segera bu Nining memelototkan mata indahnya pada Rani, "Uuughhh bisa aja... emangnya pengen apaan ayooo...!".

Tapi Rani tidak menggubrisnya, hanya menjawab sambil tertawa... malah sekarang didukung sepenuhnya oleh teman akrabnya, Rina.

"Yang itu tuh... hi-hi-hi... ya nggak Rin? Hi-hi-hi...".

"Bener... setuju sekali Ran! Hi-hi-hi...".

"Tuh... kalian harus bertanggung jawab dong! Hi-hi-hi...!", ujar bu Atik berseloroh... memojokkan kedua gadis ABG itu.

"Eehhh... nggak bisa dong...! Orang kami yang diam saja kok... malah dikasih yang enak ya... tuman lah... diterima saja... abis... enak sih...! Hi-hi-hi...", kelit Rani sambil tertawa yang diikuti dengan tawaannya Rina, "Bener Ran! Setuju sekali... hi-hi-hi...!".

Rani berkata lagi, "Emangnya kami berdua tidak tahu apa? Ya nggak Rin? Geng kami termasuk Neni dulunya... kan sudah lama mempelajari kata sandi dan kode-kode gerak sandi... Ayo... ngaku aja! Kan... bu bidan tadi lagi bersandi-ria... hi-hi-hi...! Kode 1 untuk Rina, kode 2 untuk Rani, dan gerakan lidah memutar sambil menyentuh bibir... itu memang kami tidak tahu tadinya... setelah mengetahuinya... ternyata sungguh-sungguh enak...! Baru pertama kali kami merasakannya...! Terimakasih banyak ya... bu bidan Atik, ternyata telah sukses mendewasakan kami... ya nggak Rin? Jangan diam aja dong...!".

Buru-buru Rina mendukung pernyataan Rani, sobat karibnya itu. "Betul... setuju! Kayaknya semakin sering... semakin indah eh... enak deh rasanya... hi-hi-hi...", kata Rina sambil mengeluarkan 'opini'-nya dangan nekat.

Bu Atik masih penasaran saja. "Tapi kan kalian berdua... wajahnya lagi ayik memandang pak Damar...?".

Dijawab oleh Rani. "Dibelakang pak bidan ada cermin lebar, jadi bu bidan Atik mau ngapain aja... pasti kami dapat melihatnya didalam cermin itu...!".

"Ooohhh... iya! Lupa aku! Bener juga ya...!", kata bu Atik sambil menepak pelan jidatnya dengan telapak tangan kanannya.

"Geng sandi kami kok... mau diuji...! Tul nggak Rin?", kata Rani rasa pongah tapi masih tetap minta dukungan suara dari Rina.

"Tul juga Ran... setuju! Hi-hi-hi...!", dukungan dari Rina ditambah dengan bonus tertawanya yang rada mengikik.

<Drzzz...> <drzzz...> <drzzz...>

Bunyi RBT getar dari HP yang letaknya entah dimana.

Refleks pak Damarto merogoh saku pantalonnya, ketika ingin berdiri, dicegah oleh Rani yang gesit. "Tenang saja pak... ditempat! Biar Rani yang mencari... ada dimana 'mahkluk' bergetar itu bersembunyi", kata Rani dengan yakin. Diselusurinya suara getar itu, dan berhenti depan tas piknik milik pak Damar, dengan mengambil ancang-ancang seakan ingin mengangkat sebuah barang yang berat... "Aduh mak! Hampir aja... jatuh terjengkang! Kirain sih berat! Pake sebelah tangan juga bisa!", seru Rani yang sempat kaget hampir jatuh terjengkang. Ditengtengnya tas itu, dan diberikan pada pemiliknya.

Buru-buru membuka tas itu dan mengambil BB-nya, dan menjawab segera panggilan lewat saluran telekomunikasi cellular itu. Kelihatan mimik wajahnya agak serius ketika melakukan percakapan lewat sellular itu. Setelah selesai, kemudian ditaruhnya lagi BB-nya kedalam tas tadi.

Bu Atik yang kelihatan mengawasi dengan seksama dari jauh. "Kalau mbak boleh tahu... tentang apa itu... dik?", tanya bu Atik berhati-hati, takut 'adik baru'-nya menganggap dia usilan dengan urusan orang.

Tersadar pak Damarto seketika dan menyadari kekeliruannya yang menyebabkan suasana gembira tadi... seketika menjadi sedikit mencekam... gara-gara ulah dia. Lagipula tidak ada hal yang terlalu serius, ini menyangkut soal kerja proyek dan isteri dari staf karyawan yang di proyek... yang hamil tua masuk ke ICU dari rumahsakit terdekat. Tapi semuanya sudah teratasi oleh team dokter yang memang ahli dibidang mereka masing-masing. Ibu dengan bayinya selamat tak kurang sesuatu apapun, lewat operasi 'caesarean' (pembedahan pada kulit di perut untuk mengeluarkan sang bayi).

Kata pak Damarto, "Maafkan kekeliruan aku mbak, dan semuanya! Tidak ada yang perlu dikhawatirkan... ini menyangkut kerja proyek dan isteri staf karyawan yang telah melahirkan dengan selamat... baik ibunya, maupun bayi. Tidak semestinya aku berlaku seperti ini, karena bagi kerabat dan keluarga tidak ada rahasia-rahasiaan!". Kemudian pak Damarto menceritakan hal itu dari awal sampai akhir... tidak ada yang perlu ditutup-tutupi sama sekali.

"Ooohhh... begitu toh?", kata bu Atik menarik napas panjang... lega jadinya. Suasana pun kembali ceria kembali.

"Besok subuh aku ingin berangkat ke kantor pusat sekalian menjenguk ke rumahsakit dan sekalian ke rumah untuk 2 hari kerja saja... yaitu Kamis, Jum'at, Sabtu dan Minggu, diharapkan bisa kembali ke tempat proyek hari Minggu malam... jadi total 4 hari penuh", kata pak Damarto yang yang dipotong saja oleh bu Atik.

"Nginap disini saja ya dik, kan ada mbak dan dik Nining yang ikut menyiapkan segala sesuatunya, ya... kan dik...?", pinta bu Atik dengan sangat. "Dan nanti pulangnya pada Minggu malam nanti... kalau dik Damar tidak keberatan... pulangnya kesini saja. Lagi pula kegiatan kantor di proyek kan dimulai Senin paginya... Sekali lagi ini bukanlah mbak mau mendikte segala kegiatan dik Damar... anggaplah saja... satu saran yang tulus dari seorang kakak pada adiknya... begitu lho dik...".

"Takut merepotkan mbak dan dik Nining... Lagipula tadinya aku ingin mengusulkan begitu, mbak...! Khawatir ditolak mentah-mentah... eh... malah ditawari... emangnya sudah mateng banget nih dipikirkan mbak?", kata pak Damarto hati jadi girang mendapat tawaran menginap itu. 'Kebeneran...! Kapan lagi memanfaatkan waktu yang luang, he-he-he...!'.

"Kok dik Damar senyum-senyum sendirian sih...? Emangnya nggak sudi ya?", kata bu Atik yang suka sekali menggoda 'adik baru'-nya ini.

"Mauu-mau... dong! Jangan ditarik lagi tawarannya itu ya mbak-ku yang baik hati...", pak Damarto melancarkan rayuan gombalnya tanpa tedeng aling-aling didepan semuanya yang hadir.

Rani yang dari tadi sudah tidak sabaran mau ikut nimbrung ngomong, begitu ada sela waktu lowong, langsung saja menyerobot dengan berkata agak lantang.

"Kalau cuma untuk 2 hari kerja... Rani ikut dong pak! Kan udah kangen berat nih... sama Neni, boleh ya pak... soalnya di sekolah kami sekarang ini... masih sibuk saja dengan penerimaan murid baru, belum ada guru yang full mengajar, malahan sekarang semua guru lagi rangkap kerja jadi petugas Tata Usaha. Kami tadi masuk pukul 7:30, eh... pukul 8.00 sudah dibubarkan... disuruh pulang. Kami jalan-jalan keliling saja di pasar panen... kebetulan malah bertemu bu Nining... kebeneran sekali... betul nggak Rin? Kok diam saja sih... elo sudah tidur kekenyangan ya?!", cerita Rani sembari akhirnya jadi rada keki karena tidak mendapatkan dukungan suara dari sobat kentalnya, Rian.

"Emangnya aku harus berbuat apa... Ran...?", jawab Rina sambil menguap kekenyangan.

"Apa mewek kek sebentar...! Apa saja yang bisa elo kerjakan!", kata Rani rada kesal.

"Oh gitu toh? Ya sudah... aku merem dulu sebentar...", jawab Rina cuek saja.

Bu Atik setelah melihat tingkah-laku dua ABG itu, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, "Sudah-sudah jangan memulai pertengkaran baru...!". Kemudian bu Atik berpaling menghadap ke pak Damarto. "Apa yang dikatakan Rani tadi tentang sekolahnya... memang benar dik! Sebelum dik Damar datang tadi pagi, mbak baru saja selesai berbicara panjang lebar dengan bu Saodah, gurunya Rani dan Rina. Mbak tidak ingin usil... seandainya dik Damar tidak keberatan... apa salahnya Rani dan Rina diajak untuk menemui teman satu geng dikala mereka masih SMP. Bukankah ini suatu 'oleh-oleh' yang terindah bagi Neni daripada sekedar membawa makanan kecil yang belum tentu baik bagi kesehatan tubuh! Tapi ini tergantung sepenuhnya dari dik Damar... lho".

Pak Damarto seakan berkata pelan pada dirinya, "Benar juga, aku kan sekarang mempunyai 2 orang anak perempuan dan seorang anak lelaki?! Terimakasih mbak telah membuka mata hati-ku, sungguh benar... ini akan menjadi 'oleh-oleh' yang sangat istimewa bagi puteri bungsu kami. Neni adalah kesayangan seluruh anggota keluarga... mbak! Tapi gimana caranya memberitahu orangtua mereka masing-masing...", kata Pak Damarto, belum juga menuntaskan perkataannya sudah dipotong oleh bu Atik.

"Maaf dik... mbak potong...! Mbak sudah tahu apa yang dimaksudkan dik Damar... soal orangtua dan guru mereka serahkan semuanya pada mbak... dik Damar cuma diminta kesediaannya mengajak mereka berdua, dan... jangan lupa... ini adalah sebuah 'oleh-oleh' yang sangat istimewa untuk Neni... Terimakasih ya dik, tidak salah dugaan mbak... dik Damar memang seorang yang sangat baik hatinya... Ayo Rani dan Rina, kita minta ijin dulu pada orangtuamu masing-masing... mana yang paling dekat jaraknya dari sini...?", bu Atik sambil menggandeng kedua ABG itu menuju keluar rumah, sengaja berpapasan dengan 'adik baru'-nya ini, berbisik, "Manfaatkan waktumu bersama dik Nining ya... Be success my beloved little brother!", segera mereka bertiga berlalu keluar rumah... meninggalkan pak Damarto berduaan saja dengan ibunda Neni, bu Nining... didalam rumah yang besar itu. Bu Nining tidak berada didekat pak Damarto, dia sedang sibuk bekerja jauh dibelakang rumah, yaitu... di dapur, membersihkan semua perkakas dapur yang telah dipakai untuk keperluan memasak tadi.

***

"Eeh-heemm...", pak Damarto berdehem pelan, begitu langkah kakinya memasuki area dapur dari rumah yang besar ini. Terlihat hanya punggungnya, bu Nining yang sedang asyik mencuci perabotan dapur dan piring-piring kotor. Bu Nining hanya memalingkan kepalanya ketika melihat kedatangan pak Damarto.

"Eeehh... ada mas Damar toh, ngapain pula pake kemari-mari? Disini kan daerahnya para perempuan... apa mau nambah 1 piring lagi untuk ronde kedua makan siang...? Hi-hi-hi... maaf lho mas... sekali-sekali bergurau... tidak mengapa kan...? Hi-hi-hi...", kata bu Nining menanggapi kedatangan pak Damarto di dapur ini.

"Tidak ada yang nemenin dik... 'didepan', aku jadi sendirian saja disana...", jawab pak Damarto sembari 'menyapukan' pandangan matanya yang rada genit pada sekujur bagian belakang tubuh bu Nining yang lumayan indah.

"Kok bisa begitu...? Tega sekali 'mereka' meninggalkan mas sendiri didepan... emangnya mas merasa kurang nyaman apa rada takut ya... sendirian disana... hi-hi-hi...", kata bu Nining yang masih saja terus melakukan pekerjaannya. 'Kalau dihentikan... kapan selesai... jadinya?', kata bu Nining bukannya merasa terganggu... malah menjadi senang dengan keberadaan 'ayah angkat' dari 2 anak perempuan kandungnya itu. <Seerrr...!> ada semprotan kecil didalam vaginanya yang keluar tanpa bisa dicegahnya.

"Mbak Atik dan kedua ABG itu sedang mendatangi orangtua dari kedua ABG itu untuk meminta ijin berangkat... untuk mengunjungi Neni, teman satu geng-nya sewaktu SMP... berangkat denganku untuk 4 hari kedepan... dan sebelum pergi mbak Atik meminta mas untuk menemanimu dik... disini, siapa tahu ada yang bisa mas bantu... misalnya cuci piring atau lainnya. Dan mana aku bisa menolaknya...", kata pak Damarto yang sekarang sudah merapat lekat disekujur punggung bu Nining, malah sekarang memegang dengan lembut dikedua lengan atas bu Nining...

Terlonjak sedikit tubuh ramping bu Nining, merasakan hangatnya tubuh seorang pria yang sudah lama sekali tidak dirasakannya itu. Bu Nining berusaha tetap tenang dan menekatkan dirinya untuk menjawab perkataan bapak angkat dari anak kandungnya ini.

"Mas tidak bisa menolak atau... memang mau ya...? Hi-hi-hi... maaf ya mas... sudah lama sekali...", tak mampu bu Nining meneruskan perkataannya. Rupanya kedua tangan kekar pak Damarto sudah bergrilya dan menyusup masuk lewat bagian bawah dari baju atasnya dan... segera menyergap mantap kedua payudara yang lumayan sekal dan lebih besar satu tingkat ukurannya dari buahdada montok milik ABG Rina.

'Langsung aku menyerah kalah deh... oleh serangan kilat tangan-tangan kekar yang lagi menangkap bulat-bulat susu-ku ini... mana sebelum aku ke dapur sini, pake sempat-sempatnya aku melepas BH-ku lagi... terpaksa aku harus menyerah kalah... aaahh... mas! Jangan diplintir keras-keras dong...! Lagi pula itu kan... bukannya piring ataupun mangkuk... oooh nikmatnya', <seerrr...!> satu lagi semprotan kecil didalam vaginanya yang keluar tanpa bisa dicegahnya, yang melumasi sempurna seluruh lorong gua nikmat didalam vagina-nya yang secara natural berbulu pubis tipis-tipis saja... licin dan siap sudah menyambut kedatangan batang penis yang keras yang sudah lama sekali tidak berkunjung...

Sambil mencium mesra pipi kiri bu Nining yang berwajah ayu seperti wajah Neni dalam versi usia 34 tahun nantinya... serta tidak menghentikan jari-jari tangannya yang masih saja menggeluti susu bu Nining dengan di-variasi dengan sesekali plintiran pada putik puting susunya yang lumayan sekal dan mulus itu.

"Ayoo.. adikku sayang... jangan buang-buang waktu kita yang berharga dan langka ini lagi... mari kita lakukan saja... di dapur sini atau dikamar tidurnya mbak Atik...?", ajak pak Damarto yang sudah sangat sange semenjak oral-seks pada 2 ABG tadi.

"Tidak dua-duanya... mas! Dikamar tidurku saja ya... mas!", ajak bu Nining yang ikut-ikut bernafsu tanpa bisa dibendung lagi.

Kamar tidur bu Nining letaknya disebelah kiri dari kamar tidur bu Atik, lebih kecil sedikit... tapi untuk menampung 3 orang dewasa saja sih... masih muat.

Setelah menutup kembali pintu kamar tidurnya tanpa dikunci lagi, segera melangkah ke tampat tidur... tubuh indah keburu dipeluk oleh tangan kekar pak Damarto. Mendekap dan melakukan FK lembut sebentar lalu melepaskan tautan bibirnya. Pak Damarto membuka satu persatu pakaian yang dikenakan bu Nining... blus atas, rok bawah dan CD tipis yang ketat. Pak Damarto meneruskan dengan menelanjangi dirinya... kemeja, pantalon dan... CD yang sudah sangat menonjol kedepan dibiarkan saja ditempatnya saja, ini mengundang protes dari bu Nining yang sebenarnya ingin melihat penis tegang milik pak Damarto... maklumlah sudah lama sekali, sehingga bu Nining rada-rada sedikit lupa bentuk penis tegang seorang pria kalau dilihat dari dekat.

"CD-nya... dibuka dong... mas! Biarkan seimbang! Hi-hi-hi...!", kata bu Nining yang mulai tidak canggung lagi untuk mengeluarkan perkataannya.

"Nanti juga dibuka sayang... mas ingin mencumbu tubuhmu yang indah ini lebih dahulu... sayang!", kata pak Damarto agak tersengal saking nafsunya dan meminta bu Nining segera berbaring telentang ditengah-tengah diatas tempat tidur. 'Bila aku turuti permintaanya, wah... bisa-bisa malah aku yang kelabakan sendiri untuk membujuk dan meyakinkannya lagi untuk mau kembali ngesek denganku, apalagi dia kan sudah lama tidak melihat penis tegang, lalu melihat penisku yang gemuk ini...', kata pak Damarto dalam hatinya.

Pak Damarto menyusul naik keatas tempat tidur, "Maaf ya dik... mas lebih renggangkan lagi... kangkangan paha mulusmu ini ya... dik! Nah... cukup biar 'tamu kecil' dik Nining bisa leluasa datang berkunjung... he-he-he....!". Saat dilihatnya mata berbulu lentik pada pinggir katupan pelupuknya... mulai terpejam, secepat kilat pak Damarto melucuti sendiri CD-nya... bebas sudah... apa yang dikatakan 'boss'-nya sebagai 'tamu kecil'-nya bu Nining. helm batang penis iru semakian membesar dan mata tunggalnya rada melotot... seakan tidak sudi dijuluki sebagai 'tamu kecil'!

Pak Damarto mulai menindih tubuh telanjang bulat bu Nining dengan hati-hati, serta bobot tubuhnya yang tegap ditunjang oleh lengan-lengan bawahnya yang kekar dan ditaruh didamping kiri dan kanan dari tubuh telanjang yang jelita ini. Dengan tangan kirinya dengan cepatnya mengatur palkon-nya yang masuk menerobos... yang langsung terjepit lembut oleh katupan labia majora vagina bu Nining yang sudah lama tidak dikunjung oleh 'tamu kecil'. Helm-nya ngetem sebentar pas pada mulut gua nikmatnya.

Tercekat juga hati bu Nining merasakan dorongan helm itu, 'Perasaanku kok... besar sekali ya...'. Langsung memberitahu pak Damarto, "Mas-ku sayang... pelan-pelan saja ya masuknya... habis sudah lama sekali sih...!", kata bu Nining dengan perasaan was-was.

"Nggak usah khawatir dik, mas akan melakukannya dengan hati-hati... Adik akan merasakan sensasi nikmat yang dijamin akan mengantarkan adik pada puncak persetubuhan... percayalah pada mas...!", kata pak Damarto berusaha menenangkan hati bu Nining yang seketika menjadi sangat galau.

Pak Damarto mencium lembut bibir merah bu Nining, sebentar saja... lalu mengalihkan selusuran mulut gasangnya itu pada kedua puting mungil di puncak bukit buahdadanya, bergantian... beberapa detik pada puting yang kiri... lalu beberapa detik pada puting yang kanan... seterusnya tanpa henti... Ini dilakukan pak Damarto sampai palkon-nya mendapat semprotan dari dalam gua nikmat vagina bu Nining... ya diperlukan pak Damarto adalah cuma 1 kali semprotan kecil saja. Tidak perlu menunggu lama... hanya dalam 5 menit saja sejak pertama cumbuan pada pentil susu itu... <seerrr...!> semprotan kecil yang ditunggu akhirnya datang juga, ini sangat berguna untuk melicinkan jalan masuk sang 'tamu kecil'.

Dengan sentakan kenyotan yang keras pada pentil kanan yang mengundang reaksi keras dari bu Nining, "Aadduuhhh... mas! Jangan keras-keras dong ngenyotnya...! Ngakk bakalan keluar air susu-nya deh...!". Inilah detik yang tepat yang ditunggu pemain 'old crack' ini... hanya dengan mendorong sedikit pinggul kekarnya kebawah... <bleeesss...!> masuk sudah seluruh batang penis pak Damarto yang sangat tegang itu, meng-invasi seluruh 'gua nikmat' itu... dilanjutkan dengan pompaan-pompaan senggama penis tegang alias sang 'tamu kecil' seperti yang dikatakan oleh pak Damarto tadi.

Persetubuhan ini berlangsung relatif lama, jangan ditanya lagi... berapa kali bu Nining mendapatkan orgasme-nya... yang pasti berkali-kali.

Ketika bu Atik datang dengan diiringi oleh 'kicauan' dan 'celotehan' 2 ABG itu yang bernada riang gembira... buru-buru bu Atik menyelinap masuk kekamar tidur bu Nining dan segera mengunci pintunya dari dalam. Bu Atik memandang keduanya yang terbaring terlentang berdampingan... mereka rupanya tak sempat lagi mengenakan pakaiannya lagi... masing-masing telah terlelap dengan
napas yang teratur...

Tidak ingin mengganggu ketenangan tidur mereka... segera bu Atik keluar dari kamar itu dan menutupnya kembali dengan sangat perlahan-lahan...

Bagian 9 - 'Oleh-oleh' Istimewa Datang Sudah!

Cuaca mulai meredup, sang mentari pun telah berada di pintu masuk peraduannya, hari pun menjelang malam dihari Kamis ini, mereka, pak Damarto, Rani dan Rina telah sampai di halaman luas kediaman keluarga pak Damarto. Serta pak Suripman tengah memasukkan mobil masuk kedalam garasi yang berada jauh di sisi selatan dari area lahan kediaman pak Damarto sekeluarga yang luas ini.

Biasa... Rani mulai angkat bicara. "Ini rumah kediaman, apa... alun-alun yang luas! Gimana pendapatmu Rin...?", kata Rani sambil akhirnya bertanya pendapat dari sahabat karibnya, Rina yang lagi limbung sambil membawa tasnya yang berisi pakaian dan bawaan lainnya, kelihatan sedikit linglung jalannya, maklum saja dia baru bangun dari tidurnya sejenak sehabis mereka keluar dari resto di mall terdekat.

Kaget sejenak dengan pertanyaan dari Rani barusan dan menjawabnya saja asal. "Iya... kali!". Yang langsung diprotes oleh Rani yang kurang puas dengan jawaban singkat dari Rina.

"Mana ada kali... Rin!? Ini kan cukup terang, lihat... banyak lampu-lampu taman disana... dimana kali-nya? Jangan-jangan elo lagi tidur berdiri ya?", kata Rani sambil menatap lekat pada bola mata indah temannya itu dengan seksama.

"He-he-he...!", pak Damarto ikut-ikutan nimbrung dalam percakapan kedua ABG itu. "Maksudnya Rina adalah... barangkali! Bukannya kali atau sungai kecil... gitu lho Ran...!".

Rina yang tahu dapat dukungan dari pak Damarto, langsung angkat bicara, "Tuuhh... dengerin penjelasan pak Damar... gimana sih elo Ran?!".

"Besok pagi saja kalau sudah terang dengan sinar matahari pagi... kamu berdua berdiri ditengah taman bunga disitu pastilah disana ada... KALI...an disana...! He-he-he...!", kata pak Damarto mengoda kedua ABG manis itu.

"Sudah aahhh... nggak mau ngomongin itu lagi!", kata Rani rada keki tahu dia sedang dikerjain sama pak Damarto. "Eehh... jangan-jangan Neni sudah tidur... lagi! Kan kasihan dia, kalau dibangunkan... 'tul nggak Rin?", seperti biasanya selalu meminta pendapat dari Rina, sobat karibnya ini.

"Bener... setuju!", jawab Rina singkat yang baru saja hilang rasa linglungnya.

Buru-buru pak Damarto menghubungi nomor BB-nya Neni. "Halo sayang...! Papa sudah ada di halaman rumah kita nih...! Bersama teman-teman geng SMP-mu dulu...! Rani dan Rina...!".

Hanya berapa detik saja... terdengar sayup bunyi derap langkah-langkah kaki yang terburu-buru. <Klik...!> begitu terbuka... langsung Neni melompat dan bergayut di leher pak Damarto sambil tersedu bahagia... "Terimakasih papa! Inilah 'Oleh-oleh' yang paling membahagiakan Neni... yang pernah papa bawakan untuk Neni seorang...!", sambil merebahkan kepalanya pada pundak ayahnya yang bidang... dengan manja.

***

Sambil membawa Neni bergayut di leher, pak Damarto mengajak Rani dan Rina yang kedua yang melangkah mepet, rupanya 3 ABG itu tengah asyik berbicara, dimana Neni sambil menaruh dagunya di pundak ayah angkat, katanya sambil berbisik pada teman-teman satu geng sewaktu SMP dulu. Rani dan Rina yang mendongakkan kepalanya keatas karena posisi Neni yang sekarang lebih tinggi. "Sssttt... jangan nangis dulu! Nanti diruang tengah saja... Malu ada cowok didekat kita!".

Rani dan Rina serempak berbisik, "Mana cowoknya... Ren!".

"Nih...", bisik Neni pada teman-teman gengnya, sambil menunjuk dengan telunjuk tangan kirinya yang mungil, mengarah pada punggung ayah angkatnya yang bidang. "Masak sih segini gedenya... nggak kelihatannya...?!".

"Oohhh... iya!", jawab serempak Rani dan Rina dengan berbisik pula sembari menahan tawa cekikikan mereka.

Pak Damarto yang tahu dirinya diomongin, cuek saja... pura-pura tidak tahu dan mempercepat langkah kakinya. Sampai diruang tengah, dia menurunkan Neni dan berkata ketiga ABG itu, "Aku tinggal kalian disini ya... mau menemui bekas pacarku... dong!".
Pak Damar buru-buru menuju kamar tidur utama, sempat didengarnya komentar Rani dan Rina.

"Iiih pak Damar lagi kangen berat tuh...! Hi-hi-hi...".

Baru juga pak Damarto menutup kembali pintu kamar utama itu dari dalam... meledaklah tangisan bahagia dan haru... dari 3 ABG itu... membahana keras ke seantero ruangan tengah itu.

<Kriieeett...> bunyi suara pintu kamar Didit terdengar dibuka dengan segera oleh penghuninya. Didit yang melihat 3 ABG itu saling berangkulan disertai jerit bahagia dan cucuran airmata langsung berkata pelan, "Waduhh... ada 'hujan lokal' diruang tengah...!". Buru-buru dia masuk lagi kedalam kamarnya dan keluar lagi dengan memegang kotak tissue lebar yang masih baru... segera mendekati 3 cewek ABG itu... dan menaruh kotak tissue itu diatas lantai sambil berkata pelan. "Nih adik-adik biar lantai tidak kebanjiran... he-he-he...!".

Neni yang tahu kehadiran Didit didekat mereka, segera berkata pada Rani dan Rina, "Iihh... ada cowok nih! Yuk... teman-teman kekamarku saja... biar aman!".

Segera 3 ABG satu geng itu menuju kamar Neni yang di pandu oleh pemilik kamarnya. Tinggal Didit sendiri yang lagi bengong berdiri mengawasi 3 ABG satu geng itu.

Ketika dilihatnya kotak tissue itu masih berada ditempat semula diatas lantai, buru-buru dia berteriak, "Hei.. neng geulis! Nih... tissue-nya ketinggalan!".

Rani yang rada centil... mendengar teriakan Didit, segera berbalik badan untuk mengambil tissue ini. Dengan wajah manis masih basah oleh airmata bahagia segera memungut tissue itu sembari angkat bicara, "Hai cowok...! Kok ganteng sekali sih kamu... deh!"

Ketika mendengar perkataan ABG ini yang agak berani ini, dengan serta-merta Didit mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman kenal dengan ABG. Tapi Rani dengan sigap berbalik badan dengan tangan kanannya memegang kotak tissue itu berlari menyusul teman-temannya satu geng sambil berkata tanpa menengokkan kepala kebelakang. "Acara salam kenalnya... nanti atau besok aja deh...! Aku masih kangen berat nih dengan Neni, daagghhh... cowok ganteng!".

Didit yang mendengar itu semua, mengangkat bahunya serta berkata pelan seakan berbicara dengan dirinya sendiri. "Dasar ABG ya... tetap ABG!", dan melangkahkan kakinya menuju kamar tidur utama, membuka pintu itu dan masuk kedalam tanpa ragu-ragu setelah menutup kembali pintu kamar itu tanpa di kunci. Ketika dia membalikkan badannya, dilihatnya ayahnya tengah asyik melakukan FK mesra dengan kakak barunya, Naning yang kedua tangannya sedang bergayut di leher ayahnya yang kekar. Ayahnya berditi memunggunginya, dengan sangat jelas dia melihat tangan kanan ayah yang kekar sedang asyik meremas-remas mesra buahdada Naning yang montok dengan gairah yang begejolak.

Bu Ratna yang tengah duduk diatas tempat tidur sambil menyandarkan punggungnya kebelakang pada bagian 'kepala' spring bed itu, ketika melihat Didit... langsung memanggil putera kandungnya itu, "Kesini sayang... naik keatas tempat tidur... temanin mama!".

Pak Damarto yang berpaling tanpa terkejut, menyapa putera kandungnya itu, "Halo... jagoan! Apa kabar...? Berhubung papa lebih berat darimu, lagi pula kan... mama-mu lagi hamil muda... Tanggung jawab dong...! He-he-he... Ayoo... Naning mendingan kita kekamarmu saja... Daaaghhh Rat... aku tinggalkanmu sayang dengan jagoanku ini. Dit... kamu tidur disini saja meeemani mama... papa mau 'berbincang-bincang' sejenak dengan kakakmu Naning...". Dengan menggandeng mesra pada pinggang ramping Naning, mereka berdua melangkah keluar kamar tidur kamar utama.

Sempat pak Damarto mendengar pertanyaan usil yang mengoda dari isterinya yang tercinta, "Mau 'berbincang-bincang' apa... itu tuh... hi-hi-hi...!".

Pak Damarto menjawab pertanyaan isterinya yang menggoda itu. "Sssttt... jalan pertandingannya dirahasiakan, tapi jangan khawatir dan mas beritahu hasil akhir score-nya! He-he-he... hi-hi-hi...!", jadi ikut-ikutan tertawa jadinya dan menegur ayah, "Papa nih! Jangan godain mama terus dong! Ma! Papa memangnya genitnya dari dulu ya ma...?".

"Kamu baru tahu sekarang Ning...? Hi-hi-hi...", jawab bu Ratna singkat. "Buruan deh! Ksmi berdua mau mengadakan exhibition-match nih, jalan pertandingannya kita rahasiakan ya Dit! Takut teknik-teknik andalannya ditiru lagi! Pokoknya nggak usah khawatir deh mas... nanti score akhirnya kita beritahu deh... ya nggak Dir! Hi-hi-hi... he-he-he...", kata bu Ratna sambil tertawa dan diikuti oleh tawa Didit yang merasa geli. 'Masak disamain dengan pertanding bila sih...! He-he-he'.

"He-he-he...!", sambil tertawa renyah pak Damarto menutup pintu kamar itu dari luar.

***

Tinggallah bu Ratna berduaan saja dengan Didit didalam kamar utama itu. Didit mendekati ibunya dan berbisik lembut di telinga kanan ibunya.

"Emangnya mama lagi horny?".

"Cium dulu mama... tapi yang mesra dong, nanti baru mama jawab deh...!", kata bu Ratna sedikit merajuk, biasa... namanya lagi keadaan hamil muda...

Kemudian mereka melakukan FK dengan lembut dan mesra. Lidah-lidah mereka lagi olahraga 'smack down', saling membelit dan saling menjatuhkan diiringi dengan tepukan seru dari air liur yang ikut keluar...

Lumayan agak lama berlangsungnya FK ini. Setelah melepaskan tautan mulut dari mulut sexy ibu kandungnya, langsung saja menagih janji bu Ratna tadi. "Sekarang lagi kenapa... ma!", tanya Didit ingin tahu.

Jawab ibunya kalem saja, "Maaf ya Dit, sebenarnya mama lagi tidak horny, tumben mama hari ini tidak mual-mual... rupanya anakmu yang didalam rahim mama sekarang sedang rindu berat dengan kunjungan ayahnya sendiri!".

"Jadi maksud mama... gimana dong...?", tanya Didit tambah tidak mengerti.

"Begini sayang... kalau dibilang mama lagi 'horny' saja, itu masih kurang tepat. Tapi kalau dikatakan 'horny sekali' ditambah 'sangat bernafsu sekali' itu... baru betul!".

"Tahu ah ma! Yang penting...", langsung berdua berteriak serempak dengan keras, "ACTION!". "Hi-hi-hi-.... he-he-he....", mereka berdua tertawa bersama.

Segera Didit membantu melucuti gaun tidur... terlihat tubuh indah milik ibunya, pinggang masih terlihat ramping saja, maklum usia kehamilan baru seminggu lebih saja. Tapi buahdada bertambah montok saja. Tergoda hatinya, segera Didit mengemut-emut pentil susu yang berwarna maroon mudah itu. Kemudian dengan agak gregetan penuh nafsu-syahwat yang menggebu-gebu, Didit meremas-remas buahdada yang kanan mengenyot-ngenyot dengan getol.

Bu Ratna yang tahu akan tujuan tingkah putera kandungnya, berkata sambil tertawa, "Sudah... ah! Jangan keras-keras kenapa?! ASI-nya belum diproduksi sayang. Wah... kalau itu adonan roti... ngkali udah kalis deh! Hi-hi-hi...1".

"Kalau begitu oral-seks dulu deh...". Tapi tangan Didit keburu dicekal oleh tangan lentik ibunya.

"Jangan dong... sayang...! Pokoknya dalam masa kehamilan ini, mama maunya klimaks dengan penis tegangmu berada dalam jepitan vagina mama. Kalau kamu memang rindu dengan oral-seks, lakukan saja dengan kakakmu, Naning dan entot memeknya dan semprot air mani-mu sebanyak-banyaknya, itu tidak mengapa karena Naning sudah dipasangin spiral KB, IUD... jadi aman! Dan pernah mengentot Neni tanpa memakai karet KB, atau biasa orang menyebutnya 'kondom'. Ingat ya sayang... jangan pernah melupakan itu!".

'Wah... mama lagi sange berat nih! Buktinya tadi ngomong vulgar begitu!'.

"OK ma! Lets action babe...! Mama berbaring terlentang dan melintang dan kedua lutut mama menekuk keatas... dan telapak kaki mama menapak dipinggir tempat tidur, hati-hati ma... jangan kaki mama sampai terpeleset kebawah lantai. Atau begini saja, punggung ditopang oleh beberapa bantal... biar tangan mama saat menjur bia memegan penis Didit... biar Didit yang memegang kedua kaki bawah mama... ngerti nggak ma... apa yang Didit maksudkan?".

"Ngerilah suamiku yang muda, yang ahli teori mengalahkan ayah kandungnya sendiri".

"Wahh... mama jangan begitu dong ngomongnya... Didit jadi malu dan tambah...", belum juga Didit menuntaskan perkataannya sudah dipotong dulu oleh ibunya.

"NAFSU! Udah ah jangan ngomong aja dong, mama udah kebelet pengen dientot nih!".

Mendengar kata vulgar ini mulai mengalir keluar lagi dari mulut seksi ibunya... Didit buru-buru mengatur segalanya dan segera berdiri didepan vagina ibunya... Dan menaruh palkon-nya sambil mendorong sedikit pinggulnya kedepan yang langsung saja benda keras milik Didit melewati katupan labia majora... bahkan sekarang sudah dijepit oleh labia minora yang bertugas sebagai penjaga mulus gua nikmat dalam vagina mulus dan legit milik ibu kandungnya ini.

Tekan sedikit... lalu tarik lagi, terus dilakukan berulang-ulang kali sampai palkon-nya terbenam seluruhnya dalam gua nikmat ini... 'Nah inilah saatnya dimulai 'action' yang sesungguhnya!'.

Ditariknya palkon-nya sampai nyaris terlepas, lalu... ditambah daya dorong pinggul remaja... tidak usah memakai tenaga yang besar... cukup dorong saja, dan kejutkan dorongannya... cukup sekali saja... <bleeesss...!> masuk sudah seluruh batang penis remaja Didit yang sangat tegang itu, meng-invasi seluruh 'gua nikmat' milik ibu kandungnya yang lagi hamil muda itu... dilanjutkan dengan pompaan-pompaan senggama penis gagah remaja sang pecinta ulung... masuk-keluar... masuk-keluar...

"Aduh nikmatnya...! Pokok kalau mama lagi tidak mual-mual... kamu harus mulai belajar bertanggung jawab lho!".

"Apa itu ma...? Uuugghh... nikmatnya! Mana itu otot-otot didalam vagina mama... pake ngemut-ngemut kenceng batang penis Didit lagi!".

"Yang menjadi tanggungmu adalah... kalau mama lagi tidak mual-mual... pertama gituin mama pada pagi hari sebelum sarapan, kedua gituin mama setelah kamu pulang dari sekolah dan ketiga sebelum kamu tidur malam... selebihnya terserah kamu... anggap saja bonus dari mama. Mau diselingi gituan sama Naning serta gituan sama adikmu, Neni... tapi jangan lupa memakai kondom dari awal gituan... ingat Dit dari awal! Ooh... nikmatnya... kok kalau gituan sambil ngobrol... perasaan, jadi lama ngecrotnya ya...?!".

***

10 menit telah lewat...

20 menit telah lewat...

30 menit telah lewat...

40 menit telah lewat...

50 menit telah lewat...

60 menit belum lewat... inilah saatnya persetubuhan incest yang sangat mesra ini akan berakhir... bersamaan...

<Seerrr...!> <Seerrr...!> <Seerrr...!> langsung sang ibunda melalangbuana ke 'negeri antah berantah'.

<CROTTT...!> <Crottt...!> <Crottt...!>

Sedangkan Didit yang masih gagah saja, memang sangat berlebih stamina remaja ini... sang pecinta ulung... sibuk mengatur posisi tidur sang ibunda tercinta serta membersihkan tubuh molek ini ala kadarnya. Setelah membersih dirinya sendiri, didalam kamar mandi. Kemudian sangat hati-hati dan dengan perlahan naik keatas tempat tidur, dan membaring tubuhnya terlentang disamping tubuh jelita sang ibunda tersayang...

Papa Pulang Bawa Oleh Oleh, Pada: Minggu, Agustus 02, 2015
Copyright © 2015 CERITA DEWASA Design by bokep - All Rights Reserved